CAMPUR ADUK
Thursday, July 29, 2021
LANGIT RUNTUH DAN KEJU BULAN
FENELLA DAN LEPRECHAUN
“Fenella...” Sebuah suara memanggilnya. Fenella memalingkan wajahnya. Miss Halona terlihat melambaikan tangan sambil tersenyum hangat. “Kita akan berjalan-jalan. Kau mau ikut?” lanjut perempuan bertubuh besar itu.
Fennela melompat ke lantai. Dengan kedua tangannya dia berjalan menyangga tubuh mungilnya. Miss Halona menyambut gadis kecil tak berkaki itu dengan kedua tangannya. Dia mengangkat Fenella lalu meletakkannya di sebuah kursi roda mini, yang sudah dia siapkan. Mereka meluncur menuruni tangga asrama. Di halaman, teman-temannya yang lain sudah siap dengan perbekalan masing-masing. Hari ini mereka akan piknik ke sebuah taman di pinggir hutan. Wuih ... sangat menyenangkan!
“Udara pagi yang segar. Mentari bersinar cerah.
Burung-burung bernyanyi dengan gembira…”
Miss Halona mulai bersenandung. Anak-anak kecil berwajah ceria mulai bernyanyi bersama. Suaranya riang dan gembira. Kadang mereka menari mengikuti alunan nada. Mereka berputar bergantian dengan berpegangan satu sama lain.
“Jaga barisan, jangan sampai ada yang bergerak terlalu jauh.” Kali ini Miss Maisie yang memberi peringatan. Dia berjalan paling belakang, memantau anak-anak agar tidak tertinggal.
“Kita berbelok ke kanan.” Miss Halona memberi aba-aba. Dia pun mendorong kursi roda Fenella. Gadis kecil nan mungil itu ikut larut dalam suka cita. Mulutnya tak henti berdendang. Setelah sekian lama berjalan, sampailah mereka di sebuah padang rumput yang lapang. Ada bunga-bunga cantik bermekaran.
“Wow, indah sekali tempat ini,” Fenella berteriak girang.
Teman-temannya yang lain sudah berlari-lari sambil tertawa riang. Miss Halona mengangkat Fenella dan meletakkannya di atas rumput. Fenella segera berlari menggunakan kedua tangannya, menyusul teman-temannya. Dia meninggalkan kursi rodanya begitu saja. Kali ini dia tidak sedang memerlukannya.
“Ingat, jangan terlalu jauh bermain. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam hutan,” Miss Meisie berteriak lantang. Seperti tak mendengar teriakan Miss Meisie, anak-anak itu berkejaran tanpa henti. Fenella tampak tidak ingin ketinggalan. Walaupun fisiknya tidak sempurna seperti yang lain, namun dia bisa melakukan semua yang dilakukan oleh kawan-kawannya. Kali ini, mereka bermain sembunyi endap.
Permainan sudah dimulai. Semua anak berlari mencari tempat persembunyian masing-masing. Fenella buru-buru mengayuh tubuhnya. Tangannya bergerak lincah memindahkan tubuh mungilnya. Ia bersembunyi di rerimbunan belukar. Napasnya terengah-angah. Wajahnya memerah. Sesekali dia mengintip seorang temannya, yang sedang berjaga-jaga di sebuah pohon.
Tiba-tiba, ia dikagetkan oleh suara gemerisik daun. Dia mulai khawatir jika ada binatang buas di sekitar sini. Fenella spontan menajamkan pendengarannya. Kali ini dia seperti mendengar suara palu yang dipukul. Suara itu memang tidak terlalu keras, namun Fenella dapat mendengarnya dengan jelas. Fenella mulai penasaran. Dia bergerak hati-hati, mencari sumber suara. Disibaknya segerombol tanaman perdu yang menghalangi penglihatannya. Serta merta dia melihat siluet kecil berwarna hijau. Rasa penasarannya semakin menjadi. Makhluk apakah itu? Apakah dia Leprechaun yang selama ini dia cari? Tanyanya pada diri sendiri. Hore!!! Fenella menjerit dalam hati. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Dia harus tahu, mengapa orang tuanya membuangnya di panti asuhan. Jika dia bisa menangkap Leprechaun ini, dia akan minta tolong untuk dipertemukan dengan orang tuanya.
Fenella berjalan dengan sangat hati-hati, mendekati siluet itu. Dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Dia takut, siluet itu akan pergi menjauh. Ketika sudah cukup dekat, Fenella dapat melihat dengan jelas sesosok makhluk kerdil berpakaian hijau, topi lebarnya juga berwarna hijau, tali pinggangnya besar berwarna hitam, dan dia sedang duduk membelakangi Fenella. Fenella tidak tau apa yang makhluk itu sedang lakukan. Namun, dia seperti memukulkan palu pada benda yang sedang dipegangnya. Jantung Fenella seakan berhenti berdetak, menahan rasa gugup yang tidak terkira. Sudah lama dia menantikan ssat ini, jadi dia tidak boleh melakukan kesalahan.
Fenella melangkah dengan sangat pelan. Lalu, dengan kedua tangannya yang kotor karena memijak tanah, dia memeluk makhluk itu erat-erat. Fenella juga melepas topi hijau milik makhluk mungil itu dengan cekatan. Dia teringat cerita Miss Halona, makhluk itu bisa menghilang atau berpindah tempat dalam sekejap, jika topi itu masih ada di kepalanya.
“Kena kau,” teriak Fenella, sambil memeluk makhluk hijau itu erat-erat. Makhluk mungil itu meronta namun, Fenella memeluknya erat. Dia tidak ingin kehilangan makhluk itu sebelum dia mengajukan tiga permintaannya.
Makhluk kerdil yang berada dalam dekapan Fenella meronta-ronta, hingga dia menjatuhkan koin emas dari kantongnya. Fenella lalu memungutnya dengan sebelah tangan. Ternyata koin-koin itu tidak disimpan di ujung pelangi, pikir Fenella. Kini, ia bisa memilikinya tanpa perlu mengambilnya ke ujung pelangi.
“Baiklah, sekarang kembalikan topiku dan lepaskanlah aku. Sebagai imbalannya, aku akan mengabulkan tiga permintaanmu,” makhluk hijau itu berkata dengan suaranya yang riang.
“Aku ingin bertemu dengan orang tuaku, aku ingin tahu mengapa mereka membuangku, dan aku ingin berkumpul serta hidup bahagia dengan mereka,” kata Fenella dalam satu tarikan nafas.
Perlahan, dia mulai mengendurkan pelukannya pada makhluk hijau itu. Fenella memerhatikan makhluk kecil dihadapannya. Fenella ingat, Miss Halona pernah bercerita tentang Leprechaun yang berbentuk menyerupai lelaki tua berjenggot dengan wajah yang menyeramkan. Tapi, makhluk hijau di hadapannya justru berwajah ceria dan tersenyum ramah. Hal ini membuat Fenella tidak merasa takut lagi. Makhluk itu kemudian mengambil topinya dan memasangnya kembali. Dia mengangkat alisnya lalu tersenyum lebar.
“Eeemmm, seekor harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri,” katanya lagi, sambil terkekeh-kekeh. Fenella terdiam, tidak ada yang lucu, tapi makhluk kecil ini tertawa terkekeh-kekeh. Dia juga tidak berkata tentang harimau yang tidak akan memangsa anaknya.
“Eeemmm… baiklah. Aku akan mempertemukanmu dengan orang tuamu.” Mulut makhluk itu komat –kamit, mengucapkan sesuatu. Kata-kata yang terlontar terdengar seperti mantra-mantra di telinga Fenella. Ketika makhluk mungil itu selesai dengan kata-katanya, tiba-tiba apa yang ada di hadapan Fennela berubah. Dia melihat seorang wanita cantik yang berdiri di sisi jendela. Pandangannya kosong. Air mata tampak meleleh di pipinya. Wajahnya mirip dirinya. Fenella terbeliak. Inikah Ibuku, batin Fenella.
Fenella belum sempat melakukan sesuatu, ketika pandangannya kembali berubah. Seorang wanita berambut merah dengan dandanan tebal tampak membawa sebuah bungkusan. Dia menyerahkan bungkusan itu ke tangan lelaki setengah baya sambil berkata, “Aku sudah mengatakan pada Angus kalau bayinya sudah meninggal. Sekarang, kau bawa bayi cacat ini ke panti asuhan. Aku tidak sudi memiliki cucu perempuan, apalagi cacat.”
Fenella melihat kejadian itu dengan mata berlinang. Ternyata, Neneknya yang telah membuangnya. Angus, apakah itu nama Ayahnya?
Tiba-tiba, pandangan matanya kembali hijau. Pohon-pohon besar dan tanaman perdu nyata terlihat di depan mata. Fenella menggeleng-gelengkan kepala. Seraut wajah bulat, bertahi lalat di atas alis, tersenyum lebar di hadapannya. “Rupanya,kau di sini Fenella, kami mencarimu dari tadi. Teman-temanmu sudah bersiap-siap untuk pulang.” Fenella tersentak. Dia spontan menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia masih di dalam hutan. Jadi, kejadian tadi itu apa, pikirnya. Fenella hanya bisa pasrah ketika Miss Halona mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di kursi roda mungilnya.
Mereka kembali berbaris untuk kembali ke panti asuhan. Sepanjang perjalanan Fenella diam, merenung. Kejadian yang baru saja dia alami, sebuah kenyataan atau hanya lamunannya saja. Perlahan, dia membuka genggaman tangannya. Koin emas. Kini, dia yakin, dia tidak sedang melamun atau bermimpi. Kejadian itu benar-benar terjadi.
Fenella mendongak sebentar. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Miss Halona yang mendorong kursi rodanya. Sesaat, dia memerhatikan wajah bulat berseri itu. Apakah ini waktu yang tepat? tanya Fenella dalam hati. Namun, dia segera mengabaikan pertanyaannya sendiri. Dia ingin tahu lebih cepat.
“Miss Halona, bolehkan aku tahu sesuatu?” tanya Fenella, pelan. Miss Halona sepertinya tidak mendengar pertanyaan Fenella. Hingar bingar suara anak-anak yang lain seolah menelan suara Fenella yang lirih. Fenella lantas mengusap lengan Miss Halona, dan wanita bertubuh tambun itu segera menoleh ke arahnya.
“Ada apa, Fenella?” suaranya kecil dan lembut.
“Siapa sebenarnya orang tuaku?”
Miss Halona menghentikan langkah, menatap mata Fenella yang tengadah, seolah bertanya mengapa mereka berhenti. Miss Halona kembali mendorong kursi roda Fenella, pelan.
“Miss Halona, mengapa Anda tidak mau menjawab pertanyaanku?” tanya Fenella lagi.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Fenella, Miss Halona berkata, “Kau tanyakan saja pada Ibu asrama. Saya tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu itu, Nak.” Fenella terdiam, dia semakin merasakan guncangan di tubuhnya. Rupanya, Miss Halona setengah berlari mendorong kursi rodanya karena mereka sudah tertinggal dari anak-anak yang lain.
Sesampai di asrama, mereka semua membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat siang. Namun, tidak demikian dengan Fenella. Dia segera menuju ke ruang Ibu asrama. Dia mengetuk pintu, perlahan, hingga terdengar suara serak Ibu asrama dari dalam. Fenella mendorong pintu itu lalu masuk. Ibu asrama menurunkan kaca mata bulat kecil ke hidungnya yang panjang. Perempuan setengah bungkuk itu tersenyum hangat melihat Fenella masuk.
“Ada apa, anakku, Fenella?”
“Maaf, Miss Humfrey, saya ingin menanyakan sesuatu kepada Anda. Sudah lama saya menyimpan pertanyaan ini. Saya berharap, Anda bersedia menjawabnya,” Fenella diam beberapa saat. Dia tidak melihat reaksi apa-apa di wajah Miss Humfrey. Wajah itu tetap datar. Fenella menghela napas, memberanikan diri bertanya, “Sebenarnya, aku ingin tahu siapa kedua orang tuaku.”
Kali ini, Fenella seolah melihat kilat di mata Miss Humfrey. Wanita setengah baya itu menelan ludahnya. Dia terdiam cukup lama. Dia berpikir, apakah dia harus memberitahu siapa sebenarnya orang tua Fenella? Tapi, itu adalah rahasia yang harus tetap dijaganya sampai mati. Itu adalah janji yang sudah dia ucapkan kepada Nenek gadis kecil ini.
Fenella melihat keengganan Miss Humfrey, maka dia kembali bertanya, “Apakah Ayahku bernama Angus?”
Miss Humfey terkejut. Dia menatap Fenella. Hatinya bertanya-tanya, dari mana anak ini tahu nama itu. Tidak ada seorang pun di panti ini yang tahu asal usul Fenella, kecuali dirinya. Miss Halona dan Miss Meisie pun tidak.
Fenella menunggu jawaban Miss Humfrey dengan sabar. Namun, wanita di hadapannya itu tetap diam.
“Saya mohon Miss Humfey, mengganguklah jika apa yang saya katakan itu benar,” pinta Fenella.
Miss Humfrey tidak ingin ingin melanggar janji. Sebuah janji untuk tidak membuka rahasia keluarga Fenella, yang masih keturunan istana Longhore. Tetapi, dia juga tidak tega melihat gadis cilik di hadapannya, yang sedari tadi menatapnya dengan iba. Akhirnya, Miss Humfey mengangguk pelan.
“Apakah Anda tahu, di mana mereka tinggal Miss Humfrey?” tanya Fenella.
Miss Humfrey menarik nafas dalam. “Saya tidak bisa mengatakannya padamu, Nak. Semoga takdir mempertemukan kalian kelak.” Miss Humfrey menundukkan wajahnya. Dia semakin tidak tega melihat Fenella menjauh dari meja kerjanya dengan kursi roda mungilnya. Fenella merasa semua orang di sini menyembunyikan asal usulnya. Dia tahu jika tidak ada yang bisa dia harapkan di sini. Dia yakin Miss Humfrey tidak akan mengatakan asal-usulnya. Maka, Fenella bertekad untuk mencarinya sendiri meski dia tidak tahu bagaimana caranya.
Sore itu angin bertiup semilir. Langit penuh awan putih. Seekor burung melintas rendah di bawah jendela. Fenella sedang berdiri di samping jendela kamarnya. Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat seorang bocah kecil sedang menapaki tangga asrama bersama laki-laki setengah baya dan wanita bertopi bulat, dengan warna yang lembut. Bocah kecil itu tampak seumuran dengannya. Sesampai di depan pintu asrama, lelaki setengah baya itu membunyikan bel. Mereka berdiri di sana cukup lama. Lelaki tua itu mengangkat tangannya untuk menekan bel di pintu lagi. Fenella memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. Jarak yang cukup jauh membuatnya tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Dia berpikir, bocah itu mungkin akan dititipkan di panti asuhan ini, sama seperti dirinya dan teman-teman yang lain.
Fenella menarik nafas pelan. Dia tidak habis pikir, mengapa ada orang tua yang tega membuang anaknya. Fenella teringat pengalamannya tadi siang. Sangat wajar jika Neneknya membuang dirinya yang cacat. Tapi, teman-temannya yang lain? Tubuh mereka sempurna. Mereka punya tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. Mereka cantik dan tampan. Mengapa orang tua mereka tega melakukannya? Butiran bening air mata mulai membasahi pipi Fenella. Fenella menundukkan wajahnya. Perlahan dia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Mungkin, di sini memang tempat terbaikku. Aku harus melupakan orang tuaku. Masih ada Miss Halona, Miss Meisie, dan Miss Humfrey yang sayang padanya, batinnya. Fenella pun tersenyum. Dia melihat keluar jendela lagi. Bocah laki-laki, lelaki setengah baya, dan perempuan bertopi itu sudah tidak dilihatnya lagi. Sepertinya Miss Halona sudah mempersilakan mereka masuk.
“Fenella, ada tamu untukmu.” Miss Humfrey datang dengan langkah tergesa.
“Tamu?” Fenella tertegun. Selama sembilan tahun di tempat ini, tidak pernah seorang pun datang mengunjunginya. Jantung Fenella berdetak lebih kencang. Ia senang, juga penasaran. Dia menemui tamunya di ruangan depan dengan ditemani oleh Miss Humfrey.
Fenella berhenti mengayuh. Tatapan matanya beradu dengan tatapan lembut seorang wanita bertopi bulat. Wanita itu, bukankah dia, wanita yang berdiri di depan jendela. Oh Tuhan, inikah Ibunya? Dan, laki-laki di sebelahnya, apakah dia Mr. Angus, Ayahnya? Lalu, siapa bocah lelaki itu? Wajahnya nyaris serupa dengannya. Mungkinkah dia saudaranya? Dia punya saudara? Benarkah mereka keluarganya?
Ketiga orang itu memandangi Fenella dengan pikiran mereka masing-masing. Sesaat kemudian, wanita bertopi itu berjalan, mendekati Fenella. Dia pun segera memeluk gadis mungil itu, erat.
“Anakku ... akhirnya kami menemukanmu,” isaknya. Air matanya menetes di bahu Fenella. Fenella memejamkan mata. Dia ingin merasakan pelukan ini selamanya. Pelukan seorang ibu sungguh nikmat tiada-tara.
“Oh, alangkah berdosanya ibu, Nak. Ibu tidak mengetahui keberadaanmu selama ini.” Wanita cantik itu sesenggukan. “Ibu sudah tahu kalau kalian terlahir kembar. Meski dokter mengatakan kalau salah satu di antara kalian akan terlahir cacat. Tapi, ibu bisa menerimanya,Anakku. Sayangnya, Nenekmu tidak. Dia mengatakan kalau kau lahir dalam keadaan meninggal. Ternyata kau hidup. Nenekmu sudah mengutus orang untuk membawamu kemari, Nak. Maafkan ibu Nak.”
Wanita itu terus menangis. Lelaki setengah baya itu ikut mendekat, diikuti bocah laki-laki yang mirip dengannya. Mereka memeluk Fenella, hangat.
“Maafkan ayah juga, Nak. Ayah tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga Nenekmu bisa membawamu pergi ke tempat ini. Seperti apapun keadaanmu, kami akan tetap menyayangimu, Anakku.”
Fenella tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dia pun menangis bahagia.
“Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, Saudaraku. Aku akan menjagamu,” kata Finley, saudara kembarnya, sambil tersenyum. Fenella ikut tersenyum. Dia tidak menyangka jika dia mempunyai saudara kembar laki-laki.
Miss Humfrey ikut menitikkan air mata di belakang mereka. Ia tidak menduga keluarga Fennela akan datang menjemput gadis mungil itu. Miss Halona dan Miss Meisie ikut terharu. Mereka berpegangan tangan dan tersenyum. Mereka turut merasakan kebahagiaan Fenella.
Sementara itu di sudut ruangan, Fenella melihat bayangan hijau kecil berkelebat cepat. Ekor matanya mengikuti bayangan itu. Leprechaun, Fenella mengingat permintaannya pada peri kecil itu. Sekarang, peri itu telah memenuhi janjinya. Dia bisa bertemu dengan keluarganya. Bersamaan dengan bunyi “flop”, bayangan hijau itu menghilang, meninggalkan senyum riang dan kebahagiaan bagi keluarga Fenella.
***
Caca selesai membaca bukunya, ya buku di taruh di meja.
"Cerita yang bagus asal ceritanya dari Irlandia," kata Caca.
Caca keluar dari kamarnya, ya ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ibu dan ayah sedang asik nonton acara lawak yang paling populer....OVJ.
WILLEM DAN IRENE
"Baca buku," kata Diva.
Diva membuka bukunya dan di baca dengan baik buku tersebut.
Isi buku yang di baca Diva :
Beratus-ratus tahun yang lalu di sebuah desa nelayan bernama Volendam, hiduplah keluarga Jansen dan keluarga Hendrik. Masing-masing memiliki anak berumur sembilan tahun. Keluarga Jansen mempunyai anak perempuan bernama Irene dan keluarga Hendrik mempunyai anak laki-laki bernama Willem. Willem dan Irene adalah anak-anak yang rajin. Willem selalu membantu ayahnya memperbaiki jala yang rusak. Irene selalu membantu ibunya yang berjualan makanan di pinggir pantai. Suatu hari, seperti biasa Willem dan Irene menunggu kepulangan ayah mereka di pinggir dermaga. Satu per satu nelayan pulang, tapi sampai sore belum terlihat tanda-tanda kepulangan ayah mereka.
“Pak, apakah Bapak melihat ayah kami?” tanya Irene pada seorang nelayan.
“Oh, kami melihat ayah kalian menuju ke utara. Katanya, dia mau menangkap ikan tuna lebih banyak lagi,” jawab si nelayan.
Irene menatap langit di utara. Tampak awan mendung bertumpuk. Sepertinya, akan terjadi badai. Irene sangat khawatir.
“Ayah,” isak Irene.
“Jangan khawatir, Irene,” hibur Willem.
“Tapi, bagaimana kalau mereka terjebak badai? Kapalnya bisa terbalik dan tenggelam.”
“Kita bisa menolong ayah kita,” kata Willem. “Bagaimana caranya?” tanya Irene.
“Dengan berdoa,” jawab Willem mantap.
Irene memandang Willem. “Apakah Tuhan akan mendengar doa kita?” tanyanya.
“Ya, Tuhan yang mengendalikan alam. Kita harus berdoa semoga Tuhan mau menghentikan hujan dan membuat laut menjadi tenang,” kata Willem.
Mereka lalu berlutut dan berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba, langit menjadi terang dan angin yang tadinya kencang bertiup lembut. Tidak berapa lama, dari tengah taut nampak sebuah perahu. Ternyata itu memang perahu ayah mereka. Kedua anak itu berseru mengucap syukur. Ternyata, ayah mereka berhasil menangkap seekor ikan tuna yang sangat besar. Belum pernah ada nelayan lain yang pernah menangkap tuna sebesar itu.
Ayah mereka membawa ikan tuna itu ke tempat pelelangan ikan dan terjual dengan harga tinggi. Pemuda yang membeli ikan tuna besar itu ingin makan di rurnah keluarga Hendrik dan Jansen. Hendrik dan Jansen setuju. Di rumah, Willem dan Irene membawa ikan itu ke dapur untuk dibersihkan. Saat mengeluarkan isi perut ikan, mereka menemukan sebuah cincin berlian. Willem dan Irene menyerahkan cincin itu ke. pada si pemuda pembeli ikan. Pemuda itu kagum mengetahui kejujuran kedua anak tersebut.
“Seandainya mereka tidak menyerahkan cincin itu padaku, aku pun tidak akan tahu kalau ada cincin berlian di dalam perut ikan yang kubeli,” batin si pemuda.
Pemuda itu tersenyum pada Willem dan Irene Lalu, ia membuka jubah yang menutupi pakaiannya. Ternyata, pemuda itu adalah pangeran yang sedang menyamar.
“Kalian anak yang jujur,” katanya.
“Karenanya, mulai besok aku akan mengangkat Willem sebagai pengawal pribadiku. Dan Irene, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai adikku?”
Sejak saat itu, Willem dan Irene menjadi anggotz kehormatan kerajaan. Berkat kejujuran, mereka bisa hidup mulia.
***
Diva berhenti baca bukunya.
Cerita bagus asal dari Belanda," kata Diva.
Diva membaca pesan moral yang di tulis buku "Jadilah anak yang baik dan jujur. Sebab Tuhan akan memberikan kebaikan yang lebih dari apa yang telah kita lakukan. Kemudian, doakanlah keselamatan kedua orang tua kita."
Diva memahami pesan moral yang baru ia baca dengan baik. Diva menutup bukunya dan buku di taruh di meja dengan baik.
"Nonton Tv ah!" kata Diva.
Diva ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Abangnya Miki yang sedang asik nonton film Unyil.
PEDRO INGIN MASUK SURGA
"Buku siapa ya?" kata Jamimah.
Jamimah berpikir dengan baik siapa yang dateng ke rumahnya, ya sekedar main saja gitu. Jamimah inget siapa orangnya dan berkata "Abang Delon."
Jamimah mengambil buku untuk memastikan sesuatu. Ternyata ada sebuah nama di tulis di sampul buku tersebut.
"Delon. Ooooooo bukunya Abang Delon," Jamimah.
Jamimah memutuskan untuk membaca buku, ya jadinya membuka bukunya dan membaca bukunya dengan baik.
Isi buku yang di baca Jamimah :
Pedro de Urdemalas, biasa dipanggil dengan Pedro, adalah orang Spanyol. Ia adalah orang yang pandai tetapi memiliki nasib yang kurang beruntung. Pedro telah mencoba berbagai macam pekerjaan tetapi ia tetap hidup dalam kemiskinan. Pedro kemudian mencoba peruntungan dengan mendaftar menjadi prajurit kerajaan Spanyol. Ia berpikir, jika dirinya menjadi prajurit maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang makanan dan tempat tinggal. Pedro kemudian dikirim ke wilayah jajahan Spanyol yang disebut dengan “Dunia Baru”, Amerika Selatan, tepatnya Argentina.
Wednesday, July 28, 2021
KUAT DAN BIJAKSANA
"Kasino...keren juga topiknya tentang...cewek lulus kuliah," kata Indro.
"Cewek. Zaman sekarang harus pinterlah tujuannya untuk dirinya, keluarga dan orang lain," kata Kasino.
"Cewek yang di beritakan itu di hina katanya," kata Indro.
"Nama juga hidup. Ada orang baik dan ada orang buruk," kata Kasino.
"Kasihan juga, ya di hina-hina. Ya sakit hatilah," kata Indro.
"Memang sakit sih di hina-hina. Mungkin hinaannya cuma omongan saja bukan tindakan sih. Kalau cuma omongan sih tinggal tutup telinga. Kalau bertindak baru bertarung untuk membuktikan kebenaran," kata Kasino.
"Ada kata orang tua seperti ini 'Lebih baik di hina dari pada di puji, ya hinaannya cuma omongan saja sih. Maksudnya......kalau di hina, ya kita punya semangat hidup untuk membuktikan kebenaran kita bahwa kita mampu mencapai sesuatu yang di banggakan orang tua. Kalau di puji...kebiasaan manusia, ya gedek kepala.......tidak ada motivasi untuk maju ke depan lagi." kata Kasino.
"Omongan orang tua. Tujuannya mendidik anaknya agar kuat menghadapi hidup di muka bumi ini. Jalan hidup di muka bumi ini tidak selamanya mulus seperti jalan tol. Pasti ada ujiannya sampai ajal menjemput kita," kata Kasino.
"Kuat dan bijaksana dalam menyikapi hidup," kata Indro.
"Emmmm," kata Kasino.
"Setelah lulus kuliah. Seperti biasa. Ada dua pilihan. Satu...ikut orang, ya kerja di pemerintahan atau perusahaan. Kedua....menciptakan pekerjaan dari modal kecil, menengah sampai besar...bahwa kita mampu membuktikan diri punya kualitas dari pendidikan yang di jalanin sampai lulus gitu," kata Indro.
"Kenyataannya data di kumpulkan semuanya memang begitu semuanya....adanya," kata Kasino.
"Sekolah, ya kompetisi untuk pinter. Kerja, ya kompetisi untuk membuktikan kebenaran kita mampu bersaing dengan keadaan dan menjadi sukses dan kaya raya," kata Indro.
"Hidup harus berjuang mencapai apa yang kita inginkan!" kata Kasino.
"Terus berjuang sampai mencapai apa yang di inginkan dengan baik," kata Indro.
"Tidak perlu di bahas lagi. Fokus nonton Tv!" kata Kasino.
"Emmm," kata Indro.
Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget....memotivasi sih tema ceritanya. Dono masih asik baca bukunya.
TERBUKTI KEBENARANNYA
Indro mengentikan nonton Youtobe di Hp-nya dan berkata "Nonton vidio....Dr. Zakir Naik."
"Ooooo. Vidio Dr. Zakir Naik toh!" kata Dono.
"Vidio membahas ini dan itu. Kaya zaman kuliah saja!" kata Indro.
"Setelah Indro menonton vidionya Dr. Zakir Naik. Apakah Indro sudah paham dengan maksud dan tujuan itu vidio di buat?!" tanya Dono.
"Maksud dan tujuan vidio yang di buat Dr. Zakir Naik? Ya pahamlah Don. Masih berkaitan dengan ilmu agama. Penjelasannya yang begini begitu kan, ya sesuaikan dengan literature bukulah," kata Indro.
"Berarti Indro.....kuliahnya lulus," kata Dono.
"Iyalah. Aku lulus kuliah," kata Indro.
"Sejauh apa.....manusia memahami agama yang di yakininya?!" tanya Dono.
"Sejauh agama yang di yakini....itu terbukti kebenarannya," kata Indro.
"Pinter lagi Indro. Berarti lulus kuliah," kata Dono.
"Aku memang pinterlah Don," kata Indro bangga dengan dirinya.
"Apakah dari vidio Dr. Zakir Naik...pernah membuktikan kebenaran dirinya bisa bicara dengan Roh atau di sebut dengan Malaikat?!" tanya Dono.
"Kok nanya gitu Don. Aku cuma penonton yang baik saja?!" kata Indro.
"Dunia banyak ahli di bidang agama yang membicarakan kebenaran dari agama. Aku ingin membuktikan kebenaran dari apa yang aku jalanin...sama atau tidak dengan ahli agama yang namanya terus di puja sama manusia sampai gelar ini dan itu. Apakah ahli agama itu bisa bicara dengan Roh atau di sebut dengan malaikat?!" kata Dono.
"Kalau itu sih pertanyaan jebakan Don. Hal yang mustahil Don. Kalau bisa membuktikannya. Gelar profesor sekali pun kalau gagal tidak bisa membuktikannya, ya menundukkan kepalanya dengan baik!" kata Indro.
"Kalau tidak ada. Sudahlah lebih baik tidak perlu di bahas!" kata Dono.
"Iya," kata Indro.
"Aku baca buku saja!" kata Dono.
Dono mengambil bukunya di meja dan segera di baca dengan baik.
"Main game ah!" kata Indro.
Indro main game dengan baik di Hp-nya. Kasino masih terus nonton Tv, ya acara Trans 7 yang bagus-bagus acaranya.
LEGENDA DANAU TOBA
Hasil bertani beserta ikan hasil memancing ia masak untuk dijadikan lauk makanannya sementara sisanya ia jual di pasar. Selama ini mudah saja baginya mendapatkan ikan dari sungai yang berair jernih tersebut. Suatu sore, sepulangnya dari ladang, si pemuda miskin pergi memancing di sungai. Setelah sekian lama memancing, ia tak kunjung mendapatkan ikan. Kejadian seperti ini belum pernah dialaminya. Akhirnya ia menarik pancingnya kemudian memutuskan pulang ke rumah.
Namun anehnya ketika pancing ditarik, seekor ikan tiba-tiba menyambarnya. Hatinya senang ketika melihat seekor ikan mas cantik tergantung di ujung tali pancingnya. Sisik ikan mas tersebut sangat indah berwarna kuning keemasan. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya ikan seperti itu.
“Aduhai, cantiknya ikan mas yang ku dapat. Sayangnya, hanya ikan mas ini hasil tangkapanku hari ini. Aku akan membawanya pulang untuk dimasak.” ujar Toba.
Segera si pemuda bergegas pulang ke rumah untuk memasak ikan hasil tangkapannya. Setibanya di rumah, si pemuda menaruh ikan mas di sebuah wadah. Ia segera menyiapkan kayu bakar untuk memasak. Ternyata kayu bakar yang dimiliki si pemuda telah habis. Dia pun keluar untuk mengambil kayu bakar di belakang rumahnya. Setelah mengambil beberapa potong kayu bakar dia kembali ke dapur untuk memasak.
Betapa terkejutnya si pemuda, sesampainya di dapur ia mendapati ikan mas telah hilang. Namun anehnya di dekat tempat ikan mas tersebut terhampar beberapa keping uang mas. Toba terheran-heran melihat keanehan tersebut. Ia hanya melongo melihat koin emas di atas meja. Karena kebingungan, Toba kemudian masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya pemuda tersebut ketika melihat seorang wanita cantik di dalam kamarnya.
"Siapakah engkau hai wanita cantik? Darimana asalmu? Kenapa engkau ada di dalam rumahku?" Tanya si pemuda keheranan.
"Aku adalah ikan mas hasil tangkapanmu tadi, sedangkan uang emas di atas meja adalah penjelmaan dari sisik tubuhku." jawab wanita cantik tersebut.
“Namaku Putri. Aku pernah melanggar larangan Dewata hingga akhirnya Dewa memberi kutukan bahwa Aku akan berubah menjadi seekor ikan. Kutukan akan hilang dengan sendirinya jika ada manusia yang menyentuhku. Karena Engkau menyentuhku, maka Aku pun terbebas dari kutukan. Terima kasih Engkau telah membebaskanku.”
Tak pelak Toba merasa gembira bercampur bingung. Ia tak mengira ikan mas cantik yang diperolehnya menjelma menjadi seorang wanita cantik jelita. Setelah memperkenalkan dirinya, tanpa berpikir panjang, Toba meminta si wanita cantik untuk menjadi istrinya.
"Oh begitu rupanya. Aku adalah seorang petani. Namaku Toba. Maukah engkau menjadi istriku hai wanita cantik?" tanya si pemuda malu-malu.
Si wanita menunduk dan terdiam sejenak, kemudian berkata "Baiklah aku bersedia menjadi istrimu tapi dengan satu syarat engkau tak boleh mengungkit-ungkit asal usulku, bahwa Aku adalah penjelmaan ikan. Jika Engkau mengungkit masa laluku, maka akan terjadi bencana besar." jawab si wanita cantik.
"Tentu saja Aku tidak perduli dengan asal usulmu. Aku menyanggupi syaratmu." ujar si pemuda sambil mengganggukkan kepala.
Tak lama kemudian merekapun menikah. Walaupun mereka berdua hidup sangat sederhana namun, waktu berlalu begitu cepat bagi sepasang suami istri yang berbahagia tersebut. Toba pun bekerja lebih giat lagi guna membahagiakan istrinya. Karena ketekunannya, kehidupan mereka berdua menjadi semakin baik. Penduduk desa menjadi gempar dengan kehadiran wanita cantik yang tidak jelas asal-usulnya. Mereka sering bertanya kepada Toba perihal asal-usul istrinya yang cantik. Namun Toba tidak pernah memperdulikan penduduk desa. Perubahan kehidupan Toba yang mulanya seorang pemuda miskin menjadi mapan membuat penduduk desa mengira Toba memelihara mahluk halus. Namun Toba tak pernah memperdulikan gunjingan penduduk desa.
Tanpa terasa Toba dan Putri akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samo. Samo tumbuh menjadi anak yang sehat. Ibunya sangat memanjakan Samo. Apapun yang diminta Samo akan dipenuhi oleh ibunya. Akibatnya setelah berumur 6 tahun, Samo berubah menjadi anak sangat nakal dan sulit untuk di nasehati.
Samo lebih senang bermain dan bermalas-malasan daripada membantu kedua orang tuanya. Ibunya sering menyuruhnya mengantarkan nasi untuk ayahnya di ladang, tapi Samo selalu menolaknya. Ibunya terpaksa mengantarkan sendiri nasi untuk suaminya ke ladang.
Suatu hari, seperti biasanya, Samo disuruh ibunya mengantarkan nasi untuk ayahnya di ladang. Awalnya ia tidak mau, tapi karena ibunya terus memaksa akhirnya ia pun pergi ke ladang mengantarkan bungkusan nasi untuk ayahnya. Sang ibu memberikan bungkusan berisi nasi dengan lauk ikan. Di tengah perjalanan ke ladang, Samo merasa lapar.
“Aduh perutku keroncongan setelah lama bermain tadi. Ya sudah Aku makan saja bungkusan nasi ini.”
Samo kemudian memakan nasi untuk ayahnya hingga habis. Samo hanya menyisakan tulang ikan. Ia kemudian membungkusnya kembali. Sesampainya di ladang, Samo memberikan bungkusan nasi pada ayahnya. Karena sudah sangat lapar, ayah Samo langsung membuka bungkusan nasi tersebut. Ia terkejut saat mengetahui isi bungkusan hanya berisi tulang ikan. Si ayah kemudian memarahi Samo. Toba Melanggar Sumpahnya
"Hai Samo!, apa yang kamu lakukan? Kenapa di dalam bungkusan hanya berisi tulang ikan? Kau kah yang memakannya?" teriak ayahnya pada Samo.
"Maaf ayah, di jalan perut saya terasa lapar, jadi saya makan nasi punya ayah." kata Samo ketakutan.
Si ayah marah besar kemudian menampar pipi anaknya sambil berkata bahwa anaknya adalah anak ikan.
“Memang benar-benar kamu ini keterlaluan!. Tak bisakah Kau membantu orang tuamu. Kenapa kamu sulit sekali diatur? Mungkin karena kamu anak ikan!"
Samo menangis karena di tampar ayahnya. Ia berlari pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Samo mengadu pada ibunya bahwa ayahnya telah memukulinya sambil mengatainya sebagai anak ikan. Samo bertanya pada ibunya apakah ia memang benar anak ikan.
"Ibu...benarkah apa yang dikatakan ayah bahwa aku anaknya ikan?"
Sang ibu kaget mendengar pertanyaan anaknya. Sambil menangis ia memeluk Samo. Sang ibu berkata bahwa ayahnya telah melanggar sumpah.
"Anakku, Ibu memang seorang ikan yang berubah menjadi manusia. Tetapi, Ayahmu telah melangar sumpahnya. Ia bersumpah tak akan mengungkit asal-usul ibu. Engkau pergilah ke atas bukit, naiklah pohon yang tinggi untuk menyelamatkan dirimu. Sedangkan ibu harus kembali ke alam ibu."
Samo segera menuruti perintah ibunya dengan pergi menyelamatkan diri ke atas bukit. Setelah tampak olehnya Samo menaiki pohon tinggi di atas bukit, Ibu Samo segera berlari menuju sungai. Saat itu terdengar petir menyambar-nyambar di susul hujan deras. Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap.
Ibu Samo kembali berubah menjadi seekor ikan dan kemudian menghilang entah kemana, sedangkan dari bekas telapak kakinya keluar air sangat deras. Tidak lama kemudian tempat tersebut tergenang air membentuk sebuah danau. Sementara si ayah tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia mati terseret arus air yang deras. Masyarakat kemudian menyebut danau tersebut dengan nama Danau Toba.
***
Bonar mengentikan baca bukunya.
"Cerita yang bagus asal dari Sumatra Utara," kata Bonar.
Bonar melanjutkan baca bukunya.
Isi lanjutan buku yang di baca Bonar :
Hingga kini tidak ada yang mengetahui keberadaan Samo namun, bukit tempat menghilangnya samo yang terletak di tengah danau, disebut dengan nama pulau Samosir (Samo yang diusir). Kata Toba memiliki arti tidak tahu balas budi. Seiring waktu, masyarakat lambat laun menyebut Danau tersebut dengan nama Danau Toba. Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Di tengah danau terdapat sebuah pulau bernama pulau Samosir. Sekitar 74ribu tahun lalu, terjadi letusan dahsyat sebuah gunung api super. Sebagai hasilnya, terbentuk sebuah kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi sebuah danau. Sementara sisa magma yang belum keluar menekan ke atas bagian tengah kaldera hingga menjadi sebuah pulau, yaitu pulau Samosir.
Bonar menyelesaikan baca bukunya, ya buku di tutup dan juga di taruh di meja dengan baik banget.
Tuesday, July 27, 2021
CORCORAN SI TUKANG KUDA
“Corcoran, aku mau menyewa kudamu untuk mengangkut kentang yang baru kubeli di kebun,” kata Saudagar kaya itu.
“Oh iya, Tuan. Mari, saya antar ke kandang kuda saya. Tuan bisa memilih kuda yang Tuan suka,” ajak Corcoran, ramah.
Mereka berdua berjalan beriringan ke kandang kuda Corcoran. Saudagar itu menyewa dua ekor kuda hitam yang gagah. Corcoran membantu memasang pedati untuk dihubungkan dengan kuda hitamnya dengan cekatan. Setelah membayar uang sewa, Saudagar itu membawa kuda Corcoran pergi bersamanya.
Tiga ekor kuda Corcoran yang lain masih disewa oleh tiga orang yang berbeda, dan belum kembali. Mereka menggunakan kuda-kuda Corcoran untuk menarik kereta penumpang. Sesuai perjanjian, mereka akan mengembalikan kuda-kuda itu siang nanti, kecuali mereka mau memperpanjang masa sewa.
“Selamat siang, Corcoran. Aku mau menukar kuda yang kusewa. Kuda ini tidak bisa berlari kencang. Sepertinya, dia sedang sakit.” Seorang laki-laki bertubuh kurus, tinggi, datang membawa kuda berwarna coklat. Kuda itu berjalan pincang, dengan satu kaki sedikit terangkat. Corcoran memerhatikan kudanya dengan teliti. Beberapa hari sebelum disewa orang tersebut, kuda Corcoran gemuk dan sehat. Tapi, kuda yang ada di hadapannya kini, adalah seekor kuda yang kurus seperti kekurangan makanan.
“Apakah Paman memberikan makanan yang cukup padanya?” tanya Corcoran, hati-hati.
“Tentu saja, aku membawanya ke padang rumput sebelum kami pulang.”
Corcoran mendekati kuda coklat itu. Orang itu mungkin sudah memberi makan, namun kuda itu mungkin belum cukup kenyang ketika orang itu membawanya pulang ke rumah.
“Paman, kemana tapal kuda yang satu ini?” Corcoran bertanya setelah memeriksa kaki kudanya.
“Saya juga tidak tahu. Saya tidak pernah melihatnya,” kata lelaki itu sambil ikut berjongkok di dekat Corcoran.
“Kaki kuda harus diberi tapal kuda, Paman. Kegunaan tapal itu sama dengan sepatu yang kita pakai. Kalau dia lari tanpa sepatu, kakinya gampang lecet, dan itu pasti menyakitkan buat kuda itu sendiri, Paman,” Corcoran menjelaskan panjang lebar.
“Oh, kaki kuda ini sakit rupanya, pantas saja kalau dia tidak mau lari kencang,” lelaki kurus itu berkata, sembari ikut memerhatikan apa yang dilakukan Corcoran. Corcoran mengangguk, maklum terhadap ketidaktahuan lelaki yang baru pertama kali menyewa kudanya.
“Saya akan mengobatinya dulu, Paman. Paman bisa memilih kuda yang lain sebagai gantinya. Tapi, tolong kesehatannya lebih diperhatikan ya, Paman,” Corcoran berusaha mengingatkan. Lelaki itu lantas mengangguk, mengiyakan.
Sementara lelaki itu memilih kuda pengganti, Corcoran mengobati kaki kuda itu. Corcoran juga membawakan rumput untuk kuda itu. Kuda itu segera menghabiskan rumput yang dibawa Corcoran dengan lahap. Setelah selesai mengurusi kudanya, Corcoran menghampiri lelaki bertubuh kurus yang sedang mencari kuda pengganti.
Corcoran melihat kebingungan di raut wajah lelaki itu, maka dia mengusulkan, “Bagaimana kalau yang ini, Paman. Kuda ini memang kecil, tapi dia pelari yang tangguh.” Corcoran menawarkan seekor kuda kecil berwarna coklat berbintik putih.
“Oh, boleh juga, yang penting kuda ini bisa lari kencang, Corcoran.”
“Jangan lupa memberi makan yang cukup untuknya ya, Paman,” Corcoran kembali mengingatkan, “kuda ini bisa sakit kalau terus bekerja tanpa diberi makan,” lanjut Corcoran lagi.
“Tentu saja. Aku selalu memberi makanan yang cukup untuk kuda-kuda yang kusewa.” Lelaki itu tersenyum, berusaha meyakinkan Corcoran. Setelah mendapatkan kuda yang diinginkan, lelaki itu pergi membawa kuda kecil milik Corcoran.
Corcoran kembali ke kandang kudanya. Dia memastikan kuda yang sakit itu sudah beristirahat dan berkeliling kandang untuk memberi makan kuda-kuda yang lain. Corcoran sangat memerhatikan kesehatan kuda-kudanya. Dia selalu memberi makanan yang cukup, memandikan, dan merawat kuda-kuda itu dengan baik. Kuda-kuda itu pun terlihat gagah dan bersih.
Beberapa saat kemudian, seorang berambut kuning keemasan datang membawa kereta kuda yang sudah usang. Orang itu sudah lama menjadi pelanggan tetap kuda sewaannya. Orangnya pendiam. Dia selalu menyerahkan beberapa lembar uang kepada Corcoran tanpa mengucapkan sepatah kata. Tapi, Corcoran sudah tahu jika uang itu adalah uang sewa kuda-kudanya. Corcoran memang memberikan keringanan kepada orang ini. Bapak ini boleh membayar uang sewa setelah ia mendapatkan uang hasil menarik kereta kuda. Corcoran melakukan hal itu sebagai ucapan terima kasih karena kudanya sudah dirawat dengan baik. Kuda-kuda yang dia sewa selalu pulang dalam keadaan sehat. Selain itu, Corcoran merasa kasihan karena bapak ini memiliki lima orang anak yang masih kecil.
“Terima kasih, Pak,” kata Corcoran, ketika menerima uang dari bapak itu. Lelaki itu mengangguk, tersenyum, lalu berjalan menuju kereta kudanya. Perlahan, dia menghela kuda-kuda itu pergi dari rumah Corcoran.
Tak lama berselang, tiga orang berpakaian prajurit kerajaan, lengkap dengan senjata yang tergantung di pinggang mereka, datang ke arah Corcoran. Corcoran menyambut mereka dengan tergopoh-gopoh.
“Selamat sore, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Prajurit gagah itu turun dari kudanya. Setelah menambatkan kuda-kudanya, mereka menghampiri Corcoran.
“Kami diutus Panglima kerajaan untuk menyewa kuda-kudamu, Corcoran. Beberapa kuda kerajaan tidak bisa digunakan karena sudah tua dan beberapa kuda sedang sakit. Berapa kuda yang kamu miliki, Corcoran?”
“Saat ini, kuda yang tersisa hanya tiga, Tuan. Tapi, salah satu kuda sedang sakit, sehingga hanya dua ekor kuda yang bisa saya sewakan kepada Anda.”
“Baiklah, tidak apa-apa. Kami akan menyewa dua ekor kudamu. Ini uang sewanya.” Prajurit itu menyerahkan kantong berisi uang logam kepada Corcoran.
Sebelum menerima kantong tersebut, Corcoran berkata, “Tuan, kalau kuda ini dipakai berperang dan dia menjadi cacat karena pertempuran, maka Tuan harus membelinya dengan harga yang pantas.” Corcoran memberitahukan peraturan sewa-menyewa. “Tuan juga harus memberinya makan dan merawatnya dengan baik selama penyewaan,” lanjut Corcoran lagi.
“Baiklah, kami akan melakukannya.” Prajurit itu mengangguk, setuju. Corcoran tersenyum senang karena usahanya berjalan lancar hari ini. Dia segera mengambil dua ekor kuda di kandang dan menyerahkan kuda-kuda itu kepada prajurit kerajaan.
“Baiklah Corcoran, kami pergi dulu,” pamit sang Prajurit.
“Ya, terima kasih, Tuan,” Corcoran menjawab, sambil menunduk hormat.
Bunyi kaki kuda yang dipacu semakin jauh, meninggalkan debu tipis di depan Corcoran. Musim kering hampir tiba. Tanah sudah mulai mengering dan menebarkan debu. Corcoran beranjak dari tempatnya berdiri, menengok kudanya sesaat, lalu kembali ke dalam rumah, beristirahat sejenak.
Hari demi hari berlalu, cuaca semakin panas karena sudah beberapa bulan hujan tidak juga turun. Debu semakin banyak beterbangan membuat sesak napas. Satu per satu, kuda-kuda Corcoran mulai dikembalikan. Bapak berambut kuning keemasan adalah orang pertama yang mengembalikan kudanya.
“Maafkan saya, Corcoran. Beberapa waktu ke depan, saya tidak akan menyewa kudamu. Saya tidak bisa menyediakan makanan yang cukup untuknya. Saya kesulitan mendapatkan rumput segar. Lagi pula, saya mendapat pekerjaan baru untuk mengangkat barang-barang di pasar,” kata bapak itu, tersendat. Corcoran takjub. Baru kali ini dia mendengar bapak itu berbicara panjang lebar.
“Tidak apa-apa, Pak. Semoga nanti ada penyewa lain yang datang.”
Bapak tua itu mengangguk lalu berpamitan pulang. Kedatangan bapak itu disusul oleh penyewa-penyewa kuda yang lain. Mereka datang untuk mengembalikan kuda-kuda Corcoran.
“Musim kering sudah datang. Kebun-kebun sudah tidak menghasilkan kentang dan tanaman lainnya, sehingga saya tidak memerlukan kuda ini lagi. Jadi, saya ingin mengembalikannya, Corcoran,” kata sang Saudagar. Dia membawa dua ekor kuda hitam yang dulu disewanya. Kuda itu terlihat sedikit kurus.
“Baiklah, Tuan. Semoga nanti ada penyewa lain yang datang.” Corcoran masih tetap berharap, nanti ada orang yang mau menyewa kuda-kudanya.
Beberapa hari setelah sang Saudagar mengembalikan kudanya. Para prajurit datang untuk melakukan hal yang sama.
“Panglima kami sudah membeli kuda-kuda baru yang masih muda dan gagah. Kami tidak memerlukan kudamu lagi, Corcoran.”
“Ya, Prajurit. Terima kasih sudah memakai kuda-kuda saya,” kata Corcoran mengerti.
Sekarang, semua kuda Corcoran sudah kembali. Corcoran masih berharap ada orang yang membutuhkan jasa kuda-kudanya, sehingga dia bisa membeli makanan untuk kuda-kudanya. Namun, harapannya tidak juga terlaksana. Tidak ada orang yang datang untuk menyewa kuda-kudanya.
Situasi itu tidak membuat Corcoran patah semangat, dia tetap rajin merawat kuda-kudanya. Akan tetapi, dia mulai kesulitan mencari rumput untuk makan kuda-kudanya. Musim kering membuat rumput-rumput menguning dan mati. Corcoran juga hampir kehabisan uang karena tabungannya habis untuk membeli keperluan kuda-kudanya. Kadangkala dia berpuasa agar uang yang tersisa bisa digunakan untuk membeli makanan kuda-kudanya.
Rupanya musim kering lebih panjang dari biasanya. Seluruh tabungan Corcoran sudah habis. Corcoran mulai kurus karena kurang makan. Kuda-kudanya pun sudah jarang diberi makan. Akhirnya Corcoran memutuskan untuk menyembelih salah satu kudanya, hingga satu per satu kuda itu menjadi santapan Corcoran. Hal itu dia lakukan untuk bertahan hidup dan supaya kudanya tidak kelaparan terus-menerus. Semakin lama kuda Corcoran habis. Dia menyisakan seekor kuda untuk mengantarnya pergi apabila ada keperluan.
Suatu malam, seorang laki-laki datang ke gubuk Corcoran. Orang itu mengetuk pintu dengan suara yang lemah. Corcoran membuka pintu dan mendapati seorang laki-laki berpakaian kumal berdiri di sana. Kepalanya mengenakan caping, yang ikut menutupi sebagian wajahnya.
“Tuan, tolonglah saya. Saya sudah berjalan cukup jauh. Saya kelaparan dan memerlukan sedikit makanan. Maukah Tuan memberi makanan untuk saya?” lelaki itu memohon dengan memelas.
“Maaf, Tuan. Saya tidak punya persediaan makanan sedikit pun. Saya juga belum makan apa-apa selama beberapa hari ini,” Corcoran menolak dengan sopan. Ia merasa iba melihat laki-laki itu. Tapi, dia tidak dapat berbuat banyak, karena dia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan pada orang itu.
“Tuan, saya melihat Tuan memiliki kuda di samping rumah.”
“ Ya, benar Tuan. Kuda itu adalah satu-satunya harta yang saya miliki saat ini.”
“Saya membutuhkan kuda Anda untuk melanjutkan perjalanan saya, Tuan. Bolehkah kuda itu saya bawa?”
Corcoran berpikir sejenak. Dia memerhatikan tamunya dengan saksama. Hatinya terketuk. Dia tidak sampai hati membiarkan orang itu menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Corcoran pun mengganggukkan kepalanya.
“Kalau kuda itu dapat membantu meringankan perjalanan Anda, silakan Tuan membawa kuda saya,” tutur Corcoran sembari tersenyum. Dia lalu berjalan ke samping rumah, mengambilkan kuda terakhirnya. Lelaki itu mengucap terima kasih, kemudian membawa kuda itu pergi.
Beberapa hari kemudian, serombongan pasukan mendatangi rumah Corcoran. Corcoran terkejut melihat begitu banyak orang berdiri di depan rumahnya.
“Tuan, apakah Anda memiliki makanan untuk kau makan hari ini?” tanya orang tersebut.
“Maaf, Tuan. Persediaan makanan saya sudah habis beberapa hari yang lalu. Sudah beberapa hari ini perut saya tidak diisi apa-apa.”
“Terimalah makanan ini, Tuan.”
“Hah, makanan ini dari mana, Tuan?” Corcoran terkejut bercampur senang.
Rombongan itu meletakkan berpiring-piring makanan lezat di meja makan Corcoran. Corcoran sungguh takjub melihat semuanya.
“Beberapa hari yang lalu, apakah Anda kedatangan seorang tamu di malam hari?” tanya kepala rombongan.
Corcoran berusaha mengingat-ingat, “Ya, Tuan.”
“Tuan, tamu yang datang malam itu adalah sang Pangeran. Beliau sengaja mengunjungi rakyatnya sampai ke pelosok negeri. Beliau ingin tahu keadaan rakyatnya secara langsung.”
“Oh, maafkanlah hamba, Tuan. Hamba benar-benar tidak tahu kalau tamu itu adalah sang Pangeran,” kata Corcoran dengan rasa bersalah yang sangat. Dia sama sekali tidak menduga sang Pangeran mengunjunginya.
“Tidak apa-apa, Tuan. Sang Pangeran juga berterima kasih kepada anda karena sudah memberi beliau seekor kuda. Sebagai balas jasa, sang Pangeran mengutus kami membawakan makanan ini untuk Anda.”
Mata Corcoran berbinar senang melihat makanan-makanan lezat yang terhidang di mejanya. Perutnya terasa semakin lapar. Corcoran pun makan dengan lahap. Dia belum pernah menyantap hidangan yang begitu lengkap dan lezat.
“Saya sangat berterima kasih untuk semua hidangan yang lezat ini, Tuan,” kata Corcoran, setelah selesai menyantap hidangan yang disediakan.
“Sang Pangeran juga meminta anda datang ke istana, Tuan,” kata prajurit itu lagi. Corcoran tidak tahu mengapa sang Pangeran memintanya datang ke istana, namun dia bersedia untuk memenuhi panggilan sang Pangeran. Dia ingin mencari pekerjaan di sekitar istana karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi di gubuk kecilnya. Corcoran pun ikut dengan prajurit itu ke istana.
Sesampai di istana sang Pangeran langsung memanggil Corcoran untuk mengadap.
“Ampunkan hamba jika apa yang sudah hamba lakukan kurang berkenan di hati Pangeran,” kata Corcoran setelah berhadapan dengan sang Pangeran.
Pangeran tersenyum mendengar perkataan tulus Corcoran, “Saya justru berterima kasih karena Anda telah memberikan seekor kuda pada saya.”
Corcoran terus menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah pangeran yang baik hati itu. “Terima kasih untuk hidangan yang Tuanku berikan pada hamba,” Corcoran berkata, mengungkapkan isi hatinya.
Pangeran melihat ketulusan pada diri Corcoran, maka dia berkata, “Istana sedang membutuhkan seorang tukang kuda untuk merawat kuda-kuda yang ada. Jika engkau berkenan, kau boleh bekerja di sana,” kata sang Pangeran, sambil tersenyum bijak.
“Oh, benarkah, Tuanku. Hamba sangat senang jika bisa bekerja di sana.” Wajah Corcoran berbinar, riang. Sang Pangeran mengangguk.
Sejak hari itu, Corcoran resmi menjadi tukang kuda istana. Corcoran mengerjakan semua pekerjaannya dengan hati riang. Keahliannya dalam merawat kuda membuatnya mampu melakukan semua pekerjaan dengan baik. Corcoran bertugas merawat kuda-kuda itu agar menjadi kuda-kuda gagah dan bersih, sehingga siap digunakan untuk bertarung di medan pertempuran, tanpa perlu memikirkan bagaimana mendapatkan makanan untuk kuda-kuda tersebut.
***
Cinta selesai baca bukunya, ya buku di tutup dan di taruh di meja. Cinta mengambil remot di meja dan segera menghidupkan Tv. Acara yang di tonton Cinta acara musik sih, yang ada artis Cinta Laura.
"Lagu yang di nyanyikan Cinta Laura...bagus," kata pujian Cinta.
Cinta terus menonton acara Tv yang bagus itu.
CAMPUR ADUK
JAB PYAAR KISISE HOTA HAI
Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...
CAMPUR ADUK
-
1. Asal Usul Pangeran Jayakusuma Alkisah cerita, ada sebuah kerajaan yang besar di daerah Timur dengan rajanya yang bernama Prabu Braw...
-
Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan...
-
Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon ceramah yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Slamet m...







