CAMPUR ADUK

Friday, February 1, 2019

CEMBURU TANDANYA CINTA

Indro lagi asik maing game di Hpnya di ruang ramu sampai heboh dan berteriak "Saya menang mengalahkan lawan saya." Dono terkejut yang sedang serius mengetik di kamarnya. Akhirnya menghentikan kerjaannya dan mendatangi Indro yang sibuk sendirian di ruang tamu.

"Indro..join," kata Dono langsung duduk di ruang tamu.

"Ikut...main...nanti-nanti Dono lagi asik. Ya.......kalah Dono. Kamu sih ganggu saya."

"Saya..cuma iseng ganggu kamu Indro..abisnya..heboh sendiri."

"Ya..saya..kena..deh.....ahhhhhh," kata Indro yang nyeleneh.

"Bisa..kamu Indro. Main..yuk. Game on linenya," kata Dono yang mulai serius.

"Males....main..Dono. Nanti aja kalau mut...saya..dateng," kata Indro yang menaruh Hpnya di meja.

"Satu..sama ya," saut Dono.

"Yo.i," kata Indro.

Dono pun mulai mengelak nafas panjang sekali. Indro melihat tinggkah Dono yang sedikit aneh.

"Kalau ada masalah cerita dong?" tanya Indro.

"Sebenarnya gak ada sih. Cuma kalau punya uang 1 milyar Indro gunakan untuk apa?" tanya Dono.

"Kalau saya punya 1 Milyar. Saya sodakohin saja 1 Milyar pada orang miskin..Dono. Supaya terbebas dari kemiskinan."

"Baik..amet kamu Indro. Lalu untuk kamu Indro?" tanya Dono.

"Kalau saya..sih mengkhayal lagi. Toh tu uang 1 Milyar di omongin kamu kan cuma hayalan saja...Dono."

"Bisa..aja......kamua Indro. Padahal kamu tahu saya yang sebenarnya. Jika warisan saya kumpulkan jumlah lebih dari 1 Milyar," Dono mulai serius.

"Iya..deh anak orang kaya baru...," ledek Indro.

"Kaya..lama," saut Dono.

"Kaya..lama.......banget," kata Indro.

"Becanda Indro......."

"Tahulah...nyeleneh..ya..Don."

"Sudahlah..saya..mau melanjutkan kerjaan saya di kamar...Indro."

"Saya..mau main jajan...Don. Mau titip apa Don?"

"Peluk dan cium......," kata Dono yang nyeleneh.

"Duh..saya cinta..pada..mu...Don."

"Manisnya...Indri...eeeee Indro."

"Manis....ya. Cucok..kamu Don."

"Indro..jangan..terlalu jauh ah becandannya...nanti keterusan masuk rumah sakit jiwa."

"Iya...saya pergi..jajan dulu di warungnya Nabila. Asalamualaikum...Don."

"Waalaikum salam," jawab Dono.

Indro bergerak menuju warungnya Nabila. Dono menutup pintu dan segera masuk kamar untuk melanjutkan ketikannya. Sampai juga Indro di warung Nabila segera membeli gorengan yang banyak sambil ngobrol dengan asik. Tiba-tiba Indro melihat Saskia mau belanja ke warungnya Nabila. Dengan cepat-cepat Indro melarikan diri dan tidak lupa membayar gorengan pada Nabila.

"Itu kaya mas Indro," celoteh Saskia.

Saskia jojong membeli gorengan di warung Nabila.

"Seperti biasa..ya..Nabila saya beli gorengannya...jangan lupa cabenya yang banyak."

"Iya..mbak...Saskia."

Nabila langsung membungkuskan gorengan yang di pesan Saskia dan langsung Saskia membayarnya dengan uang pas.

"Ngomong-ngomong..kamu..tadi...ngobrol dengan mas Indro. Ngaku?" kata Saskia dengan tegas baget.

Nabila pun terpojok dan ketakutan dengan sikap Saskia.

"Iya..mbak.... tapi cuma beli jualan saya kok," pengakuan dari Nabila.

"Kamunya..gak salah. Cuma.....mas Indro..aja..yang ganjen.......gak bisa melihat cewek cantik," kata Saskia yang ketus.

"Tapi..kan hal..itu biasa," Nabila mencoba membela mas Indro yang menjadi pelanggannya setianya untuk beli gorengan.

"Biasa..kalau....mas Indro gak punya pasangan. Tapi masalahnya saya pacarnya. Jadi sedikit cemburulah ia main hati dengan yang lain," penjelasan Saskia.

"Oh..jadi..mbak cemburu. Benaran deh..mas Indro..takut sama mbak Saskia. Makanya tadi langsung kabur setelah belanja di sini," penjelasan Nabila.

"Tuh..orang takut salah. Malah main api dasar cowok. Ya..udah Nabila..terima kasih. Asalamualikum," kata Saskia.

"Waalaikum salam," jawab Nabila.

Nabila mulai mengolen adonan lagi dan mengoreng lagi. Saskia pun segera pulang kerumahnya dengan terburu-buru karena ada teman-temannya menunggu di rumah. Indro langsung masuk rumah dan duduk santai di ruang tamu.

"Hampir saya daprat Saskia. Makan gorengan aja..ah," celoteh Indro.

Selang berapa saat Saskia mengirimkan pesan singkat ke seluruh jaringan media sosial di pake Indro.

Isinya:

"Mas...Indro..main..di..api di belakang Saskia..dengan Nabila ya.....!?"

Indro langsung terkejut setelah membacanya pesan singkat lewat Hpnya.

"Saya..kena..batunya..deh," celoteh Indro.

Dono pun terkejut juga ketika memeriksa jaringan media sosialnya Facebook berkenaan dengan Indro yang ketahuan main api dengan cewek lain.

"Wah..kacau..Indro. Bikin heboh..aja......kalau bertengkar di jaringan media sosial," celoteh Dono.

Dono bergerak keluar dari kamar menuju ruang tamu.

"Indro..buat perkara dengan Saskia ya?" kata Dono sambil duduk.

"Iya...jojong..aja. Paling marahnya cuma satu hari," kata Indro.

"Oh..begitu. Gorengan ya..Indro," kata Dono sambil mengambil gorengan di meja.

"Yo.i. Dari..warungnya Nabila," kata Indro.

Saskia yang kesal langsung mengirim lagi pesan singkat ke jaringan sosialnya yang di pake Indro.

Isinya:

"Saskia...marah..sama..mas..Indro satu minggu."

Indro pun membaca pesan singkat tersebut lewat Hpnya. 

"Modar..saya.....marahnya 1 minggu. Gak bisa ngapel dong minggu depan. Kacau kalau cewek udah marah," kata Indro.

"Kalau sudah begitu....sih. Ya..diamin aja. Kamu lebih baik main game aja dengan saya," saran Dono.

"Saya lebih baik....main game aja. Diamin....Saskia. Nanti marahnya redup sendiri. Tapi kalau gak redup juga marahnya saya malah di putus sama...Saskia. Saya patah hati Don."

"Ituh..sih derita kamu Indro. Gorengan ini enak...buatan Nabila kan..Indro."

"Yo.i...Don," saut Indro.

Indro pun asik makan gorengan begitu juga dengan Dono sampai perut kenyang. Setelah itu Dono melanjutkan pekerjaannya mengetik di kamar sedang Indro main game di Hpnya dengan heboh banget.


Karya: No

PERJUANGAN CINTA

Hari yang cerah ini Budi sedang bersantai memandangi langit cerah di bawah pohon beringin yang rindang. Budi mulai menghitung burung yang terbang  di langit 1, 2, 3, dan seterusnya. Rasa perasaan senang terpancar dalam dirinya. Budi pun mulai bergerak dengan berlari menuju sebuah gereja tua. Segera Budi masuk ke dalam gereja tua tersebut dengan layak sebagai seorang katolik yang baik.

Pastur mulai berkotbah hari ini menceritakan tentang kehidupan yang ada sekeliling kita sampai semua umat harus menyakini jalan sebagai katolik benar. Budi sebagai anak kecil yang anjak remaja yang belajar memahami hidup mengamini saja. Usai juga acara di gereja. Budi bergerak keluar dari gereja beserta jamaah yang lang lain.

Budi pun berlari terus berlari dan bertemu dengan teman baiknya Melan di sebuah wihara.

"Hay..Melan," sapa Budi.

"Hay...Budi," jawab Melan.

Budi mendekati Melan yang sedang repot sekali di wihara untuk acara perayaan Imlek.

"Bisa..saya bantu," Budi menawarkan bantuan pada Melan.

"Boleh...tolong geser lilin besar ini bersama saya...ke sisi..sini," kata Melan mengarahkan sesuatu dengan baik.

"Ok..beres," saut Budi yang penuh semangat.

Melan dan Budi bekerja sama dengan baik mengatur lilin yang ada di wihara sampai semuanya sempurna dan tidak ada kesalahan sedikit pun. Lampion pun telah terpasang di langit-langit dengan baik. Semua orang melihat semua hasil yang bagus termasuk Budi dan Melan.

"Kaya..jadi..ni..merayakan Imlek," kata Budi.

"Iya..ini semua...berkat bantuan kamu. Semogan Tuhan membalasnya," kata Melan.

"Dewa....yang benar," saut Budi yang mencoba membenarkan omongan Melan.

"Iya.....Dewa. Tapi saya ingin....menghargai kamu...Budi. Semua..bantuan hari..ini. Kamu adalah orang Katolik," penjelasan dari Melan.

"Gak perlu..segitunya...Melan. Di bawa selaow saja..Melan. Kita hidup tolong menolong. Apalagi kamu teman baik saya," kata Budi.

"Ya..mau kamu begitu saya ikut," kata Melan.

Budi pun mengajak Melan untuk bermain setelah bantu-bantu di wihara untuk perayaan Imlek. Berjalan bersama melintasi pematang sawah sampai di kaki bukit dan ke duanya tiduran di rerumputan yang hijau.

"Indah..ya..Melan langit hari ini," kata Budi.

"Iya," saut Melan.

"Tapi....lebih indah lagi memandang kamu yang cantik," Budi yang menggoda Melan.

"Bisa..aja..kamu..Budi," saut Melan dengan tersipu malu.

Keduanya pun saling memandang dengan tatapan yang cukup lama. Budi punya niat mencium Melan. Sontak Melan bangun dari tidur-tiduran di rumput.

"Jangan..Budi...belum waktunya," penolakan Melan.

"Jika saya menyinggung kamu. Maaf kan saya," kata Budi yang menunduk malu.

"Iya saya maafkan," kata Melan.

Melan pun memegang tangan Budi dan menariknya bangun. Keduanya bermain lagi mengelilingi bukit dan menikmati indahnya alam sampai waktunya pulang. Budi pun mengantar Melan pulang di rumahnya. 

"Sampai besok..Budi," kata Melan.

"Sampai besok ..juga Melan," saut Budi.

Melan pun masuk rumahnya dan Budi pun pulang ke rumahnya dengan perasaan senang sekali. Keesokan harinya. Melan pun merayakan tahun baru Imlek dengan seluruh keluarganya dan teman-temannya di wihara. Budi melihat dari luar wihara perayaan itu dengan penuh ketenangan dan keharmonisan. Setelah menjalankan acara di wihara Melan baru menemui Budi di luar wihara. 

"Budi ikut..saya," ajakan Melan.

"Iya," saut Budi.

Budi mengikuti Melan dengan di pegang tangannya. Sampai di tempat yang sepi dan tidak ada orang keduanya.

"Budi.. Melan mau tanya. Apakah Budi sayang Melan?" 

Budi pun terkejut dengan omongan Melan. 

"Sebenarnya......."

"Sebenarnya..apa?" kata Melan memotong pembicaraan.

"Saya..memang sayang sama kamu.....," kata Budi yang masih berpikir ngomong apa?

Melan langsung menciup bibir Budi dengan cepat sekali.

"Itu..sudah cukup," kata Melan yang malu

Melan pun pergi meninggalkan Budi dengan berlari.

"Saya cinta...kamu...Budi..," teriak Melan yang senang di dalam dirinya.

Budi terkejut sekali.

"Iya...saya juga cinta..kamu..Melan," teriak Budi.

Hubungan Melan dan Budi berjalan dengan baik walau beda suku dan agama sampai mereka benar-benar matang atau dewasa. Waktu berjalan dengan semestinya maju ke depan begitu dengan Budi. Setelah selesai dari bangku kuliah Budi menyadari dirinya banyak potensi dan membangun diri dengan usaha. Sampai pada akhirnya Budi di jodohkan dengan orang tuanya yang sesuai dengan suku dan agamanya.

Budi tidak bisa bicara apapun kalau sudah perintah orang tua dan harus patuh. Dalam diri Budi bergejolak dengan hubungannya di bina dengan Melan sampai sekarang. Ketika Melan tahu Budi di jodohkan hati Melan mulai merasakan sakit. Budi ingin bersama Melan, tapi keadaan tidak memungkinkan sekali. Dan lagi ternyata Melan pun di jodohkan orang tuanya berdasarkan suku dan agama.

Budi mulai menyadari rasa yang di rasakan Melan yaitu pukulan batin. Karena Budi telah dewasa mulailah ia mengambil sikap dan di bantu oleh teman baiknya bernama Abduloh seorang muslim. Usaha Budi pun berhasil membuat kepercayaan pada orang tuanya dan orang tua Melan yaitu bertanggung jawab penuh nafkah lahir dan batin.

Selang waktu yang gak begitu lama akhirnya Budi pun melamar Melan untuk menyempurnakan jalan cinta mereka berdua dengan cara Melan di jadikan umat katolik untuk jalan yang baik dengan satu keyakinan agar hubungan tidak berbenturan beda agama dalam membangun rumah tangga. Melan pun menerimanya dengan yakin dan orang tua Melan pun merelakan jalan anaknya yang terbaik.

Budi pun bahagia dengan Melan dan mereka pun rebaan di rerumputan di kaki bukit sambil melihat langit.

"Langit..itu indah yang Melan," kata Budi.

"Iya," saut Melan.

"Lebih..indah lagi memandang kamu yang cantik," kata Budi menggombal.

Budi dan Melan pandangan dengan cukup lama. Dan akhirnya Budi mencium Melan dengan mersa selayaknya jalan kekasih yang benar yaitu suami istri. Setelah itu mereka seperti biasanya bermain seharian di menikmati alam sekitar dan waktu pun berganti dengan cepat. Melan pun di antar pulang ke rumahnya dan Budi pun ikut juga. Sampai di rumah mereka berdua di sambut dengan baik oleh orang tua Melan adalah orang tua Budi sekarang.


Karya: No

LEBIH BAIK MATI DARI PADA HIDUP

Dono duduk di kursi depan dengan keadaan bengong. Buaian kenangan di dalam benak Dono yang mengingat perjalan cintanya yang ironis. Air matanya mengalir di pipinya Dono. Indro pun terkejut dengan air mata Dono dan segera duduk di samping.
"Dono kenapa kamu menangis?" tanya Indro.

"Saya teringat cinta pertama saya..sungguh menyedihkan," saut Dono.

"Dono..yang sudah meninggal dan menghadap Alloh SWT ikhlaskan. Jalan yang terbaik itu orang yang kamu sayangi," saran Indro.

"Saya..tahu..Indro. Kematian lebih baik dari pada hidup kan," ujar Dono.

"Itu..kamu tahu......Don."

"Saya..tahulah. Saya belajar Al Quran dan seluruh hadistnya......Indro. Akherat dambaan semua orang. Karena mereka mendapatkan semua amalan mereka dibina dari bayi sampai ajal menjemput. Masalahnya..saya mengenangnya orang saya..cintai meninggal dunia ...lebih menyakitkan dari apa pun...ya...Indro."

"Jangan di ingat-ingat Dono. Orang yang telah meninggal jangan di ingat sampai meresap di dalam hati nanti air mata itu mengalir lagi. Ikhlas dan Ikhlas...saja. Kaya lagunya..Inul Daratista. Masa lalu biar masa lalu yang terpenting adalah sekarang masa depan....ya Don. Harus hidup dan jangan pasrah dengan keadaan dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Kaya orang mengejar mimpi mereka menjadi kenyataan di segala bentuk bidang."

"Saya...sih tahu tentang menjalankan optimisme dalam menjalankan hidup. Tapi sekali mengenang orang yang kita cintai....air mata ini mengalir..ya Indro."

"Kalau gitu sih susah butuh waktu untuk melupakannya. Padahal kamu sudah ada penggantinya....untuk menjalankan hidup ini...Dono."

"Saya..tahu..tentang pacar baru saya. Tetapi..inilah masalahnya. Saya tidak ingin menyakitinya.....karena keadaan saya yang teringat dengan kenangan cinta pertama....Indro."

"Hidup jangan di bikin...sulit....buat menjadi senang nanti hilang sendiri...," saran Indro.

"Ok..saya..terima semua masukan kamu dan melupakan kenangan cinta pertama saya yang telah menghadap Alloh SWT...," Dono menerima saran Indro.

Dono menghapus air matanya dan berajak dari duduknya.

"Dono..mau..kemana?" tanya Indro.

"Saya..mau nonton film di bioskop sama Rara sudah janjian sih..Indro."

"Tapi..ingat..jangan.....kamu...menyinggung perasaan Rara..gak baik. Berkenaan dengan cinta pertama kamu. Buat Rara menjadi cinta pertama bukan cinta ke dua. Senangilah dia dengan sepenuh hati maka senang juga hatimu dan melupakan semua kenangan Wulan yang melekat pada diri mu...Dono."

"Beres....Terima kasih atas sarannya." kata Dono.

"Ya..sama-sama," saut Indro.

Dono pun bergerak keluar rumah.

"Don...," panggilan Indro.

"Apa?" saut Dono.

"Kunci," kata Indro sambil melempar kunci pada Dono.

"Terima..kasih...ya..Indro."

Dono langsung keluar rumah dan masuk mobil. Dengan membaca "Bismilahirohmanirohim" Dono menghidupkan mobilnya dan bawanya dengan baik menuju rumah Rara. Indro pun senang melihat temannya bahagia lagi dan menutup pintu rumah.

"Gara-gara..Dono saya lupa nawarin makan gorengan. Padahal..gorengan ini..enak. Ada pedagang baru yang cantik namanya Nabila," celoteh Indro.

Indro duduk di ruang tengah sambil menyetel Tv dan menonton acara musik dan sambil makan gorengan yang enak. 

"Gokil..acara...nya. Nyeleneh ....niiii," kata Indro.

Indro asik nonton Tv sampai tertawa terpingkal-pingkal karena melihat aksinya dari para artis yang menghibur para penonton di studio. Sedangkan Dono pun sampai di rumah Rara. Dengan penuh rasa bahagia Dono keluar dari mobil dan Rara sudah di depan teras rumah dengan cantik banget. 

"Dek..ayo," ajakan Dono.

"Ya..kak," jawab Rara.

Dono dan Rara langsung masuk mobil dan berangkat untuk nonton di bioskop dengan kesepakatan bersama nonton film PSP (Pancaran Sinar Petromars) dan OKB (Orang Kaya Baru) di salah satu mall di kota ini.


Karya: No

Thursday, January 31, 2019

GOKIL...GOKIL..GOKIL

Dono asik mengetik di depan leptopnya. Sedang Indro asik menonton Tv.  Kasino baru pulang dari kerjaannya langsung masuk rumah dan berkata "Asalamuaikum."

"Waalaikum salam," jawab Dono.

Kasino duduk bersama Dono dan membukakan kotak kue. 

"Makan Dono..ada sedikit rezeki ini...martabak," kata Kasino sambil makan martabak.

"Iya," saut Dono masih asik mengetik di leptopnya.

Indro mencium bau enak makan dan mendengar kata kue langsung bergerak di ke ruang tamu dan duduk bersama Kasino.

"Makan..ya," kata Indro.

"Iya," jawab Kasino.

"Asik.....makan," kata Indro.

Indro pun mencomot kue di kotak langsung di makannya.

"Enak...enak..enak..kue martabaknya," kata Indro.

"Enak kan," saut Kasino.

"Saya pindah dulu ya..mau nonton.... Kasino."

"Acara....Indro?"

"Acara..lawak..bagus banget lawaknya Gilang dan kawan-kawan...Kasino."

"Gimana dengan Jirayut....Indro?"

"Masih ..garing...Kasino."

"Oh...gitu...masih banyak belajar...ya..Indro."

"Yo.i.......Kasino."

Indro nonton lagi Tv dan Kasino pun ikutan juga. 

"Kok..ikutan nonton..Kasino?" tanya Indro.

"Ya..nyari hiburan...Indro....dari pada bengongkan," kata Kasino.

"Yo.i," saut Indro.

Indro dan Kasino asik nonton Tv. Dono akhirnya selesai juga mengetiknya dan langsung di simpen semua data ketikannya baru leptop di matikan.

"Beres juga," celoteh Dono.

Leptop di taruh di meja. 

"Cobain kue bawaan ...Kasino," celoteh Dono.

Dono menikmati martabak dan langsung menutup pintu rumah baru melihat keadaan Kasino dan Indro di ruang tengah.

"Kalian berdua...asik banget nonton Tvnya?" tanya Dono.

"Lagi..asik..nonton lawak..Dono," saut Indro.

"Lawak...apa saya gak salah liat," kata Dono sambil mengusap-ngusap matanya.

"Dono yang benar itu...lomba acara menyanyi.....," saut Kasino.

"Jadi..kamu bohong Indro.....," kata Dono.

"Ya..enggaklah...orang dari tadi selingannya ada yang ngelawak kaya OVJ (Opera Van Java)," penjelasan Indro.

"Bener..Dono..tadi ada..yang lawak. Rara.....," kata Kasino.

"Rara..gak salah ngelawak..... Bukannya Soimah...," kata Dono.

"Bukan....Irfan Hakim dan Ramzi," kata Indro.

"Mulai..ngelanturnya. Nyeleneh....yang bener yang mana?" tanya Dono.

"Ya...benar....Parto," jawab Indro.

"Parto..OVJ lagi..... Padahal..yang sebenarnya...Nazar..yang ngelawak," kata Dono.

"Sama..aja..ngelanturnya. Yang..benar...Inul Daratista..yang ngelawak....," kata Kasino.

"Sudah-sudah..tambah...ngacok. Yang benar....Gilang..yang ngelawak," kata Dono.

"Itu..tahu," saut Kasino dan Indro bersamaan.

Dono kembali keluar tamu mengambil leptopnya di ruang tamu dan dibawanya. Kasino beranjak dari duduknya menuju kamar untuk berganti baju dan istirahat. 

"Loh..Kasino mana?" tanya Dono.

"Di kamar Dono....mau ganti baju. Mungkin istirahat...capek kerja," kata Indro.

"Oh..begitu," saut Dono.

"Dono..Rara..hari ini..cantik banget," pujian Indro untuk artis di ti Tv.

"Rara..penyanyi dangdut..acara Tv LIDA 2019.....ya...Indro,"

"Iya...kamu kirain....Rara yang mana..Dono?"

"Saya kirain..Rara....pacar..saya...Indro."

"Ah...kamu ...Dono..selalu di kaitkan dengan urusan pribadi."

"Saya mau isttirahat dulu..Indro."

"Iya...Don..."

Dono masuk ke kamarnya untuk istirahat karena capek menjalankan aktivitas hari ini dan Indro tetap asik menonton acara Tv yang ada selingannya lawak atau nyanyi..ya.


Karya: No

KEJORA

Seorang pemuda yang bernama Ridho sedang berjalan pulang ke rumah dengan jalan kaki. Untuk menghilangkan rasa letihnya Ridho duduk di sebuah pos kambling. Tak sengaja Ridho menemukan sebuah buku yang tergeletak begitu saja, tapi judul buku tersebut  adalah Kejora.

"Buku yang menarik," celoteh Ridho.

Ridho mulai mengambil buku tersebut dan mulai membacanya. Dengan seksama tetapi tiba-tiba muncul banyak cahaya kecil seperti kunang-kunang keluar dari buku. Ridho pun masuk ke dalam demensi waktu dan berada di tengah-tengah orang yang bersorak-sorai untuk mendukung penyanyi yang mengejar impiannya menjadi juara. 

"Kenapa saya di sini?" celoteh Ridho.

Ridho mencari tahu dengan membaca buku kembali lalu keluar lah cahaya kecil seperti kunang-kunang. Pindahlah Ridho ke demensi waktu yang lain. Saat itu Ridho lagi duduk ruang tunggu saat orang ingin lomba menyanyi.

"Kenapa saya di sini?" celoteh Ridho.

Ridho tidak ingin membuka buku lagi. Tapi ternyata Ridho malah di suruh menyanyi oleh pengatur acara.

"Mbak saya tidak...ikutan lomba ini?" tanya Ridho.

"Adek..kan peserta ikutan lomba nyanyi di sini. Karena itu adek duduk di situ menungu giliran," penjelasan yang mengatur acara lomba musik.

"Mbak..beneran saya gak ikutan," kata Ridho berusaha menolak.

"Dek..sudah waktunya. Naik..sana menyanyi. Jadi lah juara," kata pengatur acara musik.

"Astaga," kata Ridho.

Ridho membuka bukunya kembali dan membaca dengan seksama. Muncul lagi cahaya kecil yang seperti kunang-kunang. Ridho masuk demensi waktu lagi dan berada di atas panggung. Musik pun di mainkan dengan apik. Ridho mau gak mau menyanyi dengan penuh keberanian sampai memukau juri dan para penonton.

Saat Ridho mau di komentari langsung membuka buku dan membacanya dengan seksama. Muncullah cahaya kecil dari buku kaya kunang-kunang. Ridho pun masuk ke demensi waktu dan berada di dalam kamar.

"Saya..di mana lagi," celoteh Ridho.

Ridho mondar-mandir ke sana dan ke sini di dalam kamar dan masuklah gadis cantik ke dalam kamarnya. Ridho pun terkejut sekali.

"Siapa kamu?" tanya gadis cantik.

"Maaf mbak.....," kata Ridho.

"Dasar maling.......," kata gadis cantik menuding.

Gadis cantik tersebut mengambil semua benda di lempar ke Ridho.

"Ampun..ampun..mbak saya bukan penjahat?!," kata Ridho.

Ridho pun membuka buku dan di baca seksama. Keluarlah cahaya kecil seperti kunang-kunang. Ridho masuk demensi waktu lagi dan berada lagi di panggung dan menjadi juara pertama dalam pertandingan musik. Ridho tambah bingung dengan elu-elu semua orang. Ridho membaca buku kembali keluar cahaya kecil seperti kunang-kunang. Ridho masuk demensi waktu, tapi kembali ke pos kamling.

"Saya..pos kamling...berarti saya pulang ke waktu saya. Buku ini..benar-benar aneh. Penulisnya siapa ya. Haaa....Lesti si juara menyanyi dangdut," kata Ridho.

Ridho menaruh lagi buku itu di pos kamling dan lebih baik pulang ke rumahnya. Selang berapa lama datenglah seorang gadis cantik mengambil buku tersebut.

"Untung...gak di ambil orang. Buku diari perjalanan hidup saya menjadi penyanyi dangdut," celoteh gadis cantik.

Gadis cantik membawa buku diarinya pulang ke rumahnya. Ridho pun sampai di rumahnya dan melupakan kejadian yang terjadi pada dirinya.


Karya: No

APA YANG SAYA TAKUTI

Malam begitu larut sekali. Doni sedang memilih barang yang akan di belinya di mini market. Rasa kantuk mulai datang Doni pun menguap sangat lebar sekali. 

"Bener-bener hari yang sangat melelahkan," celoteh Doni.

Dateng 2 orang yang berpenampilan biasa-biasa aja tapi pake topeng dan memarkirkan motor. Lansung masuk ke dalam mini market. 2 orang tersebut mengeluarkan pistol  yang di yang di todongkan kearah kasir.

"Serahkan uang.....sekarang juga," kata salah satu penjahat memakai topeng.

"Iya..iya..," jawab karyawan mini market.

Doni terkejut perampokan di mini market. Rasa keadilannya muncul dan memberanikan diri untuk melawan perampok. Doni mengambil kaca mata tranparan untuk pelindung mata. Lalu mengambil sebuah pisau kecil. Setelah itu  mengambil senjata pistol mainan yang di isi peluru dulu. Mulai Doni menyerang 2 penjahat yang bersenjatakan pistol. Doni mulai menembak dengan pistol mainan ke arah mata 2 penjahat secara bergantian. 

"Ahhh," teriak penjahat menahan sakit di mata para penjahat secara bergantian.

2 penjahat pun memang melawan, tapi karena kelincahan dari Doni berhasil menanganinya. Saat itu langsung pisau di gunakan untuk melukai pada jari-jari tangan musuhnya untuk menjatuhkan pistol di tangan 2 penjahat. Doni berhasil mengalahkan musuhnya dengan cepat dan karyawan mini market pun membantu Doni untuk meringkus penjahat. 2 penjahat  mengalami pendarahan di jari-jari tangannya dan berusaha menahan rasa sakitnya. Segera Doni menjatuhkan mereka berdua di lantai di bantu karyawan mini market. Doni memeriksa senjata yang dipakai 2 penjahat.

"Ternyata senjata mainan juga dasar penjahat kacangan. Gertak sambel aja," celoteh Doni.

Setelah itu topeng dibuka oleh karyawan mini market dan terkejut mereka semuanya. Ternyata adalah karyawan yang kerja di mini market di pecat karena berbuat ulah alias tidak bertanggung jawab pada pekerjaan.

Doni pun membayar semuanya pada kasir apa yang dia pake untuk menanggulangi kejahatan sekaligus membayar makan-makan yang di belinya. Doni pun pulang ke rumah. Barulah petugas setempat datang dan polisi juga.

"Telat kerjaan para petugas malam ini dan polisi. Kejahatan telah terjadi dan di koordinir oleh penjahat karena sakit hati," celoteh Doni.

Doni pun berjalan di tengah malam yang bertaburkan bintang. Tiba-tiba hujan. Doni pun berlari dengan sangat cepat. Hujan pun makin deras. Doni memutuskan untuk iyup di pos kamling. Ternyata ada seorang yang iyup juga di pos kambling adalah seorang wanita cantik baru pulang kerja terlihat dari pakaiannya. 

Doni mulai kedinginan karena hujan makin lebat sekali dan angin bertiup sangat kencang. Sang wanita yang iyup pun kedinginan juga. Doni ingin berkenalan dengan wanita tersebut mempung kondisinya lagi berduaan. Dengan berani menyapa wanita tersebut. Tiba-tiba wanita berubah wujudnya yang sangat menyeramkan.

"Setan...," teriak Doni.

Doni langsung langkah seribu dan meninggalkan wanita jadi-jadian di pos kamling di malam yang hujan deras sekali. Sampai di rumah Doni segera berbenah diri dan tidur dengan lampu yang terang. Esok harinya Doni menonton Tv berita pagi. Dalam berita tersebut menjelaskan ada kejadian wanita di bunuh di pos kamling oleh beberapa preman. Doni langsung sok menonton berita tersebut.

"Jadi benar yang saya temui kemarin malam adalah hantu penasaran di pos kamling. Setan....," teriak Doni

Doni langsung mematikan Tvnya dan segera pergi dari rumahnya menuju ke rumah temannya  yang tidak jauh dari lingkungan sekitar untuk menghilangkan ketakutannya bertemu dengan roh penasaran.


Karya: No

Wednesday, January 30, 2019

APA YANG DI CARI DALAM DIRI ORANG DI SUKAI

Siang hari yang tenang Dono duduk di ruang tamu sambil mengetik di depan leptopnya dengan penuh keseriusan. Indro paru pulang dari urusan kerjaannya dan langsung masuk rumah lalu duduk bersama Dono.

"Dono...serius amat?" Indro yang mengganggu Dono.

"Iya," saut Dono dan akhirnya menghentikan mengetiknya pada leptopnya.

"Dono gimana kencan kamu sama Rara?" tanya Indro.

"Sukses. Tapi ngomong-ngomong kenapa jam segini udah pulang kerja?" kata Dono.

"Kamu kaya gak tahu aja. Saya wirausaha jadi jam kerja saya yang ngatur ya saya," penjelasan Indro.

"Oh..begitu," saut Dono.

Dono mulai mengetik lagi di depan leptopnya.

"Dono gimana dengan Rara?" tanya Indro.

"Baik," jawab Dono.

"Gimana dengan Wulan?" tanya Indro.

Dono pun menghentikan mengetiknya pada leptopnya.

"Wulan. Kebohongan atau kah kejujuran yang harus saya ceritakan..ya Indro."

"Ya..kejujuran yan terpenting...bukan kebohongan Dono."

"Kalau begitu..sih. Wulan itu sudah gak ada alias sudah pulang keramattulloh. Yang sekarang adalah Rara penggantinya Wulan. Tetap saja jika saya ingin mencintai Rara sepenuhnya saya harus membuang bayang-bayang Wulan agar tidak menyinggung Rara....ya kan Indro."

"Harus..bisa Don. Melupakan Wulan. Karena Wulan sudah tenang di alam sana. Sedangkan yang hidup ini terus mencari jawaban dari perjalan hidup agar jalannya menjadi baik dan tidak hancur karena sebuah keadaan saja. Rara adalah masa depan kan...ya kan Don."

"Iya.... Setelah saya menjalankan hubungan dengannya akhirnya saya mengerti Rara bisa saya cintai sepenuh hati saya....ya kan Indro."

"Itu semua kamu yang merasakan hubungan kamu baik dengan Rara. Tapi sebenarnya  saya punya pertanyaan yang cukup kompleks untuk kamu Dono."

"Apa..itu...?" saut Dono.

"Kenapa kamu memilih Rara?" tanya Indro.

"Kenapa Rara saya..pilih ya? Benar-benar..saya harus ngomong dari mana ceritanya. Dari sini aja. Ada sesuatu di dalam diri Rara yang membuat saya berreaksi untuk tertarik padanya. Seperti dua kutup yang berlainan dan saling tarik menarik keduanya..itu saja Indro."

"Kalau begitu sih respon.....yang biasa dan lumrah seperti yang lainnya....ya kan Don."

"Iya. Tapi sebenarnya ada.yang saya sembunyikan untuk hal yang spesial. Jadi orang lain tidak boleh tahu," kata Dono.

"Kalau..hal yang spesial sih ..hanya kamu yang tahu saya sih gak perlu tahu. Karena saya tidak ingin tahu. Padahal saya tahulah yaitu gak jauh-jauh dari jiwa Rara itu sendiri....ya..kan Dono."

"Ya..benar..Indro. Jiwa Rara. Mengingatkan saya pada Wulan. Maka itu saya ingin bersamanya. Tapi saya harus menghapuskan kenangan Wulan pada saya. Dan akhirnya saya merasakan perasaan sebenarnya dari Rara. Jiwa dia yang sebenarnya terlihat jelas di mata saya dan merasakan perasaan dari hatinya Rara. Anaknya baik dan berbudi luhur yang baik dan pantes di perjuangkan untuk pelengkap hidup saya..ya kan Indro."

"Sebagai teman saya mendoakan agar hubungan kamu dengan Rara terus langgeng sampai sebuah jawaban yang paling benar yaitu pernikahan yang di ridoi semua orang. Kalau begitu saya kerja lagi. Cuma istirahat. Ok..Don."

"Ok..Indro. Semoga sukses usahanya."

"Ya," saut Indro.

Indro keluar dari rumah dan pergi ke tempat kerjaanya di daerah sekitar rumah. Dono kembali mengetik di leptopnya dengan judul tulisan "Cinta Masa Depan adalah Rara". Setelah selesai mengetik semua ide tertuang semuanya menjadi tulisan yang bagus. Dono mulai mematikan leptopnya dan menaruhnya di kamarnya lalu bergegas pergi untuk main ke rumah Rara.

"Entar dulu jam segini Rara gak ada di rumah?" celoteh Dono.

Dono tidak jadi kerumah Rara berganti tujuan untuk main ke tempat kerjaan Kasino dan sekalian bantu-bantu di sana.


Karya: No

CAMPUR ADUK

HUM DIL DE CHUKE SANAM

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik...

CAMPUR ADUK