CAMPUR ADUK

Tuesday, February 5, 2019

PILIHAN HATI

....Tuhan telah mempertemukan aku dengan kehidupan yang tenang. Ya! Kayakinan dan kesabaran adalah anak-anak tangga yang harus didaki untuk mencapai keberhasilan....!" kata Faisal dalam hati.

....

Hari itu dia tidak bekerja. Faisal sengaja mengambil cuti sehari. Setiap kali dia ada waktu luang,  tempat itulah yang menjadi pilihan utamannya. Dia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk melihat keindahan alam. Dia juga tidak perlu susah payah mencari kedamaian. Di sana semuanya ada.

Tapi entah mengapa senja itu seakan ada yang terlewatkan. Keindahan yang dicarinya tidak tampak kedamaian yang diharapkan pun tidak tampak kedamaian yang diharapkan pun tidak terasa. Hingga dia dibungkam dengan kesepian dan kesunyian. Mungkin langkahnya di petang itu di bekali oleh beberapa masalah  yang memerlukan penyelesaian segera.

Faisal menghembuskan napas panjang. Diluapkan pula segala persoalan yang menghadap dalam benaknya. Pikirannya melayang ke suatu kehidupan yang dilaluinya dua tahun yang lalu.

Setelah mengucapkan salam, Pak Mail menyusun jarinya memohon doa kehadirat Ilahi. Doanya pendek dan singkat. Lalu dia berjalan ke pintu untuk segera pulang. Tidak seperti biasanya dia mengobrol sebentar bersama jemaah lain di beranda. Pikirannya kalau memikirkan masalah yang di hadapinya. Lelah dia memeras otak mencari penyelesaian masalah tersebut. Tetapi pikirannya buntu.

Langkahnya gontai menuju ke rumah dikontrakannya. Di dalam pondok inilah Pak Mail bersama istrinya dan keenam orang anaknya berteduh. Lorong jalan yang dilaluinya agak gelap, hanya diterangi sinar lampu diujung persimpangan jalan.

Setelah dia sampai di kaki tangga, dia berhenti sejenak. Merenung memandang rumah kecil yang dikontraknya. Rumahnya terlihat agak sepi. Cahaya lampu bulat yang menerangi ruang dalam terpancar keluar melalui lubang-lubang papan yang telah lapuk. Cahaya itu tampak samar-samar di tanah.

"Inilah rumahku. Inilah istanaku....!"

"Apakah....apakah sisa hidupku berakhir di sini?!"

"Oh!Tuhan....apakah ini artinya hidup?" bisik hatinya.

Peci di kepalanya digantungkan pada dinding yang telah separuh usia. Dengan ekor matanya dia melirik ke arah anak-anaknya. Faisal anak sulungnya bersama dua orang adiknya yaitu Nizam dan Andi. Mereka nampak lebih sibuk dengan pekerjaan sekolah mereka masing-masing. Faisal dan adik-adiknya berbagi tempat belajar si atas meja yang di buat Pak Mail sendiri.

Faisal seorang pelajar tingkat SMU kelas tiga. Dia akan menghadapi ujian akhir pada tahun ini. Nizam kelas dua SMU sekolah yang sama dengan abangnya. Sedangkan Andi duduk di bangku kelas tiga SMP. Di lantai, Faiza berbaring sambil menggambar sesuatu. Dia duduk di bangku kelas satu SMP, dan satu sekolah juga dengan Andi.

Di sudut yang lain Farha dan anak bungsunya Fazilah tampak tertidur pulas. Pak Mail berjalan ke arah kedua orang anaknya itu. Dia meraih sehelai kain batik dan menyelimutikannya ke atas badan kedua orang anaknya. Dengan mata sayu Pak Mail memandang mereka berdua.

Di dapur Bu Ani sudah siap menghidangkan makan malam untuk Pak Mail. Sayur daun ubi, ikan sepat goreng dan sambal. Pak Mail duduk bersila menghadap hidangan yang telah disiapkan oleh ibu Ani. Pak Mail menghadiahkan senyuman kepada istrinya. Bu Ani seperti mengerti apa yang berkecamuk di pikiran suaminya itu.

"Anak-anak sudah makan?" Tanya Pak Mail dengan suara yang lemah.

"Sudah...! Hanya sepatah kata yang keluar dari mulut ibu Ani....

Bu Ani merasa mendesak. Mau tidak mau masalah itu harus dibicarakan. Sejak siang tadi tiga kali anaknya mengingatkannya tentang masalah itu. Bu Ani menguatkan niatnya.

"Bang...!"

Panggilan Bu Ani tidak terbalas. Mungkin Pa Mail tidak mendengar panggilan itu, pikirnya. 

"Abang...bagaimana dengan uang ujian Faisal? Hanya tinggal  dua sampai tiga hari lagi," Tanya Bu Ani.

Berdegup jantung mendengar pertanyaan itu. Nasi di tangannya jatuh. Tenggorokannya tersekat. Dia memandang tepat pada istrinya dengan tatapan muram. Hati Bu Ani tersentuh. Kesal hati Pak Mail mendengar pertanyaan itu, kemudian dia mencuci tangannya. Lalu dia berkata perlahan sebelum meninggalkan Bu Ani. 

"Tak usah kau bimbang Ani, abang akan usahakan..."

Pak Mail berjalan perlahan lalu duduk di atas anak tangga. Sambil kakinya tergantung di bawah, Tangannya membuka dan melipat sehelai daun rokok. Pikirannya langsung melayang jauh memikirkan masalah yang harus diselesaikannya. Di luar agak tampak gelap, segelap kehidupannya. Bulan pun tak tampak yang ada cuma dua tiga buah bintang yang berkelip-kelip. Dari jauh didapat melihat hiasan cahaya lampu di persimpangan jalan.
"Di mana aku bisa mendapatkan uang ujian Faisal? Dimana? Dimana akan mencarinya dalam tiga hari....? Kalau tidak dapat bagaimana...? Oh Tuhan, tolonglah aku!" Pak Mail berpikir sambil mengharapkan pertolongan dari Tuhan.

Kemudian pandangannya dialihkan kepada becak roda tiga yang teronggok di bawah pohon nangka. Dialah teman hidup Pak Mail. Dialah sumber rejekinya. Setiap pagi dia mengayuh becaknya di sekitar pasar untuk mencari penumpang. Pak Mail menghitung sesuatu dengan jarinya. Paling banyak pendapatannya hanyalah 25 ribu rupiah sehari. Dikurangi 7.500 rupiah untuk di setorkan kepada Haji Darus pemilik becak yang digunakannya.

"Bagaimana aku bisa menabung? Untuk belanja pun tidak cukup" terbersit rasa kesal karena dia tidak pernah mencoba menabung. 

"Uang untuk Faisal? Di mana aku untuk mencarinya? Kembali pertanyaan itu menerjang pikirannya. Dahinya berdenyut. Dia mengaruk-garuk kepalanya yang mulai botak.

"Sal, ayah belum punya uang. Mintalah waktu sampai minggu depan." Suara Pak Mail bercampur keraguan. Sambil tangganya mencengkram erat lengan anaknya.

Faisal memahami arti cengkraman itu. Dia dapat merasakan kesedihan yang tertanam di lubuk hati ayahnya. Di luar, malam telah beranjak. Faisal menutup buku di tanggannya. Dia merebahkan badannya di sehelai tikar usang di sisi meja. Ibu dan adik-adiknya telah usang di sisi meja. Ibu dan adik-adiknya telah lama tidur. Kelopak matanya masih berkedip-kedip, sudah dia memejamkan matanya.

"Mana mungkin bisa menangguhkan sampai minggu depan?"

Betapa sedih perasaannya ketika mendengar jawaban dari ayahnya. Dia tidak memiliki pilihan lain kecuali terpaksa mengangguk. Tidak mungkin baginya untuk membantah. Berat apa yang telah di dengarnya berat pula yang di tanggungnya di hati. Masalah yang semula bergejolak di benak ayahnya kini berpindah pula ke kepalanya juga.

"Apa yang harus aku lakukan? Menundanya hingga minggu depan?"

"Tidak mungkin...! hanya aku yang belum melunasinya."

Suasana di dalam rumah agak gelap. Hanya diteranginya oleh cahaya lampu minyak. Di luar sesekali terdengar suara jangkrik. Seakan ada sesuatu yang di obrolkan mereka.

"Apakah aku harus berhenti sekolah...?"

Tidak...Tidak....!"

Di sela-sela kegelapan, seakan-akan nampak sesuatu yang bersinar.

"Ya! Ya! Aku mempunyai simpanan 15 ribu, jadi masih kurang 40 ribu lagi.

Aku harus melakukan sesuatu. Tapi, apa yang harus aku lakukan...?

Mampukah aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang sangat singkat?

.....

"Kau tidak makan Sal..." Tanya ibuya Debaran jantung terasa sedikit kuat. Dia menarik napas panjang untuk memilihi keyakinan yang diharapkan.

"Ibu, apakah Ibu....mau Faisal terus melanjutkan sekolah?" tanyanya terputus-putus. 

Bu Ani kaget mendengar pertanyaan Faisal. Dia seakan tak percaya mendengar pertanyaan anaknya sendiri. Langkah Bu Ani terhenti. Dia berbalik, melangkah kembali ke arah Faisal.

"Faisal, apa maksudmu....? sambil matanya merenung memandang wajah anak remajanya itu. Faisal masih saja memandang nasi di dalam piringnya itu. Beberapa helai rambutnya yang lurus jatuh kewajahnya.

"Apalah gunanya Faisal sekolah Bu....kalau tidak bisa ikut ujian itu...! Ayah memintaku untuk menundanya sampai minggu depan. Pak Guru hanya memberi waktu dua hari saja. Faisal malu Bu....Hanya Faisal saja yang belum membayar uang ujian Bu." Kata Faisal saya sambil menahan sesak di dada.

Mendengar kata-kata itu perasaan Bu Ani terasa dicabik-cabik. Sebagai seorang ibu dia merasa bersalah karena dia tidak bisa membantu anaknya. Bu Ani tidak dapat membendung perasaan yang terharu. Air matanya mengalir membasahi pipi. Lalu dia memeluk erat anaknya itu. Melepaskan kesalahan yang dirasakannya.

"Maafkan Ibu, Nak, Maafkan Ibu...? suara Bu Ani tersendat-sendat.

"Ibu tidak perlu sedih dan menangis. Faisal sudah besar. Faisal sudah besar Bu...! Biarkanlah Faisal bekerja Bu....!

"Kau...? Kau mau bekerja...?" tanya Bu Ani keheranan.

"Faisal...Faisal terpaksa Bu. Faisal ingin ikut ujian itu juga. Ijinkanlah, Bu....! Bu Ani tidak dapat berkata apa-apa. Untuk sesaat dia terpaksa menganggukkan kepalanya. Dia merelakan keputusan anaknya itu karena keadaan yang memaksa. Di dalam hatinya dia dapat merasakan kesungguhan niat anaknya itu. Pada serpihan hati dia berdoa agar anaknya dijauhkan dari segala kesulitan.

Faisal merasa gembira karena berhasil mendapatkan ijin dari Ibunya. Dia melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang telah dijanjikan. Faisal ingin segera tiba di Restoran yang terletak di Hotel Berbintang 2 di Jakarta. Di sanalah terletak segala harapannya. Berhasil atau tidaknya keinginan untuk mengambil Ujian Akhir Sekolah akan diketahuinya sebentar lagi.

"Kamu ingin bekerja di sini...? tanya pemilik Restoran tersebut.

"Iya, Tuan!"

"Kamu bisa bekerja berat?"

"Akan saya coba tuan." Faisal mencoba meyakinkan orang di hadapannya itu. Orang itu berbadan tegap dan berbaju putih. Keduanya membisu sesaat.

"Baiklah, untuk permulaan kamu bekerja sementara dulu, seorang pegawai saya sedang cuti.

"Saya harap kamu rajin bekerja...!"

"Insya Allah....!" Faisal langsung menjawab. Raut mukanya nampak kegirangan. Harapannya hampir menjadi kenyataan.

Setelah mendengar penjelasan kendala yang dihadapi oleh Faisal karena dia masih sekolah, maka pemilik restoran sepakat menetapkan jam kerja Faisal dari pukul 3.00 sore hingga pukul 8.00 malam pada setiap harinya. Kemudian Haji Karim menerangkan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Faisal. Sebagai pemula dia hanya diminta untuk bekerja mencuci piring-piring. Faisal dibawa ke suatu sudut ruangan dimana tugas tersebut harus dikerjakan.

Di sana terdapat tumpukan piring-piring, mangkok dan gelas-gelas serta dua buah panci besar menunggu kedatangan Faisal. Faisal menelan ludah setelah melihat tugas yang harus dikerjakannya itu.

"Uang...! Uang...! Aku datang ke sini karena uang." Walau bagaimanapun dia harus mengerjakannya.

Faisal melepas baju yang dipakainya. Badannya yang agak kurus hanya ditutupi dengan sehelai senglet tipis. Celana hitam yang dikenakanya di gulung sebatas lutut. Dia memulai pekerjaannya.

.....

"Kau baru bekerja di sini?" Terdengar satu suara menyapa di belakangnya.

Faisal menoleh ke arah datangnya suara itu. Dia tersenyum memandang seseorang yang berjalan menghampirinya. Seorang perempuan yang sederhana.

"Iya nyonya...!" Balas Faisal sopan.

"Panggil saja Bu Santi." Kata perempuan itu. Lalu dia berdiri di sebelah Faisal. Bu Santi telah bekerja selama lebih dari lima tahun. Selain memasak, dia juga menjadi orang kepercayaan Haji Karim.

"Kerjaan saya sudah selesai. Biar saya bantu kamu." Bu Santi menawarkan bantuan. Tangannya mulai sibuk mengangkat piring-piring yang sudah dicuci oleh Faisal. Piring-piring dimasukan ke dalam ember berisi air bersih.

.....

Setelah selesai mencuci. Faisal membantu pekerja yang lainnya. Tidak peduli pekerjaan siapa, dia mencoba membantu mereka. Haji Karim memperhatikan sikap ringan tangan yang ditunjukkan Faisal. Dia merasa puas karena mendapatkan seorang pegawai yang begitu cekatan.

"Faisal..."

"Iya Tuan...! Sahut Faisal ketika ia dipanggil majikannya.

"Ini gajimu untuk hari ini." Dia mengulurkan uang lima belas ribu.

"Terima kasih tuan," Sambut Faisal dengan bangga. Inilah uang hasil keringat yang pertama. Dalam hati dia memanjatkan syukur.

"Kau boleh pulang Faisal. Besok kan sekolah," kata Haji Karim. Dia diperkenankan pulang lebih awal dari waktu yang telah ditetapkan.

"Terima kasih...!" Walaupun baru sehari dia kerja di situ, dia telah merasakan keakraban dengan setiap orang yang baru dikenalnya.

Faisal melangkah menuju ke rumahnya. Sambil melangkah dia terus menghitung dan memikirkan tentang uang ujian yang harus dicarinya.

"Kau sudah pulang, Sal?" Sambut ibunya dimuka pintu. Hati Bu Ani legah melihat anaknya yang ditunggu-tunggunya telah pulang.

"Iya Bu. Biar Sal mandi dulu." Faisal terus berlalu kearah sumur yang tidak jauh dari rumahnya.

.....

"Ayah tidak ke Masjid?" tanya Faisal.

"Tidak..." matanya merenung, menatap sesuatu di dinding. Faisal seolah dapat menebak apa yang dirasakan oleh ayahnya.

Suasana seketika menjadi sunyi. Bu Ani berdiam diri. Begitu pula dengan Pak Mail dan Faisal. Cuma sesekali Faisal dan Ibunya saling berpandangan. Sekali lagi Faisal mengatakan hatinya untuk berkata sesuatu kepada ayahnya. Tapi kali ini dia ingin ayahnya memahami apa yang telah dilakukannya.

"Ayah.... Ayah, maaf Faisal, Faisal terpaksa melakukannya..." suara Faisal tersendat-sendat.

Kata-kata itu bagaikan ombak memecah di dada sang ayah yang tunduk membisu. Dia coba menyembunyikan perasaannya yang hancur. Sebagai seorang ayah, dia merasa sangat kesal karena tidak mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dengan wajah sayu dia memandang anaknya itu. Lalu kedua tangannya mencengram bahu Faisal. Kerutan di dahinya menampakkan usia senjanya. Air matanya mengalir membasahi pipi. Di bawah tamaran lampu minyak, tetesan air mata itu tampak jelas berkilauan. "Ayah yang salah nak. Ayah yang salah. Maafkan Ayah," Pak Mail kemudian memeluk anaknya dengan penuh rasa haru.

"Isal... Jika terjadi sesuatu pada Ayah, kaulah sebagai pengganti ayah, " bisik sang ayah ditelinganya. Sedangkan Bu Ani hanya bisa mengusap air matanya dengan ujung kain bajunya.

.....

Hari berikutnya, Faisal lebih tenang bekerja. Hari itu piring dan mangkok sedikit yang dicuci tidak terlalu banyak. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, dia ke depan untuk membantu seperlunya.

"Faisal, tolong antarkan mi goreng ke meja nomor sepuluh.....!" Faisal mengambil sebuah nampan yang diulurkan oleh Malik. Di atasnya terdapat dua piring mie goreng dan dua gelas soft drink.

Dengan hati-hati makanan itu di bawah ke meja yang disebutkan. Tetapi segera saja ketika dia hampir sampai di meja yang dituju, langkah kakinya terhenti. Dia terdiam, begitu berat kakinya terus melangkah. Badannya terasa menggigil ketika memandang orang yang ada dihadapannya. Dia serba salah.

Berdenting gelas dan piring di atas nampan. Menetes keringat di dahi. Dalam keadaan yang serba tidak menentu itu, tiba-tiba hatinya dikejutkan ketika namanya ditegur oleh seorang.

"Faisal, Kau kerja di sini?" Tanya suara itu tercampur sedikit keberanian.

"Iya, Iya....Pak Kamal!" jawab Faisal terbata-bata. Dia mencoba mengukir senyum di bibir. Faisal menyembunyikan kegelisahannya. Segera nampan di tangannya diletakkan di atas meja. Piring mie dan minuman yang dipesan di susunnya rapi di atas meja Pak Kamal dan Isterinya, guru Faisal.

"Permisi, Pak Kamal..." kata Faisal meminta diri dengan hormat untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Pak Kamal masih termangu terkejut oleh apa yang telah dilihatnya.

"Alamakk...ketahuan!" ujar Faisal dalam hati.

Keesokan paginya, dia dipanggil oleh Pak Kamal. Berita tersebut disampaikan oleh seorang pengawas. Setelah jam pelajaran Bahasa Inggris selesai, dia berjalan menuju ke ruang guru di mana Pak Kamal telah menunggunya.

"Apakah  uang ujian...?" Wajahnya seketika pucat pasi melihat uang yang ada ditangannya masih kurang.

"Ataukah... Mungkin Juga tentang kejadian semalam....? Faisal terus melangkah kakinya ke ruang guru sambil bertanya-tanya dalam hati.

.....

Faisal langsung mengetuk pintu saat di ruang guru.

"Masuk...!" sahut satu suara dari dalam. Faisal melangkah masuk dengan  hati yung berdebar. Keadaan di ruang itu tampak sedikit lenggang. Mungkin guru-guru lain masih ada di ruang masing-masing. Dia melihat Pak Tan yang duduk di sudut ruangan.

"Assalamualaikum...!"

"Waalaikumsalam...!" dia menghentikan perkerjaannya dan melihat ke arah Faisal.

"Ah...Kau, Sal. Duduklah...!" Pak Kamal mempersilahkan.

"Terima kasih." Segera dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan mengeluarkan uang kertas. Matanya terpaku tepat pada uang kertas yang diserahkannya kepada Pak Kamal.

"Pak, saya masih kurang dua puluh ribu lagi. Besok akan saya lunasi."

Dia diam seketika. Pak Kamal menarik nafas yang panjang. Ucapan Faisal mengusik hatinya. Lalu ditatapnya sesosok tubuh yang berdiri di hadapannya dengan penuh pengertian.

"Kamu...kamu kerja di sana?"

Faisal tersengak mendengarkan pertanyaan yang diajukan Pak Kamal. Dia tidak langsung menjawab.

.....

"Bolehkah....saya tahu sebabnya? Ehmm....maksud Bapak, bagaimana dengan pelajaran kamu? Ujian semakin dekat. Tidakkah itu menggangu belajar kamu nanti?" Tanya Pak Kamal. Dia mengharapkan agar suasana itu menenangkan perasaan Faisal.

.....

"Pak, saya terpaksa bekerja. Semua itu karena saya ingin mengikuti ujian akhir."

"Ayah kamu?"

"Ayah....ayah....Suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya mulai berkaca-kaca. 

"Tak apa, Sal. Bapak mengerti maksudmu."

Pak Kamal menenangkan suasana.

"Kamu tak perlu malu Sal, kalau itu yang harus kamu lakukan. Hidup ini tidak semudah yang kamu kira. Hidup menjadi orang berhasil berbagai rintangan yang harus kita tempuh."

"Tidak semua orang yang berhasil berasal dari keluarga yang berada dan mampu. Mereka juga berakit-rakit dahulu. Sikap kamu ini harus menjadi contoh pelajar yang lain."

.....

"Terima Kasih, Pak. Saya permisi dulu."

"Tunggu dulu...!"

"Ada apa Pak? Jawab Faisal dengan sedikit heran.

"Faisal, sebenarnya..." Pak Kamal terdiam sejenak. Dia serba salah. Faisal merasa khawatir melihat perubahan muka Pak Kamal.

"Kenapa Pak?"

"Sebetulnya, iuran ujian itu harus dilunasi hari ini. Kepala sekolah akan mengirimnya siang nanti."

"Apa Pak...?" Tanya Faisal seakan tak percaya. Tubuhnya lemas seketika dan perasaannya hampa.

"Tapi, kamu tak perlu bimbang," tambah Pak Kamal. "Biarlah bapak yang melunasi kekurangannya. Bapak ikhlas. Kamu tak perlu mengembalikannya, hanya belajarlah bersungguh-sungguh. Jadilah murid terbaik di sekolah ini. Bapak akan merasa bangga jika kamu dapat memenuhi harapan itu."


Karya: Auriell Suzane.

KUTIL MARINI

Marini punya kutil di telapak tangan kirinya. Mulanya satu buah. Tetapi, sekarang sudah menjadi tiga buah. Yang satu sebesar pentul korek, dan yang duanya lagi sedikit lebih kecil. Sebel, deh, rasanya Marini, tangan halusnya mesti ditumbuhi kutil. Marini ingin mengadukannya pada Mama-Papa, tapi Marini takut. Marini takut dirinya dibawa ke rumah sakit, lantas dioperasi! Dioperasi? Hiyy...! Marini jadi merinding.

Pikir Marini, yang namanya operasi, pasti kulit kita dibelek pakai pisau tajam. Cres! Cress! Wadow, bulu kuduk Marini berdiri membayangkannya! Biar saja, deh, tuh kutil tumbul, yang penting nggak dioperasi. Lagian, kutil itu nggak terlalu mengganggu, sebab tangan kiri, kan nggak dipakai buat salaman. Kecuali kalau buang hajat (eh...joorooook), baru deh pakai tangan kiri. Dan, rasain! Kutil itu dipakai buat cebok! Siapa suruh tumbuh di situ?

"Kutil apaan, sih, Kak?" tanya Rhino, adiknya yang kelas lima SD.

"Ini nih, yang namanya kutil!" ucap Marini, sambil nunjukin kutil di telapak tangan kirinya.

"Idih! Kok, kayak jerawat Mama."

"Husy! Awas, jangan bilang-bilang Papa-Mama, ya!" ancam Marini.

"Oke deh, Kak! Tapi janji ya, Rhido diajak nonton bioskop lagi!"

"Iya deh, kalo ada film anak-anak lagi!"

"Janji ya, Kak!"

"Kutil! Eh... kutil!!!" Marini tersandung. dan berteriak-teriak menyebut kulitnya sendiri. 

"Il, cerewet!" maki Marini kemudian.

Rhino senyam-senyam sambil melirik kutil kakaknya.

Namun begitu, meski merahasiakan pada mama dan papanya, suatu sore Marini. Menceritakan kutilnya pada Sandra. Meski ketiga kutil itu nggak sakit, Marini bermaksud mengenyahkannya.

"Operasi itu nggak sakit, monyong!" Sandra memberi jalan keluar, ketika Marini memperlihatkan kutilnya yang imut itu.

"Yang lain aja deh, asal nggak dioperasi!"

"Habis, mau diapain? Berobat alternatif, maksud lu?"

"Apa tuh, berobat alternatif?"

"Berobat alternatif itu,  berobat secara tradisonal. Biasanya sama orang pintar atau semacam tabib."

"Nggak dioperasi, dong!"

"Nggak, lah! Nantinya kutil elu diusap-usap, disembur...ffuih....! Langsung, deh!"

"Hilang?"

"Nambah! Huahaha....!"Sandra tertawa-tawa sampai tubuhnya yang gembrot terguncang-guncang.

"Eh, buldog! Gue serius, nih! Kok, malah bercanda!"

"Udah deh, nanti kita tanya ke Salman aja!"

"Salman? Nggak deh, nggak! Gila kali lu, yah! Salman nggak boleh tahu masalah ini. Gue nggak mau kutil ini diketahui Salman!"

"Bokap Salman, kan dokter! Ntar lu bisa konsultasi sama bokapnya dia!"

"Ogah ah, buldog! Mending gue rawat aja, daripada dioperasi!"

"Dasar monyong! Kutil, kok, dipelihara?!"

"Monyong? Aeh, monyong!" Marini tersandung, ketika hendak meninggalkan Sandra. Sandra terkekeh-kekeh sambil megangin perutnya.

***

Seminggu kemudian Marini mendatangi Sandra pas bubaran sekolah. Sesuai kesepakatan lewat telepon semalam, siang ini mereka mencari tempat pengobatan alternatif, guna memusnahkan kutil terkutuk itu.

O ya, beberapa hari yang lalu Sandra tentang pengobatan alternatif. Selebaran itu ia dapatkan dari perempatan jalan, saat mengantar mamanya ke pasar. Seseorang menyebarkan selebaran berupa secantik kertas itu ke mobil-mobil yang melintas. Dalam selebaran itu tertera alamat lengkap si ahli pengobatan alternatif. Sederet nama-nama penyakit yang bisa diobati tertera di sana, kecuali kutil. Ahli alternatif itu bernama tabib Markum.

"Kok, kutil nggak ada?" selidik Marini setelah membaca isi selebaran itu.

"Bacanya teliti, dong! Nih, lu liat! Jantung, kencing manis, asam urat, ginjal, kanker ganas, kanker rahim, batuk menahun, tumor jinak, tumor ganas...!"

"Apa hubungannya sama kutil?" potong Marini.

"Uh, monyong... monyong! Tumor ganas aja bisa ditanggani, apalagi kutil?!"

Marini berpikir sebentar, lalu menggut-manggut.

"Pinter juga lu, buldog!"

"Jangan panggil gue buldog dong!" kali ini Sandra protes dipanggil buldog.

"Habis, gue kan nggak monyong, kok dipanggil monyong?!"

"Ya udah gimana kalu gue panggil kutil?

Si Kutil? Hehe, si Kutil! Keren juga!"

"Gembrot, gembrot! Si Gem-brot!"

"Stop! Stop! Kita damai aja! Lu jangan panggil gue buldog atau gembrot, dan gue janji nggak panggil elu monyong atau si Kutil. Oke, nyong? Aeh, hehe, ee...gimana Marini manis?" cerocos Sandra sambil menepuk pundak Marini.

"Buldog! Aeh...buldog! Gembrot! Aeh...gembrot! Aduuh...gimana, dong!"

"Weleh-weleh, abad dua puluh udah lewat, kok, masih latah aja. Non!"

"Elu sih, pake ngagetin, gitu?"

"Sori, sori! Nah, sekarang gimana dong, setuju nggak?"

"Setuju bul..., hehe, Sandra yang imut?"

"Kok, Sandra yang imut, sih? Emang gue imut?"

"Habis apa,  dong? Mau yang sebenarnya. Sandra yang......?"

"Stop! Stop! Gue setuju, Sandra yang imut!"

"Sandra yang imut, kita berangkat sekarang?"

"Nah, gitu doong!"

***


Karya: Zainal Radar T

PERGI BEKERJA

Sebenarnya terlalu dini untuk menyuruh Oliver bekerja kepada Pak Sowerberry. Tetapi, keputusan telah diambil. Pak Bumble membawa Oliver pergi ke toko Pak Sowerberry pada malam harinya. Oliver mulai menangis. Ia merasa sangat tidak bahagia dan yakin bahwa setiap orang membecinya.

Pak Sowerberry telah menutup tokonya. Dia kini sedang menulis dengan cahaya "lilin" yang kecil sangat menyedihkan. "Lilin" itu terbuat dari sebatang kayu yang tengahnya diberi sumbu.

"Kemarilah, Pak Soweberry. Saya membawa anak laki-laki yang kau maksudkan." Oliver menunduk.

"Oh, anak itukah?" tanya Pak Sowerberry sambil mengangkat "lilin"-nya di atas kepala agar bisa lebih jelas melihat wajah Oliver.

Kemudian ia teriak kepada istrinya, "Bu, maukah kau datang ke sini untuk melihat kesempatan ini, sayangku?"

Wanita kurus kecil dengan muka sangat buruk datang dari ruangan kecil di belakang toko.

"Sayangku," kata Pak Sowerberry, "ini anak laki-laki dari rumah penampungan yang kukatakan kepadamu."

Oliver menunduk lagi.

"Oh, sayang," kata wanita itu. "Dia terlaku kecil."

"Tak apa, dia hanya agak kecil," kata Pak Bumble sambil menatap tajam ke arah Oliver, seolah-olah anak itu bersalah karena bertubuh tidak lebih besar. "Dia memang kecil. Itu memang benar. Tapi dia akan segera tumbuh. Bu Sowerberry. Dia akan segera tumbuh besar."

"Ya, saya yakin dia akan tumbuh." kata wanita itu agak marah. "Dengan makanan dan minuman yang kami berikan. Anak ini terlalu mahal untuk dipelihara Kemari, masuklah ke ruang bawah, kamu hanya tulang kurus kering."

Wanita itu membuka pintu dan mendorong Oliver menuruni beberapa anak tangga menuju ruangan gelap yang biasa digunakan sebagai dapur. Seorang gadis duduk di sana. Gadis itu mengenakan sepatu dan baju usang dan banyak berlubang.

"Kemari, Charlotte," kata Bu Sowerberry, yang mengikuti Oliver turun ke ruangan itu. "Beri anak ini beberapa potong daging dingin yang kita simpan untuk makanan anjing. Anjing itu tidak datang ke rumah sejak pagi tadi, jadi daging itu tidak diperlukan lagi oleh anjing."

Mata Oliver bercahaya membayangkan tentang daging. Mereka memberi sepiring makanan anjing kepada Oliver. Oliver menyantapnya amat lahap.

Bu Sowerberry memperhatikan Oliver yang sedang makan. Dia tidak senang melihat bagaimana Oliver makan.

"Ikutlah denganku." kata Bu Sowerberry sambil membawa lampu yang kotor dan menunjukkan jalan menuju ruang atas. Tempat tidurmu di toko. Kamu tidak pernah membayangkan tidur di peti mati, kan? Kurasa begitu. Tetapi,  tidak ada tempat lain. Meskipun kamu mau atau tidak, kamu tak dapat tidur di tempat lain. Kamu harus tidur di peti mati itu. Ayo cepat, jangan membuatku berada di sini sepanjang malam!"

Ketika Oliver ditinggalkan seorang diri di toko, ia merasa sangat takut. Di sana peti mati yang hampir separuh selesai, yang terlihat seperti peti kematiannya sendiri. Potongan-potongan kayu yang berada di dinding terlihat seperti hantu. Udara di dalam toko sangatlah panas, dan bau kematian seperti melayang-layang di udara. Tempat tidur Oliver sangat sepi seperti kuburan.

Itulah tempat tidur Oliver seorang diri di tempat yang menakutkan, tanpa teman seorang pun. Oliver merasa sangat menderita. Tidak ada seorang yang mencintai atau memedulikannya. Hatinya terasa sangat berat. Sambil melangkah menuju peti mati, yang seterusnya akan dipakai sebagai ranjang ke kecilnya, ia berharap benar-benar mati dan dapat tidur selamanya di tempat itu.

Pagi harinya, Oliver mendengar suara pintu toko diketuk sangat keras. Ketukan itu diulang-ulang sekitar dua puluh kali, rupanya orang yang sedang mengetuknya sedang marah atau terburu-buru.

"Buka pintu, cepatlah!" teriak suara itu.

"Ya, akan saya buka, Pak," kata Oliver sambil memutar kunci pintu.

"Aku yakin kamu anak baru itu bukan begitu?" tanya suara itu.

"Ya, Pak," jawab Oliver.

"Berapa umurmu?"

"Sepuluh tahun, Pak,"

"Akan kupukul kau begitu aku sudah masuk ke dalam," kata suara itu.

Oliver membuka pun kecuali seorang anak laki-laki besar yang duduk di depan rumah, sedang makan roti dan mentega. Anak itu bermata kecil dan hidungnya berwarna merah.

"Apakah kamu yang mengentuk pintu?" tanya Oliver.

"Ya."

"Apakah Anda membutuhkan peti mati?" tanya Oliver.

"Sepertinya kau tidak tahu siapa aku. Kau dari rumah penampungan, ya?"

"Bukan, Pak," sahut Oliver.

"Aku Noah Claypole," kata anak laki-laki itu, "Dan kamu akan bekerja di bawah pekerja yang malas!" Sambil berkata begitu, Noah Claypole memukul Oliver dan melangkah masuk ke toko.

***

Pak Sowerberry dan istrinya datang beberapa saat kemudian. Oliver diikuti Noah Claypole masuk ke dapur untuk sarapan pagi. 

"Pergilah ke dekat perapian, Noah," kata Charlotte. "Aku menyimpan beberapa potong daging yang lezat untuk sarapanmu. Oliver,  tutuplah pintu di belakang Noah,  dan ambilah beberapa potong daging yang telah kusiapkan untukmu. Tehmu ada di sana. Bawalah dengan kotak di sana. Cepatlah,  mereka ingin agar kamu segera ke toko. Kamu dengar?"

"Kamu dengar, Gembel?" Noah Claypole ikut berteriak.

"Oh, Noah!" seru Charlotte. "Mengapa kau memanggil dia seperti itu? Kau lucu. Mengapa kau tidak membiarkan dia sendirian?"

"Baiklah, mari kita biarkan dia sendiri!" kata Noah. "Semua orang membiarkan dia sendiri!" kata Noah. "Semua orang membiarkan dia sendirian. Ayah dan ibunya membiarkan dia sendiri, begitu pula dengan keluarganya. Bukankah begitu, Charlotte?"

"Oh, kau lucu," kata gadis itu sambil tertawa mendengar olok-olok Noah.

Noah juga mulai tertawa. Keduanya asyik melihat Oliver Twist yang malang yang sedang duduk di atas kotak kayu di sudut yang paling dingin di ruang makan, sambil  menyantap beberapa potongan roti yang sudah keras.

Noah adalah anak laki-laki miskin, tetapi tidak berasal dari rumah penampungan. Dia tahu siapa orang tuanya. Ibunya bekerja sebagai pencuci pakaian, dan ayahnya adalah tentara yang terlalu sering mabuk. Karena itu, anak laki-laki lain yang bekerja di toko ini dulu bersikap kasar kepadanya, sehingga Noah senang sekarang melihat Oliver datang, karena sekarang ia dapat bersikap kasar pada Oliver.

SAPI DAN KEBUN SAYUR

Dengan napas terengah-engah dan muka merah padam karena sengatan matahari, seorang petani di desa terpencil yang jauh dari keramian kota berlari-lari meninggalkan ladangnya. Ia pergi menuju ke rumah tetangganya. Beberapa orang penduduk setempat yang berpapasan dengannya menjadi heran. Karena hendak mengetahui apa yang terjadi, mereka pun mengikuti dari belakang.

"Celaka, sungguh celaka! Sapi itu benar-benar gila!" gerutu John, petani tadi, sambil mengepalkan tinjunya. "Tanpa setahuku, sapiku masuk ke dalam kebun sayurmu. Singkatnya, kebun kubismu hancur!"

"Apa?! Seru George, petani tetangganya, dengan terkejut. "Sapimu merusak kebun kubisku sampai hancur?"

"Begitulah," kata John sambil menyeka keringatnya yang membasahi mukanya yang nampak sedih dan cemas. "Binatang itu memang keras kepala. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Apa yang harus kaulakukan?!" teriak George dengan nada tinggi. Kelihatannya ia marah sekali. "Kau seorang tetangga yang jujur, bukan?"

"Benar, Kau sudah mengenalku. Apabila aku tidak jujur untuk apa aku berlari-lari melaporkan peristiwa  ini kepadamu?"

George berkata kepada orang-orang yang berkerumuh, "Nah, Saudara-saudara, kalian semua menjadi saksi!" lalu ia menoleh kepada John, serta katanya, "Baik, karena sapimu telah merusak kebun sayurku, kau harus mengganti rugi sebesar harga kubis itu bila tiba masanya memetik. Bukankah itu sangat adil?"

Orang-orang yang berkerumun itu mengangguk. "Ya, tuntunan itu cukup adil!" seru mereka hampir bersamaan.

"Hai, mengapa harus aku yang membayar ganti rugi?" tanya John seakan-akan menjadi keheranan.

"Jangan berlagak pilon!" bentak George garang.

"Bukan aku yang merusak kebunmu!"

"Ya, memang bukan kau! Tapi sapimu itu yang merusaknya. Jadi kau harus memberi ganti rugi kepadaku. Sekarang juga!"

"Ah, apakah .... apakah aku berkata bahwa sapiku telah merusak kebun sayurmu?" Sambil bertolak pinggang. George berkata kepada orang-orang yang mengerumuninya, "Bagaimana, Saudara-saudara, tadi ia berkata begitu, bukan?"

"Ya, benar. Kau berkata begitu tadi!" sahut beberapa orang dengan serempak yang ditunjukkan kepada John.

John menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendecak beberapa kali, lalu berkata, "Kalau begitu, pasti aku telah salah kata. Yang benar, sapi tetanggaku ini masuk ke kebunku dan merusak semua tanaman sayuranku."

"Ha?!" seru orang-orang tercengang. "Jadi, kebaikannya?"

"Benar!" kata John sambil menatap muka tetangganya yang tiba-tiba menjadi pucat pasi.

"Wah, ini suatu perkara yang pelik," kata George kemudian. "Oleh karena itu, marilah kita masuk ke rumah terlebih dahulu. Sebaiknya persoalan ini kita selesaikan secara kekeluargaan."

"Kukira tidak ada lagi yang perlu diselesaikan," kata petani John yang cerdik. "Ketika kau mengira sapiku yang merusak tanamanmu, kau telah menetapkan besarnya ganti rugi dan menuntut untuk membayarnya sekarang juga. Sekarang, pastilah kau rela memberikan ganti rugi sebesar yang telah kau tetapkan tadi, bukan? Kebetulan luas kebun kita sama. Dan bayarnya sekarang juga!"

"Apakah aku telah berkata begitu?" kata George seolah bertanya kepada diri sendiri. "Dan semua orang ini menjadi saksi?"

"Ya, kami semua mendengar perkataanmu. Tuntutanmu begitu jelas," kata beberapa penonton.

"Saudaraku yang baik, janganlah kau terburu nafsu. Berilah aku waktu untuk berpikir," kata George.

"Apa lagi yang harus dipikirkan? Secepat kau menuntutku, secepat itu pula kau harus membayar ganti rugi kepadaku," jawab John.

"Ya, kau harus memberi ganti, rugi kepadanya sekarang ini juga, sesuai dan sebesar yang kauucapkan sendiri tadi," teriak penonton hampir secara bersamaan.


Karya: Nuryati

BERBAGI CERITA

Sore hari yang melelahkan buat Dono. Di ruang tamu sambil duduk santai dan melihat lingkungan sekitar lewat pintu yang terbuka. Dono mengambil leptopnya dari dalam tasnya dan segera membuka jaringan pada internetnya yang memakai kuota sebulan. Blog pun terbuka dengan terpamang jelas di penglihatan Dono.

Dono mulai menulis sesuatu yang menyenangkan hari ini sekaligus yang paitnya. Kasino pun baru pulang dan masuk rumah langsung mengucap "Asalamualaikum."

"Waalaikum salam," jawab Dono yang masih antusias mengetik.

Kasino duduk di sebelah Dono sambil melepaskan kaos kakinya dari kakinya dan di masukkan ke dalam sepatunya. Dono mencium bau yang membuat mual.

"Kas..kamu kentut ya?" tanya Dono.

"Enggak.....ketut..Dono," saut Kasino membela diri.

"Tapi bau busuk ini dari mana ya," kata Dono.

"Mana saya tahu," kata Kasino yang ngeles.

Dono mengendus-endus seperti anjing. 

"Nak..ini..bau busuknya. Kaos kaki kamu Kasino. Singkirin dulu," kata Dono.

"Maaf Dono..dua hari belum di cuci. Abisnya repot," pembelaan Kasino.

"Repot ..apa males," Dono dengan tegas.

"Males..eeeeee," saut Kasino.

Kasino menaruh sepatuhnya di rak sepatu dan kaos kaki di rendam di ember berisi yang di beri sambun penghancur bau busuk.  Lalu Kasino pun mengambil minum untuk menghilangkan rasa dahaganya. Setelah itu duduk bersama Dono di ruang tamu menunggu hari berganti malam.

"Don..sibuk nulis lagi ya?" tanya Kasino.

"Iya. Kenapa Kasino?" 

"Saban hari nulis apa gak jenuh. Jangan-jangan target biar Blognya menghasilkan uang ya...Don?"

Dono menghentikan ketikannya pada leptopnya.

"Jenuh..sih..iya. Tapi kalau sudah menulis rasa sakit kepala saya hilang begitu saja. Abisnya unek-unek saya tercurahkan ke dalam tulisan. Kalau urusan saya target menghasilkan uang dari Blog sih punya harapan. Tapi..di kembalikan ke dasar utama. Ya..cuma hoby aja...untuk menghilangkan keresahan hidup dan bisa banyak cerita dalam tulisan baik dan buruknya. Kadang berharap ada yang komentar yang baik dan buruknya agar ada masukan nanti di ambil jadi bahan tulisan juga. Istilah kata di balikkan omongan orang gitu dengan nilai kebaikan," penjelasan Dono.

"Jadi niat kamu cuma itu. Pantes kamu tetap ngoyo bekerja di mana pun demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan masih meluangkan hoby kamu menulis. Seperti diary kehidupan. Pada akhirnya jalan kamu lebih cenderung jujurlah. Ungkapan perasaan baik dan buruknya. Semoga orang membaca tulisan kamu mengerti ya..Don. Kalau niat kamu baik," tambahan Kasino dari omongan Dono.

"Semoga..aja. Amin," saut Dono.

"Amin..juga," saut Kasino.

"Kok..amin juga Kasino?" tanya Dono.

"Omongan kita adalah doa pada Alloh SWT," kata Kasino.

"Ya..kamu..bener-bener pinter Kasino," pujian Dono.

Dono melanjutkan ketikannya. Kasino ke belakang untuk buang air kecil. Selang waktu yang cukup lama dan akhirnya ketikan Dono selesai juga dan segera di simpen dan leptop di matikan.

"Alhamdulilah selesai juga," celoteh Dono.

Dono memasukkan leptop ke tasnya. Kasino duduk bersama Dono abis dari belakang.

"Udah selesainya Dono nulisnya?" tanya Kasino.

"Udah....," saut Dono.

"Dono gimana dengan Selfi?" tanya Kasino yang mulai aneh.

"Selfi ...siapa?" tanya Dono balik.

"Cinta....kamu...yang gimana gitu..alias terlarang..gitu," kata Kasino.

"Oh..sudah..menikah. Saya ikhlaskan sudah lama dan saya dateng di pernikahannya. Dan kami berdua melupakan masa lalu. Itu saja," cerita Dono.

"Berarti.....kamu benar...mengikhlaskan orang yang kamu sukai Don..?" tanya kembali Kasino.

"Iya..jangan banyak cerita. Lupakan dan gak baik menceritakan istri orang gak baik. Dan juga saya bukan tipe orang yang mengharapkan jandanya," penjelasan Dono.

"Oh..begitu. Gimana dengan Rara?" tanya Kasino dengan antusias.

"Kalau dengan Rara..baik-baik saja. Toh biar Alloh SWT memberikan jawaban yang terbaik antara saya dan Rara. Apakah jalan saya ini benar memilih Rara atau tidak. Karena.....masa lalu saya adalah jawaban untuk masa depan," kata Dono.

"Jangan-jangan ada kaitannya dengan Wulan," kata Kasino.

"Iya. Tapi saya sudah mengikhlaskan. Saya takut saja jika Alloh SWT mengambil lagi orang yang saya cintai. Itu saja. Karena nyawa adalah kuasa dari Alloh SWT," kata Dono.

"Nyawa..adalah kuasa Tuhan," saut Kasino.

Azan pun dikumandangkan. Dono dan Kasino bersiap untuk menjalankan sholat magrib selayak muslim yang baik dan segera mengambil wudu di kamar mandi. Barulah sholat jamaah di rumah yang imamnya adalah Dono dan makmumnya adalah Kasino.


Karya: No


ANAK SIAPA SEBENARNYA

"Bukan! Ini anakku sendiri!" sahut yang seorang sambil mempertahankan anak yang dipangkunya. Mereka berdua dari pagi telah bertengkar. Anak bayi yang mereka perebutkan pun sudah lama sekali menagis dan menjerit-jerit kelaparan. Pokok bayi itu sudah basah kuyup tetapi tidak sempat diganti.

Tetapi salah seorang dari mereka kalah kuat. Dirampasanya bayi itu dan dibawanya lari cepat-cepat. "Ini anak saya. Anak yang mati itulah anakmu!" .katanya sambil mencibirkan bibirnya.

Perempuan yang kalah kuat itu mengejarnya dari belakang dengan sia-sia. Tapi teriakan-teriakannya cukup keras sehingga keduanya mendekat kepala seorang serdadu.

"Jangan tahan saya. Ini anakku!"

"Bukan. Itu anak saya!"

Serdadu itu bingung. "Mengapa anak itu dibawa lari dan dibiarkan menangis terus menerus? Tanyanya.

"Inik anakku!"

"Bukan, yang mati itulah anakmu!"

Kedua wanita itu sekarang bertengkar. Serdadu sama sekali memahami persoalannya. Sejenak ditatapnya saja mereka yang saling memperebutkan anak bayi itu. Tetapi sekali-sekali ia menutup matanya, tidak sampai hati melihat anak bayi itu ditarik ke sana ditarik ke sini. Masing-masing mengaku bahwa anak itu adalah bayinya.

"Hai! Hentikan itu! Kalau kalian tidak berhenti bertengkar nanti saya bawa menghadap raja!" teriaknya.

Kedua perempuan itu berhenti bertengkar. Walaupun demikian, mata mereka saling menatap dengan tatapan marah. Mendengar nama raja saja mereka sudah takut. Namun salah seorang dari mereka dengan pasrah berkata, "Bawa saja kepada raja. Saya setuju!" Mereka dengar bahwa raja seorang yang adil.

"Betul?' serdadu itu menatap wajah mereka berganti-ganti.

"Ya." Keduanya mengangguk.

Mereka pun menuju ke istana raja. Bayi yang sekarang sudah digendong serdadu sudah diam. Bayi itu terlena di pangkuannya. Tidak lama kemudian mereka sampai di istana raja. Mereka hendak menghadap Raja Sulaiman yang sudah terkenal ke segenap penjuru dunia. Terkenal sebab kepintaran dan kebijaksanaannya.

"Baginda, raja yang adil dan mulis," kata serdadu itu sambil berlutut. "Ketika hamba bertemu dengan dua orang ini, mereka sedang bertengkar. Mereka memperebutkan bayi ini. Masing-masing mereka mengaku, ini anak mereka. Hamba tidak mengerti paduka."

Raja Sulaiman mengangguk. Dipersilakannya kedua perempuan itu menerangkan kejadian yang sebenarnya mulai dari awal.

"Kalau begitu," raja mulai berkata, "Letakkanlah bayi itu di atas sebuah meja." Ia berhenti sejenak dan menatap pedang yang tergantung di dinding. Kedua perempuan itu memperhatikan dengan penuh tanda tanya.

"Ambil pedang itu. Supaya kedua perempuan ini merasa adil kita potong dua saja bayi ini, masing-masing memperoleh sebagian tubuh bayi ini."

Serdadu yang mengawal raja mengambil sebuah meja dan pedang yang tergantung di dinding. Mereka meletakkan bayi itu di atas meja. Pedang itu berkilau-kilau ditimpa sinar. Raja menerima pedang itu. Tangan raja diangkat dan pedang mulai menyibak udara. Ketika pedang mengambang di udara, seorang di antara kedua perempuan itu berteriak, "Paduka yang mulia, hamba mohon janganlah bayi itu dibunuh. Berikanlah bayi itu kepadanya asal ia hidup."

Dengan wajah tenang raja menatapnya, dan menatap yang seorang lagi.

"Tidak! Jangankan keadilan, ya Tuanku Paduka Raja!" teriak perempuan yang satu lagi. Hening sejenak. Semua wajah orang yang menyaksikan peristiwa di ruangan raja itu menjadi tegang.

Tiba-tiba raja menurunkan pedangnya dan menyerahkan pedang itu kepada pengawalnya. Kemudian dengan tenang diangkatnya bayi itu dan diserahkan kepada perempuan yang mengatakan bahwa sebaiknya anak itu diserahkan saja asal dia dapat hidup. Ialah ibunya yang sejati, yang sayang kepada anaknya, pikir raja yang bijaksana itu. Ibu yang sayang merasa kasihan dan sayang kepada anaknya itu memperoleh kembali anaknya. Adapun perempuan yang mengaku-ngaku sebagai ibu bayi itu mendapat hukuman karena telah berbohong di hadapan raja.

Yang hadir dalam istana pun merasa amat lega.

REGRET

Hari ini, detik ini, aku duduk di kursi ini, mengerjakan tanggung jawabku sebagai seorang karyawan, menjalani hidupku sebagai Alya Anandita. Untuk sampai ke titik ini dalam hidupku, aku melalui banyak keputusan-keputusan yang aku syukuri telah aku ambil, dan keputusan-keputusan yang aku sesali.

Selama melaluinya aku belajar bahwa what doesn’t kill you make you stronger.

Aku belajar menertawai diri sendiri, belajar mengambil hikmah dari setiap situasi, dan aku yakin-seyakinnya pada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling hebat. Tapi untukku kegagalan selalu mengajarkan lebih banyak hal dari keberhasilan.

Kegagalan mengajarkan arti manisnya keberhasilan, nikmatnya bersyukur. Kegagalan terkadang menjadi tamparan untuk ego dan kesombongan. Membuatku lebih humble dan realistis.

‘aku sudah di bawah’ bunyi BBM dari Arga, laki-laki yang belakangan ini sedang dekat denganku

‘on my way’ balasku

Aku merapikan barang-barangku lalu keluar dari ruangan, menyapa beberapa teman kantor yang masih lembur dalam perjalanan turun ke lantai bawah. Arga menunggu di parkiran, ketika aku membuka pintu mobil dia sedang ikut menyanyikan lagu yang diputar radio mobilnya.

“hai” aku masuk ke mobil dan menutup pintu, “thankyou for pick me up ya”

“my pleasure, ready to go home?” senyumnya lebar dan ramah

Aku mengangguk sambil memasang seatbelt.

Kami berkendara dalam diam. Hanya suara musik dari radio yang mengisi keheningan.

“aku sudah beli take away tadi” kata Arga

“oke” jawabku

Kami kembali berdiam diri lagi. The silent is comfortable, not the awkward one.

Ketika lagu yang aku suka mengalun dari radio, aku ikut bersenandung.

“your song is always the sad one” kata Arga tiba-tiba

Aku menoleh dari kegiatanku memandangi jalanan, “I am not” bantahku

Arga tertawa, “sepanjang aku mengenal kamu yang selalu aku dengar kamu nyanyikan selalu lagu sendu”

Aku jadi berpikir, am I?

Aku mengangkat bahu, “maybe” jawabku ragu

“kenapa kamu selalu menjaga jarak, Al?” tanya Arga, out of nowhere

Aku menoleh lagi padanya, kali ini dnegan mata memicing, “pardon?” tanyaku dengan nada agak tersinggung

“you heard me right, kamu mungkin membiarkan aku dekat dengan kamu, jalan berdua, texting, but you are always put that invicible wall between us”

“I am not” sanggahku

“kamu nggak pernah membicarakan diri kamu, kamu selalu menjadi pendengar”

“dan kamu nggak suka?” tanyaku jengkel.

“that one of your quality that I admire, tapi aku juga mau mengenal kamu, Al”

Sepanjang percakapan ini Arga hanya memandangku lurus ke depan, ke arah jalanan, tidak sekalipun menengok ke arahku.

“I told you about myself”

Arga tertawa, tawa pahit yang membuatku tidak nyaman, “what is it then? Yang aku tahu tentang kamu kamu seorang wanita berumur 28 tahun yang masih single, hobi membaca dan bekerja, your life is all about your job, aku hanya tahu apa yang kamu ingin aku ketahui”
“don’t judge me” desisku, kembali memandangi lalu lintas.

“I am not”

“so, what you are doing now, then?” tanyaku jengkel.

“aku serius sama kamu, Al, tapi aku nggak bisa melangkah kemana-mana kalau kamu nggak membiarkan aku untuk melangkah”

Arga always keep his voice calm, one of his quality that I admire, copying what he said earlier. Dia selalu berkepala dingin.

“oh, bullsh*t, Ga, sekarang kamu bisa bilang kamu serius, and then when you know everything about me, found out all of my flaws, you just running away” kataku emosi.

“don’t judge me” kata Arga, membalikkan kata-kataku.

Aku berusaha meredakan nafasku yang mulai memburu karena emosi.

“really, Al? Kamu berpikir seperti itu tentang aku?”

“all men do that” kataku, stating the obvious.

“false statement, stereotyping, nggak semua laki-laki seperti itu”

“oh, my father did!” kataku dengan nada yang lebih tinggi dari yang aku inginkan.

Arga terdiam. Mungkin sedang menyusun kata-kata untuk merespon.

“aku nggak bisa berjanji kita nggak akan berpisah, it’s out of my control, tapi aku bisa berjanji untuk memberikan alasan untuk semua yang aku lakukan, apa ada kelakuan aku selama kamu mengenal aku yang bisa membuat kamu berpikir, that I’m going to leave when I’m getting to know you better?”

Aku tidak menjawab. But, the answer is no. He is this kind man, who gladly you bring to your parents as your soon to be husband.

“kamu tahu aku laki-laki yang bagaimana, kamu sudah tahu tujuanku mendekati kamu dari awal itu untuk serius, but I can’t come in if you don’t let me”

“I can’t let anybody in” kataku.

Arga terdiam, menunggu aku melanjutkan.

“aku nggak bisa membiarkan siapapun masuk terlalu jauh, and let myself have no control”
Arga masih terdiam.

Aku memutuskan untuk melanjutkan. If after this damn conversation he leave me, then leave.

“because if I let someone in, that’s mean I let him have control over my happiness, then my life” lanjutku.

“I will not” respon Arga.

“yes you will, if I let you in, and let my heart have contol over my mind, aku nggak akan rasional lagi, aku akan merasa terganggu ketika kamu berbuat kesalahan dan menyakiti hatiku, dan aku nggak akan bisa konsentrasi pada pekerjaan atau hidupku lagi, karena ketenangan dan kedamaianku akan berpusat di kamu” jelasku panjang lebar.

Arga terdiam.

“I will never let anybody in, Ga, I did it once, and I regret it”

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK