CAMPUR ADUK

Saturday, July 10, 2021

SIMCHEONG DAN AYAHNYA YANG BUTA

Joko selesai bermain layang-layang di lapangan, ya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah. Joko  menaruh layang-layang di kamarnya. Keluar dari kamarnya, ya Joko ke ruang tengah. Di meja ada kue dan aqua gelas. Joko mengambil kue dan aqua gelas. 

"Hari menyenangkan main layang-layang," kata Joko.

Joko pun melihat buku di meja dan segera di ambil buku tersebut. Joko membuka buku dan membaca dengan baik buku.

Isi buku yang baca Joko :

Di sebuah desa yang terpencil, tinggalah seorang gadis cantik yang bernama Simcheong. Simcheong merupakan anak piatu. Ibunya telah lama meninggal. Dia tinggal bersama ayahnya yang buta. Mereka hidup miskin dan sengsara. Beruntunglah Simcheong sabar menghadapi kenyataan keluarganya. Namun Simcheong memiliki cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya.

Akhirnya Simcheong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun, ketika perjalanan pulang dari kota, Simcheong tidak dapat pulang dengan lancar karena ada badai salju. Di rumah, sang ayah resah menunggu kepulangan Simcheong. Apalagi Simcheong merupakan anak perempuan satu-satunya. Sang ayah akhirnya berusaha menjemput Simcheong. Dengan bersusah payah, sang ayah berusaha melawan arus badai yang begitu kuat. Dia tidak ingin Simcheong berada dalam bahaya. Namun, karena kondisinya yang tidak memungkinkan, ayah Simcheong tergelincir dan jatuh ke sungai. Beruntunglah ada seorang biksu yang menolong ayah Simcheong.

“Terimakasih biksu, anda menyelamatkan hidup saya,” kata ayah Simcheong.

Sang biksu ingin mengetahui keadaan ayah Simcheong tersebut “Apakah Bapak tidak bisa melihat ?” kata sang biksu.

“Iya, saya tidak dapat melihat. Apakah Bapak bisa membantu saya untuk dapat melihat kembali ?” pinta ayah Simcheong.

“Bisa Pak, tapi Bapak harus menyumbangkan 300 karung beras untuk disumbangkan kepada kuil kami,” jelas sang biksu.

Ayah Simcheong terkejut mendengar banyaknya beras yang harus disumbangkan. Untuk makan sehari-hari saja, mereka telah bersusah payah dan berhemat, apalagi menyumbangkan 300 karung beras. Sang ayah akhirnya pulang dengan harapan dapat menyanggupi permintaan biksu tadi, supaya dirinya dapat melihat kembali. Dia berharap, akan ada keajaiban yang membuatnya dapat melihat kembali.

Setelah sampai di rumah, ternyata Simcheong telah berada di rumah. Sang ayah menceritakan perihal dia bertemu dengan seorang biksu dan syarat agar ayahnya dapat melihat kembali. Simcheong sangat ingin membantu ayahnya agar dapat melihat kembali. Simcheong sadar diri bahwasanya mereka berasal dari keluarga miskin. Untuk itulah Simcheong kembali ke kota, untuk mencari pekerjaan yang dapat membantu ayahnya dapat melihat kembali.

Setelah sampai di kota, Simcheong bertemu dengan saudagar kapal yang mencari tumbal seorang gadis agar dia bisa menyebarangi laut dengan selamat. Simcheong akhirnya mendekati saudagar kapal itu dan bersedia menyanggupi sebagai tumbal dalam pelayaran tersebut.

“Bapak, saya bersedia menjadi tumbal untuk keselamatan pelayaran bapak dan para awak kapal,” kata Simheong.

“Baiklah kalau begitu, syarat apa yang kamu pinta sebagai upah ?” tanya si saudagar.

“Saya meminta 300 karung beras. 300 karung beras itu harus anda kirimkan ke rumah ayahku sebelum anda berangkat pergi berlayar,” jelas Simcheong.

“Baiklah, saya menyanggupinya,” kata saudagar tersebut.

Sang saudagar akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengirimkan 300 karung beras ke rumah Simcheong. Simcheong pun ikut berlayar bersama saudagar dan anak buah kapalnya. Selama di perjalanan, Simcheong terus berdoa kepada Tuhan agar ayahnya selalu sehat dan selamat. Karena dia tidak dapat lagi menemani sang ayah. Simcheong akhirnya diceburkan ke dalam laut yang dianggap sebagai daerah yang berbahaya. Dia telah menjadi tumbal dalam pelayaran tersebut. Simcheong tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan. 

Ketika Simcheong telah diceburkan ke dalam laut, dia tidak mati. Simcheong kaget, karena dia dapat melihat keindahan pemandangan di dasar laut. Dia dapat menyelam dengan mudah tanpa merasa takut. Hal tersebut merupakan di luar dugaan bagi Simcheong. Simcheong akhirnya bertemu dengan sososok makhluk dengan mahkota. Sosok tersebut akhirnya menjelaskan kenapa Simcheong tidak mati.

“Aku adalah raja laut. Kau kuselamatkan karena telah berbakti kepada orang tuamu,” jelas sang raja laut sambil tersenyum kepada Simcheong.

“Terimakasih raja laut. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Bolehkah aku meminta bantuanmu ?” tanya Simcheong.

“Tentu saja, apa permintaanmu hai anak yang baik ?” tanya sang raja laut.

“Bisakah kau mengembalikanku kepada ayahku ? Ayahku telah tua dan sakit-sakitan,” pinta Simcheong.

“Tentu bisa, sekarang pejamkanlah matamu !” perintah raja laut.

Simcheong akhirnya memejamkan matanya. Dia berharap agar dapat pulang ke rumah dengan selamat. Simcheong akhirnya terdampar di sebuah pantai. Dengan setengah tidak sadarkan diri, Simcheong melihat keadaan di sekeliling pantai. Banyak orang yang berkerumun mendekati Simcheong. Mereka melihat Simcheong terkapar tidak berdaya di tepi pantai. Di saat bersamaan, seorang pangeran sedang berkunjung ke desa di pantai tersebut. Sang pangeran juga melihat Simcheong yang terdampar di pantai itu. Dia memerintahkan pengawalnya untuk membawa Simcheong ke istana. Simcheong akan dirawat di sana.

Setelah Simcheong dirawat beberapa hari di istana, kondisi Simcheong telah sehat. Dia lalu menceritakan masa lalunya kepada sang pangeran. Pangeran yang telah melihat Simcheong kembali sehat dan kecantikannya kembali terlihat menjadi jatuh cinta kepada gadis itu. Akhirnya Simcheong dapat bertemu kembali dengan ayahnya yang tidak lagi buta. Simcheong dan sang pangeran akhirnya menikah. Ayah Simcheong pun di bawa ke istana untuk tinggal bersama. Mereka akhirnya hidup bahagia.

***

Joko menghentikan baca buku.

"Cerita yang bagus, ya asal cerita dari Korea....katanya sih," kata Joko.

Joko membaca pesan moral yang di tulis buku dengan baik "Betapa pentingnya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Sebab orang tua kita telah berusaha membesarkan kita dengan penuh kasih sayang."

Joko memahami pesan moral yang di tulis di buku tersebut. 

"Aku harus menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Siapa tahu di masa depan aku bisa jadi Presiden. Kata ibu dan ayah jika berusaha dengan baik pasti bisa menggapai cita-cita dengan baik. Kalau berhasil itu semua berkat doa dan usaha aku, ya ibu dan ayah terus mendoakan dengan baik," kata Joko.

Joko menutup buku dan di taruh di meja dengan baik. Joko segera menghidupkan Tv dan PlayStation, ya main game. Joko asik main game petualangan Doraemon.

"Aku sebenarnya ingin main game pertarungan. Tapi tidak ada teman untuk main berdua. Jadi aku main game petualangan. Game Doraemon bagus juga, ya sesuai dengan cerita kartunya gitu," kata Joko.

Joko terus main game dengan penuh keasikan.

Thursday, July 8, 2021

MAAF SEKEDAR CERITA SAJA

Dono sedang duduk di ruang makan, ya sedang asik baca buku sambil menikmati minum teh dan roti. Kasino dan Indro di ruang tengah sedang asik nonton Tv, ya acara yang di tonton berita lah. Kasino dan Indro nonton Tv sambil menikmati minum kopi dan makan roti gitu. Saat berita memberitakan tentang artis Nia bersama suaminya Ardi di tangkap polisi karena kasus narkoba.

"Beritanya tentang artis tertangkap polisi karena kasus narkoba," kata Indro.

"Memang beritanya memberitakan itu," kata Kasino.

"Dono membuat cerita tentang narkoba, ya menggunakan nama artis jadi tokoh jahatnya," kata Indro.

"Kebiasaan Dono. Bercerita ini dan itu, ya kadang di ambil berita yang viral kata zaman sekarang gitu," kata Kasino.

"Apakah Dono bisa di bilang mencemarkan nama baik seseorang. Kan memasukkan nama artis dalam tokoh cerita. Dari pemakai jadi pengedar?!" kata Indro.

"Mencemarkan nama baik. Hukum berkembang sampai urusan nama baik seseorang. Repot juga ya," kata Kasino.

"Repot memang Kasino," kata Indro.

"Untung saja. Cuma sekedar cerita saja. Abstrak gitu. Jadi aman deh," kata Kasino.

"Aman toh. Cerita yang di buat Dono," kata Indro.

"Orang yang pengedar narkoba, ya biasanya pemakai kan Kasino?" kata Indro.

"Ya ilah. Contohnya : Awalnya di beri permen. Orang yang di beri permen itu suka dengan permen itu. Karena ada nilai ekonominya. Maka permen  itu di jual. Barang di ambil dari orang yang memberi permen itu," kata Kasino.

"Contoh Kasino benerlah kalau di umpakan seperti permen," kata Indro menegaskan omongan Kasino.

Acara berita berganti dengan berita yang lainnya.....pokoknya menarik gitu.

"Oooo Kasino. Manusia itu lebih banyak menyembah Tuhan apa Setan ?" kata Indro.

"Manusia itu lebih banyak menyembah Tuhan apa Setan. Kalau ajaran kejujuran maka menyembah Tuhan. Tapi kalau ajarannya kebohongan yang di sembah adalah Setan," kata Kasino menjelaskan.

"Jujur dan bohong. Manusia harus pinter menilai ajaran yang berkembang di muka bumi ini," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus menonton Tv dengan baik gitu.

"Ooooo iya. Kasino. Apakah Dono ada ketakutan dalam dirinya dalam membuat cerita mengunakan nama artis?!" kata Indro.

"Kalau itu tanya ke Dono lah!" kata Kasino.

"Dononya lagi sibuk baca buku. Ayolah Kasino...sekedar obrolan saja!" kata Indro.

"Ya adalah. Namanya Dono itu manusia. Ada ketakutan. Menggunakan nama artis, ya bisa saja mencemarkan nama baik tuh artis. Kadang hidup itu tidak sesuai dengan rencana. Niat baik bisa jadi buruk. Niat buruk jadi baik. Dono mensiasatinya dengan membuat cerita dengan di beri judul seperti ini 'Maaf Sekedar Cerita Saja', bisa kan," kata Kasino menjelaskan dengan baik.

"Ia sih dengan judul 'Maaf", ya urusan selesai. Toh cerita Dono kan tidak mencari keuntungan. Hanya cerita doang gitu," kata Indro menegaskan omongan Kasino.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Fokus nonton Tv aja!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baik karena memang acara berita bagus gitu...memberitakan keadaan ini dan itu. Dono tetap asik baca bukunya.

LAPOR PAK

Wendy duduk di warung kopi. Di seberang jalan ada orang yang di awasin Wendy. Tiba-tiba Ayu muncul, ya duduk di sebelah Wendy.

"Pak Wendy kenapa minum kopi di sini?" tanya Ayu.

"Ayu di sini gangu aja," kata Wendy.

Orang yang di awasi Wendy di seberang jalan, ya bergerak gitu.

"Ayu bayarin dulu kopinya. Aku ngejer target!" kata Wendy.

Wendy langsung bergerak naik motornya karena orang yang di awasi Wendy naik ojek.

"Yang minum kopi siapa? Yang bayar aku!" kata Ayu.

Ayu membayar kopi pada pemilik warung kopi. Ayu ke kantorlah. Wendy terus membuntutin target dengan baik banget. Sampai di rumah gedong sih. Orang yang di buntutin Wendy, ya berhenti di rumah gedong sih. Tukang ojek, ya pergilah setelah di bayar gitu. Masuklah orang tersebut ke rumah gedong itu. Wendy memarkirkan motornya dengan baik banget. Andika menelpon Wendy.

"Wendy posisi di mana?" kata Andika.

"Posisi di sebuah rumah gedong. Mau menangkap target," kata Wendy.

"Kalau begitu aku kesana secepat mungkin," kata Andika.

"Iya," kata Wendy.

Hubungan teleponan antara Wendy dan Andika selesai. Wendy memberanikan diri untuk masuk ke rumah gedong itu, ya lewat pintu depanlah. Pintu di buka dengan baik sama Wendy karena tidak di kunci sih pintu depan. Muncul sosok yang menyeramkan. Wendy mau berteriak "Setan", tapi tidak jadi karena yang di lihat itu cuma patung berwujud menyeramkan di taruh di ruang tamu. Wendy pelan-pelan masuk rumah. Di sebuah kamar terjadi transaksi narkoba. Wendy mendobrak pintu dengan memegang pistolah untuk mengalahkan musuh gitu.

"Jangan bergerak," kata Wendy menodongkan pistol.

Orang-orang yang sedang bertransaksi narkoba tidak bergerak gitu. Wendy kaget melihat sosok artis yang menjadi pengedar narkoba Anji dan Nia suaminya Ardi. Di belakangnya Wendy ada anak buah Anji, yang bernama John. Ya John menodongkan pistol ke kepala Wendy dan John berkata "Serahkan pistol mu."

Wendy mengikuti maunya orang di belakang dia, ya menyerahkan pistol di tangannya. Trik sulap di lakukan Wendy. Bukannya pistol yang di serahkan melainkan pisang.

"Becanda kamu?!" kata John.

"Nama juga pelawak, ya becanda," kata Wendy.

Wendy menyerahkan pistolnya yang asli sih. Andika muncul di belakang John dengan menodongkan pistol di kepala dan berkata "Serahkan pistol mu!"

"Iya," kata Jhon.

Jhon menyerahkan pistol ke Andika. Wendy senang Andika cepat dateng menolong.

"Kalau bertindak jangan sendiri. Untung aku cepat dateng!" kata Andika.

"Iya," kata Wendy.

Wendy mengambil pistolnya lagi di tangan Jhon. Wendy dan Andika mulai memborgol Anji, Nia, Ardi dan Jhon. Saat mau keluar dari rumah gedong. Ada beberapa preman dateng yang ingin menolong Anji dan kawan-kawan gitu. Andika dan Wendy sebenarnya dengan pistol, ya preman sudah kalah sih. Andika dan Wendy ingin menunjukkan kehebatan seni bela diri gitu. Andika dan Wendy bertarung dengan para preman. Pertarungan sengit banget kaya film laga gitu luar biasa heboh banget gitu. Wendy dan Andika bisa mengalahkan preman semuanya. Pak Andre dateng dengan pasukan. Pak Andre melihat kerja Wendy dan Andika yang menangkap para pengedar narkoba.

"Lapor Pak. Telah berhasil menangkap pengedar narkoba," kata Wendy.

"Hebat Wendy dan juga Andika," kata Pak Andre.

"Iya Pak," kata Wendy dan Andika bersamaan.

Pak Andre menyuruh anak buah membawa semua para penjahat ke mobil dan langsung ke kantor untuk di proses lebih lanjut.

"Wendy kita berhasil menangkap para penjahat," kata Andika.

"Semua berkat informan aku," kata Wendy.

"Iya deh. Informan Wendy jempolan," kata Andika.

Andika dan Wendy, ya ke kantor dengan kendaraan masing-masing....motorlah. Selang beberapa saat. Di kantor. Semua di proses dengan baik. Pak Andre sedang wawancara dengan repoter Tv tentang keberhasilan anak buahnya menangkap para penjahat pengedar narkoba. Ayu mendatangi Wendy yang bersama Andika duduk di kantor.

"Pak Wendy..uang kopinya," kata Ayu.

"Ayu. Uang kopi di tagih," kata Wendy.

"Wendy ngebon kopi ya?!" kata Andika.

"Iya sih. Abisnya lagi ngejer target. Yang bayar kopinya Ayu!" kata Wendy.

"Ooo begitu," kata Andika.

Wendy menyeluarkan uang dari sakunya dan berikan ke Ayu. 

"Uangnya lebih Pak Wendy?!" kata Ayu.

"Lebihnya untuk Ayu. Bonus," kata Wendy.

"Terima kasih Pak Wendy. Sering-sering saja ya!" kata Ayu.

"Mau...nya," kata Wendy.

Wendy dan Andika memutuskan main catur saja. Ayu, ya membereskan ini dan itu di kantor...bersih-bersihlah.

TINKER BELL

Ghea selesai mengerjakan tugas kuliahnya di kamarnya, ya keluarlah dari kamarnya. Ghea ke ruang tengah untuk nonton Tv. Lila adiknya Ghea sedang asik menonton Tv dengan acara Tv.....film kartun Tinker Bell. Ghea duduk bersama dengan Lila, ya nonton Tv dengan baik banget.

Cerita yang di tonton Ghea dan juga Lila di Tv :

Pada suatu hari yang istimewa di Pixie Hollow. Semua peri berkumpul. Dengan taburan debu ajaib, peri baru lahir. Namanya Tinker Bell. Ratu Clarion menyambut peri terbaru dan berkata, “Lahir dari tawa, berpakaian gembira, kebahagiaan telah membawamu ke sini.”

Para peri berusaha membantu Tinker Bell menemukan bakatnya. Mereka memberinya bunga, air, dan cahaya, tetapi semua yang di sentuh Tink meredup dan menghilang. Kemudian, Tinker Bell melewati sebuah palu. Ternyata palu itu mulai bersinar, bahkan terbang langsung ke arahnya. Saat itulah dia sadar bahwa dia telah menemukan bakatnya. Dia adalah peri yang suka bermain-main.

Para peri datang berkerumun untuk menyambut Tinker Bell. Tink senang bertemu dengan mereka. Namun dia juga agak sedih. Tinkers tidak terlihat mewah seperti peri lainnya. Teman-teman baru Tink, Clank dan Bobble, mengajaknya berkeliling di Pixie Hollow. Dia melihat semua peri bersiap-siap untuk musim semi.

“Ini adalah perubahan musim,” jelas Bobble. 

Ada banyak hal yang terjadi di Tinker’s Nook. Tinker Bell senang melihat semua hal baik yang dibuat pada peri. Peri Mary kepala peri pekerja. Dia menyuruh Clank dan Bobble untuk mengirimkan kreasi mereka ke seluruh peri dengan cepat. 

Mereka akan membutuhkan barang-barang di daratan. “Daratan kedengarannya menarik!” teriak Tink.

Peri yang bermain-main menunjukkan pada ratu apa yang telah mereka buat. Salah satu kreasi Tinker Bell masih belum sempurna. Tink akan memperbaikinya tepat waktu untuk membawanya ke daratan. Sang ratu mengatakan kepada Tink bahwa para peri yang bermain-main tidak pergi ke daratan.

“Karyamu ada di sini di Pixie Hollow,” kata Queen Clarion.

Tinker Bell kecewa dengan kenyataan itu. Peri Mary mengatakan kepadanya bahwa dia harus bangga dengan siapa dia. Tapi Tinker Bell tidak bisa menerima ucapan itu.

Dia ingin menjadi peri taman seperti peri lainnya. Dia meminta bantuan teman-temannya. Pada awalnya, Silvermist mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri air. Tapi Tink tidak pandai menggunakan air. Kemudian, Iridessa mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri cahaya, tetapi Tink tidak pandai menggunakan cahaya. Fawn mencoba menunjukkan kepada Tink bagaimana menjadi peri binatang, tetapi Tink juga tidak pandai menggunakan hewan. Tink melihat seekor burung besar terbang di langit.

“Mungkin pria itu bisa membantu!” pikir Tink. Burung itu menukik ke arah Tink. 

“Elang!” teriak para peri saat mereka berlari mencari perlindungan. 

Tink melompat ke dalam lubang untuk bersembunyi. Lubang itu adalah tempat persembunyian Vidia. Sekarang, elang juga mengejar Vidia. Para peri lainnya menyerang elang dengan buah beri. Vidia aman tetapi dia marah. Tink mencoba membantunya membersihkan tetapi dia tidak menginginkan bantuan Tink. Tink merasa tidak enak. Dia tidak bisa menahan tetesan air, dia tidak bisa menahan sinar cahaya, dan bayi burung takut padanya.

“Aku tidak berguna,” katanya. 

Tink terbang ke pantai. Dia ingin sendirian. Di sana dia melihat kotak musik yang rusak. Tink dengan cepat mulai bekerja. Teman-temannya memperhatikan.

“Kamu memperbaikinya!” Silvermist menangis.

Mereka semua kagum dengan bakatnya yang mengotak-atik. Tinker Bell senang bermain-main. Tapi dia masih ingin pergi ke daratan. Pada harapan terakhirnya, Tink pergi ke Vidia untuk meminta bantuan. Tapi, Vidia masih marah padanya. Vidia mendapat ide jahat. Dia mengatakan Tink harus menangkap Sprinting Thistles untuk membuktikan bahwa dia adalah peri taman. Itu pekerjaan yang berbahaya. Tapi Tink harus mencoba. Itu adalah kesempatan terakhirnya. Dia membuat kandang dan laso untuk menangkap Thistles.

“Berhasil!” teriak Tink. 

Thistles berhasil dimasukan ke dalam kandang. Tapi kemudian, Vidia menghembuskan angin yang kencang, Gerbang kandang terbuka. Para Thistles berlari berhamburan keluar. Tinker Bell kehilangan kendali atas mereka. Para Thistles berlari ke sana kemari melewati Springtime Square. Mereka menghancurkan semua persediaan musim semi. Semua orang kesal. Musim semi harus dibatalkan. Itu semua kesalahan Tinker Bell. Tinker Bell pun terbang karena malu. Tinker Bell memutuskan untuk meninggalkan Pixie Hollow untuk selamanya.

Saat akan meninggal kan Pixie Hollow, dia berhenti untuk terakhir kalinya di bengkel tinker. Saat dia melihat sekeliling, dia mendapat ide. Dia tahu bagaimana cara menyelamatkan musim semi! Di Springtime Square, Vidia dihukum karena membantu Thistles melarikan diri. Dan semua orang sedih bahwa musim semi tidak akan datang.

“Tunggu! Saya tahu bagaimana kita bisa memperbaiki semuanya! Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri!” ucap Tinker Bell. 

Para peri sangat ingin membantu. Tink menunjukkan kepada semua orang apa yang harus dilakukan. Dalam sekejap mata, kreasi Tink mengisi ember dengan cat dan biji beri. Segera, semuanya sudah siap untuk musim semi!

“Kamu berhasil! Kamu menyelamatkan musim semi!” seru Ratu Clarion. 

“Kita semua melakukannya,” kata Tinker Bell.

Peri Mary memberi tahu Tink bahwa dia juga bisa pergi ke daratan. Kotak musik yang diperbaiki Tink adalah milik seorang gadis kecil yang istimewa. Dan hanya Tinker Bell yang bisa mengirimkannya kepadanya. Tinker Bell senang. Tinkerings nya telah menyelamatkan musim semi. Dia peri yang suka mengotak-atik dan bangga akan hal itu!

***

Film kartun yang di tonton Ghea dan Lila di Tv telah selesai, ya acara Tv berganti ke acara yang lain. Lila ke kamarnya mau mengerjakan PR-nya. 

"Film kartun Tinker Bell bagus. Alur ceritanya sama dengan apa yang aku baca di buku. Pesan moral apa ya?" kata Ghea.

Ghea masih mengingat pesan moral dari buku yang ia baca dan juga dengan memahami cerita film kartun Tinker Bell yang baru di tonton. 

"Aku inget. Berjuanglah dan pantang menyerah untuk apa yang kamu cita-citakan. Saat melakukannya pasti kamu akan merasakan kegagalan, namun jangan menyerah. Kesuksesan tidak akan di capai tanpa melalui kegagalan," kata Ghea.

Ghea memang memahami apa yang baru ia omongin itu.

"Sama hal dengan perjuangan para penyanyi yang ikut lomba menyanyi di Tv dan juga orang-orang yang berjuang di bidang olahraga. Semua berjuang pantang menyerah untuk mencapai cita-cita yang di inginkan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Terus berjuang sampai menjadi sukses dengan cita-cita yang di inginkan itu," kata Ghea.

Ghea pun terus menonton acara Tv yang bagus banget gitu dengan santai lah.

Wednesday, July 7, 2021

KISAH CINTA

Dono sedang duduk di ruang tamu, ya baca buku. Indro dan Kasino sedang asik nonton Tv di ruang tengah. Saat iklan di Tv. Indro pindah duduknya ke ruang tamu. Duduklah Indro di sebelah Dono.

"Dono," kata Indro.

"Apa?" kata Dono menghentikan baca bukunya.

"Aku nanya sesuatu?!" kata Indro.

"Tentang apa?" kata Indro.

"Biasanya di Blog kan yang di tulis nama kita seperti biasanya. Tapi kenapa beberapa cerita yang di publikasikan dari baca buku di gunakan nama anak-anak sini dan juga nama artis?" kata Indro.

"Ooooo itu toh. Alasannya sih. Agar tidak boring saja. Kalau di tulis nama kita terus kan......monoton gitu," Dono menjelaskan.

"Agar tidak terlalu monoton toh," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Yang di ketikkan nama cewek kan padahal yang menjalankan tugas cowok kan ?!" kata Indro.

"Hal biasa itu mah. Banyak penulis cewek, ya membuat cerita tentang cowok yang di ketik namanya juga cowok. Apa bedanya dengan aku. Aku cowok, ya penulisnya. Membuat cerita tentang cewek, ya mengetiknya nama ceweklah," kata Dono.

"Karakternya Don dan alur ceritanya?!" kata Indro.

"Kebanyakan di ambil dari perjalan hidup. Jadi kenyataan hidup," kata Dono.

"Salah satunya. Kisah cinta. Dalam pertemanan tidak boleh ada cinta. Sebenarnya itu kebohongan saja. Karena cewek kalau kepepet belum dapet pasangan yang di harapkan adalah temannya," kata Indro.

"Itu kenyataan banget. Sampai sekarang cewek masih berharap sama penulis. Jadi kisah perjalan hidup penulis itu sendiri," kata Dono menegaskan.

"Kisah cinta. Cowok berharap cewek yang di sukainya bisa jadian gitu, ya pacaran atau menikah tapi kenyataannya derajat jadi benturan. Cowoknya miskin dan ceweknya kaya," kata Indro.

"Kalau kisah itu sih. Harapan yang sia-sia mencintai cewek yang kaya. Lebih baik membuang rasa cinta itu dan mencari cinta yang sederajat. Toh cewek yang miskin juga banyak cantik!" kata Dono yang tegas.

"Memang sih lebih baik mencintai cewek yang sederajat. Agar menjalankan kehidupan ini mudah dengan baik yang terpenting satu suku....jadi tidak hilang silsilah keturunan yang aslinya," kata Indro.

"Emmmmm," kata Dono.

"Kalau begitu. Ya sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Aku nonton Tv lagi!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

Dono kembali membaca bukunya dengan baik. Indro pindah duduknya ke ruang tengah. Indro duduk di sebelah Kasino.

"Acara Tv Si Unyil bagus..ya Kasino?!" kata Indro.

"Ya seperti biasa. Tontonan yang mendidik. Pinter yang membuat acara Tv," pujian Kasino.

"Memang aku akui. Pinter yang membuat acara Tv...Si Unyil," kata Indro menegaskan.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baik karena memang acaranya bagus banget.

PILIHAN SANG PUTRI

Syifa cewek yang cantik dan juga pinter. Syifa masih berkuliah di universitas ternama di Jakarta. Selama duduk di bangku kuliah. Syifa terus di dekati sama Risky. Pada akhirnya Syifa luluh juga dan menerima cinta Risky. Syifa terkadang jenuh dengan hubungannya dengan Risky karena tahu sifatnya Risky setelah berpacaran gitu.

"Aku salah mengambil keputusan...menerima cinta Risky," kata Syifa.

Syifa terus menjalankan hubungan dengan Risky dengan baik. Doni teman baik Syifa bisa di bilang kakak tingkat di kuliah sih. Syifa merasa nyaman dengan Doni karena sifat Doni yang dewasa. Doni selalu menganggap Syifa hanya sebagai teman baik saja, tidak ada cinta gitu. Syifa hari ini males kemana-mana jadi di rumah saja. Syifa pun duduk di ruang tamu dan mengambil buku di meja, ya di baca dengan baik.

Isi buku yang Syifa baca :

Haura binti Abdul Azis adalah putri seorang saudagar kaya. Ia dan ayahnya tinggal di sebuah kota besar di semenanjung Arab. Keluarga mereka di kenal karena kedermawanannya. Selain itu, tentu juga karena kecantikan sang putri saudagar. Suatu hari, tiga orang pemuda datang menemui Tuan Abdul Aziz. Mereka adalah pangeran dari kota-kota sekitar. Mereka datang untuk melamar Haura. “Bagaimana pendapatmu, Haura? Ada tiga orang pangeran melamarmu di waktu yang bersamaan.”

Haura mengintip dari balik tirai. Sejak tadi sebenarnya ia sudah memerhatikan percakapan ayahnya dan ketiga pangeran itu. 

“Ayah, tidak ada satu orang pun dari mereka yang membuatku terkesan. Coba Ayah perhatikan mereka,” ucap Haura.

“Pangeran pertama yang bernama Hazim, sikap dan ucapannya sombong sekali,” lanjutnya.

“Bagaimana dengan yang kedua, Pangeran Zaid? Ayah rasa ia cukup gagah,” balas Tuan Abdul Aziz.

“Tidak, Ayah! Dia jorok sekali. Haura perhatikan tadi dia bersendawa keras tanpa malu-malu. Lihat itu! Ia malah membersit hidung dengan pakaiannya,” tolak Haura. 

“Kalau yang ketiga? Namanya Pangeran Rasyid,” lanjut ayahnya. 

Haura menggeleng.

“Kenapa?” tanya sang ayah.

“Pangeran itu egois dan narsis.” 

Tuan Abdul Aziz mengernyitkan dahi. 

“Kelihatan sekali dia membanggakan dirinya sendiri, Ayah,” ucap Haura memberi penjelasan.

“Tolong, Yah. Aku tak ingin menikah dengan salah satu dari mereka,” pinta Haura. 

Tuan Abdul Aziz menjadi bingung. Ia sangat mencintai putrinya. Namun ia juga tak ingin membuat para pangeran itu marah dan akhirnya memusuhi mereka. 

“Saya akan memikirkan lamaran Anda semua. Beri saya waktu. Kembalilah esok hari,” ucap Tuan Abdul Aziz. 

Ia ingin memikirkan cara terbaik untuk memenuhi permintaan putrinya. Keesokan harinya, ketiga pangeran itu datang lagi ke rumah Tuan Abdul Aziz. Mereka sudah tidak sabar mengetahui lamaran siapa yang diterima. 

“Tuan-tuan sekalian, saya merasa terhormat Anda telah datang untuk melamar putri saya. Seandainya saya memiliki tiga orang putri, akan saya terima Anda semua menjadi menantu saya. Sayangnya putri saya hanya satu. Karena itu, memilih seorang di antara Anda adalah hal yang berat bagi saya,” ujar Tuan Abdul Aziz. 

“Lalu?” tanya Pangeran Zaid. 

“Tuan-tuan masih muda. Cobalah berkelana untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih berharga. Agar lebih adil, datanglah setahun lagi. Siapa pun yang kembali dengan membawa benda yang membuat putri saya takjub, dialah yang berhak menikahi Haura.” 

Ketiga pangeran merasa itu tawaran yang masuk akal. Akhirnya mereka bersedia memenuhi permintaan Tuan Abdul Aziz. Mereka berjanji akan datang lagi setahun kemudian. Tuan Abdul Aziz lega. Haura pun lega. Paling tidak mereka punya perpanjangan waktu satu tahun untuk memikirkan langkah berikutnya. Lagi pula waktu bisa mengubah seseorang. Siapa tahu saat kembali nanti, satu di antara mereka benar-benar ada yang pantas untuk di pilih menjadi pendamping Haura.

“Hai, tunggu!” seru Pangeran Hazim memanggil kedua pangeran yang lain. 

“Ada apa?”

“Kemari dulu, teman-teman!” 

Pangeran Zaid dan Pangeran Rasyid menghampiri Pangeran Hazim yang berteduh di bawah pohon kurma. 

“Saya punya ide. Bagaimana kalau seminggu sebelum waktu yang ditentukan Tuan Abdul Aziz, kita bertemu dulu di sini?” ujar Pangeran Hazim. 

“Untuk apa?” 

“Tentu saja untuk membandingkan apa yang kita dapatkan,” lanjut Pangeran Hazim. 

Kedua pangeran yang lain berpikir-pikir. Tak ada salahnya mereka membandingkan dulu. Sekiranya milik mereka kurang menakjubkan, mereka masih punya waktu seminggu untuk mencari gantinya. Keduanya setuju. Mereka lalu melakukan perjalanan masing-masing dan berpencar arah. Tepat seminggu sebelum waktu pertemuan dengan Tuan Abdul Aziz, Pangeran Hazim memenuhi janjinya. Ia datang ke tempat yang telah mereka sepakati dulu. Sebuah kedai sepi di pinggir kota. Pangeran Zaid datang kemudian. 

“Zaid!” panggil Pangeran Hazim. 

Pangeran Zaid segera duduk bergabung dengannya. 

“Penampilanmu tampak lebih buruk dari sebelumnya. Kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Hazim.

“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Pangeran Zaid sambil mengelap tangan di bajunya sebelum mengambil makanan di meja. Ternyata kebiasaannya belum berubah. Tak lama kemudian Pangeran Rasyid datang. Ia langsung menghampiri kedua pangeran yang lain. Wajahnya berseri penuh keyakinan bahwa apa yang dibawanya akan menjadi yang paling menakjubkan.

“Jadi apa yang kau dapatkan, Hazim?” tanya Pangeran Zaid sambil mengunyah makanannya. 

“Hanya bola kristal,” jawab Pangeran Hazim tak acuh. 

“Bola ini bisa menunjukkan apa pun yang ingin kau lihat, di mana pun tempatnya,” lanjutnya sombong.

Kedua pangeran yang lain tampak sedikit takjub. Tapi mereka menahan diri untuk memberi pujian. Mereka tak ingin Pangeran Hazim merasa menang. 

“Lalu apa yang kau temukan, Zaid?” 

Pangeran Zaid merogoh jubahnya dan mengeluarkan gulungan karpet. Ia membentangkannya di hadapan kedua pangeran yang lain. 

“Ini karpet terbang. Siapa pun yang duduk di atasnya bisa diangkut ke mana saja ia mau dalam waktu sekejap,” ujarnya bangga. 

Pangeran Hazim dan Pangeran Rasyid tampak terpesona, tetapi mereka diam saja. 

“Kalau aku, lihat ini!” sambar Pangeran Rasyid mengalihkan perhatian. 

Ia meletakkan botol kecil di atas meja. Pangeran Zaid hendak mengambilnya karena ingin tahu. 

“Ini bukan sembarang botol,” sergah Pangeran Rasyid menggenggam lagi botolnya. 

“Dalam botol ini ada ramuan ajaib. Satu tetes saja bisa menyembuhkan penyakit apa pun. Dan bila diusapkan ke kulit dengan cinta yang tulus, bisa mengembalikan seseorang menjadi muda lagi.”

Pangeran Rasyid menyimpan lagi botol itu dalam jubahnya. 

“Hmm... bagaimana kalau kita lihat dulu keadaan Haura saat ini dengan bola kristalmu. Siapa tahu Haura ternyata sudah tak secantik dulu. Sia-sia nanti kita menemuinya,” usul Pangeran Rasyid. 

Ketiga pangeran itu memang hanya terpikat pada kecantikan wajah Haura. 

“Baiklah,” jawab Pangeran Hazim.  

Ia mengayunkan tangannya ke atas bola kristal. Di dalam bola itu muncul asap dan tampak keruh. Perlahan-lahan, muncullah gambar Haura. Ia terbaring di tempat tidur. Ayahnya dan seorang pria berdiri di tepi ranjang Haura. 

“Apakah tidak ada sesuatu yang bisa Anda lakukan, Tabib?” tanya Tuan Abdul Aziz pada pria di sampingnya. 

“Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berusaha. Tapi rasanya kita tak punya banyak waktu lagi,” jawab Tabib. 

Tuan Abdul Aziz tampak sangat bersedih.

“Aduh, kasihan sekali Haura. Ramuan ajaibku ini pasti bisa menyembuhkannya. Tapi bagaimana ini. Tabib bilang waktunya tak banyak lagi. Padahal rumah Tuan Abdul Aziz masih jauh dari sini,” keluh Pangeran Rasyid. 

“Kalau begitu, kita naik karpet terbangku saja. Kita akan sampai ke sana dalam sekejap. Ayo!” ajak Pangeran Zaid sambil menggelar karpetnya. 

Mereka segera melompat duduk di atas karpet. Karpet itu pun langsung meluncur secepat kilat. Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah Tuan Abdul Aziz. Mereka meminta izin pada pelayan untuk masuk. Mereka berkata mereka bisa menyembuhkan Haura. Pelayan mengantarkan ketiga pangeran itu ke kamar Haura. Tuan Abdul Aziz terkejut melihat kedatangan ketiga pangeran, padahal waktu yang ditentukan masih satu minggu lagi. 

“Tak perlu terkejut, Tuan. Kami kemari untuk menyembuhkan Haura. Izinkan saya melakukannya,” ujar Pangeran Rasyid. 

Tuan Abdul Aziz tak bisa berkata apa-apa. Ia mempersilakan Pangeran Rasyid. Pangeran mendekati Haura. Ia lalu mengeluarkan botol ramuan ajaibnya. Ia meneteskan ramuan itu ke dahi Haura lalu mengusapnya. Pangeran Rasyid lalu mundur. Perlahan-lahan, mata Haura terbuka dan mengerjap-kerjap. Tuan Abdul Aziz takjub. Ia sangat senang melihat putrinya siuman. Ia menghampiri Haura dan membantunya duduk. 

“Ini sungguh keajaiban!” seru Tuan Abdul Aziz senang. 

“Bagaimana keadaanmu, Sayang?”

“Aku merasa lebih baik, Ayah.”

Tuan Abdul Aziz pun memeluk putri kesayangannya. 

Ketiga pangeran lalu dipersilakan beristirahat. Masing-masing mereka disediakan ruangan khusus. Para pelayan memberi mereka jamuan dan melakukan apa pun yang mereka inginkan. Ketika makan malam, Tuan Abdul Aziz meminta mereka makan bersama. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada para pangeran. 

“Tak apa, Tuan. Semua ini demi kebaikan Haura. Masing-masing dari kami memang telah mendapatkan benda ajaib. Tapi tak bisa disangkal, bola kristal sayalah yang paling berjasa dalam peristiwa ini. Tanpa bola kristal ini, tak satu pun dari kami tahu kalau Haura sedang sakit. Tentu bola kristal saya ini menjadi benda yang paling menakjubkan dan saya yang paling pantas meminang Haura,” ujar Pangeran Hazim.

Kedua pangeran lain mendengus mendengar kesombongan pangeran Hazim. 

“Tapi, Tuan, mengetahui saja tentu tak akan ada gunanya. Saat kami tahu Haura sakit, kami masih sangat jauh dari rumah Anda. Belum tentu satu minggu berjalan akan sampai di sini. Berkat karpet terbang sayalah kami bisa tiba tepat waktu. Tentu karpet terbang saya yang paling istimewa di antara temuan para pangeran lainnya. Sayalah yang paling berhak meminang Haura,” kata Pangeran Zaid tak mau kalah. 

“Tapi ramuan ajaib sayalah yang telah menyembuhkan Haura, Tuan. Tanpa ramuan ajaib itu, kehadiran para pangeran di sini pun tak ada artinya untuk kesembuhan Haura. Benar, kan? Jadi sayalah yang seharusnya Anda terima menjadi menantu,” ujar Pangeran Rasyid penuh keyakinan.

Tuan Abdul Aziz bingung. Setiap pangeran punya jasa terhadap kesembuhan putrinya. Bila ia memilih salah seorang sebagai menantu, tentu tidak adil bagi pangeran yang lain. Bisa-bisa mereka marah dan memusuhi keluarganya. Apalagi mereka para pangeran yang mempunyai kekuasaan dan pasukan di kerajaannya masing-masing. 

“Saya sangat menghargai usaha Anda semua. Saya tak memungkiri setiap peran Anda bagi kesembuhan putri saya. Saya tak bisa memutuskan sekarang, siapa yang saya terima menjadi suami Haura. Istirahatlah dulu di rumah kami. Esok hari, kita bicarakan lagi masalah ini,” ujar Tuan Abdul Aziz.

 Ketika membicarakan masalah itu dengan putrinya, Haura pun bingung. Tuan Abdul Aziz lalu memanggil pelayannya yang paling setia untuk meminta pertimbangan. 

“Begini, Tuan. Ada seorang pria tua yang terkenal akan kebijaksanaannya. Bagaimana kalau kita undang dia untuk memberikan keputusan. Dengan demikian, bukan Anda atau Putri Haura yang akan dipersalahkan pangeran yang tidak terpilih. Mereka tak akan marah dan memusuhi keluarga Anda. Sayangnya, pria itu tinggal di negeri yang cukup jauh.”

“Kumohon datangkan ia. Jemputlah malam ini juga. Bawa kuda terbaikku agar kau bisa cepat sampai dan membawanya kemari,” pinta Tuan Abdul Aziz.

“Akan saya usahkan, Tuan,” jawab pelayannya segera pergi.

Berita tentang pemilihan menantu saudagar Abdul Aziz, menarik perhatian masyarakat. Mereka berduyun-duyun datang ke rumah Tuan Abdul Aziz untuk mencari tahu. Ketiga pangeran juga sudah menunggu-nunggu. Namun Tuan Abdul Aziz masih menanti kedatangan pelayannya beserta pria tua bijak dari negeri yang jauh. Lewat tengah hari, pelayan dan pria tua itu baru tiba. Setelah beristirahat sejenak, ia menemui Tuan Abdul Aziz dan para pangeran. Mereka menggelar acara itu di halaman rumah sehingga masyarakat bisa melihatnya. Haura pun dihadirkan di sana. 

“Baiklah, akan kita mulai pemilihan ini. Para pangeran yang terhormat, telah kuundang Tuan Ahmad, pria bijak dari negeri seberang untuk memberikan keputusan terbaik bagi kita. Kini, sampaikanlah satu per satu apa yang kalian bawa dari perjalanan kalian.” 

Para pangeran menceritakan perjalanannya dalam mendapatkan benda ajaib masing-masing. Mereka juga menceritakan perannya dalam menyembuhkan Haura. Mereka merasa menjadi yang paling berjasa dan membawa benda yang paling ajaib. Mereka meletakkan benda-benda yang dibawanya di meja untuk dipertunjukkan. 

“Begitulah, Tuan Ahmad. Saya merasa setiap pangeran telah memberikan persembahan terbaiknya. Setiap mereka juga mempunyai jasa terhadap kesembuhan putri saya. Ketiganya pun berniat meminang putri saya. Tentu berat bagi saya memutuskan semua ini. Bagaimana pendapat anda, Tuan?” tanya Tuan Abdul Aziz. 

Pria tua itu berdiri dan berdehem. Ia diam sejenak hingga suasana benar-benar hening. Semua yang datang penasaran dengan keputusan pria tua itu.

“Tuan Abdul Aziz, pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas undangan Anda. Saya merasa sangat terhormat berada di sini.” 

Kemudian ia berkata, “Para pangeran, saya yakin dengan kisah-kisah Anda yang menakjubkan. Juga benda-benda ajaib yang Anda bawa. Serta betapa Anda telah berusaha menyembuhkan putri Tuan Abdul Aziz. Tapi di negara saya, para wanita mempunyai hak dan kebebasan memilih pasangannya sendiri. Karena dalam pernikahan itu, kebahagiaan merekalah yang dipertaruhkan.” 

Pria tua itu lalu berpaling pada Haura, “Jadi saya ingin menanyakan kepada Nona Haura, dengan siapa Anda ingin menikah?” 

Haura diam sejenak. Dia telah mengambil keputusan. Haura mengangkat kepalanya lalu bicara pada para pangeran, “Saya berterima kasih Anda semua telah menyelamatkan hidup saya. Saya sangat menghargai usaha Anda membawakan benda-benda terbaik ini. Namun pria tua ini adalah satu-satunya yang mengerti bahwa saya mempunyai hak dan kebebasan untuk memilih pasangan saya.” 

Haura lalu melanjutkan, “Jadi jika saya diperbolehkan memilih, saya akan memilih dia.” 

Putri Haura melangkah ke sisi Tuan Ahmad, pria bijak yang diundang ayahnya. Semua yang hadir, termasuk para pangeran dan Tuan Abdul Aziz sangat terkejut. 

“Tapi, bagaimana mungkin, Sayang?” tanya Tuan Abdul Aziz tak percaya. 

Ia tak bisa terima putri cantiknya memilih menikahi pria yang sudah tua. Haura lalu mengambil botol ramuan ajaib di meja. Ia meneteskan ramuan ajaib itu ke tangan Tuan Ahmad dan mengusapnya. Seketika kabut asap mengelilingi Tuan Ahmad. Perlahan-lahan kabut asap pun menghilang, yang tampak di sana bukan lagi pria tua. Dengan ramuan ajaib itu Tuan Ahmad kembali ke masa mudanya. Ia berubah menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Raut wajahnya menunjukkan kesantunan dan kebijaksanaan. Ia tersenyum hormat kepada Haura. Tuan Abdul Aziz kini mengerti akan pilihan putrinya. Haura putri yang cerdas. Ia memilih Tuan Ahmad yang bijak menjadi pendampingnya. Ia pun tahu cara agar pilihannya dapat diterima. Haura memanfaatkan ramuan ajaib untuk mengembalikan kemudaan Tuan Ahmad. 

“Para Pangeran, Yang Mulia, saya mohon Anda bersedia menerima pilihan putri saya. Anda telah berjasa besar bagi keluarga kami. Kami tidak akan pernah melupakannya. Sebagai balas budi, kami akan memberikan tanah perkebunan yang kami miliki untuk kalian,” ujar Tuan Abdul Aziz. 

Para pangeran menerima keputusan itu dengan lapang dada. Mereka pun mendapatkan benda-benda ajaib mereka kembali. Mereka berniat pulang ke kerajaannya masing-masing. Haura dan Tuan Ahmad kemudian menikah dan hidup bahagia. Para pangeran juga menghadiri pernikahan Haura sebelum mereka kembali pulang. Tak lama kemudian, datang undangan dari para pangeran. Rupanya mereka telah mendapatkan jodoh mereka di negerinya masing-masing. Tak sulit bagi para pangeran untuk mendapatkan istri yang cantik dari kalangan bangsawan. Tapi mereka belajar dari pilihan Haura. Mereka memilih wanita-wanita yang baik dan cerdas sebagai pendamping. Para pangeran itu pun hidup dengan bahagia. 

***

Syifa selesai membaca bukunya.

"Cerita asal dari arab bagus banget. Pinter yang membuat ceritanya," kata Syifa.

Syifa menutup bukunya dan di taruh di meja.

"Kalau aku ambil dari cerita yang aku baca, ya memang cewek ingin mendapatkan cowok yang pinter dan bijaksana. Tentang masalah hubungan ku dengan Risky. Aku merasa yang baik untuk pendamping hidupku adalah Doni. Sifat Doni yang dewasa membuatku merasa nyaman gitu dari pada sifatnya Risky yang kekanak-kanakan," kata Syifa.

Syifa tetap harus menjalankan hubungan dengan Risky sudah terlanjur mengambil keputusan, ya menerima cinta Risky.....pacaran gitu. Kadang ada juga pemikiran, ya putus dari Risky karena jenuhnya hubungan. Syifa pun punya harapan besar sih bersama Doni, ya mengubah hubungan pertemanan menjadi hubungan cinta. Syifa beranjak dari duduknya di ruang tamu, ya ke kamarnya untuk mengerjakan tugas kuliah.

ORANG PINTER

Dono di ruang tamu sedang asik baca buku dengan baik banget. Kasino dan Indro duduk di ruang tengah sedang asik nonton Tv, ya biasa berita seputar ini dan itu...pokoknya menarik untuk di tonton.

"Keadaan lingkungan sama aja ya di Tv," kata Indro.

"Pemerintah masih menanggulangi covid-19. Sebagai warga yang baik, ya di anjurkan di rumah saja. Jika ada kepentingan mendesak....baru deh keluar rumah," kata Kasino.

"Zaman telah maju. Walau keadaan masih menanggulangi covid-19. Sebenarnya mudah untuk menjalankan semuanya. Seperti kebutuhan sehari-hari sih, ya aku bisa beli di warung dekat sekitar sini. Jika aku mau nyetok makan satu minggu, ya aku ke pasar saja atau aku telpon teman aku untuk mengirim barang pesan aku itu," kata Indro.

"Kadang Indro memetik tanaman yang aku tanaman di pot dengan baik di halaman belakang. Kaya berita artis yang menanam tanaman di halaman belakang rumah, samping rumah, depan rumah dan terakhir di lantai atas rumah...yang ada tempatnya untuk menanam tanaman hidroponik," kata Kasino.

"Ada yang menanam di dalam rumah. Alatnya ada itu. Kaya lemari kecil untuk menanam hidroponik," kata Kasino.

"Kalau kreatif sih. Aku juga bisa membuatnya alatnya. Jadinya menanam di dalam rumah, ya tanaman hidroponik," kata Kasino.

"Mencontoh kan Kasino?!" kata Indro.

"Iyalah," kata Kasino.

Kasino dan Indro masih terus menonton berita di Tv, ya berita masih sih tentang PPKM Darurat yang di jalankan dengan baik. Kadang ada juga berita heboh yang ini dan itu...pokoknya menarik di tonton gitu.

"Dengan menggunakan kemajuan teknologi...ya jaringan online. Maka dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan baik," kata Indro.

"Mau mesen sesuatu tinggal pake online. Barang langsung di kirim. Kemudahan untuk bertransaksi dengan baik," kata Kasino.

"Kerja pun mudah. Contoh main saham. Duduk di rumah saja dan tinggal memeriksa jaringan saham dengan baik. Kalau ada masalah bisa di telpon atau dateng ke kantor....itu pun tidak terlalu sering banget," kata Indro.

"Apalagi kalau kerjaanya membuat aplikasi. Lebih banyak di rumah," kata Indro.

"Sama halnya orang-orang membuat buku. Cerita di buat di rumah dengan baik. Setelah jadi di kirimkan ke penerbit lewat jaringan online, ya internet. Mudah dengan kemajuan sekarang," kata Kasino.

"Kuliah juga mudah. Kuliah lewat online. Sampai pembutan skripsi. Wisudanya bisa saja online juga atau dateng ke kampus dengan menjalankan protokol kesehatan," kata Indro.

"Segala sesuatu bisa mudah kalau menggunakan teknologi dengan baik. Maka itu jadilah orang pinter yang bisa menggerakkan sektor perkembangan teknologi. Dunia digitalisai berjalan dengan baik. Ekonomi pun berjalan dengan baik. Bisa saja rencana pemerintah meningkatkan ekonomi dapat tercapai target dengan baik," kata Kasino.

"Orang pinter inilah yang dapat memajukan Indonesia," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro tetap asik nonton Tv, ya acaranya beritanya bagus gitu. Dono tetap asik baca buku di ruang tamunya.

"Oooo iya. Kasino kenapa Dono sering mengisi Blog-nya Dono cerita....Legenda Rakyat, Dongeng dan juga Fabel gitu?!" kata Indro.

"Kalau itu sih tanya Dono!" kata Kasino.

"Paling Dono....suka dengan cerita yang ia baca jadi di publikasikan di Blog-nya," kata Indro.

"Lumrah kan. Nama juga hoby," kata Kasino.

"Hoby nya Dono," kata Indro.

"Sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Fokus nonton Tv aja!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv yang acaranya berita yang memberitakan seputar ini dan itu...pokoknya menarik di tonton gitu.

Tuesday, July 6, 2021

JAKA

Pada zaman dulu ada sebuah Kerajaan Ringin Anom. Prabu Aryo Seto memerintah kerajaannya dengan baik banget, ya adil dan bijaksanalah. Prabu Aryo Seto memiliki putri yang cantik jelita yang bernama Putri Kemuning. Seorang dukun hitam bernama Nyi Rompak, ya bisa di bilang juga sih penyihir gitu. Nyi Rompak yang tidak suka dengan Prabu Aryo Seto karena kisah masa lalu Nyi Rompak yang di tolak cintanya sama Prabu Aryo Seto. Nyi Rompak jadi sakit hati maka itu Nyi Rompak belajar ilmu hitam untuk membalas sakit hatinya. Nyi Rompak sudah sakti, ya mengirimkan ilmu hitamnya pada Putri Kemuning. Ya Putri Kemuning terkena ilmu Nyi Rompak. Jadinya Putri Kemuning tubuhnya berbau tidak enak bisa di bilang sih bau busuk yang menyengat. Semua orang menghindari Putri Kemuning. Putri Kemuning bersedih dengan keadaannya.

Nyi Rompak memeriksa hasil kerjanya mengirim ilmu hitam pada Putri Kemuning dengan menyamar menjadi pelayan kerajaan. Setelah tahu kebenarannya Putri Kemuning tubuhnya berbau busuk. Nyi Rompak pun meninggalkan istana, ya pulang ke rumahnya. Di perjalanan Nyi Rompak berkata “Aku berhasil membuat Putri Kemuning berbau busuk karena ilmu hitam ku.”

Tiba-tiba muncul Ustad Somat dan berkata “Berbuat jahat itu tidak baik.”

“Siapa kau menasehati aku?” tanya Nyi Rompak.

“Aku Ustad Somat yang terkenal di mana-mana,” katanya.

“Aku tidak kenal tuh,” kata Nyi Rompak.

“Aneh?” kata Ustad Somat.

“Ini zaman kerajaan ceritanya. Ajaran Hindu berkembang di zaman ini. Kok ada Ustad muncul. Aneh kan?!” kata Nyi Rompak.

“Oooooo jangan-jangan aku salah tempat toh. Aku harusnya masuk cerita masa depan. Memberikan nasehat di mana-mana untuk mengarahkan manusia di jalan kebaikan. Menyebarkan agama Islam dengan baik,” kata Ustad Somat.

“Dunia masa depan penuh dengan teknologi kan?!” kata Nyi Rompak.

“Iya,” kata Ustad Somat.

“Kalau begitu aku tidak ada urusan dengan mu!” kata Nyi Rompak.

“Maaf ya…aku salah masuk cerita,” kata Ustad Somat.

“Iya,” kata Nyi Rompak.

“Padahal bisa juga sih masuk dalam cerita untuk menasehatin manusia agar tidak berbuat jahat karena dapat merugikan orang lain,” kata Ustad Somat.

Ustad Somat pun pergi dari situ. Nyi Rompak pun berjalan dengan baik menuju rumahnya. Prabu Aryo Seto bersedih hati dengan keadaan Putri Kemuning yang terkena penyakit yang aneh karena tidak ada pangeran yang akan menikahi Putri Kemuning dengan keadaannya itu. Prabu Aryo Seto mencari jalan keluar untuk menyembuhkan Putri Kemuning. Patih Argana memberikan saran pada Prabu Aryo Seto untuk mencari orang yang dapat menyembuhkan Putri Kemuning.

Prabu Aryo Seto menerima saran dari Patih Argana untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan Putri Kemuning dari penyakitnya yang aneh. Tabib banyak yang dateng ke istana untuk mencoba mengobati Putri Kemuning. Ternyata tidak ada yang berhasil menyembuhkan Putri Kemuning dari penyakit yang aneh itu.

Putri Kemuning tambah sedih dengan keadaanya. Prabu Aryo Seto pun makin resah dengan keadan Putri Kemuning. Prabu Aryo Seto memutuskan untuk semedi untuk mendapatkan petunjuk dari Dewa untuk menyembuhkan Putri Kemuning. Tengah malam yang tenang. Prabu Aryo Seto menjalankan semedi dengan tekat yang kuat suci di kediamannya yang tertutup. Terdengar suara gaib “Wahai Prabu Aryo Seto. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit putrimu adalah daun sirna ganda. Daun itu hanya tumbuh di dalam gua di kaki gunung Arga Dumadi yang di jaga oleh seekor ular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya.”

Esok harinya. Prabu Aryo Seto segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun untuk mengadakan sayembara.

“Wahai seluruh rakyatku. Kalian semua tentu sudah mengetahui tentang penyakit yang aneh menimpa Putriku. Aku mendapatkan petunjuk dari semedi ku. Bahwa Putriku bisa di sembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh di gua di kaki gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang dapat mempersembahkan daun itu untuk Putriku. Jika ia laki-laki akan kunikahkan dengan Putriku. Namun, jika ia perempuan, ia akan kuangkat menjadi anak ku,” kata Prabu Aryo Seto.

Mendengar pengumuman itu, ya seluruh rakyat Kerajaan Ringin Anom menjadi gempar. Berita tentang sayembara itu pun tersebar ke seluruh pelosok negeri. Banyak warga tidak berani mengikuti sayembara tersebut karena mereka semua tahu bahwa gua itu di jaga oleh seekor naga yang sakti dan sangat ganas. Banyak warga menjadi korban keganasan naga itu. Meski demikian, ya banyak pula warga yang memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut karena tergiur oleh hadiah yang dijanjikan oleh sang Prabu. Setiap orang pasti akan senang jika menjadi menantu atau anak angkat raja.

Jaka tahu tentang sayembara untuk menyembuhkan Putri Kemuning. Jaka masih memikirkan keadaan dirinya.

“Tapi keadaan tubuh ku ini. Yang terkena penyakit langka, ya budug kan gitu. Aku selalu di hina dari kecil sampai dewasa. Orang-orang memanggil ku Jaka Budug,” kata Jaka.

Jaka masih bingung dengan keadaan dirinya.

“Aku memang belajar seni bela diri dengan baik dari ayah ku seorang Mpu dan juga aku punya keris pusaka yang hebat. Aku bisa ikut sayembara itu,” kata Jaka.

Jaka pun berjalan menuju rumahnya, sambil mikirin ikut sayembara atau tidak. Tiba-tiba muncul Ustad Somat dan berkata “Jika ingin berbuat baik harus di jalan kan dengan baik.”

“Memang aku tahu. Berbuat baik itu baik. Apalagi menolong orang yang sedang kesusahan seperti Putri Kemuning. Tapi keadaan ku ini di hina sama orang-orang dari kecil sampai dewasa,” kata Jaka.

“Orang-orang menghina itu tidak sadar dengan dirinya, alias buta keadaan gitu. Jika mereka yang menghina itu terkena penyakit seperti Jaka, maka sama aja rasa perihnya di hina sama di rasakan Jaka,” kata Ustad Somat.

“Kebayakan manusia itu melihat seseorang dari kesempurnaan,” kata Jaka.

“Nama juga manusia,” kata Ustad Somat.

“Ngomong-ngomong anda siapa?” tanya Jaka.

“Aku Ustad Somat yang terkenal di mana-mana,” katanya.

“Ustad Somat aku tidak kenal,” kata Jaka.

“Aku tidak di kenal lagi,” kata Ustad Somat.

“Inikan cerita zaman kerajaan. Ajaran Hindu berkembang baik. Kenapa ajaran Islam masuk ya, aneh?” kata Jaka.

“Jangan-jangan aku salah masuk cerita lagi,” kata Ustad Somat.

Ustad Somat pergilah dari situ. Jaka berjalan dengan baik menuju rumahnya.

Warga yang ikut sayembara berada di kaki gunung Arga Dumadi untuk mengalahkan naga sakti. Naga memang hebat banget mengalahkan para warga yang katanya sakti gitu. Maka itu belum ada peserta sayembara mampu mengalahkan naga sakti itu. Jaka mendapatkan kabar bahwa belum ada orang yang bisa mengalahkan naga sakti.

Hari ketujuh. Jaka mempertimbangkan dengan baik, jadi memutuskan untuk ikut sayembara. Jaka pun menghadap Prabu Aryo Seto, ya minta izin ikut sayembara gitu.

“Ampun Prabu. Izinkan hamba untuk ikut dalam sayembara demi meringankan beban sang Putri,” kata Jaka.

Prabu Aryo Seto tidak menjawab. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan Jaka yang tubuhnya di penuhi bintik merah.

“Siapa kamu hai….anak muda. Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga sakti itu?” tanya Prabu Aryo Seto.

“Hamba. Jaka. Orang-orang memanggil saya Jaka Budug karena keadaan tubuh saya,” katanya.

“Jaka Budug,” kata Prabu Arya Seto.

“Hamba akan mengalahkan naga dengan keris pusaka dari ayah saya,” kata Jaka.

Prabu Aryo Seto ragu-ragu dengan kemampuan Jaka. Namun setelah menunjukkan keris pusaka dan tekat yang kuat, ya Prabu Aryo Seto menyetujui Jaka mengikuti sayembara.

“Baiklah. Jaka. Kamu memiliki tekat yang kuat jadi aku terima. Semoga kamu berhasil!” kata Prabu Aryo Seto.

Jaka pun berangkat ke kaki gunung Arga Dumadi untuk mengalahkan naga sakti dan juga mengambil daun sirna ganda. Setelah berjalan cukup jauh, ya pada akhirnya sih sampai juga di kaki gunung Arga Dumadi. Jaka memang melihat naga sakti menyemburkan api di mulut goa tempat tinggalnya. Jaka bergerak mendekati goa. Jaka dengan berhati-hati masuk ke dalam goa. Ternyata ketahuan sama naga sakti. Ya naga sakti pun menyemburkan api kearah Jaka. Dengan melompat ke sana ke sini untuk menghindari semburan api naga sakti yang menyerang dengan bertubi-tubi. Jaka kewalahan banget jadinya. Jaka mencabut keris pusaka dari sarungnya. Jaka bergerak untuk menyerang naga sakti. Naga sakti memang terus menyemburkan api.

Ketika naga sakti lengah, ya Jaka menusuk naga sakti dengan keris pusaka. Darah segar pun keluar dari naga itu dan mengenai Jaka. Sungguh ajaib, tangan Jaka yang terkena darah naga seketika menjadi halus dan bersih dari penyakit budug. Jaka melihat keajaiban itu, ya jadinya bersemangat untuk membinasakan naga. Dengan gesitnya jaga bergerak untuk menusukkan kerisnya pada naga ke leher naga. Darah keluar dengan deras banget. Naga sakti tewas seketika. Jaka segera mengambil darah naga di usapkan seluruh tubuhnya.

Seketika itu pula seluruh tubuh Jaka jadi bersih dan halus, ya sembuh dari penyakitnya itu. Jaka berubah menjadi pemuda yang sangat tampan. Jaka pun memetik daun sirga ganda di dalam gua. Jaka segera meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan senang. Nyi Rompak tahu tentang seorang pemuda yang berhasil mengambil daun sirna ganda dan mengalahkan naga. Di jalan, ya Nyi Rompak pun bertemu dengan Jaka.

“Serahkan daun sirna ganda itu!” kata Nyi Rompak.

“Tidak akan aku serahkan daun sirna ganda ini,” kata Jaka.

“Kalau begitu aku akan menyambil dengan paksa!” kata Nyi Rompak.

Nyi Rompak menyerang Jaka. Terjadilah pertarungan yang sengit banget antara Jaka dengan Nyi Rompak. Memang Nyi Rompak sakti banget. Jaka memang kewalahan menhadapi Nyi Rompak. Jaka yang punya tekat kuat, ya mampu juga menandingi kesaktian Nyi Rompak.

“Hebat juga kamu anak muda. Bisa mengimbangi aku. Pantas kamu bisa mengalahkan naga sakti dan dapat memetik daun sirga ganda,” kata Nyi Rompak.

“Ya begitulah,” kata Jaka.

“Aku harus mengalahkan mu. Agar kamu tidak menggagalkan rencana ku balas dendam pada Prabu Aryo Seto,” kata Nyi Rompak.

“Jangan-jangan kamu yang berbuat jahat pada Putri Kemuning?” kata Jaka.

“Iya,” kata Nyi Rompak.

Nyi Rompak dan Jaka bertarung dengan sengit banget. Sebenarnya Jaka tidak ingin menusukkan kerisnya ke Nyi Rompak. Karena Nyi Rompak terus menyerang Jaka, ya ingin membunuh Jaka. Keris di tusukkan ke perut Nyi Rompak. Terluka parahlah Nyi Rompak karena di tusuk keris pusaka sama Jaka.

“Aku kalah. Sampai di sini saja balas dendam ku pada Prabu Aryo Seto,” kata Nyi Rompak.

Nyi Rompak, ya mati gitu dan tergeletak di tanah. Jaka berniat baik dengan menguburkan Nyi Rompak dengan layak. Setelah itu. Jaka pun bergerak ke istana. Sampai di istana. Prabu Aryo Seto kaget melihat Jaka yang terlihat tampan banget. Jaka pun menceritakan semuanya pada Prabu Aryo Seto kenapa dirinya menjadi tampan karena darah naga sakti dan juga menceritakan siapa orang jahat yang membuat Putri Kemuning menderita dengan bau busuk di tubuhnya adalah Nyi Rompak. Prabu senang karena Jaka telah berhasil mengalahkan naga dan mendapatkan daun sirga ganda. Putri Kemuning di obati dengan daun sirga ganda dan berhasil sembuh. Prabu Aryo Seto memenuhi janjinya, ya menikahi Putri Kemuning dengan Jaka. Ya Jaka dan Putri Kemuning hidup bahagia.

RORO JONGGRANG

Rere keluar dari kamarnya, ya membawa tasnya. Di ruang tengah Rere duduk di sofa dengan baik. Rere pun mengeluarkan buku di dalam tas. Buku yang ingin Rere baca adalah buku cerita legenda rakyat, ya buku itu di pinjam Rere dari perpustakaan sekolah. Rere membuka bukunya dengan baik, ya segera di baca dengan baik pula.

Isi buku yang di baca Rere :

Pada zaman dahulu terdapat dua buah kerajaan sama besar yang saling bertetangga, kerajaan Prambanan dan kerajaan Pengging. Kerajaan Prambanan dipimpin oleh Raja Boko yang memiliki putri sangat cantik bernama Roro Jonggrang. Sedangkan kerajaan Pengging dipimpin oleh raja Pengging. Raja Pengging terkenal sangat haus kekuasaan. Suatu ketika, Raja Pengging yang terkenal sombong dan haus kekuasaan, memerintahkan pada ksatria perkasa bernama Bandung Bondowoso untuk menyerang kerajaan Prambanan.

"Hai Bondowoso, kau pergilah ke kerajaan Prambanan kemudian taklukan kerajaan tersebut agar mau tunduk pada kerajaan kita," kata Raja Pengging pada Bandung Bondowoso.

"Baik raja. Hamba akan segera berangkat. Hamba berjanji akan menaklukan kerajaan Prambanan," kata Bandung Bondowoso menerima perintah raja.

Segera saja pasukan Bandung Bondowoso pergi menyerang kerajaan Prambanan. Dalam waktu singkat mereka berhasil memasuki istana Raja Boko. Karena kurangnya persiapan pasukan kerajaan Prambanan, dalam waktu singkat kerajaan Prambanan berhasil ditaklukan. Raja Boko sendiri tewas dalam peperangan tersebut.

Setelah kematian Raja Boko, Bandung Bondowoso kini memerintah kerajaan Prambanan sambil menunggu perintah selanjutnya dari raja Pengging. Tertarik pada kecantikan putri raja Boko, Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso memintanya untuk menjadi istrinya.

"Roro Jonggrang, maukah engkau menjadi istriku?" kata Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang tentu saja dalam hatinya menolak. Ia membenci Bandung Bondowoso yang sangat sombong dan telah membunuh ayahandanya. Tapi bagaimanapun Bandung Bondowoso adalah penguasa kerajaan Prambanan saat itu. Bagaimana mungkin Roro Jonggrang menolaknya?. Akhirnya Roro Jonggrang bersedia menerima lamarannya dengan mengajukan syarat bahwa Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi serta dua buah sumur hanya dalam waktu satu malam.

"Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi syaratnya engkau harus mampu membuatkan aku seribu candi dan dua buah sumur hanya dalam satu malam saja," kata Roro Jonggrang pada Bandung Bondowoso.

"Baiklah jika memang begitu permintaanmu, aku menyanggupinya," kata Bandung Bondowoso, ya menyanggupi syarat yang diajukan Roro Jonggrang.

Segera saja Bandung Bondowoso mengerahkan ribuan pasukan jin untuk membangun seribu candi dan dua buah sumur agar bisa diselesaikan dalam waktu satu malam. Melihat hal ini Roro Jonggrang menjadi cemas. Ia benar-benar tidak sudi dinikahi Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya. Dua pertiga malam telah berlalu, telah banyak candi selesai dibuat. Hanya tersisa tiga buah candi dan satu buah sumur. Dalam keadaan panik Roro Jonggrang memiliki gagasan untuk mengelabui Bandung Bondowoso. Ia segera memanggil para dayang-dayang. Ia kemudian menyuruh mereka untuk membakar jerami serta memukul lesung.

"Para dayang cepatlah kemari. Bakarlah jerami, pukulah lesung dan sebarkan wewangian agar para jin pasukan Bandung Bondowoso mengira hari telah pagi," kata Roro Jonggrang memberikan perintah pada para dayangnya yang setia.

"Baik Roro, kami akan segera melakukan perintah Roro," para dayang pun segera melakukan apa yang diperintahkan Roro Jonggrang.

Ribuan jin pasukan Bandung Bondowoso segera menghentikan pekerjaan mereka, kemudian berhamburan pergi setelah mendengar suara lesung bertalu-talu dan melihat warna kemerahan di langit ditambah lagi suara ayam berkokok bersahutan. Melihat keadaan tersebut, Bandung Bondowoso merasa panik. Demi cintanya pada Roro Jonggrang, ia melanjutkan pekerjaan pembangunan candi seorang sendiri. Pada pagi harinya hanya tersisa satu buah patung yang belum selesai. Roro Jonggrang pun berkata pada Bandung Bondowoso bahwa syarat yang ia berikan gagal di penuhi. Dengan demikian Bandung Bondowoso tidak berhak menikahinya.

"Bandung Bondowoso, engkau gagal memenuhi syarat yang aku minta untuk membangun seribu candi dan dua buah sumur. Engkau tak bisa menikahiku," kata Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso merasa sangat kesal dan marah. Ia tahu Roro Jonggrang telah mengelabuinya. Bandung Bondowoso kemudian mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung.

"Roro Jonggrang, kamu berlaku curang padaku. Aku kutuk kamu menjadi patung untuk melengkapi jumlah patung yang kurang dari seribu candi permintaanmu!" Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang.

Terjadi kejadian aneh, tubuh Roro Jonggrang berubah keras menjadi sebuah patung batu. Rakyat Prambanan kemudian menyebut patung dewi cantik di candi Prambanan sebagai penjelmaan Roro Jonggrang. 

***

Rere menyelesaikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Yogyakarta," kata Rere.

Rere menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja.

"Mengerjakan PR yang di berikan guru," kata Rere.

Rere mengambil buku pelajaran di dalam tas. 

"PR matematika apa fisika ya?" kata Rere berpikir dengan panjang banget.

"Matematika saja!" kata Rere.

Rere membuka buku dengan baik, ya mulai mengerjakan PR matematikanya dengan baik. Sampai soal yang sulit. Rere mulai sakit kepala karena tidak bisa menyelesaikan soal yang sulit itu. Rere teringat tentang aplikasi yang dapat membantu dalam menyelesaikan soal matematika. Rere menggunakan aplikasi tersebut dengan baik dan dapat menyelesaikan soal yang sulit semuanya dengan baik.

"PR matematika selesai juga," kata Rere. 

Rere telah menyelesaikan PR matematika, ya di tutuplah bukunya. Rere membuka bukunya, ya mulai mengerjakan PR fisika. Sampai soal yang sulit. Rere menggunakan aplikasi yang dapat diri Rere menyelesaikannya soal yang sulit banget. 

"PR fisika selesai juga," kata Rere.

Rere tenang karena PR sudah selesai di kerjakan dengan baik. Buku di tutup.

"Semua berkat aplikasi yang dapat membantu aku menyelesaikan soal yang sulit. Pinter yang membuat aplikasi di Hp. Kemajuan zaman," kata Rere. 

Semua buku di taruh di dalam tas. Rere beranjak dari duduknya di ruang tengah, ya membawa tasnya ke kamar. Tas di taruh di meja.

"Makan ah!" kata Rere.

Rere pun keluar dari kamar ke ruang makan untuk makan. Ibu telah menyiapkan makan untuk keluarga. Rere menyantap makan yang enak buatan ibu.

Monday, July 5, 2021

SEORANG ANAK YANG BERHASIL MEMPERDAYAI SETAN

Wendy ke halaman belakang dengan membawa buku. Wendy duduk dengan baik dan segera membaca buku. .

Isi buku yang di baca Wendy :

Suatu ketika, petani memeriksa tanaman singkong di ladangnya.Tapi, tanaman singkongnya telah di rusak binatang hutan. Petani pun membuat lubang perangkap untuk menangkap binatang yang merusak tanaman singkongnya. Tiba-tiba, setan yang berwajah seram datang. 

“Aku akan membantumu menggali perangkap dan kita berbagi binatang yang terjebak,” kata setan.

 Lalu, petani yang ketakutan tidak bisa menoIaknya.

“Semua binatang jantan yang masuk perangkap, jadi milikmu. Lalu, binatang betina yang masuk perangkap, jadi milikku,” kata setan mengatur.

Ternyata, setiap hari hanya binatang jantan yang masuk perangkap. Semuanya jadi milik petani.

“Tentu saja selalu binatang jantan yang masuk perangkap karena binatang jantanlah yang mencari makanan,” pikir petani sambil tertawa puas.

Kini, petani punya banyak persediaan daging. Tapi, ia dan keluarganya tetap butuh singkong sebagai makanan pokok. 

“Aku akan ke ladang. Barangkali masih ada singkong tersisa. Kau jagalah anak kita,” kata istri petani.

Lama menunggu, petani pun menyusul ke ladang bersama anaknya. Mereka melihat setan di ladang.

“Akhirnya ada binatang betina yang masuk perangkap,” kata setan sambil tertawa.

Petani kaget melihat istrinya berada dalam lubang perangkap. 

“Dia manusia, bukan binatang,” katanya.

Tapi, setan tidak mau peduli. 

“Dia binatang betina. Dia milikku,” kata setan.

Petani mulai takut kehilangan istrinya. Tiba-tiba, anak petani berkata, “Biarkanlah setan mengambil haknya, Ayah!”

“Ah, kau anak yang bijaksana,” kata setan sambil masuk ke dalam lubang perangkap hendak mengambil istri petani.

Saat setan masuk lubang perangkap, si anak kembali berkata. “Lihat, Ayah! Ada binatang jantan di dalam perangkap,” kata anak petani sambil menunjuk setan.

Setan kebingungan. Menurut perjanjian yang la buat, semua binatang jantan jadi milik petani. la tidak mau jadi budak petani. Akhirnya, ia setuju untuk melepaskan istri petani asal petani juga membebaskannya.

***

Wendy selesai baca bukunya.

"Bagus ceritanya," kata Wendy.

Wendy membaca pesan moral yang di tulis di buku "Jadilah anak pemberani dan cerdik. Jangan takut hantu yang menyeramkan. Hadapilah dengan tenang dan berdoalah kepada Tuhan agar kamu mendapatkan perlindungan darinya."

Wendy memahami pesan moral yang di tulis buku. Wendy menutup bukunya.

"Belajarlah!" kata Wendy.

Wendy beranjak dari duduknya di halaman belakang, ya masuk ke dalam rumah. Wendy ke kamarnya. Buku di taruh di meja. Wendy mengeluarkan buku di tasnya dan segera belajar dengan baik.

GADIS KECIL YANG MENJADI KEPALA KELUARGA

Amanda duduk di ruang tengah dan mengambil buku di meja, ya segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Amanda :

Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang terdiri atas seorang bapak, tiga orang putra, dan tiga orang menantu perempuan. Ketiga menantu itu sering meminta pulang ke rumah orangtua mereka. Sang bapak lama-lama kesal oleh sikap menantu-menantunya itu. Akhirnya, ia memberikan syarat yang sulit kepada ketiga menantunya.

“Kalian boleh pulang, tapi harus menjalankan syarat ini. Menantu pertama harus membawa api yang dibungkus kertas. Menantu kedua harus membawa angin di dalam kertas. Menantu ketiga harus membawa musik di dalam angin,” kata sang bapak.

“Jika tidak bisa membawa hadiah-hadiah itu, kalian tidak boleh kembali lagi,” katanya lagi.

Ketiga menantu itu pun pergi ke rumah orangtuanya masing-masing. Setelah seminggu berada di rumah masing-masing, mereka kemudian mengadakan pertemuan di suatu tempat untuk pulang bersama-sama. Tidak satu pun di antara mereka bertiga yang bisa mendapatkan hadiah yang diminta mertua mereka. Tapi, mereka tetap memberanikan diri pulang.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan seorang gadis kecil yang menunggang kerbau. la bertanya kepada tiga menantu itu apa yang mengganggu pikiran mereka. Ketiga menantu menceritakan keinginan mertua mereka.

Gadis itu tertawa, “Aku tahu hadiah apa saja yang kalian harus bawa?”

“Hah, bagaimana bisa? Kau hanya anak kecil,” kata salah seorang menantu.

Gadis itu memberitahu bahwa hadiah yang harus dibawa menantu pertama, api dibungkus kertas adalah lentera kertas. Hadiah yang harus dibawa menantu kedua, angin dalam kertas adalah kipas kertas. “Saat kipas digoyangkan akan muncul angin,” kata gadis itu.

Hadiah ketiga, musik di dalam angin adalah sepasang Ionceng. “Jika lonceng digoyang, akan muncul musik yang indah,” kata si gadis.

Ketiga menantu kembali ke rumah mertuanya dan memberikan hadiah mereka. Sang mertua heran bagaimana ketiga menantunya bisa begitu cerdas. Ketiga menantu itu menceritakan tentang gadis kecil yang menunggang kerbau. Sang mertua segera mencari anak gadis itu dan mengangkatnya jadi anak. la juga mengangkat gadis kecil yang cerdas itu menjadi kepala keluarga di rumahnya.

***

Amanda berhenti baca buku.

"Cerita yang bagus," kata Amanda.

Amanda membaca pesan moral yang di tulis di buku "Jadilah anak yang cerdik dan banyak-banyaklah belajar serta membaca. Kemudian, jangan remehkan orang lain. Mungkin saja ia lebih pintar dari kamu."

Amanda memahami pesan moral yang di tulis di buku.

"Belajar untuk membuat diri ku pintar," kata Amanda.

Amanda membawa bukunya ke kamarnya. Amanda menaruh buku di meja dengan baik. Buku pelajaran di keluarkan dari tas. Amanda pun belajar dengan baik dengan tujuan membuat dirinya pintar.

CARA MENIMBANG GAJAH

Anneth duduk di ruang tamu. Anneth mengambil buku di meja dan segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Anneth :

Dahulu kala, seorang kaisar di negeri Cina mendapatkan hadiah yang sangat besar dari negeri India. Bagaimana tidak besar, hadiah itu berupa seekor gajah. Kala itu, tidak ada seorang pun di Cina yang pernah melihat binatang sebesar itu.

“Hmmm, aku penasaran berapa berat binatang ini?” kata kaisar sambil mengelus-ngelus janggut dan memerhatikan gajah.

“Yang Mulia, mohon maaf. Aku tidak tahu bagaimana cara menimbang binatang besar itu?” kata pembantu kaisar.

“Kita tidak punya timbangan yang cukup besar untuk menimbang gajah,” katanya kembali.

Kaisar lalu memerintahkannya untuk mencari orang yang mampu menimbang berat gajah. Tapi, tidak ada satu orang pun yang tahu cara menimbang gajah. Tiba-tiba, putra kaisar yang baru berumur delapan tahun berkata, “Ayah, aku tahu bagaimana cara menimbang gajah.”

Kaisar dan semua orang di istana tersenyum mendengar keberanian putra mahkota mengungkapkan pendapatnya.

“Oh ya? Bagaimana kau bisa? Kau masih kecil, anakku. Tapi, baiklah. Apa pendapatmu? Bagaimana cara menimbang gajah itu?” kata kaisar.

Putra mahkota meminta agar gajah dinaikkan ke atas sebuah perahu. Lalu, ia menyuruh pelaut untuk menandai batas air di badan perahu saat dinaiki gajah. Setelah itu, gajah diturunkan lagi dari perahu. Kemudian, putra mahkota meminta agar perahu diisi batu bata sampai batas air di badan perahu sama dengan batas air saat gajah dinaikkan perahu. Setelah itu, batu bata dibawa ke pinggir danau dan ditimbang sedikit demi sedikit. Maka, berat gajah pun bisa diketahui. Kaisar dan semua orang kagum oleh kecerdasan putra mahkota.

***

Anneth berhenti baca buku.

"Cerita yang bagus berdasar di tulis di buku cerita berasal dari Cina," kata Anneth.

Anneth membaca pesan moral yang di tulis buku "Jadilah anak yang cerdas dan pakailah akalmu menyelesaikan persoalan. Lalu, bagimana caramu agar menjadi anak yang cerdas? Ya, tentu saja dengan banyak belajar dan membaca."

Anneth memahami pesan moral yang ia baca. Anneth menutup buku dan menaruh di meja. 

"Belajar ah!" kata Anneth.

Anneth mengambil tas di kamarnya dan segera di bawa ke ruang tamu. Anneth mengeluarkan buku pelajaran di dalam tasnya dan segera di pelajari dengan baik banget, ya mengulas pelajaran yang telah di berikan guru gitu.

NASEHAT YANG BERHARGA

Deny keluar dari kamar, ya sambil membawa buku. Deny ke teras depan rumah. Deny duduk dengan baik dan segera membaca buku dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Deny :

Di sebuah desa di Arab hiduplah seorang pemuda penggembala domba. Pemuda itu bernama Fatih. Ia tinggal berdua bersama dengan ayahnya yang sudah tua. Setiap hari mereka pergi menggembala domba. Namun, domba-domba yang mereka gembalakan bukanlah milik mereka sendiri. Domba-domba itu titipan dari orang lain. Mereka mendapatkan upah dari memelihara domba. Suatu hari, ayah Fatih jatuh sakit. Ia tak mampu lagi bekerja seperti biasanya. Akhirnya, Fatih harus pergi menggembala domba seorang diri. Fatih juga merawat sang ayah sebagai wujud kasih sayangnya. Fatih sendiri yang menyuapi, memandikan, dan terus berdoa untuk kesembuhan ayahnya. Fatih memang anak yang berbakti.

Namun, takdir usia ayah Fatih telah sampai. Ayahnya meninggal dunia. Ayah Fatih tak banyak meninggalkan harta untuk Fatih. Hanya rumah sederhana dan dua ratus keping uang perak. Ayahnya juga mewasiatkan agar Fatih selalu berlaku baik, jujur, dan jangan menyepelekan nasihat baik. Karena ayah Fatih sudah meninggal, orang-orang yang menitipkan domba meminta domba-domba mereka kembali. Fatih kehilangan pekerjaan. Ia lalu pergi ke pasar. Siapa tahu ada yang membutuhkan tenaganya. Dengan begitu dia bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Fatih berkeliling pasar menawarkan tenaganya. Sayang belum ada yang menerimanya. Karena lelah, Fatih beristirahat sejenak. Ia mengamati orang-orang yang lalu lalang di pasar.

“Nasihat berharga! Seratus keping perak saja!”

Seorang pria tua berteriak di tengah pasar. Tak ada yang menghiraukannya. Namun ia tak berhenti mengulang-ulang penawarannya. Fatih heran melihat orang tersebut. Ternyata di pasar ada juga yang menjual nasihat. Ia tak menyangka nasihat juga bisa dijual. Fatih merasa tertarik. Ia mendekati pria tua itu.

“Nasihat seperti apa yang kau jual, Pak Tua?” tanya Fatih.

“Tentu saja nasihat baik yang akan mengantarmu pada keberuntungan, anak muda,” jawab pria itu.

“Apa kau mau mencobanya?” lanjutnya.

Fatih berpikir-pikir. Saat ini ia memang sedang kebingungan. Ia baru saja kehilangan ayah dan tidak kunjung mendapat pekerjaan. Barangkali dia bisa mendapat nasihat yang bermanfaat dari pria tua itu.

“Baiklah, Pak Tua, apa nasihatmu?”

Fatih menyerahkan seluruh uangnya pada pria tua itu. Pria tua itu menerimanya dengan senang.

“Dengar baik-baik. Nasihat yang pertama, ingatlah bahwa setiap orang mempunyai pilihannya masing-masing,” ucap pria tua itu bijaksana.

“Yang kedua, bila kau mendapat tawaran dan kesempatan baik, jangan menolaknya. Sudah. Uangmu hanya cukup untuk dua nasihat ini. Semoga bisa bermanfaat dalam hidupmu. Lain kali, datanglah lagi.”

Pria tua itu lantas berlalu. Fatih telah mendapatkan dua nasihat yang harus ia bayar mahal. Ia telah kehabisan uang sekarang. Fatih tercenung memikirkan nasihat dari pria tua tadi. Ia belum tahu apa maksud dari masing-masing nasihat yang didapatnya. Tiba-tiba pasar gaduh. Seorang pria berlari mengejar dombanya yang terlepas. Domba itu baru saja ia beli di pasar. Fatih yang terbiasa menggembala domba, membantu pria itu menangkap dombanya.

“Terima kasih, anak muda. Kalau tak ada kau, dombaku ini pasti sudah membuat pasar porak-poranda.”

“Sama-sama, Tuan. Saya dulu penggembala domba. Jadi saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini.”

Fatih berbincang akrab dengan pria yang dibantunya. Namanya Usman. Dia kepala pelayan saudagar Rasyid. Saat mendengar kisah Fatih, ia menjadi iba. Usman pun menawarkan pada Fatih untuk bekerja di rumah saudagar Rasyid. Fatih sangat senang. Ini kesempatan yang baik. Ia teringat nasihat yang dibelinya dari pria tua tadi. Fatih pun menerima tawaran Usman. Akhirnya ia bisa mendapat pekerjaan lagi.

Di rumah saudagar Rasyid, Fatih bekerja memelihara ternak. Ada domba dan unta. Karena sudah memiliki pengalaman sebelumnya, ia melakukan pekerjaannya dengan mudah. Fatih pun menjadi kesayangan kepala pelayan. Usman menganggap Fatih seperti anaknya sendiri. Setiap hari Fatih bekerja keras. Sebagaimana pesan ayahnya, ia pun selalu jujur dan santun. Usman sering menyebut-nyebut nama Fatih di hadapan saudagar Rasyid. Saudagar Rasyid senang memiliki pelayan yang rajin seperti Fatih.

Suatu hari, pelayan perempuan saudagar Rasyid akan pergi keluar kota untuk membeli beberapa perlengkapan dan barang-barang. Biasanya Salima, putri saudagar Rasyid, tak pernah ikut serta. Namun, kali ini ia meminta untuk ikut pergi. Ia ingin melihat-lihat keadaan kota lain. Selama ini ia hanya mendapat cerita dari ayahnya atau pelayan-pelayan yang baru pulang dari perjalanan dagang. Salima tak pernah melakukan perjalanan jauh sebelumnya. Tadinya saudagar Rasyid tak mengizinkannya. Ia mengkhawatirkan keadaan putrinya yang cantik itu bila ikut pergi. Perjalanan yang harus ditempuh tak cukup sehari semalam. Tapi Salima terus merengek pada ayahnya.

“Kira-kira siapa yang bisa kupercaya untuk mengawal anak kesayanganku, Usman? Aku bisa memercayaimu. Tapi aku membutuhkan bantuanmu di sini,” ujar saudagar Rasyid.

“Bagaimana kalau Fatih? Tuan sudah tahu betul bagaimana perangainya. Ia pemuda yang baik dan santun. Ia juga bisa dipercaya,” usul Usman. Saudagar Rasyid mengangguk-angguk.

“Ya, aku juga berpikiran sama. Sertakan juga beberapa pelayan pria untuk membantu Fatih mengawal putriku.”

“Baik, Tuan.”

Usman pun mengatur perjalanan rombongan putri saudagar Rasyid. Mereka naik beberapa ekor unta. Perjalanan yang harus mereka tempuh cukup jauh. Paling tidak perlu dua hari untuk sampai di kota yang dituju. Selama perjalanan, Fatih menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mengawal dan menjaga rombongan, khususnya Salima. Salima yang selama ini jarang melihat Fatih menjadi kagum padanya. Salima pun jatuh hati pada pemuda yang tampan dan baik budi itu.

Saat hari mulai petang, rombongan itu mendirikan tenda untuk beristirahat. Mereka akan bermalam dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Ketika semua orang sedang terlelap, Salima mengendap-endap keluar dari tendanya. Ia ingin menemui Fatih.

“Ada apa, Nona? Anda perlu bantuan?” tanya Fatih.

“Tidak,” jawab Salima.

“Lalu mengapa keluar tenda? Sebaiknya Anda masuk dan beristirahat. Perjalanan yang harus kita tempuh masih panjang,” ujar Fatih sopan.

“Aku hanya ada sedikit perlu denganmu,” kata Salima.

Ia pun memberanikan diri mengutarakan perasaannya pada Fatih. Ia ingin Fatih datang pada ayahnya untuk melamarnya. Fatih terkejut mendengarnya. Fatih merasa bingung apakah ini kesempatan baik atau bukan. Keadaan ini bagai buah simalakama baginya. Bila ia menyanggupi, kemarahan saudagar tentu akan diterimanya. Bila ia menolak, Salima yang akan memusuhinya. Namun, Fatih teringat pada tugasnya. Ia sedang diberi kepercayaan untuk mengawal Salima. Ia tak mungkin melanggarnya. Maka ia harus berani menerima setiap risiko yang akan terjadi.

“Maafkan saya, Nona. Saat ini saya sedang mendapat amanah dari ayah Anda. Saya harus menjaga Anda. Lagi pula saya hanyalah seorang pelayan. Manalah pantas mengajukan lamaran untuk putri seorang saudagar?”

Fatih menolak dengan halus. Padahal dalam hati, ia pun jatuh cinta pada Salima yang cantik jelita. Tapi Fatih tahu diri. Salima kecewa mendengar penolakan Fatih. Hatinya marah dan terluka. Ia berlari ke tendanya.

Keesokan harinya, rombongan itu meneruskan perjalanannya. Salima tampak masih menyimpan kemarahan pada Fatih. Setiap kali diajak bicara, jawabannya ketus. Fatih memilih diam dan mengalah. Saat mereka melewati sumur tua, Salima meminta mereka berhenti. Salima ingat cerita dari para pelayan tentang sumur itu. Mereka bilang sumur tua itu adalah sumur keramat. Tak ada seorang pun yang bisa keluar saat masuk ke dalamnya untuk mengambil air.

“Di sini panas sekali. Aku ingin membasuh wajahku dengan air sumur itu. Pasti dingin dan menyegarkan,” pinta Salima.

Para pelayan menolak keinginan Salima. Tak satu pun dari mereka berani turun ke dalam sumur untuk mengambil air. Mereka membujuk Salima menggunakan air perbekalan mereka, tapi Salima tak mau.

“Fatih, cepat turun ke sumur dan ambilkan air untukku!” perintah Salima.

Sebenarnya Salima sengaja. Ia ingin membalas sakit hatinya pada Fatih. Ia yakin Fatih tak akan berani turun. Dengan begitu ia bisa mengolok-oloknya sepanjang perjalanan nanti.

Ternyata dugaan Salima salah. Fatih mengambil seutas tambang panjang dan menurunkannya ke dalam sumur. Ia lantas masuk untuk mengambil air. Keberanian Fatih justru membuat Salima menjadi khawatir. Bagaimana kalau yang diceritakan orang-orang benar? Bagaimana bila Fatih tak kunjung keluar dari sumur? Salima cemas.

Sumur itu sangat gelap karena begitu dalamnya. Fatih terkejut saat mencapai permukaan air sumur. Ia melihat seorang pria besar dan dua orang wanita. Wanita yang satu berkulit putih dan yang satu berkulit hitam.

“Maaf, Tuan. Izinkan saya mengambil sedikit air dari sumur ini untuk tuan saya,” pinta Fatih.

“Siapa kau, Anak Muda? Jarang sekali orang yang masuk dalam sumur ini meminta izinku. Kebanyakan mereka langsung mengambil dan mencuri air sumurku ini!” tanya pria itu garang.

“Saya Fatih, pelayan seorang saudagar yang kaya namun dermawan.”

“Baiklah. Aku izinkan jika kau bisa menjawab pertanyaanku!” gertak pria itu sambil mengulurkan pedangnya yang tajam ke arah Fatih.

“Pria muda, di antara dua wanita ini, siapa yang lebih layak untuk kupilih? Jawab dengan benar atau kau tak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup!” ujar sang pria mengajukan pertanyaannya.

Fatih berpikir. Pertanyaan ini pastilah pertanyaan yang menjebak. Nyawanya menjadi taruhan. Fatih lalu teringat pada nasihat yang dulu dibelinya dari pria tua di pasar.

“Tuan, setiap orang memiliki pilihannya sendiri. Maka sesungguhnya, Andalah yang paling pantas untuk menentukan pilihan Anda sendiri,” jawab Fatih.

Pria itu sesaat terdiam. Ia lalu mengulurkan secawan penuh air sumur. Ia merasa mendapatkan jawaban yang bijak dari Fatih.

“Dengar, aku adalah jin penunggu sumur ini. Jangan pernah beri tahukan jawabanmu pada siapa pun. Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran!” ucap pria itu sebelum Fatih naik untuk keluar dari sumur.

Fatih sudah mengiranya. Mana ada manusia yang mau dan sanggup tinggal sekian lama di dalam sumur yang gelap dan dalam. Salima terkejut saat melihat Fatih keluar dari sumur dan membawakan air yang dimintanya. Padahal kata orang, tak satu pun yang bisa lolos keluar dari sumur tua itu. Rencana Salima membalas sakit hati malah membuatnya semakin kesal. Rombongan putri saudagar Rasyid melanjutkan perjalanan. Mereka tiba di kota yang dituju dengan selamat. Salima dan pelayan perempuan membeli barang-barang yang mereka cari. Setelah semua mereka dapatkan, rombongan pun bergegas pulang. Saat perjalanan pulang, Salima mempunyai rencana lain untuk membalas sakit hatinya pada Fatih. Ia menemui Fatih saat mereka beristirahat karena hari menjelang petang.

“Fatih, aku minta kau pulang duluan dan menyerahkan surat penting ini pada ayahku. Aku minta kau sesegera mungkin tiba di rumah,” pinta Salima.

“Tapi saya harus mengawal Anda, Nona.”

“Masih ada pelayan lain yang bisa mengawalku. Lagi pula perjalanan pulang tak seberapa jauh lagi. Berangkatlah sekarang!”

“Baik, Nona.

Fatih pun melanjutkan perjalanan meskipun hari sudah gelap. Ia berusaha secepat mungkin tiba di kota. Fatih bahkan tak beristirahat meski mengantuk dan badannya merasa lelah. Hari sudah beranjak siang saat Fatih tiba di kota. Ia melewati pasar sebelum sampai ke rumah saudagar Rasyid.

“Fatih!” panggil seseorang dari kedai kopi.

“Paman Said? Anda berjualan kopi di sini sekarang?”

Fatih bertemu dengan kawan ayahnya.

“Dari mana dan mau ke mana kau? Ayo, duduk! Kutraktir kau minum kopi gratis!”

Fatih menimbang-nimbang. Ini tawaran baik. Tapi ia harus segera mengantar surat dari Salima untuk saudagar Rasyid. Fatih memutuskan untuk duduk sejenak dan menikmati kopi dari Paman Said. Beberapa teguk kopi membuat badannya segar. Ia pun berpamitan karena terburu-buru mengantar surat.

“Tunggu dulu. Aku  masih ingin berbincang-bincang denganmu. Begini saja. Biar pelayanku yang mengantarkan surat itu.”

Fatih pun tak kuasa menolak tawaran baik Paman Said. Akhirnya pelayan Paman Said yang mengantar surat kepada saudagar Rasyid. Ternyata, dalam surat itu Salima menulis bahwa orang yang mengantar surat ini telah mencoba mengganggunya saat di perjalanan. Ia meminta sang ayah memberi hukuman padanya. Saudagar Rasyid sangat marah. Ia pun menyuruh pelayan Paman Said diikat dan dihukum cambuk. Pelayan itu merasa kebingungan dengan apa yang dialaminya.

“Tuan, saya hanya mengantarkan surat. Mengapa saya diperlakukan seperti ini? Tolong, lepaskan saya,” pintanya. Namun tak ada yang peduli.

Menjelang petang, Salima dan rombongan tiba di rumah. Ia terkejut saat menemukan pria yang sedang dicambuk bukan Fatih. Tak lama kemudian Fatih datang. Fatih pun sama terkejutnya saat melihat pelayan Paman Said dicambuk sedemikian rupa.

“Maaf, Tuan. Apa salah pelayan ini sehingga dicambuk sampai terluka?” tanya Fatih.

Saudagar Rasyid menceritakan tentang surat Salima. Fatih kaget mendengarnya. Ia pun meluruskan apa yang terjadi. Pelayan itu segera dilepaskan dan diobati. Saudagar Rasyid merasa ada yang tak beres dengan semua ini.

“Salima, cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud dari suratmu? Kau ingin ayah berbuat zalim pada orang yang tidak bersalah?”

Salima akhirnya jujur dan menceritakan semuanya. Ia ingin membalas penolakan Fatih yang membuatnya sakit hati. Namun sang ayah yang bijak berpendapat lain. Ia menganggap tindakan Fatih benar. Justru yang dilakukan Fatih adalah menjaga harga dirinya dan juga kehormatan Salima. Saudagar Rasyid menyuruh Salima meminta maaf pada Fatih. Juga kepada pelayan Paman Said yang menjadi korban kebohongannya. Saudagar Rasyid memberi hukuman pada putrinya. Ia tak boleh keluar kamar selama satu minggu. Ia ingin agar putrinya jera dan menyadari kesalahannya.

Sementara itu, Saudagar Rasyid semakin sayang pada Fatih yang amanah. Ia memberikan hadiah yang cukup banyak untuk Fatih. Fatih bersyukur ia menjalankan nasihat baik yang diberikan padanya sehingga ia bisa lolos dari niat buruk orang lain. Memang nasihat sama berharganya dengan kehidupan. Jadi jangan pernah abaikan nasihat baik yang datang padamu. 

***

Deny menyelesaikan buku yang ia baca.

"Cerita asal dari Arab yang aku baca bagus," kata Deny.

Deny menutup buku dan menaruhnya di meja. Deny pun mengambil layangan dan benang gelasan di kamar. Setelah layangan dan benang gelasan di pegang Deny, ya segera di bawa keluar dari rumah. Deny berjalan ke lapangan. Sampai di lapangan. Deny segera menerbangkan layangan dengan baik, ya bermain dengan teman-teman seumuran Deny. 

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK