CAMPUR ADUK

Saturday, August 18, 2018

TRANSAKSI

Malam yang larut di tengah kota Malang. Dono keluar dari mesjid bersama Ibunya yang Linda. Dengan langkah kecil Ibu dan anak di muka bumi ini sampai ke rumah yang gubuk. Dono membuka pintu rumah dengan kunci. Seperti biasa Ibu memperhatikan selokan depan rumahnya dan berkata "Dono siapa yang buang sampah pelastik di selokan depan rumah." Dono mendengar suara Ibunya berceloteh mau masuk rumah gak jadi dan malah menghampirinya. Dono pun bicara kepada Ibunya "Biasa Ibu kalau gak orang lewat ya......tetangga kita yang tidak suka dengan kita dengan alasan satu malas membuang sampah pada tempatnya  dan ke dua sengaja menunjukkan dirinya..... rumahnya...bersih tetapi sampah di buang di selokan tetangganya jadinya sok suci.

"Ohhhh," saut Ibu.

"Ya..udah besok pagi Dono bersihin selokan yang penuh sampah," kata Dono.

"Jangan sampai lupa ya," saut Ibu.

"Beres," saut Dono.

Ibu Linda bergerak masuk ke dalam rumah. Dono ikut masuk rumah. Tapi Dono mundur lagi dan teringat dengan pekerjaan yang di tunda siang hari. Lalu Dono bergerak menuju samping rumah dan mengambil batang bambu yang ujungnya di ikatkan bendera merah putih. Dono membawa bambu ke depan rumah dan langsung  memasang bambu dekat pohon mangga. Bendera merah putih perkibar di tiup oleh angin malam. Dono seperti biasanya menunjukan penghargaannya pada sang saka merah putih sambil berkata "Hormat gerak." Dono langsung melakukan gerakan menghormat pada bendera merah putih.

Setelah melakukan penghormatan pada bendera merah putih Dono bergerak masuk ke dalam rumah  dan menaruh kitab Al Quran dan Hadist yang berada pada tas ranselnya dan di taruh di atas meja. Tiba-tiba motor berhenti di depan rumah. Dono ingin menutup pintu rumah.Terlihatnya si Kasino turun dari motor dan mendekati Dono.

"Asalamualaikum.......," kata Kasino dengan lantang.

"Walaikum salam wahai sahabat lama. Ada angin apa membawa mu  main ke rumah saya yang gubuk ini?" kata Dono.

"Biasa Dono...ngobrol," kata Kasino langsung duduk di kursi depan rumah.

"Oh.....ngobrol .....saya kira in..mau nawarin saya  kerjaan," kata Dono sambil duduk di sebelah Kasino.

"Jangan membicaraan kerjaan Dono saya lagi pusing," kata Kasino.

"Kenapa?" tanya Dono.

"Saya..nganggur......," kata Kasino.

"Wah..kalau kamu nganggur..saya bagaimana?..gak dapet kerjaan dong," kata Dono.

"Masih nyeleneh aja Dono..............kamu kan punya kerjaan  ngebon," kata Kasino.

"Iya..sih tapi..biasanya dapet kerja tambahan dari kamu. Lumayan bisa beli sepatu bola," kata Dono.

"Eeeeee........saya kirain uangnya untuk Ibu kamu. Ehhhhh..malah untuk hoby kamu yang main sepak bola," kata Dono.

"Namanya juga hoby," saut Dono.

Tiba-tiba Kasino memperhatikan bendera merah putih yang berkibar  dan  memperhatikan lingkungan sekitar dengan jelas sekali.

"Dono....kamu sudah masang bendera merah putih depan rumah kamu?," tanya Kasino.

"Iya. Kan sebenar lagi perayaan 17 Agustusan.... kemerdekan Indonesia," kata Dono.

"Itu sih saya..tahu.., tapi kenapa di lingkungan kamu belum masang ya?," kata Kasino.

"Ahhhh..itu sih ...berdasarkan kesadaran masing-masing orang di tiap rumah di lingkungan sini," kata Dono.

"Oiiiia juga. Pada hal saya belum masang bendera merah putih depan rumah," kata Kasino.

"Eeeeee.....sami mawon......," kata Dono.

Lalu tiba-tiba hpnya Kasino berbunyi di dalam saku celananya. Obrolan Dono dan Kasino terhenti begitu saja. Kasino sibuk dengan telpon telponannya. Dono jenuh melihat Kasino yang berbicara panjang lebar lewat Hpnya. Dono masuk ke dalam rumah dan mengambil tas ransel yang berisi Al Quran dan Hadist di atas meja. Dono pun bergerak menuju kamarnya.

Di dalam kamar Dono membuka tas ransel dan menaruh Al Quran dan Hadist di rak buku sedangkan tas ransel di taruh di atas meja belajar begitu saja. Kasino pun menyelesaikan pembicaraannya lewat Hpnya dan mulai berteriak dengan suara kecil memanggil nama Dono.

Sontak Dono pun mendengar panggilan Kasino, lalu bergeraklah Dono dari kamarnya menuju depan rumah.

"Ada apa Kasino?" tanya Dono.

"Ada kerjaan malam ini," kata Kasino.

"Kerjaan apa malam-malam begini?," tanya kembali Dono.

"Biasa..transaksi jual beli motor bekas..... lumayan Dono...rezeki malam ini," kata Kasino.

"Kalau transaksinya berhasil saya bisa beli sepatu bola," kata Dono.

"Ah..itu beres...yang penting ikut saya!" kata Kasino.

"Ok beres itu," saut Dono.

Kasino langsung bergerak menuju motornya sedangkan Dono menutup pintu rumahnya. Baru Dono duduk di jok motor bersama Kasino. Dengan perasaan senang Kasino membawa motornya ke rumah orang yang mau membeli motor bekas. Selang berapa saat sampai di tujuan Dono dan Kasino. Terlihat orang yang mau bertransaksi dengan Dono dan Kasino di depan rumahnya. Mulailah pembicaraan yang cukup alot sama pembeli motor bekas. Karena Kasino kawakan dengan urusan jual beli barang bekas akhirnya transaksi berhasil dengan gemilanng dengan pembayaran di muka oleh si pembeli. Kasino langsung menyerahkan motornya ke si pembeli. Dono pun terkejut sekali dengan ulah Kasino yang menyerahkan motornya.

Kasino masih sibuk menghitung uang dari transaksi jual beli. Lalu Dono mendekati Kasino.

"Kasino..jadi motor kamu di jual?" tanya Dono.

"Iya.... Kenapa?" kata Kasino.

"Saya kirain..motor bekas di dari link kamu," tanya Dono kembali.

"Memang ia saya tawarin motor bekas link saya. Ya..itu yang saya pakai dan saya jual," kata Kasino.

"Jadi...tuh..motor barang jualan kamu?" tanya Dono.

"Ya....iya..lah Dono....itu motor barang jualan saya. Kaya gak tahu saya. Nih uang untuk kamu beli sepatu sepak bola," kata Kasino.

"Alhamdulilah..........Kasino...rezeki saya malam ini....... Saya jadi beli sepatu sepak bola yang baru," kata Dono.

"Ayo..kita pulang!" ajakan Kasino.

"Ayo," saut Dono.

Kasino dan Dono pun pergi meninggalkan rumah si pembeli motor bekas dengan berjalan kaki di malam yang larut sampai menemukan tukang ojek di pinggiran gang. 

MENYAKINKAN HATI

Pagi hari yang cerah sekali terlihat dari balik kaca di sebuah pesawat menuju kota Batam. Doni dengan santai bersabar di dalam pesawat sampai mendarat di bandara. Waktu yang di tunggu pun datang juga. Pesawat sampai di bandara kota Batam. Doni pun turun dari pesawat bersama penumpang yang lain tapi tidak lupa membawa tas ransel yang di taruh di atas kabin pesawat. 

