CAMPUR ADUK

Tuesday, July 27, 2021

SUARA EMAS MIMUS

Alfonso selesai membersihkan pekarangan rumah. Alfonso santai duduk di teras rumah. Ada buku di meja dan segera di ambil sama Alfonso, ya di baca dengan baik sih.

Isi buku yang di baca Alfonso :

Mimus adalah seekor burung dari keluarga Mockingbird, yang hidup di semenanjung Yukatan. Sejak ia ditetaskan, ia dikaruniai suara yang merdu oleh dewa. Sayangnya, ia terlahir dari keluarga miskin. Anggota keluarganya tak ada yang peduli dengan bakat menyanyi Mimus.

“Ayah, apakah suaraku merdu?” tanya Mimus kecil pada ayahnya, yang sedang sibuk memperbaiki pondok mereka.

Ayahnya tersenyum, “Ya, Sayang. Suaramu indah sekali. Bernyanyilah untuk ayah,” pinta ayahnya. Mimus lalu mulai bersiul, menyanyikan lagu kesukaan ayahnya. Ia bersemangat sekali.

“Ayah, aku ingin ikut kursus menyanyi. Aku ingin belajar agar nyanyianku terdengar lebih indah. Bolehkah?” ujar Mimus setelah menyelesaikan lagunya.

“Mimus, ayah tak punya cukup uang untuk membayar kursus menyanyi. Lagi pula, suaramu sudah merdu. Nyanyianmu juga indah. Untuk apa kau belajar lagi?”

Mimus terdiam mendengar penjelasan ayahnya. Sebenarnya ia kecewa, namun ia menyadari keadaan keluarganya. Jangankan untuk kursus, pakaian yang mereka punya saja hanya seadanya. Mimus menatap bulu-bulunya yang tampak suram. Ia lantas memendam keinginannya itu dalam-dalam.

Saat Mimus beranjak remaja, ia bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah keluarga Kardinal. Burung kardinal adalah keluarga yang kaya dan terpandang. Tuan Kardinal mempunyai putri bernama Pol Che. Pol Che adalah seekor burung yang cantik. Dia suka bersolek dan memakai gaun yang indah.

Suatu hari, seekor burung penyanyi datang ke semenanjung Yukatan. Dia adalah Xcau si burung Turdus. Xcau sangat terkenal karena suara dan nyanyiannya. Tak ada yang menyangka Xcau bersuara merdu karena penampilannya yang sangat biasa. Sekujur tubuhnya tertutup bulu berwarna hitam. Hanya paruh dan lingkar matanya saja yang berwarna kuning tua.

Ketika mendengar kedatangan Xcau, keluarga Kardinal langsung mengundang Xcau ke rumahnya. Mereka menjamu Xcau dengan makanan kesukaan Xcau, yaitu buah beri. Sebenarnya, Tuan Kardinal memiliki tujuan tertentu dengan mengundang Xcau ke rumahnya.

“Tuan Xcau, apakah kau bersedia tinggal beberapa lama di sini?” tanya Tuan Kardinal.

“Untuk apa, Tuan? Saya hanya sekedar singgah di sini,” jawab Xcau.

“Saya ingin Tuan mengajari putri saya bernyanyi. Dia putri yang cantik. Dia akan semakin sempurna bila dia bisa menyanyi dengan merdu seperti Anda. Bagaimana, Tuan?” tawar Tuan Kardinal. Xcau tampak berpikir.

“Saya bersedia memberi bayaran mahal. Berapa pun yang Anda minta, saya akan memberikannya,” lanjut Tuan Kardinal, berusaha membujuk Xcau.

Setelah berpikir cukup lama, Xcau tersenyum, tanda setuju. Namun, Pol Che, sang putri berbeda pendapat dengan ayahnya. Ia tak begitu suka dengan rencana ayahnya.

“Aku tak suka belajar menyanyi, Ayah,” ujar Pol Che, menolak permintaan ayahnya.

“Putriku, kau cantik. Kau akan sempurna bila bisa menyanyi dengan indah. Semua burung akan semakin hormat dan kagum padamu,” bujuk Kardinal. Pol Che masih berat hati. Ia sangat suka dihormati dan dikagumi, tapi ia malas kalau harus belajar menyanyi.

“Baiklah. Kalau kau mau belajar menyanyi pada Tuan Xcau, ayah akan memberikan apapun yang kau suka,” ujar Tuan Kardinal, terus membujuk putrinya. Ia ingin melihat putrinya menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia menjanjikan bermacam hadiah bila Pol Che mau belajar menyanyi.

Pol Che menimbang-nimbang tawaran ayahnya. Saat ini, dia memang sedang menginginkan beberapa barang. Akhirnya, Pol Che mengiyakan. Mereka pun segera memulai kelas menyanyi di tempat yang ditentukan oleh Xcau.

Pada hari yang ditentukan, Xcau meminta Pol Che datang ke tengah hutan. Di sana suasananya lebih tenang, sehingga mereka bisa berlatih tanpa gangguan. Mimus diam-diam mengikuti kemana Pol Che pergi. Mimus dan seluruh pelayan keluarga Kardinal mengetahui rencana Tuan Kardinal, yang ingin menjadikan anaknya penyanyi terkenal. Mimus bermaksud ikut belajar, meskipun harus sembunyi-sembunyi.

Mimus mendengarkan pelajaran menyanyi dari Xcau di balik semak-semak. Ia mendengar setiap penjelasan Xcau dengan baik. Setelah itu, ia berlatih sendiri di pondoknya. Mimus bahkan berusaha menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Xcau pada Pol Che, meski ia tak pernah menyerahkan tugasnya pada sang guru.

“Mimus, kau ke mana saja? Kau sering menghilang sekarang. Kau menyelinap pergi ya?” tanya kawan Mimus, curiga.

“Tidak. Aku menjalankan tugas dari Nona Pol Che,” kilah Mimus. Ia takut kalau kawannya mengadukan dia kepada Tuan Kardinal, sehingga ia dipecat.

“Tenang saja. Aku tetap akan menyelesaikan tugas-tugasku di sini walaupun harus pulang terlambat. Aku pastikan semua akan beres,” ujar Mimus, berusaha meyakinkan kawannya.

Selama berminggu-minggu Mimus sering pulang terlambat karena mengikuti kelas menyanyi Pol Che dan Tuan Xcau. Selama itu pula, Tuan Xcau melatih Pol Che tanpa ada kemajuan yang berarti. Xcau mulai menyadari kalau putri Tuan  Kardinal kurang berbakat menyanyi. Selain itu, Pol Che juga tak pernah sungguh-sungguh mengikuti kelas menyanyinya.

Xcau tak berani mengatakan semua itu pada Tuan Kardinal. Ia takut karena tak kunjung berhasil mengajari Pol Che bernyanyi dengan merdu. Padahal, ia sudah menerima banyak upah dari Tuan Kardinal. Xcau akhirnya memutuskan pergi, melanjutkan perjalanannya tanpa berpamitan pada Tuan Kardinal.

“Pol Che, kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita. Semua hal tentang menyanyi yang aku ketahui, sudah kuajarkan padamu. Tolong sampaikan pada ayahmu, aku harus pergi melanjutkan perjalananku,” pesan Xcau. Pol Che tersenyum senang karena hari-hari beratnya akhirnya berlalu juga.

“Tentu, Tuan Xcau. Aku akan menyampaikan pesan Anda pada ayah.”

Xcau dan Pol Che pun berpisah. Pol che kembali melanjutkan hari-harinya dengan gembira. Dia juga merasa bahagia karena tak perlu belajar menyanyi lagi. Berbeda dengan Pol Che, Mimus justru  merasa sedih karena kelas menyanyi itu telah usai. Namun, ia berjanji akan tetap berlatih menyanyi sendiri di pondoknya.

“Baiklah, Pol Che. Kau sudah mendapatkan pelajaran menyanyi dari Tuan Xcau. Sekarang, saatnya kita pamerkan kemampuanmu pada burung-burung hutan, di semenanjung Yukatan,” kata Tuan Kardinal suatu hari.

“Tapi, ayah ….” Pol Che tampak terkejut dengan ucapan ayahnya.

“Kau tak usah khawatir, Nak. Ayah sudah menyiapkan sebuah konser untukmu. Ayah juga sudah menyiapkan gaun indah yang akan kau kenakan nanti,” potong Tuan Kardinal.

“Tapi, ayah ….” Pol Che berusaha menjelaskan.

“Tapi, apa lagi? Hadiah untukmu? Tenang saja. Kau akan mendapatkan semuanya setelah konsermu selesai. Sekarang, teruslah berlatih untuk konser itu,” pungkas Tuan Kardinal. Ia lalu terbang meninggalkan putrinya.

Pol Che terduduk, lemas. Ia memikirkan konser yang akan diadakan ayahnya. Bagaimana ia akan bernyanyi di konser itu? Nyanyiannya tak ada kemajuan sedikit pun. Masih sama seperti dulu, sebelum mengikuti kelas Tuan Xcau. Kalau ia terus bernyanyi, ia pasti akan membuat ayahnya malu. Pol Che kebingungan mencari jalan keluar.

“Bagaimana ini?” keluh Pol Che di kamarnya.

“Ada apa, Nona? Kau gelisah sekali,” tanya Xchol, pelayannya.

“Ayah akan membuatkan konser untukku. Padahal nyanyianku buruk sekali.”

“Bukankah Nona sudah belajar pada Tuan Xcau?”

“Ya. Tapi, aku tak bisa menyanyi seindah Tuan Xcau.”

Xchol tersenyum, “Itu hanya perasaan Nona saja.” Ia berusaha menenangkan Pol Che. “Cobalah menyanyi, Nona. Nyanyianmu pasti merdu dan indah sekali,” dukung Xchol.

“Kau pasti akan menertawakanku,” tolak Pol Che.

“Tidak. Bagaimanapun suara Nona, saya tidak akan tertawa,” burung paruh baya itu menyakinkan putri tuannya.

Xchol sudah merawat Pol Che sejak kecil, sehingga ia cukup dekat dengannya. Pol Che mulai bernyanyi. Suaranya cukup merdu, tapi Pol Che tak bisa menyanyi dengan baik. Melodi yang ia lagukan terdengar sumbang.

“Bagaimana, Xchol?” tanya Pol Che.

“Nona ingin jawaban jujur atau tidak?” Xchol balik bertanya.

“Tentu saja jawaban jujur,” balas Pol Che.

“Baiklah. Tapi jangan marah, ya. Memang masih ada yang kurang, Nona.”

“Nah, kan?” Pol Che cemberut.

“Nona masih punya waktu. Anda bisa terus berlatih sendiri sampai nyanyian Anda benar-benar membuat orang takjub,” hibur Xchol. Pol Che terlihat cemberut. Ia tak suka mendengar kata berlatih lagi. Ia sudah berlatih selama berminggu-minggu. Pol Che sudah bosan dan malas berlatih lagi. Namun, ia juga takut memberitahu ayahnya kalau ia belum bisa menyanyi dengan baik.

Suatu pagi saat Pol Che bangun tidur, ia mendengar suara yang merdu. Ia mencari-cari dari mana datangnya suara itu. Ia menemukan Mimus sedang membersihkan jendela kamarnya sambil bersenandung. Mimus terkejut saat Pol Che memergokinya bersenandung. Ia takut Pol Che akan marah padanya, karena mengira ia mengejek Pol Che. Pol Che segera menarik Mimus masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu dan jendela. Pol Che memastikan keadaan aman. Ia mendapatkan ide bagus untuk konsernya nanti.

“Siapa namamu, Burung Kecil?” tanya Pol Che.

“Mimus, Nona,” jawab Mimus, takut-takut.

“Kau tak perlu takut, Mimus. Kau tak bersalah,” ujar Pol Che seakan bisa membaca apa yang dirasakan Mimus.

“Aku butuh bantuanmu, Mimus,” lanjut Pol Che.

“Apakah Nona ingin saya membersihkan kamar ini?” tanya Mimus, lugu. Setiap hari ia memang bertugas membersihkan ruangan-ruangan di rumah keluarga Kardinal.

“Tidak, Mimus. Ada yang lebih penting dari itu.” Mimus diam menunggu Pol Che menjelaskan maksudnya.

“Suaramu indah sekali, Mimus,” puji Pol Che.

“Terima kasih, Nona,” jawab Mimus, malu-malu.

“Kau tahu ayahku akan membuat konser?” tanya Pol Che. Mimus mengangguk bersemangat. Ia mengira Pol Che akan mengajaknya tampil bersama di konser itu.

“Kau, bernyanyilah untukku,” pinta Pol Che.

“Maksud, Nona?” Mimus bertanya, bingung.

“Kau menyanyi di tempat yang tersembunyi saat aku tampil di panggung. Nanti, orang akan mengira suaraku begitu indah. Konser ini sangat penting bagi ayahku, Mimus. Ia akan kehilangan kehormatannya di hadapan para tamu kalau aku menyanyi dengan buruk.” Mimus terdiam mendengar permintaan Pol Che. Ia kecewa.

“Aku akan memberimu imbalan. Apapun yang kau mau,” rayu Pol Che.

Mimus menggeleng, tanda menolak. “Tidak, Nona. Aku tak ingin imbalan apapun darimu.”

“Jadi kau tak mau membantuku?”

“Bukan. Bukan begitu. Aku akan membantumu. Aku akan bernyanyi untukmu, tapi aku tak meminta imbalan apapun darimu,” tutur Mimus. Perkataannya membuat Pol Che heran.

“Kenapa, Mimus? Apa tak ada sesuatu pun yang kau inginkan?”

“Tentu saja ada. Tapi, saya menyanyi karena menyukainya. Saya menyanyi karena saya ingin menyanyi. Jadi, saya tak pantas mendapat imbalan apapun. Bagi saya bisa menyanyi sudah menjadi imbalan yang besar, Nona,” jawab Mimus.

Pol Che terkesima mendengar jawaban jujur Mimus. Mimus begitu baik. Ia merasa bersalah karena memanfaatkan Mimus untuk kepentingannya. Tapi, ia juga tak ingin merusak acara ayahnya. Tuan Kardinal telah mengundang burung-burung dari kelas bangsawan dan musisi untuk hadir di konser Pol Che. Panggung megah sudah disiapkan di halaman rumah mereka yang luas. Sebuah dahan yang dihiasi bunga indah telah diletakkan di tengah panggung. Di dahan itu nanti Pol Che akan menyanyi.

Setelah mendapat bantuan dari Mimus, Pol Che segera meminta bantuan pada Colote, si burung pelatuk. Ia adalah tukang kayu kepercayaan ayahnya. Pol Che menemui Colote diam-diam.

“Colote, aku butuh bantuanmu untuk merubah panggung konserku,” pinta Pol Che.

“Apa yang harus diubah, Nona? Aku telah membuat panggung itu dengan sempurna.”

“Ya, Colote. Panggung itu memang indah sekali. Tapi, ada kejutan yang ingin kubuat di konser nanti. Jadi aku ingin membuat sedikit perubahan.”

“Baiklah. Bagian mana yang harus diubah?” tanya Colote.

“Aku ingin kau membuat lubang kecil di dahan yang ada di tengah panggung. Lubang itu harus cukup untuk berdiam seekor burung kecil. Lalu, tutupilah permukaannya dengan bunga-bunga. Hiaslah sedemikian rupa supaya lubang itu tak tampak jelas. Aku ingin mengeluarkan kejutanku dari situ,” Pol Che menjelaskan panjang lebar.

“Hmmm, ya. Aku mengerti, Nona. Aku akan segera membuatnya.” Pol Che tersenyum senang. Ia sangat yakin jika rencananya bisa berjalan dengan lancar. Pol che membuat lubang itu untuk Mimus. Mimus akan bernyanyi di sana. Sehingga semua tamu akan berpikir jika Pol Che yang menyanyi.

Hari yang menegangkan itu pun tiba. Pol Che tampak cantik dengan gaun barunya. Gaun itu berwarna merah menyala. Ia juga mengenakan mahkota dari untaian bunga-bunga hutan. Penampilannya sangat menawan. Pol che sudah memastikan jika Colote telah membuat lubang di dahan dengan benar. Sebelum matahari meninggi, ia sudah menyuruh Mimus berdiam di sana.

“Mimus, nanti kalau kau mendengar ketukan kakiku di dekat lubang itu. Kau harus mulai menyanyi,” perintah Pol Che.

“Baik, Nona.”

“Kau sudah hafal melodi lagunya?” tanya Pol Che memastikan. Mimus mengangguk.

“Kau sudah hafal urutan lagu yang harus kunyanyikan?” Pol Che bertanya lagi. Mimus mengangguk untuk kedua kali. Pol Che tersenyum puas.

Saat Pol Che maju ke panggung dan hinggap di dahan yang dihiasi bunga-bunga anyelir, para tamu bertepuk tangan untuknya. Ia membungkuk memberikan hormat pada tamu-tamu ayahnya dan mulai membuka paruhnya. Kakinya mengetuk kayu di dekat lubang persembunyian Mimus. Lalu, keluarlah suara merdu yang membuat hadirin terpesona. Beberapa di antara tamu yang datang sampai meneteskan air mata karena tersentuh hatinya. Di setiap akhir lagu, mereka bertepuk tangan. Pol Che melakukan perannya dengan baik, bercuap-cuap seolah dia yang menyanyi dengan suara emas itu. Namun, ayah Pol Che justru tak tampak bangga. Dia hanya terdiam sampai konser Pol Che usai. Tepuk tangan meriah yang mengakhiri penampilan Pol Che juga tak membuatnya puas.

Rupanya, Tuan Kardinal mengetahui siasat putrinya. Pagi tadi ia bangun dan memeriksa panggung konser anaknya. Ia kemudian mendengar percakapan di antara Pol Che dan Mimus. Ia pun melihat saat Mimus merangkak masuk ke lubang kecil di dahan, tempat Pol Che hinggap saat ini.

Saat tepuk tangan masih bergemuruh, Tuan Kardinal terbang dan hinggap di samping anaknya. Pol Che merasa yakin jika ia telah membuat ayahnya senang. Setelah hadirin kembali tenang, Tuan Kardinal mulai bersuara.

“Hadirin yang terhormat. Aku meminta maaf atas tindakan anakku. Aku telah mempersiapkan konser yang megah ini untuknya. Tetapi, burung yang tadi bernyanyi bukanlah dia.”

Suasana menjadi gaduh. Para tamu dan Pol Che terkejut. Wajah Pol Che menjadi pucat pasi. Ia tak menyangka jika ayahnya sudah mengetahui siasatnya. Pol Che mengira Colote yang telah melapor kepada ayahnya.

“Burung kecil, keluarlah dari persembunyianmu!” perintah Tuan Kardinal. Mimus gemetar ketakutan.

“Tak apa. Kau tak perlu takut. Ayo, keluarlah,” perintah Tuan Kardinal lagi.

Mimus tak juga beranjak dari lubang sempit itu. Tuan Kardinal kemudian terbang menghampirinya dan menarik sayap Mimus pelan-pelan, agar keluar dari lubang. Dengan lembut, Tuan Kardinal membawa Mimus bertengger di sebelah Pol Che, di depan seluruh tamunya.

“Burung kecil inilah yang sedari tadi menyanyi dengan suara emasnya, bukan putriku,” Tuan Kardinal mengumumkan. Mimus terlihat malu-malu mendengar pujian Tuan Kardinal. Ia berpikir bahwa Tuan Kardinal akan marah kepadanya.

“Pol Che, ayah minta maaf padamu. Ayah telah memaksamu melakukan hal yang tak kau sukai. Ayah mendengar percakapanmu dengan burung kecil ini dini hari tadi. Kau mau memaafkan Ayah, Nak?”

Pol Che yang sedari tadi terdiam, mendekati ayahnya, “Maafkan aku juga, Ayah.” Ayah dan anak itu lalu berpelukan.

Sementara itu para tamu masih tak percaya. Burung kecil dengan penampilkan sederhana itu punya suara yang begitu indah.

“Sungguh kau yang menyanyi, Burung Kecil?” tanya seorang tamu.

“Ya, Tuan,” jawab Mimus.

“Kalau begitu, nyanyikanlah sebuah lagu lagi untuk kami,” pinta sang tamu.

“Dengan senang hati.” Mimus kemudian bernyanyi, menghibur para tamu. Ia menyanyi dengan sepenuh hati. Suaranya menggema ke penjuru hutan. Baru kali ini ia bisa menyanyi di depan banyak pendengar tanpa rasa was-was.

Sejak itu, keturunan Mimus dari keluarga Mockingbird mewarisi suara merdunya. Mereka juga mewarisi kemampuan Mimus menirukan berbagai macam kicauan burung lain. Sedangkan keturunan Pol Che, mewarisi penampilannya yang selalu cantik dan menawan. 

***

Alfonso selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus berasal dari....Mesiko," kata Alfonso.

Alfonso menutup buku dan buku di taruh di meja.

"Makan ah," kata Alfonso.

Alfonso yang lapar, ya beranjak dari duduknya di teras depan rumah ke ruang makan untuk makanlah.

(sumber cerita: Seri Cerita Rakyat Dunia: Cerita Rakyat Meksiko, Dian Sukma K, Andi Offset)

ASAL MULA AIR LAUT TERASA ASIN

Rosalinda duduk di teras depan rumahnya. Ada buku di meja, ya Rosalinda mengambil buku tersebut dan membacanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Rosalinda :

Pada zaman dahulu di daratan Norwegia, hiduplah dua orang saudara laki-laki bernama Josh dan John. Mereka sama-sama bekerja sebagai petani, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Josh hidup sebagai orang kaya raya, sedangkan John hidup sebagai orang miskin.

Suatu hari John ingin merayakan Natal dengan mengundang neneknya untuk makan malam bersama. Ia membuka lemari makannya, tetapi lemari itu kosong. John kemudian pergi ke lumbung, tetapi lumbung itu juga kosong, tidak ada sekerat daging bahkan remah-remah roti sekali pun. Ia benar-benar tidak memiliki makanan sama sekali!

John merasa sedih. Ia ingin membahagiakan neneknya tetapi ia tidak mempunyai apa pun untuk dimasak. John lalu teringat dengan saudaranya, Josh. Ia berencana untuk meminta makanan kepadanya.

Hari itu John pergi ke rumah Josh. Sesampai di rumah saudaranya, kedatangan John disambut oleh keterkejutan Josh.

"Selamat Pagi, Josh," sapa John.

"Selamat Pagi, John," jawab Josh dengan wajah tidak suka. Ia tahu bahwa saudaranya pasti datang untuk meminta bantuan, untuk kesekian kalinya!

"Josh, sebentar lagi perayaan Natal dan aku tidak memiliki apa pun untuk merayakannya. Bisakah aku meminta sebagian makananmu?" John lanjut berkata, "sebagai gantinya, aku akan mengerjakan apa yang kau perintahkan."

"Tunggu di sini sebentar," kata Josh, sambil masuk ke dalam rumah.

Tidak berapa lama kemudian ia keluar dan membawa suatu bungkusan. Ia menyerahkannya kepada John. "Ini sebungkus daging untukmu, jangan ganggu aku lagi! Pergilah ke Neraka, John!" pungkas Josh, kesal.

John terkejut mendengar perkataan Josh. Ia benar-benar tidak mengira kalau Josh memberinya perintah seperti itu. John mengambil bungkusan daging itu.

"Terima kasih, Josh. Aku akan menepati janjiku, mengerjakan apa yang kau pinta, meski itu adalah pergi ke Neraka." John lalu berpamitan dan pergi ke Neraka, tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana pastinya.

John berjalan sepanjang hari, melewati jalan-jalan panjang yang sepi, mendaki gunung, menuruni lembah, melintasi sungai, hingga senja pun tiba. Di kejauhan, John melihat suatu tempat yang bercahaya cukup terang. Tempat apakah itu? Cahayanya terang sekali. Mungkinkah itu Neraka? John bertanya dalam hati. Ia lalu mempercepat langkahnya.

Setelah sampai di tempat bercahaya itu, John melihat seorang kakek sedang memotong kayu bakar di halaman sebuah rumah.

"Selamat sore, Kakek," sapa John.

"Selamat sore! Hendak ke mana kamu malam-malam seperti ini?" tanya si Kakek.

"Saya hendak pergi ke Neraka, tetapi saya tidak tahu jalannya, Kek."

"Kamu sudah ada di jalan yang benar, Nak! Ini adalah Neraka," kata si Kakek.

"Kamu lihat rumah itu? Rumah itu adalah Neraka," ujar Kakek itu, sambil menunjuk rumah di sampingnya.

John hanya terdiam

"Jika kamu masuk ke dalam rumah itu, akan ada banyak peri, jin, dan setan yang mendatangimu. Kamu tak perlu takut karena mereka tidak akan menyakitimu. Mereka hanya ingin membeli bungkusan daging yang kamu bawa. Saat ini daging sedang langka di Neraka," lanjut si Kakek, "tapi kamu harus ingat, jangan pernah menukar bungkusan dagingmu dengan apa pun yang mereka tawarkan, kecuali dengan penggilingan tangan yang digantung di balik pintu! Penggilingan itu mampu menggiling apa saja, bagus sekali. Aku akan mengajarimu cara menggunakannya."

John kemudian berjalan menuju rumah yang ditunjukkan si Kakek dan mengetuk pintunya. Pada ketukan ketiga, pintu rumah itu mendadak terbuka sendiri. John masuk ke dalam rumah dan tidak lama kemudian ia telah dikelilingi oleh berbagai macam peri, jin, dan setan! Mereka tidak menakut-nakuti John, tetapi mereka menawar bungkusan daging yang dibawanya.

"Manusia, 10 keping emas untuk daging yang kau bawa!" tawar salah satu peri.

"Jangan dengarkan mahluk miskin itu, Manusia! Aku beli daging itu seharga 100 keping emas," tawar peri yang lain.

"200 keping emas!"

"300 keping emas!"

Para mahluk itu berlomba memberikan penawaran tertinggi untuk daging yang dimiliki oleh John, sampai salah satu dari mereka, nampak seperti raja makhluk-makhluk ini, berkata, "Manusia, kami akan membeli daging yang kamu bawa itu berapa pun harganya!"

Makhluk-makhluk Neraka itu kemudian terdiam, menatap John tajam, menunggu jawabannya.

"Tuan-tuan, daging ini akan saya masak untuk merayakan Natal. Tetapi jika Anda sangat menginginkan daging ini, saya ingin menukarnya dengan penggilingan tangan yang tergantung di pintu itu," John berkata, sambil menunjuk sebuah penggilingan tangan yang tergantung di sebuah pintu.

Tiba-tiba makhluk-makhluk Neraka itu berteriak, memprotes permintaan John. Mereka merasa keberatan dengan permintaan John tersebut. Raja Neraka berusaha menenangkan makhluk-makhluk Neraka. Ia tampak berdebat dengan beberapa makhluk dan terlihat berhasil menenangkan mereka, meski wajah mereka menunjukkan ketidakpuasan.

"Manusia, meski kami adalah makhluk Neraka, kami tidak akan ingkar janji. Kami akan membeli daging yang kau miliki berapa pun harganya, bahkan jika kamu ingin kami membayarnya dengan penggilingan tangan kami yang sangat berharga itu," seru Raja Neraka.

Akhirnya John memberikan bungkusan daging miliknya kepada Raja Neraka dan menerima sebuah penggilingan tangan sebagai gantinya. Ia lalu keluar dari rumah itu dan belajar menggunakan penggilingan tangan tersebut kepada si Kakek.

John tidak membutuhkan waktu lama untuk mahir menggunakan penggilingan tangan itu. Ia kemudian berpamitan kepada si Kakek dan tidak lupa berterima kasih atas ilmu yang telah diajarkan kepadanya. John bergegas pulang. Ia ingin sampai di rumah sebelum pukul 12 malam, saat perayaan Natal berakhir.

John sampai di rumah beberapa saat setelah pukul 12 malam. Ia mendapati neneknya masih terjaga, menunggu kepulangannya. John segera menyiapkan meja makan untuk merayakan Natal. Ia menggelar taplak meja paling bagus, menyalakan lilin, lalu menata irisan tipis daging, jahe, dan remah-remah roti, hingga layak untuk sebuah jamuan meski jumlahnya sedikit.

Setelah semua siap, John menaruh penggilingan tangan yang baru dimilikinya di atas meja makan dan berkata, "Penggilinganku tercinta, mulailah bekerja, gilinglah semua makanan ini, jadikanlah semakin banyak!"   

Penggilingan itu mulai bekerja. Tanpa ada yang menggerakkan, ia menggiling irisan daging tipis dan keluarlah sepotong besar daging matang dengan bau yang menggoda selera. Ia kemudian menggiling remah-remah roti dan keluarlah roti-roti yang tebal, empuk, dan hangat. Ia juga menggiling jahe hingga mengalirlah minuman jahe beraroma harum dan segar.

Nenek John terperanjat melihat kejadian itu. Ia tampak tidak percaya saat melihat penggilingan tangan di atas meja menggiling dengan sendirinya, hingga tersaji daging yang enak, roti yang tebal, dan minuman jahe yang nikmat. Setelah tersadar dari kekagetannya, ia mengangkat kedua tangannya, mengucap syukur kepada Penciptanya.

Keesokan harinya John mengadakan pesta. Ia mengundang semua tetangga desanya dan menjamu mereka dengan roti, daging, dan minuman jahe hangat yang melimpah. John juga mempersilakan tetangganya untuk membawa pulang roti, daging, dan minuman jahe sebanyak-banyaknya. Dan, John tidak lupa mengundang saudaranya, Josh.

Josh memenuhi undangan John. Ia datang ke rumah John dan kaget melihat banyaknya makanan dan minuman yang disajikan dalam jamuan itu. Dari mana John mendapatkan semua makanan dan minuman ini? Bukankah kemarin ia masih miskin? Tapi sekarang ia hidup seperti orang kaya, bahkan seperti raja, membagikan makanan kepada banyak orang, Josh bertanya-tanya dalam hati.

Saat sedang berbicara berdua, Josh menanyakan asal makanan itu kepada John. John berusaha untuk mengacuhkan pertanyaan saudaranya itu. Ia berupaya untuk merahasiakan penggilingan ajaibnya, tetapi ia tidak tahan untuk tidak menceritakannya. John pun mulai bercerita tentang asal makanan yang ia miliki, termasuk penggilingan ajaib.

Josh kagum dengan penggilingan tangan milik John. Ia sangat ingin memiliki penggilingan tangan John. Ia berpikir bahwa penggilingan itu bisa menghasilkan banyak uang dan membuatnya semakin kaya. Ia pun merayu John agar mau menjual penggilingan tangan itu.

John semula menolak tawaran Josh, namun akhirnya hatinya luluh. Ia tidak menjual penggilingan tangan, tetapi mengizinkan Josh untuk menggunakan penggilingan itu sampai musim panen berikutnya. Akan tetapi, John juga meminta uang sewa sebanyak 300 keping emas. Josh menyetujui permintaan John. Ia kemudian mengambil penggilingan tangan dan bergegas membawanya pulang.

Keesokan harinya, Josh mencoba penggilingan ajaib itu di dapur. Ia memerintahkan penggilingan itu menggiling ikan Hering dan kaldu. Penggilingan itu bekerja dengan baik. Ia menghasilkan banyak sekali ikan Hering serta kaldu.

Josh mengumpulkan hasil penggilingan ke dalam beberapa mangkuk, tetapi tidak lama kemudian semua mangkuk telah penuh. Josh segera menyiapkan beberapa panci, namun panci-panci itu juga tidak mampu menampung ikan Hering dan kaldu yang dihasilkan oleh penggilingan. Josh mulai kewalahan. Lantai dapurnya mulai tergenang kaldu dan ikan Hering.

Josh berusaha menghentikan penggilingan itu. Ia memegangi penggilingan dan memerintahkannya untuk berhenti, tetapi penggilingan tetap bekerja. Josh panik. Ia berlari ke rumah John untuk meminta pertolongan.

"John, penggilinganmu menjadi gila! Ia tidak dapat dihentikan! Ambil kembali penggilingan itu John!" Josh berkata, sambil terengah-engah.

"Lho, bukankah cukup mudah untuk menghentikan kerja penggilingan itu?" tanya John. Ia memandang Josh dengan keheranan.

"Aku lupa soal itu! Sekarang yang terpenting, ambil kembali penggilingan gila itu! Aku kapok berurusan dengan alat itu, John! Sungguh sangat mengesalkan!"

"Baiklah, aku akan membantumu, Josh. Tetapi bagaimana dengan uang sewanya?" tanya John sebelum mereka beranjak pergi.

"Aku masih ingat janjiku, John! Aku akan membayarmu tetapi cepat kamu ambil penggilingan itu sebelum desa kita tenggelam oleh ikan Hering dan kaldu!" Josh berkata, setengah berteriak.

Kedua saudara itu segera pergi ke rumah Josh. Di dapur, di antara tumpukan ikan Hering dan genangan kaldu, John mencari penggilingan tangan miliknya. Setelah berusaha beberapa saat, John menemukan penggilingan itu, lalu memerintahkannya berhenti bekerja. Ia pun membawa penggilingan ajaib pulang.

Sejak kejadian di rumah Josh, John dan penggilingan ajaibnya mulai menjadi pembicaraan banyak orang. Cerita itu akhirnya didengar oleh seorang kapten kapal. Suatu hari kapten kapal itu mendatangi rumah John untuk melihat penggilingan ajaib. Saat melihat penggilingan itu, kapten kapal bertanya apakah penggilingan ajaib juga bisa menghasilkan garam.

"Garam? Asal kita berpikir hal itu bisa ia lakukan, penggilingan ini bisa menghasilkan apa pun," John berkata yakin.

Si kapten mulai membayangkan seandainya penggilingan ajaib itu menjadi miliknya. Aku akan punya banyak garam tanpa perlu bersusah payah berlayar menembus badai, pikir kapten kapal.

"John, maukah kamu menjual penggilingan itu kepadaku?" tanya Kapten Kapal.

"Menjualnya? Tidak, Kapten. Saya tidak menjual penggilingan ini!"

Meski John menolak, kapten kapal bersikeras untuk memiliki penggilingan ajaib itu. Ia terus membujuk John agar mau menjualnya. Dan, usahanya tidak sia-sia. John mau menjual penggilingan ajaib dengan harga ratusan ribu keping emas.

Akhirnya penggilingan ajaib menjadi milik kapten kapal. Ia membawa penggilingan itu berlayar ke tengah laut. Kemudian ia memerintahkan penggilingan itu untuk menghasilkan garam.

"Mulailah menggiling, menggilinglah dengan cepat, hasilkan garam yang bagus dan banyak!" perintah Kapten Kapal.

Penggilingan ajaib mulai bekerja. Ia terus menggiling dan menghasilkan garam. Kapten kapal tampak senang melihat hal itu. Namun, tidak lama kemudian, dek kapal mulai penuh dengan garam. Kapten kapal mulai khawatir, ia takut kapalnya tenggelam karena penggilingan itu tidak bisa berhenti menghasilkan garam.

Kapten kapal berusaha melakukan banyak hal untuk menghentikan penggilingan ajaib itu, tetapi semua usahanya sia-sia. Ia lalu menyadari kesalahannya. Ia lupa menanyakan cara menghentikan kerja penggilingan ajaib.

Beberapa saat kemudian, lambung kapal pecah karena tidak mampu menahan garam yang ada. Kapal itu perlahan tenggelam bersama seluruh isinya, termasuk penggilingan ajaib. Penggilingan ajaib itu terus bekerja meski berada di dasar lautan! Ia tetap menggiling dan menghasilkan garam tiada henti, bahkan sampai saat ini. Garam-garam itulah yang menyebabkan air laut terasa asin sampai sekarang.

***

Rosalinda selesai baca bukunya.

"Bagus cerita asal Norwegia," kata Rosalinda.

Rosalinda menutup buku dan menaruh buku di meja. Rosalinda beranjak dari duduknya di teras depan dan bergerak menuju pantai, ya ingin main air laut lah yang rasanya asin itu. Rosalinda senang bermain di pantai, ya bersama dengan teman-temanlah.

RUMAH YANG MENYENANGKAN

Marimar setelah membantu ibu di dapur, ya memasak. Marimar duduk di ruang tamu. Ada buku di meja dan segera di ambil tuh buku, ya di baca dengan baik sih.

Isi buku yang di baca Marimar :

Dahulu kala hiduplah seekor domba bernama Cody di sebuah peternakan. Nama itu merupakan singkatan dari kata "Cloud" (awan). Cody mendapatkan nama itu karena bulunya sangat putih, serupa awan.  Cody dipelihara dengan sangat baik. Ia diberi makan rumput segar dan minum air bersih. Bahkan, ia juga mendapatkan tumpukan jerami yang hangat dan tebal sebagai tempat tidurnya.

Suatu hari pemilik peternakan memberi Cody banyak sekali makanan dan ia berkata, "Ayo, Cody, makanlah yang banyak agar kau menjadi gemuk! Besok kami akan memotongmu! Dagingmu pasti banyak sekali!" ujar pemilik peternakan.

Cody terkejut mendengar perkataan pemilik peternakan. Ia akhirnya mengerti mengapa ia dipelihara dengan baik. Rupanya pemilik peternakan ingin Cody menjadi domba gemuk dan menghasilkan banyak daging ketika dipotong.

Cody lalu teringat pada pepatah lama yang mengatakan, "Ada obat untuk semua penyakit, kecuali untuk kematian." Selama beberapa saat Cody memikirkan pepatah itu kemudian berkata dalam hati, "Kematian memang tidak ada obatnya, tetapi bisa dihindari jika kita mau berusaha!" Cody segera memakan makanannya sambil memikirkan sebuah rencana.

Ketika situasi peternakan sedang sepi, Cody berjalan mendekati pintu pagar. Ia menarik slot kunci pintu secara perlahan, tanpa suara, kemudian ia berlari keluar dengan cepat. Cody menghembuskan napas lega setelah berhasil meninggalkan peternakan. Ia bergegas melangkahkan kaki menuju peternakan sebelah, menemui Biggy, seekor babi gemuk, sahabatnya.

"Biggy, bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Cody.

"Nyam, nyam, nyam... Kabarku baik, Cody," jawab Biggy, sambil terus menguyah makanannya.

"Eh, Biggy. Apakah kamu tahu mengapa pemilikmu memperlakukanmu dengan baik? Mengapa mereka ingin kamu menjadi gemuk?" tanya Cody.

"Aku tidak tahu," jawab Biggy singkat.

"Biggy, jika kamu sudah cukup gemuk, mereka akan memotongmu, mengambil dagingmu, memasaknya, lalu memakannya," kata Cody berapi-api.

"Ah, benarkah?" Biggy balik bertanya. Cody mengangguk, mengiyakan.

"Semoga mereka tidak lupa berdoa sebelum memakan dagingku," canda Biggy, mencairkan suasana.

Cody tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. Tapi, tak lama kemudian raut wajahnya kembali serius, "Biggy, aku tidak ingin mati sekarang. Aku sudah memikirkan sebuah rencana. Bagaimana kalau kau dan aku pergi ke hutan, lalu kita membuat rumah untuk kita tinggali bersama?" Cody menatap Biggy, penuh harap.

"Hmm... Aku rasa itu ide yang baik, Cody. Baiklah, aku akan ikut denganmu."

Cody dan Biggy segera keluar peternakan. Mereka berjalan beriringan menuju hutan. Ketika sampai di tepi hutan, mereka bertemu dengan seekor angsa, Swetty namanya.

"Selamat pagi, teman-teman! Kalian hendak pergi ke mana?" tanya Swetty.

"Selamat pagi, Swetty! Kami hendak pergi ke hutan. Kami sedang mencari tempat yang baik untuk mendirikan rumah," ucap Cody, menjelaskan.

"Rumah? Aku juga butuh rumah saat ini," kata Swetty, "aku butuh tempat melepas lelah setelah terbang seharian. Aku sering berteduh di bawah pohon atau di dalam gua, tetapi selalu saja ada pengganggu. Aku juga harus terjaga agar tidak ada anjing-anjing pemburu, serigala, dan manusia yang menangkapku. Kalau aku bisa tinggal di dalam rumah, aku akan bisa beristirahat dengan tenang karena para pemburu tidak akan mencariku. Jadi, bolehkah aku ikut dengan kalian?" tanya Swetty pada akhirnya, setelah bercerita panjang lebar.

"Membangun rumah butuh banyak keahlian, Swetty. Bolehkah kami tahu apa keahlianmu?" Biggy balik bertanya.

"Aku bisa mengumpulkan lumut dengan paruhku. Lumut berguna untuk memperkuat sambungan dinding dan lantai. Selain itu, lumut akan membuat rumah kalian tetap hangat di musim dingin," Swetty menjelaskan dengan penuh semangat.

"Rumah yang kuat dan hangat? Itu tampak, bagus. Baiklah, kamu boleh ikut dengan kami, Swetty," kata Biggy sembari tersenyum hangat.

Cody dan Biggy kembali melanjutkan perjalanan dengan masuk ke dalam hutan. Sementara itu, Swetty berusaha mencari tempat yang cocok untuk membangun rumah dengan terbang di angkasa.

Dalam perjalanan mereka, Cody dan Biggy tiba-tiba dikejutkan oleh seekor kelinci yang melompat dari balik pepohonan. Rupanya kelinci  itu adalah teman mereka, Harry.

"Selamat pagi, teman-teman! Kalian mau pergi ke mana?" tanya Harry.

"Selamat pagi, Harry! Kami sedang mencari tempat yang bagus untuk mendirikan rumah," jawab Cody.

"Rumah? Untuk siapa?" tanya Harry, bingung.

"Rumah untuk kami bertiga. Cody, Swetty, dan aku," kata Biggy menimpali.

"Aku punya rumah. Setiap semak di hutan ini adalah rumahku," ujar Harry, "tetapi, semua semak-semak itu hilang saat musim dingin tiba. Jadi, apakah aku boleh tinggal bersama kalian? Aku hanya akan tinggal di rumah kalian saat musim dingin saja," pinta Harry.

"Kamu boleh tinggal bersama kami, Harry. Tetapi kami belum punya rumah saat ini," Biggy berkata jujur.

"Jangan khawatir, aku akan membantu kalian membangun rumah. Aku adalah tukang kayu terbaik di hutan ini. Aku bisa memotong kayu dengan gigiku. Cakarku bisa melubangi papan-papan kayu sehingga kalian bisa memakunya dengan baik. Bagaimana, apakah aku bisa tinggal dengan kalian?" tanya Harry.

"Harry, sepertinya kami membutuhkan keahlianmu. Kamu boleh tinggal dengan kami," jawab Cody cepat. Harry tersenyum puas.

Mereka lekas melanjutkan perjalanan. Namun, mereka kembali bertemu dengan salah seorang teman mereka, Kenny, seekor ayam jago.

"Selamat pagi, teman-teman! Apakah kalian tersesat? Bukankah tempat ini cukup jauh dari peternakan kalian?" Kenny bertanya, heran.

"Selamat pagi, Kenny! Kami tidak tersesat. Kami kabur dari peternakan. Saat ini kami sedang mencari tempat yang bagus untuk mendirikan rumah," jawab Cody.

Kenny tampak tertarik. Ia kemudian berkata, "Orang-orang mengatakan bahwa tempat yang cocok untuk seekor ayam jago adalah di rumah. Suara kokok ayam yang keras dan nyaring bisa membantu penghuni rumah untuk bangun pagi. Aku ingin bergabung dengan kalian, membuat sebuah rumah dan tinggal di dalamnya, bolehkah?"

"Ya, ya, ya. Aku tahu jika engkau pandai mengepakkan sayap dan berkokok, tetapi bagaimana kau bisa membantu kami membangun rumah? Apakah kau bisa mengangkat batu bata dengan paruhmu yang kecil itu, Kenny?" Biggy bertanya, ragu.

"Kau benar, Biggy. Aku tidak akan bisa membantumu mengangkat batu bata atau kayu, tetapi aku bisa membantumu bangun tepat waktu. Saat fajar tiba, aku akan bangun dan berkokok untuk membangunkan kalian semua."

"Biggy, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mulai bekerja," Cody mulai berkata, "sinar matahari yang hangat dan udara pagi yang segar bisa membuat kita bersemangat dalam bekerja. Dengan begitu rumah kita akan cepat terbangun."

"Lagipula Biggy susah bangun pagi. Ia sangat suka bermalas-malasan. Suara kokok ayam yang keras dan nyaring pasti bisa membangunkannya," Cody tersenyum, lalu melanjutkan, "Kenny, kau bisa bergabung dengan kami."

Mereka masuk ke hutan bersama-sama. Tak lama kemudian mereka menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan rumah. Mereka segera berbagi tugas. Cody menggambar denah rumah. Biggy mengumpulkan kayu. Harry memotong kayu serta menyambungnya. Swetty melapisi dinding dan atap dengan lumut. Dan, Kenny memastikan mereka bangun pagi tepat waktu.

Setelah bekerja keras berhari-hari, akhirnya rumah mereka selesai dibangun. Atap rumah itu terbuat dari anyaman jerami, sedangkan dinding dan lantainya terbuat dari kayu yang dilapisi lumut. Rumah itu tampak sederhana tetapi cukup untuk memberi perlindungan dan kehangatan bagi setiap penghuninya.

"Aku senang berjalan-jalan, mengunjungi berbagai tempat. Tetapi, mempunyai rumah sendiri itu sungguh menyenangkan karena akhirnya aku punya tempat untuk pulang," kata Swetty kepada Cody suatu hari.

Rumah Cody dan sahabat-sahabatnya rupanya menarik perhatian dua ekor serigala, bernama Wofi dan Wofa. Mereka memerhatikan rumah tetangga barunya itu.

"Wofa, apa kau melihat rumah beratap jerami di dekat sungai itu?" tanya Wofi.

"Iya, aku melihatnya. Aku juga melihat beberapa binatang tinggal di sana," jawab Wofa.

"Sekarang kita punya tetangga, Wofa. Kita harus datang ke sana dan berkenalan dengan mereka. Pepatah mengatakan bahwa tetangga yang baik lebih berguna daripada saudara di tempat yang jauh."

"Baiklah Wofi, aku akan mengunjungi mereka."

Hari itu Wofa pergi ke rumah Cody dan sahabat-sahabatnya. Sesampai di sana, rumah itu tampak sepi. Rumah ini tampak sepi, sepertinya penghuninya sedang keluar. Rumah ini besar sekali. Aku jadi ingin tahu isi rumah ini. Mumpung lagi kosong, aku masuk saja ke dalam rumah ini, Wofa berkata pada dirinya sendiri.

Tanpa segan Wofa membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Namun, ruang dalam rumah itu gelap. Wofa tidak bisa melihat apa pun. Tiba-tiba Wofa merasakan sesuatu yang keras menghantam perutnya. Ia jatuh terjengkang. Belum sempat Wofa menyadari apa yang terjadi, ia merasakan mukanya tertindih sesuatu yang berat dan panas. Rupanya Wofa diseruduk dan ditindih oleh Cody.

Wofa berusaha bangun, tapi dia merasakan sakit yang amat sangat di kakinya. Rupanya Biggy sedang menggigit kaki Wofa. Gigitannya cukup keras sehingga Wofa kesakitan. Wofa menendang-nendang ke segala arah untuk melepaskan gigitan Biggy. Ia berhasil, tetapi tidak lama kemudian, ia merasa tubuhnya seperti ditusuk puluhan paku.

"Berhenti, berhenti menusukku. Ini sakit sekali! Aargghh...," Wofa berteriak kesakitan. Ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang dipatuk oleh Swetty.

Wofa berusaha berdiri. Ia ingin keluar rumah secepatnya. Tetapi kakinya masih terasa sakit. Wofa merangkak ke arah pintu. Namun dentuman keras terdengar dan lantai bergetar. Dum... Dum... Dum!

Pemilik rumah ini sedang mengejarku! Aku harus cepat-cepat pergi dari sini! Wofa berteriak dalam hati. Ia tidak tahu jika langkah kaki itu adalah suara lompatan Harry.

Wofa belum sepenuhnya tenang saat ia mendengar suara yang memekakkan telinga. "Kuk...kuk...ruyuk...ruyuk...kak...kak..."

Wofa semakin ketakutan. Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya. Sepertinya ini suara binatang yang menyeramkan. Aku harus keluar dari rumah ini sebelum dimangsanya! Wofa bergegas menuju pintu dengan badan remuk redam. Setelah berhasil membuka pintu, ia berlari keluar sekuat tenaga.

Wofa tidak tahu jika sejak awal Cody dan sahabat-sahabatnya telah memerhatikan gerak-geriknya. Mereka menjadi semakin waspada saat tahu kalau Wofa adalah serigala. Cody dan sahabat-sahabatnya mengira bahwa Wofa berniat memburu dan memangsa mereka. Keyakinan mereka bertambah kuat karena Wofa masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu. Mereka pun berusaha mempertahankan diri sekuat tenaga.

Wofi sangat kaget ketika melihat Wofa pulang dengan tubuh penuh luka.

"Apa yang terjadi denganmu, Wofa?" Wofi bertanya, keheranan.

"Wofi, jangan pernah pergi ke rumah tetangga baru kita! Ada yang berusaha memakanku di sana," kata Wofa, sambil berusaha mengatur napasnya.

"Benarkah? Bagaimana ceritanya?" tanya Wofi dengan muka penasaran.

"Saat aku masuk ke sana, tiba-tiba ada yang menabrak dan menindihku. Aku merasa penghuni rumah itu berusaha menangkapku. Aku mencoba kabur tetapi ia berhasil meraih kakiku. Penghuni rumah itu kemudian menjepit kakiku, tetapi aku berhasil meloloskan diri. Kemudian penghuni rumah itu memegangku. Aku sempat merasakan kuku-kukunya yang tajam seperti paku menusuk-nusuk badanku," Wofa bercerita, sambil bergidik ngeri.

"Sebenarnya, mahluk apa yang berusaha menangkapmu Wofa?" Alis Wofi tampak bertaut.

"Aku tidak tahu, Wofi. Kondisi rumah itu cukup gelap!" Wofa menggelengkan kepala, ia lalu lanjut berkata, "tetapi aku yakin jika makhluk itu sangat besar. Suara derap langkahnya keras dan mampu menggetarkan lantai. Teriakannya sangat nyaring, memekakkan telinga dan sangat menyeramkan. Aku bersyukur bisa keluar dari rumah itu hidup-hidup," Wofa mengakhiri kisahnya dengan napas lega.

Wofi tersenyum, memandang Wofa. Ia bersyukur karena mereka sudah punya tempat tinggal baru, sehingga mereka tidak perlu memiliki tetangga yang menyeramkan. Kepergian Wofa dan Wofi membuat Cody dan sahabat-sahabatnya bisa tinggal di rumah mereka dengan tenang, nyaman, dan tanpa gangguan. 

***

Marimar selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asalnya....Norwegia," kata Marimar.

Marimar menutup buku dan menaruh buku di meja. Marimar keluar rumah untuk bermain dengan teman-temannya.

RUBAH SI PENGEMBALA DOMBA

Rossa selesai belajar matematika, ya Rossa membaca buku ceritalah.

Isi buku cerita yang di baca Rossa :

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang wanita bernama Goody. Ia memiliki sebuah peternakan domba. Goody merawat domba-domba peliharaannya dengan baik. Ia selalu menggembalakan mereka di padang rumput yang subur dan hijau. Goody juga mengarahkan mereka untuk minum di aliran sungai yang bening dan segar.

Goody sangat memerhatikan kebersihan dan kesehatan domba-domba peliharaannya. Ia selalu memandikan domba-dombanya beberapa hari sekali atau ketika ada domba yang kotor karena lumpur. Oleh karena itu, domba-domba peliharaan Goody berbulu bagus dan lembut, seperti gumpalan awan di angkasa.

Goody selalu menyiapkan banyak tumpukan jerami di dalam gudang untuk digunakan saat musim dingin. Sehingga domba-domba Goody tidak pernah kedinginan atau kelaparan ketika musim dingin tiba. Goody selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk domba-domba peliharaannya.

Dahulu, saat Goody membangun peternakannya pertama kali, ia hanya memiliki beberapa ekor domba. Goody merawat mereka dengan baik sehingga domba-domba itu berkembang biak dalam waktu yang singkat. Sekarang Goody telah memiliki beberapa ratus ekor domba, berkat kerja keras dan perawatan terbaik yang selalu ia berikan.

Goody mempunyai banyak domba-domba muda di peternakan. Domba-domba muda mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Saat berada di padang rumput, mereka sering keluar dari rombongan domba-domba hanya untuk mengejar kupu-kupu atau melihat matahari tenggelam. Domba-domba muda itu juga sering tidak sadar bahwa mereka berjalan ke tempat yang berbahaya, seperti ke tepi jurang atau ke sungai yang berarus deras.

Kecintaan Goody pada domba-dombanya dapat dilihat pada kegigihannya dalam menjaga mereka. Goody selalu berusaha menyelamatkan domba-domba yang sering membahayakan diri mereka sendiri. Tak jarang Goody berlari ke sana kemari sambil berteriak-teriak untuk menggiring domba-domba muda kembali ke dalam rombongan. Meski sudah berusaha dengan keras, terkadang Goody tetap harus mendapati domba-domba yang tidak patuh kepadanya.

Suatu hari tenggorokan Goody terasa sakit. Ia kemudian menemui wanita penyembuh untuk memeriksakan tenggorokannya.

"Selamat pagi, Goody! Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya wanita penyembuh.

"Tenggorokanku sakit sekali," Goody berkata lirih karena menahan sakit.

"Baiklah, aku akan memeriksanya. Sekarang buka mulutmu lebar-lebar. Aku ingin melihat tenggorokanmu," wanita penyembuh mulai mengarahkan. Goody kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.

"Goody, tenggorokanmu sangat merah. Sepertinya tenggorokanmu terluka," wanita penyembuh terdiam sebentar, lalu berkata, "aku akan memberimu obat dari tumbuh-tumbuhan. Rasanya pahit tapi itu bisa mengobati sakitmu."

"Aku juga menyarankan agar kau beristirahat selama 3 - 4 hari. Jangan terlalu lelah, jangan banyak bicara, apalagi berteriak. Semua itu untuk mempercepat kesembuhanmu," lanjut wanita itu.

Goody terlihat enggan dengan saran wanita penyembuh, dia tampak menghela napas, berat, sebelum bertanya, "Jika aku tidak boleh berteriak-teriak, bagaimana aku menggembalakan domba-dombaku? Siapa yang akan membawa mereka ke padang rumput? Siapa yang akan memberi minum mereka? Aku tidak mau mereka kelaparan dan kehausan sementara aku beristirahat."

"Goody, aku tahu jika kau sangat menyayangi domba-dombamu," ucap wanita penyembuh, maklum. Dia kemudian tersenyum, hangat, sambil berkata, "sebaiknya kau coba mencari seseorang yang bisa menggantikanmu menggembalakan domba-dombamu untuk sementara waktu."

Goody menuruti saran wanita penyembuh. Ia mulai mencari penggembala untuk menggantikannya mengurus domba-dombanya. Goody mulai mengunjungi tetangga-tetangganya, meminta bantuan mereka untuk mengurus domba-domba miliknya.

"Aku tidak bisa membantumu, Goody. Ada banyak kayu yang harus kupotong," tolak seorang tetangga Goody yang tinggal di dekat hutan.

"Suamiku mungkin bisa membantumu, Goody. Tapi sekarang dia belum pulang dari mencari ikan di laut," kata tetangga Goody yang tinggal di tepi pantai.

"Maaf, saat ini, aku tidak bisa membantumu, Goody. Aku sedang merawat ibuku yang sedang sakit."

"Aku mau membantumu Goody, tetapi aku sering lupa jalan pulang."

"Hatsyi, hatsyi, aku ingin membantumu Goody, tetapi aku alergi bulu domba."

Goody sudah berkeliling dari rumah ke rumah. Namun, semua tetangga yang dikunjunginya tidak bisa membantu. Ia hampir putus asa ketika dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan seekor beruang, bernama Bruni.

"Selamat sore, Goody. Kau hendak pergi ke mana?" tanya Bruni.

"Selamat sore, Bruni. Aku sedang mencari penggembala untuk domba-dombaku," jawab Goody.

"Apakah kau sudah menemukannya?"

"Belum, Bruni. Aku sudah berkeliling desa tetapi aku belum menemukan seorang penggembala yang baik," jawab Goody dengan wajah sedih.

"Bagaimana kalau aku menjadi penggembala di peternakanmu?" Bruni menawarkan bantuan, "badanku besar, tenagaku kuat, dan aku mampu berlari mengejar domba-dombamu yang tersesat."

"Baiklah, Bruni. Aku akan mempekerjakanmu sebagai penggembala," Goody akhirnya menyetujui tawaran Bruni, namun sebentar kemudian dia berkata, "tetapi aku ingin mendengar teriakanmu terlebih dulu."

Bruni kemudian berteriak, "Aarrgghh... hash... hash, aarrgghh... hash... hash, aarrgghh... hash... hash."

Goody terkejut mendengar teriakan Bruni. Ia merinding mendengarnya. Goody membayangkan domba-dombanya akan berlari ketakutan mendengar teriakan Bruni.

"Cukup, Bruni! Cukup! Berhentilah berteriak. Suaramu sangat menakutkan."

Bruni berhenti berteriak dan bertanya, "Bagaimana teriakanku Goody? Aku yakin domba-domba peliharaanmu tidak akan berani macam-macam jika aku menjadi penggembalanya."

Goody mencoba tersenyum, sedikit masam, lalu berkata, "Maaf Bruni, aku tidak bisa menerimamu sebagai penggembala domba-dombaku. Aku khawatir domba-dombaku akan kabur dan tidak kembali lagi karena ketakutan mendengar teriakanmu."

Setelah berpisah dengan Bruni, Goody melanjutkan perjalanannya. Belum jauh ia berjalan, Goody bertemu dengan Wofi, seekor serigala.

"Selamat sore, Goody. Kau mau pergi ke mana?" tanya Wofi.

"Selamat sore, Wofi. Aku sedang mencari penggembala untuk domba-dombaku," jawab Goody.

"Bagaimana pekerjaan penggembala itu?" Wofi bertanya, ingin tahu.

"Penggembala bekerja menggiring domba-domba ke padang rumput, mengejar domba yang tersesat, dan sesekali berteriak untuk memanggil semua domba agar berkumpul di dalam rombongan," Goody menjelaskan dengan sabar.

"Pekerjaan yang mudah," Wofi berkata, yakin, "aku bisa menggiring domba-dombamu ke padang rumput, mengejar domba-dombamu yang tersesat, dan berteriak. Coba dengarkan teriakanku, Goody."

Wofi kemudian melolong. "Auuwww... Auuwww... Auuwww!"

"Wofi, berhenti, berhentilah melolong! Suaramu nyaring sekali!" teriak Goody, sambil menutup telinga. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri, tanda ketakutan.

"Bagaimana Goody?"

Goody kembali menghela napas, lelah, lalu berkata, "Wofi, aku tidak bisa menerimamu sebagai penggembala domba-dombaku. Lolonganmu sangat, sangat menakutkan. Aku khawatir, bukan hanya domba-dombaku yang lari ketakutan tetapi seluruh penduduk desa ini."

Goody dan Wofi pun berpisah. Goody kembali melanjutkan pencariannya. Hari mulai gelap ketika Goody hampir sampai di peternakannya. Tiba-tiba ia disapa oleh seekor rubah, bernama Foxy.

"Selamat malam, Goody," sapa Foxy.

"Selamat malam, Foxy," balas Goody.

"Kenapa kamu masih berada di luar rumah? Bukankah biasanya kau sudah duduk di depan perapian?" tanya Foxy.

"Benar, Foxy. Aku baru saja pulang dari mencari penggembala," jawab Goody.

"Apakah kau sudah menemukannya?" Foxy bertanya lagi.

"Belum, Foxy. Aku belum menemukan penggembala yang tepat untuk menggembalakan domba-domba peliharaanku," Goody menjawab lirih karena sudah kelelahan.

"Bagaimana kalau aku menjadi penggembala domba-domba milikmu?" Foxy menawarkan diri.

Goody terdiam. Ia memerhatikan Foxy dengan saksama. Kemudian ia berkata, "Aku yakin kamu cukup kuat dan gesit untuk mengerjakan semua tugas penggembala. Hanya saja aku belum mendengar bagaimana kau berteriak memanggil domba-domba milikku."

Foxy kemudian berteriak dengan suara keras, jelas, dan berirama, "Dududu... dadada... dududu... dadada."

Goody terkesan dengan suara Foxy. Ia tidak menyangka bahwa seekor rubah bisa mempunyai teriakan seperti itu. "Foxy, aku suka suaramu. Besok pagi datanglah ke rumah dan mulailah bekerja menggembalakan domba-domba peliharaanku," kata Goody kegirangan.

Keesokan harinya Foxy datang ke peternakan Goody. Ia tampak sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi penggembala. Goody pun mulai memberi tahu Foxy tentang cara-cara menggembalakan domba-dombanya.

"Foxy, bawalah domba-domba ini ke padang rumput di kaki bukit sebelah sana," Goody menunjuk ke sebuah bukit, "jika hari telah sore, bawalah domba-domba kembali pulang, lalu masukkan ke dalam kandang."

Foxy menuruti perintah Goody. Ia membawa domba-domba peliharaan Goody ke padang rumput yang ditunjuk oleh Goody. Ia bahkan mengatur domba-domba itu ke dalam kelompok-kelompok kecil, yaitu kelompok domba jantan, kelompok domba betina, dan kelompok domba muda.

Goody sangat senang melihat apa yang dilakukan oleh Foxy. Rupanya ia memiliki bakat sebagai penggembala. Jika hasil kerjanya bagus, aku akan menjadikannya pegawai tetap di peternakanku, kata Goody dalam hati. Goody tidak tahu bahwa Foxy berniat jahat terhadap domba-dombanya.

Foxy menempatkan kelompok-kelompok domba milik Goody berjauhan, meski berada di padang rumput yang sama. Ia lalu memerhatikan situasi di sekitarnya. Padang rumput ini cukup sepi dan jauh dari manusia. Sekarang waktu yang tepat untuk berpesta, kata Foxy kepada dirinya sendiri. Ia tampak mulai berjalan ke kelompok domba jantan dan memangsa mereka satu per satu. Foxy berpesta makan daging domba!

Pada hari kedua, Foxy kembali datang ke peternakan Goody. Ia menjalankan tugasnya sebagai penggembala seperti hari pertama. Ia membawa domba-domba milik Goody ke padang rumput yang sama. Ia kemudian memangsa domba-domba di kelompok domba betina. Di hari ketiga, Foxy memakan domba-domba di kelompok domba muda. Akhirnya, domba-domba milik Goody habis dimakan oleh Foxy!

Goody belum mengetahui jika domba-dombanya habis dimakan oleh Foxy. Situasi peternakan yang sepi dan tenang membuat Goody mengira Foxy bekerja dengan baik. "Hari-hari yang cukup tenang, pastilah Foxy telah memberi makan domba-dombaku hingga kenyang. Mereka biasanya tidak banyak mengembik jika kenyang," Goody berkata pada dirinya sendiri.

Pada hari keempat, Goody mulai merasa curiga dengan suasana sepi dan tenang di peternakannya. Ia kemudian pergi ke kandang dan tidak dijumpainya seekor domba pun di sana. Ia kemudian pergi ke lumbung dan tidak juga terlihat seekor domba pun. Goody khawatir dengan domba-domba peliharaannya.

Ketika Foxy datang, menghampirinya, Goody langsung bertanya tentang domba-domba peliharaannya. "Foxy, di manakah kau tempatkan domba-dombaku?"

"Maafkan aku, Goody! Aku telah memakan semua domba peliharaanmu. Aku tidak tahan melihat domba-domba gemuk itu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa melihat tulang-tulang dan kulit mereka di padang rumput," ucap Foxy, ringan.

Goody tidak percaya dengan perkataan Foxy. Setengah menjerit dia bertanya, "Foxy, apa yang telah kau lakukan?" Goody pun berlari ke padang rumput.

Foxy hanya terdiam ketika Goody berlari meninggalkannya. Tiba-tiba ia mencium sesuatu yang sangat harum.

"Snuf, snuf, snuf, bau apa ini? Sungguh harum dan manis sekali," kata Foxy, sambil mencari sumber bau tersebut.

Setelah mencari-cari bau harum dan manis itu, Foxy menemukan panci yang berisi krim susu. Rupanya Goody sedang memasak krim susu ketika Foxy datang. Ia kemudian memakan krim susu itu, tanpa rasa bersalah. Tiga hari makan daging domba dan sekarang makan krim susu yang nikmat. Nyam, nyam, nyam, aku sungguh beruntung, kata Foxy dalam hati.

Sesampai di padang rumput Goody mendapati tulang belulang serta kulit domba-domba peliharaannya. Perasaan Goody bercampur aduk antara sedih, marah, dan kecewa. "Awas kau, Foxy! Aku akan membuatmu membayar semua perbuatanmu ini," gumam Goody sembari berlari pulang.

Ketika sampai di rumah, Goody bertambah marah saat melihat krim susu yang dimasaknya hampir habis, hanya tersisa sedikit. Ini pasti ulah Foxy, ucap Goody dalam hati. Dengan berapi-api Goody segera mencari Foxy di halaman peternakannya.

Foxy sedang mengendap-endap di sekitar kandang ayam. Ia sangat terkejut melihat kedatangan Goody. "Goody sepertinya marah besar. Aku pasti akan dihajar habis-habisan oleh dia. Aku harus melarikan diri," gumam Foxy seorang diri. Ia pun bergegas lari keluar dari peternakan.

Melihat Foxy yang melarikan diri, Goody terus mengejar Foxy. Akan tetapi jarak mereka semakin jauh. Goody merasa jengkel. Dia pun melempar panci yang berisi sisa krim susu ke arah Foxy. Foxy berhasil menghindari lemparan panci Goody, tetapi ujung ekornya terkena percikan krim susu. Ia berusaha membersihkan ekornya, tetapi bercak krim susu itu tidak bisa hilang. Oleh karena itu, sampai sekarang rubah memiliki bercak putih di ujung ekornya.  

***

Rossa selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus berasal dari Norwegia di tulis buku sih," kata Rossa.

Rossa menutup bukunya dan menaruh buku di dalam tas semuanya. Rossa keluar dari kamarnya karena selesai belajar sih. Di ruang tengah, ya Rossa duduk bersama ibu untuk nonton Tv yang acara Tv-nya sinetron anak-anak gitu.

JANTUNG RAKSASA

Sandra selesai latihan menari di ruangan khusus yang ada di rumah sih. Sandra duduk santai di ruang tamu. Ada buku di meja, ya Sandra mengambil buku tersebut dan di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Sandra :

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang mempunyai tujuh anak lelaki. Ia sangat sayang kepada meraka. Sang Raja sering merasa berat hati jika ia terpaksa berpisah dengan anak-anaknya. Oleh karena itu, Sang Raja selalu mengajak salah seorang putranya untuk menemaninya.

Waktu terus berjalan. Anak-anak raja itu tumbuh menjadi pangeran-pangeran yang gagah dan tampan. Tibalah saat bagi mereka untuk mencari pendamping hidup. Para pangeran ini kemudian meminta izin kepada ayahnya untuk meninggalkan Kerajaan.

Awalnya, Sang Raja merasa keberatan dengan permintaan mereka. Ia merasa sedih jika harus berpisah dengan anak-anaknya. Namun para pangeran itu terus berusaha meyakinkan ayahnya. Sang Raja pun akhirnya mengizinkan mereka pergi, tetapi dengan satu syarat.

"Kalian boleh meninggalkan Kerajaan, tetapi adik bungsu kalian, Boots, tetap tinggal di sini! Jangan lupa untuk membawakan seorang putri sebagai pasangannya," perintah Sang Raja. Para pangeran itu menyetujui syarat yang diajukan oleh ayah mereka.

Sang Raja kemudian membekali anak-anaknya baju besi miliknya. Baju besi itu memantulkan cahaya yang sangat indah sehingga membuat pemakainya tampak gagah. Selain itu, Raja juga membekali mereka dengan kuda-kuda terbaik dan emas yang sangat banyak.

Pada hari yang ditentukan, para pangeran ini berangkat meninggalkan Kerajaan. Mereka mengunjungi berbagai kerajaan dan bertemu banyak putri, tetapi belum ada yang memikat hati mereka. Setelah mereka mengunjungi beberapa kerajaan, akhirnya mereka tiba di sebuah kerajaan, di mana tinggal enam orang putri yang sangat cantik. Para pangeran ini jatuh hati melihat kecantikan para putri. Mereka pun memilih pasangan yang mereka inginkan dan membawa putri-putri itu pulang ke Kerajaan. Karena terlalu bahagia, mereka lupa untuk mencarikan adik mereka, Boots, seorang putri untuk dijadikan istri.

Rombongan para pangeran menempuh perjalanan panjang. Mereka melewati sebuah bukit, tempat tinggal seorang raksasa. Para pangeran tidak menyadari bahwa bukit itu dihuni oleh seorang raksasa. Raksasa itu merasa terganggu ketika rombongan pangeran lewat. Ia pun keluar dari bukit dan mengubah semua pangeran dan putri itu menjadi batu dengan kekuatan matanya. Di Kerajaan, Sang Raja merasa cemas karena ia tidak lagi menerima kabar dari anak-anaknya. Ia merasa khawatir dengan keselamatan mereka.

"Boots, kenapa saudara-saudaramu belum juga pulang?" tanya Sang Raja, gelisah.

"Jangan khawatir, Ayah. Sebentar lagi mereka pasti akan pulang," jawab Boots, menenangkan ayahnya.

"Ayah sudah lama tidak mendengar kabar dari mereka, Boots. Ayah berharap semoga mereka baik-baik saja." Sang Raja terlihat menerawang jauh.

Boots menatap ayahnya. Raut wajahnya terlihat ragu, namun dia lekas berkata, "Ayah, izinkan aku untuk mencari mereka. Aku ingin Ayah tidak merasa khawatir lagi."

Sang Raja terkejut mendengar permintaan Boots. "Boots, apa kau sudah tidak sayang lagi dengan Ayah? Apa kau ingin membuat Ayah semakin sedih? Sekarang, hanya kamu satu-satunya anak Ayah."

Boots tidak menyerah. Setiap kali ada kesempatan, ia terus memohon kepada ayahnya, meminta izin untuk mencari saudara-saudaranya. Akhirnya Sang Raja tidak kuasa menolak permintaan Boots. Dengan berat hati ia mengizinkan putra bungsunya pergi untuk mencari kakak-kakaknya.

"Boots, Ayah mengizinkan kamu pergi mencari saudara-saudaramu. Tetapi, berjanjilah bahwa kamu harus pulang dengan selamat," pinta Sang Raja dengan pilu.

Boots menatap ayahnya, haru, lalu berkata, yakin, "Jangan takut, Ayah! Aku dan Kakak-kakak pasti akan pulang dengan selamat."

Keesokan harinya, Boots berpamitan kepada ayahnya. Ia meninggalkan Istana dengan berkuda. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Boots sampai di perbatasan Kerajaan. Di sana ia melihat seekor burung Gagak yang terbaring lemah di tengah jalan. Boots turun dari kudanya dan memindahkan burung Gagak itu ke tempat yang teduh.

"Sudah berhari-hari aku tidak makan. Tubuhku lemas. Maukah kau membagi makananmu kepadaku?" pinta Burung Gagak. Tanpa berpikir panjang, Boots mengeluarkan bekalnya dan membaginya dengan Burung Gagak.

"Terima kasih," kata Burung Gagak "hatimu sangat baik. Aku berjanji akan menolongmu jika kau mengalami kesulitan."

Setelah menolong Burung Gagak, Boots kembali melanjutkan perjalanan. Saat ia beristirahat di dekat sungai, ia melihat sekor ikan Salmon di sebuah batu, di tepi sungai. Ikan itu tampak menggerak-gerakkan badannya, berusaha untuk kembali ke sungai. Boots merasa kasihan terhadap ikan Salmon itu. Ia lalu berjalan ke arah batu dan membantu Ikan Salmon kembali ke sungai.

"Terima kasih. Hatimu sangat baik. Aku berjanji akan menolongmu jika kau berada dalam kesulitan," janji Ikan Salmon. Boots tersenyum mendengar perkataan ikan Salmon itu. Ia pun bergegas melanjutkan perjalanannya.

Tidak lama kemudian, Boots bertemu dengan beberapa orang pedagang. Mereka sedang bercerita tentang rombongan Kerajaan yang dikutuk menjadi patung oleh Raksasa Jahat. Mendengar cerita itu, Boots merasa yakin bahwa rombongan itu adalah rombongan kakak-kakaknya. Ia pun meminta pedagang-pedagang itu menunjukkan tempat tinggal Raksasa Jahat.

Setelah mengetahui arah ke tempat Raksasa Jahat, Boots kembali melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seekor serigala yang sangat kurus. Boots bahkan bisa melihat dengan jelas lekuk tulang-tulang pembentuk tubuh serigala itu.

"Serigala, tubuhmu kurus sekali, apakah engkau belum makan?" tanya Boots.

"Iya. Aku sudah 2 tahun belum makan. Hmm... Kudamu tampak lezat sekali. Izinkan aku untuk memakannya," kata Serigala kepada Boots.

Boots segera menolak, "Tunggu dulu! Kalau kau memakan kudaku, bagaimana aku bisa pergi ke tempat tinggal Raksasa Jahat?"

"Aku bisa membawamu pergi ke tempat tinggal Raksasa Jahat. Aku juga akan membantumu jika kau berada dalam kesulitan. Tapi, izinkan aku memakan kudamu," janji Serigala kepada Boots.

Boots terlihat ragu. Tetapi rasa kasihan mengalahkan keraguannya. Ia pun merelakan Serigala memakan kudanya. Boots sempat merasa menyesal, namun ia sudah bertekad untuk tetap pergi ke tempat Raksasa Jahat dengan segala cara.

Setelah memakan kuda milik Boots, Serigala mendatangi Boots. "Sesuai janjiku, aku akan membawamu ke tempat tinggal Raksasa Jahat. Sekarang ambillah pelanamu dan pasanglah di atas punggungku," ujar Serigala.

Boots menuruti perkataan Serigala. Ia bergegas mengambil pelananya dan memasangnya di atas punggung Serigala. Boots kemudian naik ke atas punggung Serigala dan wuss... serigala itu berlari sangat cepat!

Tidak lama kemudian, Boots dan Serigala sampai di tempat tinggal Raksasa Jahat. Serigala berhenti berlari dan berkata kepada Boots, "Boots, ini adalah rumah Raksasa Jahat. Dan, kamu lihat patung-patung yang ada di sana? Itu semua adalah saudara-saudaramu beserta istrinya yang dikutuk menjadi batu oleh Raksasa Jahat."

Boots bergidik ketakutan melihat patung-patung itu. Seketika semangatnya mengendur. "Serigala, aku takut! Raksasa jahat itu sangat kuat. Ia pasti bisa membunuhku. Bawa aku pergi dari sini!" pinta Boots kepada Serigala.

"Boots, jangan takut! Dengarkan aku baik-baik! Kau harus masuk ke dalam rumah itu lalu carilah seorang gadis. Ia akan membantumu mengalahkan Raksasa Jahat yang menyihir saudara-saudaramu," perintah Serigala.

Boots menuruti perkataan Serigala. Sejenak ia memerhatikan rumah itu dengan saksama. Ia memastikan bahwa raksasa jahat itu sedang tidak berada di rumah. Setelah memantapkan niatnya, Boots masuk ke dalam rumah. Tak lama setelah ia masuk, ia menemukan seorang gadis di dalam sebuah ruangan, persis seperti yang diceritakan oleh Serigala. Boots terpana melihat kecantikan gadis itu.

"Hei, siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini? Ini tempat yang berbahaya!" seru gadis itu, membuyarkan lamunan Boots.

"Ehmmm… Namaku Boots. Aku datang untuk membebaskan saudara-saudaraku. Kamu lihat patung-patung di luar sana? Itu semua adalah saudara-saudaraku beserta istrinya, yang disihir oleh Raksasa Jahat," ucap Boots. Ia berhenti sejenak kemudian berkata, "Kamu cantik sekali."

Gadis itu tersipu mendengar pujian Boots. Namun, tak lama kemudian ia berkata, "Terima kasih, Boots. Aku khawatir usahamu akan sia-sia. Banyak orang yang datang untuk mengalahkan raksasa itu, tetapi tidak ada yang bisa membunuhnya. Raksasa itu tidak mempunyai jantung di dalam tubuhnya. Ia menyimpannya di suatu tempat."

Boots mengernyit, heran, "Apa kau tahu di mana raksasa itu menyimpan jantungnya… ah, siapa namamu?" tanya Boots.

"Namaku Jo," gadis itu menjawab, "aku tidak tahu di mana raksasa itu menyimpan jatungnya, tetapi aku punya sebuah rencana. Saat makan malam nanti, aku akan menanyakannya kepada raksasa. Sementara itu, kau bisa bersembunyi di bawah ranjang dan mencatat apa yang dikatakannya."

Boots tampak tersenyum, senang, dengan rencana Jo. Ia pun mengangguk setuju. Saat makan malam tiba, Boots bersembunyi di bawah ranjang. Sedangkan Jo menyiapkan meja untuk makan malam Raksasa Jahat.

"Waw, ada bau manusia di rumah ini," teriak Raksasa Jahat sambil menghampiri Jo.

"Iya, saya juga menciumnya," kata Jo "bau itu datang dari tulang manusia yang dibawa oleh Burung-burung Magpie. Mereka menjatuhkannya di cerobong asap. Aku sudah berusaha membersihkannya, tetapi baunya masih tetap ada."

Raksasa jahat itu menerima penjelasan Jo tanpa curiga. Ia kemudian makan malam bersama dengan Jo tanpa membahas masalah bau manusia lagi.

"Tuanku, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Jo, setelah terdiam lama.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Raksasa Jahat cepat.

Jo terlihat ragu, namun ia tetap bertanya, "Tuanku, di manakah kau menyimpan jantungmu?"

Raksasa itu tertawa mendengar pertanyaan Jo. Ia lalu berkata, "Apa urusanmu dengan jantungku, Jo?" Raksasa itu tergelak, tapi segera berkata, "Tetapi baiklah, aku akan memberitahukanmu. Aku menyimpannya tepat di bawah pintu."

Keesokan harinya, raksasa itu bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke hutan. Setelah raksasa itu meninggalkan rumah, Boots dan Jo mulai menggali di bawah pintu. Mereka berusaha menemukan jantung raksasa itu. Tetapi mereka tidak menemukannya, meski telah menggali cukup dalam.

"Raksasa itu rupanya telah berbohong kepada kita," kata Boots "sekarang apalagi yang harus kita lakukan?"

"Aku punya rencana lain, Boots! Semoga ini bisa berhasil."

Jo kemudian pergi ke pekarangan. Ia mengumpulkan bunga-bunga yang cantik dan harum. Ia lalu merangkainya menjadi karangan bunga yang sangat bagus dan meletakkannya di atas pintu.

Ketika raksasa jahat itu pulang, ia sangat terkejut karena ada rangkaian bunga di atas pintu rumahnya. Ia pun langsung bertanya, "Jo, apakah kau yang meletakkan karangan bunga di atas pintu itu?"

"Iya, benar. Aku hanya ingin mengingat bahwa jantungmu disimpan di sana," jawab Jo.

Raksasa itu tertawa mendengar penuturan Jo. "Jo, aku tidak akan sebodoh itu menyimpan jantungku di sana. Maafkan aku telah membohongimu," kata Raksasa.

"Aku memaafkanmu. Tapi, sekarang kau harus mengatakan di mana kau menyimpan jantungmu?" tanya Jo, cerdik.

"Baiklah, kali ini aku akan jujur kepadamu. Aku menyimpan jantungku di dalam lemari yang tergantung di dinding itu," raksasa itu berkata, sambil menunjuk sebuah lemari.

Boots mendengar semua percakapan itu. Meski Raksasa Jahat mengatakan bahwa ia sudah jujur kepada Jo, hati Boots masih diselimuti keraguan. Apakah raksasa itu benar-benar jujur kali ini, tanyanya dalam hati. Keesokan harinya, raksasa jahat itu kembali pergi ke hutan. Setelah keadaan aman, Boots dan Jo mulai membongkar lemari yang ditunjukkan raksasa jahat itu. Mereka mengeluarkan semua isi lemari dan memeriksanya dengan teliti, tetapi mereka tidak menemukan jantung raksasa jahat itu.

"Jo, aku rasa raksasa itu berbohong lagi kepada kita. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi!" seru Boots mulai putus asa.

"Sabar, Boots! Aku masih punya sebuah rencana lagi." Jo berusaha menenangkan Boots.

Jo kembali mengumpulkan bunga-bunga yang cantik dan wangi dari halaman rumah. Ia kemudian memenuhi lemari itu dengan bunga-bunga tersebut. Sepulang dari hutan, raksasa itu mencium bau harum. Ia mencari asal bau harum itu dan mendapati lemarinya telah penuh berisi bunga-bunga.

Ia bertanya lagi kepada Jo, "Jo, apakah engkau yang mengisi lemariku dengan bunga-bunga ini?"

"Iya, aku yang memenuhi lemari itu dengan bunga-bunga yang wangi. Aku tidak tega membiarkan jantungmu mencium bau apek di dalam lemari itu," jawab Jo.

"Jo, kenapa kamu begitu bodoh dan percaya bahwa aku menyimpan jantungku di dalam lemari?" tanya raksasa itu, sedikit gemas.

"Saya percaya karena Tuan yang mengatakannya."

"Jo, untuk apa kau mengetahui di mana aku menyimpan jantungku?" tanya raksasa itu lagi, "kau tidak akan bisa sampai di sana."

"Iya, saya mungkin tidak akan bisa sampai di sana," kata Jo "tetapi saya akan merasa senang sekali jika tahu di mana Tuan menyimpan jantung."

Raksasa itu terdiam cukup lama. Ia ingin tetap menyimpan rahasianya, tetapi tidak bisa. Ia kemudian bercerita kepada Jo, "Ada pulau yang terletak di tengah danau. Di atas pulau itu, ada sebuah gereja yang memiliki sumur di dalamnya. Di dalam sumur itu, ada seekor bebek yang hidup dan sedang mengerami telur-telurnya. Aku menyembunyikan jantungku di antara telur-telur itu."

Keesokan harinya, Boots berpamitan kepada Jo untuk pergi mencari jantung Raksasa Jahat. Ketika ia keluar dari rumah itu, ia melihat Serigala, sahabatnya, telah menantinya. Boots menceritakan kembali apa yang didengarnya dari raksasa itu. Serigala segera menyuruh Boots naik ke atas punggungnya. Mereka kemudian pergi ke pulau, tempat Raksasa Jahat menyimpan jantungnya.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, Boots dan Serigala tiba di sebuah danau, yang sesuai dengan cerita raksasa itu. Meski tidak ada perahu untuk menyeberangi danau, Boots berhasil sampai di pulau itu dengan bantuan Serigala.

Ketika sampai di pulau, Boots dan Serigala menemukan sebuah. Boots berusaha masuk ke dalam, tetapi ternyata pintu gereja itu terkunci. Ia mencari-cari kunci gereja itu dan menemukannya tergantung di atas menara gereja yang cukup tinggi. Boots tidak tahu bagaimana mengambil kunci di atas menara itu.

Serigala tiba-tiba mengusulkan, "Boots, kau bisa memanggil Burung Gagak untuk menolongmu."

Boots yang semula kebingungan, tampak senang mendengar saran Serigala. Ia pun memanggil Burung Gagak, yang segera berada di hadapannya dalam sekejap. Burung Gagak terbang ke atas menara, mengambil kunci, dan menyerahkannya kepada Boots.

Boots dan Serigala masuk ke dalam gereja setelah berhasil membuka pintunya. Saat berada di dalam gereja, mereka menemukan sebuah sumur, seperti yang diceritakan oleh Raksasa. Boots pun melongok ke dalam sumur dan mendapati seekor bebek yang sedang mengerami telurnya.

Melihat telur-telur itu, Boots berusaha untuk mengambil jantung Raksasa yang ada di antaranya. Sayangnya, bebek itu merasa terganggu dengan kehadiran Boots. Mereka pun berkelahi. Perkelahian keduanya membuat air sumur yang semula tenang menjadi bergejolak. Riak-riak air membuat telur-telur dan jantung Raksasa jatuh ke dalam sumur. Boots bingung bagaimana mengambil jantung Raksasa di dasar sumur itu.

Di tengah kebingungan Boots, Serigala berkata, "Boots, kau bisa memanggil Ikan Salmon untuk menolongmu."

Boots memanggil Ikan Salmon, yang segera datang dalam waktu singkat. Ikan Salmon itu menyelam ke dalam sumur, mengambil jantung Raksasa, dan menyerahkannya kepada Boots.

Dalam sekejap, jantung itu sudah berada di tangan Boots. Serigala kemudian menyuruh Boots untuk meremasnya. Boots menuruti perkataan Serigala. Saat meremas jantung itu, Boots dapat mendengar raksasa jahat itu berteriak kesakitan. Boots terus meremas jantung itu, hingga Raksasa Jahat menjerit-jerit. Raksasa jahat itu kemudian mendatangi Boots. Ia memohon agar Boots tidak lagi meremas jantungnya. Ia berjanji akan menuruti semua permintaan Boots. Atas saran Serigala, Boots meminta Raksasa Jahat mencabut sihirnya terhadap saudara-saudara Boots dan istri mereka.

Raksasa jahat itu kemudian mencabut sihirnya dan mengubah saudara-saudara Boots beserta istri mereka menjadi manusia kembali. Setelah Boots mengetahui jika kutuka sihir telah sirna, ia lalu meremas jantung itu hingga hancur. Raksasa jahat itu pun hancur seketika. Boots dan Serigala bergegas kembali ke rumah Raksasa Jahat. Di sana Boots bertemu dengan saudara-saudaranya. Ia juga melamar Jo sebagai istrinya. Boots, saudara-saudaranya, dan istri mereka kemudian pulang ke Kerajaan dan disambut dengan sukacita oleh Sang Raja. Pesta pernikahan pun diselenggarakan dengan meriah dan mereka hidup bahagia selamanya. 

***

Sandra selesai baca bukunya.

"Cerita yang baru aku baca, ya bagus. Cerita berasal dari Norwegia," kata Sandra.

Sandra menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja.

Sandra pun beranjak dari duduknya, ya keluar dari rumah untuk menemui teman baiknya Ayu di rumahnya.

BENDA-BENDA AJAIB DARI ANGIN UTARA

Hesti selesai membantu ibu, ya mencuci di belakang sih. Hesti duduk santai di ruang tengah. Ada buku di meja dan segera di ambil Hesti, ya di baca dengan baik...itu buku.

Isi buku yang di baca Hesti :

Holver adalah seorang anak yang baik. Ia hidup bersama dengan ibunya yang sering sakit-sakitan. Suat hari, Holver ingin membuat roti untuk ibunya. Jadi, pagi itu ia pergi ke lumbung untuk mengambil gandum dan menggilingnya menjadi roti.

Saat Holver selesai menggiling rotinya, ia membawa roti itu ke rumah. Ketika ia sedang menaiki tangga, tiba-tiba Angin Utara datang berembus. Ia bertiup sangat kencang dan membuat roti buatan Holver terbang tinggi ke angkasa. Holver berusaha meraih rotinya, tetapi rotinya terbang terlalu tinggi. Akhirnya roti itu lenyap bersama Angin Utara.

Holver kembali ke lumbung dan mulai membuat roti untuk yang kedua kali. Ia kemudian membawa roti itu ke rumah setelah selesai membuatnya. Namun saat Holver sampai di depan pintu, Angin Utara kembali berembus dan membawa roti buatannya hilang di angkasa.

Kejadian ini berulang hingga 3 kali berturut-turut. Holver menjadi jengkel terhadap Angin Utara. Ia menganggap Angin Utara telah mempermainkannya, dengan mengambil roti-roti buatannya. Holver pun berencana pergi ke tempat tinggal Angin Utara dan meminta kembali roti-rotinya.

Keesokan harinya, Holver memulai perjalanannya menuju rumah Angin Utara. Untuk sampai di tempat tinggal Angin Utara, Holver harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Akhirnya Holver sampai di rumah Angin Utara.

"Selamat pagi," sapa Holver.

"Selamat pagi," jawab Angin Utara dengan keras dan kasar, "terima kasih telah mengunjungiku. Sekarang, katakan apa maksud kedatanganmu?"

"Aku datang untuk mengambil roti-roti yang telah kau ambil," Holver menjawab dengan sabar.

"Roti apa? Aku ini angin dan angin tidak makan roti," bantah Angin Utara.

"Iya, aku tahu," kata Holver, berusaha untuk tidak emosi, "hembusanmu yang terlalu kuat membuat roti-rotiku terbang ke angkasa dan lenyap entah ke mana. Roti-roti itu sangat berharga bagiku dan ibuku. Jika roti-roti itu tidak bisa kau kembalikan, kami bisa mati kelaparan."

Angin Utara menatap Holver yang tampak sedih. Ia pun berkata lirih, "Aku tidak membawa roti-rotimu. Tetapi aku akan membantumu. Tunggulah sebentar."

Angin Utara masuk ke dalam rumahnya. Ia lalu keluar membawa selembar taplak meja dan berkata, "Aku mempunyai selembar taplak meja. Ini adalah taplak meja ajaib. Jika kau lapar, kau bisa menggelarnya dan berkata, "Siapkan Makanan!", segera akan tersaji banyak makanan di hadapanmu. Aku jamin kau dan ibumu tidak akan lagi kelaparan."

Holver menerima taplak meja ajaib itu dan bergegas pulang. Ia masih harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan menuju rumahnya.

Hari mulai gelap ketika Holver baru menempuh separuh perjalanan. Ia kemudian mencari penginapan dan beristirahat. Ketika tiba waktu makan malam, Holver ingin mencoba taplak meja ajaib pemberian Angin Utara. Ia kemudian menggelar taplak meja itu dan berkata, "Siapkan Makanan!"

Keajaiban terjadi! Tiba-tiba meja di hadapan Holver sudah penuh dengan berbagai macam makanan lezat. Holver dan para penghuni penginapan berdecak kagum dengan kemampuan taplak meja ajaib itu. Meski penasaran, mereka pun segera menyantap makanan di meja dengan lahap hingga tak bersisa.

Malam itu semua orang di penginapan bersukacita, termasuk Holver. Dia tidak menyadari bahwa pemilik penginapan itu iri dengannya. Ketika malam telah larut dan semua penghuni penginapan telah tertidur, pemilik penginapan itu menukar taplak meja ajaib milik Holver dengan taplak meja biasa yang serupa. Holver meninggalkan penginapan pagi-pagi sekali dan tidak menyadari bahwa taplak meja ajaibnya telah ditukar dengan taplak meja biasa.

Sesampai di rumah, Holver menunjukkan taplak meja ajaib pemberian Angin Utara kepada ibunya. dengan riang Holver berkata, "Ibu, ini adalah taplak meja ajaib pemberian Angin Utara. Ia mampu menyiapkan berbagai macam makanan lezat hanya dengan menggelarnya dan memerintahnya."

Mata ibu Holver membulat, tanda tak percaya. "Anakku, ibu tidak percaya ada barang yang bisa melakukan hal-hal ajaib seperti itu. Sekarang coba kau buktikan!" seru ibu Holver antusias.

Senyum Holver mengembang. Ia kemudian menggelar taplak meja itu dan berkata, "Siapkan Makanan!"

Sesaat berselang. Taplak meja ajaib masih kosong, tak ada makanan. Holver kemudian mengulangi perkataannya, "Siapkan Makanan!", tetapi tetap tidak ada makanan lezat yang tersaji. Holver mulai kebingungan.

Ibu Holver menatapnya, maklum. "Anakku, Angin Utara rupanya telah membohongimu," kata Ibu Holver sambil tersenyum.

Pagi berikutnya Holver kembali mendatangi rumah Angin Utara.

"Selamat pagi," sapa Holver.

"Selamat pagi," Angin Utara menjawab dengan keras dan kasar, "apakah itu kau, Holver?"

"Iya, ini aku Holver!" seru Holver.

Tak berapa lama, Angin Utara keluar dari rumah dan menemui Holver.

"Ada apa, Holver? Apa yang membuatmu datang lagi kemari?" tanya Angin Utara.

"Taplak meja ini telah kehilangan keajaibannya. Ia tidak lagi menyajikan makanan lezat," kata Holver sambil mengeluarkan taplak meja dari dalam tasnya, "aku dan ibuku akan tetap kelaparan."

"Benarkah?" Angin Utara bertanya, tak percaya.

Holver mengangguk, kemudian menggelar taplak meja itu dan berkata, "Siapkan Makanan!" Dan, taplak itu tetap bergeming.

Angin Utara memandang Holver dan taplak meja itu bergantian. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan keluar sambil membawa sebuah kantung.

"Holver, aku akan memberimu sebuah kantung, sebagai pengganti taplak meja ajaib itu. Kantung ini adalah kantung ajaib. Ia akan menghasilkan koin emas ketika kau berkata, "Mana emasnya?" Makin sering kau mengucapkan kata itu, makin banyak koin emas yang kau dapatkan," kata Angin Utara, menjelaskan.

Setelah berpamitan dan berterima kasih kepada Angin Utara, Holver pulang dengan membawa kantung ajaib itu. Ia kemudian beristirahat di penginapan yang sama. Saat malam hampir larut, Holver mencoba kemampuan kantung ajaib itu di kamarnya. Ia berkata, "Mana emasnya?", dan tidak lama kemudian kantung itu mengeluarkan sekeping koin emas. Holver merasa girang. Ia mengulang lagi kata-katanya hingga banyak koin emas terkumpul di kamarnya.

Rupanya pemilik penginapan mengintip apa yang dilakukan Holver di dalam kamarnya. Ia menginginkan kantung ajaib milik Holver dan ingin mengambilnya agar ia semakin kaya raya. Tepat tengah malam, ketika semua orang telah tidur, ia mengendap-endap masuk ke dalam kamar Holver, dan menukar kantung ajaib dengan kantung lain yang serupa.

Seperti sebelumnya, Holver meninggalkan penginapan itu pagi-pagi sekali. Ia tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan menunjukkan kantung ajaib itu kepada ibunya.

"Ibu, lihat apa yang aku bawa! Sebuah kantung ajaib!" seru Holver saat sampai di rumah.

Ibu Holver menghampiri anaknya yang baru tiba. Holver menceritakan semua hal yang dia alami di rumah Angin Utara kepada ibunya. Ibu hanya mengangguk dan tersenyum mendengar cerita anaknya.

"Anakku, ibu selalu mengatakan kepadamu bahwa ibu tidak pernah percaya dengan barang-barang ajaib seperti itu," kata ibu Holver setelah anaknya selesai bercerita.

Holver mengulum senyum. Ia yakin ibunya akan tercengang melihat aksi kantung ajaibnya. Ia pun berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan membuktikannya kepadamu! Sekarang perhatikan baik-baik kantung ini."

Holver kemudian memperagakan kepada ibunya bagaimana kantung ajaib itu bekerja. Dengan semangat, ia berkata, "Mana emasnya?"

Kantung itu diam. Tak mengeluarkan apa-apa. Beberpa kali Holver mengulangi perkataannya, tetapi hasilnya tetap sama. Kantung itu tidak lagi mengeluarkan koin emas.

"Holver, Angin Utara telah membohongimu lagi, Nak" kata ibunya.

Esok paginya Holver kembali mendatangi rumah Angin Utara. Ia menahan amarah karena merasa dibohongi oleh Angin Utara.

"Angin Utara, kamu tukang bohong," teriak Holver dari luar rumah.

Angin Utara terkejut mendengar teriakan Holver. Ia lalu keluar rumah dan menemui Holver. "Holver, sekarang apalagi yang kau inginkan? Kenapa engkau berteriak-teriak menuduhku sebagai tukang bohong?" tanya Angin Utara, geram.

"Iya, kamu tukang bohong! Kantung yang kau berikan kepadaku hanyalah kantung biasa. Tidak ada emas yang keluar dari sana!" tukas Holver, ketus.

"Buktikan!" perintah Angin Utara.

Holver meletakkan kantung itu di depan Angin Utara dan berkata, "Mana Emasnya?". Berkali-kali Holver mengulang kata-katanya, namun tetap tidak ada emas yang keluar dari kantung itu.

"Holver, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kantung ini sehingga keajaibannya hilang," Angin Utara berkata jujur sekaligus heran.

"Aku tidak mau tahu," kata Holver, "aku hanya ingin aku dan ibuku tidak lagi kelaparan."

"Baik, baik, aku mengerti maksudmu." Angin Utara lalu masuk ke dalam rumah dan keluar lagi, sambil menggenggam sebuah tongkat.

"Holver, aku akan memberimu sebuah tongkat. Ia akan sangat berguna bagimu. Tongkat ini bisa mengerjakan apa saja, mulai menumbuk, menggiling, sampai memukul. Kau hanya cukup mengatakan, "Ayo Tumbuk!", maka ia akan mulai menumbuk. Begitu juga jika kau ingin tongkat itu memukul sesuatu, kau cukup mengatakan, "Ayo Pukul!", dan ia akan memukul," Angin Utara menjelaskan panjang lebar.

Holver kemudian menerima tongkat ajaib itu dan membawanya pulang. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ia beristirahat di penginapan yang sama. Kali ini Holver merenung di dalam kamarnya. Ia merasakan kejanggalan dalam setiap kejadian yang dia alami. Holver sangat yakin bahwa benda-benda pemberian Angin Utara adalah benda-benda ajaib. Buktinya, Ia telah melihat keajaibannya sendiri di penginapan ini. Tetapi kenapa setelah keluar dari penginapan ini, barang-barang itu kehilangan kemampuannya, Holver bergumam dalam hati.

Setelah makan malam, Holver memutuskan untuk tidak tidur. Ia akan berjaga, sambil berbaring dan berpura-pura tidur. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada benda-benda ajaib pemberian Angin Utara.

Tengah malam, Holver melihat sesuatu bergerak di luar kamarnya. Ia kemudian berpura-pura mendengkur, seakan-akan ia sedang tidur nyenyak. Tiba-tiba terdengar bunyi "klik" dan pintu kamar Holver terbuka perlahan.

Pemilik penginapan tampan masuk ke dalam kamar Halvor. Ia berjalan mengendap-endap dan berusaha menukar tongkat milik Halvor dengan tongkat yang lain. Halvor memerhatikan setiap gerak gerik pemilik penginapan itu dari balik bantalnya.

Pemilik penginapan itu telah berhasil menukar tongkat ajaib Halvor. Ia kemudian keluar dari kamar Halvor tanpa bersuara. Ketika ia hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba terdengar igauan Halvor, "Ayo Pukul! Ayo Pukul! Ayo Pukul!"

Tongkat ajaib itu mendadak terbang ke udara dan memukuli pemilik penginapan. Pemilik penginapan terkejut. Ia berlari ke luar kamar Halvor, tetapi tongkat ajaib itu tetap mengejar dan memukulinya. Pemilik penginapan itu kemudian bersembunyi di bawah meja. Tongkat ajaib itu pun memukul meja, membelahnya menjadi dua, dan memukuli pemilik penginapan.

Pemilik penginapan itu berusaha sembunyi dari kejaran tongkat ajaib, tetapi tongkat itu selalu dapat mengejar dan memukulinya. Ia kemudian kembali ke kamar Halvor dan memohon Halvor menghentikan tongkat ajaib itu.

"Tuan, tolong hentikan tongkat ajaib milikmu. Itu... au... au... Aku akan mengembalikan taplak meja... au... au, dan kantung ajaib milikmu," pemilik penginapan itu berkata terbata-bata karena masih dipukuli tongkat ajaib.

Halvor bangun. Ia segera memerintahkan tongkat ajaib berhenti mengejar dan memukuli pemilik penginapan. Pemilik penginapan itu pun mengembalikan taplak meja dan kantung ajaib milik Halvor. Halvor memasukkan taplak meja ke dalam kantung ajaibnya lalu mengikat kantong itu di ujung tongkat ajaibnya. Halvor pun memanggul tongkat itu dan pulang ke rumah dengan riang. 

***

Hesti selesai baca bukunya.

"Cerita yang apik dari asalnya cerita....Norwegia," kata Hesti.

Hesti menutup buku dan buku di taruh di meja dengan baik.

"Belajar ah!" kata Hesti.

Hesti ke kamarnya, ya belajarlah mengulas pelajaran yang di berikan guru dengan baik. Hesti ingin jadi anak pintar yang di banggakan kedua orang tuanya.

PEMBAYARAN YANG TIDAK SETIMPAL

Setelah nontonTv, ya Narji baca buku dengan baik gitu.

Isi buku yang di baca Narji :

Musim salju yang dingin hampir tiba. Banyak orang Norwegia yang mulai mencari tambahan kayu bakar di hutan sebelum msuim dingin benar-benar tiba. Salah satu orang tersebut adalah Eric. Siang itu ia menebang beberapa pohon di hutan, memotongnya kecil-kecil, lalu mengumpulkannya ke dalam gerobak. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Eric segera pulang. Tetapi saat ia keluar dari hutan, seekor beruang bernama Bruni menghampirinya.

"Kudamu tampak sangat lezat! Berikanlah kudamu padaku atau aku akan memakan semua dombamu di musim panas nanti," ancam Bruni.

"Demi Tuhan. Kalau aku menyerahkan kuda ini kepadamu sekarang, bagaimana aku bisa membawa semua kayu bakar ini? Aku tidak mau mati beku karena kekurangan kayu untuk perapianku," Eric berkata, mengiba.

"Bagimana kalau aku memakanmu? Aku juga sudah lama tidak memakan daging manusia," ancam Bruni lagi.

"Jangan! Aku mohon jangan memakanku, Bruni! Dagingku sangat tidak enak. Kau boleh memakan kudaku, tetapi jangan sekarang. Aku masih membutuhkannya saat ini." Eric mencoba menawar.

"Kapan kau akan memberikan kudamu kepadaku?" tanya Bruni.

Eric berkata, cepat, "Besok! Besok aku akan menyerahkan kuda ini kepadamu."

"Baiklah, aku masih bisa menahan lapar sampai besok. Aku akan menunggumu di sini. Ingat, Eric! Jika engkau ingkar janji maka aku akan memakan semua domba-dombamu di musim panas nanti!" Bruni mengancam Eric untuk terakhir kali, lalu pergi.

Dalam perjalanan pulang, Eric memandangi kudanya, Dobbin, dengan sedih. Eric melamun sepanjang jalan karena teringat kenangannya bersama Dobbin. Tiba-tiba gerobaknya hampir menabrak seekor rubah bernama Foxy.

"Eric! Jangan melamun saat sedang berkendara. Kau bisa mencelakakan orang lain," tegur Foxy.

Eric terkesiap, sadar dari lamunannya, "Maaf, maafkan aku, Foxy! Apakah engkau terluka," tanyanya khawatir.

Foxy menggeleng dan berkata, "Aku tidak terluka, Eric. Aku hanya kaget saja. Ehm, kau tampak murung. Apa kau sedang memiliki masalah?"

"Foxy, aku tadi bertemu dengan Bruni. Karena kelaparan, ia meminta kudaku untuk dimakan," Eric berhenti sejenak, menghela napas, "jika aku tidak menuruti kemauannya, Bruni akan menghabisi domba-dombaku saat musim panas nanti. Ia memberiku waktu hingga esok hari."

"Kasihan sekali kau, Eric," kata Foxy berempati, "tetapi jangan khawatir, aku bisa membantumu."

"Benarkah?" tanya Eric tak percaya.

"Iya, aku bisa menolongmu, tetapi pertolonganku ini ada harganya. Aku ingin makan seekor, eh, dua ekor domba yang sangat gemuk." Foxy membuat sebuah penawaran.

"Foxy, aku akan memberimu dua ekor domba yang sangat gemuk, jika kau benar-benar bisa menolongku," Eric berkata yakin.

Foxy tersenyum, senang. Ia kemudian mendekati Eric untuk menyampaikan rencananya. "Ok. Jadi, aku akan berada di sekitarmu saat kau bertemu dengan Bruni. Lalu aku akan membuat beberapa suara dari balik bebatuan. Apabila Bruni bertanya, "Suara apakah itu?", kau harus menjawab bahwa itu adalah suara Peter, seorang pemburu terbaik di dunia. Selanjutnya, terserah kau, Eric. Aku hanya bisa menolongmu sampai di situ." Eric mengangguk, setuju dengan rencana Foxy.

Keesokan harinya, Eric menepati janjinya kepada Bruni untuk memberikan Dobbin kepadanya.

"Ha...ha... ha, rupanya engkau selalu menepati janji, Eric," Bruni tertawa senang.

Tanpa menggubris perkataan Bruni, Eric menyerahkan tali kekang Dobbin. Tiba-tiba terdengar suara ranting patah di balik bebatuan.

"Eits, suara apakah itu?" tanya Bruni menyelidik.

"Aku yakin itu adalah suara langkah kaki Peter. Aku hapal sekali suaranya," jawab Eric memulai rencananya.

"Siapakah Peter itu?" Bruni bertanya lagi, penasaran.

"Lho, apa kau tidak mengenal Peter? Ia adalah seorang pemburu yang hebat. Peter bisa mencium bau buruannya dari jarak ratusan meter dan bidikannya selalu tepat, tidak pernah meleset," Eric menjelaskan dengan menggebu-gebu.

Bruni mengernyitkan dahinya. Eric pun kemudian menambahkan, "Peter juga sangat kuat. Ia pernah membunuh seekor babi hutan dalam jarak 100 meter hanya dengan sekali lemparan pisau. Aku melihat sendiri pisau itu menancap di kepala babi hutan itu, tepat di sini," Eric berkata, sambil menunjuk dahinya.

Bruni terdiam, ketakutan. Wajahnya terlihat pucat. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang pemburu jitu. Tiba-tiba Bruni dikejutkan dengan suara tanpa wujud.

"Eric, engkaukah itu?" tanya suara tanpa wujud itu.

"Iya, benar. Ini aku Eric si penggembala," jawab Eric.

"Apakah kau melihat beruang di sekitar sini," tanya suara tanpa wujud itu lagi.

"Ssst, katakan "Tidak" kepada temanmu itu," bisik Bruni.

"Tidak, aku belum melihat seekor beruang di sini," kata Eric.

"Lalu, apakah yang berdiri di dekat gerobakmu itu?" tanya suara tanpa wujud.

"Ssst, katakan "Tunggul pohon" kepada temanmu," bisik Bruni.

"Hanya sebuah tunggul pohon," kata Eric mengulangi perkataan Bruni.

"Tunggul pohon apa itu, Eric? Kenapa ia penuh dengan bulu?" suara tanpa wujud kembali bertanya.

"Mengapa mata temanmu itu sangat jeli?" Bruni bertanya, kesal, "bilang padanya kalau bulu-bulu itu adalah lumut yang menempel di pohon," kata Bruni.

Eric kembali mengikuti perkataan Bruni, "Aku tidak tahu tunggul pohon apa ini, banyak sekali lumut yang menempel di batangnya."

"Kenapa kau tidak memasukkannya ke dalam gerobakmu? Apakah kau butuh bantuan untuk menaikkannya? Aku akan membantumu," tawar suara tanpa wujud.

Bruni mulai bingung mendengar perkataan suara tanpa wujud. "Aduh, jangan sampai temanmu ke sini. Aku bisa mati! Katakan padanya kalau kau bisa menaikkan tunggul itu sendiri."

"Tidak perlu, Peter! Aku bisa mengangkat sendiri tunggul pohon ini." Eric lalu menggotong Bruni dan menaruhnya di dalam gerobak.

Suara tanpa wujud itu belum lelah, ia kembali berkata, "Eric, sebaiknya kau mengikat erat tunggul pohon itu. Jalan yang tidak rata bisa membuatnya terjatuh. Kenapa kau belum mengikatnya? Apa kau tidak punya tali? Apa kau butuh bantuanku?"

"Temanmu sangat cerewet! Katakan padanya kalau kau bisa mengikatnya sendiri lalu ikatlah aku. Cepat lakukan!" gerutu Bruni.

"Tidak perlu, Peter! Aku punya tali dan aku bisa mengikat beruang, eh, tunggul pohon ini sendiri," kata Eric. Ia lalu mengikat Bruin erat-erat dengan semua tali yang ada. Bahkan, Bruni tidak bisa menggerakkan cakarnya.

"Eric, tunggul pohonmu sangat panjang. Gerobakmu bahkan tidak dapat memuatnya. Ia bisa jatuh ketika kau melewati jalan yang menanjak. Kenapa kau tidak memotongnya menjadi dua, Eric? Apa kau tidak mempunyai kapak? Atau kau butuh bantuanku untuk memotongnya? Aku akan turun ke bawah untuk membantumu." Suara tanpa wujud itu kembali menawarkan diri.

"Eric, temanmu ini sarapan apa setiap hari? Ia benar-benar sangat cerewet. Sekarang ambil kapak dan berpura-puralah kau akan memotongku," pinta Bruni.

Eric tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengambil kapak dan dalam satu tebasan ia membelah kepala Bruni menjadi dua. Beruang itu mati seketika.

Setelah Bruni mati, Foxy keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Eric.

"Rencanaku telah berhasil. Kau, Dobbin, dan domba-dombamu sudah selamat dari ancaman Bruni. Sekarang, aku menagih janjimu," tagih Foxy.

"Jangan khawatir, Foxy. Ayo, ikut aku ke peternakan. Kau bisa memilih domba yang kau inginkan," ajak Eric.

Foxy dan Eric berjalan beriringan ke peternakan. Namun, saat mereka hampir sampai di sana, tiba-tiba Foxy menghentikan langkahnya.

"Eric, aku tidak bisa masuk ke dalam peternakanmu," kata Foxy.

"Kenapa Foxy? Kau tak perlu sungkan," Eric bertanya, heran.

"Aku melihat ada dua ekor anjing yang sangat besar di peternakanmu. Aku khawatir mereka akan menyerangku. Aku akan menunggumu di sini saja," jawab Foxy.

"Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan membawa domba-domba itu kemari," kata Eric.

"Jangan lupa, domba-domba yang sangat gemuk, Eric!" seru Foxy.

Sesampai di peternakan, Eric mengikat Dobbin di dekat rumah, kemudian berjalan ke arah kandang domba. Tiba-tiba neneknya memanggilnya dari dalam rumah.

"Eric, cucuku. Kau hendak pergi ke mana lagi?" tanya neneknya.

"Aku mau ke kandang domba. Aku berjanji untuk memberi Foxy dua ekor domba. Ia telah menolong Dobbin dari ancaman Bruni," jawab Eric, jujur.

"Dua ekor domba tidak akan pernah cukup bagi seekor rubah, Eric. Ia akan meminta lebih dari itu!" ujar nenek Eric.

"Aku curiga dengan kebaikan Foxy. Rubah sangat licik, Eric. Aku yakin ia sebenarnya ingin mencuri angsa-angsa peliharaanmu. Aku pernah memergokinya mengendap-endap di dekat kandang angsa," lanjut neneknya.

"Benarkah, Nek?" tanya Erik, tak percaya.

"Iya, benar! Foxy mungkin akan masuk ke peternakanmu dengan menyamar sebagai seekor domba. Ia akan menanti kelengahanmu dan mencuri semua angsa. Saat ini harga angsa sangat mahal, bukan?" Nenek Erik mencoba memengaruhi Eric.

Eric terdiam lama, memikirkan penuturan neneknya. Karena mulai bingung, ia pun bertanya, "Sekarang apa yang harus aku lakukan, Nek?"

"Masukkan kedua anjing penjagamu ke dalam karung, lalu serahkan karung itu kepada Foxy. Ingat, ketika akan menyerahkan karung itu, longgarkan sedikit ikatannya, dan biarkan kedua anjing keluar mengejar rubah licik itu," nasihat nenek Eric.

Eric mengikuti saran neneknya. Ia memasukkan kedua anjing penjaganya ke dalam sebuah karung dan membawanya ke tempat Foxy.

Foxy terlihat senang menyambut kedatangan Eric. Ia kemudian bertanya, "Apakah kau telah membawa domba-domba pesananku, Eric?"

"Iya," jawab Eric singkat, sambil menyerahkan karung yang dibawanya kepada Foxy. Ia sudah sedikit melonggarkan ikatannya.

Foxy tersenyum riang saat menerima karung itu. Namun, ia sangat terkejut ketika ikatan karung terlepas. Dua ekor anjing besar muncul dari dalam karung dan mulai mengejarnya. Foxy lari lintang pukang menyelamatkan diri.

"Eric, kau curang! Inikah balasanmu atas kebaikanku?" teriak Foxy sambil berlari, "sekarang aku percaya perkataan orang-orang bijak, "pekerjaan yang baik kadang tidak mendapat bayaran yang setimpal!"

Eric terdiam mendengar perkataan Foxy. Ia memandangi Foxy yang berlari menjauh karena dikejar kedua anjingnya.

"Berhatilah-hatilah, Eric! Kadang musuh terbesarmu ada di dalam rumahmu sendiri," teriak Foxy sambil terus berlari, menghindari kejaran anjing-anjing Eric. 

***

Narji selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asalnya.....Norwegia," kata Narji.

Narji menutup buku dan menaruh buku di meja.

"Ngapain lagi ya?" kata Narji.

Narji terus berpikir dengan baik sampai akhirnya ia memutuskan untuk main game di Hp-nya. Narji asik main game di Hp-nya. 

ASHLAD SANG JUARA MAKAN

Anwar selesai makan mie ayam yang di beli di tempat pak Toha, ya penjual mie ayamlah. 

"Kenyang," kata Anwar.

Anwar yang duduk santai di ruang makan, ya mengambil buku di meja dan segera di baca tuh buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Anwar :

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang petani yang tinggal di dekat hutan. Ia tinggal dan dirawat oleh ketiga anaknya karena tubuhnya telah renta dan sakit-sakitan. Anak pertama bernama John, anak kedua bernama Josh, dan anak terakhir bernama Ashlad. Suatu hari petani itu menyuruh anak-anaknya untuk pergi menebang pohon di hutan. Ia berharap kayu pohon itu bisa membayar sebagian hutang-hutangnya.

John, anak pertama, pergi ke hutan dan menemukan sebuah pohon yang cukup besar. Ia baru akan menebangnya ketika seorang Troll besar dan menyeramkan muncul di hadapannya, sambil bertanya dengan geram, "Apa yang kau lakukan di hutanku ini?"

John ketakutan. Baru kali ini ia melihat Troll secara langsung. Ia menjawab, terbata-bata, "Aku akan menebang pohon ini."

"Dengarkan aku baik-baik! Jika pohon ini sampai tumbang, aku akan membunuhmu," ancam Troll. Ia menjulurkan tangannya dan berusaha menangkap John. John menghindar, membuang kapaknya, dan berlari pulang secepat mungkin.

Setiba di rumah, petani itu terkejut melihat anaknya datang dengan wajah ketakutan dan napas terengah-engah.

"Apa yang terjadi denganmu, John? Kenapa napasmu terengah-engah dan kau tampak ketakutan?" Petani bertanya, ingin tahu.

"Ayah, aku bertemu dengan seorang Troll ketika aku berada di dalam hutan tadi. Ia mengancam akan membunuhku jika aku menebang pohon di sana," cerita John, sambil menata napasnya.

"Coba kau jelaskan ciri-ciri Troll yang mengancammu itu," pinta petani itu.

John pun menceritakan bentuk Troll secara detail. Petani itu kemudian tertawa terbahak-bahak ketika John selesai bercerita. Setelah tawanya reda, petani itu berkata, "Aku kenal dengan Troll yang kau ceritakan itu. Aku pernah bertemu dengannya ketika aku masih muda. Troll itu sangat penakut. Aku dan teman-temanku bahkan menjulukinya Troll Berhati Kelinci. Ia mungkin hanya menggertakmu saja. Jadi kenapa kau harus takut kepadanya?"

John terdiam dan menunduk malu .

Keesokan harinya, petani itu menyuruh anak keduanya, Josh, untuk pergi menebang pohon di hutan. Ia juga berpesan agar Josh tidak takut kepada Troll jika dia bertemu dengannya. "Jangan takut jika kau bertemu dengan Troll. Ia tidak akan melukaimu. Kalau ia mengancammu, pukullah kepalanya dengan kapakmu," pesan petani itu.

Setelah berpamitan kepada ayahnya, Josh berangkat ke hutan. Tak lama kemudian sampai di hutan dan menemukan satu pohon yang tinggi dan besar. Pohon ini sepertinya bisa menghasilkan banyak kayu. Aku akan menebangnya, batin Josh. Ia mulai mengayunkan kapaknya. Tiba-tiba tanah bergetar dengan keras dan sesosok Troll sudah berdiri di depan Josh.

"Siapa yang memberimu izin menebang pohon itu?" Troll bertanya sambil menggeram, "hutan ini milikku."

Josh merasa ketakutan, tetapi ia berusaha menenangkan diri. Ia pun berkata dengan tenang, "Maaf, aku tidak tahu kalau hutan ini adalah milikmu. Sekarang bolehkah aku menebang pohon ini?"

"Tidak boleh! Jika pohon ini sampai tumbang, aku akan membunuhmu," ancam Troll. Ia kemudian menghentakkan kakinya ke tanah dan getarannya menjatuhkan Josh. Josh bangun dan lari lintang pukang, melarikan diri.

Ketika Josh tiba di rumah, tanpa membawa apa-apa, petani itu sangat marah. Ia berkata dengan penuh amarah, "Aku tahu troll itu mempunyai tubuh yang sangat besar dan menyeramkan, tetapi ia takut kepada manusia. Ia selalu menghindar jika bertemu denganku. Sekarang, kenapa kalian yang takut dengannya?"

Josh hanya terdiam dan menunduk malu mendengar kemarahan ayahnya.

Hari berikutnya, Ashlad mengajukan diri untuk pergi menebang pohon di hutan. Petani itu berusaha mencegah kepergian anak bungsunya tetapi sia-sia.

"Aku akan pergi ke hutan dan menebang pohon. Aku tidak takut kepada Troll." Keyakinan Ashlad membuat Petani mengizinkan anak bungsunya itu pergi.

Sebelum pergi ke hutan, Ashlad meminta bekal makanan kepada ibunya. Ibunya menyiapkan sebuah panci yang berisi potongan keju, lalu mencairkan keju itu di atas kompor. Setelah keju itu menjadi cair, ibu Ashlad mengoleskannya ke dalam sepotong roti gandum besar. Roti beroleskan keju itu dibawa oleh Ashlad ke hutan.

Setiba di hutan, Ashlad menemukan pohon besar dan memutuskan untuk menebang pohon itu. Ketika Ashlad mengayunkan kapaknya, tanah bergetar keras. Ia berhenti menebang dan sesosok Troll muncul di depannya.

"Siapa yang memberimu ijin untuk menebang pohon itu?" tanya Troll dengan kesal, "aku akan membunuhmu jika pohon itu sampai tumbang."

"Oh, ya? Tutup mulut besarmu itu dan coba lihat kekuatanku ini," kata Ashlad sambil mengambil roti bekalnya. Ia lalu meremas roti itu hingga cairan keju yang ada di dalamnya meleleh keluar. "Jika kau berbuat jahat kepadaku, aku tidak segan-segan untuk memerasmu seperti batu ini," lanjut Ashlad.

Troll terkesiap melihat hal itu. Ia mengira roti yang diperas Ashlad benar-benar sebuah batu. Sungguh luar biasa tenaga anak ini. Ia mampu memeras sebuah batu hingga keluar airnya. Aku tidak boleh mencari masalah dengannya, kata Troll dalam hati.

Sejenak kemudian, Troll berubah menjadi lembut. Ia berkata tanpa amarah, "Sabar, sabar, temanku," kata Troll sembari tersenyum, "aku hanya bercanda. Kau boleh menebang pohon apa pun di hutan ini. Bahkan aku akan membantumu dengan senang hati."

"Benarkah? Kau mau membantuku menebang pohon?" tanya Ashlad.

Troll mengangguk, mengiyakan perkataannya. "Baik, pohon mana yang ingin kau tebang?" tanya Troll.

Ashlad menunjuk sebuah pohon yang sangat besar. Troll pun mulai menebang pohon besar itu dan memotongnya menjadi potongan-potongan kecil. Ashlad dan Troll bekerja tanpa henti hingga hari beranjak senja.

"Ashlad, karena hari sudah sore, bagaimana jika kau beristirahat di rumahku? Rumahku tidak jauh dari sini," ajak Troll. Ashlad sangat lelah, maka ia pun bersedia untuk ikut ke rumah Troll.

Setelah sampai di rumah, Troll merasa lapar. "Aku lapar sekali. Aku rasa kau juga sama. Bagaimana kalau kita membuat bubur? Agar cepat terhidang, kita berbagi tugas. Aku akan membuat api dan kau membawa masuk ember-ember air yang ada di luar sana," kata Troll, mulai memberikan instruksi.

Ashlad segera keluar rumah dan mencoba mengangkat kedua ember berisi air itu. Namun, ember-ember itu terbuat dari besi yang besar dan berat, sehingga Ashlad tidak dapat mengangkat keduanya.

"Ember-ember ini sangat berat. Aku tidak dapat mengangkatnya. Troll mungkin bisa membantu," kata Ashlad dalam hati, "tapi jika aku meminta bantuannya, dia akan tahu siasatku. Aku harus memikirkan sebuah cara."

Ashlad berpikir sesaat, mencari ide. Tak lama berselang, ia sudah menaruh beberapa bongkah tanah ke dalam ember-ember yang berisi air. Ia lalu berteriak, "Airnya kotor sekali! Troll, aku akan pergi ke sumur untuk mengambil air."

Troll keluar rumah sambil tergopoh-gopoh. Ia melihat ember-ember air itu dan mendapati airnya telah keruh. Ia lalu berkata, "Temanku, kau tidak pelu pergi ke sumur untuk mengambil air. Aku yang akan mengambil air dan kau menyalakan api. Bagaimana?"

"Ide yang bagus, Troll!" jawab Ashlad. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan menyalakan api.

Ashlad dan Toll sudah selesai memasak bubur. Troll kemudian membagi bubur dalam sebuah panci besar itu dengan Ashlad.

Ashlad terhera-heran melihat bubur yang sangat banyak. Ia pun bertanya, "Bubur ini banyak sekali, Troll. Apa kau sanggup menghabiskannya?" tanya Ashlad.

"Tentu saja, temanku! Aku bisa menghabiskan semua bubur ini," jawab Troll dengan sombong.

"Bagaimana kalau kita berlomba memakan bubur sebanyak-banyaknya? Aku pernah makan bubur dua kali lebih banyak dari ini. Aku yakin bisa mengalahkanmu," tantang Ashlad.

"Ha...ha...ha... lupakan, temanku. Aku bisa menghabiskan semua bubur dalam panci ini, tetapi kamu? Ha...ha...ha...," jawab Troll terkekeh-kekeh, "tubuhmu bahkan lebih kecil dari panci bubur ini!"

"Tubuhku memang kecil tetapi perutku bisa melar," Ashlad tak mau kalah, "ayo, kita buktikan!"

"Baiklah, kalau memang itu maumu," kata Troll, setuju. Ia lalu mengaduk bubur dalam panci dan menyiapkan piring-piring untuk makan.

Pada saat Troll mempersiapkan makan malam, Ashlad mengambil bekal rotinya. Diam-diam ia menyelipkan roti itu ke dalam perutnya.

Ashlad dan Troll kemudian berlomba makan bubur. Troll terkejut ketika tahu Ashlad bisa mengimbangi makannya. Anak itu sungguh luar biasa. Ia makan bubur sebanyak yang aku makan. Manusia biasa pastilah tidak bisa melakukannya, batin Troll. Rupanya Troll tidak mengetahui siasat Ashlad.

Ashlad terlihat memakan banyak bubur padahal ia hanya makan beberapa sendok. Bubur yang dimakan Ashlad dimasukkan ke dalam baju dan terserap ke dalam roti. Ketika roti sudah penuh bubur, Ashlad mengambil pisau dan membuat sebuah lubang di roti tersebut untuk mengeluarkan bubur.

Lama kelamaan, Troll tidak sanggup melanjutkan makan buburnya. Ia pun berseru, "Aku tidak kuat lagi! Aku tidak bisa makan lebih banyak lagi! Perutku sudah terlalu kenyang!"

"Troll, siapa yang akan makan bubur sebanyak ini? Aku juga tidak sanggup menghabiskannya sendiri," tanya Ashlad.

"Kau bawa pulang saja bubur itu, Ashlad! Aku yakin orang-orang yang tinggal di rumahmu bisa menghabiskannya," jawab Troll pelan karena kekenyangan.

"Bubur itu bisa basi jika kubawa pulang. Rumahku sangat jauh," tolak Ashlad.

"Kalau begitu aku buang saja bubur ini. Sayang sekali, padahal bubur ini sangat nikmat," kata Troll.

"Troll, jangan dibuang, lebih baik kau habiskan saja sendiri. Cobalah kau tiru caraku, ambil pisau dan buatlah lubang di bagian perutmu. Itu akan mengurangi rasa kenyang yang kau rasakan," ujar Ashlad.

"Apa itu tidak menyakitkan?" Troll bertanya, ragu.

"Tidak, itu tidak menyakitkan. Kau bisa mencobanya, sekarang," kata Ashlad meyakinkan. Troll menuruti nasihat Ashlad. Ia pun mati kehabisan darah.

Setelah matahari terbit esok paginya, Ashlad pergi ke sumur milik Troll. Ia mengambil semua emas dan perak yang ada di dalamnya untuk melunasi hutang-hutang ayahnya.  

***

Selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asalnya cerita Mesiko, ya di tulis di buku sih," kata Anwar.

Anwar menutup bukunya dan menaruh buku di meja.

"Nonton Tv ah!" kata Anwar.

Anwar sebelum nonton Tv, ya mencuci mangkok dan gelas yang di baru di pakai di belakanglah. Baru setelah itu. Anwar nonton Tv di ruang tengah. Acara yang di Tv yang di tonton Anwar.....lawak.

(sumber cerita: Seri Cerita Rakyat Dunia: Cerita Rakyat Norwegia, Ade Cahya Satria, Andi Offset)

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK