CAMPUR ADUK

Saturday, June 26, 2021

KISAH SI CANTIK MAWAR

Aulia temannya Rara. Aulia ke rumah Rara. Sampai di rumah Rara. Ibunya Rara mempersilakan Aulia untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Rara sedang membeli sayur dan juga tempe di warung ibu Mila, ya di suruh ibunya Rara lah. Aulia menunggu Rara dengan baik. Aulia melihat buku di meja, ya milik Rara. Aulia mengambil buku tersebut dan di baca judulnya "Kisah Si Cantik Mawar."

Aulia membuka buku tersebut, ya segera di baca dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Aulia :

Dahulu kala, di zaman Turki Kuno, ketika keajaiban bisa disaksikan oleh banyak orang dan para peri sering muncul untuk membantu kehidupan manusia, hiduplah seorang Padishah dengan tiga putrinya. Putri-putri Padishah itu telah mencapai usia yang cukup untuk menikah. Namun, Padishah tidak kunjung menikahkan mereka karena ia terlalu sibuk dengan urusan-urusannya.

“Aku telah berumur empat puluh tahun,” keluh Putri Pertama.

“Aku berumur tiga puluh tahun.” Putri Kedua menghela napas.

“Umurku dua puluh tahun. Kita harus segera menikah sebelum rambut kita memutih,” usul Putri Ketiga.

“Sampaikanlah kegelisahan hati kita kepada Ayahanda. Kau yang paling pemberani di antara kita bertiga,” kata Putri Pertama dan Putri Kedua kepada Putri Ketiga.

Putri Ketiga menyetujui pendapat kedua kakaknya. Ia pun segera menghadap ayahandanya. “Ayahanda, bukankah sudah tiba waktunya bagi kami untuk berkeluarga?”

Sang Padishah merenung sebentar, lalu berkata. “Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Ambillah busur dan memanahlah. Di mana anak panah kalian menancap, di situlah jodoh kalian.”

Menuruti nasihat sang ayah, ketiga putri itu segera merentangkan busur masing-masing. Tiga anak panah pun melesat ke arah yang berbeda. Anak panah Putri Pertama mendarat di kastil Penasihat Istana, sehingga ia menikah dengan putra Sang Penasehat Istana. Anak panah Putri Kedua mendarat di kastil seorang Guru Istana, maka ia menikah dengan putra Sang Guru Istana. Sedangkan anak panah Putri Ketiga mendarat di sebuah pondok sederhana milik seorang pemuda miskin.

“Oh, Putriku, malang sekali nasibmu. Coba, rentangkan lagi busurmu. Mungkin anak panah itu akan jatuh ke tempat yang berbeda,” kata Sang Padishah. Namun, setelah tiga kali merentangkan busur, anak panah Putri Ketiga tetap jatuh di pondok pemuda miskin tadi.

“Ayahanda, biarlah saya terima takdir ini dengan hati lapang. Barangkali ada kebaikan yang tersembunyi untuk saya di rumah itu,” kata Putri Ketiga. Akhirnya, ia pun menikah dengan pemuda miskin itu.

Selang beberapa tahun kemudian, Putri Ketiga hendak melahirkan seorang bayi di malam yang dingin. Tidak ada tempat tidur atau pun kursi panjang sebagai tempatnya berbaring. Tidak ada pula perapian untuk menghangatkan diri.

“Istriku, aku akan pergi mencari seorang tabib wanita untuk membantumu melahirkan,” kata sang suami.

Kini, tinggallah Putri Ketiga kesakitan dan kedinginan di rumah sederhana itu sendirian. “Oh, seandainya ada yang bisa menolongku sekarang juga…” rintihnya.

Kebetulan, tiga ibu peri sedang melewati rumah Putri Ketiga dan mendengar suaranya. Mereka masuk dan melihat keadaan Putri Ketiga yang menyedihkan. Tiga ibu peri itu segera menolong Putri Ketiga. Dengan kekuatan ajaib, mereka menata isi rumah supaya nyaman dan menyenangkan. Sebuah perapian muncul dan menghangatkan ruangan. Disusul sebuah tempat tidur empuk untuk tempat berbaring Putri Ketiga dan juga benda-benda lainnya. Tak lama kemudian, seorang bayi perempuan yang sangat cantik lahir. 

“Anak ini bernama Mawar. Kelak, jika ia menangis, air matanya akan menjadi mutiara,” ucap Ibu Peri Pertama.

Anak ini bernama Mawar. Kelak, sekuntum bunga mawar akan merekah dari senyumannya,” kata Ibu Peri Kedua.

Ibu Peri Ketiga ikut berbicara, “Anak ini bernama Mawar. Kelak, di setiap jejak langkahnya akan tumbuh berbagai tanaman yang menghijau.” Seiring dengan ucapan Ibu Peri Ketiga, mereka menghilang secara bersamaan.

“Istriku, apa yang telah terjadi?” tanya suami Putri Ketiga ketika ia tiba di rumah. Ia benar-benar kaget melihat perubahan rumahnya, apalagi saat ia melihat istrinya berbaring di sebuah ranjang yang indah bersama seorang bayi yang cantik.

“Tiga ibu peri telah menolongku dan memberikan keajaiban di rumah kita, suamiku.” Putri Ketiga lalu menceritakan semua yang dia alami kepada suaminya.

Tahun berganti tahun, Mawar, bayi Putri Ketiga, tumbuh menjadi seorang gadis yang memikat hati siapa pun yang melihatnya. Tak hanya karena kecantikan wajahnya, namun juga karena keajaiban-keajaiban yang dibawanya. Jika Mawar menangis, dari matanya akan keluar butiran-butiran mutiara. Saat ia tersenyum, sekuntum mawar merekah mucul dari mulutnya. Dan, ketika ia berjalan, setiap jejak kakinya akan ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan hijau.

Kabar tentang Mawar dan keajaibannya tersiar hingga ke istana Sultan. Kabar itu didengar pula oleh Putra Sultan, yaitu Sang Pangeran. Rasa penasaran yang besar membuatnya bergegas pergi ke desa, tempat Mawar tinggal, dan melihat sendiri kecantikan dan keajaiban gadis itu. Segera saja, Pangeran jatuh hati dan membawanya ke istana untuk menikahinya.

“Suamiku, kita sangat beruntung. Putri kita hendak dinikahi oleh Pangeran!” seru Putri Ketiga kepada suaminya.

Semua orang bergembira karena pangeran mereka akan segera menikah. Akan tetapi, ada seorang wanita bangsawan dan putrinya yang merasa marah ketika mengetahui rencana pernikahan Pangeran. Rupanya, wanita bangsawan itu berharap jika Pangeran akan menikahi putrinya karena mereka sudah lama tinggal di istana. Apalagi putrinya juga cukup cantik untuk menjadi istri Pangeran. Namun, Pangeran ternyata lebih memilih untuk menikahi Mawar, seorang gadis miskin, dari pada putri wanita bangsawan itu.

“Tenanglah, anakku. Aku telah menyiapkan sebuah rencana untuk membuatmu menjadi istri Pangeran.” Wanita itu menghibur putrinya yang menangis tersedu-sedu di hari pernikahan Pangeran dan Mawar.

Sebelum pesta dimulai, wanita bangsawan itu menghidangkan senampan daging yang telah ditaburi banyak garam kepada Mawar. Mawar memakannya hingga ia merasa kehausan karena rasa asin yang menyengat.

“Tolong, beri saya segelas air…,” pintanya memelas.

Wanita bangsawan dan putrinya tersenyum jahat, lalu berkata. “Berikan satu bola matamu, maka kami akan memberimu segelas air.”

Mawar sungguh ketakutan mendengar permintaan itu. Tetapi, karena ia sudah sangat tersiksa dengan rasa haus, dengan sangat terpaksa ia memberikan bola mata kanannya.

“Minumlah.” Mereka memberikan segelas air kepada Mawar.

Mawar meminumnya hingga habis, tetapi, rasa haus yang menyiksa itu belum hilang juga. Maka, ia meminta satu gelas air lagi. 

Wanita bangsawan dan putrinya tersenyum jahat, dan mengucapkan kata-kata yang sama. “Berikan satu bola matamu, maka kami akan memberimu segelas air.”

Mawar tak punya pilihan lain, ia pun memberikan bola mata kirinya. Kini, ia telah menjadi gadis buta. Wanita bangsawan itu sangat puas. Kemudian, ia menyuruh anak buahnya untuk memasukkan Mawar ke dalam sebuah keranjang besar dan membuangnya ke puncak bukit yang tinggi, jauh dari istana. Setelah itu, ia mendadani putrinya dengan gaun pengantin dan tudung yang semula dikenakan oleh Mawar.

“Oh, ternyata, gadis cantik dan memesona ini yang ingin kau nikahi. Ayah senang karena kau memilih seorang putri bangsawan,” komentar Sultan usai upacara pernikahan.

Pangeran sungguh terkejut ketika tahu jika gadis yang dinikahinya bukan Mawar. Ia benar-benar bingung dengan kejadian itu. Tetapi, ia tidak bisa membatalkan pernikahannya karena restu Sultan telah diberikan dan upacara pernikahan telah dilaksanakan. Lalu, bagaimanakah nasib Mawar yang terbuang di puncak bukit?

Disana, Mawar menangis sedih. Suaranya terdengar menyayat hati. Saat itulah, seorang penebang kayu tua melewati keranjang besar yang berisi Mawar. Ketika ia mendengar suara tangisan itu, ia merasa ketakutan, namun akhirnya ia bertanya, “Siapakah engkau? Apakah engkau peri atau jin?”

“Saya hanyalah manusia biasa. Tolonglah saya, Tuan,” pinta Mawar.

Penebang kayu itu segera membuka tutup keranjang dan menolong Mawar. “Kasihan sekali gadis ini. Rupanya ia buta. Aku akan menolongnya dan mengangkatnya sebagai anak,” tekad penebang kayu itu di dalam hati.

Penebang kayu tua itu pun membawa Mawar pulang ke rumahnya di pinggir hutan dan merawat Mawar seperti anaknya sendiri. Akan tetapi, Mawar masih saja sedih dan terus menangis setiap hari. Butiran-butiran mutiara terus-menerus berjatuhan dari kedua matanya yang buta. Penebang kayu itu keheranan.

“Saya seperti ini sejak lahir, Tuan,” kata Mawar singkat. Ia enggan menjelaskan perihal kemalangan yang dia alami.

Hari demi hari berlalu, Mawar mulai merasa kerasan tinggal di rumah penebang kayu itu. Suatu hari, ayah angkatnya itu pulang dengan membawa buah-buahan manis dari hutan.

“Buah-buah ini sungguh manis dan menyegarkan, Ayah,” ucap Mawar sambil tersenyum. Sekuntum bunga mawar seketika merekah jatuh dari mulutnya.

Penebang kayu itu terperanjat. “Keajaiban apa lagi ini, anakku? Apa yang harus aku lakukan dengan bunga secantik ini?”

Mawar berpikir sebentar, kemudian berkata. “Ayah, tolong datanglah ke istana dan juallah bunga mawar ini di sana. Katakanlah jika bunga ini memiliki keindahan tiada duanya di dunia. Nanti jika ada seorang wanita bangsawan yang membelinya, jangan meminta uang sebagai pembayarannya. Tetapi, mintalah sebuah mata sebagai pengganti bunga mawar ini.”

Penebang Kayu Tua mengabulkan keinginan anak angkat tersayangnya. Keesokan harinya, ia pergi ke istana, tempat tinggal keluarga Sultan, untuk menjual mawar itu.

“Mawar! Mawar! Bunga Mawar! Barang siapa yang membeli bunga mawar ini akan sangat beruntung. Bunga ini memiliki keindahan tiada banding di dunia ini!” teriak Penebang Kayu Tua.

Wanita bangsawan, yang dulu membuang Mawar ke puncak bukit, membuka pintu, bermaksud membeli mawar itu.

“Saya tidak menjualnya untuk mendapatkan uang, Nyonya. Saya menjualnya untuk sebuah bola mata,” kata Penebang Kayu Tua.

Wanita bangsawan itu langsung teringat pada dua bola mata Mawar yang disimpannya. Ia pun memberikan salah satu mata itu kepada Penebang Kayu Tua.

“Oh, terima kasih, Ayah!” pekik Mawar senang, setelah menerima sebuah bola mata dari ayah angkatnya. Ia lalu memasangkan bola mata itu ke tempat yang tepat. Kini, Mawar bisa melihat dengan satu mata. Ia tersenyum senang. Bunga-bunga mawar merekah segera berjatuhan dari mulutnya.

“Ayah, tolong, juallah mawar-mawar ini ke istana supaya aku bisa mendapatkan satu mata lagi,” pintanya.

Keesokan harinya, Penebang Kayu Tua kembali menawarkan kuntum-kuntum mawar itu ke istana.

“Penjual mawar itu datang di saat yang tepat. Kemarin, Pangeran tampak sangat senang melihat mawar yang kusematkan di rambut putriku. Putriku pasti terlihat lebih cantik dengan mawar itu,” pikir Wanita Bangsawan. Ia tidak tahu bahwa Pangeran merasa senang karena melihat bunga mawar yang tersemat di rambut putrinya, bukan karena melihat kecantikan istrinya. Bunga mawar itu mengingatkan Pangeran kepada Mawar, gadis yang seharusnya ia nikahi dulu.

“Berikanlah sebuah bola mata sebagai pengganti mawar-mawar ini, Nyonya,” pinta Penebang Kayu Tua.

Akhirnya, mata kedua Mawar tiba. Ia memasangnya kembali di tempat yang tepat, sehingga penglihatannya kembali seperti sedia kala. Ia merasa sangat senang dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota menikmati pemandangan. Di jalanan kota, orang-orang terpesona melihat kecantikan Mawar. Terlebih lagi saat mereka menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dibuat gadis itu. Senyumnya mengeluarkan kuntum mawar yang merekah, jejak langkahnya meninggalkan tumbuh-tumbuhan hijau, dan air matanya berupa butiran mutiara yang indah. Berita tentang keajaiban Mawar tersebar ke segala penjuru. Kabar itu pun sampai ke telinga Sang Wanita Bangsawan dan putrinya.

“Oh, Ibu, bagaimana jika ia kembali lagi ke istana ini dan menceritakan semua kejahatan kita kepada Pangeran?” tangis putrinya.

“Aku akan melakukan sesuatu sebelum Pangeran mendengar tentang gadis itu,” tekad wanita bangsawan itu.

Ia lalu menelusuri kabar tentang Mawar dan menemukan rumah Penebang Kayu Tua di pinggir hutan. Diam-diam, ia menemui lelaki tua itu.

“Pak Tua, tahukah engkau bahwa gadis yang tinggal di rumahmu itu telah dirasuki oleh roh jahat? Oleh karena itulah ia bisa melakukan berbagai macam keajaiban. Roh jahat itu menyimpan jiwa putrimu yang sebenarnya di suatu tempat,” katanya berbohong.

Penebang Kayu Tua sungguh ketakutan mendengar hal itu. “Apa yang harus saya lakukan supaya jiwa putri saya bisa kembali, Nyonya?”

“Tanyakanlah kepada roh jahat itu, di mana ia menyimpan jiwa putrimu. Jika tempat penyimpanan jiwanya musnah, maka jiwa putrimu akan bebas kembali ke tubuhnya. Roh jahat itu pun akan pergi dari tubuh putrimu. Aku akan membantumu,” janji Sang Wanita Bangsawan.

Penebang Kayu Tua segera menemui Mawar yang ia sangka kerasukan roh jahat. “Roh jahat, katakanlah, di mana kau menyimpan jiwa putriku, Mawar! Kini aku mengerti penyebab semua keajaiban yang kau lakukan selama ini!”

“Ayah, apa yang terjadi? Aku sungguh-sungguh putrimu, Mawar. Aku bukan roh jahat. Aku bisa melakukan semua keajaiban ini karena tiga peri yang memberiku azimat ketika aku lahir,” jawab Mawar mencoba menjelaskan.

“Katakan di mana kau menyimpan azimatmu, maka aku akan percaya bahwa kau bukan roh jahat!” seru Penebang Kayu Tua.

Mawar berpikir sesaat, kemudian mengungkapkan rahasianya, “Aku menyimpannya di tubuh rusa muda bermata merah di puncak bukit. Jika ia mati, maka aku juga akan mati.”

Penebang Kayu Tua segera menemui Sang Wanita Bangsawan dan mengatakan semua yang dia ketahui. Kemudian, wanita itu menyuruh anak buahnya mencari rusa muda yang dimaksud dan memerintahkannya untuk membawa hatinya sebagai bukti kematian rusa muda itu. Setelah rusa muda itu ditemukan dan mati karena diambil hatinya, Mawar tak sadarkan diri. Penebang Kayu Tua menyadari kesalahannya dan merasakan penyesalan yang dalam. Ia menganggap Mawar telah meninggal, sehingga ia memasukkannya ke dalam sebuah peti dan menguburkannya di puncak bukit.

Sementara itu, Wanita Bangsawan dan putrinya bergembira karena Mawar telah pergi untuk selamanya. Mereka berdua kemudian memasak hati rusa muda itu. Tetapi, tanpa sepengetahuan mereka, sebuah mata merah bagai batu koral di lautan, menggelinding jatuh dari hati rusa dan bersembunyi di bawah tempat tidur Pangeran.

Malam harinya, Pangeran bermimpi aneh. Ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang sedang menangis di puncak bukit. Air mata gadis itu mengeluarkan butiran mutiara. Kemudian, saat gadis itu tersenyum kepada Pangeran, sekuntum mawar merekah jatuh dari mulutnya. Dan, ketika gadis itu berjalan beberapa langkah, jejak kakinya ditumbuhi oleh tanaman yang menghijau.

“Temukan aku, Pangeran. Aku terkubur di bukit ini. Bawalah mata koral di bawah tempat tidurmu dan letakkan di mulutku,” kata gadis itu.

Pangeran terbangun dengan tubuh penuh keringat. Ia buru-buru melongok ke bawah tempat tidurnya. Dan, benar saja, sebuah mata merah bagai batuan koral tergeletak di bawah tempat tidurnya. Tanpa membuang-buang waktu, Pangeran memacu kudanya menuju puncak bukit yang ada di dalam mimpinya. Ia yakin, kali ini, ia akan menemukan Mawar, calon istrinya yang dulu menghilang. Setelah sampai di puncak bukit, Pangeran segera menggali tempat yang ditunjuk oleh gadis dalam mimpinya. Ia menggali dan terus menggali, hingga sekopnya membentur sesuatu yang keras. Sebuah peti. Pangeran semakin bersemangat menggali, hingga peti itu tergali seluruhnya. Pangeran segera membuka tutupnya dan melihat sesosok gadis berbaring di dalamnya.

“Benar, mimpiku semalam ternyata benar. Ini adalah Mawar, gadis yang aku cari-cari selama ini!” pekik Pangeran senang.

Pangeran lalu mengambil sebuah kantung yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah mata merah bagai koral. Perlahan-lahan, Pangeran meletakkan mata itu di mulut Mawar. Tiba-tiba, mata itu menghilang dan Mawar membuka matanya.

“Terima kasih telah menyelamatkan saya, Pangeran.” Mawar tersenyum sambil menangis penuh haru. Mulutnya mengeluarkan bunga mawar yang merekah dan kedua matanya menjantuhkan butiran mutiara. Saat Pangeran menuntunnya melangkah keluar dari peti, jejak kaki Mawar ditumbuhi tanaman yang menghijau. Semua hal itu semakin meyakinkan Pangeran bahwa gadis itu benar-benar Mawar yang dicarinya.

“Apa yang terjadi di hari pernikahan kita? Mengapa engkau menghilang begitu saja?” tanya Pangeran.

Mawar menceritakan semua yang telah dialaminya kepada Pangeran, termasuk perlakuan Sang Wanita Bangsawan dan putrinya kepada dirinya.

“Mereka berdua akan mendapatkan hukuman yang sepadan dengan kejahatan yang telah mereka lakukan,” kata Pangeran dalam perjalanan menuju istana.

Dengan kembalinya Mawar, istana kembali mengadakan pesta pernikahan Pangeran. Mawar sangat bahagia karena bisa menikah dengan Pangeran dan berkumpul kembali dengan ayah dan ibunya. Ia pun tak lupa mengundang ayah angkatnya, yang telah menyelamatkan dan merawat dirinya, untuk hadir di pesta itu. Sementara itu, Wanita Bangsawan dan putrinya harus menjalani masa hukuman atas kejahatan mereka di dalam penjara istana.

***

Aulia berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuat ceritanya," pujian Aulia.

Aulia menutup buku dan buku di taruh di meja. Rara pulang ke rumahnya dengan bawa sayur dan tempe yang ia beli di warung ibu Mila.

"Aulia telah lama nunggu?!" kata Rara.

"Lumayan. Selesai baca buku. Kisah Si Cantik Mawar. Asal cerita dari Turki," kata Aulia.

"Tunggu sebentar ya. Aku mau ngasih ini belanjaan ku pada ibu!" kata Rara.

"Iya," kata Aulia.

Aulia menunggu dengan baik. Rara memberikan belanjaanya ke ibunya. Ya ibu segera memasak tuh sayur dan tempe di dapur. Rara ke ruang tamu.

"Aulia main yuk. Main boneka!" kata Rara.

"Ayuk!!!" kata Aulia.

Aulia dan Rara main boneka dengan penuh kegembiraan, ya kebiasaan ceweklah main boneka.

Friday, June 25, 2021

BERHARAP KEAJAIBAN

Dono dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv. Acara yang di tonton, ya acara berita ini dan itu...pokoknya menarik di tonton dengan baik banget. Kasino sedang sibuk kerjaanya di dalam kamarnya, ya membuat pembukuan gitu.

"Don," kata Indro.

"Apa?" kata Dono.

"Hidup ini cuma gini-gini aja ya?!" kata Indro.

"Ya begitu lah," kata Dono.

"Ada dewa muncul dari hasil pemujaan pada dewa. Ya dewa muncul akan mengabulkan permintaan aku. Ajaran Hindu gitu Don," kata Indro.

"Dewa muncul. Manusia yang meyakini ajaran Hindu, ya bersujud semuanya. Menyatakan ajarannya benar. Dewa pun mengabulkan permintaan manusia. Contohnya : wabah penyakit yang melanda negara ini dan itu....covid-19. Dewa langsung menghilangkan bencana wabah penyakit. Manusia jadi sehat semuanya," kata Dono.

"Mau sih begitu. Kenyataanya. Yang mengobatin orang sakit, ya Dokterlah. Bisa di sebut Dokter itu Malaikat atau juga di julukin Dewa jika manusia memuji seseorang yang berhasil menyembuhkan manusia dari sakitnya," kata Indro.

"Kebiasaan manusia. Mengangkat manusia setinggi langit. Jika berhasil menanggulangi masalah," kata Dono.

Acara Tv terus berlangsung dengan baik memberitakan ini dan itu. 

"Mengetik ah!" kata Dono.

"Nontonnya udahan?!" kata Indro.

"Iya. Abisnya aku ada ide untuk membuat cerita," kata Indro.

"Ooooooo begitu. Seperti biasanya toh!" kata Dono.

Dono ke kamarnya dan duduk dengan baik, ya segera menghidupkan leptopnya. 

"Cerita apa ?" kata Dono berpikir panjang.

Leptop telah hidup dengan baik. 

"Seperti biasa saja," kata Dono.

Dono mengetik dengan baik di leptopnya, ya membuat cerita yang baik gitu. Indro tetap asik nonton Tv. Kasino ternyata telah selesai urusan kerjaanya, ya keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Duduk Kasino di samping Indro, ya untuk nonton Tv bersama.

"Dono mana...Indro?!" kata Kasino.

"Biasa...Dono mengetik di leptopnya di kamarnya," kata Indro.

"Ooooo seperti biasanya toh," kata Kasino.

Acara Tv memang masih berlangsung dengan baik. Kasino dan Indro, ya asik nonton Tv.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Ada penyakit susah untuk di obatin kan?!" kata Indro.

"Ada sih penyakit yang susah di obatin. Contoh : kanker gitu," kata Kasino.

"Dewa muncul dari pemuja pengikutnya. Dewa mengabulkan permintaan manusia itu. Contohnya : di sembuhkan dari penyakit kanker," kata Indro.

"Mungkin saja. Keajaiban bisa terjadi," kata Kasino.

"Lewat para Dokter kan ?!" kata Indro.

"Banyak cerita begitu. Dewa menjelma menjadi Dokter, ya langsung menyembuhkan manusia yang sakit itu. Karena manusia yang sakit itu yakin dengan ajaran yang di yakininya," kata Kasino.

"Bisa juga di bilang Malaikat juga dong?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Berarti. Ada kesamaan dalam cerita dong.....Kasino?!" kata Indro.

"Dari dulu kan. Cerita berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan berdasarkan agama yang di yakini," kata Kasino.

"Maka manusia terus berharap bahwa hidup ini pasti ada keajaiban jika manusia sakit yang susah di obatin, ya ternyata bisa sembuh dengan baik...pertolongan dari Malaikat atau Dewa," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik banget. Dono masih terus mengetik di leptopnya dengan baik banget.

Thursday, June 24, 2021

NAMA AKHIRAT

Dono duduk di ruang tamu sedang baca buku. Kasino sedang asik nonton Tv di ruang tengah. Indro selesai urusan kerjaannya di kamarnya, ya keluar dari kamarnya. Saat di ruang tengah, ya Indro melihat Kasino sedang nonton Tv dengan asik banget. Acara Tv memberitakan tentang tenaga kesehatan yang meninggal yang katanya masih di kaitkan dengan covid-19. Indro bertanya kepada Kasino yang asik nonton Tv "Kasino beneran tuh berita tentang tenaga kesehatan yang meninggal?"

"Berita memang begitu. Mau gimana?" kata Kasino.

"Percaya atau tidak dengan berita di Tv. Aku cuma penonton yang baik saja," kata Indro.

"Sama dengan ku," kata Kasino.

"Kaya orang di hukum di pengadilan karena melanggar protokol kesehatan...kan?!" kata Indro.

"Beritanya memang begitu," kata Kasino.

"Percaya atau tidak dengan berita di Tv. Aku cuma penonton yang baik saja," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino tetap nonton Tv dengan asik banget. Indro tidak melanjutkan nonton Tv, ya ke ruang tamu. Tiba-tiba terdengar toa dari mesjid tentang pemberitahuan orang yang meninggal. Dono, Kasino dan Indro mendengar toa pemberitahuan dari mesjid dan ketiga mengucap secara bersamaan "Inalilahi wainalilahi rojiun."

Indro yang sudah di ruang tengah, ya duduk di sebelah Dono. 

"Orang yang meningal itu. Nama Akhirat telah di panggil sama Malaikat," kata Dono.

Indro memang terkejut dengan omongan Dono.

"Kok Nama Akhirat di panggil sama Malaikat?" tanya Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Ayolah Don beritahu aku!" kata Indro.

"Baiklah. Orang yang meninggal itu di panggil sama Malaikat dengan Nama Akhirat. Ya Nama Akhirat, ya nama amalan dan ibadahnya selama manusia itu menjalankan hidup di muka bumi ini," kata Dono.

"Berarti namanya Firdaus maka akan di panggil Malaikat.....Firdaus juga dong?!" kata Indro.

"Ya enggaklah di panggil seperti itu. Manusia itu menyembunyikan kesalahannya baik besar dan kecil....yang tahu adalah Tuhan. Maka Manusia yang di panggil Firdaus itu cuma nama dunia saja. Sedangkan Nama Akhiratnya....amal dan ibadahnya. Ya bisa saja nama akhiratnya.......nama neraka," kata Dono.

"Namanya dunianya Firdaus. Nama Akheratnya...bisa saja nama neraka berdasarkan amal dan ibadahnya," kata Indro.

"Malaikat langsung menghisap amal dan ibadah manusia yang meninggal tersebut dan langsung di golongkan berdasarkan amal dan ibadahnya selama menjalankan ibadah di dunia ini," kata Dono.

"Berarti kalau namanya Muhammad.....belum tentu jadi utusan Tuhan dong?!" kata Indro.

"Ya iyalah. Nama Muhammad itu sudah pasaran di pake manusia zaman sekarang ini, ya belum tentu jadi utusan Tuhan lah," kata Kasino.

"Begitu juga dengan nama dewa...contohnya : nama dewa...Wisnu. Jadi belum tentu jadi dewa dan juga belum tentu masuk surga. Bisa saja masuk neraka," kata Indro.

"Manusia memakai nama dewa ini dan itu kan pemberian dari orang tua. Untuk urusan Nama Akhirat kan.....amalan dan ibadahnya yang di panggil sama Malaikat dan di tetap golongannya, ya masuk neraka ataukah masuk surga," kata Dono.

"Kesalahan yang di sembunyikan. Hanya Tuhan yang tahu. Berarti bisa masuk neraka semua manusia itu," kata Indro.

"Yang ngomong Indro ya. Bukan aku!" kata Dono.

"Kok gitu Don?!" kata Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Aku mengerti Don," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Ooooo....iya Don. Yang kita omongin ini urusan umat Islam kan. Gimana dengan agama lain?!" kata Indro.

"Kalau itu sih. Aku males membicarakannya!" kata Dono.

"Aku mengerti. Rahasia kan. Misteri kan?!" kata Indro.

"Ya bisa di bilang begitu sih!" kata Dono.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Aku main game saja ah!" kata Indro.

"Emmmmm," kata Dono.

Dono melanjutkan main game di Hp-nya. Indro, ya main game di Hp-nya dengan baik banget. Kasino tetap nonton Tv dengan baik banget. Acara yang di tonton, ya tetap berita yang ini dan itu....seputar kehidupan ini dan itu...pokoknya menarik di tonton.

HASIL DARI SEBATANG JERAMI

Dono dan Kasino sedang duduk di ruang tengah, ya asik nonton Tv yang acaranya bagus banget. Acara Tv yang di tonton, ya berita seputar artis Indonesia yang ini dan itu.....pokoknya menarik untuk di tonton. Indro mau main game di Hp-nya di ruang tamu. Indro melihat buku di meja, ya tertarik gitu dan mengambil buku tersebut. Di bacalah judul buku tersebut sama Indro "Hasil Dari Sebatang Jerami."

Indro berpikir panjang dengan baik.

"Mungkin enggak ya 'Hasil Dari Sebatang Jerami' ?!" kata Indro.

Indro membuka buku tersebut.

"Mungkin!" kata Indro.

Indro pun membaca buku tersebut dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda bernama Taro. Taro adalah seorang pemuda miskin yang hidupnya selalu serba kekurangan. Meski hidup dalam kemiskinan, Taro selalu rajin berdoa ke pura pemujaan. Dia selalu berdoa kepada para Dewa agar hidupnya berubah dan menjadi makmur. Setiap hari, Taro selalu beribadah di pura. Kelelahan, Taro tertidur di kuil setelah berdoa.

Taro bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Taro mendengarkan suara ajaib. Suara gaib itu menyarankan agar Taro mengambil barang yang pertama kali ditemukannya setelah bangun dari tidurnya.

 "Taro, ketika kamu bangun dari tidurmu, ambil barang pertama yang kamu temukan. Hal-hal itu akan membuat perubahan besar dalam hidup Anda, ” kata suara ajaib itu.

Keesokan harinya, Taro terbangun dari tidurnya. Ia masih tidak percaya dengan mimpinya tadi malam.

"Benarkah hal pertama yang kutemukan bisa mengubah takdirku?" dia masih termenung. Namun nasehat dari mimpi itu akhirnya ia laksanakan.

 Taro akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan kuil. Ketika dia keluar dari kuil, Taro hanya melihat sedotan yang berada tepat di depannya. 

 "Akankah sedotan ini mengubah nasib hidupku?." Taro bergumam sambil menatap jerami. "Lebih baik, aku simpan saja sedotan ini," Taro akhirnya menyimpan sedotan itu.

Dalam perjalanan kembali, Taro didekati oleh seekor lalat. Lalat itu terbang kesana kemari di sekitar Taro. Taro terganggu oleh lalat itu. Akhirnya Taro menangkap lalat itu dan mengikatnya pada sedotan yang baru ditemukannya. Lalat hanya bisa terbang kesana kemari karena terikat oleh jerami.

Taro akhirnya berjalan pergi sambil membawa seekor lalat yang diikat dengan sedotan. Seorang anak akhirnya melihat sesuatu yang dibawa Taro. Dia memanggil ibunya untuk meminta mainan yang dibawa Taro. Menurutnya, lalat yang diikat dengan sedotan adalah mainan yang menyenangkan.

“Ibu, aku mau mainan itu…,” seru anak itu kepada ibunya.

Sang ibu kemudian menoleh ke apa yang ditunjukkan balitanya. Ternyata seekor lalat yang diikat dengan jerami. Sang ibu akhirnya mendekati Taro untuk bersiap-siap memberikan mainan itu dan menukarnya dengan barang cepat. Taro akhirnya menyetujui permintaan sang ibu untuk menukar mainannya dengan tiga buah jeruk besar manis segar.

Setelah mendapatkan ketiga jeruk tersebut, Taro melanjutkan perjalanannya kembali. Di tengah perjalanan, Taro melihat seorang nenek tua yang tampak kehausan. Sang nenek mendekati Taro dan bertanya di mana mata air terdekat.

“Nak, tahukah kamu di mana mata air terdekat berada di daerah ini? Aku haus,” kata nenek.

“Mata air di daerah ini cukup jauh, Bu. Kalau Nenek benar, ambil 3 jeruk ini,” kata Taro sambil memberikan 3 jeruk yang tampak segar dan manis.

Sang nenek pun akhirnya senang dengan pemberian Taro. Taro yang baik hati akhirnya menerima hadiah dari sang nenek, yaitu 3 gulungan kain tenun yang indah.

"Ambil barang-barang ini, anak muda. Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Anda memberi saya 3 jeruk segar dan manis ini," kata nenek.

Taro dengan senang hati menerima pemberian sang nenek dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kain tenun 3 gulung tentu bukan barang murahan. Taro kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia melihat ada seorang samurai dan salah satu pengawalnya yang berusaha menyelamatkan kuda mereka. Kuda itu tersandung dan tidak bisa bangun. Mereka akhirnya menyerah. Apalagi samurai dan pengawalnya sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu acara.

Taro kemudian menawarkan kepada samurai dan pengawalnya agar kuda itu diberikan kepadanya. Sebagai gantinya, Taro memberikan 3 kain tenun kepada samurai. Mereka menyetujui usulan Taro. Taro akhirnya merawat kuda itu sampai dia sehat seperti biasa. Setelah kuda bisa berjalan dengan baik. Taro mengajak kudanya jalan-jalan keliling desa. Di tengah perjalanan, Taro melihat seorang saudagar yang sedang memindahkan barang-barang rumah tangganya.

Taro mendekati saudagar itu dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan?" Apa kau pindah rumah?” Taro bertanya kepada pedagang.

"Itu benar, anak muda. Saya akan pindah rumah dan membawa barang-barang saya. Namun, saya perlu bantuan untuk mengangkut barang-barang saya ke rumah baru saya. Begitu ya, kudamu sangat sehat dan kuat. Jika saya bisa, saya ingin menukar ladang saya dengan kuda Anda. Karena saya membutuhkan tenaga hewan untuk mengangkut barang-barang saya,” jelas saudagar itu.

Taro akhirnya dengan senang hati menukar kudanya dengan sawah dan ladang milik saudagar. Pedagang itu juga senang menggunakan kuda hadiah Taro, karena dia sangat membutuhkannya untuk mengangkut barang. Talas akhirnya memiliki areal persawahan dan ladang yang luas. Dia bekerja dengan rajin untuk mengolah ladang dan ladangnya, sehingga tanah itu menghasilkan hasil yang melimpah. Taro menjalani kehidupan yang makmur dan menikah dengan seorang gadis desa yang baik dan cantik. Mereka akhirnya hidup bahagia. Semua itu adalah hasil dari sedotan, kemudian menjadi 3 buah jeruk, 3 gulungan kain tenun, seekor kuda, dan akhirnya menjadi ladang dan ladang yang luas.

Indro berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Kalau tidak salah dari Jepang.....cerita yang aku baca ini. Pinter yang membuat ceritanya. Kalau aku inget dengan baik artis Indonesia yang asalnya Jepang........Kenta dan Haruka, ya jalan cerita cinta keduanya bagus sih. Haruka menolak cinta Kenta," kata Indro

Indro membaca hikmah dari cerita yang ia baca "Hasil kerja keras dan hati yang tulus akan membawa hasil yang baik."

Indro memahami hikmah tersebut dan segera menutup buku, ya buku pun di taruh di meja. 

"Kalau aku inget dengan baik. Cerita yang telah aku baca pernah di buat filmnya apa sinetron ya? Karena bentuknya boneka sih kalau di tonton di Tv!" kata Indro.

Indro segera main game di Hp-nya dengan baik. Kasino dan Dono masih nonton Tv karena memang acara Tv bagus banget gitu.

Wednesday, June 23, 2021

TERLARANG

Dono duduk di ruang tamu, ya sedang baca buku dengan baik banget. Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Aku masih penasaran," kata Indro.

"Penasaran apa?" kata Kasino.

"Tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya?" kata Indro.

"Di bilangin. Aku ini cowok tulen. Urusan itu aku tidak tahu lah!" kata Kasino.

"Gimana ya?!" kata Indro yang bingung.

"Saran aku ke Dono aja. Mungkin Dono tahu yang sebenarnya!" kata Kasino.

"Dono kan cowok juga. Pasti tidak tahulah," kata Indro.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Pastinya tahulah. Kemarin kan mungkin Dono lagi sibuk mengetik di leptop jadi tidak ingin mengasih tahu gitu," kata Kasino.

"Iya juga ya. Kalau begitu aku tanya Dono ah!" kata Indro.

Indro beranjak dari duduknya di ruang tengah ke ruang tamu. Kasino tetap santai nonton Tv di ruang tengah. Indro duduk di sebelah Dono.

"Dono," kata Indro.

"Apa?" kata Dono sambil menghentikan baca bukunya.

"Don. Aku ingin ingin tahu tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya," kata Indro.

"Ooooo kecantikkan di dalam dirinya cewek toh," kata Dono.

"Maksudnya itu Don...kecantikan di dalam dirinya cewek, ya jujur apa tidak tuh cewek kalau ketika bercermin gitu?" kata Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Pasti bilang tidak tahu. Sebenar tahu...cuma tidak ingin memberi tahu," kata Indro.

"Ya...gimana ya?!" kata Dono masih berpikir panjang.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Jadi bisa di beri tahu kebenarannya tentang jauh di dalam diri cewek itu cantik apa enggak?!" kata Indro.

"Memang aku bisa mendengar suara Roh. Sebenarnya sih. Lebih baik aku bilang tidak tahu. Jadi misteri lah," kata Dono.

"Kenapa Don?" kata Indro.

"Anggap saja.....terlarang gitu," kata Dono.

"Kata terlarang ini tidak boleh di bongkar toh," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Ya sudahlah Don. Aku harus menghapuskan rasa penasaran aku!" kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Nonton Tv lagi!" kata Indro. 

"Iya," kata Dono.

Dono melanjutkan baca bukunya. Indro kembali ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Kasino.

"Gimana di kasih tahu Dono apa enggak?" kata Kasino.

"Terlarang kata Dono!" kata Indro.

"Ooooo terlarang toh. Aku mengerti. Tetap misteri," kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus gitu. Dono tiba-tiba berhenti baca bukunya dan berkata "Kecantikan di dalam diri cewek itu tercermin dari budi pekerti yang baik yang di ajarkan orang tuanya. Lebih jauh lagi di dalam diri cewek itu tidak boleh di bicarakan.....terlarang."

Dono melanjutkan baca bukunya dengan baik banget.

CERMIN

Dono, Kasino dan Indro di ruang tengah sedang asik nonton Tv yang acara bagus banget gitu, ya musik gitu. Dono tetap mengetik di leptopnya, sambil melirik tontonan di Tv lah. Memang alunan musik yang bagus membuat suasana jadi senang keadaanya gitu. Paling penting sih penyanyi yang menyanyi di panggung pertunjukkan di Tv.........cantik dan ganteng gitu. 

"Don berhentilah mengetik!" kata Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Lagi ada ide jadi di ketik dengan baik," kata Dono.

Dono melanjutkan mengetiknya.

"Biarkanlah Dono mengetiknya. Seperti biasa membuat cerita yang ini dan itu!" kata Kasino.

"Acara Tv lagi bagus baget gitu," kata Indro.

"Aku sambil nonton sih. Melirik gitu," saut Dono sambil mengetik gitu.

"Ya sudahlah aku serius nonton Tv-nya!" kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

Acara musik di Tv berlangsung dengan baik banget. Kasino dan Indro menonton acara Tv dengan baik banget gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Cewek itu suka cowok jujur apa pembohong?" kata Indro.

"Cewek suka cowok yang jujur dan tidak suka cowok yang pembohong," kata Kasino.

"Gimana dengan tulisan Dono, ya mau jujur di tulisan bisa saja di bilang pembohong kan?!" kata Indro.

"Kalau itu tanya sama Dono. Kenapa ke aku?!" kata Kasino.

"Don....gimana omongan tadi. Denger nggak?!" Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Aku denger omongan Indro. Sebenarnya tergantung dari pembaca yang menilainya. Aku mau di bilang jujur tidak masalah. Aku mau di bilang pembohong tidak masalah. Toh tujuan aku membuat cerita di Blog, ya hoby bercerita saja!" kata Dono.

"Kalau begitu sih...tergantung pembaca sih," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Oooo iya Kasino. Cewek itu bisa saja berbohongkan dalam pernyataan cinta kepada cowok?" kata Indro.

"Itu sih bisa sih," kata Kasino.

"Di depan jujur di belakang bisa berbohong toh," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Cewek itu sering bercermin kan?!" kata Indro.

"Iya lah untuk melihat kecantikan dari wajahnya itu," kata Kasino.

"Berarti. Cewek harus menilai dengan baik dirinya jujur apa tidak tentang kecantikan di dalam dirinya itu kan?!" kata Indro.

"Kalau itu  jawabannya tidak tahu. Aku bukan cewek. Aku cowok tulen!" kata Kasino.

"Dono juga cowok. Jadi jawabannya tidak tahu juga. Ya sudahlah...jawabannya penuh dengan tanda tanya besar banget," kata Indro.

"Fokus nonton Tv!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu. Dono masih sibuk mengetik di leptopnya, ya sambil melirik tontonan Tv yang acara bagus banget.

HADIAH ISTIMEWA

Nia teman baiknya Rara. Nia memang minjem buku cerita sama Rara, ya karena buku cerita yang di pinjem itu menarik dari judul cerita kemunginan isinya juga menarik. Nia penasaran dengan isi cerita buku yang ia pinjam dari Rara itu. Nia ingin membaca isi buku yang ia pinjam. Di kamarnya. Nia duduk dengan baik sambil memegang buku. Nia membuka bukunya dan segera membaca bukunya dengan baik juga.

Isi buku yang di baca Nia :

Zulaikha berlarian di sekitar tenda-tenda sukunya. Matahari bersinar terik sepanjang hari. Debu pasir yang beterbangan karena angin terasa pedih di mata. Namun semua itu tak sedikit pun mengurangi keceriaannya. Ia lalu masuk ke salah satu tenda yang paling besar. 

“Ayah!” serunya menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk di atas permadani.

Zulaikha adalah putri Ali bin Ahmad. Pria itu pemimpin rombongan suku Arab Badui yang sedang menetap di dekat oase. Sudah beberapa bulan mereka bermukim di sana. Suku Arab Badui hidup berkelana di padang pasir. Mereka biasanya menggembala domba, kambing, dan unta. Domba dan kambing dipelihara untuk dijual. Sedangkan unta digunakan untuk berkendara dan mengangkut barang. Mereka tinggal di dalam tenda-tenda berwarna hitam. Tenda itu dibuat dari bulu kambing atau domba yang dipintal. Karena jarang bertemu orang di luar kelompoknya, suku Arab Badui senang bila bertemu dengan musafir. Mereka terkenal ramah kepada musafir yang melewati pemukimannya. 

“Ada apa, Putriku?” tanya Ali kepada Zulaikha. 

“Aku melihat seseorang akan melintas!” jawab Zulaikha antusias. 

“O ya? Mari kita lihat!” 

Ali berdiri dan mengenakan sorbannya. Tangan mungil Zulaikha menggandeng ayahnya keluar tenda.

“Lihat itu, Ayah!”

 Ali mengamati dari kejauhan. Ia melihat awan kekuningan bergerak dari arah utara. Putrinya benar. Awan yang mereka lihat sebenarnya hanyalah kumpulan debu pasir. Debu-debu itu yang bergerak naik karena tersaruk kaki manusia atau binatang yang berjalan. 

“Sepertinya tak lama lagi ia akan sampai ke sini,” ujar Ali. 

“Ayo, kita tunggu di dalam tenda saja!” lanjutnya sambil menggamit lengan Zulaikha. 

Putri kecilnya itu tampak girang sekali. Zulaikha memang senang bila bertemu dengan para musafir. Musafir terkadang singgah sejenak di pemukiman suku Arab Badui. Zulaikha pasti akan meminta mereka bercerita. Zulaikha paling sering bertanya tentang kota asal mereka. Juga kota-kota yang telah mereka singgahi. Bagi Zulaikha, cerita mereka ibarat dongeng yang indah. Ia belum pernah melihat kota dengan rumah-rumah besar dari batu, apalagi menemukan taman yang hijau, sungai yang berkilauan, dan laut biru yang dingin. Setiap hari, selama bertahun-tahun, yang dilihat Zulaikha hanyalah hamparan pasir dan oase kecil. Melalui mulut para musafir itulah, ia menemukan keasyikan yang baru. Ketika musafir itu semakin dekat, Ali memanggil pelayannya. Pelayan-pelayan itu datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Tuan?”

“Sebentar lagi ada musafir yang akan datang melewati pemukiman kita. Tolong sambut dia dan siapkan jamuan untuknya.” 

“Baik, Tuan.”

Salah seorang dari pelayan itu keluar. Zulaikha diam-diam mengikutinya dari belakang. Zulaikha melihat pelayan ayahnya menundukkan kepala. Ia memberi salam kepada seorang lelaki yang memegang tali kendali kuda. Lelaki itu membalas salamnya dengan menundukkan kepala juga.

“Masuklah, Tuan! Pemimpin rombongan kami ada di dalam. Anda bisa beristirahat dan bercakap-cakap dengannya,” ujar pelayan. 

Pelayan itu mengambil tali kendali kuda dan mengikatnya di dekat ternak mereka. Begitu lelaki musafir itu masuk ke dalam tenda, Ali bin Ahmad langsung menyambutnya dengan ramah. Ia mempersilakannya duduk. Zulaikha bergegas meloncat ke pangkuan ayahnya. Ia tak ingin melewatkan cerita yang dibawa oleh musafir itu. Di hadapan mereka sudah terhidang roti gandum dan susu kambing. Ada juga beberapa kerat daging manis untuk suguhan. 

“Terima kasih untuk sambutan terbaik Anda, Tuan. Saya Ammar, utusan dari Syekh bin Nadi,” ucap si musafir memperkenalkan dirinya.

“Dengan senang hati, Tuan. Sungguh kehormatan bagi kami utusan dari syekh besar bersedia singgah di tempat kami,” balas Ali bin Ahmad. 

Sudah lama ia mendengar nama besar Syekh bin Nadi yang terkenal akan kebaikan dan kesalehannya.

“Saya memang mendahului rombongan Syekh bin Nadi untuk menemui Anda. Syekh bin Nadi dalam perjalanan ke selatan dan bermaksud mengunjungi suku Anda.” 

“O ya? Berapa lama lagi beliau sampai di sini?” tanya Ali. 

Ia merasa senang memiliki kesempatan bertemu Syekh bin Nadi. 

“Kira-kira dua atau tiga hari lagi.” 

Zulaikha menyimak pembicaraan ayahnya dan utusan Syekh bin Nadi. Ia masih belum tahu siapa syekh yang dibicarakan ayahnya dan musafir itu. 

“Kalau begitu, istirahatlah Anda di tenda kami sambil menunggu rombongan tiba.”

“Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Ali.” 

Utusan itu lalu diantar pelayan ke tenda lain yang biasa dipakai untuk para tamu. 

“Ayah, siapa Syekh bin Nadi?” tanya Zulaikha begitu ia tinggal berdua saja dengan ayahnya. 

“Dia syekh besar, Putriku. Syekh bin Nadi adalah bangsawan yang kaya raya, namun ia sangat dermawan. Ia juga seorang yang saleh. Ia sering pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajak orang berbuat baik. Semasa mudanya dulu, ia pernah menolong kakekmu saat akan dirampok. Kakek pernah bercerita pada Ayah. Karena itu, Ayah selalu mengingatnya. Ayah senang bila bisa bertemu dan mengucapkan terima kasih padanya,” jelas Ali bin Ahmad panjang lebar. 

Zulaikha mengangguk-angguk. Ia terkesan pada cerita ayahnya. Ia pun ingin bertemu dengan orang yang pernah menolong kakeknya dulu. Berita kedatangan Syekh bin Nadi segera menyebar. Sudah menjadi kebiasaan suku Arab Badui untuk mempersiapkan hadiah bila ada tamu penting datang berkunjung. Mereka ingin memberikan sambutan dan pelayanan terbaik. Peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan hadiah masing-masing. Zulaikha juga sibuk. Ia sibuk memerhatikan hadiah apa yang akan diberikan orang-orang di sukunya kepada Syekh bin Nadi. Ia masuk ke setiap tenda dan menanyai setiap orang apa yang akan mereka hadiahkan. 

“Keluarga kami akan menghadiahkan terompah dari kulit domba. Ibuku sendiri yang menjahitnya,” ujar Hasan. 

Ia teman bermain Zulaikha. 

“Kau sendiri memberi hadiah apa?” tanya Zulaikha penasaran.

“Aku? Tentu saja terompah itu. Aku ikut membantu Ibu membuatnya,” kilah Hasan.

“Berarti itu bukan pemberianmu sendiri,” balas Zulaikha.

“Aku, kan, masih kecil,” ucap Hasan membela diri.

Ia lalu berlari meninggalkan Zulaikha dan masuk ke dalam tendanya. Zulaikha risau. Semua orang sudah memiliki hadiahnya masing-masing, tapi ia tak memiliki apa pun untuk diberikan pada Syekh bin Nadi. Ia tak mungkin memberikan boneka kainnya yang sudah lusuh karena terlalu sering digunakan bermain. Zulaikha menghampiri ibunya. Wanita itu juga sedang sibuk menyiapkan hadiah di tendanya.

“Ada apa, Sayang? Biasanya kau bermain sepanjang hari? Kenapa lesu begitu?” tanya sang ibu melihat anaknya yang tampak tidak bersemangat. 

Zulaikha melemparkan dirinya ke permadani. Ia duduk di antara kain-kain lembut yang bertumpuk-tumpuk. 

“Aku sedang bingung, Bu.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Aku ingin memberi hadiah pada Syekh bin Nadi. Tapi aku tak punya sesuatu pun yang layak untuk kuhadiahkan. Lihatlah semua orang sibuk menyiapkan hadiah. Ibu juga.” 

Ibu Zulaikha tersenyum. Ia duduk mendekati putrinya. Ia tahu betul watak Zulaikha. Ia selalu ingin melibatkan diri dalam peristiwa apa pun. 

“Sayang, tak perlu bersedih seperti itu. Coba angkat wajahmu,” ucap sang ibu menghibur.

Ia memegang dagu Zulaikha dan menaikkannya ke atas. 

“Sekarang tersenyum. Ayo, tersenyum!” goda sang ibu.

Zulaikha bukan tersenyum malah meringis. Ibunya tertawa. 

“Dengarkan Ibu. Orang dewasa memang sedang sibuk mempersiapkan hadiah. Tapi anak-anak, tak harus memberi hadiah juga. Orang-orang tua mereka sudah mewakilinya. Kau mengerti?”

“Tapi aku ingin memberi hadiah sendiri, Bu. Aku tidak ingin diwakili.”

“Kalau begitu kau harus berusaha sendiri. Temukan apa yang ingin kau hadiahkan untuk Syekh bin Nadi. Lalu segera persiapkan.” 

“Nah, itu dia masalahnya. Dari tadi aku sudah berpikir dan mencari, tapi belum ketemu juga, Bu.”

“Ya sudah, tak perlu pusing. Kau bantu saja Ibu menyiapkan hadiah untuk Syekh bin Nadi. Sama saja kau ikut memberi hadiah, bukan?” ujar sang ibu berusaha menghibur. 

“Ah, Ibu. Bukan begitu maksudku,” ucap Zulaikha kesal. 

Ia benar-benar ingin memberi sebuah benda dari dirinya sendiri. Zulaikha berlari keluar dari tenda ibunya. Zulaikha pergi ke oase. Ada batu besar di pinggir telaga itu. Ia duduk di sana. Zulaikha menangis. Ia sangat sedih karena merasa tak memiliki sesuatu pun yang berharga untuk dihadiahkan. Tiba-tiba seseorang menepuk lembut bahu Zulaikha. Zulaikha menengok. Seorang lelaki berpakaian serba putih berdiri di hadapannya. Wajahnya bersih dan memancarkan sinar. Zulaikha menghapus air matanya. Ia tersenyum ramah pada Zulaikha.

“Tuan siapa? Saya belum pernah melihat Anda. Apakah Anda musafir?” tanya Zulaikha keheranan. 

Ia tak mengenali lelaki itu. 

“Aku Amin. Lalu, kau siapa, gadis kecil? Mengapa menangis?” lanjut lelaki bernama Amin itu balik menanyai Zulaikha. 

“Saya Zulaikha binti Ali bin Ahmad. Anda melihat saya menangis?” ujar Zulaikha tersipu. 

Zulaikha pun menceritakan sebab musabab dirinya menangis. 

“Oh, begitu ceritanya. Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Kau pasti akan mendapatkan sesuatu untuk kau hadiahkan pada Syekh bin Nadi. Esok hari, datanglah lagi ke tempat ini. Tempat di mana air matamu berjatuhan di pasir. Kau akan menemukan hadiah itu.”

“Sungguh? Apa, ya, kira-kira?” Amin hanya tersenyum. 

“Apakah Anda yang menaruhnya agar saya bisa mengambilnya?” tanya Zulaikha lagi. 

“Lihat saja besok. Sekarang pulanglah! Hari hampir gelap,” jawab Amin.

 Zulaikha menurut. Ia berjalan pulang ke tenda sukunya. Zulaikha tak sabar menanti esok hari. Ia penasaran hadiah apa yang akan ia temukan. Zulaikha tak mau menceritakan kejadian tadi sore pada siapa pun. Ia tak ingin mendapatkan ejekan ketika ternyata besok tak ada hadiah apa pun yang ia temukan. Ia langsung masuk ke tendanya. 

“Zulaikha, ke mana saja kau? Ibu khawatir sekali. Hari sudah hampir gelap,” tanya sang ibu cemas.

“Zulaikha hanya duduk-duduk di dekat oase, Bu. Maafkan Zulaikha sudah membuat Ibu khawatir.” 

Ibu menarik Zulaikha dalam pelukannya.

“Apakah putri Ibu masih sedih?” Zulaikha menggeleng. 

Ibunya tersenyum lega. 

“Sekarang bersihkan badanmu. Sebentar lagi kita makan bersama.” 

“Baik, Bu.”

 Zulaikha lebih banyak diam saat makan malam bersama ayah dan ibunya. Padahal, biasanya ia banyak bicara. “Anak Ayah, kok, tak ada suaranya?” goda Ali bin Ahmad. 

Malam itu mereka makan roti gandum dan daging domba yang dibakar. Zulaikha tak bersemangat mengunyah makanannya. 

“Tak apa, Ayah,” jawab Zulaikha.

Gadis kecil itu terus memikirkan ucapan Tuan Amin yang tadi ia temui di oase. 

“Bagaimana dengan hadiahnya?” kini Ali bertanya pada istrinya. 

Zulaikha menegakkan telinganya. Ia pun ingin tahu. 

“Gulungan kain sutra untuk Syekh bin Nadi sudah siap, Ayah. Sudah kupastikan tidak ada yang cacat. Tadi sudah kubuka dan kugulung kembali.” 

Ali mengangguk puas. 

“Tadi putri kecil Ayah juga bilang ingin memberi hadiah,” lanjut sang ibu. 

“O ya? Apa yang ingin kau berikan untuk hadiah, Sayang?” tanya Ali. 

“Aku belum tahu, Ayah,” jawab Zulaikha, “tapi sepanjang malam ini aku akan berdoa supaya besok aku punya hadiah untuk Syekh bin Nadi.” 

Ali tertawa kecil mendengar celoteh anaknya itu.

“Ya, Sayang. Berdoalah. Ayah juga akan berdoa untukmu,” ujar Ali menyemangati Zulaikha.

Zulaikha tersenyum lalu menghambur ke pelukan ayahnya. Sang ibu senang melihat anaknya kembali seperti biasanya. Malam itu, Zulaikha berdoa sebelum berangkat tidur. Ia ingin tidur nyenyak dan segera mendapati hari sudah pagi. Tapi, tidurnya malah gelisah. Zulaikha terjaga sepanjang malam. Ia lalu berdoa lagi sampai kelelahan dan tertidur. Saat fajar menyingsing, Zulaikha terbangun. Tanpa cuci muka ia langsung berlari ke luar tenda. Suasana masih hening, tapi Zulaikha tak takut. Ia berlari menuju ke oase. Ia ingin mencari tahu hadiah yang dikatakan Tuan Amin. Zulaikha terhenti di bongkahan batu tempatnya duduk kemarin. Ia ingat betul tak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di dekat batu itu. Namun, kini di hadapannya menjulang pohon tinggi. Batangnya lurus tanpa cabang. Di bagian atas pohon tersebut barulah tampak daun-daun yang menempel pada tangkai daun. Daun pohon itu panjang menyirip dan runcing di bagian ujung. Dari tangkai-tangkai daun muncul tandan-tandan buah yang menjulur. Buah-buahnya kecil berwarna kecoklatan. Zulaikha takjub. Inikah hadiah yang dikatakan Tuan Amin kemarin? Zulaikha segera kembali ke tenda dan mencari ayahnya. Ia ceritakan kejadian yang dialaminya kemarin sore. 

“Tapi di oase itu tak ada sebatang pun pohon besar, Zulaikha,” ujar Ali masih belum percaya.

“Zulaikha tak pernah berbohong. Ayah harus melihatnya sendiri biar Ayah percaya.”

“Baiklah, kita ke sana sekarang.” 

Ali berjalan di sisi putrinya. Tangan Zulaikha menyeret Ali untuk bergegas. Ia tak sabar menunjukkan pohon hadiahnya kepada sang ayah. Saat melihatnya sendiri, Ali hampir tak percaya. Kemarin ia sendiri yang menggiring domba-dombanya pulang setelah meminum air di oase. Ia belum melihat pohon itu. Mana ada pohon tumbuh besar dalam satu malam. Ali memanjat pohon itu dan memotong salah satu tandan buahnya. Setelah turun, ia lalu mencicipinya bersama Zulaikha. 

“Manis sekali rasanya. Semanis anak Ayah!” puji Ali. Zulaikha tersipu. 

“Sekarang Ayah percaya, kan?” Ali menggangguk.

“Seharusnya kita juga menyambut dan memberi Tuan Amin hadiah seperti Syekh bin Nadi,” gumam Zulaikha. 

“Tapi tak ada yang tahu ia mampir ke sini selain dirimu, Zulaikha. Ini berkah untukmu. Tuhan mengabulkan doamu. Kau mendapatkan hadiah istimewa untuk Syekh bin Nadi.” 

“Iya, Yah. Aku sangat gembira! Aku ingin berterima kasih pada Tuan Amin bila bertemu lagi dengannya.” 

Ali mengangguk.

“Ayo, kita bawa tandan buah ini untuk suguhan nanti!” Ali memanggul tandan buah yang ia potong kembali ke tendanya. 

Sore harinya, Syekh bin Nadi tiba di pemukiman Arab Badui. Ia disambut dengan sukacita. Satu per satu anggota suku Arab Badui menemuinya untuk menyerahkan hadiah. Ada perhiasan emas, sutra, pedang baja, dan masih banyak lagi. 

“Syekh, ini putri kecil saya, Zulaikha. Ia ingin memberikan hadiah untuk Anda,” ujar Ali. 

“O ya? Saya senang sekali. Terima kasih, gadis kecil yang baik.” 

Zulaikha tersenyum. 

“Mari, saya antar ke tempat hadiah itu berada,” lanjut Ali. 

Ia, Zulaikha, serta Syekh bin Nadi dan beberapa orang pengikutnya berjalan ke oase. Sambil berjalan, Ali meminta Zulaikha sendiri yang menceritakan tentang hadiahnya. Zulaikha mengisahkannya dengan antusias. Ketika sampai di oase, mereka mendekati pohon hadiah Zulaikha. 

“Ini dia hadiah untuk Anda, Syekh,” ujar Zulaikha polos. 

“Buah pohon ini sangat manis. Ayah telah memetiknya untuk Anda,” lanjut Zulaikha.

Syekh Bin Nadi tersenyum. 

“Ya, ini adalah hadiah paling berharga dari semua hadiah yang saya terima. Hadiah istimewa ini muncul dari keinginan dan ketulusan hati yang dalam. Terima kasih, Zulaikha,” ucap Syekh bin Nadi. 

“Saya akan menceritakan padamu tentang pohon ini. Kau ingin tahu?” tanya Syekh bin Nadi pada Zulaikha. Zulaikha langsung mengangguk mantap. 

“Ini adalah pohon kurma. Pohon yang sanggup tumbuh di gurun yang kering. Buahnya bisa dimakan. Daunnya bisa dijadikan atap atau diambil seratnya untuk dipintal. Tangkai daunnya dipakai untuk bahan bakar memasak. Pohonnya yang rimbun memberi naungan yang teduh. Dan kayunya bisa dipakai membuat perkakas.” 

Zulaikha terkesima mendengar penjelasan Syekh bin Nadi. 

“Lalu?” tanyanya. 

Syekh bin Nadi tertawa. 

“Kau suka mendengar cerita rupanya? Kalau begitu kita lanjutkan di tenda.”

Zulaikha sangat senang.  Mereka kembali ke tenda untuk makan dan beristirahat. 

“Apa lagi yang Anda tahu tentang pohon kurma, Syekh?” tanya Zulaikha tanpa malu-malu. 

Ia anak yang cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar. 

“Ada lagi yang istimewa dari pohon kurma. Saat ia tumbuh dari biji, yang ia tumbuhkan pertama kali bukanlah tunas daunnya. Biji kurma akan menumbuhkan akarnya dulu. Terus tumbuh ke bawah sampai menemukan sumber air. Setelah itu, baru ia tumbuhkan tunas daunnya. Itulah mengapa pohon kurma tidak tumbang meski diterjang badai di gurun. Akarnya kuat menancap ke bumi.”

Zulaikha mengangguk-angguk. Semakin kagum dengan pohon kurma yang istimewa.

“Begitu juga hidup, Zulaikha. Ketika kebaikan berakar kuat dalam hati manusia, maka ia tak akan goyah dengan godaan apa pun. Kelak, ketika kau dewasa. Kau pasti akan semakin mengerti. Teruslah menjadi anak yang baik, ya,” nasihat Syekh bin Nadi. 

Zulaikha tersenyum. Ia puas bisa memberikan hadiah untuk tamu besar ayahnya. Ia juga puas telah mendapatkan kisah pohon kurma yang istimewa.

***

 Nia menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuatnya," pujian Nia.

Nia menutup buku tersebut dan di taruh buku di meja. Nia keluar dari kamarnya dan langsung ke dapur untuk membantu ibu yang sedang memasak di dapur gitu.

Tuesday, June 22, 2021

ABAL-ABAL

Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv. Acara Tv yang di tonton berita seputar ini dan itu, ya menarik di tonton gitu. Dono sedang asik baca buku di ruang tamu. Acara Tv memang masih memberitakan tentang covd-19 karena topik utama yang di beritakan karena program kerja pemerintah untuk menanggulangi penyakit  dan pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh manusia dengan tujuan sih kesehatan rakyatnya di jamin dengan baik sama pemerintahan yang implementasi program kerjanya.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Berita utama tetap covid-19, ya?" kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Ooooo iya Kasino. Apa yang di tulis di Blog Dono sama saja.....abal-abal saja jika di nilai...kan?!" kata Indro.

"Kalau di nilai abal-abal sih tidak ada masalah Blog Dono. Cuma sekedar cerita doang. Beda dengan berita di Tv itu, ya di tulis juga di jaringan internet yang ini dan itu...lebih cenderung nilai ekonomisnya sih....uang. Penghargaan di nilai ekonomis dengan baik," kata Kasino.

"Manusia tetap di nilai dari nilai ekonomis. Uang menakar semua nilai suatu harga sebuah karya tulis di Blog dengan baik. Hidup jadi ironis banget," kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Tetap saja Dono telah puas membuktikan kebenaran ini dan itu," kata Indro.

"Kalau Dono telah puas dengan karya tulisnya di Blog. Berarti karyanya bernilai lebih tinggi dari apa pun. Karena ekonomis atau uang tidak di perhitungkan lagi," kata Kasino.

"Tetap saja hidup itu di jalanin dengan menggunakan uang," kata Indro.

"Kalau menjalankan kehidupan memang pake uang lah. Beli beras harus pake uang. Emangnya kita harus jadi pencuri demi mendapatkan beras...tujuannya agar tidak kelaparan gitu. Banyak wejangan orang tua dari statusnya Ulama sampai Presiden sekali pun harus mendapatkan jalan rezeki dengan jalan kebaikan gitu...halal," kata Kasino.

"Memang sih menjalankan kehidupan ini di suruhnya untuk mendapatkan rezeki dengan jalan yang baik...halal. Tetap susah juga kadang, ya karena berkompetisi dengan orang-orang yang mengejar kekayaan ini dan itu demi hidup jauh dari kemiskinan ini dan itu," kata Indro.

"Prinsip yang kita pake...kan sederhana. Agar tidak terlalu ngoyo banget untuk jadi kaya raya. Agar hidup jadi tenang. Sebagai teman kan, ya bisa di bilang saudara sih. Saling tolong menolog untuk meringankan beban hidup ini. Contohnya : Jika Dono dapet rezeki lebih di bagi ke kita kan. Begitu juga aku dan Indro, ya kalau dapet rezeki lebih di bagi ke Dono," kata Kasino.

"Saling melengkapi dalam kehidupan ini. Hidup jalannya jadi mudah," kata Indro.

"Hanya waktu saja yang akan memisahkan kita semuanya," kata Kasino.

"Maksudnya...kematian...kan Kasino?!" kata Indro.

"Kematianlah yang memisahkan dari jalan pertemanan atau saudara," kata Kasino.

"Ya Takdir kehidupan ini, ya di terima dengan baik," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik karena acara memang bagus banget. Dono di ruang tamu masih asik baca bukunya.

Monday, June 21, 2021

KISAH SEPASANG PENDEKAR KEMAYORAN

Dono di ruang tamu mengambil buku di meja dan segera di baca judul buku "Kisah Sepasang Pendekar Kemayoran."

Dono membuka buku dengan baik dan segera membaca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Dono :

Pada zaman dahulu, ketika Jakarta masih bernama Batavia dan masih dijajah Belanda, terjadi sebuah perampokan di rumah Babah Yong. Babah Yong merupakan keturunan etnis Tionghoa yang sangat kaya raya di daerah Kemayoran. Peristiwa perampokan itu menyebabkan kegemparan bagi masyarakat Kemayoran. Peristiwa ini akhirnya ditangani oleh pihak yang berwajib.

Seorang lurah dan pemimpin Belanda saat itu, Tuan Ruys, menyelidiki kasus perampokan di rumah Babah Yong. Tuan Ruys yang menyimpan dendam terhadap anak muda yang berama Asni langsung beranggapan bahwa Asni lah dalang dari perampokan tersebut. Asni adalah pemuda gagah perkasa, dia adalah seorang pemuda Kemayoran yang berani terhadap Belanda. Sikapnya yang tegas dianggap sebagai pembangkangan kepada Belanda. Menurut Asni, Belanda adalah kaum penjajah yang mesti angkat kaki dari daerahnya. Sehingga, Asni tidak segan-segan untuk tidak bersikap hormat terhadap Belanda yang berada di kampungnya.

“Aku sudah tau siapa pelakunya, pelakunya adalah Asni. Tangkap Asni sekarang juga !” perintah Tuan Ruys.

“Baik Tuan Ruys,” jawab sang lurah.

Seketika, Asni pun ditangkap di rumahya. Asni sempat memberontak dan menepis bahwa dia bukanlah dalang dari perampokan tersebut.

“Saya bukanlah perampok di rumah Babah Yong. Malam itu saya hanya berada di rumah !” jawab Asni dengan tegas.

“Anda sebaiknya kami bawa ke kantor untuk menemui Tuan Ruys. Ayo cepat !” kata petugas kepolisian Belanda sambil menodongkan senjata dan memborgol kedua tangan Asni.

Akhirnya, Asni mengikuti perintah mereka untuk menemui Tuan Ruys di kantornya. Asni pun sudah mengetahui bahwa Tuan Ruys tidak menyukai keberadaannya di Kemayoran. Setelah sampai di kantor Tuan Ruys, Asni ditodong dengan berbagai pertanyaan, agar Asni harus mengakui perbuatannya. Namun Asni tetap menyanggah tuduhan-tuduhan itu. Dia tetap mengatakan bahwa dirinya berada di rumah dan banyak saksi yang melihat dirinya di rumah. Pernyataan tersebut membuat Tuan Ruys geram dan menyuruh petugas opas untuk menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, ketika Asni sempat membantah dengan suara yang keras sambil memukul meja Tuan Ruys. Tuan Ruys sangat geram dengan sikap Asni. Perlawanan Asni tidak sendiri. Ternyata, di luar kantor, banyak masyarakat Kemayoran yang membantah tuduhan Tuan Ruys. Mereka berteriak untuk membebaskan pemuda yang bernama Asni.

“Bebaskan Asni sekarang juga....! bebaskan Asni sekarang juga ....!” mereka serempak berteriak di luar gedung.

Melihat kejadian tersebut, Tuan Ruys keluar dari kantornya. “Ada apa kalian ?” tanya Tuan Ruys.

“Tuan Ruys, kami mengetahui bahwa Asni bukanlah pelakunya. Tadi malam, kami melihat Asni berada di rumahnya,” jelas salah satu warga Kemayoran.

“Ahhhhhh tidak mungkin,” sergah Tuan Ruys.

Namun, massa yang datang pada saat itu cukup banyak dan selalu meneriakan kalimat “Bebaskan Asni....bebaskan Asni...pemuda yang tidak bersalah.” Hal tersebut membuat Tuan Ruys merasa malu hingga akhirnya menimbang keputusannya untuk tidak menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, tuduhan tersebut tidak ada bukti sama sekali.

Tuan Ruys menyuruh opas untuk membuka borgol di tangan Asni, sebagai tanda bahwa Asni dibebaskan. Namun, kebencian Tuan Ruys semakin memuncak, dia menghampiri Asni dengan perlahan.

“Asni, kamu boleh bebas saat ini. Tapi kamu harus bisa memenuhi syarat yang saya ajukan !” jelas Tuan Ruys sambil menatap kedua bola mata Asni.

“Syarat apa Tuan ?” tanya Asni sambil menatap wajah Tuan Ruys.

“Kau harus menangkap siapa perampoknya ! Jika tidak, kau akan kujebloskan lagi ke penjara,” kata Tuan Ruys.

Asni menyanggupi, dia akhirnya dibebaskan. Meskipun kesal dengan sikap Tuan Ruys yang semena-mena memenjarakan dirinya, dia pun penasaran terhadap siapa yang melakukan perampokan di rumah Babah Yong.

“Saya harus mengetahui siapa yang melakukan perampokan tersebut. Jangan-jangan bukan orang kampung sini,” gumam Asni.

Keesokan harinya, Asni berniat ke Kampung Marunda. Dia berjalan kaki ke kampung tetangganya untuk mencari infomasi mengenai siapa pelaku perampokan di rumah Babah Yong. Kampung Marunda adalah kampung tetangga dari Kemayoran.

Ketika sampai di perbatasan antara Kampung Kemayoran dengan Kampung Marunda, Asni dihadang oleh sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut berasal dari Kampung Marunda. Asni tidak melihat orang-orang tersebut, hingga akhirnya sekelompok orang dari Kampung Marunda merasa kesal dengan sikap Asni.

“Hei, berani-beraninya kamu masuk tanpa meminta izin dari kami !” kata salah seorang penjaga Kampung Marunda kepada Asni.

“Maaf Bang, saya tidak melihat abang-abang semua,” jawab Asni.

“Ahhhh alasan, kamu sebenarnya ingin menyepelekan kami kan ?” sanggah salah satu dari mereka.

Akibat kesalahpahaman itu, terjadilah perkelahian antara Asni dengan penjaga kampung sebelah. Mereka berjumlah 5 orang dan siap menyerang Asni secara membabi-buta. Namun Asni memiliki keahlian bela diri yang tinggi. Asni dapat menangkis serangan-seragan dari mereka, pukulan dan tendangan Asni dapat membuat mereka roboh tidak berdaya. Penjaga Kampung Marunda akhirnya lari tunggang langgang karena Asni dapat mengalahkan mereka.

Mereka akhirnya mengadu kepada Kang Bodong, Kang Bodong adalah pendekar tersohor dan dianggap senior di Kampung Marunda. Mendengar kejadian tersebut, Kang Bodong akhirnya mencari pemuda yang berusaha masuk ke kampungnya. Sang pemuda itu ditemukan Kang Bodong tidak jauh dari tempat kejadian perkelahian.

Tanpa pikir panjang, Kang Bodong menyerang pemuda yang bernama Asni itu. Pukulan serta tendangan yang dilancarkan Kang Bodong hanya ditangkis oleh Asni. Asni tau, Kang Bodong adalah pendekar sepuh yang harus dihormati, untuk itu Asni tidak melakukan pukulan dan serangan terhadap Kang Bodong.

Kang Bodong akhirnya berhenti untuk melakukan serangan karena dirinya kehabisan tenaga setelah menghadapi Asni. Akhirnya Asni angkat bicara bahwa dirinya bermaksud datang ke Kampung Marunda untuk mencari siapa perampok di rumah Babah Yong.

Sebelum Kang Bodong menanggapi pernyataan Asni, munculah serangan tiba-tiba dari seorang gadis. Sang gadis menyerang Asni dengan cukup lincah dan gerakan silat yang menipu. Asni lumayan kewalahan dengan serangan seorang gadis itu. Namun, akhirnya Asni dapat menguasai serangan dari gadis tersebut. Terlebih ketika baju sang gadis sempat tersangkut di dahan pohon, Asni pun menebas dahan pohon itu hingga tubuh sang gadis dapat ditangkap oleh Asni.


“Lepaskan saya.... !” perintah sang gadis kepada Asni.

Asni hanya terpaku melihat rupa si gadis “cantik juga nih,” gumam Asni.

“Apa..?” tanya sang gadis dengan raut merah padam.

“Eh... ngga,” Asni pun malu dengan ucapannya tadi. Dia mulai salah tingkah.

“Mirah.... Mirah....,” seru Kang Bodong sambil tertawa. “Ternyata ada seorang pemuda yang bisa menaklukan ilmu silat putri saya.”

Asni terkejut, ternyata gadis itu adalah putri dari Kang Bodong yang bernama Mirah. Mirah adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu silat yag cukup tinggi. Di Kampung Marunda, belum ada yang bisa mengalahkan kemampuan silat Mirah.

“Asni, kau berhak untuk menikahi anak gadisku,” kata Kang Bodong sambil tersenyum.

Asni pun tertunduk malu, dia rupanya menaruh hati kepada gadis yang baru saja ditemuinya, Mirah. “Kalau Mirah mau, saya setuju saja,” jawab Asni sambil tertunduk malu.

“Saya sudah berjanji, jika ada pemuda yang mampu mengalahkan silatnya, maka pemuda itu berhak untuk menikahi Mirah,” lanjut Kang Bodong.

Mirah yang cantik dan pemberani semakin tertunduk malu. Demikian pula dengan Asni, dia tidak menyangka bahwa akan menemukan jodohnya di Kampung Marunda. Padahal, tujuan utamanya yaitu mencari kawanan perampok yang mencuri di rumah Babah Yong.

Kang Bodong akhirnya mengajak Asni untuk menceritakan perihal perampokan di rumah Babah Yong. Konon, Babah Yong terkenal hingga di luar daerah kemayoran. Mendengar penjelasan dari Asni, Kang Bodong akhirnya yakin bahwa pelaku perampokan adalah Tirta. Sebab Tirta dikenal sebagai berandalan Marunda yang sudah sejak lama berniat merampok rumah Babah Yong.

Beberapa waktu kemudian, pernikahan Asni dengan Mirah dilangsungkan. Banyak tamu undangan berdatangan, termasuk Tuan Ruys, lurah, dan Babah Yong. Ternyata Tirta juga ikut dalam pesta hajatan pernikahan Asni dan Mirah. Tirta ternyata memiliki niat buruk. Dia akan membunuh Asni karena telah mengetahui bahwa pemuda tersebut akan menangkapnya untuk di bawa ke opas Kemayoran.

Gerak-gerik Tirta akhirnya diketahui oleh Kang Bodong. Kang Bodong terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tirta. Dengan pelan, Tirta mempersiapkan sesuatu di balik saku bajunya. Kang Bodong yakin bahwa di balik saku baju Tirta adalah pistol. Dengan sigap, Kang Bodong menghentikan gerakan Tirta, tarik-menarik terjadi antara Kang Bodong dengan Tirta. Hingga akhirnya, pistol tersebut mengeluarkan peluru dan menghujani salah satu tubuh mereka.

Suara senjata api tersebut menimbulkan keributan. Para undangan saling berlari menyelamatkan diri. Mereka berteriak dan terkejut mendengarkan ledakan pistol. Tidak disangka, ternyata peluru bersarang di tubuh Tirta. Akhirnya Tirta dilarikan ke rumah sakit. Karena kehabisan darah, Tirta meninggal dunia di perjalanan.

Setelah kematian Tirta, warga Kemayoran merasa aman, karena tidak ada lagi gangguan seperti perampokan dan pencurian. Terlebih ketika Asni dan Mirah telah menikah, Asni membawa istrinya ke Kemayoran. Sehingga Kemayoran memiliki sepasang pendekar yang merupakan suami istri, yaitu Asni dan Mirah.

***

Dono berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pandai yang membuat ceritanya," kata Dono.

Dono membaca hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut  "Jadilah orang yang pemberani menegakan kebenaran, maka suasana aman dan damai akan tercipta." 

Dono menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja.

"Main game ah!" kata Dono.

Dono mau main game di Hp-nya, tapi teringat dengan sinetron tentang suami yang kecanduan main game terus sampai lupa urusan rumah tangganya. Dono berpikir dengan baik banget.

"Aku belum menikah. Jadi tidak ada masalah main game. Kalau sudah menikah, ya mungkin di kurangin atau aku tinggalkan main game. Tanggungjawab ku membimbing istri dan anak dengan baik banget, ya kewajiban sebagai pemimpin rumah tangga yang baik," kata Dono.

Dono memahami benar dirinya, ya main gamelah di Hp-nya. Sedangkan Kasino dan Indro sedang nonton Tv di ruang tengah karena acara Tv bagus banget. Acara Tv yang di tonton, ya berita ini dan itu sih. 

"Oooo hari ini ulang tahun kota Jakarta toh!" kata Indro.

"Berita memberitakan seperti itu sih," kata Kasino.

"Selamat ulang tahun kota Jakarta," kata Indro.

"Aku...ikutan juga. Selamat ulang tahun kota Jakarta," kata Kasino.

"Kita ini kan orang pendatang yang tinggal di kota Jakarta. Jadi kita menghormati daerah yang kita tinggalin ini," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

"Kalau kita pindah ke kota lain. Ya di hormati juga sih," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro fokus nonton Tv, ya acara menarik banget untuk di tonton sih.

YONG TU DAN BENIH TANAMAN DARI RAJA

Indro telah menyelesaikan kerjaanya, ya keluar dari kamarnya ke ruang tengah Indro duduk di ruang tengah ingin menonton Tv. Saat ingin menghidupkan Tv pake remot dan remot ada di meja, ya Indro memang melihat buku di meja. Biasa sih bukunya Dono. Indro tertarik dengan judul buku tersebut " Yong Tu Dan Benih Tanaman Dari Raja." 

Indro mengambil buku tersebut. 

"Kalau dari nama tokohnya kayanya ceritanya asalnya dari Korea. Artis Indonesia yang asal dari Korea siapa ya?" kata Indro.

Indro membuka buku sambil mengingat nama artis Indonesia yang asalnya Korea.

"Ooooo iya aku ingat. Artis Indonesia yang asalnya Korea....Lee Jeong Hoon. Artis di Indonesia ini banyak banget sih, ya kadang lupa sih," kata Indro.

Indro mulai membaca buku itu dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Pada zaman dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Raja tersebut mengalami gundah gulana. Dimana dia tidak memiliki anak laki-laki. Semua anaknya adalah perempuan. Dia berniat ingin mengangkat seorang anak laki-laki. Namun, dia berharap, agar anak laki-laki tersebut memiliki kepribadian yang baik serta penuh dengan kejujuran.

Sang raja akhirnya bermusyawarah dengan para penasehat, apakah yang harus dia lakukan untuk mencari anak angkat yang berhati jujur. Para penasehat raja menganjurkan agar sang raja menyelenggarakan sayembara untuk memilih rakyatnya yang patut diangkat menjadi seorang anak laki-laki. 

 Akhirnya, sang raja pun menyelenggarakan sayembara untuk memilih putra angkatnya. Sayembara tersebut terbilang cukup unik. Sang raja memberikan benih tanaman untuk ditanam kepada anak-anak muda di negeri itu. Banyak para pemuda yang berdatangan ke istana untuk mengambil benih tanaman yang telah ditanam di dalam pot tersebut. Mereka berharap agar menjadi anak angkat sang raja.

Salah seorang pemuda desa yang berama Yong Tu, ikut mengikuti sayembara tersebut. Dia juga menerima benih tanaman yang telah di tanam ke dalam pot.

“Dengarlah wahai sekalian, saya mengharapkan kalian untuk memelihara benih tanaman tersebut sehingga menjadi tanaman yang tumbuh lebat dan bagus. Dengan waktu yang telah disesuaikan, kalian akan berkumpul kembali untuk menunjukkan hasil tanaman yang telah kalian rawat tersebut. Jika kalian sukses merawatnya, kalian akan aku jadikan anak angkat sebagai penggantiku nanti !” seru sang raja di hadapan para pemuda.

Yong Tu pun membawa pulang benih tanaman tersebut ke rumahnya. Dengan telaten, dia merawat benih tersebut untuk menjadi sebuah tanaman yang bagus dan indah. Namun, benih tersebut tidak kunjung tumbuh. Padahal dia telah merawat tanaman tersebut satu bulan lamanya.

Sang ibu yang melihat Yong Tu sedang kebingungan akhirnya menyarankan agar mengganti wadah benih tanaman tersebut.

“Yong Tu, cobalah ganti wadahnya dengan wadah yang lebih luas. Mungkin wadah tersebut terlalu kecil untuk tanaman itu,” saran sang ibu.

Yong Tu akhirnya mengikuti saran ibunya. Dia mengganti wadah atau pot tanaman tersebut dengan wadah yang lebih besar. Malangnya, tanaman tersebut belum juga tumbuh. Yong Tu merasa sedih dengan hasil tanaman yang dirawatnya. Dia merasa gagal untuk merawat tanaman tersebut. Namun dia menyadari, mau tidak mau dia harus lapang dada untuk menghadapi kenyataan bahwa benih tanamannya tidak tumbuh.

Beberapa hari kemudian, hari yang ditetapkan pun telah tiba. Yong Tu akhirnya berangkat menuju istana sang raja. Sebelum berangkat, Yong Tu berpamitan dengan ibunya.

“Ibu, aku berangkat dulu. Benih tanaman yang aku rawat memang tidak tumbuh, dan mau tidak mau aku harus membawanya ke hadapan raja,” kata Yong Tu sambil tertunduk sedih.

“Tidak apa-apa nak, yang penting kamu telah berusaha merawatnya,” kata ibu Yong Tu sambil tersenyum.

Yong Tu akhirnya pergi ke istana. Sesampainya di istana, dia menemukan betapa banyak pemuda sepantarannya membawa tanaman yang sangat subur dan indah. Beberapa dari mereka bahkan terlihat mengejek Yong Tu yang hanya membawa sebuah pot yang berisikan tanah tanpa ditumbuhi oleh tanaman.

“Hei Yong Tu, apa yang kamu bawa ? raja tidak akan senang dan bahkan tidak akan mengangkatmu menjadi anaknya,” kata salah seorang pemuda menyapa Yong Tu sambil tersenyum mengejek.

“Ha... ha ha, kamu bernasib sial Yong Tu. Dengarlah, raja pasti merasa jijik dengan hasil tanamanmu,” kata pemuda yang lainnya.

Para pemuda tersebut tertawa terpingkal-pingkal mengejek Yong Tu. Yong Tu hanya terdiam. Dia hanya mematuhi perintah sang raja, itu saja. Hingga tibalah saatnya para pemuda berkumpul dalam sebuah lapangan di dekat istana. Sang raja akhirnya datang, memeriksa satu demi satu tanaman para pemuda tersebut. Wajah raja tampak tidak senang, bahkan terlihat sedikit marah.

Di sudut barisan paling belakang, tampaklah Yong Tu yang berdiri sambil tertunduk sedih. Raja akhirnya melihat Yong Tu. Dengan langkah perlahan, sang raja berjalan menuju seorang pemuda yang bernama Yong Tu.

“Kenapa kamu sedih wahai anak muda ? mana tanamanmu ?” dengan tenang, sang raja bertanya kepada Yong Tu.

“Begini baginda, hamba telah merawat tanaman ini dengan sepenuh hati. Namun, tanaman ini tidak bisa tumbuh sesuai dengan yang dikehendaki. Hingga akhirnya saya membawa benih tanaman tersebut tanpa ditumbuhi oleh tanaman,” jawab Yong Tu.

Paduka raja tampak tersenyum. Wajahnya kembali berseri-seri. Dia menatap Yong Tu penuh dengan bangga.

Dengan lantang, sang raja berkata “Aku telah menemukan siapa yang akan menjadi anak angkatku !”

Yong Tu dan semua hadirin yang mendengarkan serempak terkejut. Mereka tidak menyangka raja akan mengatakan demikian.

“Maaf paduka yang mulia, mana mungkin engkau mengangkat seorang anak muda yang telah gagal merawat tanamannya, hingga tidak satu pun tanamannya tumbuh dalam pot itu,” kata salah seorang pemuda.

Sang raja yang mendengarkan kritikan pemuda tersebut tersenyum lalu berkata “Tahukah kalian ? bahwa biji tanaman yang aku berikan kepada kalian di dalam pot itu telah kurebus sebelumnya ?, biji tanaman tersebut tidak mungkin tumbuh. Anak muda ini telah teruji kejujurannya.”

Semua peserta sayembara akhirnya terkejut. Mereka tertunduk lesu mendengar penjelasan dari sang raja, kecuali seorang pemuda yang bernama Yong Tu. Mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan perbuatan dusta demi memenangkan sayembara. Kebohongan mereka akhirnya terbongkar. Mereka telah menggantinya dengan tanaman lain demi memenangkan sayembara.

Yong Tu akhirnya diangkat menjadi anak angkat sang raja. Yong Tu adalah seorang anak yang jujur. Di istana, Yong Tu akhirnya dididik untuk mengasah kecakapan sebagai seorang pemimpin. Meski demikian, Yong Tu tetap menjadi pemuda yang jujur dan disenangi oleh semua kalangan.

***

Indro berhenti baca bukunya.

"Cerita bangus. Pinter yang membuatnya," kata Indro.

Indro membaca dengan baik hikmah dari cerita yang ia baca "Kejujuran akan mendatangkan keberuntungan, dan kebohongan akan mendatangkan malapetaka."

Indro memahaminya dengan baik dan buku di tutup dengan baik, ya di taruh ke meja tuh buku. Indro mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv. Dengan remot memilih chenel Tv yang acaranya menarik. Indro memilih chenel Tv yang menayangkan Drama Korea. Dengan santai Indro menonton Drama Korea yang bagus banget gitu. Kasino masih sibuk di kamarnya, ya urusan kerjaannya...pembukuan. Dono di dalam kamarnya, ya sedang mengetik di leptopnya dengan baik banget. 

KISAH SERIBU SATU MALAM

Selfi teringat dengan buku yang ia pinjem buku sama Rara, ya buku cerita gitu karena Selfi tertarik dengan judul cerita dan juga isinya juga. Selfi duduk di ruang tamu mau membaca buku dengan baik.

Isinya buku yang di baca Selfi :

Sudah cukup lama penduduk kerajaan hidup dalam kecemasan. Setiap malam para orang tua yang memiliki anak perempuan menangis. Semua ini karena ulah sultan mereka, Sultan Syahriar. Dahulu Sultan Syahriar sangat dihormati dan dicintai rakyatnya. Namun kini Sultan telah berubah menjadi seorang yang kejam dan berhati dingin. Setiap hari ia menikahi seorang gadis. Keesokan harinya ia mengirim gadis itu kepada algojo istana untuk diakhiri hidupnya. Tindakan Sultan menjadi teror bagi penduduk kerajaan. Perangai Sultan Syahriar berubah sejak istrinya berkhianat, padahal Sultan sangat mencintainya. Sultan bahkan menghujani istrinya dengan kemewahan. 

Setiap keinginannya dituruti dan semua kebutuhannya tak satu pun terlewatkan. Namun ternyata sang istri terlalu tamak. Semua kebaikan yang diberikan Sultan tak cukup baginya. Ia hendak membunuh Sultan dan merebut tahta kerajaan. Beruntung sebelum semua itu terjadi, Sultan mengetahuinya. Sultan menjadi kecewa. Ia kehilangan kepercayaan kepada wanita. Ia menganggap semua wanita culas seperti istrinya yang terdahulu. Karena itulah Sultan akhirnya menikahi para gadis hanya untuk satu malam saja. 

Perdana menteri dan para penasihat kerajaan sudah berusaha menasihati Sultan. Tapi tak satu pun dari mereka yang di dengar. Sultan tetap pada keputusannya. Bahkan ia tak segan mengirim algojo kepada siapa pun yang berani menentangnya. Akhirnya semua memilih diam. Perdana menteri menjadi orang yang paling bersedih. Di satu sisi ia tidak setuju dengan perbuatan Sultan, namun Sultan justru menugaskannya untuk mencari gadis yang akan dijadikan pengantin satu malam. Apalagi ia juga mempunyai anak perempuan. Ia bisa merasakan kesedihan para ayah yang kehilangan putrinya. Juga kecemasan para ibu akan nasib anak gadisnya. 

“Ayah, apa tidak ada cara untuk menghentikan tindakan Sultan?” tanya Sarah, anak tertua perdana menteri. 

Perdana menteri menggeleng lesu. 

“Bagaimana bila semua gadis di kerajaan ini telah habis di tangan algojo Sultan? Bagaimana bila yang tersisa hanya aku dan Dinar? Ayah juga akan mengirim kami kepada maut?”

Sarah terus mendesak ayahnya.

“Bagaimana mungkin seorang ayah rela kehilangan anaknya?” jawab Perdana Menteri balik bertanya.

“Ayah tetap sebagai perdana menteri atau pun tidak, tak akan bisa mengubah takdir bila memang kalian harus berhadapan dengan maut,” lanjutnya sedih. 

Sarah terus berpikir. Ia ingin menyelamatkan para gadis dari kekejaman Sultan. Ia tidak ingin mati konyol seperti gadis-gadis yang lain. Namun, ia tak mau melarikan diri dari tanah kelahiran yang dicintainya. Apalagi bila harus meninggalkan ayah dan keluarganya. Sarah memang gadis yang cerdas dan pemberani. Perdana menteri telah mengirimnya untuk belajar berbagai bidang ilmu. Sarah pernah belajar ilmu filsafat, sejarah, seni, bahkan kedokteran. Karena itu, pengetahuannya sangat luas. 

Perdana menteri sangat menyayanginya. Sedangkan adiknya, Dinar, seorang gadis pemalu yang cantik jelita. Tak seperti kakaknya yang selalu haus ilmu, ia lebih suka di rumah. Ia pandai menenun dan memasak. Selama ini, dialah yang menyiapkan semua keperluan ayah dan kakaknya. Kedua putri perdana menteri memang istimewa. Karena itu, perdana menteri tak mungkin sanggup kehilangan mereka. Setiap hari wajahnya diliputi kecemasan. Ia tak lagi tampak gagah karena menanggung beban berat dari Sultan. Ia merasa bersalah pada para penduduk kerajaan. Namun, ia pun harus mematuhi perintah Sultan bila ingin tetap hidup. Sarah sangat prihatin dengan keadaan ini.

“Ayah, saya ingin meminta sesuatu dari Ayah. Apakah Ayah mau memberikannya untuk saya?” tanya Sarah pada suatu hari.

“Jika Ayah bisa, tentu akan Ayah penuhi. Apa yang kau minta, Sarah?” 

“Aku bertekad untuk menghentikan tindakan Sultan yang meresahkan rakyat. Aku ingin membebaskan para ibu dan para gadis dari kecemasan akan nasib mereka.” 

“Bila kau bisa melakukannya, hal itu sangat baik, Sayang. Tapi bagaimana caramu melakukannya?” tanya perdana menteri pada putrinya itu. 

“Setiap hari Ayahlah yang harus menyediakan gadis untuk dinikahi Sultan. Karena itu, kumohon kerelaanmu, ajukanlah diri saya kepada Sultan.” 

Perdana menteri terkejut. Ia langsung naik pitam mendengar permintaan Sarah. Ia berdiri dari kursinya.

 “Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?” teriaknya pada Sarah.

 “Apa yang telah membuatmu berpikir seperti itu, Sarah? Kau tahu apa yang akan terjadi padamu bila kau menjadi pengantin Sultan?” ucap perdana menteri penuh emosi.

“Saya tahu risikonya, Yah. Saya tidak takut dengan kematian. Setiap orang pasti akan mati entah dengan cara apa. Bila memang saya gagal dan harus mati, paling tidak saya telah mencoba melakukan hal yang mulia. Bila saya berhasil, saya telah memberikan pengabdian besar untuk kerajaan ini.” Sarah menjelaskan dengan penuh keyakinan.

“Ayah tetap tidak setuju. Bagaimana mungkin seorang ayah mengirim putrinya sendiri ke algojo yang kejam. Apa yang kau lakukan tak akan ada gunanya.” 

Perdana menteri tetap keberatan dengan permintaan Sarah. 

“Kalau kau tidak takut pada kematian, cobalah khawatirkan Ayah. Tindakan bodohmu akan membuat Ayah sedih dan menderita sepanjang hidup Ayah. Mengertilah, Sarah,” lanjut perdana menteri lalu pergi meninggalkan Sarah. 

Dinar yang mendengar percakapan ayah dan kakaknya datang mendekat. Sama seperti ayahnya, wajahnya pun tampak cemas. 

“Kak, apa Kakak yakin dengan tindakan Kakak? Jangan mengorbankan dirimu untuk hal yang sia-sia, Kak,” ujar Dinar berusaha menasihati kakaknya.

“Semua kulakukan bukan tanpa perhitungan, Dinar.” 

“Kalau memang Kakak punya cara untuk menghentikan Sultan, apakah tidak bisa Kakak lakukan tanpa menjadi pengantin Sultan?” tanya Dinar lagi. 

Sarah menggeleng. 

“Tak bisa, Dinar. Sultan tak lagi mau mendengar nasihat siapa pun. Bahkan nasihat Ayah sebagai perdana menterinya, juga nasihat para sesepuh kerajaan tidak ada yang dihiraukan. Harus dengan cara lain untuk menasihati dan menyadarkan Sultan.” 

“Tapi Ayah tak setuju dengan caramu. Lalu bagaimana?”

“Aku akan tetap berusaha menjadi pengantin Sultan. Kalau Ayah tak bersedia mengajukan diriku, aku akan menghadap Sultan sendiri.” 

Tekad Sarah rupanya sudah bulat. 

“Tapi, saat aku menjalankan rencanaku ini, aku butuh bantuanmu. Kau mau membantuku?” lanjut Sarah. 

“Apa yang harus kulakukan, Kak?”

“Nanti akan kuberi tahu bila saatnya tiba.” 

Sarah masih berusaha membujuk ayahnya sebelum memutuskan menghadap Sultan sendiri. Ia terus meyakinkan ayahnya bahwa upayanya akan berhasil. Sarah terus mendesak perdana menteri.

“Kenapa kau begitu keras kepala, Sarah?” ujar perdana menteri putus asa. 

Kemauan Sarah tak bisa ia halangi lagi.

“Maafkan Sarah, Ayah. Semua ini demi kebaikan rakyat yang juga Ayah cintai. Sarah akan menemui Sultan bila Ayah tidak berkenan mengajukan Sarah menjadi pengantinnya.” 

Perdana menteri menyerah. Dengan berat hati ia menuruti permintaan anaknya. Ia akan menemui Sultan untuk menyampaikan pengajuan diri Sarah. Perdana menteri sangat bersedih. Keesokan paginya, setelah Sultan mengirim istri terakhirnya kepada algojo, perdana menteri datang menemuinya. Sultan sudah menunggu-nunggu dengan tak sabar. 

“Sultan Yang Mulia, seorang gadis cendikia mengajukan dirinya untuk menjadi pengantin Anda.”

“O ya? Siapa dia, Perdana Menteri?”

“Sarah. Putri tertua saya,” ucap perdana menteri terbata-bata. 

Lidahnya terasa kelu mengucapkan nama putrinya sendiri di hadapan Sultan. Sultan merasa takjub mendengar berita tersebut. 

“Apa yang membuatmu rela mengorbankan putrimu sendiri, Perdana Menteri?” tanya Sultan ingin tahu.

“Ini adalah keinginannya sendiri, Baginda. Saya bahkan tidak bisa lagi menahan niatnya ini.” 

“Kau yang setiap hari bertugas mengantar istri-istriku kepada algojo istana. Kali ini, kau harus bersumpah tak akan mengkir dari tugasmu. Tetap kau sendiri yang harus mengantar putrimu ke algojo. Kalau kau tak menaati perintahku, nyawamulah yang melayang.” 

Ancaman Sultan semakin membuat perdana menteri sedih. 

“Baik, Baginda. Apapun risikonya, saya akan mematuhi Anda. Saya memang ayahnya. Tetapi saya adalah pelayan Anda,” jawab perdana menteri. 

Meskipun ia berucap demikian, sebenarnya terbersit niatan menyelamatkan Sarah. Karena Sarah begitu keras kepala, perdana menteri tadinya ingin menggantikan Sarah bila ia dikirim ke algojo. Ia sudah merencanakannya sejak awal tanpa memberi tahu Sarah. Dan tentu saja ia tak bisa berterus terang pada Sultan. 

“Kalau begitu, segera bawa putrimu menghadapku!” ujar Sultan. 

Perdana menteri pun berlalu. Ia pulang ke rumah untuk memberi tahu Sarah bahwa Sultan bersedia menerima permintaannya. 

“Sungguh, Ayah? Terima kasih, Yah!” ucap Sarah senang. 

“Tapi ingat, Sarah. Jangan sampai kau menyesali keputusanmu ini. Kau tak bisa mundur lagi walau selangkah.”

“Ya, Ayah. Tekadku sudah bulat. Kumohon, apa pun yang terjadi padaku, Ayah jangan bersedih. Masih ada Dinar yang akan menemani Ayah.”

“Ayah mana yang tidak akan bersedih?” jawab perdana menteri sedikit kesal. 

Sarah menerima kabar tersebut seolah-olah yang didengarnya adalah berita gembira. Padahal, berita itu sangat menyayat hati perdana menteri. Dinar pun bersedih. Namun ia yakin pada rencana kakaknya. Sarah pun segera masuk ke kamar adiknya. Ia ingin memberitahukan rencananya pada Dinar. Ia membutuhkan bantuan Dinar. Ia tak memberi tahu ayahnya kalau melibatkan Dinar dalam rencana berisiko ini. Ia tak ingin membuat ayahnya semakin khawatir. 

“Dinar, Sultan telah bersedia menerimaku,” ujar Sarah. 

Matanya berbinar-binar karena gembira. 

“Ya, Kak. Aku tadi mendengar percakapanmu dengan Ayah. Apa kau benar-benar sudah mantap?”

 Sarah mengangguk.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Dinar lagi.

“Begini, Dinar. Saat aku menikah nanti, aku akan mengajukan permintaan terakhir pada Sultan.”

“Apa permintaan terakhir Kakak? Meminta Sultan mengakhiri kebiasaannya?” “Tidak. Sultan tak akan mengabulkan jika itu yang Kakak minta. Bisa-bisa ia langsung mengirim Kakak pada algojo.”

“Lalu apa yang akan Kakak minta?”

“Kakak akan minta kau diizinkan menginap di istana. Di kamar yang terdekat dengan kamar Sultan. Aku berharap semua berjalan sesuai rencana, ia mau memberi izin. Jika demikian, kuminta kau membangunkanku sesaat sebelum fajar tiba.”

“Untuk apa? Kakak akan melarikan diri?”

“Tidak. Ketuklah pintu kamar kami dan katakan kau ingin mendengar cerita dariku sebelum hidupku berakhir.” 

“Setelah itu?” 

“Setelah itu, kita akan lihat dulu apakah aku selamat atau tidak di hari itu. Kalau aku selamat, rencana berikutnya sudah siap dijalankan.” 

“Baiklah, Kak. Aku akan membantumu semampuku.” 

“Terima kasih, Dinar.”

Sarah tersenyum senang. Sarah pun kemudian disibukkan dengan rencana pernikahannya. Kali ini Sultan ingin menggelar pesta yang meriah. Yang ia nikahi bukan gadis biasa. Yang ia nikahi adalah putri perdana menteri. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan, ia membuat pesta khusus di pernikahannya kali ini. Namun bagi perdana menteri, pesta ini terasa seperti perayaan kematian. Sebuah pesta perpisahan antara dirinya dan Sarah. Rakyat terkejut mendengar berita dari istana. Sultan akan menikahi putri perdana menteri yang setiap hari mencarikan gadis dan mengirimnya ke algojo. Mereka hampir tak percaya. Mereka beramai-ramai mendatangi istana karena ingin mendapatkan kepastian berita tersebut. Dan mereka mendapati kebenaran. Sarah, putri perdana menteri, duduk di pelaminan bersama Sultan. Sultan tampak gembira. Namun, hadirin yang kebanyakan para bangsawan justru kurang bersemangat. Mereka hadir hanya untuk memenuhi undangan Sultan. Sebenarnya mereka ikut menanggung kesedihan yang dirasakan perdana menteri. Mereka yang memiliki anak gadis semakin khawatir. Mereka takut giliran itu akan sampai kepada anak-anak gadis mereka. Setelah pesta usai, Sarah ditinggalkan berdua dengan Sultan. Sarah memakai pakaian yang indah dan perhiasan yang gemerlapan. Semua itu pemberian Sultan. Tibalah saat Sarah menjalankan rencananya. Sarah duduk di kursi empuk di kamar Sultan. Sultan lalu menghampiri Sarah dan mengangkat kerudung yang menutupi wajahnya. Sultan kagum akan kecantikan Sarah. Namun Sarah justru sedang berlinangan air mata.

“Ada apa, Sarah? Kenapa kau menangis?” tanya Sultan. 

“Baginda, saya memiliki adik yang sangat saya sayangi. Saya sedih harus berpisah dengannya. Saya tahu akan seperti apa nasib saya esok hari. Karena itu, saya ingin menghabiskan malam tak jauh darinya.”

“Lalu?”

“Jika Baginda mengizinkan, saya mempunyai permintaan terakhir kepada Baginda.” 

“Apa itu? Kau ingin perhiasan? Pakaian yang indah? Jamuan yang lezat? Katakan.” Sarah menggeleng.

“Saya hanya minta Anda mengizinkan adik saya menginap di istana. Tempatkan dia di kamar terdekat dengan kamar ini agar saya merasa dekat dengannya.” 

Sultan terdiam dan tampak menimbang-nimbang. Permintaan Sarah memang tidak biasa. Sebelumnya, pengantin-pengantinnya lebih memilih perhiasan atau gaun indah yang bisa mereka tinggalkan untuk keluarga mereka setelah ia dikirim ke algojo. Namun Sultan tidak menaruh kecurigaan apa-apa. 

“Baiklah. Akan kusuruh pengawal menjemput adikmu,” ucap Sultan. 

“Terima kasih, Sultan.” Sarah senang. 

Sebagian kecil rencananya sudah berhasil. Kini ia bersiap untuk rencana selanjutnya. Tak lama kemudian, Dinar tiba di istana. Ia ditempatkan di kamar yang tak jauh dari kamar kakaknya. Ia pun diberikan pelayanan yang baik. Sarah sempat menemui Dinar sejenak, tetapi mereka tidak membicarakan rencana mereka. Sarah hanya mengucapkan selamat malam. 

“Jangan lupa, Sayang,” ujar Sarah sebelum ia keluar dari kamar Dinar. 

Sarah pun kembali ke kamar Sultan. Dinar semalaman terus terjaga. Selain karena tidak bisa tidur, Dinar juga tidak ingin terlelap ketika fajar tiba. Sebentar-sebentar ia menengok ke luar jendela. Dinar memeriksa apakah saatnya sudah tiba. Ketika bulan sudah hampir tak tampak lagi di langit, Dinar keluar dari kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar kakaknya dan membisikkan sesuatu. 

“Kakak, jika kau tak tidur, kumohon temui aku. Sebelum matahari terbit, aku ingin mendengarkan cerita-cerita menarikmu. Ini terakhir kalinya aku bisa mendengarnya darimu.” 

Sarah yang juga terjaga semalaman mendengar suara adiknya. Ia pun membangunkan Sultan. Dinar mengulang permintaannya lagi. Dia akan terus mengulangnya hingga pintu kamar kakaknya terbuka.

“Sultan, apakah Anda mendengar bisikan Dinar di luar?” tanya Sarah. 

Sultan yang masih mengantuk mengangguk.

“Apakah Anda mengizinkan saya keluar menemuinya? Ia ingin mendengar cerita saya untuk terakhir kalinya,” pinta Sarah. 

“Ya. Baiklah.” 

Sarah sangat senang ternyata Sultan mengizinkannya. Separuh rencananya telah berjalan baik. 

“Apakah Sultan tak ingin mendengarnya juga?” tanya Sarah. 

“Aku masih mengantuk, Sarah,” jawab Sultan. 

“Baiklah, saya akan ke kamar Dinar agar tidak mengganggu Anda,” ucap Sarah. 

Sultan hanya ber-ehem saja. Sarah keluar kamar dan menemui Dinar. Mereka pergi ke kamar di mana Dinar menginap. Sarah pun memulai ceritanya. Sarah telah membaca ratusan buku. Ia telah memilih cerita-cerita terbaik untuk rencananya kali ini. Sarah tahu Sultan juga sangat senang mendengarkan cerita. Sultan bahkan sering memanggil pendongeng dari luar kerajaan untuk bercerita. Sarah mengetahui itu semua dari ayahnya. Ayahnyalah yang diberi tugas oleh Sultan untuk memanggil para pendongeng. Sarah yakin Sultan akan tertarik mendengar ceritanya. Sarah bercerita perlahan-lahan. Pintu kamar Dinar sengaja tidak ditutup. Sarah menghadap ke pintu. Sesekali ekor matanya melirik ke pintu. Ia ingin memastikan apakah Sultan sudah bangun dan mencarinya. Ternyata benar perkiraan Sarah. Saat Sarah keluar, Sultan ternyata terbangun karena penasaran dengan cerita Sarah pada adiknya. Sultan pun mengendap-endap ke kamar Dinar. Ia mencuri dengar cerita Sarah dari luar. Ketika matahari mulai terbit, Sarah mengakhiri ceritanya. Namun, Sarah sengaja tidak menyelesaikan kisahnya. Ia membiarkan cerita itu menggantung. 

“Matahari sudah terbit. Aku harus kembali kepada Sultan.”

 “Tapi ceritamu belum usai, Kak,” kata Dinar. 

“Ya. Sayangnya waktuku telah habis. Jika ada umur panjang, Kakak akan melanjutkan cerita ini untukmu.” 

Sarah pun meninggalkan kamar Dinar. Dinar tak tahu apa rencana Sarah berikutnya. Ia hanya berharap rencana kakaknya berhasil. Sultan yang mencuri dengar cerita sarah dari luar merasa kecewa. Ia penasaran dengan akhir kisah yang diceritakan Sarah.

“Yang Mulia, saya menjemput istri Anda untuk dibawa ke algojo istana,” ucap perdana menteri. 

Ia datang seperti biasanya untuk memenuhi tugasnya. Hari ini ia sudah bersiap menukar dirinya dengan Sarah untuk dibawa ke algojo. 

“Tidak hari ini, Perdana Menteri. Aku masih ada urusan dengan Sarah,” ujar Sultan. 

Perdana menteri sangat terkejut. Ia seakan bermimpi di siang hari. Nyawa putrinya selamat hari ini. Ia tak tahu apa yang telah dilakukan Sarah. Ia tak tahu urusan apa yang dimiliki Sarah dengan Sultan, tapi ia sangat bersyukur. Sarah pun gembira rencananya berjalan lancar. Setiap malam, Sarah mengajukan permintaan yang sama kepada Sultan seperti malam pertamanya. Sultan selalu menyanggupi permintaannya karena penasaran dengan cerita-cerita Sarah yang sangat menarik dan belum pernah ia dengar sebelumnya. Sarah pun sengaja tidak menyelesaikan ceritanya saat matahari terbit. Ia melanjutkan cerita itu di hari berikutnya dan menyambungnya dengan cerita baru. Telah berbulan-bulan Sarah selamat dari maut dengan cerita-ceritanya. Cerita yang dibawakan Sarah pun sarat dengan pesan kebaikan. Ia ingin Sultan sadar dengan sendirinya karena menangkap kebijaksanaan dalam cerita-cerita tersebut. Perdana menteri pun senang putrinya dapat terus bertahan hidup. Rakyat juga lega karena sudah lama tak ada lagi gadis yang menjadi korban Sultan. Suatu hari, Sultan memanggil Sarah. 

“Sarah, kuakui kau gadis yang cerdas. Mungkin kau tak tahu. Setiap malam aku mencuri dengar cerita-ceritamu. Kau telah membuatku percaya bahwa masih ada perempuan baik di dunia ini. Kau membuatku sadar kesalahan fatal yang telah kuperbuat sebelumnya. Aku ingin berterima kasih padamu,” ujar Sultan. 

Sarah tersenyum. 

“Aku akan memanggil juru tulis istana. Ceritakanlah kisah-kisahmu pada mereka agar mereka menulisnya. Aku berharap cerita-ceritamu bisa terhimpun menjadi sebuah buku untuk dibaca lebih banyak orang lagi agar mereka terhibur dan menemukan kebijaksanaan hidup.” 

Sarah sangat senang mendengar rencana Sultan. 

“Terima kasih, Sultan. Saya percaya Anda orang yang baik dan berjiwa luhur. Setiap orang bisa kembali ke jalan kebaikan bila ia mau.” 

“Satu lagi permintaanku, Sarah. Aku ingin kau menjadi permaisuriku selamanya sampai maut menjemputku.” 

Sarah tersenyum bahagia. Ia memenuhi permintaan Sultan. Mereka pun hidup dengan bahagia. 

***

Selfi berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang buat ceritanya," kata Selfi.

Selfi menutup bukunya dan di taruh di meja. Selfi keluar dari rumah karena ada keperluan dengan Saskia.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK