CAMPUR ADUK

Monday, February 4, 2019

BAJU BARU SANG PADUKA

Dahulu ada seorang Raja yang amat senang berdandan atau bersolek. Ia menyukai baju baru lebih daripada barang apapun di dunia ini. Dan ia menghabiskan banyak uang untuk keperluan bajunya. Setiap jam ia berganti baju, dan berjalan menyusuri lorong-lorong kota hanya sekedar memamerkan baju barunya.

Dari hari ke hari banyak orang datang berkunjung ke istana. Mereka ingin melihat, baju apa gerangan yang akan dipakai Raja. Biasanya raja amat senang menerima pujian. Hatinya selalu bersorak-sorak jika ditonton orang, dan ia selalu berusaha mendapatkan pakaian paling baik dari pada orang lain.

Pada suatu hari datang berkunjung seorang penenun kain untuk menawarkan jasanya kepada Sang Raja, tetapi, di dalam hatinya sebenarnya ia bermaksud mengetahui Sang Raja yang "gila" baju baru.

"Saya sanggup membuatkan baju yang paling bagus di seluruh dunia. Kainnya ditenun halus, hangat, berkilat dan warnanya indah bagai sayap kupu-kupu. Tapi, ada sesuatu yang ajaib dari kain ini. Kain ini hanya bisa dibuat oleh orang yang pandai dan mereka yang bekerja baik",kata penenun itu sambil memelintir kumisnya yang jarang itu.

Sesaat mata Sang Raja bersinar-sinar, sedikit terbelalak. Ia amat tertarik dengan baju aneh yang ditawarkan kepadanya.

"Saya suka baju itu!", kata Sang Raja kepada pelayannya.

Esok harinya Sang Raja menyuruh pelayannya memesan baju aneh itu, dengan membawa sebuah tas berisi penuh dengan uang, pelayan itu mendatangi rumah penenun itu.

"Raja memesan pakaian baru yang paling hebat. Ini uangnya. Harap segera dibuatkan", kata pelayan itu sambil menyodorkan tas berisi uang.

Sepeninggal pelayan raja itu, Sang Penenun segera masuk ke kamar kerjanya dan mulai sibuk di depan alat tenunnya yang sebenarnya kosong. Setiap hari sampai jauh malam ia melakukan hal yang sama. Maksudnya supaya ia memang tampak betul-betul bekerja menenun kain.

Beberapa hari kemudian Sang Raja bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, bagaimana caranya baju barunya itu dibuat. Ia sendiri tidak mau datang melihat sendiri ke tukang tenun. Ia tahu pula hanya orang pandai dan pekerja yang baik dapat melihat baju itu, karena itu ia sedikit ragu-ragu.

"Saya akan mengutus Perdana Menteri saja. Ia adalah orang yang pandai dan seorang pekerja yang baik. Pasti ia dapat menceritakan kepada saya tentang baju itu." Katanya sambil menoleh kepada pelayannya.

Mendengar perintah Raja, Sang Perdana Menteri segera berangkat menuju ke kamar kerja si penenun. Ia melihat sebuah mesin tenun kosong. Berulang-ulang ia membuka dan menutup kembali matanya, lalu menggosok-gosoknya, tetapi ia tetap tidak dapat melihat satupun kain yang di kamar kerja itu. Ia tidak melihat baju yang bagus.

"Bagaimana pendapatmu dengan baju ini?"

Sebenarnya Sang Perdana Menteri tidak melihat apa-apa, tetapi karena takut dikatakan orang bodoh ia berkata, "O....ya warnanya bagus sekali".

Setiba kembali di Istana Perdana Menteri itu melaporkan apa yang dilihatnya  kepada Raja. Rajapun amat sangat senang mendengarkan cerita tentang baju bagus itu. Kemudian ia mengutus Thomas, anaknya yang sulung untuk melihat sekali lagi baju barunya itu.

"Kalau kau kembali, ceritakan panjang lebar kepadaku tentang baju baru itu..."

"Baik ayah!"

Di rumah tukang tenun itu Thomas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika ia menemukan alat tenun yang kosong. Matanya dibuka lebar-lebar. Tetapi, pada saat  itu juga ia berpikir, bahwa ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia adalah pekerja yang jelek. Karena itu ia cepat-cepat berkata, "Oh...bagus sekali dan aku senang jika akupun memilikinya!"

Kemudian Thomas memberikan lagi uang dari Raja kepada penenun itu. Kepada Sang Raja beberapa saat kemudian Thomas bercerita bahwa baju itu sudah selesai. Warnanya sangat menakjubkan. Cerita ini membuat raja tak sabar lagi menunggu. Bersama Perdana Menterinya, ia datang ke kamar kerja penenun itu. Di sana ia tidak melihat apa-apa kecuali alat tenun yang kosong.

"Apa-apaan ini?", bisiknya keheranan. Pikirnya, apakah ia adalah raja yang paling jelek. Mengapa ia tidak bisa melihat baju apapun di sini? Apa yang harus saya lakukan? Tak boleh seorangpun tahu tentang hal ini? Oleh sebab itu ia berkata, "Saya menyukai baju ini".
"Cepat bereskan baju baru ini sebab saya akan segera mempertontonkan kepada rakyat!"
Esoknya sang penenun membawa sebuah kotak besar (yang kosong) kepada Raja. Selanjutnya Raja berdiri di depan cermin yang besar dengan muka berseri-seri. Para pelayan membantu melepaskan pakaian lama Sang Raja, sementara tukang tenun mengeluarkan pakaian baru dari kotak (kosong). Pertama kemeja, kemudian jubah panjang. Dengan tangannya yang kosong si penenun itu berbuat seolah-olah ia sungguh-sungguh memakaikan baju baru kepada Sang Raja. 

Sejenak Raja menoleh lagi kearah cermin, aku tidak melihat sesuatu kecuali, badannya yang setengah telanjang. Namun, ia mengerti bahwa tidak sembarangan orang dapat melihat baju barunya itu. Karena itu ia berkata, "Indah sekali! Baju ini kaya akan warna alami!".

"Betul, Paduka. Baju ini bagus sekali," kata Sang Perdana Menteri.

Tetapi, sebenarnya Sang Raja agar ragu-ragu juga. Dalam hatinya ia berkata, tentulah aku adalah Raja yang paling jelek di seluruh dunia. Soalnya saya memang tidak dapat melihat apa-apa. Bukankah kata tukang tenun itu, baju baru ini hanya dapat dilihat oleh para pekerja yang baik dan pandai. "Kalau begitu aku termasuk pekerja yang baik dan pandai. Bukankah begitu paduka", sambung Perdana Menteri.

"Betul...betul, kau memang pandai dan bijaksana!" kata Raja bangga. 

Tetapi apa yang terjadi? Di sepanjang jalan, orang-orang menertawakan sang Raja yang tidak memakai baju.

ANAK DURHAKA

Dahulu kata di Padang, Sumatera Barat tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang ibunya, karena sejak kecil Malin Kundang ditinggal mati oleh ayahnya.

Malin Kundang dan ibunya tinggal di perkampungan nelayan. Ibunya sudah tua ia hanya bekerja sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit, tubuhnya mendadak panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya untuk mengobati Malin dengan mendatangkan tabib.

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya bisa diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh ia makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Sebaiknya Malin juga sayang pada ibunya.

Ketika sudah dewasa, Malin berpamit pada ibunya  untuk pergi merantau. Pada saat itu ada kapal besar yang merapal di pantai Air Manis.

"Bu, ini kesempatan yang paling baik bagi saya." kata Malin. "Belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapal di pantai ini. Aku berjanji akan mengubah nasib kita sehingga kita akan menjadi kaya raya."

Meski berat hati akhrinya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Malin dikekali nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah sehingga pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sampai manakah anaknya kini? Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. Menengadahkan kedua tangannya ke atas sembari berdo'a agar anaknya selamat dalam pelayaran. Jika ada kapal datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tak pernah menitipkan barang atau peran apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.

Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nahkoda yang dulu membawa Malin. Malin telah menikah dengan seorang gadis putri bangsawan kaya raya. Ia turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdo'a agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya.

"Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang..." rintih Mande Rubayah tiap malam.

Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar. Malin juga tak datang menengoknya. Namun ia yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.

Harapannya terkabul. Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak kapal yang indah berlayar menuju ke pantai. Kapal itu megah dan bertingkat-tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya si Malin Kundang.

Belum lagi tetua desa sempat menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. Ia langsung memeluk Malin erat-erat seolah takut kehilangan anaknya lagi.

"Malin, anakku," katanya menahan isak tangis karena gembira. "Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?"

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang-camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya ke mana saja. Sebelum ia sempat berpikir dengan panjang dan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, "Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?" lalu dia meludah lagi. "Bukankah dulu kau katakan Ibumu adalah seorang bangsawan sederajat dengan kami?"

Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perlakuan anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, "Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!"

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. Ia malu kepada istrinya. Melihat wanita itu bersangkut hendak memeluk kakinya, Malin menendang sambil berkata, "Hai, Perempuan tua! Ibuku tidak seperti Engkau! melarat dan dekil."

Wanita tua itu terkapar di pasir. Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak disangka Maling yang dulu sangat disayangi tega berbuat demikian. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, pantai Air Manis sudah sepi. Di laut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu, "Ya, Allah Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, ya Tuhan...!"

Tidak lama kemudian, cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba datanglah badai besar menghantam kapal Malin Kundang. Disusul sambaran petir yang menggelegar. Seketika kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian terhempas ombak hingga ke pantai.

Ketika matahari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari tempat itu tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Di sela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

Demikian, sampai sekarang, jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jerit manusia. Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri. "Ampuuun, Bu.....! Ampuuun, Buuuu...!" konon itulah suara Malin Kundang.

Orang yang durhaka kepada orang tuanya terutama kepada ibunya, orang tersebut tidak akan masuk surga kecuali setelah mendapat pengampunan dari ibunya.

Tamat.

KURSI ANTIK

Perempuan yang datang menemuiku pada pagi-pagi dinihari itu langsung menyebutkan namaku, lalu bertanya, "Bapak yang suka kumpul-kumpul barang-barang antik?"

"Yoah...," sahutku sambil menguap panjang. Lalu katanya pula,"Aku punya sebuah kursi antik....."

Sejenak aku tertegun, tidak yakin tentang apa yang dikatakannya, lebih-lebih melihat keadaannya. Kuperhatikan perempuan itu hampir setengah menyelidik, dari ujung rambut sampai ke tumitnya.

Perawatannya kurus kerempeng, terbungkus dalam gaun usang yang kumal dan lusuh. Ia masih muda, barangkali belum lagi dua puluh tahun, tapi tampak serupa perempuan separo baya. Wajahnya pasi kepucat-pucatan dan kedua belah matanya yang sayu seolah-olah tersembunyi dalam luangan di atas pipinya yang cekung, sedang pada pelipisnya jelas tampak beberapa garis-garis derita yang tajam menggores. Kaki-kakinya yang kotor berdebu itu mengapit sepasang sandal jepit.

"Aku bermaksud menjual kursi itu, barang kali Bapak mau," katanya sedikit tersengal seraya mengais rambutnya yang kusut yang seolah-olah tak pernah disisir.

"Betul antik?" tanyaku ragu-ragu. "Aku sudah sering dibikin kecele, mulanya bilang antik, tahu-tahu cuma tiruan..."

"Ini betul-betul antik, Pak," katanya meyakinkan, "peninggalan nenek moyang."

"Di mana barang itu sekarang?" tanyaku.

"Di rumah, di rumahku, tidak jauh dari sini, sebentar jalan kaki sampai. Mari kita berangkat sekarang," ajaknya.

Perempuan itu jalan duluan, aku menyusulnya di belakang. Bukan main cepatnya ia melangkah. Aku mengikuti setengah berlari-lari, hingga napasku mendesah-desah. Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil dan sempit yang di kanan-kirinya berdiri berdesakan gubuk-gubuk terbuat dari bekas peti-peti sabun atau makanan dalam kaleng yang dipersambungkan begitu saja, mirip bekupon-bekupon.

Beberapa kali kami berpapasan dengan pengendara-pengendara becak yang mendorong becaknya, memaksa kami menempel rapat-rapat ke pinggir supaya tidak terlanggar olehnya.

Di depan sebuah gubuk setengah doyong yang beratapkan kaleng-kaleng karatan, perempuan itu berhenti lalu menoleh kepadaku, kemudian serunya.

"Di sini, Pak, silakan masuk, maaf tidak sepertinya!" ujarnya pula berbasa-basi.

Terpaksa aku harus membongkok ketika memasuki pintu gubuk yang pendek dan sempit itu. Aku tidak ingat lagi lagi dari bahan apa pintu itu dibuat. Begitu berdiri dalam sebuah ruang yang sesungguhnya hanya sepetak tanah, bau apak yang amat menyengat menusuk hidungku.

Perubahan sekonyong-konyong dari kecerahan pagi yang memancar di luar beralih ke ruangan dalam gubuk yang suram dan muram itu membuatku hampir tak bisa melihat sesuatu sehingga pada mulanya tak sesuatu pun yang tampak. Semua kelihatan samar-samar. Tapi, sekejap kemudian mataku mulai jadi biasa dalam suasana kesuraman itu dan satu demi satu mulai bermunculan apa yang terdapat di dalam ruangan itu.

Ada segerombolan anak-anak kecil duduk berderet di salah satu sudut ruangan itu. Dua di antaranya gadis-gadis cilik dalam gaun kumal dan penuh tambahan, dan dua yang lain anak-anak laki-laki lebih kecil dalam keadaan bugil. Mereka berempat sedang asyik menyuwir-nyuwir beberapa lembar daun pisang, lalu suwiran-suwiran itu mereka masukkan ke dalam mulut-mulut mereka dan memamahnya serupa domba-domba kecil sedang memamah rumput. Suatu pemandangan yang bukan saja tidak enak, tapi sungguh menyayat perasaanku.

Selain itu pada mulanya tak ada yang tampak jelas olehku. Di ruangan itu ada meja, tak ada kursi atau balai-balai, pendeknya kosong melompong, dan lantainya tanah yang lembap pula, karena tak ada sebuah lubang pun yang memasukkan sinar dari luar. Aku lantas jadi heran, gelisah, dan mulai curiga, jangan-jangan perempuan itu hendak menipuku.

"Mana kursinya?" tanyaku kepada perempuan yang sejak tadi berdiri bungkam di sampingku.

"Itu Pak, yang di sudut itu," sahutnya seraya menunjuk ke satu arah, sudut  lain yang juga gelap. Samar-samar tampak sebuah kursi goyang berukuran lumayan besar. Sekilas memang kelihatan serupa kursi antik, beberapa bagiannya berukir, meski tidak begitu jelas terlihat. Tapi, yang lebih menarik perhatianku ialah, di kursi antik itu duduk seorang nenek-nenek tua renta sambil sesekali menggoyang-goyang kursinya sehingga kepalanya yang menyangga uban putih mengapas itu terangguk-angguk. Begitu tua nenek itu, wajahnya yang kerut-merut itu menggumpal kecil serupa karet busa yang diremas-remas.

"Siapa dia?" tanyaku.

"Nenekku..." kata perempuan itu. Suaranya bimbang."Ia buta, tuli, lumpuh lagi...."

"Dan anak-anak itu?"

"Mereka adalah anak-anakku, empat orang semuanya..."

"Mana suamimu, maksudku, bapak mereka?"

Pertanyaan-pertanyaanku itu agaknya telah meresahkannya, tampak ia jadi kikuk dan kemalu-maluan.

"Oh, bapak mereka, suamiku..." Ia tak mau menyelesaikan kalimatnya dan seperti sengaja akan mengalihkan pembicaraan, ia lalu cepat-cepat melangkah ke kursi neneknya dan berkata, "Inilah kursinya, Betul-betul antik, bukan? Kursi ini peninggalan nenek moyang kami. Memang warnanya kelihatan agak kusam, tapi dengan sedikit pemeliharaan akan berubah indah seperti semula. Maklum, di sini kursi ini tidak terpelihara. Kabarnya, dulu kursi ini digunakan sebagai tempat duduk bersemayam orang-orang berderajat tinggi..."

Akan tetapi, semua yang dikatakan perempuan itu hampir tak masuk di telingaku. Pikiran, perasaan, dan pandanganku terpancang pada nenek tua yang sedang duduk ayem sambil bergoyang-goyang dengan senangnya di atas kursinya.

Ketika itu terpikir olehku, nasib nenek itu, ke mana ia akan dicampakkan kalau kursi itu tidak lagi berada di tempat ini? Bukankah ia buta, tuli, dan lumpuh pula? Dan tampaknya ia senang duduk di kursinya itu. Itulah maka kemudian kataku, "Tapi...."

Tiba-tiba perempuan itu cepat memotong, agaknya ia tahu apa yang sedang terpikir olehku, itulah maka ia berkata, "Nanti akan kubeli sehelai tikar pandan untuk tempat nenek bersantai...." Lalu tambahnya hampir mengeluh, "Kursi antik ini adalah milik kami yang terakhir. Semua telah habis terjual, digadaikan, atau dirombeng untuk makan, Terus terang kami butuh uang, terserah kepada Bapak berapa mau membelinya..."

Lama aku tercenung, seakan-akan kehilangan akal, tak tahu apa yang harus kukatakan. Pikiranku cepat-cepat berubah-ubah terombang-ambing antara keinginan memanfaatkan kesempitan-kesempitan keluarga yang malang itu dan sentuhan rasa kemanusiaan, terutama kepada nenek tua-renta itu. Alangkah sedihnya nenek itu kalau dipisahkan dan kursi kesayangannya itu.

"Tolong, Pak, belilah kursi ini," desak perempuan itu hampir terisak. Pandangan matanya yang berair kini terarah kepada anak-anaknya yang duduk menggerombol diam-diam di sudut ruangan itu yang masih terus memamah-mamah daun pisang.

"Begini saja, Neng", akhirnya kuputuskan setelah lama terdiam, "Aku tak sampai  hati memaksa nenekmu itu meninggalkan kursinya."

"Jadi...jadi Bapak tak mau membelinya?" sela perempuan itu penuh kecewa.

"Yah," jawabku pasti. "Tapi, ini ada sedikit uang. Ambilah, barangkali bisa sedikit menolong..."

Lalu, aku cepat-cepat melangkah meninggalkan ruang yang menyesakkan itu. Di pintu, sebentar aku membalik dan berkata kepada perempuan itu yang masih berdiri keheranan, "Neng, jangan jual kursi antik itu, kasihan nenekmu..."

(Dikutip dari Muhammad Ali, "Kursi Antik", dalam Gerhana, Jakarta, 1996).

Sunday, February 3, 2019

SUASANA HATI SAYA SEPERTI AWAN DI LANGIT

Seperti biasanya Dono asik menulis sesuatu di buku tulisnya sambil duduk di taman kota melihat hiruk pikuk dari ulah manusia. Indro pun langsung duduk bersama Dono membawa minuman.
"Ini minum kamu Dono," kata Indro.

"Iya...," saut Dono sambil mengambil gelas berisi es jeruk.

Indro menyeruput minumannya begitu juga Dono.

"Seger," kata Indro.

"Seger..juga," saut Dono yang ikutan.

Gelas es di taruh di samping kiri oleh Dono dan melanjutkan menulisnya pada buku tulisan. Indro terkejut dengan ulah Dono yang menulis di buku tulis.

"Dono gak zamannya menulis di buku tulis sekarang mah.....pake leptop Don," sindirian Indro.

"Saya..tahu gak zamannya....menulis pake buku tulis. Tapi saya lagi males mengetik ingin menulis di atas kertas," Dono menjelaskan.

"Jadi cuma males aja toh..ya..Don," kata Indro.

"Gak juga sih. Tapi suasana perasaan saya lagi gak menentu kaya awan di langit. Berubah-ubah gak menentu," penjelasan Dono.

"Repot juga kalau..urusan dengan perasaan sih..Don. Di bawa santai aja. Biar gak ada beban. Biar lebih asik menikmati hidup," Indro yang memberikan masukan pada Dono.

"Ya..," saut Dono.

Dono terus menulis di buku tulis mengkonsep apa yang dilihatnya dengan baik. Indro yang penasaran dengan ulah Dono dan lebih dekat lagi ke Dono untuk membaca apa yang di tulis temannya?! 

"Apa.....yang kamu tulis Dono?" tanya Indro.

"Jangan kaya orang sok gitu melihat tulisan saya ..Indro."

"Maaf. Tapi memang tulisan kamu tidak bisa di baca. Terlalu bagus kaya ceker ayam. SD gak lulus...sih Don."

"Ledek..ya..Indro."

"Siapa yang meledek..orang kenyataannya...kaya ceker ayam tulisan kamu buruk banget.....Dono."

"Memang saya tahu tulisan saya kaya ceker ayam susah di baca. Ini sengaja. Karena tulisan ini hanya kerangka pikir yang saya tulis di ambil dari lingkungan sekitar saya amati. Nanti di rumah baru deh saya kembangkan menjadi sebuah cerita yang menarik...indro."

"Jadi ..cuma konsep..toh. Pantes tidak ada yang bisa baca. Cuma kamu sendiri tahu Don... Kalau buku itu hilang dan jatuh di jalan pun ada yang menemukannya langsung di buang. Karena gak bisa di baca. Sampai tim penyidik KPK sekali pun yang hebat tidak bisa menganalisanya. Jadi sia-sia.... ya...Don."

"Kok kamu..tahu..cara menjatuh tim penyelidik KPK?" tanya Dono yang antusias.

"Tahu...lah. Cuma data atau berkas yang tertulis aja..kok. Cuma itu saja pokok dari sistem pengumpulan data di tim penyelidik KPK. Sama aja kerjanya dengan sistem kerja kepolisian. Cuma lebel aja pemberantasan korupsi.....KPK tersebut...Don."

"Sebenarnya saya..sudah tahu Indro," kata Dono.

Dono pun melanjutkan menulisnya di buku tulisnya. Indro asik minum esnya dengan penuh kenikmatan. Terlihat pemandangan Indro seorang artis pendatang baru di musik dangdut.

"Jarayut," kata Indro.

"Apa Indro?" saut Dono.

"Jarayut......penyanyi dandut sekaligus host di salah satu stasiun Tv..Don."

"Artis..maksudnya?" tanya Dono.

Dono pun mencari Indro.

"Indro..kemana kamu. Jangan kamu di culik setan ya. Jam segini takut..ah," celoteh Dono.

Dono mulai merinding dan ingin kabur dari situ karena Indro gak ada. Terdengar suara keramaian di ujung seberang para warga sekitar ingin berfoto dengan Jarayut dan juga Indro.

"Indro.............lagi berfoto dengan Jarayut...penyanyi dangdut," celoteh Dono yang sok melihat ulah temannya.

Dono pun bergerak duduk di taman dan membawa minumnya. Indro melihat Dono yang berjalan menuju arah pulang. Setelah berfoto dengan artis dengan segera Indro mengejar Dono.

"Dono..tunggu," teriak Indro.

Dono tetap jojong sambil minum es. Dengan berlari cepat sekali Indro dan sudah si samping Dono. 

"Kenapa buru-buru pulang Don?" tanya Indro.

"Suasana hati saya lagi gak menentu. Kaya awan di langit," kata Dono sambil menunjuk langit.

"Oh..begitu. Dono saya foto dengan artis pendatang baru nama Jerayut...bagus ya....pose pengambilannya," kata Indro sambil menunjukkan foto pada Hpnya.

"Iya." saut Dono.

Langit berubah menjadi gelap dan turun hujan. Dono dan Indro berlari agar tidak basah seluruh tubuh mereka berdua. Hampir di depan rumah Dono berhenti di hujan yang deras. Sedangkan Indro bergegas menuju rumah.

"Wulan," kata Dono melihat wujud Wulan di tengah hujan deras.

Indro mencari Dono kemana-mana sampai masuk rumah. Ternyata Dono diam di luar dengan keadaan aneh. Dengan seksama Indro memperhatikan siapa yang dilihat Dono dari kejauhan?. 

"Astaga......Wulan," kata Indro yang terkejut.

Hujan pun berhenti dan Wulan pun menghilang juga.

"Apa yang terjadi sebenarnya.........?" teriak Dono sambil bersimpuh di jalan.

Indro langsung berlari menuju Dono dan membopohnya ke dalam rumah. 

"Don..jangan banyak berpikir..lagi. Apa yang terlihat lupakan dan Ikhlaskan. Semuanya semu. Wulan tidak ada," nasehat Indro.

"Iya. Saya..tahu," saut Dono sambil meneteskan air matanya.

Dono dan Indro berganti pakaian  di dalam rumah di kamar masing-masing setelah itu mereka berdua main game PS 4 untuk menghilangkan suasana yang kacau. Kasino pun pulang dari kerjaannya dan main bersama Dono dan Indro main game untuk menghilangkan kepenatan hidup.


Karya: No

Saturday, February 2, 2019

LIBURAN KE LUAR NEGERI

Minggu pagi yang indah Dono tetap duduk tenang di atas balkon lantai dua sambil mengetik dan menikmati indahnya pemandangan alam sekitarnya. Indro sedang asik menelpon di dalam kamar dan akhirnya keluar kamar untuk menemui teman kerjanya yang sudah menunggu di restoran. Sedngkan Kasino yang baru bangun dari tidurnya langsung ke kamar kecil untuk buang air kecil dan sekalian mandi pagi.

Dono terus mengetik dengan santai terkadang ada kiriman pesan singkat dari pacarnya lewat sms yang nanya in keadaannya dengan segera membalasnya dengan kata-kata yang baik menyenangkan hati kekasihnya. Kasino pun selesai mandi dan langsung berganti pakaian, lalu mendekati Dono sambil menggeret kursi ke blakon.

"Don...serius amat di hari libur ini?" tanya Kasino.

"Ah..gak juga. Ada ide saja di benak...maka saya tulis," jawab Dono.

Kasino pun membaca tulisan Dono yang sedang di ketiknya dengan seksama.

"Silfi........cinta terlarang..benaran Don?" tanya Kasino.

Dono pun menghentikan mengetiknya pada leptopnya.

"Beneran..sudah di tulis tuh," jawab Dono.

"Kaya...namanya sama dengan Silfi penyanyi dangdut," tanya Kasino kembali.

"Emang ia..sengaja," jawab Dono kembali

"Kamu..ingin menaikin nama penyanyi dangdut bernama Silfi itu atau mendomrengnya....untuk meningkatkan tulisan kamu?" tanya lagi Kasino.

"Ya..sebenarnya...sih saya..gak ada niat mendrompeng untuk menaikin reting tulisan saya. Cuma sekali comot aja di tulis langsung di konsep rapih baik dan buruknya agar menarik saja untuk di baca. Kalau pembacanya memahaminya..bahwa saya untuk menaikin nama artis tersebut biar saja. Hanya kebaikan sedikit dari semua kebaikan yang tanamkan di mana-mana. Toh saya tidak minta imbalan seperti mereka. Yang meningkatkan perkara kecil jadi besar untuk konsumsi publik agar terkenal dan populer," penjelasan Dono.

"Pinter kamu Don tidak terpengaruh keadaan. Semua acara di Tv itu adalah rekayasa semuanya demi mencari keuntungan. Segala cara di lakukan untuk agar bisa bertahan di dunia hiburan. Makanya semuanya adalah kebohongan belaka," kata Kasino.

"Saya..tahu..lah. Ada penyanyi menang di pertandingan pencariaan bakat tujuannya nilai seportifitas. Ternyata malah untuk menaikin suatu daerah yang lagi bangun pemerintah atau mengalami bencana alam dan di proses untuk di bangun kembali oleh banyak bantuan alias simpatik," kata Dono.

"Jadi kamu tahu..kalau semua terkosep rapih?" tanya Kasino.

"Iya. Dari awal sampai akhir....kelihatan semuanya...Kasino."

"Kalau..begitu..hidup..ini penuh kebohongan dan akhirnya jujur..ya..Don."

"Yo.i...itulah isi dunia ini.....Kasino."

Dono melanjutkan ngetiknya di leptopnya. Kasino bangun dari duduknya dan melihat lingkungan sekitar dari atas blakon lantai dua.

"Indah juga pemandangan di sini...ya Don. Jalan-jalan..Don."

"Nanti..saya selesaikan tulisan saya..Kasino."

"Ya..saya tunggu Don."

"Iya," saut Dono.

Dono terus mengetik dengan baik dan idenya tertuang di dalam tulisannya. Kasino pun memencet Hpnya main game dengan antusias. Cukup lama Dono mengetik dan akhirnya selesai juga.

"Beres Kasino," kata Dono.

"Selesai juga toh..nulisnya," saut Kasino yang masih main game di Hpnya.

"Ayo..kita jalan-jalan sekalian nyari makan," ajakan Dono.

"Tunggu..sebentar..Dono....... Ya....kalah. Ayo Don."

Dono menaruh leptopnya di dalam tasnya dengan baik. Kasino sudah di luar kamar baru Dono segera keluar dari kamar. Kasino langsung menutup pintu kamar dan di kunci dengan baik.

"Kita cari makan dulu ya," kata Kasino.

"Saya juga sudah laper?" kata Dono.

Dono dan Kasino berjalan menuju restoran. Saat menurunin tangga berpapasan lah Dono dan Kasino dengan Via Valen.

"Artis...," kata Dono dan Kasino bersamaan.

Dono dan Kasino langsung mengejar Via Valen untuk berfoto bersama pake Hpnya mereka berdua. Via Valen pun menerima dengan baik permintaan pengemarnya yaitu Dono dan Kasino. Lalu Kasino seperti biasanya iseng ingin tahu tentang berita yang hits memberitakan tentang Via Valen make karya orang. Awalnya Via Valen tidak mau bercerita dan menuduh Dono dan Kasino wartawan yang menginap di hotel di Singapura demi mencari berita tentangnya. Dono dan Indro langsung menjelaskan dengan seksama tentang mereka berdua pada Via Valen cuma penggemar saja.

Maka Via Valen pun sedikit bercerita tentang permasalahan dirinya. Dono dan Kasino dengan seksama mendengarkannya. Setelah itu baru Dono dan Kasino berpisah dengan Via Valen dan mengucapkan terima kasih. 

Dono dan Kasino menuju restoran untuk makan. Via Valen ke kamarnya. Di restoran Kasino memesan makan kesukaannya begitu juga dengan Dono. Pelayan restoran segera menyajikan makan dengan baik apa-apa yang di pesan Dono dan Kasino di meja.

"Waktunya makan," kata Dono.

"Iya..Makan," saut Kasino.

Dono menikmati makan yang enak begitu dengan Kasino. 

"Kasino ternyata...cerita Via Valen tadi...cuma untuk naikin reting namanya dan orang membuat perkara dengan dia. Cuma trik pemberitaan saja. Padahal kalau Via Valen tidak terkenalkan seperti penyanyi kampung lainnya tidak di perkarakan tentang penggunaan karya orang lain. Sampai ini dan itu ikutan andil untuk memenangkan yang membuat perkara untuk menjatuhkan Via Valen atau sebaliknya mengangkat namanya." kata Dono.

"Bener..Dono..cuma..trik dari meningkatkan popularitas..seorang artis di dunia hiburan. Di panggung politik juga sama...jadi artis..untuk menaikin popularitas...saja. Keuntungan demi keuntungan," saut Kasino menambahkan omongan Dono. 

Dono asik makan sampai kenyang dan Kasino juga dan tidak lupa membayarnya dengan uang pas. Barulah Dono dan Kasino jalan-jalan ke pantai menikmati indahnya pemandangan yang indah. Lalu Indro mendatangi Kasino dan Dono yang sedang main air.

"Gimana Dono dan Kasino..suka liburan di sini?" tanya Indro.

"Suka. Sih..deh," kata Dono sambil mengacungkan jempol.

"Terima kasih ya...Indro. Berkat kamu menang lotre sabun colek...kita liburan deh ke Singapura," kata Kasino.

"Iya..sama-sama," jawab Indro.

"Ngomong-ngomong..Indro itu judi gak kamu kok bisa dapet liburan di Singapura?" tanya Dono.

"Gak..judi Dono. Kasino cuma becanda. Yang bener itu saya ada urusan kerjaan di sini maka sekalian liburan kalian saya ajak untuk menemani saya. Toh semua yang bayar sponsor saya karena prospek kerja saya ke depan bagus," kata penjelasan Indro.

"Gak salah..nie anak di sekolahin Bapak dan Ibunya..untuk jadi orang sukses," pujian Dono.

"Yo.i....anak pinter bisa membaca situasi dan kondisi ekonomi dalam negeri dan luar negeri," pujian Kasino.

"Terima kasih atas pujian kalian berdua. Ayo kita jalan-jalan untuk menikmati makan dan minuman di daerah sini sampai puas dan menikmati lingkungannya. Jangan takut saya baru dapet bonus dari kerjaan saya," ajaka Indro.

"Ayo," jawab Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, Kasino, dan Indro beranjak dari pantai menuju daerah yang bagus  menggunakan mobil sewaan untuk di kunjungi seharian penuh dan sambil melihat pemandangan yang indah dan indah sekali.


Karya: No

SELISIH PAHAM

Seorang pemuda bernama Tino dateng ke rumah temannya dengan terburu dan sembunyi-sembunyi masuk rumah Tatang. Dengan segera Tino menutup pintu dan jendela.

"Kenapa kamu seperti ini......Tino?" tanya Tatang sambil duduk minum kopi.

"Saya kesini ingin mengajak kamu menjalan proyek besar di  negara Filipina...Toni." kata Tatang yang duduk dekat Toni untuk lebih menyakini.

"Proyek apa membuat kita kerja sampai meninggalkan tanah kelahiran kita demi bekerja di negeri lain?" tanya Tatang kembali.

"Proyek...menuju surga kebenaran..," kata Toni.

"Gila..kamu..surga..kebenaran. Kamu mau jadi pembunuh demi.....menunjukkan kebenaran yang belum tentu kebenarannya," kata Tatang yang mulai menolak ajakan Toni.

"Jika kamu tidak mau di ajak gak apa-apa. Saya bisa jalan sendiri," kata Toni.

Toni beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tatang begitu saja. 

"Toni...," panggilan Tatang.

"Apa...?" jawab Toni sambil membalikkan badan.

Tatang melempar cangkir yang berisi kopi panas ke arah Toni. Dengan reflek Toni menyelaknya serangan dadakan cangkir yang berisi kopi panas.

"Apa..maksudnya.ini?" tanya Toni.

"Saya..ingin mengetes kamu. Orang ahli bela diri seperti kamu bisa di terpengaruh dengan visi dan misi yang menyesatkan di benak kamu," kata Tatang.

"Jalan ini sudah saya pilih. Jadi jangan ikut campur. Sebagai teman saya masih menghormati kamu Tatang. Tapi jika jual saya beli," kata Toni.

"Baik..kalau mau kamu," kata Tatang menjawab tantangan dari Toni.

Tatang bangun dari tempat duduknya dan langsung menyerang Toni dengan sebuah serangan tinjuan. Toni pun menangkisnya dengan tangannya. Lalu Toni pun menyerang juga dengan tinjuan, tapi Tatang bisa mengelak dengan cepat dan membalas dengan serangan dadakan sebuah tinjuan ke wajah. Dengan sigap Toni menangkisnya dengan tangan kuat. Pertarungan antara Toni dan Tatang di ruang tamu makin sengit dan tidak ada yang mengalah.

Keinginan Toni yang kuat mengalahkan semuanya dan akhirnya Tatang jauh di lantai dan mengeluar luka dari mulutnya karena Toni meninjunya dengan sangat kuat di wajahnya.

"Jadi pendirian mu sudah kuat..untuk menjalankan misi kamu menghancurkan gereja demi hal yang kosong..Toni?" tanya Tatang kembali.

"Iya...saya sudah memutuskan jalan saya ini benar. Kamu tidak bisa diajak untuk di jalan kebenaran ini. Maka lebih baik saya jalan sendiri." kata Toni.

"Toni..kamu..sudah buta dan tuli. Yang benar..itu menyelamatkan manusia di muka bumi...ini dengan saling berdampingan. Bukan menunjukkan ini yang benar dan itu yang salah. Kamu masuk dalam fanatik tidak bisa menerima masukan orang lain. Maka pernyataan kamu adalah paling benar dan benar," penjelasan Tatang dengan sebaik mungkin.

"Saya..ingin..mendapatkan surga kebenaran itu dengan jalan yang saya pilih," kata Toni.

"Tetap..gila..jalan kamu..Toni. Demi kebenaran kamu membunuh. Sinting namanya jalan itu," kata Tatang.

"Kita..tidak sepaham lagi. Jadi kita akhiri persahabatan kita..ini," kata Toni.

Toni keluar dari rumah Tatang dengan sikap yang penuh keberanian. Sedangkan Tatang menanggis dengan sedih kehilangan sahabatnya yang salah jalan.

"Semoga Alloh SWT membuka jalan kebenaran yang terbaik pada dirimu Toni," kata Tatang.

Tatang pun bangun dari keadaannya dan meminta tetangganya untuk membantu membereskan rumah yang porak poranda akibat pertarungan 2 lelaki menunjukkan jalannya kebenarannya masing-masing. Toni pun pergi dengan misinya yang benar-benar extrim. Selang beberapa bulan. Tatang mendapatkan kabar dari nonton Tv saat di rumah pakde Joko tentang pengemboman di gereja yang ada di negara Filipina.

"Bodoh..dan bodoh..kamu..Toni. Jalan kamu salah.....," kata Tatang meneteskan air mata.

Pakde Joko melihat keadaan Toni yang menangis sambil menonton Tv.

"Nak..kenapa kamu?" tanya pakde Joko.

"Enggak..apa-apa pakde Joko!?" kata Toni sambil menghapus air matanya.

"Kalau ada masalah cerita..pada pakdek nak siapa tahu pakde mu ini bisa nolong."

"Gak..ada kok pakde," kata Tatang dengan santun.

Tatang pun meninggalkan rumah pakde Tatang dan tidak lupa mengucap salam "Alamualaikum." Pakde Joko menjawab dengan baik "Waalaikum salam."

Tatang pun hendak pulang ke rumah, tapi tidak jadi malah ke mesjid untuk sholat dhuzur dan sholat sunah yang lainnya untuk meminta petunjuk pada Alloh SWT tentang temannya Toni. Tatang terus melakukan niat nazarnya itu sampai terus menerus. Pada akhirnya saat Tatang duduk di depan teras sambil minum kopi. Datanglah seorang tamu yang benar-benar tidak di sangka oleh Tatang.

"Toni," panggilan Tatang.

"Ini saya," jawab Toni.

"Bukannya kamu adalah salah satu pengebom gereja di negara Filipina?" tanya Tatang.

"Bukan saya yang melakukan pengeboman gereja di negara Filipina. Pada saat negara Filipina saya kehilangan paspor dan berusaha mengurusnya begitu lama prosesnya dan misi saya pun berjalan juga tapi ketika saya melihat anak kecil menangis terjatuh di hadapan saya. Sontak saya sadar. Jalan saya salah..Tatang. Kamu yang benar," cerita Toni.

"Astafirohulazim. Alloh SWT telah membuka pintu kebenaran yang sebenarnya pada teman saya. Akhirnya pulang juga di hadapan saya dengan keadaan hidup dan tidak menjalankan hal bodoh demi kebenaran yang belum pasti," kata Tatang yang penuh rasa syukur.

Toni dan Tatang berpelukan.

"Terima kasih sudah menjadi sahabat baik saya," kata Toni.

"Iya....sama-sama. Sebagai sahabat baik selalu mengingatkan temannya agar kembali ke jalan yang paling benar dan di ridhoi oleh Alloh SWT," kata Tatang.

Toni dan Tatang melepaskan pelukannya. Seperti biasa Toni menunjukkan teknik silatnya untuk menantang Tatang. Dengan sigap Tatang menerima pantangan Toni. Terjadilah pertarungan yang sengit antara Tatang dan Toni di halaman depan. Semua orang menyaksikan pertarungan ke dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Sampai akhirnya keduanya draw dan semua orang bertepuk tangan dengan kehabatan Toni dan Tatang sebagai juara di kampungnya.


Karya: No

CAMPUR ADUK

BIWI HO TO AISI

Malam hari. Bintang berkelap-kelip di langit. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus di channel SIN PO TV, ya seperti biasa sih Budi...

CAMPUR ADUK