CAMPUR ADUK

Thursday, August 5, 2021

SI BAIK TAM DAN SAUDARA TIRINYA CAM

Agueda selesai merawat tanamannya di halaman depan rumah. Agueda duduk santai di teras depan rumah sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Agueda :

Tam adalah gadis kecil yang baik hati dan sangat ceria. Dia hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Setiap hari ayah Tam selalu mengajaknya jalan-jalan dan bermain di sungai sedangkan ibunya selalu memasak makanan kesukaan Tam. Tam sangat mencintai ibu dan ayahnya. Namun, suatu hari ibu Tam jatuh sakit dan segera setelah dia meninggal. Sejak itu, Tam hanya tinggal bersama ayahnya. Tam berubah menjadi gadis kecil yang murung. Meskipun ayahnya sangat mencintai Tam, namun Tam sangat kehilangan ibunya. Sejak kematian ibunya, Tam selalu mengajak ayahnya bermain bersama. Kesedihan Tam meningkat ketika Ayah bertemu dengan seorang wanita dan menikahinya. Mereka menggelar pesta pernikahan yang meriah di rumah. 

Namun, selama pernikahan, wanita itu mengunci Tam di sebuah kamar dan tidak memberinya makan. Kini, wanita itu telah menjadi ibu tiri Tam. Setahun kemudian, Tam memiliki saudara tiri bernama Cam. Kelahiran saudara tirinya membuat Tam semakin menderita. Ibu tiri Tam tidak pernah mencintainya. Ketika Ayah pergi bekerja, ibu tiri Tam akan menyuruhnya melakukan semua pekerjaan rumah. Peristiwa itu berlangsung selama bertahun-tahun tanpa sepengetahuan ayah Tam. Ketika Tam dan saudara tirinya, Cam, menjadi dewasa, ayah mereka meninggal. Tam sangat sedih karena dia tidak memiliki siapa pun yang siap. Kini, Tam harus tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Ibu tiri dan saudara tiri Tam, Cam, memiliki temperamen yang sama. 

Mereka sering menyuruh Tam melakukan pekerjaan rumah tanpa henti. Mereka juga sering tidak memberi makan Tam. Suatu hari ibu tiri Tam menyuruhnya mencari kayu bakar di hutan yang sangat jauh. Tam tidak bisa melanggar perintah ibu tirinya, jadi dia pergi pagi-pagi sekali untuk mencari kayu bakar. Sebenarnya Ibu Tiri berharap Tam akan dimakan binatang buas ketika dia pergi ke hutan yang sangat jauh. Dengan demikian Tam tidak akan pernah kembali ke rumah. Namun, Tam telah kembali ke rumah dengan kayu bakar ketika matahari tepat di atas kepalanya. Ibu tiri kecewa karena rencananya tidak berhasil. Dia segera memikirkan cara lain untuk membuat Tam pergi selamanya dan tidak kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian, Ibu Tiri memerintahkan Tam untuk mengambil air dari sungai yang jaraknya sangat jauh dari rumah. 

Tam harus melewati ladang tanpa pohon untuk mencapai sungai. Ibu tiri berharap sinar matahari yang cerah akan membuat kulit Tam terbakar dan menggelap, sehingga Tam menjadi gadis yang jelek. Namun, harapan ibu tiri tidak pernah menjadi kenyataan. Setiap kali dia mengambil air dari sungai, Tam selalu menyeka wajahnya dengan air sungai dan dia bahkan terlihat lebih cantik. Kulit Tam juga terlihat lebih cerah dan tidak terbakar matahari. Ibu tiri dan Cam semakin kesal dengan Tam. Cam selalu iri dengan kecantikan saudara tirinya, Tam. Rencana mereka yang gagal berkali-kali tidak mematahkan ambisi Ibu Tiri dan Cam untuk membuat Tam pergi dari rumah. Suatu hari ibu tiri menyuruh Cam dan Tam pergi memancing. Ibu tiri mengingatkan mereka bahwa mereka berdua harus menangkap banyak ikan untuk dimasak. 

“Ingat, kamu harus menangkap ikan sebanyak mungkin! Jika ada yang menangkap ikan kecil, tidak ada makan malam untuknya.” 

Tam dan Cam kemudian berangkat ke tempat yang disuruh ibu mereka. Sesampainya di tempat itu, Tam langsung berusaha menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Sedangkan Cam justru menghabiskan harinya untuk bermain-main di sekitar sungai. Saat matahari hampir terbenam, Tam kembali memeriksa tangkapannya. Ada ember penuh ikan. Saat bersiap-siap untuk pulang, Cam mendekati Tam dan mulai berpikir untuk selingkuh. 

“Tam, kamu harus mencuci tubuhmu yang berlumpur dulu! Anda terlihat sangat jelek. Aku akan marah jika melihatmu seperti ini.”

Tam mengikuti kata-kata saudara tirinya tanpa curiga. Dia segera membasuh wajah dan tubuhnya yang berlumuran lumpur dan meninggalkan embernya. Cam kemudian memindahkan ikan di ember Tam ke embernya, dan meninggalkannya sendirian. Ketika Tam kembali, dia sangat sedih dan menangis karena embernya kosong. Ibu pasti akan menghukumku karena aku pulang tanpa ikan, pikir Tam sambil terisak. Sementara Tam masih terisak, tiba-tiba sebuah suara lembut menyapanya.

“Ada apa, gadis cantik? Kenapa kamu menangis?" 

Tam mencari asal suara itu. Tam melihat sosok wanita yang sangat cantik di belakangnya. Tam juga menceritakan apa yang dia alami dan apa yang telah dilakukan Cam. Dia juga mengatakan bahwa dia terlalu takut untuk pulang karena ibu tirinya pasti akan menghukumnya. Setelah mendengar semua keluhan Tam, wanita cantik itu meminta Tam untuk melihat ke dalam embernya lagi. Tam memiringkan kepalanya dan melihat seekor ikan merah kecil bermata emas berenang di sisa-sisa air di embernya. Tam menatap ikan itu, tak percaya. 

“Bawa pulang ikan itu dan masukkan ke dalam sumur! Beri dia makan tiga kali sehari dari apa yang Anda makan! Anda harus meninggalkan makanan Anda untuk ikan!” 

Wanita cantik itu menghilangkan keterkejutan Tam. Tam berkedip tak percaya lagi, tapi dia segera mengangguk, membenarkan kata-kata wanita itu. Tam bergegas membawa pulang ikan itu. Dia diam-diam memasukkan ikan ke dalam sumur di belakang rumah agar tidak terlihat oleh ibu tirinya dan Cam. Dia juga selalu ingat untuk meninggalkan makanannya untuk ikan setiap hari. Karena sekarang Tam tidak diberi makan malam, maka Tam selalu menyisihkan jatah makan siangnya untuk ikan. Setiap kali Tam pergi ke sumur, ikan akan muncul dan menyapa Tam. Ibu tiri curiga dengan tingkah Tam saat melihat Tam berbicara dengan ikan di dalam sumur. 

Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Tam, Ibu Tiri pergi ke sumur dan menangkap ikan malang itu dan menggorengnya. Tam sangat sedih mengetahui bahwa Ibu Tiri telah menangkap dan menggoreng ikannya. Di tengah kesedihannya, wanita yang pernah memberinya ikan muncul kembali. Dia menghibur Tam dan memintanya untuk menemukan tulang ikan dan menguburnya dengan benar. Ketika pagi tiba Tam mulai mencari tulang ikannya. Dia telah mencarinya di seluruh rumah, tetapi tidak menemukannya. Dia kemudian pergi ke halaman belakang untuk melihat ke belakang. 

"Koook... Koook... Beri aku segenggam jagung dan akan kutunjukkan di mana tulangnya," kata seekor ayam.

Tam segera berlari mengambil segenggam jagung dan memberikannya pada ayam. Ayam juga menunjukkan adanya tulang. Tam segera mengambil tulang-tulang itu dan menguburnya di halaman belakang. Hari ini Tam bangun sangat pagi. Ibu tiri memerintahkan Tam untuk melakukan semua pekerjaan rumah seperti, memetik sayuran di ladang, memasak, dan membersihkan seluruh rumah. Sementara itu, Ibu Tiri dan Cam bahkan bersiap-siap untuk pergi ke pesta ulang tahun putra Raja yang diadakan oleh istana. Semua warga diundang untuk menghadiri pesta. Sebenarnya Tam ingin pergi ke pesta, namun semua pekerjaan yang diberikan oleh Ibu Tiri tidak memungkinkannya untuk datang ke acara tersebut. Tam hanya bisa tinggal di rumah dan melakukan semua pekerjaannya. Dia sangat sedih. Dia ingat ayah dan ibunya yang telah meninggal. Ia juga membayangkan jika ayahnya tidak menikah dengan ibu tirinya, mungkin hidupnya tidak akan menderita seperti sekarang. Sementara Tam sedang berduka atas nasibnya, wanita yang telah membantunya muncul kembali. 

"Jangan sedih, anakku! Pergi ke pesta! Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanmu.” 

Tam menghapus air matanya. 

"Tapi, aku tidak bisa memakai gaun seperti ini. Saya tidak punya baju yang pas untuk dipakai ke acara itu,” kata Tam pelan.

Wanita itu, dengan kekuatan yang diberikan oleh para Dewa, mengubah kemeja Tam menjadi kemeja yang sangat indah. Dia memberikan sepasang sepatu yang indah untuk Tam. Dia juga mendandani Tam menjadi gadis cantik, seperti putri bangsawan. Tam segera pergi ke istana untuk menghadiri pesta. Semua orang tampak bersukacita dan bernyanyi bersama dalam pesta yang megah. Tam segera bergabung dengan mereka. Kehadiran Tam membuat orang mengagumi kecantikannya. Kekaguman banyak orang membuat Cam sadar akan kehadiran Tam. Ia langsung memberitahu ibunya saat melihat Tam mengenakan gaun yang sangat cantik dan terlihat cantik, sehingga menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir. 

Merasa Ibu Tiri dan Cam mengetahui kehadirannya, Tam segera menyelinap ke kerumunan dan berniat untuk pulang. Tam berlari kencang karena takut basah oleh Ibu Tiri dan Cam hingga dia tidak menyadari bahwa salah satu sepatu cantiknya tertinggal di istana. Ketika pesta selesai pada tengah malam, salah satu prajurit istana menemukan sepatu Tam dan membawanya ke hadapan Raja. Semua orang di istana kagum dengan keindahan sepatu itu. Mereka belum pernah melihat sepatu yang begitu indah sebelumnya. Raja juga meminta orang kepercayaannya untuk mengumumkan ke seluruh negeri bahwa Raja sedang mencari pemilik sepatu ini untuk menjadi istri putranya. Setelah pengumuman dibuat di seluruh negeri, banyak gadis datang berbondong-bondong ke istana untuk mencoba sepatu. Namun, tidak ada gadis yang cocok dengan ukuran sepatu cantik ini. 

Tam mencoba datang ke istana karena mengira itu adalah sepatunya. Dan, sepatunya pas di kaki Tam! Raja segera mengumumkan bahwa Tam akan menjadi menantunya. Ibu tiri dan Cam sangat marah mengetahui hal ini. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap orang yang berbuat jahat kepada orang lain selalu mendapat balasannya. Tam bebas dari Ibu Tiri dan Cam yang membuat hidupnya menderita. Sekarang dia sudah menikah dan tinggal di istana, menjadi seorang putri yang dicintai oleh semua orang di seluruh Negeri. 

***

Agueda selesai membaca bukunya dan berkata "Cerita yang bagus asal cerita dari Vietnam."

Agueda menutup bukunya, ya beranjak dari duduknya masuk ke dalam rumah sambil membawa bukunya.

TUKANG KAYU DAN KAPAK EMAS

Catia selesai membantu ibu berjualan, ya di depan rumah sih. Catia duduk santai di ruang tamu sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Catia :

Di sebuah hutan yang sangat lebat hiduplah seorang tukang kayu yang sudah tua. Ia hidup bersama istri dan anak-anaknya. Mereka adalah keluarga yang paling miskin di antara keluarga-keluarga lain di hutan. Namun, meski keluarga mereka hidup dalam kemiskinan, tukang kayu yang sudah tua ini selalu menasihati keluarganya untuk berbuat dan berkata jujur. Setiap hari tukang kayu mencari kayu bakar di hutan. Inilah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan. Ia menyusuri sungai dan semak-semak untuk mendapatkan  kayu bakar. Lelaki tua ini memotong kayu-kayu besar dengan sebuah kapak bergagang kayu, miliknya satu-satunya. Kapak itu seperti harta karun baginya karena kapak itu membantunya menafkahi keluarga.

Selepas mencari kayu bakar, tukang kayu akan membawanya pulang. Kayu-kayu itu kemudian akan dikeringkan dahulu di halaman rumahnya. Setelah kayu kering, istrinya akan membawanya ke pasar dan menukarnya dengan beras, sayuran, ataupun lauk-pauk untuk dimasak. Kayu-kayu bakar yang mereka jual hanya cukup untuk ditukar dengan bahan makanan. Sehingga tukang kayu hanya mempunyai satu kapak, yang sudah dipakainya selama bertahun-tahun karena tidak bisa membeli kapak yang baru. Tukang kayu seringkali berharap bisa mempunyai kapak baru agar bisa mendapat kayu bakar lebih banyak. Namun, keadaan ekonomi keluarganya tidak mendukung keinginannya. Maka, dia selalu mencoba bersyukur dengan kapak tua miliknya.

Suatu pagi tukang kayu sedang mengasah kapaknya sebelum mencari kayu. Pagi ini ia kembali mengasah kapaknya saat istrinya mulai pergi ke pasar menukarkan kayu. Saat mengasah kapaknya, tukang kayu mendapati jika kapaknya semakin aus dan tipis. Kekuatan kapaknya semakin berkurang untuk memotong kayu besar. Tapi apa boleh buat, kata tukang kayu dalam hati. Tukang kayu segera berangkat mencari kayu bakar sembari membawa kapak dan seutas tali. Kali ini ia akan mencari kayu bakar di dekat sungai. Beberapa hari yang lalu saat ia ke sana, dahan dan ranting pohon hampir mengering, tapi belum cukup kering untuk dipotong. Dahan dan ranting pohon itu pasti sudah kering sekarang, gumamnya di tengah perjalanan.

Perjalanan yang ditempuh tukang kayu tidak mudah. Ia harus melewati semak belukar serta jalan yang naik turun. Tapi, ia sudah terbiasa dengan hal itu, sehingga dia selalu mengerjakannya dengan senang hati. Tak lama kemudian, tukang kayu sudah sampai di tempat tujuan. Suara gemericik air sungai terdengar sangat jelas. Sejenak, tukang kayu melihat air sungai yang sangat jernih dan pepohonan yang hijau serta rimbun di sekitar sungai. Dewa sungai pasti menjaga pepohonan di sekitar sungai ini, pikir tukang kayu. Setelah puas menyegarkan diri dengan pemandangan di sekitar sungai, tukang kayu mulai mengayunkan kapaknya dengan sangat cekatan. Selama beberapa saat, tukang kayu terlihat semakin asyik dengan pekerjaannya dan terus mengayun-ayunkan kapaknya dengan penuh semangat. Namun, ketika hampir menyelesaikan pekerjaannya, kapak tukang kayu tiba-tiba terlepas dari tangannya, melayang, dan akhirnya terjatuh ke sungai.

Sesaat, tukang kayu hanya bisa tertegun. Raut wajahnya terlihat sedih. Bagaimana ia bisa menemukan kapak itu? Bagaimana ia bisa mencari kayu bakar lagi, besok? Tukang kayu bingung harus melakukan apa. Sungai itu terlihat sangat dalam dan arusnya sangat deras. Bahkan di antaranya terlihat batuan yang sangat licin. Akhirnya Tukang kayu memutuskan untuk mencari kapaknya ke dalam sungai. Ia tak peduli seberapa dalam dan derasnya sungai itu. Namun ketika ia hendak menuruni pinggir sungai, tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggilnya.

“Tunggu...”

Ia memutar pandangan, mencari asal suara itu. Pandangannya terhenti pada seseorang berpakaian serba putih dan berambut putih yang menghampirinya dari arah seberang sungai.

“Sedang apa kau di situ?”

Sambil menahan kakinya yang hampir masuk ke air, tukang kayu menjawab, “Aku seorang tukang kayu dan aku hendak mencari kapakku yang jatuh ke sungai. Aku harus menemukan kapak itu karena itu satu-satunya milikku.”

“Tapi kau bisa membahayakan dirimu sendiri. Arus sungai itu sangatlah deras.”

“Aku tak punya pilihan lain. Itu satu-satunya kapak yang memberi makan keluargaku. Kalau kapak itu sampai hilang, maka...” suara tukang kayu terhenti, matanya mulai berkabut.

“Tunggulah di atas. Aku adalah penjaga sungai yang diutus Dewa untuk menjaga sungai ini. Aku akan mengambil kapakmu yang jatuh,” ujar pria berbaju putih sembari turun ke sungai.

Tukang kayu segera naik dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam sungai. Dari atas sungai ia melihat penjaga sungai itu masuk ke dalam sungai.

“Apakah ini kapak yang kau punya?” sang penjaga sungai muncul ke permukaan dengan membawa sebilah kapak bergagang perak.

Meski dari jarak yang cukup jauh, tukang kayu yakin itu bukan kapaknya.

“Bukan, itu bukan kapakku,” jawabnya dengan sedikit berteriak agar suaranya tidak terkalahkan oleh suara arus sungai.

Penjaga sungai kembali menyelam ke dalam sungai. Selang beberapa saat, ia muncul lagi ke permukaan sungai dan membawa kapak bergagang emas.

“Apakah ini kapakmu?” tanyanya lagi.

Tukang kayu melihat kapak bergagang emas itu, lalu berteriak sekali lagi, “Bukan, itu bukan kapakku. Kapakku bergagang kayu, bukan emas.”

Penjaga sungai segera meletakkan kapak emas itu bersisian dengan kapak perak yang ia temukan sebelumnya. Ia pun kembali menyelam ke dasar sungai. Tak lama kemudian ia sudah muncul ke permukaan sungai dengan sebuah kapak bergagang kayu.

Wajah tukang kayu langsung terlihat berseri-seri. Sebelum penjaga sungai sempat bertanya, ia berteriak dengan lantang, “Itu kapakku. Benar, itu kapakku.”

Penjaga sungai segera menghampiri tukang kayu dan menyerahkan kapak itu kepadanya.

“Terima kasih banyak, wahai Penjaga Sungai. Engkau telah menyelamatkanku dan keluargaku,” kata tukang kayu tulus.

Penjaga sungai mengangguk dan tersenyum. Ia lalu mengulurkan kapak perak dan kapak emas yang ia temukan kepada tukang kayu.

“Bawalah pulang ketiga kapak ini. Ini adalah hadiah dari Dewa karena kau orang yang sangat jujur.”

Tukang kayu semakin gembira. Setelah menerima ketiga kapak dan berterima kasih kepada penjaga sungai, ia langsung bergegas pulang. Kabar tentang kapak itu segera menyebar ke semua tetangga tukang kayu. Hampir semua orang ikut gembira karena kini keluarga tukang kayu bisa hidup berkecukupan. Namun, ternyata ada satu orang yang iri kepada tukang kayu. Ia pun pura-pura menanyakan asal mula kapak emas itu.

Setelah mendengar semua cerita tukang kayu, orang iri itu diam-diam pergi ke tempat kapak emas berasal. Saat sampai di sungai tersebut, ia pura-pura kehilangan kapak dan terduduk di dekat pohon sambil menangis. Tak lama kemudian, penjaga sungai muncul, menyapanya, seperti dugaannya.

“Sedang apa kau di situ?” Penjaga sungai mulai bertanya.

Orang iri itu kemudian mengarang cerita tentang kapaknya yang hilang. Penjaga sungai pun segera turun ke sungai untuk mencari kapak orang iri itu. Sesaat kemudian ia muncul dengan kapak emas di tangannya.

“Apakah ini kapakmu?”

Orang iri itu segera menghampiri penjaga sungai dengan sangat gembira. Ia hendak mengambil kapak emas itu.

“Benar... Itu kapakku. Cepat berikan padaku!” katanya tak sabar.

“Kau pembohong! Ini bukanlah kapakmu!” teriak penjaga sungai dengan kencang.

Penjaga sungai sangat murka. Ia segera menarik tubuh orang yang penuh dengan rasa iri dan tamak itu hingga jatuh ke sungai. Orang iri itu tenggelam dan terbawa arus sungai. Sejak kejadian itu, tidak ada satu orang pun yang berani mencari kapak emas ke sungai itu. Mereka percaya bahwa orang yang bersifat jahat dan tamak akan memperoleh hukuman dari Dewa. 

***

Catia selesai membaca bukunya dan berkata "Bagus cerita asal dari Vietnam."

Catia menutup bukunya dan buku di taruh di meja dengan baik.

KHOAI DAN 100 BATANG BAMBU

Aurora  selesai mengerjakan PR-nya, ya melanjutkan dengan baca buku cerita sih.
Isi buku yang di baca Aurora :

Di sebuah desa di Vietnam hiduplah seorang lelaki tua yang sangat rakus. Ini memiliki banyak pertanian dan sawah. Orang-orang memanggilnya Tuan Tanah. Dia mempekerjakan banyak orang dari desa setempat di ladang dan ladangnya. Para pekerja itu adalah orang-orang miskin yang tidak memiliki ladang atau ladang. Tuan Tanah selalu memerintahkan para pekerjanya untuk bekerja dari pagi hingga malam dan memberikan upah yang sangat sedikit. Khoai adalah seorang pemuda yang bekerja di salah satu pertanian Tuan Tanah. Dia adalah seorang yatim piatu yang telah bekerja sejak kecil. Khoai selalu bekerja dengan tekun dan tanpa lelah. Etos kerja Khoai membuat Tuan Tanah berpikir untuk memanfaatkannya. Tuan tanah menyadari jika Khoai akan memberinya banyak keuntungan. Ia juga yakin jika Khoai akan menuruti semua perintahnya. Jadi, Tuan Tanah berencana untuk membuat Khoai bekerja lebih keras agar keuntungannya meningkat. Suatu sore Tuan Tanah menelepon Khoai ketika dia baru saja kembali dari pertanian. Khoai segera merapikan peralatan yang dibawanya dari peternakan. Dia buru-buru berlari menemui Tuan Tanah. 

“Khoai, kamu adalah pemuda pekerja keras. Saya sangat senang dengan hasil jerih payah Anda,” kata Tuan Tanah memulai pembicaraan. 

"Jika kamu ingin tinggal di sini dan bekerja dua kali lebih keras dari yang kamu lakukan sekarang, aku akan menikahimu dengan putriku ketika dia dewasa." 

Khoai sangat senang menerima tawaran Tuan Tanah. Dia benar-benar menanggapi tawaran tuannya dengan serius. Khoai segera mengemasi barang-barang di rumahnya dan tinggal di rumah Tuan Tanah. Ia bertekad untuk bekerja lebih keras lagi. Setiap hari Khoai mulai bekerja di ladang sebelum matahari terbit. Dia selalu datang ke ladang saat pekerja lain masih tertidur di rumahnya. Ketika pekerja lain pulang, Khoai melanjutkan pekerjaannya di ladang sendirian. Setiap hari dia bekerja tanpa lelah, bahkan dia tetap bekerja ketika dia sakit. Tuan tanah sangat senang melihat Khoai bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Saat panen tiba, Tuan Tanah tampak berseri-seri karena panennya berkali-kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Dia menghasilkan keuntungan yang sangat besar sehingga dia mampu membeli lebih banyak ternak dan sawah. 

Kekayaan Tuan Tanah tumbuh. Tahun demi tahun berlalu, putri Tuan Tanah juga tumbuh dewasa. Khoai semakin berharap jika Tuan Tanah akan menepati janjinya, menikahkan Khoai dengan putrinya. Khoai sudah sering bertemu dan berbicara dengan putri Tuan Tanah. Khoai menyukai gadis cantik dan sopan itu. Tanpa sepengetahuan Khoai, Tuan Tanah diam-diam menerima lamaran dari putra Kepala Desa yang sangat kaya. Kedua keluarga telah sepakat untuk menikahkan anak mereka. Bahkan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Kini, setiap keluarga sibuk mempersiapkan pernikahan. Tuan tanah berusaha merahasiakan pernikahan itu dari Khoai. Namun, Khoai segera mengetahui berita itu dari seorang teman, yang bekerja untuk Tuan Tanah seperti dirinya. Khoai sangat marah. Dia merasa ditipu dan dieksploitasi oleh Tuan Tanah. Khoai segera pergi menemui tuannya. 

"Kamu berbohong!" Khoai berteriak di belakang Tuan Tanah yang sedang bersantai di halaman belakang rumahnya. 

“Kau berjanji akan menikahi putrimu denganku, bukan? Tetapi mengapa saya mendengar bahwa Anda sedang mempersiapkan pernikahan putra Anda dengan putra Kepala Desa? Anda hanya memanfaatkan saya!” 

Tuan tanah terkejut. Dia segera menoleh ke belakang dan menemukan Khoai berdiri di depannya dengan wajah merah menahan amarahnya. Tuan tanah ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi dia takut Khoai akan semakin marah padanya. Dia juga memilih untuk mengarang kebohongan lain.

“Khoai, semua itu tidak benar. Pesta itu adalah pesta pernikahanmu dengan putriku. Aku sudah berjanji padamu dan aku akan menepatinya."

Tuan Tanah berusaha menenangkan Khoai. 

"Tapi masih ada satu syarat lagi yang harus kamu penuhi. Apakah Anda mampu memenuhinya?” Tantangan Tuan Tanah tidak ada habisnya. 

Dia segera memikirkan suatu kondisi yang tidak akan pernah bisa dipenuhi oleh Khoai. 

"Sebelum aku menikahkanmu dengan putriku, carilah seratus bambu dan bawalah kepadaku! Tapi ingat! Anda harus mengikat semua bambu ke pagar dan membawanya ke saya. Apakah kamu mampu?”

Tuan Tanah tersenyum licik, menatap wajah Khoai yang sedikit ragu. Namun, keraguan di wajah Khoai segera menghilang, dia mengangguk, menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Tuan Tanah. Keesokan paginya, Khoai segera pergi ke hutan untuk mencari bambu. Dia membawa parang dan tali untuk mengikat bambunya. Meski harus menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke hutan, Khoai tidak gentar. Setelah sampai di hutan, Khoai langsung menebang beberapa pohon bambu. Namun, ia harus memasuki beberapa hutan untuk mendapatkan seratus batang bambu. Setelah beberapa kali keluar dan masuk ke dalam hutan, akhirnya Khoai berhasil mendapatkan seratus batang bambu. Khoai sedang beristirahat karena kelelahan ketika teringat syarat yang dikemukakan oleh Tuan Tanah, bahwa ia harus membawa seratus bambu ini dalam bentuk terikat seperti pagar. Khoai menghela nafas, dia segera menyadari bahwa dia hanya memiliki satu tali untuk mengikat bambu. Khoai langsung tertunduk lemas, menyesali kebodohannya. Dalam kesedihannya, Khoai meratapi semua upaya yang telah dia lakukan selama bertahun-tahun. Pada saat itu, tiba-tiba ada suara di belakang Khoai. 

"Oh, anak muda, mengapa kamu menangis?"

Khoai menoleh ke pria itu. Ia segera menghapus air matanya dan perlahan menceritakan kembali apa yang dialaminya. 

"Tenang! Saya akan membantu Anda,” kata pria yang menenangkan Khoai. 

Dia terdiam beberapa saat, lalu mulai menggerakkan tangannya. 

"Tongkat. Tetap pada itu." Pria itu terus berkata sambil menggerakkan tangannya. 

Seolah-olah dia memerintahkan bambu untuk menempel satu sama lain. Khoai terkejut. Ia melihat bambu-bambu itu bergerak dan saling menempel, membentuk sebuah ikatan. Kini bambu-bambu itu sudah dibentuk sesuai dengan keinginan Tuan Tanah. Khoai sangat senang sehingga dia tidak menyadari bahwa pria yang membantunya telah menghilang. Tentunya pria itu adalah Tuhan yang datang untuk membantu saya, pikir Khoai. Khoai kemudian bersiap-siap untuk membawa bambu yang telah diikat satu sama lain. Namun, dia tiba-tiba menyadari bahwa bambu di depannya menjadi sangat panjang. Tidak mungkin dia bisa membawa bambu. Sementara Khoai bingung, pria yang membantunya muncul kembali dan bertanya apa yang terjadi. Khoai menjelaskan bahwa dia tidak mungkin bisa membawa bambu yang sangat panjang itu. Pria itu menggerakkan tangannya lagi, memerintahkan bambu-bambu itu untuk dilepaskan.
 
"Berangkat. Berangkat." 

Dan keajaiban terjadi lagi. Bundel bambu tergelincir kembali tidak seperti sebelumnya. Khoai lega bisa membawa bambu-bambu itu ke rumah Tuan Tanah. Khoai bergegas membawa pulang bambu-bambu itu. Dia lupa jika Tuan Tanah memintanya untuk membawa bambu dalam keadaan terikat satu sama lain seperti pagar. Sesampainya di rumah Tuan Tanah, Khoai terkejut. Rumah Tuan Tanah penuh dengan orang dan dekorasinya seperti pesta pernikahan. Salah satu pekerja Tuan Tanah memberi tahu Khoai bahwa mereka sedang merayakan pernikahan putri Tuan Tanah dan putra Kepala Desa. Kali ini Khoai benar-benar marah karena Tuan Tanah telah berselingkuh. Dia segera menemukan Tuan Tanah sambil terus membawa 100 bambu miliknya. Khoai menuju ke tengah pesta, di mana Tuan Tanah berada. 

“Oh, Tuan Tanah, Anda benar-benar berbohong kepada saya! Saya telah memenuhi syarat Anda untuk menemukan bambu ini. Tapi, mengapa kamu tidak menikahi putrimu denganku?” seru Khoai dengan wajah marah. 

Tuan Tanah memandangi bambu yang dibawa Khoai, lalu tersenyum sinis. Dia mendekat ke arah bambu. 

"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa bambu ini harus diikat seperti pagar? Anda tidak memenuhi persyaratan yang saya ajukan. Kamu gagal Khoai!” 

Semua orang yang hadir di pesta itu menertawakan kebodohan Khoai. Khoai hanya bisa diam. Sesaat kemudian dia ingat apa yang telah dilakukan orang yang membantunya di hutan. Dia juga mencoba menggerakkan tangannya, seperti yang dilakukan pria itu. 

"Tongkat. Tetap pada itu." Khoai bergumam sambil menggerakkan tangannya. 

Bambu-bambu itu mulai bergerak dan saling menempel. Namun, bambu itu benar-benar bergerak di sekitar Tuan Tanah yang berdiri di dekatnya. Bambu-bambu itu saling menempel dan membuat Tuan Tanah tersangkut di dalamnya, tidak bisa keluar. Bambu itu terus bergerak mendekat. Tuan tanah mulai panik. Semua orang mencoba membantunya, tetapi tidak ada yang berhasil. Tuan Tanah semakin takut. Dia berteriak, memohon Khoai untuk melepaskan bambu yang mengelilingi tubuhnya dan berjanji untuk menepati janjinya. Dia menyadari bahwa dia telah melakukan banyak kesalahan dan berbohong kepada Khoai untuk mendapatkan banyak keuntungan. Rasa kasihan menyentuh hati Khoai. Dia menggerakkan tangannya lagi dan berkata, “Lepaskan. Berangkat." 

Khoai memerintahkan bambu-bambu itu untuk melepaskan ikatan mereka pada Tuan Tanah. Bambu-bambu itu terpeleset dan kembali seperti baru. Sang Tuan Tanah segera menepati janjinya untuk menikahkan Khoai dengan putrinya. Peristiwa yang menimpanya telah menyadarkan sang Pemilik Tanah. Sejak itu, ia menjadi Tuan Tanah yang selalu memperlakukan karyawannya dengan baik dan tidak lagi Tuan Tanah yang rakus. 

***
Aurora selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Vietnam," kata Aurora.

Aurora menutup bukunya dengan baik. Semua buku di taruh di meja saja sama Aurora.

"Nonton Tv aja!" kata Aurora.

Aurora keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ayah dan ibu. Acara yang sedang di tonton adalah film yang bercerita tentang keluarga kecil yang bahagia gitu. 

WANITA YANG DUDUK DI BULAN

Andreia selesai mengerjakan sulamannya, ya sulaman di taruh di kamar. Andreia keluar dari kamarnya membawa buku, ya duduk di ruang tengah dengan baik. Dengan segera Andreia membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Andreia :

Bulan dan bintang adalah dua benda langit yang bersinar terang di kegelapan malam. Cahaya bulan yang terang akan membuatnya terlihat ke bumi. Pada saat itu, penduduk bumi akan melihat seorang wanita duduk di bulan. Menurut cerita rakyat Vietnam, jauh sebelum bintang-bintang diciptakan, hanya ada matahari dan bulan. Setelah matahari terbenam, bulan akan mulai memancarkan sinarnya yang dulu terasa sangat panas. Saat itu, masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan di Vietnam merasa tidak nyaman karena sinar bulan yang begitu terik di malam hari. Bahkan, mereka berharap setelah matahari bersinar terik di siang hari, mereka bisa beristirahat di cuaca yang lebih dingin di malam hari. Cahaya bulan yang terasa panas setiap malam, bahkan membuat pepohonan kering. 

Orang-orang juga mulai berpikir jika bulan tidak ada gunanya dan akan lebih baik jika bulan tidak ada. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Suatu hari sepasang suami istri bernama An dan Ninh yang tinggal di kaki Gunung Lon merasakan sinar bulan semakin panas dari hari ke hari. An adalah pemburu hewan yang sangat ahli dalam berburu menggunakan panah. Keahlian memanahnya bahkan sudah terkenal di kalangan masyarakat sekitar Gunung Lon. Anda telah belajar memanah sejak kecil. Ia menjadi lebih mahir dalam memanah karena ia selalu melatih keterampilannya. Anak panah selalu memantul dengan cepat dan tepat pada sasaran hanya dengan sekali tarikan busur panah. Kepiawaian An dalam memanah membuat Ninh, istrinya, mengajaknya menembak bulan dengan panahnya. Hingga penghuni Gunung Lon tidak akan panas lagi. 

"Kamu adalah pemburu yang andal. Ada baiknya jika Anda pergi memanah ke bulan dengan busur dan anak panah Anda agar bulan jatuh. Dengan begitu Anda bisa menyelamatkan orang-orang di sini,” kata Ninh kepada An. 

"Baiklah, aku akan mencobanya," kata An menanggapi permintaan istrinya. 

Dia segera menyiapkan busur dan anak panahnya. Ketika malam tiba, An pergi ke puncak gunung untuk menembak bulan sampai jatuh. Dia telah membawa busur dan anak panah sebanyak mungkin. Sesampainya di puncak Gunung An langsung melengkungkan bulan. Sekali, dua kali, hingga seratus kali An menembakkan panahnya, tetapi bulan tidak bergerak sama sekali. An bahkan melihat ke bawah gunung dan menemukan bahwa banyak pohon telah terbakar oleh sinar bulan yang sangat panas. Sebuah kebingungan dimulai. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan untuk menjatuhkan bulan. Di tengah kebingungannya, sebuah suara terdengar memanggilnya dari belakang. An mencari asal suara, lalu dia melihat seorang lelaki tua di belakangnya. 

"Apakah kamu ingin membuat bulan jatuh?" tanya seorang pria tua berambut putih yang muncul dari sebuah batu besar yang berlubang. 

"Ya, saya ingin menyelamatkan orang-orang dari sinar bulan yang membakar," jawab An dengan lantang. 

"Buatlah busur dari ekor dan tulang harimau. Kemudian buatlah anak panah dari tanduk rusa, maka kamu akan bisa menjatuhkan bulan.” 

Sebelum An bisa menjawab, lelaki tua itu tiba-tiba menghilang. An juga bergegas pulang untuk melaporkan pertemuannya dengan orang tuanya di gunung baru-baru ini. 

"Saya akan menuruti kata-kata orang tua itu," kata An setelah bercerita panjang lebar kepada istrinya.

"Kamu bisa menggunakan busur dan anak panahmu untuk menangkap rusa dan harimau," saran Ninh kepada An. Sebuah kerutan. 

"Saya tidak pernah menggunakan panah saya untuk menangkap rusa dan harimau. Kedua hewan itu sangat kuat. Akan sangat sulit untuk menggunakan panah milikku ini.”

An dan Ninh mulai memikirkan cara untuk menangkap rusa dan harimau tanpa menggunakan panah. Setelah hening sejenak, Ninh tiba-tiba berseru. 

“Gunakan jaring! Ya, Anda bisa menangkap rusa dan harimau dengan jaring.” 

An tampaknya masih ragu dengan ide istrinya. 

"Tapi, bagaimana kita akan membuat jaring?" Ninh menyarankan An untuk membuat jaring yang kuat menggunakan rambut panjangnya.

An setuju dengan usulan istrinya. Malam itu, mereka mengambil sebagian dari rambut Ninh yang sangat panjang dan tebal untuk membuat jaring yang kuat. Keesokan harinya An membawa jaring ke gunung untuk menangkap rusa dan harimau. Ia langsung membuat jebakan dengan jaring dan mengawasi dari kejauhan. Saat harimau sudah masuk perangkap, dia langsung menembakkan panahnya hingga harimau mati. An juga menangkap rusa dengan cara yang sama. Setelah berhasil menangkap kijang dan harimau, An membawanya pulang dan mengambil ekor dan tulang belulang harimau serta tanduk kijang dengan bantuan istrinya. An dan Ninh segera membuat busur dan anak panah sesuai perintah orang tuanya yang ditemui An di gunung, beberapa hari yang lalu. Larut malam, busur dari ekor harimau dan tulang dan anak panah dari tanduk rusa dibuat. 

Keesokan harinya An pergi ke gunung. Dia membawa busur dan anak panah dari ekor dan tulang harimau dan tanduk rusa. Dia pergi sebelum matahari terbenam dan mencapai gunung ketika bulan mulai muncul. An segera mengarahkan busur dan anak panahnya. Dia menarik busurnya sekuat yang dia bisa sehingga panahnya menembak bulan dengan akurat. Bulan juga mulai mengeluarkan pecahan ketika terkena panah An. Fragmen itu perlahan menjadi bintang yang memenuhi langit. Setelah An melengkung beberapa kali, bulan mulai berputar. Namun bulan tetap memancarkan sinar panas yang membakar tumbuhan di sekitar gunung. An mulai putus asa dan memutuskan untuk pulang. Di rumah, Ninh sedang menyulam di atas kain. Di kain itu muncul gambar rumah, pohon kayu manis, sekelompok domba, dan kelinci yang sedang merumput di halaman. Ninh juga menyulam foto dirinya sedang duduk di pohon kayu manis. Dia baru saja akan menyulam foto suaminya ketika dia melihat An pulang dengan wajah muram.

“Nin, apa yang harus aku lakukan? Bulan masih memancarkan sinar yang membara,” keluh An, mulai putus asa.

Ninh mulai berpikir dan tiba-tiba dia teringat kain yang sedang disulamnya. 

"Pakai kain ini untuk menutupi bulan, An. Tutupi panah Anda dengan kain ini dan arahkan ke bulan. Mungkin kain ini bisa menutupi bulan.”

An mengikuti nasihat istrinya dan kembali ke gunung. Ia berharap kali ini tidak gagal lagi. Setelah menutupi panahnya dengan kain bordir Ninh, An menarik panahnya dengan keras dan melepaskan panah yang di tutupi kain itu ke bulan. Sihir! Kain itu segera menutupi bulan dan membuat cahaya bulan redup. Bulan masih bersinar tapi tidak sepanas sebelumnya. An sangat senang. Malam berikutnya, warga di kaki gunung berkumpul untuk membuat pesta merayakan keberhasilan An. Mereka senang karena An berhasil membuat bulan tidak memancarkan sinar yang sangat panas lagi. An dan Ninh ambil bagian dalam pesta. An tampak senang dengan keberhasilannya. Dia kemudian menatap bulan yang telah ditutupi oleh kain bordir istrinya. Gambar yang di sulam istrinya di kain muncul di bulan. Tiba-tiba, gambar di kain yang menutupi bulan mulai bergeser. An memalingkan muka dari bulan dan melihat Ninh, yang duduk di sebelahnya, terbang menuju bulan. Kejutan yang tidak bisa dipercaya.

“Ninh… Ninh… Kenapa kamu lupa menggambarku di atas sulaman? Nin, kembali! Kembalilah, Nin!" An berteriak histeris, berusaha menghubungi istrinya. 

Semua orang terkejut dengan peristiwa itu. Tapi Ninh lebih jauh dari kaki gunung dan terlihat lebih dekat ke bulan. Saat sampai di bulan, Ninh terlihat duduk di atas pohon kayu manis, seperti yang terlihat pada gambar yang dibordirnya. Ninh juga merasa takut tanpa suaminya di bulan. Dia mulai membuat kepang dari rambut panjangnya dan melemparkannya ke arah An. Rambut Ninh begitu panjang hingga mencapai An dan menariknya ke bulan. Sejak saat itu mereka berdua hidup bahagia di bulan sebagai hadiah untuk menyelamatkan umat manusia.

***

Andreia selesai membaca bukunya dan berkata "Bagus cerita ini berasal dari Vietnam."

Andreia menutup bukunya dan buku di taruh di meja dengan baik.

"Nonton Tv ah!" kata Andreia.

Andreia mengambil remot di meja dan segera menghidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton Andreia, ya film kartunlah. Remot di taruh dengan baik di meja, ya Andreia fokus nonton Tv yang acaranya bagus itu.

SAFIA PUTRI BONEKA

Aline selesai bermain sepeda dengan teman-temannya, ya cuma muter komplek perumahan saja. Aline duduk santai di ruang tengah di rumahnya lah, ya sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Aline :

Suatu hari, Putri Safia berjalan-jalan di luar istana. Ia mengunjungi rumah orang-orang miskin. Putri Safia juga meninggalkan santunan untuk mereka. Pada saat Putri Safia melintasi sebuah kedai, seorang pria asing melihatnya. Ia terpesona akan kecantikan sang putri. Pria separuh baya itu bernama Ghazlan. Ia seorang penyihir yang jahat. Ia sedang dalam perjalanan dan melintasi kerajaan Putri Safia. Timbullah niat jahatnya. Ia ingin menjadikan putri istrinya dan menjadi raja di kerajaan tersebut. Ghazlan tahu bila ia datang langsung meminang putri, ia pasti akan ditolak. Mana mungkin putri mau menikah dengan pria yang seumuran dengan ayahnya. Ghazlan pun berencana memanfaatkan kekuatan sihirnya. Ghazlan datang ke istana. Ia meminta izin untuk bertemu dengan raja. Ia mengaku sebagai seorang ilmuwan yang sedang dianiaya musuh. 

“Raja, Yang Mulia, saya Ghazlan dari kerajaan seberang. Saya datang menemui Anda untuk memohon perlindungan.” 

“Selamat datang di kerajaan kami yang aman dan damai, Tuan. Perlindungan seperti apakah yang Anda harapkan dari kami?” sambut Sang Raja.

“Saya sedang menulis sebuah buku yang sangat penting, tetapi penguasa di tempat saya berasal tidak menyukainya. Ia selalu berusaha menangkap saya. Ia pun tak segan menganiaya bila saya tetap melanjutkan menulis buku ini. Jika Anda berkenan, saya bermaksud menyelesaikan buku saya di sini.”

Raja memang terkenal menyukai ilmu pengetahuan. Ia menghimpun banyak buku dan membuat perpustakaan kerajaan. Karenanya, Raja sangat senang mendengar rencana Ghazlan. 

“Oh, tentu saja, Tuan. Kami menyambut Anda dengan sukacita. Buku apa yang sedang Anda tulis?” tanya Raja antusias. 

“Saya sedang menulis buku pengobatan, Yang Mulia.”

“Bagus, bagus. Kalau begitu, Anda bisa tinggal di kastil dekat dengan perpustakaan kerajaan. Silakan menyelesaikan buku Anda di sana,” kata Raja memberi izin. 

Ghazlan tersenyum senang. Rencananya berhasil. Ia mendapatkan tempat tinggal yang layak. Raja juga menyuruh pelayan istana mengirimkan makanan dan memenuhi semua kebutuhannya. Namun alih-alih menulis buku, Ghazlan malah melakukan hal lain. Di kastil itu dia terus melatih mantra-mantra sihirnya. Ia bersiap-siap sebelum menjalankan rencana jahatnya. Ia harus memastikan semua mantranya akan berhasil. Jika salah sedikit saja, pasti akan ketahuan. Raja pun bisa menjatuhkan hukuman berat padanya. Ketika Ghazlan sudah fasih melafalkan mantra-mantranya, ia mulai beraksi. Ghazlan menyamar menjadi wanita tukang cuci istana. Ia datang ke kamar Safia dan mengetuk pintunya.

“Siapa?” tanya Putri Safia. 

“Saya, Tuan Putri. Tukang cuci istana.”

“Masuklah kalau begitu.” 

Ghazlan pun masuk ke kamar Putri Safia. Putri sedang duduk di kursi malasnya sambil membaca buku. Putri tak sedikit pun curiga pada Ghazlan yang membawa keranjang besar. Secepat kilat, Ghazlan memasukkan Putri Safia ke dalam kantong pakaian yang besar. Kemudian ia memasukkannya ke dalam keranjang. Ghazlan membawa Putri Safia ke dalam kastil tempatnya tinggal. 

“Lepaskan aku!” teriak Putri Safia saat dikeluarkan dari kantong cucian. 

“Sekarang bukan saatnya ribut, Tuan Putri. Anda harus saya amankan dulu sebelum rencana saya berikutnya berjalan!” tukas Ghazlan. 

Penyihir pun mengucapkan mantra. Perlahan-lahan Putri Safia merasakan tubuhnya membeku dan menyusut. Ia berubah menjadi boneka kecil. Ia masih bisa bicara, mendengar, dan melihat. Namun ia sama sekali tak bisa bergerak. 

“Diamlah di sini dulu, Putri!”

Ghazlan menyimpan boneka Putri Safia ke dalam lemarinya dengan hati-hati. Putri Safia merasa marah pada Ghazlan. Raja telah memberinya bantuan, tapi dia malah berbuat kejahatan. Namun, Putri Safia juga merasa sedih. Dalam keadaaannya sekarang, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa khawatir pada kedua orang tuanya. Ia takut Ghazlan melakukan hal yang jahat pada mereka. 

“Tolong!” teriak Putri Sofia. 

Berulang kali ia menjerit meminta tolong, tapi tak ada yang mendengar. Suaranya menjadi kecil dan begitu lemah. Mungkin tak ada manusia yang bisa mendengarnya. Putri Safia menangis sedih di dalam lemari kayu. Sementara itu istana gempar karena sang putri menghilang. Tak ada satu pun yang tahu ke mana putri pergi, termasuk para dayang. Raja dan Ratu sangat gundah kehilangan putri kesayangan mereka. Ratu terus menangisi Putri Safia. Raja mengerahkan pasukan untuk mencari sang putri ke seluruh penjuru kerajaan. Sayangnya usaha itu tak membuahkan hasil. Ghazlan terus mendampingi raja. Ia berpura-pura ikut sedih dan mengkhawatirkan keadaan Putri Safia. 

“Raja, saya telah mengundang beberapa peramal di kerajaan ini untuk mencari Putri Safia. Mereka berkumpul di aula istana,” ucap penasihat kerajaan. 

Raja menemui mereka dengan wajah yang sedih. Raja berharap mereka bisa menemukan di mana Putri Safia sekarang berada. Dengan begitu, Raja bisa menjemput putrinya pulang ke istana. Sayangnya Ghazlan telah memantrai lemari tempat ia menyimpan putri. Mantra itu membuat putri yang tersimpan dalam lemari tak dapat dicari dengan ilmu sihir lain. Ghazlan mengikuti Raja. Ia ingin memastikan para peramal itu tak ada yang bisa mematahkan mantranya.

“Maafkan kami, Paduka. Kami telah berusaha semampu kami. Tetapi kami tak mendapatkan satu pun petunjuk di mana Putri Safia berada,” ucap salah seorang peramal. 

Ghazla tersenyum licik dan berkata dalam hati, “Sampai kapan pun kalian tak akan bisa menemukannya.” 

Sudah seminggu Putri Safia menghilang dari istana. Seluruh warga kerajaan ikut berduka. Mereka teringat akan kebaikan dan keramahan sang putri. Sementara itu para pejabat istana berkasak-kusuk. Mereka mengira putri telah menghilang selamanya. Mereka malah membicarakan tentang penerus Raja.

“Raja tak memiliki keturunan selain Putri Safia, kira-kira siapa nanti yang akan menggantikannya?”

“Ya, betul. Raja juga tak memiliki satu pun saudara. Kerajaan pasti akan kehilangan pemimpin.”

 “Tentulah aku yang akan menggantikan Raja. Lihat saja sebentar lagi. Tak akan lama waktunya,” gumam Ghazlan dalam hati saat mendengar pembicaraan pejabat-pejabat istana. 

Ghazlan pun bersiap menjalankan rencana berikutnya. Kali ini dia mengendap-endap ke kamar Ratu. Ghazlan berpura-pura menjadi pengantar makanan. Ratu jatuh sakit karena terus memikirkan sang putri. Saat Ghazlan datang, tak ada siapa pun di dalam kamar karena Ratu sedang tertidur. 

“Ini kesempatan yang baik,” ucap Ghazlan lirih. 

Ghazlan pun segera memindahkan Ratu ke meja pengantar makanan dan menutupinya dengan kain yang lebar. Ghazlan bergegas ke kastilnya sebelum Ratu terbangun. Sesampainya di kastil, Ghazlan langsung mengubah Ratu yang masih tertidur menjadi boneka. Ia menyimpannya di lemari yang berbeda dengan lemari Putri Safia. Putri Safia melihat tindakan Ghazlan dari dalam lemarinya. Ia mengintip dari lubang kunci. Ia sangat marah karena Ghazlan telah berbuat jahat pada ibunya. 

“Jangan-jangan, setelah ini dia akan mengubah Ayah menjadi boneka juga. Tapi apa yang bisa kulakukan?” pikir Putri Safia. 

Sementara ini, dia belum menemukan satu pun cara untuk lepas dari pengaruh sihir Ghazlan. Benarlah perkiraan Putri Safia. Tak lama berselang, Ghazlan membawa Raja dan mengubahnya menjadi boneka. Ghazlan menyimpan boneka Raja di lemari yang sama dengan boneka Ratu. Kerajaan berada dalam kebingungan. Keluarga raja mereka telah hilang satu per satu. Kini sang raja juga menghilang. Penasihat kerajaan tak bisa menemukan di mana Raja berada. Ia hampir putus asa. 

“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Siapa yang akan memerintah kerajaan. Bila keadaan ini terus dibiarkan, bisa-bisa para pejabat istana akan berebut menjadi pengganti Raja,” keluhnya. 

Ghazlan mendekati penasihat kerajaan. Ia berusaha menenangkannya. Namun pada saat yang bersamaan, ia juga memengaruhi penasihat kerajaan untuk menyerahkan pemerintahan padanya. 

“Saya rasa Anda benar, Tuan Ghazlan. Lebih baik pemerintahan sementara diserahkan para orang yang tidak berhubungan langsung dengan jabatan apa pun di istana. Dengan begitu akan lebih netral dan semua bisa menerimanya,” ucap penasihat kerajaan. 

“Anda sungguh bijaksana, Tuan Penasihat,” puji Ghazlan untuk membuat penasihat semakin percaya padanya. 

Penasihat kerajaan pun segera mengumpulkan pejabat kerajaan. Pejabat kerajaan terpaksa menyetujui pengangkatan Ghazlan menjadi pengganti raja sementara. Penasihat juga mengumumkannya kepada rakyat di penjuru kerajaan. Mereka kini mempunyai raja baru. Ghazlan mulai mengganti para pejabat kerajaan yang tidak menyukainya. Ia membuat aturan baru di kerajaan. Sihir dilarang keras dipelajari dan digunakan. Ghazlan beralasan ilmu sihir sering digunakan untuk kejahatan sehingga harus dimusnahkan. Padahal sebenarnya dia tak ingin satu pun orang di kerajaan yang mengusai ilmu sihir kecuali dirinya. Dengan begitu dia bisa melanggengkan kekuasaannya. Ghazlan belum mengubah Putri Safia kembali menjadi manusia. Jika ia terburu-buru mengubahnya kembali, bisa-bisa kedoknya terbongkar. Ghazlan belum berhasil menemukan mantra untuk menghapus ingatan Putri Safia. Suatu hari, seekor tikus kecil masuk ke dalam lemari tempat boneka Putri Safia disimpan. Ia mendengar suara tangis dan mencarinya.

“Apa kau menangis, boneka cantik?” tanya Tikus. 

Putri Safia terkejut. Sudah lama tak ada satu pun yang mendengar teriakannya, apalagi tangisnya.

“Kau mendengar suaraku, tikus kecil?”

“Ya, tentu saja. Kenapa kau bisa bicara dan menangis? Kau boneka ajaib?” tanya Tikus lagi. 

“Kau juga bisa bicara bahasa manusia. Apa kau tikus ajaib?” Putri Safia balik bertanya. 

“Tidak. Kau bicara dalam bahasaku,” elak Tikus. 

“Apa aku sekarang sedang bicara dalam bahasa tikus?” Putri Safia jadi bingung. 

“Entah. Mungkin kita bicara dengan bahasa berbeda. Apa itu penting? Yang penting kita saling memahami apa yang kita bicarakan, bukan?” 

“Ya, kau benar,” jawab Putri Safia.

“Jadi, kenapa kau menangis?”

“Entah sudah berapa lama aku berada dalam lemari ini, Tikus. Aku tak tahu kapan siang kapan malam. Tapi rasanya sudah sangat lama aku berada di sini. Tak ada yang mendengar teriakanku meminta tolong. Kaulah yang pertama mendatangiku dan mengatakan mendengar tangisanku,” cerita sang putri.

“Aku sebenarnya adalah Safia, putri raja kerajaan ini,” lanjut Putri Safia. 

“Jadi kau putri yang hilang itu? Bagaimana kau bisa berada di sini? Mengapa kau menjadi boneka?” sela si tikus kecil. 

“Penyihir jahat telah mengubahku menjadi seperti ini. Ia juga mengubah ayah dan ibuku menjadi boneka. Keduanya disimpan di lemari kayu di sudut sana.” 

“Malang sekali nasib keluargamu. Sekarang kerajaan ini punya raja baru. Namanya Raja Ghazlan. Ia melarang sihir dipelajari dan digunakan di kerajaan ini. Mungkin penyihir yang mengubahmu menjadi seperti ini telah pergi dari kerajaan.”

“Apa? Ghazlan menjadi raja?” Putri terkejut.

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Dialah yang menyihir aku dan kedua orang tuaku menjadi boneka.” 

“Jadi dia penyihir?” 

Putri Safia mengangguk. 

“Dia telah mengusir peramal dan penyihir baik keluar dari kerajaan ini. Sebagian dari mereka kini tinggal di hutan,” ujar tikus kecil itu.

“Kira-kira, mereka bisa mengembalikan aku menjadi manusia lagi atau tidak, ya?”

“Kalau itu aku tidak tahu. Begini saja. Aku akan membawamu keluar dari lemari ini untuk menemuinya. Ada penyihir wanita yang kukenal. Ia penyihir yang baik. Ia tinggal di tengah hutan. Aku akan membantumu pergi ke mana saja untuk mengembalikanmu menjadi manusia.” 

Wajah Putri Safia merona senang. 

“Terima kasih, tikus kecil!” 

Tikus itu segera mengerat lemari kayu untuk membuat lubang. Ketika lubang itu sudah cukup lebar untuk dilewati boneka Putri Safia, ia menarik boneka itu keluar. Ia lalu membawa sang putri pergi menemui penyihir wanita di hutan. 

“Tikus kecil, apa yang kau bawa?” ujar sang penyihir wanita saat melihat si tikus memanggul sesuatu.

Tikus pun menceritakan semua yang ia alami. Ia memperkenalkan Putri Safia pada penyihir itu.

“Maafkan saya, Yang Mulia Putri. Saya tidak tahu Anda dalam masalah seperti ini,” ucap penyihir wanita. Ternyata ia mengenali Putri Safia.

Ia merasa iba dengan musibah yang menimpa keluarga raja. 

“Maafkan juga kalian jadi terusir dari kerajaan. Jika ayahku bisa kembali menjadi raja, ia pasti akan mengizinkan kalian tinggal lagi di dalam kerajaan.”

“Terima kasih, Putri.”

“Jadi, apakah Anda bisa menolongnya?” tanya tikus kecil. 

Penyihir itu menggeleng sedih. 

“Ilmu sihir untuk mengubah manusia menjadi bentuk lain termasuk ilmu sihir hitam. Saya tak pernah mempelajarinya. Saya tak tahu mantra untuk mematahkan sihirnya.”

Putri dan tikus kecil kecewa mendengarnya. Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi.

“Namun, ada cara lain untuk menghilangkan kekuatan sihir jahat yang dimiliki seseorang. Tapi cara ini cukup berbahaya,” lanjut sang penyihir wanita.

“Bagaimana caranya? Sebahaya apa pun, akan kucoba,” ucap sang putri. 

“Anda harus pergi ke ladang rumput ajaib untuk mengambil benihnya. Rumput ajaib itu dijaga oleh anjing hitam yang buas. Agar ia tenang, Anda harus menyanyikan lagu pengantar tidur. Setelah itu, teruskan perjalanan ke selatan hingga bertemu dengan kuda oranye,” ucap penyihir wanita memberi penjelasan. 

“Lantas apa yang harus kami lakukan?”

“Beri makan kuda itu benih rumput ajaib. Ia akan patuh. Bisikkan padanya untuk mengantar Anda ke pohon pir sihir. Anda bisa memetik satu lalu ukirkan nama penyihir jahat yang ingin Anda hilangkan kekuatan sihirnya. Di dekat pohon pir sihir, ada sumur yang di dalamnya hidup ghoul.”

“Apa itu ghoul?” tanya Putri Safia.

“Dia adalah raksasa yang memakan kekuatan sihir para penyihir. Saat pir sihir bertuliskan nama penyihir Anda lemparkan ke dalam sumur. Ghoul akan memakannya dan menyerap kekuatan penyihir tersebut. Anda akan terbebas dari pengaruh sihirnya.” 

“Baiklah, aku akan pergi dengan tikus kecil ini.” 

“Hati-hatilah, Putri!” 

Putri Safia dan tikus kecil itu pergi menuju ladang rumput ajaib. Saat mereka tiba, anjing hitam tengah bersiaga. Tikus kecil meletakkan boneka Putri Safia di dekat anjing itu secara diam-diam. Putri mulai bernyanyi lagu pengantar tidur. Tikus kecil pun segera mengambil beberapa batang rumput ajaib yang benihnya sudah tua. Setelah itu, tikus kembali pada sang putri dan membawanya pergi. Mereka mencari kuda oranye ke selatan. Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukannya. Benih rumput ajaib itu segera diberikan pada kuda oranye. Mereka naik ke punggung kuda. Kuda oranye itu tidak berlari, ia terbang membawa tikus kecil dan boneka putri menuju pohon pir sihir. 

“Inikah pohon pir itu?”

“Saya rasa iya. Saya akan memanjat dan menjatuhkan sebuah,” ujar tikus kecil. 

Buah pir ranum jatuh di dekat boneka putri. Tikus kecil menuliskan nama Ghazlan dengan gigi serinya yang tajam. Ia lalu mendorong buah itu ke dalam sumur. Buah itu pun terjatuh. 

“Aaarrrgghhh!!” 

Terdengar suara teriakan dari dalam sumur yang mengejutkan tikus dan Putri Safia. Namun, tiba-tiba Putri Safia merasakan ada yang berubah. Tubuhnya terasa menghangat dan melemas. Ia kembali menjadi manusia dengan ukuran yang semestinya. Putri Safia sangat gembira. Sekarang kedua orang tuanya pasti juga telah berubah menjadi manusia normal. Ia mencari tikus kecil yang menolongnya.

“Tikus kecil, di mana kau?” 

Putri Safia tak menemukannya di mana-mana. Ia malah menemukan seorang pemuda tergeletak di dekat sumur. 

“Tuan, Anda baik-baik saja?” 

Putri Safia berusaha menolong pemuda itu. Sang pemuda mulai siuman. Ia tampak terkejut melihat dirinya sendiri. 

“Aku berubah? Aku juga berubah?” gumamnya. 

Putri Safia tak mengerti. 

“Apanya yang berubah?” tanya Putri Safia.

“Putri juga sudah berubah?” tanya pemuda itu seolah telah mengenal Putri Safia.

“Ya, saya kembali menjadi manusia. Siapa Anda? Anda mengenal saya?” tanya Putri Safia lagi. 

“Saya tikus kecil, Putri. Nama saya Firas. Seorang penyihir telah mengubah saya menjadi tikus saat saya tertidur ketika menunggui kebun kurmanya. Saya tak tahu siapa penyihir itu. Mungkin dia penyihir yang sama dengan penyihir yang mengubah Anda menjadi boneka. Terima kasih, Putri. Berkat Anda saya bisa kembali menjadi manusia,” ujar pemuda yang ternyata adalah jelmaan tikus kecil. 

“Saya yang seharusnya berterima kasih pada Anda,” ucap Putri Safia sambil tersipu. 

Firas dan Putri Safia segera kembali ke istana. Mereka harus segera membongkar kejahatan Ghazlan. Raja dan Ratu juga perlu diselamatkan. Di istana, Ghazlan kebingungan karena kemampuan sihirnya tiba-tiba sirna. Ia terus mencoba merapalkan mantranya, tapi tak satu pun mantra yang bekerja. Ghazlan pun curiga. Sudah lama ia tidak menengok kastil lamanya. Setelah menjadi raja, ia pindah ke istana. Ghazlan terkejut saat membuka lemarinya. Boneka Putri Safia telah menghilang. Sedangkan dari lemari lain di sudut kamar, terdengar bunyi gaduh meminta lemari di buka. Pada saat bersamaan, Putri Safia dan Firas masuk ke dalam kastil itu. Mereka menangkap basah Ghazlan. Firas segera meringkusnya. Ghazlan tak berdaya tanpa kekuatan sihirnya. Putri Safia bergegas menyelamatkan kedua orang tuanya. Ia membuka lemari tempat ayah dan ibunya disembunyikan. 

“Ayah! Ibu!” 

Putri Safia memeluk keduanya. Ia lega kedua orang tuanya selamat. 

“Apa yang terjadi? Kenapa Ayah dan Ibu ada di dalam lemari ini, Safia?” tanya Raja. 

Ia tak ingat apa yang telah terjadi. Rupanya Ghazlan telah menggunakan mantra penidur untuk menangkap raja. Putri Safia menjelaskan semua kepada ayah dan ibunya. Raja menjadi marah. Ia begitu geram pada Ghazlan. Raja pun mengirim Ghazlan ke penjara untuk merasakan akibat dari perbuatan jahatnya. Raja juga sangat berterima kasih kepada Firas. Tanpanya, tentu keluarga raja belum bisa terbebas dari sihir jahat Ghazlan. 

“Firas, bagaimana kalau kau kunikahkan dengan putriku? Kulihat kau pemuda yang baik,” ucap Raja.

“Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud menolak. Hamba hanya seorang pemuda miskin. Tak pantas menjadi menantu Paduka Raja,” jawab Firas. 

Putri Safia kecewa mendengar penolakan halus Firas. 

“Kalau begitu, aku hadiahkan kau kebun yang luas di wilayah Selatan. Juga seratus ekor unta dan seratus ekor domba. Nah, sekarang kau bukan lagi pemuda miskin,” ucap Raja. 

Firas tak percaya mendengarnya. Selama ini dia menolong putri tanpa mengharapkan pamrih apa pun.

“Terima kasih, Paduka Raja. Saya memenuhi permintaan Anda bila Putri juga menyetujuinya,” jawab Firas.

Tentu saja Putri Safia setuju. Ketika Putri Safia tahu bahwa Firas adalah tikus kecil yang telah membantunya, ia telah jatuh hati padanya. Keduanya pun melangsungkan pernikahan dan hidup bahagia selamanya. 

***

Aline selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus asal cerita dari Filipina," kata Aline.

Aline menutup bukunya dan menaruh buku di rak buku. 

"Nonton Tv aja!" kata Aline.

Aline mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton Aline, ya film kartun. Aline menaruh remot di meja dengan baik dan fokus nonton Tv yang bagus itu.

AKAL

Dono duduk santai di halaman belakang, ya menikmati keadaan sore gitu sambil minum teh dan juga makan keripik kentang yang enak banget gitu. Kasino keluar rumah ada urusan dengan Selfi, ya di rumah Selfi...pastinya urusan kisah cinta gitu....hal biasa gelora asmara muda mudi gitu. Indro mengerjakan kerjaannya di kamarnya, ya keluar dari kamarnya. Indro mau nonton Tv, ya tidak jadi karena ada yang ia pikirkan dengan baik dan ingin bertanya pada Dono. Ya Indro ke halaman belakang sih.

Duduk Indro dengan baik, ya sambil menuangkan teh dari tekok yang berisi teh ke cangkir, ya segera Indro meminumnya.

"Teh ini enak. Ya susuai dengan iklannya di Tv sih!" kata Indro.

"Keripik kentang yang aku makan. Sama aja kata di iklannya...enak gitu rasanya!" kata Dono.

Indro menaruh cangkir yang berisi teh di meja dan mengambil keripik kentang di dalam plastik, ya segera di makan keripik kentang tersebut.

"Enam keripik kentang ini. Sesuai dengan iklannya, ya keripik kentang....rasanya enak banget," kata Indro.

Indro dan Dono terus makan keripik kentang dan minum teh dengan menikmati keadaan sore yang baik gitu.

"Don," kata Indro.

"Apa?" kata Dono.

"Aku mau ngomongin sesuatu sih," kata Indro.

"Tentang apa?!" kata Dono.

"Kalau obrolan masih kena dengan Roh, ya tidak ada masalahkan Don?" kata Indro.

"Aku males jadinya!" kata Dono.

"Ayolah Don....dikit aja!" kata Indro.

"Oklah!" kata Dono.

"Don. Nabi Adam terbuat dari tanah. Bapak dan ibunya....Tuhan kan Don?" kata Indro.

"Sekedar obrolan saja sih. Ya bisa di bilang begitu sih.  Nabi Adam...itu Bapak dan ibunya...Tuhan," kata Dono.

"Sebenar omongan aku ini aku dapetin dari aku nonton Youtobe sih tentang orang-orang yang membicarakan siapa Bapak dan ibunya...Nabi Adam. Ternyata Tuhan," kata Indro.

"Youtobe. Nama juga jaringan internet. Baik ada. Buruk juga ada!" kata Dono.

"Nabi Isa. Lahir dari ibu manusia yang bernama Maria apa Mariam ya? Ah dalam obrolan ini di samakan dulu saja! Bapaknya....Tuhan kan Don?" kata Indro.

"Sekedar obrolan saja sih. Ya iyalahlah. Nabi Isa lahir dari ibunya manusia dan Bapaknya Tuhan," kata Dono.

"Tetap sama Don. Aku ambil dari apa yang aku tonton di Youtobe, ya obrolan manusia gitu," kata Indro.

"Tetap sama. Di jaringan internet itu....ada yang baik dan ada yang buruk," kata Dono.

"Karena dasar itu. Manusia menganggapnya Nabi Isa adalah anak Tuhan kan Don?" kata Indro.

"Dari dulu sampai sekarang....obrolan tetap seperti itu. Nabi Isa...anak Tuhan. Sama dengan Nabi Adam....anak Tuhan," kata Dono.

"Nabi Isa itu manusia biasa kan....mukjizatnya saja bisa menghidupkan orang mati," kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Atas izin Allah SWT....Nabi Isa menghidupkan orang mati kan Don?" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Obrolan sih bilang. Nabi Isa itu Tuhan yang di kenal dengan nama Tuhan Yesus," kata Indro.

"Sama halnya cerita tentang para Dewa ajaran Hindu. Karna anaknya Dewa Surya dengan ibu Kunti. Tapi bagusnya di sini. Karna tidak pernah di anggap Dewa atau Tuhan, ya tetap manusia walau kenyataanya sih Karna adalah anaknya Dewa Surya," kata Dono.

"Cerita Nabi Isa jadi Tuhan. Berarti sama dengan cerita Hercules putra Dewa Zeus menjadi...Dewa atau Tuhan," kata Indro.

"Nama juga cerita ini dan itu pasti ada sebuah kesamaan dalam cerita menjadi agama. Pada akhirnya manusia di sadarkan pada akal pikiran yang murni. Aku manusia biasa, ya lahir dari orang tua karena suratan Takdir Tuhan Pencipta Alam Semesta....Alloh SWT," kata Dono.

"Akal pikiran yang murni yang baik. Jangan-jangan yang memberitahukan Roh ya Don?!" kata Indro.

"Ya ilah. Roh membimbing aku dengan baik!" kata Dono dengan tegas.

"Jadi Don. Apakah Nabi Isa jadi Tuhan atau Dewa gitu?!" kata Indro.

"Nabi Isa tidak jadi Tuhan atau Dewa. Nabi Isa itu manusia!" kata Dono yang tegas.

"Sudahlah obrolah tidak perlu di bahas lebih jauh lagi. Sekedar obrolan. Main game ah!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

Dono menikmati makan keripik kentang sambil minum tehnya. Indro langsung main game di Hp-nya dengan baik banget.

Wednesday, August 4, 2021

ASAL MULA POHON AREN

Roni membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Roni.

Pada zaman dahulu di Tanah Karo hiduplah sebuah keluarga sederhana dengan dua orang anak. Anak pertama dari seorang pria bernama Tare Iluh. Yang kedua adalah seorang putri bernama Beru Sibou. Meski hidup dalam kesederhanaan, ayah mereka adalah seorang pekerja keras. Dia bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi keluarganya. Hingga akhirnya karena bekerja terlalu keras, ia jatuh sakit dan meninggal.

Setelah kematian sang ayah, sang ibu bekerja keras untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Karena kerja keras, sang ibu jatuh sakit. Minimnya biaya pengobatan membuat penyakitnya semakin parah dan akhirnya meninggal dunia.

Tare Iluh dan Beru Sibou kini menjadi yatim piatu. Mereka berdua kemudian dibesarkan oleh bibinya, adik dari ayah mereka. Tare Iluh sebagai seorang kakak merasa sangat sedih dengan penderitaan yang dialaminya. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, sekarang bibi mereka yang bekerja keras untuk menjaga mereka tetap hidup. Tare Iluh berjanji suatu saat ia akan bekerja keras mencari nafkah untuk kehidupan yang lebih baik.

“Saya berjanji, ketika saya dewasa saya akan bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga saya. Aku tidak ingin mengganggu bibiku. Saya ingin membuat satu-satunya saudara perempuan saya bahagia. ” kata Tare Iluh dalam hati.

Seiring berjalannya waktu, Tare Iluh, si sulung, telah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang tampan dengan wajah bersih dan bersinar. Sementara itu, Beru Sibou menjelma menjadi seorang gadis cantik. Suatu hari Tare Iluh menyampaikan keinginannya kepada bibinya dan juga kepada adiknya Beru Sibou, bahwa ia ingin bepergian ke kota. Tare Iluh ingin hidup mandiri. Dia berjanji bahwa suatu hari dia akan membalas kebaikan bibinya yang telah membesarkan mereka sejak kecil.

“Wahai bibiku wahai adikku, aku ingin pergi ke luar negeri ke kota untuk mencari nafkah. Bibiku sudah lama merawat kami, aku ingin mencari nafkah di kota agar suatu saat aku bisa membalas kebaikanku." kata Tare Iluh.

"Jika itu kehendakmu, Bibi tidak bisa melarangmu. Hati-hati di tanah orang lain. Bibi akan selalu mendoakanmu." kata bibi.

"Aku tidak ingin ditinggalkan olehmu, tapi aku ingin tahu apa lagi. Kamu harus berjanji untuk segera kembali setelah kamu berhasil." Beru Sibou dengan enggan melepaskan adiknya.

"Tentu saja adikku. Adikku pasti akan kembali.” kata Tare Iluh.

Tare Iluh kemudian melakukan perjalanan ke kota dengan bekal yang disiapkan oleh bibinya. Ia merasa sangat sedih harus meninggalkan kakak dan bibinya yang tercinta, namun sebagai anak sulung, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka berdua. Ia tidak ingin terus hidup dalam kemiskinan.

Sesampainya di kota, Tare Iluh kemudian melakukan apa saja untuk menghidupi dirinya sendiri. Upah bekerja sebagian dia tabung. Namun, cepat atau lambat ia merasa bahwa penghasilan yang diperolehnya tidak sepadan dengan kerja kerasnya. Dia kemudian tergoda untuk berjudi. Dengan mempertaruhkan pendapatannya yang kecil, Tare Iluh berjudi. Beruntung kemudian dia memenangkan pertaruhan. Hal ini membuatnya kecanduan judi. 

“Kenapa saya bekerja keras seharian tapi hasilnya tidak sesuai. Sementara hanya dengan mempertaruhkan sedikit uang di meja judi, saya bisa mendapatkan banyak uang. Lebih baik aku bertaruh saja." kata Tare Iluh.

Sejak saat itu, Tare Iluh menjadi malas bekerja. Setiap hari kerja dia hanya bertaruh uang di meja judi. Hingga akhirnya ia terjerat banyak hutang akibat kalah judi. Karena tidak mampu membayar hutangnya, Tare Iluh dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau penjara oleh penduduk setempat.

Sementara di desa, setelah kematian Tare Iluh, Beru Sibou merasa sedih. Dia sangat ingin bertemu dengan kakak yang dia cintai. Selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, adik perempuan yang dicintainya tidak pulang ke rumah. Beru Sibou mengkhawatirkan keselamatan adiknya.

“Wahai Beru Sibou, aku mendengar dari negeri bahwa saudaramu adalah seorang penjudi berat. Dia saat ini diborgol karena tidak mampu membayar hutangnya.” kata seorang penduduk desa.

Setelah sekian lama sang adik pergi ke daerah orang, datanglah kabar dari orang-orang di desa yang mengatakan bahwa Tare Iluh telah berubah menjadi penjudi. Menurut kabar yang beredar, Tare Illuh saat ini terancam hukuman pasung karena terlilit hutang yang sangat besar. Mendengar berita ini, Beru Sibou menjadi semakin sedih. Dia hanya bisa menangis setiap hari.

“Adikku sayang, benarkah penduduk desa mengatakan bahwa kamu sekarang sedang dipenjara di tanah rakyat?” Beru Sibou meratap.

Suatu hari, Beru Sibou bertemu dengan seorang kakek tua. Sang kakek bertanya kepada Beru Sibou mengapa wajahnya sedih.

"Kenapa wajahmu sedih, Nak? Ada apa? Mungkin Kakek bisa membantumu." tanya kakek tua itu.

"Saya sedih memikirkan adik saya. Namanya Tare Iluh Kek. Dia sekarang berada di negara di mana orang-orang diancam hukuman karena berhutang. Saya sangat ingin bertemu untuk membantu adik perempuan saya satu-satunya." kata Beru Sibou.

"Oh ternyata kamu adik Tare Iluh. Kakek belum pernah bertemu dengannya tapi pernah mendengar namanya. Kakek dengar dia penjudi berat dan juga punya banyak hutang." kata kakek tua itu.

"Benar, Kakek. Lalu apakah Kakek tahu di mana negara saudara perempuanku?" tanya Beru Sibou.

“Gak tau, Kakek juga gak tahu dimana. Maaf nak, kakek tidak bisa membantumu tapi jika Kakek bisa memberimu saran, coba Nak Beru memanjat pohon yang tinggi lalu bernyanyi dan memanggil adikmu. siapa tahu adikmu bisa mendengarnya." Kakek memberinya nasihat.

Beru Sibou pun mengikuti nasihat kakeknya. Dia mencari pohon tertinggi dan kemudian memanjatnya. Setelah sampai di puncak pohon, Beru Sibou bernyanyi sambil memanggil nama adiknya. 

“Tare Iluh, adikku, kamu di mana? Ayo pulang, saudara. Wahai penduduk negeri yang berduka atas saudara perempuanku! Aku mohon lepaskan dia sekarang." Beru Sibou berulang kali memanggil adiknya.

Tapi dia juga tidak mendapatkan hasil. Setelah berjam-jam memanggil nama adiknya, Beru Sibou akhirnya merasa lelah. Dia memutuskan untuk berdoa kepada Yang Mahakuasa.

"Tuanku! Saya ingin bertemu dengan saudara perempuan saya sehingga saya dapat membantunya. Biarkan saya membayar hutangnya. Saya bersedia menggunakan air mata, rambut, dan seluruh tubuh saya untuk digunakan oleh orang-orang di negara yang menghukum saudara perempuan saya." Beru Sibou berdoa.

Yang Maha Kuasa mengabulkan permintaan Beru Sibou. Setelah Beru Sibou berdoa, tiba-tiba angin bertiup kencang disusul hujan lebat disertai kilat menyambar bumi. Pada saat itu, Beru Sibou tiba-tiba berubah menjadi pohon Aren. Tubuhnya menjelma menjadi Pohon Aren yang bisa menghasilkan buah kolang-kaling sebagai makanan. Air mata Beru Sibou berubah menjadi tuak atau nira yang dijadikan minuman oleh masyarakat. Sedangkan rambutnya digunakan oleh warga sebagai pohon palem untuk membuat atap rumah.

***

Roni berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Sumatra Utara," kata Roni.

Roni pun membaca lagi bukunya.

Isi lanjutan buku yang di baca Roni :

Apakah manfaat pohon aren?

Aren atau enau adalah tanaman serbaguna. Tingginya bisa mencapai 25 meter dan lebarnya bisa mencapai 65 cm. Air kran seikat bunga jantan yang disebut nira biasanya diolah menjadi gula aren atau gula merah, diolah menjadi minuman tuak atau terkadang nira juga diolah menjadi cuka meski kini sudah putus asa oleh cuka buatan pabrik. Biji buahnya dapat diolah menjadi kolang kaling sebagai campuran es atau kolak. Daunnya biasa digunakan sebagai atap rumah penduduk di pedesaan. Pucuk daun yang masih pucuk yang disebut daun kawung dapat digunakan sebagai daun rokok. Telapak pohon palem dapat dipelintir menjadi tali. Sedangkan dari tusuk sate bisa dibuat menjadi sapu tusuk sate.

Tuak yang diolah dengan air nira memiliki fungsi penting bagi kehidupan sosial masyarakat Batak. Selain sebagai minuman, tuak biasanya digunakan dalam upacara adat Batak, juga dapat digunakan untuk menyiram beberapa jenis tanaman, atau digunakan untuk sesajen kepada arwah orang yang sudah meninggal. 

***

Roni selesai membaca bukunya.

"Memang banyak manfaatnya pohon aren," kata Roni.

Roni menutup bukunya dengan baik dan buku di taruh di meja.

LEGENDA PUTRI RUNDUK

Milki membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Milki :

Alkisah, Raja Jayadana memerintah Kerajaan Barus Raya yang berpusat di Kota Guguk dan Kota Beriang dekat Kadai Gadang, Sumatera Utara sekarang. Kerajaan Barus Raya saat itu sudah memeluk agama Islam dan berada di puncak kesuksesannya. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Barus Raya kaya akan seni dan budaya.

Masyarakat pesisir memiliki budaya seperti Serampang 12, Bersanggu Gadang, Bakonde, Berinai, Turun Air, Berkambabodi, Berkelambu Kain Kuning, Berpayung kuning, gertakan gigi dan lain-lain. Raja Jayadana menikahi seorang ratu yang kecantikannya menyebar ke negara-negara lain. Putri Runduk adalah nama ratu.

Banyak raja dan pedagang yang tertarik dengan kecantikan Putri Runduk. Mereka ingin melamar Putri Runduk meskipun dia sudah menikah. Sebut saja Raja Tiongkok daratan yang secara terang-terangan datang melamar Putri Runduk, yang lamarannya tentu saja ditolak. 

Kemudian Raja Janggi dari Sudan, Afrika dan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram, Jawa juga jatuhcinta pada Puteri Runduk. Kedua kerajaan ini akan mengirimkan pasukannya ke Kerajaan Barus Raya hanya untuk merebut Puteri Runduk.

Raja Jayadana tentu tidak tinggal diam. Ia segera mempersiapkan pasukannya untuk menghadang kekuatan kedua pemerintahan tadi. Kerajaan pertama yang datang menyerang adalah Kerajaan Mataram dari Jawa. Pertempuran hebat terjadi antara Kerajaan Islam Barus Raya dan Kerajaan Hindu Mataram. Setelah perang yang panjang, Kerajaan Barus Raya akhirnya mengalami kekalahan telak dari Kerajaan Mataram. Pasukan Pemerintahan Barus Raya dalam keadaan kacau balau berusaha menyelamatkan diri. Raja Jayadana sendiri tewas dalam pertempuran tersebut. 

Setelah Kerajaan Barus Raya jatuh ke tangan Kerajaan Mataram, Raja Sanjaya langsung melamar Putri Runduk, janda Raja Jayadana. Namun usulan itu ditolak mentah-mentah karena Puteri Runduk beragama Islam sedangkan Raja Sanjaya beragama Hindu. Karena penolakan tersebut, Raja Sanjaya akhirnya memutuskan untuk menangkap Putri Runduk. Seperti yang disebutkan dalam sebuah puisi:

Perang antara Pemerintah Barus Raya dan Pemerintah Mataram telah berakhir. Pasukan Pemerintah Mataram sudah sangat lelah. Hal ini dimanfaatkan oleh Raja Janggi dari Afrika untuk menyerang pasukan Kerajaan Mataram yang membuat kekuatan Kerajaan Mataram menjadi kacau. Kota Guguk dan istana Kerajaan Barus Raya hancur akibat perang ini. 

Pasukan Raja Janggi akhirnya berhasil mengalahkan Kerajaan Mataram dengan mudah. Di tengah kericuhan, sekelompok pengawal setia Raja Jayadana beserta para pelayannya mengambil kesempatan untuk membawa Putri Runduk ke Pulau Morsala. Dalam pelarian yang menegangkan ini, banyak peralatan milik rombongan Putri Runduk jatuh di sepanjang pulau. Sehingga pulau-pulau tersebut di beri nama sesuai dengan nama-nama barang yang tersebar, seperti Pulau Terika, Pulau Lipat Kain, Pulau Puteri, Pulau Situngkus dan lain-lain.

Mengetahui Putri Runduk telah melarikan diri ke Pulau Morsala, Raja Janggi segera mengejar. Dengan kekuatan tim dan peralatan yang lengkap, tentu saja mudah bagi Raja Janggi untuk mengejar Puteri Runduk. Ketika Raja Janggi saling berhadapan mencoba untuk memeluk Putri Runduk, Puteri Runduk melawan dengan memukul tongkat keberuntungan dari akar baru, tongkat warisan Raja Barus, ke kepala Raja Janggi. Sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

Pulau Puteri Pulau Penginang

Pulau Anak Janggi Ketiga

Bantal Bantal Putih

Racun Bermain Di Hati

Layanannya bagus karena lapisan putihnya

tapi sayang bantalnya kendor

orang yang tidur menjadi gatal

Dalam ayat lain disebutkan:

Hujan deras di Morsala

Biarkan orangutan mekar

Bintang-bintang di langit salah

ombak di laut beruang

Pulau Talam Pulau Tarika

tiga pulau lipat kainnya

jangkar pendaratan rusak rusak

haluan pindah ke jalan lain

Tapi bagaimanapun, Puteri Runduk hanyalah seorang wanita yang lemah dibandingkan dengan Raja Janggi. Merasa lelah dalam pengejaran ini, Putri Runduk akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke laut. Putri Runduk menghilang di tengah lautan tanpa jejak. Ia tidak rela dikendalikan oleh Raja Janggi. 

Sikambang Bandahari, asisten Puteri Runduk di Keraton Barus Raya, menjadi saksi mata kejadian tersebut. Ia menangis sedih karena tidak bisa menyelamatkan Putri Barus. Ia sangat marah dengan kekejaman para raja yang terpesona dengan kecantikan Putri Runduk. Sikambang Bandahari terus meratap tanpa henti, dari hari ke hari. Ratapan legendaris yang menceritakan tentang kecantikan putri-putri Barus Raya, ketenaran dan kesuksesan Kerajaan Barus Raya. 

***

Milki selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus, ya asal Sumatra Utara," kata Milki.

Milki menutup buku dan menaruh buku di meja.

PANGERAN HIDUNG BESAR

Jajang selesai melihat ikan hiasnya di akuarium sih. Jajang duduk di ruang tengah, ya sambil membaca bukunya dengan baik sih.

Isi buku yang di baca sama Jajang :

Hari ini adalah hari ulang tahun raja. Raja mengundang seluruh teman-temannya dan beberapa penyihir ke istana. Raja menjamu para tamunya dengan baik. Makanan yang dihidangkan pun amat enak. Raja terlihat asyik bercengkerama dengan semua orang yang hadir di pestanya. Namun, raja tak sadar bahwa ia telah membicarakan hidung penyihir yang besar. Semua orang yang hadir di sana pun tertawa.

“Hidung penyihir yang besar itu memang sangat lucu,” seru raja sambil tertawa.

Para penyihir yang mendengar perkataan raja tersebut langsung memegangi hidung mereka. Mereka menjadi sangat malu dengan ucapan raja.

“Kau menghina kami,” ucap salah satu penyihir. Seketika, raja menyadari kesalahannya.

“Ah, aku tak bermaksud menghina kalian. Tolong, maafkan aku,” pinta raja.

Namun, para penyihir sudah telanjur marah. Mereka langsung pergi meninggalkan pesta itu. Raja merasa sangat bersalah.

“Aku akan mengutukmu. Kelak ketika kau memiliki seorang anak, anakmu akan memiliki hidung besar seperti hidung kami,” ucap salah satu penyihir sambil berlalu meninggalkan pesta.

Hal itu membuat raja dan ratu menjadi sedih. Mereka tak ingin anak mereka memiliki hidung besar. Mereka ingin anak mereka normal seperti anak-anak lainnya. Beberapa bulan kemudian, ratu melahirkan seorang anak laki-laki. Benar saja, anak itu memiliki hidung yang sangat besar. tak seperti anak pada umumnya. Raja pun memerintahkan semua pelayannya untuk meyakinkan pangeran bahwa hidung sang pangeranlah yang normal, sedangkan hidung orang lain tak normal.

Semua pelayan mematuhi perintah raja. Akibatnya, hingga pangeran dewasa, ia menganggap hidungnyalah yang normal, sedangkan hidung orang lain tak normal. Pangeran berhidung besar itu bernama Pangeran Arnold. Pangeran Arnold tak pernah diizinkan pergi ke luar istana. Raja tak mau orang-orang menertawakan anaknya yang berhidung besar. Namun, pada suatu hari, raja hendak menjodohkan Pangeran Arnold dengan seorang putri yang sangat cantik dari kerajaan tetangga.

“Kau harus menemui putri itu di kerajaannya,” ucap raja.

“Baik, Ayah. Aku akan menemui putri itu dan membawanya pulang ke istana kita.” balas Pangeran Arnold.

Tak lupa, raja menyuruh pelayan Pangeran Arnold untuk selalu meyakinkan Pangeran Arnold, bahwa hidung Pangeran Arnold itulah yang normal. Pangeran Arnold memang merasa dirinyalah yang normal, sedangkan orang lain yang berhidung kecil tidak normal. Pangeran Arnold pun berangkat dengan pelayannya menuju ke kerajaan tetangga. Saat sampai di kerajaan itu, banyak sekali orang yang memperhatikan Pangeran Arnold. Mereka tertawa melihat hidung Pangeran Arnold yang besar.

“Kenapa mereka tertawa melihat hidungku? Bukankah hidung mereka yang tak normal?” tanya Pangeran Arnold kepada pelayannya.

“Mereka iri melihat hidung pangeran yang normal, sementara hidung mereka tak normal,” jawab pelayannya, berbohong.

Begitu pula dengan putri yang ditemui oleh Pangeran Arnold. Ia juga tertawa melihat hidung Pangeran Arnold. Namun, Pangeran Arnold tak menghiraukan tawa sang putri. Ia pun mengulurkan tangannya kepada sang putri. Olala, saat Pangeran Arnold hendak mencium tangan putri, hidungnya menghalanginya. Saat itulah, Pangeran Arnold tersadar bahwa hidungnyalah yang tak normal.

“Aku tak bisa mencium tanganmu karena hidungku terlalu besar. Rupanya, selama ini orang-orang di istana membohongiku,” kata Pangeran Arnold.

Tiba-tiba, muncul sebuah keajaiban. Hidung pangeran Arnold mengecil dan akhirnya menjadi normal. Ternyata, sihir yang diberikan oleh si penyihir akan hilang jika Pangeran Arnold mengakui bahwa dirinyalah yang tak normal. Pangeran Arnold lalu membawa pulang sang putri. Mereka pun menikah di istana Pangeran Arnold. Raja dan ratu juga menjadi sangat bahagia dengan perubahan hidung Pangeran Arnold.

***

Jajang terus membaca buku tersebut sampai pesan moral yang di tulis di buku dengan baik yaitu dari  pada berbohong, Iebih baik berkata jujur meskipun menyakitkan. Akuilah kekurangan diri sendiri. Jangan sampai membohongi diri sendiri, apalagi orang lain.

Jajang selesai membaca bukunya, ya memahami isi buku tersebut dan berkata " Cerita yang bagus asal dari Perancis."

Jajang menutup buku dan buku di taruh di meja dengan baik.

HANS YANG BODOH

Andi selesai bermain dengan teman-temannya, ya pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Andi duduk di ruang tengah. Ada buku di meja, ya di ambil sama Andi dan di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Andi :

Tersebutlah seorang pengawal tua yang berkeinginan menikahkan salah satu orang putranya dengan putri sang Raja, lalu dia mendidik dua orang putranya yang akan mengatakan kata-kata terbaik untuk syarat yang harus dipenuhinya. Kata terbaik yang menyentuh perasaan sang putri itulah pemenangnya, sehingga mereka berdua belajar keras untuk cita-cita mereka masing-masing. Dari mulai belajar merangkai kata-kata yang indah dan memilih kata-kata yang terbaik.

Mereka belajar siang dan malam dengan harapan dapat berjodoh dengan sang putri dan ayah mereka memberi mereka masing-masing satu ekor kuda pilihan yang terbaik untuk datang dan pergi ke aula istana Raja. Sebenarnya sang pengawal tua mempunyai tiga orang putra namun anak yang ketiga dianggap kurang dalam berpikir atau dianggap sangat bodoh (dari cara berpikirannya yang lebih rendah) sehingga disebut Blockhead-Hans atau Hans yang bodoh.

Namun dia juga punya keinginan ikut untuk memenangkan perlombaan dengan imbalan menikah dengan sang putri Raja yang cantik jelita, tetapi sang ayahnya tidak memberinya izin dan tidak diberi kuda seperti kedua kakaknya. Sehingga dia naik seekor kambing yang sangat besar, sebagai ganti untuk kendaraan yang akan ditungganginya pergi menuju aula istana tempat sang putri mengujinya.

Dalam perjalanan ke aula istana tempat ruang Raja, Blockhead-Hans atau Hans bodoh mengambil beberapa hadiah untuk diberikan kepada sang putri sabagai buah tangan diantaranya: gagak mati, sepatu kayu tua tanpa atas, dan lumpur. Pada Tahta kerajaan, telah hadir tiga wartawan dan editor yang berdiri diposisi masing-masing dekat jendela aula. Mereka diperintahkan untuk menuliskan apa saja kata-kata dari masing-masing pelamar yang diucapkan untuk menerbitkannya diharian kerajaan. Perlombaan semakin memanas saja, karena setiap pelamar yang gagal melakukan pengujian dari sang putri, menjadi sangat kecewa dan marah terbakar hatinya.

Kedua saudara Hans bodoh mengucapkan kata-kata terbata-bata dan gagal untuk mengesankan sang putri dari semua kata-kata indahnya, meraka berdua terkesimak dan menadi gerogi oleh kecantikkan dan pesona sang putri. Hans bodoh dengan naik seekor kambing maju dan masuk ke dalam aula kerajaan dengan tingkahnya yang sangat tenang. Dia mengatakan tentang suasana yang semakin memanas dari semua orang yang datang.

Sang putri merasa senang dengan sikapnya yang tenang itu, dia malah menjawab dengan jawaban bahwa dia sedang memanggang ayam-ayam muda yang berarti para peserta pelamar semuanya, dalam plesetan kata-katanya. "Itu bagus!" jawab Blockhead-Hans Hans bodoh. "Maka saya bisa sekalian memanggang burung gagak bersama dengan mereka," dan dia mengambil gagak mati sebagai buah tangan untuk sang putri. Sanga putri sangat setuju dengan jawaban dari Blockhead-Hans. Apakah dia juga punya sesuatu untuk memanaskan suasana di aula Raja yang sedang terbakar emosi.

Hans bodoh mempersembahkan sepatu dengan menyebutkan kata-kata "memasak harusnya dengan cincin timah untuk pelaksanaannya dan gagak mati yang sudah siap di masak di dalamnya. "Sang putri sangat setuju," dan bertanya kembali kepada sang pemuda lugu, "di mana supnya." Sang Bodoh-Hans menuangkan lumpur diatas burung gagak. Sang putri menyukai ketulusan serta keluguan dari sang pemuda yang bernama "Hans" ini dan lalu dia memutuskan untuk menikah dengannya.

Sang putri mengatakan kepadanya bahwa wartawan telah menuliskan semua yang dia katakan, mereka akan menerbitkannya. Hans Bodoh mengatakan, "Lalu aku telah memberikan kata-kata terbaik untuk para wartawan tersebut, dan melemparkan lumpur di wajah editor yang bodoh ini." Bodoh-Hans berlanjut dengan menikahi sang putri dan kemudian dari beberapa tahun kedepan dia dinobatkan menjadi sang Raja dan mereka hidup dengan penuh suka-cita.

Sekian semoga mengibur.

***

Andi selesai membaca bukunya dan berkata "Cerita yang bagus asal dari Belanda."

Andi menutup bukunya dan di taruh di meja. 

"Mandi ah. Hari sudah sore juga!" kata Andi.

Andi beranjak dari tempat duduknya, ya kebelakang untuk mandilah.

ASAL MULA PULAU SI KANTAN

Nazar selesai latihan menyanyi, ya karokean di rumah saja sih....bisa bilang menghibur diri juga sih. Nazar duduk santai di ruang tengah, ya membaca bukunya dengan baik.

Isi buku di baca Nazar :

Di tepi sebuah sungai di Labuhan Batu, Sumatra Utara, hiduplah seorang janda yang sangat miskin bersama seorang anaknya. Anaknya bernama Si Kantan. Si Kantan dan Ibunya tinggal di sebuah gubuk yang reot dan kumuh. Mereka hidup sengsara. Ayah Si Kantan telah lama meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibu Si Kantan mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar. Si Kantan sering membantu ibunya untuk membawa kayu bakar dari hutan ke pasar. Si Kantan terkenal sebagai anak yang rajin dan patuh kepada ibunya.

Ketika malam tiba, ibu Kantan bermimpi. Dia bertemu dengan seorang kakek tua yang menyuruh mereka untuk menggali tanah pada sebuah tempat di dalam hutan. Ketika pagi tiba, sang ibu menceritakan perihal mimpinya kepada Si kantan. Si Kantan menyarankan kepada ibunya untuk mematuhi apa yang disuruh oleh kakek tua itu. 

“Ibu, cobalah kita laksanakan perintah sang kakek tersebut, mana tau akan membawa keberuntungan bagi kita. Semoga nasib kita bisa berubah menjadi lebih baik,” ujar Si Kantan penuh harap.

Mereka akhirnya ke hutan dengan membawa peralatan untuk menggali tanah. Ibu Kantan mengingat-ingat kembali tempat mana yang ditunjukkan oleh kakek tersebut untuk digali tanahnya. Ketika berada di tempat yang tepat, ibu Kantan pun berseru kepada anaknya.

“Anakku, mungkin di sinilah tempatnya. Mari kita gali tanahnya!” kata sang ibu penuh harap.

“Jika ibu yakin tempatnya di sini, saya segera akan menggalinya Bu,” kata Si kantan dengan tidak kalah semangat.

Dengan semangat, Si Kantan menggali tanah yang berada di bawah pohon rindang dan cukup besar. tidak lama kemudian, dia menemukan sebuah benda yang dibungkus oleh kain putih yang telah usang. Si Kantan berseru kepada ibunya, karena dia telah menemukan sesuatu yang dianggap mungkin itulah benda yang diberitahu oleh kakek tua dalam mimpi ibunya.

Mereka membuka benda yang dibungkus oleh kain putih tesebut. Alangkah tercengang sekaligus bahagianya mereka. Ternyata benda tersebut sangat berharga. Benda tersebut adalah sebuah tongkat emas yang berhiaskan permata. Mereka terkagum-kagum akan benda itu. Si Kantan dan ibunya berharap agar benda tersebut dapat merubah nasib mereka. Setelah sampai di rumah, mereka bermusyawarah untuk memastikan nasib benda tersebut. Apakah benda tersebut akan mereka simpan atau dijual.

“Anakku, sebaiknya benda ini dijual. Hasil penjualannya akan ibu belikan rumah yang pantas dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Si Kantan merenung, lalu berkata “Ibu, jika ibu jual benda ini, lalu siapa yang akan membelinya ? benda ini terlalu berharga dan sangat mahal tentunya. Penduduk kampung ini tidak akan bisa membelinya.”

“Benar anakku, kalau begitu, benda tersebut harus engkau jual ke penduduk pulau lain,” kata ibunya.

Mereka akhirnya setuju bahwa benda tersebut akan dijual di luar pulau tempat mereka menetap. Si kantan pun akhirnya pamit kepada ibunya untuk menjual benda tersebut. Sejujurnya, Si Kantan sedih meninggalkan ibunya yang sebatang kara. Apalagi ibunya telah tua renta dan tidak cukup tenaga untuk bekerja sendiri. Namun, demi memperbaiki hidup, Si Kantan harus menjual tongkat ajaib tersebut untuk dijadikan sebagai uang yang dapat membuat mereka bahagia. Sang Ibu akhirnya melepas kepergian Si Kantan dengan rasa sedih bercampur haru.

“Jika engkau telah menjual benda itu, pulanglah secepatnya Nak, ibu selalu merindukanmu,” kata ibu Si Kantan sambil terisak.

“Kantan berjani Bu, akan kembali secepatnya ke rumah ini,” kata Si Kantan sambil membalas pelukan ibunya.

Si kantan akhirnya pergi ke Malaka untuk menjual tongkat tersebut. Di perjalanan, dia harus mengarungi Sungai Barumun lalu melewati laut lepas. Dia harus menggunakan kapal layar dan rela terombang-ambing karena badai yang yang sangat dahsyat. Si Kantan selalu berharap agar tongkat emas yang dibawanya laku terjual dengan harga yang pantas.

Setelah sampai di Malaka, Si Kantan mencoba menawarkan barang tersebut kepada para pedagang. Semua pedagang yang ada di Malaka ditawari Si Kantan untuk membeli tongkat tersebut. Ternyata semua pedagang di kota itu tidak sanggup membelinya. Harga tongkat itu terlalu mahal karena sangat bernilai tinggi. Akhirnya Si Kantan berniat pulang karena tidak ada satupun yang membeli benda tersebut. Ketika sampai di pelabuhan untuk pulang ke kampungnya, Si Kantan bertemu dengan para hulubalang Kerajaan malaka. Para hulubalang Kerajaan Malaka melihat benda yang dibawa oleh Si Kantan. Mereka bertanya kepada Si Kantan, benda apa gerangan yang dia bawa, mengingat benda tersebut masih ditutupi oleh kain.

“Ini adalah tongkat emas, Tuan. Saya mau menjualnya,” jawab Si Kantan.

“Cobalah kau bawa tongkat itu ke raja kami. Mana tau sang raja mau membelinya,” kata salah satu hulubalang tersebut.

Si Kantan dengan para hulubalang pergi ke istana untuk menemui sang raja. Di istana, raja terkagum-kagum atas keindahan dan kemewahan tongkat emas tersebut.

“Alangkah indahnya tongkat ini, saya tertarik untuk memilikinya,” ujar sang raja. 

“Dengar anak muda, saya tidak akan membeli tongkat ini. Namun sebagai gantinya, saya akan mengangkatmu sebagai menantu, saya memiliki seorang putri cantik yang belum dinikahkan kepada siapapun.”

Mendengar ucapan sang raja, Si Kantan berkata, “Ampun paduka yang mulia, jika memang itu kehendak paduka, saya bersedia untuk dinikahkan dengan anak anda.”

Si Kantan akhirnya menikah dengan seorang putri dari raja Malaka. Mereka akhirnya menikah. Pesta pernikahan mereka sangat megah. Kantan telah menjadi salah satu keluarga kerajaan. Di istana, Si Kantan dan istrinya hidup bergelimang kemewahan. Dengan kehidupan yang sangat mewah, Si Kantan akhirnya melupakan sang ibu di kampung. Si Kantan lupa akan janjinya. Padahal, hari demi hari sang ibu dengan penuh harap tetap menunggu kepulangan Si Kantan. Namun, tidak lama setelah Si Kantan menikah, sang istri terus mendesak ingin bertemu dengan ibu Si Kantan. Dia ingin diperkenalkan kepada ibu mertuanya. Apalagi, keinginan tersebut juga direstui oleh mertua Si Kantan, sang raja. Setelah didesak secara terus menerus, akhirnya Si Kantan bersedia pulang ke kampung untuk mengenalkan ibunya dengan istrinya, meskipun keinginan tersebut sangat berat bagi Si Kantan.

Ketika pagi hari, sebuah kapal besar yang megah membawa Si Kantan dan istrinya untuk pergi ke kampung menemui ibu Si Kantan. Mereka membawa puluhan pengawal. Mereka menempuh perjalanan selama berhari-hari, hingga sampailah ke daerah yang bernama Labuhan Bilik. Labuhan Bilik adalah sebuah kota kecil yang terletak di muara Sungai Barumun.

Penduduk muara Sungai Barumun terkagum-kagum atas kemegahan sebuah kapal yang ditumpangi oleh Si Kantan bersama istrinya. Mereka menerka-nerka siapakah orang yang menggunakan kapal megah tersebut. Alangkah terkejutnya mereka, bahwa kapal tersebut ternyata ditumpangi oleh seorang pemuda dan istrinya yang cantik jelita. Pemuda dan istrinya tersebut mengenakan pakaian yang mewah. Salah satu penduduk kampung berseru bahwa dia mengenali pemuda tersebut.

“Hei, itu adalah Si Kantan. Pemuda yang tinggal bersama ibunya di tepi sungai,” sahut salah seorang dari mereka.

“Benar, itu adalah Si Kantan,” sahut lainnya.

Kabar akan kedatangan Si Kantan akhirnya terdengar oleh ibu kandungnya sendiri. Sang ibu dengan gembira dan penuh suka cita menunggu anaknya di gubuk reotnya. Namun, sang anak tidak kunjung datang. Sang ibu akhirnya memutuskan untuk menemui anaknya di pelabuhan.

Sang ibu menggunakan sebuah sampan tua untuk mengarungi Sungai Barumun, dia ingin menemui anaknya. Dengan hati yang berdebar dan penuh harap, sang ibu ingin memeluk anaknya untuk melepas kerinduannya. Tidak lama kemudian, sampailah sang ibu di pelabuhan. Tampaklah sebuah kapal besar yang megah sedang bersandar di pelabuhan tersebut.

“Jika memang itu adalah kapal Si Kantan, alangkah bahagianya aku,” kata sang ibu.

Sang ibu dengan sekuat tenaga mengayuh sampan tua tersebut untuk mendekati kapal besar di pelabuhan itu.

“Kantaaan.... Kantaaan..., Kantan anakku,” panggil perempuan itu dengan penuh semangat namun penuh haru. “Ini ibumu nak....”

Istri Kantan mendengar suara teriakan ibu mertuanya. Dia lalu bertanya kepada Kantan untuk memastikan apakah suara tersebut adalah benar mertuanya.

“Kanda, ada yang berteriak memanggil suara Kanda. Apakah ibu itu adalah ibu kandung Kakanda ?” tanya sang istri Kantan.

“Bukan, itu mungkin orang gila yang tidak aku kenali,” jawab Kantan. Si Kantan sebenarnya mengetahui suara ibunya, namun dia malu untuk mengakui bahwa perempuan tua itu adalah ibunya.

Sang ibu terus-menerus memanggil anaknya. Dia berharap agar Si Kantan datang menemuinya.

“Ini ibumu nak..., datanglah Kantan,” ibunya terus memanggil.

Sang istri akhirnya keluar dari kapal dan menuju anjungan. Dia penasaran dan ingin bertemu dengan ibu mertuanya. Keluarnya sang istri disusul oleh Si Kantan. Tampaklah seorang wanita tua renta dengan pakaian yang kumal sedang menunggu ke arah kapal Si Kantan. Melihat keadaan tersebut, Si Kantan mengusir dengan suara yang keras ke arah wanita tua tersebut.

“Hai, perempuan tua yang jelek. Kau seenaknya saja mengaku ibuku. Ibuku tidak seperti kau !” hardik Si Kantan

Sang istri menenangkan Si Kantan bahwa mungkin bisa saja itu adalah ibunya. Namun, karena malu dan tidak ingin beribukan yang telah tua dan miskin, Si Kantan tetap bersikeras bahwa itu bukanlah ibunya.

“Dia bukan ibuku, ibuku cantik dan masih muda,” kata Si Kantan kepada istrinya.

Si Kantan terus memaki-maki wanita yang sebenarnya adalah ibu kandungnya sendiri. Dengan bantuan pengawal, Si Kantan menyuruh mereka untuk mengusir ibunya sendiri. Sang ibu dengan berat hati kembali pulang ke gubuk reotnya, sedangkan Si Kantan bersama istrinya kembali ke istana. Dengan perasaan yang sangat sedih karena diusir oleh anak kandungnya sendiri, sang ibu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa, anakku telah durhaka kepada ibunya. Berilah dia balasan yang setimpal. Dia tidak tau balas budi terhadap ibunya yang telah mengandung, melahirkan, serta membesarkannya,” dengan penuh isak tangis yang tidak terbendung lagi, sang ibu berdoa kepada Tuhan.

Tidak lama kemudian, langit menjadi gelap, petir menyambar-nyambar, lalu turunlah hujan badai. Air di Sungai Barumun menjadi bergulung-gulung. Kapal besar yang ditumpangi oleh Si Kantan dan istrinya mulai terombang ambing di perairan. Setelah itu, kapal terhempas oleh gelombang air yang sangat dahsyat. Kapal tersebut akhirnya tenggelam ke dasar Sungai Barumun. Si Kantan akhirnya tewas. Tidak lama setelah kejadian tersebut, munculah sebuah pulau di tengah Sungai Barumun. Oleh masyarakat, pulau tersebut di beri nama pulaun Si Kantan. 

***

Nazar selesai baca bukunya.

"Bagus ceritanya," kata Nazar.

Nazar menutup buku dan menaruh buku di meja.

CAMPUR ADUK

DUNE

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus.....berita di Channel TVRI, ya seperti biasa sih Budi duduk dengan santai di d...

CAMPUR ADUK