CAMPUR ADUK

Saturday, July 31, 2021

CHUOI DAN POHON BERINGIN

Biangka selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ya keluar dari kamarnya. Biangka duduk santai di ruang tengah, ya membaca bukunya dengan baik lah.

Isi buku yang di baca Biangka :

Di sebuah desa terpencil yang dekat dengan hutan, hiduplah seorang pemuda bernama Chuoi. Ia hidup sebatang kara di rumahnya yang sangat kecil. Di rumah itulah Chuoi tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa, setelah kedua orang tuanya meninggal saat ia masih kanak-kanak. Dahulu sebelum ia beranjak dewasa, ia mendapatkan makanan dari tetangganya. Kini ketika sudah menjadi seorang pemuda dewasa, Chuoi berusaha untuk mencari makan dan memenuhi semua kebutuhan hidupnya seorang diri.

Setiap hari Chuoi bekerja mencari kayu ke hutan. Kayu-kayu itu ia potong menjadi kayu bakar dan  ia jual ke pasar. Selain itu Chuoi juga menjual bunga-bunga hutan setiap musim bunga mekar. Setiap hari Chuoi membawa kayu-kayu yang amat berat dari hutan ke pasar. Ia membawanya dengan meletakkannya di atas kepala. Chuoi tidak mempunyai cukup uang untuk membeli gerobak yang ditarik oleh sapi untuk membawa kayu-kayu bakarnya. Oleh karena itu, ia hanya bisa membawanya dengan kedua tangan.

Suatu hari ia hendak mencari kayu bakar ke hutan. Dalam perjalanan ia melihat sekelompok anak harimau yang sedang bermain bersama induknya. Chuoi pun berhenti untuk melihatnya. Setelah beberapa saat, induk harimau meninggalkan ketiga anaknya untuk mencari makan. Ketiga anak harimau yang masih kecil-kecil itu pun kembali bermain dengan asyik tanpa menyadari kehadiran Chuoi di antara mereka. Saat melihat anak-anak harimua itu, sebuah ide terlintas di benak Chuoi. Ia berniat menangkap salah satu anak harimau dan menjualnya di pasar. Dengan demikian ia bisa mendapatkan sebuah gerobak dan sapi untuk membawa lebih banyak kayu bakar dari hutan.

Chuoi memulai rencananya. Ia menunggu kesempatan untuk menangkap salah satu anak harimau itu. Chuoi mengamati gerak-gerik ketiga anak harimau itu dengan saksama. Ketika salah satu anak harimau itu berguling-guling ke arah Chuoi, ia langsung menangkap anak harimau malang itu dengan cepat. Dengan cekatan Chuoi memegang bagian belakang kepala anak harimau itu agar tidak melukainya. Chuoi bergegas meninggalkan hutan, namun anak harimau yang sedang ia pegang meronta-ronta sehingga membuat Chuoi kesulitan.

Melihat salah satu saudaranya tertangkap, kedua anak harimau yang lain mengaum kencang, memanggil induknya untuk datang menyelamatkan mereka. Chuoi semakin panik. Saat ia bersiap untuk lari, tiba-tiba ia mendengar suara harimau yang mengaum kencang. Chuoi menoleh ke belakang dan mendapati induk harimau di dekatnya.

Chuoi langsung memanjat pohon di depannya. Ia naik ke pohon bersama anak harimau yang ditangkapnya. Sesampai di atas pohon, anak harimau di tangan Chuoi semakin meronta-ronta. Anak harimau itu pun lepas dari cengkeraman Chuoi karena ia tidak sanggup menahannya lagi. Anak harimau itu terjatuh dan menghantam tanah dengan kencang, hingga kepalanya terluka dan tak sadarkan diri.

Induk harimau segera menghampiri anaknya yang tidak sadarkan diri. Sesaat kemudian ia berjalan menuju ke pohon beringin di dekat mereka. Kedua anak harimau yang lain tampak menjaga saudaranya yang tak sadarkan diri. Chuoi masih bertahan di atas pohon, memerhatikan tingkah induk harimau dan anak-anaknya. Tak lama kemudian induk harimau datang membawa beberapa lembar daun beringin. Ia mendekati anaknya yang tak sadarkan diri lalu mengunyah daun-daun itu perlahan. Setelah itu induk harimau menempelkan kunyahan daun itu di kepala anaknya yang terluka. Tak berapa lama anak harimau itu sadar dan luka di kepalanya sudah sembuh. Keluarga harimau itu pun segera pergi meninggalkan Chuoi yang masih berada di atas pohon.

Chuoi sangat terkejut dengan peristiwa yang baru saja ia lihat. Dengan rasa penasaran ia mendekati pohon beringin yang daunnya dipetik oleh induk harimau. Chuoi memetik beberapa lembar daun, mengamatinya, dan mencium baunya. Tidak ada yang istimewa, pikir Chuoi dalam hati. Namun Chuoi tetap membawa daun-daun tersebut dalam sakunya, lalu kembali mencari kayu bakar.

Setelah memperoleh cukup kayu bakar, Chuoi segera pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan ia melihat seekor anjing tetangganya sedang terluka di pinggir jalan. Chuoi lalu teringat dengan induk harimau. Ia pun mengunyah daun-daun beringin itu lalu mengusapkannya pada bagian tubuh anjing yang terluka. Tak berapa lama anjing tersebut sembuh dan bisa berjalan seperti biasa.

Setelah membuktikan khasiat daun beringin itu, Chuoi berencana untuk menanamnya di rumah. Maka keesokan harinya Chuoi pergi ke hutan untuk memetik beberapa daun beringin. Selain itu ia memotong salah satu batangnya untuk ditanam di rumah. Chuoi sangat berhati-hati sekali agar tidak merusak pohon beringin yang sangat berkhasiat.

Chuoi segera kembali ke rumah dan menanam batang pohon beringin itu di belakang rumah. Ia merawatnya dengan sangat hati-hati karena ia tahu jika pohon itu sangat bermanfaat. Ia sangat berharap pohon itu bisa tumbuh seperti pohon beringin yang ada di hutan. Dengan demikian ia bisa menyembuhkan orang-orang sakit.

Waktu berlalu dengan cepat. Pohon beringin Chuoi mulai tumbuh besar, dengan akar dan daun banyak. Chuoi semakin senang dan rajin merawat pohon beringin itu. Ia selalu membawa daun beringin itu ketika menyembuhkan tetangganya yang sedang sakit.

Tak lama berselang, Tahun Baru Imlek hampir tiba. Semua orang bersuka cita dalam menyiapkan dan menyambutnya. Chuoi pun sibuk mencari bunga-bunga di hutan untuk dijual di pasar. Setelah mendapat bermacam-macam bunga, Chuoi bergegas ke pasar di kota. Akan tetapi ia sangat terkejut ketika melihat keadaan kota yang sepi. Chuoi tidak mendapati kemeriahan orang-orang menyambut tahun baru seperti biasanya. Semua orang bahkan terlihat murung.

Chuoi segera mencari tahu apa yang sedang terjadi. Orang-orang berkata bahwa Putri Raja sedang sakit keras. Semua tabib dari seluruh penjuru negeri sudah dipanggil untuk menyembuhkannya, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Oleh karena itu orang-orang merasa bersedih dan tidak bisa bersuka cita merayakan tahun baru.

Chuoi merasa iba mendengar kabar itu. Ia berniat untuk membantu mengobati Putri Raja dengan daun beringinnya. Chuoi yakin jika daun-daun itu bisa menyembuhkan penyakit Putri Raja. Sesampai di rumah, Chuoi segera memetik daun beringin sebanyak-banyaknya. Ia kemudian kembali ke kota dan menempuh perjalanan ke Istana. Chuoi membawa semua perbekalan yang ia butuhkan karena perjalanan yang ia tempuh tidak mudah.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan Chuoi akhirnya sampai di Istana. Ia meminta izin kepada prajurit penjaga untuk diperkenankan masuk. Namun prajurit itu menolaknya.

“Siapa kamu dan apa tujuanmu datang ke sini?” tanya salah seorang penjaga yang mukanya sangat seram.

“Namaku Chuoi dan aku hendak mengobati Putri,” jawab Chuoi hati-hati.

Para penjaga tidak percaya pada Chuoi dan mengira ia adalah orang jahat. Adu mulut pun terjadi di antara mereka. Salah seorang prajurit lalu mengeluarkan pedang dan melukai tangan Chuoi. Chuoi mengerang kesakitan karena tangannya hampir putus terkena pedang prajurit. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar daun beringin dan mengunyahnya. Chuoi kemudian meletakkan kunyahan itu pada lukanya. Tak menunggu waktu lama luka di tangannya sembuh dan kembali seperti semula.

Para prajurit tercengang, tak percaya melihat kejadian itu. Namun mereka segera tahu jika Chuoi tidak bermaksud jahat. Mereka pun segera melapor kepada Raja dan mengizinkan Chuoi masuk ke Istana. Di sebuah ranjang Chuoi melihat Putri Raja terbaring lemah tak berdaya. Mukanya pucat dan badannya sangat kurus. Chuoi segera mengeluarkan beberapa lembar daun beringin dari dalam tasnya. Ia mengunyah daun-daun itu dan mengoleskannya pada dahi Putri. Perlahan-lahan wajah Putri Raja yang semula pucat mulai memerah, kepalanya pun bergerak dan matanya terbuka. Putri Raja bisa bangun dan sehat seperti sedia kala.

Raja dan seluruh rakyat merasa senang karena Putri telah sehat kembali. Raja pun menikahkan putrinya dengan Chuoi sebagai wujud rasa terima kasih karena Chuoi telah menyembuhkan Putri. Raja percaya jika Chuoi adalah pemuda yang baik dan bisa menjaga Putri. Raja memberikan tanah dan harta kekayaan kepada Chuoi dan Nguyet Tien, Putri Raja, untuk memulai hidup baru mereka. Dengan harta pemberian Raja, Chuoi merobohkan rumah lamanya dan membangun rumah baru yang layak untuk hidup bersama istrinya. Akan tetapi ia tetap mempertahankan pohon beringinnya karena pohon itu telah berjasa menyembuhkan banyak orang.

Chuoi dan istrinya hidup bahagia di rumah baru mereka. Putri sangat senang menanam bunga di sekitar rumah mereka. Chuoi tidak keberatan istrinya memenuhi halaman rumah dengan berbagai macam bunga beraneka warna. Ia hanya berpesan agar istrinya tidak menebang pohon beringin di halaman belakang rumah mereka. Istrinya pun selalu mengingat dan menuruti pesan Chuoi.

Suatu hari Chuoi pergi ke hutan mencari bunga-bunga yang belum ditanam di rumahnya. Sedangkan istrinya menunggu di rumah. Ketika pagi sudah beranjak siang, Chuoi belum juga kembali. Istrinya mulai bosan menanti Chuoi. Ia pun teringat jika ia masih mempunyai beberapa batang bunga yang belum sempat ditanam. Istri Chuoi segera mengambil batang bunga yang masih dimilikinya. Ia berkeliling halaman rumah, mencari tempat untuk menanam bunganya. Akan tetapi seluruh halaman sudah penuh bunga, tidak ada lahan kosong lagi. Tiba-tiba ia teringat pada lahan kosong yang sangat sempit di sekitar pohon beringin Chuoi. Meski teringat pesan Chuoi, namun ia sangat ingin menanam bunganya. Ia pun memutuskan untuk tetap menggali tanah kosong di sekitar pohon beringin Chuoi.

Sesaat kemudian istri Chuoi berhasil membuat galian. Namun ia sangat terkejut karena pohon beringin itu mulai menangis kesakitan. Istri Chuoi ketakutan dan berteriak histeris. Teriakannya yang sangat kencang terdengar sampai ke hutan, tempat Chuoi mencari bunga. Chuoi pun langsung berlari pulang. Sesampainya di rumah Chuoi melihat pohon beringinnya menangis kesakitan. Perlahan-lahan Chuoi mendekati pohon itu, tetapi pohon beringin itu mulai bergerak naik. Chuoi berusaha menggapai akar pohon beringin yang mulai naik, namun pohon itu semakin tinggi. Chuoi masih berpegangan pada akarnya karena pohon itu semakin kuat menariknya. Chuoi melihat ke bawah dan mendapati rumah dan istrinya semakin mengecil, bahkan rumah-rumah di desanya serta hutan yang ada di dekat desanya semakin tak terlihat.

Semakin lama Chuoi bisa melihat bintang semakin besar. Akhirnya mereka berdua sampai di bulan. Pohon beringin lalu menancapkan diri. Sedangkan Chuoi hanya bisa duduk di bawah pohon beringin, sembari memandangi bumi dari bulan. Ia mengusir sepi dengan bermain seruling di bawah pohon beringin. Chuoi tetap berharap bisa kembali ke bumi dan berkumpul bersama istrinya, meski ia tak tahu kapan semua itu bisa terjadi.

***

Biangka selesai membaca bukunya dengan baik.

"Cerita yang bagus...dari Vietnam," kata Biangka.

Biangka menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Nonton Tv!" kata Biangka.

Biangka mengambil remot di meja dan segera di hidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton Biangka adalah.acara musik pop lebih tepatnya acara ulangtahunnya Band Ungu sih. Biangka asik banget mendengarkan lagu-lagu yang bagus sih.

DUA SAHABAT LUU BINH DAN DUONG

Aisyah selesai menyapu rumah, ya memang di suruh ibu sih. Aisya duduk di ruang tamu dengan santai, ya sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Aisyah :

Ada dua sahabat hidup bersama di sebuah desa. Mereka telah bersahabat sejak kecil. Dua sahabat ini bernama Luu Binh dan Duong Le. Luu Binh lahir dari keluarga kaya raya yang sangat terkenal di desanya. Sedangkan Duong Le berasal dari keluarga miskin. Akan tetapi, hal ini tidak menghalangi persahabatan mereka. Ketika Luu Binh dan Duong Le beranjak dewasa, orang tua Luu Binh mengajak Duong Le untuk tinggal bersama agar mereka bisa bersekolah bersama-sama. Keduanya pun semakin akrab setelah tinggal bersama. Duong Le selalu belajar dengan rajin karena tidak ingin mengecewakan keluarga Luu Binh. Selain itu Duong Le juga membantu pekerjaan orang tua Luu Binh di rumah sebagai ungkapan rasa terima kasih. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan senang hati. Ia juga membantu pekerjaan ibu Luu Binh setiap sebelum dan sesudah belajar. 

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Duong Le lalu belajar atau bermain bersama Luu Binh. Setelah tinggal bersama, Duong Le baru menyadari bahwa meskipun Luu Binh baik hati namun ia sangat malas. Luu Binh selalu merasa bahwa dia tidak perlu bekerja keras karena orang tuanya kaya raya. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia hanya perlu meminta kepada orang tuanya, dan ia akan mendapatkan semuanya. Selain itu, Luu Binh pun malas belajar dan enggan membantu pekerjaan orang tuanya. Setiap hari ia hanya bersantai dan pergi bermain. Oleh karena mengetahui perbedaan sifat kedua anak ini, ibu Luu Binh meminta bantuan kepada Duong Le agar membantu dan memberikan nasihat pada Luu Binh. Duong Le pun berusaha keras untuk membuat Luu Binh mau belajar seperti dirinya dan tidak menghabiskan waktunya untuk bermain. 

Namun usaha Duong Le untuk menasihati Luu Binh gagal. Luu Binh tidak mau mendengarkan nasihat sahabatnya itu. Ia tetap menghabiskan waktunya untuk bermain dan ia pun  semakin malas belajar. Akhirnya waktu ujian tiba. Duong Le merasa sangat siap menghadapi ujian karena ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Sedangkan Luu Binh hanya bisa pasrah dan tetap bersikap santai seperti biasa. Hasilnya, Duong Le lulus dengan hasil yang sangat memuaskan dan Luu Binh gagal serta harus mengulang. Prestasi Duong Lee yang cemerlang membuatnya mendapat pekerjaan yang bagus di kota. Kepintaran dan kerajinan Duong Lee membuatnya menjadi orang yang kaya raya dan terpandang di kota setelah beberapa tahun kemudian. Ia pun mampu membeli rumah yang sangat megah dan hidup berkecukupan. Di desanya, Luu Binh yang pemalas masih berusaha untuk lulus dalam ujian karena ia selalu gagal. 

Orang tuanya yang kaya raya sudah meninggal dunia. Harta warisan pun telah habis untuk bersenang-senang. Kini, kehidupan Luu Binh amat sengsara. Ia lalu teringat pada sahabatnya, Duong Le. Ia banyak mendengar cerita bahwa sahabatnya itu telah berhasil menjadi orang yang kaya raya di kota. Suatu hari Luu Binh memutuskan untuk pergi ke kota mencari Duong Le. Ia sangat terkejut ketika melihat rumah sahabatnya yang sangat megah. Rumah itu sangat besar, berlantai keramik yang sangat mahal, dan dijaga oleh beberapa orang. Tanpa segan Luu Binh segera mengatakan kepada penjaga bahwa ia adalah sahabat lama Duong Le. Tak lama kemudian Duong Le keluar menemui Luu Binh. Ia sudah mendengar tentang Luu Binh yang jatuh miskin. Ia pun sudah menduga jika Luu Binh akan datang menemuinya dan meminta bantuan. Namun Duong Le sangat mengenal sifat Luu Binh. Duong Le tahu jika ia membantu Luu Binh begitu saja, Luu Binh tak akan pernah berusaha sendiri dan belajar mandiri. Maka Duong Le memilih untuk membantu sahabatnya dengan cara berbeda. 

“Duong Le, ini aku Luu Binh! Bagaimana kabarmu?” sapa Luu Binh ketika ia melihat Duong Le keluar rumah. 

“Huh! Siapa kamu? Semua temanku adalah orang-orang kaya terhormat. Aku tidak mempunyai teman miskin seperti kamu,” jawab Duong Le ketus. 

Luu Binh sangat terkejut mendengar jawaban Duong Le yang kasar. 

“Bawa orang ini keluar dari sini! Aku tidak mengenalnya sama sekali!” Duong Le memerintahkan para penjaga rumahnya untuk mengusir Luu Binh. 

Ia kemudian masuk ke dalam rumah tanpa mengacuhkan Luu Binh sedikit pun. Saat kembali ke desa, Luu Binh merasa sakit hati dan kecewa dengan perlakuan sahabatnya. Ia tidak menyangka bahwa sahabat yang dulu ditolong oleh keluarganya telah melupakan dirinya. Perasaan geram Luu Binh membuatnya bertekad untuk menyelesaikan ujian dan segera bekerja, agar ia menjadi kaya raya dan bisa membalas sakit hatinya kepada Duong Le. Di rumahnya Duong Le menyusun strategi untuk membantu Luu Binh. Ia memerintahkan Chau Long, salah seorang pekerja di rumahnya, untuk menyamar menjadi pedagang kain sutera dan berdagang di desa, tempat Luu Binh tinggal. 

Pada hari yang direncanakan, Chau Long pergi ke desa Luu Binh. Ia berpura-pura menawarkan kain sutera pada Luu Binh. Ia mengatakan bahwa ia datang dari tempat yang sangat jauh dan tidak mempunyai tempat tinggal. Ia pun meminta bantuan Luu Binh untuk dapat tinggal di rumahnya. Ia berjanji akan membantu Luu Binh mengurus rumah dan bersedia menjadi istrinya apabila ia mampu menyelesaikan ujian. Kecantikan Chau Long membuat Luu Binh menyetujui permintaannya. Sejak saat itu, setiap hari Chau Long dan Luu Bhin saling membantu satu sama lain. Luu Binh membantu Chau Long menjual kain sutera. Sedangkan Chau Long membantu Luu Binh belajar dan memberikan semangat kepadanya untuk menyelesaikan ujian dengan baik. Lambat laun sifat Luu Binh yang pemalas mulai berkurang. Luu Binh pun semakin bersemangat dan bertekad untuk menyelesaikan ujian agar tidak mengecewakan Chau Long.   

Akhirnya Luu Binh berhasil menyelesaikan ujian dengan sangat memuaskan. Bahkan ia mendapatkan pekerjaan di kota tempat Duong Le berada. Ia pun segera pulang untuk memberitahu Chau Long. Namun ketika ia sampai di rumah, ia mendapati rumahnya kosong dan Chau Long telah meninggalkan rumah. Luu Binh sangat kecewa dan tiba-tiba teringat kembali pada Duong Le. Ia ingat bahwa ia pernah bertekad untuk menjadi kaya raya seperti Duong Le agar bisa membalas sakit hatinya. Ia pun segera melupakan kekecewaannya terhadap Chau Long dan mulai merencanakan masa depannya. Beberapa hari kemudian Luu Binh meninggalkan desanya dan mulai bekerja di kota. Di tempat barunya, Luu Binh berusaha untuk mengubah kebiasan dan sifat buruknya. Ia tidak lagi menjadi pemalas dan selalu bekerja keras setiap hari. Setelah berusaha dengan keras, keinginan Luu Binh tercapai. Ia telah menjadi orang yang sangat kaya raya dan terpandang di kota itu. Ia mampu membeli rumah mewah seperti Duong Le, bahkan rumahnya lebih besar dari rumah Duong Le. 

Ketika ia telah merasa siap untuk membalas sakit hatinya terhadap Duong Lee, Luu Binh pun bergegas menuju rumahnya. Sebenarnya Duong Le telah mengetahui jika Luu Binh sudah menjadi kaya raya. Ia pun sudah mengira bahwa Luu Binh akan mencarinya lagi. Hari itu pun tiba. Pagi itu, dari dalam rumah,  Duong Lee melihat Luu Binh berjalan menuju rumahnya. Kali ini Duong Le menyambut Luu Binh dengan senyum dan wajah berseri-seri. Keramahan Duong Lee tidak bisa menghapus rasa sakit hati Luu Binh. Maka Luu Binh pun meluapkan kemarahannya kepada Duong Le. Duong Le mendengarkan kemarahan sahabatnya dengan sikap tenang. Ia menunggu Luu Binh puas melampiaskan kemarahannya. Setelah Luu Binh tenang, Duong Le menjelaskan bahwa dulu ia tidak langsung memberikan bantuan kepada Luu Binh karena semua itu akan membuatnya tetap menjadi pemalas.

Duong Le pun berpura-pura tidak mengenal Luu Binh dan mengusirnya agar Luu Binh mau berusaha untuk memperbaiki kehidupannya. Tak lama kemudian Chau Long keluar menyuguhkan minum kepada Luu Binh. Luu Binh pun semakin terkejut. Duong Le akhirnya menceritakan bahwa ia mengirim Chau Long untuk membantu Luu Binh. Kejujuran Duong Lee membuat Luu Binh semakin yakin bahwa Duong Le melakukan semuanya demi kebaikan dan persahabatan mereka berdua. Persahabatan Duong Lee dan Luu Binh pun semakin erat dan terjalin sampai mereka tua. 

***

Aisyah selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asal cerita....Vietnam," kata Aisyah.

Aisyah menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Assalamualikum," kata Tuti.

Aisyah mendengar salamnya Tuti, ya menjawabnya "Waalaikumsalam."

Tuti dateng ke rumah Aisyah, ya main sih. Aisyah dan Tuti ngobrol di teras depan rumah sekedar obrolan cewek saja sih seperti biasanya.

LEGENDA BUAH SEMANGKA

Mutiara selesai bermain dengan teman-temannya. Mutiara duduk di kamarnya dan asik baca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Mutiara :

Beberapa abad yang lalu, Vietnam dipimpin oleh Raja Hung Vuong Ketiga. Ia adalah raja yang sangat disegani rakyatnya. Ia juga sangat terkenal akan kebaikan dan kemurahan hatinya. Raja dan Permaisuri hanya mempunyai seorang anak perempuan. Maka mereka mengangkat anak laki-laki untuk menjadi pemimpin Kerajaan. Anak laki-laki itu diberi nama An Tiem. Raja dan Permaisuri merawat An Tiem seperti merawat anak kandung mereka sendiri. An Tiem pun tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan berbudi pekerti baik. Semakin dewasa ia tumbuh menjadi anak muda yang bijaksana. Ketika An Tiem dan Putri Raja telah dewasa dan saling mencintai, Sang Raja menikahkan keduanya. Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Semua rakyat ikut menyaksikan pernikahan calon pemimpin mereka dengan gembira.

Setelah menikah An Tiem dan Sang Putri memiliki dua anak. Sebagai penerus tahta kerajaan An Tiem dididik sangat keras oleh Sang Raja. Namun Sang Raja tidak lupa untuk menasihati keduanya agar kelak selalu memerhatikan kehidupan rakyatnya. An Tiem pun mengikuti nasihat dan perintah Sang Raja. Ia juga mengikuti setiap kegiatan Sang Raja supaya ia siap menggantikannya saat turun tahta kelak. Semakin lama An Tiem berubah menjadi calon pengganti Raja yang sangat berwibawa. Semua rakyat dan para penghuni Istana semakin memuji dan mengagumi An Tiem. Mereka berharap An Tiem akan menjadi pemimpin yang tidak kalah baiknya dengan Sang Raja. An Tiem terus melatih diri dengan serius. 

Ia tidak ingin mengecewakan harapan rakyat dan penghuni Istana. Dia telah bertekad untuk menjadi calon raja yang bisa melindungi rakyatnya. Ketekunan An Tiem dalam belajar dan melatih diri membuat Raja semakin menyayanginya. Akan tetapi tidak semua penghuni Istana menyukai An Tiem. Beberapa prajurit merasa tidak senang dengan perhatian dan kasih sayang Raja kepada An Tiem, anak angkatnya. Suatu pagi An Tiem telah siap mengikuti Sang Raja pergi ke beberapa desa untuk melihat keadaan rakyatnya. Mereka segera memulai perjalanan dengan dikawal oleh beberapa prajurit. Sementara itu beberapa prajurit yang tidak menyukai An Tiem sedang berkumpul di istana, membuat rencana untuk menyingkirkan An Tiem. 

Mereka iri karena An Tiem, yang hanya seorang anak angkat, mendapat perhatian yang lebih dari Raja. Akhirnya para prajurit yang iri sepakat untuk mengarang cerita bohong tentang An Tiem. Secara diam-diam beberapa prajurit yang iri tersebut menghadap Raja yang baru kembali ke Istana pada sore harinya. Mereka mengatakan beberapa kebohongan tentang An Tiem. Lalu untuk lebih meyakinkan Sang Raja, mereka berkata bahwa An Tiem telah memerintahkan prajurit di Istana untuk melakukan pengkhianatan dan merebut kekuasaan Sang Raja. 

“Wahai, Raja, An Tiem hanyalah seorang anak angkat. Dia tidak mungkin memikirkan masa depan Kerajaan ini,” kata seorang prajurit berapi-api. 

Sang Raja termenung dalam hati dan mulai memikirkan kebenaran perkataan prajurit-prajuritnya.

“Benar Raja! An Tiem hanya ingin menjadi raja dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri. Ia bahkan telah menghasut dan menjelek-jelekkan Raja di hadapan Tuan Putri,” seorang prajurit ikut menimpali agar Raja semakin yakin dengan perkataan mereka. 

Para prajurit itu tidak menyerah. Setiap hari mereka selalu mengatakan cerita kebohongan tentang An Tiem kepada Raja. Raja pun mulai terhasut dengan perkataan para prajurit itu. Ia lalu memutuskan untuk mengusir An Tiem dan keluarganya dari Istana. An Tiem, istri, dan anaknya pun dibawa ke sebuah pulau yang sangat terpencil di seberang lautan tanpa bekal apa pun. Meski di usir dari Istana dan harus hidup di tempat yang tak berpenghuni, An Tiem tidak berkecil hati dan mengeluh sedikit pun. Ia memutuskan untuk hidup mandiri bersama anak dan istrinya. Ia bertekad mengubah tempat tinggalnya yang baru menjadi lebih baik untuk hidup keluarganya. Setelah mempunyai tempat tinggal sementara, di antara pepohonan yang sangat lebat, An Tiem mulai melihat-lihat tempat di sekitarnya. 

Saat berkeliling An Tiem menemukan sebuah ladang yang sangat luas. Ketika ia sedang menyusuri ladang itu, An Tiem melihat segerombolan burung yang mengelilingi sebuah tanaman. Dia melihat burung-burung itu memakan biji-biji kecil yang sangat banyak. An Tiem termangu sejenak dan terus memerhatikan burung-burung yang sedang makan. Setelah gerombolan burung itu terbang, An Tiem mendekati tanaman berbiji itu. Ia melihat sebuah tanaman menjalar dengan buah bulat berwarna hijau. Sebagian buah itu telah terkoyak hingga An Tiem bisa melihat bagian dalamnya yang berwarna merah dan berbiji banyak. An Tiem pun memutuskan untuk membawa biji-biji tersebut pulang dan menanamnya di ladang. Beberapa hari kemudian An Tiem menaburi ladangnya dengan biji tanaman berbuah bulat. 

Setiap hari ia merawat ladangnya dengan sangat tekun. Bulan demi bulan berlalu, ladang An Tiem kini dipenuhi tanaman berbuah bulat berkat ketekunan dan kegigihannya dalam merawat tanaman itu. An Tiem lalu memetik satu buah dan membelahnya. Di dalamnya terlihat warna merah yang berair dan berbiji banyak. Karena merasa penasaran, An Tiem pun memakan buah itu. Rasanya sangat enak, manis, dan menyegarkan. An Tiem kemudian memetik beberapa buah untuk anak istrinya di rumah. Di tengah kegembiraannya memanen dan menikmati buah itu, diam-diam An Tiem sangat merindukan keluarganya di Istana. Setiap hari ia merenung di pinggir laut. Ia ingin sekali bertemu dengan Sang Raja dan orang-orang di Istana. Ketika sedang merenung, ia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil beberapa buah di ladangnya dan membawanya ke laut. An Tiem kemudian menulis namanya di buah-buah itu dan menghanyutkannya. An Tiem berharap suatu saat buah itu akan sampai kepada Sang Raja dan menyampaikan rasa rindunya. An Tiem melakukan hal itu berulang-ulang. 

Hampir setiap hari ia menghanyutkan buah, yang bertuliskan namanya, di laut. Dan, usahanya tidak sia-sia. Beberapa nelayan yang sedang melaut menemukan buah yang bertuliskan namanya. Buah itu pun menjadi perbincangan di antara para nelayan. Mereka mencoba mencari tahu asal mula buah bernama. Akhirnya mereka menemukan pulau tempat An Tiem dan keluarganya tinggal. Setelah itu banyak nelayan yang memutuskan untuk tinggal di pulau itu. Semakin lama pulau itu menjadi ramai dan tidak sepi seperti dahulu. An Tiem sangat gembira. Ia dan orang-orang yang ikut tinggal di pulau itu bertekad untuk membangun pulau tempat tinggal mereka menjadi lebih baik. Orang-orang yang melihat kebijaksanaan An Tiem pun memintanya untuk menjadi pemimpin mereka. An Tiem membangun pulau itu dengan kesungguhan hati karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah percaya kepadanya. 

Pulau itu pun semakin terkenal dan didatangi oleh banyak orang. Kabar tentang An Tiem yang membangun dan memimpin pulau itu segera menyebar ke seluruh negeri. Sang Raja pun mendengar kabar itu. Ia sangat ingin membuktikan apakah orang yang dimaksud adalah anak angkatnya, yang pernah dia usir dari Istana. Raja kemudian berlayar menuju pulau tempat tinggal An Tiem. Ketika Sang Raja dan anak buahnya sampai di pulau tersebut, mereka sangat terkejut. Sang Raja melihat sebuah pulau yang sangat berbeda dari yang ia lihat dahulu. Sang Raja merasa sangat menyesal telah mengusir An Tiem karena hasutan anak buahnya. Ia pun bergegas menemui An Tiem dan keluarganya. Saat bertemu dengan An Tiem dan keluarganya, Sang Raja meminta maaf kepada mereka. Ia lalu meminta An Tiem untuk kembali ke Istana. An Tiem dan keluarganya sangat gembira karena mereka bisa berjumpa dan berkumpul kembali dengan Sang Raja. 

Mereka pun kembali ke Istana dan membawa banyak buah yang telah ditanam oleh An Tiem. Beberapa tahun kemudian An Tiem menjadi raja menggantikan Sang Raja Hung Vuong Ketiga  yang telah wafat. Meskipun telah menjadi raja, An Tiem tak pernah lupa mengunjungi orang-orang di pulau. Setiap kali An Tiem kembali dari pulau, ia selalu membawa buah bulat berbiji, yang kini lebih dikenal dengan nama buah semangka. Dari cerita itu, orang Vietnam menganggap buah ini sebagai buah keberuntungan, yang telah mempertemukan kembali sebuah keluarga yang terpisah. Oleh karena itu, sampai saat ini, orang Vietnam sering membawa buah semangka saat berkunjung ke rumah kerabat atau keluarga. 

***

Mutiara selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus....asal cerita dari Vietnam," kata Mutiara.

Mutiara menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Nonton Tv saja!" kata Mutiara.

Mutiara keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ayah dan ibu. Acara Tv yang di tonton tentang olahraga...Olimpiade Tokyo 2020.

IBU YANG BERASAL DARI BINGKAI FOTO

Nur selesai membantu ibu, ya masak di dapur gitu. Nur duduk santai di ruang tamu, ya membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Nur :

Alkisah, hiduplah seorang pemuda yatim piatu di sebuah rumah yang sangat sederhana. Sebelum meninggal dunia, kedua orang tuanya adalah orang yang sangat miskin sehingga tidak meninggalkan harta warisan apa pun, kecuali sebuah rumah kecil. Kini pemuda itu menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya. Ia juga bekerja di ladang milik tuan tanah di desanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.  Setiap pagi-pagi buta, pemuda itu sudah berangkat ke ladang. Sore hari, ketika pulang bekerja, ia menyiapkan makan malam seorang diri. Sebenarnya ia sangat bosan dengan kehidupannya. Ia berharap ada seorang gadis yang bersedia menjadi istrinya sehingga hidupnya lebih bahagia. 

Namun pemuda itu selalu berpikiran bahwa para orang tua tidak akan rela menikahkan anak gadis mereka dengan dirinya, yang sangat miskin. Oleh karena itu, pemuda itu tidak pernah berharap bisa menikahi seorang gadis. Di sebuah pagi yang cerah, pemuda itu berangkat ke ladang setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Seperti biasa ia mengerjakan semua tugasnya di ladang dengan baik. Ia bekerja dengan tekun supaya ia bisa memperbaiki nasibnya suatu saat nanti. Sebelum matahari terbenam ia telah menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak pulang. Sesampai di rumah, pemuda itu bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Akan tetapi ia terkejut karena melihat makanan telah siap di meja. Ia menduga bahwa salah satu tetangganya telah mengantarkan makanan untuknya hari ini. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu langsung menghabiskan semua makanan di depannya. 

Keesokan paginya, pemuda itu melakukan pekerjaannya seperti biasa. Ia pergi ke ladang dan kembali ke rumah saat matahari tenggelam. Saat sampai di rumah, ia kembali melihat makanan yang telah siap di meja. Selain itu rumahnya sudah bersih dan rapi. Ia lalu memeriksa seluruh pintu di rumahnya dan mendapati semua pintu dalam keadaan terkunci. Di tengah kebingungannya, pemuda itu memilih untuk memakan makanan yang sudah terhidang di meja. Kejadian itu berulang-ulang selama beberapa hari. Namun pemuda itu belum menemukan orang yang selalu menghidangkan makanan di mejanya setiap sore. Oleh karena rasa penasaran yang semakin memuncak, pemuda itu pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Pagi itu, ia bangun seperti biasa dan bersiap untuk pergi ke ladang. Namun setelah berjalan keluar rumah dan mengunci pintu, ia kembali lagi dan melihat ke dalam rumahnya melalui celah di jendela. Pemuda tersebut tercengang saat melihat sosok perempuan keluar dari bingkai foto yang terpasang di dinding rumahnya. Perempuan itu tampak membersihkan rumah setelah beberapa saat keluar dari bingkai foto. Pemuda itu pun tahu siapa yang selalu membersihkan rumahnya setiap hari. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera membuka pintu dan menemui perempuan itu. 

“Apakah kamu yang selama ini memasak makanan itu?” tanya pemuda itu tiba-tiba. 

Wanita itu sangat terkejut dengan kemunculan mendadak pemuda itu. 

“Ohhh... Emmm... Ya, aku yang melakukan semua pekerjaan di rumah ini,” jawab perempuan itu terbata-bata. 

“Aku minta maaf. Apakah kamu merasa terganggu?” lanjut perempuan itu. 

Pemuda itu masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun ia segera menguasai keadaan. 

“Aku hanya tinggal seorang diri di rumah ini. Orang tuaku sudah lama tiada. Apakah kamu bersedia tinggal dan hidup bersamaku?” 

Perempuan itu terlihat bingung lalu berkata, “Kita berasal dari dunia yang berbeda. Kita tidak mungkin hidup bersama.” 

Pemuda itu pun segera mengambil bingkai foto yang ada di dinding lalu memasukkannya ke dalam sebuah peti dan menguncinya. 

“Lihatlah! Kamu tidak bisa kembali ke asalmu lagi!” seru pemuda itu. 

“Tinggallah bersamaku! Aku akan memperlakukanmu dengan baik,” pinta pemuda itu. 

Perempuan itu tak kuasa menolak permohonan pemuda di depannya. Sejak saat itu keduanya menikah dan tinggal bersama di rumah itu. Pemuda itu pun bekerja dengan giat hingga ia berhasil mempunyai ladang sendiri. Beberapa tahun kemudian mereka mempunyai tiga anak laki-laki. Pemuda itu menjadi seorang ayah yang sangat bahagia bersama ketiga anaknya. Ketiga anak itu kini telah tumbuh dewasa. Ayah mereka pun telah menjadi tua dan sebagian rambutnya sudah mulai memutih. Namun ibu mereka tidak menjadi tua sedikit pun. Ia masih terlihat sama seperti saat muda dahulu. Rambutnya tidak memutih. Kulit wajahnya pun tidak berkerut. Hal ini membuat para tetangga heran dan curiga. Bahkan, ada yang berpikir bahwa ibu mereka bukanlah manusia pada umumnya. Dalam waktu singkat, kabar tentang ibu mereka yang tidak menjadi tua seperti manusia umumnya segera berembus ke seluruh pelosok desa. 

Ketiga anak laki-laki itu mulai khawatir. Mereka ingin menanyakan kebenaran hal tersebut kepada ayah mereka, tapi mereka takut jika ayah mereka tersinggung. Namun karena mereka melihat kejanggalan fisik ibu mereka, salah satu anak memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya. Saat mendengar pertanyaan anaknya tentang asal usul ibu mereka, ayah mereka sangat terkejut. Ia kemudian menjelaskan bahwa ibunya tetap muda karena merawat diri dengan baik. Selain itu ibu mereka adalah perempuan yang sangat baik hati dan mengurus keluarga dengan baik, sehingga Dewa memberikan berkah, berupa fisik yang selalu muda. Ketiga anak laki-laki itu sama sekali tidak puas dengan jawaban ayah mereka. 

Suatu hari, anak ketiga mengajak kedua saudara laki-lakinya untuk mencari tahu sendiri asal usul ibu mereka. Mereka mencari benda apa pun di rumah yang bisa memberi gambaran mengenai ibu mereka. Tanpa sepengetahuan ibu dan ayah mereka, ketiga anak laki-laki itu pun mulai membongkar semua benda-benda lama di gudang, yang merupakan bekas rumah mereka terdahulu. Di tempat itulah anak ketiga menemukan sebuah peti usang yang terkunci, sehingga tidak bisa di buka dan di ketahui isinya. Pada hari berikutnya, ketika ayah dan ibu mereka pergi ke rumah salah satu tetangga, mereka bertiga kembali melakukan pencarian di gudang. Mereka sangat penasaran dengan peti yang terkunci itu. Ketiga anak itu segera membongkar seisi rumah untuk bisa menemukan kunci peti usang, sebelum orang tua mereka pulang. 

Mereka beruntung! Anak pertama menemukan sebuah kunci yang terlihat sangat usang di kamar kedua orang tuanya. Ketiga anak itu berjongkok, memandangi peti usang di depan mereka. Dengan tangan bergetar, anak pertama mencoba membuka peti usang dengan kunci yang mereka temukan. Kedua saudaranya melihatnya dengan sangat cemas. Mereka tidak berani menduga-duga apa yang ada di dalam peti itu. Ketika peti berhasil di buka, mereka sangat terkejut melihat sebuah bingkai foto dengan gambar seorang wanita yang sangat mirip dengan ibu mereka. Ketiganya memerhatikan foto itu dengan saksama. Saat tengah asyik memerhatikan bingkai foto itu, kedua orang tua mereka pulang. Ayah mereka terkesiap melihat bingkai foto di tangan ketiga anaknya. Ketiga anak itu pun terkejutnya melihat kedatangan kedua orang tua mereka. 

“Apa yang kalian lakukan?” tanya sang ayah dengan murka. 

“Ayah, kami hanya ingin mencari tahu asal usul Ibu,” jawab anak pertama dengan takut.

Ia tidak pernah melihat ayahnya sangat marah sebelumnya. 

“Bukankah Ayah sudah mengatakan kepada kalian untuk tidak bertanya lagi soal itu?” tanya sang ayah lagi. 

Ia benar-benar terlihat geram dengan tingkah laku anak-anaknya. Mereka pun bertengkar, saling berdebat. Tiba-tiba ibu mereka mengambil bingkai foto dari tangan anaknya, berusaha melerai pertengkaran itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memasang bingkai foto itu ke tembok.

“Tugas Ibu sudah selesai. Ibu sangat menyayangi kalian.” 

Tanpa berbicara lebih banyak, ibu mereka kembali ke dalam bingkai foto. Ketiga anak itu berteriak histeris. Mereka tidak bisa memercayai kejadian yang mereka lihat. Ibu mereka kini kembali menjadi wanita yang ada di bingkai foto itu. Wanita itu terlihat tersenyum bahagia. 

“Ibu kembaliiiiiii!” Anak ketiga berteriak, berharap ibunya akan kembali. 

Akhirnya ayah mereka menjelaskan peristiwa yang ia alami saat muda dahulu. Ia pun menjelaskan asal usul ibu mereka. Ketiga anaknya percaya bahwa ibu mereka adalah utusan Dewa yang ditugaskan untuk membahagiakan mereka. Mereka pun menggantung bingkai foto itu di dinding rumah agar mereka bisa menatap ibu mereka selamanya.

***

Nur selesai membaca bukunya dengan baik.

"Cerita yang apik dari asalnya Vietnam," kata Nur.

Nur menutup bukunya.

"Belajar ah," kata Nur.

Nur beranjak dari duduknya di ruang tengah ke kamarnya dengan membawa bukunya. Di kamar, ya buku di taruh di rak buku. Nur segera mengambil buku di dalam tasnya dan segera belajar dengan baik, ya mengulas pelajaran yang di berikan guru di bangku sekolah.

REINA DAN GADIS GYPSI

Maudy dari belanja di warungnya Ibu Ida. Maudy duduk santai di ruang tamu sambil minun teh dan juga makan-makan yang ia beli di warung, ya makan wafer gitu. Buku di meja di ambil sama Maudy dan segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Maudy :

Pangeran Pedro sedang duduk termenung di kastilnya. Ia memikirkan permintaan ayahnya untuk segera menikah. Namun, ia belum menemukan gadis yang sesuai dengan kehendak hatinya.            

“Pedro, apabila kau tak segera membawa gadis pilihanmu ke hadapan kami, kami yang akan memilihkan gadis untuk kau nikahi,” gertak Raja El Rey pada putra semata wayangnya. 

Raja El Rey merasa telah berumur dan sudah waktunya turun tahta. Akan tetapi, syarat turun-temurun kerajaan mengharuskan setiap pangeran sudah menikah sebelum menjadi raja. Oleh karena itu, Raja El Rey memberi batas waktu pada Pangeran Pedro untuk menemukan tambatan hatinya. Sebenarnya, perjodohan sudah lazim di kalangan istana. Tetapi, Pangeran Pedro bersikeras untuk menemukan gadis pilihannya sendiri. Ia tak peduli gadis itu berasal dari kalangan bangsawan ataupun rakyat jelata.  

“Memangnya di kerajaan ini tak ada gadis yang sesuai dengan hati Anda, Pangeran?” tanya Sancho. 

Dia adalah seorang pelayan sekaligus teman dekat Pangeran Pedro. Mereka sering bertukar pikiran.    

“Entahlah, Sancho. Kau tahu kan aku sudah beberapa kali menyamar untuk menemukan gadis yang kusukai di kerajaan ini. Sayangnya, belum ada yang membuatku jatuh hati. Apa kau punya ide?”

“Kenapa Anda tak mencarinya di luar kerajaan, Pangeran?”

Pangeran termenung mendengar gagasan Sancho. Ia seperti mendapat pencerahan. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan permintaan ayahnya. Ia lupa jika dunia ini luas, tak sebatas kerajaannya saja. Pangeran pun memutuskan untuk memulai pencariannya. Suatu hari, pangeran memutuskan pergi berkelana seorang diri. Ia menunggangi kuda kesayangannya, Caballo. Ia sudah berkuda dan meninggalkan kerajaannya seharian. Hari mulai beranjak siang dan pangeran bermaksud beristirahat sejenak. Ia memilih berhenti di sebuah telaga untuk mengambil minum. Saat ia merunduk mengambil air, ia melihat bayangan buah jeruk di permukaan air telaga. Ketika melongok ke atas, ia mendapati tiga buah jeruk ranum bergantung di ranting pohon jeruk. 

“Hmm ... jeruk-jeruk itu sepertinya segar sekali,” gumam Pangeran Pedro. 

Ia lalu memanjat pohon jeruk yang tak seberapa tinggi dan memetik buah tersebut. Pangeran Pedro kemudian duduk di bawah pohon besar yang rindang. Caballo berada di sampingnya, memuaskan dahaga dengan meminum air telaga yang segar. Pangeran segera membelah jeruk pertamanya. Tapi, tanpa terduga muncul seorang gadis dari dalam buah jeruk itu. Pangeran sangat terkejut. Gaids itu adalah gadis tercantik yang pernah dilihat pangeran. 

“Beri aku tortilla,” ujar sang gadis pada pangeran.

“Maaf, aku tak punya tortilla,” jawab pangeran.

“Kalau begitu, aku akan kembali ke dalam jeruk,” kata sang gadis. 

Ia pun masuk kembali ke dalam jeruk. Jeruk yang sudah terbelah itu menjadi utuh kembali dan meloncat dari genggaman pangeran, kembali ke ranting pohon jeruk. Kini, ada dua butir jeruk di tangan pangeran. Sebelum kejadian pertama berulang, pangeran pergi ke desa terdekat untuk membeli tortilla.

“Apakah aku bisa membeli sepotong tortilla?” tanya pangeran pada seorang pedagang di pasar.

Pedagang itu memberikan tortilla yang diminta pangeran. Tetapi, pangeran tampak kebingungan karena kantong uangnya tertinggal di telaga, saat ia mengambil air minum tadi. Melihat pangeran kebingungan, pedagang itu berkata, “Bawalah saja kalau kau tak punya uang untuk membayar. Aku sudah akan pulang dan itu adalah potongan tortilla terakhir yang kumiliki.” 

Pangeran berterima kasih pada pedagang itu dan segera kembali ke telaga untuk mengambil kantong koinnya. Tapi, ia sudah tak sabar untuk membelah jeruk berikutnya. Pangeran pun mengikat kudanya dan duduk di bawah pohon besar. Pangeran membelah jeruk keduanya dengan hati-hati. Kali ini ia tak terkejut melihat seorang gadis muncul dari dalam jeruk itu. Namun, ia takjub karena sang gadis ternyata lebih cantik dari gadis jeruk yang pertama. 

“Berikan aku aguardiente,” ujar gadis jeruk kedua.

Pangeran terkejut. Ia mengira sang gadis juga akan meminta tortilla. Ia pun terpaksa memberi jawaban yang mengecewakan. 

“Maaf, aku tak punya aguardiente,” ucap pangeran sedih.

“Kalau begitu, aku akan kembali ke dalam jeruk.”

Seperti gadis pertama, gadis kedua juga masuk lagi ke dalam jeruk. Jeruk yang sudah terbelah itu berubah menjadi utuh kembali dan meloncat dari genggaman pangeran, kembali ke ranting pohon jeruk.

“Kalau kubelah jeruk ini dan dia meminta apa yang aku tak punya, bagaimana ya?” gumam pangeran.

Pangeran kemudian berpikir, seandainya Tuhan menakdirkan ia bertemu dengan jodohnya, gadis dalam jeruk terakhir itu, pasti akan meminta apa yang ia punya. Akhirnya, pangeran nekat memotong jeruk terakhirnya. “Berikan aku xocolatl,” pinta gadis jeruk yang terakhir.

“Emmm ...” Pangeran bergumam sejenak.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, pangeran tidak langsung menjawab. Pangeran memang tidak memiliki xocolatl, tapi dari kejauhan ia melihat sebuah kereta datang. Pangeran mendapatkan ide cemerlang. 

“Baiklah, aku akan memberikan yang kau minta. Tetaplah di sini karena aku akan segera kembali,” seru pangeran. Dia lalu menghampiri kereta itu dan memintanya berhenti. Seorang gipsi melongokkan kepalanya keluar kereta. 

“Ada apa, Tuan?”

“Apakah kau memiliki xocolatl? Aku akan menukarnya dengan sekantung uang emas ini,” pangeran meminta, penuh harap. 

“Kebetulan aku memilikinya, Tuan.”

Gipsi itu menyodorkan sebotol xocolatl dan menyambar kantung uang Pangeran Pedro. Pangeran Pedro bergegas kembali menemui gadisnya. Ia menyerahkan xocolatl yang diminta oleh gadis itu. 

“Sekarang, saya menjadi milik Anda, Tuan,” ujar si gadis. 

Pangeran tersenyum puas. Saat ia perhatikan, gadis itu ternyata jauh lebih cantik daripada gadis-gadis jeruk sebelumnya. Pangeran sangat senang. Ia belum pernah melihat gadis secantik itu sebelumnya.

“Saya akan menikahi Anda, Nona. Siapa nama Anda?”

“Nama saya Reina,” jawabnya sambil tersenyum.

Senyum Reina memikat hati Pangeran Pedro. Pangeran Pedro bermaksud mengajak Reina ke kerajaan untuk bertemu ayahnya dan menikahinya. Namun, ia tak mungkin membawa Reina yang berpakaian lusuh itu. Pangeran Pedro melihat pria gipsi tadi berjalan mendekat. Ia hendak menukar kantung uangnya yang lain dengan pakaian untuk Reina. Namun, melihat pakaian pria gipsi yang tak kalah lusuh, Pangeran Pedro mengurungkan niatnya.

“Tuan, apakah kau bersedia menemani gadisku sebentar? Aku ingin mencari pakaian yang bagus untuknya. Tolong, jaga dia." 

Pangeran memberikan sekantung uang lagi pada pria gipsi.

“Baik, Tuan,” jawab pria itu, senang.

Pria gipsi itu sebenarnya memiliki anak gadis yang sedang tertidur di dalam kereta. Ia terbangun saat pangeran hendak menaiki kudanya. Begitu melihat pangeran, gadis itu jatuh cinta.

“Ayah, siapa orang yang naik kuda tadi?” tanya gadis gipsi pada ayahnya.

“Entahlah. Dia tadi membeli xocolatl dari ayah. Ia lalu menitipkan gadis ini pada ayah, dan memberi ayah banyak uang.”

“Apakah gadis itu istrinya?”

“Ayah tak tahu. Kenapa kau tak bertanya sendiri padanya?”

Gadis gipsi mendekati Reina dan bertanya, “Nona, apakah kau istri pria berkuda tadi?”

“Bukan. Tetapi, ia berkata akan menikahiku,” jawab Reina, jujur. 

“Oh, begitu. Bolehkah aku menyisir rambutmu? Saat pria itu kembali, kau akan tampak lebih cantik,” pinta gadis gipsi. 

“Silakan jika kau tak keberatan.” 

Gadis gipsi itu menyisir rambut Reina. Namun, sesungguhnya ia sedang menyematkan jarum bermantra ke kepala Reina. Reina segera berubah menjadi seekor merpati dalam sekejap. Gadis gipsi lalu mengambil pakaian yang ditinggalkan Reina dan segera mengganti pakaiannya. Gadis gipsi itu ternyata memiliki kemampuan sihir. 

“Apa yang kau lakukan, Anakku?” tanya pria gipsi.

“Aku jatuh cinta pada pria itu, Ayah. Dengan begini, aku akan bisa menikah dengannya,” jawab gadis gipsi.

“Lagipula, kata ayah dia sudah memberi ayah banyak uang. Dia pasti orang kaya. Aku akan bahagia hidup dengannya dan bisa memberi ayah banyak uang, kelak,” lanjutnya.

Pria gipsi mengangguk, membenarkan ucapan putrinya. Lagipula pria berkuda tadi belum tahu tentang putrinya, pikir pria gipsi. Tak lama kemudian Pangeran Pedro datang. Ia sedikit heran saat melihat kulit gadis jeruknya nampak lebih gelap. Namun, pangeran tak terlalu curiga karena gadis gipsi telah memantrai wajahnya agar mirip dengan Reina.

“Kulitmu tampak lebih gelap, Reina. Apa yang terjadi padamu?” tanya Pangeran Pedro.

“Matahari sangat terik, Tuan. Kulitku jadi terbakar,” jawab gadis gipsi.

Pangeran menganggukkan kepala, memercayai ucapannya karena panas matahari memang begitu menyengat. Pangeran segera menyerahkan pakaian yang indah untuk dikenakan Reina palsu. Ia lalu membawa gadis itu kembali ke istana, menemui ayahnya. Sesampai di istana, Pangeran Pedro membawa Reina palsu menemui ayah dan ibunya. Raja dan Ratu El Rey tampak senang melihat calon menantunya. Ia cantik, santun, dan lembut. Ia pasti bisa menjadi ratu yang baik dalam mendampingi pangeran memimpin kerajaan. Hari pernikahan pangeran pun tiba. Raja menggelar pesta besar di istana. Mereka tidak hanya mengundang para bangsawan, tetapi juga seluruh rakyat kerajaan. Pesta berlangsung meriah. 

Tak lama kemudian, Raja El Rey turun tahta dan menyerahkan tampuk pemerintahan pada Pangeran Pedro. Pangeran Pedro dan istrinya diarak dengan kereta kuda. Iring-iringan prajurit menabuh genderang tanda suka cita. Rakyat menyambut raja baru mereka. Raja El Rey memang terkenal adil dan bijaksana. Rakyat pun berharap penggantinya bisa bersikap serupa. Kini, Pangeran Pedro telah menjadi raja. Ia hidup bahagia dengan istrinya. Namun, ia belum mengetahui jika ia bukan menikahi Reina yang sesungguhnya, melainkan seorang gadis gipsi. Suatu hari, Sancho melihat seekor merpati putih bertengger di dahan dekat balkon istana. Sancho merasa tertarik dan mendekati sang merpati, yang ternyata jinak itu.             

“Tuan, bagaimana keadaan pangeran dan istrinya?” tanya merpati itu. Sancho terkejut karena merpati bisa bicara menggunakan bahasa manusia.

“Kau bisa bicara? Sungguh kau yang bicara? Atau aku salah dengar?” Sancho balik bertanya, tak percaya.

“Ya, Tuan. Saya bisa berbicara,” jawab merpati itu lagi. Sancho tampak takjub.

“Keadaan pangeran baik. Ia kini telah menjadi raja. Istrinya pun baik. Kadang ia menyanyi, kadang pula ia menangis,” ujar Sancho, menjawab pertanyaan merpati.

Merpati itu pun terbang menjauh setelah mendengar penuturan Sancho. Beberapa hari berikutnya, Sancho melihat merpati putih yang sama, hinggap di kepala Caballo. Mereka seperti sedang bercakap-cakap. Setelah itu Sancho semakin sering melihat merpati itu di sekitar istana. 

"Raja, apakah Anda pernah mendengar tentang merpati yang bisa berbicara?” tanya Sancho suatu pagi, saat menemani Raja Pedro berkuda.

“Belum pernah, Sancho. Tapi, apa yang tak mungkin terjadi di dunia ini? Kau masih ingat gadis jerukku?” balas Raja Pedro.

Sancho mengangguk. Raja Pedro memang tak pernah menceritakan asal-usul Reina pada kedua orang tuanya. Ia hanya mengatakan Reina gadis sebatang kara yang tinggal di luar kerajaan. Saat itu, Raja dan Ratu El Rey tak mempermasalahkan pilihan anaknya. Mereka percaya anaknya akan memilih wanita terbaik untuk dijadikan istri. Tetapi, Raja Pedro menceritakan asal usul Reina kepada pelayan setianya, Sancho. Ia pun meminta Sancho merahasiakannya. 

“Memangnya kau bertemu merpati yang bisa berbicara itu?” tanya Raja Pedro.

“Iya, Raja. Kadang saya juga melihatnya hinggap di kepala Caballo.”

“Oh, ya? Jadi kau juga mengenalnya, Caballo?” ucap Raja Pedro, sambil menepuk leher Caballo yang tertutup surai panjang.

“Jangan-jangan Caballo bisa bicara?” gurau Raja Pedro. Mereka tertawa.

Tapi Caballo hanya meringkik, bukan bicara.

“Apa yang kau dan merpati itu bicarakan, Sancho?”

“Tidak banyak. Ia hanya bertanya tentang keadaan Anda dan Ratu.”

“Dia bertanya tentangku? Ia mengenalku?”

“Siapa yang tak mengenal Anda, Tuan? Anda adalah seorang raja,” balas Sancho. Raja Pedro tersenyum.

“Sancho, kalau kau melihatnya lagi, tangkap dan bawa dia kepadaku,” pinta Raja Pedro.

Semakin hari ia semakin penasaran dengan merpati yang diceritakan Sancho. 

“Baik, Tuan.”

Sancho sudah hafal tempat bertengger merpati itu. Ia lalu menaruh jebakan agar merpati itu tidak terbang ketika ia akan menangkapnya. Saat merpati itu bertengger di tempat biasa, ia pun masuk dalam jebakan Sancho. Ia tak bisa melepaskan diri dari jebakan itu. Ketika Sancho melihat seekor merpati masuk jebakannya, ia memastikan terlebih dulu bahwa merpati itu adalah merpati yang ia inginkan.

“Maafkan aku, merpati. Aku tak bermaksud menyakitimu. Ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar Sancho pada merpati putih.

“Tolong lepaskan aku, Tuan,” rintih merpati itu.

“Aku akan segera melepaskanmu, setelah aku mempertemukanmu dengannya,” jawab Sancho, berjanji pada merpati.

Tanpa menunggu lagi, Sancho segera mencari Raja Pedro. Rupanya raja sedang minum teh bersama ratu di taman istana.

“Raja, ini adalah merpati yang hamba ceritakan.”

Sancho mengulurkan merpati itu pada Raja Pedro. Raja Pedro tampak senang. Merpati itu cantik sekali. Bulunya putih dan halus. Akan tetapi, ratu justru tampak terkejut melihatnya.

“Duhai merpati yang cantik, Sancho bilang kau bisa berbicara. Sekarang, bicaralah padaku,” pinta Raja Pedro.

Namun, merpati itu diam saja.

“Sancho, sepertinya ia hanya mau bicara denganmu. Tapi, merpati ini sungguh cantik sekali. Aku ingin memeliharanya,” lanjut Raja Pedro.

“Tidak perlu, Sayang. Lepaskanlah merpati itu. Kasihan dia,” kata ratu.

Ia tampak sedikit panik dan ketakutan.

“Kau tak suka merpati ini, Reina?” tanya Raja Pedro.

Tangannya mengelus kepala merpati dan tiba-tiba ia menemukan sebuah jarum menusuk jarinya. Ia lalu menarik jarum itu dari kepala sang merpati. Tak disangka, merpati itu berubah menjadi manusia. Merpati itu adalah jelmaan Reina yang sesungguhnya. Pangeran terkejut dan tampak bingung mendapati dua Reina di hadapannya.

“Kau pasti penyihir!” teriak ratu, sambil menunjuk Reina.

“Bukan, kau yang penyihir!” balas Reina, tak mau kalah.

“Raja, tusukkanlah jarum itu ke buah jeruk di meja Anda. Anda akan tahu yang sebenarnya,” tukas Reina.

Raja pun menusukkan jarum yang tertancap di kepala merpati ke sebutir jeruk. Sihir ratu terserap masuk ke dalam buah jeruk. Wajah aslinya pun kembali. 

“Siapa kau?” bentak raja pada gadis gipsi.

“Jadi, selama ini yang aku nikahi bukan Reina?” tanyanya lagi.

Reina lalu bercerita tentang gadis gipsi yang telah menusukkan jarum bermantra ke kepalanya, sehingga ia berubah menjadi merpati. Selama ini ia terbang ke sana ke mari, menanyakan cara menghapus sihir gadis gipsi. Kini, Reina telah terbebas dari sihir itu. Gadis gipsi langsung tersungkur di kaki Raja Pedro. “Ampuni saya, Raja Pedro. Saya melakukan semua ini karena saya mencintai Anda,” ucap gadis gipsi, meminta belas kasihan. Ia menangis tersedu-sedu. 

“Cara yang kau lakukan salah, Nona. Kau harus dihukum!” tukas Raja Pedro.

Hukum kerajaan mengatur bila ada yang melakukan kejahatan akan dihukum dengan dibakar di tiang. Gadis gipsi itu ketakutan membayangkan hukumannya. Ia memohon-mohon ampun pada Raja Pedro.

“Raja, sebaiknya Anda pikirkan lagi hukuman untuk gadis gipsi ini. Bagaimanapun selama ini ia telah menjadi ratu yang baik,” saran Sancho.

Raja masih tampak marah karena kebohongan gadis gipsi. Namun, ia memang bukan raja yang kejam. Ia pun memikirkan kembali hukuman yang layak untuk gadis gipsi.

“Kalau begitu, bawalah ia kepada Marlin, penyihir istana. Minta Marlin menghapus kemampuan sihirnya. Setelah itu, keluarkan ia dari kerajaan,” perintah Raja Pedro. 

Gadis gipsi itu meminta maaf berkali-kali kepada Raja Pedro. I benar-benar menyesali perbuatannya. Maka, setelah dikeluarkan dari kerajaan, ia kembali kepada ayahnya. Mereka pun kembali menjadi pengelana. Raja Pedro lalu menikahi Reina yang asli. Rakyat bersuka cita menyambut ratu mereka. Raja Pedro dan istrinya memulai kehidupan baru di istana, memimpin rakyat mereka dengan bijaksana, dan hidup bahagia selamanya. 

***

Maudy selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus, ya asalnya dari Mesiko," kata Maudy.

Maudy menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja. Pintu depan di ketuk dan ada ucapan salam juga sih "Assalamualaikum."

Maudy membuka pintu dan menjawab salam "Waalaikumsalam."

"Abang Kent...tumben main kesini?!" kata Maudy.

"Rindu sama Maudy," kata Kent yang terus terang dengan pernyataannya. 

"Bisa aja...Abang Kentt," kata Maudy dengan menunduk malu.

"Aku boleh masuk kan!" kata Kent.

"Silakan Abang Kent!" kata Maudy.

Maudy dan Kent duduk di ruang tamu. Keduanya ngobrol yang asik, ya pokoknya obrolan kaya orang yang lagi kasmaran karena cinta bertemu gitu sih.

Friday, July 30, 2021

ANDAI TETANGGA ARTIS

 
Kasino dan Indro duduk di teras depan sambil menikmati makan gorengan dan juga minum kopi. Dono duduk di  di dalam rumah, ya di ruang tamu sedang baca buku sih. Indro melihat tetangganya di depan  rumah sih. 

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino. 

"Andai tetangga depan rumah kita.....artis ya Kasino?!" kata Indro.

Kasino sedang minum kopinya dengan asik, ya menaruh gelas kopi di meja.

"Andai tetangga depan rumah kita....artis. Kenyataanya kan bukan gitu," kata Kasino.

"Kasino. Andai-andai saja. Asik obrolannya," kata Indro.

"Ooooo begitu. Boleh lah. Andai-andai saja!" kata Kasino.

"Obrolan kita ini bisa di bilang.....podcast gitu," kata Indro.

"Podcast. Kita di teras depan rumah. Harus di studio gitu kaya podcast para artis gitu yang aku tonton di Tv dan juga di Youtobe," kata Kasino.

"Gaya...kitalah. Ngapain ikut orang," kata Indro.

"Omongan Indro. Bener. Gaya kita. Cuma mainan saja!" kata Kasino menegaskan omongan Indro.

Indro dan Kasino mengambil gelas kopi meja, ya segera di minum dengan baik. Dono menghentikan baca bukunya dan buku di taruh di meja, ya Dono ke teras depan rumah dan mengambil gorengan di piring. Dono duduk agak jauh dari Kasino dan Indro, ya sambil makan gorengan dan nonton Youtobe di Hp-nya. Indro dan Kasino sudang minum kopinya, ya menaruh gelas di meja lagi.

"Indro mau membicarakan artis penyanyi Pop apa penyanyi Dangdut?" tanya Kasino.

"Aku maunya artis penyanyi Dangdut," kata Indro.

"Aku maunya artis penyanyi Pop. Ya sudahlah kita suit saja untuk menentukannya!" kata Kasino.

"Ok," kata Indro.

Indro dan Kasino terus suit dengan baik. Dono telah hambis makan gorengan, ya ngambil gorengan lagi di piring. Dono kembali duduk sambil makan gorengan dan nonton Youtobe di Hp. Suit yang di mainkan Indro dan Kasino, ya yang menang.....adalah Indro.

"Aku yang menang. Obrolan kita tentang artis penyanyi Dangdut," kata Indro.

"Yang kalah mengikuti maunya yang menang lah," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Di depan rumah kita. Ya tetangga....artis penyanyi Dangdut, ya Lesti aja deh!" kata Indro.

"Mustahillah," kata Kasino.

"Kan cuma seandainya saja!" kata Indro.

"Ok. Seandainya. Tetangga depan rumah kita...artis penyanyi Dangdut...Lesti," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

Indro mengambil gorengan di piring dan makannya dengan baik, ya begitu juga dengan Kasino.

"Aku pasti main ke rumah Lesti, ya sekedar bertamu saja. Silaturahmi, kaya lebaran gitu salam-salaman dan menikmati kue buatan Lesti yang enak, ya buatan artis gitu," kata Indro.

"Kue buatan Lesti, ya artis. Enak kali rasanya," kata Kasino.

"Enak rasa kuenya," kata Indro.

Dono mengambil gorengan di piring lagi dan berkata "Indro dan Kasino dari tadi ngomongin tetangga depan rumah?"

Dono makan gorengannya.

"Iya Don," kata Indro dan Kasino bersamaan.

"Tetangga depan kan ada cewek cantik," kata Dono.

"Kalau itu aku tahu. Tetangga depan...ada cewek cantik," kata Indro.

"Aku juga tahulah. Tetangga depan...ada cewek cantik," kata Kasino.

"Kasino dan Indro....mulai kelain hati ya?!" kata Dono.

"Don cuma obrolan saja!" kata Indro.

"Seperti biasanya. Obrolan cowok saja!" kata Kasino.

"Aku laporan dengan Saskia dan Selfi apa enggak ya?!" kata Dono yang niatnya becanda gitu.

"Dasar tukang lapor!" kata Indro.

"Dono tukang lapor!" kata Kasino.

"Becanda tahu!" kata Dono.

"Aku paham gaya mu Don!" kata Indro.

"Gaya becandaan anak kecil," kata Kasino.

Dono ke dalam rumah, ya untuk minum air putih sih di dapur. 

"Oooo Kasino...apa tanggapan mu dengan artis yang talak istrinya...gitu?!" kata Indro.

"Aku sukalah. Jadi aku punya kesempatan untuk masuk dan melamarnya tuh cewek. Janda ku terima dengan baik," kata Kasino.

"Emmmmm. Maunya Kasino...permainan janda ku terima dengan baik. Beritanya...artisnya kelanjutannya....nikah kembali," kata Indro.

"Aku gagal bersama dia lagi. Padahal ada kesempatan....jandanya itu," kata Kasino.

"Kalau menyukai cewek itu. Ya gadis di terima. Janda juga di terima. Bener omongan Kasino. Jadi jandanya gagal deh!' kata Indro.

Indro dan Kasino mengambil gelas kopi di meja, ya di minum dengan baik. Dono sedang asik main game di Hp-ya, ya di ruang makan. Kasino dan Indro menaruh gelas kopi di meja.

"Tetangga depan rumah kita kalau artis. Ya aku dekatin dengan baik....jadi pacar gitu," kata Indro.

"Aku juga ikut bersaing jugalah. Mendapatkan cewek di depan rumah kalau dia artis lah," kata Kasino.

"Rival mendapatkan cinta...artis, ya tetangga depan rumah," kata Indro.

"Pastinya....Dono ikutan juga. Jadinya serulah bersaing mendapatkan cinta cewek depan rumah, ya artis," kata Kasino.

"Kenyataanya. Cewek depan rumah...bukan artis. Cewek biasa-biasanya," kata Indro.

"Kenyataanya...memang begitu," kata Kasino.

"Awalnya juga. Artis itu. Orang biasa saja, ya tidak populer gitu," kata Indro.

"Maka itu. Cowok yang menyukai artis cewek itu. Ya menyukai diri tuh cewek saat ia belum populer apa sudah populer....yang lebih baik?!" kata Kasino.

"Sebelum tuh cewek populerlah. Menyukai cewek itu. Kaya tetangga di depan rumah kita!" kata Indro.

"Pilihan Indro tepat," kata Kasino.

"Kenyataanya. Aku tidak jadian dengan cewek depan rumah," kata Indro.

"Kenyataan tetap kenyataan," kata Kasino yang tegas.

"Sudah..Kasino main seandainya...tetangga depan rumah kita artis!" kata Indro.

"Ya. Permain selesai!" kata Kasino.

"Main game ah!" kata Indro.

"Idem," kata Kasino.

Kasin dan Indro main game di Hp-nya dengan baik. Dono di ruang makan, ya masih main game di Hp-nya.

KUCING GUNUNG DOVRE

Jarwo selesai bermain dengan Sopo di lapangan, ya main layangan gitu. Jarwo duduk santai di rumah, ya di teras depan rumah sambil menikmati minum kopi dan gorengan gitu. Jarwo teringat dengan buku yang ingin ia baca, ya di pinjem dari Adit. Jarwo langsung ke dalam rumah mengambil buku tersebut. di cari dengan baik, ya ketemu sih bukunya di atas meja makan.

"Buku ini yang ingin aku baca. Adit anak sekolah....pinter karena banyak baca buku sih," kata Jarwo.

Jarwo membawa bukunya, ya ke teras depan rumah. Duduk santailah Jarwo sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Jarwo :

Dahulu kala di Denmark hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Ia memerintah dengan baik sehingga rakyatnya dapat hidup dengan layak. Rakyat Denmark sangat menyukai raja tersebut. Mereka seringkali mengirimkan berbagai macam hadiah kepada Sang Raja sebagai tanda bakti dan sayang. Jack, seorang pria yang tinggal di Finmark, ingin memberikan hadiah kepada raja tersebut. Ia memikirkan hadiah yang sesuai bagi Sang Raja. Jack kemudian datang ke sebuah kedai minum dan bertanya kepada teman-temannya tentang hadiah bagi Sang Raja. 

"Kamu bisa menghadiahkan sekeranjang ikan kepada Sang Raja," usul salah satu teman Jack.

"Tapi, ikan akan cepat busuk," sanggah temannya yang lain, "lagipula kalau Raja ingin makan ikan, pelayan-pelayannya bisa membelinya di pasar."

Teman-teman Jack yang lain tertawa mendengar perkataan temannya itu. 

"Bagaimana kalau kau menghadiahkan sebuah pedang kepada Sang Raja, Jack?" pemilik kedai minum ikut memberi saran, "Raja jarang sekali berperang, tetapi pedang yang bagus akan membuatnya tampak berwibawa."

Jack terlihat berpikir sejenak, kemudian ia berkata, "Harga pedang yang bagus sangat mahal. Lagipula tidak ada pandai besi yang baik di sekitar sini."

Mereka semua terdiam, mencari ide untuk membantu Jack. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berseru, "Kalau kau ingin yang murah, kenapa tidak kau tangkap beruang kutub yang besar dan menghadiahkannya kepada Sang Raja? Bukankah banyak sekali beruang kutub di sekitar sini? Aku yakin Raja akan sangat menghargai hadiahmu karena tidak pernah ada beruang kutub di Denmark!"

"Ide yang bagus, temanku! Hadiah yang benar-benar unik dan tidak mahal!" kata pemilik kedai minum sambil tersenyum, "Raja akan selalu mengingatmu saat ia melihat beruang kutub itu, Jack."

"Iya, itu memang ide yang bagus. Aku akan segera berkemas. Siapa yang mau menemaniku berburu?" tanya Jack. 

"Aku ingin membantumu tetapi aku alergi bulu beruang, Jack."

"Aku mau membantumu tapi hidungku sering berdarah jika kena udara dingin."

"Aku ingin ikut denganmu tetapi kapalku besok akan pergi berlayar."

Tak ada seorang pun teman Jack yang mau ikut berburu beruang kutub. Akhirnya Jack pun berburu beruang sendirian. Jack menyadari bahwa berburu beruang kutub bukanlah hal yang mudah, apalagi menangkapnya dalam kondisi hidup. Ia lalu bertanya kepada para tetua di desanya bagaimana cara menangkap beruang kutub. Ia juga mendatangi dan mengamati tempat-tempat di mana beruang kutub sering terlihat. Kesabaran Jack akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menangkap seekor beruang kutub hidup-hidup. Orang-orang di desanya terkejut melihat keberhasilan Jack. Mereka mengagumi hasil tangkapannya, seekor beruang kutub yang besar dan berbulu seputih salju. 

Mereka memberikan ucapan selamat dan menyemangati Jack agar segera membawa beruang tersebut kepada Sang Raja. Pagi itu Jack berangkat ke Denmark dengan beruang kutubnya. Mereka melakukan perjalanan cukup panjang, melintasi beberapa tempat, salah satunya Gunung Dovre. Jack dan beruang kutubnya sampai di tempat Gunung Dovre tepat sehari sebelum Natal. Malam menjemput Jack dan beruangnya saat mereka sampai di Gunung Dovre. Cuaca yang gelap dan dingin memaksa Jack untuk mencari tempat berteduh. Ia memandang ke segala arah hingga ia melihat cahaya dari sebuah rumah. Jack dan beruangnya bergegas berjalan ke rumah tersebut. 

"Tok... tok... tok," Jack mengetuk pintu rumah, lalu berkata, "selamat malam! Adakah orang di rumah ini?" "Selamat malam," jawab Halvor, pemilik rumah, sambil membuka pintu.

Ia lalu mempersilakan Jack bersama beruangnya masuk ke dalam rumah.

"Terima kasih sudah mengizinkan kami masuk ke rumahmu. Namaku Jack," kata Jack memperkenalkan diri.

"Aku Halvor," jawab Halvor.

Ia kemudian bertanya kepada Jack, "Kau hendak ke mana di malam Natal seperti ini?"

"Aku hendak pergi ke Denmark, Halvor. Aku akan menghadiahkan beruang kutub ini kepada Sang Raja. Kami sudah tidak kuat berjalan lebih jauh. Apalagi suasana begitu gelap dan cuaca sangat dingin di luar sana. Jadi, bolehkah kami menginap di rumahmu malam ini?" tanya Jack, penuh harap.

Halvor menatap Jack sejenak, lalu ia berkata dengan sedih, "Kau dan beruangmu bisa berteduh sementara di rumah ini, tetapi kalian harus pergi sebelum tengah malam."

Jack mengernyit, berbagai pertanyaan muncul di pikirannya, "Kenapa? Kenapa kami harus pergi sebelum tengah malam? Apa kau takut dengan beruang ini? Apakah kau takut ia akan melukaimu saat kau tidur? Halvor, aku berani menjamin bahwa beruangku ini tidak akan menyakitimu."

"Jack, bukan itu yang aku khawatirkan," Halvor berkata, terlihat tak enak hati.

"Atau kau ingin aku membayar sewa kamar kepadamu? Baiklah, aku akan membayarmu, Halvor! Berapa biaya sewa kamarmu selama semalam?" tanya Jack lagi.

"Bukan, bukan itu maksudku," jawab Halvor.

"Jika bukan karena beruangku atau sewa kamar, kenapa engkau melarangku menginap, Halvor?"

"Aku senang kau datang berkunjung, Jack! Aku tidak keberatan jika kalian ingin menginap di rumahku. Tetapi jangan malam ini. Nyawamu bisa terancam kalau kau memaksa untuk tetap menginap," Halvor mencoba menjelaskan.

Jack semakin menautkan alisnya saat mendengar penjelasan Halvor. Ia pun memutuskan untuk bertanya lagi, "Aku jadi ingin tahu kenapa nyawaku bisa terancam jika aku menginap di rumahmu malam ini, Halvor?"

"Jack, ada beberapa Troll (Mahluk Jahat Buruk Rupa) di sekitar sini. Mereka tinggal di hutan. Awalnya aku mengundang mereka untuk merayakan Natal, tetapi mereka malah mengacaukan pestaku. Sejak itu, setiap malam Natal mereka akan datang ke sini. Mereka akan berpesta, menghabiskan semua makanan dan minumanku," Halvor berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "jika aku tidak mengadakan pesta untuk mereka, mereka akan merusak peternakan dan ladangku sepanjang tahun!"

"Jadi, karena itu kau melarangku untuk menginap di sini malam ini?" tanya Jack.

"Benar, Jack. Surga tidak akan menolongku jika aku berbohong kepadamu. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa dirimu," Halvor berkata, tulus.

Jack terdiam selama beberapa saat. Tiba-tiba ia berkata, "Halvor, izinkan aku untuk tetap tinggal di rumahmu malam ini. Apa pun yang terjadi terhadap diriku adalah tanggung jawabku sendiri. Aku lelah dan aku yakin beruangku juga merasakan hal yang sama. Aku tidak tega untuk memaksanya terus berjalan di tengah cuaca dingin ini."

Halvor terlihat panik, "Tapi..."

"Tenanglah, Halvor. Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Jack sambil tersenyum, "sekarang tunjukkan padaku di kamar mana aku bisa tidur."

"Kau tidur dengan beruangmu, Jack?"

"Tentu tidak, Halvor. Biarkan ia tidur di dekat perapian itu," ujar Jack, sambil menunjuk perapian di pojok ruang makan. Halvor mengangguk, mengiyakan perkataan Jack, dan mengantar Jack ke kamar belakang.

Ia kemudian kembali ke ruang makan untuk menyiapkan sajian bagi para Troll. Menu yang disajikan Halvor cukup lengkap, mulai dari bubur ayam, sup ikan, sosis sapi panggang, sampai minuman jahe yang hangat dan menyegarkan. Setelah selesai menyiapkan makanan, Halvor pergi meninggalkan rumahnya. Ia mengungsi ke sebuah gua yang tidak jauh dari rumahnya. Selama perjalanan, Halvor berdoa supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Jack dan beruangnya. Tepat tengah malam, berbagai macam Troll keluar dari hutan. Bentuk mereka sungguh aneh, bahkan terkadang menyeramkan. Ada troll yang bertubuh pendek, cukup kekar, dan memiliki kulit berwarna tembaga. Dan, ada troll yang berkaki serupa dengan kuda dan memiliki ekor. Mereka berjalan bersama-sama menuju rumah Halvor. 

Sesampai di rumah Halvor, troll-troll tersebut memulai pesta mereka. Mereka memakan semua makanan yang disediakan Halvor dngan sangat rakus. Mereka juga minum minuman jahe dan menumpahkannya di lantai. Kehadiran mereka membuat rumah Halvor sangat berantakan malam itu. Saat mereka sedang bersukaria, salah seorang troll melihat beruang kutub milik Jack yang sedang berbaring di dekat perapian. Troll itu belum pernah melihat beruang kutub seumur hidupnya. Ia pun mengira beruang kutub itu adalah seekor kucing yang besar. Tiba-tiba troll itu mendapatkan ide untuk menggoda beruang kutub milik Jack. Ia tersenyum membayangkan kegaduhan yang terjadi karena keusilan yang akan dia lakukan. Ia pun bergumam sendirian, "Kucing besar itu pasti akan panik. Ia akan berlari ke sana kemari dan menubruk apa saja! Pasti sangat lucu sekali."

Troll yang usil itu tampak mengambil sepotong sosis, menjepitnya dengan garpu, lalu mengibas-ngibaskannya di depan hidung beruang kutub. Ia kemudian berkata, "Pus, Pus, mau sosis ini tidak? Enak lho, Pus." 

Beruang itu menggeliat sebentar, menguap, lalu kembali tidur. Troll usil itu kembali menggoda, tetapi beruang itu tetap tertidur. Beberapa kali troll itu menggoda, tetapi hasilnya tetap saja sama, beruang kutub milik Jack masih tertidur lelap. Akhirnya troll usil itu jengkel karena usahanya tidak berhasil. Ia mengibaskan potongan sosis di depan beruang kutub itu sekali lagi, tapi kali ini dia juga menusuk hidung beruang itu dengan garpu. Beruang kutub sontak terbangun. Ia spontan berdiri sambil menggeram, marah. Ia meraih troll usil itu, mengangkatnya ke atas, lalu membantingnya ke lantai dengan keras. Troll usil itu mengerang kesakitan. Semua Troll terkejut melihat kejadian tersebut. Mereka segera menolong temannya dan mengeroyok beruang kutub. Troll-troll mencoba menggigit, memukul, dan menendang beruang. 

Tetapi beruang kutub itu membuat semua Troll yang mengeroyoknya jatuh terjengkang hanya dengan satu kibasan tangan. Troll-troll tersebut berusaha bangkit. Mereka akan mengeroyok beruang kutub itu lagi, tetapi beruang kutub segera menyerang dan mencakar beberapa Troll. Teriakan dan jerit kesakitan terdengar. Beruang kutub itu memburu semua Troll yang ada di rumah Halvor. Ia mencari Troll di semua sudut rumah. Troll-troll yang melihat kelakuan beruang kutub itu bergidik ketakutan. Mereka memutuskan untuk segera pergi dari rumah Halvor. Troll-troll berusaha keluar dari rumah Halvor dengan berbagai cara. Ada yang merangkak keluar melalui pintu, melompati jendela, bahkan memanjat cerobong atap. Keesokan harinya, Halvor sangat terkejut melihat kondisi rumahnya. Meja makannya terbelah menjadi dua, pecahan piring dan gelas memenuhi lantai, jendela-jendelanya jebol, serta banyak kekacauan-kekacauan lain. Apa yang dilakukan para Troll semalam? Aku belum pernah melihat kekacuan seperti ini, kata Halvor dalam hati. Halvor kemudian membangunkan Jack. Dengan penasaran, dia bertanya, "Jack, apa kau tahu apa yang terjadi semalam?"

Jack memerhatikan kondisi di dalam rumah Halvor. Ia heran dengan apa yang dilihatnya. Rumah Halvor sangat berantakan, seperti baru saja digoncang gempa bumi. 

"Aku tidak tahu, Halvor. Aku tertidur cukup lelap hingga tidak terbangun ketika kekacauan ini terjadi," jawab Jack sambil menggelengkan kepala.

"Lihatlah Jack, tidak ada lagi barang yang utuh di rumah ini kecuali perapian dan beruang milikmu," ujar Halvor di tengah kebingungannya.

Jack tampak berpikir sejenak, lalu sebuah senyum muncul di bibirnya, "Aku rasa aku tahu apa yang terjadi, Halvor! Sepertinya beruangku telah menghajar troll-troll pengganggu itu."

***

Setahun kemudian, sore hari menjelang Natal, Halvor pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil. 

"Halvor, Halvor, Halvor..."

"Iya, aku dengar," jawab Halvor.

Ia tahu bahwa troll-troll itu yang memanggilnya.

"Apakah kamu masih memelihara kucing putih yang besar itu?" tanya suara tanpa wujud itu.

Halvor terdiam, berpikir. Ia melihat ada satu kesempatan untuk lepas dari gangguan troll-troll usil tersebut. Ia kemudian berkata, "Iya, aku masih memelihara kucing itu. Ia suka sekali tidur di dekat perapian. Kucing itu juga telah melahirkan tujuh anak kucing. Mereka seperti ibunya, bertubuh besar dan lincah," Halvor terdiam lalu bertanya, "Apa kau mau melihatnya?" Suasana hening selama beberapa saat.

Tiba-tiba suara tanpa wujud itu berkata, "Halvor, sudah saatnya kami berpamitan kepadamu. Terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Selamat tinggal, Halvor."

Selesai berkata demikian, makhluk-makhluk itu tak pernah datang ke rumah Halvor lagi. Hutan itu kembali lengang. Halvor menghela napas, lega. Dia pun bergegas pulang untuk merayakan Natal dengan sukacita, tanpa Troll-Troll usil di rumahnya. 

***

Jarwo selesai baca bukunya.

"Benar-benar ceritanya bagus, ya dari asal cerita dari Norwegia," kata Jarwo.

Jarwo menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Baca buku itu banyak manfaatnya. Dari tidak tahu menjadi tahu. Jadinya pinter deng....kaya Adit," kata Jarwo.

Jarwo mengambil gelas kopi di meja dan di minum dengan baik.

"Enak kopi ini," kata Jarwo.

Jarwo selesai minum kopi, ya di taruh di meja gelas yang masih ada isi kopinya sih.

"Cerita asal Indonesia juga banyak sih." kata Jarwo. 

Sopo dateng ke rumah Jarwo

"Assalamualaikum," kata Sopo.

"Waalaikumsalam," kata Jarwo.

Sopo duduklah dan ngajakin main catur sama Jarwo. Ya Jarwo setuju main caturlah. Jadi Jarwo dan Sopo, ya main catur dengan baiklah.

Thursday, July 29, 2021

POPOCATEPETL DAN IZTACCIHUATL

Zori setelah lari keliling kompleks dengan teman-teman, ya istirahat di rumah. Ada buku di meja, ya di baca Zori dengan baik.

Isi buku yang di baca Zori :

Ratusan tahun yang lalu sebelum kedatangan bangsa Spanyol, lembah Meksiko ditinggali oleh suku bangsa Aztec. Mereka hidup berkelompok, menguasai wilayah-wilayah tertentu. Salah satu wilayah yang mereka kuasai adalah wilayah Tlaxcaltecas. Tezcacoatl adalah kepala suku dari wilayah Tlaxcaltecas. Ia sudah lama berkeluarga, tapi belum diberi keturunan. Setiap hari, ia dan istrinya berdoa kepada dewa agar permohonan mereka dikabulkan. Mereka sungguh berharap memiliki anak, tak peduli satu atau banyak, tak peduli lelaki atau perempuan. Mereka berdua sangat merindukan kehadiran buah hati. Pada suatu hari Tezcacoatl bermimpi bertemu dengan Dewi Cihuacoalt, yang dipercaya sebagai dewi kesuburan oleh suku bangsa Aztec. 

“Dewi Cihuacoalt, kami mohon kabulkanlah doa kami,” pinta Tezcacoatl, mengiba. 

“Aku telah mendengar doa kalian. Aku akan melakukan sesuatu untuk memenuhi permintaan kalian.”

“Terima kasih, Dewi. Kami mohon segera kirimkanlah bayi mungil untuk melengkapi kehidupan kami,” pinta Tezcacoatl lagi. 

“Tezcacoatl, aku tidak bisa memberikan anak pada kalian. Itu adalah bagian dari takdir yang tidak bisa kuubah. Tetapi, aku bisa meminjamkannya kepada kalian.”

Dewi Cihuacoalt kemudian menghilang dari pandangan Tezcacoatl. Tezcacoatl memanggil-manggil sang dewi, meminta penjelasan. Tangannya menggapai kabut yang tertinggal, hingga ia meraih sesuatu. Tezcacoatl tiba-tiba terbelalak, terbangun dari tidurnya. Rupanya, ia meraih tangan istrinya. Keringat mengucur deras membasahi dahinya. 

“Ada apa, Suamiku? Kau mengigau,” istri Tezcacoatl berkata dan segera bangkit mengambil secawan air untuk suaminya. 

Tezcacoatl mencoba menenangkan hatinya. Ia kemudian bercerita tentang mimpi yang baru saja dialaminya. Mereka sangat berharap jika mimpi itu adalah pertanda baik untuk mereka. Namun, mereka masih bertanya-tanya, bagaimana Dewi Cihuacoalt akan meminjamkan anak pada mereka. Setahun berlalu setelah Tezcacoatl memimpikan Dewi Cihuacoalt, namun anak yang mereka nanti tak kunjung datang. Istri Tezcacoatl belum juga mengandung dan tanda-tanda kehamilan belum tampak terjadi. Tezcacoatl dan istrinya mulai cemas. Suatu hari, istri Tezcacoatl mengandung. Tezcacoatl sangat gembira mendengar kabar tersebut. Ia pun memerintahkan wanita-wanita di sukunya untuk menjaga istrinya siang dan malam. Mereka juga bertugas untuk menyediakan semua kebutuhan sang istri, agar anak yang dikandungnya kelak lahir dengan sehat dan selamat. Sebagai bentuk syukurnya, Tezcacoalt membangun kuil khusus untuk Dewi Cihuacoalt. Tezcacoatl mengirim persembahan ke kuil tersebut setiap hari. 

Akhirnya masa yang dinanti-nantikan pun tiba. Istri Tezcacoalt melahirkan seorang bayi perempuan, dengan kulit putih dan rambut lebat. Bayi cantik itu diberi nama Iztaccihuatl. Dalam bahasa Nahuatl, bahasa masyarakat Tlaxcaltecas, Iztaccihuatl terdiri dari kata iztac dan cihuatl. Iztac berarti putih dan cihualt berarti wanita. Sehingga arti nama Iztaccihuatl sungguh menggambarkan sang putri. Tahun demi tahun berganti, Iztaccihuatl tumbuh menjadi gadis yang menawan. Parasnya elok dengan rambut hitam tergerai panjang. Kulitnya bersih, lebih putih dari wanita-wanita Indian pada umumnya. Selain cantik rupanya, Iztaccihuatl juga cantik hatinya. Ia kerap membagikan makanan dan pakaian pada wanita-wanita Tlaxcaltecas yang baru saja melahirkan. Ia pun tak segan membantu mereka menghadapi persalinan. 

Ibu Iztaccihuatl mengajarkan semua itu sebagai wujud syukur kehadiran Iztaccihuatl dalam kehidupan mereka. Sejak kelahiran Iztaccihuatl, kepala suku Tezcacoalt dan istrinya mencoba merawat putri mereka dengan baik. Akan tetapi, dari semua kebaikan Iztaccihuatl, sifat manjanya menjadi satu sifat yang begitu dikhawatirkan oleh kedua orangtuanya. Sang putri selalu meminta setiap keinginannya dituruti. Apabila keinginannya tidak dituruti, Iztaccihuatl akan mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Hal itu disebabkan oleh sikap Tezcacoatl dan istrinya yang selalu memanjakan Iztaccihuatl sejak kecil. Saat Putri Iztaccihuatl tumbuh dewasa, banyak pria yang menaruh hati padanya. Ada banyak pria yang melamar Iztaccihuatl. Bahkan ada pula pria dari luar Tlaxcaltecas yang pernah datang melamarnya. 

Pria itu datang melamar setelah mendengar tentang kemolekan Iztaccihuatl dari cerita orang. Namun, Iztaccihuatl belum menerima satu pinangan pun karena ia telah memiliki pilihannya sendiri. Iztaccihuatl ternyata jatuh hati kepada seorang pemuda tampan bernama Popocatepetl. Kepala suku merasa senang ketika mengetahui perasaan putrinya. Kepala suku sudah mengetahui Popocatepetl dan sangat menyukainya. Kepala suku pun setuju jika Iztaccihuatl menikah dengan Popocatepelt. Popocatepetl adalah prajurit pemberani yang sering memimpin pasukan perang Tlaxcaltecas. Ayah Popocatepetl adalah panglima pasukan Tlaxcaltecas yang gugur dalam perang. Dahulu, Popocatepetl hampir menjadi anak angkat Tezcacoatl sebelum istrinya mengandung. Namun pada saat itu, ibu Popocatepetl ingin mengasuh Popocatepetl sendiri sebagai pengganti ayahnya. Kepala suku Tezcacoatl memaklumi keinginan ibu Popocatepelt dan mengurungkan niatnya. Popocatepetl ternyata juga menaruh perasaan yang sama pada Putri Iztaccihuatl. Maka, setelah ia tahu jika Putri Iztaccihuatl menaruh hati padanya, ia memberanikan diri untuk melamarnya. 

“Aku menerima lamaranmu, Popo. Namun, aku ingin mengajukan sebuah permintaan sebelum aku menikahkan kalian.” 

Popocatepetl tersenyum mendengar titah kepala suku. Ia merasa yakin akan sanggup memenuhi permintaan tersebut. 

“Aku ingin kau berangkat memimpin peperangan di Oaxaca. Pasukan kita kewalahan dan membutuhkan pasukan tambahan. Bawalah kemenangan saat kau kembali,” perintah kepala suku Tezcacoatl. 

Dia hendak menguji keteguhan hati Popocatepetl sebelum benar-benar menikah dengan putrinya.

“Baik, Yang Mulia. Hamba akan mempersembahkan kemenangan bagi suku kita,” kata Popocatepetl, tegas. 

Ia segera memanggil pasukan yang dipimpinnya dan bersiap menuju Oaxaca. Tlaxcaltecas memang sedang menghadapi tekanan berat dari Tenochtitlan. Kerajaan besar itu meminta upeti yang banyak kepada Tlaxcaltecas. Tentara Tenochtitlan akan menyerang untuk merebut wilayah Tlaxcaltecas apabila mereka tidak memenuhi permintaan itu. Pasukan Tlaxcaltecas pun dikerahkan untuk membendung serangan pasukan Tenochtitlan di Oaxaca. Sementara itu, Putri Iztaccihuatl sebenarnya tidak setuju dengan tugas yang diberikan ayahnya kepada Popocatepetl. Ia khawatir bila terjadi sesuatu pada pujaan hatinya.

“Tenang saja, Izta. Ayah yakin jika Popo dapat kembali dengan membawa kemenangan. Selama ini, pasukan yang dipimpinnya tak sekali pun kalah dalam peperangan,” ujar kepala suku, meyakinkan putrinya. 

Di Oaxaca, Popocatepetl bertemu dengan Xinantecatl, pemimpin pasukan yang telah berangkat sebelumnya. Popocatepetl menyampaikan perintah kepala suku Tezcacoatl yang memintanya untuk membantu Xinantecatl agar mereka memenangkan peperangan. 

“Tanpa bantuan pasukanmu pun, kami akan tetap memenangkan pertempuran ini, Popo,” ucap Xinantecatl, angkuh. Popocatepetl tak menanggapi kata-kata pedas Xinantecatl. 

Ia segera berlalu, tak ingin memicu perpecahan pasukan Tlaxcaltecas hanya karena pemimpin mereka tidak akur. Popocatepetl dengan Xinantecatl memang telah lama bersaing. Mereka sama-sama ingin menjadi panglima tertinggi pasukan Tlaxcaltecas. Selain itu, Xinantecatl juga termasuk salah satu pria yang telah lama menaruh hati pada Putri Iztaccihuatl. Suatu malam ketika pasukan sedang beristirahat, seorang prajurit bernama Yaotl datang menghampiri Xinantecatl. Ia bercerita pada Xinantecatl bahwa Popocatepetl telah melamar Putri Iztaccihuatl. Xinantecatl geram mendengarnya. 

“Pasti Putri menolaknya, kan?” tanya Xinantecatl, penasaran. 

“Putri justru telah menerimanya,” balas Yaotl. 

“Apa?” bentak Xinantecatl marah. 

Ia merasa iri dan tidak rela jika putri menikah dengan Popocatepetl. 

“Akan tetapi, kepala suku memberi syarat yang berat kepada Popo. Ia harus pulang dengan memenangkan pertempuran ini,” lanjut Yaotl. 

“Aku harus melakukan sesuatu untuk menggagalkannya,” bisik Xinantecatl. 

Tangannya terkepal menahan marah. 

“Kau tak akan mencelakai Popo, kan?” tanya Yaotl, khawatir. 

Ia merasa bersalah telah memberitahukan berita itu pada Xinantecatl. 

“Tidak. Tapi, aku akan tetap melakukan sesuatu. Dan kau,” Xinantecatl menunjuk wajah Yaotl, “tutup mulut atau pulang tinggal nama!” Xinantecatl mengancam Yaotl. 

Yaotl ketakutan. Ia segera mengangguk dan berlari menjauh dengan tergopoh-gopoh. Xinantecatl mulai berpikir, mencari cara untuk menggagalkan pernikahan Putri Iztaccihualt dan Popocatepetl. Ia tahu jika perang masih berlangsung. Namun, ia memiliki keyakinan bahwa pasukan Tlaxcaltecas akan memenangkan peperangan. Saat ini pasukan Tenochtitlan sudah banyak yang terbunuh dan terluka. Setelah berpikir lama, Xinantecatl mendapatkan ide brilian. Pada hari ke dua puluh tujuh, setelah Popocatepetl dan pasukannya berangkat ke medan peperangan, seorang prajurit datang ke Tlaxcaltecas. Ia ingin menemui kepala suku untuk menyampaikan kabar penting.

“Ada apa Yaotl? Kabar apa yang kau bawa?”

“Hamba diperintahkan untuk menyampaikan berita ini, Yang Mulia Tezcacoatl.” 

Yaotl menyerahkan sebuah gulungan perkamen dengan hati-hati. Kepala suku merasa senang sekaligus terkejut mengetahui kabar yang dibawa Yaotl. Dalam perkamen tersebut Xinantecatl menuliskan bahwa pasukan Tlaxcaltecas telah meraih kemenangan. Pasukan sedang mempersiapkan kepulangan ke Tlaxcaltecas. Sayangnya, berita kemenangan itu juga disertai dengan berita duka. Popocatepetl, pimpinan pasukan kebanggaan kepala suku, telah gugur dalam pertempuran. Kepala suku Tezcacoatl tak sampai hati untuk menyampaikan berita duka tersebut pada putrinya. Namun, ia tahu jika putrinya harus mengetahui berita tersebut, cepat atau lambat. 

“Sebaiknya kau saja yang memberi tahu Iztaccihuatl,” ujar kepala suku pada istrinya.

Wanita cantik itu mengangguk. Air matanya menetes. Ia merasa sedih dengan gugurnya Popocatepetl dan tak sanggup membayangkan kesedihan yang akan ditanggung putrinya. Ia tahu jika Iztaccihuatl sangat berharap dapat menikah dengan Popocatepetl. Putri sudah sering bercerita kepada sang ibu, tentang angan-angannya setelah menikah dengan Popocatepetl kelak.             

“Putriku Izta, ada yang ingin ibu sampaikan padamu. Kemarilah.” 

“Ada apa Ibunda?” 

Putri Iztaccihuatl mendekat dan duduk di sebelah ibunya. Namun, ibunya justru terdiam lama. Ia hanya membelai rambut putri, sambil menghela napas berkali-kali.

“Ibunda sedang bersedih? Apa yang terjadi?”

Putri Iztaccihuatl mengelus lembut jemari ibunya.

“Izta, Popo gugur dalam peperangan. Seorang prajurit baru saja membawa kabar dari Oaxaca,” ucap ibunya, lirih.

Putri Iztaccihuatl terdiam. Ia terus menggeleng dan mulai menangis. Jemari ibunya digenggam erat, seolah mencari kebenaran dalam berita yang diucapkan ibunya. Sang ibu kemudian merengkuhnya dalam pelukan, berusaha menenangkannya. Sejak hari itu, Putri Iztaccihuatl tak mau bicara dan tak mau makan. Ia pun mengurung diri di kamar. Semakin hari tubuhnya semakin lemah. Matanya bengkak karena terlalu sering menangis.             

“Izta, makanlah sedikit. Ibu tak sanggup melihatmu seperti ini.”

Iztaccihuatl hanya terdiam, tak menyahut. Hanya sesenggukan tangisnya yang terdengar, lirih. Bujukan ibundanya dan kepala suku Tezcacoalt sudah tak mempan. Mereka sudah melakukan segala cara untuk membantu Putri Iztaccihuatl. Bahkan semua pengobatan sudah dicoba, tetapi Putri Iztaccihuatl selalu menolak. Putri yang cantik itu kini tampak kurus dan pucat. Ia sangat sedih karena kematian Popocatepetl. Ia juga marah pada ayahnya karena mengutus Popocatepetl berangkat berperang sebelum menikah dengannya. Iztaccihuatl masih belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Akhirnya Putri Iztaccihuatl meninggal dalam kesakitan tubuh dan batinnya. Duka cita menyelimuti Tlaxcaltecas. Kepala suku memerintahkan orang-orang mempersiapkan pemakaman putrinya.

Tezcacoatl teringat akan mimpinya dahulu. Dewi Cihuacoalt berkata akan meminjaminya anak. Kini, Tezcacoatl sudah mengetahui artinya. Ia hanya akan memiliki anak untuk sementara. Ia pun tak dapat meneruskan keturunannya karena Iztaccihuatl adalah putri satu-satunya. Tezcacoatl dan istrinya merasa sedih. Namun, mereka tetap berterima kasih kepada Dewi Cihuacoalt karena sudah meminjamkan anak sebaik dan secantik Iztaccihuatl. Tezcacoatl dan istrinya berusaha merelakan kepergian Iztaccihuatl, kembali kepada Dewi Cihuacoalt. Tepat di hari pemakaman Iztaccihuatl, iring-iringan pasukan yang baru pulang berperang datang. Kepala suku sangat terkejut karena yang memimpin pasukan adalah Popocatepetl. Popcatepetl datang dengan raut bahagia membawa kemenangan, juga menantikan pertemuan dengan orang yang dicintainya. Pada saat menemui kepala suku untuk mempersembahkan kemenangan sebagai syarat pernikahannya dengan Putri Iztaccihuatl, Popocatepetl mendapat kabar kematiannya. Hatinya berkecamuk.             

“Siapa yang mengabarkan hamba telah gugur, Yang Mulia?” tanya Popocatepetl.

Suaranya bergetar karena amarah. Kepala suku menyerahkan perkamen yang mengabarkan gugurnya Popocatepetl. Xinantecatl adalah penyebab semua kekacauan ini. Popocatepetl segera bangkit dan mencari Xinantecatl. Selama berhari-hari ia mencari Xinantecatl, namun dia ternyata sudah meninggalkan Tlaxcaltecas, entah ke mana. Dengan kesedihan, Popocatepetl kembali ke Tlaxcaltecas. Ia ingin melakukan sesuatu untuk memberikan penghormatan pada sang putri. Popocatepetl ingin mengenang besarnya cinta Putri Iztaccihuatl kepadaya. Ia pun berharap Putri Iztaccihuatl dapat terus diingat oleh sukunya. 

“Yang Mulia, izinkan hamba membuat tempat peristirahatan yang indah untuk Putri Iztaccihuatl.”

“Ya, Popo. Aku serahkan semuanya kepadamu.” 

Kepala suku akhirnya memasrahkan urusan pemakaman Putri Iztaccihuatl kepada Popocatepetl. Popocatepetl bersama prajuritnya berusaha menyatukan bukit-bukit di sekitar Tlaxcaltecas menjadi sebuah gunung. Ia ingin menyemayamkan jasad putri di tempat yang tertinggi. Popocatepetl sendiri yang menggendong jasad Putri Iztaccihuatl ke puncak gunung. Ia membaringkan tubuh putri di altar. Popocatepetl lalu menyalakan obor dan berlutut di sisi kekasih hatinya. Ia terus berada di sana, menemani putri agar damai dalam tidur abadinya. Para dewa yang melihat pengorbanan Putri Iztaccihualt dan Popocatepetl merasa iba. Mereka menurunkan salju untuk menutupi keduanya. Tumpukan salju kian menebal hingga keduanya tak tampak lagi dari pandangan manusia. 

Dewa kemudian mengubah mereka menjadi gunung berapi besar yang terus bersama hingga akhir zaman, Gunung berapi Popocatepetl dan Iztaccihualt. Kepala suku Tezcacoatl dan istrinya kerap memandangi kedua gunung itu dari kejauhan kala merindukan Iztaccihuatl. Prajurit-prajurit Popocatepetl pun melakukan hal yang sama. Mereka begitu mencintai Popocatepetl yang gagah berani. Gunung Popocatepetl sesuai dengan namanya, sering mengeluarkan asap. Nama Popocatepetl berasal dari bahasa Nahuatl, terdiri dari kata popoa yang berarti asap dan tepetl yang berarti bukit. Maka, secara utuh namanya berarti bukit yang berasap. Legenda mengatakan, asap itu adalah obor yang dinyalakan Popo sebagai pertanda ia masih selalu mengingat putri tercintanya.

Gunung Popocatepetl adalah gunung berapi aktif berusia sekitar 730.000 tahun dengan ketinggian 5.450 meter di atas permukaan laut. Orang-orang Meksiko sering menyebutnya El Popo atau Don Goyo. El Popo merupakan gunung tertinggi kedua di Meksiko. Gunung Iztaccihuatl bila diamati, tampak seperti perempuan yang sedang berbaring dengan wajah menatap langit. Oleh karena itu, orang-orang menyebutnya La Mujer Dormida yang berarti perempuan tidur. Gunung berapi ini memiliki ketinggian 5.230 meter di atas permukaan laut dan menjadi gunung tertinggi ketiga di Meksiko.             

Konon kabarnya, Xinantecatl juga berubah menjadi gunung setelah mengasingkan diri dan melakukan pertobatan. Gunung berapi itu dinamakan Nevado de Toluca, gunung tertinggi keempat di Meksiko. Nevado de Toluca terletak di wilayah lain dengan posisi seolah-olah sedang menyaksikan sepasang kekasih abadi, Popocatepetl dan Iztaccihuatl. Saat ini, gunung-gunung tersebut masih sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menikmati panoramanya. Asal usulnya juga terus diceritakan turun temurun, hingga melegenda di Meksiko.

***
Zori selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asal di tulis buku Mesiko," kata Zori.

Zori menutup bukunya dan menaruh buku di meja.

"Mandi ah!" kata Zori.

Zori ke masuk rumah langsung ke belakang, ya mandi. Setelah itu. Zori santailah nonton Tv di ruang tengah.

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK