CAMPUR ADUK

Monday, October 11, 2021

KAYA PERMAINAN CATUR

Eko dan Budi duduk depan rumahnya Eko, ya menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Politik," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng beserta cabe di piring, ya di makan tahu goreng beserta cabe rawit lah.

"Ada apa dengan politik?!" kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng beserta cabe rawit di piring, ya di makan bakwan goreng berserta cabe rawit lah.

"Berita di Tv, ya tentang pergerakan politik," kata Budi.

"Pergerakan politik. Ah lumrah itu mah. Urusan orang-orang yang punya kepentingan yang ingin jadi pemimpin di negeri ini," kata Eko.

"Iya sih. Urusan orang yang punya kepentingan sih," kata Budi.

"Lagian aku dan Budi, ya hanya lulusan SMA. Kurang memahami politik lah. Yang tahu cuma berita di Tv dan pergerakan masyarakat yang berkaitan dengan orang-orang yang ikut dalam pergerakan politik, ya tujuannya menghimpun kekuatan ini dan itu," kata Eko.

"Memang sih aku dan Eko, ya cuma lulusan SMA. Kurang memahami politik lah. Tapi kan kita ini jadi target, ya pemuda milinial. Tujuannya orang-orang yang bergerak di politik, ya memberikan keyakinan pada pemuda milinial tentang partai politik ini dan itu, ya kinerja baik gitu. Agar ketika waktunya pemilu, ya meraup suara terbanyak, ya jadi pemenang dalam pemilu," kata Budi.

"Memberikan nilai kepercayaan pada orang-orang, ya kita ini. Bahwa partai politik, ya kinerja bagus. Dan harapan tingginya, ya menang di pemilu sih," kata Eko.

"Kadang di pikir dengan baik kaya permainan catur yang sering kita main kan dengan baik, ya Eko?!" kata Budi.

"Iya sih. Kalau di baca dengan menggunakan permainan catur, ya pergerakan partai politik, ya kayanya permainan catur. Strategi dalam menjalankan pergerakan ini dan itu," kata Eko

"Kata berita di Tv, ya tujuannya memanaskan mesin politik dengan baik," kata Budi.

"Jadi panas deh," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Gerah banget. Panas keadaanya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kebanyakan di Tv sih yang ngomongin tentang politik, ya orang-orang lulusan Universitas. Jadi omongannya berbobot gitu, ya beda dengan aku lulusan SMA. Omongannya aku tentang politik, ya ala kadarnya saja," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih. Yang ngomong di Tv itu, ya orang-orang lulusan Universitas, ya jadinya omongan tentang politik, ya berbobot sih dengan baik. Beda dengan aku juga sih Eko, ya hanya lulusan SMA," kata Budi.

"Budi lebih baik ngomongin lain saja!" kata Eko.

"Ngomongin lain. Paling artis yang beritanya kontrafersi ini dan itu, ya di berita kan dengan baik di Tv," kata Budi.

"Artis," kata Eko.

"Baik dan buruk di beritakan, ya naik beritanya sih kalau artis yang di beritakan," kata Budi.

"Apalagi artis yang ikut dalam pergerakan politik, ya ada di dalam partai politik. Ya menaikin berita tentang partai politik yang ini lah yang itu lah," kata Eko.

"Masih ada kaitannya ke politik juga, ya partai politik. Orang kepentingan," kata Budi.

"Jadinya kaya permainan catur juga deh urusan artis yang kontrafersi ini dan itu," kata Eko.

"Iya juga sih. Di pikir dengan baik. Seperti permainan catur saja," kata Budi.

"Sampai urusan berita konflik antara manusia dengan manusia, ya dari berita di Tv sih. Ya seperti permainan catur saja," kata Eko.

"Ya sudahlah lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur saja!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

TEMAN CURHAT

Budi duduk di depan rumah sedangkan main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Teman Curhat' :

Ku tatap wajahmu
Saat pertama kita bertemu
Terasa bergetar jiwaku
Saat kau tersenyum padaku
Menawan indah lekuk
Dirimu seakan mengisyaratkan
Dekatlah padaku
Semua hilang
Seketika saat dia berkata
Aku sudah ada yang punya
Dia bukan milikku
Dia hanyalah kenangan indah
Yang melintas di mataku
Aku bukanlah kekasihmu
Aku hanyalah seorang teman curhat
Semua hilang seketika
Saat dia berkata
Aku sudah ada yang punya
Dia bukan milikku
Dia hanyalah kenangan indah
Yang melintas di mataku
Aku bukanlah kasihmu
Aku hanyalah teman curhatmu
Aku bukanlah kasihmu
Aku hanyalah teman curhatmu

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya di halaman depan rumah Budi. Abdul duduk dengan baik. Budi selesai menyanyikan dan main gitar.

"Eko main kesini...Budi?!" kata Abdul.

"Eko nggak main kesini. Ada urusan sama Pamannya Eko," kata Budi.

"Oooo Eko tidak main kesini ada urusan dengan Pamannya Eko," kata Abdul.

"Enak ya kalau ada teman curhat," kata Budi.

"Teman curhat. La...aku ini di anggap apa?!" kata Abdul.

"Teman sih Abdul. Memang kadang aku curhat, ya urusan ini dan itu sama Abdul. Tapi kan yang aku maksud teman curhatnya itu cewek," kata Budi.

"Itu mah motifnya Budi saja teman curhat. Ya ujung-ujungnya teman curhat, ya cewek sih di jadiin pacar," kata Abdul.

"Memang tujuannya itu sih teman curhatnya cewek, ya di jadiin pacar. Tahu aja Abdul," kata Budi.

"Aku kan tahu kartunya Budi lah. Teman baik, ya mana mungkin tidak tahu kebiasaan teman yang ini lah yang itulah," kata Abdul.

"Ya deh. Teman baik.Pada akhirnya aku masih jomlo, ya berusaha sebaik mungkin mendapatkan cewek yang aku sukai," kata Budi.

"Aku mengerti keadaan Budi," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

"Aku mengomong sesuatu pada Budi," kata Abdul.

"Laaaah dari tadi ngomong. Ya ngomong aja!" kata Budi.

"Aku cerita tentang aku.Ya Aku kenalan dengan cewek cantik banget, ya sampai temuan di rumah tuh cewek sih. Yang bikin aku minder sama cewek yang aku kenal itu. Ya status pendidikannya," kata Abdul.

"Inimah curhat Abdul," kata Budi.

"Bukan curhatnya aku. Tapi curhatnya ke Mamah Dedeh!" kata Abdul.

"Malah becanda," kata Budi.

"Ok. Ok. Tidak becanda. Ya cewek itu statusnya kuliah gitu. Sedangkan aku cuma lulusan SMA saja, ya minderlah status pendidikan," kata Abdul.

"Kalau minder karena status pendidikan, ya sama aja minder dengan kecerdasaan cewek yang berpendidikan di Universitas," kata Budi.

"Bisa di bilang begitu sih," kata Abdul.

"Saran aku sih lebih baik jadiin teman saja dari pada jadi pacar," kata Budi.

"Memang sih lebih baik jadi teman saja dari pada pacar. Kalau jauh di lubuk hati, ya aku sih masih penasaran sama Putri, teman kita saat SMA," kata Abdul.

"Putri masih di sukai Abdul. Kemungkinan, ya Abdul. Putri kuliah juga. Abdul minder lagi sama status Putri yang pendidikan di Universitas ternama di Jakarta," kata Budi.

"Iya juga. Putri kuliah di Universitas ternama di Jakarta. Waduh penyakit minder status pendidikan aku ini. Kacau," kata Abdul.

"Saran aku sih. Lebih baik Abdul fokus dengan usaha dengan baik. Kalau berhasil jadi orang kaya, ya Abdul kuliah di Universitas. Jadi jika dapet cewek yang statusnya S1, ya tidak minder lagi," kata Budi.

"Saran Budi di terima. Aku lebih baik fokus dengan usaha ku, ya jadi kaya dan melanjutkan pendidikan ke Universitas demi menghilangkan rasa minder ku pada cewek yang status pendidikannya, ya S1," kata Abdul.

"Ngopi Abdul?!" kata Budi.

"Iya ngopi!" kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng dan cabe rawit di piring, ya di makan dengan baik tahu dan cabe rawit. Budi menaruh gitar di samping kursi dan beranjak dari duduknya ke dalam rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi. Abdul terus makan gorengan dengan cabe rawit. Budi pun selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya kopi di taruh di meja.

"Kopi Abdul!" kata Budi.

"Iya," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minumlah kopi dengan baik. 

"Gimana kalau ngomongin artis cewek Indonesia yang cantik dan juga seksi gitu," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Itu sih maunya Budi. Ya selera Budilah. Ngomongin artis cewek Indonesia yang cantik dan juga seksi....penampilannya saat tampil di layar kaca televisi," kata Abdul.

"Ya sudahlah kalau Abdul tidak suka ngomongin tentang artis cewek, ya lebih baik kita ngapain ya?!" kata Budi.

"Nonton Tv, ya acara olahraga atau main catur?!" kata Abdul.

"Nonton Tv acara film atau sinetron," kata Budi.

"Yang pasti Budi!" kata Abdul.

"Main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur," kata Abdul.

Budi telah menaruh papan catur di meja. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Sunday, October 10, 2021

HUKUM

Budi dan Eko duduk depan rumah, ya sambil menikmati gorengan dan minum kopi.

"Eko. Cerita Si Kancil," kata Budi.

"Ada apa dengan cerita Si Kancil?!" kata Eko.

"Sebenarnya sih cerita Si Kancil mencuri timun di ladang pertaniannya Pak Tani. Itu sih sekedar cerita saja. Kenyataannya, ya ada sih manusia yang mencuri di kebon orang gitu, ya contoh saja pisang," kata Budi.

"Oooo cerita kenyaataan. Tentang manusia mencuri toh," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng dengan cabe rawit di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng dan cabe rawit.

"Pencuri itu tertangkap sama pemilik kebon pisang," kata Budi.

"Pencuri di adili sama pemilik kebon pisang," kata Eko.

"Iya sih di adili sama pemilik kebon pisang. Pencuri itu membela dirinya dengan menggunakan alasan ajaran agama islam," kata Budi.

"Pencuri itu bodohlah membela diri pake ajaran agama islam," kata Eko.

"Kok bodoh pencuri itu membela dirinya pake ajaran agama islam?!" kata Budi.

"Kalau pake ajaran agama islam. Pemilik kebon pisang, ya akan bertindak dengan ajaran agama islam mengadili pencuri itu. Jadi perkara pencurian bisa saja di tegaskan dengan cara memotong tangannya pencuri itu," kata Eko.

"Pencurinya benar-benar bodoh," kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng beserta cabe rawit di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng dan cabe rawit.

"Maka itu mintalah pengadilan yang ada di negeri ini, ya hukuman bisa ringan lah," kata Eko.

"Hukum agama islam di tegas kan. Gigi di bayar gigi. Darah di bayar darah," kata Budi.

"Banyak orang bersumpah di kitab suci agama saat di jabat jadi pemimpin. Ketika bersalah pemimpin itu, ya harusnya di adili dengan hukum agama karena dasar sumpahnya," kata Eko.

"Iya juga ya. Seharusnya pemimpin yang bersalah di hukum berdasarkan hukum agama karena sumpahnya pada kitab suci agama," kata Budi.

"Hukum yang di jalankan pake hukum negeri ini. Ya ringanlah hukumannya, ya bagi pemimpin yang bersalah," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya segera di minum dengan baik.

"Pantes hukum di negeri ini beritanya, ya begini dan begitu.....heboh sih jadinya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi sih. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Aku dan Budi, ya cuma lulusan SMA. Kurang ilmulah pemahaman tentang hukum. Yang tahu hukum ini dan itu lebih jelasnya sih, ya lulusan Universitas, ya bidang hukum lah," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Aku dan Eko memang lulusan SMA. Beda dengan lulusan Universitas yang tahu ini dan itu. Pada akhirnya ini sekedar obrolan saja kan....Eko?!" kata Budi.

"Memang sekedar obrolan saja!" kata Eko.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur saja!" kata Eko.

Ya Budi telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja, ya papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun bidak catur di papan catur dengan baik. Keduanya main catur dengan baik lah.

KENANGAN MANIS

Budi dan Eko pergi ke rumah Abdul, ya dengan motor sendiri-sendiri. Sampai di rumah Abdul, ya Budi dan Eko memarkirkan motornya di halaman depan rumah Abdul. Budi dan Eko, ya mau mengetuk pintu sih. Ibu Abdul membuka pintu dan berkata "Abdul belum pulang. Budi dan Eko nunggu Abdul di ruang tamu!"

"Iya Ibu," kata Budi dan Eko bersamaan. 

Budi dan Eko masuk ke dalam rumah, ya duduk di ruang tamu. Ibu Abdul masuk ke dalam rumah, ya ngurusin uruan kerjaan yang belum selesai. 

"Kerjaan Abdul...repot, ya Eko?!" kata Budi.

"Nama juga membangun usaha. Ya repot lah," kata Eko. 

Sebenarnya Budi mau main gitar sih karen ada gitar Abdul di taruh di kursi. Ternyata motor Abdul sudah masuk halaman depan rumah, ya di parkir dengan baik. Abdul masuk rumah dan berkata "Budi dan Eko...sudah lama nunggunya?"

"Ya lumayan sih," kata Eko.

"Lumayan nunggunya," kata Budi.

Abdul duduk dengan baik. 

"Eko, Budi, makan dulu yuk. Aku lima bungkus nasi goreng. Tiga bungkus untuk kita dan dua bungkus lagi untuk Ayah dan Ibu," kata Abdul.

"Di tawarin makan, ya aku terimalah. Nama juga rezeki," kata Budi.

"Rezeki tidak boleh di tolak, ya pamali kata orang tua," kata Eko.

Abdul memberikan satu bungus nasi goreng sama Budi dan satu bungkus sama Eko. Abdul pun menaruh satu bungkus nasi goreng di meja. Abdul beranjak dari duduknya, ya ke dalam rumah. Dua bungkus nasi goreng di taruh di meja makan. Ibu Abdul sedang mengerjakan kerjaannya, ya menjahit di ruang tengah. Abdul mengambil piring dan sendok, ya di bawa ke ruang tamu. Sampai di ruang tamu, ya Abdul memberikan piring dan sendok pada Budi dan Eko. Ketiganya mulai membuka nasi goreng, ya di alaskan piring masing-masing, ya segera di makan dengan baik nasi goreng yang enak itu.

"Kalau zaman masih sekolah SMA. Kita makan nasi goreng, ya satu bungkus bertiga," kata Budi.

"Iya kaya orang pacaran saja," kata Eko.

"Kenangan masa SMA yang tidak bisa terlupakan," kata Abdul.

Abdul, Eko dan Budi, ya menikmati makan nasi goreng dengan baik baik, ya sampai habis nasi goreng itu dan perut ketiganya kenyang. Abdul mengambil air minum aqua di bawah meja dan di berikan Budi dan Eko. Ketiganya minum aqua dengan baik.

"Dari zaman masih sekolah SMA, ya nasi gorengnya tetap enak," kata Budi.

"Pinter yang membuat nasi gorengnya lah," kata Eko.

"Penjual nasi goreng, ya di jalanin dengan baik usahanya untuk menangulangi ekonomi keluarga dengan baik pula," kata Abdul.

"Oooo iya. Abdul giman kerjaan Abdul?!" kata Budi.

"Syukur alhamdulillah, ya usaha di jalan dengan baik dan di doain dengan baik, ya jalannya pasti baik," kata Abdul.

"Alhamdulillah..jalannya baik," kata Budi dan Eko bersamaan.

"Jadi main remi dulu apa bernyanyi, ya sambil di iringi gitar?!" kata Abdul, ya sambil mengambil gitar di kursi dan ingin di mainkan sih.

"Nyanyi dululah saja!" kata Budi.

"Aku ikut saja," kata Eko.

"Nyanyi lagu apa ya?!" kata Abdul berpikir dengan baik.

"Kenangan Manis saja!" kata Budi.

"Ok. Kenangan Manis," kata Abdul.

"Aku ikut saja," kata Eko.

Abdul main gitarnya dan bernyanyi, ya bersama Budi dan Eko.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul, Budi dan Eko dengan judul 'Kenangan Manis' :

Tawa yang terlepas tanpa ada makna
Cerita lama yang selalu dibawa
Diam-diam hati ini mengerti
Teringat dan jadi ciri tentangmu, tentangmu
'Tuk sementara, sampai berjumpa
Bersama-sama, bercanda lagi
Kenangan manis di hari ini
Jadi alasan untuk kembali
Semua mimpi tinggi dan segala drama
Dijadikan canda, dikeluh bersama
Terkadang-kadang mata bicara
Seakan-akan semua rahasia
Oh, kebodohan antara kita jadi kenangan manis
'Tuk sementara, sampai berjumpa
Bersama-sama, bercanda lagi
Kenangan manis di hari ini
Jadi alasan untuk kembali
'Tuk sementara, sampai berjuma
Bersama-sama, bercanda lagi
Kenangan manis di hari ini
Jadi alasan untuk kembali
Kenangan manis sehari ini
Jadi alasan untuk kembali (alasan untuk kembali)
Yeah, jadi alasan untuk kembali

***

Abdul, Budi dan Eko selesai bernyanyi, ya Abdul selesai main gitar lah.

"Kenangan itu ada yang buruk ada yang baik kan?!" kata Budi.

"iya memang sih. Kenangan memang ada yang buruk dan baik," kata Eko.

"Kenangan buruk, ya pait berusaha di lupakan dengan baik. Sedangkan kenangan yang baik, ya bisa di bilang kenangan manis, ya tetap di ingat dengan baik dan berusaha tidak di lupakan," kata Abdul.

"Kenangan manis kita bertiga saat SMA, ya sama-sama menyukai satu cewek cantik," kata Budi.

"Putri," kata Abdul.

"Aku sudah lupa tentang Putri," kata Eko.

"Eko. Mentang-mentang sudah jadian sama Purnama. Cerita tentang cewek di masa SMA di lupakan," kata Budi.

"Kan aku tidak ikutan untuk main mendapatkan cinta Putri. Abdul dan Budi yang memaksa aku untuk mainan mendapatkan cinta Putri," kata Eko.

"Memang sih aku dan Budi, ya memaksa Eko untuk ikutan mendapatkan cintanya Putri," kata Abdul.

"Tetap saja Eko setia kawan kan. Jadi ikutan," kata Budi.

"Iya deh aku ikutan mendapatkan cinta Putri di masa SMA. Pada akhirnya. Kita tidak ada mendapatkan cinta Putri," kata Eko.

"Belum sempat menyatakan cinta sama Putri. Ya Putri keburu pindah sekolah, ya karena urusan orang tuanya kerja ke Jakarta," kata Budi.

"Memang gagal mendapatkan cinta Putri sih. Kenangan itu manis kalau di kenang dengan baik, ya Putri kan cewek cantik gitu," kata Abdul.

"Kayanya Abdul. Masih menyimpan rasa cintanya sama Putri," kata Budi.

"Kalau itu sih aku tidak ikutan lagi," kata Eko.

"Hanya cinta di masa SMA. Sekarang sudah lulus SMA, ya fokus dengan urusan kerjaan. Merubah nasif dari orang miskin jadi orang yang mampu dengan baik," kata Abdul.

"Kalau masih berjodoh pasti bertemu dengan Putri," kata Budi.

"Yang bertemu dengan Putri, ya kemungkinan sih Erwin. Kan Erwin di Jakarta," kata Eko.

"Iya juga sih. Erwin bisa bertemu dengan Putri di Jakarta," kata Budi.

"Sudahlah ngomongin Putri. Lebih baik. Main kartu remi saja!" kata Abdul sambil menaruh gitar di kursi kosong.

"Ok. Main kartu remi," kata Eko.

"Main kartu remi," kata Budi.

Abdul sudah mengambil kartu remi di bawah meja dan segera di kocok dengan baik, ya kartu remi. Kartu remi di bagikan dengan baik sama Abdul. Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya permainannya cangkulan lah.

Saturday, October 9, 2021

HIDUP BEGINI-BEGINI SAJA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Hidup rasanya begini-begini saja," kata Budi.

Budi mengambil tempe goreng, ya serta cabe rawit di piring, ya tempe goreng dan jugs di makan Budi lah.

"Hidup begini-begini rasanya karena Budi masih sendiri. Kalau sudah punya cewek, ya rasanya hidup ini ada artinya," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng, ya serta cabe rawit di piring, ya bakwan goreng dan cabe rawit di makan Eko lah.

"Memang sih. Kalau sudah punya cewek, ya hidup ini ada artinya. Ya aku masih jomlo, ya lagi berusaha dengan baik mendapat cewek yang jadiin pacar, " kata Budi.

"Ada cerita. Kalau salah memilih cewek,  ya hidup jadi ya kecewa," kata Eko. 

"Memang sih Eko. Ada cerita. Kalau salah milih cewek, ya hidup jadi ya kecewa. Sebaliknya juga dengan cewek salah memutuskan cowok jadi kekasih, ya jadi ya hidup ini penuh dengan derita banget, ya kecewa. Cerita kenyataan, ya sinetron sampai film," kata Budi. 

"Pilih cewek yang punya akhlak yang baik, ya agar tidak kecewa," kata Eko. 

"Memang sih pilih cewek yang akhlaknya baik, ya agar tidak kecewa. Kaya Eko memilih cewek dari akhlaknya, ya Purnama, ya jadinya pilihan Eko baik, ya tidak ada rasa kecewa," kata Budi. 

"Itu pun aku, ya doa dan usaha dengan baik, ya sampai akhirnya keputusan ku tepat memilih Purnama, ya tetap aku harus membimbing dan menjaganya dengan baik karena aku pemimpin, ya suatu saat menjalankan rumah tangga," kata Eko. 

"Urusan cinta tetap saja ada ujiannya," kata Budi. 

"Memang sih. Urusan cinta itu ada ujiannya dari hal kecil sampai hal besar, ya sampai putus karena kesalahan orang lain atau kesalahan diri sendiri," kata Eko. 

Eko mengambil gelas yang berisi kopi di meja, ya di minumlah kopi dengan baik. 

"Kebanyakan kesalahan diri sendiri. Keegoisan diri yang tidak di sadari, ya menyatakan benar padahal salah," kata Budi. 

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Ego. Kenyataannya memang," kata Eko. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Karena...egolah. Urusan cinta jadi busuk seperti buah yang terlihat bagus di luar ternyata di dalamnya busuk," kata Budi. 

"Emmm," kata Eko. 

"Oooo iya Eko gimana dengan bantuan pemerintahan untuk orang-orang menjalankan usaha kecil, ya berita di Tv lah?!" kata Budi. 

"Sebagai pemuda yang lulusan SMA sih, ya bagus saja sih bantuan dari pemerintahan untuk orang yang menjalankan usaha kecil," kata Eko. 

"Aku dan Eko, ya lulusan SMA. Menanggapi berita di Tv tentang orang-orang yang mendapatkan bantuan pemerintahan, ya usaha kecil, ya bagus sih," kata Budi. 

"Kadang di pikir dengan baik. Lulusan SMA memang omongannya di denger sama pejabat, ya sebagai masukan atau pujian dari kerjaan pemerintahan yang baik. Malahan yang lebih banyak lulusan Universitas karena kemampuannya dapat meneliti ini dan itu dengan baik," kata Eko. 

"Iya sih Eko. Lulusan SMA, ya ilmunya masih kurang dari lulusan Universitas. Ya kurang di denger sama pejabat pemerintahanlah," kata Budi. 

"Karena keadaanlah. Aku tidak melanjutkan pendidikan, ya padahal ingin sih melanjutkan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan ku, ya mengikuti perkembangan zaman," kata Eko. 

"Aku mengerti keadaan Eko. Kalau sih Eko, ya tidak ingin melanjutkan pendidikan. Sudah cukup aku lulusan SMA dan juga sudah mendapatkan kerjaan yang baik, ya walau gajinya kecil, ya aku bersyukur dengan baik," kata Budi. 

"Aku sama dengan Budi, ya syukur sudah kerja dan juga gaji kecil. Kadang ada sih harapan mengubahnya, ya agar jadi orang kaya dengan cepat," kata Eko. 

"Tetap berdoa dan usahakan Eko, ya agar harapan tercapai," kata Budi. 

"Berdoa dan berusaha, ya agar segala hal yang di harapan jadi menyatakan dengan baik," kata Eko. 

"Main catur saja!" kata Budi. 

"Ok. Main catur!" kata Eko. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. 

MENGIKUTI PERUBAHAN ZAMAN

Budi duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopi dan juga makan gorengan. 

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Ngobrol Di Warung Kopi' :

Nongkrong di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil
Sambil minum kopi ngobrol sane-sini
Sambil ngaduk-ngaduk kopi
Eh jangan bawa ke hati (ke jantung bolehlah)
Boleh kita berbeda pilih pemimpin (asal yang bener)
Tapi kalau NKRI sudah harga mati (gak bisa ditawar)
Nongkrong di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil
Hai kau pemuda, ayo naik kuda (dari pada naik odong-odong)
Hai kau pemudi, boleh juga nyoba (ya nyoba odong-odong)
Mari kita bersatu
Serta waspada
Mengobarkan semangat perang
Melawan narkoba (setuju, koruptor juga ya)
Nongkrong di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil
Bukannya mau usil

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya markirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi lah. Abdul duduk dengan baik. Budi telah selesai menyanyi dan main gitarnya.

"Budi. Eko main kesini?!" kata Abdul.

"Eko lagi ada urusan dengan Purnama, ya biasa urusan cinta. Apalagi hari ini malam minggu," kata Budi.

"Oooo Eko ada urusan sama Purnama," kata Abdul.

"Gimana dengan kerjaan mu Abdul?!" kata Budi.

"Baiklah," kata Abdul.

"Gimana dengan keamanan di pasar?!" kata Budi.

"Keamanan di pasar sih di jaga dengan baik sih. Tujuannya jaga-jaga dari orang-orang belinger gitu, ya berbuat kejahatan dari mencuri dan menipu," kata Abdul.

"Oooo iya Abdul. Yang dagang di pasar, ya ruko gitu. Masih kebanyakan orang cina?!" kata Budi.

"Bertahun-tahun kerjanya orang cina kan dagang di kota Bandar Lampung, ya ruko di pasar gitu. Hasil kerja keras mereka orang cina yang kerja dagang kan ada yang punya rumah mewah, ya di kawan perumahan elit, ya kawasan orang cina lah. Kebiasaannya orang cina," kata Abdul.

"Orang cina itu ada yang baik dan buruk kan...Abdul?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Orang cina itu ada yang baik dan buruk. Sama aja dengan kita yang masih di bilang suku pribumi. Ya ada yang baik dan ada yang buruknya," kata Abdul.

"Jadi yang membentuk orang jadi baik, ya didikan orang tua berdasarkan agama yang di anut dengan baik kan Abdul?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Untuk membentuk orang jadi baik, ya awalnya sih didikkan orang tua dari dasar agama sih," kata Abdul.

"Pergaulan yang membuat orang jadi liar, ya lupa diri," kata Budi.

"Memang pergaulan yang buruk yang membuat orang menjadi liar, lupa diri. Jadinya melanggar aturan dari aturan yang ada di tetapkan di masyarakat untuk kebaikkan bersama," kata Abdul.

"Ngopi nggak Abdul?!" kata Budi.

"Ada lain enggak tawaran minumnya," kata Abdul.

"Ada sih. Susu, teh, dan minum rasa-rasa gitu," kata Budi.

"Minum yang rasa-rasa saja!" kata Abdul.

"Rasa apa yang mau?!" kata Budi.

"Jeruk saja!" kata Abdul.

"Ok!" kata Budi.

Budi beranjak dari duduknya masuk ke dalam rumah, ya bawa gitar sih dan gitar di taruh di meja ruang tamu. Abdul mengambil tahu goreng di piring bersama cabe rawit, ya di makanlah dengan baik tahu goreng dan cabe rawit. Budi membuat minuman dengan rasa jeruk di dapur. Minuman rasa jeruk jadi, ya di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh minuman rasa jeruk di meja.

"Minuman mu Abdul!" kata Budi.

"Iya," kata Abdul.

"Oooo iya Abdul. Gimana tentang usaha orang yang menjalankan usahanya dengan jaringan online?!" kata Budi.

"Usaha yang kaitan dengan jaringan online, ya bagus sih. Barang di antar sampai tujuan dan barang itu sesuai dengan pesan online gitu," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas minuman rasa jeruknya di meja, ya di minum dengan baik.

"Bagus toh. Usaha yang kaitan dengan jaringan online di kota Bandar Lampung ini," kata Budi.

Abdul menaruh gelas minumannya di meja.

"Kerjaan sekarang sih, online ini dan itu. Mengikuti perubahan zaman sih," kata Abdul.

"Majunya suatu kota, ya harus mengikuti perubahan zaman. Teknologi ini dan itu," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul.

"Ya sudahlah. Lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Abdul.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Abdul, ya menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baiklah.

Friday, October 8, 2021

TERBANG

Eko duduk di depan rumah sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Terbang' :

Bias sinar di matamu
Indah tebarkan cinta
Semerbak kasihmu
Luluhkan relung hitam
Oh, melati mekar mewangi
Menebarkan seri
Masa indah, masa biru
Masa bersemi
Kuingin terbang bersamamu
Dan gapai mentari
Tak ingin lepas, tak menentu
Jiwa dan batinku
Terangi rasa hatiku
Yang membeku
Tebari bunga jalanku yang lugu
Untuk diriku, oh-oh (untuk diriku)
Takkan sedih, kumenangis
Takkan pula tertawa
Bayangmu 'kan s'lalu bersinar
Walau waktu berjalan (oh-oh-oh)
Oh, melati mekar mewangi
Menebarkan seri
Masa indah, masa biru
Masa bersemi
Kuingin terbang bersamamu
Dan gapai mentari
Tak ingin lepas, tak menentu
Jiwa dan batinku
Terangi rasa hatiku
Yang membeku, oh-oh
Tebari bunga jalanku yang lugu
Untuk diriku, oh-oh-oh-oh
Kuingin terbang, terbang
Uh-ho-ho-oh-ho-oh
Kuingin terbang bersamamu
Dan gapai mentari
Tak ingin lepas, tak menentu
Jiwa dan batinku
Terangi rasa hatiku
Yang membeku, oh-oh
Tebari bunga jalanku yang lugu
Oh, melatiku, oh-oh, untuk diriku
Bias sinar di matamu
Indah tebarkan cinta

***

Budi sampai di rumah Eko, ya motor di parkirkan dengan baik di halaman depan rumah Eko. Budi duduk dengan. Eko selesai menyanyikan lagu dan main gitar.

"Eko nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagunya The Fly yang berjudul 'Terbang'...," kata Eko.

"Oooooo 'Terbang'. Ya jika punya kekasih rasa ingin terbang bersamanya," kata Budi.

"Di cari dong Budi ke kasih itu!" kata Eko.

"Eko. Lagi di usahakan. Emangnya segampang beli permen di warung," kata Budi.

"Iya deh. Urusan cewek itu tidak segampang beli permen di warung," kata Eko.

"Kadang aku yang menyesuaikan diri dengan cewek. Kadang cewek menyesuaikan diri dengan aku, ya agar kelop gitu. Pada akhirnya. Tetap aku gagal juga meluluhkan hati cewek," kata Budi.

"Kasihan teman ku, Budi. Kegagalan dalam meluluhan hati cewek, ya di jadikan pacar," kata Eko.

"Kalau Eko, ya sudah enak bersama Purnama. Jalan cinta Eko dan Purnama, ya terasa terbang bersama, ya melihat seisi dunia ini," kata Budi.

"Siapa yang terbang aku dan Purnama? Aku dan Purnama masih memijak bumi ini!" kata Eko.

"Emmmm omongan ku di patahkan sama Eko. Lagian di umpamakan terbang. Malah masih memijak bumi ini!" kata Budi.

"Becanda...Budi!" kata Eko.

"Iya aku mengerti," kata Budi.

"Nyopi nggak Budi?!" kata Eko.

"Bolehlah!" kata Budi.

"Nunggu ya. Aku buatin," kata Eko.

"Iya. Aku tunggu. Aku pinjem gitarnya Eko!" kata Budi.

"Nie....gitarnya," kata Eko sambil memberikan gitar sama Budi.

Budi mengambil gitar di tangan Eko. Ya Eko ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Budi main kan gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Cari Jodoh' :

Apa salahku? Apa salah ibuku?
Hidupku dirundung pilu
Tak ada yang mau dan menginginkan aku
'Tuk jadi pengobat pilu
'Tuk jadi penawar rindu
'Tuk jadi kekasih hatiku
Timur ke barat, selatan ke utara
Tak juga aku berjumpa
Dari musim duren hingga musim rambutan
Tak kunjung aku dapatkan
Tak jua aku temukan
Oh, Tuhan, inikah cobaan?
Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah malu sama teman-temanku
Karena cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman, siapa yang mau bantu tolong aku
Kasihani aku, tolong carikan diriku kekasih hatiku, siapa yang mau?
Timur ke barat, selatan ke utara
Tak juga aku berjumpa
Dari musim duren hingga musim rambutan
Tak kunjung aku dapatkan
Tak jua aku temukan
Oh, Tuhan, inikah cobaan?
Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah malu sama teman-temanku
Karena cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman, siapa yang mau bantu tolong aku
Kasihani aku, tolong carikan diriku kekasih hatiku, siapa yang mau?
Ibu, bapak, punya anak bilang-bilang aku
Aku yang tengah malu sama teman-temanku
Karena cuma diriku yang tak laku-laku, woo-oh-oh-oh
Pengumuman-pengumuman, siapa yang mau bantu tolong aku
Kasihani aku, tolong carikan diriku kekasih hatiku, siapa yang mau?, woo-oh-oh-oh
'Ku tak laku-laku, woo-oh-oh-oh
'Ku tak laku-laku, woo-oh-oh-oh
'Ku tak laku-laku

***

Eko selesai membuat kopi, ya di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya kopi di taruh di meja sama Eko. Budi masih menyanyikan lagu dan main gitar, ya lagu yang di nyanyikan lagunya Wali dengan judul 'Cari Jodoh'. Eko, ya ikutan bernyanyi sama Budi lah. Sampai akhirnya, ya lagu selesai di nyanyikan Eko dan Budi berhenti bernyanyi, ya gitar berhenti di mainkan sama Budi lah.

"Benar-benar gairah pemuda yang mencari jodoh," kata Eko.

"Ya begitulah Eko. Nama juga jodoh, ya di cari dengan baik. Kaya lagu yang baru aku nyanyikan, ya bersama Eko juga," kata Budi.

"Sebenarnya mendapatkan cewek itu mudah, tapi masalahnya ada pada Budi, ya selera Budi sih yang tinggi banget tidak melihat takaran dari derajat diri Budi," kata Eko.

"Nama juga selera aku....Eko. Aku tetap dengan komitmen akulah. Mendapatkan cewek yang cantik sesuai dengan keinginan aku," kata Budi.

"Keputusan Budi, ya di jalanin dengan baik saja. Sebagai teman sih berdoa saja, ya agar keinginan Budi tercapai," kata Eko.

"Amin," kata Budi.

"Seandainya sudah dapet gimana rasanya menjalankan hubungan dengan cewek yang benar-benar di sukai Budi?!" kata Eko.

"Ya rasanya aku terbang bersama cewek yang aku sukai itu," kata Budi.

Budi menaruh gitar di samping kursi dan mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik.

"Terbang. Memang rasanya memang terbang!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik banget.

CERITA PUTRI DUYUNG

Budi duduk santai di depan rumah sambil menikmati kopi dan makan gorengan. Eko dateng sih ke rumah Budi, ya motor di taruh di halaman depan rumah Budi. Eko pun duduk dengan baik.

"Gorengan," kata Eko.

Eko mengambil tahu gorengan di piring, ya beserta dengan cabe rawit, ya di makan dengan baik tahu goreng dan cabe rawit. Budi, ya ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopilah.

"Tahu goreng ini memang enak," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng dan juga cabe rawit di piring, ya di makan dengan baik. Budi selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh kopi di meja dan berkata Budi "Kopinya Eko!"

"Iya," kata Eko.

Budi duduk dengan baik, ya mengambil bakwan goreng dan juga cabe rawit, ya di makan dengan baik. Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya segera di minum kopi.

"Eko. Putri duyung itu ada apa tidak ya di daerah sini, ya pantai yang masih wilayah Lampung?!" kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Cerita putri duyung pantai di wilayah Lampung, ya gak ada sih," kata Eko.

"Kenapa cerita putri duyung berkembang sangat baik sampai-sampai di buat sinetron sampai filmnya?" kata Budi.

"Karena menceritakan sosok cewek yang cantik, ya setengah ikan sih. Awal cerita kan berasal mitos ini dan itu," kata Eko.

"Kisah cinta putri duyung, ya bagus sih," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Memang kisah putri duyung, ya kisah cintanya bagus sih. Apalagi cerita kisah putri duyung yang misterinya, ya putri duyungnya predator. Serem banget," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi, ya di meja.

"Memang sih aku akui sih cerita misterinya putri duyung, ya predator....bagus sih. Serem pokoknya," kata Budi.

"Kalau aku buat cerita tentang putri duyung, ya cerita seperti ini. Aku dan Budi, ya Abdul juga ada sih. Kita bertiga ke pantai, ya nginep di pantai gitu...bisa di bilang kemping di pinggir pantai. Aku bertemu denga putri duyung, ya di pinggir pantai di wilayah Lampung ini. Pertemuan ku itu hanya sejenak saja. Putri duyung, ya pergi meninggalkan aku, ya berenang mengarungi lautan yang luas kembali ke rumahnya yang berada di dasar lautan. Aku menceritakan kisah bertemu dengan putri duyung sama Budi dan Abdul, ya ternyata Budi dan Abdul tidak percaya dengan cerita ku. Jadi cerita ku di anggap misterilah, ya mitos gitu tentang putri duyung. Gimana Budi dengan cerita ku?!" kata Eko.

"Cerita Eko, ya bagus sih. Misteri putri duyung, ya mitos," kata Budi.

"Kelanjutannya ceritanya. Aku bertemu dengan cewek di jalan, ya mirip dengan putri duyung yang aku temui di pinggir pantai, ya wilayah Lampung lah. Cewek itu ternyata bukan putri duyung, ya hanya mirip saja wajahnya. Aku pun berteman baik dan pada akhirnya menjalin hubungan cinta, ya pacaran," kata Eko.

"Dari misteri cerita putri duyung, ya mitos.....menjadi realita kehidupan. Cewek yang mirip wajahnya. Kadang hal tentang kemiripan wajah, sering terjadi di dunia kenyataan. Seperti cerita tentang cewek yang telah lama meninggal dunia, ya cowoknya menemukan penggantinya dengan menemukan cewek yang mirip dengan wajah ceweknya yang lama meninggal," kata Budi.

"Kembar tapi lain orangtuanya," kata Eko.

"Benar-benar misterinya kehidupan," kata Budi.

"Antara iya dan tidak," kata Eko.

"Sama halnya dengan pemuda yang mampu mendengarkan suara roh. Ya misteri sih. Antara iya atau tidak," kata Budi.

"Kalau cerita tentang pemuda yang dapat mendengarkan suara roh itu benar. Gimana Budi?!" kata Eko.

"Ya berarti ilmu gaib itu ada untuk kita bisa berbicara dengan roh, ya mencari tahu kebenaran masa lalu dan masa depan tentang peradaban manusia yang di tulis di kitab-kitab ajaran agama," kata Budi.

"Ilmu gaib. Bagi yang percaya, ya menyakini kebenarannya. Bagi yang tidak percaya, ya tidak ada masalah," kata Eko.

"Ya sudahlah Eko lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik, ya bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Thursday, October 7, 2021

BERMIMPI

Eko dan Budi duduk depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Mimpi," kata Budi.

"Emangnya ada apa dengan mimpi...Budi?!" kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya berserta cabe rawit di piring di meja, ya di makan lah thu goreng itu beserta cabe lah.

"Aku selalu bermimpi menjadi orang kaya, ya keluar dari kemiskinan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng, ya beserta cabe di piring di meja, ya di makan lah tahu goreng beserta cabe lah.

"Mimpi jadi orang kaya, ya aku juga sama sih Budi untuk keluar dari kemiskinan. Aku terus berusaha menjadi orang mampu," kata Eko.

"Aku sama Eko. Aku berusaha menjadi orang mampu. Walau bantuan dari pemerintahan ada, ya tapi aku di ajarkan sama orang tua untuk menjadi orang yang tidak terlalu berharap bantuan pemerintahan. Selama masih ada ke dua tangan dan kaki, ya sempurna. Aku berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang mampu, ya keluar dari kemiskinan dengan kerja dan kerja, ya kerjanya sangat keras sekali sampai menghasilkan sesuatu yang berbuah manis," kata Budi.

"Orang tua membimbing kita dengan baik kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah. Orang tua membimbing aku dengan baik," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi sih.

"Sekarang ini yang harus aku jaga ialah mimpi seorang gadis yang aku cintai," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi, ya menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Eko. Dulu bermimpi mendapatkan jodoh yang baik, ya ternyata dari usaha dan doa, ya mendapatkan cinta seorang cewek yang baik...Purnama. Maka itu Eko berusaha menjaga mimpi dari seorang cewek yang menaruh harapan besar pada Eko, ya membimbing Purnama. Karena Eko menjadi pemimpinnya Purnama," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Aku memang harus bijaksana dalam menjalankan hubungan cinta ku pada Purnama yang menaruh harapan besar pada ku, ya agar Purnama di bimbing aku dengan baik karena aku pemimpinnya dalam urusan rumah tangga nanti," kata Eko.

"Sedang aku masih bermimpi, ya mendapatkan cewek yang mau di ajak urusan cinta, jadi pacar dan istri lah," kata Budi.

"Aku mengerti keadaan Budi," kata Eko

Eko mengambil gitar di samping kursi, ya di mainkan lan gitar. Eko dan Budi bernyanyi, lagunya Base Jame.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Bermimpi' :

Kala aku sedang sendiri kucoba renungi
Ingin apa aku ini, tak pernah mengerti
Sampai kini kusadari aku tetap tak perduli
Hanya aku jalani hidup ini, ho-eoo yee
Ku duduk dalam sepi, kumelamun sendiri
Mau apa aku ini, tak kupahami
Semua orang pasti ingin dapat raih bahagia
Kalau hanya itu aku pun t'lah mengerti
Kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini ku tak tahu pasti
Aku hanya bisa bermimpi
Ku hanya ingin hidup bahagia oh
Aku hanya bisa bernyanyi
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi, ho-eoo yee
Aku lihat layang-layang dapat terbang tinggi
Namun sesekali goyah dan ia jatuh lagi
Apa mungkin kutemui kunci di hati
Yang 'kan ungkapkan segalanya suatu saat nanti
Kadang-kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini ku tak tahu pasti
Aku hanya bisa bermimpi (bermimpi)
Ku hanya ingin hidup bahagia (sampai akhir nanti)
Aku hanya bisa bernyanyi (dalam hati)
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi
Kadang aku bermimpi, ingin aku miliki
Khayalan yang ada di hati
Bukanlah mimpi, ee-yoo
Bukanlah mimpi, yo-oo
Kadang-kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini 'ku tak tahu pasti, ye-ee (pusing hatiku saat ini)
Bermimpi (bermimpi)
Ku hanya ingin hidup bahagia (sampai akhir nanti)
Aku hanya bisa bernyanyi (dalam hati)
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi
Ho-eyoo ho-eyoo
Bermimpi
Bermimpi

***

Eko dan Budi, ya selesai bernyanyi, ya Eko selesai bermain gitarnya.

"Mimpi itu tujuannya untuk bahagia kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah. Mimpi tujuannya untuk bahagia. Kalau bisa sih mimpi jadi kenyataan gitu," kata Budi.

"Memang sih, mimpi bisa jadi kenyataan. Banyak yang telah membuktikan dari mimpinya menjadi kenyataan," kata Eko.

"Salah satu contohnya : orang yang ingin menjadi penyanyi. Dengan usaha keras dan di sertai doa, ya pada akhirnya jadi penyanyi yang luar biasa di panggung yang megah," kata Budi.

"Jadi bintang, ya bisa di bilang artis," kata Eko.

"Sedangkan aku dan Eko, ya masih bermimpi urusan menjadi penyanyi," kata Budi.

"Karena pilihan kita, ya sekedar menyanyi saja. Kita sibuk menanggulangi urusan ekonomi kita dengan kerja setelah lulus dari bangku SMA. Tujuannya segera keluar dari keadaan kemiskinan untuk menjadi orang mampu," kata Eko.

Eko menaruh gitar di samping kursi.

"Pada akhirnya usaha kita berhasil, ya keluar dari kemiskinan menjadi orang mampu. Impian jadi penyanyi, ya jadinya sekedar saja," kata Budi.

"Lebih baik main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja.

"Ok main catur!" kata Budi.

Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya, ya main catur dengan baik lah.

KULAKUKAN SEMUA UNTUKMU

Eko duduk santai di depan rumah, ya sebenarnya nunggu Budi dateng main ke rumah sih. Eko menyanyikan makan di meja, ya di piring seperti biasanya gorengan gitu dan minumnya kali ini, ya kopi botolan gitu yang di katakan iklannya enak gitu. Eko memang meminum kopi yang di kemas botol sih, ya memang sih rasa enak. Eko mengambil gitar di samping kursi, ya di mainkan dan bernyanyilah dengan baik. Budi, ya masih dalam perjalannya menuju rumah Eko dengan menggunakan motornya.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul dengan judul 'Kulakukan Semua Untukmu' :

Hanya denganmu aku berbagi
Hanya dirimu paling mengerti
Kegelisahan dalam hatiku
Yang selama ini tak menentu
Tak ada ragu dalam hatiku
Pastikan aku jadi cintamu
Seiring waktu yang tlah berlalu
Mungkin kau yang terakhir untukku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
Pegang tanganku, genggam jariku
Rasakan semua hangat diriku
Mengalir tulus untuk cintamu
Tak ada yang lain di hatiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
Inilah cintaku, kuberikan untukmu
Setulus hatiku kuberikan untukmu
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Dan memahamiku

***

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Eko lah. Budi duduk dengan baik. Eko selesai menyanyi dan main gitar.

"Gorengan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng dengan cabe rawit di piring di meja, ya tahu goreng dan cabe rawit, ya di makan sih sama Budi.

"Gimana pekerjaan hari ini Budi?!" kata Eko.

"Ya baik sih kerjaan ku Eko," kata Budi.

"Kerjaan ku sama baiknya," kata Eko.

"Abdul ngabarin kerjaanya juga baik," kata Budi.

"Syukurlah usaha Abdul berjalan dengan baik," kata Eko.

"Oooo iya Eko. Barusan nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Judul lagunya sih 'Kulakukan Semua Untukmu'..." kata Eko.

"Terima kasih Eko. Telah berbuat baik sama aku, ya aku jadi terkesan saja," kata Budi.

Budi mengambil minuman botol, ya kopilah di meja. Budi minum minuman botol dengan baik.

"Urusan lagu kenapa jadinya urusannya ke Budi?!" kata Eko.

"Becanda Eko," kata Budi, ya sambil menaruh minuman botol di meja.

"Aku memang melakukan semuanya untuk orang yang ku cintai, ya agar senang dan bahagia," kata Eko.

"Ya deh. Yang punya pacar. Segalanya di lakukan Eko, ya dengan baik demi Purnama senang dan bahagia," kata Budi.

Eko menaruh gitar di samping kursi.

"Kadang aku berpikir sesuatu," kata Eko.

"Apa itu?!" kata Budi.

"Apa mungkin keadaan bisa merubah sikap dari Purnama?!" kata Eko.

"Berubah sifat. Kalau cewek lagi dapet, ya pasti berubah sih sifatnya. Jadi jengkel dengan pasangannya," kata Budi.

"Kalau itu sih, ya aku sudah tahu. Maksud ku hal yang lain. Keadaan yang lain," kata Eko.

"Keadaan yang lain. Mungkin sih Eko. Contohnya : salah satu cerita film atau sinetron tentang tokohnya yang berubah karena kehilangan ingatan dari kecelakaan," kata Budi.

"Kehilangan ingatan bisa sih karena kecelakan, ya jadinya berubah deh sifatnya. Atau mungkin bisa rasa kecewa kehilangan orang tua," kata Eko.

"Mungkin sih. Tekan demi tekanan masalah, ya membuat diri cewek bisa berubah sifatnya," kata Budi.

"Mungkin ke hal yang extrim," kata Eko.

"Extrim. Iya Eko. Extrim. Sifat penyakit pisikologis, kaya film atau sinetron yang menceritan tokoh yang mempunyai kepribadian ganda, ya kepribadian itu sangat jahat banget," kata Budi.

"Seperti orang yang di rasukin roh jahat kan Budi?!" kata Eko.

"Iya sih. Seperti orang yang di rasukin roh jahat, ya sifatnya berubah. Menakutkan sekali," kata Budi.

"Sekedar obrolan saja kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah sekedar obrolan saja!" kata Budi.

"Purnama itu menjaga dirinya dengan amal dan ibadah yang baik, ya agar dirinya tidak berubah dari sifatnya yang sebenarnya," kata Eko.

"Cewek soleha, ya kaya artis yang cantik jelita, ya sifat dan tingkah lakunya...mencerminkan cewek soleha," kata Budi.

"Artis yang di maksud siapa?!" kata Eko.

"Ria Ricis saja!" kata Budi.

"Bolehlah Ria Ricis....cewek yang mencerminkan sifat dan tingkah laku...cewek soleha yang bisa membawa diri dalam pergaulan sekarang ini. Terbuka, ya tetap menjaga aturan dari pemahaman ilmu agamanya," kata Eko.

"Pandangan aku dan Eko, ya pandangan dari sisi cowok yang hanya lulus SMA," kata Budi.

"Memang sih pemahaman cowok yang hanya lulus SMA, ya bedalah dengan cowok yang lulusan Universitas," kata Budi.

"Ya sudahlah. Lebih baik kita main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Ya Eko telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja. Eko dan Budi, ya menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Wednesday, October 6, 2021

INDAH PADA WAKTUNYA

Budi duduk santai di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopi dan juga makan gorengan lah. Abdul dengan mengendarai motornya, ya ke rumah Budi lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Ditikam Asmara' :

Takkan lagi
Aku mencintai
Setelah kau menyakiti
Takkan lagi kucintai
Setelah kau menyakiti
Jangan lagi kau kembali
Walaupun kau tak kubenci
Cukup sudah kurasakan
Oh, pedihnya ditikam asmara
Cinta yang selalu aku dambakan berakhir derita
Engkau yang selalu aku banggakan tiada setia
Walau ku merasa membutuhkan cinta
Mungkin ku trauma kegagalan demi kegagalan
Jera terluka
Jera menderita
Jangan lagi kau kembali
Walaupun kau tak kubenci
Cukup sudah kurasakan
Oh, pedihnya ditikam asmara
Cinta yang selalu aku dambakan berakhir derita
Engkau yang selalu aku banggakan tiada setia
Walau ku merasa membutuhkan cinta
Mungkin ku trauma kegagalan demi kegagalan
Jera terluka
Jera menderita

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi dengan baiklah. Abdul dengan baik. Budi, ya baru selesai main gitar dan bernyanyi.

"Hari ini hari yang melelahkan," kata Abdul.

"Ya nama juga hidup. Harus kerja keras demi hidup ini berjalan dengan baik," kata Budi.

"Dari kerja keras, ya hasilnya sih berbuah manis," kata Abdul.

"Syukurlah usaha Abdul berjalan dengan baik," kata Budi.

"Alhamdulillah Robbil 'Alamin," kata Abdul.

"Amin!!!!" kata Budi.

"Oooo iya Budi. Eko main ke sini?!" kata Abdul.

"Eko. Lagi ada urusan dengan Purnama. Ya urusan cintalah....seperti biasanya," kata Budi.

"Eko ada urusan dengan Purnama..urusan cinta toh," kata Abdul.

"Kisah cinta ada yang bahagia ada yang tidak," kata Budi.

"Jangan-jangan ada kaitannya dengan lagu yang baru di nyanyikan Budi?!" kata Abdul.

"Ya bisa jadi sih. Lagunya berjudul "Ditikam Asmara'....," kata Budi.

"Rasa sakit dari urusan cinta, ya menderita sih," kata Abdul.

"Untungnya aku belum jatuh cinta, ya baru proses saja....mencari cewek yang baik untuk di jadikan pacar," kata Budi.

"Kalau aku sih Budi, ya sama lah sama Budi. Masih proses juga sih mencari cewek untuk di jadikan pacar," kata Abdul.

"Oooo iya. Abdul ngopi nggak?!" kata Budi.

"Bolehlah," kata Abdul.

Saat Budi beranjak dari duduknya, ya masih memegang gitar. Abdul berkata "Pinjem gitarnya Budi!"

"Niee!!!" kata Budi sambil memberikan gitar pada Abdul.

Abdul mengambil gitar di tangan Budi. Ya Budi masuk rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi. Abdul main gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul yang berjudul 'Indah Pada Waktunya' :

Aku memang belum beruntung
Gagal dan selalu gagal lagi
Hatiku tetap dekat
Dan takkan menyerah
Aku masih belum beruntung
Salah dan selalu salah lagi
Di bawah teriknya matahari
Aku tumpahkan isi hatiku
Ingin kuteriak, ingin 'ku menangis
Tapi air mataku sudah tiada lagi
Walau lelah hatiku takkan aku mengeluh
Biarlah hanya Tuhan yang tahu
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya
Ingin kuteriak, ingin 'ku menangis
Tapi air mataku sudah tiada lagi
Walau lelah hatiku takkan aku mengeluh
Biarlah hanya Tuhan yang tahu
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya

***

Budi yang selesai membuat kopi dapur, ya di bawa kopi ke depan rumah. Ya di depan rumah kopi di taruh Budi di meja dengan baik. Abdul masih bernyanyi dan main gitarnya. Ya Budi ikutan bernyanyi juga sih. Sampai akhirnya Abdul dan Budi selesai bernyanyi, ya Abdul selesai main gitarnya.

"Dalam urusan cinta, ya gagal dan gagal, ya bisa di bilang 'Ditikam Asmara'..sih. Pasti masih punya harapan yang baik dari mimpi-mimpi yang selalu di bayangkan dengan baik di pikiran agar itu jadi kenyataan. Kisah cinta yang baik, yang membuat tentram di hati, ya bisa di bilang 'Indah Pada Waktunya'...," kata Abdul.

"Dari proses perjalan cinta yang gagal dan gagal, pada akhirnya......'Indah Pada Waktunya'...," kata Budi.

"Kaya lagu yang baru aku nyanyikan dengan judul 'Indah Pada Waktunya'....," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

Abdul menaruh gitar di samping kursi dan Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Kalau di lihat dengan baik di acara Tv, ya artis Dewi Persik dengan artis Rara, ya kaya Ibu dan anak," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ibu dan anak. Lebih baik di bilang Kakak dan adik. Kan artis Dewi Persik, ya masih cantik mempesona gitu, ya aura selalu muda gitu, ya sama jadinya sama aja dengan Rara gitu," kata Abdul.

"Memang sih lebih baik di bilang Kakak dan adik. Keduanya memang mempesona aura kecantikannya," kata Budi.

"Kayanya kita ini menilai sesuatunya berlebihan atau tidak, ya memuji atau menggobal gitu?!" kata Abdul.

"Ya sekedar obrolan saja sih. Emangnya orang yang kita omongin ada di sini?!" kata Budi.

"Memang sih orang yang kita omongin tidak ada di sini. Ok lah sekedar obrolan pemuda pemuda yang jomlo dan juga hanya lulusan SMA saja," kata Abdul.

"Memang pemuda jomlo dan juga lulusan SMA saja," kata Budi menegaskan omongan Abdul.

Abdul melihat lembaran koran di meja, ya di ambil dengan baik lembaran koran tersebut. Budi mengambil tahu goreng dan cabe rawit di piring di meja, ya di makan dengan baik tahu goreng dan cabe lah.

"Foto artis cewek, ya hamil," kata Abdul.

"Memang sih itu foto di koran, ya artis cewek yang hamil. Beritanya sama dengan di Tv," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

Abdul menaruh lembaran koran di meja.

"Artis cewek yang hamil, ya suaminya artis bisalah mengurus dengan baik istrinya yang hamil itu. Bercukupan hartanya," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya nama juga artis kaya," kata Budi.

"Ada sebuah kisah tentang ibu muda yang hamil, ya kerja keras demi kehidupannya. Suaminya kerja sih, ya gajinya kecil sama dengan istrinya. Nama juga lulusan SMA. Sampai waktunya, ya ibu muda itu melahirkan anaknya dengan baik. Kehidupan di jalankan dengan baik, ya dengan keadaannya orang miskin yang berusaha mampu, ya menanggulangi seluruh urusan dengan baik," kata Abdul.

"Nama juga kisah orang miskin yang berusaha keluar dari kemiskinan jadi orang mampu, ya beda dengan orang kaya sih," kata Budi.

"Ya sudahlah. Lebih baik main catur saja!" kata Abdul.

"Ok main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Tuesday, October 5, 2021

JANJI

Budi duduk santai di depan rumah sedang main gitar dan menyanyi, ya menikmati minum kopi dan juga gorengan. Eko dengan menggunakan motornya ke rumah Budi. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Janji' :

Rasa sesal datang lagi
Bila kau ungkit salahku yang dulu
Semua yang kini kulakukan
Masih datangkan rasa ragu di hatimu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Lupakan sudah masa lalu
Tak akan ada lagi di hati
Hanya janji yang kuberikan
Kuingin s'lalu bersama dirimu
Percayalah...
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu

***

Eko sampai rumah Budi, ya motor di parkir dengan baik di halaman depan rumah Budi. Ya Budi selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya. Eko duduk dengan baik.

"Budi tadi nyanyiin lagu apa?!" kata Eko.

"Lagunya Bragi yang judulnya 'Janji'...." kata Budi.

"Oooooo Bragi yang judul lagunya 'Janji'...." kata Eko.

"Kalau berjanji harus di tepatikan....Eko?!" kata Budi.

"Kalau sudah janji memang harus di tepati," kata Eko.

"Kalau urusan cinta, ya jika cowok bersalah pada ceweknya dan berjanji tidak mau berbuat salah lagi. Kenyataan di dapatkan di lingkungan, ya cowok tidak bisa menepati janjinya. Tetap saja selingkuh. Walau cowok itu telah menangis di hadapan ceweknya untuk tidak lagi mengulang kesalahannya," kata Budi.

"Kan banyak orang yang tidak memahami ilmu agama. Jadi jalan kehidupannya, ya menjadi golongan munafik," kata Eko.

"Banyak cowok yang masih urusan cinta pada cewek, ya jadi golongan munafik," kata Budi.

"Kalau ceweknya sadar, ya di tinggalin lah cowoknya," kata Eko.

"Air mata cowok yang berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, ya ternyata air mata buaya, ya air mata kebohongannya cowok," kata Budi.

"Banyak nasehat orang tua. Jangan jatuh cinta di masa menjalankan pendidikan, ya akan mempengaruhi pendidikan. Pisikologisnya masih labil," kata Eko.

"Tetap saja nama anak puber, ya di jalanin jatuh cinta, ya pacaran gitu. Mempengaruhi segala pendidikan. Kelabilan terjadi. Lebih banyak sakit jiwanya dari pada normalnya," kata Budi.

"Sampai di duduk di Universitas saja, ya masih tidak bisa mengontrol dari pisikologisnya, ya labil dalam urusan cinta," kata Eko.

"Nama juga cowok. Bilangnya berjanji untuk setia, ya kenyataannya tetap saja selingkuh. Cewek banyak yang terlalu percaya dengan janji manisnya cowok," kata Budi.

"Ketika cowoknya tidak suka lagi dengan ceweknya, ya dengan bicara lantang.....putus. Ceweknya langsung sedih karena di putusin sama cowoknya. Patah hatilah," kata Eko.

"Banyak cerita seperti itu. Cewek di putusin sama cowok. Ceweknya menangis karena sakit hatinya di putusin sama cowoknya," kata Budi.

"Cowok itu banyak berengseknya sih dari pada normalnya," kata Eko.

"Sedangkan kita gimana Eko?!" kata Budi.

"Aku dan Budi, ya berusaha menjadi cowok yang baik. Dalam berteman baik, ya saling mengingatkan. Kalau urusan cinta, ya aku berusaha sebaik mungkin, ya berjanji setia pada Purnama. Jika aku salah, ya aku akan berusaha memperbaiki diriku dengan baik, ya janji sih bisa di bilang. Memperbaiki dirinya dengan cara ibadah saja dengan baik," kata Eko.

"Eko, ya memang ada urusan cinta dengan Purnama. Kalau ada masalah, ya Eko langsung sadar memperbaiki diri dengan baik. Sedang aku, ya belum punya pacar. Ya aku belajar dari Eko saja, ya gimana menjalankan hubungan dengan baik. Ketika aku sudah punya pacar, ya tinggal penyesuaian saja," kata Budi.

"Aku pinjem gitarnya Budi!" kata Eko.

Budi membarikan gitarnya pada Eko sambil berkata "Nieee!"

Eko mengambil gitar di tangan Budi, ya segera Eko memainkan gitarnya dengan baik dan bernyanyilah. Budi pun ke dalam rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi lah. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Ulurkan Tanganmu' :

Hari demi hari ku jalan tanpamu
Mimpi demi mimpi hadirkan dirimu
Aku sendiri
Simpan diriku dalam hatimu
Dan bawa aku ke mana kau pergi
Ku bersamamu
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Waktu t'lah berlalu mengiring anganku
Malam pun datang hadirkan bayangmu
Aku sendiri (ha, ha, ha-ah)
Bila suatu saat engkau rindu
Pejamkan mata, bukalah hatimu
Ku bersamamu
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Berdua kita jelang mimpi indah
Sampai tiba saat kau kembali

***

Budi selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh gelas berisi kopi di meja dan Budi dengan baik. Eko masih bernyanyi dan main gitar, ya Budi ikutan bernyanyi lah. Sampai selesailah. Eko dan Budi berhenti bernyanyi, ya berhenti main gitar. Gitar di taruh Eko di samping kursi.

"Sebenarnya hubungan aku dengan Purnama, ya inginnya pegang tangan sih. Walau pun sebenarnya aku pernah meminta pada Purnama untuk mengulurkan tangannya, ya agar aku pegang erat dan kita berdua, ya terbawa suasana senang seperti mimpi yang indah gitu," kata Eko.

"Kenyataan Eko?!" kata Budi.

"Tidak pernah. Purnama terlalu paham agama. Katanya setelah menikah, ya bolehlah pegang tangan, yang lainnya di berikan semuanya untuk aku," kata Eko.

"Jadi hubungan kisah cinta Eko dan Purnama, ya tidak boleh melanggar dari aturan toh," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

"Sama aja. Pernikahan Eko dan Purnama, ya di gantung. Sampai waktunya Eko dan Purnama resmi jadi suami istri," kata Budi.

"Memang sih urusan pernikahannya di gantung. Karena akunya harus mengumpulkan biaya sebaik mungkin, maklum dari keadaan orang miskin, ya berusaha untuk jadi mampu. Ya maklum cuma lulusan SMA," kata Eko.

"Aku sebagai teman, ya mengertilah keadaan Eko," kata Budi.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. Budi mengambil beberapa lembaran kertas di meja, ya foto sih di ambil dari koran gitu.

"Eko!" kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Apa Budi?!" kata Eko.

"Dari foto ini mana cewek yang cantik," kata Budi.

Budi menunjukkan foto cewek cantik yang di ambil dari koran, ya lembaran koranlah. Foto itu ada lima cewek, yang ke enam sih, ya Eko pun berkata "Cantik."

Budi pun terkejut banget dengan omongan Eko karena foto yang ke enam di bilang cantik.

"Eko...foto yang ke enam di bilang cantik juga?!" kata Budi.

"Memang sih fotonya foto cowok, ya harusnya aku bilang ganteng, ya tapi kan tuh cowok gayanya kaya cewek," kata Eko.

"Iya sih gayanya cowok di foto ini kaya cewek," kata Budi.

"Foto itu yang Budi ambil dari koran, ya foto artis semua!" kata Eko.

"Memang sih artis semuanya. Aku tertarik dengan salah satu artis," kata Budi, ya menunjukkan foto artis itu sama Eko.

"Artis ini. Memang cantik sih. Tapi umurnya di atas aku dan Budi," kata Eko.

"Aku suka dengan kedewasaan dari kecantikan ini artis," kata Budi.

"Lumrah saja sih menyukai cewek yang lebih tua dari Budi," kata Eko.

"Ini cewek kata di berita di Tv, ya sedang dekat dengan cowok sih, ya bisa di bilang pacaran," kata Budi.

"Budi beneran suka apa sekedar?!" kata Eko.

"Sekedar saja sih,"kata Budi.

"Oooo. Sekedar saja," kata Eko.

"Via Vallen itu cantik!" kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

Budi menaruh foto, ya lembaran koran di mejalah.

"Main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Budi mengambil papan catur di meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Bidak catur pun di susun dengan rapih papan catur sama Budi dan Eko. Keduanya main catur dengan baik banget.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK