CAMPUR ADUK

Tuesday, February 5, 2019

PERHAPS IT'S ACCIDENT

Gadis itu beberapa kali terlihat menghela lalu menghembuskan napas panjang. Dipijit keningnya yang terasa pusing karena memikirkan sesuatu dan yang pasti hal tersebut sangatlah penting bagi dirinya. Kakinya dihentak-hentakkan di atas lantai keramik dengan cukup keras. Sementara itu, tangan kirinya berada di pinggang dan tangan kanannya masih terus memijit keningnya yang terasa pusing.

“Are you sure, Chev?” sebuah suara bernada halus namun sangat terdengar cempreng di kuping membuat Gadis tersebut segera berpaling. Ia menatap lekat wajah sahabatnya untuk menunjukkan bahwa ia serius. “You’re not forget it, right?” kali ini suara tersebut terdengar seperti bisikan.

“Oh, my! Come on, Faye. I’m not such an idiot. Meninggalkannya begitu saja? Itu sama saja cari mati!” ucap Gadis itu dengan nada yang terdengar–sangat–panik. Keadaannya saat ini cukup membuktikan bahwa ia begitu stress karena sesuatu yang membuat dia dan sahabatnya itu harus rela menyerahkan diri mereka.

Di tengah-tengah kepanikan yang melanda keduanya, seorang wanita paruh baya -terlihat berumur 40 tahun- bertubuh sedikit gempal berjalan memasuki kelas mereka. Ia mengenakan blazer berwarna chocolate cream kotak-kotak yang cukup longgar dipadu dengan rok selutut yang berwarna sepadan dengan blazer miliknya yang membuat tubuh gempalnya tidak terlalu mencolok. Kemudian dia meletakkan beberapa buku tebal yang sedari tadi ia dekap di atas meja guru.

GULP!

Kepanikan kembali melanda keduanya. Kali ini keringat dingin bercucuran dari pelipis, dahi, leher dan tengkuk mereka. Mereka merasakan seolah-olah mereka akan segera mati atau mungkin sekarang. Saat ini wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah guru bidang studi Sejarah mereka sedang menatap seluruh penjuru kelas –tanpa terkecuali– dengan tatapan yang tajam.

BRAAKK!

“Please, be quiet student! Duduk di tempat kalian masing-masing segera!” titahnya seraya menjentikkan jari telunjuk miliknya. Semua murid segera mematuhinya dan segera duduk di bangku masing-masing dengan perasaan bingung yang menyelimuti mereka. Yang mereka tahu saat ini, biasanya guru mereka yang satu ini ketika masuk akan langsung menagih pekerjaan rumah atau langsung mengerjakan soal dan atau yang lebih parahnya lagi langsung ulangan harian tanpa membahas kembali pelajaran yang sudah dipelajari maupun yang belum dipelajari.

“Oi, Chev. What happen to Madame Ro? Apa dia punya suatu penyakit? Astaga! Jika itu terjadi aku akan segera menyiapkan tempat makam,” bisik Faye kepada Chev untuk menenangkan perasaan Chev sejenak. Akan tetapi, Chev, dia hanya dapat terdiam saking paniknya. Tubuhnya bergetar cukup hebat dan wajahnya terlihat hampir pucat. Keringat dingin terus menerus bercucuran.

Faye yang menyadari keadaan Chev yang cukup tegang, segera menyikutnya bersamaan ketika dia menyadari bahwa Madame Ro melirik ke arah keduanya. Terlebih lagi menatap tajam ke arah Chev. Chev, dia hanya dapat menghela napas panjang mencoba untuk rileks sejenak selain itu, ia berusaha untuk menghindari tatapan tajam Madame Ro. Ya, dia tahu bahwa Madame Ro tidak begitu menyukai murid yang terlihat cukup tegang maupun sakit. Entah apa alasannya ia sendiri pun tak tahu.

Tak lama segera setelah itu, Madame Ro memejamkan mata sejenak seraya menghela lalu menghembuskan napas. Suara dehem yang sengaja dibuat keras terdengar oleh seisi kelas dan hal tersebut semakin membuat Chev kalang-kabut. Dia semakin takut kalau-kalau Madame Ro akan menghukum dirinya -tidak tetapi Faye juga. Hening. Begitu sunyi. Tak ada satu pun dari siswa maupun siswi dari kelas 2-A yang berani membuka mulut mereka untuk sekedar bicara maupun berbisik. “I’ll be die! I’ll be die! I’ll be die! God please help me!” batin Chev. Dia terus berharap dan berdoa.

“Good morning, students. I know this morning you’re all really confused why am I act like this? But, it’s okay. Jangan terlalu tegang,” suara berat dan serak khas Madame Ro membuat seluruh siswa-siswi kembali terdiam. Justru mereka semua semakin bertambah bingung. “Hari ini kita kedatangan tamu spesial. Ya, silahkan masuk!”

Dari arah bibir pintu ruang kelas, masuk seorang pemuda bertubuh tegap namun tinggi badannya bisa dikatakan lumayan pendek. Dia berjalan menunduk seperti tak mau menunjukkan wajahnya di depan seluruh murid penghuni ruang kelas tersebut. Ia terlihat terus menerus mendekap sebuah amplop berwarna cokelat.

“Baiklah, Nak. Silahkan perkenalkan dirimu. Your friends want to know about you!”

Pemuda tersebut masih tak bergeming. Sesaat kemudian, dia berbalik menghadap papan tulis hitam dan mengambil sebatang kapur. Tangan kanannya segera menari-nari di atas papan tulis. Lalu, dia meletakkan kembali batangan kapur tersebut ke tempatnya dan berbalik dengan kepala tertunduk.

“Ah, ada apa dengan pemuda itu? Cih, pelit sekali memperlihatkan wajahnya!” celoteh Faye. Dia cukup kesal karena sejak pemuda tersebut masuk ke dalam kelas, dia tak sedikit pun menunjukkan wajahnya. “Dasar kerdil!” dengus Faye.

Seperti mendengar celotehan Faye dan beberapa anak murid lainnya, pemuda tersebut perlahan mendongakkan kepalanya. Chev yang biasanya akan terlihat senang dan bersemangat untuk menyambut anak baru, kini tak lagi bersemangat seperti biasanya. Kini, dia tak lebih dari sekedar patung yang diam tertunduk dan terlihat pucat.

BRAAAKK!

“UN GARÇON!”

Suara teriakan bernada halus nan cempreng segera terdengar oleh seluruh penghuni ruang kelas 2-A. Hampir seluruh pasang mata siswi menatap dengan kagum pemuda tersebut -terkecuali Chev. Dia, pemuda yang merupakan murid pindahan tersebut memiliki bentuk wajah oval, bibir mungil, mata yang mirip seperti boneka dengan bulu mata yang lumayan lentik, memiliki lensa mata berwarna blue ocean, dan hidung yang tak terlalu mancung. Belum lagi tinggi badan yang tak terlalu tinggi. Hanya sekitar 168 cm. Pendeskripsian yang lebih tepat untuknya adalah… IMUT! dan cantik -hampir menyerupai perempuan jika dilihat sekilas.

“Cute!!!! Kyaaa!!!!”

“He’s more beautiful than me!!!”

Jeritan histeris akan kekaguman pun segera berkumandang di dalam ruang kelas tersebut atau bahkan terdengar hingga ke kelas tetangga mereka.

“Alois Dwight Beaufort from England. Nice to meet you.”

Begitu dingin dan singkat. Perkenalan yang sangat jarang ditemui oleh mereka. Beberapa pasang mata siswa melirik tajam seolah-olah ingin menindas. Chev masih sama. Duduk terdiam dengan tubuh bergetar, panik, takut dan pucat. Semuanya terasa lengkap bagi dirinya.

“Well then, Mr. Beaufort. You can sit behind Miss Chevalier and Fremont!”

Madame Ro mempersilahkan murid pindahan tersebut duduk di belakang Chev dan Faye yang memang kebetulan kosong. Mata Faye begitu berbinar-binar begitu melihat murid pindahan tersebut berjalan ke arah bangku mereka–tepatnya di samping Chev. Sementara itu, sepasang blue oceans melirik ke arah Chev yang terlihat sangat galau. Dia hanya dapat terkekeh pelan namun, kekehan tersebut terdengar oleh Chev.

“Oh, Shut up you bastard!” teriak Chev.

Chev segera sadar bahwa ia sedang berteriak kepada murid pindahan, sedangkan murid pindahan tersebut hanya dapat menyeringai yang membuat Chev terkejut dan semakin ketakutan. Reflek saja dia berdiri. Membungkukkan badan seraya berkata, “Aku minta maaf!”

Setelah Chev mengucapkan permintaan maaf, dia kembali duduk diikuti oleh pemuda tersebut yang juga duduk di bangkunya. Madame Ro dan beberapa siswa maupun siswi lainnya hanya dapat terdiam seolah-olah mereka semua telah mengerti tabiat Chev ketika terkejut akan tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata kasar.

“Okay, students. Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran kita. About homeworks, maybe later. And for you Miss Chevalier,” jari telunjuk Madame Ro menunjuk tepat ke arah Chev yang kini benar-benar diam seribu bahasa. “Next time, if you get shock. Jangan gunakan bahasa kasar!”

“Now, open your book page 248!”

Sebuah telapak tangan yang terasa sangat besar berada di bahu kiri Chev. Chev yang semula diam seribu bahasa, hanya dapat menoleh dan melihat pemilik telapak tangan tersebut. Kedua mata Chev hanya tertuju pada sebuah amplop cokelat besar yang disodorkan ke arahnya.

“Hi, long time no see! It’s yours. Next time, please be careful, Cheals. Or should I called Chelsea Antoinette Chevalier.”

“Oh, okay. Merci beaucoup!”

Sesaat Chev terdiam setelah mengucapkan kata terima kasih dan mengambil amplop besar yang disodorkan pemuda tersebut. Ada yang mengganjal dari ucapan pemuda tersebut. Sebenarnya untuk memikirkan hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Entah mengapa ia tak dapat mengerti bagaimana dan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

“Long time no see,” “Next time,” dan “Cheals,” Ketiga kata tersebut terus terngiang-ngiang di otak Chev. Bagaimana orang tersebut tahu? Dan kapan dia pernah bertemu pemuda tersebut? Terlebih lagi, dia mengatakan “Lama tidak bertemu?” Sebenarnya siapa pemuda ini?

Ketika Chev hendak memutar badannya untuk sekedar bertanya kepada pemuda tersebut, sebuah tangan besar yang hangat telah lebih dahulu memegang pundaknya. Sebuah bisikan halus dan menenangkan, “It’s okay if you don’t remember!” Tak tahu mengapa, setelah pemuda itu membisikkan kata-kata tersebut, Chev hanya dapat terdiam dan menurutinya.

Madame Ro menangkap basah Chev yang terlihat melamun. Faye yang sedari tadi sibuk mencatat kalimat yang tertulis di papan tulis, segera menyadari lirikan dari Madame Ro. Segera Faye menyenggol keras siku Chev tapi, kelihatannya Chev tak kunjung sadar.

“Miss Chevalier!!! Page 248!!!”

Chev segera tersadar begitu mendengar suara Madame Ro yang setengah berteriak hanya untuk membangunkan dirinya dari lamunan. Rona merah di kedua pipi Chev terlihat jelas sekali. Ia sungguh malu. Tak perlu menunggu waktu lama, dia segera membuka halaman tersebut dan membacakan beberapa paragraf.

“It’s feel so nostalgic when I hear his voice. But, who is he? When am I met him?”

NOSTALGIA

Tanganku yang tadinya lincah melukis, kini mendadak berhenti karena seorang telah berhasil menyentuh pundakku dengan lembut. Aku pun menoleh ke arahnya, dan ia tersenyum kepadaku. Mata onyx-nya yang menurutku indah kalau dipandang itu memandang wajahku lekat-lekat. Pemuda itu adalah teman sejurusanku di London University dulu, dan sekarang ia telah bekerja sebagai seniman terkenal di seluruh dunia.

Dan sedangkan aku, bukanlah seniman terkenal sepertinya tetapi aku adalah seniman jalanan. Demi menarik perhatian orang-orang-aku membuat sebuah stand dekat rumahku untuk melukis dan memajang semua karyaku. Robbert Joshua namanya. Ia menyodorkan sekaleng minuman isotonik kepadaku, dan aku pun menerimanya dengan mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Dari mana kau mendapatkan inspirasi? Lukisan ini indah sekali!” Wajahku seketika merah padam seperti kepiting rebus karena ia memuji lukisanku. Ia sedikit tertawa melihat wajahku yang sudah tak tahan. Aku mengembungkan kedua pipiku.

“Kau menertawaiku? Dasar bodoh! Apanya yang lucu Robb?” Tanyaku sambil melanjutkan aktivitasku yang tadi tertunda. Aku iseng saja memoleskan warna soft pink pada bunga lily yang seharusnya berwarna kuning oranye untuk menutupi wajahku yang sudah malu.

“Soft pink? Bukannya itu warna yang paling kau benci Liona? Kau pernah bilang bahwa jika ada warna bodoh itu di lukisanmu kau tak segan-segan untuk mematahkan kayu kanvasnya. Tetapi sekarang kau lebih menyukai warna–” Aku cepat memotong pembicaraannya.

“Secara tak sadar, aku menyadari betapa miripnya aku dengan warna ini. Hm, iya memang aku membenci warna ini sangat benci malahan. Soft pink warna pucat yang bodoh, jelek, dan juga bisa merusak lukisanku, aku sama dengan nasib warna itu. Aku bodoh, jelek dan juga bisa merusak hubungan orang. Hahaha! Diriku memang seharusnya tak menjadi pelukis” Jelasku.

Robbert pun mulai bingung dan sedikit meneguk sisa minuman isotonik itu dengan habis lalu membuang kalengnya di tempat sampah dekatnya.

“Kau tidak bodoh, kau cantik. Dan apa maksudmu merusak hubungan orang?” Tanya Robbert dan kembali memandangku.

“Kau ingat? Saat lukisanku yang ingin ku pamerkan di International Painting Competition sewaktu kita kuliah? Lukisan itu dipatahkan oleh kekasihmu. Waktu itu aku menangis hebat dan kau memarahi kekasihmu demi aku, akhirnya kau dan kekasihmu hampir putus karena aku. Apa itu tak merusak hubungan orang?” Aku semakin terpuruk. Aku menunduk dan menahan air mataku agar tak jatuh sedikitpun. Robbert menatapku dengan tatapan sayunya.

‘Dengarkan saat aku bicara dengan nada samar. Aku tidak akan memaksakan diri untuk menjadi kuat, tapi aku tidak akan menangis seperti itu lagi.’

Tiba-tiba handphone Robbert baru saja berbunyi. Itu menandakan seorang meneleponnya. Ia menatap layar handphone-nya itu dengan kesal lalu ia mematikan dengan memencet tombol reject yang ada di layar itu.

“Kenapa kau matikan? Itu pacarmu kan, jangan segan-segan mengangkat telepon pacarmu di depanku. Aku itu temanmu Robbert” Ucapku sedikit sungkan. Dan benar saja handphone milik Robbert kembali berbunyi dan kali ini Robbert mengangkatnya.

“Hello?” Dia berbicara sedikit datar.

“What the hell! Yesterday you had asked me to meet my mother. And now again? Can you delay it? Now I must meet my friend she needs me more than you! You can visit my mother at her office alone!” Wajahnya mendadak berubah, lalu ia keras memencet tombol trun off the call di layar handphone itu.

“Tak baik Robbert, aku tak membutuhkanmu kok. Kau bisa menemuiku nanti” Aku berusaha tersenyum kepadanya. Lalu ia mengusap lembut kepalaku dan meninggalkanku. Dadaku sesak, semakin lama semakin sesak. Kepalaku panas mendengar pembicaraannya tadi. Itu pasti dari pacarnya atau mungkin tunangannya.

Menyakiti ku secara bertahap.

Aku mendapat kabar bahwa hari ini, Robbert akan menuju Tokyo untuk tinggal menetap di sana. Aku berlari secepat mungkin menuju Heathrow Airport yang tak jauh dari kediamanku. Aku pastikan pesawat yang dipakai Robbert belum lepas landas. Aku berhenti di apron bandara untuk beristirahat sejenak. Napasku tersengal. Lalu ku lihat sebuah sepatu besar tepat di hadapanku. Ah! Itu kaki manusia. Ku pandang kaki itu sampai ke ujung rambutnya.

“Robbert?” Ku dekati dirinya. Wangi parfum khasnya tercium begitu menyengat.

“Maafkan aku, aku baru mengabari hal ini tadi. Oh iya, sekarang aku akan flight menuju Tokyo. Aku akan diam di sana dan menikah bersama kekasihku. Maaf, ini mendadak sekali”
Mendengarkan penjelasan Robbert kali ini aku benar-benar ingin menonjoknya tetapi aku tak bisa. Mataku membulat sempurna, kelopak mataku panas dan cairan bening itu ke luar tanpa ku panggil. Ia memelukku dengan hangat. Mungkin ini perpisahan yang paling ku benci. Aku membenci ini lebih dari membenci warna soft pink.

“Jaga dirimu, Robbert! Kirimlah pesan email setiap minggu padaku. Dan aku tunggu kabar keluarga kecilmu nanti! Kirimi fotonya lewat pos ya!” Aku menyeka air mataku, aku tahu bahwa diriku hanya pura-pura tegar di hadapannya. Ku lepaskan pelukan itu dengan lembut lalu tersenyum padanya.

“Oke! Waktunya aku pergi Liona! Thank you for everything, i’m sorry I can’t reply it. You’re my special comrade. I Love you as my best friend. Bye!” Ku lihat punggunggnya memasuki pintu untuk check in, ku hela napas berat. Air mataku yang baru saja mengering kini kembali ke luar lagi. Ku langkahkan kakiku untuk pulang. Langit mendung menjadi saksi bahwa hari ini hari yang paling menyakitkan. Selang lima menit kemudian hujan datang dengan lebatnya membuatku menutup telinga. Aku tak peduli, ku biarkan hujan menemaniku. Bahkan bunyi hujan membuatku takut, kita bagaikan bagian dari payung.

Memoriku yang masih kuat mendorongku untuk mengingat perkataan seorang Robbert pada saat kami lulus dari London University. Wajahku yang basah terlihat menyedihkan, orang-orang yang berlalu lalang menggunakan payung dan mantel melihatku iba.

—

“Ah, hujan!” Ku peluk Robbert dengan ketakutan saat itu. Kami tak membawa payung ataupun mantel. Cukup dengan jaket tebal Robbert aku berlindung. Entah aku takut hujan dari dulu.

“Tenanglah, aku di sini! Siap ada untukmu kapanpun!” Ucapnya menenangkanku. Jaket musim dinginnya yang tebal serta panjang membuatku cukup hangat. Kami mencari tempat teduh untuk sementara waktu.

“Dingin sekali!” Ku usap-usapkan kedua telapakku di jaket Robbert. Lalu tanpa kusuruh Robbert memelukku dengan erat agar aku terasa hangat.

“Thank you” Aku menggelamkan kepalaku di dada bidangnya memejamkan mata yang sudah lelah ini.

Ku harap kau ingat dengan semua itu. Sebenarnya hatiku menolakmu saat kau pergi. Aku tak ingin sendirian di bumi ini tanpamu. Entah sekarang aku merasa aku membencimu –sangat benci– Putus asa, itu adalah target di luar kepalaku. Tubuhku goyah saat mendengar kalau kau ingin menikah dengan gadis lain selainku. Mungkin aku terlalu banyak berharap. Tetapi, itu sebenarnya ingin ku wujudkan. Dan kini semua hanya kenangan indah yang bisa membuatku berhalusinasi.

Kenangan, ingatan tentangmu bersinar tanpa dosa.

—

“Ah maaf atas kejadian tadi! Kau tak apa?” Tanya Robbert saat aku menangisi sebuah puing-puing kanvasku yang sudah mungkin tak memiliki seni. Ini semua gara-gara pacar Robbert itu. Aku tak menyukainya!

“Robbert! Cepat putuskan hubunganmu dengannya! Aku tak kuat, dia membuatku gagal mengikuti kompetisi itu, masa depanku. Dia meremehkanku. Aku benci ini!!” Ku keluarkan semua unek-unekku yang dari tadi terpendam di hati. Aku marah pada Robbert.

“Apa maksudmu?! Aku tak bisa Liona, kau tak berhak untuk mencampuri urusan itu. Aku mencintai Clara –gadis yang menjadi pacar Robbert– Untuk kompetisi itu kau bisa menggambar ulang! Aku tahu ini sakit bagimu, tetapi Clara adalah kekasihku” Robbert membuang muka kepadaku. Ia berlari meninggalkanku. Cairan bening yang paling aku tak suka datang menghiasi pipi lembutku.

—

“CUKUP!!! Aku tak mau mengingat itu lagi! Tuhan Jangan buat raga ini ikut bersama masa lalu lagi aku muak!! Aku ingin menghapusnya, aku ingin bumi menelan ingatan itu dan membawa jauh-jauh dari otakku! Tuhan tolong aku!”

Hei, jangan berkata apapun lagi, air mata ini jatuh di tanganku yang gemetar.

Pohon cemara pagi menitikkan embunnya ke hidungku. Aku tak bisa melupakannya, mungkin doaku kemarin tak cukup. Apa aku harus menyembah diriku sendiri agar bisa lupa dengannya? Aku juga tak tahu. Ku putarkan music list di handphone-ku dan ku pasang earphone di kedua telingaku. Aku mulai memejamkan mata, meresapi semua lagu-lagu itu. Tiba-tiba perasaan ini muncul lagi, perasaanku padanya dan menginginkan hidup seperti dulu lagi.

Ku pikir bisa melupakanmu, ku ingin keakraban kita seperti dulu.

Satu tetes.

Dua tetes.

Dan yang terakhir. Aku menangis lagi! Mataku telah bengkak hanya gara-gara menangis. Aku tak mengerti, mengapa aku menangisinya yang akan berbahagia dengan orang yang ia pilih. Mengapa aku yang terbebani? Ah, aku mengingatnya lagi, seperti kucing yang mengorek-ngorek makanan bekas manusia di timbunan sampah. Ku tak bisa percaya, alasan kenapa air mata ini mengalir. Satu hal yang hanya ingin ku ungkapkan dari dulu, dan sampai sekarang masih ku pendam dan ku kubur dalam-dalam. Aku sadar bahwa aku mencintainya, sangat mencintainya. Aku ingin ia bersamaku di hari kedepan. Kan ku simpan perasaan yang sebenarnya ini di dalam hati, sebelum kita menghilang esok.

Aku sangat lelah dengan semua ini. Lebih baik ku pejamkan mata ini dan memeluk bantal kesayanganku.

Di alam bawah sadarku, aku sedang pergi ke Tokyo ikut bersama Robbert. Aku menikah dengannya menggunakan Kimono putih khas jepang. Aku mencium kening lebarnya dan mengucapkan janji-janji suci di hadapan pendeta. Air mata kini jatuh tetapi ini adalah air mata keharuan. Aku sudah resmi menjadi istrinya. Tetapi, setelah prosesi itu selesai terlihat sebuah cahanya melintas melewati mataku. Oh tidak, itu bukan cahaya. Itu adalah sebuah katana yang menghampiri Robbert dan menusuk dada bagian kirinya. Aku menutup mulutku seakan tak percaya. Lalu ku peluk Robbert yang sudah tak bernyawa dan memanggil namanya dengan kesedihan.

Peluh dinginku ke luar, mataku semakin mengeram. Gerah dan panas, itu seakan menjadi satu. Aku tidur dalam keadaan tak tenang. Ku buka mata lelahku dan menyadari apa yang baru saja terjadi. Entah itu mimpi atau halusinasi. Lalu ku teguk habis air mineral yang ada di meja samping dekat tempat tidurku. Hal ini membuat hatiku semakin sakit.


Hatiku terguncang dan semua yang ku butuhkan hanya cinta biasa. Ilusi yang mengelilingiku bagai seorang anak yang menghilang ke langit.

Satu Bulan Kemudian.

Salju turun dengan langkah pelan. Ku buka sedikit jendela kamarku agar aku bisa melihat beberapa anak berbain bola salju. Ah! Aku jadi mengingat masa-masa childhood-ku yang sangat menyenangkan, bersama Ibu dan Ayah. Aku tersenyum lembut mengingat semua itu.

Sudah satu bulan aku berdiri tanpa seorang Robbert yang selalu mensupport-ku dalam keadaan apapun. Tak terasa, waktu telah berjalan cepat. Tetapi aku tetap tak bisa melupakannya. Dia adalah darahku, denyut nadiku bahkan nyawaku. Dia yang sudah memberiku segalanya. Surat yang ia janjikan bahkan email ia tak pernah kirimkan.

“Kali ini kau mengingkari janjimu, Robbert! Sudah seharusnya aku membencimu. Nanti kalau kau berkunjung ke London tak segan-segan aku akan membunuhmu dengan sadis! Kisah kita akan ku tutup sampai di sini. Namun Tak bisa. Aku memang bodoh! Cih..” Ku lihat kembali dunia luar yang dipenuhi oleh salju, bahkan hati ini juga ikut merasa dingin. Aku menunduk, aku bersedih lagi. Aku ingin menangis tetapi tak bisa, air mataku sudah habis karena ulah Robbert. Mungkin besok aku akan menangis darah kalau mendengarnya mati. Ku tak bisa menghentikan jarum jam yang bergerak dengan dinginnya. Benang cinta, menghilangkan bentuk keraguanku, serta membuatku sedih.

Ku tutup kembali jendela itu. Ku langkahkan kakiku untuk menuju cermin yang biasa ku gunakan untuk bercermin. Ku lihat diriku yang menyedihkan berdiri berkaca di sana. Lalu ku ambil sisir dan langsung menyisir rambut blonde panjangku, merapikannya sedikit. Ku poleskan blush on tipis ke daerah pipiku dan tak lupa ku gunakan lip gloss agar wajah sedihku tertutupkan. Ku sambar jaket hitam panjangku yang sudah siap tergantung di hanger dan ku pakai itu dengan cepat. Sepatu boots cokelatku sudah siap untuk ku pakai dan sepasang slop tangan tebal berwarna merah.

Ku buka pintu itu dengan pelan. Dan ku lihat dunia luar yang begitu menyenangkan, anak-anak berlari ke sana ke sini di hadapanku membuatku menyunggingkan senyum manisku.

“Be carefull, so you don’t fall!” Pesanku anak perempuan yang sedang mengejar seorang anak laki-laki di depannya. Ia pun mengacungkan jempol padaku.

“Aha, thank you a lot miss” Ia tetap mengejar anak laki-laki itu, sampai benar-benar ia dapatkan.

Di tengah salju, ku rasakan dingin yang menusuk tulang rusukku. Aku menyenderkan badanku di kursi panjang dekat aku sering berbagi inspirasi dengan Robbert. Itu hal yang kini tinggal kenangan, aku telah lepas contact dengannya. Tetapi, seiring jalannya waktu juga aku akan berusaha melupakannya dan berpikir kedepan.

“Kyaaaa!!! Hey, stupid kid! Give back my pencil. Because of you I can’t drawing now! Huaaaa!” Aku melihat anak perempuan itu menangis karena seorang anak laki-laki yang merebut pensilnya. Lalu, anak laki-laki itu menggembalikkan pensilnya dan memandang iba ke arah anak perempuan itu.

“Fo*l!! Huaaa Stay away from me!” Anak perempuan itu menjerit dan memukul kaki mungil anak laki-laki itu. Tetapi, anak laki-laki itu memeluknya dan menenangkan anak perempuan itu.

“I’m sorry. I didn’t mean to make you cry, angel. Hm, i like you so much! And I can’t let you go from me!” Rangkulannya lebih kuat dari sebelumnya. Anak laki-laki itu mencium kening anak perempuan itu. Ah, itu membuatku ingin lebih belajar dari mereka. Aku ingin move on, walau cinta yang belum sempat ku nyatakan dan lepaskan. Aku ingin menemukan seorang yang bisa mengisi hatiku selain Robbert Joshua. Itu juga membutuhkan waktu panjang. Mungkin sampai aku berhenti bernapas.

Kan ku lampaui cinta, membuang kesedihan, dan menemukan diriku yang baru. Ku tak bisa melihatmu lagi di masa depan yang indah, yang kelak kan datang,

Kan ku simpan perasaan yang sebenarnya ini di dalam hati, hingga ku temukan hari esok yang cerah.

“Thank you for the food, uncle. Bye” Aku meninggalkan kedai itu dan mendorong koper bawaanku. Aku akan pergi dari Negara yang penuh kenangan ini bersama Robbert. Dan sekarang aku akan pulang ke tanah kelahiranku. Indonesia. Setelah 10 tahun aku menjalani pendidikan dan profesiku menjadi seniman jalanan.

“London, ini adalah terakhir kali aku akan berdiri di London Brigde mewah ini. Tempatku dan Robbert pertama bertemu. Thank you, London you bring me anything here. If there are more time, I’ll back here again for spend my holiday. Maybe with my husband and my children Hahaha, bye!” Ku tinggalkan tempat itu dan menuju Airport sekarang. Akan ku lupakan sosokmu dan melangkah menjalani hidup baru. Tanpamu. Walau besok dan seterusnya tak akan ada dirimu lagi. Robbert.

Kan ku lampaui cinta, membuang kesedihan, dan menemukan diriku yang baru. Ku tak bisa melihatmu lagi di masa depan yang indah, yang kelak kan datang.

Kan ku simpan perasaan yang sebenarnya ini di dalam hati, hingga ku temukan hari esok yang cerah.

Aku menggenggam koperku, menunggu waktunya untuk pesawat untuk lepas landas. Aku duduk di sebelah pemuda tampan. Aku terkejut saat ia menyodorkan sebuah permen kepadaku.

“Sepertinya, kau tak membawa sedikit makanan. Nih, ambillah! Untuk mengurangi tekanan telingamu saat pesawat ada di atas. Jangan takut!” Aku pun menerimanya. Dia menanyakan lagi tentangku, namaku, pekerjaanku, rumahku. Dan ah, tak bisa ku jelaskan sekarang.

“Mulai sekarang kita teman! Dan kebetulan, aku salah satu pecinta seni dan membuka sebuah museum internasional. Aku harap kau memamerkan karyamu di museumku” Aku tersenyum dan tak percaya apa yang barusan ku dengar.

Aku senang, dan menerima kartu namanya. Mulai detik ini, aku akan berusaha menghapus jejakmu yang masih di hatiku. Tetapi, kau tetap menjadi yang pertama. Robbert Joshua. Terima kasih untuk segalanya!

Hontou no kimochi wa mune ni shimau Futari no asu ga kieru mae ni

Kan ku simpan perasaan yang sebenarnya ini di dalam hati, sebelum kita menghilang esok.

LOST IN BEIJING

Entah bagaimana aku jadi terpisah dengan rombongan tur yang aku ikuti. Begitu ke luar dari toilet bandara, tiba-tiba rombongan yang tadi berkumpul di lobi itu sudah tidak ada. Tuhan… bagaimana ini? Aku benar-benar tidak mengenal negeri asing ini. Dalam kebingungan, aku berjalan meninggalkan lobi bandara sambil menyeret koperku yang memang tidak penuh terisi. Aku memandang berkeliling dengan panik. Orang-orang yang aku kenal, sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Aku telah berada di negeri yang selama ini menjadi impianku untuk bisa menjejakkan kaki di atas tanahnya. Tapi, sekarang aku malah menjadi orang hilang. Benar-benar… akh!

Rasanya sudah lebih dari sepuluh menit aku berjalan sambil menyeret koperku, tapi pemandangan yang aku lihat masih sama. Aku terkesima. Bandara ini benar-benar luas. Sangat berbeda dengan bandara di kota asalku. Ya Tuhan… aku benar-benar sudah jadi orang hilang. Sementara orang-orang yang satu rombongan denganku itu mungkin sedang bergembira menikmati suasana kota ini. Memikirkan itu, sungguh membuatku kesal. Tenggelam dalam lamunanku sendiri, tiba-tiba seseorang menabrakku. Tabrakan itu begitu cepat dan membuatku nyaris jatuh terjengkang. Tapi dengan cekatan, tangan orang yang bertabrakan denganku itu meraih lenganku. Menahanku agar tidak terjatuh sambil mengucapkan kalimat dalam bahasa Mandarin yang cepat. Tapi setelah melihat sosokku, ia mengulang ucapannya dalam bahasa Inggris.

“Oh, sorry,” katanya. “are you okay?”

Aku tidak langsung menjawab karena begitu terkesima melihat sosok laki-laki di hadapanku itu.

“I–I’m okay,” sahutku agak terbata.

Laki-laki itu sekali lagi menatapku seksama dengan mata sipitnya. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja.

“Thank you,” kataku mengerti apa yang dipikirkannya.

“Welcome,” balasnya sambil tersenyum.

Oh! senyumannya membuatku membeku. Sungguh manis penuh ketulusan. Aku membalas senyuman itu dengan sedikit canggung.

Kemudian seperti tersadar, ia melepaskan lenganku.

“Better I go now,” ucapnya. “have a nice trip, Lady.”

Laki-laki itu menunduk sopan dan siap melangkah pergi. Tapi entah apa yang membuatku berani bereaksi untuk menarik jaketnya sambil berkata, “Please, don’t go,”

Sesaat ia kembali menatapku. Pandangannya kali ini penuh selidik. Namun kemudian raut wajahnya melunak. Lalu ia bertanya, “Are you lost?” Pertanyaannya yang begitu tepat serasa menusuk dadaku. “Um.. yeah,” jawabku sambil tertunduk malu.

“Where are you from?”

“Indonesia.”

“A tour group?” kembali ia menebak dengan tepat.

Aku menjawab dengan anggukan.

“What can I do for you?” Aku tidak langsung menjawab dan hanya menatap.

“If you don’t need me, why are you holding me?”

“I just..”

“What?”

“I just afraid..” lanjutku. “because I know nothing about this place and you are so friendly,”
Ia tertawa kecil. “Okay, that make sense,” katanya.

“I’m sorry..”

“No need to say,” ujarnya. “I can understand your situation.”

Aku tersenyum penuh terima kasih. “So, will you help me?”

“No problem,” jawabnya sambil balas tersenyum.

“I didn’t bother you?”

Ia menggeleng. “Nope.”

“Really?”

“Yes.”

“Ah, xie xie ni,” ucapku spontan.

“Oh, you can speak Mandarin?” tanyanya penasaran.

“Only a few.”

“Not bad.”

Aku tersenyum.

Ia balas tersenyum dan bertanya, “Now, where are we going?”

“Can you take me to this inn?” tanyaku seraya memperlihatkan tour list yang aku bawa.

Ia mengangguk dalam senyuman setelah membaca tour list yang aku tunjukkan padanya. “No problem,” ujarnya.

“Thank you so much.”

“Because you are lucky today, Lady.”

“Am I?” tanyaku.

Sekali lagi ia mengangguk dalam senyuman. “You believe me?”

Aku mengangguk. “Tight your coat, Lady,” katanya dan tanpa basa-basi, ia meraih tanganku dan membawaku pergi meninggalkan bandara yang super sibuk itu.

Tiba di depan bandara, ia langsung berjalan mendekati sebuah taksi. Ia menyapa seorang supir taksi dengan akrab. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mereka berbincang dengan bahasa Mandarin yang cepat sekali. Tapi aku mengerti keduanya juga membicarakanku, karena sesekali si supir taksi melempar tatapannya padaku. “Romeo, today is your day,” si sopir taksi berkata demikian sebelum ia ke luar dari taksi dan menyerahkan kuncinya kepada penyelamatku itu. Si sopir taksi menepuk pelan pundak laki-laki yang dipanggilnya Romeo itu dan berlalu pergi begitu saja.

“Look,” katanya kepadaku. “we are lucky today.”

“Um, this is okay?” tanyaku.

“Don’t worry, Lady, he is my friend,” jawabnya.

Aku tersenyum agak canggung.

Ia seperti menangkap keraguanku, lalu mendekatkankan wajahnya ke wajahku dan berkata, “If you want to believe me, believe me with sincerity, or just leave me.”

Kata-katanya membuat hatiku mencelos. Ia benar, akulah yang menahannya, dan ia yang dengan sukarela membuang waktunya untuk membantuku. Sekarang malah aku yang meragukannya. Benar-benar tidak tahu diri aku ini. “I’m sorry,” kataku segera.

“Just tell me you believe me,” sahutnya.

“I believe you.”

Romeo (meskipun aku tak yakin itu nama aslinya) tersenyum. “That’s good, Lady,” katanya. Lalu membukakan pintu depan taksi. “Please…”

Aku tersenyum, dan tanpa ragu melangkah masuk ke dalam taksi. Kemudian ia masuk ke tempat duduk sopir, menghidupkan mesin, dan segera melaju meninggalkan Bandara International Ibukota Beijing.

Dia membawaku melewati jalan utama kota dengan kecepatan normal. Beijing, kota ini benar-benar membuatku takjub. Aku dapat menangkap setiap pemandangan yang ada di kanan dan kiri jalan raya. Ditambah lagi dengan nuansa merah dan keemasan dedaunan pohon maple di musim gugur seperti ini. Sungguh pemandangan yang luar biasa, yang tidak akan pernah aku temukan di kotaku. Angin yang berhembus membawa hawa dingin. Niatku untuk terus membuka jendela aku urungkan.

Aku melirik sosok di sebelahku. Aku juga tidak tahu dari mana datangnya rasa percaya ini. Tapi sejak ia menangkapku ketika hampir terjatuh di bandara tadi, aku merasakan ia adalah sosok laki-laki yang baik. Romeo, itulah nama panggilan yang memang cocok untuknya. Aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan laki-laki sebaik Romeo di negeri asing seperti ini. Sesaat, itu sungguh membuatku lupa pada orang-orang yang telah meninggalkan aku sendirian di bandara. Apa yang mereka kerjakan sekarang? Masihkah mereka tidak menyadari bahwa aku sudah hilang? Pertanyaan itu berulang kali terlintas dalam benakku.

“Lady, Beijing huan ying ni!” ucap Romeo membuyarkan lamunanku.

“Eh?” sahutku bingung.

Romeo tertawa. “I mean, welcome to Beijing!” ia berseru sekali lagi.

“Oh, xiexie ni,” aku bergaya menjawab dengan bahasa Mandarin.

Romeo tertawa renyah. “Maybe, you have to learn Mandarin more,” katanya.

“I really want it,” kataku.

“Are you?”

“Yes, I am.”

“Wow, nice to know that.”

Kami kembali tertawa bersama. Oh Tuhan.. aku benar-benar berharap waktu berhenti sekarang juga. Sehingga aku tidak akan pernah melewatkan momen menyenangkan ini. Selama di perjalanan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya setiap kali melihat bangunan yang menarik. Sambil menyetir, Romeo menceritakan padaku sejarah atau kisah dari setiap bangunan atau jalan yang kami lewati. “You really like a guide,” komentarku.

“Really?” tanyanya. Aku mengangguk. Romeo tertawa lagi. Aku suka melihat tawanya. Matanya yang sipit total terpejam setiap kali ia tertawa. Logat aslinya membuat setiap ucapan Bahasa Inggrisnya terdengar berbeda dan lucu.

“I hope, you are not sad anymore, Lady,” ujarnya.

“No, I’m not sad,” jawabku. “I just confused and afraid. Because this place is totally strange for me.”

Romeo menatapku, lalu mengangguk dalam senyuman. “First time to visit?”

“Yes.”

“Oh, I hope you’re not chary to come back here after all of this.”

Aku tersenyum. “Of course not,” sahutku.

Romeo tersenyum. “Happy to know that,” ujarnya.

Aku membalas senyuman itu.

Bagaimana mungkin aku bisa jera? Jika suatu hari nanti aku bisa kembali ke kota ini dan bertemu lagi dengan Romeo. Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan itu. Aku juga tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya mengenai penginapan yang sedang kami tuju sekarang ini. Romeo dengan senang hati menceritakan tentang penginapan yang menjadi pilihan kelompok tur yang aku ikuti. Kata Romeo, meski penginapan yang kami pilih tidak termasuk kategori hotel berbintang, tetapi layak untuk menjadi pilihan.

Selain tidak terlalu jauh dari Bandara International Ibukota Beijing, penginapan tersebut juga dekat dengan tempat-tempat yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Dan sungguh, hal itu membuatku menjadi semakin tidak sabar untuk segera tiba di penginapan dan melihat-lihat. Aku juga tidak keberatan jika memang sudah ketinggalan tur. Karena aku bisa pergi tur sendiri bersama Romeo, begitu pikirku.

Setelah dua puluh menit berada di jalanan kota Beijing yang begitu padat dan sibuk, akhirnya taksi yang Romeo kendarai berbelok menuju jalan yang lebih kecil dan berjalan masuk ke sebuah gang. Kemudian taksi berhenti di pelataran sebuah bangunan yang lebih mirip dengan apartemen-apartemen yang pernah ku lihat di televisi. Namun bisa dipastikan, kami sudah berada di tempat yang benar. Papan yang tertera di bangunan menjelaskan semuanya. Ini memang penginapan yang kami tuju. Hanya saja, di pelataran parkirnya hanya tampak beberapa mobil pribadi. Dugaanku, aku memang sudah ketinggalan tur.

Romeo membantuku mengeluarkan koper dari bagasi dan bersikeras membawakannya. Aku berterima kasih untuk itu, yang hanya dijawabnya dengan senyuman. Sambil menarik koperku, Romeo dan aku berjalan bersebelahan menuju penginapan. Benakku asyik dengan pikiranku sendiri. Setelah ini aku akan segera mandi dan berganti pakaian. Lalu aku bisa melanjutkan tur pribadiku dengan pemandu wisata yang baik hati dan tampan. Aku tersenyum sendiri ketika memikirkan hal itu. Begitu menjejakkan kakiku melewati pintu masuk, aku dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menghambur memelukku. Romeo pun hanya bisa terkesima karenanya.

“Ku kira aku nggak akan pernah bisa melihatmu lagi, Nin,” ucap perempuan itu terisak, sambil terus memelukku. Ternyata yang menubrukku itu adalah teman baikku yang juga ikut dalam tur ini. Namanya Rima. Aku mencoba menenangkan Rima sebisaku. Akhirnya ia bisa lebih tenang dan melepaskan pelukannya. Di belakang tubuh Rima, aku juga bisa melihat orang-orang dengan ekspresi cemas yang juga berdatangan padaku kemudian.

“Terima kasih, teman-teman,” kataku kepada mereka semua. “aku baik-baik saja.”

“Oh, syukurlah kalau begitu,” ucap beberapa dari para peserta tur tampak lega.

Ternyata mereka tidak meninggalkan aku. Mereka bahkan memilih untuk terus menunggu di penginapan alih-alih melanjutkan tur.

Si pemimpin tur mendekatiku dan berkata penuh penyesalan, “Maafkan atas kelalaianku, Miss Nindi.”

“Tidak apa-apa,” sahutku. “yang penting aku sekarang sudah ada di sini dan dalam keadaan baik-baik saja.”

Si pemimpin tur mengangguk dalam senyuman. Lalu sebelum berbalik, ia berkata, “Aku akan meminta resepsionis untuk menghubungi bandara.”

Aku mengangguk.

Setelah selesai dengan resepsionis. Si pemimpin tur mulai mengkoordinasi kembali para peserta tur dan mereka semua mulai membawa koper mereka menuju kamar masing-masing.

Sesaat keberadaan Romeo terlupakan sampai Rima bertanya kepadaku, “Eh, siapa sih cowok tampan yang datang bersamamu itu?” Aku seperti diingatkan, tetapi aku hanya menjawab pertanyaan Rima dengan senyuman.

“Apa arti senyuman itu?” Rima kembali bertanya.

“Rahasia,” jawabku sambil mengedipkan mata. Lalu kembali ke Romeo tanpa mempedulikan rasa penasaran teman baikku itu.

“I think, everything is okay now, Lady,” kata Romeo begitu aku tiba di dekatnya.

“I think so,” sahutku mengangguk.

“They don’t leave you, right?”

“No, they don’t.”

“That’s good.”

Aku tersenyum.

“How can I thank you?” tanyaku kemudian.

“Um.. how about, stay all night with me later?” jawabnya.

“Eh?!” Romeo tertawa melihat reaksiku. “Just kidding,” katanya.

Aku menghela napas lega. “I’m not a guy like that, Miss Nindi,” ucapnya.

Oh.. dia mendengar ketika pemimpin tur menyebut namaku tadi.

“I know that,” sahutku.

Sesaat kami hanya saling menatap satu sama lain. Aku bisa merasakan perasaan hangat mengalir dalam dadaku.

“You have a sweet name, Lady,” komentar Romeo kemudian.

“Oh, thank you.”

Romeo tersenyum. “So, I can go now,” katanya.

Aku ingin sekali mencegahnya. Tapi sekarang, aku tidak punya alasan lagi untuk membuatnya tetap tinggal. Entah apa yang sudah aku alami. Mungkin aku memang sudah jatuh hati pada penyelamatku itu.

“Once again, thank you so much,” ucapku.

Ia mengangguk dalam senyuman. “Nice to meet you, Lady,” ucapnya kemudian.

“Especially I am,” sahutku balas tersenyum. “Without you.. I don’t know what will happen to me.”

“A pleasure for me to help you.”

“Can we meet again?” tanyaku begitu spontan.

“I hope so,” kata Romeo dalam senyuman.

Aku balas tersenyum.

“Enjoy your trip.” Aku mengangguk.

Romeo kemudian merogoh kantung jaketnya dan menyerahkan lembaran daftar tur yang tadi aku perlihatkan padanya.

“This is yours,” katanya.

“Thank you,” sahutku.

“And please, look carefully your tour list, Lady.”

“I will.”

“So.. good bye.”

“Bye.”

Romeo sekali lagi mengangguk hormat sebelum akhirnya beranjak pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya sampai ia masuk ke taksinya dan melesat pergi.

“Hm, sepertinya, nggak jelek juga pengalamanmu hilang di kota ini, Nin,” kata Rima yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku.

Aku berpaling padanya dan tersenyum. “Dan tidak terlupakan,” kataku menambahkan.

“Dia seorang sopir taksi?” tanya Rima.

“Aku juga tidak tahu,” jawabku tidak terlalu peduli apapun atau siapa pun Romeo itu.

“Terserahlah,” kata Rima kemudian.

“yang penting sekarang, sebaiknya kita segera ke kamar dan bersiap-siap untuk perjalanan tur kita. Karena jadwalnya jadi mundur jauh gara-gara menunggumu.”

“Maaf deh,” sahutku. “siapa juga yang mau jadi orang hilang di negeri asing begini.”

Rima tertawa. “Iya, iya,” ujarnya. “aku cuma bercanda.”

Aku tersenyum dan berjalan bersama Rima menuju kamar sambil menyeret koper. Tapi kemudian langkahku terhenti. Aku teringat bahwa aku belum menanyakan siapa nama Romeo yang sebenarnya. Tapi di saat yang sama, aku juga teringat ucapan Romeo sebelum pergi tadi, dan bergegas membuka lipatan kertas daftar tur. “Ada apa lagi, sih, Nin?” tanya Rima.

Aku tak mengindahkan pertanyaan Rima karena perhatianku tercurah pada dua baris tulisan tangan yang ada di lembar daftar tur. Sebuah nama dan nomor telepon. Di bawahnya dituliskan juga sebuah alamat e-mail. Kini aku mengerti mengapa Romeo memintaku untuk melihat dengan seksama daftar tur ini. Ternyata, ia telah menambahkan catatan khusus untukku. Aku begitu gembira. Karena aku tahu, akan ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Romeo. Aku tersenyum senang dan berjalan mendahului Rima yang berdiri heran menatap tingkahku.

BLOODY MARY IN MY DOLL

Aku menutup buku dengan tangan gemetar. Boneka kesayayanganku, Mary, yang berada di sampingku langsung kudekap erat. Menyeramkan sekali. Baru saja aku membaca buku mengenai Bloody Mary, suatu ritual atau mungkin permainan yang sangat menyeramkan sekaligus membahayakan.

Menurut cerita rakyat Barat, Bloody Mary adalah setan atau penyihir yang akan muncul di kaca ketika namanya dipanggil tiga kali. Bloddy Mary sering digunakan sebagai bagian dari permainan. Ada juga yang bilang, jika menyebut nama Carol tiga kali, maka hantu kaca akan tiba. Untuk membuatnya muncul, biasanya orang akan berdiri di depan cermin kamar mandi dalam keadaan gelapan dan mengulangi namanya tiga kali. Bloddy Mary digambarkan suka memburru anak-anak.

Bloddy Mary merupakan legenda yang berasal dari Amerika. Konon, seorang perempuan bernama Mary Whirnington meninggal di depan cermin secara tak wajar. Ada pula yang menganggap Mary sebagai penyihir. Arwah Mary terperangkap di dalam cermin dan tidak bisa keluar, kecuali ada yang membukakan jalannya. Itu membuat Mary marah dan dapat melakukan hal-hal di luar batas kemanusiaan.

Benar-benar menyeramkan, bukan? Aku sendiri sampai bergidik ngeri.

Tiba-tiba, ketika aku sedang merenungkan buku yang barusan kubaca, seseorang mengagetkanku dari belakang. Aku yakin, pasti yang mengagetkanku sekarang adalah kakakku Kak Gretha!

“Hahaha ... kaget, ya?” tawa Kak Gretha meledak seketika. Kak Gretha berambut panjang sepunggung berwarna cokelat keemasan, dagunya lancip, dan matanya indah kecoklatan. Dilihat dari postur tubuh dan gaya penampilannya, orang-rang tidak akan percaya bahwa kakakku ini tomboi. Hahaha ..

“Enggak. Aku sudah biasa tau dikagetin kayak gitu. Eh, Kak, coba baca buku ini, deh. Serem banget.” Aku menyodorkan buku Bloddy Mary kepada kak Gretha. “Hmm.. Bloody Mary?” Katanya denan nada bertanya. Kakakku termasuk orang yang sulit mempercayai hal-hal yang belum pasti kebenarannya seperti ini.

“Haha.. lucu sekali. Mana ada jiwa yang terperangkap dalam cermin? Haha.. ada-ada saya,” katanya sambil tertawa. “Jadi Kakak tidak percaya dengan Bloody Mary Itu? Tapi kayaknya itu beneran, deh, Kak.” Ucapku.

Kak Gretha berhenti tertawa lalu menarik tanganku ke dapur. Lalu, dia sibuk mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Setelah mengubrak-abrik isi lemari itu, Kak Gretha mengeluarkan dua batang lilin dan memberikannya satu padaku. Apa coba maksudnya?

Akhirnya aku mengerti. Sepertinya Kak Gretha ingin melakukan permainan itu! Ah, tidak.. ini gawat! Bagaimana kalau Bloody Mary itu benar-benar ada?

“Kak.. Kakak gila, apa? Kalo mau ngebuktiin, buktikan saja sendiri. Aku enggak mau ikut-ikutan.” Kataku pada Kak Gretha. “Kalo aku melakukannya sendirian, nanti pasti kamu engak akan percaya kalo aku telah melakukan permainan Bloody Mary dan tidak terjadi apa-apa pada diriku.” Jawabnya memaksaku untuk melakukannya.

Dengan terpaksa akupun menuruti kemauan Kak Gretha. Kami berdua melakukannya di kamar mandi yang berada di ruang tidur kak Gretha.

Pertama, kami menyalankan lilin, lalu Kak Gretha mengunci pintu kamar mandi dan mematikan lampu. Pancaran sinar lilin menjadi sumber penerangan satu-satunya. Kak Gretha menyuruhku menaruh Mary (bonekaku) di samping cermin nya yang lebar.

Kemudian, Kak Gretha menyebut nama “Carol” disertai dengan “Bloody Mary” sebanyak tiga kali. Semuanya hening dan tidak terjadi apa-apa.

Hanya terdengar sedikit desiran angin. Mungkin itu adalah tanda kehadiran Bloody Mary. Aku sangat takut, aku menutup mataku rapat-rapat.

Beberapa menit telah berlalu, Kak Gretha menyuruhku untuk membuka mata.

“Bagaimana? Benar, bukan, perkataanku? Bloddy Mary itu hanya mitos. Udah sana, pergi tidur, sudah malam.” Kak Gretha langsung menyuruhku keluar dari kamarnya.

Akupun langsung pergi tidur dan menghilangkan pemikiranku tentang Bloody Mary. Walaupun aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal.

Keesokan harinya saat aku membuka pintu kamar, aku terdiam kaku di ambang pintu. Aku tak bisa mengucapkan apa ketika melihat cermin kamarku itu ditulisi oleh seseorang dengan lipstik warna merah “I HATE YOU!”

Hal yang sama terjadi di kamar Kak Gretha. Namun, kalimat ini lebih sadis daripada kalimat yangg tertera di cermin kamarku. “I WANT TO WIPE YOU OUT!”

Kami bingung, siapa yang menulis kalimat kejam ini? Dari cermin, aku melihat Mary terlihat senang melihatku tertekan. Aku rasa, Mary telah berubah. Apa mungkin Mary adalah boneka hidup?

Saat larut malam, aku bermimpi bahwa boneka kesayanganku Mary berubah menjadi sebuah boneka menyeramkan dan membunuh semua orang di rumahku. Termasuk Papa, Mama, Kak Gretha, Bibi, dan Pak Bon. Mary berkata “Aku bukan Mary. Aku adalah Bloody Mary. Kau lupa dengan permainan Bloody Mary yang kau dan kakakmu lakukan itu? Aku datang sewaktu kalian memanggil namaku! Aku sengaja memasuki tubuh Mary. Sekarang, terima sendiri akibatnya!”

Saat aku terbangun, aku langsung melihat ke arah Mary. Lagi-lagi dia melempar senyum licik kearahku. Aku berusaha cuek, dan memberanikan diri berkata pada Mary.

“Sebenarnya apa maumu? Jangan menggangguku! Pergi sana ke alamu!”. Mary memutar kepalanya sendiri! Dia menatapku marah! Apa benar Mary kerasukan Blodody Mary?

Keesokan harinya, aku memberi tau pada Kak Gretha, Mama, Papa, Bibi, dan Pak Bon, bahwa Mary telah kerasukan Bloody Mary. Awanya mereka sempat tak percaya, tapi dengan adanya bukti merekapun mempercayainya.

Saat malam tiba, pukul 12.00 Mary datang sambil berkata “I’m coming back!” dia tampak lebih dingin dan terlihat marah, marah sekali. Tana rasa takut, kami langsung melawan Mary. Papa dan Mama memutuskan untuk mencari cara bagaimana memusnahkan Mary dan mengembalikan Bloody Mary ke tempat yang seharusnya.

Sementara itu aku mengalihkan perhatian Mary bersama Kak Gretha. Kami berdua terus berlari, namun Mary berhasil mengejar. Dia melukai tangan kananku. Dia juga melukai kaki Kak Gretha. Rupanya Mary membawa benda tajam di tangannya.

Tiba-tiba, dari belakang Mary, Bibi melemparinya dengan tepung. Mary merasa marah. Dengan kaki yang terpincang-pincang, Kak Gretha berusaha menolong Bibi, aku dan Pak Bon juga ikkut membantu.

Sementara itu, Papa dan Mama yang sedang googling di internet, akhirnya menemukan solusi untuk melenyapkan Mary. “Ma, cept peahkan semua cermin di rumah!” perintah Papa. Mama dan Papa langsung berpencar.

“Bibi! Fero! Bantu Mama memecahkan semua cermin di rumah ini! Biar Pak Bon dan Kak Gretha yang melawan Mary” Teriak Mama. Aku dan Bibi mengangguk mengerti.

Pyarr! Pyarr! Suara kaca yang telah pecah memekakkan telinga. Satu persatu cermin telah pecah, yang terakhir adalah cermin di kamar Kak Gretha. Pyarr! Cermin terakhir itu telah pecah. Mary yang meronta itu akhirnya ambruk. Suasana menjadi hening kembali. Perlahan-lahan aku mendengar sirene mobil polisi yang datang.

Kami semua segera di larikan ke rumah sakit terdekat. Aku sangat senang, akhirnya Bloody Mary itu telah pergi. Mama, Papa, Kak Gretha, Bibi, dan Pak Bon juga ikut merasa senang.

Selamat tinggal Bloody Mary!{}


Karya: Sahanaya Widya Pitaloka

CAMPUR ADUK

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS

Malam hari. Bulan di langit, ya bulan sabit. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus berita di channel TVRI, ya Budi duduk dengan ...

CAMPUR ADUK