Doni melihat dengan mata terbuka bandara kota Batam yang luas sekali dan banyak pesawat yang parkir di dalam bandara. Doni dengan lugunya menghidupkan Hpnya dan memfoto semua pesawat terbang dengan sedikit narsis. Doni terus keluar dari bandara menunggu jemputan datang. Tetap saja banyak orang yang mencari makan menawarkan taksinya ke Doni. Dengan santai dan lembut menolak tawaran taksi di bandara. 

Cukup lama menunggu Doni di bandara. Seorang teman memanggil Doni dengan lantang "Doni....." Sontak Doni menghampiri sahabat yang tidak lama jumpa yang bernama Irwan. Doni pun meninggalkan bandara dengan motor metik yang di bawa Irwan. Dengan senangnya Doni melihat kota Batam. Sedangkan Irwan dengan hati-hati membawa motornya sampai ke sebuah perumahan di Batu Aji. Perjalan cukup jauh sekali sampai bokong Doni panas di jok motor metik. 

Sabarnya Doni berbuah manis sekali. Sampailah di sebuah kontrakan di area perumahan kawasan Batu Aji. Irwan langsung memasukkan motor ke dalam rumah. Doni melihat kontrakan dengan penuh penasaran sambil mondar-mandir.

"Jadi ini kontrakan kita?," tanya Doni.

"Yoi. Ayo masuk ke dalam Doni," kata Irwan.

Doni langsung masuk ke dalam kontrakan dan langsung beristirahat di kamar. Sedangkan Irwan langsung membuat kopi yang enak. Selang beberapa saat di sajikan di lantai oleh Irwan. Doni pun duduk bersama Irwan lesehan di lantai yang tidak bertikar.

"Doni...maklum di kontrakan saya. Karena saya di sini cari peruntungan sama dengan kamu," kata Irwan sambil ngopi.

"Iya saya tahu. Saya ke sini coba-coba sapa tahu berhasilkan di kota yang lagi proses pertumbuhan ekonominya," kata Doni.

"Bener..itu Doni..hidup penuh dengan optimis seperti saya awalnya dateng ke kota ini. Tapi lama-lama juga bosen Doni. Alasannya banyak orang bilang kota Batam menjanjikan untuk berhasil seperti kota Jakarta. Tapi kenyataannya persaingan sangat ketat sekali di kota ini. Yang pintar berhasil sama merantau ke kota Jakarta. Dan juga di sini banyak orang yang kecewa dengan kota Jakarta ya larinya ke kota Batam demi mencari hidup agar sukses menjadi orang kaya," kata Irwan bercerita.

"Tapi ngomong-ngomong orang dateng di kota Batam benar gak jadi sukses?," tanya Doni mengutip dari ocehan Irwan yang belum nyambung.

"Banyak yang sukses dan banyak juga yang gagal," kata Irwan penjelasan sekian kalinya.

"Bener-bener agak susah mengalahkan kota ini," kata Doni.

"Susah mengalahkan kota ini agar menjadi orang sukses dan kaya. Banyak orang bilang sih awalnya mereka berhasil di kota Batam bisa beli rumah di perumahan di daerah ini karena banyak perusahan lagi membutuhkan karyawan. Itu karena masih kebijakan Presiden SBY. Kalau sekarang di zaman kebijakan Jokowi. Ah..boro-boro kerja di perusahaan malah jadi pedagang," kata Irwan.

"Sekarang kerja kamu apa Irwan?," tanya Doni.

"Buruh pabrik. Pahit....banget. Tapi demi hidup di jalanin di kota Batam yang penuh dengan harapan. Oh iya berkas lamaran kamu nanti saya masukin ke perusahan saya. Ya siapa tahu langsung kerja? Jauh -jauh nganggur kan gak enak di lihatnya," kata Irwan.

"Iya..saya sudah siapkan berkas lamaran kerjanya," kata Doni.

Irwan menghabiskan kopinya dan segera menaruhnya gelasnya di dapur. Doni pun menyelesaikan minum kopinya dan gelasnya di taruh di dapur langsung di cuci. Irwan berganti pakaian  dan pergi untuk kerja, tapi tidak lupa membawa berkas lamaran Doni. Dengan terburu-buru Irwan membawa motor metiknya ke tempat kerjanya. 

Doni pun dengan santai dan bersabar di daerah yang baru. Doni terus berintraksi dengan tetangga kanan dan kiri setiap harinya saat Irwan lagi bekerja sebagai buruh pabrik galangan. Hampir 2 minggu Doni ngangur. Berkas lamaran yang di ajukan Irwan di perusahaannya tidak kunjung ada kabarnya. Doni sedikit resah dengan keadaannya. Karena itu Doni terus bergaul dengan warga sekitar sampai akrab banget. Irwan pun membiarkan Doni seperti itu setiap hari untuk menghilangkan kejenuhannya. 

Sampai suatu ketika Doni mendapatkan kerjaan hanya sebagai kuli membuat pager rumah. Doni sangat beruntung sekali usahanya setiap hari berintraksi membuahkan hasil yaitu pekerjaan. Walau Doni tahu hasilnya tidak banyak tapi cukuplah. Hampir sebulan lebih Doni tekun kerja kerasnya sebagai kuli bangunan. Sang pemilik kontrakan pun menagih uang kontrakan. Saat itu Irwan lagi mengalami kesulitan keuangan habis mengirim uang untuk orang tuanya yang sakit di kota Yogyakarta. Doni pun tidak mau dianggap numpang enak di kontrakannya Irwan. Dengan usahanya menjadi kuli bangunan yang tidak seberapa membayar uang kontrakan.

Terkadang Doni pun membeli beras sekarung untuk persedian selama sebulan. Irwan sangat senang dengan kerja keras Doni yang ulet dan gesit. Terkadang Doni sering telpon-telponan dengan orang yang di cintainya  setiap malam yang mencari peruntungan di kota Jakarta yang bernama Aulia. Irwan pun sering menemani Doni saat telpon-telponan dengan asik minum kopi dan menikmati malam yang bertabur bintang di depan teras rumah.

Kegiatan itu terus berlangsung sampai suatu ketika Doni mengambil sikap yang sedikit berbeda dan Irwan pun tidak tahu. Doni mengirimkan berkas lamarannya sendiri ke sebuah perusahan. Dengan sabar Doni menunggu jawaban dari berkas lamarannya. Tapi waktu menunjukkan kebenarannya. Rezeki Doni pun tidak ada nyantol kerja di perusahan. 

Doni terus saja usahannya lagi. Pekerjaan sebagai kuli bangunan pun selesai juga Doni mulai mengangur lagi. Mulai Doni agak bingung lagi. Tapi dengan banyaknya masukkan orang-orang di lingkungan sekitar termasuk temannya Irwan Doni mulai berjualan. Dengan perhitungan yang cukup sepekulasi yang tinggi Doni membuka usahanya di depan rumah kontrakan. 

Awalnya sehari penuh tidak ada yang membeli dagangannya Doni yaitu jualan kelontongan. Tetap Doni bersabar dengan usahanya. Keesokan harinya mulai satu persatu tetangganya membeli barang dagang Doni. Dengan penuh rasa syukur Doni selalu mengucap "Alhamdulilahhirobil alamin." Doni terus optimis dengan usahanya. Walau banyak informasi yang di dapetkannya setiap hari tentang pertumbuhan ekonomi de zaman kebijakan Jokowi tidak menjanjikan. Doni terus berpikir objektif. Maka itu Irwan senang dengan pembawaan Doni.

Namanya juga rezeki gak kemana. Doni akhirnya berkas lamarannya di terima pada hal sudah menunggu hampir setengah tahun di kota Batam. Doni pun bekerja di perusahan yang akan meningkatkan taraf ekonominya. Usaha dagangnya pun di tutup sementara waktu. Setiap pagi Doni ke kantor dengan pakaian rapih. Irwan senang dengan kegigihan Doni yang pantang menyerah mencari rezeki di kota Batam.

Doni terus bekerja yang rajin di perusahan yang cukup ternama. Sampai pada akhirnya Doni bisa mengambil rumah. Irwan senang dengan keberhasilan temannya. Doni dan Irwan tidak ngontrak lagi. Kehidupan mereka berdua naik level. Doni terus bekerja dan sambil belajar menganalisa kerjaannya. Waktu terus berjalan semestinya. Irwan perlahan-lahan pun berhasil juga. Doni pun senang dengan keberhasilan Irwan. Tapi yang namanya hidup tidak bisa di ramalkan arah tujuannya. Doni mengalami kecewaan yang mendalam dirinya. Orang yang di cintainya ternyata tidak kuat menjalani hubugan jarak jauh. Aulia menikah di Jakarta dengan orang bernama Nazar. Berdasarkan pengakuan Aulia bahwa dia telah berbadan dua sebelum akad nikah. Doni pun tidak habis pikir dengan lingkungan di daerah Jakarta. 

Terkadang Irwan pun banyak memberikan banyak masukan kepada Doni mengenai kerasnya hidup di kota Jakarta dan pergaulannya. Doni akhirnya mengerti dan mengikhlaskan orang yang di cintainya di miliki orang lain. Doni terus berjuang di kota Batam bersama Irwan. Sampai suatu ketika Doni mendapatkan pengganti Aulia yaitu seorang gadis cantik  bernama Tina keturunan orang cina yang baik budi pekertinya.

Doni menjalankan hubungan percintaannya dengan Tina dengan baik. Sampai waktunya Doni memberanikan diri melamar Tina untuk menikah. Sedangkan Tina awalnya agak sedikit bingung karena statusnya keturunan cinanya. Tapi namanya cinta Doni meyakinkan hatinya Tina untuk menjalankan hidup bersama dengan penuh kebaikkan. Irwan sebagai temannya Doni selalu mendukung dari belakang begitu juga dengan ke dua orang tua Doni. 

KEBERSAMAAN

Siang hari yang cerah sekali. Lina turun dari kereta api yang membawanya ke sebuah kota besar di Jakarta. Dengan langkah pasti Lina berjalan menuju keluar stasiun mencari orang yang akan menjemputnya. Sedangkan Lisa baru dateng ke stasiun. Lisa pun bingung mencari sepupunya mondar-mandir di dalam stasiun kereta api. Ternyata Lina lagi duduk santai di luar stasiun kereta api. Lisa akhirnya berhasil melihat Lina yang termenung duduk di atas kopernya. Dengan cepat Lisa mendatengin Lina sambil berteriak "Hey Lina."

Lina pun mendengar panggilan Lisa langsung beranjak dari duduknya dan berkata " Lisa." Lalu Lisa memeluk Lina dengan penuh bahagia. Setelah itu Lisa melepaskan pelukan kasih sayangnya dan berkata "Maaf telat menjemputnya karena ada sedikit masalah." Lina pun mengerti dengan omongan Lisa yang meminta maaf kepadanya. Lina memaafkan Lisa dengan  berkata "Iya saya maafkan."

"Terima kasih Lina," saut Lisa.

Lisa dan Lina berjalan keluar dari stasiun kereta api dengan berjalan  menuju sebuah mobil yang di parkir cukup jauh. Saat di parkiran untuk mengambil mobil Lisa dan Lina melihat seorang tukang parkir yang tidak sempurna alias cacat. Dengan tanggapnya Bapak tua  yang tidak punya kaki mengarahkan mobil dan motor keluar dari parkiran. Lina yang baru dateng ke kota Jakarta, perasaannya terenyuh sekali melihat Bapak tukang parkir. Tapi sebaliknya Bapak tukang parkir tidak merasa dirinya cacat yaitu sempurna. 

Bapak tua yang cacat dengan kuat menghadapi ujian di dalam menjalan hidup di dunia penuh ke pahitan. Lina pun mendatengin Bapak tukang parkir. Lalu mengeluarkan uang dari dompetnya. Tanpa melihat warna dari uang Lina memberikan uang kepada Bapak tua tukang parkir. 

"Ini uang untuk Bapak, " kata Lina.

Sedangkan Lisa sudah di dalam mobil dan tahu kebiasaan sepupunya yang ringan tangan. 
Bapak tua tukang parkir terkejut sekali di datengin Lina dan di beri uang.

"Uang..apa ini nak?" tanya Bapak tua tukang parkir.

"Uang ini sedikit rezeki saya untuk Bapak," kata Lina.

"Terima kasih dengan kebaikkan anak," kata Bapak tua tukang parkir.

"Iya..sama-sama," saut Lina. 

Setelah berbuat kebaikan Lina langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Lisa.
"Oh Lisa ..koper saya sudah di masukin ke dalam mobil?" tanya Lina.

"Itu mah beres sudah di taruh di belakang," jawab Lisa.

"Kalau begitu kita berangkat!" peritah Lina.

"Beres..bos," saut Lisa.

Mobil pun di bawa Lisa keluar dari parkiran dan di arahkan oleh Bapak tua. Melajulah Lisa membawa mobilnya dengan baik di jalan raya. Selang berapa saat sampailah di rumah Lisa. Mobil langsung di parkir di halaman rumah oleh Lisa dengan baik. Lisa dan Lina keluar dari mobil.

"Akhirnya sampe juga," kata Lina.

Lisa mengeluarkan koper dari dalam mobil dan di berikan ke Lina.

"Sudah berapa lama ya kamu tidak main ke sini?" tanya Lisa.

"Ya.....sudah cukup..lama. Pada saat itu saya masih SMP dan sekarang saya baru lulus sarjana jurusan pisikologi," kata Lina.

"Cukup..lama juga ya. Tapi ada yang kangenin kamu loh. Setiap saat nanya in loe," kata Lisa.

"Siapa?" tanya Lina.

"Ayah dan Ibu," kata Lisa.

"Paman dan Bibi. Saya kirain ada yang lain," kata Lina.

"Apa gak salah denger saya? kaya orang kebel kawin," kata Lisa.

"Ya....gak gitu. Cuma aja nama juga cewek kan. Cepet kawin lebih baik biar ada yang melindungi dan membibing," kata Lina.

"Oh..maksudnya itu toh. Saya kira in....alasan cewek jaman sekarang berani bertindak duluan karena takut gak laku alias perawan tua. Ya sudah lah kita masuk ke dalam rumah," kata Lisa.

"Ayo," saut Lina.

Lisa dan Lina masuk ke dalam rumah. Lalu Lisa memberikan kamar yang biasa di tempatin oleh Lina. Terlihat kamar yang bersih dan rapih sekali Lina pun menyukai sekali. Lina pun mulai istirahat di dalam kamar. Sedang Lisa ke dapur untuk membuat makan malam. Ketika waktunya Lina keluar dari kamar dengan penampilan yang cantik dan rapih. Lisa sudah menyajikan makan di meja makan. Baru duduk di kursi Lina. Orang tua Lisa pun baru pulang dari bekerja. Lina langsung menghampiri Paman dan Bibinya bersalaman kepada ke duanya.

Paman dan Bibinya senang dengan Lina yang datang berkunjung ke rumah mereka. Lina kembali ke ruang makan sedangkan Paman dan Bibi berganti pakaian di kamar mereka. Selang berapa lama mereka menunggu di meja makan Lina bersama Lisa barulah Paman dan Bibinya duduk satu meja makan. Dengan cerianya mereka berempat menyantap makan malam buatan Lisa sampai perut kenyang. Setelah itu Lina membantu Lisa membersihkan setelah makan malam di dapur. Sedangkan Paman dan Bibi Lina duduk di ruang tamu sambil menonton acara ke sukaan mereka.

Setelah selesai urusan bersih-bersih di dapur. Malam masih panjang Lisa mengajak Lina untuk keluar malam dengan izin orang tuanya. Dengan menggunakan motor metik kesayangan Lisa di bawalah Lina berjalan-jalan  di kota besar menikmati angin malam. Sampailah di sebuah mal Lisa membawa Lina tapi tidak lupa memarkirkan motornya di tempat parkir yang di sediakan oleh mal. Lisa mengajak kebiasaan Lisa ke Lina belanja dan bermain. Keduanya sangat bahagia sekali di dalam mal. Tiba-tiba Lina tidak sengaja di tabrak oleh seorang pemuda yang ganteng  dan hampir jatuh. Tetapi pemuda ganteng langsung menyambut dengan pelukkan yang mersa seperti tarian tenggo. Terjadilah moment yang paling romantis. Pandangan dua anak muda di antara banyak orang. 

Lisa pun melihat kemersaan ke Lina dan pemuda yang ganteng saling pandangan mata dan berkata "Hayo...........mulaikan.....jatuh cinta." Lina mendengar omongan Lisa terkejut begitu juga dengan pemuda yang ganteng. Langsung ke duanya kembali posisi yang rapih dan pura-pura bersih-bersih. Lina langsung ke sebelah Lisa dan berkata "Omong apa kamu?" Lisa pun menjawab "Cuma celetukan." Pemuda yang ganteng pun sedikit salah tingkah alias kikuk dan berkata "Maaf saya telah menabrak kamu."

Lina pun menjawab "Tidak apa-apa!"

Lisa pun memperhatikan dengan seksama wajah pemuda ganteng. Ternyata Lisa mengenalnya dan berkata "Mas Joni kan."

"Lisa..kan," saut Joni.

"Wah..kebetulan banget ke temu di mal. Lagi pacaran ya," kata Lisa yang nyablak.

"Ah..bisa aja .....Lisa. Mamas lagi kosong kok gak ada pacar," kata Joni.

"Loe bukan kemarin masih jalan denga Mira kan?" tanya Lisa.

"Sudah putus sama Mira. Mamas di putusin. Karena Mira Ketahuan selingkuh. Tapi Mira ngeles. Bukan saya yang putusin Mira eh malah Mamas di putusin," kata Joni.

"Ah..itu sih biasa teknik itu. Agar tidak sakit hati aja. Kalau di putusin sakitnya bukan main alasan yang di putusin banyak salahnya. Kalau kita yang memutusin duluan bicara menunjukkan benar banyak. Pada hal ya gak juga," kata Lisa yang ribet.

"Maksudnya?" tanya Joni.

"Gengsi...," saut Lina.

"Iya..gengsi.....gak ketulungan kayak cewek senengnya di tembak cowok duluan karena alasan malu. Tapi kalau di pikirin malu gak dapet jodoh. Cowoknya lebih banyak cuwek banget kaya bebek gak ngerti perasaan cewek kalau ceweknya yang bener. Ceweknya kebelinger sih ya..selingkuh juga. Kaya Mira gak tahu malu. Satu belum selesai cari gebetan yang lain. Sok kecantikan banget.....alasan masih muda dan laku lagi," kata Lisa.

"Ya..udah..gak usah bicara itu panjang lebar. Lebih baik Mamas ajak nonton film bioskop dengan judul filmnya Wiro Sambleng. Mau gak?" kata Joni.

"Wiro Sableng. Kenapa film laga sih? kaya gak ada film yang romantis," kata Lisa.

"Maksudnya Malaikat Cinta," kata Lina.

"Lina...itu sih sinetron Malaikat Cinta. Yang saya mau Siapa Takut Jatuh Cinta the Movie," kata Lisa mulai nyeleneh.

"Buat sendiri....," saut Lina dan Joni.

"Gitu aja senewen. Ayo nonton Wiro Sableng biar penontonnya  jadi sableng kaya tokoh utamanya," kata Lisa.

"Gitu dong..bukan dari tadi banyak cerita," kata Joni.

Joni membawa Lisa dan Lina nonton film bersama di dalam mal. Kecerian ke tiganya terlihat sekali. Joni pun dapet menghilangkan rasa sakit hatinya di putusin oleh Mira. Lisa dan Lina senang di traktir oleh Joni. Akhirnya waktu juga yang memisahkan Joni dari Lisa dan Lina. Joni pulang dari mal dengan mobilnya dan Lisa dan Lina dengan motor metik. Sampai di rumah Lina dan Lisa tidur bersama di kamar. Keduanya sangat keletihan sekali dan tidurnya nyeyak sekali.

DISKUSI

Sebuah kafe Bul dan Cul di debukin oleh kelompok Yaman. Mendengar informasi karena anak buahnya di hajar, bos Akng segera datang ke kafe bersama Lina dan Yuli. Selang berapa saat sampailah mereka di kafe. Bos Akng menghampiri anak buahnya yang di gebukin kelompok Yaman. 

“Sebenarnya ada masalah apa?,” tanya Akng.

“Sebenarnya di kafe kemarin yang menghajar adalah Lina,” kata Bul.

“Yang bener?,” tanya kembali Akng.

 “Jadi.......,” sahut Cul.

“Kalau begitu.......,” kata Akng yang bingung.

Segera Akng menghampiri teman kerjanya tersebut.

“Gini bos saya minta maaf atas kejadian kemarin,” kata Akng.

“Maaf sih gampang, tapi masalahnya wanita tersebut?,” tanya bos Yaman.

“Saya sih, bos Yaman bisa memaafkan mereka. Kalau enggak sih,” kata Akng kikuk.

“Maksudnya lebih di perjelas Akng?,” tanya bos Yaman.

“Ya....gimana....ya kalau macem-macem sih saya juga bisa bertindak,” ujar Akng.

“Jadi.........mau melindungi mereka atau menantang kami,” sahut bos Yaman.

“Jika kalian macem-macem saya hajar dengan tinju ku ini,” kata Akng yang sok.

“Oh jadi begitu, kalau begitu saya ladengin. Sudah lama tidak menghajar orang,” kata Akng.
Sang bos Yaman beranjak dari duduknya. Membuka baju jasnya dan di serahkan anak buahnya. Bos Yaman menggulung lengan bajunya dan siap untuk bertarungan dengan Akng.

“Kalian semua jangan ikut campur,” perintah bos Yaman.

“Baik bos,” jawab semua anak buahnya.

“Ok lah begitu saya akan menumbangkan dia,” kata Akng yang sok jago.

Akng mendekati Yaman untuk menghajarnya dengan tinju tangan kanannya. Sontak dengan cepat meninju Akng tepat di wajahnya sampai terpental.

“Sial......sekali,” ujar Akng.

Akng maju kembali menunjukkan  kebolehannya kembali di jajar oleh Yaman dengan tinju tangan kanannya ke muka Akng. Terpental Akng sampai terjatuh dan bangun duduk lalu berdiri lagi.

“Sial banget,” kata Akng.

Maju Akng menyerang Yaman dengan tinju tangan kananya. Kelmudian Lina melempar sebuah kacang yang di ambil dari meja menyerang mata Yaman. Sekejam Yaman kelilipan. Tinju Akng yang di lancarkan mengenai Yaman tepat di mukanya sampai terpental dan di tangkap oleh anak buahnya.

“Dasar sialan,” kata Yaman.

“Wah hebat juga tinju ku. Jadi kalian masih berani melawan ku,” kata Akng sok hebat.

Semua anak bauh bos Yaman menyerang Akng. Dengan gagah beraninya Akng menghajar anak buah bos Yaman satu persatu. Tetap saja Akng kalah jumlah. Akibatnya babak belur di hajar anak buah bos Yaman. Lina membantu Akng dalam kesulitan tersebut. dengan menghajar  dengan tendangan ke arah muka mereka semua di tambah serangan cepat di tinju bagian tenggorokan mereka semua. Lina terus menyerang sampai semua anak buah bos Yaman tumbang semuanya. Pertarungan pun selesai Lina  bersama yang lainnya meninggalkan kafe. 

Akng mengajak mereka semua ke sebuah kedai minuman di pinggir jalan. Mereka semua duduk dan memesan makanan dan minuman kepada pemilik kedai minuman.

“Jadi kalian semua ini  sok hebat semuanya,” kata Yuli meledek.

“Gimana....ya.....,” Ujar Akng.

“Emmmmm,” gumemnya Cul.

“Eeeeeeeee,” gerutunya Bul.

“Ya udah kalau gitu kita makan dulu,” kata Lina.

“Jadi kalian bertiga jangan macema-macem,” kata Yuli mengancam.

“Di pikir-pikir makin lama makin ngelujak,” kata Bos Akng.

“Eeeeeeee,” gumem Yuli.

Yuli segera mengambil makan dan minumnya menghndari omongan dari bos Akng. Sedangkan yang lainnya asik menikmati makan malamnya yang lezat sesuai selera masing-masing..

PERTOLONGAN

Berdiri di atas puncak gunung, bagi sebagian orang adalah suatu kebanggaan tersendiri, apalagi jika kita disuguhkan oleh pemandangan yang memanjakan mata. Begitupun yang dirasakan oleh Saya dan Dendi teman Saya. Kami berhasil mencicipi nikmatnya ciptaan Yang Maha Kuasa dari ketinggian 3000 Meter di atas permukaan luas dengan berbagai rintangan sebelumnya.

Sebelumnya perkenalkan, Nama Saya Toni Cuper, orang bilang Saya ini seorang pendaki gunung, namun Saya lebih suka menyebut diri Saya sendiri sebagai seseorang yang ingin bertafakur, dengan menggunakan gunung sebagai objeknya. Hari ini, 2 Juli 2017, Saya melakukan pendakian bersama teman Saya, Domba. Kami berhasil sampai dataran tertinggi Kabupaten Garut.

Namun seperti yang kita tahu bahwa, siapa pun yang berada di atas, suatu saat akan kembali ke bawah. Saya dan Domba menyetujui hal ini. Setelah puas menikmati puncak, kami harus bergegas turun untuk menjumpai keluarga yang sebenarnya di bawah.

Saat itu, indahnya puncak tak seindah perjalan pulang. Kami harus bergaul dengan lelah, kerja otak yang terus berputar memikirkan kemana arah jalan pulang. Tak seperti biasanya jalan yang kami lalui saat naik, menjadi sebuah semak, tak ada jalan, tak ada tanda-tanda arah menuju perkampungan.

Saya bertanya pada Dendi,"mana jalan, di? kemarin bener kan lewat sini?" namun pertanyaan Saya, hanya sebuah pertanyaan semata. Tak ada jawaban dari Domba, dan ketika Saya menengok, memang benar Domba tidak bersama Saya, untuk turun.

Cemas, panik, bingung, takut dan berbagai perasaan negatif lainnya mulai berdatangan. Apa yang harus Saya lakukan untuk memastikan hidup Saya benar-benar aman. Saya coba berjalan menerobos rumput liar yang kering. Hingga akhirnya Saya sampai pada sebuah tanah datar yang cukup luas, Saya beristirahat sejenak dan menenangkan fikiran. Setelah cukup aman menurut Saya, lalu Saya bergegas menyusuri jalan setapak yang entah akan membawaku kemana. Namun Saya bergegas menyusuri jalan setapak yang entah akan membawa Saya kemana. Namun Saya tak yakin dengan itu, Saya hanya mengikuti apa kata hati berbicara. Benar dugaan Saya, sekian lama Saya berjalan, tempat istirahat Saya tadi sudah Saya lewati berulang kali. Saya baru menyadari setelah tiga kali melewatinya.

Perasaan cemas hinggap kembali pada Saya. Namun satu hal yang Saya sadari, Tuhan Saya masih bersama Saya, dia bisa menolong Saya begitu mudahnya. Dengan hasil pendidikan Saya selam menjadi anggota Pecinta Alam, dalam situasi seperti ini yang harus Saya lakukan adalah tetap tenang, dan hindari panik, kuatkan diri berpegang kepada sang pencipta, mungkin itu bisa meringankan beban Saya.

Saya berbaring sambil memejamkan mata Saya, dan berdoa kepada Tuhan agar Saya bisa keluar dari semua ini. Saat Saya tengah tertidur, ada suara seolah mencoba membangunkan Saya.

"Ton, bangun Toniiiiiiii." itu yang Saya dengar dalam keadaan sedikit sadar. Saya terbangun dan orang pertama yang Saya lihat adalah Domba. Dengan sedikit bingung, Saya duduk dan memastikan bahwa Saya berada di alam yang benar-benar nyata. Setelah Domba menceritakan bahwa Saya tertidur dari tadi, Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa semua kejadian itu hanyalah mimpi yang hinggap saat Saya lelah menuruni gunung.

Terima kasih Tuhan, Saya  di berikan pelajaran yang begitu bermakna bagi Saya.

KEMBALI KE MASANYA

Kalian mengetahui masa SMA? Itu adalah masa-masa asik buat saya karena di masa itu saya mengenal teman, sahabat, pacar jika ada. Saya akan berbagi kisah masa SMA Saya, dimana Saya merasa ingin sekali mengulang masa SMA tapi Saya tidak mau karena kalau Saya mengulang masa SMA Saya bisa kena usir dari rumah. 

Saya waktu itu ingin masuk SMA negeri tetapi karena jalur undangan saya tidak bisa, tes tidak diterima, jalur belakang di tutup agar orang nggak bisa lewat. Jadi saya masuk SMA swasta, di SMA tersebut pas kelas X dan XI saya biasa-biasa saja bahkan Saya seperti tidak dianggap ada dan pada saat kelas XII Saya mulai di kenal karena Saya mencoba menjadi pacar anak kepala sekolah yang bersekolah di SMA ini juga.

Akhirnya Saya dengan berani menembak dia dengan kata-kata romantis "Maukah kau menjadi pacarku wahai bidadariku" dengan gaya jongkok dan di depan banyak orang saya menembaknya dan dia pun membahas dengan malu-malu" ihhhhhh kamu siapa? kamu sekolah di sini? kok mukanya kayak OM OM gitu?" dengan ekspresi ketakutan lalu dengan cepat dia mundur 3 langkah dan kabur.

Besoknya anak kepala sekolah itu tidak masuk karena kena deman tinggi dan saya di panggil oleh kepala sekolah karena membuat anaknya sakit, saya heran kok anaknya sakit gara-gara Saya jadi Saya bertanya kepada Bapak kepala sekolah "Pak, kok anaknya sakit Bapak malah nyalahin Saya?" lalu kepala sekolah "Pak, kok anaknya sakit Bapak malah nyalahin Saya?" lalu kepala sekolah itu menjawab" anak Saya itu kalo ke temu orang asing mirip Om Om dan tiba-tiba mendekati dia, besoknya dia bisa kena demam  tinggi karena ketakutan mengingat wajah orang asing tersebut" mendengar omongan kepala sekolah itu Saya merasa bahwa jika Saya pergi ke sekolah Saya harus pake topeng agar orang tidak ketahuan melihat wajah saya.

Waktu itu setelah selesai melaksanakan ulangan semester sekolah Saya melakukan kegiatan class meeting dan di saat class meeting banyak sekali siswa dan siswi yang melakukan kegiatannya masing-masing, mulai dari bernyayi di kelas, main catur, maen kartu, maen PS niat bener bawa TV sama PS dari rumah ke sekolah, bahkan ada yang nyopet. Saya hanya duduk sambil melihat kegiatan pertadingan class meeting sambil menunggu giliran saya ikut lomba, lomba yang saya ikut tersebut cukup bergengsi di sekolah karena banyak yang nonton dan giliran tim Saya yang tampil banyak orang yang kecewa dan melempari kami dengan batu, sandal, sepatu, kue apem, onde-onde. Setelah kami selesai tampil akhirnya Saya menyadari bahwa Saya tidak berbakat mengikuti lomba tari perut.

Hari kelulusan hari dimana setelah selesai melaksanakan UN dan menunggu hasil, lulus atau tidak lulus, di saat hari kelulusan banyak anak-anak yang mencoret baju mereka ada juga yang mencoret-coret tembok, Saya juga tidak mau kalah Saya juga ikut mencoret-coret, mulai dari baju sendiri, baju temen, baju kepala sekolah. Untung saja Bapaknya sedang pakai baju kaos jadi dia tidak marah hanya ijazah Saya saja yang lumayan lama ditahannya.

Setelah selesainya masa SMA yang menyenangkan tersebut saya akhirnya memilih mau lanjut kuliah atau langsung kerja, dan Saya memilih langsung kerja karena saya tidak mau merepotkan orangtua Saya, dan Saya akhirnya ingin melamar menjadi polisi tetapi karena umur yang kurang 1 tahun Saya pun menunggu dulu sambil melakukan pekerjaan sampingan dan ketika umur Saya sudah cukup Saya pun mengikuti tes masuk masuk polisi tersebut tetapi tidak masuk dan akhirnya hidup saya pun luntang lantung. Seperti kata pepatah hidup susah mati pun lama.

Tambahan.....mungkin kalian belum mengenal Saya atau mungkin ada yang sudah tahu Saya, perkenalkan nama Saya Doni sang pengacara.

SEBUAH PERTEMUAN

Akng ke kantor bersama Lina.  Sampai di kantor Lina di suruh menunggu di lobi oleh Akng. Ternyata ada  saingan dalam kerja Akng bernama Yaman sok petenteng di hadapan Lina. Akng berusaha untuk bersikap bijak dan tenang untuk menanggapi teman kerjanya itu. Lina dengan sikapnya yang susah di tebak. Saat Yaman mau masuk ke dalam lif. Kaki Lina menyenggol kaki Yaman. Sontak Yaman terjatuh dan tersungkur. Para karyawan pada mentertawakan Yaman yang jatuh. 

Yaman berusaha bangkit menunjukkan wajah garangnya. Semua karyawan yang mentertawakan langsung diam. Akng dan Lina langsung masuk ke dalam lif meninggalkan kejadian itu semuanya. Pintu lif tertutup lalu Akng memencet tombol Lif ke lantai atas. Dengan sabar Akng dan dalam lif. Pintu lif pun terbuka. Sampailah Akng di depan kantor.

“Pak Akng jangan masuk. Bos lagi ada miting dengan teman kerjanya,” kata asiten bos.

“Ya saya mengerti. Jadi berapa lama mitingnya pak bos?,” tanya Akng.

“Cukup lama sih......,” jawab asiten bos.

“Ya udah saya tunggu,” kata Akng.

Lina tidak mau urusan dengan kesibukan Bosnya Akng.  Dengan sikapnya yang acuh tak acuh masuk tanpa permisi dan mengejutkan mereka semua yang sedang miting. 

“Oh kamu Lina,” kata Tuan Bay.

“Maaf....bos telah menggangu,” ujar Akng.

“Ya......maaf semuanya,” kata Tuan Bay  terhadap para kelainnya.

“Kalau begitu saya permisi dulu,” kata Tuan Takesi.

“Ya....sekali lagi saya minta maaf. Saya persilakan,” ujar Tuan Bay.

Para kelain meninggalkan  ruangan Tuan Bay.

“Bagaimana dengan keadaan mu Lina. Akng mengurus dengan baikkan,” kata Tuan Bay.

“Ya.....begitulah......salam dari ayah,” kata Lina.

“Ya....kalau begitu urusan kerja bagaimana Lina?,” tanya Tuan Bay.

“Atur seperti biasanya,” kataLina.

“Oh...ya udah......Akng jaga Lina baik-baik,” kata peritahTuan Bay.

“Eeee....beres Bos......... kalau begitu saya permisi dulu,” kata Akng.

Lina dan Akng meninggalkan ruangan Tuan Bay kembali pulang ke rumah Akng.

RIBET SEKALI

"Hei,hei, anak baru, siapa nama kamu?"

"Nathan"

"Iblis? Buset dahh, saya tanya nama buka wujud lo."

"Nathan woi, Nathan"

"Oh, Santan, lo blasteran, ya?"

"Iya, Ayah saya dari Inggris, Ibu Saya dari Madura, takye"

"Pantesan muka lo mirip Mr Bean gitu"

"Lucu, ya?"

"Idiot banget,"

"Jangan mengobrol di jam pelajaran saya." Seketika itu saya pun terdiam, tertunduk malu, membisu. Terdengar kikikan kecil menahan tawa. " kikikikik" tawa kecil yang seakan sedang mengamatiku, menunggu saya lengah dan menerkam.

"Eh Santan, nama saya......Nico. Salam kenal, ya."

Saya masih terdiam, tak mau menatap. Saya seakan lagi bermain pura-pura mati yang sedang berhadapan dengan seekor harimau buas yang sedang lapar. Saya harus fokus dan mendalami karakter saya sebagai....orang mati. Agar Saya tak dimangsa olehnya, tak percuma Saya pernah main film layar lebar. Walau cuma jadi maling ketangkep. Saya angkat tangan Saya menandakan oke ke Nico. Tak ingin saya abaikan senyuman manis di bibirnya.

Belum genap satu jam Saya berada di ruangan ini. Saya sudah memahami dua nasib yang berbeda. Saya tak menyangka akan berhadapan langsung dengan guru terkiller dalam sejarah sekolah ini. Sekolah negeri acak adul. Takdir memaksa Saya untuk selama 3 tahun ke depan harus mendiami sekolah busuk ini, busuk? kenapa busuk? Saya gak tahu, mungkin karena Saya sudah muak dengan namanya sekolah dan rutinitas yang mengkungkung Saya dalam kebosanan sebagai seorang pelajar. Tapi hari ini berbeda, hari ini begitu cerah, begitu sejuk. Senyuman ketusnya yang membuatku merasa sekolah busuk ini seakan taman penuh bunga yang harum mewangi. Takdirlah yang memaksa orangtua Saya untuk menetap di sini. Takdirlah yang membuat Sya berada disini, takdirlah yang menuntun Saya agar masuk ke sekolah ini, dan oh takdir kenapa kau buat perut gue seperti ini disaat yang tidak tepat, saat senyumannya hadir menyapa. Oh iya, nasi goreng tadi pagi, nasi goreng tak biasa dari Bu Yanti, tempat sarapan biasa gue, beliau sedang uju coba resep dari chep Guna dan Saya yang pada awalnya merasa bangga menjadi pelanggan pertama mencicipinya harus menanggung akibatnya sekarang, perut Sya membludak bak Krakatau yang tak kuat menahan gejolak magma di dalamnya. Ini tak bisa dibiarkan, ras tak tahan ini perlahan menjajah gue, dan ini harus segera dihentikan, sebelum keceplosan.

"Bu Saya mau izin keluar, darurat"

"Emang kamu mau ngapain?"

"Please Bu, jangankepo, in darurat" entah apa yang telah Saya lakukan, Saya seketika menjadi alay. Apakah ini dampak kalo kita sedang dalam kondisi kritis? Saya tak bisa mengontrol apa yang Saya katakan. Kata-kata itu terlintas begitu saja.

"Oh begitu, ya sudah, kamu gak Saya izinkan,"

"Waduh Bu tapi,"

"Gak ada tapi, kamu gak boleh ke luar sebelum jam pelajaran selesai," 

Tamat. Hidup Saya tamat. Sampai kapan Sya bisa menahan panggilan ini? konyol, ini konyol sekali di hari pertma sekolah Saya harus melakukan perbuatan mengerikan seperti ini.

"Hei, Santan, emang lo mau ngapain? kebelet ya? Hihi." 

Saya mencoba menjawab sebisa Saya, mengaturnya agar tak terjadi tindakan kriminal yang membuat hidup Saya gawat. Saya cuma bisa mengangguk. Saya cuma bisa mengharapkan mukjizat datang sehingga Ibu guru yang tak berprike-belet-an di depan ini bisa pergi menjauh dari hadapan Saya.

"Anak-anak buka buku halaman 171, dan kerjakan tugasnya, ibu mau ke ruang kepala sekolah," apa ini? Miracle macam apa ini? Sejenak setelah Saya memikirkannya kenapa kejadian itu terjadi? kesempatan ini tak boleh Saya lewatkan. Secepat kilat setelah dia pergi. Saya pun langsung ngacir keluar kelas. Layaknya seorang tentara yang sedang di beri mandat untuk menyelesaikan misi, misi penting bagi Saya. Namun sayangnya tentara tak seharusnya pergi tanpa peta. Saya baru di sekolah ini, dan Saya tak pandai dalam membaca tempat, sekolah ini cukup luas buat Saya untuk tersesat dan lupa jalan pulang.

"Kalo wc ada di bawah sana" tanpa basa-basi lagi Saya langsung menuju tempat yang ditunjukkan olehnya. Saya bahkan tak menoleh saat dia memberi petunjuk tadi, sungguh tak sopan perbuatan Saya.

"Gimana? lega, ya?."

"Lega! Nico? ngapain lo di sini? lo ngintipin Saya ya?."

"Enak aja, Saya juga punya selera kali, lo harusnya terima kasih" oh iya, Saya memang tak menoleh tadi, tapi suara lembut itu Saya ingat.

"Oh iya, thanks ya, gak masuk?."

"Sudahlah, kita ke kantin yuk, lo kan gak baru di sini jadi biar Saya kasih tau tempat makan yang asik."

"Lah, tapi guru tadi?...." tak selesai Saya berbicara Saya langsung diseret olehnya, sungguh perempuan yang energic. Saya pun terpaksa mengikutinya.

"Nih, lo harus coba nasi goreng di sini. Tjakep dah pokoknya."

"Nasi goreng? Oh no, Saya troma, ntar kebelet lagi."

"Haha beda lah, ini lebih super lagi."

Dari kejauhan Saya merasakan there's something special yang lewat, dan dia pun menghampiri Saya, Saya gugup, siapakah sebenarnya dia? tak pernah Saya lihat parasnya. Namun, hati ini langsung berdetak ya, itu karena Saya masih hidup, tapi detakkannya begitu berirama bukan dangdut bukan pula seringai, inikah nada cinta?

"Hei, lagi ngapain."

"Lagi boker!" jawab Nico ketus ke cewek itu, mereka saling kenal? sepertinya iya, siapa yang tak kenal Nico, cewek tomboy di sekolah ini, kebanyakan pria takut dengan dia. Bukan karena dia kuat, tapi lebih karena pesonanya, mungkin begitu, dan Saya harap begitu.

"Ih, jorok deh, hei, kenalin Saya sarah, lo anak baru itu ya? lo temannya Nico?." tanpa babibu cewek itu langsung menodong Saya dengan sederet pertanyaan itu, Saya terdesak, Saya cuma bisa mengangguk pelan. Seketika itu Saya salah tingkah, sial, kenapa kebiasaan ini tak bisa hilang. Yang Saya lakukan sekarang hanya melahap makanan yang terabaikan tadi. Saya merasa saat itu sekolah tak semenyeramkan yang selalu Saya bayangkan. Dua peri cantik sedang berada di hadapan Saya. Mimpi apa Saya semalam.

"Lo nanya mulu, kayak pembantu baru aja, Nathan kenalin ini, Sarah, Sarah ini Nathan."

"Nic, lo ingat kan boneka suju yang kemaren, itu lucu banget, Saya pengen beli...." tak lama kemudian, pembicaraan beralih dari nasi goreng menjadi gosip tentang Siwon dan konco-konconya. Agak risih sih Saya dengarnya, soalnya Saya gak terlalu suka suju.

"Suju itu keren, ya, soalnya kalo mereka konser pasti panggung rame, kayak lagi demo hehe" kata Saya garing, "oh" respon mereka berdua hampir bersamaan, Saya merasa nasi goreng di depan Saya sedang mentertawakan Saya. Langsung saja mereka, Saya makan, atau mungkin Saya doyan.

"Oh iya, kita gak masuk nih?," tanya Saya ke Nico, karena Saya baru sadar kalo Saya udah setengah jam meninggalkan kelas, bisa-bisa mati Saya diremuk ama guru killer itu, kalo ketahuan Saya lagi nongkrong di sini.

"Ah tenang aja, gak usah takut, ibu itu lagi sama pacarnya, biasanya sih lama, tuh liat," kata Nico sambil menunjuk ruang guru terlihat ibu itu sedang bersama seorang lelaki paruh baya dengan setelah jas rapi, lengkap dengan dasi khas seorang eksekutif muda, tak lupa rambut yang  di atur bela pinggir style andika kangen band, sungguh gaul.

"Kok lo bisa tahu," tanya Saya bingung.

"Ya iya lah, yang nyuruh cowok itu datang kan Saya, dia itu sepupu jauh Saya, Saya sering nyuruh dia ke sini kalo Saya lagi bete di kelas."

"Lo ngelakuin ini buat Saya?."

"Jangan ge er an deh, kan dan gue bilang kalo Saya bete."

"Waduh thanks berat yah, Saya traktir deh hari ini."

"Beneran? Bu, bungkus dua ya?." Sarah langsung mengambil kesempatan.

Pembicaraan ini pun berakhir seiring bunyi bel masuk berbunyi. Setelah beberapa hari di sekolah ini, Saya mulai membiasakan diri dengan lingkungan, dengan tingkah Nico yang sering keluyuran pas jam pelajaran, dengan obsesi si centil Sarah sam suju yang buat kepala gue pusing, sampai amukkan beringas dari si guru killer, Saya udah mulai terbiasa sekarang.

"Nico, udah belajar belum buat ujian besok?," tanya Saya ke Nico.

"Emang ada ujian apa?," sungguh polos tampangnya di saat akan ujian dari guru terkiller, dia bahkan tidak tahu itu ada.

"Yaelah, pulang nanti kita belajar dulu lah."

"Oke, tapi lo harus ikut Saya ya."

"Kemana?."

"Want to knowww, aja hihi." kalo udah ngeliat Nico seperti itu Saya hanya bisa nurut apa keinginannya. 

Tak mau Saya kacaukan kebahagiaannya. Sepulang sekolah, anak-anak sudah pulang, tapi tidak untuk saya dan Nico yang masih sibuk dengan soal-soal materi ujian dari si Ibu killer.

"Ah bete nih, Saya ajak Sarah yah."

"Bawa makanan."

"Makan aja pikiran lo." Nico memang tak terlalu pandai dalam bidang akademik, makanya Saya harus menolongnya, tapi di sisi lain dia cukup jahil untuk melakukan perbuatan aneh yang menarik. Dan Saya tak terbayangkan saat Nico berimajinasi mau mencuri soal-soal ujian si Ibu killer. Ah, what kind a joke is it.

"Gimana mau gak? kita pinjam sebentar doang, ambil soalnya, foto kopi, belajar di rumah, terus besok balikin, gampangkan? Ibunya juga gak tahu, kalo dia marah....kan. Saya bisa pangil Om Saya buat ngademinnya hehe, gimana?" liar sekali pikiran perempuan ini, tak sanggup belajar dia ajak Saya untuk mencuri. Dan Saya pun tak tahu kenapa menyetujui rencana itu, karena Saya lihat itu cukup menarik Saya ingin melakukan sesuatu yang belum pernah Saya lakuin sebelumnya. Tapi Saya gak menyangka kejadiannya bakalan menjadi serumit itu.

"Sekarang kita  harus mengambil soalnya tanpa harus ketahuan oleh penjaganya," jelas Nico layaknya eorang komandan perang yang sedang menyusun rencana penyusupan.

"Lo pernah ngelakuin ini, Nico?,"  tanya Sarah khawatir, wajahnya pucat.

"Belum," jawabnya polos.

"Muke gile, lo mau nyari mati, kita masih amatir nih, ntar kalo ketangkep gimana?" Saya mulai merasa pesimis, " Saya kasih tau ya, kalo mau dapat sesuatu yang belum pernah lo dapatkan, lo juga harus ngelakuin yang belum pernah lo lakuin" kata Nico sembari membaca tulisan yang tertera di dinding kelas, Saya sampai lupa slogan itu memang terpampang di sana sejak Saya masuk di sini. Benar juga apa dikatakannya. Akhirnya Saya pun hanya bisa pasrah dan mencoba optimis rencana  ini akan berhasil. Sarah yang tadi pucat tiba-tiba menjadi bersemangat, tak Saya sangka kata-kata Nico bisa membangkitkan semangat kami, Nico pasti punya gen Mario Teguh.

"Lo pada tau kan apa yang harus lo lakuin? Nathan lo jaga pintu, kalo ada yang mendekat sebisa mungkin lo halangin, bagaimanapun caranya."

"Walau harus mati?."

"Iya."

"Siap kapten," Saya sudah seperti seorang pasukan berani mati yang siap bertempur.

"Sarah, lo awasin Nathan ntar dia kebelet lagi, hihi dan Saya yang akan mencari dan mengambil soalnya, oke?."

"Oke kapten." Saya gak tahu kenapa Sarah bersemangat mengawasi Saya.

Lima belas menit saat itu merupakan lima belas menit terlama sepanjang hidup Saya, kalo Nico ketahuan, Saya mat. Penuh keringat Saya demi tugas yang sepele ini. berhasil, tapi kok amplopnya ada dua?.

"Kok dua?."

"Saya gak tahu yang mana, Saya ambil aja dua-duanya yang ada di meja beliau, ya udah simpan nih dua-duan, kita tinggal balikkin dua-duanya kan?" Nico mengatakan itu seolah semuanya segampang itu, tapi untuk saat ini, Saya pikir tugas ini memang gampang. Setelah  itu, kami bertiga niat merayakan keberhasilan ini dengan makan siang bersama di kafe dekat sekolah, tempatnya nyaman, murah dan dan pastinya, wi-fi gratis. Setelah asik mengobrol, makan dan wi-fi gratisan di kafe tersebut kami pun pulang untuk mengerjakannya di rumah.

Namun, kebodohan Saya membawa malapetaka, Saya menghilangkan amplop berisi soal-soal tersebut.

"Apa!!?," teriak mereka hampir bersamaan, dan Saya yakin ini bukan saatnya untuk cengengesan gak jelas, "sorri, Saya lupa naronya dimana, kayaknya ketinggalan di kafe tadi deh, tenang-tenang, kalo hilang, lo bisa minta Om lo  buat ngobrol sama Ibu killer itu kan, Nic?," tanya Saya mencoba menenangkan mereka.

"Masalahnya, Om Saya lagi di luar kota, gak lagi di sini."

"Waduh gimana nih? Ini semua salah elo, kenapa lo bisa seteledor itu sih, kita kan jadi dalam bahaya gini." Sarah pun semakin panik.

"Sori sori, Saya gak sengaja, kalo maslah ini selesai Saya beliin lo boneka suju deh." bujuk Saya agar Sarah berhenti khawatir.

"Ini bukan masalah boneka suju Nathan."

"Plus nasi goreng?."

"Lo gak salah kok," muka Sarah pun langsung berubah senag.

"Ya udah sekarang gimana caranya tuh amplop balik lagi, kita cari di cafe itu dulu," Saya pun mencoba menebus dosa Saya dengan berusaha mencari amplop penuh masalah itu.

"Mbak, lihat dua amplop warna cokelat gak tadi?," tanya Saya ke pelayan di cafe tersebut.

"Oh amplop cokelat, yang ini Mas?," dari kedua amplop yang dibawa Nico satunya berisi soal, tapi yang satu lagi  Gue gak tahu karena kami gak pengen bukanya, tapi amplop yang itu bukanlah yang kami cari, sepertinya tertukar. Disana tertulis nama seseorang, Jack, dan tiket kereta api keberangkatannya.

"Ini plan b kita karena kita telah gagal menjaga amplop itu, plannya kita harus ambil kembali amplop itu, kita sudah punya nama orang terebut dan tujuan dia sekarang," kata Saya meniru kata-kata di film-film laga, bukan laga Indosiar.

"Dimana?," tanya Nico.

"Di sini tertulis, kampung rambutan, bali."

"Haaah? Kita akan mengejar dia sampai ke Bali?," Sarah yang tadi keliatan panik malah tambah panik, Saya sekarang tahu gimana ekspresi orang panik yang lagi panik, sungguh aneh.

"Oh, sori, itu tempat dia lahir lo ada peta gak?," tanya Saya serius ke Nico.

"Ada nih, untung Saya bawa," Saya juga enggak tahu kenapa Saya bawa peta.

"Kayaknya dia bakalan pergi ke sini deh," kata Saya sambil menunjuk satu kota yang namanya sama seperti tiket yang tertera di dalam amplop itu. Untungnya keberangkatannya jam 8 malam, jadi kami masih memiliki waktu untuk menjemputnya dan menukarnya.

"Oke jam 7 kita sudah kumpul di sini, terus kita ke stasiun kereta api ini, terus temui orang itu,"

"Terus cara kita mengenali orangnya?,"

"Gampang, tulis aja di karton nama orang itu, terus lo jalan-jalan nyari orangnya, kayak orang bego, siapa yang mau peran itu?," tanya Saya. Mereka berdua tersenyum.

"Siapa lagi, yang punya tampang idiotic," kata Nico ngeledek Saya.

"Okelah, Saya yang nyari nya, puas lo," kami pun tertawa, lalu Saya tertegun.

"Apa lagi, yang lo pikirkan?," tanya Nico yang sudah gak sabaran.

"Plan ini namanya apa ya?," kata Saya bego.

"Yaelah, gak penting juga kali, dasar idiotic," kami bertiga pun cengengesan kembali.

Setelah rencana tersusun rapi, kami pun berangkat ke stasiun yang di tuju, Saya sudah siap terlihat bego untuk malam ini, yah semua itu demi Saya gak di remuk sama si ibu killer itu. Setelah setengah jam muter-muter gak jelas, Saya masih saja belum menemui orang tersebut, lalu Saya melihat pacarnya si Ibu killer, dengan nama tag masih tergantung di leher layaknya mahasiswa baru di optik, Saya menghampiri dia. 

"Lah, kenapa ada nama saya di sana?,"

"Lah, ini nama bapak? Beneran ini nama bapak? Bapak tadi makan di cafe dekat sekolah acak adul?," Saya langsung membombardir Bapak itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan bernapas pun dia tak Saya beri kesempatan. Karena takut beliau sesak nafas akhirnya Saya diam, memberi ruang dia berbicara.

"Iya, itu saya, emangnya kenapa?,"

"Haduh, syukur pak, saya sudah mencari bapak dari tadi ini, ini amplop saya ketukar sama amplop punya bapak," lalu Saya menukar dua amplop itu dengan punya Bapak itu, dan anehnya Bapak itu pun tak menyadari bahwa amplopnya ketukar. Tak lama berselang, saran dan Nico datang.

"Sori, Nath, gue telat. eh, om J," kata Nico.

"Lah, Nico, lo kok gak kenal sama Om lo sendiri," tanya Saya kesal.

"Kan udah Saya bilang Om J ini saudara jauh Saya, mana Saya tahu nama lengkapnya Jackurudin," dan akhirnya kami pun dapat membawa amplop itu ke rumah dan belajar untuk ujian besok.

Keesokan harinya Saya dapat kabar kalo si Ibu killer gak masuk hari, dia lagi cuti ada urusan mendadak ke luar kota. Dan ujian pun dibatalkan.

"Ah sial, udah capek-capek kita ngambil soalnya eh malah dibatalin," kata Nico bete.

"Ahah yah inilah akibatnya kalo mau berbuat curang," kami pun cengengesan.

"Eh iya, amplop yang satu lagi itu isinya apa sih?  Udah pada lo liat belum sih?," tanya Sarah.

"Nah iya, Saya juga belum liat tuh," kata Saya dan Nico hampir berbarengan.

"Kok barengan gitu? Ciyee," muka Saya pun memerah.

"Sudahlah kita liat aja, Nath, mana aplopnya?," Nico pun mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Iye sabar, Saya ambil dulu," Saya pun mencari-cari amplopnya di tas Saya.

"Iye sabar, Saya ambil dulu," Saya pun mencari-cari amplopnya di tas Saya.

"Eh, mana yah, kok gak ada?."

"Apaaa."

Gue cuma bisa cengengesan gak jelas.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK