CAMPUR ADUK

Friday, August 9, 2019

ANJING YANG RAKUS

Adalah seekor anjing  mencuri sepotong  tulang yag besar di warung. Ia berlari kencang sekali sehingga tidak terkejar si tukang daging. Ia berlari ke ladang sambil membawa tulang di moncongnya. Ia ingin makan semuanya sendirian.

Anjing itu melewati sebuah sungai kecil. Ada sebuah jembatan sempit di atasnya. Ia berjalan di jembatan itu sambil melihat ke air. Ia melihat bayangannya sendiri di dalam air. Ia berpikir ada anjing lain dengan tulang di mulutnya. Anjing yang rakus itu berpikir tulang yang di mulut anjing itu lebih besar dari pada yang ia bawa.

Ia meloncat ke air untuk merebut tulang yang lebih besar dari anjing yang ia lihat tadi. Ia meloncat dengan sangat kuat sehingga tulang di mulutnya terlepas. Ia mencari di mana-mana tetapi tidak menemukan anjing yang lain. Bayangan tadi telah hilang.

Anjing yang bodoh itu pulang kelaparan dan kedinginan. Ia kehilangan tulang yang ia curi dari tukang daging dan tidak mendapatkan apa pun karena ia terlalu rakus.

TERKUNCI DI KELAS

Waktu itu, aku sedang mengobrol di kelas lesku. Karena pembatas kayu di depan pintu kelasku rusak, pintunya jadi susah di tutup. Akhirnya, kubiarkan saja pintunya tidak tertutup rapat. 

Tetapi, teman laki-lakiku sangat nakal. Dia terus berusaha menutup pintunya. Akhirnya, pintu tertutup. Namun, saat di coba di buka, pintunya tidak bisa di buka. Aku kira dia hanya bercanda. 

Ketika aku yang mencobanya, memang benar tidak bisa di buka. Aku dan teman-temanku langsung kebingungan. Temanku yang laki-laki itu malah hampir menangis. Dia langsung mengetuk pintu dengan sangat keras. Akhirnya, orang-orang yang di luar membukakan pintu itu. Untung saja....


Karya: Reina

TERANG BULAN

Yang namanya remaja, setiap ada kesempatan libur, pasti tak akan dilewatkan begitu saja. Selalu ada saja yang dikerjakan. Pada saat liburan, justru kreativitas mereka lebih menonjol. Mereka menciptakan kegiatan apa saja yang bisa menimbulkan keasyikan tersendiri. Yang kesemuanya itu akan segera dilupakan ketika mereka kembali menekuni buku sekolah. Memaksa diri belajar, meski pikiran tetap melayang.

Keasyikan kala liburan itu kadang menjadi mode, yang cepat mewadahi remaja. Sulit ditemukan siapa yang memulai, tetapi mudah mewabah hanya dengan satu orang saja yang memulai. Seperti sekarang, pas han Jumat, Irvan begitu gembiranya ketika baru menyadari bahwa besok ada tanggal merah. Berarti ada dua hari libur: Sabtu dan Minggu, Cukuplah buat bikin acara khusus, Maka, dia pun menghampiri Lupus yang lagi asyik menyalin pe-er kimia dan buku Utan.

"Hei, kamu pasti girang banget mendengar ide cemerlang saya kali  ini!" sahutnya sambil menepuk bahu Lupus. Lupus tak beraksi, terus mengerjakan pekerjaan rutinnya: nyalin pe-er . Dia memang nggak hobi bikin pe-er.

"Begini lho, Pus! Sabtu dan Minggu besok kan kita libur. Saya punya ide untuk mengisi hari-hari yang sangat bersejarah itu. Kamu tahu nggak, pada malam itu akan ada terang bulan. Nah, kita bisa berkemah di Pucak. Wah pasti rame deh!

TIGA BABI DAN SERIGALA

Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang anaknya. Anak yang sulung sangat malas dan mengabaikan pekerjaannya. Anak yang tengah sangat rakus, tidak mau bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya tidak seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja.

Suatu saat Ibu Babi berkata kepada anak- anaknya, "Karena kalian sudah dewasa, kalian harus hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing".

Si bungsu berpikir rumah seperti apa yang akan didirikannya. Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya dari jerami. Si bungsu berkata, "Kalau rumah jerami nanti akan hancur bila ada angin atau hujan". "Oh iya ya! Kalau begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja, supaya kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si bungsu kembali berkata, "kalau rumah kayu walau tahan angin tetapi akan hancur jika dipukul".

Si kakak menjadi marah, "Kau sendiri lambat membuat rumah dari batu batamu itu, jika hari telah sore serigala akan datang."

Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak goyah dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan purnama, si bungsu telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua kakaknya, lalu mereka pergi ke rumah ibu Babi.

"Hebat anak-anakku, mulai sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape!," gerutu mereka. Menjelang senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan, tiba-tiba seekor serigala membuntuti mereka.

"Aku akan memakan babi malas yang tinggal di rumah jerami itu", kata serigala.

Ketika sampai di depan pintu si sulung ia langsung menendang pintu. "Buka pintu!" teriaknya.

Si sulung terkejut dan cepat-cepat mengunci pintu. Tetapi serigala lebih cerdik. Ia langsung meniup rumah jerami itu sehingga menjadi hancur. Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat dari kayu. Walaupun pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu hingga hancur. Serigala mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang berpelukan karena ketakutan. Keduanya langsung lari dengan sekuat tenaga menuju rumah si bungsu.

"Cepat kunci pintunya!, nanti kita dimakan", kata si sulung.

Si bungsu dengan tenang mengunci pintu.

"Tak usah khawatir, rumahku tidak akan goyah," kata si bungsu sambil tertawa.

Ketika serigal sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali tetapi malah si serigala yang badannya kesakitan. Serigala akhirnya menyerah dan kemudian langsung pulang. Sejak saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang serigala tidak pernah datang lagi. Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba Serigala itu muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon menyelamatkan diri.

Serigala yang tidak dapat memanjat pohon menunggu di bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu ia berteriak, "Serigala, kaupasti lapar. Apakah kau mau apel?", si bungsu segera melempar sebuah apel.

Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang menggelinding.

"Sekarang ayo kita lari!".

Akhirnya mereka semua selamat. Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan membawa tangga yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si bungsu yang melihat hal itu berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku pemanas!".

Si sulung menyalakan api, si bungsu membawa kuali yang berisi air panas. Serigala yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin melarikan diri, ia terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air yang mendidih. "Waa!", serigala cepat-cepat lari.

Karena seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala yang telanjang. Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup dengan baik, dengan mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si tengah sekarang menjadi rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu babi merasa bahagia melihat anak-anaknya hidup

MIKAIL

Seorang pemuda yang berbaju putih  bernama Mikail berjalan di atas gedung bertingkat. Lalu Mikail pun lompat dari gedung bertingkat dengan beraninya. Keluarlah sayapnya Mikail dan terbang mengitari kota Jakarta dan turun di sebuah tempat yang sunyi dan tidak satu pun manusia yang tahu.

"Dunia ini benar indah," kata Mikail.

Mikail menyembunyikan sayapnya dan berbaur seperti biasanya. Keluar Mikail dari rimbunnya pepohonan.

"Hey..kamu...kenapa kamu keluar dari tempat itu. Jangan-jangan pencuri?" teriak Pak polisi yang sedang bertugas.

"Kacau urusan dengan manusia?" celoteh Mikail.

Mikail pun berlari dengan cepat berusaha menjauh dari Pak polisi.

"Kenapa saya harus berlari..saya bisa menggunakan sihir?" celoteh Mikail dalam posisi berlari.

Mikail langsung menghilang. Pak polisi mencari orang yang di kejarnya.

"Loh..hilang..kemana...orang tersebut. Jangan-jangan hantu......?" kata Pak polisi dengan langkah seribu.

Mikail pun membalikkan dirinya saat Pak polisi tidak mengejarnya. Dengan santai berjalan-jalan sambil melihat keramaian kota. Terjadilah suatu kejadian yang hampir membunuh anak kecil yang menyebrang di jalan raya yang ramai kendaraan. Mikail menolong anak kecil tersebu sampai menghentikan laju kendaraan mobil yang menabrak anak kecil.

Anak kecil selamat dan orang anak kecil berterimakasih ke Mikail telah menolong anaknya. Tapi para manusia yang lain memang bersimpat sama Mikail karena telah menolong anak kecil yang hampir ketabrak mobil.

Nama juga manusia langsung membicarakan kekuatan Mikail yang bisa menahan laju mobil dengan  kekuatannya. Karena sadar jadi bahan pembicaraan Mikail pun segera pergi dari tempat tersebut dan menggunakan sihirnya dan menghilang.

Tahu-tahu Mikail terbang di langit yang luas dengan sayapnya putihnya terus menyepak. Sampai di tempat yang sunyi untuk beristirahat.

"Lebih baik saya....di sini lebih tenang dan damai," kata Mikail.

Mikail menikmati padang rumput yang hijau sambil melihat para hewan bermain kesana-kesini.

PENDAPAT PUBLIK

Langit yang cerah sekali di kota Jakarta. Indro sedang asik duduk di teras depan rumahnya Saskia. Ya...nama anak muda ngapel...untuk menghilangkan rasa di hati yang resah. Karena Saskia belum pulang dari main ke rumah Nabila ya...di suruh nunggu dulu di teras depan. Dan juga...Embok Iyem sudah menyuguhi minuman yang anget kopi item dan kue. Pada hal Embok Iyem menyuruh Indro nunggu di dalem sekalian di siapkan makan malem karena tahu Indro baru pulang dari kantor. Cuma kangen ketemu...Saskia aja.

Indro cukup lama menunggu Saskia. Ya...boring Indro nelpon Kasino yang sedang di luar kota.

"Asalamualikum...Kasino...apa kabar mu?"

"Baik...banget. Saya..di sini lagi repot bantuin...Mbak saya usaha. Dagang gitu."

"Oh..begitu....jadi lama dong pulang ke Jakarta."

"Iya..gitu..deh. Sekarang keadaan kamu...Indro."

"Biasa...ngapel tempat Saskia."

"Kebiasan...orang lagi..kasmaran."

"Biarin..yang penting heppy. Oh..saya mau tanya tentang pemberitaan Rakernas PDI P apa pendapat kamu?"

"Oh...itu. Bagus-bagus aja sih....Indro."

"Bagaimana dengan....gaya pidato Ibu Megawati dalam pembukaan Rakernas PDI P......ya Kasino?"

"Dari dulu....sampe sekarang gak berubah.....ya...begitulah...adanya. Indro....."

"Oh..begitu?!" kata Indro.

"Udah...dulu...ngobrolnya ada kerjaan," kata Kasino mau memutuskan pembicaraan lewat telpon-telponan.

"Tunggu...dulu...Kasino...saya..nanya...sesuatu tentang artis Malaysia?"

"Maksudnya ....siapa Indro?"

"Yana....."

"Yana.... Baik budi pekertinya dan cantik pule orangnya."

"Jadi...sepakat..hari..yang cantik Yana..urusan memuji wanita."

"Sepakat."

"Sip.... Asalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Indro mematikan Hpnya hubungan telponan jarak jauh sama Kasino pun selesai. Lalu Indro kepikiran dengan Dono segera di telpon yang berada di kampung halamannya.

"Asalamualikum," kata Indro

"Waalaikumsalam," kata Dono.

"Dono lagi...ngapain?" tanya Indro.

"Lagi...nyantai aja sambil memandangin langit cerah di depan rumah sambil minum kopi...enak buatan sendiri," kata Dono.

"Apa...pendapat kamu dengan penyanyi dangdut yang mengisi acara Tv Jawa?" tanya Dono.

"Bagus.... penampilan penyanyi dangdut yang mengisi acara di Tv Jawa. Emangnya kenapa gitu....nanyanya?" kata Dono.

"Biasa....bahan omongan saja. Abisnya....saya suntuk....nunggu...orang," kata Indro.

"Yang...sabar...kalau urusan itu penting," saran Dono.

"Ya...udah dulu Don...ngobrol di telponnya. Orang yang saya tunggu sudah dateng. Asalamualaikum," kata Indro.

"Waalaikumsalam," kata Dono.

Indro mematikan Hpnya yang berkenaan hubungan telponan dengan Dono. Saskia menyambut Indro dengan baik dan akhirnya ngobrol juga di dalem....biasa lagi kasmaran. Saksia pun seneng di apelin sama Indro....pacar tercinta. Obrolan Indro dan Saskia tidak jauh-jauh urusan perasaan keduanya.

Sampai waktu juga...Indro pulang dari rumah Saskia dengan perasaan senang dan gembira....menuju rumahnya. Sampai di rumah Indro langsung tidur dengan nyenyak karena perasaannya bahagia banget. Sama aja dengan Saskia di kamarnya tidur nyenyak dengan perasaan bahagia.


Karya : No

MISTERI

Malam hari yang dingin karena   mau hujan. Dono bersama Rara di taman. Tapi naasnya sebuah pisau menusuk jantung Dono. Kasino dan Indro mencegah kejadian tersebut. Lalu Dono di hempaskan dengan pukulan kuat tangan kiri Rara.

Segera Kasino dan Indro menolong Dono dengan menangkapnya. Rara pun pergi dengan melewati tabir yang terselubung. Kasino dan Indro berusaha menyelamatkan Dono yang sakratul maut.

Dono yang bisa bertahan memberikan sebuah benda berupa kalung ke Kasino. Lalu Dono meninggal dunia. Kasino dan Indro gagal menyelamatkan Dono. Tidak jauh dari dari tempat Kasino dan Indro yang bersedih karena Dono di bunuh Rara....ada Dono yang lain yang melintasi waktu.

"Di masa ini saya meninggal. Tetap saja saya tidak tahu....siapa Rara yang sebenarnya," kata Dono.

Dono menekan alat di tangannya dan muncul tabir terselubung dan masuk kedalam aliran waktu. Sampai di tempat yang sama dan waktunya belum pertemuan antara Dono dan Rara di taman.
Segera Dono mencari Dono di masa tersebut. Ternyata Dono di masa ini sedang ngobrol dengan Kasino dan Indro di kafe. Setelah itu muncul makluk yang aneh terlihat di sebuah gang sepi dan berubah menjadi Rara.

"Waktu pertemuan kaya mau di mulai," kata Dono.

Dono pun segera bergerak untuk tidak ketahuan dengan Rara palsu. Saat di taman Rara sedang menunggu di Dono taman dan bertemu Rara palsu. Terkejut Rara melihat kembaran dirinya seperti cermin. Rara palsu menghujamkan pisau ke Rara. 

Dono langsung bergerak menembak Rara palsu dengan pistol plasma. Rara palsu menghindari serangan tembakan Dono. Rara palsu gagal membunuh Rara. Dono menyuruh Rara meninggalkan tempat tersebut.

Dono pun mengejar Rara palsu  sambil menembak pistol plasma. Rara palsu membuka tabir terselubung melintasi waktu dengan cepat berlari dan masuk ke dalam tabir selubung tersebut.
Sampai Dono di tempat yang sunyi senyap. Rara palsu berubah menjadi makluk mengerikan.

"Siapa...kamu sebenarnya?" tanya Dono.

"Saya....Monster waktu. Harus membunuh kamu karena....untuk mencegah kamu mendapatkan benda di tangan kamu tersebut untuk menghancurkan kaum saya....demi mencegah saya menguasai dunia manusia," kata Dono.

"Jangan-jangan kamu...Dajjal?" kata Dono.

"Kalau kamu menganggap begitu.....terserahlah," kata Monster waktu.

"Kalau...begitu saya akan menghabisi kamu....Dajjal," kata kasar Dono.

Dono menyerang Monster waktu dengan tembakan pistol plasma. Dengan cepat Monster waktu menghindari serangan Dono dan berusaha untuk menyerang Dono dengan cepat sekali sampai pistol plasma terlepas di tangan.

Monster waktu ingin menghujamkan pisau untuk membunuh Dono. Tapi ternyata Dono menembak Monster waktu karena sebenarnya Dono mengeluarkan senjata satu lagi di tangannya.

Monster waktu mati. Dono pun berhasil membunuh Monster waktu. Masa pun kembali semula. Dono pun menghilang karena berhasil menyelamatkan dirinya di bunuh oleh Monster waktu karena jam melintasi waktu yang di temukan di sebuah tempat sunyi saat meteor jatuh ke bumi. Dono pun bangun dari tidurnya.

"Ada aneh dengan mimpi saya. Saya menyelamatkan diri saya di waktu lain," celoteh Dono.

Dono tidak memperdulikan mimpinya dan segera berbenah diri untuk berangkat kerja. Tapi ternyata jam melintasi waktu ada di atas meja belajar Dono. Terlihat ganteng di kaca dan rapih Dono segera berangkat kerja dan saat membuka pintu bertemu denga Rara ke kasih hati yang berangkat bareng kerja karena rumahnya di sebelah Dono.


Karya : No

JENUH

Dono santai di ruang tamu sambil asik makan keripik singkong sambil memandang keluar lewat pintu rumah yang di buka lebar-lebar. Indro pun menghampiri Dono setelah membereskan kerjaannya di garasi membenerin motor yang mogok.

Indro pun duduk bersama Dono dan ikutan makan keripik pisang. Dono pun mulai ingin mengungkapkan sesuatu ke Indro "Indro gimana tanggapan kamu....jika semua tulisan saya....berbentuk cerpen tersebut di buat novel?"

"Gila...Don..cerpen kamu itu banyak banget. Kalau di buat novel ....apa kamu gak sakit kepala?" kata Indro.

"Sebenarnya....emang sakit kepala sih buat novel...karena harus menyusun penokohan dan alur ceritanya jauh lebih baik....agar lebih di pahami pembaca. Tapi kalau niat gak ada masalah....cuma kapan melakukannya masih saya pikirkan...waktunya itu harus fokus. Karena satu judul cerpen aja....diangkat menjadi novel butuh makan waktu banyak setelah di perhitungkan semuanya. Oh iya...apa tanggapan kamu...kalau saya buat tesis...?" kata Dono.

"Tambah gila...lagi kamu Don. Kuliah enggak. Mau nulis tesis," kata Indro.

"Sebenarnya....untuk nulis tesis...sih gak perlu kuliah. Cuma di pelajarin aja secara otodidak....pasti bisa...apalagi desertasi.......ya..kan Indro," kata Dono.

"Desertasi...aduh-aduh...Don...tambah....gila..itumah. Banyak orang mentok kuliah di sekripsinya....pada akhirnya mereka beli...ke orang-orang bisa buat sekripsi....ya...dosen...sih yang buat. Pada akhir...yang kuliah mahasiswanya atau kah dosennya...ya. Tapi...urusan uang sih memudahkan jalan...semuanya. Pada akhirnya cepat wisuda dan dapet ijazah dan kerja di pemerintahan dan swasta," kata Indro.

"Kalau...begitu bener dong beritanya...tentang kualitas pendidikan di Indonesia sekedar cepat kerja aja....gak perlu sakit kepala buat sekripsi, tesis dan desertasi," kata Dono.

"Ya...benerlah. Banyak duduk di pemerintahan dengan gelar S1 cara cepat mendapat ijazah untuk naik pangkat. Makanya....sistem kerja di pemerintahan itu.....kacau," kata Indro.

"Kalau...jenuh juga hidup ini kalau kenyataannya...cara untuk dapet jabatan di pemerintahan dengan uang lewat beli ijazah dengan presedur membeli mata kuliah yang di sepakatin harganya...agar cepat lulus," kata Dono.

"Jenuh..banget hidup ini. Banyak orang....jadi kaya dengan cara cepat lewat....cara itu semua dari dulu. Sekarang...sih gak tahu...masih di jalanin apa enggak?!" kata Indro.

"Ya...sudahlah...lebih baik...saya main....untuk menghilangkan kejenuhan...saya," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono pun ke garasi ngambil motornya untuk jalan-jalan untuk menghilangkan kejenuhannya. Indro kembali membereskan pekerjaan yang lain di gudang.


Karya : No

Thursday, August 8, 2019

BERMAIN

Tanah bergetar dengan sangat hebat sekali. Gunung Tangkupan Perahu pun terbelah jadi dua efek dari retakan dari tanah akibat gempa. Keluarlah sosok makluk yang sangat menyeramkan dari gunung Tangkupan Perahu yang terbelah jadi dua.

Gozila mengeluarkan energi panas dari dalam tubuhnya dan di semburkan api keberbagai arah  dan menciptakan kehancuran lebih parah lagi. Turunlah dari langit sebuah bola besi menuju bumi dan akhirnya menghantam tanah. Bola besi tersebut ternyata kapsul penyelamat alias pesawat asing luar angkasa. Dari pesawat tersebut keluar robot kuning berlambang autobot di dadanya dan bernama Bambel Bee.

Gozila makin mengamuk dengan mengeluarkan semburan api kemana-mana?. Bambel Bee langsung berlari menuju Gozila untuk mengalahkannya. Gozila menyerang Bambel Bee dengan semburan api. Dengan cepat Bambel Bee menghindari serangan Gozila dengan manufer melompat ke kanan dan berubah jadi mobil dan kembali berubah jadi robot dan menembak ke arah Gozila dengan tangan kanannya di ubah menjadi senjata basoka.

Serangan Bambel Bee ke Gozila tidak berefek apapun malahan Gozila makin marah dan menyemburkan api dari mulut dengan lebih dasyat lagi. Bambel Bee pun menahan serangan Gozila dengan sebuah tameng yang di ubah dari tangan kirinya.

Serangan Gozila memang hebat banget sampe akhirnya Bambel Bee terpental akibat tidak bisa menahan serangan semburan api Gozila. Efek serangan Gozila membuat Bambel Bee rusak dan jatuh ke tanah. Turun dari langit sebuah bola besi lagi dan membentur tanah. Keluarlah dari bola besi tersebut.....pemimpin dari para autobot....Optimus Pream. Melihat Bambel Bee yang terluka parah....Optimus Pream mau menolong anak buahnya sekaligus sahabat baiknya.

Gozila menyerang Optimus Pream dengan serangan dari ekornya yang sangat kuat. Segera Optimus Pream menghindari serangan Gozila dengan melompat ke kanan dan berubah menjadi mobil treler dan berjalan lalu berubah lagi menjadi robot dan menyerang Gozila dengan sebuah pedang di kanan dan sebuah tameng di tangan kiri untuk pertahanan.

Gozila menyemburkan api ke Optimus Pream. Dengan segera ditahan dengan tameng Optimus Pream. Susah payah Optimus Pream menahan serangan Gozila ada celah....juga saat Gozila mau mengeluarkan semburan api lagi. Optimus Pream menyerang Gozila dengan pedangnya ternyata di tahan dengan mulutnya....Gozila, lalu pedang di patahkan dengan gigi Gozila yang sangat kuat.

Mundurlah Optimus Pream dengan beberapa langkah. Segera Gozila menyemburkan api lagi ke Optimus Pream dan segera di tahan dengan tameng di tangan kirinya.

Gozila meningkatkan kekuatan semburan apinya sampai mementalkan Optimus Pream sampai rusak parah dan jatuh ke tanah. Gozila tambah beringas lagi dan menyemburkan api kemana-mana.

Dateng seorang pahlawan super Indonesia. Gundala ingin menghancurkan Gozila. Gundala sudah di hadapan Gozila dan hendak mengeluarkan kekuatan pamungkasnya Gundala.

Tubuh Gundala mengeluarkan energi yang besar banget seperti kilatan petir. Di Langit awan hitam berkumpul di bawah Gundala. Segeralah Gundala menyerang Gozila dengan kekuatan penuhnya yang menciptakan petir yang turun dari langit ke tubuh Gundala dan di arahkan ke Gozila.

Sambaran petir yang sangat dasyat tersebut langsung mengenai Gozila sampai menjebol dadanya dan akhirnya tumbang ke tanah.

***

Kasino baru pulang dari urusan kerjaanya dan masuk rumah segera mengucap salam "Asalamualaikum". Ya..segera di jawab Dono dan Indro yang asik main action figur "Waalaikumsalam".

Kasino pun duduk di sofa di ruang tamu bersama teman-temannya.

"Indro lanjut lagi mainnya!" kata Dono.

"Iya, sampe...mana tadi?" kata Indro.

"Sampe....Gundala mengeluarkan petir besar mengarah ke Gozila dan akhirnya Gozilanya...mati," kata Dono menceritakan.

"Tapi...Don....Gozilanya...udah mati....gimana?" tanya Indro.

"Ya...keluarkan monster yang lain dong!" kata Dono.

"Monster apa...ya? Oh...ini...saja Kingkong....!" kata Indro.

"Boleh juga...," kata Dono.

"Kalian berdua...ini..ngabisin uang untuk membeli mainan tersebut?" tanya Kasino.

"Gak ngabisin uang. Cukup ada saja. Nama juga hoby....ya gak Indro," kata Dono.

"Iya...Kasino...hoby kok," saut Indro.

"Oooo.....hoby dari kecil sampe dewasa...ini?" tanya Kasino lagi.

"Iya," jawab Dono dan Indro bersamaan.

"Kayanya ada yang aneh...main yang kamu pegang Don. 

Kaya...action figur Gundala yang terbaru?" kata Kasino.

"Iya, Gundala...action figur yang terbaru...saya susah payah mencari....mainan ini...untung ada toko yang menjual mainan ini...jadi saya koleksi...yang ukuran besar...kan. Sama tingginya dengan Gozila dan para autobot," kata Dono.

"Iya...sama sih. Ya...sudahlah mainlah....kalian berdua lanjutin aja mainnya. Saya baru inget ada kerjaan yang belum selesai. 

Jemput Selfi di tempat....kerjaannya sekalian ngajak makan malem," kata Kasino.

"Yang...lagi kasmaran," ledek Dono.

"Iya....bener...rasa di dalam dada berbunga-bunga," tambahan Indro.

"Terserah omongan kalian berdua. Asalamualaikum," kata Kasino dan bergerak keluar dari rumah.

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Dono dan Indro melanjutkan main boneka action figurnya. Indro pun mulai terlihat bingung dan ngomong sama Dono "Don...kalau Gundalanya...kalah sama Kingkong. Lalu yang mengalahkan Kingkong....siapa Don?"

"Gatot Kaca...," kata Dono.

"Gatot Kaca...lagi. Gak ada yang lain...Don?" kata Indro.

"Loh..begitu..Indro...saya belum memainkannya," kata Dono.

"Iya..sih belum di mainkan. 

Tapi...bosen ah. Cari permainan yang lain," kata Indro.

"Kaya...mentok cerita...kamu...ya Indro?" tanya Dono.

"Iya," jawab Indro.

"Kalau...begitu kita berhenti aja main action figur ini!" kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono dan Indro menaruh mainnya di meja, lalu keduanya adik minum kopi yang masih anget dan juga gorengan. Indro teringat dengan tontonannya di Tv dan mulai ngomong sama Dono "Don...apa tanggapan kamu dengan penampilan Putri dan Rara ...di ajang lomba menyanyi dangdut?"

"Menurut...saya...bagus...aja.....Indro. Tambahan exspresi penjiwaan dapet sesuai dengan konsep yang telah di tetapkan dalam perlombaan tersebut.....berdasarkan padangan orang awam," kata Dono.

"Selanjutnya Don?" tanya Indro.

"Bagus," tegas Dono.

"Bagus...toh. Gimana...dengan acara di Tv Net yang di pandu oleh Desta, Vinsen dan kawan-kawan?" tanya Indro.

"Kok...nanya....ke topik yang lain. Biasanya antusias...dengan ajang lomba menyanyi dangdut?" kata Dono.

"Ya....gak maksud apa-apa sih. Cuma ingin tahu tanggapan kamu...aja. Kalau gak...di jawab gak apa-apa...sih?" kata Indro.

"Oh...gitu. Ya...sudah gak perlu saya jawab," kata Dono.

"Beneran gak di jawab deh," kata Indro yang murung.

"Ya...sudah...saya berikan tanggapan saya...tentang acara Desta, Vinsen dan kawan-kawan. Saya bagus dan lucu. Tambahan lagi....film yang di bintangin Desta dan Vinsen....saya udah nontonnya...ya tanggapan...saya sesuai dengan kerakter...pembawaan mereka berdua sih," kata Dono.

"Jadi Dono tanggapannya....bagus toh. Memang sih...lucu...dari pola pembawan Desta, Vinsen dan kawan-kawan di acara tersebut," tambahan Indro.

Azan Magrib di kumandangkan. Dono dan Indro mendengarkannya Azan Magrib tersebut. Segera keduanya membereskan semua mainan dan bawa masuk ke kamar mereka masing-masing. Setelah berganti pakaian koko Dono dan Indro di kamarnya...segeralah berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat magrib secara berjamaah.


Karya : No

Wednesday, August 7, 2019

PISTOL

Malam hari seorang pemuda sedang berlari masuk sebuah gang kecil untuk menghindari pengejaran dari polisi. Sedang polisi yang mengejar pemuda yang di kejarnya sudah keletihan sampe-sampe jatuh karena terselandung saat melangkah dan bangun lagi untuk mengejar pemuda yang sudah jadi target dalam daftar pengedar narkoba.

Sampai di ujung gang ternyata gang buntu. Pemuda tersebut kebingungan dan berpikir cepat saja untuk memanjat tembok pembatas gang buntu. Polisi langsung memegangnya pada bagian kakinya dan menariknya agar turun ke bawah baru di ringkus. Di bawalah pemuda pengedar narkoba tersebut oleh polisi ke kantor untuk proses selanjutnya.

***

Ada seorang anak kecil yang Teguh lewat gang tersebut maklum anak jalanan. Tak sengaja dan di duga menemukan sebuah pistol di jalan. Perkiraan Teguh adalah pistol mainan di bawalah pulang pistol tersebut.
Di rumah yang dianggap rumah padahal lebih buruk dari itu. 

Cukup untuk berlindung dari hujan dan panas yang menyengat kalau siang hari. Teguh pun mencoba memainkan pistol tersebut. Tapi ternyata di panggil temannya segera Teguh menyembunyikan mainannya di bawah tempat tidurnya.
Segera Teguh menemui temannya si Hengki.

"Ayo...kita jualan," ajakan Hengki.

"Ayo.....jualan. Kalau gak jualan kita makan apa?" kata Teguh.

"Maka itu....kita jualan...untuk bertahan hidup. 

Selebihnya...main game di warnet," kata Hengki.

"Iya. Kita masih anak-anak," kata Teguh.

Teguh dan Hengki menemui Pak Boni yang mempunyai barang dagangan. Pak Boni memberikan barang dagangannya ke Teguh dan Hengki untuk di jajakan ke pembeli di sekitar lingkungan tersebut.

***

Polisi yang meringkus pemuda pengedar narkoba tersebut baru sadar bahwa pistolnya hilang. Segera laporan ke komandannya. Berdasarkan intruksi komandanya segera disuruh  di cari  sampai pistol tersebut di temukan karena berbahaya di salah gunakan. Segeralah mencari polisi yang bertugas tersebut.

"Karena keteledoran saya....jadi kerjaan tambahan," gerutu polisi.

Polisi pun menyusurin area pengejaran di mana ia menghilangkan pistolnya gak sengaja. Lalu teringatlah polisi tersebut kapan pistolnya jatuh? Saat jatuh di tempat yang ia...ingat.

Sampai di tempat ia terjatuh. Polisi mencari pistolnya yang terjatuh di tempat tersebut. Sudah obrak-abrik gak ketemu juga. Tetap bersabar polisi mencari pistol tersebut.

***

Teguh pulang ke rumahnya setelah berjualan dan membawa makan untuk di makan di rumahnya. Tak sengaja Teguh bertemu seorang Bapak-Bapak terlihat menyeramkan. Kebetulan ada anak kecil lewat situ maka bertanyalah polisi ke Teguh. Ternyata Teguh ketakutan dan segera berlari.

Polisi mencurigai anak tersebut segera mengejarnya siapa tahu tentang pistol terjatuh tersebut? Sampai di rumah yang bukan di sebut rumah cuma tempat berlindung. Polisi pun berhasil menangkap anak tersebut dan bertanya baik-baik "Nak...apa kamu tahu tentang pistol yang...saya gak sengaja di jatuhkan di tempat kita bertemu?"

Sebenarnya Teguh takut menjawabnya, tapi di desak terus jadi jawab dengan jujur karena pekerjaannya adalah seorang pedagang yang harus bersikap jujur dalam menjalankan hidup "Iya...saya tahu Pak."

"Dimana...pistol itu?" kata polisi.

"Sebentar ...saya ambilkan," kata Teguh.

Teguh mengambil pistol di bawah tempat tidurnya dan segera di berikan kepada Bapak yang mencari pistol tersebut.

"Alhamdulilah," ucap syukur Pak polisi menemukan pistolnya.

Segera pistol di masukkan ke dalam sarungnya di ikat pinggang polisi. Mulai Pak polisi mencari tahu siapa anak yang telah menemukan pistolnya?. Teguh pun ternyata anak jalan yang sebatang kara, lalu Pak polisi membawanya untuk di kirimkan ke panti asuhan agar di didik menjadi anak berguna.

***

Hengki mendatengin rumah Teguh seperti biasanya, tapi tidak menemukan Teguh. Khawatir memang si Hengki dengan temannya....tetap biasa kembali karena tahu nasip anak jalan seperti apa?.

Hengki pun meninggalkan rumah Teguh begitu saja....lalu menjalankan jalan kehidupannya seperti biasa.

***

Bertahun-tahun membina diri menjadi orang baik dan berguna. Teguh jadi polisi juga karena berkat bertemu Pak polisi yang menunjukkan jalan di kirimkan dirinya di panti asuhan. Kadang Pak polisi sering menjenguk Teguh untuk membawakan makan, minuman dan pakaian.

Buah dari kerja keras pun berhasil. Teguh menjadi orang berguna....pada awalnya seorang anak jalannya yang sebatang kara. Suatu ketika Teguh pun ada tugas pengejaran pengedar narkoba di mana Teguh dulu pernah tinggal di area tersebut. 

Saat menangkap tersangka. Tak di sangka dan tak di duga adalah temannya sendiri.....yang biasa berjualan untuk menyambung hidup dan main ke warnet untuk menghibur diri mereka berdua main game.

Kini jalan telah berbeda setelah dewasa. Hengki mengambil resiko jadi pengedar narkoba demi hidup yang susah tapi liar tampa aturan beda dengan Teguh berhasil membimbing diri jadi orang berguna. Teguh pun sebenarnya sedih dalam hatinya memasukkan temannya kepenjara karena kasus narkoba.

Tapi namanya tugas tetap tugas di jalanin dengan baik oleh Teguh. Hengki pun menerima jalan nasipnya yang harus di dalam penjara....bahwa dirinya tetap harus mengikuti alur hidup dirinya sendiri begitu juga Teguh...sebagai penegak hukum.


Karya : No

PANAS...?

Siang hari yang panas banget sampe-sampe keringat bercucuran. Bowo pun mengiup di bawah pohon rindang untuk menurunkan suhu tubuhnya yang panas dan juga ada tukang es dugan yang berjualan di pinggir jalan di bawah pohon rindang tersebut.

Bowo memesan es dugan ke mamang penjual es dugan. Segera di siap satu gelas es dugan untuk pembelinya. Bowo pun menikmati es dugan yang segar itu. Suhu tubuh Bowo pun turun banget di tambah udara bertiup sejuk banget kalau duduk di bawah pohon rindang.

Enak-enak menikmati es dugan lewat cewek cantik dengan pakean yang serba mengundang hasrat naik. Suhu tubuh Bowo naik melihat cewek tersebut karena lewat di depan matanya....biasa mata lelaki. Dengan cepat Bowo meminum es dugan untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik gara-gara pemandangan yang gimana gitu.

Es dugan di gelas habis juga. Segera Bowo membayar es yang di minumnya sama mamang penjual es dugan. Bowo pun berjalan lagi untuk menuju rumahnya.

Lewat cewek cantik yang pakean fulgar lagi di depan mata Bowo langsung suhu tubuh naik. Eeee kaki Bowo dilindas sepedah yang bawa cewek cantik yang gak bisa mengendalikan sepedahnya.
Maunya Bowo marah gitu ke cewek yang bawa sepedah. Malah gak jadi suhu tubuh hampir meledakkan diri seperti bom atom....jadi gak jadi karena yang di hadapi cewek cantik.

Pada akhirnya di biarkan cewek cantik tersebut dan Bowo memaafkan ketidak sengajaannya. Bowo pun menahan sakit di kakinya. Sampai di rumah di komperes di ceburkan di ember yang berisi air.

"Ademnya," kata Bowo.

Bowo pun bersantai sampe rasa sakitnya menghilang di kakinya baru setelah itu duduk lah Bowo di teras. Tapi ternyata suhu tubuh Bowo tidak menurun. Jojo pun melihat keadaan temannya yang aneh saat main ke rumahnya langsung di sentuh keningnya Bowo.

"Panas...banget...Bowo..kaya kamu sakit," kata Jojo.

"Pantesan....rasanya saya gak karuan," kata Bowo.

"Kalau begitu banyak istirahat!"kata Jojo.

"Iya," saut Bowo.

Bowo pun lebih baik istirahat ke dalam untuk bersantai di sambil nonton Tv. Ketiduran Bowo di sofa. Bangun-bangun magrib. Suhu tubuh Bowo pun menurun jadi normal gitu.

Lalu Bowo pun keluar rumah untuk melihat lingkungannya. Lewat cewek cantik tetangganya dengan pakean yang mengundang gimana gitu. Suhu tubuh Bowo naik lagi.

"Kacau ini mah....saya sakit lagi ini...mah," kata Bowo.

Segera masuk rumah dan menutup pintu. Lalu segera mandi Bowo tujuannya agar suhu tubuh turun. Akhirnya berhasil Bowo menurunkan suhu tubuhnya lagi.

Bowo pun lebih baik duduk di kamar setelah sholat magrib dan lebih banyak berzikir. Jojo pun main lagi ke rumah Bowo dan membawakan makan dan minuman sekalian obat untuk menurunkan panas.

Bowo pun menerima kebaikan temannya tersebut. Jojo pun senang kalau Bowo gak...sakit. Saat ngobrol di depan rumah Bowo dan Jojo. Lewat juga cewek cantik dengan pakean yang gimana gitu. Bowo tidak naik lagi suhunya. Malah Bowo jojong aja ngobrol sama Jojo dan mengabaikan pemandangan yang mengundang hasrat naik.

Setan pun yang ngikutin Bowo dari tadi untuk membuat keadaan gak karuan pun kalah.

"Coba dia...ibadah....saya bisa terus membuat dia menaikan suhu hasrat nafsunya......setiap melihat cewek berpakaian fulgar," kata Setan.

Setan pun pergi meninggalkan Bowo dengan menghilang. Bowo pun selesai ngobrol dengan Jojo langsung melaksanakan sholat isya di kamarnya dan setelah itu berzikir. Rasa tenang dan adem di dalam diri Bowo sampai waktu tidur pun dateng.


Karya : No

Tuesday, August 6, 2019

PANAS

Dono lagi sibuk baca komentar di jaringan sosial media sambil nonton Tv lewat Hpnya. Indro baru selesai ngurusin kerjaannya dan duduk bersama Dono di ruang tengah.

"Don....lagi baca apa....kok...serius amat?" tanya Indro.

"Sibuk...baca komentar di sosial media lewat teman yang nonton acara live studio tv berkenaan lomba ajang menyanyi," kata Dono.

"Apa...katanya?" tanya Indro.

"Panas...banget persaingannya...demi jadi terbaik di antara terbaik," kata Dono.

"Jadi...kadang kamu menonton langsung ke studio Tv ....kadang kamu meminta data di kiriman lewat jaringan teman kamu yang nonton di studio Tv sekarang ini...
lewat jaringan sosial media....atau langsung telpon aja," kata Indro.

"Ya...memang begitu aja kenyataannya," kata Dono.

"Apa...tanggapan kamu...tentang ajang lomba musik...yang di adakan Tv swasta?" tanya Indro.

"Tetap....sama. Masih terlihat..semua....ganjilnya....," kata Dono.

"Kalau...begitu sih...gak bisa di jelasin," kata Indro.

Indro pun langsung asik nonton Tv. Dono beranjak dari duduknya untuk ke kamarnya untuk mengetik sesuatu karena dapet ide yang bagus banget. Kasino baru selesai membereskan pembukuannya dan duduk bersama Indro yang asik nonton Tv.

"Mana Dono?" tanya Kasino.

"Paling...sibuk buat tulisan," jawab Indro.

Kasino mulai serius nonton Tv sama Indro di Tv One dengan tema listrik mati. Dono pun dapet telpon dari Rara untuk di jemput di rumah tantenya karena urusan keluarga. Dono segera mengakhiri pembicaraan dengan Rara lalu mematikan leptop dan keluar dari kamar.

"Kasino pinjem mobil!" kata Dono.

"Untuk apa...make mobil malem-malem?" tanya Kasino.

"Jemput Rara...biasa urusan pribadi..sekaligus menyambung family," kata Dono.

"Ambil aja...kuncinya di kamar!" kata Kasino.

"Ok," kata Dono.

Dono mengambil kunci mobil di kamar Kasino baru deh berangkat tapi sebelumnya mengucap salam keluar rumah ke Kasino dan Indro "Asalamualaikum".

Kasino dan Indro menjawab bersamaan "Waalaikumsalam".

Dono pun membawa mobil dengan baik menuju rumah tante Rara. Kasino asik nonton Tv begitu juga Indro. Kasino pun berpikir dan langsung bertanya ke Indro "Gak...biasanya...kamu nonton acara di Tv One....tentang mati listrik ....lagi temanya? Biasanya...nonton D Star di Tv Indosiar?"

"Lagi...hits di bicarakan...aja...itu..saja masalah listrik mati. Kalau D Star..
sudah kelihatan permainannya....padahal inginnya...lebih panas lagi sampai kebakaran...gitu!!!!," kata Indro.

"Ah...mau..kamu Indro," saut Kasino.

"Iya...lah...mau saya....emangnya...mau.....siapa?" kata Indro.

"Udah...nonton lagi....belum klimaks....pola pembicaraan dari orang-orang yang ngomong di Tv ....berkenaan mati listrik!" kata Kasino.

"Iya," saut Indro.

Kasino dan Indro fokus lagi nonton Tv untuk mengetahui sejauh apa pola penerangan kenapa terjadi mati listrik dan jadi hits di bicarakan di sosial media?.


Karya : No

MATI LAMPU

Seusai urusan kerjaan dengan segera Dono pun pulang ke rumah. Seperti biasa mampir ke warung Nabila untuk beli gorengan.

"Nabila gorengannya Rp 10.000," kata Dono.

"Iya...Mas Dono. Nabila bungkusin," kata Nabila sambil memasukkan gorengan yang anget ke dalam kertas.

"Loh...pake kertas....Nabila dibuat sendiri kaya kantong gitu. Biasanya pake plastik?" tanya Dono.

"Memang biasa pake plastik. Tapi karena pemberitaannya di media berkenaan sampah plastik...bermasalah ini dan itu. Ya...saya alternatif aja pake kertas bekas yang beli tukang loakan dan saya buat jadi kantong," penjelasan Nabila.

"Repot juga....urusan awalnya mudah jadi susah. Padahal jika produsen plastik daya belinya masyarakat menurun pada akhirnya bangkrut," kata Dono.

"Mau...apalagi...Mas Dono. Berita seperti itu....sampai-sampai ada organisasi yang ngurusin masalah tentang sampah plastik. Di Jakarta....aja sampe menteri ikut turun ke jalan supaya....menjelaskan dampak sampah plastik ini dan itu," kata Nabila.

Asik-asik bicara. Rara sudah di sebelah Dono.

"Nabila gorengan juga," permintaan Rara.

"Berapa...Mbak?" tanya Nabila.

"Biasa Rp 10.000," kata Rara.

"Iya. Ini...Mas gorengannya," kata Dono.

"Iya...Nabila, sekalian saya bayarin.....gorengan Rara," kata Dono sambil menyerahkan uang ke Nabila Rp 50.000.

"Ini...kembaliannya...Mas Dono....Rp 30.000," kata Nabila.

"Terima kasih," kata Dono.

"Iya...sama-sama," saut Nabila.

"Dek...Rara...mau ikut pulang ke rumah Mas Dono?" kata Dono niat becanda sama Rara.

"Enggak," saut Rara yang ketus.

"Ya...udah...Asalamualaikum," kata Dono.

"Waalaikumsalam," kata Rara dan Nabila bersamaan.

Dono pun berjalan menuju pulang ke rumahnya sambil makan gorengan. Rara pun nunggu gorengan yang di bungkus oleh Nabila. Terlihat dari wajah Rara yang asem banget kaya gak enak di lihat. Nabila pun bertanya "Rara...kenapa gak terlihat...respon begitu jutek sama Mas Dono?"

"Ah..itu biasa. Lagi males ngomong sama Mas Dono?" kata Rara.

"Males....atau kah. Kamu tidak ingin semua warga tahu kalian berdua....pacaran. Alias tidak mau di omongin orang-orang jadi buah bibir. Jadi setiap....
ketemu...jutek...gitu," kata Nabila.

"Ya....begitu..lah. Lebih...baik seperti ini. Dari di omongin....orang-orang yang ini dan itulah. Padahal...enggaklah," kata Rara.

"Nie gorengannya," kata Nabila menyerahkan bungkus gorengan ke Rara.

"Terima kasih," kata Rara.

"Sama-sama," jawab Nabila.

Rara pun pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Rara segera mengirim pesan singkat ke Dono lewat Hpnya "Mas...Dono terima kasih udah di bayarin gorengannya".

Dono pun membalasnya pesan singkat itu dengan Hpnya "Ya...sama-sama".

Rara pun menikmati gorengannya tapi tidak sendirian di rumah karena ada tamu Putri dan Selfi yang main ke rumah hanya sekedar ngobrol urusan cewek.
Dono sampai di rumah seperti biasa mengambil leptop di kamar untuk mengetik sesuatu. Karena baterai leptop lobet maka di caslah leptop. Dono pun segera mengetik sesuatu yang baik karena ada banyak ide di kepalanya untuk membuat satu tulisan.

Lagi asik ngetik. Listrik mati. Dono tidak bisa melanjutkan mengetiknya. Maka di tinggalkanlah urusan mengetik Dono dan bersantai di ruang tamu sambil baca buku komik. Dengan sabar Dono nungguin listrik hidup lagi dan bisa mengetik lagi.Ternyata Dono sampe boreng banget listrik tetap mati.

"Bayar...mah harus sesuai peraturan. Kalau telat di denda. Kalau...sudah listrik mati...begini....kemungkinan positif sampe malem ini mah," kata Dono.

Kasino dan Indro pun langsung masuk rumah dan segera mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono yang sibuk baca buku komik.

Indro dan Kasino pun duduk di sofa untuk menghilangkan rasa capek mereka dan sekalian makan gorengan yang di taruh di meja sama Dono.

"Oh..iya..Don..udah lama mati..listriknya," tanya Indro.

"Ya...lumayan...sih. Dari tadi," jawab Dono.

"Kalau....itu mah...positif sampe malem gelam-gelapan,"saut Kasino.

"Don...lilin...masih adakan?" tanya Indro.

"Lilin masih ada. Lampu emergensi...ada," kata Dono.

"Kalau...begitu sih. Gak gelap-gelapan," kata Indro.

"Ia..sih...., tapi siapa yang jaga lilinnya," kata Kasino yang ngelantur.

"Kamu....babi ngepetnya," kata Dono dan Indro bersamaan.

"Kalau...saya jaga lilinnya dan jadi babi ngepetnya....gak jadi mainnya," kata Kasino.

"Becanda...kuno," kata Dono.

"Kuno...banget," kata Indro.

Suara azan di kumandangkan. Waktunya sholat Magrib. Dono, Kasino dan Indro pun berbenah diri untuk menjalankan sebagai muslim yang baik. Sampai di mesjid pun listrik belum nyala juga. Tetap mesjid hidup lampu jadi terang karena pake jensed.

Dono pun bertemu Rara di mesjid tetap diam-diam saja tak sepatah kata pun bicara. Sholat Magrib berjalan dengan khusuk banget. Selesai Sholat Dono, Kasino dan Indro memutuskan untuk ngobrol di mesjid sampai listrik hidup lagi.

Rara pun pulang setelah sholat Magrib bersama Putri dan Selfi. Dono memang melihatnya Rara keluar dari mesjid menuju rumahnya. Indro pun beserta Kasino pun melihat Rara juga. Tetap saja Dono diam saja.
"Don...gak ngobrol sama Rara...gitu?" tanya Indro.

"Enggak lah....kan ada kawan-kawannya...yang nemenin," kata Dono.

"Sudah bertemu...kaya gak rasa rindu ini dan itu. Biasa banget urusan percintaan Dono," kata Indro.

"Setiap.....anak adam menjalani percintaannya pasti ....punya cerita masing-masing. 
Ya....menurut Dono ....lebih baik seperti itu. Menurut kita...belum tentu," kata Kasino.

"Benar kamu Kasino. Sama...saya...dengan Saskia," kata Indro.

"Cinta itu apa sih?" tanya Dono.

"Kok nanya gitu Don. Kamu telah menjalaninya masih bingung?!" kata Indro.

"Kaya...omongan orang frustasi aja...," saut Kasino.

"Cuma iseng aja," kata Dono.

"Iseng...aja toh," saut Indro.

"Jadi...cuma ngelantur..omongan," kata Kasino.

"Cinta...hanya sebuah rasa di dalam detak jantung dan ingin bersama orang yang di cintai...tapi kenapa rasa hubungan...terasa hambar ya..?" kata Dono curhat.

"Kayanya....mau kelain hati," kata Indro.

"Maksudnya...teman kita...ingin mencoba merasakan rasa cinta itu pada cewek lain. Selingkuh...itu namanya. Siapa orangnya..Don?" kata Dono.

"Siapa...ya? Aulia...aja...atau Selfi?" kata Dono.

"Wah..wah...wah...beneran menetapkan target selingkuhan," kata Indro.

"Kaya...ada yang ganjil omongan Dono," kata Kasino.

Listrik pun hidup saat Dono, Kasino dan Indro ngobrol dan ketiganya mengucap "Alhamdulilah".

"Pulang yuk," kata Dono.

"Obrolannya...belum selesai," kata Indro.

"Sudah...cuma...iseng...aja. Saya gak ada niat untuk mencari....kedua, ketiga dan seterusnya," kata Dono.

"Iseng...aja. Gak asik," kata Indro.

"Makanya...ada..yang ganjil. Pola pembicaraannya...emang ngelantur. Udah pulang aja...saya masih ada kerjaan...yang harus saya selesaikan," kata Kasino.

Ketiganya mau pulang ke rumah gak jadi karena azan di kumandangkan untuk sholat Isya. Ya...Dono, Kasino dan Indro pun melaksanakan sholat Isya baru pulang ke rumah. Selang berapa saat sholat Isya pun selesai juga. Dono, Kasino, Indro pun berjalan pulang ke rumah. Sampai di rumah segera mereka bertiga melaksanakan urusan masing-masing.

Indro pun asik nonton Tv. Kasino sedang mengolah pembukuan di kamarnya dan Dono mengetik di ruang tamu. Kadang Indro pun duduk bersama Dono untuk bertanya sesuatu karena permainan dari Indro.

"Don...dari juri di ajang perlombaan musik yang saya sebutkan mana....yang tidak kamu sukai? Soimah, Inul Daratista, Nazar, Dewi Persik dan terakhir Saskia Gotik!!" kata Indro.

"Kenapa gak Caren Delano gak di masukin?" tanya Dono.

"Itu sama...aja...sekalian Maya Ratih!!!. Ayo...Don..jawab!!" kata Indro.

"Ok..saya jawab. Cuma permainankan. Kaya gak ada sih...cuma terlihat gak enak aja dilihat aja...gayanya.....Giring dan Beby Romeo," kata Dono.

"Kenapa...jadi...mereka..sih..jauh dari pertanyaan," kata Indro.

"Kan...cuma permainan...ngelantur bolehkan. Tapi...untuk nyenengin kamu Indro....saya jawab dengan baik....dan benar.....saya gak....suka dengan.....Nazar," kata Dono.

"Kenapa...Nazar?  Jangan-jangan ada kaitannya...dengan Selfi...ya ?" tanya Indro.

"Cuma gak suka...aja. Kan biasanya... kamu nyuruh milih  satu aja yang.....gak suka aja. Gak ada alasannya...cuma mainan," kata Dono.

"Itu...beneran..atau bohongan?" tanya Indro.

"Bohongan. Jadi yang bener saya....suka semuanya....titik gak ada koma. Cuma ngikutin permain kamu Indro," kata Dono.

"Udahlah permainannya selesai....saya cuma becanda kok," kata Indro.

"Saya...tahu," saut Dono.

Indro pun kembali ke ruang tengah untuk nonton acara KDI. Dono sibuk ngetik di leptopnya. Kadang istirahat sebentar ingin melihat ulah Indro yang sedang nonton acara Tv.

"Loh yang...di obrolin juri D Star....yang di tonton...malah KDI...ya...Indro?" tanya Dono.

"Suasana..Don...ingin tahu fersi yang lain. Biasa competetor dalam bisnis hiburan. Oh ya...tanggapan dari sosial media tentang KDI gimana...Don?" kata Indro.

"Kasih tahu...gak ya...?!" kata Dono.

"Kasih ...tahu dong Don?!" kata Indro.

"Jawabannya adalah relatif di sesuaikan dari minat masyarakat," kata Dono.

"Relatif...sih. Jawaban yang paling tepat," saut Indro.

Dono pun kembali duduk di ruang tamu untuk mengetik lagi di leptopnya. Tiba-tiba dapet pesan singkat dari Rara lewat Hpnya "Mas.....Dono lagi ngapain?"

Dono pun membalasnya pake Hpnya "Lagi kerja...alias melakukan sesuatu yang sifatnya hoby."

"Oh....kerja. Selamat malem Mas Dono," Rara pun mengirim pesan singkat lagi.

Dono pun membalesnya "Selamat malem Rara...mimpi yang indah".

Dono pun melanjutkan mengetiknya sampai selesai tulisan jadi baru di save. Baru deh Dono istirahat di kamarnya karena lelah melaksanakan aktivitas seharian. Indro masih asik nonton sampai acara selesai baru nonton acara yang lain di chanel Tv yang lain dengan acara Flash the series.


Karya : No

Monday, August 5, 2019

SEKEDAR BERCERITA

Selesai mengetik di leptopnya. Dono pun mengambil gitarnya yang di taruh di sofa duduk. Segera di mainkanlah gitar tersebut dan menyanyikan sebuah syair lagu.

Isi syair lagu yang dinyanyikan Dono :

"Ku minta.....Ja..nganlah pernah
Mengingat kemba...li
Salahku padamu
Yang hanya....menambah masalah
Berujung berakhir
Untuk cinta.....ki...ta

Yang lalu bi.....arlah berlalu
Karna kini ku cinta matimu
Maafkan salahku padamu
I...tu hanya...lah puing dulu
Yang tak mesti kau buka kembali
Maafkan salahku yang lalu

Ku minta....Ja..nganlah pernah
Mengingat kemba...li
Salahku padamu"

Selesai menyanyikan syair lagu dan menaruh gitar di sofa....Dono dapet ide lagi tulisannya dan segera menulisnya dalam Blog-nya. Indro baru pulang dari urusan kerjaannya dan masuk rumah dengan mengucap salam "Asalamualaikum" segera Dono menjawabnya "Waalaikumsalam".

Indro langsung duduk di sebelah Dono....karena ingin tahu yang di tulis Dono. Dengan seksama Indro membaca tulisan Dono di Blog-nya.

"Oooo... 'Perjuangan Seorang Selfi? Kenapa kamu....menulis tentang Selfi?" tanya Indro.

"Apa....ya? Cuma iseng aja!!!" kata Dono.

"Jangan ada maksud yang lain? Biasanya....yang angkat cerita Rara...untuk melanjutkan cerita atau Wulan yang....diangkat lagi karena reting bacaan saja," kata Indro.

"Gimana...jelasin...ya?" kata Dono.

"Entar dulu....Don. Jangan-jangan kaya...saya pernah baca cerita tentang Selfi...udah lama. Coba saya cek dulu," kata Indro.

"Iya...silakan," kata Dono.

Indro pun mencari data tulisan Dono di leptop. Ternyata ketemu tulisan tentang Selfi.

"Don....cerita tentang Selfi...ini kan cewek yang di sukai....tokoh utama bernama Dono. Tapi telah menikah dengan orang lain....bukan sama Dono. Di alur cerita ini....Selfi cinta kedua.... bisa juga sih kalau negatifnya di bilang selingkuhan..tokoh utama yang peralihan cinta dari Wulan. Intrik cerita memang di buat seperti itu," kata Indro.

"Iya. Itu kisah lama. Setelah itukan.
..tokoh utama....Dono tidak bisa bersama Wulan karena Wulan meninggal......setelah itu...Rara menggantikan Wulan karena di jodohkan.....sama Ibunya...tokoh utama...ya...Dono," penjelasan Dono.

"Jadi...ini tema...cerita kamu angkat dari sudut cerita...yang berbeda tentang...Selfi. Tapi...dari alur cerita tentang.....lebih cenderung...cewek banget yang menghadapi...masalah dalam bentuk apapun. Dan punya harapan tinggi untuk masa depan.....termasuk cinta. Apalagi....di ambil dari...intrik terjadi pada penyanyi dangdut Selfi," kata Indro.

"Ya...begitu...adanya," kata Dono.

"Jadi niat...kamu...apa Don?. Begini aja deh aku buat permainan aja. Dari cewek yang aku sebutkan namanya mana yang kamu.....paling sukai? Rara, Selfi, Aulia dan Putri?" kata Indro.

"Yang di tulis di Blog...apa jawabannya?" kata Dono.

"Ya...Selfi...karena ada data pernyataan surat cinta...si tokoh utamanya," kata Indro.

"Ya..udah..itu jawabannya. Cuma permainan," kata Dono.

"Kenyataanya...Don?" tanya Indro.

"Ya...gak..ada. Cuma cerita. Ungkapan perasaan. Gak...ada niat apapun....cuma cerita," penjelasan Dono.

"Permainan gak....seru. Kalau jawabannya...sudah di tulis di Blog. Sudah...lama...banget...ada surat cintanya lagi dan juga sudah lama di publikasikan," kata Indro.

"Indro...Indro....Indro...bahas kisah lama....tentang Selfi..berkenaan surat cinta lagi," kata Dono.

"Ya....memang datanya...ada di tulis Blog...gimana?" kata Indro.

"Ya..gak...gimana-gimana...cuma cerita. Gak ada niat. Rahasia lama terbongkar....itu namanya," kata Dono.

"Ya...sudahlah  Don...teruskan kamu menulisnya. Saya pun tahu...rahasia yang lama...tersebut...hanya cerita aja. Gak ada niat apa pun? Paling ide cerita di ambil dari lingkungan penulis aja.......," kata Indro.

"Kalau....sudah..tahu....gak perlu di ceritakan. Semua ini....hanya...sekedar cerita...gak lebih dan gak kurang. Biarkan pembaca menilai," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Indro pun beranjak dari duduk bersama Dono untuk berganti pakaian di kamarnya setelah itu ke meja makan untuk makan. Saat tudung saji di buka gak ada makanan. Jadi Indro memasak deh dan mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es. Indro pun dengan mulai memasak makan enak dengan cepat dan tepat lagi.

Makan pun jadi. Segera menyanyapnya....Indro di meja makan. Dono yang sibuk mengetiknya untuk menyelesaikan tulisannya akhirnya selesai juga. Lalu Dono menaruh leptopnya di kamarnya.

Melihat Indro asik makan...Dono ngiler ingin nyobain masakan Indro. Kemudian Indro manggil Dono.

"Dono...makan...sama aku!"

"Iya," saut Dono.

Tiba-tiba Dono dapet telpon dari Rara ya...segera di angkat. Dono pun mengikuti maunya Rara dan berusaha menepati janjinya pada hari ini. Setelah itu telpon-telponan Dono dan Rara selesai. Dono pun mau pergi ke rumah dan ngomong sama Indro alias pamitan. Seperti biasa Indro mulai permainannya.

"Don," panggilan Indro.

Dono padahal sedang bersiap-siap untuk berangkat.

"Apa?" jawab Dono.

"Jadi beneran mau ke tempat Rara?" tanya Indro.

"Iya," saut Dono.

"Rara penyanyi dangdut atau....Rara yang di hati kamu Don?" kata Indro.

"Rara...yang di hati. Rara penyanyi dangdut sibuk membimbing dirinya....untuk menjadi pemenang ajang menyanyi D Star," kata Dono.

"Oh..begitu?! Tapi.....siapa yang kamu dukung...yang paling utama....Rara, Selfi, Aulia dan Putri?" kata Indro.

"Dukung...apa? Paling utama apa?" tanya Dono.

"Ajang menyanyi di D Star....lah?" kata Indro.

"Randa," jawab Dono.

"Kok....Randa. Kan gak masuk katagori permainannya?" kata Indro.

"Ya...udah aku ganti....Irwan," kata Dono.

"Lagi-lagi....bukan masuk kategori permainan....?" kata Indro.

"Ya....udah....Rara..aja deh. Biar kamu seneng," kata Dono.

"Kenapa Rara? Harus ada alasannya?" kata Indro.

"Banyaknya...pertanyaannya. Sederhana....aja...di sesuaikan dengan tokoh dalam cerita yang di tulis Blog dan ingin di datengin Dono karena ada janjian kencan," penjelasan Dono.

"Kurang....menarik. Aku..inginnya...kamu....Don. Milihnya Selfi!" kata Indro.

"Kalau mau....kamu...Indro...silakan aja. Jadi...saya milih....Aulia...yang cantik itu," kata Dono.

"Kok...berganti?" tanya Indro.

"Bimbang....sih. Kayanya milih Putri...aja...deh," kata Dono.

"Mulai lagi," kata Indro.

"Sudahlah....keputusan finalnya...Rara..aja dari awalkan memang Rara jadi kembali ke Rara. Gak...ada niat apa pun? Cuma teka-teki dalam tulisan saja," kata Dono.

"Aku....idem saja," saut Indro.

Dono pun selesai berbenah dan siap berangkat ke rumah Rara. 

"Aku...berangkat dulu. Asalamualaikum," kata Dono.

"Waalaikumsalam," Indro jawab salam Dono.

Dono pun keluar rumah. Langsung membawa motornya dengan baik menuju rumah Rara. Selang beberapa saat Kasino pulang dan mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum" segera di jawab Indro "Waalaikumsalam".

Indro lagi asik nonton Tv. Kasino pun segera berganti pakaian di kamarnya baru makan. Ternyata ada makan di meja makan. Segeralah menyantapnya.

"Enak. Indro siapa...yang masak hari ini?" tanya Kasino dengan suara keras.

"Aku...," jawab Indro dengan suara keras.

"Masakan....Indro..toh," kata Kasino.

Kasino melanjutkan makannya. Setelah itu Kasino baru deh duduk bareng bersama Indro yang sedang asik nonton sepak bola yang terbawa suasana saat terjadi cetak gol.

"Gol....," teriak Indro dan Kasino bersamaan.

Indro dan Kasino senang dengan tontonan pertandingan sepak bola yang bagus banget.



Karya : No

HANTU

Pada saat magrib, saya mau pergi shalat ke masjid. Saya lihat sumur, sumurnya itu berdekatan dgn daun mangga, kemudian aku melihat pohon itu bergoyang-goyang, tapi saya tetap menganggap kalau daun itu hanya tertiup angin, tapi pada saat pulang dari shalat magrib pohon itu bergerak padahal angin pun tidak ada, jadi saya sedikit takut. Pada saat itu saya mulai bertanya kepada paman.....saya.

"Paman, disumur itu ada apa sih? Kok tadi pohonnya bergerak-gerak..?" kata saya sambil merinding. 

"Kamu memang habis ngapain, memang disumur sana ada penunggunya," tutur Paman saya.

Cerita ini kemudian berlanjut dengan  saya tidur di kamar di tingkat dua bersama ayah saya dan kemudian kamar saya berdekatan dengan sumur yang ada di bawah. Lalu saya tidak bisa tidur karena saya  masih penasaran kenapa pohon itu bergerak?. 

Cerita horor yang saya...
alami ini terjadi sekitar pukul jam 01:10 saya makin takut, lalu saat saya melihat ke bawah di jendela, ada ada anak kecil yang sedang bergelantungan, lalu anak itu melihat saya dan saya berteriak sambil menangis, teriak saya yg begitu takutnya. 

"Ada apa Fi..?", kata ayahku yg baru bangun. 

"Tadi saya melihat hantu yg kepalanya botak, matanya putih dan  mulutnya lebar," kata saya yg masih menangis. 

"Ya sudah, besok lusa kita pulang saja...", kata ayahku sambil memeluk saya.

"Nggak ah. Besok aja, Lutfi udah nggak betah untuk tinggal disini..!!" kata saya yg masih ketakutan.

Lalu yg lainnya kemudian pada bangun dan paman bertanya, "Ada apa fi..?".

"Tadi saya melihat hantu anak kecil paman", kata saya yg masih ketakutan. 

"Ya sudah sini paman coba bacakan doa", kata paman saya.

Kemudian paman saya mengambil segelas air dan membasuhi muka saya dengan doa-doanya, lalu besoknya saya pulang dan dengan masih ada rasa takut. Akan Tetapi saya salut dengan Paman dan keluarganya karena mereka juga begitu berani tinggal disana. Apa mereka sudah terbiasa melihat yg seberti itu ya....?

CAMPUR ADUK

HUM DIL DE CHUKE SANAM

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik...

CAMPUR ADUK