CAMPUR ADUK
Thursday, July 29, 2021
LANGIT RUNTUH DAN KEJU BULAN
FENELLA DAN LEPRECHAUN
“Fenella...” Sebuah suara memanggilnya. Fenella memalingkan wajahnya. Miss Halona terlihat melambaikan tangan sambil tersenyum hangat. “Kita akan berjalan-jalan. Kau mau ikut?” lanjut perempuan bertubuh besar itu.
Fennela melompat ke lantai. Dengan kedua tangannya dia berjalan menyangga tubuh mungilnya. Miss Halona menyambut gadis kecil tak berkaki itu dengan kedua tangannya. Dia mengangkat Fenella lalu meletakkannya di sebuah kursi roda mini, yang sudah dia siapkan. Mereka meluncur menuruni tangga asrama. Di halaman, teman-temannya yang lain sudah siap dengan perbekalan masing-masing. Hari ini mereka akan piknik ke sebuah taman di pinggir hutan. Wuih ... sangat menyenangkan!
“Udara pagi yang segar. Mentari bersinar cerah.
Burung-burung bernyanyi dengan gembira…”
Miss Halona mulai bersenandung. Anak-anak kecil berwajah ceria mulai bernyanyi bersama. Suaranya riang dan gembira. Kadang mereka menari mengikuti alunan nada. Mereka berputar bergantian dengan berpegangan satu sama lain.
“Jaga barisan, jangan sampai ada yang bergerak terlalu jauh.” Kali ini Miss Maisie yang memberi peringatan. Dia berjalan paling belakang, memantau anak-anak agar tidak tertinggal.
“Kita berbelok ke kanan.” Miss Halona memberi aba-aba. Dia pun mendorong kursi roda Fenella. Gadis kecil nan mungil itu ikut larut dalam suka cita. Mulutnya tak henti berdendang. Setelah sekian lama berjalan, sampailah mereka di sebuah padang rumput yang lapang. Ada bunga-bunga cantik bermekaran.
“Wow, indah sekali tempat ini,” Fenella berteriak girang.
Teman-temannya yang lain sudah berlari-lari sambil tertawa riang. Miss Halona mengangkat Fenella dan meletakkannya di atas rumput. Fenella segera berlari menggunakan kedua tangannya, menyusul teman-temannya. Dia meninggalkan kursi rodanya begitu saja. Kali ini dia tidak sedang memerlukannya.
“Ingat, jangan terlalu jauh bermain. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam hutan,” Miss Meisie berteriak lantang. Seperti tak mendengar teriakan Miss Meisie, anak-anak itu berkejaran tanpa henti. Fenella tampak tidak ingin ketinggalan. Walaupun fisiknya tidak sempurna seperti yang lain, namun dia bisa melakukan semua yang dilakukan oleh kawan-kawannya. Kali ini, mereka bermain sembunyi endap.
Permainan sudah dimulai. Semua anak berlari mencari tempat persembunyian masing-masing. Fenella buru-buru mengayuh tubuhnya. Tangannya bergerak lincah memindahkan tubuh mungilnya. Ia bersembunyi di rerimbunan belukar. Napasnya terengah-angah. Wajahnya memerah. Sesekali dia mengintip seorang temannya, yang sedang berjaga-jaga di sebuah pohon.
Tiba-tiba, ia dikagetkan oleh suara gemerisik daun. Dia mulai khawatir jika ada binatang buas di sekitar sini. Fenella spontan menajamkan pendengarannya. Kali ini dia seperti mendengar suara palu yang dipukul. Suara itu memang tidak terlalu keras, namun Fenella dapat mendengarnya dengan jelas. Fenella mulai penasaran. Dia bergerak hati-hati, mencari sumber suara. Disibaknya segerombol tanaman perdu yang menghalangi penglihatannya. Serta merta dia melihat siluet kecil berwarna hijau. Rasa penasarannya semakin menjadi. Makhluk apakah itu? Apakah dia Leprechaun yang selama ini dia cari? Tanyanya pada diri sendiri. Hore!!! Fenella menjerit dalam hati. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Dia harus tahu, mengapa orang tuanya membuangnya di panti asuhan. Jika dia bisa menangkap Leprechaun ini, dia akan minta tolong untuk dipertemukan dengan orang tuanya.
Fenella berjalan dengan sangat hati-hati, mendekati siluet itu. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Dia takut, siluet itu akan pergi menjauh. Ketika sudah cukup dekat, Fenella dapat melihat dengan jelas sesosok makhluk kerdil berpakaian hijau, topi lebarnya juga berwarna hijau, tali pinggangnya besar berwarna hitam, dan dia sedang duduk membelakangi Fenella. Fenella tidak tau apa yang makhluk itu sedang lakukan. Namun, dia seperti memukulkan palu pada benda yang sedang dipegangnya. Jantung Fenella seakan berhenti berdetak, menahan rasa gugup yang tidak terkira. Sudah lama dia menantikan ssat ini, jadi dia tidak boleh melakukan kesalahan.
Fenella melangkah dengan sangat pelan. Lalu, dengan kedua tangannya yang kotor karena memijak tanah, dia memeluk makhluk itu erat-erat. Fenella juga melepas topi hijau milik makhluk mungil itu dengan cekatan. Dia teringat cerita Miss Halona, makhluk itu bisa menghilang atau berpindah tempat dalam sekejap, jika topi itu masih ada di kepalanya.
“Kena kau,” teriak Fenella, sambil memeluk makhluk hijau itu erat-erat. Makhluk mungil itu meronta namun, Fenella memeluknya erat. Dia tidak ingin kehilangan makhluk itu sebelum dia mengajukan tiga permintaannya.
Makhluk kerdil yang berada dalam dekapan Fenella meronta-ronta, hingga dia menjatuhkan koin emas dari kantongnya. Fenella lalu memungutnya dengan sebelah tangan. Ternyata koin-koin itu tidak disimpan di ujung pelangi, pikir Fenella. Kini, ia bisa memilikinya tanpa perlu mengambilnya ke ujung pelangi.
“Baiklah, sekarang kembalikan topiku dan lepaskanlah aku. Sebagai imbalannya, aku akan mengabulkan tiga permintaanmu,” makhluk hijau itu berkata dengan suaranya yang riang.
“Aku ingin bertemu dengan orang tuaku, aku ingin tahu mengapa mereka membuangku, dan aku ingin berkumpul serta hidup bahagia dengan mereka,” kata Fenella dalam satu tarikan nafas.
Perlahan, dia mulai mengendurkan pelukannya pada makhluk hijau itu. Fenella memerhatikan makhluk kecil dihadapannya. Fenella ingat, Miss Halona pernah bercerita tentang Leprechaun yang berbentuk menyerupai lelaki tua berjenggot dengan wajah yang menyeramkan. Tapi, makhluk hijau di hadapannya justru berwajah ceria dan tersenyum ramah. Hal ini membuat Fenella tidak merasa takut lagi. Makhluk itu kemudian mengambil topinya dan memasangnya kembali. Dia mengangkat alisnya lalu tersenyum lebar.
“Eeemmm, seekor harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri,” katanya lagi, sambil terkekeh-kekeh. Fenella terdiam, tidak ada yang lucu, tapi makhluk kecil ini tertawa terkekeh-kekeh. Dia juga tidak berkata tentang harimau yang tidak akan memangsa anaknya.
“Eeemmm… baiklah. Aku akan mempertemukanmu dengan orang tuamu.” Mulut makhluk itu komat –kamit, mengucapkan sesuatu. Kata-kata yang terlontar terdengar seperti mantra-mantra di telinga Fenella. Ketika makhluk mungil itu selesai dengan kata-katanya, tiba-tiba apa yang ada di hadapan Fennela berubah. Dia melihat seorang wanita cantik yang berdiri di sisi jendela. Pandangannya kosong. Air mata tampak meleleh di pipinya. Wajahnya mirip dirinya. Fenella terbeliak. Inikah Ibuku, batin Fenella.
Fenella belum sempat melakukan sesuatu, ketika pandangannya kembali berubah. Seorang wanita berambut merah dengan dandanan tebal tampak membawa sebuah bungkusan. Dia menyerahkan bungkusan itu ke tangan lelaki setengah baya sambil berkata, “Aku sudah mengatakan pada Angus kalau bayinya sudah meninggal. Sekarang, kau bawa bayi cacat ini ke panti asuhan. Aku tidak sudi memiliki cucu perempuan, apalagi cacat.”
Fenella melihat kejadian itu dengan mata berlinang. Ternyata, Neneknya yang telah membuangnya. Angus, apakah itu nama Ayahnya?
Tiba-tiba, pandangan matanya kembali hijau. Pohon-pohon besar dan tanaman perdu nyata terlihat di depan mata. Fenella menggeleng-gelengkan kepala. Seraut wajah bulat, bertahi lalat di atas alis, tersenyum lebar di hadapannya. “Rupanya,kau di sini Fenella, kami mencarimu dari tadi. Teman-temanmu sudah bersiap-siap untuk pulang.” Fenella tersentak. Dia spontan menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia masih di dalam hutan. Jadi, kejadian tadi itu apa, pikirnya. Fenella hanya bisa pasrah ketika Miss Halona mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di kursi roda mungilnya.
Mereka kembali berbaris untuk kembali ke panti asuhan. Sepanjang perjalanan Fenella diam, merenung. Kejadian yang baru saja dia alami, sebuah kenyataan atau hanya lamunannya saja. Perlahan, dia membuka genggaman tangannya. Koin emas. Kini, dia yakin, dia tidak sedang melamun atau bermimpi. Kejadian itu benar-benar terjadi.
Fenella mendongak sebentar. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Miss Halona yang mendorong kursi rodanya. Sesaat, dia memerhatikan wajah bulat berseri itu. Apakah ini waktu yang tepat? tanya Fenella dalam hati. Namun, dia segera mengabaikan pertanyaannya sendiri. Dia ingin tahu lebih cepat.
“Miss Halona, bolehkan aku tahu sesuatu?” tanya Fenella, pelan. Miss Halona sepertinya tidak mendengar pertanyaan Fenella. Hingar bingar suara anak-anak yang lain seolah menelan suara Fenella yang lirih. Fenella lantas mengusap lengan Miss Halona, dan wanita bertubuh tambun itu segera menoleh ke arahnya.
“Ada apa, Fenella?” suaranya kecil dan lembut.
“Siapa sebenarnya orang tuaku?”
Miss Halona menghentikan langkah, menatap mata Fenella yang tengadah, seolah bertanya mengapa mereka berhenti. Miss Halona kembali mendorong kursi roda Fenella, pelan.
“Miss Halona, mengapa Anda tidak mau menjawab pertanyaanku?” tanya Fenella lagi.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Fenella, Miss Halona berkata, “Kau tanyakan saja pada Ibu asrama. Saya tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu itu, Nak.” Fenella terdiam, dia semakin merasakan guncangan di tubuhnya. Rupanya, Miss Halona setengah berlari mendorong kursi rodanya karena mereka sudah tertinggal dari anak-anak yang lain.
Sesampai di asrama, mereka semua membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat siang. Namun, tidak demikian dengan Fenella. Dia segera menuju ke ruang Ibu asrama. Dia mengetuk pintu, perlahan, hingga terdengar suara serak Ibu asrama dari dalam. Fenella mendorong pintu itu lalu masuk. Ibu asrama menurunkan kaca mata bulat kecil ke hidungnya yang panjang. Perempuan setengah bungkuk itu tersenyum hangat melihat Fenella masuk.
“Ada apa, anakku, Fenella?”
“Maaf, Miss Humfrey, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Anda. Sudah lama saya menyimpan pertanyaan ini. Saya berharap, Anda bersedia menjawabnya,” Fenella diam beberapa saat. Dia tidak melihat reaksi apa-apa di wajah Miss Humfrey. Wajah itu tetap datar. Fenella menghela napas, memberanikan diri bertanya, “Sebenarnya, aku ingin tahu siapa kedua orang tuaku.”
Kali ini, Fenella seolah melihat kilat di mata Miss Humfrey. Wanita setengah baya itu menelan ludahnya. Dia terdiam cukup lama. Dia berpikir, apakah dia harus memberitahu siapa sebenarnya orang tua Fenella? Tapi, itu adalah rahasia yang harus tetap dijaganya sampai mati. Itu adalah janji yang sudah dia ucapkan kepada Nenek gadis kecil ini.
Fenella melihat keengganan Miss Humfrey, maka dia kembali bertanya, “Apakah Ayahku bernama Angus?”
Miss Humfey terkejut. Dia menatap Fenella. Hatinya bertanya-tanya, dari mana anak ini tahu nama itu. Tidak ada seorang pun di panti ini yang tahu asal usul Fenella, kecuali dirinya. Miss Halona dan Miss Meisie pun tidak.
Fenella menunggu jawaban Miss Humfrey dengan sabar. Namun, wanita di hadapannya itu tetap diam.
“Saya mohon Miss Humfey, mengganguklah jika apa yang saya katakan itu benar,” pinta Fenella.
Miss Humfrey tidak ingin ingin melanggar janji. Sebuah janji untuk tidak membuka rahasia keluarga Fenella, yang masih keturunan istana Longhore. Tetapi, dia juga tidak tega melihat gadis cilik di hadapannya, yang sedari tadi menatapnya dengan iba. Akhirnya, Miss Humfey mengangguk pelan.
“Apakah Anda tahu, di mana mereka tinggal Miss Humfrey?” tanya Fenella.
Miss Humfrey menarik nafas dalam. “Saya tidak bisa mengatakannya padamu, Nak. Semoga takdir mempertemukan kalian kelak.” Miss Humfrey menundukkan wajahnya. Dia semakin tidak tega melihat Fenella menjauh dari meja kerjanya dengan kursi roda mungilnya. Fenella merasa semua orang di sini menyembunyikan asal usulnya. Dia tahu jika tidak ada yang bisa dia harapkan di sini. Dia yakin Miss Humfrey tidak akan mengatakan asal-usulnya. Maka, Fenella bertekad untuk mencarinya sendiri meski dia tidak tahu bagaimana caranya.
Sore itu angin bertiup semilir. Langit penuh awan putih. Seekor burung melintas rendah di bawah jendela. Fenella sedang berdiri di samping jendela kamarnya. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat seorang bocah kecil sedang menapaki tangga asrama bersama laki-laki setengah baya dan wanita bertopi bulat, dengan warna yang lembut. Bocah kecil itu tampak seumuran dengannya. Sesampai di depan pintu asrama, lelaki setengah baya itu membunyikan bel. Mereka berdiri di sana cukup lama. Lelaki tua itu mengangkat tangannya untuk menekan bel di pintu lagi. Fenella memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. Jarak yang cukup jauh membuatnya tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Dia berpikir, bocah itu mungkin akan dititipkan di panti asuhan ini, sama seperti dirinya dan teman-teman yang lain.
Fenella menarik nafas pelan. Dia tidak habis pikir, mengapa ada orang tua yang tega membuang anaknya. Fenella teringat pengalamannya tadi siang. Sangat wajar jika Neneknya membuang dirinya yang cacat. Tapi, teman-temannya yang lain? Tubuh mereka sempurna. Mereka punya tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. Mereka cantik dan tampan. Mengapa orang tua mereka tega melakukannya? Butiran bening air mata mulai membasahi pipi Fenella. Fenella menundukkan wajahnya. Perlahan dia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Mungkin, di sini memang tempat terbaikku. Aku harus melupakan orang tuaku. Masih ada Miss Halona, Miss Meisie, dan Miss Humfrey yang sayang padanya, batinnya. Fenella pun tersenyum. Dia melihat keluar jendela lagi. Bocah laki-laki, lelaki setengah baya, dan perempuan bertopi itu sudah tidak dilihatnya lagi. Sepertinya Miss Halona sudah mempersilakan mereka masuk.
“Fenella, ada tamu untukmu.” Miss Humfrey datang dengan langkah tergesa.
“Tamu?” Fenella tertegun. Selama sembilan tahun di tempat ini, tidak pernah seorang pun datang mengunjunginya. Jantung Fenella berdetak lebih kencang. Ia senang, juga penasaran. Dia menemui tamunya di ruangan depan dengan ditemani oleh Miss Humfrey.
Fenella berhenti mengayuh. Tatapan matanya beradu dengan tatapan lembut seorang wanita bertopi bulat. Wanita itu, bukankah dia, wanita yang berdiri di depan jendela. Oh Tuhan, inikah Ibunya? Dan, laki-laki di sebelahnya, apakah dia Mr. Angus, Ayahnya? Lalu, siapa bocah lelaki itu? Wajahnya nyaris serupa dengannya. Mungkinkah dia saudaranya? Dia punya saudara? Benarkah mereka keluarganya?
Ketiga orang itu memandangi Fenella dengan pikiran mereka masing-masing. Sesaat kemudian, wanita bertopi itu berjalan, mendekati Fenella. Dia pun segera memeluk gadis mungil itu, erat.
“Anakku ... akhirnya kami menemukanmu,” isaknya. Air matanya menetes di bahu Fenella. Fenella memejamkan mata. Dia ingin merasakan pelukan ini selamanya. Pelukan seorang ibu sungguh nikmat tiada-tara.
“Oh, alangkah berdosanya ibu, Nak. Ibu tidak mengetahui keberadaanmu selama ini.” Wanita cantik itu sesenggukan. “Ibu sudah tahu kalau kalian terlahir kembar. Meski dokter mengatakan kalau salah satu di antara kalian akan terlahir cacat. Tapi, ibu bisa menerimanya,Anakku. Sayangnya, Nenekmu tidak. Dia mengatakan kalau kau lahir dalam keadaan meninggal. Ternyata kau hidup. Nenekmu sudah mengutus orang untuk membawamu kemari, Nak. Maafkan ibu Nak.”
Wanita itu terus menangis. Lelaki setengah baya itu ikut mendekat, diikuti bocah laki-laki yang mirip dengannya. Mereka memeluk Fenella, hangat.
“Maafkan ayah juga, Nak. Ayah tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga Nenekmu bisa membawamu pergi ke tempat ini. Seperti apapun keadaanmu, kami akan tetap menyayangimu, Anakku.”
Fenella tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dia pun menangis bahagia.
“Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, Saudaraku. Aku akan menjagamu,” kata Finley, saudara kembarnya, sambil tersenyum. Fenella ikut tersenyum. Dia tidak menyangka jika dia mempunyai saudara kembar laki-laki.
Miss Humfrey ikut menitikkan air mata di belakang mereka. Ia tidak menduga keluarga Fennela akan datang menjemput gadis mungil itu. Miss Halona dan Miss Meisie ikut terharu. Mereka berpegangan tangan dan tersenyum. Mereka turut merasakan kebahagiaan Fenella.
Sementara itu di sudut ruangan, Fenella melihat bayangan hijau kecil berkelebat cepat. Ekor matanya mengikuti bayangan itu. Leprechaun, Fenella mengingat permintaannya pada peri kecil itu. Sekarang, peri itu telah memenuhi janjinya. Dia bisa bertemu dengan keluarganya. Bersamaan dengan bunyi “flop”, bayangan hijau itu menghilang, meninggalkan senyum riang dan kebahagiaan bagi keluarga Fenella.
***
Caca selesai membaca bukunya, ya buku di taruh di meja.
"Cerita yang bagus asal ceritanya dari Irlandia," kata Caca.
Caca keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ibu dan ayah sedang asik nonton acara lawak yang paling populer....OVJ.
WILLEM DAN IRENE
"Baca buku," kata Diva.
Diva membuka bukunya dan di baca dengan baik buku tersebut.
Isi buku yang di baca Diva :
Beratus-ratus tahun yang lalu di sebuah desa nelayan bernama Volendam, hiduplah keluarga Jansen dan keluarga Hendrik. Masing-masing memiliki anak berumur sembilan tahun. Keluarga Jansen mempunyai anak perempuan bernama Irene dan keluarga Hendrik mempunyai anak laki-laki bernama Willem. Willem dan Irene adalah anak-anak yang rajin. Willem selalu membantu ayahnya memperbaiki jala yang rusak. Irene selalu membantu ibunya yang berjualan makanan di pinggir pantai. Suatu hari, seperti biasa Willem dan Irene menunggu kepulangan ayah mereka di pinggir dermaga. Satu per satu nelayan pulang, tapi sampai sore belum terlihat tanda-tanda kepulangan ayah mereka.
“Pak, apakah Bapak melihat ayah kami?” tanya Irene pada seorang nelayan.
“Oh, kami melihat ayah kalian menuju ke utara. Katanya, dia mau menangkap ikan tuna lebih banyak lagi,” jawab si nelayan.
Irene menatap langit di utara. Tampak awan mendung bertumpuk. Sepertinya, akan terjadi badai. Irene sangat khawatir.
“Ayah,” isak Irene.
“Jangan khawatir, Irene,” hibur Willem.
“Tapi, bagaimana kalau mereka terjebak badai? Kapalnya bisa terbalik dan tenggelam.”
“Kita bisa menolong ayah kita,” kata Willem. “Bagaimana caranya?” tanya Irene.
“Dengan berdoa,” jawab Willem mantap.
Irene memandang Willem. “Apakah Tuhan akan mendengar doa kita?” tanyanya.
“Ya, Tuhan yang mengendalikan alam. Kita harus berdoa semoga Tuhan mau menghentikan hujan dan membuat laut menjadi tenang,” kata Willem.
Mereka lalu berlutut dan berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba, langit menjadi terang dan angin yang tadinya kencang bertiup lembut. Tidak berapa lama, dari tengah taut nampak sebuah perahu. Ternyata itu memang perahu ayah mereka. Kedua anak itu berseru mengucap syukur. Ternyata, ayah mereka berhasil menangkap seekor ikan tuna yang sangat besar. Belum pernah ada nelayan lain yang pernah menangkap tuna sebesar itu.
Ayah mereka membawa ikan tuna itu ke tempat pelelangan ikan dan terjual dengan harga tinggi. Pemuda yang membeli ikan tuna besar itu ingin makan di rurnah keluarga Hendrik dan Jansen. Hendrik dan Jansen setuju. Di rumah, Willem dan Irene membawa ikan itu ke dapur untuk dibersihkan. Saat mengeluarkan isi perut ikan, mereka menemukan sebuah cincin berlian. Willem dan Irene menyerahkan cincin itu ke. pada si pemuda pembeli ikan. Pemuda itu kagum mengetahui kejujuran kedua anak tersebut.
“Seandainya mereka tidak menyerahkan cincin itu padaku, aku pun tidak akan tahu kalau ada cincin berlian di dalam perut ikan yang kubeli,” batin si pemuda.
Pemuda itu tersenyum pada Willem dan Irene Lalu, ia membuka jubah yang menutupi pakaiannya. Ternyata, pemuda itu adalah pangeran yang sedang menyamar.
“Kalian anak yang jujur,” katanya.
“Karenanya, mulai besok aku akan mengangkat Willem sebagai pengawal pribadiku. Dan Irene, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai adikku?”
Sejak saat itu, Willem dan Irene menjadi anggotz kehormatan kerajaan. Berkat kejujuran, mereka bisa hidup mulia.
***
Diva berhenti baca bukunya.
Cerita bagus asal dari Belanda," kata Diva.
Diva membaca pesan moral yang di tulis buku "Jadilah anak yang baik dan jujur. Sebab Tuhan akan memberikan kebaikan yang lebih dari apa yang telah kita lakukan. Kemudian, doakanlah keselamatan kedua orang tua kita."
Diva memahami pesan moral yang baru ia baca dengan baik. Diva menutup bukunya dan buku di taruh di meja dengan baik.
"Nonton Tv ah!" kata Diva.
Diva ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Abangnya Miki yang sedang asik nonton film Unyil.
PEDRO INGIN MASUK SURGA
"Buku siapa ya?" kata Jamimah.
Jamimah berpikir dengan baik siapa yang dateng ke rumahnya, ya sekedar main saja gitu. Jamimah inget siapa orangnya dan berkata "Abang Delon."
Jamimah mengambil buku untuk memastikan sesuatu. Ternyata ada sebuah nama di tulis di sampul buku tersebut.
"Delon. Ooooooo bukunya Abang Delon," Jamimah.
Jamimah memutuskan untuk membaca buku, ya jadinya membuka bukunya dan membaca bukunya dengan baik.
Isi buku yang di baca Jamimah :
Pedro de Urdemalas, biasa dipanggil dengan Pedro, adalah orang Spanyol. Ia adalah orang yang pandai tetapi memiliki nasib yang kurang beruntung. Pedro telah mencoba berbagai macam pekerjaan tetapi ia tetap hidup dalam kemiskinan. Pedro kemudian mencoba peruntungan dengan mendaftar menjadi prajurit kerajaan Spanyol. Ia berpikir, jika dirinya menjadi prajurit maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang makanan dan tempat tinggal. Pedro kemudian dikirim ke wilayah jajahan Spanyol yang disebut dengan “Dunia Baru”, Amerika Selatan, tepatnya Argentina.
Wednesday, July 28, 2021
KUAT DAN BIJAKSANA
"Kasino...keren juga topiknya tentang...cewek lulus kuliah," kata Indro.
"Cewek. Zaman sekarang harus pinterlah tujuannya untuk dirinya, keluarga dan orang lain," kata Kasino.
"Cewek yang di beritakan itu di hina katanya," kata Indro.
"Nama juga hidup. Ada orang baik dan ada orang buruk," kata Kasino.
"Kasihan juga, ya di hina-hina. Ya sakit hatilah," kata Indro.
"Memang sakit sih di hina-hina. Mungkin hinaannya cuma omongan saja bukan tindakan sih. Kalau cuma omongan sih tinggal tutup telinga. Kalau bertindak baru bertarung untuk membuktikan kebenaran," kata Kasino.
"Ada kata orang tua seperti ini 'Lebih baik di hina dari pada di puji, ya hinaannya cuma omongan saja sih. Maksudnya......kalau di hina, ya kita punya semangat hidup untuk membuktikan kebenaran kita bahwa kita mampu mencapai sesuatu yang di banggakan orang tua. Kalau di puji...kebiasaan manusia, ya gedek kepala.......tidak ada motivasi untuk maju ke depan lagi." kata Kasino.
"Omongan orang tua. Tujuannya mendidik anaknya agar kuat menghadapi hidup di muka bumi ini. Jalan hidup di muka bumi ini tidak selamanya mulus seperti jalan tol. Pasti ada ujiannya sampai ajal menjemput kita," kata Kasino.
"Kuat dan bijaksana dalam menyikapi hidup," kata Indro.
"Emmmm," kata Kasino.
"Setelah lulus kuliah. Seperti biasa. Ada dua pilihan. Satu...ikut orang, ya kerja di pemerintahan atau perusahaan. Kedua....menciptakan pekerjaan dari modal kecil, menengah sampai besar...bahwa kita mampu membuktikan diri punya kualitas dari pendidikan yang di jalanin sampai lulus gitu," kata Indro.
"Kenyataannya data di kumpulkan semuanya memang begitu semuanya....adanya," kata Kasino.
"Sekolah, ya kompetisi untuk pinter. Kerja, ya kompetisi untuk membuktikan kebenaran kita mampu bersaing dengan keadaan dan menjadi sukses dan kaya raya," kata Indro.
"Hidup harus berjuang mencapai apa yang kita inginkan!" kata Kasino.
"Terus berjuang sampai mencapai apa yang di inginkan dengan baik," kata Indro.
"Tidak perlu di bahas lagi. Fokus nonton Tv!" kata Kasino.
"Emmm," kata Indro.
Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget....memotivasi sih tema ceritanya. Dono masih asik baca bukunya.
TERBUKTI KEBENARANNYA
Indro mengentikan nonton Youtobe di Hp-nya dan berkata "Nonton vidio....Dr. Zakir Naik."
"Ooooo. Vidio Dr. Zakir Naik toh!" kata Dono.
"Vidio membahas ini dan itu. Kaya zaman kuliah saja!" kata Indro.
"Setelah Indro menonton vidionya Dr. Zakir Naik. Apakah Indro sudah paham dengan maksud dan tujuan itu vidio di buat?!" tanya Dono.
"Maksud dan tujuan vidio yang di buat Dr. Zakir Naik? Ya pahamlah Don. Masih berkaitan dengan ilmu agama. Penjelasannya yang begini begitu kan, ya sesuaikan dengan literature bukulah," kata Indro.
"Berarti Indro.....kuliahnya lulus," kata Dono.
"Iyalah. Aku lulus kuliah," kata Indro.
"Sejauh apa.....manusia memahami agama yang di yakininya?!" tanya Dono.
"Sejauh agama yang di yakini....itu terbukti kebenarannya," kata Indro.
"Pinter lagi Indro. Berarti lulus kuliah," kata Dono.
"Aku memang pinterlah Don," kata Indro bangga dengan dirinya.
"Apakah dari vidio Dr. Zakir Naik...pernah membuktikan kebenaran dirinya bisa bicara dengan Roh atau di sebut dengan Malaikat?!" tanya Dono.
"Kok nanya gitu Don. Aku cuma penonton yang baik saja?!" kata Indro.
"Dunia banyak ahli di bidang agama yang membicarakan kebenaran dari agama. Aku ingin membuktikan kebenaran dari apa yang aku jalanin...sama atau tidak dengan ahli agama yang namanya terus di puja sama manusia sampai gelar ini dan itu. Apakah ahli agama itu bisa bicara dengan Roh atau di sebut dengan malaikat?!" kata Dono.
"Kalau itu sih pertanyaan jebakan Don. Hal yang mustahil Don. Kalau bisa membuktikannya. Gelar profesor sekali pun kalau gagal tidak bisa membuktikannya, ya menundukkan kepalanya dengan baik!" kata Indro.
"Kalau tidak ada. Sudahlah lebih baik tidak perlu di bahas!" kata Dono.
"Iya," kata Indro.
"Aku baca buku saja!" kata Dono.
Dono mengambil bukunya di meja dan segera di baca dengan baik.
"Main game ah!" kata Indro.
Indro main game dengan baik di Hp-nya. Kasino masih terus nonton Tv, ya acara Trans 7 yang bagus-bagus acaranya.
LEGENDA DANAU TOBA
Hasil bertani beserta ikan hasil memancing ia masak untuk dijadikan lauk makanannya sementara sisanya ia jual di pasar. Selama ini mudah saja baginya mendapatkan ikan dari sungai yang berair jernih tersebut. Suatu sore, sepulangnya dari ladang, si pemuda miskin pergi memancing di sungai. Setelah sekian lama memancing, ia tak kunjung mendapatkan ikan. Kejadian seperti ini belum pernah dialaminya. Akhirnya ia menarik pancingnya kemudian memutuskan pulang ke rumah.
Namun anehnya ketika pancing ditarik, seekor ikan tiba-tiba menyambarnya. Hatinya senang ketika melihat seekor ikan mas cantik tergantung di ujung tali pancingnya. Sisik ikan mas tersebut sangat indah berwarna kuning keemasan. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya ikan seperti itu.
“Aduhai, cantiknya ikan mas yang ku dapat. Sayangnya, hanya ikan mas ini hasil tangkapanku hari ini. Aku akan membawanya pulang untuk dimasak.” ujar Toba.
Segera si pemuda bergegas pulang ke rumah untuk memasak ikan hasil tangkapannya. Setibanya di rumah, si pemuda menaruh ikan mas di sebuah wadah. Ia segera menyiapkan kayu bakar untuk memasak. Ternyata kayu bakar yang dimiliki si pemuda telah habis. Dia pun keluar untuk mengambil kayu bakar di belakang rumahnya. Setelah mengambil beberapa potong kayu bakar dia kembali ke dapur untuk memasak.
Betapa terkejutnya si pemuda, sesampainya di dapur ia mendapati ikan mas telah hilang. Namun anehnya di dekat tempat ikan mas tersebut terhampar beberapa keping uang mas. Toba terheran-heran melihat keanehan tersebut. Ia hanya melongo melihat koin emas di atas meja. Karena kebingungan, Toba kemudian masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya pemuda tersebut ketika melihat seorang wanita cantik di dalam kamarnya.
"Siapakah engkau hai wanita cantik? Darimana asalmu? Kenapa engkau ada di dalam rumahku?" Tanya si pemuda keheranan.
"Aku adalah ikan mas hasil tangkapanmu tadi, sedangkan uang emas di atas meja adalah penjelmaan dari sisik tubuhku." jawab wanita cantik tersebut.
“Namaku Putri. Aku pernah melanggar larangan Dewata hingga akhirnya Dewa memberi kutukan bahwa Aku akan berubah menjadi seekor ikan. Kutukan akan hilang dengan sendirinya jika ada manusia yang menyentuhku. Karena Engkau menyentuhku, maka Aku pun terbebas dari kutukan. Terima kasih Engkau telah membebaskanku.”
Tak pelak Toba merasa gembira bercampur bingung. Ia tak mengira ikan mas cantik yang diperolehnya menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita. Setelah memperkenalkan dirinya, tanpa berpikir panjang, Toba meminta si wanita cantik untuk menjadi istrinya.
"Oh begitu rupanya. Aku adalah seorang petani. Namaku Toba. Maukah engkau menjadi istriku hai wanita cantik?" tanya si pemuda malu-malu.
Si wanita menunduk dan terdiam sejenak, kemudian berkata "Baiklah aku bersedia menjadi istrimu tapi dengan satu syarat engkau tak boleh mengungkit-ungkit asal usulku, bahwa Aku adalah penjelmaan ikan. Jika Engkau mengungkit masa laluku, maka akan terjadi bencana besar." jawab si wanita cantik.
"Tentu saja Aku tidak perduli dengan asal usulmu. Aku menyanggupi syaratmu." ujar si pemuda sambil mengganggukkan kepala.
Tak lama kemudian merekapun menikah. Walaupun mereka berdua hidup sangat sederhana namun, waktu berlalu begitu cepat bagi sepasang suami istri yang berbahagia tersebut. Toba pun bekerja lebih giat lagi guna membahagiakan istrinya. Karena ketekunannya, kehidupan mereka berdua menjadi semakin baik. Penduduk desa menjadi gempar dengan kehadiran wanita cantik yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka sering bertanya kepada Toba perihal asal-usul istrinya yang cantik. Namun Toba tidak pernah memperdulikan penduduk desa. Perubahan kehidupan Toba yang mulanya seorang pemuda miskin menjadi mapan membuat penduduk desa mengira Toba memelihara mahluk halus. Namun Toba tak pernah memperdulikan gunjingan penduduk desa.
Tanpa terasa Toba dan Putri akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samo. Samo tumbuh menjadi anak yang sehat. Ibunya sangat memanjakan Samo. Apapun yang diminta Samo akan dipenuhi oleh ibunya. Akibatnya setelah berumur 6 tahun, Samo berubah menjadi anak sangat nakal dan sulit untuk di nasehati.
Samo lebih senang bermain dan bermalas-malasan daripada membantu kedua orang tuanya. Ibunya sering menyuruhnya mengantarkan nasi untuk ayahnya di ladang, tapi Samo selalu menolaknya. Ibunya terpaksa mengantarkan sendiri nasi untuk suaminya ke ladang.
Suatu hari, seperti biasanya, Samo disuruh ibunya mengantarkan nasi untuk ayahnya di ladang. Awalnya ia tidak mau, tapi karena ibunya terus memaksa akhirnya ia pun pergi ke ladang mengantarkan bungkusan nasi untuk ayahnya. Sang ibu memberikan bungkusan berisi nasi dengan lauk ikan. Di tengah perjalanan ke ladang, Samo merasa lapar.
“Aduh perutku keroncongan setelah lama bermain tadi. Ya sudah Aku makan saja bungkusan nasi ini.”
Samo kemudian memakan nasi untuk ayahnya hingga habis. Samo hanya menyisakan tulang ikan. Ia kemudian membungkusnya kembali. Sesampainya di ladang, Samo memberikan bungkusan nasi pada ayahnya. Karena sudah sangat lapar, ayah Samo langsung membuka bungkusan nasi tersebut. Ia terkejut saat mengetahui isi bungkusan hanya berisi tulang ikan. Si ayah kemudian memarahi Samo. Toba Melanggar Sumpahnya
"Hai Samo!, apa yang kamu lakukan? Kenapa di dalam bungkusan hanya berisi tulang ikan? Kau kah yang memakannya?" teriak ayahnya pada Samo.
"Maaf ayah, di jalan perut saya terasa lapar, jadi saya makan nasi punya ayah." kata Samo ketakutan.
Si ayah marah besar kemudian menampar pipi anaknya sambil berkata bahwa anaknya adalah anak ikan.
“Memang benar-benar kamu ini keterlaluan!. Tak bisakah Kau membantu orang tuamu. Kenapa kamu sulit sekali diatur? Mungkin karena kamu anak ikan!"
Samo menangis karena di tampar ayahnya. Ia berlari pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Samo mengadu pada ibunya bahwa ayahnya telah memukulinya sambil mengatainya sebagai anak ikan. Samo bertanya pada ibunya apakah ia memang benar anak ikan.
"Ibu...benarkah apa yang dikatakan ayah bahwa aku anaknya ikan?"
Sang ibu kaget mendengar pertanyaan anaknya. Sambil menangis ia memeluk Samo. Sang ibu berkata bahwa ayahnya telah melanggar sumpah.
"Anakku, Ibu memang seorang ikan yang berubah menjadi manusia. Tetapi, Ayahmu telah melangar sumpahnya. Ia bersumpah tak akan mengungkit asal-usul ibu. Engkau pergilah ke atas bukit, naiklah pohon yang tinggi untuk menyelamatkan dirimu. Sedangkan ibu harus kembali ke alam ibu."
Samo segera menuruti perintah ibunya dengan pergi menyelamatkan diri ke atas bukit. Setelah tampak olehnya Samo menaiki pohon tinggi di atas bukit, Ibu Samo segera berlari menuju sungai. Saat itu terdengar petir menyambar-nyambar di susul hujan deras. Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap.
Ibu Samo kembali berubah menjadi seekor ikan dan kemudian menghilang entah kemana, sedangkan dari bekas telapak kakinya keluar air sangat deras. Tidak lama kemudian tempat tersebut tergenang air membentuk sebuah danau. Sementara si ayah tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia mati terseret arus air yang deras. Masyarakat kemudian menyebut danau tersebut dengan nama Danau Toba.
***
Bonar mengentikan baca bukunya.
"Cerita yang bagus asal dari Sumatra Utara," kata Bonar.
Bonar melanjutkan baca bukunya.
Isi lanjutan buku yang di baca Bonar :
Hingga kini tidak ada yang mengetahui keberadaan Samo namun, bukit tempat menghilangnya samo yang terletak di tengah danau, disebut dengan nama pulau Samosir (Samo yang diusir). Kata Toba memiliki arti tidak tahu balas budi. Seiring waktu, masyarakat lambat laun menyebut Danau tersebut dengan nama Danau Toba. Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Di tengah danau terdapat sebuah pulau bernama pulau Samosir. Sekitar 74ribu tahun lalu, terjadi letusan dahsyat sebuah gunung api super. Sebagai hasilnya, terbentuk sebuah kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi sebuah danau. Sementara sisa magma yang belum keluar menekan ke atas bagian tengah kaldera hingga menjadi sebuah pulau, yaitu pulau Samosir.
Bonar menyelesaikan baca bukunya, ya buku di tutup dan juga di taruh di meja dengan baik banget.
CAMPUR ADUK
SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS
Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...
CAMPUR ADUK
-
1. Asal Usul Pangeran Jayakusuma Alkisah cerita, ada sebuah kerajaan yang besar di daerah Timur dengan rajanya yang bernama Prabu Braw...
-
Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan...
-
Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon ceramah yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Slamet m...






