CAMPUR ADUK

Monday, January 14, 2019

ANALISA DAN ANALISA

Pagi yang cerah di kediaman Dono di pinggiran kota Jakarta. Masyarakat sibuk dengan aktivitasnya setiap hati. Dono duduk ruang tamu sambil ngopi dan baca koran. Indro pun bawa caturnya dan langsung duduk bersama Dono.

"Main catur!" ajakan Indro.

"Ayo," jawab Dono.

Dono pun menghentikan baca koran dan di taruh meja. Dono dan Indro menyusun pion catur pada papan catur. 

"Dono....putih hari ini!" kata Indro.

"Ok."

Dono pun mulai menjalankan pion putih begitu juga Indro menjalankan pion hitamnya. Tiba-tiba Dono menyerang dengan memajukan kuda. Indro pun langsung membuka celah untuk menjalankan ster. Di tengah pertandingan catur. Indro pun punya unek-unek mulai membicarakan sesuatu.

"Dono ..gimana tentang pendapat kamu dengan prostitusi on line....yang aktornya adalah artis?" tanya Indro.

"Namanya orang nyari makan agar menarik pelanggan dengan terselubung lewat jaringan internet. Awalnya sih memang benar baik. Tetapi....eeeeeh ada penyimpangan dari polanya. Jadi negatif. Sudah biasa itu mah. Apalagi aktornya adalah artis. Ya...jadi objek dari pemberitaan. Naikin...reting pemberitaan," kata Dono.

"Kalau begitu sih ada rencana di balik rencana untuk meningkatkan berita. Di lihat sudut pandang permasalahan," kata Indro.

"Ya...seperti itu lah," kata Dono.

Indro pun memajukan pionnya. Dono pun ikutan memajukan pionnya juga. Lagi-lagi Indro punya unek-unek di pikirannya dan mulai bicara lagi "Dono gimana dengan artis yang melepaskan jilbabnya?"

"Maksudnya..... Rina dan Nikita?" tanya Dono.

"Iya," saut Indro.

"Namanya menjalankan syariat Islam kalau kuat di jalankan kalau gak kuat ya gak di jalankan. Dasarnya ke imanan masing-masing. Setiap orang yang kuat imannya maka tetap menetapi ke imanannya. Tapi jika ia lemah ya......pasti lepas lah," kata Dono.

"Jadi..jawabannya iman," saut Indro.

"Yo...i."

Indro pun menjalankan pionnya dengan baik begitu juga dengan Dono. Lagi-lagi Indro mengemukakan pendapatnya "Gimana dengan bom palsu yang di taruh di kediaman ketua KPK dengan ulasan beritanya teror?"

"Teror bom. Gak terlalu penting. Amatiran. Kenapa gak sekalian di bom beneran malah bohongan. Orang bahannya di jual di pasar. Cuma mainan anak kecil gak serius. Paling tujuannya sensasi naikin berita yang berkenaan dengan tindak tanduk dari anggota KPK," kata Dono.

"Kalau di pikir baik ia. Gak serius ya penjahatnya. Orang kembang api di jual di pasar. Sebenarnya kalau dari kembang api sebagai alasan bahan untuk pembuat bom juga bisa untuk pengelabuan dari pihak berwajib. Ah....cuma sensasi dari untuk meningkatkan pemberitaan saja," kata Indro.

"Itu tahu. Sensasi."

Dono memakan pionnya Indro dengan peluncur. Indro pun memakan pionnya Dono dengan sternya. Permainan catur makin panas tidak ada yang mau mengalah dalam melancarkan strateginya. Di tengah permainan Indro mulai bertanya sesuatu " Bagaimana Dono visi dan misi yang di jalankan oleh Prabowo dan Sandiaga Uno?"

"Ah...itu. Gak ada masalah. Awal gak ada masalah atau pun di buat perubahan visi dan misinya pun gak ada masalah. Orang masyarakat sudah siap untuk ikut serta dalam pemilu 2019 ini. Cuma di hebohkan saja untuk reting pemberitaan. Jadi sorotan gitu," kata Dono.

"Bener juga. Tapi Dono ...Bagaimana dengan debat antara Joko Widodo dan Parabowo berkenaan dengan masalah Korupsi, Ham, dan Terorisme?" saut Indro lalu bertanya kembali.

"Masalah ...debat yang di usung Pemilihan Presiden berkenaan dengan Korupsi kan sudah berjalan ada sistem penegak hukumnya. Sedangkan masalah Ham sih....gimana prosesnya dalam menangani masalah saja lewat penegak hukum tuntas atau gak. Kalau tuntas berarti bener kerjanya. Kalau gak tuntas.....jadi gak bisa kerja namanya. Orang bodoh yang kerja di bidang hukum....gak bisa tegas dalam menjalani tugas  berkaitan dengan Ham. Sedangkan Terorisme....sih...kan ada sistem penegak hukumnya di Indronesia ini di dalam mau pun di luar negeri sudah di jalankan cuma jangan lengah. Belum setiap siklus perekrutan anggota penegak hukum terus di jalankan untuk mendidik penegak hukum untuk menjaga dan menciptakan keamanan dari sambang sampai marauke. Jawab...sih jangan tidur..harus siap sedia untuk mencegah dari permasalahan Terorisme di dalam maupun di luar negeri," sedikit penjelasan Dono.

"Jadi ...Dono...urusannya Hukum?" kata Indro.

"Ya...Hukumlah. Korupsi, Ham, dan Terorisme....ya urusannya adalah Hukum tidak bisa terlepas karena saling berkaitan itu mah. Karena Hukum di buat untuk mengatur, menjaga dan melindungi manusia. Ya harusnya Hukum di Indonesia tegas....jangan melepem kaya kerupuk. Dan juga gak pandang bulu. Apa kata dunia..berkenaan dengan Hukum di Indonesia ......melempem kaya kerupuk," kata Dono.

"Kalau ...Hukum di Indonesia melempem kaya kerupuk. Jadi lemahlah pertahan di dalam negeri sampai di luar negeri. Eeeee ujungnya penjahat banyak. Akhirnya Terorisme ada di Indonesia. Korupsi juga banyak dan terakhir.....banyak pelanggaran Ham. Sampai anggota pihak berwajib jadi pelanggar Ham juga.  Bener....bener...bener.. ironis," kata Indro.

"Ironis......"

Indro pun melanjutkan main caturnya dengan memakan peluncurnya Dono dengan benteng. Lalu Dono sedikit pusing, tetapi langsung melancarkan strateginya dengan memakan sternya Indro dengan peluncur dengan serangan tidak terduga. Indro langsung terkejut sekali.

"Positif kalah ini mah," kata Indro.

"Mungkin," saut Dono.

Kasino dengan terburu-buru bertamu ke rumahnya Dono untuk mengajak Dono dan Indro membantu Kasino urusan kerjaan. Dono dan Indro menerima ajakan Kasino. Segeralah Dono berganti pakaian. Ketiganya langsung meninggalkan rumah untuk urusan kerjaan. Sedangkan permainan catur di tinggalkan begitu saja tidak ada yang menang dan kalah antara Dono dan Indro.


Karya: No

Sunday, January 13, 2019

PERTENGAHAN PERTARUNGAN

Sebuah ruangan yang misterius. Lufy berdiri tegap dengan sekuat tenaga. Musuhnya sudah yang di kenal Sergei sudah siap untuk menyerang. Tapi ternyata Lufy tidak mampu lagi bertahan karena serangan tersembunyi yang mengenai kakinya yang membuat dia tidak bisa berdiri dengan benar. Sergei menyerang Lufy dengan tinjuan beruntun. Lufy berusaha melawannya. Akhirnya kalah Lufy dan menerima semua serangan Serjei yang mutlak pada tubuhnya. 

Pukulan Sergei yang sangat kuat Lufy tumbang dan babak belur. Sergei menghentikan serangan tinjuannya. Lufy sudah tidak berdaya lagi terkapar di lantai. Dalam keadaan sulit pun Lufy bangkit dan berusaha untuk melawan Sergei. Di balik dinding seorang yang bernama Liana dan anak buahnya sedang berbincang-bincang.

"Saya berhasil mengerang Lufy dengan jarum beracun. Saya memberikan kemenangan yang mutlak pada Kak Sergei," kata Liana.

"Benar.....sekali Bos," saut anak buahnya bergantian.

Sergei mendengarkan pembicaraan yang samar. Lalu mendatangin Liana dan anak buahnya. Sergei yang marah karena pertarungan sesama lelaki di ganggu. Sergei langsung menghajar anak buah Liana sampai babak belur baru Liana di pukul dengan tamparan yang sangat kuat. Padahal Liana sudah dianggap adiknya sendiri tetap Sergei tidak pandang bulu kalau urusan pertarungan yang adil antara 2 laki-laki yang menunjukkan kehebatan mereka masing-masing.

"Jangan coba-coba mengganggu pertarungan 2 orang laki yang membuktikan kemampuannya masing-masing!" kata Sergei yang marah.

"Kak tega dengan Liana dan anak buah saya. Dasar orang berengsek," kata Liana yang membenci Sergei.

"Dasar penggangu," kata Sergei.

Mendengar omongan Sergei sebagai kaknya Liana langsung diam. Semua anak buah Liana langsung terbirit-birit. Lufy pun bangkit dan berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. Pertarungan Sergei dan Lufy di mulai lagi. Sergei mulai menyerang dengan sebuah tinjuan yang sangat kuat begitu dengan Lufy. Ternyata jangkauan Lufy tidak bisa mengenai Sergei tapi sebaliknya Sergei berhasil meninju bagian muka Lufy.

Lufy pun berusaha melawan dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan tinjuan berikutnya, walau dalam posisi tidak menguntungkan. Tinjuan Lufy masuk ke muka Sergei. Pertarungan makin sengit dengan keduanya terus saja baku hantam dengan tidak mau mengalah. Tetap saja fisik mempengaruhi segalanya.

Sergei yang bertubuh besar menjatuhkan Lufy yang bertubuh kecil sampai terpental karena pukulan mematikan yang telak masuk ke bagian perut Lufy. Dalam keadaan sulit Lufy mendengar perkataan gurunya yang membibingnya Lufy agar menjadi kuat dengan membaca pergerakan musuh dengan instingnya.

Lufy langsung membuat kesadaran dalam dirinya. Lalu berdirinya Lufy dengan keadaan sempoyongan. Sergei mulai maju menyerang dengan sebuah tinjuan yang beruntun. Ternyata Lufy menguasai ilmu yang di berikan gurunya. Insting Lufy tajam sekali bisa menghindari serangan Sergai yang kuat dan mematikan. 

Lufy pun membaca pergerakan Sergei setiap dia memukul. Lalu Lufy membalasnya dengan pukulan yang cukup akurat pada bagian tubuh Sergei. Lufy berhasil menbuat Sergei senep dan mundur beberapa langkah. Sergei pun marah dan terus menyerang Lufy dengan membabi buta. Lufy pun berusaha mengimbangi serangan Sergei. Lagi-lagi Lufy membaca pergerakan Sergei dengan langkah pasti dan menghindari setiap serangan. Lufy memukul lagi pada bagian tubuh Sergei dengan beruntun dan terpental jauh dan menabrak dinding.

Sergei pun berusaha bangkit walau dalam keadaan hancur. Sergei mulai menyerang dan Lufy pun menyerang. Lagi-lagi Lufy membaca pergerakan Sergei dan menyerangnya dengan tinjuan yang beruntun ke arah sekujur tubuh Sergei.

"Yang kuat adalah pemenang segalanya," teriak Lufy.

Lufy terus meningkatkan serangan tinjuannya dan akhirnya Sergei mutlak kalah dengan kehilangan kesadaran yaitu pingsan di lantai. Lufy pun kehabisan tenaga dan jatuh juga ke lantai. Liana yang melihat kak Sergei kalah dalam pertarungan langsung kabur dengan terbirit-birit. Cukup istirahat Lufy bangun dengan keadaan sempoyongan. Berjalanlah Lufy dari ruangan misterius dan mencari jalan keluar. Lufy menemukan sebuah cermin di dinding segera mendekatinya dan masuk ke dalam cermin menuju dunia yang sebenarnya.

Lufy pun jatuh ke lantai dan pingsang di dalam rumah yang cukup tua. Seorang kakek yang bernama Oktopus melihat pemuda yang terkapar di lantai dengan penuh luka. Kakek Oktopus menolong Lufy dan di baringkan di tempat tidur dan di obatinya. Berhari-hari Lufy tidak sadarkan diri. Akhirnya bangun juga Lufy dari tidurnya yang panjang. Kakek Oktopus yang menjaga dan merawatnya senang dengan keadaan anak muda yang di tolongnya membaik dan sehat kembali.

Lufy yang sudah kembali jadi sehat wal afiat meneruskan perjalannya dan berterima kasih pada kakek Oktopus yang telah merawatnya saat sakit. Lufy mengikuti alur dari kehidupan dan melanjutkan perjalannya sampai menemukan teman-temannya.


Karya: No

IMPIAN SAYA MENJADI GURU

Ben melihat langit begitu indah di matanya. Lalu Ben memakai kacamatanya kembali dan mencoba membaca pada sebuah kertas kecil yang bertuliskan alamat.

"Berarti masih jauh... Ya....," kata Ben.

Ben pun berjalan menyisiri tortoar dan masuk gang. Dari jauh Ben melihat 2 orang pemuda bercakap-cakap. Saat berpapasan akhirnya mendengar omongan 2 pemuda "Ternyata orang itu cupu ya.."

Ben awalnya tidak memperdulikan omongan 2 pemuda tadi. Setelah memperhatikan dirinya "Bener saya cupu. Karena kaca mata dan gaya saya. Tapi penampilan bisa diubah oleh saya. Tapi mata...sih....gak bisa. Karena genetik saya yang membuat saya rabun dekat."

Ben terus berjalan dan hendak menyebrang. Ternyata Ben gak jadi. Banyak orang-orang muslim yang lagi mengadakan orasi turun ke jalan. Ben pun hanya bingung dan melihat ulah orang-orang tersebut.

"Fanatik....  Fanatik...... Fanatik..... dan akhirnya membangun kekhalifahan berbasis Islam. Demokrasi Indonesia berganti menjadi Domokrasi Islam. Sungguh ironis....secara perlahan-lahan tapi pasti," celoteh Ben dengan kata kecilnya.

Ben akhirnya memutuskan untuk menyebrang lewat tangga penyebrangan. Sampai di tengah jembatan penyebrangan Ben melihat semuanya.

"Semuanya hanya ada manusia yang berlomba-lomba untuk mengisi dunia ini dengan segala impian mereka. Padat merayap dan akhirnya macet di mana-mana," celoteh Ben.

Langkahkan kaki Ben dengan baik sampai turun ke dari jembatan penyebrangan. Rasa haus datang Ben pun memutuskan membeli di kios pinggir jalan sebotol air mineral dan membayar dengan uang pas. Ben segera membuka botol yang bermerek Aqua dan segera meminumnya dan menghilangkan rasa dahaganya.

"Air tetap air rasanya tetap sama. Cuma kemasannya beragam untuk kompetisi mencari uang dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Botol ini habis ku minum dan akhirnya menjadi sampah pelastik. Dulu tidak masalah sampah tapi karena moderisai untuk kemajuan negeri ini  sampah menjadi kompleks," celoteh Ben sambil membuang botol Aqua ke dalam tong sampah di pinggir jalan.

Ben pun terus berjalan dan akhirnya melewati gang berikutnya. Terlihat lagi oleh mata Ben. Gerombolan manusia yang keluar dari Gereja. Ben pun berhenti sejenak menunggu keramaian manusia itu habis.

"Fanatik... Fanatik...Fanatik..... dan Fanatik. Tidak ada yang salah hanya keputusan mereka. Menciptakan sistem menjadi nilai yaitu Demokrasi Kristiani...... tetapi jika besar bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Sangat ironis," celoteh Ben.

Ben melanjutkan perjalannya sampai pada gang berikutnya. Lagi-lagi Ben melihat gerombolan manusia pada satu Wihara. Karena Ben tertarik mencoba melihat gerombolan orang-orang Buhda dari lebih dekat.

"Ternyata..lagi menjalankan ibadah mereka. Tetap Fanatik... Fanatik... Fanatik dan Fanatik. Demokrasi Budha........jika besar bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Sungguh ironis juga," celoteh Ben.

Ben pun akhirnya memutuskan melanjutkan perjalannya. Sampai ke gang berikutnya. Terlihat di lapangan yang cukup luas Ben pun berhenti untuk menyaksikan kerumunan orang-orang. Ternyata kuda lumpingan. Terus melihatnya Ben acara tradisi suku jawa.

"Benar...benar...benar...dan benar. Mereka berkumpul untuk menghidupkan tradisi suku jawa. Tetapi aliran kepercayaan pun hidup. Jika besar menjadi Demokrasi budaya atau Demokrasi kepercayaan suku....bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Ironis sekali," celoteh Ben.

Ben pun meninggalkan tempat tersebut dan berjalan terus sampai gang berikutnya dan akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang cukup tua terbuat dari papan. Ben berdiri di depan pintu.

"Saya pulang dari perjalan jauh saya dari satu kota ke kota lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan diri," celoteh Ben.

Ben langsung mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam. Keluarlah sosok yang Ben kagumi. Ayah yang mendidik Ben menjadi seorang pria yang tangguh. Dan Ibu pun langsung memeluk Ben tanda kasih sayang. Ben merasa tenang sekali. Kasih Ibu sepanjang jalan dan Ayah yang menjaganya dengan  segenap jiwa dan raganya. Ben pun akhirnya mengerti di dalam dirinya saat melewati kehidupan hari ini.

"Persatuan itu penting. Demi menciptakan perdamaian. Untuk menghilangkan keegoisan dari diri dan kelompok demi hal yang ingin meruntuhkan Indonesia. Maka benarlah Indonesia punya idoleogi yang baik yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu untuk membangun Indonesia. Demokrasi Indonesia terbangun dan akhirnya damai lah...semuanya," kata hati Ben.

Ayah pun bangga dengan Ben begitu juga dengan Ibu. Lahir dari keluarga yang penuh kekurangan menjadi sosok yang hebat untuk membangun negeri ini lewat pendidikan. Maka jalan Ben pun benar menjadi Guru PPKN demi diri, kelurga, suku, agama, bangsa dan negara.


Karya: No

Saturday, January 12, 2019

KUNTILANAK

Halo sahabat KCH, ini adalah cerita pertama saya disini. Kalau ada kekurangan dalam penulisan harap dimaklumi. Kejadian ini terjadi di tahun 2008 dan saya alami dengan beberapa teman saya sebut saja Ari, Reno, Saidi, BunBun, Chika, Indah dan Elisa. Kejadian ini bermula ketika Elisa dan putrinya di teror hantu perempuan menyerupai kuntilanak ketika mereka cuma berdua dirumah karena suami elisa sedang dinas ke luar kota. Pada malam mereka berdua itu elisa dan putrinya sudah tidur nyenyak.

Tapi kemudian elisa terbangun karena ada suara-suara diruang tamu yang dekat dengan kamarnya dan ketika dia bangun keluar dari kamar dia terkejut karena ada sosok kuntilanak yang jelas berdiri di dekat pintu rumahnya. Sontak elisa pun masuk ke kamar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an dan tidak lama kemudian kuntilanak itu menghilang. Esoknya elisa menceritakan kejadian itu kepada chika, indah, saidi, bunbun dan meminta mereka untuk bermalam di rumahnya sampai suaminya pulang.

Karena yang lain takut akhirnya bunbun mengajak saya, ari dan reno untuk ikut bermalam di rumah elisa. Akhirnya kita sepakat dan setelah habis sholat maghrib kami semua bertolak ke rumah elisa. Ketika sampai di rumah elisa kita santai di ruang tamu sambil mendengar cerita elisa tentang kejadian semalam dan tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Elisa dan putrinya, chika, indah tidur di kamar elisa, sedangkan saya, ari, reno, saidi dan bunbun tidur di ruang tamu tapi kami tidak langsung tidur karena tugas kami adalah berjaga-jaga.

Hawa di rumah elisa mulai berubah, angin membuat pohon jambu di depan rumah elisa bergoyang dan ketika jam 12 malam ke atas kejadian yang tidak di harapkan terjadi. Sosok kuntilanak yang menggangu elisa semalam muncul di depan pintu rumah elisa yang terbuka sendiri dengan kencangnya. Sontak saya dan teman-teman yang di ruang tamu terkejut dan bengong. Tapi 1-2 menit kemudian kami sudah sadar dan menguasai diri. Saya menyuruh elisa, chika, indah dan putrinya tetap di kamar dan membaca ayat suci Al Qur’an.

Sedangkan saya dan teman yang lain di komando oleh ari yang memang menguasai ilmu agama yang kuat. Mulai membacakan ayat suci Al Qur’an untuk mengusir kuntilanak tersebut, alhamdulillah tidak lama kemudian kuntilanak itu hilang. Kemudian ari mengeluarkan 3 botol besar air mineral yang sudah di bacakan surah yasin di seluruh sudut rumah elisa dan malam itupun keadaan normal sampai subuh karena kami memang tidak tidur untuk berjaga-jaga kalau kuntilanak itu datang lagi. Karena penasaran kenapa kuntilanak itu mengganggu elisa padahal sebelumnya tidak pernah ada kejadian, kami pun sepakat untuk menanyakan itu kepada kyai yang juga guru dari ari.

Setelah sampai di rumah elisa, kemudian beliau berdoa dan mendekati pagar rumah elisa dan mengambil tanah di sekitar pagar. Lalu beliau menjelaskan bahwa di pagar rumah elisa sudah ditaburi “Tanah Kuburan” oleh seseorang dan ternyata orang yang menaburkan tanah kuburan itu adalah tetangga seberang rumah elisa, kami pun langsung menuju rumah orang tersebut dan minta penjelasan.

Akhirnya orang itu mengaku dan mengatakan bahwa dia melakukan hal tersebut karena iri dengan kehidupan elisa dan suaminya yang semakin bagus rezekinya. Awalnya kami mau melaporkan kejadian itu ke polisi tapi atas saran pak kyai akhirnya terjadi kesepakatan kekeluargaan di saksikan oleh ketua RT setempat, alhamdulillah kejadian teror kuntilanak tersebut tidak pernah terjadi lagi.

THE BOY WHO CRIED WOLF

A shepherd-boy, who watched a flock of sheep near a village, brought out the villagers three or four times by crying out, "Wolf! Wolf!" and when his neighbors came to help him, laughed at them for their pains.

The Wolf, however, did truly come at last. The Shepherd-boy, now really alarmed, shouted in an agony of terror: "Pray, do come and help me; the Wolf is killing the sheep"; but no one paid any heed to his cries, nor rendered any assistance. The Wolf, having no cause of fear, at his leisure lacerated or destroyed the whole flock.

There is no believing a liar, even when he speaks the truth.

THE ANT AND THE GRASSHOPPER

In a field one summer's day a Grasshopper was hopping about, chirping and singing to its heart's content. An Ant passed by, bearing along with great toil an ear of corn he was taking to the nest.

"Why not come and chat with me," said the Grasshopper, "instead of toiling and moiling in that way?"

"I am helping to lay up food for the winter," said the Ant, "and recommend you to do the same."

"Why bother about winter?" said the Grasshopper; "We have got plenty of food at present." But the Ant went on its way and continued its toil.

When the winter came the Grasshopper had no food and found itself dying of hunger - while it saw the ants distributing every day corn and grain from the stores they had collected in the summer. Then the Grasshopper knew: It is best to prepare for days of need.

LOOKING FOR A BRIDE

There was once a young shepherd who wanted very much to marry, and was acquainted with three sisters who were all equally pretty, so that it was difficult for him to make a choice, and he could not decide to give the preference to any one of them.

Then he asked his mother for advice, and she said: “invite all three, and set some cheese before them, and watch how they eat it.”

The youth did so, the first swallowed the cheese with the rind on, the second hastily cut the rind off the cheese, but she cut it so quickly that she left much good cheese with it, and threw that away also, the third peeled the rind off carefully, and cut neither too much nor too little.

The shepherd told all this to his mother, who said, take the third for your wife.This he did, and lived contentedly and happily with her.

COBA-COBA SELINGKUH

Sabtu pagi yang cerah di kediaman Dono di daerah pinggiran kota Jakarta. Dono asik duduk ngetik di ruang tamu lewat Hpnya. Indro pun baru pulang dari urusan kerjaan dan langsung duduk bersama Dono.

"Dono tumben nulis pake Hp. Kemana leptop yang biasa di pakai untuk ngetik?" tanya Indro.

"Saya jual," jawab Dono yang masih asik ngetik di Hpnya.

"Kamu..jual Dono. Sayang banget. Kenapa kamu jual? Kan berguna untuk urusan kerja kamu?" tanya kembali Indro.

Dono menghentikan ngetik di Hpnya langsung di simpan.

"Saya butuh uang saja. Abisnya usaha saya mengalami tekan ekonomi. Karena penurunan penjualan,"cerita Dono.

"Ya........Dono namanya hidup wajar di atas wajar saja di bawah. Sudah kondisinya kan," kata Indro.

"Saya sebernarnya sudah tahu keadaan ekonomi saya. Saya sudah menghitung dari  awal puncaknya sampai mengalami penurunan yang luar biasa. Walau saya alternatifkan dengan jenis barang baru. Ternyata tidak mendongraknya. Lalu saya tinjau dari lingkungan masyarakat untuk mengecek tingkat ekonomi mereka dengan proses pendekatan. EEEEE ternyata ketahuan. Setiap warga sekitar masih terjebak dengan ekonomi keluarga," cerita Dono.

"Wah..bener-bener kacau ya...Dono," kata Indro.

"Bener-bener kacau, tapi harus mengambil sikap dalam keadaan ekonomi yang sulit. Bertahan atau gulung tikar," kata Dono.

"Keputusan yang berat banget," kata Indro.

"Yo...i..."

Dono melanjutkan pekerjaannya mengetik lewat Hpnya. Sedangkan Indro dapet telpon yang penting teman kerjanya bernama Nyasmin. Segeralah Indro pergi setelah menyelesaikan telponnya dan meninggalkan Dono yang sibuk mengetiknya.

"Haaaaaa..repot nulis pake Hp," keluhan Dono dengan suara cukup nyaring.

Dono tetap mengetik di Hp. Tiba-tiba Dono yang sedang serius kaget sekali Hpnya berdering. Lalu Dono membuka sms yang masuk. Ternyata Dono dapet pinjeman leptop dari Wulan. Segeralah Dono ke rumah Wulan untuk mengambil leptop. Pas keluar rumah Kasino baru pulang langsung deh Dono minjem motornya.

Dono menggunakan motor Kasino ke rumah Wulan. Singkat waktu sampai di rumah Wulan. Ternyata Wulan sudah di depan rumah sedang main Hpnya.

"Dek.." sapa Dono.

"Dek..dek.... ucapkan salam dulu ke rumah orang punya etika dong. Kaya gak di ajarkan agama ya!" kata Wulan ketus banget.

Dono bingung dengan sikap Wulan yang keras banget hari ini. Dono pun lebih baik menyerah dan mengucap salam "Asalamualaikum warohmatulloh wabarokatu."

"Waalaikum salam warohmatulloh wabarokatu," jawab Wulan.

Lalu Dono mau duduk bangku di teras rumah.

"Siapa yang nyuruh duduk?!" kata Wulan dengan ketus lagi.

Dono pun berpikir sejenak "Ada apa dengan Wulan ya...sampai keras ucapan ini."

Dono pun memutuskan untuk meminta maaf sama Wulan dengan tulus dari hatinya. Ternyata Wulan pun luluh hati yang keras dan begitu juga dengan ucapannya. Dono pun di suruh duduk di bangku teras rumah.

Mulailah Dono berbicara dengan maksud baiknya untuk meminjam leptop sama Wulan. EEeee Wulan marah lagi dan berkata "Tidak boleh." 

Dono lebih bingung lagi dengan sikap Wulan yang mengeras lagi. Dono pun mencoba bicara dengan Wulan dengan lebih baik lagi dan tulus banget.

"Dek..  jika...Kak salah tunjukan kesalahan Kakak. Jangan marah gini. Bikin bingung Kakak," kata Dono.

"Kakak..yang ....mulai duluan nie... semuanya," kata Wulan yang mulai marah-marah.

"Maaf..kalau... Kakak salah. Baik ucapan dan perbuatan Kakak yang tidak di sengaja dan sengaja. Sekali lagi maaf. Tapi tunjukkan kesalahan Kakak..... Dekkkk," kata Dono memohon.

"Mau tahu....gak apa ? Kak Dono...telah bermain api. Siapa ini Lesti, Rara, dan Selfi dalam tulisan yang di buat dalam Blog.....?," tanya Wulan.

Dono pun bingung di intrograsi oleh Wulan yang langsung menyalak. Dono pun mau menjawab,tapi melihat wajah Wulan yang marah akhirnya hanya bisa menunduk dan diam. Tapi Wulan mendesak Dono untuk memberikan pernyataan semuanya. Dono pun mengalah dan akhirnya membuka mulut dan bicara "Cuma orang yang Kak Dono yang dikenal saja. Lalu jadi bahan untuk tulisannya saja."

"Cuma itu saja?" tanya Wulan lagi.

"Ya...cuma itu, tapi .........."

"Tapi apa?" Wulan memotong omongan Dono.

"Tapi..memang ia sih...ada kisah di masa lalu dan sekarang yang saling berkaitan saja.Tapi Wulan gak perlu marah kok.... Cuma teman sekarang," penjelasan Dono yang kacau.

"Teman...apa teman. Nanti tahu-tahu masih ada rasa lagi?" kata Wulan menyudutkan Dono.

Dono mulai bingung di dalam dirinya dan kata hatinya bicara "Jujur salah bohong juga salah. Saya juga yang bikin masalah."

Wulan langsung masuk ke dalam rumah. Dono pun mencoba masuk ke rumah, tapi gak jadi lebih baik duduk di teras depan. Dono pun murung banget. Tiba-tiba Wulan keluar dari rumahnya.

"Kenapa gak di kejar untuk menyelesaikan persoalan kita?" kata Wulan.

"Maunya ngejer sih. Tapi....."

"Tapi...apa? Jangan-jangan gak cinta lagi sama Wulan ya. Lebih baik Lesti, Rara, dan Selfi? kata Wulan yang memotong omongan Dono dan di tambahkan langsung menyudutkan.

Dono pun diam sambil berpikir "Susah deh menghadapi Wulan seperti ini. Kaya macan betina banget."

Wulan pun kembali masuk ke dalam rumah lagi. Dono pun mengikuti Wulan masuk ke dalam rumah.

"Kak Dono..ikutan masuk ke dalam rumah juga. Ngikuti Wulan ya."

"Iya. Kalau gak ngikuti kamu masuk rumah untuk di kejar nanti marah lagi. Tapi...ini....."

"Wulan marah-marah sama Kak Dono," Wulan menyambungkan omongan Dono.

"Itu...maksudnya... Dek. Tapi..Kak Dono cuma teman dengan mereka itu saja," kata Dono dengan penuh kejujuran.

"Awas bohong..loe. Wulan cemburu tahu. Kak Dono memberikan perhatikan pada cewek lain harusnya Wulan. Karena Wulan ngeceknya tahu."

Dono pun berpikir "Dari mana Wulan tahu ya."

Wulan pun masuk ke dalam rumah dan Dono ingin ikutan masuk tapi lebih baik duduk di teras depan. Wulan pun keluar dari rumahnya dengan membawa leptop yang dari kamarnya dan di taruh di meja.

"Nih.. leptop ....Kak Dono yang di jual. Wulan beli lagi lewat teman Kak Dono," kata Wulan.

Dono langsung ngecek leptopnya dengan baik.

"Astaga ini leptop... saya," kata Dono.

"Saya dapat infonya dari leptop ini," kata Wulan.

"Wah.....gara-gara saya lupa memindahkan data. Ketahuan lah isi leptop ini," kata Dono.

"Ketahuan...kan. Kak Dono mulai main api. Biasanya Wulan yang di tulis. Tapi cewek lain yang masih ada urusan dengan pribadi Kak Dono," kata Wulan.

"Ya...deh..Kak Dono salah. Jadi minta maaf. Masalah leptop ini Kak Dono pinjem dulu ya," kata Dono.

"Sudahlah..Kak... Wulan membelinya untuk Kak Dono kok. Wulan ikhlas kok untuk Kak Dono," kata Wulan yang menunjukkan niat baiknya.

"Alhamdulilah..... Kalau begitu Kak Dono permisi dulu. Untuk menyelesaikan pekerjaan Kak Dono."

"Iya..hati-hati di jalan."

"Asalamualaikum," salam Dono.

"Waalaikum salam," jawab Wulan.

Dono pun segera pulang ke rumahnya dengan menjalankan motor dengan baik. Di tengah jalan Dono berhenti di pinggir jalan. 

"Untung aja punya cewek yang baik banget bisa menerima penjelasan saya. Sebenarnya sih...saya gak selingkuh. Cuma coba-coba. Tapi....lebih baik Wulan. Anaknya baik dan kaya raya. Saya sih tidak mengincar kekayaan orang tuanya. Saya suka sama Wulan karena kebaikan hatinya itu lah yang dapat mengalahkan semua wanita lebih baik dari Wulan dari sisi pencapaian sesuatu untuk masa depan yaitu karir," celoteh Dono yang meratapi keadaan dirinya.

Dono pun mulai menjalankan motornya. Lagi-lagi berhenti di pinggir jalan.

"Wulan lebih baik deng. Saya lupa... Kalau dia lulus S2. Pencapaian untuk masa depan bisa menjadi siapa pun. Tergantung Wulannya," celoteh Dono.

Dono pun menjalankan motornya lagi  menuju pulang ke rumahnya.


Karya: No

KEBAIKAN DI BAYAR DENGAN KEBAIKAN

Rangga duduk jalan di ibukota Jakarta dan sekaligus melihat perubahannya. Lalu Rangga pun istirahat pada sebuah bangku di bawah pohon yang rindang. 

"Satu, dua, tiga, empat dan ada juga yang buka kios pertokoan di pinggir jalan," celoteh Rangga dengan suara kecil.

Rangga pun mulai bersantai cukup lama untuk menghilangkan rasa capeknya. Perutnya mulai berbunyi dan rasa haus pun datang. Rangga mulai garuk-garuk kepala sambil geleng-geleng kepala tak sengaja sehelai rambutnya jatuh ke lantai. Rangga pun memungut sehelai rambutnya dengan tangan kanannya. Dengan seksama Rangga memperhatikan sehelai rambutnya.

"Hidup penuh dengan kemiskinan. Tak terasa saya sudah tua. Sehelai rambut ini menunjukkan kebenaran berwarna putih. Hidup di ibu kota ini memang menyakitkan. Harus lebih kerja keras lagi untuk bisa untuk mengisi perut yang kosong," celoteh Rangga dengan suara kecil.

Rangga pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan mencari jawaban dari langkah kakinya hari ini. Sampailah Rangga pada kedai makan yang cukup murah untuk makan siangnya. Padahal uang Rangga tinggal Rp 20.000. Rangga pun memberanikan diri untuk membelikan makan pada kedai tersebut.

Saat mau masuk melihat orang buka yang biasa meminta-minta ke kedai makan. Rangga pun tahu orang buka itu yang meminta-minta nama Pak Diman. Rangga pun iba dengan keadaan Pak Diman. Uang Rp 5.000 di berikan oleh Pak Diman dan berkata di telinga kanannya "Ini sedekah saya hari ini untuk Pak Diman sebesar Rp 5000."

Pak Diman langsung memahami siapa yang bicara kepadanya?. 

"Nak Rangga..toh. Semoga Alloh SWT membalasnya," kata Pak Diman.

"Amin," jawab Rangga dengan halus.

Baru orang-orang iba dengan keadaan Pak Diman dan memberikan sodakoh mereka ke pada orang tua yang buta. Pak Diman pun berterima kasih pada semuanya. Sampai pemilik kedai makan memberikan sodakoh makan untuk Pak Diman yang di bungkus dengan baik. Lagi-lagi Pak Diman yang buta pun berterima kasih pada orang yang memberikan makan kepadanya.

Pak Diman pun berjalan meninggalkan kedai makan. Lalu Pak Diman meneteskan air matanya di matanya yang buta "Dunia masih banyak orang baik pada saya yang buta ini. Ya.....Alloh SWT."

Ranga pun hanya melihat Pak Diman berjalan dengan berhati-hati dengan menggunakan tongkatnya. Barulah Rangga masuk ke dalam kedai untuk memesan makanan dan minuman dengan uang Rp 15.000. Sang pemilik kedai makan melayani Rangga dengan baik dan tahu siapa Rangga yang sebenarnya?

Rangga pun menikmati makan dan minuman yang di pesannya. Selang berapa saat perut terisi penuh dengan akan dan minuman, lalu Rangga membayar harga makan dan minuman sebesar Rp 15.000. Pemilik kedai makan berterima kasih pada Rangga telah menjadi langganannya. Rangga pun melanjukkan perjalannya.

Terlihat dari kejauhan oleh mata Rangga orang berkumpul di pinggirnya. Ternyata seorang artis penyanyi Indonesia turun ke jalan dan banyak orang ingin berfoto dengan artis tersebut. Rangga hanya sikas saja melihat semua yang sedang berkumpul dan lebih baik jalan terus melanjutkan perjalannya. Tak sengaja Rangga melihat sebuah mobil yang tidak begitu mencolok tetapi terlihat kamera dari kaca mobil.

"Ternyata ada pengambilan syuting hari ini. Artis penyanyi turun ke jalan itu hanya ingin menaikan pamornya dengan langsung ke masyarakat toh," celoteh Rangga.

Rangga terus berjalan sampai di sebuah pinggiran toko. Rasa capeknya datang. Rangga mulai bingung lagi. Lalu segera duduk nongkrong di pinggir toko. 

"Saya sudah...bingung jalan hidup ini dengan penuh kemiskinan," celoteh Rangga.

Rangga pun mengambil sebuah plastik tempat makan di sampingnya yang berserakan untuk di buat mainan. Lalu segera Rangga menyobek-nyobeknya dan di taruh di depannya.

"Semoga-moga makan dateng......," celoteh Rangga yang ingin menciptakan guyonan pada dirinya yang sedang dilema.

Rangga pun menungguin mainnya itu cukup lama. Ternyata ada orang juga yang iba padanya Rangga lalu memberikan uang sodakoh Rp 5000. 

Rangga pun geleng-geleng kepala "Aduh-aduh saya cuma mainan.....eh malah benaran. Aneh juga hidup di kota Jakarta ini."

Rangga pun bangun dari tongkrongannya dan segera mengambil uang Rp 5000, lalu mengejar orang yang memberikan sodakoh padanya untuk mengembalikan uangnya.

"Maaf Ibu..saya bukan pengemis... jadi saya berikan uang Ibu Rp 5000," kata Rangga.

"Oh...iya. Tapi niat saya tulus. Alasannya saya melihat adik kelihatan melamun kaya orang banyak masalah. Ya saya sodakohan saja uang saya untuk adik. Niat saya baik kok..," kata Ibu-Ibu.

"Saya tahu niat Ibu baik. Tapi sebenarnya saya memang punya masalah. Cuma saya lagi ingin main saja jadi seorang peminta. Jadi ya..gak beneran..atuh. Jadi saya pulangkan uang ini," kata Rangga.

"Kalau mau adek seperti itu saya ambil lagi uang yang baru saya sodakohkan," kata Ibu-Ibu.

"Iya," jawab Rangga.

Rangga pun meninggalkan Ibu-Ibu  tersebut. Baru berapa langkah Rangga pun di panggil Ibu-Ibu "Adek...adek."

"Iya," saut Rangga sambil membalikkan tubuhnya.

"Saya punya tawaran baik. Mungkin adek tertarik untuk bekerja di toko saya," kata Ibu-Ibu.

"Tawaran Ibu cukup menarik. Saya memang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup di kota Jakarta ini. Jadi saya terima tawaran Ibu," kata Rangga.

"Ayo ikut saya ke toko saya....," kata Ibu-Ibu.

"Baik ...Bu."

Rangga mengikuti Ibu-Ibu yang menawarkan pekerjaan di tokonya. Sampai di toko Ibu-Ibu itu Rangga melihat nama merek toko yang terpampang jelas.

"Butik Mila," celoteh Rangga.

"Adek akan bekerja di toko saya yang bernama Butik Mila yang diambil dari nama saya sendiri Mila Pusparini," penjelasan Ibu-Ibu.

"Nama yang bagus sesuai orang yang memakainya," pujian Rangga.

"Terima kasih, " saut Ibu Mila.

Semenjak itu Rangga bekerja menjadi karyawan di toko Ibu Mila. Kehidupan Rangga mulai membaik tidak kesulitan lagi karena kemiskinan. Dengan sabar dan kerja keras akhirnya Rangga menikmati hasil kerjanya yang lumayan cukup walau tidak besar setiap bulannya Rp 1.500.000. Ranga terus banyak bersyukur dengan menyisikan uangnya untuk Pak Diman karena kebiasaan untuk menolong orang lain lewat sodakoh. 


Karya: No

Thursday, January 10, 2019

TEDY

Boby menemukan sebuah boneka berbentuk beruang yang berwarna coklat saat mau pulang ke rumah. Boby mengambil boneka  tersebut dan membawa pulang. Hendak masuk ke dalam rumah Boby di hadang boneka beruang berwarna hitam yang berpenampilan seperti bajak laut dan membawa benda tajam di tangan kanannya.

"Hay..anak manusia jika kamu mau selamat lepaskan. Si brengsek yang bernama Tedy," teriak boneka beruang berwarna hitam.

"Boneka ini," saut Boby.

Tiba-tiba boneka beruang bernama Tedy berkata dengan suara kecil sambil tangannya mengarah ke mulut "Sut."

"Ahhhhhh.....," teriak Boby karena ketakutan dan menjatuhkan Tedy.

Tedy langsung menunjukkan aksinya berdiri dengan dua kakinya di jalan beraspal. 

"Lagi..lagi..kamu Robert.... bisa gak cari masalah. Saya sudah jauh-jauh melarikan diri dari kota boneka dan tidak mau di tindas dengan Raja Lupin yang jahat yang seenaknya menindas rakyat boneka," kata Tedy.

"Dasar pembangkang," teriak Robert.

"Terserah kamu bicara apa?"

Robert makin langsung menjalankan tugasnya untuk menangkap Tedy. Dengan berlari langsung menusuk dengan pisau dari tangan kanannya. Tedy langsung menghindar dengan cepat dan menyerang dengan tinjuan yang masuk ke bagian muka Robert. Ternyata Robert berhasil menghindar serangan Tedy dan mundur satu langkah dan kembali menyerang dengan cepat menusuk. Tedy kembali menghindari serangan Robert dan sekalian menendang kakinya. Robert terselandung oleh kaki Tedy dan masuk ke dalam selokan yang hitam dan berbau busuk.

"Brengsek kamu..Tedy," kata Robert yang berusaha keluar dari comberan.

"Ayo..kita pergi!" perintah Tedy ke anak kecil bernama Boby.

Boby dan Tedy berlari menghindari Robert dan tidak jadi pulang menuju suatu tempat di pinggiran sungai. Lalu Tedy dan Boby berhenti berlari.

"Kenapa saya harus berlari sejauh ini?" tanya Boby.

"Agar kamu selamat dari serangan Robert," kata Tedy.

"Tapi saya..harus pulang. Nanti saya di marahi oleh orang tua saya," kata Boby.

"Gimana yaaaaa.... Ya sudah kamu pulang ke rumah kamu. Saya akan mencari cara agar bisa hidup di kota ini," kata Tedy.

"Semoga..beruntung ya," kata Boby.

"Iya."

Boby pun pulang ke rumahnya lewat jalan lain. Tedy yang sedikit murung bermain di pinggir sungai. Ketika kejenuhannya hilang Tedy bergerak dengan berlari dan mencari Boby. Ternyata Boby terjebak keadaan di tempat pembuangan sampah. Boby di serang oleh Robert. 

"Ampun...jangan celakin saya," permohonan Boby.

"Dimana Tedy?" tanya Robert sambil pisau yang tajam di arahkan ke Boby.

Tedy melihat keadaan Boby yang terjebak keadaan. Diambilah sebuah tongkat kayu oleh Tedy yang tergeletak di tanah. Langsung menyerang Robert dengan pukulan yang sangat kuat dan akhirnya Robert terpental jauh ke langit.

"Tunggu...pembalasan.....ku," teriak Robert tidak berdaya.

"Hebat kamu," kata Boby.

"Ya..kamu tidak apa-apa?" tanya Tedy.

"Tidak apa-apa?" jawab Boby.

"Kalau begitu saya pergi dulu," kata Tedy.

Tedy pergi menjauh dari Boby. Tapi Boby memanggilnya "Tunggu jangan pergi. Kamu ikut saya dan tinggal bersama saya."

Tedy berbalik badan dan melihat Boby.

"Eeeem..ok saya ikut dengan kamu. Tinggal bersama kamu," kata Tedy.

"Oh..ya saya tidak tahu nama kamu?" tanya Boby.

"Saya Tedy dari kota boneka," kata Tedy.

"Tedy...nama yang bagus. Saya Boby..salam kenal."

Tedy dan Boby langsung berjabat tangan tanda awal persahabatan. Boby pulang ke rumahnya dan Tedy ikut juga. Sampai di dalam rumah Tedy di terima oleh Ayah Ibu Boby. Lalu Boby menunjukkan kamar untuk Tedy di lantai 2 sebelah kamar Boby yang kosong. Tedy mulai menjalankan hidupnya di dunia manusia bersama keluarga manusia yang baik dan menerimanya dengan baik.


Karya: No

CAMPUR ADUK

THE HURRICANE

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Keadaan sekitar lingkungan rumah Budi...baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bag...

CAMPUR ADUK