CAMPUR ADUK

Monday, December 31, 2018

MATA MERAH JAMBU

“Abi, kenapa para Kiyai besar datang hari ini? Buya kan, lagi di rumah Ami.”

“Ada sesuatu yang harus dibicarakan Felly. Lagipula, bukannya kamu ada kelas Fiqih ya, sekarang? Kenapa nggak berangkat? Nanti telat loh.”

“Iya sih, Bi. Tapi, sajian apa yang akan diberikan kepada para Kiyai besar itu? Kan Buya lagi nggak ada.”

“Biar santri dalam yang mengurusnya. Lagipula ini urusannya Abi dan para Kiyai besar itu. Kamu konsen aja dengan Muhafadhoh kamu untuk mendapat Akreditasi pondok ini semakin baik.”

“Baiklah, Bi. Felly berangkat dulu. Assalamualaikum,” ucap Felly dengan mencium telapak tangan Abinya.

Felly anggi Wiraatmaja. Putri dari Kiyai besar yang telah membangun pondok pesantren itu dengan baik. Pondok Pesantren Nirboyo. Yah, itulah namanya. Pondok yang menduduki Akreditasi “A” dalam kualitas pendidikannya. Baik pendidikan islam maupun pendidikan umum. Pondok tersebut dibagi menjadi dua tempat. Dimana, tempat tersebut dipisahkan oleh tembok besar. Podok santri putri bersebelahan dengan pondok santri putra.

Kegiatan pondok sama dengan kegiatan sekolah umum. Namun, perbedaanya adalah pada perkumpulannya. Dalam satu kelas sekolah umum, penghuninya adalah perempuan dan laki-laki. Sedangkan kelas di pondok untuk pembelajaran terdiri dari satu jenis. Yaitu, perempuan sendiri dan putra sendiri.

“Assalamualaikum,” ucap Felly saat memasuki ruangan kelasnya.

“Waalaikumussalam,” jawab salah satu teman sekelasnya. Lebih tepatnya, teman sebangkunya.

“Tumben jam segini masih sepi kelasnya?”

“Biasa lah, Neng. Kan waktunya Pak Tas’an. Jadinya gitu deh, kayak nggak tahu mereka aja.”

“Oh, gitu ya. Emang segitunya ya, Ris?”

“Iya lah. Masuk membawa kayu panjang kcil. Bagi siapa yang telat, langsung ke luar kelas. Terus menghafalkan pelajaran hari itu juga seteleh di terangkan. Lalu langsung ulang. Kalau nilainya di bawah KKM, nggak ada perbaikan. Gimana anak-anak bisa betah, Neng? Pelajarannya aja udah serem, apalagi orangnya.”

“Ah, kamu ada-ada aja Ris.”

Sambil menunggu teman-temannya masuk kelas dan juga menunggu kedatangan gurunya, Felly dan Riska berbincang-bincang tentang kegiatan yang biasa dilakukan Riska di rumah sebelum ia pergi ke pondok itu. Hingga akhirnya, waktu pelajaran pun tiba. Dan, meeka melaksanakan pelajaran itu seperti biasanya. Sekitar dua jam, waktu pelajaranpun telah usai. Felly pun kembali ke rumah. Sedangkan, Riska kembali ke asrama.

Sesampainya di rumah, ia langsung memasuki kamar untuk mengulang pelajaran yang sudah diterangkan oleh Pak Tas’an. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat ia berdiri di depan pintu kamarnya. Terasa ada yang aneh dan tidak seperti biasanya. Felly pun mencoba untuk masuk ke dalam kamarnya.

Rasanya, masih tetap sama seperti sebelumnya. Ia sempat bertanya saat masih menggunakan mata telanjang. Meskipun ia dapat merasakan hal itu dengan hati, masih tetap sama seperti sebelumnya. Hal tersebut membuat Felly untuk membuka magnet yang telah ia miliki. Ia tersentak saat melihat seseorang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Felly pun mendekatinya.

“Siapa kamu?!,” tanya Felly kepada orang itu.

“Kenapa kamu bisa melihatku?”

Felly tersentak kembali saat melihat orang itu tel*njang dengan jenis kelamin laki-laki. Felly pun menamparnya. Dan orang itu menjerit. Hal tersebut membuat Abinya datang ke kamarnya. Tanpa menanyakan kejadian tersebut, Abi Felly sudah dapat melihat kejadian itu sebelumnya dengan kemampuan supernatural yang dimilikinya.

Secepat kilat orang itu pergi meninggalkan Felly dan juga Abinya. Dan hal tersebut harus membuat Abinya mengeluarkan kemampuan spesialnya setelah saudara-saudaranya. Terbang ke udara mengejar makhluk itu. Itulah yang dilakukan oleh Abinya.

Hal tersebut membuat Felly khawatir dengan keadaan Abinya. Namun, apa daya yang bisa dilakukan Felly. Ia hanya memiliki indra keenam yang dapat dikuasai oleh Felly. Bagian-bagian yang lainnya dari Abinya. Ia tidak kuat untuk menumpangnya. Mengingat, usianya yang masih muda.

“Bagaimana, Abi?,” tanya Felly setelah melihat Abinya memasuki kamar Felly.

“Dia lebih cepat dibandingkan dengan yang Abi kira.Tapi, Abi bisa mengetahui ilmunya saat menyentuh dia tadi. Dan, sedikit mengetahui maksud dari ilmu tersebut.”

“Maksud Abi bagaimana?”

“Dia adalah makhluk halus. Dalam artian, dia adalah seorang manusia biasa. Ilmu hitamnya dangat tebal. Dan, itulah yang membuatnya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Untuk memperkuat ilmu hitamnya. Ia harus meniduri wanita perawan seratus dalam waktu yang dekat. Hanya itu saja yang bisa abi simpulkan untuk kamu. Namun, dengan begitu kamu harus lebih hati-hati. Alangkah indahnya jika kamu membuka indra keenammu untuk saai ini dan kedepannya. Demi, menghindari dia apabila dia datang lagi.”

“Lalu, bagaimana dengan santri putri,”

“Mungkin dari mereka ada yang dihampiri. Dan, dia tidak datang hanya pada pondok kita. Melainkan ke tempat-tempat lainnya. Sebaiknya, kita mengumpulkan para santri untuk mengantisipasi. Abi juga akan mengurus untuk pertemuan Kiyai besar untuk membahas ini.”

Setelah kejadian itu, semua santri mengambil piket dalam istighostah malam untuk menghindari makhluk tersebut. Namun, setelah diteliti kembali. Ternyata, benar apa yang dikatakan Abi Felly. Pondok sekitar juga merasakan hal yang sama setelah ada santri putri mendengar seseorang berjalan di atas atap di jam yang sama saat makhluk itu menghampiri Felly.

Dengan begitu, makhlus halus patut untuk dipercayai. Meskipun, kita tidak dapat melihatnya dengan mata telanjang. Namun, kita masih memiliki mata hati. Dimana, kita bisa merasakan sesuatu dan menentukan sesuatu. Oleh karena itu, tetaplah untuk disisi-Nya.


Karya: Pratiwi Nur Zamzani

MONIC

“Monic, kau diadopsi!” teriak Rara dari ambang pintu.

Kata-kata itu seperti menyihirku. “Jangan diam! Cepat temui orangtua barumu!” kata Rara riang. Aku mengangguk.

Aku berlari menemui orangtua baruku di ruang tamu. “Itu dia!” kata Bunda Ana ibuku di panti, pada orangtua baruku. Ibu dan ayah baruku berlari dan memelukku hangat. Kehangatan ini… sudah lama aku tak merasakannya.

“Ayo pulang!” ajak ayah baruku ramah. Aku mengangguk mantap dan segera membereskan barang-barangku. Bunda Ana dan ibu baruku juga membantuku. Aku berpamitan pada teman-teman di panti asuhan.

“Monic, ternyata kau sependiam ini. Tapi, tak apa. Kita tetap akan jadi keluarga yang harmonis! Jangan pernah sungkan meminta apapun dari kami!” kata ibu dalam mobil.

“Besok kamu masuk sekolah, itu pun kalau kamu mau. Kami mendaftarkanmu ke SMP Gionoka yang terkenal itu. Agak jauh dari rumah, memang. Tapi itu salah satu sekolah terbaik disini. Kau mau kan sekolah disana?” tanya ayah. Aku mulai berpikir, SMP Gionoka? Aku bahkan tak pernah berpikir menginjakkan selangkah kaki disana. Dari dulu SMP itu sangat bagus, namun biayanya tetap sepadan. Senangnya aku bisa masuk SMP begitu! Aku pun mengangguk. “Baguslah, ayah kira kau akan menolaknya.”

“Kita sampai,” kata ayah sambil mengerem mobil. Kami berhenti di sebuah rumah modern tapi menawan. Ayah membuka pintu mobil untukku, “Selamat datang di rumah!”

Aku dipersilahkan masuk dan segera menata barang-barang di rumah ini.

Beberapa bulan berlalu. Aku lalui hari-hariku seperti biasa, kadang pula ada perasaan ingin kembali ke panti.

“Monic, bisa kamu lepaskan boneka itu? Kamu sudah SMP tapi kamu selalu membawa boneka kemana saja bahkan ke sekolah,” untuk berpuluh-puluh kalinya aku mendengar ocehan ibuku.

“Aku akan kesepian kalau jauh darinya.”

Plak, beberapa surat mendarat di meja belajarku, “Sekolah mengirimimu surat yang sama,” kata ayah.

“Monic, pikirkan lagi! Sekolah lebih penting dari sekedar boneka!”

“Aku sudah bilang, dia bukan sekedar boneka! Dia temanku!”

“Lebih baik kamu tidur!” kata ibu lalu mencium pipiku dan ke luar bersama ayah.

Aku mengangkat Milly, boneka beruang pinkku. “Milly! Kau mau lakukan sesuatu untukku? Kesenanganku disini sudah habis. Huft! Aku kangen taman-teman di panti! Kau juga kan? Ah sudahlah aku mau tidur. Malam Milly!” Aku pun segera berbaring dan tertidur.

“Monic ayo bangun!” panggil ibu. “Monic cepat bangun!” “Monic!”

“Iya!” jawabku. Kenapa hari ini ibu berisik lagi? Pasti karena kerjaan! Pasti tak ada yang mengantarku sekolah dan itu artinya aku harus naik taksi lagi. Batinku.

Aku ke luar dari kamarku dan aku lihat kedua orangtuaku sudah siap berangkat.

“Maaf ya hari Minggu, tapi ibu membangunkanmu sepagi ini!” kata ibu. Aku hanya mengangguk dengan mata yang sipit. Oiya sekarang Minggu! Aku lupa ya! Pikirku.

“Monic, setelah ini kamu kesini!” kata ibu memberiku secarik kertas. Apartemen? Apartemen siapa? Pikirku.

“Itu apartemenmu untuk sementara waktu!” kata ayah dan memberikan sebuah kunci.

“Kemarin hari terakhirmu di SMP Gionoka! Mulai besok kamu homeschooling di apartemen!” kata ibu dan tersenyum, “Itu yang kamu mau kan? Lagipula kami ada urusan ke luar kota jadi tak bisa mencarikanmu sekolah baru. Maaf ya. Kami berangkat dulu!” ayah dan ibu meninggalkanku.

Yah… sekarang hari Minggu! Aku malas ke luar rumah! Kenapa juga harus homeschooling di apartemen kalau bisa di rumah? Tapi biarlah jika begini jadinya!

Aku pun segera bersiap-siap dan menuju tempat yang tertulis di kertas.

Cklek! Aku membuka pintu apartemen.

“Akhirnya sampai juga!” Aku menjatuhkan diri ke kasur. Perjalanannya lama sekali.

“Milly terima kasih kau melakukannya lagi untukku! Orangtuaku kali ini terlalu mengatur-ngatur. Aku ingin orangtua yang lebih baik dan kehidupan yang lebih tenang!”

“Huuuft… aku juga lelah disana. SMP Gionoka tampak luar lebih baik dari dalamnya. Mereka ternyata hanya memuja nama. Orang luar pasti tak akan tau sisi dalam sekolah itu!”

“Karena aku sudah bekerja keras mengatur semuanya dan membuatmu senang, sekarang giliran kau yang membuatku senang! Ayo kembali ke panti! Monic!” kata Milly.

“Haaah!!!! Lalu buat apa kita jauh-jauh kesini?!” aku kesal dan melempar Milly ke lantai.

“Aduuuu!! Monic mau aku lempar juga?”

“Jangan!!!” teriakku. “Nanti malah kau lempar ke luar jendela lantai 7 ini”

“Hehehe… kau tau ya!”

Semua orang tak akan percaya dan tak akan mau percaya bahwa Milly bukan sekedar boneka. Dia adalah temanku. Temanku sejak lahir. Dia adalah sebuah roh penjaga yang dimasukkan ke dalam tubuh boneka oleh orangtua kandungku untuk menjagaku dan membuatku senang. Dia bisa mengubah keadaan dengan caranya yang misterius.


Karya: Agustina Dwi Ilmi

PETUALANGAN SINBAD

Beberapa bulan di bashrah.ia menjadi jenuh. Setelah bosan tinggal di rumah yang mewah, sinbad kembali berlayar untuk mengadakan petualangan dan perdagangan.

Kali ini cuaca bagus dan kapal menjelajah dari laut ke laut dan dari pulau ke pulau, serta dimanapun simbad mendarat ia selau bertemu dengan para pedagang, para pejabat tinggi,dan para pedagang dan pembeli, dan sinbad pun menjual, membeli, dan tukar menukar barang.

Sinbad melanjutkan perjalanan dengan cara begini hingga suatu ketika sampai di sebuah pulau indah yang di tumbuhi banyak pepohonan, dengan limpahan buah-buahan masak, bunga-bunga yang wangi, burung-burung yang berkicau, dan sungai-sungai yang sangat jernih, tapi tidak ada satupun penduduk yang tinggal di sana. Kapten kapal melabuhkan kapal nya di pulau itu, dan para pedagang dan penumpang penumpang lainnya mendarat di sana, untuk menghibur diri mereka dengan melihat pemandangan pohon-pohon dan burung-burung.

Sinbad mendarat bersama yang lain dan duduk di dekat sebuah mata air yang jernih diantara pepohonan. Sinbad membawa makanan, dan duduk disana sambil memakan buah buahan yang lezat.  Angin berhembus sepoi-sepoi terasa sejuk, sungguh menyenangkan. Maka sinbad pun tidur-tiduran dan beristirahat hingga tanpa terasa tiupan angin yang lembut dan keharuman bunga bunga mengantarkannya ke dalam tidur yang pulas.

Ketika sinbad terbangun,ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Kapal telah berlayar dengan seluruh penumpangnya,tak satu pedagang atau awak kapal pun yang melihatnya.

Sinbad mencari ke kanan dan ke kiri, tapi tidak menemukan siapa siapa kecuali dirinya sendiri. Sinbad merasa amat sedih dan marah,dan kemarahannya rasanya akan meledak karena rasa cemas, sedih, dan lelah, sebab dia benar benar sendirian di pulau itu tanpa makanan dan minuman.

Sinbad menyesal telah meninggalkan kotanya yaitu kota Baghdad,untuk melakukan perjalanan laut ini. Akhirnya, sinbad bangkit dan mulai berjalan jalan di pulau itu, karena ia tidak bisa duduk diam di suatu tempat. Lalu dia memanjat sebatang pohon tinggi dan melihat ke kanan dan kekiri tapi tidak menyaksikan apapun kecuali pepohonan dan pasir yang ada di pantai.

Lalu dia mencoba mengamati dengan seksama dan melihat suatu benda putih yang besar. Sinbad turun dari pohon dan berjalan ke arah benda itu, hingga ia sampai ketempat itu dan mendapati bahwa bentuk benda itu adalah sebuah kubah putih yang sangat besar dengan ketinggian dan lingkar keliling yang luar biasa.

Sinbad mendekat dan berjalan mengelilinginya tapi tidak menemukan pintu, dan karena benda itu sangat licin, sinbad tidak dapat memanjatnya. Sinbad menandai tempat dimana dia berdiri dan berkeliling mengitari kubah tersebut untuk mengukur lingkar kelilingnya dan mendapati ukurannya ada lima puluh langkah.

Sinbad berdiri, sambil memikirkan cara untuk masuk, karena siang hari sudah hampir berlalu dan matahari sudah hampir terbenam. Tiba-tiba,matahari menghilang,dan suasana menjadi gelap. Maka sinbad mengira bahwa awan sedang menutupi matahari,tapi karena saat itu musim panas,sinbad merasa heran juga. Sinbad mengangkat kepalanya dan memperhatikan benda itu dan melihat bahwa itu seekor burung besar,dengan tubuh sangat besar dan kedua sayapnya terentang,sedang terbang di langit dan menutupi cahaya matahari yang menyinari pulau itu. Keheranan sinbad semakin bertambah,dan dia ingat sebuah cerita yang pernah di dengar dari para wisatawan dan pengelana bahwa di pulau-pulau tertentu ada seekor burung yang sangat besar,yang dinamakan Rukh,yang memberi makan anak-anaknya dengan seekor gajah,dan dia menjadi yakin bahwa kubah yang dilihat tadi adalah salah satu telur burung Rukh.

Sementara sinbad masih terpesona,burung itu hinggap di atas telur dan mengeraminya dengan sayapnya dan,sambil meluruskan kakinya ke belakang di atas tanah, ia pun tertidur.

Sinbad melepas ikatan sorbannya, memilinnya dengan tali dan,sambil melilit pinggangnya dengan sorbanya itu,mengikatkannya erat-erat ke kaki burung,sambil berkata pada dirinya sendiri,"Barangkali burung ini akan membawaku ke sebuah pulau dimana terdapat kota-kota dan manusia. Itu akan lebih baik daripada tinggal di pulau ini".

Sinbad melewatkan malam itu tanpa tidur,karena khawatir bahwa burung itu akan terbang bersamanya sementara dia tidak menyadarinya.

Ketika fajar menyinsing dan hari mulai terang, burung itu bangkit dari telurnya,menyuarakan teriakan keras,dan terbang dengan membawa sinbad ke langit. Burung itu terbang semakin lama semakin tinggi hingga sinbad mengira ia telah mencapai puncak langit. Lalu burung itu mulai turun secara perlahan,sampai akhirnya dia hinggap di atas tanah,beristirahat di tempat tinggi. Begitu mencapai tanah, sinbad bergegas melepaskan ikatan tubuhnya,sementara tubuhnya masih gemetar ketakutan,meskipun burung itu tidak menyadari kehadiranya dan tidak melihatnya.

Lalu burung itu berjalan menjauh. Tampak nya burung itu memungut sesuatu yang mengeliat dengan cakar nya dari tanah dan terbang tinggi ke langit. Ketika sindbad memperhatikannya dengan saksama,dia menyadari bahwa burung itu telah membawa seekor ular yang sangat besar, yang di bawa burung itu terbang ke laut.

Lalu sinbad berjalan mengitari tempat-tempat itu dan mendapati dirinya berada di sebuah puncak di atas hamparan lembah yang luas dan dalam sebuah kaki gunung yang besar dan tinggi, begitu tingginya sehingga tak seorangpun mampu melihat puncaknya atau mendaki nya, dan dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukannya,dengan berkata, "Mestinya aku masih tinggal di pulau itu,yang lebih baik daripada tempat terpencil ini, karena di sana paling tidak dia masih dapat memakan buah-buahan dan minum dari air sungai nya, sedangkan di tempat ini tidak ada pepohonan atau buah-buahan serta sungai."

lalu dia bangkit dan,dengan mengumpulkan kekuatanya,berjalan di lembah itu dan menyadari bahwa tanahnya terbuat dari intan dan berlian, tetapi lembah itu penuh dengan naga dan ular, yang besarnya sama dengan pohon palem,benar-benar sangat besar sehingga ia dapat menelan seekor gajah.

Ular-ular itu keluar pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari,karena khawatir burung Rukh akan membawanya pergi dan memangsa nya. Sindbad berdiri di sana. Ketika hari semakin sore,dia berjalan di lembah itu dan mulai mencari tempat untuk bermalam. Karena

takut akan ular-ular itu, dia lupa untuk makan dan minum, dan hanya memikirkan usaha untuk menyelamatkan nyawanya.

Tidak lama kemudian dia melihat sebuah gua di dekat situ. Gua itu mempunyai jalan masuk yang sempit, dan ketika masuk dia melihat sebuah batu besar terletak di pintu masuknya. Sindbad mendorong batu itu dan menutup jalan masuknya dari dalam. Tapi ketika dia memperhatikan di dalam, dia melihat seekor ular besar yang sedang mengerami telur-telurnya. Rambut sindbad berdiri saking terkejut,dan dia mengangkat kepala, menyerahkan diri pada takdir dan kehendak Illahi.

Sindbad melewatkan malam tanpa tidur, dan begitu fajar datang, dia memindahkan batu yang digunakan untuk menutup pintu masuk gua dan pergi keluar, seperti orang yang sedang mabuk, dengan kepala pusing akibat kelaparan yang amat sangat,kurang tidur,dn ketakutan.

Sindbad berjalan-jalan di lembah itu dalam keadaan begini, tiba-tiba ada seekor domba besar yang telah disemblih jatuh di hadapanya,tapi ketika dia melihat ke sekitar,dia tidak melihat siapa-siapa di sekitar tempat itu, dia merasa heran, dan dia ingat sebuah cerita dari para pedagang, wisatawan, dan pengelana bahwa pegunungan intan itu begitu berbahaya sehingga tak sorang pun dapat memasukinya, tapi para pedagang intan mempunyai sarana untuk sampai ke sana. Mereka mengambil seekor domba, lalu menyemblih, dan memotong-motong daginganya, dan melamparkanya dari puncak gunung ke lembah di bawahnya. Ketika daging itu jatuh, dalam keadaan masih segar, intan-intan itu akan melekat ke daging domba itu. Lalu mereka meninggalkanya di sana hingga tengah hari, ketika burung-burung elang dan burung hering  menukik dan menyambarnya dengan cakar-cakar mereka,dan terbang denganya ke puncak gunung. Selanjutnya para pedagang bergegas mendatangi mereka, berteriak-teriak pada mereka, dan menakut-nakuti mereka agar meninggalkan daging itu. Lalu para pedagang mendatangi daging itu,mengambil intan-intan yang melekat padanya, dan membawanya kembali ke negeri mereka. Tak seorang pun dapat memperoleh intan kecuali dengan cara ini.

Ketika sindbad melihat domba mati itu dan ingat pada cerita tersebut, dia mendekati bangkai itu dan mulai mengambil banyak sekali intan dan menyimpanya ke dalam saku-saku dan lipatan-lipatan bajunya, dan ikat pinggang, dan serta sorbanya.

Ketika dia sibuk melakukan hal itu, sebuah bangkai lain jatuh di hadapannya. Sindbad mengikatkan  dirinya padanya dengan sorban, berbaring telentang,menempatkanya di atas dadanya dan memegangnya erat-erat. Jadi bangkai itu di atas tanah. Tiba-tiba seekor elang menukik ke arahnya, menyambarnya dengan cakar-cakarnya,dan terbang tinggi ke udara denganya dan dengan sindbad yang bergantung padanya. Elang itu terus membumbung ke atas hingga ia mencapai puncak gunung dan,ketika hinggap di sana, dan hendak mencucuk daging itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dan suara bising kayu yang di pukul-pukul  dari belakang elang itu, si elang menjadi ketakutan dan terbang menjauh/

Sinbad melepasakna ikatan diri dari bangkai,dengan pakain ternoda oleh darah,da berdiri di sampingnya. Tiba-tiba orang yang berteriak pada elang tadi mendekati bangkai dan melihat sindbad berdiri di sana, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, sebab di sangat ketakutan melihat sindbad.

lalu dia mendekati bangkai, dan ketika dia membalikkannya dan tidak menemukan apa-apa padanya, dia menyuarakan teriakan keras dan berkata,"Sungguh mengecewakan! malang benar! Bagaimana ini bisa terjadi?"

Sindbad pergi mendatangi orang itu. Orang itu bertanya,"Siapakah engkau,dan apa yang membawamu ke tempat ini?"

Sindbad menjawab,"Jangan takut, karena aku seorang manusia baik-baik. Jangan khawatir,sebab kau akan menerima dariku sesuatu yang akan menyenangkanmu. Aku menyimpan sejumlah besar intan, yang semuanya lebih baik daripada yang pernah kau dapatkan, dan aku akan memberikan dalam jumlah yang banyak.

Ketika orang itu mendengar ini, dia berterima kasih pada sindbad dan mereka mulai bercakap-cakap. Para pedagang lain,yang masing-masing telah melemparkan seekor domba mati, mendengar sindbad bercakap-cakap dengan kawan mereka,mereka mendatangi sindbad.

Mereka memberi hormat pada sindbad dan mengajak sindbad bergabung bersama mereka. Sindbad ceritakan kepada mereka seluruh pengalamanya. Lalu sindbad berikan kepada pedagang,yang dombanya diikat pada tubuhnya, sebagian besar dari intan-intan itu, dan hal itu membuanya senang, dan dia berterimakasih pada sindbad, dan para pedagang itu berkata,"Demi tuhan, kau telah di beri kehidupan baru, sebab tak seorangpun datang ke tempat ini berhasil lolos dari jurang itu, tapi terpujilah Tuhan yang telah menyelamatkanmu."

Mereka melewatkan malam di tempat yang nyaman dan aman, dan sindbad bermalam bersama mereka, merasa sangat gembira karena berhasil lolos dari lembah ular dan tiba di tempat yang berpenghuni.

Ketika pagi tiba, mereka bangun dan berjalan di sepanjang punggung gunung yang tinggi itu, melihat banyak ular pada lembah di bawahnya, dan mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah pulau yang besar dan menyenangkan dengan hutan pohon-pohon kamper, yang masing-masing dapat memberikan perlindungan pada seratus orang. Ketika seseorang ingin mendapatkan kamper, dia membuat sebuah lubang di bagian atas pohon dengan batang pelubang dan menangkap apa yang jatuh darinya. Kmaper cair yang merupakan getah pohon itu, mengalir dan selanjutnya mengeras, seperti permen karet. Setelah itu, pohon akan mengering dan menjadi kayu bakar.

Para pedagang bertukar barang dan persediaan dengan sindbad dan membayarnya untuk beberapa intan yang di bawa di saku-saku sindbad dari lembah ular

Sindbad membawa barang-barangnya, dan dia pergi bersama mereka, dari kota ke kota dan dari lembah ke lembah, berjual-beli dan menikmati pemandangan negeri-negeri asing dan apa yang telah di ciptakn Tuhan hingga sindbad sampai di Bashrah, di mana dia tinggal selama beberapa hari, lalu menuju baghdad.

Ketika dia sampai di kampungnya dan memasuki rumahnya,dengan sejumlah besar intan dan banyak sekali barang dan perbekalan, dia bertemu dengan keluargganya dan saudara-saudara yang lain dan memberi sedekah dan membagikan hadiah-hadih kepada seluruh kerabat dan teman.

SEBUAH LORONG DI KOTAKU

Sejak beberapa hari hujan turun dengan kepadatan musim  yang tidak dapat ditahan. Cucian yang lembab bergantungan pada tali-tali yang direntangkan ayahku dari dinding satu ke dinding lainnya di dalam sepen di samping dapur.

Ayam-ayam kerjanya terkantuk-kantuk sepanjang hari tanpa mendapat kesempatan berjemur karena menghilangnya matahari. Beberapa ekor yang lebih giat, turun dari tenggeran, keluar kandang buat menengok kesibukan di balik kurungan mereka. Berdiri diteritisan, kadang-kadang mereka beruntung dapat mencegat keong-keong lembut yang muncul entah dari mana dan hendak mengarungi limpahan air, menyeberangi latar yang memisahkan bagian rumah induk dengan dapur, kamar mandi dan sebagainya.
....

Pagi itu aku bangun seperti biasa, setelah semua kakakku berangkat ke sekolah. Kudapati ibuku duduk di sudut ruang makan, di atas sebuah amben rendah yang menurut ingatanku selalu ada di sana. Di depannya, agak menjorok ke emper yang terlindungi oleh atap luas hingga ke pinggir latar, penjual sayuran dan berbagai bahan makanan yang setiap hari lewat, menjajakan dagangannya. Perempuan itu biasa kami sebut Embok Blanjan, karena daripadanya. Di kampung ada.

Beberapa penjual semacam itu yang lewat. Tetapi yang menjadi langganan kami selalu sama karena ibuku tidak suka berganti penjual. Biasanya setiap penjaja memiliki daerah penjualan masing-masing. Mereka pada umumnya saling mengenal, bertemu di Pasar Johar atau Pasar Bulu tempat mereka membeli dagangan. Mereka menjinjing bakul besar, satu atau dua bertumpukan dipunggung, diikat erat oleh selendang yang diselempangkan pada kedua bahu dan disimpulkan kedua ujungnya di depan dada. Di atas kepala, mereka menyunggi sebuah atau beberapa tampah berisi barang dagangan pula.

Melihatku keluar dari pintu ruang tengah, ibuku mengulurkan lengan seperti memanggilku. Sambil mengusap kedua mataku, aku mendekat. Langsung duduk di pangkuan ibuku yang menjadi lebar karena kakinya yang bersila.

"Apa sarapannya pagi ini, Ning?' Mau getuk lagi seperti kemarin? Atau tiwul?" tanya Embok Blanjan.

"Ada ketan kinca, mau?" ibuku menyambung.

"Tiwul." sahutku, setengah bangun setengah terbaring. Penjaja bahan makanan itu juga selalu membawa berbagai jajanan, makanan asin atau manis yang sedap lezat, dibungkus rapi dengan daun pisang.

Aku melepaskan diri dari rengkuhan ibuku, menuju ke meja makan lalu naik ke atas salah satu kursi. Di meja masih ada tutup makanan yang tengkurap seperti kurungan ayam, tetapi lebih memanjang bentuknya dan terbuat dari anyaman bambu yang agak rapat. Benda semacam itu terjual di toko atau di pasar, kadang-kadang dijajakan sepanjang jalan. Ada yang terbuat dari kain katun berlubang-lubang seperti kelambu, dipergunakan sebagai penutup tempat tidur bayi, terkadang terbuat dari anyaman berbagai bahan.

Gunanya yang utama sama, ialah untuk melindungi bayi atau makanan dari serbuan nyamuk, lalat yang terletak di depanku, sambil mengintip apa yang terkurung di bawahnya.

"Atau mau makan nasi?" ibuku bertanya dari tempatnya. "Tidak ada nasi goreng?"

"Tidak ada. Makan sisa sayur dan lauk kemarin."

Aku tidak suka sayur bobor. Jadi kuputuskan aku tidak mau makan nasi pagi itu. Kujauhkan kembali pinggir penutup makanan ke papan meja. Kedengaran suara sesuatu benda yang bergeser.

"Awas hati-hati," cepat ibu mengingatkan.

"Berapa kali sudah kukatakan, kau harus meletakkan kembali segala macam benda apa pun dengan perlahan-lahan."

Aku sudah hendak turun dari kursi, tetapi ibuku meneruskan: panggilan kepada anak gadis di Jawa Tengah pesisiran "Coba lihat lagi kalau-kalau kau menumpahkan kecap dari mangkuknya!" Kuturuti perintah ibuku, kuintip mangkuk coklat yang ada di ujung kanan, masih berdiri sedangkan senduknya tergeletak di samping,  dengan bekas-bekas kecap melekat di atas meja. "Senduknya yang jatuh," laporku kepada ibuku.

"Ya, sudah, biar," kata ibuku lagi."Sekarang tutuplah dengan perlahan."

Lalu aku kembali ke pangkuan ibuku. Dia memegang bungkusan tiwul yang telah dibukanya, dan aku mulai menikmatinya, Embok Blanjan mengemasi dagangan. Dimasukkannya kembali dagangannya ke dalam bakul atau ke atas tampah.

"Untuk besok pagi apa yang perlu, Nyonya?"

"Tidak ada. Saya kira engkau tidak usah datang." "Saya akan ambil ikan  bandeng langsung dari pinggir laut, lebih murah. Nyonya tidak mau?"

"Tidak. Di belakang banjir. Nanti sore bapaknya anak-anak mau cari ikan di sana. Biasanya benar-benar."

"Jadi saya tidak usah datang besok pagi. Sampai kapan?" "Dua hari lagi. Bawa sayur dan buah. Lebih-lebih bayem kalau ada."

"Betul di belakang banjir, Bu?" selaku tidak sabar. "Banjir besar. Kemarin malam hujan lebat. Tentunya di gunung juga."

"Aku mau lihat!" seruku sambil hendak turun dari pangkuannya.

Tetapi secepat itu pula ibuku menahanku.

"Nanti saja. Biar pintunya dikunci dulu. Siapa tahu kau jauh ke dalamnya."

Ibuku meneriakkan nama pembantu rumah tangga kami. Dia segera muncul sambil membawa tampah buat sayur dan makanan yang telah dibeli.

"Bapak mau memancing ikan?" tanyaku lagi mencari keterangan sejelas-jelasnya.

"Tidak memancing, tapi membendung bagian yang dangkal lalu menyerok ikan yang ada di sana."

Aku mau yang kecil-kecilan, hendak kusimpan di dalam kolam kaca."

"Dipelihara?"

"Ya seperti di rumah paman."

"Nanti siang katakan sendiri kepada ayahmu." "Aku boleh turut menyerok?"

"Oh, tidak!" ibuku berseru ketakutan. 

"Airnya tinggi sekali.Bekau pastilah tenggelam di dalamnya."

Embok Blanjan sudah siap. Pembantu kami menolong mengangkatkan bakul ke punggung, sedangkan si penjual itu mengikatkan ujung selendangnya di dada. Lalu tampah yang telah ditutup oleh daun-daun Jan itu pun bertengger di atas kepalanya.

"Gerimis masihh turun terus," kata ibuku. 

"Mudah-mudahan tidak kehujanan di jalan."
....

Bepergian ke luar kota bersama lima anaknya, bagi ibuku berarti harus mempersiapkan makanan secukup mungkin untuk di bawa dalam keba, yaitu tas yang terbuat anyaman daun pandang air. Dia tidak suka membeli makanan di perjalanan; kecuali buah-buahan atau jenis makanan keistimewaan daerah atau kota yang kami lalui. Selain soal keuangan, ibu mempunyai alasan lain.
....

Kami berangkat ke stasiun Tawang. Di dalam demo yang telah dipesan ayah, udara pagi dingin menusuk tulang. Masing-masing kami memakai jas sebagai rangkapan.
....

Sampai di tempat kakek, hari sudah gelap.

Sejak di halaman telah dapat dirasakan suasana kesahduan kehidupan rohani penghuninya. Aku tidak tahu dari mana rasa tersebut memancar. Tetapi keheningan yang suci menyuluruh sejak dari halaman depan, ke pendapa dimana kami menurunkan barang dan di ruang tengah tempat kami meninggalkan kasut kaki. Puncak dari segala rasa tekun namun penuh kekrasanan itu adalah ketika kami masuk lebih ke dalam lagi.
....

Selama di desa, aku lebih sering bersama nenek atau paman Sarosa. Karena bersama nenek, berarti akan sering berada di dapur atau di kebun. Di dapur, selalu kulihat kenikmatan bermcam-macam makanan bagiku.
....

Dua hari berlalu dengan kecepatan yang luar biasa. Tidak dapat kubayangkan sebelum itu, betapa sedihku akan meninggalkan rumah kakek. Di sana semua kusukai: benda binatang, manusia. Yang semula tidak kukenal, mulai kuketahui dari kumengerti, hingga sesudah beberapa hari berubah menjadi kawan karib sebagai bagian hidupku.
....


Karya: Nh. Dini

PISAU BERKARAT

Darah bercerceran di mana-mana, barang-barang, buku, baju, celana, meja, kursi, semuanya berantakan, berhamburan. Di luar hujan deras, angin menerbangkan segala benda, sesekali semburat petir meludahi wajah langit, bias cahayanya bahkan terlihat di balik kaca jendela. “A-apa yang-yang kau i-inginkan?” suara Radit tersengal-sengal, napasnya tak beraturan, ia duduk bersandar di sudut ruangan dapur di dekat alat-alat memasak, darah sudah membanjiri bajunya. Lelaki yang mengenakan topeng itu mendekat lagi mengarahkan pisau berkarat yang ia pegang tepat di punggung hidung Radit.

Napas lelaki itu bahkan semakin menggebu, ia seperti harimau kelaparan yang sedang mengepung kijang patah kaki. Radit tak berdaya, hanya diam menanti malaikat maut datang di ujung pisau berkarat itu, napasnya tersengal bahkan untuk mengelap keringat bercampur darah yang mengucur di pelipisnya pun ia tak sempat. “A-apa salah saya, jika-jika kau ingin mengambil hartaku, ambil saja, tapi jangan ambil nyawaku..” Radit menghembuskan napas, mendengus sepelan mungkin. Lelaki itu mendekat, jongkok lalu mengarahkan bibirnya yang tertutup topeng ke arah telinga Radit, “aku bukan butuh harta, aku butuh nyawa. Nyawa pecundang..” Radit bergidik, menelan ludah yang kini terasa pahit. Nyawaku sudah di ujung tanduk, batinnya.

Hujan di luar semakin deras, berkali-kali petir menerangi kolong langit seper sekian detik. Jalanan di dekat rumah Radit lengang, siapa pula yang akan ke luar saat tengah malam, hujan deras. Lebih baik menarik selimut bermain di dalam mimpi. Tak akan ada yang tahu kalau ada keributan di dalam rumah di dekat persimpangan itu. 30 menit sebelum kedatangan lelaki bertopeng itu, Radit baru pulang dari kerja ke dapur untuk menyiapkan mie, memasak nasi dan membuat secangkir teh hangat. ketika ia sedang menuangkan air panas ke dalam cangkirnya, lelaki itu langsung memukul kepala Radit dari belakang, menghantam tubuh Radit dengan tendangan dan melukai punggung Radit dengan pisau berkarat. Darah berceceran, bahkan banjir. Melihat Radit yang tak lagi berdaya lelaki itu kembali ke ruangan tengah, memecahkan kaca lemari, tv, pas bunga, menghambur-hamburkan berkas penting, merusak segala benda, yang akhirnya membuat seisi rumah seperti kapal pecah.

“Apa yang-yang kau cari, ji-jika bukan mencari uangku?” Radit bertanya pelan, volume suaranya ia rendahkan supaya lelaki itu tidak tersinggung. Lelaki itu mendekat, mengenggam erat dagu Radit, membuat bibir pria malang itu monyong, “apa kau tuli pecundang! Aku tak butuh uang, emas, baju, bahkan celana dalammu yang bekas kurap itu, aku tak butuh! aku hanya ingin mengambil nyawamu..” Radit semakin terdesak, dadanya menyempit. Lelaki itu melepaskan tanganya dengan kasar.

“la-lu-lalu siapa kau? A-apa.. apa salahku?”

“salahmu?” lelaki itu menjambak rambut Radit yang sudah dilumuri darah, mendengus kuat. Lalu lelaki itu membuka topengnya. “Kak Damar!” Radit kaget, matanya membulat, ludah ditelan berkali-kali. Lelaki yang membantainya, yang ingin membunuhnya itu ternyata Kak Damar. “Kak ampun Kak, maaf Kak!” Radit meminta iba, Menatap damar lamat lamat. “sudah terlambat Radit, kau tak bisa mengembalikkan keperawanan adikku, nyawa adikku. Kau menjadikannya pacar hanya ingin menikmati tubuhnya, kau pikir dia anak ayam, hah!” jambakan Damar semakin kuat, seperti hendak melepaskan rambut Radit dari batok kepalanya.

“Maaf kak, Radit minta maaf, Radit khilaf.” Radit tersungkur menangis kencang separuh bersujud, “kau harus menanggung perbuatanmu, adikku meninggal karena depresi dan bunuh diri karena kau! Mulut dibalas mulut, gigi dibalas gigi dan nyawa dibalas nyawa pecundang, cuih..!!” Ludah itu sampai ke wajah Radit yang semakin pucat. Jam dinding di ruang tengah berdentang-dentang menopang pukul 12 malam, Suasana yang mencekam hening sesaat bersamaan dengan redanya hujan di luar rumah.

“CASS.. AKKKK…”

Malaikat maut sudah datang, genderang langit sudah ditabuh, darah tumpah ruah, membanjiri dapur, suara berde–akkkk itu memecah hening, lampu dapur berkedap-kedip, remang seketika. Seper sekian detik sebelumnya Radit mengambil pisau berkarat yang jatuh dari tangan Damar, ia menghujamkan pisau itu ke perut Damar yang sedang lengah karena membayangkan nasib pilu adiknya. Damar tersungkur, tidur di atas darah, tidur menyusul adiknya. Suasana kembali hening seketika, seisi rumah bahkan mungkin sejagad. Hanya ada suara burung gagak yang datang saat hujan telah redah tadi.


Karya: Yogi Anggara

PEMUJA SETAN

“Ibu, lihatlah Anna mendapat hadiah.”

Aku menatap ke arah anak ku yang kini tengah berdiri di hadapanku sambil membawa kotak berwarna merah.

Tangan ku terjulur ke arahnya, membawa tubuh mungilnya kedalam pangkuanku. Aku menatap hadiah yang ada di tangan Anna bingung, pasalnya kami baru saja pindah ke rumah ini, rasanya aneh kalau tiba-tiba ada yang memberi hadiah pada anak ku.

“Kamu mendapatkannya dari siapa Anna?” Tanyaku padanya. Anna tidak langsung menjawab pertanyaan ku, ia malah terlihat gelisah, terlihat dari caranya mengayun-ayunkan kakinya.

“Kakak itu bilang kalau aku tidak boleh memberi tahu siapa-siapa,” Jawabnya sambil menundukan kepala.

Kakak siapa yang dimaksudkan oleh Anna? Kenapa aku merasa tak enak hati, aku merasa takut akan terjadi sesuatu dengan anak ku. Aku memeluk Anna erat, tanpa sadar airmata telah membasahi pipiku.

“Anna, berjanjilah pada Ibu, kamu tidak akan meninggalkan Ibu,” Ucapku sambil terus memeluknya erat. Anna hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus berkata Ibu jangan menangis saat ia mendengar suara isakan yang kucoba tahan sebisa mungkin.

Keesokan harinya saat aku bangun tidur aku sudah tak mendapati Suami ku yang biasanya masih terlelap di sampingku. Aku beranjak bangun dan keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Rumah ini terasa sangat sepi dan juga terasa mencekam, aku merasa seperti ada yang tengah memperhatikan gerak gerik ku. Sejujurnya aku sudah merasa tak nyaman sejak pertama kali melihat rumah ini, rumah ini seperti menyimpan banyak misteri, apalagi katanya rumah ini berhantu, aku tahu tentang itu dari orang di sekitar sini saat aku tengah membeli bahan pangan kemarin sore.

Langkah ku terhenti saat mendengar suara tawa di kamar anak ku, aku lantas mendekat ke arah kamar itu dan mendekatkan telinga ke pintu, mencoba mencuri dengar suara apa itu sebenarnya.

“Hahah … kakak curang, ugh hentikan kak, hahah … geli,”

Kening ku berkerut bingung. Anna sedang bercanda dengan siapa?

Tangan ku terjulur hendak membuka pintu, namun…

Grep!

“Kenapa kau ada di sini sayangku?” Tanya sebuah suara sambil memeluk ku dari belakang. Aku kenal suara ini, ini adalah suara Suamiku. Membalikan badan, aku lantas menemukan wajah tampan suamiku yang tengah menyunggingkan senyum menawan.

“Aku hanya penasaran, Anna sedang bercanda dengan siapa?”

Aku melihatnya mengernyitkan kening, lalu ia pun melepas pelukannya dariku. Tangannya terjulur ke arah gagang pintu kamar Anna lalu membukanya. Suara derit yang terdengar saat pintu itu terbuka membuat suasana menjadi terasa mencekam. Jantungku sudah berdetak kencang. Menanti apa yang akan aku temukan di dalam kamar Anna.

Pintu terbuka sepenuhnya. Kami melangkah masuk ke dalamnya. Di atas kasur aku melihat Anna yang masih tertidur. Ini tidak mungkin. Jelas-jelas kalau tadi aku mendengar suara Anna yang tengah tertawa entah dengan siapa. Aku mendekat ke arah Anna, mengguncang tubuhnya pelan agar ia terbangun. Posisi tidurnya yang membelakangi ku membuatku tak bisa melihat wajahnya.

Aku terus mencoba membangunkannya tapi Anna tak juga bangun, tidak seperti biasanya. Padahal biasanya ia akan sangat mudah untuk dibangunkan. Aku mulai khawatir. Aku pun membalikan tubuhnya kearahku dan betapa kagetnya aku saat melihat wajah Anna dipenuhi luka sayatan. Darah menetes-netes dari luka sayatan itu. Aku memandangi luka itu dengan pandangan ngeri.

“ANNA!”

Aku berteriak kencang memanggil nama Anna sambil terus mengguncang tubuhnya yang mulai mendingin. Anna ku meninggal!

Aku menagis sejadi-jadinya. Mengabaikan suara suamiku yang entah mengatakan apa. Aku tak mau tahu! Anna ku, dia anak ku … dia harta berhargaku! Mengapa tuhan begitu kejam dengan mengambil Anna dariku!

Tanganku terjulur untuk menghapus darah yang terus menetes dari luka Anna. Pelan, sangat pelan. Aku takut Anna akan merasakan sakit jika aku menghapus darah itu dengan kasar. Padahal aku tahu, Anna ku sudah tak bernyawa lagi!

“Hahah … kenapa kau menangis istriku?”

Aku tercengang saat mendengar suara suamiku. Aku membalikan badan ke arahnya. Aku terkejut saat melihatnya tengah berdiri sambil memegang pisau daging. Matanya berkilat penuh bahaya. Senyumnya membuatku bergidik ngeri. Entah sejak kapan ia berganti baju dengan baju hitam terusan yang ada penutup kepalanya. Ia terlihat menyeramkan dengan dandanan seperti itu. Ia sudah mirip seperti pemuja setan.

“Ada apa dengan mu?” Tanyaku padanya.

Suamiku diam saja tak menjawab pertanyaan ku. Saat aku akan melangkah mendekatinya kedua kakiku tak bisa ku gerakan seakan ada yang menariknya dari bawah agar aku tak bisa pergi kemana-mana.

Aku menundukan kepala, melihat ke arah kedua kakiku saat aku merasakan nyeri di bawah sana. Aku menjerit saat melihat ada dua pasang tangan yang muncul dari lantai. Kedua pasang tangan itu memegang pisau kecil yang terlihat sangat tajam dan tangan-tangan itu terus menggores sepasang kaki ku.

Aku menangis semakin kencang saat ku rasakan pisau-pisau tajam itu tertancap di kaki ku, setelah menancapkan pisau tajam itu dua pasang tangan tadi langsung menghilang. Aku menjerit, melolong, meminta tolong pada suamiku, tapi bukannya menolong ia malah tertawa seakan apa yang tengah di saksikannya ini merupakan acara lawak yang sering di tontonnya.

“Siapa kau? Suamiku tidak akan berlaku kejam seperti ini,” Tanyaku padanya sambil melemparkan tatapan penuh benci padanya. Ia hanya tertawa dan terus tertawa. Suara tawanya semakin kencang dan membuat kedua telingaku berdenging. Saat aku menutup kedua telingaku dengan tangan, aku merasakan ada cairan yang keluar dari telingaku dan saat aku melihatnya ternyata itu adalah darah.

Aku harus pergi! Tapi kemana? Tidak mungkin jika lewat pintu. Aku harus melewati makhluk yang mirip dengan suamiku itu terlebih dahulu untuk bisa keluar. Tapi itu tak mungkin! Naman itu kan jalan satu-satunya untuk aku bisa terbebas dari makhluk itu. Oh tuhan, aku harus bagaimana?

Lagipula aku tak mungkin meninggalkan Anna. Jika aku keluar maka Anna pun harus ikut keluar bersama ku.

Aku menatap tepat pada kedua bola mata makhluk itu lalu berjalan mendekatinya. Aku tahu ini tindakan gila, secara tidak langsung aku telah menyerahlan diri untuk dibunuh olehnya. Tapi aku tak tahu harus apa, aku pasrah jika memang makhluk itu ingin membunuh ku. Aku melangkah dengan tertatih karena luka di kakiku terasa begitu menyakitkan setiap kali aku mencoba untuk menggerakannya. Makhluk itu menyeringai melihatku melangkah samakin dekat dengannya.

Saat aku sudah berdiri tepat tiga langkah darinya aku langsung berhenti melangkah. Senyum menyeramkan itu masih tertoreh di kedua belah bibirnya. Lalu dengan penuh keberanian aku mengatakan.

“Bunuhlah aku”

Seringaian di bibirnya semakin melebar saat mendengar perkataan ku. Sekilas aku melihat matanya berubah menjadi warna merah darah.

“Kau sangat berani istriku. Oleh karena itu aku akan memberikan kotak merah ini untuk mu. Kau senang bukan?”

Aku terkejut saat melihat kotak merah itu. Itu merupakan kotak merah yang pernah diperlihatkan oleh Anna padaku.

“Itu … kotak itu, kau dapat darimana?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah kotak merah yang tengah di pegangnya. Oh tunggu. Bukankah tangan kanannya tadi memegang pisau daging? Kenapa sekarang ia malah memegang kotak merah itu?

Ia mengabaikan pertanyaan ku dan malah menyodorkan kotak merah itu padaku. Aku mengambilnya dengan tangan yang gemetaran. Ku buka kotak itu perlahan dan …

BUM

Semuanya berubah menjadi gelap. Aku tak bisa melihat apapun.

“ARGGHH”

Aku menjerit kencang saat merasakan rasa perih di pipiku. Aku tak bisa melihat apapun, yang bisa kulihat hanyalah warna hitam, semuanya gelap.

Kembali kurasakan rasa perih di kening ku, sampai sesuatu yang dingin menyentuh permukaan leher ku. Napas ku sudah tak beraturan, air mata terus berjatuhan. Aku tak tahu apa kesalahan ku. Sampai sebuah ingatan terlintas di pikiranku. Saat ada seseorang yang mengatakan kalau suamiku adalah pemuja setan dan suatu hari nanti aku akan menjadi korbannya. Aku yang mendengar itu tentu saja tidak percaya karena yang aku tahu suamiku terlalu baik untuk menjadi seorang pemuja setan, tapi sepertinya itu benar dan inilah bukti kalau suamiku memanglah pemuja setan. Mungkin dia jugalah yang telah membunuh Anna. Membunuh Anna dengan kekuatan setannya.

Benda dingin yang aku yakini adalah pisau daging itu semakin menekan leherku, aku pun bisa merasakan nyeri yang luar biasa karenanya. Mungkin leherku sudah berdarah sekarang.

“Kau tahu istriku? Rumah ini adalah tempat aku melakukan ritual pemujaan. Seharusnya kau percaya pada orang bodoh yang memberi tahumu waktu itu, tapi karena kau lebih bodoh dari orang bodoh itu, jadi wajar saja jika kau tetap percaya padaku”

“…”

“Sekarang kau akan menjadi korban ku yang berikutnya, hahahah”

“…”

“Kenapa kau diam saja istriku? Ups aku lupa. Kepala mu saja sudah terpisah, bagaimana kau bisa membalas perkataan ku coba? Hahahah”

“…”

“Selamat tinggal istriku!”


Karya: Mimosa Pudica

RUMAH ANGKER

Namaku Anggi Alya Putri biasanya teman-temanku memanggilku Anggi. Aku mempunyai seorang tante yang sudah 13 tahun menikah, dan mempunyai 3 orang anak yang lumayan berbakat. Mereka begitu harmonis. Sampai suatu hari ada seseorang yang ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Entah siapa dia yang jelas ia tidak menyukai keharmonisan rumah tangga tanteku.

Tante dan om ku sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi hingga suatu hari tanteku menggugat keputusan untuk bercerai, tetapi mereka masih dalam satu rumah.. Setiap hari mereka bertengkar semua hal mereka permasalahan. Anak-anak mereka pun sering terlibat di pertengkaran itu.

Sebulan kemudian keluarga pun meminta orang pintar buat mengobatinya. Orang pintar itu bilang “Rumah ini sudah tak layak buat ditempati”. Namun entah mengapa tante dan om ku tidak ingin rumah itu dijual atau mereka pindah.

Dua bulan berlalu Mereka pun masih tinggal bersama. Pada minggu ketiga ketika tanteku ke gudang di belakang rumahnya iya pun dicekik seorang wanita yang seram memiliki rambut panjang memegang foto seseorang yang sudah kusam.. Ketika itu pula om ku pun ingin ke belakang rumah untuk mengambil barang yang penting, tiba-tiba om ku melihat tante ku yang sudah pingsan dan tak bernyawa itu, seluruh tubuhnya berdarah banyak.

2 hari kemudian hal hal aneh pun sering terjadi di rumah itu hingga mereka pun pindah. Bulan-bulan berikutnya rumah itu pun tidak ada penghuninya hingga membuat para tetangga ketakutan, konon katanya rumah itu berhantu dan dijuluki sebagai “Rumah Angker”


Karya: Anggi Alya Putri

DANAU DI BUKIT TAK BERPENGHUNI

Perkenalkan nama aku Asmita Permata Dewi panggilanku Dewi. Aku tinggal di kota Semarang bersama keluargaku di sebuah desa terpencil. Aku sangat penasaran dengan Danau Yang Ada di balik bukit dekat rumahku. Karena tetanggaku selalu memperbincangkan tentang Danau tersebut, Teman temanku juga begitu, tak ada yang berani melewati Danau itu tersebut padahal danau tersebut sangat indah pemandangannya.

Konon katanya setiap orang yang melewati Danau itu dia akan merasa ketakutan dan tak akan lagi pergi ke danau itu lagi. Aku tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Tetapi aku tak pernah percaya tentang mitos tersebut malahan aku ingin sekali melewati Danau tersebut.

Suatu hari aku bermain dengan Nita, Bagas dan Angga. Aku bercerita banyak kepada mereka termasuk tentang Danau tersebut. “Aku masih heran dengan Danau yang ada di Balik Bukit itu.” Tanyaku kepada Nita yang tengah asyik makan kue donat. “Sebenernya aku juga punya pikiran seperti itu, mana mungkin Danau sebagus itu mempunyai misteri yang sangat menakutkan” kata Nita. “Udah ah jangan bahas Danau itu lagi aku takut tau!” bentak Bagas. “Bagas bagas.. kamu itu kok penakut sih kayak bencongan aja” Canda Angga dan disusul tawa aku dan Nita.

“Tapi aku masih penasaran sama Danau itu.” Aku menyambung percakapan mereka. “Gimana kalau kita pergi kesana aja, tentunya kalian penasaran kan?” kata Nita. “Tapi aku takut, disana banyak hantu yang akan membunuh kita” seperti biasa Bagas ini sangat ketakutan dan lucunya Bagas sampai memeluk Angga. “Apaan sih Gas, meluk meluk segala”. Udah udah gimana kalau besok pagi kita kesana bareng bareng, mau nggak? kalau kalian mau harus bawa senter, bekal dan tenda untuk menginap disana..” kataku. “OK SIAPA TAKUT” kata Angga dan Nita bebarengan. “Aku yang takut tau” kata Bagas tetapi kami tidak menghiraukannya.

Keesokan harinya kami berkumpul di Pos Kamling Di Desa kita. Pukul 07.23 kami berangkat meninggalkan Desa kami Menuju Danau yang katanya menyeramkan itu. Sesampainya disana kami takjub dengan indahnya pemandangan di Danau itu. Sangat indah dan menarik untuk dipandang tapi mengapa orang orang sekitar tidak tahu betapa indahnya Danau yang Dikira sangat angker dan menakutkan itu. “Wah indah sekali pemandangannya sampai sampai aku ingin tinggal disini,” Kata Nita.

Kami menuruni bukit dan mencari tempat untuk mendirikan tenda, belum sampai 10 menit kami menemui tempat yang cocok untuk bermalam. Setelah mendirikan tenda kami langsung menyiapkan api unggun, disitulah Aku dan Nita merasakan ada yang aneh di sekitar kita. “Wi kamu ngerasa nggak kalau suhunya menurun drastis, dingin banget padahal api unggun udah nyala?” Kata Nita berbisik. “Iya nih aku juga ngerasa tapi jangan bilang sama Bagas dan Angga nanti mereka panik dan takut.” “Ok, gimana kalau kita langsung masuk tenda aja biar Mereka nggak tau apa yang sebenarnya terjadi” kata Nita memberi solusi. “Iya kamu betul, Bagas Angga kita masuk tenda yuk udah malem lagi” kataku menahan rasa takut. “Tapi aku belum ngantuk” kata Bagas. “Ayo tidur besok pagi aja lanjutin!” kataku dengan nada agak kesal. “Iya iya aku tidur nih jangan marah dong”.

Kami masuk ke tenda masing masing. Saat tengah malam aku dan Nita terbangun karena Tenda sebelah yang ditempati Bagas dan Angga Ada yang Aneh. Aku dan Nita lihat dari Tenda kami ada bayangan hitam yang menuju Tenda mereka dan sepertinya bayangan hitam itu ingin menculik Bagas dan Angga. Tetapi kami langsung memberanikan diri ke luar tenda untuk melihat siapa yang menuju tenda mereka. Saat kami menengok ke tenda sebelah aku langsung menghidupkan senter dan aku tunjukkan kepada orang iku tetapi orang itu langsung hilang tanpa jejak. Aku dan Nita ketakutan sampai sampai tidak bisa tidur dengan tenang kami gelisah dan takut gimana kalau orang itu balik lagi dan menculik Bagas, Angga, Aku dan Nita?.

Keesokan harinya Aku, Angga, Nita dan Bagas menuju ke danau untuk mencari ikan didanau. Saat kamu mencari ikan tersebut Angga mendapatkan ikan mujair yang cukup besar. Anehnya ikan itu menatap Angga dengan tajam seolah olah ingin menerkam mangsanya. aku dan Nita sangat takut dan tidak berani bilang apa apa, untungnya Angga tidak tahu kalau ikan itu melotot ke arahnya.

Pagi pun berganti siang waktunya kami mengemaskan barang barang untuk kembali pulang, “hore kita pulang ke rumah deh” kata Nita gembira. Tetapi saat kita menyiapkan barang, ada yang mencubit pinggang Bagas, Bagas takut dan menyalahkan Angga. “Angga jangan gitu dong, aku takut nih” kata Bagas. “Apanya sih, aku nggak ngapa ngapain kok, jangan asa nuduh dong” Kata Angga, Kayaknya dia sedikit emosi. “Ada apa sih kok ribut melulu?” kata Nita Mencari tahu. “Ini nih Bagas fitnah aku kalau aku yang nyubit pinggangnya padahal enggak” kata Angga. Aku sama Nita udah ngerasa takut dan mencoba menenangkan Angga dan Bagas juga menenangkan diri sendiri. “Kita harus cepat cepat pulang nih” kataku mencoba menenangkan mereka yang gelisah. “Iya Iya, Aku juga udah ngerasa takut nih” kata Bagas.

Setelah mengemaskan barang, kami pulang melewati bukit yang pernah kita lewati untuk datang ke Danau ini. Saat kami mulai menanjaki bukit itu, ada yang melempar sepucuk kertas ke kepala Nita. Nita langsung membaca, isi surat itu “JIKA KALIAN INGIN MATI, DATANGLAH KESINI UNTUK KEDUA KALINYA UNTUK MENJADI KORBAN SELANJUTNYA”. tulisan itu menggunakan darah yang segar dan baunya sangat menyengat. Saat kami menengok ke belakang untuk mencari tahu siapa yang melempar kertas ini, kami menemukan 3 orang yang tengah berdiri di tengah tengah mayat yang udah mati, ada yang membusuk dan baunya sangat tajam sampai sampai kami mau muntah, tapi kami tahan. Kami sangat ketakutan dan kami lari dan ingin cepat cepat pulang ke rumah.

TAMAT


Karya: Etha Berliana Rida

AKU YANG LAIN

Aku berumur 14 tahun. Aku duduk di kelas 3 SMP. Aku tidak tau sejak kapan keanehan ini dimulai, tetapi beberapa hari ini seperti ada orang yang membuat kehidupanku terbagi dua.

Aku dan Lizara bersahabat sejak aku masuk ke smp. Waktu itu aku ingin sekali mengajak lizara ke bioskop. Oleh karena itu aku datang ke rumah liza untuk mengajaknya ke bioskop. Setelah sampai di rumahnya, aku langsung mengajaknya untuk pergi bersamaku.

“Liz, besok temenin aku yu” Tanyaku.

“Mau kemana, baru tadi siang kita main, masa besoknya main lagi” jawabnya mengejutkanku.

“Main? Tadi siang aku ke rumah sodara aku”

“Ah, jangan bercanda deh, orang tadi kita maen ke taman kota”

“Gak kok, aku gak pernah ngajak kamu main ke taman kota, apalagi tadi siang. gak mungkin banget”

“bener, aku gak bohong. Kan pas di kantin kamu sendiri yang ngajakin aku”

“aneh banget yah. ini seperti jadi teka teki di hidupku”

Sejak saat itu, aku dan lizara sering bertengkar karena menurutnya aku tidak pernah menepati janji yang aku berikan padanya. padahal aku selalu menepati janji yang aku berikan. tetapi ketika aku memintanya untuk menyebutkan janji yang aku berikan padanya. Dan!!! Ternyata yang dia sebutkan, tidak pernah kuberikan sebelumnya.

Oh tuhan, siapa yang telah mempermainkan kehidupanku. Aku seperti merasakan satu lagi kehidupan yang menyerupaiku. Aku merasakan adanya aku yang lain. yang menjalani hidupnya di kehidupanku.


Karya: Putri Valdi

NAGA SABANG & DUA RAKSASA SEULAWAH

Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit.Diselat itu tinggal lah seekor naga bernama Sabang.Pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru dipimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam dipimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejamkepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.

Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu dihalangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai. Maka pada suatu hari dipanggil lah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu dihalangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru. “Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan. Kalau naga itu mati maka kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka. “Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru. “Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka. “Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.

Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya. Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, “ Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga. “Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan berguncangan keras dan air laut akan surut, maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga. Sultan Alam menitikkan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.

Maka pada waktu yang sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikan pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga. Kemudian raksasa seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.

Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, ”Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!” panggil Sultan Alam. “Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.

Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai. Tak lama setelah gempa berhenti kemudian air laut surut sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira dihantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadian mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.

Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangun sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.


Karya: Wildan Seni

HARIMAU MAKAN DURIAN

Desa Kemingking Dalam merupakan termasuk wilayah kecamatan Taman Rajo, kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Daerah ini terkenal dengan berbagai macam hasil bumi salah satunya adalah durian. Di desa Kemingking Dalam, musim durian biasanya tiba satu atau dua tahun sekali dengan hasil yang berlimpah. Durian dari daerah ini terkenal karena bentuknya yang tidak terlalu besar namun memiliki rasa khas yang manis dan legit. Setiap musim panen tiba, masyarakat desa Kemingking Dalam akan berbondong-bondong menunggui durian yang runtuh di kebun mereka masing-masing. Mereka menjaga kebun ini bersama keluarga mereka baik di waktu siang maupun malam. Tetapi, ketika musim panen hampir usai dan buah yang ada di pohon tinggal sedikit, masyarakat desa Kemingking Dalam tidak akan lagi menunggui kebun mereka di malam hari. Berkenaan dengan kebiasaan ini, terdapat sebuah cerita di dalamnya.

Pada suatu masa ketika desa Kemingking Dalam masih merupakan desa dengan pemerintahan tersendiri dan raja-rajanya masih berkuasa. Rakyat hidup berdampingan dalam kedamaian dan kesejahteraan berkat pemimpin yang bijaksana. Namun, tiba-tiba segala kemakmuran itu terganggu dengan hadirnya seekor harimau besar dari negeri seberang. Harimau ini buas, bengis, dan lapar. Ia tidak hanya menghabisi ternak warga masyarakat, tetapi lambat laun harimau ini mulai menyerang manusia. Membuat belasan orang meninggal sedangkan puluhan lainnya luka-luka dengan cacat pada tubuhnya.

Melihat hal ini, Raja yang berkuasa di saat itu tidak dapat tinggal diam. Ia kemudian memerintahkan salah seorang prajuritnya yang paling sakti untuk mengatasi krisis yang terjadi di kerajaannya. Prajurit ini dengan patuh pergi mencari harimau untuk mengusir atau membunuhnya. Ketika berhadapan dengan sang harimau prajurit ini langsung menyerang dengan segala daya upaya yang dimilikinya. Namun sang harimau yang sangat besar dan kuat dapat dengan mudah mematahkan pedang dan tombak senjata sang prajurit serta melukai prajurit hingga terluka parah.

Mengetahui kondisinya yang tidak lagi memungkinkannya untuk bertarung secara maksimal, sang prajurit kemudian melarikan diri dari sang harimau dengan segenap kesaktiannya yang tersisa ia dapat menghindari pengejaran si harimau selama beberapa musim. Hingga akhir tahun itu tiba, cidera yang diderita sang prajurit masih belum pulih sepenuhnya. Ia masih belum sanggup untuk melawan sang harimau yang terus mengejarnya seorang diri. Hingga ketika itu sampailah sang prajurit di sebuah daerah yang masih merupakan bagian dari wilayah Desa Kemingking Dalam sekarang ini yang dipenuhi aroma manis dan tanahnya dipenuhi buah yang penuh duri.

Di tempat ini sang prajurit tidak dapat lagi melarikan diri dan ia telah bertekad untuk melawan sang harimau apapun taruhannya. Ketika sang harimau mendapati sang prajurit tidak lagi melarikan diri ia pun menyerang sang prajurit tanpa ampun. Mereka kemudian bertarung dengan seluruh kemampuan mereka. Hingga kemudian sang prajurit menyadari kehadiran buah yang permukaannya dipenuhi duri itu. Ia kemudian menggunakan buah yang di masa kini dikenal dengan nama Durian sebagai senjatanya. Sang prajurit melempar harimau jahat itu dengan durian terus menerus hingga harimau itu terluka parah dan menyadari bahwa ia telah kalah.

Saat hendak menghabisi sang harimau, harimau pun meminta ampun atas semua kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia pun berjanji kepada sang prajurit untuk tidak lagi menyerang warga asalkan ia diperbolehkan untuk melahap sebagian dari buah yang penuh duri yang tumbuh di tanah mereka itu. Karena rasa kasihan dan iba serta karena melihat kesungguhan dari sang harimau, maka sang prajurit pun membiarkan harimau untuk terus hidup dengan syarat ia tidak akan mendapat ampun lagi apabila ia melanggar janjinya pada sang prajurit.

Maka setelah sekian lama dalam pelarian kembalilah sang prajurit dengan kemenangan di pihaknya. Ia pun melaporkan segala yang terjadi kepada Rajanya dan meneruskan sumpah sang harimau kepada seluruh masyarakat untuk dihormati dan dipatuhi. Hingga sekarang, sumpah sang harimau terus dijaga oleh masyarakat desa Kemingking Dalam. Sehingga meskipun hutan desa Kemingking Dalam termasuk dalam wilayah kekuasaan harimau, harimau-harimau ini tidak pernah menampakkan diri ataupun menyerang warga. Mereka hanya muncul di waktu malam ketika musim durian hampir usai untuk melahap buah-buah terakhir yang telah diperjanjikan untuknya.


Karya: Prawitri Thalib 

CAMPUR ADUK

LOVE IN NEPAL

Malam hari, ya keadaan lingkungan sekitar rumah Budi..baik gitu. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...musik di chenel TVRI gitu,...

CAMPUR ADUK