CAMPUR ADUK

Monday, December 31, 2018

LEGENDA ALUE NAGA

Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya.

"Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak. "Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya," tambah yang lainnya. "Sejak kapan kejadian itu?" Tanya Sultan Meurah. "Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat," jelas yang lain.

Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. "Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu," kata Sultan Meurah. "Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair," sambung Sultan Meurah. "Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam," jelas Renggali, "abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya," tambahnya. "Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!" Perintah Sultan.

Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, "bukit yang aneh, "bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling. "Maafkan hamba putra Raja Linge!" Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya  bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, "siapa engkau?" Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh.

Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. "Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. "Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!" Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan.

Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran. "Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?"  tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. "Mengapa Sultan Alam tidak datang?" Suara dari bukit. "Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?" Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu.

"Hukumlah hamba Sultan Meurah," pinta bukit itu. "Hamba sudah berkhianat, hamba pantas  dihukum," lanjutnya. "Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge," jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, "bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?" Tanya Renggali.

"Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2  ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya.

Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya," cerita naga sambil berurai air mata.

"Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!" terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?" Tanya Sultan Meurah. "Raja Linge menusukkan pedangnya ke  bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya," jelas sang naga.

"Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba," pinta Naga Hijau. "Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya," kata Sultan Meurah. "Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya," jawab Renggali. "Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan  perbuatan hamba," pinta Naga Hijau. "Kalau begitu bebaskanlah dia!" Perintah Sultan Meurah.

Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. "Hukumlah hamba Sultan Meurah!" Pinta Naga Hijau. "Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!" Perintah Sultan Meurah.

Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.


Karya: Wildan Seni 

LELAKI TUA DAN HEWAN PELIHARAANNYA

Di sebuah perkampungan terpencil, di sebuah rumah bata model Victoria, beribu-ribu meter jaraknya dari Jam Besar yang berdiri di alun-alun pusat kota, hiduplah seekor kucing jantan yang gemar menikmati masa muda dengan bermain bola di pelataran rumah. Sebenarnya dia masih keturunan Persia. Itu terlihat dari bulu-bulunya yang panjang, hidungnya yang pesek, tulang pipi yang menonjol, matanya yang lebar dan bulat. Dikombinasikan dengan tubuh berwarna abu-abu polos, kucing itu terlihat sangat imut serta menggemaskan.

Majikannya adalah seorang lelaki tua berusia lima puluh tahun yang hidup sebatang kara. Untuk mengisi masa tuanya, setelah kematian istrinya setahun yang lalu, dia lebih senang menghabiskan waktunya itu dengan berpetualang di hutan. Bagi orang awam, mata pria itu terlihat sudah rapuh, tetapi sebenarnya masih sangat tajam untuk mengamati.

Sebelum dia berangkat ke hutan, seperti biasa, dia mematut diri di depan cermin terlebih dahulu, sambil mempelintir kumis tebalnya, dia mengenakan kemeja flanel lusuh lengan panjang yang dilipat selengan, topi hitam yang ditekuk ujungnya, dan sepatu boots yang terbuat dari kulit buaya. Senapan laras panjang tercantel di bahunya, tak ketinggalan juga sebuah pancing panjang sudah berada di genggaman tangan kirinya. Di kampungnya, memburu hewan di hutan bukanlah hal yang dilarang -kecuali memperjualbelikan elang langka, ah itu sangat dikecam oleh warga.

Kucing itu bernama Toby. Lelaki tua selalu mengelus badannya sebelum dia pergi meninggalkannya, kali ini sambil menyelipkan beberapa patah kata, “Jaga rumah, Toby, Akan kubawakan ikan yang besar kau nanti.”

Toby selalu bahagia melihat kepulangan majikannya, itu diungkapkannya dengan berlari ke taman depan begitu dia mendengar langkah kaki-kaki si tua. Bahkan ketika pria itu pulang dengan tidak membawa ikan pun, Toby tetap bahagia. Tetapi, lama-kelamaan, ada satu hal yang mulai melanda perasaan kucing itu: Kesepian. Sejak dilanda kesepian, dia jadi enggan untuk bermain bola di taman depan; dia berharap majikannya mengerti perasaannya, maka untuk mengungkapkannya dia memilih berdiam diri di dalam rumah sepanjang hari.

Seminggu kemudian, si majikan mulai dapat memahami apa yang dirasakan Toby. Berhari-hari dia pergi ke luar desa untuk mengunjungi sejumlah rumah temannya yang barangkali menjual seekor kucing. Seorang lelaki seumuran dengannya, Jim tua, yang dulu telah menjual Toby kepadanya, sudah tidak memiliki seeokor kucing lagi. Hasilnya pun sia-sia. Lelaki tua itu pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan hari, pada petang hari, Pak Morrison tua singgah ke rumahnya, setelah melakukan perjalanan panjang mencari anjingnya yang kabur. Kini anjingnya sudah berada di dekatnya lagi. Lelaki tua itu mengizinkan Morrison masuk ke rumah. Segera setelah selesai mempersiapkan sebuah kamar untuk Pak Morisson di lantai atas, dia mengizinkan tamunya untuk istirahat terlebih dahulu, lalu cepat-cepat dia turun ke bawah, mengambil Toby, dan membawanya serta ke hadapan anjing Golden Retriever yang diikat pada tiang di samping pintu halaman belakang. Tak ada sesuatu yang paling mengejutkan bagi lelaki itu selain mengetahui bahwa anjing itu tidak menyalak sama sekali.

Anjing itu tetap berebahan, dengan dagu menyentuh tanah. Suatu hal yang membuat Toby berani untuk duduk di sampingnya, dalam jarak aman, dan bukannya malah lari terbirit-birit.

Melihat Toby senang berada di dekatnya, kemudian lelaki tua meninggalkan mereka dan berjalan ke kamarnya di lantai bawah untuk berangkat tidur.

Keesokan harinya, ketika Morrison hendak berpamitan pulang, pemilik rumah cepat-cepat melontarkan pertanyaan. Dia bertanya apakah Pak Morrison menjual anjingnya. Mula-mula sang tamu dengan tegas menjawab tidak, tetapi setelah mendengar alasan-alasan yang diutarakan lelaki itu tentang keakraban sesaat Toby dan si anjing, dan bahwa kucing itu sangat membutuhkan seekor teman lantaran didera kesepian, si pemilik anjing segera mengiyakan dengan antusias karena heran mendengar keakraban mereka, mengingat banyaknya anjing-anjing yang dimilikinya. Maka, setelah terjadi transaksi jual-beli, dia lalu minta diri, mengayunkan kaki bersamaan dengan tongkatnya, meninggalkan rumah sahabatnya, dengan senang hati.

Anjing itu jantan, berwarna keemasan. Warnanya semakin tampak mengilap saat tubuhnya ditempa cahaya matahari—saat Toby dan anjing itu bermain bola bersama sang majikan di taman rerumputan halaman depan. Suatu ketika bola yang mereka mainkan jatuh di sungai kecil di samping halaman belakang; waktu itu bola yang dilemparkan oleh sang majikan jatuh dekat sungai, lalu, seperti lomba saja, mereka cepat-cepat berlari untuk mengambilnya. Tepat ketika si anjing berlari hendak mengginggit bola itu, tiba-tiba Toby makin menambah kecepatan larinya, dan secara tak sadar ia berhasil melewati musuhnya dari samping lalu, secara tak sadar pula, menendang bola itu hingga jatuh terbawa air. Laju sungai yang deras membuat bola terus meluncur. Sejak kejadian itu, si anjing jadi marah besar kepada Toby. Meski si lelaki tua telah membelikan bola baru untuk mereka, si anjing tetap marah pada Toby. Majikan itu hampir hafal aktivitas hewan peliharaan barunya, setiap hari anjing itu menghabiskan waktu sendirian di kandang belakang, ia tidur, lalu makan, berjalan mondar-mandir melihat sungai, dan mendekam kembali di kandang. Berbeda dengan rekannya, Toby justru menikmati hari-harinya dengan ceria; setiap pagi, setelah menghabiskan sarapan, ia bermain bola di halaman depan, sambil menjemur diri di bawah matahari. Ia lalu akan masuk rumah kembali tepat ketika matahari naik setinggi tombak. Dalam perjalanannya menuju kandang, kadang-kadang Toby sempat berhenti ketika tiba di depan sebuah pintu dapur yang berada di sudut. Seandainya seseorang berada di situ dan membuka pintu dapur itu, dia akan melihat keluasan taman belakang yang menghijau, berlatarkan sungai yang bergemericik airnya, juga sebuah jembatan kecil yang dibuat oleh pemilik rumah. Menyadari bahwa tak ada orang yang melakukan hal itu untuknya, maka ia segera meloncat ke meja dapur, lalu secepat kilat ia meloncat lagi ke atas sebuah almari. Ia menengok rekannya melalui kerangka angin-angin yang terpasang di dinding atas. Sebenarnya, jika dia ingin menengok anjing itu, dia bisa melakukannya secara langsung lewat samping kanan rumah, dengan memutar melewati jalan setapak di samping kanan rumah itu, lalu ia harus berhenti saat tiba di depan rerimbunan semak-semak. Tetapi, lantaran takut kepergok oleh si anjing, hal itu benar-benar tak pernah dilakukannya. Suatu ketika si majikan membawa pulang ikan banyak. Namun demikian, lantaran mengetahui anjing itu tetap marah kepadanya, maka dia lebih senang untuk memberikan kepada Toby, kemudian ikan yang tersisa diberikan untuk si anjing.

Di suatu senja yang cerah, saat burung-burung mulai pulang ke sarangnya, Toby duduk merenung di bawah sebuah pohon yang teduh di taman depan. Ia merenungkan masa depannya mengenai pertemanannya dengan si anjing; apakah ia akan terus-terusan seperti ini, tanpa komunikasi. Ketika ia hendak berjalan pergi ke dalam rumah, dari belakangnya, tiba-tiba muncul seekor ular berbisa yang panjangnya lebih dari satu meter. Mendengar suara gemerisik dari belakang, ia menengok dan, begitu mengetahui kehadiran seekor ular yang hendak memangsanya, berteriaklah kucing itu sekeras-kerasnya, hingga teriakan itu membuat si anjing yang sedang tidur seketika terbangun. Bingung, kaget, dan tak terbiasa menghadapi peristiwa seperti itu, kucing itu berlari tak keruan arah, ke sana ke mari, ke belakang mengelilingi kolam, lalu ke depan mengelilingi pohon, dan tetap diikuti oleh musuhnya -yang tak lain dan tak bukan merupakan seekor ular hitam mengilap yang semakin gesit mengejarnya. Si anjing tiba-tiba datang dan berlari lewat jalan setapak, lalu ia berhenti mendadak, seperti seekor kuda yang dikendalikan oleh koboi. Mengetahui bahwa ular tersebut tidak menyadari kehadirannya, dengan cepat si anjing berlari ke arah ular dan menerkam hewan melata tersebut tepat di kepalanya. Ia mencabik-cabik kepala ular itu hingga mati.

Ketika itulah lelaki tua pulang, sambil menenteng tas kresek hitam yang berisi banyak sekali ikan. Cepat-cepat dia bergegas ke belakang rumah, dan tak lama kemudian, dia sudah kembali lagi dengan menenteng sebuah jerigen kecil berisi minyak tanah. Dia lalu membuka tutupnya, menuangkannya ke tubuh si ular, dan segera menuntup kembali jerigen itu. Tangan kanannya yang kasar meraba saku celana, lalu mengeluarkan sebuah korek api. Dia mengambil satu batang, menggeretnya, dan menjatuhkannnya ke tubuh si ular. Mereka bertiga mundur sambil melihat api berkobar. Sejak kejadian itu, kedua hewan peliharaannya mulai terlihat rukun kembali. Keesokan harinya, juga di hari-hari berikutnya, lelaki tua dan hewan peliharaanya senantiasa terlihat bersemangat -lebih bersemangat- saat bermain bola kembali. Seandainya seseorang berada di situ, di halaman belakang, atau berdiri di jembatan kecil, niscaya, teman-teman, dia akan benar-benar melihat kebahagiaan itu.

Pesan Moral:

1. Tentang Keberuntungan: Kita harus membuang segala bentuk dendam, seperti Toby; belajarlah untuk mengembuskannya jauh-jauh lewat napasmu sebelum engkau tidur malam. Terkadang keberuntungan menghampiri mereka yang hidup dengan kelapangan, seperti Toby, ketika sang majikan membawa banyak sekali ikan, dia memilih untuk memberikan mereka kepada Toby, dan yang tersisa untuk si anjing yang tetap marah.

2. Tentang Persaudaraan: Lantaran beberapa alasan tertentu, atau kesalahan yang tak termaafkan, mungkin kita jadi sangat membenci saudara dekat kita. Tetapi ketika hidup mereka sedang dalam bahaya, seperti yang telah dialami Toby, kita harus segera menolong mereka, secepatnya, sebagaimana perilaku anjing tersebut.


Karya: Arif Syahertian

NENEK SUKARNI DAN PUTRI KERAJAAN

Pada suatu hari di sebuah desa, terdapat seseorang nenek yang sedang mencuci baju di pinggir sungai. Nenek tersebut bernama Sukarni. Sukarni bekerja sebagai petani ladang jagung dan singkong. Di siang yang terik, Sukarni sedang beristirahat di bawah pohon beringin. Tak lama kemudian ada seorang pemuda yang sedang membawa kotak yang cukup besar dan menghampiri nenek Sukarni.

“Nek.. Bolehkah saya meminta sedikit air?” Sang pemuda itu meminta air karena kehausan.

“Iya boleh.” Jawab Nenek Sukarni sembari memberi kendi yang berisi air.

“Apa yang kamu bawa itu?” Sang nenek mulai bertanya.

“Oh ini ada kotak Nek.” Jawab pemuda tersebut.

“Isinya apa?” Sang nenek bertanya kembali.

“Isinya ada sebuah bayi.. Nenek mau membelinya?” Sang pemuda menawarkan seorang bayi.

“Bayi? Apa jenis kelaminnya?” Nenek Sukarni bertanya lagi karena merasa heran.

“Perempuan Nek.” Jawab pemuda tersebut.

Karena sang nenek hidup sendirian selama bertahun tahun, ia pun membeli bayi tersebut.

“Oke saya ingin membeli bayi tersebut.”

Sang pemuda itu pun membuka kotak dan mengeluarkan bayi yang berada di dalam kotak tersebut.

“Nih Nek bayinya.” Ucap pemuda sambil memberi bayi.

Sang nenek pun merasa bahagia karena setelah lama ia tinggal sendirian, ia pun hidup bersama anak perempuan yang ia beli dari seseorang. Sang pemuda tersebut pun kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu melaut. Nenek itu sangat menyayangi dan mencintai anaknya. Mereka pun hidup bersama. Anak perempuan itu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, baik, dan sopan. Kecantikan anak nenek Sukarni menjadi bahan pembicaraan warga sekitar. Dan lama kelamaan berita kecantikan anak Sukarni itu pun menyebar luas sampai raja yang berada di sekitar wilayah tersebut mengetahuinya dan ingin melihat langsung bagaimana wajah anak tersebut.

“Tolong panggilkan anak Sukarni ke sini bersama Ibunya.” Raja memerintahkan stafnya.

“Baik yang mulia.” Jawab staf kerajaan dengan tegas.

Tak lama kemudian staf kerajaan pun kembali lagi untuk memberitahu sang raja kalau mereka sudah dalam perjalanan.

“Yang mulia, Nenek Sukarni dan anaknya sudah dalam perjalanan.” Ucap staf kerajaan.

“Terima kasih.. Lanjutkan tugasmu.” Jawab raja.

“Baik yang mulia.” staf kerajaan pun pergi untuk memantau Sukarni dan anaknya.

Tak lama kemudian staf kerajaan pun kembali memberi laporan.

“Lapor yang mulia, Nenek Sukarni dan anaknya sudah di halaman utama.” Ucap staf kerajaan.

“Bawa mereka ke hadapanku.” Jawab sang raja.

“Baik yang mulia.” Jawab staf kerajaan.

Staf kerajaan pun membawa nenek Sukarni dan anaknya ke ruang singgasana.

“Sukarni.. Apa benar ini anakmu?” Tanya sang raja.

“Benar yang mulia.” Jawab nenek Sukarni.

“Oh.. Jadi ini gadis yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang.” Ucap sang raja.

“Dari mana kau dapat anak ini? Bukankah suamimu sudah meninggal 30 tahun yang lalu?” Sang raja merasa heran.

“Sebenarnya anak ini aku beli dari seorang pemuda yang menawarkan bayi. Karena aku selalu hidup sendirian.. Aku pun membeli bayi tersebut karena aku ingin merasakan hidup bersama seseorang.” Jelas nenek Sukarni.

“Apa ini?!! kau dapat karena membeli dari seorang pemuda.. Itu sudah melanggar peraturan!!” Sang raja mulai marah.

“Maafkan aku yang mulia.” Nenek Sukarni meminta maaf.

“Yang mulia tolong maafkan Ibuku.” Anak nenek Sukarani memohon agar sang raja memaafkan ibunya.

“Diam kau!! Untuk hukumannya anak ini harus dihukum mati!!” Sang raja menjatuhkan hukuman untuk anak nenek Sukarni.

“Tolong jangan hukum mati anakku.” Nenek Sukarni memohon pada raja.

“Ayah, tolong jangan hukum mati dia.. Karena kelak dia akan menjadi istriku.” Ucap sang pangeran.

“Menjadi istrimu?!! Ayah tidak sudi jika perempuan ini menjadi bagian dari kerajaan!!” Jawab sang raja.

Tak lama kemudian anak nenek Sukarni itu pun dibawa ke halaman utama untuk dihukum mati.

“Pengawal!! Bawa anak Nenek Sukarni ke halaman utama untuk dihukum mati!!!” Sang raja memerintahkan pengawalnya.

Warga yang tahu bahwa gadis yang menjadi kembang desa akan dihukum mati, langsung pergi ke kerajaan untuk melihat eksekusi mati. Anak nenek Sukarni diikat di atas tiang setinggi 500 meter. Para eksekutor pun sudah siap dan pada hitungan ketiga, tali itu pun putus dan anak nenek Sukarni langsung jatuh. Dengan sigap sang pangeran langsung ke halaman utama kerajaan dan menangkap anak nenek Sukarni tersebut. Semua orang yang menyaksikan pun langsung terkejut termasuk raja dan nenek Sukarni. Sang pangeran pun merangkul anak nenek Sukarni ke dalam kerajaan. Ketika sedang merangkul, pangeran melihat seperti ada kotoran di lehernya. Pangeran pun membersihkan kotoran tersebut namun anehnya kotoran tersebut tidak bisa hilang. Ternyata kotoran itu adalah tanda lahir. Tanda lahir itu sama dengan anak raja yang menghilang 17 tahun lalu.

“Ayah coba lihat ini.. Ada tanda lahir di lehernya. Tanda lahir ini sama dengan adikku yang menghilang 17 tahun yang lalu.” Sang pangeran memberitahu sang raja.

“Apa? Tak mungkin.” Raja terkejut.

“Iya.. Benar Yah coba lihat.” Pangeran membuktikannya.

“Ternyata benar kau anakku.” Ucap sang raja.

“Aku? Aku anak raja?” Anak nenek Sukarni merasa tidak percaya.

“Iya.. Kamu adalah anakku yang hilang 17 tahun lalu.” Jelas sang raja.

“Nenek Sukarni, terima kasih telah merawat anakku. Mungkin tanpamu anakku tidak akan kembali.” Sang raja berterima kasih kepada nenek Sukarni.

“Sama-sama. Aku juga senang bisa merawat anak secantik dia.” Ucap nenek Sukarni.

Warga pun sangat senang atas kembalinya putri raja yang sudah lama hilang. Untuk merayakan kepulangan putri kerajaan, sang raja pun menggelar pesta dan karnaval selama 7 hari 7 malam.

TAMAT

PETERNAK DAN KUCINGNYA

Pada suatu masa, hiduplah seorang peternak kuda dari suatu kerajaan China. Ia menjalani kehidupan dalam kesendirian, kecuali dengan banyak sekali kuda-kuda sehat yang sangat subur, membuatnya memiliki banyak sekali kuda untuk dijual. Dari sanalah, ia dapat menjalani dan menafkahi hidupnya sendiri, yakni dari pundi-pundi emas dari setiap kuda yang ia jual. Selain kuda, peternak itu juga memelihara seekor kucing berbulu putih sempurna yang sangat cantik, bernama Mao.

Namun sayang, kehidupannya yang terlihat baik-baik saja, acap kali terusik oleh oknum prajurit-prajurit jahat yang sering meminta secara paksa kuda-kuda yang ia jual. Tentu saja, hal semacam ini tidak boleh dilakukan prajurit kerajaan manapun. Tapi, memang kelompok oknum prajurit ini sering kali bertindak seperti preman di belakang prajurit lainnya. Mereka meresahkan penduduk desa, namun tak ada yang berani melawan.

Padahal, si peternak tahu, jika saja Jendral atau petinggi kerajaan mengetahui hal ini, pasti prajurit-prajurit itu akan dihukum berat. Namun, seperti yang telah disinggung, ia memilih diam saja karena sering diancam oleh para prajurit.

“Jika kau katakan hal ini pada siapapun, kami takkan segan-segan menghancurkanmu dan segala ternakmu!” Kata salah satu prajurit, di suatu hari. Setelah si peternak mengancam untuk mengadu.

Karena hal ini, sang peternak tak berani mengadukannya. Ia pun hidup dalam bayang-bayang ketakutan pada para prajurit selama lebih dari dua tahun. Setiap hari, ia tetap memberi pakan pada kuda-kudanya, kadang menjual kudanya dengan harga selayak mungkin, tapi kadang ia harus rela memberi kudanya secara gratis. Semua itu ia lakukan karena dipaksa oleh para oknum prajurit.

Akan tetapi, pernah sewaktu-waktu si peternak melawan. Karena Mao peliharaannya ditendang oleh salah satu prajurit, ia hampir menyerang salah satu prajurit dengan garpu rumput. Ketika para prajurit memaksa peternak untuk memberikan kuda terbaiknya waktu itu, Mao langsung melompat dan mencakar tangan berotot salah satu prajurit, dan mendesis hebat.

Karena merasa terganggu, si prajurit lantas menendang si kucing begitu saja, dan membuat peternak marah. Ia mengambil garpu rumput, mengarahkannya pada salah satu prajurit, dan berteriak “Jangan sentuh kucingku!”

Tapi prajurit itu berhasil menghindar. Ketika itu terjadi, rombongan prajurit lain seakan gelisah. Mereka memandang keluar peternakan, dan salah satunya berkata “Ini bisa memancing keributan! Ayo pergi dari sini!”

Dan salah satunya berkata “Kami akan kembali lagi nanti!”

Mereka pun, dengan nampak penuh kekhawatiran, ke luar dari peternakan menuju kota. Mereka juga menundukkan kepala mereka, ketika melewati salah satu prajurit bertubuh sangat besar yang sedang berjaga di desa. Peternak berpikir, mereka sengaja menutupi wajah mereka agar prajurit berbadan besar tak mengenal mereka. Mungkin sebelumnya, mereka punya masalah atau semacamnya. Tapi peternak merasa lega, ia setidak—tidaknya belum harus memberikan kuda terbaiknya. Ia berharap dan berdoa, agar dapat menjual kuda terbaiknya secepat mungkin.

Ia sadar Mao menghilang. Setelah para prajurit tak terlihat lagi, ia mencari Mao kucingnya. Ternyata kucing berbulu putihnya itu berjalan ke luar. Peternak, dengan tenang dan penasaran, mengikuti Mao dengan kesunyian. Mao melompat tinggi pada sebuah tembok, dan peternak memanggilnya, tapi sang kucing tak bergeming.. Tembok itu tipis dan tinggi, Mao melompat melalui tumpukkan kotak bekas pakaian tak terpakai di depannya. Peternak memanggil lagi, tapi Mao tetap melanjutkan jalannya.

“Kemana Mao pergi?” Tanya peternak pada dirinya sendiri.

Karena penasaran, ia pun mengikuti Mao. Ternyata Mao tak hanya berjalan melewati tembok tipis dan rawan itu saja. Ia juga melakukan hal berbahaya lainnya, seperti berjalan tanpa takut di hadapan seekor anjing pemburu yang dirantai, melompati kubangan lumpur yang cukup luas baginya, bahkan memanjat sebuah pohon tinggi. Ia mengambil sesuatu di atas sana, dan ia menatap peternak dengan menggigit sebuah pesawat kertas. Dengan sedikit keraguan, ia melompat dari ketinggian. Mao hanya bermain dan mencakar kertas itu, dan ketika ia merasa bosan, ia meninggalkannya.

Peternak pun berpikir, dan berbicara pada dirinya lagi, “Bodohnya kucingku, melintasi jalan berbahaya hanya untuk kertas tak berharga.” Ia pun membawa kucingnya kembali ke rumah.

Kemunculan bulan menandakan malam. Peternak masih memikirkan kejadian tadi siang. Kejadian di mana kucingnya sudi melewati tembok tipis, berjalan di hadapan seekor anjing, melewati kubangan lumpur, dan melompat naik-turun pohon tinggi hanya untuk kertas tak berguna. Akan tetapi, semakin ia memikirkannya, sesuatu yang berbeda melintas di kepalanya. Di detik kemudian, ia baru tersadar, ternyata dirinyalah yang selama ini sangat bodoh. Mao kucingnya melewati perjalanan menyusahkan untuk secercah kertas tak berguna. Walaupun harus melewati rintangan dan keraguan, tetapi ia tetap melakukannya. Sedangkan dirinya, sebagai manusia, tak mau memerjuangkan hal yang penting untuknya sendiri, dan lebih memilih diam dalam rasa kepengecutannya.

Ketika pikiran itu melintas di kepalanya, peternak berdiri dari tidurnya, dan ia berjalan ke luar rumah. Ia ke luar desa dan seorang prajurit penjaga malam bertanya, “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

“Aku ingin memerjuangkan hakku.” Kata peternak, lantang.

“Hak apa yang kau maksud?” Tanya prajurit.

“Aku, peternak miskin di desa, sering ditindas oleh oknum prajurit yang meminta kuda-kuda yang kujual secara paksa. Aku ingin mengadukannya pada Raja!”

Mendengar itu, wajah prajurit itu menjadi merah dan terlihat sangat marah. Untuk sesaat, peternak ketakutan dan berpikir prajurit itu salah satu dari mereka yang sering ‘merampok’ kudanya. Namun setelahnya, ia baru tersadar ternyata prajurit itu adalah Jendral terkenal kerajaan. Ia sempat tak mengenalinya karena gelapnya hari. Jendral itu bernama Zhang Fei, yang mempunyai kumis tipis di kedua atas bibirnya.

Jendral itu berteriak “Akan kubantu kau mengadukan semuanya pada Raja! Dan mereka akan mendapat balasan setimpal!”

Esok harinya, Raja dan Jendral mencari tahu siapa-siapa oknum prajurit yang dimaksud. Setelah terbukti bersalah, mereka dipecat dan dihukum berat oleh kerajaan. Namun peternak, yang merasa hukuman mereka terlalu berat, dengan rendah hatinya berkata, “Maaf yang mulia, jika anda tidak keberatan, bolehkah hukuman mereka diganti saja?”

“Apa usulmu?” Tanya Raja, tersenyum.

“Jika boleh, buat saja mereka bekerja di kerajaan sebagai pesuruh dengan bayaran yang disesuaikan.”

Raja yang seakan kecewa, berkata “Hatimu terlalu baik peternak, tapi karena aku sangat menyukai kebaikanmu, akan kuikuti saranmu.” Dan Raja berbicara lantang pada para prajurit, “Mulai sekarang! Dan untuk dosa dua tahun kalian! Kalian akan bekerja untuk membantu ternak peternak yang baik ini dengan kerajaan yang akan membayar kalian secukupnya.”

Semua setuju dalam pengampunan itu, air mata terima kasih dan penyesalan para prajurit tercucur deras. Mereka memeluk lutut peternak yang merasa tak enak.

Mulai hari itu, para oknum prajurit yang menyesal semenyesalnya, bekerja untuk peternakan si peternak. Membuat si peternak berhubungan jauh lebih baik dengan para mantan prajurit. Mereka hidup dalam keakraban, bekerja untuk membangun hubungan yang dulu rusak, dan juga sebuah peternakan kuda.

Dua tahun berselang, dan masa hukuman mereka selesai. Namun, para mantan prajurit memutuskan untuk tetap bekerja pada peternak. Mereka berjanji akan membuat peternakan menjadi besar dan terkenal, bahkan di seluruh penjuru negeri.


Karya: Jaka Ahmad

PUTRI DUYUNG YANG BERUBAH WUJUD

Putri duyung adalah cerita dongeng yang mempunyai beperapa versi. Suatu hari ada seorang ibu yang membuang anak perempuanya yang bernama arum, zaman itu masih zaman kuno. Bayi itu ditemukan oleh seorang penyihir jahat dan ia merubah bayi perempuan itu menjadi putri duyung

5 tahun kemudian arum menjadi anak anak, suatu hari ia dikasih kalung oleh penyihir jahat, suatu hari ia main bersama duyng duyung lain lalu tiba tiba ada 3 hiu yang kelaparan, hiu itu hampir memakan arum tapi tiba tiba kalung pemberian penyihir itu bersinar dan membuat ombak besar dan membuat hiu hiu itu langsung lari ketakutan

“Yee arum hebat arum hebat!!” kata si teman teman duyung arum

Zaman kuno mulai berakhir, ketika itu sudah tahun 1503 secara tidak sengaja ia bertemu dengan manusia yang tampan, ia adalah anak dari raja alexsander gheraha yang bernama jordan gheraha, putra ke-2 raja alexsander, lalu arum bertemu lagi dengan jordan tapi saat itu badai besar dan kapal tenggelam tapi jordan selamat lalu arum pergi agar identintas tidak diketahui oleh jordan

Suatu hari arum meminta kepada penyihir agar menjadikannya seorang manusia

“Kamu bisa menjadi manusia dengan satu syarat yaitu mengembalikan kalung pemberianku apakah kamu bersedia?” kata penyihir sambil tertawa kata arum “Iya aku bersedia” lalu arum menjadi manusia dan menuju ke kerajaan, lalu arum bertemu dengan pangeran jordan, langsung pangeran jatuh cinta dengan arum

“Maukah kau menjadi pendamping hidupku?” dengan malu malu arum mengatakan “Iya pangeran aku bersedia menjadi pendamping hidupmu” tapi ternyata pangeran jordan sudah dijodohkan dengan sinta alexsa dan satu bulan kemudian ada peperangan besar antara kerajaan alexsander gheraha melawan kerajaan selatan di situ arum tertembak dan mengetahui hal itu jordan lari dan memeluk arum “Aku cinta kamu arum” kata sih pangeran sambil menangis. Akhirnya pangeran jordan juga tertembak dan mati bersamaan, sejak hari itu kerajaan terus memperingati hari kematian arum dan pangeran jordan.

Tamat


Karya: Tegar Diar Rohman

KARENA ADA HIKMAHNYA

Aku terus menatap tajam jalanan yang semakin padat kendaraan. Terik matahari mulai membakar kulitku. Aku kepanasan, kelaparan dan kebingungan. Hendak kemana sebenarnya aku ini, aku pun tak tahu. Kakiku mulai berjalan langkah demi langkah tak tahu arah. Hingga sampailah aku di pertigaan jalan. Aku bingung, akan memilih jalan yang mana. Jika aku memilih jalan lurus maka aku akan bertemu pak polisi, jika aku memilih berbelok ke arah kanan maka aku akan bertemu tukang sapu jalanan, dan jika aku berbelok ke sebelah kiri maka aku akan bertemu pengemis.

Hatiku mulai bimbang, memilih jalan manakah yang harus kutempuh. Jalan yang kuharapkan dapat memberikan kehidupan baru bagiku. Beberapa saat aku termenung hingga seseorang menepuk pundakku, seraya berkata “Ukhti hendak kemana?”, aku pun langsung membalikkan badan.

“Anti siapa?” tanyaku penuh penasaran dan sambil terus memandang wajah yang tak asing bagiku.

Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah dimana.

“Ukhti, ana Nisa. Gadis yang pernah anti tolong waktu ana kecopetan ketika ana baru pertama kali datang ke kota ini. Ukhti yang memberi ana tumpangan tempat tinggal di rumah ukhti, ukhti yang memberi makan ukhti dan lain lain. Alhamdulillah sekarang ana sudah bekerja di PT. XXXXX. Ukhti sekarang hendak kemana?” Jelasnya yang mengingatkan aku akan kejadian kurang lebih 5 tahun lalu.

“Ana kehilangan pekerjaan ukhti, PT tempat ana bekerja bangkrut. Ana diPHK ukhti”. Jelasku padanya dengan mata yang mulai menitiskan air mata.

“Astagfirullah… Tafaddolly ukhti, naik ke mobil ana saja. Insya Allah ana akan bantu ukhti sebagai tanda balas jasa ana ke ukhti.” ungkapnya dengan mata yang mulai berbinar-binar.

Aku pun lekas masuk ke dalam mobilnya, kami berbincang-bincang panjang sekali. Sampai akhirnya ia mengabariku bahwa ada lowongan kerja di PT tempat ia bekerja. Alhamdulillah, setelah mengikuti berbagai test dan interview akhirnya aku keterima sebagai pegawai PT. XXXXX tersebut


Karya: Indri Wahyuniati

MISTERI DI AKHIR DESEMBER

Di tengah keramaian kota Jogja Jawa Tengah, sebuah mobil Avanza berwarna Silver melaju dengan kecepatan penuh menyalip mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya. Mobil itu tak lain adalah mobil yang ku kendarai bersama Tante Risti dan Nenek. Dengan tatapan kosong ku terawang keluar jendela melihat tetesan-tetesan air hujan yang mulai membasahi seluruh kota. Pagi ini suasana kota Jogja cukup ramai, akan tetapi dalam pandanganku suasana kota ini sangatlah sepi bak kota yang tak berpenghuni. Kini satu persatu semua kenangan masa lalu itu mulai berterbangan dan berputar-putar seperti komedi putar di kepalaku. Betapa dahulu sangat ku mencintai kota kelahiranku ini, kota dimana aku tumbuh besar bersama kedua orang tua yang sangat aku cintai. Namun kini semuanya tinggallah kenangan belaka, semua telah sirna seiring dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari. Takdir telah merenggut kedua orangtuaku dengan begitu sangat cepatnya. Padahal aku masih sangat membutuhkan mereka dalam kehidupanku. Aku belum puas memeluk mereka, berkumpul bersama mereka, bercanda tawa, bahkan aku juga belum puas dimarahin mereka jika aku melakukan kesalahan. Tetapi mengapa takdir begitu kejam kepadaku?

Huuuft… pertanyaan itulah yang selalu ada dipikiranku dan sampai saat ini juga belum kudapatkan jawabannya.

Hujan semakin deras dan angin juga semakin berhembus kencang membelai cela-cela dedaunan yang kemudian menerpa ranting pohon yang tak berdosa. Berkali-kali ranting pohon itu diterpanya hingga pada akhirnya ranting itu pun jatuh lunglai tak berdaya ke tanah. Di saat itu pula aku tersadar bahwa aku melupakan satu hal yang mungkin adalah jawaban dari semua pertanyaanku selama ini. Perlahan lahan aku mulai mengingat kejadian pada malam itu, kejadian yang dimana sulit untuk bisa diterima oleh akal sehatku.

Kreeeeek…

Hembusan angin telah membuka pintu kamarku, dengan hati berdebar kucoba menoleh ke arah asal suara itu. Aku ternganga dan tercegang mendapati sesosok Makhluk menyeramkan menuju ke arahku, rambutnya panjang terurai, matanya putih polos tanpa pupil, raut wajah yang tak beraturan, kulit jemari-jemarinya kusut disertai kuku-kuku panjang bagaikan binatang buas. Bak tali tambang perlahan-lahan dia mulai mendekatiku dan semakin mendekat. Ingin ku menjerit dan berlari ke luar kamar, tapi Aku tak bisa!

Tubuhku bagaikan patung, terpaku! Apa yang terjadi denganku? Berkali-kali ku bertanya dalam hati. Entah bagaimana caranya tiba-tiba Makhluk itu sudah ada tepat di depanku. Tangannya mencengkram leherku, Aku tercekat tak bisa berucap. “Kenapa Aku begitu pasrah diperlakukan Makhluk ini sedemikian rupa? Bahkan mengeluarkan satu patah kata pun Aku tak mampu,” gerutuku dalam hati. Pintu kamarku terbuka lebih lebar lagi. Mama! Itu Mamaku bersandar di daun pintu dengan cemas.

“Chika, kamu kenapa sayang?” suara itu terdengar samar tapi lama-lama semakin jelas di telingaku. Perlahan ku membuka mata. “Mama…!!!” Teriakku kemudian memeluknya erat yang berada di sampingku sambil menangis terisak-isak.

“Ada apa sayang, kamu mimpi buruk lagi?” Tanya Mama, yang kemudian mengusap air mata di pipiku.

“He’em,” Aku mengangguk. “Aku mimpi buruk lagi dan kali ini mimpi itu seperti nyata,” Jelasku pada Mama, namun sepertinya Mama tak percaya dengan perkataanku.

“Sayang itu hanya mimpi, kamu tahu kan kalau mimpi itu hanyalah bunga tidur. Dia adalah hiasan yang mewarnai dunia tidur kita jadi semua tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Udah sekarang kamu tidur lagi ya, ini masih larut,” pinta Mama.

Tapi, Aku memberontak “Tidak Ma, itu benar-benar nyata! Aku takut Ma, Aku takut, Makhluk itu…”

“udah-udah sayang,” sela Mama, “kamu kan sudah besar, kok masih penakut gitu. Mungkin tadi kamu lupa membaca do’a jadi kamu mimpi buruk. Sekarang kamu tidur ya, inget! Berdo’a dulu,” hibur Mama seraya tersenyum.

“Tidak Mau! Pokoknya Mama harus temenin Chika, Chika takut Ma,” rengekku kepada Mama. Ngotot!!

“Ya sudah Mama temenin, tapi kamu harus tidur lagi ya,” Mama mengalah. Setelah merasa sedikit tenang kucoba pejamkan mata dan berdo’a agar tidak bermimpi buruk lagi.

Kokok ayam telah membangunkanku, perlahan-lahan ku buka mata. Tapi apa yang kulihat! Wajah itu lagi. Makhluk berbaju putih kusam yang wajahnya tak beraturan, kali ini wajah itu berlumuran darah. Darah yang masih segar mulai mengalir membasahi wajahnya dan dia mulai mumbuka mulut dengan menampakkan taring tajamnya sambil berkali-kali meneteskan air liur bak binatang buas yang kelaparan dan ingin menerkam mangsa di depannya. Aaaaaaaa… Kuteriakkan suaraku sekuat tenaga. Tapi tak ada satu orang pun yang datang menolongku. Wajah itu dengan ganas mendekat kearahku. “Oh tidak, tidak, tidak…” kugeleng-gelengkan kepalaku. Dan…” Lho kok hilang? Kemana perginya Makhluk itu? Kenapa?” Perlahan ku buka mata, mimpi lagi?. “Huuhf…” Ku hembuskan nafas kelegaan. “Kenapa dia selalu menghantuiku? Apa salahku? Dan mau apa dia? Gerutuku dalam hati. Tak terasa keringat mengalir membasahi baju piyamaku. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Dan kemudian keluar menuruni tangga, langkah kakiku terhenti sebelum sampai di lantai bawah ketika tak sengaja ku dengar pecakapan antara Mama dan Papa.

“Pa, Mama kasihan sama Chika. Dia selalu dihantui Makhluk itu,” kata Mama.

“Iya Ma, Papa tahu tapi apa boleh buat ini semua sudah terlanjur,” Sahut Papa.

“Tidak Pa, ini semua belum terlanjur jika kita pergi dari rumah berhantu ini,” jelas Mama.

“Tapi Ma, itu semua tidak mungkin. Mama ingatkan bahwa Papa sudah berjanji dengan mendiang bapak, kalau kita akan menempati rumah ini sampai makhluk itu pergi dengan sendirinya.” Kata Papa dengan wajah sedih.

“Iya pa Mama mengerti akan semua itu, tapi sampai kapan hal seperti ini selalu terjadi pa?” Mama mulai emosi.

Papa hanya diam dan mulai angkat bicara. “Papa sendiri juga bingung Ma harus berbuat apa, jika kita semua pindah dari rumah ini aku khawatir akan ada suatu bahaya besar yang mengancam kita nanti. Yang pasti Papa tidak bisa meninggalkan rumah ini Ma!”

“Tapi kita tidak harus mempertaruhkan Chika juga kan pa? Jika hal ini terus terjadi Chika bisa despresi atau malah mungkin nyawanya bisa terancam. Apa Papa mau kehilangan anak kita satu-satunya?” Jawab Mama dengan nada marah dan mulai meneteskan air mata.

“Papa juga Tidak mau kalau hal itu sampai terjadi tapi kita harus bagaimana?” Papa mulai binggung. Mama dan Papa tak bersuara lagi, mereka diam dan menatap wajah satu sama lain. Beberapa menit kemudian akhirnya terdengar Papa mulai bicara lagi.

“Eh Ma, bagaimana kalau Chika kita pindahkan ke rumah Mbak Risti di Jakarta saja, disana juga kebetulan ada SMA yang cukup dekat, bukan?.” Usul Papa.

“Hmmm, ya Mama setuju. Mungkin itu lebih baik,” Mama sependapat.

Aku terkejut mendengar bahwa rumah ini berpenghuni. Jadi, ternyata semua mimpi itu benar-benar nyata. Akan tetapi Aku lebih terkejut lagi mendengar kesepakatan mereka yang akan memindahkanku ke Jakarta, kenapa semua ini bisa terjadi? Ini semua benar-benar sulit untuk dipercaya. Di satu sisi Aku lega tidak akan bermimpi buruk dan bertemu Makhluk itu lagi, tapi disisi lain Aku sangat sedih jika harus berpisah dengan kedua orangtuaku, Aku tidak tega meninggalkan mereka sendiri di rumah berhantu ini. Bagaimana kalau Makhluk itu berganti menghantui Papa Mama dan mungkin bisa mengancam nyawa mereka? aku takut mereka celaka hanya karena ingin melindungiku, sebenarnya apa yang diinginkan makhluk itu dariku? Ya Allah apa yang harus Aku lakukan, beri aku Petunjuk-Mu!

Lamunanku seketika buyar ketika kudengar suara Mama menyapaku.

“Sudah bangun sayang? Sekarang kamu turun terus kita sarapan bersama ya.”

“Iya Ma.” Kataku pura-pura tak mendengar percakapan mereka.

Kulangkahkan kaki menuruni tangga kembali menuju ke ruang makan. Aku duduk dan menatap wajah mereka dengan tatapan iba. Tak kusangka selama ini mereka telah menyembunyikan rahasia besar dariku. Akhirnya kulahap nasi goreng tanpa berselera, dalam keheningan Mama mulai bicara.

“Chika Mama dan Papa berencana memindahkan sekolahmu di Jakarta bersama Tante Risti, bagaimana menurutmu?” Suara Mama membuyarkan keheningan.

“Kok mendadak sih Ma, memang ada apa dengan sekolah Chika? Perasaan Chika Tidak pernah buat masalah dan nilai Chika juga baik-baik saja,” tanyaku sekedar basa-basi sok Tidak tahu!

“Oh, Tidak ada apa-apa dengan sekolahmu Chika. Tapi menurut Mama dan Papa sekolah di sana pasti lebih baik untuk meningkatkan prestasimu,” sahut Mama.

“Iya lagian rumahnya Tante Risti kan dekat dengan rumah Nenek, jadi kamu bisa berkunjung ke rumah Nenek kapan saja,” tambah papa mencoba menyakinkanku.

“Tapi Ma, Pa, bagaimana kalau Chika kangen dengan Kalian? Terus teman-teman Chika di sini juga, Chika Tidak bisa berpisah dengan mereka. Belum tentu juga Chika di Jakarta mendapatkan teman-teman seperti mereka bukan?” Bantahku pada mereka tak mau kalah.

“Chika sayang, ini semua kita lakukan demi kebaikanmu. toh kamu bukan mau pindah keluar negeri, tapi ke Jakarta dan Jakarta dengan Jogja tidak begitu jauh, jadi seandainya kamu kangen dengan Mama, Papa dan teman-teman kamu, kan bisa berkunjung kesini atau sebaliknya Iya kan Pa?” kata mama sambil menyenggol lengan papa.

“Oh, tentu saja. Pokoknya kamu tinggal telfon saja jika ingin bertemu dengan Papa dan Mama nanti secepetnya kami akan mengunjungimu disana,” imbuh papa.

Dengan berat hati Akupun mengalah, toh jika aku lanjutkan percakapan ini ujung-ujungnya aku juga yang kalah “Ya Ma, Pa terserah kalian saja. Jika menurut kalian ini yang terbaik buat Chika, Chika bisa berbuat apa?” Jawabku dengan nada datar.

Seusai sarapan Aku dan Mama membereskan baju dan perlengkapan sekolahku, Papa telah mengurus kepindahanku hari ini juga. Kata Papa lebih cepat itu lebih baik, seperti dihipnotis aku tak bisa menentang keputusan Papa itu.

“Chika jangan sedih gitu, Mama dan Papa melakukan ini demi masa depanmu sayang,” hibur Mama sembari memelukku.

“Chika ngerti Ma, tapi Chika Tidak tega ninggalin Mama dan Papa di sini sendiri,” jelasku pada Mama.

“Tenang saja ya sayang, Mama dan Papa di sini pasti baik-baik saja. Jadi kamu Tidak usah cemas memikirkan hal itu, kamu percaya pada Mama kan?” kata Mama menyakinkanku. Aku hanya bisa mengangguk dan mempererat pelukkanku, seakan aku tak ingin melepaskan pelukkan ini untuk selamanya.

Aku berangkat ke Jakarta sore itu juga, Papa dan Mama mengantarkanku menuju ke Stasiun. Ingin rasanya ku meneteskan air mata tapi Aku tidak ingin Papa dan Mama malah sedih melihat Aku menangis. Aku harus tegar ini semua demi kebaikkanku juga. Papa dan Mama memelukku erat seperti kita tidak akan pernah bertemu saja. Ternyata firasatku itu benar pelukkan itu adalah pelukkan dan pertemuan terakhirku dengan mereka. Karena selang beberapa bulan tinggal di Jakarta tepatnya tanggal 30 desember, Aku mendengar kabar bahwa Papa dan Mamaku meninggal dalam kecelakaan ketika akan menjemputku di Jakarta. Denyut nadi dan jantungku seakan terhenti mendengar berita tersebut, Aku tak sanggup menerima kenyataan bahwa kedua orang tuaku telah tiada. Itu pukulan terberat dalam hidupku karena di hari dan di tanggal itu juga Aku menginjak usia yang ke 17 tahun. Aku tidak menyangka di Sweet Seventeen ini Akan mendapatkan kado yang sangat menyedihkan yang tak pernah sedikit pun kubayangkan dan kuinginkan dalam hidupku.

—

“Chika, Chika, Chika…” Seseorang menepuk-nepuk punggungku pelan, Aku pun tersadar. “Iya, tante ada apa?” Jawabku dengan nada kaget.

“Kita sudah sampai, ayo kita turun,” ajak Tante Risti yang kemudian membuka pintu mobil dan beranjak turun. Aku melihat bendera kuning berkibar di depan rumah dan itu membuatku semakin terpukul. “Seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku bukan hari yang menyedihkan,” gerutuku dalam hati. Aku tidak sanggup menerima ini semua ini pasti mimpi, mimpi, mimpi… kugeleng-gelengkan kepala kemudian menangis dan berlari menuju rumah. “Papa, Mama…” Teriakku.

Semua orang menatapku dengan tatapan iba, Tante Risti dan Nenek menyusulku, “Chika, kamu Tidak boleh begini sayang. Kamu harus ikhlas menerimanya, ini semua sudah kehendak yang Maha Kuasa.” Tante Risti mencoba menghiburku. Ku dekap jenazah Papa dan Mama bergantian. “Kenapa kalian begitu cepat meninggalkanku. Papa dan Mama tahukan ini hari ulang tahun yang Chika tunggu-tunggu,” Hiks hiks hiks… Kataku tersedu-sedu. “Kamu yang sabar ya sayang.” Kata Nenek sembari memelukku.

Hujan yang sedari pagi membasahi kota Jogja hingga senja tiba belum menampakkan akan mereda. Namun hal itu tidak menghalangi pemakaman Papa dan Mama. Angin sayup-sayup membelai rambutku, gerimis tak henti-hentinya menetes di wajah yang kemudian mengalir bersama air mataku. Upacara pemakaman usai, satu persatu orang yang berta’ziyah meninggalkan pemakaman. Di tempat yang sunyi dan sepi itu tinggallah Aku dan Nenek yang Masih terpaku menatap nisan Papa dan Mama secara bergantian.

“Nek, apa semua ini nyata? Apa benar Papa dan Mama telah pergi untuk selamanya?” Aku mulai angkat bicara.

“Chika, ini semua nyata sayang bukan mimpi, kamu harus bisa menerima ini semua dengan lapang dada. Mungkin ini ujian dari Yang Maha Kuasa buat kita semua,” tutur Nenek.

“Aku mengerti Nek, Aku sudah mencoba menerima semua ini. Tapi Aku merasa aneh, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku Nek. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Makhluk penghuni rumah kami?” Tanyaku yang kemudian membuat Nenek tercegang.

“Chika, apakah kamu sudah tahu semuanya?” Kata Nenek terkejut.

“Tahu apa nek?” Tanya ku penasaran.

“Kurasa ini saatnya kamu tahu semuanya, dahulu kakek buyut kamu melakukan pesugihan untuk menjadi orang kaya, sebagai imbalannya dia harus memberikan 1 tumbal tiap tahunnya sebagai gantinya. Dan jika anak keturunannya juga igin menjadi kaya raya mereka harus melakukan hal yang serupa. Semua saudara kakekmu memilih untuk meneruskan pesugihan itu kecuali kakekmu. Namun semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa Makhluk itu masih tetap menggangu rumah peninggalan kakek buyutmu yang diwariskan kepada kakekmu. Hingga pada suatu hari kami mengetahui bahwa jika ingin terlepas dari jeratan makhluk itu kami harus bersaing melawan makluk itu bertahan di rumah kakek buyutmu, akan tetapi sampai kakekmu meninggal makhluk itu masih tetap mengganggu kami. Dan sebelum kakek kamu menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia memberi amanah kepada ayahmu untuk menggantikannya berjuang mengalahkan makhluk itu.” jelas Nenek dengan raut wajah penuh penyesalan. Belum sempat Aku berkata tiba-tiba angin datang bagaikan badai dari kutub utara, Makhluk itu…! Aku tersentak. Wajah yang penuh dendam menampakkan taring tajamnya beserta air liur yang menetes membasahi tanah pemakaman. Makhluk itu berjalan ke arah Nenek, Aku berusaha berteriak pada Nenek dan mengajaknya lari. Tapi semuanya terlambat, ku lihat Nenek sudah dicengkram oleh Makhluk itu, dia menggigit leher Nenek. Darah bercucuran bersama air hujan yang kemudian membasahi nisan Papa Mama. Aku harus bagaimana? Nenek sudah meninggal, dan sekarang Aku sendiri di sini, Aku tersesat, Oh tidak… Aku takut Ya Allah tolong Aku!! Makhluk itu Masih memburuku, dan apa? Makhluk itu tiba-tiba sudah berada tepat di belakangku. “Aaaa…lepaskan Aku! Lepaskan! Papa Mama tolong Aku… Tidaaak…!!!” teriakku histeris.

Nafasku terengah-engah, aku tak dapat bernafas secara beraturan ketika kubuka Mata dan menatap sekelilingku, “ini Kamarku? Iya benar ini kamarku!” kataku dalam hati.

Teng… teng… teng… Kudengar jam berdentang dan itu menunjukkan bahwa sekarang tepat pukul 12 Malam. Aku terkejut mendapati Papa, Mama dan teman-temanku telah berdiri di depan pintu kamarku dengan membawa kue ulang tahun dan beberapa kado untukku.

“HAPPY BIRTHDAY…!!!” Kata mereka sambil meniup trompet. hatiku lega bercampur gembira ternyata semua kejadian-kejadian itu mimpi? Huhhff… mungkin Aku terbawa imajinasi akibat menonton banyak flm Horor sore tadi. Dengan hati gembira kupeluk Papa dan Mama, mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado untukku. “Selamat ya sayang, ini kado dari Mama dan Papa buat kamu semoga kamu suka.” Aku sungguh bahagia menerima kejutan di hari ulang tahunku ini. Tak lupa kupeluk juga teman-temanku dan serentak mereka berkata “SWEET SEVENTEEN… SEMOGA DI UMUR YANG KE 17 TAHUN INI KAMU TAMBAH DEWASA YA…!!!” Kami pun tertawa “Hahaha…”.


Karya: Nur Widayanti

Sunday, December 30, 2018

MENANAM KEBAIKAN AKAN MENABOK KEBURUKAN DUNIA YANG BERGANTI TAHUN

Pagi yang cerah Dono langsung memegang cangkulnya dan langsung di ayunkan untuk mengolah tanah. Terus-menerus Dono mencangkul mengolah tanah. Sampai menjadi gundukan yang cukup tinggi. Barulah Dono menanam batang singkong yang dari awal telah di siapkan. Setelah beres semuanya. Dono pun bergerak mengambil air dari sebuah kolam tadah hujan. Dibawalah atas siram untuk menyirami tanaman yang baru di tanam.

"Huh.......selesai juga pekerjaan saya. Rasanya puas," celoteh Dono.

Dono langsung membereskan semua pekerjaannya semua alat pertanian di taruh di samping rumah. Dono pun mulai istirahat sambil minum teh yang mulai dingin buatannya sendiri.

"Segarnya.....teh ini," celoteh Dono.

Indro pun datang langsung duduk di sebelah Dono. Segeralah Indro minum teh manis untuk menghilangkan rasa hausnya dari capek berolah raga di hari  yang libur menjelang tahun baru.

"Eeeeemm...segarnya teh ini." kata Indro.

"Indro..ngomong-ngomong jadi ikut acara di mesjid saat tahun baru?" tanya Dono.

"Jadilah...Dono. Kan di undang apalangi di minta oleh pengurus mesjid untuk meramaikan mesjid," kata Indro.

"Mengaji dan mengaji. Lebih baik menanam kebaikan di dunia dan akherat untuk selamat dalam menjalankan hidup ini," kata Dono.

"Menanam kebaikan. Sama seperti pekerjaan kamu Dono. Menanam singkong. Ada kebaikannya di dalamnya. Hidup harus menanam kebaikan agar menabok semua keburukan di muka bumi. Kalau kita menanam keburukan maka kehancuran yang datang," kata Indro.

"Iya juga. Kebaikan itu penting dalam menjalankan hidup. Entah kapan ujian dari malapetaka di dunia ini. Kita hidup selalu di hantui oleh keburukan yang akan datang di tahun ini dan tahun berikutnya. Kalau tidak menanam benih kebaikan makan tidak akan selamat dari ujian keburukan dunia ini," kata Dono.

"Itulah pentingnya kebaikan. Sama aja kamu menanamkan pemahaman kamu di dalam tulisan Blog kamu demi orang yang membaca tulisan kamu. Agar kebaikan itu lah yang akan menyelamatkan dirimu, keluargamu dan kaummu yang selalu berjalan di jalan Alloh SWT," kata Indro.

"Jalan keluarga saya dan kamu adalah berdakwa. Maka terus menerus menyampaikan ayat-ayat Alloh SWT walau satu ayat. Agar kebaikan dunia ini datang pada seluruh umat manusia dan menabok keburukan dunia. Seperti kesusahan, kekurangan, kesulitan dan malapetaka atau musibah. Semuanya datang dari Alloh SWT dan kembali ke Alloh SWT untuk satu tujuan saya muslim yang sabar menjalankan segala ujian apapun," kata Dono.

"Benar-benar ...ahli surga. Yang paham arti keselamatan diri sendiri, keluarga dan saudara seiman tak lupa menyelamatkan kaum yang lain untuk di berikan pemahaman yang baik dan benar agar selamat menjalankan hidup ini yang penuh dari ujian atau cobaan yang telah di tetapkan Suratan Takdir Illahi." kata Indro.

"Amin. Semoga kamu juga mendapatkan safaatnya agar lebih bijaksana dalam menjalankan hidup," kata Dono.

"Amin."

Indro pun menyelesaikan minum tehnya dan beranjak dari duduknya.

"Mau kemana kamu Indro?" tanya Dono.

"Saya mau beres-beres diri ada urusan kerjaan sama teman baru deh ke mesjid mengaji di malam tahun baru," kata Indro.

"Ohhhh..begitu," saut Dono.

Indro langsung pergi mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Dono menyelesaikan minum tehnya baru membereskan semuanya. Tapi tidak langsung membersihkan diri alias mandi karena abis bertani di samping rumah. Dono lagi nunggu gantian dengan Indro yang beres-beres diri. Dono menjalankan niatnya yaitu mengambil leptopnya di kamarnya. Mulailah Dono mengetik di ruang tamu menceritakan keadaan dirinya  dan memberikan pemahaman dari Indro untuk meningkatkan kualitas tulisannya. Terkadang Dono berhenti mengetik dan memperhatikan tingkah laku lingkungannya menjelang pergantian tahun. 

"Ternyata sama saja," celoteh Dono.

Dono kembali mengetik kembali dan menceritakan suasana kehidupannya yang aman dan damai. Walau terkadang Dono membaca berita lewat jaringan internet untuk melihat perubahan dunia. Ternyata Dono mendapatkan kesimpulan yang lebih baik.

"Menanam kebaikan di dunia ini akan menyelamatkan diri dari keburukan dunia," celoteh Dono langsung di ketiknya yang akurasi dan ditel.

Dono merasa nyaman sekali. Sampai Kasino pun pulang dari urusan pekerjaanya. Masuklah Kasino ke dalam rumah langsung duduk bersama Dono.

"Letihnya hari ini. Repot ngurusin permasalahan yang harus di selesaikan," kata Kasino yang mengeluh.

"Namanya hidup. Perlu makan dan minum. Di dapatkan dengan usaha yang keras bukan malas-malasanya," kata Dono.

"Itulah hidup Dono. Kadang kita mencari rezeki di kota kelahiran kita kadang di kota yang lainnya. Tidak ada yang tahu rahasia rezeki itu. Kadang sudah di usahakan pun tak dapat itulah maka pinter-pinter mencari solusi dalam menjalankan hidup," kata Kasino.

"Bener-bener ironis mencari rezeki di dunia ini," saut Dono.

"Itu lah ironisnya hidupnya. Jauh dari keluarga besar demi masa depan yang masih semu. Tapi harus di jalankan demi hidup. Sama seperti orang yang merantau dari Jawa Timur ke Jakarta. Demi masa depan. Tapi terjadilah kepadatan penduduk yang terlihat semerautnya sistem semuanya. Berlomba-lomba manusia untuk bisa makan dan minum beserta tempat tinggal yang layak di Jakarta. Demi masa depan," kata Kasino.

"Masa depan mau ke mana tergantung kita membawanya. Jika di jalankan baik maka kebaikanlah yang datang. Jika dijalankan keburukan maka keburukanlah yang datang. Hidup adalah pilihan," kata Dono.

"Pilihlah dengan baik agar hidup mu selamat dunia akherat," saut Kasino.

"Dunia dan akherat......amin ya Kasino."

"Amin....."

Kasino pun bergerak dari duduknya langsung ke kamar setelah mendapatkan dokumen penting. Dono pun santai mengetik untuk menyelesaikan tulisannya. Kasino pun pamitan pergi lagi untuk urusan pekerjaannya yang belum selesai. Sedangkan Indro pun juga pamitan dengan Dono untuk menyelesaikan pekerjaannya baru pergi ke mesjid untuk mengaji. Dono terus mengetik sampai selesai tulisannya. Lalu langsung di save agar tidak hilang hasil kerjanya. Dono langsung menyimpan leptopnya di kamarnya dan berganti pakaian setelah membersihkan diri alias mandi. 

Setelah itu Dono pun pergi ke rumah Wulan untuk menyelesaikan urusan pekerjaan juga yang di buat  Dono dan Wulan untuk mengatasi perubahan zaman yang berganti tahun 2018 menjadi 2019.


Karya: Dono

CINCIN EMAS AJAIB FERONICA

Pada saat aku sedang pergi ke  taman aku menemukan....

"Apaan tuh?" tanyaku kepada diriku sendiri.

Aku pun berlari dan mengambil benda itu ternyata itu adalah cincin emas.

"Waawwww...canik banget cincinnya!!" kataku bahagia.

Aku ini adalah sebatang kara orangtuaku hilang karena terjadi Tsunami di kotaku, kakakku bilang ingin mencari makanan seminggu yang llau tapi dia belum pulan juga. Sementara aku tidak punya tempat tinggal aku hanya tinggal di masjid. Dan namaku adalah Ziiyah Feronnica Welonnia. Biasa dipanggil Feronnica.

"Aku pakai ah!" kataku.

CLING!! timbullah cahaya dan aku pun kaget, tapi menurutku itu hanya hal biasa. Pada saat aku sampai di Taman aku duduk di kursi tamannya.

"Semoga aku bisa bertemu kakakku lagi!" kataku berharap tiba-tiba CLING!!.

"Feron!!" kata seseorang memanggilku.

Aku pun melihat ke belakang. Ternyata itu adalah kakak.

"Kakak!!!" kataku sembari lari memeluk kakak.

"Kakak kemana aja?" tanyaku.

"Kakak juga gak tahu Nic!" kata kakak.

"Kita makan yuk!!" kataku.

Aku pun melihat ke belakang. Ternyata itu adalah kakak.

"Tapi kaka gak punya makanan!" kata kakak.

Tenang aja aku punya ini Jeng!! Jeng!! Jeng!!

"Cincin Ajaib Feronnica!!" kataku.

"Buat apaan?" kata kakak.

"Gini kita tinggal aja, Aku ingin makanan!!" kataku.

CLING!! Munculah makanan dan kami memakannya.

Lalu kami meminta Rumah, Mobil, Makanan dan Uang, semuanya telah dikabulkan oleh Cincin Emas Ajaib Feronnica.

"Feron kamu lepas cincin emas itu gih!!" kata kakak.

"Gak mau!!" jawabku marah.

"Kalau kamu terus meminta semua yang kamu inginkan berarti kamu itu gak mau berusaha semenjak ada cincin itu kamu juga jarang Sholat!" kata kakak.

"Baiklah aku akan membuang cincin itu!" kataku.

CLING!! Cincin itu menghilang dan kami pun hidup dengan aman.


Karya: Fadiyah.

CAMPUR ADUK

LOVE IN NEPAL

Malam hari, ya keadaan lingkungan sekitar rumah Budi..baik gitu. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...musik di chenel TVRI gitu,...

CAMPUR ADUK