CAMPUR ADUK

Wednesday, June 19, 2019

KASUS


Deni pagi-pagi ke kantor untuk menghadap komandan. Ternyata Deni telat dateng dan teman kerja Deni si Boni geleng-geleng kepala. Deni pun meminta maaf sama Boni karena ketelatan dirinya ke kantor. Boni memaafkan Deni dan langsung menghadap komandan Albret di ruangannya.

“Pagi …Pak,” kata Deni.

“Siang,” saut Albret.

Deni dan Boni duduk di kursi masing-masing dan komandan Albret memberikan file tentang penjahat yang harus di tangkap Deni dan Boni karena masuk daftar hitam kepolisian. Deni membaca dengan seksam file yang di berikan komandan Albret begitu juga Boni.

“Pak…..masalahnya orang ini ada kaitannya dengan elit politik. Bagaimana ini Pak….kayanya terlalu berat…kasus ini.”

“Bener….apa..omongan Deni? Karena terlalu riskan…ini Pak…bagi kepolisian mengungkap kasus mereka..ini. Malah bisa berbalik. Apalagi banyak mata-mata yang tersebar di pemerintahan untuk mengamankan kondisi elit politik ini.”

“Maka..itu..lah saya butuh kalian. Polisi yang sering menyamar di lapisan masyarakat. Kalian dianggap polisi bukan dianggap masyarakat ia. Lebih sering di sebut penjahat karena ulah kalian ini banyak masalah. Polisi…banyak pelanggaran di mana-mana. Untuk kalian dapet kasus ini..untuk membersihkan nama kalian di kepolisian. Kalau berhasil naik..pangkat. Kebiasaan bikin ulah. Naik pangkat susahkan. Yang baru masuk aja seperti Handoko yang junior kalian…eeee karena prestasinya banyak menyelesaikan kasus jadi senior kalian. Kasus ini harus bisa kalian selesaikan…sampe bukti-buktinya terkumpul dengan baik baru…target di tangkep.”

“Siap..komandan,” kata Deni dan Boni bersamaan langsung berdiri langsung hormat.

Setelah itu Deni dan Boni keluar dari kantor komandan Albret dengan membawa file tersangka yang harus di tangkap mereka berdua. Komandan Albret santai di dalam kantor telah memberi tugas Deni dan Boni dengan minum kopi hitam yang enak banget.

Deni dan Boni terus ngobrol di ruangan kepolisian sampe di luar untuk menyelesaikan kasus. Mau gak mau mereka jalan bareng dan naik mobilnya Deni. Sampai di sebuah kafe di pinggiran kota Jakarta berdasarkan informasi Deni yang tersebar lewat jaringannya di masyarakat untuk mengetahui target yang di incar adalah Dargo. Deni dan Boni mengawasi dari mobil.

Maunya Deni langsung masuk ke kafe menyergap menangkap Dargo, tapi Boni menyuruh menunggu di mobil agar tahu pergerakan selanjutnya Dargo mau ke mana. Dengan sabar menunggu di mobil Deni dan Boni mengawasi targetnya.

Keluar juga Dargo dari kafe dan masuk mobil pribadinya. Bergeraklah Dargo dengan mobil pribadinya. Deni dan Boni mengikuti dari belakang. Sampai di sebuah gedung pemerintahan Dargo memarkirkan mobilnya. Deni dan Boni pun juga. Dargo masuk ke dalam gedung pemerintah untuk menemui seseorang.

“Ah..benerkan..target ada kaitannya dengan elit politik..gimana Boni?”

“Ya..gimana lagi…harus segera kita selidiki.”

Deni dan Boni mau masuk ke dalam gedung pemerintahan dengan menyamar sebagai wartawan untuk mencari berita di pemerintahan tentang isu ini dan itu. Tapi Deni melihat gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang masuk kantor pemerintahan.

“Kaya….dari KPK…Boni.”

“Mana..Deni.”

“Itu orangnya yang pake baju dines tersebut…yang baru masuk, tapi nyamar. Gaya beda banget dengan anggota pemerintahan yang bekerja di gedung pemerintahan ini,” kata Deni tangannya menunjuk.

“Iya…,” saut Boni.

“Sekarang..misi di bagi dua. Kamu ke arah sana saya ke arah sini. Jangan sampe ketahuan.”

“Ok beres.”

Deni mau masuk ke dalam kantor pemerintahan di halangan petugas penjaga. Untung wartawan yang lain yang ingin meliput berita tentang komentarnya Pak Wiranto tentang keamanan di Indonesia. Deni berhasil masuk bersama wartawan yang lain untuk wawancarai Pak Wiranto.

Sedangkan Boni berhasil masuk dengan cara nyelinepnya lebih baik lagi saat kerumunan dan masuk ke dalam gedung. Sambil ikutan wawancara Pak Wiranto….Deni mencari kesempatan untuk bisa masuk ke ruangan lainnya. Kesempatan ada saat Pak Wiranto…bla..bla alias bicara di depan kamera langsung deh Deni masuk ke ruangan di mana Dargo terlihat di situ.

Ternyata urusan Dargo dan elit politik di dalam ruangan terlalu singkat dan padat. Deni belum dapet hasil apa-apapun? Di tambah lagi anggota KPK ikutan juga lagi mengincar elit politik tersebut jadi targetnya.

Dargo keluar dari kantor setelah pembicaraan selesai dengan elit politik. Tahu- tahu anggota KPK nyamar nangkap elit politik tersebut dengan bukti uang yang di serahkan oleh Dargo di simpan pada kotak berkas sepatu.

“Kacau..urusannya..ini mah…ketangkap KPK…Pak Ruhut ini mah,” kata Deni melihat kejatian tersebut.

Langsung heboh semuanya Pak Ruhut di tangkap KPK. Wartawan lagi wawancarai Pak Wiranto langsung meninggalkan sementara waktu untuk meliput Pak Ruhut di tangkap KPK. Pak Wiranto langsung geleng-geleng melihat Pak Ruhut di tangkap KPK begitu juga dengan anggota pemerintahan yang lain.

Deni tambah bingung karena kerjannya KPK duluan menangkap orang yang masuk target kepolisian.

“OTT lagi…OTT lagi...,” kata kesal Deni.

Dargo pun keluar dari gedung pemerintahan langsung deh meninggalkan kehebohan di dalam gedung pemerintahan mengenai OTT. Dargo mengambil mobilnya di parkiran dan segera pergi. Deni masuk mobilnya di parkiran dan ternyata Boni sudah ada di mobil.

“Lama amat Deni….ayo cepet bawa mobilnya!”

“Iya..sabaran.”

Deni membawa mobilnya dengan baik mengikuti Dargo. Di dalam mobil sambil ngobrol Deni dengan Boni mengenai hasil mengumpulkan data target. Boni memberikan kabar baik pada Deni yang bagus banget. Boni berhasil mendapatkan file data kerja Pak Ruhut dengan Dargo sebelum anggota KPK menyergap alias menangkap Pak Ruhut.

Sampai di sebuah gedung kantoran di pinggiran kota Jakarta. Dargo memarkirkan mobilnya. Deni pun memarkirkan juga, tapi agak sedikit jauh. Dargo keluar dari mobil menuju tujuannya. Deni dan Boni juga keluar dari mobil juga. Di perkirakan Deni bahwa Dargo mau masuk gedung perkantoran. Eeeee ternyata di sampingnya ada gang menuju sebuah kafe, tapi lewat belakang untuk mengelabui orang sekitar kalau tempat tersebut tempat yang baik.

Deni dan Boni langsung memberanikan diri untuk masuk ke dalam kafe lewat belakang mengikuti Dargo. Setelah pintu di buka oleh Deni dan Boni. Walah….gila banget. Ternyata pabrik narkoba. Dargo langsung melihat Deni dan Boni dan menguruh anak buahnya menghabisi mereka berdua.

Deni dan Boni mau gak mau menghajar mereka semuanya. Terjadi pertarungan yang sengit sampe satu persatu para penjahat di bikin babak belur sama Deni dan Boni. Dargo melihat kekalahan di pihaknya langsung kabur dengan berlari lewat pintu depan kafe. Deni mengejar Dargo dengan secepat mungkin. Sedangkan Boni mengeluarkan pistol untuk mendiamkan para penjahat untuk jongkok di langtai, lalu menelpon rekan kepolisian yang terdekat untuk menangkap para penjahat.

Dargo terus berlari dan mau masuk ke dalam mobilnya. Tapi Deni dateng langsung menendang pintu mobil. Tapi Dargo berhasil menghindar dan tidak terjepit di pintu mobil. Dargo tidak ada pilihan untuk melawan Deni. Dargo menyerang Deni dengan tendangan dan pukulan. Deni pun bisa mengimbangi serangan Dargo. Sampe Dargo di hajar Deni di bagian mukanya sampe muntah darah. Langsung deh Dargo di tangkap oleh Deni.

Segera Dargo di bawa di kantor polisi oleh Deni untuk intrograsi. Di dalam ruangan intrograsi Deni menghabisi Dargo dengan pertanyaan dan sebuah ancaman yang sifatnya menyakitkan demi membuka mulut siapa yang terkait. Susah payah Deni membuat aksinya di dalam intrograsi akhirnya Dargo buka mulutnya dan menjelaskan kronologis yang sebenarnya sampe Pak Ruhut di tangkap KPK.

Deni  dan Boni baru tahu ternyata Pak Ruhut di jadikan korban demi menyelamatkan elit politik yang hendak pergi luar negeri tepatnya Singapura karena ikut dalam permainan memanipulasi suara untuk memuluskan jalannya jadi anggota DPR. Sampai di bandara Deni dan Boni langsung menangkap Pak Yusril karena ada surat penangkapan yang sah dari pihak kepolisian. Setelah Pak Yusril di tangkap oleh Deni dan Boni langsung data-data anggota yang terkait dalam memanipulasi suara di daerah-daerah segera di tangkap oleh jajaran kepolisian.

Komandan Albret senang dengan kehebatan anak buahnya yang bisa menyelesaikan kasus dan segera di naikkan pangkat Deni dan Boni. Setelah pangkat Deni  di naikkan minta cuti karena lelah menangkap penjahat begitu juga Boni. Ya…komandan Albret memberikan cuti kepada Deni dan Boni secara khusus karena berhasil mengungkap kasus.

Baru sampe di hotel di pinggir pantai untuk bersantai. Deni dan Boni dapet panggilan tugas oleh komandan Albret untuk menyelesaikan kasus di Malaysia berkenaan gembong narkotika dan TKI ilegal. Ya…namanya juga tugas. Deni dan Boni segera meninggalkan hotel langsung ke bandara menuju Malaysia untuk menyelesaikan kasus.


Karya : No

KEPASTIAN

Langit yang bertabur bintang di malam ini. Doni memandang langit. Setelah itu Doni dateng ke rumah Kasno. Ternyata sudah di depan rumah Kasno dan Doni menghentikan laju motornya di depan Kasno.

"Lama baget datengnya?"

"Maaf......proses berjalan ke sini. Sambil liat pemandangan sekitar."

"Iya..saya...maafkan. Lain kali tidak."

"Kok..lain kali tidak di maafkan. Harus di maafkan."

"Iya. Ayo..kita berangkat. Temen -temen sudah nunggu ngumpul di kafe."

"Ayo..cepet naik."

Kasno naik motornya Doni duduk di jok belakang. Segera Doni membawa motornya dengan baik. Baru berapa lama Doni menghentikan laju jalan motornya. 

"Kok..berhenti Don..?"

"Lihat...Silfi keluar rumah. Baru...bayar makan yang pesannya lewat sistem jaringan internet. On line alias devilery..gitu."

"Iya..saya tahu. Tapi tujuan kamu sebenarnya apa berhenti?"

"Lihat..Silfi."

"Capek...deh..kalau suka sama cewek cuma bisa melihat dari jauh samperin. Toh..Silfi itu teman kita kita..juga."

"Kalau di samperin..nanti...ngumpul di kafe sama teman-teman telat deh."

"Ini...udah hampir telat. Ayo makanya..cepetan...jangan berhenti..lajuin motornya."

"Iya..sebentar. Saya lajuin. Tapi..nyapa Silfi dulu."

"Terserah..kamu."

Doni melajukan motornya ke depan rumah Silfi dan segera mencet klakson pada motor "Tinnnn". Selfi terkejut sekali "Astaga...Doni ngagetin aja. Apa ada apa main ke tempat saya?"

"Cuma...mampir..Silfi."

"Ah...kangen...Selfi," tambahan Kasno.

"Hus....," saut Doni.

"Oh....gitu..kangen," kata Selfi.

"Bukan..gitu Silfi. Gimana kamu Kasno. Jadian belum sama Silfi udah di komporin yang bukan-bukan. Saya yang bingung. Jadi maksudnya saya...cuma mampir saja. Ya..niat hati siapa tahu kalau keadaan telah  menunjukkan sebenarnya. Walau kenyataan begitu...saya..sih memang ingin dekat lagi dengan Silfi."

"Eeee..sama aja. Itu sih..ungkapan perasaan," tambahan Kasno.

"Iya," saut Kasno.

"Jadi..nembak nih...momentnya. Kok gak sepesial amat ya?"

"Silfi..kan cuma mampir saja. Kalau moment sepesialnya...ya kalau mau di ulang lagi sih boleh. Nunggu...dapet uang jajan dari Mami. Maklum masih sekolah belum bekerja."

"Jadi...cowok terus terang amat kamu Don."

"Iya..harus....terus teranglah dengan keadaan saya biar gak dianggap gombal. Maksudnya....kepastian yang di berikan kepada pihak cewek. Maksudnya begitu...Kasno."

"Tapi..momentnya..gak pas. terlalu..berani. Silfinya jadi mikir..tuh."

"Ya...saya bingung..juga deh jadinya. Di ganggu kamu Kasno."

"Saya..gak...ada masalah...mau ditembaknya..moment sepesial atau tidak. Yang penting sih...jangan mempermainkan hati..saya saja," kata Silfi yang terus terang.

"Iya...saya tidak mempermainkan Silfi. Janji...kalau saya suka sama Silfi."

"Saya...terima," saut Silfi.

"Cepet..banget..jadiannya. Kaya..udah janjian..ini mah?"

"Udah..di sekolah," kata Doni dan Silfi bersamaan.

"Dasar...moment di ulang. Kangen dua-duanya. Ayo...Doni berangkat..nanti telat ngumpul...di kafe sama teman-teman!"

"Iya..... Kalau..begitu..Silfi..saya pamit dulu ya."

"Iya...Doni."

"Daaaaa...," kata perpisahaan Doni.

"Daaa...," saut Silfi sambil melambaikan tangan.

Doni melajukan motornya dengan baik menuju kafe. Silfi masuk rumahnya. Selang berapa saat sampai di kafe. Doni segera memarkirkan motornya baru masuk ke kafe sama Kasno. Baru juga duduk di kafe Doni dan Kafe mau minum sesuatu. Eeee....temen-temen sudah mau keluar dari kafe...untuk pergi nonton acara yang di sepakatin mereka semua. Doni dan Kasno ikut saja mau teman-temannya walau gagal gak minum enak di kafe. Untung aja bisa di minuman bisa di bungkus pake gelas khusus jadinya bisa nikmati minum di jalan...itu semua idenya Kasno yang terlalu berlian.

Doni dan Kasno ngikut motor teman-temannya beriringan di jalanan kota Jakarta sampai di tujuan. Sampai di tempat langsung di parkirkan motor dengan baik oleh Doni dan teman-temannya segera masuk ke sebuah gedung pertunjukkan.

"Mau..apa kita kesini?" tanya Doni.

"Mau..nonton..live musik lah?" jawab Kasno.

Sampai di dalam gedung pertunjukkan langsung semuanya mencari tempat untuk duduk. 

"Dangdut Star....ya..Kasino?"

"Iya, Kamu jagoin...siapa Doni?"

"Siapa..ya? Temen-temen...yang lain gimana?"

"Mereka..punya..jagoan sendiri..yang sesuai selera mereka. Maksudnya sudah jadi penggemar."

"Ohhhh..begitu. Kalau begitu yang simpel aja..ya. Silfi."

"Eeeee..itu..sih..nyamain..nama..pacar kamu..Sifli."

"Kan..gak apa-apa. Yang penting suka aja. Namanya juga penggemar."

"Iya.... ."

"Kalau..kamu Kasno.....?"

"Putri."

"Eeeee....itu..sih..nyamain..nama adek kamu..namanya Putri."

"Biarin..suka-suka saya."

"Iya..terserah..kamu Kasno."

Doni dan Kasno asik nonton live musik dangdut dengan baik beserta teman-teman mereka satu sekolah sampai acara  musik selesai baru deh pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.


Karya : No

Sunday, June 16, 2019

DUNIA PARALEL

Gatot Kaca mendengar suara teriakan minta "Tolong". Segera Gatot Kaca terbangun dari pertapaannya di puncak gunung Merapi. Lalu terbang Gatot Kaca mencari suara yang minta tolong. Terlihat dari langit oleh Gatot Kaca. Dewi Andini teman Gatot Kaca di kejar oleh Raksasa Buto Ijo.  Dewi Andini terjatuh dan di tangkap oleh Raksasa Buto Ijo. Gatot Kaca langsung menyerang dengan tinjuannya ke Raksasa Buto Ijo sampe benget.

Dewi Andi terlepas dari gengaman Raksasa Buto Ijo. Tapi di sisi lain ada si Ranggar melepaskan anak panahnya ke Dewi Andini. Gatot Kaca gagal menyelelamatkan Dewi Andini yang meninggal dunia karena panah Ranggar si Kesatria jahat anak buahnya Duryudana.

Raksasa Buto Ijo bangun dan menyerang Gatot Kaca. Karena sangking marahnya Gatot Kaca meninju Raksasa Buto Ijo sampai terpental jauh dan menabrak gunung batu sampe pingsan. Gatot Kaca membawa Dewi Andini ke Krisna siapa tahu bisa di selamatkan?. Krisna pada saat itu sedang bersantai di pinggir sungai dan Gatot Kaca dateng meminta pertolongan membuat Dewi Andini hidup. 

Krisna tidak ingin membantu Gatot Kaca untuk menghidupkan Dewi Andini. Tapi Gatot Kaca terus memohon sampai bersujut pada Kirisna dan Krisna terkejut dengan ulah Gatot Kaca bersujud demi menghidupkan Dewi Andini. Krisna membantu Gatot Kaca untuk menghidupkan Dewi Andini.

Krisna hanya memberikan jalan untuk menghidupkan Dewi Andini dengan pintu waktu di mana Gatot Kaca menolong Dewi Andini sebelum di panah Ranggar di lepaskan. Gatot Kaca pun masuk ke dalam pintu waktu. Belum selesai Krisna bicara mengenai pintu waktu. Gatot Kaca sudah masuk ke dalam pintu waktu. 

"Gatot....Gatot...kamu bisa masuk...ke dalam dunia paralel yang lain.....," kata Krisna.

Gatot Kaca terombang ambing di aliran waktu dan tahu-tahu sudah menukik dari langit dan hendak jatuh ke tanah. Dengan sergapnya Gatot Kaca terbang dan turun ke tanah dengan gagahnya.

"Haaaaa....saya..dimana?" teriak Gatot.

Gatot Kaca bingung sekali melihat lingkungan sekitar ramai dengan manusia yang sibuk dengan urusannya. Gatot Kaca ternyata berdiri di tengah jalan dan mau di tambrak mobil truk karena sopir kaget melihat seorang manusia yang berpakaian wayang. Mememang sempat mengerem dadakan, tapi jaraknya terlalu dekat mobil truk dengan Gatot Kaca. Dengan sigapnya Gatot Kaca menghentikan mobil truk yang mau menabraknya.

Pak sopir keluar dari mobilnya dan ingin melihat manusia yang berpakaian wayang yang di tabraknya.

"Nak..kamu..gak apa-apa?" tanya Pak sopir.

"Iya...gak apa-apa? Tapi ini...di mana ya...Pak?" 

"Ini Yogyakarta......nak."

"Kok.....di pinggir jalan banyak sekali gambar sepanduk gambar Presiden Pak Prabowo?"

"Presiden... Indonesia sekarang...memang Pak Prabowo."

"Kok....aneh ya...padahal di masa saya yang Presidennya bukannya Pak Joko Widodo?"

"Pak Joko Widodo...kalah dalam pemilu....nak. Sekarang ini....lagi proses mau menggugat ke MK alias sengketa Pemilu." penjelasan Pak sopir.

"Jangan-jangan dunia...paralel. Bukan dunia yang saya tuju. Di dunia ini Presidennya Pak Prabowo."

Krisna muncul di dunia paralel tersebut dan segera mengarahkan Gatot Kaca untuk masuk ke pintu waktu menuju dunia yang seharus di tuju. Gatot Kaca masuk ke pintu waktu dan menuju dunia yang di tuju dan langsung menyelamatkan Dewi Andini dengan ketepatan waktu saat Ranggar mau memanah Dewi Andini. Gatot Kaca sudah di hadapan Ranggar dan segera mematah panah dengan tangan Gatot Kaca dan sekalian di tinju Ranggar sampai terpental jauh menabrak pohon-pohon dan akhirnya pingsan.

Gatot Kaca menemui Dewi Andini.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Tidak..apa-apa....kok. Terima kasih atas segala bantuannya."

Gatot Kaca langsung kembali masanya lewat pintu waktu yang dibukakan oleh krisna. Di masa sebenarnya Dewi Andini hidup kembali. Gatot Kaca senang sekali. Lalu Gatot Kaca pun menemui Krisna dan ingin tahu tentang dunia paralel?. Krisna menceritakan tentang dunia paralel pada Gatot Kaca dengan baik. Ternyata Gatot Kaca baru tahu bahwa di dunia paralel ternyata ibarat dunia di bolak balikan saja. Setelah urusannya selesai Gatot Kaca kembali ke pertapaannya di gunung Merapi.



Karya : No

BENIH KEBAIKAN

Ustajah Mama Dede sedang menyirami pohon yang berusia 2 bulan yang di tanamnya di pot dengan penuh keceriaan. Dateng seorang gadis kecil bernama Bunga mendatengi Ustajah Mama Dede.

"Asalamualaikum wr.wb," salam Bunga dengan sopan banget.

Ustajah Mama Dede menjawabnya "Waalaikum salam wr. wb."

Lalu Bunga langsung bersaliman dengan Ustajah Mama Dede, tapi sebelumnya menaruh alat menyiram tanaman.

"Apa gerangan nak Bunga...main ke rumah Mama?" tanya Ustajah Mama Dede.

"Cuma main. Sekaligus ingin nasehat Mama Dede. Tentang mengapai masa depan yang lebih baik dari hari ini," kata Bunga yang lugu.

"Masa depan lebih baik dari hari ini. Saya akan membuat perumpaan agar nak bunga lebih mengerti dan memahaminya. Yaitu dari biji kopi yang saya pegang ini," kata Ustajah Mama Dede.

"Biji kopi," saut Bunga.

"Iya biji kopi.  Benih ini dipilih dengan baik oleh saya. Sama halnya nak Bunga. Mama berpikir positif nak Bunga anak yang baik juga Mama umpamakan saja benih kopi ini. Lalu Mama menanamnya di dalam pot yang sudah di beri pupuk. Mama merawatnya dengan baik benih kopi ini yang di tanam dalam pot. Lalu benih kopi tumbuh setiap hari dan Mama Dede memindahkannya dan di tanam di halaman belakang. Terus di rawat sampai akhirnya berbunga dan berbuah kembali menjadi benih kopi lagi. Inti maksutnya perumpaan ini belum selesai. Biji kopi ini awal satu  jadi banyak biji kopi dan akhirnya di jual ke pasar untuk semua orang merasakan manfaat dari rasa biji kopi ini.  Nak Bunga sama dengan biji kopi ini maksudnya kamu di jaga orang tua untuk didik di tempat pendidikan dan kelak menjadi orang yang berguna diri sendiri  dan orang lain. Masa depan terukir dengan baik yaitu masa depan lebih baik lagi dari hari ini," cerita panjang lebar Ustajah Mama Dede.

"Jadi maksudnya saya harus belajar sampai pinter dan pada akhirnya ilmu saya bermanfaat untuk diri saya dan semua orang. Sama seperti Mama Dede. Jadi saya harus jadi Ustajah juga. Agar masa depan saya terukir lebih baik," saut Bunga.

"Ya..seperti itulah. Tapi tidak harus jadi Ustajah seperti Mama Dede. Gapai mimpi apapun dan kamu pertanggung jawabkan dengan baik!?," kata Ustajah Mama Dede.

"Mimpi saya ingin menjadi penyanyi," kata Bunga yang antusias.

"Mimpi yang baik. Tapi ingat harus tekun belajar dan bertanggung jawab apa yang telah kamu putuskan untuk masa depan kamu. Dan juga harus bermanfaat  juga ilmu kamu untuk orang lain," kata Ustajah Mama Dede.

"Iya saya mengerti," kata Bunga.

Bunga puas dapet nasehat dari Ustajah Mama Dede demi masa depannya. Sedangkan Ustajah Mama Dede senang dengan keterbukaan Bunga yang ingin mencari tahu jalan masa depannya. Bunga pun berpamitan pulang ke Ustajah Mama Dede. Setelah itu Ustajah Mama Dede melanjutkan pekerjaannya merawat tanaman. 

Ustajah Mama Dede menghentikan pekerjaannya sejenak. 

"Jangan-jangan hanya mimpi Bunga  jadi penyanyi. Malah jadi Ustajah seperti saya.... kan Bunga di didik di pesantren. Dasar anak pinter.....generasi baru muncul lagi. Masa depan lebih baik dari hari ini.  Tapi jalan hidupnya sebenarnya sudah di tunjukkan orang tuanya menjadi Ustajah. Orang tua Bunga adalah Orang tua yang bijak dalam mendidik anak," kata Ustajah Mama Dede.

Ustajah Mama Dede melanjutkan pekerjaannya dan berhenti saat azan di kumandangkan sholat dzuhur. Segera Ustajah Mama Dede melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yang baik.


Karya: No

Thursday, June 13, 2019

LANGKAH KAKI KECIL KU

Teriknya matahari di hadapi Lia untuk menjajakan koranya di pegangnya kepada mobil yang berhenti lampu merah di kota Batam. Tak ada rasa sedih di rat wajahnya hanya keoptimisan melalukan koran yang di pegangnya. Perut kosong di tahan sampai bener-bener laku koran yang di jajakan pada setiap orang yang ingin membaca berita hari ini. Dono melihat gadis kecil yang menjajakan koran tersebut. Rasa iba Dono muncul di dalam dirinya teringat masa kecil yang tidak jauh beda untuk mencari rezeki yang halal membantu orang tua.

Dono mendekati gadis kecil penjajak koran tersebut dan membeli koran. Lia senang barang dagangan laku. Terdengar suara perut kosong Lia "Keriuk" di telinga Dono.

Lia malu banget karena menunda-menunda makan demi jualan korannya laku. Dono berkenalan dengan gadis kecil penjual koran. 

Dono pun baru tahu nama gadis kecil tersebut "Lia" setelah berkenalan. Dono memberikan uang cukup besar kepada Lia "Untuk beli makan dan minuman".

"Beneran ini Om?"

"Iya."

Lia senang banget dapet rezeki dari "HambaAlloh yang berhati baik". Lia langsung membeli makan dan minuman di warung dekat untuk menghilangkan rasa hausnya dan laparnya.

Dono pun melangkahkan kakinya ke Mesjid Raya Batam untuk menunggu sholat dhuzur dan sekalian membaca koran yang di belinya.

Dono langsung membuka lembaran koran tentang Politik di Indonesia. Dengan seksama Dono membacanya koran yang di belinya.

"Konflik pemilu 2019 masuk ranah MK. Ternyata kaya iya kaya enggak saja...rahasia dari teka teki Pemilu 2019. Padahal realita kenyataan lingkungan saya adem-adem saja."

Dono terus membaca koran sampai tentang masalah konflik ini dan itu di dalam negeri sampai di luar negeri. 

"Masih..saja...urusan manusia hidup di muka bumi...kaya iya kaya enggak aja."

Dono terus membaca korannya sampai selesai. Rasa haus dan lapernya dateng langsung bergeraklah dari duduknya di teras depan Mesjid Raya Batam.

Dono mencari kantin makan yang menjual makan dan minum dekat mesjid. Lansung biasa mesen makan dan minuman sama Ibu Fatimah penjual makan dan minuman.

Dengan santai menikmati makan dan minumnya Dono. Baru setengah piring...azan dhuzur di kumandangkan. Segera Dono menghabiskan makan dan minumnya segera tak lupa membayar apa yang di pesannya sama Ibu Fatimah.

Sampai di mesjid. Dono melihat Lia di dalam mesjid untuk menjalan sholat dhuzur berjamaah.

Imam dateng segera menjalankan sholat dhuzur berjamaah dengan khusuk. Selesai sholat dhuzur Lia kembali untuk menjual koran di pinggir jalan lampu merah kota Batam.

Dono tersenyum melihat kegigihan anak gadis kecil bekerja di teriknya matahari demi membantu dirinya dan keluarganya.

Dono pun berkata "Apakah yang berseteruan di pemerintahan yang makan enak dan minum enak tidak malu. Bahwa ada hal yang tidak terjamah....urusan masalah menanggulangi...anak gadis kecil yang belum cukup umur bekerja demi hidup."

Dono pun beranjak dari mesjid pulang ke rumahnya karena urusan kerjaannya udah selesai.


Karya : No

Friday, May 17, 2019

GAK ADA BAHAN CERITA

Seperti biasanya Kasino baru pulang dari mengaji di mesjid. Sedangkan Indro setelah sholat taraweh langsung pulang dan nonton Tv acara komedi sampe tertawa terpingkal pingkal.

Kasino langsung masuk rumah dengan mengucap salam "Asalamualaikum". Ya Indro menjawab salamnya Kasino walau asik nonton Tv yang acaranya komedi yaitu "Walaikum salam".

Kasino duduk di sampingnya Indro di ruang tengah ikut juga nonton Tv.

"Kasino....rame...yang ngajinya?" tanya Indro.

"Rame.....sampe ada Walikota datang ke mesjid ikut ngaji juga," jawab Kasino.

"Hebat tuh Walikota mau belajar mengaji dengan rakyat jelatah seperti kita. Padahal status jabatan tinggi. Berarti pemimpin yang baik itu mah," pujian Indro.

"Iya....begitu...sosok pemimpin yang baik...bisa berbaur dengan rakyatnya apalagi bulan ramadhan kan kesempatan mencari pahala yang banyak untuk dirinya, keluarga dan rakyat yang di pimpin dia," tambahan Kasino.

"Oh ya...Kasino saya mau tanya sesuatu boleh gak?"

"Tanya aja gak ada yang melarang kok....Indro."

"Tumben kenapa Dono gak nulis blognya biasanya antusias banget..... Kenapa ya....Kasino?"

"Ah...itu...biasa... Karena gak ada bahan cerita yang di ceritakan sama seperti saya nulis blog. Karena sibuk kerja jadi ide itu gak keluar jadi ya gak nulis. Kalau pikiran saya lagi gak beban...malah banyak ide cerita yang mau di tulis. Ya..idenya di ambil di dari lingkungan sekitar, di olah dan kembangkan sedemikian rupa agar menarik....," penjelasan Kasino.

"Ya....jadi gak ada bahan cerita toh. Kalau saran saya...sih kenapa gak cerita tentang orang kamu sukai Kasino lebih baik....cerita apa adanya dari pada mencari ide-ide ini dan itu?!" kata Indro.

"Males menceritakan hal seperti itu kan masih bulan Ramadhan. Dan juga yang paling khawatirkan saya sebenarnya adalah saat bersama pacar saya sih normal -normal saja. Tapi saat saya jatuh sakit ada sosok cewek yang khawatirnya lebih simpatiknya alias menyembunyikan perasaannya sebenarnya pada saya dan ternyata teman kerja saya," cerita Kasino.

"Jadi pacar kamu tahu gak keberadaan cewek tersebut ya Kasino?"

"Untungnya gak. Saya bisa menjaga jarak. Oh gimana dengan hubunganmu dengan Saskia....Indro?"

"Ah...jangan...di...omongin...bulan Ramadhan ini....Saskia susah di hubungin dan didatengin kerumahnya. Katanya "Urusan pacaran di stop. Gak ada kangen-kangenan. Saksia mau tekun belajar Al Qur'an". Kalau cewek maunya begitu ya....udah...saya mati kutu," penjelasan Indro.

"Ya...salah...sendiri...punya cewek pandai mengatur. Belum di nikahin kamu...Indro diatur dia. Gimana sudah nikah....? Pasti diatur. Padahal harusnya kamu....Indro yang mengatur. Jadinya cowok takut sama ceweknya," kata Kasino.

"Biar...omongan kamu menjurus meledek saya yang penting saya cinta sama Saskia," kata Indro.

"Udah dulu...ya..ngobrolnya....saya mau ke kamar mau mengetik sesuatu biasa urusan kerjaan," kata Kasino.

Kasino masuk kamarnya.

"Iya.....!!! Padahal saya masih ngobrol banget tentang siapa ya...? Oh..iya...tentang Lesti penyanyi dandut yang penampilan dengan pakaian muslimahnya cantik...banget alias anggun. Tapi padahal saya juga ingin tanya tentang ini dan itu banyak lain. Ya...sudah..nanti aja...ngobrolnya sama Kasino. Saya nonton lagi acara komedi yang ada Sule...bisa bikin saya ketawa ketiwi." ocehan Indro.

Indro asik menonton Tv dengan tenang banget sekali dan terkadang tertawa ketiwi dengan ulah lawakan Sule dan kawan-kawannya.


Karya : No

Tuesday, May 7, 2019

HARAPAN BARU

Awin menutup warungnya saat menjelang magrib. Saat itu juga Yoga dateng main ke rumah Awin untuk ngobrol. Awin menyambut baik teman baiknya si Yoga. Bukan Yoga di ajak masuk ke dalam rumah malah Awin ajak pergi ke mesjid untuk sholat magrib.

Yoga ikut saja mau aja Awin untuk melaksanakan sholat magrib toh mesjidnya gak jauh banget di kelurahan Penengahan tepatnya mesjid Munawaroh namanya mesjidnya.

Sampai di mesjid Awin mulai mengambil wudu. Sedangkan Yoga lagi sibuk ngari pakiran yang pas agar pulang mudah keluarin motornya.

Baru deh Yoga wudu. Awin sudah ada di dalam mesjid menunggu Imam dateng dan jamaah yang lain untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Saat Yoga masuk mesjid Imam sholat sudah siap untuk memimpin sholat. Yoga cepet-cepet masuk barisan sholat karena sholat segera di mulai.

Sholat pun di jalankan penuh khusuk sampai selesai. Baru Deh Awin keluar dari mesjid dengan Yoga pulang ke rumah Awin. Yoga segera mengambil motornya di parkiran. Awin naik motor Yoga dan di bawa sampai ke rumah Awin.

Sampai di rumah Awin. Mulai Yoga dan Awin di teras rumah Awin dengan asik banget ngobrol. Sampai pada waktunya obrolan Awin meminta tanggapan tentang niatnya Awin mau merantau kota lain. Yoga yang banyak pengalaman Lampung menjelaskan satu-satu perkembangan perekonomian yang daerah yang mungkin bisa menolong  Awin dalam memahami perkembangan ekonomi Lampung.

Awin pun mengelah nafas karena info yang di berikan oleh Yoga telah di tinjau kebenaran. Awin pun memutuskan untuk merantau ke kota Jakarta karena usaha dagangnya mengalami penurunan daya beli masyarakat. Di tambah di utangi oleh suku lampung kenalan Awin.

Awalnya Awin tidak mau menolongnya karena melihat anaknya yang mau sekolah bayar ini dan itu. Ya Awin menolong. Saat di tagih malah omong besar yanga Awin jengkel yaitu "Tanah saya banyak bisa saya jual untuk membayar utang kamu".

Gara-gara itu Awin menyesal menolong suku lampung demi anak sekolahnya karena ke sombongannya. Selang waktu saat kejadian tersebut Awin dapet kabar bahwa orang yang utang sama Awin itu malah nyogok untuk masuk sekolah untuk anaknya yang punya kualitas pendidikannya paling bagus padahal anaknya bodoh.

Awin lebih jengkel lagi. Awin berhasil mendapat uangnya kembali dengan menunggu lama dan pada akhirnya karena telat untuk pemulihan usaha warungnya karena tekanan daya beli masyarakat ya...akhirnya bangrut.

Awin menyelesaikan obrolan bersama Yoga dan kadang Yoga  sebagai teman telah menawarkan kerjaan di toko. Awin menolaknya karena kerja di toko pasar Tengah kota Bandar Lampung ada enaknya ada juga gak enaknya banget-banget.

Belum juga gajinya kecil lagi. Ya Awin males menerima saran Yoga menawarkan kerjaan di toko di pasar Tengah. Yoga pun memakluminya karena Yoga tahu simpangsiur dari sistem kerja pemilik toko yang kompetisinya sehat tapi terjebak masalah keluarga semua padahal sudah banyak punya rumah kelas mewah di kota Bandar lampung. Tetap aja omongannya dari hasil toko padahal jual tanah dan rumah untuk membeli kawasan perumahan elit di kota Bandar Lampung demi gengsi karena berhasil.

Padahal yang bener-bener berhasil mendapat kawasan elit di perumahan kota Bandar Lampung dengan kredit sampai jadi milik sebenarnya alias lunas. Tetap saja kalau di tanya di tunjukan ke sombongannya  "Kalau saya berhasil beli perumah elit di kota Bandar Lampung yang harganya selangit".

Yoga pun menyelesaikan obrolannya dengan Awin pulang ke rumahnya. Awin pun masuk rumah untuk menjalankan sholat Isya di rumah dan menetapkan untuk merantau ke Batam karena banyak informasi UKMnya ada kemajuaannya. Awin tertarik lebih baik ke Batam dari pada ke Jakarta yang sudah padat merayap penduduknya dan kompetisinya UKMnya agak sedikit rumit banget untuk bisa mencapai sukses.

Dan juga Awin tinggal di rumah numpang di lahan sengketa yang gak jelas surat-suratnya. Awin lebih baik merantau ke kota Batam karena ada suku Jawa yang istilah katanya bisa pengertian dalam melindungi dan membangun UKM.

Keesokan harinya Awin pergi ke Batam dengan pesawat yang harga tiket ya cukuplah dengan keuangan Awin. Selang perjalan yang cukup lama Awin sampai di kota Batam dan mengontrak di dekat masjid Mak'mur daerah Bengkong Indah. Padahal saat Awin pergi ke Batam sudah hampir Pemilu. Jadi karena Awin di Batam gak milihlah di kota Bandar Lampung alias golput.

Awin di Batam menyaksikan saja penyelenggaraan Pemilu di Batam berjalan baik. Pada hal ingin nyoblos karena tidak punya surat yang menjelaskan perpindahan Awin dari kota Bandar Lampung ke kota Batam ya...jadinya gak ikut nyoblos untuk memberikan aspirasinya hak suaranya pada Pemilu 2019.

Awin tidak memikirkan itu saja dan mengabaikan dan lebih baik membangun usahanya di kota Batam untuk hidup jauh lebih baik lagi dari hari ini.


Karya : No

SAAT SAHUR

Indro terbangun dari tidurnya langsung keluar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka untuk menghilangkan kantuknya.

"Segernya," kata Indro.

Setelah itu membuka kulkas dan mengeluarkan bahan untuk di masaknya untuk di makan saat saur. Selang berapa saat jadi masakan yang enak buatan Indro. Baru deh memanggil Kasino untuk di ajak makan.

Kasino kaget dengan ulah si Indro yang memanggil namanya untuk di ajak makan dengan suara yang cukup keras dan lantang.

"Jangan berteriak Indro...saya tidak budek. Saya belum tidur dari tadi masih mengetik di ruang tamu," kata Kasino.

"Oh...begitu..," saut Indro.

Indro pun membawa makan dan minuman ke ruang tamu di mana Kasino sedang bekerja mengerjakan pekerjaannya.

"Kasino makan di sini aja. Kalau makan sendiri gak enak sahurnya...." kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

Kasino pun menghentikan pekerjaannya sebentar dengan mengesavenya dan mematikan leptopnya. Baru deh makan bersama Indro yang sudah duluan melahap makanannya.

Kasino menikmati masakan buatan Indro yang enak banget. Saat asik makan. Indro teringat tentang 2 bapak-bapak asik ngobrol tentang masalah kerjaan di depan mesjid setelah usai sholat tarawih. Sampai terkejut dengan salah satu Bapak yang omonganya sangat keras sampai si Indronya  terkejut yaitu "Zaman sekarang susah mencari orang yang dapat di percaya. Cuma omong besar saja. Gak bisa memastikan barang itu atau gak dan juga harganya juga simpang siur".

Indro bercerita sama Kasino dengan kejadian tersebut saat makan sahur. Dengan seksama Kasino mendengar cerita Indro. Baru deh Kasino memberikan masukan pada Indro.

"Cuma hal sepele. Urusan orang mencari rezeki. Kadang berhasil kadang gagal. Pinter-pinter mencari teman yang bisa membangun usaha agar jalan rezeki kita lancar," saran Kasino.

"Oh...begitu. Jadi kedua Bapak itu mengalami kesulitan dalam urusan mencari rezeki. Memang bener sih omongan Kasino. Mencari rezeki zaman now susah-susah gampang susah sih kalau gak punya jalannya. Pada akhirnya ya kemiskinan...melanda dan berdampak pengangguran berkepanjangan. Pada hal makan penting tiap hari....ya..Kasino."

"Iya....maka itu pandai-pandai memperhitungkan keuangan kita. Jangan boros. Hari ini kita menikmati makan dan minum dengan enak. Esok siapa tahu...kan?!" nasehat Kasino.

"Iya...dan juga pandai bersyukur juga karena jalan kita masih bercukupan. Sedang orang lain masih susah untuk terus berusaha membuka rezekinya walau di bulan Ramadhan penuh keberkahan," kata Indro.

"Namanya...hidup seperti ini. Setiap jalan yang kita jalani sebagai manusia berjalan di muka bumi ini penuh dengan ujian. Pentingnya kesabaran dalam menjalani hidup....," nasehat Kasino.

"Bener...kamu Kasino. Banyak bersyukur dan bersabar...dan juga kalau ada rezeki lebih berbagi dengan manusia lain yang mengalami kesusahan ekonominya...mempung bulan Ramadhan jadi pahalanya berlipat ganda ya kan Kasino....," tambahan Indro lebih jelas lagi.

"Iya...dan juga sip....pinter. Udah ah makan dulu. Ngobrolnya nanti lagi," kata Kasino.

"Ok," saut Indro.

Indro menikmati makan sahur dengan nikmat sampai perut kenyang. Setelah itu si Kasino yang membereskan piring dan gelas kotor untuk di cuci. Sedangkan Indro nonton Tv dan segera mencari acara yang menarik. Ternyata Indro menonton acara pertandingan dakwah muda mudi berbakat. Dengan seksama Indro menikmati tontonannya.

Setelah membereskan piring kotor dan gelas kotor di cuci bersih dan di taruh di rak. Kasino membereskan pekerjaannya di ruang tamu baru nonton bersama Indro dan ingin mengganti chenel dengan mengambil remot Tv yang tergeletak di meja. Indro dengan cepat mengambil remot Tv tersebut dan melarang Kasino mengganti tontonan yang asik ia tonton karena meningkatkan wawasan keilmuan Agama Islamnya. Kasino akhirnya mengalah dan ikutan nonton acara yang di tonton Indro sampai waktu imsak dateng dan suara azan subuh di kumandang. Segeralah Kasino dan Indro bergegas ke mesjid untuk melaksanakan sholat subuh.

Saat perjalan menuju mesjid. Indro bertanya tentang Dono. Seperti biasa Kasino memberitahukan keadaan Dono yang sebenarnya. Ternyata ya gak jauh beda yang di jalankan Indro dan Kasino. Dono sedang berjalan ke mesjid untuk melaksanakan sholat subuh di kota Malang bersama adiknya yang sedang kuliah di kota Malang.


Karya : No

Monday, May 6, 2019

OBROLAN SAJA

Kasino lagi santai di ruang tamu sambil baca buku yang cukup tebal banget setelah sholat taraweh. Indro membawakan gorengan dan es cendol di taruh meja.

"Kas makan....!"

"Iya. Perasaan kamu sudah makan saat buka puasa di mesjid ....Indro."

"Ah...kaya gak tahu perut saya.....masih laper.....tahu. Dan juga..ini kan camilan aja...Kasino."

"Oh...begitu. Kalau gitu saya cicipin makan dan minuman yang kamu buat....Indro."

"Iya. Pada hal saya beli di warungnya Nabila..."

"Saya...kira..in...Indro kamu buat makan dan minuman seperti biasa....malah beli di warung ...Nabila. Ngeceng godain Nabila. Nanti ketahuan Saskia jadi berabe lagi loe...."

"Gak bakalan jadi masalah. Orang Saskia bekerja sama dengan Nabila...untuk lakuin barang dagangan Saskia yang di warung Nabila."

"Kalau.begitu..aman deh."

"Aman...banget."

Kasino dan Indro menikmati makanan gorengan dan minuman. Indro mau beranjak dari duduk untuk ke ruang tamu untuk ngetel Tv. Malah gak jadi si Indro duduk lagi bersama Kasino.

"Kasino...lebaran pulang kampung?"

"Pulang kampung.....ke Bengkulu...."

"Emangnya...di Bengkulu ada apa.....yang menarik....ya...Kasino?"

"Kakek, nenek dan sanak famili yang lain."

"Oh...begitu. Kenapa tidak ikutan belain Nirwana saat lomba dangdut di salah satu stasiun Tv Swasta...ya Kasino?"

"Bukan gak mau tapi saya lagi sibuk urusan yang meningkatkan kemajuaan diri saya. Jadi saya bersifat netral saja. Saya perbertanding catur adakah yang mendukung saya lomba 17 Agustusan sampe-sampe lewat jaringan apa-apa pun untuk mendukung saya. Jawab gak ada. Saya harus berjuang sampe berhasil mengalahkan lawan saya dan dapet piala dan hadiah yang alakadarnya," penjelasan Kasino.

"Iya...juga...Kasino. Kedudukannya juga sama. Harus menunjukkan kemampuan kita sampe berhasil dan tidak di sembunyikan," saut Indro.

"Sudahlah...jangan di bahas lagi. Nanti Nirwana jadi naik daun lagi kalau di bicarakan. Sama seperti proses Pemilu Presiden. Kalau di obrolin kan tambah naik lagi beritanya ya...tinggal mengemasnya dari sudut apa persoalannya di angkat apa negatif atau positif? Kan penonton hanya asik-asik aja menonton keseruhan dari sistem kerja pemerintahan yang penuh dengan intrik ini dan itu saja. Wartawan malah seneng dapet berita yang bagus jadi usaha kerja kerasnya mencari berita, mengolahnya dan diterbitkan di nilai baik sama penonton di lihat dari reting tontonan," penjelasan Kasino.

"Bener juga...kamu Kasino. Apalagi di bulan Ramadhan ini banyak acara yang bagus-bagus....lebih baik lagi .....dunia hiburan tanah air Indonesia," kata Indro.

"Menurut kamu begitu saya ikut saja," saut Kasino.

"Kalau begitu saya mau nonton Tv....." kata Indro.

Indro berajak dari ruang tamu ke ruang tengah untuj nonton Tv. Kasino melanjutkan baca buku sambil makan gorengan dan es cendol.


Karya : No

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK