CAMPUR ADUK

Tuesday, August 6, 2019

PANAS

Dono lagi sibuk baca komentar di jaringan sosial media sambil nonton Tv lewat Hpnya. Indro baru selesai ngurusin kerjaannya dan duduk bersama Dono di ruang tengah.

"Don....lagi baca apa....kok...serius amat?" tanya Indro.

"Sibuk...baca komentar di sosial media lewat teman yang nonton acara live studio tv berkenaan lomba ajang menyanyi," kata Dono.

"Apa...katanya?" tanya Indro.

"Panas...banget persaingannya...demi jadi terbaik di antara terbaik," kata Dono.

"Jadi...kadang kamu menonton langsung ke studio Tv ....kadang kamu meminta data di kiriman lewat jaringan teman kamu yang nonton di studio Tv sekarang ini...
lewat jaringan sosial media....atau langsung telpon aja," kata Indro.

"Ya...memang begitu aja kenyataannya," kata Dono.

"Apa...tanggapan kamu...tentang ajang lomba musik...yang di adakan Tv swasta?" tanya Indro.

"Tetap....sama. Masih terlihat..semua....ganjilnya....," kata Dono.

"Kalau...begitu sih...gak bisa di jelasin," kata Indro.

Indro pun langsung asik nonton Tv. Dono beranjak dari duduknya untuk ke kamarnya untuk mengetik sesuatu karena dapet ide yang bagus banget. Kasino baru selesai membereskan pembukuannya dan duduk bersama Indro yang asik nonton Tv.

"Mana Dono?" tanya Kasino.

"Paling...sibuk buat tulisan," jawab Indro.

Kasino mulai serius nonton Tv sama Indro di Tv One dengan tema listrik mati. Dono pun dapet telpon dari Rara untuk di jemput di rumah tantenya karena urusan keluarga. Dono segera mengakhiri pembicaraan dengan Rara lalu mematikan leptop dan keluar dari kamar.

"Kasino pinjem mobil!" kata Dono.

"Untuk apa...make mobil malem-malem?" tanya Kasino.

"Jemput Rara...biasa urusan pribadi..sekaligus menyambung family," kata Dono.

"Ambil aja...kuncinya di kamar!" kata Kasino.

"Ok," kata Dono.

Dono mengambil kunci mobil di kamar Kasino baru deh berangkat tapi sebelumnya mengucap salam keluar rumah ke Kasino dan Indro "Asalamualaikum".

Kasino dan Indro menjawab bersamaan "Waalaikumsalam".

Dono pun membawa mobil dengan baik menuju rumah tante Rara. Kasino asik nonton Tv begitu juga Indro. Kasino pun berpikir dan langsung bertanya ke Indro "Gak...biasanya...kamu nonton acara di Tv One....tentang mati listrik ....lagi temanya? Biasanya...nonton D Star di Tv Indosiar?"

"Lagi...hits di bicarakan...aja...itu..saja masalah listrik mati. Kalau D Star..
sudah kelihatan permainannya....padahal inginnya...lebih panas lagi sampai kebakaran...gitu!!!!," kata Indro.

"Ah...mau..kamu Indro," saut Kasino.

"Iya...lah...mau saya....emangnya...mau.....siapa?" kata Indro.

"Udah...nonton lagi....belum klimaks....pola pembicaraan dari orang-orang yang ngomong di Tv ....berkenaan mati listrik!" kata Kasino.

"Iya," saut Indro.

Kasino dan Indro fokus lagi nonton Tv untuk mengetahui sejauh apa pola penerangan kenapa terjadi mati listrik dan jadi hits di bicarakan di sosial media?.


Karya : No

MATI LAMPU

Seusai urusan kerjaan dengan segera Dono pun pulang ke rumah. Seperti biasa mampir ke warung Nabila untuk beli gorengan.

"Nabila gorengannya Rp 10.000," kata Dono.

"Iya...Mas Dono. Nabila bungkusin," kata Nabila sambil memasukkan gorengan yang anget ke dalam kertas.

"Loh...pake kertas....Nabila dibuat sendiri kaya kantong gitu. Biasanya pake plastik?" tanya Dono.

"Memang biasa pake plastik. Tapi karena pemberitaannya di media berkenaan sampah plastik...bermasalah ini dan itu. Ya...saya alternatif aja pake kertas bekas yang beli tukang loakan dan saya buat jadi kantong," penjelasan Nabila.

"Repot juga....urusan awalnya mudah jadi susah. Padahal jika produsen plastik daya belinya masyarakat menurun pada akhirnya bangkrut," kata Dono.

"Mau...apalagi...Mas Dono. Berita seperti itu....sampai-sampai ada organisasi yang ngurusin masalah tentang sampah plastik. Di Jakarta....aja sampe menteri ikut turun ke jalan supaya....menjelaskan dampak sampah plastik ini dan itu," kata Nabila.

Asik-asik bicara. Rara sudah di sebelah Dono.

"Nabila gorengan juga," permintaan Rara.

"Berapa...Mbak?" tanya Nabila.

"Biasa Rp 10.000," kata Rara.

"Iya. Ini...Mas gorengannya," kata Dono.

"Iya...Nabila, sekalian saya bayarin.....gorengan Rara," kata Dono sambil menyerahkan uang ke Nabila Rp 50.000.

"Ini...kembaliannya...Mas Dono....Rp 30.000," kata Nabila.

"Terima kasih," kata Dono.

"Iya...sama-sama," saut Nabila.

"Dek...Rara...mau ikut pulang ke rumah Mas Dono?" kata Dono niat becanda sama Rara.

"Enggak," saut Rara yang ketus.

"Ya...udah...Asalamualaikum," kata Dono.

"Waalaikumsalam," kata Rara dan Nabila bersamaan.

Dono pun berjalan menuju pulang ke rumahnya sambil makan gorengan. Rara pun nunggu gorengan yang di bungkus oleh Nabila. Terlihat dari wajah Rara yang asem banget kaya gak enak di lihat. Nabila pun bertanya "Rara...kenapa gak terlihat...respon begitu jutek sama Mas Dono?"

"Ah..itu biasa. Lagi males ngomong sama Mas Dono?" kata Rara.

"Males....atau kah. Kamu tidak ingin semua warga tahu kalian berdua....pacaran. Alias tidak mau di omongin orang-orang jadi buah bibir. Jadi setiap....
ketemu...jutek...gitu," kata Nabila.

"Ya....begitu..lah. Lebih...baik seperti ini. Dari di omongin....orang-orang yang ini dan itulah. Padahal...enggaklah," kata Rara.

"Nie gorengannya," kata Nabila menyerahkan bungkus gorengan ke Rara.

"Terima kasih," kata Rara.

"Sama-sama," jawab Nabila.

Rara pun pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Rara segera mengirim pesan singkat ke Dono lewat Hpnya "Mas...Dono terima kasih udah di bayarin gorengannya".

Dono pun membalasnya pesan singkat itu dengan Hpnya "Ya...sama-sama".

Rara pun menikmati gorengannya tapi tidak sendirian di rumah karena ada tamu Putri dan Selfi yang main ke rumah hanya sekedar ngobrol urusan cewek.
Dono sampai di rumah seperti biasa mengambil leptop di kamar untuk mengetik sesuatu. Karena baterai leptop lobet maka di caslah leptop. Dono pun segera mengetik sesuatu yang baik karena ada banyak ide di kepalanya untuk membuat satu tulisan.

Lagi asik ngetik. Listrik mati. Dono tidak bisa melanjutkan mengetiknya. Maka di tinggalkanlah urusan mengetik Dono dan bersantai di ruang tamu sambil baca buku komik. Dengan sabar Dono nungguin listrik hidup lagi dan bisa mengetik lagi.Ternyata Dono sampe boreng banget listrik tetap mati.

"Bayar...mah harus sesuai peraturan. Kalau telat di denda. Kalau...sudah listrik mati...begini....kemungkinan positif sampe malem ini mah," kata Dono.

Kasino dan Indro pun langsung masuk rumah dan segera mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono yang sibuk baca buku komik.

Indro dan Kasino pun duduk di sofa untuk menghilangkan rasa capek mereka dan sekalian makan gorengan yang di taruh di meja sama Dono.

"Oh..iya..Don..udah lama mati..listriknya," tanya Indro.

"Ya...lumayan...sih. Dari tadi," jawab Dono.

"Kalau....itu mah...positif sampe malem gelam-gelapan,"saut Kasino.

"Don...lilin...masih adakan?" tanya Indro.

"Lilin masih ada. Lampu emergensi...ada," kata Dono.

"Kalau...begitu sih. Gak gelap-gelapan," kata Indro.

"Ia..sih...., tapi siapa yang jaga lilinnya," kata Kasino yang ngelantur.

"Kamu....babi ngepetnya," kata Dono dan Indro bersamaan.

"Kalau...saya jaga lilinnya dan jadi babi ngepetnya....gak jadi mainnya," kata Kasino.

"Becanda...kuno," kata Dono.

"Kuno...banget," kata Indro.

Suara azan di kumandangkan. Waktunya sholat Magrib. Dono, Kasino dan Indro pun berbenah diri untuk menjalankan sebagai muslim yang baik. Sampai di mesjid pun listrik belum nyala juga. Tetap mesjid hidup lampu jadi terang karena pake jensed.

Dono pun bertemu Rara di mesjid tetap diam-diam saja tak sepatah kata pun bicara. Sholat Magrib berjalan dengan khusuk banget. Selesai Sholat Dono, Kasino dan Indro memutuskan untuk ngobrol di mesjid sampai listrik hidup lagi.

Rara pun pulang setelah sholat Magrib bersama Putri dan Selfi. Dono memang melihatnya Rara keluar dari mesjid menuju rumahnya. Indro pun beserta Kasino pun melihat Rara juga. Tetap saja Dono diam saja.
"Don...gak ngobrol sama Rara...gitu?" tanya Indro.

"Enggak lah....kan ada kawan-kawannya...yang nemenin," kata Dono.

"Sudah bertemu...kaya gak rasa rindu ini dan itu. Biasa banget urusan percintaan Dono," kata Indro.

"Setiap.....anak adam menjalani percintaannya pasti ....punya cerita masing-masing. 
Ya....menurut Dono ....lebih baik seperti itu. Menurut kita...belum tentu," kata Kasino.

"Benar kamu Kasino. Sama...saya...dengan Saskia," kata Indro.

"Cinta itu apa sih?" tanya Dono.

"Kok nanya gitu Don. Kamu telah menjalaninya masih bingung?!" kata Indro.

"Kaya...omongan orang frustasi aja...," saut Kasino.

"Cuma iseng aja," kata Dono.

"Iseng...aja toh," saut Indro.

"Jadi...cuma ngelantur..omongan," kata Kasino.

"Cinta...hanya sebuah rasa di dalam detak jantung dan ingin bersama orang yang di cintai...tapi kenapa rasa hubungan...terasa hambar ya..?" kata Dono curhat.

"Kayanya....mau kelain hati," kata Indro.

"Maksudnya...teman kita...ingin mencoba merasakan rasa cinta itu pada cewek lain. Selingkuh...itu namanya. Siapa orangnya..Don?" kata Dono.

"Siapa...ya? Aulia...aja...atau Selfi?" kata Dono.

"Wah..wah...wah...beneran menetapkan target selingkuhan," kata Indro.

"Kaya...ada yang ganjil omongan Dono," kata Kasino.

Listrik pun hidup saat Dono, Kasino dan Indro ngobrol dan ketiganya mengucap "Alhamdulilah".

"Pulang yuk," kata Dono.

"Obrolannya...belum selesai," kata Indro.

"Sudah...cuma...iseng...aja. Saya gak ada niat untuk mencari....kedua, ketiga dan seterusnya," kata Dono.

"Iseng...aja. Gak asik," kata Indro.

"Makanya...ada..yang ganjil. Pola pembicaraannya...emang ngelantur. Udah pulang aja...saya masih ada kerjaan...yang harus saya selesaikan," kata Kasino.

Ketiganya mau pulang ke rumah gak jadi karena azan di kumandangkan untuk sholat Isya. Ya...Dono, Kasino dan Indro pun melaksanakan sholat Isya baru pulang ke rumah. Selang berapa saat sholat Isya pun selesai juga. Dono, Kasino, Indro pun berjalan pulang ke rumah. Sampai di rumah segera mereka bertiga melaksanakan urusan masing-masing.

Indro pun asik nonton Tv. Kasino sedang mengolah pembukuan di kamarnya dan Dono mengetik di ruang tamu. Kadang Indro pun duduk bersama Dono untuk bertanya sesuatu karena permainan dari Indro.

"Don...dari juri di ajang perlombaan musik yang saya sebutkan mana....yang tidak kamu sukai? Soimah, Inul Daratista, Nazar, Dewi Persik dan terakhir Saskia Gotik!!" kata Indro.

"Kenapa gak Caren Delano gak di masukin?" tanya Dono.

"Itu sama...aja...sekalian Maya Ratih!!!. Ayo...Don..jawab!!" kata Indro.

"Ok..saya jawab. Cuma permainankan. Kaya gak ada sih...cuma terlihat gak enak aja dilihat aja...gayanya.....Giring dan Beby Romeo," kata Dono.

"Kenapa...jadi...mereka..sih..jauh dari pertanyaan," kata Indro.

"Kan...cuma permainan...ngelantur bolehkan. Tapi...untuk nyenengin kamu Indro....saya jawab dengan baik....dan benar.....saya gak....suka dengan.....Nazar," kata Dono.

"Kenapa...Nazar?  Jangan-jangan ada kaitannya...dengan Selfi...ya ?" tanya Indro.

"Cuma gak suka...aja. Kan biasanya... kamu nyuruh milih  satu aja yang.....gak suka aja. Gak ada alasannya...cuma mainan," kata Dono.

"Itu...beneran..atau bohongan?" tanya Indro.

"Bohongan. Jadi yang bener saya....suka semuanya....titik gak ada koma. Cuma ngikutin permain kamu Indro," kata Dono.

"Udahlah permainannya selesai....saya cuma becanda kok," kata Indro.

"Saya...tahu," saut Dono.

Indro pun kembali ke ruang tengah untuk nonton acara KDI. Dono sibuk ngetik di leptopnya. Kadang istirahat sebentar ingin melihat ulah Indro yang sedang nonton acara Tv.

"Loh yang...di obrolin juri D Star....yang di tonton...malah KDI...ya...Indro?" tanya Dono.

"Suasana..Don...ingin tahu fersi yang lain. Biasa competetor dalam bisnis hiburan. Oh ya...tanggapan dari sosial media tentang KDI gimana...Don?" kata Indro.

"Kasih tahu...gak ya...?!" kata Dono.

"Kasih ...tahu dong Don?!" kata Indro.

"Jawabannya adalah relatif di sesuaikan dari minat masyarakat," kata Dono.

"Relatif...sih. Jawaban yang paling tepat," saut Indro.

Dono pun kembali duduk di ruang tamu untuk mengetik lagi di leptopnya. Tiba-tiba dapet pesan singkat dari Rara lewat Hpnya "Mas.....Dono lagi ngapain?"

Dono pun membalasnya pake Hpnya "Lagi kerja...alias melakukan sesuatu yang sifatnya hoby."

"Oh....kerja. Selamat malem Mas Dono," Rara pun mengirim pesan singkat lagi.

Dono pun membalesnya "Selamat malem Rara...mimpi yang indah".

Dono pun melanjutkan mengetiknya sampai selesai tulisan jadi baru di save. Baru deh Dono istirahat di kamarnya karena lelah melaksanakan aktivitas seharian. Indro masih asik nonton sampai acara selesai baru nonton acara yang lain di chanel Tv yang lain dengan acara Flash the series.


Karya : No

Monday, August 5, 2019

SEKEDAR BERCERITA

Selesai mengetik di leptopnya. Dono pun mengambil gitarnya yang di taruh di sofa duduk. Segera di mainkanlah gitar tersebut dan menyanyikan sebuah syair lagu.

Isi syair lagu yang dinyanyikan Dono :

"Ku minta.....Ja..nganlah pernah
Mengingat kemba...li
Salahku padamu
Yang hanya....menambah masalah
Berujung berakhir
Untuk cinta.....ki...ta

Yang lalu bi.....arlah berlalu
Karna kini ku cinta matimu
Maafkan salahku padamu
I...tu hanya...lah puing dulu
Yang tak mesti kau buka kembali
Maafkan salahku yang lalu

Ku minta....Ja..nganlah pernah
Mengingat kemba...li
Salahku padamu"

Selesai menyanyikan syair lagu dan menaruh gitar di sofa....Dono dapet ide lagi tulisannya dan segera menulisnya dalam Blog-nya. Indro baru pulang dari urusan kerjaannya dan masuk rumah dengan mengucap salam "Asalamualaikum" segera Dono menjawabnya "Waalaikumsalam".

Indro langsung duduk di sebelah Dono....karena ingin tahu yang di tulis Dono. Dengan seksama Indro membaca tulisan Dono di Blog-nya.

"Oooo... 'Perjuangan Seorang Selfi? Kenapa kamu....menulis tentang Selfi?" tanya Indro.

"Apa....ya? Cuma iseng aja!!!" kata Dono.

"Jangan ada maksud yang lain? Biasanya....yang angkat cerita Rara...untuk melanjutkan cerita atau Wulan yang....diangkat lagi karena reting bacaan saja," kata Indro.

"Gimana...jelasin...ya?" kata Dono.

"Entar dulu....Don. Jangan-jangan kaya...saya pernah baca cerita tentang Selfi...udah lama. Coba saya cek dulu," kata Indro.

"Iya...silakan," kata Dono.

Indro pun mencari data tulisan Dono di leptop. Ternyata ketemu tulisan tentang Selfi.

"Don....cerita tentang Selfi...ini kan cewek yang di sukai....tokoh utama bernama Dono. Tapi telah menikah dengan orang lain....bukan sama Dono. Di alur cerita ini....Selfi cinta kedua.... bisa juga sih kalau negatifnya di bilang selingkuhan..tokoh utama yang peralihan cinta dari Wulan. Intrik cerita memang di buat seperti itu," kata Indro.

"Iya. Itu kisah lama. Setelah itukan.
..tokoh utama....Dono tidak bisa bersama Wulan karena Wulan meninggal......setelah itu...Rara menggantikan Wulan karena di jodohkan.....sama Ibunya...tokoh utama...ya...Dono," penjelasan Dono.

"Jadi...ini tema...cerita kamu angkat dari sudut cerita...yang berbeda tentang...Selfi. Tapi...dari alur cerita tentang.....lebih cenderung...cewek banget yang menghadapi...masalah dalam bentuk apapun. Dan punya harapan tinggi untuk masa depan.....termasuk cinta. Apalagi....di ambil dari...intrik terjadi pada penyanyi dangdut Selfi," kata Indro.

"Ya...begitu...adanya," kata Dono.

"Jadi niat...kamu...apa Don?. Begini aja deh aku buat permainan aja. Dari cewek yang aku sebutkan namanya mana yang kamu.....paling sukai? Rara, Selfi, Aulia dan Putri?" kata Indro.

"Yang di tulis di Blog...apa jawabannya?" kata Dono.

"Ya...Selfi...karena ada data pernyataan surat cinta...si tokoh utamanya," kata Indro.

"Ya..udah..itu jawabannya. Cuma permainan," kata Dono.

"Kenyataanya...Don?" tanya Indro.

"Ya...gak..ada. Cuma cerita. Ungkapan perasaan. Gak...ada niat apapun....cuma cerita," penjelasan Dono.

"Permainan gak....seru. Kalau jawabannya...sudah di tulis di Blog. Sudah...lama...banget...ada surat cintanya lagi dan juga sudah lama di publikasikan," kata Indro.

"Indro...Indro....Indro...bahas kisah lama....tentang Selfi..berkenaan surat cinta lagi," kata Dono.

"Ya....memang datanya...ada di tulis Blog...gimana?" kata Indro.

"Ya..gak...gimana-gimana...cuma cerita. Gak ada niat. Rahasia lama terbongkar....itu namanya," kata Dono.

"Ya...sudahlah  Don...teruskan kamu menulisnya. Saya pun tahu...rahasia yang lama...tersebut...hanya cerita aja. Gak ada niat apa pun? Paling ide cerita di ambil dari lingkungan penulis aja.......," kata Indro.

"Kalau....sudah..tahu....gak perlu di ceritakan. Semua ini....hanya...sekedar cerita...gak lebih dan gak kurang. Biarkan pembaca menilai," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Indro pun beranjak dari duduk bersama Dono untuk berganti pakaian di kamarnya setelah itu ke meja makan untuk makan. Saat tudung saji di buka gak ada makanan. Jadi Indro memasak deh dan mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es. Indro pun dengan mulai memasak makan enak dengan cepat dan tepat lagi.

Makan pun jadi. Segera menyanyapnya....Indro di meja makan. Dono yang sibuk mengetiknya untuk menyelesaikan tulisannya akhirnya selesai juga. Lalu Dono menaruh leptopnya di kamarnya.

Melihat Indro asik makan...Dono ngiler ingin nyobain masakan Indro. Kemudian Indro manggil Dono.

"Dono...makan...sama aku!"

"Iya," saut Dono.

Tiba-tiba Dono dapet telpon dari Rara ya...segera di angkat. Dono pun mengikuti maunya Rara dan berusaha menepati janjinya pada hari ini. Setelah itu telpon-telponan Dono dan Rara selesai. Dono pun mau pergi ke rumah dan ngomong sama Indro alias pamitan. Seperti biasa Indro mulai permainannya.

"Don," panggilan Indro.

Dono padahal sedang bersiap-siap untuk berangkat.

"Apa?" jawab Dono.

"Jadi beneran mau ke tempat Rara?" tanya Indro.

"Iya," saut Dono.

"Rara penyanyi dangdut atau....Rara yang di hati kamu Don?" kata Indro.

"Rara...yang di hati. Rara penyanyi dangdut sibuk membimbing dirinya....untuk menjadi pemenang ajang menyanyi D Star," kata Dono.

"Oh..begitu?! Tapi.....siapa yang kamu dukung...yang paling utama....Rara, Selfi, Aulia dan Putri?" kata Indro.

"Dukung...apa? Paling utama apa?" tanya Dono.

"Ajang menyanyi di D Star....lah?" kata Indro.

"Randa," jawab Dono.

"Kok....Randa. Kan gak masuk katagori permainannya?" kata Indro.

"Ya...udah aku ganti....Irwan," kata Dono.

"Lagi-lagi....bukan masuk kategori permainan....?" kata Indro.

"Ya....udah....Rara..aja deh. Biar kamu seneng," kata Dono.

"Kenapa Rara? Harus ada alasannya?" kata Indro.

"Banyaknya...pertanyaannya. Sederhana....aja...di sesuaikan dengan tokoh dalam cerita yang di tulis Blog dan ingin di datengin Dono karena ada janjian kencan," penjelasan Dono.

"Kurang....menarik. Aku..inginnya...kamu....Don. Milihnya Selfi!" kata Indro.

"Kalau mau....kamu...Indro...silakan aja. Jadi...saya milih....Aulia...yang cantik itu," kata Dono.

"Kok...berganti?" tanya Indro.

"Bimbang....sih. Kayanya milih Putri...aja...deh," kata Dono.

"Mulai lagi," kata Indro.

"Sudahlah....keputusan finalnya...Rara..aja dari awalkan memang Rara jadi kembali ke Rara. Gak...ada niat apa pun? Cuma teka-teki dalam tulisan saja," kata Dono.

"Aku....idem saja," saut Indro.

Dono pun selesai berbenah dan siap berangkat ke rumah Rara. 

"Aku...berangkat dulu. Asalamualaikum," kata Dono.

"Waalaikumsalam," Indro jawab salam Dono.

Dono pun keluar rumah. Langsung membawa motornya dengan baik menuju rumah Rara. Selang beberapa saat Kasino pulang dan mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum" segera di jawab Indro "Waalaikumsalam".

Indro lagi asik nonton Tv. Kasino pun segera berganti pakaian di kamarnya baru makan. Ternyata ada makan di meja makan. Segeralah menyantapnya.

"Enak. Indro siapa...yang masak hari ini?" tanya Kasino dengan suara keras.

"Aku...," jawab Indro dengan suara keras.

"Masakan....Indro..toh," kata Kasino.

Kasino melanjutkan makannya. Setelah itu Kasino baru deh duduk bareng bersama Indro yang sedang asik nonton sepak bola yang terbawa suasana saat terjadi cetak gol.

"Gol....," teriak Indro dan Kasino bersamaan.

Indro dan Kasino senang dengan tontonan pertandingan sepak bola yang bagus banget.



Karya : No

HANTU

Pada saat magrib, saya mau pergi shalat ke masjid. Saya lihat sumur, sumurnya itu berdekatan dgn daun mangga, kemudian aku melihat pohon itu bergoyang-goyang, tapi saya tetap menganggap kalau daun itu hanya tertiup angin, tapi pada saat pulang dari shalat magrib pohon itu bergerak padahal angin pun tidak ada, jadi saya sedikit takut. Pada saat itu saya mulai bertanya kepada paman.....saya.

"Paman, disumur itu ada apa sih? Kok tadi pohonnya bergerak-gerak..?" kata saya sambil merinding. 

"Kamu memang habis ngapain, memang disumur sana ada penunggunya," tutur Paman saya.

Cerita ini kemudian berlanjut dengan  saya tidur di kamar di tingkat dua bersama ayah saya dan kemudian kamar saya berdekatan dengan sumur yang ada di bawah. Lalu saya tidak bisa tidur karena saya  masih penasaran kenapa pohon itu bergerak?. 

Cerita horor yang saya...
alami ini terjadi sekitar pukul jam 01:10 saya makin takut, lalu saat saya melihat ke bawah di jendela, ada ada anak kecil yang sedang bergelantungan, lalu anak itu melihat saya dan saya berteriak sambil menangis, teriak saya yg begitu takutnya. 

"Ada apa Fi..?", kata ayahku yg baru bangun. 

"Tadi saya melihat hantu yg kepalanya botak, matanya putih dan  mulutnya lebar," kata saya yg masih menangis. 

"Ya sudah, besok lusa kita pulang saja...", kata ayahku sambil memeluk saya.

"Nggak ah. Besok aja, Lutfi udah nggak betah untuk tinggal disini..!!" kata saya yg masih ketakutan.

Lalu yg lainnya kemudian pada bangun dan paman bertanya, "Ada apa fi..?".

"Tadi saya melihat hantu anak kecil paman", kata saya yg masih ketakutan. 

"Ya sudah sini paman coba bacakan doa", kata paman saya.

Kemudian paman saya mengambil segelas air dan membasuhi muka saya dengan doa-doanya, lalu besoknya saya pulang dan dengan masih ada rasa takut. Akan Tetapi saya salut dengan Paman dan keluarganya karena mereka juga begitu berani tinggal disana. Apa mereka sudah terbiasa melihat yg seberti itu ya....?

Sunday, August 4, 2019

MIMPI ATAU KENYATAAN

Malam begitu larut sekali di mana semua orang sudah pada tidur. Dono terdiam sambil menonton Tv dengan acara yang menarik. Karena lapar Dono beranjak dari duduk mengambil makan di dapur.

Cahaya hijau jatuh dari langit melesat seperti bintang jatuh dan langsung jatuh di antene luar rumah Dono. Energi itu tersebut menjalar sampai ke Tv. Dono sedang duduk sambil makan kue donat.

Tv mulai bergetar dan menciptakan kilatan cahaya hijau. Dono terkejut sekali. Lagi-lagi cahaya hijau lebih memancar lagi dari Tv. Dono mulai ketakutan sekali. Berusaha untuk menjauh dari Tv.

Ternyata cahaya hijau menarik Dono ke dalam Tv. Dono benar-benar masuk ke dalam Tv sambil memegang sebuah remot Tv. Saat itu Dono tergeletak di tanah dan bangun.

"Di mana aku," kata Dono.

Dengan seksama Dono melihat keadaan dengan baik. Ternyata suasana sesuai dengan acara Tv yang di tontonnya berkenaan acara memasak di alam dengan suku pedalaman.

"Apa kah ini benaran," kata Dono.
Dono sambil mencubit dan menampar dirinya.

"Sakit....jadi benaran....aku masuk ke dalam Tv....tapi bagaimana bisa?" kata Dono.

Dono pun mulai menyadari keadaannya dan mengikuti acara yang berlangsung berkenaan masak di alam. Dono pun mencoba makan yang telah jadi.

"Enak makan ini. Nyata banget," kata Dono.

Dono pun mulai menikmati keadaannya yang baik-baik saja. Saat berjalan. Dono terjatuh ke tanah. Lalu suasana lingkungan berubah menjadi tempat yang menyeramkan.

"Dimana aku," kata Dono.

Dono mulai memperhatikan sekeliling dan mengambil remot yang tergeletak di tanah langsung di masukkan ke saku celananya. Muncul makluk yang menyeramkan keluar dari tanah.

"Zombi," teriak Dono.

Dono pun berlari menjauh dari tempat angker tersebut dan bersembunyi di rumah tua. Muncullah roh-roh yang bergentayangan kesana-kesini.

"Setan.....," teriak Dono.

Dono pun keluar dari rumah tua dan terus berlari. Karena dalam keadaan kacau dan memperhitungkan langkahnya Dono menyandung akar pohon dan jatuh di tanah.
Sekeliling berubah menjadi tempat yang sangat ramai banget. Saat Dono bangun melihat keadaan.

"Aku ada....di stadion sepak bola," kata Dono.

Dono pun berbaur dengan lingkungan yang penuh dengan kehebohan manusia yang bersorak sorai mendukung tim jagoannya. Sampai saatnya Dono mulai memahami sesuatu saat menyentuh saku celananya.

"Jangan-jangan karena remot Tv," kata Dono.

Dono pun mulai menguarkan remot dari saku celananya dan mulai menekan untuk mengganti chenel Tv. Seketika suasana berubah menjadi suatu tempat yang sangat indah di pinggir pantai.

"Benar....gara-gara remot ini saya pindah ke satu program Tv ke program yang lain. Masalahnya....bagaimana saya kembali?" kata Dono.

Dono pun berpikir keras sambil menikmati keadaannya karena bisa berpindah-pindah tempat sambil menikmati makan yang enak saat acara memasak.
Tapi tetap tidak ada jalan. Dono pun murung sekali duduk diam saat di suatu tempat di pinggiran kota saat acara drama cinta korea.
Cahaya hijau muncul di hadapan Dono sangat menyilaukan sekali.

"Jangan-jangan jalan keluarnya," kata Dono.

Dono pun masuk ke dalam cahaya hijau yang bersinar terang sekali. Indro pun membangunkan Dono dengan menepuk tangan kirinya. Dono bangun dari tidurnya.

"Aku...dimana?" tanya Dono.

"Di rumah," kata Indro.

"Aku...sudah kembali ke dunia...kenyataan," kata Dono.
"Emangnya...kamu dari mana? Orang...kamu tidur. Kebanyakkan nonton Tv...jadi mimpi yang aneh-aneh," kata Indro.

"Cuma mimpi. Tapi kaya......kenyataan," kata Indro.
"Ya...udah pindah sana. Tidur di kamar! Besok kerja...Don!" saran Indro sambil mematikan Tv.

"Iya," kata Dono.

Dono yang masih bingung lebih baik melupakan kejadian tersebut dan masuk kamar untuk tidur. Indro pun sama masuk kamar untuk tidur. Cahaya hijau keluar dari Tv dan berubah menjadi makluk kecil seperti peri yang cantik.

"Tadi...itu bukan mimpi, tapi kenyataan," kata peri yang cantik.
Peri yang cantik berubah menjadi bola cahaya hijau dan keluar dari rumah Dono lewat jendela rumah yang terbuka yang lupa di tutup oleh pemilik rumah.


Karya : No

Saturday, August 3, 2019

PERJUANGAN SEORANG SELFI

Seperti biasa Selfi duduk diam merenung di kamarnya sambil melihat foto-foto dan vidio di simpan ditabletnya... di mana dirinya telah berhasil menggapai mimpi. Kenangan manis membuat hati Selfi bahagia terlihat dari rona pipi dan tertawa kecilnya. Sedangkan kenangan buruk di saat moment di jatuh sendiri atau di jatuhkan saat menunjukkan diri untuk terbaik diatas panggung musik demi diri, keluarga dan orang-orang mencintai Selfi sebagai sahabat ataupun penggemarnya....membuat hati  Selfi terluka dan menitikkan air mata.

"Siapa...yang bisa mengerti aku saat itu...?" celoteh Selfi.

Selfi membiarkan album foto dan vidio dari tabletnya. Memandang dirinya di kaca dengan baik Selfi.

"Aku...memang cantik...., tetapi merasa sepi tidak ada yang memahami....aku. Orang tua memang benar membimbing aku dan menjaga...aku...sampai meraih mimpi, tapi hati....ini tetap kosong," kata Selfi.

Selfi langsung melupakan kata-katanya saat berkaca dan lebih baik melupakan hal yang pait tersebut. Selfi keluar dari kamarnya dan sang Ibu berkata "Nak...udah makan siang?"

Selfi segera menjawab "Belum...Ibu."

"Makan dulu...Ibu temenin..kamu makan. Ibu masakin makan kesukaan kamu," kata Ibu Selfi yang selalu perhatian sama anaknya.

"Iya...Ibu," kata Selfi.

Selfi pun makan masakan Ibu yang enak apalagi di temanin Ibu....terasa hati ini nyaman banget. Dengan lahapnya makan buatan Ibunya. Bel rumah pun berbunyi tanda ada tamu.

"Biarkan Ibu...yang bukakan pintu. Kamu terusin aja....makan kamu!" kata Ibu Selfi.

"Iya..Ibu," jawab Selfi dengan penuh kesantunan.

Ibu bergerak untuk membuka pintu depan. Tepat di pintu depan terdengar ucapan salam "Asalamualikum".

Ibu segera menjawab salam "Waalaikumsalam" sambil membuka pintu.

Ternyata cowok gemuk yang di kenal Ibu Selfi.

"Nazar ada gerangan apa kesini?" tanya Ibu Selfi.

"Ah...biasa main. Selfi ada," kata Nazar.

"Cuma...main. Selfi...ada. Sebentar ya..Ibu panggil Selfi. 

Oh..iya..silakan masuk...anggap seperti rumah sendiri!," kata Ibu Selfi.

"Iya...Ibu," kata Nazar.

Nazar pun duduk di sofa untuk menunggu Selfi. Ibu Selfi menemui anaknya yang sedang mencuci piring dan gelas kotor di dapur abis...Selfi makan siang.

"Nak...ada Nazar," kata Ibu Selfi.

"Mau...apa..Aak..Nazar kesini? Selfi kan gak...janjian sama dia....," kata Selfi.

"Ya...udah temui aja. Katanya...sih cuma main," kata Ibunya.

"Ya..Selfi nemui Aak...Nazar," kata Selfi.

Selfi pun menemui Nazar setelah beres mencuci piring dan gelas. Di ruang tamu Selfi dan Nazar seperti biasa ngobrol seperti biasanya. Setelah ngobrol banyak baru tahu niat Nazar yang sebenarnya dan kata hati Selfi bicara "Jadi...Aak Nazar ini beneran menyukai aku. Padahal...aku....biasa-biasa aja menganggapnya. Padahal harapan aku....bukan Aak Nazar."

Nazar dan Selfi terus ngobrol sampai tidak ada ruang lagi...jadi terbuka. Tetap pada akhirnya Nazar berkata membuat Selfi terkejut "Maaf...kalau aku. Terlalu keras bicara di panggung D Star untuk mengoreksi kamu. Walau...selanjutnya...saya memberikan sesuatu yang bagus karena...mampu memperbaiki dengan baik."

Selfi pun sepontan saja "Iya gak ada masalah. Saya maafkan kok."
Nazar pun senang dengan perkataan Selfi yang memaafkan dirinya. Padahal di dalam hati Selfi masih menyimpan kepaitan tersebut dan hati berkata "Coba ada yang bisa memahami aku..lebih jauh...maka rasa gak enak ini menghilang."

Selfi dan Nazar terus ngobrol dengan baik sampai akhirnya waktu mengakhiri pembicaraan itu.

"Kalau begitu aku...permisi dulu, Masih ada urusan yang lain. Asalamualaikum," kata Nazar.
"Waalaikumsalam," jawab Selfi.
Nazar pun beranjak dari rumah Selfi. Segera Selfi menutup pintu rumahnya.

"Seperti biasa ingin mendapat hati....aku," kata Selfi.

Ibu pun menemui Selfi di ruang tamu.

"Nazar...udah pulang?" tanya Ibu Selfi.

"Udah," jawab Selfi dengan santun.

Selfi pun meninggalkan ruang tamu langsung masuk kamarnya. Saat diam sambil rebaan di kasur.

"Aku...ingin...seorang yang lebih mengerti ....aku," kata Selfi.

Selfi teringat janji dengan Rara. Segera Selfi berganti pakaian dan setelah pamitan dengan Ibu. Selfi pun berangkat dengan menggunakan taxsi menuju tempat di mana Rara telah menunggu.

Sampai di tempat janjian. Selfi pun meminta maaf kalau telat dalam memenuhi janji. Rara pun memakluminya. Selfi dan Rara masuk ke dalam sebuah gedung untuk latihan....agar penampilan mereka berdua bagus saat manggung di acara D Star.
Pelatih pun membimbing Selfi dan Rara dengan baik dan pola berbeda karena dari nilai karakter vokal dan pembawaan diri. Tetap satu ketika pelatih pun memberikan latihan yang sama untuk mengetahui sejauh mana Selfi dan Rara berkembang. Waktu istirahat pun tiba. Saat di toilet. Selfi berkaca lagi.

"Aku...masih harus berjuang dan bertahan....sampai di mana kemampuan....aku.....sebenarnya. Tetap...rasa kosong...ingin di isi...dengan benih cinta yang baik. Tetap....tak satu...yang mengerti ...aku," celoteh Selfi seperti bergumam.

Setelah itu Selfi melanjutkan latihannya bersama Rara. Beban-beban di dalam hati dan pikiran pun menghilang karena rileks untuk satu tujuan maju ke depan dan teringat kata Nazar dalam benak Selfi "Kamu takut..
sama....Fildan, Reza, Weni, Rara,.........". 

Sebenarnya Selfi sama seperti cewek yang takut kalah atau gagal. Tapi berusaha melupakan kata-kata Nazar dan Soimah yang cukup gak enak juga.

Rasa ingin maju pun timbul. Karena ada penggemar yang mendukung Selfi maju. Selfi terus berlatih dengan baik dan menetapkan dalam hatinya "Saya...ingin jadi pemenang bukan pecundang.....kalah karena sebuah keadaan apapun".

Sampai latihan pun selesai Selfi dan Rara berpisah. Selfi segera pulang ke rumahnya. Di dalam kamarnya Selfi pun rebahan di kasur.

"Selama ada keyakinan...untuk maju. Jalan untuk meraih....suatu hal yang gak mungkin jadi mungkin. Aku...pasti bisa jadi pemenang," kata Selfi.

Sampai waktu pun...akhirnya membuat Selfi tidur. Ibu pun masuk kamar Selfi ingin melihat anak tersayang berjuang menggapai semua mimpinya. Selfi tidur dengan baik. Ibu segera mematikan lampu kamarnya dan berkata "Mimpi yang indah....anak kesayangan Ibu."


Karya : No

Friday, August 2, 2019

NGOPI....DKI

Dono duduk santai di depan rumah di bawah pohon yang rindang sambil minum kopi yang enak buatannya sendiri.

"Malam yang tenang," kata Dono.

Indro pun mematikan Tvnya dan memutuskan keluar dari rumah untuk dudu bersama Dono menikmati malam yang indah. Indro menuangkan kopi di tekok kecil  gelas dan juga memang sengaja Dono   membuat banyak untuk temannya.

Indro menikmati kopi buatan Dono yang enak.

"Enak...Don. Kopi buatan kamu...," pujian Indro.

"Jelas...enak. Gratis....," kata Dono becanda.

"Iya...gratis. Tinggal minum aja. Oh...iya...Don. Saya punya permainan lagi yang cukup menarik," kata Indro.

"Apa..?" kata Dono.

"Masih...berkenaan dengan artis dangdut sih. Kamu...suka atau gak....permainan ini?" kata Indro.

"Karena suasananya...nyantai. Baiklah...saya ikutin permain kamu...Indro!" kata Dono.

"Dari 3 penyanyi dangdut ini yang sebutkan nama...Rara, Aulia dan Selfi mana yang kamu bela....jika terjadi persoalan di panggung lomba menyanyi?" tanya Indro.

"Putri......lah," jawab Dono.

"Kok...Putri. Kenapa....bukan salah satu...dari ketiga cewek penyanyi dangdut?" tanya lagi Indro.

"Alasannya....manis dan cantik....cuma itu saja," jawab Dono.

"Gak...ngambung...itu Don," kata Indro.

"Ok....saya...bela tiga cewek tersebut dengan jujur dan adil. Dengan nilai poin yang sama. Saya...jelaskan satu kesatuan. Semua...hanya pertandingan saja....pasti ada yang bagus atau tidakkan dalam proses memberikan satu tampilan ke publik. Tapi bagi....saya....bagus...aja 'Adil dan jujur'. Sederhanakan. Sudah puas Indro...?" kata Dono.

"Belum sih. Lebih...Don. Ke Fokus ke....satu orang. Maksudnya bener-bener memilih satu?" kata Indro.

"Ok...yang lagi hits di bicarakan sosial media aja. Ya...Selfi aja. Sebenarnya...saya tahu...cewek itu mampu, tapi ada ganjilnya....terlihat kebohongannya. Maksudnya begini. Ada sebuah cerita penulis tentang temannya penulis cewek. Temannya penulis ini gagal dalam mendapatkan nilai yang memuaskan dirinya. Air matanya mengalir karena kegagalan tersebut. Tapi dirinya punya keinginan memotivasi diri agar lebih baik lagi. Singkat cerita....berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan. Cerita ini sama kedudukannya di mana Selfi mendapatkan nilai tidak memuaskan dari Juri Nazar. Sampai di koreksi sih, tapi bagi penulis tetap ragu-ragu. Jadi gak masalah. Fokus lagi!!! Jadi Selfi harus membangun motivasi dalam dirinya bahwa dirinya mampu mencapai....nilai yang memuaskan......karena pepatah selalu bilang  kegagalan adalah  keberhasilan yang tertunda. Kalau di usahakan dengan baik pasti berhasil. Maka itu......di sinilah kebohongannya....??? Selfi itu mampu....tapi berbohong...karena yang jujur itu....adalah Selfi itu berdiri tegak di atas panggung megah...untuk menyanyikan....lagu yang telah di sepakatin dengan arasemen musik yang telah di sesuaikan....berarti bisa mencapai nilai...yang memuaskan dan menyajikan tampilan yang menarik," kata Dono.

"Berarti...Selfi itu....mampu jadi terbaik dan mencapai nilai memuaskan," kata Indro.

"Ya..iya. Kan sudah pake pengalaman temannya penulis....cewek lagi. Jadi...ya bisa. Cuma yang harus di koreksi...adalah mentalnya...agar punya..rasa ingin menggapai yang gak mungkin jadi mungkin. Contoh Luffy bertarung dengan anak buahnya Big Mam yang harga buronannya 1milyar. Luffy....kalah dari pengalaman bertarung dan kemampuan buah setannya. Tapi di dalam dirinya punya mental baja yaitu 'Saya harus menang'. Kata-kata ini memicu semangat....jadi tahan banting dengan keadaan apa pun. Pada akhirnya...Luffy bisa...mengalahkan anak buah Big Mam yang harga buronannya 1 milyar. Kesimpulannya...adalah 'Dari gak mungkin jadi mungkin'. Begitu...Indro," kata Dono.

"Dari gak mungkin jadi....mungkin. Berarti...Selfi bisa....mendapat nilai yang memuaskan," kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Bagaimana dengan lain...seperti Aulia dan Rara?" tanya Indro.

"Sama...aja kedudukannya. Bisa mencapai...dari gak mungkin jadi mungkin. Kunci motivasi diri untuk membangun diri.....maju," tegas Dono.

"Bener...bener..motivator......membangkitkan semangat....dengan kata-kata yang paling tepat untuk mencapai...sesuatu dengan kerja keras yaitu 'Dari gak mungkin jadi mungkin'....." kata Indro.

"Terimakasih atas pujiannya," saut Dono menyanjung dirinya.

"Biasa...kali..Don.Tapi...bagaimana penilai juri...Don  bisa ajakan...di jatuhkan...untuk nilai ini dan itu terlihat yang ganjil ? Manusia kan gak bisa membaca rahasia hati manusia hanya Alloh SWT yang tahu," kata Indro.

"Kalau itu gak usah di omongin. Pokoknya....saya menilai dengan nilai...orang awam saja. Rasa dalam diri penulis gak ada keresahan. Cuma sekedar memberikan masukan di terima boleh gak di terima ya....sudah. Sakit hati...itu gak ada gunanya....karena yang parah sakit jantung. Sekali serangan....jantung..lagi meninggal dunia," kata Dono.

"Jangan segitunya....Don. Lebih baik bersenang-senang. Kan cuma permainan. Mana yang di bela atau tidak. Pada akhirnya.......di bela semuanya. Sama kedudukannya....tanpa terkecuali...jadi 'Jujur dan Adil'......," kata Indro.

"Itu..benar," saut Dono lagi.

Dono dan Indro menikmati minum kopi yang enak lagi sambil menikmati malam yang tenang. Kasino pulang dari urusannya dan langsung duduk di antara Dono dan Indro. Ternyata Kasino bawa gorengan yang di beli dari warung Nabila. Langsung Dono dan Indro mengambil gorengan yang di taruh di meja di bungkus plastik putih. Dono dan Indro menikmati gorengan yang enak itu.
Kasino menuangkan tekok di dalam gelas dan segera di minumnya.

"Enak....kopinya. Buatan siapa?" tanya Kasino.

"Dono," kata Indro.

"Iya...saya," saut Dono.

"Oh..iya...Kasino....gimana.....
acara jalan sama Selfi hari ini?" tanya Indro.

"Sama...aja. Masih...aja penengahnya...Putri. Selfi yang ngajak. Jadi.....biasa biaya makan minum yang lumayan besar juga," kata Kasino.

"Jadi..masalah gak Kasino?" tanya Indro.

"Ya...enggaklah...jojong..aja. Udah biasa. Kaya...sama kalian berdua," kata Kasino.

"Oh..begitu," kata Indro.

"Udah..gak..ngobrolin tentang cewek. Ngobrolin yang lain...apa gitu?!" saran Dono.

"Apa..ya?" kata Indro.

"Bola...aja...lebih seruh," saran Kasino.

"Kalau...saya..sih inginnya...tentang Pemerintahan," kata Indro.

"Bola aja!," tegas Dono.

"Bola...aja!" tegas juga Kasino.

"Ok...bola..aja!!!," kata Indro.

Dono, Kasino dan Indro membahas tentang pertandingan sepak bola dengan klub bola yang mereka sukai dari dalam negeri sampai ke luar negeri dengan asik mungkin sambil menikmati kopi yang enak dan gorengan yang enak.


Karya : No

KEMBAR

Dono diam sambil langit yang cerah sekali. Sedang pancingan belum juga ada yang bergerak di mana ikan memakan umpan yang terpasang di pancingan. Kasino pun dateng menghampiri Dono dan duduk sebelahnya.

"Udah dapet ikan Don?"

"Belum....Kas?"

Kasino membawa makan dan berikan satu bungkus ke Dono.

"Terima kasih...Kas."

"Iya...sama-sama."

Dono membuka bungkusan makanannya.

"Nasi pecel...Kas."

"Iya....Don."

"Beli...dimana?"

"Di...warung Embok Fatimah.....Don."

Dono menikmati nasi pecel buatan Embok Fatimah begitu juga dengan Kasino. Selang berapa saat makan habis di makan keduanya dan Kasino pun memberikan botol aqua ke Dono dengan segera Dono meminumnya.

"Segarnya," kata Dono.

Dono pun masih bersabar umpan di pancingan di makan ikan. Kasino pun bertanya sesuatu yang sifatnya pribadi sedikit permainan alias becanda. Dono pun menanggapinya dengan keterbukaan karena sekedar permainan.

"Don.....seandainya...mana yang kamu pilih dari empat gadis yang sering kamu tulis di Blog....istilah kata ada niatan untuk menikahinya?" kata Kasino.

"Kasino....aku...memilih..siapa ya? Karena...seandainya....adalah Aulia...gimana?" kata Dono.

"Kok...pake...gimana...Don? Jadinya masih tanda tanya dong?" kata Kasino.

"Susah...untuk memutuskan...karena cuma permainan dan hayalan," penjelasan Dono.

"Kalau...kenyataan Don?" tanya Kasino.

"Kenyataannya....gak...saya pilih. Alasannya....cewek selalu mencari kesempurnaan untuk pasangan hidupnya. Maka pepatah menjelaskan lain di mulut lain juga hati. Walau di hadapan orang tua cewek tetap saja lain di mulut lain di hati. Kalau....kepepet alias mentok....gak ada lain. Pada akhir menerima....cowok yang ingin diri cewek tersebut jadi pasangannya," Dono menerangkan.

"Sama....juga cewek milih yang ganteng, karen dan kaya. Jadi....susah kalau cowok banyak kekurangan mendapat cewek yang di sukainya," kata Kasino.

"Ya....begitulah. Kaya...ini...sama dengan kisah teman penulis yang di tolak cewek ...alasannya tampang dan pekerjaannya," kata Dono.

"Ya...begitulah. Kadang...menceritakan tentang pengalaman orang lain. Kan jadi masukkan untuk kita bisa memahami sesuatu. Pada akhirnya.....cinta itu semu," kata Kasino.

"Kok...semu...Kas?"

"Semu...lah. Ini cuma seandainya bukan kenyataan. Kemungkinan nol....Don."

"Udahlah....cuma permainan gak usah di perhitungkan banget. Pada akhir....hanya di depan kita yang nyata...menunggu umpan di pancingan di makan. Kalau beruntung dapet kalau gak beruntung juga dapet. Sama urusannya mengejar cinta," kata Dono.

"Berarti mendapat cinta cewek yang di sukai...butuh kebruntungan," kata Kasino.

"Yo...i," saut Dono.

Pancingan Dono bergerak segera di tarik Dono dengan penuh kehati-hatian banget. Usaha Dono berhasil juga mendapat ikan dengan sabar menunggu.
"Hebat Don...dapet ikan...," pujian Kasino.

"Dono...gitu," saut Dono.

Ikan emas pun di taruh di ember oleh Dono. Hari mulai sore. Dono dan Kasino memutuskan untuk pulang dan mengakhiri acara memancing. Dengan berjalan kaki sampai di persimpang jalan. Dono melihat cewek cantik yang di kenalnya.

"Wulan," kata Dono.

"Mana...Wulan?" tanya Kasino.

"Itu.....yang sedang berjalan menuju arah sini," kata Dono.

Kasino memperhatikan dengan seksama cewek yang di lihat Dono.

"Ha....Wulan," kata Kasino.
"Benerkan...Wulan," saut Dono.

"Bukannya...Wulan sudah meninggal...Don?" tanya Kasino.

"Eeeemang...Wulan sudah meninggal. Tapi ini....kembarannya...namanya       Mulan," penjelasan Dono.

"Jadi...Don...kamu...ngesir dengan adiknya...Wulan juga?" tanya Kasino.

"Ya....begitulah," kata Dono.

"Apa kata orang. Kakaknya kamu dapetin...sekarang adiknya?" tanya Kasino.

"Lumrah aja. Cinta itu di jalanin dengan mengikuti alur dari arus cinta tersebut pada akhirnya ke tujuan juga," kata Dono.

"Ya...terserah kamu Don. Itu pendapat kamu.."kata Kasino.

"Tunggu sebentar...aku mau memberikan ikan ini untuk Mulan," kata Dono.

"Terserah..kamu...Don," kata Kasino.

Dono menghampiri Mulan untuk memberikan ikan emas yang baru di dapatkan dari memancing. Mulan menerima pemberian Dono dan mengucapkan 'Terimakasih'. Dono pun seneng banget dengsn menjawabnya dengan lembut karena niat baiknya di terima 'Sama-sama'.
Dono pun meninggalkan Mulan karena arah tujuan pun berbeda. Dono bersama Kasino menuju pulang ke rumahnya.

"Gimana perasaan...kamu..Don..telah bertemu dengan Mulan...adiknya Wulan?"

"Sama...aja. Tetap ada yang beda," kata Dono.

"Ya...jelas Don. Pepatah sering bilang seperti ini 'kembar itu wujutnya, tapi sifat beda padahal satu dari orang tua yang sama," penjelasan Kasino.

"Maksudnya Kas?" tanya Dono.

"Pola...menjalani hidupnya yang beda," kata Kasino.

"Pantes....saya harus lebih esktra memahami Mulan dari pada Wulan. Karena sifat Mulan lebih keras dari Wulan berkenaan dengan pendiriannya dalam menjalani hidup," penjelasan Dono.

"Yang..sabar," kata Kasino.
Tiba-tiba Indro berhenti di samping Kasino.

"Ayo....naik!" ajakan Indro untuk naik motornya.

"Ok," jawab Kasino dan Dono.

Kasino dan Dono sudah naik motor Indro. Dengan penuh hati-hati Indro membawa motornya sampai menuju ke rumah. Sampai di rumah seperti biasanya ketiganya menjalankan aktivitas masing-masing sampai waktu berganti malam baru mereka bertiga ngobrol depan teras untuk ngobrol apapun berkenaan seharian menjalani hidup dan sambil menikmati kopi anget di tambah gorengan yang di beli di warung Nabila.

Sampai pada waktunya ketiganya memutuskan untuk nonton Tv untuk menonton acara kesukaan dan lanjutan dari sebuah cerita yang diatur dengan baik agar menarik di tonton yaitu perlombaan musik dangdut. Kadang Kasino sampai berkata seperti ini pada Indro yang paling suka nonton acara dangdutan "Apa gak ada...acara yang lain...aja?".

"Banyak...sih. Tapi...acara ini lagi bagus-bagusnya....mulai panas...pertandingannya," penjelasan Indro.

"Ya...sudah....ikut aja," kata Kasino.

Kasino mengikuti maunya Indro karena sebenarnya cuma becanda. Dono diam aja lagi asik nonton aja. Acara pun berlangsung dengan baik sampai selesai. Ketiganya memutuskan untuk istirahat dan di matikanlah Tv.

Dono, Kasino dan Indro tidur di kamar masing-masing. Esok hari pun ketiganya bangun dengan keadaan sangat baik banget karena cukup istirahat. Seperti biasa Indro menyiapkan sarapan pagi karena jatah untuk menyiapkan sarapan pagi hari Indro kalau besok baru Dono. Ketiganya menikmati sarapan pagi yang enak baru deh berangkat kerja ke tempat kerjaan masing-masing dengan penuh semangat untuk pernyataan di dalam diri ketiganya "Hari ini lebih baik dari hari kemarin".


Karya : No

Wednesday, July 31, 2019

PUTUSKAN AKU

Malam itu Dono hanya bisa terdiam di seberang jalan melihat Wulan sedang di datengin oleh seorang cowok yang ingin bertamu ke rumahnya. Padahal Dono baru pulang dari luar kota untuk urusan kerjaan sekaligus urusan keluarga. Karena sibuk, maka melupakan Wulan sejenak....urusan pacaran si pending dulu. 

Baru satu bulan Dono ingin memberi kejutan pada Wulan dateng ke rumahnya....malah Dono yang terkejut sekali. Padahal info yang di berikan Kasino tidak gubris oleh Dono....alias tidak percaya lebih percaya Wulan...orang yang di cintai Dono.

Kenyataannya....Kasino bener setelah melihat sendiri. Dono bersikap dewasa banget tidak....seperti cowok zaman sekarang menangis kalau patah hati gara-gara cinta ini dan itu berdasarkan pengalaman teman penulis yang curhat pada penulis. 

Dono meninggalkan tempat tersebut dan dalam hatinya berkata "Gadis lain banyak yang mampu menjaga satu cinta."

Sampai di rumah. Dono duduk seperti biasanya di ruang tamu sambil memainkan gitar dan menyanyikan sebuah syair lagu.

Isi syair lagu yang dinyanyikan :

"A...ku slalu saja
Mengalah untukmu
Di setiap pertengkaran kita....kita
Woo.....wooooo
Mungkin kah tak mungkin
Kita kan berakhir
Bila kau tak pernah berubah
U...bah si...kapmu
Apakah kau su....dah
Mungkin pada...ku.....padaku

Putuskan saja....bila ka....mu
Sudah tak mencin.....tai......ku lagi
Hapuskan semua......tentang ki....ta
Di hatimu
Putuskan saja.......bila kamu
Sudah tak mencin.....tai...ku lagi
Hapuskan semua.....tentang kita di hatimu
Di hatimu
Hapuskan semua.......tentang kita di hatimu
Di hatimu"

Selesai menyanyikan syair lagu. Dono terdiam. Indro pun duduk di sebelah Dono.

"Kenapa Dono...murung?" kata Indro melihat keadaan Dono.

"Kayanya...saya...ingin putus dari Wulan...aja," kata Dono.

"Kenapa...Dono...kamu ingin putus dari Wulan?" tanya Indro.

"Hati Wulan mendua. Saya lebih baik menghindari masalah dulu. Menunggu waktu yang tepat....apa saya mengucapkan putus atau kah Wulan," kata Dono.

"Kalau...begitu kamu bisa bersabar menghadapi ujian dari percintaan kamu. Tapi menurut....saya...Ikhlasan...Wulan dari sekarang. Agar tidak jadi beban dalan menjalani aktivitas," kata Indro.

"Saya terima saran kamu....Indro," kata Dono.

Indro meninggalkan Dono dan melanjutkan pekerjaannya di dapur yang sedang membuat sesuatu yang enak. Dono pun menaruh gitarnya pergi ke rumah Rara untuk ngobrol.

Sampai di rumah Rara. Niatnya sesuai rencana awal untuk ngobrol dengan Rara di rumahnya, tapi lebih baik ngobrol di kafe tempat biasa Dono menghabisi waktu. Sampai di kafe Dono dan Rara bercerita banyak hal seperti biasanya selayaknya teman. Sampai ketika Wulan dateng bersama cowoknya ke kafe tersebut dan melihat Dono dan Rara.

Dono tidak peduli dengan Wulan mau jalan dengan siapa pun karena dapet saran terbaik dari temannya untuk mengikhlaskan hubungannya dengan Wulan. Dono dan Rara jojong aja bicara tidak mengumbar kemersaan seperti Wulan dengan cowoknya. Pada akhirnya Wulan malu sendiri dengan tingkah cowoknya dan segera meninggalkan kafe.

Rara sebenarnya tahu Wulan melihat Dono sedang mengobrol dengannya. Dalam hati Rara "Apa saya...ini yang perusak hubungan Dono dan Wulan". Tapi ternyata Dono bisa membaca espresi Rara dan berkata "Jangan terbawa suasana....santai".

Rara pun paham yang di omongin Dono. Setelah itu Dono mengantar Rara pulang karena urusan dengan Rara hanya sekedar ngobrol saja. Sampai di rumah. Dono mengambil leptopnya dan duduk di ruang tamu. Mulai Dono mengetik sesuatu yang menarik dengan judul "Putuskan Aku.

Kasino pun baru pulang dari urusan kerjaanya dan mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum".

"Waalaikum salam," jawab Dono.

Kasino pun duduk di sebelah Dono dan membaca tulisan yang sedang ketik Dono di leptopnya.

"Putuskan Aku," kata Kasino.

"Iya," saut Dono.

"Jadi....kamu...sudah putus sama Wulan atau belum?" tanya Kasino.

"Belum...saya belum memutuskan untuk putus dengan Wulan....tapi Wulan belum bilang putus juga," kata Dono.

"Jadi...gitu sih urusannya gantung hubungan kamu Don. Tapi saran saya....lupakan saja. Masih banyak cewek....bisa bertahan dengan satu cinta," kata Kasino.

"Sebenarnya....saya sih sudah dapet...cewek tersebut. Tapi tetap...saya lebih baik waktu yang menjawab segalanya," kata Dono.

"Kalau...begitu...sih jalanin aja. Gak perlu ....di kejar target untuk pernyatan putus atau enggaknya," kata Kasino.

"Iya," jawab Dono.

Kasino pun beranjak duduk dari Dono menuju kamar untuk mengerjakan sesuatu. Dono melanjutkan mengetiknya. 

***

Wulan pun merasa gelisah di kamarnya hampir fustasi dengan keadaan percintaannya dan berkata "Seandainya saya...tidak jodoh...kan orang tua dengan John urusan bisnis. Saya...tidak akan mengalami keadaan percintaan sama Mas Dono....seperti ini. Mau putus bingung. Gak putus juga bingung".

Wulan pun keluar dari kamarnya dan berusaha bicara Ayahnya baik-baik di ruang tengah untuk menggagalkan pertunangan dengan John. Tetap hasilnya Ayah Wulan tidak bisa menerima permintaan Wulan. Pada akhirnya Wulan tidak bisa membantah Ayahnya dengan alasannya "Semua ini demi masa depan kamu. Hidup bukan makan cinta tapi kenyataannya yaitu uang...itu bisa membahagiakan kamu...agar tidak hidup miskin".

Wulan diam dan diam saja. John pun dateng ke rumah Wulan biasa untuk mengajak Wulan jalanan-jalan. Seperti biasa Wulan berakting di hadapan John agar terlihat menyakinkan. John dan Wulan pun jalan-jalan ke Mall. Lagi-lagi Wulan bertemu dengan Dono berpapasan. Tetap saja Dono tidak menggrubis dan membiarkan Wulan jalan dengan cowoknya. Dono pun sibuk dengan urusannya.

Wulan pun bingung dengan sikap Dono dalam hatinya berkata "Mas Dono..ini aneh gak ada cemburu-cemburunya. Padahal saya jalan dengan cowok lain".

Wulan akhirnya tidak peduli dengan perasaannya dan tetap menjalani hidupnya yang telah di atur orang tua demi kebaikan dirinya.

***

Dono pun bertemu dengan Rara di Mall karena tidak di rencanakan. Seperti biasa dengan sikap baik Dono mengajak Rara ngobrol di kafe. Rara pun menerima ajakan Dono. Dengan asiknya Dono ngobrol di kafe dengan Rara. Wulan pun dateng kafe tersebut bersama John. Baru duduk perasaan Wulan sangat gelisah banget, lalu Wulan pun bicara ke John "Saya...ada..urusan dengan cowok di sana urusan pekerjaan. Jadi....Abang John nunggu sebentar....di sini. Cuma sebentar kok".

"Iya...baiklah," kata John.

Wulan pun mendatengi Dono yang bicara dengan Rara. Terkejut Rara di hadapannya Wulan dalam hati Rara "Apa saya perusak hubungan Mas Dono dengan Wulan?".

"Mas..bisa bicara sebentar gak," kata Wulan memaksa.

"Boleh. Di sini," kata Dono.

"Di tempat lain," kata Wulan.

"Baiklah," kata Dono.

Dono menyuruh Rara menunggunya karena ada yang harus di bicarakan dengan Wulan. Rara pun mengerti dengan santai sambil minum. Dono pun beranjak dari duduknya mengikuti Wulan. Sampai di tempat yang cukup baik untuk ngobrol dekat lif. 

"Mas... Wulan ingin kejelasan hubungan..kita," kata Wulan.

"Mau....kamu apa? Saya ikut saja," kata Dono.

"Bawa...lari...Wulan dan nikahi Wulan," permintaan Wulan.

Terkejut Dono mendengar permintaan Wulan dan berkata "Gimana dengan cowok yang bersama Wulan sekarang ini?".

Wulan pun menjelaskan semuanya tentang keadaan dirinya sebenarnya. Dono baru mengerti bahwa keadaan Wulan sebenarnya, maka itu Dono bisa aja mengikuti maunya Wulan.Tapi Dono pun bersikap dengan bijaksana dan berkata "Maaf Wulan...Mas gak bisa. Lebih baik urusan cinta kita selesai di sini aja. Karena....hubungan yang tidak di restui orang tua....gak baik. Saya Ikhlas kamu...bersama cowok yang telah di jodohkan orang tua kamu demi kebaikan kamu. Orang tua kamu lebih.....berhak untuk menentukan masa depan terbaik untuk anaknya".

"Jadi....hubungan kita putus," kata Wulan sambil meneteskan air matanya.

Dono pun meninggalkan Wulan karena urusan pembicaraan selesai. Dono pun kembali ke tempat di mana Rara menunggu Dono dan segera mengajak Rara meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin.

Wulan yang kecewa dengan sikap Dono yang tidak ingin memperjuangkan cinta. Jadi dengan tegar Wulan pun meneruskan hubungan dengan John karena urusannya Wulan dan Dono sudah selesai dengan kesepakatan putus.

***

Selesai mengantar Rara pulang ke rumahnya.....Dono segera pulang ke rumah. Duduklah Dono sambil menonton Tv. Indro pun selesai masak gorengan di taruh di meja baru duduk bersama Dono.

"Don cobain...gorengan saya," kata Indro.

"Iya," jawab Dono.

Indro melihat Dono sedikit aneh dan bertanya "Kalau ada masalah cerita Don....siapa tahu saya bisa menolong?".

"Masalahnya...cuma satu. Saya putus dengan Wulan. Alasannya...saya mengikhlaskan Wulan bersama cowok lain....yang di jodohkan orang tuanya," cerita Dono.

"Kalau...begitu sih. Gak usah di pikirkan lagi....jalanin hidup dengan santai....aja. Nanti hilang sendiri," kata Indro yang menasehati Dono.

"Iya....," saut Dono.

Dono menikmati gorengan buatan Indro sambil nonton Tv begitu juga dengan Indro.


Karya : No

BETAPA AKU MENCINTAIMU


Suasana hati lagi senang Dono memutuskan mengetik di mengetik di depan leptopnya. Sedangkan Indro main gitar di teras depan sambil melantunkan sebuah syair lagu.

Isi syair lagu yang dinyanyikan Indro :

Beta....pa....aku mencinta....imu
Dengan se....pe....nuh hatiku
Beta...pa aku menyayangi....mu
Lebih da....ri yang kau tahu

Ingiku....bahagiakan di....rimu
Setiap....sa.....at....bersama...mu
Seper....ti janjiku kepa..mu
Takkan per....nah ku ingkari

Aku kan slalu.....A....da di dekatmu
A.....ku kan selalu menemani harimu
Kau harus tahu
Be....pa aku mencin.....taimu
Wooohoo

Beta....pa......aku mencintai....imu
With Everyday
In Said Of Me

Selesai menyanyikan lagu Indro langsung masuk rumah dan duduk bersama Dono sambil membaca tulisan di Blog Dono.

"Wulan....Don," kata Indro.

"Iya....," saut Dono.

"Jadi beneran nulis cerita Wulan lagi," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

"Konsisten banget. Sampai membangkitkan kisah Wulan dengan alur cerita beda lagi, tapi menarik kalau di baca. Karena....paling menarik saya baca...sih Don. Jadi cewek menunjukkan pesona kecantikan dirinya pada cowok yang di sukai....berarti membuka dirinya untuk di pilih," kata Indro.

"Iya. Berdasar survei yang saya kumpulkan....kenyataannya seperti itu," penjelasan Dono.

"Itu sama...aja kamu membuka rahasia cewek. Karena gelagat cewek sama aja dengan rahasia hatinya," kata Indro.

"Emang kenyataannya...begitu....kan. Jadi gak perlu di sembunyikan," kata Dono.

"Ya..., tapi kenapa Wulan diangkat cerita lagi bukan Rara...aja? Jadikan cerita berlanjut," kata Dono.

"Jawabannya.....sama dengan lagu yang kamu nyanyikan Indro," kata Dono.

"Betapa aku mencintaimu," kata Indro.

"Benar sekali," saut Dono.

"Kalau....begitu...sih gak ada komentar deh. Terusin aja...tulisan kamu Don. Pada hal saya...tahu...kamu lagi mengenang Wulan," kata Dono.

"Ya.... begitu lah," saut Indro.

"Kalau begitu..saya nonton Tv aja deh.....karena....ada kartun baru," kata Indro.

"Dasar anak kecil," kata Dono.

"Biarin aja....saya suka," jawab Indro.

Indro beranjak dari duduk bersama Dono menuju ruang tengah dan langsung menyetel Tv untuk menonton kartun. Dono melanjutkan mengetiknya untuk menyelesaikan tulisannya di Blog. Kasino pun baru pulang dari kerjaannya dan mengucap salam saat masuk rumah "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono.

Kasino pun duduk di sebelah Dono. Tercenganglah Kasino membaca tulisan Blog....Dono "Wulan".

"Iya," saut Dono.

"Kenapa kamu mengangkat cerita Wulan tapi...kayanya alur ceritanya beda?"

"Jawabannya.....adalah.....suka aja," kata Dono.

"Suka....atau....Rindu?" kata Kasino.

"Bisa...jadi...bisa jadi....alias mengenang....seorang yang di cintai telah lama pergi," penjelasan Dono.

"Mengenang benar pernyataan kamu. Yang sebenarnya karena yang masuk ke dalam Blog kamu dan membaca....kisah Wulan. Pada akhirnya.....reting tuh naik tuh. Jadi...kamu mencoba membuat cerita baru....yang sama tokoh utama....yaitu Wulan," kata Kasino.

"Bisa jadi....bisa jadi. Ya...benarlah. Orang...kamu...Kasino...lihat reting apa yang di baca....masyarakat....lewat sistem yang di atur Blog," kata Dono.

"Ya...udah terusin....aja nulisnya!!!. Astaga...ada barang saya yang ketinggalan. Kalau...gitu saya ke kantor.....lagi," kata Kasino.

"Ya....udah.....sana berangkat," saut Dono.

"Asalamualaikum," kata Kasino.

"Waalaikumsalam," jawab Dono.

Kasino segera ke kantor dengan menggunakan motor dan di jalankan dengan kecepatan setandar. Dono masih mengetik di leptopnya untuk menyelesaikan tulisan di Blognya. Selang berapa saat selesai juga Dono menyelesaikan tulisannya dan di publikasikan dengan judul "Wulan".

Baru deh Dono membawa leptopnya dari ruang tamu di kamarnya dan di taruh di meja belajar. Baru deh Dono nonton bareng bersama Indro nonton Tv acara kartun. Lama-lama Dono nonton acara kartun boring banget dan mengambil remot.

"Don...mau ngapain?" tanya Indro.

"Ganti...chenel....ingin nonton...acara Tv yang lain!" kata Dono.

"Kan lagi bagus....acara kartunnya ....Don," kata Indro.

"Masalahnya...nonton kartun...merasa kekanak-kanakan banget," kata Dono.

"Biarin....saya suka," kata Indro.

"Ya...udah. Kalau begitu kita...nonton...Spiderman terbaru...aja gimana lemat chenel Indihome. Lebih...asik....tuh. Kan Spiderman...kartun...yang diangkat cerita...kelayar lebar dan proses alur cerita bagus di tambah denga kostumnya yang terbaru...modern ..gitu. Belum lagi musuhnya...Spiderman...lebih realita...kenyaataan gitu...kalau di tonton," kata Dono.

"Ok...kita...nonton Spiderman yang baru," kata Indro.

Dono pun mengganti chenel Tv dan memilih Film Spiderman. Mulai Film tayangan di layar Tv. Dono dan Indro mulai serius nonton Tvnya dengan acara pilihan...yaitu Film Spiderman.


Karya : No

CAMPUR ADUK

SANGDIL SANAM

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus film horor di channel ANTV, ya Budi duduk dengan santai di depan rumahnya seda...

CAMPUR ADUK