CAMPUR ADUK

Saturday, December 29, 2018

MISTERI SEBUAH SEKOLAH

Di suatu sekolah smp ternama di Jakarta, yang bernama Smp binus 8. sekolah ini selain terkenal dengan akademiknya juga terkenal mistisnya. cerita ini berawal saat Dian dan teman-teman nya, menyelidikinya.

Pagi di sekolah

Shinta: “pagi jeng”

Ajeng: “pagi shin, oh ya aku mau nanya denger-denger, hantu di sekolah ada lagi ya?”

Shinta tertegun sambil melamun “iya, aku juga denger denger sih gitu.”

Mereka berdua pun hening dan bingung, tiba tiba terdengar teriakan dari kelas IX 4, mereka pun lansung menuju kesana.

“eh ada apa?” tanya ajeng yang begitu penasaran. “temen kita dibunuh.” jawab faisal..

Shinta: “siapa? gila tuh pembunuh!”

“Tau tuh, bosan gue liat kejadian kayak gini mulu” Jawab Randa.

Seketika itu Ibu mimi pun datang dan memindahkan kita semua ke kelas lain.

“Anak-anak, kita kedatangan teman baru nih, Ayo perkenalkan dirimu nak.” jawab ibu mimi

“Hai, namaku Dian, aku pindahan dari Smp Pelita” Dian pun sambil tersenyum memperkenalkan dirinya.

Setelah memperkenalkan dirinya, dian pun lalu duduk di bangku paling belakang. Setelah bel pun berbunyi, Ajeng, Shinta, Harum, Faisal, Randa, Dendi dan Bayu pun mengajak dian ke kantin dan untuk berkenalan lebih dekat.

Dendi: “hai, kenalin namaku Dendi, oh ya ini teman-teman aku, namanya faisal, bayu, randa, harum, shinta dan ajeng.” sambil tersenyum mereka berenam pun memperkenalkan dirinya masing-masing. setelah terjadi perkenalan itu, mereka pun menjadi sahabat.

—

Bayu: “eh guys, gimana kalau kita uji nyali ntar malem?”

Randa: “Ogah ah, aneh aneh aja lu!”

Harum: “gue setuju, ah lo ran dasar penakut.”

Randa: “Enak aja, oke gue ikut”.

Dian: “setuju”

Malam harinya pun mereka bergegas menuju ke sekolah tersebut..

Setelah sampai

“Gila, ini nyeremin deh. gelap banget” Ucap Faisal..

“kenapa lo takut?” jawab Shinta.

“Udah udah jangan pada ribut deh, yah udah yuk kita masuk…”

Setelah masuk gerbang sekolah, mereka pun berpencar.

“eh kita berpencar ya, Shinta, Harum, Faisal, Randa ke lantai 1 dan 2, sedang kan aku, Dian, Bayu, Dendi ke lantai 4 ya” tanya ajeng.

“Sipp” jawab mereka kompak.

Setelah itu, Dian dan kawan kawannya menuju ke lantai 3. Tiba tiba terdengar suara teriakan, Dian dan the geng pun menuju ke bawah, tapi tak ditemukan apa apa. Lalu, lampu pun padam seketika.. Mereka pun berpisah, Dian dan Bayu, sedangkan Dendi dan Ajeng. Dian dan Bayu pun melihat harum terkulai lemas, mereka pun lansung membawanya ke mobil. Dendi dan Ajeng pun melihat orang berjubah hitam lalu, orang tersebut memukul ajeng, Dendi pun langsung berlari.

Ketika itu, Dendi, Dian, Bayu pun mencari ajeng, randa dan faisal. akhirnya mereka bertiga pun bertemu dengan ajeng dan faisal, Lalu.. shinta dan randa mana?

Tiba tiba, ‘Bruukk’

kami berempat pun sadar ,Lalu kami melihat bayu, randa dan shinta, argghhh..


Karya: Dian Callista

ALARM

Tiga hari Aminah sulit tidur. Padahal dia tidak memiliki beban pikiran apapun. Dia mendapat beasiswa di perguruan tinggi yang diinginkannya, hubungan dengan keluarga dan teman-temannya pun baik-baik saja.

Sekitar pukul 00.30 WIB, mata Aminah masih nampak fresh. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, tapi tak kunjung terlelap.

“Daripada tidak bisa tidur, lebih baik Kubaca novel, lumayan buat pengantar tidur,” ujar Aminah sembari cengingisan sendiri.

Lalu diraihnya novel pada rak buku miliknya. Kemudian ia mulai membaca. Lembar per lembar halaman telah dibaliknya. Nampaknya Aminah salah, baca novel yang dikira dapat menjadi pengantar tidur berbalik menjadi obat tahan kantuk. Maklum saja, Aminah sangat hobi baca novel. Apalagi novel itu adalah yang terbaru dibelinya.

Beberapa saat kemudian, lambat laun kesunyian dan keheningan malam mulai tak terasa. Satu per satu ayam berkokok, yang sesekali diselingi kicauan burung. Terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari pengeras suara masjid, pertanda hari telah masuk sepertiga malam dan saatnya sahur. Kala itu, mata dan kepala Aminah terasa berat.

Tetapi ibunya tak henti mengetuk pintu kamarnya. Sehingga ia pun beranjak dari posisi duduknya, lalu melangkah membuka pintu, menuju kamar mandi untuk berwudhu kemudian sholat tahajjud, lalu sahur. Selang beberapa menit terdengar adzan subuh, Aminah berwudhu lagi dan sholat subuh.

Selepas itu adalah saat-saat yang dinantikannya, kembali ke kamar untuk memejamkan mata. Meskipun Aminah tidak tidur semalaman, ia tidak mau tidur dalam waktu yang lama. Sejam atau lebih tepatnya jam 06.00 WIB sudah cukup membuatnya fresh kembali. Agar tidak terlambat bangun, Aminah menyetel alarm ponselnya. Kemudian cepat-cepat ia memejamkan mata dan dalam sekejap sudah terdengar dengkuran yang tak lain adalah Aminah yang tidur teramat pulas.

Detik yang terus berlalu, menit per menit pun kian bertambah. Tiba-tiba sebelum jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB, Aminah beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah mengikuti teman-temannya bermain. Ia berlari ke sana kemari, tertawa lepas. Dan di tengah keseruannya itu, ia mendengar sesuatu yang tidak asing baginya.

“Tit tit tit tit…”

“Kalian mendengar itu?” Tanya Aminah pada teman-temannya.

“Iya, bunyi apa ya itu?” Salah seorang temannya berbalik tanya.

“Di taman kok ada bunyi seperti ini ya? Ada yang bawa HP?” Teman yang lain menimpali.

Aminah dan teman-teman yang lain menggelengkan kepala.

“Ya sudah biarkan saja,” ujar salah seorang teman Aminah.

“Main lagi yok,” jawab yang lain.

Mereka bermain kembali. Tetapi Aminah masih penasaran dengan bunyi itu. Ia merasa setiap hari mendengar bunyi itu, tapi baru kali ini terdengar keras dan lama. Kemanapun, bunyi itu masih terdengar.

“Kawan, sepertinya aku mengenal bunyi ini,” Suara Aminah yang tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka.

Teman-temannya saling berpandangan. Sementara Aminah berusaha mengingat-ingat bunyi itu.

“O iya! Itu alarm ponselku,” seru Aminah hingga membuat teman-temannya terkejut.

Tanpa berpikir panjang, Aminah lantas berlari menuju kamarnya dan segera mematikan alarm itu. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi. Sesaat Aminah hendak kembali bermain, alarm itu bunyi lagi.

“Padahal sudah Kumatiin,” geming Aminah.

Tetapi ia segera menepis kebingungannya. Ia kembali mematikan alarm itu. Ketika ponselnya diletakkan kembali di atas tempat tidurnya, alarm itu bunyi lagi. Aminah terkejut. Ia raih ponsel itu dan mematikan alarm tapi kembali berbunyi. Aminah mulai takut.

“Ada apa dengan ponselku?” Batin Aminah.

Antara takut dan heran, berulangkali alarm itu dimatikan, berulangkali pula berbunyi, makin keras. Lama-kelamaan, kepala Aminah terasa berat, matanya tiba-tiba terpejam.

Sekuat tenaga ia berusaha membuka matanya tapi tidak bisa. Lantas ia berteriak memanggil-manggil ibunya tapi suaranya seakan tertahan. Ia berusaha menjerit, tapi sesuatu seakan seolah membungkam mulutnya, nafasnya terengah-engah.

Di saat yang menegangkan itu, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarnya yang teramat keras. Aminah makin panik.

“Aminah, bangun nak! Sudah jam 6 lebih!” Teriak suara di balik pintu yang tidak lain adalah ibunya.

Tanpa disadari, dalam sekejap, mata Aminah terbuka. Dilihatnya langit-langit kamarnya yang masih terang karena cahaya lampu. Tepat di sisi kanannya terdapat ponsel yang tak henti berbunyi. Ia lantas duduk dan mematikan alarm ponsel itu.

“Ternyata hanya mimpi,” ujar Aminah seraya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

“Aminah, Aminah, bangun!” Ibunya terus membangunkan Aminah sembari mengetuk pintu kamar putri semata wayangnya itu.

“Iya bu! Iya!” Jawab Aminah, seraya beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.


Karya: Nur Alfiyah

DI PERANTAUAN

Aku terpaku menatap bayanganku yang alu menatap sebuah tiang bambu, dan kemudian berakhir pada teras depan. Untuk kesekian kalinya aku bertanya-tanya apakah aku bisa bertahan hidup dalam kesederhanaan di sebuah kampung jauh dari rumahku.

Aku mulai mengurai kisah hidupku tanpa kesah betapapun sarat dengan nestapa. Selepas Sekolah Pendidikan Guru (SPG) aku melanjutkan ke PGSMTP (Pendidikan Guru Sekolah Menengah Pertama). Setelah tamat aku kebingungan saat orang tuaku menanyakan pekerjaanku. Aku tahu menjadi PNS memang sulit. Agar aku bisa cepat bekerja, aku ikut merantau dengan kawan-kawanku di Lampung khususnya di daerah terpencil menjadi guru honor di sebuah SD. Walaupun honor yang kudapatkan sebulan hanya cukup untuk makan satu minggu, namun aku masih punya harapan  untuk menjadi pegawai negeri.

Hari demi hari kulalui bersama mimpi untuk bisa menjadi PNS. Kutatap selalu bintang di langit. Aku ingin suatu ketika sinarnya sampai di sanubariku. Dalam setiap renunganku, kupikir di sana masih ada bulan yang memberikan secercah harapan untuk mengayuh samudera di tengah samudera luas. Secercah harapan memang pernah kudapatkan ketika aku mengikuti tes calon pegawai negeri, namun harapanku ternyata kembali hampa ketika aku belum diterima.

Aku kembali menekuni profesiku sebagai guru honor. Hidup tanpa harapan di perantauan selalu membayang di benakku. Satu-satunya kebahagianku adalah ketika aku bersama-sama muridku yang sederhana di desa. Laun aku mulai menyayangi murid-muridku tanpa harus mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri.

Di tengah lamunanku di teras rumah yang sederhana, datang kepada sekolah dan Pak Lurah. Assalamualaikum, Waalaikumsalam wb.wb. Silakan masuk Pak! Bagaimana kabar Pak Irsyat? Berkat Puji Tuhan dan doa Bapak, saya merasa senang hidup di sini Pak? Pak Irsyat, ini saya membawa amanat dari masyarakat bahwa desa kita akan mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Masyarakat sudah lama menginginkan hal itu. Untuk mengelola sekolah ini, kami tokoh masyarakat membentuk yayasan dan menunjuk Bapak sebagai kepada sekolah.  Mohon Pak Irsyat menerima amanah ini.

Aku diam sejenak seakan tak percaya. Lalu aku berkata, Pak Lurah, mungkin saya bukan orang yang tepat mendapat kepercayaan ini sebab banyak guru yang sudah senior dan berpengalaman. Kepala SD tempatku mengajar yang sejak tadi duduk di samping pak lurah, dengan cepat menyela, "Pak Irsyat, saya tahu betul kemampuan Bapak. Pak Irsyat telah berhasil memikat anak-anak di sini untuk sekolah. Pak Irsyat juga memiliki kemampuan dalam bidang seni, olah raga, dan kepemimpinan. Jadi, kami tidak ragu lagi memilih Bapak untuk menjadi kepada SMP. Kami mohon Pak Irsyat bisa menerima kepercayaan ini! Aku semakin bingung.

Di saat aku memikirkan untuk pulang kampung, pekerjaan dan kepercayaan besar telah datang padaku. Aku mulai yakin bahwa inilah saatnya aku harus mulai merenda kehidupan yang telah lama tercabik-cabik dalam bayang tak menentu. Aku tahu bahwa pekerjaan menjadi kepala SMP bukanlah hal ringan, tapi dengan kesabaran, ketekunan, dan kerja keras aku yakin keberhasilan akan datang.

Selesai.

LUTUNG KASARUNG

Pada jaman dahulu di daerah pasundan ada seorang raja yang bernama Prabu Tapak Agung. Beliau memimpin wilayahnya dengan sangat bijaksana, sehingga dicintai oleh rakyatnya. Sang raja mempunyai dua orang putri yang cantik. Yang tertua bernama Purbararang, dan adiknya bernama Purbasari.

Suatu hari, saat mendekati akhir hayatnya, sang raja meminta Purbasari putri bungsunya untuk menggantikan posisinya memimpin kerajaan. "Anakku, aku sudah lelah dan terlalu tua untuk memimpin, jadi sudah saatnya aku turun tahta," kata sang raja. Purbararang, yang merupakan kakak dari Purbasari, tidak setuju dengan perintah ayahnya tersebut. Dia merasa bahwa karena dia adalah anak tertua, maka dia lah yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin kerajaan.

Purbararang yang sangat geram dan iri tersebut kemudian berencana untuk mencelakakan adiknya. Purbararang pergi menemui seorang nenek sihir. Dia meminta nenek sihir tersebut untuk memanterai adiknya. Akibat dari mantera nenek sihir itu cukup parah. Purbasari tiba-tiba kulitnya menjadi bertotol-totol hitam, dan itu lah yang dijadikan alasan oleh Purbararang untuk mengusirnya dari istana. "Pergi dari sini!" kata Purbararang kepada adiknya. "Orang yang telah dikutuk seperti kamu tidak layak untuk menjadi seorang ratu, bahkan tidak layak untuk tinggal di sini!" lanjutnya.

Purbararang lalu menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan adiknya itu ke tengah hutan. Dengan berat hati, Patih tersebut menuruti perintahnya. Namun, di tengah hutan, sang Patih yang sebenarnya baik hati itu tidak langsung meninggalkannya. Dibuatkannya sebuah pondok untuk Purbasari. Sebelum pergi, dia juga menasehati sang putri yang malang itu, memintanya agar selalu tabah dan sabar.

Selama tinggal di hutan, Purbasari tidak pernah merasa kesepian. Sang putri yang baik hati itu berteman dengan banyak hewan, yang juga selalu baik kepadanya. Di antara ratusan hewan yang menjadi temannya, ada seekor kera dengan bulu berwarna hitam yang misterius. Di antara hewan-hewan lainnya, kera tersebut lah yang paling perhatian dan paling baik hati kepada Purbasari. Kera tersebut bahkan sering membawakan bunga dan buah-buahan untuk menghibur hati sang putri. Purbasari lalu memberi nama kera itu Lutung Kasarung.

Pada suatu malam, saat bulan purnama, kera yang menjadi teman Purbasari tersebut pergi ke tempat yang sepi untuk bersemedi. Setelah cukup lama bersemedi, tiba-tiba tanah di dekat tempatnya bersemedi mulai mengeluarkan air yang jernih dan harum, yang kemudian membentuk sebuah telaga kecil.

Keesokan harinya, kera tersebut meminta Purbasari untuk mandi di telaga kecil itu. Walaupun awalnya merasa ragu, Purbasari menuruti permintaannya. Hal yang ajaib pun terjadi. Setelah mandi, tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bersih seperti semula. Sang putri pun menjadi cantik jelita seperti sedia kala. Purbasari sangat terkejut dan merasa sangat gembira karena kecantikannya telah pulih.

Di hari yang sama, Purbararang yang jahat tiba-tiba berniat ingin melihat keadaan adiknya di hutan. Dia pun pergi ke hutan bersama tunangannya dan beberapa orang pengawal kerajaan. Saat melihat kondisi adiknya yang sudah kembali cantik, Purbararang terkejut. Tapi, putri yang jahat itu tidak menyerah. Dia mengajak adiknya untuk adu panjang rambut. Siapa yang rambutnya lebih panjang, dia lah yang menang. Ternyata, rambut Purbasari lebih panjang, jadi dia lah yang menang.

Purbararang masih belum menyerah. Ia kemudian mengajak Purbasari untuk adu tampan tunangan, lalu ditunjukkannya tunangannya yang tampan. Purbasari kebingungan karena dia tidak memiliki tunangan. Dia pun langsung menarik monyet sahabatnya. Purbararang tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. "Jadi tunanganmu seekor monyet?" ledeknya dengan sinis.

Tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Monyet sahabat Purbasari berubah menjadi seorang pemuda yang gagah dan berwajah sangat tampan, jauh lebih tampan dari tunangan Purbararang. Para pengawal yang melihat hal tersebut terheran-heran dan bersorak gembira karena putri yang baik hati menang. Purbararang mengaku kalah, mengakui kesalahannya, dan meminta maaf. Purbasari yang baik hati tidak dendam dan tidak menghukum kakaknya yang jahat itu.

Purbasari kemudian menjadi seorang ratu yang memimpin kerajaannya dengan bijaksana, ditemani oleh pemuda pujaan hatinya, yang dulu selalu menemaninya dengan setia dalam wujud seekor lutung.

SI PITUNG

Pada jaman penjajahan belanda dahulu, di daerah Jakarta (dahulu Batavia) hiduplah seorang pria gagah yang bernama si Pitung. Dia lahir dari pasangan suami istri yang bernama pak Piun dan bu Pinah. Pekerjaan pak Piun sehari-hari adalah bertani.

Setiap hari si Pitung membantu bapaknya menanam padi, memetik kelapa dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Si Pitung juga tak segan untuk membantu tetangganya yang memerlukan bantuan. Tiap hari si Pitung juga sangat rajin menunaikan sholat dan puasa, bapaknya juga selalu mengajarkan si Pitung untuk bertutur kata yang santun, dan patuh kepada orang tua.

Si Pitung dan keluarganya tinggal di kampung Rawabelong, daerah kebayoran. Daerah itu adalah bagian dari daerah kekuasaan tuan tanah yang bernama babah Liem Tjeng Soen,oleh karena itu semua warga yang tinggal di situ wajib membayar pajak kepada babah Liem. Hasil pajak tanah tersebut nantinya akan disetorkan kepada Belanda.

Dalam memungut pajak, babah Liem dibantu oleh anak buahnya yang berasal dari kalangan pribumi. Anak buah yang diangkat babah Liem adalah kaum pribumi yang pandai bersilat dan memainkan senjata. Tujuannya adalah supaya para penduduk tidak berani melawan dan membantah pada saat dipungut pajak.

Hingga pada suatu hari, saat si Pitung membantu bapaknya mengumpulkan hasil panen dari sawah. Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya si Pitung melihat anak buah babah Liem sedang marah-marah kepada bapaknya. Si Pitung lalu menghampiri bapaknya, dan bertanya kepada anak buah babah Liem, “Hey, apa salah bapak saya?” “Tanya saja sama bapakmu ini!!”, jawab anak buah babah Liem.

Anak buah babah Liem lalu pergi dengan membawa semua hasil panen yang telah dikumpulakan si Pitung dan bapaknya. Dengan nada geram, si Pitung berbicara dalam hatinya, “Nantikan pembalasanku!!”

Hingga keesokan harinya saat si Pitung berjalan menyusuri kampung, dia melihat kesewenang-wenangan anak buah babah Liem lagi. Mereka merampas ayam, kambing, kelapa, dan padi dari penduduk, tanpa rasa iba.

Sebagai warga yang merasa bertanggung jawab atas keamanan, maka si Pitung tidak tinggal diam. Si Pitung lalu menghampiri anak buah babah Liem, lalu berteriak “Hentikan pengecut!! Kenapa kalian merampas harta orang lain?!”
Para anak buah babah Liem kemudian menoleh kearah si Pitung. “Siapa kamu ini, berani-beraninya mencegah kami? Kamu tidak tahu siapa kami ini?”,teriak anak buah babah Liem.

“Saya tidak peduli siapa kalian, tapi perbuatan kalian itu sangatlah kejam dan tidak berperi kemanusiaan!”, jawab si Pitung.

Mendengar perkataan si Pitung, pemimpin anak buah babah Liem menjadi geram. Ia lalu menghampiri si Pitung, dan menyerang sekenanya saja. Ia mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun, di luar dugaannya, Pitung malah mencekal lengannya dan membantingnya ke tanah hingga pingsan. Anak buah babah Liem yang lain menghentikan kesibukan mereka dan mengepung Pitung. Dengan sigap Pitung menyerang lebih dulu. Ada lima orang yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia hajar pelipis atau tulang kering mereka hingga mereka mengaduh kesakitan. Lalu mereka menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.

Sebelum pergi, mereka mengancam: “Awas, nanti kami laporkan Demang.”

Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi pembicaraan di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak gentar dan tetap bersikap tenang. Ia bahkan tidak menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.

Suatu hari, Pak Piun menyuruh si Pitung menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Pak Piun sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Si Pitung pun pergi ke tanah abang untuk menjual dua kambingnya itu. Tanpa sepengetahuan si Pitung, ternyata ada satu orang anak buah babah Liem yang membuntutinya sejak berangkat dari rumah tadi. Hingga pada saat si Pitung mandi di sungai dan berwudhu, anak buah babah Liem tadi mencuri uang hasil penjualan kambing dari saku bajunya yang diletakkakn di pinggir sungai.

Sesampainya di rumah, si Pitung sangatlah kaget. Karena uang hasil penjualan kambing tidak ada di sakunya lagi. Dengan geram ia kembali ke Pasar Tanah Abang dan mencari orang yang telah mencuri uangnya. Setelah melakukan penyelidikan, ia menemukan orang itu. Orang itu sedang berkumpul di sebuah kedai kopi.
Si Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”

Salah seorang berkata sambil tertawa, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”

“Tak sudi aku jadi anggota kalian,” jawab si Pitung.

Para anak buah babah Liem itu marah mendengar jawaban si Pitung. Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu mereka kena pukulan Si Pitung.

Sejak hari itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata, yang ditindas tuan tanah dan dihisap oleh penjajah Belanda. Beberapa anak buah babah Liem yang pernah dihajarnya ada yang insyaf dan ia mengajak mereka untuk membentuk suatu kelompok. Bersama kelompoknya, ia merampoki rumah-rumah orang kaya dan membagi-bagikan harta rampasannya kepada orang-orang miskin dan lemah.

Nama Pitung menjadi harum di kalangan rakyat jelata.Para tuan tanah dan orang-orang yang mengambil keuntungan dengan cara memihak Belanda menjadi tidak nyaman. Mereka mengadukan permasalahan itu kepada pemerintah Belanda.

Penguasa penjajah di Batavia pun memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Si Pitung. Schout Heyne, komandan Kebayoran, memerintahkan mantri polisi untuk mencari tahu di mana si Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang banyak kepada siapa saja yang mau memberi tahu keberadaan si Pitung

Mengetahui dirinya menjadi buron, Pitung berpindah-pindah tempat dan ia tetap membantu rakyat. Harta rampasan dari orang kaya selalu ia berikan kepada rakyat yang lemah dan tertindas oleh penjajahan.

Pada suatu hari, Pitung dan kelompoknya terjebak oleh siasat polisi belanda. Waktu itu si Pitung beserta kelompoknya akan merampok rumah seorang demang, tapi ternyatapolisi belanda sudah lebih dulu bersembunyi di sekitar rumah demang itu. Ketika kelompok Pitung tiba, polisi segera mengepung rumah itu. Pitung membiarkan dirinya tertangkap, sementara teman-temannya berhasil meloloskan diri. Akhirnya si Pitung dibawa ke penjara dan disekap di sana.
Karena si Pitung adalah seorang yg cerdik dan sakti, maka dia berhasil meloloskan diri lewat genteng pada malam hari saat penjaga sedang istirahat. Pada pagi harinya, para penjaga menjadi panik karena si Pitung tidak ada di dalam penjara lagi.

