Malam yang tenang di kediaman Dono di pinggiran sudut kota Jakarta. Dono sedang duduk santai di depan teras depan rumahnya sambil memainkan gitar dan mengalunkan sebuah syair lagu.
Isi syair lagu di nyanyiin Dono :
"Kau gadisku yang cantik
Coba lihat aku di sini
Di sini ada aku yang sayang padamu
Kau gadisku yang manis
Coba dekat aku di sini
Di sini aku yang cinta padamu
Walau ku tahu bahwa dirimu
Su..da ada yang punya
Namun kan ku tunggu sampai kau mau
Jangan-jangan kau menolak cintaku
Jangan-jangan kau ragukan hatiku
Ku kan selalu setiap menunggu
Untuk jadi pacarmu
Jangan-jalan kau tak terima cintaku
Jangan-jangan kau hiraukan pacarmu
Pu....tuskanlah saja pacarmu
Lalu bilang I Love You Padaku"
Dono pun selesai menyanyikan syair lagu dengan baik beserta main gitarnya. Saat mau menyanyikan syair lagu ke dua. Indro duduk di sebelah Dono sambil membawa gorengan yang di taruh meja.
"Stop nyanyinya....makan camilannya. Yang saya...beli dari warungnya Nabila," kata Indro.
"Iya," saut Dono.
Dono menaruh gitarnya di kursi di samping Dono. Segera Dono mengambil gorengan sama cabe rawit. Dengan santai Dono menikmati gorengan yang enak.
"Dono....saya...ingin bertanya ke kamu sesuatu yang cukup menarik. Tapi....cuma permainan. Asik-asik gitu. Masih...urusan cewek gitu?!" kata Indro.
"Urusan....cewek...males ah...Indro. Lebih baik ngomongin yang lain," saran Dono.
"Kalau...ngomongin cowok....nanti di kirain....Homo atau Gay," kata Indro.
"Ya....gak...segitunya...kali. Itukan cuma kencenderungan...dari negatifnya pola pisikologisnya....manusia alias sakit jiwa. Ya....udah apa topik masalah yang harus di bicarakan!," penjelasan Dono.
"Ok...Dono. Mana yang cantik antara Putri, Rara, Aulia dan terakhir Selfi.......ya...masih berkenaan penyanyi dangdut," kata Indro.
"Aduh....kenapa urusan mereka berempat lagi. Kaya gak ada yang lain?" kata Dono.
"Ada...sih....urusannya berkenaan dengan Pemerintahan," saut Indro.
"Ok....saya jawab. Kalau urusan Pemerintahan....saya males membicarakannya. Jadi....yang cantik dari ke empat artis penyanyi dangdut....adalah....Aty," kata Dono.
"Kenapa Aty....jawabannya harusnya salah satu dari mereka berempat artis penyanyi dangdut?"
"Aty....cantik....orang di cewek. Ya...walau tubuhnya gembul aja alias gemuk. Ya tetap cantik...lah dari kaca mata saya. Alasannya....harus melihat dari kelebihan dan kekurangan dari Aty dan.....menyatakan Aty....ya cantiklah. Namanya penilaian cowok," penjelasan Dono.
"Kenapa gak Putri?" kata Indro yang mendesak Dono.
"Aty," saut Dono.
"Kenapa gak Rara?"
"Aty,"
"Kenapa gak Aulia?"
"Aty,"
"Kenapa gak...Selfi yang terakhir Don...?"
"Aty....jawaban saya tidak bisa di gangu gugat.... titik," kata Dono.
"Padahal....kalau di tulis di Blog... Aulia yang cantik," kata Indro.
"Kalau......itu sih lain cerita. Hanya konsisten saja dalam tulisan. Kalau pernyataan awalnya di tulis ...Aulia cantik....maka selanjutnya tetap cantik...walau topik cerita di ubah-ubah gimana pun?!" penjelasan Dono.
"Jadi....bener kan Aulia...cantik. Membuat kamu cemburu....kalau ada cowok yang mendekati....Aulia. Berarti suka....beneran alias cinta?" Indro yang memanas-manasin Dono.
"Enggak....lah...Putri....
cantik," kata Dono.
"Dono kamu....ngeles....tetap Aulia," kata Indro.
"Enggak...lah....Rara... yang cantik," kata Dono.
"Dono....itu tetap ngeles.....yang bener Aulia," kata Indro.
"Enggak....lah yang bener Selfi yang cantik...," kata Dono.
"Tetep ngeles....tanda buktinya pernah di tulis....Aulia penyanyi dangdut itu cantik," penjelasan Indro.
"Iya....saya...menyerah. Memang bener Aulia cantik. Hanya sekedar memujinya saja. Kan terlihat dari penampilan dia saat manggung di acara perlombaan menyanyi. Tapi...yang sebenarnya....cantik itu relatif. Saya bisa menilai Aulia cantik berdasarkan diri saya sendiri...maksudnya kaca mata seorang cowok. Tapi....belum tentu...kaca mata cowok yang lain. Alasannya....sih....selera," penjelasan Dono.
"Jawabannya...Cantik Relatif. Itu sih harga mati. Karena saya juga memandang cewek juga....sesuai selera juga. Tapi bagaimana....pandangan cewek terhadap...cowok...ya...Don?" kata Indro.
"Sama aja pandangan cewek menilai cowok. Relatif Gantengnya cowok....di lihat dari sudut kaca mata cewek. Ya...pada akhirnya....cewek juga milih juga untuk jadiin pacar atau.....suami alias pasangan seumur hidup," penjelasan Dono.
"Jadi....kesimpulannya yang kamu pilih dari permainan ini mana cantik dari keempat artis dangdut kamu sukai Dono?" tanya Indro.
"Ya....berdasarkan konsisten tulisan di Blog ....Aulia. Kalau....kenyataannya sih.....ya...Rahasialah," kata Dono.
"Berarti...Aulia cantik....pujian Dono....sama aja pujian.....dari penulis....alasannya konsisten pada tulisan. Jadi....Cantik itu Relatif di pandangan cowok," kata Indro.
'Ya...itulah. Jawabannya....Cantik itu Relatif," tegasnya Dono.
Dono dan Indro asik ngobrol. Kasino pun baru pulang dari urusannya dan duduk di antara Dono dan Indro. Karena laper...ya Kasino mengambil gorengan di meja dan juga aqua gelas di bawah meja yang di siapkan untuk tamu.
Kasino dengan lahap makan gorengan hampir habis itu gorengan di piring. Dono dan Indro ya santai aja. Saat mau ngobrol lagi antara Dono dan Indro. Langsung Kasino nimbrung juga. Suasana lebih asik lagi. Tema yang di obrolin tentang pertemuan Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo karena lagi hits di beritakan di media apapun. Dono menanggapinya dengan baik "Semuanya demi Indonesia".
Indro...pun sepakat dengan Dono "Ya...demi..Indonesia".
Kasino jauh lebih mengerti lagi dan paham....urusan sistem pemerintahan pada akhirnya yang paling baik adalah "Demokrasi".
"Damai..itu indah. Semuanya....dasarnya adalah rakyat. Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo... adalah rakyat yang berani untuk menjadi pemimpin di Indonesia. Jadi....ya....bangsa Indonesia telah berdemokrasi dengan baik," kata Dono.
"Betul...itu," saut Indro dan Kasino bersamaan.
"Oh...iya...Kasino....seharian ini kemana aja....kok...terlihat heppy...banget?" tanya Dono.
"Dari....ngajak nonton Selfi ke Bioskop.....," saut Kasino.
"Kencan....dong," saut Indro.
"Beneran kencan itu..mah..Kasino," kata Dono juga.
"Mau...begitu. Putri..ikutan juga...ingin nonton Film di Bioskop. Saat saya datang ke rumah Selfi....untuk ngajak Selfi untuk berangkat nonton Film.....Putri dateng juga berkunjung ke rumah Selfi....ya...bujuk rayunya Putri yang manis. Dan saya gak tegaan juga. Di tambah Selfi yang meminta ngajak Putri juga. Ya...mau gak mau...di ajak juga. Nonton Film di Bioskop...di Mega Mall," cerita Kasino.
"Sempet pegangan tangan sama Selfi gak Kasino?" tanya Indro yang antusias.
"Boro-boro. Orang saya di anggurin. Malah...sibuk ngobrol Selfi dan Putri urusan cewek...lah. Ya....jadi....momentnya....yang romantis...jadi gak ada," kata Kasino.
"Kaya...ada yang aneh dari omongan kamu.....Kasino?" kata Dono.
"Kaya bukan Kasino...saja," tambahan Indro.
"Iya.. deh...saya...ngakuk. Yang bener sih. Saya ngajak nonton Selfi dan Putri ke Bioskop. Ya..tetap sih saya ngobrol bareng mereka berdua....lagian hanya teman gak ada motif untuk mendapatkan hati....walau ada sedikit sih. Tetap....normal-normal aja," cerita sebenarnya Kasino.
"Nah..itu baru Kasino. Cuma temanan sama Putri dan Selfi," saut Indro.
"Ya...udahlah...ngobrolnya....saya lebih baik nonton acara Tv...sepak bola," kata Dono.
Dono beranjak dari duduk menuju ke dalam rumah langsung ke ruang tengah.
"Ikutan....Dono," teriak Indro.
"Saya...juga," saut Kasino juga.
Dono menghidupkan Tv dan nonton acara sepak bola yang di tayangkan cenel Tv. Kasino dan Indro...ikutan juga....asik nonton acara sepak bola yang di tayangkan di Tv.
Karya : No
CAMPUR ADUK
Sunday, July 14, 2019
Tuesday, July 9, 2019
PENILAIAN
Indro sibuk masak di dapur. Dono sibuk memeriksa jaringan di internet. Indro pun selesai masak masakan nasi goreng spesial telor ceplok dan di suguhin di meja makan.
"Dono makan!" teriak Indro.
"Iya..,"saut Dono.
Dono beranjak dari duduk di ruang tamu menuju ruang tengah tepatnya di mana Indro berada yang sedang asik makan nasi goreng.
"Nasi..goreng hari ini....Indro?"
"Iya.... simpel cepat dan saya laper," penjelasan Indro.
Dono pun makan nasi goreng di piring yang sudah di buatkan Indro. Beberapa suapan nasi goreng buatan Indro sudah makan Dono.
"Enak...Indro," pujian Dono.
"Indro gitu....koki memasak jenis masakan apapun...lumayan bisa," kata Indro agak sombong...kan diri.
"Kok...lumayan?"
"Kalau..bahan yang di buat. Orang saya masak....dengan bahan secukupnya. Murah meriah....yang penting kenyang dan enak."
"Itu...sudah....bisa selera orang yang berpikir sederhana...tidak berlebihan. Terlihat dari pola memasak dan hasil masakannya. Enak dan mengenyangkan," kata Dono.
"Iya...saya...mengerti. Oh..Dono kamu itu lagi makan..tapi serius baca...tulisan di Hp kamu?"
"Saya...lagi proses penelitian tentang komunitas....yang menyukai musik dangdut. Komentarnya....beragam...ya...relatif gitu...Indro."
"Kaya aneh...kamu sampe memeriksaan komunitas dangdut. Coba saya tebak. Jangan ada urusannya Putri, Aulia, Rara, dan Selfi?"
"Ya....begitulah...Indro."
"Jadi...melanjutkan pokok masalah kemarin penggemar...toh. Tujuan...apa..sih...Don. Padahal...mereka masih...di acara dangdutan......sebagai rival....dalam ajang tersebut?"
"Tujuannya....hanya..ingin tanggapan dari penggemar yang lain. Kalau satu aja.....sih...kaya.....kurang meyakinkan."
"Iya...juga. Tapi....mereka bertandingkan...belum tentu juara."
"Hus...salah. Mereka sudah juara. Hanya...terbaik di antara terbaik. Jadi....jadi bintang yang sebenarnya."
"Kenapa....hanya artis cewek yang kamu sukai....Dono?"
"Kata siapa...hanya artis cewek yang sukai. Saya...mensurvei....seluruh bintang dangdut yang bertanding. Ya....hasilnya..sih relatif kalau...dari kaca mata penggemar masing-masing. Saya...memberi nilai...(1)."
"Satu... Don. Pelit amat ngasih nilai para peserta bintang dangdut?"
"Satu... itu. Indro udah... tinggi tinggal tambahin.. nol berapa aja saya bolehkan."
"Kalau...begitu saya kasih nol dua jadinya seratus kalau kasih duabelas jadinya....satutriliun. Penilai...ini...memang tinggi untuk artis dangdut yang lagi kompetisi. Tapi saya mau...tanya..yang jujur dari empat cewek yang kamu pilih mana....yang disukai...dan di dukung?"
"Putri," jawab Dono.
"Kenapa Putri...bukannya Rara...padahal...sering di kaitkan hubungan percintaan sama kamu...Dono dalam tulisan di Blog?"
"Alasannya....karena paling tua di tulis di Blog ya...Putri..sih...Indro."
"Kaya...ada..yang lebih tua tuh...namanya sering di pake dalam tulisan Blog. Yang...judulnya...Bidadari."
"Maksudnya....Lesti. Ah...itu sih...lain cerita...Indro."
"Oh...begitu. Kenapa gak Aulia aja?"
"Alasannya...sih. Ya...gak..jauh dengan Rara."
"Gimana dengan...Selfi?" tanya Indro.
"Ya...sama..aja," jawab Dono.
"Kalau...hanya..paling lama di tulis namanya..ada yang anehlah. Harus mendetel...lah kenapa suka sama Putri?"
"Kalau ..suka gak perlu alasan. Kalau...cinta...baru..kenapanya?"
"Iya...juga....suka di bikin mudah aja kaya makan. Kalau suka saya makan..terus makan itu..sampe puas. Kalau cinta....pada makan..tersebut...gak enak juga....kan ada jenis makan lain. Cinta cenderung...satu yang di pilih. Kalau...urusan...cewek..juga permintaannya...satu cinta. Gak mau di selingkuhin atau di poligami."
"Jadi..cinta harus punya alasan...kan," saut Dono.
"Iya...juga...ya. Namanya cinta seseorang harus punya alasan....nanti di kirain...bohongan. Agak..rebet urusan...cinta....kaya..iya dan tidak. Don...Rara....yang ada hubungan dengan penulis dunia....kenyataan..orang...seperti apa sih?"
"Rara...di dunia kenyatan penulis...ya. Seorang gadis muslimah...yang baik," sedikit cerita Dono.
"Muslimah toh. Jadi...jauh dong antara realita dengan maya. Kalau di Tv....bintang artis yang di sukai....jauh...dari kreteria yang asli dari penulis," kata Indro.
"Ya....cuma...penggemar. Memberikan suka dan cintanya....dengan Ikhlas dan tulus....tidak harap di kembalikan,"
"Oh..iya...Don...jadi kenapa kamu menilai mereka biasanya kamu netral?" tanya Indro.
"Kan....alasannya harus menilih yang suka walau....pada akhir belum tentu menang."
"Iya..juga...ya. Semua bintang dangdut sudah juara nilai mereka pun di anggap 100 poin dari mata penggemar. Tetap aja kalau di tandingin lagi di buat nol semuanya di pilih yang paling....suka ya...jadinya Putri. Masalah....di nilai faktor ini dan itu lebih panjang ceritanya...untuk menjelaskan lebih baik....suka aja dengan penampilan Putri dan warna vokalnya.......kan Don," kata Indro.
"Itu...tahu. Dari penampilan dan warna vokal," saut Dono.
"Ya...udah..terusin kerjaan kamu!"
"Iya."
Dono asik makan nasi goreng sambil membaca data di Hpnya. Indro juga asik makan nasi gorengnya sampe...nambah. Padahal di siapkan untuk Kasino. Tapi...nama..Indro yang masak...kan bisa diatur.
"Oh..Iya..Dono...gimana kabar Lulu?" tanya Indro.
"Itu..jangan...di bahas..itu kisah masa lalu penulis yang gak pedulin oleh...penulis...sudah istri orang. Cinta penulis Ikhlas dan tulus. Ceweknya mau sama penulis, tapi penulisnya diam. Sampai...Alloh SWT...mendatangkan jodoh..terbaik..untuk Lulu. Jadi gak perlu di bahas," kata Dono.
"Kisah..cinta penulis itu bener ribet. Ada..yang meninggal. Ada...sudah jadi istri orang. Ada...cewek sampe sekarang...mau sama penulis...namanya Gita. Tetap penulis..diam," kata Indro.
"Gak..usah di bahas. Titik gak pake koma. End!!!," kata Dono.
"Iya...deh," saut Indro.
Indro melanjutkan makannya dan Dono juga sambil baca banyak data di Hpnya.
Karya : No
"Dono makan!" teriak Indro.
"Iya..,"saut Dono.
Dono beranjak dari duduk di ruang tamu menuju ruang tengah tepatnya di mana Indro berada yang sedang asik makan nasi goreng.
"Nasi..goreng hari ini....Indro?"
"Iya.... simpel cepat dan saya laper," penjelasan Indro.
Dono pun makan nasi goreng di piring yang sudah di buatkan Indro. Beberapa suapan nasi goreng buatan Indro sudah makan Dono.
"Enak...Indro," pujian Dono.
"Indro gitu....koki memasak jenis masakan apapun...lumayan bisa," kata Indro agak sombong...kan diri.
"Kok...lumayan?"
"Kalau..bahan yang di buat. Orang saya masak....dengan bahan secukupnya. Murah meriah....yang penting kenyang dan enak."
"Itu...sudah....bisa selera orang yang berpikir sederhana...tidak berlebihan. Terlihat dari pola memasak dan hasil masakannya. Enak dan mengenyangkan," kata Dono.
"Iya...saya...mengerti. Oh..Dono kamu itu lagi makan..tapi serius baca...tulisan di Hp kamu?"
"Saya...lagi proses penelitian tentang komunitas....yang menyukai musik dangdut. Komentarnya....beragam...ya...relatif gitu...Indro."
"Kaya aneh...kamu sampe memeriksaan komunitas dangdut. Coba saya tebak. Jangan ada urusannya Putri, Aulia, Rara, dan Selfi?"
"Ya....begitulah...Indro."
"Jadi...melanjutkan pokok masalah kemarin penggemar...toh. Tujuan...apa..sih...Don. Padahal...mereka masih...di acara dangdutan......sebagai rival....dalam ajang tersebut?"
"Tujuannya....hanya..ingin tanggapan dari penggemar yang lain. Kalau satu aja.....sih...kaya.....kurang meyakinkan."
"Iya...juga. Tapi....mereka bertandingkan...belum tentu juara."
"Hus...salah. Mereka sudah juara. Hanya...terbaik di antara terbaik. Jadi....jadi bintang yang sebenarnya."
"Kenapa....hanya artis cewek yang kamu sukai....Dono?"
"Kata siapa...hanya artis cewek yang sukai. Saya...mensurvei....seluruh bintang dangdut yang bertanding. Ya....hasilnya..sih relatif kalau...dari kaca mata penggemar masing-masing. Saya...memberi nilai...(1)."
"Satu... Don. Pelit amat ngasih nilai para peserta bintang dangdut?"
"Satu... itu. Indro udah... tinggi tinggal tambahin.. nol berapa aja saya bolehkan."
"Kalau...begitu saya kasih nol dua jadinya seratus kalau kasih duabelas jadinya....satutriliun. Penilai...ini...memang tinggi untuk artis dangdut yang lagi kompetisi. Tapi saya mau...tanya..yang jujur dari empat cewek yang kamu pilih mana....yang disukai...dan di dukung?"
"Putri," jawab Dono.
"Kenapa Putri...bukannya Rara...padahal...sering di kaitkan hubungan percintaan sama kamu...Dono dalam tulisan di Blog?"
"Alasannya....karena paling tua di tulis di Blog ya...Putri..sih...Indro."
"Kaya...ada..yang lebih tua tuh...namanya sering di pake dalam tulisan Blog. Yang...judulnya...Bidadari."
"Maksudnya....Lesti. Ah...itu sih...lain cerita...Indro."
"Oh...begitu. Kenapa gak Aulia aja?"
"Alasannya...sih. Ya...gak..jauh dengan Rara."
"Gimana dengan...Selfi?" tanya Indro.
"Ya...sama..aja," jawab Dono.
"Kalau...hanya..paling lama di tulis namanya..ada yang anehlah. Harus mendetel...lah kenapa suka sama Putri?"
"Kalau ..suka gak perlu alasan. Kalau...cinta...baru..kenapanya?"
"Iya...juga....suka di bikin mudah aja kaya makan. Kalau suka saya makan..terus makan itu..sampe puas. Kalau cinta....pada makan..tersebut...gak enak juga....kan ada jenis makan lain. Cinta cenderung...satu yang di pilih. Kalau...urusan...cewek..juga permintaannya...satu cinta. Gak mau di selingkuhin atau di poligami."
"Jadi..cinta harus punya alasan...kan," saut Dono.
"Iya...juga...ya. Namanya cinta seseorang harus punya alasan....nanti di kirain...bohongan. Agak..rebet urusan...cinta....kaya..iya dan tidak. Don...Rara....yang ada hubungan dengan penulis dunia....kenyataan..orang...seperti apa sih?"
"Rara...di dunia kenyatan penulis...ya. Seorang gadis muslimah...yang baik," sedikit cerita Dono.
"Muslimah toh. Jadi...jauh dong antara realita dengan maya. Kalau di Tv....bintang artis yang di sukai....jauh...dari kreteria yang asli dari penulis," kata Indro.
"Ya....cuma...penggemar. Memberikan suka dan cintanya....dengan Ikhlas dan tulus....tidak harap di kembalikan,"
"Oh..iya...Don...jadi kenapa kamu menilai mereka biasanya kamu netral?" tanya Indro.
"Kan....alasannya harus menilih yang suka walau....pada akhir belum tentu menang."
"Iya..juga...ya. Semua bintang dangdut sudah juara nilai mereka pun di anggap 100 poin dari mata penggemar. Tetap aja kalau di tandingin lagi di buat nol semuanya di pilih yang paling....suka ya...jadinya Putri. Masalah....di nilai faktor ini dan itu lebih panjang ceritanya...untuk menjelaskan lebih baik....suka aja dengan penampilan Putri dan warna vokalnya.......kan Don," kata Indro.
"Itu...tahu. Dari penampilan dan warna vokal," saut Dono.
"Ya...udah..terusin kerjaan kamu!"
"Iya."
Dono asik makan nasi goreng sambil membaca data di Hpnya. Indro juga asik makan nasi gorengnya sampe...nambah. Padahal di siapkan untuk Kasino. Tapi...nama..Indro yang masak...kan bisa diatur.
"Oh..Iya..Dono...gimana kabar Lulu?" tanya Indro.
"Itu..jangan...di bahas..itu kisah masa lalu penulis yang gak pedulin oleh...penulis...sudah istri orang. Cinta penulis Ikhlas dan tulus. Ceweknya mau sama penulis, tapi penulisnya diam. Sampai...Alloh SWT...mendatangkan jodoh..terbaik..untuk Lulu. Jadi gak perlu di bahas," kata Dono.
"Kisah..cinta penulis itu bener ribet. Ada..yang meninggal. Ada...sudah jadi istri orang. Ada...cewek sampe sekarang...mau sama penulis...namanya Gita. Tetap penulis..diam," kata Indro.
"Gak..usah di bahas. Titik gak pake koma. End!!!," kata Dono.
"Iya...deh," saut Indro.
Indro melanjutkan makannya dan Dono juga sambil baca banyak data di Hpnya.
Karya : No
Friday, July 5, 2019
CEMBURU
Dono asik menonton di Hpnya lewat jaringan Youtobe tentang Nasar ingin mendapatkan cintanya Aulia....dengan menciptakan moment kemersaan keduanya.
"Kebakaran...kebakaran....," kata Dono sepontan api cemburunya bangun dari dalam diri.
Indro mendengar suara yang lantang dari Dono langsung panik banget. Padahal lagi asik masak di dapur. Segera kompor di matikan oleh Indro. Bergeraklah Indro ke kamar mandi untuk mengambil ember berisi air langsung bergerak menuju Dono berada.
"Mana yang kebakaran Don?" tanya Indro.
"Indro...mau ngapain kamu?" tanya Dono.
"Mademin...api," kata Indro.
"Cat....cat...cat," kata Kasino.
"Kok...di...cat sih Kasino?" tanya Dono dan Indro bersamaan.
"Espresi kalian kurang....banget...terlihat di kamera. Coba...lebih...mengesplor diri kalian....berdua..agar...jauh lebih natural," penjelasan Kasino.
"Perasaan udah...bener berdasarkan naskah...yang saya buat," kata Dono.
"Maksudnya seperti ini," kata Indro sambil menumpahkan air di ember ke tubuh Dono.
"Buyur....," suaranya.
"Gila..Indro. Basah kuyup tahu," kata Dono yang kesel.
"Inikan..lebih...natural banget," saut Indro.
"Ok.....cat. Semuanya bagus. Adegan yang di ambil sip. Kita istirahat dulu...nanti pengambilan adegan berikutnya di tempat lain....sekarang lagi di atur semuanya," kata Rara jadi sutradara dalam proses pengambilan film yang sebenarnya.
Indro duduk istirahat untuk pengambil adegan berikutnya. Dono kedinginan di selimutin oleh anduk tebal karena adegannya beneran di guyur air. Kasino pun nyantai juga.
"Kenapa saya dapet...adegan yang sial ini..ya. Padahal saya tokoh utama dalam film ini," kata Dono.
"Ya....Dono...yang sabar ya. Yang buat naskah cerita?" tanya Indro.
"Saya," saut Dono.
"Ya....Produser film?" tanya Indro.
"Saya," jawab Dono.
"Yang....sutradaranya....pengambilan film siapa?" tanya Indro.
"Kasino," kata Dono.
"Bukanlah. Saya..sutradara dalam film yang....sutradaranya....cewekmu.....tuh Dono. Rara.....seneng banget mengubah naskah cerita untuk mengebuli kamu di adegan pengambilan film ini....agar lebih natural....maunya sutradara," kata Kasino yang menjelaskan.
"Gini...nie. Kalau kerjaan di berikan kekuasaan penuh sama cewek....saya kena getahnya," kata Dono.
"Tapi...cinta...kan...sama Rara?" saut Indro.
"Tahu...ah. Lagi...kesel..nie. Naskah cerita di ubah...seenaknya," kata Dono.
"Terima....nasif...aja?" kata Indro.
"Terima...aja....Dono jadi tokoh utama yang di buli," tambahan Kasino.
"Iya..saya terima...adegan ini gak masalah. Adegan berikutnya...ini. Saya mendatengi....Aulia...untuk ngajak jalan....eee..tiba-tiba...Selfi dateng marah-marah...di kirain...selingkuh...sampe di tampar...itukan sih bohongannya sesuai naskahnya. Kalau embel-embel di tambahkan oleh Aulia bener-bener memberikan kemersaan bersama.....saya. Yang panas nanti Rara. Habis saya...di tampar Rara...karena api cemburunya. Yang...seneng....adalah kalian...semuanya sampe penonton juga," kata Dono.
"Ya...iyalah...," saut Indro dan Kasino bersamaan.
"Saya...ikut..juga. Idem," teriak Rara.
"Kan...bener....naskah ceritanya bisa berubah lagi," kata Dono.
"Yo....i. Kan...sutradara yang aslikan....penulisnya," kata Kasino.
"Kacau...nie. Positif....sial....banget," kata Dono yang kesel.
"Ayo..suting lagi!" panggilan Rara untuk semua pemain.
"Ya...di mulai lagi...kan. Sial...bener..nasif...ku. Di buli pacar dan temen-temen," kata Dono yang mau nangis.
"Yang...sabar..ya..Don," kata Indro.
"Yang tabah..Don. Ikhlas...menjalankan pekerjaan jadi aktor yang penuh penjiwaan setiap melakoni setiap adegan yang di ambil," tambahan Kasino.
"Ya....deh. Terima nasif aja," saut Dono.
Dono pun mulai pengambilan adegan film berikutnya sesuai dengan naskah campur aduk bersama pemeran yang telah di tentukan penulis.
Karya : No
Thursday, July 4, 2019
HAY PUTRI
Seusai menyelesaikan tugas kuliah Doni berjalan-jalan keluar dengan mengayuh sepedahnya. Tanpak ke jauhan melihat Putri terburu-buru yang arahnya mau menuju mini market.
Doni menghampiri Putri dengan cepat mengayuh sepedahnya.
"Hay...Putri....buru-buru amat mau kemana?" tanya Doni sambil mengikuti Putri yang sedang berjalan.
Putri menghentikan langkahnya begitu juga dengan Doni mengerem sepedah dan tidak mengayuh sepedah lagi.
"Doni......mau ganggu atau nolong?" tanya Putri.
"Kalau kamu butuh bantuan...sih ya...saya tolong," kata Doni.
"Kalau begitu anterin saya ke mini market mau beli sesuatu," permintaan Putri.
"Sebenarnya mau nganter ke mini market, tapi cuma pake sepedah kalau...mau duduk belakang saya bonceng?" kata Doni.
"Mau....,"saut Putri.
"Ok...naik."
Putri duduk di belakang di bonceng Doni menuju mini market yang di ingin Putri. Selang berapa saat sampai di depan mini market.
"Silakan....tuan Putri..saya sudah mengantarkan anda sampai di tujuan," kata Doni yang benar-benar santun memperlakukan Putri layaknya Tuan Putri.
"Iya," saut Putri.
"Kalau...begitu saya permisi dulu....ah," kata Doni mau menyatakan perpisahan.
"Tunggu dulu," kata Putri.
"Apa....lagi?" tanya Doni.
"Temenin Putri....beli...alat kosmetik....sekalian minta tanggapan kamu!" kata Putri.
"Emangnya....eke lekong nek. Cowok jadi-jadian. Saya ini cowok tulen....di suruh bantuin milih kosmetik. Najis trala...trilulu....," kata Doni.
"Mau...gak?" kata Putri.
"Iya....mau. Demi....dedek Putri," kata Doni.
"Hus.....dedek-dedek...emangnya udah ada....tanda jadian sama saya," kata Putri yang agak ketus.
"Saya....salah...ngomong ini mah. Maaf Putri...., tapikan...gak ada yang salah kan umur Putri di bawah saya," kata Doni.
"Emang....ia, Tapikan....rasanya aneh kalau di panggil Doni.....dedek gitu," kata Putri.
"Kalau...begitu sih...memang rasanya ada yang aneh kalau saya manggil...Putri.....dedek. Sebenarnya saya suka...sih...," kata Doni.
"Apa....apakah gak salah denger Doni....bilang suka sama saya!" kata Putri minta penjelasan.
"Iya...., tapi...kan...baru suka belum cinta. Sekedar aja!!!," penjelasan Doni.
"Suka...apa Cinta?" kata Putri meminta ketegasan dari Doni.
"Jangan...mendesak begitu. Ya...deh..cinta," kata Doni dengan jujur.
"Pernyataan cinta sama saya begitu amat....kaya gak sungguh-sungguh?" kata Putri.
"Entar dulu.....ini urusan nemenin beli kosmetik apa urusan pernyataan...tentang perasaan?" tanya Doni.
"Oh...iya..juga...ya. Saya mau beli kosmetik kenapa urusan perasaan ya ....?" kata Putri.
"Kan...urusan kosmetik. Sebenarnya..Putri...suka sama saya...apa gak?" tanya Doni.
"Sebenarnya.....," kata Putri yang masih berpikir panjang.
"Yang...jujur..aja. Suka atau gak?" tanya tegas Doni.
"Gak suka, tapi cinta," kata Putri yang sempontan.
"Putri gak suka, tapi cinta?" Doni meminta penjelasan Putri.
Putrinya malah masuk mini market dan mengabaikan Doni. Ya....Doni ikut masuk ke mini market untuk membeli sesuatu sekalian menemani Putri. Doni membeli makan dan minuman. Sedang Putri sibuk milih kosmetik. Doni mendekati Putri dan berkata "Semua kosmetik....itu bagus kok. Ya...lebih bagus....yang sering di pake dedek Putri."
"Lagi-lagi...panggil dedek...kan..belum ada kesepakatan," kata Putri.
"Cuma...di panggil dedek....sampe jengkel...begitu?" kata Putri.
"Ya...enggaklah....cuma becanda. Abang Doni....yang ganteng," kata Putri.
"Sejak...kapan ada sepakatan manggil Abang?" tanya Doni.
"Bales...nih. Kalau gitu kita putus aja...," kata Putri.
"Kok...marah. Diajak becanda. Mau putus lagi. Emangnya udah ada kesepakatan pacaran?" tanya Doni.
"Di depan tadi...," kata Putri berpikir panjang.
"Di depan mini market....kan gak jelas kesepakatannya?" Doni yang langsung ngomong ke Putri.
"Jadi..belum sepakat pacaran. Jadi....belum di bilang pacaran....jadi saya..salah...membuat pernyataan putus?" kata Putri.
"Iya," kata Doni.
"Abang...jadian...aja!" kata Putri mendesak.
"Kok...merengek kaya...anak kecil?" tanya Doni.
"Cuma....becanda. Kena...di kerjain. Udahlah...Saya mau bayar kosmetik ini ke kasir," kata Putri.
Putri menggabaikan Doni langsung ke kasir untuk membayar barang yang di belinya. Doni...ikut juga ke kasir untuk membayar belanjaannya. Setelah ke dua membayar belanjaannya ke kasir segera keluar dari mini market.
"Putri....beneran...gak..jadian pacarannya?" tanya Doni penasaran.
"Jadilah....," kata Putri.
"Yes.....jadi sekarang saya manggil Putri...dedek...kan," kata Doni yang antusias.
"Iya...Abang. Ayo...anterin dedek pulang ke rumah sudah di tunggu Mama di rumah!" kata Putri.
"Iya...Tuan Putri," kata Doni yang siap memberikan pelayanan sepesial sama Putri.
Doni mengayuh sepedahnya dengan baik dan Putri duduk di belakang dengan santai dan nyaman menuju rumah Putri. Doni pun di dalam hatinya berkata "Tidak di rencanakan hanya sekedar berteman....jadinya pacaran..juga. Udah jodoh kali seiya...sekata".
Karya : No
Monday, July 1, 2019
DI ANTARA PENONTON
Zainal tetap diam seperti biasanya. Acara pun baru di mulai. Lalu sang teman alias pacarnya Zainal.....si Tiwi...terlalu antusias menonton acara yang baru mulai. Tiwi ikut bersorai bersama penonton yang lain. Zainal tetap diam. Lalu Tiwi menarik Zainal agar bagun dari duduknya untuk ikut bersorak sorai bersama penonton lain.
Zainal membisik sesuatu pada telinga kiri Tiwi "Gak perlu segitu antusiasnya....biasa aja....."
"Ah...udah...di sini...ikutan aja dengan penonton lainnya. Yang heboh."
"Iya...sudahlah...saya..idem aja."
Saat arti penyanyi dangdut di panggil host untuk tampil. Lalu mulailah musik di mainkan dengan baik.
"Aulia mau nyanyi," kata Tiwi samar ke Zainal.
"Aulia mau nyanyi," kata Tiwi samar ke Zainal.
"Iya....," saut Zainal.
Zainal duduk diam bersama penonton yang mendengar suara Aulia yang merdu. Semua terbawa suasana dari pembawaan syair yang bawakan Aulia beserta aresemen musik yang bagus yang mengiringinya. Lagu itu pun tersebut membuat terkejut banget oleh Zainal....seakan-akan namanya terpanggil. Sedang Zainal melihat Tiwi tertawa kecil....meledek Zainal namanya....sama dengan lagu di bawakan Aulia.
Sampai akhirnya....Aulia selesai menyanyikan lagunya dan semua bertepuk tangan tanda salut dengan kebolehan Aulia menyanyikan lagu.
Tiba-tiba.....Zainal dapet pesan singkat di Hpnya yang berkenaan tentang kerjaan. Zainal langsung ngomong ke Tiwi dengan samar "Saya...ada urusan penting...
ya...kerjaan. Jadi saya mau keluar dulu. Acara ini.....selesai saya jemput pulang."
"Iya," saut Tiwi.
Zainal beranjak dari duduknya di antara penonton menuju pintu keluar gedung untuk urusan kerjaan. Tiwi dengan santai menonton acara live musik dangdut. Tiwi pun tahu kesibukan pacarnya yang seorang petugas polisi.....harus siap jam berapa pun kalau di panggil Komandannya untuk menjalankan tugas untuk mengejar target.....yang telah di kirimkan lewat jaringan Hp agar mudah menangkap penjahat.
Zainal sampai di tempat bersama timnya berdasarkan info masyarakat. Zainal memaksa masuk ke dalam rumah...lalu melihat pemuda beserta teman-temannya sedang bermain dan juga berusaha menyembunyikan sesuatu.
Di geledahlah rumah kontrakan sama Zainal dan juga teman-temannya satu tim. Di dapatkan barang bukti dan segera di ringkus para penjahat di dalam kontrakan dan di giring menuju mobil langsung bawa ke kantor polisi.
Zainal langsung melihat jam di tangannya "Astaga....saya harus jemput Tiwi."
Zainal bergegas dengan cepat membawa motornya dan sebelumnya sudah meminta izin sama Komandannya untuk urusan pribadi....ya izinkan karena tugas sudah selesai.
Sampai di depan parkiran Tiwi cembetut
"Lama....amat," kata Tiwi.
"Maaf.....deh...kerjaannya baru selesai."
"Ayo.....pulang....yok...Tiwi udah capek nih mau istirahat."
"Iya....," saut Zainal.
Tiwi naik motornya Zainal. Dengan hati-hati Zainal membawa motornya ke rumah Tiwi. Selang berapa saat sampai di rumah Tiwi.
"Tiwi sampai besok ya," kata Zainal.
"Iya...., tapi ingat besok jemput lagi untuk nemenin Tiwi nonton acara live musik dangdut lagi."
"Siap....Bu."
Tiwi masuk ke rumahnya sedangkan Zainal kembali ke rumah untuk beristirahat karena capek dengan urusan pribadi dan kerjaan.
Esok hari sesuai dengan perjanjian setelah urusan kerjaan selesai. Zainal menemani Tiwi nonton live musik dangdut di gedung pertunjukkan dan duduk di antara penonton yang antusias menonton artis yang di sukai mereka semuanya.
Karya : No
Sunday, June 30, 2019
MENGHORMATI
Sore yang cerah sekali. Dono duduk di taman kota sambil melihat para warga sekitar bermain dan bergembira. Indro pun dateng langsung duduk di samping Dono sambil memberikan sekaleng minuman yang di belinya di pedagang yang berjualan di area taman kota.
Dono membuka kaleng minumannya dan segera menenggak minuman kaleng untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Segernya...dan...enak..minuman..ini," kata Dono.
"Dono....hari...rame..ya..taman..kota?"
"Iya.... Kan...hari..libur."
"Oh..saya...mau tanggapan kamu dengan Presiden terpilih. Keputusan MK...menolak gugatan Pak Prabowo jadi yang menang Pak Joko Widodo?"
"Oh..itu. Ya...jawabannya ada tiga sih."
"Tiga...jawabannya banyak amat... Kan saya inginnya satu jawaban saja."
"Sebenarnya tiga itu jadi satu. Hormat ke satu... Hormat saya mengakui kemenangan Pak Joko Widodo dalam Pemilu Presiden. Hormat ke dua...Meminta maaf jika ada salah kata dan perbuatan saya dalam bentuk apapun!?. Dan Hormat ke tiga... Terima kasih telah membuat tontonan yang bagus untuk Pemilu Presiden."
"Jadi...maksud kamu...adalah menghormati...semua yang telah memberikan banyak ilmu politik lewat tonton Pemilu Presiden."
"Ya..begitulah. Menang atau kalah dalam Pemilu Presiden hanya 2 jawabannya Doa dan Usaha."
"Bener...kamu...Don. Doa dan Usaha kunci sukses untuk mencapai puncak keberhasilan."
"Udah..yuk..duduk ngobrol di sini. Lebih baik ke rumah Kasino."
"Entar dulu...Don. Sebenarnya saya ingin tahu siapa kamu sukai dari tiga cewek yang sering di tulis blog?"
"Kayanya ini rahasia penulis."
"Iya....deh...rahasia penulis dalam tulisannya. Aulia, Rara, dan terakhir Putri."
"Bintang dangdut lagi. Padahal sekedar penggemar saja. Kalau mau jujur...sih.....agak susah. Tapi...saya pilih...yang ke empat Selfi."
"Kok..... Selfi...jawabannya Dono?"
"Kali.....ini...Selfi...aja. Penjelasannya gak ada."
"Selfi....ya..udah..deh...ikut..aja. Selfi...pilihan penulis..kali..ini...Penyanyi Dangdut."
Dono beranjak dari duduknya di taman kota begitu juga dengan Indro menuju rumah Kasino...yang tidak jauh dari....taman kota.
Karya : No
Dono membuka kaleng minumannya dan segera menenggak minuman kaleng untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Segernya...dan...enak..minuman..ini," kata Dono.
"Dono....hari...rame..ya..taman..kota?"
"Iya.... Kan...hari..libur."
"Oh..saya...mau tanggapan kamu dengan Presiden terpilih. Keputusan MK...menolak gugatan Pak Prabowo jadi yang menang Pak Joko Widodo?"
"Oh..itu. Ya...jawabannya ada tiga sih."
"Tiga...jawabannya banyak amat... Kan saya inginnya satu jawaban saja."
"Sebenarnya tiga itu jadi satu. Hormat ke satu... Hormat saya mengakui kemenangan Pak Joko Widodo dalam Pemilu Presiden. Hormat ke dua...Meminta maaf jika ada salah kata dan perbuatan saya dalam bentuk apapun!?. Dan Hormat ke tiga... Terima kasih telah membuat tontonan yang bagus untuk Pemilu Presiden."
"Jadi...maksud kamu...adalah menghormati...semua yang telah memberikan banyak ilmu politik lewat tonton Pemilu Presiden."
"Ya..begitulah. Menang atau kalah dalam Pemilu Presiden hanya 2 jawabannya Doa dan Usaha."
"Bener...kamu...Don. Doa dan Usaha kunci sukses untuk mencapai puncak keberhasilan."
"Udah..yuk..duduk ngobrol di sini. Lebih baik ke rumah Kasino."
"Entar dulu...Don. Sebenarnya saya ingin tahu siapa kamu sukai dari tiga cewek yang sering di tulis blog?"
"Kayanya ini rahasia penulis."
"Iya....deh...rahasia penulis dalam tulisannya. Aulia, Rara, dan terakhir Putri."
"Bintang dangdut lagi. Padahal sekedar penggemar saja. Kalau mau jujur...sih.....agak susah. Tapi...saya pilih...yang ke empat Selfi."
"Kok..... Selfi...jawabannya Dono?"
"Kali.....ini...Selfi...aja. Penjelasannya gak ada."
"Selfi....ya..udah..deh...ikut..aja. Selfi...pilihan penulis..kali..ini...Penyanyi Dangdut."
Dono beranjak dari duduknya di taman kota begitu juga dengan Indro menuju rumah Kasino...yang tidak jauh dari....taman kota.
Karya : No
Thursday, June 20, 2019
TANGGAPAN PUBLIK
Sore hari di pinggir jalan. Dono asik minum es cendol. Indro langsung duduk bersama Dono dan memesan es cendol juga ke Mamang es cendol. Di tunggu dengan sabar....eeee es cendol jadi juga dan berikan ke Indro oleh Mamang penjual es cendol.
"Minum Don."
"Iya."
"Oh..iya..omong-omong gimana kelanjutan sidang sengketa Pilpres di MK."
"Baik..Indro."
"Eeee..bukan itu maksudnya? Tanggapan kamu sebagai masyarakat.....itu yang saya mau?"
"Oh...tanggapan saya. Tentang sidang sengketa Pilpres di MK? Saya sih memahaminya dengan 2 faktor variabel x dan y saja. Maksudnya? Iya atau tidak nya kecocokan bukti-bukti yang ada dan sesuaikan dengan pokok permasalahan adakah kecurangan dalam sistem yang diatur dalam pemungutan suara. Pada hal dari awal memang sistematis sistem kerja Pemilu ...orang ada rencana dan perencanaan agar suatu sistem kerja berhasil dengan baik dan menampik banyak kesalahan. Cuma saya gak suka aja setiap elit politik bicara....untuk pendidikan publik? Padahalkan semua sudah di konsep rapih setiap tema yang akan di publikasikan dan di tonton masyarakat. Hasil survei saya aja....di masyarakat saja dari jenis pemberitaan yang dipublikasikan baik hoaks sampai fakta..sih....menyesuaikan data yang di publikasikan di masyarakat lewat media apapun. Maksudnya jadi objek pembicaraan, tapi ada lebihnya ada kurangnya...biasa itumah masyarakat."
"Oh..begitu. Jadi masih iya atau tidaknya dalam proses menggodok hasil gugatan dari pihak penggugat tentang sengketa Pilpres."
"Iya..itu maksudnya."
"Don kalau terbukti ada kecurangan gimana?"
"Ya...sebenarnya...sih dari awal sampe akhir sih memang sistemnya memanipulasi suara. Tapi bagaimana prosesnya yang di jalankan ke dua belah pihak dalam peserta Pemilu Presiden saja....ada tindakan di jalankan kecurangan atau tidak? Jadi agak riskan..sih. Maksudnya kecil banget untuk memeriksakan kecurangan itu. Karena sistem kerjanya ke dua peserta Pemilu Presiden....sebelas dua belas.....alias sama aja. Jadi gugatan dari Pak Prabowo ke MK ini harus cocok datanya dengan data KPU dan juga dari data Pak Joko Widodo. Maka variabel x dan y cocok...maka selesai lah Hakim memutuskan Pemilu berjalan baik dan tidak ada kecurangan. Tapi masalahnya ini..data ini tidak cocok....itulah di permasalahannya......harus di selesaikan masalahnya. Apa benar Pak Joko Widodo atau Pak Prabowo ....apakah....KPU yang benar...itu saja?. Ya...masih iya atau tidak."
"Jadi kemungkinannya kecillah. Kan sistem kerja pemerintahan ada sistem evaluasi kerja setelah data di kumpulkan untuk......menampik kesalahan yang ada. Agar...kegagalan di minimkan....maksudnya di usahakan tidak ada kegagalan."
"Itu tahu."
"Ya...saya..hanya ingin tahu tanggapan kamu saja Don."
"Iya..saya tahu..itu."
"Gimana dengan kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei di Jakarta?"
"Ah..itu sih gak terlalu penting banget. Saya menontonnya dari seluruh jaringan internet sampe pemberitaan Tv di siarankan di seluruh Indonesia sampe pemberitaan Tv Malaysia dan Singapura."
"Ah..itu sih gak terlalu penting banget. Saya menontonnya dari seluruh jaringan internet sampe pemberitaan Tv di siarankan di seluruh Indonesia sampe pemberitaan Tv Malaysia dan Singapura."
"Oh..iya..kamu baru pulang dari Malaysia..saya lupa Don. Karena kamu lagi bantuin Mbak mu yang kerja di Malaysia. Jadi emang susah di hubungin....kamu. Sibuk banget."
"Ya..begitulah nama juga nolong keluarga."
"Gimana Rara..kabarnya gitu?"
"Baik..... Udahlah ngobrolnya. Es cendol saya habis. Nanti saya di awasin orang pemerintahan...karena tahu banyak tentang sistem kerja pemerintahan yang asli."
"Don..bukannya..itu data penulis yang asli. Bahwa dia di awasi oleh anggota pemerintahan alias di buntutin pake mobil dinas."
"Iya.....," jawab Dono.
"Wah.....wah...wah. Seumur hidup penulis era ke era tidak ada anggota pemerintahan mengawasin penulis baru...era Pak Joko Widodo ini...aneh. Padahal cuma ngoceh di masyarakat di awasi anggota pemerintahan padahal datanya di dapetkan dari media juga."
"Itulah..jangan lama-lama ngobrol di lingkungan. Nanti di curigai ini dan itu."
"Bener juga Don. Padahal lebih baik Pak Prabowo yang menjabat jadi Presiden...maka kamu tidak di awasi anak buah Pak Joko Widodo. Dari sisi ini yang lebih Demokratis adalah Pak Prabowo dari pada Pak Joko Widodo...agak sedikit Diktaktor."
"Kalau..menurut tanggapan kamu begitu sih Indro.. gak ada masalah banget...cuma opini masyarakat saja."
Dono membayar minuman es cendol ke Mamang es cendol dan sekalian membayarin minuman Indro. Lalu Indro selesai minum es cendolnya dan gelasnya di berikan ke Mamang es cendol...tak lupa mengucap "Terima kasih."
Ya.....Mamang es cendol menjawabnya "Iya...sama-sama."
Indro langsung naik motor duduk di jok belakang. Dono segera membawa motor menuju tempat Kasino untuk ngobrol urusan kerjaan.
Karya : No
Wednesday, June 19, 2019
KASUS
Deni
pagi-pagi ke kantor untuk menghadap komandan. Ternyata Deni telat dateng dan
teman kerja Deni si Boni geleng-geleng kepala. Deni pun meminta maaf sama Boni
karena ketelatan dirinya ke kantor. Boni memaafkan Deni dan langsung menghadap
komandan Albret di ruangannya.
“Pagi
…Pak,” kata Deni.
“Siang,”
saut Albret.
Deni
dan Boni duduk di kursi masing-masing dan komandan Albret memberikan file
tentang penjahat yang harus di tangkap Deni dan Boni karena masuk daftar hitam
kepolisian. Deni membaca dengan seksam file yang di berikan komandan Albret
begitu juga Boni.
“Pak…..masalahnya
orang ini ada kaitannya dengan elit politik. Bagaimana ini Pak….kayanya terlalu
berat…kasus ini.”
“Bener….apa..omongan
Deni? Karena terlalu riskan…ini Pak…bagi kepolisian mengungkap kasus
mereka..ini. Malah bisa berbalik. Apalagi banyak mata-mata yang tersebar di
pemerintahan untuk mengamankan kondisi elit politik ini.”
“Maka..itu..lah
saya butuh kalian. Polisi yang sering menyamar di lapisan masyarakat. Kalian
dianggap polisi bukan dianggap masyarakat ia. Lebih sering di sebut penjahat
karena ulah kalian ini banyak masalah. Polisi…banyak pelanggaran di mana-mana.
Untuk kalian dapet kasus ini..untuk membersihkan nama kalian di kepolisian.
Kalau berhasil naik..pangkat. Kebiasaan bikin ulah. Naik pangkat susahkan. Yang
baru masuk aja seperti Handoko yang junior kalian…eeee karena prestasinya
banyak menyelesaikan kasus jadi senior kalian. Kasus ini harus bisa kalian
selesaikan…sampe bukti-buktinya terkumpul dengan baik baru…target di tangkep.”
“Siap..komandan,”
kata Deni dan Boni bersamaan langsung berdiri langsung hormat.
Setelah
itu Deni dan Boni keluar dari kantor komandan Albret dengan membawa file
tersangka yang harus di tangkap mereka berdua. Komandan Albret santai di dalam
kantor telah memberi tugas Deni dan Boni dengan minum kopi hitam yang enak
banget.
Deni
dan Boni terus ngobrol di ruangan kepolisian sampe di luar untuk menyelesaikan
kasus. Mau gak mau mereka jalan bareng dan naik mobilnya Deni. Sampai di sebuah
kafe di pinggiran kota Jakarta berdasarkan informasi Deni yang tersebar lewat
jaringannya di masyarakat untuk mengetahui target yang di incar adalah Dargo.
Deni dan Boni mengawasi dari mobil.
Maunya
Deni langsung masuk ke kafe menyergap menangkap Dargo, tapi Boni menyuruh
menunggu di mobil agar tahu pergerakan selanjutnya Dargo mau ke mana. Dengan
sabar menunggu di mobil Deni dan Boni mengawasi targetnya.
Keluar
juga Dargo dari kafe dan masuk mobil pribadinya. Bergeraklah Dargo dengan mobil
pribadinya. Deni dan Boni mengikuti dari belakang. Sampai di sebuah gedung
pemerintahan Dargo memarkirkan mobilnya. Deni dan Boni pun juga. Dargo masuk ke
dalam gedung pemerintah untuk menemui seseorang.
“Ah..benerkan..target
ada kaitannya dengan elit politik..gimana Boni?”
“Ya..gimana
lagi…harus segera kita selidiki.”
Deni
dan Boni mau masuk ke dalam gedung pemerintahan dengan menyamar sebagai
wartawan untuk mencari berita di pemerintahan tentang isu ini dan itu. Tapi
Deni melihat gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang masuk kantor
pemerintahan.
“Kaya….dari
KPK…Boni.”
“Mana..Deni.”
“Itu
orangnya yang pake baju dines tersebut…yang baru masuk, tapi nyamar. Gaya beda
banget dengan anggota pemerintahan yang bekerja di gedung pemerintahan ini,”
kata Deni tangannya menunjuk.
“Iya…,”
saut Boni.
“Sekarang..misi
di bagi dua. Kamu ke arah sana saya ke arah sini. Jangan sampe ketahuan.”
“Ok
beres.”
Deni
mau masuk ke dalam kantor pemerintahan di halangan petugas penjaga. Untung
wartawan yang lain yang ingin meliput berita tentang komentarnya Pak Wiranto
tentang keamanan di Indonesia. Deni berhasil masuk bersama wartawan yang lain
untuk wawancarai Pak Wiranto.
Sedangkan
Boni berhasil masuk dengan cara nyelinepnya lebih baik lagi saat kerumunan dan
masuk ke dalam gedung. Sambil ikutan wawancara Pak Wiranto….Deni mencari
kesempatan untuk bisa masuk ke ruangan lainnya. Kesempatan ada saat Pak Wiranto…bla..bla
alias bicara di depan kamera langsung deh Deni masuk ke ruangan di mana Dargo
terlihat di situ.
Ternyata
urusan Dargo dan elit politik di dalam ruangan terlalu singkat dan padat. Deni
belum dapet hasil apa-apapun? Di tambah lagi anggota KPK ikutan juga lagi
mengincar elit politik tersebut jadi targetnya.
Dargo
keluar dari kantor setelah pembicaraan selesai dengan elit politik. Tahu- tahu
anggota KPK nyamar nangkap elit politik tersebut dengan bukti uang yang di
serahkan oleh Dargo di simpan pada kotak berkas sepatu.
“Kacau..urusannya..ini
mah…ketangkap KPK…Pak Ruhut ini mah,” kata Deni melihat kejatian tersebut.
Langsung
heboh semuanya Pak Ruhut di tangkap KPK. Wartawan lagi wawancarai Pak Wiranto
langsung meninggalkan sementara waktu untuk meliput Pak Ruhut di tangkap KPK.
Pak Wiranto langsung geleng-geleng melihat Pak Ruhut di tangkap KPK begitu juga
dengan anggota pemerintahan yang lain.
Deni
tambah bingung karena kerjannya KPK duluan menangkap orang yang masuk target
kepolisian.
“OTT
lagi…OTT lagi...,” kata kesal Deni.
Dargo
pun keluar dari gedung pemerintahan langsung deh meninggalkan kehebohan di
dalam gedung pemerintahan mengenai OTT. Dargo mengambil mobilnya di parkiran
dan segera pergi. Deni masuk mobilnya di parkiran dan ternyata Boni sudah ada
di mobil.
“Lama
amat Deni….ayo cepet bawa mobilnya!”
“Iya..sabaran.”
Deni
membawa mobilnya dengan baik mengikuti Dargo. Di dalam mobil sambil ngobrol
Deni dengan Boni mengenai hasil mengumpulkan data target. Boni memberikan kabar
baik pada Deni yang bagus banget. Boni berhasil mendapatkan file data kerja Pak
Ruhut dengan Dargo sebelum anggota KPK menyergap alias menangkap Pak Ruhut.
Sampai
di sebuah gedung kantoran di pinggiran kota Jakarta. Dargo memarkirkan
mobilnya. Deni pun memarkirkan juga, tapi agak sedikit jauh. Dargo keluar dari
mobil menuju tujuannya. Deni dan Boni juga keluar dari mobil juga. Di
perkirakan Deni bahwa Dargo mau masuk gedung perkantoran. Eeeee ternyata di
sampingnya ada gang menuju sebuah kafe, tapi lewat belakang untuk mengelabui
orang sekitar kalau tempat tersebut tempat yang baik.
Deni
dan Boni langsung memberanikan diri untuk masuk ke dalam kafe lewat belakang
mengikuti Dargo. Setelah pintu di buka oleh Deni dan Boni. Walah….gila banget.
Ternyata pabrik narkoba. Dargo langsung melihat Deni dan Boni dan menguruh anak
buahnya menghabisi mereka berdua.
Deni
dan Boni mau gak mau menghajar mereka semuanya. Terjadi pertarungan yang sengit
sampe satu persatu para penjahat di bikin babak belur sama Deni dan Boni. Dargo
melihat kekalahan di pihaknya langsung kabur dengan berlari lewat pintu depan
kafe. Deni mengejar Dargo dengan secepat mungkin. Sedangkan Boni mengeluarkan
pistol untuk mendiamkan para penjahat untuk jongkok di langtai, lalu menelpon
rekan kepolisian yang terdekat untuk menangkap para penjahat.
Dargo
terus berlari dan mau masuk ke dalam mobilnya. Tapi Deni dateng langsung
menendang pintu mobil. Tapi Dargo berhasil menghindar dan tidak terjepit di
pintu mobil. Dargo tidak ada pilihan untuk melawan Deni. Dargo menyerang Deni
dengan tendangan dan pukulan. Deni pun bisa mengimbangi serangan Dargo. Sampe
Dargo di hajar Deni di bagian mukanya sampe muntah darah. Langsung deh Dargo di
tangkap oleh Deni.
Segera
Dargo di bawa di kantor polisi oleh Deni untuk intrograsi. Di dalam ruangan
intrograsi Deni menghabisi Dargo dengan pertanyaan dan sebuah ancaman yang
sifatnya menyakitkan demi membuka mulut siapa yang terkait. Susah payah Deni
membuat aksinya di dalam intrograsi akhirnya Dargo buka mulutnya dan
menjelaskan kronologis yang sebenarnya sampe Pak Ruhut di tangkap KPK.
Deni dan Boni baru tahu ternyata Pak Ruhut di
jadikan korban demi menyelamatkan elit politik yang hendak pergi luar negeri
tepatnya Singapura karena ikut dalam permainan memanipulasi suara untuk
memuluskan jalannya jadi anggota DPR. Sampai di bandara Deni dan Boni langsung
menangkap Pak Yusril karena ada surat penangkapan yang sah dari pihak
kepolisian. Setelah Pak Yusril di tangkap oleh Deni dan Boni langsung data-data
anggota yang terkait dalam memanipulasi suara di daerah-daerah segera di
tangkap oleh jajaran kepolisian.
Komandan
Albret senang dengan kehebatan anak buahnya yang bisa menyelesaikan kasus dan
segera di naikkan pangkat Deni dan Boni. Setelah pangkat Deni di naikkan minta cuti karena
lelah menangkap penjahat begitu juga Boni. Ya…komandan Albret memberikan cuti
kepada Deni dan Boni secara khusus karena berhasil mengungkap kasus.
Baru
sampe di hotel di pinggir pantai untuk bersantai. Deni dan Boni dapet panggilan
tugas oleh komandan Albret untuk menyelesaikan kasus di Malaysia berkenaan
gembong narkotika dan TKI ilegal. Ya…namanya juga tugas. Deni dan Boni segera
meninggalkan hotel langsung ke bandara menuju Malaysia untuk menyelesaikan
kasus.
Karya : No
KEPASTIAN
"Lama baget datengnya?"
"Maaf......proses berjalan ke sini. Sambil liat pemandangan sekitar."
"Iya..saya...maafkan. Lain kali tidak."
"Kok..lain kali tidak di maafkan. Harus di maafkan."
"Iya. Ayo..kita berangkat. Temen -temen sudah nunggu ngumpul di kafe."
"Ayo..cepet naik."
Kasno naik motornya Doni duduk di jok belakang. Segera Doni membawa motornya dengan baik. Baru berapa lama Doni menghentikan laju jalan motornya.
"Kok..berhenti Don..?"
"Lihat...Silfi keluar rumah. Baru...bayar makan yang pesannya lewat sistem jaringan internet. On line alias devilery..gitu."
"Iya..saya tahu. Tapi tujuan kamu sebenarnya apa berhenti?"
"Lihat..Silfi."
"Capek...deh..kalau suka sama cewek cuma bisa melihat dari jauh samperin. Toh..Silfi itu teman kita kita..juga."
"Kalau di samperin..nanti...ngumpul di kafe sama teman-teman telat deh."
"Ini...udah hampir telat. Ayo makanya..cepetan...jangan berhenti..lajuin motornya."
"Iya..sebentar. Saya lajuin. Tapi..nyapa Silfi dulu."
"Terserah..kamu."
Doni melajukan motornya ke depan rumah Silfi dan segera mencet klakson pada motor "Tinnnn". Selfi terkejut sekali "Astaga...Doni ngagetin aja. Apa ada apa main ke tempat saya?"
"Cuma...mampir..Silfi."
"Ah...kangen...Selfi," tambahan Kasno.
"Hus....," saut Doni.
"Oh....gitu..kangen," kata Selfi.
"Bukan..gitu Silfi. Gimana kamu Kasno. Jadian belum sama Silfi udah di komporin yang bukan-bukan. Saya yang bingung. Jadi maksudnya saya...cuma mampir saja. Ya..niat hati siapa tahu kalau keadaan telah menunjukkan sebenarnya. Walau kenyataan begitu...saya..sih memang ingin dekat lagi dengan Silfi."
"Eeee..sama aja. Itu sih..ungkapan perasaan," tambahan Kasno.
"Iya," saut Kasno.
"Jadi..nembak nih...momentnya. Kok gak sepesial amat ya?"
"Silfi..kan cuma mampir saja. Kalau moment sepesialnya...ya kalau mau di ulang lagi sih boleh. Nunggu...dapet uang jajan dari Mami. Maklum masih sekolah belum bekerja."
"Jadi...cowok terus terang amat kamu Don."
"Iya..harus....terus teranglah dengan keadaan saya biar gak dianggap gombal. Maksudnya....kepastian yang di berikan kepada pihak cewek. Maksudnya begitu...Kasno."
"Tapi..momentnya..gak pas. terlalu..berani. Silfinya jadi mikir..tuh."
"Ya...saya bingung..juga deh jadinya. Di ganggu kamu Kasno."
"Saya..gak...ada masalah...mau ditembaknya..moment sepesial atau tidak. Yang penting sih...jangan mempermainkan hati..saya saja," kata Silfi yang terus terang.
"Iya...saya tidak mempermainkan Silfi. Janji...kalau saya suka sama Silfi."
"Saya...terima," saut Silfi.
"Cepet..banget..jadiannya. Kaya..udah janjian..ini mah?"
"Udah..di sekolah," kata Doni dan Silfi bersamaan.
"Dasar...moment di ulang. Kangen dua-duanya. Ayo...Doni berangkat..nanti telat ngumpul...di kafe sama teman-teman!"
"Iya..... Kalau..begitu..Silfi..saya pamit dulu ya."
"Iya...Doni."
"Daaaaa...," kata perpisahaan Doni.
"Daaa...," saut Silfi sambil melambaikan tangan.
Doni melajukan motornya dengan baik menuju kafe. Silfi masuk rumahnya. Selang berapa saat sampai di kafe. Doni segera memarkirkan motornya baru masuk ke kafe sama Kasno. Baru juga duduk di kafe Doni dan Kafe mau minum sesuatu. Eeee....temen-temen sudah mau keluar dari kafe...untuk pergi nonton acara yang di sepakatin mereka semua. Doni dan Kasno ikut saja mau teman-temannya walau gagal gak minum enak di kafe. Untung aja bisa di minuman bisa di bungkus pake gelas khusus jadinya bisa nikmati minum di jalan...itu semua idenya Kasno yang terlalu berlian.
Doni dan Kasno ngikut motor teman-temannya beriringan di jalanan kota Jakarta sampai di tujuan. Sampai di tempat langsung di parkirkan motor dengan baik oleh Doni dan teman-temannya segera masuk ke sebuah gedung pertunjukkan.
"Mau..apa kita kesini?" tanya Doni.
"Mau..nonton..live musik lah?" jawab Kasno.
Sampai di dalam gedung pertunjukkan langsung semuanya mencari tempat untuk duduk.
"Dangdut Star....ya..Kasino?"
"Iya, Kamu jagoin...siapa Doni?"
"Siapa..ya? Temen-temen...yang lain gimana?"
"Mereka..punya..jagoan sendiri..yang sesuai selera mereka. Maksudnya sudah jadi penggemar."
"Ohhhh..begitu. Kalau begitu yang simpel aja..ya. Silfi."
"Eeeee..itu..sih..nyamain..nama..pacar kamu..Sifli."
"Kan..gak apa-apa. Yang penting suka aja. Namanya juga penggemar."
"Iya.... ."
"Kalau..kamu Kasno.....?"
"Putri."
"Putri."
"Eeeee....itu..sih..nyamain..nama adek kamu..namanya Putri."
"Biarin..suka-suka saya."
"Iya..terserah..kamu Kasno."
Doni dan Kasno asik nonton live musik dangdut dengan baik beserta teman-teman mereka satu sekolah sampai acara musik selesai baru deh pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Karya : No
Subscribe to:
Posts (Atom)
CAMPUR ADUK
SANGDIL SANAM
Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus film horor di channel ANTV, ya Budi duduk dengan santai di depan rumahnya seda...
CAMPUR ADUK
-
1. Asal Usul Pangeran Jayakusuma Alkisah cerita, ada sebuah kerajaan yang besar di daerah Timur dengan rajanya yang bernama Prabu Braw...
-
Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan...
-
Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon ceramah yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Slamet m...








