CAMPUR ADUK

Saturday, August 31, 2019

MARDATILLAH

Matanya masih menatap larik demi larik setiap huruf hijaiyah yang berada dalam kitab suci Al-qur’an tersebut. Mulutnya masih melantunkan ayat-ayat suci yang maha agung secara jelas dan merdu. Bahkan suaranya bercampur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam ruangan itu. Para mahasiswi yang tergabung dalam organisasi islam ini mempunyai kebiasaan setiap seusai sholat subuh selalu mengaji dalam asramanya bersama-sama. Tak terkecuali Dina-mahasiswi keperawatan universitas terkemuka di Kota Surabaya. Dia selalu mengikuti agenda organisasi islam dikampusnya. Dina sudah hampir setahun ini menjalani aktivitas kuliah dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus maupun kegiatan organisasi kerohanian islam. Dirinya yang selalu penasaran. Dirinya yang selalu haus akan ilmu baru. Dirinya yang selalu ingin memiliki perubahan dari masa ke masa. Membuatnya untuk bergabung dengan organisasi islam tersebut.

Setelah seusai mengaji Al-qur’an bersama-sama. Dina bersiap diri untuk pulang kampung hari ini. Matanya masih memandang bayangan dirinya didepan cermin di asmara tersebut. Tangannya berusaha merapikan kerudung yang sedang dikenakannya dan membenarkan pakaian jubah yang membalut tubuhnya. Kemudian tak lupa dia memakai kaos kaki yang selalu membungkus kaki tersebut. Dia tampak cantik dengan jilbabnya. Balutan lembut itu seakan-akan membuat dia tampak seperti bidadari surga yang menjelma menjadi manusia. Bahkan dari raut wajahnya dia tampak bahagia dengan kehidupannya.

Dina yang dulu lugu dan cupu. Dina yang dulu tanpa jilbab. Dina yang dulunya islamnya abu-abu dan berasal dari desa. Sekarang berubah menjadi Dina yang baru. Dina yang selalu membalut dirinya dengan pakaian menyerupai jubah atau lebih tepatnya dia berhijab untuk menutup auratnya. Dina yang selalu berpikir kritis dan idealisme-nya telah terbentuk menjadi idealisme yang berpikir keras terhadap sesuatu. Bahkan menurutnya sekarang dia telah menemukan jati diri yang sebenarnya dalam islam yang sesungguhnya.

Perjalanan dari Kota Surabaya menuju Kabupaten Bojonegoro memang sangat jauh. Dina memerlukan waktu empat jam untuk sampai di rumah. Dina pulang ke rumah atas permintaan ibu dan bapaknya. Sesampainya di rumah Dina berusaha untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak pergi kemana-mana. Dia tidak seperti dulu sewaktu masih masa-masa SMA yang dapat pergi semaunya sendiri. Namun sekarang dia lebih menjaga tingkah lakunya sesuai syariat islam yang selama ini diperolehnya melalui organisasi kerohanian islam yang diikuti.

Adzan magrib telah dikumandangkan seluruh penjuru desa tersebut. Dina langsung bergegas melangkahkan kakinya menuju mushola dekat rumahnya untuk sholat berjamaah. Tetapi sejauh kakinya melangkah menuju mushola itu. Masyarakat masih memandangnya aneh dengan segala perubahan yang terjadi pada Dina saat ini. Mereka melihat perubahan diri Dina mulai dari penampilan dengan hijabnya dan cara tingkah lakunya yang tak seperti dulu. Apalagi Mereka merasa bahwa Dina lebih terlihat sangat aneh apabila Dina mengenakan kaos kaki dengan memakai sandal. Ini suatu pemandangan yang tak biasa bagi masyarakat desa tersebut. Namun demi jihad menuju jalan Allah yang lurus, dia tetap teguh dan seakan tak peduli terhadap pandangan maupun omongan orang-orang disekitar rumahnya itu.

Dalam mushola tersebut, masyarakat sekitar yang dulu mengenalnya juga merasa segan untuk mengakrabkan diri padanya. Bahkan sahabat-sahabat kecilnya dulu tidak semua bercengkrama dengannya. Bagi mereka Dina yang dulu sudah berubah dan selalu membatasi dirinya.

Perubahan diri pada Dina memang terlalu cepat sehingga membuat keluarga, saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya dikampung halamannya tersebut sedikit menentang perubahan itu. Semua ini terjadi karena dampak dari berita-berita teroris di televisi yang mengatasnamakan islam dan melakukan bom bunuh diri. Berita tersebut telah membuat kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya menjadi khawatir dengannya. Orang tuanya takut jika anak perempuannya tersebut telah berhasil di bai’at dan di cuci otak oleh oknum-oknum yang mengaku dirinya islam dan menyuruh anaknya untuk melakukan bom bunuh diri seperti berita di televisi itu.

Seperti petang ini, seusai sholat magrib dan sepulang dari mushola. Dina langsung di sidang diruang tamu oleh paman dan kedua orang tuanya mengenai perubahan pada dirinya sekarang. Sidang itu sudah kedua kalinya terjadi semenjak Dina memutuskan memilih jalan hidupnya.

“Dina, sebenarnya paman sangat senang melihat kamu berhijab sesuai syariat islam seperti ini, namun paman juga takut jikalau pemikiranmu terhadap sesuatu nantinya juga ikut berubah, entah itu pemikiran berdasarkan islam yang mana, sekarang itu agama islam telah terbagi menjadi beberapa aliran, ada islam radikal, islam liberalisme dan masih banyak lagi, paman takut jika organisasi islam yang kamu ikuti termasuk mempunyai pemikiran islam yang radikal atau liberal, apalagi sekarang banyak teroris bom bunuh diri yang mengatas namakan islam dan alasannya untuk berjihad, berhati-hati lah Din. Pandai-pandailah memilih dan memilah organisasi islam dikampusmu, jangan sampai kamu salah pilih dan dijadikan teroris seperti di berita ditelevisi itu…” kata paman santai.

“Astagfirulllahaladzim…, tidak paman. Saya memutuskan untuk berubah seperti ini karena saya benar-benar ingin berjihad di jalan Allah dan saya telah menemukan islam yang sesungguhnya dalam kerohanian islam di kampus yang saya ikuti. Saya ingin lebih bertakwa kepada Allah. Bukankah di dalam Al-qur’an surah An-Naba’a ayat 78 diterangkan Allah berfirman sungguh bagi yang takwa ada tempat yang aman dan bahagia. Jadi, paman, ibu dan bapak jangan khawatir akan perubahan yang terjadi pada Dina sekarang. Semua ini, saya lakukan semata-mata karena Allah ta’ala. Bukan menjadi teroris seperti berita di televisi itu dan saya bukan diantara mereka-mereka itu..” tukas Dina dengan lembut dan penuh kesabaran.

“Iya nduk, ibu dan bapak hanya ingin mengingatkan kamu saja karena ibu masih takut kamu berubah bukan keinginan kamu sendiri melainkan paksaan dari orang lain, setiap kali kamu sudah di Surabaya, ibu tidak bisa tidur karena selalu memikirkanmu. Ibu senang jika kamu berjilbab tapi pola pikirmu juga ikut berubah nak, kamu telalu berlebihan. Jadi semua itu membuat ibu cemas…” kata ibunya sambil menatap Dina dengan nanar.

“Ibu.., Dina baik-baik saja. Di Surabaya sana, banyak teman-teman yang sayang sama Dina jadi ibu jangan khawatir. Demi Allah. Demi baginda nabi Muhammad. Dina benar-benar berjihad di jalan Allah dan Dina berani bersumpah atas nama Allah bahwa Dina bukan golongan dari kaum teroris tersebut…,percayalah. “ bela diri Dina dengan tutur kata yang lembut.

“Iya nduk, bapak percaya padamu. Kamu juga sudah mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Semoga Allah selalu merahmati setiap jalanmu…,nduk.” ucap bapak dengan santai.

Keesokan harinya. Salah satu sahabat SMA-nya mendengar bahwa Dina berada di rumah. Sahabatnya tersebut berkunjung ke rumah Dina. Sahabat Dina tersebut merupakan seorang laki-laki yang bernama ilham. Ilham adalah sahabat Dina yang paling akrab sewaktu SMA, namun ketika Ilham bertandang ke rumah Dina. Ia enggan menemuinya. Semua itu dikarenakan Dina takut jika seorang laik-laki berkunjung ke rumah seorang perempuan akan menimbulkan fitnah. Baginya laki-laki itu jika bukan mahromnya maka tidak akan jadi masalah bila tak menemuinya dan bisa terhindar dari perbuatan dosa. Sekarang dina juga anti yang namanya laki-laki bahkan dia tak akan pernah sedikitpun bersentuhan dengan laki-laki walaupun itu hanya pegangan tangan dan sekalipun itu sahabat karibnya sendiri atau saudaranya. Baginya lebih baik mencegah daripada menimbulkan perbuatan fitnah.

Ia memang benar-benar sudah berubah secara dratis. Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, namun pola pikir dan bicaranya juga ikut berubah. Bahkan Tabiatnya sudah tidak seperti Dina yang dulu. Dia yang dulu yang selalu menerima siapa saja ketika bertamu di rumahnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Ia yang dulu selalu acuh tak acuh dengan keadaannya. Ia yang dulu suka update status di facebook mengenai percintaan dan cowok-cowok yang ditaksirnya. Sekarang dia lebih suka berdakwah melalui jaringan sosial media tersebut. Tabiat itu berubah menjadi lebih baik namun terlalu berlebihan. Memang kata banyak orang ia mengikuti organisasi islam yang mempunyai peraturan keras. Bahkan terlalu keras. Selalu mengharamkan segala sesuatu yang dianggapnya tidak benar untuk dilakukan dan bahkan itu yang sudah lazim dilakukan oleh masyarakat dan sudah membudaya tetap dianggap haram bagi mereka. Iman dalam hatinya sekarang bukan angan-angan belaka namun sudah diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan.

Setiap kali ia berjumpa dengan sahabat perempuannya atau saat ia sedang berjelajah di dunia maya pasti membahas mengenai islam di Indonesia atau hanya sekedar bercerita mengenai kehidupan menurut islam. Seperti hari ini, Dina sedang ngobrol asyik bersama Vida-sahabat SMAnya dulu. Dia sengaja mampir ke rumah sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Dina membahas mengenai islam dalam perbicangan dengan sahabatnya tersebut.

“Mbak, Islam itu kan agama rahmatan lilallamin yaitu rahmat bagi seluruh alam, namun kenapa negara indonesia tidak bisa menerapkan peraturan islam berdasarkan Al-qur’an dan hadist dalam kebijakannya….” tanya Dina serius.

“Saya juga tidak tahu, Din. Kan kamu tahu sendiri negara Indonesia itu terdiri dari berbagai agama, suku dan ras. Jadi kita juga harus menghargai perbedaan itu. Para petinggi negara tersebut juga harus bisa menyesuaikan dengan keadaan negara kita, masa mau seenaknya sendiri…” jawab Vida santai.

“Tidak, mbak, menurut saya, negara Indonesia harus bisa menerapkan negara islam dan harus diusahakan itu mbak…” tegas Dina seperti memaksa kehedaknya.

“Ya kamu bicara saja sama presidennya, jangan sama saya…” Jawab balik Vida.

Tanpa meneruskan kembali obrolannya. Ia pamit secara baik-baik kepada sahabatnya tersebut.

Setibanya di rumah, sudah ada seorang lelaki muda menunggunya diruang tamu dan ditemani kedua orang tuanya. Ketika hendak masuk rumah dan mengucapkan salam. Dia langsung dihadang oleh lelaki muda tersebut.

“Nah ini, dia perempuan yang sudah membuat adik saya menghilang…” kata lelaki muda tersebut sambil telunjuknya menunjuk-nujuk kearah Dina dengan amarah yang tak bisa dibendung.

“Maaf, saya salah apa sehingga membuat anda marah pada saya dan menuduh saya seperti itu..” tanya Dina dengan halus dan sabar.

“Adik saya yang bernama Rendra, dia menghilang dan sebelum dia menghilang dia bilang bahwa dia akan bergabung dengan organisasi islam yang ada dikampusnya dan katanya dia tahunya dari kamu..” jelas lelaki muda tersebut.

“Astagfirullahaladzim..semua itu tidak benar. Rendra menghilang itu bukan karena saya, saya tidak tahu tentang semua itu, saya hanya memberi informasi saja mengenai organisasi islam yang ada dikampus dan itupun juga melalui sms dan tidak ada maksud untuk mengajak atau memaksanya…” bela diri Dina.

Rendra-Adik kelas Dina sewaktu SMA dan sekarang juga mengikuti jejaknya untuk kuliah di universitas yang sama dengannya. Dia sudah mengenal baik dengan Rendra sejak dulu. Bahkan sebelum Dina berubah menjadi sangat alim, mereka berdua sudah saling akrab. Namun Rendra sudah dua minggu tidak ada kabar dan menghilang entah kemana dia pergi. Semua ini mengakibatkan Dina dituduh menjadi penyebab kehilangan Rendra. Keluarga Rendra menuduh Dina bagian dari teroris yang telah dicuci otaknya sejak dia memutuskan berubah secara total dalam hidupnya.

Peristiwa-peristiwa yang selama ini menimpanya dianggap sebagai cobaan dari Allah untuk menguji imannya. Ia percaya. Percaya pada maha kuasa bahwa semua ini telah menjadi ketetapan dan ketentuannya selama di dunia. Dia selalu berikhtiar dan tawakal dengan kehidupannya sekarang. Iman dan takwa telah membuatnya lebih sabar dan tenang.

Masalah Rendra sudah lumayan meredam setelah kakaknya tadi pamit pulang. Dina tampak lesu dan pilu. Namun senyum sunggingnya tetap pada ibu dan bapaknya. Tetapi masalah baginya kini muncul kembali ketika di rumahnya akan dilaksanakan syukuran atau orang desa ini menyebutnya manganan atau bisa disebut bancaan. Ini sebuah tradisi kebudayaan orang desa di Bojonegoro dan nantinya akan mengundang tetangganya untuk mendoakan leluhur mereka yang sudah meninggal dan setelah itu akan diberi berkat (nasi dan lauk pauk serta jajanannya) untuk dibawa pulang. Keesokan harinya acara manganan tersebut akan dibawa ke sendang-sebuah tempat yang dikramatkan di desa tersebut agar mereka selamat dari bencana di desa itu. Tradisi budaya syukuran semacam ini berfungsi untuk mengenang leluhur dan masih percaya dengan hal yang berhubungan dengan animisme. Kepercayaan tersebut sudah mendarah daging dalam hati mereka dan sudah lazim dilaksanakan di setiap desa.

Dengan dilaksanakannya acara tersebut, Dina menentang kedua orang tuanya dan menyuruh untuk membubarkan orang-orang yang sudah datang dalam rumahnya.

“Ini perbuatan musyrik bu, jadi jangan dilaksanakan. Semua ini haram bu. Haram hukumnya. Bapak harus menyuruh orang-orang itu pulang dan tidak ada manganan di rumah ini. Saya tidak mau Allah murka kepada keluarga kita jika masih melakukan kemusyrikan ini…” cerocos Dina dengan tegas dan keras.

“Jika ibu dan bapak menyuruh mereka pulang berarti ibu dan bapak akan sangat malu Din, dan bahkan tetangga kita akan membenci kita, kamu berubah jadi seperti ini saja, mereka sudah ngomongin macam-macam tentang kamu, ibu bingung harus berbuat apa…” jawab Ibu dengan tegas.

“ Cukup. Din, kamu boleh merubah segala pola pikirmu dan menghilangkan adat istiadat desa kita tapi hanya untuk dirimu sendiri, jangan membuat bapak dan ibu malu…” sahut bapaknya.

“Tapi Dina tidak akan membiarkan kemusyrikan ini terus-menerus terjadi, namanya ini menyukutukan Allah dan bagi siapa saja yang berani menyukutukan Allah, dosanya sulit untuk diampuni, saya tidak mau semua itu terjadi pada bapak dan ibu…”

“ Sudah Cukup…” teriak bapaknya dengan tegas.

“ Baik. Jika bapak dan ibu tidak mau membubarkan acara bancaan di rumah kita, biar saya yang membubarkan mereka semua..” tukas Dina dan langsung melangkahkan kakinya menuju kerumunan orang-orang yang memakai baju koko dan sarung serta kopyah tersebut.

“ Dinaa….” teriak ibunya.

Dina berhasil membubarkan orang-orang yang sedari tadi berada didalam rumahnya untuk kondangan. Ibu dan bapaknya tampak merasa malu atas perbuatan anaknya tersebut. Bapaknya sangat amat marah padanya bahkan ibunya hanya bisa menangis didalam kamar. Sebenarnya dalam hati kecilnya terbesit rasa berdosa terhadap kedua orang tuanya, namun dia juga tidak ingin tinggal diam melihat kemusyrikan itu terjadi dalam rumahnya. Manganan sudah menjadi tradisi sejak turun temurun dalam keluarganya harus ditentangnya karena tidak sesuai syariat islam.

Malam yang selalu memberikan ketenangan dan membuatnya berada pada perenungan. Sujud dalam tahajudnya dia menangis dan memohon ampun kepada Allah yang maha pengampun. Jika memang benar dia salah maka dia meminta ampun yang sebesar-besarnya dan apabila memang ibu dan bapaknya yang salah dan menyimpang dari ajaran agama islam maka dia memohonkan ampun untuk mereka.

Ia yang selalu tawakal pada illahi. Ia yang selalu sabar dalam setiap cobaan dan bertahan pada jihadnya. Kini dia sedikit rapuh. Matanya yang indah itu menumpahkan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Dalam kesunyian malam itu, isakan tangisnya terdengar dari dalam kamarnya. Namun dia telah berpegang teguh pada firman Allah dalam Al-qur’an surah Al-Hasyr ayat 58 bahwa Allah berseru “ hai orang-orang yang beriman! Bertawakalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai persediaan untuk hari esok. Bertawakalah kepada Allah. Sungguh Allah tahu benar apa yang kamu lakukan.

Setelah ia membaca ayat tersebut, hatinya semakin menjadi tenang bahwa apa yang telah dilakukannya tadi tidak bermaksud menyakiti hati kedua orang tuanya. Baginya Allah maha tahu segala isi hatinya kenapa dia melakukan hal tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, ia terlelap dalam tidur dengan balutan mukenah berwarna putih diatas sajadahnya.


Karya : Imam Aris Sugianto

MYSELF

Mungkin gue adalah orang yang paling cuek dan gak mau tau. Pasalnya, gue gak tahu kalo kakak cowok gue bakalan nikah besok. Dan masalah terbesarnya adalah, gue belum nyalon.

Akhirnya gue minta Pak Udin supir gue buat nganterin ke spa & salon terdekat. Mau ke yang langganan, tapi jauh amat takut gak keburu. Oke deh, gue sampe di Princess Spa & Salon. Gue masuk dan menghampiri mbak mbak resepsionis nya.

"Selamat siang. Mau spa atau salon mbak? Atau keduanya" tanyanya dengan senyum tulus. Wajahnya bulat, pipi chubby, hidungnya pesek berkulit cokelat dan rambut disanggul dengan seragam pegawainya.

"Siang. Dua-duanya aja." jawab gue yang saat itu cuma pake jogger pants cokelat sama kaos putih dengan rambut digerai tanpa make up sama converse. Gembel.

"Oke mbak. Disini kami menyediakan bla bla bla. Dan bla bla bla dengan harga bla bla. Atau bla bla yang bla bla dengan harga bla bla. Atau mau lebih jelas bisa lihat di menu kami." Gue terpelongo.

'Kalo dia punya menunya, kenapa si mbak ini jelasin panjang lebar?' Gue melihat menunya satu per satu. Banyak pilihan. Tapi karena pilihan gue amburegul dan gak ada di daftar menu. Akhirnya gue pilih paket sesuka gue.

"Oiya mbak, sekalian mani padi nya juga ya."

"Baik mbak."

Terus mbak mbak yang lain ngnterin gue ke ruang spa nya.

***

Gue terbangun ketika matahari menembus jendela kamar yang membuat mata sedikit silau. Gue lihat jam di dinding depan gue. Jam 7. Gue ngulet-ngulet bentar sambil puas-puasin nguap sebelum bergegas mandi.

Duduk-duduk bentar sambil nge check hp. Ya, manatau ada yang ngucapin selamat pagi. Dan gue tau gak bakalan ada. Apalagi dari si Dandy orang yang gue taksir namun gue pasrah. Kalo dia suka sama gue ya Alhamdulillah, kalo gak ya gakpapa.

Setelah mikir mikir dan mikir. Gue memberanikan diri buat bangkit, merampok handuk dari gantungan yang tak berdosa dan kabur ke kamar mandi takut ada polisi yang mengejar.

~SETELAH MANDI~

Gue mendapati hp gue bergetar ketika gue udah pake gaun. U know kan ini hari pernikahan kakak cowok gue, cinta sejati gue setelah Papa.

Slide to unlock. Ada LINE.

'Palingan juga Line for ios. Perhatian banget sih tiap hari nge Line mulu.' Tapi gue salah! SALAH! Ternyata yang chat gue adalah Dandy! The boy who i like. My feel's like a dream. Go wake up bitch! Wait, bitch? No, i'm not! Gue klik chat dari dia. Ternyata dia bilang...

[300 Diamond/A+ Character/A+ Pendant] ModeTreasureHunt&SystemCrystal&3Pendant
 BaruRilis! Dapatkan3Pendant,Dapatkan900Diamond!TingkatkanS PendantBaru, DapatkanS TrenscendenLight! Bareng dandywijaya_

Kampret! Kampret se-kampret-kampretnya. Gue membanting hape gue! Ke kasur. Tapi terpental juga ke lantai dan akhirnya jatoh. Untung hapenya masih hidup. Kalo enggak. Ya gak papa. Gue men-lock hape gue ketika Mama mengetuk pintu kamar.

"Rin, udah siap belum?"

"Belom, Ma. Tinggak make-up-an."

"Yaudah cepetan ya. Jangan terlalu menor."

Yang mau menor siapa juga?

"Mama kebawah dulu. Kalo udah selesai nyusul ya. Harus udah selesai sebelum kakak kamu selesai."

"Iya, Ma. Gimana mau cepet selesai kalo Mama masih ngomong terus?" gue duduk di meja rias.

"Oh iya. Yaudah deh, Mamah kebawah dulu ya."

Gue mengikat asal rambut gue, memakai bandana biar poninya gak ganggu pas make-up-an. Gue cuci muka dulu di wastafel, kembali duduk di meja rias, mengoles foundation dan mulai make-up-an sampe hair do nya by gue sendiri.

Setelah gue rasa gue cantik --gue rasa-- gue pun mengambil tas jinjing di lemari tas, membawa hape, power bank, headset, bedak, sisir, lipstik dan dompet. Tasnya sih kalo dilihat kecil, tapi bermuatan banyak. Saat itu gue memakai gaun panjang tanpa lengan dan brukat di bagian badannya, berwarna ungu dan payet payet hitam serta dibagian rok berwarna putih yang sudah di pesan Mamah sama penjahit langganannya. Tas yang gue pake tadi warnanya ungu putih berbahan kulit. Hmm sepatunya sih, heels hitam polos dengan ujung hak runcing yang panjangnya 7 cm. Gak licin di lantai, alas yang empuk, nyaman deh.

***

"Udah siap?" tanya Mamah ketika gue menginjak kaki di lantai 1.

"Udah." gue mengangguk mantap sambil senyum.

Kemudian Kakak gue datang mengampiri kami. Dia juga udah siap. Segera kami ke mobil dan melaju ke pesta pernikahan. Akad nikah dan resepsi dilakukan di satu tempat dan satu hari.

Diperjalanan, ingatan gue flashback ke masa-masa gue dan kakak gue. Gue tersenyum, hampir menangis namun gue buru buru menghapus air mata gue sebelum make-up gue luntur. Entah mungkin kakak gue tau apa yang gue pikirin, sepersekian detik setelah gue mengusap air mata, dia merangkul gue dan mendekap gue di pelukannya. Tangan gue, gue lingkarin dipinggangnya. Mungkin ini saat terakhir gue dipeluk sama dia kayak gini. Nyamaaann banget. Tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing namun masih saling menyapa dalam jiwa. Dia gak ngelepasin gue sampe kita tiba di tempat.

***

"Kak, kalo lu udah punya wanita lain yang harus lo lindungin. Terus yang ngelindungin gue sama mamah siapa?" tanya gue di kursi tamu saat acara resepsi. Pengantin perempuannya lagi sibuk ngobrol sama temen-temennya.

"Jadi Papah lu anggep apa?" jawabnya tersenyum.

"Papah kan udah nggak muda lagi. Tenaga dia gak sekuat dulu."

"Seorang mahaguru yang ngajarin gue silat, gak mungkin secepat itu lemah walaupun umur udah gak muda. Sampe kapanpun, gue gak bakalan bisa ngalahin dia."

"Bukan gitu. Maksud gue, siapa yang ngelindungin gue dari cowok cowok bren*sek diluar sana? Emangnya papa mau gue ajak ke kampus?"

"Makanya gue bakal ngenalin elo sama temen gue dari SMP. Sahabat sejati gue. Dia orangnya tanggung jawab, baik, menghormati cewek, jarang pacaran, rajin sholat sama bisa ngaji. Hampir samalah kayak elu. Cuman elu belum pake jilbab. Gue yakin, kalo lu sama dia. Dia bakal bimbing lu buat pake jilbab."

Gue terdiam. Sebenarnya gue mau aja pake jilbab. Tapi gue ngerasa gue gak cocok, jelek kalo pake jilbab. Makanya niat itu gue urungkan dulu.

"Kalo lu udah baligh, tapi lu belum nutup aurat, dosa lu ditanggung Papa dan Papa yang nanti masuk neraka. Tapi kalo lu nutup auratnya pas udah nikah karena suruhan suami. Berarti lu lebih sayang sama suami lu, karna setelah nikah kalo istri gak nutup aurat, dosanya ke suami. Ngerti?"

Gue diem lagi.

"Tuh orang yang gue maksud tadi dateng. Kenalan ya. Jangan bikin malu kakak." dia tersenyum.

Gue sama dia berdiri nyambut si cowok yang dia maksud. Sebaya sama kakak. Beda 3 tahun dari gue. Tubuhnya tegap, kumis tipis, brewokan dikit, hair style masa kini, mata elang, rahang yang kuat, hidung kokoh. Style nya keren. Pake kaos abu-abu, jas hitam tidak dikancing, celana hitam gantung diatas tumit, sama sneaker abu-abu dan satu lagi, yaitu jam. WOW!

"Kenalan dulu dong sama pacar gue." ujar kakak pada si cowok itu yang tertawa.

Dia menawarkan tangan kanannya sama gue. "Fachri." ujarnya mantap. Suaranya berat dan tegas.

"Rianti." ujar gue membalas tawaran tangannya. Mata kita saling ketemu kayak di FTV.

Kita pun mengambil tempat untuk berdua, mengasingkan diri. Sedangkan si kakak balik ke pujaan hatinya.

"Masih sekolah?" tanyanya langsung ketika bokong gue baru nyentuh kursi.

"Eng.. Enggak kak. Udah kuliah."

"Semester berapa?"

"Enam."

"Jurusan?"

"Farmasi."

"Ciee.. Mau jadi apoteker."

"Ihh apaan sih. Cie ciee haha" gue tertawa.

Kak Fachri melihat jam ditangannya.

"Udah Sholat?" tanyanya.

"Belum."

"Sholat yuk? Di Mushola itu aja. Jalan kaki gakpapa kan? Deket kok."

"Yuk. Iya gapapa kak."

'Untung aja tadi gue bawa mukenah. Fiuhh..'

***

Diperjalanan pulang dari Sholat.

"Kakak masih lanjut kuliah atau kerja?" tanyaku padanya.

Dia menoleh. "Udah kerja. Sekarang waktunya fokus nyari uang."

"Dan nyari jodoh?" sambungku.

"Itu sih udah dapet."

Gue terkejut. Kalo dia udah punya calon, ngapain kakak ngenalin gue ke dia? Kampret!

"Kakak udah dijodohin sama kakaknya kamu."

"Siapa ceweknya?" tanyaku lagi, sedikit kesal.

"Kamu."

Pipi gue merah! Gue senyum. Ya ampun, di gombalin tapi ini tulus.

"Setelah wisuda kakak gak mau nembak kamu." ujar Kak Fachri.

"Jadi?"

"Ya ngelamar lah. Ngapain juga pake acara pacar-pacaran."

"Gombal mulu ya dari tadi."

"Bukan gombal. Tapi pipi kamu aja merah."

Gue natap dia. Kok dia tau? Kan gue udah nyembunyiin muka gue.

"Kakak tau kok. Jangan ditutup-tutupin, ya."

Ya Allah, dia tau isi pikiran gue.

"Mulai besok mau nggak pake jilbab? Bukan buat kakak, tapi buat papa kamu. Dosanya udah banyak gara-gara kamu."

"Iya deh. Kapan lagi aku harus mulai." gue tersenyum.

Dia memegang tanganku. Jari jemari kami saling bersilangan. Dan kami melanjutkan perjalanan dan mengobrol lebih banyak.


Karya : Sania Mulia

SEPOTONG HATI UNTUK TUHAN

Di keheningan senja menyapa alam selepas shalat maghrib di rumah, ayah memandangi wajah mungilku yang sebentar lagi akan duduk di bangku sekolah dasar. Aku balas pandangan ayah dengan tatapan kasih sayang. Dari raut wajahnya seolah ayah ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak tahu apa yang ada dibenak ayah. Ternyata benar, tiba-tiba ayah berkata kepadaku:

“Nak, kalau kamu nanti sudah besar ayah akan menyekolahkan kamu ke pesantren, agar kelak kamu menjadi anak yang saleh”
Aku menganggukkan kepala, dengan kepolosan wajah menandakan bahwa aku mengiyakan ucapan ayah.

Seiring dengan berputarnya waktu mengikuti arah jarum jam, hari ini adalah hari pertamaku duduk dibangku sekolah dasar SD Negeri 147545 Bange. Aku sangat senang bertemu dengan guru-guru yang baik hati dan teman baru yang lucu-lucu. Hari-hari di sekolah, ku lalui dengan riang gembira.

Tiada terasa enam tahun sudah berlalu, disudut malam bersamaan dengan gerimis hujan yang menghampiri bumi, ayah mendekati aku di ruang tamu sembari berucap:

“Dayat, sebentar lagi kan kamu akan lulus SD nak, sebenarnya ayah sangat menginginkan kamu masuk pesantren, sesuai dengan rencana ayah dulu. Tapi di sisi lain, ayah belum tega berpisah karena kamu satu-satunya anak lelaki ayah, dan kelihatannya kamu juga masih terlalu kecil untuk tinggal di asrama”

“Iya yah, dayat menurut saja sama ayah” jawabku dengan polos.

“Bagaimana nak kalau kamu masuk pesantrennya nanti setelah lulus SMP?”

“Iya yah, Dayat setuju”

Setelah lulus SD, akhirnya aku terlebih dahulu dimasukkan di SMP Negeri Madina, Sumut.
Pergeseran waktu begitu cepat, sekarang aku telah duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Saat ini Aku benar-benar merasakan goncangan jiwa yang tidak seperti biasanya, setiap hari aku selalu ingin mencoba sesuatu yang belum pernah aku rasakan.

Di usia remaja ini, aku ingin lepas sebebas-bebasnya tanpa kekangan dari siapapun. Kata keluarga, sikapku sangat jauh berubah sembilan puluh derajat dari sebelum aku kelas tiga, tapi aku tidak mengiraukan omongan mereka.

Ketika aku nongkrong di kedai samping rumah, tiba-tiba Romi menghampiriku.

“Dayat, nanti malam kita ke diskotik yuk...!!!” Ucap Romi, sembari mendekat.

“Ngapain Romi?” jawabku.

“Ngapain lagi yat, biasa anak muda...”

“Aduh... rom, aku nggak bisa, aku nggak pernah ke tempat gituan”

“Yat... Dayat... kamu itu udah gede, kamu bukan anak ingusan lagi, kamu itu harus gaul men... biar kamu nggak dibilang teman-teman yang lain dengan sebutan cupu bin katro”

Karena tidak mau dibilang cupu dan katro, lalu akupun mengiyakan ajakan Romi tersebut. Aku susuri persimpangan malam dengan perasaan tidak menentu, ketika pulang dari diskotik menuju rumah. Setibanya di kamar tidur, aku rebahkan sekujur tubuh di ranjang bergaris-garis biru, pikiranku tidak karuan seolah ada kekhawatiran dan perasaan tidak enak. Karena malam sudah larut, aku paksakan mata memejam karena besok kami akan menerima rapor di sekolah.

Di bawah terik mentari yang tersenyum sekitar pukul sebelas siang ini, aku pulang dari sekolahku menuju rumah, dari kejauhan terlihat senyum manis memancar dari dua orang insan yang sedang menantikan sang anak. Mungkin mereka berharap dihari penerimaan rapor semester satu ini sang buah hati tetap bisa mempertahankan rangking satunya.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana karena nilai raporku turun drastis, dengan perasaan tidak menentu aku beranikan diri mendekati ayah dan ibu. Melihat nilai raporku yang sangat jelek, ayah langsung marah kepadaku.

“Kamu ini gimana sih, nilainya kok bisa jelek gini, kamu ini cuma bisa malu-maluin ayah saja, beginilah... kalau kamu tidak mau lagi diatur”

“Sudah pak, mungkin Dayat juga tidak menyangka nilainya begini” jawab ibu, mencoba meredam kemarahan ayah.

Ayah pun melangkah pergi, meninggalkan aku dan ibu. Aku tidak ambil pusing terhadap apa yang baru ayah katakan, yang penting aku tetap bisa happy menjalani hidup.

Setengah tahun telah berlalu, ketika mentari pamit pulang ke ufuk barat, burung-burung lalu-lalang menuju peraduan masing-masing dan pelangi menghiasi sore nan indah. Di dalam rumah, ayah mendekati aku ketika sedang asyik-asyiknya mendengarkan musik di kamar. Lalu ayah berkata kepadaku:

“Dayat, satu minggu lagi kan kamu sudah lulus SMP, jadi ayah ingin kamu masuk pesantren nak, bagaimana menurutmu?”

“Aduh... aku gak suka sekolah pesantren yah, aku gak berani tinggal di asrama” jawabku mencari-cari alasan.

Ibu tiba-tiba mendekati kami, mungkin tadi beliau mendengar pembicaraanku dengan ayah, lalu ibu memegang tanganku sembari membujuk:

“Nak, apa yang dikatakan ayahmu demi kebaikan kamu juga”

“Gimana sih ibu, bukannya mau membela, malah dukung ayah lagi. Mau jadi apa aku nanti kalau aku sekolah di pesantren?” menyahut ucapan ibu dengan angkuhnya.

“Nak, kalau ibu dan ayah nanti meninggal, siapa yang akan menyolatkan dan mendoakan kami ?”

hatiku sontak kaget mendengarkan kata-kata ibu, bagaimana pun juga aku masih mempunyai hati nurani. Aku sangat terharu mendengarkan ucapan ibu tersebut, seorang manusia yang telah mengorbankan hidup dan matinya untukku sejak dari alam rahim. Sejenak hatiku luluh mendengarkan ucapan ibu tadi.

Di hari minggu ini, cuaca sangat mendung, semendung hati yang aku rasakan. Aku benar-benar berada dipersimpangan hati, apakah menuruti kemauan kedua orangtua atau tidak. Tiba-tiba saja ibu menghampiriku dari belakang, dengan suara kasih sayang ibu berusaha menenangkan kerisauan hatiku. Mungkin tadi ibu memperhatikan aku ketika duduk di kursi berwarna hitam ini.

“Yat, ibu tahu hati anak ibu sedang risau, apa yang kamu pikirkan nak?”

“Nggak ada bu, Cuma kurang fit aja”

“Kamu tidak boleh bohong sama ibu, pasti kamu masih belum bisa menerima keputusan ayah dan ibu”

Kemudian ibu mencoba menenangkan hatiku yang sedang galau tingkat tinggi ini.

“Nak di dalam tubuh manusia itu ada yang disebut dengan hati, ia ibarat sepotong roti yang harus dipersembahkan kepada yang pantas kita cintai, kamu ngerti kan?”

“Iya bu” Jawabku walaupun aku tidak tahu maksud perkataan ibu.

Dengan perasaan terpaksa akhirnya aku menuruti permintaan ayah dan ibu. Setelah lulus dari bangku SMP, aku didaftarkan ke salah satu pondok pesantren. Mendengar aku masuk pesantren, teman-teman sebaya mengucilkan aku di kampung, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya karena mungkin inilah jalan takdir yang harus aku hadapi.

Awalnya aku ingin berhenti setelah satu minggu di pondok ini karena berbagai peraturan yang sangat ketat, berkat dorongan ayah dan ibu akhirnya aku betah juga di tempat para mujahid ilmu ini. Di pondok ini juga aku benar-benar merasakan kedamaian hati yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Seolah-olah aku terlahir kembali menjadi Muslim yang sesungguhnya, bukan hanya Muslim di KTP saja.

Malam Jumat tepat pada pukul 12.00 aku terbangun dikeheningan malam, aku teringat semua kesalahan yang pernah aku perbuat dan juga teringat kepada keluarga di kampung. Di tengah suara jangkrik yang sahut menyahut, aku mengambil air wuduk, untuk mengerjakan Shalat Tahajjud. Air mataku bercucuran membasahi sajadah ketika berdoa dan meminta ampun kepada sang khalik selepas shalat Tahajjud. Setelah curhat kepada Allah hatiku begitu tenang dan damai.

Ketika sedang di ranjang tidur, aku teringat kepada perkataan ibu bahwa di dalam tubuh manusia itu ada yang disebut dengan hati. Hati itu ibarat sepotong roti yang harus dipersembahkan kepada yang paling pantas untuk dicinta. Sejenak aku terdiam bingung seolah ada yang membisikkan maksud dari perkataan ibu kepadaku, pikiranku langsung terbuka dan tahu jawabannya, maksudnya adalah hati itu harus dipersembahkan kepada yang paling pantas dicintai di jagat raya ini, yakni kepada tuhan semesta alam, Allah SWT. Aku pun tersenyum sendiri setelah mengetahui maksud dari ucapan ibu itu.

Aku pun berjanji pada diriku sendiri bahwa kesucian sepotong hati yang ada di dalam tubuh ini akan aku persembahkan kepada tuhan, dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Dari jendela dekat ranjang aku menatap ke langit, terlihat bulan yang sedang bahagia seolah menjadi saksi bisu dari pertaubatanku.


Karya : Mustofa Kamal Btr

DANAU TOBA

Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya  kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.

Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!," umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

BATU MENANGIS

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.
Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.
Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.
Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?" namun, apa jawaban anak gadis itu ?
"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan.
Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.
Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.
"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
"Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".

SINBAD

Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. "Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan." Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.

"Apakah namamu Sinbad ?", "Benar Tuan". "Namaku juga Sinbad", kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita, "Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar.
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan saya yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.

Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. "Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal." Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan.

Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat disekelilingnya banyak berlian.

Pada saat itu, "Bruk" ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, "Klang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.

Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah. "Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah. Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. "Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu". "Baik tuan," jawab Sinbad ketakutan.

Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah. Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. "Ku..kuburan gajah!" Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,"kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami." Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang.

"Sampai disini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. "Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sang saudagar.

SINBAD DI PULAU MISTERIUS

Kisah tentang Sinbad si pelaut adalah salah satu kisah yang terkenal di antara kisah-kisah 1001 malam. Konon kisah Sinbad ini terjadi pada masa pemerintahan sultan harun arrasyid di negri bagdad. Sinbad adalah anak seorang pedagang besar di masa itu yang sangat kaya raya. Sewaktu Sinbad masih kecil, ayahnya meninggal dunia, sehingga dia mewarisi semua harta kekayaan ayahnya yang sangat banyak dan berlimpah.

Karena usianya yang masih sangat muda di waaktu itu, dia pun menggunakan hartanya untuk sekedar bersenang-senang dan berfoya-foya. Lambat laun harta kekayaan yang dia miliki pun semakin habis, hanya tersisa beberapa rumah dan beberapa bidang tanah. Untungnya Sinbad mulai menyadari kesalahanya, sebelum semuanya hartanya habis dia pun berniat untuk bekerja dan mulai meninggalkan kehidupan berfoya-foya.

Dia pun menjual semua harta yang dia miliki dan berniat untuk pergi berdagang. Setelah terkumpul uang sebanyak 3000 dirham, dia pun berangkat ke kota basrah. Dari kota basrah…Sinbad ikut berlayar pada sebuah kapal. Sinbad berlayar berhari-hari, singgah dari pulau ke pulau untuk melakukan pertukaran dan jual beli.

Hingga pada suatu hari tibalah Sinbad pada sebuah pulau yang sangat indah, di situ kapten berlabuh, membuang sauh,dan mengeluarkan papan untuk mendarat. Para penumpang yang terdiri dari para pedagang pun turun ke pulau itu. Ada yang mencuci, ada yang memasak, dan ada juga yang sekedar berjalan-jalan melihat pemandangan sekeliling pulau. Dan Sinbad adalah salah satu yang ikut berkeliling. Pulau itu memang sangat indah, butiran pasir putih mengelilingi sekitar pantai, dan pohon-pohon yang hijau tumbuh di atas pulau. Membuat decak kagum bagi tiap orang yang melihatnya.

Tapi belum berapa lama mereka berkeliling, tiba-tiba terdengar kapten kapal berteriak.

“Hai kalian semua…cepat naik ke kapal!! Pulau yang kalian singgahi ini akan segera tenggelam..segera selamatkan diri kalian..!!!," teriak kapten dari atas kapal.

Ternyata benar, pulau yang di singgahi Sinbad itu tiba-tiba bergerak. Semakin lama-semakin tenggelam. Para awak dan penumpang kapal pun berlarian naik ke atas kapal. Mereka membawa sebagian barang berharga yang sempat mereka bawa, sedangkan orang-orang yang jauh dari kapal tak seberuntung mereka.Karena tak sempat menjangkau kapal, mereka pun tenggelam bersama pulau itu.

Ternyata pulau itu bukanlah sebuah pulau seperti yang mereka kira.Tapi pulau itu adalah punggung sebuah ikan paus yang sangat besar, karena lama berdiam hingga terbungkus pasir dan pohon-pohon tumbuh di atasnya. Karena panas api yang di nyalakan para pedagang untuk memasak di atas ikan itu, membuat ikan itu terbangun dan bergerak. Hingga membuat semua yang ada di atasnya ikut tenggelam bersamanya.

Tapi allah berkehendak lain, ketika Sinbad sudah hampir tenggelam…ada papan yang biasa di gunakan untuk mencuci yang hanyut di depanya. Segera dia menjangkau papan itu dan berpegang erat padanya. Sedang kapal yang tadi dia tumpangi telah berlayar menjauh. Sinbad berusaha berteriak memanggil, tapi karena suasana malam yang gelap dan suara gemuruh pulau yang tenggelam membuat suaranya tak dapat di dengar oleh kapten kapal. Akhirnya Sinbad pun mulai mengayuh dengan tanganya, dia terayun ombak ke kanan dan e kiri tanpa daya.Tapi Sinbad masih bersyukur, karena nasibnya lebih beruntung dari pada teman-temanya yang tenggelam karena tak sempat menyelamatkan diri.

Setelah sehari semalam lamanya dia terombang ambing di lautan, akhirnya kerena bantuan angin dan gelombang Sinbad terdampar di sebuah pulau.Sinbad segera merangkak ke pinggir pantai, kakinya telah bengkak dan mati rasa.Terlihat ada bekas gigitan–gigitan ikan di sekitar kakinya. Dengan tenaga yang tersisa, Sinbad terus merangkak mencapai ke atas daratan. Setelah dia sampai di bawah sebuah pohon, Sinbad pun beristirahat di situ. Karena rasa lelah dan tenaga yang terkuras, akhirnya Sinbad pun pingsan di bawah pohon itu. Dia pingsan hampir sehari lamanya, setelah dia sadar…dia pun mencari makanan dan minuman untuk memulihkan tenaganya. Karena kakinya masih bengkak, dia pun berkeliling pulau dengan merangkak dan kadang menyeret kakinya. Untungnya pualau itu di penuhi pohon-pohon yang berbuah lebat.

Jadi Sinbad tak terlalu kesulitan untuk mencari makanan, sedangkan untuk minum Sinbad cukup minum dari air sungai yang mengalir dengan jernih di sekitar pulau. Sinbad hidup dengan keadaan begini selama beberapa hari. Setelah keadaanya pulih, Sinbad pun berjalan berkeliling pulau. Sewaktu dia tiba di pinggir pantai,dia melihat ada seekor kuda yang sangat indah di ikat di pantai itu.

Karena rasa penasaran, Sinbad pun menghampiri kuda itu. Karena terkejut dengan kedatangan Sinbad, kuda itu pun meringkik-ringkik.Tiba-tiba dari kejauhan Sinbad melihat seorang lelaki berlari dengan memukul-mukul perisai besi yang dia bawa dengan pedangnya.Tapi setelah melihat Sinbad yang ada di samping kudanya, pria itu menghentikan perbuatanya dan kemudian menghampiri Sinbad.

“Ku kira tadi tuan adalah kuda laut, maka saya memukul-mukul tampeng dengan pedang untuk mengusirnya.Tapi ternyata tak seperti dugaan saya…kalau boleh tahu, siapakah tuan ini dan bagai mana bisa sampai di tempat ini?” tanya lelaki itu kepada Sinbad.

Lalu Sinbad pun menceritakan keadaan yang telah menimpa dirinya dari awal sampai ahirnya dia sampai di tempat itu.Lelaki itu pun mendengarkan semua cerita Sinbad dengan rasa kagum dan heran dengan apa yang telah di alami Sinbad.

“Masya allah….sungguh maha besar allah yang telah menyelamatkan tuan dari bahaya yang membinasakan itu..," kata lelaki itu.

Lalu lelaki itu pun mulai bercerita, bahwa dia adalah salah satu orang yang tersebar di pulau ini. Dia adalah salah satu pelayan perawat kuda raja mihrajain. Setiap bulan enam pada bulan purnama, dia dan kawan-kawanya datang ke pulau itu dengan membawa kuda-kuda betina terbaik. Lalu kuda-kuda itu akan di ikat di pantai kemudian mereka akan bersembunyi, setelah malam tiba..kuda laut jantan yang gagah dan besar akan keluar dan mendatangi kuda-kuda yang mereka ikat untuk kawin. Setelah kuda laut itu selesai, dia akan berusaha membawa serta kuda betina agar mau ikut bersamanya.Tapi karena posisinya di ikat, tentu saja kuda betina itu hanya bisa meringkik-ringkik saja.

Dan di saat mereka mendengar ringkikan kuda, maka mereka akan berlari menghampiri dengan memukul-mukul tameng dengan pedangnya untuk menakut-nakuti kuda laut agar pergi menjauh.
Dan kuda betina yang telah di kawini oleh kuda laut tadi akan di bawa pulang kembali ke negri mereka dan melahirkan anak kuda yang baik dan berharga sangat mahal. Akhirnya Sinbad pun ikut menumpang kapal dan pergi ke negri mereka. Sinbad pun di hadapkan kepada raja mihrajain dan menceritakan semua kisah yang di alaminya. Raja mihrajain pun terkagum-kagum dan menaruh simpati pada nasib yang menimpa Sinbad. Akhirnya Sinbad pun di angkat oleh raja mihrajain sebagai pengawas pelabuhan, siapa tahu dia bisa bertemu dengan kapal yang membawa barang-barang daganganya.

Sudah hampir satu bulan Sinbad menjadi pengawas pelabuhan,dia hampir putus asa untuk bisa menemukan kapal yang membawanya dulu. Hingga pada suatu hari ada sebuah kapal yang singgah di pelabuhan, seperti biasa Sinbad melakukan tugasnya sebagi pengawas pelabuahn mengecek barang-barang apa saja yang di bawa kapal itu. Sinbad pun menemui kapten kapal untuk menemaninya mengawasi tiap barang yang di keluarkan dari kapal.

“Apakah hanya itu saja? Tak ada lagi barang yang ada di dalam kapal?” tanya Sinbad.

“Tidak…masih ada beberapa barang lagi di dalam kapal.Tapi barang itu adalah milik seorang saudagar yang berlayar bersama kami tapi dia tenggelam karena musibah yang menimpa rombongan kami.Jadi kami bermaksud mengembalikan barang-barang itu pada keluarganya yang ada di bagdad," jawab kapten kapal itu menjelaskan.

“Memangnya siapa nama saudagar yang tenggelam itu?" tanya Sinbad penasaran.

“Namanya adalah Sinbad..," jawab sang kapten.

Mendengar jawaban kapten, Sinbad pun terkejut. Dia pun mulai menyelidik dan memperhatikan wajah si kapten dengan seksama.Ternyata kapten itu adalah pemimpin kapal yang dulu pernah dia naiki.

“Wahai kapten..akulah orang yang tuan maksud..aku lah Sinbad,” kata Sinbad.

“Ah…kau tidak mungkin dia.kau hanya orang yang mengaku-ngaku jadi dirinya setelah mendengar barang berharga yang telah aku ceritakan. Kau hanya orang yang ingin mengembil harta itu tanpa hak..," kata kapten dengan tegas.

Lalu Sinbad pun menjelaskan kisahnya pada si kapten,dari tiap barang apa saja yang dia bawa dikapal, tentang masalahnya dengan si kapten yang hanya di ketahuai dirinya dan kapten untuk meyakinkan si kapten. Setelah mendengar semua cerita dari Sinbad dan melihat wajah Sinbad dengan seksama, akhirnya si kapten pun mengenali Sinbad dan mempercayainya. Lalu si kapten pun mengajak Sinbad masuk ke kapal untuk memeriksa barang-barangnya,dan ternyata barang-barangnya tetap utuh tanpa kurang suatu apapun.

Lalu Sinbad pun mengajak kapten kapal menemui raja dengan membawa barang-barang berharganya sebagai hadiah untuk membalas kebaikan raja.Dan karena Sinbad sangat di percaya dan di sayang oleh raja, raja pun membalas hadiah Sinbad dengan lebih banyak hadiah-hadiah yang sangat berharga. Lalu sinbad pun berpamitan pada raja untuk ikut kembali berlayar, dengan berat hati sang raja pun melepas kepergian Sinbad.

Dalam perjalanan pulang, Sinbad menjual semua barang-barang hadiah dari raja dan mendapatkan untung yang sangat banyak. Hingga Sinbad pulang membawa harta benda yang banyak. Dan ahirnya Sinbad menjadi seorang saudagar kaya dan terkenal di bagdad…

Friday, August 30, 2019

HANSEL DAN GRETEL

Di sebuah desa pada zaman dahulu hiduplah
sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai
dua orang anak yang manis, namanya Hans
dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal
karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, mereka
selalu bersedih sepanjang hari.
Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah
mengambil Ibu baru untuk menghIbur mereka.
Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan
memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi
hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan
hanya diberi makan satu kali.
Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak
mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu
menyuruh anak-anak untuk dibawa ke hutan
dan meninggalkannya di sana.
Ayah sangat terkejut mendengarnya " Bicara
apa kau, apa kau ingin anak-anak mati ?! "

" Kau ini memang bodoh, kalau kita tidak
melakukannya, kita semua akan mati !"

Sementara itu dari balik kamar , Hans dan
Gretel mendengarkan pembicaraan mereka.
Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.

Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa
karena istrinya terus mendesaknya.
"Ah… apa kita akan mati di hutan ?! "
"Ssst.., aku punya ide bagus, " ucap Hans. Lalu
ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu
kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan
bersinar.

Pada esok paginya dengan berteriak keras,
Ibunya membangunkan Hans dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti
kepada mereka. Setelah itu semua berangkat
menuju hutan.

Sambil berjalan Hans membuang batu kecil putih
satu per satu yang ada dalam kantongnya.
Karena berjalan sambil menoleh ke belakang,
Ayah menjadi curiga.

"Sedang apa, Hans ? "

"Aku sedang memandang kucing yang ada di
atas rumah," jawab Hans berbohong.

Lalu
tibalah mereka di tengah hutan.
Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh
lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan
mereka.
Rasa sedihpun berganti gembira setelah di
tengah hutan Hans menemukan seekor kupu-
kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga.

Mereka sangat gembira karena bisa bermain-
main bersama teman baru mereka seperti kelinci,
bajing dan burung-burung kecil.
Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai
tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-
burung yang indah kini berganti dengan suara
angin yang berdesir.
Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hans
berkata menenangkan, "Jangan menangis, jika
cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang
dengan selamat ".

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon
muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan
terang. Hans segera mengajak Gretel untuk
pulang ke rumah.
Hans memegang tangan Gretel dan menyusuri
jalan di hutan tanpa ragu-ragu.

" Kak, kok bisa berjalan tanpa bingung di hutan
yang gelap begini?"

"Oh… batu kecil putih yang kujatuhkan ketika
kita datang, bersinar karena kena sinar bulan
dan itu akan menolong kita pulang ke rumah."

Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran
melihatnya dan mencari tahu bagaimana
mereka bisa sampai di rumah dengan mudah.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil
putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa
mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci
pintu kamar mereka. Hans dan Gretel menjadi
panik karenanya.

Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan,
meminta perlindungan.
Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu
membangunkan mereka dan membawa mereka
ke hutan. Hans tidak kehabisan akal. Dengan
terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan
menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.

Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah
payah dimakan oleh burung-burung kecil.

Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali
Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan
masuk ke hutan yang lebih jauh.
Merekapun bermain-main dengan binatang-
binatang
di dalam hutan.

Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan
mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan
susah payah dicarinya potongan-potongan roti
sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.

"Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-
potongan roti itu ?" teriak Gretel cemas.

"Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil."

" Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke
rumah."

Di dalam hutan bergema suara lolongan keras.
Mereka berdua amat ketakutan. "Kak, aku takut,
kita akan mati !" Gretel mulai menangis.

"Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga
pasti menolong kita."

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan
pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun
mulai bersinar dan mengenai wajah mereka.

Hans dan Gretel terbangun dan disambut suara
kicauan burung.
Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang
lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya
bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat
rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya
dari coklat, dan dindingnya dari biskuit.

Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan
memakannya.
Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar.

"Siapa itu, berani memakan rumah kue
kesayanganku ?", muncullah seorang nenek
sihir tua dengan wajah menyeramkan serta
mata merah yang bersinar, lalu menangkap
mereka berdua.

"Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai
hukuman karena telah memakan rumput kue
kesukaanku, aku akan memakan kalian."

Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hans
masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata
kepada Gretel,
"Mula-mula aku akan menggemukkan anak
laki-laki itu, lalu aku akan memakannya."

"Sekarang kau buat makanan yang enak biar
makannya banyak!"

Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya
mulai rabun. Pada saat itu Hans dan Gretel
saling berpegangan tangan memberi semangat
supaya mereka tabah.

"Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti
melindungi kita."

Suatu hari nenek mendekati penjara Hans untuk
melihat apakah tubuh Hans sudah menjadi
gemuk atau belum.

"Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo
ulurkan tanganmu!"

Hans yang pintar tidak kehilangan akal, ia
mengetahui kalau mata nenek sudah rabun
segera dikeluarkannya tulang sisa makanan
kepada nenek yang rabun lalu nenek
memegangnya.

Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hans
tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia
bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian
Gretel disuruh membakar roti.
Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek
mencoba mendorongnya ke nyala api.

Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek,
cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.

"Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini ."

Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang
diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel
mendorong nenek ke tungku.

"Ahh… tolong…. panas!" teriak nenek
kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan
nenek malah dengan cepat ia menutup pintu
tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk
menolong Hans.

"Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah
melindungi kita."

Karena bahagia mereka
berpelukan.
Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja
mereka menemukan banyak harta karun. Setelah
itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu
terpotong oleh sungai besar.
Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari
mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa
cantik.

"Ayo, naiklah ke punggungku," ucap angsa itu
ramah.

Satu per satu angsa itu mengantarkan
mereka menyeberang sungai.
Setelah sampai, angsa itu menunjuk-kan jalan
bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah
mereka di batas hutan.

Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu
adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu
kemudian menghilang. Setelah itu muncullah
Ayah mereka yang sangat cemas.

"Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah.
Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi."

Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa
Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena
sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia
selamanya.

Tuesday, August 27, 2019

MENIKMATI MAKANAN

Malam yang tenang sekali. Indro asik membuat vidio masakannya untuk sekedar exspresikan dirinya. Dono pulang dari urusan kerjaannya dan masuk rumah dengan mengucap salam "Asalamualaikum". Salam Dono yang terdengar keras terekam dalam proses pembuatan vidio memasak Indro. Akhirnya Indro memberhentikan pembuatan vidio memasaknya dan segera menjawab salam "Waalaikumsalam".

Dono sudah duduk di ruang tamu. Indro bergerak dari dapur ke ruang tamu dan duduk bersama Dono.

"Indro terlihat....jengkel gitu?" tanya Dono.

"Abisnya aku lagi membuat vidio memasak. Eeeee kamu dateng...Don. Jadi terekam deh suara salam kamu masuk rumah yang nyaring. Jadi aku proses ulang lagi pembuatan vidio memasaknya," penjelasan Indro.

"Buat lagi aja. Aku tidak sengaja. Jadi aku minta maaf dari ke tidak tahuan....kalau kamu sibuk buat vidio memasak," kata Dono.

"Aku memaafkan Dono," kata Indro.

"Sebenarnya.....Indro kamu buat masakan apa? Sampai di rekam segala?" tanya Dono.

"Nasi goreng spesial buatan aku....yang enak," jawab Indro.

"Kalau buat nasi goreng sih......mudah banget. Aku kirain buat kue tar gitu....yang memakan banyak waktu membuatnya," kata Dono.

"Cuma....iseng aja. Untuk mengisi waktu luang saja," kata Indro.

"Oh begitu. Nasi goreng yang di masak banyak gak Indro?"kata Dono.

"Lumayan banyak. Kenapa gitu Dono?" kata Indro.

"Aku laper. Bagi nasi goreng buatan kamu.....Indro," kata Dono.

"Ambil aja di dapur," saut Indro.

Dono langsung bergerak ke dapur untuk makan nasi gorengan buatan Indro yang enak. Indro pun mengambil majalah di atas meja untuk membacanya. Kasino pulang dari urusan kerjaannya saat masuk rumah tak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".

Indro langsung menjawab "Waalaikumsalam".

Kasino pun duduk di ruang tamu sambil menaruh plastik yang berisi makanan di atas meja.

"Apa itu....Kasino?" tanya Indro.

"Makanan.....yang aku beli dari warungnya Nabila," kata Kasino.

"Oh...begitu," saut Indro.

Indro pun membuka plastik di atas meja dan mengeluarkan makanan. Ternyata pempek. Langsung Indro berkata suara keras untuk memanggil Dono yang lagi asik makan di meja makan "Don....ada pempek Palembang".

Dono yang asik makan nasi goreng terkejut mendengarkan omongan Indro bersuara keras banget.

"Pempek Palembang," celoteh Dono.

Indro sudah bergerak cepat untuk mengambil mangkok di rak piring yang berada di dapur langsung balik ke ruang tamu untuk menikmati makan pempek Palembang. Dono menyelesaikan makan nasi gorengnya dan setelah itu mencuci piringnya. Baru deh Dono ke ruang tamu duduk bersama Indro dan Kasino yang sedang menikmati pempek Palembang.

"Beneran.....pempek Palembang?" tanya Dono.

"Ah....bisa-bisanya Indro aja," kata Kasino.

"Oh begitu. Tapi ngomong-ngomong...kamu beli pempeknya di warung siapa Kasino?"tanya Dono.

"Biasa.....warungnya Nabila," jawab Kasino.

"Kalau dari.....warung Nabila. Ya.....bener pempek Palembang lah," kata Dono.

"Jadi ini......pempek Palembang toh.....yang aku makan ini?!" kata Kasino.

"Beneran.. Kan pempek Palembang," saut Indro.

"Tapi, Kan Nabila bukan orang Palembang," kata Kasino.

"Emang.....Nabila bukan orang Palembang. Tapi Rara orang Palembang. Jadi Rara bekerja sama dengan Nabila untuk mengisi warungnya Nabila. Makan yang jual....ya pempek Palembang," penjelasan Dono.

"Jadi pempek ini buatan Rara. Pantes enak....pempek Palembang," pujian Indro.

"Cewek... zaman sekarang....pinter-pinter nyari loka uang.....untuk diri sendiri dan keluarga," pujian Kasino.

"Ya...namanya zaman sekarang. Kalau tidak bisa membaca situasi dan kondisi ekonomi.....maka tidak bisa menanggulangi persoalan ekonomi keluarga. Kesempatan banyak untuk jadi orang sukses. Kuncinya kerja keras dan sadar menghadapi semua ujian....karena mencapai keberhasilan yang gemilang," kata Dono.

"Iya....Pak Guru," kata Kasino dan Indro bersamaan.

Dono pun mulai makan pempek yang enak. Indro sudah makan banyak pempek begitu juga dengan Kasino. Baru deh Indro beranjak dari duduknya  untuk nonton Tv dengan acara favorit kesukaannya karena perutnya sudah kenyang makan pempek. Dono pun teringat dengan kerjaan Indro yang membuat vidio memasak langsung berkata dengan suara keras agar di dengar Indro "Indro kamu gak  lanjutin buat vidio memasaknya?".

"Nanti Don....kalau suasananya hening. Kalau sekarang rame. Ada kalian berdua," kata Indro.

"Oh.....begitu," saut Dono.

Kasino pun menyelesaikan makan pempeknya. Baru deh berajak dari duduknya bersama Dono ke tempat Indro untuk nonton Tv. Dono dengan santai menikmati makan pempeknya.

"Emang enak pempek buatan Rara," pujian Dono.

Akhirnya Dono kekenyangan karena abis makan nasi goreng di tambah makan pempek. Setelah itu Dono pun beranjak dari ruang tamu untuk dan duduk bersama Indro dan Kasino yang sedang asik nonton Tv.

Monday, August 26, 2019

JAGO TARUNG

Seusai main bermain ke rumah Toni segera Doni pulang ke rumah. Saat di persimpangan gang melihat Selfi di ganggu oleh dua anak berandalan daerah sekitar situ. Doni tanpa pikir panjang langsung berlari dan menerjang ke arah salah satu anak berandalan sampai masuk ke dalam got yang bau busuk.

Saat mendarat di jalan beraspal langsung membuat gerakan putaran tendangan ke arah muka anak berandalan yang berada di belakang. Anak berandalan menyerang Doni dengan tinjuan segera menghindar dan memberikan tinjuan telak ke mukanya. Baru di tambah tendangan yang kuat pake kaki kanan Doni....langsung terpental jatuh di jalan beraspal.

Doni pun memegang tangan Selfi dan menariknya sambil berkata "Ayo kita pergi dari sini!".

Selfi mengangguk dan mengikuti Doni yang menarik tangan kanannya pake tangan kiri. Kedua berlari sekecang-kencangnya menjauh dari tempat masalah. Sampai di rumah Selfi.
"Sekarang kamu telah selamat," kata Doni.

"Iya. Terimakasih atas bantuannya," kata Selfi.

"Sama-sama," saut Doni

Selfi pun masuk ke dalam rumahnya. Doni berjalan dengan santai menuju rumahnya. Sampai di rumah. Sang Ayah Doni yang ahli bela diri menyerang anaknya untuk seberapa jauh anak bisa menghindari serangan dadakan dari musuh. Doni benar-benar sigap banget dalam menerima serangan Ayahnya berupa tinjuan maupun tendangan.

Doni berhasil menghindari serangan mematikan gerakan dari Ayahnya. Doni pun berbalik menyerang juga dengan serangan yang selalu di tahan Doni ke bagian muka.

Pertarungan pun berhenti dan sang Ayah pun berkata "Doni kamu sudah kuat sekarang. Ayah tidak salah mendidik...kamu...jadi pria yang sigap dalam menghadapi situasi berbahaya sekalipun".

"Terimakasih atas pujiannya. Tapi Doni...lapar. Jadi Doni mau masuk...rumah untuk makan," kata Doni.

"Iya...sana. Ayah mau melanjutkan olah raga lagi!!" kata Ayah.

Doni masuk ke dalam rumahnya langsung ke dapur. Ternyata Ibu sedang memasak dengan adik Rara yang ingin belajar memasak dari Ibu tercinta. Doni kebetulan lapar....langsung ngambil piring dan sendok untuk nyobain masakan adik Rara.

Dengan antusias Doni menikmati makan buatan adik Rara yang bantuin oleh Ibu untuk memasaknya.

"Gimana rasanya...enak gak masakan Rara?" tanya adiknya.

"Enak...banget," pujian Doni.

Rara senang masakan di puji enak oleh Doni....Kakaknya Rara. Usaha Rara pandai memasak tidak sia-sia. Apalagi Ibu selalu membimbing Rara dengan baik.
Doni menyelesaikan makannya dan mencuci piring dan gelas yang di pakainya untuk makan dan minum. Baru deh setelah itu main game di kamar Doni. Waktu begitu cepat sekali...tahu-tahu sudah malem. Doni mengerjakan pekerjaan sekolahnya sampai selesai setelah itu istirahat tidur. 

Esok harinya. Doni berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena jarak tempuh ke sekolah dekat. Ketemu dengan Selfi di jalan langsung berkata "Hay selfi selamat pagi".

Selfi pun berhenti dari jalan melihat Doni dan berkata "Selamat pagi juga...Doni".

Doni pun jalan bareng sama Selfi ke sekolah sambil ngobrol selayaknya teman yang akrab. Bel sekolah pun berbunyi tanda masuk sekolah dan jam pelajaran sekolah di mulai.

Doni pun belajar dengan baik begitu juga dengan Selfi di dalam satu kelas dengan guru yang benar-benar membimbing muridnya agar pandai. Saat jam pelajaran olah raga. Doni pun bermain basket dengan kawan-kawan dengan penuh semangat banget. Terkadang Selfi memperhatikan permainan basket Doni.

Sampai jam belajar sekolah selesai dan pulang sekolah. Doni pun pulang bareng sama Selfi karena di khawatirkan anak berandalan akan balas dendam karena urusan kemarin di kalahkan dalam perkelahian di jalanan.

Saat persimpangan Doni melihat pergerakan anak berandalan. Maka segera menghindarilah masalah Doni karena musuhnya terlalu banyak. Berlarilah Doni dan Selfi menuju arah yang di perhitungkan Doni. Anak berandalan tahu...bahwa Doni melarikan diri dari urusan perkara yang kemarin belum selesai. Terjadi kejar-kejaranlah.
Sampai di depan kantor polisi. Yang terjebak bukannya Doni dan Selfi, tapi melainkan anak berandalan. Segera polisi menangkap anak berandalan karena membuat keresahan dalam lingkungan masyarakat.

Doni pun mengantar Selfi pulang. Sampai di depan rumah Selfi ada orang menyerang Doni dengan dadakan. Untung Doni sigap. Ternyata yang menyerang Doni adalah Bos anak berandalan yang terkenal dengan keburukannya maka di julukin Dargo. Doni tidak gentar menghadapi Dargo. Beberapa kali Dargo menyerang Doni denga tinjuan dan tendangan....tetap Doni bisa mengimbangi. Saat ada kesempatan Doni menyerang bagian wajah Dargo sampai bengep.

Dargo jengkel di kalahkan anak ingusan, maka itu Dargo mengeluarkan pisau untuk menyerang Doni. Kondisi memang berbahaya buat Doni. Di lepaskan ikat pinggang Doni untuk memecut Dargo beberapa kali saat mau menusukkan pisau. Dargo mati langkah dalam pertarungan. Selfi pun berteriak "Tolong".

Dargo mulai panik dan kabur dengan tunggang langgang agar tidak di gebukin oleh warga sekitar. Karena lingkungan masih sibuk dengan urusan mereka semua....jadi teriakan Selfi di abaikan warga.

Doni pun akhirnya memutuskan pulang. Selfi pun masuk ke dalam rumahnya karena sudah aman. Selang berapa saat Doni sampai rumah. Saat nonton Tv. Doni menonton berita terbaru bahwa Dargo di tangkap polisi.
Doni pun senang sekali musuhnya masuk penjara karena kehidupannya jadi normal lagi. Doni pun masuk kamarnya untuk main game untuk menikmati hidup......masa-masa jadi anak sekolah kelas 1 SMA.

SEKEDAR NGOBROL

Baru sampai di rumah hujan turun sangat deras banget. Dono duduk di ruang tamu untuk menghilangkan rasa lelahnya dan melihat hujan dari pintu depan terbuka lebar.

Udara tambah dingin banget. Indro bergerak dari dapur menuju ruang tamu dan duduk bersama Dono dengan membawa tekok kecil yang berisi teh dan gelas.... langsung di taruh di meja. Indro telah mengisi gelasnya dengan teh dan meminumnya saat masih panas agar tubuh anget.

"Enaknya Don...tehnya," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Dono mengisi gelas di meja dengan tekok kecil yang berisi teh buatan Indro. Dono pun meminum teh buatan Indro.

"Enak...Indro teh buatan kamu," kata Dono.

Tubuh Dono langsung minum teh yang anget banget dan susana dingin berkurang banget. Kasino baru pulang dari kerjaan dan masuk rumah dalam keadaan basah kuyup tapi tidak mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino segera ke kamar untuk berganti pakaian dan keadaan dirinya sudah kedinginan karena kehujanan. Dono hendak ke kamar untuk berganti pakaian, tapi Indro ingin mulai ingin mengajak ngobrol sama Dono yang lebih serius lagi. Dono sudah tahu sifat Indro jadi berkata Dono "Nanti aja ngobrolnya...Indro. Aku ganti pakaian".

"Iya," saut Indro.

Dono pun bergerak menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Indro beranjak dari ruang tamu dan duduk di ruang tengah sambil menyetel Tv dan langsung memilih acara Tv favoritnya Indro.

Kasino dan Indro telah beres benah dirinya langsung duduk bersama Indro di ruang tamu sambil nonton Tv.

"Indro apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dono.

"Biasa...tentang acara Tv...aja!?" kata Indro.

"Ya...gak terlalu penting banget," kata Dono.

"Biasa...Indro...nyari pola pembicaraan agar...suasana hidup. Gak diam aja. Jadi rame," kata Kasino.

"Bener kata....Kasino. Biar rame," saut Indro.

"Ya..deh. Tapi apa yang ingin kamu bicarakan tentang acara Tv?" kata Dono.

"Biasa apa tanggapan kamu...tentang D Star grandfinal?" tanya Indro.

"Itu...sih jawabannya sederhana. Bagus...aja," kata Dono.

"Sederhana...gitu...Don. Tapi kan Selfi gak masuk grandfinal?" tanya Indro.

"Itu...sih jawaban bukan urusan aku," kata Dono.

"Bener..itu bukan urusan Dono," saut Kasino.

"Memang bukan urusan kamu. Tapikan......Aku ingin tahu aja apa tanggapan kamu Don...berkenaan tentang Selfi gak masuk grandfinal?" kata Indro.

"Aku....bukan Tuhan yang tahu segalanya. Urusan manusia....hanya manusia itu sendiri yang bertanggungjawab dalam menjalankan hidup. Maka itu...aku tidak peduli. Hanya sebatas penggemar aja...gak lebih. Kecewa itu ada tapi tidak ada gunanya. Cuma permainan menang atau kalah....sudah biasa itu mah," penjelasan Dono yang bener-bener tegas.

"Ya...aku tahu Don. Pada akhirnya. Sesuai omongan Nazzar...juga...kaya telah terkonsep rapih," kata Indro.

"Kalau kenyataannya begitu. Ya. .sudah...tonton aja!!!," kata Dono.

"Tonton aja jadi penonton yang baik. Biarin yang heboh para penggemar fanatik di sosial media," tambahan Kasino.

"Iya deh. Tapi Don...yang kamu dukung siapa dalam grandfinal antara Fildan, Reza dan Rara?" kata Indro.

"Rara," saut Kasino.

"Itu...Kasino tahu," kata Dono.

"Kalau...Rara yang di dukung....alasannya. Masih kaitan dalam tulisan kamu di Blog," kata Indro.

"Kenyataan begitu," saut Dono.

"Sudah diam. Ngobrolnya kepanjangan. Cuma....sekedar ngobrol aja!" kata Kasino.

"Iya," saut Dono dan Indro bersamaan.

Dono, Kasino dan Indro mulai diam dan asik nonton Tv acara kesukaan mereka bertiga untuk menghilangkan kepenatan hidup karena lelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sunday, August 25, 2019

OH TERNYATA.......???

Hari lumayan deh Malemnya. Mira baru selesai urusannya pindah di apartemen yang baru. Padahal banyak cerita apartemen yang di tempatin oleh Mira bekas penghuni yang lama mati bunuh diri karena patah hati....kekasihnya selingkung dengan sahabatnya sendiri.

Mira tidak percaya dengan cerita semua orang berkenaan dengan tempat tinggalnya yang baru. Mira jojong aja bersantai di dalam apartemen sambil membereskan semua perabotan yang belum rapih di pandangan Mira.

Tiba-tiba mati lampu. Mira terkejut sekali dengan apartemen yang mati lampu. Ternyata hidup lagi. Mira mulai ingin nonton Tv. Saat Tv di hidupkan bulu kuduk Mira berdiri terasa suasana yang gak enak banget di tambah dinding kaca bergetar dengan sangat keras kaya hampir mau pecah.

Mira mulai ketakutan banget di  dalam apartemen. Suara mengerikan mulai terdengar di tambah ada sebuah cakar yang mengores kaca sampai terdengar suaranya memekakan telinga saking nyaring gesekan itu.
Mira tambah takut mulai telepon pacarnya Albret dengan keadaanya. Albret malah memberikan masukan untuk berani tinggal di apartemen sendirian. Mira membujuk Albret untuk menginap di apartemen Mira agar menghilangkan ketakutannya. Albret bersedia untuk menginap di apartemen Mira. Hubungan telepon antara Mira dan Albret pun selesai.

Dengan sabar Mira menunggu Albret datang. Albret secepat mungkin dateng ke apartemen Mira menggunakan motornya karena memang jaraknya agak jauh dari tempat tinggal Albret.
Selang berapa saat. Albret sudah di depan pintu apartemen Mira dan mulai memencet bel. Mira terkejut saat bel rumah berbunyi karena sebenarnya Mira memang berusaha memberanikan diri dan menghilangkan ketakutannya. Mira beranjak dari duduknya dan membuka pintu.

Terlihat Albret di mata Mira langsung di peluknya baru di ajak ke dalam apartemen dan pintu di tutup oleh Mira. Duduklah Mira dan Albret di lantai yang beralaskan ambal. Mulai suasana jadi aneh banget. Albret mulai ketakutan sampai bulu kuduk merinding. Terdengar suara yang mengerikan. Tambah takutlah Albret.

Mira kerasukan dan bertindak tidak wajar menjadi menyeramkan. Albret tetap memberanikan diri dengan keadaannya. Mira sadar dari kerasukannya. Mulai Mira menceritakan keadaannya dirinya yang sering kerasukan setan.

Albret mulai mengerti dengan keadaan yang sebenarnya bahwa kekasihnya ada kaitannya dengan roh halus. Mira mulai kambuhlah lagi kerasukan setan dan menjadi makluk yang menyeramkan dengan tangan berubah menjadi cakar tajam di hadapan Albret.

Tanpa pikir panjang Albret langsung langkah seribu keluar dari apartemen....
meninggalkan Mira yang menjadi makluk mengerikan dan juga Albret berteriak "Setan".

BUKU HITAM

Seusai urusan kerjaan Dono bersama teman kerjanya Beni yang pertemuaannya di kafe dengan kesepakatan terjadi antara kedua belah pihak melanjutkan kerjasama. Beni pun kembali ke kantornya....begitu juga Dono.
Saat dijalan hendak masuk ke kantor Dono menemukan sebuah buku dari sampul dan lembaran kertas....hitam semuanya dan segera memungutnya. Dono ingin mengembalikan buku hitam tersebut ke pemiliknya. Ternyata tidak ada yang tahu di tanya Dono.

Maka buku hitam di bawa Dono masuk ke dalam kantor dan di taruh di dalam tasnya setelah itu... untuk menyelesaikan beberapa kerjaannya yang belum selesai. Waktu begitu cepat Dono pun pulang ke rumah apalagi jam kerja sudah selesai.

Sampai di rumah duduk bersama Indro dan Kasino di ruang tamu sambil mengeluarkan buku hitam dan di taruh di meja. Dono langsung santai minum kopi buatan Indro.

Indro yang penasaran dengan buku hitam yang di taruh Dono di atas meja segera mengambilnya dan mencoba membuka buku itu. Indro tidak bisa membaca tulisan di buku hitam tersebut sampai berkata "Tulisannya...sangsekerta..ini.....mah dan juga di tulis pake tinta putih....gitu".

"Hah!!! Sangsekerta," kata terkerjut oleh Dono dan Kasino bersamaan.

Kasino pun mengambil buku hitam di tangan Indro untuk mencoba membaca buku tersebut.

"Iya...Don...tulisannya sangsekerta. Kamu dapet buku ini dari mana?" tanya Kasino.

"Aku temukan di jalan. Gak tahu...siapa pemiliknya?" kata Dono.

Kasino pun meminjam leptopnya Dono. Segera Dono mengeluarkan leptopnya dari tas kerjanya. Kasino pun mulai mengalisa huruf sangsekerta di buku hitam lewat jaringan internet.

Satu persatu kata berhasil Kasino artikan sampai selesai. Baru deh di baca oleh Kasino mau membacanya, tapi Indro mencegahnya karena merasa ada yang gak enak dengan buku hitam tersebut. Kasino tetap membaca agar tahu Indro dan Dono tahu isinya buku hitam tersebut.

Dono dan Indro mendengarkan baik-baik ocehan Kasino sampai selesai yang membaca buku hitam tersebut. Indro pun mengerti rahasia buku hitam tersebut dan berkata "Cuma buku cerita tentang seorang gadis yang mau di nikahi dengan orang tidak sukainya".

"Iya...., tapi masalahnya kelanjutan ceritanya gak....tertulis. Jadi jalan ceritanya tanda tanya," kata Kasino.

"Kalau ceritanya....sampai di situ biarin aja," kata Dono.
Kasino pun menaruh buku hitam di meja. Terjadilah fenomena yang aneh pada buku hitam mengeluarkan energi yang begitu beriak membuat Dono, Kasino dan Indro mengantuk berat dan akhirnya tidur di kursi.

Esok paginya. Dono, Kasino dan Indro terbangun dari tidurnya. Ketiganya kelabakan banget karena bangun kesiangan karena harus pergi kerja. Dono dan Kasino rebutan untuk masuk kamar mandi....eee yang masuk duluan Indro. Jadi Dono dan Kasino menunggu Indro selesai mandi. Setelah Indro selesai baru deh Kasino karena Dono kalah suitan jadi mandi belakangan.

Indro dan Kasino sudah siap berangkat kerja dengan penampilan keren abis. Saat di depan rumah Indro dan Kasino terkejut sekali dengan lingkungan sekitarnya berubah total banget. Dono selesai juga berpenampilan keren abis dan hendak ke kantor bersama Indro dan Kasino pun terkejut dengan keadaan lingkungan sekitar.

"Kita....ini mana Kasino dan Indro?" tanya Dono.

"Palembang," saut Kasino dan Indro bersamaan.

"Bukannya...kita...tinggal di Jakarta.... Kan Indro dan Kasino?" tanya Dono.

"Iya," jawab Indro dan Kasino bersamaan.

"Kenapa yang aku....lihat jembatan ampera yang ada di Palembang?" kata Dono.

"Itulah...masalahnya Don. Aku...aja bingung apa lagi kamu?" kata Indro.

"Kalau begini mah positif gak kerja. Harus menyelesaikan masalah....yang sedak kita hadapi bersama," kata Kasino.

"Masalah...apa?" tanya Dono.

"Kayanya ada kaitannya dengan buku hitam tersebut. Kita harus mengembalikan buku itu kepemiliknya?" kata Kasino.

"Tapi....siapa orangnya?" kata Dono.

"Mana aku tahu? Yang aku nama gadis tersebut adalah Rara... Kan. Dalam cerita buku hitam," kata Kasino.

"Tapi...harus Palembang kota kelahiran Ibu...aku. Bukan Jawa Timur aja. Aneh banget," kata Dono.

"Mungkin ada kaitannya dengan kamu Don," kata Kasino.

"Omongan Kasino...itu bener. Kayanya ada kaitan dengan kamu Don," kata Indro.

"Mungkin juga. Kalau begitu...kita coba aja...menyelusurinya lewat petunjuk dari buku hitam," kata Dono.

Dono, Kasino dan Indro pun sepakat untuk menyelesaikan misi untuk memulangkan buku hitam ke pemiliknya. Ketiganya berangkat menggunakan motor untuk keliling kota Palembang. Kasino menunjukkan jalan kepada Dono dan Indro berdasarkan alamat rumah yang tertulis di buku hitam. Sampailah ketiga pada rumah yang cukup tua banget karena bangunannya tempo dulu.

Dono, Kasino dan Indro bertamu ke rumah tersebut dan di persilakan oleh pemilik rumah untuk masuk. Di dalam rumah Ketiganya berbincang-bincang dengan seorang Kakek bernama Soleh pemilik rumah dan dapet titik terang banget berkenaan dengan pemilik buku hitam tersebut.

Ternyata cucunya Kakek Soleh tersebut mau di nikahi dengan seorang kaya di daerah tersebut dengan alasannya hutang piutang. Buku hitam pun muncul tulisan kelanjutan cerita berdasarkan cerita Kakek Soleh.

Pencarian Dono, Kasino dan Indro berhasil juga. Mulai ketiganya berencana menolong gadis yang mengalami kesulitan tersebut bernama Rara...cucu dari Kakek Soleh yang akan menikah esok hari.

Dono, Kasino dan Indro segera bertindak untuk menculik Rara dari saat pernikahannya esok hari. Dengan sabar waktu ketiganya menunggu sampai esok hari pernikahan.

Dono mulai kepalang gak bisa menunggu lagi jadi menculik Rara di rumah Kakeknya saat itu juga. Tapi di halangi oleh Kasino dan Indro....karena belum waktunya. Esok paginya mulai misi sebenarnya.

Dono, Kasino dan Indro ingin menculik Rara. Tak di sangka dan tak di duga ketiganya terkejut melihat gadis yang di culiknya ternyata wajahnya sama dengan Rara kekasihnya Dono.

Rencana pun berubah. Dono, Kasino dan Indro pun berembuk untuk menolong Rara dengan cara baik-baik bukan menculiknya dari pernikahan tapi membatalkan pernikahan dengan membayar hutang keluarga pada calon suami Rara.

Kaget bukan main. Hutangnya yang di harus di bayar oleh Dono, Kasino dan Indro untuk membayar hutang keluarga Rara ke calon suaminya bener-bener bikin pusing ketiganya karena gak kejangkau. Maka itu Dono, Kasino dan Indro rencana yang awal di jalankan membawa lari Rara.

Usaha ketiganya berhasil. Tapi di kejar-kejar calon suami Rara. Maka saat terpojok Dono, Kasino dan Indro beserta Rara gak bisa kabur lagi. Ya buku hitam di berikan pada Rara. Seketika Dono, Kasino dan Indro kembali ke Jakarta dan berada di rumah.

"Don kita pulang ke rumah," kata Indro senang.

"Iya sayajuga," kata Dono.

"Saya di rumah. Urusan sudah beres," kata Kasino.

Dono, Kasino dan Indro menjalankan aktivitas seperti biasanya dan melupakan kejadian misteri dalam perjalan hidup mereka yang bertualang ke Palembang demi memulangkan buku hitam.

***
Sedangkan Rara mau gak mau menikah dengan calon suaminya yang urusannya berkenaan dengan hutang keluarga. Buku hitam  pun oleh Rara di berikan pada Kakek Panca keturunan asli Jawa dan bisa menulis dan membaca huruf sangsakerta, karena Kakek Panca adalah teman baik Kakeknya Rara, sekaligus guru Rara yang mengajarkan silsilah seni dan budaya Jawa. Jadi Kakek Panca melanjutkan cerita buku hitam dengan menggunakan tulisan sangkerta karena yang membuat cerita di buku hitam adalah Kakek Panca, yang berkenaan kisah Rara dengan calon suaminya di tambah Dono, Kasino dan Indro. Akhir sebuah kisah berkenaan dengan Rara hidup bahagia karena calon suami Rara benar-benar cinta sama Rara jadi untuk menghilangkan konflik berkepanjangan dua keluarga urusan hutang, jadi pernikahan jawabannya. Biduk rumah pun berjalan dengan baik di jalankan Rara dan suaminya dengan kebahagian.

Saturday, August 24, 2019

CINTA YANG BEBAS

Langit cerah banget. Di pohon yang rindang ada Ibu burung Jalak dan anaknya. Ibu burung mulai mengerak-gerakkan badannya dan juga sayap pun dibuka lebar-lebar. Terbang Ibu burung ke langit untuk mencari makan. Anak burung masih tidur saat sang Ibu burung pergi mencari makan.

Saat bangun Anak burung mencari Ibu burung. Di tunggu dengan sabar sampai menjelang sore hari Ibu burung tidak junjung pulang. Anak burung bersedih dirinya di sarangnya. Angin bertiup sangat kencang sekali sampai menghempaskan anak burung terbawa aliran udara dan jatuh ke tanah untung saja Anak burung memegang bagian dari sarang yang buat kedua orang tuanya. Saat jatuh ketanah. Anak burung selamat terlindungi oleh sarang yang buat dari ranting-ranting pepohonan.
Anak burung berteriak layaknya suara burung. Dono sedang bersepedah untuk berkeliling sekitar lingkungan untuk menyehatkan dirinya alias berolah raga mengunakan sepedah. Melihat sarang burung beserta Anak burung yang berteriak-teriak pake bahasa burung di bawah pohon yang besar dan rindang. Di tambah ada seekor Kucing liar sudah mengincar Anak burung jadi makannya. Dono segera menolong Anak burung dan mengusir Kucing liar yang jahat mau memakan Anak burung yang tidak berdaya.

Sebenarnya Dono mau mengembalikan sarang dan Anak burung ke pohon yang rindang. Tetapi ternyata pohon terlihat jelas oleh Dono besar banget dan tinggi banget. Maka alternatif lain Dono membawa Anak burung pulang ke rumah Dono dan di rawatnya.

Sampai di rumah. Dono mulai browsing jaringan internet lewat leptopnya untuk mencari cara merawat Anak burung dari jenis bulunya ternyata burung Jalak. Lalu Dono mulai membeli pakannya di toko burung dan mulai merawat Anak burung dengan baik. Kadang Indro dan Kasino menolong Dono kalau kerepotan merawat Anak burung karena ada urusan kerjaan.

Berbulan-bulan Dono, Kasino dan Indro merawat Anak burung Jalak dengan baik dan tumbuh dewasa menjadi seekor burung Jalak yang bersuara merdu dan juga bulunya pun bagus.

Dono pun berniat melepaskan burung Jalak ke alam terbuka.... yang di rawatnya dari kecil sampai dewasa. Kadang ada penggemar burung Jalak ingin membelinya dengan harga fantastis karena suaranya yang merdu banget. Ya...Dono tidak menjual burung Jalak.
Dono, Kasino dan Indro membawa burung Jalak yang ada dalam sangkar ke tempat di mana burung Jalak di temukan Dono. Keluarlah burung Jalak dari sangkar yang pintunya di buka oleh Dono.

Burung Jalak tidak ingin terbang karena sudah biasa hidup dengan orang tua baru... ya....manusia yang menjaga dirinya.....Dono, Kasino dan Indro. Dono bersifat keras pada burung Jalak yang di rawatnya dari kecil sampai dewasa untuk terbang dengan di "Hussss".

Burung Jalak terbang dengan mengepakan sayapnya dengan baik juga dan mencelok di atas puncak pohon. Dono, Kasino dan Indro pun balik pulang ke rumah karena urusan membalikkan burung Jalak kembali hidup di alam.

Burung Jalak melihat dunia yang luas di atas pohon dan mengingat masa kecilnya di atas pohon yang menunggu sang Ibu burung pulang membawa makan. Kini anak burung telah dewasa telah mengerti hidup di dunia yang bebas. Berkicaulah burung Jalak dengan sangat baik.

Sampai suatu ketika burung Jalak bertemu dengan pasangannya dan menjalankan siklus hidup layaknya seperti kedua orang tuanya yang melahirkan dirinya ke dunia.

Dono hanya bisa mengenang burung Jalak yang di rawatnya dan lama kelamaan pun rasa rindu atau kangen sama burung Jalak yang di rawatnya dari kecil menghilang juga. Dono pun seperti biasa ngobrol bersama Kasino dan Indro di ruang tamu sambil minum kopi dan makan gorengan.

Bergembiralah ketiganya dengan bernyanyi dan main musik gitar bergantian. Sampai ketika Indro bertanya berkenaan urusan pribadi Dono dengan Rara? Seperti biasa Dono menceritakan keadaan hubungan dirinya dengan Rara "Memberikan kebebasan cinta pada Rara".

Indro dan Kasino sebenarnya terkejut dan khawatir dengan persoalan hubungan Dono dan Rara pada akhirnya putus karena pihak lain. Tapi ternyata Dono memberikan penjelasannya pada Indro dan Kasino yang sebenarnya "Tidak ada yang mengganggu hubungan aku dan Rara".

Rasa senang Indro dan Kasino mendengar kalau hubungan Dono tidak ada pihak ketiga ikut campur dari pihak Dono. Malahan Dono sendiri membiarkan cintanya bebas seperti burung terbang kelangit tidak di kekang seperti bentuk peraturan apa pun?! Tujuannya membimbing Rara agar lebih dewasa lagi....agar bisa memilih mana yang baik Dono atau.....pria yang lain sedang dekat dengan Rara.

Tapi Kasino dan Indro paham benar dengan Dono bagaimana cintanya pada Rara yaitu benar-benar ikhlas dan tulus....baget membiarkan Rara sendiri yang memutuskan mau setia atau tidak karena Dono mengambil perumpamaan dari sepasang burung merpati yang setia.

Ketiganya pun selesai berbincang-bincang. Suara azan di kumadangkan. Segera Dono, Kasino dan Indro berbenah diri untuk ke mesjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yang baik.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK