CAMPUR ADUK

Saturday, February 3, 2018

PUTRI YANG BAIK HATI

Tikus berlari dengan cepat di sebuh kerumunan orang. Telihat Putri di atas panggung yang megah. Memanjat pangung dengan cepat. Lalu sebuah mulut menerkam Tikus.  Dengan cepat Tikus menghindari terkaman dari mulut Kucing.

"Hampir saja," kata Tikus.

"Dasar....sial....... Kamu bisa menghindari serangan saya," kata Kucing.

Kucing menyerang Tikus dengan penuh agresipnya. Cakar yang tajam terus diarahkan oleh Kucing ke Tikus. Menghindar cepatlah Tikus serangan mematikan Kucing. Tikus pun berusaha menjauh dari Kucing. Berlari sekuat tenaga. Lagi-lagi Tikus di serang Kucing Hitam dengan cakar yang mematikan. Dengan tanggap Tikus menghindari serangan Kucing Hitam.

"Sial...saya di buru dua Kucing sekaligus," kata Tikus sambil berlari.

Tikus pun masuk sebuah lubang kecil di balik dinding.

"Akhirnya saya selamat," kata Tikus.

Dua Kucing terus mencoba mengorek-ngorek lubang dengan cakarnya. Tapi Tikus tidak bisa terjangkau oleh dua Kucing.  Lalu dua Kucing mencari cara untuk mencari Tikus. Kucing berlari dengan cepat ke area yang lain. Tikus yang tahu dua Kucing pergi melihat dari balik lubang dinding.

"Saya aman........dari makluk buas...," kata Tikus.

Tikus dengan cepat berlari menuju tuannya. Terlihat Putri sedang duduk di pangung yang megah menunggu giliran menyanyi. Tapi tiba-tiba Kucing Hitam tepat di hadapan Tikus.

"Mau ke mana lagi?," kata Kucing Hitam.

Tikus berusaha untuk mundur. Tetapi di belakangnya ada Kucing lagi.

"Mau lari ke mana lagi?" kata Kucing.

"Sial...saya tidak bisa lari.....," kata Tikus.

Putri pun melihat Tikus kesayangannya. Dengan cepat mengambil Tikus dengan tangannya. 

"Hay binatang lucu......," kata Putri.

Tikus merasa senang selamat dari dua Kucing. Tikus pun mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Terus mengeliat-geliat. Putri melihat binatang piaraannya yang lucu terlihat sakit. Putri sangat khawatir sekali. 

"Saya...harus pergi...dari tuan saya....kayanya kutukan saya mulai berakhir," kata Tikus.

Tikus pun melompat dari tangan Putri jatuh ke lantai pangung yang megah. Tiba-tiba berubahlah Tikus menjadi sosok seorang pangeran yang gagah perkasa. Dua Kucing pun terbengong. Putri pun menjadi sok. Apalagi semua orang di pangung yang besar dan megah. Tikus pun mulai mendekati Putri.

"Saya berterima kasih kamu telah banyak menolong saya.......selama ini," kata Tikus.

"Jadi...kamu...ini....siapa sebenarnya?" tanya Putri.

"Saya adalah seorang pangeran dari kerajaan sihir yang di kutuk oleh penyihir jahat yang ingin mengambil kekuasaan di kerajaan saya," cerita Tikus.

"Bukan kamu ini Ridho kan........," kata Putri.

"Bukan saya bukan Ridho atau Risky," kata Tikus.

"Tapi tampang kamu...sama dengan Ridho dan Risky," kata Putri.

"Saya bernama Richat.....dari Dunia Cermin," katanya.

"Richat.....bukannya Tikus," kata Putri yang masih bingung.

"Saya akan membuktikannya," kata Richat.

Richat mengunakan kemampuan sihirnya membuat orang tidur dalam keadaan berdiri. Lalu Richat menghapus semua ingatan tentang Richat adalah seekor Tikus. Putri melihat kebolehan Richat dengan sihir hebatnya. Putri pun yakin dengan kehebatan Richat. Karena Putri sudah percaya kehebatan sihir Richat. Dengan cepat Richat membangun semua orang. 

"Kita lanjutkan nanti pembicaraan kita," kata Putri.

"Tapi saya ingin berterima kasih karena kamu adalah orang yang paling baik," kata pujian Richat.

"Saya...mau bernyanyi... Masalahnya saya masih kerja," kata Putri.

"Oh...begitu... saya duet dengan kamu...wahai Putri yang cantik," kata Richat.

"Terserah...kamu............," kata Putri.

Putri dan Richat bernyayi berdua di pangung yang megah diiringi dengan arasemen musik yang heboh. Dengan sedikit sihir semua di bikin lebih heboh oleh Richat. Semua orang terkagum-kagum dengan kehebatan sulap Richat. Putri pun senang dengan hubungan baik dengan pangeran. Richat bahagia karena berhasil kembali menjadi manusia dan terbebas dari kutukan penyihir jahat.  

KATA-KATA WULAN

Siang hari yang cukup panas di kota Jakarta. Dono sedang berjalan menuju rumah Mpok Tati. Selang berapa lama sampailah di rumah Mpok Tati di kontrakan kecilnya. Dono hendak mengetuk pintu rumah Mpok Tati. Tapi ternyata Mila anak Mpok Tati membuka pintu rumah. Dengan membawa sebuah bungkusan.

"Mas Dono.......disuruh Ibukan untuk mengantarkan pesanan kue ke rumah Wulan tetangga Mas Dono,"  kata Mila.

"Iya.......," jawab Dono.

Mila langsung menyerahkan bukusan berisi kue ke Dono. Dengan baik Dono menyambutnya.

"Oh...Mila... Mas boleh nanya gak tentang sesuatu masalah Wulan,"  kata Dono.

"Masalah tentang Wulan," saut Mila.

"Kamukan dekat dengan Wulan kan. Apa bener Wulan putus dengan pacarnya sekarang," kata Dono.

"Bener....Mas. Pernyataan Wulan pacarnya selingkuh. Wulan mendapatkan buktinya lewat teman-temannya," kata Mila.

"Oh...begitu," saut Dono dengan berpikir.

"Jangan-jangan Mas Dono...... Suka dengan Wulan," kata Mila.

"Suka bolehlah, tapi mencintainya nanti dulu......," kata Dono yang lugu.

"Siapa bilang cinta.............?" kata Mila.

"Jadi saya gak nyambung toh," kata Dono.

"Iya.....gak nyambung. Tapi itu urusan Mas Dono. Suka atau tidaknya. Cinta atau tidak cinta," kata Mila sedikit ribet.

"Loh suka dan cinta kan bedanya tipis... Kalau urusan hubungan pria dan wanita," kata Dono.

"Bedanya jauh Mas Dono. Dari sebuah kata dan makna pun jauhhhhh....banget," kata Mila.

"Ya..udah...kalau begitu saya mau mengantarkan kue ini," kata Dono.

"Ya...hati-hati di jalan," jawab Mila.

Mila langsung masuk ke dalam rumah. Dono pun berjalan menuju rumah Wulan dengan melewati gang kecil dan sempit. Selang berapa saat sampai di rumah Wulan. Dono pun mengetuk rumah Wulan di barengin dengan salam " Asalamualaikum." Dengan sabar Dono menunggu di teras depan rumah Wulan. Keluarlah sesosok gadis pujaan hatinya. Dono pun terbengong. Lagu cinta pun terngiyang-ngiyang di kepalanya. Wulan pun menjawab " Waalaikum salam." Dono pun kembali ke dunia kenyataan.

"Ada perlu apa Abang Dono ke sini?," tanya Wulan dengan ketus sekali.

"Saya..mau mengantarkan kue," kata Dono.

Dono pun memberikan kue Wulan. Dengan baik Wulan mengambil kue yang di bungkus rapih.

"Masuk....dulu," kata Wulan mempersilakan Dono.

"Ya....," jawab Dono.

Wulan dan Dono masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi Dono duduk di sofa yang bagus baget. Sedangkan Wulan membawa kue masuk ke ruang tengah dan di taruh di atas meja makan. Wulan pun mengambil uang dari dompetnya. Bergerak Wulan dan duduk di sebelah Dono.

"Abang ini..uang bayaran kuenya," kata Wulan yang mulai lembut.

"Iya," saut sambil mengambi uang dari Wulan.

Dono pun memasukan uang ke dalam saku celananya. Tiba-tiba Wulan pun mulai lebih dekat duduknya dengan Dono. Sontak Dono hanya diam saja.

"Saya suka kamu," kata Wulan.

Dono lebih terkejut lagi dengan omongan Wulan. Hanya diam seribu bahasa Dono. Wulan pun langsung berubah menjauh dari Dono.

"Kalau begitu saya permisi dulu," kata Dono.

"Iya," jawab Wulan.

Dono pun keluar dari rumah Wulan. Dengan segera Wulan menutup pintu rumahnya. Di perjalanan Dono berpikir keras dengan omongan Wulan. Lalu Dono terdiam 100 langkah dari rumah Wulan.

"Bener-bener cewek pandai membohongi perasaannya. Baru putus sudah mencari cowok lain hanya untuk menutupi idialisnya saja," celoteh Dono.

Dono berjalan lagi menuju rumah Mpok Tati. Selang berapa saat sampai di rumah Mpok Tati. Terlihat Mila yang membereskan cucian yang di jemur di halaman depan.

"Mila ini uang dari kuenya," kata Dono.

"Iya..Mas Dono," saut Mila sambil mengambil uang dari Dono.

"Mila ... Saya boleh minta tanggapan Mila tentang sesuatu yang ganjal menurut saya ," kata Dono.

"Boleh.... masalah apa  Mas Dono?" tanya Mila.

"Tadi .....saya bertemu dengan Wulan. Eh di bilang ..... Saya suka kamu," kata Dono.

"Itu mah....Mas Dono jadi pelarian perasaan Wulan. Pengganti pasangan," kata Mila.

"Pelarian dari sebuah perasaan yang bimbang. Jujur atau bohong," kata Dono.

"Mas...Dono...semua cewek...kalau putus dari cowoknya kacau. Apalagi kalau gak punya pasangan lebih kacau lagi. Biasanya tuntutan umur untuk menikah," kata Mila.

"Bingung...ah," saut Dono.

"Ya...bingunglah...orang Wulannya dalam posisi galau," kata Mila.

"Kalau begitu saya permisi dulu," kata Dono.

"Entar...dulu......upahnya kan belum Mila kasih," katanya.

"Oh...iya....," kata Dono.

Mila memberikan upah untuk Dono karena telah membantu mengantarkan pesan kue ke rumah Wulan. Dono dengan senang mengambil uang yang di beri oleh Mila. Walau nilai uang sedikit. Dono tetap bersyukur dengan rezekinya hari ini.  Dono pun pergi meninggalkan rumah Mpok Tati. Dan Mila masuk ke dalam rumah dengan membawa pakaian yang sudah cukup kering. Dengan santainya Dono berjalan menuju mesjid.

"Lebih..baik saya istikharoh...saja.......... Siapa tahu bener omongan Wulan?" celoteh Dono sambil jalan.

Azan pun di kumandangkan. Dono tepat sampai di depan mesjid. Masuklah Dono beserta para warga yang lain ke dalam mesjid untuk melaksanakan sholat asar.

Friday, February 2, 2018

CERITA DONO

Selesai berjualan somai. Dono bergerak menuju di mana Indro berjualan. Dengan berjalan kaki Dono melewati gang-gang kecil di area perumahan yang padat merayap. Tiba-tiba Dono pun terkejut sekali. Melihat Wulan bertengkar dengan pacarnya di pinggir jalan. Dono pun melangkah mundur dan bersembunyi di gelapnya malam. Dengan seksama Dono melihat pertengkaran tersebut yang membuat hati Dono berdebar kencang. Pertengkaran itu pun makin parah. Pacar Wulan ingin menampar Wulan. Dono melihat geram sekali. Tetapi tetap sabar Dono menahan dirinya. Khawatiran Dono pun ada batasnya. Pacarnya Wulan tidak mampu menahan emosinya. Tangan pun mulai ingin benar-benar menampar Wulan.

Dono bertindak selayaknya seorang pahlawan. Lalu di peganglah tangan pacarnya Wulan dengan genggaman yang sangat kuat.

"Jangan main kasar....sama wanita," kata Dono.

"Lepaskan jangan ikut campur," kata pacarnya Wulan.

Dono melepaskan genggaman yang kuat. Wulan pun bersembunyi di balik Dono. Pacar Wulan pun malu dan tidak bisa berkata-kata. Lalu pergilah pacar Wulan dengan membawa mobilnya dengan cepat. 

"Wulan...gak apa-apa?" tanya Dono.

"Jangan ikut campur urusan saya," kata Wulan yang ketus.

Dono pun terkejut pembicaraan Wulan.

"Saya hanya lewat dan ingin mencoba melerai dari pertengkaran kalian di jalan," kata Dono.

Tiba-tiba Wulan menangis. Lalu Dono mencoba ingin memeluk Wulan. Tapi karena teringat kata guru ngajinya " jangan coba memegang wanita yang bukan mukrimnya ....haram hukumnya." Dono pun hanya diam di tempat melihat Wulan yang menangis sambil berjongkok. Dono dengan sabar menunggu Wulan yang bersedih hatinya. Waktu pun berlalu cukup lama. Akhirnya isak tangis Wulan pun berhenti.

"Saya anter pulang," kata Dono.

"Iya...," jawab Wulan.

Dono pun mengantar Wulan pulang ke rumahnya. Dengan berjalan kaki mereka menuju pulang rumah. Ketika persimpangan gang. Dono langsung meminjam motor dengan Kasino. Dengan baiknya Kasino meminjamkan motor bututnya. Dengan segeralah Dono membonceng Wulan. Motor pun di bawa dengan hati-hati sampai rumah Wulan. Selang berapa saat sampai di rumah Wulan.

"Wulan kalau begitu saya pamit dulu...," kata Dono.

Wulan hanya diam. Langsung masuk ke dalam rumah. Dono pun membalik arah motornya dan melaju dengan tenang menuju tempat Indro berjualan. Sesampai di tempat Indro dengan segera Dono memarkirkan motornya.  Setelah itu Dono duduk bersama Indro.

"Indro...gimana jualan mu hari ini?" tanya Dono.

"Lumayan ...lah Dono....," jawab Indro.

"Ngomong-ngomong saya...pesan nasi goreng.....nih. Saya  lapar," kata Dono.

"Beres...Dono....," jawab Indro.

Dengan cepat Indro memasak nasi goreng kesukaan Dono. Dengan santai Dono membuka Hpnya untuk menonton acara di Youtube. 

"Dono nasi gorengnya pedes gak?," tanya Indro.

"Pedes...Indro, oh...ya...telornya campur sama nasi goreng. Maksudnya nasi goreng orak-arik," kata Dono.

"Oh...ya..beres Dono...," jawab Indro.

Dono terus menonton Youtube acara musik. Selang berapa lama nasi goreng pun jadi. Indro langsung menyajikannya di piring di tambah kerupuk, kacang goreng dan acar. 

"Dono...silakan di makan nasi goreng pesanan kamu," kata Indro.

"Iya...," jawab Dono.

Dono langsung mematikan tontonannya dan memasukkan Hp di saku celananya. Dengan lahap Dono menyantap makan malamnya. 

"Emmmm...enak," kata Dono.

"Iya......kan enak. Tetap saja jualan hari........terlihat sepi," kata Indro.

"Sabar Indro.....nama juga usaha," kata Dono.

"Tetap saja banyak saingan ya....Dono," kata Indro.

"Iya...lah Indro. Karena semua orang berusaha untuk mencari hidup. Saya lihat di keliling sini banyak penjual nasi goreng," kata Dono.

"Pesaing... yang sehat," kata Indro.

Dono pun selesai makan nasi gorengnya. Lalu segera mengambil gelas di meja dan air putih yang di tuangkan oleh Indro dari tekok. 

"Terima kasih," kata Dono.

"Iya," jawab Indro.

Dengan pelan-pelan Dono meminum air di gelas sampai habis.

"Alhamdulilah," kata Dono.

Dono menaruh gelas di meja. Indro langsung mengambilnya gelas dan piring kotor. Dengan segera di cuci sampai bersih. Piring dan gelas di taruh di tempat semula.

"Ngomong-ngomong...gimana jualan kamu?," tanya Indro yang duduk bersama Dono.

"Lumayan.........," jawab Dono.

"Indro...cinta itu apa sih?," tanya Dono yang lagi bingung.

"Cinta........adalah hanya ungkapan perasaan saja," jawab Indro.

"Jadi cinta...itu ribet ya," kata Dono.

"Ya....ribet..gak gak ribet.........semuanya alasanya paling utama bukan cintanya. Tapi kesiapan orang menjalankan cintanya. Hidup bukan urusan cinta saja atau perasaan saja. Tapi tanggung jawab penuh dengan komitmen dalam menjalankan hubungan. Siap gak siap harus siap. Kuat gak kuat harus kuat menjalankan semua ujiannya. Maka butuh nilai dari kesabaran dan ikhlas," penjelasan Indro.

"Oh begitu. Saya ingin mencoba mendapatkan cewek yang sudah punya pacarnya, gimana pendapatmu Indro?," tanya Dono.

"Janganlah...Dono....ribet urusannya. Kita tidak tahu cewek itu jujur atau bohong dalam menjalankan hubungannya. Kerapuhannya dasar utama dari iba. Kebanyakan Pria jatuh karena sebuah iba atau nama lainnya adalah ingin menolong atau melindungi. Karena kodrat wanita makluk yang lemah. Tetap saja jangan terjebak dengan keadaan itu.  Apalagi ketika cewek putus dari cowoknya. Ceweknya menyalahkan cowoknya dan cowoknya menyalahkan ceweknya karena hal paling utama  bentuk dari kesetiaan. Tetap saja penuh kebohongan pacaran itu. Janji muluk tidak sesuai dengan keadaan. Ego masing-masing," kata Indro lebih kompleks.

"Kalau...begitu..sih bener. Wulan dan pacarnya..konflik kebodohan mereka," kata Dono.

"Jadi dari tadi kamu memikirkan Wulan dan pacarnya?," tanya Indro.

"Iya..., karena saya melihat Wulan dan pacar bertengkar di jalan," kata Dono.

"Dono........pertengkaran antara dua pasangan itu... di jalan terlalu sering. Karena mereka selalu berpikir pendek. Awalnya manis dengan dasar dan tujuan cewek cepet nikah, tapi sebaliknya cowok mempermainkan perasaannya. Karena kerapuhan cewek. Pada akhirnya keduanya pun salah mengambil keputusan. Cinta adalah kehancuran," kata Indro.

"Ya......bener....., Cinta yang baik ..........adalah sederajat Ilmu dan Harta," kata Dono.

"Ya...iya..lah Dono. Lebih enak menjalankannya. Tidak ada kesenjangan sosial. Saling membangun untuk kelahiran anak," kata Indro.

"Anak........jawaban paling penting.......sebagai cowok yang baik saya ...sadar. Niat saya mau mendekati Wulan saya lupakan," kata Dono.

"Begitu.........kamu...Dono...yang asli. Jangan kaya Nazar atau artis lainnya.......plin-plan dalam mengambil keputusan. Kaya anak kecil tidak punya wibawa atau tangungjawab," kata Indro.

"Kalau itu saya...tahulah...kan cuma...mainan. Kalau beneran mereka sendiri yang terjebak mainan mereka. Pada akhirnya bodoh di piara,"kata Dono.

"Awalnya bohong jadi jujur," kata Indro.

"Ya....udah... Saya mau pamit pulang. Mau istirahat. Besok saya masih kerja..lagi," kata Dono.

"Ya.....," saut Indro.

Dono pun mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar pesanan nasi goreng. Indro pun mengambil uang dari Dono.  Segeralah Dono pergi  dengan motor butut sampai pulang ke rumah.

PIKIRAN YANG POSITIF

Pagi yang cerah di pinggiran jalan perkotaan. Dono sedang berkeliling jualan somai yang di ambil dari Kasino. Tak sengaja melihat Indro lagi asik nonton vidio di Hpnya di bawah pohon seri. Lalu Dono pun menghampiri teman terbaiknya dengan memarkirkan gerobak somainya. Langsung duduk bersama Indro di bawah rindangnya pohon seri.

"Indro kamu asik nonton apa sih?" tanya Dono.

"Perlombaan menyanyi," kata Indro.

"Perlombaan burung berkicau setiap malam," kata Dono.

"Dono...jangan menggunakan kiasan sih dalam pembicaraan," kata Indro.

"Itu kan lumrah.............bener. Karena memang kenyataannya kan burung berkicau atau burung ngoceh," kata Dono.

"Ya....bener...tapi ini nilainya seni dan uang......," kata Indro.

"Loh apa bedanya.....dengan orang jualan burung.......... Kan sama aja dinilai dari suara burung dan nilai jenis burungnya,"  kata Dono.

"Ya...bener............ Tapi bedanya...itu sair lagu atau puisi yang di arasemen musik," kata Indro.

"Ya.....itu sih saya....tahu puisi.........yang bersair dan menghanyutkan pendengarnya.....," kata Dono.

"Tapi tidak semua puisi bisa di jadikan sair lagu," kata Indro.

"Sebenarnya......bisa..tergantung mampu atau tidak menggabungkan sair puisi dengan musik,"  kata Dono.

"Kalau saya pikir panjang...bener sih........ Jadi masalahnya....hanya nilai jual saja. Yang lebih tepatnya.......menghasilkan uang. Kaya pengamen jalanan. Musiknya kemana? lagu kemana? pada hasilnya orang yang mendengarkan memberikan uang," kata Indro.

"Itulah ....yang saya maksud...... seperti burung berkicau........dengan nilai bakat lahir harus di asah menjadi nilai jual tinggi," kata Dono.

"Hebat kamu...Dono mampu menilai...sesuatu dengan perumpamaan Bahasa Indonesia," kata Indro.

"Dono..gitu.....loe," katanya dengan percaya diri.

Dono pun berajak dari duduknya dan mengolenin somai yang di jualnya. Lalu di berikan kepada Indro.

"Dono...saya..gak pesen..... somai jualan kamu?" tanya Indro.

"Kamu memang gak pesen cuma saya laper  belum sarapan jadi sekalian kamu menemani saya makan," kata Dono.

"Terima kasih Dono...yang baik..hati," kata Indro.

"Ya...sama-sama," jawab Dono.

Dono dan Indro asik makan somai di bawah pohon seri. Tiba-tiba dateng seorang gadis cantik ke hadapan Dono dan Indro.

"Bang............beli...somainya," kata Wulan.

"Wulan....mau..beli somai Abang Dono....?" tanya Dono.

"Ya...iya....lah," kata Wulan.

"Dono...lembut...sama orang .....kamu sukai...," kata Indro dengan suara kecil.

"Diam...ah...urusan...saya....jualan tidak ada gunanya dengan cinta," kata Dono dengan suara kecil.

"Ehhhhh...kok malah ngobrol.....cepetan...dilayanin masalahnya saya ada urusan," kata Wulan.

"Iya...iya...," saut Dono.

Dono pun beranjak dari duduknya lalu segera mengolenin somai pesan Wulan. Indro diam seribu bahasa agar tidak menggangu urusan Dono dan Wulan. Somai sudah di bungkus dengan rapih, lalu di bayar oleh Wulan.

"Terima kasih ya....Abang Dono penjual somai," kata Wulan yang lembut sedikit ketus.

"Iya...sama-sama," kata Dono.

Wulan pun pergi dengan membawa sekresek somai langsung masuk ke dalam mobil yang di parkirkan di seberang jalan. Wulan pun membawa mobilnya dengan penuh ke hati-hatian. Dono pun diam dan membisu dengan ulah Wulan. Lalu Indro menepuk pundak Dono.

"Woy bengong...........abis ketemu dengan demenan.........jadi seneng," kata Indro.

"Bukan itu masalahnya Indro.......... Kenapa Wulan membeli somai di sini?. Pada hal saya sudah sering lewat rumahnya kalau berjualan," kata Dono.

"Itu sih cuma perasaan kamu saja. Yang aslinya lumrah....Dono," kata Indro.

"Tetap saja....kalau saya pikir ganjil.........," kata Dono.

"Ganjil dari...tingkah laku dan omongannya....," kata Indro.

"Ya...itu masksudnya..," kata Dono.

"Ya...jelas....saja. Cewek itu lagi singel, walau punya pacar pun belum tentu jadi suami istri. Impian semua cewek cepet menikah agar tidak di cap perawan tua. Mau gak mau.....menjual pesona kecantikannya...yang wah ...weh...woh......," kata penjelasan Indro.

"Bener juga........ Kalau saya pikir.....saya sih masih ada peluang mendapatkan hati Wulan. Tergantung saya mampu atau tidaknya memberikan kesetiaan  dan kenyamanan dalam menjalankan hubungan," kata Dono.

"Itu...kamu mengerti............," kata Indro.

"Ngomong-ngomong kamu masih main Yotube?" tanya Dono.

"Gak...Dono......ngabisin uang," kata Indro.

"Kok.......ngabisin uang....... Bukan Yutobe bisa menghasilkan uang?" tanya Dono.

"Kalau hanya..untuk seneng-senang sih...iya... Kalau mau menghasilkan uang dari Yotube berpikir dua kali. Karena buat chanel TV," kata penjelasan Indro.

"Ya...bener sih........ Tapi saya...main juga...tetap saja sampai sekarang penontonnya sedikit. Kalau di tonton sendiri  sampai sebanyak apapun? sistem perhitungan penontonnya meningkat. Tapi itu juga kalau di masukan untuk mendapatkan uang di tolak sama Yotube. Karena alasannya memanipulasi tontonan dengan sekala waktu pendek," kata Dono yang  runyem.

"Ya..jelas....saja di tolak.......itu sih ...sama aja permainan anak kecil," kata Indro.

"Iya...namanya.....suka dengan hasil kerja kita.....ya....lebih baik di tonton sendirikan......," kata Dono.

"Dono...........yang namanya urusan uang pasti ada tata aturan yang di buat aman. Karena Yotube membuat kebijakan perusaannya bukan untuk di bangun satu hari. Tapi berkelanjutan. Karena semakin banyak yang minat pada Youtube. Semakin nilai saham perusahaan tinggi. Jadi keuntungan Youtube meningkat. Karena itu...dengan nilai kerja sama yang baik  saling menguntungkan  " uang" adalah salah satu pemicu atau daya tarik orang untuk menggunakan segala fasilitas Youtube," kata penjelasan Indro yang ribet.

"Jadi............gara-gara uang....Youtube............orang lebih banyak meluangkan waktunya," kata Dono.

"Ya...iya...lah.......apa bedanya dengan Blog dan Aplikasi. Sama-sama di giurkan dengan nilai daya tarik uang. Apalagi kaya...kita ini penganguran terselubung.....paling banyak kalau di cari di data statistik pertumbuhan ekonomi," kata Indro yang ribet sekali.

"Wah...kalau kata kamu kita ini penganguran terselubung lebih baik saya...jualan somai aja........," kata Dono.

"Iya...juga....ya.....lebih baik saya jualan aja dari pada....ngangur. Nonton video Youtube......ngabisin kuota....... Sama aja ngabisin uang. Pengeluaran banyak...eh..penghasilannya cekak," kata Indro.

"Kan...bener...lebih baik kamu... Indro jualan nasi goreng... Nanti malam saya beli nasi goreng kamu...... Karena jualan saya...sore baru habis," kata Dono.

"Bener juga...saya jualan nasi goreng keliling... Bisa ngambil sama Mang Diman," kata Indro.

Dono membereskan piring somai, lalu beranjak pergi untuk keliling berjualan somai. Indro langsung pergi ke rumah Mang Diman untuk bekerja sama berjualan nasi goreng.

Wednesday, January 31, 2018

JAWABAN HATI

Siang hari di  pinggiran kali bungur. Dono terdiam sambil menunggu pancingannya. Selang berapa saat Indro pun dateng ikut memancing bersama Dono. Dengan sabar Dono dan Indro memancing agar umpannya dimakan ikan.

"Ngomong-ngomong Dono......bagaimana usaha dagang mu Dono?," tanya Indro.

"Ya...lumayan.......untuk melanjutkan hidup penuh dengan kompetisi...," jawab Dono.

"Saya juga...sama...Dono......., tapi kenapa kita masih membujang terus jodoh kapan dateng ya?" curhat Indro.

"Indro....urusan kamu dengan Saskia gak ada kejelasan.........," saut Dono.

"Mau gimana.............kalau cewek menolak...?" kata Indro.

"Di tolak sama cewek. Sakit juga ia. Ribet juga ya dengan perasaan ini," kata Dono.

"Ia Dono................," ujar Indo.

Pancingan di tarik ikan dengan ligat Dono menariknya.

"Yes...ikan betok," kata Dono.

"Beruntung Dono...dapet ikan...di air kali yang penuh dengan sampah rumah tangga," kata Indro.

"Maklumin aja...adat kebisaan budaya kita....gak bisa hilang......malas...membuang sampah pada tempatnya," kata Dono

Dono menaruh ikan yang di dapetnya di dalam ember. Lalu memasang umpan kembali di pancingan. Dilemparkan tali pancing ke air kali yang keruh.

"Oh...ngomong-ngomong bagaimana urusan kamu dengan Wulan anak tetanga depan rumahmu?" tanya Indro.

"Wulan.........sudah punya pacar," jawab Dono dengan tegas.

"Jadi punya...pacar........ Jadi kamu gagal mendapatkan hati Wulan?" tanya Indro.

"Ya....mau bilang apa? ....Wulan anak orang kaya dan saya anak orang miskin.....," kata Dono.

"Tapi...Dono...urusan cinta..tidak mengenal kaya atau miskin," masukan Indro.

"Iya.....tidak mengenal kaya atau miskin. Tapi saya sadar dengan diri saya. Saya menyukainya tetap harta penghalangnya. Jadi saya pria  yang jujur pada diri sendiri, tidak membohongi diri saya," kata Dono.

"Saya juga lah lebih baik jujur bahwa saya menyukai Saskia...., tapi mau kita apa kalau ceweknya menolak? jadi cinta bertepuk sebelah tangan. Sakitnya tuh di sini di dalam hati ku," kata Indro.

"Ayu Ting-Ting.....," saut Dono.

"Salah...nilai anda di kurangin 100 point. Yang benar Cita Citata," kata Indro.

Umpan pun di makan ikan. Pancingan Indro pun bergerak. Tanpa pikir panjang Indro menarik pancingannya dengan kuat dan cepat.

"Dapet.........ikan lele," kata Indro.

"Hebat ...kamu Indro...dapet ikan lele," pujian Dono.

"Indro..gitu dong," kata Indro menepuk dadanya.

Ikan lele di taruh di dalam ember. Segera Indro memasang lagi pancingan dengan umpan. Dilemparkan tali pancing ke kali. Dengan sabar Indro lagi menunggu umpannya di makan ikan.

"Ngomong-ngomong...cewek itu pandai berbohong dengan perasaannya......ya...?" tanya Dono.

"Kalau di pikir dengan baik...ya benar juga sih. Cewek itu pandai berbohong urusan perasaannya. Banyak cerita cewek mengejar cowok tajir demi mengubah nasipnya agar jadi orang kaya," kata Indro.

"Kalau begitu...benar.....dong...kalau Wulan itu membohongi dirinya," kata Dono.

"Kok..kamu bisa berpendapat begitu Dono?" tanya Indro.

"Kemarin saya tidak sengaja....melihat di berpacaran. Tapi saya melihat cukup lama di depan halaman saya. Sontak di bangun dari duduknya karena di perhatikan.," kata Dono.

"Dono...itu sih..namanya risih.......tahu kalau pacaran di lihatin orang," kata Indro.

"Kalau...risih dilihatin orang.........pacaran kok di tempat terbuka...lebih baik tempat tertutup saja...agar sekalian aja..........hubungan di luar nikah," kata Dono.

"Ya...bener juga.......," saut Indro.

Lagi-lagi umpan Dono dimakan ikan. Dengan cepat dan tanggap Dono menarik pancingannya.

"Sip......ikan mas.......dan cukup besar juga......ya," kata Dono.

"Hebat-hebat..ikan mas........," saut Indro.

Dono pun menaruh ikan mas di dalam ember. Lalu Dono memasang umpan di tali pancingan. Segera di lemparkan tali pancing ke kali.

"Dono........jadi............. sebenarnya...kisah cinta mu dengan Wulan ini..........ingin kamu lanjutkan atau tidak?" tanya Indro.

"Mau.....Indro...tapi...kalau...Wulannya sudah ada pacar...ya..biarin aja. Toh kalau jadi sama pacarnya saya ikhlaskan. Kadang saya berpikir......janda pun saya terima," kata Dono.

"Wah.....Dono...kamu pria yang penyabar...untuk menghadapi cewek. Kebanyakan cewek seneng cowok yang penyabar...seperti kamu. Karena urusan rumah tangga lebih banyak langgengnya," kata Indro.

"Saya punya..prinsip...dalam urusan cinta. Perasaan biar tumbuh seperti bunga. Tetap saya jaga sampai mati. Walau terkadang tidak bisa menggapai yang sesungguhnya tentang cinta. Hanya ikhlas.....menyertai saya," kata Dono.

"Prinsip ataukah puisi tentang kesetian cinta?" tanya Indro.

"Sebelas dua belas.....Indro," jawab Dono.

"Kalau begitu sih sama aja," saut Indro.

Hari mulai mendung, lalu hujan pun turun. Dono dan Indro beranjak dari pinggir kali dengan berlari membawa pancingan dan ember berisi ikan. Tidak jauh dari pandangan mereka ada sebuah gubuk. Dono dan Indro iyup di dalam gubuk. Dengan sabar Dono dan Indro menunggu hujan berhenti. Waktupun berpihak pada Dono dan Indro. Hujan pun berhenti. Dono dan Indro keluar dari gubuk berjalan menuju rumah karena hari sudah menjelang magrib. Dono dan Indro pisah di tengah jalan. Saat sampai rumah Dono melihat Wulan di depan rumah dengan pacarnya. Sontak Wulan membuang mukanya kembali dan membawa pacarnya masuk.

"Ya...bener...Alloh menunjukkan sesuatu......tentang kebenarannya........cinta ku bertepuk sebelah tangan juga. Kaya dan miskin..............sebab musababnya.  Bener kata Bapak dan Ibu nasehatnya. Cari pasangan hidup yang sederajat dengan harta dan ilmu," celoteh Dono.

Dono pun masuk ke dalam rumah. Segera membereskan ikan hasil pancingannya di dapur. 

"Cinta itu memang menyakitkan...deritanya pun seperti lautan kehidupan. Kebanyakan sia-sia mengharapkan cinta anak orang kaya. Lebih baik mengejar Wulan penjual gorengan dan kopi di pasar," celoteh Dono.

Dono terus mengolenin ikan hasil pancingan sampai di masak goreng. Selang berapa saat masakannya jadi. Lalu Dono menghidangkan bersama sambel terasi dan tumisan kangkung. Dono menyantap masakannya di meja makan dengan tenang.

"Andai saja...saya makan bersama orang ku cintai....maka hidup saya jauh lebih berarti lagi," celoteh Dono.

Dono meneruskan makannya sampai  perutnya kenyang. Setelah selesai Dono membereskan semuanya sampai waktu azan magrib di kumandangkan. Dono bergegas ke mesjid untuk sholat magrib bersama umat yang taat beribadah.

CAMPUR ADUK

BAIT 3D

Malam hari. Bintang berkelap-kelip di langit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus....berita di channel TVRI, ya seperti biasa ...

CAMPUR ADUK