CAMPUR ADUK

Wednesday, August 4, 2021

KISAH PUTRI ULAR

Dewi selesai bermain dengan adiknya Lilia. Dewi duduk santai di ruang tamu sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Dewi :

Di sebuah daerah yang bernama Simalungun, Sumatera Utara sekarang, berdirilah sebuah kerajaan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang putri yang cantik jelita. Putri raja tersebut terkenal dengan kecantikannya. Tidak hanya di kerajaan itu, kecantikan sang putri juga terkenal di negeri seberang. Seorang raja muda yang tampan dari negeri tetangga ingin mempersunting putri dari raja di daerah Simalungun itu.

Raja muda tersebut akhirnya bermusyawarah dengan para penasehatnya untuk mempersunting putri tersebut. Sang raja menegaskan lagi apakah seorang putri tersebut sangat cantik kepada para penasehatnya. Semua para penasehat raja serempak membenarkan kenyataan tersebut. Mereka juga menyetujui jika putri tersebut pantas dijadikan permaisuri oleh raja muda itu. Mengingat sang raja juga memiliki paras yang tampan dan sang putri yang memiliki paras yang cantik jelita. Semua rakyat pasti akan bahagia apabila rajanya bersanding dengan seorang permaisuri yang cantik jelita.

Mereka akhirnya mempersiapkan acara lamaran untuk meminang putri tersebut. Segala keperluan seperti perhiasan emas dan berlian, kain sutra berhiaskan permata, dan beberapa perlengkapan mewah dan berharga mereka siapkan untuk meminang sang putri. Dengan hati gembira, utusan raja muda pergi menuju kerajaan tempat berdiamnya sang putri. Sang raja berharap agar pinangannya diterima baik. Dia tidak sabar untuk menjadikan sang putri sebagai permaisurinya. 

Setelah sampai di kerajaan yang dimaksud, utusan raja muda diterima baik oleh ayah sang putri. Mereka melakukan perjamuan makan bersama. Hingga akhirnya, utusan raja muda menyampaikan pesan dari raja muda yang bermaksud mempersunting sang putri raja.

“Wahai utusan raja muda, ada apakah gerangan maksud engkau datang kemari ?” tanya ayah sang putri.

“Ampun baginda, kami datang kemari untuk menyampaikan pinangan raja muda yang berniat memperistri anak baginda raja yang cantik jelita,” jawab utusan raja muda.

Sang raja yang merupakan ayah dari sang putri tersenyum, lalu berkata “Kedua kerajaan apabila memiliki hubungan pernikahan, pastilah akan menjadi sahabat. Baiklah, saya menerima pinangan beliau.”

Utusan raja muda tampak bahagia, “Ampun baginda raja, kami sangat berterimakasih atas penerimaan pinangan ini. kami tentunya akan menyampaikan kabar gembira ini kepada raja muda dengan senang hati. Acara pesta pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi.”

“Mengapa begitu lama ?” tanya sang raja.

“Kami akan menyiapkan pesta pernikahan secara besar-besaran baginda.” Jelas utusan raja muda.

“Oh, baiklah kalau begitu.”

Akhirnya utusan raja muda pulang ke negaranya dengan senang hati. setelah sampai di istana, mereka dengan senang hati memberitakan perihal penerimaan lamaran tersebut. Raja muda tidak kalah gembiranya mendengar penerimaan pinangan dari putri yang cantik jelita. Wajahnya tambah sumringah mendengar berita tersebut. Mereka akhirnya sibuk mempersiapkan pesta pernikahan secara besar-besaran dengan penuh semangat. Sebentar lagi, raja mereka akan memiliki permaisuri yang sangat cantik jelita. Di kerajaan sang putri, sang ayah menghampiri putrinya yang tengah duduk di taman istana. Sang raja mendekati anaknya yang asyik merangkai bunga.

“Putriku, tahukah engkau maksud kedatangan kerajaan seberang pada saat kemarin ?” sang raja bertanya.

“Ampun ayahanda, saya tidak mengetahuinya,” jawab sang putri.

Sang raja tersenyum lalu berkata, “Mereka menyampaikan sesuatu bahwa raja mereka yang masih muda dan tampan ingin melamarmu dan ayah menerima lamarannya.”

Sang putri akhirnya tersipu malu. Rona merah di pipinya mulai tampak, menambah kecantikan di paras wajahnya yang lembut.

“Bagaimana menurutmu, putriku ?” tanya sang raja.

“Jika ayahanda menghendakinya, saya menyetujuinya ayahanda,” kata sang putri dengan bola mata yang berbinar.

“Jagalah dirimu baik-baik, pesta pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” pesan sang raja.

“Baik ayahanda,” sahut sang putri.

Beberapa hari menjelang pernikahannya dengan raja muda, seperti biasanya, sang putri melakukan ritual mandi di taman belakang istana. sang putri tidak sendiri, sebab ditemani dayang-dayangnya. Di kolam mandi, sang putri seperti biasanya duduk di atas sebuah batu yang telah dipersiapkan khusus. Dia masih membasuh kakinya yang berjuntai di dalam air kolam meskipun telah selesai mandi. Dalam lamunannya, dia membayangkan kebahagiaannya ketika bersanding dengan seorang raja muda nan tampan. Raja muda yang sebentar lagi menjadi suaminya. Sesekali, dia senyum-senyum sendiri mengingat betapa tampannya raja muda itu.

Namun, cuaca buruk terjadi. Angin yang sepoi-sepoi berubah menjadi angin ribut. Dedaunan pohon saling bergesekan karena tertiup angin kencang. Seorang dayang-dayang mengingatkan sang putri agar kembali ke dalam istana.

“Tuan putri, sebaiknya kita harus kembali ke dalam istana. Cuaca di luar sangat buruk,” kata salah satu dayang-dayang.

Sang putri tidak mendengarkan peringatan dari dayang-dayang tersebut. Dia masih berjibaku dengan lamunannya. Akhirnya, salah satu ranting dari sebuah pohon jatuh tepat mengenai ujung hidungnya. Ranting pohon tersebut cukup tajam hingga melukai hidung sang putri.

“Aduh.... hidungku..,” teriak sang putri menahan kesakitan.

Sang putri akhirnya memerintahakan dayang-dayang untuk membawakan sebuah cermin. Namun, alangkah terkejutnya sang putri. Hidung sang putri berdarah dan bentuknya telah menjadi sompel (hilang sebagian) akibat tertimpa ranting itu, bentuknya tidak lagi mancung seperti dahulu. Sang putri menangis terisak penuh penyesalan. Sebab, dengan rupa seperti itu, dia tidak akan cantik lagi.

Sang putri akhirnya ketakutan dengan pernikahanya. Dia menduga, pastinya sang raja muda akan membatalkan pernikahan dengan dirinya, karena tidak akan mau memperistrinya. Wajahnya telah berubah menjadi jelek. Air matanya bercucuran, dia meratapi nasibnya. Pada saat itu, sang putri menjadi putus asa. Rakyatnya akan kecewa memiliki seorang putri dengan paras yang buruk. Kedua orang tuanya pasti menanggung malu akibat rupa anaknya yang telah berubah menjadi jelek. Sang raja muda pasti akan mencari putri yang lain untuk dijadikan permaisurinya.

Pada saat keadaan tertekan tersebut. Keputusasaan sang putri semakin bertambah. Pikiran-pikiran buruk pun berkecambuk. Hingga akhirnya, sang putri berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar dirinya dihukum atas perbuatannya.

“Ya Tuhan Yang Maha Esa, hukumlah hamba..,” doa sang putri.

Ternyata, doa sang putri dikabulkan. Petir menyambar-nyambar. Angin bertambah ribut. Langit menjadi gelap. Tubuhnya mengalami perubahan yang sangat berbeda. Tiba-tiba kakinya menjadi bersisik, persis seperti sisik ular. Lalu, tangan dan tubuhnya juga ditumbuhi oleh sisik. Dayang-dayang yang melihat kejadian itu berlari untuk mengadu kepada raja dan permaisuri. Mereka memberitakan perihal tentang sang putri yang ditumbuhi sisik seperti ular.

“Ampun baginda raja dan permaisuri, hamba memberitakan bahwa kulit sang putri ditumbuhi sisik seperti ular,” kata dayang-dayang istana.

“Apa...? putriku ditumbuhi sisik?” raja terkejut seolah tidak percaya.

Raja dan sang permaisuri akhirnya bergi bergegas ke halaman belakang istana, tempat kolam pemandian sang putri. Alangkah terkejutnya mereka, karena tidak menemukan sang putri. Mereka hanya menemukan seekor ular besar yang melingkar di atas batu, batu yang biasanya diduduki sang putri.

“A..aa.. anakku,” kata sang raja dengan wajah yang seolah tidak percaya.

“Putriku.... kenapa kau nakk..,” kata sang permaisuri dengan air mata yang berurai.

Sang ular yang merupakan penjelmaan sang putri hanya menggerakan kepalanya dan menjulurkan lidahnya. Wajah sang ular tampak ingin menyampaikan sesuatu, namun tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Akhirnya sang ular pergi meninggalkan raja dan permaisuri. Sang ular akhirnya masuk ke dalam hutan. Raja, permaisuri dan pegawai istana tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya terdiam dan merasakan kesedihan yang mendalam, karena sang putri telah menjelma menjadi seekor ular.

Berubahnya sang putri menjadi ular karena ulah dirinya sendiri. Dia tidak mematuhi amanat dari ayahnya untuk menjaga dirinya baik-baik. Padahal, cuaca buruk dan dayang-dayang sudah memperingatkan agar segera menyelamatkan diri ke istana. Keputusasaan sang putri dan meminta kepada Tuhan agar dirinya di hukum merupakan atas permintaan sendiri, akhirnya menjadi terkabul. 

***

Dewi selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Dewi.

Dewi menutup buku dan buku di taruh di meja dengan baik.

"Waktunya mengerjakan PR," kata Dewi.

Dewi mengambil lagi buku di meja, ya di bawanya ke kamarnya untuk di taruh di rak buku di kamarnya. Dewi mengeluarkan buku dari tasnya dengan baik, ya segera di kerjakan PR dengan baik pula.

PUTERI HIJAU

Agafia selesai bermain dengan teman-teman di lapangan, ya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, ya Agafia duduk santai di ruang tengah sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Agafia :

Inilah kisah Putri Hijau, sebuah cerita rakyat Sumatera Utara. Di suatu daerah yang bernama Medan Deli, terdapat sebuah kerajaan dengan istana yang megah, istana tersebut bernama Istana Maimun. Kerajaan ini berdiri sekitar abad 15-16 Masehi. Kerajaan Melayu dipimpin oleh seorang raja bernama Sultan Muhayat Syah. Sultan Muhayat Syah memiliki 3 orang anak. Anak pertama bernama Mambang Yazid, anak kedua bernama Mambang Khayali, dan anak ketiga bernama Putri Hijau.

Ketiga anak Sultan Muhayat Syah ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Mambang Yazid dapat mengubah dirinya menjadi seekor naga. Anak kedua, Mambang Khayali, bisa mengubah dirinya menjadi meriam. Sedangkan si bungsu, Putri Hijau, bisa memancarkan cahaya hijau di tubuhnya saat malam bulan purnama tiba. Putri Hijau tidak hanya bisa memancarkan cahaya, tetapi memiliki wajah yang sangat cantik. Banyak orang kagum dan terpesona dengan kecantikannya. Selain itu, sang putri memiliki sifat ramah dan murah hati kepada rakyatnya.

Ketika malam bulan purnama tiba, Putri Hijau sedang berjalan-jalan di taman istana. Sinar cahaya dapat dilihat dari jarak yang cukup jauh. Hingga pancaran lampu hijau cantik mempelai wanita terlihat oleh kerajaan tetangga, kesultanan Aceh.

Sultan dikejutkan oleh seberkas cahaya hijau yang indah. Kepada pengawalnya, sultan memerintahkan untuk mencari lokasi sumber lampu hijau itu. Dari informasi yang diperoleh pengawalnya, ternyata lampu hijau itu datang dari seorang putri cantik dari kerajaan tetangga di daerah Deli.

Setelah mendengar penjelasan dari pengawalnya, sultan akhirnya berniat untuk menikahi Putri Hijau. Permohonan disiapkan, berbagai perhiasan dan beberapa pengawal dikirim untuk mengunjungi kerajaan Putri Hijau, namun lamaran itu di tolak oleh sang putri.

Penolakan lamaran tersebut membuat sultan Aceh menjadi sangat marah. Ia merasa bahwa Pemerintah Deli telah menebar permusuhan kepada Pemerintah Aceh. Untuk itu, sultan mengirimkan ratusan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Deli akibat penolakan Putri Hijau. Ternyata Kerajaan Deli begitu tangguh, perang tidak bisa dimenangkan oleh lawan. Akhirnya Kerajaan Deli memenangkan pertempuran tersebut.

Sultan tidak patah semangat, dengan kelicikannya, ia kemudian menembakkan senjatanya sebagai serangan terhadap Pemerintah Deli dengan peluru koin emas. Para prajurit Kerajaan Deli dengan senang hati mengambil koin emas itu. Sementara tentara pemerintah Deli sibuk mengambil koin emas, pemerintah Aceh akhirnya menyerang Deli Bersatu. Akibatnya, Kerajaan Deli mengalami kekalahan. Putra kedua sultan Deli, Bambang Khayali, tidak terima dengan kekalahan yang di derita kerajaannya. Dia mengubah tubuhnya menjadi meriam dan menembak musuh tanpa henti. Karena tembakan senjata yang berkepanjangan ke arah kekuatan di Aceh, peluru menjadi sangat panas. Akhirnya meriam itu pecah menjadi dua. Ujung pistol itu dibuang ke perbatasan kerajaan Aceh.

Melihat kehancuran itu, Kerajaan Deli mengaku kalah. Putri Hijau akhirnya di ambil alih oleh pemerintah Aceh. Arwah Yazid, adik Putri Hijau, akhirnya meminta syarat kepada sultan Aceh. Syarat itu tidak menyentuh Putri Hijau sampai mereka datang ke Aceh. Selain itu, Putri Hijau harus di bawa dengan kotak kaca, dan sesampainya di kawasan Jambu Air, Putri Hijau harus turun ke sungai untuk membakar dupa dan menabur padi dan telur. Setelah membakar dupa dan menabur padi dan telut, sang putri harus menyebut nama kakaknya sebanyak 3 kali. Persyaratan tersebut dipenuhi oleh sultan Aceh, karena dianggap mudah.

Putri Hijau dan Sultan beserta pengawalnya meninggalkan kapal pesiar kembali ke provinsi. Kapal pesiar dapat mengarungi sungai Deli yang konon pada zaman dahulu dilintasi kapal pesiar. Pink Water di daerah tersebut, Putri Hijau keluar dari kaca pengaman dan turun ke sungai untuk membakar dupa, menabur padi dan telur dan disebut "Yazid.. Kalender Kalender Kalender Yazid Yazid .. .. Ayo, saudaraku, dan selamatkan saudaramu dalam genggaman Sultan Aceh.” Akhirnya air sungai menjadi beriak, air menjadi gemuruh dan angin menjadi badai. Putri Hijau akhirnya kembali ke kotak kaca. Segera, petir menyambar tanpa henti dan langit menjadi gelap. Dalam situasi seperti itu, muncul seekor naga yang sebenarnya adalah jelmaan Mambang Yazid.

Akhirnya Putri Hijau yang berada di dalam kotak kaca itu terlempar ke sungai dan hanyut. Seekor naga yang merupakan jelmaan Mambang Yazid membawa kotak kaca berisi Putri Hijau ke dalam mulutnya dan membawanya ke laut. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu apakah Putri Hijau masih hidup sebagai manusia atau telah menghilang.

***

Agafia selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Agafia.

Agafia menutup bukunya dan buku di taruh di meja. Agafia pun beranjak dari duduknya di ruang tengah ke dapur untuk membantu ibu memasak di dapur.

LEGENDA LAU KAWAR

Albina selesai membantu ibu berjualan di depan rumah. Albina duduk santai di ruang tamu sambil baca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Albina :

Cerita rakyat yang berasal dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara. pada zaman dahulu, berdirilah sebuah desa yang bernama Kawar. Daerah tersebut memilki tanah yang subur. Karena memiliki tanah yang subur, sebagian besar matapencaharian penduduk tersebut adalah bertani.

Pada suatu waktu, desa tersebut mengalami panen yang berlipat ganda. Para penduduk bersuka cita menerima hasil panen yang berlimpah. Bahkan, lumbung padi pun tidak mampu menampung hasil bumi yang sangat banyak. Mereka akhirnya mengadakan selamatan untuk mensyukuri hasil panen yang berlimpah ruah. 

Upacara adat untuk mensyukuri hasil panen yang berlimpah dilaksanakan dengan sangat meriah. Mereka mengenakan pakaian yang pantas untuk melaksanakan upacara tersebut. Kaum wanita tidak lupa memasak makanan yang cukup banyak untuk pesta syukuran, agar mereka dapat menyantap makanan enak hasil dari panen raya. Tidak lupa alunan musik gendang guro-guro juga ikut menyemarakan pesta. Mereka bersuka cita menikmati pesta yang sangat meriah.

Namun, di sebuah rumah, tinggalah seorang nenek tua yang telah lumpuh. Sang nenek tidak bisa menikmati pesta panen raya karena mengalami lumpuh total. Badannya tidak bisa digerakan sama sekali, dia hanya bisa tidur di pembaringan. Akan tetapi, anak, cucu, dan menantu sang nenek ikut berpesta. Padahal sang nenek sangat berharap untuk ikut dalam pesta panen raya itu. 

“Ya Tuhan, aku ingin sekali mengikuti pesta panen raya itu. Namun apalah dayaku, untuk membawa badanku ke sana saja tidak bisa,” gumam si nenek dengan air mata yang berderai.

 Tidak ada satu orang pun yang mengajak sang nenek untuk menghadiri pesta panen raya itu. Jangankan mengajak untuk menghadiri pesta panen raya, untuk mengajak berbicara saja tidak satu pun yang mau. Padahal, sang nenek sangat kesepian. Dia butuh hiburan dan orang yang mau menemani perbincangannya dikala waktu luang.

Sayup-sayup terdengarlah gendang guro-guro yang membawanya ke masa lalu. Dimana alat musik tersebut sangat indah didengarkan dan digunakan oleh kaum muda mudi untuk berpesta. Para muda mudi berpasang-pasangan sambil menari. Sang nenek menjadi ingat ke masa lalunya. Namun kenangan tinggal kenangan, saat ini sang nenek bergelut dalam kesakitan. Dia harus melawan rasa sakit dan kesepiannya. Perasaannya saat ini sangat sedih karena dilupakan anak, menantu, dan cucunya sendiri.

Hingga akhirnya tibalah acara untuk menikmati hidangan. Mereka memasak makanan yang enak-enak. Banyak aneka lauk-pauk yang terhidang dengan nasi hangat, sayur-mayur, serta buah-buahan yang segar. Nasi hangat, daging ayam, lembu, babi dan aneka jenis ikan terhidang. Mereka menyantapnya dengan lahap. Sesekali guyonan beberapa orang di sana membuat mereka tertawa di sela-sela hembusan angin yang sejuk. Mereka telah lupa ada seorang nenek tua lumpuh yang ingin menghadiri pesta tersebut.

Sang nenek tua merasa lapar, karena tidak ada nasi yang diantarkan oleh anak menantunya. Sudah sejak pagi sang nenek tidak menyantap makanan. anak menantunya hanya sibuk mengurus pesta panen raya. Mereka seolah telah lupa dengan ibu mereka yang telah tua.

“Ya Tuhan, perutku terasa sakit melilit karena menahan lapar..., apakah anak-anaku telah lupa terhadapku, hingga tidak mengantarkan sama sekali makanan kepadaku ?”, lirih sang nenek.

Dengan badan lemas dan bergetar, sang nenek akhirnya mencoba untuk beringsut dari tempat tidurnya. Dia lalu mencoba berangkat ke dapur rumah, berharap menemukan sesuatu untuk dimakan. Sang nenek dengan sekuat tenaga mencari makanan yang ada di dapur, meskipun dengan tenaga yang sangat sedikit. Namun, alangkah malangnya sang nenek. Anak menantunya tidak menyisakan makanan sedikit pun. Mereka sengaja tidak memasak makanan karena berniat akan mengikuti pesta panen raya dan menyantap makanan yang enak-enak di sana.

“Mereka tidak menyediakan makanan untukku..., alangkah teganya mereka... Mereka dengan enak memakan makanan di pesta panen raya itu, tapi melupakan orang tuanya yang telah renta hingga kelaparan.” ujar sang nenek.

Sambil menyeka air mata yang terus berlinang dan membawa kembali tubuhnya yang telah lemah, sang nenek kembali ke tempat tidurnya. Ada rasa sedih dan kecewa yang dia rasakan. Sang nenek terus mengeluarkan air mata. Dia selalu menangisi nasibnya yang malang.

Di tempat pesta panen raya, para penduduk bersuka cita dengan perut kenyang habis bersantap masakan yang lezat. Sang anak dari nenek tersebut akhirnya baru sadar dan teringat dengan ibunya yang malang. Sang anak lalu bertanya kepada istrinya, apakah dia sudah mengantarkan makanan untuk sang ibu.

“Istriku, apakah kamu telah megantarkan makanan untuk ibu ?” tanya sang suami kepada istrinya.

“Belum, suamiku,” kata sang istri.

Sang suami terkejut, lalu memerintahkan kepada istrinya untuk membawa makanan ke rumah. Makanan tersebut diperuntukkan bagi sang nenek.

“Bawalah makanan ini pulang, lalu berikan kepada nenek,” perintah sang anak kepada istrinya, sambil membungkus makanan hasil dari memasak ketika pesta panen raya.

Istrinya lalu memerintahkan anaknya untuk mengantarkan makanan tersebut.

“Tolong bawa makanan ini ke nenekmu !” perintah sang ibu kepada anaknya.

Sang cucu akhirnya segera pergi ke rumahya. Setelah sampai di rumah, sang cucu memberikan sebungkus makanan kepada neneknya. Alangkah bahagianya sang nenek, sebab anaknya masih ingat dengan ibunya. Namun, alangkah terkejutnya sang nenek. Setelah dia membuka bungkusan itu, ternyata isinya hanyalah sisa makanan. Sisa makanan tersebut terdiri dari tulang yang telah habis dagingnya dan nasi sisa habis dimakan. Sang nenek geram dengan perbuatan anaknya.

Sebenarnya nasi sisa yang diberikan kepada nenek tersebut akibat ulah cucunya. Sang cucu memakan nasi bungkus tersebut ketika di perjalanan menuju rumah sang nenek, lalu memberikannya kepada sang nenek setelah sampai di rumah.

Itulah akibat orang tua tidak mengajarkan cara menghormati sang anak kepada neneknya. Sehingga, nasi bungkus untuk sang nenek pun dilahap habis. Dengan rasa lapar yang mendera sang nenek serta perasaan kesal bercampur marah, air matanya pun sudah tidak dapat dibendung lagi. Sang nenek yang telah kesal dan merasa sangat lapar akhirnya mengutuk anak menantunya.

“Ya Tuhan, anak dan menantuku telah durhaka kepadaku. Berilah kutukan kepada mereka. Saya sudah tidak kuat menahan penderitaan akibat ulah mereka...,” doa sang nenek kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam sekejap, Desa Kawar didatangi gempa bumi yang sangat dahsyat. Penduduk yang pada saat itu sedang bersuka cita menikmati pesta panen raya tiba-tiba menjadi panik. Mereka tidak bisa menyelamatkan diri. Angin bertiup kencang. Langit menjadi gelap. Munculah petir yang menggelegar. Desa Lau Kawar akhirnya mengalami bencana yang sangat dahsyat. Hujan pun turun dengan derasnya.

Desa Kawar hilang ditelan bumi. Desa tersebut terkubur beserta para penduduknya. Hingga tersisa kawah besar yang digenangi air. Kawah tersebut akhirnya diberi nama Lau Kawar. 

Demikian cerita daerah dari Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Semoga ini bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

***

Albina selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Albina.

Albina beranjak dari duduknya sambil membawa bukunya, ya ke kamarnya untuk mengerjakan PR lah.

ASAL USUL DANAU MANINJAU

Amaliya selesai mengerjakan PR-nya, ya melanjutkan baca buku cerita dengan baik banget.

Isi buku cerita yang di baca Amaliya :

Cerita rakyat dari Sumatera Barat mengenai asal usul Danau Maninjau atau biasa dikenal juga dengan legenda Bujang Sembilan. Asal Mula Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah cinta antara Giran dan Siti Rasani. 

Alkisah, Sumatera Barat terdapat sebuah gunung sangat tinggi. Masyarakat setempat menyebutnya Gunung Tinjau. Di kaki Gunung Tinjau, terdapat sebuah perkampungan yang memiliki tanah subur. Penduduk setempat kebanyakan bermata pencarian menjadi petani. Masyarakat hidup makmur karena hasil panen selalu melimpah.

Di perkampungan tersebut tinggal sepuluh bersaudara dengan sembilan orang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, Kaciak dan yang perempuan bernama Siti Rasani. Kukuban menjadi kepala keluarga setelah kedua orang tua mereka meninggal. 

Kesepuluh bersaudara tersebut hidup bertetangga dengan keluarga Datuk Limbatang. Datuk Limbatang memiliki seorang anak laki-laki bernama Giran. Kedua keluarga tersebut biasa saling berkunjung. Suatu hari, Datuk Limbatang pergi berkunjung ke rumah keluarga Kukuban. Ia mengajak anaknya yaitu Giran. 

Saat itulah Giran bertemu Siti Rasani, adik bungsu Kukuban. Nampak keduanya saling jatuh cinta. Dengan hati berdebar Giran menyampaikan perasaannya kepada Siti Rasani.

“Sudah lama merendam selasih Barulah kini mau mengembang Sudah lama kupendam kasih Barulah kini bertemu pandang.”

“Telah lama orang menekat Membuat baju kebaya lebar Sudah lama abang terpikat Hendak bertemu dada berdebar.”

“Rupa elok perangaipun cantik Hidupnya suka berbuat baik Orang memuji hilir dan mudik Siapa melihat hati tertarik.”

“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.

Siti Rasani menyukai Giran dan ia membalasnya dengan sebuah pantun.

“Buah nangka dari seberang Sedap sekali dibuat sayur Sudah lama ku nanti abang Barulah kini dapat menegur.”

“Jika roboh kota Melaka Papan di Jawa saya tegakkan Jika sungguh Kanda berkata Badan dan nyawa saya serahkan.”

Semenjak saat itu, keduanya menjalin kasih. Karena khawatir menimbulkan fitnah, keduanya kemudian berterus terang kepada keluarga masing-masing. Beruntung, baik keluarga Datuk Limbatang maupun keluarga Kukuban menyetujui hubungan keduanya. Tidak lama semenjak perkenalan Giran dengan Siti Rasani, penduduk desa mengadakan acara syukuran karena hasil panen melimpah. 

Syukuran diadakan dengan membuat adu ketangkasan pencak silat. Baik Kukuban maupun Giran mengikuti acara tersebut. Pada perlombaan tersebut, Kukuban menunjukan kehebatannya. Ia berhasil mengalahkan lawan-lawanya. Tidak ada satupun lawan mampu mengimbangi Kukuban. Akhirnya sampailah pada pertandingan antara Kukuban melawan Giran.

Pada awal pertandingan, Kukuban dan Giran bertanding cukup sengit tapi juga seimbang. Tapi lama-kelamaan, Kukuban mampu mendesak Giran hingga Giran terlihat sangat kewalahan. Melihat Giran terlihat sudah terdesak, Kukuban pun melayangkan tendangan pamungkasnya ke arah dada Giran. Melihat serangan cepat tersebut, Giran tidak punya pilihan lain selain menangkis tendangan Kukuban menggunakan tangannya.

“Aduh, kakiku!”. Teriak Kukuban sambil tertatih menjauhi Giran. 

Tangkisan tangan Giran cukup keras sehingga membuat Kukuban merasa kesakitan. Pertandingan pun dihentikan dengan Giran dinyatakan sebagai pemenang. Ternyata Kukuban tidak bisa menerima kekalahannya. Ia merasa sangat sakit hati terhadap Giran. Beberapa hari kemudian Datuk Limbatang beserta istrinya mengunjungi rumah Kukuban bersaudara dengan tujuan melamar Siti Rasani untuk anak mereka, Giran. Semua kakak-beradik menerima kedatangan Datuk Limbatang sekeluarga. Mereka menyetujui pernikahan Giran dengan Siti Rasani kecuali Kukuban. Ia memilih berdiam diri di dalam kamar.

“Aku tidak setuju Sani menikah dengan Giran!” tiba-tiba Kukuban berteriak kemudian keluar dari dalam kamar.

“Kenapa Kukuban? Bukankah engkau menyetujui hubungan Sani dengan Giran?” tanya Datuk Limbatang.

“Giran adalah pemuda sombong! Dia sudah mempermalukanku di depan orang banyak pada pertandingan pencak silat. Pokoknya aku tidak setuju!” Kukuban berteriak.

“Baiklah kalau begitu. Kami akan pulang.” Datuk Limbatang sekeluarga kemudian pulang dengan tangan hampa.

Giran dan Sani tentu saja merasa sangat sedih. Mereka berdua kesal dengan tingkah laku Kukuban. Mereka berdua memutuskan untuk bertemu diam-diam membicarakan masalah ini. Saat bertemu, mereka berdua tidak banyak bicara karena bingung harus berbuat apa. Siti Rasani bangkit dari tempat duduknya karena bingung memikirkan hal ini, namun kain sarungnya tersangkut pada duri pohon hingga robek hingga melukai pahanya.

“Aduh kain sarungku robek!” teriak Sani.

“Wah, pahamu terkena duri, duduklah adik, biar Abang obati lukamu.” Giran pun segera menolong dengan mengusapkan obat pada paha Sani.

Kukuban beserta adik-adiknya keluar rumah mencari Sani yang lama tidak terlihat. Tibalah mereka di hadapan Giran dan Kukuban. Mereka sangat kaget ketika melihat Giran tengah mengusap paha Sani.

“Giran! Engkau memang pemuda tidak tahu sopan santun. Berani sekali engkau berbuat tidak senonoh pada adikku!” teriak Kukuban marah.

“Jangan salah sangka, aku hendak mengobati kaki Sani” Giran berusaha menjelaskan.

“Betul Kak, Giran sedang mengobati kakiku.” Ujar Sani.

Tapi Kukuban beserta saudara-saudaranya tak memperdulikan jawaban Giran. Mereka kemudian menyeret keduanya untuk diadili secara adat. Kukuban beserta saudara-saudaranya menggiring Giran dan Sani ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. 

Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka. Keduanya berteriak-teriak memohon ampun tetapi tidak ada yang mau mendengarkan. 

Dengan kedua mata terikat kain hitam, Giran & Sani diperintahkan untuk melompat ke dalam kawah Gunung Tinjau. Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa. 

“Ya Tuhan, jika kami memang bersalah, maka hancurkanlah tubuh kami di dalam kawah panas. Tetapi kami jika tidak bersalah maka letuskanlah Gunung Tinjau. Kutuk saudara-saudara Sani menjadi ikan.” 

Karena sudah pasrah dengan hukuman, Ia akhirnya meloncat ke dalam kawah. Tuhan mengabulkan doa Giran. Sesaat setelah mereka berdua melompat, tiba-tiba gunung bergemuruh akhirnya meletus dengan dahsyat. Lahar panas mengalir menghancurkan desa di kaki gunung tersebut. Bekas letusan gunung yang sangat dahsyat tersebut menghasilkan cekungan luas. Kini cekungan tersebut telah dipenuhi air. Cekungan gunung Tinjau menjadi sebuah danau. Kesembilan bersaudara, Kukuban beserta adik-adiknya, berubah menjadi ikan. 

Konon letusan Gunung Tinjau menyisakan kawah yang luas dan lambat laun terisi oleh air hujan dan menjadi sebuah danau. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Danau Maninjau. Sementara tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut diabadikan menjadi nama-nama daerah di sekitar Danau Maninjau seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, balok, Kukuban, dan Sungai Batang. 

Danau Maninjau terletak di provinsi Sumatera Barat, kecamatan Tanjung Raya kabupaten Agam, sekitar 140 kilometer dari sebelah utara kota Padang, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung. Dengan luas sekitar 99,5 km2 dan kedalaman 495 meter menjadikan Danau Maninjau sebagai danau kesebelas terluas di Indonesia dan terluas kedua di Sumatera Barat setelah Danau Singkarak. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera yang terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem sesar besar Sumatera yang bernama Gunung Sitinjau.

***

Amaliya selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Amaliya.

Amaliya menutup bukunya dan semua buku di rapihkan di meja belajar.

"Nonton Tv ah!" kata Amaliya.

Ameliya keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ayah dan ibu. Acara Tv yang sedang di tonton, ya sinetron tema anak-anak. Ameliya senang menonton Tv yang acaranya bagus banget.

MALIN KUNDANG

Anya selesai membantu ibu memasak di dapur. Anya duduk santai di ruang tengah, ya sambil baca bukunya.

Isi buku yang di baca Anya :

Cerita rakyat terkenal dari daerah Sumatera Barat, Malin Kundang. Seorang anak durhaka, malu mengakui ibunya karena miskin sehingga disumpahi oleh ibunya menjadi batu. Konon cerita ini terjadi di perkampungan pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat.

Alkisah hidup sebuah keluarga kecil miskin di perkampungan pantai Air Manis, pesisir pantai Sumatera Barat. Untuk penghidupan, sang ayah bekerja sebagai nelayan. Keluarga tersebut memiliki seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Sedangkan ibunya bernama Mande Rubayah. Sekian lama hidup dalam kemiskinan, sang ayah memutuskan untuk merantau ke negeri seberang dengan harapan mendapat kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Sepeninggal suaminya merantau, Ibu Malin Kundang, Mande Rubayah mengambil alih peran mencari nafkah ayah Malin Kundang. Ia sehari-hari bekerja menangkap ikan di pantai atau berkeliling kampung berjualan kue. Sementara sang ayah telah lama merantau untuk mencari kehidupan lebih baik bagi keluarganya, namun hingga kini belum juga kembali. 

Mande Rubayah beserta Malin menunggu kepulangan sang ayah tercinta namun telah satu tahun lamanya tidak ada kabar berita. Hal ini membuat Mande Rubayah dan anaknya Malin Kundang merasa sedih.

“Dimanakah ayah sekarang Bundo? Kenapa belum juga pulang?” Malin bertanya kepada ibunya.

“Ayahmu tengah merantau, mencari nafkah bagi kehidupan kita. Bersabarlah nak.” jawab ibunya.

Meski dibesarkan tanpa kehadiran sang ayah tercinta, Malin tumbuh menjadi anak cerdas dan mudah bergaul dengan siapa saja walaupun sedikit nakal. Ia sering mengejar-ngejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari, kaki Malin terantuk batu hingga terjatuh ketika tengah mengejar seekor ayam sambil memegang sapu. 

 Akibatnya lengan kanannya terluka dan luka tersebut berbekas tidak bisa hilang. Kehidupan miskin, membuat Malin Kundang ingin merantau. Ia berpikir jika berhasil dalam perantauannya, ibunya tak perlu lagi hidup dalam kemiskinan. Tidak perlu lagi berkeliling kampung berjualan kue. Malin Kundang kemudian meminta izin ibunya untuk merantau.

“Bundo, Malin tidak tega melihat Bundo setiap hari berjualan kue keliling kampung. Malin ingin membantu meringankan beban Bundo. Malin ingin merantau Bundo. Jika telah berhasil nanti, Bundo tidak perlu lagi hidup dalam kemiskinan. Izinkan anakmu ini untuk pergi merantau, untuk mencari penghidupan yang lebih baik.” kata Malin.

“Nak, Bundo mengerti keinginanmu untuk meringankan beban Bundo, tapi Bundo khawatir Engkau tidak kembali seperti ayahmu. Telah lama ayahmu pergi merantau, tetapi hingga kini belum juga kembali.” jawab Ibu Malin.

“Tetapi sampai kapan kita akan hidup miskin seperti ini Bundo? Malin ingin berhasil. Malin berjanji jika telah berhasil nanti, Malin akan pulang. Jika Malin tidak merantau maka kehidupan kita akan tetap seperti ini Bundo.” Malin memohon.

Mendengar keinginan anak kesayangannya, Mande Rubayah tak kuasa menolaknya, walaupun sebenarnya ia tidak setuju. Ia khawatir anaknya akan hilang di perantauan dan tidak kembali seperti terjadi pada ayahnya. 

“Baiklah anakku. Jika itu memang keinginanmu, Bundo tidak bisa menolaknya. Bundo akan selalu mendoakanmu nak, agar cita-citamu cepat tercapai. Dan berjanjilah Malin, jika engkau telah berhasil di perantauan, kembalilah pulang. Jangan sekali-kali lupakan Bundo.”

“Tidak Bundo. Malin tidak akan pernah melupakan Bundo tercinta. Justru Malin ingin merantau agar bisa berhasil. Malin ingin Bundo bisa hidup berbahagia.” jawab Malin Kundang. 

Malin merasa senang karena ibunya akhirnya mengizinkan dirinya merantau. Sejak saat itu, setiap hari Malin pergi ke pantai Air Manis berharap ada kapal berlabuh. Ia telah bertekad kuat untuk pergi merantau demi penghidupan yang lebih baik. Suatu hari, sebuah kapal dagang berlabuh di pantai Air Manis. Betapa gembiranya hati Malin Kundang ketika melihat ada kapal dagang tengah berlabuh di Pantai Air Manis. Ia meminta izin nahkoda kapal untuk menumpang kapal tersebut. 

“Wahai Nahkoda kapal yang mulia. Izinkanlah hamba untuk menumpang kapal ini. Hamba sangat ingin merantau agar bisa membahagiakan ibu hamba.” kata Malin.

“Baiklah anak muda, Engkau boleh menumpang di kapal ini dengan syarat Engkau mau membantu pekerjaan para awak kapal.” Nahkoda kapal tersebut mengizinkan Malin menumpang kapalnya.

“Terima kasih Nahkoda kapal yang budiman. Hamba akan pulang sebentar untuk membawa bekal dan memberitahu ibu hamba.” jawab Malin.

Malin segera berlari ke rumahnya guna memberitahu ibunya bahwa ia akan segera pergi berlayar. 

“Bundo, Malin mendapat izin dari Nahkoda untuk menumpang kapal. Malin mohon pamit Bundo untuk pergi berlayar mencari penghidupan yang lebih baik. Malin berjanji akan kembali setelah berhasil Bundo.”

“Baik-baiklah di rantau Nak. Bekerja keras dan jujurlah agar hidupmu berhasil.” Ibu Malin menasihati sambil berlinang air mata. 

Setelah berpamitan kepada ibunya, Malin Kundang akhirnya pergi berlayar untuk merantau. Hanya berbekal sedikit uang dan tujuh bungkus nasi, Malin memulai pengembaraannya. Selama berlayar, Malin Kundang banyak membantu nahkoda kapal melakukan perkerjaan-pekerjaan sehari-hari seperti menyapu, mengepel, membersihkan peralatan kotor dan berbagai pekerjaan lainnya. 

Sementara itu juga, Malin banyak mempelajari berbagai hal ilmu pelayaran. Nahkoda kapal dan awak kapal senang berbagi pengalaman mereka kepada Malin. Tidak disangka kejadian buruk menimpa kapal tersebut. Bajak Laut menyerang kapal dagang tersebut. Malin Kundang bersembunyi di sebuah ruangan kecil tertutup tumpukan kayu. 

Para perompak membunuh nahkoda kapal beserta seluruh awaknya. Para perompak juga merampas seluruh harta benda di kapal tersebut. Beruntung, Malin Kundang selamat dari serangan Bajak Laut tersebut. Kapal tersebut kemudian terombang-ambing di lautan. Malin memasrahkan nasibnya pada Tuhan. 

Akhirnya kapal tersebut terdampar di sebuah pantai. Ia kemudian berjalan menuju desa terdekat dari pantai tersebut. Orang-orang di desa tersebut segera menolong Malin. Ia sangat bersyukur karena orang-orang di desa mau menolongnya. Setelah agak sehat, Malin menceritakan perihal dirinya yang menumpang kapal untuk pergi merantau, namun di pertengahan jalan kapal yang ditumpanginya diserang bajak laut. 

Penduduk desa kemudian mempersilahkan Malin untuk tinggal di desa mereka. Malin Kundang akhirnya memutuskan untuk tinggal di desa tersebut. Malin kemudian berkerja serabutan di desa tersebut. Ternyata desa tersebut memiliki alam sangat subur. Ia berkerja sangat keras dan sangat hemat. Sebagian penghasilannya dari kerja serabutan tersebut ia tabung. 

Ketika tabungannya sudah cukup banyak, ia lantas mencoba berdagang. Orang-orang senang bertransaksi jual beli dengannya karena kejujurannya. Dalam bekerja, Malin selalu teringat akan nasihat ibunya yang memintanya untuk bersikap jujur dan bekerja keras.

Singkat cerita, Malin Kundang kini telah berubah menjadi seorang saudara kaya raya. Ia mulai mengadakan perdagangan ke desa-desa lainnya bahkan antar pulau. Untuk keperluan perdagangan antar pulau, ia menyewa kapal-kapal dagang. Setelah perdagangannya makin membesar, ia akhirnya mampu membeli kapal-kapal dagang sendiri. 

Lebih dari seratus orang bekerja padanya. Kekayaannya sangat banyak dan tidak ada saudagar di desa tersebut dapat menyaingi kekayaannya. Ia lantas menikahi gadis paling cantik di desa tersebut, putri dari keluarga kaya raya. Sementara, di Perkampungan Pantai Air Manis, Mande Rubayah, ibunda Malin Kundang, terus menunggu kabar anaknya. Ia sangat khawatir jika anaknya bernasib sama seperti ayahnya yang hilang entah dimana. 

Setiap ada kapal berlabuh di Pantai Air Manis, Mande Rubayah akan segera mencari tahu apakah anaknya berada di kapal tersebut. Namun telah sekian lama anaknya tidak juga terlihat. Pada suatu hari, Mande Rubayah mendengar kabar ada sebuah kapal dagang berlabuh di Pantai Air Manis. Ia segera berlari ke pelabuhan untuk mencari tahu apakah anaknya ada di kapal tersebut. 

Detak jantung Mande Rubayah kian cepat saat dari kejauhan ia melihat anaknya berdiri bersama seorang perempuan cantik di kapal dagang mewah tersebut. Ia benar-benar yakin bahwa orang itu adalah anaknya, Malin Kundang, karena di lengan kanannya ada bekas luka sewaktu terjatuh mengejar ayam dahulu. Mande Rubayah bertambah gembira saat orang-orang berseru bahwa Malin Kundang adalah pemilik kapal dagang mewah tersebut. Malin Kundang yang berpakaian mewah kemudian menuruni kapal. Mande Rubayah segera berlari mendekati Malin. Tanpa basa-basi Ia langsung memeluknya anaknya erat-erat. 

“Malin anakku, kenapa lama sekali tak ada kabar darimu Nak? Bundo sangat khawatir. Bundo senang akhirnya engkau pulang kembali dengan selamat.”

Malin melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya dengan kasar hingga terjatuh. 

“Hai perempuan tua miskin tidak tahu sopan santun, Siapakah engkau? Berani-beraninya memelukku.” bentak Malin pada Ibunya.

Malin Kundang sesungguhnya mengetahui pasti bahwa perempuan tua miskin yang memeluknya itu adalah ibu kandungnya, Mande Rubayah. Namun ia dihinggapi rasa malu luar biasa karena ibunya terlihat sangat miskin dengan pakaian lusuh. Ia malu pada istri dan anak buahnya karena memiliki ibu miskin.

“Malin apa katamu? Engkau tak mengenal ibumu sendiri Nak? Aku Mande Rubayah, ibu kandungmu Malin. Bundo yakin Engkau adalah Malin anak Bundo. Di tangan kananmu ada luka Malin.” Mande Rubayah sangat terkejut dengan sikap anaknya.

“Kakanda, perhatikan dahulu baik-baik apakah ibu tua itu adalah ibu kandung kakanda. Jangan langsung mengusir secara kasar begitu.” Istri Malin mengingatkan suaminya.

“Dia bukan ibu kandungku. Ia hanya seorang pengemis tua mengaku-ngaku sebagai ibuku karena aku saudagar kaya-raya. Ibu kandungku telah lama meninggal sewaktu aku masih kecil. Pergi engkau menjauh dari kapalku! Pergilah jauh-jauh!” Teriak Malin seraya mendorong ibu kandungnya hingga jatuh terjerembab.

Hati Mande Rubayah sangat sakit hati dengan perlakuan Malin, anak kandungnya tercinta. Ia segera pergi menjauh dari Malin Kundang. 

Kemudian Mande Rubayah mengangkat tangannya ke atas kemudian berdoa, “Ya Tuhan, sekiranya lelaki yang tidak mau mengakui hamba sebagai ibu kandungnya dan mendorong hamba hingga jatuh  adalah benar-benar anakku, Malin Kundang, maka aku sumpahi ia berubah menjadi batu.”

Tidak lama kemudian Malin kembali ke kapal dagang mewahnya. Ia memerintahkan anak buahnya agar pergi dari Pantai Air Manis. Saat itu langit terlihat cerah dan angin bertiup sepoi-sepoi. Kapal dagang tersebut perlahan-lahan pergi meninggalkan Pantai Air Manis. Tapi tak lama kemudian kejadian aneh terjadi. 

Angin badai datang tiba-tiba lalu menghantam kapal dagang milik Malin. Begitu hebatnya badai dan besarnya ombak di lautan, kapal Malin hancur berkeping-keping seketika. Tubuh Malin Kundang terseret ombak kemudian terdampar kembali di Pantai Air Manis. Tidak lama kemudian tubuhnya berubah menjadi batu dalam kondisi tengah bersujud meminta ampun pada ibunya. 

Malin Kundang, anak durhaka yang malu mengakui ibu kandungnya, kini telah menerima azab berubah menjadi batu. Kisah seorang anak durhaka yang menjadi batu di pantai Air Manis telah membuat pantai Air Manis yang tenang menjadi lokasi wisata yang ramai. 

Namun, batu Malin Kundang di pantai Air Manis yang menyerupai sesosok pria yang tengah bersujud, sejatinya tidak terbentuk secara alami, tetapi merupakan relief batu hasil karya Dasril Bayras dan Ibenzani Usman yang dibuat pada tahun 1980.

Pantai Air Manis terletak di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat. Berjarak 15 km dari pusat Kota Padang, Sumatera Barat. Dari Bandara Internasional Minangkabau, pengunjung bisa pergi ke Air Manis melalui Kota Padang. Pasirnya berwarna putih kecoklatan. Tidak jauh dari tepian pantai Air Manis, terdapat sebuah pulau kecil seluas sekitar satu hektar bernama pulau Pisang. 

Jika air sedang surut, kita bisa berjalan kaki dari pantai Air Manis ke pulau Pisang. Namun kita harus segera kembali ke pantai Air Manis, karena hanya dalam beberapa jam, air kembali pasang jadi kita tidak bisa kembali kecuali naik perahu. Para pengunjung bisa menyewa perahu motor untuk mengunjungi pulau Sikuai yang berada di sebelah pulau Pisang. Untuk urusan makanan tidak perlu kuatir, karena di dekat pantai ada restoran yang menjual ikan bakar, nasi kapau maupun makanan lainnya.

***

Anya selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus," kata Anya.

Anya menutup bukunya dan menaruh buku di meja dengan baik. 

"Nonton Tv aja!" kata Anya.

Anya mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton Anya, ya sinteron sih. Remot di taruh di meja sama Anya. Ya Anya terus asik nonton sinetron yang tema cerita anak-anak yang bagus itu.

KENDI YANG BERISI UANG PERAK

Wu Qian selesai membantu ibunya beres-beres rumah. Wu Qian duduk santai di ruang tengah, ya sambil baca buku dengan baik sih.

Isi buku yang di baca Wu Qian :

Ada seorang petani yang hidupnya miskin. Setiap hari ia berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberikan uang perak kepadanya. Hingga suatu hari, petani itu pergi ke ladangnya. Celananya robek terkena pohon berduri. Lelaki itu lalu mencabut tanaman berduri itu. Hal itu dilakukannya agar duri di pohon itu tak mengenai orang lain yang lewat. Saat petani mencabut tanaman itu, ia melihat sebuah kendi berisi uang perak yang tertanam di hawah tanaman tersebut. Alangkah senang hati petani itu.

“Tetapi, sepertinya ini bukan uang untukku. Ini milik orang lain.” ujar si Petani. Ia pun meninggalkan kendi berisi uang perak itu di tempat semula.

Sesampainya di rumah, si Petani menceritakan hal itu pada istrinya. Sang istri pun memarahinya.

“Harusnya kau membawa uang perak itu ke rumah! Itu rezeki kita,” seru istrinya.

“Kalau memang rezeki kita, pasti uang itu akan kembali pada kita,” jawab si Petani.

Istrinya menceritakan hal itu kepada tetangganya. Tetangganya mau mengambil uang perak itu, asalkan uang itu dibagi dua dengannya. Istri petani pun menyetujuinya. Tetangganya pergi ke ladang milik petani. Di sana ada sebuah kendi. Namun, kendi itu bukan berisi uang perak, tetapi berisi ular yang sangat besar. Tetangganya berpikir bahwa istri petani ingin mencelakainya.

“Rupanya istri petani itu membodohiku.” ujar si Tetangga.

“Akan aku lemparkan kendi ular ini ke rumah petani itu,” dengusnya.

Si Tetangga lalu membawa kendi berisi ular tersebut. Sesampainya di rumah Petani, ia melemparkan kendi itu ke rumah tersebut. Kendi itu masuk ke cerobong perapian rumah petani. Petani dan istrinya kaget mendengar sesuatu yang jatuh di perapian rumahnya. Mereka pun memeriksanya.

“Apa yang terjadi dengan perapian kita?” tanya Istri Petani.

“Sepertinya ada yang melempar sesuatu ke rumah kita,” jawab Petani.

Petani itu langsung memeriksa perapiannya. Alangkah kagetnya ia saat menemukan kendi yang ia tinggalkan di ladangnya.

“Ini adalah kendi yang ada di ladangku. Tetapi kenapa kendi ini bisa berada di sini?” ujar Petani, bingung. Ia melihat ke dalam kendi. Ada banyak uang perak di sana, bukan ular.

“Itu berarti kendi berisi uang perak itu adalah rezeki kita,” jawab Istri Petani.

Petani itu setuju dengan istrinya. Dia dan istrinya sangat senang. Dengan uang perak itu, mereka tidak akan hidup kesusahan lagi.

“Terima kasih,Tuhan. Engkau telah mengabulkan doaku selama ini,” ucap Petani.

***

Wu Qian terus membaca bukunya dengan baik sampai pesan moral yang di tulis dengan baik di buku yaitu tuhan menyayangi orang-orang yang selalu berdoa kepada-Nya.

Wu Qian selesai membaca bukunya, ya memahami apa yang ia baca dengan baik dan buku di taruh di meja.

"Cerita yang bagus asal cerita dari Afganistan," kata Wu Qian.

Wu Qian beranjak dari duduknya, ya keluar dari rumah untuk bermain dengan teman-temannya di lapangan gitu.

KAYA CERITA MAINAN SAJA

Indro nonton Tv di ruang tengah, ya dengan santai banget gitu sih. Kasino selesai urusan kerjaannya, ya keluar dari kamarnya ke ruang tengah untuk nonton Tv. Dono duduk santai di ruang tamu, ya asik baca bukunya. Kasino duduk di sebelah Indro. Tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan dari mesjid tentang orang meninggal. Dono, Kasino dan Indro mendengar pemberitahuan itu dan berkata bersamaan "Inalilahi wainalilahi rojiun."

Dono melanjutkan baca bukunya karena orang yang meninggal itu, ya tidak di kenal Dono begitu juga dengan Kasino dan Indro tetap nonton Tv karena orang yang meninggal itu tidak di kenal Kasino dan Indro. Berita di Tv tentang Donasi Rp 2 Triliun sih.

"Kasino. Heboh beritanya tentang donasi Rp 2 Triliun," kata Indro.

"Ceritanya jadinya....prank kata di berita," kata Kasino.

"Kaya cerita mainan saja ya. Contohnya kaya gini sih : Aku punya uang Rp 2 Triliun, ya aku sumbangin ke Kasino. Jadinya aku di sebut orang dermawan," kata Indro.

"Aku kaya. Indro miskin kan. Karena semua hartanya di sumbangkan ke aku untuk mengurus masalah tentang orang-orang yang butuh bantuan gitu," kata Kasino.

"Ya aku tidak miskinlah Kasino. Kan aku khayalin saja uang Rp  2 Triliun lagi!" kata Indro.

"Iya juga ya. Uang khayalan. Permainan dari kecil sampek dewasa tentang jadi orang kaya yang dermawan ini dan itu," kata Kasino.

"Jadi berita di Tv tentang donasi Rp 2 Triliun itu...sama kan dengan permainan anak-anak kan Kasino?!" kata Indro.

"Sama banget!" kata Indro.

Indro dan Kasino terus berita di Tv dengan baik. Berita berganti dengan hewan yang katanya terkait dengan covid-19.

"Beritanya tentang hewan di kaitan dengan covid-19. Ya antara kena atau tidak ya Kasino?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Kaya permaina kita ya Kasino?!" kata Indro.

"Yang mana?!" kata Kasino.

"Burung yang terbang di langit itu terkena covid-19 karena menceloknya di tubuh manusia yang meninggal karena covid-19," kata Indro.

"Burung itu menyebarkan covid-19 kesana kesini," kata Kasino.

"Burung itu mencelok di atep rumah kita, ya mati tuh burung karena penyakit," kata Indro.

"Pertanyaannya. Burung itu mati karena kelelahan apa karena penyakit covid-19 atau flu burung?!" kata Kasino.

"Matinya tuh burung di tembak Dono dengan menggunakan senapan gitu," kata Indro.

"Aku kirain. Itu burung mati karena patah hati kaya kisah para manusia yang sakit hati karena cinta, ya mati karena tekanan batin gitu," kata Kasino.

"Maunya sih gitu sih. Cuma permainan, ya Kasino?!" kata Indro.

"Yo,...i," kata Kasino.

Kasino terus nonton Tv dengan baik banget. Berita Tv memberitakan tentang Astrologi.

"Cerita tentang perbintangan bagus juga ya Kasino?!" kata Indro.

"Tentang bintang ini dan itu, ya ada kaitan tentang ramalan ini dan itu sih," kata Kasino.

"Tetap saja tidak perlu percaya ramalan ini dan itu. Hidup harus berjuang dengan baik untuk mencapai impian jadi kenyataan dengan baik, ya kan Kasino," kata Indro.

"Omongan Indro benarlah!" kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Tetap saja. Kita harus beradaptasi dengan keadaan seperti sekarang ini. Masih kaitan dengan covid-19," kata Indro.

"Ujian. Covid-19 itu. Manusia yang kuat, ya bisa bertahan dari segala keadaan apa pun untuk bertahan hidup demi tujuannya tercapai," kata Kasino memotivasi.

"Jadi manusia yang kuat. Omongan Kasino bener!" kata Indro menegaskan omongan Kasino.

Indro dan Kasino terus nonton Tv dengan baik. Berita memberitakan tentang game.

"Gamenya...bagus banget!" kata Indro yang antusias banget.

"Kenyataannya seperti itu," kata Kasino.

"Aku suka game, ya tertarik banget gitu!" kata Indro.

"Yo....,i," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus nonton Tv dengan baik, ya sampai acara berita berganti ke acara berikutnya....pokoknya bagus gitu. Dono di ruang tamu tetap baca buku dengan baik.

KISAH EMPAT BONEKA

Najwa selesai mengerjakan PR-nya dan di lanjutkan dengan membaca buku dengan baik.

Isi buku yang baca Najwa :

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pembuat boneka, ia tinggal bersama puteranya yang bernama Aung. Sang ayah sangat menginginkan anaknya bisa seperti ayahnya yang seorang pembuat boneka, tetapi bagi anaknya menjadi seorang pembuat boneka ialah pekerjaan yang sangat membosankan. 

Pada suatu ketika Aung berbicara kepada ayahnya, "Ayah, aku tidak ingin menjadi seperti ayah dan aku ingin mencoba mencari keberuntunganku diluar sana.”

“Nak, asal kamu tahu membuat boneka ialah suatu pekerjaan yang mulia. Dan ayah sangat senang kau tinggal bersama ayah disini.” jawab sang ayah. “Tetapi kalau kau masih ingin memaksa untuk pergi dan meninggalkan ayah, tolong bawalah ini untuk menemanimu selama diperjalanan dan tolong jaga baik-baik pemberian ayah ini."

Diberikannya empat buah boneka oleh ayahnya yang sudah dipahat, diberi cat dan dipakaikannya baju yang indah sehingga saat dilihat sangat bagus.

“Beberapa boneka yang diberikan ayahnya memiliki keistimewaan dan makna tersendiiri.”

"Pada boneka pertama disebut raja dewa. Sang pembuat boneka menerangkan bahwa pada boneka yang disebut raja dewa memiliki kelebihan yang kebijaksanaan.”

Berikutnya untuk boneka kedua ialah raksasa berwajah hijau. Yang mempunyai arti Raksasa yang menyimpan kekuatan. Dan untuk boneka yang ketiga ialah boneka peramal. Dengan memiliki arti peramal yang akan memberikan pengetahuan. Dan untuk pemberian boneka yang terakhir kepada Aung ialah pertapa suci, yang memiliki arti bahwa boneka itu akan membawa kebaikan.

Sang ayah juga memberikan pesan kepada Aung, “Kau harus inget, semua boneka ini bisa membantumu di dalam perjalanan. Namun didalam diri kamu harus didasari kebijakan dan kebaikan yang tulus karena  setiap kekuatan dan pengetahuan.

Keesokan harinya Aung pergi dan ia membawa sebatang tongkat bambu, yang pada satu ujung bambunya ia ikat dengan bungkusan yang berisi pakaian dan makanan. Kemudian di ujung yang satu lagi digantungkan boneka-boneka yang diberikan dari sang ayah.

Malam pun telah tiba dan Aung sudah sampai di tengah hutan, kemudian dirinya berhenti di bawah sebatang pohon. Sambil berkata dalam hati, “Wah tempat ini sangat nyaman untuk bermalam disini, namun apakah tempat ini cukup aman untukku bermalam disini?", baiklah untuk lebih meyakinkan lagi, aku akan bertanya kepada salah satu boneka yang diberikan ayah.“

Sambil tersenyum dan berkata kepada boneka dewa, "Tolong katakan dan beritahu aku, apakah tempat ini aman untukku bermalam disini?"

Setelah Aung berkata dan tiba-tiba boneka tersebut hidup, kemudian lompat dari tongkat bambu dan berubah menjadi besar sehingga berukuran seperti manusia.

Boneka dewa itu menjawab, “Aung, cobalah kau buka mata serta lihat di sekitarmu. Karena seperti itulah yang akan menjadi langkah pertamamu dalam kebijaksanaan. Apabila sekitarmu tidak ada yang tepat maka yang lainya akan menyesatkannmu.”

Pada hitungan detik, boneka tersebut kembali kebentuk semula dan tergantung pada tongkat bambu yang Aung bawa. Setelah boneka dewa itu kembali kebentuk semula, kemudian Aung melihat dan mengamati disekelilingnya. Terlihat jejak harimau pada tanah yang lembek. Dan akhirnya pada malam itu Aung menaiki pohon dan tidur di atas cabang pohon tersebut. Pada saat tengah malamnya, tiba-tiba datang seekor harimau yang sedang berkeliaraan dibawah pohon. Dimana pohon tersebut menjadi tempat tidurnya.

Ketika matahari tenggelam di barat keesokan harinya, Agung telah tiba di lereng pegunungan, dan ia pun segera mendirikan kemah. Esok harinya ketika matahari terbit di sebelah timur, ia  melihat iring-iringan kereta sewaktu terbangun dari tidurnya di jalan tepat dibagian bawah dimana kemahnya berdiri. Kereta itu dipenuhi dengan barang-barang yang tak ternilah, dan dia melihat ada 12 kereta.

“Seorang juragan pedagang kaya raya sepertinya memiliki kereta-kereta ini,” demikian batin Aung pada berkata dengan hati kecilnya sediri. “Jika saja aku memiliki harta yang melimpah seperti itu.”

Ia pun mengajukan pertanyaan kepada seorang raksasa berwajah hijau. “Bagaimana caranya agar aku bisa memiliki barang berharga sebanyak itu?”

Raksasa itu berubah wujud menjadi seukuran manusia ketika turun dari tongkat.  “Jika kamu mampu, kamu bisa mengambil harta apapun yang kau harapkan bila mempunyai cukup kekuatan seperti ku. Cobalah lihat apa yang kuperbuat” katanya. Kakinya ia hentakkan ke muka bumi, dan tanah pun berguncang.

"Tahan dulu!" Aung berteriak, namun teriakannya terlambat. Tanah dan batu-batu berjatuhan menyusuri gunung dan jalanan dibagian bawah tertutup karenanya. Kereta-kereta itu ditinggalkanoleh para kusir yang ketakutan dan melarikan diri tunggang langgang.

“Coba kau lihat?” kata raksasa.

“Apakah itu semua terlihat mudah?” kata Aung dengan terkesima.

Aung langsung mendatangi kereta-kereta tersebut dan didalam kereta itu berisi tumpukan kain-kain yang sangat mahal dan logam mulia, sehingga Aung terkagum-kagum melihat itu semua dan berkata " Apakah semua ini milikku?"

Terdengarlah suara tangisan didalam salah satu kereta itu, saat Aung mencoba melihatnya kedalam. Aung sangat kaget, ternyata ada seorang wanita cantik yang seumuran dengan dirinya. Wanita itu tersedu-sedu mengeluarkan air mata dan tubuhnya menggigil ketakutan.

“Tenang, aku tidak akan melukaimu. Siapa kamu?” kata Aung

“Aku Mala,” jawab wanita itu dengan suara yang lirih. “Dan aku sedang melakukan perjalanan untuk bisa bertemu dengan ayahku, ayahku yang mempunyai kereta ini loh.”

Kemudian jatuh cintalah Aung kepada wanita tersebut. “Tidak usah khawatir, aku akan menajagamu dan kamu akan ikut bersamaku.”

Tetapi Mala hanya terduduk dengan rasa marah dan berkata, "Kau pencuri, kau sudah mengambil semuanya dan sekarang kau ingin mengambilku. Aku tidak ingin berbicara denganmu apalagi harus ikut bersamamu!"

Raksasa itu berkata setelah mendengar wanita tersebut berbicara, “Tenang Aung, wanita itu sebentar lagi akan berubah pikirannya. Yang terpenting saat ini, kau sudah mendapatkan semua apa yang kau inginkan. Lebih baik searang kita pergi dari sini.”

Pergilah mereka meninggalkan pegunungan dan sampai di ibu kota. Selama perjalan raksasa itu pun membersihkan jalanan dari longsoran dan juga membantu Aung untuk memimpin kereta tersebut.

"Dengan harta sebanyak ini, apa yang mesti aku perbuat?" Aung bertanya kepada raksasa.

“Aku pun tidak tahu, coba kau bertanya kepada si peramal" jawab si raksasa.

Dengan cepat Aung langsung bertanya kepada peramal, “Apakah kau bisa memberitahuku untuk apa harta sebanyak ini?”

Seperti boneka-boneka lainnya saat diperlukan berubah menjadi hidup. Mala sangat kaget melihat boneka peramal itu bisa hidup. “Kalau kau masih menginginkan harta-hartamu meningkat, kau wajib belajar ilmu rahasia alam,” kata peramal.

Diketuklah Aung dengan tongkat ajaib miliknya dan membawa terbang ke udara. Dipandanya dari atas udara oleh Aung untuk bisa melihat tanah manakah yang subur untk bertani, serta gunung manakah yang terlihat mengandung emas dan perak.

“Wahh hebat sekali ini,, dan aku lagi membayangkan seandainya aku bisa menolong semuanya dengan apa yang sekarang aku miliki” kata Aung.

“Sangat bisalah kau melakukan dengan apa yang sekarang kau miliki, tapi kenapa kau tidak simpan sendiri saja rahasia ini?" jawab peramal.

Akhirnya mereka pun langsung pergi ke ibu kota. Saat berada di kota, Aung menjadi pedagang yang berhasil berkat bantuan dari raksasa dan peramal itu. Semua kekayaan miliknya bertambah menjadi bertlipat ganda. Setelah itu Aung membuat istana yang megah untuk mala dan dirinya tinggal. Tetapi Aung tidak merasakan kebahagiaan, sebab sampai saat ini mala masih tidak ingin berbicara dengannya.

Pada suatu ketika dibelikanlah sebuah mahkota yang sangat indah dan malah untuk mala. Terbuat dari emas dan dihiasi batu-batu permata sehingga terlihat indah. Tetapi yang dilakukan oleh Mala hanya acuh kepada mahkota tersebut.

Seperti jatuh dari atas gunung apa yang dirasakan oleh Aung mendapatkan sikap dari Mala dan Aung berkata kepadanya, "Apakah kamu benar-benar tidak tahu kalau diriku sangat mencintaimu?." Lagi-lagi Mala hanya terdiam, tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya.

Keesokan harinya Aung berkata kepada raksasa dan peramal. "Sampai sekarang Mala masih belum ingin berbicara kepada ku. Dan sekarang keadaan ku kan lebih kaya tidak seperti ayahnya yang miskin. Mala sangat kehilangan ayahnya, dan aku berniat akan membantunya untuk bertemu dengan ayahnya karena ini semua juga kesalahan sudah mengambil semua yang dia punya. Semoga dengan niat baikku, dia akan luluh untuk berbicara kepada ku dan akan belajar mencintaiku."

“Heiii Aung, itu bukan ide yang bagus untuk kamu lakukan. Dan tidak boleh ada satupun yang harus kamu serahkan dengan harta yang kamu miliki sekarang,” kata raksasa.

“Kau sudah terlambat Aung,” kata peramal. “Semalam Mala sudah pergi untuk meninggalkanmu.”

Aung terkaget-kaget, kemudian dirinya langsung mencari ke semua ruang rumah tetapi Mala tetap tidak ada. 

Setelah ia mencari Mala, Aung datang lagi ke raksasa dan peramal. “Semua kekayaanku tidak ada artinya kalau aku harus kehilangan orang yang paling aku cintai!!” katanya putus asa.

Raksasa dan peramal kali ini hanya terdiam, tidak dapat berbicara sedikitpun. 

Masih ada boneka yang belum pernah di panggilnya, kemudian Aung memanggil dan berkata kepadanya. Hai boneka pertapa suci, aku ingin bertanya kepadamu dan tolong katakan kepadaku "kenapa semuanya berakhir seperti ini, aku mendapatan kekayaan tetapi aku harus kehilangan orang yang sangat berarti untukku?"

“Aung, Kau menginginkan banya harta selalu menghadirkan kebahagiaan. Yang perlu kau tahu ialah, suatu kebahagiaan tidak dapat di lihat dari banyaknya harta yang kau miliki tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya ialah sesuatu yang kau lakukan dengan tulus.”

Raja dewa boneka yang ada di samping pertapa datang dan berkata kepada Aung, "Ada yang kau lupakan dari pesan yang diberikan ayahmu. Harusnya kau ingat pesannya, tidak hanya kekuatan dan pengetahuan saja yang berguna melainkan kau harus dapat di imbangi dengan kebijakan dan kebaikan dengan begitu kau akan mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya."

"Baiklah aku tidak akan melupakan hal itu.”

Setelah kejadian yang telah menimpa, Aung memanfaatkan kekayaan dan bakatnya untuk perllakuan yang baik. Kemudian Aung membangun sebuah pagoda suci yang sangat luas dan menyediakan suatu tempat makan dan istirahat bagi orang-orang yang datang tempat suci tersebut.

Pada siang hari di antara banyaknya para pengunjug, Aung melihat sesosok wanita muda cantik yang sudah dikenalnya dan seorang pria yang sudah tua. Mereka berdua memakai baju yang sangat sederhana.

“Mala, Aung pun berlari mendatangi wanita muda cantik tersebut dan sesampai di hadapannya Aung langsung bersujud dan ayahnya mala pun melihatnya dengan terkejut.”

“Aku minta maaf kepada tuan, aku sudah melakukan kesalahan kepadamu yang sudah merebut semua yang tuan miliki. Dan sekarang aku ingin mengembalikannya kepadamu, kemudian aku akan pulang ke kampung halamanku dan membantu ayahku membuat boneka.”

“Ayah, dia Aung. Dia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya kepada kita” Mala berbicara pelan kepada ayahnya.

“Nak, bagaimana dia bekerja untuk kita dan hidup bersama kita" kata ayah.

Akhirnya Aung menjadi orang kepercayaan sang pedagang dan menjadi teman bisnisnya. Dengan kegigihan dan kesabarannya Aung untuk mengambil hati anaknya sang pedagang, Mala pun akhirnya jatuh cinta kepadanya. Tetapi dengan keberhasilannya Aung saat ini, ia tidak melupakan boneka-boneka pemberian dari ayahnya. Meskipun, Aung masih meminta bantuan kekuatan dan pengetahuan para bonekanya, Aung juga tidak lupa mengimbangi dengan kebijaksanaan dan kebaikan.

***

Najwa selesai membaca bukunya.

"Bagus cerita asal dari Myanmar," kata Najwa.

Najwa menutup bukunya dengan baik dan menaruh buku di meja dengan baik.

"Nonton Tv," kata Najwa.

Najwa keluar dari kamarnya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama orang tua. Acara Tv yang sedang di tonton ayah dan ibu, ya film sih......Samson dan Delilah.

NIKMATNYA SUP BATU

Lela selesai membantu ibunya mencuci dan menjemur pakaian gitu. Lela santai di ruang tengah, ya membaca buku cerita yang di sukai Lela.

Isi buku yang di baca Lela :

Tersebutlah kisah seorang prajurit yang baru pulang dari medan perang, dan sampailah sang serdadu itu di sebuah perkampungan. Dengan langkah kaki yang gagah sang prajurit itu berjalan, memilih rumah yang dianggapnya bagus di kampung tersebut. Maklumlah sang prajurit itu sudah beberapa hari hanya berjalan di hutan belantara dan gurun yang gersang. Ingin sekali rasanya dia mencicipi makanan orang rumah. Maka sampailah di sebuah rumah, yang menurut dia pasti rumahnya orang kaya yang banyak makanannya. Diketuklah pintu rumah itu resebut, dan sang prajurit meminta makanan kepada tuan ruamh tersebut. "Maap tuan prajurit kami tidak mempunyai makanan yang cukup untuk dibagikan," begitulah jawaban yang diterima sang serdadu dari yang si empunya rumah.

Tidak menyerah sampai disitu sang serdadu terus melangkah mendekati rumah yang lainnya. Setelah itu sampailah di pojokkan kampung tersebut disana ada sebuah rumah yang cukup besar dan yang lebih menarik dari rumah itu adalah kebersihan. Begitu resik dan asri sekali rumah itu, pasti yang tinggalnya orang yang sangat mengerti tentang kesehatan, membatin sang serdadu dalam hatinya. "Maap Tuan, saya mampir kerumah tuan hanya meminta sedikit makanan," kata si prajurit kepada tuan rumah itu. Namun jawaban yang diterima tidak jauh beda dari rumah yang pertama dia pinta makanannya, tetapi tuan rumah ini ada sedikit ramah dalam tutur katanya. "Maap tuan kamipun tidak punya makanan yang bisa kami makan," kata sang tuan rumah itu.

"Tidak apa-apa kalau tidak punya makanan, tetapi apakah Bapak punya periuk untuk masak?" tanya sang prajurit itu kepada tuan rumah itu. Sang tuan ramah mengambilkan periuk masak dan memberikannya kepada sang serdadu yang kelaparan itu. "Tolong periuk masak ini di isi air dan dimasak di perapian, setelah mendidih nanti akan saya masakan sup yang paling enak," ucap prajurit ini.   

Diletakannya periuk masak yang sudah diisi dengan air itu dia atas perapian, setelah perapian itu menyala, sang prajurit memasukan pula sebuah batu kedalam periuk masak itu. Tentu saja sang tuan rumah merasa heran dengan apa yang dilakukan sang serdadu ini. "Mengapa batu itu dimasukkan kedalam sana?" Ucap tuan rumah. "Dengan batu ini kita akan membuat sup yang lezat, makanya kalau tuan punya garam tolonglah dimasukan ke dalam periuk masak ini biar lebih nikmat supnya".

"Jika tuan punya wortel boleh juga di masukan biar ada sanyurannya," berkata sang serdadu.

"Ya, kebetualan tadi pagi kami baru mencabutnya dari kebun," menjawab sang tuan rumah, terus mengeluarkan dan membersihkan sayuran tersebut dan memotong-motong serta memasukannya kedalam periuk masak tersebut.

Sambil menunggu sup matang, sang serdadu bercerita pengalamannya dimedan tempur. "Apakah tuan mempunyai bawang, biar lebih wangi lagi sup ini," tentu saja sang tuan rumah itu mengambilkan beberapa siung bawang dan dimasukkan ke dalam periuk itu.

"Bertahun-tahun saya meninggalkan rumah untuk berjuang membela bangsa dan negara ini."

"Dan sudah selama ini pula saya meninggalkan rumah jauh dari orang tua, rasanya saya ingin sekali memakan kubis, tentu saja kubis sangat cocok kalau dimasak sama sup," berujar kembali sang serdadu tersebut.

Mendengar itu sang tuan dengan cepat memberikan perintah kepada istrinya untuk mencabut kubis di kebun belakang rumah meraka.

"Lengkaplah sudah sayuran dalam sup ini," berkata sang serdadu itu kepada sang tuan rumah sambil terus bercerita tentang pengalaman yang dia peroleh selama berjuang di medan tempur.

Di aduknya sup itu dengan kayu panjang yang dibuat khusus untuk pengaduk sup dalam periuk masak tersebut. Tak lama berselang, anak sang tuan rumah pulang dari pekerjaan sebagai pemburu dan membawa beberap ekor binatang hasil buruannya, dan diantaranya ada beberapa ekor kelinci yang gemuk.

"Wah sangat-sangat kebetulan sekali ini!" Lantas saja sang prajurit berteriak, "Kita bersihakan kelinci itu dan kita potong  kecil-kecil dagingnya".

Maka tidak selang beberapa lama kemudian daging kelinci itu telah masuk kedalam periuk masak tersebut, dan tercium bau aroma makanan yang mengudang selera makan. Setelah sup itu dirasa matang maka sang tuan pun mempersilahkan sang prajurit itu untuk makan sup itu bersama-sama, akhirnya sup itu menjadi santapan yang begitu lezat sekali.

"Memang batu sup itu sungguh hebat," berkata sang tuan rumah memuji kehebatan sang prajurit itu.

Dan sang prajurit itupun sangat bertema kasih kepada sang tuan rumah tersebut, maka batu sup tersebut di hadiahkannya. Serta berpesan bahwa batu ini bisa terus menerus di buat sup, dengan catatan sang tuan rumah harus mengikuti cara yang telah dilakukan sang prajurit tadi. Begitulah sang prajurit yang gagah perkasa ini melanjutkan perjalanan pulangnya, dari kampung tersebut menuju kampung lainnya yang dilaluinya. Tetapi di tengah jalan sebelum memasuki kampung tersebut sang prajurit yang pemberani ini memunggut kembali sebuah batu.

***

Lela selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asal Belgia," kata Lela.

Lela menutup bukunya dan di taruh di bukunya di meja.

JACK DAN POHON KACANG

Zara selesai bermain dengan adiknya Toto di ruang tengah. Zara masuk ke kamarnya, ya untuk membaca buku cerita yang ia sukai gitu.

Isi buku yang di baca Zara :

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang anak yang bernama Jack. Jack adalah seorang anak Inggris yang sangat pemberani. la tinggal bersama ibunya. Mereka hidup miskin. Harta yang mereka miliki hanyalah seekor sapi yang air susunya mulai mengering. Suatu hari, ibu Jack memutuskan akan menjual sapi itu. la menyuruh Jack menjualnya ke pasar. Di tengah jalan menuju pasar, Jack bertemu dengan seorang kakek.

“Hai, Jack. Maukah kau menukar sapimu dengan kacang ajaib ini?” kata kakek itu pada Jack.

“Apa? Menukar sebutir kacang kecil itu dengan sapiku? Kau main-main, Kakek,” kata Jack terkejut campur heran.

“Jangan menghina, ya. Ini adalah kacang ajaib. Jika kau menanamnya, dalam semalam kacang ini akan tumbuh sampai ke langit,” kata si kakek menjelaskan.

Sejenak Jack berpikir. Kemudian, ia memutuskan setuju dengan tawaran si kakek. Sesampainya di rumah, ibu Jack marah besar. “Benar-benar bodoh kau ini, Jack. Bagaimana mungkin kita hidup hanya dengan sebutir biji kacang ini?” kata sang ibu sambil melempar biji kacang ajaib itu ke luar.

Tapi, apa yang terjadi keesoi:an harinya? Ternya- ta kacang itu tumbuh menjadi pohon raksasa yang tinggi menjulang mencapai langit.

“Wah, ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakek itu,” gumam Jack.

Dengan hati-hati, Jack memanjat pohon raksasa itu. Tapi, meskipun sudah lama sekali memanjat, Jack tidak kunjung menemukan pucuk pohonnya.

“Aduh, mengapa tidak sampai juga ke ujung po- hon, ya?” pikir Jack. Jack melihat ke bawah. Rumah- rumah telah terlihat sangat kecil.

Akhirnya, ketika Jack sampai ke awan, ia melihat sebuah istana raksasa. Jack menghampiri istana itu dan mengetuk pintunya.

Tiba-tiba, pintu itu terbuka. Lalu, muncul se- orang wanita yang besar. “Ada apa, Nak?” tanya wanita raksasa.

“Selamat pagi, saya lapar. Bolehkah saya minta sedikit makanan?” jawab Jack.

“Wah, kau anak yang sopan sekali. Baiklah, masuklah, Nak,” kata wanita raksasa.

Ketika Jack sedang makan, tiba-tiba terdengar suara Iangkah kaki yang keras. Ternyata, suami wanita raksasa yang datang. Tidak seperti si wanita, ia adalah raksasa jahat pemakan manusia.

“Nak, cepatlah sembunyi! Suarniku datang,” kata wanita raksasa.

“Huahahaha. lstriku, aku pulang. Cepat siapkan makan!” teriak raksasa itu. Raksasa itu tiba-tiba mencium bau manusia.

Cepat-cepat istrinya berkata, “Itu bau manusia yang kita bakar kemarin. Sudahlah tenang saja. Ini makanan untukmr sudah aku siapkan di meja.”

Setelah makan, raksasa mengeluarkan pundi- pundi yang berisi uang emas hasil curiannya. Tak berapa lama ia pun tertidur. Melihat hal itu, Jack segera keluar dari persembunyiannya. Sebelum pulang, ia mengambil beberapa uang emas si raksasa itu untuk ibunya. Jack pun menuruni pohon kacang dan akhirnya sampai di rumah.

“Ibu, lihatlah emas ini. Mulai sekarang, kita akan menjadi orang kaya.”

“Tak mungkin kau mendapat uang sebanyak ini dengan mudah. Apa yang kamu lakukan?” tanya ibu Jack.

Jack pun menceritakan semua kejadian pada ibunya. Sejak saat itu, Jack dan ibunya tidak pernah lagi hidup dalam kekurangan.

***

Zara terus membaca pesan moral yang di tulis dengan baik di buku yaitu jadilah anak pernberani dan sayangilah orang tua kalian. Kemudian, jadilah anak yang punya sopan-santun. Anak yang punya sopan santun akan disukai banyak orang.

"Cerita yang bagus asal dari Inggris," kata Zara.

Zara selesai membaca bukunya, ya di taruh di rak buku.

"Mengerjakan PR ah!" kata Zara.

Zara mengeluarkan buku dari tasnya, ya mengerjakan PR dengan baik gitu.

MARIO DAN HARTA TERPENDAM

Amara selesai berjualan keliling. Amara duduk santai di ruang tamu sambil membaca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Amara :

“Selamat sore. Silakan masuk,” sambut Gianni kepada Signor Bruno dengan ramah.

Kedua sahabat itu kemudian saling bertukar cerita dengan asyiknya. Ya, sudah bertahun-tahun mereka tak berjumpa.

“Sepertinya engkau terlihat sangat cemas. Apa yang sedang engkau pikirkan, Signor Bruno?” tanya Gianni yang memperhatikan kegelisahan di wajah Signor Bruno.

Signor Bruno pun menghela napas panjang.

“Cucuku, Mario,” ujarnya dengan singkat.

“Apa yang terjadi dengan Mario?” tanya Gianni, makin penasaran.

“Kerjanya setiap hari hanya bermalas-malasan dan berbaring di atas ranjang. Dia tak pernah membantuku,” jelas Signor Bruno.

Mereka berdua pun berpikir, bagaimana caranya mengubah sifat Mario. Setelah beberapa lama, Gianni memiliki rencana yang bagus. Esok harinya, Gianni pergi ke tempat Mario. Ternyata benar yang dikatakan Signor Bruno. Mario sedang bermalas-malasan di bawah pohon yang sejuk. Gianni kemudian berjalan menghampiri Mario sembari mengambil sebuah peta kecil di sakunya.

“Hai, Mario! Dalam perjalanan, aku menemukan peta ini. Aku tak bisa membacanya. Tetapi, sepertinya di ladang sana terdapat lima puluh keping emas yang terkubur,” ujar Gianni sambil menyerahkan peta tersebut.

Mario pun bergegas pergi menuju ladang yang dimaksud seraya sesekali melihat peta itu. Ternyata ladang itu tertutup oleh rumput liar yang tinggi. Tanpa membuang waktu. Mario segera menyingkirkan rumput-rumput itu. Keesokan paginya, Mario sudah berada di ladang. Rupanya ia hendak menggali tanah yang kering dan mengairinya, agar lebih mudah saat dia menggali. Sudah berhari-hari Mario bekerja di ladang itu, tetapi ia tak kunjung menemukan tumpukan emas.

“Coba kau mulai menggalinya dari ujung sana. Mungkin emas-emas itu ada di sana,” ucap Gianni sambil menunjuk ke ujung ladang.

Tiba-tiba, beberapa anak berbondong-bondong lewat. Mario takut jika anak-anak itu akan mengambil emas yang masih terkubur di dalam tanah. Seketika, Mario mendapat ide. Ia akan menyebarkan pupuk di sekitar ladang. Namun tanpa sepengetahuan Mario, Gianni menyebarkan benih sayuran di ladangnya. Setelah berminggu-minggu. Gianni mengajak Signor Bruno dan Mario untuk melihat ladangnya. Alangkah terkejutnya Mario. Kini ladangnya sudah ditumbuhi banyak sayuran.

“Lihatlah Mario. Inilah hasil dari pembersihan, penyiraman, dan pemupukan yang kau lakukan. Aku hanya menanam benih untukmu,” ujar Gianni. Mario pun hanya tersenyum.

Sesaat kemudian, ada seorang pedagang yang lewat. Melihat sayuran di ladang, dia segera menawarkan semua sayuran tersebut dengan harga lima puluh keping emas, Mario menatap kakeknya. Sadarlah ia bahwa semua ini adalah rencana kakeknya dengan Gianni. Sejak saat itu, Mario bekerja keras di ladangnya. Ia pun mendapatkan banyak uang dari hasil keringat jerih payahnya.

***

Amara terus membaca buku dengan baik sampai pesan moral yang di tulis dengan baik di buku yaitu setiap tetes keringat yang keluar, pasti ada harganya. Setiap usaha pasti akan selalu membuahkan hasil.

"Cerita yang bagus asal dari Italia," kata Amara.

Amara menutup bukunya dengan baik dan buku di taruh di meja. Amara beranjak dari duduknya di ruang tamu ke dapur untuk membantu ibunya masak.

LEGENDA POHON KELAPA

Lisa selesai membantu Mbaknya berjualan di depan rumah sih. Lisa duduk santai di ruang tamu, ya sambil baca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Lisa :

Pada zaman dahulu kala, hiduplah satu keluarga di desa suku Achote. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik. la adalah anak perempuan tercantik di desa itu. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, mengagumi kecantikan anak perempuan itu. Pada suatu hari, anak perempuan itu menderita penyakit yang aneh. la sangat kehausan. la ingin minum dari buah yang istimewa. Tapi, ayah dan ibunya tidak tahu di mana mencari buah istimewa itu. Semua laki-laki di desa membantu mencarikan buah istimewa itu, tapi tidak seorang pun yang bisa menemukannya. Lama-lama, penyakit yang diderita anak perempuan itu semakin menjadi. Akhirnya, ia meninggal.

Tidak hanya orang tuanya, tapi seisi desa menangisi anak perempuan yang cantik itu. Mereka turut serta menguburkan anak perempuan itu di atas bukit agar roh anak perempuan itu bisa dengan leluasa melihat ke arah desa. Ayahnya menaruh batu nisan di atas kuburannya. Lalu, orang-orang desa menaburi makamnya dengan berbagai bunga yang cantik. Hari berlalu, setiap hari orangtua anak perempuan itu datang ke kuburan. Mereka menyirami kuburan dan menaruh bunga segar.

Suatu hari, seorang penduduk desa melihat sebatang pohon tumbuh di makam anak perempuan itu. Mereka mengira itu adalah pohon ajaib. Akhirnya, mereka membangun sebuah pondok untuk melindunginya. Lima tahun kemudian, pohon itu sudah setinggi sepuluh meter dan memiliki buah yang aneh. Suatu hari buahnya jatuh dan terbelah. Penduduk sekitar mengelilingi buah itu. Ayah si anak perempuan pun mencicipi buah itu.

“Rasanya kenyal. Aku akan memberi nama buah ini kelapa. Dan pohonnya adalah pohon kelapa,”

***

Lisa terus membaca bukunya dengan baik sampai pesan moral yang di tulis dengan baik di buku yaitu jadilah anak yang baik dan berhati mulia. Semua orang akan menyayangi anak yang baik. Selain itu, walaupun telah tiada, kebaikan yang telah kita perbuatan baik kita untuk orang lain, akan selalu di kenang.

"Cerita yang bagus asalnya dari Amerika Serikat," kata Amel.

Amel selesai membaca bukunya dengan baik, ya buku di tutup dengan baik pula. 

JACK DAN BATANG JAGUNG

Amel selesai mengerjakan PR-nya, ya dilanjutin dengan membaca buku cerita dengan baik.

Isi buku yang di baca Amel :

Suatu hari, Jack pergi ke ladang jagung. Dia ingin melihat apakah pohon jagungnya sudah tumbuh atau belum. Tidak lupa Jack juga membawa tangga ke ladang. Sesampainya di ladang, Jack melihat batang jagung yang besar dan tinggi. Jack langsung menyandarkan tangga ke batang jagung. Kemudian, dia mulai memanjat. Ketika sampai di puncak, Jack bisa melihat seluruh ladang jagung. Ketika Jack ingin turun, ternyata batang jagung itu sudah bertambah tinggi. Sedangkan tangga berada jauh di bawah. Batang jagung itu tumbuh dengan cepat. Jack berusaha menebang batang jagung. Tapi, setiap kali ditebang, batang itu kembali tumbuh dengan cepat. Jack tidak pernah berhasil turun sampai tanah.

“Tolong…tolong!,” teriak Jack ketakutan.

Ayah Jack yang mendengar teriakan putranya langsung keluar ke ladang jagung. Dia melihat Jack ada di atas batang jagung yang sangat tinggi. Ayah Jack kemudian memanggil para tetangga.

“Kita tebang saja batang jagung ini beramai-ramai,” usul ayah Jack.

Mereka pun segera memotong batang jagung. Namun, semakin berusaha dipotong, batang itu justru tumbuh semakin tinggi. Akhirnya,ayah Jack dan para tetangga menyerah. Mereka meninggalkan Jack sendirian di atas batang jagung. Jack berteriak memanggil mereka. Namun, tidak ada yang mendengar suaranya. Jack pun hanya bisa duduk dan menangis. Tangisan Jack makin lama makin keras. Ibu Jack yang mendengar hal itu segera menghampiri Jack.

“Jack! Jack! Ayo bangun! Kau hanya bermimpi! Makanya, jangan tidur terlalu sore,” kata ibu sambil mengguncan-guncang pundak Jack.

Jack pun terbangun. Dia lega karena tadi hanyalah mimpi. Jack segera bangun, lalu mandi. Sejak saat itu, Jack tidak mau lagi tidur terlalu sore.

***

Amel terus membaca pesan moral yang di tulis dengan baik di buku yaitu disiplin waktu. Tidurlah pada waktunya. Jangan tidur terlalu sore karena bisa membuat badan lemas dan sulit tidur di malam harinya.

"Cerita yang bagus asalnya dari Amerika Serikat," kata Amel.

Amel selesai membaca bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Nonton Tv ah!" kata Amel.

Amel keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk menonton Tv bersama dengan ayah dan ibu. Acara Tv yang sedang di tonton, ya sinetron tema cinta......Putri Untuk Pangeran.

RAJA YANG SUKA MENDENGARKAN DONGENG

Putri selesai membantu ibu memasak di dapur, ya duduk dengan santai di ruang tamu sambil baca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Putri :

Dahulu, ada seorang raja yang suka mendengarkan dongeng. Dia selalu ingin mendengar dongeng baru setiap hari. Suatu hari, pendongeng istana kehabisan cerita untuk didongengkan. Raja pun akhirnya membuat sayembara.

“Jika ada yang bisa menceritakan dongeng yang belum pernah kudengar, maka aku akan menikahkan orang itu dengan putriku.”

Semua penduduk tertarik untuk mengikuti sayembara itu. Seorang pemuda miskin pun juga mengikutinya.

“Kalau pun tidak menang, setidaknya aku bisa mendapatkan makanan di istana,” pikir sang pemuda.

Sesampainya di istana, raja bertanya pada pemuda miskin, “Dongeng apa yang akan kau ceritakan padaku?”

“Sebelum aku mendongeng, tolong beri aku makan dulu. Aku belum makan seharian,” jawab pemuda itu.

Raja lalu memanggil pelayannya. Mereka pun menghidangkan berbagai makanan yang lezat. Pemuda miskin itu makan dengan lahap. Selesai makan, pemuda miskin itu mulai bercerita. Dia bercerita tentang kehidupannya yang miskin dan sering kekurangan makan. Raja sangat terkejut mendengarnya. Raja belum pernah mendengar dongeng tentang orang miskin. Selama ini raja selalu mendengar tentang kekayaan, kemewahan, raja-raja, pangeran, atau putri. Pemuda itu berhasil memenangkan sayembara. Sesuai janji raja, pemuda itu pun akan dinikahkan dengan putrinya.

Tetapi sang pemuda menolak dengan sopan, “Mohon maaf, Baginda Raja. Hamba orang miskin, tidak pantas menikah dengan tuan putri yang kaya. Baginda tidak perlu menikahkan tuan putri dengan hamba. Berikan saja hamba pekerjaan supaya hamba tidak miskin lagi,” kata pemuda itu.

Akhirnya, raja pun mengangkat pemuda itu menjadi pendongeng istana. Kini, pemuda itu tinggal di istana dan hidup bahagia. 

***

Putri terus membaca bukunya sampai hikmah cerita yang di tulis dengan baik di buku  yaitu tolong-menolong. Kita harus menolong orang yang sedang kesusahan. Dengan begitu, kita bisa membuatnya bahagia.

"Cerita yang bagus asal dari Rusia," kata Putri.

Putri memahami apa yang ia baca, ya buku pun di tutup dan di taruh di meja dengan baik.

PANGERAN IVAN DAN MERAK API

Cindy selesai bermain dengan adiknya Lia. Cindy duduk santai di ruang tengah, ya sambil membaca buku cerita yang di sukai sih.

Isi buku yang di baca Cindy :

Raja memerintahkan tiga putranya untuk menangkap burung merak api. Ketiga putra raja itu pun pergi ke arah yang berbeda. Mereka menunggang kuda dan membawa bekal untuk perjalanan panjang. Pangeran Ivan pergi ke arah berat. Dia memacu kudanya dengan sangat cepat. Pada siang hari, matahari teramat terik. Pangeran Ivan merasa Ielah. Ia pun turun dari kudanya dan beristirahat sejenak. Namun, karena terlalu Ielah, Pangeran Ivan tertidur di bawah pohon rindang. Seat terbangun, alangkah kagetnya Pangeran Ivan. Ia tak menemukan kudanya. Kudanya menghilang bersama bekal perjalanannya.

“Jika seperti ini, bagaimana aku akan sampai ke tempat burung merak itu?” gumam Pangeran Ivan. Pangeran Ivan lantas memutuskan untuk berjalan kaki.

Lama berjalan, Pangeran Ivan semakin Ielah. Ia pun kembali duduk untuk beristirahat sejenak. Olala… tiba-tiba ada seekor serigala abu-abu yang menghampirinya.

“Ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu kepada merak api,” ucap Serigala Abu-abu.

“Siapa kau?” tanya Pangeran Ivan, penasaran.

“Aku adalah serigala utusan dewa. Akulah yang memakan kudamu. Aku akan menjadi pengganti kudamu. Sekarang naiklah di punggungku,” balas serigala itu.

Pangeran Ivan lalu naik ke punggung serigala. Serigala berlari dan terus berlari hingga sampailah mereka di sebuah kastil. Kastil itu dipenuhi oleh penjaga.

“Penjaga-penjaga itu telah tertidur. Kau masuklah diam-diarm Merak emas itu ada di sangkarnya. Dekaplah merak emas itu agar dia tak bersuara” ujar Serigala.

Pangeran Ivan mengerti. Ia pun berhati-hati masuk ke dalam kastil. Setelah berusaha keras, Pangeran Ivan berhasil mendapatkan burung merak api itu. Ia pun Iangsung membawanya ke istana. Serigala mengantar Pangeran Ivan sampai ke istana. Alangkah senangnya hati Raja. Rupanya, Pangeran Ivan yang berhasil menangkap burung merak api itu. Meskipun Pangeran Ivan Iebih muda, tapi kemampuan yang ia miliki melebihi kakak-kakaknya.

***

Cindy terus membaca pesan moral yang di tulis dengan baik buku yaitu tidak hanya berdoa, kita juga harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Tuhan akan mengabulkan dan orang-orang yang suka bekerja keras dan bersungguh-sungguh.

"Cerita yang bagus asal cerita dari Rusia," kata Cindy.

Cindy memahami apa yang di baca, ya menutup bukunya dengan baik.

"Aku ada PR," kata Cindy.

Cindy beranjak dari duduknya di ruang tengah, ya sambil membawa bukunya ke kamar. Di dalam kamar Cindy, ya buku di taruh di meja dan mengambil buku di tas. Cindy segera mengerjakan PR-nya dengan baik.

PANGERAN IVAN YANG PEMBERANI

Bela selesai bermain dengan teman-teman, ya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah. Bela duduk santai di ruang tengah sambil membaca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Bela :

Raja menanam pohon apel emas di stana. Saat pohon apel itu berbuah, sering kali buah-buahnya dicuri. Saat rnalam menjelang, buah apel emas itu masih ada. Namun, ketika pagi datang, pasti ada salah satu buah apel emas yang hilang. Tentu saja Raja menjadi geram. Padahal ia sudah memerintahkan prajunt untuk menjaga. Tak mungkin jika ada orang bisa masuk dan mengambil buah apel itu. Raja lalu memerintahkan Putra Pertama untuk menjaga pohon itu. Namun, Putra Pertama sangatlah malas. Bukannya menjaga pohon itu, ia malah tidur. Pagi harinya, Raja menemui putra pertamanya.

“Apakah kau sudah tahu siapa yang mencuri buah apel kita?” tanya Raja.

“Aku tak melihatnya, Ayah. Sepertinya pencurinya memang tak terlihat,” jawab Putra Pertama, asal.

Malam berikutnya, Raja menyuruh putra keduanya untuk menjaga pohon itu. Namun, sama seperti Putra Pertama, bukannya menjaga pohon apel emas, Putra Kedua malah tidur dengan nyenyak. Raja semakin bingung. Dia memanggil putra ketiga, yaitu Pangeran Ivan. Ia memintanya untuk menjaga pohon itu.

“Baiklah Ayah, hamba akan menjaganya malam ini,” ucap Pangeran Ivan.

“Semoga kau bisa menangkap pencuri apel emas itu,” ujar Raja.

Malam itu Pangeran Ivan menjaga pohon apel emas. Ia tak mau memejamkan matanya. Pangeran Ivan ingin mengetahui siapa yang mencuri buah apel milik Raja. Menjelang tengah malam, suasana semakin mencekam. Hal itu membuat Pangeran Ivan bergidik. Tetapi, ia harus tetap menjaga pohon itu. Tidak lama kemudian, ia melihat sebuah cahaya yang bergerak ke arah pohon apel.

Pangeran Ivan segera mencari tempat sembunyi. Olala… rupanya seekor burung merak api. Pangeran Ivan Iangsung mengejarnya. Namun, ia tak bisa menangkap burung itu. Ia hanya mendapatkan sehelai bulu burung merak tersebut. Paginya, Pangeran Ivan menemui Raja. Ia mencentakan ape yang terjadi semalam. Meskipun tak berhasil menangkap merak api, tapi Raja sangat bangga dengan Pangeran Ivan. Setidaknya ia jadi tahu siapa yang mencuri apel emas miliknya. Sejak saat itu, Raja jadi tahu bahwa Pangeran Ivan sudah dewasa. Sang Pangeran bisa mengemban tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

***

Bela terus membaca buku dengan baik, ya sampai hikmah dari cerita yang di bacanya dengan baik di tulis di buku yaitu kerjakan tugasmu dengan penuh tanggung jawab,pka kau akan mendapatkan hasil yang maksimal.

"Cerita yang bagus, ya asal dari Rusia," kata Bela.

Bela memahami apa yang ia baca dengan baik, ya segera menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja itu buku.

PANGERAN IVAN DAN SERIGALA ABU-ABU

Soraya selesai membantu ibu berjualan hari ini. Soraya duduk santai di ruang tengah sambil membaca buku cerita yang di sukainya.

Isi buku yang di baca Soraya :

Tsar (raja) memerintahkan tiga putranya untuk menangkap burung   merak api yang telah mencuri apel emas. Tiga pangeran putra Tsar pergi ke tiga arah berbeda. Pangeran Ivan berkuda ke arah barat. Setelah lama berkuda, Pangeran Ivan kelelahan. la tertidur di bawah sebuah pohon. Saat bangun, betapa kagetnya ia melihat kudanya telah hilang.

“Bagaimana nasibku tanpa kuda,” pikirnya. la pun terpaksa melanjutkan perjalanan dengan ber jalan kaki.

Lama-lama kakinya terasa sangat pegal. la pun duduk di tanah. Tiba-tiba, datang seekor serigala abu-abu titisan dewa. “Ada apa denganmu, Pangeran Ivan?” tanya serigala abu-abu.

“Oh, serigala yang baik. Kudaku hilang dan kakiku pegal karena berjalan jauh,” jawab Pangeran Ivan.

“Maafkan aku. Akulah yang telah memakan kudamu. Tapi jangan khawatir, aku akan mengganti kan kudamu. Kau bisa gunakan aku sebagai tunggangan. Kemana tujuanmu, Pangeran Ivan yang baik,” tanya serigala.

“Ayahku menyuruhku menangkap burung merak api,” jawab Pangeran Ivan.

“Ah, kebetulan sekali. Aku tahu di mana sarang burung merak api. Naiklah ke atas punggungku. Aku akan membawamu ke sana,” kata serigala.

Pangeran Ivan naik ke punggung serigala. Mereka terbang menembus hutan dan melewati sungai. Tidak lama, mereka tiba di sebuah kastil di atas tebing.

“Masuklah ke dalam kastil itu diam-diam. Saat ini, para penjaga sedang tidur. Burung merak api ada di sangkar emas. Tangkap dan letakkan burung itu di dadamu agar tidak bersuara,” kata serigala abu-abu.

Pangeran Ivan melakukan petunjuk serigala. Tidak lama, ia keluar membawa burung merak api. Secepat kilat serigala mengantarkan Pangeran Ivan pulang ke istana. Tsar bangga pada Pangeran Ivan yang berhasil menjalankan tugas, sedangkan dua kakaknya tidak berhasil. Walaupun Pangeran Ivan adalah anak terkecil, tapi kemampuannya tidak bisa dianggap remeh.

***

Soraya terus membaca bukunya dengan baik sampai pesan moral yang tertulis dengan baik di buku yaitu jalankanlah perintah orangtuamu dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab. Lakukan dengan kerja keras Pasti orangtuamu akan senang dan bangga.

"Cerita yang bagus, ya asalnya dari Rusia," kata Soraya.

Soraya memahami apa yang ia baca dengan baik, ya buku di tutup dengan baik dan di taruh di meja.

"Nonton Tv ah!" kata Soraya.

Soraya mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton Soraya dengan baik adalah sinetron tema cinta....Ikatan Cinta.

CAMPUR ADUK

DUNE

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus.....berita di Channel TVRI, ya seperti biasa sih Budi duduk dengan santai di d...

CAMPUR ADUK