CAMPUR ADUK

Tuesday, January 15, 2019

SURAT CINTA

Melihat  langit dengan jelas oleh Dono dan mengucap "Indah bener pemandangan langit cerah ini."

Dono pun duduk bangku di samping rumahnya setelah membereskan kebun samping rumahnya. Dono mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.

"Cintaku cintaku padamu
Tak besar seperti dulu
Dulu kau begitu menilai cintaku
Begitu rendah di matamu
Sayangku sayangku padamu

Tak indah seperti dulu
Maumu begini maumu begitu
Tak pernah engkau hargai aku
Oww wouuu...I'm Sorry

Ku tak akan love you lagi
Ku peluk memeluk dirimu
Tak hangat seperti dulu
Ku jadi selingkuh karena kau selingkuh
Biar sama-sama kita selingkuh
Oww wouuu...I'm Sorry
Ku tak akan Love you lagi
Biar ku putuskan saja

...Ku tak mau hatiku terluka
...Lebih baik ku cukupkan saja
...Ku ta mau batinku tersiksa
Jangan kau slalu merasa
...Wanita bukan  dirimu saja
....Lebih baik ku putuskan saja
...Cari pacar lagi

Jangan kau slalu merasa
...Wanita bukan dirimu saja 
....Lebih baik ku putuskan saja
....Cari pacar lagi
Wooo...Cari pacar la...gi
Wooo...Cari pacar la...gi."

Dono pun mengakhiri lagunya dengan baik.

"Puas....perasaan poll....nyanyin satu lagu dari dari Charli......ST12 atau Setia Band. Ah bongkar pasang personil dalam Band ..itu sih biasa. Paling pokok permasalahnya urusan... Uang kalau gak..... Ego," celoteh Dono.

Dono pun masuk ke dalam rumah dan duduk sofa di ruang tamu. Ternyata Indro sedang asik ngopi sambil baca komik. 

"Tumben main gitarnya di luar?" tanya Indro.

"Ah.....sudah biasa kok main di rumah dan di luar rumah. Cuma kamu aja yang gak melihat saya kalau menyanyi di luar rumah," jawab Dono sambil menaruh gitarnya di sofa.
"Maksudnya kamu adalah ngamen....ya?" tanya Indro lagi.

"Iya..lah. Kalau saya gak punya kerjaan lebih baik ngamen. Tapi di daerah tertentu agar enggak di tangkep polisi pamong praja," penjelasan Dono.

"Sedikit mencari rezeki dan melatih mentalkan?" tanya Indro.

"Yo...i. Kalau gak gitu gak matang," saut Dono.

Dono beranjak dari duduknya dan ke dapur untuk membuat kopi. Selang beberapa saat kopi jadi buat Dono dan langsung di bawa ke ruang tamu dan duduk bersama Indro. Dono pun menyeruput kopi panasnya.

"Pas manisnya," kata Dono.

Indro tak segaja menemukan surat kecil yang isinya singkat banget untuk menunjukan perasaan pada seseorang di dalam lembaran komik yang di bacanya.

Isi surat

"Cinta....cinta....cinta.....cinta. 
Cinta.....cinta...cinta. 
Benar...benar...benar ...cinta sama kamu SILFI."

Dari Dono.

Indro pun bertanya pada Dono "Dono..ini suratnya cinta kamu."

"Mana?" tanya Dono.

"Ini," saut Indro sambil menyerahkan kertas kecil.

Dono pun mengambil kertas kecil dari tangan Indro.

"Iya...ini surat cinta saya," pernyatan Dono dengan jujur. 

"Jadi benar kamu suka sama Silfi  teman SMA kamu yang rumahnya gak jauh dari daerah sini?" tanya Indro.

"Kalau benar kenapa kalau gak benar kenapa?" kata Dono yang membingungkan.

"Saya..sih gak ada masalah. Tapi bagaimana dengan Wulan?" tanya Indro.

"Ah....Indro. Kalau di kaitkan dengan Wulan jangan di omongin. Awalnya dia akhirnya dia. Tapi masalah Silfi ini alasannya saya yang mencoba untuk mengalihkan perasaan saya. Tapi setelah di jalankan dengan cara berteman dan ingin menembaknya  lewat terus terang-terang ternyata gagal. Hampir saya mengecewakan Wulan demi cewek lain. Maka surat cinta itu adalah pernyataan saya ketika mau mengungkapkan perasaan dan saya simpan menjadi saksi bisu cinta saya pada Silfi," penjelasan Dono.

"Jadi tetap gak bisa kelain hati. Bener-bener kamu Dono...cowok yang mencari tahu kebenaran dari perasaannya. Bagaimana dengan Sifli?" kata Indro dan mengajukan bertanya ke Dono.

"Silfi. Tetap jadi teman saja. Itu saja kok," kata Dono.

"Bener-bener...Wulan ....wanita yang pantas mendampingi kamu," pernyataan Indro.

"Iya. Tapi saya pun pernah di uji juga sih dengan perasaan Wulan. Tak sengaja Wulan jalan bareng dan mulai pindah perasaannya. Saya tahu orangnya. Tetap saya bersabar. Karena saya yang salah duluan bermain perasaan dengan Silfi. Karena belajar dari kesalahan saya maka saya tahu keadaan perasaan Wulan sebenarnya. Dan Wulan pun tidak jadi mengalihkan perasaanya malah dia duluan yang hebat mengungkapkan bahwa ada orang yang menyukai dia," cerita Dono.

"Jadi bagaimana Dono?" tanya Indro yang ingin tahu banget.

"Terus terang saya yang kalah sama Wulan. Tapi Wulan sudah tahu saya ada hubungan dengan Sifli. Malah ia marah besar. Untung saja saya bisa menjelaskan. Jadi ...ya saya di terima lagi dengan Wulan. Tapi nunggu Wulan reda dulu dari amarahnya," kata Dono.

"Kamu kabur saat Wulan marah-marah sama kamu?" tanya Indro yang ingin tahu ceritanya.

"Ya..enggaklah. Saya yang salah dan meminta maaf. Saya sabar aja menghadapinya. Lagian saya cintanya sama Wulan ya..otomatis yang saya terima baik dan buruknya dia dan Wulan pun sama cintanya sama saya," kata Dono dengan penuh pernyataan yang jujur.

"Sedikit rumit perjalan cinta kamu Dono. Tapi benar kata orang-orang. Yang namanya jodoh itu sifat dan tingkah laku tidak jauh-jauh...gitu. Dono dan Wulan," kata Indro.

"Bisa di bilang begitu," saut Dono.

"Jadi surat cinta kamu itu mau di apain Dono?" tanya Indro.

"Saya buang saja. Gak ada guna lagi," kata Dono sambil memasukan kertas yang di genggamnya ke dalam tong sampah.

"Keputusan yang bijak," saut Indro.

Keduanya pun menyeruput kopi yang enak buatan masing-masing. Lalu Indro menghentikan baca komiknya dan mengetel Tv untuk menonton acara FTV. Sedangkan Dono hanya ikut saja maunya Indro. Keduanya menikmati acara Tv sambil minum kopi.


Karya: No

TERTARIK SUARA MERDU

Malam hari yang begitu indah. Dono sedang santai di ruang tamu sambil memegang gitarnya. Lalu mulai lah Dono memainkan gitarnya dan suaranya yang serak-serak basah pun di mulai di keluarkan untuk menyanyikan syair lagu.

"Empat belas hari
Ku mencari dirimu
....Untuk menanyakan di manakah dirimu
Empat belas hari
Ku datangi rumahmu
Agar engkau tahu tertatih ku menunggumu

Aku kangen sama kamu

Apa kamu udah ga sayang aku
Maafkanlah aku
Lari dari kenyataan
Bukan karena aku
Tak punyai rasa sayang
Maafkanlah aku
Mencoba tuk berlari
Karena suatu nanti
Engkau pasti kan mengerti

Kamu pacar terbaikku

Walau hanya sekejap di hatiku
Me....ngapa hanya sekejap saja
Ku merasakan indahnya dengan dirimu
Me...ngapa hanya untaian kata
Kurasa tiada sempurna cerita cinta kita."

Selesai menyanyikan lagu dari semua orang pun terpukau dan bertepuk tangan tanda suka dengan Dono menyanyikan lagu tersebut. Dono bingung melihat semua orang.

"Kenapa kalian ngumpul di rumah saya. Kan di sini gak ngadain ada acara hajatan?" tanya Dono.

"Karena kami semua tertarik dengan suara mas Dono merdu," kata para warga.

"Sudahlah..bubar semuanya!" kata Dono dengan tegas.

"Iya," jawab semua warga.

Semua warga yang berkumpul di rumah Dono yang tertarik dengan suara yang merdu akhirnya pun kembali keaktivitas mereka masing-masing.

"Ingin menghibur diri. Eeeeh.....malah banyak yang ingin mendengarkan saya bernyanyi. Kaya konser aja," kata Dono.

Dono pun menaruh gitarnya di sofa yang tua. Lalu ke dapur untuk membuat kopi. Saat Dono sibuk membuat kopi di dapur. Tiba-tiba Indro langsung duduk di ruang tamu dan memainkan gitar dan menyanyikan sebuah  syair lagu.

"Kemarin kau datang menemui aku
Saat aku ragu saat aku layu
Canda tawamu tenangkan aku Yolanda
....Ku bawa cinta sebesar dunia
Agar engkau tahu besarnya cintaku
Apa kau tak merasa kau tak meraba Yolanda

Aku menunggumu di tempat biasa
Ku harap kau datang menemui aku
Jangan terlambat ku harap cepat Yolanda
Lelah hati ini mencari dirimu
Lelah kaki ini untukku melangkah
Untuk temui dirimu kasih Yolanda

Kamu di mana dengan siapa
Semalam berbuat apa
Kamu di mana dengan siapa
Di sini aku menunggumu dan bertanya
Kamu di mana dengan siapa
Semalam berbuat apa
Kamu di mana dengan siapa
Di sini aku menunggumu dan bertanya."

Saat Dono keluar dari dapur membawa kopi panas. Melihat kerumunan warga yang asik mendengarkan Indro yang bernyanyi dan para warga ikutan juga.

"Kalian lagi......kenapa ngumpul. Kan gak ada acara hajatan di sini?" tanya Dono.

"Kami suka mendengarkan mas Indro bernyanyi. Karena bagus sih suaranya," kata para warga.

"Loh....tadi saya bernyanyi....kalian ngumpul juga. Penjelasanya pun gak jauh beda. Ya...udah bubar tidak ada acara konser band di sini!" kata Dono.

"Iya," jawab semua warga.

Dono pun duduk di sebelah Indro sambil menyeruput kopi panas.

"Eeeeeenakkkkkk," kata Dono.

Indro pun ingin bernyanyi lagi dan gitar mulai di mainkan. Dono menaruh kopinya di meja sambil berkata "Indro sudah bermain gitarnya dan bernyanyi lagi. Nanti pada ngumpul lagi. Rame...deh. Kaya acara konser aja."

"Tapi gak ada masalah Dono. Mereka suka ada hiburan di daerah sini," kata Indro.

"Ya...iya. Tapi kan. Saya ingin bersantai bukannya menciptakan keramaian," penjelasan Dono.

"Sudah lah saya tidak jadi main," kata Indro sambil menaruh gitar di sofa.

Dono pun kembali menyeruput kopinya dan berkata "Enakkkkk."

Tiba-tiba Indro merasa mual dan gak enak badan. 

"Dono ada obat gak?" tanya Indro.

"Obat apa?" tanya Dono.

"Masuk angin," kata Indro.

"Kaya...sih saya ada obatnya. Entar saya ambil," kata Dono.

Dono bangun dari tempat duduknya dan mencari obat yang berada di meja makan.

"Ini obatnya," celoteh Dono.

Dono langsung menuju ruang tamu dengan cepat.

"Ini ....Indro....obatnya," kata Dono sambil menyerahkan obat ke Indro dengan tangan kanannya.

"Iya. Terima kasih.....Dono," kata Indro sambil menyambut obat dengan tangan  kanan.

Indro langsung membuka kemasan obat tersebut dan langsung di minum.

"Enakkkkkk...rasanya...pollllllll...Saya sembuh," kata Indro.

"Manjurkan obatnya," kata Dono.

"Iya.....Bejo.....Tolak Angin," saut Indro sambil membuang sampah pada kotak sampah.

Dono kembali meminum kopinya.

"Enak...enak..enak," kata Dono. 

Dono pun ingat sesuatu dan berkata "Indro kenapa kamu nyanyikan lagu dari Kangen Band?"

"Ya...suka aja," saut Indro.

"Masalahnya saya juga tadi nyanyikan lagu Kangen Band. Kok bisa sama ya?" kata Dono.

"Hanya kebetulan saja. Tapi saya suka lagunya dan kamu Don...?" kata Indro langsung mengajukan pertanyaan.

"Ya..suka...sih...lagunya. Tapi......."

"Suka aja Don. Jangan urusan masalah personil Band...ini dan itu. Kualitas mereka ada itu sudah penting menunjukkan kemampuan dari mereka semuanya," kata Indro yang menyambung omongan Dono.

"Saya...tahulah. Untuk mencapai sukses itu sulit. Apalagi di industri musik di mulai dari nol sakitnya bukan main. Berakit-rakit kehulu bersenang-senang kemudian. Itulah kenyataan perjalan hidup dari personil Band Kangen. Walau banyak kontrafersi. Yang penting masyarakat mengakui kualitas dari musik mereka. Itu sudah cukup," penjelasan Dono

"Sipp...!" saut Indro.

Dono pun kembali asik menyeruput kopinya.

"Dono tumben jam segini gak nonton Tv?" tanya Indro.

"Saya lagi suntuk. Abisnya lagi ada sedikit masalah. Tapi memang berat sih," kata Dono.

"Masalah kamu sih dari dulu sampai sekarang gak berubah. Urusannya dengan tempat tinggal kamu," kata Indro.

"Namanya juga numpang di tanah orang. Sengketa. Sudah gak usah di ambil pusing. Paling pindah. Kalau punya rezeki.....saya beli. Tapi zaman sekarang susah...jalanin hidup menjadi orang kaya," kata Dono.

"Kenapa gak coba..ikutan lomba nyanyi LIDA 2019  di adakan Indosiar?. Siapa tahu kamu bisa menang?" saran Indro.

"Indro kemungkinan kecil untuk berhasil jadi juara karena pesaingnya banyak dan membutuhkan waktu lama. Padahal saya dalam waktu dekat kemungkinannya besar masalah saya di gusur...itu yang paling penting. Kalau urusan surat menyuratnya selesai. Namanya juga nasip rakyat kecil," kata Dono.

"Susahnya jadi orang kecil. Hanya mimpi saja. Kalau begitu sih saya terima kamu di rumah saya. Kalau terjadi penggusuran," kata Indro yang memberi solusi.

"Saya..terima alternatif kamu yang paling baik. Benar kamu adalah sahabat terbaik saya,"  pujian Dono yang antusias banget.

"Iya..sama-sama," saut Indro.

Indro pun menyetel Tv  yang berada di ruang tamu dan mencari chanel Tv yang menayangkan acara musik. Sedangkan Dono asik meminum kopi buatannya.


Karya: No

Monday, January 14, 2019

ANALISA DAN ANALISA

Pagi yang cerah di kediaman Dono di pinggiran kota Jakarta. Masyarakat sibuk dengan aktivitasnya setiap hati. Dono duduk ruang tamu sambil ngopi dan baca koran. Indro pun bawa caturnya dan langsung duduk bersama Dono.

"Main catur!" ajakan Indro.

"Ayo," jawab Dono.

Dono pun menghentikan baca koran dan di taruh meja. Dono dan Indro menyusun pion catur pada papan catur. 

"Dono....putih hari ini!" kata Indro.

"Ok."

Dono pun mulai menjalankan pion putih begitu juga Indro menjalankan pion hitamnya. Tiba-tiba Dono menyerang dengan memajukan kuda. Indro pun langsung membuka celah untuk menjalankan ster. Di tengah pertandingan catur. Indro pun punya unek-unek mulai membicarakan sesuatu.

"Dono ..gimana tentang pendapat kamu dengan prostitusi on line....yang aktornya adalah artis?" tanya Indro.

"Namanya orang nyari makan agar menarik pelanggan dengan terselubung lewat jaringan internet. Awalnya sih memang benar baik. Tetapi....eeeeeh ada penyimpangan dari polanya. Jadi negatif. Sudah biasa itu mah. Apalagi aktornya adalah artis. Ya...jadi objek dari pemberitaan. Naikin...reting pemberitaan," kata Dono.

"Kalau begitu sih ada rencana di balik rencana untuk meningkatkan berita. Di lihat sudut pandang permasalahan," kata Indro.

"Ya...seperti itu lah," kata Dono.

Indro pun memajukan pionnya. Dono pun ikutan memajukan pionnya juga. Lagi-lagi Indro punya unek-unek di pikirannya dan mulai bicara lagi "Dono gimana dengan artis yang melepaskan jilbabnya?"

"Maksudnya..... Rina dan Nikita?" tanya Dono.

"Iya," saut Indro.

"Namanya menjalankan syariat Islam kalau kuat di jalankan kalau gak kuat ya gak di jalankan. Dasarnya ke imanan masing-masing. Setiap orang yang kuat imannya maka tetap menetapi ke imanannya. Tapi jika ia lemah ya......pasti lepas lah," kata Dono.

"Jadi..jawabannya iman," saut Indro.

"Yo...i."

Indro pun menjalankan pionnya dengan baik begitu juga dengan Dono. Lagi-lagi Indro mengemukakan pendapatnya "Gimana dengan bom palsu yang di taruh di kediaman ketua KPK dengan ulasan beritanya teror?"

"Teror bom. Gak terlalu penting. Amatiran. Kenapa gak sekalian di bom beneran malah bohongan. Orang bahannya di jual di pasar. Cuma mainan anak kecil gak serius. Paling tujuannya sensasi naikin berita yang berkenaan dengan tindak tanduk dari anggota KPK," kata Dono.

"Kalau di pikir baik ia. Gak serius ya penjahatnya. Orang kembang api di jual di pasar. Sebenarnya kalau dari kembang api sebagai alasan bahan untuk pembuat bom juga bisa untuk pengelabuan dari pihak berwajib. Ah....cuma sensasi dari untuk meningkatkan pemberitaan saja," kata Indro.

"Itu tahu. Sensasi."

Dono memakan pionnya Indro dengan peluncur. Indro pun memakan pionnya Dono dengan sternya. Permainan catur makin panas tidak ada yang mau mengalah dalam melancarkan strateginya. Di tengah permainan Indro mulai bertanya sesuatu " Bagaimana Dono visi dan misi yang di jalankan oleh Prabowo dan Sandiaga Uno?"

"Ah...itu. Gak ada masalah. Awal gak ada masalah atau pun di buat perubahan visi dan misinya pun gak ada masalah. Orang masyarakat sudah siap untuk ikut serta dalam pemilu 2019 ini. Cuma di hebohkan saja untuk reting pemberitaan. Jadi sorotan gitu," kata Dono.

"Bener juga. Tapi Dono ...Bagaimana dengan debat antara Joko Widodo dan Parabowo berkenaan dengan masalah Korupsi, Ham, dan Terorisme?" saut Indro lalu bertanya kembali.

"Masalah ...debat yang di usung Pemilihan Presiden berkenaan dengan Korupsi kan sudah berjalan ada sistem penegak hukumnya. Sedangkan masalah Ham sih....gimana prosesnya dalam menangani masalah saja lewat penegak hukum tuntas atau gak. Kalau tuntas berarti bener kerjanya. Kalau gak tuntas.....jadi gak bisa kerja namanya. Orang bodoh yang kerja di bidang hukum....gak bisa tegas dalam menjalani tugas  berkaitan dengan Ham. Sedangkan Terorisme....sih...kan ada sistem penegak hukumnya di Indronesia ini di dalam mau pun di luar negeri sudah di jalankan cuma jangan lengah. Belum setiap siklus perekrutan anggota penegak hukum terus di jalankan untuk mendidik penegak hukum untuk menjaga dan menciptakan keamanan dari sambang sampai marauke. Jawab...sih jangan tidur..harus siap sedia untuk mencegah dari permasalahan Terorisme di dalam maupun di luar negeri," sedikit penjelasan Dono.

"Jadi ...Dono...urusannya Hukum?" kata Indro.

"Ya...Hukumlah. Korupsi, Ham, dan Terorisme....ya urusannya adalah Hukum tidak bisa terlepas karena saling berkaitan itu mah. Karena Hukum di buat untuk mengatur, menjaga dan melindungi manusia. Ya harusnya Hukum di Indonesia tegas....jangan melepem kaya kerupuk. Dan juga gak pandang bulu. Apa kata dunia..berkenaan dengan Hukum di Indonesia ......melempem kaya kerupuk," kata Dono.

"Kalau ...Hukum di Indonesia melempem kaya kerupuk. Jadi lemahlah pertahan di dalam negeri sampai di luar negeri. Eeeee ujungnya penjahat banyak. Akhirnya Terorisme ada di Indonesia. Korupsi juga banyak dan terakhir.....banyak pelanggaran Ham. Sampai anggota pihak berwajib jadi pelanggar Ham juga.  Bener....bener...bener.. ironis," kata Indro.

"Ironis......"

Indro pun melanjutkan main caturnya dengan memakan peluncurnya Dono dengan benteng. Lalu Dono sedikit pusing, tetapi langsung melancarkan strateginya dengan memakan sternya Indro dengan peluncur dengan serangan tidak terduga. Indro langsung terkejut sekali.

"Positif kalah ini mah," kata Indro.

"Mungkin," saut Dono.

Kasino dengan terburu-buru bertamu ke rumahnya Dono untuk mengajak Dono dan Indro membantu Kasino urusan kerjaan. Dono dan Indro menerima ajakan Kasino. Segeralah Dono berganti pakaian. Ketiganya langsung meninggalkan rumah untuk urusan kerjaan. Sedangkan permainan catur di tinggalkan begitu saja tidak ada yang menang dan kalah antara Dono dan Indro.


Karya: No

Sunday, January 13, 2019

PERTENGAHAN PERTARUNGAN

Sebuah ruangan yang misterius. Lufy berdiri tegap dengan sekuat tenaga. Musuhnya sudah yang di kenal Sergei sudah siap untuk menyerang. Tapi ternyata Lufy tidak mampu lagi bertahan karena serangan tersembunyi yang mengenai kakinya yang membuat dia tidak bisa berdiri dengan benar. Sergei menyerang Lufy dengan tinjuan beruntun. Lufy berusaha melawannya. Akhirnya kalah Lufy dan menerima semua serangan Serjei yang mutlak pada tubuhnya. 

Pukulan Sergei yang sangat kuat Lufy tumbang dan babak belur. Sergei menghentikan serangan tinjuannya. Lufy sudah tidak berdaya lagi terkapar di lantai. Dalam keadaan sulit pun Lufy bangkit dan berusaha untuk melawan Sergei. Di balik dinding seorang yang bernama Liana dan anak buahnya sedang berbincang-bincang.

"Saya berhasil mengerang Lufy dengan jarum beracun. Saya memberikan kemenangan yang mutlak pada Kak Sergei," kata Liana.

"Benar.....sekali Bos," saut anak buahnya bergantian.

Sergei mendengarkan pembicaraan yang samar. Lalu mendatangin Liana dan anak buahnya. Sergei yang marah karena pertarungan sesama lelaki di ganggu. Sergei langsung menghajar anak buah Liana sampai babak belur baru Liana di pukul dengan tamparan yang sangat kuat. Padahal Liana sudah dianggap adiknya sendiri tetap Sergei tidak pandang bulu kalau urusan pertarungan yang adil antara 2 laki-laki yang menunjukkan kehebatan mereka masing-masing.

"Jangan coba-coba mengganggu pertarungan 2 orang laki yang membuktikan kemampuannya masing-masing!" kata Sergei yang marah.

"Kak tega dengan Liana dan anak buah saya. Dasar orang berengsek," kata Liana yang membenci Sergei.

"Dasar penggangu," kata Sergei.

Mendengar omongan Sergei sebagai kaknya Liana langsung diam. Semua anak buah Liana langsung terbirit-birit. Lufy pun bangkit dan berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. Pertarungan Sergei dan Lufy di mulai lagi. Sergei mulai menyerang dengan sebuah tinjuan yang sangat kuat begitu dengan Lufy. Ternyata jangkauan Lufy tidak bisa mengenai Sergei tapi sebaliknya Sergei berhasil meninju bagian muka Lufy.

Lufy pun berusaha melawan dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan tinjuan berikutnya, walau dalam posisi tidak menguntungkan. Tinjuan Lufy masuk ke muka Sergei. Pertarungan makin sengit dengan keduanya terus saja baku hantam dengan tidak mau mengalah. Tetap saja fisik mempengaruhi segalanya.

Sergei yang bertubuh besar menjatuhkan Lufy yang bertubuh kecil sampai terpental karena pukulan mematikan yang telak masuk ke bagian perut Lufy. Dalam keadaan sulit Lufy mendengar perkataan gurunya yang membibingnya Lufy agar menjadi kuat dengan membaca pergerakan musuh dengan instingnya.

Lufy langsung membuat kesadaran dalam dirinya. Lalu berdirinya Lufy dengan keadaan sempoyongan. Sergei mulai maju menyerang dengan sebuah tinjuan yang beruntun. Ternyata Lufy menguasai ilmu yang di berikan gurunya. Insting Lufy tajam sekali bisa menghindari serangan Sergai yang kuat dan mematikan. 

Lufy pun membaca pergerakan Sergei setiap dia memukul. Lalu Lufy membalasnya dengan pukulan yang cukup akurat pada bagian tubuh Sergei. Lufy berhasil menbuat Sergei senep dan mundur beberapa langkah. Sergei pun marah dan terus menyerang Lufy dengan membabi buta. Lufy pun berusaha mengimbangi serangan Sergei. Lagi-lagi Lufy membaca pergerakan Sergei dengan langkah pasti dan menghindari setiap serangan. Lufy memukul lagi pada bagian tubuh Sergei dengan beruntun dan terpental jauh dan menabrak dinding.

Sergei pun berusaha bangkit walau dalam keadaan hancur. Sergei mulai menyerang dan Lufy pun menyerang. Lagi-lagi Lufy membaca pergerakan Sergei dan menyerangnya dengan tinjuan yang beruntun ke arah sekujur tubuh Sergei.

"Yang kuat adalah pemenang segalanya," teriak Lufy.

Lufy terus meningkatkan serangan tinjuannya dan akhirnya Sergei mutlak kalah dengan kehilangan kesadaran yaitu pingsan di lantai. Lufy pun kehabisan tenaga dan jatuh juga ke lantai. Liana yang melihat kak Sergei kalah dalam pertarungan langsung kabur dengan terbirit-birit. Cukup istirahat Lufy bangun dengan keadaan sempoyongan. Berjalanlah Lufy dari ruangan misterius dan mencari jalan keluar. Lufy menemukan sebuah cermin di dinding segera mendekatinya dan masuk ke dalam cermin menuju dunia yang sebenarnya.

Lufy pun jatuh ke lantai dan pingsang di dalam rumah yang cukup tua. Seorang kakek yang bernama Oktopus melihat pemuda yang terkapar di lantai dengan penuh luka. Kakek Oktopus menolong Lufy dan di baringkan di tempat tidur dan di obatinya. Berhari-hari Lufy tidak sadarkan diri. Akhirnya bangun juga Lufy dari tidurnya yang panjang. Kakek Oktopus yang menjaga dan merawatnya senang dengan keadaan anak muda yang di tolongnya membaik dan sehat kembali.

Lufy yang sudah kembali jadi sehat wal afiat meneruskan perjalannya dan berterima kasih pada kakek Oktopus yang telah merawatnya saat sakit. Lufy mengikuti alur dari kehidupan dan melanjutkan perjalannya sampai menemukan teman-temannya.


Karya: No

IMPIAN SAYA MENJADI GURU

Ben melihat langit begitu indah di matanya. Lalu Ben memakai kacamatanya kembali dan mencoba membaca pada sebuah kertas kecil yang bertuliskan alamat.

"Berarti masih jauh... Ya....," kata Ben.

Ben pun berjalan menyisiri tortoar dan masuk gang. Dari jauh Ben melihat 2 orang pemuda bercakap-cakap. Saat berpapasan akhirnya mendengar omongan 2 pemuda "Ternyata orang itu cupu ya.."

Ben awalnya tidak memperdulikan omongan 2 pemuda tadi. Setelah memperhatikan dirinya "Bener saya cupu. Karena kaca mata dan gaya saya. Tapi penampilan bisa diubah oleh saya. Tapi mata...sih....gak bisa. Karena genetik saya yang membuat saya rabun dekat."

Ben terus berjalan dan hendak menyebrang. Ternyata Ben gak jadi. Banyak orang-orang muslim yang lagi mengadakan orasi turun ke jalan. Ben pun hanya bingung dan melihat ulah orang-orang tersebut.

"Fanatik....  Fanatik...... Fanatik..... dan akhirnya membangun kekhalifahan berbasis Islam. Demokrasi Indonesia berganti menjadi Domokrasi Islam. Sungguh ironis....secara perlahan-lahan tapi pasti," celoteh Ben dengan kata kecilnya.

Ben akhirnya memutuskan untuk menyebrang lewat tangga penyebrangan. Sampai di tengah jembatan penyebrangan Ben melihat semuanya.

"Semuanya hanya ada manusia yang berlomba-lomba untuk mengisi dunia ini dengan segala impian mereka. Padat merayap dan akhirnya macet di mana-mana," celoteh Ben.

Langkahkan kaki Ben dengan baik sampai turun ke dari jembatan penyebrangan. Rasa haus datang Ben pun memutuskan membeli di kios pinggir jalan sebotol air mineral dan membayar dengan uang pas. Ben segera membuka botol yang bermerek Aqua dan segera meminumnya dan menghilangkan rasa dahaganya.

"Air tetap air rasanya tetap sama. Cuma kemasannya beragam untuk kompetisi mencari uang dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Botol ini habis ku minum dan akhirnya menjadi sampah pelastik. Dulu tidak masalah sampah tapi karena moderisai untuk kemajuan negeri ini  sampah menjadi kompleks," celoteh Ben sambil membuang botol Aqua ke dalam tong sampah di pinggir jalan.

Ben pun terus berjalan dan akhirnya melewati gang berikutnya. Terlihat lagi oleh mata Ben. Gerombolan manusia yang keluar dari Gereja. Ben pun berhenti sejenak menunggu keramaian manusia itu habis.

"Fanatik... Fanatik...Fanatik..... dan Fanatik. Tidak ada yang salah hanya keputusan mereka. Menciptakan sistem menjadi nilai yaitu Demokrasi Kristiani...... tetapi jika besar bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Sangat ironis," celoteh Ben.

Ben melanjutkan perjalannya sampai pada gang berikutnya. Lagi-lagi Ben melihat gerombolan manusia pada satu Wihara. Karena Ben tertarik mencoba melihat gerombolan orang-orang Buhda dari lebih dekat.

"Ternyata..lagi menjalankan ibadah mereka. Tetap Fanatik... Fanatik... Fanatik dan Fanatik. Demokrasi Budha........jika besar bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Sungguh ironis juga," celoteh Ben.

Ben pun akhirnya memutuskan melanjutkan perjalannya. Sampai ke gang berikutnya. Terlihat di lapangan yang cukup luas Ben pun berhenti untuk menyaksikan kerumunan orang-orang. Ternyata kuda lumpingan. Terus melihatnya Ben acara tradisi suku jawa.

"Benar...benar...benar...dan benar. Mereka berkumpul untuk menghidupkan tradisi suku jawa. Tetapi aliran kepercayaan pun hidup. Jika besar menjadi Demokrasi budaya atau Demokrasi kepercayaan suku....bisa menggantikan Demokrasi Indonesia. Ironis sekali," celoteh Ben.

Ben pun meninggalkan tempat tersebut dan berjalan terus sampai gang berikutnya dan akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang cukup tua terbuat dari papan. Ben berdiri di depan pintu.

"Saya pulang dari perjalan jauh saya dari satu kota ke kota lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan diri," celoteh Ben.

Ben langsung mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam. Keluarlah sosok yang Ben kagumi. Ayah yang mendidik Ben menjadi seorang pria yang tangguh. Dan Ibu pun langsung memeluk Ben tanda kasih sayang. Ben merasa tenang sekali. Kasih Ibu sepanjang jalan dan Ayah yang menjaganya dengan  segenap jiwa dan raganya. Ben pun akhirnya mengerti di dalam dirinya saat melewati kehidupan hari ini.

"Persatuan itu penting. Demi menciptakan perdamaian. Untuk menghilangkan keegoisan dari diri dan kelompok demi hal yang ingin meruntuhkan Indonesia. Maka benarlah Indonesia punya idoleogi yang baik yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetap satu untuk membangun Indonesia. Demokrasi Indonesia terbangun dan akhirnya damai lah...semuanya," kata hati Ben.

Ayah pun bangga dengan Ben begitu juga dengan Ibu. Lahir dari keluarga yang penuh kekurangan menjadi sosok yang hebat untuk membangun negeri ini lewat pendidikan. Maka jalan Ben pun benar menjadi Guru PPKN demi diri, kelurga, suku, agama, bangsa dan negara.


Karya: No

Saturday, January 12, 2019

KUNTILANAK

Halo sahabat KCH, ini adalah cerita pertama saya disini. Kalau ada kekurangan dalam penulisan harap dimaklumi. Kejadian ini terjadi di tahun 2008 dan saya alami dengan beberapa teman saya sebut saja Ari, Reno, Saidi, BunBun, Chika, Indah dan Elisa. Kejadian ini bermula ketika Elisa dan putrinya di teror hantu perempuan menyerupai kuntilanak ketika mereka cuma berdua dirumah karena suami elisa sedang dinas ke luar kota. Pada malam mereka berdua itu elisa dan putrinya sudah tidur nyenyak.

Tapi kemudian elisa terbangun karena ada suara-suara diruang tamu yang dekat dengan kamarnya dan ketika dia bangun keluar dari kamar dia terkejut karena ada sosok kuntilanak yang jelas berdiri di dekat pintu rumahnya. Sontak elisa pun masuk ke kamar dan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an dan tidak lama kemudian kuntilanak itu menghilang. Esoknya elisa menceritakan kejadian itu kepada chika, indah, saidi, bunbun dan meminta mereka untuk bermalam di rumahnya sampai suaminya pulang.

Karena yang lain takut akhirnya bunbun mengajak saya, ari dan reno untuk ikut bermalam di rumah elisa. Akhirnya kita sepakat dan setelah habis sholat maghrib kami semua bertolak ke rumah elisa. Ketika sampai di rumah elisa kita santai di ruang tamu sambil mendengar cerita elisa tentang kejadian semalam dan tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Elisa dan putrinya, chika, indah tidur di kamar elisa, sedangkan saya, ari, reno, saidi dan bunbun tidur di ruang tamu tapi kami tidak langsung tidur karena tugas kami adalah berjaga-jaga.

Hawa di rumah elisa mulai berubah, angin membuat pohon jambu di depan rumah elisa bergoyang dan ketika jam 12 malam ke atas kejadian yang tidak di harapkan terjadi. Sosok kuntilanak yang menggangu elisa semalam muncul di depan pintu rumah elisa yang terbuka sendiri dengan kencangnya. Sontak saya dan teman-teman yang di ruang tamu terkejut dan bengong. Tapi 1-2 menit kemudian kami sudah sadar dan menguasai diri. Saya menyuruh elisa, chika, indah dan putrinya tetap di kamar dan membaca ayat suci Al Qur’an.

Sedangkan saya dan teman yang lain di komando oleh ari yang memang menguasai ilmu agama yang kuat. Mulai membacakan ayat suci Al Qur’an untuk mengusir kuntilanak tersebut, alhamdulillah tidak lama kemudian kuntilanak itu hilang. Kemudian ari mengeluarkan 3 botol besar air mineral yang sudah di bacakan surah yasin di seluruh sudut rumah elisa dan malam itupun keadaan normal sampai subuh karena kami memang tidak tidur untuk berjaga-jaga kalau kuntilanak itu datang lagi. Karena penasaran kenapa kuntilanak itu mengganggu elisa padahal sebelumnya tidak pernah ada kejadian, kami pun sepakat untuk menanyakan itu kepada kyai yang juga guru dari ari.

Setelah sampai di rumah elisa, kemudian beliau berdoa dan mendekati pagar rumah elisa dan mengambil tanah di sekitar pagar. Lalu beliau menjelaskan bahwa di pagar rumah elisa sudah ditaburi “Tanah Kuburan” oleh seseorang dan ternyata orang yang menaburkan tanah kuburan itu adalah tetangga seberang rumah elisa, kami pun langsung menuju rumah orang tersebut dan minta penjelasan.

Akhirnya orang itu mengaku dan mengatakan bahwa dia melakukan hal tersebut karena iri dengan kehidupan elisa dan suaminya yang semakin bagus rezekinya. Awalnya kami mau melaporkan kejadian itu ke polisi tapi atas saran pak kyai akhirnya terjadi kesepakatan kekeluargaan di saksikan oleh ketua RT setempat, alhamdulillah kejadian teror kuntilanak tersebut tidak pernah terjadi lagi.

THE BOY WHO CRIED WOLF

A shepherd-boy, who watched a flock of sheep near a village, brought out the villagers three or four times by crying out, "Wolf! Wolf!" and when his neighbors came to help him, laughed at them for their pains.

The Wolf, however, did truly come at last. The Shepherd-boy, now really alarmed, shouted in an agony of terror: "Pray, do come and help me; the Wolf is killing the sheep"; but no one paid any heed to his cries, nor rendered any assistance. The Wolf, having no cause of fear, at his leisure lacerated or destroyed the whole flock.

There is no believing a liar, even when he speaks the truth.

THE ANT AND THE GRASSHOPPER

In a field one summer's day a Grasshopper was hopping about, chirping and singing to its heart's content. An Ant passed by, bearing along with great toil an ear of corn he was taking to the nest.

"Why not come and chat with me," said the Grasshopper, "instead of toiling and moiling in that way?"

"I am helping to lay up food for the winter," said the Ant, "and recommend you to do the same."

"Why bother about winter?" said the Grasshopper; "We have got plenty of food at present." But the Ant went on its way and continued its toil.

When the winter came the Grasshopper had no food and found itself dying of hunger - while it saw the ants distributing every day corn and grain from the stores they had collected in the summer. Then the Grasshopper knew: It is best to prepare for days of need.

LOOKING FOR A BRIDE

There was once a young shepherd who wanted very much to marry, and was acquainted with three sisters who were all equally pretty, so that it was difficult for him to make a choice, and he could not decide to give the preference to any one of them.

Then he asked his mother for advice, and she said: “invite all three, and set some cheese before them, and watch how they eat it.”

The youth did so, the first swallowed the cheese with the rind on, the second hastily cut the rind off the cheese, but she cut it so quickly that she left much good cheese with it, and threw that away also, the third peeled the rind off carefully, and cut neither too much nor too little.

The shepherd told all this to his mother, who said, take the third for your wife.This he did, and lived contentedly and happily with her.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK