CAMPUR ADUK

Monday, February 4, 2019

IMPIAN YANG TERGANTI

Aku diam, tidak dapat mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Abi barusan. Bahkan panas matahari yang masuk melalui celah fentilasi ruang tamu pun, tidak dapat mencairkan otakku yang beku. Satu detik, dua detik, tiga detik.....otakku akhirnya dapat menangkap pernyataan Abi barusannya, mungkin saat ini matahari  sudah mulai mencairkan otakku, lalu sel-sel dalam otakku memerintahkan bibirku untuk berkata-kata.

"Apa Abi? Sekolah di pondok yang ada di Lampung?"

"Iya, Ndra.....Disana lebih dekat dengan Jakarta, jadi kamu bisa lebih modern. Pondok di sana nggak kampung-kampung amat kayak disini. Pondok disana udah kayak sekolah SMA Negeri di desa ini, udah bagus...." bukan Abi, tapi Umi yang menjawab pertanyaanku dengan sabar. Umi memang selalu begitu. Setiap Abi dan aku berbeda pendapat, Umi memang selalu bisa menengahi kami berdua seperti saat ini. Tapi tentu saja, aku harus tetap memperjuangkan keinginanku untuk bersekolah di Jambi bersama teman-teman SMP-ku,

"Nggak, Umi.....Aku nggak mau....mending aku di sini aja, di Jambi, walaupun di kampung kayak gini. Lagian kenapa sih, aku harus sekolah di pondok?" Aku kembali mengelak permintaan mereka.

"Ya.....Maksud Abi sama Umi itu, maunya kamu jadi orang yang bisa mendalami islam, Ndra.....Biar kamu bisa bahagia dunia akhirat," Umi menjawab masih dengan sabarnya. Sementara itu, Abi hanya diam menatapku tajam.

"Kalau Indra sekolah di pondoknya dengan terpaksa, itu artinya Indra nggak bahagia Umi....Pokoknya Indra nggak mau sekolah di pondok, apalagi di Lampung," aku tidak menghiraukan tatapan tajam Abi.

"Indra....tolong turutin permintaan Umi sama Abi, dong...," Umi kembali memintaku dengan penuh harap.

"Nggak Umi! Indra maunya ngelanjutin sekolah SMA Negeri yang Indra impikan. Kemudian melanjutkan kuliah di universitas Negeri yang terkenal di Indonesia Umi.....biar bisa ngebanggain Umi sama Abi juga. Pokoknya, Indra nggak mau sekolah di pondok, titik!" kali ini aku membentak Umi, tanpa memandang ke arah Abi. Nasibku tak ingin seperti Bang Doni, tetanggaku. Setelah lulus dari pondok, ia hanya bisa menjadi ustad biasa. Tidak punya ijazah yang sama seperti di SMA atau MAN, sehingga tak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Ya, walau ada penyetaraan pun, tetap akan susah.

"Cukup Ndra! Kamu jangan bentak-bentak Abi sama Umi lagi kayak gitu. Abi udah janji sama temen Abi yang ada di Lampung, kalau Abi mau menyekolahkan anak Abi di sana, Abi juga udah ngedaftarin kamu dan ngebayar uang sekolahnya separuh. Jadi kamu harus sekolah disana!" Abi sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi.

"Apa Abi? Ya Abi ambil lagi dong uangnya, pokoknya Indra nggak mau!", kali ini aku harus lebih tegas menentang mereka.

"Indra! Jangan bikin Abi marah lagi. Pokoknya, beresin aja baju yang akan kamu bawa!", abi menunjuk ke arahku." Abi udah mesen tiket bis ke Lampung, jadi besok pagi-pagi kita sudah harus berangkat."

"Tapi Abi...,"  aku tidak melanjutkan kata-kataku, karena tatapan tajam Abi mampu membunuh keberanianku.

"Indra! Cukup, kamu nggak usah bantah lagi!"

Aku meihat ke arah Umi untuk meminta pembelaan, namun Umi hanya menganggukan kepada. Menandakan bahwa aku harus menuruti permintaan Abi. akhirnya, akupun menyerah dan berjalan perlahan menuju kamar.

Aku memandang kearah kertas yang tertempel di dinding sebelah lemari belajarku. Disana terdapat tulisan berbentuk poin-poin bertinta warna hitam, yang berjudul 'DAFTAR IMPIANKU ENAM TAHUN KEDEPAN', yang kutulis tiga tahun lalu. Beberapa poin sudah kutandai dengan pena biru dan poin yang lain belum kutandai.

Seharusnya aku menandai semua daftar ini dengan pena biru, namun aku harus terpaksa menodai dua poin dari daftar tersebut dengan pena merah. Sekilas, aku membaca tulisan yang ada di bagian bawah kertas itu. ' Note : tinta biru = impian yang tercapai, tinta merah = impian yang tidak tercapai (do not ever)'. Hatiku perih membaca 'note' tersebut. Namun apa daya, semua harus terjadi, aku harus mengingat bahwa perintah orang tua adalah perintah yang wajib kita lakukan, setelah perintah Allah. Kemudian dengan berat hati, tangganku meraih pena merah yang ada di meja belajar dan menandai dua poin yang bertuliskan 'Masuk SMA Negeri favorit di Jambi' dan 'Masuk PTN favorit di Indonesia'.

***

Setelah dua hari perjalanan yang kutempuh. Akhirnya aku sampai di Lampung, tepatnya di Kota Tapis Berseri, Bandar Lampung. Saat ini aku dan Abi berada di...."Terminal Rajabasa!" Ya, begitu tulisannya. Sepanjang perjalan tersebut aku tidak banyak bicara, masih jengkel dan sedikit marah dengan Abi. Saat ditanya saja baru aku bicara, selebihnya aku hanya diam.

Saat turun dari mobil bis, terasa sekali yang tadinya tulangku pegal-pegal akhirnya dapat direngangkan. Rasanya sungguh melelahkan. Dalam hati, aku berkata sendiri, Sabar Indra, sebentar lagi sampai di Pondok Pesantren dan kemudian beristirahat disebuah kamar tamu yang sudah Abi jelaskan tadi.

"Nah, setelah ini kita naik mobil bis hijau itu Ndra, kira-kira 10 menit," Abi menunjuk sebuah bis yang sedang parkir di ujung terminal, kemudian melanjutkan, "Terus, kita turun di Lampu Merah Untung, dari sana kita naik ojek ke Pondok Pesantren Ulul Albab kira-kira 25 menit. Itu keterangan yang dijelaskan teman Abi."

"Apa Abi? Masih ada perjalanan lagi? Jauh banget, sih Bi.....Indra capek.," tubuhku melemas. Huh! Ternyata peristirahatan yang kutunggu-tunggu harus diundur sekitar 35 menit lagi, kataku dalam hati.

"Iya, Abi juga capek. Ya sudah, kita istirahat dulu ya di warung itu?" Abi menunjuk ke arah sebuah warung makan yang ada di depan kami.

"Iya, Bi," aku pun berjalan gontai mengikuti Abi.

***

Sebuah gerbang besar berbentuk seperti gapura putih menyambutku dan Abi dalam bisu. Tulisan besar diatasnya menarik perhatianku 'Pondok Pesantren Islam Ulul Albab'. Kudongakkan kepadaku bagian dalam pesantren, wilayah yang cukup luas dengan halaman yang ditumbuhi dengan rumput hijau, masjid putih yang cukup besar, yang letaknya di pojok depan halaman pesantren menghiasi pandanganku, sangat asri. Sementara, di lain sisi terlihat ruangan-ruangan pondok bercat putih dengan jendela berwarna biru.

Aku dan Abi memasuki bagian ruangan resepsionis atau biasa disebut ruang TU. Disana seorang wanita berjilbab berumur sekitar 30 tahunan menyapaku dan Abi dengan rumah.

"Selamat ghatong...," wanita tersebut menyapa kami dengan bahasa yang tidak mengerti - sepertinya itu Bahasa Lampung.

"Maaf..." belum sempat Abi melanjutkan kata-katanya, wanita tersebut langsung menyela, sepertinya dia mengetahui maksud ucapan Abi.

"Oh....maaf, saya kira kalian warga Lampung. Maksud saya tadi adalah selamat datang," wanita  tersebut berhenti sebentar ketika meilihat mulutku dan Abi berbentuk huruf 'o'. Kemudian dia melanjutkan, "Oh, mari....silahkan duduk," dia mempersilahkanku dan Abi duduk di kursi yang ada di depan mejanya.

"Oh, iya. Terimakasih," Abi menjawab dan duduk di kursi hitam empuk diikuti olehku.

"Maaf, dengan siapa, ya?" wanita tersebut bertanya kepadaku dan Abi.

"Saya Pak Ferdi, dan ini anak saya Indra. Saya mau mendaftar ulang anak saya yang kemarin sudah saya daftarkan lewat teman saya, Kepada Ulama di sini, Ustad Alamsyah," Abi menjelaskan, sebelum ditanya lebih lanjut oleh wanita tersebut.

"Oh, Pak Ferdi dan Indra ini....Yang dari Jambi itu, ya?" tanya wanita tersebut.

"Iya, benar, Mbak," jawab Abi.

"Baik, kalau begitu....isi formulir ini dulu," wanita tersebut menyerahkan kertas berwarna biru muda padaku, "Maaf Pak Ferdi, Indra, saya permisi sebentar ya....," wanita tersebut kemudian pergi.

Aku kemudian mengisi lembar data tersebut. Beberapa menit kemudian, setelah aku menyelesaikan mengisi semua data tersebut. "Assalamualaikum...," terdengar suara laki-laki memberikan salam.

"Waalaikumsalam...," jawabku dan Abi berbarengan seraya memandang ke arah datangnya suara. Di sana berdiri wanita paruh baya tadi, namun kali ini bersama laki-laki yang umurnya sepertinya sama dengan Abi. Beliau memakai sarung dan peci serta ditangannya memegang tasbih.

Sadar bahwa Abi mengenal laki-laki tersebut, ia langsung berdiri dari kursi yang didudukinya. "Alamsyah...! Masya Allah, sudah lama sekali kita tidak bertemu," Abi langsung memeluk orang tersebut yang ternyata Ustad Alamsyah, teman Abi itu.

"Ya, sudah sangat lama," mereka melepaskan pelukan, "Mana anakmu?" tanya Ustad Alamsyah.

Abi kemudian menggeser tubuhnya yang berisi, agar tidak menutupinya dari pandangan Ustad Alamsyah."Ini anakku....," Abi memperkenalkanku dengan bangga. Aku kemudian menghampiri Ustad Alamsyah dan mencium tangannya. "Asalamualaikum...," sapaku.

"Waalaikumsalam," Ustad Alamsyah menyambut uluran tanganku.

"Sudah besar dan  wawai nihan  anakmu, Fer," Ustad Alamsyah menepuk-nepuk punggungku.

"Ha..ha...ha, kamu ini...ya kan penurunannya juga sudah bagus," Abi menepuk-nepuk dadanya.

Ustad Alamsyah kemudian tergeletak, " Ferdi....Ferdi.....kamu memang tidak berubah dari dulu. Ya sudah....lebih baik kalian sekarang istirahat di kamar tamu. Setelah itu kita sholat maghrib bersama."

"Ya, baiklah.....," Abi menanggapi.

"Dina, tulung attako tian...." Ustad Alamsyah kemudian menyuruh wanita paru baya tadi.
Aku dan Abi kemudian diantar ke sebuah kamar yang terletak lumayan jauh dari ruang TU. Untuk sampai disana, kami melewati beberapa koridor kelas dan ruang asrama yang terlihat sepi karena masih musim liburan.

***

Dua tahun kemudian....

Panas matahari pagi yang keluar dari celah awan-awan yang menggumpal seakan-akan menyodorku. Bagaikan tokoh utama dalam pertunjukkan teater yang disorotkan oleh lampu, sementara tokoh lainnya dibiarkan samar-samar. Semua mata memandangku perhatian, yang berdiri lebih tinggi satu meter dari kawan-kawanku yang lain. Dalam pandanganku, aku melihat mereka menampakkan wajah yang penuh kegembiraan, namun sedikit gelisah karena sudah lama menunggu. Ya, di pesantren ini aku terpilih menjadi ketua santri. Kalau di SMA, istilahnya disebut sebagai ketua OSIS. Setidaknya, impianku menjadi ketua OSIS tercapai, meskipun istilahnya berbeda.

Kehidupan selama dua tahun di pesantren ini, tidak seburuk yang kubayangkan. Kegiatan-kegiatan yang padat, membuat kualitas tidurku meningkat, dan badanku pun terasa lebih sehat, karena setiap pagi melaksanakan senam. Benar kata Umi, pesantren ini sudah lebih modern, dibandingkan pesantren yang ada di Jambi. Ya, walaupun terkadang terasa melelahkan dan membosankan. Namun, apa gunanya teman, kalau tidak untuk membangkitkan semangat?.

"Bismillah...," aku menggumam dalam hati, memulai sambutanku, "Assalamualaikum wr. wb...," aku memberikan salam dengan suara yang lantang, yang kemudian mereka jawab dengan suara yang lantang pula.

"Baiklah kawan-kawanku kelas dua semuanya. Tentu kalian berada disini, pagi ini, karena kalian ingat bahwa hari ini kita akan mengadakan kunjungan pariwisata ke Taman Wisata Way Kambas, Untuk itu, saya sebagai ketua pelaksana acara, meminta kerjasama dengan kalian untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan masalah selama keberangkatan, sampai kita kembali lagi di Pokok Pesantren Ulul Albab yang kita cintai....," aku memberikan sambutan yang mereka dengar dengan seksama, meskipun ada juga beberapa orang yang sibuk mengontrol.

"Baiklah, sebelum kita berangkat. Ada baiknya kalau kita berdoa terlebih dahulu. "Silahkan saudara Fadhil, untuk dapat memimpin doa," aku mempersilahkan Fadhil, untuk dapat memimpin doa," aku mempersilahkan Fadhil, teman terdekatku selama dipesantren. Aku kemudian pergi dari posisiku, yang kemudian digantikan oleh Fadhil.

Beberapa menit kemudian, kami semua sudah berada di dalam bis yang akan membawa kami ke Way Kambas. Bis tersebut ukurannya sama seperti bis yang membawaku dari Jambi ke Lampung, dua tahun yang lalu. Membawaku ke kehidupan yang lebih baik.

***

Setelah kurang lebih dua jam perjalan yang sangat melelahkan, akhirnya kami sampai di Taman Wisata Way Kambas. Letak Taman Wisata tersebut berada di daerah Lampung Timur, tepatnya di Kecematan Labuhan Ratu.

"Selamat ghatong, seunyini....... Silahko kughu...," seorang petugas tiket mempersilahkan kami, setelah memberikan tiket masuk kepada sopir bus.

Setelah masuk ke dalam wilayah, Aku memandang kesegala penjuru taman wisata tersebut. Sangat terlihat jelas segerombolah kawanan gajah yang sedang duduk-duduk ataupun makan rumput. Terbesit rasa bahagia dalam hatiku. Ini adalah kai pertamanya aku datang ke Taman Wisata Way Kambas. Dari kecil, aku sangat mengagumi binatang yang berbelalai ini, aku sangat mengimpikan melihat dari dekat hewan tersebut. Namun, Abi tidak pernah mengajakku pergi kesini, dengan alasan wilayahnya yang jauh.

"Nah, disini sudah ada lebih dari 300 ekor gajah yang dilatih, dijinakkan, dam dikembangbiakkan, dan disebarkan di berbagai kebun bintang yang ada di Indonesia," salah satu petugas menjelaskan, membuatku tersadar dari lamunanku.

"Wahhh... Ternyata di sini juga ada badak, harimau dan buaya juga ya, Pak?" salah satu temanku, Ahmad, bertanya pada petugas tersebut.

"Iyu....selain Gajah Sumatera, disini juga ada Badak Sumatra, Harimau Sumatera, Mentok Rimba dan Buaya Sepit. Sementara itu, jenis burungnya ada Bangau Tongtong, Sempidan Biru, Kuau raja, Burung Pependang Timur dan jenis lainnya. Jama.... untuk jenis tanamannya ada tanaman  Api-api, Pidada, Nipah, dan Pandan," petugas tersebut menjelaskan.

Setelah beberapa jam kami berjalan-jalan di Taman Wisata tersebut, kami pun memutuskan untuk pulang. Saat perjalan pulang, banyak diantara kami tertidur, termasuk aku.

***

Satu tahun kemudian, setelah satu bulan pengumuman kelulusan.

Aku masih mengumpulkan pakaian kotor yang terletak di keranjang plastik yang kuletakkan di bawah kasur tidurku. Tiba-tiba, Fadhil memanggilku untuk segera ke papan pengumunan yang terletak di depan ruang TU. Mendengar hal tersebut, aku langsung mengurungkan niatku untuk mencuci, dan langsung berlari menuju Tempat tujuan.

Aku berjarak lima meter dari papan pengumuman yang sudah dikerumuni oleh santri-santri, sehingga menyebabkan papan pengumuman yang berbentuk papan tulis berukuran 2x1 meter tersebut, tidak terlihat lagi. Aku memutuskan untuk memperlambat langkahku, sambil memandang kawan-kawanku yang baru saja keluar dari kerumunan tersebut.

Ada dua golongan wajah yang tampak dari santri-santri itu, golongan pertama adalah santri yang berteriak bahagia, bersujud syukur, ataupun hanya menyengir lebar dan menggumamkan kalimat 'Alhamdulillah...". Sedangkan golongan kedua adalah santri yang menampakkan wajah sedih dan murung Semoga aku adalah santri yang termasuk dalam golongan satu, aamiiiin.....Doaku dalam hati.

Aku memasuki kerumunan tadi, kemudian memulai mencari namaku pada kertas HVS berjumlah tiga lembar, berisi sejumlah nama santri Pondok Pesantren Ulul Albab. Aku memulai mencari namaku dari lembar terakhir.

Setelah mencari beberapa lama, aku mulai cemas dan putus asa, karena setelah dua lembar kucari namaku tak kunjung kutemukan.

"Bagaimana?" Fadhil menghampiriku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Masih ada satu lembar lagi. Bagaimana denganmu?" aku berbalik bertanya kepada Fadhil.

"Alhamdulillah...," Fadhil menyengir sebentar. "Ayo kubantu cari. Kau dari bawah, aku dari atas....," Fadhil telah kembali memasang wajah simpati.

"Baiklah...," aku kembali semangat untuk mencari namaku.

Tidak sampai satu menit kemudian, Fadhil sudah memanggil-manggil namaku.

"Indra! Indra! Ini namamu, kamu masuk di Universitas Al-Azhar Kairo."

"Yang benar? Mana?" aku tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Fadhil barusan.

"Ini....kamu ada di urutan kedua," Fadhil menunjuk kesebuah nama, yang ternyata memang benar, itu namaku 'INDRA PUTRA FERDIAWAN' dan disebelahnya tertulis 'AL-AZHAR, KAIRO'.

"Alhamdulillah ya Allah....," aku bersujud syukur setelah keluar dari kerumunan tersebut.

"Selamat ya Ndra...," Fadhil mengulurkan tanggannya.

Aku langsung menyambut uluran tangannya, "Ya, selamat juga untukmu,,,,Oya, kamu masuk mana?"

"Alhamdullilah, sama sepertimu."

"Subhanallah.... Sepertinya kita memang ditakdirkan menjadi sahabat, ya Dil?"

"Iya Ndra, semoga kita menjadi sahabat sejati," jawabnya, dilanjutnya dengan pelukan sahabat.

***

Malam harinya, kuambil daftar impianku. Semuanya telah ditandai pena biru, kecuali dua poin. Kubaca kembali tulisan yang bertanda merah, lalu kutulis kalimat lain dengan pena hitam disebelahnya 'Masuk pondok pesantren yang menyenangkan' dan 'Masuk Universitas luar negeri'. Kemudian kutandai dua poin tersebut dengan pena biru. Jadi sekarang, lengkap sudah daftar impianku.

Aku memandang kembali daftar tersebut sekali lagi, dan tersenyum lebar, Kemudian kulipat kertas tersebut dua kali sehingga menjadi persegi panjang yang lebih kecil. Lalu kumasukan kedalam tas, yang sudah penuh terisi pakaianku.

Aku masih menyadarkan tubuhku di atas tempat tidur, saat melihat ke arah jam dinding yang tertempel empat meter dariku. Pukul dua belas. Kulihat satu persatu kelima teman satu kamarku. Mereka semua sudah tertidur nyenyak. Namun tidak sepertiku, yang masih terjaga, karena menunggu- nunggu hari esok untuk pulang ke Jambi dan ingin cepat-cepat bertemu Abi dan Umi yang sangat aku rindukan.

***


Karya: Ardini Yuliastri Putri

SEORANG PENYADAP NIRA

ADA seorang laki-laki yang pekerjaannya memanjat pohon siwalan untuk menyadap nira. Hasil sadapan itu kemudian dimasak menjadi gula. Dan menjual gula itulah ia bisa memberi nafkah keluarganya.

Pada suatu pagi, udara sangat lembap. Seluruh langit tertutup awan hitam yang mengandung air hujan. Laki-laki penyadap nira itu seperti tidak memperhatikan tanda-tanda alam bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Dengan tubuhnya yang kuat, tetap saja ia memanjat pohon siwalan untuk mengambil nira dan turun membawa timba penuh berisi nira.

Telah tiga pohon siwalan ia ambil niranya. Kini, ia naik ke pohon siwalan keempat. Sejak ia naik ke pohon itu, gerimis sudah turun ke bumi. Akan tetapi, ia masih terus memanjat. Tiba di atas pohon itu, hujan datang bersama angin yang bertiup keras. pohon-pohon pun bergoyang-goyang dipermainkan angin. Angin kencang itu ternyata bukan angin biasa. Pohon siwalan yang sedang dipanjat si penyadap nira itu meliuk-liuk ke sana kemari dan daunnya yang lebat melambai-lambai seolah-olah hendak lepas dari tangkainya.

"Celaka!" seru si penyadap dalam hati. "Ini angin topan."

Pohon siwalan itu seakan-akan hendak roboh ke tanah. Penyadap nira sangat ketakutan. Pikirnya dalam hatinya. "Jika pohon siwalan ini tumbang, aku pasti mati."

"Ya, Tuhan," ujar penyadap nira itu dengan khusyuk, "tolong, selamatkanlah diriku yang kini tidak berdaya! Jika aku selamat karena pohon yang kupanjat ini tidak tumbang, aku berjanji kepada-Mu, akan kupotong seekor sapiku yang paling gemuk dan akan kuundang orang-orang miskin untuk makan enak di rumahku."

Setelah penyadap itu berdoa dan mengucapkan janjinya kepada Tuhan, angin agak reda sehingga ia bisa turun pelan-pelan. Tiba di bawah pelepah, penyadap itu sudah mulai punya harapan untuk hidup. Ia merasa sedikit gembira. Akan tetapi, ia menyesal karena sudah berjanji kepada Tuhan akan menyembelih sapi untuk fakir miskin.

"Mohon ampun, ya, Tuhan. Aku telah telanjur berjanji akan memotong sapiku yang paling gemuk, padahal sapi itu sangat aku sayangi. Biarlah jika aku selamat di bawah, sapi sayangi. Biarlah jika aku selamat di bawah, sapi itu akan kuganti dengan kambingku yang paling besar dan paling  gemuk."

Angin pun semakin reda sehingga pohon siwalan itu tidak lagi keras bergoyang. Penyadap itu beringsut lagi ke bawah. Kemudian, ia berhenti tepat di tengah batang siwalan.

"Tuhanku yang baik, kambing barangkali terlalu besar untuk selamatan angin yang tak terlalu lama ini. Biarlah, aku akan menyembelih ayam saja. Apalagi tetanggaku yang miskin tidak banyak. Dengan memotong seekor ayam saja, sudah cukup memuaskan mereka."

Kini, angin benar-benar telah reda. Dengan cepat penyadap nira itu meluncur ke bawah. Di atas pangkal batang siwalan ia berhenti lagi. Kemudian, ia berucap kepada Tuhan, "Tuhan, ayam yang akan kupotong itu jika bertelur banyak sekali. Sayang sekali jika ayam itu kupotong. Lebih baik lima butir telurnya kusisihkan untuk memenuhi kaulku mengadakan selamatan."

Sesudah itu, meloncatlah si penyadap ke tanah. Ia merasa sangat gembira karena selamat.
"Ah, topan itu ternyata hanya angin lewat." kata penyadap itu kepada dirinya sendiri. "Meskipun aku tidak mengucap kaul, pasti aku tetap selamat. Hm, baiklah aku tidak usah mengadakan syukuran. Daripada digunakan untuk menjamu orang miskin, lebih baik telur itu kumakan sendiri."

Sesudah mengucapkan kalimat-kalimat itu, penyadap itu mulai memanjat pohon siwalan kelima, keenam, dan seterusnya. Sekarang, ia berada di atas pohon siwalan terakhir yang ia panjat. Ia sudah lupa pada peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawanya. Ia bersiul keras-keras sebagai tanda kegembiraan hatinya. Suara siulnya berkumandang di atas lembah yang  banyak ditumbuhi pohon siwalan.

Timban yang penuh dengan nira itu ia bawa turun. Siulnya yang merdu terus berkumandang. Ia turun dengan cepat. Setibanya di tengah agak ke bawah, tiba-tiba, kakinya tergelincir karena pohon yang dipanjatnya masih basah oleh air hujan. Tubuh pemanjat itu jauh berdebum dan terkapar di tanah.

Telah satu jam lebih istri penyadap nira menunggu suaminya yang tak kunjung pulang, padahal ia telah siap memasak nira sadapan suaminya. Karena tidak sabar menunggu, ia segera menjemput suaminya di kebun. Alangkah terkejut perempuan itu melihat suaminya tergolek di tanah. Ia menjerit  keras-keras sehingga orang kampung berdatangan ke tempat itu.


Karya: D. Zawawi Imron.

DI KAKI BUKIT CIBALAK

Dulu, jalan setapak itu adalah terowongan yang menembus berlokar puyengan. Bila iring-iringan kerbau lewat, tubuh mereka tenggelam di bawah terowongan semak itu, hanya bunyi kerokan yang tergantung pada leher mereka terdengar dengan suara berdentang-dentang, iramanya tetap dan datar. Burung-burung kucica yang terkejut, mencicit.

.....

Sekarang terowongan di bawah belukar puyengan itu lenyap, berubah menjadi jalan setapak. Tak terdengar lagi suara kerbau karena binatang itu telah banyak diangkut ke kota, kota di sana akan diolah menjadi daging goreng atau makanan anjing. Di sekitar kaki bukit cibalak, tenaga kerbau telah di gantikan traktor-traktor tangan.....

Di pagi itu baik mereka yang keturunkan kawula maupun mereka yang keturunan kerabat ningrat sudah berkumpul di halaman Balai Desa. Banyak orang yang akan memberikan suara kepada  calon yang disukainya dengan ikhlas. Tetapi banyak juga yang bersedia menjual suaranya dengan berbagai cara yang dirahasiakan. Pandangan suara ini acap kali membuat suasana seperti dalam perang dingin. Seorang pemilih berkata dengan seenaknya, "Toh hanya sehari ini kita mempunyai harga. Besok, seorang yang terpilih akan berubah sikap dari ramah-ramah kepada semua orang, menjadi acuh tak acuh kepada siapapun.

.....

Meskipun ada lima orang calon, kebanyakan orang mengatakan hanya dua orang yang memiliki peluang. Satu diantaranya adalah Pak Badi. Ia patut merasa berbesar hati, karena di Desa Tanggir ia mempunyai nama yang baik. Orang Tanggir ia mempunyai nama yang baik. Orang Tanggir belum pernah mendengar Pak Badi terlibat dalam perbuatan curang, apalagi perjudian. Sifat dermawannya amat menonjol. Juga orang Tanggir tahu, Pak Badi memiliki ijazah SMEP. Sekiranya lima calon itu masing-masing memegang buku lapor, pastilah angka tertinggi untuk mata pelajaran Budi Pekerti ada pada lapor Pak Badi.

Calon lain yang keadaannya mengimbangi Pak Badi adalah calon yang memegang lambang dengan gambar pedang. Dia berpakaian Jawa dengan belangkon, jas hitam wungkal gerang, dan kain batik sida mukti. Kumis tebal yang sengaja diperliharanya mengingat orang akan Aria Panangsang, Adipati Pajang dalam ketoprak. Calon yang gagah itu bernama Dirgamulya, dan terkenal dengan sebutan dengan Pak Dirga. Di dalam pergaulan, Pak Dirga lebih populer daripada keempat calon lainnya. Ia luwes, pandai bermain bola pandai berjudi.....

Selain Pak Budi dan Pak Dirga semua calon lemah. Barang kali mereka mencalonkan diri karena didorong diri oleh perasaan ingin menjadi sementara orang, bahwa ketiga calon itu hanyalah boneka-boneka yang sengaja dipasang oleh Pak Dirga untuk mengurahi suara yang berpihak pada Pak Badi. Siang itu penduduk Tanggir menetukan siapa yang menjadi lurah mereka. Dan keluhuran Budi, kearifan, serta kejujuran Pak Badi tidak memberikan nasib baik. Ia kalah, karena Pak Dirgalah yang terpilih.

Bagian kedua.....

Pambudi merasa kecewa karena calon yang dijagoinya kalah. Ia menginginkan Pak Badi yang terpilih sebab Pambudi menyenangi wataknya. Pambudi yang berusia 24 tahun, bekerja mengurus lumbung koperasi Desa Tanggir. Sudah dua tahun dia bekerja di sana, dan akhirnya dia berkesimpulan bahwa badan usaha itu tidak mungkin terus ditungguinya. Sebenarnya Pambudi ingin menjadikan lumbung koperasi yang diurusnya sebagai tempat dia membuktikan kecakapannya. Ia ingin membuat badan sosial itu sungguh-sungguh merupakan sebuah koperasi yang akan banyak faedahnya bagi semua penduduk Desa Tanggir. Tetapi lurah yang lama tidak demikian pendapatnya. Pak Lurah sering melanggar ketentuan-ketentuan perkoperasian yang selalu ia pidatokan sendiri.

.....

Hati Pambudi makin lama makin resah. Rasanya ia takakan bisa berbuat banyak dengan lumbung koperasi Desa Tanggir. Pak Dirga, lurah yang baru, berbuat tepat yang diramalkan Pambudi. Curang! Aneh, pikir Pambudi, aku hanya ingin bekerja menurut ukuran yang wajar, mengembangkan lumbung koperasi untuk kebaikan bersama.

.....

Karena merasa menemukan jalan buntu, Pambudi mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang baru dan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaan yang lama, datang dua bulan kemudian seorang perempuan datang menemui Pambudi. Ia mengajukan permohonan agar diberi pinjaman padi. Mula-mula keempat calon lainnya. Ia luwes, pandai bermain bola pandai-berjudi.....

Selain Pak Badi dan Pak Dirga semua calon lemah. Barang kali mereka mencalonkan diri karena didorong diri oleh perasaan ingin menjadi seorang lurah semata-mata. Atau benar kata sementara orang, bahwa ketiga calon itu hanyalah boneka-boneka yang sengaja dipasang oleh Pak Dirga untuk mengurangi suara yang berpihak pada Pak Badi. Siang itu penduduk Tanggir menentukan siapa yang menjadi lurah mereka. Dan keluhuran Budi, kearifan, serta kejujuran Pak Badi tidak memberikan nasib baik. Ia kalah, karena Pak Dirgalah yang terpilih.

Bagian kedua....

Pambudi merasa kecewa karena calon yang dijagoinya kalah. Ia menginginkan Pak Badi yang terpilih sebab Pambudi menyenangi wataknya. Pambudi yang berusia 24 tahun, bekerja mengurus lumbung koperasi Desa Tanggir. Sudah dua tahun dia bekerja di sana, dan akhirnya dia berkesimpulan bahwa badan usaha itu tidak mungkin terus ditungguinya. Sebenarnya Pambudi ingin menjadikan lumbung koperasi yang diurusnya sebagai tempat dia membuktikan kecakapannya. Ia ingin membuat badan sosial itu sungguh-sungguh merupakan sebuah koperasi yang akan  banyak faedahnya bagi semua penduduk Desa Tanggir. Tetapi lurah yang lama tidak demikian pendapatnya. Pak Lurah sering melanggar ketentuan-ketentuan perkoperasian yang selalu ia pidatokan sendiri.

.....

Hati Pambudi makin lama makin resah. Rasanya ia takakan bisa berbuat banyak dengan lumbung koperasi Desa Tanggir. Pak Dirga, lurah yang baru, berbuat tepat yang diramalkan Pambudi. Curang! Aneh, pikir Pambudi, aku hanya ingin bekerja menurut ukuran yang wajar, mengembangkan lumbung koperasi untuk kebaikan bersama.

.....

Karena merasa menemukan jalan buntu, Pambudi mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang baru dan keputusannya untuk yang baru dan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaan yang lama, datang dua bulan kemudian seorang perempuan datang manemui Pambudi. Ia mengajukan permohonan agar diberi pinjaman padi. Mula-mula perempuan itu tidak menyebutkan tujuan meminjam padi itu sebelum Pambudi bertanya.

"Untuk apa padimu nanti, Mbok?"

"Akan kujual. Untungnya akan kupergunakan untuk berobat. Lihatlah, leherku membengkak. Sakit sekali rasanya." Mbok Ralem, demikian nama perempuan itu,  memperlihatkan lehernya yang menggelembung seperti leher ular koros.

"Berapa luas sawah yang kau garap, Mbok?"

"Oalah, Nak, aku tak mempunyai sawah sedikit pun. Biasanya aku menggarap sawah tetangga, tetapi musim ini tidak. Aku tak menggarap sawah."

"Kalau begitu kau takkan mendapat pinjaman lebih dari 25 kilo. Apakah jumlah itu cukup?"

"Pasti tidak cukup, Nak sebab kata Pak Mantri, aku harus berobat ke Yogya,"

"Aku tidak dapat memutuskan kalau begitu. Mari kuantar menghadap Pak Lurah."

Ternyata Pak Dirga belum ada di kantornya. Sambil menunggu kedatangan kepala Desa Tanggir itu, Pambudi dan Mbok Ralem duduk di sebuah bangku panjang. Perempuan ini bercerita bahwa dia sudah tiga kali berobat kepada dukun dan sekali berobat dengan Pak Mantri kesehatan.

"Aku ingin sekali cepat sembuh, Nak. Leherku makin lama makin tercekik rasanya."

"Iya, aku mengerti. Kukira kau memerlukan biaya yang agak banyak, sebab akan cukup dengan uang dua-tiga ribu rupiah."

"Memang demikian, Nak. Seandainya masih ada sesuatu yang dapat kujual, pasti aku tidak akan meminjam padi di sini. Aku takut nanti tak mampu mengembalikannya."

Setelah Pak Dirga datang, Pambudi membawa tamunya masuk ke kamar kerja Kepala Desa. Dengan suara lirih dan gemetar, Mbok Ralem mengutarakan maksudnya kepada Pak Dirga. Selama berbicara perempuan itu tidak sekalipun menaatap wajah lurah. Pak lurah tidak segera memberi jawaban. Ia hanya melihat sepintas saja leher Mbok Ralem. Kemudian dengan pandangan mata lurus Pak Dirga berkata, "Mbok Ralem, sebenarnya seorang seperti kamu tidak bisa mendapatkan pinjaman. Aku tahu, banyak peminjam tidak dapat mengembalikan pinjamannya saja tidak dapat, apalagi bersama bunganya. Jawablah sekarang rang dengan jujur, apakah dulu kau punya pinjaman dari lumbung?"

Wajah Mbok Ralem pucat mendadak. Betul, dua tahun yang lalu dia meminjam sepuluh kilo padi dari lumbung. Dua panenan berikutnya hama wereng memusnakan padinya selagi masih hijau. Jadi dia tidak bisa mengumpulkan bawon. Jangankan mengembalikan pinjaman, untuk makan bersama dua orang anaknya saja sudah tidak ada. Pak Dirga mengulangi pertanyaannya. Dengan suara yang berguman di tenggorokan, Mbok Ralem mengakui dakwaan lurahnya.

"Pambudi." Kata Pak Dirga. "Hitung berapa pinjaman perempuan ini bersama bunganya sekarang." 

"Dua puluh tujuh setenga kilo," jawab Pambudi dengan suara sedikit tertahan.

"Nah, itu. Utangmu dua tahun yang lalu belum bisa kau bayar kembali, sekarang kau mau punjam kembali, bagaimana?"

Mbok Ralem meremas-remas jarinya sendiri, benjolan di lehernya terasa menggigit,  bibirnya gemetar mau berbicara, tetapi tidak sepatah kata pun berhasil diucapkannya. Sebagai gantinya air matanya mengalir deras. Kemudian Mbok Ralem bangkit karena merasa tidak mampu lagi berkata walau hanya sepatah. Apalagi kalau dia teringat kepada kedua anaknya yang ditinggal di rumah, yang disuruh menjaga ubi yang sedang direbus dalam kuali. Sebelum berjalan Mbok Ralem memandang kepada Pambudi. Sebuah batu terasa jatuh menimpa hati anak muda itu. Pandangan mata Mbok Ralem pandangan seorang perempuan Tanggir yang tak akan dapat dilupa oleh Pambudi sepanjang hidupnya. Mata orang yang tak berdaya. Mata yang sekung, merah, dan basah. Pandangan yang mewakili kegitaran yang mutlak, yang akan menarik hati nurani siapapun dari persembunyiannya.

"Nanti dulu, Pak. Jadi orang ini tidak akan dapat diberi kesempatan untuk berobat ke yogya?"

Kata Pambudi seraya bangkit dari duduknya.

"Lho, kenapa kau bertanya begitu? Sudah lama kau mengurus lumbung, bukan? Tentu Kau sudah hapal ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh  seorang peminjam, bukan? Mbok Ralem tidak menggarap sawah sedikit pun, Mbok Ralem bahkan masih menangguhkan hutangnya. Tapi baiklah beri dia pinjaman 20 kilo. Dengan hanya bertindak sedemikian sesungguhannya aku telah menempuh resiko."

"Padi sejumlah itu takkan ada artinya untuk perawatan penyakit yang diderita Mbok Ralem. Saya mempunyai sebuah usul, Pak."

"Cepat katakan!"

"Sepantasnya Mbok Ralem diperlakukan secara khusus. Ia sakit. Wajarlah bila ia diberi pinjaman sebesar yang ia perlukan untuk biaya penyembuhan penyakitnya itu. Apa artinya ia diberi pinjaman bila jumlahnya tidak cukup sehingga penyakitnya tidak diapa-apakan?"
"Perihal sakitnya, itu terserah kepadanya dan kepada sanak familinya. Atau ia dapat mengajukan permohonan bantuan kepada kas Lembaga Sosial Desa. Aku ketua lembaga itu,  dan tahu benar kasnya melompong."

"Ya, Pak, tapi maaf. Saya mengingatkan Bapak akan sebuah pasal dalam peraturan perlumbungan. Bahwa sepertiga keuntungan lumbung koperasi tersedia bagi pengeluaran-pengeluaran darurat yang harus dipikul oleh desa, seperti ada bencana banjir, kebakaran, dan sebagainya. Bagaimana bila Mbok Ralem kita beri uang obat dari dana darurat itu. Saya tahu, dana itu dan pasti cukup."

"Dengar. Apa yang terjadi oleh Mbok Ralem adalah sakit. Bukan bencana banjir, bukan bencana kebakaran. Pokoknya aku tidak bisa memberi pinjaman yang ia perlukan. Apalagi dana darurat yang kau maksud ini harus kita memberinya secara cuma-cuma. Tidak mungkin. Aku telah mempunyai rencana yang besar pelaksanaannya akan dibiayai dengan dana darurat itu."

"Apa lagi rencana Bapak itu?"

"Kalau tak perlu tahu! Oh, maksudku kau belum saatnya kuberitahu."

"Kali ini saya harus tahu. Soalnya, saya ingin tahu, penting mana rencana Bapak itu dengan keharusan dengan kita menolong Mbok Ralem. Maaf, Pak, sesungguhnya saya merasa masygul. Untuk membiyai pelantikan Bapak beberapa bulan lalu, kas dana darurat susut 125.000 rupiah. Sebaliknya Bapak tidak merelakan sedikit pun uang dana darurat itu untuk menolong Mbok Ralem. Sekarang katakan terus terang, apalagi rencana Bapak dengan uang milik bersama itu?"
.....
"Wah, nanti dulu, Pambudi. Bicara pelan-pelan. Mbok Ralem sendiri mungkin masih mendengarnya. Rencana yang kumaksud adalah hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu saja, termaksud kau. Barang kali kau belum tahu, pemerintah akan mengadakan pelebaran jalan yang melewati desa kita ini. Karena pelebaran itu, lima ratus batang pohon kelapa akan diganti rugi. Tahukah kau, ada rezeki yang kita ambil?"

"Oh, tidak, Pak. Tetapi apa hubungannya dengan uang dana darurat milik koperasi kita?"

.....

"Dengarlah anak muda. Pertama-tama kukatakan kepadamu bahwa inilah kesempatan yang dapat aku ambil untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Marilah kita bekerja sama. Kau tahu, uang yang dijanjikan Pemerintah sebesar 2.000 rupiah untuk tiap batang yang tergusur, akan lambat datangnya. Uang milik koperasi dapat kita pakai dulu untuk membayar ganti rugi kepada pemilik pohon kelapa. Kita tidak akan membayar 2.000 tiap batang, tetapi cukup 1.000 saja. Jadi apabila uang ganti rugi yang dijanjikan oleh Pemerintah keluar, kitalah pemiliknya. Sementara kita menunggu, kita tebang pohon-pohon kelapa yang sudah kita bayar itu. Bayangkan, pemborong yang sedang membangun jembatan Kali Benda itu berani membayar 2.500 per batang. Wah, Pembudi, apa tidak lumayan? Bila mau, kau dapat juga membeli sepeda motor seperti poyo. Enak, bukan?"

.....

"Bagaimana, pambudi?"

Yang ditanya kaget. "Oh, maaf hendaknya Bapak jangan mengikutsertakan saya dalam urusan seperti itu."

Lho, kenapa? Kau akan mendapatkan keuntungan tanpa banyak mengeluarkan banyak tenaga. Semua orang menyenangi hal semacam itu, mengapa kau tidak? Lihat, Poyo telah lumayan hidupnya. Sekarang tiba giliranmu ayolah!"

"Tidak, Pak."

"Mengapa?"

"Saya tidak dapat menerangkannya mengapa."

Pak Dirga melepaskan nafas panjang lalu menyadarkan pambudi lama-lama, tetapi pemuda itu tenang saja. Bahkan di dalam  hatinya Pambudi merasa lega. Ia telah mengikuti suara hati nuraninya untuk tidak turut melakukan kecurangan bersama Pak Dirga. Memang satu yang terasa olehnya pada saat itu: Lega...Lega!

Pak Dirga sebaliknya, kulit mukanya terasa seperti di jerang di atas api. Panas, malu. Ia tidak berhasil menundukkan Pambudi pada rencana yang dirahasiakan sudah terlanjur diberitahukan kepada anak muda itu. Bagaimana pun ini berbahaya. Tetapi kepada desa tersebut terpaksa menaruh hormat pada keteguhan atas sikap Pambudi. Karena itu ia tidak meneruskan pembicaraan itu lebih lanjut. Pak Dirga hanya mengangguk-angguk tanpa arti. Dan ia terdiam saja ketika Pambudi pamit dan pergi.

Pada hari berikutnya Pambudi lupa tidak berangkat kerja. Selesai ia sembahyang subuh ia bernyanyi-nyanyi kecil. Terkadang ia menyanyikan kidung ciptaan para empu, kidung tentang "zaman edan". Lalu di sambungnya dengan lagu-lagu keras nyanyian anak-anak muda yang merasa korban kepalsuan.

Pambudi tidak bisa mengatakan mengapa di pagi hari itu ia merasa tentram. Padahal tadi malam ia telah menulis kepada Pak Dirga. Pambudi menyatakan pengunduran diri dari kepengurusan lumbung Koperasi Desa.

.....


Karya: Ahmad Tohari

KE SOLO, KE NJATI....

Bus jurusan Wonogiri mulai bergerak meninggalkan terminal. Habis sudah harapannya untuk ikut terangkut. Orang begitu berjejal, berebut masuk, tidak mungkin dia akan dapat peluang, betapa pun kecil itu, untuk dapat menyeruak di antara desakan berpuluh manusia yang mau menggandeng kedua anak-anaknya yang masih kecil.

Kemarin pada hari lebaran pertama, dia sudah hampir bisa masuk. Tangannya memegang erat tangan anak-anaknya, tangannya sebelah sudah memegang pinggir pintu. Tiba-tiba anaknya berteriak mainannya jatuh dan sekelebat dilihat sebuah tangan ingin merenggut tasnya. Dengan sigap dikibaskannya tangannya menangkis tangan yang ingin menggapai tasnya dan kegesitan yang sama tangannya yang sebelah melepaskan pegangan anak-anaknya untuk memungut mainan anaknya yang jatuh di tanah. Bersama dengan itu orang-orang yang di belakangnya mendapat kesempatan untuk menyisihkan dia dan anak-anaknya terlempar ke pinggir. Kalau kernet bus yang terdiri di dekatnya tidak siap menahan tubuhnya, pastilah dia dan anak-anaknya sudah tercampakkan di tanah.

Anak-anaknya pada menangis dan ia pun segera meminggir mencari tempat yang agak sela. Anak-anaknya berhenti menangis sesudah dibelikan teh kotak dan sebungkus kerupuk chiki. Ditariknya napas panjang di pinggir warung itu. Dipandangnya bus yang masih berdiri dengan teguhnya diguncang-guncang orang yang pada mau mudik.

"Bu, kita jadi mudik ke Njati ya, Bu?" anaknya yang besar, yang berumur enam tahun, bertanya.

"Wah, nampaknya susah, Ti. Lihat tuh, penuhnya orang."

"Kita nggak jadi mudik, Bu."

"Besok kita coba lagi, ya?"

Itulah keputusannya kemarin. Anak-anaknya pada menggerutu dan mau menangis.

"Sekarang kita mau ke mana, Bu."

"Ya, pulang, Ti."

Pulang. Itu berarti pulang ke kamar sewaan yang terselip di tengah kampung yang agak kumuh di bilangan Kali Malang. Anak-anaknya yang sudah lelah menurut saja digandeng ibunya dan kemudian didorong masuk ke sebuah bajaj yang pada sore hari itu memungut biaya entah berapa kali lipat ari biasa. Anaknya yang kecil langsung tertidur begitu bajaj bergerak. Anaknya yang besar diam, entah membayangkan atau memikirkan apa.

Pagi-pagi, sebelum mereka bersiap ke terminal pada sore hari, dibawanya anak-anaknya ke makam suaminya, di kuburan yang terletak tidak jauh dari kampung tempat tinggal. Suaminya,  yang semasa hidup adalah buruh bangunan pada sebuah perusahaan pemborong, meninggal kira-kira tiga tahun yang lalu. Dia meninggal tertimpa dinding yang roboh. Untunglah perusahaan cukup baik hati dan mau mengurus pemakamannya dan memberi santunan sekadarnya.

Tetapi, sesudah itu, hidup terasa lebih berat dan getir. Pendapatannya sebagai pembantu di rumah kompleks perumahan itu mepet sekali untuk mengongkosi hidup mereka. Apalagi Ti, anak sulung itu, sudah harus sekolah.

Hari demi hari dijalaninya dengan kedataran dan kebosanan, tetapi, entah bagaimana, dia sanggup juga mengikutinya. Tahu-tahu, ajaib juga, tabungannya yang dikumpulkannya dari sisa dan persenan dari sana-sini terkumpul agak banyak juga selama tiga tahun itu. Kemudian berpikirlah untuk pulang mudik ke Njati tahun ini. Anak-anaknya belum pernah kanal Njati dan embah-embah-nya serta sanak saudaranya yang lain. Sudah waktunya mereka kenal dengan mereka, pikirnya. Juga desa mungkin akan memberikan suasana yang lebih menyenangkan, pikirnya lagi, setidaknya lain dengan tempat tinggalnya yang sumpek di Jakarta. Maka diputuskannyalah untuk nekat pulang lebaran tahun ini.

"Mbok kamu jangan pulang lebaran. Tahun ini, anak-anak saya pada kumpul di sini. Banyak kerjaan."

"Wah, nuwun sewu, Bu. Saya sudah terlanjur janji anak-anak."

"Kalau kamu tidak mudik dan tetap masuk pasti dapat banyak persen dari tamu-tamu. Ya, tidak usah pulang."

"Wah, nawun sewu, Bu. Saya sudah terlanjur janji anak-anak."

Dengan memantapkan tekad begitulah dia memutuskan untuk mudik. Anak-anaknya mulai diceritai tentang Njati, sawah-sawahnya, kerbau dan sapinya, bentuk-bentuk rumah di desa. Juga tentang embah-embahnya yang sudah pada memutih rambutnya. Juga tentang kota-kota yang akan mereka lewati, yang akan dapat mereka lihat sekilas-sekilas dari jendela bus yang akan membawa mereka.

"Waduh, kota-kotaa mana saja itu, Bu?"

"Wah, banyak. Mungkin Cirebon, mungkin Purwokerto, mungkin lewat Semarang, pasti Magelang, pasti Yogya, Solo, terus menuju Njati dan Wonogiri."

"Waduh yang paling bagus kota mana ya, Bu."

"Wah, embuh. Mestinya ya Solo."

"Waa, kita mau lihat Solo, Dik. Solo. Solo. Solo."

"Solo. Solo. Solo....."

Dia berhenti merenung. Anaknya yang kecil sudah tidur dengan pulsa di tempat tidur. Kakaknya sudah bersiap juga untuk menyeruak menggeletak di samping adiknya. Tatapan muka anak-anaknya sambil juga merebahkan tubuhnya berdesakan dengan anak-anaknya.
"Jangan terlalu kecewa ya, Ti. Besok kita coba lagi. Kita pasti akan ke Njati. Dan pasti akan lihat kota Solo. "Dilihatnya anaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan setengah mengantuk dia mengucapkan, "Solo, Solo, Solo....."

Itu kemarin, pada hari lebaran pertama, sekarang pada hari lebaran kedua, mereka gagal lagi, kemungkinan itu bahkan lebih tidak ada lagi. Karcis yang dibelinya dari calo, seperti kemarin, memang sudah di tangan. Tetapi, orang-orang itu kok malah jauh lebih banyak dari kemarin, Bahkan lebih beringas. Dia dan anak-anaknya dengan gentoyongan barang mereka seperti kemarin, ditarik, didesak, digencet, sehingga akhirnya masih sangat, sangat banyak dan kuat, untuk dapat ditembus dan akhirnya, dengan berdiri termangu di pinggir-pinggir warung, dilindungi kain terpal, di bawah hujan, mereka melihat bus terakhir yang ke Wonogiri berangkat.

"Yaa, kita nggak jadi betul ke Njati ya, Bu."

Ibunya melihat anak-anaknya dengan senyum yang dipaksakan.

"Iya, Nak. Nggak apa, ya? Tahun depan kita coba lagi."

"Yaa."

"Yaa."

"Iya, dong. Ibu harus kumpul uang lagi, 'kan?"

"Memangnya sekarang sudah habis, Bu?"

Ibunya menggigit bibirnya. Tersenyum lagi.

"Masih, masih. Tapi, hanya bisa ke kebon binatang besok. Ke Njati tahun depan saja, ya?"
Anak-anak diam. Hujan mulai agak reda. Dilihatnya hujan yang mereda itu agak menggembirakan anaknya.

"Yuk, yuk, kita lari ke luar cari bajaj, yuk."

Anak-anak itu mengangguk, kemudian mengikuti ibunya di gandengan sambil berlari-lari kecil. Di dalam bajaj anak-anak mulai bernyanyi ciptaan mereka yang baru.

"Solo, Solo, Solo, Solo, Solo, Solo."

Mereka tertawa.

"Njati, Njati, Njati, Njati, Njati, Njati."

Mereka tertawa lagi, mungkin senang bisa menciptakan lagu. Ibunya ikut senang juga melihat anak-anaknya tidak menangis atau merengek-rengek. Dia ingat akan janjinya kepada anak-anaknya untuk mengajak mereka ke kebon binatang. Wah, dengan uang apa? Uangnya yang terbanyak sudah habis di makan calo karcis, ongkos bolak-balik bajaj, jajan, oleh-oleh yang sekarang pada peyote semua. Tinggal lagi untuk beberapa hari. Wah. Tidak apa, pikirnya. Untung itu cukup untuk ongkos ke kebon binatang. Saya akan ke gedong malam ini,pikirnya. Pasti masih banyak pekerjaan, pastinya. Siapa tahu tamu-tamu belum pada pulang dan banyak persennya. Harapannya. Di kamar sewaannya, anak-anaknya segera ditidurkannya dan sekali lagi dibisikkannya janji untuk ke kebon binatang besok.

"Lekas tidur. Besok kita ke kebon binatang."

"Ibu pergi sebentar ke gedong, ya? Baik-baik di rumah, ya? Tidur."

"Gajah, gajah, gajah, Jrapah, jrapah, jrapah..."

"Ssst, tidur,"

Ibu dengan tersenyum menutup pintu. Tetapi, waktu di luar dengan anak-anaknya menyanyi yang lain-lain.

"Solo, Solo, Solo, Njati, Njati, Njati....."

Ibunya menggigit lagi bibinya sejenak. Kemudian dengan pasti melangkahkan kakinya. Di gedong, nyonya berteriak waktu melihat dia masuk rumah lewat pintu samping.

"To, saya bilang apa. Saya bilang apa. Syukur tidak dapat bus kamu. Ayo, sini Bantu kami di sini. Tuh, piring-piring kotor masih menumpuk di dapur. Sana....."


Karya: Umar Kayam

CAMPUR ADUK

BIWI HO TO AISI

Malam hari. Bintang berkelap-kelip di langit. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus di channel SIN PO TV, ya seperti biasa sih Budi...

CAMPUR ADUK