CAMPUR ADUK

Friday, August 17, 2018

PURNAMA

Pagi yang cerah sekali. Hengki bangun dari tidurnya dan segera berbenah-benah diri sampai berpenampilan ganteng sekali. Henki keluar dari apartemen menuju mobilnya yang di parkiran dan membawanya sampai ke tempat kerjanya di sebuah stasiun radio swasta yang bernama Prambos. Henki langsung masuk ke dalam ruangan siaran. Timnya Hengki pun sudah mengatur semua dengan baik. 

Henki mulai siaran paginya  dengan baik. Semua tim di yang membantu Henki puas sekali karena jumlah pendengar radio terus naik. Hengki pun di panggil bertemu dengan bosnya bernama Kasino di dalam ruangannya. Dengan perasaan dik-duk Henki mengetuk pintu ruangan bos Kasino.

"Permisi bos," kata Henki.

"Ya..silakan Henki duduk," saut bos Kasino.

"Iya..," jawab Henki.

Hengki langsung duduk di sofa. Lalu sekertaris bos Kasino masuk dan memberikan sebuah file dalam map. Setelah itu seketaris bos Kasino yang cantik bernama Mira keluar dari ruangan. Bos Kasino pun membaca file dengan baik langsung bergerak duduk bersama Henki.

"Bagus...kerja kamu berhasil menaikan reting siaran radio ini," pujian bos Kasino.

"Terima kasih bos. Tetapi tidak sepenuhnya saya yang menaikan reting siaran. Ada tim yang membantu saya sudah seperti keluarga. Kalau bukan karena mereka semua saya tidak akan berhasil seperti ini," kata Henki dengan rendah hati.

"Benar...juga. Mereka telah bekerja sama dengan kamu untuk mengumpulkan data dan menganalisa agar siaran kamu di minati masyarakat. Apa lagi citra kamu di mata mereka baik dan juga di mata masyarakat," kata bos Kasino.

"Kalau itu sih penilaian setiap individu dan kelompok. Cuma saya sendiri bisa bawa diri aja. Maksudnya pembawaan saya," kata Hengki.

"Lugu dan santun. Tidak di buat-buat," kata bos Kasino.

"Ya..itu..maksudnya," kata Hengki.

Tiba-tiba ada telpon yang berdering. Bos Kasino pun mengangkatnya. Ternyata Hengki pun mendapat telpon juga. Dengan permisi keluar dari ruangan bos Kasino. Lalu Henki menjawab telpon. Tak di sangka dan tidak di duga Hengki ketiban rezeki. Hengki mendapatkan tawaran iklan dan film.  Sangking gembiranya Hengki berteriak "Haaaa." Semua orang terkejut begitu dengan bos Kasino dan bertanya kepada Henki "Ada..apa?." Hengki yang malu dengan ulahnya yang ke kanak-kanakan sambil menunduk dan berkata "Maaf saya tidak sengaja dan menggangu aktivitas kalian semua." Semua orang pun mengerti dengan perkataan maaf dari Hengki dan kembali kerja lagi begitu dengan bos Kasino melanjutkan pembicaraan lewat telpon urusan bisnis.

Hengki pun bergegas pulang ke rumah untuk beristirahat. Sampai di rumah Hengki kalau ada kencan dengan pacarnya bernama Sinta. Lalu dengan cepat menyulap ruang apartemen secantik mungkin untuk acara makan malam. Hengki dengan sabar menunggu di dalam apartemennya. Bel pun berbunyi. Hengki beranjak dari duduknya dan mematikan Tv langsung menuju pintu dan tidak lupa mebawa sebuket bunga mawar putih. Dengan perlahan pintu pun di buka dan menyerahkan buket mawar putih. 

"Terima kasih," kata gandis cantik bernama Lesti menerima buket bunga mawar putih.

"Haaaa. Kamu siapa?," tanya Hengki.

"Saya.....anak Bapak.....," kata Lesti dengan lugu sekali.

"Haaaaa. Mana mungkin....... Jangan-jangan kamu salah orang," kata Hengki.

"Saya tidak salah kok. Saya punya buktinya," kata Lesti memberikan file dalam sebuah map berwarna biru.

Hengki langsung membaca dengan seksama file yang di berikan Lesti. 

"Ternyata benar..kamu anak saya, " kata Hengki sok berat.

"Sekarang Ibu telah meninggal dunia. Jadi saya sebatang kara mencari Bapak. Ibu menitip pesan sebelum meninggal. Ibu merasa bersalah meninggalkan Bapak di usia pernikahan seumur jagung," kata Lesti.

"Nanti aja..ya ceritanya masuk ke dalam. Bapak ada tamu," kata Hengki.

"Iya..," jawab Lesti.

Lesti pun masuk ke dalam apartemen dengan membawa semua barang-barangnya. Tiba-tiba bel berbunyi lagi. Hengki makin panik. Lalu Lesti di bawa masuk ke dalam kamar tidur oleh Hengki. 

"Tapi....Bapak....saya sakit perut mau ke kamar kecil," kata Lesti.

"Nanti aja. Tahan dulu. Diam di kamar ini!" perintah Hengki.

Pintu kamar di tutup Hengki. Lalu Hengki menuju ruang tamu dan membuka pintu.

"Lama..menunggu ya sayang," kata Hengki.

"Ya..lumayan deh," kata Sinta.

Sinta langsung masuk ke dalam apartemen dan menuju ruang makan. Tapi tiba-tiba Lesti terlihat oleh Sinta.

"Siapa dia?" tanya Sinta dengan marah sekali.

"Dia....dia.....," kata Hengki dengan penuh ketakutan sekali.

Sinta yang terlanjur marah sekali.

"Jangan-jangan selingkuhan kamu. Kita putus...," kata Sinta sambil menampar Hengki dengan kuat sekali.

Sinta langsung keluar dari apartemen Hengki  dengan penuh kecewa. Hengki menahan rasa sakit akibat tamparan Sinta. Sedangkan Lesti malah makan dengan santai. Hengki pun pusing sekali dengan ke datangan anaknya dari kampung. Duduklah Hengki makan bersama dengan Lesti.

"Bapak tidak apa-apa?" tanya Lesti.

"Enggak.....," jawab Hengki dengan kesal sekali.

"Kalau gitu makan dong. Sayang ini makan dan minuman yang di siapin Bapak untuk kencan," kata Lesti dengan lugu.

"Saya makan," kata Hengki.

Hengki dan Lesti makan malam dengan tenang sekali. Selesai makan Lesti membereskan semuanya sampai bersih dan rapih. Sedangkan Hengki  duduk di belakon sambil memandangin langit yang bertabur bintang di terangi oleh bulan purnama yang indah. Hengki terbawa suasana teringat dengan kisah cintanya dengan Ibunya Lesti bernama Tiara.

Lesti melihat Bapak Hengki yang meratap. Dengan membawa makan kecil dan minum di taruh di meja. Lalu Lesti menegur Bapaknya.

"Lagi..rindu sama Ibu ya?" tanya Lesti.

"Iya....Bapak rindu dengan Ibu..mu," jawab Henki sambil duduk sofa.

"Ibu juga..sering memikirkan Bapak sama seperti ini sambil memandangi bulan purnama yang indah," kata Lesti.

"Bapak tahu..Ibumu masih mencintai Bapak. Tapi karena keputusan Ibumu untuk berpisah. Pernikahan kami di usia muda setelah lulus SMA. Masa itu kami berdua masih labil sekali. Bapak banyak mimpi yang harus di perjuangkan. Sedangkan Ibu hanya ingin ke sederhanaan saja. Karena egoisan Bapaklah akhirnya kami bertengkar. Ibumu tidak tahan dengan pertengkaran tiap hari. Akhirnya seperti ini. Kamu yang harus menderita," kata Hengki.

"Ahhhh..gak usah di pikirin Bapak. Ibu sudah banyak cerita. Sedangkan saya didik Ibu dengan baik," kata Lesti.

Keasikan Bapak dan anak ngobrol sampai waktu tidur. Keesokan harinya Lesti menjadi anak yang berbakti menyiapkan makan pagi untuk Bapaknya. Hengki seperti biasa menyiapkan penampilannya yang ganteng dan rapih sekali. Lalu sarapan bersama anaknya.

"Enak.....masakan kamu Lesti," puji Hengki.

"Terima kasih Bapak. Tapi semua ini Ibu yang mengajarkan saya untuk pandai memasak," kata Lesti.

"Ibumu..pandai mendidik kamu," kata Hengki.

Setelah perut Hengki kenyang langsung menuju kantornya untuk siaran radio. Semua teman-temannya telah menungu Hengki. Mulailah siaran radio dengan penuh kecerian sampai selesai. Lalu Hengki melanjutkan sekejulnya untuk suting iklan sampai larut malam. Di apartemen Lesti  santai nonton Tv menunggu Bapaknya pulang. Dengan sabar menunggu akhirnya Bapaknya pulang dan membawakan baju-baju yang bermerek untuk Lesti. Dengan senang sekali Lesti menerima baju yang di belikan Bapaknya.

."Terima kasih..Bapak," kata Lesti.

"Sama-sama," kata Hengki.

Hengki langsung berbenah-benah diri. Sedangkan Lesti mencobain semua baju baru yang di belikan Bapaknya di kamar. Setelah Hengki selesai berbenah diri dan sambil nonton film horor. Lesti keluar dari kamarnya.

"Bapak pakaianya banyak gak pas dengan Lesti," katanya.

"Maksudnya kebesaran," kata Hengki.

"Iya...begitulah...," kata Lesti.

"Ya...udah...kamu beli sendiri aja deh," kata Hengki sambil mengeluarkan kartu ATMnya dan di berikan ke pada Lesti anak semata wayangnya.

"Terima kasih Bapak," kata Lesti sambil mengambil kartu ATM.

"Iya..sama-sama," kata Hengki.

Ke esokan  paginya Hengki mengajak Lesti berbelanja ke mal. Dengan sembunyi-sembunyi Hengki menjaga anaknya dari belakang. Sedangkan Lesti jojong belanja pakaian yang bagus dan sepatu yang bagus. Hengki sebenarnya takut ketahuan oleh wartawan nanti jadi objek pemberitaan yang bukan-bukan. Setelah berbelanja di mal Lesti di bawa oleh Bapaknya ke sebuah kafe langganannya. Selang berapa saat sampai di sebuah kafe teman Hengki yang bernama Bob.

Hengki menceritakan semuanya sama Bob di dalam kantornya sambil makan dan minum. Bob memaklumin keadaan Hengki yang sebenarnya. Lalu Lesti mencoba bernyayi di kafe Bob. Hengki dan Bob pun terkejut sekali dengan suara Lesti yang merdu sekali.

"Bener-bener anak kamu Hengki," kata Bob.

"Iya..memang anak saya," saut Hengki.

"Sudah cantik. Berbakat lagi jadi bintang. Boleh gak saya kencan dengan anak mu," kata Bob.

"Muka gila loe," kata Hengki.

"Saya ..cuma becanda," kata Bob.

"Sama saya juga," kata Hengki.

"Gimana kalau Lesti di bekerja dengan saya. Untuk menyanyi di kafe saya," saran Bob.

"Gak..usah...terima kasih banyak," kata Hengki.

"Lihat dengan baik banyak pengunjung  suka dengan penampilan Lesti," kata Bob.

"Emmmm...gak lah," kata Hengki menolak tawaran Bob.

Hengki langsung membayar semua makan dan minumnya sama Bob. Lalu pulanglah Hengki dan Lesti dengan mobil sampai ke apartemen. Di sisi lain seorang pemuda bernama Riski melihat penampilan Lesti menyayi di kafe yang di rekam lewat Hp dan di sebarkan lewat jaringan Youtube. Riski bergerak mencari keberadaan Lesti. Dengan berusaha sekeras mungkin akhirnya Riski bertemu dengan Lesti di sebuah toko buku di sebuah mal. Lesti dan Riski saling berpandangan mata. Kemudian Riski mengajak Lesti untuk makan di sebuah kafe sambil banyak bercerita. Pada saat itu Hengki sedang asik kencan dengan cewek bernama Mila. Tak sengaja Hengki melihat Lesti sedang kencan bersama pemuda.

"Mau..main-main dengan anak saya," kata kesal Hengki.

Lesti dan Riski menyelesaikan  makannya dan pergi dari kafe. Sedangkan Hengki pun menyelesaikan kencannya bersama Mila. Riski mengantar Lesti pulang ke apartemen. Saat berpisah Lesti mencium pipi Riski. Hengki mendatengin anaknya yang lagi kasmaran menunggu di depan lif.

"Siapa tadi bersama kamu?" tanya Hengki.

"Temen SMA...," jawab Lesti dengan malu-malu.

"Oh...pacar," kata Hengki.

"Bapak.......temen kok," saut Lesti.

"Pacaran juga gak apa-apa," kata Hengki.

"Oh..gimana kencan Bapak?" tanya Lesti.

"Ya.....berjalan lancar sih. Kayanya..kamu dapet Ibu baru," kata Hengki.

"Tapi...orang di sukai Bapak....umurnya gak jauh sama dengan Lesti," katanya.  

"Biarin aja....Bapak mu masih muda dan ganteng," pedenya Hengki.

"Biasa....aja Bapak," saut Lesti.

Saat obrolan Bapak dan anak asik di depan lif. Riski menyaksikan dengan seksama ulah Lesti dengan seorang pemuda yang gagah dan ganteng dari jauh. Riski pun kesal sekali. Lalu Lesti dan Hengki masuk ke lif.  

"Jadi Lesti mengkhianatin saya," kata Riski yang geram sekali.

Riski pun pulang ke rumahnya. Hengki dan Lesti sampai di apartemen langsung beristirahat dengan tenang.

ORANG KETIGA

Langit yang cerah di tepi pantai. Doni sedang asik menikmati liburannya  sambil duduk di bawah pohon rindang. Tak lupa Doni  membawa alat teropong. Dengan seksama Doni melihat pemandangan indah lewat teropong.

"Seksi..seksi..,"celoteh Doni.

Lagi asik meneropong pemandangan indah Doni tidak sadar melihat sesosok wanita cantik berpakaian bikini. Lalu Doni menaruh teropongnya ke samping tempat duduknya. Lalu wanita cantik mendekati Doni lebih dekat.

"Asik..ya..melihat pemandangan indah," kata wanita cantik sambil menampar pipinya Doni.

"Parrrrrrrr," suara tamparan di pipinya Doni.

Doni memegang pipinya yang merah.

"Aduh...sakit," kata Doni.

Wanita yang menampar Doni langsung pergi begitu saja. Doni pun jadi bingung dengan ulah wanita yang menampar pipinya. 

"Apa saya lagi sial ya. Banyak wanita yang di lihat pake teropong tidak marah. Eh....gara-gara lewat  sini langsung di tampar. Sakit lagi," kata Doni.

Doni beranjak dari duduknya dan membawa alat teropong pergi untuk pulang melupakan liburan yang di pantai sungguh menyakitkan. Doni berjalan ke parkiran mobilnya dan tidak sengaja menabrak seseorang sampai peropongnya jatuh. Doni pun memaklumi ke tidak sengajaannya begitu orang yang di tabraknya. Saat alat teropong di pungut di tanah berpasir posisi Doni menunduk tidak sengaja seorang wanita cantik berdiri di depan Doni. Terlihat di dalam roknya ada tato mawar di paha sebelah kiri dan celana dalam pink.

Doni pun tidak sengaja celetuk dan berkata "Pink." Wanita cantik melihat ulah Doni yang mesum.

"Kamu melihat di dalam rok saya....," kata wanita cantik sambil melancarkan tanparan ke arah pipi Doni.

"Parrrrr," suara tamparan keras.

Wanita cantik langsung pergi begitu saja. Doni pun bingung sekali dengan wanita yang menampar dirinya.

"Salah saya apa? pada hal saya mau mengambil teropong yang jatuh. Lagi-lagi pipi saya di tampar. Mau nikmati liburan malah sial di tampar," kata Doni.

Doni pun penasaran siapa yang menamparnya? lalu menggunakan teropong melihat wanita yang menamparnya dari ke jauhan. Terlihat jelas oleh Doni sosok wanita yang menamparnya.

"Lagi..lagi..cewek yang di ke temui di pantai yang menampar saya. Kalau di lihat espresinya kaya ada masalah. Biasanya wanita jadi sensitif dengan sekitarnya gara-gara ada masalah dengan pacarnya," kata Doni.

Doni terus memperhatikan wanita yang menamparnya dari jauh lewat teropongnya. Tiba-tiba wanita cantik mendekati seorang cowok yang sedang santai bersama seorang cewek yang cantik banget.

"Loh....kaya sinetron orang ketiga atau lebih tepatnya cinta segitiga," celoteh Doni sambil mengawasi lewat teropongnya.

Doni mengakhiri pengintainya terhadap wanita yang menamparnya dan masuk mobil. Doni pun membawa mobil dengan perasaan kesal sekali sampai di rumah. Selang berapa saat sampai di rumah Doni langsung membereskan pekerjaannya yang di tunda karena liburan. Dengan fokusnya mengerjakan pekerjaannya akhirnya Doni berhasil menuntaskan semuanya.

"Waktunya istirahat," kata Doni.

Doni langsung meninggalkan pekerjaannya yang telah selesai di taruh di atas meja. Doni pergi ke dapur untuk membuat kopi panas. Setelah jadi membuat kopi panas di cankir yang cantik Doni membawanya ke teras rumah sambil santai. Lalu sebuah mobil mewah masuk ke dalam halaman rumah di depan rumahnya Doni. Dengan seksama Doni menyaksikannya dengan sambil minum kopi di teras rumah. Keluarlah sesosok wanita cantik dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Doni pun terkejut melihat wanita tersebut.

Karena penasaran dengan wanita yang di lihatnya di rumah depannya. Lalu Doni mengambil sebuah teropong yang di taruh di atas meja. Dengan cepat Doni mengambil teropongnya dan mulai melakukan pengintaian dari depan pintu. Dengan seksama Doni melihat wanita yang bertamu di depan rumah sambil berbincang-bincang di teras depan Lila anaknya Pak Bowo.

"Sial...itu cewek yang menampar saya 2 kali..hari ini," kata Doni. 

Doni yang kesal sekali lalu berbenah diri. Dengan membawa mobilnya Doni mencari tempat untuk refresing. Sampailah pada tempat yang cukup asik di sebuah kafe langganannya Doni. Langsung memarkirkan mobilnya dengan baik Doni. Keluarlah dari mobil Doni masuk ke dalam kafe. Doni bertemu dengan Boy yang duduk dengan  santai sambil minum danmendengarkan band musik kesukaannya. 

"Woy..teman udah lama ke gak ke sini?," tanya Boy.

"Biasa..saya lagi sibuk dengan kerjaan," jawab Doni.

"Oh..begitu... Ya udah kita lupakan pekerjaan. Kita nikmati kebersamaan kita di kafe ini dengan alunan musik yang merdu sekali. Kesukaan saya.........," kata Boy.

"Ok..beres," saut Doni.

Boy dan Doni menikmati kebersamaannya dengan asik banget. Doni mengunakan Hpnya menfoto moment yang bagus di sekitarnya. Lagi-lagi tidak sengaja ada orang yang menyengol tangannya sampai Hpnya jatuh. Ketika Doni mau mengambi Hpnya terjatuh eh malah ke tendang beberapa orang dan sampai ke injak. Tapi dengan memaklumi keadaan kafe yang ramai Doni mulai menenangkan dirinya. Doni mengambil Hpnya di lantai.

"Syukur Hp saya gak rusak," kata Dono dalam posisi jongkok. 

Ada wanita cantik di depan Doni. 

"Mulus banget paha putih ini," kata hati Doni.

Ketika Doni mau bangun dan melihat wanita cantik di depannya.

"Dasar laki-laki brengsek...mesum," kata wanita cantik dan menampar pipi Doni.

"Parrrrr..," suara tamparan.

Wanita cantik meninggalkan Doni begitu saja. Lalu Doni kembali duduk bersama temannya Boy sambil menahan sakit karena di tampar.

"Kenapa pipi mu merah Doni ada cap tangannya?," tanya Boy.

"Biasa saya lagi sial...di tampar cewek gak jelas," kata Doni yang kesal.

"Ya...udah nikmati aja.......makan dan minuman di kafe ini saya traktir," kata Boy.

"Iya.......Boy," saut Doni.

Doni menikmati acara di kafe sambil makan dan minum. Tetap saja Doni melihat wanita yang menamparnya duduk bersama cowok yang lagi mersa dengan ceweknya. Doni pun melihatnya pun geleng-geleng kepala. Sampai berceloteh "Dasar cewek aneh." Sontak tak sengaja Boy mendengar celotehan Doni.

"Apa yang omongin Doni?," tanya Boy.

"Enggak. Lihat cewek yang duduk di sana. Terlihat kacau sekali, tapi cowoknya yang di dekati lagi bermesraan dengan cewek lain," kata Doni.

"Maksud mu Lia toh!. Sebenarnya Lia itu mengejar Bram. Tapi Lia punya rifal dalam mendapatkan hatinya Bram yaitu Yuli. Singkat cerita Yuli mendapatkan Bram. Tapi masalahnya Yuli adalah temannya Lia. Otomatis.....kisah cinta segitiga ini  berlangsung seperti itu. Alasan utama sih cepet kawin.....," kata Boy.

"Bener....bener...wanita yang kuat menghadapi persaingan cinta yang gila," kata Doni.

"Ya..begitu...lah cinta membutakan segalanya. Yang benar itu adalah hawa nafsunya....alias sex yang paling utama," kata Boy.

"Jadi gak pake..otak..dong," kata Doni.

"Bisa...jadi.....," kata Boy.

Doni pun kembali menikmati makan dan minumnya. Sedangkan Boy terus saja mendengarkan alunan musik yang bagus dari band kesukaannya. Tiba-tiba Doni ke belet pipis. Lalu beranjak Doni dari tempat duduk ke toilet. Saat pipis di kamar kecil Doni mendengar sedikit kegaduhan di luar. Doni pun menyelesaikan pipisnya keluar dari kamar kecil. Terlihat Lia bercakap dengan Bram. Tapi ternyata Bram mulai bersiasat untuk bercumbu dengan Lia. Tapi Lia pun berontak menolaknya. Doni yang mengintip dari balik pintu kamar kecil sedikit gram sekali. Bram terus melancarkan niat mau menggagahi Lia. 

Tetap Lia pun masih berontak dan ingin menampar Bram. Tapi tangan Lia di tangkap oleh Bram dan pegang sangat kuat. Lia pun mau berteriak. Doni langsung keluar dari kamar kecil dan mendatangi Bram. Tinjuan Doni yang kuat ke arah muka Bram. Lalu Bram melepaskan pegangannya ke Lia.

"Siapa kamu ini?," tanya Bram sambil ingin membales serangan Doni.

Doni langsung menjawab dengan lantang "Saya tunangan Lia." Sontak Lia dan Bram terkejut. Lalu Doni pun mendorong Bram sampai jatuh ke lantai. Dengan seribu bahasa Lia pun diam. Doni langsung memegang tangannya Lia. Dengan Segera Lia dan Doni pergi dari toilet meninggalkan Bram begitu saja.  Lalu Yuli dateng menghampiri Bram yang terluka di mulutnya akibat tonjokan yang kuat dari Doni. Sampai di luar kafe Doni lagi-lagi di tampar oleh Lia.

"Kenapa kamu menampar saya.....?," tanya Doni.

"Itu..untuk..orang yang mesum...," kata Lia.

"Tapi...kan saya tidak...melakukan perbuatan senono," pembelaan Doni.

Lia langsung menciup pipi Doni yang merah karena tamparan. Doni pun terkejut dengan ulah Lia.

"Ciuman ini untuk apa?," tanya Doni.

"Ciuman itu untuk..orang yang menolong saya  dan berani mengambil tindakan mengaku bahwa saya tunangan kamu," kata Lia.

"Itu kan cuma eksen saja," kata Doni.

"Saya sudah tahu," saut Lia.

Lia pun pergi meninggalkan Doni. Tetapi Doni pun berpikir panjang sambil melihat Lia pergi begitu saja. Doni pun mengambilkan kesimpulan di dalam dirinya dan mengejar Lia sambil berteriak "Tunggu dulu." Lia mendengar panggilan Doni dan diam di tempat.

"Saya..mau bicara. Memang sedikit lancang. Tapi mungkin ini yang terbaik buat kita berdua," kata Doni.

"Maksudnya?" tanya Lia.

"Mau..kah...menikah dengan saya. Memang terlalu cepat berbicara tentang kepastian dalam hubungan. Yang namanya menjalankan hubungan harus di mulai dengan berteman dulu agar bisa mengenal lawan jenisnya," kata Doni yang sedikit ribet.

"Saya menerima kamu jadi suami saya. Jadi kita mulai dari sekarang aja pertemanan kita," kata Lia.

"Yesssssss," teriak Doni sambil menari mengelilingi Lia.

Lia pun tertawa melihat ulah Doni yang kaya anak kecil. Lalu Doni kembali berbicara lagi dengan Lia. 

"Satu pinta saya jangan ringan tangan lagi..ya Lia," kata Doni.

Lia pun mengangkat tangan kanannya dan mau menampar Doni. Tapi ternyata Lia menahan tamparannya di pipi Doni. Sedangkan Doni sudah sedikit ketakutan dengan tindakan Lia yang mau menampar Doni. Lia akhirnya memutuskan mengelus pipinya Doni dan berkata "Saya berjanji tidak menampar kamu lagi. Tapi kalau mesum lagi saya akan menampar pipi kamu."

Doni pun mengerti dengan ucapan Lia dan menjawab "Bereslah itu." Doni dan Lia resmi jadiannya. Selang beberapa saat Doni dan Lia pun menikah dan acaranya pun di adakan di kafe. Boy sebagai teman Doni yang baik hati pun di undang di acara pernikahannya  dan  di suruh bernyayi bersama band ke sukaannya. Boy pun senang sekali sampai jingkrak kegirangan di acara pernikahan Doni dan Lia. Sedangkan Bram dan Yuli pun di undang oleh Lia untuk menunjukkan kepastian dalam hubungan anak manusia.

Thursday, July 5, 2018

SISTEM BIROKRASI

Siang cukup terik. Bono pergi dengan adiknya Heru pergi menggunakan motor. Dengan santai Heru membawa motor melewati jalan yang ramai. Bono yang baru sembuh dari sakit hanya melihat dunia sekitar dengan senang sekali. Sampailah Di sebuah bank swasta. Heru dan Bono masuk ke dalam bank.

"Permisi mas.....petugas costamer servis-nya ada?," tanya Heru.

"Lagi istirahat...mas.. Karena baru selesai melayani para nasaba yang punya banyak permasalahan yang sepele aja kok," kata sapam.

"Oh...begitu..... Lama gak istirahatnya?" ujar Heru.

"Paling satu jamlah..... Oh iya....masalah saudara apa?," kata sapam.

"Masalah saya sih tidak terlalu rumit. Gampang gitu. Cuma lupa pin saja. Saya pikir saya lebih baik nunggu saja di sini," kata Heru.

"Silakan......menunggu, tapi ambil nomor antrian dulu," kata Sapam.

"Iya...," saut Heru.

Sapam memberikan memberikan nomor antrian sama Heru. Lalu Heru pun menyambutnya dengan baik. Heru dan Bono langsung duduk di sofa yang di sediakan pihak bank. Dengan Santai Heru dan Bono menunggu. Seperti biasanya Bono memperhatikan kegiatan di dalam bank. 

"Loh..kok..gak ada ..mengenai nilai tukar mata uang di bank ini," kata hati Bono.

Bono tetap diam dan asik melihat kegiatan di dalam bank. Heru hanya sibuk dengan urusan pribadinya yaitu telpon sana dan sini. Bono yang sibuk melihat orang-orang keluar masuk bank sampai memperhatikan cctv yang terpasang  di langit-langit.

"Jadi....keamanannya...terjamin toh," kata hati Bono.

Heru menyelesaikan telponnya yang singkat dan padat berisi tanpa menggangu orang sekitar di dalam bank. Lalu Heru menepuk pundak Bono.

"Mas....bawa.....KTP?," tanya Heru.

"Bawa....tetapi.....KTP lama..bukan KTP Elektrik," kata Bono.

"Oh..begitu.....," saut Heru.

Heru dan Bono dengan sabar menunggu di dalam bank. Terlihat jelas Bono ada nasabah lain yang mau mengurusi permasalahnya. Lalu Sapam mengambil nomor antrian dan bergerak ke Heru. Lalu tukaran nomor antrian. Bono yang lagi santai di kasih nomor antrian sama Heru.

"Pegang ini!" kata Heru.

Bono langsung memegang nomor antrian. 

"Nomornya beda....jadi di duluin toh," kata hati Bono.

Bono tetap diam dan memperhatikan semuanya. 

"Mas.....tahu...nomor pinnya.....?," tanya Heru.

"Kalau gak salah nomornya sekian dan sekian," kata Bono.

"Mana ATMnya..?" tanya Heru.

"Ini..ATMnya...," saut Bono.

Heru langsung mengambil ATM Bono dan langsung bergerak menuju ke mesin ATM. Heru mulai mencobanya dengan pin ATM yang di berikan Bono. Sapam pun mengawasi dari belakang. Pin ATM yang di masukkan oleh Heru berhasil terdaftar dan masuk ke dalam sistem. Sapam pun mendekat.

"Mas...itu bisa...," kata Sapam.

"Iya.....baru inget nomor pinnya," kata Heru.

"Jadi......mau menyelesaikan masalah apa lagi?" tanya Sapam.

"Oh....saya mau ganti nomor hp agar mudah di ceknya di jaringan banking internet," ujar Heru.

"Kalau begitu silakan menunggu....," kata Sapam.

Heru langsung bergerak duduk bersama Bono.

"Bisa.....Heru dengan nomor pin ATMnya?" tanya Bono.

"Bisa....... Tapi saya kirain..nomor Pinnya angka awalnya 5. Jadi ketika di cek gak bisa. Makanya komplen dan juga Mamas yang punya ATM juga lupa nomornya," kata Heru.

"Iya...saya lupa..karena baru sembuh dari sakit," kata Bono.

Heru diam dan menunggu. Bono kembali melihat kegiatan di bank. Terbesit di pikiranya Bono "Saya masih hidup jadi mengurusin urusan duniawi. Kalau saya mati urusan seperti ini tidak guna lagi." Waktu berjalan sesuai dengan rencananya. Petugas bank pun dateng langsung duduk di tempat kerjanya.

"Mas..anda yang mau ngurusin permasalahan tentang penggantian nomor hp?," tanya petugas bank.

Bono sedikit panik.

"Heru....gimana ini?," tanya Bono.

"Ya..udah....ke tempat petugas bank untuk di selesaikan permasalahannya," kata Heru.

"Iya..," saut Bono.

Bono pun duduk empat mata dengan pegawai bank.

"Jadi anda ingin mengganti nomor hp," kata pegawai bank.

"Iya.....," kata Bono.

"Bisa.....melihat KTPnya..?" tanya Embak pegawai bank.

"Bisa....tapi masalahnya saya belum buat KTP Elektrik," kata Bono dengan jujur.

"Maaf..... Sesuai dengan persedur menggunakan KTP Elektrik di bank ini," kata Embaknya.

"Saya..mengerti Embak. Tapi itu semua adalah cuma prosedur dari kebijakan lama menjadi kebijakan baru," penjelasan Bono.

"Maksudnya.....?," ujar Embak pegawai bank.

"Saya belum cetak ulang KTP saya yang lama menjadi KTP Elektrik," kata Bono.

"Bagaimana ..anda bisa mendaftar di bank ini tanpa KTP Elektrik?," tanya Embaknya.

"Saya menyakinkan pegawai bank dengan jujur mau menjadi nasabah di bank ini dengan KTP yang lama. Lalu pegawainya memudahkan saya. Untungnya saya bawa data KK. Jadi urusan selesai," kata Bono.

"Boleh saya lihat!" kata Embak pegawai bank.

Bono mengeluarkan KTP lamanya di dalam dompetnya. Lalu Embak pegawai bank melihatnya dan memeriksanya lewat komputernya. Tapi sebelumnya memasukan nomor identitas sebagai pegawai bank dan sidik jari. Lalu data arsip nasabah terlihat di monitor. Embak pegawai bank langsung mengecek nama dan nomor di KTP lama. 

"Gimana..?," tanya Bono.

"Iya...bener......anda terdaftar di bank ini," kata Embak pegawai bank.

"Jadi persoalan pergantian nomor hp saya?," tanya Bono.

"Bisa...., tetapi anda tahu nomor yang lama?," tanya Embaknya.

Bono bingung sekali karena lupa nomor Hpnya. Lalu Bono bertanya dengan Heru yang duduk di belakang sambil memperhatikan Bono "Gimana Heru?" Heru pun menjawabnya "Hilang." 

Loe aneh yang sebenarnya yang punya buku tabungan ini punya siapa?" tanya Embaknya.

"Buku tabungan ini memang punya saya. Heru itu adik saya. Dan juga......saya pribadi si Embak.....buku tabungan ini geletakin aja urusan selesai. Kalau urusan kerjaan  saya jalannin proses permasalahannya. Cuma prosesur saja kan," kata Bono yang tegas.

"Maksudnya?,"

"Buku tabungan ini di geletakin saja urusan selesai, kalau urusan kerjaan di jalanin," kata Bono mengulang katanya. 

Embak petugas bank langsung bangun dari tempat duduknya pergi sebentar. Bono menunggu dengan santai. Lalu Embak pegawai bank duduk di tempat duduknya lagi. Langsung menjalankan tugasnya dan OB bank memberikan surat lampiran ke Embaknya.

"Anda..silakan tulis nama, alamat dan nomor hp yang akan di ganti.....di sini dan di sini," kata Embak pegawai bank.

"Iya," jawab Bono.

Bono langsung menulis di kertas yang di berikan pegawai bank. 

"Sudah selesai Embak," kata Bono.

"Iya," saut Embaknya.

Embaknya langsung mengecek dari sistem komputernya dan menjelaskan ke pada Bono. Dengan seksama Bono mendengarkan omongan si Embak pegawai bank di sesuaikan dengan apa yang di tulis Bono di kertas!?. Lalu Embaknya mengucap "Terima kasih banyak."

"Iya," jawab Bono.

Lalu Bono langsung mengambil KTPnya di meja dengan cepat  dan berceloteh "Nanti ilang lagi."

"Apa?," saut Embaknya.

"Oh....awalnya buat di bank....saya kehilangan KK jadi saya ngurus lagi," penjelasan Bono.

"Jadi ribet," saut Embaknya.

"Iya," jawab Bono.

Bono dan Heru keluar dari bank langsung ke parkiran motor. 

"Mas..tadi ngomong apa?" tanya Heru.

"KK yang hilang," kata Bono.

"Oooooo," saut Heru.

Heru dan Bono naik motor. Tukang parkir sudah setembai menadah untuk jaga motor. Heru langsung mengeluarkan uang kecilnya ke tukang parkiran.

"Gak dari Sabang sampai ke Marakue.....eh tetap saja parkir bayar. Padahal pinggiran toko. Kalau di cariin datanya orang kecil nyari hidup," kata hati Bono.

Bono dengan santai duduk di belakang. Sedangkan Heru membawa motornya di bawa dengan hati-hati. Terbesit di kepala Bono "Jadi masalah KTP Elektrik bermasalah atau gak ya. Pada hal saya masih menggunakan KTP lama dari perjalan dari kota ke kota lain. Kalau di tanya saya kasih KTP lama dan ngomong jujur saja belum buat. Toh saya juga bukan penjahat. Tidak menyalahi aturan kebijakan juga. Kalau saya mati KTP yang lama ini atau yang baru  tidak ada gunanya. Cuma amal ibadah yang saya bawa menghadap ALLoh SWT."

Sampai di rumahlah Heru dan Bono. Lalu terdengarlah suara azan asar. Heru dan Bono menjalankan tugas sebagai muslim yang baik melaksanakan sholat di rumah.

Tuesday, July 3, 2018

SI CECEP

Siang hari yang cukup panas di pinggiran kota besar. Cecep berjalan kaki dengan membawa beberapa balon yang di belinya. Cecep senang dengan balon yang di belinya terbang di udara. Sepanjang jalan Cecep bernyayi "Balonku ada lima". Ketika persimpangan jalan Cecep melihat anak kecil sedang menangis. Cecep pun iba dengan tangisan anak kecil.

Cecep menghampiri anak kecil tersebut yang menangis mencari ibunya.

"Anak manis jangan menangis.....Cecep bagi balon Cecep," katanya dengan lembut. 

Anak kecil pun berhenti menangisnya karena di berikan mainan balon udara. Cecep pun senang melihat anak kecil tenang. Tiba-tiba Ibunya anak kecil pun dateng dan memeluknya dengan erat.

"Anak kesayangan Ibu......," kata Ibunya penuh khawatir.

"Ibu .....anak ini ...anak Ibu.....ya?" tanya Cecep.

"Iya...mas..... Terima kasih udah nolong saya. Saya sedikit teledor saat belanja. Anak saya tiba -tiba menghilang dari pegangan saya," kata Ibunya.

"Lain kali hati -hati Ibu...kalau bawa anak. Kalau begitu saya permisi dulu. Asalamualaikum," kata Cecep.

"Walaikum salam," jawab Ibu.

Cecep pergi meninggalkan anak kecil bersama Ibunya. Dengan bahagia Cecep terus berjalan sambil melihat lingkungan sekitar. Sampai di suatu taman kota Cecep melihat kerumunan banyak orang. Cecep pun ikutan dan masuk ke dalam kerumunan. Terlihat mata Cecep ada suting sinetron Seleb. Cecep pun senang sekali melihatnya bersama warga yang lain. 

Sampai Cecep pun bersalaman dengan bintang utama sinetron. Cecep pun tambah bahagia lagi. Lalu Cecep duduk di dekat pohon rindang sambil asik menonton para artis menunjukkan aktingnya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Sontak Cecep pun terkejut "Astafirohulazim". 

Cecep melihat orang yang menepuknya. 

"Mas Anjasmara.......," ujar Cecep.

"Cecep sedang apa di sini?," tanya Anjasmara.

"Nonton........suting.  Loe mas Ajasmara lagi ngapain di sini?. Bukannya lagi suting sinetron Anak Langit," kata Cecep.

"Kok...kamu tahu...Cecep!" ujar Mas Anjasmara sedikit nyeleneh.

"Cecep tahu lah. Kan...Cecep ...sering nontonnya...sama Emak....setiap malem..... Mas pertanyaan Cecep belum di jawab. Sebenarnya mas Anjasmara lagi ngapain di  sini....?. Atau jangan - jangan mas Anjasmara sama seperti Cecep lagi nonton orang-orang suting yang akan di tayangkan hari ini atau besok," kata Cecep.  

"Sebenarnya mas di sini kerja juga tetapi jadi bintang tamu aja," ujar Anjasmara.

"Oh.....begitu.....kerja," kata Cecep.

"Cecep...boleh curhat sedikit...gak?" tanya Anjasmara.

"Boleh..aja....tapi jangan masalah yang berat-berat ya. Seperti urusan partai politik. Ribet banget dari dulu sampai sekarang urusannya di isi kepala para pemimpin adalah menang.....terus. Kalau kalah kaya ayam mau di potong. Males..banget melihat pemimpin seperti itu di media apa pun!?" kata Cecep.

"Ya...gak urusan politiklah. Masalah tentang masa lalu saya dalam menjalankan hidup saat saya mengambil keputusan dalam bidang kerja pada masa lampau."

"Maksudnya.................masalah tentang foto - foto yang tidak layak di konsumsi publik?" saut Cecep.

"Maksudnya...begitu. Tetap saja saya susah ngomongnya," kata Anjasmara.

"Kalau...masalah..itu..sih..lupakan. Seperti lagunya Inul Daratista "Masa Lalu". Karena setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tapi kalau sadar dengan ke salahannya dan mengakuinya. Tidak mau mengulangi lagi. Maka Alloh SWT akan menolong kaum yang bertobat. Jadi Ikhlaskan semuanya berserah dirilah pada Alloh SWT. Dan biarkan waktu yang menunjukkan kebenaran. Apakah tobat mu sungguh-sungguh atau tobat sambel. Kalau sungguh-sungguh kembalilah menjadi seperti Anjasmara yang dulu. Aktor yang mutlitelen. Karena saya adalah cerminan mas Anjasmara. Salah satu tokoh yang baik hati yang mengisi dunia dengan keceriaan dan kebahagian yaitu Cecep," kata Cecep memberikan nasehat.

"Alhamdulilah....saya sadar bahwa Alloh SWT bersama saya telah mengabulkan doa saya. Karena kehilapan saya......di mata masyarakat telah terhapuskan," ujar Anjasmara penuh syukur.

"Jangan jadi orang bodoh lagi. Jadi orang pintar. Saya pun Cacat mental.....tetapi Alloh SWT selalu menyertai saya. Di berikan ilmu untuk menjadi orang pintar," kata Cecep.

"Bener..kamu Cecep. Terima kasih..atas masukkannya. Saya harus optimis menjalankan hidup dan melupakan masa lalu yang suram. Alloh SWT bersama saya," kata Anjasmara.

"Nah..itulah.......Anjasmara yang dulu......yang baik dan bijak dalam mengambil keputusan," kata Cecep.

"Kalau..begitu...mas permisi dulu. Udah waktunya pengambilan adegan hari ini. Oh Cecep jangan lupa nontonnya...ya," kata Anjasmara.

"Iya...," saut Cecep.

"Asalamualikum........," kata Anjasmara yang dengan santun.

"Walaikum salam," jawab Cecep dengan lembut sekali.

Anjasmara langsung beradu akting dengan lawan mainnya. Cecep dengan menyaksikan kebolehan para aktor dan artis pemain sinetron Seleb. Hari mulai sore. Terdengarlah Azan asar. Cecep pun beranjak dari duduknya di bawah pohon yang rindang. Bergegaslah Cecep pergi ke mesjid untuk menjalankan sholat azar sebagai muslim yang baik.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK