CAMPUR ADUK

Saturday, June 26, 2021

LEGENDA SILUMAN ULAR PUTIH

Thania di beliin buku sama ibu dengan judul buku 'Legenda Siluman Ular Putih', ya senanglah perasaan Thania. Thania duduk di ruang tengah dengan baik. Buku di buka sama Thania dan segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Thania : 

Lu Dongbin, salah satu dari Delapan Dewa, menyamar sebagai pedagang tangyuan di satu jembatan rusak dekat Danau Barat di Hangzhou. Seorang anak lelaki bernama Xu Xian  membeli beberapa tangyuan dari Lu Dongbin tanpa mengetahui bahwa itu sebenarnya pil keabadian. Setelah memakannya, Xu Xian tidak merasa lapar selama tiga hari berikutnya jadi dia kembali bertanya kepada penjual tangyuan, mengapa hal itu bisa terjadi. Lu Dongbin tertawa dan membawa Xu Xian ke jembatan, di mana ia membalikkan tubuh Xu Xian dan menyebabkannya memuntahkan tangyuan ke danau.

Di danau, ada roh ular putih yang telah berlatih seni magis Tao. Dia memakan pil dan mendapatkan kekuatan sihir senilai 500 tahun. Karena itu, dia merasa berterima kasih kepada Xu Xian dan sejak saat itu nasib mereka menjadi saling terkait. Ada roh terrapin (atau kura-kura) lain yang juga berlatih di danau yang tidak berhasil mengonsumsi pil apa pun; dia sangat iri dengan ular putih. Suatu hari, ular putih melihat pengemis di jembatan yang telah menangkap ular hijau dan ingin mengambil empedu ular dan menjualnya.

Ular putih berubah menjadi wanita dan membeli ular hijau dari pengemis, sehingga menyelamatkan nyawa ular hijau. Ular hijau berterima kasih kepada ular putih dan dia menganggap ular putih sebagai kakak perempuan. Delapan belas tahun kemudian, selama Festival Qingming, ular putih dan hijau mengubah diri mereka menjadi dua wanita muda bernama Bai Suzhen (Ular Putih) dan Xiaoqing (Ular Hijau). Mereka bertemu Xu Xian di jembatan rusak di Hangzhou. Xu Xian meminjamkan payungnya kepada mereka karena hujan. Xu Xian dan Bai Suzhen secara bertahap jatuh cinta dan akhirnya menikah. Mereka pindah ke Zhenjiang, di mana mereka membuka toko obat.

Sementara itu, roh terrapin telah mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk mengambil bentuk manusia, sehingga ia berubah menjadi seorang biksu Buddha yang disebut Fahai. Masih marah dengan Bai Suzhen, Fahai merencanakan untuk merusak hubungan Bai Suzhen dengan Xu Xian. Dia mendekati Xu Xian pada Festival Duanwu dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya harus minum anggur asli, minuman beralkohol yang biasa dikonsumsi selama festival itu.

***

Thania menghentikan baca bukunya dan buku di taruh di meja. Thania ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Thania minum air putih yang dingin gitu.

"Segernya," kata Thania.

Thania pun mengambil roti di dalam kulkas. Ibu memang menyiapkan makan kecil di dalam kulkas, ya stok saja gitu. Thania memakan roti dengan baik sampai habis dan minum air dinggin untuk menghilangkan rasa seretnya gitu. Thania kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan baca bukunya.

Isi buku yang di baca Thania, ya lanjutannya :

Bai Suzhen tanpa curiga meminum anggur dan tiba-tiba keluar wujud aslinya sebagai ular putih besar. Xu Xian meninggal karena terkejut setelah melihat bahwa istrinya bukan manusia. Bai Suzhen dan Xiaoqing melakukan perjalanan ke Gunung Emei, di mana mereka mencuri ramuan ajaib untuk mengembalikan Xu Xian seumur hidup. Setelah hidup kembali, Xu Xian masih mempertahankan cintanya pada Bai Suzhen meskipun mengetahui wujud aslinya sebagai ular putih. Fahai mencoba untuk memisahkan mereka lagi dengan menangkap Xu Xian dan memenjarakannya di Kuil Jinshan.

Bai Suzhen dan Xiaoqing bertarung dengan Fahai untuk menyelamatkan Xu Xian. Selama pertempuran, Bai Suzhen menggunakan kekuatannya untuk membanjiri kuil, menyebabkan kerusakan dan menenggelamkan banyak orang tak berdosa. Namun, kekuatannya terbatas karena dia sudah mengandung anak Xu Xian, jadi dia gagal menyelamatkan suaminya. Xu Xian kemudian berhasil melarikan diri dari Kuil Jinshan dan bersatu kembali dengan istrinya di Hangzhou, tempat Bai Suzhen melahirkan putra mereka, Xu Mengjiao. Fahai melacak mereka, mengalahkan Bai Suzhen dan memenjarakannya di Pagoda Leifeng. Xiaoqing melarikan diri, bersumpah untuk membalas dendam.

Dua puluh tahun kemudian, Xu Mengjiao mendapatkan posisi Zhuangyuan (sarjana top) dalam ujian kekaisaran dan kembali ke rumah dengan penuh kemuliaan untuk mengunjungi orang tuanya. Pada saat yang sama, Xiaoqing, yang telah menghabiskan tahun-tahun berikutnya memperbaiki kekuatannya, pergi ke Kuil Jinshan untuk menghadapi Fahai dan mengalahkannya. Bai Suzhen dibebaskan dari Pagoda Leifeng dan dipersatukan kembali dengan suami dan putranya, sementara Fahai melarikan diri dan bersembunyi di dalam perut seekor kepiting. Ada yang mengatakan bahwa lemak internal kepiting berwarna oranye karena menyerupai warna pakaian Fahai.

***

Thania berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Thania.

Thania membaca pesan moral yang di tulis di buku tersebut "Kita harus berjuang untuk orang-orang yang kita sayangi."

Thania menutup bukunya dengan baik. Thania beranjak dari duduknya di ruang tengah ke kamarnya untuk menaruh buku di rak buku. Setelah buku di taruh di rak buku. Thania keluar dari kamarnya dan ke dapur untuk membantu ibu memasak di dapur. 

FROZEN

Tasya ke kamar Mbak Wika untuk mengambil buku. Tasya mencari buku dengan baik di rak buku. Buku yang diinginkan Tasya ketemu.

"Aku ingin membaca buku ini. Frozen," kata Tasya.

Tasya keluar dari kamar Mbak Wika dengan membawa buku. Tasya ke ruang tengah dan duduk santai di sofa yang empuk gitu. Tasya membuka buku tersebut dan segera membacanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Tasya : 

Saat Elsa dan Anna bermain dengan penuh kegembiraan. Elsa kehilangan kendali dan dia secara tidak sengaja memukul Anna dengan ledakan sihir es. Anna terluka parah. Orang tuanya pergi ke pegunungan kuno mencari bantuan. Seorang troll tua yang bijak memberi tahu mereka bahwa Anna bisa diselamatkan – dia beruntung dipukul di kepala dan tidak di dalam hati. Ketika tahun-tahun berlalu, Anna lupa tentang malam itu.
Untuk menjaga rahasia Elsa dari orang lain, orang tua mereka mengelilingi kastil dengan tembok dan tidak pernah membiarkan siapa pun masuk. Tetapi setiap kali Elsa memiliki perasaan yang kuat, sihir itu muncul dan sulit dikendalikan. Elsa tidak ingin menyakiti saudarinya lagi, jadi dia berhenti bermain dengan Anna. Itu membuat Anna sangat kesepian. Bahkan setelah orang tua mereka tersesat di lautan badai, saudari-saudari itu tidak menghabiskan waktu bersama.

Bertahun-tahun kemudian, sudah waktunya bagi Elsa untuk menjadi ratu Arendelle. Untuk hari itu, gerbang kastil dibuka. Ratusan orang menghadiri upacara penobatan. Elsa bekerja keras untuk menyembunyikan perasaan dan kekuatannya. Di pesta itu, Anna menari dengan Pangeran Hans yang tampan dari Southern Isles. Dia membuat jantungnya berdebar. Sepertinya mereka memiliki semua kesamaan, jadi mereka memutuskan untuk menikah.

Elsa berpikir pertunangan mereka adalah ide yang buruk. Anna tidak bisa mempercayainya dan mulai berdebat. Elsa mulai kehilangan kendali dan ketika dia berteriak, es melesat dari tangannya. Semua orang menatap Elsa dengan kaget. Sekarang semua Arendelle tahu rahasia Elsa. Dia panik dan melarikan diri ke pegunungan.

Anna merasa mengerikan. Kekuatan Elsa telah menciptakan badai musim dingin yang mengerikan di tengah musim panas. Dia meninggalkan Hans yang bertanggung jawab atas kerajaan dan berlari mengejar Elsa. Ketika Anna melaju melalui angin yang kencang, kudanya melemparkannya ke salju dan berlari kembali ke Arendelle.

Untungnya, dia bertemu seorang pemanen es bernama Kristoff dan rusa kutubnya, Sven. Bersama-sama mereka berangkat untuk mencari Elsa. Ketika mereka mendaki gunung, Anna dan Kristoff menemukan negeri ajaib musim dingin yang indah.

Mereka bertemu dengan manusia salju ajaib bernama Olaf. Olaf tahu di mana Elsa berada dan ingin membantu mereka membawa kembali musim panas. Sementara itu, Hans membantu orang-orang Arendelle. Ketika kuda Anna kembali ke kastil tanpa dia, Hans menoleh ke kerumunan dan meminta sukarelawan.

Kembali ke gunung, Olaf membawa Anna dan Kristoff ke sebuah istana es raksasa yang Elsa ciptakan dengan kekuatannya. Bahkan Kristoff pun terkesan. Di dalam, Anna memberi tahu Elsa tentang badai dahsyat di Adrendelle. Elsa khawatir dan tidak tahu cara mencairkan kota, dan dia pikir Anna dan Arendelle mungkin lebih baik tanpanya.

Anna ingin Elsa pulang, tetapi Elsa terlalu takut bahwa dia akan melukai lebih banyak orang. Ketika mereka berselisih, gelombang sihir es meledak dari tubuh Elsa dan memukul dada Anna. Anna tidak akan pergi tanpa saudara perempuannya. Elsa tahu apa yang harus dia lakukan. Dia menggunakan sihirnya untuk membuat manusia salju raksasa untuk mengusir Anna dan teman-temannya keluar dari istana.

Anna dan teman-temannya pergi dengan aman di bawah. Mereka telah melarikan diri dari manusia salju tetapi Anna khawatir karena rambutnya menjadi putih bersalju. Kristoff membawa Anna ke troll. Seorang troll memberi tahu mereka bahwa kecuali sihir Elsa dibalik, Anna akan membeku. Hanya tindakan cinta sejati yang bisa mencairkan hati yang beku.

Anna tahu dia mencintai Hans. Ketika dia mulai menggigil, Kristoff khawatir tentang dia. Hans dan tentaranya baru saja tiba di istana es dan menyerang Elsa. Mereka membawanya kembali ke Arendelle dan melemparkannya ke penjara bawah tanah. Ketika Anna tiba di Arendelle, dia meminta Hans untuk menyelamatkannya dengan ciuman. Namun Hans menolak karena dia hanya berpura-pura mencintai Anna.

Hans ingin mengambil alih Arendelle dengan menyingkirkan Anna dan Elsa. Hans meninggalkan Anna sendirian dan menggigil. Olaf menemukannya dan membantunya melakukan pemanasan tetapi Anna semakin lemah. Olaf melirik ke luar jendela dan melihat Kristoff berlari menuju kastil. Olaf berpikir baha Kristoff lah yang perlu dicium Anna. Pada saat yang sama Elsa telah melarikan diri dari ruang bawah tanah, tetapi Hans berada di belakangnya. Hans memberi tahu Elsa bahwa ledakan sihirnya mengenai jantung Anna.

Elsa sangat bersedih, dia pingsan di salju dan menutup matanya. Dia merasa semua yang dia lakukan untuk melindungi saudara perempuannya telah gagal. Anna bergegas menuju Kristoff tetapi saat itu dia melihat Hans telah menarik pedangnya untuk membunuh Elsa. Alih-alih menyelamatkan dirinya, Anna melompat melindungi Elsa dari pedang Hans. Hans mengayunkan pedangnya tetapi pedang itu hancur saat menghantam tubuh Anna yang beku.

Elsa memeluk adiknya. Tiba-tiba, Anna mulai mencair dan kedua saudara perempuan itu berpelukan. Ketika Olaf memperhatikan mereka, dia ingat apa yang dikatakan troll tua yang bijak itu, “Tindakan cinta sejati akan melelehkan hati yang beku.”

Cinta Anna untuk Elsa telah menyelamatkan mereka berdua dan Kerajaan. Kedua saudara perempuan itu adalah teman baik lagi dan musim panas telah kembali ke Arendelle. Elsa bahkan membuat Olaf menjadi awan salju kecil agar tidak mencair. Elsa memiliki kejutan untuk Anna, gerbang kastil terbuka lebar. Sekarang semuanya seperti yang seharusnya.

***

Tasya menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus banget," kata Tasya.

Tasya membaca pesan moral yang tertulis di buku tersebut "Cintailah dan lindungilah saudaramu. Merekalah yang akan membantumu disaat kamu kesusahan."

Tasya memahami pesan moral yang di tulis di buku tersebut. 

"Pintar yang membuat ceritanya," kata Tasya.

Tasya menutup bukunya dengan baik. Tasya berajak dari duduknya di ruang tengah ke kamar Mbak Wika. Tasya pun menaruh buku di meja belajar. Tasya teringat sesuatu "Aku berjanji main bersama Agnes."

Tasya keluar dari kamar Mbak Wika. Segera keluar dari rumah Tasya, ya ke rumah Agnes untuk main bersama. Wika telah menyelesaikan pekerjaannya, ya bantu ibu masak di dapur. Wika ke kamarnya untuk mengambil buku pendidikannya jenjang Universitas gitu. Wika melihat buku berjudul 'Frozen' di meja belajar.

"Tasya masuk ke kamar aku. Untuk membaca buku berjudul 'Frozen'. Cerita memang bagus, ya filmnya juga bagus. Pinter yang membuat cerita dan juga filmnya," kata Wika.

Wika pun mengambil buku di meja dan di taruh di rak buku dengan baik. Wika pun mengambil buku yang ingin ia baca di rak. Wika keluar dari kamarnya dan langsung ke ruang tengah. Duduk dengan baik di ruang tengah Wika segera membaca bukunya dengan baik.

KISAH LEILA DAN RATU MALAM

Meli yang selesai membantu ibu di dapur...biasa masak gitu. Meli ke ruang tengah untuk menonton Tv. Duduk Meli dan ingin mengambil remot di meja. Ternyata ada buku yang belum ia baca, ya padahal itu buku di pinjam dari Rara....teman baiknya Meli gitu. Meli mengambil buku tersebut dan membaca judul buku tersebut "Kisah Leila Dan Ratu Malam."

Meli membuka buku tersebut da segera di bacanya dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Meli :

Suatu masa, di sebuah daerah pedesaan Turki yang dipenuhi oleh barisan rapi kebun-kebun anggur para petani, hiduplah seorang lelaki tua bersama tiga orang anak gadisnya. Dua anak pertamanya, si kembar Ayla dan Aylin.

“Tuan Aslan mempunyai putri-putri yang sangat cantik,” kata orang-orang desa di suatu pesta panen anggur.

“Lihatlah Ayla dan Aylin. Mereka berdua bagaikan dua kuntum bunga tulip merah yang segar. Masing-masing merupakan cermin kecantikan bagi yang lain. Mereka benar-benar mempunyai pesona kecantikan yang sama.”

“Dua gadis itu pastilah gadis tercantik di seluruh desa ini. Bahkan, di seluruh tanah Turki.”

Mendengar perkataan orang-orang tentang mereka, Ayla dan Aylin sangat senang. Mereka begitu bangga dengan kecantikan mereka dan berusaha merawatnya sebaik mungkin. Setiap hari yang mereka lakukan hanyalah mematut diri di cermin dan bersantai-santai.

“Pagi ini, kita akan berjalan-jalan ke kebun anggur sebelah barat,” ajak Ayla ketika menyisir rambut coklatnya yang panjang berkilau.

“Ya. Para penduduk di sebelah barat sudah lama tidak melihat kecantikan kita, bukan?” Aylin merapikan gaun kaftan sutranya yang lembut dan indah.

Setelah Ayla dan Aylin siap, mereka melangkah keluar rumah dan menyapa matahari. “Wahai, Sang Matahari yang bersinar, siapakah yang paling cantik di negeri ini?” Ayla dan Aylin mendongakkan kepala ke langit.

Dengan sinarnya yang hangat, Sang Matahari menjawab, “Aku cantik. Kalian juga cantik. Memang, Ayla dan Aylin yang tercantik di negeri ini.” Ayla dan Aylin tersenyum puas mendengar jawaban Sang Matahari.

Hingga suatu malam, pada pesta panen berikutnya, semua mata beralih kepada seorang gadis lain. Gadis itu adalah Leila, si putri bungsu. Kini, ia telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Leila yang baik hati dan rajin membantu ayahnya di kebun anggur. Meski ia sering bekerja di kebun anggur bersama ayahnya, namun kecantikannya tidak berkurang sedikit pun. Bahkan, karena sifatnya yang rajin dan menyenangkan, para penduduk semakin kagum kepadanya.

“Hanya lewat satu musim panen dan tiba-tiba Leila muncul bagai rembulan purnama di malam kelabu,” bisik orang-orang itu.

“Dia pasti gadis tercantik di desa ini. Oh, tidak, bahkan di seluruh tanah Turki. Dia telah menenggelamkan sinar kecantikan Ayla dan Aylin,” komentar yang lain.

Hal tersebut membuat Ayla dan Aylin kecewa. Di pesta-pesta panen sebelumnya, mereka yang selalu mendapatkan pujian sebagai gadis tercantik. Kenapa sekarang Leila yang mendapatkannya?

Suatu pagi, Ayla dan Aylin mendongakkan kepala ke langit, mencari matahari terbit untuk bertanya, “Wahai Sang Matahari yang bersinar, siapakah gadis paling cantik di negeri ini?”

Sang Matahari menjawab sambil bersinar lembut, “Aku cantik. Kalian cantik. Tetapi, Leila lebih cantik. Kebaikan hatinya membuat Leila menjadi gadis tercantik di negeri ini.”

Jawaban Sang Matahari merebakkan rasa iri di hati Ayla dan Aylin. Mereka tidak suka jika Leila menyaingi keelokan paras mereka. Maka, dengan penuh dengki, mereka merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Leila.

“Oh, Leila, adik kami tersayang. Maukah engkau ikut memetik beberapa tanaman obat di hutan? Ayah kita pasti akan senang jika kita membuat beberapa botol minuman tonik untuk kesehatannya,” ajak Ayla dan Aylin suatu hari.

Tanpa berpikir panjang, Leila pun menyetujuinya. “Tentu saja, kakak-kakakku. Apa pun akan aku lakukan untuk membuat ayah senang.”

Sesampai di tengah hutan, Ayla dan Aylin berkata, “Leila, Sayang. Carilah tanaman obat di sini. Sementara itu, kami akan memetiknya di sebelah sana. Tunggulah hingga kami datang menjemputmu. Kemudian, kita akan pulang bersama-sama.”

Leila sama sekali tidak menaruh curiga terhadap kakak-kakaknya itu. Jadi, ia percaya saja terhadap janji mereka. Namun, ketika matahari beranjak turun ke langit barat dan keranjangnya telah penuh dengan tanaman-tanaman obat, Ayla dan Aylin tidak kunjung menjemputnya. Matahari akhirnya benar-benar tenggelam dan Leila tertinggal sendirian di dalam hutan yang asing dan gelap.

“Oh, kakak-kakakku tersayang! Kemanakah kalian? Jemputlah aku!” Leila berbisik dalam rasa takut. Ia melihat sekelilingnya. Ranting-ranting pepohonan yang kurus menjulur ke arahnya, seperti jemari penyihir yang hendak mencengkeramnya. Angin dingin yang berhembus, menambah rasa takutnya. Tubuh Leila menggigil. Ia pun menangis tersedu-sedu di atas batang pohon tua yang telah tumbang.

Tiba-tiba, seberkas sinar meluncur turun dari langit malam, mendarat di dekat Leila. Dari sinar itu tampak sebuah kereta tanpa kuda yang berkilauan oleh taburan bintang-bintang. Tiba-tiba seorang wanita anggun nan berwibawa, memakai jubah hitam gemerlap dan mahkota mutiara hitam turun dari kereta.

”Gadis yang malang, mengapa engkau menangis sendirian di tengah hutan?” Suara lembut wanita itu memecah keheningan.

“Anda siapa?” tanya Leila penuh ketakjuban melihat wanita di depannya.

“Aku, Sang Ratu Malam,” jawab wanita itu.

Leila sangat terkejut mendengar jawaban itu. Rasa takutnya kian membesar.

“Jangan takut, anakku. Aku tidak akan menyakitimu. Apa yang sedang menimpa dirimu?” Ratu Malam membelai rambut Leila dengan halus. Membuat Leila teringat ibunya yang telah meninggal. Ibu yang sangat ia rindukan.

“Oh, Ratu Malam yang lembut hati. Kakak-kakak yang kusayangi meninggalkanku sendirian di hutan ini. Jika aku tidak kembali ke rumah, siapa yang akan membantu ayahku?” ucap Leila sedih.

Terpesona oleh kecantikan dan kebaikan hati Leila, Ratu Malam berkata, “Jika kau kembali ke rumah, aku khawatir, kakak-kakakmu akan melakukan sesuatu yang lebih buruk. Lebih baik, kau tinggal di istanaku. Aku akan merawatmu seperti putriku sendiri.”

Leila menuruti ajakan Ratu Malam. Sejak malam itu, ia tinggal di istana Ratu Malam yang terletak di balik barisan awan-awan kelabu, berhiaskan bintang-bintang dan bulan purnama. Leila hidup dengan bahagia, penuh kasih sayang dari Ratu Malam, tanpa pernah kekurangan apa pun.

Tetapi, kisah ini belum berakhir. Bagaimana dengan Ayla dan Aylin? Setelah merasa berhasil menyingkirkan adiknya di hutan, mereka bertanya lagi kepada Sang Matahari.

“Wahai yang menyinari bumi, yang selalu bepergian mengelilingi dunia. Katakan pada kami, Sang Matahari, siapakah kini gadis tercantik di tanah Turki?”

Sang Matahari menjawab sambil bersinar lembut, “Aku cantik. Kalian juga cantik. Tetapi, Leila lebih cantik. Kebaikan hatinya membuat Leila menjadi gadis tercantik di negeri ini.”

Ayla dan Aylin kaget mendengar jawaban Sang Matahari. “Tidak mungkin, kau pasti salah menilai. Adik kami, Leila, telah meninggal di tengah hutan. Tidak mungkin ada manusia yang dapat bertahan hidup di tengah hutan. Nasibnya pasti telah berakhir karena kelaparan atau masuk ke dalam perut binatang buas.”

“Leila masih hidup. Bahagia bersama Sang Ratu Malam,” jawab Sang Matahari.

Kedengkian semakin tumbuh berlipat ganda dalam hati Ayla dan Aylin. Mereka pun menemui seorang wanita penyihir untuk menemukan letak istana Ratu Malam dan membuat rencana untuk menyingkirkan Leila.

“Tolong, katakan pada kami, di mana istana Ratu Malam berada. Kami akan membayarmu dengan uang yang sangat banyak,” kata Ayla dan Aylin kepada Wanita Penyihir.

“Hmmm….” Wanita Penyihir menggeram pelan, melemparkan beberapa jenis wewangian ke dalam tempat dupa yang terbuat dari emas. Asap segera mengepul keluar. Bau harum yang ganjil menyebar ke seluruh ruangan, menyesakkan pernapasan.

“Bacalah mantra ini dan pejamkan mata kalian. Dalam hitungan kelima, kalian akan sampai di depan istana Sang Ratu Malam. Datanglah pada malam hari, ketika Sang Ratu Malam sedang berada di luar istana,” perintah Wanita Penyihir.

“Akan tetapi, dengan cara apakah kami harus melenyapkan adik kami, Leila?” tanya Ayla.

Wanita penyihir itu terkekeh, mengeluarkan suara melengking yang aneh. “Wahai gadis-gadis berhati hitam, cara paling cepat adalah dengan memberinya selembar syal yang telah dibubuhi racun.”

Ayla dan Aylin tersenyum jahat kepada satu sama lain. Mereka menyetujui saran si penyihir wanita. “Baiklah, ajari kami mengucap mantra dan berikan syal itu.” Angan-angan menjadi yang tercantik sudah semakin nyata di depan mata.

Beberapa hari kemudian, mereka berdua merapalkan mantra pemberian si penyihir wanita di saat Ratu Malam tak ada di istana. Bwuuss! Asap hitam pekat menyelimuti Ayla dan Aylin, membawa mereka ke istana Ratu Malam dengan cara yang ajaib. Dalam lima hitungan, mereka telah sampai di depan gerbang yang tinggi, besar, dan berwarna hitam.

“Wahai penjaga pintu gerbang istana Ratu Malam yang mulia! Bisakah kami bertemu dengan adik kami tersayang, Leila?” seru mereka berdua.

Saat itu, Leila sedang tekun menyulam di atas kursi panjang yang empuk. Begitu mendengar suara kedua kakaknya, ia segera melongok ke luar jendela istana.

“Oh! Kakak-kakakku tersayang!” seru Leila gembira. Ia tidak menyangka mendapatkan kunjungan dari kedua kakaknya. Meski dulu Ayla dan Aylin pernah meninggalkannya sendirian di hutan, namun Leila tetap menyayangi kedua saudaranya itu. “Penjaga, tolong biarkan mereka masuk,” pinta Leila.

Penjaga gerbang istana segera membuka gerbang dan membiarkan Ayla dan Aylin masuk menemui Leila. Tiga saudara itu berpelukan erat.

“Maafkan kami, Leila. Kami telah meninggalkanmu sendirian di tengah hutan. Waktu itu, kami tersesat saat ingin menjemputmu. Ketika kami sampai di tempatmu, kau telah menghilang. Kami sangat sedih dan mengkhawatirkanmu.” Ayla dan Aylin pura-pura khawatir.

“Iya, tentu saja aku maafkan. Kalian adalah kakak-kakakku tersayang. Jangan khawatir, Ratu Malam sangat baik kepadaku. Bagaimanakah kabar Ayah? Aku sangat merindukannya,” tanya Leila.

“Ayah kita telah meninggal, Leila,” kata Ayla dan Aylin bersamaan. Leila terkejut mendengar pemberitahuan kedua kakaknya. Dia pun menangis karena merasa kehilangan dan menyesal, tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Setelah Leila cukup tenang, ketiga saudara itu bercakap-cakap cukup lama sebelum berpamitan pulang.

“Leila, Sayang. Hapuslah jangan sedih lagi. Pakailah syal ini supaya kau selalu mengingat bahwa kami menyayangimu,” kata Ayla.

Aylin segera menyambar syal itu dan segera melingkarkannya di leher Leila, “Biar aku pakaikan,” katanya.

“Terima kasih, kakak-kakakku!” seru Leila bahagia.

Tak berapa lama setelah kedua kakaknya pulang, Leila kembali menyulam di atas kursi panjang. Tetapi, keanehan mulai terjadi, badan Leila terasa lemas, dan kemudian limbung, hingga jatuh terkulai di atas kursi. Racun dari syal pemberian si penyihir telah bekerja!

“Oh! Putriku yang malang!” seru Ratu Malam, ketika pulang ke istana dan menemukan Leila tak sadarkan diri. Ia segera mencari tahu penyebabnya. Saat melihat syal yang melingkar di leher Leila, Ratu Malam segera melepasnya. Ia tahu jika syal itu beracun.

Setelah Leila pulih dan menceritakan kejadian yang dialaminya, Ratu Malam berkata, “Kakak-kakakmu sangat baik mau berkunjung kemari. Tetapi, sepertinya mereka memasang syal ini terlalu rapat, hingga membuatmu pingsan.”

Ratu Malam tidak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Ia khawatir hal itu akan menyakiti hati Leila. Tetapi, ia berpesan kepada para penjaganya untuk tidak membiarkan siapa pun masuk selama dirinya pergi.

Ketika Ayla dan Aylin mebgetahui jika rencana mereka gagal, mereka segera mencari cara lain. Kali ini, mereka membawa sekeranjang manisan buah plum beracun untuk Leila.

“Oh, kakak-kakakku tersayang! Pintu gerbang tidak boleh dibuka selama Ratu Malam pergi. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Leila dari jendelanya yang berada tinggi di atas.

“Turunkanlah seutas tali, Leila! Supaya kami bisa mengikatkannya pada keranjang ini, dan kau bisa menariknya ke atas,” saran Ayla dan Aylin.

Leila segera menuruti perintah kakanya. Keranjang berisi manisan buah plum itu pun diterima Leila dengan senang hati. Saat ia memakan satu buah plum, racunnya mulai bekerja. Leila jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya dingin dan kaku seperti orang yang sudah meninggal. Namun, wajahnya tetap berseri bagaikan bunga tulip merah yang merekah.

Ratu Malam sangat sedih kehilangan Leila. Ia mengutus seorang pengrajin istana membuat sebuah peti perak yang berukiran indah untuk menyimpan tubuh Leila. Seekor kuda putih tercantik yang ada di istana dipasang di bagian depan peti. Kuda itu dibiarkan lepas bebas membawa tubuh Leila dalam peti, kemanapun binatang itu suka.

Beberapa hari kemudian, kuda itu ditemukan oleh seorang Sultan Muda yang sedang berburu di hutan. Dibukanya peti di belakang binatang tersebut. Sang Sultan Muda menemukan seorang putri yang sangat cantik di dalamnya. Wajahnya seolah masih hidup dan menyinarkan kecantikan yang memesona.

“Aku akan membawa kuda dan peti ini ke istanaku,” pikir Sultan Muda yang terpikat pada kecantikan Leila.

Sejak menemukan Leila, Sultan Muda tidak lagi tertarik melakukan apa pun yang biasa ia lakukan. Ia tidak lagi tertarik berburu, tidak tertarik dengan masakan lezat koki istana, bahkan ia sering merenung. Satu-satunya hal yang sering ia lakukan adalah memandangi Leila yang berada di dalam peti perak.

“Sungguh sayang, gadis cantik ini telah meninggal. Jika tidak, aku akan menjadikannya sebagai permaisuriku,” gumam Sang Sultan Muda.

Ibu Suri diam-diam mengetahui hal tersebut. Ketika Sultan Muda sedang tidak berada di dekat peti itu, beliau memegang tubuh Leila dan mengguncang-guncangkannya, seraya berkata, “Oh, putri yang malang! Bangunlah! Bangunlah!”

Seketika itu juga, manisan plum beracun yang berada dalam mulut Leila terlompat keluar. Leila pun membuka matanya dan hidup kembali. Selang beberapa waktu kemudian, ia menikah dengan Sang Sultan Muda dan melahirkan seorang bayi laki-laki.

Seluruh kerajaan bergembira menyambut kelahiran sang putra mahkota. Kabar itu juga terdengar oleh Ayla dan Aylin. Mereka tidak menyangka jika Leila berhasil selamat lagi dari kematian. Rasa iri dengki yang telah menguasai dua gadis itu membuat mereka kembali merencanakan kejahatan. Mereka menyamar menjadi pengasuh bayi untuk sang putra mahkota. Ketika Leila sedang tidur, mereka mendekatinya dan menusukkan sebuah peniti bermantra jahat di kepalanya. Mantra jahat itu mengubah Leila menjadi seekor burung yang indah.

“Huss! Pergi kau burung pembawa sial!” usir Ayla dan Aylin.

Leila yang telah berubah menjadi burung merasa terluka oleh perbuatan kedua kakaknya itu. Ia pun terbang menjauh dari istana.

“Permaisuriku, mengapa engkau tampak berbeda?” tanya Sultan Muda yang datang menjenguk.

Ayla yang sedang menyamar menjadi Leila, berkata, “Oh, Sultan. Ini pasti karena aku terlalu lelah melahirkan dan merawat Putra Mahkota.”

Sultan Muda tahu bahwa wanita muda itu bukan permaisurinya. Dalam diamnya, ia berencana untuk membongkar rahasia di balik penipuan itu. Suatu hari, seekor burung yang sangat indah bertengger pada dahan rendah salah satu pohon di taman istana.

“Katakan padaku, Yang Mulia. Apakah engkau, Ibu Suri, dan Putra Mahkota bisa tidur nyenyak?” tanya burung itu kepada Sultan Muda.

Sultan Muda terkejut melihat burung cantik itu bisa berbicara layaknya manusia. “Ya, kami semua bisa tidur dengan nyenyak,” jawabnya.

Aku senang mendengarnya. Tetapi, aku sangat sedih melihat Permaisuri itu tinggal bersama kalian,” ucap Sang Burung. Selesai berbicara demikian, ia terbang mengelilingi taman istana. Namun, semua tanaman yang dilewatinya menjadi layu, dan tanahnya yang subur menjadi pasir tandus.

Sultan Muda keheranan melihat hal itu. Ketika burung itu akhirnya hinggap di lengannya, Sultan Muda melihat sebuah peniti menancap pada kepala burung itu. Ia pun mencabut peniti itu karena merasa kasihan. Seiring dengan tercabutnya peniti itu, burung itu berubah menjadi Leila, permaisurinya yang telah hilang.

“Siapakah yang melakukan perbuatan jahat ini kepadamu, Permaisuri?” tanya Sultan Muda prihatin.

“Gadis yang sekarang menyamar menjadi aku dan seorang lagi menyamar menjadi pengasuh Putra Mahkota. Mereka berdua adalah kakak-kakakku.” Leila pun menceritakan semua yang dialaminya dari awal. Sultan Muda geram mendengar penuturan Leila. Ia memutuskan untuk menghukum Ayla dan Aylin.

Ketika matahari telah tenggelam, Ayla dan Aylin dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman.

“Ampuni kami, Yang Mulia! Ampuni kami, Leila! Kami tidak akan berbuat jahat lagi. Tolong jangan jatuhkan hukuman berat kepada kami. Bukankah, kami berdua adalah kakak-kakakmu tersayang?” seru Ayla dan Aylin ketakutan.

Leila yang berhati lembut tidak tega menyaksikan kakak-kakaknya dihukum. Meski mereka sering berlaku jahatnya terhadap dirinya, Leila tetap menyayangi mereka.

“Yang Mulia, tolong batalkan hukuman ini. Demi saya,” pinta Leila.

Tetapi, Sultan Muda tetap pada keputusannya, “Tidak. Kejahatan tetaplah kejahatan. Hukum harus ditegakkan supaya keadilan tetap berdiri di atas kejahatan.”

Leila menangis sedih, “Oh, Ratu Malam. Seandainya engkau bisa datang ke sini. Tolong, hiburlah putri angkatmu yang sedang berduka ini…”

Seperti dulu ketika Leila menangis sendirian di tengah hutan, Ratu Malam yang kebetulan lewat di atas langit kerajaan, segera turun ke bumi. Kereta tanpa kudanya yang berkilauan bertaburan bintang-bintang, berhenti di sana.

“Tahan, Sultan Muda yang bijaksana. Aku adalah Ratu Malam, ibu angkat dari permaisurimu. Bersediakah engkau mendengarkan nasihatku? Berikanlah dua pilihan yang bijak sebagai hukuman kedua wanita jahat ini.”

Sultan Muda menunduk hormat. “Jika itu kehendak Sang Ratu Malam, silakan berikan dua pilihan itu kepada mereka.”

Ratu Malam mengangguk lega, begitu juga dengan Leila. Ia percaya, ibu angkatnya akan menyelamatkan hidup kedua kakaknya. “Wahai, dua gadis berhati hitam dan berpikiran picik! Pilihlah salah satu dari dua perkataanku. Apakah kalian ingin hukuman mati atau tetap hidup dalam penjara istana dan menyaksikan Leila berbahagia dengan keluarganya?” tawar Ratu Malam.

“Tolong biarkanlah kami hidup.” Ayla dan Aylin pun membuat pilihan.

Setelah hari itu, Ayla dan Aylin tinggal di penjara istana. Di sana mereka terus menerus tersiksa oleh perasaan iri dan dengki yang semakin lama semakin berkobar dalam dada. Mereka tak menyangka jika menyaksikan kebahagiaan Leila sama buruknya dengan sebuah hukuman mati.Sementara itu, Leila hidup bahagia bersama keluarganya, kerajaannya, dan juga ibu angkatnya, Sang Ratu Malam.

***

Meli menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuat cerita," pujian Meli.

Meli menutup bukuya dengan baik dan di taruh di meja. Meli mengambil remot di meja dan segera menghidupkan Tv. Di pilihlah chenel Tv yang acaranya bagus untuk di tonton. Acara Tv yang di pilih adalah acara musik. Meli dengan asik nonton acara Tv yang bagus itu. Apalagi artis idolanya, ya menyanyi di acara musik di Tv tersebut. Senanglah Meli menonton acara musik di Tv.

KISAH SI CANTIK MAWAR

Aulia temannya Rara. Aulia ke rumah Rara. Sampai di rumah Rara. Ibunya Rara mempersilakan Aulia untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Rara sedang membeli sayur dan juga tempe di warung ibu Mila, ya di suruh ibunya Rara lah. Aulia menunggu Rara dengan baik. Aulia melihat buku di meja, ya milik Rara. Aulia mengambil buku tersebut dan di baca judulnya "Kisah Si Cantik Mawar."

Aulia membuka buku tersebut, ya segera di baca dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Aulia :

Dahulu kala, di zaman Turki Kuno, ketika keajaiban bisa disaksikan oleh banyak orang dan para peri sering muncul untuk membantu kehidupan manusia, hiduplah seorang Padishah dengan tiga putrinya. Putri-putri Padishah itu telah mencapai usia yang cukup untuk menikah. Namun, Padishah tidak kunjung menikahkan mereka karena ia terlalu sibuk dengan urusan-urusannya.

“Aku telah berumur empat puluh tahun,” keluh Putri Pertama.

“Aku berumur tiga puluh tahun.” Putri Kedua menghela napas.

“Umurku dua puluh tahun. Kita harus segera menikah sebelum rambut kita memutih,” usul Putri Ketiga.

“Sampaikanlah kegelisahan hati kita kepada Ayahanda. Kau yang paling pemberani di antara kita bertiga,” kata Putri Pertama dan Putri Kedua kepada Putri Ketiga.

Putri Ketiga menyetujui pendapat kedua kakaknya. Ia pun segera menghadap ayahandanya. “Ayahanda, bukankah sudah tiba waktunya bagi kami untuk berkeluarga?”

Sang Padishah merenung sebentar, lalu berkata. “Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Ambillah busur dan memanahlah. Di mana anak panah kalian menancap, di situlah jodoh kalian.”

Menuruti nasihat sang ayah, ketiga putri itu segera merentangkan busur masing-masing. Tiga anak panah pun melesat ke arah yang berbeda. Anak panah Putri Pertama mendarat di kastil Penasihat Istana, sehingga ia menikah dengan putra Sang Penasehat Istana. Anak panah Putri Kedua mendarat di kastil seorang Guru Istana, maka ia menikah dengan putra Sang Guru Istana. Sedangkan anak panah Putri Ketiga mendarat di sebuah pondok sederhana milik seorang pemuda miskin.

“Oh, Putriku, malang sekali nasibmu. Coba, rentangkan lagi busurmu. Mungkin anak panah itu akan jatuh ke tempat yang berbeda,” kata Sang Padishah. Namun, setelah tiga kali merentangkan busur, anak panah Putri Ketiga tetap jatuh di pondok pemuda miskin tadi.

“Ayahanda, biarlah saya terima takdir ini dengan hati lapang. Barangkali ada kebaikan yang tersembunyi untuk saya di rumah itu,” kata Putri Ketiga. Akhirnya, ia pun menikah dengan pemuda miskin itu.

Selang beberapa tahun kemudian, Putri Ketiga hendak melahirkan seorang bayi di malam yang dingin. Tidak ada tempat tidur atau pun kursi panjang sebagai tempatnya berbaring. Tidak ada pula perapian untuk menghangatkan diri.

“Istriku, aku akan pergi mencari seorang tabib wanita untuk membantumu melahirkan,” kata sang suami.

Kini, tinggallah Putri Ketiga kesakitan dan kedinginan di rumah sederhana itu sendirian. “Oh, seandainya ada yang bisa menolongku sekarang juga…” rintihnya.

Kebetulan, tiga ibu peri sedang melewati rumah Putri Ketiga dan mendengar suaranya. Mereka masuk dan melihat keadaan Putri Ketiga yang menyedihkan. Tiga ibu peri itu segera menolong Putri Ketiga. Dengan kekuatan ajaib, mereka menata isi rumah supaya nyaman dan menyenangkan. Sebuah perapian muncul dan menghangatkan ruangan. Disusul sebuah tempat tidur empuk untuk tempat berbaring Putri Ketiga dan juga benda-benda lainnya. Tak lama kemudian, seorang bayi perempuan yang sangat cantik lahir. 

“Anak ini bernama Mawar. Kelak, jika ia menangis, air matanya akan menjadi mutiara,” ucap Ibu Peri Pertama.

Anak ini bernama Mawar. Kelak, sekuntum bunga mawar akan merekah dari senyumannya,” kata Ibu Peri Kedua.

Ibu Peri Ketiga ikut berbicara, “Anak ini bernama Mawar. Kelak, di setiap jejak langkahnya akan tumbuh berbagai tanaman yang menghijau.” Seiring dengan ucapan Ibu Peri Ketiga, mereka menghilang secara bersamaan.

“Istriku, apa yang telah terjadi?” tanya suami Putri Ketiga ketika ia tiba di rumah. Ia benar-benar kaget melihat perubahan rumahnya, apalagi saat ia melihat istrinya berbaring di sebuah ranjang yang indah bersama seorang bayi yang cantik.

“Tiga ibu peri telah menolongku dan memberikan keajaiban di rumah kita, suamiku.” Putri Ketiga lalu menceritakan semua yang dia alami kepada suaminya.

Tahun berganti tahun, Mawar, bayi Putri Ketiga, tumbuh menjadi seorang gadis yang memikat hati siapa pun yang melihatnya. Tak hanya karena kecantikan wajahnya, namun juga karena keajaiban-keajaiban yang dibawanya. Jika Mawar menangis, dari matanya akan keluar butiran-butiran mutiara. Saat ia tersenyum, sekuntum mawar merekah mucul dari mulutnya. Dan, ketika ia berjalan, setiap jejak kakinya akan ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan hijau.

Kabar tentang Mawar dan keajaibannya tersiar hingga ke istana Sultan. Kabar itu didengar pula oleh Putra Sultan, yaitu Sang Pangeran. Rasa penasaran yang besar membuatnya bergegas pergi ke desa, tempat Mawar tinggal, dan melihat sendiri kecantikan dan keajaiban gadis itu. Segera saja, Pangeran jatuh hati dan membawanya ke istana untuk menikahinya.

“Suamiku, kita sangat beruntung. Putri kita hendak dinikahi oleh Pangeran!” seru Putri Ketiga kepada suaminya.

Semua orang bergembira karena pangeran mereka akan segera menikah. Akan tetapi, ada seorang wanita bangsawan dan putrinya yang merasa marah ketika mengetahui rencana pernikahan Pangeran. Rupanya, wanita bangsawan itu berharap jika Pangeran akan menikahi putrinya karena mereka sudah lama tinggal di istana. Apalagi putrinya juga cukup cantik untuk menjadi istri Pangeran. Namun, Pangeran ternyata lebih memilih untuk menikahi Mawar, seorang gadis miskin, dari pada putri wanita bangsawan itu.

“Tenanglah, anakku. Aku telah menyiapkan sebuah rencana untuk membuatmu menjadi istri Pangeran.” Wanita itu menghibur putrinya yang menangis tersedu-sedu di hari pernikahan Pangeran dan Mawar.

Sebelum pesta dimulai, wanita bangsawan itu menghidangkan senampan daging yang telah ditaburi banyak garam kepada Mawar. Mawar memakannya hingga ia merasa kehausan karena rasa asin yang menyengat.

“Tolong, beri saya segelas air…,” pintanya memelas.

Wanita bangsawan dan putrinya tersenyum jahat, lalu berkata. “Berikan satu bola matamu, maka kami akan memberimu segelas air.”

Mawar sungguh ketakutan mendengar permintaan itu. Tetapi, karena ia sudah sangat tersiksa dengan rasa haus, dengan sangat terpaksa ia memberikan bola mata kanannya.

“Minumlah.” Mereka memberikan segelas air kepada Mawar.

Mawar meminumnya hingga habis, tetapi, rasa haus yang menyiksa itu belum hilang juga. Maka, ia meminta satu gelas air lagi. 

Wanita bangsawan dan putrinya tersenyum jahat, dan mengucapkan kata-kata yang sama. “Berikan satu bola matamu, maka kami akan memberimu segelas air.”

Mawar tak punya pilihan lain, ia pun memberikan bola mata kirinya. Kini, ia telah menjadi gadis buta. Wanita bangsawan itu sangat puas. Kemudian, ia menyuruh anak buahnya untuk memasukkan Mawar ke dalam sebuah keranjang besar dan membuangnya ke puncak bukit yang tinggi, jauh dari istana. Setelah itu, ia mendadani putrinya dengan gaun pengantin dan tudung yang semula dikenakan oleh Mawar.

“Oh, ternyata, gadis cantik dan memesona ini yang ingin kau nikahi. Ayah senang karena kau memilih seorang putri bangsawan,” komentar Sultan usai upacara pernikahan.

Pangeran sungguh terkejut ketika tahu jika gadis yang dinikahinya bukan Mawar. Ia benar-benar bingung dengan kejadian itu. Tetapi, ia tidak bisa membatalkan pernikahannya karena restu Sultan telah diberikan dan upacara pernikahan telah dilaksanakan. Lalu, bagaimanakah nasib Mawar yang terbuang di puncak bukit?

Disana, Mawar menangis sedih. Suaranya terdengar menyayat hati. Saat itulah, seorang penebang kayu tua melewati keranjang besar yang berisi Mawar. Ketika ia mendengar suara tangisan itu, ia merasa ketakutan, namun akhirnya ia bertanya, “Siapakah engkau? Apakah engkau peri atau jin?”

“Saya hanyalah manusia biasa. Tolonglah saya, Tuan,” pinta Mawar.

Penebang kayu itu segera membuka tutup keranjang dan menolong Mawar. “Kasihan sekali gadis ini. Rupanya ia buta. Aku akan menolongnya dan mengangkatnya sebagai anak,” tekad penebang kayu itu di dalam hati.

Penebang kayu tua itu pun membawa Mawar pulang ke rumahnya di pinggir hutan dan merawat Mawar seperti anaknya sendiri. Akan tetapi, Mawar masih saja sedih dan terus menangis setiap hari. Butiran-butiran mutiara terus-menerus berjatuhan dari kedua matanya yang buta. Penebang kayu itu keheranan.

“Saya seperti ini sejak lahir, Tuan,” kata Mawar singkat. Ia enggan menjelaskan perihal kemalangan yang dia alami.

Hari demi hari berlalu, Mawar mulai merasa kerasan tinggal di rumah penebang kayu itu. Suatu hari, ayah angkatnya itu pulang dengan membawa buah-buahan manis dari hutan.

“Buah-buah ini sungguh manis dan menyegarkan, Ayah,” ucap Mawar sambil tersenyum. Sekuntum bunga mawar seketika merekah jatuh dari mulutnya.

Penebang kayu itu terperanjat. “Keajaiban apa lagi ini, anakku? Apa yang harus aku lakukan dengan bunga secantik ini?”

Mawar berpikir sebentar, kemudian berkata. “Ayah, tolong datanglah ke istana dan juallah bunga mawar ini di sana. Katakanlah jika bunga ini memiliki keindahan tiada duanya di dunia. Nanti jika ada seorang wanita bangsawan yang membelinya, jangan meminta uang sebagai pembayarannya. Tetapi, mintalah sebuah mata sebagai pengganti bunga mawar ini.”

Penebang Kayu Tua mengabulkan keinginan anak angkat tersayangnya. Keesokan harinya, ia pergi ke istana, tempat tinggal keluarga Sultan, untuk menjual mawar itu.

“Mawar! Mawar! Bunga Mawar! Barang siapa yang membeli bunga mawar ini akan sangat beruntung. Bunga ini memiliki keindahan tiada banding di dunia ini!” teriak Penebang Kayu Tua.

Wanita bangsawan, yang dulu membuang Mawar ke puncak bukit, membuka pintu, bermaksud membeli mawar itu.

“Saya tidak menjualnya untuk mendapatkan uang, Nyonya. Saya menjualnya untuk sebuah bola mata,” kata Penebang Kayu Tua.

Wanita bangsawan itu langsung teringat pada dua bola mata Mawar yang disimpannya. Ia pun memberikan salah satu mata itu kepada Penebang Kayu Tua.

“Oh, terima kasih, Ayah!” pekik Mawar senang, setelah menerima sebuah bola mata dari ayah angkatnya. Ia lalu memasangkan bola mata itu ke tempat yang tepat. Kini, Mawar bisa melihat dengan satu mata. Ia tersenyum senang. Bunga-bunga mawar merekah segera berjatuhan dari mulutnya.

“Ayah, tolong, juallah mawar-mawar ini ke istana supaya aku bisa mendapatkan satu mata lagi,” pintanya.

Keesokan harinya, Penebang Kayu Tua kembali menawarkan kuntum-kuntum mawar itu ke istana.

“Penjual mawar itu datang di saat yang tepat. Kemarin, Pangeran tampak sangat senang melihat mawar yang kusematkan di rambut putriku. Putriku pasti terlihat lebih cantik dengan mawar itu,” pikir Wanita Bangsawan. Ia tidak tahu bahwa Pangeran merasa senang karena melihat bunga mawar yang tersemat di rambut putrinya, bukan karena melihat kecantikan istrinya. Bunga mawar itu mengingatkan Pangeran kepada Mawar, gadis yang seharusnya ia nikahi dulu.

“Berikanlah sebuah bola mata sebagai pengganti mawar-mawar ini, Nyonya,” pinta Penebang Kayu Tua.

Akhirnya, mata kedua Mawar tiba. Ia memasangnya kembali di tempat yang tepat, sehingga penglihatannya kembali seperti sedia kala. Ia merasa sangat senang dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota menikmati pemandangan. Di jalanan kota, orang-orang terpesona melihat kecantikan Mawar. Terlebih lagi saat mereka menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dibuat gadis itu. Senyumnya mengeluarkan kuntum mawar yang merekah, jejak langkahnya meninggalkan tumbuh-tumbuhan hijau, dan air matanya berupa butiran mutiara yang indah. Berita tentang keajaiban Mawar tersebar ke segala penjuru. Kabar itu pun sampai ke telinga Sang Wanita Bangsawan dan putrinya.

“Oh, Ibu, bagaimana jika ia kembali lagi ke istana ini dan menceritakan semua kejahatan kita kepada Pangeran?” tangis putrinya.

“Aku akan melakukan sesuatu sebelum Pangeran mendengar tentang gadis itu,” tekad wanita bangsawan itu.

Ia lalu menelusuri kabar tentang Mawar dan menemukan rumah Penebang Kayu Tua di pinggir hutan. Diam-diam, ia menemui lelaki tua itu.

“Pak Tua, tahukah engkau bahwa gadis yang tinggal di rumahmu itu telah dirasuki oleh roh jahat? Oleh karena itulah ia bisa melakukan berbagai macam keajaiban. Roh jahat itu menyimpan jiwa putrimu yang sebenarnya di suatu tempat,” katanya berbohong.

Penebang Kayu Tua sungguh ketakutan mendengar hal itu. “Apa yang harus saya lakukan supaya jiwa putri saya bisa kembali, Nyonya?”

“Tanyakanlah kepada roh jahat itu, di mana ia menyimpan jiwa putrimu. Jika tempat penyimpanan jiwanya musnah, maka jiwa putrimu akan bebas kembali ke tubuhnya. Roh jahat itu pun akan pergi dari tubuh putrimu. Aku akan membantumu,” janji Sang Wanita Bangsawan.

Penebang Kayu Tua segera menemui Mawar yang ia sangka kerasukan roh jahat. “Roh jahat, katakanlah, di mana kau menyimpan jiwa putriku, Mawar! Kini aku mengerti penyebab semua keajaiban yang kau lakukan selama ini!”

“Ayah, apa yang terjadi? Aku sungguh-sungguh putrimu, Mawar. Aku bukan roh jahat. Aku bisa melakukan semua keajaiban ini karena tiga peri yang memberiku azimat ketika aku lahir,” jawab Mawar mencoba menjelaskan.

“Katakan di mana kau menyimpan azimatmu, maka aku akan percaya bahwa kau bukan roh jahat!” seru Penebang Kayu Tua.

Mawar berpikir sesaat, kemudian mengungkapkan rahasianya, “Aku menyimpannya di tubuh rusa muda bermata merah di puncak bukit. Jika ia mati, maka aku juga akan mati.”

Penebang Kayu Tua segera menemui Sang Wanita Bangsawan dan mengatakan semua yang dia ketahui. Kemudian, wanita itu menyuruh anak buahnya mencari rusa muda yang dimaksud dan memerintahkannya untuk membawa hatinya sebagai bukti kematian rusa muda itu. Setelah rusa muda itu ditemukan dan mati karena diambil hatinya, Mawar tak sadarkan diri. Penebang Kayu Tua menyadari kesalahannya dan merasakan penyesalan yang dalam. Ia menganggap Mawar telah meninggal, sehingga ia memasukkannya ke dalam sebuah peti dan menguburkannya di puncak bukit.

Sementara itu, Wanita Bangsawan dan putrinya bergembira karena Mawar telah pergi untuk selamanya. Mereka berdua kemudian memasak hati rusa muda itu. Tetapi, tanpa sepengetahuan mereka, sebuah mata merah bagai batu koral di lautan, menggelinding jatuh dari hati rusa dan bersembunyi di bawah tempat tidur Pangeran.

Malam harinya, Pangeran bermimpi aneh. Ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang sedang menangis di puncak bukit. Air mata gadis itu mengeluarkan butiran mutiara. Kemudian, saat gadis itu tersenyum kepada Pangeran, sekuntum mawar merekah jatuh dari mulutnya. Dan, ketika gadis itu berjalan beberapa langkah, jejak kakinya ditumbuhi oleh tanaman yang menghijau.

“Temukan aku, Pangeran. Aku terkubur di bukit ini. Bawalah mata koral di bawah tempat tidurmu dan letakkan di mulutku,” kata gadis itu.

Pangeran terbangun dengan tubuh penuh keringat. Ia buru-buru melongok ke bawah tempat tidurnya. Dan, benar saja, sebuah mata merah bagai batuan koral tergeletak di bawah tempat tidurnya. Tanpa membuang-buang waktu, Pangeran memacu kudanya menuju puncak bukit yang ada di dalam mimpinya. Ia yakin, kali ini, ia akan menemukan Mawar, calon istrinya yang dulu menghilang. Setelah sampai di puncak bukit, Pangeran segera menggali tempat yang ditunjuk oleh gadis dalam mimpinya. Ia menggali dan terus menggali, hingga sekopnya membentur sesuatu yang keras. Sebuah peti. Pangeran semakin bersemangat menggali, hingga peti itu tergali seluruhnya. Pangeran segera membuka tutupnya dan melihat sesosok gadis berbaring di dalamnya.

“Benar, mimpiku semalam ternyata benar. Ini adalah Mawar, gadis yang aku cari-cari selama ini!” pekik Pangeran senang.

Pangeran lalu mengambil sebuah kantung yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah mata merah bagai koral. Perlahan-lahan, Pangeran meletakkan mata itu di mulut Mawar. Tiba-tiba, mata itu menghilang dan Mawar membuka matanya.

“Terima kasih telah menyelamatkan saya, Pangeran.” Mawar tersenyum sambil menangis penuh haru. Mulutnya mengeluarkan bunga mawar yang merekah dan kedua matanya menjantuhkan butiran mutiara. Saat Pangeran menuntunnya melangkah keluar dari peti, jejak kaki Mawar ditumbuhi tanaman yang menghijau. Semua hal itu semakin meyakinkan Pangeran bahwa gadis itu benar-benar Mawar yang dicarinya.

“Apa yang terjadi di hari pernikahan kita? Mengapa engkau menghilang begitu saja?” tanya Pangeran.

Mawar menceritakan semua yang telah dialaminya kepada Pangeran, termasuk perlakuan Sang Wanita Bangsawan dan putrinya kepada dirinya.

“Mereka berdua akan mendapatkan hukuman yang sepadan dengan kejahatan yang telah mereka lakukan,” kata Pangeran dalam perjalanan menuju istana.

Dengan kembalinya Mawar, istana kembali mengadakan pesta pernikahan Pangeran. Mawar sangat bahagia karena bisa menikah dengan Pangeran dan berkumpul kembali dengan ayah dan ibunya. Ia pun tak lupa mengundang ayah angkatnya, yang telah menyelamatkan dan merawat dirinya, untuk hadir di pesta itu. Sementara itu, Wanita Bangsawan dan putrinya harus menjalani masa hukuman atas kejahatan mereka di dalam penjara istana.

***

Aulia berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuat ceritanya," pujian Aulia.

Aulia menutup buku dan buku di taruh di meja. Rara pulang ke rumahnya dengan bawa sayur dan tempe yang ia beli di warung ibu Mila.

"Aulia telah lama nunggu?!" kata Rara.

"Lumayan. Selesai baca buku. Kisah Si Cantik Mawar. Asal cerita dari Turki," kata Aulia.

"Tunggu sebentar ya. Aku mau ngasih ini belanjaan ku pada ibu!" kata Rara.

"Iya," kata Aulia.

Aulia menunggu dengan baik. Rara memberikan belanjaanya ke ibunya. Ya ibu segera memasak tuh sayur dan tempe di dapur. Rara ke ruang tamu.

"Aulia main yuk. Main boneka!" kata Rara.

"Ayuk!!!" kata Aulia.

Aulia dan Rara main boneka dengan penuh kegembiraan, ya kebiasaan ceweklah main boneka.

Friday, June 25, 2021

BERHARAP KEAJAIBAN

Dono dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv. Acara yang di tonton, ya acara berita ini dan itu...pokoknya menarik di tonton dengan baik banget. Kasino sedang sibuk kerjaanya di dalam kamarnya, ya membuat pembukuan gitu.

"Don," kata Indro.

"Apa?" kata Dono.

"Hidup ini cuma gini-gini aja ya?!" kata Indro.

"Ya begitu lah," kata Dono.

"Ada dewa muncul dari hasil pemujaan pada dewa. Ya dewa muncul akan mengabulkan permintaan aku. Ajaran Hindu gitu Don," kata Indro.

"Dewa muncul. Manusia yang meyakini ajaran Hindu, ya bersujud semuanya. Menyatakan ajarannya benar. Dewa pun mengabulkan permintaan manusia. Contohnya : wabah penyakit yang melanda negara ini dan itu....covid-19. Dewa langsung menghilangkan bencana wabah penyakit. Manusia jadi sehat semuanya," kata Dono.

"Mau sih begitu. Kenyataanya. Yang mengobatin orang sakit, ya Dokterlah. Bisa di sebut Dokter itu Malaikat atau juga di julukin Dewa jika manusia memuji seseorang yang berhasil menyembuhkan manusia dari sakitnya," kata Indro.

"Kebiasaan manusia. Mengangkat manusia setinggi langit. Jika berhasil menanggulangi masalah," kata Dono.

Acara Tv terus berlangsung dengan baik memberitakan ini dan itu. 

"Mengetik ah!" kata Dono.

"Nontonnya udahan?!" kata Indro.

"Iya. Abisnya aku ada ide untuk membuat cerita," kata Indro.

"Ooooooo begitu. Seperti biasanya toh!" kata Dono.

Dono ke kamarnya dan duduk dengan baik, ya segera menghidupkan leptopnya. 

"Cerita apa ?" kata Dono berpikir panjang.

Leptop telah hidup dengan baik. 

"Seperti biasa saja," kata Dono.

Dono mengetik dengan baik di leptopnya, ya membuat cerita yang baik gitu. Indro tetap asik nonton Tv. Kasino ternyata telah selesai urusan kerjaanya, ya keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Duduk Kasino di samping Indro, ya untuk nonton Tv bersama.

"Dono mana...Indro?!" kata Kasino.

"Biasa...Dono mengetik di leptopnya di kamarnya," kata Indro.

"Ooooo seperti biasanya toh," kata Kasino.

Acara Tv memang masih berlangsung dengan baik. Kasino dan Indro, ya asik nonton Tv.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Ada penyakit susah untuk di obatin kan?!" kata Indro.

"Ada sih penyakit yang susah di obatin. Contoh : kanker gitu," kata Kasino.

"Dewa muncul dari pemuja pengikutnya. Dewa mengabulkan permintaan manusia itu. Contohnya : di sembuhkan dari penyakit kanker," kata Indro.

"Mungkin saja. Keajaiban bisa terjadi," kata Kasino.

"Lewat para Dokter kan ?!" kata Indro.

"Banyak cerita begitu. Dewa menjelma menjadi Dokter, ya langsung menyembuhkan manusia yang sakit itu. Karena manusia yang sakit itu yakin dengan ajaran yang di yakininya," kata Kasino.

"Bisa juga di bilang Malaikat juga dong?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Berarti. Ada kesamaan dalam cerita dong.....Kasino?!" kata Indro.

"Dari dulu kan. Cerita berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan berdasarkan agama yang di yakini," kata Kasino.

"Maka manusia terus berharap bahwa hidup ini pasti ada keajaiban jika manusia sakit yang susah di obatin, ya ternyata bisa sembuh dengan baik...pertolongan dari Malaikat atau Dewa," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik banget. Dono masih terus mengetik di leptopnya dengan baik banget.

Thursday, June 24, 2021

NAMA AKHIRAT

Dono duduk di ruang tamu sedang baca buku. Kasino sedang asik nonton Tv di ruang tengah. Indro selesai urusan kerjaannya di kamarnya, ya keluar dari kamarnya. Saat di ruang tengah, ya Indro melihat Kasino sedang nonton Tv dengan asik banget. Acara Tv memberitakan tentang tenaga kesehatan yang meninggal yang katanya masih di kaitkan dengan covid-19. Indro bertanya kepada Kasino yang asik nonton Tv "Kasino beneran tuh berita tentang tenaga kesehatan yang meninggal?"

"Berita memang begitu. Mau gimana?" kata Kasino.

"Percaya atau tidak dengan berita di Tv. Aku cuma penonton yang baik saja," kata Indro.

"Sama dengan ku," kata Kasino.

"Kaya orang di hukum di pengadilan karena melanggar protokol kesehatan...kan?!" kata Indro.

"Beritanya memang begitu," kata Kasino.

"Percaya atau tidak dengan berita di Tv. Aku cuma penonton yang baik saja," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino tetap nonton Tv dengan asik banget. Indro tidak melanjutkan nonton Tv, ya ke ruang tamu. Tiba-tiba terdengar toa dari mesjid tentang pemberitahuan orang yang meninggal. Dono, Kasino dan Indro mendengar toa pemberitahuan dari mesjid dan ketiga mengucap secara bersamaan "Inalilahi wainalilahi rojiun."

Indro yang sudah di ruang tengah, ya duduk di sebelah Dono. 

"Orang yang meningal itu. Nama Akhirat telah di panggil sama Malaikat," kata Dono.

Indro memang terkejut dengan omongan Dono.

"Kok Nama Akhirat di panggil sama Malaikat?" tanya Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Ayolah Don beritahu aku!" kata Indro.

"Baiklah. Orang yang meninggal itu di panggil sama Malaikat dengan Nama Akhirat. Ya Nama Akhirat, ya nama amalan dan ibadahnya selama manusia itu menjalankan hidup di muka bumi ini," kata Dono.

"Berarti namanya Firdaus maka akan di panggil Malaikat.....Firdaus juga dong?!" kata Indro.

"Ya enggaklah di panggil seperti itu. Manusia itu menyembunyikan kesalahannya baik besar dan kecil....yang tahu adalah Tuhan. Maka Manusia yang di panggil Firdaus itu cuma nama dunia saja. Sedangkan Nama Akhiratnya....amal dan ibadahnya. Ya bisa saja nama akhiratnya.......nama neraka," kata Dono.

"Namanya dunianya Firdaus. Nama Akheratnya...bisa saja nama neraka berdasarkan amal dan ibadahnya," kata Indro.

"Malaikat langsung menghisap amal dan ibadah manusia yang meninggal tersebut dan langsung di golongkan berdasarkan amal dan ibadahnya selama menjalankan ibadah di dunia ini," kata Dono.

"Berarti kalau namanya Muhammad.....belum tentu jadi utusan Tuhan dong?!" kata Indro.

"Ya iyalah. Nama Muhammad itu sudah pasaran di pake manusia zaman sekarang ini, ya belum tentu jadi utusan Tuhan lah," kata Kasino.

"Begitu juga dengan nama dewa...contohnya : nama dewa...Wisnu. Jadi belum tentu jadi dewa dan juga belum tentu masuk surga. Bisa saja masuk neraka," kata Indro.

"Manusia memakai nama dewa ini dan itu kan pemberian dari orang tua. Untuk urusan Nama Akhirat kan.....amalan dan ibadahnya yang di panggil sama Malaikat dan di tetap golongannya, ya masuk neraka ataukah masuk surga," kata Dono.

"Kesalahan yang di sembunyikan. Hanya Tuhan yang tahu. Berarti bisa masuk neraka semua manusia itu," kata Indro.

"Yang ngomong Indro ya. Bukan aku!" kata Dono.

"Kok gitu Don?!" kata Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Aku mengerti Don," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Ooooo....iya Don. Yang kita omongin ini urusan umat Islam kan. Gimana dengan agama lain?!" kata Indro.

"Kalau itu sih. Aku males membicarakannya!" kata Dono.

"Aku mengerti. Rahasia kan. Misteri kan?!" kata Indro.

"Ya bisa di bilang begitu sih!" kata Dono.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Aku main game saja ah!" kata Indro.

"Emmmmm," kata Dono.

Dono melanjutkan main game di Hp-nya. Indro, ya main game di Hp-nya dengan baik banget. Kasino tetap nonton Tv dengan baik banget. Acara yang di tonton, ya tetap berita yang ini dan itu....seputar kehidupan ini dan itu...pokoknya menarik di tonton.

HASIL DARI SEBATANG JERAMI

Dono dan Kasino sedang duduk di ruang tengah, ya asik nonton Tv yang acaranya bagus banget. Acara Tv yang di tonton, ya berita seputar artis Indonesia yang ini dan itu.....pokoknya menarik untuk di tonton. Indro mau main game di Hp-nya di ruang tamu. Indro melihat buku di meja, ya tertarik gitu dan mengambil buku tersebut. Di bacalah judul buku tersebut sama Indro "Hasil Dari Sebatang Jerami."

Indro berpikir panjang dengan baik.

"Mungkin enggak ya 'Hasil Dari Sebatang Jerami' ?!" kata Indro.

Indro membuka buku tersebut.

"Mungkin!" kata Indro.

Indro pun membaca buku tersebut dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda bernama Taro. Taro adalah seorang pemuda miskin yang hidupnya selalu serba kekurangan. Meski hidup dalam kemiskinan, Taro selalu rajin berdoa ke pura pemujaan. Dia selalu berdoa kepada para Dewa agar hidupnya berubah dan menjadi makmur. Setiap hari, Taro selalu beribadah di pura. Kelelahan, Taro tertidur di kuil setelah berdoa.

Taro bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Taro mendengarkan suara ajaib. Suara gaib itu menyarankan agar Taro mengambil barang yang pertama kali ditemukannya setelah bangun dari tidurnya.

 "Taro, ketika kamu bangun dari tidurmu, ambil barang pertama yang kamu temukan. Hal-hal itu akan membuat perubahan besar dalam hidup Anda, ” kata suara ajaib itu.

Keesokan harinya, Taro terbangun dari tidurnya. Ia masih tidak percaya dengan mimpinya tadi malam.

"Benarkah hal pertama yang kutemukan bisa mengubah takdirku?" dia masih termenung. Namun nasehat dari mimpi itu akhirnya ia laksanakan.

 Taro akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan kuil. Ketika dia keluar dari kuil, Taro hanya melihat sedotan yang berada tepat di depannya. 

 "Akankah sedotan ini mengubah nasib hidupku?." Taro bergumam sambil menatap jerami. "Lebih baik, aku simpan saja sedotan ini," Taro akhirnya menyimpan sedotan itu.

Dalam perjalanan kembali, Taro didekati oleh seekor lalat. Lalat itu terbang kesana kemari di sekitar Taro. Taro terganggu oleh lalat itu. Akhirnya Taro menangkap lalat itu dan mengikatnya pada sedotan yang baru ditemukannya. Lalat hanya bisa terbang kesana kemari karena terikat oleh jerami.

Taro akhirnya berjalan pergi sambil membawa seekor lalat yang diikat dengan sedotan. Seorang anak akhirnya melihat sesuatu yang dibawa Taro. Dia memanggil ibunya untuk meminta mainan yang dibawa Taro. Menurutnya, lalat yang diikat dengan sedotan adalah mainan yang menyenangkan.

“Ibu, aku mau mainan itu…,” seru anak itu kepada ibunya.

Sang ibu kemudian menoleh ke apa yang ditunjukkan balitanya. Ternyata seekor lalat yang diikat dengan jerami. Sang ibu akhirnya mendekati Taro untuk bersiap-siap memberikan mainan itu dan menukarnya dengan barang cepat. Taro akhirnya menyetujui permintaan sang ibu untuk menukar mainannya dengan tiga buah jeruk besar manis segar.

Setelah mendapatkan ketiga jeruk tersebut, Taro melanjutkan perjalanannya kembali. Di tengah perjalanan, Taro melihat seorang nenek tua yang tampak kehausan. Sang nenek mendekati Taro dan bertanya di mana mata air terdekat.

“Nak, tahukah kamu di mana mata air terdekat berada di daerah ini? Aku haus,” kata nenek.

“Mata air di daerah ini cukup jauh, Bu. Kalau Nenek benar, ambil 3 jeruk ini,” kata Taro sambil memberikan 3 jeruk yang tampak segar dan manis.

Sang nenek pun akhirnya senang dengan pemberian Taro. Taro yang baik hati akhirnya menerima hadiah dari sang nenek, yaitu 3 gulungan kain tenun yang indah.

"Ambil barang-barang ini, anak muda. Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Anda memberi saya 3 jeruk segar dan manis ini," kata nenek.

Taro dengan senang hati menerima pemberian sang nenek dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kain tenun 3 gulung tentu bukan barang murahan. Taro kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia melihat ada seorang samurai dan salah satu pengawalnya yang berusaha menyelamatkan kuda mereka. Kuda itu tersandung dan tidak bisa bangun. Mereka akhirnya menyerah. Apalagi samurai dan pengawalnya sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu acara.

Taro kemudian menawarkan kepada samurai dan pengawalnya agar kuda itu diberikan kepadanya. Sebagai gantinya, Taro memberikan 3 kain tenun kepada samurai. Mereka menyetujui usulan Taro. Taro akhirnya merawat kuda itu sampai dia sehat seperti biasa. Setelah kuda bisa berjalan dengan baik. Taro mengajak kudanya jalan-jalan keliling desa. Di tengah perjalanan, Taro melihat seorang saudagar yang sedang memindahkan barang-barang rumah tangganya.

Taro mendekati saudagar itu dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan?" Apa kau pindah rumah?” Taro bertanya kepada pedagang.

"Itu benar, anak muda. Saya akan pindah rumah dan membawa barang-barang saya. Namun, saya perlu bantuan untuk mengangkut barang-barang saya ke rumah baru saya. Begitu ya, kudamu sangat sehat dan kuat. Jika saya bisa, saya ingin menukar ladang saya dengan kuda Anda. Karena saya membutuhkan tenaga hewan untuk mengangkut barang-barang saya,” jelas saudagar itu.

Taro akhirnya dengan senang hati menukar kudanya dengan sawah dan ladang milik saudagar. Pedagang itu juga senang menggunakan kuda hadiah Taro, karena dia sangat membutuhkannya untuk mengangkut barang. Talas akhirnya memiliki areal persawahan dan ladang yang luas. Dia bekerja dengan rajin untuk mengolah ladang dan ladangnya, sehingga tanah itu menghasilkan hasil yang melimpah. Taro menjalani kehidupan yang makmur dan menikah dengan seorang gadis desa yang baik dan cantik. Mereka akhirnya hidup bahagia. Semua itu adalah hasil dari sedotan, kemudian menjadi 3 buah jeruk, 3 gulungan kain tenun, seekor kuda, dan akhirnya menjadi ladang dan ladang yang luas.

Indro berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Kalau tidak salah dari Jepang.....cerita yang aku baca ini. Pinter yang membuat ceritanya. Kalau aku inget dengan baik artis Indonesia yang asalnya Jepang........Kenta dan Haruka, ya jalan cerita cinta keduanya bagus sih. Haruka menolak cinta Kenta," kata Indro

Indro membaca hikmah dari cerita yang ia baca "Hasil kerja keras dan hati yang tulus akan membawa hasil yang baik."

Indro memahami hikmah tersebut dan segera menutup buku, ya buku pun di taruh di meja. 

"Kalau aku inget dengan baik. Cerita yang telah aku baca pernah di buat filmnya apa sinetron ya? Karena bentuknya boneka sih kalau di tonton di Tv!" kata Indro.

Indro segera main game di Hp-nya dengan baik. Kasino dan Dono masih nonton Tv karena memang acara Tv bagus banget gitu.

Wednesday, June 23, 2021

TERLARANG

Dono duduk di ruang tamu, ya sedang baca buku dengan baik banget. Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Aku masih penasaran," kata Indro.

"Penasaran apa?" kata Kasino.

"Tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya?" kata Indro.

"Di bilangin. Aku ini cowok tulen. Urusan itu aku tidak tahu lah!" kata Kasino.

"Gimana ya?!" kata Indro yang bingung.

"Saran aku ke Dono aja. Mungkin Dono tahu yang sebenarnya!" kata Kasino.

"Dono kan cowok juga. Pasti tidak tahulah," kata Indro.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Pastinya tahulah. Kemarin kan mungkin Dono lagi sibuk mengetik di leptop jadi tidak ingin mengasih tahu gitu," kata Kasino.

"Iya juga ya. Kalau begitu aku tanya Dono ah!" kata Indro.

Indro beranjak dari duduknya di ruang tengah ke ruang tamu. Kasino tetap santai nonton Tv di ruang tengah. Indro duduk di sebelah Dono.

"Dono," kata Indro.

"Apa?" kata Dono sambil menghentikan baca bukunya.

"Don. Aku ingin ingin tahu tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya," kata Indro.

"Ooooo kecantikkan di dalam dirinya cewek toh," kata Dono.

"Maksudnya itu Don...kecantikan di dalam dirinya cewek, ya jujur apa tidak tuh cewek kalau ketika bercermin gitu?" kata Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Pasti bilang tidak tahu. Sebenar tahu...cuma tidak ingin memberi tahu," kata Indro.

"Ya...gimana ya?!" kata Dono masih berpikir panjang.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Jadi bisa di beri tahu kebenarannya tentang jauh di dalam diri cewek itu cantik apa enggak?!" kata Indro.

"Memang aku bisa mendengar suara Roh. Sebenarnya sih. Lebih baik aku bilang tidak tahu. Jadi misteri lah," kata Dono.

"Kenapa Don?" kata Indro.

"Anggap saja.....terlarang gitu," kata Dono.

"Kata terlarang ini tidak boleh di bongkar toh," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Ya sudahlah Don. Aku harus menghapuskan rasa penasaran aku!" kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Nonton Tv lagi!" kata Indro. 

"Iya," kata Dono.

Dono melanjutkan baca bukunya. Indro kembali ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Kasino.

"Gimana di kasih tahu Dono apa enggak?" kata Kasino.

"Terlarang kata Dono!" kata Indro.

"Ooooo terlarang toh. Aku mengerti. Tetap misteri," kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus gitu. Dono tiba-tiba berhenti baca bukunya dan berkata "Kecantikan di dalam diri cewek itu tercermin dari budi pekerti yang baik yang di ajarkan orang tuanya. Lebih jauh lagi di dalam diri cewek itu tidak boleh di bicarakan.....terlarang."

Dono melanjutkan baca bukunya dengan baik banget.

CERMIN

Dono, Kasino dan Indro di ruang tengah sedang asik nonton Tv yang acara bagus banget gitu, ya musik gitu. Dono tetap mengetik di leptopnya, sambil melirik tontonan di Tv lah. Memang alunan musik yang bagus membuat suasana jadi senang keadaanya gitu. Paling penting sih penyanyi yang menyanyi di panggung pertunjukkan di Tv.........cantik dan ganteng gitu. 

"Don berhentilah mengetik!" kata Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Lagi ada ide jadi di ketik dengan baik," kata Dono.

Dono melanjutkan mengetiknya.

"Biarkanlah Dono mengetiknya. Seperti biasa membuat cerita yang ini dan itu!" kata Kasino.

"Acara Tv lagi bagus baget gitu," kata Indro.

"Aku sambil nonton sih. Melirik gitu," saut Dono sambil mengetik gitu.

"Ya sudahlah aku serius nonton Tv-nya!" kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

Acara musik di Tv berlangsung dengan baik banget. Kasino dan Indro menonton acara Tv dengan baik banget gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Cewek itu suka cowok jujur apa pembohong?" kata Indro.

"Cewek suka cowok yang jujur dan tidak suka cowok yang pembohong," kata Kasino.

"Gimana dengan tulisan Dono, ya mau jujur di tulisan bisa saja di bilang pembohong kan?!" kata Indro.

"Kalau itu tanya sama Dono. Kenapa ke aku?!" kata Kasino.

"Don....gimana omongan tadi. Denger nggak?!" Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Aku denger omongan Indro. Sebenarnya tergantung dari pembaca yang menilainya. Aku mau di bilang jujur tidak masalah. Aku mau di bilang pembohong tidak masalah. Toh tujuan aku membuat cerita di Blog, ya hoby bercerita saja!" kata Dono.

"Kalau begitu sih...tergantung pembaca sih," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Oooo iya Kasino. Cewek itu bisa saja berbohongkan dalam pernyataan cinta kepada cowok?" kata Indro.

"Itu sih bisa sih," kata Kasino.

"Di depan jujur di belakang bisa berbohong toh," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Cewek itu sering bercermin kan?!" kata Indro.

"Iya lah untuk melihat kecantikan dari wajahnya itu," kata Kasino.

"Berarti. Cewek harus menilai dengan baik dirinya jujur apa tidak tentang kecantikan di dalam dirinya itu kan?!" kata Indro.

"Kalau itu  jawabannya tidak tahu. Aku bukan cewek. Aku cowok tulen!" kata Kasino.

"Dono juga cowok. Jadi jawabannya tidak tahu juga. Ya sudahlah...jawabannya penuh dengan tanda tanya besar banget," kata Indro.

"Fokus nonton Tv!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu. Dono masih sibuk mengetik di leptopnya, ya sambil melirik tontonan Tv yang acara bagus banget.

HADIAH ISTIMEWA

Nia teman baiknya Rara. Nia memang minjem buku cerita sama Rara, ya karena buku cerita yang di pinjem itu menarik dari judul cerita kemunginan isinya juga menarik. Nia penasaran dengan isi cerita buku yang ia pinjam dari Rara itu. Nia ingin membaca isi buku yang ia pinjam. Di kamarnya. Nia duduk dengan baik sambil memegang buku. Nia membuka bukunya dan segera membaca bukunya dengan baik juga.

Isi buku yang di baca Nia :

Zulaikha berlarian di sekitar tenda-tenda sukunya. Matahari bersinar terik sepanjang hari. Debu pasir yang beterbangan karena angin terasa pedih di mata. Namun semua itu tak sedikit pun mengurangi keceriaannya. Ia lalu masuk ke salah satu tenda yang paling besar. 

“Ayah!” serunya menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk di atas permadani.

Zulaikha adalah putri Ali bin Ahmad. Pria itu pemimpin rombongan suku Arab Badui yang sedang menetap di dekat oase. Sudah beberapa bulan mereka bermukim di sana. Suku Arab Badui hidup berkelana di padang pasir. Mereka biasanya menggembala domba, kambing, dan unta. Domba dan kambing dipelihara untuk dijual. Sedangkan unta digunakan untuk berkendara dan mengangkut barang. Mereka tinggal di dalam tenda-tenda berwarna hitam. Tenda itu dibuat dari bulu kambing atau domba yang dipintal. Karena jarang bertemu orang di luar kelompoknya, suku Arab Badui senang bila bertemu dengan musafir. Mereka terkenal ramah kepada musafir yang melewati pemukimannya. 

“Ada apa, Putriku?” tanya Ali kepada Zulaikha. 

“Aku melihat seseorang akan melintas!” jawab Zulaikha antusias. 

“O ya? Mari kita lihat!” 

Ali berdiri dan mengenakan sorbannya. Tangan mungil Zulaikha menggandeng ayahnya keluar tenda.

“Lihat itu, Ayah!”

 Ali mengamati dari kejauhan. Ia melihat awan kekuningan bergerak dari arah utara. Putrinya benar. Awan yang mereka lihat sebenarnya hanyalah kumpulan debu pasir. Debu-debu itu yang bergerak naik karena tersaruk kaki manusia atau binatang yang berjalan. 

“Sepertinya tak lama lagi ia akan sampai ke sini,” ujar Ali. 

“Ayo, kita tunggu di dalam tenda saja!” lanjutnya sambil menggamit lengan Zulaikha. 

Putri kecilnya itu tampak girang sekali. Zulaikha memang senang bila bertemu dengan para musafir. Musafir terkadang singgah sejenak di pemukiman suku Arab Badui. Zulaikha pasti akan meminta mereka bercerita. Zulaikha paling sering bertanya tentang kota asal mereka. Juga kota-kota yang telah mereka singgahi. Bagi Zulaikha, cerita mereka ibarat dongeng yang indah. Ia belum pernah melihat kota dengan rumah-rumah besar dari batu, apalagi menemukan taman yang hijau, sungai yang berkilauan, dan laut biru yang dingin. Setiap hari, selama bertahun-tahun, yang dilihat Zulaikha hanyalah hamparan pasir dan oase kecil. Melalui mulut para musafir itulah, ia menemukan keasyikan yang baru. Ketika musafir itu semakin dekat, Ali memanggil pelayannya. Pelayan-pelayan itu datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Tuan?”

“Sebentar lagi ada musafir yang akan datang melewati pemukiman kita. Tolong sambut dia dan siapkan jamuan untuknya.” 

“Baik, Tuan.”

Salah seorang dari pelayan itu keluar. Zulaikha diam-diam mengikutinya dari belakang. Zulaikha melihat pelayan ayahnya menundukkan kepala. Ia memberi salam kepada seorang lelaki yang memegang tali kendali kuda. Lelaki itu membalas salamnya dengan menundukkan kepala juga.

“Masuklah, Tuan! Pemimpin rombongan kami ada di dalam. Anda bisa beristirahat dan bercakap-cakap dengannya,” ujar pelayan. 

Pelayan itu mengambil tali kendali kuda dan mengikatnya di dekat ternak mereka. Begitu lelaki musafir itu masuk ke dalam tenda, Ali bin Ahmad langsung menyambutnya dengan ramah. Ia mempersilakannya duduk. Zulaikha bergegas meloncat ke pangkuan ayahnya. Ia tak ingin melewatkan cerita yang dibawa oleh musafir itu. Di hadapan mereka sudah terhidang roti gandum dan susu kambing. Ada juga beberapa kerat daging manis untuk suguhan. 

“Terima kasih untuk sambutan terbaik Anda, Tuan. Saya Ammar, utusan dari Syekh bin Nadi,” ucap si musafir memperkenalkan dirinya.

“Dengan senang hati, Tuan. Sungguh kehormatan bagi kami utusan dari syekh besar bersedia singgah di tempat kami,” balas Ali bin Ahmad. 

Sudah lama ia mendengar nama besar Syekh bin Nadi yang terkenal akan kebaikan dan kesalehannya.

“Saya memang mendahului rombongan Syekh bin Nadi untuk menemui Anda. Syekh bin Nadi dalam perjalanan ke selatan dan bermaksud mengunjungi suku Anda.” 

“O ya? Berapa lama lagi beliau sampai di sini?” tanya Ali. 

Ia merasa senang memiliki kesempatan bertemu Syekh bin Nadi. 

“Kira-kira dua atau tiga hari lagi.” 

Zulaikha menyimak pembicaraan ayahnya dan utusan Syekh bin Nadi. Ia masih belum tahu siapa syekh yang dibicarakan ayahnya dan musafir itu. 

“Kalau begitu, istirahatlah Anda di tenda kami sambil menunggu rombongan tiba.”

“Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Ali.” 

Utusan itu lalu diantar pelayan ke tenda lain yang biasa dipakai untuk para tamu. 

“Ayah, siapa Syekh bin Nadi?” tanya Zulaikha begitu ia tinggal berdua saja dengan ayahnya. 

“Dia syekh besar, Putriku. Syekh bin Nadi adalah bangsawan yang kaya raya, namun ia sangat dermawan. Ia juga seorang yang saleh. Ia sering pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajak orang berbuat baik. Semasa mudanya dulu, ia pernah menolong kakekmu saat akan dirampok. Kakek pernah bercerita pada Ayah. Karena itu, Ayah selalu mengingatnya. Ayah senang bila bisa bertemu dan mengucapkan terima kasih padanya,” jelas Ali bin Ahmad panjang lebar. 

Zulaikha mengangguk-angguk. Ia terkesan pada cerita ayahnya. Ia pun ingin bertemu dengan orang yang pernah menolong kakeknya dulu. Berita kedatangan Syekh bin Nadi segera menyebar. Sudah menjadi kebiasaan suku Arab Badui untuk mempersiapkan hadiah bila ada tamu penting datang berkunjung. Mereka ingin memberikan sambutan dan pelayanan terbaik. Peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan hadiah masing-masing. Zulaikha juga sibuk. Ia sibuk memerhatikan hadiah apa yang akan diberikan orang-orang di sukunya kepada Syekh bin Nadi. Ia masuk ke setiap tenda dan menanyai setiap orang apa yang akan mereka hadiahkan. 

“Keluarga kami akan menghadiahkan terompah dari kulit domba. Ibuku sendiri yang menjahitnya,” ujar Hasan. 

Ia teman bermain Zulaikha. 

“Kau sendiri memberi hadiah apa?” tanya Zulaikha penasaran.

“Aku? Tentu saja terompah itu. Aku ikut membantu Ibu membuatnya,” kilah Hasan.

“Berarti itu bukan pemberianmu sendiri,” balas Zulaikha.

“Aku, kan, masih kecil,” ucap Hasan membela diri.

Ia lalu berlari meninggalkan Zulaikha dan masuk ke dalam tendanya. Zulaikha risau. Semua orang sudah memiliki hadiahnya masing-masing, tapi ia tak memiliki apa pun untuk diberikan pada Syekh bin Nadi. Ia tak mungkin memberikan boneka kainnya yang sudah lusuh karena terlalu sering digunakan bermain. Zulaikha menghampiri ibunya. Wanita itu juga sedang sibuk menyiapkan hadiah di tendanya.

“Ada apa, Sayang? Biasanya kau bermain sepanjang hari? Kenapa lesu begitu?” tanya sang ibu melihat anaknya yang tampak tidak bersemangat. 

Zulaikha melemparkan dirinya ke permadani. Ia duduk di antara kain-kain lembut yang bertumpuk-tumpuk. 

“Aku sedang bingung, Bu.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Aku ingin memberi hadiah pada Syekh bin Nadi. Tapi aku tak punya sesuatu pun yang layak untuk kuhadiahkan. Lihatlah semua orang sibuk menyiapkan hadiah. Ibu juga.” 

Ibu Zulaikha tersenyum. Ia duduk mendekati putrinya. Ia tahu betul watak Zulaikha. Ia selalu ingin melibatkan diri dalam peristiwa apa pun. 

“Sayang, tak perlu bersedih seperti itu. Coba angkat wajahmu,” ucap sang ibu menghibur.

Ia memegang dagu Zulaikha dan menaikkannya ke atas. 

“Sekarang tersenyum. Ayo, tersenyum!” goda sang ibu.

Zulaikha bukan tersenyum malah meringis. Ibunya tertawa. 

“Dengarkan Ibu. Orang dewasa memang sedang sibuk mempersiapkan hadiah. Tapi anak-anak, tak harus memberi hadiah juga. Orang-orang tua mereka sudah mewakilinya. Kau mengerti?”

“Tapi aku ingin memberi hadiah sendiri, Bu. Aku tidak ingin diwakili.”

“Kalau begitu kau harus berusaha sendiri. Temukan apa yang ingin kau hadiahkan untuk Syekh bin Nadi. Lalu segera persiapkan.” 

“Nah, itu dia masalahnya. Dari tadi aku sudah berpikir dan mencari, tapi belum ketemu juga, Bu.”

“Ya sudah, tak perlu pusing. Kau bantu saja Ibu menyiapkan hadiah untuk Syekh bin Nadi. Sama saja kau ikut memberi hadiah, bukan?” ujar sang ibu berusaha menghibur. 

“Ah, Ibu. Bukan begitu maksudku,” ucap Zulaikha kesal. 

Ia benar-benar ingin memberi sebuah benda dari dirinya sendiri. Zulaikha berlari keluar dari tenda ibunya. Zulaikha pergi ke oase. Ada batu besar di pinggir telaga itu. Ia duduk di sana. Zulaikha menangis. Ia sangat sedih karena merasa tak memiliki sesuatu pun yang berharga untuk dihadiahkan. Tiba-tiba seseorang menepuk lembut bahu Zulaikha. Zulaikha menengok. Seorang lelaki berpakaian serba putih berdiri di hadapannya. Wajahnya bersih dan memancarkan sinar. Zulaikha menghapus air matanya. Ia tersenyum ramah pada Zulaikha.

“Tuan siapa? Saya belum pernah melihat Anda. Apakah Anda musafir?” tanya Zulaikha keheranan. 

Ia tak mengenali lelaki itu. 

“Aku Amin. Lalu, kau siapa, gadis kecil? Mengapa menangis?” lanjut lelaki bernama Amin itu balik menanyai Zulaikha. 

“Saya Zulaikha binti Ali bin Ahmad. Anda melihat saya menangis?” ujar Zulaikha tersipu. 

Zulaikha pun menceritakan sebab musabab dirinya menangis. 

“Oh, begitu ceritanya. Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Kau pasti akan mendapatkan sesuatu untuk kau hadiahkan pada Syekh bin Nadi. Esok hari, datanglah lagi ke tempat ini. Tempat di mana air matamu berjatuhan di pasir. Kau akan menemukan hadiah itu.”

“Sungguh? Apa, ya, kira-kira?” Amin hanya tersenyum. 

“Apakah Anda yang menaruhnya agar saya bisa mengambilnya?” tanya Zulaikha lagi. 

“Lihat saja besok. Sekarang pulanglah! Hari hampir gelap,” jawab Amin.

 Zulaikha menurut. Ia berjalan pulang ke tenda sukunya. Zulaikha tak sabar menanti esok hari. Ia penasaran hadiah apa yang akan ia temukan. Zulaikha tak mau menceritakan kejadian tadi sore pada siapa pun. Ia tak ingin mendapatkan ejekan ketika ternyata besok tak ada hadiah apa pun yang ia temukan. Ia langsung masuk ke tendanya. 

“Zulaikha, ke mana saja kau? Ibu khawatir sekali. Hari sudah hampir gelap,” tanya sang ibu cemas.

“Zulaikha hanya duduk-duduk di dekat oase, Bu. Maafkan Zulaikha sudah membuat Ibu khawatir.” 

Ibu menarik Zulaikha dalam pelukannya.

“Apakah putri Ibu masih sedih?” Zulaikha menggeleng. 

Ibunya tersenyum lega. 

“Sekarang bersihkan badanmu. Sebentar lagi kita makan bersama.” 

“Baik, Bu.”

 Zulaikha lebih banyak diam saat makan malam bersama ayah dan ibunya. Padahal, biasanya ia banyak bicara. “Anak Ayah, kok, tak ada suaranya?” goda Ali bin Ahmad. 

Malam itu mereka makan roti gandum dan daging domba yang dibakar. Zulaikha tak bersemangat mengunyah makanannya. 

“Tak apa, Ayah,” jawab Zulaikha.

Gadis kecil itu terus memikirkan ucapan Tuan Amin yang tadi ia temui di oase. 

“Bagaimana dengan hadiahnya?” kini Ali bertanya pada istrinya. 

Zulaikha menegakkan telinganya. Ia pun ingin tahu. 

“Gulungan kain sutra untuk Syekh bin Nadi sudah siap, Ayah. Sudah kupastikan tidak ada yang cacat. Tadi sudah kubuka dan kugulung kembali.” 

Ali mengangguk puas. 

“Tadi putri kecil Ayah juga bilang ingin memberi hadiah,” lanjut sang ibu. 

“O ya? Apa yang ingin kau berikan untuk hadiah, Sayang?” tanya Ali. 

“Aku belum tahu, Ayah,” jawab Zulaikha, “tapi sepanjang malam ini aku akan berdoa supaya besok aku punya hadiah untuk Syekh bin Nadi.” 

Ali tertawa kecil mendengar celoteh anaknya itu.

“Ya, Sayang. Berdoalah. Ayah juga akan berdoa untukmu,” ujar Ali menyemangati Zulaikha.

Zulaikha tersenyum lalu menghambur ke pelukan ayahnya. Sang ibu senang melihat anaknya kembali seperti biasanya. Malam itu, Zulaikha berdoa sebelum berangkat tidur. Ia ingin tidur nyenyak dan segera mendapati hari sudah pagi. Tapi, tidurnya malah gelisah. Zulaikha terjaga sepanjang malam. Ia lalu berdoa lagi sampai kelelahan dan tertidur. Saat fajar menyingsing, Zulaikha terbangun. Tanpa cuci muka ia langsung berlari ke luar tenda. Suasana masih hening, tapi Zulaikha tak takut. Ia berlari menuju ke oase. Ia ingin mencari tahu hadiah yang dikatakan Tuan Amin. Zulaikha terhenti di bongkahan batu tempatnya duduk kemarin. Ia ingat betul tak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di dekat batu itu. Namun, kini di hadapannya menjulang pohon tinggi. Batangnya lurus tanpa cabang. Di bagian atas pohon tersebut barulah tampak daun-daun yang menempel pada tangkai daun. Daun pohon itu panjang menyirip dan runcing di bagian ujung. Dari tangkai-tangkai daun muncul tandan-tandan buah yang menjulur. Buah-buahnya kecil berwarna kecoklatan. Zulaikha takjub. Inikah hadiah yang dikatakan Tuan Amin kemarin? Zulaikha segera kembali ke tenda dan mencari ayahnya. Ia ceritakan kejadian yang dialaminya kemarin sore. 

“Tapi di oase itu tak ada sebatang pun pohon besar, Zulaikha,” ujar Ali masih belum percaya.

“Zulaikha tak pernah berbohong. Ayah harus melihatnya sendiri biar Ayah percaya.”

“Baiklah, kita ke sana sekarang.” 

Ali berjalan di sisi putrinya. Tangan Zulaikha menyeret Ali untuk bergegas. Ia tak sabar menunjukkan pohon hadiahnya kepada sang ayah. Saat melihatnya sendiri, Ali hampir tak percaya. Kemarin ia sendiri yang menggiring domba-dombanya pulang setelah meminum air di oase. Ia belum melihat pohon itu. Mana ada pohon tumbuh besar dalam satu malam. Ali memanjat pohon itu dan memotong salah satu tandan buahnya. Setelah turun, ia lalu mencicipinya bersama Zulaikha. 

“Manis sekali rasanya. Semanis anak Ayah!” puji Ali. Zulaikha tersipu. 

“Sekarang Ayah percaya, kan?” Ali menggangguk.

“Seharusnya kita juga menyambut dan memberi Tuan Amin hadiah seperti Syekh bin Nadi,” gumam Zulaikha. 

“Tapi tak ada yang tahu ia mampir ke sini selain dirimu, Zulaikha. Ini berkah untukmu. Tuhan mengabulkan doamu. Kau mendapatkan hadiah istimewa untuk Syekh bin Nadi.” 

“Iya, Yah. Aku sangat gembira! Aku ingin berterima kasih pada Tuan Amin bila bertemu lagi dengannya.” 

Ali mengangguk.

“Ayo, kita bawa tandan buah ini untuk suguhan nanti!” Ali memanggul tandan buah yang ia potong kembali ke tendanya. 

Sore harinya, Syekh bin Nadi tiba di pemukiman Arab Badui. Ia disambut dengan sukacita. Satu per satu anggota suku Arab Badui menemuinya untuk menyerahkan hadiah. Ada perhiasan emas, sutra, pedang baja, dan masih banyak lagi. 

“Syekh, ini putri kecil saya, Zulaikha. Ia ingin memberikan hadiah untuk Anda,” ujar Ali. 

“O ya? Saya senang sekali. Terima kasih, gadis kecil yang baik.” 

Zulaikha tersenyum. 

“Mari, saya antar ke tempat hadiah itu berada,” lanjut Ali. 

Ia, Zulaikha, serta Syekh bin Nadi dan beberapa orang pengikutnya berjalan ke oase. Sambil berjalan, Ali meminta Zulaikha sendiri yang menceritakan tentang hadiahnya. Zulaikha mengisahkannya dengan antusias. Ketika sampai di oase, mereka mendekati pohon hadiah Zulaikha. 

“Ini dia hadiah untuk Anda, Syekh,” ujar Zulaikha polos. 

“Buah pohon ini sangat manis. Ayah telah memetiknya untuk Anda,” lanjut Zulaikha.

Syekh Bin Nadi tersenyum. 

“Ya, ini adalah hadiah paling berharga dari semua hadiah yang saya terima. Hadiah istimewa ini muncul dari keinginan dan ketulusan hati yang dalam. Terima kasih, Zulaikha,” ucap Syekh bin Nadi. 

“Saya akan menceritakan padamu tentang pohon ini. Kau ingin tahu?” tanya Syekh bin Nadi pada Zulaikha. Zulaikha langsung mengangguk mantap. 

“Ini adalah pohon kurma. Pohon yang sanggup tumbuh di gurun yang kering. Buahnya bisa dimakan. Daunnya bisa dijadikan atap atau diambil seratnya untuk dipintal. Tangkai daunnya dipakai untuk bahan bakar memasak. Pohonnya yang rimbun memberi naungan yang teduh. Dan kayunya bisa dipakai membuat perkakas.” 

Zulaikha terkesima mendengar penjelasan Syekh bin Nadi. 

“Lalu?” tanyanya. 

Syekh bin Nadi tertawa. 

“Kau suka mendengar cerita rupanya? Kalau begitu kita lanjutkan di tenda.”

Zulaikha sangat senang.  Mereka kembali ke tenda untuk makan dan beristirahat. 

“Apa lagi yang Anda tahu tentang pohon kurma, Syekh?” tanya Zulaikha tanpa malu-malu. 

Ia anak yang cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar. 

“Ada lagi yang istimewa dari pohon kurma. Saat ia tumbuh dari biji, yang ia tumbuhkan pertama kali bukanlah tunas daunnya. Biji kurma akan menumbuhkan akarnya dulu. Terus tumbuh ke bawah sampai menemukan sumber air. Setelah itu, baru ia tumbuhkan tunas daunnya. Itulah mengapa pohon kurma tidak tumbang meski diterjang badai di gurun. Akarnya kuat menancap ke bumi.”

Zulaikha mengangguk-angguk. Semakin kagum dengan pohon kurma yang istimewa.

“Begitu juga hidup, Zulaikha. Ketika kebaikan berakar kuat dalam hati manusia, maka ia tak akan goyah dengan godaan apa pun. Kelak, ketika kau dewasa. Kau pasti akan semakin mengerti. Teruslah menjadi anak yang baik, ya,” nasihat Syekh bin Nadi. 

Zulaikha tersenyum. Ia puas bisa memberikan hadiah untuk tamu besar ayahnya. Ia juga puas telah mendapatkan kisah pohon kurma yang istimewa.

***

 Nia menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuatnya," pujian Nia.

Nia menutup buku tersebut dan di taruh buku di meja. Nia keluar dari kamarnya dan langsung ke dapur untuk membantu ibu yang sedang memasak di dapur gitu.

Tuesday, June 22, 2021

ABAL-ABAL

Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv. Acara Tv yang di tonton berita seputar ini dan itu, ya menarik di tonton gitu. Dono sedang asik baca buku di ruang tamu. Acara Tv memang masih memberitakan tentang covd-19 karena topik utama yang di beritakan karena program kerja pemerintah untuk menanggulangi penyakit  dan pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh manusia dengan tujuan sih kesehatan rakyatnya di jamin dengan baik sama pemerintahan yang implementasi program kerjanya.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Berita utama tetap covid-19, ya?" kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Ooooo iya Kasino. Apa yang di tulis di Blog Dono sama saja.....abal-abal saja jika di nilai...kan?!" kata Indro.

"Kalau di nilai abal-abal sih tidak ada masalah Blog Dono. Cuma sekedar cerita doang. Beda dengan berita di Tv itu, ya di tulis juga di jaringan internet yang ini dan itu...lebih cenderung nilai ekonomisnya sih....uang. Penghargaan di nilai ekonomis dengan baik," kata Kasino.

"Manusia tetap di nilai dari nilai ekonomis. Uang menakar semua nilai suatu harga sebuah karya tulis di Blog dengan baik. Hidup jadi ironis banget," kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Tetap saja Dono telah puas membuktikan kebenaran ini dan itu," kata Indro.

"Kalau Dono telah puas dengan karya tulisnya di Blog. Berarti karyanya bernilai lebih tinggi dari apa pun. Karena ekonomis atau uang tidak di perhitungkan lagi," kata Kasino.

"Tetap saja hidup itu di jalanin dengan menggunakan uang," kata Indro.

"Kalau menjalankan kehidupan memang pake uang lah. Beli beras harus pake uang. Emangnya kita harus jadi pencuri demi mendapatkan beras...tujuannya agar tidak kelaparan gitu. Banyak wejangan orang tua dari statusnya Ulama sampai Presiden sekali pun harus mendapatkan jalan rezeki dengan jalan kebaikan gitu...halal," kata Kasino.

"Memang sih menjalankan kehidupan ini di suruhnya untuk mendapatkan rezeki dengan jalan yang baik...halal. Tetap susah juga kadang, ya karena berkompetisi dengan orang-orang yang mengejar kekayaan ini dan itu demi hidup jauh dari kemiskinan ini dan itu," kata Indro.

"Prinsip yang kita pake...kan sederhana. Agar tidak terlalu ngoyo banget untuk jadi kaya raya. Agar hidup jadi tenang. Sebagai teman kan, ya bisa di bilang saudara sih. Saling tolong menolog untuk meringankan beban hidup ini. Contohnya : Jika Dono dapet rezeki lebih di bagi ke kita kan. Begitu juga aku dan Indro, ya kalau dapet rezeki lebih di bagi ke Dono," kata Kasino.

"Saling melengkapi dalam kehidupan ini. Hidup jalannya jadi mudah," kata Indro.

"Hanya waktu saja yang akan memisahkan kita semuanya," kata Kasino.

"Maksudnya...kematian...kan Kasino?!" kata Indro.

"Kematianlah yang memisahkan dari jalan pertemanan atau saudara," kata Kasino.

"Ya Takdir kehidupan ini, ya di terima dengan baik," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik karena acara memang bagus banget. Dono di ruang tamu masih asik baca bukunya.

CAMPUR ADUK

LOVE IN NEPAL

Malam hari, ya keadaan lingkungan sekitar rumah Budi..baik gitu. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...musik di chenel TVRI gitu,...

CAMPUR ADUK