Kabar lolosnya si Pitung membuat polisi belanda dan orang-orang kaya menjadi tidak tenteram lagi. Kemudian Schout Heyne memerintahkan orang untuk menangkap orang tua dan guru si Pitung. Mereka dipaksa para polisi untuk memberitahukan keberadaan Si Pitung sekarang. Namun, mereka tetap bungkam. Akibatnya, mereka pun dimasukkan kedalam penjara.

Mendengar kabar bahwa orang tua dan gurunya ditangkap polisi belanda, lalu si Pitung mengirim pesan kepada pihak belanda. Ia mengatakan akan menyerahkan diri bila orang tua dan gurunya itu dibebaskan. Kesepakatan tersebut kemudian disetujui oleh Schout Heyne.

Kemudian pada hari yang telah disepakati, mereka bertemu di tanah lapang. Orang tua si Pitung dilepaskan dahulu. Kini tinggal Haji Naipin yang masih bersama polisi belanda. Di tanah lapang itu, sepasukan polisi menodongkan senjata ke arah Haji Naipin.

“Lepaskan Haji Naipin sekarang juga”, kata si Pitung.

“Aku akan melepaskan gurumu ini setelah engkau benar-benar menyerah”, kata Schout Heyne.

Mendengar persyaratan yang diajukan Schout Heyne, lalu si Pitung maju ke tengah lapangan. Dengan sigap, pasukan polisi lalu membidikkan senjata mereka kearah si Pitung.

“Akhirnya tertangkap juga kamu, Pitung!” teriak Schout Heyne dengan nada sombong.

“Iya, tapi nanti aku pasti akan lolos lagi. Dengan orang pengecut seperti kalian, yang beraninya hanya mengandalkan anak buah, aku tidak takut,” jawab si Pitung.

Mendengar kata-kata si Pitung, Schout Heyne menjadi marah. Ia mundur beberapa langkah dan memberi aba-aba agar pasukannya bersiap menembak. Haji Naipin yang masih ada di situ memprotes tindakan yang pengecut itu. Namun protes dari Haji Naipin tidak didengarkan, dan aba-aba untuk menembak si Pitung sudah diteriakkan. Akhirnya si Pitung gugur bersimbah darah.

Orang tua dan guru si Pitung merasa sangat sedih sekali melihat si Pitung akhirnya gugur di tangan polisi belanda. Banyak rakyat yang turut mengiringi pemakamannya dan mendoakannya. Mereka berjanji akan selalu mengingat jasa Si Pitung, pembela dan pelindung mereka, dan tetap akan menganggap si Pitung sebagai pahlawan betawi.


Karya: Kak Ghulam

RORO JONGGRANG

Alkisah pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.
123
Legenda Roro Jonggrang
Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”,Tanya Bandung Bandawasa.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.

Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.
123
Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

CINDELARAS

Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.


Karya: Kak Ghulam Pramudiana.

KEONG MAS

Di Kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja tersebut hidup sangat bahagia dan serba kecukupan.

Hingga suatu hari datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati sangat disambut baik oleh Raja Kertamarta, dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.

Pertunangan itu ternyata membuat Dewi Galuh merasa iri. Kerena dia merasa kalau Raden Inu Kertapati lebih cocok untuk dirinya. Oleh karena itu Dewi Galuh lalu pergi ke rumah Nenek Sihir. Dia meminta agar nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan dan dijauhkan dari Raden Inu. Nenek Sihir pun menyetujui permintaan Dewi Galuh, dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas, lalu membuangnya ke sungai.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Keong Emas itu lalu dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di sungai, tetapi tak mendapat ikan seekorpun. Kemudian Nenek tersebut memutuskan untuk pulang saja, sesampainya di rumah ia sangat kaget sekali, karena di meja sudah tersedia masakan yang sangat enak-enak. Si nenek bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang mengirim masakan ini.

Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada ditempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja. Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu. “Siapakah kamu ini putri cantik, dan dari mana asalmu?”, tanya si nenek. "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh nenek sihir utusan saudaraku karena merasa iri kepadaku", kata keong emas. Setelah menjawab pertanyaan dari nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi Keong Emas, dan nenek sangat terheran-heran.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihir pun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Di perjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.

Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi ke desa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia di desa Dadapan. Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Di gubuk itu ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat Candra Kirana sedang memasak. Akhirnya sihir dari nenek sihir pun hilang karena perjumpaan itu. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya beserta nenek yang baik hati tersebut ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Dewi Galuh lalu mendapat hukuman yang setimpal. Karena Dewi Galuh merasa takut, maka dia melarikan diri ke hutan. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapati pun berlangsung, dan pesta tersebut sangat meriah. Akhirnya mereka hidup bahagia.


Karya: Kak Ghulam Pramudiana.

LEGENDA KOTA BANGKU

“Ya memang masalah selalu ada menghampiri kehidupan kita. Namun kita tidak akan mengenal kebahagiaan tanpa adanya masalah-masalah di hidup kita. Kebahagiaan yang sekecil apa pun dapat menghapus kesedihan untuk memberantas masalah kita. Tetapi bagaimana hanya masalah yang selalu menghampiri kehidupan kita? Akankah kita tetap bisa merasakan kebahagiaan dengan hanya adanya masalah dan masalah di kehidupan ini?”

Hari ini hari yang cerah seperti biasanya. Burung-burung berkicauan seperti perbincangan tanpa akhir. Sebuah pohon di tengah Taman Indah menutupi seorang gadis dari sinar matahari. Ia duduk di bawah pohon itu tanpa memikirkan apa pun seperti biasanya. Sore hari pun tiba, gadis itu baru saja pulang dari taman.

Keesokkan harinya, Taman Indah yang selalu dipenuhi oleh para warga sekitar yang berolahraga serta besantai tetap penuh terisi. Namun tidak seperti biasanya hari ini. Pohon di tengah-tengah tidak menutupi seorang gadis dari silauan cahaya matahari. Satu dua hari berlalu tanpa ada yang menyadari kepergian seorang pengisi taman itu. Tidak seperti biasanya, seharusnya warga taman sudah dapat merasakan kehilangan seorang pengisi taman ini walaupun hanya satu orang seperti sebelum-sebelumnya.

Seminggu berlalu dan seorang pria yang biasa mengayunkan ayunan setiap pukul 09.00 melihat sebuah pohon besar di sebelah Barat ayunan itu. Bayangan perempuan tiba-tiba melintas di dalam benak sang pria. Semula pria itu nampak tidak terlalu memperhatikan dan mempedulikannya. Keesokkan harinya nampak sang pria sangat panik dan hanya mendatangi taman untuk menyapa teman-temannya. Namun setelah menyapa teman-temannya, sang pria tidak pernah nampak lagi.

Seorang nenek yang selalu senam pagi di bagian Selatan taman menyadari hilangnya 2 orang warga taman. Dengan sigap tanpa pikir panjang nenek melaporkan kepada Badan Taman Indah dan membuat Tim Penyelidik hilangnya warga taman, PADULANG (Panitia Dua Orang Hilang). Tiga pria yang selalu fitness di pojok Barat Daya taman dipilih untuk menjadi PADULANG.

Memang orang di zaman kita sekarang tidak akan ada yang mempedulikan kehilangan tetangga atau warganya, namun pada zamannya, kehilangan seorang pun dapat saja memberhentikan seluruh kegiatan di kota ini. Walaupun terdengar sedikit berlebihan, karena ini, kota kecil di sebuah pulau kecil di bagian Barat Laut Bumi menjadi sangat solid dan ikatan antar manusia sangat erat.

Tugas yang dibebankan langsung dikerjakan sesuai rencana yang telah dibuat terlebih dahulu. Tiga pria ini segera mengunjungi rumah sang pria hilang di Jalan Ksatria. Rumah bernomor 35 di jalan itu terlihat hangus terbakar. PADULANG segera mendatangi rumah pria yang berada di seberang rumah yang terbakar ini. Nampak rumah terkunci rapat tanpa celah sedikit pun. PADULANG pun terpaksa harus masuk ke dalam rumah untuk menyelidiki kasus ini.

Setelah masuk ke dalam rumah dengan mendobrak pintu kayu yang sudah mulai lapuk ini, ditemukan sebuah bangku dengan posisi terbalik sedang menghadap ke televisi yang memutar film “Hampa” dari mesin pemutar kaset. Tidak ditemukan tanda-tanda tentang kehilangan warga selain tanda bangku aneh terbalik di tengah-tengah ruang tamu. Sangat disayangkan PADULANG tidak menghiraukan bangku terbalik itu, hanya menemukan pria dan perempuan merupakan prioritasnya. PADULANG terpaksa meninggalkan rumah sang pria.

Tujuan selanjutnya ke rumah sang gadis. Gadis ini merupakan anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal terbakar ketika bekerja di seberang rumah pria hilang ini. Rumah perempuan ini juga sepi seperti baisanya. Gadis ini hanya menghabiskan hidupnya di Taman Indah. PADULANG segera memeriksa rumah ini. Ketika sampai ke dalam, sangat terkejut dengan apa yang dilihat mereka di samping pria hilang sambil membacakan secarik kertas yang ditulis oleh gadis itu. “Apa yang terjadi?!?!” Sang pria terus membacakan curahan hati gadis yang tidak beruntung ini.

“Ya memang masalah selalu ada menghampiri kehidupan kita. Namun kita tidak akan mengenal kebahagiaan tanpa adanya masalah-masalah di hidup kita. Kebahagiaan yang sekecil apa pun dapat menghapus kesedihan untuk memberantas masalah kita. Tetapi bagaimana hanya masalah yang selalu menghampiri kehidupan kita? Akankah kita tetap bisa merasakan kebahagiaan dengan hanya adanya masalah dan masalah di kehidupan ini? Apa yang harus saya lakukan sekarang sampai selama-lamanya. Bagaimana saya dapat merasakan kebahagiaan? Mengapa ini dapat terjadi kepadaku? Sudah selesai.. selesai perjuangan ini.”

Semua warga yang melihat pintu rumah perempuan terbuka lebar segera masuk. Terkejut pula mereka melihat apa yang dilihat mereka. Prosesi pemakaman segera dilaksanakan karena nampaknya jasad sang gadis yang mulai membusuk. Prosesi dilaksanakan keesokkan harinya dan seluruh warga kota datang berduka atas tragedi ini. Setelah pemakaman, pria ini harus memberitahukan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi. Kata sang pria, “Saya ………..

“Mengapa bagian ini hilang?!” teriakku marah melihat bagian akhir dari kisah asal usul kotaku sobek dan hilang. Aku menenangkan hati dan menunduk malu dilihat oleh seisi perpustakaan ketika aku berteriak.

Selesai membaca sepenggal kisah yang tidak berujung ini, aku tutup buku tua yang sudah dibuatkan sampul penutup, seperti barang antik tua yang diawetkan. Di bagian belakang sampul, tidak sengaja terlihat tempelan kertas tua yang bertuliskan: “Dunia ini memang sudah terbalik dan tidak ada harapan lagi,” tulis sang pria di akhir hidupnya.


Karya: Martin Amerigo

PEMUDA BERSULING AJAIB

Di kisahkan, pada Jaman dahulu terdapat sebuah kota yang terletak di kaki bukit. Kota itu bernama Kota Hameliyn. Penduduk yang tinggal di kota Hameliyn hidup dengan aman dan damai, tapi sayangnya kesadaran mereka terhadap kebersihan lingkungan sangat memprihatinkan. Mereka suka membuang sampah di sembarang tempat, hingga akhirnya sampah-sampah itu menjadi sarang tikus. Seiring berjalanya waktu,semakin lama jumlah tikus terus bertambah dan kota pun dipenuhi oleh kawanan tikus.

Para tikus tersebut mulai terlihat berkeliaran di mana-mana. Mereka bergerak bebas di mana saja tanpa sedikitpun merasa takut, apabila melihat manusia. Untuk mengatasinya, sebagian penduduk kota mencoba untuk memelihara kucing. Selain itu, ada pula yang memasang berbagai perangkap tikus untuk membunuh atau membinasakan para tikus. Namun, semua usaha yang telah dilakukan seakan sia-sia, dan tidak pernah membuahkan hasil. Jumlah tikus malah semakin lama semakin bertambah banyak. Penduduk menjadi kesal dan kehabisan akal untuk melenyapkan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa Kota Hameliyn rupanya telah tersebar luas hingga ke kota-kota lain di sekitarnya. Dari salah satu kota tersebut ada seorang pemuda yang datang ke Kota Hameliyn untuk menawarkan diri mengusir semua tikus yang berkeliaran. Sebagai imbalannya, sang pemuda meminta upah sebesar dua keping emas kepada setiap orang yang ada di Hameliyn. Warga masyarakat Hamelyn segera mendiskusikan  penawaran sang pemuda. Dan, setelah berdiskusi panjang-lebar, akhirnya mereka setuju dan sepakat untuk membayar,meskipun harga yang ditawarkan pemuda sangat mahal menurut mereka.

Setelah kesepakatan tercapai, sang pemuda lalu pergi ke tengah lapangan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah suling dan mulai meniupnya. Suara yang keluar dari suling itu sangat merdu dan melenakan siapa saja yang mendengarnya (manusia maupun binatang). Para tikus yang mendengarnya seakan terhipnotis dan mulai keluar dari persembunyian mereka untuk berkumpul di sekeliling sang pemuda. Ia lalu berjalan perlahan sambil tetap meniup suling menuju ke sebuah sungai yang letaknya di pinggir Kota Hamelyn. Setelah sampai, sang pemuda langsung menceburkan diri ke tengah sungai. Hal ini diikuti pula oleh kawanan tikus. Ternyata para tikus tersebut tidak dapat berenang, sehingga seluruhnya tenggelam.

Saat kota telah terbebas dari gangguan tikus, sang pemuda kemudian menagih bayaran kepada para penduduk. Namun ternyata para penduduk menolak untuk membayar sang pemuda. Mereka menganggap bahwa kerja sang pemuda yang hanya meniup suling tidaklah sesuai dengan upah yang dimintanya. Sang pemuda menjadi marah. Ia lalu meniup sulingnya lagi dengan nada yang berbeda. Irama yang keluar dari suling itu ternyata sangat memikat hati anak dan segera mengikuti si pemuda pergi keluar dari Kota Hameliyn. Sedangkan bagi orang dewasa yang mendengarnya, seakan terlena dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

Ketika sang pemuda telah berada di batas kota, barulah penduduk Hameliyn tersadar kalau anak-anak mereka juga dibawa serta. Mereka lalu berlari menyusul sang pemuda sampai ke perbatasan Kota Hameliyn. Saat bertemu sang pemuda, mereka lalu membujuknya dengan janji akan memberikan sekantong keping emas asal mau mengembalikan anak-anak mereka.

Namun, bujuk rayu penduduk Hameliyn tidak dihiraukan oleh Sang Pemuda. Sambil terus memainkan suling Pemuda itu membawa anak-anak menuju sebuah gua yang terletak agak jauh dari batas Kota Hameliyn. Dan, setelah seluruh anak masuk ke dalam goa itu bersama Sang Pemuda, secara tiba-tiba gua tersebut hilang dari pandangan. Para penduduk yang melihat langsung kejadian itu hanya bisa menyesal. Mereka menyesal karena telah berbuat ingkar pada sang pemuda yang akhirnya harus ditebus dengan menghilangnya anak-anak mereka.

Di kisahkan, pada Jaman dahulu terdapat sebuah kota yang terletak di kaki bukit. Kota itu bernama Kota Hameliyn. Penduduk yang tinggal di kota Hameliyn hidup dengan aman dan damai, tapi sayangnya kesadaran mereka terhadap kebersihan lingkungan sangat memprihatinkan. Mereka suka membuang sampah di sembarang tempat, hingga akhirnya sampah-sampah itu menjadi sarang tikus. Seiring berjalanya waktu,semakin lama jumlah tikus terus bertambah dan kota pun dipenuhi oleh kawanan tikus.

Para tikus tersebut mulai terlihat berkeliaran di mana-mana. Mereka bergerak bebas di mana saja tanpa sedikitpun merasa takut, apabila melihat manusia. Untuk mengatasinya, sebagian penduduk kota mencoba untuk memelihara kucing. Selain itu, ada pula yang memasang berbagai perangkap tikus untuk membunuh atau membinasakan para tikus. Namun, semua usaha yang telah dilakukan seakan sia-sia, dan tidak pernah membuahkan hasil. Jumlah tikus malah semakin lama semakin bertambah banyak. Penduduk menjadi kesal dan kehabisan akal untuk melenyapkan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa Kota Hameliyn rupanya telah tersebar luas hingga ke kota-kota lain di sekitarnya. Dari salah satu kota tersebut ada seorang pemuda yang datang ke Kota Hameliyn untuk menawarkan diri mengusir semua tikus yang berkeliaran. Sebagai imbalannya, sang pemuda meminta upah sebesar dua keping emas kepada setiap orang yang ada di Hameliyn. Warga masyarakat Hamelyn segera mendiskusikan  penawaran sang pemuda. Dan, setelah berdiskusi panjang-lebar, akhirnya mereka setuju dan sepakat untuk membayar,meskipun harga yang ditawarkan pemuda sangat mahal menurut mereka.

Setelah kesepakatan tercapai, sang pemuda lalu pergi ke tengah lapangan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah suling dan mulai meniupnya. Suara yang keluar dari suling itu sangat merdu dan melenakan siapa saja yang mendengarnya (manusia maupun binatang). Para tikus yang mendengarnya seakan terhipnotis dan mulai keluar dari persembunyian mereka untuk berkumpul di sekeliling sang pemuda. Ia lalu berjalan perlahan sambil tetap meniup suling menuju ke sebuah sungai yang letaknya di pinggir Kota Hamelyn. Setelah sampai, sang pemuda langsung menceburkan diri ke tengah sungai. Hal ini diikuti pula oleh kawanan tikus. Ternyata para tikus tersebut tidak dapat berenang, sehingga seluruhnya tenggelam.

Saat kota telah terbebas dari gangguan tikus, sang pemuda kemudian menagih bayaran kepada para penduduk. Namun ternyata para penduduk menolak untuk membayar sang pemuda. Mereka menganggap bahwa kerja sang pemuda yang hanya meniup suling tidaklah sesuai dengan upah yang dimintanya. Sang pemuda menjadi marah. Ia lalu meniup sulingnya lagi dengan nada yang berbeda. Irama yang keluar dari suling itu ternyata sangat memikat hati anak dan segera mengikuti si pemuda pergi keluar dari Kota Hameliyn. Sedangkan bagi orang dewasa yang mendengarnya, seakan terlena dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

Ketika sang pemuda telah berada di batas kota, barulah penduduk Hameliyn tersadar kalau anak-anak mereka juga dibawa serta. Mereka lalu berlari menyusul sang pemuda sampai ke perbatasan Kota Hameliyn. Saat bertemu sang pemuda, mereka lalu membujuknya dengan janji akan memberikan sekantong keping emas asal mau mengembalikan anak-anak mereka.

Namun, bujuk rayu penduduk Hameliyn tidak dihiraukan oleh Sang Pemuda. Sambil terus memainkan suling Pemuda itu membawa anak-anak menuju sebuah gua yang terletak agak jauh dari batas Kota Hameliyn. Dan, setelah seluruh anak masuk ke dalam goa itu bersama Sang Pemuda, secara tiba-tiba gua tersebut hilang dari pandangan. Para penduduk yang melihat langsung kejadian itu hanya bisa menyesal. Mereka menyesal karena telah berbuat ingkar pada sang pemuda yang akhirnya harus ditebus dengan menghilangnya anak-anak mereka.

HIDUPKU BERAKHIR MENJADI TUMBAL MAKHLUK GHAIB

Panas terik matahari menyengat tubuhku ditambah asap debu kendaraan membuat sesak dada. Hari ini adalah hari pertama aku pergi jauh dari kedua orangtuaku, karena aku harus melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu ke salah satu universitas di pulau jawa. Tepat pukul 12.00 aku turun dari pesawatku, dan aku pun langsung mencari bus untuk melanjutkan perjalananku untuk mencari kos-kosan untuk tempat tinggalku nanti. Setelah sampai ke tempat yang ku tuju aku pun turun dan membayar ongkosku. Lalu aku pun melanjutkan dengan berjalan kaki untuk mencari kos-kosan yang masih kosong. Karena aku merasa lapar aku pun membeli makanan ke salah satu rumah makan yang ada di sana, sesampai di depan rumah makan itu aku pun segera memesan satu porsi makanan dengan teh manis sambil menunggu makanan dihidangkan aku pun bertanya ke salah satu pelanggan yang berada di dekatku.

“Pak boleh nanya nggak?” tanyaku.

“Boleh, emang mau nanya apa Dek?” jawab bapak itu.

“Di deket sini ada kos-kosan nggak Pak, yang masih kosong?”

“Wah, kalau sekarang mah kos-kosan udah pada penuh Dek, tapi kalau Adek mau, ada sih kata orang di ujung jalan ini terus belok kanan, nah di situ ada tuh,”

“Oh terima kasih ya Pak atas petunjuknya,”

Setelah aku makan aku pun melanjutkan perjalananku, tapi sekarang aku memutuskan untuk naik ojek karena menurut keterangan bapak tadi. Kos-kosan itu agak jauh dari tempat aku makan tadi. Sesampainya di kos-kosan yang ditunjukkan bapak itu aku pun masuk ke perkarangan rumah itu. Rumah itu terlihat bersih dan agak rindang, lalu aku mengetuk pintu rumah itu, dan keluarlah dari rumah itu seorang nenek-nenek yang sudah lanjut usia. Dan sepertinya nenek itu sudah mengetahui tujuanku, karena secara langsung nenek itu mempersilahkan aku masuk dan menyerahkan kunci kamar dan lalu menunjukkan kamarnya tanpa bicara. Awalnya aku merasa aneh tentang kos-kosan itu, tapi karena aku capek aku pun segera membuka pintu kamarku dan aku merebahkan diri dan merebahkan diri dan langsung terlelap.

Setelah terbangun aku mulai menyadari keanehan itu. Yaitu di saat aku mau mandi aku melihat ada sekelebat bayangan putih di hadapanku. Aku pun segera menepis pikiranku yang selalu tertuju ke kejadian tadi, lalu aku pun segera menuju kamar mandi untuk mandi akan tetapi saat aku mau memutar kerannya keluar bukanlah air melainkan darah. Aku menjerit keras dan berusaha untuk lari ke kamarku, saat aku akan berlari langkahku pun terasa terhenti ada yang memegang kakiku. Aku pun berusaha untuk melepaskan pegangan itu dan apa yang ku lihat satu potong tangan yang memegang kakiku dengan erat tanpa ada pemiliknya. Tangan itu memiliki kuku yang panjang dan berdarah.

Lalu aku pun berusaha ke luar dari kos-kosan itu dengan kaki yang berdarah lalu karena kepanikanku aku pun berlari pontang-panting tanpa peduli melihat ke belakang. Karena kepanikan itu aku tersungkur ke sebuah balok yang tiba-tiba menimpaku lalu aku pun terjatuh. Dalam keadaan setengah pingsan aku melihat sepotong tangan itu terbang menuju ke arahku. Dengan kukunya yang tajam sambil mencekikku dengan kuat dan dengan sisa tenagaku aku melihat nenek itu berubah menjadi kuntilanak yang memiliki muka setengah utuh. Dan bapak itu rupanya menyerahkanku untuk menuju kos-kosan ini untuk menjadikanku mangsa penghuni kos-kosan kosong ini.

The End


Karya: Rinda Erzitha

CAMPUR ADUK

LOVE IN NEPAL

Malam hari, ya keadaan lingkungan sekitar rumah Budi..baik gitu. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...musik di chenel TVRI gitu,...

CAMPUR ADUK