CAMPUR ADUK

Saturday, January 26, 2019

JALAN LAIN KE ROMA

Open mula-mula jadi guru sekolah rakyat, sudah itu jadi mualim, lantas menjadi pengarang, kemudian tukang jahit.

Tentang perawakannya tak banyak yang dapat diceritakan, ia punya dua kaki, dua tangan, dua telingan, dua mata, dan satu hidung. Bahwa lubang  hidungnya ada dua, itu sudah sewajarnya. Open seperti manusia lain, lain tidak.

Tapi, namanya memang mempunyai riwayat. Itu tidak dapat disangkal. Beribu-ribu nama lain ada, Abdullah dan Effendi, Al'aut dan Binuak, enak kedengarannya dan sedap dilihat jika tertulis. Dan orang-orang yang keritis sudah pasti tidak akan merasa puas, jika diterangkan mengapa Open bernama Open.

Open sendiri sudah barang tentu tak ada bagiannya dalam memberi nama itu. Waktu ia masih merah, sebentar-sebentar ia berteriak dan buru-buru datang ibunya terbuka dada dan disodorkannya bayi ini sesuatu yang menjulur dari dada yang terbuka itu. Open menghirup dengan senangnya, ia berhenti berteriak dan setelah selesai, tidur dengan nyenyaknya.

....

Waktu ini jadi guru sekolah rakyat, saban ia hendak masuk kelas untuk memberi pelajaran, ia selalu ingat kepada cita-cita ibunya ini, dan sebab itu ia selalu mulai pelajarannya dengan, "Selamat pagi, anak-anak. Kemarin aku telah kawin dengan gadis di kota ini. Aku sengaja tidak mengundang kamu sekalian, karena aku pikir, kamu toh tak akan dapat memberi apa-apa. Apa pula yang dapat diharapkan dari anak-anak, bukan?

Atau pada lain kali ia menceritakan panjang lebar tentang perselisihannya itu dengan istrinya itu. Waktu ia pakai celana pendek saja istrinya pegang golok. Kata bersahut dengan kata dan tiba-tiba isterinya mengejar dia dengan golok itu dan dia lari pontang-panting, Dan bagaimana larinya itu, dicobakannya pula di muka kelas. Anak-anak pada tertawa, seorang berkata, "Ah, Pak Guru takut sama istri." Yang lain berkata, "Kasihan Pak Guru, dirongrong terus-terusan oleh istrinya."

Anak-anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak dan itu sebabnya sejak dari itu Open bernama, Guru Golok. Dan karena golok sangat baik bersajak dengan goblok, Open akhirnya bernama, Guru Goblok.

....

Orang yang sesabar-sabarnya akhirnya marah juga. Dan Open adalah orang yang selalu menurutkan kata hatinya. Jika hati ini berkata, pegang seorang anak dan pukul dia, ia memang memegang seorang anak yang terdekat dari dia, lalu dipukulnya. Rasanya pada Open, ia memukul hanya pelan, tapi dari telinga anak itu keluar darah.

Dan inilah sebabnya datanglah orang tua murid yang kena pukulan itu ke sekolah, guru kepala maki-maki Open dan akhir cerita, Open diberhentikan.

Tapi waktu Open mau pergi meninggalkan sekolah celaka itu, ia menetang guru kepala,  dan tegas-tegas katanya, "Satu hal, Tuan harus akui, saya tidak goblok! Saya hanya menceritakan pada anak-anak bahwa istri saya pernah mengejar saya dengan golok. Saya lari .... dan anak-anak menamakan saya dari sejak itu guru goblok. Mengapa? Tuhan saja yang tahu. Saya tidak.

....

Dan dalam keadaan Open sekarang ini, tidak punya pekerjaan lagi, diusir sebagai anjing boleh dikatakan, pada waktu itu lebih-lebih lagi ia bersyukur karena punya sepeda. Waktu ia menaiki sepeda itu, terasa olehnya seolah-olah menaiki kuda yang dicintainya dan yang berguna sekali sebagai teman hidup sehari-hari kesusahan, ia sebenarnya ingat untuk menjual  sepeda itu sewaktu-waktu. Dengan ingatan itu Open merasa lega sedikit. Dan ia sekarang dapat menggunakan pikirannya untuk memikirkan hal-hal yang lain.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Anak-anak nakal, ia memukul anak itu sampai berdarah telinganya. Ia diberhentikan dan anak-anak boleh belajar terus dengan senangnya. Di mana keadilan?

Ibunya berkata, "Open, engkau harus berterus-terang dalam segala hal. Dengan jalan begitu engkau dapat memajukan dunia yang penuh dengan kebohongan ini."

Dan perkataan ibu itu benar seratus persen, pada pendapat Open. Ke mana pun juga ia melihat, selalu ia bertemu dengan kebohongan, kebusukan-kebusukan yang disimpan baik-baik.

Kelas sekolah bagi Open adalah tempat yang terbaik untuk menyebarkan benih terus-terang ini. Itu sebabnya ia menjadi guru, tapi akhirnya itu pula sebabnya yang melemparkan dia dari kelas itu.

Buat pertama kali terasa oleh open bahwa dunia penuh dengan kurang terima kasih.

....

Open memeluk sayang istrinya, dan keesokan harinya, hari keduanya dan hari seterusnya, Open pakai pantaloon. Orang-orang desa tercengang. Beberapa orang berbisik-bisik. "Lihat mualim kita sudah gila!" Ya, ada pula yang berani berkata. "Mualim kita sudah gila!" Ya, ada pula yang berani berkata. "Mualim kita sudah jadi mata-mata Jepang, awas jangan didatangi rumahnya lagi. Jangan biarkan lagi anak-anak belajar pada dia."

Akhirnya semua itu tak tertahankan lagi, lebih-lebih oleh Surtiah. Pada suatu malam pula, kata Surtiah pada Open. "Kak, mari kita ke kota. Coba mengarang di sana. Ingat mualim di kota dulu." Dan Open memeluk sayang istrinya pula dan mereka pergi ke kota. Open akan jadi pengarang.

Open dan Surtiah tiba di kota. Orang yang pertama sekali dikunjunginya ialah mualim dulu yang selalu pakai pantaloon itu. Maksud Open hanya untuk bercakap-cakap saja tentang pekerjaan karang-mengarang mualim itu. Tapi sayang tak sampai bertemu, karena kata istri mualim itu, suaminya beberapa bulan yang lalu ditangkap Jepang. Sebabnya ialah karena ia tak mau bekerja sama dengan Jepang, tak mau membacakan khotbah Jumat yang telah disiapkan oleh Kantor Urusan Agama Jepang.

Setelah mendengar ini, tiba-tiba pandangan Open terhadap segala apa yang dilihatnya berlarian sekali. Jika ia melihat orang di tengah jalan pakai celana karung, timbul pertanyaan padanya, mengapa?

Kembali ia ingat kepada mualim yang ditangkap Jepang dan waktu timbul pula dalam hatinya pertanyaan, mengapa, mengapa, semua segera menjadi terang-benderang baginya. Jepang datang untuk kemakmuran, Jepang datang untuk memperkosa kemerdekaan agama, untuk melaparkan dan untuk menelanjangi bangsa Indonesia, dan orang Indonesia sendiri tidur lelap, seperti sejak tiga abad yang lalu. Dan seperti torpedo ke luar dari kapal selam, ke luar perkataan dari mulutnya, "Rakyat Indonesia harus dibangunkan, dibangunkan, dibangunkan!"

Dan hampir bersamaan terbayang di hadapannya wajah ibunya, Open, engkau harus berterus-terang."

....

Open, dengan karangan itu pergi kepada seorang redaktur. ....

"Tuan ini berbahaya bagi tuan sendiri. Lebih baik tuan simpan saja. Atau bakar.

....

Karangan Open ini diterbitkan, bahkan mula-mula mau diberikan hadiah nomor satu, tapi kemudian Badan Sensor Jepang menyesal telah meloloskan karangan itu. Terlambat sensor itu melihat bahwa karangan itu sangat berbahaya. Bahwa karangan itu adalah serangan sehebat-sehebatnya terhadap Tenno Heika. Terlambat, tapi ada satu yang belum terlambat, yaitu menangkap Open. Open diminta datang di Kenpetai. Di sini ia tidak di tanyai baik-baik, tapi segera dipukuli dan dipaksa mengaku bahwa karangan itu adalah serangan atas Tenno Haika Maharaja Jepang.

Sebenarnya memaksa Open tidak perlu sama sekali, karenaa ia toh akan mengatakan dengan terus-terang bahwa karangan itu dimaksudkanya begitu. Tapi dikatakannya pula dongeng itu bukan dibikin-bikinnya begitu saja, tapi betul-betul pernah didengarnya dan mungkin sekali betul-betul pernah terjadi.

Setelah mengaku, Open dipukuli. Darah mengalir di seluruh badan. Setelah itu ia disuruh mandi, sampai kaku. Lalu disuruh duduk di bawah panas terik. Beberapa hari setelah itu luka-luka di badannya dengan sendirinya baik kembali. Rupanya demikianlah cara Jepang mengobati luka-luka, dimandikan sampai kaku, dijemur sampai terbakar, dan luka baik dengan sendirinya, tidak dengan yodoform atau yodium-yodium atau salep, tapi dengan obat-obat yang disediakan alam. Hampir tidak dapat dipercayai.

Sejak itu Open ditutup dalam kamar terkunci. Badannya tambah lama tambah kurus. Tapi mujurlah ia tak pernah dipukul-pukul lagi. 

Dalam kamar tertutup itu, buat pertama kali. Open insaf akan harga kemerdekaan. Kemerdekaan ada dua macam, kemerdekaan jasmani, dan kemerdekaan rohani. Kemerdekaan jasmani boleh diambil orang lain, seperti halnya dengan dirinya sekarang ini, tapi kemerdekaan rohaninya tiada seorang pun yang dapat mengambilnya. Ia bisa pergi ke mana-mana dengan pikirannya, biar pun di sekeliling badannya menjulang tinggi tembok empat persegi. Tapi kemerdekaan tujuan hidup? Tidakkah kemerdekaan hanya alat untuk mencapai tujuan itu? Dan apakah tujuan itu?

Pada waktu yang lain, ia ingat kepada ibunya, "Open, engkau harus terus-terang dalam segala hal. "Sebenarnya maksud ibunya sama saja, Tuhan ....Kusucian ....Terus-terang ....Kebenaran!

Ibunya memang bukan orang desa lagi, pernah sekolah HIS di kota. Tapi karena bergaul dengan orang-orang sederhana ia mengucapkan segalanya dengan sederhana pula. Ia bukan mengatakan Tuhan atau Kesucian atau Kebenaran, tapi terus-terang! Ya, sama saja maksud ibunya sebenarnya.

Sejak Open menjadi pengarang, ia banyak membaca buku-buku filsafat. Pada waktu ia dalam penjara Kenpetai ini, dalam mana ia kadang-kadang hampir-hampir menjadi gila dan putus asa,  selalu ditutup dalam kamar kecil, buang air besar dan buang air kecil, makan dan minum di tempat itu juga, pada waktu penderitaannya memuncak, hanya satu ahli filsafat yang menemani kesengsaraannya, Boethius. Ya, ada kadang-kadang ia merasa dialah Boethius sendiri. Di penjara, karena hendak berbuat baik kepada manusia sesamanya, ia di penjara oleh kebaikan itu sendiri.

Tapi Boethius sendiri berkata, kesengsaraan itu sebenarnya tidak apa-apa. Hanya anggapan yang salah terhadap kesengsaraan itu, itu yang menjadikan orang putus asa dan merasa celaka.

Perkataan Boethius itu tergores dalam hati Open sebagai suatu kebenaran dan adalah hiburan baginya, setelah ia yakin bahwa kewajibannya dalam penjara itu ialah menghilangkan anggapan salah tentang kesengsaraan. Kesengsaraan bukan musuh, anggapan itulah musuh. Setelah ia dapat melepaskan anggapan itu dan dapat melihat kesengsaraan yang di deritanya sebagai wajarnya, ia mengucap syukur kepada Tuhan dan terima kasih pada Boethius. Demikian, ia dengan sabar dapat menanggungkan penderitaannya dalam penjara Kenpetai itu.

Waktu Republik Indonesia diproklamasikan, ia lepas. Badannya memang agak kurus, tapi isi pikirannya bertambah gemuk. Ia bukan Open yang dulu lagi, ini adalah Open yang berlainan sekali, lebih berpaham dan melihat kehidupan secara luas. Itu sebabnya ia tidak ikut-ikut dengan revolusi membunuh Jepang, Belanda Indo, dan Cina. Revolusi baginya baik, tapi segera ia menunjukkan anasir-anasir yang jahat. Ia harus dicek kembali, dialirkan melalui tempat yang lebih baik, menuju cita-cita yang sama juga. Revolusi baik. Dia sendiri mengalami revolusi yang paling hebat dalam dirinya sendiri. Revolusi tidak lain daripada akibat evolusi yang berlaku, evolusi berupa pemerasan perlahan-lahan dan secara teratur. Tapi revolusi tidak membunuh, revolusi hanya berarti mengguncangkan yang ngelamun dan membangunkan yang tidur serta selangkah lebih besar menuju cita-cita. Dalam pada itu karangan-karangannya yang dibikinnya dulu diterbitkan orang dan segera nama Open terkenal ke mana-mana. Satu dua kali ia mendapat surat dari pembaca, yang mengancam jika dia berani juga mengeluarkan karangan-karangan yang kotor itu. Dan ada pula yang menamakan dia pengarang tolol. Tapi ini hanya perkecualian. Biasanya dia mendapat penghargaan kanan kiri.

Open sendiri girang membaca karangan-karangan itu kembali, tapi sesuatu dalam hatinya berkata bahwa ia rasa tak bisa membikin karangan-karangan seperti itu lagi. Jika ia nanti toh menulis lagi, pasti akan berlainan sekali. Lebih halus, barangkali dan mungkin juga lebih berisi. Tapi sekarang ini belum bisa. Ia memang telah banyak memikirkan soal-soal kehidupan yang pelik-pelik, tentang tujuan hidup, tapi ia merasa serasa masih ada lowongan dalam kalbunya yang harus diisinya dulu dengan air kefilsafatan  yang merupakan pandangan hidup yang lebih tegas.

Tidak! Sekarang ini biarlah Open mengeluarkan karangan-karangan yang dulu satu per satu dan tidak menulis yang baru. Ia tahu dan yakin bahwa pada suatu ketika lowongan dalam kalbunya pasti akan terisi penuh dan barulah tiba waktunya untuk  menulis lagi dengan keyakinan yang lebih tegas.

Waktunya revolusi mulai tenang. Open terpaksa mencari pekerjaan untuk hidupnya. Ia dapat pekerjaan, mula-mula sebagai penolong tukang jahit, tapi kemudian ia lekas pintar menjahit sendiri.
....


Karya: Idrus

MATA BIRU

Pantulan sinar matahari membaut matanya semakin jelas dan khas, bulat dan biru. Tampak sinaran kerlap-kerlip diwajahnya sisa air wudhu. Gadis tinggi putih itu adalah Ayukku, Ayuk yang selalu nampak lebih enak dipandang diantara keluarga yang lain. Ayuk Zahra namanya. Enam tahun sebelum aku lahir, ibuku pernah menikah dengan seorang perawat berkebangsaan Sudan saat menjadi relawan di Paletina. Selang beberapa bulan setelah kelahiran Ayuk Zahra, terjadi perompakan di perbatasan Ya'fa yang kemudian memakan banyak korban, termasuk suami pertama ibuku. Semua pasokan makanan diboikot hingga akhirnya Ibu dan Ayuk Zahra berhasil dipulangkan kembali ke Lampung. Lampung tercinta yang menjadi kota kelahiranku.

04 Mei 2002, Ibu dan Ayahku pergi ke Pondok Penghafal Qur'an di daerah Pesawaran, tujuannya untuk menghadiri pelepasan Ayuk Zahra yang telah empat tahun menetap disana. Hari itu palu aku mengikuti Kejuaraan Karate Tingkat Provinsi di Gor Saburai Bandar Lampung. Semua berjalan sesuai rencana. Atas izin Allah, aku pulang membawa mendali perak untuk kategori katak junior, dan Ayuk Zahra dengan 30 Juz hapalan Qur'annya. Kulitnya bertambah putih, bertambah ayu hati dan parasnya. Tak heran kalau bapak-bapak di desa kami sibuk cari perhatian denga ayah. Mereka berlomba ingin menjadikan Ayuk Zahra sebagai mantu. Ibu yang tahu persis keinginan Ayuk Zahra berusaha menolaknya dengan halus. Ayuk Zahra masih punya banyak target dan cita-cita. Selain Ibuku, Ayuklah yang mengajariku banyak hal tentang aurat, ketekunan, dan keyakinan. Ayuk Zahra telah mendokrinku hingga menjadi "Pemimpi" sampai saat ini.

"Ulah api niku mak wat bosan, yuk? Setiap ghani ngebaca buku-buku tebal gogoh es balok," ledekku untuk memecah hening sore itu.

"Bosan tak bosan kalau untuk urusan ilmu tetap harus ditekuni," kata-kata manis meluruh lewat bibir ciutnya.

"Ayuk benar-benar ingin ke Palestin?" selidikku.

"Insya Allah, da'akan saja ya," jawabnya.

"Alangkah baiknya, kalau Ayuk sekolah ke Kairo atau ke Sudan, kan nanti bisa ketemu nenek Zainab," aku terus meyakinkannya.

"Niku ngenah gawoh tini dek," sambil menutup bukunya.

"O.....Atau ikut Tika saja ke Jepang," aku melompat dari ranjang dan kuraih Buku Panduan Belajar Bahasa Jepang Untuk Pemula yang masih berlabel Gramedia Lampung.

"Aamiiiin!! Makanya Tika rajin belajar dan perbanyak amalan sunnah," sambungnya.

Sejak kepulangan Ayuk, keluarga kami jadi sering melakukan ibadah sunnah, seperti puasa Senin Kamis, Shalat dan Puasa sunah lainnya. Tak heran kalau Ayuk Zahra jadi jarang dimarahi. Setiap akhir pekan, aku jadi rajin ikut Ayuk Zahra ta'lim di Masjid Taqwa Metro. Kalau aku mulai bosan, Ayuk Zahra akan mengantarku ke Perpustakaan Kota Metro yang letaknya di belakang Masjid Taqwa. Katanya kebiasaan membaca itu mulia, karena wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca, dan juga membaca adalah jendela dunia. Ada satu hal yang tidak pernah aku lewatkan ketika berkunjung ke Perpustakaan ini, yakni Ensiklopedi dan Budaya Jepang.

Aku memang seorang Japan Holic, karena Negara itu lah yang akan menjadi tujuanku selepas SMA nanti.

Kuhampiri rak-rak buku di sebelah kanan pintu masuk lantai dua, mataku tertuju pada sebuah buku tebal warna hijau tua bertuliskan Biography Salahuddin Al-Ayyubi yang berwarna keemasan. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.

"Nambah ghani, kamar sija nambah nghamai yo yuk!" celotehku. Dengan semangat aku tempel poster-poster besar bendera dunia.

"Unyin sija untuk memotivasi kamu, semoga kelak Allah mengizinkan kamu menjadi Reporter VoA," candanya yang nampak seperti do'a.

"Nanti kalau sudah terkenal jangan lupa liput Ayuk di Palestina ya!" sambungnya. Aku hanya tersenyum sambil mengamini dalam hati. Direkatkannya kembali Bendera Palestina di sebelah kanan Bendera Jepang.

Setelah itu kami rebahkan diri di atas kasur dengan bersadar pada telapak tangan. Kuperhatikan kembali foto-foto pahlawan muslim yang tegak di atas meja belajar Ayuk. Dibawahnya tertulis, Salahuddin Al-Ayubbi. Nah itu dia!!.

"Ayuk...siapa itu Salahuddin Al-Ayubbi?" tanyaku sambil menunjuk foto pahlawan yang paling gagah mengenakan pakaian perang. Ayuk memutar badan ke arahku.

"Salahuddin Al-Ayyubi adalah panglima perang muslim saat Perang Salib. Beliau tak takut mati, hidupnya untuk berjihad di Jalan Allah," ceritanya sambil menerawang ke luar jendela.

"Ada satu kisah mengesankan dibalik kemenangan Perang Salib. Salahuddin Al-Ayuubi menjadikan shalat sebagai salah satu kunci kemenangannya dalam perang. Pahlawan legendaries ini tak akan memulai penyerangan ke benteng-benteng pertahan lawan, apabila masih ada di antara pasukannya yang tidak bangun mendirikan shalat tahajjud pada malam harinya," matanya semakin jauh menerawang. Ekspresinya semakin menampakkan kalau ia benar-benar mengagumi sosok Salahuddin Al-Ayyubi.

Sejak saat itu aku yang termotivasi dengan kisah Salahuddin Al-Ayyubi mulai belajar untuk mendirikan Qiyamullail. Awalnya memang terasa berat. Seminggu pertama Ayuk Zahra selalu mengganti nada alarm hingga akhirnya aku terbiasa bangun sendiri walau dalam keadaan tidak suci.

Ayuk Zahra bilang, udara di Batanghari akan terasa lebih segar jika dihirup sebelum shubuh atau tepatnya sepertiga malam terakhir. Pada jam-jam inilah kerja jantung manusia menguat, mengedarkan darah ke seluruh jaringan dalam tubuh. Mendirikan Qiyamullail membantu memasok oksigen ke dalam darah lebih banyak dibanding saat kita dalam kondisi tidur. Oleh karena itu belajar sebelum akan lebih mudah paham. Dengan merubah kebiasaan ini, Alhamdulillah nilai raportku naik dan komunikasiku dengan Sang Maha Cinta jadi lebih mesra.

Ayuk Zahra melanjutkan studinya di Poltekkes Tanjung Karang jurusan Ilmu Keperawatan. Setelah menyandang gelar Sarjana, Ayuk Zahra mengikuti tes dari Yayasan Bulan Sabit Indonesia, sebuah lembaga yang mengirim para mujahid-mujahidah tanah air ke Palestina. Hasilnya memuaskan, dengan modal hapalan Qur'an serta ilmu keperawatan, Ayuk diterima menjadi Relawan Indonesia untuk Palestina dalam bidang kesehatan. Cita-cita Ayuk telah terkabul, yakni bisa kembali tanah kelahirannya sebagai mujahidah melanjutkan jejak ayahnya. Keluarga kami mengizinkan ayuk untuk pergi karena alasannya, relawan apalagi anggota kesehatan memiliki hak hukum dan tidak boleh diserang saat perang.

Jum'at, 23 September 2006, kami sekeluarga mengantar Ayuk Zahra sampai Bandara Raden Intan, Natar. Berurai air mata seluruh keluargaku melepas permata terindahnya ke ladang jihad.

Kubuka kembali lemari jati dipojok ruang keluarga, mencari kartu keluarga dan akta kelahiranku. Besok pagi aku akan berangkat ke Jakarta untuk kemudian terbang ke Tokyo. Aku direkomendasikan Dinas Kesehatan Pusat untuk melanjutkan S2 Jurusan Parasitologi di Kyoto University, sekaligus meliput berita di Jepang dan sekitarnya.

Setelah shalat tahajjud, aku kembali berkemas-kemas. Tiba-tiba Ayub menarik bajuku, berpegangan pada kedua betisku dan mencoba untuk berdiri.

"Maammmmaa......," ucapnya terbata-bata tiap kali merayuku untuk membuatkannya susu. Walau belum genap setahun, Ayub sudah terbiasa menemaniku Qiyamullail. Mungkin kebiasaannya ini adalah warisan dari ibunya. Kurengkuh pundaknya dan kuciumi pipi wanginya. Setahun setelah kepulangan Ayuk Zahra dari Palastina, dia menikah dan syahid saat melahirkan anak pertamanya, Salahuddin Al-Ayubbi yang kini memanggilku "Mama".

Jika Ayub sudah baligh, kelak akan aku kisahkan kalau aku pernah memiliki serorang ayuk yang mengajariku banyak hal. Akan kuajarkan pula padanya tentang metode-metode rutin Qiyamullail dan semua hal yang pernah Ayuk Zahra ajarkan kepadaku, termasuk moto hidupnya untuk selalu menghadapi segala kesukaraan dan kegelisahan dengan shalat. Cita-citanya syahid dai tanah jihad Palestina, tapi Allah menetapkan takdir yang lebih mulia, yakni syahid sebagai seorang ibu. Ibunya, Fauziah Az-Zahra, orang Lampung bermata biru. Si Mata Biru yang dalam akhaqnya.


Karya: Atika Cantia Saraswati

SENYUM KARYAMIN

Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak  sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan nafas serta ayunan  tangan demi keseimbangan yang sempurna.

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh, lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski denga lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi lehernya muncul menyembul kulit.

Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.

"Bangsat!" teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suaru dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka para pengumpul batu itu,  senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. 

"Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus," kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.

"Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran istrimu. Jangan percaya pada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya."

"Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!"

Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat  perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.

Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang tertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya yang hanya berisi hama. Dan Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.

Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat seuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu dan selalu mereka tangkap.

"Min!" teriak Sarji. "Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar paha?"

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu ini, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum  adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Memang, Karyamin telah berhasil membangun fatamorgana kemenangan dengan senyum dan tawanya. Anehnya, Karyamin merasa demikian terhina oleh burung paruh udang yang bolak-balik melintas di atas kepalanya. Suatu kali, Karyamin ingin menbabat burung itu dengan pikulannya. Tetapi niat itu diurungkan karena Karyamin sadar; dengan mata yang berkunang-kunang dia tak akan berhasil melaksanakan maksudnya.

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan,  kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika manapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.

"Masih pagi kok mau pulang, Min?" Tanya Saidah. "Sakit?"

Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.

"Makan, Min?"

"Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang."

"Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?"

Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.

"Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?"

Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi demikian sibuk pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sangai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.

"Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?" Tanya Saidah ketika Karyamin bangkit. 

"Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak lega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan."

"Iya Min, iya. Tetapi ...."

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi Saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru-nyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.

Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.

Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. "Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang."

Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam ronga matanya. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sekitar sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya  juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.

Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan batu batik motif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.

"Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari Kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?"

"Menghindar?"

"Ya. Kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit,"

Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung  sendiri. Tetapi Karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.

"Kamu menghina aku, Mina?"

"Tidak, Pak. Sungguh tidak."

"Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-tersenyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?"

Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kempong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

Karya: Ahmad Tohari.

MALIN KUNDANG

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

HER HEART WANTS WHAT IT WANTS

It’s raining outside. That’s just another day in the December. The city is so cold and hazy that you can barely see your own feet leap in the ground. But she doesn’t care. As you can see her shivering body was soaked by the raindrop. White t-shirt and the skinny jeans she wears are all wet. She doesn’t even bring an umbrella or jacket or anything else you would have brought in this cold weather. She just keeps walking along the street. The warm-and-well-clothed lady she passed by was staring at her in wonder. But she doesn’t care. All the people she met was bringing an umbrella and wearing something but t-shirt. Some couples are standing under the tree.

One boy, as her eyes catch, extends his arm to the girl next to him, trying to keep her warm. She still doesn’t care. Her head nods for a while as her body was unable to confine the cold. She was trembling heavily. Her step is stopped. All of sudden she feels like the air is choking her throat. She cried for a help but it was useless since there is nobody there, or there is no one recognize her existence. Her mind is collapsed, and so is her body. At the end of her conscious, she feels a hand gripping her from the back, preventing her backbone falls hitting the cold and wet ground.

“Liz? Liza!”

It was a voice. Is it Emma? Or Mum? No, it couldn’t be mum. Mum is always busy managing her own world. Or is it him? That would be the last from a million possibilities. Without any sentience, a tear is falling down her cheek. Why is she crying? The hands are now wrapped around her body. For a moment she felt warm, so warm that her mind is wandering flashback seeking the related memories she keeps deep inside. “I’ll take you home. What are you doing in this weather walking along the street with bare feet, you silly!”

It was that voice again. Now she can assure it is Emma, her roommate. She tries to open her eyes and stand. Emma got her back. The rain still falls. First step, the unconscious completely took over her body, causing her falling with her shoulder a side. Scarcely, she heard Emma was screaming her name, shaking her body trying to wake her up. But her eyes won’t cooperate. And it feels like the gravity is much bigger pulling her body to the earth. Her body is numb.

“Kev..” that was the last word she said before she completely sink in her comatose.

—
“Ready for tonight, milady?”

The owner of familiar baritone voice with a little French accent was standing at my door. From across the room I could smell the Charlie White fragrance from his suit, wrapping the air in my chamber. His gaze was spotting on me intensively. Tonight, I wore a black sleeveless Armani dress with black T-strap heels suited perfectly. My skin face was carved with Emma’s masterpiece. She called so for the fact that she, or we, needed three hours to make me look like the girl on the vogue magazine. At least that’s what Emma said.

“Oh my gosh Liz! This is your big day. You should look stunning for tonight!” said Emma repeatedly. I couldn’t be more disagree.

“Em, do you think he is going to utter it now?” I couldn’t restrain a smile from my lips. And it was getting wider as Emma nodded her head, convincing my last question.

“I will make you feel like Cinderella tonight. Happy birthday, Liza.”

Right after Kevin finished his sentence, he took my hand and held it gently. I could feel the sparkle spreading inside my stomach.

“Take me as you wish, and as I am.” I feel like the luckiest birthday girl in the universe.

We went to a resort and booked one candle light dinner table. Classy, I knew. But as long as I was with him, the place, time, and situation wouldn’t be matter anymore.

“Liz, you know that we’ve been being friend for five years or even more as I can remember. For me, you ain’t someone else. So, tonight I’m going to declare to you something.”

Emma is right! I couldn’t be more happy.

“Say it, Kev. Anything you want to.” I never stopped smiling.

—
She feels warm. As her eyes open she can see the rose-printed blanket is covering her body, protecting her from the cold outside. She can smell chamomile scent span around her, very familiar. It takes a second for her to realize she is in her dormitory. “What happened?” she wonders. But when she is trying to remember, she moans as the pain inside her head is popping up suddenly. There is a footstep approaching, it is Emma’s.

“You were fainted, again. Where have you been, Liz?” Emma asked. She just drops her gaze, avoiding Emma’s daunting look. She keeps silent.

“Did you go there again? For goodness sake, Liz. Please stop doing that!”

“Where’s my phone, Em? Did you bring it?” she glanced at Emma.

“Seriously?” Emma rolls her eyes.

“Please, I need to check it whether mum’s calling.”

“Or him?”

“Emm, just please.” She stares at Emma with her swollen eyes, indicating Liza was crying, again. Emma gasps for a while. She just can’t watch Liza suffering against the same thing again and again. She gave up. Emma grabs her bag, takes a phone out, and gives it to Liza.
“It was ringing for couple times and it wasn’t your mum. I don’t know what he is thinking. But Liz, if you want to hear me, just don’t pick that up again.”

Emma’s right. She thinks. As she checks her phone, it was displayed that there’re 9 missed calls and three same-content message. It was Kevin. It was all Kevin. Where are you? Is everything fine? Liz please pick it up. Should I go to your dorm? I heard from Emma that you were fainted yesterday. I’m on my way! I know you’re home.

She gasps. The hidden pain she is trying to bury deep inside her heart rebels to quit. Without she knows, her tear is streaming down her cheeks. The waterfall is in her face. But she doesn’t care. The pain is beating on her chest like a drum, but she doesn’t care. From the outside, she can hear Emma is talking with someone, he is Kevin. Deep from her heart, she knows that she really wants to run after him, see his arms wrapped her cold shoulder, and say that everything will be alright. But she still doesn’t care.

—

“I am about to marry, Liz. What do you think?”

The words that came out from him were like a thunder seizing my veins. I was shocked.

“What do you mean?” I glanced at him in a complete perplexity.

“I know I never told about this to you before. I just need more time to assure myself before I asked you for something. So, Liz. Next three months, I’m about to hold my wedding party. Are you willing to be her bridesmaid?”

“You are getting married? Whoa, Kev. I mean, congratulations. Who’s that lucky girl?”

My feet started crumbling. Was this reality? All of sudden I felt like my chest was bleeding. I could barely breathe. I’m in panic. My hands looked for a grip.

“She is Sally. The girl next door of my apartment.”

“Kev, do you know who her father is?”

I tried to look okay. Kevin just grinned as I said so. I found nothing to say. Both of us were in silence. For couple times I could hear him calling my name, shaking my hands. But it was useless. I can barely feel anything. I was trying to say something but the only thing came out from my mouth were murmured words I couldn’t even understand. Before I knew, I already fainted, shoving the full wine bottle next to me. Under my unconscious, I could feel the piece of wine bottle embed at my hands. My arm was bleeding, but the only pain I felt was right in my heart. It was my 22nd birthday. From that time, I knew that it would be my last birthday I celebrated with him. From that time, I didn’t want to be Cinderella anymore. From that time, I plumped myself not to care anymore.

—

It was almost a year after her 22nd birthday. And it was almost seven months since Kevin and Sally are married. She didn’t attend at his wedding. How could she? She is still in sober. She looks for recovery but the only thing she gets to know is how deep her unspoken and unrequited love is. The rain is still falling. “Em, please let me to see her. I need to know if she is okay.”

All the way through the heavy rains splash, his baritone voice is still can be heard by her ears.

“You know what Kev, I think Liza can only be better without you. Have you always been this stupid?” Emma answered him with her rage on. She can’t be blamed.

“Please. Let me talk to her. I promise you nothing will happen. Please, Em.” Kevin begged.

“She’s not home.” Without any hesitation Emma slams the door, leaving Kevin outside with the silence rain.

Her heart is tore a bit anytime she saw him begging and trying like that. But she is already too afraid. She is too afraid to let herself begin to care again. She is too afraid to let him take his old place she already conceals so hard.

The rain is still falling. All the way through the heavy rains splash, she can see a familiar car moving away from her sight. She can smell the Charlie White scent from the distant, start to fading until it’s all gone. Even though a blanket has been coating on her, she still feels some peculiar cold inside of her. But she doesn’t care. Her cheeks are wet, again. Those swollen eyes seem never can be recovered. But she doesn’t care. The time ain’t done much healing. The only thing she knows that her heart wants what it wants. And that is all she cares.

ABU NAWAS & PENCURI

Abu Nawas diketahui oleh semua orang memang memiliki kebun yang luas, akan tetapi dirinya selalu berusaha tampil sederhana, hal itu ditunjukkan dengan rumahnya yang hanya beralaskan ubin sederhana dan tak tampak barang-barang mewah semacam guci keramik ataupun benda berharga lainnya. Tapi entahlah, apa yang membuat seseorang berusaha masuk ke dalam dengan maksud mendapatkan benda-benda berharga. Dengan langkah perlahan, si pencuri masuk ke rumah Abu Nawas melalui pintu belakang secara diam-diam. Abu Nawas Bersembunyi Ya ampun....si pencuri berhasil masuk ke dalam rumah Abunawas dan langsung menuju ruang tengahnya. Dengan sigap, pencuri yang beraksi sendirian tersebut lantas memandangi satu persatu barang berharga yang ada di ruangan. 

Pencuri tersebut langsung mengaduk-aduk isi rumah Abu Nawas. Seperti kebanyakan para pencuri lainnya, si pencuri juga mencari uang atau pun barang berharga yang dimiliki oleh Abu Nawas. Dia membuka lemari, laci-laci, mencari di kolong-kolong, dan di tempat lainnya. Tapi ia tidak menemukan satu pun barang berharga yang dimiliki oleh Abu Nawas. Semua bagian ruangan di rumah Abu Nawas pun diperhatikannya dengan baik-baik. Setiap sudut ruangan pun tak luput dari pandangannya demi mendapatkan barang berharga milik Abu Nawas. Tapi tampaknya gerak-gerik si pencuri ini diketahui oleh Abu Nawas. Hanya saja, mengetahui rumahnya didatangi pencuri, Abu Nawas bukannya berteriak minta tolong, dirinya malah bersembunyi di sebuah

kotak besar yang berada di sudut ruangan dengan harapan si pencuri tidak mengetahui keberadaannya. Tangan Hampa Si pencuri ini sangat leluasa mencari barang berharga di rumah Abu Nawas, namun hampir selama 1 jam si pencuri tidak menemukan satu barang pun yang berharga. Pencuri hampir saja menyerah dan memutuskan untuk keluar dari rumah Abu Nawas tersebut, tapi tiba-tiba matanya tertuju pada kotak besar yang teletak di sudut ruangan kamar Abu Nawas. 

Si pencuri sangat senang karena dia yakin kalau dalam kotak itulah disimpan harta benada yang dia cari. Dalam angan-angannya, di dalam kotak besar tersebut tersimpan beberapa batang emas ataupun beberapa butir mutiara yang jika dijual akan menghasilkan banyak uang yang dapat digunakannya untuk berfoya-foya. Walaupun kotak besar itu terkunci kuat dari dalam, tapi dengan kekuatan penuh, pencuri itu berhasil membuka kotak tersebut. Hiyaa...pencuri dan Abu Nawas saling bertatapan muka dan kaget satu sama lain, dan pencuri sekaligus kecewa karena di dalam kotak besar itu juga tidak terdapat apa-apa kecuali Abu Nawas yang meringkuk di dalmnya. 

"Hei...apa yang kau lakukan di dalam situ?" tanya si pencuri. "Aku bersembunyi darimu," jawab Abu Nawas dengan malu. "Memangnya kenapa?" tanya pencuri lagi. "Aku malu kepadamu, karena aku tak punya apapun yang dapat kuberikan kepadamu. Itulah alasan kenapa aku bersembunyi di dalam kotak ini," jawab Abu Nawas lagi. Setelah mendapat jawaban tersebut, si pencuri pun pergi meninggalkan rumah Abu Nawas begitu saja dengan tangan hampa, dengan perasaan kecewa dan heran, kenapa si Abu Nawas yang memiliki kebun luas kok bisanya tidak memiliki satupun barang berharga yang dimiliki. 

Itulah Abu Nawas, dia tampil dengan sangat sederhana dalam kehidupannya namun dia selalu bersyukur kepada Alloh SWT karena dia yakin kalau yang orang yang lebih fakir dari dia masih banyak.

ZEBRA CROSS

Bibi Titi teliti mengantar Dung Dung ke sekolah. Kebetulan, Bibi melihat Upik.

"Pik, nanti Dung Dung pulang bersamamu, ya. Aku tidak bisa menjemput!" pesan Bibi Titi Teliti.

Sepulang sekolah, Upik, Coreng, dan Dung Dung menunggu Bobo di depan kelas. Setelah Bodo keluar, mereka pulang bersama. "Ayo kita menyeberang lewat zebra cross!" ajak Bobo.

Sampai di seberang, Dung Dung minta kembali ke seberang lagi, "Ada yang tertinggal di sekolah," kata Dung Dung sambil menarik tangan Bobo.

Mereka menyeberang lagi. Coreng dan Upik menunggu. Tetapi, setiba di seberang, Dung Dung minta kembali.

"Ternyata, tidak tertinggal," katanya.

Sampai di seberang, lagi-lagi Dung Dung minta kembali. Bobo pun kesal. 

"Kamu kenapa, sih, bolak-balik terus? Kalau begitu, kita tidak akan sampai rumah!"

Dung Dung menjelaskan. 

"Aku belum selesai menghitung garis-garis di zebra cross. Waktu ke situ, jumlah garisnya 30. Waktu ke sana, jadi 28. Kok, barusan, malah jadi 32, ya?"

Ooooh, Bobo lupa kalau Dung Dung paling suka menghitung apa saja. 

"Kalau begitu, kita menyeberang lagi bersama-sama, lalu menghitung jumlah zebra cross keras-keras," ajak Bobo. 

Hihihi, kelinci-kelinci lain sampai heran melihat anak-anak menyeberang jalan sambil menghitung.


Karya: Vero

CAMPUR ADUK

SANGDIL SANAM

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus film horor di channel ANTV, ya Budi duduk dengan santai di depan rumahnya seda...

CAMPUR ADUK