CAMPUR ADUK

Saturday, December 29, 2018

TIMUN MAS

Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.

Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.

Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Mas.

Semakin hari Timun Mas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan Timun Mas.

Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan Timun Mas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.

Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar Timun Mas menemui petapa di Gunung.

Pagi harinya mbok Sarni menyuruh Timun Mas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, Timun Mas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian Timun Mas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana Timun Mas?”, teriak si raksasa.

Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka Timun Mas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak Timun Mas.

Raksasa pun mengejarnya, dan Timun Mas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar Timun Mas lagi. Lalu Timun Mas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.

Kemudian Timun Mas membuka kantong ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutan pun menjadi lautan yang luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Mas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasa pun mati.

Timun Mas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Mas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.

KEKUATAN DOA PENYELAMAT JIWA

Di suatu tempat ketika seluruh murka orang karenanya, ketika hati dan jiwa gemetar karena kesalahannya, suara sorak serentak menuduhnya tidak lain tidak bukan di sebuah persidangan kasus pembunuhan. Perkenalkan namanya aquila ilham hamka dia merupakan pelaku atas kasus itu. Dalam hatinya berkata “Aku sangat menyesal melakukan ini”.

Dia sangat menyesali berat tindakannya. Dia putus asa. Sampai tubuhnya gemetar seolah-olah ingin meninggalkan tubuhnya. Persidangan dimulai suara ketukan pak hakim membuat seluruh orang diam.

“Kita akan mulai persidangan ini. Aku sebagai hakim bersumpah tidak memihak pada siapapun itu orangnya. Jadi para hadirin hargailah keputusanku.”

Seluruh orang disitu tercengang

“Jumat 12 mei kemarin adalah hari tragis bagi keluarga saudara warto dimana hari ini terjadi pembunuhan tak wajar yang dilakukan oleh saudara aquila ilham hamka. Apa benar itu saudara aquila..?”

“Itu benar pak hakim. Saya telah membunuh salah satu keluarga warto..?” dengan berat hati.

“Lalu apa penyebabnya saudara aquila membunuh salah satu keluarga saudara warto..?”

“Untuk masalah itu anda bisa tanyakan pengacara saya bernama siswaryo..!!”

“Baiklah. Saudara siswaryo apa pembelaanmu..?”

“Baiklah pak hakim. Dia berniat membunuh salah satu keluarga warto lantaran permasalahan dendam lama yang tak kunjung reda…?”

“Tolong pak hakim hukum dia seberat mungkin..?” suara salah satu keluarga warto di bangku hadirin.

“Baiklah-baiklah tenang bisa kita selesaikan bersama kasus ini. Untuk kedua bisa dihadirkan saksi mata tersumpah para warga..?”

“Saya-saya, aku melihatnya membunuh giryano keluarga warto langsung dari mataku..?”

Beberapa jam kemudian setelah mengalami perdebatan yang cukup sengit akhirnya hakim memutuskan menjatuhi hukuman pada aquila 15 tahun penjara. Aquila pun tak menolak hukuman itu karena dia sudah kalah dalam persidangan.

Namun keluarganya tak terima melihat keputusan itu dan diam-diam merencanakan membunuh aquila setelah bebas nanti.

Berhari-hari ia jalani di dalam jeruji besi hanya untuk sholat dan membaca al-quran. Dia menyesali perbuatannya setiap doa malamnya hanya untuk berdoa pengampunan. Setiap detik setiap menit.

Seluruh keluarganya tak ada yang mau menjengkuknya. Ia sangat sedih bercampur pasrah dia hanya berharap pada sang ilahi. Di tahanan itu sangat sepi. Beberapa bulan kemudian lebaran datang. Disaat seluruh orang merayakan kemenangan tidak baginya. Dia hanya bisa berimajinasi untuk menenangkan diri.

14 tahun kemudian 1 tahun lagi menjelang pembebasannya dari penjara ada seseorang yang ingin menemuinya. Rupanya dia adalah sahabat lamanya. Bernama topan firmansyah

“Sudah lama ham aku tak berjumpa padamu, aku sangat terkejut kau tersandung kasus ini lalu aku kesini.”

“Maafkan aku pan. Aku tak memberi taumu. Karena aku sangat malu pada diriku.!”

“Hahah. Tak usah dipermasalahkan, ini buatmu. Nasi padang.!” sambil menyerahkan bingkisan.

“Oh jangan repot-repot pan.”

“Ayolah terimalah..”

“Baiklah, terimakasih pan bingkisannya..?”

“Iya sama-sama, oh iya hampir lupa mengatakan sesuatu padamu. Aku baru saja mendapatkan beasiswa s3 di luar negeri. Sudah lama aku memimpikan ini namun sekarang bisa terkabul. Disana aku mengambil gelar doktor ku sebelum menjadi profesor. Yang merupakan ambisi sejak kecilku. Doakan ya ham.?”

“Berapa lama kau berada di luar negeri..?”

“Aku tidak tau betul namun setauku sekitar 5 tahunan mengingat banyaknya persyaratan menjadi doktor dan profesor.?”

“Oh..”

“Kalau begitu aku pamit dulu ham, jaga baik-baik dirimu. Anggap saja masalalu itu adalah pelajaran bagimu dan capailah masa depan sebaik mungkin..?”

“Terima kasih pan. Kau sudah memotivasiku..?”

“Sama-sama aku pergi dulu ham..!!”

“Iya..”

Perpisahan itu sangat menyedihkan bahkan setelah sahabatnya pergi dia merintikan air mata. Bagaimana tidak sahabat sejak masih kanak-kanak hingga dewasa mereka masih bisa bertemu dan saling dukung. Kosong sudah hatinya sekarang.

1 tahun kemudian dia bebas dari penjara. Menghirup udara nan segar dan indah. Berjalan kaki menuju rumahnya yang jaraknya sekitar 10 km dari situ. Namun disaat setibanya disana ia disambut dengan raut wajah tak senang.

“Pergi sana. Cepat pergi ini bukan rumahmu lagi kau mempermalukan seisi rumah ini!!!” Dengan nada keras dan membentak dari orangtuanya.

“Bapak aku mohon maafkan aku.” Sambil bersujud di kaki bapaknya.

“Ingat baik-baik ya kau bukan anakku lagi sekarang cepat pergi.”Dengan menggeret aquila ke jalan rumah. Sontak orang yang lewat jalan itu melihatnya dengan heboh.

“Bapak tolong maafkan aku.”

Bapaknya kemudian menuju pintu depan rumah dan mengunci rapat rumahnya.

“Dok.. Dok.. Dok bapak buka pintunya”

Ia akhirnya meneteskan air mata penuh penyesalan. Tak ada cara lain untuk menyakinkan orangtuanya ini kemudian ia pergi dengan raut wajah sedih. Di jalan ia pasrah melihatnya. Banyak dari warga situ tidak senang melihat kehadiran aquila yang sempat menghebohkan 15 tahun silam.

“Mau apa kau di kampung ini. Cepat pergi sana dasar penganggu.” Suara seseorang yang sedang nongkrong di warung sambil meludahi aquila.

Aquila lebih memilih bersabar ketimbang meladeninya. Lalu meneruskan jalan kakinya.

“Bukankah itu aquila pembunuh itu. Kenapa dia disini. Jangan-jangan dia bikin ulah lagi. Ayo warga kita panggil warto biar tau rasa dia..” Seorang warga yang melihat warto berjalan kaki.

Beberapa lama kemudian warto datang ia sepertinya tak terima aquila hidup. Dia membawa senjata tajam bersama warga.

“Aquila akan kubunuh kau..!!”

Aquila melihat dari kejauhan warto dan warga membawa celurit membuat aquila panik dia pun memutuskan lari. Setelah itu terjadilah kejar-kejaran yang dramastis aquila melihat masjid di ujung sana.

Kemudian dia pun ke masjid itu dan bersembunyi di dalam sana. Seluruh warga dan warto berhenti di depan masjid itu mereka linglung kehilangan jejak aquila. Sementara aquila semakin panik hatinya penuh dengan sholawat karena mereka seperti iblis penyabut nyawa di depan masjid itu.

“Bismillah.. Bismillah.. Bismillah ya allah tolong jaga aku.” Sholawat dalam hatinya. Beberapa menit kemudian ia mulai lega hatinya karena warto dan para warga pergi.

“Kemana anak itu pergi. Coba kita cari kesana para warga.”

“Terima kasih ya allah kau telah menyelamatkanku.” Dalam hati aquila dengan penuh syukur.

Akhirnya diputuskan ia akan bermalam dan berdzikir lama di masjid itu. Setelah itu dia beranjak berwudhu lalu menunaikan sholat dhuha. Di masjid itu sangat sepi sekali tak ada jamaah yang ingin sholat mungkin dunia mendekati kiamat pada jaman itu rasanya. Dia tetap meniatkan dzikirnya itu.

“Breaking news, telah terjadi gempa berkekuatan 8.5 sekala richter di dasar laut.!!” Suara berita setempat

Gempa ini menghebohkan warga aceh dan membuat para warga situ panik karena akan timbul tsunami. Mereka pun memutuskan pergi di daerah tinggi.

Sementara aquila tak mengetahui berita itu masih saja melanjutkan dzikirnya. Tak lama kemudian tsunami pun datang. Seluruh bangunan tersapu derasnya tsunami.

Banyak mobil-mobil terseret bahkan kapal persiar ikut terseret. Berbekal doa dzikirnya malaikat menyertainya bangunan masjid serta dirinya selamat dari bencana ini. Entah ini keajaiban apapun bukan kejadian itu sangat langka bahkan air laut tak sedikitpun masuk ke masjid itu.

Masjid itu seakan-akan mengapung di permukaan air dan menuruti ke arah mana air tsunami itu pergi. Setelah cukup lama tsunami pun reda. Sementara aquila tetap tak sadar ada bencana tsunami dia baru sadar ketika beranjak dari masjid itu mencari makan.

Lalu apa yang terjadi tatapan matanya kosong setelah berada di pintu masjid melihat seluruh daerah itu porak-poranda disertai lumpur yang amat banyak. Dia sangat-sangat terkejut melihat kejadian ini. Kapal-kapal pesiar besar berada disitu membuatnya semakin terkejut. Jantungnya seakan-akan terhenti. Dan mengucapkan “Lailahaillallah laulawalaquatailabila” dia pun kemudian bersujud kepada allah.

“Terimakasih ya allah kau telah menyelamatkanku dari murkamu ini.”

Quote penulis “Senjata terkuat alam semesta ini adalah doa karena doalah penghapus dosa.”


Karya: Muhammad Maulana Yahya

TAKBIR TERAKHIR

Jika ini menjadi takbir terakhir,

Izinkan aku mengucap permintaan maafku.

Yang belum dapat mewujudkan kebahagiaan untuk kalian yang kucintai …

Jika ini menjadi takbir terakhir,

Ijinkan aku mengucap sampai jumpa …

Tahukah bahwa cinta karena Allah tak akan memisahkan kita …

Semoga kita bertemu di jannah-Nya …

Parkiran toko toko baju, mall dan pasar terlihat padat. Euforia lebaran terasa begitu kentara mengingat hari raya idul fitri akan segera tiba. Laki laki paruh baya itu hanya bisa menahan hasratnya untuk ikut berbaur dengan masyarakat kota lain yang sedang suka cita menyambut lebaran.

Laki laki itu terus mengayuh becak tuanya dengan sisa tenaga. Menepis godaan hatinya yang terbayang membelikan baju baru untuk anak istrinya. Ia berusaha melupakan hasrat tadi dengan membayangkan sampai rumah dan melihat kolak pisang buatan istrinya untuk berbuka puasa. Maklum saja hari ini spesial, ibu mertuanya dari kampung tadi datang dengan membawa hasil kebun. Pastinya istrinya yang pintar masak itu akan mengolah bahan bahan itu dengan suka cita.

“Assalamu’alaikum … ” ucapnya memasuki pelataran rumah. Ia menyongsong ke dapur menyalami ibu mertua dan istrinya.

“Ibu, kapan tiba? Si rahmat mengantar ibu tadi?” tanyanya. Rahmat adalah adik istrinya di kampung. Ibu menggeleng.

“Enggak. Tadi ibu dari stasiun naek angkot turun depan gang sono.” jawab mertuanya.

“Lho, kenapa ratih nggak ngomong sama saya buat jemput ibu? Gang kan jauh bu … Apalagi bawaan ibu berat”.

Istrinya langsung menyela. “Ya kalo tadi ibu nggak bilang mendadak kalo kereta apinya telat, aku bisa nyuruh kamu mas. Waktunya jemput bisa dikira-kira … Aku kan nggak tega mas kalo bilangnya mendadak. Ibu bisa nunggu kamu kelamaan di stasiun sendirian.”

Ibu menoleh dengan muka bingung. “Lho, kenapa harus kelamaan? Jadi kamu tadi sengaja toh Rat gak nyuruh Herman jemput ibu? Kamu ya yang tega sama ibu naek angkot sendirian?”

Ratih dan suaminya saling berpandangan sesaat, tatapannya menghunus sinis pada herman. “Motornya dijual buat nguliahin Vela buk. Kita punyanya becak sama sepeda mini si Upik aja itu. Itulah juga alasan saya gak bisa pulang kampung tahun ini, karena kami nggak ada duit buk. Ibu mau nungguin Herman selesei narik becak?”

Si ibu hanya geleng-geleng kepala sambil mengelus dada, istighfar. Sedangkan Herman hanya terdiam menghadapi emosi istrinya, sejak kemarin-kemarin memang mereka sedang tegang akibat kondisi ekonomi yang sedang membelit.

—

“Jangan Vela,” cegah herman saat anaknya mau membanting celengan ayamnya.

“Biarkan pak. Toh cuma diambil sedikit buat beliin baju adek aja kok.” Vela menatap bapaknya dengan seulas senyum yang dipaksa. Si bapak hanya memegang pundaknya.

“Meskipun cuma sedikit, kalau buat adikmu saja bapak udah nyisihin duit.” jelas Herman menatap anaknya lekat, dirogohnya saku lantas memberi selembar uang seratusan ribu pada anaknya.

“Sana antar adikmu ke pasar biar dia gak rewel lagi. Bapak rasa uang segitu cukup. Uang kamu, kamu pakai sendiri. Kebutuhan kamu di depan masih panjang, nak.”

Vela menatap nanar bapaknya, senyum mengembang di wajah pria paruh baya itu.

“Maafin Vela ya pak … Gara-gara Vela …” ratapnya namun langsung dihentikan oleh sang bapak.

“Justru bapak yang harus minta maaf. Bapak cuma bisa bantu di awal aja. Selanjutnya kamu berusaha sendiri. Seharusnya sebagai orangtua bapak membiyai kamu sampai akhir.” sesal Herman.

Vela beringsut memeluk tubuh sang bapak. Air matanya membanjiri baju koko putih itu.

Betapa mirisnya hati Herman memikirkan anak sulungnya itu. Vela gadis pintar dan memiliki impian besar, ia tidak mungkin menyurutkan semangat anaknya untuk meneruskan impiannya. Untunglah kakaknya yang di Surabaya mau berbaik hati ikut membiayai Vela, meskipun dengan imbalan Vela mau ikut tinggal di rumah besar itu dan membantu budhenya. Herman hanya mampu membantu memberangkatkan Vela. Itu pun ia harus menjual motor, perhiasan dan tabungan keluarga. Mereka sadar, biaya pendidikan di kedokteran tidak murah.

Gema takbir idul fitri menggema di setiap sudut bumi. Menyusup ke dalam relung jiwa insan yang merindukan kemenangan tiba. Upik yang masih kecil sangat bersemangat memasukkan kue-kue lebaran ke dalam stoples bersama kakak dan neneknya. Herman dan istrinya ada dalam kamar, membicarakan sesuatu.

“… Kita nggak punya apa-apa bang. Tahun ini kita nggak bisa ngasih angpau ke keponakan-keponakan kita …” tutur Ratih sambil memelas. Dilipatnya tangan di depan dada sambil kepalanya bersandar di tembok.

Herman menggenggam tangannya lembut. “Sabar Rat, toh kita masih bisa sama-sama kumpul merayakan hari kemenangan, yang penting anak bisa sekolah, bukankah itu impian kita juga?”

Ratih mendongak. “Bang, maafkan saya. Jika saja kita dulu bukan karena bangkrut, kita tidak perlu sampai mengemis sama bang Herna nitipin si Vela …”

“Hushh.” Herman menatap tajam istrinya. “Kehendak bang Herna sendiri yang udah lama pengen punya anak. Tahu Vela mau nerusin sekolah di Surabaya, dia antusias bantu kita. Lagipula mbak Ani juga udah lama pengen bawa salah satu dari anak kita. Kita harusnya bersyukur Rat, di tengah kesulitan kita Allah masih ngebantu kita. Bisa nggak kamu bayangin, Vela udah diterima di Kedokteran dengan perjuangan keras akhirnya nggak jadi cuma karena masalah biaya. Pikirkan itu Rat. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?”

Ratih semakin berurai air mata.

“Ketahuilah, Rat. Penderitaan ini nggak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan di belakang hari. Percayalah, kita berjuang bersama-sama demi anak-anak kita. Investasi kita di akhirat nanti. Jika kita mendidik mereka dengan baik, Insya Allah mereka akan menjadi penolong kita menuju surga …” jelas Herman seraya memeluk istrinya. Cinta mereka yang begitu besar mengokohkan keyakinan itu. Bahwa mereka bisa melalui semua rintangan itu.

“Saya bahagia memiliki kamu, mas … Maafkan saya kemarin-kemarin belum bisa berdamai dengan keadaan ini.” sesal Ratih.

Herman mengecup kening Ratih lembut. Mungkin dengan cara sesederhana itu ia menunjukkan cintanya yang begitu besar untuk istrinya.

Idul fitri mereka lalui dalam kesederhanaan namun sangat menyentuh. Bagi Vela itu merupakan momen yang paling membahagiakan sebelum ia berangkat ke Surabaya.

Waktu meninggalkan kota tercinta tiba. Vela diantar bapaknya dengan kereta. Sepanjang perjalanan bapak banyak memberi petuah.

“Istiqomahkan hafalanmu Vel. Jangan cuma menjadikan hafalanmu untuk gacoan dapet biaya tahfidz itu, habis itu hafalan itu hilang … Ingat itu,” pesan bapak.

Vela mengangguk. “Insya Allah, pak.”

“Bapak ingin, meskipun kamu berusaha meraih duniamu, tapi jangan lupakan akhiratmu. Bapak ingin di akhirat nanti, anak-anak bapak dan juga jadi penolong kami ke surgaNya …”

“Doakan Vela, pak. InsyaAllah Vela nggak akan melupakan hal itu.”

Akhirnya mereka sampai di Surabaya disambut Herna dan istrinya dengan luapan suka cita. Tak lama, Herman ingin segera berpamitan pulang.

“Kok buru-buru kenapa sih Her? Baru juga kemarin. Ayolah kita jalan-jalan mumpung di Surabaya.” tawar Herna di saat minum kopi bersama di beranda depan.

“Nggak lah mas. Saya punya tanggungan di rumah. Ratih pasti menunggu saya.”

“Alhah, kalau begitu kenapa nggak ajak sekalian istrimu dan si upik kemarin … Kalian kan sudah lama nggak ke sini …”

Herman tetap kekeuh untuk cepat pulang, meskipun Vela sendiri sangat keberatan berpisah dari bapaknya. Namun tak urung jua hari itu dia segera berpamitan. Diulang-ulangnya pesan untuk Vela sebelum pergi. Sampai berjam-jam kemudian, sebuah stasiun TV lokal mengabarkan tentang kecelakaan bus yang ditumpangi Herman. Dan naasnya, laki-laki paruh baya itu adalah salah satu korban tewasnya.

Sepuluh tahun kemudian …

Sama seperti tahun tahun sebelumnya, mereka sekeluarga mengunjungi pusara itu.

Hujan rintik mewarnai acara ziarah, dengan suami Vela sebagai imam doa. Upik, ibu, dan Vela berusaha menghalau air mata.

Sepuluh tahun memang sudah berlalu. Mereka sudah beranjak dewasa. Namun kenangan bapak, perjuangannya dan kasih sayang tak akan lekang oleh waktu. Impiannya sederhana, ia hanya ingin anak-anaknya menjadi orang yang beruntung dan seluruh keluarganya menjadi penghuni jannahNya jika waktu itu tiba.

Apalah arti hidup yang sesaat ini. Jika kita tak memiliki bekal di akhirat? Vela dan upik berusaha mewujudkan impian orangtua mereka. Juga tak putus mendoakan kedua orangtua mereka, berharap mereka semua akan berkumpul lagi di jannahNya.


Karya: Khoirun Nisa

ISTERI PEMBERIAN IBU

Dua tahun sudah berjalan, setelah jadi perundingan Hanafi dengan ibunya tentang beristri itu. Sebelum ia membenarkan kata ibunya, ia pun sudah  dinikahkan dengan Rapiah isteri pilihan ibunya.

Di dalam peralatan itu hampir-hampir pernikahan dibatalkan, karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan kaum laki-laki. 

Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata "kaum muda". Pakaian mempelai secara yang masih dilazimkan  sekarang di negerinya, yaitu pakaian secara jaman dahulu, disebutkannya "anak komidi Stambul." Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah ia urung 'saja. demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga pihaknya sendiri, akibatnya diterimalah, bahwa ia memakai 'smoking' , yaitu jas hitam, celana hitam dengan berompi dan berdasi putih. Tapi waktu hendak menutup kepalanya sudah berselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian destar saluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalian perempuan, meminta supaya ia jangan menolak tanda keminangkabau yang satu itu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia memakai sekehendak hatinya pula.

Hanafi tetap menolak kehendak orang, ia tidak hendak menutup kepala, karena lebih gila pula dan komidi, bila memakai destar, saluk dengan baju smoking dan dasi.

Setelah ibunya sendiri hilang sabarnya dan memukul-mukul dada di muka anak yang 'terpelajar" itu, barulah Hanafi menurutkan kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang sudah ...'tergadai'.

Untunglah ia menurutkan hal menutup kepada itu, karena sekalian pengantar dan pasumandan (pengiring bangsa perempuan), sudah berkata bahwa mereka tak sudi mengiringkan 'mempelai didong' .

Belum puas Hanafi bertingkah dengan pakaiannya sendiri, ke pihak perempuan ia ada pula menyampaikan permintaan, supaya pengantin perempuan janga pula 'digilakan' dengan 'anafic joget' yang 'berumbai-rumbai' itu, melainkan dimintanya supaya pengantin perempuan itu ke luar dengan pakaian sederhana saja, yaitu berbaju pendek gunting Priangan, sedang sanggul rambutnya tidak boleh dihiasi sesuatu apa, lain daripada sisir hiasan dari kulit penyu atau sesuatu tusuk kundai yang amat sederhana saja.

Mendengar permintaan yang demikian, bukan buatan gembarnya di pihak perempuan. Sebagai lazim terjadi di dalam peralatan orang Minangkabau, maka bukanlah keluarga yang karib pada pengantin yang membuat gaduh lebih dahulu, melainkan orang-orang lain, yang ada berhubung-hubung sedikit dengan ahli rumah itu; dan dalam peralatan itu disebutkan 'si pangkal' , yang 'sangat perasa angin' Oleh mereka itulah yang sejengkal jadi sedepa, yang sebuah jadi sepuluh. Yang punya alat sendiri memang banyak kesabaran dan banyak timbangan, karena jika alat itu sudah gaduh, ia sendiri yang akan menanggungnya. Dan gaduh itu mudah benarlah datangnya. Beberapa hari sebelum peralatan, masing-masing sudah membanting tulang, kebanyakan tidak tidur sekejap juga, jadi seluruh urat saraf sedang terganggu. Dan jika perempuan sudah berkumpul-kumpul serupa itu, tidaklah pula kurang kucindan, tidak ketinggalan sindir-sindiran, hingga sepatah saja kata tajam boleh menyalahkan api yang senantiasa dikandung di dalam dada masing-masing.

Permintaan Hanafi yang berupa itu tentulah menimbulkan gempar. Yang punya alat harus memulangkan segala sesuatu pada 'si pangkal' itu, karena jika tidak demikian, akan merasa hati pulalah mereka. Serambut pun janganlah orang ketinggalan pada adat, mereka minta perindah benar-benar. Jika ada yang berkekurangan, maulah mereka itu memecah peralatan sama sekali.

Waktu orang datang membawa permintaan Hanafi itu, beberapa orang perempuan sedang menghiasi anak data sambil mencemooh-cemoohkan perangai Hanafi tentang memakai itu, karena mereka sudah pula mendengar hal tingkah mempelai yang 'kebelanda-belandaan' itu. Kata seorang. "Jika ia banyak bicara sesampai ke mari, kita hendak perlihatkan siapa kita."
.......................................................................................................................

Friday, December 28, 2018

BIDADARI LESTI

Turun dari langit  seorang Bidadari  bernama Lesti menuju bumi untuk mengubah jalan hidup untuk bisa hidup seperti manusia biasa. Sampai di permukaan tanah Lesti menunjukkan sayapnya yang cantik, lalu dengan kekuatan magisnya di hilangkan sayapnya agar bisa berbaur dengan penduduk setempat.

Lesti melangkah menuju pasar yang ramai. Terlihat pandangannya sebenarnya keberadaan hidup manusia yang hidup dengan penuh dengan aneka hiruk pikuk dengan jalan nasifnya masing-masing. Seorang pemuda yang gagah dengan rambut berwarna pirang berlari dengan sangat cepat tak sengaja menabrak Lesti.

Dengan energi perlindungan Lesti malah si pemuda terpental dan langsung duduk di jalanan berbatu.

"Aduh," kata Pemuda.

"Maaf..saya tidak sengaja," kata Lesti dengan penuh kelembutan.

Lalu Pemuda terpukau oleh kecantikan Lesti dan berkata "Saya yang salah."

Segerombol orang-orang dateng dengan membawa pentungan dan berteriak keras "Hey pencuri."

Pemuda mempertahankan diri dan bertarung dengan segerombolan yang menyerangnya. Pertarungan sengit terjadi di hadapan Lesti. Karena  tidak seimbang pemuda kalah di pukulin oleh orang-orang sampai babak belur. 

Salah satu yang menggebukin pemuda tersebut langsung mencari benda yang di curi. Ternyata mereka salah menuduh orang yang tidak bersalah. Di balik dinding pemuda yang berjubah hitam yang pencuri asli langsung berlari menuju gang. Orang-orang langsung mengejar pencuri sebenarnya.

Salah satu dari orang menggebukin pemuda tidak bersalah mengucapkan kata "Minta maaf."

Lalu segera pergi meninggalkan pemuda yang sudah babak belur. Lesti yang simpatik memberikan pertolongan dengan menyembuhkan pemuda tersebut dengan kekuatan magisnya.

Pemuda pun sembuh total dan berterima kasih pada Lesti.

"Siapa nama mu?" tanya Lesti.

"Saya.....Alang," jawabnya.

Lesti meninggalkan Alang begitu saja. Tapi Alang pun memohon kepada Lesti di berikan kekuatan untuk melindungi dirinya dari hidup yang keras di kota Gordova.

"Baik.....saya akan memberikan kekuatan saya tapi ingat pake kekuatan ini dengan baik dan kamu saya jadikan pelayan saya untuk melindungi saya," kata Lesti.

"Iya saya terima," kata Alang.

Lesti dengan kekuatan magisnya memberikan kemampuan bertarung dan sebuah senjata kujang pada Alang. Setelah itu Lesti diajak ke rumah Alang yang jauh dari pemukiman. Di sebuah rumah tua yang tak layak lagi. Lesti tinggal bersama Alang. Sebagai pelayan yang setia Alang selalu melindungi Lesti.

Karena Alang ada kerjaan Lesti di tinggal sendirian di rumah. Alang pun bergerak menuju sebuah hutan  belantara dan masuk ke dalam goa dengan penuh hati-hati. Sampai terlihat seekor monster banteng yang di hadapan Alang. Dengan kekuatan tinjuan yang sangat kuat oleh monster ke hadapan Alang.

Dengan sigap Alang menghindari serangan monster. Dan balik membalas dengan sebuah senjata kujang menebas bagian lengan monster banteng. Terputuslah tangan monster banteng dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Langsung dengan cepan Alang tidak memberikan kesempatan pada musuhnya untuk membalas dan menebas leher monster banteng sampai terputus dan jatuh ke tanah kepalanya dan tubuhnya juga.

"Akhirnya monster ini dapat saya kalahkan. Saya bisa dapet uang banyak dari monster ini," celoteh Alang.

Alang langsung membungkus kepala monster banteng dengan kain di bawa menuju perkampungan terdekat. Sampai di rumah kepala desa Alang menyerahkan kepala monster yang telah menghancurkan desa. Alang pun mendapatkan bayaran yang cukup tinggi. Rasa senang di dalam diri Alang.

Lalu Alang pun pulang ke rumah, tapi sebelumnya membeli makan pasar. Tak lupa Alang menyisihkan uangnya di berikan pada pengemis buta teman baik Alang. Dengan berjalan berjingkrak-jingkrak Alang menuju rumah sampai di rumah Alang tercengang dengan kemampuan Lesti. Menyiapkan makan malam yang mewah untuk Alang.

Lesti dan Alang pun makan bersama satu meja dengan pemandangan bulan purnama yang indah pada malam itu. Tiba-tiba sekelebat bayangan menuju rumah tua tempat tinggal Alang. 

Lesti bangun dari duduknya. 

"Ada apa gerangan Tuan Putri gusar?" tanya Alang.

"Ada musuh yang akan menyerang kita," kata Lesti.

"Saya akan menghadapinya," kata Alang dengan berani.

Bayangan menunjukkan dirinya turun dari langit menghancurkan atap rumah dan berdiri di atas meja.

"Akhirnya...bertahun-tahun menunggu saya bisa mendapatkan kekuatan kamu. Hay Bidadari Penjaga Gerbang Langit," kata si bayangan.

"Siapa kamu ini sebenarnya?" tanya Alang dengan lantang.

"Fakir.......raja para penjahat," katanya dengan sombong.

"Saya akan melindungi Tuan Putri saya dengan sekuat tenaga saya," kata Alang.

"Dasar anak keroco."

Fakir marah dan mengeluarkan pedangnya dan menyerang ke arah Lesti. Dengan sigap Alang menangkisnya dengan kujangnya. Benturan kekuatan pun terjadi. Tapi Alang terpental dengan sebuah tendangan ke arah perutnya.

"Brengsek," kata Alang yang kesal.

Alang bergerak cepat menyerang Fakir. Ternyata Fakir bisa mengimbangi setiap serangan Alang dan pada akhirnya Alang di tendang ke bagian mukanya sampai terpental dan menambrak kesebuah kayu tua.

"Aaahhhh," terika Alang menahan sakitnya.

Fakir menyerah ke arah Lesti. Dengan kekuatan penuh Lesti menunjukkan wujud aslinya yaitu Bidadari Penjaga Gerbang Langit.

Kekuatan magis Lesti menahan serangan si Fakir. Sekuat tenaga Fakir berusaha lepas dari kekuatan magis Lesti. Karena Lesti sedikit marah langsung di lemparnya Fakir ke langit. 

"Satu saat saya akan membalasnya," teriak Fakir.

Fakir terjatuh pata sebuah ujung kayu yang runcing dan akhirnya mati. Lesti pun menghilangkan sayapnya dan bergerak menyembuhkan Alang yang setengah sadar. Dengan sekejab Alang pun sembuh.

"Terima kasih Tuan Putri," kata Alang.

Lesti melanjutkan makan malamnya bersama Alang setelah membersihkan semua yang hancur akibat pertarungan. Suasana menjadi lebih tenang lagi. Alang dan Lesti menikmati malam yang indah dengan damai.


Karya: No

RARA PILIHAN IBU SAYA

Dono duduk santai di Tv sambil mengetik untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya. Ibu selalu senang nonton acara dangdut yang di adakan Indosiar. Lalu Dono bertanya pada Ibunya "Ibu siapa yang menang dalam pertandingan D'ACADEMY ASIA 4?"

"Belum tahu sih siapa yang menang?" jawab Dono.

"Oh......, tapi yang paling Ibu dukung menang siapa?" tanya lagi Dono.

"Rara.....sih." kata Ibu langsung bangun dari duduknya setelah melihat iklan white coffie dan ngurusin kucing kesayangan yang meminta makan.

"Ibu dukung Rara......orang Ibu.....orang Palembang," kata Dono.

Ibu pun duduk nyantai sambil menonton Tv. Dono yang sedikit jenuh pindah keruang tamu. Dengan pikiran yang cemerlang Dono menyelesaikan semua dokumen dengan baik. Setelah itu Dono mulai mencoba mengetik membuat cerpen. Ternyata Dono pikirannya butek baget gara-gara terlalu banyak data di kepalanya.

Sampai-sampai Dono berteriak "Pusing."

"Wusssss.....udah malem....," kata Ibu menyuruh Dono diam.

"Iya...Ibu......Dono...lagi butek di dalam kepala," kata Dono.

Ibu pun bergerak mendekati anak tersayangnya. 

"Kenapa tidak menulis cerita kehidupan sehari-hari aja!" saran Ibunya.

"Cerita kehidupan sehari-hari. Padahal kita baru pulang dari ngaji. Ya...isinya sih cuman baca Al Quran." kata Dono.

"Kalau gak tulis saja Rara aja penyanyi dangdut kesukaan Ibu," Saran Ibu lagi.

"Rara apa Selfi?" tanya Dono.

"Rara........penyanyi suaranya tinggi melengking," kata Ibu yang selalu mengamati perkembangan acara dangdut.

"Gimana ...dengan Selfi........?" tanya Dono yang ingin tahu.

"Selfi.....suaranya.....lembut....," jawab Ibu sambil memperhatikan Tv.

"Iya...Saya tulis Rara........"

Ibu kembali duduk di ruang tengah menonton acara kesukaanya. Sedangkan Dono pun  segera menulis cerita tentang Rara  di mulai dari mengejar karirnya di dunia dangdut dengan mengikuti acara Liga Dangdut sampai di rokemendasikan untuk bertanding di D'ACADEMY ASIA 4.  Terus isi benak Dono dengan ide-ide yang kreatif  sampai menjadi satu cerita yang apik dan menarik.

Tiba-tiba Dono terkejut mendengar omongan Ibunya yang cukup keras "Dono.......Rara...sekarang duet bareng dengan Rosa penyanyi Pop."

"Bagus gak Ibu......," kata Dono dengan suara agak keras.

"Bagus....lah," jawab Ibu.

"Oh...begitu."

Dono meneruskan tulisannya dengan baik dan akhirnya selesai. Tak lupa Dono save
agar tidak hilang. Lagi-lagi Ibu tertawa dengan tingkah kekonyolan para artis. Dono pun bergerak menuju ruang tengah.

"Ternyata Soimah lagi........ngocol....," celoteh Dono.

Dono kembali ke ruang tamu dan langsung mematikan leptopnya dan di bawa  ke dalam kamar di taruh di meja belajar. Dono pun kembali ke ruang tengah duduk bersama dengan Ibu tersayang menonton Tv.  Ketika acara dangdut ada iklan Dono langsung menggantinya chanel lain.

"Kenapa di ganti!" kata Ibu yang sedikit marah.

"Iya...gak jadi di ganti....kok," kata Dono yang ketakutan.

Dono mengembalikan chanel ke acara dangdut kesukaan ibunya. 

"Tuh.....Zam Ryzam yang sedang nyanyi dengan Rosa penyanyi Indonesia yang cantik banget setiap penampilan....apalagi....lagu-lagunya banyak yang hit.....di kalangan anak muda," kata Dono.

"Rosa.....memang suaranya bagus...banget," kata Ibu.

Ibu pun terlarut dengan acara Tv. Dono pun ikut saja dari pada di marahin. Dono tiba-tiba Hpnya berbunyi. Dengan segera Dono mengambil Hpnya di kamar untuk di periksa.

"Eeeee...ternyata......ada kerjaan tambahan.  Sms dari Indro dan Kasino minta kumpul di rumah Kasino."

Dono langsung menulisnya dengan cepat di Hpnya "Iya segera.......meluncur."

Setelah itu Dono memasukkan Hpnya pada saku celana dan segera bergerak menuju motor kesayangannya. Tak lupa pamitan dengan Ibunya. Dan Tak lupa Ibunya berpesan "Hati-hati di jalan."

"Iya.....," jawab Dono.

Dono pun berangkat dengan perasaan tenang membawa motor kesayangannya. Tiba-tiba Ibu mendatangi Dono yang hampir pergi. 

"Dono...sudah menulis ceritanya tentang Rara?" tanya Ibu.

"Yaaaaa....sudah ....lah......Ibu di simpan di dalam leptop ....ceritanya," jawab Dono.

"Oh...iya. Beli in...ibu.... sate...jangan lupa sama lontongnya!" perintah Ibu.

"Iya....Dono..beli....in. Setelah selesai urusannya dengan Kasino dan Indro," kata Dono.

Ibu pun masuk ke dalam rumah. Dono mulai menghidupkan motornya dan langsung di jalankan dengan baik menuju rumah Kasino.


Karya: No

SEKENARIO SEMUANYA DEMI HIDUP

Dono baru pulang dari tempat Kasino. Ibu masih duduk asik menonton Tv acara dandut. Lalu makan pesan Ibunya yaitu sate pake lontong bawa Dono dalam plastik langsung di pindahkan ke dalam piring. Dan Dono mengantarkan pada Ibunya yang sedang santai nonton acara Tv.

"Terimakasih anak ku sayang atas makan yang Ibu pesan," kata Ibunya.

"Iya...Ibu," jawab Dono.

Ibu asik makan sate. Dono pun mulai bertanya pada Ibunya "Siapa yang menang dalam pertandingan D'ACADEMY ASIA 4......ya Ibu?"

"Selfi...jadi bukan Rara...," kata Ibunya.

"Jadi kecewa dong Ibu.......?" tanya Dono kembali.

"Sedikit, tapi kan gak masalah. Ibarat judi aja. Toh yang rugi bukan Ibu. Cuma punya harapan saja siapa tahu Rara menang saja. Ternyata Selfi," kata Ibu.

"Wah...kalau begitu saya kecewa juga. Ternyata benar-benar telah di sekenario rapih oleh mereka semua. Maka terlihat akting semuanya dari beberapa lakon ceritanya di acara dangdut agar menarik. Tiba-tiba ini dan tiba-tiba itu. Untung saja saya tidak masukkan tulisan saya tentang Rara ke dalam Blognya Kasino yang sudah di terima Adsens dan ada Iklannya," kata Dono.

"Jadi tulisan tentang Rara sudah selesai?" tanya Ibu.

"Iya...sih. Maunya penulis membuktikan sesuatu sih. Tujuan memakai nama Rara ada urusan pribadi di masa lampau yang membuka hatinya untuk penulis. Akhirnya di tolak penulis berdasarkan kenyataan hidup. Kalau di dunia maya.........ini lah akhirnya penulis sadar. Bahwa pilihannya tepat menolak Rara," kata Dono.

"Jadi siapa yang di pilih penulis?" tanya Ibu.

"Gak ada.....pasrah pada garis nasif Illahi," kata Dono.

"Jadi.....jalan hidup apa adanya," kata Ibunya.

"Untungnya saya tidak mengirimkan tulisan saya ke Kasino untuk di masukkan ke Blognya di yang ada Iklannya. Wehhhhhhhhh....tambah deh gedeknya kalah deh Raranya. Realita kenyataan hidup penulis Rara tidak jadi kekasih hati si penulis.  Dunia maya di ambil lewat Tv acara dangdut kalah jadi juara D'ACADEMY ASIA 4 yang menang Selfi. Kaya permainan bola. Udah di dukung dengan mati-matian eeeee kalah," kata Dono.

"Itu lah hidup. Apa yang kita harapkan tinggi belum jadi kenyataan. Masih dalam buaiyan manusia," kata Ibu.

"Benar juga kata Ibu. Terbuai...oleh permainan dari orang-orang di dunia Tv demi makan. Alias sekenario yang rapih dari pagi sampai malam," kata Dono.

"Apa bedanya dengan tulisan kamu yang menjadi tokoh utama di buat penulis.....Dono?" tanya Ibu.

"Sama..aja," jawab Dono.

"Dunia televisi adalah panggung sandiwara bagi setiap manusia yang memerankan lakon apapun. Jadi jangan terbuai dengan tontonan. Hanya sekedar hiburan. Untung saja tulisan kamu Dono tidak di kirimkan ke Kasino yang ada Iklannya," kata Ibu.

"Bener-bener selamat," kata Dono.

"Dono ambilin Ibu air putih....seret nih tenggorokan Ibu!" perintah Ibunya.

"Iya...Ibu...."

Dono beranjak dari duduknya dan mengambil air putih di dalam kulkas. Lalu di tuang di gelas baru di bawa ke Ibunya. Sang Ibu langsung menyabutnya dengan baik dan segera meminum air putih.

"Lega....nya," kata Ibu.

Dono langsung membereskan piring bekas makan Ibunya berserta gelas ke dapur. Sang Ibu beranjak dari duduknya langsung ke kamar mandi untuk sikat gigi. Sedang Dono mencuci piring dan gelas setelah itu di taruh di rak perabotan. Ibu pun masuk ke dalam kamar untuk tidur karena hari sudah larut malam. Dono kembali nonton Tv  dan mencari chanel yang bagus. Akhirnya Dono menemukan chanel yang bagus. Dono menonton acara kartun Tom dan Jerry untuk menghilangkan kepenatan pikirannya dan menghilangkan kecewaaannya. 

"Ibarat judi yan pertandingan menyanyi....di Tv," celoteh Dono.

Dono asik menonton acara kartun. Sampai punya ide untuk menulis. Bergerak Dono ke kamar untuk mengambil leptopnya. Mulailah Dono menulis cerita yang ia inginkan yaitu kemenangan Selfi. Tapi ternyata Dono tidak jadi menulisnya mengganti judul yaitu Perubahan Dalam Hidup. Dono terus menulis sampai menjadi satu tulisan yang menarik terangkai rapih menjadi satu karangan. Baru di kirimkan ke Blog Kasino lewat Email. Dengan senang hati Kasino menerima tulisan Dono untuk menaikan reting tulisannya.

Dono langsung mematikan leptopnya setelah usai mengetik dan melanjutkan nonton kartu Power Ranger. Dono terbuai dengan acara tersebut dan terkenang masa kecilnya.

"Lebih baik nonton Power Ranger.... Saya lebih terlihat kebohongannya tapi jujur kalau di tonton. Semuanya cuma sekenario untuk memuaskan penontonnya. Tidak bisa di ubah lagi," celoteh Dono.

Dono terus menonton Power Ranger sampai akhirnya cerita dan akhirnya mematikan Tv karena mengantuk. Masuklah Dono ke kamar dan tak lupa membawa leptopnya langsung di taruh di meja belajar. Dono pun rebaan di kasur. Sekejab Dono langsung tertidur terlelap.


Karya: No

CAMPUR ADUK

ON THE BASIS OF SEX

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus di chenel TVRI World, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK