CAMPUR ADUK

Thursday, March 10, 2022

DURI-DURI

Malam yang tenang banget. Budi duduk degan santai di depan rumah Budi, ya sambil memainkan gitar dan menyanyikan lagu.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi :

"Sekarang ku tahu

Dirimu t'lah bersamanya

Walau sakit hati yang kurasa

Akan kujalani dengan sendirinya

Ku terus berjuang

Walau tanpamu, sayang

Mimpi-mimpi yang t'lah kuciptakan

Kini hanya tinggallah kenangan

Duri-duri yang kau tancapkan di hati ini

Membuat diriku sakit hati

Aku yang berjuang 'tuk dirimu

Tapi dia yang dapatkan cintamu

Surat undangan yang kau berikan kepadaku

Serasa ku tak percaya

Kutitipkan cintaku kepadanya

Jagalah dia, buatlah dia bahagia

Ku terus berjuang

Walau tanpamu, sayang

Mimpi-mimpi yang t'lah kuciptakan

Kini hanya tinggallah kenangan

Duri-duri yang kau tancapkan di hati ini

Membuat diriku sakit hati

Aku yang berjuang 'tuk dirimu

Tapi dia yang dapatkan cintamu

Surat undangan yang kau berikan kepadaku

Serasa ku tak percaya

Kutitipkan cintaku kepadanya

Jagalah dia, buatlah dia bahagia, ho-oh

Duri-duri yang kau tancapkan di hati ini

Membuat diriku sakit hati

Aku yang berjuang 'tuk dirimu

Tapi dia yang dapatkan cintamu, hu-uh

Surat undangan yang kau berikan kepadaku

Serasa ku tak percaya

Kutitipkan cintaku kepadanya

Jagalah dia, buatlah dia bahagia

Jagalah dia, buatlah dia bahagia"

***

Budi selesai menyanyikan lagunya dan main gitarnya. Budi menaruh gitarnya di tempat kursi yang kosong. Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baiklah bakwan goreng lah. Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi lah. Eko duduk bersama-sama dengan Budi. Eko memang melihat ada gitar di kursi yang kosong gitu.

"Budi. Abis main gitar dan juga menyanyi, ya Budi?" kata Eko.

Eko mengambil bakwan di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah.

"Iya. Aku abis main gitar dan bernyanyi," kata Budi.

Budi yang habis makan bakwan goreng satu buah, ya mengambil tahu bunting di piring, ya di makan dengan baik lah tahu bunting tersebut. 

"Lagu apa yang di nyanyikan Budi?" kata Eko.

Eko pun habis makan satu buah bakwan goreng, ya mengambil lagi bakwan goreng di piring dan segera di makan dengan baik lah bakwan goreng lah.

"Duri-duri, ya lagunya Happy Asmara," kata Budi.

Budi selesai makan tahu buntingnya, ya mengambil minuman teh gelas di meja, ya di minum dengan baik teh gelas lah.

"Ooooo Duri-duri. Lagunya Happy Asmara," kata Eko.

Eko selesai makan bakwan goreng, ya mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik teh gelas lah. Budi menaruh teh gelas di meja lah.

"Harapan tidak sesuai dengan kenyataan," kata Budi.

Eko menaruh teh gelas di mejalah.

"Urusan cinta, ya Budi?" kata Eko.

"Ya begitu lah. Urusan cinta. Masih ada kaitan dengan lagu sih," kata Budi.

"Berharap bersama dengan orang yang di cintai. Ternyata orang di cintai menikah dengan orang lain," kata Eko.

"Sakit....perasaan yang mencintai," kata Budi.

"Broken heart," kata Eko.

"It hurts so bad," kata Budi mengikuti aluran omongan Eko yang menggunakan Bahasa Inggris.

"Lebih sakit lagi sih. Pengkhiatan suami pada istrinya. Suaminya selingkuh dengan cewek kenalannya," kata Eko.

"Memang sih sakit bener pengkhiatan suami pada istrinya. Main di belakang istri, selingkuh lah suaminya," kata Budi.

"Di depan istri bersikap manis seperti biasanya. Di belakangnya, ya manis dengan cewek selingkuhannnya," kata Eko.

"Berusaha pandai bermain-main cinta, ya agar tidak ketahuan istrinya. Pada waktunya, ya ketahuan juga suaminya selingkuh. Kaya sinetron atau film, ya cerita tentang suami yang mengkhianatin istrinya," kata Budi.

"Ya memang ide di ambil dari sinetron dan film sih. Obrolan kita," kata Eko.

"Kenyataannya gimana Eko?" kata Budi.

"Kenyataannya kan. Ada baik dan buruk," kata Eko.

"Iya sih. Ada suami baik dan juga ada suami yang buruk, ya kenyataan hidup ini," kata Budi.

"Sudah ngomongin itu. Lebih baik main catur saja!" kata Eko.

"Ok....main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur lah. Budi dan Eko, ya menyusun bidak catur di atas papan catur. 

"So the guy is loyal to the girl he loves. Happy love story," kata Budi.

"What Budi said is true," kata Eko menegaskan omongan Budi, ya mengikuti alurnya omongan Budi pake Bahasa Inggris.

Eko dan Budi main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum teh gelas dan makan gorengan lah.

Wednesday, March 9, 2022

ROTI GORENG

Malam yang tenang di kediaman Eko. Ya Eko duduk di depan rumahnya sedang baca koran, ya sambil menikmati minum botolan dan juga makan keripik singkong sih. Abdul ke rumah Eko, ya mengendarai motornya dengan baik. Budi selesai urusan dengan temannya, ya Budi ke rumah Eko dengan mengendarai motornya dengan baik banget sih. Budi melihat penjual roti goreng di pinggir jalan. Budi memutuskan membeli roti goreng lah, ya menghampiri penjual roti goreng. Yang jual roti goreng masih muda sih, ya kadang keadaan keluarga yang bisa di bilang miskin, ya anak muda yang kreatif, ya biasanya membangun usaha secara mandiri dengan modal kecil-kecilan. Atau anak muda, ya mengambil barang jualan orang dan di jual dengan baik barang yang di jual tersebut, ya demi kelangsungan hiduplah. Budi segera memesan roti goreng kepada penjual roti goreng. Ya pesan segera di masukkan di plastik sama penjual roti goreng. Ya Budi membayar pesannya pada penjual roti goreng.

“Ke rumah Eko,” kata Budi. 

“Laris manis dagangan ku,” kata penjual roti goreng.

Penjual roti goreng dengan sabar menjual barang dagangannya, ya dengan harapan yang tinggi sih, ya jualan hari ini habis gitu. Semua jualan dalam bentuk apa pun, ya tergantung dari kodarnya rezeki orang yang menjalankan usahanya dengan baik. Tetap berdoa dengan baik pada Tuhan Yang Maha Esa. Budi membawa motornya dengan baik, ya ke tujuannya sih rumah Eko. Singkat waktu, ya sampai di rumah Eko. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko. Budi pun duduk bersama Eko, ya menaruh plastik berisi roti goreng. Budi melihat di meja, ya ada roti goreng di plastik, keripik singkong dan juga minuman botol.

“Eko,” kata Budi.

Eko yang asik baca koran, ya berhenti lah. Koran pun di taruh Eko di meja lah.

“Ada apa Budi?” kata Eko.

“Kok ada roti goreng, ya sama dengan roti goreng bawaan aku?” kata Budi.

“Oooo roti goreng itu. Abdul yang bawa,” kata Eko.

“Abdul yang bawa roti goreng. Sekarang Abdulnya kemana?” kata Budi.

“Abdul ada urusan. Ya jadinya meninggalkan rumah aku deh. Roti goreng, ya di taruh saja di situ. Katanya untuk aku,” kata Eko.

“Ooooo Abdul ada urusan toh. Jadi meninggalkan rumah Eko. Jadi tidak main kartu remi dong,” kata Budi.

“Abdul tidak ada, ya tidak jadi main kartu remi bersama Abdul lah,” kata Eko.

Eko pun mengambil roti goreng di plastik, ya roti goreng bawaan Budi. Eko makan dengan baik roti goreng tersebut dengan baik.

“Emmmmm. Enak. Rasanya sama dengan roti goreng yang di bawa Abdul,” kata Eko.

Budi mengambil roti goreng di plastik, ya di makan dengan baik lah roti goreng.

“Roti goreng ini enak,” kata Budi.

Budi terus memakan roti goreng dan juga Eko lah. Setelah roti goreng habis di makan, ya satu buah sama Budi. Ya Budi mengambil roti goreng di plastik, ya bawaan Abdul sih. Budi memakan roti goreng dengan baik banget.

“Emmm. Enak roti goreng ini. Kayanya sama dengan roti goreng yang aku beli,” kata Budi.

“Kalau sama sih. Berarti….penjual roti gorengnya sama,” kata Eko.

Eko selesai makan satu buah roti goreng, ya segera mengambil minuman botol di meja, ya minuman botol di minum dengan baik sama Eko lah.

“Bisa jadi sih. Penjual roti gorengnya sama,” kata Budi.

Budi pun mengambil botol minuman di meja, ya di minum dengan baik. Eko menaruh minuman botol di meja.

“Nama juga usahanya orang, ya jualan roti goreng. Semua demi kelangsungan hidup ini,” kata Eko.

Eko menaruh minuman botol di meja dengan baik.

“Omongan Eko bener lah,” kata Budi menegaskan omongan Eko.

Eko mengambil roti gorengan di plastik, ya di makan dengan baik. Budi juga sih mengambil roti goreng di plastik, ya di makan dengan baik lah.

“Kata orang Thailand “K̄hnmpạng thxdthī̀ c̄hạn kin xr̀xy māk”…..,” kata Eko.

“Kok jadi Bahasa Thailand?” kata Budi.

“Ya mengikuti acara Tv. Kan ada artis Thailand,” kata Eko.

“Oooo artis orang Thailand toh. Artis itu nama Jirayut,” kata Budi.

“Ya artis Jirayut,” kata Eko.

“Bahasa Thailand, ya di buat mainan sama pelawak gitu. Agar menarik lawakannya gitu,” kata Budi.

Budi selesai makan roti gorengnya, mengambil minuman botol di meja dan minuman botol di minum dengan baik.

“Memang artis itu harus bisa memainkan ini dan itu, ya agar lawakannya jadi lucu gitu,” kata Eko.

Eko selesai makan roti goreng, ya mengambil minuman botol di meja, ya di minum dengan baik minuman botol lah. Budi menaruh minuman botol di meja.

“Kalau begitu lebih main catur saja Eko!” kata Budi.

Eko menaruh minuman botol di meja.

“Ok…main catur!” kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

“Eko…arti omongan Eko yang tadi yang pake Bahasa Thailand?” kata Budi.

“Lah aku cuma becandaan itu mah,” kata Eko.

“Masa tidak ada artinya?” kata Budi.

“Ok artinya. Roti goreng yang aku makan enak banget,” kata Eko.

“Ooooo artinya itu toh,” kata Budi.

Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum-minuman botol, roti goreng dan keripik singkong.

Tuesday, March 8, 2022

KENTANG GORENG

 

Eko di dapur ingin memasak sih. Di periksa dengan baik dapur, ya ada kentang di lemari makan.

"Ibu beli kentang," kata Eko.

Eko berpikir dengan baik.

"Aku buat makan saja kentang ini. Kentang goreng. Camilan," kata Eko.

Eko mulai mengolah kentang tersebut dengan baik, ya menjadi kentang goreng. Singkat waktu, ya Eko telah selesai memasak kentang menjadi kentang goreng. Eko mencobain kentang goreng buatannya.

"Emmm enak kentang goreng ini. Renyah," kata Eko.

Eko mengambil saos botolan dan di taruh di mangkok kecil. Eko pun mencobain kentang goreng pake saos cabe, ya segera di makan dengan baik tuh kentang goreng sama Eko.

"Emmmm enak dan juga pedasnya saos cabe, ya pokoknya sip sih," kata Eko.

Eko pun membawa satu piring kentang goreng dan juga satu mangkok kecil yang ada saos cabe gitu, ya di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Eko menaruh satu piring kentang goreng dan satu mangkok kecil yang ada saosnya dengan baik di mejalah. Eko duduk santai, ya menikmati makan kentang goreng pake saus cabe gitu.

"Enak," kata Eko.

Eko pun mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik lah teh gelas. Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko. Budi duduk dengan baik bersama Eko.

Budi berkata "Kok tidak ada gorengan yang biasanya?"

"Lah ini kentang goreng kan sama gorengan Budi," kata Eko.

"Biasa sih ada bakwan goreng, tahu isi, dan pisang goreng," kata Budi.

"Kalau itu sih beli, ya biasanya. Aku buat kentang goreng, ya kebetulan ada kentang yang di beli Ibu," kata Eko.

"Kentang goreng buatan Eko. Aku cobain ah!" kata Budi.

Budi pun mengambil kentang goreng di piring dan mencolek saos cabe di mangkok kecil, ya dimakan dengan baik lah.

"Rasanya gimana Budi?" kata Eko.

"The french fries that I ate.....so delicious," kata Budi, ya pake Bahasa Inggris.

"I'm pleased to hear it," kata Eko, ya pake Bahasa Inggris.

Eko dan Budi menikmati makan kentang goreng yang enak. Budi pun mengambil teh gelas di meja, ya segera di minum dengan baik. 

"Ngomong-ngomong kenapa Budi pake Bahasa Inggris...tadi?" kata Eko.

Eko mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik teh gelas lah. Budi menaruh teh gelas di meja dengan baik.

"Hanya sekedar sedikit-sedikit Bahasa Inggris saja," kata Budi.

"Kaya masa SMA saja Budi. Padahal sudah lulus SMA. Ya jadinya biasa aja gitu," kata Eko.

"Kalau di ingat masa SMA, ya memang sih ada pelajaran Bahasa Inggris. Agar pinter Bahasa Inggris, ya berdialog dengan teman pake Bahasa Inggris," kata Budi.

"Realitanya memang begitu di semasa SMA," kata Eko.

"SMA jadi kenangan," kata Budi.

"Memang jadi kenangan masa SMA. Kalau gitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

"Eko. Pinter buat kentang goreng. Ada minat untuk jualan gitu?" kata Budi.

"Tidak ada niat jualan. Sekedar saja buat makan kentang goreng. Aku fokus kerja jadi buruh di perusahaan. Gajinya untuk bayar kredit motor dan juga bantu orang tua," kata Eko.

"Ooooo tidak ada niat jualan. Sekedak memasak kentang goreng toh dan juga Eko sama aja dengan aku. Fokus kerja di perusahaan, ya jadi buruh. Gajinya di gunakan untuk bayar kredit motor dan juga bantu orang tua. Nama juga anak berbakti sama orang tua," kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

Budi dan Eko main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum teh gelas dan makan kentang goreng yang enak buatan Eko lah.

Monday, March 7, 2022

DONAT ENAK

Malam yang tenang di kediaman Eko. Ya Eko duduk di depan rumahnya sedang membaca koran, ya sambil minum kopi gelasan dan juga makan donat yang enak banget. Budi selesai urusannnya dengan teman kerjaannya. Budi segera ke rumah Eko dengan mengendarai motor dengan baiklah, ya taat peraturan berlalu lintas di jalan raya, ya agar selamat sampai tujuan dan paling lengkap sih segala hal, ya dari helm, surat-surat kendaraan dan juga pake masker. Budi tetap make masker karena masih kebijakan pemerintahan, ya menanggulangi covid-19. Kalau saja....kebijakan pemerintahan covid-19 telah selesai, ya sebenarnya Budi tetap masker dalam berkendara motor untuk mengurangi dari polusi udara saja. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Eko. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko lah. Budi duduk di sebelah Eko lah. Ya Eko berhenti baca korannya karena Budi dateng gitu, ya Eko menaruh koran di meja lah. Budi memang melihat di meja, ya ada kopi gelasan dan di piring donat gitu.

"Eko. Biasanya gorengan?" kata Budi.

"Memang biasaanya gorengan!" kata Eko.

"Kok. Donat?" kata Budi.

"Donat itu buatan Purnama. Karena Purnama buat donat dan hasilnya enak, ya di berikan aku. Sebenarnya aku mau beli gorengan, ya tapi tidak jadi karena sudah ada donat buatan Purnama," kata Eko.

"Oooooo donat buatan Purnama," kata Budi.

Budi mengambil donat di piring dan segera di makannya dengan baik.

"Emmmmm. Enaknya donat ini," kata Budi.

Budi bener-bener menikmati makan donat, ya buatan Purnama.

"Cewek kalau buat makan, ya hasilnya sempurna ya kan Eko?" kata Budi.

"Teliti yang di maksud Budi?" kata Eko.

"Ya begitu lah kebiasaan cewek. Pinter gitu," kata Budi.

Eko mengambil minuman gelas kopi di meja, ya di minuman dengan baik. Budi selesai makan satu donat, ya mengambil satu donat lagi piring dan segera di makan dengan baik donat itu.

"Donat yang kedua, ya rasanya enak," kata Budi.

Eko menaruh minuman kopi gelasan di meja.

"Emmm," kata Eko.

"Enak, ya punya cewek yang pinter buat makan ini dan itu. Aku kepingin banget dapetin cewek yang pinter buat makan ini dan itu," kata Budi.

Budi selesai memakan donat, ya mengambil kopi gelasan di meja lah dan segera di minum dengan baik sama Budi lah.

"Kalau Budi kepingin dapet cewek yang pinter masak ini dan itu sih, ya cari cewek yang kerjaannya jadi chef gitu!" saran Eko.

Budi menaruh kopi gelasan di meja.

"Cewek yang kerjaannya jadi chef. Boleh juga saran Eko, ya jadian sama cewek yang kerjaannya jadi chef. Kebanyakan chef cewek kan, ya cantik-cantik gitu," kata Budi.

"Acara Tv, ya Budi?" kata Eko.

"Ya...iya lah acara Tv," kata Budi.

"Cewek cantik itu daya tariknya," kata Eko.

"Ya begitulah realita acara Tv," kata Budi.

"Budi...main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Papan catur sudah ada di meja, ya Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi gelasan dan juga donat yang enak banget, ya buatan Purnama.

Sunday, March 6, 2022

KONSER AMAL

Malam yang tenang banget di kediaman rumahnya Budi. Eko yang berada di rumah Budi, ya duduk bersama Budi duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

“Eko. Aku punya cerita tentang Erwin,” kata Budi.

“Erwin kan fokus kuliah,” kata Eko.

“Ya memang sih Erwin fokus kuliah sih. Erwin yang aku maksud……tokoh dalam cerita aku lah,” kata Budi.

“Ooooo tokoh dalam cerita dalam cerita Budi. Jangan-jangan kelanjutan cerita Erwin yang kemarin-kemarin, ya Budi?” kata Eko.

“Bisa kena sih dengan cerita Erwin yang kemarin-kemarin sih,” kata Budi.

“Erwin yang ada kisah cintanya dengan Aulia,” kata Eko.

“Seratus persen untuk Eko. Benar!” kata Budi.

“Kalau begitu silakan bercerita!” kata Eko.

“Baiklah….aku bercerita dengan baik!” kata Budi.

Budi pun menceritakan dengan baik ceritanya, ya Eko mendengarkan dengan baik ceritanya Budi lah.

Isi cerita yang di ceritakan Budi :

Erwin, ya anak orang kaya yang kuliah di Universitas ternama di kota Jakarta. Erwin punya kerja sambilan, ya sebagai chef di tempat kerjaannya Aulia. Ya Aulia kerjanya sebagai penyanyi kafe sih. Erwin memeriksa tabungannya, ya hasil kerja.

“Uangnya lumayan tabungan hasil kerja. Apa aku sodakohkan uang ini di berikan pada anak-anak yatim piatu gitu?” kata Erwin berpikir dengan panjang.

Cukup lama Erwin berpikir. Ya pada akhirnya memutuskan dengan baik, ya uang tabungannya, ya hasil kerja di sodakohin ke anak-anak yatim piatu. Erwin punya gagasan menarik dalam pikirannya dan berkata “Apa aku buat konser amal ya? Mungkin ada orang-orang yang baik mau menyodakohkan uangnya ke anak-anak yatim juga, ya seperti aku?!” kata Erwin.

Erwin pun segera menemui teman-temannya untuk membuat konser amal, ya karena Erwin juga pinter menyanyi. Erwin menemui Tony, ya anak kulian bidang komunikasi, ya masih satu Universitas dengan Erwin lah. Ya Erwin kan jurusan berbeda dengan Tony. Tony di butuhkan tenaganya, ya pinter program-program komputer dan juga kameralah untuk merekam konser amal yang di buat live gitu di jaringan internet gitu. Tony menerima ajakan Erwin, ya segera Erwin menulis Tony di daftarnya sebagai anggota dari kontes amal. Erwin pun menemui menemui Putri. Ya Putri memang temannya Erwin di masa sekolah SMA di Bandar Lampung. Putri kuliah di kota Jakarta, ya beda Universitas dengan Erwin. Erwin dengan mengajak Putri ikutan dalam konser amal, ya untuk mengisi acara dengan teman-temannya Putri.

Dengan senang hati Putri menerima kerja sama dengan Erwin, ya konser amal sih. Putri dan teman-temannya di tulis dalam daftar anggota konser amal. Erwin menemui teman-teman band yang mengisi acara di kafe tempat Erwin bekerja. Roni dan teman-teman, ya setuju dengan ajakan Erwin dalam konser amal. Roni dan kawan-kawan, ya di tulis dengan baik di daftar anggota konser amal. 

Erwin menemui Aulia untuk ikutan juga dalam konser amal. Ternyata Aulia menerima ajakan Erwin. Aulia di tulis dengan baik di daftar anggota konser amal. Erwin segera membuat proposal dengan baik. Setalah proposal jadi, ya di ajukanlah proposal konser amal ke rektor Universitas tempat Erwin kuliah. Hasil pertemuan di ruangan rektor Universitas. Di terima dengan baik proposal Erwin sama rektor Universitas. Ya Pak Rektor pun, ya memberikan bantuan untuk anak-anak yatim piatu gitu. Erwin mulai mengatur ruangan serba guna yang ada di Universitas, ya bersama anggota konser amal lah. Erwin dekat banget sama Putri dalam proses latihan, ya mengisi acara gitu. Aulia melihat dengan baik kedekatan Erwin dengan Putri. Aulia berusaha menenangkan perasaan itu karena tidak mau merusak acara yang di buat Erwin dan teman-teman. 

Sampai waktunya konser amal di jalankan dan di publikasikan dengan baik di jaringan internet, live gitu dan juga penonton ada yang menonton di ruangan serba guna, ya anak-anak kuliahan dari Universitas tempat Erwin kuliah dan juga anak-anak kuliah dari Universitas tempat Putri kuliah. Konser amal pun berjalan dengan baik banget, ya sampai acara selesai gitu.

Hasil kerja keras Erwin dan teman-teman terbayarkan dengan kepuasaan dengan baik, ya konser amal berjalan dengan baik. Uang yang terkumpul pun dari orang-orang baik yang lumayan besar juga sih, ya segera Erwin bersama teman-teman menyerahkan uang tersebut kepada anak-anak yatim piatu. 

Setelah urusan konser amal. Erwin kencan dengan Aulia, ya jalan-jalan ke pantai lah. Erwin menerangkan dengan baik siapa Putri sebenarnya. Aulia jadi tenang banget karena Erwin tidak ada perasaan dengan Putri. Ya Putri teman baiknya Erwin saat SMA di Bandar Lampung. Orang yang menyukai Putri di masa SMA sampai sekarang, ya Abdul. Temannya Erwin semasa SMA yang sampai sekarang masih ada ikatan perteman dengan baik, ya Abdul, Eko dan Budi.

***

Budi selesai menceritakan ceritanya.

“Cerita yang bagus. Niat baik, ya konser amal itu. Ya hasil uangnya dari orang-orang baik, ya di berikan pada anak-anak yatim piatu,” kata Eko.

“Ya begitulah,” kata Budi.

“Kalau begitu. Kita main catur saja!” kata Eko.

“Ok…main catur!” kata Budi.

Budi dan Eko, ya segera menyusun bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

MATI SYAHID

Eko dan Budi duduk di dalam rumah Budi, ya di ruang tamu. Ya keadaan di luar hujan gitu. Abdul ingin ke rumah Budi tapi karena hujan, ya tidak jadi ke rumah Budi. Abdul duduk santai di ruang tengah sambil, nonton Tv, sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah. Acara Tv yang di tonton Abdul, ya acara sepak bola gitu. Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik.

"Eko. Masa lalu ketika masih kecil kita di ceritakan sama guru ngaji. Banyak orang yang mati syahid karena membela agama Allah SWT," kata Budi.

Budi mengampil pisang goreng di piring, ya di makan dengan baik pisang goreng lah.

"Ya nama juga cerita," kata Eko.

"Kalau sekarang gimana Eko, ya urusan mati syahid?" kata Budi.

"Kalau sekarang sih. Mati syahid membela agama Allah SWT, ya kalau kita di perangi sama orang-orang yang membenci agama. Kan kenyataannya sih agama yang di yakini dengan baik, ya tidak di perangi sama orang-orang yang tidak menyukai," kata Eko.

"Omongan Eko bener sih," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Malahan ada cerita sih, ya memerangi agama lain, ya jadinya teroris gitu. Berita teroris gitu," kata Eko.

"Berita Tv yang ini dan itu, ya kaitannya teroris. Ribet. Jadinya," kata Budi.

"Memang sih jadi ribet urusannya," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Membela agama Allah SWT, ya pemimpinnya bener tidak ada masalah sih. Tapi....kalau pemimpinnya salah yang di ikuti, ya mati konyol deh," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya kopi di minum dengan baik.

"Kesalahannya. Dari sudut....kalau pemimpinnya salah yang di ikuti, ya mati konyol deh," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya kopi di minum dengan baik lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Pokoknya sih, ya kaya cerita film sih. Perangnya. Ya teroris itu," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih. Cerita kaya film. Perangnya. Teroris itu," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Sekarang ini. Yang bener-bener pemimpin pilihan Allah SWT untuk membenarkan agama.....penuh misteri, ya setelah Nabi Muhammad meninggal dan juga para sahabatnya Nabi, ya meninggal juga," kata Eko.

"Misteri pemimpin pilihan Allah SWT, ya untuk membenarkan agama," kata Budi.

"Sudah ah. Ngomongin yang kaitannya mati syahit. Apalagi teroris. Lulusan SMA, ya masih kurang ilmu ini dan itu!" kata Eko.

"Kan sekedar bahan obrolan saja!" kata Budi.

"Ya memang sih sekedar bahan obrolan saja sih!" kata Eko.

"Main catur saja!" kata Budi.

"Ok...main catur!' kata Eko.

Budi dan Eko, ya menyusun bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Saturday, March 5, 2022

MENIRU KEBAIKAN ORANG BAIK

Eko sedang duduk santai di depan rumahnya sambil baca koran, ya menikmati minum kopi botolan dan juga gorengan lah. Budi selesai urusan dengan temannya, ya ke rumah Eko dengan menggunakan motorlah. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Eko. Motor di parkirkan dengan baik sama Budi lah di depan rumah Eko lah. Budi pun duduk di sebelah Eko. Ya Eko berhenti baca korannya lah.

"Abdul. Katanya mau ke rumah Eko. Kok tidak ada motornya dan juga Abdulnya?" kata Budi.

"Abdul ada urusan sebentar di mesjid," kata Eko.

"Urusan apa Budi di mesjid?" kata Budi.

"Abdul ada rezeki lebih dari hasil usahanya. Di mesjid mengadakan acara pengajian anak-anak. Abdul membeli makan di pasar, ya tujuannya menglarisin yang jual makan lah. Makan, ya seperti gorengan, roti, dan kue. Makan tersebut di sodakohin ke mesjid, ya untuk anak-anak yang mengaji di mesjid," kata Eko.

"Kayanya seperti kita masih kecil ya Eko?" kata Budi mengingat masa lalu.

"Ya sih seperti masa kecil kita kan. Ada orang baik yang menyedakohin makan untuk anak-anak mengaji di mesjid," kata Eko.

"Berarti Abdul mengikuti cara orang baik itu," kata Budi.

"Bisa di bilang begitu sih," kata Eko.

"Berarti....esok hari ketika anak-anak menjadi dewasa. Ya menyedakohin makan untuk anak-anak yang mengaji di mesjid," kata Budi.

"Ya....siklusnya jalan kebaikan," kata Eko.

"Kalau begitu main catur Eko!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja lah papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikati minum kopi botolan dan juga makan gorengan yang enak banget gitu. Abdul yang telah selesai urusan di mesjid, ya ke rumah Eko. Abdul membawa dengan baik, ya motornya menuju rumah Eko. Ketika hampir sampai di rumah Eko, ya Abdul melihat Mamang penjual tekwan malang. Mamang penjual tekwan malang mendorong gerobaknya dengan baik. Abdul teringat masa kecil, ya makan tekwan malang bersama Eko dan Budi di pinggir jalan. Abdul berhenti di samping gerobak Mamang tekwan malang dan memesan tekwan malang lah, ya 3 bungkus lah. Mamang penjual tekwan malang, ya menyiapkan tekwan malang dengan baik. Setelah selesai di bungkus itu tekwan malang, ya Abdul segera membayarnya.

"Aku ke rumah Eko," kata Abdul.

Abdul pun membawa motornya dengan baik, ya menuju rumah Eko. Permainan catur yang di mainkan Eko dan Budi, ya cukup lama sih, ya kira-kira 20 menit gitu. Abdul sampai di rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko lah. Abdul pun duduk bersama Eko dan Budi.

"Tekwan malang Eko dan Budi," kata Abdul, ya sambil menaruh plastik berisi tekwan malang di meja.

"Makan. Asik!!!" kata Budi.

"Budi senang lah. Makanan gratis!" kata Eko.

Eko dan Budi, ya memang berhenti main catur sih. Eko beranjak dari tempat duduknya, ya masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk mengambil mangkok dan sendok di rak piring. Setelah mendapatkan mangkok dan sendok, ya Eko ke depan rumahlah. Eko memberikan mangkok dan sendok pada Budi dan Abdul. Ketiganya mulai memmindahkan tekwan malang yang di bungkus plastik ke mangkok gitu. Setelah itu, ya ketiganya menikmati makan tekwan malang yang enak banget.

"Rasanya seperti masa kecil," kata Abdul.

"Abdul teringat masa kecil. Makan tekwan malang di pinggir jalan, ya Abdul?" kata Budi.

"Ya begitu lah," kata Abdul.

"Rasa tekwan malang ini enak," kata Eko.

"Memang enak!" kata Budi.

"Emmmmm," kata Abdul.

Ketiganya terus menikmati makan tekwan malang yang enak itu. Ya memang sih tekwan malang murah meriah, ya terjangkau dengan baik kantong-kantongnya orang miskin sampai orang kaya gitu. Singkat waktu, ya ketiganya selesai makan tekwan malang. Acaranya berlanjutlah ketiganya seperti biasa, ya main kartu remi sambil ngobrol ini dan itu yang penting ada nilai-nilai positif dengan baik, ya dalam obrolan. Nama juga pergaulan remaja yang lulusan SMA gitu.

Friday, March 4, 2022

VENOM

Malam yang tenang di kediaman Eko. Ya Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan roti yang murah meriah dan juga enak gitu, ya sesuai dengan kantongnya Eko dan Budi lah.

"Manusia yang mempunyai kemampuan lebih, ya pasti memutuskan jadi pahlawan super. Karena manusia itu didik dengan baik sama orang tuanya," kata Budi.

"Manusia yang baik, ya memutuskan di jalan kebaikan. Beda dengan manusia yang buruk," kata Eko.

"Baik dan buruk," kata Budi.

"Realitanya kehidupan," kata Eko.

"Aku ada cerita tentang tema superhiro," kata Budi.

"Budi mau cerita, ya silakan bercerita!" kata Eko.

"Baiklah aku bercerita," kata Budi.

Budi bercerita dengan baik, ya Eko mendengarkan cerita Budi dengan baik juga lah.

Isi cerita yang di ceritakan Budi :

Edi menjalankan kehidupannya seperti biasa sebagai anak SMA. Edi anak yang cupu sih. Edi menyukai seorang gadis bernama Lira, tapi sayang sekali Lira sudah jadian sama Piter. Saat pulang sekolah, ya Edi berjalan-jalan santai menuju rumahnya. Tiba-tiba jatuh dari langit, ya sebuah batu, ya bisa di bilang meteor sebesar batu sekepel tangan lah. Edi melihatnya batu jatuh dari langit, ya Edi segera menghampiri keberadaan batu itu jatuh. Sampai di pinggir sungai, ya melihat batu tersebut.

“Batu meteor,” kata Edi.

Edi pun mengambil batu tersebut dan di masukkan ke dalam tas. Segera Edi meninggalkan tempat tersebut. Sampai di rumahnya, ya langsung ke kamar Edi. Batu meteor di taruh di dalam toples kaca. Edi mulai mempelajari dengan baik batu meteor tersebut, dan mencari data-data tentang batu meteor dari jaringan internet. Sampai waktunya makan malam. Ibu memang menyiapkan makan yang enak buat Edi. Edi segera ke ruang makan, ya makan malem bersama Ibu. Ayahnya Edi, ya tidak ada lagi. Ayah Edi meninggal karena menolong orang yang butuh pertolongan karena penjahat menganiaya orang itu. Ayah Edi, ya mati di tempat kejadian di bunuh penjahat. Ibu dan Edi, ya tegar kehilangan Ayah. Polisi mengusut tuntas kejahatan tersebut, ya menangkap penjahat yang membunuh ayah Edi. Penjahat di hukum seberat-beratnya sesuai kejahatan yang di lakukan.

Edi pun selesai makan malem bersama Ibu. Edi ke kamarnya, ya mulai Edi  mengerjakan PR-nya dengan baik. Sampai larut malam, ya akhirnya PR-nya selesai. Edi tidur dengan baik di tempat tidurnya. Batu meteor mulai retak-retak dan akhirnya pecah juga. Keluarlah simbiote. Ya simbiote berusaha keluar dari dalam toples. Toples jatuh ke lantai dan pecah. Edi kaget mendengar ada beda jatuh di mejanya. Edi memeriksa dengan baik apa yang jatuh. 

“Toples jatuh,” kata Edi.

Edi melihat dengan baik batu meteor hancur. 

“Kaya ada isinya, terlihat dari struktur batu meteor ini,” kata Edi.

Edi pun memasukan batu meteor ke dalam toples kaca dan pecahan kaya toples, ya di masukkan ke dalam tong sampah lah. Simbote masih bersembunyi dari Edi. Edi memutuskan tidur karena larut malem sih. Simbiote mendekati Edi dengan perlahan-lahan. Edi pun terbangun karena ada benda asing yang berada di tubuh Edi, ya benda asing itu simbiote. Edi menangkap simbiote dengan tangannya. Dengan sekejab simbiote menjadi besar dan membungkus Edi. Simbiote beradaptasi dengan inangnya. Edi memang berusaha melawan sih, tapi sudah terbungkus oleh simbiote. Edi tahu-tahu berada di atas gedung tinggi. Karena memang simbiote membawa Edi keluar dalam keadaan tidak sadar. Ketika sadar, ya tahu-tahu Edi berada di atas gedung.

Simbiote menunjukkan wujutnya di hadapan Edi. 

“Siapa kamu ini?” tanya Edi.

“Aku Venom,” katanya.

“Venom. Kenapa kamu menempel pada ku,” kata Edi.

“Aku membutuhkan inang,” kata Venom.

“Kaya benalu saja,” kata Edi.

Venom dan Edi, ya akhirnya berteman dengan baik. Edi memutuskan pulang sih, ya bersama Venom. Tiba-tiba ada kejahatan di kota, ya perampokan gitu di sebuah rumah mewah. Edi yang menjadi Venom, ya segera ke tempat kejadian perkara. Venom dengan cepat menghajar para penjahat dan mengikatnya dengan jaring laba-laba. Setelah itu, ya Venom meninggalkan tempat tersebut. Polisi dateng untuk menangkap penjahat, ya berdasarkan laporan dari pemilik rumah. 

“Kota ini ada pahlawan yang menanggulangi kejahatan,” kata Pak Andre memeriksa kerja anak buahnya yang menangkap penjahat dan memasukkannya ke penjara.

Edi sampai di rumah. Venom, ya masih berada di tubuh Edi, ya sebagai benalu lah karena Edi inangnya. Edi pun istirahat dengan baik. Eeee tahu-tahu sudah pagi. Edi segera berbenah diri untuk sekolah. Setelah sarapan pagi, ya Edi pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Sampai juga sih ke di sekolah karena jarak dari rumah ke sekolah, ya dekatlah. Edi menjalankan aktivitasnya sebagai siswa SMA seperti biasanya. 

Roy dan kawan-kawannya, ya bisa di bilang gengnya anak nakal di SMA gitu. Edi males berurusan dengan Roy. Edi lebih sering ke perpustakaan, ya ketika waktu jam istirahat gitu. Saat Edi melihat Lira, ya hati Edi dak dik duk. Rasa suka Edi dengan Lira itu masih ada sih. Venom mengetahui benar tentang Edi yang menyukai Lira. Venom menyuruh Edi untuk mendekati Lira dan jadian sama Lira. Edi tidak mau merusak hubungan Lira dengan Piter. Edi membiarkan perasaan sukanya sama Lira. Urusan baca di perpustakaan pun selesai, ya melanjutkan pelajaran di kelas dengan baik. 

Waktu berjalan dengan semestinya. Pendidikan di sekolah, ya selesai juga. Edi pun pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki seperti biasanya. Roy dan kawan-kawannya, ya masih berulah di suatu gang. Roy dan kawan-kawannya menegek pada remaja yang lemah gitu. Edi memang tidak mau berurusan dengan Roy dan kawan-kawan. Demi menolong orang, ya Edi berubah menjadi Venom. Segera Venom membuat takut Roy dan kawan-kawan. Karena wujud Venom, ya menyeramkan banget gitu, ya buas dan liar gitu. Venom pun menggunakan jaring laba-labanya, ya menggantung Roy dan kawan-kawan di pohon. Setelah itu, ya Venom meninggalkan tempat tersebut. 

Venom pun kembali menjadi Edi. Edi pun sampai juga di rumah. Di kamarnya, Edi mulai belajar dengan baik, ya mengulas pelajaran sekolah dengan baik. Sampai waktu malam, ya Edi menikmati keindahan kota dengan wujud Venom, ya di atas gedunglah. Venom dengan kemampuannya, ya memberantas kejahatan kota. Sampai akhirnya berita tentang pahlawan bernama Venom, ya terkenal dan jadi bahan omongan orang-orang.

***

Budi selesai bercerita.

"Bagus cerita Budi. Cerita tentang Venom, ya simbiote," kata Eko.

"Cerita versi aku. Ya versinya masih kaitan SMA. Karena aku lulusan SMA sih," kata Budi.

"Ya aku paham sebagai teman baiknya Budi. Kalau begitu kita main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan roti yang enak gitu.

IRONMAN

Malam yang tenang di lingkungan rumah Budi. Eko dan Budi duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

"Pasarannya film yang lagi tren apa ya Eko?" kata Budi.

"Mungkin superhero. Kan aku biasa nonton acara film di Tv gitu," kata Eko.

"Ada beberapa iklan, ya berkaitan dengan film-film superhiro," kata Budi.

"Kan bener kan!" kata Eko menegaskan omongan Eko.

"Film Indonesia?" kata Budi.

"Mungkin film remaja, ya SMA gitu," kata Eko.

"Mungkin sih. Kaya cerita masalalu, ya trennya filmnya Indonesia, ya film remaja, SMA," kata Budi.

"Pasarnya," kata Eko.

"Realitanya begitu sih," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Aku mau cerita. Cerita superhiro saja, ya versi aku sih," kata Budi.

"Budi sekedar bercerita seperti biasanya. Ya silakan Budi bercerita!" kata Eko.

"Baiklah aku bercerita," kata Budi.

Budi bercerita dengan baik, ya Eko mendengarkan cerita Budi dengan baik.

Isi cerita yang di ceritakan Budi :

Tony menemukan sebuah benda di belakang gunung, ya saat Tony sedang kemping sendirian, ya tujuannya menenang dirinya. Benda tersebut sebuah teknologi yang canggih gitu, ya berupa sabuk. Tiba-tiba sebuah makluk yang menyeramkan, ya menuju keberadaan Tony. Tony pun melihat monster itu dengan baik dan berkata “Monster”.

Tony pun berlari, ya berusaha menjauh dari monster itu yang berwujud seperti anjing yang ganas banget gitu. Tony pun terjatuh ke tanah karena terpeleset dan memakai sabuk berteknologi canggih. Monster, yam au menerkam Tony. Sabuk itu bereaksi dengan baik, ya Tony pun memakai armor mesin yang berwarna merah keemasan. Tony memang di serang monster, ya Tony berusaha melepaskan dirinya dari monster yang menggigit armor mesinnya di bagian bahu kiri. Tony berusaha dengan baik untuk melawan dan akhirnya berhasil terlepas dari gigitan si monster.

Tony pun bertarung dengan monster tersebut dengan baik. Tony mengeluarkan sebuah senjata roket dari tangan kanannya dan di tempakkan pada monster tersebut. Monster itu kena roket dan tubuhnya jebol dan meledak sih. Ya monster mati. Tony melihat dengan baik keadaan dirinya dan berkata “Apakah aku Ironman?”

Tony pun melepaskan sabuk yang berteknologi canggih itu dan kembali seperti biasanya.

“Aku akan menyimpan dengan baik sabuk ini,” kata Tony.

Tony menyimpan dengan baik sabuk itu di dalam tasnya. Tony pun pulang ke rumahnya, ya selesai berkemping di belakang gunung. Tony berjalan dengan baik menuju rumahnya. Sampai di rumah, ya Tony menyimpan dengan baik sabuk berteknologi canggih itu di lemari. Tony pun istirahat dengan baik di rumahnya. Esok paginya, ya Tony menjalankan dengan baik aktivitasnya sebagai pelajar SMA. Kehidupan, ya seperti  biasa berjalan dengan baik. Sampai suatu ketika. Monster yang berwujud kucing, ya menyerang sekolahan. Tony berusaha menyelamatkan teman-temannya dari serangan monster.

Tony pun memancing monster mengejar dirinya, ya Tony menggunakan motor temannya John lah untuk bisa melarikan diri dari monster. Ya monster mengejar Tony sambil menyerang sih. Tony berhasil menghindari tuh monster sih. Sampai tuh monster itu terpelet kulit pisang, ya monster jatuh ke dalam sebuah selokan  gitu. Tony berusaha terus menuju sampai di rumahnya. Akhirnya sampai, ya Tony segera mengambil sabuk berteknologi canggih di lemari di kamarnya. Tony memakai sabuk tersebut dan berubah menjadi Ironman. Monster menyerang masyarkat sih. Tony segera menuju keberadaan monster. Tony menolong orang yang mau cabik-cabik sama monster.

Tony pun bertarung melawan monster tersebut. Tony pun menghancurkan monster dengan menggunakan roket yang keluar dari tangannya. Semua orang, ya memang melihat pertarungan Tony dengan baik sampai monster itu hancur lebur. Orang-orang memanggil pahlawan itu, ya Ironman. Tony yang menjadi Ironman, ya meninggalkan tempat tersebut dengan baik, ya mencari tempat yang baik untuk berubah kembali Tony. Tony yang menjadi Ironman terbang ke belakang gunung. Telah aman segalanya, ya Tony pun kembali menjadi dirinya dengan melepaskan sabuk tersebut.

Tony pun berjalan menuju rumahnya. Sampai di rumah, ya Tony menyimpan dengan baik sabuk tersebut di lemari. Tony pun kembali ke sekeloh dengan motor, ya tujuannya menyambil tasnya sekolahnya. Sampai di sekolah, ya Tony mengembalikan motor sama John. Memang keadaan sekolah hancur sih, ya akibat monster.

Karena keadan sekolah hancur karena monster, ya jadinya kepala sekolah meliburkan murid-murid SMA dengan tujuannya sih, ya memperbaiki sekolah gitu. Tony dengan teman-teman pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, ya Tony istirahat dengan baik, ya main game dengan baik di kamarnya.

***

Budi pun selesai bercerita.

"Cerita yang bagus. Ironman, tapi kaya Kamen Rider gitu, ya Budi?" kata Eko.

"Ya aku menggabungkan keduanya gitu. Ya kan versi aku!" kata Budi.

"Sekedar bercerita, ya tidak tidak masalah sih. Kalau begitu lebih baik main catur saja!" kata Eko.

"Ok main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan lah.

Thursday, March 3, 2022

DUA SISI

Eko dan Budi, ya duduk depan rumah Eko sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Manusia itu menilai manusia lain di lihat dari keadaan manusia itu layak dari penampilan dan juga harta, ya Eko?" kata Budi.

"Ada yang menilai manusia yang lain dari hal yang omongan Budi. Ya....ada juga yang tidak menilai seperti omongan Budi lah," kata Eko.

"Dua sisi," kata Budi.

"Ya bisa di bilang dua sisi sih," kata Eko.

"Berarti ada yang menyukai kita dan ada yang tidak menyukai kita," kata Budi.

"Realitanya memang begitu. Kan tidak semua orang di kata kan baik. Ada sebuah cerita : seorang pemuda yang baik, ya A saja dan juga A ada kekurangan di dalam dirinya. Ada pemuda yang sempurna sih, ya B saja sih. B bertemu dengan A. B tidak suka dengan A. Sedangkan A, ya biasa-biasa saja. B yang tidak suka dengan A, ya akhirnya menghajar si A. Karaen si A ada kekurangan di dalam dirinya, ya otomatis A kalah dari B. Ya B itu tidak tahu A yang di hajar itu, ya ada kekurangan di dalam dirinya. Kesimpulannya : B jatuh dalam keburukan dunia ini, ya membenci A, ya tampa alasan jelas. Berarti B itu bisa dibilang sakit jiwa. Berarti B itu kalah dari Setan yang menguji B," kata Eko.

"Agama dan psikologis," kata Budi.

"Ada manusia-manusia yang psikologisnya, ya seperti B di lingkungan masyarakat. Maka kalau di kaitan dengan agama. Ya B kalah dari Setan yang menguji diri B," kata Eko.

"Orbrolannya kaya lulusan Universitas...Eko," kata Budi.

"Aku tidak sadar. Kalau obrolannya kaya lulusan Universitas. Padahal aku ini cuma lulusan SMA dan juga kerjaannya buruh di perusahaan," kata Eko.

"Belajar dan bergaul di lingkungan masyarakat. Ya beradaptasi dengan baik. Pada akhirnya ilmu berkembang mengikuti keadaan," kata Budi.

"Ya begitu lah keadaannya," kata Eko.

"Manusia-manusia yang tidak sadar, ya kalah dari Setan, ya kan Eko?" kata Budi.

"Pikiran bodohnya di piara dari pada kepintaraannya di piara," kata Eko.

"Bodoh di piara. Lebih baik piara ayam, ya ada manfaatnya," kata Budi.

"Miara ayam, ya ada manfaatnya. Berarti orang yang miara ayam, ya pintar lah," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Kita di benci manusia lain. Yang penting itu, ya kita tidak membenci manusia yang membenci itu. Agar kita tidak kalah dari Setan yang menguji manusia," kata Eko.

"Kalau Setan menang kan. Kehancuran di mana-mana. Ya contohnya : konflik antara manusia dan manusia dengan persoalan kecil sampai yang besar. Yang lagi hits beritanya kan perang," kata Budi.

"Realitanya begitu," kata Eko.

"Berita yang ini dan itu, ya sampai perang kan jadi bahan pembelajaran kita dengan baik," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi.

"Ok," kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya, ya main catur dengan baik sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Wednesday, March 2, 2022

BINGUNG-BINGUNG AKU MEMIKIRKANNYA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan lah.

"Eko," kata Budi.

"Apa?" kata Eko.

"Ajaran agama itu di yakini dan di jalankan dengan baik," kata Budi.

"Memang realitanya begitu," kata Eko.

"Gimana dengan orang-orang yang cuma yakin saja tapi tidak menjalankan aturan-aturan agama. Bingung-bingung aku memikirkannya?" kata Budi.

"Kalau urusan itu sih. Aku males ngomongin itu," kata Eko.

"Eko males ngomongin itu karena termasuk ngomongin orang yang ini lah dan itu lah. Ghibah kan?" kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

"Sebaiknya gimana Eko," kata Budi.

"Sebaiknya itu. Kita menyakini agama dengan baik dan menjalankan dengan baik. Ya kita jadi contoh, ya pemuda-pemuda yang sholeh. Dari contoh yang baik itu, ya akan membuka pikiran-pikiran orang-orang. Waktu yang akan menjawabnya. Pada akhirnya orang-orang yang tadinya begini dan begitu, ya akan kembali ke jalan yang benar, ya jadi orang-orang yang menyakini agama dengan baik dan menjalankan aturan-aturan agama dengan baik," kata Eko.

"Contoh : pemuda-pemuda yang sholeh. Omongan Eko benar lah!" kata Budi menegaskan omongan Eko,

"Urusan cewek, ya contohnya, ya cewek-cewek sholeha lah, ya Purnama saja. Purnama cewek sholeha yang paham agama dengan baik, ya di jalankan dengan baik aturan agama. Cewek-cewek yang tadinya begini dan begitu karena ada contoh dari cewek sholeha yang menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan baik. Maka cewek-cewek yang begini dan begitu, ya kembali ke jalan yang benar," kata Eko.

"Urusan cewek-cewek, ya memang harus mencontoh dari cewek sholeha yang menyakini agamanya dengan baik dan menjalankan aturan-aturan agama dengan baik," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Emmmm," kata Eko.

"Jalanin apa yang kita yakini dengan lurus dan tidak peduli omongan orang begini dan begitu, ya kan Eko?" kata Budi.

"Ya memang benar omongan Budi itu. Maka itu kita berteman baik, ya saling menasehati satu sama lain, ya agar menjalankan agama yang di yakini jadi benar sesuai dengan aturan-aturan agama. Jadi mudahkan menjalankan agama bersama orang-orang yang paham ilmu agama," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Ternyata yang hebat itu yang mengajarkan ilmu pada kita, ya orang tua dan guru-guru agama, ya termasuk ustad di mesjid sih," kata Budi.

"Ya begitu lah realitanya dari mana kita memahami ilmu agama," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Main catur saja!" kata Eko.

"Ok!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

AWAL TIDAK SUKA PADA AKHIRNYA SUKA

Malam yang tenang di lingkungan rumah Budi. Ya Budi dan Eko duduk depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Hutang," kata Budi.

"Ada apa dengan hutang?" kata Eko.

"Cerita, ya kaitannya dengan hutang gitu," kata Budi.

"Ooooo cerita yang ada kaitannya dengan hutang. Kalau lagu ada enggak ya berkaitan dengan hutang?" kata Eko berpikir dengan panjang.

"Realita kehidupan kita gimana, ya pada masa lalu?" kata Budi.

"Nama juga orang miskin. Pasti terbelit hutang karena keadaan. Yang terpenting, ya di usahakan untuk membayarnya," kata Eko.

"Memang sih di usahakan bayar hutang," kata Budi.

"Budi cerita lah yang berkaitan dengan hutang!" kata Eko.

"Baiklah aku cerita. Dari kecil Ani tinggal bersama Kakek Teguh. Ibunya Ani, ya meninggalkan Ani di usia 6 tahun. Ibunya Ani pergi bersama pacaranya ke luar negeri. Ayah Ani, ya telah meninggal di saat Ani berusia 5 tahun. Kakek Teguh mengajarkan mendidik dan menjaga Ani dengan baik sih. Sampai umur 16 tahun, ya Kakek Teguh meninggal dunia. Ani memang bersedih dengan kepergian Kakek Teguh sih. Ani berusaha tegar dengan keadaannya. Ani menjalankan kehidupan sehari-hari dengan penuh keceriaan sih. Saat berumur 18 tahun, ya Ani bertemu dengan pemuda yang keren gitu dan juga kaya. Pemuda itu bernama Joko. Ya Joko membawa Ani ke rumahnya yang besar banget, ya kaya istana megah gitu. Joko pun berkata pada Ani "Pengantin ku". Ani terkejut dengan perkataan Joko. Ani berkata "Pengantin". Keluarga Joko, ya banyak yang komentar ini dan itu tentang Ani sih. Yang paling pait sih kata-katanya Lisa "Cewek seperti ini jadi pendamping Joko. Jelek dan kurus lagi". Pada hal yang sebenarnya sih Ani, ya cantik sih dan juga body bagus sih. Lisa memang tidak suka dengan Ani saja. Joko pun berkata "Kamu akan menikah dengan saya!". Ani terkejut dengan omongan Joko karena mau di nikahi, ya Ani kan tidak tahu Joko dan juga baru bertemu gitu. Ani pun berkata "Kenapa anda ingin menikahi saya?". Joko pun memberikan alasannya kenapa Joko harus menikah dengan Ani. Joko memberitahukan dirinya kenal dengan Kakek Teguh. Ya Kakek Teguh punya hutang dengan Kakek Jack. Kakek Jack itu, ya Kakeknya Joko. Berdasarkan surat jaminan hutang, ya Ani harus menikah dengan Joko. Ani tidak ingin menikah dengan Joko. Hutang kakeknya Ani, ya 300 juta. Ani terkejut banget dengan hutang Kakek Teguh. Ya Ani menolak Joko lah. Joko dengan santainya menghadapi penolakan Ani. Joko pun menyuruh pelayan rumah untuk melayanin Ani. Ani di layanin selayaknya seorang putri raja gitu. Ani bingung dengan sikap Joko yang telah di tolak Ani. Ani yang tidak menyukai Joko, ya jadinya ingin sekali membayar hutang kakeknya dengan cara bekerja. Joko tetap mengawasi Ani dengan baik. Ani dengan kepintarannya, ya pandai memasak. Ani membuka rumah makan. Awal usaha sih, ya sepi sih. Ani terus berusaha dengan baik usaha yang di jalaninnya. Sampai pada waktunya. Ani berhasil memajukan usaha rumah makannya dan membayar hutang pada Joko. Ternyata Ani benar-benar menyukai Joko. Ya Ani dan Joko menikah juga. Acara pernikahan pun di buat semeriah mungkin. Begitulah ceritanya," kata Budi.

"Cerita yang bagus. Awalnya tidak suka, ya pada akhirnya suka," kata Eko.

"Memang sih. Awalnya tidak suka, ya pada akhirnya suka," kata Budi.

"Cewek kadang memang ada sikap seperti yang di ceritakan Budi," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Tuesday, March 1, 2022

SEPERTI PERMAINAN CATUR

Malam yang gelap bertabur bintang di langit. Keadaan lingkungan, ya baik sih. Budi ke rumah Eko, ya dengan Budi mengendarai motornya. Eko di rumahnya, ya sedang baca koran, ya sambil minum kopi botolan dan juga gorenganlah. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motornya di rumah Eko. Budi duduk bersama Eko. Karena ada Budi, ya Eko berhenti baca koran  dan koran di taruh di bawah mejalah.

“Main catur!” kata Budi.

“Ok!” kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Budi dan Eko dengan santai duduk di depan rumah Eko, ya main catur sambil menikmati minum kopi botolan dan juga makan gorengan. Budi melangkah pion putihnya dengan baik.

“Eko,” kata Budi.

“Apa?” kata Eko.

Eko melangkah pion hitamnya dengan baik.

“Kenapa terjadi perang ya, ya suatu daerah. Antara dua negara?” kata Budi.

Budi memajukan pion putihnya dengan baik.

“Berita di Tv. Apa Film?” kata Eko.

Eko memajukan pion hitamnya dengan baik.

“Berita di Tv sih!” kata Budi.

Budi memajukan peluncur putihnya dengan baik.

“Berita di Tv. Tentang perang yang terjadi antara dua negara. Aku lulusan SMA, ya malas ah membahasnya!” kata Eko.

Eko memajukan kuda hitamnya dengan baik.

“Memang aku dan Eko. Lulusan SMA. Kan cuma sekedar obrolan saja!” kata Budi.

Budi memajukan pion putihnya dengan baik.

“Memang sekedar obrolan saja. Ya sebenarnya tidak jauh seperti permainan catur saja….tentang perang yang terjadi antara dua negara,” kata Eko.

Eko memajukan kuda hitamnya dan memakan pion putih milik Budi.

“Memang sih. Seperti permainan catur sih. Perang antar dua negara. Pastinya ada yang menang dan kalah. Ya tergantung dari strategi yang di jalankan dengan baik,” kata Budi.

Budi memajukan kuda putihnya dan memakan pion hitamnya milik Eko.

“Strategi militer. Apa tujuannya publikasi tentang perang itu. Apa mungkin untuk mengajarkan ilmu militer ya?” kata Eko.

Eko memajukan peluncur hitamnya dengan baik.

“Mungkin saja sih Eko. Tujuannya mengajarkan ilmu militer. Ya kekuatan militer dari negara-negara yang sedang menjalankan perang,” kata Budi.

Budi menjalankan pion putihnya dengan baik.

“Dampak dari perang. Kerugian bagi kedua belah pihak. Ya mungkin negara tetangga terkena dampaknya, ya bisa saja peluru nyasarkan,” kata Eko.

Eko memajukan pion hitamnya dengan baik.

“Masih mending peluru nyasar. Kalau senjata roket yang nyasar, ya kacau urusannya. Meledak sana sini. Gak ikutan perang, eeeee kena imbas dari perang,” kata Budi.

Budi memajukan peluncur putihnya, ya memakan pion hitamnya milik Eko.

“Sudah ah tidak perlu di bahas lagi. Lebih baik fokus main catur!” kata Eko.

Eko dengan memajukan kuda hitamnya ya memakan peluncur putihnya milik Budi.

“Ya serius main catur!” kata Budi.

Budi dan Eko, ya main catur dengan serius banget. Sampai akhir permainan, ya yang menang adalah Eko. Abdul pun dateng ke rumah Eko, ya segera memarkirkan motornya dengan baik. Abdul pun duduk bersama dengan Budi dan Eko.

“Main caturnya udahan Eko!” kata Budi.

“Iya!” kata Eko.

Eko dan Budi, ya membereskan catur dengan baik. Eko menaruh papan catur di bawah meja.

“Berita Tv. Masih tentang perang,” kata Abdul.

“Nama juga berita,” kata Eko.

“Urusan politik, ya bisa di bilang perang juga kan?” kata Budi.

“Ya….bisa di bilang perang juga sih,” kata Eko.

“Tujuannya siapa yang menang dan kalah? Ya merebutkan kursi kepemimpinan, ya jadi pemimpin di negeri ini!” kata Abdul.

“Benar-benar permainan penuh dengan strategi politik,” kata Budi.

“Nama juga politik,” kata Eko.

“Sama saja seperti permainan catur, ya strategi politiknya,” kata Abdul.

“Lama-lama. Obrolan ini. Kaya orang lulusan Universitas. Padahal lulusan SMA,” kata Eko.

“Kaya acara Tv. Lulusan Universitas menunjukkan kemampuannya dari ilmu yang di pelajarinya dengan baik,” kata Budi.

“Acara Tv tujuannya. Mendidik orang yang menonton acara Tv. Ya agar wawasannya berkembang dengan baik, ya seperti orang-orang lulusan Universitas,” kata Abdul.

“Lebih baik main kartu remi saja!” kata Eko.

Eko mengambil kartu remi di bawah meja dan di kocok dengan baik.

“Bermain dan ngobrol ini dan itu,” kata Budi.

“Menghilangkan kejenuhan ini dan itu. Makanya bermain sambil ngobrol,” kata Abdul.

Eko membagikan kartu reminya dengan baik. Ya jadinya ketiga main kartu remi dengan baik lah.

Monday, February 28, 2022

ORANG PINTAR

Malam yang tenang di kediaman rumahnya Budi. Ya Budi duduk di depan rumah sedang baca koran, ya sambil menikmati minum botolan dan juga makan gorengan lah.

"Beritanya masih kesehatan ini dan itu," kata Budi.

Budi membaca dengan baik koran yang masih membahas tentang urusan varian Omicron. Eko pun dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Eko pun duduk bersamaan Budi. Ya Budi yang asik baca koran, ya berhentilah dari baca korannya dan menaruh koran di atas meja.

"Eko," kata Budi.

"Apa?" kata Eko, ya sambil mengambil bakwan goreng di piring dan langsung memakannya.

"Kalau pemimpin berhasil dalam kepemimpinannya. Kenapa ada orang-orang yang ingin mempertahankan tuh pemimpin dalam jabatannya, ya menjadi tiga periode gitu?" kata Budi.

"Lah itu sih urusan lulusan Universitas. Aku cuma lulusan SMA, ya masih kurang ini dan itu," kata Eko.

Eko mengambil minuman botol dan di buka dengan baik, ya di minumlah dengan baik.

"Ya memang sih. Aku dan Eko, ya lulusan SMA. Kan ini cuma sekedar bahan obrolan saja!" kata Budi.

Eko menaruh botol minuman di meja.

"Bahan obrolan. Bahan obrolan. Jangan-jangan di ambil dari koran yang di baca Budi?!" kata Eko sambil menunjuk koran di meja.

"Ya memang aku ambil dari koran sih," kata Budi.

"Kalau di pikir dengan baik. Untuk apa ada Reformasi, ya kalau masih ada orang-orang yang inginkan pemimpinnya menjabat menjadi tiga periode atau lebih gitu?!" kata Eko.

"Untuk apa sebenarnya Reformasi?" kata Budi berpikir panjang.

"Banyak orang yang bilang sih. Semua itu demi kepentingan orang-orang yang duduk di pemerintahan. Pernyataannya "Aku masih sanggup memimpin," kata Eko.

"Semua demi kedudukan ini dan itu. Aku yang masih status lulusan SMA. Ya ingin sih harapan di masa depan jadi pemimpin sih. Itu pun harus kuliah dan wawasan ku banyak dalam bidang ini dan itu, ya agar menjalankan satu sistem kerja berjalan dengan baik," kata Budi.

"Keinginan Budi, ya baik di masa depan. Ingin menjadi pemimpin. Tetap saja yang proses Budi masih panjang untuk mencapai tujuan itu. Orang-orang yang telah punya kemampuan telah siap untuk menjadi pemimpin, ya duduk di pemerintahan ada....sampai swasta dan berkecimpung dalam organisasi ini dan itu, ya sampai politik. Tujuan orang-orang itu membesarkan namanya, ya agar masyarakat mengenal mereka dengan sosok pemimpin yang bisa di pilih dengan baik untuk memimpin negeri ini," kata Eko.

"Berarti masih banyak orang pintar yang mampu memimpin negeri ini," kata Budi.

"Omongan Budi benarlah. Masih banyak orang-orang pintar negeri ini yang mampu memimpin negeri ini. Siklus itu terus berjalan dengan baik," kata Eko.

"Generasi ke generasi. Warisan negeri ini," kata Budi.

"Siapa yang sanggup dengan segala kepintarannya? Duduklah jadi pemimpin di negeri ini!" kata Eko.

"Emmmmm," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja lah papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum botolan dan juga makan gorengan lah.

Sunday, February 27, 2022

SEMASA SMA : IPA

Malam yang gelap bertabur bintang di langit. Budi memang melihat langit gelap bertabur bintang karena Budi duduk santai di depan rumah.

"Rasa ingin berduan dengan cewek. Kenyataan tetap kenyataan. Aku masih jomlo," kata Budi.

Tiba-tiba bintang jatuh terlihat di pandangan Budi. Ya Budi diam saja melihat fenomena tersebut dan juga tidak berdoa. Beda dengan orang-orang yang mempercayai tentang bintang jatuh, ya bisa mengabulkan ini dan itu kalau berdoa. Budi pun segera mengambil koran di meja, ya di baca dengan baik berita yang ada di koran lah. Eko ke rumah Budi, ya Eko mengendarai motornya dengan baik menuju rumah Budi. Singkat waktu, ya Eko sampai di rumah Budi dan memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Eko membawa seplastik yang isinya gorengan dan juga minuman kopi gelasan gitu. Eko menaruh seplastik yang isi makan dan minuman di meja. Eko berkata "Gorengan Budi!"

Eko mengambil gorengan di plastik, ya di makan dengan baik sih gorengan.

"Iya," kata Budi.

Budi menghentikan baca korannya, ya koran di taruh di meja. Budi mengambil gorengan di plastik, ya di makan dengan baik gorengan lah.

"Eko," kata Budi.

"Apa?" kata Eko.

Eko mengambil minuman kopi gelasan di plastik, ya segera di minum dengan baik kopi gelasan itu.

"Banyak orang-orang status agamanya, ya cuma abal-abal kan?" kata Budi.

Budi mengambil minuman kopi gelasan di pelastik, ya segera di minum dengan baik kopi gelasan itu. Eko menaruh kopi gelasan di meja.

"Ya realita kehidupan ini, ya begitu lah. Banyak orang-orang yang status agamanya, ya cuma abal-abal. Tidak menjalankan aturan agama yang di yakininya," kata Eko.

Budi menaruh minuman kopi gelasan di meja.

"Maka itu banyak ahli agama terus mengajarkan agama dengan baik, ya lewat apa pun. Contohnya : media Tv lah. Untuk mengingatkan manusia yang meyakini agama yang di yakininya, ya di jalankan dengan baik," kata Budi.

"Siar agama, ya terus menerus di jalankan dengan baik. Demi kebaikan semuanya," kata Eko.

"Agama itu. Penggerak ekonomi kan?" kata Budi.

"Memang agama itu penggerak ekonomi. Contohnya : guru agama yang mengajar di sekolah, ya di bayar oleh pemerintah dan swasta. Dari gajinya guru, ya di belikan keperluan kebutuhan sehari-hari yang ini dan itu," kata Eko.

"Ekonomi berjalan dengan baik," kata Budi.

"Ya begitu lah," kata Eko.

"Eko kalau ketemu guru-guru kita di jalan. Ya apa Eko menghampirinya dan salam sama Bapak dan Ibu guru?" kata Budi.

"Kalau ingat sih. Aku ketemu guru SMA sih. Bapak itu sudah lupa dengan aku, ya karena kan banyak muridnya yang di ajar. Aku sebagai mantan murid yang baik, ya menghampirinya dan salam sama Bapak guru lah, ya Bapak guru kan seperti orang tua kita sendiri, ya mendidik aku menjadi orang yang berguna demi menjalankan kehidupan ini," kata Eko.

"Ya aku juga sih bertemu dengan guru-guru di SMA. Ya aku menghampirinya dan salam gitu. Tanda masih menghormati guru sih. Kalau tidak karena guru, ya aku bukan siapa-siapa. Karena ilmu semasa SMA di gunakan dengan baik, ya akhirnya aku kerja di perusahaan, ya walau hanya jadi buruh karena statusnya SMA," kata Budi.

"Di pikir dengan baik sih, yang hebat itu Abdul. Dengan ilmu SMA. Abdul menggunakan ilmunya dengan baik, ya membangun usaha, ya dagang di pasar gitu, ya kelontongan gitu. Hasil usahanya Abdul berjalan dengan baik karena Abdul memahami dengan baik ilmu ekonomi dan juga perubahan yang terjadi di masyarakat yang di pengaruhi oleh perkembangan teknologi, ya digitalisasi sih. Dasarnya Abdul semasa SMA, ya IPA," kata Eko.

"Memang aku akui. Abdul hebat dengan spekulasinya dalam membangun usaha. Aku, Eko, Abdul dan Erwin, ya anak IPA, ya semasa SMA," kata Budi menegaskan omongan Eko.

Eko pun bersenandung "A : Aku selalu belajar memahami kehidupan ini. B : Bermain dan bergembira. C : Cerita ini dan itu. D : Dia yang selalu membuat ku bahagia. E : Engkau adalah cinta sejati ku...."

"Eko pandai menyusun kata-kata yang menarik," kata Budi.

"Ya sekedar saja sih. Kita masih kelompok grub band semasa SMA," kata Eko.

"Setelah lulus SMA, ya aku, Eko, Abdul dan Erwin. Pada akhirnya memutuskan jalan masing-masing untuk mencari masa depan yang baik dengan cara masing-masing," kata Budi.

"Ya begitulah keadaan grub band kita," kata Eko.

"Main catur saja, kalau begitu Eko!" kata Budi.

"Ok...main catur!" kata Eko.

Budi, ya mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati makan gorengan dan juga kopi gelasan lah.

Saturday, February 26, 2022

TUKANG OJEK PANGKALAN

Malam gelap bertabur bintang di langit. Keadaan lingkungan sekitar rumah Eko, ya tenang banget. Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Motor," kata Budi.

"Ada apa dengan motor. Jangan-jangan Budi lagi bingung mikirin bayar cicilan kredit motor yang sudah jatuh tempo waktunya dan uangnya kepake gitu, ya jadinya Budi mencari pinjeman ke teman gitu?" kata Eko.

"Kalau orang lain, ya mungkin masih masalah tentang bayar kredit motornya. Kalau aku kan enggak. Aku tetap kerja dengan baik jadi buruh di perusahaan, ya otomatis...tiap bulan ada uang untuk membayar cicilan motor lah," kata Budi.

"Jadi Budi tidak ada masalah tentang kredit motor toh," kata Eko.

"Yang aku maksud kan itu, ya kalau kita berdua tidak kerja jadi buruh di perusahaan. Pasti kerjaannya jadi tukang ojek, ya alasannya karena punya kendaraan motor gitu," kata Budi.

"Memang sih. Kalau kita tidak kerja jadi buruh di perusahaan, ya jadi tukang ojek," kata Eko.

"Ceritanya?" kata Budi berpikir panjang.

"Budi mau cerita toh!" kata Eko.

"Iya sih ingin cerita tentang tukang ojek pangkalan," kata Budi.

"Kalau begitu silakan Budi bercerita dengan baik, ya aku mendengarkan cerita Budi dengan baik!" kata Eko.

"Begini ceritanya. Setelah lulus SMA. Budi berusaha mendaftar kerjaan kesana kesini, ya perusahaan gitu, ya ke tempat kerjaan yang ada di Bandar Lampung ini. Ternyata usaha Budi, ya gagal mendapatkan kerjaan. Eko pun sama dengan Budi, ya tidak dapet kerjaan. Budi dan Eko pun berkata "Nasif cuma lulusan SMA. Susah mendapatkan pekerjaan". Abdul pun berusaha juga mendaftar kerjaan juga, ya hasilnya tidak dapet kerjaan karena keduluan orang yang masuk kerjaan di suatu tempat, ya perusahaan gitu. Abdul pun berkata "Susah amat mendapatkan kerjaan di kota Bandar Lampung, ya kaya susahnya cari kerjaan di kota Jakarta, penuh dengan persaingan ini dan itu". Budi, Eko dan Abdul, ya akhirnya ngumpul di pos kamling. Ketiga dalam keadaan frustasi tidak dapet kerjaan. Abdul pun punya ide setelah melihat motor yang lewat, ya Abdul berkata "Gimana kalau kita kerja jadi tukang ojek". Budi dan Eko, ya menerima idenya Abdul jadi tukang ojek. Ya lebih baik jadi tukang ojek dari pada jadi pengangguran dan di cap begini begitu sama masyarakat yang berpikir negatif ini dan itu. Budi, Eko dan Abdul, ya benar jadi tukang ojek. Budi menggunakan motor Bapaknya, ya masih kreditnya belum selesai. Eko menggunakan motor Abangnya yang masih kreditnya belum selesai juga. Sedangkan Abdul, ya menggunakan motor warisan dari kakeknya, ya motor jadul tetapi masih bisa jalan dengan baik gitu. Budi, Eko dan Abdul berkumpul di pos kamling yang di jadi kan pangkalan ojek dan juga telah minta izin dengan sama Pak RT dan masyarakat di lingkungan karena pos kamling di jadikan pangkalan ojek. Budi, Eko dan Abdul, ya menjalankan kerjaannya jadi tukang ojek dengan baik. Sampai Erwin dateng dengan membawa motor gedenya, ya ikutan jadi tukang ojek. Budi, Eko dan Abdul, ya tidak abis pikir dengan ulah Erwin yang ikutan jadi tukang ojek karena memang Erwin, ya anak orang kaya, ya untuk apa jadi tukang ojek?. Memang banyak cewek yang mau naik motornya Erwin. Budi berkata "Kita kalah dengan Erwin. Laris manis". Eko pun berkata "Ya tukang ojeknya keren, ya bawa motor gede, ya cewek pada mau naik motornya Erwin". Abdul berkata "Penampilan mendukung, jadi usaha berjalan dengan lancar". Budi, Eko dan Abdul tetap ada saja orang-orang yang memakai jasa ketiganya jadi tukang ojek. Sampai hari berganti malam. Erwin memberikan uang hasil tukang ojeknya kepada Budi, Eko dan Abdul. Erwin berkata "Aku cuma sekedar saja jadi tukang ojek. Uang hasil tukang ojek untuk kalian bertiga". Budi berkata "Kok....uang hasil ojek Erwin di kasih ke aku dan kawan-kawan". Eko berkata "Kebiasaan Erwin". Abdul berkata "Terima saja pemberian Erwin itu. Paling untuk nolong membantu kita yang masih dalam keadaan miskin". Erwin berkata "Omongan Abdul bener. Aku ingin membantu kalian saja. Kan kita teman". Budi, Eko dan Abdul, ya mengerti banget tentang Erwin, ya teman baik gitu. Usaha tukang ojek pun di jalankan dengan baik. Satu minggu sudah menjalankan jadi tukang ojek, ya Erwin pun tidak lagi tidak jadi tukang ojek karena harus kuliah ke Jakarta. Budi, Eko dan Abdul terus menjalankan dengan baik kerjaan jadi tukang ojek, ya demi kehidupan sehari-hari yang ini dan itu. Begitulah ceritanya," kata Budi.

"Cerita yang bagus. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Kerjaan jadi tukang ojek, ya halal lah," kata Eko.

"Ya...begitu lah," kata Budi.

Abdul pun dateng, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Eko. Abdul pun duduk bersama dengan Budi dan Eko.

"Ngomongin apa Budi dan Eko?" kata Abdul.

"Motor," kata Budi.

"Tukang ojek pangkalan," kata Eko.

"Motor dan tukang ojek pangkalan. Jangan-jangan ada kaitannya dengan sinetron tukang ojek pangkalan, ya menceritakan tentang kehidupan tukang ojek, keluarga dan juga teman-teman. Ceritanya sudut keadaan ini dan itu. Memang ceritanya menarik sih tukang ojek pangkalan," kata Abdul.

"Bisa jadi sih," kata Eko.

"Ya kena sih. Idenya di ambil dari sinetron tukang ojek pangkalan," kata Budi.

"Main kartu remi aja Eko, Budi!" kata Abdul.

"Ok!" kata Eko dan Budi bersamaan.

Eko mengambil kartu remi di bawah meja, ya kartu remi di kocok dengan baik dan di bagikan dengan baik. Eko dan kawan-kawan main kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Friday, February 25, 2022

SIFAT DAN TINGKAH LAKUNYA

Malam yang tenang di lingkungan rumah Budi. Budi duduk di depan rumahnya, ya sambil baca koran dan juga menikmati minum botolan dan juga makan singkong rebus. Eko ke rumah Budi, ya menggunakan motorlah. Singkat waktu, ya Eko sampai di rumah Budi dan memarkirkan motornya di depan rumah Budi dengan baik. Eko duduk dengan baik bersama Budi. Ya Budi menghentikan baca korannya dan koran di taruh di mejalah. Eko mengambil singkong rebus di piring, ya berkata "Tumben singkong rebus. Biasanya gorengan?"

Eko, ya makan singkong rebus itu.

"Ibu beli singkong di pasar. Lalu di buat makanan, ya makanannya singkong rebus saja," kata Budi.

"Oooo Ibu Budi beli singkong dan di buat makanan singkong rebus saja. Kenapa tidak di goreng saja singkongnya. Atau jangan-jangan ada kaitannya dengan minyak goreng yang ini dan itu, ya berita gitu?" kata Eko.

"Tidak ada kaitan dengan berita yang ini dan itu tentang minyak goreng. Yang masak bukan aku, ya Ibu yang masak," kata Budi.

"Iya deh yang masak Ibu, ya keputusan Ibu mau masak apa," kata Eko.

Eko mengambil minuman botolan, ya di buka dengan baik minuman botolan itu dan segera di minum dengan baik.

"Eko. Aku ingin ngobrolin sesuatu," kata Budi.

Eko menaruh minuman botol di meja.

"Sesuatu apa?" kata Eko.

"Tentang cewek," kata Budi.

"Cewek toh. Apa yang mau di obrolin?" kata Eko.

"Cewek kalau di kasih makan seperti orang miskin. Mau apa enggak ya?" kata Budi.

"Relatif lah Budi?" kata Eko.

"Kok relatif?" kata Budi.

"Cewek yang terlahir dari keadaan miskin dan bisa menerima keadaannya. Cewek itu berusaha dengan baik demi hidupnya berubah menjadi kaya. Lalu cewek itu mendapatkan suami yang keadaannya memang miskin. Suaminya mampunya memberikan makan dan kehidupannya seperti orang miskin. Ya otomatis maulah cewek menjalankan kehidupan dengan suaminya kala suka dan duka, ya contohnya orang tua kita. Kalau cewek yang terlahir dari kalangan orang kaya, ya tidak bisa Budi," kata Eko.

"Jangan-jangan Eko punya pengalaman tentang cewek yang terlahir dari orang kaya?" kata Budi.

"Ya ada sih. Saat aku belum bersama Purnama. Aku mencoba berteman dengan cewek, ya anak orang kaya. Sifat dan tingkahnya, ya aku kecewa banget. Setelah itu, ya aku biasa saja teman dengan cewek itu," kata Eko.

"Sifat dan tingkahnya yang membuat Eko kecewa. Aku juga sih kecewa juga sih. Kalau menemukan cewek yang tidak bisa menerima keadaan dari cowoknya," kata Budi.

"Sebenarnya waktu bisa mengubah segalanya, ya berusaha dengan baik. Pada akhirnya aku menjadi orang yang mampu. Walau hanya kerja jadi buruh di perusahaan. Aku membawa Purnama makan di pinggir jalan, ya kaya orang miskin, ya ternyata Purnama mau gitu karena memang Purnama dari kalangan orang tidak mampu juga sih, ya jadinya tidak neko neko sih. Aku merasa senang dengan sifat dan tingkah Purnama, ya jadinya Aku membawa Purnama makan di rumah makan, ya gaya orang kaya gitu dengan membawa mobil, ya itu pun mobilnya minjem. Purnama menerima aku apa adanya. Keadaan aku miskin, ya sampai aku mampu pun...iya mampu dengan baik. Cewek seperti Purnama lah yang aku inginkan dengan baik," kata Eko.

"Iya sih. Cewek yang baik itu bisa menerima keadaan kita. Dengan berusaha dengan baik, ya bisa mengubah keadaan sih. Purnama cewek yang baik, ya muslimah yang baik, ya paham agama dengan baik. Bisa menyenangkan cowok yang mencintai Purnama," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Cewek di lingkungan masyarakat, ya bermacam-macam sifat dan tingkah lakunya. Dasarnya dari didikan orang tua, pendidikan sekolah sampai pergaulan. Ada yang baik dan ada yang buruk. Sampai-sampai....terkait kriminalitas ini dan itu, ya cewek yang buruk," kata Budi.

"Nama juga kehidupan ini. Antara baik dan buruk," kata Eko.

" Kalau begitu sih. Main catur saja Budi!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur lah. Abdul dateng ke rumah Budi, ya telah memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul duduk bersama dengan Eko dan Budi.

"Ada Abdul. Jadi main kartu remi aja Budi!" kata Eko.

"Ok," kata Budi.

Budi menaruh papan catur ke bawah mejalah dan mengambil kartu remi di bawah meja dan segera di kocok dengan baik kartu remi.

"Tidak ada gorengan. Adanya singkong rebus," kata Abdul sambil mengambil singkong rebus di piring, ya singkong rembus di makan Abdul dengan baik.

"Tidak ada gorengan. Singkong rebus yang ada," kata Budi.

Budi membagikan kartu remi dengan baik.

"Ibu Budi yang masak singkong rebus. Kalau di pikir dengan baik. Makan singkong rebus kaya acara Tv, ya film jadul gitu," kata Eko.

"Ibu Budi yang masak singkong rebus toh. Pantes singkong rebusnya enak," kata Abdul.

Ketiganya main kartu remi sih.

Abdul mengambil minuman botol di meja, ya di buka dengan baik, ya di minum dengan baik.

"Kadang lebih baik mendapatkan cewek muslimah. Sifat dan tingkahnya, ya bisa menyenangkan hati gitu," kata Budi.

Abdul menaruh minuman botol di meja.

"Aku setuju dengan omongan Budi," kata Abdul.

"Aku juga setuju omongan Budi. Karena aku sudah merasakan, ya bersama dengan cewek muslimah. Purnama menyenangkan hati," kata Eko.

Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati makan singkong rebus dan juga minuman botol.

KEBIASAAN

Abdul duduk di depan rumahnya, ya sedang membaca koran dan juga menikmati minuman botolan dan juga makan keripik singkong. Budi ke rumah Abdul, ya menggunakan motornya. Eko, ya ke rumah Abdul dengan menggunakan motornya. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Abdul. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul. Budi pun duduk bersama Abdul. Ya Abdul pun berhenti baca koran dan koran di taruh di mejalah. Budi melihat tidak ada gorengan di meja, ya cuma ada keripik singkong gitu. Budi pun berkata "Abdul...tidak ada gorengan ya?"

"Ada cuma keripik singkong!" kata Abdul sambil mengambil keripik dari plastiknya, ya keripik singkong di makan sama Abdul.

"Makan keripik mah tidak kenyang," kata Budi.

"Kalau mau kenyang sih makan nasi. Budi ingin makan?" kata Abdul.

"Mau sih," kata Budi.

"Kalau begitu ikut aku ke dalam!" kata Abdul.

"Ok...aku ikut Abdul ke dalam rumah," kata Budi.

Budi dan Abdul, ya beranjak dari duduknya dan bergerak ke dalam rumah, ya langsung ke ruang makan. Budi pun duduk dengan baik, ya dekat meja makan. Abdul pun membuka tudung saji.

"Silakan makan Budi. Cuma ada lauk ikan asin, sambal, dan rebusan daun singkong. Nasi sih banyak sih. Ya tinggal ada ini. Karena habis di makan aku dan keluarga. Mau beli makan ini dan itu, ya malam Budi," kata Abdul.

"Ini saja aku sudah bersyukur banget. Teringat masa kecil, ya makan apa adanya yang penting perut kenyang. Maklum keadaan masih miskin," kata Budi.

"Sama aja dengan aku....Budi. Aku pun menerima keadaan, ya keluarga miskin. Tetap keluarga berusaha dengan sebaik mungkin di jalan baik," kata Abdul.

"Kalau begitu aku makan, ya Abdul!" kata Budi.

"Iya. Aku tinggal, ya Budi!' kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

Abdul pun meninggalkan Budi yang sedang asik makan. Abdul pun duduk di depan rumah. Eko pun sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumahnya Abdul. Eko pun duduk dengan baik bersama Abdul.

"Ngomong-ngomong Abdul. Budi mana? Motornya ada, ya orangnya enggak ada?" kata Eko.

"Budi sedang makan di dalam," kata Abdul.

"Emmmm kebiasaan. Dari kecil sampe dewasa kerjaannya Budi. Laper aja tuh perut Budi," kata Eko.

"Maklum saja kebiasaan Budi," kata Abdul.

"Iya sih. Maklum kebiasaan Budi," kata Eko.

"Main kartu remi!" kata Abdul.

"Ok sih main kartu remi. Ngomong-ngomong...urusan kisah cinta Abdul dengan Putri gimana?" kata Eko.

"Ya....urusan kisah cinta aku dengan Putri. Ya jalan begitu-begitu saja. Aku di Bandar Lampung, ya Putri di Jakarta. Tidak ada ikatan lagi, ya sekedar teman," kata Abdul sambil mengambil kartu remi di bawah meja dan segera di kocok dengan baik kartu remi

"Teman," kata Eko.

"Emmm," kata Abdul.

Abdul membagikan kartu remi dengan baik. Abdul dan Eko main kartu remi dengan baik pula. Selang beberapa saat. Budi, ya selesai makan.

"Kenyang," kata Budi. 

Budi membereskan semuanya dengan baik, ya setelah itu ke depan rumah. Budi pun duduk bersama dengan Eko dan Abdul. Ya Eko dan Abdul, ya masih asik main kartu remi gitu.

"Makannya enak Budi?" kata Eko.

"Makannya enak banget," kata Budi.

"Emangnya Abdul masak apa?" kata Eko.

"Aku tidak masak. Makan yang ada saja. Cuma ikan asin, sambal dan rebusan daun singkong saja," kata Abdul.

"Oooo makan yang biasa di makan di rumah Budi juga seperti yang ada di rumah Abdul," kata Eko.

"Ya di rumah aku kan cuma ada itu. Ya aku juga bersyukur. Di rumah Eko juga sama aja sih," kata Budi.

"Di rumah aku. Ya beda lah. Tempe goreng, sambal, dan lalapan terong," kata Eko.

"Bedanya tempe goreng dan juga lalapan terong toh," kata Budi.

"Yang di bahas makan yang biasa. Kali-kali makan enak banget gitu. Ayam bakar," kata Abdul.

"Ayam bakar memang enak di rumah makan, ya aku pernah nyobain sih," kata Budi.

"Aku juga pernah ngobain makan ayam bakar di rumah makan, ya masakan memang sip, ya ayam bakarnya benar-benar enak," kata Eko.

"Kalau di bahas bener-bener. Makin jadi laper tahu," kata Abdul.

"Ya begitu lah," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

Permain kartu remi yang menang Abdul. Eko, ya mulai mengocok kartu remi. 

"Budi ikutan main kartu remi apa tidak?" kata Eko.

"Ikutan lah!" kata Budi.

Eko membagikan kartu remi dengan baik. 

"Aku mau cerita," kata Budi.

"Cerita tentang apa?" kata Abdul.

"Ceritanya mungkin seperti biasanya," kata Eko.

"Cerita tentang sebuah tokoh cewek yang cantik," kata Budi.

"Kalau urusan cerita tokoh cewek yang cantik, ya lain kali aja!" kata Abdul.

"Kebiasaan Budi. Tidak jauh-jauh dari urusan cewek ini dan itu, ya jadi bahan cerita, ya bahan obrolan. Aku setuju dengan Abdul. Lain kali ceritanya Budi!" kata Eko.

"Ok lain kali aku ceritanya!" kata Abdul

Ketiganya, ya main kartu remi dengan baik lah.

Thursday, February 24, 2022

SATU YANG BENAR

Malam yang tenang di lingkungan sekitar rumah Eko. Ya Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan lah.

"Eko. Aku mau tanya sesuatu?" kata Budi.

"Tanya apa?" kata Eko.

"Sekedar obrolan saja sih," kata Budi.

"Kita ini lulusan SMA. Ya sekedar obrolan saja. Beda dengan lulusan Universitas, ya seperti orang-orang Tv yang membahas ini dan itu, ya sampai urusan perang ini dan itu. Berita ini dan itu sih. Pokok yang di  bahas, ya di sesuai dengan keilmuan orang-orang yang membahas," kata Eko, 

"Kenapa.....orang-orang sering menyebutkan 'La illaha illallah' yang artinya pake Bahasa Indonesia 'Tiada Tuhan Selain Allah'....?" kata Budi.

"Mungkin karena dari awalnya agama di bentuk, ya buatnya pernyataan 'Tiada Tuhan Selain Allah', ya berarti di tegaskan dengan baik Tuhan itu, ya Allah. Sampai sekarang terus-terus pernyataan itu dalam bentuk zikir," kata Eko.

"Apa karena berkaitan dengan agama lain, ya Tuhannya kan namanya beda dengan ajaran agama lain?" kata Budi.

"Mungkin sih karena berkaitan dengan agama lain. Zaman dulukan Tuhan-nya yang di sembah manusia, ya berhala. Patung-patung yang di buat manusia, ya di Tuhan kan dengan baik dan di sembah sama manusia. Zaman jahiliyyah, ya zaman kebodohan. Ya manusia yang bodoh, ya pasti bisa kembali menyembah patung ini dan itu, ya dengan alasan ini dan itu sih. Maka itu pernyataan 'La illaha illallah' yang artinya 'Tiada Tuhan Selain Allah', ya terus di ucapkan dengan baik lewat zikir dan adzan, ya menyadarkan manusia saja sih. Bagi yang mengikuti ajaran agama Islam, ya sadar sih. Bagi ajaran agama lain, ya mana aku tahu sih....sadar atau tidaknya?" kata Eko.

"Tujuannya menyadarkan manusia bahwa Tuhan itu Allah," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Emmmm," kata Eko.

"Para utusan yang di utus Allah, ya tujuannya untuk membimbing manusia berjalan di jalan kebaikan, ya kan Eko?" kata Budi.

"Ya....memang sih. Para utusan yang di utus Allah, ya tujuannya untuk membimbing manusia berjalan di jalan kebaikkan. Bagi yang sadar, ya berjalan di jalan kebaikan. Bagi yang tidak sadar, ya jojong saja....di jalan keburukan, ya contohnya : penjahat yang kerjaannya merugikan orang lain. Dirinya tidak ingin di rugikan sama orang lain, ya tapi ternyata dirinya merugikan orang lain," kata Eko.

"Karena utusan Allah itu banyak. Manusia yang menyakini ajaran agama, ya jadinya terpecah belah dengan membentuk agama sendiri-sendiri berdasarkan para utusan. Lalu utusan yang terakhir, ya menyatukan dalam satu ajaran saja karena perintah Allah, ya agar mudah menjalankan agama. Gimana Eko?" kata Budi.

"Ya bisa di bilang sih...awal sampai akhir, ya satu yang benar," kata Eko.

"Emmm. Lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok....main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan lah.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK