CAMPUR ADUK

Saturday, July 31, 2021

ASAL-USUL MINUMAN YERBA MATE

Vivian selesai mencuci pakaiannya dan juga sudah di jemur dengan baik di halaman belakang. Vivian duduk di ruang tengah, ya santai sambil baca bukunya.

Isi buku yang di baca Vivian :

Yari, Sang Bulan, mempunyai tugas menyinari bumi di malam hari. Ia menjalankan tugas ini sejak bumi diciptakan. Yari senang dengan tugasnya. Ia sangat menikmati pemandangan bumi dari langit. Suatu hari Yari melihat suatu kilatan warna perak di bumi. Ia penasaran dengan penampakan itu. Yari mengamati dengan seksama kilatan itu. Ia kemudian menyadari bahwa kilatan perak itu adalah pantulan cahayanya dari sungai yang membelah sebuah hutan. Malam berikutnya, Yari memerhatikan kembali hutan itu. Kali ini ia melihat kumpulan busa putih di hilir sungai. Rupanya kumpulan busa itu adalah buih-buih dari air terjun yang ada di sungai dalam hutan ini. Malam-malam berikutnya, Yari terus memerhatikan hutan ini. Ia merasa senang dengan segala sesuatu yang dilihat di sana. Yari melihat rimbunnya daun pepohonan di hutan itu nampak seperti karpet hijau yang membentang luas. Ia juga melihat burung-burung beraneka warna yang terbang di sore atau pagi hari. Yari kemudian menanyakan keberadaan hutan itu kepada teman-temannya benda langit yang lain. 

“Hutan hijau dengan sungai yang membelahnya menjadi dua? Mungkin yang kau maksud itu hutan di utara Argentina. Hutan itu memang indah sekali,” kata Hujan. 

“Aku pernah masuk ke dalam hutan itu. Pohon-pohonnya cukup tinggi, daun-daunnya sangat rimbun, dan suhunya sangat nyaman,” lanjut Hujan. 

“Air terjunnya juga sangat indah. Suara gemercik airnya sangat menenangkan hati,” kata Embun Pagi.

“Air sungainya yang jernih dan dingin nampaknya cocok untuk berenang atau sekadar berendam,” tambah Embun Pagi. 

“Iya, hutan itu benar-benar tempat yang teduh! Tempat yang tepat untuk beristirahat. Waktu seakan berhenti di sana,” timpal Angin. 

“Penghuni hutan itu juga sangat beragam. Mereka sangat menarik untuk dilihat dan cukup jinak untuk diajak bermain,” kata Matahari. 

“Aku seringkali melihat banyak sekali burung berwarna-warni yang bersarang di sana. Aku juga sering tertawa sendiri jika melihat tingkah laku lucu monyet-monyet yang hidup di sana,” lanjut Matahari sambil tersenyum. 

Yari merasa takjub ketika mendengar cerita teman-temannya tersebut. Keinginannya untuk mengunjungi hutan itu makin kuat dari hari ke hari. Ia berusaha mencari cara agar bisa mewujudkan keinginannya. Suatu malam, Yari bertemu dengan Arai, Sang Awan. 

“Hei, Arai! Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak bertemu dengamu,” sapa Yari. 

“Hei, Yari! Kabarku baik-baik saja! Aku memang sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku banyak menghabiskan waktuku dengan Matahari dan Hujan,” jawab Awan. 

“Apakah Matahari sering bersinar cukup terik?” tanya Yari.

“Iya, Yari! Matahari terkadang tidak menyadari kalau dia bersinar cukup terik. Manusia dan mahluk bumi lainnya tidak akan tahan dengan panasnya. Saat itulah waktuku bertugas, melindungi manusia dari terik matahari,” kata Arai sambil tersenyum. 

“Kalau tugasmu bersama Hujan?” tanya Yari ingin tahu.

“Hujan? Sangat menyenangkan bertugas dengannya. Aku sering membawa Hujan ke berbagai tempat. Air yang diturunkan Hujan banyak membawa kebahagian bagi manusia dan mahluk bumi lainnya,” jelas Arai. 

“Tetapi aku juga sering melihat manusia dan mahluk bumi lainnya bersedih karena Hujan turun berlebihan sehingga menimbulkan banjir,” sanggah Yari.

“Hmm, manusia seharusnya tidak menyalahkan Hujan jika terjadi banjir. Hujan telah bekerja keras menurunkan air sesuai dengan aturan yang dibuat oleh Pencipta kita. Beda dengan manusia,” kata Arai.

“Maksudnya?” tanya Yari. 

“Manusia seringkali bertindak di luar aturan, Yari! Mereka menebang pohon-pohon tanpa mau menanamnya lagi. Manusia lupa bahwa pohon-pohon itu berfungsi untuk menyerap air dari Hujan. Jika pohon-pohon itu lenyap, air tidak akan terserap tetapi terus mengalir ke perkampungan manusia dan menyebabkan banjir,” kata Awan menjelaskan. 

“Selain itu, manusia juga sering bertindak seenaknya. Mereka sering membuang sampah ke sungai sehingga aliran air sungai sering terhambat. Ketika Hujan turun, air dari sungai itu akan menggenangi perkampungan manusia di sekitar sungai,” tambah Arai. 

Yari menggangguk tanda mengerti.

“Malam masih panjang, adakah sesuatu yang bisa kau ceritakan untuk menghabiskan waktu, Yari?” tanya Arai. 

“Oh, iya! Aku punya cerita tentang tempat yang menarik di utara Argentina,” jawab Yari.

Ia kemudian mengulang cerita dari teman-teman angkasanya kepada Arai. 

“Wow, nampaknya tempat itu sangat indah, seperti pecahan dari surga. Aku yakin kau pasti ingin sekali mengunjungi tempat itu?” tanya Arai begitu Yari selesai bercerita. 

“Aku ingin sekali, Arai! Tapi aku tidak bisa meninggalkan tugasku menyinari bumi di malam hari,” jawab Yari. 

Arai terdiam mendengar jawaban Yari. Beberapa waktu kemudian ia berkata, “Aku tahu bagaimana caranya kau bisa meninggalkan tugasmu dan mengunjungi hutan itu.”

“Hah, benarkah?” tanya Yari seakan tidak percaya. 

“Benar, Yari! Apakah kau tidak menyadarinya?” jawab Arai.

“Bagaimana itu bisa terjadi, Arai?” tanya Yari sekali lagi. 

“Apa yang sekarang kita lakukan?” tanya Awan. 

“Kita sedang duduk-duduk dan berbincang santai,” jawab Yari. 

“Bagaimana kita bisa melakukan hal itu?” 

“Karena teman-temanmu, awan-awan kecil menutupi langit. Aku tidak dapat melakukan tugasku menyinari bumi!” Yari terhenyak. 

Ia baru menyadari apa yang dimaksud oleh Arai. 

“Aku mengerti sekarang,” teriak Yari. 

“Jika teman-temanmu, awan-awan kecil ini menutupi langit dari sore hingga pagi hari, bumi tidak akan melihat sinar bulan. Jadi, aku bisa menyelinap turun ke bumi tanpa ada yang menyadari hal tersebut,” lanjutnya. 

Arai tersenyum dan berkata, “Kapan kau ingin turun ke bumi?”

“Besok, Arai! Besok!” jawab Yari. 

“Bolehkah aku ikut?” tanya Arai.

“Tentu saja kau boleh ikut menemaniku, Arai,” kata Yari.

Arai tersenyum mendengar jawaban Yari. Ia kemudian berbicara dengan teman-teman awan kecilnya, meminta mereka menutupi langit pada malam berikutnya. Esok malamnya, semua berjalan dengan rencana. Awan-awan kecil teman Arai menutupi langit hingga langit nampak gelap. Yari dan Arai merubah dirinya menjadi dua orang gadis dan turun ke bumi, ke hutan yang dijuluki pecahan dari surga. Akhirnya mereka sampai ke hutan itu. Meski tiada cahaya dari langit, hutan itu cukup terang karena cahaya dari kunang-kunang. Sungguh suatu pemandangan alam yang menakjubkan. Yari dan Arai berhenti sejenak untuk menikmati keindahan tarian kunang-kunang itu. 

“Arai, baru kali ini aku melihat tarian cahaya seperti ini,” kata Yari.

“Aku juga, Yari! Tarian itu sungguh memesona! Serangga kecil yang bercahaya itu sangat pandai terbang meliuk-liuk!” jawab Arai. 

“Seandainya gerakan mereka bisa dilatih, aku akan melatih mereka terbang menuliskan namaku,” kata Yari. 

Arai tertawa mendengarkan keinginan Yari. 

“Ayo, kita masuk lebih dalam ke hutan ini,” ajak Arai.

Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam hutan. Tidak seberapa jauh berjalan, Arai dan Yari melihat tanaman-tanaman anggrek yang sedang berbunga. “Yari, apakah kau tahu nama tanaman ini? Bunga yang sangat indah sekali,” tanya Arai.

“Mungkin ini yang dinamakan anggrek, Arai! Angin dan Embun Pagi sering menceritakan keindahan bunganya,” jawab Yari. 

“Baru kali ini aku melihat tanaman ini! Lihat bunganya, bentuk dan warnanya sangat eksotis sekali,” kata Arai. 

“Iya, aku juga baru kali ini melihat tanaman ini. Wajar kalau kita tidak pernah melihatnya karena tanaman ini dari langit. Ia hanya bisa tumbuh di tempat terlindung dan lembap seperti ini,” jelas Yari.

“Bisakah aku membawanya ke langit?” tanya Arai. 

“Aku yakin kau akan kecewa, Arai! Tanaman ini tidak akan berumur panjang jika berada di langit. Sinar Matahari akan membakarnya sampai habis,” jawab Yari sambil tersenyum. 

“Ayo, kita berjalan lagi! Ada banyak tempat yang harus kita kunjungi dalam hutan ini,” lanjut Yari.

Mereka melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba saja Yari dan Arai dikejutkan dengan teriakan monyet-monyet yang sedang bergelantungan. 

“Arai, kenapa monyet-monyet itu masih terbangun di malam hari seperti ini?” tanya Yari. 

“Entahlah, Yari! Mereka mungkin susah tidur atau ingin mengajak kita bermain,” jawab Arai.

“Semoga mereka tidak meminta kita untuk menggendong dan menidurkan mereka,” kata Yari dengan khawatir. 

“Tenanglah, Yari! Itu bukan tugas kita, itu tugas induk monyet,” jawab Arai sambil tertawa. 

Yari dan Arai berhenti sejenak untuk melihat tingkah polah monyet-monyet itu. Mereka bergelantungan, berlompatan ke sana kemari, bahkan saling berkejaran dengan sesamanya. Yari dan Arai tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Beberapa monyet kemudian mendekati mereka. Yari dan Arai tanpa segan mengelus-elus kepala monyet-monyet lucu itu. Mereka sangat terhibur dengan tingkah polah monyet-monyet ini. Yari dan Arai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka. Tatapan matanya sangat tajam dan menakutkan. Pagi datang menggantikan malam. Burung-burung beraneka warna terbang keluar dari sarangnya untuk mencari makan. 

“Arai, lihatlah ke angkasa. Ada banyak sekali burung-burung di atas sana,” kata Yari sambil menunjukkan jarinya ke atas. 

Arai mendongak dan berkata, “Iya, Yari! Bulu-bulu mereka sangat bagus sekali.” 

Mereka kemudian duduk dan memandang langit. 

“Aku baru menyadari bahwa pemandangan di bumi ini sangat indah,” kata Arai. 

“Benar, Arai! Kita mungkin terlalu lama berada di angkasa sehingga tidak menyadari keindahan bumi,” jawab Yari. 

“Sayang sekali, kita tidak punya waktu lama untuk menikmati keindahan alam ini,” tambah Arai.

“Kalau begitu, kita harus segera pergi ke sungai yang membelah sungai ini. Aku sangat ingin berendam dan berenang di sana,” kata Yari.

“Ayo berangkat,” kata Arai. 

Mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, Yari dan Arai sampai ke sungai. Air sungai yang jernih membuat mereka tidak tahan untuk menceburkan diri ke dalam sungai. 

“Yari, air sungai ini benar-benar menyegarkan! Aku tidak ingin keluar dari sungai ini. Aku akan berendam di dalam selamanya,” teriak Arai kegirangan. 

“Arai, kau jangan berlebihan! Kau bisa lumutan kalau berlama-lama di sini. Siapa yang akan menggosokmu nanti?” jawab Yari sambil tersenyum. 

Yari dan Arai berenang dengan gembira. Mereka juga menyelam untuk melihat keindahan susunan batu-batu sungai. Beberapa waktu kemudian mereka keluar dari sungai dan beristirahat di tepian. 

“Yari, aku merasa lelah sekali,” kata Arai sambil tidur telentang. 

“Aku juga, Arai! Bagaimana kalau kita beristirahat dulu. Aku melihat ada sebuah gubuk di dekat sini. Kita mungkin bisa melepas lelah di sana,” kata Yari.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi ke sana!” ajak Arai. 

Mereka kemudian berjalan ke arah gubuk yang dimaksud oleh Yari. Rasa lelah membuat mereka cepat terlelap dalam gubuk itu. Tiba-tiba muncul seekor jaguar dari semak-semak. Rupanya jaguar itu yang mengawasi Yari dan Arai sejak semalam. Ia bermaksud memangsa Yari dan Arai. Jaguar itu melompat dan berusaha menerkam Yari dan Arai. Sebelum cakarnya sampai ke muka Yari dan Arai, sebuah anak panah meluncur dan menembus kepala jaguar itu. Panah itu langsung membunuh jaguar dalam seketika. Yari dan Arai terbangun saat tubuh jaguar menimpa mereka. Yari dan Arai sangat terkejut dan mereka kemudian menyadari apa yang terjadi saat melihat tubuh jaguar yang mati dengan anak panah menancap di kepalanya. Seorang laki-laki dengan senjata panah keluar dari balik pohon. 

“Selamat pagi, Nona-nona! Maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saya terpaksa membunuh jaguar itu karena ia bermaksud memangsa kalian,” kata laki-laki itu. 

“Te-rima kasih, Pak! Bapak te-lah menyelamatkan nyawa ka-mi,” kata Yari terbata-bata. 

Ia masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya. 

“Kalian harus berhati-hati jika berjalan di hutan ini. Banyak binatang buas yang hidup di sini,” kata laki-laki itu. 

“Iya, Pak! Kami hanya ingin beristirahat di gubuk ini,” kata Arai. 

“Kalau begitu, kalian beristirahatlah di rumahku. Letaknya tidak jauh dari sini. Aku akan mengantar kalian,” tambah laki-laki itu.

Yari dan Arai kemudian mengikuti laki-laki itu berjalan ke rumahnya. 

“Namaku Tevez!” kata laki-laki itu memulai pembicaraan. 

“Nama saya Yari dan teman saya ini, Arai,” kata Yari. 

“Kalian gadis-gadis yang sangat pemberani! Berjalan-jalan di dalam hutan tanpa membawa pisau atau panah,” lanjut Tevez. 

“Kami hanya berjalan-jalan, Pak! Kami tidak berniat berburu. Jadi untuk apa membawa senjata?” jawab Arai.

Tevez tertawa mendengar jawaban Arai. Mereka kemudian sampai di rumah Tevez. Rumahnya sangat sederhana tetapi cukup nyaman untuk ditinggali. Tevez tinggal dalam rumah itu bersama istri dan anak gadisnya. Yari dan Arai diperlukan dengan ramah oleh Tevez dan keluarganya. Mereka dijamu dengan makanan yang ada dan disiapkan sebuah kamar untuk beristirahat. 

“Pak Tevez, terima kasih atas keramahanmu”, kata Yari. 

“Itu sudah kewajiban kami, Yari! Tetua kami tidak akan suka jika kami tidak memperlakukan tamu dengan baik,” jawab Pak Tevez. 

“Pak Tevez, kenapa Bapak tinggal di sini, jauh dari perkampungan?” tanya Arai. 

“Kami dulu memang tinggal di perkampungan. Tetapi sejak anak gadis kami tumbuh dewasa, kami melihat jiwanya mudah sekali merasa cemas dan ketakutan jika berada di keramaian. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tinggal di dalam hutan ini,” jelas Pak Tevez. 

Yari dan Arai saling berpandangan setelah mendengar penjelesan Tevez. Mereka kemudian undur diri untuk beristirahat. 

“Arai, kita harus memberikan hadiah untuk Pak Tevez! Ia telah menyelamatkan nyawa kita dan menjamu kita dengan baik,” kata Yari ketika berada di dalam kamar.

“Benar, Yari! Tetapi hadiah apa yang akan kita berikan?” tanya Arai. 

“Entahlah, aku akan mencarinya saat kembali ke langit nanti,” jawab Yari. 

Waktu berjalan dan datanglah waktu sore. Yari dan Arai berpamitan dengan keluarga Tevez. 

“Bapak dan Ibu Tevez, sore telah datang. Inilah waktu kami untuk kembali pulang ke rumah,” pamit Yari. 

“Kalian hendak pulang ke mana? Malam segera turun, semua akan nampak gelap di hutan. Kalian akan kesulitan mencari jalan pulang,” sanggah Pak Tevez. 

“Perjalanan pulang kami lebih mudah dibandingkan menyusuri hutan ini, Pak,” jawab Arai. 

“Kami tinggal di angkasa. Saya, Yari, adalah dewi bulan, sedangkan Arai adalah dewi awan,” kata Yari sambil menepuk pundak Arai. 

Bapak dan Ibu Tevez saling berpandangan setelah mendengar penjelasan Yari. Belum hilang keheranan mereka, Bapak dan Ibu Tevez melihat tubuh Yari dan Arai berubah menjadi dua berkas cahaya. Tiba-tiba cahaya-cahaya itu terbang melejit ke angkasa. Yari kembali menjalankan tugasnya menyinari bumi di malam hari. Begitu juga dengan Arai. Sebelum berpisah, Arai berkata kepada Yari, “Jangan lupa untuk mencari hadiah untuk keluarga Tevez.”

“Tentu, aku tidak akan lupa, Arai!” jawab Yari.

Selang beberapa hari kemudian, Yari mengajak Arai mengunjungi rumah keluarga Tevez. 

“Apa yang akan kau hadiahkan kepada mereka, Yari?” tanya Arai. 

“Aku akan memberikan suatu tanaman yang akan berguna bagi keluarga itu,” jawab Yari.

Yari menaburkan bibit-bibit tanaman yang nampak seperti titik-titik cahaya berwarna biru. Ia kemudian menyinari tempat di mana bibit itu ditebar dengan cahayanya yang paling indah dan lembut. Arai membantu Yari dengan menurunkan gerimis yang mampu menyuburkan tanah. Bibit-bibit itu dalam sekejap berubah menjadi suatu tanaman. Keesokan harinya, keluarga Tevez terkejut dengan tanaman yang tumbuh di depan rumah mereka. 

“Pak, tanaman apa yang tumbuh di depan rumah kita ini?” tanya Bu Tevez.

“Entahlah, Bu! Aku tidak pernah melihat tanaman ini sebelumnya,” jawab Pak Tevez sambil mengernyitkan alis. 

“Cepat sekali tumbuhnya tanaman ini, ya, Pak! Kemarin aku belum melihatnya, sekarang sudah tumbuh sedemikian tinggi,” tambah Bu Tevez.

Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Yari yang berwujud manusia. 

“Selamat pagi, Bapak dan Ibu Tevez! Masih ingat dengan saya, Yari? Dewi Bulan?” sapa Yari sambil tersenyum. 

“I-ya, ka-mi masih ingat denganmu,” jawab Pak Tevez. 

“Tanaman ini bernama Yerba Mate. Ia adalah simbol persahabatan kita, Pak Tevez,” kata Yari sambil memetik salah satu daun Yerba Mate.

“Daun tanaman ini dapat kalian olah menjadi minuman yang tidak saja menghilangkan haus tetapi dapat membangkitkan semangat, menenangkan hati, mempererat persaudaraan bagi yang meminumnya. Penyakit puteri kalian juga akan sembuh dengan minuman ini. Kelak, banyak orang yang akan mencari minuman dari daun tanaman ini,” lanjut Yari. 

“Tetapi kami tidak tahu bagaimana mengolah tanaman ini, Yari,” kata Pak Tevez. 

“Aku akan mengajari kalian cara mengolah daun tanaman ini. Aku juga akan memberi umur panjang kepada puteri kalian agar ia dapat mengajarkan cara menanam, memelihara, dan mengolah Yerba Mate kepada orang lain,” jawab Yari.  

Kenikmatan minuman Yerba Mate menyebar dengan cepat di Argentina, Paraguay, dan daerah Amerika Selatan lainnya. Minuman ini membuat orang-orang tetap terjaga ketika rasa kantuk datang menyerang. Selain itu, minuman Yerba Mate membuat orang-orang membentuk persahabatan meski tidak saling mengenal. Demikianlah cerita asal-usul minuman Yerba Mate, salah satu minuman yang paling terkenal di Amerika Selatan. 

***

Vivian selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus....asal dari Argentina," kata Vivian.

Vivian menutup bukunya dan di taruh bukunya di meja. Vivian mengambil remot di meja dan segera menghidupkan Tv. Acara Tv yang di tonton adalah film.

CERITA HANTU

Toto sedang duduk di bawah pohon yang rindang, ya sedang murung sih.

"Nasif....aku mati muda karena kecelakaan mobil," kata Toto.

Bono muncul di samping Toto. 

"Kenapa murung?" tanya Bono.

"Karena keadaan ku saja yang mati muda karena kecelakaan mobil," kata Toto.

"Mati muda karena kecelakaan mobil. Aku mati muda karena penyakit yang lagi populer saat ini....covid-19," kata Bono.

"Covid-19...lebih bahaya dari kecelakaan mobil ya," kata Toto.

"Ya iyalah. Kan aku di kuburkan di kuburan...covid-19. Semua hantu penasaran awalnya murung sih mati karena covid-19. Pada akhirnya menerima juga," Bono.

"Singkat amat hidup...nasif kita ini," kata Toto.

"Jadi hantu juga asik gitu," kata Bono.

"Jadi hantu asik," kata Toto.

"Iya. Jadi hantu asik. Ayo ikut aku main!" kata Bono.

"Main!" kata Toto.

"Oooo iya kita belum kenalan. Nama ku Bono," katanya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan gitu.

"Aku Toto," katanya sambil berjabat tangan dengan Bono.

"Kita pergi dari sini dengan menghilang!" kata Bono.

"Ok!!!" kata Toto

Toto dan Bono menghilang dari situ, ya ke tempat bagus gitu. Sebuah studio Tv yang sedang mengadakan acara musik band. Acara musik berjalan dengan baik banget.

"Gimana tempat ini? Menghiburkan!" kata Bono.

"Menghibur sih. Aku suka dengan musiknya....Band Ungu gitu," kata Tono.

"Banyak penggemar Band Ungu. Walau sudah jadi hantu...gara-gara cerobohan sih contoh salah satunya kecelakaan mobil seperti mu Toto," kata Bono.

"Begitu juga matinya karena penyakit yang lagi populer saat ini....covid-19 kaya Bono," kata Toto.

"Jadi hantu di nikmati saja seperti saat masih hidup..suka dengan hiburan musik!" kata Bono.

"Lebih baik di nikmati jadi hantu dari pada murung dengan keadaan mati muda," kata Toto.

Toto dan Bono menikmati keadaan dengan baik seperti saat masih hidup, ya menonton acara musik di studio Tv gitu bersama para hantu yang suka dengan musik yang di adakan sih. Acara musik Band Ungu berjalan dengan baik.....pokoknya bagus banget, ya menghibur manusia yang hidup yang menonton di rumah, ya nonton Tv dan juga hantu yang masih ingin menikmati hiburan. Orang-orang yang mengadakan acara musik di studio Tv, ya tidak tahu keberadaan hantu karena kasat mata. Kecuali orang yang memiliki kemampuan indigo, ya bisa melihat hantu gitu.

MALDONADO DAN PUMA

Thalia selesai membantu ibunya melipat pakaian gitu. Thalia duduk santai di ruang tengah sambil asik baca bukunya.

Isi buku yang di baca Thalia :

Tahun 1519, pasukan Spanyol yang dipimpin Hernán Cortèz memulai penjelajahan di Amerika Selatan. Perjalanan inilah yang kemudian menjadi awal penjajahan bangsa Spanyol di Amerika Selatan. Mereka tidak segan berbuat kejam kepada penduduk lokal hanya untuk mendapatkan emas, perak, serta hasil bumi seperti cokelat dan tembakau. Pada awalnya, penjajahan bangsa Spanyol berjalan dengan lancar. Mereka menggunakan senjata api untuk melawan penduduk lokal yang hanya bersenjatakan tombak dan pedang. Peperangan yang tidak seimbang tersebut berubah menjadi pembantaian. Penduduk lokal yang selamat dari pembantaian tersebut dijadikan budak oleh bangsa Spanyol.

Beberapa waktu kemudian, keadaan berubah. Penduduk lokal yang selamat dari pembantaian dan perbudakan bergabung dalam suku-suku dan melakukan perlawanan balik. Perang gerilya dan penguasaan lingkungan yang baik menjadi senjata utama suku-suku lokal ini dalam menghadapi bangsa Spanyol. Mereka bahkan mampu mendesak bangsa Spanyol sehingga hanya mampu bertahan di dalam benteng-benteng mereka.

Pengepungan berbulan-bulan itu mengakibatkan persediaan makan penghuni benteng menjadi sedikit. Mereka tidak dapat melakukan aktivitas jual-beli di kota ataupun berburu makanan. Beberapa orang yang nekat keluar dari benteng untuk berjual-beli atau mencari makan tidak ada yang berumur panjang. Mereka dikirim kembali ke benteng oleh suku-suku lokal dalam keadaan tidak bernyawa.

Kejadian ini membuat Kapten Diaz, sebagai pimpinan sebuah benteng di pedalaman Argentina, pusing. Ia seakan menghadapi dua musuh yang menyerang bersamaan; pengepungan benteng dan persediaan makanan yang semakin menipis.

“Pasukan Spanyol adalah pasukan terkuat di dunia. Mereka dapat melawan apa pun yang bernapas,” kata kapten Diaz kepada para perwiranya dalam suatu rapat.

“Mereka harus terpenuhi kebutuhan makanan dan kesehatannya. Aku akan mengeluarkan perintah untuk mendahulukan kebutuhan mereka dibandingkan penduduk sipil,” lanjutnya.

Para perwira terdiam. Nampak kebingungan di wajah mereka. Tiba-tiba seorang perwira berkata,

“Minta izin untuk berbicara, Kapten.”

“Ya, silakan,” jawab Kapten Diaz.

“Kapten Diaz, kami adalah prajurit. Kami terbiasa  menahan lapar dalam waktu yang lama. Lain halnya dengan anak dan istri kami serta penduduk sipil yang lain. Kami akan sulit berkonsentrasi jika memikirkan anak, istri, dan saudara kami hidup dalam kelaparan. Tolong dipertimbangkan lagi perintah Kapten.”

Kapten Diaz terdiam mendengar penjelasan perwiranya. Ia menghela napas panjang dan berkata,

“Hari ini aku memutuskan bahwa setiap penghuni benteng, baik prajurit, penduduk sipil, dan para budak, mendapat jatah makan sekali dalam sehari. Keputusan ini berlaku selama sebulan sejak dikeluarkan.”

Para perwira nampak senang. Mereka kemudian mengumumkan keputusan itu kepada semua penghuni benteng.

Sebulan berlalu sejak keputusan kapten Diaz dikeluarkan. Pengepungan masih berlangsung. Tidak ada bantuan makanan yang datang dan persediaan makanan semakin menipis. Keadaan ini memaksa kapten Diaz membuat keputusan baru.

“Mulai hari ini, setiap penghuni benteng, baik prajurit, penduduk sipil, dan para budak, mendapat jatah makan sekali dalam dua hari. Keputusan ini berlaku selama dua minggu sejak diumumkan,” kata kapten Diaz.

Keputusan ini menjadi bahan pembicaraan para penghuni benteng. Mereka tidak suka dengan keputusan itu, tetapi mereka menerimanya karena tidak ada jalan lain untuk menambah persediaan makanan.

Beberapa hari setelah pengumuman kedua kapten Diaz, seorang pemimpin budak dari suku Querand mendatangi kantor kapten Diaz.

“Selamat pagi, Kapten Diaz,” sapa ketua suku Querand.

“Selamat pagi, Ketua! Gerangan apa yang membuatmu datang pagi-pagi ke kantorku,” balas kapten Diaz.

“Kami punya pemecahan untuk mengatasi krisis makanan ini,” jawab ketua suku Querand.

“Oh, ya? Apa yang akan kau sarankan?” tanya kapten Diaz.

“Izinkan suku kami untuk mencari makanan di luar benteng. Kami adalah penduduk lokal daerah ini. Kami tahu di mana bisa mendapatkan hewan buruan dan buah-buahan. Kami juga tidak akan diganggu oleh suku-suku lokal yang mengepung benteng ini,” jawab ketua suku Querand.

“Selain itu, Kapten tidak perlu memikirkan jatah makan untuk kami. Kami bisa mencari makan sendiri di luar benteng. Kapten bisa mengalihkan jatah makan kami untuk penghuni benteng yang lain,” lanjut ketua suku Querand.

Kapten Diaz manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Ia kemudian berkata, “Terima kasih atas perhatianmu, Ketua! Aku tidak akan mengizinkan kamu dan orang-orang sukumu keluar dari benteng ini. Kami sedang berperang, kami sedang dikepung! Aku tidak meragukan loyalitasmu, tetapi orang-orang yang mengepung kami adalah bangsamu sendiri! Apa kamu bisa menjamin orang-orang sukumu tidak menceritakan kepada pengepung kami tentang jumlah prajurit & amunisi yang kami miliki? Tidak menceritakan kelemahan benteng ini?” kata kapten Diaz dengan penuh emosi.

Ketua suku Querand terdiam mendengar bantahan kapten Diaz.

“Maaf, Kapten! Kami tidak bermaksud melakukan seperti yang Kapten khawatirkan. Kami hanya mencoba membantu,” kata ketua suku Querand.

“Aku tahu, tetapi keselamatan benteng ini adalah tanggung jawabku,” kata kapten Diaz sambil menghela napas panjang.

Pembatasan jatah makan ini mulai menimbulkan masalah baru bagi benteng kapten Diaz. Budak-budak suku Querand mulai jatuh sakit. Awalnya hanya beberapa orang dari mereka yang sakit. Beberapa hari kemudian, hampir separuh dari budak-budak suku Querand jatuh sakit.

Maldonado adalah seorang gadis bangsa Spanyol yang tinggal dalam benteng kapten Diaz. Usianya yang baru 15 tahun membuatnya menjadi satu-satunya anak-anak berbangsa Spanyol dalam benteng itu. Hal itu membuatnya kesulitan dalam mencari teman bermain. Maldonado akhirnya bermain dan berteman baik dengan anak-anak sebayanya dari suku Querand.

Kelaparan dan penyakit yang menyerang budak-budak suku Querand membuat Maldonado kehilangan teman bermain. Ia mengunjungi teman-temannya yang sakit. Maldonado sedih saat melihat kondisi teman-temannya yang kelaparan dan lemah tak berdaya.

“Aku akan membantu kalian, teman-temanku! Aku akan mencari makanan bagi kalian,” kata Maldonado menghibur teman-temannya.

Maldonado kemudian menyusun rencana untuk meninggalkan benteng. Saat malam datang, ia pergi ke belakang benteng. Ia berencana keluar dari pintu belakang. Maldonado bersembunyi di bawah bayangan tembok benteng, menunggu lengahnya para penjaga.

Waktu pergantian penjaga tiba. Pintu belakang benteng tidak terjaga. Maldonado berjalan mengendap-endap ke arah pintu, membukanya pelan-pelan, lalu berlari sekuat tenaga ke arah hutan. Maldonado terus berjalan masuk ke dalam hutan. Ia memanfaatkan sinar bulan posisi rasi bintang sebagai penunjuk arahnya. Keahlian itu didapatnya dari kapten kapal yang membawanya ke Amerika Selatan.

Makin jauh Maldonado masuk ke dalam hutan, makin sering terdengar suara-suara binatang penghuni hutan. Suara-suara itu tidak membuat Maldonado takut. Ia terus berjalan dan mencari tempat yang diceritakan teman-temannya suku Querand, tempat yang penuh dengan buah-buahan.

Banyak suara-suara aneh dan menakutkan yang didengarnya. Dengan panduan cahaya bulan, suasana hutan yang gelap dan menyeramkan tidak membuat Maldonado takut. Tiba-tiba Maldonado mendengar suara raungan binatang. Ia kemudian berhenti, mendengarkan suara raungan itu dengan seksama. Suara raungan itu kembali terdengar.

“Suara itu... seperti suara binatang yang kesakitan! Aku akan memeriksanya, siapa tahu binatang itu membutuhkan bantuanku. Lagi pula, suara itu terdengar tidak jauh dari tempatku sekarang,” kata Maldonado dalam hati. Ia kemudian mengubah arah perjalanannya. Ia mencari asal suara raungan itu.

Maldonado akhirnya sampai di sebuah gua. Ia sangat terkejut dengan pemandangan di dalam gua. Maldonado melihat seekor puma sedang melahirkan anak-anaknya. Tiba-tiba induk puma itu menatap Maldonado dengan tajam. Maldonado terkejut, tetapi ia memberanikan diri mendekati induk puma itu. Maldonado kemudian membantu induk puma itu dengan membersihkan tubuhnya dari ceceran darah persalinan. Ia membersihkan dan menggendong bayi-bayi puma itu lalu meletakkannya di dekat induknya untuk disusui.

Maldonado memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di dalam gua itu. Ia membantu induk puma mengawasi anak-anaknya selama induk puma pergi berburu. Maldonado bahkan tidak segan mengajak anak-anak puma itu bermain bersamanya.

Suatu hari, ketika induk puma berada di dalam gua, Maldonado pergi mengumpulkan buah-buahan di sekitar gua. Tiba-tiba saja ada seseorang menghadang jalan Maldonado. Rupanya orang itu adalah pejuang suku Querand. Pejuang itu menghunus tombaknya dan dengan bahasa isyarat menyuruh Maldonado ikut dengannya. Maldonado mengikuti pejuang suku Querand menuju ke perkampungannya.

Kedatangan Maldonado di kampung suku Querand membuat kegemparan bagi penduduknya. Orang-orang Querand berbondong-bondong ke tempat Maldonado ditahan. Mereka ingin tahu bagaimana rupa orang yang bangsanya telah mengalahkan pejuang-pejuang hebat suku Querand. Kepala suku Querand kemudian memanggil salah seorang anggota suku yang bisa berbahasa Spanyol untuk menanyai Maldonado.

“Panggil Chavez kemari!” perintah kepala suku Querand.

Tak berapa lama kemudian, orang yang bernama Chavez menghadap kepala suku Querand.

“Yang Mulia, saya Chavez, siap menerima perintah,” kata Chavez.

“Chavez, aku dengar kau pernah tinggal lama dalam benteng bangsa Spanyol. Apakah kau juga bisa berbahasa Spanyol?” tanya kepala suku Querand.

“Saya hanya bisa bahasa Spanyol yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, Yang Mulia,” jawab Chavez.

“Aku rasa itu sudah cukup untuk menanyai tawanan kita. Sekarang kamu tanyai gadis itu, siapa namanya, dari mana asalnya, dan bagaimana kisahnya hingga ia bisa sampai di sini!” perintah kepala suku Querand.

“Baik, Yang Mulia! Saya akan segera melaksanakannya,” jawab Chavez. Ia kemudian pergi ke tempat Maldonado ditahan.

Chavez menanyai Maldonado di depan suku Querand. Ia menanyai Maldonado dalam bahasa Spanyol dan berencana menerjemahkan jawaban Maldonado dalam bahasa suku Querand agar kepala suku dan anggota suku lainnya dapat mengerti.

“Siapa namamu?” tanya Chavez memulai pertanyaan.

“Maldonado,” jawab Maldonado.

“Di mana kamu tinggal?”

“Benteng Kapten Diaz.”

“Bagaimana kau bisa sampai kemari? Apakah kau berniat mematai-matai kami?”

Maldonado menjawab pertanyaan itu dengan menceritakan kisahnya mulai dari kelaparan di dalam bentengnya hingga ditangkap oleh pejuang suku Querand. Ia menceritakan kisahnya dalam bahasa suku Querand. Kepala suku dan orang-orang kampung suku Querand terkejut mendengar jawaban Maldonado. Baru kali ini mereka mendengar seseorang yang warna kulit dan fisiknya berbeda dari mereka mampu berbahasa Querand. Mereka juga takjub dengan keberanian Maldonado menembus hutan seorang diri dan membantu kelahiran induk puma. Kepala suku Querand bingung menentukan hukuman bagi Maldonado. Ia kemudian mengumpulkan para tetua suku untuk berunding menentukan nasib Maldonado.

“Para tetua suku, hari ini kita berkumpul untuk menentukan nasib seorang gadis bangsa Spanyol yang bernama Maldonado,” kata kepala suku Querand memulai pembicaraan.

“Jika mengikuti keputusan yang disepakati suku-suku di sekitar sini, kita seharusnya membunuh gadis itu karena berbangsa Spanyol, bangsa yang telah membunuh banyak dari saudara-saudara kita,” lanjutnya.

“Suku Querand adalah suku yang bermoral. Kami hanya berperang dan membunuh laki-laki dewasa, bukan anak-anak dan wanita,” kata salah seorang tetua suku Querand.

“Lagi pula, apa yang dilakukan oleh Maldonado adalah tindakan seorang pemberani. Ia berusaha membantu saudara-saudara kita yang ditawan di benteng Kapten Chavez. Ia pertaruhkan nyawanya dengan menembus hutan ini seorang diri. Maldonado tidak layak dihukum mati karena kebaikan hatinya,” tambah seorang tetua lainnya.

Kepala suku Querand terdiam. Ia kemudian berkata, “Aku tidak akan menghukum mati Maldonado tetapi aku tidak akan membiarkannya pulang ke benteng Kapten Diaz. Dia akan ditahan di sini tetapi tidak hidup sebagai tahanan. Ia akan diperlakukan sebagai anggota suku Querand.”

Maldonado akhirnya tinggal di perkampungan suku Querand. Ia merasa senang karena diterima dengan baik oleh anggota suku Querand. Ia membantu wanita-wanita suku Querand memasak dan mengasuh bayi. Maldonado juga sesekali mengajarkan bahasa Spanyol kepada anggota suku Querand yang lain.

Kehidupan berjalan dengan tenang di perkampungan suku Querand hingga datanglah ekpedisi pasukan Spanyol yang akan membebaskan benteng-benteng Spanyol dari pengepungan. Pasukan itu menyerang perkampungan suku Querand, membunuh para laki-laki, menawan para wanita dan anak-anak, serta membakar rumah-rumah suku Querand. Pasukan Spanyol sangat terkejut saat mengetahui ada seorang gadis Spanyol di antara para tawanan. Mereka lalu membawa Maldonado kembali ke benteng Kapten Diaz.

Maldonado disambut dengan hangat oleh para penghuni benteng kapten Diaz. Dia bahkan dielu-elukan sebagai pahlawan karena datang dengan pasukan pembebas. Kapten Diaz kemudian memanggil Maldonado. Ia meminta Maldonado bercerita tentang kisah perjalanannya. Maldonado dengan senang hati menceritakannya kepada kapten Diaz.

Setelah Maldonado selesai bercerita, kapten Diaz berkata, “Aku mengagumi tekad dan keberanianmu, Maldonado! Tetapi karena kau telah melawan perintahku untuk tetap tinggal di dalam benteng, maka aku akan menghukummu! Kau akan diikat di pohon di depan benteng dengan waktu yang sama mulai dari kau meninggalkan benteng hingga kau kembali lagi ke sini!”

“Kau juga tidak akan diberi makan dan minum selama itu! Kau akan menjadi contoh bagi para penghuni benteng bagaimana seorang pembangkang dihukum,” lanjut Kapten Diaz.

Maldonado terkejut mendengar perkataan Kapten Diaz. Ia tiba-tiba ditangkap oleh prajurit Spanyol, diseret keluar benteng, dan diikat di sebuah pohon. Para penghuni benteng terkejut dan merasa kasihan saat mengetahui hukuman yang diterima Maldonado. Mereka berbicara kepada Kapten Diaz, mendesak untuk membebaskan Maldonado. Tetapi kapten Diaz tidak bergeming dengan keputusannya.

“Aku bertanggung jawab penuh atas keselamatan benteng ini. Setiap perintah yang aku keluarkan adalah untuk keselamatan benteng ini, untuk keselamatan kita semua!” kata Kapten Diaz dengan tegas.

“Oleh karena itu, setiap orang yang tidak patuh kepadaku, baik bangsa Spanyol atau budak, akan dihukum! Disiplin harus ditegakkan,” lanjutnya.

Para penghuni benteng yang mendengar perkataan Kapten Diaz hanya bisa menghela napas panjang. Mereka lalu berdoa demi keselamatan Maldonado.

Tiga minggu sejak Maldonado dihukum, datanglah sebuah ekspedisi pasukan Spanyol yang membawa bahan makanan dan amunisi ke benteng Kapten Diaz. Pasukan anggota itu kemudian menceritakan kejadian menarik yang mereka jumpai ketika berada di dekat benteng Kapten Diaz.

“Ketika kami berada di dekat benteng ini, kami melihat sebuah pemandangan yang aneh,” kata salah seorang prajurit ekpedisi.

“Kami melihat seorang anak gadis yang terikat di sebuah pohon. Pakaiannya compang-camping. Nampaknya ia sudah terikat cukup lama di pohon itu,” lanjutnya.

“Itu pasti Maldonado,” sela seorang penghuni benteng.

“Maldonado? Kesalahan apa yang dibuatnya sehingga mendapat hukuman seperti itu?” tanya seorang prajurit ekspedisi dengan nada marah.

Para penghuni benteng terdiam dan tertenduk lesu.

“Gadis itu sangat istimewa. Ketika kami akan membebaskannya, kami melihat ada seekor induk puma dan anak-anaknya yang berjaga di bawah pohon itu. Mereka nampak sayang terhadap gadis itu. Aku bahkan yakin induk puma dan anak-anaknyalah yang memberi makan dan minum terhadap gadis itu,” kata prajurit ekspedisi itu melanjutkan cerita.

Para penghuni benteng menangis mendengar cerita tersebut.

“Kenapa kalian tidak membebaskannya?” tanya salah seorang penghuni benteng.

“Pemimpin kami melarangnya. Ia takut jika mengusik puma-puma itu, sesuatu yang buruk akan menimpa kami,” jelas seorang prajurit ekpedisi.

Entah siapa yang memulai, para penghuni benteng bersama-sama keluar dari benteng. Mereka tidak lagi menghiraukan aturan Kapten Diaz. Hanya satu tujuan mereka, membebaskan Maldonado dan membawanya pulang. 

***
Thalia selesai baca bukunya.

"Cerita yang bagus dari....Argentina," kata Thalia.

Thalia menutup buku dan menaruh buku di meja.

"Main piano ah!" kata Thalia.

Thalia beranjak dari duduknya di sofa ke tempat duduk yang dekat dengan piano. Thalia segera memainkan piano dengan baik dengan lagu yang di mainkan, ya lagu klasik gitu.

KAOS KAKI FLAMINGO

Lilia selesai latihan menari dengan teman-temannya. Lilia berada di rumah, ya duduk santai di ruang tengah sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Lilia :

Suatu hari, bangsa Ular yang tinggal di hutan Amazon, Argentina mengadakan rapat besar. Semua jenis ular, mulai dari ular berbisa, ular piton, hingga ular berkulit belang mendatangi rapat itu. Mereka berkumpul untuk bertukar sapa, bercerita tentang kabar terbaru, serta membicarakan masalah-masalah di sekitar mereka. 

“Rakyatku, hari ini kita berkumpul dalam rapat besar. Jika ada permasalahan atau keluhan, sampaikanlah sekarang agar aku bisa mencarikan penyelesainnya,” kata Raja Ular membuka rapat besar. 

“Baginda Raja, saya senang tinggal di hutan ini, sangat tenang dan sepi,” kata seekor ular berkulit kuning memulai pembicaraan. 

“Hanya saja, rasa sepi kadang-kadang membuat saya bosan,” lanjutnya. 

Ular-ular peserta rapat itu mulai berisik. Mereka membicarakan perkataan ular berkulit kuning itu dengan ular-ular di sebelahnya. 

“Tenang! Ular-ular yang saya cintai, saya mohon tenang terlebih dahulu,” kata Raja Ular menenangkan.

Ular-ular itu kemudian terdiam. Mereka kembali menyimak pembicaraan teman mereka tersebut.

“Sekarang apa yang ingin kau inginkan?” tanya Raja Ular kepada ular berkulit kuning itu. 

“Saya ingin sesekali ada hiburan di hutan ini, Baginda Raja!” jawab ular berkulit kuning.

“Suasana sepi yang lama terkadang juga membosankan. Kita memang sesekali perlu menikmati hiburan. Kira-kira hiburan apa yang kalian inginkan?” tanya Raja Ular kepada semua peserta rapat.

“Sebuah pesta!” usul seekor ular kecil. 

“Sebuah pesta dansa!” tambah seekor ular besar. 

“Sebuah pesta dansa yang besar, Baginda Raja!” sahut ular yang lain. 

Ular-ular itu mulai ramai mengajukan usul tetapi usul mereka hampir sama semua. Mereka mengusulkan untuk mengadakan sebuah pesta dansa. 

“Baiklah, kita memutuskan untuk mengadakan sebuah pesta dansa dan mengundang semua penghuni hutan ini! Bagaimana? Apa kalian semua setuju?” tanya Raja Ular kepada bangsa ular peserta rapat.

“Setuju...!” jawab semua ular peserta rapat bersamaan. 

Bangsa Ular kemudian menyebarkan undangan pesta dansa itu kepada semua penghuni hutan. Awalnya para penghuni hutan sempat terkejut ketika menerima undangan tersebut, tetapi akhirnya perasaan itu berubah menjadi senang. Jarang sekali ada pesta di hutan ini, apalagi sebuah pesta dansa. Bangsa Ikan adalah penerima pertama undangan pesta dansa bangsa Ular. Raja Ikan kemudian mengumpulkan semua bangsa ikan untuk memberitahukan undangan itu. 

“Rakyatku, hari ini aku menerima undangan pesta dansa dari bangsa Ular,” kata Raja Ikan kepada rakyatnya. 

“Aku ingin kalian datang ke pesta dansa itu dan bersenang-senang. Jarang sekali ada pesta di hutan ini, apalagi pesta dansa. Hanya saja, permasalahnnya pesta dansa itu diadakan di darat, bukan di air,” lanjut Raja Ikan dengan wajah sedih.

Bangsa ikan terdiam. Mereka seakan mengerti kesedihan rajanya. Tiba-tiba saja seekor ikan kecil berteriak, “Tuanku, kita bisa ikut di pesta dansa itu! Kita bisa ikut!”  Raja Ikan mendongak, memandang ikan kecil itu dan bertanya, “Bagaimana caranya, Saudaraku?” “Tuanku, pesta dansa ini diadakan di tepi sungai. 

Kita bisa melihat penampilan dan tarian penghuni hutan yang lain dengan tetap di dalam air. Jika ada penampilan yang bagus, kita bisa bersama-sama melompat ke udara dan ketika jatuh lagi ke air, kita mengibaskan ekor bersama-sama sehingga terdengar suara mirip tepukan tangan,” jelas ikan kecil.

“Kita juga bisa membawa ganggang bercahaya dan menggigitnya saat melompat dari air. Ganggang bercahaya akan berpendar dalam kegelapan. Itu akan nampak seperti pesta kembang api, Tuanku,” lanjut ikan kecil itu. 

Raja Ikan terdiam mendengarkan penjelasan ikan kecil itu. Tidak lama, Raja Ikan tersenyum dan berkata, “Idemu sungguh bagus sekali, Saudaraku! “Rakyatku, bangsa Ikan, mulai hari ini berlatihlah lompatan udara dan kumpulkan ganggang bercahaya! Kita akan menampilkan tarian udara, pesta kembang api, dan suara tepukan tangan yang meriah dalam pesta dansa itu,” perintah Raja Ikan. 

Bangsa ikan bersorak-sorai mendengar perintah rajanya. Sebagian dari mereka mulai berlatih lompatan udara dan kibasan ekor, sementara yang lain mengumpulkan ganggang bercahaya. Tidak jauh dari tempat berkumpulnya bangsa Ikan, bangsa Buaya juga berkumpul untuk membahas undangan pesta dansa bangsa Ular. 

“Raja Buaya, apa yang harus kita persiapkan untuk pesta dansa bangsa Ular ini?” tanya seekor buaya.

“Aku sebenarnya ingin kita menampilkan sebuah tarian dalam pesta itu, tetapi karena kita tidak begitu lincah saat di darat, bagaimana kalau kita menampilkan pakaian terbaik saja?” usul Raja Buaya. 

Semua buaya mengangguk mendengar usulan raja mereka. 

“Model pakaian seperti apa yang Paduka ingin tampilkan?” tanya seekor buaya kecil. 

“Aku memikirkan model pakaian yang sederhana tetapi elegan,” jawab Raja Buaya. 

“Kita bisa memulai mengumpulkan daun pandan atau jerami lalu mengayamnya menjadi sebuah topi. Rangkaian buah pisang bisa menjadi kalung yang baik. Warna kulit kuning kulit pisang akan nampak seperti emas. Sebuah tongkat kayu bisa membantu kita berjalan dengan dua kaki dan membuat kita nampak berwibawa. Tongkat itu juga bisa membantu kita jika ingin berdansa. Bagaimana?” jelas Raja Buaya kepada rakyatnya. 

“Setujuuu...!” teriak para buaya sambil bertepuk tangan.

Undangan pesta dansa bangsa Ular juga diterima oleh bangsa Kodok. Raja Kodok memutuskan agar bangsa Kodok datang ke pesta itu dengan baju dari rajutan sisik ikan. Model pakaian itu sederhana tetapi apabila baju itu terkena sinar, sisik-sisik ikan nampak gemerlapan, anggun, dan mewah. Ia lalu mengirimkan utusan kepada bangsa Ikan untuk meminta dan mengumpulkan sisik-sisik ikan yang telah rontok. Lain halnya dengan Bangsa Katak, saudara bangsa Kodok. 

“Aku tidak keberatan bangsa Katak memakai pakaian model apa pun atau menari dengan gaya apa pun ketika datang di pesta dansa bangsa Ular. Hanya satu perintahku, semua bangsa Katak harus berbau harum dan wangi di pesta itu! Aku akan sangat malu jika ada yang berkata bangsa Katak adalah bangsa yang bau!” perintah Raja Katak kepada rakyatnya. 

“Lagi pula, bau harum dan wangi bisa menambah rasa percaya diri!” tambahnya. 

Bangsa Katak mematuhi perintah rajanya. Mereka mencari dan mengumpulkan bunga dan daun yang berbau harum dan wangi. Bangsa Katak kemudian menumbuk dan mengoleskan tumbukan bunga dan daun itu ke sekujur tubuh mereka. Bau tubuh mereka akhirnya menjadi harum dan wangi. Persiapan penghuni hutan untuk menghadiri pesta dansa bangsa Ular mengusik bangsa Flamingo. Mereka kemudian berbondong-bondong menghadap Raja Flamingo. 

“Rajaku, semua penghuni hutan ini sedang bersiap untuk menghadiri pesta dansa bangsa Ular. Mereka berlatih menari, menjahit baju terbaik, bahkan merawat tubuh mereka hingga baunya harum dan wangi,” kata seekor Flamingo. 

“Bangsa Flamingo adalah penari terbaik di hutan ini, bahkan mungkin di dunia. Kita bisa menampilkan tarian terbaik tanpa perlu berlatih. Aku merasa itu sudah cukup bagi kita untuk datang ke pesta dansa bangsa Ular,” jawab Raja Flamingo. 

“Kami mengerti jika bangsa Flamingo adalah penari terbaik di hutan ini, bahkan mungkin di dunia, Rajaku. Kami hanya merasa malu jika penari terbaik di dunia datang ke sebuah pesta dansa hanya dengan kaki putih yang sederhana,” jawab Flamingo yang lain. 

“Benar, Rajaku! Kita akan menjadi pusat perhatian dalam pesta dansa itu karena keahlian menari kita. Kita juga harus memerhatikan penampilan. Kita tidak cukup tampil dengan kaki putih. Kita harus memakai sesuatu. Kita harus tampil istimewa dan glamor,” tambah seekor Flamingo yang berdiri paling belakang.

Raja Flamingo mengganggukkan kepalanya dan berkata, “Baik, aku mengerti keinginan kalian. Sekarang jelaskan kepadaku aksesoris apa yang harus kita pakai saat pesta dansa bangsa Ular? Apa kita harus memakai gelang? Atau apa?” Bangsa Flamingo terdiam hingga seekor Flamingo di baris depan berkata, “Aku tahu aksesoris yang cocok kita pakai dalam pesta dansa itu, Rajaku.”

“Apa yang ingin kau usulkan?” tanya Raja Flamingo penasaran. 

“Rajaku, kita hanya perlu memakai kaos kaki warna-warni, seperti kombinasi garis merah, kuning, dan hitam. Kaos kaki warna-warni itu akan sesuai dengan kaki putih Flamingo. Kaos kaki itu juga bisa membuat kaki kita tetap hangat dalam dinginnya malam,” jelas Flamingo itu. Para Flamingo mulai berisik. 

Mereka membicarakan usulan kaos kaki warna-warni itu dengan Flamingo di dekatnya. “Baik, aku setuju kita memakai kaos kaki warna-warni seperti yang kau usulkan. Sekarang, di mana kita bisa mendapatkan kaos kaki seperti itu?” tanya Raja Flamingo. 

“Kita bisa mencoba mencarinya di desa seberang sungai Amazon ini, Rajaku,” jawab seekor Flamingo di barisan tengah, “Aku dengar banyak pedagang di desa itu. Mungkin salah satunya ada yang menjual kaos kaki seperti yang kita inginkan.” 

“Baik, mari kita pergi bersama-sama ke desa itu!” perintah Raja Flamingo. 

Para Flamingo kemudian berbaris rapi dan berjalan mengikuti Raja Flamingo untuk pergi ke desa di seberang sungai Amazon. Tidak lama kemudian, bangsa Flamingo sampai ke desa tersebut. Mereka kemudian mengetuk pintu toko yang pertama kali mereka jumpai.  

“Tok... tok... tok…”

“Siapa di luar?” tanya pemilik toko. 

“Kami bangsa Flamingo dan kami ingin membeli kaos kaki dengan garis warna-warni,” jawab Raja Flamingo.

Pemilik toko membuka pintu dan ia sangat terkejut melihat rombongan Flamingo yang ada di depan rumahnya. 

“Temanku, aku tidak punya kaos kaki seperti yang kalian gambarkan itu. Aku hanya menjual kaos kaki polos dengan satu macam warna,” jawab pemilik toko. 

“Apakah engkau tahu di manakah kami bisa mendapatkan kaos kaki dengan garis warna-warni?” tanya Raja Flamingo. 

“Aku tidak tahu, Temanku! Kau bisa mencoba pergi ke toko di tengah desa ini. Toko itu adalah toko terbesar di desa ini. Mungkin mereka menjual kaos kaki seperti yang kau maksudkan,” jelas pemilik toko. 

Bangsa Flamingo berjalan ke arah toko yang ditunjukkan oleh pemilik toko pertama. Kedatangan rombongan Flamingo mengejutkan pemilik toko kedua. 

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu ?” sapa pemilik toko. 

“Selamat siang, kami mencari kaos kaki,” jawab Raja Flamingo “Kaos kaki seperti apa?” “Kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam.” 

Pemilik toko menggaruk-garuk kepalanya saat mendengar jawaban Raja Flamingo. Ia lalu berkata, “Temanku, aku tidak menjual kaos kaki dengan model seperti itu. Aku bahkan belum pernah melihat kaos kaki dengan model seperti yang kau sebutkan.” 

“Apakah engkau tahu di manakah kami bisa mendapatkan kaos kaki dengan model seperti itu?” tanya Raja Flamingo. 

“Aku tidak tahu, tetapi kau bisa mencoba mencarinya di ibu kota, Buenos Aires. Ada banyak pedagang yang tinggal di sana. Mungkin salah satunya ada yang menjual kaos kaki dengan model seperti itu,” jawab pemilik toko. 

“Ibu kota? Buenos Aires? Butuh waktu berhari-hari untuk bisa sampai di sana sementara pesta dansa bangsa Ular akan diadakan lusa,” kata seekor Flamingo. 

“Baik, kita datangi semua toko yang ada di desa ini. Siapa tahu salah satu dari mereka menjual kaos kaki seperti yang kita inginkan,” perintah Raja Flamingo. 

Bangsa Flamingo kemudian mendatangi semua toko yang ada di desa itu. Mereka bertanya tentang kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam  dan tidak ada toko yang menjualnya. Hari menjelang senja. Raja Flamingo tertunduk lesu. Ia merasa lelah dan kesal karena tidak mendapatkan kaos yang diinginkan bangsanya. “Senja mulai tiba. Ayo, kita pulang,” perintah Raja Flamingo. 

“Tapi, Rajaku, kita masih belum mendapatkan kaos kaki yang kita inginkan,” kata seekor Flamingo.

“Malam di hutan Amazon sangatlah gelap. Aku tidak ingin kita tersesat atau celaka karena berjalan di kegelapan. Kita bisa mencari kaos kaki itu besok pagi. Ayo kita pulang sekarang,” jelas Raja Flamingo.

“Baik, Rajaku,” kata para Flamingo serentak. 

Mereka kemudian berbaris dan berjalan pulang. Ketika hendak menyeberangi sungai, mereka berjumpa dengan seekor Armadillo yang sedang minum. 

“Selamat sore para Flamingo! Tumben kalian pergi berombongan seperti ini. Apakah kalian baru pulang menghadiri sebuah pesta? Atau kalian hanya berjalan-jalan?” tanya Armadillo. 

“Selamat sore, Armadillo! Kami baru saja mencari kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam di desa sebelah,” jawab Raja Flamingo. 

“Apakah kalian menemukannya?” tanya Armadillo “Tidak, kami belum menemukannya,” jawab Raja Flamingo sambil menghela napas panjang.

“Aku rasa kalian bisa menemukan kaos kaki seperti itu di Buenos Aires, ibu kota. Kalian bisa menggunakan jasa pos untuk memesan dan mengirimkannya ke sini, tapi itu akan membutuhkan waktu berhari-hari,” jelas Armadillo. 

“Itulah masalahnya. Kami tidak punya waktu sebanyak itu,” kata Raja Flamingo. 

“Coba kalian mencari kakak iparku, Burung Hantu. Ia pandai dan pengetahuannya luas sekali. Kakak iparku mungkin tahu di mana kalian bisa mendapatkan kaos kaki seperti itu di dekat sini,” kata Armadillo memberi saran. Armadillo kemudian menggambarkan posisi rumah burung hantu di atas pasir sungai. 

“Rupanya rumah kakak iparmu tidak jauh dari rumah kami. Sore ini juga kami akan mengunjunginya,” ujar Raja Flamingo. 

“Sampaikan salamku jika bertemu dengannya! Semoga berhasil!” kata Armadillo sambil melanjutkan minum. 

Raja Flamingo tidak membuang waktu. Ia memerintahkan para Flamingo untuk pulang ke rumah masing-masing sementara ia sendiri pergi ke rumah Burung Hantu. 

“Tok... tok... tok…”

“Siapa di luar?” tanya Burung Hantu. 

“Saya, Raja Flamingo, saudaraku Burung Hantu,” jawab Raja Flamingo. 

Burung Hantu terkejut mendengar jawaban itu. Ia bergegas membuka pintunya dan mempersilakan Raja Flamingo masuk ke dalam rumah. 

“Suatu kehormatan bagiku, Raja Flamingo datang bertamu ke rumahku,” kata Burung Hantu.

“Jangan berlebihan, Burung Hantu,” jawab Raja Flamingo. 

“Sore ini aku bertemu dengan adik iparmu, Armadillo. Ia mengatakan bahwa kau bisa membantu memecahkan masalah kami,” lanjut Raja Flamingo. 

“Permasalahan seperti apa, Raja Flamingo?” tanya Burung Hantu dengan mengerutkan dahinya.

“Bangsa Flamingo ingin datang ke pesta dansa bangsa Ular dengan memakai kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam. Kami sudah mencarinya ke mana-mana tetapi tidak juga menemukannya,” jelas Raja Flamingo.

“Memang susah mencari kaos kaki dengan model seperti itu, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin untuk didapatkan,” jawab Burung Hantu. 

“Aku akan membantumu, Raja Flamingo! Aku akan mencari kaos kaki itu malam ini dan mengantarnya ke rumahmu keesokan harinya,” lanjut Burung Hantu. 

“Secepat itu?” tanya Raja Flamingo keheranan. 

Burung Hantu tersenyum. Ia lalu berkata, “Bukankah acara pesta dansa bangsa Ular akan diadakan lusa?” 

“Baik, Burung Hantu! Aku tidak akan bertanya bagaimana cara kau mendapatkan kaos kaki itu! Jika kau memenuhi janjimu, aku akan membayarmu banyak sekali,” kata Raja Flamingo. 

“Terima kasih, Raja Flamingo! Datanglah lagi ke rumahku besok pagi. Kau dan bangsamu akan mendapatkan kaos kaki itu,” kata Burung Hantu. 

Tengah malam, Burung Hantu keluar dari rumahnya dan pergi ke arah hulu sungai Amazon. Ia terbang rendah dan memperhatikan batu-batu koral di sepanjang sungai. Tidak lama kemudian nampak seekor ular koral sedang melata di atas batu. Burung Hantu terbang mendekati ular itu dan mematuknya hingga mati. Ia membawa bangkai ular itu ke rumahnya lalu mengulitinya. Rupanya Burung Hantu hendak membuat kaos kaki dari kulit ular koral yang berwarna kombinasi garis merah, kuning, dan hitam. Malam itu, Burung Hantu memburu semua ular koral yang hidup di sekitar sungai Amazon.

Ia menyadari bahwa dibutuhkan banyak sekali kulit ular koral untuk dijahit menjadi kaos kaki bangsa Flamingo. Burung hantu tidak menyadari bahwa perburuannya telah memusnahkan semua ular ular koral sekitar sungai Amazon. Keesokan harinya, Raja Flamingo terheran-heran saat Burung Hantu mengantar kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam ke rumahnya. Jumlahnya tidak satu pasang, tidak juga dua pasang, melainkan puluhan pasang kaos kaki.

“Burung Hantu, rupanya kau bisa menepati janjimu. Aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan bayaranmu,” kata Raja Flamingo. 

“Terima kasih, Raja Flamingo,” jawab Burung Hantu.

“Tetapi jika bangsa Flamingo ingin memakai kaos kaki ini dalam pesta dansa bangsa Ular, ada satu syarat yang dipenuhi,” lanjut Burung Hantu. 

“Syarat apa?” tanya Raja Flamingo. 

“Bangsa Flamingo harus menari sepanjang pesta, tidak boleh berhenti sejenak pun atau kalian akan celaka,” jelas Burung Hantu. 

“Jangan khawatir! Kami mampu menari sepanjang malam, Burung Hantu!” jawab Raja Flamingo sambil tersenyum. 

Bangsa Flamingo bangga dengan kaos kaki barunya. Mereka memakai kaos kaki itu dan datang ke pesta dansa bangsa Ular. Semua binatang yang hadir berdecak kagum melihat keindahan kaos kaki bangsa Flamingo. Saat itu belum ada yang menyadari bahwa kaos kaki itu adalah kulit ular koral. Bangsa Flamingo kemudian mulai menari. Mereka bergerak dan berputar sangat cepat seakan tiada kenal rasa lelah. Gerakan yang seirama dan kaos kaki warna-warni dengan kombinasi garis merah, kuning, dan hitam yang dipakainya membuat tarian bangsa Flamingo sangat indah untuk dinikmati. Salah seekor ular kecil curiga dengan kaos kaki bangsa Flamingo.

“Warna kaos kaki itu nampaknya mirip dengan ... apa, ya?” katanya dalam hati. 

Tiba-tiba ia dicolek oleh seekor katak dan ditanya, “Aku belum melihat saudaramu, Ular Koral, di pesta ini. Apakah mereka terlambat datang atau kalian lupa mengundangnya?” Ular kecil itu terkejut mendengar pertanyaan itu. 

Ia menyadari bahwa kaos kaki bangsa Flamingo ternayat bermotif yang sama dengan kulit saudaranya, Ular Koral.  Ular kecil itu mencoba memperhatikan kaos kaki bangsa Flamingo, tetapi usahanya sia-sia. Bangsa Flamingo menari dengan cepat dan tiada henti sehingga sulit melihat detail kaos kaki itu. Tiba-tiba saja seekor Flamingo terjatuh karena tersandung tongkat seekor buaya. Ular kecil mendekati Flamingo yang malang itu dan memperhatikan kaos kakinya. Ia terkejut saat meraba kaos kaki bangsa Flamingo. 

“Rasanya kasar, ini bukan kain, ini sisik!” katanya dalam hati. 

Ular kecil itu kemudian menarik salah satu kaos kaki Flamingo, melemparkannya ke atas, dan berteriak dengan marah, “Ini bukan kaos kaki tenun! Ini kulit saudara kita, Ular Koral! Bangsa Flamingo telah membunuh saudara kita dan menjadikannya kaos kaki.”

Suasana pesta menjadi hening. Para Flamingo berhenti menari dan saling berpandangan dengan sesamanya. Tiba-tiba saja terdengar suara desis yang sangat keras. Bangsa ular mulai menyerang bangsa Flamingo. Sungguh malang nasib bangsa Flamingo, mereka sangat lelah menari sehingga tidak bisa menghindar dari gigitan bangsa Ular. Bangsa Flamingo menjerit kesakitan saat ular-ular itu menggigit kaki mereka. Bisa ular membuat bangsa Flamingo hampir mati. Tetapi, dengan susah payah, bangsa mereka dapat melarikan diri. 

Para Flamingo itu kemudian merendam kakinya di dalam air. Mereka menangis menahan sakit dan kaki mereka berubah menjadi merah karena racun ular. Itulah asal mula kenapa Flamingo suka berendam di dalam air dan kaki mereka berwarna merah. Mereka kadang-kadang keluar dari air tetapi rasa sakit akibat bisa ular yang muncul lagi membuat Flamingo kembali berendam di air. Mereka kadang-kadang menekuk kakinya berjam-jam untuk mengurangi rasa sakit akibat bisa ular. Sungguh malang nasib Flamingo. 

***
Lilia selesai baca bukunya dengan baik.

"Cerita yang bagus dari asalnya....Argentina," kata Lilia.

Lilia menutup bukunya dan menaruh buku di meja.

"Main gitar sambil menyanyi ah!" kata Lilia.

Lilia mengambil gitarnya di kamarnya dan segera keluar sih dan duduk di ruang tengah lagi. 

"Lagu apa yang aku nyanyikan ya?" kata Lilia berpikir dengan baik.

Lilia teringat dengan lagu terkenalnya Band Ungu dan juga masih populer sampai sekarang.

"Lagu Band Ungu.....yang Demi Waktu saja!" kata Lilia.

Lilia segera memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu dari Band Ungu...Demi Waktu, ya dengan baik sih.

TIKUS KOTA DAN TIKUS DESA

Feni selesai bermain dengan teman-teman, ya di rumah Lidiya. Feni memang berada di rumah, ya duduk dengan santai di ruang tamu sambil asik baca bukunya.

Isi buku yang di baca Feni :

Kathy adalah seekor tikus yang hidup di kota. Ia memiliki saudara bernama Karen, seekor tikus yang hidup di desa. Suatu hari Kathy tidak sengaja bertemu dengan Karen di pinggir hutan kota. Ia melihat Karen sedang mengumpulkan biji-biji kenari.

"Karen, apakah kau Karen si tikus desa?" sapa Kathy, sedikit ragu.

"Iya, Kathy! Aku memang Karen si tikus desa. Maaf aku belum sempat mengunjungi rumahmu," jawab Karen sambil menghampiri Kathy.

"Apa yang kau lakukan di hutan ini? Tempat ini jauh sekali dari rumahmu?" tanya Kathy, keheranan.

"Aku sedang mengumpulkan biji-biji kenari. Aku akan menyimpannya untuk persediaan musim dingin," Karen menjawab sembari menunjuk karung-karungnya.

Kathy mengalihkan pandangannya ke karung-karung milik Karen yang sudah penuh dengan kenari. Ia kemudian berkata, "Banyak sekali kenari yang kau kumpulkan, Karen. Aku yakin kau tidak akan kelaparan saat musim dingin tiba."

"Kau benar, Kathy", jawab Karen sambil tertawa, "jika bukan karena mempersiapkan persediaan musim dingin ini, aku lebih senang tinggal di rumah. Rasanya menyenangkan sekali melihat matahari terbit dari balik bukit, menghirup udara segar, atau sekedar berjalan-jalan di dalam hutan."

Kathy tampak heran melihat saudaranya yang begitu senang tinggal di desa. "Benarkah? Aku merasa kota lebih cocok untuk seekor tikus. Kau bisa melihat lampu berkelap-kelip di malam hari, berlarian tanpa halangan di got, dan makan berbagai makanan lezat," sanggahnya.

Karen tersenyum, lalu berkata lagi, "Bagiku desa adalah tempat yang terbaik untuk tikus. Bagaimana kalau kita saling berkunjung saat Natal nanti. Kita bisa membuktikan mana yang lebih baik antara hidup di desa atau hidup di kota?"

Kathy merasa tertantang, "Baik, aku setuju! Aku akan datang ke rumahmu saat Natal nanti tapi jangan lupa kau harus ke rumahku juga. Kau akan tahu, Karen, jika kota lebih baik dari pada desa." Karen tertawa mendengar perkataan Kathy. Mereka pun berpisah setelah sepakat untuk saling berkunjung saat Natal.

Kathy mendapat giliran pertama. Ia mengunjungi rumah Karen di pedesaan. Kathy tidak menyangka jika ia akan menghadapi banyak rintangan dalam perjalanan ke rumah Karen. Ia harus melalui jalan yang berliku, melewati hutan yang gelap gulita, naik turun bukit, dan berjalan di atas salju lunak yang tebal. Kathy pun tiba di rumah Karen dengan kondisi kelelahan.

"Karen, kau tidak pernah cerita kalau perjalanan ke rumahmu sangat berat. Apalagi aku harus melewati tumpukan salju lunak yang tebal itu! Aku hampir mati kedinginan di sana!" keluh Kathy sesampai di rumah Karen, "aku sangat lelah dan lapar. Bisakah aku meminta sedikit makanan dan air?"

Karen tertawa melihat penampilan Kathy yang acak-acakan. Ia semakin terbahak ketika mendengar ceritanya. Melihat saudaranya yang terlihat begitu kecapaian, Karen segera berkata, "Jangan khawatir, Kathy. Kau boleh melihat-lihat gudang makananku dan pilihlah apa yang kau suka. Kau juga boleh makan sebanyak-banyaknya. Anggaplah rumah ini sebagai rumahmu, jangan sungkan-sungkan."

Setelah beristirahat sejenak, Kathy masuk ke dalam gudang makanan Karen. Ia sangat terkejut karena ada banyak sekali makanan yang tersimpan di sana. Ada berbagai macam biji kenari, jagung, kacang, remah-remah roti, serta rumput hijau. Ia bahkan menemukan akar PolyBody, akar pohon yang rasanya manis dan hanya tumbuh di tempat tertentu.

"Karen pasti telah bekerja keras untuk mengumpulkan ini semua. Aku tidak pernah melihat gudang makanan selengkap dan sebanyak ini. Ia benar-benar rajin," gumam Kathy sendirian.

Kathy mengambil dan memakan beberapa makanan serta biji-bijian, setelah memilih-milih makanan selama beberapa saat. Rasa lelah membuatnya makan sangat banyak hingga kehausan.

"Karen, di mana kau simpan airmu? Aku haus sekali," tanya Kathy, setengah berteriak.

Karen, yang sedang berada di ruangan lain, segera menghampiri Kathy. "Ayo, ikut aku, Kathy. Aku akan menunjukkan tempatnya," ajak Karen.

Kathy mengikuti Karen dan ia kembali terkejut ketika melihat tempat persediaan air milik Karen. Rupanya Karen telah membuat beberapa lubang dan saluran air yang sederhana untuk menampung lelehan salju. Lubang-lubang itu berfungsi sebagai tempat penampungan air dan saluran untuk mengalirkan air yang tersisa agar tidak membanjiri rumahnya. Sungguh cerdas, ia tidak akan pernah kehausan sepanjang tahun, kata Kathy dalam hati.

Setelah makan dan minum sepuasnya. Kathy dan Karen duduk dan mengobrol bersama. Karen pun terusik untuk menanyakan kesan Kathy, "Bagaimana? Hidup di pedesaan sungguh menyenangkan, bukan?"

"Pemandangan di sini memang sangat indah, bahkan ketika salju turun. Suasananya juga sangat tenang. Aku pun suka dengan makanan yang ada di sini. Bahkan aku makan sangat banyak sekali. Terima kasih atas kebaikan hatimu, Karen," kata Kathy, tulus. Karen tersenyum mendengarnya.

"Tetapi jika kau bertanya, mana yang lebih baik antara hidup di kota atau hidup di desa, aku lebih memilih hidup di kota," lanjut Kathy.

Karen tetap tersenyum lebar mendengar perkataan Kathy. Ia lalu berkata, "Giliranku untuk mengunjungi rumahmu di kota. Aku ingin membuktikan apa yang kau katakan."

Beberapa waktu kemudian, Karen pergi ke kota. Ia kebingungan melihat keramaian yang ada. Ia mencari rumah Kathy, tetapi tidak juga menemukannya. Ia pun memutuskan untuk bertanya kepada seekor tikus got yang ditemuinya.

"Selamat siang, Teman. Apakah kau tahu di mana rumah Kathy si tikus kota?"

"Kathy siapa? Ada banyak nama Kathy di kota ini. Tolong, kau berikan ciri-ciri yang lebih spesifik lagi," jawab tikus got itu.

Karen bingung menjawabnya. Rasanya semua tikus di dunia sama, kecuali tikus got ini. Badannya benar-benar bau, batin Karen. Ia berusaha mengingat ciri-ciri khusus yang dimiliki saudaranya. Sesaat kemudian, ia berkata, "Kathy punya warna kaki yang berbeda, warnanya abu-abu muda, sama dengan warna kakiku."

"Aku ingat dengan tikus itu. Ia tinggal di rumah mewah yang ada di ujung kota. Ikuti saja jalan ini, perempatan pertama belok kanan, teruslah berjalan hingga ada sebuah lapangan. Aku lupa di mana pastinya ia tinggal, tapi aku rasa rumahnya di sekitar lapangan itu. Cobalah kau bertanya dengan tikus-tikus di sana, mungkin mereka bisa membantu," jawab Tikus Got memberi petunjuk.

"Terima kasih," balas Karen, "apakah aku bisa bertanya sekali lagi?"

"Apa yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Tikus Got.

"Kapan kau terakhir kali mandi? Aku hampir pingsan mencium bau tubuhmu," tanya Karen, polos.

"Ha...ha...ha, rupanya kau orang yang senang bercanda," kata Tikus Got, sambil tertawa, "badanku memang bau dan aku sudah tidak ingat kapan aku terakhir kali mandi." Karen hanya mengangguk, berusaha memahami kebiasaan Tikus Got.

Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, Karen mengikuti petunjuk tikus got itu. Ia sampai di lapangan yang diceritakan oleh Tikus Got. Karen semakin bingung karena semua rumah di sekitar lapangan itu tampak sama. Karen pun memerhatikan sekitarnya, ingin bertanya lagi. Pandangannya kemudian tertumbuk pada seekor tikus yang sedang makan sepotong keju.

Karen menghampiri tikus itu dan menyapanya, "Selamat siang, Teman? Apakah kau tahu di mana rumah Kathy si tikus kota?"

Tikus itu tidak menjawab, ia asyik sendiri dengan makanannya.

"Teman, apa kau tahu di mana rumah Kathy si tikus kota?" tanya Karen lagi.

Tikus itu menjawab dengan kasar karena kesal, "Aku tidak tahu dan jangan menggangguku! Apa kau tidak melihat aku sedang apa? Aku sedang makan, makan!" Selesai berkata demikian, tikus itu berlari masuk ke dalam got, meninggalkan Karen yang tercenung karena kaget diperlakukan tidak ramah.

Setelah berjalan cukup lama dan bertanya kepada beberapa tikus, akhirnya Karen berhasil menemukan rumah Kathy.

"Kathy, aku kuat berjalan jauh tetapi aku tidak kuat dengan bau badan tikus-tikus got itu," kata Karen setelah tiba di rumah Kathy.

Kathy tersenyum mendengar candaan Karen. "Tidak semua tikus di kota ini badannya bau, Karen," bantah Kathy, sambil membantu Karen menurunkan barang bawaannya.

Kathy kemudian menyiapkan meja makan. Ia menyajikan berbagai macam kue, seperti kue mentega, kue kacang, kue coklat, puding, dan cake warna-warni. Karen takjub melihat semua makanan yang disajikan oleh Kathy. Ia bahkan belum pernah mencicipi beberapa di antaranya.

"Aku tidak tahu kalau kau pandai membuat kue, Kathy! Kue-kue ini sangat enak sekali," puji Karen saat mencicipi roti yang disajikan Kathy.

"Jangan memujiku, Karen. Aku tidak pandai membuat kue apalagi cake. Semua ini adalah buatan tuan rumahku," kata Kathy, sambil tersenyum.

Karen pun mencicipi semua makanan yang dihidangkan oleh Kathy dengan semangat. Ia makan banyak sekali kue, bahkan sampai menghabiskan beberapa toples kue. Kue-kue ini enak sekali. Pantas saja kalau Kathy betah tinggal di sini, kata Karen dalam hati.

Setelah menghabiskan banyak kue, Karen mulai kehausan. "Kathy, aku ingin minum. Di mana kau simpan airmu?" tanya Karen.

"Ayo ikut aku, tetapi jangan berisik," ajak Kathy. Ia membawa Karen ke gudang anggur di bawah rumah.

"Banyak sekali simpanan airmu, Kathy," kata Karen di tengah decak kagumnya. Ia memandangi tong-tong anggur di ruangan itu dengan mata takjub.

Kathy menyodorkan segelas anggur kepada Karen, "Coba kau rasakan ini."

Karen meminum anggur itu. Rasanya benar-benar enak. Karen suka sekali. "Wow, air apa ini? Rasanya enak sekali! Seumur hidup, baru kali ini, aku merasakan air seenak ini."

Kathy tersenyum mendengar perkataan Karen. Ia kemudian berkata, "Tentu saja enak, rasanya jauh berbeda dengan air putih yang kau minum tiap hari di desa, Karen!"

"Pantas kau senang hidup di kota, Kathy!" ujar Karen, sambil menambah anggur di dalam gelasnya.

Karen tidak biasa meminum anggur. Rasa anggur yang nikmat membuatnya minum berlebihan. Karen pun mabuk dan mulai berjalan sempoyongan. Ia menabrak beberapa benda, sehingga suasana menjadi berisik.

"Karen, jangan berisik! Kau akan membangunkan Tom, kucing rumah ini," seru Kathy mengingatkan.

"Aku tidak peduli! Anggur ini sangat enak! Aku mau nambah lagi!" teriak Karen sambil berjalan sempoyongan.

Ternyata teriakan Karen membangunkan Tom, kucing peliharaan di rumah, tempat Kathy tinggal. Tom turun ke gudang anggur dan melihat Karen, yang sedang mabuk sambil berteriak-teriak.

"Dasar tikus-tikus itu! Belum tahu siapa aku sepertinya," Tom berkata, geram. Perlahan-lahan ia mendekati Karen dan dengan satu ayunan tangan ia berhasil menangkap Karen.

Kathy yang melihat hal itu langsung bersembunyi. "Karen yang malang. Aku, kan, sudah bilang jangan berisik. Sekarang Tom telah menangkapmu," kata Kathy lirih. Ia merasa sedih sekali.

Sesaat kemudian Karen tersadar dari mabuknya. Ia terkesiap saat tahu jika ia berada dalam genggaman Tom.

"Kucing besar, ampunilah aku. Jadilah orang yang pemurah. Aku akan menghiburmu dengan sebuah cerita," kata Karen, berusaha mengulur waktu kematiannya.

Tom tersenyum, licik, "Mulailah bercerita, siapa tahu aku akan mengasihimu."

"Suatu hari, hiduplah dua ekor tikus di desa," Karen mulai bercerita dengan suara lirih.

"Jadi kau punya saudara? Pasti kenyang jika memakan 2 ekor tikus," sela Tom.

"Mereka punya sepotong daging," lanjut Karen.

Tom menyela lagi, "Daging bagus untuk tikus, membuatnya makin berisi dan makin nikmat dimakan."

"Mereka menjemurnya di atap." Karen masih melanjutkan ceritanya.

"Mereka ingin membuat dendeng? Kucing suka sekali dengan dendeng," kata Tom menimpali cerita Karen.

Karen tidak menggubris tanggapan Tom, ia melanjutkan ceritanya, "Tiba-tiba datanglah burung gagak dan rubah memakan dendeng mereka."

"Dan aku juga akan memakanmu," kata Tom sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

"BAAAMMM!" Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras. 

Tom terkejut mendengar suara itu. Tanpa dia sadari, cengkeraman tangannya melonggar. Kesempatan itu dipergunakan Karen untuk melarikan diri. Ia langsung meloncat dan masuk ke dalam lubang di dinding sembari berteriak memanggil saudara nya, "Kathy, apakah ini yang kau sebut kehidupan kota? Hidup yang penuh ketakutan!" 

***

Feni selesai membaca buku.

"Cerita yang bagus....asal Norwegia," kata Feni.

Feni menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja.

"Nonton Tv aja!" kata Feni.

Feni beranjak dari duduknya di ruang tamu ke ruang tengah untuk nonton Tv. Di ruang tengah ada Mbak Lisa yang sedang nonton Tv dengan acaranya sinetron gitu Buku Harian Seorang Istri. Feni dengan Mbaknya, ya asik nonton Tv sih.

CAMPUR ADUK

ROMEO + JULIET

Malam hari. Bulan bersinar dengan baik di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Budi baik. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus...

CAMPUR ADUK