CAMPUR ADUK

Tuesday, September 3, 2019

SEPERTI BIASANYA

Indro lagi asik duduk di ruang tengah nonton acara Tv sambil makan keripik singkong dan minum kopi. Kasino baru selesai mengetik di kamarnya yang berkenaan dengan pekerjaannya.

"Waktu istirahat," celoteh Kasino.

Kasino pun keluar dari kamarnya dan duduk bersama Indro di ruang tengah. Keripik singkong pun bagi sama Indro ke Kasino dan menikmat makan keripik singkong enak.

"Beli di mana keripik singkongnya?" tanya Kasino.

"Papua," jawab Indro.

"Jauh...amat beli keripik singkongnya ke Papua. Kaya di sini gak ada penjual keripik singkong aja," kata Kasino yang niat bencanda.

"Cuma di warungnya Nabila," kata Indro dengan terus terang.

"Oooo....di warungnya Nabila. Apa pendapat kamu tentang Nabila...cantik atau enggak?" kata Kasino.

"Cantiklah," jawab Indro.

"Kalau...penyanyi dangdutnya gimana?" tanya Kasino.

"Cantiklah," jawab Indro.

"Kalau Uyaina atau Yana....artis Malaysia lebih tepat sih...host?" tanya Kasino.

"Cantiklah Uyaina atau Yana," kata Indro.

"Oh...jadi Uyaina atau Yana itu...cantik toh. Bagaimana tanggapan kamu dengan Golden Memories Asia....acara Tv yang kamu tonton...Indro?" kata Kasino.

"Bagus...aja. Tapi kenapa kamu nanya begitu kaya gak biasanya?" kata Indro.

"Cuma bahan obrolan aja," saut Kasino.

"Oh...begitu," kata Indro.

Kasino pun beranjak dari duduknya bersama Indro untuk membuat kopi sasetan di dapur. Selang berapa saat kopi pun jadi....Kasino meminumnya.

"Enak....kopi ini," kata Kasino.

Kasino pun membawa gelas kopinya ke ruang tengah untuk menikmati minuman buatannya sambil minum kopi.

"Indro kemana Dono? Jam segini belum pulang?" tanya Kasino.

"Biasa kencan sama Rara," jawab Indro.

"Rara yang mana ini? Rara yang di jodohkan ke Dono atau Rara penyanyi dangdut," tanya Kasino yang becanda.

"Rara yang di jodohkan Donolah. Rara penyanyi dangdut...ya gak mungkinlah. Dono orang biasa-biasa aja sedang Rara penyanyi dangdut yang terkenal," penjelasan Indro.

"Oh..begitu," saut Kasino.

Kasino pun minum kopi buatannya yang enak di tambah makan keripik singkong yang enak.

"Kasino....apakah Dono pernah mencium Rara?" tanya Indro niat iseng aja.

"Rara yang mana?" kata Kasino yang becanda.

"Kalau Rara penyanyi dangdut gimana?" tanya Indro yang becanda.

"Rara penyanyi dangdut gak mungkin...lah. Rara yang di jodohin ke Dono...mungkin sih...kayanya di bibirnya katanya Dono," ujar Kasino.

"Beneran atau bohongan?" tanya Indro dengan tegas banget.

"Bohongan," saut Kasino dengan bener-bener tegas.

"Jadi bohongan toh kalau Dono ciuman sama Rara. Aku kirain beneran," kata Indro niatnya becanda.

"Indro cari makan yuk?" ajakan Kasino.

"Malem-malem gini nyari makan....kemana?" tanya Indro.

"Ujung jalan... Kan ada penjual sate kambing. Ayo...lah. Aku traktir....laper nie," kata Kasino.

"Iya..deh," saut Indro.

Indro menghabiskan minum kopinya begitu dengan Kasino. Baru Tv dimatikan Indro...yang lagi asik nonton acara Golden Memories Asia. Keduanya keluar dari rumah. Tak lupa mengunci pintu depan Indro. Dengan pake motor keduanya menuju tukang sate kambing di ujung jalan. Selang berapa saat di penjual sate kambing Pak Kumis nama kedainya satenya.

Langsung Kasino pesan 2 porsi sate kambing seperti biasanya kepada Pak Kumis. Segera Pak Kumis menyiapkan sate kambing permintaan pelanggannya. Dengan sabar Kasino dan Indro menunggu sate kambing siap untuk di hidangkan dan juga sambil ngobrol tentang sepak bola agar seru aja.

Pak Kumis pun selesai membuat sate kambing yang di buat dua piring dan di antarkan kepelanggannya yang sudah menunggu. Indro pun memakan sate kambing buatan Pak Kumis dan berkata "Enak".

Kasino pun memakan sate kambing buatan Pak Kumis dan berkata "Enak".

Pak Kumis senang mendengar pujian dari para pelanggannya...mengenai jualanya yang di gelutinnya hampir 20 tahun. Pak Kumis sadar dengan usahanya yang mengalami pasang surut demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Makanan di piring Kasino dan Indro habis dan segeralah Kasino membayarnya dengan uang pas ke Pak Kumis. Langsung keduanya pulang ke rumah karena sudah kenyang. Kasino membawa motornya dengan baik sampai di rumah.

Ternyata Dono sudah pulang maka pintu depan terbuka lebar-lebar dan sedang mengetik di leptopnya. Kasino menaruh motor di garasi. Indro pun masuk rumah dan tak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono.

Indro pun duduk bersama Dono begitu juga Kasino di ruang tamu.

"Gimana kencan dengan Rara?" tanya Kasino.

"Rara yang mana ini?" tanya Dono yang becandaan.

"Kalau Rara penyanyi dangdut gimana Don?" tanya Kasino yang iseng.

"Ya...baik juga. Walau hanya hayalan aja kan kencan dengan artis," jawab Dono.

"Kalau dengan Rara yang di jodohin...ke kamu Don gimana?" tanya Indro yang serius.

"Lancar aja kencan hari ini. Ada kue martabak di beliin Rara untuk kamu Indro di meja makan," kata Dono.

"Asik makan. Aku laper lagi," kata Indro.

"Dasar perut karet. Padahal baru makan sate kambing," saut Kasino.

"Bodok amat," saut Indro.

Indro pun bergerak ngambil kue martabak di meja makan dan di makan di ruang tengah sambil nonton Tv. Kasino pun beranjak dari duduknya bersama Dono untuk nonton Tv dengan Indro di ruang tengah yang acaranya bagus.

Dono terus mengetik di leptopnya sampai tulisannya jadi sebagus mungkin baru deh bersantai nonton Tv bersama Kasino dan Indro di ruang tengah.

Monday, September 2, 2019

GAK BISA TIDUR

Malam begitu larut sekali. Dono belum tidur lagi asik duduk di teras sambil minum teh anget dan makan keripik pisang. Indro baru selesai mengerjakan pekerjaannya dan pintu depan belum di tutup padahal sudah lewat jam 12 malam. Indro mau menutup pintu depan melihat  Dono di teras depan rumah... yang lagi asik minum teh anget sendirian lagi.

Indro segera duduk bersama Dono dan sekalian makan keripik pisang yang di taruh di atas meja.

"Don....belum tidur jam 12 lewat. Besok telat kerja loe?" kata Indro.

"Belum ngantuk. Masih menikmati malam ini," kata Dono.

"Oh begitu. Aku nanya Don. Berkenaan dengan pemindahan Ibukota yang proyeknya pembangunannya yang megang kendali adalah Pak Joko Widodo sendiri. Apa tanggapan kamu....Don?" kata Indro.

"Ya...kalau kebijakaan itu dapat mengatasi masalah ya...di persilakan aja. Toh tujuan untuk kebaikan bersama. Kalau Pak Joko Widodo mau menambahkan membangun monumen semua Presiden RI ....juga boleh. Mempung punya umur untuk mengisi negeri dengan nilai sejarah yang baik," kata Dono.

"Positif...tanggapan kamu," kata Indro.

"Iyalah...harus positif...lah. Toh semua program kerja pemerintahan sudah di konsep rapih dan di program masa kerjanya proses pembangunan, jika ada kesalahan pun langsung di perbaiki secepat mungkin agar menghindari ocehan manusia yang ini dan itu. Gak penting," kata Dono.

"Maksudnya di...Evaluasi kerja!!!!" kata Indro.

"Iya...itu maksudnya!!!" saut Dono.

Teh anget habis di minum Dono dan bergerak Dono dari duduknya mau masuk rumah.

"Don mau kemana?" tanya Indro.

"Tidur. Oh iya Indro bawa masuk keripik pisangnya dan jangan lupa tutup pintu depan!" kata Dono.

"Siap Bos!!!!!" kata Indro dengan antusias banget.

Dono menaruh gelasnya di dapur, lalu di cuci bersih dan di taruh rak piring baru deh masuk kamar untuk istirahat.. tidur. Indro pun menutup pintu depan dengan di kunci. Keripik pisang di habisin Indro dan plastik bungkusnya di buang di tempat sampah....baru deh masuk ke kamar untuk istirahat.... tidur.

Kasino bangun dari tidurnya dan perutnya keroncongan segera keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat makan malam nasi goreng. Gara-gara suara gaduh Kasino di dapur memasak.....Indro gak bisa tidur.

Setelah selesai masak dan makanan jadi...Kasino makan malam sambil nonton Tv di ruang tengah. Nasi goreng pun habis di lahap Kasino....jadi perut tidak keroncongan lagi alias kenyang.
Kasino asik nonton acara Tv padahal ulangan berita kemarin. Indro pun tetap gak bisa tidur jadi keluar dari kamar dan ikut nonton bersama Kasino sampai waktu ngantuk datang pada mereka berdua.

Sunday, September 1, 2019

ADA SETAN DI KERETA

Dono pun berjalan masuk ke dalam kereta. Diantara banyak penumpang yang menggunakan kereta dengan berbagai tujuan. Dono berdiri di dalam kereta karena banyak penumpang mengisi tempat duduk.

Bersama para penumpang lain Dono berdiri  agar tidak jatuh memegang pegangan yang terpasang pada pipa besi di atas kereta. Dengan sabar Dono di dalam kereta begitu juga dengan para penumpang lain sampai tujuan.

Saat itu Dono melihat sesuatu aneh di antara penumpang kereta. Dono celingak-celinguk untuk melihat semua orang untuk mengetahui dirinya salah lihat atau tidak. Para penumpang lain terlihat normal-normal aja di dalam kereta.

Dono mulai ketakutan karena makluk tersebut terus mendekatinya. Sampai di hadapannya Dono....makluk yang menyeramkan itu tetap diam seribu bahasa.

Dalam hati pun bicara "Setan ini kenapa dekat aku?".

Dono terus menahan ketakutannya di dalam kereta di tambah semua penumpang kereta lainnya tidak ada gubrisan tentang makluk yang mengerikan itu.

"Aku harus selamat dari godaan Setan," kata hati Dono.

Dono terus sabar dengan makluk yang mengerikan menggerayangin dirinya. Sampai kereta berhenti di tujuan. Pintu pun terbuka.  Dono langsung berusaha untuk cepat keluar dari kereta. Tapi kenyataan yang sebenarnya para penumpang kereta menunjukkan wujud aslinya yang menyeramkan.

"Setan semuanya," kata hati Dono.

Dono pun sudah di luar kereta dan pintu kereta tertutup lagi.

"Aku selamat dari kereta yang isinya setan semuanya," kata Dono.

Para penumpang yang bersama Dono di dalam kereta masih mengelilinginya dan menunjukkan wujudnya yang mengerikan. Maka Dono berlari secepat mungkin keluar dari stasiun kereta sambil berteriak "Setan jauh dari aku".

Dono berhasil keluar dari stasiun kereta dan segera naik mobil mikroket untuk mengantar ke tujuannya ke rumahnya.

"Aku selamat....dari para setan yang menakutkan," kata Dono.

Dono pun bersantai dan bersabar di dalam mobil mikrolet yang mengantarkan ke tujuannya.

GARA-GARA LALAI

Saat itu Mama pergi, Aku disuruh Mama menjaga rumah, Mama juga berpesan agar mengangkat jemuran karena langit sudah mulai gelap. Aku menunggu mengangkat jemuran sampai hujan benar-benar datang. Sambil menunggu, aku menonton teve. Tiba-tiba, kelopak mataku terasa sangat berat. Aku pun tertidur.

Lili...Lili.....Lili... Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang memanggil dan mengguncang-guncangkan tubuhku. Itu seperti suara Mama. Ternyata, memang benar itu Mama.

Mama bilang Aku ketiduran sehingga aku lupa mengangkat jemuran. Akibat kelalaianku, baju-baju yang sudah bersih dan hampir kering harus dicuci lagi. Aku juga dihukum membersihkan kamar mandi. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan lalai lagi.


Karya: Sekar Nityasa

THE TORTOISE AND THE HARE

The Hare was once boasting of his speed before the other animals. "I have never yet been beaten," said he, "when I put forth my full speed. I challenge any one here to race with me."

The Tortoise said quietly, "I accept your challenge."

"That is a good joke," said the Hare; "I could dance round you all the way."

"Keep your boasting till you've won," answered the Tortoise. "Shall we race?"

So a course was fixed and a start was made. The Hare darted almost out of sight at once, but soon stopped and, to show his contempt for the Tortoise, lay down to have a nap. The Tortoise plodded on and plodded on, and when the Hare awoke from his nap, he saw the Tortoise just near the winning-post and could not run up in time to save the race.

Then the Tortoise said: "Slow but steady progress wins the race."

THE UGLY DUCKLING

Once upon a time down on an old farm, lived a duck family, and Mother Duck had been sitting on a clutch of new eggs. One day, the eggs hatched and out popped six chirpy ducklings. But one egg was bigger than the others, and it didn't hatch. Mother Duck couldn't remember laying that seventh egg. “How did it get there?” Mother Duck wondered. TOCK! TOCK! The little prisoner was pecking inside his shell.

"Did I count the eggs wrongly?" Mother Duck wondered. But before she had time to think about it, the last egg finally hatched and a strange looking duckling with gray feathers that should have been yellow gazed at a worried mother. The ducklings grew quickly, but Mother Duck had a secret worry.

"I can't understand how this ugly duckling can be one of mine!" she said to herself. She shook her head as she looked at her last born duckling. Well, the gray duckling certainly wasn't pretty. He also ate much more than his brothers and growing faster than them. As the days went by, the poor ugly duckling became more and more unhappy. His brothers didn't want to play with him because he was so clumsy, and all the farmyard folks simply laughed at him. He felt sad and lonely, while Mother Duck did her best to console him. "Poor little ugly duckling!" she would say. "Why are you so different from the others?" And the ugly duckling felt worse than ever. He secretly wept at night. He felt nobody wanted him. "Nobody loves me, they all tease me! Why am I different from my brothers?"

Then one day, at sunrise, the poor ugly duckling ran away from the farmyard. He stopped at a pond and began to question all the other birds. "Do you know of any ducklings with gray feathers like mine?" But everyone shook their heads in scorn. "We don't know anyone as ugly as you." The ugly duckling did not lose heart, however, and kept on making inquiries. He went to another pond, where a pair of large geese gave him the same answer to his question. What's more, they warned him: "Don't stay here! Go away! It's dangerous. There are men with guns around here!" The duckling was sorry he had ever left the farmyard.

Then one day, the poor ugly duckling arrived at an old countrywoman's cottage. Thinking he was a stray goose, she caught him. "I'll put this in a hutch. I hope it's a female and lays plenty of eggs!" said the old woman, whose eyesight was poor. But of course, the ugly duckling did not lay a single egg. The hen kept frightening him. "Just wait! If you don't lay eggs, the old woman will wring your neck and pop you into the pot!" And the cat chipped in: "Hee! Hee! I hope the woman cooks you, then I can gnaw at your bones!" The poor ugly duckling was so scared that he lost his appetite, though the old woman kept stuffing him with food and grumbling: "If you won't lay eggs, at least hurry up and get plump!"

"Oh, dear me!" moaned the now terrified duckling. "I'll die of fright first! And I did so hope someone would love me!"
Then one night, the old woman left the hutch door ajar, and the poor ugly duckling escaped. Once again he was all alone. He fled as far away as he could, and at dawn, he found himself in a thick bed of reeds. "If nobody wants me, I'll hide here forever." There was plenty of food there, and the poor ugly duckling began to feel a little happier, even though he was lonely. One day at sunrise, he saw a group of beautiful birds flying overhead. White, with long slender necks, yellow beaks and large wings, they were migrating south.

"If only I could look like them, just for a day!" said the duckling, admiringly. Winter came and the water in the reed bed froze. The poor duckling left home to seek food in the snow. He dropped exhausted to the ground, but a farmer found him and put him in his big jacket pocket. "I'll take him home to my children. They'll look after him. Poor thing, he's frozen!" The duckling was showered with kindly care at the farmer's house. In this way, the ugly duckling was able to survive the bitterly cold winter.

However, by springtime, he had grown so big that the farmer decided: "I'll set him free by the pond!" That was when the duckling saw himself mirrored in the water. "Goodness! How I've changed! I hardly recognize myself!" The flight of swans winged north again and glided on to the pond. When the duckling saw them, he realized that he was one of their kind and they made friends.

"We're swans like you!" they said, warmly. "Where have you been hiding?"

"It's a long story," replied the young swan, still astounded. Now, he swam majestically with his fellow swans. One day, he heard children on the river bank exclaim: "Look at that young swan! He's the finest of them all!"

And he almost burst with happiness.

PULAU HANTU

Tersebutlah dua orang jagoan yang selalu ingin menunjukkan dirinya lebih jago dari yang lain. Pada suatu hari, mereka bertemu di perairan sebelah selatan Singapura. Tanpa basa basi, mereka langsung saling menyerang. Mereka bertarung lama sekali hingga tubuh mereka bersimbah darah. Karena sama-sama kuat, tak ada tanda-tanda siapa yang akan kalah.

Jin Laut tidak suka dengan pertarungan itu karena darah mereka mengotori laut. Jin Laut lalu menjungkirbalikkan perahu mereka. Maksudnya agar mereka berhenti bertarung. Ternyata, mereka tetap bertarung. Dengan kesaktiannya masing-masing, mereka bertarung di atas air. Jin Laut pun berkata “Hei, aku perintahkan kalian berhenti bertarung! Ini wilayah kekuasaanku. Kalau tidak…”

Bukannya berhenti, kedua jagoan itu malah bertempur lebih seru. Dengan isyarat tangan, mereka bahkan seperti mengejek Jin Laut. Jin Laut marah. Dia menyemburkan air ke wajah kedua jagoan itu sehingga pandangan mereka terhalang. Karena tak dapat melihat dengan jelas, kedua jagoan itu bertempur secara membabi-buta. Mereka mengayunkan pedang ke sana-kemari sekehendak hati sampai akhirnya bersarang di tubuh lawan masing-masing. Kedua jagoan itu pun menemui ajalnya.

Para dewa di kayangan murka karena Jin Laut turut campur urusan manusia. Mereka memperingatkan Jin Laut untuk tidak lagi ikut campur urusan manusia. Jin Laut mengaku salah dan mencoba menebus dosa dengan membuatkan tempat khusus agar roh kedua jagoan itu dapat bersemayam dengan tenang. Jin Laut menyulap sampan yang ditumpangi kedua jagoan itu menjadi pulau tempat bersemayam roh mereka. Orang-orang kemudian menyebut pulau itu sebagai Pulau Hantu.

PULAU KAKAK-BERADIK

Karena dianggap sudah cukup umur, Mina dan Lina dipanggil ibu mereka untuk membicarakan rencana perkawinan kakak-beradik itu.

“Kalian sudah cukup dewasa. Sudah waktunya kalian membangun rumah tangga,” kata sang ibu. “Kami mau dikawinkan dengan satu syarat,” kata Mina dan Lina. “Apa syaratnya?” tanya sang ibu. “Karena kami kakak-beradik, suami kami juga harus kakak-beradik” jawab Mina dan Lina.

Sang ibu tahu, itu adalah cara mereka menolak perkawinan. Menurut Mina dan Lina, perkawinan membuat orang kehilangan segala sesuatu yang mereka cintai: orang tua, teman, sanak-saudara, bahkan kampung halaman. Demikianlah, karena tak ada laki-laki kakak-beradik yang menyunting Mina dan Lina, mereka tak kunjung menikah. Waktu pun terus berlalu. Ibu Mina dan Lina meninggal karena usia yang semakin tua. Sepeninggal ibunya, gadis kakak-beradik itu tinggal bersama dengan paman mereka.

Pada suatu hari, sekelompok bajak laut menculik Lina. Pemimpin bajak laut itu ingin memperistri Lina. Lina menolak dan meronta sekuat tenaga. Penculikan itu diketahui oleh Mina. Karena tak ingin terpisah dari adiknya, Mina bertekad menyusul Lina. Dengan perahu yang lebih kecil, Mina mengejar perahu penculik Lina. Teriakan orang sekampung tak dihiraukannya. Mina terus mengejar sampai tubuhnya tak kelihatan lagi.

Tiba-tiba mendung datang. Tak lama kemudian hujan pun turun. Halilintar menggelegar, petir menyambar-nyambar. Orang-orang berlarian ke rumah masing-masing. Ombak bergulung-gulung. Menelan perahu penculik Lina, menelan Lina, menelan Mina, menelan semuanya. Ketika keadaan kembali normal, orang-orang dikejutkan oleh dua pulau yang tiba-tiba muncul di kejauhan. Mereka yakin, pulau itu adalah penjelmaan Mina dan Lina. Kedua pulau itu diberi nama Pulau Sekijang Bendera dan Sekijang Pelepah, tetapi kebanyakan orang menyebutnya Pulau Kakak-Beradik.

RAJAWALI YANG CERDIK

Di suatu hari yang panas seekor rajawali sangat haus dan ingin minum. Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung (tempat untuk membawa air yang besar perutnya yang terbuat dari tanah) di luar rumah. 

Rajawali terbang turun ke buyung itu. Di sana ada sedikit air di dasar buyung. Rajawali memasukkan kepalanya ke dalam buyung tetapi ia tidak menggapai air itu. Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung  tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu.

Kemudian ia mencari akal. Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat. Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. 

Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.

Rajawali itu duduk termenung di sarangnya. Ia berpikir terus menerus  Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. 

Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung. Buyung itu hampir penuh dengan batu. Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang pintar itu memasukkan paruhnya  dan ia mendapatkan air. 

Pepatah mengatakan bahwa “Jika ada kemauan pasti ada jalan. “ Rajawali itu telah membuktikannya.

SAUDAGAR JERAMI

Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kudanya.

Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,"Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar", kata Taro.

"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan". Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.

Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.

SI MONYET DAN SI KURA-KURA

Dahulu, hiduplah seekor monyet dan seekor kura-kura. Mereka adalah sahabat yang akrab. Tak pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Setiap pagi, mereka selalu jalan bersama, makan bersama, semua selalu bersama. Suatu hari, mereka menemukan beberapa biji pisang. "Hei, Ra. Gimana kalau kita tanam biji pisang ini? Siapa tahu berbuah," kata monyet. "Ya, ya. Ayo kita tanam biji pisang ini," kata kura-kura semangat.

Mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah monyet, ia menanam biji pisang itu di halaman rumahnya. Tapi, monyet tidak rajin merawatnya. Terkadang seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu tidak dirawat sedikitpun. Maka, pohon pisang monyet masih kecil sekali. Sementara itu, kura-kura menanam pohon pisang itu dengan rajin. Dia selalu menyiramnya setiap hari. Akhirnya pohon pisang kura-kura sudah besar dan berbuah.

Suatu hari, monyet pergi ke rumah kura-kura. Dilihatnya pisang yang sudah besar dan matang. Kebetulan juga kura-kura meminta tolong pada monyet. " Sahabat baikku, maukah kau petikkan untukku pisang itu? Tenang saja, kau juga akan kubagi," kata kura-kura. Dalam hati monyet, monyet senang. Tapi, ada suatu niat jahat. Dia akan memanjat pohon lalu memakan semua pisang kura-kura tanpa memberinya. "Baiklah, aku akan mengambilnya," kata monyet. Monyet lalu memanjat pohon itu.

Begitu sampai di atas, monyet langsung memakan pisang yang ada di pohon itu. Kura-kura kaget dan marah. "Hei sahabatku! Mengapa kau makan pisangku?!" tanya kura-kura marah. Si monyet tak menghiraukannya lagi. Dimakannya semua pisang itu sampai kenyang. Tapi salah satu dari dahan pisang itu retak. Akhirnya dahan itu jatuh bersama monyet. Si monyet itu pun meringis kesakitan. Tulang punggungnya patah.

SANTAI

Dono sedang duduk di ruang tamu sambil minum teh anget buatannya sendiri sambil makan keripik singkong. Indro seperti biasa main game PS 4 sendirian. Karena kalah main game pertarungan Indro menghentikan main PS 4 dan beranjak duduknya bergerak ke ruang tamu langsung duduk bersama Dono.
Indro ikutan makan keripik singkong dan juga minum teh anget buatan Dono.

"Kenapa kamu ikutan duduk di sini?" tanya Dono.

"Kalah main gamenya Don," kata Indro sambil menguyah keripik singkong.

"Oh...begitu," saut Dono.

"Don...kelihatannya kamu jarang nulis lagi?" tanya Indro.

"Iya. Lagi males aja," kata Dono.

"Oh...begitu," kata Indro.

Kasino pun dateng langsung masuk rumah dan mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro.

Kasino pun duduk di kursi dan juga ikutan makan keripik dan minum teh anget.

"Oh ya...kalian berdua tumben di rumah hari minggu begini biasanya main?" tanya Kasino.

"Kalau aku....lagi males keluar rumah," kata Dono.

"Gak tujuan main keluar....walau hari minggu. Ya main game aja," kata Indro.

"Oh..begitu. Oh iya Don....tumben kamu jarang nulis lagi....kenapa?" kata Kasino.

"Lagi males aja," kata Dono.

"Males apa bosen?" kata Kasino.

"Males," kata Dono.

"Males apa lagi ada masalah jadinya jengkel?" kata Kasino.

"Males," kata Dono.

"Jadi jawabannya tetap males," kata Kasino.

"Kalau lagi males biasanya....pikirannya lagi buntu gak ada ide," kata Indro.

"Enggaklah...Indro. Aku tetap nulis tapi di tulis di buku aja kan....kalau di Blog lagi males....aja untuk di publikasikan," penjelasan Dono.

"Kalau...itu mah jatuhnya lebih pribadi lagi. Aku kirin kamu males Don...karena Rara penyanyi dangdut... kalah sama Fildan, jadinya kamu kecewa. Ya...gak nulis Blog lagi," kata Indro yang mengkaitkan ke hal gak penting.

"Kebiasaan di sambungkan gak penting. Apa urusan aku dengan persoalan pertandingan penyanyi dangdut? Menang atau kalah bukan urusan aku. Perhitungkan dari kurva.....dengan sistem statistik aja. Itu aja udah ketahuan siapa yang menang atau kalah," kata Dono yang menjelaskan secara ilmiah.

"Iya deh Don. Ada ilmu yang menjelaskan semua itu. Tetap aja.....dari awal kurvanya udah jomplang duluan," kata Indro.

"Maksudnya Indro?" tanya Kasino.

"Ya....dari awal memang ada hal yang aneh kurvanya kan. Itu terlihat dari beberapa sistem dari proses sistem statistik kalau di hitung manual pun sama aja di perhitungkan perbandingan 1:100," penjelasan Indro.

"Oh....kalau pake perhitungan perbandingan sih bisa terlihat sih....kemungkinannya. Apalagi perbandingan di perbesar lagi. Ya...kemungkinan lebih jelas lagi," tambahan Kasino.

"Kalian berdua ini....menjelaskan sedetel itu. Ya...enak itu tanggapan dari para penggemarnya yang acak," kata Dono.

"Sama.....aja Don. Data itu juga acak....kemungkinan kamu sendiri yang tahu....," kata Indro.

"Udah gak usah ngobrol itu. Yang berlalu....biarlah berlalu. Yang menang biarkan. Yang kalah usaha lagi agar bisa menang. Mempung ada kesempatan dan umur panjang," kata Kasino.

"Gimana kalau...kita mancing aja. Malem-malem tuh seru mancing," saran Indro.

"Boleh juga ide kamu mancing...ide kamu Indro," kata Kasino.

"Ok..aku..ikut," kata Dono.
Dono, Kasino dan Indro pun berbenah-benah membawa perlengkapan memancing ke pantai. Barang sudah di mobil semuanya dan ketiganya sudah di mobil. Seperti biasa Indro yang bawa mobil menuju pantai terdekat. Untuk menginap dan memesan kapal untuk pergi ke tengah laut untuk memancing udah di urus Kasino dan urusan biayanya ketiganya sokongan. Sampai di pantai Dono, Kasino dan Indro melaksanakan niatnya untuk memancing untuk menikmati laut dan berusaha mendapatkan ikan hasil pancingan.

Walau hasilnya tidak memuaskan hasil pancingannya. Tetap Dono, Kasino dan Indro....senang bersama. Baru deh mereka bersantai makan ikan bakar hasil mancing sambil ngobrol banyak hal....ya seperti biasanya urusan pekerjaan dan pacar masing-masing.

Saturday, August 31, 2019

HIDUP SETELAH KEMATIAN ITU DATANG

Dono duduk sendiri di belakang rumah sambil menikmati malam dengan segelas kopi enak buatan sendiri dan sepiring singkong rebus.

"Indahnya....malam...ini. Tapi rindu seseorang....yang tak lama berjumpa," celoteh Dono sambil minum kopi.

Indro baru pulang dari urusannya dan melihat Dono duduk di belakang rumah sambil memandangi langit yang indah bertabur bintang. Indro pun duduk bersama Dono  langsung mengambil singkong rebus dan segera memakannya.

"Enak...singkong rebusnya Don."

"Iya...hasil dari saya tanam di belakang rumah," ujar Dono.

"Oh..ya...Dono...tumben duduk sendirian di belakang rumah?"

"Saya...lagi mengenang seseorang saja.....Indro."

"Rara....," kata Indro.

"Bukan...lah. Yang pertama tak terlupakan....oleh waktu," kata Dono.

"Saya...tahu yang kamu maksud. Wulan......  Cinta Pertama yang susah untuk di gantikan kenangannya," kata Indro.

"Ya...begitulah. Hidup ini singkat banget ada awal dan akhirnya sebuah pertemuan cinta tersebut. Tetap yang terbaik saya....lebih sadar. Alloh SWT memilih Wulan untuk meninggalkan dunia ini duluan. Jodoh yang paling sejati di tunjuk Alloh SWT....adalah Wulan," kata Dono.

"Saya mengerti omongan kamu....Dono. Walau sebenarnya tidak boleh di bicarakan seperti itu. Karena saya tahu....keadaan kamu yang sebenarnya. Kamu...Don....hidup setelah kematian itu datang pada mu," kata Indro.

"Ya....begitulah. Sekarang saya masih bernafas dan merasakan nikmat dunia. Etah besok....jika serangan jantung ....yang kedua kalinya....pasti saya ....tidak akan bangun lagi," kata Dono.

"Saya...berharap kamu....umur panjang bisa....bergembira bersama saya dan Kasino.Tetapi  Don.....kenapa manusia mati ya...?" kata Indro.

"Kasih tahu gak ya? Ya sudahlah saya jelaskan....seperti ini cara untuk bisa menjelaskannya sih...gampang-gampang banget.  Manusia di umpamakan Hp yang di hidupkan oleh listrik pake batrei. Kalau batrei di HP habis...maka Hp mati. Sama halnya dengan manusia. Masalahnya....manusia...itu di topang tubuhnya oleh....Alloh SWT...untuk menjalankan aktivitas sehari-hari alias hidup dan kata lain di topang oleh roh. Ketika saya....meninggal dunia ini...ada yang memanggil nama saya di alam goib...untuk di bacakan suratan takdir ilahi. Ternyata...saya...telah mencapai semuanya....dan segera untuk tidur selama-lamanya. Tapi saya....berkeinginan hidup cukup tinggi....saat itu...maka saya kembali hidup dan menikmati kopi enak ini," kata Dono.

"Siapa yang memanggil kamu saat itu? Padahal saya...terus memanggil kamu...Dono...agar bangun dari tidurmu yang panjang," kata Indro.

"Malaikat maut....diri saya sendiri. Setiap mahkluk hidup di muka bumi...ini di siapkan satu...malaikat maut untuk mencabut nyawa...setiap mahkluk....agar menjalankan kematian itu," kata Dono.

"Malaikat...maut. Tetap aja Don....banyak...bidang ke ilmuan masih menyangkalnya?"

"Ya...jawabannya....sederhana sih....untuk menjelaskan kematian itu. Kehancuran sistem pada tubuh manusia...itu sendiri dengan jenis....penyakit apapun. Padahal...penyakit itu...di hidupkan oleh Alloh SWT...pada akhirnya....itu juga di sebut malaikat maut," penjelasan Dono.

"Kalau...begitu jelaslah...kematian itu...di tentukan oleh...suratan takdir ilahi. Yang pernah hidup pasti merasakan kematian," kata Indro.

"Jangan ngomongin itu. Kita nikmati aja malam ini...dengan obrolan lain," kata Dono.

"Ok," saut Indro.

Dono dan Indro terus ngobrol tentang urusan pekerjaan dan juga urusan percintaan masing-masing sampai berbagi kopi segelas. Keduanya terus menikmati malam yang tenang sampai singkong rebus sepiring habis.

BENDERA

                                           

Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi selalu kucoba tuk melindungimu
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi selalu kucoba tuk mengharumkan
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi selalu kucoba tuk mingindahkanmu
Kupertahankan demi kehormatan bangsa
Kupertahankan demi tumpah darah
Semua Pahlawan-pahlawanku

Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung  tiang tertinggi
Di Indonesia ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi
Di Indonesia ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku akan selalu menjagamu

Karya : Cokelat

KUFUR NIKMAT JALAN DERITA

Jauh pencemaran, jauh revolusi teknologi, jauh kelayakan dan jauh dari kota metropolitan. Suatu kampung guyub yang asri, elok, hijau sumber daya alamnya. Namun jauh dari ketenangan batin,karena mengapa? Masyarakat miskin dituntut membayar dengan bunga tinggi. Di Kampung Lareh terdapat Saudagar Horison yang kaya bergelimpang harta namun takabur dan kejam wataknya. Berlarut-larut keadaan masyarakat laksana perahu apung dipermainkan gelombang.

“Bantulah saya tuan Son, hanyalah engkau orang terkaya bergelimpang harta yang mampu menolong kayu rapuh seperti kami.”

“Tentu saja! Siapa tak mengenal saya? Seantero jagat ini tunduk kepadaku! Saya bisa menolong kalian wahai rakyatku, namun tentu kalian tau bukan persyaratan apa yang sudah kutentukan?”

“Iya Tuan, tetapi itu terlalu berat untuk kami. Kami tidak mempunyai harta hanyalah rumah satu-satunya harta kami. Tolong beri keringanan Tuan, tolonglah kami tolonggggg! Kami membutuhkan uang kami kesusahan.”

“Oh itu terserah kalian. Saya tidak peduli, ini ketentuanku. Salahnya jadi orang miskin! Bagaimana mau tidak!”

“Baiklah Tuan. Apa daya hanyalah Tuan yang mampu memberi kami uang saat ini.”

“Oh tidak tidakk lebih tepat meminjam. Saya tidak perlu susah payah memberi kalian uang. Untuk apa tak guna!. Sarni ambilkan koper saya sekarang,cepat!”

“Siapp Tuan!” “ ini Tuan”

“Lihat ini koper isinya uang ya bukan daun! Uang saya banyak bukan? Pasti kalian tidak punya dan menginginkannya. Ini 10 juta untuk Ngiyami dan siapa kamu Marsinah 20 juta untukmu. Ingat harus tepat waktu. Jika kalian berani menunggak! Saya berikan bunga 30% per minggu.”

“Iya Tuan, terimakasih saya pamit dulu”

“Yayaya sana pergi! Fuh repot musuh kalian pada. Tapi ada utungnya aku bisa kaya aku bisa jadi milyader terkenal. HAHAHAHA benar begitu Sarni?” (mengangkat alis)
(suasana hening tak ada yang menjawab ocehannya)

“Sialan kemana kamu Sarniiiii. Saya seperti orang bento ngomong sendiri. Dasar anak buah gak tau sopan santun!” (marah marah sendiri)

Kala terik matahari menyengat kulit, terdengar kaki menapak menakutkan. Badan besar gagah dan otot baja mereka sang baju hitam garang berkepala botak, para Bodyguard Saudagar Horison. Mereka datang ke suatu dusun Kampung Lareh, tepatnya keluarga Marsinah seorang petani padi yang tinggal bersama suaminya yaitu Riyaden dan 4 anaknya. Mereka menggedor pintu dengan keras dan berteriak-teriak.

“Marsinah buka pintunya! Gausah pura-pura tuli ya. Buka!”

“Ada apa? Kalian siapa? Ibuku tak ada ibuku pergi ke sawah.”

“Mana dia gamungkin pasti kamu boong. Anak kecil brani skali berbohong.” (sambil mendorong hingga Alen jatuh)
(Marsinah datang sambil berlari-lari melihat ada keramaian dirumahnya)

“Yaallah yarobbi, ada apa Tuan Horison. Mengapa kalian mendorong anak saya. Dia salah apa? Kasihan dia! ( sambil menangis mengangkat anaknya)
“Hei kamu Marsinah! Mana bayar hutangmu kamu sudah nunggak 2 minggu!” (sambil melotot dan marah-marah)

“Maaf Tuan, saya belum punya uang. Saya gagal panen, padi disawah mati semua. Sekarang musim kemarau, tidak ada hujan. Saluran irigasi di sawah juga terhambat. Mau dapat uang darimana Tuan.”

“Loh apa hubungannya. Masa bodo! Saya gakmau tau. Pokok kamu harus bayar! Kamu sudah dapat bunga 60% . Terakhir lusa. Sampai kamu gabayar hutang, pergi kau dari rumah ini! Dasar!” (sambil menendang)

Marsinah menangis dia bingung bagaimana membayar hutangnya. Suaminya tidak bekerja, saat ini suaminya sakit keras yaitu Thalasemia. Berminggu-minggu suaminya terdampar diatas kapuk. Anak-anaknya dengan ketulusan hati merawat bapaknya. Penyakit parah itu harus membuatnya rawat inap di rumah sakit, tapi apa daya dia tak mempunyai biaya dia keluar dari rumah sakit karena kehabisan uang yang telah dipinjamkan istrinya di saudagar Horison. Terpaksa, dia terbaring dirumah dengan obat tradisional semata. Marsinah mencoba menjual semua barang yang dirasa mempunyai nilai nominal. Namun totalnya jauh dari keharusan, hanya Rp 550.000,00.

Esok hari tiba, matahari menyapa dunia. Meskipun menyengat, namun mereka tetap bersyukur atas ketentuan-Nya.

“Mana hutangmu! Ini sudah batas terakhir bagimu Marsinah. Cepat bayar!

“Tuan saya tidak punya uang saya hanya mempunyai uang segini.” 
(sambil memohon dan menangis)

“Apa-apaan ini seperti uang monopoli. Jangan main-main kau denganku!”

“Maaf Tuan, saya tak punya uang saya harus bagaimana lagi”.

“Pergi kau dari rumah ini! Tinggalkan urmah ini”. “Bodyguard usir keluarga mereka. Tinggalkan rumah ini dengan perabotan berharga saja! Cepatt!”
(sekejap rumah ini terkosongkan hanya dengan perabotan meja kursi lemari dan tv kuno dekil)

“Pergi kalian” (sambil menendang dan melemparkan pakaian-pakaian keluarganya ke muka mereka)

Horison memang sosok yang sombong dan kejam. Banyak korban yang telah dibikinnya terdampar dijalanan. Semua orang dibuat menderita dan tercekik karenanya. Dia menekan masyarakat dengan bunga pinjaman yang tak wajar.

Akhirnya pada suatu ketika, langit mulai gelap kilat petir menyambar dan hujan turun sangat deras. Jarang-jarang di Kampung Lareh terjadi hujan sangat deras seperti ini. Ternyata disisi lain, hal yang terduga terjadi pada seorang Saudagar Horison. Dia yang saat itu berdiri di jendela tiba-tiba tersambar petir, dia jatuh tergelimpang tubuhnya menghitam dan kejang-kejang. Tidak ada yang mengetahui hal itu, sehingga tak ada yang menolongnya. Tiba-tiba semua anak buahnya yang bermain catur dibelakang, mutah-mutah hingga berbusa. Mereka pingsan dengan tubuh bentol-bentol merah bernanah. Hal hal terjadi dengan anehnya, tidak bisa dipikir dengan akal? Namun apa daya, inilah adzab Allah buat mereka yang kufur nikmat yaitu yang tidak mensyukuri rezeki yang diberikan lebih oleh Allah. Gelimpang harta bukan berarti manusia jaya berfoya-foya, justru suatu cobaan bagi umat di bumi apa yang kamu lakukan atas rezekimu? Untuk kemaslahatan atau kemunkaran. Warga Kampung Lareh hanya tercengang melihat semua ini, dan hanya terbatin 

“Inilah kekuasaanmu Yaallah”. 


Karya : Agnes Oktavia Inggar Damayanti

SEEKOR KUPU MENASIHATIKU

Putri merebahkan tubuhnya keatas kasur. Siang ini begitu membuat dadanya semakin sesak. Perasaan sakit bercampur aduk dengan emosi nya. Hmm, maklum saja namanya juga anak remaja, kisah cinta mereka terkadang membuat mereka berubah 180 derajat dari sifat aslinya ketika dulu masih kanak-kanak.

'Cinta memang segalanya, membuat hati kita berbunga-bunga. Tetapi ada saat dimana cinta malah membuat hati kita tertusuk-tusuk oleh jarum, tersayat pisau, meretak dan pecah karena diserang rasa sakit yang begitu dalam; yang tentunya penyebab utamanya adalah perasaan cinta mereka yang mungkin tak seperti yang mereka inginkan.'

Putri menerawang keluar jendela. Terlihat sepasang kupu-kupu yang keliling sebentar didepan jendela kamarnya. Putri pun tersenyum simpul sambil mengulurkan tangannya yang sudah lebih dari satu kali bertemu dengan kupu-kupu manis itu. Kupu-kupu yang cantik nan elok bersayap ungu, warna favoritnya. Hmm, Putri juga memberi nama kepada kupu-kupu itu. Pung dan Piung. Tetapi yang lebih akrab dengan Putri adalah Pung.

Tiba-tiba Piung beranjak pergi. Rasanya, ia ingin mencari makan. 

"Curhat dong Pung.. Kita ga pernah loh curhat-curhatan" pinta Putri meski dia tahu Pung tidak mengerti ucapannya. Tetapi, setidaknya ia yakin Pung akan mendengarkannya.

"Dulu waktu aku kelas 7, ada seseorang yang bikin aku kagum. Awalnya kagum biasa, tapi abis itu ngefans, eh habis itu malah cinta. Sakit banget Pung, suka sama dia, itu. Aku gak pernah dianggep dan dikasih pengertian. Dia gak pernah tau rasanya jadi aku. Nahan rasa itu tuh.. Kretek... Hmm masalahnya sahabatku juga suka dia, Pung. 

Trus, waktu aku sama dia kelas 8, anak itu nembak sahabatku.. Chandra namanya. Ya ampun, sakit sih. Tapi waktu Chandra ceritain semuanya ke aku, aku tahu lebih sakit jadi Chandra ketimbang aku. Gini, gini. Intinya, aku suka sama si dia, tapi sahabatku juga suka. Dan si dia gak peka, tapi peka nya cuma sama Chandra. Bayangin, itu suakitt banget.!" ujar Putri, sambil sesekali bergumam dan bergeming. Mendesah. Bersuara parau. Berpandangan sendu.
Tiba-tiba Pung pergi dari jari telunjuk Putri. "Yah, yah, yah.. Kok kamu ninggalin aku sih, Pung. Aku kesepian nih," rengek Putri. Putri hampir akan mengerucutkan bibirnya, sebal. Ketika tanpa ia duga Pung bukanlah kupu-kupu biasa, namun seorang bidadari. Pung merubah wujudnya menjadi seorang gadis!

"Loh.. kamu kok manusia..." tanya Putri terbata-bata, kagum menatap wajah Pung yang bersih bersinar dan berbinar dengan senyumnya yang manis. "Ya, aku memang manusia, sebenarnya. Tak usah takut, aku bukan orang jahat kok" jawab Pung sambil tersenyum sekali lagi, tetapi kemudian terkikik ketika melihat wajah polos Putri yang kaget dan terkagum-kagum menatapnya. "Dan kau mendengarkan kata-kataku? Yang tadi? Kau mendengar curhatanku??" Putri menyengir lebar. “Wah..! Keajaiban! Bagaimana bisa kupu-kupu berubah menjadi manusia? Bisakah kau ajari aku sesuatu yang bisa mengubahku menjadi kupu-kupu?”

Putri keluar kamar. Ia ingin membuka pintu rumah, tetapi kenapa pintunya terkunci? "Ah, itu.. Bukankah Ibu sedang keluar dan membawa kuncinya? Yahh...." batin Putri kecewa. Lalu ia kembali ke kamar. Ia berniat keluar lewat jendela ketika Pung menghentikannya.

"Sudah, tak usah bingung. Sini aku bantu!" tawar Pung. "Bantu bagaimana?" tanya Putri. "Dengan ini, Insya Allah hal itu menjadi mudah," ujar Pung. "Hei.. kau seorang muslim? Kau mengucapkan kata Allah, wah.. bidadari Surga!" tanya Putri, lebih kagum lagi. "Hei, tidak juga. Aku gadis biasa, aku bukan seorang bidadari. Dan tentu aku muslim! Allah yang menciptakanku dan memberi nyawa padaku. Dan Dia yang menjagaku. Dan, Dia yang mampu mengubahku menjadi kupu-kupu atas permintaanku :D" katanya, seraya mengulurkan tongkat nya kearah Putri.

"Ta-daa! Sekarang kamu sudah diluar rumah, Sayang." seru Pung. 

"Sebenarnya kamu lebih muda dariku atau lebih tua? Atau, kita seumur kah?" sembur Putri dengan berbagai pertanyaan. "Anggap saja aku kakakmu.. Kau bisa curhat apa saja padaku, aku akan mendengarkanmu." seru Pung dengan suara yang lembut dan manis. "Langsung saja. Bagaimana pendapatmu tentang curahan hatiku beberapa waktu yang lalu?" kata Putri dengan wajah yang kembali sendu. "Kau tahu? Sedikit sekali yang mau bersyukur. Termasuk dirimu, kau tahu." gumam Pung, lalu Putri mengangkat alisnya. "Hah? Maksudnya?" "Coba deh renungkan. Seharusnya kamu bersyukur Allah menganugerahkan rasa cinta ke kamu. Kamu cinta dia itu mungkin takdirmu. Mungkin Allah ingin tau kamu lebih cinta ke manusia atau kepada Allah. Aku selama ini mengikuti jejakmu, lho.

Begini. Aku suka mengikutimu ke sekolah. Haha, saat itu, parfummu yang berbau bunga menarikku untuk mengikutimu kemanapun kau pergi. Dan hmm.. setiap kau pulang sekolah aku kemari. Aku ingin menghiburmu dengan kehadiranku. Aku tau kau sedang bersedih dan kesepian. Hm, aku juga tau setelah kau merasakan sakit nya diabaikan sama si dia, semenjak saat itu, kamu mencoba mengoreksi dirimu dan kepribdianmu. 

Kamu meningkatkan iman dan rajin belajarmu, kamu mempercantik wajahmu, kamu menata akhlaqmu, dan aku tau itu semua kau lakukan demi menarik perhatian dari dia. Yaa, tapi tentunya juga ingin dapat ridla dari Allah, sih. Dan yang paling aku tau, dia tetep gak ngehirauin kamu dan perubahanmu.

Tapi coba renungkan kembali, Putri. Mungkin Allah menaruh rasa suka ke hatimu terhadap anak itu agar kau merubah sifat burukmu. Jangan sekali-sekali menganggap Allah kejam sama kamu. Kalau kamu masih belum bisa move on dari si dia, coba bayangin betapa drastisnya perubahan akhlaqmu. Sejak kamu suka sama dia, kamu semakin mandiri dan semakin lama makin dewasa. Bersyukurlah,

Kamu mencintai dia itu lebih banyak manfaat dan untungnya daripada rugi dan sakitnya. Orang yang sabar akan disayang Tuhan. Belajar tersenyum saat kecewa. Fake smile gapapa kok, Putri! Senyum bisa mengobati hati yang terluka.

Dan satu lagi, belajarlah mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Jangan mau membenci dirimu sendiri."

"Tapi, Pung, Ibuku pernah bilang kalau aku itu sekarang sok baik, sok pintar, sok cantik, sok alim, sok bijak, dan sok bisa atau yang lainnya. Padahal aku terlihat sok baik itu karena pengen nutupin kekurangan dan keburukanku di masa yang lalu, aku kelihatan sok cantik itu karna aku ingin percaya sama diriku sendiri kalau semua cewek pasti diciptakan dengan wajah cantik, aku kelihatan sok pintar itu agar aku semangat dan gak mau merasa bodoh sendiri, aku sok alim itu karena aku pengen berusaha jadi anak yang baik-baik dan alim. Beriman, berakhlaq, berilmu, berperasaan. Dan aku sok bijak karena aku ingin belajar menghargai perasaan orang lain! Tapi kenapa masih gak ada yang mau ngertiin aku! Ngertiin perasaanku!

Semua diam aja, seakan-akan aku selalu bahagia karena mungkin aku suka tertawa dan bercanda. Tetapi sebenarnya dibalik itu semua, aku masih merasa kesepian meski ditengah keramaian. Kenapa semuanya pada negatif thinking ke aku?? Seburuk itukah aku? Aku tau dulu aku adalah anak yang nakal. Susah diatur. Akhlaq-ku hancur berantakan. Tetapi ketika aku ingin dan belajar untuk berubah, kenapa tidak ada yang mendukungku? Aku juga manusia, aku punya perasaan. Kalau kayak gini, lama-lama aku jadi benci sama diriku sendiri. 

Lagian, mungkin aku emang bodoh, ngapain aku cinta sama anak itu. Seandainya aku gak suka sama dia dan jatuh cinta terlalu dalam sama dia, perasaanku gak akan sekacau saat ini." Putri berandai-andai dan mencurahkan isi hatinya lebih dalam lagi.

"Jangan gitu! Ah. Belum tentu tidak ada yang mau mengerti kamu. Sahabatmu akan selalu mendukungmu kok." sanggah Pung, sambil memainkan pipi Putri untuk membentuk sudut dipinggir bibirnya, yaitu sebuah senyuman. "Aku juga sahabatmu kan?" tanya Pung sambil menghibur Putri dengan wajah dan senyuman nya yang begitu mempesona.
Nasihat Pung yang panjang lebar tadi membuat Putri menunduk dan merenung dalam-dalam. Ditatapnya mata si kakak kupu-kupu itu. Ia tersenyum. "Makasih, Pung. Selain sahabatku, aku akan menganggapmu kakakku."

Pung mengulum senyumnya semakin lebar. Mengeluarkan sinar dari giginya yang berbaris rapi dan putih cemerlang. Lalu, ia berdiri dan beranjak dari tempat ia duduk dan melambaikan tangan kepada Putri, sahabat pertama seumur hidupnya.

Tiba-tiba Putri kembali berada didalam kamarnya. Pung tersenyum kepada Putri diakhir pertemuan mereka sore itu. Setelah itu, Putri membuka jendelanya dan melambaikan tangan kepada Pung. "Terimakasih ya Pung! Eh, kakak, maksudku.. Haha daah"

Lalu Pung pun menjelma menjadi kupu-kupu bersayap ungu kembali. Dan, kemudian ia pergi. Sayapnya mengepak dengan anggun namun seakan-akan ia masih melambaikan tangannya kepada Putri.

"Meski kakak tiriku adalah seekor kupu-kupu, ia tetap sahabat yang nyata untukku." ujar Putri dalam hati.


Karya : Sabitha

MARDATILLAH

Matanya masih menatap larik demi larik setiap huruf hijaiyah yang berada dalam kitab suci Al-qur’an tersebut. Mulutnya masih melantunkan ayat-ayat suci yang maha agung secara jelas dan merdu. Bahkan suaranya bercampur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam ruangan itu. Para mahasiswi yang tergabung dalam organisasi islam ini mempunyai kebiasaan setiap seusai sholat subuh selalu mengaji dalam asramanya bersama-sama. Tak terkecuali Dina-mahasiswi keperawatan universitas terkemuka di Kota Surabaya. Dia selalu mengikuti agenda organisasi islam dikampusnya. Dina sudah hampir setahun ini menjalani aktivitas kuliah dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus maupun kegiatan organisasi kerohanian islam. Dirinya yang selalu penasaran. Dirinya yang selalu haus akan ilmu baru. Dirinya yang selalu ingin memiliki perubahan dari masa ke masa. Membuatnya untuk bergabung dengan organisasi islam tersebut.

Setelah seusai mengaji Al-qur’an bersama-sama. Dina bersiap diri untuk pulang kampung hari ini. Matanya masih memandang bayangan dirinya didepan cermin di asmara tersebut. Tangannya berusaha merapikan kerudung yang sedang dikenakannya dan membenarkan pakaian jubah yang membalut tubuhnya. Kemudian tak lupa dia memakai kaos kaki yang selalu membungkus kaki tersebut. Dia tampak cantik dengan jilbabnya. Balutan lembut itu seakan-akan membuat dia tampak seperti bidadari surga yang menjelma menjadi manusia. Bahkan dari raut wajahnya dia tampak bahagia dengan kehidupannya.

Dina yang dulu lugu dan cupu. Dina yang dulu tanpa jilbab. Dina yang dulunya islamnya abu-abu dan berasal dari desa. Sekarang berubah menjadi Dina yang baru. Dina yang selalu membalut dirinya dengan pakaian menyerupai jubah atau lebih tepatnya dia berhijab untuk menutup auratnya. Dina yang selalu berpikir kritis dan idealisme-nya telah terbentuk menjadi idealisme yang berpikir keras terhadap sesuatu. Bahkan menurutnya sekarang dia telah menemukan jati diri yang sebenarnya dalam islam yang sesungguhnya.

Perjalanan dari Kota Surabaya menuju Kabupaten Bojonegoro memang sangat jauh. Dina memerlukan waktu empat jam untuk sampai di rumah. Dina pulang ke rumah atas permintaan ibu dan bapaknya. Sesampainya di rumah Dina berusaha untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak pergi kemana-mana. Dia tidak seperti dulu sewaktu masih masa-masa SMA yang dapat pergi semaunya sendiri. Namun sekarang dia lebih menjaga tingkah lakunya sesuai syariat islam yang selama ini diperolehnya melalui organisasi kerohanian islam yang diikuti.

Adzan magrib telah dikumandangkan seluruh penjuru desa tersebut. Dina langsung bergegas melangkahkan kakinya menuju mushola dekat rumahnya untuk sholat berjamaah. Tetapi sejauh kakinya melangkah menuju mushola itu. Masyarakat masih memandangnya aneh dengan segala perubahan yang terjadi pada Dina saat ini. Mereka melihat perubahan diri Dina mulai dari penampilan dengan hijabnya dan cara tingkah lakunya yang tak seperti dulu. Apalagi Mereka merasa bahwa Dina lebih terlihat sangat aneh apabila Dina mengenakan kaos kaki dengan memakai sandal. Ini suatu pemandangan yang tak biasa bagi masyarakat desa tersebut. Namun demi jihad menuju jalan Allah yang lurus, dia tetap teguh dan seakan tak peduli terhadap pandangan maupun omongan orang-orang disekitar rumahnya itu.

Dalam mushola tersebut, masyarakat sekitar yang dulu mengenalnya juga merasa segan untuk mengakrabkan diri padanya. Bahkan sahabat-sahabat kecilnya dulu tidak semua bercengkrama dengannya. Bagi mereka Dina yang dulu sudah berubah dan selalu membatasi dirinya.

Perubahan diri pada Dina memang terlalu cepat sehingga membuat keluarga, saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya dikampung halamannya tersebut sedikit menentang perubahan itu. Semua ini terjadi karena dampak dari berita-berita teroris di televisi yang mengatasnamakan islam dan melakukan bom bunuh diri. Berita tersebut telah membuat kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya menjadi khawatir dengannya. Orang tuanya takut jika anak perempuannya tersebut telah berhasil di bai’at dan di cuci otak oleh oknum-oknum yang mengaku dirinya islam dan menyuruh anaknya untuk melakukan bom bunuh diri seperti berita di televisi itu.

Seperti petang ini, seusai sholat magrib dan sepulang dari mushola. Dina langsung di sidang diruang tamu oleh paman dan kedua orang tuanya mengenai perubahan pada dirinya sekarang. Sidang itu sudah kedua kalinya terjadi semenjak Dina memutuskan memilih jalan hidupnya.

“Dina, sebenarnya paman sangat senang melihat kamu berhijab sesuai syariat islam seperti ini, namun paman juga takut jikalau pemikiranmu terhadap sesuatu nantinya juga ikut berubah, entah itu pemikiran berdasarkan islam yang mana, sekarang itu agama islam telah terbagi menjadi beberapa aliran, ada islam radikal, islam liberalisme dan masih banyak lagi, paman takut jika organisasi islam yang kamu ikuti termasuk mempunyai pemikiran islam yang radikal atau liberal, apalagi sekarang banyak teroris bom bunuh diri yang mengatas namakan islam dan alasannya untuk berjihad, berhati-hati lah Din. Pandai-pandailah memilih dan memilah organisasi islam dikampusmu, jangan sampai kamu salah pilih dan dijadikan teroris seperti di berita ditelevisi itu…” kata paman santai.

“Astagfirulllahaladzim…, tidak paman. Saya memutuskan untuk berubah seperti ini karena saya benar-benar ingin berjihad di jalan Allah dan saya telah menemukan islam yang sesungguhnya dalam kerohanian islam di kampus yang saya ikuti. Saya ingin lebih bertakwa kepada Allah. Bukankah di dalam Al-qur’an surah An-Naba’a ayat 78 diterangkan Allah berfirman sungguh bagi yang takwa ada tempat yang aman dan bahagia. Jadi, paman, ibu dan bapak jangan khawatir akan perubahan yang terjadi pada Dina sekarang. Semua ini, saya lakukan semata-mata karena Allah ta’ala. Bukan menjadi teroris seperti berita di televisi itu dan saya bukan diantara mereka-mereka itu..” tukas Dina dengan lembut dan penuh kesabaran.

“Iya nduk, ibu dan bapak hanya ingin mengingatkan kamu saja karena ibu masih takut kamu berubah bukan keinginan kamu sendiri melainkan paksaan dari orang lain, setiap kali kamu sudah di Surabaya, ibu tidak bisa tidur karena selalu memikirkanmu. Ibu senang jika kamu berjilbab tapi pola pikirmu juga ikut berubah nak, kamu telalu berlebihan. Jadi semua itu membuat ibu cemas…” kata ibunya sambil menatap Dina dengan nanar.

“Ibu.., Dina baik-baik saja. Di Surabaya sana, banyak teman-teman yang sayang sama Dina jadi ibu jangan khawatir. Demi Allah. Demi baginda nabi Muhammad. Dina benar-benar berjihad di jalan Allah dan Dina berani bersumpah atas nama Allah bahwa Dina bukan golongan dari kaum teroris tersebut…,percayalah. “ bela diri Dina dengan tutur kata yang lembut.

“Iya nduk, bapak percaya padamu. Kamu juga sudah mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Semoga Allah selalu merahmati setiap jalanmu…,nduk.” ucap bapak dengan santai.

Keesokan harinya. Salah satu sahabat SMA-nya mendengar bahwa Dina berada di rumah. Sahabatnya tersebut berkunjung ke rumah Dina. Sahabat Dina tersebut merupakan seorang laki-laki yang bernama ilham. Ilham adalah sahabat Dina yang paling akrab sewaktu SMA, namun ketika Ilham bertandang ke rumah Dina. Ia enggan menemuinya. Semua itu dikarenakan Dina takut jika seorang laik-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan akan menimbulkan fitnah. Baginya laki-laki itu jika bukan mahromnya maka tidak akan jadi masalah bila tak menemuinya dan bisa terhindar dari perbuatan dosa. Sekarang dina juga anti yang namanya laki-laki bahkan dia tak akan pernah sedikitpun bersentuhan dengan laki-laki walaupun itu hanya pegangan tangan dan sekalipun itu sahabat karibnya sendiri atau saudaranya. Baginya lebih baik mencegah daripada menimbulkan perbuatan fitnah.

Ia memang benar-benar sudah berubah secara dratis. Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, namun pola pikir dan bicaranya juga ikut berubah. Bahkan Tabiatnya sudah tidak seperti Dina yang dulu. Dia yang dulu yang selalu menerima siapa saja ketika bertamu di rumahnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Ia yang dulu selalu acuh tak acuh dengan keadaannya. Ia yang dulu suka update status di facebook mengenai percintaan dan cowok-cowok yang ditaksirnya. Sekarang dia lebih suka berdakwah melalui jaringan sosial media tersebut. Tabiat itu berubah menjadi lebih baik namun terlalu berlebihan. Memang kata banyak orang ia mengikuti organisasi islam yang mempunyai peraturan keras. Bahkan terlalu keras. Selalu mengharamkan segala sesuatu yang dianggapnya tidak benar untuk dilakukan dan bahkan itu yang sudah lazim dilakukan oleh masyarakat dan sudah membudaya tetap dianggap haram bagi mereka. Iman dalam hatinya sekarang bukan angan-angan belaka namun sudah diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan.

Setiap kali ia berjumpa dengan sahabat perempuannya atau saat ia sedang berjelajah di dunia maya pasti membahas mengenai islam di Indonesia atau hanya sekedar bercerita mengenai kehidupan menurut islam. Seperti hari ini, Dina sedang ngobrol asyik bersama Vida-sahabat SMAnya dulu. Dia sengaja mampir ke rumah sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Dina membahas mengenai islam dalam perbicangan dengan sahabatnya tersebut.

“Mbak, Islam itu kan agama rahmatan lilallamin yaitu rahmat bagi seluruh alam, namun kenapa negara indonesia tidak bisa menerapkan peraturan islam berdasarkan Al-qur’an dan hadist dalam kebijakannya….” tanya Dina serius.

“Saya juga tidak tahu, Din. Kan kamu tahu sendiri negara Indonesia itu terdiri dari berbagai agama, suku dan ras. Jadi kita juga harus menghargai perbedaan itu. Para petinggi negara tersebut juga harus bisa menyesuaikan dengan keadaan negara kita, masa mau seenaknya sendiri…” jawab Vida santai.

“Tidak, mbak, menurut saya, negara Indonesia harus bisa menerapkan negara islam dan harus diusahakan itu mbak…” tegas Dina seperti memaksa kehedaknya.

“Ya kamu bicara saja sama presidennya, jangan sama saya…” Jawab balik Vida.

Tanpa meneruskan kembali obrolannya. Ia pamit secara baik-baik kepada sahabatnya tersebut.

Setibanya di rumah, sudah ada seorang lelaki muda menunggunya diruang tamu dan ditemani kedua orang tuanya. Ketika hendak masuk rumah dan mengucapkan salam. Dia langsung dihadang oleh lelaki muda tersebut.

“Nah ini, dia perempuan yang sudah membuat adik saya menghilang…” kata lelaki muda tersebut sambil telunjuknya menunjuk-nujuk kearah Dina dengan amarah yang tak bisa dibendung.

“Maaf, saya salah apa sehingga membuat anda marah pada saya dan menuduh saya seperti itu..” tanya Dina dengan halus dan sabar.

“Adik saya yang bernama Rendra, dia menghilang dan sebelum dia menghilang dia bilang bahwa dia akan bergabung dengan organisasi islam yang ada dikampusnya dan katanya dia tahunya dari kamu..” jelas lelaki muda tersebut.

“Astagfirullahaladzim..semua itu tidak benar. Rendra menghilang itu bukan karena saya, saya tidak tahu tentang semua itu, saya hanya memberi informasi saja mengenai organisasi islam yang ada dikampus dan itupun juga melalui sms dan tidak ada maksud untuk mengajak atau memaksanya…” bela diri Dina.

Rendra-Adik kelas Dina sewaktu SMA dan sekarang juga mengikuti jejaknya untuk kuliah di universitas yang sama dengannya. Dia sudah mengenal baik dengan Rendra sejak dulu. Bahkan sebelum Dina berubah menjadi sangat alim, mereka berdua sudah saling akrab. Namun Rendra sudah dua minggu tidak ada kabar dan menghilang entah kemana dia pergi. Semua ini mengakibatkan Dina dituduh menjadi penyebab kehilangan Rendra. Keluarga Rendra menuduh Dina bagian dari teroris yang telah dicuci otaknya sejak dia memutuskan berubah secara total dalam hidupnya.

Peristiwa-peristiwa yang selama ini menimpanya dianggap sebagai cobaan dari Allah untuk menguji imannya. Ia percaya. Percaya pada maha kuasa bahwa semua ini telah menjadi ketetapan dan ketentuannya selama di dunia. Dia selalu berikhtiar dan tawakal dengan kehidupannya sekarang. Iman dan takwa telah membuatnya lebih sabar dan tenang.

Masalah Rendra sudah lumayan meredam setelah kakaknya tadi pamit pulang. Dina tampak lesu dan pilu. Namun senyum sunggingnya tetap pada ibu dan bapaknya. Tetapi masalah baginya kini muncul kembali ketika di rumahnya akan dilaksanakan syukuran atau orang desa ini menyebutnya manganan atau bisa disebut bancaan. Ini sebuah tradisi kebudayaan orang desa di Bojonegoro dan nantinya akan mengundang tetangganya untuk mendoakan leluhur mereka yang sudah meninggal dan setelah itu akan diberi berkat (nasi dan lauk pauk serta jajanannya) untuk dibawa pulang. Keesokan harinya acara manganan tersebut akan dibawa ke sendang-sebuah tempat yang dikramatkan di desa tersebut agar mereka selamat dari bencana di desa itu. Tradisi budaya syukuran semacam ini berfungsi untuk mengenang leluhur dan masih percaya dengan hal yang berhubungan dengan animisme. Kepercayaan tersebut sudah mendarah daging dalam hati mereka dan sudah lazim dilaksanakan di setiap desa.

Dengan dilaksanakannya acara tersebut, Dina menentang kedua orang tuanya dan menyuruh untuk membubarkan orang-orang yang sudah datang dalam rumahnya.

“Ini perbuatan musyrik bu, jadi jangan dilaksanakan. Semua ini haram bu. Haram hukumnya. Bapak harus menyuruh orang-orang itu pulang dan tidak ada manganan di rumah ini. Saya tidak mau Allah murka kepada keluarga kita jika masih melakukan kemusyrikan ini…” cerocos Dina dengan tegas dan keras.

“Jika ibu dan bapak menyuruh mereka pulang berarti ibu dan bapak akan sangat malu Din, dan bahkan tetangga kita akan membenci kita, kamu berubah jadi seperti ini saja, mereka sudah ngomongin macam-macam tentang kamu, ibu bingung harus berbuat apa…” jawab Ibu dengan tegas.

“ Cukup. Din, kamu boleh merubah segala pola pikirmu dan menghilangkan adat istiadat desa kita tapi hanya untuk dirimu sendiri, jangan membuat bapak dan ibu malu…” sahut bapaknya.

“Tapi Dina tidak akan membiarkan kemusyrikan ini terus-menerus terjadi, namanya ini menyukutukan Allah dan bagi siapa saja yang berani menyukutukan Allah, dosanya sulit untuk diampuni, saya tidak mau semua itu terjadi pada bapak dan ibu…”

“ Sudah Cukup…” teriak bapaknya dengan tegas.

“ Baik. Jika bapak dan ibu tidak mau membubarkan acara bancaan di rumah kita, biar saya yang membubarkan mereka semua..” tukas Dina dan langsung melangkahkan kakinya menuju kerumunan orang-orang yang memakai baju koko dan sarung serta kopyah tersebut.

“ Dinaa….” teriak ibunya.

Dina berhasil membubarkan orang-orang yang sedari tadi berada didalam rumahnya untuk kondangan. Ibu dan bapaknya tampak merasa malu atas perbuatan anaknya tersebut. Bapaknya sangat amat marah padanya bahkan ibunya hanya bisa menangis didalam kamar. Sebenarnya dalam hati kecilnya terbesit rasa berdosa terhadap kedua orang tuanya, namun dia juga tidak ingin tinggal diam melihat kemusyrikan itu terjadi dalam rumahnya. Manganan sudah menjadi tradisi sejak turun temurun dalam keluarganya harus ditentangnya karena tidak sesuai syariat islam.

Malam yang selalu memberikan ketenangan dan membuatnya berada pada perenungan. Sujud dalam tahajudnya dia menangis dan memohon ampun kepada Allah yang maha pengampun. Jika memang benar dia salah maka dia meminta ampun yang sebesar-besarnya dan apabila memang ibu dan bapaknya yang salah dan menyimpang dari ajaran agama islam maka dia memohonkan ampun untuk mereka.

Ia yang selalu tawakal pada illahi. Ia yang selalu sabar dalam setiap cobaan dan bertahan pada jihadnya. Kini dia sedikit rapuh. Matanya yang indah itu menumpahkan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Dalam kesunyian malam itu, isakan tangisnya terdengar dari dalam kamarnya. Namun dia telah berpegang teguh pada firman Allah dalam Al-qur’an surah Al-Hasyr ayat 58 bahwa Allah berseru “ hai orang-orang yang beriman! Bertawakalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai persediaan untuk hari esok. Bertawakalah kepada Allah. Sungguh Allah tahu benar apa yang kamu lakukan.

Setelah ia membaca ayat tersebut, hatinya semakin menjadi tenang bahwa apa yang telah dilakukannya tadi tidak bermaksud menyakiti hati kedua orang tuanya. Baginya Allah maha tahu segala isi hatinya kenapa dia melakukan hal tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, ia terlelap dalam tidur dengan balutan mukenah berwarna putih diatas sajadahnya.


Karya : Imam Aris Sugianto

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK