CAMPUR ADUK

Monday, December 16, 2019

INILAH AKU

Aku berjalan dengan langkah santai, melewati orang orang asing yang tak pernah ku lihat. Langkahku terhenti melihat seorang anak kecil yang sedang menangis, dia menundukkan kepalanya sambil menghapus air matanya.

"Hai, kenapa kamu menangis?" Tanyaku.

"Kakiku.. Kakiku sakit kak.., hiks..hiks.." Dia menunjukkan kakinya yang berdarah.

Aku melihat luka itu dengan seksama, sekejab luka itu hilang.

"Kak...!! Kakak siapa? Kakak kenapa bisa melakukan itu? Tapi. Terimakasih kak" dia tersenyum, aku hnya bisa tersenyum lalu meninggalkan gadis itu.

Aku bukan manusia biasa. Aku mempunyai kekuatan. Dulunya aku adalah manusia biasa, tapi suatu hari datang orang orang yang menyerang orangtuaku hingga akhirnya mereka meninggal dan mereka memberiku racun. Mereka memaksaku meminumnya. Tetapi ternyata mereka salah memberiku cairan, yang mereka beri adalah cairan yang membuay orang meminumnya menjadi kuat dan abadi. Kejadian itu sudah 50 tahun yang lalu.

***
20 tahun kemudian

Aku melihat langit yang biru. Seringkali aku rindu menjadi manusia biasa tapi tidak ada yang bisa merubah keadaan. Kenyatannya adalah aku bukan manusia biasa. Aku mempunyai kekuatan, yang seringkali membuat orang orang menjadi takut melihatku. Maka aku tidak pernah lagi menunjukkan kekuatanku didepan orang banyak.

Aku memasuki sebuah restoran. Ada seorang wanita yang terburu buru keluar dari restoran, dia sedang membawa minuman.

BRAKK!! Wanita itu menabrakku dan minumannya tumpah ke mengenai tanganku.

"Aduh..  Maaf maaf aku tidak sengaja"

Aku meringis kecil. "Tidak apa apa"

"Tapi minuman itu minuman panas, benar tidak apa apa? " wanita itu terlihat bingung, karena aku tidak merasa kesakitan. Aku berpura pura kesakitan.

"Aduh ini semua karenaku, maaf tunggu disini aku akan beli obat"

"Tidak apa apa, tidak perlu"

"Sungguh?"

"Iya... Siapa namamu?"

"Apa? Eh.. Namaku Chyintia. Salam kenal, aku pergi dulu, ibuku sudah menungguku di rumah. Sampai ketemu di lain waktu".

Chyintia berlari kecil menghentikan taksi. Aku memasuki restoran.

***
"Maaf maaf" wanita itu terus meminta maaf tanpa henti kepada laki laki yang tidak sengaja ia jatuhkan makanannya, laki laki itu mau memukul wanita itu. Aku cepat cepat menahannya.

"Hei!! Kau siapa yang berani berani memukul wanita? Lagipula itu hanya makanan"

Laki laki itu langsung pergi.

"Kau tak apa apa?" Aku sepertinya mengenali wanita itu.

"Kau?" Wanita itu menunjukku. Aku hanya melihatnya bingung.

"Terimakasih ya untuk yang tadi. Kau tak kenal aku? Aku.. Chyintia"

"Oh kau wanita itu yang menumpahkan minuman ke tanganku?"

"Ehh.. Iya, itu aku"

"Hebat sekali kita bisa bertemu lagi.."

"Hehehe" Chyntia tersenyum hangat. "Tapi siapa namamu?"

"Oh iya, namaku Robin"

"Untuk ucapan terimakasih dan maafku, aku traktir kamu makan disana" Chyntia menunjuk restoran.

"Ok " aku tertawa, lumayan kan ditraktir? Hehehe.

Kami berjalan bersama ke restoran itu. Aku melihat gelang yang dipakai Chyntia. Gelang bertuliskan Chyntia dengan warna pink. Sepertinya benda itu tidak asing bagiku. Wanita ini... Apakah yang pernah kutolong dulu? Saat kakinya berdarah? Aku memandangnya. Rambut yang selalu dikuncir belakang. Itu sepertinya memang dia.

"Hei.. Jangan bengong saja ayo makan"

Lamunanku buyar. Aku hanya tersenyum.

***
Kami semakin dekat, aku mulai menyukainya. Tawa yang ciri khas, orang yang peduli. Tetapi suatu saat dia mengetahui semuanya. Dia ketakutan. Aku merasa sedih. Aku memang bukan manusia biasa, apakah aku tidak boleh jatuh cinta? Atau apa aku sosok yang menakutkan? Tapi inilah aku. Seseorang yang punya kekuatan dan abadi. Mungkin aku tidak boleh jatuh cinta pada manusia biasa.


Karya : Shandez Darlene

ARWAH, I LOVE YOU

Disinilah aku saat ini, menangis sendirian di sebuah lorong belakang sekolah, mencoba menyendiri dan menenangkan diri. Apa salahku? Mereka selalu saja membullyku, tidak ada yang membelaku sama sekali. Oh iya aku lupa, jangankan dibela, teman saja aku tidak punya sama sekali. Miris bukan?

Tap..

Tap..

Tap..

Aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekatiku. Siapa dia? Ini lorong belakang sekolah yang sudah tidak terpakai lagi, akan sangat tidak mungkin jika ada seseorang kemari selain orang aneh sepertiku. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk tepat di sampingku. Ohh god, ini orang pertama yang mau berdekatan denganku, selain yang ingin membullyku.

“Ka..kau si..siapa?” tanyaku dengan takut.

“Tenang, kau tidak usah takut Maya. Aku yang akan selalu menjagamu,” ujarnya dengan yakin.

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Kau tidak perlu tahu itu, perkenalkan aku Brian.”

Ternyata namanya Brian, jika diperhatikan ia lumayan tampan menurutku, menggunakan seragam sekolah yang sama sepertiku, hanya saja aku tidak pernah melihatnya selama bersekolah disini.

“Aku memang bukan manusia, makanya kau tidak pernah melihatku,” ujarnya tiba-tiba seakan tahu isi dari pikiranku tadi.

“Ja.. jadi kau itu…”

“Aku bukan hantu, tapi aku adalah arwah yang akan selalu menjagamu dimanapun dan kapanpun itu.”

“Benarkah?”

“Tentu Maya.”

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku pun pulang ke rumah bersama dengan Brian, Brian selalu setia mengikutiku kemanapun aku pergi. Saat sedang melewati sebuah gang sepi, tiba-tiba aku melihat ada Melisa dan kawannya menghadangku. Melisa itu adalah ratunya bully membully di sekolahku. Melihat hal itu sontak aku ketakutan dan menoleh ke arah Brian, dan Brian menanggapinya dengan senyum manisnya.

“Tenang Maya,” ujarnya kepadaku.

Melisa pun mulai mendekat ke arahku. Ia lalu dengan gesitnya menjambak rambutku.

“Aduh.. sakit mel, tolong lepas.”

“Tidak akan, kau itu memang pantas mendapatkan penyiksaan seperti ini!”

Tiba-tiba…

“Lepaskan dia!” terdengar suara lantang dari seseorang. Ketika aku melihat ke arahnya, aku sangat terkejut, karena dia itu Brian. Bukankah Brian itu arwah? Namun mengapa Melisa bisa melihatnya?

“Lepaskan Maya, dia adalah kekasihku.”

“Hey tampan, gadis jelek seperti ini kekasihmu eh?” tanya Melisa dengan wajah tidak percaya.

“Tentu. Sebaiknya sekarang kau pergi atau aku akan berbuat kasar kepadamu!”

“Tampan-tampan begini kau galak juga ya, ok aku akan pergi.”

Setelah kepergian Melisa, Brian lalu mendekatiku yang masih dalam posisi mematung dan pikiran bercampur aduk.

“Aku sudah menepati janjiku kan untuk selalu menjagamu Maya,” ujarnya sambil menggenggam tanganku.

“Kau itu sebenarnya siapa? Mengapa kau bisa…”

“Aku ini arwah yang bisa menjelma menjadi manusia jika aku mau.”

“Aku masih tidak percaya akan hal itu.”

“Baiklah, tunggu sebentar,” ujarnya kepadaku.

Ia lalu mulai menjauh dan tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih yang membuat mataku menjadi sangat silau. Sontak aku menutup mataku karena terlalu silau. Namun setelah aku membuka mata, laki-laki itu menghilang dari hadapanku. Aku percaya sekarang bahwa ia adalah arwah, aku sempat merasa takut, namun disatu sisi aku merasa kehilangan karena aku rasa aku mulai mencintainya. Aku menyesal karena tidak percaya kepadanya, andai saja aku percaya mungkin sekarang Brian masih ada di sisiku dan selalu melindungiku.

“Arwah, i love you.”

“I love you to,” jawab seseorang yang jauh berada di dimensi lain.

Selesai.


Karya : Ayu Wahyunia

MISTERI KAMAR 707

Malam itu aku kembali menuju hotel yang berkamar di nomor 706, terdengar olehku suara gemercik air dari kamar 707 seperti ada seseorang yang sedang mandi tapi lampu kamar itu padam. Aku keluar dan mendekat ke pintu kamar itu untuk lebih mendengar suara dari kamar itu.

“Ada disini?” Tanya seorang OB yang cukup mengagetkan aku.

“enggak kok, Pak disini apa ada orangnya?”

“Enggak Dik” jawaban singkat itu terucap dari seorang pria separuh baya berseragam biru itu.

“Tapi pak, saya mendengar suara aneh dari kamar itu”

“Kau mungkin hanya berhalusiasi, sudah jangan mengganggu kerjaku!” kata OB itu sedikit marah kemudian terburu-buru meninggalkan kamar itu.

Dalam hati aku terus bertanya lalu apa yang tadi aku dengar? apakah itu hanya halusinasi, ah sudahlah. Kemudian aku berlalu untuk meninggalkan kamar 707 dan kembali ke kamarku sendiri. Tak beberapa lama kemudian aku mendengar sebuah suara wanita bernyanyi di kamar 707 itu dan aku benar benar yakin bahwa kamar itu memang berpenghuni namun aku urungkan niatku untuk pergi ke kamar itu lagi karena hari sudah menunjukan pukul dua belas malam dan esok aku harus berkerja.

Keesokan harinya aku bertanya kepada manager hotel untuk menanyakan penghuni yang ada di kamar 707 namun tetap dengan jawaban yang sama tidak ada seoarangpun yang ada di kamar itu. Tapi aku berusaha untuk mencari tau tentang siapa yang ada di kamar itu. Setelah pulang berkerja aku segera membersihkan tubuhku dan bergegas untuk menuju lobi hotel karena aku akan menemui rekan kerjaku.

“Dinda..” terdengar suara sayu sayu memanggilku dari arah kamar itu. “Suara lagi?” gumamku. Tapi kali ini berbeda aku dapat dengan jelas mendengar suara itu dan tiba tiba aku menjadi ketakutan karena suara aneh itu tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikannya. Aku berjalan menuju lobi hotel, dari jauh aku melihat seoarang wanita berpakaian ungu tampak terburu buru, aku tak pernah melihat wanita itu sebelumnya selama aku tinggal di hotel ini. Dia berjalan dengan menundukan kepalanya, rambutnya yang terurai panjang menghalangi wajahnya untuk dapat kulihat.

Setelah semua urusan dengan rekanku selesai aku menuju kamarku untuk beristirahat. Sebelum aku sampai di kamar aku melihat wanita berpakaian ungu yang kulihat di lobi tadi memasuki kamar sebelahku. Ya. kamar 707. “Itu dia orangnya” sentakku spontan.

Aku berusaha menghampiri wanita itu tapi dia tampak terburu buru dan segera masuk ke kamar itu. Tapi keanehan mulai terjadi setelah wanita itu masuk ke kamarnya, aku mendengar jeritan histeris dari kamar itu. Kemudian aku segera berlari untuk mendatangi kamar itu untuk menghampiri jeritan histeris yang melengking itu. Sampai di depan pintu aku tak menemukan apapun selain lampu yang padam dan pintu yang terkunci dari luar.

Malam berikutnya aku mendengar suara wanita dan pria bertengkar di kamar itu dan aku mendengar ada suara jeritan minta tolong dari kamar itu. Kemudian suara itu hilang dan suasana kembali senyap. Aku bergegas keluar dan mengecek keadaan tapi sama seperti malam malam lalu aku hanya mendapatkan sebuah kamar kosong dengan lampu padam.

Aku hanya bisa terbungkam dan ketakutan karena aku tak menemukan apapun selain suara yang kudengar tadi. Aku begitu penasaran dengan apa yang terjadi aku berusaha mencari informasi kepada seluruh perkerja di hotel itu namun semua nihil tak seorang pun yang mau memberitahu. Aku berjalan keluar di gelapnya malam dan menghampiri seorang pedagang nasi goreng yang berjualan di sekitar hotel itu untuk mencari sedikit informasi.

“Dulu di kamar itu pernah terjadi sebuah pembunuhan mbak, pelakunya suaminya sendiri tapi yang saya tau kamar itu sudah terkunci rapat semenjak kejadian itu, pihak hotel tak mau membukakan pintu kamar itu untuk siapapun”

“Apa bapak kenal suaminya?”

“Suaminya adalah OB disitu, mbak”

Aku hanya diam dan mulai mengerti tentang apa yang terjadi.


Karya : Erisca Carolina Tesalonike

IS UTY DEAD?

Uty adalah seorang anak yg tinggal di sebuah desa bernama desa Fuwa, desa fuwa adalah desa yang terdapat di tengah-tengah laut, kebanyakan penduduk disana bekerja sbg petani. Uty hari ini akan pergi ke laut untuk membantu ayah dan ibunya mencari ikan untuk di jual, sesampai di laut Uty bertemu dg teman nya Ryna.

"Hai Ryna, sedang apa kamu?" tanya Uty kepada Ryna, "Oh, Uty. Aku kira kamu siapa. Aku sedang mencari bebatuan yang mungkin bisa aku rangkai dan aku jual di pasar rakyat. Kamu sendiri sedang apa?" tanya Ryna "aku mau membantu ayah dan ibuku mencari ikan, mungkin aku akan kembali besok pagi." jawab Uty "semoga dapat ikan yang banyak ya Uty. Dan hati-hati saat merantau, aku dengar dr pembawa acara di TV mereka bilang, badai sering datang di bulab ini" kata Ryna memperingatkan "oke deh Ryna, aku pasti akan baik-baik saja kok" jawab Uty.

Setelah mengobrol dan mempersiapkan semuanya semuanya, Uty beserta ayah dan ibunya segera berangkat. "sampai jumpa Uty, hati-hati yaa!" kata Ryna melambaikan tangan "iya Ryna, sampai jumpa besok. aku akan membawakanmu ikan yg banyak!" kata Uty sambil melambaikan tangan nya juga.

Di perjalanan merantau, Uty sangat menikmatyi perjalanan nya. banyak sekali ikan yg berenang di laut yg biru itu, ada juga ubur-ubur yang terlihat seperti sedang menari, Uty sangat senang sekali dapat merantau hari itu.

"Uty, apa kamu lapar? ibu punya kue yang lezat loh.." kata ibunya "mau dong ma, kalo itu kue enak aku pasti mau" jawab Uty yang sangat suka sekali dengan kue. Uty pun memakan kuenya yang verisi keju di dalam nya. "hmm, yummy! kue ini enak sekali! dari mana ibu dapat kue ini?" tanya Uty "ibu dapat dari ibu Rita yg jualan di pasar rakyat" jawab ibunya "oh, pantesan ini enak sekali, ternyata bu Rita yang buat" kata Uty sambil tetatp memakan kuenya itu.

Setelah beberapa menunggu di perahu yang sederhana itu, akhirnya mereka semua telah sampai di sebuah pulau bernama pulau Fishi, pulau itu terdapat banyak sekali sungai yang memiliki beraneka ragam ikan. "wahh, lihat bu, disini ada banyak sekali ikan." kata Uty terkagum-kagum "iya Uty, ini pertama kalinya bagimu kan?" kata ibunya, Uty hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap terkagum-kagum. "disana masih banyak lagi ikan seperti ini, dan ukuran nya lebih besar" kata ibunya "wahh, bolehkah aku kesana bu?" tanya Uty "tentu saja Uty, tapi jangan terlalu lama ya? nanti ayah kamu bisa marah karena terlalu khawatir" pinta ibunya "baik bu!" jawab Uty.

Uty pun akhirnya sampai di sungai yg penuh dg ikan yg besar-besar itu, "wah, menakjubkan! baru kali ini aku melihat ikan sevesar ini." kata Uty "ahh, apa itu? sepertinya ada banyak ikan juga disana." nkata Uty yg melihat sebuah sungai di tepi pulau itu, sepertinya sih itu bukan sungai tp laut.

"ibu, kemana Uty pergi?" tanya ayah "Uty sedang pergi ke sungai disana yah, dia ingin melihat ikan ikan itu" jawab Ibu "oh, baiklah. ayo kita memasang jaring disini, setelah 20 menit kita ambil lagi" kata ayah "baik yah." jawab ibu.

20 menit sudah terlewatkan, "yah ayo kita angkat jaringnya" kata ibu "ayah ada apa?" tanya ibu yang melihat ayah sedang bengong melihat langit. "ibu, lihat langit disana sangat gelap, dan udara juga tidak terasa seperti tadi" kata ayah "apakah akan ada badai yah?" tanya ibu khawatir "sepertinya begitu bu, ayo kita amankan perahu kita, dan berlindung di pulau ini" kata ayah.

Setelah mengamankan perahu, ayah dan ibu segera berlindung di pulau Fishi. tiba-tiba ibu teringat akan sesuatu "ayah, Uty ayah. dia masih disana" kata ibu "oh iya, Uty. ayo bu kita cari dia, jangan sampai dia terkena badai ini" kata ayah. Mereka pun segera mencari Uty,

"uty! uty!" teriak ibu dan ayahnya memanggil Uty. "yah, dimana Uty. dia seharusnya ada disini, ini sungai yang aku tunjukkan kepada Uty tadi" tanya ibu "ayah juga ga tau bu, ayah khawatir bila Uty berada di pinggir pulau sana, disana sangat berbahaya bu" kata ayah.

Tiba-tiba ayah dan ibu mendengar sebuah teriakkan "ayah, ibu!" kata Uty yang berada di pinggir pulau itu "yah, bu. disini banyak sekali ikan" kata Uty, ayah dan ibu hanya bengong terkejut karena melihat angin badai de belakang Uty, mereka berdua segera berlari kearah Uty dan berteriak "uty! awas nak!!" teriak mereka, namun waktu mereka tidak cukup untuk menolong Uty, Uty terbawa badai tepat di depan mata keuda orang tuanya.

"aa.. ibu! ayah!" teriak Uty "uty!!" teriak ibu sambil menangisi kepergian anaknya. setelah badai telah selesai, ayah dan ibu segera berangkat menuju desa Fuwa, namun ibu Uty tetap saja terlihat murung dan sedih.

Sesampai di desa Fuwa. "Uty!! apa kamu dapat banyak ikan?" teriak seseorang dan ternyata itu Ryna "lohh, dimana Uty?" bingung Ryna. ibu uty hanya menangis di depan Ryna, dan memeluk Ryna. "uty terbawa badai ryna, kita berdua tidak dapat menyelamatkan uty" kata ibu uty sambil terus menangis. "apa!" kata Ryna terkejut.

Is Uty Dead? atau sebenarnya masih hidup? ini misteri ..


Karya : Sahanaya Widya Pitaloka

SEBUAH LUKISAN

Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas…

“jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai memakai jilbab warna pink kesukaanku.

“ini kan hari minggu ma… jelita ada acara sama angga, jelita pergi dulu ya ma…” kukecup pipi mama ketika angga sudah di depan rumahku.

Motor ninja milik Angga melaju dengan kencangnya, sesekali Angga meraih tanganku agar aku memeluknya lebih erat. Ya… walaupun aku sama Angga sudah tunangan 1 bulan yang lalu tapi aku belum berani memeluknya maklum kan Angga belum menjadi suami yang syah bagiku…

“kita kemana sih ngga?”

“nanti kamu juga tau sayang…” Hanya itu jawaban angga

Tibalah di sebuah bangunan yang penuh dengan arsistek seni, wah baru kali ini Angga mengajak aku kesini.

“Kamu suka kan jel…kamu kan suka ngelukis jadi aku bawa kamu kesini”

“Makasih banget ya ngga…”

Kemudian Angga menggandeng mesra aku dan menyuruh aku masuk ke dalam yang dimana-mana terpasang lukisan cantk-cantik.

“Kalau kamu suka aku bisa beliin buat kamu kok jel…” Kata Angga sambil membenarkan jilbab aku mungkin berantakan gara-gara makai helm tadi.

“Ngga… lukisan itu… kok mirip aku sih… siapa pelukisnya?” kataku terkejut sambil memandangi lukisan yang begitu bagusnya.

“lho kok bener sih jel… ini bukannya mirip tapi sama persis dengan kamu… aku beliin lukisan ini ya…” Kata angga yang langsung berjalan ke bagian kasir.

“Pak yang lukisan ini harganya berapa?”

“Oh… maaf Mas lukisan ini nggak dijual soalnya ini sudah punya seseorang, entar juga mau diambil, disini Cuma masang bingkai nya doang kok mas… maaf ya mas kalau mau beli lukisan yang lainnya saja ya…”

“Pak… yang punya lukisan ini siapa namanya pak?” kataku memecahkan pembicaraan

“Lho… wajahnya mbak ini kok sama dengan lukisan ini ya…” kata bapak itu sambil mandangi wajahku heran.

“Bukan itu yang aku tanyakan pak.”

“Oh… kalau nggak salah namanya Mas Alexs mba…”

“Alexs…!!! Kamu kenal dengan dia nggak jelita?” Tanya Angga penasaran

“nggak… aku enggak kenal kok ngga… emangnya kenapa?”

“Ya udah.. nggak jadi cemburu deh..” kata Angga sambil senyum-senyum malu.

“hu… kamu ini kalau kenal nggak mungkin aku Tanya ngga… heee…hee”

Minggu ini aku seneng banget jalan-jalan sama angga sampai-sampai pulangnya larut malam jam 9:00… pasti deh aku kena omelan papa nih… aku jalan mengendap-ngendap masuk ruang tamu… huh… untung sudah tidur semua, pikirku dalam hati, tapi tiba-tiba saja lampunya menyala.

“jelita… kamu ini dari mana jam 9 baru pulang papa sama mama kwatir sama kamu” kata papa marah-marah.

“Maafin jelita ya pa.. ma… jelita tak akan ngulanginya lagi” kataku sambil mencium pipi papa dan mama bergantian

“Papa sama mama itu sayang banget sama kamu jelita papa tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu..” kata papa sambil menatap tajam padaku.

“Hem… Papa… lagian jelita pergi sama Angga.. nggak usah khawatir dong pa… dia kan tunangan jelita… lagian sebentar lagi juga mau menikah kalau jelita dah selesai kuliahnya..”

“Ya… udah sekarang sudah malem mandi terus makan sama mama sama papa… papa sama mama juga belum makan nungguin kamu anak gadis mama yang bandel ini…” kata mama sambil menyentuh lembut tanganku.

Rasanya aku seneng banget dengan kehidupanku… YA ALLOH Alhamdulillah… punya rumah megah, orangtua yang begitu sayang sama putrinya terus punya calon suami yang setia rajin beribadah, penyayang, kurang apa sih aku…tapi kadang aku merasa kesepian di rumah aku kan kepingin punya kakak atau adik juga biar bisa bercanda dengan aku bisa menghilangkan kesepian ku di dalam rumah.

Liburan semester ini kuhabiskan di rumah ya nemenin mama di rumah bantuin mama bersihin rumput di taman…

“Deeerrr…!!! Jelita kok melamun sih mikirin aku ya” tau-tau angga sudah berada di sampingku sambil nyengir kuda.

“lho… Kamu kok bisa masuk sini ngga bukankah pintunya aku kunci tadi”

“Bisa dong… papa sama mama kamu kemana barusan kok kayaknya buru-buru banget gitu”

“Barusan aja pergi katanya ke rumah nenek”

“kalau gitu kita maen yuk…” ajak angga

“kemana ngga? oh iya ke pak karma aja yuk…”

“Kamu kok sukanya kesana sich jel…?” kata angga sambil mengeryitkan dahinya

“aku Cuma penasaran sama lukisan itu sayang… kamu kok cemberut sih…” kataku sambil melirik dia

Kira-kira 3 jam perjalananku dengan angga akhirnya sampai juga. ketika aku mau masuk tiba-tiba saja aku ditabrak dengan seseorang.

“aduh…!!! Maaf mba” kata seorang cowok sambil membereskan semua lukisan yang berserakan tiba-tiba cowok itu menatap aku.

“Juwita…!! kau kah itu Juwita…” kata cowok itu sambil memeluk aku dan segera aku tampik cowok aneh ini.

“Apa-apaan sih kamu ini…” Kataku sambil menjauh

“kok kamu sekarang makai jilbab juwita? Kamu kemana saja” kata cowok itu lagi

“hay… apa-apaan si dia itu jelita tunangan aku buka juwita tau…!!! Kamu sembarangan meluk tunangan orang” kata angga yang mau mencoba memukul cowok di depanku.

“kamu juwita kan… bukan jelita, ini… ini… semua lukisan-lukisan kamu yang aku buat juwita sekarang impian aku jadi kenyataan aku jadi pelukis itu kan seperti harapan kamu juwita, aku cari-cari kamu kemana-mana nggak ketemu juwita kata ibu tiri mu kamu pergi jauh kemana kamu tega ninggalin aku juwita” kata cowok itu menangis di hadapanku… dan aku pun tidak tau akar permasalahannya…

“aku nggak tau siapa juwita… kenal aja nggak… nama aku jelita, nih KTP aku kalau kamu nggak percaya” kataku sambil menyodorkan KTP.

“tapi… wajah kamu itu kok sama dengan kekasih aku…”

“makanya jadi cowok itu jangan langsung nubruk cewek orang sembarangan, untung saja aku tadi nggak jadi nonjok kamu… dasar cowok aneh…!” kata angga sambil meringis kesakitan soalnya kakinya aku injak…

“maaf… nama kamu siapa? Terus udah lama berpacaran dengan juwita?” tanyaku ingin tahu

“kenalin aku Alexs sebenarnya aku sudah mau menikah dengan juwita tapi ketika pesta pernikahaan juwita nya menghilang katanya melarikan diri… keluarga aku panik kenapa mempelai perempuannya tidak ada terus kata mama tiri juwita katanya juwita melarikan diri soalnya dia tidak mencintai aku… tapi aku nggak percaya itu… Tidak mungkin juwita seperti itu… terus mama tiri juwita menyuruh aku harus menikahi putrinya saja adik tiri juwita namanya popy… akhirnya pesta pernikahan itu batal tidak jadi karena aku sama sekali tidak mencinta popy… aku Cuma mencintai juwita bukan popy… sekarang kepergian juwita tidak ada kabar beritanya… aku yakin dia enggak pergi… tapi apa bener nama kamu jelita” Tanya alexs padaku sekali lagi.

“ya ampun… kamu nggak percaya juga kalau dia jelita kuhajar dulu baru percaya apa..?” kata angga emosi

“jangan ngomong gitu dong ngga… gimana kalau sekarang kita ke rumahnya juwita..” tanyaku pada alexs.

“ke rumahnya juwita… jangan deh jelita soalnya popy itu nggak suka banget sama kakak tirinya… entar kamu dikirain juwita.”

“Harus gimana dong…?” kataku cari akal.

“Hem… Alexs kamu punya nomor telponnya papanya Juwita nggak” Tanya angga mengusulkan idenya.

“Aduch… ngga… papanya juwita sekarang lagi sakit stroke kalau ngomong nggak jelas… aku Cuma curiga sama tante Vony pasti semua kelakuan jahat tante Vony” kata alesx mantap.

“Angga… aku pengen ketemu sama papanya juwita siapa tahu aku bisa membantu dia…” Kataku sambil merayu angga.

Dari kaca gelap marcedesnya Angga aku melhat sebuah bangunan yang begitu indahnya… megah banget mirip istana.

“Wow… ini rumahnya lexs..?” kataku sambil memandangi rumah yang tertata rapi mirip istana di negeri dongeng…

“Itu… yang makai baju merah itu popy, sedangkan itu mamanya… eh dia mau pergi.. untung saja… kita ada kesempatan buat masuk” kata alexs sambil membuka pintu mobil dan aku sama angga Cuma bisa menguntitnya dari belakang.

“Assalamu’alaikum… bik luis… bukain pintu nya bik…” Kata alexs sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Dan tiba-tiba pintu terbuka muncullah wanita separuh baya dengan kebaya warna coklat walaupun usianya sudah tua tapi masih kelihatan cantik.

“Oh… den alexs… tumben datang lagi…” kata bik luis sambil memandangi kami bertiga.

“Oh… non Juwita… bibi kangen banget sama non juwita kemana saja sih non selama ini…” Kata bibi Louis sambil memeluk aku erat banget seakan-akan tidak mau untuk melepasnya.

“Bi… aku bukan juwita bi… tapi nama aku jelita…” kataku mantap sambil melihat sekeliling ruang tamu itu

“Je…li…ta…” kata bi luis bingung..

“A…da… ta..mu… si…a..pa… bi…?” Tanya seeseorang dari dalam.

“Den alesx… Tuan..” kata bi luis sambil berjalan mendekati papanya juwita dan mendorong kursi rodanya biar berdekatan dengan kami.

“A…lexs… a…pa… i…tu… ju..wi..ta…” kata pak darwis dari kursi rodanya

“bukan pa… tapi jelita” kata alexs mendekat ke pak darwis.

“je…li…ta… kau… kah.. itu… jelita…? kema…rilah su..dah… 20 ta…hun ki…ta ber…pi..sah deng..an mu nak… ma…af…kan pa…pa… ya… nak… pa…pa… ki…ra kamu su..dah… me..ning..gal dengan ibu..mu waktu kecelakaan mo..bil… ter…nya..ta… ka…mu… masih… hi…dup… wajah ka…mu… can…tik… ba..nget je..li…ta.. sa..ngat… mi..rip… de…ngan sau…da…ra… kem…bar.. mu… ju..wi..ta…” kata pak darwis berkaca-kaca..

“A…ku… nggak ngerti maksud bapak… aku bukan jelita anak bapak… tapi papa aku bernama Darius…” kata ku meyakinkan

Kutatap foto-foto yang tertata rapi di dinding… kemudian aku diantar ke kamar juwita… apakah mungkin dia kembaran ku… apakah mungkin dia saudara ku… terus pergi kemana kah dia sekarang..?


Karya : Iin Mawarni

KUNTILANAK

Di suatu malam yang mencekam. Bayangnya datang mengahampiri, Menjadi sosok yang menakutkan! Bergelantungan di atas tangkai, Mencari hati yang sepi.

Aku melangkah dalam malam. Menyusuri setiap jalan yang kulalui. “Ihhh kenapa sih? Setiap jalan sini bawaannya merinding terus” Batinku. “Desiiii, hik hik hik hik” Suaranya lirih, Membuat bulu kudukku berdiri. Bisikan itu, Seakan mengancam jiwaku.

Aku bekerja di sebuah PT dikawasan KIM karawang, Setiap hari aku pulang hampir tengah malam karena tuntutan lembur. Di desaku, Memiliki mitos tersendiri. Konon katanya, Di depan jalan dekat rumahku. Berdiri sebuah bangunan kosong yang kokoh. Karena terlalu lama tak berpenghuni, Bangunan itu menjadi sangat angker. Warga desa selalu mendengar teriakan seorang perempuan yang merintih dari dalam sana. Aku sendiri mengalami hal tersebut. Hampir setiap hari hantu itu mengganguku.

“Hiiiihhh, Siapa sih itu? Jangan ganggu dong” Teriakku dari luar rumah itu. Aku memberanikan diri. Berdiri sendiri di luar bangunan angker itu. Dari luar saja sudah terlihat menakutkan! Biasanya setiap kali melewati jalan itu, Aku akan lari terbirit-birit karena selalu saja merasa dihantui. “Tuh jurig kenapa selalu gangguin gua ya, Dia pake kenal gua lagi” Batinku kesal karena merasa aku juga tenar di dunia lain.

Kata warga disana, Dulu pemilik rumah itu adalah warga keturunan chinese. Mereka memiliki satu orang putri yang cantik, Tetapi setelah beberapa bulan menempati rumah itu. Putri mereka hilang entah kemana. Kemudian mereka memutuskan untuk mengosongkan bangunan itu dengan alibi yang tak jelas. Sejak saat itu, Bangunan itu menjadi sangat angker.

Kamurang, 21 juli 2016

Malam itu aku pulang sangat larut, Karena pekerjaan yang memaksaku menguras semua tenaga ini. “Lama-lama gua bisa jadi sangat kurus kalau gini terus, Arrrghh pak kemad pasti marah kalau tau anaknya yang semok ini berubah seketika” Batinku melucu disaat keadaan yang seharusnya mencekam.

Aku berjalan melewati bangunan itu, Malam yang seharusnya membuatku sedikit lega karena dapat merebahkan tubuhku di atas kasur. Tapi kenyataan tak berpihak untuk itu. Kutengok di sekeliling, Tak ada satu pun makhluk yang tampak disana! Kurasakan tubuh ini terguncang, Bukan hanya itu. Seperti ada mata-mata yang mengawasi. “Aaaa apaan itu? Putih-putih gitu” Aku berlari, Tapi tubuhku tiba-tiba tak dapat bergerak. Mulutku seakan terbungkam. Aku ingin berteriak, Rasanya ingin muntah! Kurasakan darah mengalir dari lubang hidungku. Mual, Itu yang kurasakan! Aku muntah, Tapi bukan seperti biasanya. Aku memuntahkan sesuatu yang menjijikan. “Belatung, Shiiittt” Batinku menangis, Aku marah pada diriku sendiri. Kejadian apa yang menimpaku? Kaki rasanya sangat berat kulangkahkan! Banyak suara-suara mengerikan yang hinggap di telingaku, Kulihat seorang perempuan berbaju putih sedang duduk di bawah pohon itu.

Sudah sejak lama pohon itu berdiri disana, Menunggu majikannya kembali. Pohon itu berdiri sebelum bangunan itu ada. Orang bilang, Itu pohon keramat. Lengkap sudah keangkeran bangunan itu. Aku yang sedari tadi diam kaku disini, Meratapi nasib apa yang akan menimpaku. Tapi kurasakan tubuh ini bergerak, Aku lajukan kaki ini. Berlari meninggalkan bangunan itu. Tapi kakiku tersandung “Oh tuhan, Kaki siapa ini?” Kulihat perempuan itu lagi, Mata dan wajahnya lebih mirip warga chinese. Aku pikir dia hantu yang telah lama hilang. Wajahnya sangat cantik tapi itu tak bertahan lama, Kemudian seperti petir yang menyambar tubuhnya. Wajahnya berubah menjadi sangat hitam, Lebih mirip tubuh yang telah terpanggang. “Arrrggghhh” Hantu itu mencekik leherku. Seakan kepalaku terputus dari tempatnya. Aku merasakan darah mengalir di sekujur tubuhku. Kepalaku menggelinding di tanah, Seseorang menendangnya. Hingga kulihat seberkas cahaya putih datang mengahampiri. “Apa itu? Apakah aku sudah mati? Bapakkk desi gak mau mati, Hik hik hik” Aku berteriak berharap seseorang membantuku. Cahaya itu membawaku pergi.

“Hah, Dimanakah aku?” Kulihat di sekeliling. Aku masih di jalan ini. Tarpaku menatap bangunan itu. Aku berlari sekencang mungkin agar dapat sampai ke rumah dengan selamat. “Bapak, Dedes pulang” Tak seorang pun yang menjawab. Kucium bau amis yang teramat mengganggu indra penciumanku. “Desiii, Desa ini terkutuk. Hik hik hik. Kau..” Hantu itu terus berbisik. Sangat parau, Suaranya seperti nenek tua. “Hiiih kenapa sih jurig itu sukanya bisik-bisik” Teriakku sambil terus mencari dimana asal bau itu. Kulihat bapak sedang terkapar di balik bilik kamarnya, Wajahnya sangat hancur terpanggang. Aku menangis, Aku menyalahkan takdir yang membawanya pergi.

Pak kemad adalah seorang bapak yang tangguh. Membesarkan aku hingga aku sebesar ini. Berbekal keringat. Dia raih tanganku dan menggenggamnya. Aku berani, Melawan takdir itu deminya. “Siapa kau, Tunjukkan makhluk jelek” Tak seorang pun yang menjawab. Aku berlari ke luar rumah, Berharap seseorang membantuku. Tapi yang kudapat. Semua warga tewas terpanggang. Aku berlari meninggalkan desa itu.

Seseorang menangkap tubuhku, Tangannya sangat pucat. Dingin, Itu yang kutahu. Wajahnya, Aku sangat mengenalnya. Perempuan itu! “Kau, Kau kuntilanak itu? Yang sering mereka bicarakan. Tolong, Aku mohon jangan ganggu aku” Kulemparkan tubuh itu agar menjauh dariku, Tapi yang kudapat. Tangannya masih menempel di bahuku. Tubuhnya terpental jauh kesana. Tangan itu menjambak rambutku. Seakan ada jiwa yang masuk, Aku merasakan mual. Tubuhku dingin, panas dan perasaan yang tak kumengerti. Aku bicara pada diriku sendiri.

“Hahahahaha, Hik hik hik hik. Akulah penguasa. Desa ini telah aku kutuk. Mereka mati di tanganku. Mati oleh apa yang seharusnya terjadi. Mereka membunuhku dengan itu! Aku sangat menyukai itu” Teriakku sambil terus menjambak rambutku sendiri. Seperti kebanyakan orang gila. Hal itu yang kulakukan. “Aku ratu disini, Hik hik hik hik. Kalian membunuhku” Aku terus meronta. Mengorek-ngorek tanah di bawah pohon itu. “Ini bukan pohon keramat, Ini rumahku. Kalian kubur aku disini” Kulihat tulang belulang disana. Kumakan semua itu, Tak ada yang tersisa. Semua itu begitu renyah. Seperti daging panggang! “Apa salahku pada kalian, Aku hanya ingin berteman. Apa perbedaan aku dengan kalian?” Aku bakar semua rumah itu, Semua orang mati terpanggang. Aku bahagia. “Desi, Kau seorang pembunuh. Kau harus mati, Kau harus mati dengan apa yang kau suka. Kau menyukai api. Karena itu, Kau harus mati di tangannya. Seseorang harus rela mati demi apa yang disukainya” Aku terus berbicara pada diriku sendiri. Tak ada seorangpun disana! “Arrrghhhh” Tubuhku terpanggang. Aku merasakan sakit yang teramat! Aku lihat semua orang tertawa. Entah sejak kapan mereka berada disana. Aku lelah, Aku ingin pulang.

Desi silvia adalah seorang gadis chinese yang cantik, Dia sangat menyukai api. Menurutnya api melambangkan keberanian. Pada suatu hari, Dia menyukai seorang pemuda. Pemuda itu menyuruh desi untuk membakar dirinya sendiri, Seseorang harus rela melakukan apa saja demi yang disukainya. Desi marah pada pemuda itu dan membakar tubuh pemuda itu dengan apa yang disukainya. Keluarga pemuda itu sangat marah, Mereka merencanakan kematian desi. Membunuhnya dengan cara yang sama. Akbar sangat membenci desi, Desi telah merenggut nyawa adiknya. Adik yang sangat dia cintai. Nyawa dibalas dengan nyawa. Dan aku, Aku adalah dia. Si perempuan itu. Kuntilanak yang sering mereka bicarakan. Aku.. Akan membalaskan dendamku. Kepada kalian yang suka bermain api. Kurobek jantungnya, Kupanggang hatinya. Hingga hancur, Tak tersisa! Aku dirasuki diriku sendiri. Yang tak menerima, Yang tak pantas mati. Aku ingin hidup seribu tahun lagi…


Karya : Dheea Octa

Saturday, December 7, 2019

VIDIO POLITIK

Hari yang tenang dan cerah banget di hari minggu. Dono sedang asik menonton vidio di Hpnya. Indro baru pulang dari pasar.

Saat masuk rumah mengucap salam "Assalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono.

Indro langsung menaruh gorengan di meja dan "Don, gorengan."

"Iya," jawab Dono.

Indro langsung membawa barang belanjaan di pasar ke belakang untuk cuci bersih dan setelah itu di taruh di kulkas. Indro pun membawa minuman kaleng dan duduk bersama Dono di ruang tamu.

"Don, asik bener vidionya!" kata Indro sambil minuman kalengnya.

"Iya, vidio kiriman dari teman.

Tentang pergerakan politik untuk mencalonkan pemilu di daerah," kata Dono.

"Mana aku lihat," kata Indro.

"Nih," kata Dono memberikan Hpnya ke Indro.

Indro pun menonton vidio dari Hpnya Dono dengan cermat.

"Iya, pergerakan politik untuk mencalonkan peserta pemilu di pemilihan di daerah," kata Indro.

Indro pun memberikan Hp yang di pegangnya ke Dono. Ya Dono segera memegang Hpnya dan segera mematikan tontonan vidionya, lalu menaruh Hp di meja. Gorengan pun di makan Dono.

"Enak, gorengan ini Indro," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono beranjak dari tempat duduknya ingin mengambil minum. Tiba-tiba Indro berkata "Dono apa tanggapan vidio yang kamu tonton tadi, ya masih berkaitan dengan politik?"

"Sebentar aku jawab, aku mau minum dulu," kaya Dono.

Dono pun bergerak menuju kulkas untuk mengambil minuman. Indro tetap sabar menunggu omongan Dono, sambil makan gorengan.

Dono yang sudah minum untuk melegahkan tenggorokannya, kembali duduk di ruang tamu.

"Tanggapan aku tentang vidio yang di kirim teman ku yang masih berkaitannya dengan politik, lebih tepatnya gerakan orang-orang politik mengusung peserta pemilu di daerah. Ya sederhana sih. Biasa aja tuh. Karena visi dan misi yang di usungkan ya.....gak begitu jauh dari visi dan misi, periode yang lalu sih. Lebatnya sebelas dua belas gitu," kata Dono.

"Kalau begitu kurang menarik dong alias kurang panas. Tapi masyarakat yang di himpun dari tingkat RT, antusias gitu banget ya," kata Indro.

"Ya wajar antusias, Kan di bayar. Ada struktur organasi kemasyarakatannya. Semuanya tujuannya sih kemenangan dari peserta pemilu untuk pemilihan di daerah," kata Dono.

"Berarti, orang-orang cari makan dong," kata Indro.

"Ya iyalah, cari makan. Nama juga membentuk organisasi dan dan gunakan untuk apa organisasi itu di bentuk. Karena tujuannya masih berkaitan ke politik, ya mencari ke untungannya bagaimana mengumpulkan kekuatan di masyarakat untuk membuat nilai kepercayaan, agar peserta pemilu di daerah menang dengan mengumpulkan suara rakyat terbanyak," kata Dono.

"Berarti bener-bener menghimpun kekuatan dari awal banget sampai waktu pelaksanaan pemilu di pemilihan daerah," kata Indro.

"Iya......, udah ah ngobrolnya aku mau baca buku," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono pun beranjak dari duduk di ruang tamu mengambil buku di rak buku, setelah itu kembali duduk di ruang tamu lagi. Indro sedikit kaget melihat buku yang baca Dono dan berkata "Politik, Don!"

"Iya...politik...., kenapa?" kata Dono.

"Bukannya kamu sering baca buku politik yang isinya perkembangan politik di Indonesia!" kata Indro.

"Iya memang aku baca buku politik perkembangan di Indonesia, tapi buku ini beda. Buku politik ini tentang politik di negara maju.Tujuannya aku ingin lebih jauh lagi memahami perkembangan politik di negara maju yang menjadi tolak ukur negara berkembang untuk pergerakan politiknya," kata Dono.

"Jadi lebih luas lagi deh pemahaman kamu tentang politik ya. Tidak terlalu monoton kalau hanya memahami bentuk politik yang berkembang di Indonesia," kata Indro.

"Ya jelas lah," kata Dono.

"Baca bukunya Don untuk nilai keilmuan kamu! Aku mau masak," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Dono membaca bukunya dengan tenang di ruang tamu. Indro bergerak ke dapur segera mulai memasak dengan bahan-bahan yang di belinya di pasar.

MENIKAH TANPA CINTA

Dono sibuk baca buku di ruang tamu. Indro ya seperti biasanya asik nonton Tv. Saat acara Tv menayangkan iklan, Indro beranjak dari tempat duduknya di ruang tengah ke tempat Dono di ruang tamu yang asik baca buku.

"Dono, menikah tanpa cinta itu ada gak ya zaman sekarang?" tanya Indro.

Dono menghentikan baca bukunya.

"Kaya sih masih ada tuh, kalau di lihat keadaan," kata Dono.

"Gimana jalan cerita rumah tangganya kalau menikah tanpa ada cinta awalnya," kata Indro.

"Ya....biasa aja sih," tanggapan Dono.

"Gimana dengan orang-orang belum nikah, walau umurnya sudah cukup? Pada hal masih ada menikah tanpa cinta," kata Indro.

"Kalau orang-orang belum nikah, tapi umurnya udah cukup untuk melaksanakan pernikahan. Itu sih harus di lihat dari ekonomi dan piskologisnya yang paling penting," kata Dono.

"Kalau di lihat dari ekonomi sih sudah jelas banget, kalau di lihat dari piskologisnya, ya kebanyakan sudah dewasa tetapi kelakuannya masih belum bisa bertanggung jawab penuh," kata Indro.

"Itu tahu," saut Dono.

"Pada akhirnya lebih baik menikah tanpa cinta dari pada menikah karena cinta, awalnya milih sana dan sini," kata Indro.

"Menikah tanpa cinta lebih baikkan. Asal comot aja ceweknya dan lihat latar belakang orang tuanya baik, langsung deh di jalanin pernikahan dari pada orang-orang lama pacaran gak jadi juga menikah, katanya cinta kan," penjelasan Dono.

"Berarti Don. Memang lebih baik menikah tanpa cinta," tegas Indro.

"Iya," saut Dono.

Indro beranjak dari duduk bersama Dono di ruang tamu ke ruang tengah untuk menonton Tv. Dono melanjutkan baca bukunya kembali dengan tenang di malam minggu yang tenang banget.

Wednesday, December 4, 2019

DI BALIK RAHASIA NAMA MARIA

Dono lagi santai di rumah sambil nonton film dari Hpnya. Indro baru selesai urusannya dengan Saskia, alias pacar Indro, langsung balik ke rumah. Di tengah jalan melihat pedagang es dugan. Ya seperti biasa Indro beli es dugan tiga bungkus ke Mamang penjual es dugan dan di bayar dengan uang pas.

Sampai di rumah. Seperti biasa Indro mengucap salam "Assalamualaikum".

Dono yang asik nonton film dari Hpnya dan mendengar salam Indro, langsung menjawab "Waalaikumsalam".

Indro masuk rumah langsung duduk di sofa di ruang tamu.

"Don, es dugan," kata Indro dan memberikan sebungkus es dugan.

"Terima kasih... Indro, kebetulan aku haus," kata Dono.

Dono menghentikan nonton film di Hpnya segera menikmati es dugan. Satu bungkus sama Indro di taruh di kulkas, karena Kasino belum pulang dari kerja. Indro menikmati es dugan dan berkata "Segernya, minum es dugan di hari yang panas".

Indro pun teringat sesuatu, saat ia membaca Blog-nya Dono menulis cerita cinta berkenaan nama Maria jadi tokoh wanita. Indro bertanya ke Dono "Don...kenapa kamu mengangkat nama Maria di tulisannya kamu dan jadi tokoh wanitanya, ya utama gitu?"

"Maria, karena eeee karena. Di masa lalu ku. Aku pernah bermain permainan cinta dengan meluluhkan hati gadis cantik bernama Maria dengan sebuah puisi yang aku kirimkan padanya," penjelasan Dono.

"Jadi bener-bener nyata dong, kisah cintanya....ya..Don," kata Indro.

"Yo...i," kata Dono.

"Jangan ada kaitannya dengan penyanyi yang namanya Maria juga kan?" tanya Indro.

"Ya, iya lah ada kaitannya. Kalau kenyataan nama Maria itu urusan perjalan cinta menemukan seseorang baik untuk aku. Kalau penyanyi nama Maria, ya terkesan aku menyukai pembawaannya ketika ia menyanyi dan juga mengenang kisah kenyataan ku yang baik dengan Maria," penjelasan Dono.

"Kisah tentang Maria ini, sebelum bertemu dengan Rara...kan...Don!" kata Indro.

"Ya, iyalah. Nama juga masa lalu dalam menemukan seseorang yang baik untuk ku," tegas Dono.

"Jangan-jangan ini kisah...nyatanya penulis lagi," kata Indro.

"Ya, memang kisah nyata penulis. Dari awal ceritakan di bagi dua dalam tulisan. Maria itu kenyataannya di lingkungan penulis, sedang Maria yang di Tv, yang sedang bertanding perlombaan menyanyikan, mayanya dalam permain tulisan. Di jadi satu dalam ikatan cerita 'Terkenang dan Terkesan'," penjelasan Dono.

"Oh...jadi Terkenang dan Terkesan, toh," kata Indro.

Indro pun beranjak dari duduknya bersama Dono, ke ruang tengah dan langsung menyetel Tv untuk menonton acara kesukaan Indro. Dono yang selesai minum es dugan, maka itu kembali nonton film dari Hpnya yang benar-benar menghibur diri Dono.

Azan magrib pun di kumandangkan. Dono dan Indro menghentikan aktivitasnya dan pergi ke mesjid untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim yang baik, sholat magrib.

Sampai di mesjid. Dono dan Indro bertemu dengan Kasino, ya segera deh melaksanakan sholat berjamah bersama warga yang telah dateng ke mesjid. Sholat magrib berjalan khusuk banget sampai selesai. Setelah sholat magrib. Dono, Kasino, dan Indro langsung balik pulang ke rumah.

Monday, December 2, 2019

AIR MATA REZA TANDA CINTA KE MARIA

Di suatu daerah kawasan penggalian di temukan sebuah patung gadis cantik. Pak Agus, yang menemukannya patung gadis cantik tersebut menjualnya ke Pak Teguh, seorang penjual barang antik. Pak Agus berusaha menyakini ke Pak Teguh, agar membeli patung gadis cantik tersebut.

Awalnya di tolak oleh Pak Teguh, ketika Pak Agus mengirim fotonya patung gadis cantik yang ia temukan lewat jaringan di Hp. Pak Teguh setuju membeli patung gadis cantik dari Pak Agus. Segeralah patung gadis cantik yang di temukan itu di antarkan ke tempat Pak Teguh.

Kesepakatan yang menguntungkan buat Pak Agus dari barang temuaannya. Pak Teguh meloby Bos Robert yang keberadaannya luar negeri yang suka dengan barang antik dan di segera mengirim fotonya patung gadis cantik tersebut. Bos Robert, suka dengan patung gadis cantik dan akhirnya membelinya dengan mentranfer uangnya ke rekeningnya Pak Teguh.

Bahagialah Pak Teguh dengan hasil penjualan patung gadis cantik tersebut. Lalu di telponlah Reza untuk mengantarkan barang ke tempat Bos Robert. Reza bersama Irfan segera dateng ke tempat Pak Teguh. Sampai di tempat. Segera Reza dan Irfan membawa patung gadis cantik ke rumahnya Bos Robert dengan mobil.

Di perjalan. Reza dan Irfan mengalami kecelakaan dan mobil menabrak pohon, gara-gara ban mobil pecah. Reza dan Irfan memutuskan untuk bermalam di tempat tersebut sambil memperbaiki mobil. Setelah urusan ganti ban dan memperbaiki mesin mobil selesai, Reza dan Irfan santai dengan makan dan minuman yang mereka berdua bawa. Malam terlalu larut jadinya Reza dan Irfan tidur dengan tenang.

Langit cerah sekali. Sinar rembulan terang benderang. Patung gadis cantik berubah menjadi manusia dan keluar dari mobil. Esok paginya. Reza bangun dari tidur. Irfan yang sudah bangun duluan, langsung memeriksa mobil. Kagetnya bukan mainnya Irfan patung hilang. Reza pun mengetahui juga patung hilang, jadi kacau. Pak Teguh pun sudah menelpon Reza untuk menanyakan patung gadis cantik tersebut. Ya Reza berbohonglah kepada Pak Teguh, tentang patung tersebut dan bilang laporannya sih "Ada, Aman dan masih perjalan ke tempat Bos Robert".

Pak Teguh, merasa senang di dalam hatinya karena patung yang di kirimkan ke tempat Robert aman banget. Reza dan Irfan masih panik dengan keadaan patung gadis cantik yang hilang. Jadinya Reza punya rencana membeli patung yang mirip dengan patung yang hilang. Reza dan Irfan masuk mobil dan segera berangkat ke tempat penjualan patung. Eee di tengah jalan bertemu gadis cantik dan ingin numpang di mobil Reza. Ya di bolehkan gadis cantik itu numpang di mobil karena hanya ke depan oleh Reza dan Irfan.

Sampai di depan jalan, tepatnya pengkolan gitu. Reza menghentikan laju mobilnya dan ingin menurunkan si gadis cantik. Tapi ternyata gadis cantik malah mau ikut Reza. Kaget Reza dan Irfan. Kalau di tanya alasannya, gadis cantik berkata "Abang itu kekasihku", sambi jari tangan gadis cantik menujuk ke Reza.

Reza dan Irfan membiarkan gadis cantik ikut bersama mereka berdua. Sampai di tempat pembelian patung. Reza dan Irfan mencari patung yang mirip dan akhirnya dapet semuanya. Reza dan Irfan segera membawa patung ke dalam mobil dan segera di bawa ke tempat Bos Robert.

Sampai di rumah Bos Robert. Patung langsung di taruh di dalam rumah oleh Reza dan Irfan. Memang dapet pembayaran mengantat barang Reza dan Irfan, tapi di robek oleh Reza, kertas cek tersebut. Reza dan Irfan langsung segera pergi dari tempat tersebut.

Bos Robert memeriksa patung, ternyata palsu. Bos Robert minta pertanggung jawaban sama Pak Teguh, maka itu Pak Teguh tahu patung di antar palsu segera mengirim anak buahnya untuk mencari Reza dan Irfan.

Reza dan Irfan sudan sampai di rumah memang sudah malem banget dan ingin tidur gitu. Gadis cantik memang menginap di rumah Reza dan Irfan, ya di berikan tempat tidur terbaiknya Reza dan Irfan.

Esok paginya. Reza dan Irfan bertanya siapa gadis cantik tersebut. Sang gadis cantik berkata "Aku Maria, datang dari kayangan".

Reza dan Irfan memang terkejut dengan perkataan Maria yang asalnya dari kayangan.

"Jangan bidadari kamu ya Maria," kata Reza dan Irfan bersamaan.

"Ya begitulah adanya," kata Maria.

Reza dan Irfan pun bingung dengan keberadaan Maria, karena sebenarnya Reza dan Irfan tidak percaya omongan Maria kalau asalnya dari kayangan. Reza ada urusan jadi membiarkan Maria di rumah saja. Irfan yang gak punya uang, bingung dengan keadaannya. Saat benah-benah rumah menemukan perhiasannya Maria, jadi jual Irfan. Eeee hasil penjual perhiasan punya Maria di beli dengan harga yang fantastis. Irfan yang senang membawa Reza dan Maria bersenang-senang, makan dan minum di restoran gitu. Maria yang punya perhiasan, tidak peduli perhiasannya hilang alias di ikhlasin saja.

Di restoran. Maria makan-makan yang enak-enak sampai kenyang. Reza dan Irfan bingung dengan nafsu makan Maria, kaya orang kelaparan gak makan satu minggu. Usai makan di restoran. Reza melihat anak buahnya Pak Teguh, jadi kabur. Bersama Maria, Reza numpang mobil sana sini sampai di kampung.

Memang pengejaran anak buah Pak Teguh sampai di kampung juga dan hendak menangkap Reza. Sedangkan Irfan sudah di tangkap oleh anak buah Pak Teguh dan bawa ke tempat Pak Teguh, ya untuk di intrograsi mengenai patung gadis cantik. 

Irfan pun berkata mengenai patung gadis cantik dengan jujur banget "Hilang".

Pak Teguh marah, jadi Irfan di gebukin. Emang sih Irfan melawan, tapi kalah lagi karena main keroyokan. Irfan jadinya diam aja di gebukin anak buahnya Pak Teguh.  

Reza berkelahi dengan anak buahnya Pak Teguh di pasar. Emang kalah sih Reza dalam perkelahian itu. Tapi untungnya di tolong oleh warga yang kenal dengan Maria. Reza selamet dari anak buahnya Pak Teguh.

Warga yang menolong Reza dan Maria membawa mereka berdua ke rumahnya Mariam. Sampai di rumah orang tua Mariam. Baru tahu kalau Maria mirip dengan Mariam. Reza sebenarnya bingung dengan keadaan pada dirinya dan Maria, maka itu Reza bicara berdua dengan Maria.

Di ceritakanlah kebenaran tentang Mariam. Maria bertemu dengan Mariam di kayangan, karena memang Mariam sudah meninggal. Karena kebaikan Mariam menolong warganya dari keburukan tuan tanah, jadi di angkat ke kayangan. Memang Mariam meninggal karena kecelakan mobil yang di kendarainya, setelah mengumpulkan dana amal untuk membantu warganya yang kesusahan karena gadai surat tanah sama rentenir dengan bunga yang menyekek leher. 

Mariam di anggap pahlawan desa oleh para warga. Tetapi tuan tanah terus berusaha mencari cara untuk mengusir para warga dengan memainkan sertifikat tanah. Mariam murung di kayangan karena tidak bisa lagi menolong warga yang mengalami kesusahan. Maria pun bicara dengan Raja kayangan, tapi niat mau menolong tapi tidak di bolehkan karena melanggar larangan kayangan. Jadinya Maria di hukum menjadi patung dan turun di bumi. Reza tidak percaya dengan cerita Maria. Seketika Maria jadi patung lagi.

Reza pun menangis, sampai bertekuk lutut di hadapan patungnya gadis cantik. Reza menyesal dan tidak percaya cerita Maria. Pada akhirnya Reza menyatakan kebenarannya bahwa dirinya cinta sama Maria.

Air mata Reza, jatuh di kaki patung gadis cantik, maksudnya si Maria. Seketika patung kembali menjadi Maria lagi. Reza dan Maria berpelukan karena saling mencintai. Raja kayangan pun berkata "Jika ada seorang mencintai mu dengan sungguh-sungguh maka kau, Maria kembali ke wujudmu semula".

Orang tua Mariam yang menganggap Maria anaknya jadi di nikahin ke Reza. Maria senang menikah dengan Reza. Tapi sebelum acara pernikahan di adakan. Reza dan Maria harus menyelesaikan masalah dengan tuan tanah dengan mencuri surat tanah.

Rencana Reza dan Maria berhasil dengan mencuri surat tanah di rumah tuan tanah, lalu surat tanah di bakat oleh Reza dan Maria, jadi urusan masalah warga selesai juga karena tuan tanah gak punya bukti mengenai surat tanah yang di gadaikan oleh warga dengan perjanjian ini dan itu, yang pembayarannya bener-bener mencekek leher gitu.

Di saat pernikahan Reza dan Maria, ada masalah yaitu Pak Teguh dateng bersama anak buahnya dan Irfan juga. Maria pun meminta bantuan ke kayangan. Raja kayangan menurunkan panglima terkuatnya di kayangan untuk membantu Maria.

Sebenarnya sih panglima terkuat kayangan dateng ke Maria untuk di berikan kalung kekuatan yang akan menolong Maria. Kalung kekuatan itu malah di pake Irfan. Jadilah Irfan superhiro gitu dengan kekuatan supernya. Irfan menghajar Pak Teguh dan anak buahnya sampai tidak bisa bangun lagi. Kalung kekuatan di ambil oleh panglima terkuat kayangan dari Irfan dan setelah itu panglima terkuat kayangan segera kembali ke kayangan.

Ya pernikahan Reza dan Maria di lanjutkan karena masalah sudah selesai semuanya karena kehebatan dari Irfan si superhiro.

CAMPUR ADUK

ROMEO + JULIET

Malam hari. Bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...

CAMPUR ADUK