CAMPUR ADUK

Saturday, July 31, 2021

NINFA DAN PANGERAN BERUANG

Bella selesai mengerjakan tugas kuliahnya. Bella keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tengah. Ada buku di meja dan segera di ambil Bella dan di baca dengan baik buku tersebut.

Isi buku yang di baca Bella :

Carlos adalah seorang pria penebang kayu yang miskin. Ia hidup bersama tiga orang putrinya di pinggiran desa. Setiap hari, Carlos pergi menebang kayu ke hutan dan  menjualnya kepada penduduk desa yang membutuhkan kayu bakar. Akan tetapi, sekarang beberapa pohon tua di tepi hutan semakin sedikit. Carlos pun harus mulai pergi ke tengah hutan untuk mendapatkan pohon tua. Carlos tak ingin menebang pohon-pohon yang masih tumbuh baik di tepi hutan karena penduduk desa membutuhkannya untuk menahan air hujan.

Suatu hari, Carlos memutuskan untuk pergi ke tengah hutan. Ia mendapatkan pohon tua yang bisa ia tebang. Namun, saat mengayunkan kapaknya, Carlos dikejutkan oleh raungan seekor beruang. Beruang itu menghampiri Carlos dan merampas kapaknya dengan cepat.

“Siapa yang mengizinkanmu menebang pohon ini, Pria Tua? Kau telah mencuri kayuku. Kau harus menebusnya dengan nyawamu!” beruang itu berteriak, marah.

Carlos gemetar karena ketakutan. Sejak awal, ia tahu jika risiko ini bisa terjadi padanya. Ia sudah pernah mendengar cerita penduduk desa tentang beruang yang bisa berbicara ini. Mereka menyebutnya Senor Oso.             

“Ampuni saya, Senor Oso. Saya hanya mengambil kayu sekadarnya untuk dijual. Saya harus menghidupi ketiga putri saya. Tolong, jangan bunuh saya. Putri-putri saya akan terlantar dan kelaparan bila saya tak kembali,” pinta Carlos, mengiba.

Beruang itu merasa kasihan pada Carlos. Ia mengurungkan niatnya untuk memberi hukuman pada Carlos dan segera mengembalikan kapaknya. Carlos bergegas pergi keluar hutan, tetapi Senor Oso mencegahnya.

“Tunggu, Pria Tua! Aku mau mengampunimu, tapi ada syaratnya,” seru beruang itu tiba-tiba.

Langkah Carlos ikut terhenti. 

“Apa syaratnya, Senor?”

“Serahkan salah satu putrimu untuk menikah denganku,” pintanya, tegas.

Carlos terkejut mendengar permintaan Senor Oso. Ia begitu menyayangi putri-putrinya. Ia tak mungkin menyerahkan salah satu putrinya kepada beruang kasar seperti Senor Oso. Tetapi Carlos, si penebang kayu, tak punya pilihan.

“Baik, Senor Oso,” Carlos berkata pasrah.

“Bawalah ia kemari, besok pagi. Kalau kau tidak datang, aku yang akan menjemputnya ke rumahmu,” ancam Senor Oso.

Beruang itu pun membiarkan Carlos pergi. Carlos kembali ke rumah dengan langkah gontai. Sesampai di rumah, ia mengumpulkan ketiga putrinya. Mereka adalah Nina si sulung, Nisia si tengah, dan Ninfa si bungsu. Carlos menceritakan apa yang ia alami di hutan kepada mereka dengan berat hati. Ia meminta kerelaan hati salah satu putrinya untuk menikah dengan Senor Oso.

“Ayah, bagaimana mungkin kau menyerahkan kami pada beruang seram itu?” ujar Nina tak terima.

“Ya, Ayah. Aku setuju dengan Kakak. Masa beruang mau menikah dengan manusia?” Nisia menimpali.

“Ayah tak punya pilihan, Sayang. Kalau ayah tak membawa salah satu dari kalian kepadanya, ia akan datang ke sini menjemput kalian. Ayah juga tak ingin kehilangan seorang pun dari kalian,” Carlos berkata, penuh kesedihan.

“Ayah, tenanglah. Demi ayah dan kakak-kakak tercinta, aku mau menikah dengan Senor Oso,” si bungsu menyahut, pelan. Keputusan si bungsu membuat ayah dan kedua kakaknya terkejut.

Ninfa, si bungsu memang yang termuda dan tercantik di antara mereka. Selain itu, Ninfa berhati baik dan paling perhatian pada Carlos. Carlos merasa sangat berat melepaskan putri kesayangannya untuk Senor Oso.

“Adik, kau yakin? Apa kau tak takut dengan beruang itu?” tanya Nisia, memastikan.

“Aku tidak apa-apa, Kakak. Tapi, aku harap kalian mau merawat ayah dengan baik jika aku tak lagi di sini,” pinta Ninfa.

“Baiklah, Ayah. Sekarang ayah sudah mendapat calon istri untuk Senor Oso,” tukas Nina.

Ia merasa senang karena bukan dirinya yang harus mengorbankan diri. Keesokan harinya, Carlos membawa Ninfa menemui Senor Oso. Senor oso sudah tampak menunggu kedatangan mereka di tengah hutan. Dia juga terlihat senang saat melihat Ninfa yang cantik. 

“Senor Oso, ini putriku, Ninfa. Ia bersedia menikah denganmu, tapi tolong perlakukan ia dengan baik,” pinta Carlos, berat.

“Baiklah. Sekarang tinggalkan Ninfa di sini. Siang nanti, bawalah penghulu untuk menikahkan kami,” kata Senor Oso dengan suara besarnya.

Carlos pun kembali ke desa, menemui penghulu. Siang itu, ia membawa penghulu ke hutan untuk menikahkan Senor Oso dan Ninfa. Nina dan Nisia ikut dengan ayahnya untuk menyaksikan pernikahan adik mereka. Setelah pernikahan itu usai, mereka meninggalkan Ninfa di hutan bersama dengan Senor Oso. Saat hari mulai gelap, Senor Oso membawa Ninfa ke gua, tempat tinggalnya. Ninfa tercengang, tak menyangka jika di gua itu ada perabotan manusia. Ninfa kemudian mendengar Senor Oso menyanyikan sebuah kidung.

“Beruang berbulu, beruang menyeramkan. Berubah menjadi pangeran tampan dan menawan.” 

Senor Oso mengulangi syair itu sampai tiga kali. Tiba-tiba, dia berubah menjadi seorang lelaki tampan. Pakaiannya seperti seorang pangeran. Ninfa benar-benar terkejut. Senor Oso menghampiri Ninfa, “Ninfa, sebenarnya aku adalah seorang pangeran dari Istana Creencia. Namun, penyihir jahat telah mengutukku menjadi beruang. Aku bisa kembali menjadi manusia saat malam datang,” Senor Oso mulai menjelaskan asal usulnya.

“Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan agar kau tetap tinggal denganku di sini. Tapi, aku hanya minta supaya kau tak menceritakan rahasiaku ini pada siapa pun,” pinta Senor Oso pada Ninfa.

“Baik, Senor Oso. Aku berjanji.”

Ninfa mengangguk. Ia tak menyesali pernikahannya dengan beruang yang ternyata pangeran itu. Ia mulai menyukai Pangeran Oso. Saat pagi datang dan matahari naik ke langit, Ninfa melihat suaminya turun dari tempat tidur dan menyanyikan kidung lagi. 

“Pangeran tampan, pangeran menawan. Berubah menjadi beruang berbulu yang mengerikan.”

Dalam sekejap, Pangeran Oso berubah lagi menjadi beruang. Selama berbulan-bulan, Ninfa menjalani hari-harinya bersama Senor Oso di hutan. Ia merasa bahagia karena Senor Oso mencukupi segala kebutuhan mereka. Senor Oso juga memberikan pakaian yang mahal dan perhiasan yang indah padanya. Namun, Ninfa merasa rindu pada keluarganya. Ia ingin menjenguk ayahnya. 

“Senor Oso, aku telah melalui hari-hari yang panjang bersamamu. Aku tidak punya teman bicara selain dirimu. Bolehkah aku pergi ke desa menengok ayahku?”

“Apa selama ini kau tidak bahagia bersamaku?” tanya Senor Oso.

“Bukan begitu, Senor Oso. Aku senang bersamamu di sini. Aku hanya rindu pada ayahku. Aku mohon, izinkanlah aku pergi sebentar saja,” rajuk Ninfa. 

“Aku akan berangkat pagi-pagi dan pulang sebelum petang. Aku berjanji tak akan mengungkapkan rahasia Anda pada siapa pun,” lanjut Ninfa, berusaha meyakinkan suaminya.

Senor Oso mengangguk, memberikan izin padanya. Pada hari yang direncanakan, Ninfa kembali ke desa. Ia sangat bahagia bisa berjumpa lagi dengan ayah dan kedua kakaknya. Mereka menyambut Ninfa dengan gembira. Mereka juga heran melihat Ninfa datang dengan pakaian yang indah dan perhiasan yang mewah. 

“Senor Oso tampaknya memperlakukanmu dengan baik, Ninfa,” ujar Nisia dengan nada menyindir.

“Ya, Kakak. Dia memang sangat baik,” balas Ninfa. 

“Ayah senang melihatmu, Sayang. Sepertinya kau bahagia hidup dengan Senor Oso,” Carlos berkata, sembari membelai rambut putrinya.

“Tapi, kau sudah mempermalukan ayah dengan menikahi seekor beruang, Ninfa,” ejek Nina lagi.

Ia benar-benar iri melihat keadaan Ninfa. Ninfa berusaha tak menanggapi sindiran kedua kakaknya. Mereka menceritakan banyak hal untuk melepas rindu. Namun, sindiran dan ejekan kedua kakaknya yang tak henti membuat Ninfa marah. Ia pun mengungkapkan rahasia Senor Oso pada kedua kakaknya. 

“Ninfa, apa kau tak bisa melakukan sesuatu untuk membuat Senor Oso tetap menjadi manusia?” tanya Nisia, penasaran.

Ninfa menggeleng, “Aku tak bisa. Aku tak tahu caranya, Kak.”

“Ehmmm, aku akan memberitahumu caranya. Malam ini buatlah ia mabuk. Saat ia tidur, ikatlah Senor Oso dan sumbat mulutnya. Begitu pagi datang, ia tak akan bisa mengucapkan mantranya dan ia akan berubah menjadi manusia selamanya,” usul Nina.

Ninfa ragu untuk menuruti nasihat kakaknya atau membiarkan pangeran dalam kutukannya. Ninfa tak pernah tahu risiko yang akan ia dapatkan jika menggunakan cara licik untuk membuat Senor Oso tetap menjadi manusia. Tapi Ninfa berpikir, seandainya Senor Oso berubah menjadi manusia seterusnya, ia dan Senor Oso bisa tinggal di desa dan tak perlu mengasingkan diri di hutan lagi. Sepulang dari desa, Ninfa menjalankan rencana yang disarankan oleh kakaknya. Ia mengikat Senor Oso dan menyumpal mulutnya saat suaminya tertidur. Ketika pagi tiba, Senor Oso terbangun dan sangat terkejut. Ia tak dapat mengucapkan kidung mantranya. Setelah matahari mulai meninggi, Ninfa melepas ikatan dan sumpal Senor Oso.             

“Ninfa, apa yang telah kau lakukan? Tindakanmu ini akan menghancurkan kebahagiaan kita,” ucap Senor Oso, marah.

“Maafkan aku, Suamiku. Aku hanya ingin membantumu menjadi manusia seterusnya,” ujar Ninfa ketakutan.

“Tapi caramu salah, Ninfa. Harusnya kau bersabar. Tak lama lagi, setelah satu tahun pernikahan kita, kutukan penyihir jahat padaku akan musnah. Tapi, yang kau lakukan ini justru membuatku kembali ke dalam pengaruh penyihir itu.” Ninfa mendekati suaminya dan memeluk kakinya, meminta pengampunan.

“Terlambat, Ninfa. Sebentar lagi kau tak akan bisa menemukanku lagi kecuali kau bisa sampai ke Istana Creencia.”

Selesai berkata demikian, Senor Oso menghilang. Ninfa menangis dan menyesal. Ia tak mengira jika tindakannya justru membuatnya kehilangan suami yang dicintainya. Ninfa kemudian bertekad pergi ke Istana Creencia, untuk bersatu lagi dengan suaminya. Ninfa membawa beberapa helai pakaian, makanan, dan sebilah pisau untuk menjaga diri. Ia lalu memulai pencariannya dengan masuk lebih dalam ke tengah hutan. Ia pernah mendengar jika di sana tinggal para penyihir. Ia berharap bisa mendapatkan petunjuk di mana Istana Creencia berada. 

“Ninfa, apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang pria yang sedang membelah kayu.

Ninfa mengenali pria itu. Ia adalah Gandalf, seorang penebang kayu. Gandalf bukan penduduk desa, tapi ia sering menemani ayahnya di hutan. Ninfa pernah bertemu sekali dengannya.

“Oh, Gandalf, aku sedang mencari Istana Creencia. Apa kau pernah mendengarnya?”

“Untuk apa kau ke sana? Istana Creencia sedang dikuasai oleh penyihir jahat.”

“Kau tahu tentang penyihir itu?” tanya Ninfa.

Gandalf meletakkan kapaknya. 

“Ya. Aku juga seorang penyihir, Ninfa. Tapi, aku bukan penyihir jahat.”

Ninfa terkejut mendengar penuturan Gandalf, “Jadi, tengah hutan ini memang tempat tinggal para penyihir?” tanya Ninfa.

“Ya. Sayangnya, aku tak tahu di mana Istana Creencia. Coba kau temui ayahku. Mungkin ia tahu. Kau ikuti saja jalan setapak ini. Rumah kayu pertama yang kau temui adalah rumah ayahku,” Gandalf menjelaskan, sambil menunjuk jalan setapak di depannya.

“Apakah dia tidak jahat?” Ninfa bertanya, takut-takut.

Gandalf tersenyum, “Tidak. Dia pria yang ramah.” 

Ninfa ikut tersenyum. Dia pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Gandalf. Sebelum Ninfa pergi, Gandalf memberikan sebutir kacang ajaib untuknya, “Ninfa, simpanlah ini. Gunakanlah saat kau dalam kesulitan nanti,” ucap Gandalf. 

Ninfa meneruskan perjalanannya. Tak lama kemudian, ia telah menemukan rumah ayah Gandalf. Ia mengetuk pintu, sopan. Seorang lelaki tua dengan jenggot panjang berwarna putih keemasan menyambutnya dengan senyum. Ninfa segera mengutarakan maksudnya. 

“Maafkan aku, Ninfa. Aku pun tak tahu. Coba kau temui kakakku. Mungkin, ia tahu. Ikutilah jalan setapak yang kau lewati tadi. Rumah kayu pertama yang kau temui adalah rumah kakak tertuaku.”

Ninfa mengucapkan terima kasih. Pria tua itu juga memberi Ninfa sebutir kacang ajaib. Ninfa terus berjalan dan menemukan rumah paman tertua Gandalf. Ia disambut dengan ramah di rumah itu. Tanpa menunggu lama, Ninfa segera menanyakan apa yang dia cari. Namun, penyihir itu juga tidak tahu pasti di mana Istana Creencia. 

“Coba kau datang ke rumah Luna, penyihir bulan. Tapi, kau harus berhati-hati karena ia seorang pemarah. Ambilah kacang ajaib ini dan gunakanlah saat kau berada dalam kesulitan,” ujar paman tertua Gandalf, sambil menunjukkan arah jalan ke rumah Luna.

Ninfa meneruskan perjalanannya. Meski sudah sangat lelah, ia segera bergegas. Ia baru tiba di rumah Luna saat hari sudah malam. Ia mengetuk pintu dengan hati-hati. Seorang wanita tua bertubuh gemuk membukakan pintu untuknya. Ia adalah pelayan Luna. 

“Putri cantik, siapa kau? Untuk apa datang malam-malam ke sini? Jika Luna menemukanmu, ia bisa memakanmu.” Ninfa terkejut.

Ia tak tahu kalau Luna suka makan manusia. Ninfa pun segera menyampaikan tujuannya menemui Luna. 

“Aku akan membantumu. Kau sembunyi saja di dekat perapian. Begitu Luna datang, aku akan menanyakannya sehingga kau tahu jawabannya,” wanita tua itu mengusulkan.

Ninfa segera berterima kasih padanya. Menjelang fajar, Luna baru tiba di rumah. Ia masuk ke dapur dan mencium bau manusia. 

“Ada manusia di sini. Di mana dia? Serahkan padaku atau kau yang kusantap!” bentak Luna pada pelayannya.

“Anda ini terlalu lelah, Nyonya. Aku hanya sedang memanggang kalkun untuk makan malammu. Kemarilah, saya akan menghidangkannya untuk Anda,” kilah pelayan itu.

Luna duduk dan menyantap makanannya dengan lahap. Pelayan wanita itu mulai bertanya, memancing Luna. 

“Nyoya, tadi seekor burung hantu singgah dan aku bercakap-cakap dengannya. Ia mendengar tentang Istana Creencia. Apa Anda tahu di mana istana itu berada?”

“Hmmm, aku tidak tahu. Tapi, sepertinya de Sol tahu letak istana itu,” jawab Luna di tengah suapannya.

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Luna lalu beranjak tidur. Pelayan Luna segera menyuruh Ninfa pergi. Ia menunjukkan arah tempat tinggal de Sol, penyihir matahari. De Sol bukan penyihir yang ramah, tapi ia bukan pemakan manusia. Ninfa melanjutkan perjalanannya. Dia tak menyangka jika rumah de Sol sangat jauh. Ninfa sudah berjalan dari pagi, namun ia baru tiba di sana menjelang sore. Ninfa segera mengetuk pintu rumah de Sol.

“Astaga! Sedang apa kau di sini gadis cantik? Kalau de Sol menemukanmu dia bisa membakarmu sampai hangus,” ucap wanita tua yang membukakan pintu rumah de Sol.

Sepertinya, ia adalah pelayan de Sol. Pelayan itu menyuruh Ninfa masuk. Ninfa langsung menangis. Ia lelah dan hampir putus asa. Ia menceritakan perjalanan panjangnya hingga sampai ke rumah de Sol. Wanita tua itu iba padanya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba, cahaya memenuhi ruangan itu. Tak berapa lama, de Sol masuk dan menemukan Ninfa di dalam rumahnya. 

“Siapa kau?” tanya de Sol, ketus. 

Ninfa menghapus air matanya. Ia lalu menceritakan siapa dirinya dan maksud kedatangannya menemui de Sol. Hari itu, Ninfa sungguh beruntung karena cuaca yang cerah dan tak berawan membuat hati de Sol senang. 

“Aku tahu di mana Istana Creencia,” kata de Sol. Ninfa tersenyum penuh harap.

“Tapi, letaknya sangat jauh dari sini. Aku tak bisa mengantarkanmu, Ninfa. Aku tak boleh pergi ke mana-mana bila hari sudah gelap. Mintalah bantuan pada El Aire, penyihir angin. Dia adalah sahabatku. Kau katakan saja jika aku yang menyuruhmu menemuinya. Dia bisa mengantarmu ke Istana Creencia,” ucap de Sol, sambil menunjukkan rumah El Aire. Setelah mengucapkan terima kasih, Ninfa segera mencari rumah El Aire, yang terletak tak jauh dari rumah de Sol. Ninfa dapat menemukannya dengan sepat. Ia pun mengetuk rumah El Aire.

“Siapa itu? Masuklah,” seru sebuah suara dari dalam rumah.

Ninfa membuka pintu dan menemukan El Aire sedang duduk minum teh di kursinya. 

“Saya Ninfa, Tuan. Tuan de Sol mengutus saya menemui Anda.”

Ninfa lalu menceritakan semua hal yang dia alami.

“Aku bersedia membantumu, Ninfa. Aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana,” kata El Aire.

Ninfa berbinar senang mendengar perkataan El Aire. El Aire lalu mengajak Ninfa naik ke sebongkah awan. Awan itu melesat cepat di udara, sehingga Ninfa harus berpegangan erat pada jubah El Aire yang berkibar-kibar. Tak berapa lama kemudian mereka sudah berhenti. 

“Kita sudah sampai, Ninfa. Sepertinya, istana sedang mengadakan pesta. Kau harus berhati-hati, Ninfa. Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini,” nasihat El Aire.

Ninfa bergegas turun dari awan dan mengucapkan terima kasih pada El Aire. Dugaan El Aire ternyata benar. Istana sedang mengadakan sebuah pesta besar. Seluruh istana terlihat begitu terang benderang. Suara biola dan gitar mengalun merdu dari dalam. Ninfa mengetuk pintu gerbang istana, dan seorang penjaga keluar menemuinya. 

“Apa yang bisa kubantu, Nona?” tanya penjaga gerbang.

“Saya ingin bertemu Pangeran,” jawab Ninfa.

“Apakah Anda membawa undangan pesta?” tanya penjaga lagi.

 Ninfa menggeleng.

“Kalau begitu maafkan saya. Saya tak bisa mengizinkan Anda masuk. Di dalam sedang ada pesta dansa untuk merayakan pernikahan Pangeran.”

“Aku mohon, Penjaga. Aku hanya ingin melihat pesta dansa Pangeran,” pinta Ninfa.

Penjaga itu tampak berpikir-pikir. 

“Kalau begitu, masuklah, Nona. Tetapi Anda harus berhati-hati, jangan sampai pengantin wanita melihat Anda. Ia akan marah karena Anda bukan tamu yang ia undang,” pesan penjaga gerbang.

Ninfa menyelinap ke dalam istana. Dari kejauhan, ia melihat pangeran yang tak lain adalah Senor Oso, suaminya. Senor Oso sedang duduk di meja makan bersama para tamu. Ninfa memilih bersembunyi di dekat tiang besar, dan berusaha menarik perhatian Senor Oso dari situ. Akan tetapi, Senor Oso tak melihat gadis malang itu dan justru si pengantin wanita yang melihatnya. Pengantin wanita itu menyadari kehadiran Ninfa dan segera menyuruh pengawal istana mengusirnya dari istana. Pengantin wanita itu adalah penyihir yang mengutuk Senor Oso. Kini, ia menyihir Senor Oso untuk mau menikah dengannya. Pengawal istana berusaha membawa Ninfa keluar. Namun, Ninfa meronta-ronta, mencoba untuk meloloskan diri. Suasana pesta menjadi gaduh. Senor Oso yang mendengar kegaduhan itu segera melihat apa yang terjadi. Ia pun bertemu dengan Ninfa dan mengingat semua yang telah terjadi.

“Lepaskan dia!” perintah Senor Oso. 

“Jangan! Bawa pengemis itu keluar!” teriak penyihir wanita.

Pengawal tampak bingung menghadapi dua perintah yang berbeda. Ninfa yang menyadari kelengahan para pengawal, segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Dia memecahkan kacang ajaib dari Gandalf. Dalam sekejap, ia berubah menjadi tikus kecil. Ninfa berlari ke sana ke mari, menghindari kejaran para pengawal. Kejadian itu membuat penyihir jahat mengubah dirinya menjadi seekor kucing. Ia mengejar Ninfa yang berlari naik ke meja makan. Keadaan Ninfa semakin terjepit. Ia lalu mengeluarkan kacang ajaib dari ayah Gandalf. Begitu ia memecahkan kacangnya, Ninfa berubah menjadi sebutir nasi. 

Penyihir jahat kebingungan mencari Ninfa di antara butiran nasi yang begitu banyak. Ia kemudian berubah menjadi ayam dan mematuki nasi-nasi di meja. Ninfa kebingungan. Ia tak tahu harus berbuat apa karena kacang ajaibnya tinggal satu. Ia pun memecahkan kacang ajaib itu. Ninfa menjelma menjadi seekor serigala. Ninfa segera meloncat menerkam penyihir jahat itu sebelum dia sempat berubah lagi. Penyihir jahat yang masih berwujud ayam pun terluka dan tewas. Tak berapa lama, Ninfa berubah wujud menjadi manusia. Ia terkulai lemas. 

“Ninfa, apa kau terluka?” tanya Senor Oso.

Ia segera menghampiri Ninfa.

“Senor Oso, maafkan saya. Maukah Anda menerima saya kembali?” pinta Ninfa.

Matanya tampak berkaca-kaca menatap suaminya. Senor Oso tertegun, tak menyangka Ninfa akan sampai ke istananya. Ninfa bahkan telah mengalahkan pernyihir jahat, membebaskannya dari kutukan, dan menyelamatkan dirinya dari pengaruh sihir. Senor Oso berhutang banyak pada Ninfa, istri yang sangat dicintainya. 

“Aku memaafkanmu, Ninfa. Kembalilah ke sisiku. Kita akan memulai kehidupan baru kita di istana ini. Kita juga akan mengajak ayah dan saudara-saudaramu untuk tinggal bersama kita di sini,” ucap Senor Oso.

Ninfa merasa lega dan bahagia mendengar ucapan Senor Oso. Pengorbanan Ninfa tak berakhir sia-sia. Ia sudah menebus kesalahannya pada Senor Oso. Kini, ia bisa berkumpul kembali dengan ayah dan kedua kakaknya dan hidup bahagia bersama mereka dan Senor Oso di Istana Creencia. 

***
Bella selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Meksiko," kata Bella.

Bella menutup bukunya dan menaruh buku di meja dengan baik.

"Waktunya memasak," kata Bella.

Bella beranjak dari duduknya di ruang tengah, ya ke dapur untuk memasak makan yang enak untuk dirinya, adiknya dan orang tuanya.

SIAPA YANG MENELAN CARLOS

Zaskia terus latihan dengan baik, ya menyanyi dengan guru les vokal. Zaskia tekun dengan latihannya karena ingin menjadi penyanyi terkenal seperti artis penyanyi yang di idolakan Zaskia dengan baik. Terkadang Zaskia ikut lomba menyanyi, ya ingin tahu sejauh mana kemampuan dirinya telah mengusai ilmu yang di berikan guru les vokalnya. Beberapa saat kemudian, ya latihan Zaskia selesai. Guru les vokal telah meninggalkan rumah Zaskia. Duduk santai Zaskia di ruang tengah dan sambil membuka bukunya dan di baca dengan baik.

Isi cerita yang di baca Zaskia :

Carlos adalah seorang pedagang berkebangsaan Spanyol. Istrinya telah lama meninggal dunia. Ia memiliki tiga orang putri, yang pertama bernama Anna, yang kedua bernama Carla, dan yang bungsu bernama Maria. Saat itu usaha dagang Carlos tidak banyak mendapatkan keuntungan. Ia mencoba berdagang berbagai macam barang tetapi tetap saja hasilnya kurang memuaskan. Carlos hampir putus asa sampai ia bertemu dengan kenalan lamanya, Pedro, seorang pedagang barang kelontong.

“Pedro, bagaimana kabarmu? Ke mana saja engkau selama ini?” sapa Carlos dengan penuh kehangatan.

“Carlos, kawanku! Lama juga kita tidak bersua! Saat ini aku berdagang di Dunia Baru, Amerika!” jawab Pedro.

“Cukup lama kau di sana, pasti keuntunganmu cukup banyak,” goda Carlos.

“Banyak? Kau salah, kawanku! Keuntunganku sangat, sangat, sangat banyak sekali!” jawab Pedro sambil tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimana bisa?” tanya Carlos ingin tahu.

“Awalnya aku coba-coba ikut pelayaran kerajaan Spanyol ke Amerika. Aku hanya membawa barang dagangan selimut dan manik-manik. Kau tahu sendiri bagaimana keadaanku saat itu,” cerita Pedro.

Carlos mengangguk-anggukan kepala. Ia ingat benar keadaan Pedro pada masa itu tidak lebih baik darinya pada saat ini.

“Aku kemudian mencoba menjual barang daganganku itu kepada penduduk lokal. Mereka ternyata sangat menyukai manik-manik. Dan tahukah kau dengan apa mereka membayarnya?” lanjut Pedro.

Carlos menggelengkan kepalanya.

“Mereka membayarku dengan perhiasan emas, perak, dan permata, Carlos!” kata Pedro setengah berteriak.

“Penduduk lokal di Amerika benar-benar sangat kaya! Atap-atap rumah mereka saja terbuat dari emas!” lanjut Pedro setengah membual.

Carlos tertarik dengan cerita Pedro. Ia memutuskan pergi ke Amerika dan mendapatkan keuntungan seperti Pedro. Carlos kemudian membawa ketiga putrinya pindah ke benua Amerika. Setelah pelayaran berbulan-bulan yang melelahkan, akhirnya Carlos dan ketiga putrinya sampai di benua Amerika, tepatnya di wilayah Meksiko. Carlos menitipkan ketiga putrinya di penginapan dan ia sendiri berjalan-jalan ke pasar mencari peluang usaha. Carlos mendapati bahwa pasar di Meksiko telah penuh dengan pedagang berbagai macam barang dan jasa.

“Banyak sekali pedagang di pasar ini. Tidak banyak keuntungan yang akan aku dapatkan jika aku berdagang di tempat ini. Perjalananku akan sia-sia,” katanya dalam hati.

Carlos kemudian masuk ke dalam sebuah kedai minum. Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan seorang perwira Spanyol dengan pemilik kedai.

“Aku dengar pasukan Spanyol akan melakukan ekspedisi lagi ke pedalaman,” tanya pemilik kedai.

“Iya, benar! Bisa pesan segelas anggur?” jawab perwira itu.

Pemilik kedai itu menyajikan segelas anggur dan kembali bertanya, “Kalian akan melakukan ekspedisi ke arah mana?”

Perwira itu meneguk anggurnya dan berkata, “Ke selatan! Komandan kami memerintahkan kami pergi ke selatan, ke Buenos Aires untuk membuat pemukiman dan pos terluar.”

“Selain itu apa yang akan kalian lakukan di sana?” tanya pemilik kedai.

“Memetakan wilayah,” jawab perwira Spanyol.

“Membuat peta wilayah?” tanya pemilik kedai kembali menyelidik.

“Hmm, rasa ingin tahumu rupanya cukup besar juga,” kata perwira itu.

“Isilah lagi gelasku ini dengan anggurmu dan aku akan bercerita lebih banyak lagi,” lanjutnya sambil tersenyum.

Pemilik kedai itu langsung memenuhi gelas perwira itu dengan anggur

“Apa yang aku ceritakan tadi adalah perintah resmi yang kami terima, tetapi kabar angin yang aku dengar mengatakan kalau ekspedisi ini sebenarnya untuk mencari lebih banyak perak dan emas,” jelas perwira itu sambil meminum minuman.

“Mencari apa merampok?” tanya pemilik kedai dengan sinis.

Perwira itu hanya tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak bersama pemilik kedai. Carlos berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati perwira Spanyol itu.

“Selamat siang, Pak!” sapa Carlos.

“Selamat siang,” jawab perwira itu sambil mempersilakan Carlos duduk di sebelahnya.

“Saya dengar pasukan Bapak akan pergi ke Buenos Aires di selatan. Bisakah saya ikut dengan rombongan Bapak?” tanya Carlos.

“Kenapa kau mau ikut kami ke sana? Apa yang akan kau lakukan di sana?” tanya perwira itu keheranan.

“Saya adalah pedagang dan pemukiman baru tentunya butuh pasar,” jawab Carlos sambil tersenyum.

Perwira itu terdiam. Ia nampak berpikir tentang sesuatu. Beberapa saat kemudian ia berkata, “Baiklah, kau bisa ikut pasukanku ke Buenos Aires. Mungkin kau bisa memulai membuka pasar di sana,” kata perwira itu. “Tetapi semua bahaya dan risiko engkau tanggung sendiri,” lanjutnya.

“Tidak mengapa, saya akan menanggung semua risiko,” jawab Carlos dengan mimik serius.

“Datanglah ke bentengku hari Kamis, empat hari dari sekarang! Datanglah pagi-pagi! Kita akan berangkat bersama-sama,” kata perwira itu sambil menghabiskan anggurnya. Ia akan membayar minumannya ketika tiba-tiba Carlos mencegahnya.

“Saya yang akan membayar semuanya. Anggap saja ucapan terima kasih dari dari saya,” kata Carlos.

Perwira itu tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”

Singkat cerita Carlos dan ketiga putrinya akhirnya sampai di Buenos Aires. Mereka tinggal di pemukiman dan membuka toko kelontong. Carlos mulai menawarkan dagangannya kepada penduduk lokal. Mereka sangat menyukainya tetapi pembayarannya tidak seperti yang diharapkan Carlos. Para penduduk lokal itu membayar barang dagangan Carlos dengan hasil bumi, bukan dengan perak, permata, apalagi emas. Rupanya di selatan benua Amerika belum ditemukan tambang emas atau perak pada saat itu.

Carlos terpaksa menerima hasil bumi sebagai pembayaran dagangannya. Ia berpikir mungkin bisa menjualnya kepada penduduk di pemukiman. Carlos berharap mendapat keuntungan dari usaha tersebut. Dugaan Carlos ternyata tidak sepenuhnya salah! Penduduk di pemukiman memang membeli hasil bumi milik Carlos tetapi dengan cara berhutang! Kebanyakan penduduk pemukiman adalah tentara dan pegawai kerajaan yang menerima gaji bulanan dari kerajaan Spanyol. Gaji mereka jarang sekali dibayar tepat waktu karena banyak sekali hambatan dalam pengirimannya.

Lama-kelamaan usaha Carlos merugi dan bangkrut. Carlos berusaha bangkit kembali. Ia mulai berhemat dan berhitung di segala hal, mulai dari makanan, pakaian, hingga air. Carlos tidak hanya menerapkan hidup hemat ini kepada dirinya, tetapi juga kepada ketiga anak gadisnya. Anna, putri sulungnya memprotes tindakan ayahnya ini.

“Ayah, kenapa kita tiap hari hanya memakan bubur gandum? Bukankah kita sesekali bisa membeli roti dan daging?” tanya Anna dengan nada kesal.

“Anna, Sayangku! Kita harus hidup hemat! Kita harus benar-benar berhitung agar ayahmu ini bisa mempunyai modal dan berdagang lagi,” jelas Carlos.

“Tetapi jangan terlalu kikir seperti ini, Ayah!” tukas Anna dengan nada sewot.

Carlos hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya. Beberapa waktu kemudian Carlos jatuh sakit. Puteri-puterinya mencoba membujuk Carlos untuk ke dokter tetapi ia menolaknya.

“Ayahmu ini baik-baik saja! Ayah hanya masuk angin. Jadi, untuk apa ke dokter? Buang-buang uang saja,” jawab Carlos dengan ketus.

Penyakit Carlos makin lama makin parah. Selain faktor usia, beban pikiran akan kebangkrutan dan kondisi lingkungan yang buruk makin memperberat penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Ketika merasa ajalnya sudah dekat, Carlos memanggil semua putrinya.

“Putri-putriku sayang! Ayah tidak tahu berapa lama lagi dapat bertahan hidup. Jika telah tiba waktunya, Ayah ingin kalian menguburkan Ayah dengan benda berharga milik Ayah,” pinta Carlos dengan nada lemah.

“Maaf, Ayah. Harta apa yang ingin dikuburkan bersama Ayah?” tanya Anna, putri sulung Carlos.

“Iya, Ayah. Kita telah jatuh miskin dan tidak lagi mempunyai benda berharga,” sela Carla, putri kedua Carlos.

“Apakah Ayah ingin dikuburkan bersama tempat tidur ini? Itu juga salah harta berharga yang kita miliki,” tambah Maria, putri bungsu Carlos.

Carlos tersenyum dan berkata, “Bukan itu, Maria-ku sayang! Ayah mempunyai sebuah kantong yang berisi uang emas dan perak. Kantong itu yang harus kalian kubur bersama Ayah nanti.”

“Kantong yang berisi uang emas dan perak? Kami tidak pernah melihatnya selama ini. Apakah Ayah sedang mengigau?” tanya Carla.

“Ayah tidak mengigau, Carla-ku sayang! Sekarang pergilah ke dapur dan geserlah lemari di sana,” kata Carlos. “Ketuk-ketuklah dinding di belakang lemari itu. Jika kau mendengar ketukan yang nyaring, bongkarlah dinding itu dan kau akan menemukan kantong itu,” lanjutnya.

Carla pergi ke dapur dan melakukan apa yang dikatakan ayahnya. Ia menggeser lemari makan dan mengetuk-ngetuk dinding di belakangnya. Tidak lama kemudian Carla mendengar suatu ketukan yang nyaring dan ia membongkar bagian tembok tersebut.

“Demi Tuhan! Benar apa yang kau katakan, Ayah! Ada sebuah kantong kulit yang berisi uang emas dan perak di sini,” teriak Carla.

Carlos tersenyum mendengar teriakan Carla. Ia kemudian berkata, “Ingatlah pesan, Ayah! Kuburkan kantung uang emas dan perak itu bersama Ayah jika Ayah meninggal,” kata Carlos mengingatkan.

“Lalu apa yang akan Ayah lakukan dengan uang emas dan perak itu di dalam kubur?” tanya Maria keheranan.

“Ayah akan mencoba berdagang di akhirat, mungkin bisa mendapatkan untung yang lebih besar!” jawab Carlos.

Anna, Carla, dan Maria hanya bisa mengelus dada mendengar jawaban ayah mereka. Tidak lama kemudian Carlos meninggal dunia. Anna, Carla, dan Maria menguburkan ayah mereka sesuai dengan permintaannya, dikubur bersama kantong yang berisi uang emas dan perak miliknya. Hari-hari berlalu sejak meninggalnya Carlos. Anna, Carla, dan Maria merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Kak Anna, aku sangat lapar sekali! Sudah beberapa hari ini kita hanya makan sekali sehari! Dengan bubur kacang yang encer sekali,” rengek Maria.

“Benar, Kak Anna! Jika kita begini terus, lama-kelaman kita bisa menyusul Ayah dan Ibu di akhirat,” tambah Carla.

Anna menghela napas panjang mendengar keluhan adik-adiknya.

“Carla dan Maria, aku juga kelaparan seperti kalian. Aku juga sudah berusaha mencari pekerjaan tetapi belum juga menemukannya,” jelas Anna sambil memegang keningnya.

“Jika kita tidak berhemat seperti ini, beberapa minggu lagi tidak ada apa pun yang bisa kita makan,” lanjutnya.

“Perkataanmu sudah seperti almarhum Ayah saja, Kak!” goda Carla.

“Hei, bagaimana kalau kita ambil saja kantung uang Ayah yang ada di dalam kubur?” kata Maria.

Anna dan Carla memandang Maria dengan keheranan.

“Aku yakin orang mati tidak akan membutuhkan emas dan perak. Barang-barang itu lebih berguna untuk yang hidup,” lanjut Maria, “Ayolah! Daripada kita nanti mati kelaparan.”

“Lalu siapa yang akan mengambil kantong itu di kuburan?” tanya Carla.

“Aku yang akan mengambilnya!” jawab Anna.

“Ini tanggung jawabku sebagai kakak kalian,” lanjutnya.

Keesokan harinya, Anna pergi ke pemakaman, menggali kubur ayahnya dan mengambil kantong penuh uang emas dan perak tersebut. Ia membawanya pulang dan meletakkan di atas meja.

“Kita akan membelanjakan uang ini besok,” kata Anna kepada adik-adiknya.

Malam harinya, sebelum mereka selesai makan malam, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Penuh keheranan mereka mengintip dari lubang kunci dan terkejut dengan penampakan yang ada. Mereka meihat Carlos, ayah mereka, datang kembali dari Dunia Lain. Wajahnya pucat, pakaiannya berdebu dan compang-camping dengan bagian tubuh yang tidak lengkap lagi. Anna, Carla, dan Maria merasa sangat ketakutan setengah mati. Mereka berjongkok di sudut ruang makan dan saling menolak untuk membukakan pintu. Malam itu mereka habiskan dengan tangis ketakutan.

Keesokan harinya, Anna, Carla, dan Maria memutuskan mengembalikan kantong uang milik ayah mereka. Mereka pergi ke makam, menggali, dan meletakkan kantong uang itu kembali ke dalam peti mati ayah mereka. Beberapa hari kemudian, ketiga bersaudara itu sudah tidak mempunyai uang lagi untuk membeli makanan.

“Carla dan Maria, kita sekarang tidak punya uang lagi untuk membeli makanan,” kata Anna dengan nada sedih.

Carla dan Maria terdiam. Mereka bisa merasakan kegelisahan kakak mereka.

“Kak Anna, satu-satunya jalan kita harus mengambil kantong uang milik ayah di pemakaman,” kata Maria.

“Tidak, tidak, itu ide yang sangat buruk!” kata Anna.

“Aku yang akan mengambilnya, Kak!” kata Carla. “Aku yang akan menanggung risikonya,” lanjutnya.

Anna terdiam. Ia hendak melarang adiknya melakukan hal itu tetapi hanya itu satu-satunya jalan yang ada saat ini. Carla pergi ke pemakaman dan mengambil kantong penuh uang emas dan perak tersebut dari makam ayahnya. Ia membawanya pulang dan meletakkannya di atas meja. Malam harinya, Carlos kembali mengunjungi anak-anaknya. Kali ini ia mengetuk pintu lebih lama sambil memanggil nama putri-putrinya. Suaranya sangat berat dan menakutkan.

“Anna, buka pintunya! Sangat dingin di luar sini.”

“Carla, buka pintunya! Kenapa kau tidak menurut perintah Ayah?”

“Maria, buka pintunya! Apakah kau tidak merindukan ayahmu?

Anna, Carla, dan Maria kembali meringkuk ketakutan di sudut ruang makan.

“Apa yang aku bilang! Kalau almarhum Ayah terus-terusan datang seperti ini, kita bisa mati ketakutan,” kata Anna sambil menangis tersedu.

“Maafkan aku, Kak! Maafkan aku!” kata Carla dengan terisak.

Malam itu mereka habiskan dengan berpelukan dan meringkuk ketakutan di pojok ruang makan. Anna memutuskan mengembalikan kantong uang ayah mereka ke pemakaman sampai kemudian Maria menemuinya.

“Apa Kak Anna akan mengembalikan kantong uang itu?” tanya Maria.

“Iya, aku akan mengembalikan ke makam Ayah,” jawab Anna.

“Jangan dikembalikan, Kak! Kita sangat membutuhkan uang itu,” kata Maria.

“Kalau kantong uang ini tidak dikembalikan, Ayah akan selalu datang ke rumah kita. Itu sangat menakutkan,” jawab Anna dengan mimik ketakutan.

“Kalau ayah datang, biar aku yang menemuinya, Kak! Sekarang bisakah Kak Anna menyembunyikan kantong uang itu? Aku tidak ingin Ayah melihatnya jika datang nanti,” kata Maria.

Malam itu, Carlos, ayah mereka, kembali mendatangi rumah anak-anaknya. Ia kembali mengetuk pintu.

“Siapa yang ada di luar?” tanya Maria.

“Aku, Carlos, ayahmu!” jawab Carlos.

Maria membuka pintu dan melihat sebuah kerangka tulang belulang setinggi ayahnya berdiri di hadapannya. Anna dan Carla menjerit ketakutan dan bersembunyi di bawah meja. Maria berusaha menahan ketakutannya. Ia kemudian bertanya, “Apa yang terjadi denganmu, ayahku? Ke mana kakimu yang kuat itu?

“Bumi telah menelannya,” jawab hantu itu.

“Bagaimana dengan lengan dan tangan Ayah?”

“Bumi telah menelannya.”

“Bagaimana dengan telinga Ayah?”

“Bumi telah menelannya.”

“Rambut dan jenggot Ayah?”

“Bumi telah menelannya.”

“Kantong uang Ayah?”

Hantu itu terdiam dan berkata, “Jadi bukan kamu yang mengambilnya?”

Maria mengangguk. Hantu itu berbalik dan berlari menghilang dalam kegelapan malam. Maria, Carla, dan Anna menarik napas panjang melihat kejadian itu. Keesokan harinya mereka pergi ke gereja, berdoa untuk ketenangan arwah ayah mereka. Selain itu mereka juga menyumbangkan sebagian uang milik ayahnya dan menggunakan sisanya untuk pulang ke Spanyol. 

***

Zaskia selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus.....dari Argentina di tulis buku sih," kata Zaskia.

Zaskia menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja. 

"Nonton Tv," kata Zaskia.

Zaskia mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv. Acara yang di tonton Zaskia, ya musik. Remot di taruh di meja, ya Zaskia menonton Tv acara musik dengan baik karena memang bagus sih......di isi dengan para artis yang populer dengan lagunya yang hits banget.

EMAS DALAM SEPOTONG ROTI

Rindu selesai mengerjakan kerjaannya, ya menjahit gitu. Rindu duduk santai di ruang tengah sambil membaca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Rindu :

Dahulu kala, di Argentina ada seorang gubernur yang bernama Jose. Rakyat biasa memanggilnya dengan sebutan “Tuan Jose”.  Satu hal yang membedakan Tuan Jose dengan gubernur-gubernur di Argentina yang lain adalah kemurahan hatinya. Tuan Jose seringkali membantu rakyatnya yang sedang kesusahan. Ia bahkan tidak segan-segan mengeluarkan harta miliknya untuk disedekahkan. Cerita kemurahan hati Tuan Jose yang selalu diingat oleh rakyatnya adalah ketika ia pergi berburu. Ia pergi berburu dengan naik kuda dan pulang berjalan kaki, serta tidak membawa satu pun hasil buruan. Rakyat yang melihat bertanya-tanya tentang apa yang dialami gubernur mereka. 

“Kenapa dengan kuda Tuan Jose? Kenapa ia pulang berjalan kaki?”

“Kuda Tuan Jose dirampas perampok.”

“Kuda Tuan Jose diterkam Jaguar.”

“Kuda Tuan Jose dimakan hantu.” Rakyat Tuan Jose akhirnya mendapat jawaban. 

Beberapa hari setelah kepulangan Tuan Jose, tersiar sebuah cerita tentang keluarga miskin di pinggir hutan yang mendapat seekor kuda dan hasil buruan tanpa pernah tahu siapa yang memberinya.  Cerita itu membuat rakyat sangat mencintai Tuan Jose. Mereka sering membicarakan kebaikannya di mana saja, seperti di jalan, di pasar, di warung, bahkan di tempat tidur. 

“Hei, apa kalian sudah tahu kabar terbaru dari Tuan Jose? Ia baru saja menyumbangkan sepuluh gerobak pakaian ke desa sebelah rumahku! Desa itu baru saja terbakar hebat minggu kemarin. Banyak penduduknya yang tidak memiliki baju ganti,” cerita seseorang di sebuah warung. 

“Itu belum seberapa, kawanku!” sanggah seorang petani. 

“Aku mendengar Tuan Jose baru saja mengirimkan sepuluh gerobak gandum ke sebuah desa di utara kota ini. Penduduk desa itu mengalami gagal panen tahun ini karena cuaca yang panas. Banyak dari mereka yang kelaparan,” lanjutnya. 

“Wah, rupanya kalian semua ketinggalan berita,” kata seorang pedagang yang baru masuk ke dalam warung. 

Ia kemudian mengambil tempat duduk, memesan Yerba Mate, dan melanjutkan ceritanya. 

“Kemarin, aku mendengar Tuan Jose mengirimkan sepuluh gerobak berisi emas batangan ke sebuah desa di pedalaman hutan.” 

“Hah, emas batangan?” tanya orang-orang di warung keheranan.

“Benar, kawanku! Emas batangan! Tidak salah lagi!” jelas pedagang itu. 

“Kenapa Tuan Jose mengirim emas batangan ke desa itu? Mengapa penduduk desa itu butuh emas batangan? Apa mereka tidak butuh makanan atau pakaian?” tanya seorang pemuda dengan nada ingin tahu. 

“Kalian tahu kenapa Tuan Jose mengirim emas batangan ke desa itu?”, tanya pedagang itu.

Semua pengunjung warung diam dan menggelengkan kepalanya. 

“Tuan Jose mengirimkan emas batangan ke desa itu karena penduduk di sana tidak pernah melihat dan memegang emas batangan seumur hidupnya,” lanjut pedagang itu sambil meminum Yerba Mate pesanannya. 

“Huuuuu... dasar pembohong!” teriak orang-orang di dalam warung. 

Mereka kemudian tertawa bersama-sama. Tuan Jose senang mendengarkan cerita rakyatnya tentang kemurahan hatinya. Ia pun semakin sering bersedekah. Jumlah sedekahnya juga semakin banyak, bahkan di luar kewajaran. Seorang petani yang meminta bantuan seekor keledai kepada Tuan Jose malah diberi 10 ekor kuda, lengkap dengan gerobaknya! Lambat laun harta Tuan Jose semakin berkurang karena sedekahnya di luar kewajaran. Ketika hartanya habis, ia mulai memakai harta kerajaan untuk disedekahkan. Bendahara Propinsi kemudian mengingatkan Tuan Jose tentang larangan pemakaian harta kerajaan untuk keperluan pribadi. 

“Tuan Jose, saya sangat menghargai kemurahan hati Tuanku,” kata Bendahara Propinsi. 

“Tuan Jose sering sekali bersedekah. Itu adalah perbuatan yang bijaksana. Hanya saja memakai harta kerajaan untuk sedekah pribadi Tuanku bukanlah perbuatan yang bijaksana,” lanjutnya. 

“Bendahara, kita adalah penjajah di daerah ini. Banyak penduduk lokal yang tidak menyukai kita. Seandainya mereka bersatu menyerang kita, aku jamin tidak lebih sebulan propinsi ini akan jatuh,” jawab Tuan Jose.

“Kerajaan Spanyol tentu tidak akan membiarkan propinsi ini jatuh, Tuanku! Mereka pasti mengirimkan bala bantuan,” bantah Bendahara Propinsi. 

“Iya, benar! Dan kau tahu berapa jarak Kerajaan Spanyol dengan propinsi ini? Berbulan-bulan perjalanan kapal laut! Dan ketika bantuan itu datang, semua sudah terlambat, Bendahara,” jelas Tuan Jose. 

“Aku bersedekah, selain karena keinginan hatiku, juga untuk meraih simpati penduduk lokal. Aku berharap tindakanku dapat mengubah perasaan mereka kepada kita,” lanjutnya.

“Tuan Jose, sekarang saya bisa mengerti alasan Tuan sering melakukan sedekah. Tetapi kenapa jumlah sedekah Tuanku di luar batas kewajaran?” tanya Bendahara Propinsi. 

“Aku adalah wakil Raja Spanyol di wilayah ini. Hal itu membuatku memiliki kekuasaan seperti raja!” kata Tuan Jose. 

“Aku yang menentukan nasib rakyatku! Aku yang memutuskan apakah mereka menjadi orang kaya atau orang miskin! Aku juga yang memutuskan apakah mereka tetap hidup atau mati!” tambah Tuan Jose sambil tersenyum. 

Bendahara terdiam ketika mendengar penjelasan tersebut. Ia mengerti bahwa sia-sia belaka mengingatkan Tuan Jose atas perbuatannya. Bendahara juga menyadari bahwa jika ia melawan keputusan Tuan Jose maka hukuman mati menantinya. Suatu hari Tuan Jose ingin mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. 

“Sudah lama aku tidak menjumpai orang-orang yang datang ke tempatku untuk meminta bantuan. Apakah mereka sudah hidup berkecukupan?” tanya Tuan Jose dalam hati.

“Hmm, aku jadi ingin tahu bagaimana keadaan rakyatku yang sebenarnya. Jika aku mengunjungi rakyatku sebagai gubernur, tentu mereka akan melaporkan hal-hal yang baik. Lain halnya jika aku menyamar,” lanjutnya dalam hati. 

Tuan Jose kemudian menyamar sebagai petani yang ingin menjual hasil panennya ke kota. Ia mengambil beberapa karung gandum dari gudang, menaikkannya ke atas keledai, dan membawanya ke pasar. Tuan Jose menawarkan gandum-gandum itu kepada pedagang pertama yang dijumpainya di pasar. 

“Selamat pagi, Pak!” sapa Tuan Jose kepada seorang pedagang. 

“Selamat pagi! Apa yang kau bawa di atas punggung keledaimu itu?” tanya pedagang itu.

“Gandum,” jawab Tuan Jose.

“Coba aku lihat,” perintah pedagang itu.

Tuan Jose kemudian menurunkan sekarung gandum dan membawanya ke depan pedagang itu. Pedagang itu membuka karung dan mengambil segenggam gandum. 

“Wow, gandum milikmu sangat bagus sekali! Bulirnya besar-besar dan berisi. Di mana kau menanam gandum-gandum ini?” tanya pedagang itu setelah memeriksa gandum Tuan Jose. 

“Sebuah pampas, sebelah selatan dari sini,” jawab Tuan Jose sekenanya. 

“Sebuah pampas di selatan kota ini? Bukankah tanah di selatan kota ini bentuknya berbukit-bukit dengan hutan yang lebat. Kalaupun ada tanah lapang, biasanya hanya berupa padang rumput, susah untuk ditanami. Baru kali ini aku mendengar ada sebuah pampas di daerah tersebut,” tanya pedagang itu sambil mengernyitkan dahi.

Tuan Jose gelagapan mendengar pertanyaan itu. Ia mencoba mengingat-ingat nama-nama pampas di selatan ibu kota. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita di lapak pedagang itu. 

“Pak, bolehkah aku berhutang sekantong gandum?” tanya wanita itu. 

“Boleh, Bu! Boleh!” jawab pedagang itu.

Ia mengambil beberapa kantong gandum dan memberikannya kepada wanita itu. 

“Ini terlalu banyak, Pak! Aku tidak bisa membayar semua kantong gandum ini,” kata wanita itu dengan memelas. 

“Ambil saja dan kau cukup membayarnya sekantong saja,” kata pedagang itu. 

“Tetapi, Pak...” 

“Sudahlah, ambil saja! Buatlah roti yang enak untuk anak-anakmu.”

“Terima kasih, Pak! Besok, ketika suamiku datang, aku akan membayar gandum-gandum ini.” kata wanita itu sambil berseri-seri. 

“Jangan terlalu dipikirkan, Bu!” jawab pedagang itu sambil tersenyum.

Tuan Jose terkejut melihat kejadian tersebut. Ia baru menyadari bahwa masih ada rakyatnya yang hidup dalam kelaparan. 

“Siapakah wanita itu, Pak? Kenapa ia berhutang gandum kepadamu?” tanya Tuan Jose. 

“Dia istri dari seorang Gaucho (koboi, penggembala ternak) yang bekerja di luar kota. Seminggu sekali, setiap hari Sabtu, suaminya pulang untuk memberikan nafkahnya,” jelas pedagang itu. 

“Sayangnya, beberapa bulan terakhir ini gaji suaminya tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga itu selama seminggu, paling lama 5 hari,” lanjut pedagang itu. 

“Jadi, wanita itu berhutang gandum kepadamu untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya sampai suaminya pulang?” tanya Tuan Jose. 

“Iya, biasanya dia berhutang setiap hari Jumat dan membayarnya pada hari Sabtu atau Minggu,” jelas pedagang itu. 

Tuan Jose manggut-manggut mendengar penjelasan pedagang itu. 

“Apa Bapak tidak rugi karena memberi hutangan gandum untuk wanita itu? Bahkan Bapak malah memberinya beberapa kantong gandum,” tanya Tuan Jose menyelidik.

“Aku pernah hidup susah, Temanku! Banyak orang, termasuk Tuan Jose yang membantuku melewati masa-masa itu hingga aku berhasil menjadi pedagang seperti ini. Sejak itu aku berjanji kepada diriku untuk membalas kebaikan orang-orang itu dengan membantu orang-orang yang sedang kesusahan semampuku,” kata pedagang itu sambil matanya menerawang jauh. 

“Jadi, kamu mau harga berapa untuk semua gandum milikmu ini?" tanya pedagang itu.

“Tidak perlu, kau ambil saja gandum-gandum itu! Anggap saja sebagai pembayaran hutang wanita itu,” kata Tuan Jose. 

“Maaf, Temanku, apa kau tidak butuh uang?” tanya pedagang itu. 

Tuan Jose tersenyum. 

“Jika kau ingin menolong orang lain, pastikan kebutuhanmu terpenuhi terlebih dahulu,” nasihat pedagang itu.

“Juallah gandum-gandum milikmu ini terlebih dahulu. Setelah kau menerima pembayarannya, ambillah untuk kebutuhanmu dan sisanya bisa kau amalkan,” lanjut pedagang itu. 

Tuan Jose membuka penyamarannya. Ia melepas topi dan baju petaninya. Pedagang itu terkejut saat melihat Tuan Jose yang berada di hadapannya. Ia kemudian berlutut, menunduk dan berkata, “Maafkan ketidaktahuan hamba, Tuan Jose.”

“Tidak apa-apa! Sekarang berdirilah dan ambillah semua karung gandum dan keledai ini. Aku memberikannya sebagai hadiah atas kemurahan hatimu,” kata Tuan Jose.

Ia bergegas kembali ke rumah dan memanggil kepala pelayan dan juru masak. 

“Tadi pagi aku keluar rumah secara diam-diam, menyamar menjadi seorang petani, dan pergi ke pasar. Di sanalah aku bertemu dengan rakyatku yang sedang kelaparan,” kata Tuan Jose memulai pembicaraan. 

Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan pedagang dan wanita miskin di pasar. Juru Masak dan Kepala Pelayan saling berpandangan mendengar cerita Tuan Jose. 

“Apakah Tuan bermaksud membantu mereka?” tanya Kepala Pelayan. 

“Iya, aku ingin membantu mereka,” jawab Tuan Jose.

“Aku berencana membagikan roti kepada rakyat miskin setiap hari Jumat,” lanjut Tuan Jose.

“Pelayan, umumkan keputusan ini kepada warga kota dan Juru Masak, siapkan roti yang banyak pada hari Jumat nanti,” perintah Tuan Jose. 

Hari Jumat berikutnya, rakyat miskin berbondong-bondong mendatangi rumah Tuan Jose. Mereka mengantre untuk mendapatkan roti gratis. Rakyat sangat senang sekali dengan pembagian ini, apalagi Tuan Jose sendiri yang membagikannya. Mereka bisa berkeluh kesah langsung masalahnya dengan gubernur mereka. Pembagian roti gratis ini telah berjalan beberapa minggu. Tuan Jose mulai hafal dengan rakyatnya yang datang mengantre hingga suatu ketika ia melihat ada seseorang lelaki yang baru mengantre. 

“Siapakah namamu? Kenapa baru sekarang kau ikut mengantre roti gratis?” tanya Tuan Jose. 

“Nama saya Juan. Saya baru saja mendengar bahwa Tuan membagikan roti gratis setiap hari Jumat. Itulah sebabnya saya baru ikut mengantre sekarang, Tuan,” jawab Juan. 

“Apakah kamu orang miskin,” tanya Tuan Jose. 

“Iya, Tuan! Saya memang orang miskin, bahkan lebih miskin daripada tikus,” jawab Juan dengan nada bercanda. Tuan Jose tertawa mendengar jawaban Juan. 

“Apa pekerjaan kamu?” tanya Tuan Jose. 

“Saya bekerja sebagai pembantu pandai besi, Tuan! Saya menyukai pekerjaan itu tetapi gajinya tidak cukup untuk menghidupi istri dan ibu saya,” jawab Juan. 

Tuan Jose terharu mendengar cerita Juan. Ia juga merasa tidak enak karena Juan terlambat mengikuti pembagian roti yang dilakukannya. Tuan Jose kemudian berencana untuk membantu Juan secara diam-diam. 

“Juan, tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambil roti bagianmu,” kata Tuan Jose seraya masuk ke dalam rumah. 

Ia mengambil 2 potong roti. Tuan Jose lalu melubangi salah satu roti itu dan mengisinya dengan beberapa keping emas. Setelah penuh dengan kepingan emas, lubang roti itu ditutup secara hati-hati sehingga nampak tidak pernah dilubangi. 

“Ini roti bagianmu, Juan! Aku memberikan 2 potong roti kepadamu karena kau terlambat mengetahui pembagian roti ini,” kata Tuan Jose sambil menyerahkan roti kepada Juan. 

“Terima kasih, Tuan!” kata Juan dengan wajah berseri-seri. 

Hari Jumat berikutnya, Tuan Jose kaget dan marah ketika bertemu dengan Juan. 

“Juan, kenapa kau masih ikut mengantre roti untuk orang miskin ini?” tanya Tuan Jose dengan nada marah. 

“Saya masih tetap orang miskin, Tuanku!” jawab Juan. 

“Orang miskin? Apa kau tidak menemukan keping-keping emas di dalam rotimu? Emas-emas itu bisa membuatmu menjadi orang kaya,” bantah Tuan Jose.

“Maaf, Tuanku! Saya tidak tahu maksud Tuanku tentang keping-keping emas di dalam roti. Roti yang saya terima sama dengan roti yang diterima orang lain, tidak ada yang berbeda,” jelas Juan. 

Tuan Jose terkejut dan bingung mendengar penjelasan Juan. 

“Juan, sekarang ceritakan kepadaku apa yang kau lakukan setelah menerima roti dariku pada Jumat yang lalu,” tanya Tuan Jose. 

“Saya langsung pulang ke rumah setelah menerima roti dari Tuanku. Saya ingin segera membagi roti itu dengan istri dan ibu saya,” jawab Juan. 

“Apakah 2 potong roti itu cukup untuk keluargamu?”

“1 potong roti sudah mencukupi kebutuhan keluarga saya di hari itu, Tuanku.” 

“Lalu apa yang kau lakukan dengan roti yang lainnya?”

“Oh ya, saya hampir lupa. Ketika pulang dari rumah Tuanku, saya bertemu dengan orang miskin yang ingin mendapat roti dari Tuanku. Hari sudah sore dan saya yakin ia akan terlambat sampai ke rumah Tuanku untuk mendapatkan roti. Jadi, saya berikan salah satu roti pemberian Tuanku kepadanya,” jelas Juan. 

Tuan Jose memukul keningnya dengan keras lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian berkata di dalam hati, “Juan... Juan, kau tidak layak hidup miskin dengan kebaikan hati seperti itu. Aku akan membantumu sekali lagi untuk mengakhiri kemiskinanmu selamanya.” 

Tuan Jose kemudian menyuruh Juan untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah. Ia dan Juan pergi ke ruang harta kerajaan. Ada 10 kamar harta di dalam ruangan itu. 

“Juan, aku terkesan dengan kebaikan hatimu. Kau sungguh tidak layak hidup dalam kemiskinan. Di dalam ruangan ini ada 10 kamar harta kerajaan, kau boleh mengambilnya semampumu,” kata Tuan Jose. 

Juan tertegun mendengar perkataan Tuan Jose. Tuan Jose kemudian mencoba membuka salah pintu kamar tetapi tidak ada kunci yang cocok untuk membukanya. Ia kemudian mencoba membuka pintu yang lain tetapi tetap tidak ada kunci yang cocok dengan pintu-pintu tersebut. Tuan Jose memanggil Bendahara Propinsi untuk membantu membuka pintu-pintu kamar harta tetapi hasilnya sama saja. Tidak ada kunci yang dapat membuka pintu-pintu itu. Tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud dari sebuah salib yang menggantung di pintu.

“Jika Tuhan menghendaki seseorang hidup dalam kemiskinan maka tidak ada satu pun usahamu yang bisa membuatnya kaya.” 

Tuan Jose, Juan, dan Bendahara terkejut mendengar suara tersebut. Mereka kemudian berlutut dan memohon ampun kepada Tuhan. Sejak saat itu, Tuan Jose tidak pernah lagi membangga-banggakan kekuasaan yang dimilikinya. Ia juga bersedekah sesuai dengan kemampuannya dan tidak membeda-bedakan orang di dalam memberi pertolongan. 

***
Rindu selesai baca bukunya.

"Cerita bagus......asal dari Argentina," kata Rindu.

Rindu menutup buku dan membaca bukunya dengan baik.

"Main ke tempat Mira," kata Rindu.

Rindu yang telah memutuskan ingin main ke tempat Mira, ya Rindu keluar dari rumah dan bergerak ke tempat Mira, ya rumahnyalah.

ASAL-USUL NIUQUE-COPAHUE

Diana selesai merawat tanaman di halaman depan rumah. Diana duduk santai di ruang tamu, ya sambil baca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Diana :

Ada beberapa suku yang hidup di Argentina. Salah satunya adalah suku Mapuches. Mereka hidup di bagian selatan Argentina, dekat dengan wilayah Kutub Selatan. Kedekatan ini membuat suku Mapuches sering mengalami musim dingin yang buruk dalam waktu yang tidak menentu. Jika musim dingin datang, semua yang ada di permukaan tanah akan berwarna putih, tertutup dengan salju tebal. Musim dingin yang sangat dingin dan salju tebal tidak membuat suku Mapuches menyerah dengan keadaan. Mereka mencoba bertahan hidup dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan memakai poncho, semacam kain sarung tebal dan lebar yang terbuat dari bulu binatang alpaca dan llama. Kombinasi warna-warna naturalnya sangat indah sekali. 

Kondisi alam tempat tinggal suku Mapuches berubah total ketika musim dingin telah lewat. Tanah yang berselimut salju akan berubah menjadi hijau, tempat yang ideal untuk bercocok tanam dan menggembalakan ternak. Suku Mapuches akan mendapatkan semua kebutuhan dari tanah tempat tinggal mereka kecuali garam. Suku Mapuches harus berjalan jauh ke tambang garam di sebelah utara untuk mendapatkan garam. Waktu perjalanan juga harus diperhitungkan dengan baik karena jika tidak hati-hati mereka akan terhalang oleh musim dingin. Hawa dingin dan salju tebal akan menghambat, menyesatkan, atau bahkan mematikan mereka yang pergi ke utara. 

Perjalanan yang jauh, lama, dan penuh bahaya ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang sehat dan kuat. Suku Mapuches biasanya memilih beberapa anggota sukunya sesuai dengan syarat-syarat tersebut. Mereka akan dipimpin oleh kepala suku untuk pergi ke wilayah Utara. Perjalanan kali ini akan dipimpin oleh kepala suku Mapuches yang bernama Chacayal. Kepala suku Chacayal telah berkali-kali meminpin rombongan pergi ke wilayah Utara. Ia dan rombongan selalu pulang tepat waktu dengan selamat. Tetapi kali ini berbeda. Rombongan Chacayal belum juga pulang meski hujan salju pertama telah turun. Awalnya keterlambatan Chacayal tidak menjadi meresahkan suku Mapuches. Mereka berpikir bahwa Chacayal hanya terlambat datang beberapa hari dari awal musim dingin. Suku Mapuches mulai resah ketika Chacayal dan rombongannya tidak datang juga meski satu bulan telah berlalu dari awal musim dingin. 

“Tetua, Chacayal dan rombongannya belum juga pulang?” tanya seorang anggota suku. 

“Iya, semestinya saat ini mereka sudah pulang,” jawab tetua suku Mapuches. 

“Apakah mereka menemui kesulitan, Tetua? Apakah mereka diserang binatang buas?” lanjut anggota suku tersebut. 

“Atau mereka diserang suku yang lain?”

“Chacayal adalah kepala suku yang kuat dan pandai. Ia pasti bisa mengatasi serangan binatang buas atau suku-suku yang lain,” jawab tetua suku Mapuches. 

“Atau jangan-jangan Chacayal dan rombongannya tersesat?” tambah anggota yang lain. 

“Sejak muda, Chacayal sering pergi ke wilayah Utara bersama ayah dan pamannya. Ia pasti punya cukup pengalaman untuk perjalanan ini. Aku yakin Chacayal bisa memimpin rombongannya pulang dengan selamat,” jawab tetua sambil menghela napas panjang. 

“Tetua, kami tidak meragukan lagi pengalaman Ketua Chacayal. Tetapi saat ini sudah masuk musim dingin. Tanah kita yang hijau telah berubah menjadi putih, semua menjadi putih. Penglihatan akan terbatas dan sangat susah mencari jalan atau patok acuan dengan keadaan seperti ini,” sergah anggota suku lainnya. 

Tetua suku Mapuches terdiam. Ia tidak dapat menyembunyikan kecemasan dan kesedihannya. 

“Tetua, bagaimana kalau kita mengirimkan beberapa orang anggota suku yang lain untuk mencari tahu keadaan Chacayal dan rombongannya,” saran anggota suku lainnya.

“Benar, Tetua! Chacayal adalah kepala suku kami yang sangat baik. Ia telah banyak membantu kami. Sekarang izinkan kami mencarinya! Siapa tahu ia berada di dekat sini dan membutuhkan pertolongan,” kata seorang anggota suku menambahkan. 

“Tidak! Aku tidak akan mengirimkan kalian keluar pada kondisi seperti ini. Suhu dingin dan salju yang tebal akan membuat kalian celaka! Aku tidak mau menambah kecemasanku dan suku ini lagi!” jawab tetua dengan tegas. 

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tetua?”

“Besok, kita akan mengadakan upacara berdoa bersama demi keselamatan Chacayal dan rombongannya,” kata tetua suku Mapuches. 

Calvuray, istri Chacayal tidak setuju dengan keputusan tetua suku Mapuches. Ia kemudian memanggil anaknya dan berkata, “Anakku, aku khawatir dengan keadaan ayahmu. Tidak biasanya selama ini ia pergi ke wilayah Utara.”

“Ayah adalah kepala suku Mapuches, Ibu. Ia kuat dan pandai. Selain itu, rombongan ayah adalah orang-orang terkuat di suku kita. Jangan khawatir, Ayah pasti pulang dengan selamat, Ibu!” jawab Antinanco.

“Ibu tahu apa yang kau bicarakan. Tetapi, jika ayahmu dan rombongannya menemui rintangan yang di luar kemampuannya?” lanjut Calvuray dengan wajah sedih. 

“Maksud Ibu?”

“Siapa tahu ayahmu bertemu dengan pasukan suku Inca yang jumlahnya lebih banyak dari rombongan ayahmu? Atau serangan jaguar atau ular yang ukuran badannya lebih besar dari yang biasa dijumpai? Atau banjir...”

“Sudah Ibu, sudah Ibu, berhentilah membicarakan hal-hal itu! Aku mengerti kekhawatiranmu. Sekarang apa yang akan Ibu lakukan?”

“Jika suku ini memperbolehkan perempuan keluar dari kampung seorang diri maka Ibu sendiri yang akan pergi mencari ayahmu.”

“Baiklah, Ibu! Aku akan segera berangkat mencari Ayah,” jawab Antinanco.

Calvuray segera mempersiapkan semua perbekalan untuk perjalanan Antinanco. Ia membekali Antinanco dengan semua persediaan makanan yang ada. Calvuray juga membawakan Antinanco poncho terbaik dan paling tebal. Ia bahkan membuat sepatu khusus yang terbuat bulu serigala. Antinanco terpana melihat sepatu buatan ibunya. Sepatu itu sangat indah, kuat, dan tebal. Bagian dalamnya lembut dan hangat. Antinanco merasa sayang untuk membawanya tetapi karena ibunya memaksa, ia membawa sepatu itu dalam perjalanannya.   

Ketika malam telah datang dan keadaan telah sepi, Antinanco berjalan mengendap-endap keluar dari kampungnya. Ia tidak sedikit pun menoleh ke belakang karena ia tahu ibunya pasti menangis melepas kepergiannya. Antinanco tidak ingin pencarian ayahnya ini tertunda karena belas kasihan kepada ibunya. Ia terus melangkah menembus tebalnya salju dan gelapnya malam. Banyak rintangan yang menghalangi Antinanco dalam pencariannya. Ia sering tersesat karena penunjuk arahnya tertutup salju tebal. Antinanco tertahan lama di suatu tempat untuk berteduh karena terjebak hujan salju yang turun berhari-hari. Ia mencoba terus berjalan meski tidak banyak kemajuan yang didapatnya. Beberapa hari melakukan pencarian, Antinanco akhirnya merasa putus asa. Ia merasa sangat lelah dan tidak sadar menjatuhkan dirinya ke tanah. Antinanco membiarkan tubuhnya terbaring di salju dan mulai menangi “Ayah, Ibu, maafkan aku! Pencarian ini sangat berat! Aku tidak sanggup lagi melakukannya! Aku...” jerit Antinanco sambil terisak. 

Setelah berbaring beberapa saat, Antinanco duduk dan menenangkan dirinya. Ia berniat untuk pulang ke kampungnya sampai tiba-tiba matanya melihat sebuah pohon di kejauhan. 

“Pohon apakah itu? Kenapa ia masih bisa tumbuh di antara salju tebal seperti ini? Aku akan melihatnya lebih dekat,” kata Antinanco dalam hati. 

Ia kemudian berjalan menuju tempat pohon itu tumbuh. Meski pohon itu terlihat dekat, Antinanco harus berusaha keras untuk mencapainya. Ia harus berjalan melalui tebing dan mendaki di beberapa tempat. Antinanco membutuhkan waktu hampir seharian untuk mencapai tempat di mana pohon itu tumbuh. Bentuk pohon itu sangat aneh. Batangnya besar, akar-akarnya banyak dan kokoh, serta daun-daunnya berujung tajam. Antinanco kemudian teringat cerita dari ibu dan tetua sukunya, “Suku Mapuches memiliki banyak dewa. Mereka ada yang hidup di langit dan di bumi. Salah satu dewa yang hidup di bumi berwujud sebuah pohon yang bernama Pehuen. Ciri-ciri pohon itu adalah batangnya besar, akarnya banyak serta kokoh, dan ujung-ujung daunnya sangat tajam. Tidak ada orang yang tahu di mana ia tumbuh. Hanya orang-orang yang diberkati yang dapat menemukannya.” 

Antinanco berjalan memutari pohon itu secara perlahan. Ia kemudian berlutut dan berdoa, “Jika memang pohon ini adalah pohon Pehuen, maka aku memohon kekuatan dan keselamatan untuk diriku, oh Dewa!”

Antinanco kemudian melepas sepatu buatan ibunya dan menggantungkannya di sebuah dahan pohon Pehuen. Ia kembali berlutut dan berdoa, “Maafkan aku, oh Dewa! Hamba tidak memiliki barang berharga yang layak untuk dipersembahkan. Hamba hanya memiliki sepatu bulu serigala ini, sepatu buatan ibu hamba, satu-satunya barang berharga yang hamba miliki saat ini. Semoga Engkau berkenan menerimanya.” 

Tiba-tiba Antinanco merasakan perubahan dalam dirinya. Tubuhnya menjadi segar. Ia kembali memiliki tenaga untuk kembali melanjutkan pencarian. 

“Terima kasih, oh Dewa!” kata Antinanco dalam hati.

Ia kembali melanjutkan pencarian ayahnya tanpa alas kaki. Tidak seberapa lama berjalan, Antinanco bertemu dengan kelompok suku Indian lain yang sedang berkemah. 

“Selamat malam! Namaku Antinanco dari suku Mapuches. Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanya Antinanco kepada kelompok itu. 

“Silakan, silakan bergabung, Anak Muda. Jangan sungkan-sungkan!” kata salah seorang yang nampaknya ketua dari kelompok itu. Antinanco kemudian bergabung dengan kelompok itu dan duduk di dekat api unggun.

“Anak Muda, apa yang sedang kau lakukan di tengah musim dingin seperti ini?” tanya salah seorang dari kelompok itu. 

“Aku sedang mencari ayahku,” jawab Antinanco. 

“Ada apa dengan ayahmu, Anak Muda?” tanya orang itu lagi.

“Ia sedang dalam perjalanan pulang dari wilayah Utara untuk mengambil garam. Tetapi sampai hari ini ia dan rombongannya belum juga sampai ke kampungku,” jelas Antinanco. 

Semua orang di kelompok itu menganggukkan kepalanya. 

“Anak Muda, kami akan pergi ke wilayah Selatan. Tetapi jangan khawatir, kau bisa bergabung dengan kami malam ini. Makanlah yang banyak dan tidurlah dekat api unggun itu agar badanmu kembali kuat esok pagi,” kata ketua kelompok itu. 

“Terima kasih, Pak!” jawab Antinanco. 

Ia kemudian mengambil makanan di dekat api unggun lalu memakannya. Antinanco kemudian mencoba berbaring di dekat api unggun dan tidak seberapa lama ia terlelap tidur. 

“Ketua, anak itu berasal dari suku Mapuches, musuh kita,” kata salah seorang di kelompok itu. 

“Iya, aku tahu,” jawab ketua kelompok itu. 

“Kita harus membunuhnya, Ketua, untuk menebus darah saudara-saudara kita yang dibunuh suku Mapuches.”

“Apa kau ingat aturan suku kita jika berperang? Salah satunya ialah tidak membunuh wanita dan anak-anak.”

“Tapi, Ketua, hati ini rasanya masih sangat sakit mengingat perang itu.”

“Baiklah, kalian lucuti baju dan perlengkapan anak itu. Biarlah alam yang menentukan hidup dan matinya.”

“Terima kasih, Ketua! Segera kita laksanakan.” 

Antinanco masih tertidur ketika kelompok itu melucuti baju, poncho, dan perlengkapannya. Ia bahkan tidak merasa ketika tangan, tubuh, dan kakinya diikat dengan erat. Bahkan ketika kelompok itu meninggalkannya menjelang pagi, Antinanco masih terlelap. Cahaya matahari yang memantul di salju membangunkan Antinanco. Saat itulah ia menyadari bahwa tubuhnya telah terikat erat. Antinanco mencoba membebaskan dirinya dari ikatan tersebut namun hasilnya sia-sia belaka. Ikatan itu terlalu kuat untuk tubuhnya yang kecil. Seorang diri, jauh dari rumah, tidak berdaya, dan suhu dingin membuat Antinanco mulai berputus-asa. 

“Ini mungkin akhir hidupku! Oh Dewa, sampaikan salamku kepada ibu dan ayahku. Mintakan maaf kepada mereka karena aku belum sempat membalas semua kasih sayang mereka,” kata Antinanco dalam hati.

“Ibu, aku rindu kepadamu,” lanjutnya. Antinanco kemudian mulai berteriak memanggil-manggil ibunya (Niuque-Mapuches). 

“Niuque... Niuque... Niuque... Niuque...”  Pada saat yang bersamaan, Calvuray, ibu Antinanco mendapatkan sebuah mimpi yang sangat jelas. 

Dalam mimpi itu, ia melihat Chacayal, suaminya, beserta anggota rombongannya berbaring di tanah, tertutup salju tebal. Tidak nampak tanda-tanda kehidupan. Tiba-tiba saja gambar di mimpi Calvuray berubah dengan cepat. Kali ini ia melihat Antinanco, anaknya sedang terikat erat tanpa pakaian. Calvuray juga mendengar teriakan Antinanco yang memanggilnya. Calvuray menyadari bahwa Chacayal, suaminya telah meninggal dunia sementara anaknya masih hidup dengan kondisi memprihatinkan. Ia kemudian memotong rambutnya sesuai dengan adat di suku Mapuches bagi perempuan yang suaminya baru saja meninggal. Calvuray menyiapkan perbekalan dan berpamitan kepada tetua suku Mapuches untuk pergi menolong anaknya. Tetua berusaha mencegahnya tetapi tidak bisa menghentikan keinginan Calvuray. Teriakan Antinanco semakin lama semakin melemah seiring kondisi tubuhnya yang menurun. Ia kemudian melihat pohon Pehuen, tempat di mana ia meletakkan persembahan sepatu bulu serigala buatan ibunya. 

“Oh, Dewa! Sepatu itu mengingatkan hamba kepada kasih ibu hamba. Seandainya ia berada di sini untuk menolong hamba...” Belum selesai Antinanco berkata, tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Akar-akar pohon Pehuen itu terangkat ke atas, merobek tanah dan salju yang menutupinya. Pohon itu terangkat ke atas dan berjalan mendekati Antinanco dengan akarnya. Ketika sampai di sebelah Antinanco, akar pohon itu memotong tali pengikat dan melingkari Antinanco untuk melawan hawa dingin. Daun-daun pohon Pehuen yang tajam juga membuat lingkaran di sekeliling Antinanco melindunginya dari serangan binatang buas. Pohon Pehuen itu juga memberikan tunas-tunas muda daunnya untuk dimakan oleh Antinanco.  Antinanco merasa hangat dan nyaman dengan perlakuan pohon Pehuen itu. Ia kemudian tertidur, entah berapa lama, sampai ibunya datang dan membangunkannya. “Antinanco bangun, Antinanco bangun, Antinanco…,” kata Calvuray sambil mengguncang tubuh Antinanco. Antinanco mengedip-ngedipkan matanya. 

Ia langung tersadar ketika melihat ibunya. “Ibu... Ibu... Ibu...,” teriak Antinanco seraya memeluk ibunya. Ia menangis tersedu-sedu. 

Ia menangis bahagia. Setelah mereka berdua tenang, Antinanco bertanya kepada ibunya, “Bagaimana Ibu tahu keberadaanku? Bagaimanan Ibu tahu aku dalam masalah?”

“Ibu bermimpi, Anakku! Ibu bermimpi melihat ayahmu dan rombongannya telah meninggal! Ibu juga bermimpi melihatmu dalam bahaya! Ibu terbangun dan hanya bisa mengingat tempatmu berada, tempat penuh tebing dan batu. Itu pasti pegunungan Copahue.” 

Mereka berdua terdiam. Antinanco kembali memeluk ibunya erat-erat, begitu juga ibunya. Seakan-akan pelukan itu tidak dapat dipisahkan oleh apa pun. 

“Antinanco, bagaimana kau bisa bertahan hidup selama beberapa hari ini?” tanya Calvuray seteah mereka lelah dan mengendurkan pelukan. 

Antinanco kemudian menceritakan semua yang dialaminya sejak berjumpa dengan pohon Pehuen, memberinya sepatu bulu serigala untuk persembahan, hingga perlindungan yang diberikan pohon Pehuen sampai ibunya tiba menolongnya. Calvuray terharu mendengar cerita Antinanco. Ia kemudian melepas sepatunya dan menggantungnya di salah satu dahan pohon Pehuen. 

“Oh Dewa, terima kasih karena Engkau telah menjaga dan melindungi anakku selama ini. Hamba ingin memberikan persembahan yang sangat berharga tetapi saat ini hanya sepatu ini barang berharga milik hamba. Terimalah persembahan ini sebagai ucapan terima kasih hamba,” ucap Calvuray sambil berlutut diikuti oleh Antinanco. 

“Oh Dewa, saya dan anak saya akan pulang ke desa kami. Saya mohon, jaga dan lindungilah kami dalam perjalanan pulang ini,” lanjut Calvuray. 

Ia kemudian berdiri dan memegang pundak Antinanco, mengajaknya pulang. Mereka berjalan pulang dengan kaki telanjang. Dinginnya salju sudah tidak mereka rasakan lagi. Belum jauh mereka melangkah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh di belakang mereka. Calvuray dan Antinanco menoleh ke belakang dan mereka melihat suatu keajaiban. Akar-akar pohon Pehuen itu mendadak tercabut dari dalam tanah. Batangnya terangkat ke atas dan akar-akar itu kemudian berjalan seperti kaki mendekati mereka berdua. Salah satu dahan pohon Pehuen itu memegang pundak Calvuray dan menunjukkan arah Selatan. Calvuray mengangguk tanda mengerti. Ia memegang tangan Antinanco dan dengan setengah menyeret mengajaknya kembali meneruskan perjalanan pulang. 

Pohon Pehuen itu berjalan di samping Calvuray dan Antinanco. Ia benar-benar melindungi mereka dari hawa dingin, salah arah, dan serangan binatang buas. Pohon pehuen itu juga memberikan tunas-tunas mudanya sebagai makanan bagi pasangan ibu-anak tersebut. Ketika Calvuray dan Antinanco berada di dekat kampung mereka, tiba-tiba saja pohon Pehuen itu berhenti berjalan. Akar-akarnya kembali menghujam ke tanah dan lama-kelamaan pohon Pehuen itu tenggelam ke dalam tanah beserta batang, dahan, dan daun-daunya. Permukaan tanah menutup dengan cepat dan nampak seakan-akan tidak terjadi apa-apa.  Calvuray dan Antinanco sampai ke kampungnya dengan selamat. Mereka menceritakan semua kisahnya kepada tetua dan anggota Suku Mapuches lainnya. Ucapan syukur berulang kali terdengar dari anggota suku Mapuches yang mendengarkan cerita Calvuray dan Antinanco. Suku Mapuches kemudian memutuskan memberi nama “Niuque” yang berarti ibu dalam bahasa Mapuches di tempat di mana Calvuray bertemu dan dilindungi oleh pohon Pehuen. 

***
Diana selesai baca bukunya.

"Ceritanya bagus.....asal dari Argentina," kata Diana.

Diana menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja dengan baik.

"Waktunya memasak," kata Diana.

Diana beranjak dari duduknya di ruang tamu ke dapur, ya memasak dengan baik.

CAMPUR ADUK

ROMEO + JULIET

Malam hari. Bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...

CAMPUR ADUK