CAMPUR ADUK

Sunday, August 25, 2019

OH TERNYATA.......???

Hari lumayan deh Malemnya. Mira baru selesai urusannya pindah di apartemen yang baru. Padahal banyak cerita apartemen yang di tempatin oleh Mira bekas penghuni yang lama mati bunuh diri karena patah hati....kekasihnya selingkung dengan sahabatnya sendiri.

Mira tidak percaya dengan cerita semua orang berkenaan dengan tempat tinggalnya yang baru. Mira jojong aja bersantai di dalam apartemen sambil membereskan semua perabotan yang belum rapih di pandangan Mira.

Tiba-tiba mati lampu. Mira terkejut sekali dengan apartemen yang mati lampu. Ternyata hidup lagi. Mira mulai ingin nonton Tv. Saat Tv di hidupkan bulu kuduk Mira berdiri terasa suasana yang gak enak banget di tambah dinding kaca bergetar dengan sangat keras kaya hampir mau pecah.

Mira mulai ketakutan banget di  dalam apartemen. Suara mengerikan mulai terdengar di tambah ada sebuah cakar yang mengores kaca sampai terdengar suaranya memekakan telinga saking nyaring gesekan itu.
Mira tambah takut mulai telepon pacarnya Albret dengan keadaanya. Albret malah memberikan masukan untuk berani tinggal di apartemen sendirian. Mira membujuk Albret untuk menginap di apartemen Mira agar menghilangkan ketakutannya. Albret bersedia untuk menginap di apartemen Mira. Hubungan telepon antara Mira dan Albret pun selesai.

Dengan sabar Mira menunggu Albret datang. Albret secepat mungkin dateng ke apartemen Mira menggunakan motornya karena memang jaraknya agak jauh dari tempat tinggal Albret.
Selang berapa saat. Albret sudah di depan pintu apartemen Mira dan mulai memencet bel. Mira terkejut saat bel rumah berbunyi karena sebenarnya Mira memang berusaha memberanikan diri dan menghilangkan ketakutannya. Mira beranjak dari duduknya dan membuka pintu.

Terlihat Albret di mata Mira langsung di peluknya baru di ajak ke dalam apartemen dan pintu di tutup oleh Mira. Duduklah Mira dan Albret di lantai yang beralaskan ambal. Mulai suasana jadi aneh banget. Albret mulai ketakutan sampai bulu kuduk merinding. Terdengar suara yang mengerikan. Tambah takutlah Albret.

Mira kerasukan dan bertindak tidak wajar menjadi menyeramkan. Albret tetap memberanikan diri dengan keadaannya. Mira sadar dari kerasukannya. Mulai Mira menceritakan keadaannya dirinya yang sering kerasukan setan.

Albret mulai mengerti dengan keadaan yang sebenarnya bahwa kekasihnya ada kaitannya dengan roh halus. Mira mulai kambuhlah lagi kerasukan setan dan menjadi makluk yang menyeramkan dengan tangan berubah menjadi cakar tajam di hadapan Albret.

Tanpa pikir panjang Albret langsung langkah seribu keluar dari apartemen....
meninggalkan Mira yang menjadi makluk mengerikan dan juga Albret berteriak "Setan".

BUKU HITAM

Seusai urusan kerjaan Dono bersama teman kerjanya Beni yang pertemuaannya di kafe dengan kesepakatan terjadi antara kedua belah pihak melanjutkan kerjasama. Beni pun kembali ke kantornya....begitu juga Dono.
Saat dijalan hendak masuk ke kantor Dono menemukan sebuah buku dari sampul dan lembaran kertas....hitam semuanya dan segera memungutnya. Dono ingin mengembalikan buku hitam tersebut ke pemiliknya. Ternyata tidak ada yang tahu di tanya Dono.

Maka buku hitam di bawa Dono masuk ke dalam kantor dan di taruh di dalam tasnya setelah itu... untuk menyelesaikan beberapa kerjaannya yang belum selesai. Waktu begitu cepat Dono pun pulang ke rumah apalagi jam kerja sudah selesai.

Sampai di rumah duduk bersama Indro dan Kasino di ruang tamu sambil mengeluarkan buku hitam dan di taruh di meja. Dono langsung santai minum kopi buatan Indro.

Indro yang penasaran dengan buku hitam yang di taruh Dono di atas meja segera mengambilnya dan mencoba membuka buku itu. Indro tidak bisa membaca tulisan di buku hitam tersebut sampai berkata "Tulisannya...sangsekerta..ini.....mah dan juga di tulis pake tinta putih....gitu".

"Hah!!! Sangsekerta," kata terkerjut oleh Dono dan Kasino bersamaan.

Kasino pun mengambil buku hitam di tangan Indro untuk mencoba membaca buku tersebut.

"Iya...Don...tulisannya sangsekerta. Kamu dapet buku ini dari mana?" tanya Kasino.

"Aku temukan di jalan. Gak tahu...siapa pemiliknya?" kata Dono.

Kasino pun meminjam leptopnya Dono. Segera Dono mengeluarkan leptopnya dari tas kerjanya. Kasino pun mulai mengalisa huruf sangsekerta di buku hitam lewat jaringan internet.

Satu persatu kata berhasil Kasino artikan sampai selesai. Baru deh di baca oleh Kasino mau membacanya, tapi Indro mencegahnya karena merasa ada yang gak enak dengan buku hitam tersebut. Kasino tetap membaca agar tahu Indro dan Dono tahu isinya buku hitam tersebut.

Dono dan Indro mendengarkan baik-baik ocehan Kasino sampai selesai yang membaca buku hitam tersebut. Indro pun mengerti rahasia buku hitam tersebut dan berkata "Cuma buku cerita tentang seorang gadis yang mau di nikahi dengan orang tidak sukainya".

"Iya...., tapi masalahnya kelanjutan ceritanya gak....tertulis. Jadi jalan ceritanya tanda tanya," kata Kasino.

"Kalau ceritanya....sampai di situ biarin aja," kata Dono.
Kasino pun menaruh buku hitam di meja. Terjadilah fenomena yang aneh pada buku hitam mengeluarkan energi yang begitu beriak membuat Dono, Kasino dan Indro mengantuk berat dan akhirnya tidur di kursi.

Esok paginya. Dono, Kasino dan Indro terbangun dari tidurnya. Ketiganya kelabakan banget karena bangun kesiangan karena harus pergi kerja. Dono dan Kasino rebutan untuk masuk kamar mandi....eee yang masuk duluan Indro. Jadi Dono dan Kasino menunggu Indro selesai mandi. Setelah Indro selesai baru deh Kasino karena Dono kalah suitan jadi mandi belakangan.

Indro dan Kasino sudah siap berangkat kerja dengan penampilan keren abis. Saat di depan rumah Indro dan Kasino terkejut sekali dengan lingkungan sekitarnya berubah total banget. Dono selesai juga berpenampilan keren abis dan hendak ke kantor bersama Indro dan Kasino pun terkejut dengan keadaan lingkungan sekitar.

"Kita....ini mana Kasino dan Indro?" tanya Dono.

"Palembang," saut Kasino dan Indro bersamaan.

"Bukannya...kita...tinggal di Jakarta.... Kan Indro dan Kasino?" tanya Dono.

"Iya," jawab Indro dan Kasino bersamaan.

"Kenapa yang aku....lihat jembatan ampera yang ada di Palembang?" kata Dono.

"Itulah...masalahnya Don. Aku...aja bingung apa lagi kamu?" kata Indro.

"Kalau begini mah positif gak kerja. Harus menyelesaikan masalah....yang sedak kita hadapi bersama," kata Kasino.

"Masalah...apa?" tanya Dono.

"Kayanya ada kaitannya dengan buku hitam tersebut. Kita harus mengembalikan buku itu kepemiliknya?" kata Kasino.

"Tapi....siapa orangnya?" kata Dono.

"Mana aku tahu? Yang aku nama gadis tersebut adalah Rara... Kan. Dalam cerita buku hitam," kata Kasino.

"Tapi...harus Palembang kota kelahiran Ibu...aku. Bukan Jawa Timur aja. Aneh banget," kata Dono.

"Mungkin ada kaitannya dengan kamu Don," kata Kasino.

"Omongan Kasino...itu bener. Kayanya ada kaitan dengan kamu Don," kata Indro.

"Mungkin juga. Kalau begitu...kita coba aja...menyelusurinya lewat petunjuk dari buku hitam," kata Dono.

Dono, Kasino dan Indro pun sepakat untuk menyelesaikan misi untuk memulangkan buku hitam ke pemiliknya. Ketiganya berangkat menggunakan motor untuk keliling kota Palembang. Kasino menunjukkan jalan kepada Dono dan Indro berdasarkan alamat rumah yang tertulis di buku hitam. Sampailah ketiga pada rumah yang cukup tua banget karena bangunannya tempo dulu.

Dono, Kasino dan Indro bertamu ke rumah tersebut dan di persilakan oleh pemilik rumah untuk masuk. Di dalam rumah Ketiganya berbincang-bincang dengan seorang Kakek bernama Soleh pemilik rumah dan dapet titik terang banget berkenaan dengan pemilik buku hitam tersebut.

Ternyata cucunya Kakek Soleh tersebut mau di nikahi dengan seorang kaya di daerah tersebut dengan alasannya hutang piutang. Buku hitam pun muncul tulisan kelanjutan cerita berdasarkan cerita Kakek Soleh.

Pencarian Dono, Kasino dan Indro berhasil juga. Mulai ketiganya berencana menolong gadis yang mengalami kesulitan tersebut bernama Rara...cucu dari Kakek Soleh yang akan menikah esok hari.

Dono, Kasino dan Indro segera bertindak untuk menculik Rara dari saat pernikahannya esok hari. Dengan sabar waktu ketiganya menunggu sampai esok hari pernikahan.

Dono mulai kepalang gak bisa menunggu lagi jadi menculik Rara di rumah Kakeknya saat itu juga. Tapi di halangi oleh Kasino dan Indro....karena belum waktunya. Esok paginya mulai misi sebenarnya.

Dono, Kasino dan Indro ingin menculik Rara. Tak di sangka dan tak di duga ketiganya terkejut melihat gadis yang di culiknya ternyata wajahnya sama dengan Rara kekasihnya Dono.

Rencana pun berubah. Dono, Kasino dan Indro pun berembuk untuk menolong Rara dengan cara baik-baik bukan menculiknya dari pernikahan tapi membatalkan pernikahan dengan membayar hutang keluarga pada calon suami Rara.

Kaget bukan main. Hutangnya yang di harus di bayar oleh Dono, Kasino dan Indro untuk membayar hutang keluarga Rara ke calon suaminya bener-bener bikin pusing ketiganya karena gak kejangkau. Maka itu Dono, Kasino dan Indro rencana yang awal di jalankan membawa lari Rara.

Usaha ketiganya berhasil. Tapi di kejar-kejar calon suami Rara. Maka saat terpojok Dono, Kasino dan Indro beserta Rara gak bisa kabur lagi. Ya buku hitam di berikan pada Rara. Seketika Dono, Kasino dan Indro kembali ke Jakarta dan berada di rumah.

"Don kita pulang ke rumah," kata Indro senang.

"Iya sayajuga," kata Dono.

"Saya di rumah. Urusan sudah beres," kata Kasino.

Dono, Kasino dan Indro menjalankan aktivitas seperti biasanya dan melupakan kejadian misteri dalam perjalan hidup mereka yang bertualang ke Palembang demi memulangkan buku hitam.

***
Sedangkan Rara mau gak mau menikah dengan calon suaminya yang urusannya berkenaan dengan hutang keluarga. Buku hitam  pun oleh Rara di berikan pada Kakek Panca keturunan asli Jawa dan bisa menulis dan membaca huruf sangsakerta, karena Kakek Panca adalah teman baik Kakeknya Rara, sekaligus guru Rara yang mengajarkan silsilah seni dan budaya Jawa. Jadi Kakek Panca melanjutkan cerita buku hitam dengan menggunakan tulisan sangkerta karena yang membuat cerita di buku hitam adalah Kakek Panca, yang berkenaan kisah Rara dengan calon suaminya di tambah Dono, Kasino dan Indro. Akhir sebuah kisah berkenaan dengan Rara hidup bahagia karena calon suami Rara benar-benar cinta sama Rara jadi untuk menghilangkan konflik berkepanjangan dua keluarga urusan hutang, jadi pernikahan jawabannya. Biduk rumah pun berjalan dengan baik di jalankan Rara dan suaminya dengan kebahagian.

Saturday, August 24, 2019

CINTA YANG BEBAS

Langit cerah banget. Di pohon yang rindang ada Ibu burung Jalak dan anaknya. Ibu burung mulai mengerak-gerakkan badannya dan juga sayap pun dibuka lebar-lebar. Terbang Ibu burung ke langit untuk mencari makan. Anak burung masih tidur saat sang Ibu burung pergi mencari makan.

Saat bangun Anak burung mencari Ibu burung. Di tunggu dengan sabar sampai menjelang sore hari Ibu burung tidak junjung pulang. Anak burung bersedih dirinya di sarangnya. Angin bertiup sangat kencang sekali sampai menghempaskan anak burung terbawa aliran udara dan jatuh ke tanah untung saja Anak burung memegang bagian dari sarang yang buat kedua orang tuanya. Saat jatuh ketanah. Anak burung selamat terlindungi oleh sarang yang buat dari ranting-ranting pepohonan.
Anak burung berteriak layaknya suara burung. Dono sedang bersepedah untuk berkeliling sekitar lingkungan untuk menyehatkan dirinya alias berolah raga mengunakan sepedah. Melihat sarang burung beserta Anak burung yang berteriak-teriak pake bahasa burung di bawah pohon yang besar dan rindang. Di tambah ada seekor Kucing liar sudah mengincar Anak burung jadi makannya. Dono segera menolong Anak burung dan mengusir Kucing liar yang jahat mau memakan Anak burung yang tidak berdaya.

Sebenarnya Dono mau mengembalikan sarang dan Anak burung ke pohon yang rindang. Tetapi ternyata pohon terlihat jelas oleh Dono besar banget dan tinggi banget. Maka alternatif lain Dono membawa Anak burung pulang ke rumah Dono dan di rawatnya.

Sampai di rumah. Dono mulai browsing jaringan internet lewat leptopnya untuk mencari cara merawat Anak burung dari jenis bulunya ternyata burung Jalak. Lalu Dono mulai membeli pakannya di toko burung dan mulai merawat Anak burung dengan baik. Kadang Indro dan Kasino menolong Dono kalau kerepotan merawat Anak burung karena ada urusan kerjaan.

Berbulan-bulan Dono, Kasino dan Indro merawat Anak burung Jalak dengan baik dan tumbuh dewasa menjadi seekor burung Jalak yang bersuara merdu dan juga bulunya pun bagus.

Dono pun berniat melepaskan burung Jalak ke alam terbuka.... yang di rawatnya dari kecil sampai dewasa. Kadang ada penggemar burung Jalak ingin membelinya dengan harga fantastis karena suaranya yang merdu banget. Ya...Dono tidak menjual burung Jalak.
Dono, Kasino dan Indro membawa burung Jalak yang ada dalam sangkar ke tempat di mana burung Jalak di temukan Dono. Keluarlah burung Jalak dari sangkar yang pintunya di buka oleh Dono.

Burung Jalak tidak ingin terbang karena sudah biasa hidup dengan orang tua baru... ya....manusia yang menjaga dirinya.....Dono, Kasino dan Indro. Dono bersifat keras pada burung Jalak yang di rawatnya dari kecil sampai dewasa untuk terbang dengan di "Hussss".

Burung Jalak terbang dengan mengepakan sayapnya dengan baik juga dan mencelok di atas puncak pohon. Dono, Kasino dan Indro pun balik pulang ke rumah karena urusan membalikkan burung Jalak kembali hidup di alam.

Burung Jalak melihat dunia yang luas di atas pohon dan mengingat masa kecilnya di atas pohon yang menunggu sang Ibu burung pulang membawa makan. Kini anak burung telah dewasa telah mengerti hidup di dunia yang bebas. Berkicaulah burung Jalak dengan sangat baik.

Sampai suatu ketika burung Jalak bertemu dengan pasangannya dan menjalankan siklus hidup layaknya seperti kedua orang tuanya yang melahirkan dirinya ke dunia.

Dono hanya bisa mengenang burung Jalak yang di rawatnya dan lama kelamaan pun rasa rindu atau kangen sama burung Jalak yang di rawatnya dari kecil menghilang juga. Dono pun seperti biasa ngobrol bersama Kasino dan Indro di ruang tamu sambil minum kopi dan makan gorengan.

Bergembiralah ketiganya dengan bernyanyi dan main musik gitar bergantian. Sampai ketika Indro bertanya berkenaan urusan pribadi Dono dengan Rara? Seperti biasa Dono menceritakan keadaan hubungan dirinya dengan Rara "Memberikan kebebasan cinta pada Rara".

Indro dan Kasino sebenarnya terkejut dan khawatir dengan persoalan hubungan Dono dan Rara pada akhirnya putus karena pihak lain. Tapi ternyata Dono memberikan penjelasannya pada Indro dan Kasino yang sebenarnya "Tidak ada yang mengganggu hubungan aku dan Rara".

Rasa senang Indro dan Kasino mendengar kalau hubungan Dono tidak ada pihak ketiga ikut campur dari pihak Dono. Malahan Dono sendiri membiarkan cintanya bebas seperti burung terbang kelangit tidak di kekang seperti bentuk peraturan apa pun?! Tujuannya membimbing Rara agar lebih dewasa lagi....agar bisa memilih mana yang baik Dono atau.....pria yang lain sedang dekat dengan Rara.

Tapi Kasino dan Indro paham benar dengan Dono bagaimana cintanya pada Rara yaitu benar-benar ikhlas dan tulus....baget membiarkan Rara sendiri yang memutuskan mau setia atau tidak karena Dono mengambil perumpamaan dari sepasang burung merpati yang setia.

Ketiganya pun selesai berbincang-bincang. Suara azan di kumadangkan. Segera Dono, Kasino dan Indro berbenah diri untuk ke mesjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yang baik.

Wednesday, August 21, 2019

KEBIASAAN MASYARAKAT

Indro asik nonton Tv yang acaranya bagus banget sambil menikmati minum kopi yang buatan sendiri. Dono pun baru pulang dari urusan kerjaannya dan mengucap salam masuk rumah "Asalamualaikum".

Sontak Indro menjawab "Waalaikumsalam".

Dono pun langsung duduk bersama Indro dan menaruh kotak berisi kue martabak keju dan berkata "Indro....cobain kue martabak kejunya".

"Iya," saut Indro.

Indro pun mengambil kue martabak di dalam kotak satu potong dan segera di makannya.

"Enak...Don..kuenya," kata Indro yang masih mengunyah.

"Iya," saut Dono.

Dono pun mulai menuang cangkir kosong dengan tekok berisi kopi....setelah itu di minum kopi tersebut.

"Enak....kopi buatan kamu...Indro," puji Dono.

"Iya," saut Indro.

Dono dan Indro menikmati tontonan Tv dengan penuh kesantaian. Indro pun berpikir setelah melihat tontonan Tv berkata ke Dono "Apa tanggapan kamu tentang para pejabat yang di tangkap KPK?".

"Apa...ya? Penegakan hukumnya sih udah bener. Siapa yang melanggar aturan kan di tangkap sama pihak yang punya wewenang untuk menangkap tersangka. Walau masalahnya kecil atau besar. Ya sudahlah bagus-bagus aja!!!" kata Dono.

"Bagaimana dampak di lingkungan masyarakat tentang para pejabat di tangkap KPK?" tanya Indro.

"Dampaknya...ya? Cenderung kecil lah. Cuma masyarakat yang punya kepentingan saja....yang punya kaitan dengan para pejabat yang di tangkap KPK. Contohnya saat pejabat dateng kelingkungan kita...ini tujuan mengambil hati rakyat di lingkungan sekitar tujuannya agar bisa terpilih lagi. Tapi... Kan ada anak buah pejabat itu yang di bayar untuk menghimpun kekuatan di lapisan masyarakat secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Eee...tahu-tahu orang di belain...itu melanggar aturan sistem kerja pemerintahan. Akhirnya kecewa.....ya gak jauh sih RT kita sendirikan ikutan juga. Maka ketika dateng pejabat kelingkungan kesini.... nunduknya RTnya ada maunya. Masyarakat lain biasa-biasa aja. Begitu...kebiasaan kerjaan satu individu dan menjadi kelompok maka di sebut masyarakat berkepentingan," penjelasan Dono yang panjang dan ribet.

"Kalau begitu di simpulkan...dampak gak begitu mengena ke pihak tidak ikutan. Pantes kamu...tahu Don...karena kerjaan kamu penulis.. jadi survei di lingkungan masyarakat. Padahal masyarakat yang di teliti gak tahu kalau...kamu mengumpulkan bahan-bahan untuk tulisan," kata Indro.

"Ya...begitulah kerjaan aku. Sebenarnya bukan pekerjaan pokok jadi penulis....cuma hoby aja.....menulis," kata Dono.

"Iya ...aku...tahu Don," kata Indro.

Indro pun kembali fokus nonton Tv begitu juga Dono. Kasino pun baru pulang dari kerjaannya dan langsung masuk rumah tak lupa mengucap salam "Asalamualaikun".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino pun langsung duduk bersama Dono dan Indro. Melihat kue dan kopi segera Kasino menuang cangkir kosong dengan kopi dari tekok....baru kue martabak diambil.

Dono dan Indro terkejut ulahnya Kasino.

"Laper Kasino?" tanya Dono.

"Iya," saut Kasino.

Kasino menikmati kue dan kopi sambil asik menonton tontonan Tv yang bagus. Ketiganya terbawa suasana tontonan yang bagus banget. Beberapa lama Dono beranjak duduknya untuk berbenah diri dan mengetik lagi di kamarnya. Kasino pun ikutan juga berbenah diri dan segera mengerjakan pembukuan di kamarnya.

Indro tetap santai nonton Tv. Ketika acara Tv di ganti oleh Indro berkenaan berita tentang masalah di Papua langsung berkata keras ke Dono yang sibuk ngetik di kamar "Don....gimana tanggapan kamu...mengenai masalah di Papua...yang jadi heboh di beritakan sana sini?".

Dono kaget dan segera menjawab dengan suara keras agar di dengar Indro "Aku...malas membahasnya. Lagi sibuk ngetik. Sebenarnya....masalahnya gak begitu rumit amat kok....tapi simpel untuk di selesaikan. Karena ada peraturan yang di tegakan bila ada yang melanggar...tampa pandang bulu...dia pejabat atau bukan...dia pribumi atau warga asing nama lainya warga pendatang".

"Kalau...begitu sih. Gak ada masalah apa-apa?! Cuma heboh di Tv. Aku di sini adem-adem aja. Aku...sendiri punya guru ngaji...orang Papua....yang mengajarkan kebaikan harus berjalan berdampingan dengan penuh keseimbangan, keselarasan dan bersinambungan," kata Indro ngoceh sendirian.

Dono meneruskan ketikannya di leptopnya. Sedangkan Indro santai nonton Tv sambil minum kopi dan makan kue martabak.

SABILA

Langit yang cerah sekali ketika Dono memandangnya. Hari ini Dono tidak ada kegiatan yang benar-benar menyibukkan dirinya. Dono pun duduk bersama Sabila di ruang tamu.

"Sabila yang cantik," kata Dono.

Dono terus mengucapkan "Cantik" pada Sabila. Terlihat Cantik benar Sabila di pandang Dono. 

Terkadang Dono mencium pipi kiri dan kanannya Sabila dengan lembut banget. Eeee...Indro buru-buru masuk ke dalam rumah dan melihat ulah Dono yang berdua-duaan sama Sabila dengan mersa banget.

Indro melupakan juga urusan kerjanya sejenak yang pulang mengambil berkas penting.....untuk ikutan dekat sama Sabila. Seperti biasa Indro memuji Sabila "Cantik" terus menerus.

Kadang jawab adalah Dono "Terimakasih Indro".

"Bukan kamu...Don, tapi Sabila," kata Indro.

"Iya.....aku tahu!!!" saut Dono.

Sabila hanya diam melihat ulah Dono dan Indro yang berebut ingin memberikan cinta dan kasih sayang sama Sabila. Indro pun mencium pipi kiri dan kanan Sabila dengan lembut....setelah itu inget dengan kerjaan untuk mengambil berkas di kamar yang ketinggalan baru deh berangkat ke kantor lagi.

Sabila dan Dono kembali bermersaan dengan baik. Kasino pun segera masuk ke rumah dan melihat Sabila....langsung mendekati. Seperti biasa Kasino memuji Sabila "Cantik".

Tetap saja Sabila diam. Kasino kembali memuji Sabila lagi "Cantik" tak lupa juga mencium pipi kiri dan kanannya Sabila dengan lembut dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Dono pun iri melihat perhatian berlebihan pada Sabila jadi...ikut mencium pipi kiri dan Sabila dengan cinta dan kasih sayang. 

Baru deh bertanya Dono ke Kasino "Kenapa Kasino pulang padahal masih pagi?".

Kasino pun memberikan jawabannya yang cukup memuaskan Dono "Ketinggalan dokumen...yang penting."

"Oooo. Kok sama urusannya dengan Indro ada barang penting yang ketinggalan," kata Dono.

Kasino segera ke kamarnya untuk mengambil dokumen.....itu langsung berangkat ke kantor. 

Dono kembali cuma berduan aja dengan Sabila. Dono menjaga Sabila dengan penuh rasa kasih sayangnya.

Cukup lama Dono berbagi cerita dengan Sabila....walau Sabila hanya diam saja. Dateng seorang cewek cantik langsung masuk ke dalam rumah dan menggendong Sabila dengan penuh kasih sayang.

Cewek cantik itu adalah Mbaknya Dono yang menitipkan Sabila ponakannya untuk di jagain sebentar karena urusan cukup ribet. Mbak Dono pun berkata "Terimakasih Dono...karena telah menjaga baik Sabila".

"Iya," saut Dono.

Sabila pun pergi dengan Ibunya. Seperti biasa sang Ibu memegang tangan kanan Sabila dan di lambai-lambai...sang Ibu berkata "Da...da...Om Dono", lalu Dono pun melambaikan tangan juga dan berkata "Da...da...Sabila......nanti kita main lagi sama Om."

Sabila pun pergi di bawa Ibunya pulang ke rumahnya. Dono sendiri lagi...setelah bayi Sabila yang di momongnya udah di bawa Ibunya. Segera Dono mengambil leptopnya di kamarnya dan mulai mengetik di ruang tengah sambil menikmati minum susu coklat kesukaannya Dono.

Tuesday, August 20, 2019

PERMAINAN

Seperti biasa Dono asik minum kopi di teras depan sambil memandang langit malam indah bertabur bintang. Indro baru pulang dari urusannya kencan dengan Saskia.

Indro pun langsung duduk bersama Dono sambil menuangkan tekok berisi kopi ke gelas. Baru menikmati kopi enak buatan Dono.

"Enak," kata Indro.

"Indro gimana kencan kamu hari ini?" tanya Dono.

"Baik-baik aja....Don. Oh iya apa tanggapan kamu penampilan Rara penyanyi dangdut?" kata Indro.

"Bagus-bagus aja. Cantik terlihat di lihat dari layar kaca televisi," kata Dono.

"Kalau Selfi?" tanya Indro.

"Bagus. Cantik sesuai penampilannya...terlihat auranya...dari percaya dirinya," kata Dono.

"Gimana dengan....Weni?"tanya lagi Indro.

"Bagus. Sesuai dengan karakter dirinya...ya..jadinya cantiklah pembawaannya," kata Dono.

"Gimana....kalau....dengan Aulia?" tanya Indro.

"Bagus dan cantik. Kaya Putri Raja," kata Dono.

"Jadi...cantik semuanya toh. Udah ah mainannya," kata Indro.

"Jadi...cuma sebatas itu permainannya. Biasanya nanya tentang tanggapan penampilan cowoknya penyanyi dangdut," kata Dono.

"lagi males aja. Kurang seru. Kan...aku cowok," kata Indro.

"Oh...begitu," saut Dono.

Dono dan Indro menikmati kopinya dengan baik sambil menikmati suasana yang tenang banget. Sampai Kasino pulang dari urusannya kerjaannya dan duduk bersama Dono dan Indro menikmati kopi enak buatan Dono.

Seperti biasa Dono nanya urusan kerjaan Kasino yang ini dan itu. Kasino pun menerangkan dengan cukup seperti biasanya. Suasana makin larut makin menyenangkn ketiganya untuk ngobrol. Kopi di cangkir pun habis begitu juga di tekok di tenggak ketiganya.
Dono, Kasino dan Indro mengakhiri pembicaraannya dengan penuh nilai persahabatan yang saling mendukung satu dengan yang lainnya.

SI KUCING KESAYANGAN

Tupai berlari dengan sangat cepat sekali untuk mengambil kacang di atas meja di halaman belakang. Tinggal satu jengkal lagi untuk mengambil kacang. Kucing sudah di hadapan Tupai.

Waspada Tupai untuk menghadapi Kucing penjaga rumah. Mulai Kucing untuk mengeluarkan kukunya yang tajam dan menggeseknya di meja....tanda untuk menyerang Tupai.

Saat kaki depan di lancarkan ke depan Tupai. Terlihat kuku yang tajam mau merobek muka Tupai. Langsung dengan cepat Tupai menghindari serangan Kucing dengan membuat tolakan ke belakang dan langsung segera berbalik untuk berlari secepat mungkin menuju pohon yang rindang.

"Aku selamat," kata Tupai.

Kucing tidak mengejar Tupai.....cuma nakut-nakutin aja. Kucing pun menjilatin bulu kakinya. Tupai pun menyusun rencana untuk mendapatkan kacang di atas meja. Sambil membuat teropongan dari daun agar terus mengawasin Kucing di atas meja.

Seorang gadis cantik pemilik rumah membuka pintu belakang dan berkata "Puss" untuk mencari Kucing kesayangannya. Sang gadis melihat Kucing kesayangannya di atas meja. Segera sang gadis untuk menghampiri Kucing kesayangannya, lalu menggendongnya dan bawa masuk sambil berkata "Kucing kesayangan aku".

Kucing pun masuk ke dalam rumah bersama gadis sambil di elus-elus bulu Kucing. Tupai pun senang karena tidak ada yang menjaga kacang di atas meja. Segera turun dari pohon Tupai untuk menuju meja yang ada kacangnya.

Tupai dapet kacang langsung segera memakannya.

"Enak," kata Tupai.

Tupai menghabiskan kacang yang ada di meja tersebut. Setelah itu Tupai seperti biasa mencari makan lagi karena perutnya belum kenyang dengan mencoba masuk rumah lewat jendela yang terbuka. Tupai pun melihat kacang dalam bungkus plastik di atas meja makan. Rasa senang menemukan makan kesukaannya.
Dengan berhati-hati masuk rumah agar tidak ketahuan dengan Kucing penjaga rumah. Sampai di meja makan. Tupai segera memakan kacang dengan lahapnya sampai perutnya kenyang setelah itu kembali ke dalam sarangnya di pohon yang rindang.

***

Sang gadis pemilik rumah membuka pintu depan rumahnya karena ada tamu yang memencet bel rumah dan Kucing di taruh di sofa setelah di pangkunya sambil di elus-elus bulunya.

"Hay...Selfi. Ayo kita berangkat  ke tempat teman kamu yang mengundang kamu....pesta ulang tahunya. Kan gak enak kalau telat."

"Ayo berangka..dari tadi aku nungguin..kamu....Don."

Selfi pun berjalan bareng dengan Dono. Pas di depan pintu mobil. Dono membukan pintunya untuk Selfi dan sambil berkata "Silakan tuan Putri".

"Iya," saut Selfi.

Selfi masuk mobil dan pintu di tutup pelan-pelan oleh Dono. Baru deh Dono masuk mobil dan membawa mobil dengan baik menuju rumah temannya Selfi yang ulang tahun adalah Rara.

***

Terdengar suara gaduh di dapur. Kucing bangun dari tidur-tiduran di sofa menuju dapur. Tikus masih asik makan sisa makan yang terjatuh di lantai. Mata Kucing melihat dengan tajem keberadaan Tikus yang asik makan. Dengan pelan-pelan melangkah untuk bisa menangkap Tikus.

Tikus tidak sadar kalau di incar oleh Kucing. Hampir selangkah lagi Kucing mau menyerang. Tikus pun merasakan kehadiran Tikus dan menoleh ke samping. Kucing sudah ketahuan Tikus segera langsung menyerang untuk menerkam Tikus dengan mulut yang menganga dan terlihat taring yang tajam-tajam yang siap merobek kulitnya Tikus.

Tanpa berpikir panjang Tikus berlari dan melupakan makan yang enak tersebut. Kucing mengejar Tikus kesana-kesini sampai gak tentu arahnya sampai masuk lubang di balik dinding menuju sarangnya. Kucing tidak bisa mendapatkan Tikus agak sedikit kesal banget. Lalu sang Kucing kembali ke tempat ia bersantai di ruang tamu di atas sofa.

Tikus pun lebih baik menghindari masalah lebih baik bersembunyi di dalam sarangnya dan memakan makan yang di simpannya di sarangnya.
Kucing tetap tenang bersantai di atas sofa menunggu majikannya pulang ke rumah.

***

Sampai di tempat ulang tahun Rara. Seperti biasanya Selfi langsung menemui Rara untuk memberi selamat karena telah bertambah umurnya dan sekaligus memberikan kado. Dono pun mendampingi Selfi. Ketiganya ngobrol bersama layaknya teman yang akrab.
Sampai Dono bertemu kawan lama yang sudah lama tak jumpa. Dono segera menghampiri teman lamanya dan membiarkan Selfi dan Rara ngobrol bersama.

Seperti biasa Dono bersalaman dan berpelukan dengan teman baiknya Denias pemuda dari Papua yang merantau ke Jakarta dengan satu tujuan yang tidak berubah "Menuntut Ilmu sampai jadi orang sukses".

Dono pun paham dengan pola pikir Denias yang memegang teguh tujuannya karena permintaan orang tuanya. Kadang Dono pun bertanya tentang keadaan keluarga Danias di Papua. Seperti biasa Denias bercerita apa adanya keadaan keluarganya di kampung halaman.

Kadang Denias bertanya hubungan dengan Selfi dan Rara dengan rumor yang berkembang di kalangan teman-teman. Dono pun menanggapinya dengan tenang dan tidak terbawa arus yang akan membuat keruh dari permasalahan. Denias pun mengerti dengan perinsip hidup Dono yang sebenarnya "Tidak ingin melukai perasaan orang yang di sukai". Maka itu Dono tetap menyembunyikan sesuatu tentang perasaan hatinya tetap berjalan di antara Selfi dan Rara.

Dono pun kembali untuk ngobrol dengan Selfi dan Rara dan membiarkan Denias ngobrol dengan teman yang lain. Seperti biasanya asik ngobrol Dono, Selfi dan Rara sampai waktu juga untuk berpisah.

Dono dan Selfi berpamitan pulang ke Rara. Dengan baik Rara mengizinkan temannya karena sebenarnya acara pun sudah selesai juga. Dono dan Selfi keluar dari rumah Rara menuju mobil dan segera di bawa dengan Dono menuju rumah Selfi.

Rara pun merasa lega dengan acara ulangtahun berjalan baik. Walau ada pola pembicaraan yang menyudutkan hubungan Rara, Dono dan Selfi. Padahal di dalam hati Rara tidak peduli urusan tentang cinta ini dan itu yang akan mengganggu hubungan perteman dengan Dono dan Selfi....yang sebenarnya tujuan Rara adalah hanya satu yaitu "Membahagiakan orangtuanya dulu", maka itu Rara berjuang menggapai mimpinya.

***

Sampai di rumah Selfi. Dono pun segera mengantarkan Selfi sampai di depan pintu rumahnya setelah itu berpamitan untuk pulang. Selfi pun masuk ke dalam rumahnya setelah Dono pergi dari rumah Selfi dengan membawa mobilnya dengan baik menuju tujuan pulang ke rumah Dono.
Selfi melihat keadaan rumahnya berantakan banget....padahal baru di tinggalkan sebentar. Selfi tahu yang membuat ulah seperti biasanya membuat berantakan rumah adalah Kucing kesayangan Selfi seperti biasa mengejar Tikus yang nakal.

Selfi pun mulai merapihkan tempat-tempat yang berantakan ulah dari si Kucing baru deh Kucing di panggil untuk di berikan makan di tempat makannya karena Selfi lupa memberi makan Kucingnya....sebelum ia pergi ke tempat ulang tahun Rara.

Baru deh Selfi berbenah diri baru istirahat di kamarnya. Di dalam kamarnya Selfi seperti biasa menulis kegiatan hari ini di buku diarinya dan juga rahasia hatinya siapa yang di sukai Selfi?.
Kucing senang dengan memakan makanan yang di berikan majikannya. Baru setelah itu seperti biasa istirahat di sofa ruang tamu untuk tidur.

***

Sampai di rumah Dono. Seperti biasa Dono duduk bersama teman-temannya Kasino dan Indro untuk ngobrol sambil minum kopi buatan Indro yang enak. Indro pun bertanya seperti biasa tentang urusan Dono jalan dengan Selfi?. Dono dengan santai menjelaskan semuanya berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Indro pun mengerti Dono hanya berteman dengan Selfi....walau ada rasa dengan Selfi. Tapi tetap Kasino pun ingin tahu kejelasan hubungan Dono dengan Rara. Dono tidak bisa berkata lebih kalau urusan Rara karena permintaan Rara yang sebenarnya adalah "Jalan masing-masing karena Rara mengejar sesuatu demi dirinya dan orang tuanya".

Kasino pun baru paham kalau maunya Rara seperti itu, begitu juga dengan Indro. Walau sebenarnya Dono mengajak Selfi jalan bareng....yang di takutin adalah rasa cemburu Rara. Untung saja Dono di saat ulang tahun Rara....tidak ada timbul yang gak enak urusan cinta yang ruwet tapi sebenarnya simpel banget.

Dono dan kawan-kawan tidak membicarakan urusan Rara dan Selfi lagi lebih baik ngobrol urusan rubik yang lain sambil menikmati kopi yang enak.

***

Tupai lagi santai di sarangnya ke datangan tamu.....ya Tupai juga. Tupai mempersilakan Tupai untuk mempersilakan temannya masuk kesarangnya. Baru deh Tupai ngobrol dengan temannya untuk menghabisi waktu malam sambil menikmati makanan yang di bawa temannya.

Monday, August 19, 2019

LOST IN PAPUA

Indro dapet telpon dari keluarganya untuk segera ke rumah Kakeknya karena ada benda yang di wariskan....untuknya sebelum Kakek meninggal dunia.

Indro, Kasino dan Dono berangkat ke tempat kediaman rumah Kakeknya. Singkat waktu sampai di rumah Kakek. Lalu Indro menemui Pamannya dan segera di berikan warisan dari Kakeknya yang di taruh di dalam kotak kayu di dalam kamar Kakek.

Indro masuk kamar Kakek untuk memeriksa warisan apa yang di berikan padanya? Dengan pelan-pela Indro membuka kotak kayu sendirian di dalam kamar. Paman ngobrol dengan Dono dan Indro di ruang tamu sambil menikmati kopi hitam buatan Bibinya Indro.
Kotak kayu terbuka. Indro melihat sebuah tombak yang pegangan pada kayunya jadi dua.

"Jadi...ini warisan yang di wariskan oleh Kakek...untuk saya. Sebuah tombak yang pegangannya patah," kata Indro.

Indro mulai memegang tombak tersebut dengan tangan kanannya. Awalnya tidak terjadi apa-apa? Lama-lama terjadi fenomena yang terjadi pada Indro. Seakan-akan dirinya pindah ke dunia yang berbeda.

"Haaaaa!!!!....Di hutan belantara gimana bisa? Padahal aku....masih di dalam kamar," kata Indro yang terkejut dengan keadaannya.

Indro berusaha sabar menghadapi keadaan yang aneh dan berusaha mencari tahu dengan baik. Tapi ternyata nihil karena Hp secanggih apapun tidak ada sinyal....apapun? Jadi tidak bisa dapet solusi. Indro mulai kacau sampai di buangnya tombak yang di pegangnya di tanah dan berkata "Jangan-jangan gara-gara tombak warisan Kakek ini?".

Indro pun duduk di tanah. Lama-lama rebaan di tanah karena bosan dengan keadaannya. Ada ular piton yang merayap pelan-pelan menuju Indro.

"Kayanya aku...mencari manusia...yang tinggal di dalam hutan. Supaya...bisa menyelesaikan....masalah aku," kata Indro.

Indro telah memutuskan dan mengambil tombak di taruh di tanah di sebelah kanan. Di raba-raba oleh Indro keberadaan tombak. Lalu di peganglah ular piton....oleh Indro. Sontak Indro ketakutan dan melakukan langkah seribu.

Ketika teringat tombak peninggalan Kakek kembali ke tempat yang ada ular pitonnya. Indro pun berani menghadapi ular piton dan berhasil mengambil tombak. Perut Indro pun berbunyi....tanda lapar dan juga energi habis di gunakan lari mondar mandir gara-gara ular piton.

Indro melihat sekeliling hutan dengan jelas dan baik banget.

"Kayanya susah mencari makan di hutan ini. Oh...iya...ular piton aja jadi santapan makan siang aku dan sekaligus jadi perbekalan di jalan...untuk mencari jalan keluar dari hutan ini," kata Indro.

Indro pun dengan menangkap ular piton untuk ia santap sebagai makan siangnya. Dengan menggunakan tombak di penggal kepala ular dan badan ular di kulitin dengan baik oleh Indro baru deh di potong-potong.

Daging ular piton yang telah di potong-potong di tusuk kayu. Segeralah Indro membuat api unggun. Tapi karena gak ada korek api....Indro bingung membuat api unggun. Lalu Indro mencoba mengingat tentang tontonannya di Tv tentan jejak petualang membuat api tidak menggunakan korek api. Indro segera menbuat alat untuk menciptakan api dari kayu kering yang si serut oleh Indro pake tombak.

Lalu membuat busur dan batang kayu yang ujungnya di runcingkan. Alat tersebut  jadi. Mulai Indro menggeseknya di kayu yang kering untuk menciptakan panas. Kayu mulai panas akibat gesekan dan terciptalah percikan api baru di tambah serutan kayu untuk menghidupkan api menjadi besar dan di tiup Indro pelan-pelan agar api tambah membesar. Api pun jadi segeralah di kumpulkan kayu kering untuk untuk membuat api unggun. Baru deh panggang daging ular piton.

Dengan sabar Indro menunggu masakan daging ular pitonnya masak. Sampai hari mulai malam. Nyamuk hutan tambah banyak untung saja ada api unggun...nyamuk agak berkurang. Daging pun masak. Segera Indro menyantapnya untuk mengisi perutnya lapar.

Indro pun memakan daging ular piton dengan menyambung hidup di hutan belantara. Rasa haus pun muncul. Indro mencari air untuk minum. Lalu mencari batang bambu yang ada penyimpanan air karena celahnya berlubang. Dengan sabar mencarinya menemukan juga...lalu segera dibuka batang bambu itu pelan-pelan alias di congkel pake tombak dan air pun ngucur di tadah di daun lebar banget untuk di minum airnya....oleh Indro.

"Lumayan segar," kata Indro.

Indro mulai ngantuk dan segera tidur dekat api unggun. Agar tidak di ganggu oleh binatang hutan yang jahat. Hari pun berganti pagi segera Indro mulai perjalannya setelah sarapan daging ular piton lagi dan sisanya di bungkus pake daun dan di buat jadi tas pake pengikat kulit kayu.

Baru deng Indro berangkat. Mencari jalan keluar dari hutan. Saat perjalan bertemu sekor anjing hutan. Indro mengusirnya dengan batu dan anjing pun kabur. Baru beberapa langkah anjing dateng ada empat ekor.

"Kacau ini mah," kata Indro.

Indro pun segera berlari dan manjat pohon dengan terburu-buru sampe daging piton perbekalannya jatuh ke tanag dan di makan anjing hutan sampai habis perbekalan Indro. Setelah itu anjing hutan meninggalkan Indro karena perutnya sudah kenyang.

Indro pun kesel karena makannya untuk perbekalan di jalan di makan anjing hutan yang kelaparan. Semenjak kejadian itu Indro membuat senjata berupa panah dan busur untuk menjaga dirinya....kalau bertemu dengan kawan anjing hutan.

Perjalanan di lanjutin oleh Indro untuk mencari jalan keluar dari hutan belantara. Terdengar suara aliran air. Segeralah Indro berlari menuju suara aliran air yang terdengar.

Indro pun menemukannya langsung jebur ke sungai untuk mandi dan sekaligus minum airnya. Barulah mencari ikan di sungai dengan cara di tombak dan di panah dengan keuletan dan kesabaran tetap tidak mendapatkan ikan.

Indro mulai murung dengan usahanya. Tapi mencoba lagi untuk lebih tenang lagi dengan merasakan keadaan lingkungan. Lalu tombak di arahkan ke aliran sungai saat Indro melihat ikan bergerak sangat tenang.

"Dapet juga ikan," teriak Indro yang senang.

Indro yang senang banget dapet ikan dengan cara menombak...
segeralah buat api unggun untuk bakar ikan. Dengan sabar masakannya....pun matang juga langsung di makan oleh Indro dengan penuh kesenangan. Terkadang Indro terpikir dengan teman-temannya dan keluarganya yang mungkin mengkhawatirkan keadaannya.

Indro pun selesai juga makan ikannya baru melanjutkan perjalannya lagi. Ketika dari jauh melihat asap mengepul di langit....Indro dapet petunjuk untuk keluar dari hutan belantara.

Dengan berlari Indro untuk mendekati asap yang mengepul di langit tersebut. Karena ada manusia yang membuat api unggun di tengah hutan. Tapi tiba-tiba ada seorang cewek berkulih hitam berlari dengan cepat untuk menjauh dari kejaran anjing hutan.

Indro mulai memanah anjing satu persatu demi menyelamatkan cewek yang di kejar anjing hutan. Cewek pun selamat....tidak di kejar anjing lagi...karena semua anjing telah mati di panah Indro.
Lalu Indro menemui cewek tersebut untuk mencari solusi keluar dari hutan belantara. 

Cewek yang di tolong...Indro memang baik, tapi masalahnya Indro tidak bisa bahasa daerah orang Papua? Karena pernah nonton Tv...bahasa yang di gunakan mirip banget. Tambah pusing lagi di kepalanya Indro dengan keadaannya? Sedangkan cewek yang di tolong Indro mengajaknya untuk ke tempat tinggalnya. Ya...gak ada jalan lain jadi menerima tawaran cewek yang di tolong Indro.

Sampai di perkampungan orang pedalaman Papua. Indro di jamu makan dan minum dengan adat orang Papua karena sudah menolong anak kepala suku. Indro menerima kebaikan orang Papua yang baik padanya. Sampai seminggu lebih Indro hidup bersama orang pedalaman Papua. 

Walau ada solusi keluar dari hutan belantara harus berjalan satu minggu lebih menuju daerah yang telah berkembang alias kota.
Indro lebih baik memutuskan tinggal lebih lama dulu untuk belajar kehidupan bersama orang Papua karena sudah kepalang sudah jadi orang rimba. Makin lama tinggal bersama orang Papua...Indro bisa memahami bahasa...orang Papua dan juga berpakaian ala orang Papua...cuma beradaptasi lingkungan. Lalu Indro pun melihat ada sebuah tombak sama dengan miliknya yang di simpan di dalam rumah kepala suku. Mulai Indro mencari tahu tentang tombak tersebut.

Kepala suku pun menjelaskan bahwa tombak yang di simpan di dalam rumah kepala suku adalah tombak yang dikeramatkan. Konon ada sepasang menurut cerita kepala suku, tapi satu sudah di berikan oleh penjelajah jauh dari seberang pulau Papua tujuannya adalah nilai persahabatan.

Indro pun mengerti dengan cerita kepala suku. Lalu di berikanlah tombak milik Kakeknya Indro yang diwariskan padanya kepada kepala suku. Setelah tombak di pegang kepala suku....dengan baik. Indro pun kembali ke dunia asalnya.

"Aku di rumah," kata Indro.

Indro pun senang sekali kembali pulang karena misinya selesai mengembalikan tombak ke tempat asalnya. Indro pun keluar dari kamar Kakeknya untuk menemui Dono, Kasino dan Paman Indro yang asik ngobrol di ruang tamu.
Terkejut semuanya melihat keadaan Indro kaya orang pedalaman di Papua.

"Darimana kamu...Indro. Kumel, dekil dan item lagi?" tanya Dono.

"Papua," jawab Indro.

"Papua," kata Dono, Kasino dan Paman Indro bersamaan.

"Iya....dari Papua. Kalau gak percaya...ya....sudah. Aku mau mandi dulu. Mau menghilangkan bau...gak sedap pada tubuh aku," kata Indro.

Indro pun bergerak menuju kamar mandi untuk mandi. Dono, Kasino dan Paman Indro tidak percaya omongan Indro karena....yang mereka tahu...Indro cuma beberapa jam di dalam kamar Kakeknya Indro.

Saturday, August 17, 2019

KESATRIA GARUDA EVO

Hari sudah malam. Pekerjaan pun sudah selesai semuanya. Kasino menutup restorannya. Saat mau masuk ke dalam mobil Kasino menemukan sebuah mainan di jalan. Segera Kasino memungut mainan tersebut.

Kasino pun memeriksa mainan tersebut, ternyata mainan yang di temukan adalah action figur Kesatria Garuda Bima X. Lalu Kasino melilik sana ke sini tujuan mengembalikan ke pemiliknya. Tapi keadaan lingkungan sudah sepi banget. Jadi Kasino memutuskan menyimpan mainan tersebut dan berikan ke Dono dan Indro yang suka mengoleksi mainan actian figur.

Tiba-tiba tabir terselubuh mengenai Kasino dan memindahkan dirinya ke daerah lain.

"Kok...siang. Bukannya tadi masih malam," kata Kasino yang terkejut dengan keadaannya.

Kasino pun berusaha tenang menghadapi ujian dari keadaan yang menimpa dirinya. Semua tiba-tiba berlari menuju Kasino. Tambah bingung Kasino dengan keadaan yang sifatnya panik karena ada huru hara.

Monster Reptil mengamuk menghancurkan kota. Kasino terkejut banget karena monster Reptil mau mendekati dirinya. Seorang gadis cantik memegang tangan Kasino dan menariknya untuk berlari untuk menjauh dari monster Reptil.

Datenglah Kamen Rider Ziro 1 langsung bertarung menghadapi monster Reptil. Pertarungan sangat sengit antara di jalan kebaikan dan di jalan ke jahatan. Kasino melihat pertarungan sengit tersebut dari jauh. Tapi sang gadis yang baru di kenalnya mengajaknya untuk menjauh dari pertikaian.

Sampai di rumah sang gadis. Kasino mulai berkenalan dengan gadis yang baru di kenalnya. Kasino tahu nama gadis yang baru di kenalnya adalah Haruka dan juga Haruka pun tahu orang baru di kenalnya namanya Kasino.

Kasino di jamu dengan tradisi budaya Haruka. Lalu Kasino pun ngobrol tentang lingkungan tempat tinggal Haruka. Di ceritakanlah oleh Haruka tentang lingkungan tempat tinggalnya yaitu Jepang....ya...cukup panjang lebar. Yang membuat Kasino bingung kenapa dirinya bisa berinteraksi dengan warga Jepang pake bahasa Jepang.....padahal dirinya dari Indonesia?.

Haruka pun mengajak ke suatu tempat di mana berkumpul para manusia yang sedang berkumpul untuk menyatukan visi dan misi untuk mengalahkan para monster yang telah membuat kehidupan para manusia jadi kacau. Kasino hanya ikut-ikut saja mengikuti acara di sebuah ruangan yang cukup luas dan aman. Monster terlalu pintar untuk di kelabui. Di antara warga yang berkumpul tersebut berubah menjadi sosok yang menyeramkan menjadi monster Katak.

Haruka menarik tangan Kasino pun keluar dari gedung tersebut karena banyak warga yang berkumpul mati di bunuh monster Katak. Kasino dan Haruka berlari untuk menghindari bencana pada diri mereka berdua. Monster Katak mengejar Kasino dan Haruka. Dan Haruka pun di tangkap oleh monster Katak. Kasino mau menolong Haruka. Datenglah Kamen Rider Decade menghajar monster Katak dan berhasil menyelamatkan Haruka.

Muncuk lagi monster Gurita yang lebih mengerikan lagi menghancurkan kota. Haruka mengajak Kasino untuk pergi meninggalkan daerah kehancuran.

Kasino pun berkata dalam diri saat menggenggam mainan Kesatria Garuda Bima X "Seandainya...aku bisa bertarung dan menyelamatkan...masyarakat yang lemah dan tidak berdaya...dari kejahatan para monster."

Mainan pun bercahaya karena berensonasi dengan keinginan Kasino. Seketika mainan action figur Kesatria Garuda Bima X berubah menjadi sebuah sabuk kekuatan dan sebuah kartu berlambang Garuda.

"Jangan ini kekuatan baru dari Kesatria Garuda Bima X, tapi yang di tulis di kartu ini Api," kata Kasino.

Kasino segera memakai sabuk kekuatan dan memasukan kartu bergambar Garuda dan berkata "Berubah".

Terjadilah fenomena pada diri Kasino dan berubah menjadi Kesatria Garuda Api yang berwarna merah yang membara seperti api. Kasino pun bertarung menghadapi monster Gurita dengan kekuatan barunya. Kasino agak sedikit belum terbiasa menggunakan kekuatannya. Karena itu monster Gurita berhasil menjatuhkan Kasino dengan wujud Kesatria Garuda Api.

Kasino pun bangkit untuk mengalahkan monster Gurita dan menggunakan kartu bergambarkan sebuah pedang dan di masukkan ke dalam sabuk. Keluarlah dari sabuk sebuah pedang. Kasino menggunakan pedang untuk memotong tentakel monster Gurita dan langsung menebasnya menjadi dua.
Pertarungan pun selesai juga mengalahkan monster Gurita.

Dari Kesatria Garuda Api kembali ke wujud Kasino yang sebenarnya. Sabuk kekuatan pun berubah menjadi mainan action figur Kesatria Garuda Bima X.
Kamen Rider Decade berhasil mengalahkan monster Katak juga. 

Keadaan pun mulai tenang tidak ada serangan monster yang menghancurkan kota. Haruka pun menghampiri Kasino dan senang karena Kasino menjadi pahlawan yang mengalahkan monster jahat.

Haruka mengajak Kasino untuk pulang bersamanya. Sampai di rumah Haruka seperti biasanya Kasino di jamu dengan makan kas Jepang. Terkadang Kasino pun belajar juga masakan Jepang untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Suasana kehidupan pun berjalan normal-normal aja.

Sampai suatu ketika Kasino mengantarkan barang pesan pelanggan karena memesan makan dari kedai Haruka. Tanah berguncang dengan sangat hebat sekali seperti gempa bumi. Muncullah istana dari bawah tanah. Pintu gerbang terbuka dari istana.

Muncullah para monster yang mengerikan. Para Kamen Rider muncul semuanya untuk mengalahkan para monster yang ingin menghancurkan kota. Haruka yang khawatir dengan Kasino mencarinya.

Kasino hendak melihat pertarungan para Kamen Rider mengalahkan monster. Tapi Haruka menghalangi Kasino dengan alasan tidak ingin kehilangan Kasino.

Dalam hati Kasino berkata "Kenapa jadi dramatisir...gini...kan cuma melihat dari jauh...tidak akan mati kalau tidak bertarung?".

Haruka tetap menghalangi Kasino untuk tidak pergi dan mengambil mainan di tangan Kasino. Tiba-tiba Kasino terpental jauh masuk ke dalam tabir dan kembali Indonesia saat dirinya hendak memungut mainan Kesatria Garuda Bima X.

"Loh...aneh. Kayanya aku mengulangi kejadian ini. Apa yang terjadi yang sebenarnya ya?" kata Kasino.

Kasino melakukan lagi memungut mainan action figur Kesatria Bima X dan menaruhnya di mobil, lalu meninggalkan tempat tersebut. Sampai di rumah seperti biasa menjalankan kegiatan ngobrol sama Indro dan Dono. Tapi lama-lama Kasino melihat Kasino melihat bayangan Haruka dalam keadaan yang mengenaskan.
Kasino tambah bingung dengan keadaannya dan berkata dalam dirinya "Ini mimpi ataukah kenyataan?".

Kasino tetap biasa-biasa aja menjalankan kehidupan sehari-hari dan menganggap bayangan Haruka hanya ilusi semata saja. Tapi saat bicara dengan Dono yang senang mainan action figur "Seandainya....aku ada kesempatan jadi pahlawan super maka....aku benar-benar menjadi pahlawan super...demi melindungi yang lemah".

Kasino pun jadi mengerti omongan Dono. Lalu mengambil mainan action figur Kesatria Garuda Bima X di kamar dan berkata "Aku ingin kembali ke dunia....Haruka demi melindungi dirinya".

Mainan action figur bercahaya karena keinginan dari Kasino mengembalikan Kasino saat bicara dengan Haruka yang mengambil mainan dari tangan Kasino.

"Aku...mengerti ke khawatiran kamu...Haruka. Tapi...aku ingin bertarung demi melindungi kamu dan warga lain agar dunia kamu damai," kata Kasino.

Haruka pun mengerti dan memberikan mainan action figur ke Kasino. Keputusan Kasino sudah mantap bahwa dirinya lebih baik bertarung jika ada kekuatan dan mengubah kata hatinya yang sejenak ragu-ragu.
Sampai di tempat pertarungan Kasino segera berubah menjadi Kesatria Garuda Api. Langsung mengalahkan satu persatu monster dengan bekerjasama dengan para Kamen Rider dan masuk istana. Di aula Raja monster.

Semua Kamen Rider bersiap menghadapi sang Raja Monster Komodo Dragon yang bertubuh besar banget. Para Kamen Rider menyerang Raja monster dengan teknik andalan. Sang Raja monster menangkisnya dan di balikkan dengan kekuatan dua kali lipat dan berakibat para Kamen Rider merasakan kekuatan hebat dari Raja monster.

Kasino pun baru mengerti omongan Haruka dengan khawatirannya pada dirinya....bisa mati dalam pertarungan. Tapi keputusan telah di putuskan tidak bisa lari dari pertarungan jadi Kasino melanjutkan pertarungan.
Tiba-tiba muncul kartu di hadapan Kasino yang bergambar perubahan Garuda. Segeralah Kasino memakai kartu tersebut dan berubah menjadi Kesatria Garuda Evo. Dengan kekuatan baru segeralah Kesatria Garuda Evo yang berwujut keemasan bertarung menghadapi Raja monster sampai tidak ada yang mau mengalah dalam pertarungan yang sangat sengit.

Sampai ada kesempatan yang paling tepat di tinju bertubi-tubi untuk menjebol pertahanan Raja monster sampai tidak berdaya. Baru deh Kesatria Garuda Evo bersama dengan para Kamen Rider menyerang dengan teknik tendangan langsung di tujukan Raja monster.

Setika juga Raja monster Komodo Dragon hancur berkeping-keping. Istana pun runtuh. Segera Kesatria Garuda Evo meninggalkan istananya para monster bersama para Kamen Rider menuju pintu keluar. Kerajaan monster telah hancur berkeping-keping dan kehidupan kembali benar-benar damai. Para Kamen Rider kembali ke dunianya masing-masing.

Kesatria Garuda Evo pun kembali menjadi Kasino setelah sabuk di pinggang di lepas menjadi main action figur Kesatria Garuda Bima X. Haruka pun dateng menemui Kasino langsung memeluknya sambil berkata "Terimakasih banyak telah berbuat banyak demi aku...dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan kamu".

"Iya....sama-sama. Tapi jangan begini!. Aku malu...tahu!!" kata Kasino.

"Oh...maaf," saut Haruka sambil melepaskan pelukannya ke Kasino.

"Karena urusan aku sudah selesai. Jadi aku ... kembali ke duniaku. Tepatnya di Indonesia. Jadi aku berikan mainan ini untuk kamu....Haruka," kata Kasino.

Haruka mengambil mainan yang di berikan padanya "Jadi mainan ini...untuk aku".

"Sampai jumpa lagi....Haruka. Terimakasih....atas segala-segalanya. Oh..iya. .masakan yang kamu buat enak banget," kata Kasino.

"Iya sama-sama. Teman terbaik," saut Haruka.

Kasino pun langsung masuk dalam tabir terselubung kembali ke dunianya....dimana Kasino sedang berada di dalam kamarnya. Seperti biasa Kasino keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu....untuk ngobrol dengan Dono dan Indro.

Haruka pun menjalani hidupnya lebih baik karena keadaan lingkungan damai dan juga selalu membawa main action figur Kesatria Garuda Bima X....untuk mengingat teman baiknya....Kasino dari Indonesia.

Friday, August 16, 2019

PERAYAAN 17 AGUSTUSAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Dono seperti biasa sibuk mengetik pake leptopnya di ruang tamu. Indro yang sudah beres urusannya menonton Tv acara pengibaran bendera 17 Agustusan, langsung bergerak duduk bersama Dono.

"Dono keluar yok!" kata Indro.

Dono menghentikan ketikannya.

"Keluar kemana?" tanya Dono.

"Nonton konser musik di lapangan.... Kan Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia," kata Indro.

"Ayo. Tapi aku ganti pakaian dulu. Oh iya....sekalian Kasino di ajak," kata Dono.

"Iya. Kasino....aku ajak keluar juga.Untuk nonton konser musik," kata Indro.

Dono segera mengeseve tulisannya baru deh di sutdown leptopnya. Bergerak Dono dari duduknya menuju kamarnya untuk menaruh leptop dan berganti pakaian. Kasino baru selesai mengerjakan pembukuannya di kamarnya dan duduk di ruang tamu. Indro pun mulai bicara ingin mengajak Kasino keluar rumah untuk nonton konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesian.

Kasino menerima ajakan Indro untuk nonton konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia. Beranjak dari duduklah Kasino untuk berganti pakaian.
Dengan sabar Indro menunggu teman-temannya di ruang tamu. Akhirnya keluar juga Dono dan Kasino.

"Indro kamu yang bawa mobilnya," kata Kasino sambil melempar kunci mobil ke Indro.

"Ok...siap," kata Indro.
Dono, Kasino, dan Indro keluar dari rumah. Tak lupa Dono mengunci pintu depan agar tidak masukin orang gak jelas. 

Ketiganya masuk mobil Kasino dan segera di bawa oleh Indro. Setelah mobil keluar. Kasino pun keluar dari mobil untuk menutup gerbang dan menguncinya agar tidak di masukin orang yang tidak jelas.

Setelah itu Kasino naik mobil. Indro pun membawa mobil dengan baik sampai tujuan. Lalu di parkirkan dengan baikjuga oleh Indro. Baru deh ketiganya keluar dari mobil dan melihat lapangan penuh dengan manusia.

"Cari makan yuk!" kata Dono.

"Ayo....!!!"jawab Kasino dan Indro bersamaan.

Ketiganya mencari tempat makan sambil asik nonton konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia. 

Akhirnya dapet tempat yang bagus untuk nonton sambil makan yang enak. Kasino langsung mesan tiga mangkok mie ayam dan minumnya es jeruk tiga gelas ke Mamang penjualnya.

Dono asik duduk sambil meneropong dengan alat yang di bawanya. Terlihat banget para artis yang mengisi acara. Indro pun ingin lihat juga dan minjem teropong ke Dono. Ya...Dono pun memberikan teropong yang di bawanya.

Indro asik melihat....para artis menyanyi di panggung. Makan dan minuman telah di meja. Kasino dan Dono asik menikmati makan dan minumnya. Indro pun sambil minum sambil juga asik meneropong para artis yang mengisi acara konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia.

Indro pun berkata "Dara cantik....mau nyanyi."

"Maksudnya....siapa Don yang di omongin Indro?" tanya Kasino.

"Aulia....lah," jawab Dono.

"Aulia....penyanyi...dangdut itu," kata Kasino.

Indro pun tetap asik menonton konser tersebut pake teropong. Dono dan Kasino sambil makan dan minum menikmati keramaian yang ada. Sampai makan dan minum selesai dinikmati Dono dan Kasino. Indro belum habis juga makan dan minumnya.

"Indro udah dulu....neropongnya....makan dulu mie ayamnya!" kata Kasino.
"Iya. Lupa....keasikan,"  kata Indro.

Teropong di kasih ke Dono dan Indro makan mie ayam yang enak beserta minum es jeruknya. Dono mau melihat konser pake teropong, tapi Kasino ingin lihat juga. Jadi kasihlah teropongnya Dono ke Kasino.

Segera Kasino meneropong acara konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia...yang di isi oleh para artis. Saat itu yang di lihat Rara lagi menyanyi. Kasino pun berkata "Rara...lagi menghibur para penonton di bawah panggung......dengan penampilan seperti biasanya."

"Oh...begitu," saut Dono.

"Berarti....bagus Dong...Kasino?" kata Indro.

"Iya," saut Kasino.

Indro pun selesai makan dan minumnya. Lalu teropong di kasih Dono. Karena sepakat yang bayar makan dan minuman adalah Kasino. Segera di bayarlah makan dan minuman dengan uang pas sama Kasino ke Manang penjualnya.

Ketiganya berjalan-jalan melihat keadaan masyarakat yang ikut meriahkan acara dengan ikut lomba ini dan itu. Tiba-tiba Indro menghilang di tengah keramaian. Dono dan Kasino mencari Indro layaknya mencari anak kecil yang hilang. Tahu-Tahu Indro membawa makan dan berikan ke Dono dan Kasino.

Dono dan Kasino menikmati makan cilok yang enak. Makin lama makin dekat ketiganya dengan panggung konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia. Lagi-lagi Indro menghilang di tengah keramaian. Dono dan Kasino mencari Indro.....kaya anak hilang.

Tahu-tahu Indro sudah di atas panggung konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia. Ikut perlombaan menyanyi. Indro pun antusias banget dengan perlombaan menyanyi tersebut....gak penting menang atau kalahnya yang penting adalah memeriahkan suasana Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia.

Saat menyanyikan lagu yang tetapkan perlombaan. Indro menyanyikannya dengan semangat yang berapi-api seperti pejuang kemerdekaan Indonesia mau berperang mengusir penjajah dari tanah air Indonesia.

Dono dan Kasino menonton penampilan Indro di antara penonton selalu memberikan tepuk tangan....karena keberanian Indro tampil diatas panggung. Namanya rezeki gak disangka-sangka Indro pun menang dan dapet hadiah. Tapi Indro ingin tampil lagi menyanyi jadi meminta pada hostnya. Ternyata di bolehkan. Kali ini Indro gak sendirian untuk tampil menyanyi.....memanggil teman-temannya keatas panggung. Segera Dono dan Kasino ke panggung.

Mulai ketiganya memegang alat musik andalan mereka. Indro menyanyikan lagu kemerdekaan dengan semangat berapi-api di iringi alat musik di main Dono dan Kasino.

Suana lebih semarak lagi dengan penuh kegembiraan memeriahkan Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia. Sampai syair lagu selesai di nyanyikan Indro. Baru deh untuk kenangan-kenangan Indro foto  bareng dengan para artis yang mengisi acara Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia...Dono dan Kasino ikutan juga.

Urusan foto-foto selesai dan di simpen baik di file penyimpanan di Hp ketiganya. Dono pun mengajak nyari makan lagi teman-temannya. Tapi Indro menghilang lagi. Dono dan Kasino membiarkan Indro menghilang.

Tahu-tahu Indro bawa makan dan di berikan ke Dono dan Kasino. Ketiga menikmatin somay yang enak sambil jalan. Dono melihat penjual es dugan segera meminta tiga bungus ke Manang penjual. Segera di layanin pembelinya. Tiga bungkus es dugan di berikan ke Dono oleh Mamang penjual segera di bayar dengan uang pas oleh Dono.

Dua bungkus di berikan pada Kasino dan Indro. Ketiganya menikmati minum es dugan yang segar itu sambil berjalan menuju mobil. Hari makin menjelang magrib. Dono, Kasino dan Indro memutuskan untuk pulang ke rumah untuk istirahat. Segera ketiganya masuk mobil. Yang bawa mobil Indro dengan baik membawanya sampai ke rumah.

Ketiganya puas nonton konser musik Perayaan 17 Agustusan Kemerdekaan Indonesia dengan meriah.....banget.

PENYIHIR

Pagi-pagi sekali Dono berolah raga rutin untuk kebugaraannya. Rara berlatih juga sihirnya agar bisa di kendalikan dengan bersama Melinda....kakak tingkatnya dan satu asrama. Indro dan Kasino masih bersaing dalam penggunaan sihir mereka berdua dalam melatih sihir sampai energi sihir bola api...Indro yang di lemparkan ke Kasino di hempaskan dengan sihir putaran kilat petirnya. Bola api terbang menuju asrama....langsung menjebol dinding. Yang fatalnya mengganggu Komandan Yeki yang sedang asik buang hajat. Segera menyelesai urusannya Komandan Yeki.....dan memberikan hukuman ke Indro dan Kasino dengan pus up 500 kali.

Namanya hukuman dari Komandan Yeki dan memang Indro dan Kasino salah, maka di jalankan dengan baik. Selesai dari hukuman di berikan Komandan Yeki. Indro dan Kasino berhasil membentuk tubuh mereka berdua sispek abis....banget!!!. Komandan memperhatikan latihan Dono. Lalu mengajarkan teknik rahasia Komandan Yeki ke Dono....untuk meningkat sihirnya.

Latihan dari Komandan Yeki....memang berat sekali pada akhirnya Dono berhasil...menguasainya. Ketika di coba sihir anginnya....Dono, langsung menciptakan tornado yang besar tetapi di tendalikan dengan baik. Setelah tornado oleh Dono di hilangkan karena mulai menarik semua orang ke dalam pusaran.

Baru deh....istirahat Dono dari latihannya. Komandan Yeki kembali ke markasnya. Rara berhasil menguasai sihirnya karena berlatih keras di bantu Melinda. Seusai berlatih biasa Rara ingin menemui Dono yang mempunyai perasaan gitu?. Tapi Dono menganggap Rara biasa-biasa aja layaknya seorang teman. Kadang Rara kesal karena Dono menanggapinya....kurang sensitif jadi di tampar Dono oleh Rara.

Setelah itu Rara malu. Ya...Dono biasa aja...karena sudah biasa menghadapi cewek yang kesal dengan ulahnya padahal....Dono tidak mengerti perasaan Rara. Yang Dono tahu...adalah ingin menikahi Selfi kalau berhasil menjadi penyihir terhebat. Rara pun tahu...layaknya seorang teman dengan keinginan Dono.

Tetap saja Rara menganggap hal itu lumrah saja karena Dono yang menentukan pilihan gadis mana yang di pilihnya jadi pendamping hidupnya...ya...Selfi.

Komandan Yeki pun memanggil Rara, Dono dan Indro untuk menghadap di ruangannya pesan tersebut dari Boy. Dalam ruangan Komandan Yeki....Dono, Rara dan Indro di beri tugas untuk mengambil benda sihir di sebuah desa yang tidak jauh dari asrama.
Dono, Rara dan Indro melaksanakan tugas yang di berikan Komandan Yeki dengan terbang dengan menggunakan sapu sihir menuju desa yang di tuju. Sampai di sana ternyata warga desa ketakutan sekali di serang oleh penyihir jahat.

Indro langsung mengerahkan sihir apinya untuk mengalahkan para penjahat. Salah musuh terlalu kuat dengan sihir benang pengendali yang mengikat Indro dan di kendalikan. Dono mencoba menghancurkan musuh yang mengendalilan Indro. Tapi ternyata Dono di halangi oleh Indro yang di kendalikan musuh dengan sihir benang pengendali.

Dono kualahan menghadapi musuh sekaligus menghadapi teman. Rara menggunakan sihir airnya untuk mengatasi serangan Indro yang bertubi-tubi melempakan bola api. Dono pun punya kesempatan untuk mengeluarkan sihir anginnya ke lawan-lawannya sampai kalah satu persatu dan akhirnya pingsan. Barulah berusaha untuk menyelamatkan Indro dari musuh yang mengendalikannya.

Musuh meningkatkan sihir benang pengendali pada Indro untuk mengeluarkan sihir bola api yang besar banget dan di hempaskan ke Rara. Dengan sekuat tenaga menahan serangan bola api besar banget pake sihir air Rara yang luar biasa besar banget berbentuk lingkaran pelindung alias tameng. Kekuatan Rara kalah dengan kekuatan dari Indro. Bola api yang besar mau menghantam Rara setelah menjebol pertahanan.

Dono untung bertindak cepat menyelamatkan Rara dari hantaman bola api besar banget. Rara berada di bawah tanah dan Dono diatasnya. Rara senang di selamatkan Dono dari bahaya mengancam dirinya. Tapi Rara sadar posisnya yang membuat yang begitu tidak pantas....tiba-tiba wajah Rara memerah dan timbul rasa malu yang tinggi.

Rara pun memukul Dono untuk menjauh dari dirinya. Tapi Dono tidak peduli dengan pukulan Rara karena serangan berikutnya pun di lancarkan menghantam keduanya. Dono melindungi Rara agar tidak terluka.

Rara pun merasa aman di lindungi Dono. Saat ada celah segera Dono berlari menuju musuh yang mengengalikan Indro. Perhitungan tepat oleh Dono saat Indro melancarkan sihir apinya saat itu Dono mengindarinya menuju sasaran yang utama diseranglah musuh dengan serangan sihir tobak angin.

Langsung mengenai musuh dan terpental menabrak tembok rumah. Musuh pun melepaskan sihir benang pengendaliannya pada Indro. Dengan marahnya Indro di kendalikan musuh yang mau bangkit lagi.

Indro mengeluarkan sihir bola api yang besar banget di hempaskan ke musuhnya. Tapi musuh mengeluarkan sihir tameng benang untuk menghalangi serangan Indro. Dono pun melancarkan sihir anginnya ke bola api yang besar banget malah tambah besar dan langsung menghantam musuh karena perisai sihirnya hancur.
Indro senang telah mengalahkan musuh yang telah mengendalikannya. Setelah itu para polisi sihir menangkap para penjahat sihir dan segera di penjara. Indro pun menemukan batu sihir yang tersimpan di loteng pemilik kepala desa. Baru deh Dono, Indro dan Rara pulang ke asrama penyihir pake sapu sihir. 

Sampai di ruangan Komandan Yeki. Indro memberikan batu sihir ke Komandan Yeki dan menjelaskan bahwa tugas di jalan dengan baik.
Komandan Yeki senang dengan anak buahnya karena hasil kerjanya, lalu di berikan imbalan uang banyak kepada Indro, Dono dan Rara. Ketiganya senang dengan hasil kerjanya.
Dono pun minta izin ke Komandan Yeki untuk menemui sesesorang di kampung. 

Komandan Yeki memperbolehkan Dono untuk pulang kampung. Segeralah Dono berangkat. Indro seperti biasa berlatih lagi dengan Kasino untuk meningkat sihirnya.
Sedangkan Rara ingin tahu ulah Dono di kampung di ikutilah secara diam-diam. Tapi sebenarnya Rara resah kalau Dono menemui Selfi gadis yang ingin di nikahinya.

Sampai di kampung halaman. Dono memang menemui Selfi setelah urusan keluarga selesai. Kecurigaan Rara benar sekali pada Dono. Saat Dono mau mengucapkan sesuatu, lalu Rara muncul dengan mimik wajah marah. Dono ketakutan dengan sikap Rara yang menunjukkan aura gelapnya. Segera mungkin Dono menghindari Rara dan melupakan Selfi yang mau dilamarnya. Rara langsung melemparkan bola sihir air ke Dono karena marah dengan sikapnya Dono.

Dono pun kocar-kacir menghindari serangan Rara yang bertubi-tubi dan susah di perkirakan serangannya yang membabi buta. Dono pun memutuskan pulang ke asrama sihir menggunakan sapu sihir dan terbang.... melesat secepat kilat.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK