CAMPUR ADUK

Tuesday, January 8, 2019

KEMBALI....

Matanya membengkak!

Air matanya mengalir deras!

Tubuhnya gemetar!

......

Itulah yang terlihat tatkala Romli melihat rekaman video 27 korban insiden pembagian zakat di Kota Bumi, Lampung Utara yang ditayangkan oleh Datuk Hasanuddin lewat sebuah proyektor. Romli yang terkenal dengan kenakalannya di Sekolah itupun, tak kuasa melihat kejadian mengenaskan itu.

Kesedihan yang akut semakin jadi mengobrak-abrik jiwa Romli. Kesedihan yang seblumnya belum pernah dialami Romli sebelum mengikuti kegiatan Rohani Islam di Pesantren Langit Bumi.

"Semestinya semua itu tidak terjadi," kata hati Romli yang semakin tersayat, ketika menyaksikan sekelompok ibu-ibu dan nenek-nenek yang kehabisan nafas di antara ribuan orang yang mengantri pemmbagian zakat dari seorang saudagar kaya, H. Kashardinata. Perasaan Romli semakin tak menentu, nuraninya ingin sekali memarahi saudagar kaya itu. Saudagar kaya yang menurut Romli sombong, sepertinya berzakat adalah cara untuk menunjukkan kekayaannya pada orang lain, sebab jika ia mempercayakan zakatnya pastilah tidak akan ada nyawa yang melayang.

"Sungguh tidak manusiawi, 27 nyawa melayang demi beras 2 kg. Apakah Tuhan akan menerima amal zakat seperti ini?" tanya hati Romli.

"Rom, kenapa kau tampak begitu sedih?" tanya Adin Ahmad, Kakak angkatnya, yang duduk disampingnya, Romli pun tersentak kaget dari lamunannya.

"Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita sayangi, kehilangan yang disebabkan oleh sikap sombong orang yang sok dermawan, kehilangan dari peristiwa yang seharusnya tidak sampai merenggut nyawa" jawab Romli terbatas-bata sambil mengusap air mata yang terus membasahi wajahnya.

Adin Ahmad terdiam. Adin Ahmad tidak punya keberanian untuk memberikan pertanyaan kepada adiknya Romli. Adin Ahmad merasakan kesediahan dan penderitaan yang tengah berkecamuk di dada adik angkatnya tersebut, penderitaan dan kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh orang  yang tengah mengalaminya. Adin Ahmad tahu pasti apa yang ada dalam benak adik angkatnya itu Romli pada teringat ibunya yang telah meninggalkannya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia membiarkan adiknya menangis, menumpahkan semua kesedian dengan air mata.

Tidak lama setelah pemutaran insiden pembagian zakat yang mengenaskan tersebut. Datuk Hasanuddin memberikan uraian tentang makna dan prosedur pembagian zakat yang disukai Allah. Penjelasan Datuk Hasanuddin sangat menarik, sehingga para peserta seperti terhipnotis, Datuk Hasanuddin sungguh untadz yang luar biasa.

Tapi, di antara para peserta yang konsentrasi menyimak penjelasan Datuk Hasanudin, Romli adalah peserta yang sudah kehilangan keseimbangan, seolah-olah ia sedang hidup di masa lalu, masa yang telah dilalui dengan berat karena ia telah kehilangan ibunya.

Romli tersentak kaget ketika ceramah Datuk Hasanuddin selesai dan acara dilanjutkan dengan tanya jawab.

"Astaghfirullah," Romli bergumam, insyaf atas kelalaiannya membiarkan pikirannya diseret ke masa lalu, sampai lupa tujuan hakikatnya ia mendengarkan ceramah dari Datuk Hasanuddin.

Selama sesi tanya jawab berlangsung para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar zakat. Sampai tidak terasa adzan ashar berkumandang, tanda acara ceramah dari Datuk Hasanuddin ini berakhir. Para peserta pun meninggalkan ruang pertemuan. Mereka mengambil air wudhu dan bergabung dengan para jamaah lain untuk shalat.

Selamat berada di tengah para santri pondok pesantren Langit Bumi, Romli dan teman-temannya merasakan kebersamaan yang begitu akrab, sekalipun di antara mereka baru saling mengenal. Sungguh indah Islam itu, kebersamaan terasa keindahan hakikinya bila diikat oleh keimanan. Inilah bukti bahwa persaudaraan bila hakiki manusia adalah persaudaraan yang dilandasi pada agama Islam.

Dalam khusuknya shalat, tiba-tiba Romli kembali menitikkan airmata. Ia kembali teringat pada ibunya yang telah bertahun-tahun lamanya meninggalkannya. Di setiap gerak shalat, Romli seakan melihat bayangan ibunya berjalan di hadapannya; ibunya berjalan tenang dengan dihiasi cahaya yang sangat indah. Romli tersentak kaget ketika bayangan ibunya seakan-akan menyebut-nyebut namanya, "Romli anakku tercinta."

Namun demikian, Romli berusaha tetap terjaga shalatnya untuk tetap khusyu', meskipun sesungguhnya hatinya benar-benar ingin menangkap bayangan ibunya. Betapa Romli menginginkan ibunya kembali untuk membimbing dan memberi kasih sayang. Romli ingin ibunya menunjukkan jalan yang bisa mengantarkannya pada kebenaraan di dunia yang fana ini.

"Ya, Allah, maafkanlah aku bila shalatku kali ini tidak benar-benar khusyu. Aku benar-benar sangat merindukan ibuku. Aku kirimkan doa dan Al-fatiha untuknya, semoga Engkau selalu melindungi  ibuku," doa Romli saat shalatnya selesai.

Malam harinya pukul 23.00 WIB, setelah selesai melakukan rangkaian ibadah di pesantren, para peserta dipersilahkan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Segera Romlidan Adin Ahmad masuk kamar berukuran 4 x 3 meter yang sederhana namun rapi. Di dindingnya terdapat kaligrafi lafadz bismillah dan ayat kursi, serta buku yang dipenuhi dengan kitab-kitab.

Mendapati bantal dan kasur lantai Adin Ahmad langsung tertidur pulas, sedangkan Romli tidak bisa memejamkan mata. Romli masih dihantui oleh bayangan ibunya. Terlintas dibenaknya saat ia sering di ajak melihat lumba-lumba dengan menaiki sebuah jukung, melihat indahnya pemandangan batu-batuan besar yang menjulang dan melepaskan bayi-bayi penyu di Teluk Kiluan serta memancing bersama ibunya disana. Sebuah tempat indah layaknya surga untuknya walau tak banyak yang tahu akan keindahan tempat tersebut, termasuk orang Lampung itu sendiri.

Romli sangat merindukan ibunya. Ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan memberikan kasih sayang yang luar biasa. Tapi yang selalu menyesakkan hati Romli adalah kenapa ibunya harus meninggal dari sebuah peristiwa yang sederhana, peristiwa yang seharusnya tidak membuat ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Di tengah kegalauan hati yang mendera. Romli akhirnya memutuskan untuk pergi ke malam ibunya yang tak jauh dari Pondok Pesantren.

Di makam ibunya, butiran- butiran air mata Romli terus mengalir membasahi wajahnya yang bersandar pada makam ibunya. "Bu, aku rindu Ibu...." gumam Romli dengan lirih. Romli berdo'a untuk ibunya "Ya Allah ampunilah segala dosa ibu hamba, tempatkanlah ia di tempat yang paling mulia disisi-Mu".

Malam semakin larut, cahaya bulan semakin memudar dan dinginnya angin malam seolah menusuk tubuh Romli yang sudah kelelahan, dengan kaki mulai terasa  berat Romli kembali ke Pondok Pesantren untuk beristirahat.

Karena kondisi yang terlalu capek, Romli pun akhirnya terlelap tidur. Dalam tidru yang perlu kegelisahan itu, Romli bermimpi ibunya datang mememuinya sambil menahan isak-tangis. Ibu Romli membisikkan nasihat pada sembari membelai buah hatinya.

"Anakku Romli, Lamen niku ngigham jama ibu, bacalah Sughat Al-fatiha guwai ibu. Ingekke tanggeh ibu sa: Dang ulah ibu makkou logei niku jadi sanak nakal. Ibu wat dihatimu untuk ngejagomu. Jadilah sanak sai taat jama agama."

Romli tersentak kaget dan bangun dari tidurnya yang hanya sesaat itu. Dua sudut mata Romli pun mengalir air bening, Romli merasakan benar kehadiran ibunya yang seakan sedang memeluknya dari belakang, Romli bahkan masih terngiang apa yang telah dibisikkan ibunya. Jarum jam menunjukkan pukul tiga malam, Romli segera bangun dan keluar dari kamarnya. Romli berjalan pelan menuju masjid  untuk shalat tahajud. Saat berada di halaman masjid yang  begitu luas, Romli menghentikan langkahnya dan diam mematung, dipandanginya setiap penjuru halaman depan masjid yang begitu luas. Romli tersentak kaget ketika ia seperti merasakan kejadian tragis yang pernah dialaminya. Romli yang masih anak-anak melihat ibunya terjatuh dan terinjak-injak saat mengantri dalam pembagian zakat di desanya, di halaman masjid seperti inilah Romli terakhir melihat wajah ibunya.

Romli pun menangis sejadi-jadinya, tubuhnya bergetar merasakan penderitaan yang sangat berat. Tapi, tiba-tiba Romli merasa seperti tubuhnya ada yang memeluknya. Romli tersentak kaget karena kehangatan pelukan yang sedang dirasakannya sama seperti pelukkan ibunya di masa lalu.

"Bu..." Romli memanggil lirih dengan diiringi butiran-butiran airmatanya yang berguguran dan kelopak matanya. Romli sekarang mendapatkan kenyataan yang tidak pernah dipahami bahwa ternyata ia tidak pernah kehilangan ibunya, sekalipun ibunya telah tiada. Romli yakin bahwa Ibunya slalu berada di hatinya untuk menjaganya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Romli pun teringat dengan hidupnya yang telah banyak menyia-nyiakan waktu hanya untuk memikirkan kemalangannya dan membuatnya menjadi anak nakal. Saat ini Romli telah menyadari kenakalannya yang terdahulu, di mana waktu dulu ia tidak dapat menghargai waktu. Waktunya selalu diisi hanya untuk mengembangkan kenakalan yang membuatnya tidak berharga. Sekarang Romli sadar jika ia tidak bisa menghargai waktu, maka waktu juga dapat membuat manusia menjadi tidak berharga.

"Alhamdulillah ya Allah.....Engkau memberikan kesempatan untuk memanfaatkan waktuku di pesantren ini." Romli kembali melangkah menuju masjid dengan terus merasakan kehangatan pelukkan dan kasih sayang ibunya yang telah tiada.

***


Karya: Rama Ridho

DAUD & DAVID

Biarkan aku mencari islam dan merobek enigma cakrawala

Biarkan jalan suci ini membasuh tubuhku

Yang telah ternoda noktah kekafiran dan kekufuran

Ya Allah....biarkan aku berislam.

***

Seisi kelas menatap bujang berkacamata itu.

"Namaku Johanes David, kalian bisa memanggilku David," aku tertegun melihat bujang itu memperkenalkan diri di depan kelas. Aku agak geli mendengar namanya yang mirip dengan namaku, hanya saja nama kami berbeda versi bahasa dan ejaaan.

Penampilan bujang itu seperti Bill Gates, berpakaian rapi, berkaca mata tinggi, berkulit pucat dan rambut lurus tersisir rapi. Perbedaan antara dia dengan Bill Gates hanya lah aksen wajah bujang itu yang beraksen China. Aura wajahnya tak ubahnya seperti seorang remaja yang suka sekali mengurung dalam kamar dan menghabiskan waktu di depan komputer atau buku-buku tebal.

Bujang itu kembali berbicara, ia menjelaskan tempat asalnya, di mana rumahnya sekarang, dan lainnya. "Baik, David. Kamu boleh duduk di sana, di kursi kosong itu," ujar Pak Sigit, guru Agama Islam kami, setelah bujang kutu buku itu memperkenalkan diri dan Pak Sigit menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahku.

Bujang itu duduk sebangku denganku, aku menatapnya sambil tersenyum padanya. "Ahmad Daud, panggil saja Daud seperti teman-teman yang lain memanggilku," ujarku memperkenalkan namaku sambil mengulurkan tanganku. Mula-mula ia ragu, mungkin ia heran karena nama kami sama tetapi beda bahasa, tapi kemudian ia menjabat tanganku.

"Baik, sekarang kita mulai pelajaran kita, Mohon maaf, David kamu nonislam?" kata Pak Sigit hati-hati, "Iya, saya nonislam," jawabnya.

"Kamu boleh menunggu di perpustakaan kiranya kamu tidak ingin mengikuti pelajaran ini, barang kali," kata Pak Sigit sopan.

"Tidak apa-apa, pak. Saya ikut saja," jawabnya sopan. Pak Sigit membiarkannya lalu langsung menyampaikan materi.

***

Bel sekolah tanda waktu pulang berbunyi.

"Rumahmu di Perumahan Tanjung Raya Permai, kan?" tanyaku teringat saat perkenalannya tadi pagi, ia mengangguk, "mau pulang bareng? Rumah kita searah,"

"Boleh," jawabnya senang.

Sepanjang perjalanan di angkot, kami saling mengobrol. Dari obrolan itu aku tahu, ternyata dia orangnya ramah dan supel.

"Jadi aku di Bandar Lampung tinggal dengan mamanku, 'maman' itu sebutan untuk paman dalam bahasa Lampung," kataku di tengah obrolan kami.

"Orang taumu?" tanya David.

"Aku lahir di desa Way Layap, desa kecil yang ada di kabupaten Pesawaran. Aku ikut dengan mamanku, maman Syiafrudin, yang ada di Bandar Lampung untuk bersekolah," jelasku.

"Aku dari Padang, jadi aku tidak terlalu paham dengan Lampung. Memang kualitas pendidikan di  kampung halamanmu lebih jelek ketimbang di Bandar Lampung?" tanya David.

"Mungkin sama saja, tapi di dekat kampung halamanku tidak ada universitas, jadi untuk membiasakan diri jauh orang tua, aku mulai merantau sedari kelas satu SMA," jelasku.

"Kamu hebat," ujarnya kagum.

"Itu belum apa-apa karena aku masih terlihat di rumah maman, ada lima orang teman sekelas kita yang tinggal di kos," kataku. "Tinggal di kos kan lebih berisiko," lanjutku.

Kami semakin asik mengobrol, "kalau di sini, orang berkomunikasi dengan bahasa daerah Lampung pasti kelihatan aneh, tidak seperti di desaku. Sebagian besar malah menggunakan bahasa Lampung dalam berkomunikasi sehari-hari," paparku.

"Jadi kamu pintar bebahasa Lampung?" tanya David, aku mengangguk. "Aku ingin belajar bahasa Lampung loh." ujar David bersemangat, "coba kamu praktikan memperkenalkan diri dengan bahasa Lampung," pintanya.

"Sikam Ahmad Daud, sikam lahegh mil pekon Way Lahap. Ganta, sikam sekula mit SMA Cendikia Sentosa Bandar Lampung," aku asik berceloteh dengan bahasa Lampung, David menyaksikanku dengan mata  berbinar. Aku sangat menguasai bahasa Lampung karena bahasa yang kugunakan di kampung halaman memang bahasa Lampung, begitu juga bila aku berkomunikasi dengan mamanku di sini.

Angkot yang kami tumpangi telah sampai di gerbang Perumahan Tanjung Raya Permai. David berpamitan deganku lalu turun.

***

Aku sedang berjalan memasuki gerbang sekolah, aku melihat David keluar dari sebuah mobil Toyota Yaris merah di area parkir sekolah. Rupanya hari ini dia mengendarai mobil. Ia melihatku dan menyapaku, kami berjalan bersama memasuki kelas. "Daud," sebuah suara wanita memanggilku, aku menoleh. Dia Annisa, wakil ketua Rohis di sekolahku, "afwan, kira-kira setelah pulang sekolah kita jadi rapat?" tanya akhwat itu sambil menundukkan pandangannya, "iya, insya Alloh jadi. Diingatkan juga untuk anggota yang lain, kalau kiranya tidak bisa hadir harap izin ke saya dulu," kataku sambil menundukkan pandanganku juga. Ia mengangguk mengerti, "syukron, insya Alloh saya sampaikan. Assalamu'alaikum," katanya memohon diri, aku menjawab salamnya sesaat ia mulai berlalu.

Aku dan David saling diam.

"Siapa dia?" tanya David.

"Annisa, siswi kelas XI IPA," jawabku.

"Memang rapat apa yang kalian bicarakan tadi?" dia kembali bertanya.

"Rapat Rohis, aku dan dia yang bertanggung jawab atas acara itu," jelasku.

"Jabatan kalian di Rohis tinggi ya?" tanyanya lagi, aku mengangkat bahu,

"Aku dipercaya untuk menjadi ketua Rohis dan Annisa menjadi wakil ketua Rohis,"

Obrolan kami  berlanjut sampai di bangku kelas, "jadi, kamu ketua Rohis?" tanya David sumringah, aku mengangguk. "Kalau begitu kamu pasti tahu banyak soal agama Islam. Aku ingin sekali belajar agama Islam," ujarnya semangat dan penuh harap. Aku mengernyitkan dahi, kenapa? Kenapa kamu begitu tertarik?" tanyaku. Wajahnya berubah bimbang, "kalau aku jelaskan, kamu jangan marahnya," pintanya, aku mengangguk, "Ayahku pernah bilang kepadaku juga keempat saudaraku, beliau membebaskan kami untuk memilih agama sekehendak hari kami. Tapi kami tidak diperbolehkan memeluk agama islam. Kata ayahku, agama Islam itu tidak baik. Jika ada di antara kami yang memeluk agama Islam, maka dia akan diusir dari rumah," David menjelaskan.

"Ayahku bilang, orang Islam itu suka mencuri. Di masjid-masjid banyak sekali sandal yang hilang, siapa lagi yang mencuri kalau bukan orang islam. Ayahku juga bilang banyak pejabat negara yang korupsi itu beragama islam," David menghentikan ceritanya, "itu ayahnya yang bilang bukan aku. Kamu jangan marah padaku ya," pinta David. Aku tersenyum tipis, "tidak," jawabku singkat.

Sebetulnya aku tidak marah baik pada David maupun ayahnya, tapi aku merasa malu dan sedih karena yang dikatakan ayahnya David itu benar adanya.

David kembali melanjutkan, "begitu lah, ayahku selalu menjelek-jelekkan Islam. Tapi tanpa sepengathuan ayah dan semua keluargaku, kakak perempuanku yang ke dua, kak Patricia, memeluk agama Islam,"

Mendengar nama Patricia membuatku tersenyum geli karena itu adalah nama ibungku dan mengingat pula bahwa istri maman Syaifrudin ini juga keturunan China dan juga seorang mu'alaf. Aku dan ibungku ini berselisih umur hanya sepuluh tahun. Aku sempat terpikir apakah kakak perempuan David adalah ibungku?, mustahil!,jawab batinku.

"Saat itu ia lupa mengunci pintu kamar saat ia sedang solat, dan ibuku membuka pintu kamarnya kontan terkejut. Saat itu juga, ia langsung diseret ke ruang keluarga. Ayah marah besar dan ia diusir dari rumah. Saat itu umurku masih delapan tahun, aku hanya termangu menyaksikan kakakku yang baik hati itu dicaci, dihina, dan ditampar ayahku, ibuku, dan kakakku yang pertama," kenangnya.

"Hari itu juga kak Patricia pergi meninggalkan rumah untuk selamanya. Aku masih tidak mengerti, aku berkata pada ayahku betapa tidak adilnya semua ini. Ibuku dan adikku boleh beragama Budha, kakak pertamaku boleh beragama Hindu, ayahku dan kakakku boleh beragama Kristen, bahkan ayah sendiri atheis. Mengapa kak Patricia tidak boleh beragama Islam? Tapi saat aku betanya begitu, aku malah di marahi dan ditampar. Ayah bilang aku hanya anak kecil, tidak pantas untuk tahu. Sesaat itu pula aku langsung diam,"

"Aku terus bertanya-tanya apakah Islam itu sejelek penjelasan ayahku. Sudah sebelas tahun sejak kepergian kak Paticia, aku terus mempelajari agama Islam baik bertanya pada teman-temanku, maupun kubaca dari buku-buku. Itu lah alasan aku tetap mengikuti pelajaran Agama Islam tempo hari. Tapi aku hanya menemukan kenyataan bahwa ayahku salah besar. Islam tidak pernah mengajarkan mencuri, sebaliknya malah menantang keras tindakan mencuri itu.

Islam juga agama yang beradab. Segala bentuk norma kesopanan yang berlaku baik di masyarakat tradisional maupun modern, semuanya ada di ajaran Islam bahkan lebih luas dan universal,"

"Melihat segala kenyataan itu, aku jadi semakin bimbang," papar David.

"Mengapa kamu perlu bimbang?" tanyaku yang sedari tadi hanya diam mendengarkannya bercerita. "Aku pikir hal itu sudah memuaskan rasa penasaranmu," ujarku.

"Tidak, bukan hanya itu. semakin dalam aku mempelajari islam semakin aku ragu akan agamaku sendiri. Aku pernah membaca sebuah novel kisah nyata tentang seorang gadis Cordova yang masuk Islam, padahal dia adalah putri seorang kepala gereja dan sejak lahir ia sudah dikelilingi ajaran-ajaran Kristen. Di novel itu juga dipaparkan kejanggalan yang ada dalam ajaran Kristen, aku jadi semakin ragu dengan agamaku,"

"Sekarang aku sudah memiliki keputusan, aku mau menganut agama Islam. Bisa kamu membantu?" katanya, perkataan David sungguh mengejutkanku. Aku diam karena terkejut, "kumohon, biarkan aku berislam," batinku luluh lantak mendengar permohonannya itu.Tidak kusangka aku akan menemukan manusia yang begitu harus akan jalan yang lurus. Aku menjawab, "iya,tentu," jawabku semangat.

***

Pukul empat pagi itu, untuk pertama kalinya aku mengingatkan David untuk bangun karena sebentar lagi waktu shalat subuh. Ya, David, sahabatku, telah menjadi saudara seimanku.

Setelah David bercerita mengenai pendapat ayahnya tentang Islam, ia langsung minta dimasukkan ke dalam Islam, Siang itu aku langsung memanggil Pak Sigit, guru Agama Islamku yang juga adalah pembina Rohis di sekolahku. Setelah itu, David membaca dua kalimat syahadat disaksikan aku, Pak Sigit, dan semua anggota Rohis yang memang pada siang itu akan melaksanakan rapat. Hari itu menjadi hari terpenting untuk David dan aku karena persahabatan kami akan menjadi ikatan  yang insya Alloh akan kekal, ukhuwah. Awalnya kami takut bagaimana David menghadapi ayahnya nanti, tapi saat itu David menjawab dengan tenang, "kalian tidak usah khawatir, untuk beberapa hari ini aku akan diam-diam beragama Islam tapi untuk beberapa hari berikutnya aku akan memberitahukan pada kalian apa yang harus dilakukan. Kita lihat keadaan dulu,"

Pagi ini, aku dan David akan pergi ke Museum Lampung. Dia bilang, dia ingin mempelajari sejarah, seni, dan budaya Lampung. Tiba-tiba David datang ke rumahku sendirian bahkan tanpa mobilnya. Ia hanya mengenakan kaus oblong hijau, celana dasar panjang hitam, dan menggendong tas raselnya yang tampak berat.

"Assalamu'alaikum," sapanya, "wa'alaikumsalam," jawabku senang. "Tasmu berat banget. Apa isinya? Kita cuma mau ke Museum kan?" tanyaku, ia diam untuk beberapa saat sampai akhirnya berkata, "aku pergi dari rumah."

"Apa? Memang apa yang terjadi?" tanyaku dengan sangat terkejut.

"Tadi pagi, aku bicara langsung pada ayahku kalau aku masuk Islam. Aku juga bilang padanya kalau ini sudah menjadi pilihanku dan tidak ada yang bisa mengubahnya. Aku rela jika harus pergi dari rumah untuk selamanya. Dan....jadi lah begini, aku pergi dari rumah," jelasnya santai.

Aku kagum padanya. Dia memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala hal, dan rasa ingin tahunya itulah yang mengantarkan padanya pada hidayah dan keimanan yang luar bisa kokoh, tidak ada satu pun yang dapat mengoyaknya secuil pun. Sahabatku ini telah mengajari aku tentang keindahan Islam yang tanpa sadar telah lama aku lupakan. Dia juga membangkitkan kembali semangat mencari jalan Illahi yang telah lama kukubur sedemikian dalam.

"Tapi, kamu akan tinggal dimana?" tanyaku.

"Itu dia. Aku ingin minta bantuan padamu," katanya. "AKu sudah cerita pada mamanku dan ibungku semua tentang kamu. Katanya, beliau siap jika kamu mau tinggal di sini," kataku langsung. David terlihat senang.

"Daud, kenapa temannya enggak disuruh masuk?" terdengar suara wanita berjiblab keluar dari rumah. Dia ibungku, ibung Patricia. "Oh iya......Ayo masuk," ajakku, tapi David malah terpaku menatap ibang. Ia tampak terkejut seperti melihat hantu, "kak Patricia..." ujarnya. Ibung menjadi bingung, aku pun begitu. "Kak Patricia, ini aku, David," katanya dengan suara bergetar, ia mendekat, ibungku mengernyitkan dahi. "Aku Johanes David, kak," katanya lagi.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Hal-hal yang terjadi dengan masa lalu ibungku memang sedikit memiliki kesamaan dengan yang dialami kakak perempuan David. Mungkin kah ibungku ini memang kakaknya David seperti yang kukira sebelumnya?

Mata ibung tiba-tiba berkaca-kaca, ia berkata, "David.......jadi kamu David, adikku? Kamu temannya Daud yang baru masuk Islam itu? Dan kamu juga adikku?" tanya ibung sambil terisak. David mengangguk dan mulai terisak. Mereka saling mendekat dan berpelukan.

Hatiku berdesir melihat peristiwa ini. Aku senang melihat pertemuan mengharukan ini. Allah telah membiarkan David berislam, Allah telah memudahkan David menemukan jalan yang lurus, persaudaraan yang kekal dan manis, dan seorang kakak perempuan tersayang.

***

Biarkan jasad ini merasakan pedih yang amat sangat

Biarkan tubuh ini lemah karena lapar menyerang

Biarkan wajah ini hina dina di mata mereka

Asalkan aku bisa merasakan aura lembut dalam kidung tauhid

Ya Allah....istiqomahkan kami di jalan ini

Biarkan kami berislam hingga waktu membawa kami

Di hadapan-Mu nanti

***


Karya: Melisa Agustina.

"BADA ISYA, JUNI 2012"

Orang tua itu, tak selalu yang melahirkan kita. Ya, itulah yang terjadi padaku, tinggal bersama orang tua angkat sejak berusia 1 tahun. Di sebuah desa TRANSAD, Lampung Tengah. Sebenarnya, mereka adalah pakde dan budeku, kakak kandung dari ayahku yang tinggal di Batam. Sejak kecil, aku terbiasa hidup dengan mereka sehingga kupanggil layaknya orang tua kandung, emak dan bapak. Sangat kontras, Ayahnya justru kupanggil Om. Ya, wajar saja aku belum mengetahui apapun saat itu. Terkadang aku tersinggung ketika banyak orang membincangkan tentang diriku yang bukan anak kandung mereka.

Menurut cerita yang kudengar, aku dititipkan kepada mereka karena dahulu ayah masih tinggal dengan kondisi serba kekurangan bersama ibu di Batam dan kala itu keadaan disana belumlah stabil. Seiring detik waktu yang terlewat, Alhamdulillah ayah berhasil mengembangkan usaha besi tua miliknya. Hal itu membuat beberapa perusahaan besar menaruh kepercayaan pada usaha ayah di beberapa tender mereka. Sejak itu, biaya hidupku ditanggung penuh oleh ayah. Namun entah mengapa, ayah membiarkanku tetap bersama pakde dan bude.

Di keluarga kecil yang sederhana ini, aku belajar mengenai kehidupan dan mereka mendidikku menjadi muslim yang soleh, menjagaku dari kelam lingkungan, tak kenal waktu untuk menjagaku dalam tangis dan tidurku. Aku seolah utuh menjadi bagian dari keluarga kecil mereka.

Beranjak remaja, aku mulai mengerti semua. Walau berat, kucoba memahami dan menerimanya. Emak dan bapak memang benar bukanlah orang tua kandungku. Dan aku mulai mengerti bahwa orang yang selama ini kupanggil om itu adalah ayahku, sejak itu juga aku ingat bahwa emak pernah bercerita mengenai perceraian Om Teguhku itu. Dan itu benar. Orang tuaku bercerai ketika aku kelas 4 SD. Aku menjadi hak asuh ayah, lalu adik kandung yang belum pernah kulihat rupanya itu menjadi hak asuh ibu. Tak ku tahu mengapa mereka bercerai, aku menganggap sebagai hal yang tak penting kala itu.

Belajar menerima semua, aku hanya bertingkah tak peduli. Aku tidak menempatkan kenyataan ini sebagai beban pahit. Aku hanya mencoba berlaku normal. Namun, aku hanya selalu menunduk iri ketika ada anak-anak lain yang ku jumpai larut bahagia bersama keluarga kandungnya yang utuh.

SD kelas 6, ketika libur kelulusan untuk pertama kalinya aku datang ke Batam. Tempat kedua orangtuaku tinggal. Disana aku menemui kehidupan ayah yang seorang diri di pesanggrahannya yang besar.

Satu pukulan besar lagi bagiku, ayahku tak seperti emak dan bapak. Dia bukan muslim yang taat, bukan ayah baik yang memberi contoh teladan anaknya. Walaupun, ia rajin memberi santunan. Tapi tak pernah ada malam yang terlewatkan di bar dan cafe. Setiap pukul 9 dia selalu beranjak pergi ketempat hiburan malam dengan mobil kesayangannya itu. Berangkat malam, pulang pagi, dilakukannya saban hari. Memang, disana apapun yang kumau dipenuhi olehnya. Aku ditenggelamkan dalam kemewahan oleh ayah, tapi tetap tak cukup membuatku bahagia. Sebelum akhirnya, pada suatu malam emak bertanya, "kamu mau ketemu Ibu Rum nggak? Kalo mau nanti malem dianter kesana," aku mengangguk bahagia, Ibu Rum adalah ibu kandungku yang terakhir kutemui ketika aku masih kecil sekali. Ketika itu aku belum sadar dia ibuku, tapi aku masih ingat benar kenangan kecilku itu, walau tak jelas lagi bagaimana rupanya.

Ayah tak ikut, hanya aku dan emak diantar supir hingga pelantaran Panbil Mall, tempat kami berjanji bertemu. Malam itu aku bahagia, dipeluk erat bersama raut senyum dari wajah ibu kandungku. Hari itu kami bermain, belanja dan makan. Merasakan kebahagian pembayar rindu bertahun tak bertemu, seorang ibu dengan anak pertamanya. Asing sekali rasanya. Tapi setelah menjalaninya, semua itu tetap memberi kebahagiaan pada hatiku.

Ada keheranan ketika pria yang disebut Ibu Rum supir taxi, sejak tadi mengikuti kemanapun kami pergi. "Tampaknya dia pengganti ayah", ucapku kecil dalam hati. Hingga larut, akhirnya aku dan emak diantar pulang oleh ibu dan supir taxi itu. Walaupun tidak sampai di rumah Ayah. Bertahun tak bertemu, dibalas hanya sehari itu saja. Rasa bahagia itu kuakui ada, tapi juga tak begitu berkesan untukku. Mungkin hatiku sudah terlalu beku untuk diluluhkan dengan kehadiran ibu atau mungkin sosok ibu sudah terlalu asing untukku.

***

Tahun itu, aku mendengar kabar baik tak terduga dari ayah yang sudah menikah lagi dengan seorang gadis muda yang dicintainya, Lusi. Tak kenal siapa dia. Tapi kuharap dia bisa jadi ibu yang baik, setidaknya untuk ayah.

Sejak dulu ketika ayah mulai berada, beliau selalu pulang ke Lampung untuk ibunya tercinta pada hari lebaran. Nenekku yang tal lagi lancar berjalan, seperti sedang di gelimangi bahagia ketika itu. Aku saban hari menjumpainya dalam kebahagiaan, tapi tak sebahagia ini terlihatnya. Karena ayah pulang membawa pendamping hidup baru yang selalu diharapkan menjadi seorang ibu yang baik. Memang perbedaan usia ayah dengan istrinya kini cukup jauh. Tapi kulihat dia sungguh-sungguh ingin menjadi ibu yang baik untuk kami.

seperti tahun lalu, aku kembali diminta ayah pulang ke Batam. Senang sekali. Namun kali ini ada yang berbeda ayah tak lagi sendiri di rumah besarnya. Wanita muda itu terlihat baik. Disana, dia selalu perhatian padaku dan menempatkan diri sebagai seorang ibu yang baik. Selalu  bertanya segala tentang apa yang aku dan ayah suka dan tidak suka. Tapi sayang, kehadirannya tak akan bisa ubah ayahku. Dia tetaplah seorang Teguh Irawan yang selalu menghabiskan waktunya di luar rumah. Dia hanya kembali pada waktu dini hari, makan siang, mandi sore, dan kembali pergi pada malam harinya. Sama seperti dulu. Ingin sekali ku lihat dia menjadi baik, seperti sosok emak dan bapak, tapi terlalu kecil aku untuk mengungkapkannya.

Dan ternyata tak hanya ayah, Ibu Rum yang kutemui di sela liburan juga kudapati tak lagi sendiri. Pria itu tak kulupa wajahnya, dia adalah supir taxi yang mengantar kami dulu. Ibu dan ayah memperkenalkan pasangannya padaku perlahan bersama retorika tentang semua itu. Usai dikenalkan, malam itu aku mengungkapkan ingin menginap bersama Ibu Rum. Kulihat raut bahagia menyelimuti wajah ibu yang kurindu. Tak dapat kuduga, kembali aku harus mengelus dada dengan kenyataan bahwa aku hanya menemui kamar kos berukuran kecil sebagai tempat tinggal ibuku dengan suami barunya. Dinaungi tangis dalam hatiku ketika menatap itu semua. Andai keluargaku masih tetap utuh, mungkin hanya bahagia saja yang kutemui di Batam tempat kelahiranku.

Kenyataan pahit datang kembali, bersama kebagiaan dalam liburanku ini. Aku tetap menikmatinya. Menjadikan masalah ini teman yang tak seharusnya ku musuhi.

Aku kembali ke Lampung Tengah. Kembali tinggal dengan keluarga sederhana dengan sejuta kebahagiaan. Aku sangat mencintai mereka, merekalah penguatku. Bersama mereka, aku mengerti bahwa orang tua itu tak terikat darah tapi kasih sayang. Mereka memperhatikan aku sebagai muslim yang baik. Walau nyatanya aku tak begitu baik di belakang mereka.

Beranjak remaja, hatiku makin hitam. Aku telah mengenal apa itu nakal, bagaimana itu bebas. Walau mungkin aku tak terlalu tenggelam, tetap kurasa diriku jauh berubah. Teman-teman mengubahku, tapi mereka adalah pengibur sehari-hariku di balik beban keluarga menyakitkan ini. Mulai dari jiwa-jiwa baik hati yang selalu ramah, hingga orang-orang yang selalu ingin belajar segalanya. Mereka mengajariku hidup ceria, orang tua mengajariku kehidupan yang di cintai Allah. Tersadar, ternyata hidupku sangat lengkap.

Tahun itu, kabar bahagia datang, ibu tiriku melahirkan seorang anak laki-laki bauah pernikahannya dengan ayah yang diberi nama Hariadi Akbar. Memang ketika hiburan sebelumnya, kulihat perut ibu tiriku seperti terisi bayi, membesar. Akhirnya, aku punya seorang adik yang bisa kutemui. Sedang adik kandungku sendiri, belum pernahku tahu raut dan rupanya, karena Ibu Rum menitipkannya tinggal bersama nenek di Pulau Bintan. Nasibnya tak jauh beda dengan abangnya.

Sepertinya memang sudah menjadi tradisiku untuk pulang menemui ayah diwaktu liburan kenaikan kelas. Kali ini, aku meihat adikku Akbar adalah perwarna bagi keluarga baru ayah. Keluarga yang sebelumnya kulihat sangat kaku. Kini mereka bahagia. Walau aku tak begitu nampak menjadi bagiannya, tapi aku senang.

Dadaku masih terasa sesak, ketika kutemui ayah masih dalam kehidupannya, berfoya saban hari saban malam walau tak sesering dahulu. Ingin sekali aku berbicara dengannya. Niatku kuurungkan, karena aku jarang berbicang dengannya dan kurasa diriku takkan didengar. Aku selalu memendam kesal pada ayahku sendiri di setiap hariku dan semakin memuncak saat berlibur ke Batam.

***

Bersama warna hatiku yang semakin hitam, tingkah laku ini tak juga semakin baik. Hari-hari berlalu, hingga akhirnya diriku dinyatakan lulus UN. Kebahagiaan menerpaku, namun saat itu juga aku tersabar aku akan berpisah dengan teman-teman, yang saban hari menutup mataku pada kesedihan, melarutkan untuk lupa pada beban beratku. Mungkin takkan ku temui teman seperti mereka lagi, tapi ku rasa Allah tahu yang terbaik. Kesedihan akan perpisahan tak bertahan lama di dadaku, aku tersadar masih memiliki keluarga kecilku, dan agama.

Aku melanjutkan sekolah ke Bandar Lampung. Merantau sendirian. Tak apa, bukanlah aku memang selalu sepi, bahkan dalam ramai sekalipun, pikirku.

Lagi, Allah benar-benar tahu bagaimana memuncakkan bahagiaku. Setelah dia beri aku kelulusan dan keberhasilan diterima di sekolah lanjutan yang ku inginkan, kali ini Allah mengabulkan satu lagi doa yang tak pernah henti ku pinta, sejak dulu, Bertemu adik kandungku. Aku bahagia, adikku ternyata sudah cukup besar, kelas 3 SD ucapnya. Kami dipertemukan saat aku berlibur ke tempat Ibu Rum. Ini salah satu mimpi terindahku, dan untuk kesekian kalinya, Allah selalu menerduagabulkannya.

Ku lihat tangis haru Ibu kandungku, kembali menetes saat dia memeluk  kami berdua. Seolah tak ingin lepas. Erat sekali dia memeluk kami. Usai tenggelam dama keharuan, kami menghabiskan hari itu bersama-sama. Menikmati indahnya Batam dengan segala kebahagiaan ini.

Sampai hari itu hampir berakhir, aku berkata pada ibu "Bu, aku nak bawa Okta menginap rumah ayah, bolehkah?"

Ibu terdiam berfikir.

Adikku Okta memecah hening, "Tak apalah ma, aku nak jalan dengan abang ke tempat om gendut."

Aku senang adik mau ikut, dan dengan sedikit berat hati ibu setuju. Tapi dari ucapan adikku tadi, aku tersadar ternyata dia juga memanggil ayah dengan sebutan om. Sama seperti aku kecil dulu. Aku menggandeng adikku masuk ke rumah ayah. Disambut senyum ibu tiriku dari depan televisi. Dan emak juga langsung bertanya "Mana Ibu Rum?"

"Langsung pulang" jawabku.

"Nak salaman dulu lah dengan ibu, dengan bude dan adek Akbar!" seruku pada Okta yang sudah ku kenal dekat walau baru pertama berjumpa.

Sejak itu ibu tiriku sudah langsung mengambil perhatian adik dengan terus belajar apa yang disukainya. Memang begitulah ibu, dia selalu berusaha untuk menjadi sosok ibu yang baik untuk semua anaknya, baik itu Akbar, aku bahkan Okta.

Keberadaan Okta menginap dirumah ayah untuk beberapa hari itu tak kami siakan. Raut bahagia menjadi teman setia kami tiap hari. Bahkan dengan lucunya adikku setiap hari bertanya "nak pegi kemana kita hari ini bu?" karna terlalu siringnya kami menghabiskan waktu di luar.

Namun itu tetaplah liburan, aku hanya punya waktu beberapa hari saja disana. Aku pulang meninggalkan kebahagiaan itu, kebahagiaan seorang kakak yang untuk pertama kalinya menemui adik kandungnya sendiri.

Di Lampung Tengah, aku sudah memasuki sisi lain diriku yang lebih bahagia. Aku sibuk mempersiapkan diri memasuki sekolah baru, penuh doa dari keluarga besarku.

"Kapan kamu pulang kesininya le?" tanya nenek ketika aku hendak pamit.

"Ya, satu bulan dulu lah mbah. Belajar betah disana" jawabku.

"Kok ya lama mbanget to le? Dua minggu lagi aja lah pulangnya ya?" ucap Nenek dengan penuh harap. Aku dipeluknya erat, dan diciumnya kedua pipiku sebelum aku berangkat pergi.

Hari pertama masuk sekolah tiba. Aku memulai hari baruku di tempat yang baru ini. Asrama Perwira 5 tempat dan SMA Al-Kautsar Bandar Lampung, awalku ingin merubah semua kalamku. Bersama senyum pertamaku, kumulai hari itu dengan penuh harapan. Label sekolah islami adalah acuanku untuk memilihnya, ku harap disini aku benar-benar bisa berubah.

Aku bahkan belum berbaur sepenuhnya dengan lingkungan. Tapi, tepat dua minggu awalku disana, aku dijumpai oleh sebuah berita duka. Ketika itu sedang belajar di ruang kelas, paman tiba-tiba datang ke sekolah menemuiku. Kami berbincang sejenak di ruang BK. "Nenek meninggal!" kira-kira itulah inti perkataan panjangnya pagi itu.

Aku diizinkan dan diantarkanya pulang ke Lampung Tengah tempat tinggal nenekku yang juga sangat dekat dengan tempat tinggalku. Sejenak aku kembali kekelas mengambil tas dan semua barangku. "nikeu haga dipa mal?". Tanya banyak teman kelasku hari itu. Tak menjawab, aku hanya melangkah dengan wajah tertunduk. Aku hanya berfikir mengenai permintaan terkahirnya agar aku pulang setelah 2 minggu.

Sampai di kediaman nenek, kujumpai banyak pasang mata bersama raut kehilangan terukir diwajah mereka. Mengucap salam, aku masuk dan menatap jenazah nenek ditemani tetes-tetes air mataku. Aku duduk diam disamping jenazah, meratap dan mendoakanya beberapa saat sebelum akhirnya jenazah segera di berangkatkan ke pamakaman.

Aku mengiringi, dari awal hingga akhir sesi pemakaman dan kembali menuju kediaman nenek bersama keluarga besar dan beberapa tetangga. Tak lama, ayah tiba dari Batam setelah perjalan beberapa jam. Kala itu pertama kalinya ku temui sosok seacuh ayahku bisa menangis, kulihat duka tergambar jelas dari mimiknya.

Kami tak mau berlarut-larut. Esoknya ayah kembali ke Batam, dan aku juga kembali ke Bandar Lampung. Sejenak yang terfikir olehku adalah, "Ayah tidak akan pulan lagi ke Lampung pada hari lebaran. Aku hanya akan menemuinya setahun sekali, ketika libur kenaikan kelas karena aku berkunjung ke Batam."

Benar dugaanku, lebaran itu ayah tak pulang dan aku hanya melewati hari raya dengan sepinya. Di Bandar Lampung aku tak juga temui apa yang kuharap-harapkan setelah cukup lama aku di sini. Terlalu banyak jiwa yang tak menyukai bujang kampung sepertiku. Aku terasing hingga akhirnya aku bertemu teman-teman yang satu pikirkan denganku. Walau kami tak dipadang baik di sekolah kami, tapi kisah-kisah kami adalah warna besar dalam kehidupanku kala itu. Belakang gedung perpustakaan UNILA, adalah tempat kami biasa menghabiskan waktu sepulang sekolah. Setiap harinya, selalu ada kisah yang membuat kami tak bosan disana meskipun tak jarang  diusir satpam.

Melewati puluhan hari disini, aku tak juga mendapatkan pelecehan yang sejak awal ku harapkan. Disini, aku seperti pencerahan yang sejak awal ku harapkan. Di sini, aku seperti melihat sesuatu yang asing. Menurutku, semuanya terlalu bebas. Apakah ini kehidupan kota?.

***

Saat kenaikan kelas. Hari itu, pengumunan pembagian rapor, kami semua masuk jurusan IPS. Dengan menyisipkan kenangan itu, seperti biasa aku berlibur ke kampung halaman di Batam.

Masih seperti yang lalu, liburanku kuhabiskan untuk melepas rindu, membayar rasa ingin bertemu pada orang-orang tercinta yang memang seharusnya ada didekatku. Ayah, Ibu, adik-adiku dan semua kerinduanku tentang kota kelahiranku selalu kubayar setahun sekali. Dan masih seperti yang lalu juga, aku tak lihat ayah berubah. Sikap acuhnya pada keadaan dan kebiasaannya untuk selalu ingin bebas masih lekat dan tubuh besarnya itu. Aku masih terdiam memendam hasrat untuk memberi nasihat.

Apapun itu, liburanku selalu ku tutup dengan senyum kepuasaan. Aku kembali ke Lampung Tengah untuk beberapa hari di sana, mempersiapkan diri untuk tahun ajaran baru.

Awalnya aku tak begitu ceria ketika pembagian kelas. Dari rombonganku itu, hanya aku yang masuk kelas IPS 1 dan buruknya aku tak banyak mengenal daftar nama-nama yang menjadi bagian kelas IPS 1. "Aku akan menjadi asing lagi pasti" bisik kecilku dalam hati kala itu.

Terbukti, aku nampak terkucil di kelasku sendiri. Bujang kampung sepertiku ini memang lumayan sulit berbaur dengan urban community seperti mereka, walau dengan segala retorika itu. Waktu istirahat, kuhabiskan untuk sholat dhuha atau bermain ke kelas lain karna aku masih merasa tak nyaman dengan keadaan kelas. Terkadang aku juga meluangkan waktu mengurus pekerjaan OSIS guna memenuhi tanggung jawabku sebagai waka OSIS di sekolah.

***

Aku tak tahu mengapa, dada ini terasa sesak saat mendengarnya. Ayah dan ibu tiriku bercerai. Serasa baru kemarin kami bahagia bersama. "apa gawoh, nikeu harus sabagh" bisik kawan-kawahku menghibur. 

Kadang permasalahan orang dewasa itu rumit, tidak tiap-tiap permasalahan yang abstrak itu bisa ku uraikan apalagi dengan adanya jarak dan menghancurkan kohesi keluargaku. Terkadang aku tak mengerti pikiran mereka orang dewasa. Bukankah tak ada satupun rezeki yang kita terima tanpa perantara orang lain, sehingga kita  harus menjaga hubungan kita dengan seseorang dengan baik?

Aku menulis ini dengan digelayuti beban di kepalaku, aku makin ingin bicara dengan ayah. Hanya beberapa hari lagi, liburan kenaikan kelas tiba dan aku akan pulan ke Batam. Niatku sudah bulat, aku tak ingin hanya melepas rindu disana, tapi aku juga akan lepas beban geramku pada ayah. Aku sudah lelah, melihat iri kebahagiaan keluarga lain setiap hari, membiasakan diri terasing dari ayahku, membandingkan diriku dengan yang lain. Terlalu lelah aku hidup di dua sisi ini.

Terlintas fikir, bahwa biasanya ayah meluangkan waktu sedikit untuk meneguk kopi di pelataran rumah pada waktu malam kira-kira ba'da isya. Mengingat itu, kini aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa akan kuungkap pilu ini pada ayah dalam liburanku beberapa waktu nanti, mungkin bada isya tepatnya.

Bersama cerita ini, kutuliskan kutipan kecil kehidupanku. Ini bukan pengungkapan aibku, aku hanya ingin mengungkapkan bagaimana Allah menciptakan kehidupan indah untuk makluknya. Mulai dari orang tua angkat yang sangat baik, teman yang selalu membawaku untuk lupa pada beban, hingga momen indah seperti ketika pertama aku bertemu adik kandungku. Semua disusun indah oleh Allah, Untuk itu aku meyakinkan diri, bahwa keindahan relevan itu akan menjadi semakin baik pada bada isya, Juni 2012. Begitulah harapanku.


Karya: Jamal Ginanjar Falah

RUMAH HUTAN TROPIS

Diyang Bahenda Balau menekan luapan marahnya, meskipun ia geram sekali pagi itu. Daun pohon tengkawang berjatuhan silih berganti. Ranting-ranting meranggas. Kemarau mulai merayapi semak belukar, meranti, ulin, masupang, dan pohon hutan tropis lain tampak akan mengalami nasib yang sama, seperti penantian menuju wilayah kematiaanya.

Kebakaran hutan akan memanggang nasib manusia, seperti halnya kenyataan yang harus dialami penduduk di dusun yang miskin, penghuni pedalaman hutan rimba Kalimantan. Kebakaran hutan kina terasa tambah mengharubiru ketika banyak pohon mengalami kepunahan oleh penebangan membabi buta para pemegang HPH. Manusia telah menyerakahi manusia lain dengan cara merampok sumber penghidupannya, sebagaimana deru mesin pemotong pohon yang kini kian mendekat ke permukiman Dusun Kuala Petak Danum, daerah aliran Sungai Barito.

Diyang Bahenda Balau merasakan dadanya amat sesak menahan kepedihan. Kepedihan yang terus bersembunyi di balik hamparan kabut terus bersembunyi di balik hamparan kabut asap yang menggulung di ladang-ladang persemaian (para peneliti) menyebut perilaku peladang perdamaian ini sebagai peladang berpindah, perambah hutan, suku terasing).

Memang tak ada yang dapat disesalkan atas diri Diyang Balau sebagai kepala adat. Akan tetapi, tanggung jawabnya untuk menjaga tanah, air, menjaga hutan, menjaga adat istiadat, menjaga kebudayaan, menjaga anak-anak, mempertahankan goa-goa itulah yang membuatnya galau, pilu, dan meradang.

"Mengapa semuanya menjadi begini?"

Apakah semua itu terjadi karena larangan bertuah tidak dihiraukan? Mengapa dusun menjadi porak-poranda dan hutan dilanda malapetaka? Ataukah aturan adat telah dipinggirkan dan dihinakan? Itulah sejumlah pertanyaan yang selalu menyelimuti para tetua dalam situs etnik Dayak di Kuala Petak Danum.

Diyang Bahenda Balau merasa ada beban berat karena lingkaran kehidupan suku-suku yang harus dilindunginya, terbuai oleh materi yang disuguhkan karyawan HPH yang entah mengapa kebanyakan bukan putra daerah untuk kemudian dipertukarkan dengan sumber daya hutan, damar, karet, rotan, dan sarang walet. Dari manakah muasal kebudayaan, sebuah televisi 14 inci bisa dipertukarkan dengan 5 kilogram sarang walet?

Tiba-tiba, ada rasa ketidak pastian dalam memandang hutan dan menjelajah kawasan Gunung Bondang, disebabkan deru mesin pemotong pohon pembabat hutan yang terbakar, yang kian hari merusak begitu mahaluas keanekaragaman hayati. Sudah setengah tahun ini, air yang mengalir pada anak sungai di kawasan puncak Bondang membawa cammpuran air raksa dari para penambang emas. Siapakah yang memberi pelajaran penambangan emas dengan cara air raksa? Padahal, suku-suku Dayak hanya belajar dengan cara memungut dan memetik, bukan menghancurkan.

"Andau tuh itah ela tulak kan liwa, lebu tuh in jaga," Diyang Bahenda Balau menyampaikan pesan kepada Attak Marem, sepupunya, yang bersiap mau mendaki Gunung Bondang. Hari itu, Attak Marem mau memetik sarang burung walet yang siap panen di salah satu Bukit Loh Ba Puti, masih dalam kawasan Bondang.

Diyang Bahenda Balau merasakan dadanya seperti tertusuk ratusan duri landak tatkala kenangan pahitnya kepada para pemegang HPH muncul kembali. Hal yang sama terjadi minggu lalu, sekembalinya dari upacara Mampas Lewu, sesudah pertemuan dengan anak-anak suku di hulu daerah aliran Sungai Barito. Ribuan meter kubik lanting kayu gelondongan, berjejer dihanyutkan menuju muara sungai untuk kemudian masuk ke pabrik-pabrik pengolahan kayu dan menghasilkan miliaran uang. Betapa Diyang Bahenda Balau tidak meradang, sebab lanting kayu gelondongan itu tak bisa dikendalikan dan menghantam tanpa ampun rumah panggung milik Ni Datuh Bahandang Balau, seorang tokoh dan kepala adat yang baru saja mangkat.

"Urusan dengan Camat tidak mungkin kita tunda lagi hari ini. Demikian juga halnya dengan kepala bagian tanah di kabupaten, tidak dapat diulur-ulur lagi waktunya," Diyang Bahenda Balau berkata kepada Attak Marem, "Tepat sesudah upacara selesai diadakan, aku mau pergi ke kecamatan."

"Tetapi, sayang burung harus segera dipanen, Ni," Attak Marem memberanikan diri memandang ke arah Diyang Bahenda Balau. "Bagaimana kita nanti, kalau sarang burung itu dipanen oleh para rampok yang sekarang berkeliaran di gunung-gunung itu?"

"Kalau dan aku harus benar-benar siap dengan situasi seperti ini. Bukankah tanah adat kita juga jauh lebih penting untuk diselamatkan, dan urusan tanah adat ini sudah menggantung puluhan tahu. Apakah kau ragu untuk pergi ke kabupaten, sehingga memutuskan pergi ke Bondang?"

"Ini masalah besar, soal para perampok, Ni," Attak Marem tersentak.

Agak lama, Diyang Bahenda Balau terdiam. Pandangannya menerawang ke langit-langit atap sirap ulin Rumah Betang, dan sesekali dimainkannya manik-manik merah hanya boleh dipakai oleh orang yang mempunyai keturunan langsung suku Dayak - terlihat wajahnya yang merautkan ketegaran. ketegaran Diyang Bahenda Balau semakin membuatnya penuh wibawa.

Attak Marem juga tertegun sambil menggerak-gerakkan mantau yang lepas dari kumpangnya, dibelit aksesori anyaman rotan, serta juntaian aksesori dari taring babi hutan, sambil meraut bilahan bambu sehingga membentuk busur anak panah tajam. Mandau yang keluar dari kumpang itu menimbulkan bunyi gemerincing bila dibalut menjadi ikat pinggang.

Cuaca di luar balai Rumah Betang semakin menyengat, sekali gemercik suara lidah api yang berjilatan di ranting pohon, merambat naik melewati daun rotan kering sehingga lidah api menelan daun-daunnya. Sementara, bunyi gaduh mesin pembabat hutan terus menderu dari kejauhan. Deru mesin itu, kini semakin dekat.

"Akan tetapi, kita harus segera menyelesaikan perkara ini, menyelesaikan semua utang adat kita yang kian menumpuk. Yang penting adalah bagaimana agar semua penjahat dan orang-orang kota itu mengetahui bahwa kita sudah mulai kehilangan kesabaran, bahwa hati nurani kita tidak dapat dijualbelikan seperti ini. Aku tidak rela kalau suatu ketika waktuku sudah tiba, dusun kita akan mereka lenyapkan pula."

"Kita dan seluruh penduduk dusun harus siap menghadapi segalanya, atas segala kemungkinan paling buruk, paling menyakitkan, dan mungkin yang paling ditunggu-tunggu untuk tiba waktunya melakukannya perlawanan, Hari ini, harus ada kepastian. Jika kepastian semakin menjauh,siapakah yang harus kita percaya? Dan jika kita sudah kehilangan kepercayaan, kepada siapa kita mengadukan nasib? Apabila semua orang sudah tak lagi memerdulikan, bukan salah kita untuk bergerak melakukan perlawanan. Kita akan melawan," Diyang Bahenda Balau terus memberikan alasan mengapa pertemuan dengan pihak kecamatan harus segera dilakukan. "Perlawanan adalah takdir yang harus kita jalani," gumam Diyang Bahenda Balau.

Attak Marem merasakan betapa Diyang Bahenda Balau ingin memuntahkan bergulung-gulung perasaan marahnya yang selama ini terpendam. "Sudah lama aku menahan kesabaran, Apakah aku harus mengorbankan empat-lima ratus jiwa? Aku sudah semuanya terluka," kata Diyang Bahenda Balau. Ia berdiri untuk kemudian menjemput butah dari kulit kayu yang bersandar di dinding papan kayu ramin balai. "Yang benar dan adil harus segera ditegaskan. Yang jahat dan perampas harus disingkirkan."

Udara seperti semakin tidak bersahabat, angin tak lagi bertiup, sementara di lantai bambu balai-balai Rumah Betang, terlihat beberapa ekor anjing memperebutkan seekor burung gagak hitam yang kemarin jatuh terkapar di bawah tangga betang.

"Diam berarti setuju, Tak. Adakah yang lebih berharga daripada sekadar diam yang emas dan memasrahkan diri kepada para pemegang HPH yang selalu berkata penuh janji bahwa mereka akan segera membebaskan dusun ini dari kemiskinan? Para pemegang HPH itu selalu mengatakan kalau dusun ini segera dibangun, anak-anak tidak perlu bayar sekolah, gedung sekolah segera dibangun,  jalan-jalan akan segera menghubungkan penduduk dusun dengan  penduduk dusun lain, pusat kesehatan segera berdiri, dan listrik juga segera menyala."

"Kita hanya diam ketika semuanya kini tinggal kenangan. Yang ada hanya kata-kata, padahal hutan di tanah adat itu mulai mereka terbang dengan alasan bahwa pohon-pohon dengan sistem tebang pilih itu ada dalam peta resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Kehutanan. Seandainya hutan itu punya hak bicara, sudah lama mereka mengadukan nasibnya, Attak Marem."

"Memang begitu, Ni."

"Begitulah akal orang-orang kota yang memberi hadiah persembahan dengan janji."

"Dalam pertemuan kabupaten, tanah adat itu, menurut wakil Dinas Kehutanan, tidak tertera dalam peta," kata Attak Marem mengingat-ingat kejadian setahun lalu.

Bahkan, menurut pengukuran Dinas Badan Pertanahan Nasional, dusun kita ini pun masuk dalam areal HPH yang disetujui oleh pemerintah pusat, oleh Presiden."

"Janji, kau juga telah silau oleh janji para pemegang HPH?"

"Segala yang patut, segalanya akan kembali kepada kesadaran, Ni."

"Kesadaran apa maksudmu?"

"Kesadaran bahwa kita mulai merasa tertipu."

Mesin kelotok Kubota 75 pk meluncur meninggalkan Kuala Petak Danum, menempuh jarak sebelas jam perjalanan untuk sampai ke kantor kecamatan. Gemerincing deru mesin yang memekakkan gendang telinga menyibak anak sungai. Tumbuhan jingah, rambai, dan kumpai seperti berkejaran melambai-lambai, seakan mengucapkan selamat jalan kepada siapa saja yang melewati anak sungai yang sunyi. Sementara, burung enggang, elang bulu emas, beberapa ekor bekantan (Nasalis larpatus) bertenggeran di dahan-dahan yang menjuntai di bibir sungai. Burung-burung itu menanti mangsa ikan rawa-rawa. Komunitas dusun mukim berajuhan. Setiap tiga jam perjalan, barulah kita menemukan sebuah dusun yang dihuni oleh kira-kira empat atau lima kepala keluarga. Dusun-dusun itu berdiri berjejer memanjang di sungai dengan model rumah panggung. Setiap rumah memiliki jukung yang ditambatkan di bawah rumah panggung sebagai satu-satunya alat transportasi penduduk.

"Pak Camat, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk menyampaikan masalah di Dusun Kuala Petak Danum. Apakah Pak Camat sudah tahu bahwa HPH di sebelah selatan Dusun Tiwah sudah dekat posisinya dan sekarang sudah masuk wilayah tanah adat? Batas tanah adat itu berada di kuburan keramat, dengan ciri patoknya ada pada lima jejer pohon tengkawang. Batas sebelas kanan arah Gunung Bondang ada di patung jetta, dan sebelah kiri menghadap matahari terbit berbatasan dengan Sungai Alas Gusung,"

Diyang Bahenda Balau mengungkapkan maksudnya mengapa ia harus segera menemui pimpinan kecamatan itu, "Pak Camat, saya minta Bapak segera bertindak sebelum alat-alat perusahaan HPH itu menerjang kuburan keramat para moyang kami," pintanya.

"Kalau sampai kuburan keramat itu terbongkar, sudah pasti kami akan melawan," Attak Marem ikut menyambung pembicaan.

Pertemuan dalam suasana kaku menjadikan rumah dinas camat malam itu benar-benar menegangkan. Meskipun begitu, Cornelis Dehek, alumni Akedemi Pendidikan Dalam Negeri tahun 1978, yang sudah sepuluh tahun  jadi pimpinan wilayah kecamatan itu, berusaha tenang. Ia sudah tahu kalau perangai Attak Marem, yang juga keluarga dari pihak ibunya itu, terkenal keras kepala dan berani.

"Sebaiknya, masalah ini kita atur dengan pihak kabupaten, sebab sebagai kepala wilayah, aku tidak berhak untuk memutuskan segala perkara, termasuk soal garis batas patok tanah adat di Dusun Hulu Petak Danum itu," kata Camat saat mendapat kesempatan bicara.

"Aku minta, sertifikat tanah adat itu dibawa kalau menghadap Pak Bupati. Minggu depan, kita akan menghadap Bupati agar semuanya jelas."

Pak Camat benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan bicaranya sehingga membuat Diyang Bahenda Balau dan Attak Marem kemudian tertegun, membayangkan di mana surat sertifikat tanah adat itu tersimpan, dan tentu akan dibawa menghadap Bupati kelak.

Malam semakin pekat, udara dingin seakan menambah suasana  kebekuan, tidak ada kesepakatan dan kata akhir dari pertemuan malam itu. Harapan semua menjadi sirna. Di luar rumah dinas Pak Camat, cuaca dingin menyergap, sementara suara karariang-fauna sejenis capung besar dengan sayap jernih bermata bundar sebesar biji jagung-bernyanyi bersahut-sahutan menambah suasana magis kawasan itu.

Malam itu, Diyang Bahenda Balau, gadis Dayak yang setelah meraih gelar Sarjana Kehutanan kemudian dilantik sebagai Kepala Adat Kuala Petak Danum, pulang dengan memendam pertanyaan yang berkecamuk, pulang dengan segumpal perih di dadanya. Begitu juga dengan Attak Marem. Mandau di pinggangnya seakan-akan ingin terbang lepas dari kumpangnya, menerabas saja kepala para pemegang HPH serakah itu. Jelas sekali kalau darah Attak Marem mendesir dan mulutnya seakan mau berteriak mengucapkan "Lahap" (ucapan heroik dalam upacara ngayao). Tetapi, hal itu diurungkannya, sebab Pak Camat telah membuka jalan bagi Diyang Bahenda Balau dan penduduk dusun agar segera menyertakan surat sertifikasi yang akan diperlihatkan di hadapan Pak Bupati untuk penyelesaian sengketa tanah adat.

Mandau Attak Marem menari berkilatan, sementara Diyang Bahenda Balau dalam pakaian Kepala Adat- manik-manik, kalung, laung pembabat kepala, gelang giring-giring yang melingkar di tangan dan kakinya, bergemerincingan mengikuti tabuh dan suara kenong. Mereka berputar-putar pada semacam sumbu dan ancak di balai Rumah Betang, diikuti oleh penduduk dusun dalam upacara sakral mengantar arwah Ni Datuh Bahandang Balau pulang ke negeri asalnya. Menjelang tengah malam, upacara ritual menjadi semakin magis. Roh yang menyusup Attak Marem menyiratkan kehendaknya untuk mengalirkan darah perlawanan. Perlawanan suku-suku yang hendak terusir dari rumah hutannya.


Karya: Akhmad Setia Budhy.

MELY DAN PERI PELANGI

Hujan tidak juga datang setelah berhari-hari. Mely sedih sekali. Dia rindu pelangi. Untuk mengobati rasa sedih, dia datang ke kebun dan menyirami tumbuhannya. Lalu di rumpun bunga mawar, Mely mendapati sesuatu bergerak-gerak di atas dedaunan yang basah. Mely memfokuskan penglihatannya. Astaga, peri kecil?

"Siapa kamu?," tanya Mely takjub.

"Aku Peri Hujan," jawab Peri Hujan ramah.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Mely.

"Aku sedang menghirup udara segar," jawab Peri Hujan. "Kau mau mendengar kisah hidup kami?"

Mely mengangguk, masih takjub.

Peri Hujan memulai ceritanya.

"Kami hidup di dalam tanah. Makanan sehari-hari kami tetesan air hujan, meski sebenarnya aroma hujan pun sudah membuat kami kenyang. Kami membantu akar-akar menyerap air supaya tanah menjadi basah. Sesudah hujan, kami akan keluar dari tanah dan memanggil Peri Embun dari dalam daun. Dengan bantuan kami, para Peri Embun akan membuat pelangi yang sekaligus adalah makanan mereka. Jika hujan tidak turun, tidak ada makanan untuk kami. Badan kami pun tidak akan kuat menembus tanah basah dan naik untuk memanggil peri Embun. Kami akan terus terkurung dalam tanah. Karena Peri Embun hanyalah setitik embun kecil, tanpa bantuan kami mereka tidak bisa membuat pelangi, tidak ada makanan untuk mereka. Jika tidak ada makanan, bangsa Peri Embun akan mati.

"Bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Mely.

"Carikan hujan untukku," pinta Peri Hujan.

"Aku tak bisa," keluh Mely. "Tapi aku bisa menyemprotkan air dari selangku."

Peri Hujan menggeleng. "Tidak bisa," katanya. "Kami membutuhkan makanan yang alami. Dari hujan yang turun dari awan. Sebenarnya kami bisa memakan air selangmu, tapi tidak baik untuk kesehatan kami."


Karya: Sri Izzati.

Monday, January 7, 2019

PAK TUA PEMUNGUT SAMPAH

Setelah mencium tanda Bunda dan mengucap salam, Ra berlari keluar rumah. Teman-temannya sudah menunggu di halaman depan, ada Fathia, Tary, dan Rita. Mereka akan pergi ke sekolah bersama-sama. Ra dan teman-temannya melambaikan tangan pada Bunda yang melepas kepergian mereka dengan senyum di depan pintu.

Belum jauh melangkah, anak-anak itu melihat seorang lelaki tua sedang mengaduk-aduk bak sampah.Setiap hari, Ra melihat orang itu mengambil sampah lalu menaruhnya di gerobak dorong tanpa merasa jijik. Sampah-sampah itu bau dan busuk. Ada kulit pisang, sayuran busuk, kertas pembungkus, botol pecah, dan lain-lain. Setiap hari Ra menutup hidung jika bertemu Pak Tua itu.

"lh, bau sekali!'' kata Ra.

"Aku jadi ingin muntah.....," bisik Rita.

"Eh, bukankah itu sampah-sampah bekas dari rumah kita juga?" bela Tary.

"Tapi kita kan mau lewat. Pak Tua itu harusnya berhenti dulu supaya baunya tidak menyengat," kata Fathia.

"Iya. Kita lari saja yuk begitu lewat gerobak sampahnya! Supaya tidak kena baunya," usul Ra.

"Yuk!" Keempat gadis itu berlari sambil tertawa-tawa.

***
"Bunda, sampah di depan rumah  bau sekali," ujar Ra seraya menghampiri Bunda yang sedang menggoreng nasi untuk sarapan. Ra masih menggenggam sapu. Karena hari ini hari Minggu, dia membantu Bunda menyapu lantai.

"Iya, sudah beberapa hari sampah tidak diambil. Pak Soleh sedang sakit. Nanti Ra antar Bunda menjenguk beliau ya?" kata Bunda. Ra sebenarnya tidak mengerti apa yang dikatakan Bunda. Tapi melihat Bunda sedang repot, Ra tidak bertanya lagi dan melanjutkan pekerjaannya.


Karya: Kanianingsih.

PIANO HATI RENA

Keluarga Darmiati ingin sekali membeli piano, sebab semua anggota keluarga Darmiati menyukai musik. Rencana membeli piano ini sangat didukung Rena. Di dalam dirinya ada semangat membara untuk mahir bermain piano. Setelah bermusyawarah, akhirnya keluarga Darmiati sepakat membeli piano. Rena senang sekali ketika papanya memutuskan ini. Dengan riang ia ikut papanya pergi ke toko alat musik.

Hari Jumat, hari yang sangat ditunggu-tunggu Rena. Truk pembawa piano yang dibeli Papa akan datang ke rumahnya. Rena dan kakaknya, Sari, sudah menyiapkan tempat untuk menaruh piano itu.

Papa punya kamar kerja. Kamar kerja itu luas sekali. Pada hanya mengisinya dengan meja komputer dan rak buku. Ketika membeli rumah ini, Papa kebingungan hendak digunakan untuk apa kamar yang satu itu, akhirnya digunakan untuk kamar kerja. Nah, karena tempatnya masih luas Rena dan Sari memutuskan pianonya ditaruh di sana saja. Lagi pula, akhir-akhir ini Papa jarang memakai komputer kamar kerja dan lebih sering bekerja di laptop milik kantor. Rena, Sari, atau siapa pun bakal bisa bebas berlatih piano tanpa mengganggu Papa. Teng....teng...teng - teng - teng - teng....

"Rajinnya anak Mama!" ujar Mama senang sambil membawakan susu. Sore itu Rena sedang berlatih piano. "Makin pintar kamu, Ren. Mama senang punya anak pintar seperti kamu."

"Rena cinta musik, Ma. Bagi Rena, musik itu indah. Dan musik yang paling indah menurut Rena adalah dentingan piano. Terasa begitu mengalun di hati," ujar Rena sambil memainkan lagu-lagu lainnya.

"Sebenarnya kepada kamu menyukai musik? Aya yang membuatmu ingin belajar piano?" tanya Mama.

"Soalnya Rena dilahirkan dalam keluarga yang suka musik. Papa, Mama, Kak Sari juga pecinta musik, kan? Masa Rena jadi pecinta..... pecinta olahraga gulat? Ya nggak lucu dong, ma," canda Rena.

Mama tertawa. "Mama daftarkan saja kamu ke tempat les piano ya, Ren? Bakat pianomu jangan disia-siakan, harus dikembangkan."

"Wah, nggak usah, Ma. Nggak usah repot-repot. Rena cinta musik, nggak berarti harus les musik juga dong. Lihat aja Kak Sari, pinter banget nyanyi, tapi nggak ikut les nyanyi."

Setiap hari kamu selalu menggunakan waktumu untuk main komputer, main sama teman-teman, bersepeda, dan lainnya. Sayang jika waktumu tidak digunakan untuk hal yang lebih berguna. Hidup jangan disia-siakan!"

Rena terdiam. "Iya sih, tapi kalau Rena ikut les piano, nanti jadi nggak ada waktu buat kumpul-kumpul sama teman-teman anggota Musical Do Re Mi."

"Apa? Musical Do Re Mi itu apa, Ren?" tanya Mama penasaran.

"Rena punya kelompok, Ma. Ketua kelompoknya Shanti. Kami menamakannya Musical Do Re Mi karena anggotanya semua pecinta musik. Rena baru saja bergabung dengan kelompok itu," jelas Rena. "Sebenarnya sih nggak susah untuk jadi anggota kelompok itu. Cuma harus memenuhi syarat aja."

"Oh, begitu...,"

"Shanti punya kertas yang isinya syarat-syarat jadi anggota. Syaratnya banyak sekali, kurang lebih ada dua puluh lima syarat. Rena nggak usah menuhin semuanya, Rena bisa milih. Di antara syarat itu, ada syarat  harus bisa jago main piano dan punya piano. Lalu ada juga syarat yang bilang anggota harus punya banyak waktu buat kumpul-kumpul, rapat, atau jalan-jalan. Rena pilih dua syarat itu. Makanya...."

"Makanya kamu mendukung sekali rencana membeli piano?"

"He-eh."

"Rena, Rena! Mama pikir kamu mau serius menekuni dunia musik. Ternyata hanya untuk memenuhi persyaratan Shanti saja. Ren, di rumah ini, yang paling banyak punya waktu untuk latihan piano itu cuma kamu. Kak Sari sibuk belajar, Papa sibuk kerja, Mama sibuk mengurus rumah. Tapi kerjaan kamu sehari-hari, selain sekolah itu maiiin saja. Kalau begitu, piano ini akan sia-sia!" tegur Mama.

"Piano ini mahal, Ren. Kalau tidak terpakai, banyak uang yang terbuang percuma. Lagi pula kamu punya bakat main piano. Siapa tahu kalau serius menekuni dunia musik, kamu bisa jadi musikus yang terkenal di seluruh Indonesia atau bahkan mancanegara. Kalau berlatih serius dan giat, bukan sekedar main-main, siapa tahu nanti ada orang yang mendengar permainan pianomu yang bagus, terus menawarimu tampil di panggung besar. Kalau kamu nggak mau, bisa-bisa orang lain yang dapat kesempatan itu. Terus kalau dia jadi musikus terkenal, mewakili Indonesia ke perlombaan musik sedunia, bagaimana? Kamu bakal menyesal, kan? Hidup itu harus diisi kegiatan-kegiatan berguna!" Nasihat Mama panjaaaang-lebar.

Rena terdiam. Ucapan Mama benar juga. Piano itu kan mahal, sayang banget kalau disia-siain. Lagi pula yang paling banyak punya waktu untuk setia main piano kan cuma dia sendiri.

Ah....hari Rena jadi terusik. Kini di hatinya tertanam keinginan untuk lebih dalam lagi mempelajari musik.


Karya: Sri Izzati

CAMPUR ADUK

BAIT 3D

Malam hari. Bintang berkelap-kelip di langit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus....berita di channel TVRI, ya seperti biasa ...

CAMPUR ADUK