Dengarlah kisah suatu riwayat
Raja di desa negeri kembayat
Dikarang fakir dijadikan hikayat
Dibuatkan syair serta berniat
Adalah raja sebuah negeri
Sultan Agus bijak lestari
Asalkan baginda raja yang bahari
Melimpahkan pada dagang biaperi
Kabarnya orang empunya termasa
Baginda itulah raja perkasa
Tiadalah ia merasai susah
Entahlah kenapa esok dan lusa
Seri paduka sultan Bestari
Setelah ia sudah beristeri
Beberapa bulan beberapa hari
Hamillah putri permaisuri
Demi ditentang duli mahkota
Muskillah hati bertambah cinta
Laksana mendarat bukit permata
Menentang isterinya hamil serta
Beberapa lama di dalam kerajaan
Senantiasa ia bersuka-sukaan
Datanglah masa beroleh kedukaan
Baginda meninggalkan kerajaan
....
Sampailah baginda ke dalam hutan
Tubuhnya luka berkerat-keratan
Kena terkait duri rotan
Tambahan putri dengan keberatan
Sakitnya tiada lagi terperi
Belas memandang kelakuan isteri
Tiada terbawa tubuh sendiri
Oleh baginda dipimpin jari
....
CAMPUR ADUK
Showing posts with label syair. Show all posts
Showing posts with label syair. Show all posts
Tuesday, January 8, 2019
ANGGUN CIK TUNGGAL
Terus berjalan Gondan Gandariah
Ke dandang Golai ia melangkah
Harap hatinya mendapat kisah
perjanjian lama terkenang sudah.
Setela tiba di atas dandang
Segera bertemu si Megat Jabang
Keduanya bersama hati girang
Sama menderita kasih dan sayang
Baru Cik Tunggal melihat Godan
puncat rupanya berobah roman
lalu disambut dengan senyuman
Sambil berpantun sedemikian:
Pandan berbunga dalam rimba
angin menderu dari Tiku
Badanlah lama tak bersua
kinilah baru kita ketemu
Baru diikat dengan tanjung
sama terikat bunga pandan
baru melihat adik kandung
kembali semangat dalam badan
............................................................
Setelah mendengar Gandariah siti
Pantun Cik Tunggal demikian peri
Rasakan putus rangkaian hati
Berpantun Gondan pula sekali
.............................................................
Habislah sudah pantun seloka
Diambil pakaian dengan segera
Lengkap baju dengan celana
Kepada Cik Tunggal diberikannya
Adapun akan si Megat Jabang
Merima pakaian hatinya girang
Pada Gandariah bertambah sayang
Bertambah tak lupa malam dan siang.
Ke dandang Golai ia melangkah
Harap hatinya mendapat kisah
perjanjian lama terkenang sudah.
Setela tiba di atas dandang
Segera bertemu si Megat Jabang
Keduanya bersama hati girang
Sama menderita kasih dan sayang
Baru Cik Tunggal melihat Godan
puncat rupanya berobah roman
lalu disambut dengan senyuman
Sambil berpantun sedemikian:
Pandan berbunga dalam rimba
angin menderu dari Tiku
Badanlah lama tak bersua
kinilah baru kita ketemu
Baru diikat dengan tanjung
sama terikat bunga pandan
baru melihat adik kandung
kembali semangat dalam badan
............................................................
Setelah mendengar Gandariah siti
Pantun Cik Tunggal demikian peri
Rasakan putus rangkaian hati
Berpantun Gondan pula sekali
.............................................................
Habislah sudah pantun seloka
Diambil pakaian dengan segera
Lengkap baju dengan celana
Kepada Cik Tunggal diberikannya
Adapun akan si Megat Jabang
Merima pakaian hatinya girang
Pada Gandariah bertambah sayang
Bertambah tak lupa malam dan siang.
RADE MENTARI MENEMUKAN MAYAT KEN TAMBUHAN
Rakitnya hanyut dari hulu,
Menurut air hilir selalu,
Segala yang memandang belas dan pilu,
Masing-masing berenang berebut dahulu.
Tersenyum bertitah Raden Mentari,
"Kakang sekalian! Pergilah diri!
Ambilkan rakit! Bawa kemari!
Jikalau dapat, aku ganjari!"
..................................................
Setengah ramai rebut-rebutan,
Nyatalah mayat tampak kelihatan,
Sekaliannya terkejut salah ingatan,
Rasanya takut bukan buatan.
Setengah berkata tiada bertentu,
"Mayat manusia, bukannya hantu!
Baunya seperti bau narwastu!
Raden bertitah, "Siapakah itu?"
Sekaliannya menyembah seraya katanya,
"Mayat manusia, tuanku! Rupanya,
terlalu sekali baik parasnya,
seperti tersenyum rupa bibirnya.
Raden pun segera datang melihati,
Serta dipandang, diamat-amati,
mayat isterinya nyatalah pasti,
Raden terkejut berdebar hati.
Karya: Hooykaas
Menurut air hilir selalu,
Segala yang memandang belas dan pilu,
Masing-masing berenang berebut dahulu.
Tersenyum bertitah Raden Mentari,
"Kakang sekalian! Pergilah diri!
Ambilkan rakit! Bawa kemari!
Jikalau dapat, aku ganjari!"
..................................................
Setengah ramai rebut-rebutan,
Nyatalah mayat tampak kelihatan,
Sekaliannya terkejut salah ingatan,
Rasanya takut bukan buatan.
Setengah berkata tiada bertentu,
"Mayat manusia, bukannya hantu!
Baunya seperti bau narwastu!
Raden bertitah, "Siapakah itu?"
Sekaliannya menyembah seraya katanya,
"Mayat manusia, tuanku! Rupanya,
terlalu sekali baik parasnya,
seperti tersenyum rupa bibirnya.
Raden pun segera datang melihati,
Serta dipandang, diamat-amati,
mayat isterinya nyatalah pasti,
Raden terkejut berdebar hati.
Karya: Hooykaas
PERAHU
Perteguh jua alat perahumu
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikan pun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti ombak
ke atas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang,
riaknya rencam ombaknya karang
ikan pun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.
Muaranya itu terlalu sempit,
di manakah lalu sampan dan rakit,
Jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba'id.
Baiklah perahu engkau perteguh,
Hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.
Karya: Hamzah Fansuri
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikan pun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti ombak
ke atas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang,
riaknya rencam ombaknya karang
ikan pun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.
Muaranya itu terlalu sempit,
di manakah lalu sampan dan rakit,
Jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba'id.
Baiklah perahu engkau perteguh,
Hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.
Karya: Hamzah Fansuri
PESANAN AYAHANDA
Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kenapa anakanda muda bestari,
Jika benar kepada diri,
Nasihat kebajikan ayahanda beri,
Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.
Menjalankan kerja janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.
Jika anakanda jadi besar,
Tutur dan kata janganlah kadar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyak orang menaruh gusar.
Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Perasaan orang anakanda fikirkan.
Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.
Nasihat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.
Setengah orang fikir keliru,
Tidak mengikuti pelajaran guru,
Tutur dan kata haru biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu,
Tingkah laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.
Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka dirinya pandai seorang,
Takbur tidak membilang orang,
Dengan manusia selalu berperang.
NASEHAT KEPADA ANAK
Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepala diri,
Nasihat kebajikan ayahanda beri.
Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.
Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.
Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.
Tutur yang masih anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.
Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.
Nasihat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.
Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.
Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.
Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.
Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.
Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.
Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.
Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.
Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.
Jika memeritah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.
Inilah nasihat ayahanda tuan,
Kepala anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.
Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.
Karya: Raja Ali Haji
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepala diri,
Nasihat kebajikan ayahanda beri.
Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.
Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.
Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.
Tutur yang masih anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.
Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.
Nasihat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.
Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.
Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.
Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.
Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.
Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.
Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.
Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.
Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.
Jika memeritah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.
Inilah nasihat ayahanda tuan,
Kepala anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.
Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.
Karya: Raja Ali Haji
Subscribe to:
Posts (Atom)
CAMPUR ADUK
ROMEO + JULIET
Malam hari. Bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...
CAMPUR ADUK
-
1. Asal Usul Pangeran Jayakusuma Alkisah cerita, ada sebuah kerajaan yang besar di daerah Timur dengan rajanya yang bernama Prabu Braw...
-
Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan...
-
Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon ceramah yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Slamet m...





