CAMPUR ADUK

Saturday, February 9, 2019

SELEBARAN

Dono asik minum es cincau  dan duduk di pinggir jalan. Indro kesana kesini mencari Dono.

"Dono.....malah santai minum es cincau," kata Indro.

Indro langsung menghampiri Dono.

"Mang pesen satu gelas," permintaan Indro.

"Iya..mas," saut mamang penjual es cincau. 

Indro duduk di sebelah Dono.

"Orang sibuk-sibuk beres-beres nurun barang dari truk ke dalam rumah kamu malah ngilang. Di cariin malah minum es?" kata Indro.

"Saya hasus. Mempung mamang es cincau ini lewat saya beli. Jadi melariskan jualannya," kata Dono.

Mamang penjual es cincau memberikan gelas yang berisi es pada Indro.

"Silakan mas..minumannya."

"Iya."

Indro segera mengambil gelas es cincau dari mamang penjual dan meminum es.

"Segernya. Rasa haus saya hilang dan rasa capek saya hilang," kata Indro.

"Segerkan......," saut Dono.

Angin bertiup dengan kencang dan menerbangkan selebaran yang tadi tergeletak di jalan dan jatuh tepat di muka Dono.

"Aduh.....apa ini saya tidak bisa melihat," kata Dono yang heboh.

"Bentar Don," kata Indro yang mengambil selebaran yang menempel di wajah Dono.

Sedangkan mamang penjual es cincau tertawa yang di sembunyikan dengan ke dua tangannya melihat keadaan Dono. 

"Sudah di lepas dari wajahmu yang ganteng," kata Indro.

"Hampir saja saya gak bisa bernafas...Indro."

"Don jangan heboh gitu. Cuma isiden kecil aja kok."

"Iya..cuma masalah kecil..Indro."

Indro membaca dengan seksama selebaran tersebut.

"Gak penting selebaran ini," kata Indro dan ingin membuangnya.

"Gak penting isinya. Coba saya liat dulu..Indro."

"Nie," kata Indro sambil memberikan selebaran pada Dono.

Dono membaca seksama selebaran tersebut.

"Haaaaa.............PDI kalau di tendang D di ganti K jadi apa? PKI," kata Dono terkejut.

"Gak penting....kan Don."

"Nyenehnya keterlaluan banget. Jangan-jangan isu yang berkembang di masyarakat berkenaan Jokowi  di kaitkan PKI ini maksudnya!?...ya Indro."

"Mungkin. Ulah orang yang iseng untuk membuat keruh suasana agar perpolitikan di Indonesia biar lebih panas gitu...," penjelasan  Indro."

"Mungkin juga. Padahal dulunya keluarga saya ada kaitan dengan PKI sampai kacau ceritanya yang ini dan itu. Entah benar gaknya. Tetap jadi pioritas utama untuk tidak ikut campur maksudnya menghindar," cerita Dono.

"Kalau cerita..tentang keluarga kamu di kaitan dengan PKI sih sudah saya dengerin berulang kali. Toh hasilnya kamu adem ayem saja kehidupan sehari-hari kamu. Jadi semua hanya sejarah aja sebagai pembelajaran di bangku sekolah. Bahwa..demi membangun negeri ini ada yang menghancurkan dari dalam. Dengan alasan yang paling utama PKI," Indro yang memberikan masukan pada Indro.

"Iya..juga..lupakan. Berpikir untuk maju membangun diri untuk masa depan," kata Dono.

"Itu yang bener," saut Indro.

Dono asik minum es cintau lagi dan membuang selebaran yang gak penting. Indro pun menikmati es cintaunya. Kasino baru pulang dari beli makan dan minuman untuk di makan bersama sampai di dalam rumah Dono dan Indro gak ada. Kasino mencari kesana dan kesini sampai ke dalam truk tidak ada Dono dan Indro.

"Kemana kalian pergi hai teman-teman?" teriak Kasino di atas mobil truk.

"Woy.....Kasino jangan teriak-teriak jam segini nanti di kirain orang gila," saut Indro dengan suara keras.

Kasino pun melihat Dono dan Indro yang asik minum es cintau dan duduk di pinggir jalan.

"Dono dan Indro..teman baik..ku," kata Kasino.

Kasino bergerak mendekati Dono dan Indro.

"Asik banget kalian berdua...minum di sini?" tanya Kasino.

"Haus dan capek," jawab Dono dan Indro bersamaan.

"Saya membelikan kalian makan dan minuman untuk menghilangkan rasa lapar dan haus," kata Kasino.

"Telat. Saya sudah mati kehausan dari tadi. Maka beli es cincau yang enak," kata Dono.

"Saya..ikutan. Alias idem..Kasino."

"Ya..sudah..lah nanti aja makan dan minuman yang saya bawa di nikmati," kata Kasino.

"Iya," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino pun memesan minuman es cincau kepada mamang penjual es cincau. Dengan senang hati mamang penjual es cincau menerima permintaan Kasino dengan segera gelas yang berisi es cincau di berikan kepada Kasino.

"Geseran dong duduknya. Saya mau menikmati minum es cincau sama kalian berdua," kata Kasino.

"Iya," jawab Indro.

"Nanti jatoh lagi.kalau di geser," kata Dono.

"Jatoh di gimana? Kalian berdua nongrong di pinggir jalan," kata Kasino.

"Buka kartu..nie.....gak jadi lawakkan," kata Dono.

"Tapi Don...kita bertiga kaya pentol korek tahu...kalau berjejer. Males ah....agak jauhan dikit," kata Indro.

"Iya...," saut Kasino sambil menikmati es cincau yang enak dan seger.

"Ah..jojong..aja," kata Dono.

"Kalian ngobrol apa di sini kayanya asik banget?" tanya Kasino.

"PKI," jawab Dono dan Indro bersamaan.

"Oh...PKI. Partai Kacau Indonesia," saut Kasino sambil asik minum es cincau.

"Kok...Partai Kacau Indonesia. ....Kasino..bukannya Partai Komunis Indonesia," kata Indro.

"Iya..kok..Partai Kacau Indonesia!? Kasino," kata Dono.

"Kan..bener....kalau di pelesetin K nya jadi Kacau. Hampir partai politik kan pada Kacau. Demi ini dan itu agar memajukan negeri ini. Itukan misi dan visi awalnya.....selanjutnya kan kacau. Kaya PKI," penjelasan Kasino.

"Sebenernya..memang bener-bener kacau sih. Tapikan masa lalu dan sekarang masa depan berbeda banget. Jadi ya..gak kacau-kacau banget partai yang berkembang di Indonesia," tambahan Indro.

"Terserah..kalian berdua. Dasar....nyeleneh," kata Dono.

Dono menyelesaikan minum esnya dan gelasnya di berikan ke mamang penjual es tak lupa membayarnya dengan uang cukup besar. Dan mamang es cincau mau menyusukan uangnya.

"Ini..mas uang kembalian..nya," kata mamang penjual es cincau.

"Gak usah....saya niat sodakoh...uang kelebihan dari bayaran saya minum es cincau," kata Dono.

"Terima kasih mas."

"Iya..sama-sama."

Dono bergerak untuk masuk ke dalam rumah. Indro pun ikutan dengan ulahnya Dono dengan membayar uang yang cukup besar dan juga kembalikannya di sodakohin. Indro pun mengejar Dono.

"Saya di tinggalin," kata Kasino.

Kasino segera menyelesaikan minum es cincaunya dan gelasnya di berikan ke mamang penjual es cincau. Tak lupa Kasino membayarnya dengan uang yang cukup besar. Dan lagi-lagi kembaliannya di sodakohin ke mamang penjual es cincau. Kasino langsung mengejar Dono dan Kasino.

"Alhamdulilah..rezeki anak istri saya. Masih banyak orang yang baik di negara Indonesia ini," ucap syukur mamang penjual es cincau.

Mamang es cincau bergerak lagi dengan mendorong gerobak esnya untuk menjajakan jualannya lagi. Dono, Kasino, Indro segera membereskan pekerjaan di dalam rumah yang belum beres sampai beres bener. Baru deh sore harinya temannya Kasino dateng untuk melihat kerjaan pindahan rumah. Segera Kasino mendapatkan bayaran yang pantes dari temannya. 

Barulah Dono, Kasino, dan Indro meninggalkan rumah tersebut tak lupa pamitan dengan teman Kasino.

"Beres...deh kerjaan hari ini..jadi kita malam mingguan," kata Dono.

"Yo.i...," saut Indro.

"Ayo..kita pulang," kata Kasino yang mulai menancap gas mobil truk dan di kendarain dengan baik.

Dono, Kasino, dan Indro pulang ke rumah sebelum itu mengembalikan mobil truk sewaan tersebut.


Karya: No

Friday, February 8, 2019

GAWEAN

Pagi yang cerah di kediaman Dono. Seperti biasa Dono asik membaca buku komik di ruang tamu. Sedangkan Indro baru selesai masak di dapur dan di bawa ke ruang tamu.

"Makan..Don."

Dono mengentikan baca buku komik dan di taruh di atas meja.

"Iya...Indro."

Dono mengambil gorengan buatan Indro yang enak. 

"Gimana...Dono..rasa masakan saya?"

"Agak sedikit berbeda gorengan tahu isi..ini. Pedes gitu. Jadi gak perlu lagi gigit cabe lagi."

"Resep baru ..Don."

"Resep baru ya Indro atau menyontoh jualan dari Nabila."

"Sebenarnya nyontoh sih. Tapi hasilnya memuaskan..ya Don."

"Iya sangat memuaskan..sekali. Enak dan hot lagi..Indro."

"Sip..deh masakan saya....Dono."

"Sip banget...Indro."

Dono menikmati gorengan buatan Indro dengan asik begitu juga Indro.

"Dono..tumben kemarin malem gak dateng kepengajian rutin kemana kamu?"

"Nonton...Rara," jawab Dono sambil menikmati gorengan.

"Rara..pacar kamu..ya..Don."

"Bukan...Rara penyanyi dangdut. Saya nontonnya di studio Tv. Merasakan suasana live musik aja..Indro,"

"Asik gak..Don?"

"Asik..sih..Indro."

"Setelah nonton.kamu..kemana Don?"

"Mau tahu urusan orang aja...kamu ini Indro,"

"Saya..mau tahu..urusan orang. Abisnya saya ngaji setelah itu nonton Tv dan tidur....Don."

"Kalau saya maunya kenalan dengan Rara penyanyi dangdut. Tapi niat saya urungkan jadi saya lebih baik main ke rumah Juli  setelah selesai nonton live musik untuk main catur aja sampai pagi. Abisnya gak bisa tidur. Baru beberapa langkah main catur Juli tidur dan saya tidur juga di kamarnya Juli. Subuhnya saya pulang setelah sholat subuh...begitu ceritanya Indro."

"Happy..ya..Don."

"Yo.i," saut Dono.

Dono melanjutkan makan gorengan buatan Indro yang enak dan hot begitu juga Indro. Kasino masuk ke dalam rumah dengan mengucap salam "Asalamualaikum hai ahli kubur". Dono dan Indro terkejut dengan salamnya Kasino yang di tambah dengan kata-kata ahli kubur. Tetap saja Dono dan Indro menjawab salamnya Kasino dengan baik "Waalaikum salam hay..ahli kubur".

Kasino langsung duduk sambil mengambil gorengan di piring. Kasino mulai memakan gorengan.

"Pedes-pedes," kata Kasino.

"Niii..minum buat kamu Kas," kata Dono.

"Terima kasih Don."

Kasino langsung minum air aqua gelas.

"Leganya. Gorengan apaan ini...Don dan Indro?"

"Gorengan hot," kata Dono dan Indro bersamaan.

"Jadi gorengan pedes. Pantes saya kepedesan. Tapi enak..lagi. Saya coba makan lagi," kata Kasino.

Kasino mulai menikmati makan gorengan yang pedes buatan Indro.

"Lumayan..enak di badan," kata Kasino.

"Enak..kan. Masih banyak tuh saya simpan di lemari makan," kata Indro.

"Cukup..Indro..ini aja sudah cukup," kata Kasino.

"Kamu..tipe cowok yang gak kuat makan pedes..yakan..Kasino."

"Yo.i," saut Kasino.

"Nikmati..aja makan buatan Indro yang enak," kata Dono yang masih makan gorengan.

"Ngomong buku komik naruto siapa di meja?" tanya Kasino.

"Dono," kata Indro.

"Yo.i....saya. Kenapa gitu...ya..Kasino?"

"Penggemar berat Naruto..ya?" tanya Kasino.

"Yo.i..gitu," jawab Dono.

"Sama..saya..juga," Indro yang ikutan.

"Kenapa kamu suka dengan Naruto?" tanya Kasino lagi.

"Optimisme.......karakter Naruto dalam menjalankan hidup demi meraih mimpi menjadi kenyataan," penjelasan Dono.

"Sebenarnya..saya..suka," kata Kasino.

"Jadi sama-sama pengemar...komik Naruto,"  kata Dono.

"Yo.i," jawab Kasino.

"Saya..juga," Indro yang ikutan.

"Don dan Indro ada kerjaan gak?" tanya Kasino.

"Gak.ada," jawab Dono dan Kasino bersamaan.

"Ikut..saya..ada kerjaan Don dan Indro. Teman saya mau pindahan rumah. Barangnya mau di muat di mobil truk jadi butuh tenaga. Lumayan sih hasilnya untuk kita malam mingguan," kata Kasino.

"Ok.saya ikut," jawab Dono.

"Ok juga," Indro yang ikutan juga.

Gorengan dihabisin oleh Dono dan Indro di piring. Lalu piringnya kotor langsung di cuci oleh Indro di belakang dan baru deh di taruh di rak piring. Dono dan Kasino sudah di mobil. Indro keluar dari rumah dan tidak lupa mengunci pintu rumah.

"Indro cepetan...dong," teriak Dono.

"Iya," saut Indro.

Indro bergegas masuk ke dalam mobil. 

"Indro udah masukkan," kata Kasino.

"Sudah," jawab Dono.

"Cepet...tarik..mobil ini," kata Indro.

"Emangnya ni mobil tarik dengan tambang pake tenaga kerbau," saut Kasino.

"Maksudnya bukan begitu Kasino. Tancep gasnya, lalu jalanin mobil dengan baik," penjelasan Dono.

"Oh..begitu," kata Kasino.

"SD...gak lulus..ini mah. Jalan Kasino," kata Indro.

"Baik..dek..Bapak guru....," jawab Kasino.

Kasino mulai menjalankan mobilnya dengan baik menuju tempat kerjaannya yang di sepakati Dono dan Indro.

Karya: No

Thursday, February 7, 2019

REALITA HIDUP

Langit sangat cerah sekali. Dono duduk di bawah pohon sambil memandang langit yang cerah di hari jumat. 

"Seadainya ada keajaiban di jalan hidup saya," celoteh Dono.

Dono melihat jam di pada jam tangan yang terpasang pada tangan kirinya.

"Sudah waktunya sholat jumat," celoteh Dono.

Dono bangun dari duduknya di bawah pohon untuk menuju mesjid untuk melaksanakan sholat jumat. Saat berjalan menuju mesjid di pinggir jalan raya. Dono berjalan dengan hati-hati. Ada sebuah motor yang mulai aneh dan bergerak menuju arah Dono. Motor pun menyerempet Dono. Untung saja Dono langsung menghindar dengan insting cepat.

"Woy.......kalau bawa motor pake mata jangan seperti orang gila yang tidak bisa mengontrol kendaraan yang di jalannya," teriak Dono yang nyaring banget.

Tapi pengendara motor terus melaju terus dan mengganggap kejadian tersebut tidak ada.

"Dasar....orang gila," kata Dono.

Dono tidak lagi memperdulikan lagi masalah itu dan menjalankan niatnya ke mesjid untuk sholat jumat. Sampai di depan mesjid bertemu Dono dengan Kasino dan  langsung bersalaman.

"Gimana keadaan mu hari ini?" tanya Kasino.

"Hampir celaka dengan pengendara motor yang ugal-ugalan," cerita Dono.

"Ya...sabar ya..Dono. Hidup di dunia ini kita mau jalan kebaikan untuk keharmonisan, tetapi di sisi lain sebaliknya membuat malapetaka pada manusia yang lain. Alias orang gila menjalankan hidup. Otaknya tahu di taruh di mana?" kata Kasino.

"Di pantat..kali Kasino," saut Dono.

"Bodoh..tambah...bodoh,,,dong. Kaya otak udang," kata Kasino.

"Yo.i," kata Dono.

Dono dan Kasino mengambil wudu untuk menjalankan sholat jumat. Setelah itu masuk mesjid Dono dan Kasino tak lupa membaca doa masuk mesjid. Dono mulai mau menjalankan sholat sunah tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh Kasino. Dono gak jadi menjalankan sholat sunah dulu dan mengikuti maunya Kasino.

"Dono saya ingin pemahaman kamu tentang cinta. Berkenaan cinta di kalangan artis?" kata Kasino.

"Saya..kirain hal yang penting. Cuma urusan gak penting. Cinta di kalangan artis tersebut lebih banyak kebohongan dari pada kejujurannya. Karena tujuannya naikin pamoritas mereka menjadi artis," penjelasan Dono.

"Kalau begitu saya punya peluang dong mendapatkan cewek yang pekerjaannya menjadi penyanyi alias artis," kata Kasino.

"Kamu punya peluang. Tapi tetap saja kamu jadi dengan artis jadi sorotan mata semua orang. Jadi konsumsi publik alias ada nilai jual. Jadi harus menghadapi semua resiko kalau pingin mendapatkan pasangan artis. Hidup penuh dengan realita sekenario demi ini dan itu," penjelasan Dono.

"Ok...saya siap itu mah," kata Kasino.

Dono dan Kasino mulai sholat sunah setelah menyelesaikan pembicaraan mereka dengan suara kecil. Kemudian di mulai acara sholat jumat dengan khotbah dari imam sholat. Dono dan Kasino mendengarkan dengan baik beserta jamaah yang lain. Sampai sholat jumat di laksanakan dengan baik dan khusuk. Baru Dono dan Kasino pulang bersama dengan berjalan kaki pulang ke rumah.

Di tengah jalan malah Kasino mengajak Dono untuk  makan di warung yang menjual mie ayam dan bakso. Dengan senang hati Dono menerima ajakan Kasino karena suara perut pun berbunyi dan waktunya makan siang. Dono dan Kasino memesan makan dan minuman sama pemilik warung yang bernama pak Tito. Segeralah pak Tito menyajikan makan dan minuman yang di pesan Dono dan Kasino.

Dengan lahap ke duanya makan mie ayam dengan penuh nikmat dan santai sampai kenyang. Lalu setelah itu Kasino membayarnya dengan uang pas ke pak Tito. Keluarlah keduanya dari warung mie ayam dan bakso. Kemudian Dono memukul pundaknya Kasino.

"Terima kasih atas traktirnya makan siang," kata Dono.

"Sama-sama Don," jawab Kasino.

Dono dan Kasino berjalan menuju pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Lalu Indro dateng langsung berhenti di samping Dono dan Indro.

"Ayo naik!" kata Indro dengan tegas.

"Baik..Indro," jawab Dono dan Kasino bersamaan.

Dono dan Kasino naik motornya Indro. Dengan penuh hati-hati Indro membawa motornya dan membonceng Dono dan Kasino sampai di rumah.


Karya: No

SAYA PERGI

"Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh." teriak Fildan di atas batu karang di pinggir pantai.

Fildan terus berterik menghilangkan segala kekesalann dalam dirinya. Sebagai sahabat Irwan hanya melihatnya saja. Akhirnya Fildan menyelesaikan semua kekesalannya dan mendatangi Irwan.

"Sudah...selesai semua kekesalan kamu?" tanya Irwan.

"Masih sedikit lagi. Tapi apa itu cinta itu?" tanya Fildan.

"Cinta....cinta..cinta..adalah permainan dunia. Siapa yang bermain pasti merasa bahagia dan sakit ya juga!?" penjelasan Irwan.

"Huuuuuuuuus.....pelong juga. Wajar..kenapa cinta saya beralih karena saya yang tidak mampu menjaga dan akhirnya saya pergi meninggalkan cinta saya," kata Fildan yang mulai tenang.

"Jadi..apa kamu meneruskan mengejar cinta kamu?" tanya Irwan.

"Lupakan. Masih..banyak wanita di muka bumi ini pantas di perjuangkan. Dan mendapatkan kesungguhan cinta saya yang sebenarnya," kata Fildan.

"Yok..kita pulang," ajakan Irwan.

"Ayo...," jawab Fildan.

Irwan dan Fildan masuk ke dalam mobil dan pergi dari pinggir pantai. Sampai di sebuah kafe pinggiran kota mereka berdua ingin makan dan minum. Segera Irwan memarkirkan mobilnya. Fildan baru keluar dari mobil ternyata di datengi oleh banyak penggemarnya dan minta foto dengan Hp mereka. Dengan baiknya Fildan menerima ajakan para penggemarnya.

Irwan yang keluar dari mobil langsung geleng-geleng kepala.

"Susah juga jadi orang terkenal...pasti di kerubungi..kaya semut," celoteh Irwan.

Irwan masuk ke dalam kafe untuk makan dan minun. Pelayan kafe segera membawakan makan dan minuman yang pesan. Saat Irwan mau minum jus jeruk ingin menghilangkan rasa hausnya langsung di serobot oleh Fildan dan langsung di minum.

"Haus.....kamu Fildan?" tanya Irwan.

"Iya..abis di kerubuni banyak penggemar," kata Fildan.

Fildan segera memesan makan dan minum pada pelayan kafe. Dengan segera pelayan kafe menyajikan makan dan minuman pesan Fildan. Irwan terus menyantap makanannya begitu dengan Fildan sampai perut mereka kenyang.

"Siapa yang bayar?" tanya Irwan.

"Kali ini saya..yang bayar. Karena kamu telah membantu saya untuk menghilangkan segala kekesalan saya berkenaan dengan cinta saya," kata Fildan.

"Ah..itu biasa. Yang terpenting masalah kamu cepat selesai dan tidak menggangu pikiran. Karena nanti kamu ada pekerjaan nyanyikan," kata Irwan.

"Ya...bener. Terima kasih banyak sudah menjadi sahabat terbaik," pujian Fildan.

"Sama-sama. Pentingnya persahabatan adalah saling tolong menolong saat teman lagi susah dan bimbang," kata Irwan.

"Persabatan. Awalnya telur menjadi kupu-kupu yang cantik," kata Fildan.

"Sama dengan cinta. Awalnya telur menjadi kupu-kupu  yang cantik kalau bisa menjaganya maka akan langgeng kepelaminan kalau tidak sebaliknya hancur  dan binasa. Semua kenangan bersama hanya kebohongan saja bukan kejujuran dari cinta itu sendiri," nasehat Irwan.

"Saya mengerti arti sebuah cinta. Bukan karena katanya cinta tapi menjalankannya penuh perasaan dan tanggung jawab untuk menjalankan hidup ini penuh arti," kata Fildan yang mulai paham.

Fildan pun membayar makan dan minumannya di kasir dengan kontan. Irwan sudah berjalan menuju mobil. Segera Fildan menyusul Irwan yang ke mobil. Ke duanya langsung masuk mobil. Irwan membawa mobil dengan baik. Fildan mulai mengafal syair-syair lagu yang akan di bawakannya untuk tampil. Selang waktu yang tidak lama sampailah di tempat kerjaan. Fildan dengan perasaan yang tenang mulai menjalankan aktifitas menjadi penyanyi yang profesional di salah satu stasiun Tv. Sedangkan Irwan duduk di bangku penonton untuk menyaksikan kebolehan Fildan menyanyi dan para artis yang lainnya.


Karya: No

NIAT MEMBUNUH

Seperti biasanya Dono asik mengetik di leptopnya di ruang tamu sambil melihat lingkungan sekitar. Indro baru pulang dari main dan masuk rumah dalam keadaan kalut dan duduk di samping Dono. Lalu Dono berhenti mengetik dan mulai bicara dengan Indro.

"Kok tumben tidak ngucap salam saat masuk rumah?" tanya Dono.

"Maaf Dono saya lupa. Abisnya saya lagi kesel baget."

"Kesel kenapa? Cerita dong..Indro."

"Temen saya bernama......Angga..make narkotika sape sakau..Don."

"Kalau begitu bawa ke rumah sakit dan sekalian lapor polisi," saran Dono.

"Itu..sih sudah saya lakukan Don. Tapi tetap saya kesal sekali. Rasanya saya ingin bunuh Angga," Indro yang mulai kalap.

"Kenapa kamu ingin bunuh...Angga?" tanya Dono.

"Abisnya..nie..orang buat wabah nularin penyakitnya make narkoba.....lewat temannya sendiri nama Birma," cerita Indro.

"Wah...kalau begitu sih saya juga ingin membunuh Angga juga. Karena nularin penyakitnya sebagai pengguna narkotika aktif," kata Dono yang mulai kacau juga.

"Don..bisa buat senjata gak?" tanya Indro.

"Buat senjata..maksudnya pistol atau senapan?" kata Dono.

"Iya....pistol dan senapan...Don."

"Bisa......saya buatnya. Kapan kamu makenya..Indro?"

"Secepatnya ..supaya rasa gedek saya..hilang," kata Indro.

"Beres.....," saut Dono.

Indro pun bergerak ke belakang untuk mandi karena hari mulai sore. Dono mengetik di leptopnya dengan cepat dan menyelesaikan tulisannya. Setelah kerjaan Dono selesai mulailah merancang senjata yang di pesan oleh Indro. Selang waktu yang cukup lama kira-kira 2 minggu Dono berhasil membuat senjata rakitan buatannya dan beserta pelurunya.

Pada saat itu Indro lagi duduk di ruang tamu sedang mengetik di leptopnya. Dono membawa senjata dan pelurunya dan di taruh di meja.

"Indro pesan kamu," kata Dono.

Indro menghentikan ketikannya pada leptopnya dan mulai memeriksa senjata buatan Dono.

"Dono senjata buatan kamu bagus dan rapih," pujian Indro.

"Terima kasih. Tapi saya hanya berhasil membuat cuma lima peluru dengan waktu yang singkat," kata Dono.

"Gap apa-apa? Saya bener akan melancarkan niat saya membunuh Ahmad Dani dan Faldi Zon," kata Indro.

"Loh..berubah sasarannya bukanya Angga si pengedar narkotika," kata Dono.

"Angga..sudah mati sendiri di penjara karena sakau," cerita Indro.

"Jadi gak jadi membunuh Angga karena mati di penjara. Tetapi kenapa jadi kaitanya dengan Ahmad Dani dan Fadli Zon?" tanya Dono.

"Saya jengkel aja dengan elit politik. Jadi saya ingin membunuh mereka dan menghancurkan isi kepala mereka semuanya," kata Indro yang kacau.

"Masalah...kamu cuma gak suka sama mereka. Ya.sebagai teman..sih saya biarkkan kamu membunuh para elit politik tersebut," saran Dono.

"Saya..akan membunuh Ahmat Dani dan Faldi Zon," kata Indro yang bener-bener jengkel.

Dono meninggalkan Indro di ruang tamu dan pergi untuk urusan kerjaan. Indro yang menyimpan kebenciannya mulai menyusun rencana setelah menyelesaikan ketikannya di leptopnya. Selang waktu yang gak begitu lama Indro menjalankan niatnya dan membunuh Ahmad Dani dan Faldi Zon.

Saat itu Dono mengetik di ruang tamu dan Indro baru pulang dari kerja dengan keadaan yang kacau. Dono menghentikan mengetiknya.

"Indro kenapa kamu gak salam lagi masuk rumah?" tanya Dono.

"Lupa," jawab Indro.

"Urusan kamu membunuh Ahmad Dani dan Faldi Zon sudah di jalankan?" tanya Dono.

"Sudah... mayatnya saya kubur di belakang rumah," penjelasan Indro.

"Perasaan kamu sudah lega kan. Tapi masalahnya nanti polisi nyari kamu telah membunuh orang?" kata Dono.

"Mana..mungkin polisi bisa nankap saya karena membunuh," kata Indro.

"Bukannya yang kamu bunuh orang kan ...Indro?"

"Bukan.orang...tapi tikus curut saya tembak mati dengan senjata di buat kamu makanya namanya saya berinama Ahmad Dani dan Faldi Zon karena jengkel dengan elit politik. Pelampiasan kekesalan saja...Don," cerita Indro.

"Kalau begitu sih polisi mana bisa menangkap kamu....Indro," kata Dono.

"Yo.i.....," saut Indro.

Dono menyelesaikan pekerjaan mengetiknya dan Indro seperti biasanya masak di dapur karena laper. Kehidupan Dono dan Indro kembali normal setelah kejadian yang ngacok.


Karya: No

Tuesday, February 5, 2019

PERTARUNGAN HIDUP

Malam hari di tengah hutan. Yakimaru mengalami kesakitan dengan pendengarannya. Dororo berusaha menenangkan Yakimaru yang kacau. Lalu Dororo menutup telinga Yakimaru dengan sebuah kain.

"Semoga ini bisa mengurang sakit pendengaran kamu" kata Dororo.

Yakimaru hanya diam saja dan merasa baikan dengan pendengarannya. Terdengar suara yang nyaring sekali memekakkan telinga dateng ke arah Dororo dan Yakimaru. Seekor makluk terbang besar langsung menyerang Dororo dan Yakimaru. 

"Siluman...burung," teriak Dororo yang ketakutan.

Yakimaru mencabut pedangnya dan bertarung dengan siluman burung yang besarnya lebih dari ukuran manusia. Yakimaru mencoba menyerang siluman burung dengan pedangnya dan ternyata terpental oleh hempasan sayap yang menciptakan angin. Apalagi siluman burung mengeluarkan gelombang suara yang memekakkan telinga sampai-sampai Yakimaru kesakitan sampai meringkuk di tanah.

Dororo ingin menolong Yakimaru yang dianggap kakaknya tapi tidak ada kemampuan. Siluman burung terus menyerang ke arah Yakimaru. Dateng dengan hebat menyudutkan si siluman burung dengan serangan kakek yang buta pada mata kirinya bernama Tobe. Siluman burung langsung menyerang kembali dengan cepat. Kakek Tobe menggunakan teknik pedang pembunuhnya dan memotong-motong siluman burung menjadi beberapa bagian.

Siluman burung mengucurkan darah dan akhirnya jatuh ke tanah dengan terpotong-potong. Kakek Tobe menyarungkan pedangnya kembali. Dororo langsung menolong Yakimaru, lalu kakek Tobe mendekati mereka berdua.

"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya kakek Tobe.

"Tidak apa-apa Kek!" jawab Dororo.

"Gimana dengan Yakimaru?" tanya kakek Tobe.

"Kakak Yakimaru mengalami kesakitan terus menerus pada telinganya," penjelasan dari Dororo.

"Kalau begitu jaga dia dan lebih banyak istirahat," saran kakek Tobe.

"Iya," saut Dororo.

Dororo menjaga Yakimaru yang kesakitan dan membereskan pedang yang di pakai untuk bertarung. Kakek Tobe yang buta menjaga Dororo dan Yakimaru dengan baik. Waktu pun berganti pagi. Kakek Tobe mencari makanan. Yakimaru terbangun dari tidurnya dan berjalan menuju suatau tempat. Dororo mencoba mengikuti Yakimaru. 

Sampai di aliran sungai ada seorang gadis cantik yang sedang bermain di tengah aliran sungai. Yakimaru bergerak dan mencoba mendekati gadis tersebut. Sang gadis tidak terkejut dengan tindak tanduk dari Yakimaru yang mendekatinya malah senang. Dororo pun melihatnya dari jauh.

"Kamu mau apa?" tanya sang gadis.

Yakimaru hanya diam saja.

"Maaf..kakak teman saya tidak bisa bicara," penjelasan Dororo.

"Oh begitu," saut sang gadis.

Sang gadis keluar dari aliran sungai menuju pulang ke rumah. Yakimaru mengikuti sang gadis. Akhirnya Dororo dan Yakimaru berkenalan dengan sang gadis dan akhirnya mereka tahu nama gadis itu adalah  Yosine. Dengan kebaikan dari Yosine di ajaklah Dororo dan Yakimaru ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat berada mereka. Sampai di rumah ternyata Dororo terkejut dengan anak-anak yang di rawat oleh Yosine sampai ada yang cacat tangan dan kakinya. 

Dororo mulai berteman baik dengan anak asuh Yosine begitu dengan Yakimaru. Tetap saja Yakimaru mengalami kesakitan pada telinganya dan terbaring di lantai rumah. Semua orang mengkhatirkan keadaan dari Yakimaru.  Di jaga dengan baik Yakimaru oleh semuanya. Tapi saat tengah malam Yakimaru keluar dari rumah Yosine dengan terburu-buru. Sedangkan Dororo tidak khawatir sama sekali dengan keadaan Yakimaru lain ceritanya dengan anak-anak yang di asuh oleh Yosine.

Ternyata Yosine pergi juga. Dororo yang mengikuti juga Yosine pergi. Sampai di sebuah tempat yang cukup aman ada 2 orang laki-laki yang bermalam di hutan lalu Yosine langsung menawarkan dirinya sebagai barang dagangan. 2 lelaki tersebut menerima tawaran Yosine mulai mereka bersenang-senang di tengah hutan. Dororo menemukan Yosine dengan 2 orang yang mengerubutinya. 

"Astaga....jangan-jangan," celoteh Dororo.

Dororo segera mendekati 2 lelaki yang mulai menikmati tubuh Yosine. Sedang di sisi lain. Yakimaru dengan kakek Tobe bergerak menuju hutan dan menemukan sebuah lubang yang cukup besar. Yakimaru dan kakek Tobe menarik pedangnya untuk bertarung dengan siluman undur-undur. Keluarlah siluman undur-undur dari tanah dan akhirnya pijakan pada Yakimaru dan kakek Tobe longsor dengan segera langsung menyerang dengan pedang mereka ke arah siluman undur-undur. Karena kulit luarnya siluman undur-undur sangat kuat susah untuk di tebas oleh pedang. Yakimaru mencari celah bagian yang lunak untuk di hunuskan pedangnya. Ternyata kaki kanan Yakimaru terkena gigitan siluman undur-undur dan langsung pedang di tancapkan pada bagian yang lunak pada siluman undur-undur. Kakek Tobe mencoba menolong Yakimaru ternyata terlambat kaki Yakimaru putus. 

Berteriak sekuatnya Yakimaru karena menahan sakit yang di deritanya karena kakinya hilang. Siluman undur-undur keluar lagi. Segera kakek Tobe menyerangnya dengan tebasan yang mematikan pada bagian yang dapat di tembus oleh pedang begitu juga Yakimaru. Siluman undur-undur mati. Kakek Tobe membopong Yakimaru dari lubang di buat siluman undur-undur.

Tiba-tiba Yakimaru mengalami fenomena  yang aneh pada dirinya seketika kakinya yang terputus kembali semula. Kakek Tobe pun terkejut sekali dengan menyentuh kakinya Yakimaru yang bagus kembali.

"Ini keajaiban setelah membunuh siluman undur-undur itu. Dewa menolong Yakimaru," kata kakek Tobe.

Sedangkan Dororo mencoba menolong Yosine dengan cara mengambil sebuah kayu dan di pukullah pada 2 orang yang mulai menggagahi Yosine. Seketika 2 orang laki-laki pingsan begitu saja.

"Kakak tidak apa-apa?" tanya Dororo.

"Saya tidak butuh bantuan kamu," kata Yosine membuang mukanya.

"Jangan sok begitu kakak. Saya tahu tujuan kakak berbuat ini menjual diri demi uang dan untuk bisa menghidupkan anak-anak asuh kakak. Apalagi negeri...ini mengalami tekanan ekonomi yang cukup pelik. Rakyatnya mengalami ketidak berdayaan karena kemiskinan. Wajar saja tidak ada kerjaan yang pantes. Lebih baik menjual diri kan," kata Dororo yang berusaha memahami Yosine.

Yosine menunduk malu dengan pekerjaannya. Lalu mengambil uang yang ada pada 2 orang lelaki di balik pakaiannya dan pergi begitu saja meninggalkan Dororo.

"Dasar wanita..selalu saja berpikir pendek dalam menjalankan hidup. Nafsu alasan saja demi menjalankan hidup menutupi kebenaran yang sebenarnya ketidak berdayaan dirinya dalam menjalankan hidup. Pada hal alam memberikan banyak makan," celoteh Dororo.

Dororo pun mengikuti Yosine dari kejauhan dengan menjaga jarak. Sampai di rumah Yosine berdiam diri di kamarnya seperti biasanya. Sedangkan anak-anak asuhnya menyiapkan makan untuk semuanya termasuk untuk Dororo. 


Karya: No

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK