CAMPUR ADUK

Tuesday, July 27, 2021

BANSHE MAEVEEN

Bastian selesai main dengan teman-temannya. Bastian duduk di ruang tamu. Di meja ada buku, ya Bastian ambil dan segera di baca dengan baik.

Isi cerita yang di baca Bastian :

Malam menebarkan aroma mencekam. Bulan bersinar mengambang. Suara burung hantu sayup-sayup terdengar. Sesosok bayangan perempuan berpakaian jubah panjang berwarna putih berjalan perlahan, turun dari sebuah kuil di kastil Dunlucee. Angin berdesir dingin. Sayup-sayup terdengar suara lembut, menyebut nama seseorang, “Sullivan.”

“Bayangan apakah itu, Leird?” Brody berbisik di telinga Leird. Leird menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak ingin menebaknya. Dia takut apa yang ada dalam pikirannya itu benar.

Ayahnya pernah bercerita bahwa kuil itu adalah tempat tinggal para Banshee, makhluk yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai pembawa kematian. Tetapi, dalam hati, Leird sangat penasaran. Dia belum pernah melihat makhluk bernama Banshee ini. Dia ingin mengikuti kemana bayangan itu pergi. Namun, kakinya seolah berat untuk melangkah dan bulu kuduknya meremang.  Hatinya dihinggapi perasaan takut yang teramat sangat. Brody, yang berada bersamanya, semakin erat mencengkeram bahunya. Dia juga mengalami perasaan yang sama. Ada hawa aneh yang terasa semakin kuat.

Dari tempat mereka berdiri, kedua bocah itu memerhatikan bayangan berjubah putih, yang menuju kastil Dunlucee, tempat tinggal keluarga bangsawan O’Neills. Desiran angin sedingin salju menyapa. Leird dan Brody menggigil. Mereka masih memerhatikan bayangan itu dengan rasa penasaran. Sampai akhirnya bayangan itu menghilang di kegelapan, Leird dan Brody baru bisa menarik nafas lega. Beban yang tadi dipanggul terasa hilang seketika.

“Ayo, kita pulang,” Leird menggamit tangan Brody yang dingin.

“Aku ... tidak bisa bergerak,” Brody berkata terbata. Dia masih berdiri kaku di tempatnya, sambil memegangi celananya yang basah.

“Eeemmm ... bau apa ini?” Leird menajamkan penciumannya.

“Aku ... pipis di celana,” Brody berkata, sambil menunduk, tersipu malu.

Tawa Leird hampir saja pecah. Dia tidak menyangka jika Brody, yang bertubuh lebih besar darinya, bisa sampai terkencing- kencing menahan rasa takut. Namun, Leird berusaha menahan tawanya. Ia tak ingin sahabatnya merasa malu. Setelah berhasil menahan senyum, Leird langsung berseru, “Ayo...!”

Meski merasa berat, Brody mulai mengikuti langkah Leird. Mereka berjalan mengendap, menuju rumah Leird. Di rumah itu Leird tinggal bersama ayah dan ibunya, yaitu Tuan dan Nyonya Alastair, serta seorang adik perempuan yang masih berusia tujuh tahun, Sheena. Sesampainya di rumah, Nyonya Alastair sedang membereskan sisa makan malam di atas meja. Tuan Alastair dan Sheena sedang asyik mengobrol di depan perapian.

“Dari mana saja kalian?” Tuan Alastair menyambut kedatangan mereka berdua dengan suara khasnya yang serak. “Brody, ada apa dengan celanamu?” Tuan Alastair memicingkan sebelah matanya ke arah Brody. Brody menunduk, malu. Sebenarnya, sejak tadi ia sudah merasa risih dengan celananya yang basah dan tentu saja bau. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa-apa.

“Em … nanti kami ceritakan, Ayah. Sekarang, kami berdua sangat lapar. Aku mencium aroma sup kesukaanku, sepertinya Ibu masak enak hari ini,” Leird berseru, sembari mencium bau di udara.

“Sup daging, eeemmm … Is breá liom ĕ!” seru Brody girang. Rasa lapar membuatnya lupa dengan kejadian yang baru saja mereka alami.

“Sup dagingnya masih ada untuk kalian berdua. Tapi, Brody, ganti dulu celanamu. Kamu bisa meminjam celana Leird,” kata Nyonya Alastair, bijak. Leird telah membisikkan kejadian memalukan itu ke telinga ibunya. Dia tidak ingin Brody menjadi bahan olok-olokan Sheena.

“Celana Leird tidak muat jika dipakai Brody, Bu. Sepertinya, rok yang Ibu buatkan untukku cukup besar jika dipakai Brody,” Sheena menimpali sambil tersenyum mengejek. Rupanya, dia mendengar sedikit apa yang dibisikkan Leird tadi.

Seakan belum puas, Sheena menambahkan, “Jadi, Brody akan mirip dengan bangsawan kerajaan,” imbuhnya sambil terkekek.

Brody menjadi kikuk. Sheena memang tidak pernah akur dengannya, tapi dalam situasi seperti ini Brody berharap Sheena bisa lebih bersahabat. Leird merasa kasihan melihat Brody, maka dia segera lari ke kamarnya dan mencarikan celana yang cocok untuk Brody. Setelah selesai makan, Leird dan Brody ikut berkumpul bersama Tuan dan Nyonya Alastair, serta Sheena di depan perapian. Leird lalu membuka ceritanya.

“Ayah, tadi kami melihat bayangan seorang perempuan berpakaian jubah panjang, turun dari sebuah kuil di atas bukit.”

Tuan Alastair terperanjat.

“Apa kalian tidak salah lihat, Nak?” Nyonya Altasair bertanya, nada suaranya juga menyiratkan kekhawatiran yang sangat.

“Tidak, Bu. Kami melihatnya, walaupun samar-samar. Apakah itu makhluk Banshee seperti yang pernah Ayah ceritakan itu,” tanya Leird, ingin tahu.

“Hah … Banshee, makhluk apakah itu?” Dahi Brody berkerut, perasaan takut mulai mencengkeramnya kembali.

Dengan suara seraknya, Tuan Alastair mulai bercerita, “Banshee adalah sosok wanita berpakaian jubah panjang berwarna putih, kadang berwarna abu-abu. Dia juga bisa berwujud wanita tua berpakaian compang camping. Terkadang dia menyerupai wanita muda dan cantik, mencuci pakaian yang penuh noda darah di sungai. Jika dia menampakkan diri kepada seseorang, itu berarti salah seorang keluarga orang itu akan ada yang meninggal. Dia datang membawa kabar kematian, Nak.” Suara Tuan Altasair terdengar bergetar. Ruangan itu menjadi mencekam. Sheena menggeser duduknya ke arah sang ibu. Sementara Brody berusaha menyusutkan tubuhnya, rasa takut menguasainya, kini.

Tuan Altasair kemudian melanjutkan, “Kuil di kastil Dunlucee dipercaya sebagai tempat tinggal Banshee yang mempunyai kedekatan dengan keluarga bangsawan O’Neills. Mereka juga punya nama. Salah satunya bernama  Maeveen. Jika ada salah seorang keluarga O’Neills yang meninggal, Banshee itu akan menampakkan diri dan menyanyikan lagu-lagu sedih. Apabila Banshee itu menyukai orang yang akan meninggal, maka Banshee itu akan menyanyikan lagu-lagu dengan irama yang lembut. Tapi, jika orang yang akan meninggal tidak disukainya, maka ia akan menyanyikan lagu-lagu kematian dengan suara yang keras bahkan jeritan yang menyayat hati.”

Sheena yang sedari tadi diam, mulai penasaran. Ia lalu bertanya, “Apakah Banshee itu jahat, Ayah?”

“Sesuai dengan namanya bean sidhe atau bean si yang artinya wanita dari dunia peri, atau orang yang membawa kedamaian dalam bahasa Scottish Gaelic. Namun, ayah menyebut Banshee sebagai malaikat kematian. Namanya malaikat, berarti dia tidak jahat, bukan?”

“Bagaimana tidak jahat, kalau malaikat kematian itu membunuh orang-orang?” Sheena merasa tidak puas dengan jawaban ayahnya.

“Malaikat kematian bukan pembunuh, Nak. Dia mendapat tugas dari Tuhan untuk mengambil roh manusia.” Tuan Alastair berhenti sejenak. Dia menoleh ke arah Sheena yang masih menatapnya dengan tatapan ingin tahu. “Tapi, kalian tidak perlu takut. Tuhan yang berkuasa atas kita, Dia yang  menentukan seluruh nasib manusia di dunia. Oleh karena itu, kita harus berdoa setiap hari, meminta pertolongan Tuhan.”

“Bukankah Banshee Maeveen hanya turun untuk mengabarkan kematian bagi keluarga bangsawan O’Neills?” Nyonya Alastair berguman pelan, “kita bukan keturunan bangsawan, kita hanyalah rakyat biasa.”

Namun, tiba-tiba Nyonya Alastair teringat sesuatu. Dulu, ayahnya pernah bercerita bahwa keturunan keluarga bangsawan O’Neills ada yang tinggal di desa ini. Saat itu, keluarga besar O’Neills tidak setuju jika ada keluarga besar mereka yang menikah dengan rakyat jelata. Maka, keturunan bangsawan O’Neills itu diusir dari kastil Dunlucee dan memilih untuk menetap di desa ini. Ya, keluarga bangsawan keturunan O’Neills itu adalah…

Nyonya Alastair menatap Brody. Ia merasa harus memperingatkan keluarga sahabatnya itu. Mereka telah lama bersahabat, jadi jika ada hal-hal yang membahayakan, ia harus segera memberitahukannya.

“Jika Banshee menyukai seseorang, apakah dia bisa membatalkan tugasnya untuk mengabarkan kematian?” tanya Ibu seketika. Ayah terkesiap. Segala yang berkelindan di dalam pikirannya, terputus tiba-tiba.

“Maksud Ibu, bagaimana?” Tuan Alastair memandang istrinya lekat-lekat, mencoba membaca apa yang ada di pikiran istrinya.

“Banshee menyukai orang-orang yang pandai berpuisi atau bermain musik dengan indah.” Nyonya Alastair tahu bahwa sahabatnya ini sangat mahir memainkan alat-alat musik dan menyanyikan simfoni yang merdu. Selain itu, istrinya juga pandai membuat puisi-puisi yang indah. Dengan kepandaian itu, bisakah mereka terhindar dari kematian? Nyonya Alastair membatin. Dia tidak berani mengungkapkannya di depan anak-anak. Dia khawatir anak-anak akan semakin takut.

Tok .. tok .. tok ..

Pintu depan diketuk orang. Tuan Alastair segera bangkit dari duduknya lalu membuka pintu kayu itu.

“Tuan, maafkan saya mengganggu anda malam-malam begini. Tapi, saya datang untuk mencari adik saya, Brody.” Mac, kakak sulung Brody berdiri di depan pintu. Wajahnya terlihat kusut.

“Saya juga menyampaikan berita duka, Tuan. Ayah kami telah meninggal dunia beberapa jam lalu,” kata Mac, pelan. Kesedihan yang mendalam terpancar jelas di wajahnya.

Semua orang yang ada di rumah itu terkejut, terlebih Nyonya Alastair. Dia baru saja mencari cara agar sahabatnya, yaitu Tuan Sullivan bisa terbebas dari Banshee Maeveen. Tapi, rupanya semuanya sudah terlambat. Banshee Maeveen  benar-benar telah mengabarkan berita kematian itu kepada keluarga O’Neills.

Sebelum Brody mengikuti kakaknya pulang, Nyonya Alastair berseru, “Brody, Mac, duduklah sebentar. Walaupun mungkin sudah terlambat, namun kalian berdua berhak tahu.” Nyonya Alastair menarik napas, dalam. Lalu, dia melanjutkan kata-katanya, “Ini adalah rahasia besar keluarga kalian,” Nyonya Alastair berhenti sejenak, “sebenarnya keluarga kalian masih termasuk dalam keturunan bangsawan.” Begitu menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Alastair lantas diam. Dia memerhatikan perubahan raut wajah Brody dan Mac. Brody nampak terkejut, sedangkan Mac mengisyaratkan kesedihan yang dalam. Dia sangat terpukul dengan kematian ayahnya.

“Wow, ternyata Brody sungguh seorang bangsawan,” kata Sheena, tak bisa menutupi kekagumannya. Bagi Sheena, menjadi bangsawan adalah hal yang sangat luar biasa.

“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahukannya kepada kami, Nyonya Alastair?” tanya Brody diantara isak tangisnya.

“Ayahmu tidak ingin kalian bersedih, karena keluarga besarnya seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan yang lainnya tidak mau mengakui kalian sebagai bagian dari keluarga mereka.”

“Mengapa sampai begitu?” desak Brody lagi.

“Karena Ayahmu telah dibuang dari keluarganya ketika ia menikahi Ibumu.”

“Oh, jahat sekali mereka!” Sheena kembali berkomentar. Brody menatap Sheena. Dari tatapannya, Nyonya Alastair menangkap kesan jika Brody setuju dengan pendapat Sheena. Maka, dia buru-buru meluruskan.

“Itu adalah konsekuensi dari sebuah tindakan. Ayah Brody sudah tahu kalau dia harus pergi dari keluarga besarnya, jika dia tetap memilih menikah dengan ibu Brody. Dan, ibu tahu, ayah Brody tidak pernah menyesal melakukannya.”

“Aku selalu percaya kalau Ayah adalah orang yang hebat,” Mac yang sedari tadi diam, mulai bersuara, lirih, “sebenarnya, Ayah pernah menceritakan semua itu padaku. Aku sendiri lebih suka menjadi rakyat biasa daripada menjadi bangsawan,” Mac berhenti sebentar, “Ayah sudah mengajarkan kepadaku bahwa gelar kehormatan tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa lebih berguna buat orang lain. Bukan harta, bukan gelar, bukan jabatan.”

“Ya, dan kehormatan itu datang beriringan. Tuan Sullivan sangat baik dan suka membantu orang lain. Oleh karena itu, dia begitu dihormati dan disegani di kampung ini,” Nyonya Alastair menambahkan. Brody dan Mac memandang Nyonya Alastair, penuh haru. Dalam hati, mereka sungguh bangga terhadap ayah mereka, Tuan Sullivan.

“Lalu, apa hubungannya semua ini, Bu?” Leird yang menyimak percakapan itu sejak tadi, ikut bertanya.

“Makhluk yang kalian lihat turun dari kastil adalah Banshee Maeveen. Mereka adalah Banshee yang mempunyai keterikatan dengan keluarga besar bangsawan O’Neills. Mereka selalu datang untuk mengabarkan berita kematian salah satu keluarga mereka. Dan rupanya, dia telah menampakkan dirinya padamu, Brody,” Nyonya Alastair menjelaskan.

Rasa takut kembali merayapi Brody. Makhluk seram itu ternyata tahu kalau dirinya masih keturunan bangsawan O’Neills, padahal dirinya sendiri justru tidak tahu apa-apa.

Serta merta, Brody menggamit tangan Mac, “Ayo, kita pulang, Mac,” ajaknya. Dia ingin segera melihat jenazah ayahnya.

“Kami akan ikut ke rumah kalian.” Tuan Alastair segera bergegas.

Setelah mengunci pintu, mereka berjalan beriringan ke rumah Tuan Sullivan. Leird berjalan di samping Brody, yang masih berpegangan pada Mac. Suasana malam yang mencekam membuat bulu kuduk sedikit merinding. Nyonya Alastair berjalan di samping  suaminya yang menggendong Sheena. Gadis kecil itu memeluk erat ayahnya, karena udara malam yang begitu dingin. Tiba-tiba, Mac menghentikan langkahnya. Dia menggenggam tangan Brody kuat-kuat. Dari kejauhan, ia melihat sesosok bayangan putih berjalan membelakangi mereka. Rambutnya panjang terurai. Bayangan itu datang dari arah rumahnya. Brody menoleh ke arah kakaknya.

“Ada apa, Mac?” tanya Tuan Alastair.

“Aku sepertinya selihat sesuatu, Tuan Alastair,” kata Mac, mencoba menenangkan diri. Brody yang semakin erat memegang tangan Mac merasakan bulu kuduknya semakin tegak berdiri. Mac melihat bayangan itu kian menjauh dan akhirnya menghilang. Mac menarik napasnya dalam-dalam. Kakinya yang tadi kaku sudah bisa digerakkan lagi. Ia lalu berseru, “Ayo, kita jalan lagi.”

Sesampai di rumah, Brody langsung berlari ke dalam pelukan ibunya, Nyonya Sullivan, yang tengah menangis di dekat jasad suaminya. Nyonya Alastair lantas mendekat dan mengusap punggung Nyonya Sullivan, halus. Dia mencoba menguatkan hati Ibu Brody. Tetangga yang lain pun sudah ramai berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa sekaligus menemani keluarga Sullivan malam itu.

Keesokan harinya, jenazah Tuan Sullivan dimakamkan dengan upacara sederhana. Keluarga O’Neills yang tinggal di kastil Dunlucee tidak ada yang datang. Namun, pemakaman itu penuh oleh penduduk kampung. Tuan Sullivan adalah seorang yang baik dan disukai banyak orang, termasuk para Banshee Maeveen yang turut mengabarkan berita kematian kepada keluarga O’Neills. 

***

Bastian selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asalnya....Irlandia," kata Bastian.

Bastian menutup bukunya dan menaruh buku di meja. 

"Belajar ah!" kata Bastian.

Bastian beranjak dari duduknya di ruang tamu, ya ke kamarnyalah untuk balajar apa yang telah di ajarkan pada dirinya dengan baik sama guru di bangku sekolah.

BAGUS AWALNYA

Dono di ruang tamu sedang asik baca buku. Indro selesai mengerjakan pekerjaannya, ya keluar dari kamarnya ke ruang tengah untuk nonton Tv.

"Tumben ruang tengah kosong. Dono dan Kasino tidak menonton Tv," kata Indro.

Indro ke ruang tamu, ya lihat Dono ada apa enggak? Ternyata Dono di ruang tamu ada, ya sedang asik baca buku. Indro kembali ke ruang tengah.

"Kasino paling masih urusan kerjaannya di kamarnya," kata Indro.

Indro duduk di ruang tengah dan segera mengambil remot di meja. Tv di hidupkan Indro pake remot dan memilih acara musik dangdut gitu. Indro menaruh remot di meja dan asik nonton acara Tv yang bagus gitu. Sekitar setengah jam berlalu. Dono masih asik baca bukunya. Indro masih asik nonton Tv. Kasino selesai mengerjakan kerjaanya, ya keluar dari kamarnya menuju ruang tengah untuk istirahat gitu. Kasino duduk bersama Indro, ya nonton Tv.

"Indro," kata Kasino.

"Apa...Kasino?" kata Indro.

"Nonton acara musik dangdut, ya acara Tv yang lama gitu?" tanya Kasino.

"Kepengen nonton musik dangdut yang acara Tv lama," kata Indro.

"Kepengen toh," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus menonton dengan baik acara Tv, ya musik dangdut bagus gitu.

"Lesti.....masih belum pake hijab," kata Kasino.

"Lesti pada masa lampau sih. Penampilannya banyak yang belum berhijab. Lesti cantik penampilannya sih," kata Indro.

"Nama juga cewek. Pastinya cantiklah Lesti itu," kata Kasino.

"Kalau di pikir dengan baik. Lesti bisa di bilang Ratu dangdut apa Putri dangdut ya?!" kata Indro.

"Mau di bilang Ratu dangdut juga boleh. Putri dangdut juga boleh. Semaunya...Indro mengomentari tentang Lesti," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Kasino. Menyukai seseorang itu lebih baik awal apa akhir?!" tanya Indro.

"Ya awallah," kata Kasino.

"Jadi....aku menyukai Lesti dari awal dia menitik karirnya menjadi penyanyi, ya jadi pemenang dalam perlombaan menyanyi. Aku lebih baik dari pada.........pasangan Lesti sekarang, ya Risky Billar?!" kata Indro.

"Lebih baik Indro lah menyukai Lesti dari awalnya. Risky Billar kan....barulah sekarang gitu. Jadinya populer kisah kasihnya Lesti dengan Risky Billar," kata Kasino.

"Bisa di sebut. Bayang-bayang cinta untuk Lesti dari pengagum rahasianya....penggemar gitu?!" kata Indro.

"Bisa...Indro. Kan maunya Indro!" kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Kalau tahu Lesti tahu omongan kita...seneng kali ya Kasino?!" kata Indro.

"Cewek. Di sukai. Ya senenglah. Contohnya : temennya Indro, ya cewek yang di sukai. Indro memuji kecantikan dan kepintarannya. Indro tidak ingin mengambil hatinya. Ya berteman saja. Ya ceweknya senenglah...dengan jalinan perteman yang baik," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

Kasino dan Indro terus menyaksikan acara Tv yang bagus itu dengan baik.

"Fildan duet dengan Lesti...ternyata keduanya bagus ya...Kasino?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Apa bisa Fildan di sebut...Raja dangdut apa Pangeran dangdut?!" kata Indro berpikir panjang.

"Bisa aja di sebut begitu. The next generation.....penyanyi dangdut. Terserah Indro saja mengomentarinya. Omongan sama aja dengan ngomongin Lesti yang tadi....Ratu dangdut apa Putri dangdut?!" kata Kasino.

"Nama juga penonton baik. Terserah aku bicarakan!" kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

"Sudah tidak perlu di bahas lagi. Fokus nonton Tv aja!" kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv karena memang acara musik dangdut bagus gitu. Dono asih asik baca bukunya.

PERJANJIAN DENGAN RUBAH

Ferdian selesai latihan ilmu hipnotisnya. Ferdian duduk di ruang tengah. Ada buku meja.

"Buku siapa ya?" kata Ferdian.

Ferdian mengingat siapa yang dateng ke rumahnya? Ferdian inget dan berkata "Mpok Alpa. Jangan-jangan bukunya Mpok Alpa."

Ferdian mengambil buku tersebut di meja, ya segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Ferdian :

Cerita ini terjadi sebelum Christoper Columbus menemukan benua Amerika. Saat itu hiduplah dua ekor Viscachas, binatang sejenis tikus tetapi memiliki badan sebesar kelinci kecil, yang hidup di pampas, dataran subur yang bisa ditanami beberapa tumbuhan secara bergiliran, Argentina. Mereka berdua adalah amigos, sahabat baik.

Dua ekor Viscachas, seekor bernama Juan dan yang lain bernama Jose, sering bermain bersama. Mereka juga tidak segan untuk berbagi makanan bersama. Jika salah satu dari mereka menemukan kacang, maka ia akan memanggil sahabatnya yang lain. Mereka kemudian memakan kacang itu bersama-sama hingga habis.

Sungguh sangat menyenangkan hidup di daerah pampas. Juan dan Jose tidak pernah kekurangan makanan ataupun kehausan. Ada banyak makanan dan air yang tersedia di pampas. Satu-satunya masalah bagi mereka adalah udara malam yang sangat dingin.

Ketika Juan dan Jose masih kecil, mereka biasa tidur di malam hari dalam lubang-lubang pohon. Tempatnya cukup kering dan hangat. Seiring dengan bertambahnya usia, badan Juan dan Jose juga bertambah besar. Mereka tidak lagi dapat tidur di dalam lubang-lubang pohon. Ketika angin malam berembus, Juan dan Jose menggigil kedinginan sepanjang malam.

Suatu hari, ketika Juan dan Jose bermain di padang rumput sekitar pampas, mereka melihat sesuatu berwarna merah tergeletak di semak-semak. Mereka kemudian mendekati semak-semak itu untuk melihat lebih dekat.

“Jose, benda apakah itu?” tanya Juan sambil menunjuk ke arah semak-semak.

Jose kemudian masuk ke dalam semak-semak dan keluar sambil membawa sehelai kain berwarna merah yang hampir sobek menjadi dua.

“Ini adalah kain yang tebal. Sepertinya ini selimut, Juan,” jawab Jose sambil memperhatikan sehelai kain yang ada di tangannya.

“Ya, kain ini adalah selimut yang robek. Seseorang atau angin telah membawanya hingga kemari,” lanjut Jose.

“Hore, akhirnya kita punya selimut, Jose! Kita tidak akan lagi menggigil kedinginan di waktu malam,” teriak Juan kegirangan.

“Iya, benar, Juan,” jawab Jose, “Tetapi kita harus menjahit robekan selimut ini. Percuma saja kalau kita punya selimut tetapi banyak lubang di sana-sini. Kita bakal tetap menggigil jika malam tiba.”

“Bagaimana kalau kita potong selimut itu menjadi dua?” tanya Juan.

Jose kembali memperhatikan selimut yang ada di tangannya. Ia membentangkan selimut itu dan mencoba mengukurnya.

“Aku rasa tidak mungkin, Juan,” kata Jose. “Jika kita membagi selimut ini menjadi dua, selimut yang ada tidak cukup untuk membungkus kita,” lanjut Jose sambil mencoba melilitkan selimut itu di badannya.

“Benar juga apa katamu, Jose,” kata Juan sambil memperhatikan selimut yang ada di badan Jose.

“Lalu apa yang harus kita lakukan dengan selimut ini?” tanya Juan lebih lanjut.

“Aku rasa kita harus menjahit selimut ini menjadi satu, Juan,” kata Jose. Ia lalu melepas selimut itu dari badannya, melipatnya, dan menyerahkannya kepada Juan.

“Baiklah, kita akan menjahit selimut ini menjadi satu. Apakah kamu punya jarum dan benang, Jose?” tanya Juan.

“Aku tidak punya. Apakah kamu punya, Juan?” tanya Jose balik kepada Juan.

“Aku juga tidak punya,” jawab Juan.

“Hmm, bagaimana kalau kita meminjam jarum dan benang dari tetangga sekitar pampas. Siapa tahu mereka punya dan bersedia meminjamkannya kepada kita,” lanjut Juan sambil menjentikkan jarinya.

“Ide yang bagus, Juan,” kata Jose, “Ayo, kita pergi sekarang!”

Mereka berdua mulai berjalan mengelilingi pampas. Belum jauh berjalan, mereka bertemu dengan seekor Armadillo.

“Selamat pagi, Tuan Armadillo,” sapa mereka.

“Selamat pagi,” jawab Tuan Armadillo.

“Hei, bukankah kalian anak-anak viscachas? Tubuh kalian sudah besar sekarang! Aku hampir mengira kalian adalah kelinci,” lanjut Tuan Armadillo sambil menepuk-nepuk bahu Jose.

“Benar, Tuan Armadillo! Kami adalah viscachas,” jawab Jose.

“Hari masih pagi dan aku lihat salah satu dari kalian membawa buntalan besar di punggung. Apakah kalian akan pergi ke suatu tempat?” tanya Tuan Armadillo.

“Tidak, Tuan Armadillo. Buntalan besar ini adalah selimut kami yang sobek dan kami berencana untuk menjahitnya. Apakah Tuan mempunyai jarum dan benang? Kami hendak meminjamnya,” jelas Juan.

“Maaf anakku, aku tidak punya jarum dan benang,” jawab Tuan Armadillo.

Nampak kekecewaan di wajah Juan dan Jose.

“Aku bisa mengerti kekecewaan kalian. Kulit tubuhku yang tebal dan keras membuatku tidak perlu memakai selimut atau baju untuk bertahan dari angin atau dinginnya malam. Wajar kalau aku tidak mempunyai jarum dan benang untuk menjahit,” jelas Tuan Armadillo.

“Kalian mungkin bisa mendapatkan jarum dan benang dari Nyonya Flamingo. Ia tinggal tidak jauh dari sini. Kalian bisa menemuinya di tepi sungai sekitar sana,” lanjut Tuan Armadillo sambil menunjuk ke arah sungai.

“Terima kasih, Tuan Armadillo,” jawab Juan dan Jose bersamaan.

“Sama-sama, Nak!” balas Tuan Armadillo, “Eh, aku dengar ada seekor rubah datang ke daerah ini. Kalian harus berhati-hati dengannya. Hewan itu terkenal sangat licik.”

“Terima kasih atas nasihatnya, Tuan Armadillo! Kami akan memperhatikannya,” jawab Juan.

Mereka kemudian sampai di tepian sungai yang ditunjuk Tuan Armadillo. Nampak Nyonya Flamingo sedang mencari ikan di tepi danau.

“Selamat pagi, Nyonya Flamingo,” sapa Juan.

“Selamat pagi,” jawab Nyonya Flamingo, “Ada yang bisa aku bantu untuk kalian, kelinci-kelinci manis?”

“Maaf, Nyonya Flamingo! Kami adalah viscachas,” jawab Jose.

“Viscachas?” kata Nyonya Flamingo keheranan. Ia kemudian menjulurkan lehernya untuk melihat lebih dekat Juan dan Jose.

“Ya, kalian adalah viscachas! Kalian sudah besar sekarang. Aku hampir mengira kalian adalah kelinci,” lanjut Nyonya Flamingo sambil tersenyum.

“Jose, rupanya kita harus membiasakan diri dikira sebagai kelinci,” kata Juan.

Jose dan Nyonya Flamingo tertawa mendengar perkataan Juan.

“Baiklah, Anak-anak! Apa yang membuat kalian jauh-jauh menemuiku?” tanya Nyonya Flamingo.

“Nyonya Flamingo, kami hendak meminjam jarum dan benang milikmu,” jawab Jose.

“Jarum dan benang? Apa yang akan viscachas lakukan dengan jaum dan benang? Apakah kalian membuat sayap dan menempelkannya di badan kalian?” tanya Nyonya Flamingo dengan nada bercanda.

Juan dan Jose tersenyum mendengar pertanyaan Nyonya Flamingo.

“Tidak, Nyonya Flamingo! Kami tidak membuat sayap,” jawab Juan.

“Kami mempunyai selembar kain yang cocok untuk dijadikan selimut. Sayangnya kain itu robek hingga hampir menjadi 2 bagian. Jika kami potong kain itu menjadi dua, potongan kain itu tidak cukup bagi kami seorang untuk dijadikan selimut,” jelas Jose.

“Tetapi jika kami menjahitnya menjadi satu, kain itu masih cukup bagi kami berdua untuk dijadikan selimut,” tambah Juan.

Nyonya Flamingo manggut-manggut mendengar penjelasan mereka. Ia lalu berkata,

“Aku mengerti permasalahan kalian. Aku ingin membantu kalian, tetapi saat ini aku tidak mempunyai jarum dan benang. Persediaan jarum dan benang milikku telah aku pinjamkan kepada temanku di bagian lain sungai ini. Ia membutuhkannya karena sayapnya terkoyak ketika melewati tebing-tebing pegunungan Andes.”

Juan dan Jose terdiam mendengar cerita Nyonya Flamingo. Mereka kemudian saling berpandangan.

“Kalau kalian mau menunggu, temanku akan mengembalikan jarum dan benang milikku 2-3 hari lagi,” lanjut Nyonya Flamingo.

“Itu waktu yang cukup lama, Nyonya Flamingo! Kami sudah tidak tahan lagi dengan angin malam yang dingin,” kata Jose.

“Coba kalian cari Paman Katak. Ia tinggal di batu dekat hilir sungai, tidak jauh dari tempatku berada. Mungkin ia menyimpan jarum dan benang,” balas Nyonya Flamingo.

“Baiklah, Nyonya Flamingo! Kami akan mencari Paman Katak,” jawab Juan.

“Hati-hati di jalan, Anak-anak! Aku mendengar kabar bahwa ada seekor rubah yang datang ke daerah ini. Rubah itu sangat licik. Kalian harus berhati-hati jika bertemu dengannya,” kata Nyonya Flamingo menasihati Juan dan Jose.

“Terima kasih atas nasihatnya, Nyonya Flamingo! Kami akan berhati-hati di jalan,” balas Jose.

Mereka melanjutkan perjalanan mencari Paman Katak. Di tengah perjalanan, mereka dengan Rubah.

“Buenos dias, Amigos! Kalian akan pergi ke mana, kelinci-kelinci yang manis?” sapa Rubah.

“Kami bukan kelinci, kami ini vicachas! Vicachas berbeda dengan kelinci!” jawab Jose dengan ketus.

Rubah itu terdiam. Ia melihat Juan dan Jose bergantian dan berkata.

“Maafkan mataku yang kurang awas ini. Sekarang aku tahu kalian bukan kelinci tetapi vicachas.”

Juan menyenggol tangan Jose dan berbisik, “Jose, bukankah ini rubah yang diceritakan oleh Tuan Armadillo dan Nyonya Flamingo?”

“Bisa jadi,” balas Jose dengan berbisik, “Kita selidiki saja.”

“Kita harus hati-hati Jose,” bisik Juan.

“Kalian akan pergi ke mana?” tanya Rubah sekali lagi.

“Kami akan mencari Paman Katak. Tempatnya tidak jauh dari sini,” jawab Jose.

“Ah, Paman Katak yang tinggal di batu tepi sungai itu?” tanya Rubah.

“Iya, benar! Apa Paman mengenalnya?” tanya Jose.

“Iya, aku mengenalnya! Ada keperluan apa kalian mencarinya?” jawab Rubah.

Jose melihat ke arah Juan dan berbisik, “Paman ini nampaknya rubah yang lain. Kalau ia pendatang, ia tentu tidak tahu tempat tingggal Paman Katak.”

Juan masih merasa sangsi tetapi ia hanya terdiam.

“Kami akan meminjam jarum dan benang. Kami akan menjahit selimut kami yang robek,” kata Jose sambil menunjukkan kain yang dibawanya.

“Aku punya jarum dan benang. Aku bisa meminjamkan atau memberikannya kepada kalian, tetapi ada persyaratannya,” kata Rubah sambil tersenyum licik.

Juan kembali menyenggol tangan Jose dan sebelum ia sempat berbisik, Jose mendahuluinya berbisik,

“Iya, aku tahu! Aku akan berhati-hati.”

Juan tampak tidak puas dengan jawaban Jose, tapi ia malas mendebatnya. Ia hanya terdiam.“Apa syaratmu, Rubah?” tanya Jose.

“Bisakah aku meminjam selimut itu untuk beberapa malam? Angin malam saat ini cukup dingin,” tanya Rubah mengajukan persyaratan.

“Tidak bisa, Rubah! Kami juga sangat membutuhkan selimut ini,” jawab Jose.

“Kalau aku tidak bisa meminjam, bisakah kalian membagi kehangatan selimut itu? Aku akan tidur bersama kalian dalam selimut itu. Ukurannya nampak masih cukup untuk kita bertiga?” kata Rubah mengajukan persyaratan lain.

Jose memandang Juan dan Juan hanya diam sambil mengangkat bahunya.

“Baiklah, aku pikir persyaratanmu bisa kami penuhi, Rubah! Kami bisa berbagi selimut ini denganmu,” jawab Jose.

Senyum licik Rubah bertambah lebar. Ia kemudian mengambil jarum dan benang dari dalam tas miliknya kemudian menyerahkannya kepada Jose.

“Kalian tinggal di mana? Aku akan datang ke tempat kalian tinggal jika malam datang,” tanya Rubah.

“Kami tinggal di pampas,” jawab Jose.

“Baiklah, sampai jumpa nanti malam,” kata Rubah berpamitan.

Juan dan Jose kemudian menjahit kain merah itu menjadi satu.

“Bagaimana, Juan?” tanya Jose sambil membentangkan kain merah yang baru saja mereka jahit itu.

“Kita tidak akan lagi menggigil di malam hari,” lanjutnya.

Juan dan Jose kemudian kembali ke pampas. Mereka bermain bersama, berlari-larian di bawah sinar matahari yang hangat, dan mengumpulkan makanan. Senja pun tiba. Angin malam yang dingin mulai berembus dari atas pampas. Juan dan Jose berjalan ke tempat mereka tinggal. Mereka kemudian mulai menggelar selimut  dan tidak lama kemudian rubah mendatangi mereka. 

“Selamat malam, Vicachas! Apakah kalian ingat perjanjian yang telah kita buat?” tanya Rubah, “Aku telah memberikan jarum dan benang milikku untuk menjahit selimut milik kalian. Sebagai gantinya, kalian akan berbagi kehangatan selimut milik kalian denganku?”

“Iya, Rubah! Kami masih ingat janji kami,” jawab Jose. Ia kemudian mempersilakan Rubah untuk masuk ke dalam selimut.

Rubah itu merangkak ke dalam selimut dan mengambil tempat di tengah-tengah. Juan dan Jose terpaksa bergeser ke samping kiri dan kanan Rubah. Selimut baru mereka rupanya tidak selebar yang disangka. Seluruh tubuh Rubah tertutup dengan selimut, tetapi lain halnya dengan Juan dan Jose. Tubuh mereka hanya separuh yang tertutup selimut. Bagian tubuh Juan dan Jose yang dekat dengan Rubah terasa hangat namun bagian tubuh yang tidak tertutup selimut terasa dingin. Sungguh posisi tidur yang sangat tidak nyaman. 

***

Ferdian selesai baca bukunya dan buku di taruh di meja.

"Buku yang baru aku baca bagus, ya asal cerita dari Argentina," kata Ferdian.

Ferdian beranjak dari duduknya di ruang tengah, ya keluar dari rumahnya. Ferdian pergi ke tempat kerjaanya di studio Tv dengan menggunakan mobillah.

AINSLEY, NIGHTINGALES, DAN ROSANNA

Amanda selesai main dengan teman-teman. Amanda duduk di ruang tengah. Ada buku di meja, ya di ambil Amanda dan segera di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Amanda :

“Mengapa kau tampak sedih sobat kecilku yang cantik?” Seekor burung bul-bul bertanya pada seorang gadis kecil, sembari bertengger di dahan pohon ek. Ia tak henti memerhatikan gadis kecil, yang duduk murung di atas batang pohon yang telah tumbang.

Seekor tupai kecil yang melihat kesedihan Ainsley, gadis cantik berambut ikal itu, segera merayap ke punggungnya, “Apa yang terjadi denganmu, Sayang?” bisiknya di telinga gadis kecil itu.

Sekuntum bunga cantik berwarna ungu, bermahkota bulat, dan berwarna kuning pun tidak mau ketinggalan. Dia berusaha menebarkan baunya yang semerbak agar gadis kecil itu merasa nyaman. “Gadis kecil yang cantik, mengapa engkau menangis?” bunga itu bertanya, lembut.

Ainsley mendongakkan kepalanya, memandang sesaat ke arah burung bul-bul yang berwarna coklat zaitun. Tangannya mulai terulur, membelai bulu halus seekor tupai yang kini ada di pangkuannya. Semerbak wangi bunga memenuhi rongga dadanya. Perasaannya lebih tenang kini. Ada sahabat-sahabatnya yang setia menemaninya di kala senang dan sedih, sehingga dia tidak merasa sendiri.

“Sakit Ayah kian parah, aku ingin sekali mencari obat untuknya. Tapi, tidakkah kau melihat keadaanku ini?” Ainsley menoleh ke arah Aster, si bunga cantik berwarna ungu.

“Aku tidak mungkin melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan obat itu, Iora.” Ainsley berbisik sambil mendekatkan mulutnya ke arah tupai.

Sejenak, Ainsley memandang burung bul-bul yang masih bertengger di dahan pohon ek. Ia kemudian berseru, “Aku ingin ayahku sehat seperti sedia kala, Nightingales.”

Nightingales, yang berbadan ramping itu menggerak-gerakkan jambulnya. Dia paham benar perasaan Ainsley. Sekian lama tinggal di pohon ek yang berdekatan dengan rumah Ainsley, di tepi hutan, membuatnya tahu benar kehidupan Ainsley dan ayahnya.

Sejak kecil Ainsley telah ditinggal ibunya. Ibunya meninggal beberapa saat setelah Ainsley lahir ke dunia. Kini, ia hidup bersama ayahnya di sebuah rumah kayu, sederhana, di pinggir hutan. Setiap hari, ayahnya bekerja di hutan, mencari kayu bakar dan buah-buahan yang bisa dimakan. Sekali waktu ia juga berburu binatang untuk dimasak.

Suatu hari, ketika ayah Ainsley berburu di tengah hutan, ia terpeleset dan jatuh ke jurang. Ayah Ainsley berusaha keluar dari jurang dengan sekuat tenaga, tapi tubuhnya penuh dengan luka. Semakin hari, luka itu semakin parah. Ainsley kecil berusaha membuat obat-obatan yang diramunya sendiri dari daun-daunan yang ada di pinggir hutan. Keadaan Ainsley tidak memungkinkannya untuk masuk ke hutan terlalu dalam. Namun, semua ramuan yang dibuat Ainsley tidak  kunjung menyembuhkan luka ayahnya.

“Jangan sedih, Ainsley, Sayang. Aku akan menyanyikan sebuah lagu agar gundah di hatimu sirna.” Nightingales mengembangkan kedua sayapnya, menarik udara sore yang wangi, dan ia mulai memperdengarkan suaranya yang merdu.

Cit .. Cit .. Cicicuit .. Cicicuit .. Cicicuit ..

Sore yang indah, mari kita bernyanyi dan menari

“Mengantar sang mentari, tidur di peraduannya.

Namun, ini sore yang indah

Mari, kawan semua kita bernyanyi

Hilangkan sedih, hilangkan gundah

Kami ada di sini, wahai kawan kecilku.

Ayo, kawan yang cantik, hapus air matamu.

Kami ada di sini untuk menghiburmu

Mari, menyanyi, menari .. hilangkan sedih ..”

Senyum Ainsley mulai terbit begitu mendengar kicauan Nightingales. Senyumnya semakin lebar saat mendapati Iora menari, lucu, bersama Aster yang menggoyang-goyangkan daunnya. Ainsley merasa kesedihan di hatinya sedikit berkurang, ia pun ikut berdendang. Setelah lelah bernyanyi dan menari, mereka pun beristirahat sejenak. Tiba-tiba, seekor kupu-kupu berwarna biru hinggap di mahkota Aster.

“Mengapa kalian tidak memanggilku untuk bernyanyi bersama?” Kupu-kupu itu bertanya, dengan nada merajuk.

“Kami sedang menghibur Ainsley yang sedang bersedih,” jawab Iora.

Wajah Ainsley terlihat murung kembali. Kupu-kupu yang melihat perubahan itu, merasa bersalah. Sembari berputar di sekitar Ainsley, ia pun bertanya, “Apa yang membuatmu bersedih, Ainsley?” Ainsley lalu membuka telapak tangannya, hingga kupu-kupu itu dapat hinggap di sana.

“Luka-luka di tubuh Ayah semakin parah. Obat yang aku dapat di hutan tidak bisa lagi mengobati luka-lukanya.” Sesaat, Ainsley terdiam. Sebelah tangannya menyeka air mata yang menitik dari kelopak matanya yang indah.

“Ayah mengatakan jika ada obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Tapi, aku tidak mungkin mendapatkannya,” seru Ainsley. Ia tertunduk sedih.

“Obat apakah itu?” tanya kupu-kupu ingin tahu.

Ainsley menjawab, pelan, “Sekuntum bunga, Failea.” Failea, si kupu kupu bersayap biru itu kembali terbang berputar.

“Bunga seperti dirikukah, Sayang?” tanya Aster,  menggoyangkan daunnya.

“Bukan, Aster,” Ainsley menggeleng lemah.

“Bunga apakah itu?” Nightingales pun merasa ingin tahu.

Ainsley menatap Nigtingales, terlihat putus asa, “Bunga itu adalah bunga mawar merah, Sahabatku.”

Suasana menjadi hening. Semuanya terdiam, berpikir keras. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendapatkan bunga mawar merah itu. Lagipula, mereka juga tidak tahu di mana bunga mawar merah itu tumbuh.

“Failea, bukankah kamu selalu terbang mencari bunga-bunga. Apakah kamu tahu di mana bunga mawar merah itu berada?” Iora, si tupai mulai membuka suara.

“Aku juga tidak tahu, Iora. Sejak sayapku patah satu, aku tidak bisa terbang jauh. Aku hanya berkeliling di tepi hutan ini saja,” jawab Failea. Ia merasa sedih karena tidak bisa memberikan informasi yang dibutuhkan kawan-kawannya.

“Tidak apa-apa, teman. Aku yang akan mencarinya sendiri,” seru Ainsley, mencoba meredam kegelisahan teman-temannya.

“Tapi, bagaimana kau bisa sampai di tempat bunga mawar merah, sedangkan kakimu seperti itu, Sayang?” Aster bertanya hati-hati. Ia nampak tidak tega melihat keadaan Ainsley.

Ainsley memandang teman-temannya satu per satu, ia kemudian berkata dengan mantap, “Tongkatku ini masih berfungsi dengan baik. Aku pasti bisa menempuh perjalanan itu. Walaupun sulit, aku akan tetap berusaha. Kalian tahu, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Ayahku. Aku harus mendapatkan mawar merah itu.”

Pada mulanya, Ainsley memang merasa ragu dengan dirinya sendiri. Kaki kirinya cacat, tidak bisa digunakan untuk berjalan. Jadi, ia memerlukan tongkat untuk dapat berjalan dengan normal. Selama ini, ia belum pernah menempuh perjalanan jauh. Tetapi, semangatnya yang membara dan keinginannya yang kuat untuk menyembuhkan ayahnya, membuat ia yakin jika ia dapat menempuh perjalanan sejauh apapun.

“Aku akan menemanimu, Ainsley.” Suara merdu Nightingales membuat Ainsley semakin bersemangat.

Failea juga merasa tergerak melihat semangat Ainsley, dengan penuh haru dia berkata, “Seperti dirimu yang hanya mempunyai satu kaki, sayapku yang patah satu seharusnya tidak menghalangiku untuk membantumu, Ainsley. Aku akan ikut dengan kalian.”

“ Bagus, Failea, penciumanmu yang tajam akan sangat membantu Ainsley dan Nightingales menemukan mawar merah itu,” dukung Aster. Faliea tersenyum senang mendengar dukungan dari Aster.

Iora yang sedari tadi terdiam, merasa harus ikut melakukan sesuatu untuk membantu sahabatnya. Ia pun lantas berseru, “Ainsley, aku dan Aster akan menjaga Ayahmu selama kau pergi. Kamu tidak perlu khawatir, aku yang akan mencari makanan untuknya.”

Ainsley tersenyum senang. Ia begitu bahagia karena sahabat-sahabatnya begitu ringan tangan dan mau bergotong-royong membantu dirinya.

“Baiklah, Sahabatku. Besok pagi, aku, Nightingales, dan Failea akan berangkat. Aster, Iora, terima kasih karena kalian mau menjaga Ayah selama aku pergi. Kalian semua memang sahabatku yang baik. Aku sayang kalian semua,” tutur Ainsley, tulus.

Keesokan harinya, Ainsley, Nightingales, dan Failea sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang mereka. Di tempat mereka berkumpul kemarin, Iora dan Aster mengantar kepergian sahabat-sahabat mereka dengan doa. Mereka berharap Ainsley dan kedua sahabatnya dapat menemukan mawar merah dengan segera, sehingga mereka dapat pulang kembali dengan selamat dan ayah Ainsley dapat disembuhkan.

“Aster, Iora, aku titipkan Ayah pada kalian berdua. Tolong, jaga dia baik-baik, ya!” kata Ainsley, mencoba menguatkan hatinya. Sebenarnya, ia tidak tega, namun ia tahu, ayahnya akan lebih menderita jika ia tidak dapat menemukan obat untuk menyembuhkannya. Iora lalu mengibaskan ekornya yang lebat. Aster pun menundukkan kelopak bunganya. Mereka berdua berjanji pada Ainsley akan menjaga ayahnya dengan baik.

Ainsley cukup lega melihat ketulusan Aster dan Iora. Ia pun merasa lebih siap, “Ayo, Nightingale, Failea, kita berangkat.”

Ainsley sudah mempersiapkan tongkatnya untuk perjalanan jauh. Dengan langkah terseok, Ainsley berjalan diikuti oleh Nightingales yang meluncur ke angkasa mencari jalan yang aman untuk dilalui. Failea mengepakkan sayap birunya di sekitar Ainsley. Mereka mencari taman bunga di mana bunga mawar merah mungkin tumbuh. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah mereka di sebuah taman bunga yang luas. Ainsley terpesona, ia belum pernah melihat bunga-bunga cantik berkumpul menjadi satu. Ada bunga berwarna putih yang bentuknya seperti terompet, kelopaknya berjumlah enam buah, dan bagian pangkalnya menyatu. Putik bunga itu berwarna kuning, daunnya hijau memanjang. Bunga lili. Selain warna putih, ada juga yang berwarna ungu dengan putik berwarna putih kehijauan. Oh .. indahnya. Selain bunga lili, ada juga bunga daisy yang sedang bermekaran,berwarna kuning cerah. Di sisi lain, bunga daffodil sedang menaburkan kelopaknya yang putih bersih, digoyang angin yang bertiup semilir, pelan.

Tidak jauh dari tempat Ainsley berdiri, Failea menyibukkan diri, dengan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Rupanya, tidak hanya Ainsley yang merasa senang berada di tempat ini. Failea juga merasa sangat senang. Nightingales kemudian berinisiatif untuk berputar mengelilingi taman, guna menghemat waktu dan tenaga yang mereka miliki. Udara akan mempermudah mereka menemukan bunga yang mereka cari. Namun, ternyata ia kalah gesit dari Failea. Failea tiba-tiba berteriak dengan lantang, “Hai, teman-teman, di sini ada bunga mawar!”

Failea sudah terbiasa menyerbukkan bunga-bunga. Hal itu membuatnya lebih mudah mendapatkan bunga mawar yang mereka cari. Ainsley dan Nightingales segera mendekat begitu mendengar teriakan Failea.

Ainsley dengan lembut berkata, “Mawar, aku memerlukan sekuntum mawar merah sebagai obat untuk Ayahku. Maukah kau memberikannya kepadaku?”

“Aku hanya memiliki bunga berwarna putih, wahai gadis cantik. Jika engkau menginginkan mawar merah, cobalah kalian pergi ke arah bintang timur. Semoga saja kalian bisa mendapatkannya,” kata mawar.

Ainsley tampak kecewa, tapi dia tidak mau putus asa. Nigtingales melihat kekecewaan Ainsley, ia pun berusaha membujuk bunga mawar, “Apakah kau tidak bisa mengeluarkan mawarmu yang berwarna merah? Aku akan menyanyikan sebuah lagu yang paling merdu untukmu, Mawar.”

Mawar tersenyum, lalu berkata, lembut, “Tidak bisa Burung Bul-Bul, mawarku hanya berwarna putih. Pergilah ke arah bintang timur. Aku akan berdoa semoga kalian berhasil mendapatkan mawar merah yang kalian cari.”

Setelah mendengar penjelasan mawar, Nightingales segera melihat ke sekeliling. “Ayo, kita segera ke sana. Arah bintang timur menuju sebuah bukit kecil,” Nightingales berkata, penuh semangat. Ia segera menjadi petunjuk jalan, karena ia yang menguasai medan perjalanan.

Failea yang tadi hinggap di ranting mawar, segera mengikuti langkah Ainsley dan kepak Nightingales yang segera terbang menuju ke bukit. Namun, sebelum pergi, ia berseru kepada mawar, “Terima kasih, Mawar.” Mawar menggoyangkan dahannya, mengangguk perlahan.

Perjalanan kali ini cukup melelahkan untuk Ainsley. Ia berhenti sejenak, memeriksa tongkat kayu buatan ayahnya. Tongkat itu masih cukup kuat untuk menopang langkahnya hingga berkilo-kilo meter lagi.

“Ayo, Ainsley. Kamu tidak boleh patah semangat.” Nightingales berusaha mengobarkan semangat Ainsley. Sambil mencari jalan, ia menyanyikan lagu–lagu riang. Cericit Nightingales sedikit banyak menghilangkan rasa lelah yang mulai dirasakan oleh Ainsley dan Failea.

Setelah sekian lama berjalan menyusuri jalur menuju bukit, akhirnya Failea mendapati segerombolan mawar liar. Ainsley pun segera mendekati mawar itu.

“Mawar yang indah, maukah kau menolongku? Berikanlah setangkai mawar merah untukku sebagai obat bagi kesembuhan Ayahku,” kata Ainsley, memohon.

“Wahai gadis kecil yang cantik, aku tidak menghasilkan bunga mawar berwarna merah, mawarku hanya berwarna kuning,” ujar Mawar menjelaskan.

“Mawar, tidak bisakah kau mengeluarkan bunga berwarna merah. Aku bisa menyanyikan lagu yang indah untukmu,” Nightingales menambahkan. Dia tidak ingin melihat kekecewaan yang lebih dalam di paras cantik Ainsley.

“Aku tidak bisa, wahai Burung Bul-Bul. Jika kalian ingin mawar merah, kalian bisa mencarinya ke arah petala salju. Semoga kalian dapat menemukannya di sana.” Mawar kuning berbaik hati menunjukkan tempat mawar merah tumbuh.

Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan, melangkah menuju arah yang ditunjukkan oleh mawar kuning. Arah menuju petala salju sangat jauh. Setelah beristirahat sesaat, mereka melanjutkan perjalanan menuju petala salju. Perjalanan ini kian panjang, tapi tak ada satu pun dari mereka bertiga yang mengeluh. Tekad mereka sudah bulat, mereka harus pulang membawa mawar merah. Musim berganti. Hawa dingin menemani mereka selama perjalanan kali ini. Ainsley berusaha menata langkahnya dengan hati-hati.

“Apakah kalian baik-baik saja?” Nightingales yang melayang di udara berusaha memantau keadaan kedua sehabatnya itu. Ainsley tersenyum kecil.

“ Kami baik-baik saja, Nightingales,” seru Failea, “sayapku masih sanggup menempuh perjalanan sampai ke petala salju,” lanjutnya.

Cuit … Cuit … Cuit … Cuit … Nightingales bernyanyi untuk meringankan perjalanan. Hati yang senang membuat perjalanan tidak terasa melelahkan. Sampai akhirnya mereka tiba di petala salju. Semua terlihat putih, salju telah turun di tempat ini. Adakah mawar yang tumbuh dan bertahan di tengah dinginnya salju. Ainsley membatin. Dia tidak ingin kehilangan harapan untuk mendapatkan setangkai mawar merah. Kali ini, Nightingales yang menemukan pokok mawar hampir mati. Seluruh batangnya diselimuti salju. Ainsley pun segera bersimpuh membersihkan salju yang menempel di batang pohon mawar itu.

“Mawar, kami datang dari jauh. Kami telah menempuh perjalanan yang sangat lama. Kami mencari sekuntum bunga mawar merah untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita Ayahku. Tolonglah kami, Mawar. Berikanlah setangkai mawar merah pada kami.” Ainsley berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar. Matanya berkaca-kaca. Hanya inilah harapan terakhir yang ia miliki.

“Ya, tolonglah kami, Mawar. Aku akan menyanyikan lagu yang merdu untukmu.” Nightingales berusaha menawarkan suaranya yang indah untuk membantu Ainsley mendapatkan mawar merah yang dicarinya, seperti yang sudah-sudah.

“Aku adalah Rosanna, dan memang mawarku berwarna merah,” kata mawar tersendat. Mata Ainsley berbinar senang.

“Tapi, salju telah membekukan pembuluh darahku, sehingga aku tidak bisa berbunga. Aku hanya bisa berbunga jika ada seekor burung yang mau menancapkan dadanya di duriku. Darah burung itulah yang akan menumbuhkan bungaku,” perlahan-lahan, mawar mencoba menjelaskan.

Ainsley tertegun. Ia kemudian bertanya, “Tidak bisakah darah anak manusia yang kau gunakan?”

“Tidak bisa gadis cantik, karena burung itu juga harus bernyanyi semalam suntuk untuk menumbuhkan tunas dan bunga-bungaku.”

“Aku akan melakukannya, Ainsley,” Nightingales berkata mantap, “kau tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja.” Burung bul-bul itu mencoba menenangkan Ainsley, yang terlihat khawatir dengan keselamatan Nightingales.

“Baiklah, kita akan segera melakukannya,” seru Nightingales, yakin.

Rosanna dan burung bul-bul pun segera bersiap-siap. Ainsley dan Failea menunggu mereka di bawah pohon yang letaknya tak jauh dari Rosanna tumbuh. Perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat mereka tertidur. Sementara tidak jauh dari mereka, Nightingales sudah mulai menancapkan dadanya di duri pohon mawar. Darah mulai mengalir. Rosanna menyerapnya perlahan-lahan. Menyalurkan ke ranting-rantingnya dan mulai membentuk tunas-tunas baru.

“Tancapkanlah dadamu lebih dalam dan bernyanyilah dengan merdu, agar bungaku mekar dengan indah,” kata sang mawar.

Nightingales pun bernyanyi dengan merdu, tidak dirasakannya sakit dari tusukan duri mawar itu. Ia terus bernyanyi tentang cinta dan pengorbanan. Cinta seorang anak yang mau berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan obat bagi kesembuhan ayahnya. Serta pengorbanan dirinya yang tulus untuk sahabatnya, Ainsley. Sementara itu, di bawah pohon, Ainsley bermimpi tentang hal-hal yang menakutkan.

Pagi menjelang, Ainsley mendapati Failea masih tertidur di sampingnya. Dia segera membangunkannya dan bergegas mendatangi pokok mawar. Namun, alangkah kagetnya Ainsley ketika mendapati Nightingales terkapar tak bernyawa di bawah pohon mawar. Ia juga melihat pokok mawar itu sudah mengeluarkan setangkai bunga mawar yang mekar sempurna.

“Nightingales...!” Failea menjerit, hinggap di tubuh Nightingales yang dingin dan kaku. Ainsley menangis tersedu-sedu, mendapati sahabatnya sudah tidak bernyawa lagi. Rasa sakit yang teramat sangat menyayat hatinya. Dia telah kehilangan salah satu sahabat terbaiknya. Sahabat yang dengan rela menyerahkan nyawa untuk menolongnya.

“Mawarku telah tumbuh dengan sempurna. Silakan kalian petik. Semoga bisa menjadi obat untuk ayahmu yang terluka,” Mawar merah berbicara dengan lancar. Batangnya telah menghijau. Pembuluh darahnya sudah normal kembali. 

Ainsley lalu memetik setangkai mawar merah dengan berlinangan air mata. Setelah mengucapkan terima kasih kepada mawar merah, dia beranjak dari tempat itu sambil membawa jasad Nightingales yang dia bungkus rapi dengan kain sobekan bajunya. Failea terbang di sampingnya tanpa bersuara. Mereka diliputi duka yang mendalam. Perjalanan pulang terasa panjang dan melelahkan tanpa kicauan merdu si burung bul-bul, Nightingales.

Sesampai di rumah, Iora dan Aster menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Iora tampak girang melihat Ainsley membawa bungkusan kecil, “Kalian mendapatkannya?”

Aster yang tak melihat keberadaan Nightingales, bertanya, “Kenapa kalian terlihat muram, di mana Nightingales ?” Ia melihat sekeliling, mencari si burung bul-bul.

“Kita telah kehilangan Nightingales,” Failea menjawab dengan suara parau.

“Ainsley, apa yang terjadi dengan Nightingales?” suara Iora penuh tanya.

“Nightingales telah mengorbankan hidupnya untuk mendapatkan mawar merah ini.” Ainsley menunjukkan setangkai mawar merah yang dipetiknya di petala salju. Ada perasaan bersalah di nada suaranya.

Mereka semua terdiam. Nightingales adalah sahabat mereka yang baik. Kematiannya membuat mereka semua merasa sangat kehilangan. Setelah hening cukup lama, Aster memutuskan untuk membuka suara, “Ainsley, Nightingales sudah berkorban untuk mendapatkan mawar itu, kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Segeralah kau jadikan mawar itu sebagai obat untuk menyembuhkan Ayahmu. Walaupun Nightingales telah tiada, aku yakin ia pasti sangat bahagia karena bisa menolong sahabatnya.”

Ainsley  teringat kondisi ayahnya. Dia segera berlari ke rumahnya. Ayahnya sedang berbaring di tempat tidur, keadaannya semakin memprihatinkan. Ainsley segera membuatkan ramuan obat dari bunga mawar merah itu. Lalu, dengan hati-hati ia meminumkan ramuan itu kepada ayahnya. Setelah habis, ia membiarkan ayahnya beristirahat.

Ainsley kembali teringat Nightingales. Ia kemudian membuka bungkusan yang tadi ia letakkan di atas meja. Dia berencana membuat upacara kecil untuk menguburkan sahabatnya itu. Namun, ketika ia beranjak membuka pintu, ia melihat tubuh ayahnya bergerak-gerak. Ainsley berbalik, mendekati ayahnya. Ayah Ainsley membuka mata perlahan, lalu tersenyum melihat Ainsley.

“Ayah, sudah sembuh?” Ainsley berseru girang.

“Hem … Sepertinya begitu, tubuh Ayah terasa segar sekali.”

Ayah Ainsley mencoba bangkit dari tempat tidur. Ainsley serta merta memeluk ayahnya.  “Syukurlah Ayah sudah sembuh. Aku senang sekali, Ayah. Tapi, aku juga sedang sedih. Sahabatku ... Nigtingales …,” Ainsley tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menunjuk sebuah bungkusan di tangannya. “Kita harus menguburkannya, Ayah,” ujarnya setengah berbisik.

“Ada apa dengan Nightingales?” seru ayah, terkejut.

Ainsley menatapnya, penuh haru, “Nanti kuceritakan kepada ayah, Iora, dan Aster.”

Mereka berjalan beriringan keluar rumah. Ayah segera menggali lubang di bawah pohon ek untuk menguburkan Nightingales. Setelah penguburan selesai, mereka duduk di sisi kuburan. Ainsley kemudian menceritakan kembali perjalanannya bersama Nightingales dan Failea untuk mendapatkan setangkai mawar merah itu kepada ayah, Iora, dan Aster. 

***

Amanda selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari asalnya Irlandia," kata Amanda.

Amanda menutup bukunya dan menaruh buku dengan baik. Ibu menghampiri Amanda. Ibu mengajak Amanda keluar rumah, ya ke rumah teman ibu.

RAJA PARA BURUNG

Rimar selesai latihan menyanyi dengan ibu di ruang tengah, ya karokean saja sih. Rimar ke ruang tamu, ya duduk santai. Ada buku di meja, ya Rimar ambil dan di baca dengan baik.

Isi buku yang di baca Rimar :

Suku Maya di Meksiko percaya bahwa dahulu, kehidupan diatur oleh Dewa Halach Uinic. Ia adalah dewa pelindung bagi suku Maya. Bahkan, sebelum suku Maya mendiami tanah pemberian Dewa Halach Uinic, para hewan dan tumbuhan telah hidup di sana.

Suatu ketika, Dewa Halach Uinic marah karena burung-burung yang mendiami tanah leluhur suku Maya terus bertikai. Mereka saling berebut wilayah dan makanan. Dewa Halach Uinic kemudian mengumpulkan seluruh burung. Dewa ingin mencari cara agar para burung berhenti bertengkar.

Bagi penghuni tanah leluhur suku Maya, kehendak Dewa Halach Uinic adalah hukum. Tak ada satu pun dari mereka yang berani membantahnya. Oleh karena itu, semua burung segera berkumpul di tengah hutan untuk mendengarkan sabda sang dewa.

“Aku ingin kalian berhenti bertikai. Apakah kalian tidak bisa hidup dalam damai?” suara Dewa Halach Uinic membahana.

“Aku akan mengangkat salah satu dari kalian untuk menjadi seorang raja. Kelak, dia bertugas untuk menjaga perdamaian di antara kalian,” lanjut Dewa Halach Uinic. Burung-burung yang tadinya diam langsung berkasak-kusuk, berbicara dengan burung di sebelahnya.

“Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin mencalonkan diri, datanglah lagi esok hari. Persiapkan diri kalian baik-baik.” Dewa Halach Uinic lalu menghilang.

Suasana di hutan langsung berubah gaduh. Beberapa burung penasaran, siapa yang memiliki kemampuan untuk menyatukan mereka semua. Sementara beberapa burung yang lain justru sudah bersiap-siap mengajukan diri.

“Apa kau akan mencalonkan diri, Col-pol-che?” tanya seekor burung kepodang pada burung kardinal yang bertengger di sampingnya. Burung kardinal tak menjawab. Ia malah terbang ke tengah kerumunan para burung.

“Hai, pastilah aku yang akan menjadi raja. Lihatlah, tak ada yang memiliki bulu seindah aku. Buluku merah menyala, jambulku cantik memesona. Siapa yang tak mengagumi keelokanku ini? Aku pasti akan menjadi raja kalian. Dewa akan memilihku,” Col-pol-che berseru lantang dan percaya diri.

Beberapa burung tampak mengangguk terkagum-kagum. Sedangkan yang lain terlihat mencibir, menganggap Col-pol-che burung yang sombong. Col-pol-che tak peduli akan sorak-sorai dari burung-burung lain. Dia justru memamerkan kemolekkan bulunya, sambil terbang  mengayun-ayunkan sayap dengan pongah. Tiba-tiba terdengar kicauan yang sangat merdu.

“Hei, itu pasti X-col-col-chek!” seru seekor burung berbulu biru.

Semua menoleh ke arah X-col-col-chek. Burung mimus itu bernyanyi dengan indah. Ia kemudian menghentikan nyanyiannya.

“Kalian pasti menyukai nyanyianku yang merdu, bukan? Jika aku menjadi raja, aku akan menghibur kalian sepanjang hari dengan suara merduku ini. Kalian tahu, aku adalah satu-satunya burung bersuara indah di antara kalian,” seru X-col-col-chek.

Para burung tak memungkiri jika suara X-col-col-chek memang sangat indah. Selain itu, X-col-col-chek juga pandai menirukan suara burung lain. Bahkan, suara beberapa serangga dan katak pun bisa ia tirukan. X-col-col-chek pandai memainkan melodi suaranya. Namun, bulu X-col-col-chek tak seindah Col-pol-che. Burung mimus itu hanya memiliki bulu berwarna coklat abu-abu di punggung dan sayapnya, sementara bulu dada dan perutnya berwarna putih. Meski begitu, sebagian burung terpengaruh juga. Mereka beranggapan jika X-col-col-chek pantas menjadi raja para burung. Burung-burung yang menyukai X-col-col-chek pun mulai mengajak burung-burung lain untuk mendukung X-col-col-chek menjadi raja mereka.

Ternyata, tak hanya burung kardinal dan burung mimus yang ingin menjadi raja. Seekor kalkun liar bernama Cutz juga berambisi menjadi raja. Ia tiba-tiba berlari ke tengah kerumunan burung yang masih berkumpul di sana.

“Akulah yang pantas menjadi raja kalian,” ujar Cutz dengan suara parau. Burung-burung langsung menoleh ke arahnya.

“Aku adalah burung terbesar dan terkuat di antara kalian. Dengan ukuran dan kekuatanku, aku sanggup menghentikan perkelahian. Aku akan melindungi dan membela para burung. Kalian membutuhkan sosok raja sepertiku,” lanjut Cutz.

Cutz, memang burung yang besar. Bentangan sayapnya bisa mencapai satu setengah meter. Berat kalkun dewasa bisa sampai delapan kilogram, bahkan lebih. Postur tubuhnya tinggi besar dengan bulu yang cukup menawan. Kalkun jantan mempunyai ekor seperti kipas saat terbuka.

“Tapi, kau tak pandai terbang. Bagaimana kau bila melerai pertempuran para burung di udara?” tanya seekor burung kolibri. Cutz terdiam sejenak. Para burung lalu berteriak menyorakinya.

“Kalau aku sudah menjadi raja, kalian kan harus patuh padaku. Di mana pun kalian berkelahi, aku tetap bisa menyuruh kalian berhenti,” kilah Cutz.

Burung-burung semakin bingung. Ada beberapa burung yang memenuhi syarat untuk menjadi raja mereka. Akan tetapi, meski mereka bisa mengusulkan pada Dewa Halach Uinic, dewalah yang akan menentukan hasil akhirnya.

Kini, setiap burung yang ingin mencalonkan diri menjadi raja, sudah mempunyai pendukungnya masing-masing. Mereka mengajak burung-burung yang lain untuk ikut mendukung dan mengusulkannya kepada Dewa Halach Uinic. Namun, di antara kehebohan burung-burung itu, ada seekor burung yang hanya diam, memerhatikan. Dia adalah burung yang ambisius, hebat, dan pintar. Ia juga selalu berhati-hati. Tubuh dan sikapnya nampak anggun, tapi warna bulunya buruk. Dia adalah Kukul, si burung Quetzal.

Kukul sebenarnya ingin mencalonkan diri menjadi raja, tapi ia merasa ragu. Dewa tak akan memilihnya menjadi raja karena penampilan bulunya begitu buruk. Meskipun diselimuti keraguan, Kukul tak habis akal. Dia ingin mencoba, mengajukan diri menjadi raja.

Kukul kemudian teringat pada Xtuntun-Kinil. Burung itu tak tampak di antara kerumunan burung. Ia pasti sedang pergi mengirimkan pesan dewa tadi. Kukul memutuskan untuk mencari Xtuntun-Kinil. Perkiraannya benar. Kukul melihat Xtuntun-Kinil sedang melintas di dekat gurun pasir. Kukul mulai terbang rendah, menghampiri Xtuntun-Kinil.

“Xtuntun, tunggu!” panggil Kukul. Xtuntun-Kinil tak mendengar teriakannya. Kukul langsung memanggilnya lebih keras. Xtuntun-Kinil mulai memperlambat laju terbangnya. Kukul terbang di dekatnya, mengimbangi kecepatan Xtuntun-Kinil.

“Bisakah kau berhenti sebentar?” tanya Kukul.

“Aku sedang buru-buru. Ada pesan yang harus kuantar,” tolak Xtuntun-Kinil.

Xtuntun-Kinil adalah seekor burung roadrunner. Burung roadrunner memang pelari yang hebat. Dia bisa berlari dengan kecepatan sampai 42 kilometer per jam. Karena itu, ia dipercaya sebagai burung pengirim pesan. Ia menggunakan sayapnya yang pendek untuk mengatur keseimbangan. Ekornya yang panjang dipakai sebagai kemudi untuk berbelok dan memutar. Dahulu, burung itu tak punya nama. Ia suka berlari di sepanjang jalur gurun pasir, mengikuti iring-iringan kereta kuda. Tujuannya adalah untuk menangkap serangga yang terpelanting oleh laju kereta dan sepatu kuda. Oleh karena itu, burung-burung memberinya nama roadrunner atau pelari jalanan. Xtuntun-Kinil, si burung roadrunner, masih terus berlari. Ia tak begitu memedulikan permintaan Kukul. Kukul berusaha membujuknya.

“Tolonglah, Xtuntun. Ini penting sekali. Aku harus bicara secepatnya denganmu.”

Xtuntun-Kinil akhirnya berhenti. Mereka berlindung dari panas matahari di dekat kaktus saguaro raksasa.

“Ada apa Kukul?”

“Aku ingin memberi penawaran padamu, Xtuntun,” ujar Kukul. Dia diam sebentar. “Maukah kau meminjamkan bulumu padaku?” lanjut Kukul. Xtuntun-Kinil terkejut.

“Untuk apa? Kau sudah memiliki bulumu sendiri,” balas Xtuntun-Kinil. Ia tampak keberatan. Kukul menarik napas dalam. Ia mempersiapkan diri untuk menjelaskan niatnya pada Xtuntun-Kinil.

“Begini, Xtuntun. Menurutku, di antara para burung di tanah leluhur Maya, bulumu adalah bulu yang paling indah. Kau pasti bisa menjadi raja, andai kau mau mencalonkan diri. Tapi kurasa, tugasmu sebagai pengirim pesan sudah membuatmu sibuk dan kerepotan. Kau pun tampaknya kurang memiliki bakat dan kemampuan memimpin.”

“Lalu?” potong Xtuntun-Kinil, tak sabar.

“Aku bisa saja meminjamkan bakat memimpinku padamu. Tapi, sepertinya kau sudah sangat kerepotan untuk menjadi seorang raja. Bagaimana kalau kau yang meminjamkan bulumu? Nanti, dengan bulumu yang indah dan kemampuan memimpinku, aku pasti akan menjadi raja.” Xtuntun-Kinil masih tampak ragu.

“Jika aku menjadi raja, aku akan berbagi kekayaan dan kehormatan denganmu. Aku janji,” bujuk Kukul lagi.

Xtuntun-Kinil berpikir lama. Ia sangat menyukai bulunya. Meski tawaran Kukul sangat menarik, ia tak rela berpisah dengan bulunya.

“Kurasa tidak, Kukul. Aku tak mau berpisah dengan bulu-buluku ini,” Xtuntun-Kinil memutuskan. Kukul kecewa mendengar keputusan Xtuntun-Kinil, tapi ia belum mau menyerah.

“Ayolah, Xtuntun, pikirkanlah baik-baik. Kau bisa mendapatkan kesejahteraan hidup. Bila perlu, kau tak perlu jadi pengirim pesan lagi. Aku akan menjamin makanan dan tempat tinggalmu,” Kukul terus merayu Xtuntun-Kinil.

Xtuntun-Kinil berpikir ulang. Janji Kukul sangat menggiurkan. Ia tak perlu bersusah payah lagi mencari makan. Semua akan terhidang dan ia tinggal melahapnya.

“Kau akan menepati janjimu, kan?” tanya Xtuntun-Kinil, mencari kepastian.

“Tentu, kawan.” Kukul tersenyum. Rayuannya mulai membuahkan hasil.

“Tapi …” Xtuntun-Kinil masih ragu.

“Tapi, apa lagi? Kita tak punya banyak waktu, Xtuntun. Besok, Dewa akan memilih raja para burung. Lagipula, aku hanya ingin meminjam bulumu. Aku pasti akan mengembalikannya kepadamu, setelah aku terpilih menjadi raja.”

Xtuntun-Kinil akhirnya menyerah begitu mendengar penjelasan Kukul. Kukul hanya akan meminjam bulunya. Itu berarti ia tak perlu berpisah selamanya dengan bulu indahnya.Tak berapa lama, satu demi satu bulu Xtuntun-Kinil berpindah ke tubuh Kukul. Kukul mengaturnya, memasang bulu-bulu Xtuntun-Kinil yang cantik ke tubuhnya. Beberapa saat kemudian, penampilan Kukul berubah drastis. Bulu Xtuntun-Kinil yang menempel di tubuhnya membuatnya semakin gagah.  Ekor Kukul menggantung panjang berwarna hijau lumut. Kepala, leher, punggung, dan sayapnya berwarna hijau keemasan. Sementara dada dan perutnya berwarna merah cerah. Paruhnya yang pendek berwarna kuning jagung. Perpaduan warna bulu Kukul, kini tampak bagaikan indahnya langit senja dan hutan tropis Maya. Semua yang melihatnya pasti akan kagum.

Xtuntun-Kinil pun merasa takjub melihat bulu-bulunya, yang tampak begitu menawan di tubuh Kukul. Ada perasaan tak rela muncul dalam hatinya, tapi bulu itu sudah telanjur ia pinjamkan kepada Kukul. Ia berjanji jika Kukul mengembalikan bulunya, ia tak akan meminjamkannya pada siapa pun lagi. Keesokan harinya, para burung berkumpul lagi di tengah hutan Maya. Mereka terlihat resah menanti kedatangan Dewa Halach Uinic. Mereka penasaran, siapa yang akan menjadi raja mereka. Ketika dewa datang, suasana berubah menjadi sunyi.

“Baiklah, hari ini aku akan memilih raja para burung. Siapa yang ingin mencalonkan diri, majulah ke hadapanku!” seru Dewa Halach Uinic lantang.

Satu per satu burung yang ingin menjadi raja, maju menghadap dewa. Setiap burung yang maju, selalu diiringi oleh sorak-sorai pendukungnya. Pertama, Col-pol-che terbang ke tengah kerumunan burung, menghadap Dewa Halach Uinic. Burung kardinal itu mempertontonkan keindahan warna bulunya. Namun, dewa tak berkata apa-apa. Col-pol-che kembali ke kelompoknya dengan kecewa. Pendukung col-pol-che juga bersuit-suit tak terima.

Cutz, si kalkun liar, berlari menerobos kerumunan. Ia menunjukkan kekuatannya di depan dewa. Ia berusaha meyakinkan dewa bahwa ia sanggup melindungi para burung di hutan Maya. Sayangnya, dewa tampak tak terkesan. Cutz berjalan ke pinggir dengan gontai. Selanjutnya, X-col-col-chek menghadap raja. Ia sudah menyiapkan lagu terindah untuk memikat hati dewa. Ia pun menirukan suara bermacam burung, menandakan ia mampu bergabung dengan semua jenis burung untuk menyatukan mereka. Dewa Halach Uinic tersenyum. Ia menyukai kemampuan X-col-col-chek meski penampilannya sederhana.

Para burung mengira calon raja sudah habis. Mereka pun berpikir jika X-col-col-chek, si burung mimus, yang akan terpilih menjadi raja. Namun, setelah X-col-col-chek terbang menepi, Kukul meluncur ke hadapan dewa dan bertengger di akar gantung sebuah pohon besar. Para burung kagum sekaligus heran melihat perubahan Kukul. Dewa pun menatapnya tak percaya.

“Apa kau burung quetzal?” tanya Dewa Halach Uinic.

“Benar, Dewa.” Kukul mengayunkan bulu ekornya yang menjuntai.

Selama ini, semua menganggap Kukul adalah burung yang pendiam. Kini, semuanya terdiam mendengarkan Kukul bicara panjang lebar tentang kedamaian, kerukunan, dan kesejahteraan para burung. Mereka membenarkan semua perkataan Kukul. Dewa Halach Uinic pun manggut-manggut mendengarnya. Setelah Kukul menyelesaikan kalimat terakhirnya, Kukul disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Sorak sorai membahana sampai di sudut-sudut hutan. Semua beralih mendukung Kukul untuk menjadi raja.

Dewa pun tampaknya berpendapat serupa. Dewa kagum dengan perubahan penampilan Kukul. Selain itu, dewa pun menyukai perkataan Kukul. Dewa menganggap Kukul punya kemampuan memimpin para burung, sehingga mereka bisa hidup rukun dan damai.

“Aku sudah menentukan siapa yang akan menjadi raja kalian. Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik. Aku mengangkat Kukul si burung quetzal menjadi raja para burung.”

Tepuk tangan para burung bergemuruh menyambut Kukul, raja mereka. Para burung mulai berebut mendekati Kukul, memberikan selamat. Col-pol-che, Cutz, dan X-col-col-chek merasa kecewa. Namun, mereka menerima keputusan dewa dengan lapang dada. Setelah dinobatkan menjadi raja para burung, Kukul mulai menjalani tugas barunya sebagai raja. Dia sangat sibuk dengan urusan para burung. Kukul pun melupakan janjinya pada Xtuntun-Kinil. Kekayaan, kesejahteraan, dan kehormatan yang dulu pernah dijanjikan, tak pernah diterima oleh Xtuntun-Kinil. Bahkan, Kukul juga lupa mengembalikan bulu milik Xtuntun-Kinil.

Suatu hari, burung kepodang mencari Xtuntun-Kinil. Ia ingin meminta Xtuntun-Kinil mengirim pesan ke tempat yang jauh. Sudah seharian ia mencari Xtuntun-Kinil, tetapi belum juga menemukannya. Ia pikir Xtuntun-Kinil sedang mengirim pesan ke suatu tempat. Maka, ia pun memilih untuk kembali pulang. Beberapa hari kemudian, burung kepodang itu datang lagi ke tempat di mana Xtuntun-Kinil biasa tinggal. Namun, Xtuntun-Kinil tak juga tampak. Kepodang itu memutuskan untuk bertanya pada burung-burung lain, tapi mereka juga tak tahu di mana Xtuntun-Kinil.

“Sebaiknya kita cari saja. Siapa tahu dia sedang memiliki masalah dan membutuhkan bantuan kita,” usul burung kolibri.

“Kenapa kita tak lapor saja pada Raja Kukul? Kita kan tak perlu repot mencarinya” usul burung berbulu biru.

“Raja sepertinya sedang sibuk, jadi kita cari sendiri dulu saja. Kita akan melaporkannya kalau Xtuntun-Kinil belum ketemu juga,” saran burung kepodang.

Burung-burung yang lain setuju. Mereka membantu burung kepodang mencari Xtuntun-Kinil. Mereka berpencar ke dalam hutan, menyisir tepi hutan, hingga ke dekat gurun.

“Hei, apa itu yang bergerak-gerak di semak-semak? Apakah ular?” bisik burung kolibri.

“Ayo, kita lihat saja.” Burung kepodang mendekat, perlahan. Ia mendengar kicauan lemah dari balik semak belukar.

“Xtuntun!” seru burung kepodang. “Aku menemukan Xtuntun!” teriaknya.

Burung-burung yang berada di situ langsung terbang mendekat. Mereka terkejut melihat keadaan Xtuntun-Kinil. Ia gemetar kedinginan karena tak berbulu dan hampir mati kelaparan. Burung-burung menutupi tubuh Xtuntun-Kinil dengan dedaunan agar lebih hangat.

Setelah Xtuntun-Kinil mulai bertenaga, ia menceritakan semuanya. Sekarang, ia tak berbulu sehingga menggigil kedinginan. Hal itu terjadi karena Kukul mengingkari janji untuk mengembalikan bulunya. Ia merasa malu sehingga pergi menyendiri di dalam hutan. Namun, ia pun tak dapat mencari makanan dengan tubuh yang gemetar. Xtuntun-Kinil merasa marah pada Kukul. Dalam kesadaran yang belum pulih betul, Xtuntun-Kinil terus berkata, “Puhuy? Puhuy?” yang dalam bahasa suku Maya berarti, “Di mana dia? Di mana  dia?”

Sahabat-sahabat Xtuntun-Kinil merasa kasihan padanya. Mereka pun menyumbangkan beberapa helai bulu mereka untuk menutupi tubuh Xtuntun-Kinil. Xtuntun-Kinil pun mempunyai bulu baru sebagai pakaian. Sementara burung quetzal, dihukum oleh Dewa Halach Uinic karena kesalahan yang dia buat. Sayangnya, dewa tidak bisa menukar bulu kedua burung itu seperti sedia kala.

Kini, variasi warna dan pola bulu burung roadrunner berselang-selang tak karuan. Oleh karena itu, warna bulu burung roadrunner tak berpola indah seperti dulu. Xtuntun-Kinil telah menurunkan warna bulu berselang-selang kepada keturunannya. Burung-burung roadrunner keturunan Xtuntun-Kinil juga selalu berkicau, “Puhuy? Puhuy?” Dan, mereka masih terus mencari burung quetzal yang membawa kabur bulu moyangnya. 

***

Rimar selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus berasal dari Mesiko," kata Rimar.

Rimar menutup bukunya dan menaruh buku di meja. Rimar ke kamarnya untuk belajarlah, ya mengulas pelajaran yang di berikan sama guru di bangku sekolah.....agar Rimar menjadi anak pintar yang di banggakan kedua orang tua.

SUARA EMAS MIMUS

Alfonso selesai membersihkan pekarangan rumah. Alfonso santai duduk di teras rumah. Ada buku di meja dan segera di ambil sama Alfonso, ya di baca dengan baik sih.

Isi buku yang di baca Alfonso :

Mimus adalah seekor burung dari keluarga Mockingbird, yang hidup di semenanjung Yukatan. Sejak ia ditetaskan, ia dikaruniai suara yang merdu oleh dewa. Sayangnya, ia terlahir dari keluarga miskin. Anggota keluarganya tak ada yang peduli dengan bakat menyanyi Mimus.

“Ayah, apakah suaraku merdu?” tanya Mimus kecil pada ayahnya, yang sedang sibuk memperbaiki pondok mereka.

Ayahnya tersenyum, “Ya, Sayang. Suaramu indah sekali. Bernyanyilah untuk ayah,” pinta ayahnya. Mimus lalu mulai bersiul, menyanyikan lagu kesukaan ayahnya. Ia bersemangat sekali.

“Ayah, aku ingin ikut kursus menyanyi. Aku ingin belajar agar nyanyianku terdengar lebih indah. Bolehkah?” ujar Mimus setelah menyelesaikan lagunya.

“Mimus, ayah tak punya cukup uang untuk membayar kursus menyanyi. Lagi pula, suaramu sudah merdu. Nyanyianmu juga indah. Untuk apa kau belajar lagi?”

Mimus terdiam mendengar penjelasan ayahnya. Sebenarnya ia kecewa, namun ia menyadari keadaan keluarganya. Jangankan untuk kursus, pakaian yang mereka punya saja hanya seadanya. Mimus menatap bulu-bulunya yang tampak suram. Ia lantas memendam keinginannya itu dalam-dalam.

Saat Mimus beranjak remaja, ia bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah keluarga Kardinal. Burung kardinal adalah keluarga yang kaya dan terpandang. Tuan Kardinal mempunyai putri bernama Pol Che. Pol Che adalah seekor burung yang cantik. Dia suka bersolek dan memakai gaun yang indah.

Suatu hari, seekor burung penyanyi datang ke semenanjung Yukatan. Dia adalah Xcau si burung Turdus. Xcau sangat terkenal karena suara dan nyanyiannya. Tak ada yang menyangka Xcau bersuara merdu karena penampilannya yang sangat biasa. Sekujur tubuhnya tertutup bulu berwarna hitam. Hanya paruh dan lingkar matanya saja yang berwarna kuning tua.

Ketika mendengar kedatangan Xcau, keluarga Kardinal langsung mengundang Xcau ke rumahnya. Mereka menjamu Xcau dengan makanan kesukaan Xcau, yaitu buah beri. Sebenarnya, Tuan Kardinal memiliki tujuan tertentu dengan mengundang Xcau ke rumahnya.

“Tuan Xcau, apakah kau bersedia tinggal beberapa lama di sini?” tanya Tuan Kardinal.

“Untuk apa, Tuan? Saya hanya sekedar singgah di sini,” jawab Xcau.

“Saya ingin Tuan mengajari putri saya bernyanyi. Dia putri yang cantik. Dia akan semakin sempurna bila dia bisa menyanyi dengan merdu seperti Anda. Bagaimana, Tuan?” tawar Tuan Kardinal. Xcau tampak berpikir.

“Saya bersedia memberi bayaran mahal. Berapa pun yang Anda minta, saya akan memberikannya,” lanjut Tuan Kardinal, berusaha membujuk Xcau.

Setelah berpikir cukup lama, Xcau tersenyum, tanda setuju. Namun, Pol Che, sang putri berbeda pendapat dengan ayahnya. Ia tak begitu suka dengan rencana ayahnya.

“Aku tak suka belajar menyanyi, Ayah,” ujar Pol Che, menolak permintaan ayahnya.

“Putriku, kau cantik. Kau akan sempurna bila bisa menyanyi dengan indah. Semua burung akan semakin hormat dan kagum padamu,” bujuk Kardinal. Pol Che masih berat hati. Ia sangat suka dihormati dan dikagumi, tapi ia malas kalau harus belajar menyanyi.

“Baiklah. Kalau kau mau belajar menyanyi pada Tuan Xcau, ayah akan memberikan apapun yang kau suka,” ujar Tuan Kardinal, terus membujuk putrinya. Ia ingin melihat putrinya menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia menjanjikan bermacam hadiah bila Pol Che mau belajar menyanyi.

Pol Che menimbang-nimbang tawaran ayahnya. Saat ini, dia memang sedang menginginkan beberapa barang. Akhirnya, Pol Che mengiyakan. Mereka pun segera memulai kelas menyanyi di tempat yang ditentukan oleh Xcau.

Pada hari yang ditentukan, Xcau meminta Pol Che datang ke tengah hutan. Di sana suasananya lebih tenang, sehingga mereka bisa berlatih tanpa gangguan. Mimus diam-diam mengikuti kemana Pol Che pergi. Mimus dan seluruh pelayan keluarga Kardinal mengetahui rencana Tuan Kardinal, yang ingin menjadikan anaknya penyanyi terkenal. Mimus bermaksud ikut belajar, meskipun harus sembunyi-sembunyi.

Mimus mendengarkan pelajaran menyanyi dari Xcau di balik semak-semak. Ia mendengar setiap penjelasan Xcau dengan baik. Setelah itu, ia berlatih sendiri di pondoknya. Mimus bahkan berusaha menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Xcau pada Pol Che, meski ia tak pernah menyerahkan tugasnya pada sang guru.

“Mimus, kau ke mana saja? Kau sering menghilang sekarang. Kau menyelinap pergi ya?” tanya kawan Mimus, curiga.

“Tidak. Aku menjalankan tugas dari Nona Pol Che,” kilah Mimus. Ia takut kalau kawannya mengadukan dia kepada Tuan Kardinal, sehingga ia dipecat.

“Tenang saja. Aku tetap akan menyelesaikan tugas-tugasku di sini walaupun harus pulang terlambat. Aku pastikan semua akan beres,” ujar Mimus, berusaha meyakinkan kawannya.

Selama berminggu-minggu Mimus sering pulang terlambat karena mengikuti kelas menyanyi Pol Che dan Tuan Xcau. Selama itu pula, Tuan Xcau melatih Pol Che tanpa ada kemajuan yang berarti. Xcau mulai menyadari kalau putri Tuan  Kardinal kurang berbakat menyanyi. Selain itu, Pol Che juga tak pernah sungguh-sungguh mengikuti kelas menyanyinya.

Xcau tak berani mengatakan semua itu pada Tuan Kardinal. Ia takut karena tak kunjung berhasil mengajari Pol Che bernyanyi dengan merdu. Padahal, ia sudah menerima banyak upah dari Tuan Kardinal. Xcau akhirnya memutuskan pergi, melanjutkan perjalanannya tanpa berpamitan pada Tuan Kardinal.

“Pol Che, kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita. Semua hal tentang menyanyi yang aku ketahui, sudah kuajarkan padamu. Tolong sampaikan pada ayahmu, aku harus pergi melanjutkan perjalananku,” pesan Xcau. Pol Che tersenyum senang karena hari-hari beratnya akhirnya berlalu juga.

“Tentu, Tuan Xcau. Aku akan menyampaikan pesan Anda pada ayah.”

Xcau dan Pol Che pun berpisah. Pol che kembali melanjutkan hari-harinya dengan gembira. Dia juga merasa bahagia karena tak perlu belajar menyanyi lagi. Berbeda dengan Pol Che, Mimus justru  merasa sedih karena kelas menyanyi itu telah usai. Namun, ia berjanji akan tetap berlatih menyanyi sendiri di pondoknya.

“Baiklah, Pol Che. Kau sudah mendapatkan pelajaran menyanyi dari Tuan Xcau. Sekarang, saatnya kita pamerkan kemampuanmu pada burung-burung hutan, di semenanjung Yukatan,” kata Tuan Kardinal suatu hari.

“Tapi, ayah ….” Pol Che tampak terkejut dengan ucapan ayahnya.

“Kau tak usah khawatir, Nak. Ayah sudah menyiapkan sebuah konser untukmu. Ayah juga sudah menyiapkan gaun indah yang akan kau kenakan nanti,” potong Tuan Kardinal.

“Tapi, ayah ….” Pol Che berusaha menjelaskan.

“Tapi, apa lagi? Hadiah untukmu? Tenang saja. Kau akan mendapatkan semuanya setelah konsermu selesai. Sekarang, teruslah berlatih untuk konser itu,” pungkas Tuan Kardinal. Ia lalu terbang meninggalkan putrinya.

Pol Che terduduk, lemas. Ia memikirkan konser yang akan diadakan ayahnya. Bagaimana ia akan bernyanyi di konser itu? Nyanyiannya tak ada kemajuan sedikit pun. Masih sama seperti dulu, sebelum mengikuti kelas Tuan Xcau. Kalau ia terus bernyanyi, ia pasti akan membuat ayahnya malu. Pol Che kebingungan mencari jalan keluar.

“Bagaimana ini?” keluh Pol Che di kamarnya.

“Ada apa, Nona? Kau gelisah sekali,” tanya Xchol, pelayannya.

“Ayah akan membuatkan konser untukku. Padahal nyanyianku buruk sekali.”

“Bukankah Nona sudah belajar pada Tuan Xcau?”

“Ya. Tapi, aku tak bisa menyanyi seindah Tuan Xcau.”

Xchol tersenyum, “Itu hanya perasaan Nona saja.” Ia berusaha menenangkan Pol Che. “Cobalah menyanyi, Nona. Nyanyianmu pasti merdu dan indah sekali,” dukung Xchol.

“Kau pasti akan menertawakanku,” tolak Pol Che.

“Tidak. Bagaimanapun suara Nona, saya tidak akan tertawa,” burung paruh baya itu menyakinkan putri tuannya.

Xchol sudah merawat Pol Che sejak kecil, sehingga ia cukup dekat dengannya. Pol Che mulai bernyanyi. Suaranya cukup merdu, tapi Pol Che tak bisa menyanyi dengan baik. Melodi yang ia lagukan terdengar sumbang.

“Bagaimana, Xchol?” tanya Pol Che.

“Nona ingin jawaban jujur atau tidak?” Xchol balik bertanya.

“Tentu saja jawaban jujur,” balas Pol Che.

“Baiklah. Tapi jangan marah, ya. Memang masih ada yang kurang, Nona.”

“Nah, kan?” Pol Che cemberut.

“Nona masih punya waktu. Anda bisa terus berlatih sendiri sampai nyanyian Anda benar-benar membuat orang takjub,” hibur Xchol. Pol Che terlihat cemberut. Ia tak suka mendengar kata berlatih lagi. Ia sudah berlatih selama berminggu-minggu. Pol Che sudah bosan dan malas berlatih lagi. Namun, ia juga takut memberitahu ayahnya kalau ia belum bisa menyanyi dengan baik.

Suatu pagi saat Pol Che bangun tidur, ia mendengar suara yang merdu. Ia mencari-cari dari mana datangnya suara itu. Ia menemukan Mimus sedang membersihkan jendela kamarnya sambil bersenandung. Mimus terkejut saat Pol Che memergokinya bersenandung. Ia takut Pol Che akan marah padanya, karena mengira ia mengejek Pol Che. Pol Che segera menarik Mimus masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu dan jendela. Pol Che memastikan keadaan aman. Ia mendapatkan ide bagus untuk konsernya nanti.

“Siapa namamu, Burung Kecil?” tanya Pol Che.

“Mimus, Nona,” jawab Mimus, takut-takut.

“Kau tak perlu takut, Mimus. Kau tak bersalah,” ujar Pol Che seakan bisa membaca apa yang dirasakan Mimus.

“Aku butuh bantuanmu, Mimus,” lanjut Pol Che.

“Apakah Nona ingin saya membersihkan kamar ini?” tanya Mimus, lugu. Setiap hari ia memang bertugas membersihkan ruangan-ruangan di rumah keluarga Kardinal.

“Tidak, Mimus. Ada yang lebih penting dari itu.” Mimus diam menunggu Pol Che menjelaskan maksudnya.

“Suaramu indah sekali, Mimus,” puji Pol Che.

“Terima kasih, Nona,” jawab Mimus, malu-malu.

“Kau tahu ayahku akan membuat konser?” tanya Pol Che. Mimus mengangguk bersemangat. Ia mengira Pol Che akan mengajaknya tampil bersama di konser itu.

“Kau, bernyanyilah untukku,” pinta Pol Che.

“Maksud, Nona?” Mimus bertanya, bingung.

“Kau menyanyi di tempat yang tersembunyi saat aku tampil di panggung. Nanti, orang akan mengira suaraku begitu indah. Konser ini sangat penting bagi ayahku, Mimus. Ia akan kehilangan kehormatannya di hadapan para tamu kalau aku menyanyi dengan buruk.” Mimus terdiam mendengar permintaan Pol Che. Ia kecewa.

“Aku akan memberimu imbalan. Apapun yang kau mau,” rayu Pol Che.

Mimus menggeleng, tanda menolak. “Tidak, Nona. Aku tak ingin imbalan apapun darimu.”

“Jadi kau tak mau membantuku?”

“Bukan. Bukan begitu. Aku akan membantumu. Aku akan bernyanyi untukmu, tapi aku tak meminta imbalan apapun darimu,” tutur Mimus. Perkataannya membuat Pol Che heran.

“Kenapa, Mimus? Apa tak ada sesuatu pun yang kau inginkan?”

“Tentu saja ada. Tapi, saya menyanyi karena menyukainya. Saya menyanyi karena saya ingin menyanyi. Jadi, saya tak pantas mendapat imbalan apapun. Bagi saya bisa menyanyi sudah menjadi imbalan yang besar, Nona,” jawab Mimus.

Pol Che terkesima mendengar jawaban jujur Mimus. Mimus begitu baik. Ia merasa bersalah karena memanfaatkan Mimus untuk kepentingannya. Tapi, ia juga tak ingin merusak acara ayahnya. Tuan Kardinal telah mengundang burung-burung dari kelas bangsawan dan musisi untuk hadir di konser Pol Che. Panggung megah sudah disiapkan di halaman rumah mereka yang luas. Sebuah dahan yang dihiasi bunga indah telah diletakkan di tengah panggung. Di dahan itu nanti Pol Che akan menyanyi.

Setelah mendapat bantuan dari Mimus, Pol Che segera meminta bantuan pada Colote, si burung pelatuk. Ia adalah tukang kayu kepercayaan ayahnya. Pol Che menemui Colote diam-diam.

“Colote, aku butuh bantuanmu untuk merubah panggung konserku,” pinta Pol Che.

“Apa yang harus diubah, Nona? Aku telah membuat panggung itu dengan sempurna.”

“Ya, Colote. Panggung itu memang indah sekali. Tapi, ada kejutan yang ingin kubuat di konser nanti. Jadi aku ingin membuat sedikit perubahan.”

“Baiklah. Bagian mana yang harus diubah?” tanya Colote.

“Aku ingin kau membuat lubang kecil di dahan yang ada di tengah panggung. Lubang itu harus cukup untuk berdiam seekor burung kecil. Lalu, tutupilah permukaannya dengan bunga-bunga. Hiaslah sedemikian rupa supaya lubang itu tak tampak jelas. Aku ingin mengeluarkan kejutanku dari situ,” Pol Che menjelaskan panjang lebar.

“Hmmm, ya. Aku mengerti, Nona. Aku akan segera membuatnya.” Pol Che tersenyum senang. Ia sangat yakin jika rencananya bisa berjalan dengan lancar. Pol che membuat lubang itu untuk Mimus. Mimus akan bernyanyi di sana. Sehingga semua tamu akan berpikir jika Pol Che yang menyanyi.

Hari yang menegangkan itu pun tiba. Pol Che tampak cantik dengan gaun barunya. Gaun itu berwarna merah menyala. Ia juga mengenakan mahkota dari untaian bunga-bunga hutan. Penampilannya sangat menawan. Pol che sudah memastikan jika Colote telah membuat lubang di dahan dengan benar. Sebelum matahari meninggi, ia sudah menyuruh Mimus berdiam di sana.

“Mimus, nanti kalau kau mendengar ketukan kakiku di dekat lubang itu. Kau harus mulai menyanyi,” perintah Pol Che.

“Baik, Nona.”

“Kau sudah hafal melodi lagunya?” tanya Pol Che memastikan. Mimus mengangguk.

“Kau sudah hafal urutan lagu yang harus kunyanyikan?” Pol Che bertanya lagi. Mimus mengangguk untuk kedua kali. Pol Che tersenyum puas.

Saat Pol Che maju ke panggung dan hinggap di dahan yang dihiasi bunga-bunga anyelir, para tamu bertepuk tangan untuknya. Ia membungkuk memberikan hormat pada tamu-tamu ayahnya dan mulai membuka paruhnya. Kakinya mengetuk kayu di dekat lubang persembunyian Mimus. Lalu, keluarlah suara merdu yang membuat hadirin terpesona. Beberapa di antara tamu yang datang sampai meneteskan air mata karena tersentuh hatinya. Di setiap akhir lagu, mereka bertepuk tangan. Pol Che melakukan perannya dengan baik, bercuap-cuap seolah dia yang menyanyi dengan suara emas itu. Namun, ayah Pol Che justru tak tampak bangga. Dia hanya terdiam sampai konser Pol Che usai. Tepuk tangan meriah yang mengakhiri penampilan Pol Che juga tak membuatnya puas.

Rupanya, Tuan Kardinal mengetahui siasat putrinya. Pagi tadi ia bangun dan memeriksa panggung konser anaknya. Ia kemudian mendengar percakapan di antara Pol Che dan Mimus. Ia pun melihat saat Mimus merangkak masuk ke lubang kecil di dahan, tempat Pol Che hinggap saat ini.

Saat tepuk tangan masih bergemuruh, Tuan Kardinal terbang dan hinggap di samping anaknya. Pol Che merasa yakin jika ia telah membuat ayahnya senang. Setelah hadirin kembali tenang, Tuan Kardinal mulai bersuara.

“Hadirin yang terhormat. Aku meminta maaf atas tindakan anakku. Aku telah mempersiapkan konser yang megah ini untuknya. Tetapi, burung yang tadi bernyanyi bukanlah dia.”

Suasana menjadi gaduh. Para tamu dan Pol Che terkejut. Wajah Pol Che menjadi pucat pasi. Ia tak menyangka jika ayahnya sudah mengetahui siasatnya. Pol Che mengira Colote yang telah melapor kepada ayahnya.

“Burung kecil, keluarlah dari persembunyianmu!” perintah Tuan Kardinal. Mimus gemetar ketakutan.

“Tak apa. Kau tak perlu takut. Ayo, keluarlah,” perintah Tuan Kardinal lagi.

Mimus tak juga beranjak dari lubang sempit itu. Tuan Kardinal kemudian terbang menghampirinya dan menarik sayap Mimus pelan-pelan, agar keluar dari lubang. Dengan lembut, Tuan Kardinal membawa Mimus bertengger di sebelah Pol Che, di depan seluruh tamunya.

“Burung kecil inilah yang sedari tadi menyanyi dengan suara emasnya, bukan putriku,” Tuan Kardinal mengumumkan. Mimus terlihat malu-malu mendengar pujian Tuan Kardinal. Ia berpikir bahwa Tuan Kardinal akan marah kepadanya.

“Pol Che, ayah minta maaf padamu. Ayah telah memaksamu melakukan hal yang tak kau sukai. Ayah mendengar percakapanmu dengan burung kecil ini dini hari tadi. Kau mau memaafkan Ayah, Nak?”

Pol Che yang sedari tadi terdiam, mendekati ayahnya, “Maafkan aku juga, Ayah.” Ayah dan anak itu lalu berpelukan.

Sementara itu para tamu masih tak percaya. Burung kecil dengan penampilkan sederhana itu punya suara yang begitu indah.

“Sungguh kau yang menyanyi, Burung Kecil?” tanya seorang tamu.

“Ya, Tuan,” jawab Mimus.

“Kalau begitu, nyanyikanlah sebuah lagu lagi untuk kami,” pinta sang tamu.

“Dengan senang hati.” Mimus kemudian bernyanyi, menghibur para tamu. Ia menyanyi dengan sepenuh hati. Suaranya menggema ke penjuru hutan. Baru kali ini ia bisa menyanyi di depan banyak pendengar tanpa rasa was-was.

Sejak itu, keturunan Mimus dari keluarga Mockingbird mewarisi suara merdunya. Mereka juga mewarisi kemampuan Mimus menirukan berbagai macam kicauan burung lain. Sedangkan keturunan Pol Che, mewarisi penampilannya yang selalu cantik dan menawan. 

***

Alfonso selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus berasal dari....Mesiko," kata Alfonso.

Alfonso menutup buku dan buku di taruh di meja.

"Makan ah," kata Alfonso.

Alfonso yang lapar, ya beranjak dari duduknya di teras depan rumah ke ruang makan untuk makanlah.

(sumber cerita: Seri Cerita Rakyat Dunia: Cerita Rakyat Meksiko, Dian Sukma K, Andi Offset)

ASAL MULA AIR LAUT TERASA ASIN

Rosalinda duduk di teras depan rumahnya. Ada buku di meja, ya Rosalinda mengambil buku tersebut dan membacanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Rosalinda :

Pada zaman dahulu di daratan Norwegia, hiduplah dua orang saudara laki-laki bernama Josh dan John. Mereka sama-sama bekerja sebagai petani, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Josh hidup sebagai orang kaya raya, sedangkan John hidup sebagai orang miskin.

Suatu hari John ingin merayakan Natal dengan mengundang neneknya untuk makan malam bersama. Ia membuka lemari makannya, tetapi lemari itu kosong. John kemudian pergi ke lumbung, tetapi lumbung itu juga kosong, tidak ada sekerat daging bahkan remah-remah roti sekali pun. Ia benar-benar tidak memiliki makanan sama sekali!

John merasa sedih. Ia ingin membahagiakan neneknya tetapi ia tidak mempunyai apa pun untuk dimasak. John lalu teringat dengan saudaranya, Josh. Ia berencana untuk meminta makanan kepadanya.

Hari itu John pergi ke rumah Josh. Sesampai di rumah saudaranya, kedatangan John disambut oleh keterkejutan Josh.

"Selamat Pagi, Josh," sapa John.

"Selamat Pagi, John," jawab Josh dengan wajah tidak suka. Ia tahu bahwa saudaranya pasti datang untuk meminta bantuan, untuk kesekian kalinya!

"Josh, sebentar lagi perayaan Natal dan aku tidak memiliki apa pun untuk merayakannya. Bisakah aku meminta sebagian makananmu?" John lanjut berkata, "sebagai gantinya, aku akan mengerjakan apa yang kau perintahkan."

"Tunggu di sini sebentar," kata Josh, sambil masuk ke dalam rumah.

Tidak berapa lama kemudian ia keluar dan membawa suatu bungkusan. Ia menyerahkannya kepada John. "Ini sebungkus daging untukmu, jangan ganggu aku lagi! Pergilah ke Neraka, John!" pungkas Josh, kesal.

John terkejut mendengar perkataan Josh. Ia benar-benar tidak mengira kalau Josh memberinya perintah seperti itu. John mengambil bungkusan daging itu.

"Terima kasih, Josh. Aku akan menepati janjiku, mengerjakan apa yang kau pinta, meski itu adalah pergi ke Neraka." John lalu berpamitan dan pergi ke Neraka, tempat yang ia sendiri tidak tahu di mana pastinya.

John berjalan sepanjang hari, melewati jalan-jalan panjang yang sepi, mendaki gunung, menuruni lembah, melintasi sungai, hingga senja pun tiba. Di kejauhan, John melihat suatu tempat yang bercahaya cukup terang. Tempat apakah itu? Cahayanya terang sekali. Mungkinkah itu Neraka? John bertanya dalam hati. Ia lalu mempercepat langkahnya.

Setelah sampai di tempat bercahaya itu, John melihat seorang kakek sedang memotong kayu bakar di halaman sebuah rumah.

"Selamat sore, Kakek," sapa John.

"Selamat sore! Hendak ke mana kamu malam-malam seperti ini?" tanya si Kakek.

"Saya hendak pergi ke Neraka, tetapi saya tidak tahu jalannya, Kek."

"Kamu sudah ada di jalan yang benar, Nak! Ini adalah Neraka," kata si Kakek.

"Kamu lihat rumah itu? Rumah itu adalah Neraka," ujar Kakek itu, sambil menunjuk rumah di sampingnya.

John hanya terdiam

"Jika kamu masuk ke dalam rumah itu, akan ada banyak peri, jin, dan setan yang mendatangimu. Kamu tak perlu takut karena mereka tidak akan menyakitimu. Mereka hanya ingin membeli bungkusan daging yang kamu bawa. Saat ini daging sedang langka di Neraka," lanjut si Kakek, "tapi kamu harus ingat, jangan pernah menukar bungkusan dagingmu dengan apa pun yang mereka tawarkan, kecuali dengan penggilingan tangan yang digantung di balik pintu! Penggilingan itu mampu menggiling apa saja, bagus sekali. Aku akan mengajarimu cara menggunakannya."

John kemudian berjalan menuju rumah yang ditunjukkan si Kakek dan mengetuk pintunya. Pada ketukan ketiga, pintu rumah itu mendadak terbuka sendiri. John masuk ke dalam rumah dan tidak lama kemudian ia telah dikelilingi oleh berbagai macam peri, jin, dan setan! Mereka tidak menakut-nakuti John, tetapi mereka menawar bungkusan daging yang dibawanya.

"Manusia, 10 keping emas untuk daging yang kau bawa!" tawar salah satu peri.

"Jangan dengarkan mahluk miskin itu, Manusia! Aku beli daging itu seharga 100 keping emas," tawar peri yang lain.

"200 keping emas!"

"300 keping emas!"

Para mahluk itu berlomba memberikan penawaran tertinggi untuk daging yang dimiliki oleh John, sampai salah satu dari mereka, nampak seperti raja makhluk-makhluk ini, berkata, "Manusia, kami akan membeli daging yang kamu bawa itu berapa pun harganya!"

Makhluk-makhluk Neraka itu kemudian terdiam, menatap John tajam, menunggu jawabannya.

"Tuan-tuan, daging ini akan saya masak untuk merayakan Natal. Tetapi jika Anda sangat menginginkan daging ini, saya ingin menukarnya dengan penggilingan tangan yang tergantung di pintu itu," John berkata, sambil menunjuk sebuah penggilingan tangan yang tergantung di sebuah pintu.

Tiba-tiba makhluk-makhluk Neraka itu berteriak, memprotes permintaan John. Mereka merasa keberatan dengan permintaan John tersebut. Raja Neraka berusaha menenangkan makhluk-makhluk Neraka. Ia tampak berdebat dengan beberapa makhluk dan terlihat berhasil menenangkan mereka, meski wajah mereka menunjukkan ketidakpuasan.

"Manusia, meski kami adalah makhluk Neraka, kami tidak akan ingkar janji. Kami akan membeli daging yang kau miliki berapa pun harganya, bahkan jika kamu ingin kami membayarnya dengan penggilingan tangan kami yang sangat berharga itu," seru Raja Neraka.

Akhirnya John memberikan bungkusan daging miliknya kepada Raja Neraka dan menerima sebuah penggilingan tangan sebagai gantinya. Ia lalu keluar dari rumah itu dan belajar menggunakan penggilingan tangan tersebut kepada si Kakek.

John tidak membutuhkan waktu lama untuk mahir menggunakan penggilingan tangan itu. Ia kemudian berpamitan kepada si Kakek dan tidak lupa berterima kasih atas ilmu yang telah diajarkan kepadanya. John bergegas pulang. Ia ingin sampai di rumah sebelum pukul 12 malam, saat perayaan Natal berakhir.

John sampai di rumah beberapa saat setelah pukul 12 malam. Ia mendapati neneknya masih terjaga, menunggu kepulangannya. John segera menyiapkan meja makan untuk merayakan Natal. Ia menggelar taplak meja paling bagus, menyalakan lilin, lalu menata irisan tipis daging, jahe, dan remah-remah roti, hingga layak untuk sebuah jamuan meski jumlahnya sedikit.

Setelah semua siap, John menaruh penggilingan tangan yang baru dimilikinya di atas meja makan dan berkata, "Penggilinganku tercinta, mulailah bekerja, gilinglah semua makanan ini, jadikanlah semakin banyak!"   

Penggilingan itu mulai bekerja. Tanpa ada yang menggerakkan, ia menggiling irisan daging tipis dan keluarlah sepotong besar daging matang dengan bau yang menggoda selera. Ia kemudian menggiling remah-remah roti dan keluarlah roti-roti yang tebal, empuk, dan hangat. Ia juga menggiling jahe hingga mengalirlah minuman jahe beraroma harum dan segar.

Nenek John terperanjat melihat kejadian itu. Ia tampak tidak percaya saat melihat penggilingan tangan di atas meja menggiling dengan sendirinya, hingga tersaji daging yang enak, roti yang tebal, dan minuman jahe yang nikmat. Setelah tersadar dari kekagetannya, ia mengangkat kedua tangannya, mengucap syukur kepada Penciptanya.

Keesokan harinya John mengadakan pesta. Ia mengundang semua tetangga desanya dan menjamu mereka dengan roti, daging, dan minuman jahe hangat yang melimpah. John juga mempersilakan tetangganya untuk membawa pulang roti, daging, dan minuman jahe sebanyak-banyaknya. Dan, John tidak lupa mengundang saudaranya, Josh.

Josh memenuhi undangan John. Ia datang ke rumah John dan kaget melihat banyaknya makanan dan minuman yang disajikan dalam jamuan itu. Dari mana John mendapatkan semua makanan dan minuman ini? Bukankah kemarin ia masih miskin? Tapi sekarang ia hidup seperti orang kaya, bahkan seperti raja, membagikan makanan kepada banyak orang, Josh bertanya-tanya dalam hati.

Saat sedang berbicara berdua, Josh menanyakan asal makanan itu kepada John. John berusaha untuk mengacuhkan pertanyaan saudaranya itu. Ia berupaya untuk merahasiakan penggilingan ajaibnya, tetapi ia tidak tahan untuk tidak menceritakannya. John pun mulai bercerita tentang asal makanan yang ia miliki, termasuk penggilingan ajaib.

Josh kagum dengan penggilingan tangan milik John. Ia sangat ingin memiliki penggilingan tangan John. Ia berpikir bahwa penggilingan itu bisa menghasilkan banyak uang dan membuatnya semakin kaya. Ia pun merayu John agar mau menjual penggilingan tangan itu.

John semula menolak tawaran Josh, namun akhirnya hatinya luluh. Ia tidak menjual penggilingan tangan, tetapi mengizinkan Josh untuk menggunakan penggilingan itu sampai musim panen berikutnya. Akan tetapi, John juga meminta uang sewa sebanyak 300 keping emas. Josh menyetujui permintaan John. Ia kemudian mengambil penggilingan tangan dan bergegas membawanya pulang.

Keesokan harinya, Josh mencoba penggilingan ajaib itu di dapur. Ia memerintahkan penggilingan itu menggiling ikan Hering dan kaldu. Penggilingan itu bekerja dengan baik. Ia menghasilkan banyak sekali ikan Hering serta kaldu.

Josh mengumpulkan hasil penggilingan ke dalam beberapa mangkuk, tetapi tidak lama kemudian semua mangkuk telah penuh. Josh segera menyiapkan beberapa panci, namun panci-panci itu juga tidak mampu menampung ikan Hering dan kaldu yang dihasilkan oleh penggilingan. Josh mulai kewalahan. Lantai dapurnya mulai tergenang kaldu dan ikan Hering.

Josh berusaha menghentikan penggilingan itu. Ia memegangi penggilingan dan memerintahkannya untuk berhenti, tetapi penggilingan tetap bekerja. Josh panik. Ia berlari ke rumah John untuk meminta pertolongan.

"John, penggilinganmu menjadi gila! Ia tidak dapat dihentikan! Ambil kembali penggilingan itu John!" Josh berkata, sambil terengah-engah.

"Lho, bukankah cukup mudah untuk menghentikan kerja penggilingan itu?" tanya John. Ia memandang Josh dengan keheranan.

"Aku lupa soal itu! Sekarang yang terpenting, ambil kembali penggilingan gila itu! Aku kapok berurusan dengan alat itu, John! Sungguh sangat mengesalkan!"

"Baiklah, aku akan membantumu, Josh. Tetapi bagaimana dengan uang sewanya?" tanya John sebelum mereka beranjak pergi.

"Aku masih ingat janjiku, John! Aku akan membayarmu tetapi cepat kamu ambil penggilingan itu sebelum desa kita tenggelam oleh ikan Hering dan kaldu!" Josh berkata, setengah berteriak.

Kedua saudara itu segera pergi ke rumah Josh. Di dapur, di antara tumpukan ikan Hering dan genangan kaldu, John mencari penggilingan tangan miliknya. Setelah berusaha beberapa saat, John menemukan penggilingan itu, lalu memerintahkannya berhenti bekerja. Ia pun membawa penggilingan ajaib pulang.

Sejak kejadian di rumah Josh, John dan penggilingan ajaibnya mulai menjadi pembicaraan banyak orang. Cerita itu akhirnya didengar oleh seorang kapten kapal. Suatu hari kapten kapal itu mendatangi rumah John untuk melihat penggilingan ajaib. Saat melihat penggilingan itu, kapten kapal bertanya apakah penggilingan ajaib juga bisa menghasilkan garam.

"Garam? Asal kita berpikir hal itu bisa ia lakukan, penggilingan ini bisa menghasilkan apa pun," John berkata yakin.

Si kapten mulai membayangkan seandainya penggilingan ajaib itu menjadi miliknya. Aku akan punya banyak garam tanpa perlu bersusah payah berlayar menembus badai, pikir kapten kapal.

"John, maukah kamu menjual penggilingan itu kepadaku?" tanya Kapten Kapal.

"Menjualnya? Tidak, Kapten. Saya tidak menjual penggilingan ini!"

Meski John menolak, kapten kapal bersikeras untuk memiliki penggilingan ajaib itu. Ia terus membujuk John agar mau menjualnya. Dan, usahanya tidak sia-sia. John mau menjual penggilingan ajaib dengan harga ratusan ribu keping emas.

Akhirnya penggilingan ajaib menjadi milik kapten kapal. Ia membawa penggilingan itu berlayar ke tengah laut. Kemudian ia memerintahkan penggilingan itu untuk menghasilkan garam.

"Mulailah menggiling, menggilinglah dengan cepat, hasilkan garam yang bagus dan banyak!" perintah Kapten Kapal.

Penggilingan ajaib mulai bekerja. Ia terus menggiling dan menghasilkan garam. Kapten kapal tampak senang melihat hal itu. Namun, tidak lama kemudian, dek kapal mulai penuh dengan garam. Kapten kapal mulai khawatir, ia takut kapalnya tenggelam karena penggilingan itu tidak bisa berhenti menghasilkan garam.

Kapten kapal berusaha melakukan banyak hal untuk menghentikan penggilingan ajaib itu, tetapi semua usahanya sia-sia. Ia lalu menyadari kesalahannya. Ia lupa menanyakan cara menghentikan kerja penggilingan ajaib.

Beberapa saat kemudian, lambung kapal pecah karena tidak mampu menahan garam yang ada. Kapal itu perlahan tenggelam bersama seluruh isinya, termasuk penggilingan ajaib. Penggilingan ajaib itu terus bekerja meski berada di dasar lautan! Ia tetap menggiling dan menghasilkan garam tiada henti, bahkan sampai saat ini. Garam-garam itulah yang menyebabkan air laut terasa asin sampai sekarang.

***

Rosalinda selesai baca bukunya.

"Bagus cerita asal Norwegia," kata Rosalinda.

Rosalinda menutup buku dan menaruh buku di meja. Rosalinda beranjak dari duduknya di teras depan dan bergerak menuju pantai, ya ingin main air laut lah yang rasanya asin itu. Rosalinda senang bermain di pantai, ya bersama dengan teman-temanlah.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK