CAMPUR ADUK

Tuesday, February 5, 2019

MENEMBUS DUNIA TANPA BATAS

Daerah Lampung Tengah dekat Plaza Bandar Jaya, jelas ini adalah daerah perkotaan  yang rumah penduduknya diterangi listrik dan sangat ramai dari subuh hingga malam hari. Banyak pedagang menjajakan jualannya disini, ditambah lagi masjid besar Istiqlal yang tepat berada di depan Plaza Bandar Jaya. Menemani aktivitas para pedagang dan pembeli jika adzan mulai berkumandang. Di tengah riuh ramai tempat ini di saat malam hari, hanyalah rumah keluarga Yari gadis remaja yang duduk di kelas sebelas Madrasah Aliyah yang terlihat redup tanpa lampu listrik menerangi.

Senja sore mulai datang, burung di atas awan berterbangan kembali kesarannya. Adzan mulai dikumandangkan, Yari segera menjalankan sholatnya. Berbekal sebuah lilin yang akan meneranginya malam ini ia tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, walau pikiran tentang kondisi keluarganya kini membebaninya. Bukan hanya tunggakan pembayaran listrik yang belum dibayar, keluarganya memang terbilang tidak mampu. Ia selalu berdoa setelah sholat. memohon kemudahan dalam hidup keluarganya. Ia tak mampu mengeluh kepada ayah karena ayah sudah berusaha untuknya dan adiknya. Seusai membaca Al-qur'an ia berjalan menuju tempat ayahnya menjahit, dengan minimnya penerangan di rumah ini ayah selalu ingin dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya. "Ayah, malam ini aku tidak belajar, aku akan menhafal suratan (sebuah doa atau ayat suci Al-Qur'an) untuk bisa mengikuti ujian semester" ucap Yari. Ayah menganggukan kepala dengan tersenyum kearahnya dan matanya seolah berbicara, semoga sukses anakku.

Tidak akan terdengar satupun kata dari mulut ayah karena ia adalah tunawicara dan tak ada satu keluhanpun pada Yari dan adiknya Dimas dengan kondisi ayah. Ketabahan mereka yang ditinggalkan sang ibu saat usia Dimas delapan tahun dan kini ia sudah duduk di kelas tujuh Madrasah Tsanawiyah, menjadikan mereka begitu mengerti keadaan ayahnya.

Yari kembali ke kamar dengan buku hafalan ditangannya, tetapi hafalannya tidak begitu lancar karena matanya sudah terasa pedas jika lama-lama melihat tulisan dengan sebuah lilin. Bukan Yari namanya kalau ia harus berhenti disini, ia mencari cara agar penglihatannya terlihat jelas saat membaca. Ia segera keluar rumah dengan mukena sekaligus buku hafalan menuju sebuah masjid yang di bangga-banggakannya Masjid Istiqlal Bandar Jaya. Sampai di sana ia segera berwudhu masuk dalam masjid dan menggunakan mukena sekaligus membaca hafalannya sambil menunggu adzan isya' berkumandang. Banyak orang dalam perjalanan berhenti di masjid ini, sekedar istirahat dan melepas lelah dalam perjalanan sekaligus mengerjakan sholat.

Jan sudah menunjukkan pukul sembilan malam saatnya ia harus pulang. Di perjalanan menuju rumah ia selalu melihat rumah yang dilewati begitu terang dengan penerangan yang memadai. Rasa iri itu pasti ada, tekad untuk merubah semuanya semuanya memang muncul dalam benaknya. Rumahnya begitu terlihat gelap hanyalah sebuah lilin dan ayah yang menunggunya pulan.

***

"Nyo kabar kak (apa kabar kak)" ucap Dimas sambil mengambil sepatunya "wawai (baik), ayo cepat berangkat hari ini kan upacara" jawab Yari. Dimas buru-buru mengikat tali sepatunya, mereka berdua segera keluar dari gang yang tak jauh dari masjid Istiqlal menunggu angkot (angkutan kota) yang akan membawanya sampai sekolah. Sekolah mereka terletak di daerah Poncowati, sekitar itu biasa disebut kapel (kota pelajar). Cuaca untuk upacara begitu mendukung, adiknya sudah sampai disekolah ia juga harus melaksanakan upacara di sekolahnya. Kaki memang terasa pegal jika harus berdiri lama-lama, tapi yang membuatnya bertahan untuk terus menegakkan kakinya adalah saat wakil kepala sekolah pak Hasim menyampaikan amanatnya, kata-katanya begitu membangkitkan suasana dan membuat senyum di bibir para guru dan murid "anak-anak ku dua hari lagi ujian semester genap jangan sampai kalian tidak belajar! Jangan hanya di kamar mendengarkan musik keras-keras Magadonan atau kalau tetangganya sedang mempunyai Hajat dan ada hiburannya di sana kalian jangan ikut Magadon". Kata Magadon saat pak Hasim mengucapkannya begitu menggelitik, apa itu Magadon artinya tidak begitu mereka tahu yang jelas embel-embel kata Magadon sering di ucapnya, karena itu ia sering di panggil pak Magadon. "Nak, kalian di sini di tuntut untuk belajar dan berusaha. Kualitas belajar kalian itu tergantung dari usaha yang kalian lakukan, kutipan dari buku yang pernah bapak baca bahwa sungguh doa itu di dengar Allah,  tapi Dia berhak mengabulkan dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa di tunda atau diganti yang lebih cocok buat kita. Jadi jangan pernah meremehkan doa kalian, tetaplah berdoa dan berusaha MAN JADDA WA JADDA siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses".

MAN JADDA WA JADDA begitu ulangnya berkali-kali dengan nada pelan saat masuk kelas, teman sebangkunya Sera terlihat bingung "ulehnya nikeu (kenapa kamu)" ucapnya "mantra ini baguskan, semester ini aku akan bersungguh-sungguh agar mereka" "amien..." jawab Sera. Tekadnya terlihat sungguh, pelajaran pertama matematika di hembat habis Yari. Nilai seratus didapatnya saat latihan soal Sera yang hanya mendapat delapan lima terkejut, apa ini karena matra yang diucapkan Yari tadi dalam benaknya. Begitu bel istirahat berbunyi jam sepuluh lima belas Yari mengeluarkan mukena dari dalam tasnya, ia segera menuju masjid menjalankan sholat dhuha seperti biasanya untuk mengisi waktu istirahat. Saat ia akan kembali ke kelas, ia dipanggil ke kantor oleh guru. Hatinya bertanya-tanya kenapa ia harus dipanggil ke kantor. Ia mengingat-ingat kejadian apa yang membuatnya punya masalah, tapi tidak satu kali pun ia merasa punya masalah. Sesampainya di kantor ia segera menghampiri Bu Wulan yang memanggilnya tadi "ada apa ya bu?" ucapnya "begini nak, kita mendapat undangan seminar jurnalistik se-provinsi Lampung yang di adakan di Bandar Lampung, untuk itu pihak sekolah memintamu mewakili sekolah kita dalam seminar yang dilaksanakan selesai ulangan semester ini" "oh...iya bu saya menerima tawaran itu" tanpa berpikir panjang ia menerima tawaran itu,  karena yang ada dalam benaknya adalah ia suka sekali menulis apalagi bila belajar menulis artikel pasti ia punya pengalaman baru untuk belajar menulis. "kalau begitu, jangan lupa kamu meminta izin pada ayahmu" "iya bu". Ia memang begitu senang  menulis dan berpidato, ekstrakulikuler bahasa Indonesia kegemarannya tentu dari sanalah kemampuannya  benar-benar diasah.

Sepulang sekolah suara mesin jahit tanpa listrik dirumahnya benar-benar terdengar, ia tahu suara itu sama saja dengan suara perjuangan hidup keluarganya. Terkadang mesin jahit itu suka macet dan tersendat-sendat walau akhirnya bisa benar tapi  membuat pekerjaan ayah jadi tidak lancar, wajar karena mesin  jahit itu memang sudah tua. Ia masuk ke dalam rumah mencium tangan ayahnya dan segera memberi tahu tentang yang disampaikan bu Wulan di sekolah. Ayah hanya tersenyum ke arahnya sambil mengacungkan jempolnya, tapi jempol itu buru-buru di turunkan "kenapa ya?" ucapnya. Ayah menggerakan pundaknya naik turun sambil mengangkat tangannya jari tengah dan telunjuk digesekkannya dengan jempol, yang artinya bagaimana dengan uangnya. "Tenang yah, uangnya semua dari sekolah jadi ayah tidak usah memberiku sepeserpun karena sekolahlah yang memintaku" lagi-lagi ayah tersenyum.

***

Hari pegambilan nomor ujian semester, tapi terlebih dahulu ia harus menghadap wali kelas untuk hafalan ayat yang sudah ia hafalkan sebelumnya. Hafalannya begitu lancar karena ia memang bersungguh-sungguh agar tidak mengecewakan ayahnya, bahkan tekad bulat sudah di tulis dalam targetnya yaitu mendapat peringkat satu akhir semester ini. Adiknya terheran-heran melihat ia belajar dengan sungguh-sungguh seakan-akan bila belajar satu dua jam tidak cukup baginya.Tapi kosentrasi belajarnya hanya terfokus saat siang saja sepulang sekolah karena pada malam hari penerangan di rumahnya begitu minim "ulahnya nikeu kak (kenapa kamu kak) belajar seperti orang kesurupan?" ucap Dimas "nyak pingin jadei pandai (saya mau jadi pintar)" "nikeu (kamu) harus dapok (dapet) peringat  ya" "ya, nikeu munih dek (kamu juga dek)". Adiknya yang sejak tadi melihat ia belajar jadi ikut belajar walau caranya berbeda kadang hanya tiga puluh menit selesai atau paling menim lima belas menit kosentrasi belajarnya sudah selesai. Disetiap ujian memang tidak ada kata mencontek untuk Yari semua harus jujur dan berusaha, mantra Man Jadda Wa Jadda selalu di ingatnya. Satu minggu lebih ujian selesai, memang ujian di madrasah lebih lama dari sekolah biasa karena mata pelajaran agamanya di bagi menjadi qur'an hadist, fiqih, dan aqidah akhlak, di tambah lagi pelajaran bahasa arab. Semua benar dikerjakannya dengan sungguh-sungguh tidak lupa doa yang selalu ia haturkan untuk keluarganya dan hasil ujianya. Berkat kata-kata pak Hasim dalam amanatnya saat upacara itu, membuat ia semakin ingin berusaha meraih mimpinya. Mimpi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dan membuat perubahan dalam hidupnya.

Pagi cerah kembali hadir menemuinya, selesai ujian semester kali ini ia mendapat kesempatan mengikuti seminar jurnalistik. Ia tinggalkan rumah selama dua hari, berbekal keyakinan untuk mendapatkan ilmu sekaligus pengalaman. Hadinya disekolah bersama kedua temannya yang juga ikut dalam seminar jurnalistik Reni dan Agil, mereka berangkat bersama pak Hasim menggunakan mobil pribadi. Perasaan senang begitu mewarnai hatinya, ia duduk tepat di samping pintu dalam perjalannya ia melirik ke arah jendela melihat-lihat daerah yang di lewatinya. Tidak menyangka akan ke luar dari Kabupaten Lampung Tengah, Tugu Pepadun, Tugu pengantin, patung-patung kebanggaan masyarakat lampung seperti patung mulei meghanai. Patung-patung itu menggambarkan ciri khas Lampung dan identitas masyarakatnya yang berada di Gunung Sugih perlahan mulai dilewatinya.

***
Tempat seminar ini penuh dengan para murid yang mewakili sekolahnya dari berbagai daerah di provinsi Lampung. Para peserta seminar berkumpul di sebuah aula yang besar sambil menunggu seluruh peserta datang. Seminar ini diawali dengan pembukaan dan memperkenalkan para tentor-tentor handal yang akan mengajari para peserta seminar dalam menulis artikel. Acara pembukaan selesai para peserta dipersilahkan mengambil kunci kamarnya, tempat penginapan  ini bertingkat  jadi perempuan berada di bawah, sedangkan laki-laki di atas. Ia sekamar dengan Reni dan tiga orang lain dari sekolah yang berbeda, mereka mulai memperkenalkan diri, namanya Dea, Zia, dan Afifah.

Awal seminar membahas tentang dasar-dasar sebuah berita. Banyak sekali yang ia pelajari, dari unsur-unsur berita. Hari yang menyenangkan untuknya, sebuah pengalaman sekaligus pelajaran yang menyenangkan. Membahas cara-cara membuat artikel dari mencari berita sampai menerbitkan berita itu ke media massa. Banyak teman baru yang ia kenal di seminar ini, saling bertukar pengalaman dan memperkenalan daerahnya masing-masing. Hari kedua terakhir semua peserta diajak berkeliling melihat gedung percetakan koran dan mendapat arahan dari tim redaksi. Jika ingin membuat sebuah berita dan di terbitkan. Dan yang paling menggiurkan adalah untuk menulis sebuah artikel dan diterbitkan akan dihargai sejumlah uang.

***
Sepulangnya dari seminar, pengumuman kenaikan kelas akan diumumkan. Bukan ketakutan tidak naik kelas yang ia rasakan melainkan peringkat pertama  yang ingin ia raih apakah akan terwujud. Dengan seksama ia mendengarkan pengumuman pemberian rapor, rasa dag dig dug mulai dia rasakan. Pengumuman peringkat dimulai dari peringkat pertama, Bu warni selaku wali kelas mulai memberi tahukannya. "Ayari Aulia.....Ayari Aulia" ulang bu Warni. Ternyata ia mendapat peringkat pertama....."alhamdulilah..." ucapnya. Ucapnya syukurnya kepada Allah, Sera mengucapkan selamat kepadanya atas usaha hidupnya yang telah Sera lihat. Ternyata mantra Man Jadda Wa Jadda berhasil di lakukannya. Kali ini ia teringat adik dan Ayah, peringkat ini persembahan untuk keluarganya. Tapi targetnya kali ini adalah dapat mengubah kondisi keluarganya.

Pengalaman yang begitu berharga telah dijalaninya saat seminar,  dari pengalaman itu ia mulai mengembangkan bakat menulisnya. Satu percobaan tulisnya ia kirim ke redaksi koran yang berada masih di daerah Bandar Jaya, gedung bertingkat yang bagus menjadikan tempat itu begitu menarik. Satu artikel buah karyanya di serahkan, dan mungkin entah kapan akan diterbitkan. Setiap hari ia membeli sebuah koran untuk memastikan apakah tulisannya diterbitkan. Satu koran pertama yang ia beli belum terlihat tulisannya, tapi tak berhenti di situ setiap hari di lihatnya setiap halaman. Sampai hampir satu minggu tulisannya kini mulai terlihat, artikelnya berada di halaman awal "jelas....bayarannya lebih besar ini" ucapnya. Sebuah amplop kini berada di tangannya, ia membukanya secara perlahan terlihat lima puluh ribuan terdapat tiga lembar dan yang terakhir keluar "wah....nominalnya cukup besar dua ratus lima puluh ribu" ucapnya, Dimas yang melihat itu tersenyum gembira "sukses" ucap Dimas. Ayah tak hentinya bersyukur atas perjuangan dan usaha anaknya.

Bakatnya itu semakin lama semakin ia kembangkan pundi-pundi uang diraihnya, walau kadang artikelnya pernah berada bukan di halaman awal bahkan pernah pula di tolak, tapi tak menyurutkan ia untuk terus menulis. Kini rumah yang dulu gelap dengan penerangan terbatas menjadi memadai dan mesin jahit yang suka macet itu kini bisa di gantikan, karena uang yang di kumpulkannya. Mata Ayah berkaca-kaca bahkan ada tetesan air mata di pipinya.

Allah itu maha adil dan bijaksana. Aku bahkan tak henti-hentinya membanggakan kak Yari yang diceritakan kakak ku Sera. Kini mereka berdua  sekolah Universitas yang sama, lagi-lagi kak Yari berhasil dengan usahanya yaitu mendapat beasiswa di Universitas itu. Sebuah pengalaman yang memacu hidupku untuk terus berusaha. Menentukan target, meraih mimpi, dan menembus dunia yang tidak ada batasnya seperti yang telah dilakukan kak Yari. Sebuah pembuktian itu yang harus banyak orang yakini, bahwa tidak ada yang tak mungkin bila kita berusaha, berdoa, sabar serta tawakal.


Karya: Shofy Hakimah

HANIPI

Di Pekon Sebelat kabupaten Lampung Barat, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari ina, apak, dan seorang anak laki-laki. Sebut saja keluarga Mamak Rizomi. Keluarga Mamak Rizomi terkenal dengan kehidupan yang serba berkecukupan. Tiga hektar tanah pemukiman dan 100 m persegi persawahan hanyalah segelintir harta dari keluarga ini.

Namun, tamak bukanlah sifat dari keluarga ini, Rendah hari, sopan, dan santun membuat keluarga ini cukup disegani warga pekon setempat. Mamak Rizomi  terkenal di Pekon Sebelat sebagai lelaki paruh baya yang taat beragama. Inggomannya di kenal sebagai ibu rumah tangga yang baik hati. Belum lagi anak lelaki satu-satunya yang tampan nan cerdas, membuat keluarga ini nyaris sempurna.

Marzuki namanya. Merupakan putra tunggal dari keluarga tersebut. Otaknya yang cerdas dan kharismanya yang mempesona, membuat dirinya bak pemuda ideal  bagi para gadis di Pekon Sebelat. Di samping para gadis yang memuji-muji Marzuki, para pemuda seusianya pun mengakui akan kecerdasan otak dan ketampanan panasnya. Bahkan bujang yang tercatat sebagai mahasiswa Universitas Lampung ini, mampu membuat bakas-bakas tuha pekon setempat mengelu-elukan Marzuki.

Maklumlah, di Pekon sebelat hanya Marzukilah pemuda yang beruntung mencicipi bangku kuliah. Di Pekon Sebelat jarang sekali muli- meghanai   yang bersekolah tinggi, paling tidak lulus SMP atau SMA.

Tidak hanya itu, selain cukup populer Marzuki juga adalah pemuda yang menjadi andalan warga pekon. Sampai-sampai ia di setarakan dengan tokoh adat di Pekon Sebelat karena Intelektualnya yang gemilang. Betapa beruntungnya hidup Si Marzuki itu, sampai-sampai sebagian pemuda pekon ini dibuatnya.

Tapi tetap saja, tiada yang sempurna di dunia ini. Tida yang abadi, pepatah bilang tiada gading yang tak retak. Naasnya pepatah ituharus menimpa keluarga Mamak Rizomi. Kekayaan demi kekayaan Mamak Rizomi kian habis dimakan waktu. Hektar per hektar tanah pemukiman, meter per meter area persawahan Mamak Rizomi kian ludes. Hampirlah habis Mamak Rizomi jual untuk usaha barunya yang tak kunjung membuahkan hasil. Kondisi kesehatan istri Mamak Rizomi pun memburuk. Sang istri kerap jatuh sakit hingga akhirnya meninggal.

Batin Mamak Rizomi akhirnya terguncang saat harus menerima kenyataan hidup yang sangat pahit. Jatuh muskin dan ditinggal mati istri tercinta. Sungguhlah tragis.

Hal itu tentu membawa pengaruh buruk terhadap kondisi mentalnya. Ya Mamak Rizomi hampir di buat gila akibat stress yang tak mampu terbendung. Ia jadi tak banyak bicara, itupun terkadang perkataan yang tak masuk di akal. Sering ia menganggap bahwa sang inggoman  tercinta masih hidup dan masih menemaninya hingga detik ini.

Lalu Marzuki? Mengetahui aset kekayaan apak ludes, dan ina meninggal, Marzuki pun kesal bukan kepalang. Betapa tidak? Bagaimana ia dapat melanjutkan kuliah jika tidak punya uang? Tahu sendirilah sudah sebesar itu ia masih berpangku tangan terhadap apaknya. Belum lagi inanya yang meninggal di saat goyah seperti ini. Sungguh mas nasib si meghanai tampan Marzuki.

***

Di siang hari, saat matahari asik memeluk pekon, Marzuki pergi ke kedai kopi. Di sana telah duduk dua orang pemuda yang terlibat dalam perbincangan seru. Lalang waya kian terlihat dari kedua pemuda tersebut. Marzuki yang terlanjur sampai di warung kopi tersebut langsung memesan segelas kopi kental dengan beberapa potong bebuak yang terjaja di sana.

"aguy wee sinji kisah meghanai sikap sai kak dilegai-legai ko jelma pekon? Ajo liyak pundakni, sikap temon !" sahut pemuda pertama terhadap pemuda ke dua dengan nada yang mengejek.

Marzuki hanya terdiam, ia lalu menyeruput kopi kentalnya yang masih mengepul. Ke dua pemuda yang duduk tepat bersebelahan dengan Marzuki tampak kegirangan mencela Marzuki, saat tahu bahwa reaksinya hanya diam. Sekali, dua kali Marzuki masih bisa meredam emosinya. Tapi lama-kelamaan Marzuki geram. Piil pusenggiri tak dapat lagi di injak. Di angkat lalu dibantingnya meja kedai itu, dan ia pun pergi tanpa membayar apa pun. Meninggalkan gelak tawa yang menjadi-jadi dari ke dua pemuda itu.

Marzuki tidak lagi menjadi idola di seluruh penjara Pekon Sebelat. Bukan karena ia berhenti kuliah melainkan sikap Marzuki yang tidak mencerminkan bahwa ia seseorang yang berpendidikan. 

Bagaimana tidak? Marzuki jadi lebih suka keluyuran, nongkrong-nongkrong tak karuan dengan pemuda-pemuda lainnya. Para tetangga merasa iba melihat Mamak Rizomi yang harus memikul beban berat sendirian. Sering terdengar teriakan dan suara benda yang dibanting dari dalam rumah Mamak rizomi. Para tetangga menduga bahwa suara itu adalah Marzuki yang membuatnya, saat ia kesal dengan apak.

Siang semakin terik, seterik hati Marzuki yang dipenuhi amarah saat melangkahkan kakinya dengan tak tentu arah. Marzuki hanya bisa menelan ludah ketika berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang melontarkan pertanyaan untuknya, "niku makwek kuliah lagi kudo?" Senyum simpul dan mata yang sinis adalah jawaban yang Marzuki berikan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia menghentikan langkahnya dan melemparkan wajah masam ke arah ragah ruha.

Pak Cik Rodi, begitu warga Pekon Sebelat memanggilnya. Seorang tualak hanau yang kebetulan lewat pun ikut menyahut. "Mamak Rizomi kan khadu jual tanah sana sini, Pak Cik." Tegas tualak hanau itu sambil membenarkan letak kerudung yang membelit di lehernya. Marzuki hanya mengernyit. Ia mencoba berlari menyusuri dataran aspal kasar yang sudah tak asing lagi baginya. Ia marah, sungguh. Namun ia tak berani memuntahkan api kemarahan dalam dirinya.

Pak Cik Roni lalu berteriak memanggil hingga Marzuki pun menghentikan langkahnya. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi keningnya. Perlahan ia balikkan badannya, kemudian berjalan ke arah Pak Cik Roni yang masih memanggilnya. Pak Cik Roni tersenyum kecil melihat Marzuki menghampirinya.

Saat itulah akhirnya Marzuki dan Pak Cik terlihat perbincangan singkat. Perbincangan tentang iming-imingan uang banyak dari bisnis si Pak Cik Roni. Mendengar imingan uang banyak, raut wajah Marzuki seolah kembali segar setelah lama bermuram durja. Betapa tidak? Jika Marzuki kembali berharta, tentu ia bisa melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Lalu meredam isu tak sedap yang selama ini menimpa keluarganya.

Kini tiada lagi kebas di hati Marzuki. Yang ada hanyalah senyum penuh harapan dari bisnis  yang ditawarkan oleh Pak Cik tadi. Kendati demikian, sesungguhnya Marzuki bimbang, sebab bisnis yang ditawarkan tersebut membutuhkan modal, dari mana dia akan mendapatkan modal? Yang ia tahu, tanah dan area persawahan milik apak sudah banyak terjual. Setelah lama berpikir keras, Marzuki pun kembali tersenyum lebar. Kali ini senyumnya lebih lebar dari yang tadi. Entah apa yang ada di pikirannya. Marzuki akhirnya mempercepat langkahnya. Kelihatannya ia tak sabar untuk sampai di rumah.

***

Seperti biasanya, Mamak Rizomi duduk mematung dengan tatapan kosong di depan TV, meskipun sejak tadi TV menyala. Suara bantingan pintu memecah kehampaan rumah Mamak Rizomi. Marzuki dengan kasar membuka dan menutup pintu. Tanpa berkata apalagi salam, Marzuki langsung mendekati apak. Marzuki meminta sertifikat tanah yang tersisa pada apak dengan cara memaksa. Tak ada sahutan apa pun yang dilontarkan oleh apak yang tak bergeming.

Marzuki kesal bukan kepalang melihat tidak ada reaksi dari apak. Marzuki sudah seperti orang yang sedang kerasukan setan wajahnya yang tampan kini bak lemaung mengamuk, tangannya pun dikepalkan. Di dorong tubuh lemah apak hingga hampir saja terjatuh. Marzuki pun beranjak ke kamar apak dan kemudian mengacak-acak sebuah lagi pada lemari tua yang terdapat di kamar itu, hanya untuk satu tujuan yaitu mencari sertifikat tanah.
Tak butuh waktu yang lama, Marzuki akhirnya menemukan benda yang dicari. Sesekali Marzuki melompat-lompat kegirangan, dan segera meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun. Bersamaan dengan kepergian Marzuki, terlihat linangan air mata yang kian membasahi wajah Mamak Rizomi.

***

Kecerdasan otak yang gemilang sungguh tiada berarti apapun jika tidak dibarengi oleh ilmu agama. Yang ada hanyalah jalan sesat yang selalu di tuju. Itulah hal yang di sayangkan dari Marzuki.

Meskipun ia terkenal dengan pemuda tampan dan jaminan otak cerdas, namun ilmu agamanya masih rendah. Imannya cetek. Yang ia tahu hanya sholat lima waktu saja. Goyah sedikit hatinya, maka Marzuki akan bertindak brutal. Marzuki yang seharusnya merawat apak yang setengah waras itu, malah menelantarkannya. Awalnya saja ia urus sangapak, tapi lama-kelamaan Marzuki tak tahan dengan kondisi yang menimpanya. Alhasil, hidupnya menjadi tak karuan.

***

Jujur saja, Marzuki belum mengerti sepenuhnya tentang bisnis yang di jalani sekarang. Yang ia tahu, bisnis tersebut merupakan bisnis tersebut merupakan bisnis pembangunan sekolah swasta di kota Liwa. Bahkan Marzuki belum pernah ke sana untuk melihat secara langsung pembangunan sekolah swasta itu. Posisinya hanya sebagai penyokong modal Pak Cik Roni yang ia temui seminggu lalu. Dengan kata lain, meminjamkan uang untuk Pak Cik Roni bakal modal pembangunan sekolah swasta di kota Liwa. Namun, Marzuki sudah dijaminkan fee dari Pak Cik Roni. Tak mengapalah meminjamkan uang untuk Pak Cik. Toh nanti saya akan dapat keuntungan yang berlipat, batin Marzuki.

Hampir dua bulan sudah Marzuki menunggu. Namun tak kunjung ia dapat kabar tentang imingan fee untuknya. Mulanya ia masih bisa bersabar, lama-kelamaan ia tak bisa tinggal diam lagi. Dicarinya Pak Cik itu, di rumahnya tidak ada. "Ah, barangkali di kedai kopi."

Belum sampai di kedai kopi, ia bertemu dengan segerombolan tualak hanau yang menyuccum sayuran di kepalanya. "oi juki! Nyepok sapa niku, hah?" Marzuki akhirnya bertanya kepada salah satu dari tualak hanau tersebut tentang keberadaan Pak Cik Roni. "aih, Pak Cik yang kamu maksud itu nggak tinggal di pekon Sebelat lagi. Sebulan yang lalu ia pindah ke OKU, dia nggak bakal balik lagi ke sini karena istri mudanya kan orang asli sana.

"Marzuki mulai lemas "apa istri muda?"

Lalu bagaimana dengan bisnis pembangunan sekolah di kota Liva? Bagaimana pula dengan iming-imingan fee besar yang dijanjikan padanya? Mimpi semata. Marzuki sadar ia telah tertipu.

***

Aduhai MArzuki sudah jauh tertimpa tangga pula. Inilah yang akan diterima oleh orang yang tak pernah mau bersyukur dan sabar terhadap cobaan dari Allah SWT. Padahal sudah jelas dalam QS. Al-Baqarah Ayat 155,  bahwasannya Allah SWT akan terus menerus menguji umatnya dengan berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berita gembira akan diberikan oleh orang-orang yang bersabar. Malangnya nasib si tampan Marzuki.

***

Langit seakan runtuh di kapalanya, Marzuki hanya mampu menghela nafas. Berat dan Panjang. Kelopak matanya tak sanggup lagi membendung buliran air mata penyesalan, sesesal matahari yang saat itu harus berbenah meninggalkan sore untuk sebuah malam, di temani sapuan angin pekon Sebelat yang semula terasa dingin. Perenjak-peranjak pun tak mau kalah, secara bergerombol mereka keluar dari singgasananya, seakan turut merasakan kesedihan Marzuki. Sungguh sebuah pemandangan yang tak lazim di pekon itu.
Malam ini akan menjadi malam yang kelabu bagi Marzuki. Saat ia berharap uang yang banyak akan menghampirinya, saat itu pula ia harus menelan pil pahit bulat-bulat. Ketika Marzuki hendak masuk ke rumah, ia mendapati rumahnya telah kosong. Tiada lagi tubuh rentaapak yang biasanya duduk melawun. Marzuki tak acuh dengan ketidakadaan apak, ia hanya mengira kalau apak pergi keluar untuk sekadar mencari udara segar.

Tiba-tiba terpikirkan olehnya. Apak kan setengah waras mana mungkin dia pergi keluar hanya untuk mencari udara segar, jangan-jangan terjadi sesuatu. Dicari apak ke setiap sudut rumah. Di kamar, dapur, hingga kamar mandi. Tapi nihil.

Marzuki menepuk-nepuk dadanya. Terasa sesak karena rasa amarah, sedih, dan kecewa yang bercampur aduk bak adonan kue yang dikocok dengan mixer. Sekuat tenaga ia berteriak hingga terdengar ke luar rumah.

"Ya Allah, apalagi yang akan menimpa saya? Ina Kau ambil, harta apak Kau tarik, duit bakal modal bisnis di bawa kabur orang. Sekarang apak menghilang. Saya ini bukan Nabi, Ya Allah! Yang bisa menerima cobaan berat seperti ini!" Marzuki marah dan menangis, menyesali cobaan yang datang bertubi-tubi padanya. Lelah terus menangis dan berteriak Marzuki pun jatuh dan tersungkur ke lantai. Ia pingsan.

***

Tepat pukul 12 malam, Marzuki tertidur meskipun apak belum kembali ke rumah. Warga pekon Sebelat pun sudah tertidur tiada lagi yang masih terjaga. Yang ada hanya kesunyian yang menyelimuti warga pekon Sebelat. Burung prenjak yang sejak sore berputar-putar di langit kini tak ada lagi. Dingin semakin merayap menusuk-nusuk setiap makhluk yang terlelap. Termasuk Marzuki, ia terjaga ddari tidurnya dan bermaksud menarik selimut yang terjuntai di ujung ranjang. Namun ia  terkejut ketika sebuah vigura foto ina yang tergantung di dinding kamar terhempas tiba-tiba. Hampir saja menimpa kepalanya. Masih dalam kantuk, ia mencoba mengambil vigura tersebut, namun belum tuntas tubuhnya membungkuk sekonyong-konyong guncangan dan geratan dahsyat muncul dari permukaan bumi. Di susul jeritan dan rintihan ketakutan dari warga pekon. Marzuki pun berusaha menyeimbangkan tubuhnya di tengah guncangan hebat itu, namun ia selalu gagal. Pekon Sebelat seakan di kocok habis oleh tangan Tuhan.

Warga yang menyadari adanya gempa bumi, lontang lantung berlarian keluar rumah mencoba menyelamatkan diri dan keluarganya. Gempa semakin menjadi-jadi, sudah banyak rumah yang roboh, pepohonan mulai tumbang, jalan-jalan mulai terbelah, dan hewan-hewan ternak mulai berlarian.

Bila dibayangkan betapa kuatnya gempa bumi malam itu. Kesunyian dan  udara dingin yang semula menyelimuti malam warga liwa berubah menjadi teriakkan dan kebisingan.

Lalu bagaimana dengan Marzuki? Pemuda tampan itu tak menyadari bahwa malam itu telah terjadi gempa bumi. Pikirannya masih kacau, hatinya masih tak karuan, walaupun kondisinya telah dalam keadaan setengah terjaga. Lukisan dan pajangan yang tertempel di dinding rumah Mamak Rizomi mulai berjatuhan, barang-barang yang ada mulai berhamburan, atap rumahnya pun mulai runtuh menimpah Marzuki. Sadar bahwa beberapa ganteng menimpa dirinya, ia pun terbangun. Tapi sayangnya sudah terlambat. Marzuki tak bisa lagi menyelamatkan diri karena sebuah balok besar penyangga atap rumahnya terjatuh dan menimpa tepat di tubuh Marzuki, disusul  benda lainnya yang akhirnya merobohkan semuanya.

Malam itu, 15 tahun 1994 gempa bumi dahsyat harus mengguncang daerah jiwa termasuk pekon Sebelat. Banyak warga yang tewas dan luka-luka. Bangunan, pepohonan, dan area persawahan rusak. Gempa  yang berlangsung malam itu telah menjadi luka dan trauma sendiri bagi warga liwa. Tubuh-tubuh dengan tangis dan teriakan kian bergelimpangan menghiasi warga liwa.

***

Sekujur tubuh Marzuki terasa sakit, bahkan dapat dirasakan saraf-saraf yang ada di tubuhnya berteriak hingga membuat kepala Marzuki semakin berdenyut pening. Perlahan Marzuki menggerakkan tubuhnya, namun tidak bisa karena tertahan oleh puing-puing reruntuhan. Tubuhnya luka-luka dan berlumuran darah.

Tiba-tiba saja terdengar suara yang membisik Marzuki, "bangunlah, bangunlah, bangunlah" suara itu ternyata mampu membuat Marzuki membuka kedua kelopak matanya. Namun, Marzuki hanya dapat memincingkan matanya karena seberkas cahaya putih yang teramat sangat menyilaukan. Lamat-lamat ia perhatikan cahaya putih itu, tapi samar-samar yang terlihat jelas ialah sosok dengan kain putihnya yang menjuntai lebar. 

Malaikatkah? Ah, jangan-jangan malaikat Izrail yang hendak mencabut nyawa saya. Marzuki pun langsung bergidik ketakutan saat mengira sosok berkain putih itu adalah malaikat Izrail. Ia takut jika harus mati mengenaskan dalam keadaan seperti ini.

Tiba-tiba Marzuki merasakan ada sesuatu yang basah di wajahnya, dingin menyeruap membuat Marzuki spontan bangkit dan terduduk. Wajah apak berdiri di samping ranjang dengan posisi sambil memegang ember yang telah kosong dan memamerkan seringai giginya pada Marzuki.

***

"juki! Geluk lagi wee, nti niku kemawasan kuliah. Ina kak guwai selimpok bakal gham sarapan." Suara khas ina menyadarkan Marzuki dari lamunannya. Masih terbayang jelas di benaknya tentang mimpi semalam. Ada apa ini? Apakah ini sebuah pertanda, ataukah hanya mimpi biasa? Pertanyaan-pertanyaan kian bergelayut di otak Marzuki sejak di siram apak tadi pagi. Sambil melepas seprei dari kasur yang telah basah, Marzuki mencoba menceritakan mimpinya pada ina yang membantu Marzuki melepaskan seprei. Namun tak ada respon yang berlebihan dari ina. Hanya kalimat "gemuk lagi, nti selimpokni kak ngison."
Mobil travel sudah menunggu di depan, pesan ina dan apak seperti biasa sebelum melepas Marzuki untuk ke tanjung karang tak lagi tertangkap jelas olehnya. Hingga dalam perjalanan pun, tetap sama. Pengapnya udara dalam mobil tak membuat Marzuki masih melupakan peristiwa demi peristiwa dalam mimpinya tersebut.

Setibanya di kost-an pun Marzuki mencoba bercerita kepada beberapa teman satu kamarnya, lagi-lagi tak ada yang benar-benar merespon serius kegelisahannya.

Seminggu sudah ia di tanjung karang, kali ini ia sedang berada di sebuah ruang kuliah dengan dosen yang sedang menjelaskan mata kuliah. Semua teman-temannya fokus pada penjelasan dosen, sementara Marzuki pikirannya masih melayang pada mimpinya seminggu yang lalu.

Ponsel Marzuki tiba-tiba bergetar dan berdering. Sebuah pesan singkat terbaca, MARZUKI KAMU DI MANA? BAGAIMANA KELUARGA DI SEBELAT? APA BAIK-BAIK SAJA? SEBAB UDO BARU SAJA DENGAR BERITA DI TV, DI LAMPUNG BARAT DAN SEKITARNYA TERJADI GEMPA BESAR. TOLONG KASIH KABAR SECEPATNYA, YA?

Ponselnya terjatuh, sebelum SMS terjawab. Marzuki terkulai lemas. 15  februari 1994, tepat seperti dalam mimpinya.

***


Karya: Nina Nabilah

KISAH AINI

Ingatannya kembali pada hari itu, disaat ia memakai gaun cantik berwarna merah. 9 maret saat itu umurnya genap menjadi 6 tahun. Pesta ulang tahun yang meriah diadakan kedua orangtuanya, tak tanggung-tanggung hotel mewah dan penyanyi-penyanyi cilik yang terkenal saat itu diundang untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Semua temannya tersenyum, tertawa, dan sangat menikmati pesta malam itu, tapi tidak begitu dengannya. Disaat semua orang sibuk dengan kemeriahan pesta, di sudut ruangan lain seorang anak kecil berdiri gelisah di dekat pintu masuk.

Aini, dirinyalah mawar pada malam 9 Maret itu. Gaun merah bermotif bunga, sepatu ballet cantik, dan  pernak pernik yang dipakainya membuat ia terlihat seperti putri di dalam cerita dongeng yang selalu di dengar anak-anak sebelum tidur. Semua orang menatapnya dengan gemas dan tersenyum manis, tetapi yang diperhatikan hanya diam tanpa senyuman, wajahnya panik, pucat, dan matanya agak merah.

Dari kejuahan tampak seorang wanita berumur 30 tahunan berjalan kearah mawar itu, sesampainya di depan Aini ia menunduk dan membelai rambutnya.

"Sayang, sudah saatnya untuk potong kue," kata wanita itu sambil tersenyum.

"Tapi....abi belum datang umu?" Aini bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Bersabarlah, abi pasti datang walau ia terlambat."

"Tersenyumlah untuk umi, abi, dan teman-teman Aini yang sudah datang," lanjutnya.

"Baik Umi," jawab Aini murung.

Pesta yang bertempat di Hotel Sahid itu berlanjut dengan kemeriahan, Aini juga mulai menikmati pesta itu. Ia tersenyum, tertawa dan ikut bermain dengan teman-temannya, kegilasahan tidak tampak lagi diraut wajah Aini tetapi di dalam hatinya ia tetap gelisah menunggu kehadiran sang abi.

9 Maret 2011, hari itu adalah ulang tahun Aini yang ke-15. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu ada pesta meriah pada tanggal itu. Aini tumbuh besar menjadi anak perempuan yang cantik, pintar dan juga selalu taat pada perintah uminya, selain itu ia juga seorang anak yang friendly dan easy going yaaa bisa dibilang anak gaul. Semua orang berkata hidup Aini sangatlah sempurna dan bahagia, apapun yang ia inginkan selalu dapat terpenuhi tapi walaupun begitu Aini tidak pernah menyombongkan diri kepada siapapun, itulah yang menjadikan Aini disayangi orang-orang disekitarnya.

"Aini....waktunya potong kue" seru umi Aini sambil melambaikan tangan kearahnya.

"Ya umi tunggu sebentar" Aini menjawab dan tersenyum memohon. Hampir 25 menit sudah umi menunggu Aini dipinggir kolam renang tempat akan dilaksanakannya acara potong kue, tetapi yang dtunggu tak kunjung datang.

"Anisa....?" panggil umi pada salah satu teman dekatnya.

"Iya umi ada yang bisa Nisa bantu?" tanya Nisa pada umi.

"Tolong panggilan Aini ya nis, ajak dia kesini sepertinya dia ada di teras depan, tadi sih sudah umi panggil tapi nggak datang-datang sampai sekarang. Kasihan teman-teman kalian lama menunggu", pinta umi pada Nisa. Segera Nisa menuju teras depan tetapi sesampainya disana tak seorangpun dilihatnya, matanya terus mencari tapi tetap saja tak ada orang lain selain dirinya ditempat itu.

"Aini.....Ai....kamu dimana? Jangan main petak umpet dong pliss, ini lagi pesta loh" Nisa terus berbicara sendiri tanpa ada yang menyahut. "Uuuuh dimana sih kamu AI?" Ia bergumam kebingungan. Nisa bingung dan mulai panik ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada temannya itu. Baru saja Nisa akan melangkah pergi meninggalkan teras untuk mencarinya diruangan lain, tiba-tiba suara isakan terdengar dari belakang, dan tiba-tiba mata sipitnya terbelalak dan mulutnyapun ikut mengapa.

"Haaaaaah?" ia terkejut saat ia melihat bayangan perempuan dikepang dua, ia yakin sekali bahwa itu adalah bayangan Aini, tapi.....untuk apa Aini sembunyi dariku?, batin Nisa terus saja bertanya-tanya sampai ia menemukan cara agar Aini menghampirinya dan keluar dari belakang dinding bercat biru itu. Tiba-tiba, Nisa mengeraskan suaranya dan memanggil umi Aini, ia tahu dengan begitu Aini akan segera keluar menghampirinya sebab ia juga tahu temannya itu tidak akan membuat uminya kesusahan dan cemas. Baru satu kali Nisa berteriak memanggil umi terdengar suara seseorang berbisik dibelakangnya.

"Sttttttt, kamu ngapain sih Nis teriak-teriak nanti umi mengira kita kenapa-kenapa, aku baik-baik aja kok."

"Astaghfirullah Aini, kamu kenapa sembunyi-sembunyi gitu? Aku benar-benar panik tadi."

"Aku baik-baik aja Nis, nggak perlu khawatir gitu. Ayo kita masuk". Ia lalu berjalan dengan senyuman datar  seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Nisa melihat kantung mata Aini sedikit bengkak tapi belum sempat ia bicara panjang lebar Aini sudah mengajaknya untuk masuk ke dalam, dan mau tak mau Nisa segera mengikutinya dari belakang. Malam itu terasa sangat aneh bagi Nisa ia seolah-olah melihat sisi lain dari seorang Aini yang selama ini ia kenal, Aini yang selalu ceria dan hangat pada setiap orang. Sejak malam itu, setelah kejadian didepan teras entah mengapa Aini menjadi sedikit  tertutup juga pendiam.

Tiga bulan setelah pesta malam itu Aini menemui uminya yang sedang membaca buku diruang tengah.

"Umi.....umi lagi sibuk nggak?" supaya lembut dan langsung duduk disamping sang umi.

"Nggak sayang, ada apa nih nanya-nanya umi pasti lagi ada maunya?" canda umi.

"Lh umi asal nih, Aini nggak mau apa-apa kok, beneran deh."

"Iya...umi percaya tapi kalau kamu mau sesuatu kamu bila langsung bilang sama umi."

"mmm..." Aini berdeham. " I'm sure mom I don't want anything, I just want to meet dad. Ia really miss him.", emosi kesedihan tampak sangat jelas diwajah Aini ketika mengatakannya.

Uminya hanya terdiam mendengar ucapan Aidi, ia terkejut sebab sudah hampir 5 tahun Aini tidak pernah membahas tentang abinya. Dulu disaat ia masih kecil terutama ketika ia berusia 10 tahun, ia selalu bertanya dimana abinya dan mengapa abinya tidak pernah pulang untuk datang menemuinya, bahkan disaat ia berulang tahun sekalipun. Masih teringat jelas di dalam memori Aini, malam itu di saat ulang tahunnya yang ke-10 ia bertanya begitu banyak hal tentang abinya pada sang umi.

"Umi....dimana abi sekarang? Kira-kira abi sedang apa ya?"........"..."

"Kenapa ya.....abi tidak pernah datang menemui kita?"...."..."

"Aku rindu pada abi. Apa abi telah lupa pada kita umi?....."...."

"Atau jangan-jangan abi lupa jalan untuk pulang kerumah?...."....."

"Umi....ayo! kita harus mencari abi sebelum abi benar-benar tersesat dijalan."....".."

Pertanyaan-pertanyaan itu masih diingatnya dengan sangat jelas. Sekian banyak pertanyaan uminya hanya terdiam, hingga akhirnya 3 kalimat itu muncul. Kalimat yang memberinya sebuah harapan, kalimat yang dianggapnya sebuah janji.

"Putri umi yang cantik....abi tidak pergi kemana-mana abi hanya sedang sibuk dan belum sempat menemui kita, dan Aini nggak perlu khawatir abi tidak akan mungkin lupa jalan pulang, sebab umi sudah menyuruh abi untuk mencatat alamat kita agar ia tidak lupa, dan umi sekarang minta satu hal pada Aini, jangan tanyakan lagi Abi dimana, sedang apa,  atau mengapa abi tidak pulan. Sebab percayalah suatu hari nanti abi akan datang menemui kita, suatu hari nanti abi akan datang menemui kita, suatu hari nanti abi akan datang di malam pesta ulang tahun Aini, dengan membawa coklat, boneka cantik dan hadiah yang sangat banyak, suatu hari nanti abi akan datang menemui kita."

"Iya, umi benar juga abi tidak mungkin lupa jangan pulang, abi tidak mungkin lupa pada Aini dan abi juga tidak mungkin lupa pada umi, suatu hari nanti Aini yakin abi pasti datang untuk menemui kita dengan membawa banyak hadiah."

Semenjak saat itu Aini tidak pernah bertanya apapun lagi pada uminya dan di setiap malam ulang tahunnya ia akan teringat kembali pada perbincangan mereka malam itu. Aini selalu menunggu kehadiran sang abi di depan teras di setiap malam 9 Maret dengan harapan dialah orang yang pertama kali akan menyambut kedatangan abinya dan juga menjadi orang pertama yang akan dipeluk oleh abinya. Namun, sekarang keadaannya telah berbeda Aini bukanlah lagi anak kecil yang berumur 10 tahun, melainkan sosok remaja berusia 15 tahun.

Suasana hening menyelimuti ruangan itu, mereka hanya terdiam dan saling memandang hingga isakan Aini memecahkannya.

"Aini.......," Umi memandang Aini lekat, uminya tidak tahu harus berbuat apa selain memeluk dan mendekap Aini dengan erat, di dalam pelukan hanyat itu Aini meluapkan segala kesedihan yang telah ia pendam sendiri selama ini.

"Aini rindu pada abi.....Aini ingin abi ada disini bersama kita.... terlebih untuk saat ini umi, Aini ingin abi hadir di sini," isak tangis terdengar disela-sela perkataan Aini. Melihat kesedihannya sang umi tak kuasa lagi menahan tetesan air untuk jatuh dari kedua mata yang membuatnya terlihat tegar selama ini.

Tiap jam, menit, dan detik yang Aini miliki, ia selalu memikirkan abinya dan sementara di setiap hari, bulan, dan tahun yang ia lewati akan ia habiskan untuk menunggu sang abi datang tanpa kenal lelah dan bosan. Menunggu, menunggu, dan menunggu adalah satu-satunya hal yang dapat ia lakukan.

Seminggu setelah malam mengharukan itu, umi mengajak Aini berlibur kesebuah desa di daerah  Pesawaran sebagai hadiah karena Aini lulus SMP dengan rata-rata nilai 9. Aini bersama uminya berangkat dari rumah pukul  07.00 pagi. Sementara uminya mengemudi, Aini asik melihat sawah dan pepohonan disisi kirinya, entah mengapa semua hal yang ia lihat saat itu terasa sangat  menyejukkan baginya. Setelah satu jam perjalanan. Mereka tiba disebuah rumah berhalaman luas di desa Banjar Negeri kecamatan Way Lima, rumah itu terlihat unik dengan banyaknya ukiran-ukiran kayu disetiap sudut rumah, model rumah yang jarang ia temui di daerah Pahoman tempat ia tinggal.

"Assalamu'alaikum......assalamu' alaikum...."

"Ada nggak umi orangnya?  buka pintu aja lama banget," tanya Aini yang bosan menunggu. Karena lelah menunggu Aini berniat berjalan-jalan disekitar halaman rumah itu, ia kagum melihat banyaknya bunga-bunga yang tumbuh indah dipekarangan rumah, ia bermaskud memetik satu tangkai bunga mawar merah tapi karena  terlalu bersemangat dan terburu-buru ia tidak melihat ada duri  yang bersembunyi dibalik bunga merah itu.

"Awww, aduuuu.." jerit Aini. Saat ia sedang sibuk melihat jari manisnya yang tertusuk duri, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, secara refleks ia menoleh dan mulai memperhatikan orang itu, ia terlihat sangat tua dan begitu banyak kerutan diwajahnya bahkan sepertinya seluruh tubuh wanita itu dipenuhi dengan kerutan, Aini hanya terdiam dan tersenyum pada wanita tua itu ia bingung apa yang harus ia katakan.

"Uli api culukmu tuah coak luah khah gegaoh khena?" wanita itu bicara sambil memperhatikan jari Aini, sementara yang ditanya hanya diam kebingungan.

"Ha,,,eeeh...aduh jawab apa nih gak ngerti sumpah," gumam Aini pada dirinya sendiri.

Aini kebingungan harus menjawab apa, ia tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakakan oleh nenek itu.

"U...umi...umi...tolong bantu Aini dong," jerit Aini memanggil uminya. Seulas senyuman terlukis dibibir umi ketika melihat kearah Aini dan nenek itu, umi segera menghampiri mereka dan sesampainya umi langsung menatap ramah pada wanita tua itu.

"Umi...siapa ya, Aini gak pernah lihat nenek ini sebelumnya?" bisik Aini ditelinga umi.

"Oh iya...umi lupa kenalin ke kamu Ai, ini nenek Fatimah kita akan tinggal di rumah nenek ini selama liburan, ayo dong salaman dulu sama neneknya,"

"Siapa anak bebai hinji, anak kamu Ros?" tanya nenek itu.

"Iya mak, hinji anakmu Ros," nenek itu bicara sambil memandangi wajah Aini. Sementara, Aini yang tidak mengerti arti dari pembicaraan mereka hanya tersenyum dan diam mendengarkan.

Tanpa terasa sinar matahari telah berganti dengan cahaya bulan. Sejak kecil Aini sangat suka melihat langit malam yang cerah dan dihiasi dengan kelap kelip bintang, seperti yang saat ini ia lakukan dihalaman rumah, karena dengan melihat keindahan itu ia dapat melupakan segala kesedihannya untuk sementara waktu.

"Ehm...," Dehaman umi memecahkan atmosfer keheningan yang telah diciptakan Aini.

"Loh, umi mau lihat bintang juga?" tanyanya sambil melemparkan senyuman jahil.

"Iya...umi mau melihat bintang, umi mau mencoba mengerti apa yang Aini rasakan selama ini"

"Apa? kok umi jadi nggak nyambung gini?" tanya Aini bingung dengan mata menyipit.

"Oh....maksud umi bukan hanya mengerti, lebih tepatnya umi mau merasakan apa yang Aini rasakan."

"Sebenarnya umi mau ngomong apa sih....umi bisa to the point ke Aini, jangan bikin aku bingung dong?"

"Hmm...selama ini umi terlalu egois, umi kurang mengerti penasaan Aini, seandainya umi berkata jujur dari awal, umi tidak perlu membuat satu kebohongan yang akhirnya menjadi rantai kebohongan. Maafkan umi Aini," umi diam beberapa saat, terlihat dahi Aini mengerut tanda ia sedang memutar keras otaknya.

"Umi minta maaf karena umi telah berbohong pada kamu selama ini,  umi telah menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya," jelas umi.

"Oke,.... Aini maafin umi. Walaupun Ai rasa umi nggak ada salah, dan sebenarnya kenyataan apa yang umi nggak ceritakan ke Aini?"

"Tentang abi Ai, sebenarnya....abi tidak sibuk dan  bekerja di tempat  jauh seperti yang pernah umi katakan  ke kamu."

"Lalu, apa yang terjadi pada abi umi?" jantung Aini berdebar hebat menunggu jawaban umi. Umi diam sejenak. Sebelum bicara umi mencoba menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"9...Maret 2002. Malam itu abi mengalami kecelakaan, Diperjalanan menuju pesta ulang tahun kamu Ai."

Benar-benar parah. Aini merasa seluruh saraf tubuhnya mulai tak berfungsi, ia diam. Ia merasa seperti dirinya tertimpah batu yang sangat besar sehingga ia tak mampu untuk melakukan apapun. Satu hal yang dapat ia lakukan hanyalah menutup mata, dan tetesan air pun perlahan mulai meluncur berkejaran dipipi Aini.

"Sudahlah Aini. Ini semua bukan salah kami, umi yakin Allah memiliki rencana yang sangat indah untuk kita di kemudian hari, tapi sebelum itu kita harus melewati ujian ini. Sayang, kamu harus tahu cobaan yang kita hadapi adalah kunci untuk meraih kebahagian, semakin kita tabah dan tawakal akan semakin cepat kita memperoleh kebahagiaan itu."

Aini sudah mulai merasa tenang, tubuhnya yang semula dingin sudah mulai terasa hangat di dalam pelukan umi." Apa abi selamat dari kecelakaan itu umi?" tanyanya ragu.

"Alhamdulillah Ai abi selamat, tapi abi...," belum selesai umi bicara ia sudah memotongnya.

"Aini ingin bertemu abi apapun keadaannya! Besok tolong antar Aini menemui abi umi," umi hanya hanya tersenyum mengiyakan.

Esok paginya Aini dan umi pergi menemui abi. Setelah satu jam perjalanan dengan begitu banyak jalan berlubang yang mereka lewati, akhirnya mereka sampai disebuah tempat yang didalamnya terlihat taman kecil yang tersusun rapi. "PONDOK SANTRI AL-FATAH" itulah papan nama yang tergantung di depan gerbang kayu jati bangunan itu.

"Di sini umi?" uminya hanya mengangguk tanda mengiyakan.

Mereka berjalan masuk melalui koridor depan, saat itu Aini sangat gugup. Ia takut ia tidak dapat mengenali abinya. Ia yakin dalam waktu 9 tahun sudah banyak perubahan yang terjadi pada diri sang abi,  baik perawakan, wajah, atau pun yang lainnya. Karena rasa gugupnya itu ia terus berjalan tanpa memperhatikan daerah sekitar, sampai-sampai ia tidak sabar bahwa saat ini ia berjalan sendiri sedangkan uminya menghampiri lelaki tua yang sedang bertasbih di bangku taman.

"Aini.....," ia tersadar dan menoleh kearah sumber suara itu. Matanya mencari dan terkejut melihat uminya sudah berada di tengah taman dan bukan dibelakangnya.

"Umi? Umi ngapain disitu, terus siapa laki-laki itu ya?" Umi dan lelaki itu berjalan kearah Aini, tanpa sadar ketika melihat lelaki itu Aini berkata pelan "Abi?"

Aini ragu, tetapi entah mengapa jantungnya berdebar ketika ia melihat lelaki itu. Ia terlihat tua dan letih, dengan rambut putih dan kulitnya yang sedikit mengendur. Ia berjalan dituntun umi dan menggunakan tongkat seperti orang buta. Ketika lelaki itu dan umi berada di depan Aini, ia berhenti mengira-ngira dan tersadar Lelaki itu buta batin Aini tak terucap.

Aini..." Sapa umi kemudian mengalihkan pandangan dari Aini ke lelaki itu.

"Aini...." Lelaki itu memanggil Aini, kemudian ia mencoba mencari dimana letak wajah Aini dan berusaha merabanya. Dengan dibantu arah oleh umi lelaki itu meraba wajah Aini. Aini diam mematung memandangi wajah lelaki itu. Jantungnya berdetak cepat, dalam hatinya mengatakan bahwa dialah abinya tapi satu kenyataan yang tidak bisa ia terima lelaki itu buta!

"Ini abi Ai, abi yang selama ini selalu kamu tunggu kehadirannya," Umi memecahkan keheningan Aini tetap diam, diam dan diam.

'nggak mungkin! abi Aini sehat! abi Aini bisa melihat, Aini nggak mungkin punya abi buta! Nggak mungkin, umi pasti salah, dia bukan abi Aini, NGGAK MUNGKIN! Umi pasti salah' batin Aini terus bicara dan berontak.

"NGGAK! AINI MAU PULANG! UMI PASTI SALAH! AINI MAU PULANG!"

"NGGAK, NGGAK MUNGKIN DIA, NGGAK......." Aini melangkah pergi dengan langkah yang cepat dan lebar, sepanjang jalan Aini terus berteriak tanpa memperdulikan uminya, lelaki itu, dan orang-orang disekitarnya.

"Abi...ini semua salah umi. Umi belum menceritakan keadaan abi yang sebenarnya sampai-sampai Aini terkejut dan bertingkah seperti ini," raut sesal terlihat diwajah umi.

"Sudahlah umi, cepat susul Aini. Abi dapat mengerti ini semua bukanlah salah kalian,"

Umi berlari kecil untuk mengejar Aini, dan akhirnya umi dapat mengejarnya. Setelah itu mereka segera pergi meninggalkan pesatren. Sesampainya di rumah, Aini pergi mengurung diri di kamar. Entah sudah berapa puluh kali umi mengetuk pintu kamar Aini, tetapi ia tetap tidak mau keluar. Dengan berbatasan pintu yang tertutup umi bicara pada Aini.

"Aini...umi tahu kamu terkejut, tetapi tidak seharusnya kamu berlaku seperti itu terhadap abimu. Dia benar-benar merindukan kamu Ai....," uminya berkata lembut tapi tetap tegas.

Tak ada jawaban yang terdengar dari dalam kamar Aini. Setelah hampir 3 jam umi menunggu di depan pintu akhirnya umi memutuskan untuk membiarkannya sendiri sementara waktu.

Di dalam kamar berlantai kayu itu Aini duduk sambil memeluk boneka panda miliknya. Ingatannya kembali pada kejadian siang tadi, fikirannya kacau! Ia tidak tahu mengapa ia begitu bodoh sampai-sampai melakukan hal seperti itu. Pukul 9 malam. Sudah hampir setengah hari ia berdiam diri di kamar, hingga akhirnyapun ia jatuh  tertidur meringkuk di lantai kayu.

Di pertengahan malam ia terbangun karena kerasnya dentingan lonceng jam dari ruang tengah. Disaat bangun ia melihat kaligrafi bertuliskan nama Allah SWT dan nabi Muhammad saw tergantung di dinding kamarnya. Tiba-tiba saja ia tergerak untuk melakukan shalat dipertengahan malam yang selama ini hanya ia pelajari di sekolah dan tak pernah ia lakukan. Setelah menghadapi cobaan ini, ia baru menyadari betapa jauhnya ia dari Allah SWT hingga ia merasa malu untuk berdoa dan meminta kepadaNya. Ia telah melalaikan berbagai perintah Allah SWT selama ini, dan pada malam ini ia bertekad akan mulai mencoba mendekatkan diri pada Allah SWT dan memperbaiki segala kesalahannya.

'ya ALLAH sebenarnya cobaan apa yang engkau berikan kepadaku? Aku sadar selama ini aku lalai terhadap perintahmu tapi janganlah kau hukum aku dengan kenyataan seperti ini ya Allah, tetapi.....jika memang ini jalan terbaik yang engkau berikan untukku bantulah aku untuk menerima kenyataan ini dengan hati yang iklas. 'Doa Aini dalam tahajudnya.

"Robbanaa aatina fid-dun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban-naar."

Tiga hari lamanya Aini berdiam diri, ia hanya keluar kamar jika dipanggil untuk makan bersama, tetapi di hari keempat ia menghampiri uminya yang sedang termenung memandangi bunga-bunga indah di halaman.

"Umi, Aini ingin bicara sesuatu...tentang abi," suara Aini mengalihkan pandangan umi.

"Ya, apapun yang ingin Ai katakan umi akan mendengarkannya."

"Aini ingin bertemu abi umi, Ai melakukan kesalahan besar pada abi, umi mau mengantar Aini bertemu abi lagi kan?"

"Tentu sayang."Alhamdulillah ya Allah engkau telah membukakan pintu hatinya-batin umi tak terucap.

Mereka memutuskan untuk menemui abi hari itu juga. Satu jam kemudian mereka tiba di depan pintu masuk pesatren itu, baru beberapa langkah mereka berjalan dikoridor depan langkah Aini tiba-tiba terhenti dengan pandangan yang terpaku pada satu sosok. Itu abi. Ia langsung menghampirinya dan duduk berlutut di depan lelaki itu. Sesaat Aini memandangi wajah lelaki yang sedang bertasbih itu, ia mencoba mengatur nafas dan mulai berbicara.

"A a abi....ini Aini, Aini ingin minta maaf,"  terbata-bata Aini berusaha bicara.

"Aini....ini benar kamu sayang? Abi yang salah, Ai tidak perlu minta maaf."

Air matanya tumpah tak tertahan, ia menangis sambil menggenggam kedua tangan abinya. Percakapan antara abi dan Aini berlangsung cukup lama sampai umi menghampiri mereka dan ikut bicara.

"Sekarang kita sudah berkumpul bersama kembali, umi benar-benar senang. Terimakasih Ya Allah" ungkap syukur umi.

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan di dalam hidup Aini. Liburannya di desa itu ia habiskan untuk mengunjungi abinya di pesantren, semakin sering ia melawati hari bersama abinya, lambat laun ia mulai mengerti dan memahami apa saja yang disukai dan tidak disukai abinya, selama ia mengunjungi abinya di pesantren ia mulai mempelajari lebih banyak hal tentang agama islam yang selam ini ia abaikan. Di setiap harinya ia selalu menyempatkan mengaji, bertasbih, serta sholat berjamaah bersama sang abi. Hampir tiga minggu sudah ia berada di desa itu dan tiba saatnya ia untuk pulang dan mulai mencari SMA untuk melanjutkan pendidikannya.

Saat matahari mulai kembali keperaduan terlihat keluarga kecil sedang berbincang di tengah taman.

"Aini....besok sudah saatnya untuk kita pulan." Umi bicara.

"Oke, abi juga ikut kita pulang kan umi?"

"Maaf, abi tidak bisa ikut kalian pulang, sebab setelah sembuh dari kecelakaan itu abi sudah berjanji akan mengabdi dan selalu berada di pesantren ini."

"Abi...pokoknya kalau abi tidak ikut pulang Aini tidak mau pulang," Aini memajukan kedua bibirnya kedepan.

"Aini...." seru abi dan uminya secara bersamaan.

"Yasudah......kalau begitu Aini akan melanjutkan sekolah di pesantren ini bersama abi, bagaimana? boleh kan abi, umi?" belum dijawab Aini sudah bicara lagi, "Lagipula Ai senang ada di pesantren ini, di sini Aini bisa belajar agama lebih banyak lagi, Aini ingin menjadi anak yang solehan untuk abi dan umi, Aini boleh kan melanjutkan pendidikan di pesantren ini.....?"

Abi dan uminya terdiam sesaat sementara Aini memandangi mereka berdua bergantian, tak lama kemudian abinya berkata "Baiklah, jika itu keinginan Aini, iya kan umi?"

"Iya abi, yang terpenting Aini tetap rajin belajar di sini, Tetapi umi tetap harus pulang besok. Umi akan mengunjungi kalian setiap minggunya. Bagaimana?"

Momen kebersamaan itu menjadi sebuah memori terindah yang pernah Aini miliki dan selalu ia ingat sepanjang hidupnya. Aini akhirnya tinggal di pesantren, abi dan uminya sangat bangga kepada Aini sebab ia menjadi salah satu santriwati teladan di pesantren itu, Aini telah banyak berubah, ia sekarang benar-benar menjadi anak solehan yang taat beragama, selalu sholat dan mengaji, Aini juga sudah belajar menutup auratnya. Walaupun abinya buta ia tidak akan pernah meninggalkan abinya, ia akan selalu ada di sambing abinya. Sebab, ia telah  berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi mata kedua bagi abinya di dunia ini.

Gadis berjilbab putih itu tersadar dari lamunannya dan kemudian tersenyum menatap langit, ia kembali pada kenyataan bahwa hari ini adalah tanggal 9 Maret 2012. Ia tidak sedang berada di hotel bidang 5 ataupun restoran mewah tempat ia biasa merayakan ulang tahun, tetapi ia sedang berada disebuah ruangan yang tak henti-hentinya bershalawat dan mengumandangkan nama-nama Allah SWT. Musholla ASY-SYIFA, ditempat itulah ia sekarang, dihari ulang tahunnya yang ke-16 ia menyantuni anak yatim dan orang miskin di Mushola Hijau SMAN 9 Bandar Lampung, sekolah tempat uminya mengajar agama islam.

"Abi, umi.....sekarang Aini semakin sadar akan indahnya berbagi, menyantuni orang-orang yang tidak mampu rasanya lebih menyenangkan. Dibandingkan mengadakan pesta meriah di hotel mewah. Aini akan terus seperti ini, mencoba menemukan jati diri Aini melalui ajaran agama islam." Aku Aini sambil tersenyum riang.

"Ya insyaallah, abi bangga sama kamu sayang. Putri abi pasti bisa menemukan jati dirinya. You will found your way with islam."

"Aamiiin......," seru Aini dan uminya bersamaan.


Karya: Marta Sopiya Hamid

OLIVER MINTA TAMBAH

Ternyata Oliver lebih tidak bahagia di rumah penampungan. Ia harus bekerja, dan merasa lebih sering kelaparan daripada sebelumnya. Ia makan tiga kali hanya dengan sedikit sup setiap harinya. Dalam sup itu hanya terdapat sedikit daging, sebagian besar berupa kuah. Ia mendapat sepotong roti kecil pada hari Minggu.

Ruangan tempat anak-anak tinggal berwujud sebuah bangunan yang luas. Sebuah periuk besar ada di ruangan itu. Jika waktu makan tiba, seorang pelayan mengambilkan sup dari periuk itu untuk anak-anak. Pelayan itu dibantu oleh seorang atau dua orang pembantu wanita.

Setiap anak laki-laki mendapat semangkuk kecil sup, dan tidak boleh lebih. Mangkuk itu tidak pernah dibersihkan, karena memang tidak perlu. Anak-anak membersihkan sup di dalamnya dengan sendok hingga bersih berkilau. Ketika anak-anak sedang memakan supnya, mereka memandang periuk itu dengan tatapan mata penuh nafsu, seakan-akan mereka ingin memakan semua sup yang ada di sana.

Oliver Twist dan teman-temannya merasakan kelaparan seperti itu hampir tiga bulan. Akhirnya mereka berubah menjadi semakin liar, hingga seorang anak yang paling tinggi di antara mereka berkata bahwa dia menginginkan semangkuk sup tambahan setiap hari. Bila dia tidak mendapatkannya, mungkin suatu malam dia akan memangsa anak yang tidur di sampingnya.

Anak yang paling tinggi itu sangat ingin mendapatkan tambahan sup. Matanya menatap kelaparan ke arah sup milik rekan-rekannya, dan anak-anak yang lain percaya terhadap apa yang dikatakannya. Mereka membicarakan hal itu bersama-sama, dan memilih seorang anak untuk mengatakan kepada pelayan bahwa mereka meminta tambahan jatah sup. Anak yang mereka pilih adalah Oliver Twist.

Malam telah tiba dan anak-anak mengambil tempatnya masing-masing. Kepala pelayan berdiri di dekat periuk, seorang pelayan yang lain berdiri di dekatnya, dan sup segera dibagikan.

Sup itu menghilang dengan cepat dari setiap mangkuk. Anak-anak berbisik satu sama lain dan memberi tanda kepada Oliver. Anak yang duduk di samping Oliver mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Walaupun masih anak-anak, tetapi mereka dapat merasakan kelaparan yang melilit. Rasa lapar itu memberi keberanian kepada mereka. 

Oliver bangkit dari mejanya dan menemui pelayan dengan mangkuk dan sendok di tangannya. Walaupun ia juga khawatir dan takut, ia berusaha memberanikan diri. Ia berkata, "Maaf, Pak, saya minta tambah."

Kepala pelayan rumah penampungan sangat gemuk, laki-laki yang sehat, tetapi berwajah sangat pucat. Dia terlihat sangat heran terhadap keberanian anak kecil itu. Wanita pembantunya terdiam keheranan, dan Oliver termangu ketakutan.

"Apa?" tanya kepala pelayan rumah penampungan dengan suara tinggi yang tidak pernah terdengar sebelumnya.

"Maaf, Pak," kata Oliver. "Saya minta sup yang lebih banyak."

Kepala pelayan itu memukul kepala Oliver dengan sendok, kemudian menangkapnya dengan tangan. Oliver berteriak minta tolong. Pak Bumble dan beberapa pengurus rumah penampungan datang tergesa-gesa ke ruangan penampungan datang tergesa-gera ke ruangan itu. Sang kepada pelayan mengatakan kepada mereka apa yang diminta Oliver.

"Dia meminta lebih!" teriak para pembantu rumah penampungan. "Apakah kami dapat memberi dia lebih daripada yang biasa diperolehnya?"

Pengurus rumah penampungan segera percaya pada laporan itu, tanpa menanyakannya kepada Oliver.

"Anak laki-laki itu harus digantung!" teriak salah satu di antara pelayan rumah penampungan. Mereka membawa pergi Oliver dan mengurungnya di dalam ruangan gelap. Pagi berikutnya dipasang pengumuman di  pintu gerbang rumah penampungan. Pengumuman itu menawarkan Oliver Twist dengan harga lima pound kepada siapa saja yang mau membawanya.

"Aku yakin anak itu akan segera di gantung!" teriak salah seorang petugas rumah penampungan.

***

Oliver dikurung di ruang gelap itu selama seminggu. Udaranya sangat dingin. Setiap pagi dia dibawa untuk mandi di halaman dan Pak Bumble memukulnya dengan sebuah tongkat. Pada setiap harinya, dia dibawa ke ruangan tempat anak-anak memperoleh sup mereka, dan Pak Bumble memukul Oliver di hadapan semua orang. Oliver menangis sepanjang hari dan tidak dapat tidur malam harinya.

Tidak seorang pun datang untuk membayar lima pound untuk membawa Oliver Twist. Pak Bumble kemudian memutuskan untuk membawa Oliver Twist ke laut dan bekerja di kapal layar.

Namun, pada suatu hari, di depan pintu. gerbang rumah penampungan, Pak Bumble bertemu dengan Pak Sowerberry. Pak Sowerberry adalah laki-laki tinggi kurus dan berpakaian hitam. Dia adalah seorang pembuat peti mati. Sebagian besar peti mati buatannya digunakan untuk orang-orang miskin yang meninggal di rumah penampungan.

"Aku  sedang menyiapkan peti mati untuk dua wanita yang meninggal tadi malam," kata Pak Sowerberry kepada Pak Bumble.

"Ya, aku tahu, Anda pasti memperoleh banyak uang dari kerja Anda," kata Pak Bumble.

"Anda pikir begitu?" tanya Pak Sowerberry.

"Harga yang diberikan kepadaku terlalu murah, Pak Bumble."

"Namanya juga peti mati," kata Pak Bumble.

Pak Sowerberry sangat geli, sehingga dia tertawa untuk waktu yang lama tanpa berhenti.

"Wah, wah, Pak Bumble," kata Pak Sowerberry. "Makanan yang disantap orang-orang di rumah penampungan sangat sedikit.  Itu membantu saya, karena saya hanya perlu membuat peti mati yang sempit dan kecil. Sayangnya harga kayu sangat mahal. Dan seringkali, orang yang gemuk meninggal terlebih dahulu. Kalau sudah demikian, aku harus membuat peti mati yang lebih besar, dan aku tidak bisa memperoleh keuntungan lebih banyak."

"Ngomong-ngomong," kata Pak Bumble apakah Anda tahu seseorang yang menginginkan anak laki-laki? Yang mau membayar  lima pound untuk anak laki-laki itu?" tanyanya sambil mengangkat tongkatnya dan menunjukkannya ke arah pengumuman di pintu gerbang rumah penampungan.

"Itulah hal peting yang ingin kukatakan kepada Anda," kata Pak Sowerberry. "Aku telah banyak membantu orang-orang miskin, jadi kupikir sah-sah saja jika aku mendapatkan sesuatu dari mereka. Kupikir aku akan mengambil anak laki-laki itu untukku sendiri."

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK