CAMPUR ADUK

Tuesday, December 25, 2018

KWALITAS DIRI

Dono sibuk menyelesaikan tugas kuliah dengan mengetik di leptopnya. Sedangkan Ibu lagi asik nonton acara dangdut di chanel Indosiar. Konsentrasi Dono mulai terganggu dengan volume Tv yang terlalu besar. Dono menghentikan mengetiknya dan keluar dari kamar. Melihat Ibunya yang asik nonton Tv. Sebenarnya Dono mau mengurangi volume Tv tapi ternyata hanya terdiam dulu memperhatikan acara yang di tonton Tv.

Ternyata seorang penyanyi muda yang berbakat bernama Rara yang menyanyikan lagunya dengan sangat bagus dan menyentuh hati. Dono langsung duduk bersama Ibunya untuk menonton. Setelah selesai Rara menyanyi dan di salutkan semua penonton. Dono mulai bertanya pada Ibunya "Bu siapa yang di sukai ibu untuk penyanyi pendatang baru di dunia musik dangdut dan bisa menjadi juara dalam pertandingan musik dangdut Asia?"

"Menurut Ibu sih...bisa Rara atau juga Jamila," kata Ibu.

"Oh...begitu......," saut Dono.

Dono mulai memperhatikan dengan seksama tontonan. Ternyata semua penonton terbaru suasana acara.

"Ternyata acara dangdut itu berhasil..... Berarti semua orang yang bekerja di dalamnya berhasil menujukkan nilai dari kerja keras." kata hati Dono.

Ibu langsung bangun dari duduknya setelah Iklan dan meninggalkan tontonannya sejenak. Dono pun kembali ke dalam kamarnya untuk menyelesaikan ketikannya. Tapi ternyata Dono lupa sesuatu "Astafirohulazim......saya ini mau mengurangi volume dari suara Tv." celoteh Dono.

Dono bergerak lagi keruang tengah dan langsung mengambil remot dan mengecilkan volumenya. Sedangkan Ibu pun duduk kembali di tempat duduknya. Sambil membawa teh sariwangi buatannya. Tontonan pun di mulai lagi. Iklan pun berakhir. Mulai pertandingan musik dangdut untuk menunjukkan kwalitas dari penyanyi pendatang baru yang akan membuat suasana musik dangdut lebih waw ......lagi. Dono langsung bergerak menuju kamarnya dan langsung mengetik di leptopnya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. 

Setelah bahan cukup di kumpulkan oleh Dono lewat buku-buku. Akhirnya Dono berhasil menyelesaikan tugas kuliahnya. Lalu  Dono bergerak menuju ruang tengah langsung duduk bersama Ibu tersayang menonton acara dangdut kesukaannya. Lalu Ibu Dono pun bicara "Kemungkinan Rara bisa menang kalau bisa menjaga kwalitas dari dirinya."

"Ohhhh.....begitu..toh," saut Dono.

Dono terus saja menyaksikan tontonan musik dangdut yang di sukai Ibu tersayang. Tiba-tiba-tiba Ibu tertawa dengan ulah konyol Gilang dan kawan-kawan. Sedangkan Dono tetap santai menyaksikan tontonan acara pertandingan dangdut tersebut sampai waktu tidur.


Karya: No

SANTAI

Dono sedang asik duduk di halaman depan sambil memandang langit cerah. Datang Indro langsung duduk bersama sebelah Dono. 

"Malam yang indah ya Dono." kata Indro mulai pembicaraan.

"Iya....," saut Dono.

Dono pun mulai makan kecilnya yang berupa keripik pisang. Lalu di bagi dengan Indro. 
"Saya coba ya keripik ini," kata Indro dengan rendah hati.

"Iya...," jawab Dono.

Dono dan Indro menikmati keripik pisang yang enak dan memandangi langit yang cerah.
"Indah.....ya Dono langitnya bertabur bintang," kata Indro.

"Iya....indah banget dan begitu tenang malam ini. Gak gaduh lagi. Kalau nonton Tv agak bosen sih karena beritanya tentang bencana alam," kata Dono.

"Tapi.....kenyataannya dapet data dari warga pinggir pantai Banten dan Lampung kan benar terjadi bencana.....kan Dono." kata Indro.

"Benar..sih....Indro. Tapi masih banyak keganjilan dari berita itu." 

"Maksudnya...tsunami...ya Dono." 

"Iya."

Dono pun mengeluarkan minuman berupa botol yang berbalut plastik putih yang bermerek white coffie dan dibagikan ke Indro. Dengan senang hati Indro menerima pemberian Dono dan tak lupa mengucapkan "Terima kasih Dono." 

Dono dengan perasaan senang telah membagi makannya menjawab "Sama-sama Indro."

Dono meminumnya begitu juga dengan Indro.

"Enak.......," kata Indro.

"Enak..lah. Kan gratis." saut Dono.

Datenglah Kasino langsung duduk bersama Dono dan Indro langsung menyerobot makan dan minuman mereka. 

"Lapar Kasino?" tanya Dono.

"Liat sendiri.....," jawab Kasino.

"Kenapa gak beli aja sih Kasino. Kan baru gajian!" saran Indro.

"Baru juga pulang. Di suruh pergi ke warung. Capek atuh." kata Kasino yang asik makan keripik dan minuman dari Dono.

Tiba-tiba Hpnya Dono berbunyi dan langsung di lihat ternyata ada pesan singkat dari Wulan. Segera Dono menjawabnya.

"Cepet banget bales smsnya?" tanya Kasino.

"Ah...kamu Kasino mau tahu urusan orang. Cuma Wulan .....kangen aja," kata Dono.

"Kangen.....toh," saut Indro.

"Bener..tuh..Kangen. Biasa...cewek selalu buat sinyal-sinyal romantis agar cepat di lamar tuh," kata Kasino.

"Kayanya..sih. Kalau bukan gimana Kasino?" kata Indro.

"Entah...lah saya kan bukan kekasihnya dan juga bukan peramal. Cuma nebak aja," kata Kasino.

"Ya..kirain..tahu..tentang hubungan kisah kasih Dono dengan Wulan. Ternyata sama aja..gak tahu apa-apa?" kata Indro.

"Saya... yang punya urusan kenapa kalian yang repot?" kata Dono.

"Cuma bahan..obrolan aja Dono," kata Indro.

"Cuma bahan ..obrolan Dono. Tapi tumben kalian ngobrolnya di luar biasanya nonton Tv?" kata Kasino.

"Jenuh.....aja. Ngari suasana aja di luar," kata Dono.

"Kalau saya cuma menemani Dono aja," saut Indro.

"Oh..begitu. Kalau gitu saya masuk ke dalam rumah. Mau masak mie goreng isi dua. Saya laper.......banget," kata Kasino sambil beranjak dari duduk.

"Ikutan Kasino...... buat mie goreng isi duanya. Saya juga laper.....," saut Indro sambil bergerak mengikuti Kasino.

Dono tetap duduk nyantai di halaman rumah sambil memandangi langit yang cerah bertabur bintang.


Karya: No

NASI GORENG

Rima dan Ramli tinggal bertiga dengan ibu mereka. Rima kini baru masuk SMA. Dan Ramli naik ke kelas VII SMP. Ibu mereka bekerja sebagai pencuci pakaian di beberapa rumah besar. Walaupun demikian, Rima dan Ramli tetap bercita-cita tinggi. Mereka selalu rajin belajar dan tidak putus asa.

Tahun ini, Rima sangat bangga, karena ia diterima di salah satu SMA favorit. Rima harus menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa) selama tiga hari pertama. Pada masa itu, ia bisa berkenalan dengan siswa lainnya. Juga dengan kakak kelas dan dengan program sekolahnya.

Pada hari kedua MOS, Kak Mimi, salah saru kakak OSIS memberi pengumuman, "Adik-adik kelas sepuluh, besok ada acara tukaran makanan. Jadi kalian semua harus bawa makanan sendiri-sendiri. Nantinya akan saling ditukarkan!"

"Kak, makanannya misalnya apa, Kak?" tanya salah seorang anak.

"Oh, ya! Harus nasi lengkap dengan lauk dan sayuran. Harganya minimal Rp 2.000,00."

Setelah Kak Mimi pergi, Rima jadi bingung sendiri. Dia akan membawa nasi dan lauk apa? Di rumahnya tak ada lauk yang enak dan istimewa. Paling hanya tempe dan tahu. Di rumah biasanya Rima menambahkan kecap di nasi putihnya. Itu sudah terasa nikmat sekali baginya. Tapi kalau Rima membawa menu seperti itu ke sekolah, ia takut diejek kawan-kawannya. 

Setiba di rumah, Rima menceritakan tugasnya itu kepada ibu.

"Rim, sekarang ibu mau kerja dulu. Kamu saja yang memikirkan menu apa yang akan kamu bawa. Kalau bisa yang murah-murah saja. Agar ibu sanggup membelinya," kata ibu.

Namun, sampai ibunya pulang kerja, Rima belum juga menemukan jalan keluarnya. Untungnya pada saat sedang belajar malam, ia menemukan ide. Rima bergegas menemui ibunya.

"Bu, bagaimana kalau besok Rima bawa nasi goreng saja? Murah dan mudah kan, Bu?" ujar Rima.

"Benar juga. Kalau begitu, besok pagi-pagi akan ibu buatkan nasi goreng," kata ibu sambil menguap.

Rima iba melihat ibunya. Ibu Rima sebenarnya belum terlalu tua. Namun karena ia bekerja sangat keras, wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

Paginya, Rima membantu ibunya memasak nasi goreng. Nasi goreng itu lalu dibungkus dengan daun pisang yang diambil dari kebunnya.

"Terima kasih, ya, Bu. Rima berangkat dulu, ya!" pamit Rima pada ibunya.

Dengan  gembira ia mengayuh sepeda tuanya menuju ke sekolah. Beberapa saat kemudian, Rima sudah berada di dalam kelas. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya tibalah acara yang dinanti-nanti Rima. Acara pertukaran makanan.

"Adik-adik kelas sepuluh, sudah bawa makanan semua, kan?" tanya kakak OSIS.

"Sudah Kak!" jawab murid-murid kelas sepuluh serentak.

Makanan yang dibawa murid-murid lalu dikumpulkan di meja guru. Rina mulai tegang. Bagaimana jika makanannya jatuh pada temannya yang kaya? Apa dia mau memakan nasi gorengnya yang sederhana? Rima takut kalau-kalau teman-temannya mencemooh masakan itu.

Akhirnya saat pembagian makanan pun tiba. Rima mendapat makanan dari Rio. Sedangkan nasi goreng bungkusannya diterima Miranda. Rima tidak langsung membuka kotak bekal dari Rio. Ia melirik ke arah Miranda yang membuka bungkusan nasi gorengnya itu.

"Wow, nasi goreng! Aku suka sekali nasi goreng! Wah kelihatannya enak!" sorak Miranda. Rima melihat Miranda memakan sesendok nasi gorengnya.

"Wow, enak sekali! Punya siapa ini?" tanya Miranda.

"Itu punyaku," jawab Rima.

"Oh, kamu Rima, ya?"

"Iya," jawab Rima singkat.

"Rim, siapa yang memasak nasi goreng ini?" tanya Miranda.

"Ibuku," sahut Rima sedikit lega.

"Kebetulan, lusa ulang tahunku. Aku sedang cari makanan katering. Apa ibumu mau menerima pesanan nasi goreng seperti ini?" tanya Miranda.

"Bisa! Tentu saja bisa! Nanti akan aku bicarakan dengan ibuku," sahut Rima senang. Rosa dan Maya mendekati Miranda dan Rima.

"Oh, ini ya, nasi gorengnya! Boleh kucoba?" kata Rosa sambil menyendok sedikit nasi goreng. "Wah, enak sekali Ibuku kan bekerja di kantor. Kebetulan ibu sedang bingung mencari katering untuk makan siang di kantornya! Ibuku pasti senang kalau bisa memesan nasi goreng seperti ini," kata Rosa.

"Oh, tentu saja bisa!" jawab Rima.

Kabar ini cepat menyebar. Sampai pada saat istirahat kedua, saat Rima sedang jalan di kantin, ibu penjual di kantin bertanya.

"Kamu Rima, ya?" tanyanya.

"Iya, Ada apa, Bu?" tanya Rima heran.

"Begini, ibu mau pesan nasi goreng buatan ibumu yang  katanya enak itu. Mau ibu jual di kantin ini. Kalau bisa, lusa ibu pesan lima puluh bungkus dulu. Kalau laris, nanti ibu akan pesan lebih banyak lagi!"

"Oh, ya? Baiklah, nanti saya tanyakan ke ibu!" jawab Rima senang.

"Oh, ya nanti modalnya ini ada sedikit uang," ibu kantin menyodorkan sejumlah uang. Sampai di rumah, Rima berlari-lari mendekati ibunya yang sedang memasak. Ia bercerita tentang pesanan nasi goreng yang diterimanya tadi.

"Oh, Ibu senang sekali!" Ibu memeluk Rima. Mereka sangat bersyukur untuk berkat Tuhan hari itu.


Karya: Duryatin Amal

KARUNIA TUHAN

Seorang wanita yang tinggal berdua dengan ibunya. Ia bernama mirna dan ibunya bernama minah, ibu minah adalah seorang ibu yang penyabar dan penyayaang, tetapi anaknya si mirna sangat bertolak belakang sifatnya dengan ibunya, ia pemarah dan angkuh.

Mirna tidak pernah sedikitpun mau mendengar nasihat ibunya, bahkan setiap hari ia memarahi dan membentak ibunya ketika ibunya menasihatinya. Tetapi bu minah tak pernah lelah untuk mengingatkan anaknya berbuat kebaikan terutama dalam mencari rizki.

Mirna bekerja sebagai wanita malam, setiap malam dia pergi dan pulang setiap pagi bahkan tak jarang ia tidak pulang untuk beberapa hari. Ibu minah bekerja sebagai buruh cuci dan menjual kue, itu yang bisa ibu minah kerjakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Suatu hari saat ibu minah membuat kue untuk dijualnya, si mirna pulang, tanpa permisi atau mengucap salam mirna memasuki rumah dengan bertriak memanggil ibunya “bu.. ibu..” “iya nak ibu sedang bikin kue di dapur” jawab ibu minah sambil tersenyum, “siapin air hangat buat mandi, aku mau mandi, terus jangan lupa siapin makanan aku lapar.!!!” perintahnya kepada ibunya “iya sebentar nak ibu selesain ini dulu” dengan sabar ibunya menjawab, tetapi mirna malah marah marah dan membentak-bentak ibunya “cepetan!!! Dasar tua bangka disuruh nyiapin gituan aja leletnya minta ampun”. Tak kuat mendengar bentakan dari mulut anaknya, air matanya pun menetes, seakan hatinya tersayat-sayat mendengar ucapan dari anaknya yang selalu ia sayang.

Hingga suatu hari sikap mirna begitu aneh, dia yang selalu ke luar malam bahkan jarang pulang, sekarang ia sering mengurung dirinya dalam kamar. Sesekali ibunya bertanya padanya “mir kamu kenapa nak, kok betah banget sekarang di kamar, apa mirna punya masalah, coba cerita pada ibu siapa tau ibu bisa bantu nak.” Sekejap mirna diam dan menangis “aku hamil bu” dia menjawab pertanyaan ibunya lalu bergegas masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Ibunya sangat kaget mendengarnya.

Sesekali mirna mencoba menggugurkan kandungannya, tetapi ibu minah selalu mencegahnya. “aku gak mau bu ngelahirin anak haram ini, aku gak mau” ucap mirna sambil menangis dan memukuli perutnya, “nak coba dengarkan ibu, ibu sayang sekali sama mirna ibu gak mau mirna membunuh darah daging mirna sendiri, anggap saja janin yang ada di rahim mirna sebagai karunia Tuhan yang akan membantu mirna nanti” ibunya selalu berusaha menenangkan hati mirna.

Hingga tibalah saatnya anak yang dikandung mirna lahir ke dunia, jam menunjukan pukul 03:00 saat itu ibunya selesai melaksanakan tahajud mendengar suara anaknya teriak memanggilnya “bu.. ibu.. tolong bu.. perutku sakit banget bu” bergegaslah ibunya mendatangi anaknya dan memanggil bidan terdekat.

Tak lama kemudian terdengarlah suara tangisan bayi tetapi setelah itu terdengar lagi suara bayi menangis, mirna pun pingsan karena mungkin kelelahan, ternyata mirna melahirkan 2 bayi kembar tetapi jenis kelaminnya berbeda perempuan dan laki-laki. Ibu minah memberinya nama Azhari dan Azhara.

10 tahun kemudian, kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang cantik dan tampan, dan juga saleh dan saleha. Mereka sering ditinggal ibunya dan tinggal bersama neneknya, mereka sangat pintar mengaji bahkan menghafal Al-Quran. Ibu minah selalu memberinya makan dengan hasil menjual kue dan buruh mencucinya, ia juga tak pernah lupa mendidiknya, menasihatinya agar menjadi anak yang baik. Setiap pagi mereka pergi sekolah sepulang sekolah mereka membantu neneknya membuat kue, setelah selesai mereka selalu ke mushola untuk belajar mengaji. Suara mereka sangatlah merdu kerika membaca ayat suci Al-Quran.

Pada suatu malam saat Azhari dan Azhara mengaji di kamarnya, ibunya pun pulang dengan keadaan mabuk. Tanpa basa basi mirna membuka kamar anaknya, ia marah-marah “hai… kalian berisik sekali sihhh, sudah malam bukanya tidur malah brisik” bentak mirna kepada kedua anaknya, lalu ia pergi menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan suara sangat keras. Sesekali mereka berdua bertanya kepada neneknya “nenek kenapa sih nek ibu selalu marahin kita, kita gak salah pun dimarahin, apa ibu tidak sayang sama kita nek?” Tanya Azhari dan Azhara kepada nenenya “ibu kalian bukan marah-marah mungkin karena dia sedang capek saja, siapa bilang ibu gak sayang, ibu itu sayang sama ari dan ara” jawab neneknya sambil merangkul keduanya dan tersenyum.

Satu minggu mirna terbaring lemas di rumah sakit karena penyakit jantung dan paru paru yang sudah parah, karena sering sekali ia merok*k dan mabuk berat. Saat itu anaknya mengaji di depan ibunya yang sedang sakit. Entah apa gerangan ibunya menangis mendengar suara mereka yang sangat merdu, ibunya pun memeluk kedua anaknya “ari ara, maafin ibu ya, selama ini ibu selalu marah marah, dan ibu maafin aku ya bu selama ini aku selalu nyakitin hati ibu, aku sayang kalian” ucap mirna dengan menangis. Tak lama kemudian terdengarlah suara isak tangis dari ruangan dimana marni dirawat, dan saat itulah marni menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tamat


Karya: Reni Gita Purwanti

TEMAN SUPRANATURAL

“Violet!” bentak ibu membangunkanku dari alam mimpi yang indah. aku yang telah terbangun, bergegas ke kamar mandi. lalu, aku pergi ke ruang makan untuk memakan sarapan yang telah dipersiapkan oleh ibu beberapa waktu lalu. “Violet, besok ibu ditugaskan di Jakarta selama 3 bulan, kamu bisa kan jaga rumah sendirian?” Tanya ibu dengan penuh keharapan “Oke ma” jawab ku dengan nada polos.

Oh ya namaku violet, aku terlahir dari keluarga sederhana, tidak terlalu kaya dan tidak terlalu miskin. Tapi banyak orang bilang kalau aku itu kaya dan baik. Ayahku telah meninggal 6 tahun lalu, sejak aku duduk di kelas 4 SD. Sekarang aku duduk di kelas 1 SMA Negeri 1 Batu. Sekolah tervavorit di batu malang. Disana tempat ku menimba ilmu dengan ditemani oleh udara yang sejuk.

Tempatnya pun nyaman untuk bercanda gurau, berdiskusi dan bermain riang gembira. Tempat terfavorit bagiku adalah taman depan kelas 7. Aku mengajak sahabat ku, Rihana namanya. Seorang yang baik, pintar, tapi ia pendiam. Menurutku, rihana itu mudah berteman dan lucu. Setiap hari kita pergi ke taman untuk mencari udara segar dan membuat kata kata yang lucu. Oh ya dari TK Rihana memiliki indra ke 6, ia sering melihat hantu yang sering lewat di sekitar sekolah, dan lebih anehnya lagi, Rihana sering melihat sosok laki-laki di belakangku, kata Rihana seseorang tersebut sering meminta tolong. Aku yang masih bingung megajak Rihana pergi ke taman dekat rumahku untuk mengetahui hal tersebut. setelah di taman rumah, Rihana menceritakan apa yang ia lihat. Aku sih masih enggak percaya sama yang dikatakan sekarang, tapi aku masih ingin mengetahui siapa ia? dan mengapa ia selalu mengikutiku?

Hari demi hari, waktu demi waktu, detik demi detik ku lewati. Hantu itu sering mengikuti tanpa henti. Aku yang semakin penasaran, mencoba untuk mengetahui apa yang ia mau. Aku mengajak Rihana pergi ke taman rumah ku lagi untuk mencoba berinteraksi dengan hantu tersebut. Saat di taman, Rihana berkata kepadaku jika yang mengganggu kamu adalah ayahmu sendiri. lalu aku mencoba bertanya mengapa ayah selalu mengikutiku? Rihana mencoba menanyakan hal tersebut kepada ayah ku. Ia mencatatnya di buku catatan yang ia bawa. Saat Rihana mencatat hal tersebut, aku melihat daerah taman rumah yang indah nyaman dan rindang. Rumah itu sepi setelah ditinggal ibuku berkerja di Jakarta.

Setelah beberapa lama Rihana memberikan catatan itu kepadaku, aku membacanya, tulisan itu berbunyi “Tolong bantu ayah, siapa yang membunuh ayah” aku bingung dan menanyakan hal tersebut kepada Rihana. Rihana menceritakan semua yang ayah ku bilang “Sebenarnya yang terjadi pada ayahku bukanlah rem blong tetapi ada seseorang yang telah membunuh ayahku. Saat kejadian ayahku ada meeting di tempat kerjanya, ayahku berangkat deengan mobil sedan tua miliknya, tetapi saat di tengah jalan ayahku ditabrak oleh sesorang tersebut. Saat ada kendaraan bermotor lewat ia melihat mobil yang terbalik, lalu ia mencoba menelpon kantor polisi dan rumah sakit terdekat dan selanjutnya aku mengetahui hal tersebut dalam berita rem blong” aku yang dari tadi mendengarkan cerita dengan tiba tiba air mataku menetes di pipiku dengan sendirinya.

“Oh ya tadi ayahmu bilang kamu disuruh oleh ayahmu pergi ke kamarnya dan mengambil rubik dan pergi ke alamat yang berada di dekat rubik itu. Aku mencoba mengikuti perintah yang diberikan ayahku kepada Rihana. Aku dan Rihana langsung pergi ke kamarnya ayahku untuk mengambil rubik dan alamat yang berada di dalam laci. Aku membuka lembaran kertas itu yang berisi alamat pak trianto, sahabat ayahku yang sudah lama tak bertemu pasti lupa sama aku, pikirku. “jalan sukanegara no 41, wah rumahnya tidak jauh dari rumahku hanya berjarak 45 meter dari gang depan rumahku. Aku bergegas pergi dengan menyiapkan beberapa buku dan alat tulis untuk mencatat hal yang penting dari percakapanku dengan pak trianto. Alat alat tersebut kumasukkan ke dalam tas hitam milikku kecuali rubik ajaib yang diberikan ayahku, rubik itu selalu selalu aku pegang. Aku masih belum tahu apa maksud dari rubik ajaib itu, rubik itu selalu berputar dengan sendirinya dan mengeluarkan cahaya jika rubik itu selesai dengan sempurna. Saat di rumah pak rianto aku mencoba untuk memencet bel di sebelah pagar tersebut. Tak lama kemudian keluarlah laki-laki yang sepertinya aku kenal.

Aku mencoba mengingat kembali siapa ia. “Rexo” kata ku dengan nada gembira, nada yang mengingatkanku seseorang yang sering membuatku bahagia, bersandung tawa dan bermain bersama. Sejak ayahku ada, aku sering pergi ke rumahnya, tapi semenjak ayahku meninggal, aku dan Rexo tidak pernah bertemu lagi. Rexo dengan wajah gembira mengajak aku dan rihana pergi ke dalam rumah nya.

Tak lama kemudian, pak trianto datang dengan wajah gembira dan aku berdiri dari tempat duduk untuk menghormati pak trianto ayah dari Rexo dan sahabat kerja ayahku. Pak trianto menyuruh ku untuk duduk dan menceritakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, mengapa aku ke sini, siapa musuh ayah sebenarnya, dan apa yang ia mau dari ayahku? semua itu aku Tanya semasih ada di rumah ini. Siang menjelang sore waktuku berkemas diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Besok Rexo ikut untuk menyelidiki siapa yang membunuh ayahku.

Keesokan harinya kami bertiga kumpul di halaman belakang rumahku dan mendiskusikan apa yang Rihana tulis kemarin. “Yang aku tulis adalah nama: pak yahya, berkerja sebagai staff di PT Diguna Guna ia ingin merbutkan jabatan ayahmu sebagai direktur utama pada kantor tersebut” kata Rihana sambil mengawali pertemuan di pagi hari. “Alamatnya dimana?” tanyaku dengan serius. “Di jalan maju mundur no 1” kata Rihana dengan wajah senang. “Ayo kita kesana” jawab Rexo dengan penuh semangat. Kami pun menuju ke rumah pak yahya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku.

Cahaya pagi yang hangat dan udara yang sangat sejuk membuatku ingin bersemangat sampai tempat. Saat di depan gang rubik yang ku bawa bergerak sendiri dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang lebih dari cahaya lampu, cahaya itu bergerak dan menunjukkan ke arah gubuk tua yang tidak layak pakai. kami bertiga segera pergi ke gubuk itu dan melihat-lihat apakah ada seseorang atau tidak, “Permisi apakah ada orang di dalam?” tanya Rihana sambil membuka pintu. Pintunya yang sangat lembab, basah dan hampir rusak membuat ingin tahu siapa yang ada di dalam.

Kami pun masuk gubuk tersebut dan melihat daerah sekitarnya. “Permisi anda siapa ya?” Tanya Rexo membuat aku dan Rihana ingin tahu apa yang ia bicarakan. Orang itu terlihat sudah tua dan agak tidak waras. Seseorang tersebut yang dari tadi diam dengan tiba-tiba ia tertawa sendiri dan berkata “Hahaha ia mati di tanganku, saatnya aku mengubah sifatku untuk menggantikan jabatannya, hahaha” kata seseorang itu. Aku kaget dan mataku berkaca-kaca mendengar hal tersebut. Tanpa sadar Rexo dimasuki oleh nyawa ayah dan berkata “hei yahya mengakulah kau ke kantor polisi jika tidak kamu akan mengikutiki ke neraka yang siksaannya lebih kejam daripada masuk penjara” kata ayahku dan pak yahya mengakui kesalahannya.

Rihana telah menyiapkan cam recorder miliknya jadi ia dapat merekam kejadian yang tadi aku segera menelpon pak polisi untuk menangkap pak yahya “ayahmu sekarang sudah tenang di alam sana biarkan saja Rexo tidur di sana nanti dia juga bangun” kata Rihana “Terimakasih kamu sahabat yang baik yang aku punya” jawabku, kami berdua berpelukan “ehhem” suara Rexo mengagetkan kami berdua. Suara mobil pak polisi datang aku mempersiapkan cam recorder milik Rihana untuk menjadi bukti yang kami bertiga punya.

Beberapa menit kemudian, mobil ibu datang dan berhenti di depan gubuk itu aku bertanya “Lho bu ini kan masih satu setengah bulan kok ibu udah pulang?” lalu ibu berkata “Ibu kangen sama kamu kamu hanya anak pertama milik ibu, ibu gak bisa kerja di luar kota kalau kamu sendirian akirnya ibu pulang dan sesampainya di rumah ibu melihat keadaan sepi sekali tanpa seseorang.”

“Lalu kenapa ibu bisa tahu kalau aku disini?” tanyaku seperti anak kecil “setelah di rumah ibu ditelepon oleh kantor polisi kalau kamu telah menangkap siapa yang menabrak ayah, mama suka sekali” kata ibu sambil tersenyum tipis” sebagai gantinya kamu boleh bermain di rumahnya Rexo kapan pun yang kau mau. Aku pergi ke Rihana “Kamu ikut tidak ke rumahnya Rexo?” aku bertanya dan Rihana menjawab “Boleh deh” kami tersenyum tipis.

Keesokan harinya kami bermain dan bertukar cerita dan pengalaman lama.

Cerita yang kualami akan kubuat pelajaran bagiku kalau kita tak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan. jadi sahabatlah yang dapat menolongnya. Sahabat itu tidak pilih-pilih, semua juga bisa menjadi sahabat yang baik asalkan mereka memiliki hati yang tulus untuk menolong dan membantu satu sama lain, megajari semua keburukan dan tidak pilih kasih.


Karya: Sherena Anodhea Eka Pramudita

SERANGAN ZOMBIE

Hari ini ada yang lain dengan orangtuaku. Kalian tau? Sejak kemarin wajah mereka terlihat aneh. Pandangan mereka sangat kosong. Kulit mereka penuh dengan luka di tangan, wajah, dan kaki. Mengerikan! Mereka terlihat seperti mayat hidup. Kedua tangan mereka terjulur ke depan. Jalan mereka terpincang-pincang. Mulut mereka pun tidak henti-hentinya mengaum bak binatang buas. Pagi tadi mereka seperti hendak menyerangku. Aku kaget. Aku pikir mereka ingin membangunkanku untuk sarapan pagi. Tetapi, kurasa tidak. Mana mungkin Ayah dan Ibu membangunkanku dengan cara seperti itu? Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari ke luar untuk mencari pertolongan. Tetapi nyatanya, keadaan di luar pun begitu lengang. Benar-benar sepi. Kemana perginya semua orang?

Aku putarkan pandanganku ke segala arah. Berharap ada seseorang yang mau dan bisa kumintai tolong. Tapi sepertinya, itu sia-sia saja. Kulihat dari tadi tidak ada satu orang pun yang berlalu-lalang di sekitarku. Astaga! Tempat ini persis seperti kota mati! Namun, tiba-tiba saja ada seorang gadis kecil berambut panjang kemerahan datang menghampiriku dan menangis. Rambutnya acak-acakkan. Hampir di seluruh wajahnya dipenuhi debu dan kotoran. Pakaian yang dikenakannya pun terlihat lusuh dan juga berantakan. Apa yang terjadi dengan anak ini?

“Hiks… hiks, semua orang terlihat aneh. Wajah mereka sangat mengerikan. Aku takut!” ucapnya sambil terisak.

Aku dekati anak itu. Lalu aku tatap matanya dengan lembut seraya menenangkannya.

“Siapa namamu, dik? Kenapa kamu ada disini?” tanyaku.

Gadis itu menjulurkan tangannya padaku. “Namaku Lisa. Aku ingin mencari obat untuk ibu dan kakakku.” jawabnya.

Aku balas jabatan tangannya sambil mengerutkan kening. Obat? Untuk apa?

“Aku Rosiana Gilbert. Kamu bisa panggil aku Rose.” balasku seraya tersenyum.

Gadis kecil yang bernama Lisa itu mengangguk. Tak berapa lama, isak tangisnya berhenti. Syukurlah! Kemudian aku melanjutkan ucapanku. “Apa maksudmu dengan obat? Untuk apa memang?”

“Untuk memusnahkan virus zombitinus yang terjangkit di daerah ini!” jawabnya lagi.

Keningku semakin berkerut. Virus zombitinus? Apa itu? Aku belum pernah dengar sebelumnya. Apakah mungkin virus itu yang membuat anehnya sikap kedua orangtuaku?

Kini Lisa terlihat gelisah. Tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Tapi matanya terus saja berpandangan ke segala arah. “Ayo, Rose! Kita harus cepat mendapatkan obat itu! Sebelum nanti semuanya terlambat!” desaknya dengan panik.

Aku benar-benar bingung. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Mungkin sebaiknya aku ikuti anak ini dan mencari obatnya. Siapa tau dengan obat itu, aku bisa menyembuhkan orangtuaku juga.

“Tapi Lisa, di mana kita bisa mendapatkan obat itu?” tanyaku lagi.

Tapi Lisa hanya diam tidak bergeming. Matanya terus saja melihat ke depan. Kulihat kedua alisnya saling bertautan. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kita harus ke rumah sakit Santa sekarang! Kuharap obat itu masih ada. Karena hanya di sana satu-satunya harapan kita sekarang!” gumamnya seraya membalikkan badannya lalu melangkah meninggalkanku yang masih terdiam di tempat.

Rumah sakit Santa? Itu kan rumah sakit khusus penderita Necrosis! Jangan bilang obat itu ada di sana!

“Ayo, Rose! Cepat! Tunggu apa lagi!? Waktu kita tidak banyak!” teriak Lisa lagi dengan panik. Lalu ditariknya tangan kiriku dengan kencang.

Ya Tuhan, aku harap situasinya tidak menjadi lebih buruk lagi dari ini. Ya, semoga saja!

Dan akhirnya di sinilah kami, di sebuah ruangan kecil di rumah sakit. Kurasa ini adalah ruangan operasi. Karena dari tadi aku melihat banyak sekali peralatan operasi di meja. Keadaan di sini pun juga sama seperti tadi. Benar-benar lengang. Sedari tadi kami tidak melihat satu orang pun. Aku jadi heran. Kemana sih, perginya orang-orang? Tidak mungkin kan, mereka semua menghilang tanpa sebab. Apa jangan-jangan rumah sakit ini memang berhantu? Hii… memikirkannya saja, bulu kudukku sudah merinding. Lisa yang kini berada di pojok ruangan itu pun masih sibuk menggasak benda apa saja yang dia temui di situ. Matanya mengerjap gelisah.

“Tidak mungkin! Kenapa tidak ada? Di mana sebenarnya obat itu!?” desisnya lagi dengan panik. Semua alat-alat rumah sakit pun ikut berjatuhan ke lantai. Sepertinya Lisa tidak menemukan obat itu di sana.

Aku menghampirinya. Lalu kutepuk bahunya dengan pelan sembari mengajaknya ke luar dari sini.

“Mungkin bukan di sini. Ayo, kita cari di tempat lain!” kataku tersenyum seraya melangkah ke luar mendahuluinya.

Lisa pun mengangguk. Diikutinya aku dari belakang. Lalu diraihnya tangan kiriku, berusaha untuk menyusulku. Kusadari tangannya kini begitu dingin. Dingin sekali seperti batu es. Mukanya pun berubah pucat. Keringatnya mengucur dengan deras di dahinya. Aku jadi khawatir.

“Kamu tidak apa-apa, Lisa?” tanyaku.

Lisa hanya menggelengkan kepalanya. Lalu meneruskan perjalanan.

Terasa pikiran buruk mulai merasuki pikiranku saat ini. Kuperhatikan ada satu goresan luka kecil di lengan kanannya. Luka itu seperti luka gigitan.

“Luka apa itu di lenganmu, Lis?” lirikku padanya.

Tapi kudapati Lisa hanya diam tidak menjawab. Tiba-tiba Lisa menghentikan langkahnya. Ditundukkan wajahnya ke bawah. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian dari wajahnya. Lalu, kudengar suara auman keluar dari mulut Lisa.

“Arrgghh…”

Ohh, tidak!

Kumundurkan langkahku perlahan menjauhi Lisa. Astaga! Jantungku kini berdegup dengan kencang. Kedua lututku terasa bergetar dengan hebatnya.

Lisa pun balik badan. Kini wajahnya berubah. Wajahnya persis seperti orang mati. Matanya menatapku dengan pandangan kosong. Warna di kedua matanya berubah merah. Benar-benar merah seperti darah. Kedua tangannya terjulur ke depan. Mulutnya pun kini terbuka dengan lebar. Seakan hendak menangkap dan mengigitku. Dia berjalan ke arahku dengan terpincang-pincang. Ya Tuhan! Aku baru sadar, kini Lisa berubah menjadi zombie. Pasti ada yang menggigitnya tadi sebelum dia menemukanku.

Tak berapa lama auman di mulut Lisa menjadi semakin kencang.

“Heghh… arrggghh…”

Ya Tuhan! Aku harus melarikan diri sekarang! Aku tidak mau menjadi zombie!!

Kupandangi seluruh lorong rumah sakit ini dengan panik. Aku harus kabur dari sini! Tapi di mana jalan keluarnya?

Perlahan langkah Lisa semakin dekat denganku. Dan aku terus memundurkan langkahku sebisa mungkin untuk menjauhinya. Sekaligus mencari kesempatan bagus untuk melarikan diri.

Tetapi… ah, sial! Aku terperangkap. Aku tidak bisa mundur lagi sekarang. Di belakangku berdiri sebuah tembok besar. Ya Tuhan! Ini jalan buntu!

Aku semakin panik. Nafasku tercekat. Keringatku mengalir dengan deras di wajah dan leherku.

Kini Lisa sudah berada tepat di hadapanku. Tangannya terus berusaha menggapai tubuhku. Tapi sebelum itu, aku berhasil mendorongnya hingga terjatuh.

BRUK!

Yes! Aku berhasil! Sekarang waktunya untuk melarikan diri! Terima kasih Tuhan!!!

Kutinggalkan Lisa yang kini berusaha bangun untuk mengejarku. Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan. Aku langsung berlari kencang ke depan seraya mencari jalan ke luar.

Suasana di rumah sakit ini benar-benar dingin dan lembab. Membuat semua bulu kudukku kembali meremang. Tetapi, ini bukan saatnya untuk takut. Yang penting, aku harus segera cepat pergi dari sini!

Namun tiba-tiba ketika aku sudah mencapai depan lorong, ohh… astaga! Tidak! Ini tidak mungkin! Banyak sekali para manusia zombie di sini. Mereka semua berkumpul membentuk barisan yang menghalangiku untuk ke luar. Jalan mereka terpincang-pincang. Mulut mereka terus mengaum seperti layaknya binatang buas. Mereka semua berjalan tertatih-tatih mendekatiku. Ya Tuhan! Apa lagi ini?

Aku kembali memundurkan jalanku. Berusaha menjauh dari para zombie itu. Tetapi… kini aku benar-benar terperangkap. Ketika aku terus memundurkan jalanku, di belakangku sudah berdiri Lisa yang juga terus berusaha untuk menggigitku.

“Hegh… arrgghh… arrr…”

Oh, tidak! Aku di kepung para zombie!! Siapa saja, tolong aku!!!

THE END

*Necrosis adalah suatu kondisi dengan banyak kemungkinan penyebab yang berbeda. Seperti kanker, racun, cedera, atau infeksi yang menyebabkan kematian sel prematur. Penyakit ini membuat penderitanya menjadi seperti mayat hidup, karena secara teknis sebagian tubuhnya telah mati. Kecuali otak, jantung, dan seluruh organ vital.


Karya: Hernita Sari Pratiwi

SIREN

“Ayah! Ayah! Bisa gak ceritakan lagi kepada Nila tentang Siren?”

Ayah menatapku sebentar, lalu mengangguk sembari menepuk bantal duduk yang tertera di hadapannya. “Sini duduk sama Ayah!” Aku bersorak girang, lalu berlari kecil menuju tempat yang ditunjukkan Ayah kepadaku. Setelah aku duduk rapi, Ayah berdehem keras, untuk pembukkan yang menegangkan, katanya. Mataku berbinar menunggu Ayah bercerita.

“Pada suatu kala, di pulau terpencil bagian Utara, hiduplah seorang laki-laki bernama Seth. Ia mempunyai istri cantik bernama Sarah. Mereka berdua hidup bahagia di pulau yang nyaris tidak berpenghuni itu. Suatu saat, di hari yang cerah, tiba-tiba Sarah mengatakan bahwa ia sedang mengandung. Seth yang mendengar kabar itu, senang bukan kepalang. Mereka sangat menjaga kandungan Sarah, terlebih karena kesehatan Sarah menurun. Sampai suatu hari…”

Aku merengut kesal, karena Ayah berhenti di bagian seru. “Yah! Kok berhenti, ceritanya kan belum habis!” Ayah hanya tertawa lalu mengerling jahil kepadaku, “Nila pingin banget dilanjutin?” Aku mengangguk cepat, sedangkan Ayah malah terbahak. “Baiklah, Ayah lanjutin. Tapi, Nila janji ya gak akan ribut.” Sekali lagi aku mengangguk.

“Sampai suatu hari, di usia kandungan Sarah menginjak 9 bulan, ia kabur dari rumah dan melahirkan seorang anak perempuan bernama Lea. Ia meninggalkan Lea di depan rumah miliknya dan Seth. Lalu Sarah pergi ke laut yang terdapat banyak tebing dan batu karang. Ia melompat masuk ke dalam laut dan berubah menjadi, uhuk! Uhuk!”

Tiba-tiba Ayah berhenti lagi, tetapi kali ini berbeda. Ayah terbatuk-batuk, mukanya sudah pucat pasi, dan saat batuknya mulai reda, aku melihat cairan berwarna merah kehitaman kental menetes dari tangan Ayah. Itu kan darah! Spontan aku berteriak memanggil Bunda.

“Bunda! Bunda! Ayah batuknya berdarah! BUNDA!” Air mataku yang sedari tadi menggenang, langsung meluncur deras dari kelopak mataku. Aku yang waktu itu berumur 9 tahun, harus menerima kenyataan bahwa Ayah mengidap kanker paru-paru stadium 2.

Pemakaman Ayah dilangsungkan selama dua jam, akibat Bunda yang meronta-ronta agar tubuh Ayah tidak dimasukkan ke liang kubur. Ayah meninggal akibat kanker yang dideritanya selama empat setengah tahun ini. Aku hanya menatap nanar nisan yang bertuliskan nama asli Ayah.

Seth Saphire.

Nama yang selalu Ayah ceritakan di setiap malam sebelum aku tidur. Nama yang selalu kuingat di luar kepala. Nama yang selalu disandingkan dengan nama Sarah. Nama yang selalu kumimpikan. Ternyata itu nama asli Ayah.

Aku mengetahuinya setelah Bunda menyuruhku untuk mengambil surat titipan Ayah sebelum meninggal di laci meja kerjanya. Berkat surat itu aku juga menemukan dua fakta; aku adalah kakak Lea dan Sarah adalah ibu tiriku. Tidak kubayangkan bagaimana perasaan Bunda saat menemukan fakta ini, bagaimana ia bisa menerima kenyataan ini dengan mudah?

Biar kujelaskan, Ayah mempunyai dua istri, istri yang pertama adalah Bunda dan istri yang kedua adalah Sarah. Aku dan Bunda tinggal di kota, sedangkan Ayah dan Sarah tinggal di pulau terpencil. Beberapa tahun kemudian, Ayah ke kota membawa seorang gadis yang kuketahui bernama Lea. Ayah tidak menjelaskan asal-usulnya dan hanya memberi tahu kami bahwa Lea adalah anak yang ditemukannya saat perjalanan menuju kota. 6 bulan kemudian Lea menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu dia menghilang kemana, bahkan Ayah sekalipun.

Tapi, hari ini aku melihat Lea bersama Sarah berada di atas permukaan laut, menatap makam Ayah yang tak jauh dari sana. Ayah memang sudah merencanakan saat dirinya meninggal, ia mau dimakamkan di pulau terpencil ini. Setelah bertahun-tahun, aku baru menyadari bahwa Sarah adalah ibu kandung Lea sekaligus orang yang sering diceritakan oleh Ayah.

Aku menatap Sarah begitu lama, tanpa sadar aku berjalan ke arahnya. Nyanyian merdunya membuatku terhasut dan menjalankan rencananya. Sekarang setengah badanku sudah masuk ke dalam lautan. Sarah menarik tanganku lalu merapalkan sebuah mantra yang terdengar merdu di telingaku. Dalam sekejap, aku tidak bisa merasakan kedua kakiku lagi. Tetapi, aku bisa merasakan sebuah ekor duyung. Tiba-tiba, Sarah dan Lea mengapit kedua lenganku lalu mengajakku menyelami lautan yang luas.

Aku yang waktu itu berumur 12 tahun, harus menerima kenyataan bahwa Ayah telah meninggal dan aku berubah menjadi Siren.

THE END

Siren: makhluk legendaris bersuara merdu yang mampu menghanyutkan hati manusia.


Karya: Fal1312

Monday, December 24, 2018

NYONTEK

Kubuka Perlahan bukuku
Sesaat aku bingung dan ragu
Mulai bereaksi jemariku
Terasa gemetar badanku

Ketika menoleh ke belakang
Aku terkejut tak kepalang
Telah berdiri guruku
Tersenyum menarik bukuku

Betapa malunya diri
Tak akan kuulangi lagi
Perbuatan seperti ini
Demi masa depanku sendiri

RUMAH SETAN

Malam begitu larut sekali. Di tambah hujan pun turun. Perily baru pulang dari belanja dari minimarket langsung begerak cepat iyup di di depan rumah tua. Awalnya ketakutan mendatangi rumah tua yang berada di pingiran kompleks perumahan, tapi hujan makin lama makin deras Perily memberanikan diri. Dengan sabar Perily menunggu sampai hujan reda. 

Pintu rumah tua pun terbuka. Perily mulai penasaran. Di tambah ada sesosok anak kecil yang sedang bermain di teras depan. Perily pun mencoba masuk ke dalam dan berkata "Permisi saya boleh numpang iyup di dalam", Sang anak melambaikan tangannya ke Perily tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. 

Dengan sopan Perily masuk rumah orang. Tapi anak kecil berlari masuk ke dalam rumah. Perily sedikit bingung dan canggung karena merasa masuk rumah orang apalagi anak kecil pemilik rumah kabur begitu saja. Perily tetap jojong iyup didepan teras rumah si anak kecil. 
Sambil duduk Perily memakan kue yang enak yang di beli di minimarket. Tiba-tiba anak pemilik rumah sudah di samping kiri Perily. Bulu kuduk berdiri. Rasa takut pun timbul. Lalu Perily mencoba menengok ke sebelah kiri. Ternyata anak pemilik rumah mendatangi Perily dengan senyum manis. Seketika rasa takutnya pun hilang. Lalu Perily yang murah hati membagi makannya ke anak pemilik rumah.

Dengan lugunya anak kecil mengambil pemberian Perily. 

"Terima kasih...kakak," kata anak kecil.

"Iya..sama-sama," jawab Perily.

Lalu anak kecil masuk ke dalam rumah dengan berlari cepat sekali. Perily cuma tersenyum melihat kelincahan anak kecil. Walau sebenarnya Perily ingin bertanya siapa nama anak kecil itu. Hujan pun mulai reda. Perily mulai bergerak untuk keluar dari rumah tua dan hendak mengucapkan terima kasih atas di izinkan iyup di teras depan. Di tunggu lama si anak kecil tidak muncul. Maka Perily bergerak tanpa mengucapkan terima kasih.

Tidak sengaja Perily menyentuh benang merah yang terikat antara dua pohon bonsai sampai terputus. Awan hitam dengan petir menyambar-nyambar terlihat di atas rumah. Rasa takut pun timbul dengan cuaca yang aneh. Perily berusaha mengabaikannya dan berusaha menggunakan langkah seribu. Tapi ternyata di hadang oleh sosok makluk yang menyeramkan dari wajahnya berlumuran darah dan belatung. 

"Setan.....," teriak Perily sampai mundur beberapa langkah.

Dengan penuh rasa ketakutan Perily berusaha menghindari setan yang mengikutinya. Dengan bantuan anak kecil menghadang setan jahat dengan kekuatan magisnya. Akhirnya Perily bisa keluar dari rumah tua. 

"Saya selamat," kata Perily.

Rumah tua pun menghilang begitu saja yang tersisa hanya tanah kosong. Perily pun melongo melihat kejadian itu. 

"Apa saya salah lihat ya...aneh juga kejadian ini?," celoteh Perily.

Perily mengabaikan kejadian itu dan bergerak pulang ke rumah. Saat melewatin persimpangan gang ada ibu-ibu bercerita tentang rumah setan yang akan muncul di saat orang mengalami kesulitan. Dengan seksama Perily mendengarkan cerita ibu-ibu ngerumpi. Tapi di akhir cerita Perily baru sadar kesalahannya sampai setan jahat muncul dan ingin menangkapnya karena memutuskan benang merah yang mengikat antara dua alam. 

Semenjak itu Perily sering mendatangi tanah kosong di mana rumah tua itu muncul untuk membuktikan lagi keberadaan rumah setan. Tapi tetap tidak pernah muncul juga. Perily pun jenuh dan akhirnya melupakan tentang keberadaan rumah tua dan menjalani hidup seperti biasanya. Anak kecil pemilik rumah setan sering muncul dan selalu mengekorin Perily ke mana pun karena menyukainya.


Karya: No

AJIAN MACAN PUTIH

Aku berangkat ke mesjid  bersama Ibu yang tersayang yang bernama Mislawati. Dengan langkah yang pasti di berjalan di pinggir jalan. Walau mobil dan motor terus hilir mudik dua arah. Terkadang membuat aku takut karena padatnya kendaraan yang berjalan di jalan raya. Tetapi Ibuku tetap jojong melangkah menuju masjid. Aku yang mengekor dari belakangnya sambil membawakan tasnya. 

Sampai di depan pertokoan. Aku dan Ibuku mau menyeberang. Dengan sabar menunggu jalan menjadi sepi dari kendaraan motor dan mobil. Ketika mulai sepi aku dan Ibu berlari ke seberang dan masuk ke jalan gang  yang berdiri sebuah gapura yang cukup cantik dan bertuliskan "Selamat datang" di atas gapura. Ibuku langsung cepat langkahnya membelok ke kiri dan masuk ke dalam mesjid. Sedangkan aku di belakang masih saja berpikir dengan tulisan "Selamat datang". Tapi lama-lama aku abaikan.

"Cuma nyeleneh niiii," celetuk aku.

Aku pun masuk ke dalam masjid dan langsung bersalaman dengan orang-orang yang ada di mesjid. Barulah pengajiaan di mulai setelah aku duduk di pinggir dekat tembok. Guru ngaji mulai membawa Al Qur'annya ke tempat biasanya untuk memberikan pendidikan agama. Aku pun mengeluarkan Al Qur'an dari tas. Sedangkan Ibuku sudah di antara kaum jamaah wanita.

Guru ngaji mulai membacakan ayat Al Qur'an dengan sangat merdu. Setelah itu baru bergiliran berdasarkan di tunjuk oleh guru ngaji. Pada akhirnya aku pun di tunjuk untuk membaca Al Qur'an melanjutkan bacaan.  Dengan penuh ketenangan aku pun membaca ayat Al Qur'an dengan baik. Walaupun aku banyak salah dalam tartil bacaan  dengan cepat guru ngaji memberikan arahan bacaan ayat yang benar. Dengan segera aku memperbaiki bacaanku. Dengan perasaan senang aku pun pandai membaca Al Qur'an dengan baik dan benar.

Setelah aku menyelesaikan bacaan  dan akhiri dengan doa bersama di pandu oleh guru ngaji. Barulah azan di kumandangkan oleh temanku yang bernama Irfan. Dengan seksama semua mendengarkan suara azan sampai selesai. Barulah sholat isya berjama'ah dilaksanakan dan imami oleh guru mengaji.

Selang berapa saat selesai sholat isya dengan khusuk sekali. Lalu acara berikutnya pun di mulai. Aku dan semua orang di dalam masjid termasuk Ibuku ke luar dari mesjid menuju sebuah lapangan di samping mesjid. Tepatnya sih sebagai lahan parkir. Tapi di pakai untuk latihan silat.

Semua orang berbaris rapih. Setelah membaca doa bersama sampai selesai barulah  acara latihan silat di mulai. Dengan arahan guru ngaji mengeluarkan teknik silat. Semua orang mengikuti dengan baik. Sampai selesai dengan baik. Di ujung latihan sang guru ngaji memberikan jurus baru yang bernama "Ajian Macan Putih".  Semua orang terpukau dengan termasuk aku melihat jurus silat yang selama ini belum di ajarkan.

Teknik silat itu sangat buas sekali. Sampai-sampai sang guru ngaji mengeluarkan jurus tenaga dalam dan  diarahkan ke sebuah dinding. Tak di sangka dinding pun jebol dengan jurus tenaga dalam si guru ngaji. Aku pun terkejut sekali begitu juga dengan orang-orang. 

Tapi hari makin malam acara belajar silat pun berakhir dan tidak jadi belajar jurus baru. Aku pun kembali masuk ke mesjid setelah bersalaman dengan semua orang. Lalu aku mengambil tas di dalam mesjid setelah itu baru aku berjalan menuju sebuah gapura. Di samping gapura aku menunggu Ibuku. Dengan sabar aku menunggu, baru Ibuku nongol. Dan menyerahkan tasnya ke aku untuk di bawakan. Aku dengan senang sekali membawakan tas Ibuku. Aku dan Ibuku berjalan menuju pulang ke rumah.

Di tengah perjalan Ibuku bertanya pada ku "Nak tadi latihan silat ya?" 

"Iya," jawab ku dengan santun.

"Ibu tidak ikutan belajar silat..cuma nonton aja."

"Ohhh."

Sambil menikmati malam aku dan Ibuku berjalan di pinggir jalan. Sampai bertemu dengan teman lama Ibu dan saling sapa menyapa tanda saling menghormati. Termasuk aku pun ikutan. Tiba-tiba suara tintin  dari motor membuatku terkejut. Motor yang di bawa cewek cantik melesat dengan cukup cepat.

"Ibu....gadis yang membuat aku terkejut sudah menikah...belum?" tanya aku.

"Belum......... ada yang mau."

"Pada hal banyak cowok yang...mapan di mesjid kenapa gak kecantol ya....!?"

"Belum jodoh... ah..jangan urusin orang. Lebih baik urusin aja urusan kita."

"Iya... Ibu."

Aku pun mengerti perkataan Ibuku. Teruslah Aku dan Ibuku melangkah sampai di  depan toko dan baru menyeberang masuk ke dalam gang yang di depannya ada gapura. Dengan santai sampailah aku dan Ibuku di rumah. Aku langsung menyetel televisi untuk menonton sintetron kesukaanku. Sedangkan Ibuku berbenah diri untuk istirahat tidur. Aku asik menonton sinetron laga yang berjudul "Misteri Gunung Merapi". Terkadang aku mengganti chenel Tv dengan acara musik dangdut yang di bawakan penyanyi Putri si cantik jelita. Dengan santai aku menonton acara Tv  sampai waktu tidur datang dan aku mematikan Tv. Aku masuk ke dalam kamar ku langsung rebaan di tempat tidur. Aku langsung tidur dengan tenang.


Karya: No

CAMPUR ADUK

HUM DIL DE CHUKE SANAM

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik sih. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik...

CAMPUR ADUK