CAMPUR ADUK

Tuesday, February 25, 2020

BAHAS KABAR BURUK DAN KABAR BAIK

Bagong sedang asik baca koran yang ia beli dari loker koran langganan, ya sambil menikmati kopi dan singkong rebus di teras rumah. Petruk yang selesai menyapu halaman depan rumah dan sudah memasukkan sampah yang di kemas di plastik dan di masukkan ke tong sampah. Petruk pun mencuci tangannya pake sabun dan di bilas dengan air daru keran, baru deh duduk bersama Bagong. Petruk, ya mengambil gelas kopi Bagong dan berkata "Bagi...kopinya Gong, haus!"

"Iya," saut Bagong asik baca koran.

Petruk, menghilangkan rasa hausnya dengan minum kopi dan juga rasa capeknya menyapu halaman depan dengan duduk santai. Bagong pun selesai juga baca koran dan menaruh koran di meja, ya Bagong segera makan singkong rebus.

Petruk, ya mengambil korannya yang di taruh di meja oleh Bagong. Dengan seksama Petruk membaca koran yang berita utamanya tentang banjir.

"Kabar buruk," celoteh Petruk.

Bagong, ya mendengar sih omongan Petruk tapi tidak di gubris karena asik makan singkong rebus dan minum kopi. Petruk pun terus membaca ke topik yang lain tentang sepak bola bahwa Indonesia menang dalam pertandingan sepak bola melawan Thailand.

"Kabar baik...dari dunia olahraga," celoteh Petruk.

Bagong, ya mendengar omongan Petruk sih tapi tidak di gubris lagi karena asik makan singkong rebus dan minum kopi. Petruk pun selesai baca koran dan di taruh koran di atas meja.

"Bagong...apa pendapat..kamu tentang berita banjir yang di beritakan koran?" tanya Petruk.

"Kabar buruk sih, ya sesuai omongan kamu.....Petruk. Ya kalau pendapat aku...sih. Kurangnya menjaga lingkungan saja. Dari hal sampah di buang sembarang tempat, ketika hujan...ya sampah tersebut menyumbat saluran air. Gorong-gorong yang tertutup, ya alasannya sih agar tidak mencium bau busuk dari gorong-gorong tersebut, tapi ketika hujan deras yang curah hujannya tinggi banget dan air yang harus di buang ke gorong-gorong ternyata saluran kecil untuk di lalui air yang volumenya besar...ya akhirnya tergenang semuanya.....alias banjir deh. Yang terakhir sih kebanyakan orang-orang tinggal di kawasan dekat aliran sungai, ketika volume air sungai naik kesana kesini tidak bisa tertampung di aliran sungai karena hujan yang lebat banget jadinya banjir deh," penjelasan Bagong.

"Kurangnya...menjaga lingkungan dan kurangnya memperhatikan saluran air....di buat lancar agar tidak menimbulkan banjir," kata Petruk.

"Manusia...itu yang berbuat, ya pasti manusia itu sendiri yang kena akibat dari apa yang di kerjakan?! Hukum sebab akibat," kata Bagong.

"Sebab akibat. Benar kamu...Bagong. Oh ya...Bagong apa pendapat..kamu tentang Indonesia menang dalam pertandingan sepak bola melawan Thailand?" kata Petruk.

"Kabar baik sih, ya sesuai dengan omongan kamu....Petruk. Pendapat aku sih....bagus sih, itu semua itu berkat usaha yang keras dari tim sepak bola Indonesia yang mati-matian...untuk mengalahkan Thailand demi jadi juara. Ya...mengharumkan nama Indonesia dalam pertandingan sepak bola," penjelasan Bagong.

"Bagus toh. Usaha...yang keras. Benar kamu.....Bagong," kata Petruk.

Gareng, ya baru pulang dari rumah Pak RT dan memarkirkan motornya di depan rumah. Gareng pun duduk bersama Bagong dan Petruk. Segera Gareng mengambil singkong rebus di piring, ya segera memakannya.

"Bagong....buang sampah sekarang, motornya udah dateng tuh!" perintah Petruk.

"Iya, kalau untuk menjaga lingkungan agar bersih...ya tidak boleh males...kan," kata Bagong.

"Benar...sekali," saut Petruk dan Gareng bersamaan.

Bagong pun segera mengambil sampah di dalam tong yang sudah di kemas dengan baik gitu dalam wadah plastik, ya segera di bawa ke penampungan sampah...ya cukup jauh maka itu pake motor. Bagong pun membawa motornya dengan baik sampai ke tempat penampungan sampah, ya segera sampah yang di bawa Bagong di taruh baik di penanpungan sampah. 

"Selesai...juga kerjaan hari ini," kata Bagong.

Bagong pun segera pulang dengan membawa motornya dengan baik. 

Sunday, February 23, 2020

EMAIL DARI TEMAN

Dono lagi asik duduk di ruang tamu, ya lagi baca email di leptopnya dari temannya dengan penuh keseriusan. Kasino, ya sedang duduk santai sambil baca buku. Indro nonton berita di ruang tengah, ya berkaitan dengan politik. Saat iklan, Indro meninggalkan tontonannya, ya duduk bersama Dono dan Kasinbo di ruang tamu.

"Don...apa tanggapan kamu tentang politik dinasti?" tanya Indro.

"Dinasti. Turun menurun. Istilah Bapak mewariskan keanaknya. Ya gak ada masalah sih. Kalau sanggup duduk di pemerintahan," kata Dono.

"Kalau menurut mu Kasino?" tanya Indro.

Kasino, ya menghentikan baca bukunya dan berkata "Ya...gak ada masalahlah, politik dinasti. Di persilakan aja. Biar perpolitikan di Indonesia jadi menarik dalam merebutkan kursi di jabatan di pemerintahan. Ya gak...Don!".

"Yo, i. Zaman now, yang terpenting pinter dan mampu berkuasa apalagi masih muda. Semangat masa mudanya lebih berapi-api dalam menjalankan roda pemerintahan," kata Dono.

"Iya, juga...ya. Tapi, bagaimana...orang sudah lama berkecimpung di politik....gak bisa naik karena di kalahkan generasi yang muda?" kata Indro.

"Itu sih. Gak ada masalah banget. Ya terpenting dalam politik mampu memanipulasi suara di masyarakat dengan cara baik, kadang cara yang menurut orang buruk...ya sebenarnya gak juga sih. Ya politik uang. Contohnya begini. Aku terjun politik. Punya anggaran dana yang cukup banyak sih, lalu aku membentuk organisasi kemasyarakatan seperti partai politik strukturnya, tapi generasi muda direkrut semua untuk aku jadi pemimpin di daerah, jadinya sih Independen...sih. Waktunya pemilu. Masa aku ya...aku kerahkan untuk memilih aku. Politik uangnya jadi bersih, tidak kotor...karena aku membangun organisasi muda mudi di masyarakatkan, mereka ada kerjaan. Bukan tujuan untuk aku jadi pemimpin saja tapi mengarahkan ke bidang-bidang aku akan bangun dengan kebijaksanaan aku. Bidang tersebut berjalan baik dan aku jadi pemimpin terpilih, ya tinggal penyesuaian aja. Aku tidak meninggalkan apa yang aku bangun, jadi semua generasi muda yang ikut aku....ya kerja semuanya," penjelasan Dono.

"Gimana...menurut kamu, Kasino...contoh yang di berikan Dono?" tanya Indro.

"Pemikiran, yang idialis untuk seorang pemimpin. Tapi memang benar sih cara itu lebih baik. Karena di lingkungan kita sendiri....ada pergerakan politik, ya di biayai oleh, ya mantan pejabat yang lalu....untuk menggeser pejabat yang sekarang. Ya haus kekuasaan gitu," kata Kasino.

"Berarti....tidak ada masalah toh. Ya terpenting pandai menyusun strategi toh untuk jadi pemenang di pemilu di daerah," kata Indro.

"Yo,i...," saut Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, ya kembali fokus membaca email di leptopnya.Ya Kasino pun kembali baca bukunya. Indro pun ingin tahu apa yang di baca Dono di emailnya?. Saat Indro membaca baik-baik emailnya Dono, ya terkejut dan berkata "Politik semuanya Don!"

"Iya, kiriman dari teman. Aku meminta dari teman, untuk memberitahu aku pergerakan di daerah. Ya tujuannya aku tidak terjebak permainan politik di zaman now lagi, yang ambisius untuk duduk jadi pejabat di pemerintahan daerah sampai pusat," penjelasan Dono.

"Ada...bagusnya..Don. Jaga-jaga....agar tidak terjebak...oleh permainan politik yang buruk," saut Kasino, yang menghentikan baca bukunya.

"Ada...benar juga omongan Kasino. Kita ini generasi muda, yang tidak ingin terjun di politik. Tapi tahu bagaimana berpolitik yang baik ? Dan Juga tahu...juga mencari informasi yang baik dan benar di masyarakat yang sedang berpolitik," kata Indro.

"Tepat banget omongan...Indro," kata Kasino.

"Pinter....kamu..Indro," pujian Dono.

"Ya...sudahlah, gak usah dibahas lagi. Aku mau nonton Tv lagi!" kata Indro.

"Iya...sana!" saut Kasino.

"Iya," saut Dono.

Indro pun langsung pindah duduk bersama Dono dan Kasino di ruang tamu ke ruang tengah untuk nonton Tv, ya berita gitu. Kasino, ya asik baca buku lagi dan Dono, ya selesai baca email dari temannya segera nulis di Blognya dengan penuh keseriusan.

Saturday, February 22, 2020

SENI BUDAYA

Indro selesai juga memasak, ya segera membawa sepiring tahu goreng ke ruang tamu dan segera di taruh di meja. Dono lagi asik nonton Tv on line dari Hpnya. Indro, ya mendekati Dono untuk melihat apa yang di tonton Dono?.

"Sinden....," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

"Tumben...nonton...perlombaan sinden!" kata Indro.

"Ya...nyari suasana aja yang menyenangkan....gitu," kata Dono.

"Oh...begitu," kata Indro.

Indro pun makan tahu goreng, ya Dono ikut juga makan tahu goreng dan menghentikan nonton Tv on line di Hpnya. Kasino baru selesai urusannya dengan Selfi, biasalah lari pagi keliling komplek sekalian pacaran gitu...gaya anak muda zaman now, sehat dan cinta. Sampai di depan rumah Kasino ya mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino pun menaruh gelas es jus buah di dalam plastik ke meja.

"Don..., Indro...es jus buah!" kata Kasino.

"Es...jus buah," kata Indro yang antusias.

"Iya," kata Dono.

Indro dan Dono, ya mengambil es jus buah dari dalam plastik dan segera di minumnya.

"Segarnya," kata Indro.

"Iya, segar," kata Dono.

"Tahu...goreng," kata Kasino, ya sambil mengambil tahu goreng di piring dan segera memakannya.

"Kasino...gimana lari paginya dengan Selfi?" tanya Indro.

"Ya...asik-asik...aja gitu," kata Kasino.

"Oh...asik...toh," saut Indro.

Dono, asik lagi nonton Tv on line, ya acaranya perlombaan sinden.

"Don...nonton apa?" tanya Kasino.

"Sinden," jawab Dono.

"Oh...sinden. Tapi...kok...aneh hari ini Don, nonton acara sinden?" saut Kasino.

"Ya....suasana..hari..ini, aku memilih...nonton acara sinden. Tujuannya....memahami seni budaya saja," penjelasan Dono.

"Oh...begitu toh," saut Kasino.

Kasino pun minum es jus buahnya.

"Kasino, mau pendapat...kamu tentang cewek?" kata Indro.

"Pendapat aku tentang cewek, apa itu?" kata Kasino.

"Kalau cewek jomblo....lebih menunjukkan dirinya gitu. Maksudnya gerak geriknya, agar di terima sama cowok yang di sukai cewek jomlo?" kata Indro.

"Ya....memang iyalah. Dari pola cewek itu bicara ke cowok, menatap ke cowok, espresi...wajahnya dan paling utama sih mulai deh...lebih agresif gitu...mau nempel sama cowok, ya dengan alasan gak sengaja atau sengaja alias modus," penjelasan Kasino.

"Bener...omongan....Kasino. Modus...nya cewek agar bisa jadi sama cowok yang di sukai," saut Dono yang tegas, ya sambil nonton Tv on line di Hp.

"Kalau...itu bener..cewek yang di temui aku kemarin, ya ada gejalanya...sama yang di omongin Kasino. Wah modus. Untung saja...aku tipe setia sama pacar, jadi tidak masuk perangkap cewek tersebut. Tapi ada teman aku, yang memanfaatkan keadaan itu. Ya jadinya selingkuh," kata Indro.

"Kalau selingkuh sih gak usah di omongin. Yang pacar bisa selingkuh apalagi yang sudah menikah," kata Kasino yang tegas.

"Ya...udah gak perlu di bahas lagi, lebih baik aku main PS 4," kata Indro.

Indro, ya beranjak dari duduknya bersama Dono, ya ke ruang tengah untuk main PS 4. Kasino pun beranjak juga dari duduk bersama Dono di ruang tamu, ke kebelakang untuk berbenah diri, baru setelah itu main PS 4 bersama Indro. Dono tetap serius mempelajari tontonan yang ia tonton di Hpnya, ya tentang perlombaan sinden.

"Bagus......musik yang mengirinya dan juga olah vokalnya peserta sinden," celoteh Dono.

Dono pun menonton perlombaan sinden, ya sampai selesai baru setelah itu nonton wayang kulit, ya tetap nonton di Tv on line di Hpnya. Dono terus santai di rumah di hari minggu yang tenang banget-banget.

Friday, February 21, 2020

BISA DI BILANG SIH!!!

Dono santai duduk di halaman belakang sambil baca buku tentang kerajaan masa lalu. Kasino asik, main game PS 4  sendirian di ruang tengah. Indro selesai masak di dapur, ya segera duduk bersama Dono di halaman belakang sambil membawa bakwan goreng yang masih anget.

"Makan...Don!" kata Indro sambil menaruh piring yang berisi bakwan goreng di meja.

"Iya," kata Dono.

Dono pun menaruh bukunya di meja dan mengambil bakwan goreng, ya segera di makan. Indro mengambil buku yang di baca Dono, ya dari atas meja. Dengan seksama Indro membaca buku tentang kerajaan. Dono, ya menikmati bakwan goreng.

"Enak, Indro....bakwan goreng buatan kamu.," pujian Dono.

"Iya, terima kasih Don," saut Indro yang masih asik baca buku tentang kerajaan.

Dono mulai seret makan bakwan goreng, ya segera berlari menuju kulkas berada. Ya segera Dono mengambil minuman teh botol di dalam kulkas dan meminumnya. 

"Segernya," kata Dono.

Dono pun kembali ke halaman belakang, ya dengan membawa teh botol...dua gitu. Saat Indro haus, ya Dono memberikan satu botol yang di bawanya. Indro segera meminum teh botol tersebut.

"Seger," kata Indro.

Dono, ya menaruh botol minumnya di meja dan segera mengambil bakwan goreng di piring. Saat Dono mau memakan bakwan goreng. Kucing kesayangan Indro, ya dateng mendekati Dono. Tanpa pikir panjang sih, Dono memotong bakwan goreng jadi dua dan segera di berikan ke Kucing. 

"Bagi-bagi...makan," kata Dono.

Kucing yang makan bakwan goreng di lantai dengan serius banget, nama juga binatang.

"Don," kata Indro.

Dono yang asik makan bakwan goreng, ya saut "Apa?".

"Berita...tentang kerajaan masih ada apa tidak?" tanya Indro.

"Gak...ada lagi, karena berita tentang kerajaannya...sudah habis untuk di bahas. Kalau....sinetronnya masih...ada. Sinetron Kembalinya Raden Kian Santang," kata Dono.

"Apa pendapat mu dengan Sinetron Kembalinya Raden Kian Santang?" tanya Indro.

"Bagus...aja sih," jawab Dono.

"Bagus toh. Oh...iya Don. Agama..bisa di bilang kerajaan Tuhan?" kata Indro.

"Ya...benar sih. Agama bisa di bilang kerajaan Tuhan. Maka itu banyak Agama yang berkembang di Indonesia ini....terus menggalakkan dakwahnya untuk menunjukkan kebenaran Agama masing-masing. Tetap...aja ada benturan dari beda Agama. Maka itu Agama di Indonesia di atur dalam Undang-Undang....agar tidak terjadi benturan....pemahaman. Kalau, jadi benturan pemahaman yang kacau, maka akan tersulutlah api peperangan. Jadilah perang Agama atau juga di sebut perang Kerajaan Ketuhanan dengan bawa bendera masing-masing sesuai Agama yang dianut," penjelasan Dono.

"Wah...kacau. Kalau sampai perang Agama. Jadinya neraka kehidupan," kata Indro.

"Maka..itu pentingnya pertahanan di dalam negeri di kuatkan. Ya militerlah...yang bergerak untuk menentramkan semua itu. Tujuannya...jangan sampai terjadi perang di dalam negeri," kata Dono.

"Bener....kamu, Don. Militer harus kuat berdasarkan komando dari pemimpin yang memegang kemiliteran...agar menjaga stabilitas keamanan di dalam mau pun dari luar. Bisa...aja. Pemahaman...dari luar atau asing, bisa aja pemicu...peperangan di dalam negeri..ya kan Don?" kata Indro.

"Ya...bisalah. Karena paling di khawatirkan itu. Pemahaman dari luar tersebut, ya ngomporin agar terjadi perang di dalam negeri. Maka itu pentingnya disini.....saling menghormati Agama, Suku dan lain sebagainya....agar tidak memicu....peperangan. Hidup jadi...damai deh," kata Dono.

"Kalau...tenangkan. Bisa santai baca buku, ya sambil makan bakwan goreng," kata Indro.

"Benar seratus persen," kata Dono.

Indro pun kembali membaca buku, ya tentang kerajaan. Dono asik makan bakwan goreng dan juga baca buku lain, ya komik. Kasino, tetap asik main game PS 4 di ruang tengah.

Wednesday, February 19, 2020

TIDAK ADA YANG BERUBAH

Dono asik duduk di ruang tamu, ya sambil minum teh anget. Indro yang selesai nonton Tv, acaranya berita gitu segera Tv di matikan pake remot. Jadi Indro pindah duduknya ke ruang tamu.

"Sistem pemerintahan di Indonesia....gak perubahan...ya!" kata Indro.

"Ya...iyalah gak ada perubahanlah....dari dulu sampe sekarang. Walau...berganti-ganti Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota....tetap...begitu aja. Struktur sistem pemerintahannya cuma gitu-gitu aja. Gak ada perkembangan. Monoton," kata Dono.

"Padahal...ada Undang-Undang...baru yang lagi di godok, agar segera di terapkan," kata Indro.

"Itu...mah biasa..biasa...buat Undang-Undang..ini dan itu para elit pemerintahan. Nanti juga yang paling banyak melanggar mereka sendiri yang buat," kata Dono.

"Kok....begitu?" tanya Indro.

"Undang-Undang di buat untuk di langgar. Karena awalnya gak ada Undang-Undang, lebih tepatnya peraturan. Kebanyakan sih rakyat kecil tidak terlalu banyak tahu peraturan yang dibuat, ya lebih banyak terjebak keadaan ini dan itu," kata Dono.

"Wah...kacau itu...mah kalau rakyat kecil kejebak peraturan yang di buat elit pemerintahan, karena tidak peraturan atau Undang-Undang..itu telah buat...." kata Indro.

"Kenyataannya seperti itu. Kadang penegak hukum ada yang sewenang-wenang....dalam menegak hukum, berdasarkan peraturan yang ada," kata Dono.

"Bener-bener....kebelinger," kata Indro.

"Ya...begitulah adanya," saut Dono.

Indro pun beranjak lagi duduknya bersama Dono.

"Mau...kemana...Indro?" tanya Dono.

"Mau....masak...nasi goreng laper," kata Indro.

"Ooooo," saut Dono.

Indro pun ke dapur, ya segera mengambil bahan-bahan di kulkas dan segera deh di buat nasi goreng. Dono, ya tetap asik minum teh angetnya. Kasino pun baru pulang dari urusan kerjaannya.

"Asalamualsikum," salam Kasino.

"Waalaikumsalam," saut Kasino.

Kasino, ya duduk sih di ruang tamu sambil menaruh plastik kresek berwarna putih berisi gorengan.

"Don...gorengan," kata Kasino.

"Iya," saut Dono.

Kasino, ya mengambil bakwan di dalam plastik kresek....segera di makannya. Dono pun menaruh gelas tehnya di meja dan mengambil tahu isi di dalam plastik kresek dan segera memakannya.

"Emmmm....enak," kata Dono

Kasino beranjak dari duduk dengan Dono di ruang tamu, ya ke kamar sih untuk berbenah diri. Indro pun selesai membuat nasi goreng, ya segera menyantapnya di meja makan dengan penuh kenikmatan. Dono, ya terus makan gorengan sambil minum teh anget. Kasino yang selesai berbenah diri, ya menyetel Tv di ruang tengah dan segera mencari chenel Tv....yang acaranya menarik. Kasino akhirnya memutuskan untuk nonton wayang orang. Dengan asik Kasino menonton...wayang orang..di Tv.

Dono pun menyelesaikan makan gorengannya dan minum teh anget, jadi membawa plastik berisi gorengan ke ruang tengah....dan di taruh di meja dekat...Kasino. Dono pun membawa gelasnya tehnya ke kebelakang untuk di cuci bersih.

Selesai mencuci gelas. Dono melihat wajan...ada nasi goreng.

"Indro, masak...nasi gorennya banyak...ya?" tanya Dono dengan suara keras.

"Iya, sengaja masak banyak nasi gorengnya," kata Indro dengan suara keras.

Dono pun segera mengambil piring dan di centongin nasi goreng ke piring. Ya setelah itu Dono, ya makan nasi goreng di meja makan bersama Indro. Ternyata Indro, ya selesai makan nasi goreng dan piringnya segera di cuci bersih di belakang. Baru deh Indro nonton Tv dengan Kasino di ruang tengah, ya acaranya wayang orang.

Dono pun selesai juga makan nasi goreng buatan Indro, ya segera di cuci piringnya di belakang. Baru setelah itu, biasalah...duduk bersama Kasino dan Indro di ruang tengah untuk nonton Tv.

"Wayang orangnya belum selesai toh?" kata Dono.

"Jalan...ceritanya panjang dan bagus lagi," kata Kasino.

"Ya...kalau..gitu, gak perlu ganti chanel lain...untuk nonton acara yang lain," kata Dono.

"Gak...usah..ini..aja!" kata Kasino.

"Idem," saut Indro.

"Ok," saut Dono.

Dono, Kasino dan Indro.....ya asik nonton Tv yang acaranya wayang orang.

KENAPA YA?

"Aku terdiam seribu bahasa. Air mata ku mengalir ke pipi ku. Rasa kehilangan itu menggoncang jiwa ku. Aku rapuh dan rapuh banget. Kekasih ku telah tidur selamanya. Diri ini tidak percaya, tapi harus percaya dengan keadaan," kata hati Bunga.

Bunga pun di sadarkan dari lamunan panjangnya oleh Dinda. Lalu Bunga pun memeluk Dinda.

"Ia telah pergi...untuk selamanya," kata Bunga.

"Ikhlaskan jalan...dia untuk selamanya. Bunga kamu harus kuat menghadapi kenyataan hidup ini. Demi buah hati mu yang paling berharga," nasehat Dinda.

"Iya...aku..ikhlas kepergian kekasih ku yang tercinta...untuk tidur selama-lamanya," kata Bunga.

Bunga tenang dan melepaskan pelukannya pada Dinda. Arsat yang telah tidur selamanya di tempat tidurnya di urus keluarga untuk di makamkan secepatnya.

***

Dono pun berhenti menulis di buku tulisnya.

"Kenapa aku menulis tentang Bunga...ya?" kata Dono.

"Kenapa...kamu berhenti...menulis di buku...Don?" tanya Kasino yang sambil main game on line di Hpnya 

"Aku....bimbang saja," jawab Dono.

"Bimbang....kenapa? Oh...mungkin omongan kamu tadi....iya...Don. Aku...mengerti. Kenapa kamu...mengangkat nama Bunga...dalam tulisanmu dibuku tulis itu? Paling...karena melihat tontonan di Tv seorang Bunga yang kehilangan kekasihnya. Sama sih kedudukannya dengan mu...Don, kehilangan kekasih. Tetapi...bedanya. Bunga..itu lebih beruntung...karena telah menjalankan hidupnya dengan kekasihnya itu dan mendapatkan cinta yang berharga, ya anak. Sedangkan diri...mu...Don, tidak dapet apa pun dari orang yang kamu cintai, ya keburu meninggal di usia muda," penjelasan Kasino, ya sambil main game on line.

"Benar  kamu, Kasino. Ya...lebih baik aku berhenti menulis saja," kata Dono.

"Terserah...kamu, Don. Yang menjalankan...kamu, Don," kata Kasino, sambil main game on line.

Dono pun beranjak dari duduknya di ruang tamu dan meninggalkan buku tulisnya dengan pena di geletakkan begitu saja di meja. Indro yang asik nonton Tv, ya Dono duduk bersama Indro untuk nonton Tv yang acaranya sinetron cinta.

"Rasa itu timbul membuat ku gelisah. Tanda tanya banyak dan ingin bertanya. Kenyataannya aku hanya diam saja dan berharap ia yang datang dan berkata tentang cinta," celoteh Dono.

"Don...ngomong apa....Don, ya sedikit aneh saja?" tanya Indro.

"Aku...hanya...menggunakan data kepribadian cewek untuk melanjutkan cerita aku. Apa tanggapan kamu....Indro?" kata Dono.

"Tanggapan ku. Dari kata-kata yang kamu ucapkan...sih. Agak ribet urusan cinta. Perasaan itu timbul, ya memang bingung sih karena bisa iya atau tidak menyukainya. Selanjutnya....bener penuh dengan tanda tanya karena kalau cewek ingin menyatakan duluan...pasti malunya yang timbul. Ketika cewek itu diam saja, kadang ia berharap orang yang di sukainya...berkata duluan menyatakan cinta. Jadi.....sesuailah...memahami kepribadian cewek," kata Indro.

"Apakah...aku harus...lebih jauh meneliti tentang kepribadian cewek...ya," kata Dono.

"Biasa...aja...Don. Gak perlulah di teliti. Cewek itu lumrah...sifat kepribadiannya. Ya...biasa mengikuti...Ibunya yang mendidiknya dengan baik," saran Indro.

"Oh..begitu. Ya...sudahlah. Nanti aja aku lanjutin nulisnya di buku tulis, tapi aku pikir baik-baik. Ah lupakan saja. Aku cerita, tema yang lain," kata Dono.

Dono pun kembali asik nonton Tv begitu dengan Indro. Kasino pun mengakhiri main game on line di Hpnya dan segera beranjak dari duduknya dari ruang tamu ke ruang tengah, ya ingin nonton Tv bersama Dono dan Indro. 

"Terlihat...aura yang terpancar dari tubuh gadis tersebut. Beriak tapi mempesona. Sungguh cantik dan cantik setiap ia menggerak tubuhnya dengan gaun cantik yang ia pakai," celoteh Dono.

"Don....memuji, atau puitis?" kata Kasino.

"Menurutmu?" kata Dono.

"Munurut...kamu, Indro?" tanya Kasino.

"Iya, puitis yang memuji....seorang cewek sih. Tuh...artis di sinetron..yang kita tonton," kata Indro.

"Jadi...benar..puitis yang memuji, tetap aja ganjil?" kata Kasino.

"Cuma...sekedar aja, Kasino," kata Dono.

"Sekedar bicara. Ok. Tidak ada masalah," kata Kasino.

Dono pun diam, begitu juga Kasino dan Indro ya....diam. Jadinya ketiganya asik menonton Tv yang acaranya sinetron.

Monday, February 17, 2020

HOBY MENANAM

Andi dateng ke rumah Om Dono untuk meminta batang pohon murbei yang ada di halaman depan rumah sebagai tanaman biasa aja bagi Om Dono, ya maka itu batang pohon murbei di berikan ke Andi. Dengan perasaan senang Andi membawa batang pohon murbei tersebut ke rumahnya. Segera Andi menanam batang pohon murbei tersebut di pot.

Setiap hari Andi  merawat tanaman murbei, sampai tumbuh dengan bagus-bagusnya. Andi senang dengan tanaman murbei yang ia tanam, jadi Andi mulai memperbanyak tanaman murbei dari satu batang pohon yang ia pinta dari Om Dono.

Dalam satu tahun, Andi sudah memiliki puluhan tanaman murbei di dalam pot, terang saja hoby. Bobo pun main ke rumah Andi. Saat itulah Andi menunjukkan hobynya ke Bobo. Di halaman belakang rumah Andi, ya Bobo melihat tanaman murbei di dalam pot yang tumbuh dengan bagus-bagusnya.

"Andi....hebat kamu membudidayakan tanaman murbei ini!" pujian Bobo.

"Ya...cuma hoby aja," kata Andi.

"Siapa yang mengajarkan kamu menanam murbei?" tanya Bobo.

"Aku...belajar dari jaringan internet, ya tepatnya Youtobe. Tanaman murbei banyak manfaatnya jadi aku tanam deh," kata Andi.

"Oh...begitu," saut Bobo.

Bobo pun memperhatikan tanaman murbei di pot satu persatu. Bobo pun lebih terkesan lagi tanaman murbei tersebut dan berkata "Andi....kenapa tanaman murbei ini di tanamnya agak sedikit berbeda?"

"Tanaman murbei ini...Bobo. Aku sengaja di tanam seperti ini, di bonsai gitu Bobo," kata Andi.

"Bonsai. Seni menanam tanaman....ya?" kata Bobo.

"Iya," saut Andi.

"Berarti..membonsai murbei...tujuannya nilai ekonomis yang tinggi banget," kata Bobo yang hiperbola.

"Ah..Bobo biasa aja ngomongnya. Cuma sekedar hoby," kata Andi yang sedikit malu.

Bobo pun terus memperhatikan tanaman murbei di dalam pot. Eee ternyata ada tanaman murbei yang mulai berbuah.

"Andi...ini tanaman murbei...kamu mau berbuah nih," kata Bobo.

"Iya, kayanya...sudah...waktunya berbuah," kata Andi.

"Andi, aku jadi tertarik ingin menanam murbei. Jadi aku minta batang pohon murbeinya...untuk aku tanam di rumah, caranya sama seperti kamu," kata Bobo.

"Boleh...kok Bobo. Aku beri satu pot tanaman murbeinya...ya," kata Andi.

"Kan...aku cuma minta satu batang pohon murbei. Bukannya satu pot tanaman murbei yang sudah jadi," kata Bobo.

"Kita...kan teman, jadi aku beri satu pot tanaman murbei untuk kamu. Awalnya...juga tanaman murbei ini....hanya satu batang yang aku pinta dari Om Dono. Aku menamamnya dengan baik, jadi puluhan deh," kata Andi.

"Awalnya satu batang, jadinya puluhan. Hebat....kamu Andi. Hoby yang hebat. Kalau begitu aku terima satu pot ini," kata Bobo.

"Tapi ingat Bobo. Di rawat baik-baik!" kata Andi yang tegas.

"Beres itu mah," kata Bobo.

Bobo pun pamit pulang, ya di persilakan Andi. Dengan senangnya Bobo membawa satu pot tanaman murbei. Selang berapa saat, ada orang yang bertamu ke rumah Andi. Ya..Andi tidak kenal orang yang bertamu ke rumahnya itu. Niat orang bertamu tersebut, eeeee ternyata ingin membeli tanaman murbeinya Andi. Sebenarnya Andi sedikit terkejut sih...karena ada orang yang ingin membeli tanaman murbeinya. Andi berpikir dengan cerdasnya kalau urusan nilai ekonomis. Jadi Andi menjual tanaman murbei, malahan yang di beli adalah bonsai tanaman murbei. Orang yang membeli tanaman murbei pun meninggalkan rumahnya Andi. Ya Andi pun senang dengan mengipas-ngipas uang...hasil penjualan tanaman murbei dan berkata "Laris manis. Hoby....ternyata menguntungkan".

Andi pun menyimpan uang dengan baik, hasil penjualan tanaman murbeinya dan segera merawat tanaman murbei di pot, yang lagi di buat bonsai lagi.

Bobo pun sampai di rumahnya, ya biasa pot tanaman murbei di taruh di teras rumah. Ibu melihat Bobo menaruh pot tanaman murbei, ya di biarkan saja. Semenjak itu juga, ya Bobo...selalu merawat tanaman murbei di pot sampai berbuah dan menikmati buah murbei yang enak. Kadang Ibu...memetik daun murbei, yang kata orang-orang bermanfaat untuk mengobati ini dan itu. Bobo pun senang dengan tanaman murbei, yang banyak manfaatnya.

Saturday, February 15, 2020

SAMA AJA!!!

Bagong duduk di pinggir toko yang tutup, ya bersama Petruk. Begong melihat keadaan sekitar dengan baik.

"Pembangunan lagi dan lagi di daerah sini," kata Bagong.

"Nama...juga orang punya uang. Ya bangun pertokoaanlah. Nantinya di sewain," kata Petruk.

"Banyak uang...ya, orang yang bangun pertokoan itu," kata Bagong.

"Iyalah. Kabarnya mantan pejabat. Asetnya yang tidak bergerak sekarang di gerakkan, tanah..itu yang di bangun pertokoan. Itu semua....di jalankan jenis usaha itu, karena banyak anak....banyak tuntutan. Apalagi...anaknya sudah berkeluarga, ya tuntutannya warisan orangtua. Masih hidup sudah di tuntut warisan sama anaknya apalagi....matinya," cerita Petruk.

"Bener-bener hidup....jadi kaya...tujuannya untuk keluarganya...yang haus kekayaan untuk hidup enak alias gak mau susah. Oh iya...mantan pejabat tersebut...pernah terdengar korupsinya gak?" kata Bagong.

"Ya...ada sih kabar isunya di masyarakat tentang mantan pejabat tersebut, yang membangun kariernya era Presiden Soeharto. Tapi...kan semua hanya sekedar isu saja. Sampai sekarang....mantan pejabat tersebut terus aja jalan hidupnya ya...gak ada masalah tuh. Namanya juga isu, bisa benar...bisa salahnya," kata Petruk menjelaskan semuanya.

"Oh..begitu," saut Bagong.

Gareng pun melihat Bagong dan Petruk yang duduk di depan toko yang tutup, ya di hampiri. Motor pun berhenti, ya Gareng memanggil Bagong dan Petruk untuk ikut pulang bersamanya. Ya Bagong dan Petruk....ikut Gareng untuk pulang ke rumah.

Gareng pun membawa motor dengan baik dengan dua penumpang di belangnya, Bagong dan Petruk. Selang berapa saat sampai di rumah. Ya Bagong duduk santai di teras rumah dan melihat sekeliling lingkungan. Gareng masih ada ke perluan jadinya, ya pergi dengan membawa motornya menuju tujuannya. Petruk, ya nemanin sih Bagong duduk di teras depan.

"Wah...ada yang bangun rumah ya," kata Bagong yang iseng bicara aja.

"Kan dari...kemarin Pak Karto lagi bangun rumahnya," kata Petruk.

"Iya...sih. Aku tahu. Tapi bangunan rumah Pak Karto itu gak berubah.....tetap seperti gubuk derita aja," kata Bagong.

"Namanya..juga Pak Karto itu orang miskin. Ya otomatis membangun rumahnya ala kadarnya," kata Petruk yang menegaskan.

"Ia...sih..aku tahu. Pak Karto...orang miskin. Tapi Pak Karto itu...banyak anak, jadi banyak masalah," kata Bagong.

"Bagong....nama juga manusia. Kaya...aja di ribetin masalah anak ini dan itu, apalagi...miskin," kata Petruk.

"Ya...sudahlah. Jangan di bahas lagi. Kedudukannya sama....kerjaannya buat anak. Banyak anak....banyak tuntutan, yang pada akhirnya banyak...masalah," kata Bagong.

"Iya...iya...iya," saut Petruk.

Bagong dan Petruk, ya mengakhiri pembicaraan di teras depan. Saat mau masuk rumah. Gareng pulang dari urusan kerjaannya dengan membawa durian.

"Ayo...kita makan durian!" kata Gareng.

"Ayo," saut Bagong dan Petruk bersamaan.

Bagong, Gareng dan Petruk masuk rumah untuk menikmati makan durian yang enak banget.

KEMPING

Malam yang tenang sekali. Dono melihat pemandangan langit yang bertabur bintang. Dono pun menulis di buku tulisnya "Aku Cinta Alam Sekitar", lalu kertas pun di sobek dan di buatlah pesawat kertas. Dono pun melempar pesawat kertas dengan sekuat tenaga. Terbanglah pesawat tersebut di bawa oleh aliran udara.

Indro yang selesai membuat minuman yang hangat, ya di bawa ke tempat Dono yang sedang duduk sambil memandang langit yang cerah. 

"Kopi....Don," kata Indro memberikan cankir yang berisi kopi panas ke Dono.

"Iya," kata Dono sambil mengambil cangkir yang berisi kopi dari tangan Indro.

Dono dan Indro pun minum kopi yang masih panas untuk menghangatkan tubuh, ya memang keadaan dingin karena kemping di atas bukit.

"Tenang...ya Don.....disini," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Dono dan Indro pun terus minum kopi yang panas, ya sambil memandang langit cerah bertabur bintang. Kasino keluar dari tenda dan mengambil cangkit dan menuangkan tekok yang berisi kopi.

"Baunya...harum," kata Kasino.

Kasino pun meminum kopi yang panas itu, ya pelan-pelanlah.

"Enak...kopi ini. Tubuh ku juga hangat," kata Kasino.

Kasino pun bergerak menuju Dono dan Indro, ya sedang duduk santai sambil memandang langit yang cerah bertabur bintang dengan di temanin secangkir kopi yang panas.

"Don, Indro...gak ada sinyal di sini. Aku...tidak bisa main game on line," kata Kasino sambil duduk bersama Dono dan Indro.

"Kan.....jauh dari kota, ya wajar aja gak ada sinyal," kata Dono.

"Iya...sih," saut Kasino.

"Hidup...ini tenang...ya," kata Indro.

"Iya, jauh dari keberisikkan dunia...ini. Yang memberitakan ini dan itu. Padahal kenyataannya.....disini, serasa ingin hidup ratusan tahun," kata Dono.

"Iya....benar...kamu...Don. Banyak penyakit ini dan itu yang berkembang karena faktor ini dan itu. Tapi ketika kita kemping di atas bukit. Kenyataan alam..ini benar-benar indah dan tenang," kata Kasino.

"Ya....lebih tenang lagi, tidak di recokin...urusan perasaan berkaitan dengan cewek. Hidup lebih tenang di sini," kata Indro.

"Gak...salah..kamu Indro..punya ide...kemping. Untuk menghilangkan kepenatan hidup saja," kata Dono.

"Ide..itu cuma muncul saja dan kita menjalankan dan akhirnya menikmati ketenangan," kata Indro.

"Ini...lah...hidup yang benar. Terbebas....dari hal-hal yang membuat kita harus terbebanin keadaan karena demi ini dan itu," kata Kasino.

"Ya...nama juga hidup...di kota. Ya...banyak hal yang ini dan itu, ya banyak repotnya," saut Indro.

"Benar sekali," kata Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro terus menikmati malam yang tenang sambil minum kopi yang panas untuk menghangatkan tubuh mereka bertiga. Sampai waktu terlalu larut, ya ketiganya istirahat di dalam tenda dengan penuh ketenangan.

Thursday, February 13, 2020

DEWI BUNGA

Indro menemukan sebuah amplop di atas meja saat ia santai di ruang tamu untuk menikmati minum kopi. Ya Indro ingin membuka amplop tersebut dan segera mengambilnya di meja. Dono, ya biasa selesai urusannya mengetik di leptop dan keluar kamarnya dan melihat Indro yang sedang mengambil amplop di meja. Dono pun, ya duduk bersama Indro.

Indro perlahan-lahan membuka amplop dan ada selembar kertas yang ingin di bacanya. Kasino, ya selesai urusan main game on line di teras depan untuk santai gitu....dan masuk ke dalam rumah, ya duduk bersama Dono dan Indro.

Indro pun membaca isi kertas tersebut dengan seksama. Tiba-tiba tulisan di dalam kertas tersebut adalah mantra pemindah waktu. Ya lingkaran energi melingkari.....Dono, Kasino dan Indro...dengan sekejap ketiganya sudah di tengah hutan.

"Kenapa kita ada di hutan?" kata Dono.

Kasino memperhatikan sekeliling benar-benar hutan dan berkata "Hutan...belantara gimana bisa kita berada di sini?"

"Jangan-jangan....karena aku membaca tulisan di kertas ini," kata Indro.

"Coba aku lihat," kata Dono.

"Iya...aku...ingin lihat juga," kata Kasino.

Dono dan Kasino melihat tulisan di kertas.

"Kacau....ini mantra pemindah waktu," kata Dono.

"Sudah nasi jadi bubur, ya kita harus menyelesaikan misi untuk kembali pulang ke rumah!" kata Kasino.

"Berdasarkan tulisan di kertas, kita harus mencari Bunga Teratai Emas!" kata Dono.

"Bunga Teratai Emas, bunga langka. Ayo kita cari agar cepat pulang," kata Indro.

"Ayo!!!" saut Kasino.

"Ayo!!!! juga....!!!!" saut Dono.

Dono, Kasino dan Indro pun sepakat untuk mencari Bunga Teratai Emas.  Ketiga bekerja sama yang baik saat berjalan menyelusuri hutan belantara. Sampai akhirnya ketiganya menemukan jalan setapak yang di gunakan manusia. Dengan mengikuti jalan setapak itu, Dono, Kasino dan Indro sampai juga di sebuah padepokan silat. 

Seorang guru tua banget gitu sedang berlatih ilmu silatnya dan ketika guru tersebut mengerahkan kemampuan tenaga dalamnya muncul Bunga Teratai Emas yang terbang di atas kepalanya.

Dono, Kasino dan Indro...tidak sengaja melihat Bunga Teratai Emas tersebut dan berkeinginan untuk mengambilnya....agar bisa kembali ke rumah. Ya...ternyata Dono, Kasino dan Indro di tangkap oleh penjaga padepokan dengan tuduhan penyusup. Dono, Kasino dan Indro di hadapkan ke guru padepokan silat.

Di hadapkan sang guru. Dono berkata jujur banget, tujuannya Bunga Teratai Emas. Guru padepokan, ya marah sih...cuma gertak sambel aja. Guru tersebut....ya menyuruh Dono, Kasino dan Indro untuk mengambil Bunga Teratai Emas dari tangan sang guru silat.

Dono, Kasino dan Indro....dengan tidak sungkan-sungkan bertarung dengan guru silat. Ketiganya menyatukan kombinasi jurus silat, ya berdasarkan asal usul ketiganya. Dono terus mengerahkan jurus macannya ke guru silat demi mendapatkan Bunga Teratai Emas. Kasino mengerahkan jurus ular ke guru silat, ya demi mendapatkan Bunga Teratai Emas. Indro, ya mengerahkan jurus kera untuk mendapatkan Bunga Teratai Emas dari tangan guru silat.

Usaha ketiganya, bisa di bilang bisa mendesak guru silat tersebut. Ketika guru silat mengerahkan jurus silatnya dengan perpaduan tenaga dalam yang luar biasa dan guru berkata "Jurus pukulan naga".

Dono, Kasino dan Indro pun menghindari serangan tersebut agar tidak terluka. Saat ada celah. Dengang jurus kera melompat dan langsung mengambil Bunga Teratai Emas yang melayang di udara, karena penjagaan si guru lengah....saat mengerahkan jurus andalannya uang hebat itu.

"Aku berhasil," kata Indro yang mendapatkan Bunga Teratai Emas.

Guru silat ya....tidak ingin di bilang kalah begitu saja, karena malu dengan muritnya yang menonton pertarungan tersebut...jadi sang guru silat langsung bergerak cepat ke Indro dan segera merampas Bunga Teratai Emas. Tapi Dono dan Kasino tidak tinggal diam, ta segera menghadang si guru silat agar tidak mengambil Bunga Teratai Emas yang sudah di pegang Indro. Guru silat terus saja menyerang dan berhasil menendang Bunga Teratai Emas.

Ya Bunga Teratai Emas....terpental jauh. Dono, Kasino dan Indro mengejar Bunga Teratai Emas dan juga guru silat. Bunga Teratai Emas, eeeee mencelok di tangan seorang gadi cantik yang sedang berjalan menuju rumahnya.

"Bunganya ada di tangan gadis cantik itu," kata Dono.

"Iya," saut Kasino dan Indro bersamaan.

"Apa jangan...takdirnya Bunga Teratai Emas....tersebut di tangan gadis cantik itu," kata guru silat.

Dono, Kasino dan Indro....ya mendekati gadis tersebut....begitu juga dengan guru silat. Dono dan kawan-kawan meminta baik-baik Bunga Teratai Emas tersebut. Sang gadis cantik yang baik memberikan Bunga Teratai Emas ke Dono dan kawan-kawan. Ya guru silat mengakui kekalahannya.

Dono dan kawan-kawan senang mendapatkan Bunga Teratai Emas, tapi ternyata Bunga Teratai Emas tidak mempengaruhi keadaan ketiganya untuk kembali ke rumah. Dono, Kasino dan Indro ya pusing jadinya. 

Indro pun kesempatan untuk berkenalan dengan gadis cantik tersebut dan akhirnya tahu....siapa nama gadis cantik tersebut "Dewi Bunga".

"Dewi...Bunga, jangan-jangan..kamu pemilik...Bunga Teratai Emas yang sebenarnya," kata Dono.

"Maksudnya apa Don?" kata tanya Indro.

"Bener...juga omongan Dono, jangan-jangan....ini takdir Dewi Bunga...mendapatkan Bunga Teratai Emas," kata Kasino.

"Menurut...kalian berdua benar, ya sudahlah Bunga Teratai Emas....telah menemukan tuan yang baru," kata guru silat.

Dono pun memberikan Bunga Teratai Emas ke Dewi Bunga.Ya terjadilah sesuatu Dono dan kawan-kawan, ya lingkaran energi muncul dan langsung mengembalikan ketiganya ke rumah. Guru silat ya terkejut sih melihat tiga pemuda yang jago silat menghilang begitu saja, tapi tidak di ambil pusing....malahan mengangkat murit baru yang takdirnya memiliki Bunga Teratai Emas. Ya Dewi Bunga, ya dengan senang hati menjadi murit guru silat.

Dono, Kasino dan Indro...ya senanglah berada di rumah. Seperti biasa menjalankan aktivitas seperti biasanya.

***

Indro selesai mengetik cerita di Blognya Dono, ya untuk menghilangkan kejenuhannya. Dono, ya membaca ketikan Indro.

"Bagus...ceritanya," pujian Dono.

"Terima kasih...Don," saut Indro.

Dono pun segera mempublikasikan tulisan tersebut. 

"Beres....," kata Dono.

Dono pun mematikan leptopnya. Kasino yang asik nonton vidio musik dangdut, Lesti yang terbaru  di Hpnya dan berkata "Bagus banget".

"Kasino nonton apa?" tanya Indro.

"Vidio musik dangdut, Lesti yang terbaru" kata Kasino.

"Oh.....vidio musik dangdut, Lesti yang terbaru...ya menurut aku...sih bagus penampilan Lesti yang cantik dan anggun, kaya Dewi Bunga," pujian Indro.

"Pujian...yang hebat, Indro....ke Lesti penyanyi dangdut," saut Dono.

"Omongan kamu...Indro, benarlah...Lesti yang cantik dan anggun, kaya Dewi Bunga," kata Kasino yang sepakat dengan omongan Indro.

Kasino pun selesai nonton vidio musik, ya kembali main game on line di Hpnya. Dono, ya ke kamarnya untuk menaruh leptop di meja belajarnya dan setelah itu baca buku kesukaannya, ya sambil tiduran di tempat tidur. Indro, bergerak dari ruang tamu ke ruang tengah dan segera menyetel Tv dan memilih chenel yang ada musik dangdutnya dan yang terpilih adalah chenel JTv. Indro pun dengan asik nonton musik dangdut.

Sunday, February 9, 2020

AKTING

Indro menonton film di Hpnya, ya terbawa arus cerita film ketika tokoh wanita menangis tersedu-sedu karena di khianatin suaminya yang berselingkuh dengan PSK. Indro pun menetes air mata dan berkata "Kasihan nie...cewek di sakiti.....suaminya".

Dono melihat Indro yang meneteskan air mata, ya berkata "Kenapa kamu Indro. Kok nonton film sampe meneteskan air mata?".

Indro pun menghapus air matanya dengan tangan kanannya. 

"Ah...cuma kelilipan," kata Indro.

"Kelilipan...kok espresinya....beda. Ngeles...ya..Indro. Kalau terbawa suasana cerita film....akui saja dengan jujur," kata Dono.

"Bohongnya ketahuannya. Jadi aku kurang...akting..menutupi yang sebenarnya," kata Indro.

"Kurang...banget. Espresinya...kurang," kata Dono.

"Ya...sudahlah. Aku memang terbawa suasana film yang aku tonton di Hp ku. Sedih juga....ya...kalau cewek di khianatin sama suaminya. Kok bisa tega gitu...ya...suaminya mengkhianatin istrinya sampai main dengan PSK," cerita Indro.

"Nama..juga cerita film di buat seironis mungkin. Kalau.....penontonnya terbawa suasana film sampai menangis dan tertawa. Berarti pembuat film berhasil mempengaruhi...keadaan psikologis....penonton," penjelasan Dono.

"Bener juga kamu...Don. Aku terpengaruh...keadaan. Berarti...sama kedudukannya orang yang mendengarkan lagu yang bagus, jadi terbawa suasana jadinya menangis?" kata Indro.

"Iya..sama. Sudahlah jangan di bahas," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono menghentikan mengetik di leptopnya dan bergerak ke kamar untuk menaruh leptop di meja belajar dan segera keluar dari kamar ke ruang tengah untuk menonton Tv, ya Tv di hidupkan...lah. Indro yang masih asik nonton film di Hpnya dan akhirnya selesai....juga dengan ending yang bagus dari film tersebut.

Indro pun bergerak ke ruang tengah dan duduk bersama Dono untuk menonton Tv. Kasino yang selesai urusannya....ya mengerjakan pekerjaannya di leptopnya dan sudah simpan, ya segera di matikan leptop tersebut.

"Beres....semuanya," kata Kasino.

Kasino pun keluar dari kamar untuk membuat mie rebus di dapur, ya selang berapa saat jadi mie rebus....ya di makan Kasino dengan nikmat di meja makanlah.

"Acara..Tv..ini bagus ya...Don," pujian Indro.

"Iya. Tapi itu...semua akting...semua terlihat dari espresi....tokoh yang memainkan perannya," penjelasan Dono.

"Berarti...mereka...berhasil dalam penjiwaan peran yang di jalan tiap tokoh pemain," kata Indro.

"Iya...berhasil...lah. Aku pun terbawa suasana. Tertawa ketika tokoh tersebut bertingkah lucu. Tapi...kalau tokoh tersebut...menangis, ya aku...tidak bisa menangis...karena aku tidak meresapi..alias gak bisa menangis," penjelasan Dono.

"Kok...aku...bisa..semuanya," kata Indro.

"Indro....karakter dirimu..itu perasa. Ya...sensitif gitu. Mungkin bawaan," kata Dono.

"Mungkin...juga,"

"Mungkin..juga. Kenyataanya...beneran. Jadinya pasti," tegas Dono.

"Iya...deh aku akui," kata Indro.

Dono dan Indro kembali fokus pada tontonan di Tv. Kasino, selesai makan mie 
gitu dan segera duduk bersama Dono dan Indro untuk menonton Tv di malam senin yang tenang banget.

Saturday, February 8, 2020

MENANGGAPI SATU HAL

Dono sedang santai di ruang tamu, ya sambil nonton film Ultramen di Hpnya...di hari minggu yang tenang banget. Kasino, ya biasa sih asik main game on line. Indro yang sibuk masak di dapur, ya selesai juga memasak dan segera duduk bersama Dono dan Kasino di ruang tamu.

"Don!" kata Indro.

"Apa?" saut Dono.

"Aku...ingin tanggapan kamu tentang sesuatu hal yang biasa di bicarakan remaja sekarang ini!" kata Indro.

"Apa itu?" kata Dono.

"Ngomong aja....jangan terlalu banyak basa basi Indro," kata Kasino yang sibuk main game on line.

"Pola omongan remajanya seperti ini 'Pacaran aja yang bertahun-tahun bisa...putus apalagi pernikahan?' Apa tanggapan kamu...Don?" kata Indro.

"Oh itu. Memang sih terlalu sering omongan tersebut ' Pacaran yang bertahun-tahun bisa putus apalagi pernikahan' Ya...semua itu tergantung yang menjalankan, bisa gak menjaga nilai satu kepercayaan yaitu 'Kesetian'," penjelasan Dono.

"Kesetian...pada janji dalam hubungan," saut Indro.

"Iya....bener omongam Dono...itu. Kesetian. Tapi kebanyakan orang yang putus karena pacaran dan pernikahan....semuanya tidak bisa menjaga janji...tersebut. Kadang jika seorang sudah pacaran atau menikah pun ada pihak yang lain....yang berharap yang menjalankan pacaran atau pernikahan pisah. Tujuannya berharap banget jadian gitu dengan pihak yang pacaran atau yang menikah. Lebih tepatnya sih ganti pasangan dan cenderung negatifnya.....sih. Ya perselingkuhan yang di rencanakan atau tidak di rencanakan," tambahan penjelasan Kasino, ya sambil main game on line.

"Oh...begitu. Jadi hubungan yang baik pentingnya menjaga kepercayaan pasangan ketika memutuskan untuk berjanji 'Setia'. Don, Kasino...apakah kalian....tipe cowok setia?" kata Indro.

Dono menghentikan nonton film Ultramen di Hpnya dan Kasino pun menghentikan main game on line di Hpnya.

"Jawabannya...aku tidak setia," kata Dono.

"Aku...pikir-pikir....sama dengan Dono. Tidak setia," kata Kasino.

"Jadi...kalian berdua tipe cowok tidak setia," kata Indro.

"Yo,i....aku bukan orang munafik. Aku bilang setia...maka jadinya setia. Aku bilang...tidak setia...jadinya setia," penjelasan Dono.

"Idem," saut Kasino.

"Aku...jadi bingung jadinya," saut Indro.

"Gak...usah bingung. Pegangan aja," saut Kasino yang niatnya becanda.

"Malah...ngacok...Kasino," kata Indro.

"Becanda," saut Kasino.

"Setia...itu bukan di mulut saja tapi di jalankan komitmen tersebut sampe mati. Jadi...aku tipe setia atau tidak?" kata Dono.

"Setia...lah. Yang di cintai...Dono, Kan....Wulan sampai akhir hidup Wulan, maksudnya sih meninggal gitu," kata Indro.

"Itu...tahu," saut Dono.

Dono, ya nonton film Ultramen di Hpnya. 

"Gimana dengan kamu Kasino?" tanya Indro.

"Berusaha setia. Nama juga masih pacaran. Aku bisa bilang setia di pihak cowok. Belum tentu di pihak ceweknya....setia, bisa aja...tidak setia. Cewek zaman sekarang....kalau di cari data-data di lapisan masyarakat. Ada juga berkhianat," penjelasan Kasino.

Kasino kembali main game on line di Hpnya.

"Jadi berusaha setia. Aku pun bisa setia. Tapi...bisa juga tidak setia. Alasannya...keraguan hubungan. Mungkin salah aku. Tetapi bisa aku perbaiki. Tapi kalau di pihak ceweknya, ya...agak susah juga...ya. Ah...berpikir positif aja 'Setia'," kata Indro.

"Bagus kalau...sudah mengerti" saut Dono.

"Idem," saut Kasino.

"Jadi...kesimpulannya adalah 'Hidup Itu Pilihan'," kata Indro.

"Benar...sekali," saut Dono.

"Tepat sekali," saut Kasino.

"Ya...sudahlah..jangan di bahas. Ayo!!!!....makan Don, Kasino!!! kata Indro.

"Ayo!!!" kata Dono dan Kasino bersamaan.

Dono menghentikan nonton film Ultramen di Hpnya, ya bergerak ngikutin Indro ke meja makan. Kasino pun menghentikan main game on line di Hpnya dan mengikuti Indro dan Dono, ya ke meja makan. Ketiganya pun makan yang enak di hari minggu yang tenang banget.

KEBERSAMAAN

Langit yang cerah sekali. Dono duduk di halaman belakang ....asik minum teh anget sambil melihat langit yang cerah bertabur bintang. Indro, baru pulang main dari rumah Saskia dengan menbawa gorengan di plastik putih. Indro mencari Dono, ternyata ada di halaman belakang yang asik duduk santai gitu.

Ya Indro pun duduk bersama Dono dan berkata "Don gorengan".

"Iya," saut Dono.

Dono pun mengambil bakwan di dalam plastik dan segera memakannya.

"Enak...bakwan..ini. Beli di mana?" kata Dono.

Indro yang asik makan tahu isi pun berkata "Biasa...di warung Nabila".

"Oh...gitu," saut Dono.

Dono terus menikmati makan bakwan.

"Indro, gak nonton Tv....acara perlombaan musik dangdut ?" kata Dono.

"Lagi...nemenin kamu..
Don. Nonton musik dangdutnya...nanti..aja. Kan ada sistem rekaman," kata Indro.

"Oh...gitu," saut Dono.

"Oh..iya. Don. Siapa yang kamu pilih....yang sedang bertanding musik dangdut dan pada akhirnya namanya digunakan untuk jadi tokoh di tulisanmu...Don?" tanya Indro.

"Pertandingannya musik dangdutnya masih berlangsung dengan baik. 34 propinsi, satu yang aku pilih....tidak aku pilih berdasarkan sama propinsinya dengan diri ku.....jadi di pilih dinilai dari yang terbaik menurutku," penjelasan Dono.

"Berarti masih di seleksi...ya Don?" kata Indro.

"Yo.i," saut Dono.

Dono dan Indro, ya asik lagi makan gorengan. Kasino pun baru selesai dari urusannya sama Selfi, ya mencari Dono dan Indro....ternyata duduk di halaman belakang.

"Jadi kalian ngumpul di sini," kata Kasino.

"Iya," saut Dono dan Indro bersamaan.

Kasino pun duduk bersama Dono dan Indro, sambil mengambil pisang goreng di plastik dan segera di makan Kasino.

"Enak.....beli dimana?" kata Kasino.

"Biasa....beli di warung Nabila," kata Indro.

"Oh...begitu. Tapi tumben....Indro gak nonton Tv?" kata Kasino.

"Nemenin Dono yang santai di halaman belakang....sambil memandang langit bertabur bintang," kata Indro.

"Oh...begitu," saut Kasino.

Ketiga asik menikmati gorengan gitu. 

"Don...tulisan kamu di buat extrim...menyinggung...orang yang membacanya...gak?" tanya Indro.

"Enggak...lah. Cerpen Abstrak...boleh bener boleh juga...enggak," penjelasan Dono.

"Kali...aja ada yang tersinggung," kata Indro.

"Gak ada," tegas Dono.

"Jangan bahas...cerpen melulu, bahas yang lain....apa gitu?" kata Kasino.

"Apa...ya?" kata Indro yang berpikir.

"Politik," saut Dono.

"Kalau politik....jenuh...Don. Yang lain!" kata Kasino.

"Film aja!" saran Indro.

"Boleh..juga," kata Kasino.

"Ya...tapikan..bahas film...sama aja dengan....bahas cerpen ini dan itu," kata Dono.

"Iya...juga...sih...mendekati," kata Indro.

"Bener mendekati," kata Kasino.

"Kalau....gak kita main game aja!" saran Dono.

"Ayo!" saut Kasino dan Indro bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro....ya sepakat untuk main game jadi beresih minum makan di halaman belakang masuk ke dalam rumah. Indro pun menghidupkan Tv dan PS 4.

"Kita main game apa?" tanya Indro.

"Mobil!!!" kata Kasino.

"Iya...mobil aja. Karena ada berita....hits tentang balap mobil," kata Dono.

"Selalu di kaitkan dengan berita ini dan itu...cuma main game aja," kata Indro.

"Jadi...sepakat..gak main game mobilnya!" kata Dono yang tegas.

"Sepakat,"  jawab Indro dan Kasino.

Dono, Kasino dan Indro pun main game PS 4, ya bergantian untuk menikmati malam minggu yang tenang banget.

JEJAK PETUALANGAN

Indro yang mendapatkan surat yang berisi amanah Kakeknya, ya segera pergi menuju rumah tua di tengah hutan bersama Dono dan Kasino. Sampai di pinggir hutan, ya Dono, Kasino dan Indro keluar dari mobil dan segera berjalan masuk hutan kaya....jejak petualangan gitu. Perjalan Dono, Kasino dan Indro...penuh dengan kehati-hatian. Tiba-tiba Indro pun kebelet buang air kecil,

Seekor ular berwarna hitam, ya bergerak ke arah Indro....yang sedang buah air kecil di balik pohon yang rindang.

"Indro, cepat buang air kecilnya. Sebelum sore kita sudah sampai di tujuan!" kata Dono.

"Iya, bentar lagi...," saut Indro.

"Sabarlah..Don," kata Kasino.

"Iya...iya," kata Dono.

Ular pun menunjukkan dirinya di hadapan Indro yang beres buang air kecil.

"Ular....," teriak Indro.

Indro pun berlari dengan cepat untuk menjauh. Ya...Ular sempat menyerang sih, tapi gagal gitu. Dono dan Kasino terkejut dengan teriakan Indro gitu. 

"Ada apa Indro?" tanya Dono.

"Ular yang besar banget," kata Indro.

"Ular...yang besar banget. Sebesar apa?" tanya Dono

"Sebesar apa?" tanya Kasino.

"Gede banget....sebesar Naga," kata Indro.

"Mana mungkin," kata Dono.

"Mana mungkin....," kata Kasino.

"Beneran Ularnya segede....Naga," kata Indro.

"Ah...bohong...Indro," kata Dono.

"Iya...kaya bohongan," kata Kasino.

"Beneran...," Indro menyakinkan teman-temannya.

Ular pun mendekati Dono, Kasino dan Indro. Ketiganya kaget melihat wujud Ular yang besar banget.

"Kabur," kata Dono, Kasino dan Indro bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro pun berlari dengan cepat banget menjauh dari Ular yang besar banget....seukuran Naga.  Sampai di rumah tua, ya segera Dono, Kasino dan Indro menutup pintu rapat-rapat.

"Kaya kita sudah aman dari Ular besar itu," kata Dono.

"Iya," saut Kasino.

"Aman...aman," saut Indro.

"Kita sudah sampai di tujuan. Rumah di tengah hutan," kata Dono.

"Kalau...begitu....tinggal ambil...keris pusakanya," kata Kasino.

"Ayo segera ambil keris pusaka tersebut," kata Indro.

"Ayo!!!" saut Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro pun bergerak ke ruangan di tengah-tengah rumah, yang ada batu besar yang tertancap keris pusaka.

"Itu kerisnya. Ayo kita cabut!" kata Indro.

"Ayo!!!" saut Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro segera berusaha mencabut keris pusaka dari batu secara bergantian, tapi gagal. Tiba-tiba muncul makluk yang menyeramkan, ya kaya hantu penasaran gitu. Dono, Kasino dan Indro, ya ingin kabur sih tapi belum dapet keris pusaka....jadinya memberanikan diri ketiganya untuk menghadapi hantu penasaran. Dono, Kasino dan Indro kocar-kacir di rumah tua, ya di kejar hantu penasaran.

Sampai akhirnya Indro berhasil mencabut keris tersebut dan langsung di gunakan untuk mengusir hantu penasaran. Ya hantu penasaran kalah menghadapi Indro yang sakti madraguna karena kekuatan dari keris yang di pegang Indro.

"Hebat kamu...Indro bisa mengusir...si hantu sialan itu," pujian Dono.

"Iya...hebat kamu Indro," pujian Kasino.

"Indro...gitu," katanya yang membanggakan dirinya.

Dono, Kasino dan Indro pun keluar dari rumah tua tersebut.  Saat pintu di buka. Ular besar di depan pintu.

"Ular...," teriak Dono, Kasino dan Indro bersamaan.

Tiba-tiba Ular yang besarnya sebesar Naga, ya berubah menjadi kecil banget...seukuran Ular yang masih bayi gitu.

"Kalau Ular sekecil ini aku tidak takut," kata Indro yang berani.

"Jangan-jangan karena keris yang kamu pedang Indro," kata Dono.

"Kayanya kekuatan keris pusaka...mengembalikan wujud Ular menjadi kecil," kata Kasino.

Indro pun menggunakan keris pusaka pada Ular yang ukurannya sudah kecil, ya kekuatan keris pun mengubah Ular jadi patung kayu.

"Wah....beneran karena kekuatan keris yang aku pegang ini mengubah Ular jadi patung kayu," kata Indro.

"Ternyata wujud...Ular yang mengejar kita...cuma patung kayu," kata Dono.

"Iya," saut Kasino.

Dono, Kasino dan Indro...segera meninggalkan rumah tua dengan berjalan cepat sebelum kemalaman di hutan. Sampai di mana mobil di parkirkan, ya di jalan masuk hutan....segeralah Dono, Kasino dan Indro masuk mobil. Dono pun membawa mobil dengan baik menuju rumah.

"Aku...senang berhasil mendapatkan keris ini," kata Indro.

"Iya," saut Kasino.

"Mungkin...udah keberuntungan kamu...Indro," kata Dono sambil nyetir mobil.

"Jadi...amanah Kakek ku telah selesai juga. Untuk mengambil keris pusaka yang tersimpan di rumah tua," kata Indro.

Sampai di rumah. Indro pun menyarungkan kerisnya dan menaruhnya di dalam kotak kayu yang terbuat dari kayu jati dan segera di simpan baik-baik di kamar.

Dono dan Kasino....ya nyantai minum kopi di ruang tengah. Indro yang selesai dengan urusannya menyimpan keris di kamarnya, ya segera duduk bersama Dono dan Indro...di ruang tengah untuk menikmati kopi yang enak banget.

***

Kasino, pun selesai membaca cerita yang di tulis Indro di Blognya Dono...di Hpnya Kasino.

"Indro, cerita kamu buat bagus," pujian Kasino.

"Iya...cuma ingin menghilangkan kejenuhan saja. Jadi aku menulis cerita yang aku sukai," penjelasan Indro.

"Selesai juga," kata Dono yang selesai mengetik di leptopnya.

Adzan pun terdengar, ya Adzan Isya. Dono pun menaruh leptopnya di kamarnya dan segera keluar dari rumah bersama Kasino dan Indro untuk pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah dengan warga sekitar di malam minggu yang tenang banget banget banget.

Friday, February 7, 2020

JENUH

"Haaaaa," kata Indro.

Indro beranjak dari duduknya di depan Tv, ya bergerak untuk mengambil minum di kulkas. Indro pun minum air putih dingin sih.

"Segarnya," kata Indro.

Indro pun duduk pun ke ruang tamu dan duduk bersama Dono yang sedang mengetik di leptopnya.

"Jenuh...Don," kata Indro.

Dono menghentikan ketikannya di leptopnya berkata "Jenuh apa Indro?".

"Acara Tv yang aku tonton jenuh banget," kata Indro.

"Jenuh...di mana acara Tv?" tanya Dono.

"Alur...ceritanya...terlalu monoton," kata Indro.

"Ya...kalau...kamu jenuh dengan alur cerita sih. Aku sarankan, ya Indro lebih...baik kamu buat cerita sendiri aja di Blog, jadi bisa membuat fersi kamu sendiri ceritanya. Pada akhirnya kamu puaslah...diri mu....Indro," kata Dono.

"Iya...juga. Kalau aku menulis fersi aku...sendiri...jadi aku bisa menyesuaikan cerita yang aku sukai. Jadi tidak monoton dengan cerita...yang aku tonton di Tv," kata Indro.

Indro pun meminjam leptopnya Dono, ya mengisi cerita di cerpen Dono sesuai dengan keinginan Indro. Ya Dono...gak ada masalah sih, Indro mengisi di Blognya..untuk menghilangkan jenuhnya. Dono pun meninggalkan Indro di ruang tamu mengetik di leptopnya Dono, ya di Blognya....Dono juga. Dono, ya nonton Tv dan mengganti chanel Tv yang acaranya film gitu.

Kasino selesai juga mengerjakan kerjaannya di kamarnya, ya keluar dari kamar dan segera duduk bersama Dono di ruang tengah untuk nonton Tv.

"Don...ganti chenel Tv...ke Net yang acara Malam Malam, ada Tora Sudiro," kata Kasino.

"Ya...terserah...kamu," kata Dono.

Kasino pun mengganti chanel Tv ke chanel Net. Acara Malam Malam di tayangkan gitu.

"Gokil...acaranya," kata Kasino.

"Emang..Gokil...acaranya. Bikin gak bisa tidur," kata Dono.

"Oh..iya...Indro mana, tumben gak nonton?" tanya Kasino.

"Lagi...jenuh katanya. Jadi..aku saran kan nulis di Blog. Ya di jalanin..nulis di Blog...aku. Untuk menghilangkan kejenuhannya, jadi bisa menulis cerita sesuai maunya Indro," kata Dono.

"Oh...begitu," saut Kasino.

Dono dan Kasino, asik nonton Tv. Indro pun terus menulis cerita yang sesuai keinginannya di Blognya Dono.

"Kayanya seru...di buat begini," celoteh Indro.

Indro pun terus mengetik cerita...yang menurutnya menarik banget, yang membuat dirinya puas dengan cerita buatannya sendiri. Wal hasil jadilah cerita di buatnya dan segera di publikasikan. Ya setelah itu leptop di matikan.

Indro pun bergerak ke ruang tengah untuk menonton Tv bersama Kasino dan Dono, ya sekalian ngasih leptopnya ke Dono. 

"Udah ngetiknya?" tanya Dono.

"Sudah," jawab Indro.

Indro yang telah menghilangkan kejenuhannya, asik lagi nonton Tv. Dono pun beranjak dari duduk menuju kamar untuk menaruh leptop di kamarnya di taruh di meja belajar, baru setelah itu nonton Tv lagi.

PENDAPAT TEMAN YANG BIJAK

Indro sedang serius nonton film di Hpnya, ya di ruang tamu. Dono baru selesai mengetik di leptopnya, keluar dari kamar menuju ruang tamu. Kasino, biasalah lagi asik main game on line di Hpnya.

Dono, ya duduk di sebelah Indro sambil bawa buku yang ingin ia baca dan melihat Indro yang serius nonton di film di Hpnya.

"Serius....amat Indro...nonton filmnya?" tanya Dono.

Indro menghentikan nonton film di Hpnya dan berkatalah "Iya...aku lagi asik aja...alur ceritanya yang bagus dari film yang aku tonton".

"Oh...begitu," saut Dono.

"Oh..iya...Don. Apa pendapat kamu, tentang cewek yang di perkosa sama cowok yang tidak di sukai?" tanya Indro.

"Hancurlah hidupnya cewek tersebut," kata Dono.

"Kalau pendapat...mu Kasino?" tanya Indro.

"Gimana ya? Ah..sama aja dengan omongan Dono. Hancurlah...harapan cewek tersebut," kata Kasino yang sibuk main game on line.

"Memang...hancur sih. Kalau di cerita film ini...si ceweknya, ya...sampai ingin bunuh diri. Ada cara Don...mengobati trauma dari pemerkosaan tersebut?" kata Indro.

Dono yang baru buku untuk baca, ya berkata "Ada...sih. Salah satunya...jadilah orang memahami rasa sakit cewek tersebut. Yang paling deketkan orang tua. Jadi peran orang tua harus bisa membimbing anaknya kembali untuk bisa menerima musibah tersebut. Ya terjadi sudah terjadi tidak bisa elakkan. Jadi terus melangkah demi masa depan lebih baik," saran Dono.

"Pendapat...mu Kasino?" tanya Indro.

"Gak jauh beda dengan Dono..lah. Orang-orang yang terdekat lah...yang membimbing cewek tersebut...untuk kuat menghadapi ujian hidupnya," saran Kasino.

"Jadi....pendapat kalian berdua bener juga. Karena ujian berikutnya di cewek tersebut, ya ternyata ia hamil. Gimana sikap yang baik jika kalian dari pacar cewek tersebut yang di perkosa sama cowok yang tidak ia sukai?" kata Indro.

Dono pun kembali menutup bukunya dan berpikir dengan bijak. Kasino pun menghentikan main game on line di Hpnya.

"Kalau...Rara di perkosa sama cowok lain dan sampe hamil. Aku harus berpikir dan bertindak seperti apa ya? Karena aku cinta sama Rara, ya rasa cinta ku tetap saja. Aku terima kesalahan tersebut dengan jiwa besar dan anak yang lahir pun aku terima," kata Dono.

"Kalau...Selfi.....yang di perkosa cowok lain dan sampe hamil. Aku berpikir dan bertindak seperti apa? Ya aku menerima dengan rasa cinta aku dan menerima anak yang di kandungnya," kata Kasino.

"Jadi...kalian ikhlas...menerima kesalahan dari cewek kalian jika di perkosa cowok lain dan membangun keluarga yang baik," kata Indro.

"Yo....i. Nama juga cinta," kata Dono.

"Idem," saut Kasino.

Dono pun membuka buku dan membacanya. Kasino, ya main game on line lagi. Indro pun geleng-geleng kepala mendengar pendapat Dono dan Kasino, yang bisa menerima kesalahan cewek sebesar apa pun. Indro pun kembali nonton film di Hpnya. Suara adzan magrib di kumandangkan, ya Dono, Kasino dan Indro......menghentikan aktivitas ketiganya dan pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah bersama warga sekitar.

Thursday, February 6, 2020

HIDUP ITU PILIHAN

Dono asik membaca buku di ruang tamu. Ya Indro biasa asik main game di Hpnya. Indro, ya selesai juga memasak di dapur dan segera  ke ruang tamu dan duduk bersama teman-teman.

Indro melihat buku yang cukup banyak di meja yang di baca Dono. 

"Don....sibuk amat baca buku?" tanya Indro.

Dono menutup buku yang di bacanya dan berkata "Nama...juga suka baca buku, untuk menambah ilmu aku," kata Dono.

"Oh...begitu," saut Indro.

"Ah...kebiasaan basa-basi omongan Dono. Yang sebenarnya....Dono lagi memperhitungkan sesuatu," kata Kasino yang asik main game di Hpnya.

"Bener...Don...omongan...Kasino?" tanya tegas Indro.

"Iya...sih. Hanya teringat sesuatu aja. Apa aku salah pilih atau tidak dalam menjalankan hidup saja," kata Dono.

"Maksudnya?" saut Indro.

"Ya....jalan aku yang sekarang ini bener sih. Tapi jika aku yang dulu menerima permintaan Kepala Sekolah Swasta untuk mengajar di tempatnya....maka aku sudah jadi guru," kata Dono.

"Kasino...kamu..tahu...cerita Dono di minta jadi guru?" tanya Indro.

"Iya...tahulah. Memang Dono...di suruh ngajar. Cuma....Dononya aja milih jalan yang sekarang yang ia tekunin," kata Kasino sambil main game di Hpnya.

"Wah.....aku ketinggalan informasi," saut Indro.

"Hidup itu pilihan," kata Dono.

"Iya...hidup itu pilihan. Apa yang kita sukai kita pilih dan di jalankan dengan penuh tanggungjawab," saut Kasino.

"Iya...memang..Don. Hidup mu memilih. Ya aku juga memilihlah...untuk jalan hidup yang terbaik....yang aku jalanin," kata Indro.

Dono pun menaruh buku yang di baca di meja dan bergerak menuju kamarnya, ya biasa mengetik di leptopnya. 

"Kasino?" kata Indro.

"Apa?" saut Kasino yang sedang main game di Hpnya.

"Apa pendapatmu...jika aku memilih cewek yang pernah sakit hati karena di khianatin cintanya sama pacarnya?"

"Pacar...apa suami?" Kasino balik bertanya.

"Pacarlah," kata tegas Indro.

"Kalau...pacar sih...masih untung besar sih. Jawabannya ya tergantung kamunya...Indro," kata Kasino.

"Tergantung aku. Berarti aku harus bisa menjadi yang lebih baik dari mantan pacarnya, agar bisa menyembuhkan luka di hati cewek yang aku sukai," kata Indro.

"Ya...benerlah..Indro. Jadilah yang terbaik untuk cewek yang kamu sukai dan hapuskan lukanya," saut Kasino.

"Aku mengerti sekali. Ya...sudahlah jangan bahas lagi...aku mau nonton Tv," kata Indro.

"Iya," saut Kasino.

Indro pun segera ke ruang tengah dan menyetel Tv dan memilih chanel Tv yang menayangkan drama korea. 

"Tetap...saja hidup pilihan," celoteh Kasino.

Kasino asik main game di Hpnya.

Tuesday, February 4, 2020

PRODUK ISU

Dono sibuk membaca buku di ruang tamu. Indro yang selesai memasak di dapur, ya duduk bersama Dono di ruang tamu.

"Don.....!" kata Indro.

"Apa?" kata Dono, masih baca buku.

"Aku..dapet beritanya di lapisan masyarakat....tentang pejabat daerah sini jadi tersangka korupsi, apa pendapat mu....Don?" kata Indro.

Dono menghentikan baca bukunya.

"Oooo...kabar tentang pejabat daerah sini....jadi tersangka korupsi? Ah....cuma Isu saja. Aku...telah memeriksanya. Yang...sebenarnya...sih...itu produk isu yang di buat oleh pihak-pihak tertentu, ya tujuannya sih menjatuhkan," penjelasan Dono.

"Cuma...isu toh. Bukan fakta. Jadi sengaja di buat. Tujuannya menjatuhkan orang," kata Indro.

"Yo.i," kata Dono.

"Berarti banyak dong....produk isu...di buat di lapisan masyarakat ya...Don?" kata Indro.

"Ya lumayan. Contoh produk isu pemerintahan yang ini dan itu, produk isu swasta yang ini dan itu....dan terakhir lebih kebiasaan masyarakat...jatuhnya fitnah...banget, seperti aku di tuduh mencuri padahal aku sedang asik duduk di rumah seharian. Jadi aku tidak melakukan tindakan pencuri, aku di fitnah...orang di sekitar lingkungan sini...dengan alasan orang tersebut membenci aku. Berita...aku di tuduh pencuri..itu...berkembang di lapisan masyarakat jadi isu...yang menjatuhkan nama ku," penjelasan Dono.

"Berarti...sama kedudukannya dengan penulis, ya di awasi oknum pemerintahan. Gara-gara cuma bicara tentang pemerintahan," kata Dono.

"Iya...sama. Namanya juga produk isu...yang menjatuhkan. Kalau di cari sih....bener-bener orang pemerintahan orang tersebut di bayar untuk menangani masalah, tetapi ketika aku periksa...eeee tidak ada pergerakan dari pemerintahan. Maka itu...orang tersebut...bergerak tujuannya hanya untuk menjatuhkan penulis," kata penjelasan Dono.

"Wah...bahaya...juga produk isu tersebut," kata Indro.

"Iya...bahaya. Maka itu..hati-hati bicara dan bertindak di masyarakat," saran Dono.

"Iya...aku mengerti. Berarti...produk isu..sama dengan produk hoax....kedudukannya," kata Indro.

"Sama aja. Efeknya....juga sama, jadi fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan," kata Dono.

"Ya...sudahlah jangan di bahas lagi. Sarapan dulu!" kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Dono dan Indro beranjak dari tempat duduk ruang tamu untuk sarapan pagi, setelah itu baru deh berangkat kerja ke tempat kerjaan masing-masing. 

NONTON FILM KARTUN

Seusai sekolah, ya secepat Bobo pulang ke rumah. Sampai di rumah.

"Aku...pulang....Ibu," kata Bobo.

"Iya," saut Ibu.

Bobo segera ke kamarnya untuk berganti pakaian. Baru setelah itu Bobo bergerak untuk main ke rumah Andi. Saat mau keluar rumah....Ibu mendekati Bobo dan berkata "Nak...kamu mau kemana?".

"Anu....Ibu. Bobo...main ke rumah Andi," kata Bobo.

"Ya...udah, tapi ingat pulangnya jangan sore-sore!" kata Ibu.

"Siap Ibu!!" kata Bobo.

Bobo pun keluar dari rumahnya, segera berjalan cepat ke rumah Andi. Sampai di rumah Andi. Ternyata Andi sedang menjual hasil barang-barang bekas ke tukang loak dan hasilnya lumayan.

"Andi," panggilan Bobo.

"Bobo," saut Andi.

"Cair...nie...dari hasil ngumpulkan barang bekas," kata Bobo.

"Iya,...lumayan rezeki aku hari ini di usahakan cukup lama mengumpulkan barang bekas. Aku teraktir makan somay," kata Andi.

"Bagi-bagi...rezeki...nie," kata Bobo.

"Iyalah....bagi rezeki....sama teman sendiri," kata Andi.

Andi pun memanggil Mamang penjual somay yang lewat dan memesan dua piring. Ya Mamang penjual somay segera menyiapkan pesan pembelinya dengan baik. Setelah jadi pesanan somay di buat Mamang penjual somay, ya segera di santap Bobo dan Andi. 

"Enak....," kata Bobo.

"Enak....," kata Andi.

Mamang penjual somay, ya seneng omongan Bobo dan Andi yang memuji makan yang di jualnya. Selang berapa saat selesai sih makan somaynya....Bobo dan Andi. Segera Andi membayar somay tersebut, ya karena dua piring dan porsinya sama...jadi Rp 10.000.

"Terima kasih dek," kata Manang penjual somay.

"Iya....sama-sama," jawab Andi.

Mamang penjual somay pun meninggalkan Andi dan Bobo, ya mendorong gerobak untuk melakukan jualannya lagi. 

"Andi, hari ini...main apa?" tanya Bobo.

"Main...apa...ya? Ah...lebih baik kita nonton film kartun aja!!!" kata Andi.

"Boleh...juga," kata Bobo.

Andi dan Bobo masuk rumah. Heru berkata dengan suara keras memanggil teman-temannya "Bobo, Andi".

Bobo dan Andi pun berbalikkan melihat Heru.

"Woy...Heru," kata Andi.

"Heru," kata Bobo.

Heru, mendekati Bobo dan Andi. 

"Hari...ini...kita main apa?" kata Heru.

"Nonton Tv...aja, film kartun," kata Andi.

"Nonton film kartun. Boleh juga. Tapi.....film kartun apa?" kata Heru.

"Pokoknya...film kartun yang menyenangkanlah....ceritanya," kata Andi.

"Tom and Jery...ya. Film kartun lama..itu mah," kata Heru.

"Pokoknya...kartun," kata Andi.

"Iya...deh, yang perting kartun. Tontonan anak-anak," kata Heru.

Ketiganya sepakat, ya masuk rumah Andi. Di ruang tengah. Ya Andi menyetel Tv dan mencari chanek Tv yang menayangkan kartun. Muncullah film kartun yang bagus, ya di sepakatin bersama. Andi, Heru dan Bobo...nonton film kartun dengan santai gitu.

Alur cerita film kartun membuat ketiganya senang menontonnya.

"Bagus...ya...kartunnya," kata Heru.

"Iya," saut Bobo.

"Suut...jangan ngomong....gak asik nonton Tv!" kata Andi.

Heru dan Bono, ya diam dan asik nonton film kartun....begitu juga Andi. Sampai film kartun habis, ya bubar nonton film kartunnya di rumah Andi. Bobo dan Heru, ya pamit pulang dan Andi mempersilakan temannya, ya pulang ke rumah masing-masing.

Heru dan Bobo berjalan bersama menuju rumahnya, ya sampai persimpangan....ya...pisahlah....karena jalan menuju rumah mereka berdua beda jalan. Bobo, ya melewati rumah Wati. Bobo...merlihat Wati yang sibuk menyulam di depan rumahnya. Ya mampir sih Bobo ke rumah Wati.

"Wati...ngulam apa?" tanya Bobo.

"Oh...Bobo, aku...sedang menyulam bunga," jawab Wati.

Bobo pun melihat sulaman Wati dengan baik.

"Bagus...sulaman bunga kamu Wati," pujian Bobo.

"Iya," kata Wati.

"Wati...hoby menyulam...ya?" tanya Bobo.

"Iya," jawab Wati.

"Siapa yang mengajarkan Wati menyulam?" tanya Bobo.

"Ibu...yang mengajarkan," kata Wati.

"Oh...begitu," kata Bobo.

Bobo pun teringat pesan Ibunya, jadi ya pamit pulang sama Wati gitu. Wati pun mempersilakan Bobo untuk pulang, tapi Wati pun memberikan hasil sulamannya ke Bobo untuk Ibunya Bobo. Ya Bobo menerima kebaikan dari Wati berupa sulaman. Bobo pun segera berlari cepat menuju rumahnya dan sampai di rumah.

"Aku...pulang...Ibu," kata Bobo.

"Iya," saut Ibu.

Bobo pun memberikan sulaman dari Wati untuk Ibunya.

"Sulaman yang bagus," pujian Ibunya Bobo.

"Hoby.....Wati, Ibu," kata Bobo.

"Wati...anak pinter, Ibunya...pandai mendidik Wati dengan baik," pujian Ibunya Bobo.

Ibu pun menyimpan baik sulaman Wati. Bobo pun segera mandi agar seger gitu, baru mengerjakan PRnya di kamarnya. Waktu berganti malam. Ibu telah selesai masak malam. Ayah pulang dari urusan kerjanya dan segera berbenah diri, baru deh makan malam. Bobo selesai mengerjakan PRnya dan segera makan malam bersama Ayah, Ibu dan dedek bayi.

CAMPUR ADUK

DUNE

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus.....berita di Channel TVRI, ya seperti biasa sih Budi duduk dengan santai di d...

CAMPUR ADUK