CAMPUR ADUK

Friday, June 18, 2021

KEINGINAN DHRUVA

Dono mau baca buku di ruang tamu. Eeeee ternyata tidak jadi, ya buku di taruh di meja. Dono masuk kamarnya dan segera mengetik di leptopnya karena dapet ide untuk membuat cerita. Kasino selesai urusan kerjaannya, ya keluar dari kamarnya. Saat di ruang tengah, ya memang Kasino melihat Indro asik nonton Tv. Kasino tidak ingin nonton Tv, ya ingin main game....jadi ke ruang tamu. Di ruang tamu Kasino melihat bukunya Dono di atas meja. Kasino tertarik ingin membaca buku jadi di ambil buku di meja. Kasino membaca judul buku tersebut "Keinginan Dhruva."

Kasino membuka buku dan segera membacanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Kasino :

Penghuni istana, terutama raja, sedang bergembira. Pasalnya, permaisuri baru melahirkan seorang anak laki-laki, yang kelak akan menjadi putra mahkota. Anak laki-laki itu diberi nama Dhruva. Peramal istana mengatakan bahwa kelak keluarga raja akan hidup sangat bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak disambut oleh salah satu selir raja. Ia merasa iri. Dengan segala kelicikannya, selir itu berhasil mengusir permaisuri dan Dhruva dari istana.

Permaisuri dan Dhruva pun harus tersingkir dan hidup di hutan. Dhruva yang masih sangat kecil, tak sempat mengenal ayahnya sendiri.

Beberapa tahun berlalu, Dhruva telah tumbuh. Ia mulai menanyakan tentang ayahnya.

“Seperti apa rupa Ayah, Bu?” tanya Dhruva suatu ketika.

“Ayahmu adalah laki-laki yang sangat baik, kuat, dan bijaksana,” balas Ibu Dhruva.

“Jika memang Ayah baik dan bijaksana, mengapa ia tega membuang kita ke hutan? Aku rindu pada Ayah, Bu,” ujar Dhruva.

Ibu Dhruva bingung. Ia tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia takut Dhruva akan menemui raja, dan merasa kecewa jika raja kembali mengusirnya.

“Suatu saat ketika kamu dewasa, kamu akan bertemu dengan ayahmu. Ayahmu adalah Dewa Wishnu,” ucap ibu Dhruva.

Mendengar jawaban ibunya, Dhruva semakin penasaran. Ia ingin menemui Dewa Wishnu.

“Aku tak mau menunggu hingga dewasa, Ibu. Aku ingin bertemu Ayah,” rengek Dhruva.

Ibu Dhruva ragu, tapi ia tak tega melihat anaknya terus merengek. Akhirnya, ia mengizinkan Dhruva menemui ayahnya. Dhruva pun pergi meninggalkan rumah untuk mencari Dewa Whisnu. Perjalanan yang sangat panjang, membuat Dhruva kelelahan. Ia pun beristirahat di bawah pohon rindang.

Saat itulah, Dewa Narada menemuinya. Ia penasaran dengan Dhruva, dan menanyakan apa keinginannya. Dhruva mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan ayahnya, yaitu Dewa Wishnu. Mendengar hal itu, Dewa Narada mengajak Dhruva ke rumahnya, Ia mengajari Dhruva cara berdoa dan bertapa.

Melihat Dhruva sangat bersungguh-sungguh dengan keinginannya, terketuklah hati Dewa Wishnu. Setelah sekian lama bertapa, Dewa Wishnu menemui Dhruva, dan menanyakan keinginannya.

“Aku ingin selalu dekat denganmu, Ayah. Aku juga ingin melihat ibuku bahagia,” jawab Dhruva.

“Aku akan mengabulkan keinginanrnu, anakku. Kamu akan selalu dekat denganku, sedangkan ibumu akan bahagia di istana,” ucap Dewa Wishnu.

Dewa Wishnu lalu mengubah Dhruva menjadi sebuah bintang di langit, agar Dhruva selalu dekat dengannya. Tiba-tiba, ibu Dhruva dijemput oleh raja untuk kembali ke istana. Rupanya, raja baru mengetahui kelicikan selirnya. Selir itu pun dihukum oleh raja.

Ibu Dhruva juga baru tahu, jika Dhruva telah berubah menjadi bintang di langit. Setiap malam, ibu Dhruva melambaikan tangan ke bintang itu. Bintang itu pun berkelip membalas lambaian tangan ibunya. Bintang itu tak pernah berpindah arah, sehingga para nelayan menjadikan bintang itu sebagai penunjuk arah pada malam hari.

***

Kasino berhenti membaca buku.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuat ceritanya," kata Kasino.

Kasino membaca dengan baik pesan moral di tulis di buku "Jadilah anak yang baik dan tangguh, maka kelak kamu akan menjadi anak yang sukses dan bahagia."

Kasino memahami benar pesan moral tersebut. Buku di tutup sama Kasino dan di taruh di meja. Kasino pindah duduk, ya dari ruang tamu ke ruang tengah untuk menonton Tv. Di ruang tengah, ya Kasino duduk bersama Indro. Keduanya asik nonton Tv yang acaranya bagus gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Zaman dulu. Banyak manusia menganut ajaran agama Hindu kan?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Mungkin. Leluhur kita....zaman dulu, ya menganut ajaran agama Hindu," kata Indro.

"Mungkin sih," kata Kasino.

"Dari proses pemahaman ini dan itu....sampai perkawinan. Maka pada akhirnya kita menganut agama Islam. Jadi kita harus menghormati agama Hindu, ya bisa saja agama itu di anut leluhur kita awalnya," kata Indro.

"Omongan Indro benarlah. Menghormati agama lain, maksudnya sih Hindu. Toleransi gitu," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Kisah cerita ajaran Hindu itu menarik karena cerita para Dewa. Ya kaya cerita para Dewa Yunani yang di angkat ke film, ya jadinya bagus banget untuk di tonton kan. Hiburan kan!" kata Indro.

"Omongan Indro benar lagi. 1000 poin!" kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Ooooo iya Kasino. Main dukun itu masih ada kan?!" kata Indro.

"Di mana manusia membutuhkan kekuatan gaib. Ya pasti menjalankan jalan perdukunan. Sama cerita orang dulu. Cerita ada di film gitu," kata Kasino.

"Memperlancar usaha, ya kaya gitu dan paling penting mendapat jodoh yang diinginkan," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

"Zaman telah maju. Teknologi. Dengan belajar dengan baik, ya dapat mengembangkan usaha dengan baik jadinya kaya dan akhirnya bisa mendapatkan jodoh yang di inginkan," kata Indro.

"Pola berpikir orang pinter. Ya benarlah omongan Indro," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Ya sudahlah. Fokus nonton Tv aja!" kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget gitu. Sedangkan Dono di kamarnya sedang mengetik di leptopnya dengan baik banget.

KISAH KUCING KARKAL DAN BURUNG PUYUH

Kasino dan Indro di ruang tengah asik nonton Tv. Acara yang di tonton lawak gitu. 

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Kenapa Dono membuat cerita dengan kebiasaan Dono yang baca buku cerita ya?!" kata Indro.

"Kalau itu sih tanya ke Dono-nya!" kata Kasino.

"Kata Dono sih. Sekedar bercerita saja," kata Indro.

"Seperti biasanya saja. Sekedar cerita saja," kata Kasino.

"Cerita yang di baca Dono. Ya di tulis di Blog, ya sesuai dengan apa yang di baca. Padahal Dono bisa membuat cerita itu sesuai dengan keinginan Dono," kata Indro.

"Maksudnya dirubah gitu?!" kata Kasino.

"Maksudnya itu..dirubah!" kata Indro.

"Kalau cerita dirubah...jadinya sih versi Dono yang mengubah cerita. Cenderung di buat cerita fantasi gitu," kata Kasino.

"Khayalan Dono..ya kan Kasino?!" kata Indro

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget. Dono di ruang tamu sedang baca buku dengan baik banget. 

Isi cerita yang di baca Dono :

Disebuah gurun luas serta gersang hanya beberapa tumbuhan yang mampu hidup disana seperti rumput-rumputan dan jenis tumbuhan kaktus, kehidupan di gurun sangat sulit khususnya untuk para hewan, mereka harus berjuang mencari makanan yang jumlahnya terbatas, mencari minum yang hanya berada di oase dan juga mereka harus bersiap-siap kabur dari para pemangsa. Suatu hari seekor kucing sedang karkal berjalan di bebatuan mencari makanan, sudah lima hari perutnya tidak diisi namun sang karkarl tidaklah merasakan lapar yang sangat luar biasa karena dirinya telah terbiasa hidup digurun tanpa makanan selama 2 minggu. Karkal berjalan menuju sebuah oase yang letaknya tidak jauh dari tempatnya, sang karkal berharap ada seekor tikus maupun burung yang bisa ia tangkap disana.

Ketika sang karkal mendekati oase, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tempat untuk melihat keadaan oase dengan jelas, lalu sang karkal mengincar hewan yang sedang minum disana setelah mendapatkan calon hewan untuk dimangsa, sang karkal mengendap-endap di sela-sela rerumputan kering dan ketika posisi sang karkal telah tepat maka sang karkal langsung menerkamnya. Namun hal itu tidak terjadi karena ketika sang karkal mengendap-endap sebuah tulang yang dijatuhkan burung vulture dari udara mengenai kaki belakang sang karkal hingga membuat kaki sang karkal terluka. Hewan buruannya kaget melihat sang karkal menjerit lalu pergi, sedangkan sang karkal harus menahan sakit yang dia derita setelah sebuah tulang keras menghantam kaki belakangnya.

Tidak jauh dari oase seekor burung puyuh mendengar jeritan sang karkal, dia memutuskan untuk melihat apa sebenarnya yang telah terjadi kepada seekor karkal. Ketika sampai sang burung puyuh itu bertanya “Tuan kucing telinga panjang, apa yang terjadi padamu bagaimana bisa kakimu terluka seperti itu?” 

Sang karkal menjawab “Ketika sedang berburu sebuah tulang jatuh dari langit dan mengenai kaki belakangku, kini aku harus berjalan dengan 3 kaki karena satu kakiku sulit aku gerakan.” 

Burung puyuh itu merasa kasihan melihat keadaan karkal, tadinya burung puyuh tidak mau membantunya karena sang burung tahu bahwa sang karkal sering bermusuhan dengan burung puyuh namun hal itu tidak membuat burung puyuh meninggalkannya.

Akhirnya burung puyuh memberikan bantuannya kepada sang karkal 

“Tuan kucing telinga panjang, apa aku boleh membantumu?” kata sang burung puyuh.

“Kau ini sedang mengejekku ya, aku ini seekor kucing dan kau seekor burung bisa saja aku menangkapmu ketika kau membantuku,” jelas sang karkal pada burung puyuh.

“Hal itu tidak membuatku mengurungkan niatku membantumu, begini saja tuan telinga panjang selama aku mengobatimu kita lupakan permusuhan kita dan setelah kau sembuh baru kita boleh bermusuhan lagi bagaimana kau setuju?” jelas sang burung puyuh.

 “Baiklah lagi pula aku tak sanggup mengejarmu dengan kakiku yang seperti ini, aku setuju dengan usulanmu.”

Sang burung mengobati luka kaki kucing karkal hingga sembuh dan kini sang karkal mampu melompat dan berlari seperti biasa

“Kau telah mengobati lukaku burung yang tak bisa terbang, hingga aku mampu berburu lagi, wahai burung puyuh tadinya setelah aku sembuh aku akan langsung menyerangmu namun aku tidak akan melakukan sesuatu hal baik yang telah kau lakukan padaku meskipun kita adalah musuh, aku akan selalu mengingat jasamu,” kata sang karkal.

Sang kucing itu langsung meninggalkan burung puyuh sambil berlari dan meloncat-loncat ke bebatuan.

***

Dono berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus banget. Pinter yang membuatnya," kata Dono.

Dono pun membaca pesan moral yang tertulis di buku.

"Kisah Kucing Karkal dan Burung Puyuh adalah tolonglah orang lain yang kesusahan walaupun dia sering berbuat tidak baik terhadap kita. Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula," kata Dono.

Dono memahami pesan moral tersebut. Buku di tutup sama Dono dan di taruh di meja. Dono beranjak dari duduk dari ruang tamu ke ruang tengah, ya untuk menonto Tv. Kasino dan Indro masih asik nonton acara Tv yang bagus banget, ya lawak gitu. Donolah bersama Kasino dan Indro. Ketiganya nonton acara Tv yang bangus banget gitu.

Thursday, June 17, 2021

ALIBABA DAN GEROMBOLAN PERAMPOK

Dono, Kasino dan Indro selesai dari sholat jum'at segera pulang ke rumah. Sampai di rumah. Dono mengetik di kamarnya dengan baik. Kasino menonton Tv di ruang tengah, ya acara Tv yang di tonton berita seputar ini dan itu...pokoknya menarik di tonton saja. Indro di ruang tamu, ya ingin main game di Hp-nya. Saat melihat bukunya Dono di meja, Indro jadi tertarik gitu. Indro mengambil buku tersebut.

"Alibaba dan gerombolan perampok. Judul buku ini," kata Indro.

Indro mulai membuka buku tersebut dan membacanya dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Dahulu kala, hiduplah dua bersaudara di sebuah kerajaan di negeri Arab. Mereka adalah Kassim dan Alibaba. Kassim sehari-hari berdagang di pasar. Sedangkan adiknya, Alibaba, adalah seorang penebang kayu. Suatu hari, seperti biasanya Alibaba memotong kayu di hutan. Saat sedang mengayunkan kapaknya, Alibaba mendengar suara tanah yang berdebam karena kaki kuda. Alibaba berhenti sejenak untuk melihat siapa yang datang. Ia sangat terkejut ketika melihat puluhan orang berkuda mendekat ke arahnya. Alibaba segera berbalik dan mencari tempat sembunyi. Sayangnya, ia tak menemukan tempat yang cukup aman. Tanpa pikir panjang Alibaba segera memanjat pohon. Dahan dan daun menutupi tubuhnya sehingga tak terlihat dari kejauhan. Dari atas pohon, Alibaba mengamati orang-orang yang datang. Tak jauh dari pohon tempat Alibaba bersembunyi, orang-orang itu menambatkan kuda-kudanya. Mereka turun dari kuda. Masing-masing memanggul kantong yang besar, kecuali seorang pria bertubuh tinggi besar. 

“Hei! Cepat berkumpul di sini!” panggil pria tinggi besar itu. 

“Orang itu mungkin pemimpin kawanan ini,” gumam Alibaba dari atas pohon. 

Pria-pria lain langsung mendekat dan mengerumuninya. Dugaan Alibaba memang benar. Alibaba terus mengawasi mereka karena penasaran. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. 

“Buah kurma buah ara, pintu gua cepat buka!” Pria tinggi besar itu berteriak lantang. 

Dalam sekejap, pintu gua terbuka. Rupanya pria itu telah memantrai batu-batu yang menutupi gua sehingga terbuka dengan sendirinya. Alibaba berusaha mengingat-ingat mantra yang diteriakkan pemimpin kawanan itu. Alibaba merasa pegal terus berada di atas pohon. Kawanan pria yang diintainya sudah cukup lama masuk ke dalam gua. Kaki dan tangan Alibaba mulai gemetar. Ia berniat turun dari pohon. Namun, tiba-tiba kawanan pria yang masuk ke gua satu per satu mulai keluar. Alibaba mengurungkan niatnya. Dia bertahan di atas dahan. Kawanan itu keluar sambil tertawa-tawa puas. Kantong-kantong yang mereka panggul sudah tak ada lagi. Mereka keluar dengan tangan kosong. 

“Kita bisa berpesta malam ini!” ujar salah seorang di antaranya. 

“Ya. Hasil yang kita dapatkan cukup banyak. Kita bisa beristirahat barang sebulan,” kata pria lain.

“Kalian benar. Ayo, kita rayakan! Kaki unta tak berkatup, pintu gua cepat tutup!” Pria tinggi besar itu meneriakkan sebuah mantra lagi. 

Batu-batu yang menutup gua bergerak sendiri kembali ke tempatnya. Anak buahnya segera menutupi pintu gua dengan daun kering dan semak-semak. Mereka kembali naik ke kudanya. Satu per satu kuda dipacu pergi meninggalkan gua di tengah hutan itu. Alibaba memastikan semua anggota kawanan itu sudah pergi meninggalkan gua. Perlahan-lahan ia turun dari tempat persembunyiannya. Alibaba mendekati pintu gua. Ia menyingkirkan semak dan dedaunan yang menutupinya. Pintu gua tertutup rapat. Batu-batu menutupinya hingga tanpa celah. Tak ada yang mengira bahwa di balik batu itu ada sebuah gua. Alibaba ingin mencoba masuk ke dalam gua. Ia memastikan tak ada orang lain di sana. Alibaba berusaha mengingat-ingat mantra untuk membuka pintu gua. Beberapa kali ia salah mengucapkannya. Pintu gua tak mau terbuka. 

“Buah kurma kaki unta, pintu gua cepat buka!” ujar Alibaba.

Ia menunggu-nunggu pintu gua terbuka. 

“Ah, salah lagi. Pintunya masih tertutup juga. Apa, ya, tadi mantranya? Kalau terlalu lama di sini aku bisa ketahuan,” gumam Alibaba cemas. 

“Akan kucoba sekali lagi. Kalau tak berhasil, lebih baik aku pulang saja sebelum orang-orang itu kembali.” 

Alibaba maju semakin dekat ke pintu gua. 

“Buah kurma buah ara, pintu gua cepat buka!” ucapnya perlahan.

Kali ini mantra Alibaba benar. Pintu gua mulai terbuka. Batu-batu yang menutup pintu gua satu per satu bergeser ke tepi. Alibaba tersenyum senang. Ia segera masuk ke dalam gua. Gua itu begitu gelap. Alibaba menyalakan salah satu obor yang tergantung di dinding gua. Agar aman, Alibaba memutuskan membaca mantra untuk menutup pintu gua. 

“Kaki unta tak berkatup, pintu gua cepat tutup!” Pintu gua pun kembali tertutup oleh bebatuan. 

Alibaba masuk semakin jauh ke dalam gua. Ia menyusuri lorong gua yang sempit, gelap, dan pengap. Hampir saja Alibaba membatalkan niatnya untuk melihat isi gua. Namun, Alibaba diliputi rasa penasaran yang besar. 

“Apa, ya, yang mereka simpan di dalam gua ini? Semoga bukan sesuatu yang menakutkan atau berbahaya,” gumam Alibaba dalam hati. 

Saat tiba di ujung gua, Alibaba terperangah. Ia kini berada dalam ruangan gua yang jauh lebih luas daripada lorong yang ia lewati sebelumnya. Yang lebih membuatnya takjub adalah barang-barang yang terkumpul di sana. Sinar obor yang dibawa Alibaba memantul dan membuat benda-benda berharga di hadapan Alibaba tampak berkilauan. Perhiasan-perhiasan emas, tumpukan koin dinar, pedang berlapis emas, permata-permata yang mahal, dan sutra-sutra yang indah terhampar di depannya. Alibaba hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 

“Orang-orang itu sepertinya para perampok dan semua barang berharga ini pasti hasil curian mereka. Akan berbahaya bila aku berlama-lama di sini. Lebih baik aku segera pergi,” kata Alibaba pada dirinya sendiri. 

Namun sebelum meninggalkan gua itu, Alibaba memenuhi kantong-kantong bajunya dengan beberapa perhiasan. Ia segera kembali ke rumah. Alibaba berlari sekencangnya sampai hampir kehabisan napas.

“Ada apa denganmu, Suamiku?” tanya istri Alibaba. 

Ia terkejut melihat suaminya datang sambil berlari. 

“Minumlah dulu, tenangkan dirimu.” 

Alibaba menghabiskan air minum yang dibawakan istrinya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal. 

“Apa kau dikejar binatang buas?” tanya istri Alibaba. Alibaba menggeleng. 

“Apa kau bertemu orang jahat?” tanya istrinya lagi. 

Kali ini Alibaba tak menjawab. 

“Lalu apa yang membuatmu terengah-engah seperti ini?” Sang istri semakin penasaran dengan tingkah suaminya. 

“Aku melihat sekawanan perampok saat menebang kayu di hutan,” jawab Alibaba. 

“Ha? Lalu apa yang mereka lakukan? Apa mereka melukaimu?” istri Alibaba tampak khawatir.

“Tidak. Mereka tidak melihatku. Aku bersembunyi.”

“Oh, syukurlah kalau begitu,” ujar istri Alibaba lega. 

Alibaba bangkit dari duduknya. Ia menutup semua pintu dan jendela rumahnya. Sang istri heran melihatnya. Alibaba lalu mulai merogoh kantong-kantong bajunya dan mengeluarkan perhiasan yang dibawanya. Sang istri terperangah.

“Dari mana kau dapatkan semua perhiasan ini?” Alibaba pun menceritakan kisahnya.

Perhiasan yang ia ambil dari gua sebenarnya tak banyak dibandingkan jumlah perhiasan yang ada di sana. Namun kehidupan sederhana yang ia jalani bersama istrinya selama ini membuat apa yang ada di hadapan mereka tampak luar biasa banyak.

“Lalu, mau kita apakan perhiasan-perhiasan ini? Aku tak mungkin memakainya. Orang akan curiga melihat perhiasan seindah ini melekat di tubuhku.”

“Ya, kau benar. Percuma juga kita berlama-lama menyimpannya. Tak akan memberikan manfaat apa pun untuk kita.”

“Bagaimana kalau kita jual saja? Kita bisa mendapatkan uang. Kita pakai uang itu untuk modal berdagang. Dengan begitu kau tak perlu bersusah payah lagi menebang kayu di hutan,” usul istri Alibaba.

“Aku setuju dengan usulmu.” 

“Tapi, Suamiku, perhiasan ini barang curian, bukan?” Alibaba mengangguk. 

“Dan kau mengambilnya dari para perampok. Bukankah sama saja kita mencuri?” Istri Alibaba tersadar barang-barang itu bukan hak mereka. 

“Kau betul. Kalau begitu begini saja. Anggap kita meminjam perhiasan curian ini. Kita jual. Uangnya kita pakai untuk modal. Setelah kita mendapatkan untung dan bisa menjalankan usaha kita sendiri, kita kembalikan uang ini kepada yang berhak.”

“Siapa yang berhak? Kita tak tahu perampok itu mencuri dari mana.”

Alibaba pun bingung. 

“Kita kembalikan ke baitul mal saja. Kita katakan yang sebenarnya pada bendahara kota nanti bila usaha kita sudah berjalan baik. Kurasa itu pilihan paling masuk akal.” 

Istrinya akhirnya setuju. 

“Kalau begitu, lebih baik kita timbang dulu emas-emas ini,” tambah Alibaba. 

“Kita tak punya timbangan. Aku akan pergi ke rumah Kassim dan meminjam timbangannya,” balas istrinya. 

“Pergilah. Tapi ingat, rahasiakan semua ini dari siapa pun termasuk Kassim dan istrinya,” pesan Alibaba.

Istrinya mengangguk. Istri Alibaba segera pergi ke rumah iparnya. Kassim berdagang gandum. Ia memiliki beberapa timbangan di tokonya. Ia pasti tak keberatan meminjamkan salah satu timbangannya. Namun, Kassim tak ada di toko saat istri Alibaba tiba di sana. Istri Kassim yang sedang berjualan di toko.

“Kakak, bolehkah aku meminjam salah satu timbanganmu?” 

“Untuk apa?” tanya istri Kassim.

“Ada beberapa barang yang ingin kutimbang.” 

Istri Kassim curiga. Ia lalu berkata, “Baiklah. Sebentar aku ambilkan. Segera kembalikan setelah kau selesai memakainya. Kami juga membutuhkannya.” 

Istri Kassim mengambil salah satu timbangannya. Namun, sebelum ia menyerahkan timbangan itu pada istri Alibaba, ia telah mengoles lem pada timbangan itu. Ia ingin tahu apa yang ditimbang oleh adik iparnya. Setelah istrinya tiba, Alibaba segera menimbang emas-emas yang dia dapatkan. 

“Aku akan menjual sebagian emas ini. Sisanya simpanlah dulu,” ujar Alibaba pada istrinya.

“Kenapa begitu?”

“Untuk berjaga-jaga bila ternyata usaha kita nanti kurang lancar. Setidaknya kita punya cadangan untuk modal berikutnya. Selain itu, orang pasti akan curiga kalau aku menjual emas sebanyak ini.”

Istrinya mengangguk setuju. Ketika Alibaba pergi menjual perhiasan emas, istrinya pergi mengembalikan timbangan yang ia pinjam. Ia sama sekali tak menyadari ada serpihan emas yang menempel di timbangan. 

“Terima kasih, Kak. Aku kembalikan timbanganmu.”

“Ya, taruh saja di situ,” ujar istri Kassim sambil melayani pembeli. 

Saat toko sedang sepi, istri Kassim buru-buru memeriksa timbangan yang dipinjam istri Alibaba.

“Pasti ada yang menempel di sini. Tadi aku sudah mengoleskan lem yang kuat,” gumamnya. 

Istri Kassim sangat terkejut menemukan serpihan emas menempel di timbangannya. Ia bertanya-tanya dari mana adik iparnya yang miskin itu mendapatkan emas, apalagi sampai perlu ditimbang. Istri Kassim menyimpan rasa ingin tahunya. Ia menunggu suaminya pulang untuk memberitahukan kabar itu. 

“Suamiku, aku punya kabar yang menarik untukmu,” kata istri Kassim tak sabar saat suaminya baru saja tiba. 

“Kabar apa?” Kassim meletakkan barang-barang yang ia bawa dari kota untuk dijual di tokonya.

“Masuklah dulu, akan kuceritakan kepadamu.”

Istri Kassim menarik lengan suaminya. Mereka masuk ke dalam rumah. Ia lalu menceritakan tentang emas yang menempel di timbangan yang dipinjam istri Alibaba.

“Emas? Mana mungkin Alibaba punya emas? Hidupnya saja susah. Tak tentu makan setiap hari,” ujar Kassim tak percaya. 

“Tapi ini buktinya!” Istri Kassim masih bersikukuh dengan pendapatnya. 

“Adikmu itu memang miskin. Tak mungkin punya emas yang sampai harus ditimbang dengan timbangan sebesar ini. Tapi siapa tahu dia baru saja menemukan harta karun,” lanjut istri Kassim. 

“Atau merampok?” kata Kassim dengan nada mengejek.

“Tak mungkin itu. Dia bukan orang seperti itu,” sangkal istri Kassim. 

“Ayolah, pergi dan tanyakan padanya! Siapa tahu kita bisa mendapatkan bagian emas seperti mereka,” bujuk istri Kassim. 

Kassim berpikir-pikir. Tak ada salahnya juga bertanya. Kalaupun Alibaba ternyata tak memiliki emas-emas itu, Kassim pun tak rugi apa-apa. Keesokan harinya Kassim pergi ke rumah Alibaba. Alibaba baru saja akan pergi ke kota untuk membeli barang-barang yang akan dijual lagi di pasar. 

“Kakak? Ada perlu denganku?” tanya Alibaba setelah mempersilakan kakaknya masuk ke rumahnya yang reyot. 

Tanpa basa-basi Kassim pun mengutarakan maksudnya. Ia menanyakan pada Alibaba tentang emas yang tertinggal di timbangan yang dipinjamnya. Tentu saja Kassim tidak bilang kalau timbangan itu sudah diberi lem oleh istrinya. Awalnya, Alibaba menolak memberi tahu Kassim. Alibaba saja tak berani mendekat ke gua itu lagi. Terlalu berbahaya jika sampai ketahuan para perampok yang menyimpan curiannya di sana. Tapi Kassim terus mendesaknya. Alibaba pun menyerah. Alibaba menceritakan semua yang dialaminya di hutan pada kakaknya, juga tentang gua dengan pintu bermantra dan barang curian yang ada di dalamnya. 

“Apa isinya hanya perhiasan emas?” tanya Kassim antusias. 

“Tidak. Ada sutra, barang-barang antik, dan benda berharga lainnya.” 

“Kalau begitu aku harus ke sana. Benda-benda itu seperti harta karun saja. Ayo, kau antar aku gua itu!” pinta Kassim. 

“Tidak! Aku tak mau ke sana. Para perampok bisa datang kapan saja. Mereka terlihat sangat bengis. Bisa-bisa kita tak pulang kalau sampai kepergok mereka.” 

“Kita intai saja dulu. Paling tidak tunjukkan saja gua itu padaku. Biar aku yang masuk sendiri.” 

Kassim lebih senang jika ia masuk ke gua itu sendiri. Dengan begitu ia tak perlu membagi harta di gua itu dengan Alibaba. Ia bisa memilikinya sendiri. Kassim memang seorang yang tamak. Alibaba akhirnya mau memenuhi permintaan Kassim. Ia mengantar Kassim sampai ke dekat gua. Mereka bersembunyi di semak-semak. Alibaba memberitahukan mantra untuk membuka dan menutup pintu gua pada kakaknya. 

“Ingat baik-baik. Jangan sampai salah!” pesan Alibaba. 

“Ya, ya, gampang sekali mantranya. Aku pasti ingat. Sekarang pergilah. Kembali pulang. Aku bisa sendiri.” 

Kassim mengusir Alibaba pulang. Ia tak sabar ingin memasuki gua penuh harta itu. Gua terlihat sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran para perampok di sana. Kassim berhasil mengucapkan mantra untuk membuka pintu gua. Namun, ia tidak berpikiran untuk menutup pintu gua itu selagi dia ada di dalam. Kassim membiarkan pintu gua terbuka. Ia berjalan masuk ke dalam gua sampai ke ujungnya. Kassim terkesima melihat barang-barang berharga terhampar di hadapannya. 

“Dengan harta sebanyak ini, aku tak perlu lagi bersusah payah bekerja. Semua ini tak akan habis dimakan sampai tujuh turunan,” ucapnya sambil terkekeh.

Kassim pun mengemasi harta para perampok ke dalam karung. Saking banyaknya, karung yang dibawa Kassim tak cukup untuk menampungnya. Kassim merasa sayang meninggalkan harta yang tersisa. Ia membongkar lagi karungnya dan menata ulang agar harta-harta itu bisa masuk semua di dalamnya. Ketamakan mengalahkan kewaspadaannya. Kassim begitu asyik dengan harta-harta itu. Ia tak menyadari ada suara gaduh di luar sana. Di luar, ternyata kawanan perampok baru saja tiba. Pemimpin mereka terkejut melihat pintu gua terbuka. 

“Siapa yang telah berkhianat? Pintu gua ini telah kuberi mantra. Tak ada yang tahu selain kawanan kita!” ujarnya marah. 

Pemimpin perampok memeriksa satu per satu anak buahnya. Tak satu pun yang absen. Mereka semua lengkap ada di sana. 

“Ini tidak mungkin. Siapa orang yang telah berusaha masuk untuk mencuri harta kita? Cepat periksa!” perintahnya. 

Dua orang anak buahnya yang bertubuh besar masuk ke dalam gua. Mereka berjalan mengendap-endap agar sasaran mereka tak menyadari kehadirannya. Mereka menemukan Kassim sedang memasukkan harta curian mereka ke dalam karungnya. Dengan mudah kedua anak buah perampok itu meringkus Kassim. Kassim sangat terkejut. Ia ketakutan melihat kawanan perampok yang bengis dan mengerikan. Badan mereka besar. Mereka pun membawa senjata tajam. Ada pedang, golok, dan belati yang tajam.

“Habislah aku,” ratap Kassim. 

Ia menyesal berlama-lama di dalam gua. Seharusnya dia tadi tak membongkar lagi karungnya tapi segera membawa harta itu pergi. Tapi sesal tak ada artinya lagi sekarang. Anak buah perampok menyeret Kassim menghadap pemimpinnya. Pemimpin kawanan perampok itu sangat marah. Ia tak mau ada orang lain yang tahu tempat persembunyian mereka. Ia pun memerintahkan anak buahnya menghukum Kassim. Sementara itu, istri Kassim sangat cemas di rumahnya. Sudah tiga hari Kassim tidak pulang. Ia pun menemui Alibaba dan menanyakannya. Alibaba mengatakan Kassim telah pergi ke gua untuk mengambil harta para perampok. 

“Tolonglah, Alibaba, cari kakakmu itu!” ucap istri Kassim sambil menangis. 

Alibaba menjadi iba. Ia pun pergi ke hutan mencari Kassim. Alibaba mengintai gua dari kejauhan. Ketika dirasa aman, ia mendekat ke gua itu. Alibaba terkejut menemukan Kassim tersungkur tak jauh dari pintu gua. Tubuhnya penuh luka. Ketika memeriksanya, ternyata Kassim sudah tak bernyawa. Para perampok pasti telah memergoki kakaknya. Alibaba sangat bersedih. Ia menyesal telah menceritakan tentang gua penuh harta itu pada Kassim. Tapi sekali lagi, sesal sekarang tak ada artinya. Alibaba pun menggendong kakaknya pulang ke rumah untuk dimakamkan. 

***

Indro selesai baca bukunya.

"Ceritanya bangus banget. Kalau tidak salah pernah di angkat film atau sinetron atau kartun ya?!" kata Indro.

Indro menaruh buku di meja. Indro tidak jadi main game di Hp-nya, ya pindah deh duduknya dari ruang tamu ke ruang tengah. Duduklah Indro di sebelah Kasino. Keduanya asik nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Ada orang yang beragama Islam kerja dengan orang China beragama Konghucu. Orang Islam itu mau ibadah, tapi ternyata tidak di bolehkan sama orang China yang agama Konghucu itu...gimana pendapat Kasino?!" kata Indro.

"Orang China yang agama Konghucu itu....ibadah atau tidak?!" kata Kasino.

"Orang China itu...ibadah sesuai dengan keyakinannya sih agama Konghucu," kata Indro.

"Melarang orang ibadah sesuai dengan keyakinannya. Padahal dirinya orang China itu ibadah sesuai dengan keyakinannya, tetap bodoh juga. Berarti...hukumannya di buat sama aja tidak boleh ibadah juga...orang China itu!" kata Kasino.

"Bodoh toh!," kata Indro.

"Cerita Indro itu pernah di angkat ke film, tapi cerita berbeda. Orang China beragama Kristen bekerja dengan orang China beragama Konghucu. Orang China beragama Kristen ingin ibadah, tapi di larang sama Orang China beragama Konghucu," kata Kasino.

"Melarang orang ibadah sesuai dengan keyakinannya. Padahal dirinya orang China itu ibadah sesuai dengan keyakinannya, tetap bodoh juga. Berarti bener omongan Kasino. Hukumannya tetap sama tidak boleh ibadah juga!" kata Indro.

"Semua itu persoalan kecil di masyarakat. Kurangnya pemahaman ilmu agama yang di pelajari atau di yakini dengan baik. Maka itu hal yang di takukin bisa berkembang menjadi besar. Timbullah konflik...berkepanjang. Perang pendapat, mungkin bisa lebih perang tindakan," kata Kasino.

"Ini semua cuma sekedar cerita saja dan ada ceritanya di masyarakat yang pernah merasakannya," kata Indro.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh lagi!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget gitu.

ASAL MULA PULAU IRIAN

Dono dan Indro, ya ruang tengah sedang nonton Tv. Acara Tv yang di tonton, ya acara olahraga gitu lebih tepatnya sepak bola gitu. Dono dan Indro terbawa suasana dengan tontonannya di Tv, hal biasa kalau nonton sepak bola di Tv gitu. Kasino yang selesai mengerjakan kerjaannya di kamarnya, ya keluar dari kamar ke ruang makan untuk makan karena laper gitu. Tahu-tahu di meja ada sebuah buku. Kasino tertarik dengan buku tersebut dan membaca judul buku tersebut "Asal Mula Pulau Irian."

Kasino duduk dan segera membuka buku tersebut, ya di bacanya dengan baik banget.

Isi buku cerita yang di baca Kasino :

Di kampung Sopen, Biak Barat pada zaman dahulu tinggal sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak lelaki. Salah seorang dari anak tersebut bernama Mananamakrdi. Di sekujur tubuh Mananamakrdi dipenuhi kudis. Sangat berbau ia hingga orang-orang tidak tahan berdekatan dengannya. Karena itu Mananamakrdi sangat dibenci, tidak hanya oleh orang-orang di dalam sukunya, melainkan juga oleh saudara-saudara kandungnya. Saudara-saudara kandungnya sudah tidak tahan lagi mendapati Mananamakrdi berada di dekat mereka hingga mereka pun mengusir Mananamakrdi dari rumah mereka.

Mananamakrdi berjalan ke arah timur hingga ia tiba di sebuah pantai. Ia lantas mengarungi lautan luas dengan menaiki perahu yang tertambat di pantai itu. Beberapa saat berlayar, Mananamakrdi mendarat di pulau Miokbudi. Mananamakrdi memutuskan untuk tinggal di pulau itu.

Di pulau Miokbudi banyak ditumbuhi pohon sagu dan juga kelapa. Setiap hari Mananamakrdi memangkur sagu, dari pagi hingga sore hari, untuk memenuhi kebutuhan makannya. Ia juga menyadap air nira dengan bambu dan mernbuat tuak yang dilakukannya setelah selesai memangkur sagu. Pada suatu sore Mananamakrdi terkejut ketika mendapati bambu yang digunakannya untuk menyadap air nira telah kosong. Mananamakrdi sangat kesal. Pada malam harinya Mananamakrdi duduk di pelepah daun kelapa untuk menangkap pencuri air niranya. Hingga larut malam si pencuri belum juga datang.

Menjelang datangnya pagi, sesuatu yang bersinar dari langit mendekati pohon kelapa tempat Mananamakrdi menunggu. Sesuatu itu lantas hinggap di pohon kelapa dan meminum seluruh air nira sadapan Mananamakrdi. Sebelum sesuatu itu hendak kembali, Mananamakrdi bergerak cepat untuk menangkapnya.

“Siapa engkau?” seru Mananamakrdi.

“Aku Sampan si bintang pagi,” jawab sesuatu yang bersinar itu. “Lepaskan aku karena matahari hampir terbit.”

Mananamakrdi tak ingin buru-buru melepaskan Sampan. Ia meminta Sampan menyembuhkan penyakit kudisnya dan memberinya seorang gadis berwajah cantik untuk diperistrinya.

Sampan bersedia memenuhi keinginan Mananamakrdi. Ia menyarankan agar Mananamakrdi menuju pantai di dekat hutan itu. Di pantai itu tumbuh pohon bitanggur. Kata Sampan, “Jika ada gadis yang engkau kehendaki tengah mandi di pantai, lemparkan satu buah bitanggur ke laut. Niscaya gadis itu akan menjadi istrimu.”

Mananamakrdi menuruti saran Sampan. Ia menuju pantai di mana terdapat pohon bitanggur besar Dilihatnya beberapa gadis tengah mandi di pantai itu. Tak ada seorang pun dari gadis-gadis itu yang menarik minatnya. Ia lantas menunggu di bawah pohon bitanggur itu. Pada suatu sore Mananamakrdi melihat seorang gadis berwajah sangat cantik mandi di pantai. Mananamakrdi terpesona padanya. Ia lantas memanjat pohon bitanggur dan melemparkan buah bitanggur ke laut.

Gadis cantik itu bernama Insoraki, putri Kepala Suku dari Kampung Meokbundi. Buah bitanggur yang dilemparkan Mananamakrdi mengenai tubuhnya ketika ia tengah mandi. Meski telah dibuangnya jauh jauh, buah bitanggur itu kembali mendekati dan mengenainya. Karena jengkel, Insoraki lantas pulang ke rumahnya.

Tak berapa lama kemudian Insoraki mengalami kejadian yang sangat mengejutkan. Ia mengandung. Orangtua dan segenap warga Kampung Meokbundi menjadi gempar dan terheran-heran. Bagaimana mungkin Insoraki yang belum bersuami itu mengandung, sementara Insoraksi dikenal sebagai gadis yang baik akhlaknya?

Berselang sembilan bulan kemudian Insoraki melahirkan seorang bayi lelaki. Kembali keanehan didapati warga Kampung Meokbundi ketika melihat bayi lelaki itu tidak menangis ketika dilahirkan, melainkan tertawa. Bayi lelaki itu lantas diberi nama Konori dan dibuatlah pesta ketika bayi itu diberi nama. Mananamakrdi datang menghadiri pesta tersebut. Ketika mendapati Mananamakrdi, Konori mendadak merangkak menuju Mananamakrdi dan berteriak-teriak, “Ayaaah …!”

Orang-orang terperanjat. Kian terperanjat mereka saat Konori menjelaskan bahwa lelaki berpenyakit kudis di sekujur tubuhnya itu adalah ayahnya. Mananamakrdi dan Insoraki akhirnya dinikahkan. Sejak Mananamakrdi tinggal di kampung Meokbundi, Kepala Suku dan warga kampung meninggalkan kampung mereka karena tidak tahan mencium bau busuk dari tubuh Mananamakrdi. Jijik pula mereka melihat tubuh Mananamakrdi yang penuh dengan kudis itu. Kampung Meokbundi pun akhirnya sepi dan hanya dihuni Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori.

Mananamakrdi merasa sedih mendapati kenyataan itu. Ia pun menagih janji Sampan. Ia pun mendapat petunjuk. Mananamakrdi lalu membakar kayu-kayu kering. Setelah api membesar, ia memasuki api besar yang membakar itu. Keajaiban pun terjadi. Mananamakrdi keluar dari nyala api dengan tubuh bersih dari penyakit kudis. Wajahnya sangat tampan.

Sejak peristiwa tersebut Mananamakrdi mempunyai berbagai kesaktian. Mananamakrdi lantas menyebut dirinya Masren Koreri yang berarti lelaki yang suci.

Pada suatu hari Mananamakrdi berdoa. Terciptalah kemudian sebuah perahu layar. Mananamakrdi lantas mengajak anak dan istrinya untuk melayari laut luas. Mereka mendarat di wilayah Mandori, di dekat Manokwari. Mananamakrdi dan anak serta istrinya lantas memutuskan berdiam di tempat yang berbukit-bukit itu.

Cuaca di Mandori jika pagi hari sangat dingin dan diselimuti kabut tebal. Ketika matahari terbit, udara berubah menjadi hangat dan kemudian menjadi panas. Ketika mendapati cuaca yang panas, Konori berteriak-teriak memanggil ayahnya,

“Ayah … Irian! Irian!”

Maka, sejak saat itu wilayah itu pun disebut dengan nama Irian yang di dalam bahasa Biak berarti panas.

***

Kasino selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang buat ceritanya," kata Kasino.

Kasino membaca pesan moral yang tertulis di buku tersebut "Setiap penyakit itu diturunkan Tuhan dengan obat penyembuhnya. Oleh karena itu jika kita sakit, wajib kita berusaha mencari obat kesembuhannya."

Kasino memahami pesan moral yang tertulis di buku tersebut.

"Berarti tentang wabah penyakit yang berkembang saat ini. Ya covid-19, ya obatnya vaksin itu sih. Pesan moral di buku itu sesuai dengan keadaan," kata Kasino.

Kasino menutup buku tersebut dan segera membuka tudung saji, ya makan gitu. Kasino dengan asik makan sampai perutnya kenyang. Setelah itu, ya di cucilah piring dan gelas....habis di pakai di belakang. Piring dan gelas bersih di taruh di rak. Kasino ke ruang tengah untuk menonton Tv bersama Dono dan Indro. Acara Tv masih acara sepak bola sih. Dono dan Indro masih terbawa suasana tontonan dengan baik. Kasino duduk bersama Dono dan Indro. Ketiganya asik nonton acara Tv yang bagus banget....sepak bola.

PUTRI SALJU DAN TUJUH KURCACI

Dono main ke rumah Rara, ya biasa urusan anak muda mudi zaman sekarang bisa di bilang pacaran gitu ....kangen-kangenan. Obrolan Dono dengan Rara yang romantis kaya cerita artis Billy dekat dengan artis Memes gitu atau kaya artis Risky sama Lesti. Pokoknya cerita artis tema cinta, ya menggelitik sih di hati.....bagus gitu!!!.  Tiba-tiba Dono dapet telpon dari Kasino urusan kerjaan gitu. Dono pamit dengan Rara untuk kerja gitu. Dono pun meninggalkan Rara, ya berangkat ke tempatnya Kasino dengan menggunakan motor. Rara memang sendiri di rumahnya. Rara teringat sebuah buku Dono yang ketinggalan gitu. Rara ke kamarnya untuk mengambil buku. Ternyata buku berada di meja belajar. 

"Buku ini yang ingin aku baca. Teringat kenangan masa anak-anak suka baca buku cerita," kata Rara.

Rara membawa buku tersebut keluar dari kamarnya menuju ruang tengah. Duduk Rara di ruang tengah dan membaca judul buku yang ingin di bacanya "Putri Salju dan Tujuh Kurcaci."

Rara membuka buku tersebut dengan baik dan segera membacanya dengan baik pula.

Isi buku yang di baca Rara :

Pada jaman dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Putri Salju. Dia baik dan lembut serta bersahabat dengan semua hewan. Suatu hari, Putri Salju bertemu dengan seorang pangeran yang menawan. Saat mereka sedang menyanyikan sebuah lagu cinta, ibu tiri Salju Putih yang jahat, sang Ratu, mengawasi mereka.

Ratu sangat cemburu dengan kecantikan putri salju sehingga dia memerintahkan pemburu Huntsman untuk membunuh sang putri. Tapi si pemburu Huntsman tidak mau menyakiti Putri Salju. Dia menyuruh sang Putri pergi jauh sehingga Ratu tidak akan pernah menemukannya. Putri Salju pergi jauh ke dalam hutan. Dia tersesat dan ketakutan hingga dia menemukan sebuah pondok. Sang Putri mengetuk, tapi tidak ada orang di pondok itu. Perlahan dia melangkah masuk. Pondok itu berantakan! Dengan bantuan teman-teman hutannya, Putri Salju membersihkan setiap sudut didalam pondok itu

“Mungkin siapa pun yang tinggal di sini akan membiarkan aku tinggal,” kata Putri Salju.

Di lantai atas, Putri Salju menemukan tujuh tempat tidur kecil. Dia berpikir itu milik anak-anak. Lelah setelah membersihkan seluruh rumah, Putri Salju menguap dan tertidur lelap di ranjang. Sementara itu di sisi hutan yang lain, tujuh Kurcaci berjalan menuju pondok mereka dengan penuh semangat. Setelah bekerja di tambang permata seharian hal yang paling mereka inginkan saat ini adalah beristirahat di pondok mereka yang hangat.

Tujuh Kurcaci terkejut saat mereka menemukan seorang putri di dalam pondok mereka! Saat Putri Salju terbangun, dia terpesona oleh Tujuh Kurcaci: Dopey, Sneezy, Happy, Grumpy, Doc, Bashful, dan Sleepy. Para kurcaci ingin melindungi putri cantik itu dari ratu yang jahat, jadi mereka mengundang Putri Salju untuk tinggal bersama mereka disana. Untuk merayakannya, mereka bernyanyi dan berdansa semalaman.

Di istana, Ratu mengetahui bahwa Putri Salju masih hidup. Dia sangat Marah, dia membuat ramuan ajaib untuk mengubah penampilannya. Rencananya adalah untuk menipu sang putri. Setelah para kurcaci berangkat kerja hari berikutnya, sang Ratu menyamar sebagai wanita pedagang kelontong tua, menawari Putri Salju sebuah apel merah yang indah. Putri Salju mengigit apel itu dan tertidur lelap. Ratu telah meracuninya!

Ketika Para Kurcaci pulang, mereka mengejar Ratu ke puncak sebuah gunung yang penuh badai. Tiba-tiba, petir menyambar gunung, membuat sang ratu terjatuh ke dalam jurang dan tidak pernah terlihat lagi. Semetara itu Putri Salju masih terlelap. Tujuh Kurcaci terus menjaganya siang dan malam. Akhirnya Pangeran Tampan Putri Salju tiba. Dia telah mencari-cari Putri Salju ke seluruh penjuru kerajaan. Pangeran membangunkan Putri Salju dengan ciuman cinta sejati. Mantra jahat itu musnah, Putri Salju dan Pangeran kembali ke kerajaan dan hidup bahagia selamanya.

***

Rara berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus dan pernah di angkat ke film. Cerita sepanjang masa," kata Rara.

Rara pun menutup buku ceritanya dan buku di taruh di meja. Rara pun mengambil remot di meja untuk menonton Tv. Rara milih chenel Tv yang acaranya bagus gitu. Terpilihlah acara Tv, ya film gitu. Dengan seksama Rara menonton film itu, ya pokok bagus gitu...film yang di tonton film Putri Salju di buat versi terbaru jadi luar biasa bagus banget gitu. Rara asik nonton film tersebut.

Wednesday, June 16, 2021

LEGENDA PULAU KEMARO

Rara yang masih duduk di SMP, ya setelah pendidikan sekolah selesai sih langsung pulang ke rumah. Di rumah, ya Rara berganti baju dan makan-makanan buatan Ibu yang enak banget. Rara ingin main sih jadi Rara ke rumah Tiara seperti biasanya. Sampai di rumah Tiara, ya ternyata Tiara tidak ada di rumah. Rara kembali pulang di rumahnya. Rara di rumah sedikit bosan tidak ada teman yang di ajak bermain. Rara teringat dengan dengan buku cerita yang ia pinjam dari perpustakaan sekolahnya. Rara segera mengambil bukunya. Buku yang mau di baca berada di dalam tas, ya setelah di keluarkan dari tas.

"Buku ini yang ingin ku baca. Legenda Pulau Kemaro," kata Rara

Rara membawa bukunya ke ruang tamu. Duduk di ruang tamu dengan santai, ya mulailah Rara membuka bukunya dengan baik dan segera di baca dengan baik pula.

Isi buku cerita yang di baca Rara dengan baik :

Pulau Kemaro adalah sebuah delta kecil di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Ada sebuah cerita rakyat tentang Pulau Kemaro yang konon berkaitan dengan kisah cinta seorang putri raja Sriwijaya, Siti Fatimah dengan seorang saudagar asal Tiongkok, Tam Bun An. Konon pada masa pemerintahan Sriwijaya, memerintah seorang Raja yang bijaksana yang memiliki seorang putri cantik bernama Siti Fatimah.

Pada suatu ketika, sekelompok saudagar dari Tiongkok yang dipimpin oleh Tam Bun An, datang ke kerajaan Sriwijaya. Tam Bun An mendengar kabar dari masyarakat sekitar tentang kecantikan Siti Fatimah, putri Raja Sriwijaya. Atas saran nakhoda kapal, Tam Bun An kemudian pergi ke istana untuk menemui Siti Fatimah. Mereka kemudian datang ke istana dengan membawa arak-arakan alat musik mengikuti Barongsai.

Melihat keributan di depan istana, putri raja segera keluar untuk melihat. Siti Fatimah sangat terkesan dengan pertunjukan barongsai tersebut. Tam Bun An akhirnya bisa bertemu dengan Siti Fatimah. Mereka kemudian saling mengenal. Sejak saat itu keduanya sering bertemu. Akhirnya benih cinta tumbuh di antara keduanya.

Raja Sriwijaya mengetahui hubungan anaknya dengan Tam Bun An, dan memanggil Tam Bun An. Di hadapan Raja, Tam Bun An mengutarakan niatnya untuk melamar Siti Fatimah. Namun Raja keberatan karena perbedaan adat.

“Baginda Raja. Aku bermaksud melamar putrimu, Siti Fatimah, menjadi istri pelayanku. Aku sangat mencintainya,” kata Tam Bun An.

"Anak-anak muda, kita memiliki kebiasaan yang berbeda. Saya juga tidak ingin anak saya di bawa ke China,” kata Raja.

“Jika itu keinginan Raja, maka saya bersedia tinggal di tanah Sriwijaya,” kata Tam Bun An yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Siti Fatimah.

"Baiklah kalau begitu aku setuju untuk menikahkan anakku denganmu. Tetapi untuk membuktikan keseriusan Anda, Anda harus menyerahkan sembilan toples besar emas murni,” kata Raja.

Tam Bun An senang mendengar penjelasan raja. Dia berjanji untuk menyerahkan sembilan tempayan besar berisi emas murni. Tam Bun An segera mengirimkan surat kepada orang tuanya di daratan China melalui seekor burung merpati, untuk mengirimkan sembilan guci besar berisi emas, agar ia bisa melamar gadis yang ia cintai. Tak lama kemudian, muncul surat balasan dari orang tua Tam Bun An yang menyatakan bahwa mereka akan segera mengirimkan sembilan tempayan emas permintaannya.

Orang tua Tam Bun An segera menyiapkan permintaan anaknya. Karena perjalanan yang begitu panjang, khawatir dengan tindakan para perompak di tengah laut, orang tuanya menaruh sayuran busuk di atas toples emas untuk menipu para perompak.

Beberapa bulan kemudian, sebuah kapal yang membawa sembilan guci emas dari orang tua Tam Bun An tiba di dermaga Pemerintah. Tam Bun An mengajak Raja dan Siti Fatimah naik ke kapal. Tam Bun An segera membuka toples emas itu. Betapa terkejutnya dia menemukan isinya hanyalah sayuran busuk. Ia lalu membuka toples lagi dan ternyata isinya sama, sayur busuk. Karena marah, Tam Bun An kemudian melemparkan guci-guci itu ke Sungai Musi. Satu per satu guci dia lempar ke sungai. Saat hendak melempar guci kesembilan, guci itu jatuh ke lantai dan pecah hingga mengeluarkan sebatang emas murni. 

Mengetahui hal itu, Tam Bun An menyesal membuang delapan guci emas itu. Siti Fatimah berusaha menenangkan kekasihnya. Demikian pula Raja Sriwijaya berusaha menenangkan Tam Bun An. Raja berkata bahwa Tam Bun An dapat menikahi putrinya karena syarat telah dipenuhi.

"Tuan Raja. Saya sangat menyesal telah membuang toples emas. Biarkan saya menyelam ke sungai untuk mengambil emas itu kembali,” Tam Bun An langsung melompat ke sungai meski dihentikan oleh semua orang.

Orang-orang di dermaga menunggu dengan cemas, karena setelah sekian lama, Tam Bun An belum juga muncul ke permukaan. Siti Fatimah terlihat sangat panik. Dia terlihat melompat ke sungai mengikuti kekasihnya. Orang-orang mencoba menghentikan Siti Fatimah dari melompat, tetapi sudah terlambat. Siti Fatimah memberanikan diri ke sungai untuk mencari kekasihnya. Raja Sriwijaya segera berteriak menyuruh orang-orang melompat ke sungai, mencari Siti Fatimah dan Tam Bun An. Setelah berjam-jam, orang-orang bahkan tidak berhasil menemukan keduanya. Mengetahui hal ini, Raja Sriwijaya menjadi sangat sedih.

Bertahun-tahun setelah kejadian, tempat Tam Bun An dan Siti Fatimah berkelana, muncul endapan atau delta yang terus meluas hingga menjadi sebuah pulau. Orang menamakannya Pulau Kemaro . Kemudian warga membangun masjid dan pura untuk menghormati sepasang Putri Fatimah & Tam Bun An. 

***

Rara menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pintar yang membuat ceritanya. Aku terkesan dengan cerita kisah cintanya," kata Rara.

Rara menutup bukunya dengan baik dan buku di taruh di meja. Tiara dateng ke rumahnya Rara, ya mau mengajak main gitu. Rara dan Tiara main bersama di rumah dengan penuh kegembiraan.

Tuesday, June 15, 2021

RATU PENGUASA LAUT SELATAN

Wulan yang duduk di bangku SMP, ya hobynya membaca buku yang ini dan itu untuk menambah wawasannya. Saat jam istirahat. Wulan ke perpustakaan untuk membaca buku. Saat di dalam perpustakaan, ya Wulan memilih buku di rak buku dengan baik.

"Mau baca buku apa ya?" kata Wulan.

Tiba-tiba muncul sosok wanita yang cantik banget mengawasi Wulan. Wanita itu adalah Nyi Roro Kidul. Buku yang menceritakan tentang Nyi Roro Kidul pun di jatuhkan sama Nyi Roro Kidul. Wulan kaget banget dengan buku yang terjatuh dari rak. Nyi Roro Kidul memang tidak bisa di lihat oleh Wulan gitu. Wulan mengambil buku tersebut dan membaca judul buku tersebut.

"Legenda Ratu Penguasa Laut Selatan," kata Wulan.

Wulan masih berpikir kenapa buku bisa jatuh dari rak ke lantai padahal tidak ada yang menyentuhnya? Wulan pun berkata "Mungkin angin, ya."

Wulan pun membawa buku dan duduk di tempat duduk, ya buku di taruh di meja.

"Aku akan membaca buku ini," kata Wulan.

Wulan membuka buku itu dan membacanya dengan baik banget gitu.

Isi buku yang di baca Wulan dengan baik :

Pada zaman dahulu, tepat di daerah Jawa Barat. Terdapat sebuah Kerajaan bernama Pakuan Pajajaran. Kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang Raja yang sangat bijaksana dan arif. Rakyat dibawah kekuasaanya sangat bahagia dan menghormati sang raja karena kepemimpinannya membuat hidup para rakyat sejahtera. Raja tersebut bernama Raja Prabu Siliwangi. Sang Prabu mempunyai cukup banyak anak, salah satunya bernama Putri Kandita. Ia adalah seorang gadis yang sangat cantik jelita, baik hati dan memiliki sifat yang sama seperti Ayahnya. 

Sang Prabu Siliwangi sangat menyayangi Putri Kandita, dan Seiring bertambahkan usia, putri Kandita semakin memiliki paras yang cantik dan area ia merupakan anak tunggal maka ialah sang calon pewaris tahta raja Prabu Siliwangi kelak. Mendengar keinginan Prabu Siliwangi untuk menjadikan Putri  Kandita sebagai penerus tahta para Selir dan anak-anaknya tidak setuju. Mereka tidak rela jika Putri Kandita yang akan menjadi Ratu kelak.

Suatu hari, para Selir dan anak-anaknya berkumpul untuk merencanakan siasat jahat untuk menyingkirkan Putri Kandita dan ibunya keluar dari Istana. Untuk melancarkan rencananya mereka meminta bantuan kepada seorang penyihir sakti yang tiggal di sebuah desa terpencil,  yang memiliki berbagai macam ilmu hitam .

Suatu hari, Tanpa sepengetahuan raja, para selir dan anaknya mendatangi Penyihir tersebut dan dengan memberikan imbalan yang diminta sang Penyihir, selir dan anaknya ingin putri Kandita serta permaisurinya diberi kutukan agar tidak menjadi pewaris tahta sang raja.

Tanpa menunggu lama, sang Penyihir melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu hitam ia menyihir Putri Kandita dan Ibunya agar menderita penyakita Kusta. Suatu hari, ketika bangun dari tidurnya Putri Kandita dan Ibunya berubah menjadi buruk rupa, Tubuh yang awalnya mulus, bersih dan kuning langsat seketika langsung berubah, tubuh keduanya di penuhi dengan borok dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Putri Kandita dan sang permaisuri mengidap penyakit kusta yang tak kunjung sembuh. Prabu Siliwangi yang merasa heran melihat penyakit aneh pada kedua orang kesayangannya itu langsung memanggil tabib istana untuk melakukan pengobatan. Tetapi setelah di coba dengan berbagai macam ramuan, sang tabib istana tetap tidak dapat menyembuhkan mereka.

Penyakit Putri Kandita dan ibundanya bertambah parah. Tubuh mereka semakin lemah karena tidak dapat mencerna makanan dan minuman. Putri Kandita yang masih muda dapat bertahan menghadapi penyakit yang dideritanya. Namun, Sang ibunda yang sudah tua ternyata tidak dapat bertahan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Putri Kandita dan raja sangat terpukul dengan meninggalnya permaisuri. Selama berhari-hari, Raja Prabu Siliwangi termenung sendirian, ia merasa sangat sedih  karena orang yang paling di cintainya sudah meninggalkan dunia terlebih dahulu. Namun, sang Prabu pun merasa sangat sangat terpikul melihat kondisi Putri Kandita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya. Ia merasa sangat cemas karena Putri Kandita yang akan menggantikan meneruskan tahta Kerajaan.

Suatu hari, para Selir dan anak-anaknya datang menemui Raja untuk menghasut agar Putri Kandita di usir. Awalnya, Raja menolak. Namun, karena takut penyakitnya menular dengan terpaksa Prabu Siliwangi menyetujui usulan tersebut.

Tanpa sepengetahuan Raja, Selir dan Saudara-saudaranya. Putri Kandita yang mendengar pembicaraan tersebut sangat kecewa dan ia memutuskan untuk melarikan diri dari istana. Dalam suasana hati yang sedih, bingung, dan tidak menentu Putri Kandita berjalan keluar dari istana tanpa tujuan yang pasti.

Selama berhari-hari ia berjalan tanpa arah hingga akhirnya tiba di pesisir pantai selatan Pulau Jawa yang memiliki banyak batu karang dan ombak besar. Di salah satu batu karang itu dia kemudian beristirahat hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya, Putri Kandita bermimpi mendengar sebuah suara gaib yang menyuruhnya menceburkan diri ke laut agar penyakitnya sembuh dan sehat seperti sediakala.

“Ceburkanlah dirimu ke dalam laut, Putri Kandita, jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu. Kulitmu akan mulus seperti sedia kala.”

Putri Kandita pun terbangun dari tidurnya. Ia lalu merenung meresapi kata-kata gaib tersebut karena ragu apakah suara itu merupakan sebuah wangsit atau hanya orang iseng yang membisiki saat dia tertidur. Tetapi setelah melihat sekeliling, sejauh mata memandang yang ada hanyalah hamparan pasir putih beserta ombak bergulung-gulung di sekitarnya. Oleh karena itu, yakinlah Putri Kandita bahwa suara gaib tadi merupakan sebuah wangsit yang harus dia laksanakan demi kesembuhan dirinya.

Meyakini bahwa suara itu sebuah wangsit, Putri Kandita segera melakukan yang diperintahkan. Sangat  ajaib! Ketika menyentuh air, seluruh tubuh Putri Kandita yang dihinggapi borok berangsur-angsur hilang dan menjadi mulus kembali. Kesembuhan Putri Kandita tidak  membuatnya kembali ke istana. Dia lebih memilih untuk menetap di pantai selatan dan berbaur dengan penduduk sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Sejak tinggal disana, Putri Kandita sangat terkenal karena kecantikan yang ia miliki. Banyak Pangeran dari berbagai kerajaan datang untuk melamarnya. Namun, dari sekian banyak yang melamarnya Putri Kandita sama sekali tidak tertarik. Sebagian dari mereka mundur karena Putri Kandita mengajukan syarat yang sangat sulit. Salah satu syaratnya adalah mengadu kesaktianya di atas gelombang pantai laut. Namun, sebagian dari mereka yang menerima syarat.

Ternyata, dari sekian banyak lelaki yang beradu kesaktian, tak seorang pun mampu mengalahkan Putri Kandita. Mereka akhirnya menjadi pengikut setia yang selalu mengawal Sang Putri ke mana pun dia pergi. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa yaitu Nyai Roro Kidul.

***

Wulan berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pandai yang membuat ceritanya," kata pujian Wulan.

Wulan pun membaca pesan moral yang tertulis di buku itu.

"Janganlah kamu berbuat jahat, karena perbuatan jahat akan menimbulkan malapetaka di kemudian hari," kata Wulan. 

Wulan memahami bener pesan moral tersebut. Buku di tutup sama Wulan dan buku di taruh di rak buku. Wulan keluar dari perpustakaan sekolah. Jam istirahat selesai. Wulan masuk kelasnya untuk melanjutkan pendidikannya dengan baik. Nyi Roro Kidul, ya menghilang gitu.

JAKA TARUB DAN TUJUH BIDADARI

Kasino dan Indro sedang asik nonton Tv di ruang tengah. Acara Tv yang di tonton acara lawak gitu. 

"Lawaknya bagus ya  Kasino?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton acara Tv yang bagus gitu. Sedangkan Dono di ruang tamu sedang membaca buku cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari dengan baik banget.

Isi buku cerita yang di baca Dono :

Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda bernama Jaka Tarub di sebuah desa di daerah Jawa Tengah. Ia tinggal bersama ibunya yang biasa dipanggil Mbok Milah. Ayahnya sudah lama meninggal. Sehari hari Jaka Tarub dan Mbok Milah bertani padi di sawah. Pada suatu malam, di tengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan cantik jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri.

Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya. Jaka Tarub tidak dapat tidur lagi. Ia keluar dan duduk di ambengan depan rumahnya sambil menatap bintang bintang di langit. Tak terasa ayam jantan berkokok tanda hari sudah pagi. Mbok Milah yang baru terjaga menyadari kalau Jaka Tarub tidak ada di rumah. Begitu ia melihat keluar jendela, dilihatnya anak semata wayangnya sedang melamun. 

“Apa yang dilamunkan anakku itu?”pikir Mbok Milah.

Ia menebak mungkin Jaka Tarub sedang memikirkan untuk segera berumah tangga. Usianya sudah lebih dari cukup. Teman teman sebayanyapun rata rata telah menikah. Pikirannya itu membuat Mbok Milah berniat untuk membantu Jaka Tarub menemukan istri.

Siang hari ketika Mbok Milah sedang berada di sawah, tiba tiba datang Pak Ranu pemilik sawah sebelah menghampirinya. 

“Mbok Milah, mengapa anakmu sampai saat ini belum menikah juga?” tanya Pak Ranu membuka percakapan. 

“Entahlah,”kata Mbok Milah sambil mengingat kejadian tadi pagi.

 “Ada apa kau menanyakan itu Pak Ranu?” tanya Mbok Milah. 

Ia sedikit heran kenapa Pak Ranu tertarik dengan kehidupan pribadi anaknya. 

“Tidak apa apa Mbok Milah. Aku bermaksud menjodohkan anakmu dengan anakku Laraswati,” jawab Pak Ranu.

Mbok Milah terkejut mendengar niat Pak Ranu yang baru saja diutarakan. Ia sangat senang. Laraswati adalah seorang gadis perparas cantik yang tutur katanya lemah lembut. Ia yakin kalau Jaka Tarub mau menjadikan Laraswati sebagai istrinya. Walaupun demikian Mbok Milah tidak ingin mendahului anaknya untuk mengambil keputusan. Biar bagaimanapun ia menyadari kalau Jaka Tarub sudah dewasa dan mempunyai keinginan sendiri. 

“Aku setuju Pak Ranu. Tapi sebaiknya kita bertanya dulu pada anak kita masing masing,” kata Mbok Milah bijak. 

Pak Ranu mengangguk angguk. Ia pikir apa yang dikatakan Mbok Milah benar adanya. Hari berganti hari. Mbok Milah belum juga menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan rencana perjodohan Jaka Tarub dan Laraswati. Ia takut Jaka Tarub tersinggung. Mungkin juga Jaka Tarub telah memiliki calon istri yang belum dikenalkan padanya. Lama kelamaan Mbok Milah lupa akan niatnya semula.

Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang sangat senang berburu. Ia juga seorang pemburu yang handal. Keahliannya itu diperolehnya dari mendiang ayahnya. Jaka Tarub seringkali diajak berburu oleh ayahnya sedari kecil. Pagi itu Jaka Tarub telah siap berburu ke hutan. Busur, panah, pisau dan pedang telah disiapkannya. Iapun pamit pada ibunya.

Mbok Milah terlihat biasa biasa saja melepaskan kepergian Jaka Tarub. Ia berharap anaknya itu akan membawa pulang seekor menjangan besar yang bisa mereka makan beberapa hari ke depan. Tak lama kemudian Mbok Milah masuk ke kamarnya. Ia bermaksud beristrihat sejenak sebelum berangkat ke sawah. Maklumlah, Mbok Milah sudah tua.

Tak memakan waktu lama di tengah hutan, Jaka tarub berhasil memanah seekor menjangan. Hatinya senang. Segera saja ia memanggul menjangan itu dan bermaksud segera pulang. Nasib sial rupanya datang menghampiri. Tengah asyik berjalan, tiba tiba muncul seekor macan tutul di hadapan Jaka Tarub. Macan itu mengambil ancang ancang untuk menyerang. Jaka tarub panik. Ia segera melepaskan menjangan yang dipanggulnya dan mencabut pedang dari pinggangnya. Sang macan bergerak sangat cepat. Ia segera menggigit menjangan itu dan membawanya pergi. 

Jaka Tarub terduduk lemas. Bukan hanya kaget atas peristiwa yang baru dialaminya, ia pun merasa heran. Baru kali ini nasibnya sesial ini. Hewan buruan sudah ditangan malah dimangsa binatang buas. “Pertanda apa ini ?”, pikirnya. Jaka Tarub segera menepis pikiran buruk yang melintas di benaknya.

 Setelah beristirahat sejenak, ia segera berjalan lagi. Nasib sial belum mau meninggalkan Jaka tarub. Setelah berjalan dan menunggu beberapa kali, tak seekor hewan buruan pun yang melintas. Matahari makin meninggi. Jaka Tarub merasa lapar. Tak ada bekal yang dibawanya karena ia memang yakin tak akan selama ini berada di hutan. Akhirnya Jaka Tarub memutuskan untuk pulang walau dengan tangan hampa.

Ketika Jaka Tarub mulai memasuki desanya, ia heran melihat banyak orang yang berjalan tergesa gesa menuju ke arah yang sama. Bahkan ada beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat terkejut. Walaupun merasa heran Jaka Tarub enggan untuk bertanya. Rasa lapar yang menderanya membuat Jaka Tarub ingin cepat cepat sampai di rumah.

Jaka Tarub tertegun memandang rumahnya yang sudah nampak dari kejauhan. Banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Bahkan orang orang yang tadi dilihatnya berjalan tergesa gesa ternyata menuju ke rumahnya juga. “Ada apa ya ?”, pikirnya. Jaka Tarub mulai tidak enak hati. Ia segera berlari menuju rumahnya.

“Ada apa ini ?”, tanya Jaka Tarub setengah berteriak. Orang orang terkejut dan menoleh kearahnya. Pak Ranu yang memang menunggu kedatangan Jaka Tarub sedari tadi langsung menghampiri dan menepuk nepuk bahu Jaka Tarub. “Sabar nak..”, katanya sambil membimbing Jaka Tarub memasuki rumah.

Mata Jaka Tarub langsung tertuju pada sesosok tubuh yang terbujur kaku diatas dipan di ruang tengah. Beberapa detik kemudian Jaka Tarub menyadari kalau ibunya telah meninggal. Jaka Tarub tak sanggup menahan air mata. Inilah bukti atas firasat buruk yang kurasakan sejak pagi, pikirnya.

Jaka Tarub tak sanggup berbuat apa apa. Ia hanya termenung memandang wajah Mbok Milah. Cerita Pak Ranu bahwa istrinya yang menemukan Mbok Milah telah meninggal dunia dalam tidurnya tadi pagi tak dihiraukannya. Ia merenungi nasibnya yang kini sebatang kara. Jaka Tarub juga menyesal belum memenuhi keinginan ibunya melihat ia berumah tangga dan menimang cucu. Tapi semua tinggal kenangan. Kini ibunya telah beristirahat dengan tenang.

Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari harinya dengan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hasil buruannya selalu ia bagi bagikan ke tetangga. Hanya dengan berburu, Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya. Seperti pagi itu, Jaka Tarub telah bersiap siap untuk berangkat berburu. Dengan santai ia berjalan menuju Hutan Wanawasa karena hari masih pagi.

Ketika sampai di hutanpun Jaka tarub hanya menunggu hewan buruan lewat di depannya. Tak terasa hari sudah siang. Tak satupun hewan buruan yang didapat Jaka Tarub. Ia justru lebih banyak melamun. Karena rasa haus yang baru dirasakannya, Jaka Tarub melangkahkan kakinya kea rah danau. Danau yang terletak di tengah Hutan Wanawasa itu dikenal masyarakat sebagai Danau Toyawening.

Ketika hampir sampai di danau itu, Jaka Tarub menghentikan langkah kakinya. Telinganya menangkap suara gadis gadis yang sedang bersenda gurau. “Mungkin ini hanya hayalanku saja”, pikirnya heran.”Mana mungkin ada gadis gadis bermain main di tengah hutan belantara begini ?”.

Dengan mengendap endap Jaka Tarub melangkahkan kakinya lagi menuju Danau Toyawening. Suara tawa gadis gadis itu makin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dari balik pohon besar kearah danau. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Jantungnya berdegub makin kencang.

Jaka Tarub memperhatikan satu satu gadis di danau itu. Semuanya berparas sangat cantik. Dari percakapan mereka, Jaka Tarub tahu kalau tujuh orang gadis itu adalah bidadari yang turun dari kayangan. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu ?”, pikirnya senang.

Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir danau. Semua pakaian itu memiliki warna yang berbeda. “Jika aku mengambil salah satu pakaian bidadari ini, tentu yang punya tidak akan dapat kembali ke kayangan”, gumam Jaka Tarub. Wajahnya dihiasi senyum manakala membayangkan sang bidadari yang bajunya ia curi akan bersedia menjadi istrinya.

***

Dono berhenti baca bukunya. Dono mengambil gelas berisi teh di meja, ya segera di minumnya dengan baik.

"Teh ini enak," kata Dono.

Dono menaruh gelas yang berisi teh di meja. Dono kembali membaca bukunya.

Lanjutan isi buku cerita yang di baca Dono :

Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Jika para bidadari itu menyadari kehadirannya, tentu semua rencananya akan buyar. Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke balik semak semak.

Tiba tiba seorang dari bidadari itu berkata “, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore”. “Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum matahari terbenam”, tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau dan mengenakan pakaian mereka masing masing.

“Dimana bajuku ?”, teriak salah seorang bidadari. “Siapa yang mengambil bajuku ?”, tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ?”, tanya seorang bidadari kepadanya. “Disini. Sama dengan baju kalian..”, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia bisa pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib juga.

Karena Nawangwulan tidak menemukan bajunya, ia segera masuk kembali ke Danau Toyawening. Teman temannya yang lain membantu mencari baju Nawangwulan. Usaha mereka sia sia karena baju Nawangwulan sudah dibawa pulang Jaka Tarub ke rumahnya.

Akhirnya seorang bidadari berkata “Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pulang ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore”. Nawangwulan tidak dapat berbuat apa apa.

Ia hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang perlahan meninggalkan Danau Toyawening. “Mungkin memang nasibku untuk menjadi penghuni bumi”, pikir Nawangwulan sambil mencucurkan air mata.

Nawangwulan kelihatan putus asa. Tiba tiba tanpa sadar ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kujadikan suamiku”.

Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan”, pikirnya.

Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya berkata “Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam”.

Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian Nawangwulan datang menemuinya. “Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang”, kata Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata kata yang diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa rumah tangga Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.

Sejak menikah dengan Nawangwulan, Jaka Tarub merasa sangat bahagia. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya tidak berkurang walau dimasak setiap hari.

Lama lama tumpukan padi itu semakin meninggi. Panen yang diperoleh secara teratur membuat lumbung mereka hampir tak muat lagi menampungnya. Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan suaminya itu untuk tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya.

Ketika sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu berumur satu tahun, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya. Karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.

Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya memasak setangkai padi. Ia langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.

Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur. “Kenapa kau melanggar pesanku Mas ?”, tanyanya berang. Jaka Tarub tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. “Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi”, lanjut Nawangwulan. “Mulai sekarang aku harus menumbuk padi untuk kita masak. Karena itu Mas harus menyediakan lesung untukku”.

Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Mulai hari itu Nawangwulan selalu menumbuk padi untuk dimasak. Mulailah terlihat persediaan padi mereka semakin lama semakin menipis. Bahkan sekarang padi itu sudah tinggal tersisa di dasar lumbung. Seperti biasa pagi itu Nawangwulan ke lumbung yang terletak di halaman belakang untuk mengambil padi. Ketika sedang menarik batang batang padi yang tersisa sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut.

Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!

Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu oleh Jaka Tarub yang sekarang telah menjadi suaminya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub. Segera saja keinginan yang tidak pernah hilang dari hatinya menjadi begitu kuat. Nawangwulan ingin pulang ke asalnya, kayangan.

Sore hari ketika Jaka Tarub kembali ke rumahnya, ia tidak mendapati Nawangwulan dan anak mereka Nawangsih. Jaka Tarub mencari sambil berteriak memanggil Nawangwulan, yang dicari tak jua menjawab. Saat itu matahari sudah mulai tenggelam. Tiba tiba Jaka Tarub yang sedang berdiri di halaman rumah melihat sesuatu melayang menuju ke arahnya. Dia mengamatinya sesaat.

Jaka Tarub terpana. Beberapa saat kemudian ia mengenali ternyata yang dilihatnya adalah Nawangwulan yang menggendong Nawangsih. Nawangwulan terlihat sangat cantik dengan baju bidadari lengkap dengan selendangnya. Jaka Tarub merasa dirinya gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Nawangwulan berhasil menemukan kembali baju bidadarinya. Hal ini berarti rahasianya telah terbongkar.

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih.

“Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.

“Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub”, kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini”, lanjutnya. Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.

“Kau harus mengasuh Nawangsih sendiri. Mulai saat ini kita bukan suami istri lagi”, kata Nawangwulan tegas. Ia menyerahkan Nawangsih ke pelukan Jaka Tarub. Anak kecil itu masih tertidur lelap. Ia tidak sadar bahwa sebentar lagi ibunya akan meninggalkan dirinya.

“Betapapun salahmu padaku Jaka Tarub, Nawangsih tetaplah anakku. Jika ia ingin bertemu denganku suatu saat nanti, bakarlah batang padi, maka aku akan turun menemuinya”, tutur Nawangwulan sambil menatap wajah Nawangsih. “Hanya satu syaratnya, kau tidak boleh bersama Nawangsih ketika aku menemuinya. Biarkan ia seorang diri di dekat batang padi yang dibakar”, lanjut Nawangwulan.

Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadari pun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.

***

Dono berhenti baca buku cerita.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuatnya. Pernah diangkat ke film apa sinetron..ya? Pokoknya...cerita sepanjang masa bagus banget," kata Dono.

Dono menutup buku ceritanya dan menaruh buku di meja. Dono mengambil gelas berisi teh dan segera meminumnya dengan baik.

"Enak teh ini," kata Dono.

Dono menaruh gelas yang berisi teh di meja.

"Main game ah!" kata Dono.

Dono segera main game di Hp-nya dengan baik banget. Kasino dan Indro tetap asik nonton Tv karena acara Tv memang bagus gitu...lawak gitu.

Monday, June 14, 2021

MEMINTA KESEMPURNAAN

Kasino dan Indro duduk di ruang tengah, ya asik nonton Tv. Acara Tv yang di tonton acara berita.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Cewek itu ingin mendapatkan pasangan, ya jodohnya.....yang sempurnakan?!" kata Indro.

"Kebanyakan gitu sih," kata Kasino.

"Berarti. Cewek itu meminta kesempurnaan. Tuhan atau Dewa yang di pinta," kata Indro.

"Eeeemmmm," kata Kasino

"Sama aja dengan...cowok ingin mendapatkan cewek, ya jodohnya...yang sempurnakan?!" kata Indro.

"Berarti. Cowok itu meminta kesempurnaan. Tuhan atau Dewi yang di pinta," Kasino.

"Setiap doa yang di panjatkan setiap umat agama tentang permintaannya jodohnya....selalu kesempurnaan," kata Indro.

"Yang kurang sempurna pun. Berdoa juga kesempurnaan," kata Kasino.

"Sempurna. Tidak ada cacat," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv. Acara Tv memang bagus sih, ya memberitakan seputar ini dan itu...keadaan lingkungan sini dan situ.....realitanya kehidupan ini. Dono duduk di teras depan, ya sambil baca buku dan sambil melihat keadaan lingkungan sekitar dengan baik banget.

"Keadaan lingkungan tetap sama," celoteh Dono.

Dono terus membaca bukunya dengan baik banget. 

"Indro," kata Kasino.

"Apa?" kata Indro.

"Belum menikah sudah punya anak...gimana pendapat Indro?!" kata Kasino.

"Itu sih penulis yang menentukan ceritanya. Memerankan diri ku sendiri. Belum menikah sudah punya anak. Ya sebenar sih. Mengangkat anak yatim piatu jadi anak itu tidak ada masalah. Jalan kebaikan," kata Indro.

"Cewek bisa menerima atau tidak?!" kata Kasino.

"Relatif...jawabannya," kata Indro.

"Jawaban yang baik. Relatif," kata Kasino.

"Kalau di dalam cerita sih, yang menentukan penulisnya. Saskia menerima dengan baik anak angkatnya," kata Indro.

"Tokok cewek yang di buat penulis ini. Sebagai contoh yang baik untuk pembaca. Bahwa seorang cewek harus bisa menerima anak yang bukan anak kandung, ya anak angkat. Naluri keibuannya yang membimbing dirinya dengan penuh kebaikan," kata Kasino.

"Ya begitulah ceritanya," kata Indro menegaskan omongan Indro.

"Kenyataan kehidupan itu. Banyak manusia yang jatuh pada lumpurnya kehidupan," kata Kasino.

"Kenyataan kehidupan. Aku paham omongan Kasino. Punya anak di luar pernikahan kan," kata Indro.

"Pergaulan kebablasan," kata Kasino.

"Bisa terjadi sih," kata Indro.

"Sampai.....Narkoba juga ya?!" kata Kasino.

"Kenyataan yang kita tonton di Tv. Artis di tangkap polisi karena Narkoba," kata Indro.

"Di sisi baik. Di sisi lain buruk. Manusia yang menjalankan hidup ini. Yang menilai juga manusia," kata Kasino.

"Ya begitu lah," kata Indro.

"Ya sudah tidak perlu di bahas lebih jauh lagi!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baik banget. Dono berhenti membaca bukunya dan beranjak dari duduknya di teras depan rumah. Dono duduk di ruang tamu dan buku di taruh di meja.

"Aku ini manusia tidak lah sempurna. Tapi berusaha sempurna. Banyak manusia meminta kesempurnaan lewat doanya dari agama yang di yakininya dengan baik. Manusia ternyata meminta Tuhan atau Dewa. Kesempurnaan yang ingin di dapatkan manusia yang berdoa tersebut. Aku tetap tidak sempurna, tetapi mampu melihat dan mendengarkan Roh karena aku punya ilmu," kata Dono.

Dono segera main game di Hp-nya dengan baik banget.

KEINGINAN YANG TERPENDAM

Kasino mendapatkan informasi dari informan terpercaya tentang pemimpin penjahat yang di kenal Mack. Ya Mack kemampuannya ahli pedang dan juga sihir yang di gunakan sihir elemen kegelapan. Kasino pun menemui Dono dan Indro di kafe untuk membantunya dalam misinya mengalahkan Mack, ya agar tindak tanduk kejahatan Mack yang membuat kehancuran pada manusia lain berakhir. Dono dan Indro menolong Kasino dalam menjalankan misinya. Ketiga segera meninggalkan kafe, ya berangkat dengan menggunakan kuda. Perjalan memang jauh banget. 

Di kediaman Mack, ya di sebuah istana sih. Mack mengetahui tentang Kasino bola kristalnya. Bahwa Kasino bergerak dengan teman-temannya, ya ke tempatnya untuk mengalahkan dirinya Mack. Ya  Mack pun memerintahkan anak buah untuk mengalahkan Kasino dan teman-temannya di jalan. Tiga kesatria pun bergerak atas perintah Mack. Kasino, Dono dan Indro masih di perjalanan dengan menunggangi kuda dengan baik banget gitu. Sampai masuk hutan. Dono, Kasino dan Indro, ya tetap waspada dengan keadaan gitu.

Kesatria Willy dengan kemampuan mengendalikan monster semut. Memang Kesatria Willy di perintahkan Mack untuk mengalahkan Kasino dan teman-temannya. Muncul kesatria Willy dengan memerintahkan monster semut mengalahkan Kasino dengan teman-temannya. Kasino dan teman-temannya, ya mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan segera menghadapi monster semut. Pertarungan memang sengit banget. Monster semut banyak banget. Kasino dan teman-teman, ya kewalahan gitu. Indro yang menguasai sihir elemen apinya dengan baik untuk mengalahkan monster semut. Kasino yang menguasai sihir elemen angin berusaha menghempaskan monster semut. 

"Kasino, Indro......elemen sihir kalian berdua di gabungkan saja. Bisa mengalahkan monster semut yang banyak ini!" kata Dono.

"Iya," kata Kasino dan Indro bersamaan karena mengerti omongan Dono.

Segeralah Kasino dan Indro mengabungkan sihir elemennya. Jadilah tornado api yang membakar semua monster semut. Dono bergerak cepat menyerang kesatria Willy, jadi pertarungan sengit gitu adu pedang. Dono berhasil mendesak musuhnya dan akhirnya mengalahkannya. Kesatria Willy mati di tusuk pedang Dono. Kestaria Willy mati.

"Musuh yang kuat," kata Dono.

"Ayo kita lanjutin perjalan kita!" kata Kasino.

"Ayo!!!" kata Indro dan Dono bersamaan.

Ketiganya berangkat lagi dengan mengendarai kuda, ya di bawa dengan baik banget gitu. Memang perjalan masih panjang banget gitu. Sampai di daerah padang rumput yang luas banget. Dono, Kasino dan Indro, ya istirahatlah. Ketiganya menikmati makan dan minuman yang di bawa, ya bekal di perjalanan gitu.

Kesatria Sting mampu mengendalikan monster lebah. Memang Kesatria Sting di perintahkan Mack untuk mengalahkan Kasino dan teman-temannya di perjalanan gitu. Kesatria Sting memerintahkan monster lebah menyerang Kasino dan teman-teman. Ya segera Dono, Kasino dan Indro mengeluarkan pedang dari sarungnya, ya menghadapi serangan monster lebah. Pertarungan sengit banget gitu. Kasino mengeluarkan sihir elemen angin untuk menghempaskan pada monster lebah. Indro mengeluarkan sihir elemen api untuk membakar monster lebah. Ya monster lebah banyak banget gitu. Kasino dan Indro sepakat lagi menyatukan kekuatan dengan menggabungkan sihir elemennya. Jadilah tornado api yang membakar semua monster lebah. Dono segera bergerak cepat untuk mengalahkan kesatria Sting. Pertarungan sengit banget. Sebenarnya Dono agak kewalahan menghadapi kesatria Sting yang kemampuannya bisa terbang. 

Kasino membantu pertarungan Dono. Dengan kemampuan Kasino yang memiliki elemen sihir angin jadi bisa terbanglah. Kasino menyerang kesatria Sting. Pertarungan di atas udara terjadi dengan sengit banget. Kasino menunjukkan teknik pedang andalannya dengan baik, ya menebas kesatria Sting dan akhirnya jatuhlah kesatria Sting dari udara ke batu yang tajam. Matilah kesatria Sting. Kasino tidak terbang lagi, ya kakinya memijak tanah dan berkata "Musuh yang kuat."

"Ayo kita lanjutin perjalanan!" kata Dono.

"Ayo!!!" kata Kasino dan Indro bersamaan.

Kasino dan teman-teman melanjutkan perjalan lagi dengan mengendarai kudanya dengan baik banget. Memang perjalanan panjang banget. Di istana, ya Mack memang mengawasi pergerakan Kasino dan teman-temannya dengan bola kristal. Anak buahnya Mack di kalahkan Kasino dan teman-temannya, ya Mack marahlah karena rencananya gagal. 

Kasino dan teman-temannya menyeberangi sungai dengan berjalan di jembatan penyeberangan gitu. Memang ketiganya waspada dengan baik banget gitu. Kesatria Water yang memiliki kemampuan mengendalikan monster belut listrik. Memang Mack memerintahkan kesatria Water untuk menyerang Kasino dan teman-temannya di jalan. Kasino dan teman-temanya mengeluarkan pedang dari sarungnya untuk menghadapi monster belut listrik. Kasino teman-teman, ya kewalahan menghadapi monster belut listrik karena setiap di tebas Kasino dan teman-teman kesetrum. Monster belut listrik mengeluarkan listrik gitu.

Dono marah banget dengan keadaan. Dono mengeluarkan sihir elemen air tingkat tinggi, ya mengubah keadaan jadi es. Monster belut listrik membeku semuanya. Kasino dan Indro menghancurkan monster belut listrik yang membeku pake pedang, ya jadinya monster belut listrik hancur semua. Dono bertarung dengan kesatria Water, ya adu pedang. Kesatria Water di kalahkan dengan baik sama Dono dengan di tusuk pedang. Kesatria Water mati.

"Musuh yang kuat," kata Dono.

"Ayo kita lanjutin perjalan kita!" kata Kasino.

"Sebelum itu minum ramuan ajaib. Untuk memulihkan stamina dengan baik dan luka dari monster belut listrik," kata Indro sambil melemparkan botol yang berisi ramuan ajaib.

Dono dan Kasino menangkap botol ramuan ajaib tersebut, ya segera di minum dengan baik. Luka dari pertarungan dan stamina kembali pulih semula ketiganya. Dono, Kasino dan Indro melanjutkan perjalanannya dengan baik banget, pake kudalah. Singkat waktu sampai di istana Mack. Dono, Kasino dan Indro turun dari kudanya. Pintu gerbang istana terbuka lebar, ya karena Mack memang menggunakan sihirnya untuk membuka gerbang untuk menyambut tamu yang datang. Kasino dan teman-teman masuk ke dalam istana dengan berjalan kaki dan juga tetap waspada dengan baik banget. Sampai di aula istana. Mack duduk di singgahsananya.

"Kasino. Datang ke istana ku ini dengan tujuan ingin mengalahkan ku. Untuk menghentikan sepak terjang kejahatan ku," kata Mack.

"Memang iya," kata Kasino.

"Tidak perlu banyak bertele-tele dengan bicara dengan penjahat. Segera saja bertarung," kata Indro.

"Ternyata teman mu itu Kasino. Senang bertarung. Ok aku ladengin dengan baik," kata Mack.

Kasino dan teman-teman bergerak maju, ya menyerang Mack. Pertarungan jadi sengit banget. Ya adu pedang gitu. Saat menggunakan sihir, Mack menggunakan sihir elemen kegelapan. Mucul tiga Setan dan menyerang Kasino, Dono dan Indro. Pertarungan jadi lebih sengit banget. Sampai Dono, Kasino dan Indro mundur, ya menjaga jarak pertarungan gitu. Wujud Setan terlihat banget seperti Dono, Kasino dan Indro.

"Kegelapan jiwa," kata Dono.

"Sihir terlarang toh," kata Indro.

"Sihir...Mack memang sihir elemen kegelapan," kata Kasino.

"Hadapilah kegelapan jiwa kalian sendiri," kata Mack.

Setan pun menyerang Dono, Kasino dan Indro. Pertarungan sengit banget, ya adu pedang. Ketiganya berhasil menebas Setan. Tapi ternyata Setan tidak bisa di kalahkan. Mack meningkatkan level sihirnya dengan mengubah Setan menjadi energi kegelapan dan mengurung Dono, Kasino dan Indro dalam bentuk kubah energi kegelapan.

Dono, Kasino dan Indro berusaha untuk keluar dari kubah energi kegelapan. Ternyata kubah energi tidak bisa di jebolkan. Dono malah tenggelam dalam kegelapan, ya begitu juga dengan Indro. Dono melihat Lestiana di hadapannya dan menerima cintanya Dono dengan baik banget. Dono terbuai dengan keadaan tersebut. Kasino mendapatkan dua cinta dari Selfi dan Putri, ya seperti lagu gitu...'senangnya dalam hati beristri dua'. Kasino terbuai dengan keadaan. Indro menjadi raja yang hebat banget di sanjung rakyatnya. Indro terbuai dengan keadaan.

"Kalian bertiga masuk dalam keinginan terpendam kalian sendiri. Kegelapan sejati kalian sendiri," kata Mack

Dono mulai ingat sesuatu tentang sebuah janji dalam keadaannya ia tebuai dengan hubungan cinta dengan Lestiana.

"Aku pernah berjanji dari kecil untuk mengabulkan permintaan Lestiana saat dia berulang tahun. Layaknya sebagai teman yang baik. Sampai Lestiana berumur 18 tahun pun aku sebagai teman yang baik mengabulkan permintaannya. Tidak ada cinta. Pertemanan saja!" kata Dono.

Dono pun marah banget. Di dobraklah energi kegelapan sama Dono. Ya Setan jadi mentallah. Dono segera menggunakan sihir elemen air tingkat tingginya, ya mengubah keadaan menjadi es dan Setan di bekukan. Dono menebas Setan. Setan pun hancur. 

Kasino teringat sesuatu pada janjinya di dalam dirinya, ya dalam keadaan ia terbuai dengan hubungan istri dua.

"Aku memang pernah mendapatkan Selfi dan Putri dengan kekuatan gelang ajaib. Karena aku memang salah menggunakan gelang ajaib tersebut, ya mengkhiatin Selfi. Aku sadar dan berusaha setia pada Selfi," kata Kasino.

Kasino marah banget. Di dobraklah energi kegelapan sama Kasino. Ya Setan jadi mentallah. Kasino mengeluarkan sihir elemen angin tingkat tinggi. Muncullah roh angin berwujud peri angin. Kasino dengan peri angin, ya bertarung bersama untuk mengalahkan Setan. Ya pada akhirnya Setan di kalahkan Kasino dan peri angin. 

Indro teringat suatu dengan janji di dalam dirinya, ya terbuai dalam keadaan ia menjadi raja.

"Aku memang mencintai Saskia dengan penuh ketulusan banget. Memang Saskia anak raja. Aku bisa menjadi raja setelah menikahinya. Aku memilih untuk bertualangan kesana kesini karena aku sebenarnya tidak menginginkan tahta kerajaan......tetap menjadi diri ku yang biasa saja. Saskia mengikuti ku karena cinta pada ku, ya meninggalkan kemewahan sebagai putri raja....menjadi rakyat bisa dan membangun usaha penginapan dan kafe," kata Indro.

Indro marah banget dan di dobraklah kegelapan. Ya Setan jadi mentallah. Indro menggunakan sihir api level tingkat tinggi. Keluarlah sihir api neraka berwarna hitam dan membakar Setan sampai musnah.

"Kalian bisa mengalahkan kegelapan jiwa kalian," kata Mack.

"Kegelapan itu buatan mu...Mack," kata Dono.

"Setan kebohongan," kata Kasino.

"Dasar penjahat," kata Indro.

Indro, Kasino dan Dono menyerang Mack. Pertarungan sengit banget. Adu pedang dan juga sihir. Pada akhirnya Mack di kalahkan dengan baik sama Dono, Kasino dan Indro dengan menusuknya. Mack masih sanggup berdiri, ya berjalan di singgahsana. Duduk Mack di singgahsananya.

"Aku kalah," kata Mack.

Mack pun mati dan di telan oleh sihir kegelapannya dan menghilang.

"Musuh yang kuat banget," kata Kasino.

"Benar-benar kuat musuh kita," kata Indro.

"Sampai-sampai keinginan yang terpendam di munculkan untuk mengalahkan kita," kata Dono.

"Memegang teguh pada janji pada diri sendiri kunci kemenangan," kata Kasino.

"Iya," kata Dono dan Indro bersamaan.

Roh angin berwujud peri angin pun menghilang karena pertarungan selesai. Kasino dan teman-teman meninggalkan istana tersebut. Dengan mengendarai kuda dengan baik Dono, Kasino dan Indro sampai tujuan pulang. Sampai di kafe. Dono, Kasino dan Indro, ya ngobrol asik lah dengan baik banget seperti biasanya.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK