CAMPUR ADUK

Monday, December 16, 2019

TEMAN LAMA MISTERIUS

Budi merupakan seorang karyawan swasta. Suatu saat dia mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku teman SD-nya. Orang itu mengaku bernama Fahra, seorang gadis yang tiba-tiba menghubungi Budi. Fahra menghubungi Budi untuk sebuah keperluan. Dia mengaku kalau saat ini sedang mengalami krisis finansial dan meminta Budi untuk mengembalikan sejumlah uang beberapa ratus ribu yang dahulu pernah dipinjam oleh Budi semasa SD. 

Budi yang merasa kaget dengan hal tersebut langsung menyangkal bahwa dia tidak pernah meminjam uang kepada Fahra sampai beratus-ratus ribu. Apalagi pada saat SD uang sakunya tidak seberapa dan tidak sampai beratus-ratus ribu. Fahra kemudian menambahkan bahwa ia ingat dulu semasa SD Budi adalah siswa yang nakal. Budi merupakan siswa SD yang tidak bertanggung jawab dengan uang sekolah yang diberikan orangtuanya untuk membayar sekolah. Dia menggunakan uang biaya sekolah bulanan tersebut untuk keperluan lain seperti membeli mainan dan bermain game. 

Dia berbohong kepada orangtuanya dengan mengatakan bahwa uang tersebut hilang ataupun telah dirampas oleh preman di dekat sekolahnya yang gemar melakukan tindakan pemalakan. Sampai ketika ia tidak bisa berbohong lagi kepada orangtuanya, Budi yang kelakuan nakalnya sudah sangat parah tersebut meminta dengan paksa uang sekolah dari teman-temannya dan menghasut teman-temannya supaya berkata pada orangtuanya bahwa uang tersebut hilang juga sehingga orangtuanya mengganti uang pembayaran sekolah dengan yang baru. 

Pada awalnya teman-teman Budi menolak apa yang dihasutkan Budi tersebut, namun Budi dengan kemampuan mempengaruhi yang sudah cukup cakap pada masa kecilnya tersebut memberikan ancaman akan membuat hidup teman-temannya di sekolah tidak tenang dan akan terus mengganggu ketika di sekolah. Budi yang pandai dalam menghasut juga menawarkan bagian dari uang tersebut untuk teman-temannya yang menyerahkan uang pembayaran sekolah tersebut supaya bisa dinikmati secara pribadi juga. Dengan siasat tersebut akhirnya Budi memperoleh uang dan tetap bisa melakukan kegiatan nakalnya dalam bermain game.

Perbuatan tersebut juga tidak luput mengenai Fahra ketika masih SD. Fahra yang pada saat itu masih polos juga merasa ketakutan dengan ancaman Budi dan akhirnya dia menuruti apa yang direncanakan oleh Budi. Fahra yang merupakan anak dari orangtua yang kaya juga merasa santai dengan menyerahkan uang pembayaran biaya sekolah tersebut karena menganggap orangtuanya akan cepat mengganti uang tersebut dengan mudah tanpa banyak bertanya yang aneh-aneh.

Kejadian di masa kecil tersebut menjadi sebuah pengingat bagi Budi di masa dewasanya sekarang yang hidup sebagai karyawan swasta yang tiba-tiba dikejutkan dengan pesan chat dari Fahra yang menagih hutang di masa kecilnya berupa uang beberapa ratus ribu. Fahra mengaku sedang mengalami krisis keuangan hingga dia harus menjual beberapa barang pribadinya dan akhirnya dia juga menagih beberapa hutang dari teman-temannya yang pernah berhutang kepadanya. Hingga Fahra menagih hutang semasa dia kecil kepada Budi. Fahra juga mengingatkan betapa hutang akan dikenai pertanggungjawaban di akhirat nanti yang akhirnya menyebabkan Budi menjadi setengah takut dan akhirnya mengiyakan untuk memberikan uangnya kepada Fahra.

Setelah mengiyakan permintaan melunasi hutang tersebut, akhirnya chat dengan Fahra dihentikan sementara oleh Budi. Dia mengingat-ingat kembali apakah ada teman SD-nya yang bernama Fahra. Dia merasa asing untuk mengenali seseorang yang bernama Fahra di antara teman SD-nya. “Siapa yaa Fahra itu? Apa di antara teman-teman SD-ku ada teman yang bernama Fahra?” Budi bergumam dalam hati. Lalu ia kembali mengecek hapenya untuk melihat di grup chat linenya dia.

Dia sampai pada grup line SD-nya dan langsung menanyakan apakah di antara teman-temannya tersebut mengenal yang bernama Fahra. Setelah menunggu selama beberapa menit ternyata chatnya disambut dengan beberapa chat yang masuk ke dalam grup tersebut. Teman-teman yang menanggapi chat grup Budi tersebut rata-rata menyatakan bahwa mereka tidak mengenal yang bernama Fahra di antara teman SD. Ada yang bilang bahwa mungkin Fahra hanya seseorang yang mengada-ada menjadi teman SD Budi dan mencoba menipu Budi dengan menjelaskan bahwa Budi mempunyai hutang di masa lalu meskipun kenyataannya memang Budi merupakan anak yang sangat bandel dan nakal pada masa kecilnya. Budi kemudian menanggapi dengan mengatakan bahwa si Fahra ini mengetahui dengan detail perihal masa kecil Budi yang sangat nakal sampai-sampai menggunakan uang jatah pembayaran sekolah untuk keperluan yang lain dan sampai mempergunakan uang sekolah dari teman-teman SD-nya.

Akhirnya terdapat satu orang yang muncul menanggapi Budi dan merasa sepaham dengan kejadian yang dialami Budi barusan. Dia adalah Muchtar. Muchtar mengatakan bahwa apa yang menimpa Budi barusan juga dialaminya, yakni ditagih hutang pada masa kecil karena pada saat itu Muchtar merupakan teman se-genk Budi yang juga sama nakalnya dengan Budi dan melakukan tindakan pengambilan uang pembayaran sekolah juga kepada teman-teman SD-nya. Muchtar juga mengaku barusan dikirimi oleh pesan chat dari Fahra yang isinya sama persis dengan apa yang dialami Budi. Pesan chat yang hampir sama yang dialami oleh Budi dan Muchtar tersebut akhirnya mengundang kemunculan dari penghuni grup line SD tersebut. Mereka menjadi mempertanyakan identitas Fahra yang sebenarnya karena dia mengetahui masa lalu Budi dan Muchtar namun sosok tersebut benar-benar asing di mata teman-teman SD Budi. Ada yang beranggapan bahwa Fahra mungkin kakak angkatan yang bisa saja se-SD dan mengetahui cerita-cerita tersebut dari bapak ibu guru. Atau mungkin Fahra bukan siapa-siapa yang mencoba melakukan tindak kejahatan dengan melakukan pemerasan kepada orang lain dengan memanfaatkan kejahatan di masa lalu. Spekulasi-spekulasi tersebut akhirnya mengundang ide-ide penyelesaian masalah dari berbagai pihak.

Akhirnya solusi yang ditawarkan adalah Budi dapat menyerahkan uang permintaan dari Fahra asalkan cara penyerahannya adalah secara langsung dan tidak melalui transfer karena pada mulanya Fahra menyarankan sistem transfer yang pada saat ini dianggap lebih praktis dan cepat. Namun Budi menegosiasikan cara pengiriman uangnya dengan bertemu secara langsung di sebuah tempat. Pada mulanya Fahra menolak dengan mengatakan bahwa dia sekarang tidak tinggal dalam satu kota dengan Budi. Budi kemudian mengatakan kepada Fahra bahwa tidak menjadi masalah tentang kota bila Fahra benar-benar menginginkan uang yang dapat membantu krisis finansialnya. Akhirnya Fahra mengiyakan rencana pertemuan tersebut yakni bertemu di sebuah cafe yang terletak di dekat SD yang merupakan sekolah mereka dulu.

Rencana pertemuan dengan Fahra tersebut dibahas oleh Budi di grup line SD-nya dan kembali mendapat tanggapan dari teman-teman SD-nya. Banyak yang merasa penasaran dengan sosok Fahra yang mengaku-ngaku merupakan teman SD mereka. Karena banyak yang merasa penasaran maka banyak pula yang ingin ikut dalam acara pertemuan dengan Fahra tersebut. Sehingga hampir semua penduduk grup tersebut muncul dan kira-kira 70% dari isi grup tersebut menyatakan akan hadir karena jadwal pertemuan dengan Fahra tersebut bertepatan juga dengan periode libur panjang atau long weekend. Teman-teman SD Budi yang masih tinggal dalam satu kota kebanyakan menyatakan kesediaannya untuk datang dalam pertemuan bersama teman misterius masa lalu tersebut. Begitu juga dengan beberapa teman SD Budi yang tinggal di kota-kota lain di dekat kota dimana SD tersebut berada. Betapa rasa penasaran mereka benar-benar membuat mereka ingin turut serta. Diketahui bahwa pada saat ini, teman SD Budi rata-rata juga merupakan orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing seperti dokter, pengusaha, insinyur, teknisi, programmer, tentara sampai pekerjaan-pekerjaan di bidang lainnya. Rasa penasaran mereka akan kasus yang menimpa Budi dan Muchtar akhirnya menjadikan mereka sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaannya.

Sampai tiba pada hari pertemuan itu dengan si Fahra, Budi sudah menunggu sejak lebih awal dari jam pertemuan yang telah disepakati. Budi menunggu di cafe tersebut dengan memesan meja untuk dua orang. Satu-persatu teman-teman SD yang berada di chat grup line berkata akan datang menuju ke cafe tersebut hingga akhirnya satu meja yang dipesan oleh Budi terus bertambah menjadi satu meja besar yang dapat menampung sekitar puluhan orang. Kira-kira sekitar satu jam menunggu kedatangan Fahra, akhirnya handphone Budi berdering nada chat masuk dan ternyata si Fahra mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju ke cafe tersebut dan berkata bahwa sudah dekat. Selang beberapa menit akhirnya Fahra datang. Dandannya terlihat stylish dan tidak menunjukkan bahwa dia merupakan seseorang yang mengalami krisis finansial. Fahra datang dengan menggunakan kendaraan pribadi berupa sepeda motor. Kedatangannya sudah ditunggu oleh puluhan orang anak-anak alumni SDN Plumpangsari V alumni tahun 2000. Budi yang duduk di sebelah Muchtar akhirnya takjub melihat Fahra yang datang menghampirinya. Sosok Fahra yang menjadi perbincangan hangat di grup chat alumni SD Budi akhirnya tampak nyata mendatangi Budi dan teman-teman SD-nya yang sedang bercengkerama. Namun, sebuah hal yang mengharukan akhirnya terjadi.

Fahra yang awalnya diduga sebagai orang asing yang menyamar untuk memeras Budi karena hutang kejahatan masa lalu Budi tersebut ternyata merupakan sosok yang menyamar. Fahra bukanlah Fahra yang melakukan pemerasan terhadap Budi. Fahra sesungguhnya merupakan nama lain dari seorang teman SD Budi juga. Fahra hanya nama samaran dari nama asli yaitu Yunita. Dan Yunita sebenarnya juga dikenal oleh teman-teman SD Budi yang lain. Betapa terkejut dan terperangahnya para alumni SDN Plumpangsari V alumni tahun 2000 yang sedang berkumpul di cafe tersebut saat mereka akhirnya mengetahui bahwa sosok yang selama ini dibahas oleh Budi di dalam chat grup line aslinya adalah Yunita, salah satu teman SD mereka juga. Fahra atau Yunita akhirnya mendatangi teman-teman SD-nya dan berkata, “Assalamu`alaikum teman-teman lama, masih ingat denganku kan? Aku Fahra, ehh.. Yunita maksudku. Dulu biasanya duduk sendirian sih.. Cuma kadang-kadang juga nongkrong bareng Budi dan Muchtar ini. Dan biasanya juga mereka yang sering maen bareng aku..” Orang-orang menanggapinya “Wa`alaikumsalam”. Lalu salah seorang di antara teman SD tersebut menanggapi, “lhoo kamu Yunita, kok kamu ngaku-ngaku Farah. Jadi sebenarnya…” Yunita langsung menanggapi, “iyaa, sebenarnya aku adalah sosok Fahra yang kalian obrolkan di grup SD itu. Aku sengaja belum masuk grup dan menciptakan sosok misterius bersama Budi dan Muchtar. Yaa emang sengaja gitu. Tujuannya yaa ini sebenernya untuk ngumpulin kalian disini.” Budi langsung memperkuat apa yang dikatakan oleh Yunita. “Iya teman-teman, maafkan aku yang awalnya menyebarkan berita penodongan hutang masa lalu yang misterius ini hingga membuat waktu kalian juga tersita untuk memikirkan apa yang kurasakan. Sebenarnya tujuanku membuat kekisruhan yang menimpaku ini yaa untuk mempertemukan kalian semua ini.” Salah satu teman mereka yaitu Andi menanggapi, “Wah broo, sial kau. Pantesan aja anak-anak pada keheranan denger nama yang asing di antara temen-temen kita. Ehh ternyata emang beneran fiktif tuh nama.” Muchtar yang merupakan sahabat kental Budi semasa SD pun menambah apa yang telah dikatakan oleh Budi, “Iyaa guys, sorry sorry soal kebingungannya, aku sama Budi juga Fahra, ehh Yunita maksudnya.. ngelakuin ini semua karena kami yang sedari SD sudah dekat ini merasa ingin mengumpulkan kalian pada pertemuan di dunia nyata yang sesungguhnya setelah sekian lama kita jarang ketemu, apalagi kalian juga punya pekerjaan masing-masing yang mana menyita banyak waktu kalian. Bahkan sampai kemunculan kalian di grup pun bisa jarang banget kan? Nah, aku nyoba bikin beginian dengan maksud memancing kalian buat muncul di grup terus pengen aja gitu kita berinteraksi lagi. Bercanda-canda di sela-sela kesibukan. Biar gak aku sama Budi aja yang terus muncul. Yaa gitu deh akhirnya rencana kami pun berhasil. Yeeyy” Muchtar, Budi dan Farah melakukan tosss tanda rencana mereka berhasil membuat teman-teman SD mereka berinteraksi kembali sampai akhirnya melakukan sebuah pertemuan berhasil.

Teman-teman Budi akhirnya merasa simpati dengan apa yang dilakukan Budi, Muchtar, dan Yunita. Mereka kemudian kembali bercengkerama mengingat masa-masa kecil mereka yang indah dahulu kala. Yang mana untuk sekali pertemuan tersebut harus menunggu waktu yang lama dan merupakan pertemuan langka di kala kesibukan sudah menghinggapi orang-orang yang sudah menapaki kehidupan dewasa. Budi, Muchtar dan Yunita yang masih memiliki jiwa menjalin silaturrahim yang tinggi akhirnya berhasil mempertemukan teman-teman lamanya lewat sebuah kasus yang dirancang oleh mereka.

Setelah kira-kira tiga jam canda tawa teman-teman Budi di cafe tersebut, terdapat seorang wanita yang berdandan dengan pakaian yang agak nyentrik mendatangi Budi. Dia kemudian menyebutkan bahwa dia adalah Fahra, yang menagih hutang uang pembayaran biaya sekolah kepada Budi. Budi yang tidak menyangka akan didatangi oleh Fahra tersebut mendadak terkejut. Dia tidak menyangka bahwa sosok Fahra tersebut benar-benar ada. Dan Fahra secara mengejutkan dapat mengingat dengan detail peristiwa-peristiwa masa SD yang dahulu pernah dilakukan oleh Budi bersama teman-temannya. Sampai pada peristiwa pemalakan yang dilakukan oleh Budi kepadanya di masa lalu, Fahra mengingatnya dengan betul. Budi menjadi terpojok dan akhirnya kembali mengecek hapenya untuk melihat chat yang masuk ke line-nya. Ternyata memang benar terdapat nama Fahra, dan Fahra yang satu ini bukan Yunita yang awalnya bersandiwara untuk membuat kasus palsu untuk mempersatukan teman-teman SD-nya.

Selesai

Cerpen Karangan: Aldino Kamaruddin Santoso

Budi merupakan seorang karyawan swasta. Suatu saat dia mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku teman SD-nya. Orang itu mengaku bernama Fahra, seorang gadis yang tiba-tiba menghubungi Budi. Fahra menghubungi Budi untuk sebuah keperluan. Dia mengaku kalau saat ini sedang mengalami krisis finansial dan meminta Budi untuk mengembalikan sejumlah uang beberapa ratus ribu yang dahulu pernah dipinjam oleh Budi semasa SD. Budi yang merasa kaget dengan hal tersebut langsung menyangkal bahwa dia tidak pernah meminjam uang kepada Fahra sampai beratus-ratus ribu. Apalagi pada saat SD uang sakunya tidak seberapa dan tidak sampai beratus-ratus ribu. Fahra kemudian menambahkan bahwa ia ingat dulu semasa SD Budi adalah siswa yang nakal. Budi merupakan siswa SD yang tidak bertanggung jawab dengan uang sekolah yang diberikan orangtuanya untuk membayar sekolah. Dia menggunakan uang biaya sekolah bulanan tersebut untuk keperluan lain seperti membeli mainan dan bermain game. Dia berbohong kepada orangtuanya dengan mengatakan bahwa uang tersebut hilang ataupun telah dirampas oleh preman di dekat sekolahnya yang gemar melakukan tindakan pemalakan. Sampai ketika ia tidak bisa berbohong lagi kepada orangtuanya, Budi yang kelakuan nakalnya sudah sangat parah tersebut meminta dengan paksa uang sekolah dari teman-temannya dan menghasut teman-temannya supaya berkata pada orangtuanya bahwa uang tersebut hilang juga sehingga orangtuanya mengganti uang pembayaran sekolah dengan yang baru. Pada awalnya teman-teman Budi menolak apa yang dihasutkan Budi tersebut, namun Budi dengan kemampuan mempengaruhi yang sudah cukup cakap pada masa kecilnya tersebut memberikan ancaman akan membuat hidup teman-temannya di sekolah tidak tenang dan akan terus mengganggu ketika di sekolah. Budi yang pandai dalam menghasut juga menawarkan bagian dari uang tersebut untuk teman-temannya yang menyerahkan uang pembayaran sekolah tersebut supaya bisa dinikmati secara pribadi juga. Dengan siasat tersebut akhirnya Budi memperoleh uang dan tetap bisa melakukan kegiatan nakalnya dalam bermain game.

Perbuatan tersebut juga tidak luput mengenai Fahra ketika masih SD. Fahra yang pada saat itu masih polos juga merasa ketakutan dengan ancaman Budi dan akhirnya dia menuruti apa yang direncanakan oleh Budi. Fahra yang merupakan anak dari orangtua yang kaya juga merasa santai dengan menyerahkan uang pembayaran biaya sekolah tersebut karena menganggap orangtuanya akan cepat mengganti uang tersebut dengan mudah tanpa banyak bertanya yang aneh-aneh.

Kejadian di masa kecil tersebut menjadi sebuah pengingat bagi Budi di masa dewasanya sekarang yang hidup sebagai karyawan swasta yang tiba-tiba dikejutkan dengan pesan chat dari Fahra yang menagih hutang di masa kecilnya berupa uang beberapa ratus ribu. Fahra mengaku sedang mengalami krisis keuangan hingga dia harus menjual beberapa barang pribadinya dan akhirnya dia juga menagih beberapa hutang dari teman-temannya yang pernah berhutang kepadanya. Hingga Fahra menagih hutang semasa dia kecil kepada Budi. Fahra juga mengingatkan betapa hutang akan dikenai pertanggungjawaban di akhirat nanti yang akhirnya menyebabkan Budi menjadi setengah takut dan akhirnya mengiyakan untuk memberikan uangnya kepada Fahra.

Setelah mengiyakan permintaan melunasi hutang tersebut, akhirnya chat dengan Fahra dihentikan sementara oleh Budi. Dia mengingat-ingat kembali apakah ada teman SD-nya yang bernama Fahra. Dia merasa asing untuk mengenali seseorang yang bernama Fahra di antara teman SD-nya. “Siapa yaa Fahra itu? Apa di antara teman-teman SD-ku ada teman yang bernama Fahra?” Budi bergumam dalam hati. Lalu ia kembali mengecek hapenya untuk melihat di grup chat linenya dia.

Dia sampai pada grup line SD-nya dan langsung menanyakan apakah di antara teman-temannya tersebut mengenal yang bernama Fahra. Setelah menunggu selama beberapa menit ternyata chatnya disambut dengan beberapa chat yang masuk ke dalam grup tersebut. Teman-teman yang menanggapi chat grup Budi tersebut rata-rata menyatakan bahwa mereka tidak mengenal yang bernama Fahra di antara teman SD. Ada yang bilang bahwa mungkin Fahra hanya seseorang yang mengada-ada menjadi teman SD Budi dan mencoba menipu Budi dengan menjelaskan bahwa Budi mempunyai hutang di masa lalu meskipun kenyataannya memang Budi merupakan anak yang sangat bandel dan nakal pada masa kecilnya. Budi kemudian menanggapi dengan mengatakan bahwa si Fahra ini mengetahui dengan detail perihal masa kecil Budi yang sangat nakal sampai-sampai menggunakan uang jatah pembayaran sekolah untuk keperluan yang lain dan sampai mempergunakan uang sekolah dari teman-teman SD-nya.

Akhirnya terdapat satu orang yang muncul menanggapi Budi dan merasa sepaham dengan kejadian yang dialami Budi barusan. Dia adalah Muchtar. Muchtar mengatakan bahwa apa yang menimpa Budi barusan juga dialaminya, yakni ditagih hutang pada masa kecil karena pada saat itu Muchtar merupakan teman se-genk Budi yang juga sama nakalnya dengan Budi dan melakukan tindakan pengambilan uang pembayaran sekolah juga kepada teman-teman SD-nya. Muchtar juga mengaku barusan dikirimi oleh pesan chat dari Fahra yang isinya sama persis dengan apa yang dialami Budi. Pesan chat yang hampir sama yang dialami oleh Budi dan Muchtar tersebut akhirnya mengundang kemunculan dari penghuni grup line SD tersebut. Mereka menjadi mempertanyakan identitas Fahra yang sebenarnya karena dia mengetahui masa lalu Budi dan Muchtar namun sosok tersebut benar-benar asing di mata teman-teman SD Budi. Ada yang beranggapan bahwa Fahra mungkin kakak angkatan yang bisa saja se-SD dan mengetahui cerita-cerita tersebut dari bapak ibu guru. Atau mungkin Fahra bukan siapa-siapa yang mencoba melakukan tindak kejahatan dengan melakukan pemerasan kepada orang lain dengan memanfaatkan kejahatan di masa lalu. Spekulasi-spekulasi tersebut akhirnya mengundang ide-ide penyelesaian masalah dari berbagai pihak.

Akhirnya solusi yang ditawarkan adalah Budi dapat menyerahkan uang permintaan dari Fahra asalkan cara penyerahannya adalah secara langsung dan tidak melalui transfer karena pada mulanya Fahra menyarankan sistem transfer yang pada saat ini dianggap lebih praktis dan cepat. Namun Budi menegosiasikan cara pengiriman uangnya dengan bertemu secara langsung di sebuah tempat. Pada mulanya Fahra menolak dengan mengatakan bahwa dia sekarang tidak tinggal dalam satu kota dengan Budi. Budi kemudian mengatakan kepada Fahra bahwa tidak menjadi masalah tentang kota bila Fahra benar-benar menginginkan uang yang dapat membantu krisis finansialnya. Akhirnya Fahra mengiyakan rencana pertemuan tersebut yakni bertemu di sebuah cafe yang terletak di dekat SD yang merupakan sekolah mereka dulu.

Rencana pertemuan dengan Fahra tersebut dibahas oleh Budi di grup line SD-nya dan kembali mendapat tanggapan dari teman-teman SD-nya. Banyak yang merasa penasaran dengan sosok Fahra yang mengaku-ngaku merupakan teman SD mereka. Karena banyak yang merasa penasaran maka banyak pula yang ingin ikut dalam acara pertemuan dengan Fahra tersebut. Sehingga hampir semua penduduk grup tersebut muncul dan kira-kira 70% dari isi grup tersebut menyatakan akan hadir karena jadwal pertemuan dengan Fahra tersebut bertepatan juga dengan periode libur panjang atau long weekend. Teman-teman SD Budi yang masih tinggal dalam satu kota kebanyakan menyatakan kesediaannya untuk datang dalam pertemuan bersama teman misterius masa lalu tersebut. Begitu juga dengan beberapa teman SD Budi yang tinggal di kota-kota lain di dekat kota dimana SD tersebut berada. Betapa rasa penasaran mereka benar-benar membuat mereka ingin turut serta. Diketahui bahwa pada saat ini, teman SD Budi rata-rata juga merupakan orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing seperti dokter, pengusaha, insinyur, teknisi, programmer, tentara sampai pekerjaan-pekerjaan di bidang lainnya. Rasa penasaran mereka akan kasus yang menimpa Budi dan Muchtar akhirnya menjadikan mereka sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaannya.

Sampai tiba pada hari pertemuan itu dengan si Fahra, Budi sudah menunggu sejak lebih awal dari jam pertemuan yang telah disepakati. Budi menunggu di cafe tersebut dengan memesan meja untuk dua orang. Satu-persatu teman-teman SD yang berada di chat grup line berkata akan datang menuju ke cafe tersebut hingga akhirnya satu meja yang dipesan oleh Budi terus bertambah menjadi satu meja besar yang dapat menampung sekitar puluhan orang. Kira-kira sekitar satu jam menunggu kedatangan Fahra, akhirnya handphone Budi berdering nada chat masuk dan ternyata si Fahra mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju ke cafe tersebut dan berkata bahwa sudah dekat. Selang beberapa menit akhirnya Fahra datang. Dandannya terlihat stylish dan tidak menunjukkan bahwa dia merupakan seseorang yang mengalami krisis finansial. Fahra datang dengan menggunakan kendaraan pribadi berupa sepeda motor. Kedatangannya sudah ditunggu oleh puluhan orang anak-anak alumni SDN Plumpangsari V alumni tahun 2000. Budi yang duduk di sebelah Muchtar akhirnya takjub melihat Fahra yang datang menghampirinya. Sosok Fahra yang menjadi perbincangan hangat di grup chat alumni SD Budi akhirnya tampak nyata mendatangi Budi dan teman-teman SD-nya yang sedang bercengkerama. Namun, sebuah hal yang mengharukan akhirnya terjadi.

Fahra yang awalnya diduga sebagai orang asing yang menyamar untuk memeras Budi karena hutang kejahatan masa lalu Budi tersebut ternyata merupakan sosok yang menyamar. Fahra bukanlah Fahra yang melakukan pemerasan terhadap Budi. Fahra sesungguhnya merupakan nama lain dari seorang teman SD Budi juga. Fahra hanya nama samaran dari nama asli yaitu Yunita. Dan Yunita sebenarnya juga dikenal oleh teman-teman SD Budi yang lain. Betapa terkejut dan terperangahnya para alumni SDN Plumpangsari V alumni tahun 2000 yang sedang berkumpul di cafe tersebut saat mereka akhirnya mengetahui bahwa sosok yang selama ini dibahas oleh Budi di dalam chat grup line aslinya adalah Yunita, salah satu teman SD mereka juga. Fahra atau Yunita akhirnya mendatangi teman-teman SD-nya dan berkata, “Assalamu`alaikum teman-teman lama, masih ingat denganku kan? Aku Fahra, ehh.. Yunita maksudku. Dulu biasanya duduk sendirian sih.. Cuma kadang-kadang juga nongkrong bareng Budi dan Muchtar ini. Dan biasanya juga mereka yang sering maen bareng aku..” Orang-orang menanggapinya “Wa`alaikumsalam”. Lalu salah seorang di antara teman SD tersebut menanggapi, “lhoo kamu Yunita, kok kamu ngaku-ngaku Farah. Jadi sebenarnya…” Yunita langsung menanggapi, “iyaa, sebenarnya aku adalah sosok Fahra yang kalian obrolkan di grup SD itu. Aku sengaja belum masuk grup dan menciptakan sosok misterius bersama Budi dan Muchtar. Yaa emang sengaja gitu. Tujuannya yaa ini sebenernya untuk ngumpulin kalian disini.” Budi langsung memperkuat apa yang dikatakan oleh Yunita. “Iya teman-teman, maafkan aku yang awalnya menyebarkan berita penodongan hutang masa lalu yang misterius ini hingga membuat waktu kalian juga tersita untuk memikirkan apa yang kurasakan. Sebenarnya tujuanku membuat kekisruhan yang menimpaku ini yaa untuk mempertemukan kalian semua ini.” Salah satu teman mereka yaitu Andi menanggapi, “Wah broo, sial kau. Pantesan aja anak-anak pada keheranan denger nama yang asing di antara temen-temen kita. Ehh ternyata emang beneran fiktif tuh nama.” Muchtar yang merupakan sahabat kental Budi semasa SD pun menambah apa yang telah dikatakan oleh Budi, “Iyaa guys, sorry sorry soal kebingungannya, aku sama Budi juga Fahra, ehh Yunita maksudnya.. ngelakuin ini semua karena kami yang sedari SD sudah dekat ini merasa ingin mengumpulkan kalian pada pertemuan di dunia nyata yang sesungguhnya setelah sekian lama kita jarang ketemu, apalagi kalian juga punya pekerjaan masing-masing yang mana menyita banyak waktu kalian. Bahkan sampai kemunculan kalian di grup pun bisa jarang banget kan? Nah, aku nyoba bikin beginian dengan maksud memancing kalian buat muncul di grup terus pengen aja gitu kita berinteraksi lagi. Bercanda-canda di sela-sela kesibukan. Biar gak aku sama Budi aja yang terus muncul. Yaa gitu deh akhirnya rencana kami pun berhasil. Yeeyy” Muchtar, Budi dan Farah melakukan tosss tanda rencana mereka berhasil membuat teman-teman SD mereka berinteraksi kembali sampai akhirnya melakukan sebuah pertemuan berhasil.

Teman-teman Budi akhirnya merasa simpati dengan apa yang dilakukan Budi, Muchtar, dan Yunita. Mereka kemudian kembali bercengkerama mengingat masa-masa kecil mereka yang indah dahulu kala. Yang mana untuk sekali pertemuan tersebut harus menunggu waktu yang lama dan merupakan pertemuan langka di kala kesibukan sudah menghinggapi orang-orang yang sudah menapaki kehidupan dewasa. Budi, Muchtar dan Yunita yang masih memiliki jiwa menjalin silaturrahim yang tinggi akhirnya berhasil mempertemukan teman-teman lamanya lewat sebuah kasus yang dirancang oleh mereka.

Setelah kira-kira tiga jam canda tawa teman-teman Budi di cafe tersebut, terdapat seorang wanita yang berdandan dengan pakaian yang agak nyentrik mendatangi Budi. Dia kemudian menyebutkan bahwa dia adalah Fahra, yang menagih hutang uang pembayaran biaya sekolah kepada Budi. Budi yang tidak menyangka akan didatangi oleh Fahra tersebut mendadak terkejut. Dia tidak menyangka bahwa sosok Fahra tersebut benar-benar ada. Dan Fahra secara mengejutkan dapat mengingat dengan detail peristiwa-peristiwa masa SD yang dahulu pernah dilakukan oleh Budi bersama teman-temannya. Sampai pada peristiwa pemalakan yang dilakukan oleh Budi kepadanya di masa lalu, Fahra mengingatnya dengan betul. Budi menjadi terpojok dan akhirnya kembali mengecek hapenya untuk melihat chat yang masuk ke line-nya. Ternyata memang benar terdapat nama Fahra, dan Fahra yang satu ini bukan Yunita yang awalnya bersandiwara untuk membuat kasus palsu untuk mempersatukan teman-teman SD-nya.

Selesai


Karya : Aldino Kamaruddin Santoso

INILAH AKU

Aku berjalan dengan langkah santai, melewati orang orang asing yang tak pernah ku lihat. Langkahku terhenti melihat seorang anak kecil yang sedang menangis, dia menundukkan kepalanya sambil menghapus air matanya.

"Hai, kenapa kamu menangis?" Tanyaku.

"Kakiku.. Kakiku sakit kak.., hiks..hiks.." Dia menunjukkan kakinya yang berdarah.

Aku melihat luka itu dengan seksama, sekejab luka itu hilang.

"Kak...!! Kakak siapa? Kakak kenapa bisa melakukan itu? Tapi. Terimakasih kak" dia tersenyum, aku hnya bisa tersenyum lalu meninggalkan gadis itu.

Aku bukan manusia biasa. Aku mempunyai kekuatan. Dulunya aku adalah manusia biasa, tapi suatu hari datang orang orang yang menyerang orangtuaku hingga akhirnya mereka meninggal dan mereka memberiku racun. Mereka memaksaku meminumnya. Tetapi ternyata mereka salah memberiku cairan, yang mereka beri adalah cairan yang membuay orang meminumnya menjadi kuat dan abadi. Kejadian itu sudah 50 tahun yang lalu.

***
20 tahun kemudian

Aku melihat langit yang biru. Seringkali aku rindu menjadi manusia biasa tapi tidak ada yang bisa merubah keadaan. Kenyatannya adalah aku bukan manusia biasa. Aku mempunyai kekuatan, yang seringkali membuat orang orang menjadi takut melihatku. Maka aku tidak pernah lagi menunjukkan kekuatanku didepan orang banyak.

Aku memasuki sebuah restoran. Ada seorang wanita yang terburu buru keluar dari restoran, dia sedang membawa minuman.

BRAKK!! Wanita itu menabrakku dan minumannya tumpah ke mengenai tanganku.

"Aduh..  Maaf maaf aku tidak sengaja"

Aku meringis kecil. "Tidak apa apa"

"Tapi minuman itu minuman panas, benar tidak apa apa? " wanita itu terlihat bingung, karena aku tidak merasa kesakitan. Aku berpura pura kesakitan.

"Aduh ini semua karenaku, maaf tunggu disini aku akan beli obat"

"Tidak apa apa, tidak perlu"

"Sungguh?"

"Iya... Siapa namamu?"

"Apa? Eh.. Namaku Chyintia. Salam kenal, aku pergi dulu, ibuku sudah menungguku di rumah. Sampai ketemu di lain waktu".

Chyintia berlari kecil menghentikan taksi. Aku memasuki restoran.

***
"Maaf maaf" wanita itu terus meminta maaf tanpa henti kepada laki laki yang tidak sengaja ia jatuhkan makanannya, laki laki itu mau memukul wanita itu. Aku cepat cepat menahannya.

"Hei!! Kau siapa yang berani berani memukul wanita? Lagipula itu hanya makanan"

Laki laki itu langsung pergi.

"Kau tak apa apa?" Aku sepertinya mengenali wanita itu.

"Kau?" Wanita itu menunjukku. Aku hanya melihatnya bingung.

"Terimakasih ya untuk yang tadi. Kau tak kenal aku? Aku.. Chyintia"

"Oh kau wanita itu yang menumpahkan minuman ke tanganku?"

"Ehh.. Iya, itu aku"

"Hebat sekali kita bisa bertemu lagi.."

"Hehehe" Chyntia tersenyum hangat. "Tapi siapa namamu?"

"Oh iya, namaku Robin"

"Untuk ucapan terimakasih dan maafku, aku traktir kamu makan disana" Chyntia menunjuk restoran.

"Ok " aku tertawa, lumayan kan ditraktir? Hehehe.

Kami berjalan bersama ke restoran itu. Aku melihat gelang yang dipakai Chyntia. Gelang bertuliskan Chyntia dengan warna pink. Sepertinya benda itu tidak asing bagiku. Wanita ini... Apakah yang pernah kutolong dulu? Saat kakinya berdarah? Aku memandangnya. Rambut yang selalu dikuncir belakang. Itu sepertinya memang dia.

"Hei.. Jangan bengong saja ayo makan"

Lamunanku buyar. Aku hanya tersenyum.

***
Kami semakin dekat, aku mulai menyukainya. Tawa yang ciri khas, orang yang peduli. Tetapi suatu saat dia mengetahui semuanya. Dia ketakutan. Aku merasa sedih. Aku memang bukan manusia biasa, apakah aku tidak boleh jatuh cinta? Atau apa aku sosok yang menakutkan? Tapi inilah aku. Seseorang yang punya kekuatan dan abadi. Mungkin aku tidak boleh jatuh cinta pada manusia biasa.


Karya : Shandez Darlene

ARWAH, I LOVE YOU

Disinilah aku saat ini, menangis sendirian di sebuah lorong belakang sekolah, mencoba menyendiri dan menenangkan diri. Apa salahku? Mereka selalu saja membullyku, tidak ada yang membelaku sama sekali. Oh iya aku lupa, jangankan dibela, teman saja aku tidak punya sama sekali. Miris bukan?

Tap..

Tap..

Tap..

Aku mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekatiku. Siapa dia? Ini lorong belakang sekolah yang sudah tidak terpakai lagi, akan sangat tidak mungkin jika ada seseorang kemari selain orang aneh sepertiku. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk tepat di sampingku. Ohh god, ini orang pertama yang mau berdekatan denganku, selain yang ingin membullyku.

“Ka..kau si..siapa?” tanyaku dengan takut.

“Tenang, kau tidak usah takut Maya. Aku yang akan selalu menjagamu,” ujarnya dengan yakin.

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Kau tidak perlu tahu itu, perkenalkan aku Brian.”

Ternyata namanya Brian, jika diperhatikan ia lumayan tampan menurutku, menggunakan seragam sekolah yang sama sepertiku, hanya saja aku tidak pernah melihatnya selama bersekolah disini.

“Aku memang bukan manusia, makanya kau tidak pernah melihatku,” ujarnya tiba-tiba seakan tahu isi dari pikiranku tadi.

“Ja.. jadi kau itu…”

“Aku bukan hantu, tapi aku adalah arwah yang akan selalu menjagamu dimanapun dan kapanpun itu.”

“Benarkah?”

“Tentu Maya.”

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku pun pulang ke rumah bersama dengan Brian, Brian selalu setia mengikutiku kemanapun aku pergi. Saat sedang melewati sebuah gang sepi, tiba-tiba aku melihat ada Melisa dan kawannya menghadangku. Melisa itu adalah ratunya bully membully di sekolahku. Melihat hal itu sontak aku ketakutan dan menoleh ke arah Brian, dan Brian menanggapinya dengan senyum manisnya.

“Tenang Maya,” ujarnya kepadaku.

Melisa pun mulai mendekat ke arahku. Ia lalu dengan gesitnya menjambak rambutku.

“Aduh.. sakit mel, tolong lepas.”

“Tidak akan, kau itu memang pantas mendapatkan penyiksaan seperti ini!”

Tiba-tiba…

“Lepaskan dia!” terdengar suara lantang dari seseorang. Ketika aku melihat ke arahnya, aku sangat terkejut, karena dia itu Brian. Bukankah Brian itu arwah? Namun mengapa Melisa bisa melihatnya?

“Lepaskan Maya, dia adalah kekasihku.”

“Hey tampan, gadis jelek seperti ini kekasihmu eh?” tanya Melisa dengan wajah tidak percaya.

“Tentu. Sebaiknya sekarang kau pergi atau aku akan berbuat kasar kepadamu!”

“Tampan-tampan begini kau galak juga ya, ok aku akan pergi.”

Setelah kepergian Melisa, Brian lalu mendekatiku yang masih dalam posisi mematung dan pikiran bercampur aduk.

“Aku sudah menepati janjiku kan untuk selalu menjagamu Maya,” ujarnya sambil menggenggam tanganku.

“Kau itu sebenarnya siapa? Mengapa kau bisa…”

“Aku ini arwah yang bisa menjelma menjadi manusia jika aku mau.”

“Aku masih tidak percaya akan hal itu.”

“Baiklah, tunggu sebentar,” ujarnya kepadaku.

Ia lalu mulai menjauh dan tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih yang membuat mataku menjadi sangat silau. Sontak aku menutup mataku karena terlalu silau. Namun setelah aku membuka mata, laki-laki itu menghilang dari hadapanku. Aku percaya sekarang bahwa ia adalah arwah, aku sempat merasa takut, namun disatu sisi aku merasa kehilangan karena aku rasa aku mulai mencintainya. Aku menyesal karena tidak percaya kepadanya, andai saja aku percaya mungkin sekarang Brian masih ada di sisiku dan selalu melindungiku.

“Arwah, i love you.”

“I love you to,” jawab seseorang yang jauh berada di dimensi lain.

Selesai.


Karya : Ayu Wahyunia

MISTERI KAMAR 707

Malam itu aku kembali menuju hotel yang berkamar di nomor 706, terdengar olehku suara gemercik air dari kamar 707 seperti ada seseorang yang sedang mandi tapi lampu kamar itu padam. Aku keluar dan mendekat ke pintu kamar itu untuk lebih mendengar suara dari kamar itu.

“Ada disini?” Tanya seorang OB yang cukup mengagetkan aku.

“enggak kok, Pak disini apa ada orangnya?”

“Enggak Dik” jawaban singkat itu terucap dari seorang pria separuh baya berseragam biru itu.

“Tapi pak, saya mendengar suara aneh dari kamar itu”

“Kau mungkin hanya berhalusiasi, sudah jangan mengganggu kerjaku!” kata OB itu sedikit marah kemudian terburu-buru meninggalkan kamar itu.

Dalam hati aku terus bertanya lalu apa yang tadi aku dengar? apakah itu hanya halusinasi, ah sudahlah. Kemudian aku berlalu untuk meninggalkan kamar 707 dan kembali ke kamarku sendiri. Tak beberapa lama kemudian aku mendengar sebuah suara wanita bernyanyi di kamar 707 itu dan aku benar benar yakin bahwa kamar itu memang berpenghuni namun aku urungkan niatku untuk pergi ke kamar itu lagi karena hari sudah menunjukan pukul dua belas malam dan esok aku harus berkerja.

Keesokan harinya aku bertanya kepada manager hotel untuk menanyakan penghuni yang ada di kamar 707 namun tetap dengan jawaban yang sama tidak ada seoarangpun yang ada di kamar itu. Tapi aku berusaha untuk mencari tau tentang siapa yang ada di kamar itu. Setelah pulang berkerja aku segera membersihkan tubuhku dan bergegas untuk menuju lobi hotel karena aku akan menemui rekan kerjaku.

“Dinda..” terdengar suara sayu sayu memanggilku dari arah kamar itu. “Suara lagi?” gumamku. Tapi kali ini berbeda aku dapat dengan jelas mendengar suara itu dan tiba tiba aku menjadi ketakutan karena suara aneh itu tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikannya. Aku berjalan menuju lobi hotel, dari jauh aku melihat seoarang wanita berpakaian ungu tampak terburu buru, aku tak pernah melihat wanita itu sebelumnya selama aku tinggal di hotel ini. Dia berjalan dengan menundukan kepalanya, rambutnya yang terurai panjang menghalangi wajahnya untuk dapat kulihat.

Setelah semua urusan dengan rekanku selesai aku menuju kamarku untuk beristirahat. Sebelum aku sampai di kamar aku melihat wanita berpakaian ungu yang kulihat di lobi tadi memasuki kamar sebelahku. Ya. kamar 707. “Itu dia orangnya” sentakku spontan.

Aku berusaha menghampiri wanita itu tapi dia tampak terburu buru dan segera masuk ke kamar itu. Tapi keanehan mulai terjadi setelah wanita itu masuk ke kamarnya, aku mendengar jeritan histeris dari kamar itu. Kemudian aku segera berlari untuk mendatangi kamar itu untuk menghampiri jeritan histeris yang melengking itu. Sampai di depan pintu aku tak menemukan apapun selain lampu yang padam dan pintu yang terkunci dari luar.

Malam berikutnya aku mendengar suara wanita dan pria bertengkar di kamar itu dan aku mendengar ada suara jeritan minta tolong dari kamar itu. Kemudian suara itu hilang dan suasana kembali senyap. Aku bergegas keluar dan mengecek keadaan tapi sama seperti malam malam lalu aku hanya mendapatkan sebuah kamar kosong dengan lampu padam.

Aku hanya bisa terbungkam dan ketakutan karena aku tak menemukan apapun selain suara yang kudengar tadi. Aku begitu penasaran dengan apa yang terjadi aku berusaha mencari informasi kepada seluruh perkerja di hotel itu namun semua nihil tak seorang pun yang mau memberitahu. Aku berjalan keluar di gelapnya malam dan menghampiri seorang pedagang nasi goreng yang berjualan di sekitar hotel itu untuk mencari sedikit informasi.

“Dulu di kamar itu pernah terjadi sebuah pembunuhan mbak, pelakunya suaminya sendiri tapi yang saya tau kamar itu sudah terkunci rapat semenjak kejadian itu, pihak hotel tak mau membukakan pintu kamar itu untuk siapapun”

“Apa bapak kenal suaminya?”

“Suaminya adalah OB disitu, mbak”

Aku hanya diam dan mulai mengerti tentang apa yang terjadi.


Karya : Erisca Carolina Tesalonike

IS UTY DEAD?

Uty adalah seorang anak yg tinggal di sebuah desa bernama desa Fuwa, desa fuwa adalah desa yang terdapat di tengah-tengah laut, kebanyakan penduduk disana bekerja sbg petani. Uty hari ini akan pergi ke laut untuk membantu ayah dan ibunya mencari ikan untuk di jual, sesampai di laut Uty bertemu dg teman nya Ryna.

"Hai Ryna, sedang apa kamu?" tanya Uty kepada Ryna, "Oh, Uty. Aku kira kamu siapa. Aku sedang mencari bebatuan yang mungkin bisa aku rangkai dan aku jual di pasar rakyat. Kamu sendiri sedang apa?" tanya Ryna "aku mau membantu ayah dan ibuku mencari ikan, mungkin aku akan kembali besok pagi." jawab Uty "semoga dapat ikan yang banyak ya Uty. Dan hati-hati saat merantau, aku dengar dr pembawa acara di TV mereka bilang, badai sering datang di bulab ini" kata Ryna memperingatkan "oke deh Ryna, aku pasti akan baik-baik saja kok" jawab Uty.

Setelah mengobrol dan mempersiapkan semuanya semuanya, Uty beserta ayah dan ibunya segera berangkat. "sampai jumpa Uty, hati-hati yaa!" kata Ryna melambaikan tangan "iya Ryna, sampai jumpa besok. aku akan membawakanmu ikan yg banyak!" kata Uty sambil melambaikan tangan nya juga.

Di perjalanan merantau, Uty sangat menikmatyi perjalanan nya. banyak sekali ikan yg berenang di laut yg biru itu, ada juga ubur-ubur yang terlihat seperti sedang menari, Uty sangat senang sekali dapat merantau hari itu.

"Uty, apa kamu lapar? ibu punya kue yang lezat loh.." kata ibunya "mau dong ma, kalo itu kue enak aku pasti mau" jawab Uty yang sangat suka sekali dengan kue. Uty pun memakan kuenya yang verisi keju di dalam nya. "hmm, yummy! kue ini enak sekali! dari mana ibu dapat kue ini?" tanya Uty "ibu dapat dari ibu Rita yg jualan di pasar rakyat" jawab ibunya "oh, pantesan ini enak sekali, ternyata bu Rita yang buat" kata Uty sambil tetatp memakan kuenya itu.

Setelah beberapa menunggu di perahu yang sederhana itu, akhirnya mereka semua telah sampai di sebuah pulau bernama pulau Fishi, pulau itu terdapat banyak sekali sungai yang memiliki beraneka ragam ikan. "wahh, lihat bu, disini ada banyak sekali ikan." kata Uty terkagum-kagum "iya Uty, ini pertama kalinya bagimu kan?" kata ibunya, Uty hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap terkagum-kagum. "disana masih banyak lagi ikan seperti ini, dan ukuran nya lebih besar" kata ibunya "wahh, bolehkah aku kesana bu?" tanya Uty "tentu saja Uty, tapi jangan terlalu lama ya? nanti ayah kamu bisa marah karena terlalu khawatir" pinta ibunya "baik bu!" jawab Uty.

Uty pun akhirnya sampai di sungai yg penuh dg ikan yg besar-besar itu, "wah, menakjubkan! baru kali ini aku melihat ikan sevesar ini." kata Uty "ahh, apa itu? sepertinya ada banyak ikan juga disana." nkata Uty yg melihat sebuah sungai di tepi pulau itu, sepertinya sih itu bukan sungai tp laut.

"ibu, kemana Uty pergi?" tanya ayah "Uty sedang pergi ke sungai disana yah, dia ingin melihat ikan ikan itu" jawab Ibu "oh, baiklah. ayo kita memasang jaring disini, setelah 20 menit kita ambil lagi" kata ayah "baik yah." jawab ibu.

20 menit sudah terlewatkan, "yah ayo kita angkat jaringnya" kata ibu "ayah ada apa?" tanya ibu yang melihat ayah sedang bengong melihat langit. "ibu, lihat langit disana sangat gelap, dan udara juga tidak terasa seperti tadi" kata ayah "apakah akan ada badai yah?" tanya ibu khawatir "sepertinya begitu bu, ayo kita amankan perahu kita, dan berlindung di pulau ini" kata ayah.

Setelah mengamankan perahu, ayah dan ibu segera berlindung di pulau Fishi. tiba-tiba ibu teringat akan sesuatu "ayah, Uty ayah. dia masih disana" kata ibu "oh iya, Uty. ayo bu kita cari dia, jangan sampai dia terkena badai ini" kata ayah. Mereka pun segera mencari Uty,

"uty! uty!" teriak ibu dan ayahnya memanggil Uty. "yah, dimana Uty. dia seharusnya ada disini, ini sungai yang aku tunjukkan kepada Uty tadi" tanya ibu "ayah juga ga tau bu, ayah khawatir bila Uty berada di pinggir pulau sana, disana sangat berbahaya bu" kata ayah.

Tiba-tiba ayah dan ibu mendengar sebuah teriakkan "ayah, ibu!" kata Uty yang berada di pinggir pulau itu "yah, bu. disini banyak sekali ikan" kata Uty, ayah dan ibu hanya bengong terkejut karena melihat angin badai de belakang Uty, mereka berdua segera berlari kearah Uty dan berteriak "uty! awas nak!!" teriak mereka, namun waktu mereka tidak cukup untuk menolong Uty, Uty terbawa badai tepat di depan mata keuda orang tuanya.

"aa.. ibu! ayah!" teriak Uty "uty!!" teriak ibu sambil menangisi kepergian anaknya. setelah badai telah selesai, ayah dan ibu segera berangkat menuju desa Fuwa, namun ibu Uty tetap saja terlihat murung dan sedih.

Sesampai di desa Fuwa. "Uty!! apa kamu dapat banyak ikan?" teriak seseorang dan ternyata itu Ryna "lohh, dimana Uty?" bingung Ryna. ibu uty hanya menangis di depan Ryna, dan memeluk Ryna. "uty terbawa badai ryna, kita berdua tidak dapat menyelamatkan uty" kata ibu uty sambil terus menangis. "apa!" kata Ryna terkejut.

Is Uty Dead? atau sebenarnya masih hidup? ini misteri ..


Karya : Sahanaya Widya Pitaloka

SEBUAH LUKISAN

Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas…

“jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai memakai jilbab warna pink kesukaanku.

“ini kan hari minggu ma… jelita ada acara sama angga, jelita pergi dulu ya ma…” kukecup pipi mama ketika angga sudah di depan rumahku.

Motor ninja milik Angga melaju dengan kencangnya, sesekali Angga meraih tanganku agar aku memeluknya lebih erat. Ya… walaupun aku sama Angga sudah tunangan 1 bulan yang lalu tapi aku belum berani memeluknya maklum kan Angga belum menjadi suami yang syah bagiku…

“kita kemana sih ngga?”

“nanti kamu juga tau sayang…” Hanya itu jawaban angga

Tibalah di sebuah bangunan yang penuh dengan arsistek seni, wah baru kali ini Angga mengajak aku kesini.

“Kamu suka kan jel…kamu kan suka ngelukis jadi aku bawa kamu kesini”

“Makasih banget ya ngga…”

Kemudian Angga menggandeng mesra aku dan menyuruh aku masuk ke dalam yang dimana-mana terpasang lukisan cantk-cantik.

“Kalau kamu suka aku bisa beliin buat kamu kok jel…” Kata Angga sambil membenarkan jilbab aku mungkin berantakan gara-gara makai helm tadi.

“Ngga… lukisan itu… kok mirip aku sih… siapa pelukisnya?” kataku terkejut sambil memandangi lukisan yang begitu bagusnya.

“lho kok bener sih jel… ini bukannya mirip tapi sama persis dengan kamu… aku beliin lukisan ini ya…” Kata angga yang langsung berjalan ke bagian kasir.

“Pak yang lukisan ini harganya berapa?”

“Oh… maaf Mas lukisan ini nggak dijual soalnya ini sudah punya seseorang, entar juga mau diambil, disini Cuma masang bingkai nya doang kok mas… maaf ya mas kalau mau beli lukisan yang lainnya saja ya…”

“Pak… yang punya lukisan ini siapa namanya pak?” kataku memecahkan pembicaraan

“Lho… wajahnya mbak ini kok sama dengan lukisan ini ya…” kata bapak itu sambil mandangi wajahku heran.

“Bukan itu yang aku tanyakan pak.”

“Oh… kalau nggak salah namanya Mas Alexs mba…”

“Alexs…!!! Kamu kenal dengan dia nggak jelita?” Tanya Angga penasaran

“nggak… aku enggak kenal kok ngga… emangnya kenapa?”

“Ya udah.. nggak jadi cemburu deh..” kata Angga sambil senyum-senyum malu.

“hu… kamu ini kalau kenal nggak mungkin aku Tanya ngga… heee…hee”

Minggu ini aku seneng banget jalan-jalan sama angga sampai-sampai pulangnya larut malam jam 9:00… pasti deh aku kena omelan papa nih… aku jalan mengendap-ngendap masuk ruang tamu… huh… untung sudah tidur semua, pikirku dalam hati, tapi tiba-tiba saja lampunya menyala.

“jelita… kamu ini dari mana jam 9 baru pulang papa sama mama kwatir sama kamu” kata papa marah-marah.

“Maafin jelita ya pa.. ma… jelita tak akan ngulanginya lagi” kataku sambil mencium pipi papa dan mama bergantian

“Papa sama mama itu sayang banget sama kamu jelita papa tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu..” kata papa sambil menatap tajam padaku.

“Hem… Papa… lagian jelita pergi sama Angga.. nggak usah khawatir dong pa… dia kan tunangan jelita… lagian sebentar lagi juga mau menikah kalau jelita dah selesai kuliahnya..”

“Ya… udah sekarang sudah malem mandi terus makan sama mama sama papa… papa sama mama juga belum makan nungguin kamu anak gadis mama yang bandel ini…” kata mama sambil menyentuh lembut tanganku.

Rasanya aku seneng banget dengan kehidupanku… YA ALLOH Alhamdulillah… punya rumah megah, orangtua yang begitu sayang sama putrinya terus punya calon suami yang setia rajin beribadah, penyayang, kurang apa sih aku…tapi kadang aku merasa kesepian di rumah aku kan kepingin punya kakak atau adik juga biar bisa bercanda dengan aku bisa menghilangkan kesepian ku di dalam rumah.

Liburan semester ini kuhabiskan di rumah ya nemenin mama di rumah bantuin mama bersihin rumput di taman…

“Deeerrr…!!! Jelita kok melamun sih mikirin aku ya” tau-tau angga sudah berada di sampingku sambil nyengir kuda.

“lho… Kamu kok bisa masuk sini ngga bukankah pintunya aku kunci tadi”

“Bisa dong… papa sama mama kamu kemana barusan kok kayaknya buru-buru banget gitu”

“Barusan aja pergi katanya ke rumah nenek”

“kalau gitu kita maen yuk…” ajak angga

“kemana ngga? oh iya ke pak karma aja yuk…”

“Kamu kok sukanya kesana sich jel…?” kata angga sambil mengeryitkan dahinya

“aku Cuma penasaran sama lukisan itu sayang… kamu kok cemberut sih…” kataku sambil melirik dia

Kira-kira 3 jam perjalananku dengan angga akhirnya sampai juga. ketika aku mau masuk tiba-tiba saja aku ditabrak dengan seseorang.

“aduh…!!! Maaf mba” kata seorang cowok sambil membereskan semua lukisan yang berserakan tiba-tiba cowok itu menatap aku.

“Juwita…!! kau kah itu Juwita…” kata cowok itu sambil memeluk aku dan segera aku tampik cowok aneh ini.

“Apa-apaan sih kamu ini…” Kataku sambil menjauh

“kok kamu sekarang makai jilbab juwita? Kamu kemana saja” kata cowok itu lagi

“hay… apa-apaan si dia itu jelita tunangan aku buka juwita tau…!!! Kamu sembarangan meluk tunangan orang” kata angga yang mau mencoba memukul cowok di depanku.

“kamu juwita kan… bukan jelita, ini… ini… semua lukisan-lukisan kamu yang aku buat juwita sekarang impian aku jadi kenyataan aku jadi pelukis itu kan seperti harapan kamu juwita, aku cari-cari kamu kemana-mana nggak ketemu juwita kata ibu tiri mu kamu pergi jauh kemana kamu tega ninggalin aku juwita” kata cowok itu menangis di hadapanku… dan aku pun tidak tau akar permasalahannya…

“aku nggak tau siapa juwita… kenal aja nggak… nama aku jelita, nih KTP aku kalau kamu nggak percaya” kataku sambil menyodorkan KTP.

“tapi… wajah kamu itu kok sama dengan kekasih aku…”

“makanya jadi cowok itu jangan langsung nubruk cewek orang sembarangan, untung saja aku tadi nggak jadi nonjok kamu… dasar cowok aneh…!” kata angga sambil meringis kesakitan soalnya kakinya aku injak…

“maaf… nama kamu siapa? Terus udah lama berpacaran dengan juwita?” tanyaku ingin tahu

“kenalin aku Alexs sebenarnya aku sudah mau menikah dengan juwita tapi ketika pesta pernikahaan juwita nya menghilang katanya melarikan diri… keluarga aku panik kenapa mempelai perempuannya tidak ada terus kata mama tiri juwita katanya juwita melarikan diri soalnya dia tidak mencintai aku… tapi aku nggak percaya itu… Tidak mungkin juwita seperti itu… terus mama tiri juwita menyuruh aku harus menikahi putrinya saja adik tiri juwita namanya popy… akhirnya pesta pernikahan itu batal tidak jadi karena aku sama sekali tidak mencinta popy… aku Cuma mencintai juwita bukan popy… sekarang kepergian juwita tidak ada kabar beritanya… aku yakin dia enggak pergi… tapi apa bener nama kamu jelita” Tanya alexs padaku sekali lagi.

“ya ampun… kamu nggak percaya juga kalau dia jelita kuhajar dulu baru percaya apa..?” kata angga emosi

“jangan ngomong gitu dong ngga… gimana kalau sekarang kita ke rumahnya juwita..” tanyaku pada alexs.

“ke rumahnya juwita… jangan deh jelita soalnya popy itu nggak suka banget sama kakak tirinya… entar kamu dikirain juwita.”

“Harus gimana dong…?” kataku cari akal.

“Hem… Alexs kamu punya nomor telponnya papanya Juwita nggak” Tanya angga mengusulkan idenya.

“Aduch… ngga… papanya juwita sekarang lagi sakit stroke kalau ngomong nggak jelas… aku Cuma curiga sama tante Vony pasti semua kelakuan jahat tante Vony” kata alesx mantap.

“Angga… aku pengen ketemu sama papanya juwita siapa tahu aku bisa membantu dia…” Kataku sambil merayu angga.

Dari kaca gelap marcedesnya Angga aku melhat sebuah bangunan yang begitu indahnya… megah banget mirip istana.

“Wow… ini rumahnya lexs..?” kataku sambil memandangi rumah yang tertata rapi mirip istana di negeri dongeng…

“Itu… yang makai baju merah itu popy, sedangkan itu mamanya… eh dia mau pergi.. untung saja… kita ada kesempatan buat masuk” kata alexs sambil membuka pintu mobil dan aku sama angga Cuma bisa menguntitnya dari belakang.

“Assalamu’alaikum… bik luis… bukain pintu nya bik…” Kata alexs sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Dan tiba-tiba pintu terbuka muncullah wanita separuh baya dengan kebaya warna coklat walaupun usianya sudah tua tapi masih kelihatan cantik.

“Oh… den alexs… tumben datang lagi…” kata bik luis sambil memandangi kami bertiga.

“Oh… non Juwita… bibi kangen banget sama non juwita kemana saja sih non selama ini…” Kata bibi Louis sambil memeluk aku erat banget seakan-akan tidak mau untuk melepasnya.

“Bi… aku bukan juwita bi… tapi nama aku jelita…” kataku mantap sambil melihat sekeliling ruang tamu itu

“Je…li…ta…” kata bi luis bingung..

“A…da… ta..mu… si…a..pa… bi…?” Tanya seeseorang dari dalam.

“Den alesx… Tuan..” kata bi luis sambil berjalan mendekati papanya juwita dan mendorong kursi rodanya biar berdekatan dengan kami.

“A…lexs… a…pa… i…tu… ju..wi..ta…” kata pak darwis dari kursi rodanya

“bukan pa… tapi jelita” kata alexs mendekat ke pak darwis.

“je…li…ta… kau… kah.. itu… jelita…? kema…rilah su..dah… 20 ta…hun ki…ta ber…pi..sah deng..an mu nak… ma…af…kan pa…pa… ya… nak… pa…pa… ki…ra kamu su..dah… me..ning..gal dengan ibu..mu waktu kecelakaan mo..bil… ter…nya..ta… ka…mu… masih… hi…dup… wajah ka…mu… can…tik… ba..nget je..li…ta.. sa..ngat… mi..rip… de…ngan sau…da…ra… kem…bar.. mu… ju..wi..ta…” kata pak darwis berkaca-kaca..

“A…ku… nggak ngerti maksud bapak… aku bukan jelita anak bapak… tapi papa aku bernama Darius…” kata ku meyakinkan

Kutatap foto-foto yang tertata rapi di dinding… kemudian aku diantar ke kamar juwita… apakah mungkin dia kembaran ku… apakah mungkin dia saudara ku… terus pergi kemana kah dia sekarang..?


Karya : Iin Mawarni

KUNTILANAK

Di suatu malam yang mencekam. Bayangnya datang mengahampiri, Menjadi sosok yang menakutkan! Bergelantungan di atas tangkai, Mencari hati yang sepi.

Aku melangkah dalam malam. Menyusuri setiap jalan yang kulalui. “Ihhh kenapa sih? Setiap jalan sini bawaannya merinding terus” Batinku. “Desiiii, hik hik hik hik” Suaranya lirih, Membuat bulu kudukku berdiri. Bisikan itu, Seakan mengancam jiwaku.

Aku bekerja di sebuah PT dikawasan KIM karawang, Setiap hari aku pulang hampir tengah malam karena tuntutan lembur. Di desaku, Memiliki mitos tersendiri. Konon katanya, Di depan jalan dekat rumahku. Berdiri sebuah bangunan kosong yang kokoh. Karena terlalu lama tak berpenghuni, Bangunan itu menjadi sangat angker. Warga desa selalu mendengar teriakan seorang perempuan yang merintih dari dalam sana. Aku sendiri mengalami hal tersebut. Hampir setiap hari hantu itu mengganguku.

“Hiiiihhh, Siapa sih itu? Jangan ganggu dong” Teriakku dari luar rumah itu. Aku memberanikan diri. Berdiri sendiri di luar bangunan angker itu. Dari luar saja sudah terlihat menakutkan! Biasanya setiap kali melewati jalan itu, Aku akan lari terbirit-birit karena selalu saja merasa dihantui. “Tuh jurig kenapa selalu gangguin gua ya, Dia pake kenal gua lagi” Batinku kesal karena merasa aku juga tenar di dunia lain.

Kata warga disana, Dulu pemilik rumah itu adalah warga keturunan chinese. Mereka memiliki satu orang putri yang cantik, Tetapi setelah beberapa bulan menempati rumah itu. Putri mereka hilang entah kemana. Kemudian mereka memutuskan untuk mengosongkan bangunan itu dengan alibi yang tak jelas. Sejak saat itu, Bangunan itu menjadi sangat angker.

Kamurang, 21 juli 2016

Malam itu aku pulang sangat larut, Karena pekerjaan yang memaksaku menguras semua tenaga ini. “Lama-lama gua bisa jadi sangat kurus kalau gini terus, Arrrghh pak kemad pasti marah kalau tau anaknya yang semok ini berubah seketika” Batinku melucu disaat keadaan yang seharusnya mencekam.

Aku berjalan melewati bangunan itu, Malam yang seharusnya membuatku sedikit lega karena dapat merebahkan tubuhku di atas kasur. Tapi kenyataan tak berpihak untuk itu. Kutengok di sekeliling, Tak ada satu pun makhluk yang tampak disana! Kurasakan tubuh ini terguncang, Bukan hanya itu. Seperti ada mata-mata yang mengawasi. “Aaaa apaan itu? Putih-putih gitu” Aku berlari, Tapi tubuhku tiba-tiba tak dapat bergerak. Mulutku seakan terbungkam. Aku ingin berteriak, Rasanya ingin muntah! Kurasakan darah mengalir dari lubang hidungku. Mual, Itu yang kurasakan! Aku muntah, Tapi bukan seperti biasanya. Aku memuntahkan sesuatu yang menjijikan. “Belatung, Shiiittt” Batinku menangis, Aku marah pada diriku sendiri. Kejadian apa yang menimpaku? Kaki rasanya sangat berat kulangkahkan! Banyak suara-suara mengerikan yang hinggap di telingaku, Kulihat seorang perempuan berbaju putih sedang duduk di bawah pohon itu.

Sudah sejak lama pohon itu berdiri disana, Menunggu majikannya kembali. Pohon itu berdiri sebelum bangunan itu ada. Orang bilang, Itu pohon keramat. Lengkap sudah keangkeran bangunan itu. Aku yang sedari tadi diam kaku disini, Meratapi nasib apa yang akan menimpaku. Tapi kurasakan tubuh ini bergerak, Aku lajukan kaki ini. Berlari meninggalkan bangunan itu. Tapi kakiku tersandung “Oh tuhan, Kaki siapa ini?” Kulihat perempuan itu lagi, Mata dan wajahnya lebih mirip warga chinese. Aku pikir dia hantu yang telah lama hilang. Wajahnya sangat cantik tapi itu tak bertahan lama, Kemudian seperti petir yang menyambar tubuhnya. Wajahnya berubah menjadi sangat hitam, Lebih mirip tubuh yang telah terpanggang. “Arrrggghhh” Hantu itu mencekik leherku. Seakan kepalaku terputus dari tempatnya. Aku merasakan darah mengalir di sekujur tubuhku. Kepalaku menggelinding di tanah, Seseorang menendangnya. Hingga kulihat seberkas cahaya putih datang mengahampiri. “Apa itu? Apakah aku sudah mati? Bapakkk desi gak mau mati, Hik hik hik” Aku berteriak berharap seseorang membantuku. Cahaya itu membawaku pergi.

“Hah, Dimanakah aku?” Kulihat di sekeliling. Aku masih di jalan ini. Tarpaku menatap bangunan itu. Aku berlari sekencang mungkin agar dapat sampai ke rumah dengan selamat. “Bapak, Dedes pulang” Tak seorang pun yang menjawab. Kucium bau amis yang teramat mengganggu indra penciumanku. “Desiii, Desa ini terkutuk. Hik hik hik. Kau..” Hantu itu terus berbisik. Sangat parau, Suaranya seperti nenek tua. “Hiiih kenapa sih jurig itu sukanya bisik-bisik” Teriakku sambil terus mencari dimana asal bau itu. Kulihat bapak sedang terkapar di balik bilik kamarnya, Wajahnya sangat hancur terpanggang. Aku menangis, Aku menyalahkan takdir yang membawanya pergi.

Pak kemad adalah seorang bapak yang tangguh. Membesarkan aku hingga aku sebesar ini. Berbekal keringat. Dia raih tanganku dan menggenggamnya. Aku berani, Melawan takdir itu deminya. “Siapa kau, Tunjukkan makhluk jelek” Tak seorang pun yang menjawab. Aku berlari ke luar rumah, Berharap seseorang membantuku. Tapi yang kudapat. Semua warga tewas terpanggang. Aku berlari meninggalkan desa itu.

Seseorang menangkap tubuhku, Tangannya sangat pucat. Dingin, Itu yang kutahu. Wajahnya, Aku sangat mengenalnya. Perempuan itu! “Kau, Kau kuntilanak itu? Yang sering mereka bicarakan. Tolong, Aku mohon jangan ganggu aku” Kulemparkan tubuh itu agar menjauh dariku, Tapi yang kudapat. Tangannya masih menempel di bahuku. Tubuhnya terpental jauh kesana. Tangan itu menjambak rambutku. Seakan ada jiwa yang masuk, Aku merasakan mual. Tubuhku dingin, panas dan perasaan yang tak kumengerti. Aku bicara pada diriku sendiri.

“Hahahahaha, Hik hik hik hik. Akulah penguasa. Desa ini telah aku kutuk. Mereka mati di tanganku. Mati oleh apa yang seharusnya terjadi. Mereka membunuhku dengan itu! Aku sangat menyukai itu” Teriakku sambil terus menjambak rambutku sendiri. Seperti kebanyakan orang gila. Hal itu yang kulakukan. “Aku ratu disini, Hik hik hik hik. Kalian membunuhku” Aku terus meronta. Mengorek-ngorek tanah di bawah pohon itu. “Ini bukan pohon keramat, Ini rumahku. Kalian kubur aku disini” Kulihat tulang belulang disana. Kumakan semua itu, Tak ada yang tersisa. Semua itu begitu renyah. Seperti daging panggang! “Apa salahku pada kalian, Aku hanya ingin berteman. Apa perbedaan aku dengan kalian?” Aku bakar semua rumah itu, Semua orang mati terpanggang. Aku bahagia. “Desi, Kau seorang pembunuh. Kau harus mati, Kau harus mati dengan apa yang kau suka. Kau menyukai api. Karena itu, Kau harus mati di tangannya. Seseorang harus rela mati demi apa yang disukainya” Aku terus berbicara pada diriku sendiri. Tak ada seorangpun disana! “Arrrghhhh” Tubuhku terpanggang. Aku merasakan sakit yang teramat! Aku lihat semua orang tertawa. Entah sejak kapan mereka berada disana. Aku lelah, Aku ingin pulang.

Desi silvia adalah seorang gadis chinese yang cantik, Dia sangat menyukai api. Menurutnya api melambangkan keberanian. Pada suatu hari, Dia menyukai seorang pemuda. Pemuda itu menyuruh desi untuk membakar dirinya sendiri, Seseorang harus rela melakukan apa saja demi yang disukainya. Desi marah pada pemuda itu dan membakar tubuh pemuda itu dengan apa yang disukainya. Keluarga pemuda itu sangat marah, Mereka merencanakan kematian desi. Membunuhnya dengan cara yang sama. Akbar sangat membenci desi, Desi telah merenggut nyawa adiknya. Adik yang sangat dia cintai. Nyawa dibalas dengan nyawa. Dan aku, Aku adalah dia. Si perempuan itu. Kuntilanak yang sering mereka bicarakan. Aku.. Akan membalaskan dendamku. Kepada kalian yang suka bermain api. Kurobek jantungnya, Kupanggang hatinya. Hingga hancur, Tak tersisa! Aku dirasuki diriku sendiri. Yang tak menerima, Yang tak pantas mati. Aku ingin hidup seribu tahun lagi…


Karya : Dheea Octa

CAMPUR ADUK

HUM DIL DE CHUKE SANAM

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik...

CAMPUR ADUK