CAMPUR ADUK

Monday, January 7, 2019

SITA DEWI DITERBANGKAN OLEH MAHARAJA RAHWANA

Adapun Maharaja Rahwana pun menyuruh mengambil ratanya. Setelah datang ratanya maka ia pun naiklah ke atas ratanya. Maka Maha Luka dan Perjangga Sura pun naik ke atas rata bersama-sama dengan Maharaja Rahwana. Maka ia pun terbanglah dari Langkapura. Setelah berapa lamanya maka Maharaja Rahwana pun sampailah dekat tempat Seri Rama bertapa itu, serta ia bertitah, "Hai Maha Luka dan Perjangga Sura! Pergilah engkau kepada tempat Seri Rama itu. Maka seorang dirimu dijadikan kijang emas dan seorang dirimu dijadikan kijang perak. Maka kamu berdua pergilah ke hadapan rumahnya Seri Rama. Maka seorang dirimu dijadikan kijang perak. Maka kamu berdua pergilah ke hadapan rumahnya Seri Rama. Maka kamu berdua bertari-tari dan berlompat-lompat ke hadapan rumah Seri Rama!" Maka, Maka Luka dan Perjangga Sura pun bersujudlah kepada kaki Maharaja Rahwana. Setelah demikian itu, maka ia pun berjalanlah menuju jalan rumah Seri Rama. Setelah datanglah ke hadapan Seri Rama maka ia pun bertari-tari dan berlompat-lompat di hadapan Seri Rama. Setelah dilihat oleh istrinya Seri Rama. Setelah dilihat oleh istrinya Seri Rama, yang bernama Sita Dewi akan kijang itu, keduanya bertari-tari dan berlompat-lompat. Maka kata Sita Dewi kepada Seri Rama, "Ya, Tuanku, tangkaplah kijang itu dua ekor akan permainan hamba." Maka kata Seri Rama, "Adapun kijang itu tiada ditangkap hidup, matilah hamba panah keduanya." Maka kata Sita Dewi, "Tiada hamba mau akan mati, hanya hamba hendak dengan hidupnya juga."

Setelah Seri Rama mendengar kata istrinya itu, maka Seri Rama pun mengambil panahnya, lalu turun dari rumahnya. Maka Seri Rama memanggil Laksamana seraya katanya, "Hai, Laksamana tinggallah adinda menunggu kakanda Sita Dewi. Aku pergi mengikuti kijang dua ekor itu." Setelah Seri Rama berkata demikian maka Baginda pun berjalanlah. Setelah kijang melihat Seri Rama mengikuti dia makan kijang itu pun larilah. Maka diikutinya juga oleh Seri Rama.

Setelah Sari Rama sudah jauh daripada rumahnya maka Maharaja Rahwana pun bersembunyi di dalam hutan.

Maka ia pun berseru-seru minta tolong. Suaranya itu seperti suara Seri Rama. Maka terdengarlah oleh Sita Dewi. Maka Sita Dewi pun berkatalah kepada Laksamana, "Hai Dinda Laksamana, suaranya saudara tuan hamba itu, ia minta tolong bunyinya." Maka kata Laksamana, "Ya, Tuanku, jangan tuanku dengar-dengaran itu. Akan bunyi suara itu bukan suara Kakanda. Adapun suara itu suara raksasa yang diam di dalam hutan juga."

Setelah demikian maka suara itu pun berbunyilah pula minta tolong seperti suara Seri Rama. Maka kata Sita Dewi, "Hai, Adinda, nyatalah suaranya Kakanda itu minta tolong."

Maka kata Laksamana, "Ya, Tuanku, jangan Tuanku dengar akan suara itu karena Paduka Kakanda itu bukan barang-barang. Dijadikan oleh Dewata Mulia Raja sedang membunuh orang yang gagah dan berani itu tiada Kakanda minta tolong." Maka kata Sita Dewi, "Hai Laksamana, baik juga Adinda pergi menolong Kakanda itu, kalau-kalau ada kesukaran Kakanda itu."

"Maka kata Laksamana, "Ya, Tuanku, karena patik ini disuruh menunggu Tuanku, sekarang dapatkah patik pergi. Jikalau ada suatu hal Tuan Putri di belakang, patik terlalu jahat kepada Kakanda." Setelah itu maka kedengaranlah suaranya orang minta tolong. Maka kata Sita Dewi, "Hai, Adinda Laksamana, apa Adinda hendak bunuhkan Saudara Adinda? Kepada bicara Kakanda baik juga Adinda pergi mendapatkan akan Kakanda itu kalau-kalau ada kesukaran, maka Kakanda minta tolong."
......


Karya: B. Simorangkir dan Simanjuntak

SALAH ASUHAN

Dari kecil, Hanafi sudah disekolahkan di Betawi, yaitu tidak dinantikan tamatnya bersekolah Belanda di Solok, melainkan dipindahkan ke ibu kota itu. Karena kata ibunya, ia tidak hendak kepalang menyekolahkan anak tunggal yang sudah kehilangan ayah itu. Sebab ibunya ada di dalam bercukupan, dapatlah ia menumpangkan Hanafi di rumah orang Belanda yang patut-patut. Maksud orang tua itu ialah supaya anaknya menjadi orang pandai, melebihi kaum keluarganya dari kampung.

Tamat sekolah rendah, berpindahlah ia ke HBS, yang dijalaninya sampai tiga tahun. Sebab ibunya berasa sudah tua, dan lama pula merindukan anaknya, maka sekolah Hanafi diputuskan saja di situ, dan dengan pertolongan sahabat-sahabat ayahnya, karena sangat pula ibunya meminta, dapatlah ia menjadi klerk di kantor Asisten Residen Solok. Tidak pun lama antaranya, sampailah ia diangkat menjadi Komis.

Sungguhpun ibunya orang kampung, dan selamanya tinggal diam di kampung saja, tapi sebab kasih kepada anak, ditinggalkannyalah rumah gadang di Koto Anau dan tinggalkah ia bersama-sama dengan Hanafi di kota Solok.

Maka, tidaklah ia segan-segan mengeluarkan uang buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara yang dikehendaki oleh anaknya. Hanafi berkata bahwa ia dari kecilnya hidup di dalam rumah orang Belanda saja; jadi tidak senanglah hatinya, jika aturan mengisi rumahnya tidak mengarah-arah itu pula.

Tapi, sepanjang orang tua itu termangu-mangu saja, karena dari beranda muka sampai ke dapur dan kamar mandi, diperbuat secara aturan rumah orang Belanda. Perempuan Bumiputra dari kampung memang lebih senang duduk bersimpuh daripada duduk di atas kursi. Ia gemar sekali berkunjungan-kunjungan dengan orang lain. Tempat sirih, tempat ludahnya, dan dapur, itulah barang-barang yang sangat digemarinya melihat setiap hari: Itulah dunianya.

Tapi, Hanafi sekali-kali tidak mengindahkan segala kesenangan ibunya itu. Setiap sudut di dalam rumah sudah dipenuhi dengan meja-meja kecil, tempat pot bunga dan lain-lain, sedang yang diadakan oleh ibunya buat kesenangan orang tua itu, lalu dibantahinya.

"Ibu orang kampung dan perasaan ibu kampung semua," demikian ia berkata kalau ibunya mengembangkan permadani di berada belakang,  buat menanti tamu yang sesama tuannya.

"Di rumah Gadang, di Koto Anau, tentu boleh duduk menabur lantai sepenuh rumah. Tapi di sini, kita dalam kota, tamuku orang Belanda saja."

"Penat pinggangku duduk di kursi dan berasa pirai kakiku duduk berjuntai, Hanafi," sahut ibunya.

"Itulah salahnya, Ibu, bangsa kita dari kampung; tidak suka menurutkan putaran jaman. Lebih suka duduk rungkuh dan duduk mengukul saja sepanjang hari. Tidak ubah dengan kerbau bangsa kita, Bu! Dan segala sirih menyirih itu....brrr!"

Akhirnya, orangtua itu tidak berani lagi mengubah sesuatu apa di dalam rumah, melainkan dibersihkannya saja sesuatu sudut di muka dapur. Di sanalah, ia bersenda gurau atau menerima tamu yang datang. Makin lama makin bimbanglah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu. Pakaiannya cara Belanda, pergaulannya dengan orang Belanda saja. Jika ia berbahasa Melayu, meskipun dengan ibunya sendiri, maka dipergunakan bahasa Riau, dan kepada orang yang di bawahnya ia berbahasa cara orang Betawi. Begitu pun juga sebagai dipatahkannya lidahnya dalam berbahasa sendiri.

Yang sangat menyedihkan hati ibunya ialah karena bagi Hanafi, segala orang yang tidak pandai berbahasa Belanda, tidaklah masuk bilangan. Segala hal ihwal yang berhubungan dengan orang Melayu, dicacat dan dicemoohkannya. Sampai kepada adat lembaga orang Melayu dan agama Islam, tidak mendapat perindahan serambut juga. Adat lembaga disebutkan 'kuno', agama Islam 'takhyul'. Tidak heran kalau ia hidup tersisih benar dari pergaulan orang Melayu. Hanyalah kepada ibunya ada melekat hatinya.

Acap kali benar ia berkata, terutama kepada orang Belanda, "Bahwa negeri Minangkabau sungguh indah, hanya sayang sekali penduduknya si Minangkalau." Tapi, katanya pula, "seindah-indahnya negeri ini, bila tak ada ibuku, niscaya sudah lamalah kutinggalkan."

Demikian juga ibunya, hanya suka menahan sakit senangnya di rumah Hanafi, karena kasih kepada anak yang hanya seorang saja.

ROBINSON CRUSOE

Aku dilahirkan pada tahun 1632 di Kota York. Meskipun ayahku seorang asing, berasal dari Kota Bremen dan mula-mula menetap di Hull, kami tergolong keluarga York, yang terkemuka jua. Di Hull, ayahku pernah mempunyai perusahaan dagang. Sesudah beroleh kekayaan yang agak lumayan, ia bertempat tinggal di York untuk hidup sedang dari uangnya.

Di sana pula, ia kawin dengan ibuku, dari keturunan Robison, suatu keluarga yang amat terkenal di tempat itu. Dengan demikian, aku memperoleh nama Robinson Kreutznaer. Menurut adat kebiasaan Inggris, dipendekkan menjadi Robinson Crusoe.

Aku mempunyai dua orang saudara yang lebih tua daripada aku. Yang tertua letnan kolonel resimen infantri Inggris di Vlaanderen, tapi gugur dalam pertempuran dekat Duinkerken melawan orang-orang Spanyol.

Apa yang telah terjadi dengan saudaraku yang lain, aku tidak pernah tahu. Sama halnya dengan orang tuaku yang kemudian tidak berhasil menyelidiki, apa yang sudah terjadi dengan aku.

Oleh sebab aku anak yang ketiga, dan tidak mendapat pendidikan kejuruan, aku membuat rencana ingin mendapat pengalaman-pengalaman yang sangat luar biasa.

Ayahku, yang berpendirian kolot, memberi pengajaran kepadaku yang baik dan mengharapkan supaya aku belajar ilmu hukum. Tetapi, aku mempunyai impian-impian yang sangat berlainan: aku ingin pergi ke laut. Walaupun ayahku melarang dan ibuku menghalang-halangi dengan ratap tangis, aku tidak mau melepaskan niatku.

Ayahku, seorang yang pintar dan bijaksana, membayangkan harapan-harapan yang bukan kepadang baiknya, asal maksudku pergi ke laut batal. Pada suatu ketika di pagi hari, ia menyuruhku datang di kamarnya, tempatnya bersunyi-sunyi karena sakit encok. Dengan sungguh-sungguh, kami membicarakan hari kemudianku. Ia bertanya kepadaku alasan apa, atau lebih tepat lagi pikiran gila apakah yang menyebabkan aku ingin meninggalkan rumah orang tua dan tanah air, di mana aku sewaktu-waktu bisa mengharapkan bantuan dan mempunyai harapan-harapan yang paling baik, untuk menambah kekayaan kalau aku rajin dan hidup cermat, agar kelak pada hari tuaku dapat hidup tenang dan tenteram. Ia menasihatiku dengan kata-kata yang sangat mendesak, tapi lemah lembut, agar aku jangan menuruti kemauan gila kekanak-kanakan dan agar aku jangan sampai terperosok ke dalam kesengsaraan-kesengsaraan, sedangkan keadaan dan keturunanku sudah merupakan jaminan bagiku. Ia selanjutnya berkata bahwa sama sekali tidak perlu ia berusaha untuk memberikan suatu pekerjaan yang pantas dan enak begiku.

Pendeknya, ia akan berdaya upaya aku berbahagia, asal saja aku tinggal di rumah, menurutkan kehendaknya.

Sebaliknya, ia tidak akan bertanggung jawab atas kemalanganku kelak, kalau aku tetap membangkang. Ia membayangkan nasib malang saudaraku yang tertua, yang telah dinasihatinya juga seperti aku, untuk membatalkan maksudnya ikut berperang di negeri Belanda, tapi tidak berhasil mengurungkan niatnya, sehingga dengan demikian, ia terjerumus ke dalam kesengsaraan. Ditambahkannya, beliau takkan berhenti berdoa bagiku. Katanya, beliau dapat meramalkan bahwa kalau aku salah langkah, aku takkan beroleh berkat Tuhan dan akan datang masanya, aku akan sangat menyesal, mengapa aku tidak menuruti nasihat ayahku.

Ia telah melahirkan kata-kata yang terakhir ini. Kelak memang betul-betul terbukti. Aku yakin bahwa ayahku pada ketika itu tidak mengira bahwa kata-katanya akan betul-betul menjadi kenyataan. Kulihat air matanya menggerebak membasahi pipinya, terutama ketika menceritakan tentang saudaraku yang gugur itu. Akhirnya, sampailah kepada ramalan, bahwa akan tiba saat-saat penyesalan, tanpa ada orang kepada siapa aku dapat mencurahkan isi hatiku; ia memutuskan percakapannya sambil berkata bahwa ia tak dapat berbicara terus.

Aku merasa terharu. Bagaimana tidak? Aku bermaksud tidak akan memikirkan lagi tentang kepergianku dan akan tetap tinggal di York, menurut kehendak ayahku. Tapi, sayang! Maksud baik ini tidak berlangsung.

Sesudah dua minggu, aku lupa sama sekali dan untuk menghindari keberatan-keberatan ayahku, aku memutuskan berangkat diam-diam tanpa meminta diri terlebih dahulu.

Tetapi, aku tidak sampai hati melaksanakan rencana ini cepat-cepat, sebagai aku kehendaki semula. Aku memutuskan mencoba lagi untuk penghabisan kalinya dan mendesak ibuku membela hatiku ini di hadapan Ayah. Ketika aku pada suatu hari menemukan ibuku dalam keadaan yang lebih gembira daripada biasa, aku minta bicara sebentar dan aku ceritakan padanya tentang hasratku untuk melihat dunia sudah tak tertahankan lagi, sehingga aku tidak akan mempunyai keinginan untuk mengerjakan sesuatu dengan baik.

Dan, aku jelaskan pula kepada ibu, betapa lebih baiknya bila ayah mengizinkan saja daripada aku pergi tanpa izin beliau. Selanjutnya kutambahkan, bahwa karena aku sudah berumur delapan belas tahun, aku sudah terlalu tua untuk belajar sesuatu kejuruan atau untuk menjadi juru tulis di sesuatu kantor pengacara. Aku yakin, sekalipun menjalani, toh tidak akan sanggup bekerja terus. Aku akan lari dari majikanku dan pergi ke laut. Akhirnya, aku menanyakan lagi kepada ibu, apakah ia mau mendesak ayahku untuk membiarkan aku ikut berlayar sekali saja sebagai percobaan.

Kalau aku kembali lagi dengan selamat dan perjalanan itu tak memuaskan hatiku, aku berjanji pada ibuku, akan bekerja rajin-rajin untuk mengejar apa-apa yang sudah tertinggal.

Ketika aku selesai berkata, ibu menyatakan takkan ada gunanya mempercakapkan hal ini dengan ayah. Ayah sudah tahu benar apa yang kuingini. Beliau takkan mengizinkan berbuat sesuatu yang hanya akan merupakan bencana bagiku. Ibu sama sekali tak mengerti mengapa aku, setelah bercakap-cakap dengan ayah masih memikirkan tentang kepergian itu, Padahal, ibuku pun tahu bahwa ayah berkata-kata dengan lemah lembut kepadaku. Pendek kata, seandainya aku akan mencelakakan diriku sendiri, ibu takkan dapat berbuat apa-apa. Dan, aku yakin, bahwa beliau takkan mengizinkan, karena tak mau terbawa-bawa menyebabkan aku celaka. Beliau takkan mengatakan "ya" kalau ayah berkata "tidak".

Tapi, meskipun ibu sangat tidak setuju dengan permohonanku itu, kemudian aku mendengar bahwa beliau mempercakapkannya jua dengan ayah. Ayah sangat berduka cita. Akhirnya, beliau berkata sambil mengeluh, "Anak itu sebenarnya bisa menjadi orang yang  sebagaia-bagaianya di dunia ini, kalau saja ia tinggal di rumah. Tapi kalau ia pergi merantau, ia akan celaka. Karena itu, bagaimanapun juga aku tidak mengizinkan!"

Baru setelah kira-kira setahun, aku dapat pergi, meskipun selama itu aku dengan sengaja menutup kupingku terhadap segala menutup kupingku terhadap segala permintaan ayah supaya aku mau bekerja. Seringkali aku menyalahkan mereka, betapa mereka pun selalu bersikap tak acuh terhadap hasratku yang sudah diketahuinya.

Pada suatu hari, aku sedang berada di Hull, tapi tak mempunyai maksud akan berangkat waktu itu, aku bertemu dengan salah seorang teman, yang akan pergi berlayar ke London dengan kapal ayahnya. Ia mengajak aku supaya turut dan untuk memperkuat ajakannya, ia menyatakan kepadaku seperti biasa cakap anak kapal, bahwa aku tak usah membayar ongkos berlayar. Dan tanpa meminta nasihat ayah dan ibu lagi, ya, bahkan tanpa berusaha mengirimkan berita tentang kepergianku itu, kuserahkan saja pada nasib, lalu aku naik kapal, tanpa minta restu dulu dari ayah, maupun dari Tuhan.

KEMBANG ANDER NYAWE

Alkisah, di Kerajaan Pejanggik ketika Datu (Raja) sedang sakit keras, banyak belian (dukun) Sasak yang telah mencoba menyembuhkannya, namun gagal. Permaisuri serta kerabat istana demikian iba hatinya melihat sang Raja yang sakit dan tak kunjung sembuh setelah berbulan-bulan lamanya. Semua ahli nujum Kerajaan Pejanggik dikerahkan untuk dimintai keterangan tentang penyakit yang menimpa sang Raja. Salah seorang di antaranya menyebutkan bahwa sakit sang Raja disebabkan oleh sapaan mayong pute (terkejut oleh munculn seekor kijang putih), ketika beliau berburu di Tanjung Ringgit kawasan gawah (hutan) Sekaroh. Kijang putih menurut kepercayaan masyarakat Sasak, termasuk binatang  piaraan makhluk harus di hutan-hutan belantara. Kijang putih inilah yang konon menjadi raja segala jenis binatang yang ada di hutan belantara. Ketika itu, Tanjung Ringgit masih jarang didatangi manusia kecuali untuk keperluan-keperluan yang bersifat mistik,  mencari akar-akar kayu ramuan obat, tangkai keris, dan ladean (sarung keris) dari batang pohon bebore atau pohon pelet.

Gawah Sekaroh memang terkenal sebagai tempat hidup binatang-bintang buruan, terutama kijang dan banteng. Kini, banteng itu telah punah. Demikian pula di kawasan Rinjani. (Sekitar tahun 1950-an, kedua gawah itu masih dihuni banteng)

Menurut ahli nujum, agar raja cepat sembuh perlu dipanggikan dukun jin yang bertempat tinggal di Kayangan, Labuhan Lombok. Untuk maksud itu, diutuslah beberapa petugas mencari dukun jin itu yang konon bernama Den Celim. Ia seorang dukun yang berilmu tinggi. Ia beristri dua orang anak kembar raja jin di Kayangan, yang bernama Dewi Suci dan Dewi Suti.

Setelah tiga hari malam, barulah Den Celim ditemukan. Lalu, petugas minta pertolongan kepada Den Celim untuk mengobati penyakit Datu Pejanggik. Ketika itulah, Den Celim berkata bahwa sang Raja harus dimandikan dengan kembang ander nyawe yang hanya tumbuh di Gunung Butak. Sebagai syarat, kembang itu harus diambil sendiri oleh Putra Mahkota yang bernama Raden Wirentake. Ia harus mengadakan upacara tulak bahle (tolak bala) di pancoran Aiq Kalak, agar mendapat restu dari Dewi Anjani karena dewi inilah yang menguasai kembang ander nyawe itu.

Berangkatlah Raden Wirentake bersama beberapa pengiringnya, melalui gawah Sambelie. Dengan susah payah, Raden Wirentake dapat mencapai tebing yang curam itu. dilihatnya sekuntum bunga yang mekar di sana. Dalam hati ia bertanya, "Inikah bunga yang dimaksud?" Karena tidak ada bunga lain selain bunga itu dan kabut telah merayap dihadapannya, Raden Wirentake cepat-cepat memotong bunga itu dengan menggunakan pisau yang telah disiapkan. Lalu, ia melompat ke belakang menghindari seekor ulah belae (jenis ular piton yang sangat berbisa), yang sejak tadi siap untuk mematuk. Secepat kilat, Wirentake menghunus keris pusaka Pejanggik yang bernama Nangke Berek (nangka busuk), lalu diacungkan ke arah ular itu. Walaupun tidak menyentuh tubuh ular itu, karena kesakitanya, akhirnya ular itu terkulai lemas dan mati.

"Terima kasih ya Tuhan, Engkau telah menyelamatkan nyawaku dari ular yang sangat berbahaya. Seandainya aku dipatuk ular yang sangat berbahaya itu, aku tak mungkin segera kembali ke Pejanggik. Padahal di sana, orangtuaku sedang terbaring lesu menungguku," demikian suara hati nurani seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya.

Tanpa membuang waktu lagi, Raden Wirentake segera mengajak turun para pengiringnya. Sejak tadi, mereka cemas memikirkan nasib putra mahkota yang harus memanjat dan menuruni tebing curam seorang diri. Mereka tidak diperkenankan mendekat, sesuai dengan pesan Den Calim. Kembang itu harus dipetik sendiri oleh putra mahkota.

Dengan bangga mereka segera turun bersama, menuju Aiq Kalak, jangan sampai terlambat. Jika terlambat, mereka takut dikejar awan gelap yang mulai merambat dari segala penjuru gunung ke bawah.

Syahdan...., tersebutlah kisah segala rintangan yang dihadapi Raden Wirentake untuk menemukan kembang ander nyawe yang digunakan sebagai sareat (tumbal)memandikan ayahnya, dihunungkan dengan parahnya penyakit sang Raja yang hampir mati, Den Calim menamakan kembang itu kembang ander nyawe. Artinya, "kembang yang di dapat dengan mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati" dan dapat pula berarti kembang yang dapat menyembuhkan orang yang dalam keadaan antara hidup dan mati.

Konon, setelah sang Datu Pejanggik dimandikan Den Calim dengan kembang ander nyewe, penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Betapa bahagia hati Raden Wirentake. Kemudian, ia merayakan kesembuhan ayahnya dengan mengadakan sentulak bahla (upacara tolak bala) bersama-sama para hulubalang di gawah Sekaroh. Upacara itu dilaksanakan secara besar-besaran di sepanjang Pantai Tanjung Ringgit sampai ke Ujung Ketangge di Kawasan Sekaruh pantai selatan bagian timur Pulau Lombok. Masyarakat yang waktu itu masih menganut agama Budha melaksanakan Nyekar Setanggi, yaitu menabur bunga dan membakar dupa di pantai. Sejak saat itu, menurut cerita, moyang putte menjadi sahabat Raden Wirentake dan tidak pernah lagi mengganggu manusia. Siapa saja yang akan masuk kawasan Sekaroh harus memberi tahu Raden Wirentake untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kini, yang tinggal hanya cerita saja, karena hutan itu telah gundul. Tidak terlihat sedikit pun bahwa dahulu bekas hutan belantara.

CERITA BAYAN YANG DICABUT BULUNYA OLEH ISTRI SAUDAGAR

Maka kata Bayam itu, "Adalah seorang saudagar di negeri Istambul; maka ia pergi berlayar. Hatta beberapa lamanya sudah ia pergi itu, maka peninggalnya istri saudagar itu pun bermukahlah (berbuat maksiat) dengan kalandar (pendeta Parsi). Sebermula adapun akan saudagar itu ada ia menaruh seekor burung bayan.  Kemudian tiada berapa lamanya maka saudagar itu pun datanglah dari berlayar itu, tetapi diketahuinya juga oleh saudagar itu dengan pengetahuannya sendiri akan pekerjaan istrinya itu. Maka tiadalah baik rasa hatinya saudagar itu akan istrinya, pada sehari-hari ia berbantah juga. Maka istrinya, pada sehari-hari ia berbantah juga. Maka istrinya, pada sehari-hari ia berbantah juga. Maka istri saudagar itu pun pikirlah di dalam hatinya. "Tiada siapa yang lain memberi tahu pada suamiku ini, melainkan bayan inilah yang tahu barang akan perbuatanku itu. Jikalau demikian, ialah yang memberi tahu akan suamiku ini maka ketara perbuatanku itu." Maka istri saudagar itu menaruh dendamlah ia akan bayan itu.

Hatta berapa lamanya, kepada suatu hari, maka saudagar itu pun tiada di rumahnya, pergi ke kedai. Setelah dilihat oleh istrinya suaminya sudah keluar  berjalan, maka ia pun segera pergi kepada sangkar bayan itu,  ditangkapnya bayan itu, dicabut bulunya pada segala tubuh bayan itu seraya katanya, "Unggas celaka inilah memberi tahu suamiku, maka aku digusarnya sehari-hari." Setelah habislah segala bulu bayan itu dicabut oleh istri saudagar itu, baharulah dilepaskannya. Maka bayan itu pun larilah masuk bersembunyi ke dalam saluran tempat orang membuangkan air pembasuh beras senantiasa hari. Maka bayan itu pun diamlah di sana; pada sangka istri saudagar itu, telah matilah sudah bayan itu. Maka istri saudagar itu pun kembali ke tempatnya itu. Telah didengarnya suaminya datang di luar, maka ia pun pura-pura berteriak menangis seraya katanya, "Aduh! Sayangnya bayanku ini mati ditangkap kucing."

Setelah di dengar oleh saudagar itu secara istrinya berteriak itu, maka ia pun segeralah naik ke rumahnya. Maka dilihatnya bulu bayan itu bertimbun-timbun di tanah, bangkainya tiada. Maka saudagar itu pun marahlah, katanya, "Tiadalah bayanku itu dimakan kucing, melainkan engkau juga yang membunuh dia. Jika demikian, sungguhlah juga ada perbuatanmu yang jahat itu, maka bayanku ini engkau bunuh; tiada siapa orang lain, melainkan engkau juga membunuhnya. Hai perempuan bedebah celaka! Nyahlah engkau daripada rumahku ini! Tiada aku mau memandang muka orang durjana bedebah malang ini!"

Maka istri saudagar itu pun turunlah dari rumahnya itu dengan dukacitanya, lalu ia pergi kepada kubur seorang syekh. Maka ia diam di sana sambil menyapu sampah pada kubur itu, serta meminta doa sehari-hari hendak kembali suaminya juga.

Sebermula akan bayan yang dicabut bulunya itu selama-lamanya ia di dalam saluran itu. Apabila orang membasuh beras, maka beras yang jatuh itulah dimakannya, dan air beras itulah diminumnya. Beberapa lamanya panjanglah bulu bayan itu, dapatlah ia terbang. Maka bayan itu terbanglah pergi kepada kebur syekh itu berdiam diri. Maka istri saudagar itu pun datanglah menyapu sampah di kubur syekh itu, seraya meminta doa kepada Allah subhanahu wa ta' ala. Demikian katanya, "Ya, Illahi! Ya, Rabbi! Ya, Saidi! Ya, Tuhanku! Dengan berkat syekh wali Allah ini, kembalikan apalah aku kepada suamiku."

Maka sahut bayan dari balik nisan itu, "Hai, perempuanm sungguhkah engkau hendak kembali kepada suamimu itu?"

Setelah di dengar oleh perempuan itu bunyi suara yang demikian itu, maka pada sangka hatinya bunyi suara dari dalam kubur itulah gerangan. Maka kata perempuan itu, "Ya, Tuhanku! Jika ada rahim, sesungguhnya hamba hendak kembali kepada suami hambamu, ya tuanku syekh!"

Maka kata bayan itu, "Bahwa pekerjaan berbuat khianat akan suamimu itu, hendaklah engkau segera tobat dahulu."

Maka kata perempuan itu, "Ya, wali Allah! Telah sudahlah hambamu tobat."

Maka kata bayan yang bersembunyi itu, "Jikalau demikian itu, cukurlah rambutmu itu dahulu dengan bulu keningmu sekali, kemudian akulah memulangkan engaku kepada suamimu."

Maka dikerjakanlah oleh perempuan itu, disangka syekh yang berkata-kata itu. Setelah sudah, maka ia pun datanglah kepada kubur itu seraya katanya.

"Sudahlah hamba kerjakan seperti kata tuanku itu."

Maka bayan itu pun keluarlah terbang menunjukkan dirinya kepada istri saudagar itu seraya katanya, "Hai perempuan bedebah yang tiada berbudi! Akulah syekh dan wali Allah itu berkata-kata dengan kamu di dalam kuburnya. Memainkan akulah juga yang berkata-kata itu, dari karena engkau jahat mencabut buluku, tiada dengan dosaku. Itulah maka kubalaskan pekerjaanmu itu,"

Maka sahut perempuan itu, "Hai, Bayan! Engkau binasakan rupanya aku, karena dosaku kepada engkau. Sekarang berbuat syafaat apalah kiranya engkau akan daku!"

Maka bayan itu pun kasihanlah pula akan istri saudagar itu, seraya katanya, "Janganlah kiranya engkau bercinta lagi! Insya Allah Ta'ala akulah mengembalikan engkau dengan suamimu itu, tetapi sabarlah dahulu sehingga panjang rambutmu itu."

Maka terlalu suka cita hati perempuan itu mendengar  kata bayan itu. Maka dipeliharakannya bayan itu dengan sepertinya.

Hatta beberapa lamanya, rambut perempuan itu pun panjanglah. Maka bayan itu pun terbanglah kembali kepada tuannya. Serta sampai, ia memberi salam kepada saudagar itu.
Maka kata saudagar itu, "Hai, unggas! Dari mana engkau datang ini?"

Maka bayan pun menghamparkan sayapnya seperti laku orang menyembah seraya katanya. "Hambalah bayan yang tuan hamba peliharakan dulu itu. Maka pada suatu hari hamba diam di dalam sangkar hamba; maka datanglah seekor kucing ditangkapnya hamba. Syahdan akan hati hamba pun dikeluarkannya, lalu dimakannya."

Setelah didengar oleh saudagar kata bayan demikian itu, maka saudagar itu pun mengucap, "Astaghifirullah al 'azim!" seraya katanya, dusta sekali engkau ini hai, unggas! Adakah yang mati itu boleh hidup pula?"

Maka sahut bayan, "Adapun hamba dihidupkan Allah ini, adalah istri tuan hamba yang dibuangkan oleh tuan hamba itu, ia diam pada suatu kubur syekh wali Allah. Sehari-hari ia menyapu kubur itu, meminta doa, supaya ditunjukkan Allah kebenarannya. Dengan berkat doa syekh itu, itulah sebabnya maka hamba dihidupkan Allah subhanahu wata'ala akan menyatakan kebenaran istri tuan hamba itu."

Setelah sudah saudagar mendengar kata bayan itu, maka ia pun menangis seraya katanya, "Terlalu sekali ta'ujud aku membuang akan istriku, tiada dengan dosanya." Maka saudagar itu pun segeralah turun berjalan pergi mendapatkan istrinya kepada kebur syekh itu. Telah bertemu dengan istrinya, maka ia pun meminta maaf, seraya dipegangnya tangannya, serta di bawa pulang ke rumahnya. Maka duduklah saudagar itu berkasih-kasihan dengan istrinya seperti adat sediakala.

KETIKA PENYANDANG CACAT BERSEKOLAH DI SEKOLAH UMUM

Nur Aziza adalah murid tunarungu yang memilih belajar di sekolah umum, yakni Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 66, Jakarta Selatan. 

"Ketika pertama kali masuk sekolah, guru saya bahkan tidak mengetahui keadaan saya yang sesungguhnya. Baru sebulan kemudian, semua guru paham kondisi saya, dan secara perlahan membantu saya. Saya tidak mampu mendengar dan  berbicara dengan jelas sehingga saya mengandalkan kemampuan membaca bibir. Padahal, guru-guru di sekolah saya tidak ada yang  bisa berbahasa isyarat," cerita Nur Aziza.

Sejauh ini, semua pelajaran dapat diikutinya dengan baik. Gadis tersebut bersekolah di sekolah umum sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hanya pendidikan di Sekolah Luar Biasa Santi Rama.

Dodi Iskandar, murid tunanetra yang satu sekolah dengan Aziza, mengatakan, terkadang guru lupa dengan kondisi mereka. "Ada guru yang menjelaskan Matematika dengan cara 'ini ditambah ini sama dengan', padahal, kata 'ini' bisa diganti dengan angka agar kami dapat mengikuti," cerita Dodi.

"Saat melangkah pertama kali ke sekolah, saya khawatir dalam mencari teman. Apalagi ini pengalaman pertama saya bergaul dengan anak-anak normal. Sejak sekolah tingkat dasar hingga menengah pertama, saya habiskan di sekolah luar biasa," kata Doni.

"Untungnya, setelah hari pertama itu, saya agak lebih tenang," kata Dodi yang sehari-hari bekerja sebagai pemain keyboard di sebuah kafe untuk membiayai sekolahnya.

Aris, murid tunanetra lain, juga mengaku kaget ketika harus menyesuaikan diri dengan teman-teman lainnya. Sampai-sampai dia memutuskan menunggu disapa dulu baru melakukan pendekatan.

"Saya agak malu-malu atau segan," ujar remaja yang ingin menjadi pembuat program komputer. Akan tetapi, setelah lama berinteraksi, kebekuan itu pula mulai mencair.

"Bahkan, kini saya mulai mendapat sahabat baik yang juga rekan sebangku saya. Kelik namanya. Ia kerap membantu saya membacakan buku atau meminjamkan catatan untuk kemudian saya pindahkan ke huruf braille," cerita Aris senang.

PAHLAWAN KAMPUNG

“Mengapa tidak belajar?” Tanya Ibu kepada Rofa. “Bentar, lagi asyik nonton nih” jawab Rofa sambil asyik melihat televisi. Ya Rofa adalah anak yang cukup pemalas, hari harinya hanya bermain dan menonton televisi. Rofa berlari sambil menghirup udara segar di desanya itu, ya desa itu memang jarang terlewati kendaraan.

“Hei sedang apa kalian?” ternyata Rofa sudah sampai di lapangan. Teman teman Rofa terdiam karena sedang asyik membuat layangan. “AAAAA” ada sebuah teriakan dari sebuah rumah berwarna hijau, Ternyata itu adalah rumah teman Rofa yang bernama Rio. Mereka berlari ke arah rumah itu “ada apa bun?”. “Ada kucing mengambil ayam goreng yang bunda buatkan”. Memang kampung tersebut banyak sekali binatang yang suka mencuri makanan. Teman teman Rofa tidak terlalu menghiraukan dan kembali ke lapangan. Namun Rofa penasaran dan mengikuti kucing itu.

Ia mengikutinya hingga memasuki hutan, hutan tersebut sangat gelap. Tiba tiba dia sampai di sebuah gua, kucing itu memasuki gua tersebut. Dengan sedikit takut, Rofa memasuki gua tersebut. Ternyata banyak sekali binatang yang keluar masuk gua tersebut, Membuat Rofa semakin penasaran. Akhirnya dia melihat seorang lelaki tua gendut yang menghipnotis dan menyuruh binatang mencuri makanan dari kampungnya. Dia ingin melawan namun takut. Akhirnya dia memilih ke luar dari gua tersebut, Awalnya dia ingin memberi tau Teman temannya namun ternyata hari sudah mulai gelap. Dia pun pulang dan akan memberi tau teman temannya esok hari.

Esok pun tiba, Seperti biasa dia mandi, Sarapan dan sekolah. Sepulang sekolah dia menyuruh teman temannya berkumpul di lapangan. Mereka pun kumpul di lapangan, “ada apa Rofa” tanya Akbar sambil mengusap ngusap kucing. Akhirnya Rofa memberi tahu semua yang ia lihat, Namun teman temannya tidak ada yang percaya. “Begini saja, Kalian pulang dan bawa katapel dengan batu, Dan kita kumpul lagi disini” ucap Rofa. Akhirnya teman temannya mengiyakan permintaan rofa.

Rofa pun pulang dan mencari katapelnya. “Untuk apa katapel itu?”. Tanya Ibu kepada Rofa. “Untuk main Bu” jawab Rofa. Sang ibu pun tidak mengizinkan karena menurutnya katapel dan batu itu cukup berbahaya. Rofa pun terdiam dan tak tau akan melakukan apa. Tiba tiba sang Ayah yang sedari tadi mendengarkan sambil membaca koran, Berkata “sudahlah Rofa kan anak laki laki izinkan saja dia”. Sang ibu yang awalnya tidak mengizinkan akhirnya mengizinkan. Rofa pun cepat cepat ke lapangan karena takut teman temannya menunggu. Ternyata benar teman temannya sudah menunggu. “Kukira kau berbohong dan kabur” ucap Fathan dengan nada sedikit kesal. “Mana mungkin aku berbohong, Sudah cepat ikuti aku”. Mereka pun berjalan memasuki hutan. Mereka akhirnya sampai dia depan gua tersebut, Semakin banyak binatang yang keluar masuk gua. Akhirnya teman temannya mulai percaya. Mereka memasuki gua. Mereka pun membuat rencana untuk menangkap lelaki tua tersebut. Rencana mereka pun gagal, Mereka akhirnya bersembunyi di balik batu besar. “Rencana kita selanjutnya apa?” Tanya Akbar kepada Rofa.

Belum sempat menjawab tiba tiba ada seorang lelaki mendekati mereka. Mereka kira itu sang lelaki tua, Namun ternyata itu adalah seorang lelaki tampan lengkap dengan pedang dan perisai.

“Hei apa yang kalian lakukan disini” bisik sang lelaki tampan. “Kami ingin menangkap lelaki tua yang menghipnotis binatang” jawab Rio.

Ternyata setelah berbicara lebih lanjut, Sang lelaki adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Dia juga ingin menangkap lelaki tua gendut yang teryata seorang penyihir, Yang mencuri ilmu itu dari Pamannya. Dia diutus oleh Ayahnya untuk menangkap sang penyihir. Mereka pun bekerja sama untuk menangkapnya.

Akhirnya sang penyihir ditangkap dan diikat di pohon dekat gua. “Panggilkan seluruh penduduk kampung agar mereka tahu siapa yang mengambil makanan mereka”. Rofa, Rio, Fathan dan akbar pun memanggil seluruh penduduk. “Ya, Seperti yang kalian lihat, Dialah yang telah mencuri makanan dari kampung Kalian, namun kalian tidak usah menghiraukannya dia sudah ditangkap dan akan dikurung di kerajaanku. Atas nama Kerajaan Sihir saya meminta maaf” ucap sang Pangeran. “Dan jika kalian ingin berterima kasih, Berterima kasih lah kepada anak anak ini, Karena merekalah yang telah membantu saya menangkap sang penyihir”. Akhirnya penduduk kampung berterima kasih kepada Rofa dan temannya. Sang Ibu bangga, Karena dibalik sifat pemalas anaknya ada juga sifat kepahlawanannya. Akhirnya Rofa dan temannya disebut sebagai PAHLAWAN KAMPUNG.


Karya: Aleanzah

KEBAIKAN ITU ADA

Kasino dengan asik membaca tulisan Dono dari Hpnya. 

"Bagus...bagus..bagus," celoteh Kasino.

Kasino terus membacanya sampai beberapa judul. Indro pun dateng menepuk pundak Kasino.

"Hey...serius amat ...lagi baca apa Kasino?"

"Kamu Indro ngagetin aja. Saya lagi baca Blognya...Dono yang setiap hari ia tulis. Untuk meningkatkan kemampuan tulisannya."

"Emang ia.....Dono nulis terus untuk meningkatkan kemampuan tulisnya. Tetap saja tuh anaknya murung.......Kasino."

"Murung kenapa?" tanya Kasino.

"Ya..murung lah. Gak ada komentar setiap tulisan yang ia tulisannya. Pada hal Dono...itu selalu mengangkat sesuatu yang dia sukai demi...satuhal kebaikan.....itu ada," sedikit cerita Indro.

"Tapi lebih baik tidak di komentari tulisannya. Tandanya jalan.....tulisan Dono tetap bagus. Walau gaya menceritakannya di ubah. Agar lebih menarik.....," kata Kasino.

"Itu benar. Tetapi...Dono..ingin tantangan. Bukan melempem kaya kerupuk...Kasino." 

"Tujuannya saya tahu...agar penilaian manusia itu...akan meningkatkan kuwalitas dari tulisannya...Dono." 

"Itulah..yang di inginkan Dono, tapi kaya ada yang aneh?" 

"Maksudnya ...semua..ini keinginan dari penulis ..untuk menunjukkan kelimaks dari semua tulisannya bahwa.....semua tulisannya di sengaja...tapi di rekayasa.....sesuaikan dengan tokoh utamanya Dono....," penjelasan Kasino.

"Jadi.......sebenarnya penulis itu berusaha...memberikan pengertian tentang kebaikan. Walaupun hanya dengan kata-kata yang disisipkan dalam tulisannya. Karena dia..mengerti arti berjuang dan jatuh. Demi satu tujuan ....berjalan di jalan Alloh SWT. Umurnya penulis itu gak panjang. Hari ini bangun menulis...esok belum tentu bangun untuk menulis." 

"Saya..tahu....itu. Langkahnya pun bisa berhenti. Karena...malaikat maut sudah di hadapan penulis." 

"Ia..juga..penulis itu pernah sakit parah. Sampai....kematian lebih dekat dari pada rezeki dan jodoh. Maka penulis..sadar..yang diinginkan...dia adalah...kebaikan itu....ada," kata Indro.

"Ya..sudahlah jangan di bahas lagi. Kerja lagi," kata Kasino.

"Ayo."

Kasino mematikan tontonannya lewat Hpnya bergerak menuju ruang kantornya begitu dengan Indro juga.

Terlihat oleh Kasino dan Indro  yaitu Dono lagi asik menulis di depan komputer.

"Ada waktu ngangur aja...Dono..nulis dimana pun dan kapan pun?!" kata Kasino.

"Iya...orang tidak mau menyerah demi...satu tujuan kebaikan itu ada," saut Indro.

Kasino pun mengerjakan pekerjaannya mengurus beberapa dokumen penting. Sedangkan Indro mengecek barang-barang yang mau di kirim. Dono tetap antusias dengan tulisannya sampai selesai.

"Beres...deh. Judul cerita ini adalah KEBAIKAN ITU ADA," celoteh Dono.

Dono langsung mengirimkan ke Blognya dan diterbitkan. Perasaan puas di dalam hati Dono. Setelah itu Dono melanjutkan pekerjaannya mengurus beberapa data-data di komputernya.

"Wah.....kacau....datanya banyak banget. Harus bener-bener cermat ini," celoteh Dono.

Dono pun mulai mengerjakan pekerjaannya di kantor dengan baik. Begitu juga dengan Kasino dan Indro menjalankan tugasnya. Ketiganya penuh semangat menjalankan pekerjaannya demi satu tujuan kemajuan perusahaan adalah kemajuan dari karyawanannya yang aktif dan bertanggungjawab setiap pekerjaannya.


Karya: No

VANISHED

tick tock tick tock

Suara yang ditimbulkan oleh sebuah jam yang menempel di dinding kantorku seakan menghipnotis siapa saja yang mendengarkannya. Sudah berapa lama aku duduk disini, memperhatikan layar monitor yang menampilkan banyak sekali angka-angka? Aku bekerja sebagai seorang accounting di perusahaan yang cukup terkenal yang terletak di daerah Karawaci, Tangerang, Indonesia.

Gedung ini memiliki 40 lantai, dimana dari lantai 1 sampai lantai 20 digunakan sebagai office section dan lantai 21 sampai lantai 40 digunakan sebagai apartment section.

Kulihat jam tangan yang melekat pada lenganku.

“Pukul 1 pagi” Gumamku pelan.

Pekerjaan ini begitu menyita waktu dan tenaga. Seharusnya aku sudah berada di rumah, menonton anime atau main game. Tapi karena bos mengatakan bahwa laporan ini harus selesai besok, maka aku mau tidak mau harus menyelesaikannya hari ini.

Kantorku terletak di basement, jadi aku tidak dapat mendengar suara bising apapun. Terkadang keheningan ini cukup mengerikan pada saat sendirian, tapi keheningan ini juga membantuku dalam menyelesaikan tugas kantor yang sangat membuat stress ini.

Tiba-tiba saja lampu dan komputerku mati.

“AH SIAL AKU BELUM SAVE PEKERJAANKU…!” Teriakku putus asa.

Beberapa saat kemudian listrik kembali menyala dan komputerku kembali menyala, seperti sebelumnya. Dengan pekerjaan yang masih lengkap, seperti sebelum mati lampu.

“Lha? Mungkin ini hari keberuntunganku makanya datanya tidak hilang..”

—

“Akhirnya selesai juga..” Kulihat jam di tanganku, pukul 3 pagi.

“Hari ini sepertinya aku tidak bisa nonton anime dulu, harus segera pulang, tidur dan bangun pagi hari untuk bekerja lagi. Huft..”

Kuraih tas yang berada di bawah meja. Setelah mengecek apakah ada barang yang tertinggal atau tidak, aku mematikan komputer dan lampu. Suasana begitu sepi dan jika aku boleh jujur, kesannya sedikit mengerikan. Seperti ada yang akan melompat dan menangkapku kapanpun aku lengah.

Pada saat berjalan ke luar, kulihat meja security yang biasanya selalu ada yang bertugas. Kosong.

“Kemana Pak security yang biasanya jaga ya? Apa mungkin sedang ke toilet?”

Setelah berjalan ke luar dari basement menuju ke depan Lobby Apartment, aku baru sadar ternyata bukan hanya security yang ada di basement, tapi security yang biasa menjaga lobby apartment pun tidak ada.

“Wah, security yang menjaga lobby apartment tidak seharusnya meninggalkan tempat jaga mereka. Tapi kenapa dibiarkan begitu saja?”

Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi, aku masuk ke dalam lobby apartment tersebut. Kosong.

“Kemana semua orang?”

Dengan langkah yang cukup cepat aku berjalan ke arah parkir motor yang memang terletak di luar gedung. Masih terdapat beberapa motor yang terlihat diparkir disana. Bulan purnama yang masih menerangi malah membuat segala sesuatunya menjadi lebih misterius dan mencekam.

“Mungkin mereka memang sedang di toilet atau sedang patroli.. Lebih baik aku pulang dan segera tidur..”

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, aku sampai di rumah. Sama seperti keadaan di kantor, segala sesuatunya hening. Tidak ada kendaraan apapun yang lewat, tidak ada orang, bahkan tidak ada suara binatang. Segala sesuatunya seakan lenyap.

Setelah membuka pintu, aku segera berjalan menuju ke kamar dan langsung tidur, berharap semua akan kembali normal seperti biasanya.

Day 1

Keesokan paginya, segala sesuatunya masih begitu sepi. Tidak ada orang maupun binatang yang lewat di depan rumahku. Setelah saran, aku langsung ke luar dan berusaha mencari seseorang. Hasilnya nihil.

Aku mencoba pergi ke sebuah minimarket yang terletak di dekat rumahku. Minimarket tersebut buka, dan listrik menyala. Tetapi tidak ada orang sama sekali. Aku pun mencoba mengambil makanan dan pergi tanpa membayar. Tidak ada yang menegur. Senyum licik terpancar dari wajahku.

Aku pun pergi ke dealer mobil terdekat dan mengambil sebuah Honda Civic. Aku berkendara dengan ugal-ugalan, karena tidak ada satupun orang yang akan tertabrak. Setelah berkendara cukup lama, aku singgah di sebuah supermarket dan mengambil banyak barang-barang berharga.

Aku pun pergi ke sebuah perumahan mewah dan tinggal disana. Mungkin ini adalah surga. Mungkin aku sudah mati dan masuk surga. Ya, ini pastilah surga. Inilah kehidupan yang menyenangkan. Dapat melakukan segala sesuatu tanpa adanya larangan.

Day 2

Setelah pergi ke dealer mobil terdekat, aku mengganti mobil dan segera berkendara ke Jakarta, ibukota Indonesia. Keadaannya sama, tidak ada orang dan binatang sama sekali. Hanya ada gedung-gedung bertingkat yang tidak dijaga.

Aku masuk ke sebuah megamall dan seperti biasanya, mengambil segala sesuatu yang mewah dan bernilai, lalu berjalan kembali ke mobil. Aku juga tidak lupa untuk mengambil beberapa console game seperti PS4, X-Box 1, PS Vita, dan lainnya, lengkap dengan aksesorisnya. Aku akan memainkan semuanya ini pada saat aku pulang.

Day 9

Setelah 8 hari sendirian, aku mulai bosan. Tidak ada yang dapat diajak bicara, tidak ada siapapun.

Kemana semua orang? Apa mereka baik-baik saja? Apakah ini hanyalah klise dimana semua orang yang berada di pulau jawa ini pergi ke luar negeri tanpa aku tahu dan mereka akan kembali nantinya, seperti di salah satu episode Spongebob? Mungkin saja.

Lihat saja, saat mereka kembali, aku sudah kaya raya. Dan jika mereka menyalahkanku karena telah mencuri, aku akan mengatakan bahwa mereka sendiri lah yang salah.

Rasa makanan, semua game dan acara yang kulihat, semuanya mulai menjadi kurang menarik lagi. Aku butuh orang atau minimal binatang untuk diajak bermain.

Aku mencoba menyingkirkan segala kekhawatiranku dan pergi ke taman kota, dimana aku dapat menenangkan diri.

Day 12

Mereka belum juga kembali. Sekarang segala sesuatunya sudah tidak senyaman di awal. Aku butuh orang lain. Hari ini aku rasa aku hanya akan mengurung diri di kamar. Seseorang, tolong..

Day 14

Sudah dua hari aku tidak makan. Aku sangat lemas dan kelaparan. Aku pergi ke dapur untuk mengambil makanan dan air.

Hey, apakah pisau disana terlihat cukup bersahabat? Semakin lama kuperhatikan, semakin indah pisau tersebut. Apa aku mulai berhalusinasi? Nah, mungkin hanya perasaan saja.

Day 21

Aku sudah beristirahat di rumah selama 9 hari dan aku rasa istirahatnya sudah cukup. Aku sudah pulih. Sekarang aku mengendarai Mercedez Benz yang baru saja aku ambil dari dealer. Aku ingin menikmati indahnya matahari terbenam dari puncak gedung kantor tempatku bekerja. Saat sampai di atas, matahari memang sudah akan terbenam. Ah, betapa indahnya pemandangan ini.

Kupejamkan mataku dan kurebahkan tubuhku. Seakan aku melayang di udara. Betapa sejuk dan segarnya udara disini. Aku pun tertidur lelap setelah terjatuh dari lantai 40 gedung ini.

After Story

“Pak, maaf, bisa minta tolong?” Tanya seorang sekretaris kepada seorang Office Boy yang sedang bekerja.

“Ada apa ibu?”

“Tolong kamu copot poster itu. Sudah satu tahun ditempel.”

“Oh, posternya Pak Dennis Chandra?”

“Iya. Tolong langsung disimpan di gudang saja ya..”

“Baik bu. Kalau boleh tahu, gimana kasus pak Dennis ini bu?”

“Itu dia pak, sudah satu tahun dia menghilang. Keluarganya juga sudah cari kemana-mana tapi hasilnya nihil. Masih muda pula pak Dennis itu, masih usia 21 tahun.”

“Memang terakhir terlihat dimana dia bu?”

“Dia terakhir terlihat itu Tanggal 18 Juni tahun 2015 lalu, katanya mau lembur untuk bikin laporan. Tapi itu ternyata saat terakhir kami semua lihat dia.”

“Wah, apa jangan-jangan dia dirampok di jalan pada saat pulang?”

“Itu dia, sudah satu tahun, bahkan jenazahnya pun tidak ada. Misterius sekali.”

End


Karya: Death21

TINA DAN PUTRI JINGGA

Di sebuah negeri camelia hiduplah sebuah keluarga pegantar roti untuk raja, namun bu Rika yang biasa mengantar roti itu sakit, dan sebagai gantinya Tina anaknyalah yang mengantarkan roti itu.

Sesampainya di kerajaan Tina melihat tiga orang putri yang sedang bermain-main bersama. Tiba-tiba salah satu putri itu menghampiri Tina, lalu berkata.

“Hei, apa kau pengantar roti untuk ayahku?”

“Iya” jawab Tina

“Siapa namamu?”

“Aku Tina”

“Perkenalkan aku Putri Jingga”

Tiba-tiba wajah Tina berubah sedih, seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Ada apa denganmu Tina” Tanya Putri Jingga

“Sebenarnya… aku ingin sekali bisa sepertimu Tuan Putri”

“Kau ingin sepertiku?, aku bisa membantumu”

“Ohh benarkah?” Kata Tina dengan wajah berseri seri

“Kita akan bertukar tubuh, tapi hanya satu hari saja”

“Tidak masalah walaupun hanya satu hari”

“Baiklah tunggu sebentar”

Kemudian Tuan putri memanggil peri putih yang bisa membantu menukar mereka berdua. Tidak lama kemudian datanglah peri putih. Putri Jingga pun langsung menceritakan semua keinginannya.

“Aku bisa membantu kalian berdua, pejamkan mata kalian”

Tina dan Tuan Putri memejamkan matanya, tidak lama kemudian peri putih menyuruh mereka untuk membuka mata. Lalu berubahlah mereka berdua dan pergi ka tempat baru mereka masing-masing.

Keesokan harinya Tuan putri Jingga menemui Tina di istana. Sesampainya Tuan putri di kamar Tina, Tuan putri berkata.

“Tina, satu hari telah berlalu kau harus berubah dan aku juga harus kembali ke tempatku”

“APA??, itu tidak akan aku lakukan, ternyata menjadi seorang Tuan putri lebih menyenangkan” jawab Tina sombong

“Tapi Tina..”

“Sudahlah lebih baik kau pergi saja. Penjaga usir dia dari kamarku!!!”

Lalu pergilah Tuan putri Jingga dari istana, dia hanya bisa pasrah dan membiarkan Tina menjadi dirinya untuk selamanya. Toh dia juga lebih senang menjadi Tina, dia bisa punya banyak teman, membantu ibunya memasak Roti dan bisa mendengarkan dongeng setiap malamnya.

Dua hari sudah Tina menjadi seorang Tuan putri, rasanya dia sudah mulai bosan. Dia selalu dimarahi kakak-kakaknya, tidak bisa mendengar dongeng dari ibunya lagi dan dia tidak boleh pergi jauh selain di kamarnya terus. Tina sungguh menyesal.

Keesokan harinya Tina menemui Tuan putri secara diam-diam. Disana dia melihat Tuan putri dengan wajah yang gembira sedang membagi bagikan rotinya kepada teman-teman Tina dulu. Perlahan-lahan Tina memberi isyarat kecil untuk memanggil Tuan Putri. Dan Tuan putri pun pergi untuk menemui Tina.

“Kau memanggilku Tina?”

Tina mengangguk

“Aku menyesal Tuan putri, aku rindu ibu dan teman-temanku. Tolonglah maafkan aku dan rubah wujudku ke semula”

“Aku sudah memaafkanmu Tina, aku akan panggil peri putih dan menyuruhnya untuk merubah kita kembali”

Kemudian datanglah peri putih. Dia mengayunkan tongkatnya pada Tina dan Tuan putri. Lalu berubahlah mereka kembali seperti dulu lagi. Tuan putri Jingga akhirnya berteman dengan Tina dan saling menjaga rahasia yang telah mereka lakukan.


Karya: Inggit Veliyantini

THINK ALL ABOUT PEOPLE

“Apakah kau tahu, hari ini ada murid baru yang akan masuk ke kelas kita. Katanya sih, dia cantik banget. Blasteran dari Brazil!,” bisik perempuan yang tengah duduk bergerombol dengan Riska.

“Benarkah? Wahhhh.. pasti dia bakalan punya mata yang indah dengan kornea biru setengah hitam. Seperti kucing,” jawab Riska dengna membayangkan wajah anak baru itu.

“Memang. Tapi, apakah kau tidak takut apabila Billy akan tertarik dengan kecantikannya?”

“Tidak Nanda. Jangan nefthink gitu ah! Nggak baik tahu!”

“Iya sih, tapi…”

“Selamat pagi anak-anak!,” sapa Pak Ridwan tiba-tiba. Dan diikuti oleh anak perempuan itu. Benar saja, ia sesuai dengan apa yang Riska bilang sebelum ia sampai di kelas. Namun, semua terkagetkan saat ada anak laki-laki yang tak kalah tampan dari Billy yang paling tampan di sekolah.

“Kenalkan! Dia Felly dan dia Arka. Kalian berdua bisa duduk bersama atau duduk dengan yang lainnya. Tapi sebelumnya sebutkan nama lengkap kalian dan sedikit spesifikasi tentang diri kalian.”

“Aku Felly. Felly Anggi Wiraatmaja.”

“Dan aku, Arka. Lebih tepatnya Arkana Aditya.”

Kemudian, mereka pun duduk di bangku yang tak jauh. Lebih tepatnya, mereka tidak duduk bersama. Melainkan dengan orang lain. Sejenak, mereka saling menatap mata.

“Kenapa kau merasa takut?,” tanya Arka kepada teman baru sebelahnya. Rendy.

“Kalian saling kenal?,” tanya Riska.

“Yah.. kita saling kenal. Rendy Armyandila Perdana. Lahir dengan marga Perdana. Dan tinggal di pusat kota. Benar?,” tanya Arka dengan tatapan tajam dan sinis.

Rendy hanya terdiam. Dan, mereka semua melanjutkan proses belajar mengajar saat guru telah memperingatkan mereka untuk memperhatikannya saat menerangkan. Secara otomatis, mereka mendengarkan.

“Permisi, Pak saya mau keluar ke UKS. Perut saya sakit!,” ucap Felly saat ia mendengar dan melihat sekelabat kejadian saat di UKS.

“Oh ya, silahkan.”

Ranpa berjabat tangan terlebih dahulu, Felly sudah buru-buru ke luar kelas. Sebelum sampai di UKS, ia memasang maskernya untuk menutupi identitasnya. Dan sampai di UKS dalam waktu satu detik. Maklum saja, ia memiliki kekuatan dalam hal itu. Freezer Boath. Itulah namanya. Tendangan berputar kakinya telah melumpuhkan pelaku pemerk*saan itu. Terjadilah pertarungan di dalam sana. Bahkan, pelaku berulangkali mendapatkan telak ‘T’ dari Felly.

“Terimakasih,” ucap lirih perempuan itu.

Felly tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu bangun. Kemudian, kembali ke kelas dengan langkah yang gontai tanpa membuka maskernya. Meskipun, berulang kali perempuan itu bertanya siapa dia. Felly tetap menghiraukannya.

“Apakah urusanmu beres?,” tanya Arka.

“Yah… begitulah. Tidak adakah minuman dingin di sini?”

“Hahahaha! Di sini berbeda dengan istana. Sekolah ini tidak akan menyediakan anggur kesukaanmu.”

“Yah.. begitulah. Apakah kau sudah menemukan siapa yang mengambil pusaka milikku? Kau tahu, aku hanya bisa menggunakan freezer boath dalam waktu 1 detik.”

“Aku hanya menemukan sinyalnya. Kau tahu kan, bahwa kau adalah rantai permadaniku. Jika milikmu hilang, maka daya akurasi yang aku miliki juga akan sama denganmu meskipun hanya berkurang lebih sedikit darimu.”

“Terasa lemas, Ka. Apakah kau membawa teksis yang dibekali oleh Raja Brahardianjara?”

“Yah… tapi jangan sering menggunakan itu. Kalau kau kehabisan stok, kita tidak akan mudah mendapatkannya dari kahyangan. Tahanlah sebentar sampai kita benar-benar perang dengan orang itu…,” kata Arka terputus saat ia mendengar sesuatu.

“Aku menemukan orangnya!,” ucap Arka dengan menyatukan lambang perbadaninya dengan milik Felly untuk menuju ke tempat yang mereka maksud.

Mengingat akurasi kekuatan Felly mulai menurun tanpa adanya pusaka itu, Rendy terpaksa harus menggunakan Sheer Longer dalam hal ini. Yah.. kekuatan yang membuat ia tak mempu dilihat oleh kasat mata. Serta akurasi sampai di tempat yang lebih cepat dibandingkan Felly.

Saat mengetahui akan hal yang membuat pelaku mencuri pusaka Felly adalah untuk menyelamatkan kerajaannya. Yah.. kerajaan yang menggunakan tenaga panas. Baik kekuatan, maupun lainnya. Di istana Felly, banyak pusaka yang menggunakan pusaka tenaga panas. Akan tetapi, pusaka biru Felly mengalahkan pusaka halilintar yang dimiliki orang seangkatan dengannya.

Dengan cepat, Arka menyerang Rendy dan juga pasukan berjaganya itu. Sedangkan Felly, terus mengejar salah satu bagian dari rencana Rendy. Mencoba untuk mengambil kembali pusaka itu. Jika tidak, Felly akan lenyap menjadi debu tanpa adanya pusaka itu. Dan waktu durasi yang diberikan oleh tinggal beberapa menit lagi.

Segala kekuatan telah Felly coba. Namun, tidak berhasil. Hingga akhirnya, ia menggunakan kekuatan itu. Yah kekuatan yang dapat mengurung musuhnya dengan halilintar transparan. Resiko yang ada di dalamnya adalah, Felly akan kehilangan akurasi daya kekuatannya lebih cepat. Dan benar saja, hal itu terjadi kepada Felly. Ia tak mempu menompang bebas kekuatan lain yang menyerangnya.

Di dalam situasi seperti itu, Arka masih belum menjemputnya. Dengan mudah bagian dari rencana Rendy kabur. Akan tetapi, Felly sontak bangun meski ia masih sulit untuk bangun. Bram. Bagaimana bisa Bram datang? Bukankah ia sekarang ada tugas untuk menjalankan hujan serta pengatur suhu daerah setelah mendapatkan tugas dari Raja?

“Kabur! Hehehehe. Kasih aku waktu untuk bermain dengan dia. Hahahaha!,” ucapnya saat mengerti arti mata Felly. Dengan bergoyang riang di atas skate board melayang itu, ia meninggalkan Felly yang masih lemah di tempat itu.

“Kau tidak apa-apa?,” tanya Arka setelah membereskan Rendy dan menemukan Felly terkulai lemas tak berdaya.

“Mana teksisku? Bram ada di sini. Dia bisa membantu kita. Segeralah kau memberikan aku teksis itu. Sebentar lagi, kita bertiga akan berperang dengan kawanan milik Rendy. Aku tidak mungkin menggunakan kekuatanku dengan daya seperti ini meskipun kau dapat memberikan dayamu. Justru kau akan sama denganku,” saat mengetahui kekhawatiran Arka.

Arkapun menurut. Kemudian, mereka berangkat bersama ke tempat Bram dengan kekuatan Listening Aroungh milik Felly dan Arka. Mereka mendengar pertarungan yang begitu hebat. Hingga mereka harus menggunakan kekuatan kecepatan mereka masing-masing.

Sesampainya di sana, mereka melihat Bram yang kuwalahan dengan serangan panas milik kawanan Rendy. Dengan cepat, Felly dan Arka membatu. Batu pusaka milik Felly tinggal beberapa waktu. Apabila pasir habis menurun dan pusaka telah bersatu dengan kekuatan mereka, maka detik itu juga Felly akan meledak menjadi debu.

Namun, mereka dapat mencegah semua itu dengan persatuan kekuatan. Karena itu, benarlah prinsip kerajaan mereka. Apapun yang berniat jahat, pasti tidak akan berhasil. Begitu juga saat perasaan egois bertarung dengan kebersamaan. Jadilah kekalahan bagi sang pemilik egois meskipun sang egois memiliku kekuatan paling super sekalipun. Dan apapun bentuk egois, tidak akan ada baiknya. Kecuali dengan adanya setitik kepedulian meski terselubung dengan amarah.


Karya: Pratiwi Nur Zamzani.

CAMPUR ADUK

SANGDIL SANAM

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus film horor di channel ANTV, ya Budi duduk dengan santai di depan rumahnya seda...

CAMPUR ADUK