CAMPUR ADUK

Thursday, January 3, 2019

KEKUATAN GAIB SEORANG ANAK

"Bunuh dia!...Tembak dia!...Tembak sekarang juga bedebah  itu!"

"Bunuh dia!...Pembunuh harus disembelih! Bunuh, bunuh saja!", teriak orang-orang, laki-laki dan perempuan yang berkerumun.

Segerombolan rakyat yang sedang menggiring seorang laki-laki yang diborgol sepanjang jalan. Orang itu tinggi, kurus, berjalan dengan tegap sambil mengakat kepalanya tinggi-tinggi. Pada mukanya yang tampan dan gagah itu terbayang kebencian dan kejengkelan kepala orang-orang yang mengerumuninya.

Ia adalah salah seorang di antara orang-orang yang dalam peperangan melawan penguasa telah bertempur di pihak penguasa. Ia tertangkap, dan sekarang ia digiring untuk menjalani hukuman.

"Apa boleh buat! Kekuatan tidak selalu di pihak kita. Apa yang dapat kulakukan? Kekuasaan sekarang ada ditangan mereka. Mati, rupanya aku memang harus mati", pikir orang itu sambil mengankat bahu; teriakan orang-orang di sekelilingnya dibahasnya dengan senyum pahit.

"Itu agen polisi, tadi pagi ia masih menembaki kita", teriak orang-orang itu.

"Tapi mereka tidak berhenti, tawanan itu mereka bawa terus. Ketika rombongan tiba di sebuah jalan di mana di sepanjang pinggiran jembatan masih bergelimpangan mayat-mayat yang kemarin dibunuh oleh tentara, orang-orang itu menjadi makin gaduh. 

"Tidak ada gunanya dilambat-lambat! Tembak bededah itu sekarang juga, di sini juga, mau dibawa kemana lagi!..." teriak mereka.

Tawanan itu mengerutkan keningnya dan mengangkat kepalanya malah lebih tinggi lagi. Kebencianya kepada orang-orang itu rupanya jauh lebih besar dari pada kebencian mereka kepadanya.

"Bunuh semuanya! Mata-mata! Tsar! Dan anjing itu, bunuh dia, bunuh sekarang juga!" suara-suara perempuan terdengan gemuruh.

Akan tetapi, para pempinan rombongan itu memutuskan untuk membawa tawanan mereka ke alun-alun, baru di sanalah mereka berunding dengan orang-orang itu.

Rombongan sudah hampir sampai di alun-alun ketika pada saat yang hening sejenak di Rombongan sudah hampir sampai di alun-alun ketika pada saat yang hening sejenak di Rombongan sudah hampir sampai di alun-alun ketika pada saat yang hening sejenak di barisan belakang, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang anak:

"Ayah! Ayah! teriak seorang anak laki-laki berumur enam tahun sambil menangis tersedu-sedu dan berusaha menerobos gerombolan orang-orang untuk mendekati tawanan.

"Ayah! Apa yang mereka perbuat pada ayah? Tunggu dulu, tunggu dulu, aku ikut, ikut....!"

Teriakan-teriakan tidak terdengar lagi sekitar orang-orang dari mana anak itu datang dan, laksana berhadapan dengan kekuatan gaib, orang-orang itu sama mundur memberi jalan kepada si anak untuk berjalan makin dekat lagi kepada ayahnya.

"Alangkah manisnya!"  kata seorang perempuan lainnya sambil membungkuk pada anak itu.

"Berapa umurmu, Nak?"

"Apa yang akan Anda perbuat dengan ayah saya," jawab anak itu.

"Pulang saja, Nak, pergilah kepada ibumu," kata salah seorang laki-laki kepada anak itu.

Tawanan mendengar suara anaknya dan apa yang dikatakan orang-orang kepadanya. Mukanya menjadi lebih bengis lagi.

"Ia tidak punya ibu" teriaknya menjawab suara orang menyuruh anaknya pergi kepada ibunya.

Setelah anak tadi makin jauh menyelusup ke dalam gerombolan manusia itu, sampailah ia kepada ayahnya, dan dipeluknyalah ayahnya itu erat-erat.

"Kenapa kau pergi dari rumah?", kata si anak kepada ayahnya.

"Ayah mau diapakan oleh mereka?", kata anak itu.

"Nak, sekarang lakukanlah olehmu", kata ayahnya.

"Apa?"

"Kau tahu Kachusha?"

"Tentanga kita itu? Tentu saja,"

"Nah, kau pergilah kepadanya, dan tinggallah di sana sebentar.....dan ayah....., ayah nanti datang."

"Aku tidak mau pergi tanpa ayah", kata anak itu, dan ia pun menangis lagi.

"Kenapa tidak mau?"

"Mereka akan membunuh ayah."

"Tidak, mereka tidak apa-apa, mereka hanya main-main."

Tawanan itu melepaskan anaknya dari pangkuannya dan pergi mendekati pemimpin rombongan.

"Dengarlah, Bung",---- katanya, ---- "Bunuhlah aku semau kalian, tapi jalan di depan dia", ---- ia menunjuk anaknya.

"Lepaskan dulu aku sebentar, dan peganglah tanganku. Akan kukatakan pada anakku itu bahwa kita sedang berjalan-jalan dan bahwa kalian adalah temanku, ia nanti pergi. Kemudian.... kemudian bunuhlah aku sesukamu."

Pemimpin rombongan setuju. 

Si tawanan kemudian memeluk lagi anaknya dan berkata kepadanya:

"Jangan nakal, Nak, pergilah kepada Kachusha"

"Tapi, ayah bagaimana?"

"Kau kan melihat sendiri, ayah sedang jalan-jalan dengan teman ini, kami akan berjalan sedikit lagi ke sana, dan kau pergilah, ayah nanti pulang. Pergilah Nak, jangan nakal."

Anak itu memandang pada ayahnya dengan pandangan yang tajam sambil menggelengkan kepadanya ke kiri dan ke kanan dan berpikir.

"Pergilah sayang, Ayah nanti pulang."

"Betul?"

Anak itu menurut. Salah seorang perempuan membimbingnya keluar dari gerombolan manusia itu.

Ketika si anak sudah hilang dari pandangan, tawanan itu  berkata:

"Sekarang aku siap, bunuhlah aku."

Tapi, tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sangat aneh, tak terduga-duga. Semangat yang sama dengan mendadak tubuh di dalam jiwa orang-orang itu, yang selama ini kejam, tak kenal ampun, dan penuh kebencian itu. Berkatalah seorang perempuan:

"Tapi, saya kira...lepaskan saja dia."

"Serahkan saja kepada Tuhan," kata seorang lainnya lagi.

"Lepaskan dia."

"Lepaskan dia, lepaskan!" terdengar suara gemuruh di antara gerombolan manusia itu. 

Tawanan yang gagah berani dan tak kenal belas kasihan itu, yang tadi membeci orang-orang sekelilingnya, kini tiba-tiba menangis meraung-raung sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kemudian, laksana orang yang benar-benar menyadari kesalahannya, ia melompat dari grombolan orang-orang itu, lari, dan tidak ada seorang pun yang menghalang-halanginya.

Tamat


Karya: L.N. Toistory

AKI

Aki adalah seorang pengawal kantor yang baik dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Ia disukai bawahan dan disayangi oleh atasan  karena kebaikan dan rasa tanggung jawabnya yang besar. Kepada bawahan ia memberikan didikan dan bimbingan, terhadap atasan ia melaksanakan tugasnya dengan baik.

Sudah beberapa lama Aki tidak masuk kantor. Dengan tidak masuk-masuknya Aki ke kantor banyak orang yang merasa kehilangan. Selama ini Aki diserang sakit paru-paru. Sudah kronis penyakitnya. Kekuatan tubuhnya sudah hilang. Kakinya membengkok membentuk nol besar, sedangkan punggungnya bongkok pula.

Pada suatu hari Sulasmi, istrinya berteriak-teriak menarik perhatian orang banyak. Sulasmi melihat suaminya sudahnya sudah tidak bernafas lagi akibat penyakitnya. Tetapi ketika ia masuk kembalin ke kamar dilihatnya. Aki sudah siuman. Bibirnya bergerak-gerak hendak melahirkan kata-kata. Akhirnya terucap kalimat bahwa ia baru akan akan mati tahun depan, tepatnya tanggal 16 Agustus. sejak saat itu kesehatan Aki pulih kembali. Badannya mulai gemuk. Rambutnya yang muncul sedikit di kepalanya dicukur habis-habisan, karena Aki memang senang berambut botak.

Aki datang ke kantor. Kepada atasannya, ia mohon berhenti karena mau mati tanggal 16 Agustus tahuan depan. Atasan dan rekan-rekan sejawatnya terheran-heran. Mula-mula semua orang tidak mempercayai kata-katanya. Ada juga yang mengira Aki ngelatur. Tetapi karena Aki bersungguh-sungguh dan berusaha meyakinkan mereka, akhirnya mereka percaya. Harus percaya. Bahkan banyak di antaranya yang mengira Aki tukang ramal. Gempar seluruh kantor itu. Mereka berseru kian kemari bahwa Aki akan mati tanggal 16 Agustus tahun depan. Salah seorang pegawai lainnya meramaikan suasana itu dengan mengarang sajak dengan judul Lagu Aki. Sambil mendukung Aki secara kompak dan bersama-sama mereka menyanyikan Lagu Aki.

Lagu Aki menjadi populer di lingkungan kantor. Orkes Beringin ikut-ikut pula menyanyikan Lagu Aki di bawah pimpinan pegawai yang mengarang lagu tersebut. Naas nasib pegawai muda pengarang lagu itu. Gara-gara lagunya, ia ditangkap kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi penjara tidak membuatnya jera, ia malah makin sombong saja. Ia beranggapan dirinya sudah jadi pengarang besar, sebab  hanya pengarang besar-benar sajalah yang dijebloskan orang ke dalam penjara disebabkan karangannya.

Tepat tanggal 16 Agusts tahun berikutnya. Aki memanggil kedua anaknya Akbar dan Lastari agar pergi meninggalkan kamar, sedangkan Sulasmi istinya disuruh tidur di sisinya. Sulasmi harus tidur membelakangi agar tidak tahu bagaimana Aki memperjuangkan hidup melawan malaikatul maut. Sekitar jam tiga dua pulluh menit Sulasmi membalikkan tubuhnya. Dilihat suaminya sudah tidak bernafas-nafas lagi. Matanya tertutup rapat. Sulasmi bangkit dengan sedih. Air matanya berderai lalu keluar kamar.

Melihat Sulasmi menangis sedih mereka yang berada di luar  kamar dapat memastikan Aki sudah mati. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam kamar untuk melihat Aki terbaring menjadi mayat. Tetapi mereka ketakutan dan berlari keluar ketika melihat sesuatu yang sangat menakutkan di tempat Aki terbaring. Melihat rekan-rekan sejawat. Aki berlari serabutan Sulasmi terheran-heran kemudian masuk ke dalam kamar suaminya. Ia tenang sekali dan tidak seperti para pegawai yang ketakutan itu. Sulasmi melihat Aki duduk sambil merokok. Aki belum mati. Rupanya tadi ia hanya tidur dan terjaga begitu mendengar orang-orang masuk kemudian berlari kembali keluar kamar. Aki tidak ingin mati. Ia baru mau mati kalau sudah berumur 60 tahun nanti.

Aki tetap hidup berbahagia bersama anak-anak dan istrinya. Kerukunan hidup Aki bersama keluarga membuat wajahnya tampak tetap muda. Usianya yang sudah mencapai 42 tahun tapi roman mukanya menunjukkan usia 29 tahun.

Pada usianya yang setua itu rupanya masih punya keinginan untuk bersekolah. Tidak ada batas umur yang menghalangi seseorang untuk belajar, begitu menurut pikirannya. Maka Aki bersekolah di Fakultas Hukum. Di kampus banyak juga orang tua macam dia yang bersekolah. Kata mereka sekolah bukan untuk mencari titel toh usia sudah tua. Sebentar lagi mau mati. Pikiran seperti itu bertentangan dengan pikiran Aki. Orang macam mereka sebenarnya sudah mati belum ajal. Mereka ketakutan menghadapi mautnya. Tidak seperti Aki  yang berusaha menentang malaikatul maut setiap muncul agar hidupnya diperpanjang. Aki tidak mau menyerah, bulat-bulat kepada maut. Kehendak maut jangan diterima begitu saja sebelum ajal. Dengan pandangan hidup seperti itu Aki berkata kepada Sulasmi bahwa ia tidak mau mati hanya dengan usia 60 tahun. Ia masih ingin hidup sampai umur 100 tahun. Hidupnya akan tetap dipertahankan dan terus dipertahankan dari renggutan maut.

***


Karya: Idrus.

KISAH DI KANTOR POS

Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan berhenti ujungnya di depan sebuah loket. Di atas loket itu tergantung sebilah papan bertulis dengan huruf-huruf putih mungli: Mengambil uang pos wesel bertanda C. Biasanya pos wesel yang bertanda C berjumlah di bawah seribu rupiah.

Yang berdiri paling depan dalam deretan itu, atau lebih tepat dikatakan bergayut pada kawat ranjang loket adalah seorang laki-laki berperawakan kurus kecil yang sekilas tampak sebagai karung goni kosong yang disampirkan ke kawat penjemuran. Kepala yang ditumbuhi rambut kelabu dengan sewenang-wenang dan tak terurus itu seperti dipertautkan begitu saja di atas tubuh kurus kecil itu. Dan yang lebih mengganggu ialah pakaian yang menempeli badannya, selain kelonggaran, pun tampaknya sudah berminggu-minggu belum pernah berganti.

Patutlah jika wanita di belakangnya selalu menekan sapu tangannya ke bawah hidupnya dan tetap menjaga jarak tertentu dari laki-laki itu. Mungkin untuk mengindari hal-hal yang kurang menyedapkan.

Tapi, laki-laki itu rupannya tidak memusingkan benar sama sekali perilaku perempuan di belakangannya itu. Perhatiannya selalu tercurah kepada kepada jendela loket di hadapannya  yang belum terbuka.

Tambahan lama tambah panjang juga jadinya antrean itu, karena orang-orang yang baru datang terus saja tegak menyambung. Tapi, jendela loket itu belum juga terbuka. Beberapa orang mulai bersungut-sungut dan malahan sudah ada yang mengomel keras-keras, karena sang pegawai belum tampak juga batang hidupnya. Dan deretan terus memanjang hingga mengganggu lalu-lalang ke loket lain.

Akhirnya, muncul juga pegawai yang ditunggu-tunggu. Seorang wanita separo baya, berkacamata, dalam gaun seragam lengkap dengan tanda-tanda kepegawaian yang terpancang di bahunya. Beberapa helai uban tampak di antara rambutnya yang tersusun rapi.

Setelah duduk di mejanya, sekejap ditatapnya deretan panjang di muka loket itu, seakan-akan hendak dihitungnya jumlah mereka. Dan sesaat wajahnya berubah mengerut. Dan semua mata dari deretan itu membalasnya dengan lontaran rasa jengkel yang tersekat.

"Ayo lekas, Bung!" kata si pegawai kepada orang pertama serentak derak jendela loket dibuka.

Laki-laki kurus kecil itu tersentak dan buru-buru disodorkannya pos weselnya ke dalam loket.

"Punya kartu pengenal?' tanya si pegawai.

Dari saku celananya laki-laki itu mengeluarkan kartu yang dimaksud dan sekali lagi menyodorkannya ke dalam loket. Si pegawai kini mencocokkan tanda tangan dalam pos wesel itu dengan tanda-tangan yang tertera dalam kartu pengenal. Lalu ia mulai membandingkan-bandingkan potret dalam kartu itu dengan muka laki-laki di hadapannya. Lakunya terang tidak menyenangkan laki-laki kurus kecil itu, tapi dia tentu mengerti dalam hal ini ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Kedua tanda tangan ini agak berbeda satu sama lain. Dan potret ini, benarkah ini potret saudara sendiri?" tanya si pegawai akhirnya.

"Mengapa? Itu potret saya dua tahun yang lalu..." "Dua tahun? Mengapa begini jauh berbeda?"

Laki-laki itu kini memandang tajam kepada si pegawai dan urat-urat di wajahnya meregang serempak. Tapi, ia tetap membisu. Apakah lantaran pandangan tajam itu, entahlah, tapi si pegawai kemudian berkata.

"Ya, kali ini biarlah tak mengapa. Sebaiknya saudara ganti kartu pengenal dengan potret yang terbaru. Sebab, maklumlah orang-orang sekarang rupanya lekas berubah jadi tua. Memang hari-hari masa kini lebih serakah menghisap usia kita. Nah, berapa jumlah yang harus saudara terima?"

"Tiga ratus."

Sambil menyerahkan uang dan kartu pengenal kepada laki-laki itu, si pegawai melanjutkan pula, "Coba lihat, dua tahun yang lalu saudara buat potret ini, dan sekarang hampir-hampir tak bisa dikenali lagi."

Laki-laki itu menerima uang dan kartu pengenalnya kembali dan dengan diam-diam pergi dari situ.

Menyusullah kemudian orang kedua dalam deretan itu mendapat giliran dan begitu seterusnya setiap orang bergerak maju satu demi satu ke depan loket menyodorkan pos weselnya masing-masing dan setelah mendapat pelayanan mereka pun pergi berlalu.

Banyak sudah yang telah mendapat giliran, tapi deretan itu seperti tak kunjung berkurang, karena yang baru datang pun mengalir terus tiada putus-putusnya. Detik-dekit menggelinding bagai butiran-butiran kalung bergerak bersama deretan panjang di muka loket itu.

Satu jam berlalu dan si pegawai masih terus sibuk di mejanya ketika tiba-tiba muncul kembali wajah laki-laki kurus kecil, orang yang pertama dilayaninya tadi, di muka loket seraya berkata, "Maaf Nyonya saya mengganggu lagi. Tidakkan tadi..."

"Nona!" sela si pegawai ketus. Seketika laki-laki itu diam termangu memandangi roman muka si pegawai wanita. Ada sedikit rasa mual naik membayang di wajahnya.

"Maaf Nona, saya tidak tahu," katanya kemudian. "Ya, ya. Ada apa lagi?" desak si pegawai.

"Tadi agaknya telah terjadi kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab..."

"Mana bisa keliru?" si pegawai menyela cepat."Seharusnya saya menerima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tidak salah sekianlah angka yang tertulis dalam pos wesel saya."

"Coba saya lihat dulu. Saya masih ingat nomor pos wesel saudara."

Lalu si pegawai memeriksa satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya, "Nah, ini wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda huruf C. Jumlah uang: tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah saudara tadi terima dari saya tiga ratus rupiah?"

"Tidak," jawab laki-laki itu. "Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar uang kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi."

Ada semacam perasaan ganjil yang menggelitik di hati "nona" itu hingga hampir-hampir ia menjerit karenanya dan itulah pula sebabnya ia tak membuka mulut sesaat lamanya. Kemudian ujarnya, "Oh, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru," katanya dengan kemalu-maluan. "Maklum banyak kerja. Lagipula lembaran-lembaran uang itu masih baru benar hingga mudah saja terlengket. Jadi, saudara mau kembalikan uang seratus rupiah itu kepada saya sekarang?"

"Betul, saya akan mengembalikannya kepada Nyonya..." "Nona!" sela si pegawai cepat.

"Oh, maaf. Mulanya saya akan kembalikan kepada Nona seratus rupiah. Tapi, ketika dari rumah saya bersepeda kemari, dengan tak terduga-duga ban sepeda saya meletus di tengah jalan. Terpaksa saya suruh orang menambalkan dan ongkosnya lima belas rupiah. Selain itu saya mesti menitipkan sepeda saya dekat kantor ini dan orangnya minta dibayar lima rupiah. Jadi,seratus rupiah diambil dua puluh rupiah sisanya adalah delapan puluh rupiah. Itulah yang akan saya kembalikan kepada Nona. Delapan puluh rupiah." Lalu disodorkannya sejumlah uang yang telah disebutkannya itu ke dalam loket.

Pegawai wanita itu menggeser kursinya ke belakang seolah-olah ia tiba-tiba merasa cemas melihat hidung laki-laki kurus di hadapannya itu. Kacamatanya bergerak-gerak resah.

"Delapan puluh rupiah?" pekiknya. "Mengapa delapan puluh? Sungguh saya tidak mengerti mengapa pula ban-ban sepeda yang meletus dihubung-hubungkan dengan soal ini? Oh, jangan berolok-olok... Saya tidak tahu apakah ban sepeda saudara meletus dengan tiba-tiba atau meledak seperti bom hidrogen. Saya tidak peduli apakah saudara menitipkan sepeda itu atau melemparkannya di jalan. Bahkan saya tidak tahu apakah benar-benar anda memiliki sebuah sepeda. Dan saya memang tidak peduli pada semua itu. Yang saya tahu pasti ialah saudara telah mengakui di hadapan saya dan semua khalayak di muka loket ini bahwa saudara telah menerima kelebihan selembar uang kertas ratusan dari saya. Dan jumlah itulah yang harus saya terima kembali. Sesen pun tidak boleh dikurangi. Ketahuilah bahwa uang itu bukan milik saya, tapi milik negara!"

Kata-kata si pegawai memberondong demikian cepat bagaikan peluru-peluru yang mendesing memerahkan daun telinga laki-laki kurus kecil itu. Biji matanya melotot berputar-putar cepat seolah-olah hendak melompat keluar dari kedua bela matanya.

"Tapi, Nona harus mengerti pula," ujarnya kemudian dengan suara menggelegar.

"Kedatangan saya kembali bukanlah menjadi urusan saya, tapi semata-mata adalah demi kepentingan Nona..."

"Sudah saya bilang tadi, itu saya tidak peduli! Jangan buang-buang waktu. Yoh cepat! Kembalikan uang itu! Huru-hara itu telah menyebabkan deretan panjang yang teratur itu jadi bubar berantakan. Semua orang sekarang sama menggerundel dekat loket. Dan sudah barang tentu mereka telah mengikuti dengan seksama pertengkaran antara laki-laki kurus dengan si pegawai wanita di belakang loket itu. Umumnya mereka sependapat, peristiwa ini adalah sesuatu yang menarik juga, meskipun karenanya waktu mereka jadi tersia-sia.

Sebagian bersikap acuh tak acuh dan sebagian lagi telah menyimpulkan penilaian masing-masing.

"Si pegawai wanita itu memang cerewet." Inilah pendapat sebagian dari mereka. "Si tua itu kepingin benar dipanggil nona. Benarkah ia masih nona? Itu bukan soal utama. Yang jelas ialah bahwa ia, si tua itu, tak dapat menghargai kejujuran yang begitu bersih. Si tua itu seharusnya sudah puas menerima, misalnya separo dari jumlah uang yang telah dikelirukannya. Siapakan orangnya sekarang yang sudi tersuruk-suruk datang kembali ke loket itu untuk menyerahkan kembali uang yang telah berada di tangan?"

"Laki-laki kurus itulah yang sebenarnya tolol, kalau tidak mau disebut gila!" Ini adalah pendapat setengah yang lain. "Apa guna ia datang terengah-engah untuk menyerahkan kembali rezeki mujur yang telah diperolehnya dari si tua itu? Tidakkah lebih baik jika ia membelanjakan saja untuk dirinya? Bukankah seratus rupiah banyak pula gunanya? Lebih-lebih di zaman uang seret  seperti sekarang ini? Oh, si goblok yang tak tahu diri, biarlah dirasainnya sendiri akibat ketololannya."

Seorang laki-laki berbadan tegap laksana reruntuhan sebuah candi yang baru saja mendapat gilirannya, akhirnya tak dapat menahan hati dan ikut pula menengahi, ia berkata kepada laki-laki kurus itu.

"Apakah yang mendorong saudara dari jauh datang kembali untuk mengembalikan uang itu?"

Laki-laki kurus itu berpikir sejenak dan berkata-kata yang patut untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan yang datang tiada tersangka-sangka itu.

"Saya merasa," katanya. "uang itu bukan milik saya, jadi saya tidak berhak atas uang itu makan harus saya kembalikan pada yang berhak."

Barangkali disebabkan oleh susunan kalimat yang baru didengarnya itu, tapi laki-laki tegap itu memang termangu sejenak, ia merasa dirinya berada dalam sebuah masjid mendengar fatwa yang bernada agung dan bergaung kudus, atau serupa ia menemukan satu kalimat yang bagus dan mengesankan dari buku yang sedang dibacanya.

"Saya sungguh-sungguh terharu menyaksikan kejujuran saudara, " katanya kemudian."Jarang saya jumpai orang sejujur saudara. Kejujuran seperti ini patut kita hargai."

Tiba-tiba saudaranya jadi sangat  gembira, "Wajiblah kita menghormati saudara. Bahkan layak bila saudara kami dandani dengan pakaian kebesaran, lalu rame-rame kita arak saudara kami dandani dengan pakaian kebesaran, lalu rame-rame kita arak saudara menuju ke rumah Bapak Wali kota. Tidaklah berlebihan kalau saya katakan, kesempatan seperti ini harus kita rayakan secara besar-besaran!"

Laki-laki kurus itu ternanar. "Mudah-mudahan itu hanya olok-olok saja," pikirnya, karena tidaklah dapat dibayangkan bagaimana ia dalam pakaian kebesaran itu diarak beramai-ramai ke rumah Bapak Wali Kota. 

"Nah, sekarang masukkan kembali kembali ke kantong saudara delapan puluh rupiah itu," ujar laki-laki berbadan tegap itu pula. "Seratus rupaih akan saya keluarkan dari kantong sendiri untuk menggantikannya," seraya berpaling kepada si pegawai dalam loket dan menyodorkan satu lembar kertas ratusan seraya berkata, "Terimalah kembali uang ini, Nyonya..."

"Nona!" cetus si pegawai wanita.

"Maaf Nona manis," lalu kepada laki-laki kurus katanya, "Sekarang soalnya sudah beres. Mari kita sama-sama pergi dari tempat ini."

Mereka menguak kerumunan orang banyak yang mengelilinginya dan berdua melangkah meninggalkan tempat itu. Semua mata serupa terpesona mengikuti mereka sampai hilang ke balik pintu besar ruangan itu. Setiba mereka di tempat penitipan sepeda, laki-laki kurus pun berkata dengan suara penuh hormat kepada kawan barunya itu, "Saya mengucapkan terima kasih atas kemurahan saudara..."

Tiba-tiba kawannya itu pecah dalam gelak terbahak-bahak yang tentunya membuat si kurus jadi heran terlongo-longo. "Saudara sama sekali tidak usah berterima kasih kepada saya," ujar si tegap. "Sebenarnya uang yang saya kembalikan tadi itu bukanlah uang saya.."

Si kurus belum mengerti.

"Seperti yang saudara alami sebelumnya, begitulah si Nona manis itu telah berkenan memberi ekstra pula kepada saya sejumlah seratus rupiah."

Kini si kurus sudah mengerti dan benar-benarlah sekujur tubuhnya menggigil menahan amarahnya.

"Saya orang melarat," katanya serak, Tidak tahulah saya adakah besok mampu membeli beras untuk mereka. Tapi, olok-olok saudara itu tidak dapat saya terima. Harus saya kembalikan uang ini kepadanya."

Cepat si kurus membalik. Terhuyung-huyung ia lari menuju pintu kantor pos dan menghilang di sana.

Si tegap berdiri takjub. Tanya di dalam hatinya tak junjung terjawab, "Benarkah ada orang seaneh itu?


Karya: Muhammad Ali

ANAK SERIGALA YANG MALANG

Pada suatu hari ada keluarga rusa yang hidup bahagia. Meskipun belum dikaruniai anak, mereka tampak sabar. Sehari-hari mereka bekerja di sawah. Seperti biasanya mereka bertanam padi, jagung, dan tanaman lainnya. Sore hari dalam perjalanan pulang ke rumah mereka menemukan anak serigala yang masih bayi dan di sampingnya ada seekor serigala betina yang terkapar tidak bernyawa. "Bu, ini ada bayi serigala, kasihan ya, dia tinggal mati ibunya." Kata rusa  jantan. "Ya Pak, kasihan ya, bagaimana kalau kita pungut jadi anak?" rusa jantan berpikir lalu berucap, "Bagaimana kalau besar nanti, kan membahayakan kita Bu? Tanya rusa jantan. "Jangan berpikir yang bukan-bukan Pak, kita mau menolong, mudah-mudahan suatu saat kita juga ditolong orang Pak!." "Ya sudahlah kalau begitu" jawab rusa jantan.

Sudah satu tahun tak terasa, bayi serigala diasuh dengan kasih sayang dan belaian cinta kasih oleh rusa. Mereka menjadi keluarga yang bahagia. Kebahagian mereka bertambah ketika rusa betina melahirkan bayi jantan yang sangat manis. Kedua rusa memberikan kasih sayang yang sama kepada kedua anaknya walaupun seringala anak pungut.

Pada suatu hari kedua rusa akan bekerja di sawah, mereka menitipkan anaknya pada serigala. "Nak saya menitipkan adikmu di rumah ya, jaga dia ya, dia adalah adikmu sendiri." Serigala yang mulai tumbuh dewasa menjawab "Ya Bu, aku pasti menjaganya, dia adalah adikku, harus aku jaga!" Betapa senangnya  hati rusa mendengar kata-kata anak pungutnya.

Pada siang hari sewaktu rusa bekerja di sawah, dikagetkan oleh suara teriakan serigala."Bu, Bu, tolong-tolong pulang sebentar, adik, adik...!" " Adikmu kena apa?" Tanya rusa betina. Kedua rusa sangat kaget, dan tambah kaget lagi ketika melihat mulut serigala penuh darah. "Waduh Pak, anak kita pasti dimakannya, lihatlah mulut serigala penuh darah." Kedua rusa sangat marah. Dipukulnya berkali-kali serigala itu. "Kamu pasti memakan adikmu ya, tak kusangka kamu berbuat kejam, kamu saya rawat dari kecil tidak tau balas budi, malah memakan adikmu sendiri, dasar serigala ya tetap serigala!" kata rusa betina. Serigala berusaha menjawab "Bu, bukan Bu...." "Tidak, kamu jahanam," kata rusa. Kedua rusa memukuli serigala terus-menerus dan menyeretnya ke tepi sungai yang mengalir deras.

Kedua rusa sangat terpukul atas peristiwa itu. Mereka buru-buru pulang. Alangkah kagetnya ketika sampai di rumah melihat anaknya masih sehat dan selamat di atas ayunan. Di bawah ayunan terdapat ular besar yang tergeletak mati berlumuran darah. "Pak, serigala tidak bersalah, dia yang menyelamatkan anak kita dari ular besar, mulutnya penuh darah karena beradu dengan ular" kata rusa betina. "Ya, Bu mari kita dari ular besar, mulutnya penuh darah karena beradu dengan ular" kata rusa betina. "Ya, Bu mari kita cari serigala." Jawab rusa jantan.

Mereka berlari menuju ke pinggir sungai tempat serigala diseret, tetapi mereka tidak menemukan serigala. Mereka mencari di sepanjang aliran sungai, tetapi tidak menemukan serigala. Mereka sangat menyesal. Kedua rusa menangis tak henti-hentinya. Mereka sangat menyesal. Mengapa mereka berprasangka buruk terhadap serigala yang tidak bersalah. Kedua rusa pulang ke rumah, setiap sore kedua rusa dan anaknya pergi ke sungai menunggu kalau-kalau serigala masih hidup dan muncul.

KASIH SAYANG SEORANG IBU

Segala nasihat dari ibunya tidak satupun yang diindahkan. Sampai-sampai ibunya mengeluarkan kata-kata pantangan, yang mestinya bukan pada tempatnya diperuntukkan pada anaknya.

"Kamu memang anak durhaka! Anak yang tak mau membalas budi. Kalau selalu demikian tingkahmu, yah....saya rela kehilangan kau!". Namun si Cengkuk tidak menggubris kata-kata ibunya.

Dia selalu saja menuruti nafsu iblisnya. Berjudi, mencuri, menipu dan...pekerjaan hina lainnya. Mula-mula kebiasaan mencuri ini hanya terbatas milik ibunya saja. Tetapi setelah ibunya dibuat melarat dan tak ada harta yang pantas dicuri, Cengkuk mulai berani mencuri kepunyaan orang lain. Semua itu hanya buat foya-foya dan untuk berjudi.

Baru-baru ini secara diam-diam Cengkuk menjual tanah pekarangan ibunya yang tinggal sejengkal, kepada seorang rentenir kaya di desanya. Akibatnya ibu Cengkuk yang sudah tua ini terpaksa diusir oleh si rentenir, karena tanah yang sudah dibeli itu akan ditanami. Inilah awal mulanya sampai sang ibunya sampai hati mengeluarkan kutukan.

"Anak terkutuk! Hu....hu....hu....." ujar ibunya diantara isak tangis.

"Ha.....ha.....ha, kutukanmu mana terwujud! Kutukan manusia macam  kamu itu hanya bisa terjadi pada kecoak! Ha....ha...." ujar Cengkuk sambil pergi meninggalkan ibunya yang menangis tersedu-sedu.

Ibu Cengkuk terpaksa menumpang pada orang lain, karena sudah tak punya tempat tinggal lagi. Cengkuk sendiri sejak itu tak pernah muncul lagi. Entah kemana saja perginya. Yang jelas ia pergi membawa uang hasil penjualan tanah pekarangan ibunya, untuk mendatangi arena judi dimana saja berada.

Minggu-minggu pertama nasib Cengkuk memang mujur. Dia selalu menang dalam perjudian. Tetapi lambat laun kemenangan itu sirna, berganti kekalahan yang selalu diderita. Akhirnya uangnya habis sama sekali. Akan menjumpai ibunya lagi sudah tak mungkin, dia merasa malu. Jalan satu-satunya terpaksa menumpang pada pamannya yang berada di desa lain. Kini Cengkuk baru menyesali perbuatannya selama ini. Rasa berdosa selalu menghantui jiwanya.

Akhirnya Cengkuk jatuh sakit. Sakit yang tak kepalang tanggung parahnya. Berbagai obat telah dicoba, namun hasilnya nol. Cengkuk tetap saja berada diantara hidup dan mati.

Setelah dengan obat-obatan tak mempan, paman Cengkuk terpaksa mendatangkan dukun. Dan dukun yang didatangkan ini bukan sembarang dukun, melainkan dukun yang benar-benar ahli dalam segala penyakit luar dan dalam.

Namanya Kyai Sodikin. Seorang tua yang bijaksana dan sangat ahli dalam bidangnya. Cengkuk pun segera diperiksa. Cara memeriksa tidak seperti kalau seorang dokter memeriksa pasiennya. Kyai Sodikin mempunyai cara-cara tersendiri sebagai layaknya seorang dukun pada waktu itu.

Dimintanya kemenyan madu. Kemenyan itu dibakar. Setelah itu kelihatan Kyai Sodikin komat-kamit mulutnya mengucapkan mantera. Sejenak kemudian....

"Penyakit anak ini tak dapat sembuh kecuali ibunya sendiri yang menyembuhkan....!" ujar Kyai Sodikin pelan. Paman Cengkuk terkejut.

"Hah.....bagaimana Kyai? Kenapa harus ibunya yang bisa menyembuhkan?"

"Ya....sebab penyakit anak ini akibat kutukan ibunya. Maka hanya ibunya yang bisa menyembuhkan?" kata Kyai Sodikin lagi.

"Sekarang sebaiknya ibu anak ini diberi tahu dan diajak kemari....!"

"Oh ya! Baik Kyai. Tetapi bagaimana kalau tidak mau datang?"

"Hem....! Begini, jangan dikatakan tentang anak ini. Ajak saja ibunya kemari tanpa membicarakan anaknya yang sakit.....!"

Ibu Cengkuk sudah berada di rumah paman. Kyai Sodikin mendekati dan berkata....

"Kamu punya anak yang bernama Cengkuk?"

"Benar Kyai. Tetapi aku tak sudi mengaku lagi! Anak itu jahat, durhaka dan berani sama orang tua! cetus ibu Cengkuk masih diliputi rasa dendam.

"Hmmm......! Tetapi bagaimanapun dia anakmu. Dan kini sedang sakit parah tak mungkin sembuh tanpa ucapan pemberian maaf dari ibunya.....?

"Hah! Biarlah saja Kyai. Mati pun aku tak menyesal. Biar dia mati!"

"Jangan begitu, ah. Kasihanilah sedikit. Beri dia maaf...."

"Tidak! Bagaimanapun aku tidak akan memberi maaf. Biar dia mati tersiksa sampai mat!"

"O begitu? Yah.... daripada Cengkuk tersiksa antara hidup dan mati lebih baik saya sempurnakan saja! Biar tak memperpanjang penderitaan....."

Selesai berkata begitu, kyai Sodikin meninggalkan tempat duduknya bergegas menuju ke kamar Cengkuk sambil menghunus pedang yang selalu dibawanya. Paman Cengkuk terkejut, demikian pula ibu Cengkuk. Akan berbuat apakah Kyai Sodikin ini? Pikir mereka. Serta kedua orang itu menyusul ke dalam kamar Cengkuk, ingin tahu apa yang akan diperbuat Kyai Sodikin dengan pedang itu.

"Daripada menanggung siksa yang tak terhingga, padahal ibunya tak mau memberi maaf maka lebih baik anak ini saya bunuh saja!" ujar Kyai Sodikin sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ibu Cengkuk terkejut, dan.....tanpa disadari terlontar ucapannya...

"Kyai.....jangan! Jangan bunuh anakku.....!"

"Tidak! Anak ini harus saya bunuh! Ini lebih baik daripada harus menanggung siksa yang tak terhingga!" ucap Kyai Sodikin seakan tak peduli.

"Oh Kyai...jangan...jangan bunuh anakku....! Baiklah saya memaafkan dia, asal tidak dibunuh..." Pinta ibu Cengkkuk menimbulkan iba.

"Benar Kyai......kumaafkan segala kesalahannya......"

Aneh, setelah mendengar ucapan pemberian maaf dari ibunya itu, berangsur-angsur sakit Cengkuk sembuh dan akhirnya sembuh sama sekali.

Kini Cengkuk telah kembali keadaannya berkumpul menjadi satu dengan ibunya lagi. Perbuatan tercela dimasa lalu tidak diulangi lagi. Kini Cengkuk telah menjadi anak yang baik, penurut, soleh, dan penuh hormat kepada orang tuanya yang tinggal seorang itu.

DEWI LIMARAN

Dahulu kala di wilayah kerajaan Jenggala (sekarang Kota Kediri) terdapat sebuah desa yang bernama Wonosekaran. Desa tersebut terletak di tepi sungai dan dikelilingi oleh hutan yang lebat. Di desa itu hidup lima nenek-nenek yang sangat miskin dan susah, namun mereka semua rukun dan bergotong royong. Setiap harinya pekerjaannya mencari ikan dan mencari dedaunan di hutan kemudian dijual di pasar. Rumah mereka memecar di sebelah barat, timur, utara dan selatan serta satu lagi di tengah. Rumah yang berada di tengah ini dihuni oleh nenek yang bernama nenek Sambadil.

Suatu hari nenek Sambadil badannya agak sakit sehingga bangun kesiangan. Karena kesiangan, ia ditinggal oleh teman-temannya pergi ke pasar. Ia sangat sedih sekali. Lebih sedih lagi ketika seharian memancing, kailnya belum juga mendapat ikan. Akhirnya ia pulang dengan wajah suram dan kesal sebab tidak ada lauk untuk makan di hari itu. Dalam perjalanan, tiba-tiba nenek Sambadil melihat benda yang berkilauan merambat. Benda itu ternyata seekor keong yang hampir terinjak kakinya. Rumahnya sangat bersinah, berwarna kuning seperti emas! Nenek Sambadil sangat senang hatinya, sehingga menyebutnya keong emas. Keong itu kemudian dibawa pulang dan dipeliharanya dengan baik.

"Kamu tunggu di sini ya keong emas. Nenek mau cari dedaunan di hutan," gumam nenek Sambadil pergi mencari dedaunan di hutan.

Anehnya, di hutan nenek Sambadil mendapatkan daun yang banyak sekali dan ketika dijual di pasar ternyata laku semuanya sehingga keuntungannya benar. Dengan senang hati ia bergegas pulang karena belum menanak nasi dan membersihkan rumah. Namun betapa terkejutnya nenek Sambadil ketika membuka pintu, ternyata rumahnya telah bersih, lantainya telah disapu dan telah tersedia makanan di meja makan. Ia heran siapa yang berbuat demikian baik terhadapnya? Mencoba menanyakan pada teman-temannya namun mereka merasa tidak pernah membersihkan rumah dan menanak nasi untuk nenek Sambadil. Bahkan teman-temannya mengatakan bahwa nenek Sambadil sudah mulai pikun.

Keesokan harinya, seperti biasa nenek Sambadil mencari ikan dan dedaunan di hutan. Setelah di jualnya di pasar, ia pun segera pulang ke rumah. Namun ia terkejut lagi kali ini, karena rumahnya bersih kembali dan lebih bersih dan kemarin. Nenek Sambadil tak habis-habisnya berpikir. "Ah mungkin ini perbuatan Bidadari yang baik hati," pikirnya, namun ia tetap ingin mengetahui siapa bidadari itu.

Keesokkan harinya lagi, Nenek Sambadil pura-pura mengail ikan dan mencari dedaunan di hutan, namun sebenarnya ia bersembunyi di bawah pohon pisang di depan rumahnya. Ia ingin tahu siapa bidadari yang masuk rumahnya itu. Namun ketika ditunggu sampai siang hari seperti ketika ia pulang dari pasar belum juga kelihatan bidadari yang masuk rumahnya itu. Dan ketika ia masuk, ternyata telah tersedia di rumahnya makanan berikut lauknya Nenek Sambadil benar-benar merasa heran dengan kejadian ini.

Pada hari berikutnya Nenek Sambadil tidak pergi mencari ikan dan dedaunan di balik guci yang besar. Ia kini benar-benar ingin melihat siapa bidadari yang memasakkan dan membersihkan rumahnya itu. Setelah menunggu beberapa saat kini nenek Sambadil benar-benar terperanjat, karena melihat seorang putri cantik jelita keluar dari belanga tempat memelihara keong emasnya dan ketika putri itu menanak nasi, hup, segera ditangkap oleh nenek Sambadil.

"Oh, nenek yang baik hati tolonglah saya...." kata putri yang cantik tersebut. Sambil menangis menceritakan dirinya. "Nama saya sebenarnya adalah Dewi Limaran, permaisuri Raden Putra, yaitu seorang pangeran peri yang jahat, saya dijadikan seekor keong dan hanya bisa kembali menjadi seorang putri jika keong tadi ada yang memelihara dengan ikhlas.

Wah senang sekali hati nenek Sambadil mendapat teman seorang putri cantik dan baik hati. Karena senangnya, ia memberi nama Dewi Limaran, Putri Keong Emas.

Suatu hari terdapat serombongan orang yang sedang berburu. Rombongan tersebut dipimpin oleh seorang pangeran yang ternyata bernama Raden Putra. Paden Putra didampingi oleh pembantunya yang bernama Ki Jodeh dan Sonta. Perburuan mereka hari itu tak mendapatkan apa-apa sehingga sangat mengecewakan dan melelahkan. Sang pangeran segera mengutus salah satu pembatunya di desa terdekat untuk meminta minum dan ikut bermalam jika diperbolehkan.

Ki Jodoh pergi ke Desa Wonosekaran. Dilihatnya keadaan desa tersebut sangat sepi, semua rumah telah tertutup pintunya kecuali satu yang masih tampak lampunya berkelip-kelip dari kejauhan. Setelah didekati ternyata rumah  nenek Sambadil. Ki Jodel segera mengutarakan maksudnya dan ternyata disetujui oleh nenek Sambadil. Ki Jodel segera mengutarakan maksudnya dan ternyata disetujui oleh nenek Sambadil. Ki Jodel segera mohon pamit serta tak lupa membawa air kendi pemberian nenek Sambadil untuk minum Pangeran Putra.

Pada suatu hari Putri Keong Emas sedang menyajikan makanan, sang Pangeran merasa tertarik pada sang putri. Ia beranggapan, Putri Keong Emas mirip sekali dengan isterinya yang hilang.

Kemudian sang Pangeran segera menanyakan hal itu kepada Putri Keong Emas, "benarkan Ia Dewi Limaran permasuri Pangeran Putra dari Kerajaan Jenggala?" Maka dijawablah oleh Putri Keong Emas bahwa memang betul dia adalah Dewi Limaran dari Kerajaan Jenggala. Oooooo........h betapa terharunya  hati Pangeran Putra. Ia merasa bahagia sekali dengan pertemuan ini. Seketika itu pula Sang Pangeran ingin memboyong Putri Keong Emas bisa pulang ke Jenggala. Keberangkatan ke Kerajaan Jenggala, diiringi tetabuhan tersebut. Putri Keong Emas akan menjadi seekor keong lagi dan tidak akan bisa berjumpa dengan Sang Pangeran.

Pangeran segera mengutus Ki Jodoh dan Ki Sonta pulang ke Jenggala untuk mendatangkan rombongan penabuh musik Lokananta.

Selanjutnya, setelah rombongan penabuh musik Lokananta datang bersama Ki Jodeh dan Ki Sonta. Putri Dewi Limaran segera ditarik ke Jenggala bersama Sang Pangeran Putra. Tak lupa nenek Sambadil pun ikut diboyong ke kerajaan Jengala. 

Akhirnya Pangeran Putra tak merasa bersedih lagi karena telah didampingi permaisurnya Dewi Limaran atau Putri Keong Emas yang cantik dan Berbudi.


Karya: Bambang Waluyo

DUA KERANJANG AJAIB

Ada seorang lelaki tua beristri buruk perangainya. Karena mereka tidak mempunyai anak, ia memelihara baik-baik seekor pipit. Setiap hari, bila pulang dari pekerjaannya, ia berbicara dengan burung pipit sampai tiba saatnya makan. Ia memperlakukan burung itu seperti anaknya sendiri, tapi istrinya sebaliknya, dia membenci burung pipit itu. Ia selalu memarahi suaminya bila sedang bercanda dengan burung pipit.

Suatu hari lelaki tua itu sedang bekerja di ladang. Istrinya sedang mencuci dan memasak kanji. Perempuan itu menaruh kanji yang telah masak di sebuah gentong kayu agar menjadi dingin. Tanpa setahu perempuan itu, burung pipit hinggap di tepi gentong dan memagut-magut campuran kanji. Tiba-tiba perempuan itu menoleh dan marah sekali. Lalu ditangkapnya burung pipit itu dan digunting lidahnya hingga putus.

Akhirnya burung itu dilemparnya ke udara, "Sekarang pergilah kau dari sini. Burung kotor brengsek!" teriaknya.

Burung itu terbang dan kembali ke hutan. Tak lama kemudian orang tua itu pulang dari ladang. Ia tidak mendapati burung pipitnya. Binatang kesayangannya itu dicarinya ke mana-mana. Orang tua itu tidak henti-henti bertanya kepada istrinya. Akhirnya istrinya mengakui perbuatannya. Orang tua itu menyesali perbuatan istrinya. Keesokan harinya, ia berangkat ke hutan untuk mencari burung ke-sayangannya. Ia memanggil-manggil," Hai pipit di manakah engkau berada" Aneh. tiba-tiba burung itu muncul dan berubah wujud. Kali ini tidak lagi sebagai burung pipit yang pernah dikenal orang tua itu, tetapi sebagai seorang wanita berparas cantik jelita. Seperti seorang dewi dari kayangan.

Jangan terkejut Hai orang tua." Kata burung pipit "Aku adalah burung peliharaanmu dahulu." Perlu kau ketahui, aku adalah jelmaan dewi dari kayangan. Mari singgah ke rumahku." Ajaknya.

Orang tua itu mengikuti dewi jelmaan pipit ke tempat kediamannya. Di sana ia mendapat pelayanan istimewa. Selain itu, tempat kediaman dewi begitu megah dan agung bagai sebuah istana. Dindingnya berlapis emas dan setiap sudut dihiasi permata.

Selain suguhan dan makan minum, dewi juga mengadakan atraksi tarian. Orang tua itu semakin senang hatinya. Tidak terasa, matahari sudah condong ke barat. Hari mulai gelap.

"Aku harus segera pulang, hari sudah mulai gelap," kata orang tua itu pada Dewi. "Istriku tentu mencari bila aku terlambat pulang."

"Baiklah Pak Tua, atas budi jasamu, aku memberikan hadiah. Namun pilihlah salah satu dari dua keranjang yang aku tunjuk ini."

Dewi jelmaan pipit memperlihatkan dua buah keranjang. Keranjang yang besar sangat berat, sedangkan yang kecil sangat ringan. Karena orang tua itu tidak mempunyai sifat tamak atau serakah, ia memilih keranjang kecil.

Sesampai di rumah, orang tua itu menceritakan pada istrinya perihal pertemuannya dengan burung pipit dan pemberian hadiah berupa keranjang. Hadiah itupun dibuka istrinya. Betapa terkejutnya kedua suami istri itu melihat keranjang pemberian Dewi berisi emas, perak, intan serta permata. Semua itu akan membuat mereka kaya raya seumur hidup. Meskipun demikian istri orang tua itu seperti tidak puas. Dia menginginkan lebih banyak lagi.

"Kamu bodoh sih! Kenapa tidak mengambil keranjang yang besar? Kita harus memperoleh lebih banyak dari itu. Kalau begitu aku akan mengambil keranjang yang besar dan berat itu," kata istrinya memarahi orang tua itu.

Tanpa berpikir panjang lagi, istri orang tua itu pergi ke hutan dengan menyamar sebagai pengemis. Dia memakai sandal jerami dan baju sobek-sobek.

Seperti cerita suaminya, wanita berhati jahat ini berjumpa dengan seorang putri jelita. "Yah mungkin ini yang dimaksud jelmaan pipit yang pernah kupotong lidahnya dahulu itu" pikirnya.

"Saya harus sekali tuan putri......", rengek wanita tua itu penuh derita. "Berilah aku minum atau sedikit makanan."

Dewi jelmaan pipit mempersilahkan pengemis wanita itu singgah di kediamannya. Disuguhkan makan-minum yang enak dan lezat.

Setelah beberapa saat kemudian, seperti suaminya, Dewi memberikan hadiah, tetapi terlebih dahulu pengemis itu harus memilih satu dari dua buah keranjang yang diperlihatkan.

Karena tamaknya, wanita tua itu memilih keranjang yang besar dan berat. Begitu beratnya sehingga ia sendiri hampir tak sanggup mengangkat, tapi dipaksakan juga.

Tepat di pinggir sungai, wanita tua itu beristirahat. Hasrat untuk melihat isi keranjang menggebu-gebu. Tanpa pikir panjang legi dia membuka keranjang itu. Apa yang terjadi? Bukan seperti isi keranjang permata yang dibawa suaminya: emas, perak, intan dan harta lainnya, melainkan makhluk-makhluk yang berwajah menakutkan. Kepala setan, lebah raksasa, katak, ular dan sebagainya. Langsung wanita tua itu pingsan seketika. Setelah sadar ia mengambil langkah seribu dan pulang ke rumahnya.

Sejak itu wanita tua merubah sifat yang tamak dan buruknya. Kini setiap pagi dengan penuh kasih sayang ia selalu memberikan makan burung-burung pemeliharaan suaminya.


Karya: Bambang Waluyo

SUNGAI

Setiap kali menyeberangi sungai, Sersan Kasim merasakan suatu keharuan mendenyutkan jantungnya. Seolah-olah ia berpisah dengan sesuatu, sesuatu dalam hidupnya. Makin besar sungai itu, makin besar pula keharuan yang menggetarkan sanubarinya.

Kini, kembali ia akan menyeberangi sebuah sungai. Sekali ini bukan sungai kecil, melainkan salah satu sungai yang terbesar di Jawa Tengah: Sungai Serayu.

Sersan Kasim adalah kepala regu 3, pleton 2 dari kompi TNI terakhir yang akan kembali ke daerah operasinya di Jawa Barat. Tentara Belanda telah menduduki Yogya, persetujuan gencatan senjata telah dilanggar, dan republik tidak merasa terikat lagi oleh perjanjian yang sudah ada.

Jam satu malam; cuaca gulita dan murung, hujan turun selembut embun namun cuku membasahkan. Hati-hati Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing yang curam dan licin. Ia sendiri berjalan sangat hati-hati, menggendong bayi pada panggulnya, sebelah kiri. Dari bahu kanan menggantung sebuah sten. Hanya samar-samar matanya yang tertatih melihat orang yang berjalan di depannya. Untuk memudahkan penglihatan, tiap-tiap prajurit yang kurang penglihatannya, memasang sepotong cendawan yang berpijar pada punggung kawan yang berjalan di mukanya.

Sepuluh tahun yang lalu, pada Bulan Februari 1948, Sersan Kasim juga menyeberangi Sungai Serayu dengan kompinya. Tatkala itu mereka berjalan ke arah timur. Persetujuan Renville telah ditandatangani dan pasukan-pasukan TNI harus hijrah dari kantong-kantong dalam wilayah de facto Belanda. Banyak di antara bintara dan prajurit yang membawa serta anak dan isterinya yang belia sudah lima bulan mengandung. Namun, ia memaksa mengikuti suaminya ke wilayah kekuasaan republik. Pernah terpikir oleh kasim untuk menitipkan isterinya kepada mertuanya di Pager Agung. Tapi tidak sempat Aminah tidak mau ditinggalkan. Ia berisi tegang hendak ikut dan siapa yang dapat bertahan terhadap sifat keras kepala wanita yang mengandung?

Dua bulan setelah mereka tiba di Yogya, Acep dilahirkan. Matanya hitam tajam, meskipun badannya sangat kecil, dan rambutnya lebat seperti hutan di Priangan. Tapi untuk melahirkan anaknya, Aminah menggunakan sisa-sisa tenaga rapuhnya yang terakhir. Ia meninggal sehari kemudian karena kepayahan. Acep dapat dipertahankan hidupnya berkat rawatan khusus para dokter dan juru rawat di rumah sakit tentara.

Kini Sersan Kasim berjalan kembali ke Jawa Barat. Kali ini jarak Yogya ke Periangan Timur harus mereka tempuh dengan berjalan. Tidak ada truk Belanda yang mengangkut, tidak ada kereta api republik yang menjemput. Mereka berjalan kaki menempuh jarak lebih dari 200 kilometer, turun lembah, naik gunung, menyeberangi sungai kecil dan besar.

Akhirnya mereka tiba kembali di tepian Sungai Serayu, akan tetapi jauh di hulu, di kaki pegunungan di daerah Banjarnegara. Kini tiada jembatan, tiada titian. Mereka harus terjun ke dalam air.

Perlahan-lahan Sersan kasim menuruni tebing yang curam. Ia mengigil dilanda angin pegunungan dari seberang lembah. Dengan cermat dia perbaiki letak selimut berlapis dua yang menutupi Acep dalam gendongan, biji matanya, harapan idam-idamannnya. Kemudian dengan satu gerakan dia usap air hujan pada wajahnya sendiri. Ia menggigil lagi. Iring-iringan sekonyong-konyong berhenti. Prajurit di depannya juga menggigil. Mereka menggigil berdekat-dekatan.

Kemudian ada pesan dari depan.

"Kepala regu kumpul" dibisikkan dari mulut ke mulut. Kasim berjalan ke muka. Komandan peleton sudah menanti di depan regu I. Mereka menerima instruksi mengenai penyeberangan.

Menurut intelegence, musuh menjaga tepian sana dengan kekuatan satu kompi. Sungai diawasi mulai bagian yang airnya setinggi perut. Karena itu pasukan akan menyeberangi lebih ke hilir. Ada kemungkinan air mencapi dada. Perintis telah menyiapkan tali untuk berpegangan.

"Ada pertanyaan?" tanya komandan peleton.Tak ada yang menyahut. Samar-samar Sersan Kasim melihat pandangan komandan tertuju kepadanya.

"Bagaimana bayimu?" tanya komandan.

"Tidur, Pak," jawab Kasim singkat.

"Kalau pikiranmu berubah masih ada waktu untuk menitipkannya kepada barisan keluarga."

Kasim tak segera menjawab. Sebentar pikiranya melayang kepada para wanita dan kanak-kanak yang dititipkan kepada pak lurah dan penduduk Karang Boga. Kalau situasi aman mereka akan diseberangkan sedikit demi sedikit oleh rakyat. Mereka akan dijemput oleh satu regu di seberang sungai setelah diberi tahu oleh kurir.

"Sersan Kasim tinggal. Lainnya bubar," kata komandan menebus kesepian....kepala regu lainnya kembali kepada anak buahnya.

Lagi Kasim merasa pandangan komandan tertuju kepadanya dan kepada anaknya. Kasim tahu apa arti pandangan itu. Ya, ia tahu apa maknanya. Komandanya bertanya apakah ia menyadari, bahwa tangis satu bayi dapat membawa kebinasaan bagi seluruh kompi. Bahwa bayinya, si Acep, dapat membahayakan jiwa lebih dari seratus orang prajurit. Itulah yang tersirat dalam pandangan komandan.

Pandangan komandan itu seolah-olah berkata, "Kompi 3 Batalyon B yang kehilangan 16 orang prajurit dan sepuluh keluarga, karena serangan mendadak oleh musuh. Hanya karena seorang bayi menangis. Tangis yang dengan cepat menular pada beberapa anak kecil lainnya."

Samar-samar Sersan Kasim mendengar deru sungai di bawah. Dia membayangkan kesunyian malam yang aman, dirobek-robek oleh letusan senjata. Dia membayangkan kompinya terjebak di tengah-tengah sungai, tak berdaya.

Tat kala itu Acep bergerak-gerak dalam gendongan bapaknya. Kasim merasakan anaknya menyusup-nyusupkan kepada ke dadanya, ke ketiaknya, seakan-akan mencari perlindungan yang lebih aman. Rasa sayang membual keluar dan menyesakkan kerong-kongan Sersan Kasim. Anakku yang tak sempat mengenal ibunya, pikirnya. Anakku yang disusui oleh botol. Anakku yang tak berkerabat kecuali bapaknya. Dan kini ia harus dititipkan kepada orang lain! Untuk beberapa lama? Dan amankalah ia di dalam asuhan orang lain. Akan selamatkan dibawa orang asing dan penyeberangan nanti? Anak lelaki lipuran satu-satunya, pusat rasa yang sehalus-halusnya, peninggalan isterinya yang selalu setia dan keras hati. Cucu yang akan dibawanya sebagai oleh-oleh untuk orang tuanya di Garut, untuk mertuanya di Pager Ageung, sebagai tanda mata anak dan menantu yang meninggal.

Sersan Kasim membelai anaknya dalam gendongan. "Saya minta izin membawanya sendiri, Pak Letnan," katanya.

"Kau yakin dia tidak menangis?"

"Insya Allah, tidak."

"Baiklah kalau begitu. Hati-hati saja."

"Siap Pak, terima kasih."

Ketika giliran peletonnya untuk menyeberang, Kasim menggigil lebih keras lagi. Bukan hanya karena angin pegunungan yang menembus sela-sela rusuknya. Ia juga menggigil karena Acep mulai resah dalam gendongan. Air hujan sudah mulai merembas masuk mengenai kulitnya dan ia mulai menggeliat-geliat kebasahan dan kedinginan.

Sersan kasihan mulai memegang tali yang terentang dari tepi ke tepi. Air membasahi kakinya, bajunya, menjilat-jilat gendongan anaknya. Ia mulai repot meninggikan anak dan senapanya bersama-sama. Pada suatu saat ia terperosok ke dalam lubang pada alas sungai dan ia terhuyung-huyung dilanda arus yang deras dan dingin. Air mencapai dada merendam anaknya, dan tiba-tiba Acep menangis.

Acep menangis.

Melolong-lolong.

Merobek-robek kesunyian dari tebing ke tebing. Suaranya tajam menyayat hati. Menyayat hati bapaknya hingga sesak bagaikan tak dapat bernapas.

Di hulu sungai sebuah peluru kembang api ditembakkan ke udara. Malam jadi terang benderang. Seluruh kompi menahan napas. Masing-masing terpaku pada tempatnya. Peleton 1 di seberang sana. Peleton 3 di seberang sini, sedangkan peleton 2 di tengah-tengah sungai. Di tengah-tengah peleton 2 itulah Acep menangis pada dada bapaknya.

Tak ada orang yang mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi dalam beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam. Juga Sersan kasim tidak sadar. Ia hanya tahu, anaknya menangis, setiap saat musuh dapat menumpas mereka dengan senapan mesin dan mortir di bawah cahaya di bawah cahaya peluru kembang api yang telah mereka tembakkan. Seluruh kompi memandang kepada dia, bergantung kepada dia. Nasib seluruh kompi tertimpa pada bahunya.

Sejurus kemudian suara Acep meredup. Sesaat lagi lenyap sama sekali.

Sunyi turun kembali ke bumi, berat menekan di dada sekian puluh lelaki yang jantungnya berdegup seperti bedug ditabuh bertalu-talu. Kembang api di langit mulai mati, kelam mulai menyelimuti kembali suasana di lembah sungai itu. Kini yang terdengar hanya deru angin yang tak putus-putusnya ditingkah oleh kwek-kwek-kwek katak di tepian. Beberapa menit kemudian kompi menghela napas lega dan selamat tiba di seberang. Keesokan harinya, pada waktu fajar merekah, kompi menunda perjalanannya sementara waktu, meskipun terlalu dekat kepala kedudukan musuh. Mereka berhenti pada sebuah desa.

Dengan diantar oleh pak lurah banyak di antara penduduk, mereka berkumpul di pinggir desa. Di sana, dalam upacara yang singkat, Acep diturunkan ke liang kubur. Kemudian semua mata tertuju kepada sosok tubuh Sersan Kasim yang berjongkok di hadapan pusara kecil yang baru ditimbun. Kepalanya terkulai menunduk.

Akhirnya ia berdiri memandang dengan ragu-ragu berkeliling. Kesedihan yang dalam, jelas terukir pada wajahnya. Baju seragamnya tampak kuyup hingga lehernya.

Komandan kompi tampil ke muka. Ia menghampiri Kasim. Ia menggenggam tangan kanan sersannya dalam kedua belah tangan. Matanya merah, tidak hanya kurang tidur. Dalam angan-angannya terbayang Nabi Ibrahim, yang siap mengorbankan putranya. Tapi ia tak berkata apa-apa.

Setengah jam kemudian, kompi melanjutkan perjalanannya pada punggung bukit yang sejajar dengan tebing sungai.

Matahari telah naik, menghalau kabut kemana-mana, memanasi bumi yang lembab oleh hujan semalam. Di tengah-tengah barisannya Sersan Kasim berjalan dengan sten bergantung sunyi pada bahunya. Jauh di bawah, di lembah yang dalam, sungai Serayu sayup-sayup menderau, menghanyutkan. Dan ia berjalan terus. Dan di bawah, sungai mengalir terus.

KABAR UNTUK IBU

Supir taksi menghentikan mobilnya di samping sebuah taman. Tangannya menunjuk gedung bertingkat di seberang taman itu.

"Itu di hotel yang Anda cari. Jalan di depannya satu arah. Kalau Anda ingin turun di depannya, kita harus memutar agak jauh."

"Saya turun di sini saja," sahutku sambil membayar ongkos taksi. Begitu taksi melaju aku melangkahkan kaki menuju hotel itu melalui taman di depanku. Udara panas menyergap dengan garang. Musim panas di negeri ini kabarnya selalu menebar udara dengan suhu tinggi seperti itu. Langkahku kupercepat agar segera sampai di hotel itu.

Langkahku kuperlambat ketika kusadari taman itu menyodorkan tontonan menarik kepadaku. Beberapa pemuda berbaring telentang dengan mata tertutup di bulatan air mancur di pusat taman. Semua mereka memamerkan dada mereka yang telanjang. Beberapa meter dari sana dua kelompok sedang mengadu kekuatan dalam pertandingan volley. Teriakan silih berganti di lontarkan kedua pihak.

Lalu di sana di bangku-bangku taman yang terbuat dari kayu, Pasangan-pasangan muda bermesraan tanpa malu-malu. Sesekali beberapa gadis yang berbaring di atas lembaran-lembaran kertas koran yang dibentang begitu saja di atas rumput meneriaki mereka yang bermesraan di salah satu bangku taman itu. Ketika pasangan yang diganggu membalas dengan kata-kata yang tidak jelas kudengar, gadis-gadis yang telentang dan telungkup dengan hanya mengenakan swimsuit di atas lembaran-lembaran koran itu tertawa berderai.

Aku ingin memotret mereka tetapi keberanianku terlalu kecil untuk itu. Sinar matahari yang bagaikan tercurah dari langit itu terasa menjadi sesuatu yang sangat istimewa di taman ini. Aku yang baru dua hari datang dari Jakarta yang panas tentu tidak merasakan keistimewaan itu.

"Looking for someone?" kata suara halus di sampingku.

Aku berpaling. Seorang gadis belasan tahun menyapaku serius. Rasa malu tiba-tiba menikamku.

"Oh, tidak. Saya hanya bingung karena tidak melihat jalan keluar menuju hotel itu," jawabku sambil menunjuk ke arah hotel.

"Wow, mestinya Anda mengambil jalan yang itu," katanya seraya menunjuk arah jalan yang dimaksudkan dengan ibu jarinya.

"Terima kasih."

Langkahku kembali kupercepat. Wajah Feri tampil mengiringi lengkahku. Lalu kata-kata itu seakan mengejekku. "Di sini lain, di sana lain. Dunia ini bukan Cuman Jakarta, Bung. Karena itu di sana nanti jangan sering melongo. Anggap saja yang kau lihat itu hal biasa yang kau temui sehari-hari. Jangan tunjukkan dirimu berasal dari lorong belakang yang becek."

Kalau ngomong Feri memang sering ketus dengan nada menghina. Sombong dia karena terlalu sering ke mancanegara. Tetapi kesombongannya itu kurasa sirna ketika kutemui beberapa pemandangan aneh walaupun baru dua hari di negeri ini.

***
Nama hotel Tuscany terbaca dari jarak seratus meter. Langkahku kupercepat agar segera sampai di sana. Jawaban resepsionis membuatku lemas. Harun belum kembali dari Philadelphia. Kalau tidak ada halangan ia akan masuk bertugas malam harinya.

"Pukul berapa?"

"Delapan,"

Sempurnalah sudah kekecewaanku. Berarti aku harus menunggu enam jam lagi. Bukan cuma itu. Malam ini rombongan pejabat yang kuikuti akan mengadakan pertemuan dengan para wartawan. Banyak penjelasan yang akan diberikan sebelum besok pagi rombongan meninggalkan kota ini.

"Penting sekali?" tanya resepsionis itu.

"Tidak, oh, ya, ya."

"I can't do nothing about it. Datang saja pukul delapan nanti malam."

Aku mengangguk, mengucapkan terimakasih dan meninggalkannya. Lalu ke mana kaki ini kulangkahkan? Pertemuan siang itu di Time Life Building tidak kuhadiri hanya karena aku ingin sekali bertemu dengan Harun.

Kerinduanku kepadanya seakan meledak. Dua puluh tahun kami hanya bertemu dalam surat. Itu pun hanya setahun sekali. Kini, ketika aku menemuinya setelah menempuh jarak terbang ribuan kilometer ia tidak berada di tempat. Ya, Allah, keluhku. Kalau saja ia tidak kembali malam ini dan besok aku harus meninggalkan kota ini, pertemuan yang sangat kuimpikan ini tidak akan pernah terwujud. Aku tiba-tiba merasa terlantar, sendiri dan dipojokkan oleh New York yang angkuh, keras dan tidak bersahabat. Dengan langkah gontai kutinggalkan hotel Tuscany dan kususuri jalan yang sama sekali asing bagiku itu.

***
Pukul 7.30 malam aku telah menunggu di lobby Tuscany berkali-kali pandanganku kulempar ke sekeliling kalau-kalau Harun ada di sana. Pukul delapan malam masih belum ada tanda-tanda Harun bertugas. Perasaan khawatir mulai merayap. Pukul delapan lewat lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua puluh lima, dan tiga puluh. Aku menarik nafas. Perasaan kecewa yang membebaniku terlalu berat untuk kusandang.

Ketika itulah kudengar seseorang mendehem.

"Anda mencari saya?" tanyanya dalam bahasa Inggris sempurna dengan aksen Amerika. Aku berpaling. Suara itu masih tetap seperti dulu. Wajah itu masih tetap bersih, jernih dan penuh optimisme. Ah. Kami saling mendekap. Lama sekali.

"Mengapa tidak memberi kabar?"

"Keberangkatanku tiba-tiba, menggantikan teman yang berhalangan."

Ia menepuk-nepuk pundakku memegang bahuku dan mengajakku ke kamar kerjanya.

"Danus, rasanya seperti mimpi," ujarnya begitu kami duduk di kamarnya berhadapan. 

"Alhamdulillah, doaku terkabul," sahutku. "Kau tidak bermimpi David, eh, Harun."

Ia tersenyum.

"Adikku yang dulu sering kukibuli, kini datang sebagai wartawan, lalu memanggilku David," katanya sambil menggelengkan kepala dan tertawa.

Keakraban yang dulu kembali kami rasakan di ruangan itu. Pembicaraan pun meluncur deras. Ia banyak sekali bertanya tentang ibu dan tentang semua teman-teman lamanya. Aku menjawab sedapatku. Tetapi wajah cerah yang jernih itu tiba-tiba disergap kabut begitu aku mengajukan pertanyaanku.

"Begitu kudengar paman meninggal sebenarnya aku ingin pulang.Aku tahu tidak ada lagi orang yang akan membiayai kuliahku. Tekadku untuk pulang besar sekali. Tapi begitu aku teringat.padamu dan pada ibu, tekad itu meleleh begitu saja. Ayah menginginkan salah seorang dari anaknya yang Cuma dua orang itu sukses dalam hidup. Kalau aku pulang berarti aku kembali sebagai orang yang gagal. Setelah ayah meninggal, paman mencoba mewujudkan keinginan ayah itu. Tapi setelah itu paman pula yang menyusulnya sebelum kuliahku selesai."

Tatapannya yang tajam menikam itu mencoba memberikan pengertian. Aku menunduk. Mencoba mengerti dan mencoba untuk tidak menuduh.

"Aku memang berhenti kuliah, tetapi tidak pulang. Aku bekerja di restoran, menjadi supir taksi dan kuli bangunan. Malam hari kulanjutkan kuliahku hingga selesai."

Suaranya lirih dan menusuk pedih. Ah, Harun saudaraku yang kusayangi.

"Setelah itu barulah aku mendapat kerja yang layak di sebuah toko serba ada. Bertahun-tahun aku di sana. Aku menikah dengan salah seorang gadis yang bekerja di sana. Ah, kurasa semua  yang kualami di sini telah kuceritakan dalam surat-suratku kepadamu. Barangkali tidak ada lagi yang perlu kau ketahui. Semuanya telah terungkap dalam surat-surat yang kukirimkan kepadamu."

"Tapi tidak semua jelas untuk Ibu. Aku tidak menceritakan betapa kau kerja keras sebagai kuli bangunan dan supir taksi di bawah kangkangan kota yang buas ini. Aku hanya mengatakan ada seseorang yang berbaik hati dan ada yayasan yang membantu kulihmy hingga selesai. Lalu ketika kau tidak juga pulang, aku mengatakan kepada ibu kau harus menyelesaikan dulu kontrak kerjamu baru dapat pulang. Mulanya Ibu percaya, karena ia memang tidak dapat membaca surat-suratmu yang selalu kau tulis dalam bahasa Inggris itu."

Wajah di depanku itu seakan dihantam dosa yang tidak kenal ampun. Mengkinkah ia menyesal? Mungkinkah ia merasa bersalah?

"Belakangan Ibu sering bertanya mengapa kau tidak juga pulang. Aku terpaksa mencari-cari jawaban yang masuk akal. Berkali-kali Harum. Ibu akhirnya tidak bertanya lagi. Mungkin ia telah maklum. Betapa pun rendah pendidikannya, betapa pun sederhana cara berpikirnya kurasa ia telah memahami skenario yang kita susun bernama. Ketika Ibu tidak bertanya lagi tentang kau, justru aku yang bertanya mengapa ia tidak pernah bertanya lagi tentang anaknya yang jauh di seberang."

"Lalu apa jawab Ibu?" Harun mendesak.

"Ah, Ibu kita yang bijaksana, Ibu yang mulia itu Cuma berkata, 'kan setiap kali suratnya datang ia tetap menyampaikan sembah sujudnya. Apa lagi yang kuharapkan dari seorang anak kalau bukan cintanya yang tidak pernah luntur itu. Aku merasa berdosa, Harun. Kita telah mempermainkan Ibu."

Harun menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Isakannya terdengar di ruang yang sepi itu.

"Mungkin Ibu merasa kau adalah anak yang hilang. Tapi mungkin pula Ibu yakin suatu nanti kau akan kembali. Aku benar-benar tidak tahu perasaan apa yang kau kini disimpannya. Sungguh, Harun. Lalu ketika bulan lalu suratmu datang dan kau akan menukar kewarganegaraanmu, aku merasa jantungku tersayat. Tidak ada lagi rupanya rongga di hatimu yang kau kosongkan untuk Ibu."

"Danus," Harun mencegahku berbicara lebih lanjut. Ia tampak mengumpulkan segala kekuatannya untuk berbicara. Lama kami saling memandang.

"Mulanya memang begitu, Danus. Dan satu langkah telah kulaui dengan menukar namaku. Tapi begitu aku akan melangkah lagi, aku seakan mendengar suara. Tdak jelas suara siapa. Mungkin suara hatiku sendiri. Suara itu menegurku dengan keras. Tanah air ternyata bukan semata-mata wilayah dan hasil kesepakatan. Tanah air kiranya lebih dari itu. Dulu ketika visa mahasiswaku habis aku terpaksa menjadi penduduk gelap di antara jutaan penduduk gelap negeri ini. Lalu bekas teman kuliahku menolongku dengan mengajakku kawin agar aku bisa mendapat status penduduk tetap. Ya, akhirnya kami kawin surat dan setelah itu cerai.

Harun menarik nafas panjang dan melempar pandang ke luar jendela.

"Dengan status itu aku tidak berbeda banyak dengan warga negara ini. Nasib lalu mengantarkanku ke tingkat yang lebih baik. Di luar sadarku ada lapisan-lapisan yang hilang dalam diriku. Aku jadi semakin jauh dari kau dan Ibu. Aku merasa telah menjadi orang sini dan tanpa merasa apa pun aku dengan seenaknya menukar namaku menjadi David Carlton. Lalu aku ingin menjadi orang-orang yang lain itu yang mempunyai hak suara. Karena itu aku siap menukar kewarganegaraan."

Harun kembali menatapku. Kali ini wajahnya tampak lebih cerah.

"Tapi tidak, Danus. Suara itu melarangku. Yang satu ini tidak akan pernah aku pertukarkan. Bebanku terlalu berat untuk menolak larangan itu.

"Aku tersenyum tapi mataku berkaca-kaca. Sesuatu yang sejuk dan segar menyelinap ke dalam diriku.

"Aneh, Danus. Justru setelah aku mengambil keputusan itu aku berani mengungkapkan keinginanku kepada Hilda dan kedua anakku. Hari tuaku akan kujalani di kampung bersama mereka."

Aku tidak tahu bagaimana reaksi wajahku ketika itu. Barangkali karena merasa tidak percaya. Harun berusaha meyakinkanku.

"Sungguh, Danus. Hanya beberapa tahun lagi aku akan kembali bersama kau dan Ibu. Tidak lama lagi. Setelah anak-anak selesai kuliah.

Menyadari malam semakin larut, Harun mengajakku ke rumahnya untuk bertemu dengan isteri dan kedua anaknya. Dengan berat hati ajakannya kutolak karena aku ingin segera kembali ke hotel. Aku ingin tahu informasi apa yang diberikan kepada para wartawan oleh pejabat yang kami ikuti.

Aku ingin segera membaringkan tubuhku karena besoknya pagi-pagi sekali kami akan meninggalkan kota ini.

Harun, yang kini bernama David Carlton dan bertugas sebagai property meneger hotel Tuscany mengantarkanku ke hotel. Kami kembali berpelukan dan saling menepuk ketika akan berpisah.

Ketika aku menyadarkan diriku di kursi kamar hotel, aku merasa rongga dadaku lebih besar daripada kamar hotel yang kuhuni. Sebuah niat yang tidak pernah tertuang dalam surat-suratnya malam itu telah diungkapkannya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Wajah ibu yang renta tiba-tiba hadir di depanku. Betapa gembiranya ia  kalau kabar ini kusampaikan malam ini juga.


Karya: Sori Siregar

CAMPUR ADUK

HUM DIL DE CHUKE SANAM

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik...

CAMPUR ADUK