CAMPUR ADUK

Tuesday, January 8, 2019

DANAU TOBA SUATU SENJA

Danau Toba senja hari. Air danau terlihat biru dan tenang, tanpa ombak. Di atas air danau beberapa elang terbang rendah,  bersiap memangsa ikan mujair yang lengah. Di tengah danau, beberapa nelayan tengah menurunkan jala penangkap ikan ke dalam danau untuk diambil esok harinya. Sementara di tepian danau, para wanita dan anak-anak terlihat sedang mencuci dan mandi. Beberapa bersiap pulang, dengan ember berisi air di kepala. Penduduk Desa Buhit ini memang masih menggunakan air Danau Toba untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Di atas sebuah perahu kecil,  yang oleh masyarakat setempat disebut solu, Todo terbahak riang. Membuat solu sedikit oleng ke kiri dan ke kanan.

Umpannya dimakan ikan lagi. Sambil menarik benang pancing, Todo berharap mudah-mudahan bukan ikan mujair lagi. Soalnya, ikan tangkapannya semua ikan mujair. Padahal, opungnya bilang, di danau ini juga ada ikan mas, gabus, dan lele walau jumlahnya memang tak sebanyak ikan mujair.

Ikan di mata kail menggelepar-gelepar. Todo menarik napas kecewa. Warna kulitnya abu-abu kehitam-hitaman. Berarti ikan mujair lagi. Malas Todo menarik pancingnya. Tapi, mata Todo memicing ketika melihat sisi sebelah ikan itu berwarna hitam gelap seperti sudah dibakar. Todo meneliti ikan di tangannya. Aneh! Sebelah ikan bakar, sementara sebelah lagi masih mentah.

Mungkin ada orang yang membakar ikan di tepian danau. Tapi karena sudah kenyang, lalu mencampakkannya ke dalam danau.

Tetapi... karena masih hidup? Benak Todo sibuk berpikir. Dicengkeramnya ikan itu kuat-kuat, karena terlihat seperti meronta minta dilepas. 

Setelah mendapat ikan ajaib, akhirnya Todo memutuskan menyudahi acara memancingnya sore ini. Tak sabar ingin segera menunjukkan ikan aneh itu pada adiknya, Kania.

***
Terburu-buru Opung mengambil sebuah baskom berukuran senang. Lalu, ia memasukkan ikan ajaib itu ke dalam baskom, setelah terlebih dahulu diisi air. Tadinya ikan itu sudah setengah pingsan karena tanpa air. begitu berada dalam air, dia mengapung sebentar, megap-megap, dan akhirnya bergerak lincah.

Opung menarik napas lega.

"Ikan ini harus kau pulangkan ke danau."

"Kenapa, Opung?"

"Pokoknya kembalikan saja sekarang juga."

"Jangan, Opung! Aku bawa pulang saja ke Medan. Jarang-jarang kan ikan yang sudah terbakar sebelah masih bisa hidup," seru Kania, bermaksud memegang ikan itu lagi. Tapi, tangan Opung lebih cepat mencegah.

"Jangan! Ini bukan ikan sembarangan."

"Maksud Opung?"

"Ikan ini kepunyaan penunggu danau itu."

Todo terbahak. Tapi, segera bungkam melihat Opung menatapnya tajam. Ah, ada-ada saja! Zaman secanggih ini, ternyata Opung masih percaya pada hal-hal semacam ini.

"Pulangkanlah sekarang juga. Sebelum keburu malam."

"Aku malas, Opung."

"Todo!" bentak Opung.

"Pulangkanlah saja, Bung!" pinta Kania ketakutan.

"Opung jangan terlampau percaya sama takhayul," seru Todo seraya bangkit karena tak tega melihat tampang Opung yang ketakutan.

Ditemani Opung, Todo menenteng baskom berisi ikan ajaib itu kembali ke danau. Berdiri di tepian danau, Todo bermaksud melemparkan ikan itu ke dalam danau, tapi Opung mencegah. 

"Kita pulangkan ke tempat kau menangkapnya tadi,"

"Tak mungkin, Opung."

"Kenapa tak mungkin?"

"Aku menangkapnya dari tengah danau."

"Kita antar ke sana."

Opung segera menarik sebuah solu yang entah milik siapa ke dalam air.

"Cepat naik!"

Todo naik di sebuah ujung. Menghadap ke arah Opung yang mendayung dengan gesit.

"Dari mana kau ambil tadi?"

"Mungkin agak ke tengah."

"Kau memancing sampai sejauh ini?"

"Ya."

"Di sekitar sini, Opung."

"Lepaskan ikan itu."

Setelah masuk ke dalam air, ikan itu langsung bergerak ke bawah. Dengan sangat hati-hati Opung meletakkan beberapa lembar sirih ke atas air.

"Maafkan atas kelancangan cucuku ini. Dia tak tahu apa yang dia perbuat."

Memicing mata Todo.

"Mulai besok kau tak boleh memancing lagi!" vonis Opung, begitu mereka kembali ke rumah.

Tado tercekat. "Kenapa, Opung?"

"Itu tadi sebagai pertanda."

"Pertanda apa?"

"Pertanda kalau kau tak diizinkan mengambil ikan di tempat itu."

Todo kecewa.Buat apa dia mau liburan ke Pulau Samosir kalau tak diizinkan memancing ikan di Danau Toba?"

***
Bibir Todo tampak cemberut. Lebih setengah jam, belum satu ikan pun yang berhasil termakan umpannya. Mungkin kurang ke tengah, pikirnya sambil mengayuh solu. Sepuluh menit. Ah, sama saja! Barangkali ikan-ikan di danau ini lagi berkumpul di tengah, pikir Todo lagi. Dikayuhnya lagi dayung di tangannya sampai beberapa kayuhan.

Beredar mata Todo. Sedikit bergidik begitu menyadari kalau ternyata ia sudah jauh dari daratan, bahkan ia tak lagi meleihat solu nelayan yang menjala di sekitarnya.

Ketika bermaksud kembali ke daratan, Todo berpikir tak ada yang harus dia takutkan. Air danau tenang, tanpa ombak. Dia pun jago renang, jadi tak akan mati tenggelam jika solunya oleng atau terbalik. Lagi pula jika dekat dari daratan, bisa-bisa ketahuan Opung yang telah melarangnya untuk memancing.

Todo merasakan ada tarikan pada pancingnya. Pasti ikan segar, karena tarikannya begitu kuat. Akibat menarik benang pancing terlalu kencang, solu sedikit oleng. Ketika berusaha menyeimbangkan berat badan agar tak terbalik, tiba-tiba angin bertiup kencang.

Todo tercekat, terlebih dari depannya ombak besar bergulung- gulung mendekati solunya. Langit yang tadi tampak biru, hitam seketika. Petir menyambar.

Di tengah kepanikan, ombak menerjang. Todo tersentak lalu terlempar ke dalam air. Dia masih berusaha berenang, tapi seperti ada yang menarik kakinya ke bawah.

***
Todo duduk di sebuah batu besar yang menjorok ke danau.. Sejauh mata memandang, hamparan air biru lembut melenakan seperti tanpa akhir. Dan di kaki danmembingkai danau.

Keindahan nyaris tanpa cacat. Kalaupun ada yang kurang sempurna, barangkali karena kesunyian yang mengembang kaku. Hanya seekor burung elang yang terbang di atas air danau.

Dari belakang, Patar menepuk pundaknya. Todo menoleh sekilas. Pria berkulit hitam itu mengambil tempat di sampingnya.

"Tempat ini begitu sunyi, seperti tak ada kehidupan." 

"Karena tak ada orang yang mau tinggal di sini."

"Padahal di sini jauh lebih daripada di kampungku."

"Tapi, keindahan tak menjamin kebahagian, bukan?"

"Mengapa kau tak pindah saja dari sini?"

"Dia sinilah duniaku."

Pandangan Todo lurus ke depan. Walau jauh tak ada terlihat daratan.

"Di sebelah mana kampungmh?"

"Tak terlihat dari sini. Karena tempat ini begitu jauh." ucap Patar dingin. "Tapi, aku  akan membantumu pulang." lanjutnya melihat keresahan Todo.

Patar. Pria sebayanya itu yang menolong Todo saa dia hampir tenggelam di danau tadi.

"Kapan aku bisa pulang?"

Patar menggeleng. "Kita lihat kondisi air danau."

"Aku ingin pulang secepatnya. Aku takut Opung mencariku."

Patar tersenyum sendu. "Jangan terlalu sering melawan Opungmu itu, Dia itu pria baik. Karena sayang padamu, makanya dia suka melarangmu memancing di tengah danau."

"Kamu kenal Opung?"

"Dulu sekali."

Tiba-tiba air danau yang tadi tenang berubah ganas. Ombak bergulung-gulung. Angin putar bertiup kencang, bergerak mendekati mereka duduk.

Todo terperanjat. Keadaan ini sama seperti dia saat terhanyut. Bedanya, kali ini tak ada petir menyambar. Dan langit tetap putih.

"Sudah saatnya kau pulang."

"Apa?"

"Pulanglah, atau kau akan terjebak di sini untuk selamanya."

"Tapi, bagaimana caranya?" seru Todo. 

"Masuklah ke pusaraan air yang berputar itu."

Todo menggeleng keras. Mukanya tiba-tiba pucat. Mengikuti anjuran pria itu sama dengan bunuh diri.

"Cepat, waktumu tidak lama! Jangan sampai pusaran itu menghilang!"

"Tidak!"

Patar bangkit. Menatap Todo dengan geram. Cepat ditariknya tangan Todo hingga tempat di pinggir batu tempat mereka berada.

"Melompatlah!" perintahnya tegas.

"Ti...tidak!" Todo berusaha mundur. Tapi, Patar bergerak lebih cepat. Didorongnya tubuh Todo hingga terlempar ke pusaran air. Sebelum mendorong tadi, masih sempat disematkannya ke leher Todo sebuah kalung terbuat dari perak, yang selama ini selalu dikenakannya.

"Bilang pada Opungmu, aku baik-baik saja di sini," masih sempat Todo mendengar teriakan Patar itu, sebelum seperti ada yang mendorong tubuhnya. Todo berusaha berteriak meminta tolong. Tapi, suaranya tertahan karena air masuk ke dalam mulutnya. Todo merasa tubuhnya tertarik. Tak lama, kepala Todo menyembul ke permukaan danau.

***
Bus Sampri terseok-seok menapaki jalan yang mendaki. Bus  itu yang akan membawa Todo kembali pulang ke Medan. Di bawah bukit, hamparan Danau Toba terlihat biru dikelilingi hijaunya bukit.

Todo menatap lekat. Di birunya air itu, entah di kedalaman yang mana, ada seseorang yang teramat dekat dengannya.

Kalung pemberian Patar, menjelaskan semua. Ternyata, Patar merupakan anak tertua Opung. Itu berarti dia harus memanggilnya Bapa Tua karena merupakan abang kandung ayahnya.

Akhirnya, Opung menceritakan kisah sedih beberapa puluh tahun lalu yang beliau coba lupakan. Patar sering menjala ikan. Satu hari dia mendapat ikan ajaib. Sebelah sisinya seperti hitam terbakar, sementara sebelah sisi lagi mentah dan hidup. Ikan itu dibawanya pulang.

Patar mengabaikan perintah Opung untuk mengembalikan ke danau. Karena ikan itu milik penunggu danau itu.

Besoknya saat menjala ikan ke danau, Patar tak pernah kembali ke daratan. Hilang tanpa jejak. Sesepuh desa bilang, Patar diambil penunggu danau karena telah lancang mengambil ikan miliknya.

Mata Todo masih tertancap pada birunya air danau. Sementara di sampingnya Kania sudah tertidur semenjak tadi. Dia yakin yang terjadi padanya, bukan suatu kecelakaan. Bapa Tua Patar hanya ingin meminjamnya, menjadikannya perantara, untuk mengabarkan kepada Opung, bahwa dia baik-baik saja. Walau kini ia berada pada alam yang berbeda dan tak terjamah, alam yang tak kasat mata dan tak berputar.

Sewaktu berada di sana, Todo hanya merasa satu senja. Tapi, ternyata lebih seminggu dia dinyatakan hilang di danau. Pantas saja wajah Bapa Tua Patar masih tetap muda.

Buat Kak Bunga di RSU Herna Medan dan Kak Vera di SMPN Binjai: "Kampung Kita Tak Seindah Dulu"


Karya: T. Sandi Situmorang

PASAR MALAM

Matahari telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi, meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru disepuh di pinggir langit di pihak barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil berkotek memanggil anak,  masukkan ayam ke dalam kandang karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan. Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga  orang duduk berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang dimufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga didengar orang lain. Sambil melihat ke sana-kemari, kalau-kalau ada seorang lalu lintas, mereka itu mulai bercakap-cakap.

"Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam di Bukittinggi," kata seorang di antara mereka itu yang tidak lain dari Kacak memulai percakapannya. "Saat itulah yang sebaik-baiknya bagi kita akan membalaskan dendamku selama ini kepada Midun. Tak dapat tidak, tentu Midun pergi pula melihat keramaian itu. Orang kampung telah tahu semua, bahwa saya bermusuh dengan dia. Jadi kalau dia saya binasakan di sini, malu awak kepada orang. Tentu orang kampung syakwasangka kepada saya saja, kalau ada apa-apa kejadian atas diri Midun. Lagi pula ia tak pernah keluar, hingga sukar akan mengenalnya. Oleh sebab itu, telah bulat pikiran saya, bahwa hanya Bukittinggilah saya dapat membinasakannya. Bagaimana pikiran Lenggang? Sukakah Lenggang menolong saya dalam hal ini? Budi dan jerih Lenggang itu, saya berjanji akan memberi sesuatu yang menyenangkan hati Lenggang."

"Cita-cita Engkau Muda itu mudah-mudahan sampai," jawab Lenggang, sambil melihat keliling, takut kalau-kalau ada orang mendengar. "Kami berdua berjanji menolong Engkau Muda sedapat-dapatnya. Jika tak sampai yang dimaksud, tidaklah kami kembali pulang. Tidak lalu dendang di darat kami layarkan, tak dapat dengan lahir, dengan batin kami perdayakan. Sebab itu, apa yang kami kerjakan di Bukittinggi, sekali-kali jangan Engku Muda campuri, supaya Engku jangan terbawa-bawa. Biarkanlah kami berdua, dan dengar saja oleh Engku Muda bagaimana kejadiannya. Ada dua jalan yang harus kami kerjakan. Tetapi...maklumlah Engku Muda, tentu dengan biaya. Lain daripada itu, ingatlah Engku Muda, rahasia ini hanya kita bertiga saja hendaknya yang tahu. Pandai-pandai Engku Muda menyimpan, sebab hal ini tidak dapat dipermudah, karena perkara jiwa."

"Seharusnya saya yang akan berkata begitu," ujar Kacak sambil mengeluarkan uang kertas Rp25 dari koceknya, lalu diberikannya kepada Lenggang. "Bukankah tuan-tuan membela saya, masakan saya bukankah rahasia ini. Biar apa pun akan terjadi atas diri Lenggang kedua, jangan sekali-kali nama saya disebut-sebut. Saya ucapkan, moga-moga yang dimaksud sampai, karena bukan main sakit hatiku kepada Midun, anak si peladang jahanam itu! Jika dia sudah luput dari dunia ini, barulah senang hati saya. Sekarang baik kita bercerai-cerai dulu, karena kalau terlalu lama bercakap-cakap, jangan-jangan dilihat orang."

Setelah ketiganya berteguh-teguhan janji bahwa rahasia itu akan dibawa mati, maka mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Lenggang dengan temannya sangat bersuka hati mendapat uang itu. Gelak mereka terbahak-bahak, lenggangnya makin jadi, tak ubah sebagai namanya pula. Bahaya apa yang akan menimpa mereka kelak, sedikitpun tak diperdulikan Lenggang. Memang Lenggang sudah biasa menerima upah semacam itu. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya. Sudah banyak ia menganiaya orang, satu pun tak ada orang yang tahu. Pandai benar ia menyimpan rahasia dan melakukan penganiayaan itu. Jika ada yang menaruh dendam kepada seseorang, dengan uang seringgit atau lima rupiah saja, telah dapat Lenggang disuruh akan membinasakan orang itu. Pekerjaan itu dipandangnya mudah saja, karena sudah biasa. Akan membinasakan Midun itu, tidak usah ia berpikir panjang, karena hal itu gampang saja pikirannya. Hanya yang dipikirkan Lenggang, tentu ia mendapat upah amat banyak dari Kacak, jika yang dimaksudkannya sampai. Kacak seorang kaya, sedangkan bagi permintaan yang pertama diberinya Rp25, padahal belum apa-apa lagi. Akan mengambil jiwa Midun, seorang yang boleh dikatakan masih kanak-kanak, tak usah dihiraukannya....

Demikianlah pekerjaan mereka itu dua hari lamanya, Pada hari yang kelima pagi-pagi, Midun dan Maun pergi ke pasar. Mereka berbelanja membeli ini dan itu karena hendak terus pulang setelah melihat pacuan kuda lusanya. Tengah hari kembalilah mereka kelepau. Segala barang-badang yang dibeli, dipertaruhkannya kepada orang lepau itu. Setelah itu Midun duduk hendak makan, tetapi Maun masih di luar membeli rokok. Baru saja Midun duduk, Maun berseru dari luar, katanya, "Midun! Midun! Lihatlah, apa ini?"

Midun melompat ke luar hendak melihat apa yang diserukan kawannya itu. Di jalan kelihatan beberapa engkau-engkau dan tuan-tuan diarak dengan musik militer. Tiba-tiba Midun terkejut karena di dalam orang banyak itu kelihatan olehnya Kacak. Dengan segera ditariknya tangan Maun, lalu dibawanya masuk ke dalam lepau.

Dengan perlahan-lahan Midun berkata, "Maun! Adakah engkau melihat Kacak di antara orang banyak itu?"

"Tidak," jawab Maun dengan cemasnya. "Adakah engkau melihat dia?"

"Ada, rupanya dia ada pula datang kemari. Ketika saya melihatnya tadi, ia memandang ke sana kemari, seakan-akan ada yang dicarinya dengan matanya itu, tidaklah saya ketahui. Saya amat heran karena ketika saya menampakkan tadi, darah saya berdebar. Yang biasa tidaklah demikian benar hal saya bilamana melihat Kacak. Boleh jadi kita di sini diintip orang, Maun! Siapa tahu dengan tidak disangka-sangka kita dapat bahaya kelak. Sebab itu, haruslah kita ingat-ingat selama di sini.

Sesudah makan mereka pun berjalan-jalan ke pasar, melihat perarakan anak-anak sekolah dan lain-lain. Malam hari Midun tidak keluar melainkan tinggal di lepau nasi saja.Lain benar perasaannya sejak melihat Kacak hari itu. Besoknya ketika pacuan kuda dimulai, mereka itu tidak pergi melihat, melainkan tinggal di lepau saja. Hanya pada hari yang kedua saja mereka hendak pergi sebentar. Sudah itu maksudnya hendak terus pulang kampung.


Karya: Sutan Nan Sati

PENDURHAKA

Kau harus pulang, Yati. Kau sudah cukup meremukkan hati Ibu. Sekali ini kau harus benar-benar mengerti bahwa kau sudah besar, sudah tak patut lagi untuk tiap kali membatahkan kata orang yang lebih tua darimu. Kalau dulu kau selalu ingin menang saja, kini tahanlah keinginan itu. Kau sudah cukup tahu bagaimana hati Ibu karena kelakuanmu dan dia terus mendesakku dengan kata-kata yang dianggapnya menasehati aku.

Aku hanya diam. Diam saja sambil memandang keluar pintu. Dalam hati aku tersenyum. Senyum besar menyenyumi segala bicara orang yang ada di mukaku ini. Dia lahir jauh sebelum aku. Lahir dari satu kandungan dengan aku. Dan orang sebut dia saudaraku. Mungkin. Sebab aku tak tahu atau tak lihat sendiri bahwa dia lahir sebelum aku dari satu kandungan pula dengan aku. Dia Saudaraku. Ya, kakakku menurut kata orang.

Satu dari lima orang kakakku.

"Jangan kau abaikan kata-kataku ini karena semua yang kukatakan hanya untuk kebaikanmu sendiri. Kau harus mengerti, Yati. Ibu sudah tua. Tinggal kau lagi yang dipikirkannya.Tapi kau malahan tak berusaha untuk menyenangkan hatinya."

Sebetulnya aku sudah tak tahan mendengarkan kata-katanya. Aku memang bisa diam saja jika bicara dengan orang macam dia. Aku selalu ingin mendebat atau membantahnya. Karena mana ada seorang ibu hanya pikiran seorang anaknya saja padahal dia punya enam orang anak. Dan ibuku hanya tinggal pikirkan aku lagi? Hatiku ketawa geli mendengarkan ini. Tidak Tak mungkin Ibu cuma pikiri aku. Kakakku lima orang. Tapi, biarkan saja dia berbicara semau hatinya.

"Tapi kali aku katakan padamu dalam surat, bahwa kau disuruh pulang oleh Ibu. Tidak hanya Ibu, tapi seluruh keluarga memikirkan kau, dan mengharapkan benar supaya kau pulang ke rumah. Tak pantas lagi kau bekerja terus dengan tenagamu yang serba lemah. Kau harus pula ingat kata Nenek. Harus kau ingat apa kata segenap anggota keluarga, dia mulai keras bicaranya. Hatinya kesal barangkali.

"Apa kata mereka?" tanyaku acuh tak acuh.

"Kau anak yang tak tahu budi. Kau tak tahu membalas jasa orang tua. Kau anak yang melangkahkan kaki" dari adat. Ya, macam-macam lagi kata mereka. Ingat benar, Yati. Kau anak perempuan dalam kelaurga kita. Kau mesti menurut segala aturan-aturan keluarga."

Hatiku serasa ditarik mendengar katanya yang akhir ini. Tapi bukan darah yang mengalir. Cuma terasa sentakan sedikit. Dan kutahan benar supaya aku tetap tenang. Aku diam dan tak menyahuti kata-katanya. Melihat aku diam, dia mengharapkan suatu kesenagan.

"Kau perempuan, Yati. Tak patut terus bersendiri macam ini." "Bersendiriku bukan mengganggu kepentingan orang lain, "aku mulai mematahkan harapannya yang tergambar pada mukanya.

Dia agak terkejut mendengar jawabanku yang tiba-tiba ini. Dan aku tambahkan, "Hidupku bukan lagi kini kepunyaan Ibu atau keluarga, Bukan pula kepunyaanku. Tapi hidup dan ad aku kini kepunyaan negara, kepunyaanku, bangsa, kepunyaan tanah air ini. Segala yang kulakukan bukan untuk kepuasanku semata. Aku ingin bekerja. Dan bekerjaku ini juga harus berisi dengan bakti."
....


Karya: NH. Dini

ORANG-ORANG SEBERANG KALI

Kali menyebut mereka orang-orang seberang kali. Terlalu berlebihan sebenarnya karena mereka tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami. Dan yang disebut kali itu sebenarnya hanya sebuah parit alam yang dalam. Kedua tebingnya curam dan penuh ditumbuhi pakis-pakisan. Hanya di tempat-tempat tertentu air parit itu kelihatan dari atas. Bening, karena ke luar langsung dari mata air. Tapi air itu jadi tidak menarik karena dikotori banyak sekali sampah daun bumbu serta substansi apa namanya yang berwarna kuning sekali. Kami menyebutnya kotoran kuning atau tahi besi.

Orang-orang seberang kali itu betapa jua adalah bagian dari warga desa kami Tapi memang, kami merasa punya jarak dengan mereka. Dan sebuah titian batang pinang yang harus kami lalui bila kami ingin pergi kepada mereka seakan menjadi simbol bagi jarak itu. Ah, sebuah titian yang tak pernah luput dari kotoran anak-anak mereka. Di bawahnya banyak sekali kepiting batu berfoya dengan makanan lunak sepanjang hari.

Pada musim kemarau kepiting lenyap entah ke mana. Air kali kecil sekali. Dan kakus orang-orang seberang kali itu menjadi tempat yang meriah bagi burung-burung sikatan dan kadal. Mereka berpesta makan lalat.

Lalu kalian mengira titian pinang jarang dilalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir dan melayang dua meter ke bawah lalu hinggap di atas pasta kuning? Tidak. Itu perkiraan salah. Selain orang-orang seberang kali sendiri banyak orang luar lalu-lalang di atas titian itu. Orang-orang luar itu bukan dari kami. Mereka datang entah dari mana. Yang jelas mereka selalu melewati titian batang pinang sambil mengepit atau menjinjing ayam jago. Begitu, orang-orang seberang kali ini memang menganggap  adu jago adalah bagian terpenting dalam hidup mereka. Di sana, Madrakum menjadi botoh-nya.

Bisa jadi karena soal adu ayam itulah maka terbentang jarak antara kami dengan mereka. Kami memang tidak pernah main adu-aduan. Bisa juga karena banyak di antara kami beberapa kali kehilangan ayam. Ah, anak-anak orang di seberang kali itu juga sudah pintar bermain ayam. Dengan cara mencuri-curi, anak-anak mereka suka mengadu ayam kami yang sedang berkeliaran di  pekarangan dengan ayam mereka tentu saja. Selagi berlaga, ayam siapa pun akan gampang ditangkap.

Lucunya, kami tidak bisa melupakan jasa orang-orang seberang kali, terutam karena ayam-ayam jago mereka. Setiap fajar seakan menjadi milik orang seberang kali karena jago mereka selalu berkokok lebih awal dari jago siapa pun, bahkan lebih awal dari kokok muadzim di suaru kami. Maka yang terjadi setiap fajar, Muadzim surau kami dibangunkan oleh ayam jago orang seberang kali. Begitu. Di sana kokok ayam jantan, di sini seruan takbir. Di sini orang-orang pulang dari surau, di sana orang-orang jongkok sambil mengelus-elus ayam jago.

Kecuali Rabu kemarin. Kemarin kami pulang dari surau kala pagi masih remang oleh kabut, ada orang seberang kali sudah berdiri di halaman rumahku.

"Lho, Kang Samin?" Tanya saya sesudah dekat benar.

"Iya, Mas."

"Gasik betul. Ada apa rupanya? Dan apakah ayammu sudah dirawat?"

"Kali ini jangan bicara soal ayam, Mas. Saya mau minta tolong. dan ini amat penting."

"Oh, maafkan saya."

"Anu, Mas. Mbok sampean mau pergi ke rumah Madrakum, sekarang. Jenguklah dia. Kasihan, Mas."

"Kang Madrakum, kenapa dia?"

"Sakit. Dia sedang sakit dan saya kira sudah hampir mati. Sebenarnya kalau dia hanya mau mati, ya mati saja. Ini lain Mas."

"Sakit, mati, lain. Bagaimana Kang Samin?"

"Begini. Madrakum memang sudah agak lama sakit. Dan sejak tiga hari yang lalu dia kulai sekarat. Tapi ya itu, Mas. Wong mau mati saja kok sekaratnya lama betul. Kami yang melihatnya, lama-lama jadi tidak tahan."

Pagi masih terang. Aku dan Kang Samin masih berdiri di halaman. Aku melihat ada kampret masuk ke lubang dalam pokok kelapa. Ada ayam betina ngukruk membimbing anak-anaknya ke luar dari kandang. Di belakangku, bunga mulai dirubung lelah. Dan mimik kang Samin jadi kelihatan jelas.

Kang Samin terus berbicara. Bahwa Madrakukm sudah memperlihatkan semua tanda datangnya kematian; daun telinga yang terkulai, bau mayat yang khas, dan roman muka yang sudah lain sama sekali.

"Tapi ya itu, Mas. Madrakum awet benar. Heran, nyawanya demikian betah dalam tubuh Madrakum yang melarat."

"Kan ajal di tangan Tuhan, Kang."

"Lha iya. Aku juga tahu semua orang  akan mati. Tapi kurika tidak seperti Madrakkum. Lagi pula, Mas. He-he. Hari-hari ini cuacu amat bagus. Sayang si Madrakum itu tidak mati juga."

"Orang mati takkan memilih cuaca."

"Lha iya. Aku juga tahu semua orang akan mati. Tapi kukira tidak seperti Madrakkum. Lagi pula, Mas. He-he. Hari-hari ini cuacu amat bagus. Sayang si Madrakum itu tidak mati juga."

"Orang mati takkan memilih cuaca."

"Lha iya. Tapi tamu-tamu kami akan selalu mempertimbangkan cuaca. He-he. Mengadu ayam dalam hujan, mana bisa. He-he."

Untuk saudaraku orang-orang dari seberang kali  ini aku hanya bisa tersenyum dan menggerakkan kepala. Lalu Kang Samin mengulangi permintaannya,  agar aku pergi menjenguk Madrakum si botoh adu ayam dari seberang kali itu.

"Anu, Mas. Orang-orang seperti sampeankan mengerti bagaimana cara membuat orang sekarat cepat mati."

"Aku mengerti maksudmu. Membacakan Surah Yasin, kan? Tapi jangan keliru. Ajal di tangan Tuhan."

"Lha iya, lha iya. Soalnya aku belum pernah melihat orang sakit yang sudah bau mayat bisa sembuh kembali. Apalagi si Madrakum itu, pasti dia sudah dekat ajal."

"Baik. Silakan pulang dulu. Aku segera menyusul."

Ketika aku melewati titian batang pinang itu hari sudah benar-benar terang. Pakis-pakisan di tebing parit hijau dan segar dengan tetes-tetes embun di puncak-puncaknya. Segar seperti perawan yang basah rambutnya setelah mandi keramas. Kulihat seekor burung sikatan terbang mengejar betinanya. Keduanya kaku heboh dalam rumpun bambu. Ada daun bambu yang luruh karena hara-hara itu, lalu melayang masuk ke dasar parit. Di depanku ada dua perempuan berdiri, menunggu sampai aku mencapai seberang. Mereka tentu saja akan jongkok di atas titian. Tetapi tentu saja akan jongkok di atas titian. Tetapi aku tidak bisa melihat kepiting-kepiting batu. Dasar parit masih gelap.

Di rumah Madrakum sudah ada enam atau tujuh lelaki. Tetapi yang terbanyak dari mereka kulihat sedang jongkok di halaman, mengelilingi kurungan jago. Ayam jago milik Madrakkum ada beberapa ekor. Satu di antaranya adalah yang terbaik di seberang kali itu, demikian yang kudengar. Aku masuk diiringi Kang Samin. Kamar si sakit masih seperti malam, jadi masih ada pelita berkedip. Ya, mataku yang awam dapat melihat keadaan Madrakum memang sudah payah. Aku sependapat dengan Kang Samin; Madrakum dalam keadaan sekarat. Sekarat Madrakum memang lain. Si sakit yang kelihatannya sudah demikian lemah, kadang mendadak jadi penuh tenaga. Kedua kakinya mencakar-cakar, kedua tangannya mengepak-epak. Kemudian diam dan melemah lagi. Dan dari rongga mulutnya terdengar suara aneh.

Aku duduk di atas kursi dekat kepala Madrakkum. Kang Samin membuka jendela singkap yang harus selalu ditopang dengan sebilah kayu. Kang Samin menduga aku akan membaca kitab. Dia tidak tahu aku hafal Surah Yassin di luar kepada. Orang-orang seberang kali ternyata bisa menciptakan hening ketika aku membacakan ayat-ayat suci. Tapi ayam-ayam jago mereka tidak. Maka suaraku sering tenggelam oleh suara kokok jago yang bersahutan tak henti-hentinya. Selesai dengan bacaan suci, aku bangkit. Aku permisi pulang hendak menyampaikan berita peri keadaan Madrakum sekali lagi disambut dengan keheningan.

Yang pertama kulakukan setelah sampai kembali ke rumah adalah memberitahukan keadaan Madrakum kepada istriku sendiri. Lalu aku ke luar hendak menghubungi tetangga kiri kanan. Tapi baru mendapat  satu rumah aku harus menghentikan niat. Kang Samin muncul. Langkahnya panjang-panjang.

"Wah, Mas. Terima kasih. Kan Madrakum sudah tiada. Sungguh-sungguh sudah mati dia. Terima kasih, Mas."

"Inna Lillahi."

"Ya. Tapi ya  itu, Mas. Sekali Madrakum. Dia suka aneh-aneh saja," kata kang Samin sambil tersenyum.

"Kamu menertawakan saudara yang meninggalkan?"

"Maksudku bukan begitu. Aku hanya mau bilang, madrakum suka aneh-aneh. Itu saja."

Maka sambil senyum-senyum. Samin bercerita tentang kerabatnya di seberang kali itu. Katanya, tidak lama setelah aku mengundurkan diri Madrakum bangkit. Turun dari balai-balai. Madrakum bangkit. Turun dari balai-balai. Madrakum berdiri dengan gagah. Lalu dia membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang menggombal betinanya. Tidak hanya itu. Madrakum kemudian ke luar halaman, lagi-lagi berdiri dengan megah. Matanya liar. Kedua tangannya mengembang untuk membuat gerakan-gerakan mengepak. Kaum kerabat yang terpana dibuat lebih kecut karena kemudian Madrakum berkokok berkali-kali. Suaranya demikian mirip dengan binatang yang diperliharaannya sehingga semua ayam jago di seberang kali menyahutnya berganti-ganti. Tapi semuanya segera berakhir ketika Madrakum kemudian jatuh melingkar di tanah. Mati.


Karya: Ahmad Tohari

GADIS KECIL PENJUAL KOREK API

"Korek api...Korek apinya Pak! Satu Pak, seribu!" teriakan itu terdengar berulang kali dari bibir pucat seorang gadis kecil. Pakaiannya nyaris tak berbentuk, sepotong kaus dan celana pendek, kumal. Rambutnya kemerahan tak pernah tersentuh sisir, kusut.

"Koreknya Bu! Untuk persediaan, jaga-jaga!" tangannya yang mungil menggenggam beberapa bungkus korek-api. Tapi tak ada seorang pun memperdulikan teriakan letih seorang gadis yang berdiri di depan pasar, menawarkan dagangannya. Semua hanya lewat begitu saja, ibarat melewati seonggok sampah. Semua orang bergegas, berburu waktu, seiring awan gelap berarak, menandai hujan akan tertumpah kembali.

"Bu koreknya untuk di rumah!" Suara lirih itu makin mengiba. Tak diperdulikan tetes-tetes air hujan mulai membasahi tubuhnya kurus kering. Di benak gadis kecil itu hanya ada keinginan korek apinya terjual ditukar beberapa lembar uang ribuan untuk sebungkus nasi pengganjal perut. Sudah beberapa hari dia tidak makan. Sisa-sisa makanan ia kias dari sampah dekat Restoran Pandang untuk penawar lapar.

Waktu terus merayap. Jalan depan pasar kini lengang. Hanya ada satu, dua orang bergegas lewat di tengah guyuran hujan lebat. Cepat-cepat pulang, bertemu keluarga. Rumah hangat, dan makanan mengenyangkan gadis kecil itu hanya memperhatika. Iri merambat di hati, betapa ingin ia punya orang tua, saudara, dalam rumah hangat, bukan hanya menjadi anak tanpa nama, orang tua, apalagi kasih sayang.

Malam larut, terpaan angin menusuk tulang. Lapar dan dingin menyerbu, matanya tak bisa terpejam, terkalahkan rasa lapar. Tempatnya berlindung emperan toko tak lagi cukup menahan dinginnya hujan. Dia ingin kehangatan. Mustahil. Ia lapar, ingin nasi dan lauk. Hanya angan.

Bau selokan dan sungai kehitam-hitaman menyengat, tak terkalahkan oleh hujan. Anyir sampah di pasar menjadi teman akrabnya, pemandangan keseharian kota anggun kota metropolitan di tempat ini gadis kecil tinggal.
....

Gadis kecil itu memandang penuh harap pada kerlip lampu di kejauhan. Membayangkan kehangatan dan perut kenyang pemilik rumah. Harga beras yang semakin membubung tak berarti apapun bagi mereka, penghuni apartemen dan perumahan yang mewah. Pandangannya kemudian jatuh pada kotak korek-api di genggamannya. Mungkinkah korek api ini mampu memberinya kehangatan yang ia dambakan? Namun ia takut. Barang itu bukan miliknya. Ia hanya membantu menjual, sedikit keuntungan diupahkan  untuknya.

Badannya makin menggigil. Rasa mengalahkan ketakutannya. Digoreskannya sebatang korek api. Ditemukannya gerbang menuju dunia dongeng di balik cahaya lemah itu. Ketika hendak masuk, cahaya itu padam dan gerbang itu pun perlahan turut menghilang. Cepat-cepat dinyalahkannya lagi sebatang korek api, dan bersamaan nyala api, ia memasuki negeri dongeng.

Di negeri dongeng, impiannya terkabul. Semua orang menyayangi dirinya. Tak ditemukannya pandangan tak peduli, sinis, bahkan jijik, seperti yang biasa didapatkannya. Lalu tiba-tiba ia terhempas di gelapannya dan dingin yang membekukan. Hampir tanpa berpikir, gadis kecil itu menyalahkan sebatang korek-api lagi, lagi, dan lagi. Ia ingin terus berada di negeri dongeng itu, Di peluk dari orang-orang peduli dan menyayanginya. Memiliki rumah hangat dan bagus. Tak hanya terdiri dari papan-papan dan seng di bawah jembatan atau di pinggir sungai. Kini ia bisa makan sepuasnya, tak lagi kelaparan. Pakaiannya pun tak lagi lusuh dan kumal.

Ia tak mau kembali. Tak diperdulikannya korek api bekas bertebaran di sekitarnya. Hujan tetap mengguyur, tak juga reda bahkan semakin lebat. Air sungai perlahan merambat naik dan menggenangi lantai di sekitarnya. Air naik makin lama makin tinggi. Malam pun terusik dengan jeritan panik para penghuni rumah. Tak hanya rumah di pinggir sungai, namun makin meluas. Mulanya selutut, makin naik, dan tak menunjukkan tanda-tanda akan kian surut.

Gadis kecil itu sama sekali tak peduli. Kini ia terbang menuju negeri dongeng untuk selamanya. Sakit perutnya akibat makan-makanan basi selama beberapa hari lenyap sudah. Ia menikmati kebahagian yang selama ini tak pernah dinikmati. Damai, indah, penuh kasih sayang.

Ditengoknya untuk terakhir kali apa yang ditinggalkannya, Banjir melanda. Orang-orang kehilangan apa yang dimiliki, rumah, harta benda, bahkan sanak saudara. Kehidupan yang dibangun dengan susah payah, musnah. Ia sedih, perih. Mengapa ketika ia pergi semakin bermunculan gadis-gadis penjual korek api yang lain.
....


Karya: Fannie Astria.

FAJAR MULAI MENYINGSING

Ayam berkokok membangun insan terlelap
Sinar merah tampak di ufuk timur

Desingan peluru mengusik sepi
Gelegar meriam membelah sunyi
Nyanyian lagu bangsa membangkitkan semangat
Menapak, merajut, membahana.

Jeritan rakyat derita bangsa
Dikoyak Nipon sang durjana
Mari singsingkan baju
Kapalkan tangan
Menerjang badai sang durjana

INDONESIA MENANGIS

Dukamu datang silih berganti
Air datang di kala pagi
Mengoyak, merobek kerongkongan bumi
Menghempas insan di atad nestapa
Bertabur dengan duka lara
Ratusan ribu jiwa melayang
Terjerembab di bawa gelombang dahsyat

Gelombang tsunami
Mencengkeram, memukul, dan menyeret
Insan terlelap di bawah bayang duka
Manusia tak berdaya

Aceh, Nias.....
Ombak menyapu  kota
Tinggal hamparan tanah kosong
Ratusan ribu jiwa melayang
Jutaan rakyat menanggung derita

Oh.......
Tuhan Maha Tahu
Cukupkanlah derita ini

SENJA DI LAUT BIRU

Senja datang bersama awan
Mentari berlindung di langit jingga
Sinar merah mendekap bumi
Menyambut datangnya malam pesona

Desiran ombak menyapu pantai
Angin berbisik mengelus sukma
Mentari makin jauh berlindung
Tenggelam dalam bayangan merah
Pergi diiringi purnama malam

HUJAN

Air mengalir
Bagai ditumpahkan dari langit
Mendung bergulung-gulung
Gemuruh badai menyapu awan
Gelap pekat menapak senja

Petir bersahutan
Membelah sunyi di atad hujan lebat
Bunyi basah mendesah dingin tak berselimut
Banjir datang membayang
Berlari, kotaku jadi tempat betlabuh

Bumi jadi dingin
Membasuh kuyup menerobos tulang sumsum
Hujan,
Kau datang menyiram bumi
Aku lama menunggumu di sudut kota

SEPASANG SEPATU TUA

Sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu
Yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu
Yang kiri menerka mungkin  besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang
Kapan mengira mungkin besok mereka diangkut truk
Sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama
makanan sisa
Sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua

NYANYIAN SEORANG PETANI

Berilah kiranya yang terbaik bagiku
Tanah berlumpur dan kerbau pilihan
Biji padi yang manis

Berilah kiranya yang terbaik
Air mengalir
Hujan menyerbu tanah air
Bila masanya buahnya kupetik
Rahmat-Mu kuraih


Abdul Hadi W.M.

PETANI

Hamparan tanah kering
Merindukan tetesan hujan yang tak kunjung
datang
Lama keringat menetes di tanah kering
bergelut dalam bayang kenestapaan

Ketika hujan datang menyiram bumi
Kukerahkan tenaga
Kubajak tanah
Kutanam pagi
Demi mengejar sesuap nasi

Inilah hidup yang harus kujalani
Menjadi petani anak negeri

Biar susah setiap hari
Asal bertahan mengais rezeki

KOTAKU

Pancaran cahaya menatap kota
Beribu pohon jadi gedung bertingkat
Sunyi sepi hilang tak berbekas
Hingar bingar kenalpot menderu angin
Seribu mobil menyemut di jalan raya
Merayap di bawah gedung bertingkat

Pertokoan berjejer di sudut-sudut kota
Mengajakku bercanda
Masih adakah udara segar untukku?


TANAH SUBURKU

Di sini aku berlabuh
Menggantungkan hidup tuk berteduh

Hamparan tanah subur
membentang  di jamprut khatulistiwa
di sana ada intan emas permata
menngalun menanti kita

Kutancapkan seribu dadaunan
kusebar bulir padi di hamparan
kusiram dengan embun mengalir
Tumbuh hijau bagai permadani biru
menghampar luas menyejuk sukma

Kuraih emas permata
di antara gundukan tanah subur
bulir padi menguning
mengajak kita bercanda
Inilah tanah negeri tanah tercinta
bila kita tersenyum padanya
diberikan segala yang ada

MERAPI

Saat Merapi batuk beriak
Butiran merah mengoyak senja
Puluhan desa cemberut luluh
nestapa

Ribuan hektar sawah merana
Cemberut bintang langit berduka
Melihat insan gundah gulana

Merah lahar mengalir deras
Jutaan kubik debu bersandar
Mencabik bukit runtuh merata

Oh, Merapi
Kapan kau berhenti.
Biarkan insan membangun negeri
Bercanda ria senyum di hati

A ROAD TO THE ENDLESS LOVE

Malam itu terasa sangat dingin menusuk hati, membalut jiwa-jiwa yang sedang perih hatinya. Meskipun musim dingin telah berakhir di Vancouver, namun malam ini terasa sangat dingin dari hari-hari biasanya. Terutama bagi Andrea, hatinya sedang terluka, membeku, dan membatu. Kejadian lima hari yang lalu membuatnya sangat terpukul dan memecahkan hatinya berkeping-keping. Ia tak menduga kalau kekasihnya, Alex, bisa berbuat hal yang sama sekali diluar dugaannya. Andrea tak tahu apa yang harus ia lakukan kepada kekasihnya itu, yang ia rasakan saat ini adalah hati yang terluka. Andrea tidak tahu apakah memang Alex sudah mengkhianati cintanya yang selama ini ia berikan?

Empat hari yang lalu, ketika Andrea baru saja tiba di Vancouver setelah kepergiannya ke Paris, ia langsung mendapatkan kabar yang membuat hatinya jatuh berkeping-keping. Sahabat Andrea, Katy, tiba-tiba saja menelepon dan mengajaknya bertemu. Sore itu cuaca di Vancouver cukup bersahabat, hangat dan terang. Di salah satu cafe mahasiswa UBC, Andrea dan Katy bertemu.

“Hi, darling how are you?” sapa Katy.

“I’m fine, Katy! How about you? I miss you so much.”

“I’m great, And! I miss you too, darling!”

“Hey, here, I bring some souvenirs for you, just these things I could buy!”

“Wow, thank you so much darling, this one is really cute!” kata Katy sambil mengambil sebuah syal berwarna ungu.

“Yea, anytime darling! Well, what’s the matter?”

“Huff, it’s hard to say! But I have to tell you!”

“About what?!” Andrea penasaran.

“This is about your boyfriend, Andrea!”

“Alex?! What happen with him? I’ve just phoned him a few minutes ago!”

“Hmm, well, maybe he won’t tell you! Listen to me darling! Last night, my friends and I got party in a pub. I saw Alex there, but he was with a lady. I guess I ever saw that woman here, maybe she was graduated student from Emily Carr too.” Katy menghela napas.

“Then?” Andrea semakin penasaran.

“Hufff… I hate to tell this! Well, when I went on the second floor, I was about to find a quiet place, because I couldn’t stay with the party, it made me dizzy, so I found a terrace on the second floor. Then I saw a really unbelievable situation!!. Alex did something with that girl, something that will make you hate! And I ran off to the first floor, I tried not to believe that! But I believe he was Alex I saw before.”

“Are you sure, he was really Alex?!” kata Andrea meragukan.

“Yes, I am! He was wearing the same clothes, the same hat, I saw him before! I’m sorry Andrea, I doubt him!”

Andrea terdiam dengan pandangan kosong.

“Andrea?!! Are you okay?!”

“Yes, yes…” lamunan Andrea buyar.

“I’m sorry I have to tell this to you! I just want to save you from a guy kind like that! You deserve to have a better man than him!”

“I will talk with him first, just to make it sure!”

“Yes, you should! I wish I was wrong!”

“Well, I have to go! I need to meet him!”

“Umm, should I go with you?!”

“No, no, you don’t have to! Thank you, Katy, bye!”

“Good luck darling!”

Andrea langsung pergi menuju dorm Alex di Vancouver bagian timur, berjauhan dengan apartemen miliknya. Sepanjang perjalanan, hatinya berdegup kencang, berharap apa yang diceritakan Katy tadi tidak pernah terjadi pada Alex. Andrea meyakinkan hatinya, Alex adalah pria yang setia yang dikenalinya sejak mereka masih kanak-kanak. Meskipun Alex dan Andrea sudah berteman sejak kanak-kanak, tetapi mereka baru berpacaran delapan bulan yang lalu. Jaraklah yang menjauhkan mereka. Namun setelah Andrea kembali dari New York ke Indonesia, Alex berusaha mengaitkan cinta yang selama ini dipendamnya pada Andrea. Saat ini, keduanya melanjutkan studinya di Vancouver meskipun keduanya berada di universitas yang berbeda.

Hati Andrea tidak karuan ketika ia telah tiba di dorm Alex. Ia menekan bel kamar Alex. Kemudian sebuah suara menyapanya.

“who’s there?!” Andrea menjawabnya.

Seketika pintu kamar itu terbuka diikuti sebuah senyuman dan wajah yang bercahaya menyambut kedatangan Andrea.

“Hai, honey! Baru aja aku mau ke apartemen kamu! Pasti udah kangen berat ya?!” kata Alex sambil memeluk kekasihnya itu. Andrea hanya tersenyum dingin sambil membalas pelukan Alex. Ia tahu ia merindukan Alex, tapi kabar tadi telah membuatnya ragu.

“Honey, mau minum apa?! Jus, milkshake, cappuccino? Nanti aku buatin!”

“Ehm, gak usah, aku baru minum tadi!” kata Andrea.

“Ahh, honey!!! Aku kangen banget sama kamu!” kata Alex manja sambil memeluk Andrea lagi.

“Me too!” jawab Andrea dingin.

“Kamu kenapa, hun? Kamu sakit? Kok wajahnya gak ceria gitu sih?” Tanya Alex melihat ekspresi Andrea yang dingin dan tidak seperti biasanya ketika bertemu.

“There is a question I wanna ask you!” wajah Andrea mulai serius.

“Well, what is that?” kata Alex polos.

Andrea menarik napasnya. “Apa kamu selingkuh?” katanya tegas.

Alex terperanjat mendengar pertanyaan Andrea. Alex benar-benar salah tingkah dan ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menjawab pertanyaan Andrea. Hatinya menjadi tak karuan dan serba salah, karena ia harus menjawab pertanyaan itu dengan satu kata, “yes”, meskipun ia tak bermaksud untuk melakukan itu.

“I’ll explain that, hun! Please listen to me first!” kata Alex, berusaha menenangkan Andrea.

Mata Andrea mulai berkaca-kaca, “So, it means ‘yes’! You don’t have to explain anything, Alex! I’ve known everything what you did!”

Andrea berdiri dari kasur dan pergi keluar dari kamar Alex, tetapi Alex menahannya.

“Please, dengerin penjelasan aku dulu!”

“Oke, fine! I will listen to you!!!” kata Andrea. Air matanya mulai menetes di pipinya.

Alex tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Andrea, ia tahu ini akan menghancurkan hati kekasihnya itu. Alex menarik nafas berkali-kali.

“Hurry! I have no much time, Alex!!!” sentak Andrea.

“Huff. Yes, I did it last night, with my friend, Lee Sharon! But we were drunk, it just happened like that like we never wanted! Please I’m sorry to you, Andrea! Aku gak bermaksud untuk main di belakang kamu, And!”

Andrea tidak dapat menahan air matanya. Kemudian ia langsung pergi meninggalkan Alex sendirian yang sedang menyesal.

“Honey, please forgive me!!! I only love you!!” kata Alex sambil mengejar Andrea. Alex menarik tangan Andrea seketika itu.

“Let me go! It’s clear!” Andrea menarik tangannya kembali, kemudian berlari ke luar dari dorm. Alex hanya bisa terdiam melihat kekasihnya berlari jauh meninggalkannya. Ia merasa sangat menyesal. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.

Andrea berlari menuju taman, kemudian menangis seorang diri di sana. Ia sangat tidak percaya pada apa yang telah dikatakan Alex. Hatinya sangat hancur berkeping-keping. Pria yang sangat dicintainya itu mengkhianatinya.

Dua hari setelah kejadian itu, di siang hari sepulangnya kuliah, Andrea mendapati tamu di apartemen. Seorang wanita cantik berumur 25an datang ke apartemennya.

“I’m sorry, who are you looking for?” Tanya Andrea pada wanita yang tidak dikenalinya.

“Are you Andrea?!”

“Yes, I am!”

“I need to talk to you, please, let me come in to your room!”

“Okay! Come in!”

Andrea cukup was-was dengan kedatangan tamu yang tidak dikenalinya ini. Kemudian wanita itu membuka kaca mata hitam dan topinya. Ia tersenyum padanya.

“Do I know you?” Tanya Andrea.

“No, you never did! And we’ve just met here, right now.”

“Who are you?”

“I’m Lee Sharon, Alex’s friend!”

Andrea terkejut setengah mati. Wanita yang berselingkuh dengan Alex ada di hadapannya. Ia sebenarnya ingin sekali membentaknya, menamparnya, dan mengusirnya ke luar, tetapi hatinya menyuruhnya untuk tetap diam.

“What?! You!”

“Yes, I’m the girl who kissed Alex on that night!”

“But why were you both doing like that?! I hate you!”

“Okay, this actually was my mistake. I asked Alex to accompany me that night, then I took him to the pub. At first, I was the one who was drunk, Alex tried to prevent me to drink again, but he was failed. Then I asked him to take a drink, I forced him, then he was drunk too. But I was so uncontrolled that night. I took him to the second floor, then we did it! I know I was wrong, but I just want to ask you! Please, don’t ever let him! He’s really in love with you, Andrea! Although I realize I have been in love with him since I was a teenage, but I couldn’t have him, and never!

“I don’t believe you!!!”

“It’s up to you! I have told the truth to you! I only have one request for you, don’t ever let him! Okay, I’m finished here, I’ll go to NY, I don’t want to be a parasite here! I’m sorry, Andrea! I really regret it! Good bye.” Lee ke luar dari kamar apartemen Andrea sendiri.

Andrea masih terpaku mendengar pengakuan Lee. Tetap saja, luka itu masih terasa menyakitkan bahkan semakin menyakitkan. Andrea menangis sejadi-jadinya. Ia tahu ia masih sangat mencintai Alex, tapi ia bingung apa yang harus ia lakukan. Sudah dua hari ini ia tidak berbicara dengan Alex, meskipun selalu ada telepon, sms, e-mail, dan chat darinya, tetapi semuanya tidak dihiraukan oleh Andrea.

Malam ini, Andrea baru saja selesai latihan untuk penampilan dramanya bulan depan. Terasa dingin, sepi dan kelam. Lima hari sudah, Andrea sama sekali tidak melakukan komunikasi dengan Alex, meskipun status hubungan masih tetap bertahan. Hanya saja, Andrea butuh waktu untuk memaafkan Alex. Andrea tiba di apartemennya, saat itu ia terkejut karena lampu ruangannya sudah menyala. Tapi ia menduga ada seorang petugas apartemen yang menyalakan lampu ruangannya. Ia menyimpan tasnya di atas meja, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil menarik napas panjang. Kemudian tiba-tiba saja muncul sesosok pria dari ruang makan. Andrea terperanjat dari tidurnya.

“Alex?! What are you doing here?!!” Tanya Andrea terkejut.

“Aku ingin bicara sama kamu! I want you to forgive me for a stupid mistake I had done! Please forgive me, Andrea! I love you!!!” kata Alex, di tangannya ada setangkai mawar merah digenggamnya. Penampilan Alex begitu rapi dan menyenangkan. Andrea melihat sosok Alex dengan tatapan rindu. Akan tetapi ketika ia mengingat apa yang telah terjadi, seketika rasa rindu itu buyar.

“Bagaimana kamu bisa masuk ke apartemen aku?!”

“Aku pinjam kunci kamar kamu sama petugas, aku bilang ada barang penting yang tertinggal di kamar kamu, dan untungnya aku bisa dapet kunci kamar kamu.”

Andrea hanya terdiam, mendengar penjelasan konyol Alex.

Alex mendekati Andrea, kemudian menggenggam tangannya. “Andrea, would you forgive me? I promise I’ll never do the same mistake! I only love you, my honey!”

Andrea hanya bisa meneteskan air matanya tanpa bisa berkata apa-apa. Kali ini, ia hanya merasakan sentuhan hangat. Jiwanya terasa melayang menembus batas waktu, terbang bersama angan-angan, membawa hasrat terdalam cintanya. Ia bisa merasakan cinta dari pria yang dicintainya selama ini, meskipun air mata terus bercucuran dari matanya. Namun, hati yang terluka itu masih begitu terasa perih.

“Alex, please stop it! Let me go!” napas Andrea terengah-engah. “Please, let me alone!” kata Andrea, tubuhnya menjauh dari Alex.

“I know I was wrong! But I can’t go through like this without you all day long, please forgive me, Andrea!” kata Alex memelas.

“I already forgive you, Alex! But please, leave me alone!”

“But Andre!”

“Just give me a time, Alex, please!”

Alex merasa kecewa, tetapi ia menyadarinya. “Okay, I’ll leave you alone! I love you, Andrea!” kata Alex sambil meletakkan bunga mawar itu di atas meja, kemudian pergi.

Andrea terus menangis semalaman, hingga ia tertidur.

Tujuh hari telah berlalu, seperti angin yang bertiup kencang. Selama itu pula, Alex berada dalam kehampaan cinta. Semua pesan, telepon, e-mail, dan chat yang ditujukan kepada kekasihnya masih juga belum diberi respon. Namun, ia menyadari mungkin Andrea memang masih merasakan sakit atas luka yang dibuatnya kepada Andrea. Sampai suatu malam, ketika Alex membuka akun facebooknya, ia melihat akun Andrea sedang menyala chatnya. Kemudian ia mengetik kata-kata untuk Andrea dengan penuh harapan akan dibalasnya segera. Namun, dugaannya salah, sudah satu jam berlalu, balasan dari Andrea tidak tampak pula. Karena lelah menunggu, Alex tertidur di depan laptopnya malam itu.

Pagi itu Alex terbangun, masih dengan posisi tubuhnya yang terbaring di depan laptop. Kemudian, ia melihat layar laptopnya yang masih menyala, matanya terkejut senang ketika melihat ada balasan dari Andrea.

“Meet me in the park at 8 pm tomorrow night. If you’re late over 30 minutes, we’ll finish this relationship.”

Bukan main senangnya Alex pagi itu. Ia tersenyum gembira. Meskipun ia tidak suka kalimat akhir, tetapi ia yakin ia tidak akan terlambat. Alex memulai hari itu dengan gembira, ia berangkat kuliah dengan semangat sambil memikirkan apa yang harus persiapkan ketika bertemu dengan Andrea nanti malam. Alex tersenyum sendiri selama perjalanannya ke kampus, ia sudah mempersiapkan rencana untuk nanti malam. Malam ini akan menjadi malam paling hebat selama hidupnya, pikirnya.

Pukul 6.30 sore, Alex baru menyelesaikan kuliahnya. Kemudian tiba-tiba saja seorang lelaki memanggil namanya dari belakang.

“Hey, Alexander! Come here!” kata seorang lelaki tua berkumis tebal.

“Yes, Sir! What’s wrong?”

“Have you finish your final project for this month?”

“Umm, I haven’t yet, just a little more, Sir!”

“Okay, now finish it! I’ll wait for your final project till 8.30 pm today, you can do that, right?!”

“B.. but, Sir, I have 3 days more to finish it! I can’t do it now!”

“Sssshh!! You can make it done now! I’ll be in London since tomorrow morning till a week, so I’ll be waiting for you here until 8 pm or your final project won’t be accepted! Understand?!!”

“Yes, Sir!” kata Alex terpaksa. Oh gosh!!! What should I do?

Alex langsung bergegas ke ruangan kelasnya di mana karya untuk tugas akhirnya disimpan. Ia mengeluarkan semua barang-barang yang dibutuhkan untuk membuat karyanya. Namun Alex panik dan tidak dapat berpikir. Ia disibukkan dengan 2 pilihan, Andrea dan tugas akhirnya. Tentu saja ia harus menyelesaikan masalah keduanya. Ia mencoba membuat dirinya tenang. Baiklah, aku akan segera menyelesaikan tugas akhirku, kemudian langsung menemui Andrea di taman. Tuhan, tolong aku!

Alex mulai mengerjakan tugas akhirnya dengan teliti dan seksama. Meskipun ide yang dituangkannya belum utuh terbentuk, tetapi ia harus segera menyelesaikan tugas ini agar ia tidak terlambat menemui Andrea. Detik demi detik, menit demi menit terus berlalu, satu jam telah terlewati, tetapi karya Alex belum juga selesai. Keringatnya terus ke luar dari dahinya. Beberapa kali ia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tangannya. Kemudian ia melihat jam tangannya, sudah jam 8, Andrea pasti sudah berada di taman, maafkan aku honey, tapi aku janji aku gak akan telat lebih dari 30 menit. Alex terus berkonsentrasi pada karyanya yang sebentar lagi menuju tahap akhir.

Sementara itu, seorang gadis dengan setelan dress berwarna pink ditambah cardigan dengan warna yang sama, sedang menanti pria dengan harap-harap cemas. Andrea terus melihat ke arah jam tangannya. Ia duduk sendiri di tengah taman yang sepi, beberapa orang hanya melewati taman itu kemudian hilang lalu datang lagi yang lain, dan begitu seterusnya. Tidak ada yang duduk di sekitar taman itu selain dirinya.

Sudah pukul 8.25 pm, Andrea menghela nafas. Pandangannya melihat ke sekeliling taman, berharap ada seseorang yang segera menemuinya. Apakah ia akan datang? Ataukah memang aku harus mengakhiri hubungan ini dengannya? Pikiran Andrea diliputi berbagai macam dugaan yang tak tentu. Hatinya semakin gugup, detak jantungnya semakin kencang, napasnya terus menderu.

“Excuse me, are you okay?!”

Andrea terkejut kemudian membalikan tubuhnya.

“Ya, I’m fine here!”

“Are you waiting for someone?”

“Yes, Sir!”

Seorang petugas keamanan menyapa Andrea, memastikan wanita muda itu baik-baik saja. Andrea menyangka kalau itu adalah Alex.

“Well, be careful!”

“Thank you, Sir!”

Andrea memastikan kembali sekeliling taman, tetapi tidak terlihat sosok Alex di sana. Waktu sudah menunjukan 8.29 pm. Andrea hanya bersikap pasrah terhadap keputusan yang telah dibuatnya. Dengan terpaksa, hubungannya dengan Alex harus diakhiri dalam waktu satu menit lagi. Now, it’s already 8.30 pm. Andrea tersenyum dengan perasaan pahit dalam hatinya, kemudian ia berjalan menuju apartemennya. It’s done!

Dingin menyelimuti tubuh Andrea. Ia berjalan, wajahnya tertunduk, dan hatinya terasa terluka. Kemudian, tiba-tiba sesosok pria berlari dari arah kanan dan berhenti tepat di depan Andrea dengan napas terengah-engah. “Am I late?” Ia terkejut.

Andrea melihat jam tangannya “It’s 8.31 just now!” kata Andrea sambil melihat jamnya, tepat ketika jarum bergeser semenit.

“Damn!! Do I still have a chance?!” Tanya Alex masih dengan suara yang terengah-engah.

“I dunno!”

“Hey!! Listen, I have something to tell you!” Alex berdiri di hadapan Andrea, kemudian ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah kotak kecil berwarna hitam. Kemudian Alex berlutut di depan Andrea. Ia membuka kotak kecil itu, sebuah benda kecil bersinar memantulkan cahaya lampu sekitar. Andrea terkejut, Alex menarik nafas panjang. Alex berhitung dalam hatinya.

“Andrea Vellicia, would you be my wife? Would you want to live with me forever and after? Andrea, would you marry me?!”

Mata Andrea berkaca-kaca, lidahnya tidak bisa mengatakan apa-apa saat itu. Hatinya berdegup sangat kencang. Ia menangis bahagia meskipun belum mengucapkan satu dua patah kata. Alex berdiri di hadapannya kemudian mengusap air mata Andrea yang terus berjatuhan menetes di pipinya.

“I love you, Andrea! And now, I want you to be part of my life! I know I’m late, but would you give me a chance only for this time?”

Andrea terus menangis tanpa mengucapkan apa-apa. Kemudian Alex bertanya sekali lagi, “Would you marry me?”

“I can’t, Alex! I can’t live without you, Alex!”

“So, it means ‘yes’?!” Tanya Alex memastikan jawaban Andrea.

Andrea mengangguk mantap. Alex mendekap Andrea ke dalam tubuhnya. Keduanya menangis bahagia. “Thank you, Andrea!” Kemudian tiba-tiba saja, handphone Andrea berdering dengan lagu yang sangat indah. Andrea tidak mengangkat panggilannya, ia membiarkan nada deringnya menghiasi momen indah malam itu.

I have died everyday waiting for you,

Darling don’t be afraid I have loved you

For a thousand years

I’ll love you for a thousand more

Alex mencium kening Andrea, ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

“Thank you for giving me a chance” kata Alex excited.

“You can keep your chance for another time!”

“You’re not late, honey! You arrived exactly at 8.30pm” kata Andrea sambil tersenyum.

“Oh, God! Thank you!” Alex kembali menarik Andrea ke dalam pelukannya.

“Let me put this ring on your finger!” kata Alex.

Andrea tersenyum bahagia, ketika Alex memasangkan sebuah cincin emas putih cantik di jari manisnya.

Malam terasa sangat indah, ditemani jutaan bintang di langit, menghiasi malam-malam dengan cahaya dan cinta. Kedua pasangan itu pun berjalan di bawah langit berhiaskan permata menemani hati-hati yang sedang berkilauan di gelapnya malam.

CAMPUR ADUK

BAIT 3D

Malam hari. Bintang berkelap-kelip di langit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus....berita di channel TVRI, ya seperti biasa ...

CAMPUR ADUK