CAMPUR ADUK

Friday, February 18, 2022

CERITA KEBOHONGAN

Malam yang tenang di rumah Budi. Ya Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Berita di Tv, ya masih urusan penyakit, ya kan Eko?" kata Budi.

"Realitanya begitu. Berita di Tv...masih urusan penyakit. Proses penanggulannya pun di jalankan dengan baik banget," kata Eko.

"Pasarnya berjalan dengan baik," kata Budi.

"Ya memang pasarnya berjalan dengan baik," kata Eko.

"Eko. Hidup ini senengnya orang-orang....cerita kebohongan apa cerita kejujuran?" kata Budi.

"Ya...cerita kejujuran lah. Ya agar tidak jadi masalah di kemudian hari," kata Eko.

"Ooooo cerita kejujuran. Padahal banyak cerita kebohongan di buat pada masa lalu, ya tetap di ceritakan sampai sekarang. Dengan tujuannya ini dan itu," kata Budi.

"Memang sih. Banyak cerita kebohongan di masa lalu, ya tetap saja di ceritakan kembali cerita itu. Dengan tujuan ini dan itu. Ya sudah realita kehidupan ini. Cerita kebohongan di terima dengan baik cerita kebohongan sama orang-orang," kata Eko.

"Kalau aku membuat cerita seperti ini. Setelah banyak orang-orang di vaksin ini dan itu, ya untuk menanggulangi masalah penyakit covid-19 sampai variannya yang ini dan itu, ya tren sekarang varian Omicron. Tetap saja, ya ada orang yang meninggal karena varian Omicron, ya terjadinya di Lampung," kata Budi.

"Cerita itu...jadinya cerita kebohongan karena tidak ada bukti ini dan itu," kata Eko.

"Aku sekedar cerita saja, ya tidak berdasarkan data ini dan itu. Beda dengan artikel ini dan itu," kata Budi.

"Dalam kehidupan sehari-hari, ya cerita itu mengikuti berita ini dan itu, ya dari media apa pun," kata Eko.

"Memang sih. Dalam kehidupan sehari-hari, ya cerita itu mengikuti berita ini dan itu," kata Budi menegaskan omongan Eko. 

"Sekedar obrolan saja sih. Cerita Budi itu tidak ada masalah cerita kebohongan, ya cuma aku dan Budi yang ngomongin cerita kebohongan itu," kata Eko.

"Jika ada yang mendengar, ya mengetahui obrolan kita ini. Tentang orang meninggal varian Omicron di Lampung. Ya menanggapinya sebagai berita kejujuran gimana?" kata Budi. 

"Repot juga ya. Urusan dari kebohongan, ya jadinya kejujuran," kata Eko. 

"Memang repot untuk menjelaskan dengan baik. Awalnya bohong jadi jujur," kata Budi. 

"Tanggapan manusia itu, ya serba serbi sih jika di teliti ini dan itu. Ya sudah ngomongin itu. Kita ini hanya lulusan SMA, ya masih kurang ilmu ini dan itu," kata Eko. 

"Memang kita hanya lulusan SMA. Sekedar obrolan saja," kata Budi. 

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok....main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Sampai kapan urusan penyakit ini selesai, ya berita di Tv gitu?" kata Budi.

"Kalau itu sih aku mana tahu. Aku bukan dokter dan juga orang pemerintahan. Aku kan cuma kerjaannya buruh saja di sebuah perusahaan," kata Eko.

"Eko dan aku, ya memang kerjaannya cuma buruh di perusahaan sih," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Pasar kan masih sesuai dengan rencana manusia, ya agar ekonomi berjalan dengan baik," kata Budi.

"Pasar toh. Memang sih sesuai dengan rencana manusia. Ya ekonomi berjalan dengan baik. Terlihat dari kurvanya sih, ya kalau orang-orang yang meneliti dengan baik di bidang ekonomi, ya lulusan Universitas," kata Eko.

"Banyak orang pinter di negeri ini, ya akan menilai dari berita kejujuran dan juga berita kebohongan," kata Budi.

"Realitanya begitu!" kata Eko.

Eko dan Budi, ya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

Thursday, February 17, 2022

MENJIJIKAN

Eko dan Budi duduk di rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Orang kaya," kata Budi.

"Ada apa dengan orang kaya. Budi punya masalah dengan orang kaya?" kata Eko.

"Sebenarnya tidak ada masalah dengan orang kaya sih. Cuma....?" kata Budi.

"Cuma apa?" kata Eko.

"Cuma...kebanyakan orang kaya, ya ingin di hormati terus menerus," kata Budi.

"Memang sih. Kebanyakan orang kaya ingin di hormati. Ya semua itu dasarnya kekayaan orang kaya. Apa lagi orang kaya yang punya kedudukan di pemerintahan ini dan itu, ya di bilang jabatan," kata Eko.

"Kata ini pasti akan terucap di mulut ku karena jengkel pada orang kaya yang ingin di hormati....'Menjijikan'....," kata Budi.

"Ada kotoran, ya Budi?" kata Eko.

"Ada sih!" kata Budi.

"Di mana? Biar aku buang tuh kotoran! Sampai Budi berkata...'Menjijikan'....," kata Eko.

"Tuh...di tong sampah!" kata Budi, ya sambil menunjukkan tangannya ke arah tong sampah.

"Ooooo di tong sampah toh...kotoran itu. Benar-benar menjijikan," kata Eko.

"Becanda kan Eko?" kata Budi.

"Ya memang becanda lah. Bahan obrolan. Kan kita hanya lulusan SMA," kata Eko.

"Obrolan lulusan SMA. Kadang serius jadi becanda. Becanda, ya jadi serius," kata Budi.

"Keadaannya begitu," kata Eko.

"Main catur saja...Eko!" kata Budi.

"Ok...main catur!" kata Eko.

Budi beranjak dari duduknya, ya ke dalam rumah untuk mengambil papan catur di meja ruang tamu. Eko, ya menikmati minum kopi dan makan gorengan lah. Budi yang telah mengambil papan catur di meja di ruang tamu, ya Budi membawanya dengan baik ke depan rumah. Duduklah Budi dengan baik di sebelah Eko, ya sambil menaruh papan catur di meja lah. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas meja. Keduanya main catur dengan baik sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan lah. Selang sekitar setengah jam main catur, ya antara Budi dan Eko. Ya Abdul sampai di rumah Budi. Abdul memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul pun duduk bersama Eko dan Budi, ya sedang main catur. 

"Menjijikan," kata Abdul. 

Budi dan Eko, ya terkejut dengan omongan Abdul dengan kata 'Menjijikan', Budi dan Eko, ya setengah jam lalu membicarakan kata 'Menjijikan'. 

"Abdul...ada masalah?" kata Eko. 

"Abdul. Kalau ada masalah, ya ceritalah...seperti biasanya!" kata Budi. 

"Masa aku bertemu dengan orang yang seger buger di jalankan, ya kerjaannya cuma jadi pengemis, ya bisa di bilang penipu lagi. Maka aku jengkel banget dan berkata 'Menjijikan' karena tingkah laku orang itu," kata Abdul. 

"Pengemis, ya bisa di bilang penipu kalau keadaan orang itu seger buger. Memang menjijikan oleh orang itu," Budi. 

"Nama juga manusia. Ada yang rajin. Ada yang males, ya kaya pengemis itu lah," kata Eko. 

"Kotoran harus di bersihkan," kata Abdul. 

"Memang kotoran harus di bersihkan. Bau busuk," kata Budi. 

"Yang di omongin ini kotoran apa pengemis?" kata Eko. 

"Kotoran di jalan lah," kata Abdul. 

"Ooooo ganti topik. Aku sih ikut alur pembicaraan Abdul. Jangan-jangan perumpaan saja," kata Budi. 

"Urusan ini dan itu di lapisan masyarakat, ya ada orang yang menanganinya dengan baik dan juga di gaji lagi," kata Eko. 

"Sebenarnya tidak ingin menginggung siapa pun sih. Cuma obrolan lulusan SMA," kata Abdul. 

"Memang obrolan lulusan SMA," kata Budi. 

"Kalau begitu. Ini main catur di lanjutkan mainnya apa tidak, ya Budi? Karena ada Abdul!" kata Eko. 

"Ya karena ada Abdul. Main catur berhentilah. Main kartu remi lah!" kata Budi. 

"Ok..lah main kartu remi!" kata Eko. 

Eko dan Budi membereskan permainan caturnya, ya papan catur di taruh di bawah meja sama Budi. Budi mengambil kartu remi di bawah meja, ya segera di kocok dengan baik dan di bagikan. Permainan kartu remi, ya di mainkan dengan baik sama Budi, Eko dan Abdul. 

MELEPAS LAJANG

Malam yang tenang di kediaman Budi. Ya Budi duduk santai di depan rumah sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. Budi mulai memainkan gitarnya dengan baik, ya menyanyikan lagu gitu.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi :

"Mungkin sudah saatnya

Kan ku akhiri masa kesendirian

Mempersiapkan hati tuk melamarmu

Terimalah diriku

Mungkin saat ini

Ku akan melepas masa lajangku

Kan ku persunting dirimu

Jadilah pasanganku

Dan hidup menua bersamaku

Terimalah cintaku

Mungkin sudah saatnya

Kan ku akhiri masa kesendirian

Mempersiapkan hati tuk melamarmu

Terimalah cintaku

Mungkin saat ini

Ku akan melepas masa lajangku

Kan ku persunting dirimu

Jadilah pasanganku

Dan hidup menua bersamaku

Terimalah cintaku

Mungkin saat ini

Ku akan melepas masa lajangku

Kan ku persunting dirimu

Jadilah pasanganku

Dan hidup menua bersamaku

Mungkin saat ini

Ku akan melepas masa lajangku

Kan ku persunting dirimu

Jadilah pasanganku

Dan hidup menua bersamaku

Terimalah cintaku"

***

Selesai menyanyikan lagu, ya Budi pun berhenti main gitarnya. Budi menaruh gitar di bangku kosong. 

"Gorengan," kata Budi.

Budi mengambil gorengan di piring, ya yang di ambil tahu isilah. Budi memakan tahu isi dengan baik.

"Kata berita di Tv sih. Tahu di buat dari kedelai. Harga kedelai, ya ini dan itu deh beritanya," kata Budi.

Budi terus menikmati tahu isi, ya sampai habis di makan. Budi mengambil gorengan lain lah, ya pisang goreng gitu. Budi menikmati makan pisang goreng yang enak. Eko sampai juga di rumah Budi, ya segera memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi lah. Eko pun duduk di sebelah Budi, dengan baik dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum lah kopi tersebut.

"Eko. Itu kan kopi aku," kata Budi.

"Aku haus," kata Eko sambil menaruh gelas kopi yang habis di minum.

"Kalau begitu aku buatin kopi dulu," kata Budi.

Budi beranjak dari tempat duduknya, ya ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Eko memilih gorengan di piring. 

"Mantang goreng aja!" kata Eko.

Eko mengambil mantang goreng di piring, ya di makan dengan baik tuh mantang goreng. 

"Enak mantang goreng ini," kata Eko.

Budi pun selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya gelas yang berisi kopi di taruh di meja.

"Kopinya...Eko!" kata Budi.

Budi pun duduk dengan baik. Eko selesai makan matang goreng, ya mengambil gelas berisi kopi yang di baru di buatin Budi. Eko menikmati minum kopinya. Budi mengambil bakwan goreng di piring dan segera di makannya dengan baik. 

"Enak kopinya," kata Eko sambil menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Jelas enak....kopi Lampung," kata Budi.

"Karena kita tinggal di Lampung, ya jadinya kopi Lampung, ya Budi?!" kata Eko.

"Ya.....gitu juga sih, ya berdasarkan tinggal di Lampung. Sebenarnya memang kopi Lampung, ya mereknya kopi Lampung," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja dan meminumnya dengan baik.

"Biasanya kopi apa?" kata Eko.

Budi selesai minum kopi, ya gelas berisi kopi di taruh di meja.

"Biasanya sih....merek kopi yang ada iklan di Tv," kata Budi.

"Berarti Budi telah menikmati jenis kopi dengan merek yang terkenal, ya sampai yang tidak terkenal. Bisa di bilang kopi tidak terkenal itu, ya membeli kopi dari warga kampung yang produksi sendiri gitu," kata Eko.

"Nama juga menikmati merek kopi ini dan itu," kata Budi.

"Kepuasaan bagi orang-orang yang menyukai minum kopi," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Hari ini keadaannya tenang, ya tidak hujan gitu," kata Eko.

"Ya begitulah," kata Budi.

"Emmmmm," kata Eko.

"Melepas lajang," kata Budi.

"Apa apa dengan kata-kata....melepas lajang, ya Budi?" kata Eko.

"Aku memang habis menyanyikan lagu dengan judul 'Melepas Lajang'. Aku berpikir dengan baik, ya ketika waktunya aku akan melepas lajang, ya menikah gitu," kata Budi.

"Urusan lagu di kaitan ke urusan pribadi. Emangnya Budi sudah punya cewek yang di ajak nikah?" kata Eko.

"Memang aku belum punya cewek yang di ajak nikah. Cuma bahan obrolan lulusan SMA dan juga rencana di masa depan," kata Budi.

"Bahan obrolan lulusan SMA dan juga rencana di masa depan toh. Tapi apakah persiapan Budi untuk rencana masa depan, ya menikah dengan cewek yang di sukai, ya Budi sudah cukup ini dan itunya?" kata Eko.

"Ini dan itunya sudah cukup, ya belumlah Eko. Aku kan masih berusaha dengan baik, ya agar urusan rumah tangga ku berjalan dengan baik," kata Budi.

"Kalau begitu sih sama dengan aku. Masih berusaha dengan baik dengan tujuan kebahagian urusan rumah tangga. Ya maklum dari keadaan keluarga miskin. Beda dengan keberadaan keluarga orang kaya, ya anak orang kaya.....mudah menikah ini dan itu karena orang tuanya menyiapkan segalanya demi kebahagian anaknya," kata Eko.

"Begitulah realitanya," kata Budi.

"Kalau begitu lebih baik main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja, ya papan caturlah. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

"Kalau aku pikir dengan baik. Apa aku memilih teman semasa SMA ya?!" kata Budi.

"Teman semasa SMA yang di sukai Budi. Cewek apa cowok?" kata Eko.

"Cewek lah Eko!" kata Budi.

"Cewek. Teman semasa SMA. Siapa ya? Siapa Budi?!" kata Eko.

"Namanya Diana," kata Budi.

"Oooooo Diana toh. Budi suka Diana, ya teman semasa SMA," kata Eko.

"Ya memang aku suka Diana sih. Ya tapi aku di tolak sama Diana, ya sampai tiga kali gitu. Alasan Diana sih nolak aku, ya Diana mau fokus sekolah dari pada pacaran," kata Budi.

"Ya aku inget sih. Budi di tolak Diana tiga kali. Alasannya juga aku inget banget. Tapi kan aku kan sudah memberikan masukkan dengan baik. Ya ikhlasin saja Diana itu. Budi fokus dengan sekolah SMA," kata Eko.

"Memang aku menerima masukkan Eko dengan baik. Ya fokus sekolah SMA, ya sampai selesai. Setelah lulusan sekolah SMA, ya aku tidak ada kabar tentang Diana lagi, ya karena Diana kan aslinya bukan orang daerah Bandar Lampung sih, ya Diana orang Kotabumi. Di sini Diana, ya ngekos gitu," kata Budi.

"Kalau tidak salah aku dapet info sih.....saat lulusan SMA. Diana merencanakan melanjutkan sekolahnya, ya kuliah ke Universitas gitu. Universitas yang mana aku tidak tahu? Ya sampai sekarang aku pun tidak tahu info tentang Diana lagi," kata Eko.

"Apakah aku masih ada jodoh dengan Diana, ya bertemu lagi dan berusaha mendapat hatinya gitu, ya Eko?" kata Budi.

"Mungkin masih ada jodoh. Yang penting itu. Budi tetap berusaha dan berdoa dengan baik. Ya agar apa yang di rencanakan Budi, ya jadi tercapai semuanya," kata Eko.

"Aku terima masukkan Eko, ya seperti biasanya dengan baik," kata Budi.

Budi dan Eko, ya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Memang keadaan lingkungan tenang sih.

Wednesday, February 16, 2022

AKAL KRIMINAL

Eko sedang duduk di depan rumahnya, ya sedang baca koran sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. Budi yang selesai ngobrol dengan Andi di jalan, ya Budi bergerak menuju rumah Eko, ya Budi mengendarai motornya dengan baik. Sedangkan Andi membawa motornya dengan baik, ya menuju rumahnya lah. Sekitar lima belas menit, ya Budi sampai di rumah Eko. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko. 

Budi duduk dengan baik, ya sebelah Eko. Ya Eko berhenti baca koran dan koran di taruh di meja lah. 

"Eko. Aku bertemu dengan Andi di jalan," kata Budi. 

"Apa kabarnya dengan Andi?" kata Eko. 

"Andi, ya kabarnya baik-baik saja," kata Budi. 

"Andi nyaman tinggal di lingkungan baru di daerah kemiling, ya perumahan gitu. Yang lama kan di jalan samratulangi, gang pisang, kelurahan gedong air," kata Eko. 

"Nyaman di lingkungan baru," kata Budi. 

"Syukurlah kalau nyaman," kata Eko. 

"Andi pun cerita daerah kemiling, ya kisah masa lalu sih," kata Budi. 

"Cerita masa lalu," kata Eko. 

"Pencurian dan juga penipuan. Kriminalitas. Ya pencurian yang di lalukan remaja," kata Budi. 

"Remaja...mencuri. Orang tuanya tidak tahu tingkah anaknya yang kerjaan bergaul sana-sini, ya jadi mencuri, ya mengambil barang yang bukan haknya," kata Eko. 

"Memang sih terkadang orang tua tidak tahu kelakuan anaknya, ya melakukan tindakan kriminalitas," kata Budi. 

"Terus ceritanya!" kata Eko. 

"Ya ceritanya. Ya pencurian, ya tidak tertangkap lah sampai sekarang," kata Budi. 

"Di Lampung ini. Banyak cerita pencurian dan penipuan dari masa lampau, ya tidak tertangkap. Ya pinternya pencurinya dari pada polisi dan sapam," kata Eko. 

"Karena pencurian banyak. Ya jadinya kan di rekrut polisi dan sapam untuk menanggulangi masalah. Polisi dan sapam, ya dapet kerjaan, ya di gaji. Sedangkan pencuri, ya tetap mencuri dengan kerjaan bodohnya itu, ya membuat kekacauan sana sini. Dan akhirnya, ya mendapatkan kerja yang baik polisi dan sapam. Ya jadinya pencuri itu bodoh memberikan kerjaan pada polisi dan sapam untuk menanggulangi masalah pencurian ini dan itu. Kan orang yang jadi pencuri itu kebanyakan orang miskin dan juga pengangguran. Sedang penipu, ya orang miskin yang mencari kelengahan orang dalam urusan ini dan itu," kata Budi. 

"Kadang yang jadi pencuri itu, ya anak orang kaya," kata Eko. 

"Penipuan juga, ya ada anak orang kaya menjalankan kerjaan itu," kata Budi. 

"Keadaan dan juga pergaulan," kata Eko. 

"Semua itu cerita masa lalu kerjaan orang yang pernah merugikan orang lain dengan kerjaannya pencuri dan penipuan," kata Budi. 

"Kadang yang sakit itu. Orang miskin yang berusaha dengan baik, ya dengan dagang keliling sana sini, ya tempat jualannya pindah-pindah gitu. Uang pedagang itu di curi, ya sama pencuri. Sakit banget rasa ya, orang dagang itu dan juga keadaannya miskin lagi," kata Eko. 

"Ya...namanya pencuri tidak punya akal baik, ya yang ada akal buruk saja," kata Budi. 

"Sekarang ini, ya pernah jadi pencuri dan penipu, ya hidupnya pasti jadi baik, ya masa lalunya dan tidak pernah di tangkap. Mungkin sudah tobat jadi baik," kata Eko. 

"Mungkin jadi baik. Kan ada cerita juga, ya susah jadi baik, ya dengan cara mencuri dan menipu....teman sendiri. Penyakitnya pencuri," kata Budi. 

"Repot urusan dengan orang yang akalnya kriminal, ya sampai menganiaya orang dengan perkara ini dan itu. Itu pun tidak pernah di tangkap sama polisi orang yang begitu juga," kata Eko. 

"Ya...begitu licinnya orang-orang yang akalnya kriminal," kata Budi. 

"Karena banyak yang menutupi keburukan ini dan itu. Ya orang-orang yang akalnya jahat itu tidak tertangkap sama polisi," kata Eko. 

"Kalau daerah lain, ya kota, ya Provinsi lain gitu?!" kata Budi. 

"Mungkin banyak kriminalitas yang tidak tertangkap sama pihak-pihak berwajib," kata Eko. 

"Ya kalau begitu sudah ah ngobrolin tentang orang-orang yang kelakuannya di masa lalu, ya akalnya buruk...akal kriminal. Kalau sekarang terjadi kriminalitas ini dan itu, ya ada yang menangani dengan baik. Sekedar obrolan lulusan SMA," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Main catur!" kata Budi. 

"Ok...main catur!" kata Eko. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. 

SAJEN

Budi dan Eko duduk di rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan lah.

"Sajen," kata Budi.

"Ada apa dengan sajen?!" kata Eko.

"Ritual-ritual yang adakan manusia, ya sajen itu di persembahkan kepada yang di sembah manusia. Ya ajaran yang di yakini manusia," kata Budi.

"Itu penjelasannya. Atau jangan-jangan ada kaitan dengan film dan juga berita?!" kata Eko.

"Bisa jadi sih!" kata Budi.

"Dukun....melakukan hal di omongin Budi, ya sajen," kata Eko. 

"Memang kerjaan dukun, ya melakukan sajen ini dan itu. Ya berdasarkan ilmunya....silsilah suku keturunan, ya tradisi ini dan itu," kata Budi. 

"Agama," kata Eko. 

"Agama. Yang masih kaitan sih, ya tata caranya di gunakan sama dukun sih....Hindu, Kong hu cu, dan Budha," kata Eko. 

"Benda-benda yang di pakai dalam urusan ritual ini dan itu," kata Budi. 

"Mendatangi dukun dengan alasan apa pun. Sholatnya tidak di terima selama 40 hari," kata Eko. 

"Berdasarkan di tulis di kitab," kata Budi. 

"Syirik," kata Budi. 

"Tuhan siapa ya? Ganjil urusan sholat tidak di terima selama 40 hari?!" kata Eko. 

"Tuhannya berarti tersinggung dengan syirik itu. Aneh. Tuhannya berarti manusia. Katanya Tuhan itu penerima tobat, maha pemaaf," kata Budi. 

"Jangan-jangan Tuhannya orang Arab. Karena kan ada yang membahas tentang....Tuhan bukan orang Arab," kata Eko. 

"Berarti Muhammad. Karena Muhammad yang membangun ajaran dari independennya, ke Ibrahim," kata Budi. 

"Bisa jadi sih," kata Eko. 

"Obrolan makin ngacok!" kata Budi. 

"Obrolan terkadang ngacok sana-sini. Biasa obrolan lulusan SMA," kata Eko. 

"Memang obrolan lulusan SMA," kata Budi. 

"Sebenarnya....jangan-jangan untuk menaikin sesuatu urusan sajen?!" kata Eko. 

"Agama, ya Eko?!" kata Budi. 

"Ya...agama..iya. Berita Iya. Dan...film juga iya," kata Eko. 

"Kalau begitu kita main sepak bola saja!" kata Budi. 

"Apa aku tidak salah denger?!" kata Eko. 

"Ya...tidak salah sih!" kata Budi. 

"Biasanya main catur!" kata Eko. 

"Biasanya sih main catur. Ya suasana yang lain gitu," kata Budi. 

"Ok...main sepak bola!" kata Eko. 

"Kalau begitu aku ambil mainannya!" kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

Budi beranjak dari duduknya, ya ke dalam rumahnya. Budi mengeluarkan meja permainan sepak bola yang di buatnya sendiri. Eko melihat dengan baik meja permainan sepak bola dan berkata "Keren juga meja permainan sepak bola ini". 

"Ya begitulah. Buat sendiri meja permainan sepak bola," kata Budi. 

"Ok..mulai permainannya!" kata Eko. 

"Ok...kita main!" kata Budi. 

Budi dan Eko bermain dengan baik, ya permainan sepak bola setelah bola di masukkan ke dalam arena permainan. Dengan kendali baik Budi dan Eko...memainkan boneka pemain sepak bola. Permainan makin seru sampai mencetak gol. 

Saturday, February 12, 2022

EXTRIM

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Eko," kata Budi.

"Apa?!" kata Eko.

"Ada cerita sih. Tapi ini cerita extrim banget," kata Budi. 

"Extrim. Melebihi takarannya dari cerita yang biasanya," kata Eko. 

"Karena ada kaitan dengan silsilah dari penulis yang masih di kaitan dengan komunis," kata Budi. 

"Seharusnya cerita itu ke cerita ke versi Dono, Kasino dan Indro. Kenapa ke versi kita?!" kata Eko. 

"Maunya penulis!" kata Budi. 

"Kalau maunya penulis, ya ceritakan dengan baik....ceritanya!" kata Eko. 

"Ceritanya begini. Seorang pemuda yang berada di dalam organisasi agama Islam. Pemuda itu memahami ajaran agama Islam. Pemuda itu, ya silsilahnya ada kaitan dengan komunis, ya keturunan sih. Pemuda terus menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya, ya dengan cara diam sih. Sampai suatu ketika ada masalah dengan orang yang di organisasi agama Islam. Orang itu, ya Ustad lah, ya paham ajaran agama Islam. Ustad itu, ya menjelaskan ini dan itu, ya sok suci banget gitu. Pemuda itu tidak bisa menahan amarahnya. Jadi pemuda itu mengambil Al Qur'an dan juga celurit. Pemuda itu berkata "Ini Al Qur'an yang kau agungkan dengan baik". Pemuda kesal dan membuang Al Qur-an itu di hadapan Ustad itu. Ya Ustad itu marah-marah karena Al Qur'an di buang, ya sama saja menghina ajaran gitu. Pemuda itu berkata "Dasar Ustad bodoh. Mana Tuhannya setelah aku membuang Al Qur'an. Yang ada cuma kamu yang marah-marah. Bener kata-kata orang-orang. Tuhan itu manusia. Muhammad itu Tuhan kamu yang selalu kamu agungkan dari setiap doa. Sesat." Ustad itu diam. Pemuda itu berkata "Aku memegang celurit ini ingin memotong kepala manusia yang menjadi Tuhan. Karena marah-marah setelah Al Qur'an di buang. Tapi tidak jadi. Karena sia-sia menghabisi mu. Karena aku komunis." Pemuda itu meninggalkan ustad itu. Ya Ustad itu mengambil Al Qur'an. Ustad itu tidak tahu kemampuan dari pemuda itu. Pemuda itu memiliki kemampuan mendengarkan suara Roh, ya tahu kebenaran ini dan itu dengan mendengarkan Roh. Pemuda itu pun keluar dari ajaran agama Islam. Begitulah ceritanya," kata Budi. 

"Bener-bener extrim. Cerita yang bagus," kata Eko. 

"Ya begitu lah," kata Budi. 

"Ceritanya sebatas agama Islam saja?!" kata Eko. 

"Ya tidak agama Islam saja. Agama lain sih. Hasilnya pemuda itu kecewa banget dengan orang-orang yang paham agama, ya tapi bodoh. Pemuda itu, ya memang benar-benar bisa mendengarkan suara Roh, ya karena melampaui batasannya sebagai manusia. Pemuda itu tahu kebenaran ini dan itu karena mendengarkan suara Roh," kata Budi. 

"Kemampuan melampaui batasan manusia," kata Eko. 

"Emmmm," kata Budi. 

"Main catur saja!" kata Eko. 

"Ok....main catur!" kata Budi. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan lah. 

Friday, February 11, 2022

ILMUNYA BEDA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya keduanya menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Eko. Adat istiadat dari suku keturunan. Kalau di jalanin dengan baik. Bisa di bilang strukturnya....kaya agama saja, ya Eko?!" kata Budi. 

"Adat istiadat. Di bilang strukturnya kaya agama. Ya gimana ya. Aku kan hanya lulusan SMA saja," kata Eko. 

"Kan cuma bahan obrolan saja!" kata Budi. 

"Memang sekedar obrolan saja sih. Ya ada sih orang-orang bilang adat istiadat, ya bisa di bilang strukturnya agama. Jadi kalau di yakini dan di jalanin dengan baik, ya jadi agama," kata Eko. 

"Adat istiadat...sudah di bilang sama dengan agama. Kenapa suku keturunan memilih agama ini dan itu yang dateng ya dari negeri lain?!" kata Budi. 

"Kalah dengan agama dari negeri lain yang membawa nilai ini dan itu, ya sampai budaya ini dan itu," kata Eko. 

"Kalah toh. Adat istiadat suku keturunan. Ya cuma sekedar nilai budaya. Orang-orang yang bergelut di organisasi adat istiadat, ya cuma ingin menaikkan budaya, ya dengan tujuannya nilai ekonomi saja," kata Budi. 

"Memang kenyataannya adat istiadat suku keturunan di angkat ini dan itu, ya nilainya ekonomi sekarang ini," kata Eko. 

Eko dan Budi, ya menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. 

"Berita tentang covid-19....tujuannya juga, ya roda penggerak bagi orang-orang kerja di bidang kesehatan," kata Budi. 

"Ya...kenyataannya memang begitu. Ekonomi dan ekonomi," kata Eko. 

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi. 

"Sebelum main catur. Aku mau tanya sesuatu....pada Budi?!" kata Eko. 

"Apa pertanyaannya?!" kata Budi. 

"Tumben tidak ada cerita ini dan itu?!" kata Eko. 

"Aku lagi tidak ada bahan cerita," kata Budi. 

"Masa tidak ada bahan cerita?!" kata Eko. 

"Ya sebenarnya ada sih. Tapi males cerita," kata Budi. 

"Males cerita. Kenapa?!" kata Eko. 

"Gara-gara..aku menonton vidio-vidio di Youtobe tentang orang-orang membahas Syiah dan Suni, ya bisa di bilang orang-orang membahas sih....para Ustad yang namanya tidak terkenal sampai terkenal di media ini dan itu," kata Budi. 

"Syiah dan Suni. Seperti A dan B," kata Eko. 

"Ya...seperti A dan B," kata Budi. 

"Saling menunjukkan kebenaran masing-masing," kata Eko. 

"Ya begitu lah," kata Budi. 

"Pertanyaan ku. Kenapa dari kelompok Syiah dan Suni....dari tempat asalnya ajaran itu berkembang, ya masih kaitan dengan ajaran Islam. Tidak ada satu pun manusia yang mampu melampaui batasan sebagai manusia, ya bisa mendengarkan suara roh?!" kata Eko. 

"Omongan Eko ada benarnya. Kenapa tidak ada satu pun manusia yang mampu melampaui batasan sebagai manusia, ya bisa mendengarkan suara roh?. Padahal kalau mampu bisa mendengarkan suara roh, ya masalah Syiah dan Suni, ya selesai gitu!" kata Budi. 

"Memang ilmu beda dengan pemuda yang dapet mendengarkan suara roh," kata Eko. 

"Iya juga ya beda ilmunya dengan ilmu pemuda yang mendengarkan suara roh. Pemuda itu, ya ilmunya benar-benar misteri banget," kata Budi. 

"Ilmu pemuda itu misteri. Padahal kenyataan kan!" kata Eko. 

"Iya sih. Kenyataan. Karena memang cerita kenyataan pemuda itu. Ya sudah tidak perlu ngobrol itu. Lebih main catur!" kata Budi. 

"Ok....main catur!" kata Eko. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya, ya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. 

Thursday, February 10, 2022

SOK SUCI DAN MASA BODOK

Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Eko. Aku punya cerita sih," kata Budi.

"Cerita apa?!" kata Eko.

"Cerita yang sebenarnya aku, ya tidak ingin menceritakannya. Takutnya jadi masalah sih," kata Budi.

"Cerita jadi masalah. Kan hanya sebatas bahan obrolan saja!" kata Eko.

"Memang sebatas bahan obrolan saja sih. Ya kalau begitu aku akan ceritalah," kata Budi.

"Aku menjadi pendengar yang baik," kata Eko.

"Aku belum mulai cerita. Eko omongannya kaya radio saja," kata Budi.

"Kan memang tren dari zaman awal radio berkembang sebagai infomasi yang baik, ya sampai sekarang masih menjadi tren dan juga masuk dalam dunia televisi, ya masih sama gayanya seperti penyiar radio. Dunia radio cuma tidak terlihat orangnya saja. Dunia televisi, ya kelihatan orangnya, ya tingkahnya yang begini dan begitu sampai vidio-vidio di jaringan internet," kata Eko.

"Pasarnya," kata Budi.

"Ya ekonomi lah," kata Eko.

"Jadi roda penggerak dengan baik ekonomi.....perkembangan teknologi ini dan itu," kata Budi.

"Jadi jenis pendidikan dan juga pekerjaan," kata Eko.

"Tuntutan hidup manusia. Harus bekerja demi keluarga. Kalau tidak bekerja, ya tidak makan. Yang gak mau kerja, ya bisa minta-minta, ya kaya pengemis dengan menyamar jadi apa pun di jalanan sana dan sini, ya berharap kebaikan orang-orang kaya. Padahal cukup jadi petani, perikan, dan pertenakan......untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kenyataan hidup, ya manusia ingin kerja yang enak gitu di dalam gedung dengan kemajuan teknologi," kata Budi.

"Memang enak hidup di desa dari pada di kota. Kalau gagal kota, ya jadi pengemis ini dan itu, ya karena keadaan," kata Eko.

"Sudah jangan ngomongin itu terus. Aku akan cerita!" kata Budi.

"Silakan cerita!" kata Eko.

"Ceritanya seperti ini. Ada manusia yang membakar kitab-kitab ajaran agama Islam. Ya sisi lain ada manusia yang membakar ajaran kitab ajaran Kristen. Ya sisi lainnya lagi, ya manusia-manusia membakar semua kitab apa pun ajaran agama yang telah lahir di muka bumi ini. Tuhan menyaksikan ulah manusia yang membakar kitab-kitab agama yang ada di dunia ini. Pertanyaan ku adalah...apakah manusia yang menyakini agama yang di yakininya dari kecil sampai dewasa. Manusia itu marah atau tidak......kalau tahu.....ada manusia membakar semua kitab-kitab ajaran yang ada di dunia ini?" kata Budi.

"Cerita singkat banget. Tujuannya. Apakah manusia yang menyakini agama yang di yakininya dari kecil sampai dewasa. Manusia itu marah atau tidak....kalau tahu....ada manusia membakar semua kitab-kitab ajaran yang ada di dunia ini?. Aku Pikir dengan baik sih. Relatif sih," kata Eko.

"Kok relatif ?!" kata Budi.

"Orang yang belajar ajaran agama ini dan itu. Ada yang sok suci dalam tingkah lakunya dalam sehari-hari. Ya di pikir dengan baik......relatif lah," kata Eko.

"Maksud Eko....pastinya ada yang marah, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Apalagi organisasi agama ini dan itu yang membela mati-matian kebenaran dari agama yang di yakininya. Padahal keadaan sekarang gara-gara Covid-19, ya semua orang sok suci di runtuh kan semua dengan pola merubah tata cara ibadah ini dan itu. Berarti orang sok suci itu, ya sia-sia memperjuangkan agama yang di yakininya," kata Eko.

"Sisi lain, ya masa bodok kan Eko?!" kata Budi.

"Sisi lain...memang masa bodok. Kitab-kitab ajaran agama di bakar ini dan itu sama manusia yang ini dan itu. Ya manusia yang telah belajar dengan baik, ya menghafal tuh kitab-kitab ajaran dan bisa di tulis ulang lagi tuh kitab. Jadi masalah dapat di selesai kan dengan baik," kata Eko.

"Omongan Eko benarlah. Jadi relatif lah. Tergantung manusianya. Memahami ilmunya dengan baik," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok....main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas mejalah. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Wednesday, February 9, 2022

TUHAN BUKAN ORANG ARAB

Langit gelap bertabur bintang di langit. Keadaan tenang di lingkungan rumah Eko. Ya Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum teh dan juga makan cimol.

"Pasar di Indonesia ini di pengaruhi suku, bangsa dan agama, ya kan Eko," kata Budi.

"Ya begitulah realita kehidupan di Indonesia. Harus rukun, ya toleransi terjaga dengan baik," kata Eko.

"Ya tetap saja ada perkara-perkara ini dan itu, ya sampai kriminalitas di sana-sini, ya lebih jelasnya sih berita di Tv sih," kata Budi.

"Nama juga manusia. Ada manusia baik dan ada manusia buruk," kata Eko.

"Ooooo iya Eko. Aku ingin tanggapan mu tentang sesuatu sih!" kata Budi.

"Apa itu?!" kata Eko.

"Tentang vidio yang aku tonton yang membahas tentang 'Tuhan Bukan Orang Arab'...," kata Budi.

"Pasti vidio di Youtobe, ya kan Budi?!" kata Eko.

"Iya sih," kata Budi.

"Sebenarnya sih. Tidak perlu ngomongin itu. Tidak penting di bahas!" kata Eko.

"Kok tidak perlu di bahas?!" kata Budi.

"Ya karena kita kan hanya lulusan SMA!" kata Eko. 

"Kita ini memang hanya lulusan SMA, ya masih kurang ilmu ini dan itu sih. Tapi tetap belajar dari keadaan ini dan itu, ya tujuannya jadi lebih maju pola pemikirannya dengan baik. Ya agar bisa sebanding dengan orang-orang yang pemahamannya keilmuannya jauh di atas kita," kata Budi. 

"Omongan Budi benar lah. Terus belajar dari keadaan ini dan itu, ya demi ini dan itu. Pintar!" kata Eko. 

"Jadi gimana dengan tema yang bahas di vidio tentang 'Tuhan Bukan Orang Arab'..." kata Budi. 

"Kan yang sebenarnya kan. Yang di bahas di vidio Youtobe tentang tema yang dibahaskan 'Tuhan Bukan Orang Arab', ya yang membahas itu ahli di bidangnya. Seenak cangkemnya ngoceh ini dan itu yang penting orang-orang ngerti maksud dan tujuan tema yang di bahas," kata Eko.

"Seenak ocehan orang yang membahas. Maksud dan Tujuannya di pahami sama orang-orang. Memang iya sih aku mengerti apa yang di bahas di vidio itu!" kata Budi.

"Kalau sudah mengerti tidak perlu di bahas lagi!" kata Eko.

"Tapi?!" kata Budi.

"Kok ada tapi lagi?!" kata Eko.

"Ya hanya saja orang yang membahas tentang tema 'Tuhan Bukan Orang Arab', ya orang itu tidak punya ilmu melebihi batasan sebagai manusia biasa. Ya cuma manusia biasa yang belajar dari kecil sampai dewasa, ya memahami ilmu yang di pelajari dengan baik, ya berdasarkan ilmu yang di tekuni. Pada akhirnya jadi orang yang punya status sosial di masyarakat sih, ya di hormati berdasarkan status itu," kata Budi. 

"Ustad...sampai para pejabat di pemerintahan," kata Eko. 

"Emmmm," kata Budi. 

"Maunya Budi. Seharusnya orang itu seperti pemuda yang dapat mendengarkan suara-suara Roh, ya kan Budi?!" kata Eko.

"Iya sih. Mau ku sih. Orang itu, ya bisa seperti pemuda yang dapat mendengarkan suara-suara Roh sih. Ternyata, ya hanya manusia biasa saja, tak mampu melampaui batasan sebagai manusia," kata Budi.

"Gimana mau jadi orang terpilih. Jika tidak bisa melampaui batasan sebagai manusia," kata Eko.

"Sudah ah. Lebih main catur saja Eko!" kata Budi. 

"Ok...main catur saja!" kata Eko. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan menyusun bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum teh dan juga makan cimol.

Tuesday, February 8, 2022

TEMA SMA

Budi dan Eko duduk di depan rumahnya Budi. Ya Budi memainkan gitarnya dengan baik, ya sambil menyanyikan sebuah lagu lama dengan judul "Galih Ratna". Eko bernyanyi juga lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Eko :

"Dua sejoli menjalin cinta
Cinta bersemi dari SMA
Galih dan Ratna mengikat janji
Janji setia setia abadi

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Dua sejoli menjalin cinta
Cinta bersemi dari SMA
Galih dan Ratna mengikat janji
Janji setia setia abadi

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Dua sejoli menjalin cinta
Cinta bersemi dari SMA
Galih dan Ratna mengikat janji
Janji setia setia abadi

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna
Tiada petaka merenggut kasihmu

Oh Galih oh Ratna
Cintamu abadi
Wahai galih duhai Ratna"

***


Budi dan Eko, ya selesai menyanyi dan Budi menaruh gitar di kursi yang kosong. Budi dan Eko menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. 

"Acara Tv," kata Budi.

"Ada apa dengan acara Tv?!" kata Eko.

"Ya...acara Tv-nya. Dari sinetron sampai lawak, ya acara mengambil tema anak sekolahan," kata Budi.

"Anak sekolahan. Maksudnya...Si Doel Anak Sekolahan?!" kata Eko.

"Bukan Si Doel Anak Sekolahan. Yang aku maksud sih. Temanya SMA gitu, ya acara Tv dari sinetron sampai lawak!" kata Budi.

"SMA. Mungkin ceritanya trennya SMA," kata Eko.

"Gimana dengan kita Eko?!" kata Budi.

"Kalau kita sih. Mantan anak SMA!" kata Eko.

"Masih ada kaitannya, ya Eko kan?!" kata Budi.

"Masih sih. Ilmu aku dan Budi kan, ya masih lebih banyak menggunakan ilmu-ilmu SMA," kata Eko.

"Termasuk Abdul kan Eko?!" kata Budi.

"Iya!" kata Eko.

"Yang beda itu....Erwin dan Putri, ya melanjutkan pendidikannya ke Universitas di Jakarta, ya ilmunya anak kuliahan. Kaya cerita Si Doel Anak Sekolahan gitu," kata Budi.

"Kuliah itu. Tujuannya, ya mencapai masa depan yang lebih baik dari bidang keilmuan," kata Eko. 

"Realita kenyataannya begitu," kata Budi. 

"Masa depan yang baik. Bisa jadi pemimpin, ya dari lulusan Universitas, ya kan Eko?!" kata Budi. 

"Contoh yang tepat itu.... Pak Presiden, ya lulusan Universitas. Jadi pemimpin untuk negeri ini. Ya membangun negeri ini dengan jiwa dan raganya, ya tujuan kemajuan ini dan itu," kata Eko. 

"Hasil pembangunan ini dan itu, ya di rasakan sampai rakyat kecil," kata Budi. 

"Kata berita di media ini dan itu, ya sampai kata orang-orang, ya sampainya ke telinga kita lah. Ya iya sih dirasakan hasil pembangunan ini dan itu," kata Eko. 

"Sekedar obrolan lulusan SMA, ya kan Eko?!" kata Budi. 

"Iya....sekedar bahan obrolan lulusan SMA, ya karena masih kurang ilmu ini dan itu. Ya beda orang-orang lulusan Universitas," kata Eko. 

"Kalau begitu sih....main catur saja!" kata Budi. 

"Ok...main catur!" kata Eko. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Artikel yang di buat lulusan Universitas, ya kerjaan jadi wartawan di media ini dan itu. Artikelnya bagus-bagus gitu," kata Budi. 

"Berkualitas maksudnya Budi?!" kata Eko. 

"Iya...maksudnya....berkualitas!" kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

Eko dan Budi main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. 

CUKUP MERASAKAN JADI ORANG KAYA

Malam yang tenang di kediaman rumah Eko. Ya Budi dan Eko duduk di depan rumah, ya sambil menikmati minum kopi dan juga roti bakar, ya beli Budi lah. Rezeki Budi lagi bagus gitu, ya jadinya bagi-bagi rezeki sama Eko, ya biasa makan bareng dengan teman baik gitu.

"Eko. Ada beberapa tempat. Tanah yang luas punya orang kaya dan juga kantor-kantor pemerintahan yang tidak terpakai lagi karena keadaan dari sistem pemerintahan yang baru dalam bentuk birokrasi satu atap," kata Budi.

"Terus!!!!" kata Eko.

"Kalau tanah yang nganggur itu di garap dengan baik, ya jadi lapangan pekerjaan yang baik. Dan tempat-tempat kantor pemerintahan yang tidak di pakai lagi, ya di alih fungsi kan dengan baik, ya jadi berguna di lihat mata dari pada....jadinya seperti rumah hantu gitu," kata Budi.

"Kalau urusan kantor-kantor pemerintahan yang tidak di gunakan lagi karena keadaan ini dan itu, ya aku sih yang masih lulusan SMA dan masih kurang ilmu ini dan itu, ya lebih baik tidak perlu di obrolin, ya tidak bahas gitu. Kalau urusan tanah yang luas punya orang kaya, ya aku sih setuju dengan omongan Budi, ya di garap dengan baik, ya minimal di tanam sesuatu yang bermanfaat gitu. Tapi harus di perhitungkan dengan keadaan dari tanah itu, ya tingkat kesuburuan tanahnya," kata Eko.

"Tingkat kesuburan tanahnya. Mudahnya mendapatkan air, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Memang air itu penting banget untuk urusan tanam-menanam. Kalau tanahnya di salah satu daerah, ya di sebut daerah gunung batu, ya tempat itu memang tempat mengambil batu bangunan sih, ya itu sih sulit juga untuk di tanami. Airnya juga susah. Lagian kebanyakan yang tinggal di daerah itu pun, ya orang miskin, ya karena keadaan....tanah sudah di miliki orang kaya,"kata Eko.

"Daerah gunung batu, ya memang kata orang sih begini dan begitu sih. Tanah yang aku omongin ini, ya airnya mudah sih. Cuma sayang saja tidak di garap gitu," kata Budi.

"Orang kaya, ya tanahnya di mana-mana, ya warisan nenek moyang. Biasa itu mah di Lampung. Yang susah itu orang miskin banget. Sudah numpang di tanah orang. Lingkungannya buruk. Di maling pula sama orang sekitar. Hidup, ya tambah pait banget tuh orang miskin," kata Eko.

"Ya...gimana ya. Tidak bisa di omongin sih. Akhlak manusia dari suku ini dan itu sih mempengaruhinya," kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

Eko dan Budi, ya menikmati minum kopi dan makan roti bakar dengan baik.

"Miskin berusaha dengan baik. Akhirnya, ya jadi hidup dengan baik, ya sederhana lah. Belum kaya. Tetap masih menikmati hidup dengan baik," kata Budi.

"Itu sih aku dan Budi!" kata Eko.

"Abdul juga, ya kan Eko," kata Budi.

"Iya!!!" kata Eko.

"Sekedar bahan obrolan yang kita omongin ini dan itu, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Iya!!!" kata Eko.

"Lebih baik main catur!" kata Budi.

"Ok...main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur lah. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Berita di Tv. Tentang mobil mewah," kata Budi.

"Budi kepengen mengendarai mobil mewah yang supermahal gitu?!" kata Eko.

"Ya bisa di bilang begitu sih," kata Budi.

"Teman saja sama anak Pak Presiden. Kan kata orang-orang....anak Pak Presiden baik. Ya mungkin di pinjemin mobil mewahnya untuk di kendarai Budi. Jadi Budi merasakan jadi orang kaya gitu. Atau temanan dengan anak Bos apa gitu. Pasti di pinjemin mobil mewahnya, ya cuma di pake sebentar di kendarai Budi, ya untuk merasakan jadi orang kaya gitu," saran Eko.

"Omongan Eko bener sih. Ada cerita seorang pemuda yang baik. Ya di pinjemin mobil sama Bos, ya mobil mewahnya. Pemuda itu memakai mobil itu sebentar sih, ya merasakan rasanya jadi orang kaya," kata Budi.

"Cukup merasakan jadi orang kaya, ya orang miskin yang baik budi pekertinya, ya sudah cukup dengan merasakan seperti itu," kata Eko.

"Memang cukup merasakan jadi orang kaya, ya sudah cukup bagi orang miskin yang baik. Lalu orang miskinnya berusaha dengan baik, ya jadi orang kaya dengan usaha yang baik. Walaupun butuh waktu yang lama bagi orang miskin jadi orang kaya, ya karena keadaan ini dan itu," kata Budi.

Budi dan Eko main catur dengan baik, sambil menikmati minum kopi dan juga makan roti bakar yang enak banget.

Monday, February 7, 2022

LAGU YANG BAGUS

Dono yang berada di Batam, ya tepatnya di rumahnya. Dono duduk di kamarnya, ya sedang main gitarnya dengan baik dan juga menyanyikan sebuah lagu yang populer sih dengan judulnya 'Buih Jadi Permadani'.

Lirik lagu yang dinyanyikan Dono :

"Dinginnya angin malam ini

Menyapa tubuhku

Namun tidak dapat di inginkan panasnya

Hatiku ini

Terasa terhempasnya kelakian ku ini

Dengan sikapmu

Apakah karena aku

Insan kekurangan

Mudahnya kau mainkan

Oh mungkinkah diri ini

Dapat merubah buih

Yang memutih

Menjadi permadani

Seperti pinta

Yang kau ucap

Dalam janji cinta

Juga mustahil bagiku

Menggapai bintang dilangit

Siapalah diriku

Hanya insan biasa

Semua itu

Sungguh aku

Tiada mampu

Salah aku juga

Karena jatuh cinta

Insan seperti dirimu seanggun bidadari

Seharusnya aku

Cerminkan diriku

Sebelum tirai hati

Aku buka"

***

Dono selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya, ya gitar di taruh di tempat tidur. 

"Mulai mengerjakan tugas-tugas kuliah ah," kata Dono.

Dono duduk dengan baik, ya menghidupkan leptopnya. Dengan serius Dono mengetik di leptopnya, ya membuat makalah ini dan itu sesuai dengan mata kuliah yang di ambil Dono. Sedangkan Indro yang berada di Jakarta bersama Kasino, ya tepatnya di rumahlah. Indro duduk di ruang tamu, ya sedang menonton vidio di Hp-nya, ya Youtobe musik gitu.

"Lagu ini bagus," kata Indro.

Indro terus menonton tuh vidio Youtobe musik di Hp-nya. Sampai vidio yang di tonton Indro selesai, ya Indro mengulang lagi tuh vidio Youtobe musik.

"Keren lagu 'Buih Jadi Permadani'...," kata Indro.

Indro terus menonton tuh vidio Youtobe musik di Hp-nya dengan baik lah. Kasino yang selesai urusan kerjaanya, ya mengetik di kamarnya, ya biasa pembukuan ini dan itu sih. Kasino keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Kasino duduk dengan baik di ruang tamu.

"Indro. Asik amat Indro nonton vidio musik di Hp," kata Kasino.

Indro menghentikan nonton vidio musik di Hp-nya.

"Lagunya bagus Kasino," kata Indro.

"Memang sih aku mendengarnya dengan baik, ya lagunya memang bagus," kata Kasino.

"Benar-benar populer lagu 'Buih Jadi Permadani'..," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Penyanyi...keren. Menyanyikan lagunya," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino teringat dengan urusannya sama Selfi. Kasino beranjak dari duduknya. 

"Kasino mau kemana?!" kata Indro.

"Aku ada urusan dengan Selfi," kata Kasino.

"Ooooo ada urusan dengan Selfi," kata Indro.

Indro kembali nonton vidio Youtobe musik di Hp-nya. Kasino ke kamarnya, ya berbenah diri. Setelah rapih, ya Kasino pun keluar rumah dengan membawa motornya ke rumah Selfi lah. Indro akhirnya selesai nonton vidio Youtobe musik di Hp-nya. 

"Main game ah!" kata Indro.

Indro main game di Hp-nya dengan baik. Singkat waktu, ya Kasino sampai di rumah Selfi. Kasino pun duduk di ruang tamu bersama Selfi. Kasino memang ngobrol dengan baik dengan Selfi. Kasino memandang dengan baik kecantikan Selfi. Dalam hati Kasino berkata dengan baik "Selfi seanggun bidadari."

Kasino tidak mengikuti kata hatinya, ya memuji Selfi dengan kata-kata seanggun bidadari. Kasino tetap jojong urusan dengan Selfi, ya urusan kerjaan sampai urusan kisah cinta keduanya. 

AKU MERINDUKANMU

Budi duduk depan rumah, ya sedang main gitar dan juga di meja ada kopi botolan dan juga gorengan lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi :

"Aku masih ada di sini

Masih dengan perasaanku yang dahulu

Tak berubah dan tak pernah berbeda

Aku masih yakin nanti milikmu

Aku masih di tempat ini

Masih dengan setia menunggu kabarmu

Masih ingin mendengar suaramu

Cinta membuatku kuat begini

Aku merindu, ku yakin kau tau

Tanpa batas waktu, ku terpaku

Aku meminta walau tanpa kata

Cinta berupaya

Engkau jauh di mata tapi dekat di doa

Aku merindukanmu

Aku masih di dunia ini

Melihatmu dari jauh bersama dia

Walau pasti ku terbakar cemburu

Tapi janganlah kau ke mana-mana

Aku merindu, ku yakin kau tau

Tanpa batas waktu, ku terpaku

Aku meminta walau tanpa kata

Cinta berupaya, ooh

Aku merindu, ku yakin kau tau

Tanpa batas waktu, aku terpaku

Aku meminta walau tanpa kata

Cinta berupaya

Engkau jauh di mata tapi dekat di doa

Aku merindukanmu

Aku merindukanmu

Aku merindukanmu"

***

Budi selesai menyanyikan lagu, ya gitar di taruh di bangku yang kosong. Budi mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya di depan rumah Budi. Eko duduk dengan baik, ya sebelah Budi. Budi menaruh kopi botolan di meja.

"Aku merindukanmu," kata Budi.

Eko pun berkata "Siapa yang Budi rindukan."

"Ada deh!!!" kata Budi.

"Jangan-jangan. Budi sudah dapet cewek yang di jadikan pacar gitu?!" kata Eko.

"Cewek. Ya dalam khayalan aku," kata Budi.

"Kebiasaan. Becanda. Aku kirain serius," kata Eko.

"Aku sebenarnya sih. Abis nyanyikan sebuah lagu 'Tampa Batas Waktu'....," kata Budi.

"Ooooo. Abis nyanyikan lagu 'Tampa Batas Waktu'.....," kata Eko.

"Kata-kata dari lagu tersebut yang aku sukai 'Engkau jauh di mata tapi dekat di doa'...," kata Budi.

"Memang sih aku akui. Kata-kata di lagu tersebut bermakna sih. 'Engkau jauh di mata tapi dekat di doa'. Kayanya aku melakukan itu dalam doa yang kupanjatkan untuk Purnama," kata Eko.

"Kalau aku inget sih. Eko pernah berdoa dengan baik untuk mendapat jodoh. Ternyata jodohnya adalah Purnama. Cewek masih di lingkungan rumah Eko, ya tetangga lah," kata Budi.

"Aku melakukan dengan jalan yang baik, ya urusan jodoh sih," kata Eko.

"Berarti. Abdul dengan Putri. Ya Abdul berdoa dengan baik, ya agar bisa berjodoh dengan Putri. Kaya kata-kata lagu sih 'Engkau jauh di mata tapi dekat di doa'...," kata Budi.

"Nama juga di usahakan Abdul dengan baik. Agar berjodoh beneran dengan Putri," kata Eko.

"Memang sih di usuhain Abdul dengan baik sih urusan dengan Putri. Tapi yang aku pikirkan adalah perawan tidak bisa di dapatkan, ya janda di dapatkan. Gimana pendapat Eko?!" kata Budi.

"Kalau urusan itu sih. Perawan tidak bisa di dapatkan, ya janda di dapatkan. Ya tidak boleh di amini sih!" kata Eko.

"Memang sih tidak boleh di amini sih. Karena itu bisa saja jadi doa. Kalau doa di kabulkan, ya beneran dapet jodohnya....janda," kata Budi.

"Kadang setan bisa denger doa itu. Ya jadinya setan melaksakan rencananya, ya menghancurkan hubungan orang, ya membuat urusan rumah tangga jadi hancur. Dari bercerai sampai urusan kematian. Ya ceweknya jadi janda," kata Eko.

"Misteri!!!!," kata Budi.

"Kesempatan orang yang selama menunggu dari perawan tolak, ya sampai janda, ya akhirnya orang itu mendapatkan janda dari cewek yang di sukainya," kata Abdul.

"Cewek yang janda pun berkata seperti ini 'Apakah kodar aku bersama orang yang ingin bersama aku dari keadaan ku sudah janda. Padahal saat aku perawan, ya aku tolak orang itu. Seharusnya lebih baik aku tidak menolaknya saat aku perawan, ya hidup ku jadi lebih baik. Tidak bersedih karena menangisin suami ku yang meninggal," kata Budi.

"Teka-tekinya kehidupan. Manusia tidak tahu. Esok jadi seperti apa. Maka banyak orang berkata 'Manusia berencana ini dan itu demi masa depan yang baik. Tuhan yang menentukan segalanya'...," kata Eko.

"Benar-benar misteri deh!" kata Budi.

"Ya kalau begitu main catur saja!' kata Eko.

"Ok....main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas mejalah. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

"Kalau sudah punya cewek yang di sukai, ya pastinya selalu merindukan cewek yang di sukai," kata Budi.

"Ceweknya artis, ya Budi?!" kata Eko.

"Maunya sih. Ceweknya artis sih. Cantik, pinter dan juga kaya gitu," kata Budi.

"Artis Mahalini, ya Budi?!" kata Eko.

"Permainan apa beneran ini?!" kata Budi.

"Ya permainan lah," kata Eko.

"Ooooo becandaan," kata Budi.

"Memang becandaan. Mana mungkin Budi dapetin artis Mahalini. Siapa Budi, ya siapa artis Mahalini," kata Eko.

"Kata orang sih yang pantes dapetin artis Mahalini, ya artis juga sih artis Rizky," kata Budi.

"Itu sih berita seputar artis. Semakin di bicarakan semakin sip urusan kisah cinta artis. Dari episode satu sampai episode yang panjang kaya sinetron Indonesia," kata Eko.

"Realita cerita seperti itu di dunia Tv. Kita kan cuma penonton yang baik. Dan juga sekedar jadi bahan obrolan saja. Permainan. Becanda!" kata Budi.

"Emmmmm," kata Eko.

Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi botolan dan gorengan lah.

CEWEK CANTIK

Abdul duduk di depan rumahnya, ya sedang membaca koran dengan baik. Berita di koran, ya menarik cerita ini dan itu, ya tujuannya menambah wawasan saja tentang keadaan ini dan itu yang di angkat baik setiap tema yang buat sama para bidang jurnalis sih. Abdul sambil menikmati minum kopi gelasan dan juga keripik pisang dengan rasa coklat. Budi ke rumah Abdul dengan menggunakan motornya. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul. Budi duduk dengan baik lah. Ya Abdul berhenti baca korannyalah karena ada Budi. Koran di taruh dengan baik di mejalah.

"Seperti biasanya. Abdul santai di rumah, kan Abdul?!" kata Budi.

"Ya begitulah," kata Abdul.

Budi melihat foto cewek cantik di koran dan segera di ambil sih foto koran tersebut.

"Abdul kalau membicarakan tentang cewek gimana?!" kata Budi.

"Ngobrolin tentang cewek kan tidak ada masalah. Cuma sekedar bahan obrolan saja," kata Eko.

"Lagi pula cewek yang di obrolin juga tidak ada di sini," kata Budi.

"Kalau cewek yang di obrolin ada di sini gimana Budi?!" kata Abdul.

"Lebih baik diam lah. Dari pada ngomongin tuh cewek. Takut ini dan itu sih," kata Budi.

"Memang sih. Ada dampak dari obrolan jika obrolan itu, ya nilainya negatif. Jadinya takut ini dan itu. Menyinggung cewek yang di obrolin," kata Abdul.

"Kalau obrolan itu baik, ya positif. Seperti memuji cewek itu. Gimana Abdul?!" kata Budi.

"Memuji, ya di depan cewek. Takutnya di perkirakan tuh cewek, ya Budi mau mengambil hatinya tuh cewek. Ya ceweknya jadi salah tingkah sih di depan Budi," kata Abdul.

"Itu sih. Di nilai dari cewek yang sensitif ini dan itu. Kalau cewek cuek sih, ya di anggap biasa saja pujian cowok. Ya seperti angin berlalu gitu," kata Budi.

"Nama juga karakter cewek yang ini dan itu. Sama halnya karakter cowok. Ada cowok yang karakternya sensitif kaya cewek, ya jadinya tingkahnya kaya cewek. Ada cowok yang karakternya sok keren ini dan itu, ya maco gitu," kata Abdul.

"Ya omongan Abdul benarlah. Karakteristik manusia yang ini dan itu. Bisa di bilang kepribadian manusia yang ini dan itu," kata Budi.

"Emmmmm," kata Abdul.

"Foto cewek di koran ini. Cantik, ya kan Abdul?!" kata Budi.

"Artis, ya cantiklah," kata Abdul.

"Artis Mahalini," kata Budi.

"Artis Mahalini, ya katanya beritanya si deket dengan artis cowok sih," kata Abdul.

"Cerita kehidupan seputar artis ini dan itu," kata Budi.

"Emmmmm," kata Abdul

"Ngomong-ngomong. Putri cemburu apa tidak. Jika Abdul membicarakan cewek ini dan itu?!" kata Budi.

"Pertanyaan yang aneh. Sudah tahu aku dan Putri, ya belum jadian. Putri di Jakarta, ya sibuk kuliah. Sedangkan aku di Bandar Lampung, ya sibuk dengan usahaku untuk mencapai masa depan yang lebih baik, ya kaya lah," kata Abdul.

"Seadainya saja!" kata Budi.

"Kalau main seadainya saja. Ya.....ada sedikit marah lah membicarakan cewek lain. Apalagi memuji cewek lain. Kan lebih baik aku memuji Putri saja di depan Putri. Pastinya Putri senang lah," kata Abdul.

"Omongan Abdul ada benar sih. Dari sisi ini dan itu," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul.

"Kisah cinta Abdul dan Putri....apa bisa bersatu, ya realita kenyataannya?!" kata Budi.

"Jika perawannya tidak bisa aku dapatkan. Maka jandanya saja aku dapatkan!" kata Abdul.

"Serius Abdul. Urusan kisah cinta Abdul sama Putri, sesuai dengan omongan Abdul?!" kata Budi.

"Ya tidak lah. Kalau aku aminin dengan baik. Ya jadi doa lah. Maka itu tidak boleh di amini," kata Abdul.

"Iya juga sih omongan Abdul bener. Tidak boleh di aminin. Ya tetap berusaha dengan baik mendapatkan Putri dengan baik kan Abdul?!" kata Budi.

"Iya. Aku usahakan dengan baik mendapatkan Putri. Jika tidak dapat. Ya Aku ikhlas kan dengan baik, ya Putri bersama orang yang mencintainya," kata Abdul.

"Kadang aku pikir baik, ya ingin mendapatkan cewek yang cantiknya kaya artis Mahalini, ya main seandainya gitu," kata Budi.

"Seperti biasanya Budi," kata Abdul.

"Ya.....nama juga permainan seandainya. Maklum cowok jomlo. Masih berusaha mendapatkan cewek cantik sesuai keinginan hati dan juga kaya gitu," kata Budi.

"Budi. Budi. Budi!!!!" kata Abdul.

"Ok lah. Artis Mahalini....pujiannya cantik," kata Budi menegaskan omongannya, ya sambil Budi menaruh koran di mejalah.

"Emmmmm," kata Abdul.

Abdul dan Budi ingin main catur sih. Eko sampai di rumah Abdul, ya telah memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul. Eko duduk bersama dengan Abdul dan Budi. Ketiganya sepakat main kartu remi, ya sambil menikmati minum kopi gelas dan juga keripik pisang rasa coklat.

Sunday, February 6, 2022

DASAR BUAYA

Budi dan Eko, ya duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Buaya," kata Budi.

"Buaya beneran....apa cuma perumpaan untuk orang yang tidak setia?!" kata Eko.

"Maunya Eko?!" kata Budi. 

"Kok malah balik nanya?!" kata Eko. 

"Ya. Sebenarnya sih. Buaya itu perumpaan sih, ya menunjukkan orang tidak setia. Tapi?!" kata Budi. 

"Tapi apa?!" kata Eko. 

"Ada yang bilang sih. Buaya itu lambang kesetian gitu," kata Budi. 

"Memang ada sih yang bilang buaya itu lambang kesetian. Ya aku tetap menyatakan buaya itu, ya perumpaan orang yang tidak setia. Karena aku nonton film siluman buaya yang kerjaannya nyari betina, ya padahal sudah dapet dua, ya masih kurang....jadinya nyari betina yang ketiga, ya dari golongan manusia yang cantik," kata Eko. 

"Film misteri. Cerita siluman buaya," kata Budi. 

"Dunia kenyataan itu. Cowok yang sudah punya istri, ya niatnya sih maunya poligami, ya jalan baik gitu. Tapi kenyataan tidak bisa di jalanin poligami, ya maka itu di jalanin jalan yang lain lah.....selingkuh. Terang-terangan ada. Yang sembunyi-sembunyi ada," kata Eko. 

"Realitanya kehidupan manusia. Ada cowok yang setia, ya ada cowok tidak setia," kata Budi. 

"Maka itu...cewek-cewek lebih cenderung manggil cowok yang tidak bisa setia....dasar buaya," kata Eko. 

"Dasar buaya," kata Budi.

"Kalau begitu, ya main catur saja!" kata Eko. 

"Ok...lah. Main catur saja!" kata Budi. 

Budi mengambil catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik, ya bidak catur. 

"Orang yang bermuka dua itu," kata Budi. 

"Tukang selingkuh," kata Eko. 

"Jadi...golongan munafik," kata Budi. 

"Ujian hidup di muka bumi ini, ya golongan munafik di antara manusia lah," kata Eko. 

"Ya sekedar obrolan lulusan SMA saja, ya kan Eko?!" kata Budi. 

"Ya memang sekedar obrolan lulusan SMA saja!" kata Eko. 

"Kadang lebih baik para Ustad yang menjelaskan tentang golongan munafik itu. Berdasarkan keilmuan gitu, ya jadi orang-orang lebih paham dampak dari golongan munafik itu," kata Budi. 

"Nama juga Ustad, ya membimbing manusia di jalan baik, ya berdasarkan amanah ilmu yang di pelajarinya," kata Eko. 

Eko dan Budi, ya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. 

PANGERAN IMPIANNYA PUTRI

Putri di rumahnya, ya selesai mengetik di leptopnya, membuat cerita pendek gitu. Putri duduk santai di ruang tengah, ya sedang nonton Tv, ya acara drama cinta gitu. Putri sambil menikmati minum jus jeruk dan juga makan donat. Ridwan ke rumah Putri, ya pake motor gede, ya gaya anak jalanan metropolitan, ya bisa di bilang di contoh dari sinetronlah.

Singkat waktu, ya Ridwan sampai di rumah Putri. Ridwan memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Putri. Putri, ya mendengar sih suara-suara di depan rumahnya. Putri, ya bergerak ke ruang tamu, ya ingin membuka pintu depan untuk mengecek siapa yang dateng. Ridwan mau mengetik pintu depan rumah Putri, ya mengucap salam juga sih, ya tandanya tahu tata krama bertamu dengan baik. Putri, ya mendengar ketukan dan juga Salam sih. Putri membuka pintu dan menjawab salam dengan baik. 

"Ridwan," kata Putri. 

"Iya," kata Ridwan. 

"Tumben main kesini?!" kata Putri. 

"Aku mau ngurusin urusan kuliah," kata Ridwan. Dalam hati Ridwan berkata "Ya sebenarnya kangen Putri, ya cewek yang aku sukai". 

"Urusan kuliah. Silakan masuk Ridwan," kata Putri. 

Ridwan masuk rumah Putri, ya duduk di ruang tengah. Putri duduk dengan baik. Putri dan Ridwan ngobrol urusan kuliah dengan baik sih. Ridwan, ya ada sikap yang aneh sama Putri, ya ingin ngobrol urusan cinta sih. Tapi Putri merasa gelagat Ridwan aneh gitu. 

"Apakah Ridwan ada niat untuk omongin urusan perasaannya pada ku?!" kata hati Putri. 

Putri tetap fokus, ya membahas urusan kuliah sama Ridwan. Urusan itu pun selesai. Ridwan meninggalkan rumah Putri, ya Ridwan membawa motor gede ya dengan baik. Ya Putri teringat dengan urusan ya dengan Rara, Meli, Nia dan Aulia. Putri berbenah diri. Ridwan di atas motor berkata "Lain kali aku nyatakan cinta ku pada Putri". 

Singkat waktu, ya Putri telah cantik gitu penampilannya. Putri ke luar rumahnya dan segera masuk mobilnya. Putri membawa mobilnya dengan baik ke rumah Meli karena memang teman-teman ngumpul di rumah Meli. Tiba-tiba mobil Putri mogok di jalan gitu. Ya Putri mencoba untuk benerin mobilnya. Kebetulan banget Hari lewat situ sih, ya pake motor gede gitu. Putri mengalami susah, ya di tolong Hari lah. Ya Putri senang banget di tolong Hari, ya karena Putri sebenarnya suka Hari. Sedangkan Hari suka sama Putri, ya cuma belum ada omongan urusan cinta sih. Kode keduanya, ya ada sih mendekati utusan cinta. Hari memperbaiki mobil Putri dengan baik, ya sampai hiduplah. 

"Terima kasih Hari atas bantuannya," kata Putri. 

"Ya," kata Hari. 

Putri pun masuk mobilnya, ya mengendarai mobilnya dengan baik menuju rumah Meli. Ya Hari pun membawa motor gedenya dengan baik menuju rumah lah. Singkat waktu, ya Putri sampai di rumah Meli, ya memarkirkan mobilnya dengan baik di rumah Meli. Putri keluar dari mobil, ya segera masuk rumah Meli, ya karena Meli memang menyambut Putri dateng, ya begitu dengan Rara, Nia dan Aulia. 

Putri dan teman-teman, ya ngobrol di ruang tengah, ya yang di obrolin sih urusan kerjaan sih. Ya obrolan cewek cukup panjang kali lebar kali tinggi, ya jadinya luas banget gitu. Sampai urusan itu selesai sih, ya Putri pulang ke rumahnya, ya tapi ngaterin Rara dulu ke rumahnya. Sedangkan Nia, ya nginep di rumah Meli dan Aulia di jemput sama teman dekatnya, Nazar sih pake mobillah. Nazar suka sama Aulia, ya tapi sebenarnya Nazar sedang mendekati Findi. Aulia tahu tentang niatnya Nazar deketin Findi. Aulia tetap jojong saja berteman dengan Nazar. Nazar membawa mobilnya dengan baik ke rumahnya Aulia, ya ngaterin Aulia lah. Ya Putri membawa mobilnya dengan baik menuju rumah Rara. 

Singkat waktu, ya sampai di rumah Rara. Ternyata ada Gunawan di rumah Rara. Gunawan nungguin Rara karena Gunawan suka sama Rara. Putri tahu hubungan Rara dengan Gunawan. Putri, ya langsung ke rumahnya, ya membawa mobilnya dengan baik. Gunawan memang di rumah Rara, ya telah bicara dengan baik sama Mbak Lesti dan Abang Risky. Rara pun, ya ngobrollah sama Gunawan di ruang tamu urusan cinta lah. Putri...akhirnya sampai di rumahnya, ya mobil telah masuk garasilah. Putri, ya berbenah diri di kamarnya. Setelah itu, ya istirahat lah dengan baik di kamarnya. 

Esok harinya. Putri, ya ada urusan kerjaan sama Gunawan, ya Putri dateng pagi-pagi ke tempat kerjaanlah. Putri bertemu dengan Gunawan di tempat kerjaan, ya buat vidio klip musik gitu, ya gaya India gitu, ya permintaan orang yang punya modal yang buat acara Tv, ya bisa di bilang promosi ini dan itu sih. Rara dateng ke tempat kerjaannya Gunawan. Rara melihat Gunawan dekat dengan Putri, ya Rara ada rasa cemburu gitu. Hari, ya kebetulan dateng ke tempat kerjaan Putri. Hari merasa resah hatinya Putri dekat dengan Gunawan. Hari menyakini dirinya, ya bawa urusan Gunawan dan Putri, ya hanya urusan kerja saja. 

Ridwan juga ada di tempat kerjaan Putri dan melihat dengan baik Putri dekat dengan Gunawan. 

"Gunawan ini...jangan-jangan jadi pesaing aku dalam mendapatkan cinta Putri," kata hati Ridwan. 

Ridwan pun, ya mengabaikan kata hatinya, ya fokus urusan kerjaan lah. Sampai urusan kerjaan selesai, ya Putri beres-beres lah untuk pulang ke rumah. Di tempat parkir, ya Putri bertemu dengan Hari. Ya Hari memutuskan untuk menyatakan cintanya sama Putri, ya dari pada keduluan cowok lain yang ingin menyatakan cinta sama Putri, ya ingin bersama Putri gitu. Putri memang berharap banget Hari menyatakan cintanya, ya bagi Putri, ya Hari itu Pangeran impiannya Putri. 

"Putri mau jadian sama aku!" kata Hari.

"Jadian apa ini?!" kata Putri.

"Mau jadian apa ya?!" kata Hari berpikir pikir panjang.

Putri pun berkata "Sebenarnya Putri laper sih, ya karena kerjaan banyak sih, ya buat vidio klip musik. Hari ingin jadian jalan bareng, ya makan malam gitu."

"Boleh saja sih makan malem. Tapi?!" kata Hari.

"Tapi apa?!" kata Putri.

"Sebenarnya aku sayang Putri. Putri mau jadian sama Hari!" kata Hari.

Dalam hati Putri senang mendengar omongan Hari yang menyatakan cintanya sama Putri. 

Putri pun berkata "Aku mau jadian sama Hari,"

"Putri sepakat pacaran dengan Hari?!" kata Hari.

"Iya," kata Putri sambil menganggukkan kepalanya.

Hari yang sepakat dengan Putri, ya pacaran, ya keduanya memutuskan untuk pergi ke restoran untuk makan malem lah yang romantis gitu. Sebenarnya, ya Ridwan dan Gunawan melihat Putri ngomong dengan Hari di parkir. Ridwan, ya gagal mendapatkan Putri karena keduluan Hari. Gunawan yang sekedar rekan kerja degan Putri, ya senang Putri jadian sama Hari. Gunawan, ya jadinya jalan bareng sama Rara, ya nganterin Rara pulang ke rumahnya lah pake motor gede lah.

Saturday, February 5, 2022

UTUSAN DEWA

Eko dan Budi duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Dewa," kata Budi.

"Tuhan," kata Eko.

"Eko. Dewa dan Tuhan, ya sama aja kan?!" kata Budi.

"Bisa di bilang begitu sih dari banyak cerita agama ini dan itu sih," kata Eko.

"Dewa atau Tuhan menjelma menjadi wujud manusia yang sakti dan berbudi luhur yang baik untuk mengajarkan pada manusia untuk berjalan di jalan kebaikan, ya itu semua berkat doa yang di panjatkan para manusia yang menjalankan aturan agama yang di yakininya. Berdasarkan cerita ini dan itu sih," kata Budi.

"Dewa itu ada di antara kita...Budi," kata Eko.

"Masa sih?Jangan-jangan dunia dalam cerita!" kata Budi.

"Dewa itu nama orang," kata Eko.

"Itu sama aja dengan di berita ini dan itu. Tuhan itu nama orang," kata Budi.

"Becanda!!!" kata Eko.

"Memang becandaan. Nama juga obrolan lulusan SMA. Ya bahan obrolan saja!" kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Aku mau bercerita, ya versi aku sih cerita ini tentang Utusan Dewa sih," kata Budi.

"Kalau begitu sih. Silakan Budi bercerita dengan baik," kata Eko.

"Baik aku ceritakan. Seorang cewek cantik, ya masih perawan sih, ya namanya Maria. Dewa pun mendatangi Maria dan berkata "Maria. Engkau akan melahirkan anak laki-laki yang akan mengajarkan manusia di jalan kebaikan. Nama anak itu...Isa". Maria menerima dengan baik, ya sebenarnya diri Maria, ya belum pernah bergaul dengan cowok. Maria masih suci banget gitu. Dewa pun membuat Maria hamil, ya dengan kemampuan Dewa lah. Dewa pun menghilang setelah menitipkan benih di rahim Maria. Ya Maria menjalankan aktivitasnya sehari-sehari seperti biasanya. Tapi perutnya Maria terus membesar, ya jadinya Maria pindah rumah, ya bersama Pamannya. Sampai di suatu tempat, ya kota lain. Maria bersama Pamannya, ya istirahat dekat kandang domba. Maria mulai pecah air ketubannya, ya tandanya mau melahirkan lah. Maria pun melahirkan anak laki-laki. Ya anak laki-laki itu di berinama Isa karena nama itu pemberian Dewa. Isa didik dengan baik sama Maria dan juga Pamannya Maria, ya sampai Isa dewasa. Isa ternyata punya kemampuan menyembuhkan orang sakit berat dan juga bisa menghidupkan orang mati. Dari kemampuannya Isa yang hebat, ya banyak manusia yang mengikuti Isa. Orang-orang yang mengikuti Isa memanggilnya "Utusan Dewa atau Utusan Tuhan". Ada juga orang memanggilnya "Putra Dewa atau Putra Tuhan". Isa pun mengajarkan kebaikan pada manusia yang ingin berjalankan di jalan kebaikan. Sampai Isa pun di khianatin muridnya, ya Judas. Isa pun di tangkap sama prajurit kerajaan, ya atas perintah Raja sih. Isa pun di salip di antara dua orang di salip juga, ya atas kesalahannya. Isa menjalankan hukumannya sampai mati. Isa pun di turunkan dari salipnya, ya di mau di makan dengan layak. Tahu-tahu....Isa bangkit dari kematiannya karena kemampuan Isa yang memiliki kemampuan membangkitkan orang mati, ya berarti dirinya bisa membangkitkan dirinya, ya jadinya hidup. Isa pun menemui orang-orang yang mengikuti ajarannya. Semua senang dengan Isa yang hidup kembali. Isa mengajarkan kebaikan pada orang-orang yang mengikuti ajarannya. Sampai waktunya, ya Isa naik ke langit, ya berarti Isa telah selesai mengajarkan ilmunya pada orang-orang yang ingin berjalan di jalan kebaikan. Orang-orang yakin dengan ajaran Isa, ya terus berjalan di jalan kebaikan dengan baik karena di tulis di kitab ini dan itu. Ribuan tahun berlalu. Dunia sudah kacau ini dan itu, ya mendekati hari kiamat. Isa turun dari langit untuk menyelamatkan manusia yang berjalan di jalan kebaikan karena ada makluk jahat banget yang menciptakan kehancuran ini dan itu....Dajjal bersama Ya'juj dan Ma'juj. Isa bersama pengikutnya di jalan kebaikan, ya berperang dengan Dajjal yang bersama Ya'juj dan Ma'juj. Isa pun berhasil mengalahkan Dajjal, ya sampai membunuh Dajjal dan juga Ya'juj dan Ma'juj. Setelah peperangan itu, ya keadaan jadi baik lagi. Isa pun membawa orang-orang yang berjalan kebaikan, ya ke surga. Begitulah ceritanya," kata Budi.

"Cerita yang bagus. Sekedar cerita kan Budi?!" kata Eko.

"Iya...sekedar cerita saja!" kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di atas mejalah. Budi dan Eko mau menyusun bidak catur di atas papan catur. Eeeee...Abdul dateng, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi lah. Abdul pun duduk bersama Budi dan Eko. Ya Budi dan Eko tidak jadi main catur, ya catur di beresin dengan baik sih. Ketiganya memutuskan main kartu remi, ya permainan kartu remi di jalankan dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. 

GELANDANGAN

Malam yang tenang sekali di kediaman Eko. Ya Budi dan Eko duduk di depan rumah, ya sambil minum teh dan juga menikmati makan martabak.

"Gelandangan," kata Budi.

"Tunawisma," kata Eko.

"Itu sih sama aja Eko," kata Budi.

"Aku hanya mengikuti alur omongan Budi," kata Eko.

"Sebenarnya. Aku membaca tentang gelandangan atau di sebut tunawisma," kata Budi.

"Terus!!!!" kata Eko.

"Aku punya cerita sih. Ya versi aku sih," kata Budi.

"Ada cerita toh Budi tentang gelandangan dan juga tunawisma. Cerita Budi!!!" kata Eko.

"Baiklah aku cerita. Seorang Bapak yang kaya raya. Bapak itu kehilangan istrinya, ya meninggalnya karena sakit sih. Bapak itu dari pernikahannya, tidak mendapatkan keturunan dari istrinya, ya jadinya hidupnya sendiri. Dari keadaan dirinya kesepian, ya memutuskan untuk main cewek gitu. Sebenarnya cewek-cewek itu, ya jebakan dari rekan kerja Bapak itu...untuk mengambil semua hartanya. Rekan kerja, ya berhasil mengambil harta Bapak itu. Ya Bapak itu jatuh miskin, ya kehilangan semua hartanya. Rekan kerja itu membuang Bapak itu ke tempat sampah. Bapak itu berkata "Ini semua karena kebodohan ku, ya aku kehilangan harta." Bapak itu, ya menerima keadaannya, ya jadinya Bapak itu pun gelandangan ke sana ke sini, ya sampai tidur di pinggir rumah ibadah agama apa pun gitu. Bapak itu jadi di hina-hina karena keadaannya sama orang-orang yang tidak bisa diam omongannya. Bapak itu sabar banget dengan keadaannya itu. Sampai pahitnya itu di tuduh mencuri, ya sampai semua orang-orang ini dan itu, ya sampai orang-orang yang bergerak di pemerintahan gitu yang menanggulangi penyakit masyarakat ini dan itu sih. Sebenarnya struktur pemerintahan, ya masih kacau karena banyak orang-orang kaya dapet membeli petugas-petugas pemerintahan untuk melancarkan urusan kerjanya, ya tujuannya kaya dan kaya. Bapak itu pun berkata "Istri ku. Kamu enak di alam lain. Sedang aku menderita. Hidupku lebih hina dari binatang". Bapak itu terus menjalankan hidupnya, ya walau keadaannya di hina ini dan itu. Sampai suatu ketika, ya ada orang baik yang bisa menerima Bapak itu. Seorang pemuda miskin yang tidur di bawah kolong jembatan. Bapak itu mulai membangun dirinya di kolong jembatan, ya jadi baik hidupnya pelan-pelan, ya di bantu pemuda yang baik dari mengumpulkan barang bekas sampai akhirnya Bapak itu kerja di sebuah toko. Bapak itu berkata "Aku bersyukur hidup ku mulai baik, ya Tuhan". Bapak itu terus di jalan baik, ya sampai waktu tutup usia. Begitu lah ceritanya," kata Budi.

"Cerita yang bagus. Penderitaan seorang gelandangan. Hartanya di rampas sama orang jahat, ya dengan cara ini dan itu...pake cewek," kata Eko.

"Kasihan juga gelandangan itu," kata Budi. 

"Memang kasihan sih keadaan gelandangan, ya di hina-hina," kata Eko. 

"Nasif dan Nasif," kata Budi. 

"Nasif....nama orang," kata Eko. 

"Becanda kan Eko?!" kata Budi. 

"Iya!!!" kata Eko. 

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi. 

"Ok....main catur!" kata Eko. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum teh dan juga martabak. 

Friday, February 4, 2022

PERMAINAN

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum teh dan juga makan cilok.

"Eko. Urusan tentang berita vaksin ini dan itu masih kan?!" kata Budi.

"Masih sih," kata Eko.

"Masih toh!!!" kata Budi. 

"Kalau di pikirkan dengan baik. Cuma permainan dari orang-orang yang membuat program kerja ini dan itu, ya untuk menanggulangi urusan kesehatan ini dan itu. Mereka yang bekerja di bidang ini dan itu, ya pemerintahan dan bekerja dengan pihak-pihak swasta, ya yang mendapatkan uang. Sedangkan seperti kita tidak dapet apa-apa," kata Eko.

"Memang sih urusan vaksin ini dan itu, ya urusan covid-19 yang ini dan itu, ya urusan orang kepentingan, ya bisa di bilang permainan mereka yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan ini dan itu. Ya sedang kita tidak dapet apa-apa sih. Sampai mau ke luar kota, ya pake pesawat gitu. Harus surat ini dan itu, ya hasil tes pcr untuk kesehatan gitu. Ujung-ujungnya untuk urusan digitalisasi, ya Hp. Sama beritanya dunia kenyataan dengan berita di Tv," kata Budi.

"Semua demi digitalisasi di jalankan dengan baik. Yang untung yang bekerja di bidang itu. Yang tidak bekerja di bidang itu, ya tidak dapet apa-apa," kata Eko.

"Sungguh-sungguh di permainan keadaan dari sebuah penyakit yang ini dan itu," kata Budi.

"Agama juga kena dari penyakit ini dan itu. Permainan dan permainan," kata Eko.

"Jenuh," kata Budi.

"Memang jenuh banget. Mau bilang apa, ya sudah keadaannya seperti ini," kata Eko.

"Padahal yang sebenarnya sih. Penyakit genetik turunan, ya tidak bisa di obatin. Itukan salah satu kegagalan dari bidang kedokteran," kata Budi.

"Nama juga penyakit bawaan, ya tidak bisa di obatin. Sudah Takdirnya. Mati di umur muda, ya di terima dengan baik," kata Eko. 

"Tetap saja. Orang-orang di bidang kedokteran dan juga bidang-bidang yang masih mendukung bidang kedokteran untuk urusan ini dan itu, ya bilangnya tetap sama "Mencegah dari pada mengobati"....," kata Budi. 

"Berusaha sadar dari keadaan, ya rendah diri karena keadaan," kata Eko. 

"Kalau berhasil ini dan itu, ya sombong ini dan itu," kata Budi. 

"Ya...kalau itu sih. Ujian manusia yang berhasil. Sama aja dengan yang ahli agama ini dan itu, ya masih menampakkan kesombongan agama sampai organisasi yang di bangun ini dan itu," kata Eko. 

"Haaaa. Ujian hidup," kata Budi. 

"Memang hidup penuh dengan ujian ini dan itu, ya sampai kematian," kata Eko. 

"Obrolan ini, ya obrolannya lulusan SMA, ya Eko?!" kata Budi. 

"Emmmmm," kata Eko. 

"Kalau begitu sih. Lebih baik main permainan catur!" kata Budi. 

"Ok....main catur!" kata Eko. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja lah papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

"Kadang lebih baik tinggal di desa terpencil, ya jauh dari hal-hal urusan kota ini dan itu, ya demi maju. Tujuannya mencari ketenangan hidup," kata Budi. 

"Ya bagi ingin mencari ketenangan hidup, ya lebih baik tinggal di desa terpencil. Jauh deh dari urusan kota ini dan itu, ya sibuk untuk maju ini dan itu, ya orang-orang yang punya kepentingan untuk kaya raya," kata Eko. 

Eko dan Budi, ya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum teh dan juga makan cilok. 

CAMPUR ADUK

MAINE PYAAR KYUN KIYA?

Malam hari. Bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus di channel TVRI World, ya seperti biasa sih Budi d...

CAMPUR ADUK