CAMPUR ADUK

Sunday, November 10, 2019

HARI MINGGU

Dono segera balik ke rumah setelah sholat di mesjid. Sampai di rumah langsung mengucap salam saat masuk rumah "Asalamualaikum."

Indro yang sedang bersantai nonton Tv setelah sholat di rumah dan menjawab salamnya Dono "Waalaikumsalam."

Dono pun segera masuk rumah dan melihat Indro yang asik nonton Tv.

"Don, hari ini minggu 10 november... kan?" tanya Indro.

Dono pun duduk di sebelah Indro dan berkata "Ia memang minggu 10 november."

"Jadi bener dong. Hari ini acaranya hari pahlwanan. Pantes ada acara Tv berkaitan perjuangan pahlawan negeri ini yang mengusir penjajah. Oh iya Don. Ngomong-ngomong tadi pagi kamu ke mana Don?" kata Indro.

"Aku. Tadi pagi....kasih tahu gak ya," kata Dono.

"Kasih tahu dong Don," bujuk Indro.

"Ok lah aku kasih tahu. Aku ziarah ke makam kakek," kata Dono.

"Ziarah ke makam kakek toh," saut Indro.

Dono pun beranjak duduknya bersama Indro ke dapur untuk membuat teh. Setelah itu gelas teh di bawa ke halaman belakang. Dono pun santai di halaman belakang untuk menikmati keadaan sekitar yang tenang dan juga langit yang cerah bertabur bintang.

Indro pun mencari-cari Dono, Eeee tahu-tahu lagi nyantai di halaman belakang. Indro pun langsung membuat kopi di dapur, setelah itu langsung segera duduk bersama Dono yang menikmati keadaan sekitar di halaman belakang.

"Don kemarin ada penampilan Ega dan Rafli di Tv gitu. Bagus gak penampilannya?" tanya Indro yang ingin tahu pendapat Dono.

"Bagus sih...aku nontonnya. Eganya terlihat cantik dan serasi dengan Rafli yang di pasangkan untuk moment berdua yang romantis gitu, suami istri," kata Dono.

"Cemburu gak Don," kata Indro yang mulai meledek Dono.

"Cemburu gak salah itu omongan. Emangnya aku ada hubungan apa dengan Ega?!," kata Dono.

"Mana tahu, kali aja ada gitu," kata Indro.

"Bencanda nie yeee," kata Dono.

"Yo.i," kata Indro.

Indro pun beranjak duduk bersama Dono untuk kembali nonton Tv lagi. Ya Dono tetap santai di halaman belakang. Kasino sampai di rumah dan saat masuk rumah mengucap salam "Asalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawa Indro.

Kasino melihat Indro yang santai minum kopi sambil nonton Tv.

"Indro. Dono mana?" tanya Kasino.

"Biasa di halaman belakang," jawab Indro.

Kasino pun memberikan kue di dalam plastik ke Indro. Seperti biasa Indro seneng dengan kue pemberian Kasino. Baru nyantai di rumah sebentar, Kasino dapet telpon dari Selfi. Kasino pun segera meluncur ke rumah Selfi, karena urusan pribadi banget. Indro pun memaklumi keadaan Kasino, berkaitan dengan Selfi.
Dono pun selesai juga nyantai di halaman belakang, karena teh yang di buatnya habis di minumnya. Setelah gelas di cuci sampai bersih dan di taruh di rak piring, baru deh Dono duduk bareng bersama Indro untuk nonton Tv sambil makan kue dari Kasino.

Dono pun dapet telpon dari Rara. Ya seperti biasa karena urusan penting Dono pun langsung menyelesaikan pembicaraan di telponnya dan menuju rumah Rara. Indro ya seperti biasa mengerti urusan Dono dan Rara.
Indro yang sendirian di rumah tetap santai nonton Tv. Lama kelamaan bosen nonton acara Tv......Indro. Di ganti lah nonton Tv dengan main game petualangan yang di sukai Indro ya...jelas PS 4. Indro terus asik main game Ps 4- nya. Dono dan Kasino selesai juga dengan urusan kekasih mereka berdua dan segera pulang ke rumah.

Sampai di rumah seperti biasa Dono dan Kasino mengucap salam mau masuk rumah bersamaan "Asalamualaikum."
Indro yang asik main game mendengar salam dari Dono dan Kasino, segera menjawab "Waalaikumsalam."

Dono dan Kasino melihat Indro asik main game. Jadi ikutan main gamelah Dono dan Kasino, tetapi di ganti dengan permainan game yang lain agar lebih menarik. Ketiganya sepakat untuk maik game Tekken 7 dan juga mainnya bergantian bagi yang kalah dalam permainan game pertarungan di buat tiga babak. Dono, Kasino dan Indro terus bermain game dengan penuh kegembiraan.

Friday, November 8, 2019

DI PINGGIR JALAN

Hari cerah banget.Toha duduk di pinggir jalan sambil minum es cendol dan melihat keadaan  lingkungan sekitar yang ramai dengan manusia menjalankan aktivitas masing-masing.

Juru parkir sibuk mengatur motor di pinggir jalan. Toha pun berkata dengan samar "Enak juga kerjaan tukang parkir itu mudah dan akhirnya dapet uang. Padahal hasil dari parkiran kan tidak di setorin semua alias di makan sendiri."

Budi pun menghampiri Toha yang sedang duduk di pinggir jalan.

"Hay sobat sedang apa kamu," kata Budi.

"Sedang santai melihat lingkungan sekitar, tepatnya tukang parkir," kata Toha.

"Tukang parkir. Padahal ya tukang parkir itu tidak semuanya orang baik-baik loe," kata Budi.

"Bukan orang baik-baik, maksudnya penjahat," saut Toha.

"Ya...bisa di bilang begitu. Dulu aku pernah berteman tukang parkir, namanya Ilham masih suku batak. Awalnya memang Ilham itu baik, kerjaannya tukang parkir. Lama-lama ketahuan kalau dia itu preman, ya samaran tukang parkir. Jadi ya biang masalah kecurian di lingkungan ulah dia dan kawan-kawannya," cerita Budi.

"Jadi teman mu penjahat toh," saut Toha.

"Ya...begitu lah, tapi sayangnya Ilham tidak bisa di tangkap karena tidak bukti yang jelas untuk kejahatannya. Tapi ada suatu cerita dari Ilham sendiri bahwa dirinya pernah menjual narkoba," kata Budi.

"Beneran atau gak kalau teman mu Ilham itu penjual narkoba," kata Toha.

"Kalau di bilang benaran cerita Ilham penjual narkoba sih mana tahu. Orang itu kisahnya bukan di kota ini. Saat itu Aku merantau ke kota lain, hanya teman kenal di jalan. Tapi memang benar banyak penjahat di lingkungan berkedok orang baik-baik setiap kota yang pernah aku tinggalin sekalian usaha jualan gitu," kata Budi.

"Ya...sudah lah ceritanya. Lebih baik kita tidak membicarakan tukang parkir ini dan itu. Kalau memang kenyataannya tukang parkir itu penjahat ya...sudahlah. Dunia ini ada yang baik dan buruk. Pasti penilaian kamu Budi benerlah. Tukang parkir itu tidak semuanya orang baik-baik. Apalagi tukang parkir liar, yang ngakunya parkir resmi," kata Toha.

"Sudahlah. Obrolannya aku mau julan lagi keliling," kata Budi.

"Iya," saut Toha.

Budi mulai lagi mendorong gerobaknya untuk menjajakan jualan batagornya. Toha beranjak dari duduk di pinggir jalan dan mulai juga mendorong gerobal es cendolnya. Dengan sabar Budi dan Toha berjualan barang yang di jualnya dengan baik.

SEANDAINYA AGAMA TIDAK TERLAHIR

Pagi yang cerah sekali. Keadaan lingkungan tenang sekali. Dono santai di halaman belakang rumah sambil melihat burung yang bermain di sebuah pohon yang rindang dan juga berkicau.

Indro yang selesai memasak untuk sarapan pagi dan telah menyiapkan hidangan di meja makan dengan baik. Indro pun pergi segera menghampiri Dono di halaman belakang.

"Don....sarapan yuk!" ajakan Indro.

"Iya," kata Dono.

Indro melihat Dono yang telihat murung, kaya ada masalah. 

"Don. Kayanya kamu ada masalah," kata Indro.

"Sebenarnya bukan masalah. Cuma pikiran aja sih. Hal ini di mulai dari pemberitaan tentang masalah agama yang ini dan itu," kata Dono.

"Kalau pemberitaan tentang agama gak usah di pikirkan. Cuma sekedar saja," saran Indro.

"Maunya cuma sekedar. Seandainya agama tidak terlahir, hidup di dunia ini kayanya lebih baik. Karena perdebatan antara agama yang satu dan lain untuk menunjukkan kebenaran gak ada. Apalagi aliran sesat ini dan itu yang berkaitan dari penyimpangan agama pun gak ada," kata Dono.

"Kalau seandainya agama tidak terlahir ada benarnya sih manusia tidak meributkan agama ini benar agama itu benar. Perselisihan manusia tentang agama pun gak ada. Karena agama telah terlahir, ya terima nasif aja jalan agama yang di jalanin kaum masing-masing. Toh agama pun banyak mengajarkan kebaikan untuk menjalankan hidup," kata Indro.

"Ya itu benar sekali. Agama yang telahir di muka bumi telah mengajarkan banyak kebaikan pada manusia yang ingin hidup di jalan kebaikan. Tetap saja pokok masalahnya kembali lagi. Gara-gara agama terlahir jadi perselisihan antara agama satu dengan lain, karena jalan yang di jalanin manusia berbeda-beda sesuai pilihan manusia itu sendiri untuk hidup layak di dunia ini. Pada akhirnya menunjukkan kebenaran lagi dan lagi," kata Dono.

"Itumah sama aja bulet. Kembali ke pokok yang sama. Tidak ada penyelesaiannya. Ya udah lebih baik sarapan aja. Jangan di obrolin lagi urusan agama ini dan itu yang menunjukkan kebenaran masing-masing kaum di muka bumi. Runyem tahu," kata Indro.

"Ya, sarapan," kata Dono.

Dono dan Indro ke meja makan untuk sarapan. Ternyata eee ternyata Kasino sedang santai makan. Dono dan Indro segera menyantap makan di meja dengan penuh ketenangan. Setelah perut terisi penuh alias kenyang. Dono, Kasino dan Indro menjalankan aktivitas masing-masing dengan penuh tanggung jawab karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena beban hidup yang di jalanin ya....cukup berat sih, tetap saja di jalanin dengan penuh kecerian dan berusaha membuang beban masalah yang terjadi pada diri karena suatu keadaan yang tidak harapkan.

TUMBEN

Malam yang tenang sekali. Dono sedang duduk santai di halaman belakang rumah sambil melihat bintang di langit dan menikmati teh buatannya yang enak banget. Indro baru pulang dari urusan kerjaannya. Pintu pun di buka Indro dengan kunci untuk masuk ke rumah.  Saat di dalam rumah Indro tidak melihat Dono.

Maka Indro menelpon Dono. Segera Dono melihat Hpnya yang berdering yang di taruh di atas meja. Bukan membales jawaban lewat telpon, malah Dono berteriak dengan kencang "Indro aku di halaman belakang."

Sontak Indro kaget mendengar panggilan Dono dari halaman belakang dengan suara keras. Indro pun langsung bergegas ke halaman belakang. Melihat Dono yang santai minum teh. Indro yang bawa tohu buting langsung di taruh di meja dan sekalian di tawarkan ke Dono.

Dono pun mengambil tahu bunting di dalam plastik dan di berikan ke pada kucing yang dari tadi menemani Dono. Kucing memakan tahu bunting yang enak itu. Dono dan Indro senang melihat kucing yang suka makan tahu bunting. Dono pun makan tahu bunting dan memberikan pujian pada Indro "Enak nie tahu buntingnya dan juga masih anget."

"Iya. Seperti biasa beli tempat langganan. Nabila gitu," kata Indro.

"Oh, Nabila toh yang jual tahu bunting yang enak ini," kata Dono.

"Tumben Don...tidak nonton Tv?" tanya Indro.

"Lagi males nonton Tv. Mau menikmati alam sekitar sambil minum teh. Dan juga aku tidak sendiri. Di temani kucing," kata Dono.

"Jangan-jangan karena acara Tvnya bikin kamu boring alias jenuh gitu," kata Indro.

"Ya.....gaklah. Males nonton aja. Cari suasana yang lain aja," kata Indro.

"Kalau gitu aku tinggal sendirian ya. Aku mau nonton Tv. Awas di datengin kuntilanak kalau duduk sendirian di halaman belakang," kata Indro.

"Mau nakutin. Gak mempan Indro," kata Dono.

"Ya. Aku tahu," kata Indro.

Indro pun langsung menuju ruang tengah dan segera menghidupkan Tv. Dengan seksama Indro menonton acara Tv yang membuat dirinya terhibur. Kasino selesai juga urusan pekerjaannya dan segera pulang ke rumah. Sampai di rumah Kasino langsung mengucap salam untuk masuk rumah "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Indro.

Kasino pun duduk bersama Indro.

"Indro mana Dono, biasanya nonton Tv?" tanya Kasino.

"Lagi santai di halaman belakang," kata Indro.

"Di halaman belakang toh. Tumben tuh anak. Biasanya main ke rumah Rara gitu," kata Kasino.

"Kalau urusan dengan Rara sih.Tanya aja langsung ke orangnya. Kenapa gak main ke rumah Rara?" kata Indro.

"Kalau nanya ke Dono tentang Rara. Nanti aja deh," kata Kasino.

"Ya...udah. Lebih baik nonton Tv aja," kata Indro.

"Iya, nanti setelah aku makan malam dulu," kata Kasino.

Kasino ke dapur buat mie rebus. Dengan sabar Kasino membuat mie rebus. Jadi juga mie rebus. Kasino segera memakannya mie rebus buatannya di meja makan. Indro mencium bau mie rebus buatan Kasino jadi kepengen, jadi segera beranjak dari duduk menuju dapur untuk membuat mie rebus. Indro biasa membuat mie rebus duo karena untuk memuaskan rasa laparnya.

Mie rebus yang di buat Indro jadi juga dan segeralah Indro untuk menyantapnya di meja makan bersama Kasino. Indro merasa kurang rasa pedas pada mie rebus buatannya maka di tambah sambel ABC. Baru setelah itu mulai Indro memakannya mie rebus pedasnya.

"Enak dan hot," kata Indro.

Indro terus menikmati mie rebus yang pedas gitu. Kasino sudah selesai menyantap mie rebus segera mencuci mangkoknya sampai bersih, lalu di taruh di rak piring. Kasino pun duduk di ruang tengah untuk menonton Tv dengan mengganti chenel Tv yang di sukai Kasino yaitu animasi Jepang.

Indro pun selesai makan mie rebus yang pedas dan segera mencuci mangkok sampai bersih, lalu di taruh di rak piring. Indro pun ke ruang tengah untuk nonton bersama Kasino, walau sebenarnya Indro ingin nonton acara Tv yang lain. Pada akhirnya ikutan saja Indro apa yang di tonton Kasino.

Dono santai di halaman belakang, tiba-tiba melihat bintang jatuh di langit. Sebenarnya ingin berdoa ketika melihat bintang jatuh, tapi gak jadi. Kucing dateng satu lagi dan hendak bertarung dengan kucing menemani Dono dari tadi, jadi Dono melerai pertarungan kucing yang merebutkan daerah kekuasaan. Setelah itu Dono memberikan tahu bunting keduanya.

Dengan senangnya dua kucing menikmati tahu bunting dan juga melupakan pertarungan keduanya. Dono senang melihat kucing yang akur sampai berkata "Seandai saja manusia yang perang bisa di buat akur lagi seperti kucing. Maka hidup lebih berarti lagi. Perdamaian tercipta lagi. Manusia hidup berdampingan dengan baik."

Dono pun santai lagi minum tehnya sambil menikmati alam sekitar dan indahnya langit malam bertabur bintang.

Thursday, November 7, 2019

SUATU KEBIASAAN

Dono sedang asik membaca koran di ruang tamu sambil menikmati minum tehnya yang enak buatan sendiri. Indro sedang asik mengetik di leptop untuk menyelesaikan urusan kerjaannya. Dono telah selesai membaca semua berita di koran dan berkata "Tidak ada berubah di lihat dari sana sini, tetap gitu-gitu aja".

Donon meletakkan koran di meja dan membawa gelas tehnya untuk duduk di halaman belakang untuk menikmati suasana yang tenang dan santai. Indro pun selesai juga dengan urusannya, lalu membuat kopi di dapur. Setelah itu membawa gelas kopi ke tempat Dono berada.

Indro pun santai menikmati minum kopinya. Saat kopi di taruh di meja mulai Indro berbincang-bincang dengan Dono. Indro agak sedikit terkejut dengan omongan Dono "Hidup ini dunia permainan manusia saja".

Maka itu Indro pun mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada diri Dono. 

"Don lebih sebenarnya kamu punya masalah atau tidak? Kalau ada cerita, mungkin aku bisa menolong!" kata Indro.

"Aku tidak punya masalah. Tadi habis baca koran, berita hari ini. Ya isinya cuma itu-itu saja. Lebih banyak menjelaskan sisi kebaikan dari berbagai sektor sih," kata Dono.

"Kalau cuma berita di koran sih. Itumah kerjaan orang-orang mencari makan. Ya pastinya sih lebih cenderung sisi baik lebih banyak. Sedang sisi buruk sih ya...seperti biasa sih....kritikan," kata Indro.

"Bener kamu Indro. Orang-orang nyari makan. Maka itu, ada berita di lingkungan kita contohnya kecelakaan gitu. Gak mungkin di liput oleh wartawan. Malahan yang di beritakan kecelakaan yang entah di mana. Malahan lebih baik meliput para pejabat karena wartawannya di panggil untuk membuatkan berita pencitraan pejabat, agar terkenal oleh masyarakat. Padahal kalau di baca berita tentang pejabat yang di masukkan berita di koran. Jenuh juga. Topik masalahnya gak berubah-berubah. Kadang lurus, kadang kusut dan kembali lurus. Jadinya bacanya boring...aja," kata Dono.

"Jangan ngomongin pejabat lah. Mereka hidup enak. Sedang kita berusaha bertahan dengan keadaan. Kebanyakan program kerja pejabat itu tidak sampai ke kita alias tidak terjamah," kata Indro.

"Ya memang bener kamu Indro. Banyak program kerjanya hasilnya tidak sampai ke kita. Paling kalau urusan infrastruktur bisa kita rasakan kalau yang lainnya..., sangsi lah," kata Dono.

"Astaga aku ada janji. Obrolannya kita lanjutin nanti Don. Aku mau menemui seseorang," kata Indro.

"Iya," kata Dono.

Indro segera minum kopi dan segera ke dapur untuk mencuci gelas kopinya dan di taruh di rak piring. Setelah itu Indro berganti pakaian di kamarnya. Baru deh berangkat ke tempat tujuannya. Dono tetap santai di halaman belakang sambil minum tehnya. Tiba-tiba Dono teringat sesuatu pekerjaan yang belum ia kerjakan. Ya berajaklah Dono dari duduknya di halaman belakang menuju kamarnya dan menghidupkan leptopnya.

Segera Dono mengetik pekerjaan dengan baik sampai selesai. Saat azan di kumandangkan. Dono mendengar azan. Pekerjaan pun selesai. Dono berbenah dirinya. Baru deh berangkat ke mesjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim baik.

DUNIA PERMAINAN

Dono baru pulang dari mesjid, langsung bersantai di ruang tamu sambil baca buku. Indro pun menyelesaikan urusannya dengan Saskia alias kencan, langsung pulang ke rumah. Saat masuk rumah, Indro menyucap salam "Asalamuailakum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono.

Indro pun duduk bersama Dono. Indro pun mengajak Dono main game PS 4. Sebenarnya Dono lagi males main game, tapi Indro bujuk Dono terus untuk main game. Jadinya Dono dan Indro pindah duduk dari tempat duduknya di ruang tamu ke ruang tengah untuk menyetel game PS 4.

Tapi ketika Tv di setel terlihat acara musik dangdut. Dono dan Indro menonton Tv. Terkadang Indro mengganti acara lawak dan berita hari ini.

Baru deh ganti acara Tv ke game. Dono mulai memilih karakter yang ingin di mainkan begitu juga Indro memilih karakter yang di mainkan. Setelah di putuskan ke keduanya di mulailah game. Permain game seru banget sekali. Tiba-tiba program game mulai eror. Dono dan Indro sudah khawatir takut masuk ke dalam dunia game kaya di film-film.

Saat itu Kasino selesai urusannya mengetik di kamarnya pake komputer bututnya. Melihat Dono dan Indro yang ketakutan sekali kalau game menarik mereka berdua masuk ke dalam game. Kasino segera memeriksa PS 4. Ternyata cuma kabelnya aja dan segera di benarkan oleh Kasino. Dono dan Kasino main gamenya di lanjutin lagi. Kasino pun menuju ke dapur untuk makan karena laper gitu. 

Lagi asik main game. Listrik mati. Dono pun memeriksa lingkungan sekitar. Ternyata listrik mati hanya rumahnya Dono. Indro membantu Dono untuk memeriksa meteran. Kasino pun ikutan cari penyebab mati listrik. Kasino mendapat penyebanya dari lampu di kamar Kasino konselet, jadi segera di ganti lampunya. Baru deh Indro menghidupkan listrik dari meteran.

Dono dan Indro tidak melanjutkan main game di PS 4, lebih baik main game di Hp saja. Keduanya asik main game di Hp. Kasino selesai masaknya dan segera duduk di ruang tengah untuk menonton acara Tv. 

Setelah di pilih chenel Tv oleh Kasino, maka di tetapkan tontonan acara chanel yang menayangkan animasi Jepang. Sambil menikmati makanannya, sambil nontonlah Kasino.

Dono dan Indro sibuk main game di Hpnya sampai salah satu baterai Hp lobet yaitu Dono. Maka Dono tidak main game lagi di Hpnya lebih baik baca buku. Indro terus main game di Hpnya dengan penuh keasikkan karena merasa kembali kekanak-kanak. Di mana masa Indro kecil, Ayahnya membelikan game tetris dan segera di mainkan Indro seharian penuh, sampai level tertinggi pencapaian poin permainnya.

Wednesday, November 6, 2019

UNIVERSITY MUSIK DANGDUT

Hari yang tenang di kediaman Dono di pinggiran kota Jakarta. Dono selesai membuat teh di dapur segera di bawanya gelas yang berisi teh tersebut ke ruang tamu. Sambil menikmati teh buatannya sendiri mulai Dono mengetik di leptopnya untuk membuat cerita di Blognya karena memang ada ide yang mengalir deras yang ingin di tuangkan dalam bentuk tulisan berkaitan kenyataan hidup apa adanya, terkadang di hiperbola sedikit agar jauh menarik berdasarkan pendapat Dono sendiri.

Indro sibuk sekali karena kerjaan yang lumayan ia dapetkan dari temannya. Kasino seperti biasa sibuk dengan urusan kafenya yang di bangunnya dari nol. Kasino telah banyak inofasi untuk kafenya agar ramai, salah satunya sih musik yang mudah di terima pelanggannya yang senang berkunjung ke kafenya Kasino.
Indro pun menyelesaikan urusan pekerjaannya dan langsung balik pulang ke rumah. Ya seperti biasa Indro membeli makan di jalan seperti es dugan dan gorengan. Sampai di rumah. Seperti biasa Indro langsung mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum".

Dono yang asik mengetik langsung menjawab "Waalaikumsalam".

Indro pun duduk bersama Dono di ruang tamu sambil menawarkan makan dan minuman yang di belinya. Dono dengan hati menerimanya. Indro membuka Hpnya ingin melihat berita terbaru tentang keadaan lingkungan sekitarnya lewat jaringan sosial medianya.

Indro pun berkata melihat tontonannya di Hpnya "Dangdut Awards".

Indro pun bertanya ke Dono yang berkaitan dengan acara lomba musik dangdut. Dono menanggapinya dengan santai dan berkata "University Musik Dangdut".

Indro terkejut dengan perkataan Dono "University Musik Dangdut", lalu Indro bertanya lagi "Don kenapa kamu bilang University Musik Dangdut?"

Dono menghentikan mengetiknya dan mulai menjelaskan dengan baik ke Indro "Lomba menyanyi di adakan di media televisi secara terus menerus dan memberikan arahan pendidikan ke pada peserta dan masyarakat agar jauh lebih memahami musik dangdut tema musik yang di lombakan musik dangdut tujuannya untuk mendapat penyanyi yang bertalenta dengan kualitas yang baik. Maka kesimpulannya University Musik Dangdut, kalau lulus dari tempat pendidikan tersebut alias juara. Anggap saja mendapatkan gelar S1 jurusan musik dangdut."

"Kalau aku pikirkan dan memahami omongan kamu Don.  Ada benarnya. University Musik Dangdut. Pada akhirnya ada nilai penghargaannya dari pencapaian dari mereka bekerja keras untuk menghidupkan musik dangdut di Indonesia agar tidak redup yaitu Dangdut Awards," kata Indro.

"Itu mengerti. Toh juga. Dulu pernah di buat sinetronnya berkaitan dengan University Musik Dangdut. Yang tokoh wanitanya Ega," kata Dono.

"Bener juga. Aku nonton tuh sinetronnya. Jadi benerlah perlombaan musik dangdut jadinya lebih tempatnya sih di sebut University Musik Dangdut," kata Indro.

"Udah lah ngobrolnya. Aku mau mengetik lagi," kata Dono.

"Iya, silakan Dono. Aku mau nonton Tv," kata Indro.

Indro pun beranjak dari duduknya bersama Dono di ruang tamu ke ruang tengah untuk menonton Tv. Dono pun selesai mengerjakan ketikannya dan segera di simpan dengan baik baru deh leptop di bawa Dono untuk di taruh di kamar. Setelah itu Dono duduk bersama Indro untuk menonton Tv.

Suara azan di kumandangkan. Dono dan Indro mendengarnya, jadi berbenah diri keduanya ke mesjid. Saat di mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah Dono dan Indro bertemu Kasino. Ya seperti biasanya Dono, Kasino dan Indro khusuk melaksanakan sholat asar. Selesai sholat. Dono, Kasino dan Indro ngobrol di teras mesjid berkaitan dengan masalah pemakaian cadar bagi kaum wanita dan celana cingkrang bagi kaum laki-lagi.

Dono lebih bersifat netral pola pembicaraan yang di bicarakan bersama Kasino dan Indro pada akhirnya ketiganya sangat memahami pembicaraan yang mereka bicarakan dan tidak lagi memanjang cerita mereka. Kasino pun memutuskan untuk kembali ke tempat kerjaannya. Dono dan Indro pulang ke rumah.

Tuesday, November 5, 2019

JALAN-JALAN

Pagi yang cerah sekali. Pepy jalan-jalan di pinggiran kota Jakarta untuk menikmati hari liburnya yang tidak bekerja alias nganggur aja. Seorang tukang es cendol sedang berdiam di pinggir jalan untuk menjajakan jualannya. Pepy mendekati tukang es cendol.

"Pak es cendolnya satu!" kata Pepy.

"Iya, Mas," kata tukang es cendol.

Tukang es cendol yang senang karena jualannya di beli, segera menaruh es cendol ke dalam gelas plastik dan di berikan kepada Pepy yang bersabar menunggu. Pepy mengambil gelas plastik berisi es cendolnya dan membayar es cendol dengan uang pas.

"Alhamdulilah, laris manis," kata tukang es cendol menerima uang dari pembeli.

Pepy melanjutkan perjalannya sambil minum es cendol yang enak banget. Seorang pemuda keluar dari toko pakaian dan hendak masuk ke dalam mobilnya. Pepy merasa tahu siapa pemuda tersebut dan berkatalah dengan samar "Atta Halilintar".

Pepy segera mendekati Atta Halilintar. Terkejut sih Atta Halilintar di datengin Pepy.

"Mas, Atta Halilintar beneran kan. Artis terkenal," kata Pepy yang polos.

"Iya," kata Atta Halilintar.

"Mas, aku ingin foto bareng dengan sampean pake Hp aku. Karena kebetulan ketemu artis di jalan gitu," kata Pepy.

"Boleh-boleh," kata Atta Halilintar.

Pepy pun foto bareng dengan Atta Halilintar. Hasil foto di simpan baik-baik oleh Pepy di Hpnya. Pepy pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Atta Halilintar yang sudah mau foto bareng dengannya di pinggir jalan. Atta Halilintar pun senang bertemu dengan orang seperti Pepy yang ngefans dirinya. Atta Halilintar pun masuk mobilnya karena ada pekerjaan yang akan di jalankan hari ini.

Pepy berjalan-jalan di pinggir kota Jakarta. Terlihat dari kejauhan ada gerombolan orang dengan membawa kamera. Pepy segera mendekati karena di pikirannya "Stuting".

Dekat banget di antara orang-orang membawa kamera yang meliput seorang pejabat kota Jakarta. Pepy ingin memastikan siapa yang di liput. Eeeee ternyata Pak Anies Baswedan. Pepy ikutan meliput pejabat kota Jakarta dengan menggunakan Hpnya.  Setelah dapet rekaman yang baik di Hpnya Pepy, segera meninggalkan kerumunan itu. Pepy melanjutkan perjalannya menikmati hari liburnya dengan penuh kebahagian.

Saat perutnya mulai bunyi kreriuk, tanda perut Pepy lapar. Maka Pepy masuk ke dalam restoran untuk makan siang. Tak di sangka dan tak terduka Pepy ke temu dengan artis penyanyi dangdut Siti Badriah. Pepy segera mendekatinya Siti Badriah.

"Mbak, boleh foto bareng," kata Pepy yang polos banget-banget.

Siti Badriah mengiyakan foto bareng dengan orang yang tidak kenalnya. Pepy yang senang foto bareng dengan penyanyi dangdut kesukaannya. Siti Badriah pun senang dengan fans yang polos banget kaya Pepy. Setelah foto bareng dan hasil foto pun di simpan baik di Hpnya Pepy.Tak lupa Pepy mengucapkan terima kasih ke Siti Badriah karena sudah mau foto bareng dengannya.

Pepy pun meninggalkan Siti Badriah dengan teman-temannya yang baru dateng ke restoran untuk makan siang. Pepy mencari tempat untuk makan siang. Pepy sudah mendapat tempat baik si pojokan untuk santai makan siang dan segera memesan makanan ke pelayan, ya seperti biasa makan ke sukaannya ayam bakat dan minumnya es jeruk. Pelayan restoran segera menyiapkan pesan orang yang memesan makan. Pepy menunggu pesanan makannya yang di pesannya sambil mendengarkan musik dari Hpnya dan musik yang di dengarkan Pepy adalah lagu yang di nyanyikan Sule dan Shima yang judulnya "Terpisah Jarak dan Waktu".

Pesan pun dateng dan di taruh di meja. Pepy segera menyantap makannya dan juga tidak lupa mematikan musik di Hpnya. Pepy bener-bener menikmati makan siang yang enak banget sampai kenyang dan juga es jeruk yang segar banget. Setelah itu Pepy membayarnya ke kasir dengan uang pas. Pepy melanjutkan perjalannya.

Sampai di taman kota. Pepy pun bersantai di pinggiran taman untuk melihat keadaan taman kota. Cukup lama di taman kota, Pepy memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya. Pepy langsung istirahat di ruang tengah, lebih tepatnya tidur-tiduran di  sofa sambil nonton Tv dan memilih acara yang menghibur dirinya.

Pepy pun terus santai dan santai banget di rumah menikmati tontonan acara Tv yang di sukainya.

Monday, November 4, 2019

TERKENANG

Indro lagi duduk di ruang tamu sambil memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.

Syair lagu yang di nyanyikan Indro :

"Biarkan sendiri
Biar ku pahami
Hadirku di sini buatku bersedih
Biarlah kecewa
Biarku terluka
Biarku tercela asal kau bahagia

Sering ku berjanji
Namun ku ingkari
Sering ku berdusta
Aku tak setia
Lelah ku melangkah
Sesat tanpa arah
Mencari pelita sebuah cahaya cinta

Cobalah kau rasakan
Akan hasil karya ciptaku
Cobalah kau dengarkan
Sebuah lagu maaf untukmu
Cobalah kau rasakan
Panggilan di dalam hatiku
Cobalah kau terbangkan
Dua sayap pada pundakmu"

Indro pun selesai menyanyikan syair lagu dengan baik, lalu menaruh gitar di atas meja. Indro pun beranjak dari duduknya di ruang tamu menuju ruang tengah. Dimana ada Dono yang sedang nonton You tobe dari Hpnya.

"Don asik banget nonton You tobe-nya," kata Indro.

"Iya, saya lagi nonton vidio musik dangdut," kata Dono.

"Musik dangdut...coba lihat," kata Indro.

"Nieee lihat sendiri," kata Dono.

Indro menonton You tobe dari Hpnya Dono. 

"Jadi yang kamu tonton vidio Lesti yang menyanyikan lagu egois, Kenapa Don?" tanya Indro.

"Aku sedang mempelajari diri syair lagu 'Egois' yang di nyanyikan Lesti. Karena aku lagi ingin mawas diri aja," kata Dono.

"Jadi di kamu merasa kamu egois?" tanya Indro.

"Ya....bisa jadi. Di masa lalu, aku pernah sih. Jadi aku sadar bahwa ke egoisan aku merugikan diri ku dan orang yang ku sukai," cerita Dono.

"Don.... Don.... Don... kirain. Masa sekarang. Kalau masa lampau sih gak perlu di kamu ungkit-ungkit lagi, biarkan saja. Toh urusannya gak penting. Gara-gara nonton musik dangdut dengan judul lagu Egois sampai terlarut dengan kenangan masa lalu. Pada hal aku tahu kedudukannya kamu Don dengan orang kamu sukai itu.....sama aja. Egonya. Dara muda. Salah satu mengalah seperti kamu langsung berakhir persoalan diantara keduanya," kata Indro.

"Ya begitulah Indro. Laki-laki lebih baik mengalah. Walau sebenarnya benar pun mengalah demi orang yang di sukai," kata Dono.

"Ya.....udah nonton Tv aja yang acaranya lombanya menyanyi!" kata Indro.

"Iya....aku idem," kata Dono.

Dono mematikan tontonan di You tobe-nya di Hpnya. Indro menyetel Tv dan langsung memilih chenel yang menayangkan perlombaan musik dangdut.

"Don.... Don.... Don.... Selfi penyanyi dangdut lagi nyanyi bersama Soimah. Yang namanya pernah kamu gunakan untuk tokoh wanita dalam tulisan kamu. Dengan tujuan sih....cuma reaksi biasanya pria gitu 'Terkesan saja'," kata Indro.

"Buka kartu aja. Jangan cerita nonton aja acara Tv yang sedang kita tonton ini!" kata Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono dan Indro fokus langsung nonton acara Tv yang di tontonnya. Kasino yang sibuk mengetik di kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Akhirnya Kasino pun selesai juga menyelesaikan pekerjaannya mengetik di leptopnya. Kasino pun keluar dari kamar langsung ke dapur karena merasa lapar, jadi masak mie instan. Selang berapa saat mie pun jadi buat Kasino dan segera menyantapnya di meja makan. Indro yang ingin minum beranjak dari duduknya menuju ke dapur. Tapi mie yang di makan Kasino tergeletak begitu saja di meja, sedangkan Kasino ke kamar sebentar karena inget sesuatu. Indro makan mienya Kasino satu sendok saja langsung cepat sekali dan mengambil minum di kulkas yaitu minuman kaleng, lalu kembali duduk bersama Dono yang asik nonton Tv.

Kasino kembali ke meja makan. Segera Kasino memakan mienya, karena Kucing sudah ada di meja ingin memakan mienya Kasino. Di turunkan Kucing dari meja makan. Kasino menikmati makan mienya. Baru setelah itu Kasino duduk bersama Dono dan Indro nonton Tv acara musik dangdut.

ASAL USUL DANAU RANAU

Danau Ranau mempunyai luas 144 kilometer persegi Danau ini terletak di pegunungan yang masuk kecamatan Banding Agung wilayah kabupaten Ogan Komering Ulu. Ketika aku berdiri di tepi danau aku dapat memandang alam pegunungan yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Udara alam pegunungan yang sejuk dan pesona Danau Ranau membuat betah berlama-lama di sana. Diantara para pengunjung ada yang asik mandi di tepi danau. 
Selain itu ada pula yang mengelilingi danau dengan perahu motor. Berkeliling danay dengan perahu motor mempunyai keasyikan tersendiri bagi para pengunjung. Di tepi danau banyak perahu motor yang disewakan untuk para pengunjung. Para pengunjung dapat berperahu menuju ke pulau Marisa yang ada di tengah danau. Di Danau Ranau tersedia tempat khusus untuk memancing. Adapula pengunjung yang memancing sambil berperahu.

Konon ceritanya, Danau Ranau terjadi karena kesaktian Puyang Seminang Mora, Dikisahkan, pada dahulu kala ada seorang pemuda bernama Patua Paso. Patua Pasao adalah kemenakan seorang raja di suatu daerah yang bernama Among Padoha. Patua tinggal disekitar Danau Toba di Sumatra Utara.

Sehari-hari Patua melakukan perdagangan hingga ke pulau Mindanao Filipina. Seperti biasanya Patua melakukan tukar menukar perdagangan. Pada waktu itu Patua Paso berkenalan dengan gadis cantik bernama Sondang, putri seorang pedagang kaya raya. Selain berdagang orang tua Sondang juga seorang kepala Suku Perak Tagalok bernama Tuan Mauru Sada. Mereka akhirnya saling jatuh cita. Beberapa bulan kemudian Patua Paso pulang ke Sumatera Amang Padoha setuju untuk melamar Putri Sondang.

Pada saat yang telah ditentukan, berangkatlah rombongan Patua Paso dengan menggunakan enam perahu layar. Selama berhari-hari rombongan mengarungi Lautan Hindia. Setibanya di Mindanao, acara lamaran segera dilaksanakan. Kemudian dilanjutkan dengan perkawinan pesta perkawinan mereka dirayakan tiga hari tiga malam. Setelah pesta selesai pasangan pengantin baru segera di bawa ke Negeri Batak.

Ketika pelayaran mereka mendekati pantai selatan Sumatra, rombongan di kejar segerombolan bajak laut. Ternyata, bajak laut yang kejam berhasil mendekat. Rombongan pengantin Patua Paso mengadakan perlawanan. Terjadilah pertempuran yang sengit diatas perahu. Anggota rombongan pengantin banyak yang tewas dan beberapa perahu mereka berhasil dikuasai bajak laut, perahu yang membawa paman Patua dan Ayah putri Sondang dikuasai perampok. Tiga perahu lainnya mereka tawan. Kini tinggallah lima perahu yang lolos dari kejaran bajak laut. Satu perahu di antaranya mereka yang terdiri dari emas dan intan permata.

Perahu yang membawa rombongan pengantin baru berhasil mendekati pantai. Sementara itu bajak laut mengejar mereka. Setelah sampai dipantai rombongan pengantin bergegas turun ke darat. Para pengiring segara mengangkut bahan makanan, dan barang milik kedua pengantin. Mereka berlari masuk rimba menuju kaki Bukit Barisan. Para bajak laut pun sampai di tempat para pengantin. Mereka berlari masuk rimba menuju kaki Bukit  Barisan.
Para bajak laut pun sampai di tempat para pengantin mendarat. Mereka membakar perahu rombongan itu. Setelah perahu terbakar mereka pun mengejar masuk kehutan belantara. Dua hari sudah bajak laut mengejar rombongan itu. Namun mereka tidak berhasil menangkap rombongan Patua.

Kita tinggalkan rombongan Patua, menuju ke masyarakat Komering di lereng gunung Seminung. Kelompok masyarakat suku Komering ini dipimpin oleh seorang, wanita setengah baya. Wanita ini sangat bijaksana dan suka menolong orang bila sedang susah. Ia bergelar Puyang Seminung Namora. Payang Seminung Namora memiliki seekor burung garuda yang setia.
Di kaki gunung Seminung ada danau kecil yang dinamakan Ranau. Dalam bahasa kawi kuno "Ranau" artinya tempat yang indah dan nyaman sesuai dengan  namanya Danau Ranau memang sangat indah biasanya danau di gunakan untuk mandi oleh rakyat pesisir. Selain itu para dewi rimba juga sering mandi di danau kecil itu. Sambil bercanda riang dewi rimba rimba menikmati keindahan disekitar danau.

Geografi sekitar danau penduduk bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selulu melimpah. Mereka menanam kopi, cengkeh, kayu manis, lada dan tembakau. Mereka tidak pernah merasa kekurangan. Penduduk negeri kecil ini hidup aman dan makmur.

Satu hari Puyang Seminung Namora, merasa ada suatu isyarat yang menggugah hatinya. Diambilnya cawan kecil berisi air untuk melihat apa gerangan arti isyarat itu. Dalam air ia melihat sekelompok orang dalam keadaan kesulitan di hutan belantara. Dilihatnya pula ada kelompok lain yang mengejar mereka di hutan belantara itu. Puyang Seminung Namora tahu siapa mereka itu. Setelah itu dia kehalaman rumah dan memanggil burung garuda. Dipanggilnya beberapa orang tua di negeri itu.

Puyang Seminung Namora berkata aku minta bantuan kalian. Aku melihat ada dua kelompok orang yang  berkejaran di balik Bukit Barisan mereka kurang lebih empat puluh orang. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku yakin itu bangsa kita kulit wajahnya dan perawakannya menunjukkan bahwa mereka suku yang hidup dipulau kita. Mereka sedang dalam kesulitan. Ada kelompok lain yang sedang mengejar mereka. Tubuhnya tinggi-tinggi kulit mereka seperti terbakar matahari. Mereka membawa pedang dan bedil. Pastilah mereka bajak laut. Kita harus menolong mereka.

Bagaimana caranya Puyangb ?"tanya burung garuda, Kemudian seorang mengajukan pendapatnya,"Puyang kami akan membuat keranjang besar-besar. Keranjang ini dapat ini gunakan untuk menolong mereka. Kami akan ikut garuda kesana untuk memberitahu mereka, bahwa kita akan menolongnya".

Setelah itu penduduk suku Komering membuat keranjang besar dengan bergotong royong. Mereka membuat keranjang kuat dari rotan. Tiap keranjang dapat memuat lima orang. Akhirnya keranjang siap untuk dibawa. Mereka pun berangkat kehutan bersama burung garuda. Burung, garuda mencekam keranjang dengan kedua kakinya. Tiap-tiap kerajang berisi satu orang. "Angkutlah mereka kesini kata Puyang. Burung garuda pun mengepakan sayapnya dan terbang tinggi. Ia terbang di atas Bukit Barisan, dan mendekat kerombongan pengantin.

Rombongan Patua dan Putri Sondang merasa heran, karena ada burung garuda menurunkan keranjang. Kemudian burung garuda mendapatkan keranjang di tempat tandus dilereng Bukit Barisan. Rombongan Patua segara mendekat garuda Utusan yang datang dengan garuda menjelaskan maksud kedatangan mereka. Rombongan Patua sangatlah gembira karena mereka mendapat pertolongan. Empat kali pergi selesailah tugas burung garuda membawa rombongan itu.
Rombongan Patua diterima Puyang Seminung dengan senang hati. Terima kasih Puyang. Jika kami tidak di tolong, kami tidak tahu nasib kami selanjutnya. Kami tidak bisa memasak makanan karena terus di buru bajak laut yang mengejar kami sangat jahat" kata Patua.

Sementara itu burung garuda kembali ketepi pantai. Kelima perahu diseret dengan kakinya ketengah laut. Kemudian dikepak-kepakan kedua sayapnya yang lebar. Air laut bergelombang tinggi dan besar karena kepak-kepakannya. Perahu bajak laut pun terseret ketengah laut. Perahu itu rusak dan tenggelam. Ketika para perampok kembali ke pantai, mereka kebingungan. Mereka tidak dapat menemukan perahunya. Akhirnya mereka kelaparan dan dimangsa binatang buas.

Di kediaman Puyang Seminung, rombongan pengantin baru melepaskan lelah. Mereka sangat bahagia telah di tolong puyang. Setelah merasa segar. Patua menjelaskan pengalaman selama di perjalan mereka Puyang Seminung sangat terharu dan berkata "kamu semua kami terima". Mereka semua sadar bahwa bentuk tubuh mereka serupa, antara suku Batak, Mindanao, dan Komering. Kita semua adalah keluarga", kata Puyang. Lalu Puyang berkata kepada khalayak ramai." Menurut adat kita, pengantin laksana raja sehari "Aku ingin merayakan perkawinan mereka. Mendoakan keselamatan pengantin baru. 

Kebetulan kita baru selesai panen padi. Kita pesta karena hasil panen baik. Kita menyambut tamu-tamu dari batak dan mindanao sebagai keluarga". Seseorang bertanya "Dimana kita merayakan pestanya Puyang ?. jawan Puyang" besok malam bulan purnama, kita akan merayakan pesta untuk negeri di Ranau, tempatnya akan kusiapkan.

Malam itu Puyang Seminung Mora menunjukkan kesaktiannya. Danau Ranau yang mulanya kecil bagaikan kolam di ubah menjadi danau yang sangat indah. Luasnya sampai sampai sepuluh meter persegi. Semua rakyat kagum dan gembira. Siangnya mereka membuat berpuluh puluh rakit dan perahu. Malam harinya dibawah sinar dan  perahu di tengah -tengah danau ranau. Para dewi juga turun menyebarkan wewangian sepanjang malam. Burung Garuda juga turut berpesta. Ia terbang di udara menjaga keamanan pesta rakyat suku Komering.

Begitulah kisah terjadinya Danau Ranau yang kutahu dari penduduk sekitar. Hingga saat ini orang masih percaya di atas Danau Ranau ada burung garuda. Walaupun burung garuda ini tak nampak dengan mata. Ia tetap setiap menjaga Danau Ranau. Jika manusia yang bertamasya di Danau Ranau dan Melanggar adat serta agama akan memberi ganjaran.

IKAN KAMAL TULIS CINDI

Pada zaman dahulu, di daerah kampung Blambangan Umpu (sekarang)berdiamlah seorang raja yang bernama Ratu Jimat. Sampai sekarang keturunan Ratu Jimat ini masih ada dan tetap hidup di tengah masyarakat ramai.

Ratu Jimat mempunyai seorang putri, Putri ini bernama Putri Kembang Dada. Putri Kembang Dada mempunyai beberapa orang pengawal untuk mengawal / mengawasi kemana Putri pergi, bahkan waktu tidurpun sang Putri harus diketahui dengan pasti oleh si pengawal. Hal ini dilakukan demi keselamatan sang putri raja.

Suatu ketika sang raja mencari putrinya dan memanggilnya melalui seorang pengawal. Pengawal mencari kesana kemari tetapi tak bertemu, Sedangkan hari sudah jam 10.00 pagi. Tetapi Putri Kembang Dada tak juga nampak. Pengawak mengira tak mungkin Putri Kembang Dada belum bangun dari tidurnya sejak semalam.Tetapi karena curiga kalau-kalau Putri Kembang Dada masih dalam kamar tidurnya dan belum bangun.

Ternyata putri Kembang Dada tak ada lagi dalam kamar tidur, tetapi kamar itu tetap terkunci. Jendela kamar diperiksa. Barangkali Putri Kembang Dada keluar lewat jendela kamarnya, tetapi juga tetap terkunci. Kemudian atap rumahpun diperiksa dengan teliti tetapi tidak ada bekas-bekas orang lewat. Sama sekali tak ada atap yang rusak atau genteng yang berlubang.

Putri kembang Dada mempunyai sebuah sicil yang terbuat dari suasa, yaitu hiasan berbentuk manusia. Setelah kamar Putri Kembang Dada diperiksa dengan teliti, sicil ditemukan dalam keadaan terpotong tetapi tidak putus. Melihat ini Raja Jimat yang turut memeriksa jadi terkejut dan berseru.

"Oh kemana. Anak ini perginya?"
Dengan muka murung dan cemas kembali berkata "Kacau demikian kita harus perang!"

Sambil menoleh kepada pengawalnya yang turut memeriksa kamar Kembang Dada. Ratu Jimat beserta pengawal dan pasukannya mempersiapkan alat dan bekal untuk keperluan dalam peperangan nanti. Setelah semuanya siap, kemudian mereka berangkat dengan berjalan kaki menyusuri tepi sungai Way Umpu. Setelah mereka tiba di Ulok Jambu-jambu (lubuk Jambu-Jambu) dekat persimpangan ke Giham (sekarang) tampak oleh Ratu Jimat sebuah perahu yang sedang berlabuh di tepi sungai. Melihat kedatangan Ratu Jimat beserta bala tentaranya perahu ini meneruskan perjalanannya ke Ulok Tawan. Ratu Jimat dan rombongannya menyusul arah perahu itu dan ternyata perahu itu milik Ki Agus Karang (Raja Lawok)yaitu Raja Laut (orang yang merajai laut).

Ratu Jimat yakin bahwa yang mengambil / menculik anaknya Putri Kembang Dada adalah Ki Agus Karang (Raja Lawok). Ki Agus Karang diserang habis-habisan. Ratu Jimat bermaksud mengambil kembali putrinya yang diculik oleh Ki Agus Karang, yang memang ternyata benar diambil oleh Raja Laut tersebut. Tetapi Ratu Jimat kehabisan tenaga dan putrinya tidak dapat kembali. Ratu Jimat gagal membela putrinya. Putrinya ternyata telah memilih tetap mengikuti Ki Agus Karang. Ratu Jimat dalam peperangan itu dapat bertemu dan berbicara. Dengan putrinya, dan putrinya berkata,
"Pak, saya jangan diambil oleh Bapak. Saya akan menjadi istri Ki Agus Karang. Permintaan saya, saya mohon Bapak dapat memberi sessan untuk saya (sessan barang-barang pemberian orang tua gadis kepada anaknya yang kawin). Saya akan pergi bersama Ki Agus Karang. Bapak barus melaksanakan begawi (begawi = pesta adat. Pesta adat untuk melepas putrinya yang kawin dengan Ki Agus Karang)".
Mendengar perkataan anaknya, Ratu Jimat menjawab, "Baiklah! Nak. Hanya saja usulmu itu terlambat. Bapak sudah kepalang ingin berperang melawan Ki Agus Karang. Bapak akan membunuh Ki Agus Karang!"

Setelah bercakap-cakap dengan anaknya, Ratu Jimat pergi dan bertemu dengan Ki Agus Karang dengan rencananya (menculik) anaknya. Ki Agus Karang masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Ratu Jimat.
"Hendaknya kita membuat suatu perjanjian. Siapa di antara anak buah paskam (maksudnya anak buah Ratu Jimat) dan siapa keturunan puskam yang ada di sini, diapakan saya ini. Menjawab Ratu Jimat.

"Siapa yang memakan sirih saya ini, sampai turun temurun, berarti bukan keturunan saya, dan siapa yang tidak memakan sirih saya ini itulah keturunan saya".

Karena adanya perjanjian antara Ratu Jimat dan Ki Agus Karang, maka peperanganpun dapat dihindarkan. Ki Agus Karang tetap membawa putri Ratu Jimat untuk diperistrikannya, dan Ratu Jimat kembali ke kampungnya semula di Blambangan Umpu. Sebelum Ratu Jimat kembali ke Blambangan Umpu dan Ki Agus Karang meneruskan perjalanannya membawa putri Ratu Jimat, yaitu ketika mereka sedang mengadakan perjanjian tadi, Ratu Jimat meludahkan air sirih yang dimakannya ke air sungai. Ludah air sirih Ratu Jimat ini ternyata seketika berubah menjadi Ikan Kamal yang warna / tulisan pada badan ikan itu lurik-lurik emas. Karena bertuliskan lurik emas ini maka ikan ini dinamakan Ikan Kamal Bertulis Cindi.

Sesuai dengan perjanjian tadi, maka barang siapa anak buah keturunan Ratu Jimat yang memakan Ikan Kamal Bertulis Cindi ini akan mendapat musibah yaitu badan mereka menjadi belang menyerupai warna ikan Kamal tersebut).

Keturunan Ki Agus Karang dengan Putri Kembang Dada (anak Ratu Jimat), maka keturunan ini jika memakan ikan Kamal Bertulis Cindi badannya akan menjadi belang juga. Dan karena itu pula mereka ini tidak pernah terserang penyakit ta'un (sebangsa ayam) sebab dikatakan bahwa ta'un itu sendiri adalah keturunan dari Putri kembang Dada.

Sepanjang cerita, keturunan Putri Kembang Dada ini merupakan makhluk halus yang adanya di sungai di Blambangan Umpu. Sampai sekarang jika keturunan Ratu Jimat yang ada di kampung (manusia biasa, dan sampai sekarang masih ada)jika akan begawi (berpesta adat secara adat), harus mengirimkan sessan ( pemberian pihak orang tua gadis kepada pihak gadisnya pada waktu upacara adat perkawinan). Sessan yang dikirimkan oleh keturunan Ratu Jimat dan masih berlaku sampai masa sekarang ini adalah berupa manusia, barang-barang. Sessan ini dimaksudkan dikirimkan untuk putrinya yaitu Putri Kembang Dada. Cara mengirimkannya adalah dengan membakar menyan dan kemudian sessan ini ditaruh di atas rakit atau perahu dan dihanyutkan di sungai.
Karena pada zaman sekarang ini telah banyak percampuran penduduk yang berasal dari berbagai daerah dan berdiam di satu tempat, maka sebagai ciri untuk mengetahui apakah keturunan Ratu Jimat atau bukan di Blambangan Umpu, pada waktu mereka begawi, mereka tidak mau memotong kerbau putih, Jika mereka memotong kerbau putih berarti mengundang orang-orang dari laut/sungai yaitu keturunan Putri Kembang Dada. Karena merasa diudang oleh kelompok mertua (keturunan mertua Ki Agus Karang (karena memotong kerbau putih), maka mereka ini keturunan Putri Kembang Dada) yang berupa makluk halus dari sungai / laut, pasti mereka datang untuk menengok / menghadiri keturunan  mertua mereka yang sedang mengadakan pesta adat. Karena itulah maka setiap waktu keturunan Ratu Jimat ini begawi, sekitar lima atau enam orang akan mati pada waktu begawi itu atau karena menurut kepercayaan mereka diambil sebagai sessan. Yang meminta sessan ini adalah Putri Kembang Dada yaitu istri Ki Agus Karang Putri Kembang Dada adalah anak Ratu Jimat). Inilah sebabnya Rat Jimat punya anak gadis yang kawin dan berada di laut sebagai makluk halus.

Larangan makan ikan Kamal ini bagi keturunan Ratu Jimat terhitung segala macam jenis Kamal. Sampai sekarang jika akan datang musim kemarau atau terjadi, wadah suatu penyakit ataupun suatu huru hara dalam masyarakat, maka ikan Kamal Bertulis Cindi ini akan menampakkan dirinya di sungai.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK